Transcript
8BdxfJn_o9k • ASN Belajar Seri 4 | 2026 - Personal Branding ASN: Profesional, Etis, dan Berintegritas
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0294_8BdxfJn_o9k.txt
Kind: captions Language: id Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. berhak kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan hadir di sini untuk mengabdi rencanakan tugas ke bangga negerit melainkani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Kami dari sini tugas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Melayani bangsa loyal tanpa batasannya. Sattif dan berkolaborasi bergandeng tangan tujuan untuk menjadikan ASN lebih berakhlak. bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa kami dari sini tegas dengan hati Tujuhkan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragam mengerjas penuh hati tulus membantu sesama malam. melayani dengan bang kami melayani dengan mengat kami melayani H Bersama membangun asa menuju cita yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti mengikuti zaman dengan semangat pembaharuan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. PPS Jing Pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jangan gemilang PPSDM Jawa Timur Center of Exens masa depan demil bersama membangun asa menuju cipta yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti mengiti zaman dengan semangat pembaharuan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSDM Jatim pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas. Mencetak STM berkompetensi. Tangguh cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang. Menjawab tantangan jangan gemilang. PPS SDM Jawa Timur Center of Exans masa depan gemilang. e Oh Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Oh. Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Marah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Situk melainkani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Hong bereda di sini tugas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangga satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih berakhlak. bekerja sepenuh hati, tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa. Kami dari sini tegas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi. Bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragam. mengerjas penuh hati tulus membantu sesama dengan kami melayani dengan kami melayani dengan mengangan kami melayani bangsa Asa menuju cita yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti mengikuti zaman dengan semangat pembaruan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. PPS Jim Pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas tangguh inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jangan gemilang PPSDM Jawa Timur Center of Exens masa depan demilah bersama membangun asa menuju cipta yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti mengiti zaman dengan semangat pembaruan, ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSM Jatim Pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jangan gemilang PPSDN Jawa Timur senter ofans masa depan donil Yeah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di seluruh Indonesia. Senang sekali saya Lukman dapat menyapa Sobat ASN tentunya dalam acara webinar ASN Belajar persembahan spesial Corpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Saya juga ingin mengucapkan selamat datang untuk sobat ASN yang tengah menyaksikan acara ini melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dan juga platform Zoom meeting. Mohon maaf karena tadi ada kendala operasional sehingga acara kami mulai lebih lambat. Namun kami ucapkan terima kasih atas ketersediaannya untuk menunggu webinar ASN belajar. Bersama-sama kita akan tingkatkan kompetensi dan terus-menerus belajar dengan para praktisi dan juga para narasumber yang sangat luar biasa. Sobat ASN, tantangan ASN tidak hanya mengenai apa yang kita kerjakan, namun lebih dari itu bagaimana kita juga hadir di hadapan publik di era yang semakin terbuka dan digital, sikap, cara bicara, dan juga interaksi antara ASN dengan masyarakat membentuk persepsi masyarakat terhadap kualitas birokrasi dan juga pemerintah. Di sinilah personal branding menjadi sangat penting bagi seorang ASN. di mana personal branding tidak lagi dikaitkan dengan pencitraan semata, tetapi bagaimana nilai-nilai yang dipegang oleh ASN ini tercermin dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Selengkapnya akan kita bahas di webinar ASN Belajar seri 4 tahun 2026 personal branding ASN profesional etis dan berintegritas. Dan untuk membuka webinar ASN belajar seri 4 kali ini, mari kita dengarkan bersama opening speech yang akan disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat SN di seluruh tanah air. Selamat bertemu kembali dalam ruang belajar bersama webinar series ASN belajar persembahan JATM Corporate University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Forum Pengembangan Kompetensi ASN ini merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga semangat pembelajaran ASN agar tetap menyala dan berkelanjutan di tengah tugas pengabdian yang semakin kompleks. Sabat ASN, tema yang kita angkat pada seri keempat tahun 2026 ini adalah personal branding ASN, profesional, etis, dan berintegritas. Tema ini adalah sebuah penegasan bahwa citra diri ASN harus dibangun di atas pondasi nilai. Personal branding bukan tentang pencitraan kosong, bukan pula tentang popularitas semata, tetapi tentang konsistensi antara nilai, sikap, dan kinerja. ASN yang kuat personal branding-nya adalah ASN yang profesional dalam bekerja, etis dalam bersikap, dan teguh dalam menjaga integritas. Sobat ASN di seluruh tanah air, di era keterbukaan informasi dan digitalisasi yang masif saat ini, ruang publik tidak lagi memiliki sekat yang tegas. Setiap pernyataan, sikap, dan keputusan aparatur sipil negara dapat dengan cepat menjadi konsumsi publik. Dalam konteks ini, ASN tidak hanya bekerja di balik meja birokrasi, tetapi juga hadir di ruang sosial yang luas menjadi representasi langsung dari wajah negara. Personel branding ASN lahir dari realitas tersebut. Ia bukan sekedar persoalan citra individual, melainkan refleksi kualitas institusi dan kredibilitas negara. Ketika personal branding ASN kuat, profesional, dan berintegritas, maka kepercayaan publik terhadap birokrasi akan tumbuh. Sebaliknya ketika personal branding ASN lemah, inkonsisten atau bertentangan dengan nilai etika, maka kepercayaan publik dapat teruntuh hanya oleh satu tindakan yang viral. Urgensi personal branding juga semakin menguat karena perubahan ekspektasi masyarakat. Publik hari ini tidak hanya menilai kinerja dari hasil akhir, tapi juga dari proses, sikap, dan nilai yang menyertainya. ASN dituntut tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga komunikatif, empatik, dan tentu beretika. Sbat SN, dalam perspektif ini personal branding menjadi jembatan antara kompetensi dan kepercayaan, antara kinerja dan legitimasi publik. Lebih jauh, personal branding yang sehat berakar pada keselarasan antara nilai, perilaku, dan peran jabatan. Ia bukan pencitraan artifisial, melainkan konsistensi karakter yang tercermin dalam tindakan sehari-hari. ASN yang mampu membangun personal branding secara autentik akan lebih dipercaya, lebih berwibawa, dan lebih efektif dalam menjalankan tugas pelayanan publik. Pada akhirnya personal branding adalah bagian dari tanggung jawab moral ASN yang menuntut kesadaran bahwa setiap aparatur adalah teladan, setiap perilaku adalah pesan, dan setiap keputusan adalah cermin nilai-nilai negara. Dalam birokrasi modern, personal branding bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis untuk membangun birokrasi yang profesional, etis, dan berintegritas. birokrasi yang bukan hanya bekerja tapi juga dipercaya dan dihormati oleh masyarakat. Sobat ASN di seluruh tanah air. Oleh karena itu, melalui ASN Belajar seri ke4 tahun 2026 ini, kita ingin menegaskan bahwa personal branding ASN membutuhkan kesadaran nilai, konsistensi perilaku, dan integritas yang terus dirawat melalui proses belajar yang berkelanjutan agar setiap aparatur mampu menampilkan jati diri profesional yang selaras. antara yang diyakini, apa yang diucapkan, dan apa yang dikerjakan dalam melayani masyarakat. Dengan demikian, personal branding ASN tidak boleh dibangun secara instan atau artifisial, melainkan melalui proses pembelajaran yang mendalam dan reflektif. Ia tumbuh dari kapasitas diri yang terus diasah, karakter yang terus diuji, serta keberanian untuk menjaga etika di tengah tekanan dan sorotan publik. Dari proses inilah akan lahir ASN yang tidak hanya dikenal karena jabatannya, tetapi dihormati karena integritasnya, dipercaya karena konsistensinya, dan diingat karena keteladanannya. Sobat SN di seluruh tanah air, kehadiran para narasumber hebat kali ini akan semakin memberikan wawasan yang luas dan makin memantapkan langkah pengadilan kita sebagai S Indonesia. Atas nama BPSDM Provinsi Jawa Timur dan seluruh SN Indonesia, izinkan kami menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya. Kepada pertama Bapak Dr. Suko Widodo, M.Si., akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yang akan memperkaya pemahaman kita tentang relasi citra diri, etika, dan ruang publik. Kedua kepada Ibu Dr. Dewi Retno Syarsi, M.Si., Psikolog. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Erlangga yang akan mengulas personal branding dari perspektif psikologi dan karakter ASN. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Rizki Putri, Sos, MCOM, Communication Facilitator dan founder Sinergi Bicara yang akan berbagi praktik komunikasi profesional dalam membangun citra ASN yang kredibel dan berintegritas. Kehadiran para narasumber hari ini menegaskan bahwa ASN belajar bukan sekedar forum diskusi tetapi ruang strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan kebijakan, dan memastikan bahwa pembelajaran benar-benar bertransformasi menjadi kinerja dan dampak nyata. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN Belajar seri ke-4 tahun 2026. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas opening speech yang telah disampaikan. Dan sebelum kita masuk ke narasumber kita yang pertama, terlebih dahulu kami izin menginformasikan dan juga mengingatkan bahwasanya link presensi sudah dapat sobat ASN akses melalui laman semesta Bangkom. Dan dikarenakan saat ini traffic presensi sedang tinggi, maka Sobat ASN dapat cek secara berkala karena nantinya untuk link presensi ini akan menjadi syarat untuk mendapatkan e-sertificate dari BPSDM Jawa Timur. Dan juga kami ingin menginformasikan bahwasanya nanti selama sesi tanya jawab kita juga akan menyediakan souvenir yang menarik, spesial dari BPSDM Jawa Timur. Jadi pastikan untuk Anda dapat menyimak materi baik-baik dan kalau misalnya ada hal yang ingin dikonfirmasi kepada narasumber langsung saja bisa menggunakan feature rais hand melalui Zoom atau bisa drop question di live YouTube BPSDM Jatim TV. Kali ini kita akan masuk ke materi kita yang pertama. kali ini akan berbicara terkait dengan komunikasi publik ASN sebagai pondasi personal branding yang berintegritas. Materi kali ini akan disampaikan secara langsung oleh Bapak Dr. Suko Widodo. Beliau ini merupakan dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Erlangga Surabaya dan telah hadir bersama dengan kita semua di sini, Pak Suko Widodo. Selamat pagi, Pak Suko. Pagi, Mas Lukman. Sehat selalu, sehat. Alhamdulillah. Terakhir kali kita bertemu tahun lalu di ITS waktu itu Pak Suko sempat isi kelas kami di SIMT ITS. Kalau Bapak ingat, saya selalu ingat orang yang cerdas lah. Salam sehat selalu, Pak Suko. Kali ini kita akan mendengarkan paparan materi menarik dari Pak Suko mengenai komunikasi publik selama kurang lebih 30 menit, Pak. Nanti kita akan lanjut ke sesi tanya jawab. Silakan Pak Suko. Makasih, Mas Sali. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. ee saudara sebangsa dan seasn belajar ee ada kalimat yang menarik dari ee Pak Ramli tadi bahwa setiap perilaku adalah pesan ee dalam konteks saya belajar komunikasi ee hari-hari ini kita mengalami sebuah ee perubahan mendasar di dalam tata cara ee berkomunikasi tidak lagi dibatasi oleh ee ruang dan waktu seperti di masa silam. Islam, tetapi mungkin jauh lebih luas. Itulah kenapa ee pesan Pak Ramli ee direktur Universitas BPSDM ini menarik ya, karena e ini tempat yang bagus sih. Saya berharap apa teman-teman di Sesia sesekali tengoklah tempat Pak Ramli yang ya kampus dia persis dengan kampus. ee bedanya ee dengan kampus kami misalnya di UNER di tempat Pak Ramli ini lebih apa praksis, lebih ee interaktif dan lebih memberikan kesempatan orang untuk berinteraksi. Ee Mas Sali dan semua teman saya memulai dengan slide ini. Silakan diklik next. Jadi saya membahas ee soal personal branding e berkaitan dengan reputasi. ee akhir tahun 2025 kita menyaksikan ee foto ini yang cukup luar biasa apa ya luar biasa muntakat yaitu Nepal. Nepal terkenal ee bagaimana media sosial yang dihentikan oleh pemerintah karena anak-anak muda terus memprotes ee ee pemerintahnya. Tetapi justru itu yang titik balik ee terjadi apa yang kita sering sebut sebagai nepalisme ya. semua orang ee ee orang-orang pemerintah, parlemen, politisi, ee pejabat diseret secara fisik yang ee sangat ngeri. Maka anak muda yang ee di gambar ini, Mas Sali bisa menterjemahkan tulisan ini, Mas, yang ditulis di ee kertas dipegang gadis cantik ini. Kira-kira terjemahnya ee para ASN jangan lupa angsuran motornya segera diselesaikan kira-kira itu. Tapi bukan itu yang ingin saya katakan. Tetapi peristiwa ini menunjukkan bahwa ee anak-anak muda ee Gensi dan X pasti sisanya yang sekarang ini sedang atau Y yang sekarang ini mendominasi ee masyarakat kita ini ee menentukan arah itu dan itulah titik awal dari ketika kita bilang di mana posisi kita berada yaitu di posisi saya berada di antara orang-orang netizen yang ee ee maha benar dengan segala kritik dan ee kecamannya dunia menjadi ee menjadi sama dan tidak ada ee struktur. Tapi tentu sebagai e seorang pega negeri kita tentu punya arah ee apa yang Anda lakukan hari ini ee berbeda dengan mungkin 20 atau 10 tahun lalu. Kalau 10 atau 15 tahun lalu ee kalau Anda melayani misalnya ee kekecewaan dari ee klien Anda atau ee konsumen atau warga negara semisal misalnya Anda di Puskesmas ya dan ketika Anda melayani ee dengan tidak terlalu bagus maka paling banter Anda dibahas oleh 11 sampai 12 orang. Wah, itu petugasnya ee ee sudah tidak ee ganteng tapi belagu misalnya. Tetapi hari ini ketika Anda melakukan hal yang salah dalam melayani, maka seketika itu jutaan orang seluruh dunia akan menyaksikan bagaimana ee citra diri Anda, brand Anda, ee reputasi Anda, bahwa itulah kualitas ASN. Karena itu ee apa ee akhir dari membangun brand yaitu next ee bisa di lanjut. Nah, next. Oke. Nah, inilah kemudian yang menghadirkan orang yang saya kagumi. Pada akhirnya integritas menjadi jawabannya. Anda lihat bagaimana seorang susila yang usianya 73 tahun akhirnya dipercaya untuk memimpin ee pemerintahan. ee transisi di Nepal bukan karena dia ee seorang yang muda, bukan apa, tapi integritas. Susila Karki adalah seorang hakim agung yang kemudian pensiun dan kemudian dia ee di panggil lagi lewat discourse ee pilihan yang itu ditentukan oleh media sosial dan anak muda memilih Sus Karki untuk memimpin Nepal. Nah, belajar dari peristiwa ini maka mari pelan-pelan kita apa yang kira-kira harus dilakukan ee seorang ASN di dalam melayani melayani mencapai tujuannya dia sebagai ASN. Seringki kesalan kita adalah kita terlalu mencintai cita-cita kita. Kita terlalu mencintai tujuannya kita. Tapi kita tidak setia dengan tujuan kita. sehingga orang lebih banyak melakukan apa yang diinginkan bukan apa yang diinginkan oleh ee tujuan dari publik. Next. I next ya. Oke. Nah, ini yang saya kira eh next apa di ada penjelasan di bawahnya. Ini yang kita sebut we are moving from a wood of solid structure to one of light eh shifting condition. Kita sedang bergerak eh dari dari dunia yang terstruktur kokkoh menuju dunia yang sangat cair dan ee terus berubah. tidak lagi Anda bisa apa mengandalkan ee apa yang ee Anda yakini, tetapi Anda juga harus membuat ee keyakinan pada orang lain. Itulah di dalam komunikasi ee yang bagus, seorang Peter Drcker mengatakan bahwa kemampuan komunikasi yang baik adalah ketika ASN mampu mendengarkan suara yang tidak berbunyi. Nah, kalau Anda sudah menangkap ee apa suara yang tidak berbunyi, suara orang terpinggirkan, maka Anda bisa melakukan setia dengan menjalani memenuhi itu. Artinya apa? Saran saya mulai sekarang semua ASN, semua ASN ee secara kelembagaan saja. Karena personal branding ASN itu bukan personal branding atas nama individu, tetapi dia adalah representasi dari institusi. Seorang ee guru tentu ee dia harus ee dekat dengan buku, dengan literatur, dengan etis dan sebagainya. Seorang dokter tentu dengan jadwal yang tetap. Nah, perilaku-perilaku itu seperti kata Pak Randi tadi adalah perilaku itu adalah pesan yang terbaik dibanding kata-kata dalam dunia yang cair ini. ee kita kemudian ee dalam sorotan ee di dalam ee tidak hanya sorotan ya, tapi dalam pemantauan karena ee fungsi media sosial telekomunikasi adalah ee cara terbaik untuk melakukan akuntabilitas publik terhadap ee Busi ASN. Oke, next. Nah, dalam perubahan ini ee maka next ya. ini yang kemudian menjadi persepsi terakhir. Tetapi ini ee riset ketika tahun 2000 2019 yang waktu itu belum ee belum kita belum move ketika ee apa ya ketika masih ee belum pandemi. Nah, ini pandangan publik yang saya kira ee kita harus menjawabnya. Pertama bahwa persepsi lamban dan birokratis. Saya tidak perlu menanyakan apakah itu Anda lakukan atau tidak. Sejaknya ini yang harus dihindari. Yang kedua adalah kurangnya transparansi. Nanti kita bicara tentang ee hak atas informasi publik Undang-Undang ee 1428. Kemudian rendahnya inovasi dan adaptasi. Kritik terbesar dari e SN anak muda adalah pegawai negeri kakaian upacara cius ini. Jadi makanya apa yang membuat upacara? Apakah meresmikan ee apa ya panen raya itu ee Anda harus turun atau Anda cukup datang atau apa. Nah, ini kan harus diukur gitu loh sehingga Anda tidak mendapat persepsi buruk. Ee kurangnya akuntabilitas individu, kesenjangan kompetensi antar generasi. Karena agak beda ya Bapak, Ibu sekalian. Saya sering menyaksikan hanya karena target waktu atau ketentuan ee kita tidak ee melakukan perubahan-perubahan. Misalnya ee saya tahun 92 mungkin ketika Anda belum lahir ya mengajar itu 2 jam 3 jam mahasiswa itu masih tekun mendengarkan. Tapi hari ini kalau saya jangankan 1 jam ya, jangankan 2 jam, ngajar setengah jam aja sudah protes. Saya selalu mencatat bahwa setiap menit ke-15 tuh mahasiswa sudah usrek. Usrek itu apa ya? Sudah bingung. Dan biasanya mereka menundukkan kepala dukaan saya. Mereka berdoa, "Ya Allah, semoga Pak Suko segera keluar dari ruangan ini." Karena mereka tidak ee tidak ee lagi memandang ee sosok dosen ee dengan branding yang hanya ee seperti instruktur. Mereka menganggap ee dosen sebagai partner yang egaliter. Karena itu pola ini harus dirubah kalau kita menjawab ee terhadap ee personal branding yang kita lakukan. sama Anda pun juga begitu melakukan itu, melakukan itu. Yang ketiga, loyalitas pada institusi itu kewajiban dan publik. Ya, itu saja. Jadi ee ini akan kita jelaskan ee terakhir pertanyaan saya yang selalu kepada ee peserta ee soal personal branding terhadap kes itu adalah andai kata karena rumusan ASN itu mesti wah mesti korupsi nih ASN ini ke negeri misalnya kira-kira kalau Anda mendapat gratifikasi atas kuasa Anda mengeluarkan izin apa yang Anda lakukan kira-kira gak usah dijawab di batin saja ya. Tapi Anda akan mendapat tantangan itu ee ee ketika Anda ee ee ee berhadapan dengan publik dan di situlah letak ujian utama. Apakah Anda setia membangun brand Anda sebagai orang yang anti korupsi atau tidak? Next. Oke. Apa sih sebelumnya personal branding? Personal branding adalah janji sebetulnya. Brand. Jadi di masa silam ya brand itu dulu sebetulnya adalah tanda ya. Jadi di masa silam kalau Anda belajar soal brand itu kan ee misalnya kuda kuda itu kan mesti ee agar tidak hilang kepemilikannya maka dia dicap itu ya dicap jarannya dicap biar enggak hilang. SW Sukodo. Itu punyanya Sukow Widodo. Atau orang mengatakan peneng ya. Kalau anjing itu dikasih ee surat itu pendeng agar tidak mengganggu agar saya bertanggung jawab pada anjing saya misalnya. Namanya peneng. Nah, brand itu kemudian ee dalam perkembangannya ee tahun se apa ya? Tahun abad ke-20 dia kemudian menjadi sebuah pesan dan dia adalah representasi dari diri kita. dia adalah janji bahwa oh kalau mereknya merek ya brand merek oh ini kalau mereknya ee Honda wah pasti nomor satu. Nah, ketika kemudian Yamaha ee Yamaha membuat brand, tapi ini klaim ya, Yamaha kemudian mengklaim bahwa ee ee Yamaha selalu di depan, Honda muncul lagi misalnya bahwa ee apapun Honda selalu unggul misalnya dia tapi klaim-klaim ini tidak ee menjadi gagal kalau apa ya tindakan-tindakan ee institusi atau ee dalam hal ini teknologinya tidak bisa memenuhi harapan publik. Ibaratnya semacam itu. Jadi kalau Anda pengin menjadi ASN yang bagus, tentu Anda harus memenuhi janji Anda sesuai dengan janji ee sebagai ASN dan tentu saja ruangnya adalah pada ruang di mana Anda bekerja. Tupoksimu itu apa? Saya adalah ee seorang pegawai pemerintah di bidang hukum. Maka mau tidak mau Anda harus belajar hukum, Anda paham pasal-pasalnya dan sebagainya. Kalau Anda misalnya di bidang pertanian, maka seluruh otak dan sebagainya Anda harus mencitrakan bagaimana minimal dengan material pengetahuan itu baru nanti soal ee komunikasinya, soal relasinya, soal dan sebagainya. Ingat bahwa personal branding bukan soal apa ya keterkenalan, tapi soal konsistensi. dari yang Anda lakukan. Next, ya. Ee personal branding ASN ini adalah jejak profesional ya yang ee ee ada tiga hal membacanya. pertama ee ee soal ee bagaimana cara kita ee berkomunikasi. Yang kedua adalah cara kita melayani. Ee dan ini menjadi kebiasaan ya cara kita bekerja itu ee ee apakah kita datang terlambat atau tidak. Ya, mohon maaf ya, seringkiali saya menyaksikan ee misalnya jam 0.00 pagi mereka masih sarapan terus di warung terus baru jam 09.00 masuk terus ada azan zuhur mereka masuk ke masjid dan sebagainya. Paling gampang itu melihat waktu puasa itu wah ini AS ini wah ini perlu dipantau ulang. Nah, tindakan-tindakan Anda ee perilaku Anda itu adalah pesan yang ditangkap orang dan itu mesti ee dimerki oleh atau dibrand. Jadi brand itu ee klaim tapi dia itu ditentukan oleh pandangan publik orang yang menilai bukan oleh Anda. Sebagus apapun kalau Anda melakukan apa tindakan atau dengan cara tapi kalau ee pandangan publik kemudian negatif berarti yang Anda lakukan lebih banyak pencitraan bukan theil dari brand yang secara konsisten menunjukkan cara kerja Anda, cara Anda mengkomunikasikan. Jadi dia dilihat dari kebiasaan-kebiasaan. Tentu saya menyarankan Anda punya patron yang rutin misalnya ee datang tepat waktu ee berbagian rapi, semua tata ucapannya ee dan sebagainya. Termasuk untuk saya sering menyaksikan misalnya ini barang sepele ya, ini sepele ya ee ketika oh sori ini oke ponsel. Ketika Anda mendapat apa? mendapat ee hati-hati. Makanya ketika Anda ee berbicara dengan atasan Anda, kemudian Anda ee scrolling, Anda capture kemudian Anda kirimkan orang lain. Itu dalam konteks komunikasi. Enggak benar itu gak boleh. Karena sebetulnya perbincangan Anda adalah dengan orang itu. Jadi hati-hati Anda jangan menggampangkan karena penggampangan Anda terhadap pola komunikasi itu justru merusak bahwa oh orang ini suka membocorkan rahasia. Oke, next. Nah, ada tiga pondasi melihat ee persoalan itu. Ee pertama adalah kinerja, kemudian kepercayaan, ee kepatuhan. Tiga hal itu ukuran pertama adalah kerjamu. Percuma kalau Anda ee pakai seragam tepat waktu tapi gak iso nyambut gae plunga-plongo jadi pega negeri. Waduh rek akeh tunggal ii dulu masuknya lewat apa itu kan orang jadi gitu kan. Anda harus ketok smart itu wajib. Dan smart itu bukan ee sekedar ee sekedar apa ya, bukan bukan ee sekedar banyaknya Anda melakukan kata-kata, tetapi ee keputusan Anda melakukan yang itu menghasilkan output yang terukur itu. Jadi kalau misalnya Anda membuat rancangan sebagai orang e bPeda mungkin ya, Anda ditugaskan menghitung ee apa ya misalnya menghitung sebuah anggaran, maka Anda pasti harus dengan ee dengan ee dengan otak Anda melakukan pekerjaan itu dengan bagus. mengkomunikasikan orang atau atasan Anda atau ee orang lain itu bisa membacanya dan tentu kepatuhan-kepatuhan mengikuti ini boleh, ini tidak dan sebagainya. Pondasinya tiga hal itu ya, tiga hal itu. Kinerja, kepercayaan, kepatuhan. ada pegaan negeri ee ASN yang pointer tapi enggak patuh hari iki misalnya pada atasan karena itu strukturnya itu dan itu yang terjadi sekarang ini meskipun tarik-menarik kita tahu kan bahwa antar generasi ee terjadi konflik. Saya alami juga kepada ee ee pengalaman saya kepada mahasiswa. Saya sering mendapat keluhan ee tapi ini perbankan ya, bukan ASN. Sekarang saya punya punya kawan yang cerita bahwa anak-anak muda ini kurang ajar Pak Suko. Dia tidak etis loh. Kenapa kami minta dia ee pergi mengunjungi misalnya seseorang yang apa yang yang mm yang abonnemen yang tidak apa ya tidak rutin bayar itu ya. Jadi ada tunggaan kamu. Tugasmu adalah pergi ee ngambil uang ke sana. lagi anak itu berangkat dan kemudian dia sudah selesai mestinya secara etis dia melaporkan pada atasan. Atasannya marah ini ditunggu seminggu enggak laporan 2 minggu baru damping loh Anda kok gak laporan padahal sudah beres pekerjaan. Nah, ini kan soal komunikasi, kepatuhan juga. Hal semacam ini ee khususnya kepada muda ee ee kenapa saya dimarahi Pak Suko saya mengerjakan dan uangnya sudah masuk misalnya. Ya, tidak seperti itu. Tentu kan ada persyaratan untuk membangun ee kegiatan agar mencari tujuan sehingga pribadimu itu bisa diterima oleh semua orang. Secara tas ee material kegiatan oke, tetapi tentu ada ee proses lain yang harus mempelaporan dan sebagainya. Next. Next. Nah, tahukah Anda bahwa kepercayaan itu tidak mudah dicapai? Dia tumbuh pelan seperti pohon terus berkembang. Tapi dia bisa tumbang dalam sekejap ketika Anda tidak setia dengan brand atau dengan kebiasaan-kebiasaan yang ee sebagai ASN. Nah, reputasi ini puncaknya di reputasi. Nah, kalau Anda bisa menjaga reputasi, maka tentu Anda akan mengalami kenaikan-kenaikan posisi strategis di dalam ee ASN. Next. Nah, reputasi itu bukan logo. Jadi, ee ini coba saya renungkan misalnya gini, reputasi itu bukan karena Anda sebagai DISUP punya pangkat di sini. Anda sebagai ee BPBD dengan seragam yang penuh gagah, berani. Bukan itu, bukan itu. Itu ee itu atribut yang secukupnya saja. Mohon maaf ya, di Indonesia kebanyakan sibuk dengan seragam tetapi ee ee justru tidak sibuk dengan ee tadi kualitas kinerja tadi. Padahal pondasi ee ee personal brand itu adalah pada ketika dia menunjukkan kinerjanya salah satunya ya. Salah satatunya. Jadi ee nah kalau Anda bisa mengangkat reputasi maka ketika salah itu akan mudah. Nah, di mana letaknya? Nah, Saudara sekalian misalnya Anda punya hubungan yang bagus di mata masyarakat sebagai seorang penyuluh lapangan ee penyuluh lapangan dan atau dokter di lapangan. Maka ee kalau Anda ee setia mengerjakan ee apa yang Anda lakukan, sudah disiplin, sudah menunjukkan tata cara melayani kan ada cara melayani ke masyarakat, maka Anda mendapatkan nama baik brand yang cukup bagus. Nah, ketika Anda salah maka orang akan memaafkan. Itu banyak kasus itu ya, kasus kasus-kasus. Jadi tentu sebagai apa ya, sebagai pribadi kan seringkiali kita ee mengalami kesalahan. Karena ketika kita mengalami kegagalan ee di dalam ee di dalam melayani masyarakat, maka Anda akan ee dimaafkan kalau Anda melakukan tindakan-tindakan kinerja itu disiplin, ee patuh dan sebagainya. Oke, next. Nah, sering ee kemudian pada posisi posisi ini kan jangka panjang. Next. Boleh. Oke, next, ya. Jadi kuncinya pada pemangku kepentingan nanti. Next ya. Nah. Nah, reputasi ini kan bagian dari dari ee tumpukan brand atas diri Anda dan brand itu adalah berasal dari kinerja Anda. Nah, orang yang ee ee personal brand-nya bagus ketika dia menampilkan proof of eh action dari ee yang lakukan daripada janji-janji. Hati-hati betul ya. Seringkiali kalau Anda di pejabat ya kami akan menampung pikiran Anda. Gak bisa anak muda gak bisa lagi mengatakan mereka. Coba lihat saya pelajari betul ee demonstrasi-demonstrasi yang terjadi itu tidak pernah atau jarang menemukan titik temu karena pertama ee mindset kita sudah kita merasa lebih dari orang lain, lebih dari rakyat. Jadi kalau ada ee ada ee ee customer atau klien atau ee warga yang komplain itu satu mereka akan menolak kok itu rakyat salah atau ee ee ee yang kedua ee dia tidak ya menganggap bahwa komplain itu komplain itu ee tidak harus dipenuhi. Ingat complain is gift. Kalau ada ee apa ya misalnya rakyat protes misalnya, maka itu hadiah sebetulnya. Hadiah berarti orang itu konsern terhadap itu. Kalau Anda diabaikan oleh masyarakat enggak ada gunanya ee ASN itu enggak ada gunanya. Maka ee saya selalu menyarankan ee Anda harus punya riset-riset kecil atas institusi Anda. Gak apa-apa kalau misalnya Anda apa yang menyampaikan pada pimpinan Anda, "Pak, ini sudah berubah, Bu, hari ini sudah berubah keadaan." Maka sesekali dinas kita harus ditanyakan kepada masyarakat, kepada stakeholdernya. Kalau Anda dinas kehutanan, ya tanyakan siapa yang berhubungan dengan kehutanan? ya pasti industri kehutanan, masyarakat dan sebagainya. Tanyakan peran Anda. Kalau ee Anda memberikan saran kepada pemimpin atau bos Anda, ini akan bagus ya. Review diri itu menjadi penting. Jadi jangan sampai harus berubah. Pikiran seorang ee Pak Ramli ketika membangun BPSDM ini sebetulnya adalah pikiran yang bertujuan untuk memenuhi ekspektasi rakyat, ekspektasi publik yang ini ee selama ini ee tidak pernah dilakukan dan ketika apa ya pergeseran pergeseran pandangan karena yang kita sebut pertama dunia sudah cair tidak lagi terstruktur ini apa yang sekarang tidak berubah teman-teman kalau Kalau ee di dalam ini agak mundur ya. Kalau Ronggow Warsito itu kan pernah naliko kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange. Pada saat itulah terjadi zaman kolendur negara sudah berubah. Hari ini terjadi. Hari ini terjadi kita tidak lagi ee menggunakan surat fisik. Kita tidak lagi sehingga apa ya? Tidak lagi apa ya? Tidak lagi mengundang cara-cara kuno. Kritik Pak Prabowo misalnya saya dalam perjalanannya lihat spanduk-spanduk misalnya. Spanduk-spanduk itu menarik bagi saya dan saya sudah lama itu mencatat itu. Betul tuh. Kalau saya datang ke berbadah tuh isinya p gombal-gombal yang dipasang yang dan klaim-klaim misalnya ya saya cerita tapi jangan bilang siapa-siapa. Kalau kantor Anda itu juara apa ya? Juara terbaik di Indonesia, kota terbaik di Indonesia, walikota Anda pasang piala dan Anda melakukan itu, usahakan hindari. Masyarakat enggak butuh itu. Brand yang diharapkan masyarakat bukan juara. Mereka enggak butuh juara, tapi mereka bisa bekerja baik, mereka belajar dengan baik dan sebagainya. Jadi sesekali Anda ee merubah itu. Bukan tidak patuh, tetapi tentu harus ada komunikasi pada pimpinan untuk menjelaskan itu. Karena saya tahu kalau Anda menentang bos Anda menolak kan malah bahaya. Anda bisa dimutasi atau malah dimutilasi juga. Next. Nah, reputasi adalah janji yang harus ditepati. Jadi, brand itu merek ya. Jadi kan kalau dulu pemilikan pemilikan ee pemilikan menyangkut equity ee menyangkut batin kita, dia adalah janji. ee ee kalau ee kalau misalnya Anda punya produk paling gampang lihat produk, maka maka Anda biasanya akan buat klaim apa presisi apao-opo dan yang lebih ee yang nyata adalah jargon-jargon kan misalnya misalnya kan ee Australia Selatan bangkit menuju Jaya itu klaim itu klaim hati-hati menggunakan klaim. Karena ketika klaim itu kemudian tidak datang pada tindakan-tindakan seperti kata Pak Ramli tadi perilaku maka blls kantor Anda gak dap dan itu yang terjadi penyakitnya para apa ya para lembaga Esens semacam itu. Kita buat yel-yel, kita terus buat pantun misalnya sakjane ya patek indah ya kadang-kadang itu memaksa orang ya memaksa dalam komunikasi inilah apa ya perubahan-perus kita hitung banget g loh ya jadi anda orang dipaksa nanti kalau saya ngomong ini anda bilang cakep ya jadi dipaksa gak bisa itu brand itu tumbuh dengan ori or urus dan hari ini anak mud muda, butuh orisinal, autentik dan Anda bisa menemukan kalau Anda telaten mempelajari, mendengarkan suara yang lirih, suara yang tidak berbunyi. Nah, brand ini kemudian sesuatu yang harus ditepati. Dia adalah janji sebetulnya. Oh, kalau ada ASN itu janji saya apa? Janji saya bekerja keras, saya disiplin, saya tepat waktu, saya melayani di bidang saya. Kemudian yang kedua adalah operasinya, praktiknya. Praktiknya itu benar-benar harus di dijalankan betul ya yang ee kinerjanya, konsistensi ee komunikasi itu dan hasilnya adalah reputasi. Jadi reputasi itu puncak dari brand ee yang Anda tepati. Ben itu adalah sebetulnya adalah tindakan-tindakan Anda ee apa yang dijanjikan ketika Anda sumpah menjadi bagian negeri. Kan itu kalau saya tanya tadi bahwa kalau Anda dapat gratifikasi apa? Saya tidak jawab. Catat dalam hati Anda dan renungkan aja dijawab dalam hati masing-masing. Next. Nah, ini kan janji itu harapan ekspektasi. Terus praktiknya dijawab dengan kinerja yang real. Terus setelah itu apakah ee apa konfirmasi apakah betul tidak sampai nanti munculnya kepuasan orang dan reputasi. Cara yang jujur adalah ee ketika Anda diukur brandnya adalah mulai dari sederhana. Misalnya Anda membuat angket kepada teman-teman. Ee tugas saya ini sebagai ee ee tugas saya sebagai resepsionis. Apakah saya sudah menemui memenuhi harapan? Tanya aja kepada teman-temannya dan sebagainya. Suatu saat pernah ya saya ini datang ke ee ke kantor pemerintah datang misalnya begini ya. Jadi kan pesannya Pak Ramli kan yang profesional, etis, berintegritas. Saya datang ke ee tempat itu. Saya mengucapkan selamat pagi Mbak. Si ASN menjawab dengan suara yang indah, seindah suaranya Aura Kasih. Eh, saya dia jawab, "Pagi, pagi, Mbak." "Pagi." Tapi dia tidak melihat saya sama sekali. Dia duduk dengan tenang sambil HPAN gini dan melayani begini. "Pagi, Mbak. Pagi. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" ini sudah dalam catatan saya. Oh, ini sudah salah brand semacam itu. Akhirnya satu orang mawa lembaga itu akhirnya saya cap, oh kantor ini memang kantor brengsek. Kantor ini tidak paham komunikasi. Kantor ini sombong padahal khaya itu terbukti. Pada sisi lain saya datang ee ee datang dengan cara beda. E saya agak mencontohkan di luar negeri misalnya kalau Anda datang di apa datang makanya sesekali nonton drama cinta ya atau drama Kore agak lumayan bisa dipelajari walaupun hidup tidak semudah itu. Jadi datang periksa dokter, dokternya datang menyambut ee selamat datang. Kemudian ketika pulang dari rumah sakit dia antarkan sampai keluar. Berandia luar biasa. Pernahkah dokter kita melakukan itu? Atau perawat aja misalnya dia datang. Jadi ucapan itu tidak cukup brand. Dia pada level komunikasi itu pikiran, ucapan dan tindakan. Hal yang paling mendasar dari brand yang tangkap ASN adalah ketika dia melakukan tindakan. Ketika dia misalnya kalau misalnya dia bawa berkas ya, ASN itu bawa berkas, saya bawa berkas ee Pak ini gimana? Terus ASN itu melayani dengan itu ditulis Pak yang itu loh. Masa enggak bisa itu loh, Pak. Coba bayangkan kalau seorang ASN datang pada pelayanan dan membantu, "Oh, ini Pak ini contohnya ini di sini dia melakukan tindakan itu, itu baru kembang brand." Jadi merubah merubah merubah ee brand atau untuk brand adalah ketika dia melakukan contoh ril praksis yang dilakukan bukan sekedar klaim-klaim tadi. Kita adalah kabupaten terbaik ee se Jawa Timur, kita terbaik se-Indonesia. Gak bisa klaim itu kecuali Anda melakukan hal kecil bahwa seluruh pegawai negeri melakukan tindakan itu di Puskesmas didatangi sakit apa, Bu? Kelunya apa dengan telat? Mengapa harus demikian? Begitulah sumpah dari yang Anda janjikan kepada ee rakyat sebagai ASN. Next. Nah, personal branding ee bukan membuat diri terlihat hebat, gak, tapi membuat publik merasa aman karena Anda bisa diandalkan. Banyak loh rumah sakit yang sukses di Tulungagung, di mana-mana itu enak di rumah sakit itu ibunya telaten, melayani dan sebagainya, ada antusiasme semacam. Jadi dasar dari BR itu adalah berasal dari pikiran Anda. Ketika Anda melayani. Spirit Anda adalah melayani. Karena kebaikan hidup Anda adalah melayani, maka ya ee janji Anda reputasi e janji itu yang harus Anda penuhi. Next. Nah, personal eh branding bagi ASN ee dia merupakan jejak profesional yang terbaca dari empat hal. Cara kerjamu, komunikasimu pada yang Anda layani, terus cara melayani Anda dan cara menjaga integritas. pengalaman dari Susila Kark di Nepal dia akan selalu dipanggil. Kalau Anda punya brand yang bagus sebagai ASN maka di manaun Anda akan dipercaya. Ini hanya soal kebiasaan, soal passion. Nah, passion sekarang passion itu bakat bukan men. Passion itu adalah ketika Anda sabar melakukan sesuatu yang meskipun itu bukan keinginanmu, tapi Anda kerjakan. Itu passion. Jadi passion misalnya, oh passion-nya anak saya itu sebagai ya tidak persis benar itu. Passion adalah ketika dia memilih itu dan dia menjalankan dengan ikhlas. Jadi, ASN adalah orang yang memiliki passion, kualitas passion yang bagus passionnya di situ. Next. Nah, ini yang saya kira ee praktik-praktiknya Anda bisa ee apa ya? Bisa ee membacanya di Oke, sebentar. Oke. Oke. Iya. Jadi, Anda bisa melihat bagaimana ee passion itu dikembangkan pada ee tata cara ya. Jadi ee cara pekerjaan. Nah, praktik tindakan personal branding itu adalah satu kompetensi. Tunjukkan keahlianmu. Kalau Anda sebagai perencana ya berarti Anda punya perencanaan. Bagaimana pengetahuan membuat rencana? Kalau sebagai humas pemerintah, maka Anda bisa harus membuat kemampuan untuk menulis, melayani, memilih kata yang bagus. Kalau Anda ee passion-nya Anda, sori bukan passionnya kalian keuangan ya Anda harus paham betul keuangan. Jadi praktik real dari eh personal branding bagi ASN adalah satu kompetisi. Kompetensi kompetensi kemampuanmu. Kompetensi itu harus diasah betul ya. Kalau Anda misalnya bagian ee perizinan, Anda kan tidak harus ee Anda harus bisa menjelaskan kepada masyarakat izin yang mudah itu seperti ini. Bukan janji ee kami melayani satu atap atau satu pintu. Pintune siji malah grundelan tutup banyak pintu. Kenapa tidak misalnya jadi logika-logika itu dipakai. Yang kedua, integritas. Integritas itu kalau Anda bisa menghindari konflik kepentingan, fast interest, jarak ee yang situasinya abu-abu harus Anda jaga. Anda harus berani mengatakan tidak pada gratifikasi. Gak perlu Anda marah misalnya, "Pak, jangan nyogok saya itu menghina saya." Enggak. Cara komunikasi dengan bagus. Oh, tidak, Pak. Gak boleh, Pak. di sini karena ini adalah tugas saya misalnya. Yang ketiga adalah orientasi cara berpikir bahwa ee pastilah Anda harus ee ramah hospitality yang tadi saya contohkan bagaimana dokter spesialis pun mengapa pada banyak ke Penang, ke Singapura ya karena dokternya ikut melayani keluar menyambut tamu. Dia tahu jadwalnya ini kaitannya dengan apa ya ee pengetahuan ee ee komunikasi ya. dia datang kapan kemudian ada berjanji Anda menyambutnya dan sebagainya. Kemudian responsif bukan reaktif. Responsif itulah gito-gito ya. Kalau ada orang sakit ya datang ee ee dengan sungguh-sungguh. Jadi tak menampakkan kolaborasi pasti kan Anda tidak bisa ee kaku ee Anda harus bisa kerja sama dan yang terakhir adalah Anda harus menghindari dari ee kalimat-kalimat yang menyalahkan. kalimat yang sifatnya provokasi atau menyulut ee menyulut persoalan semacam itu. Next. Nah, reputasi ASN lahir dari pelayanan yang konsisten, bukan dengan kalimat meyakinkan. Percuma Anda menulis tulisan besar-besar, ya. Misalnya ee kami apa ya pengabdianku adalah terdepan pret kata penduduk itu has janji tok karena apa dalam praksisnya tidak di apa tidak ditaati brand adalah ketaatan kepatuan terhadap apa yang dijanjikan. Next. Nah, ini intinya bahwa pelayanan rapi adalah komunikasi publik yang paling dipercaya. Jadi, ee tindakan-tindakan yang nyata ee itu adalah brand yang ee begitu ee ditangkap. Terakhir ee sebelum nanti kita tanya jawab, lalu bagaimana dengan medsos? Metsos misal tentu boleh pakai medsos. Tetapi ketika Anda menjadi ASN sama dengan tentara maka memang Anda harus punya batas-batas tertentu. Jangan sampai kemudian medsosmu merusak reputasimu sebagai seorang ASN. Demikian Mas Ali yang bisa aku sampaikan. Nanti kita mungkin ada slide yang belum. Tapi saya akan senang sekali kalau kita ada ee pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman. Ee ingat bahwa menjadi ASN itu adalah mimpi begitu banyak orang. Anda tahu. Apalagi hari-hari ini ketika banyak mahasiswa S2, S1 terpaksa bukan tidak baik ya, Gojek bukan tidak baik dia melakukan sesuatu yang kemudian tidak sesuai dengan apa ya dengan kompetensinya. ee misalnya ee misalnya harusnya dia mengajar tapi dia harus ee apa melakukan tindakan sebagai seorang driver. Ee saya tidak mengatakan Gojek itu jelek, kita juga terima kasih. Tapi kadang-kadang ee apa ya, begitu banyak orang yang pengin jadi ASN tapi dia tidak memenuhi persyaratan itu. Nah, maka ketika Anda sudah jadi ASN ee kekuasaan ada pada Anda, jaga betul ee komitmen Anda, keahlian Anda ee agar ee Anda bisa menemukan ee apa yang Anda harapkan. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak Suko atas materinya yang sangat menarik sekali. Building reputation ini dimulai dari kita aware akan janji yang kita hadirkan di publik dan bagaimana kita secara konsisten memenuhi janji tersebut. Jangan lupa tiga pondasi yang tadi disampaikan oleh Pak Suko kinerja kepercayaan dan juga kepatuhan. Kali ini kita akan masuk ke sesi tanya jawab bersama dengan Sobat ASN yang sudah mengaktifkan feature r hand via Zoom. Saya izin undang terlebih dahulu untuk penanya kita yang pertama. Kami persilakan Bu Tri. Selamat pagi menuju siang Bu Tri. Mohon izin Bu Putri masih oke sudah masuk suaranya. I eh baik terima kasih I Pak ee atas kesempatannya Pak. Ee di sini sangat menarik ya. Ini juga tadi saya kenapa offcam karena tadi sambil ngajar ini baru selesai ngajar di kelas 11 tadi gitu. Ee yang ingin saya tanyakan tadi ee luar biasa penjelasannya yang disampaikan. Yang pertama adalah eh bagaimana personal branding itu dikaitkan dengan core value ASN. Eh bagaimana personal branding ASN itu bisa dikaitkan dengan core value ASN itu. Nah, kemudian yang ee terus yang kedua, strategi apa sih untuk membangun personal branding yang profesional gitu? ee bagi ASN. Kemudian apakah ee platform apa saja yang digunakan selain media sosial? Kalau kita tadi ee sudah saya simak ketika bermedia sosial harus berhati-hati dan sebagainya, tetapi kita juga tetap butuh menggunakan media sosial asal kita bijak gitu ya. Nah, etika dan integrasi terkait the ketika untuk membangun personal branding itu bagaimana sih etika dan integritasnya terkait the dos dan the dons. Apa batasan etika dalam personal branding ASN? Kemudian pahami kodir etik terkait dengan PP nomor 42 tahun 2004 yang sebagai pedoman perilakunya. Nah, kemudian bagaimana sih untuk menjaga integritasnya? Ee terus tantangan dan solusi. Tantangan utama terkait solusi ee yang ingin saya tanyakan solusi terkait dengan analisis SW SWAT dari diri sendiri eh itu bagaimana. Kemudian eh yang lain sih kayaknya untuk upgrade scale eh skill yang secara berkelanjutan ya seperti itu. Jadi itu aja sih yang ingin saya tanyakan terkait dengan etika dan integritasnya. The DOS dan the-nya. Kemudian terkait dengan ee tadi ya ee tantangannya, terus bagaimana ketika dikaitkan dengan ee analisis SW diri sendiri itu bagaimana untuk pengaitan dari hal itu gitu. Terima kasih Putri. Terima kasih. Saya boleh tanya Putri? Silakan Pak Suko? Iya boleh Pak. Silakan Pak. Putri mengajar di mana? Saya mengajar di SMA Negeri 1 Madang di Kabupaten Bogor ee Jawa Barat, Provinsi Jawa Barat di Dinas Pendidikan Wayat ee bahasa Indonesia sama ekonomi. Bahasa Indonesia sama ekonomi. Kemudian saya dosen untuk MKDU Bahasa Indonesia juga di Universitas Teknologi Nusantara di Bogor. Salah satu PTS ee Bogor. Saya sudah menduga. Jadi satu ee ee Putri konsisten konsistenlah sebagai ASN. Nanti kalau Anda tidak konsisten, Anda nanti akan mendapatkan akanatkan citra yang tidak terlalu bagus. Biasanya saya juga saya juga anggota dewan pendidikan. Saya selalu menyarankan kepada guru-guru itu satu, setialah. Setialah pada tugas. Tugasmu apa? Tugas saya adalah mengajar. Maka bangunlah cara mengajar simpel aja. Cara mengajar yang baik gitu aja. Dengan jujur, e dengan jujur tanyakan kepada siswa. Biasanya gitu, Mbak. Saya tanyakan kepada siswa sampai misalnya gini, saya ngajar umur saya sekarang 62 tahun. Saya tanya kepada anak-anak, kan saya kalau ngajar seringki punya kelemahan. Jadi, Anda harus sadar dulu dengan kelemahan. Sebagai seorang yang ee guru, yang juga dosen, saya kira Anda punya keistimewaan, ya. Tetapi di balik keistimewaan, Anda harus mulai menyadari kelemahan. Saya selalu menanyakan kalau orang tua sesaya itu kan kalau ngajar seperti dulu pada zaman saya muda itu sering saya ucapkan menyenangkan bagi saya tapi menjenuhkan bagi ee mahasiswa. Saya harus berjanji sampai saya akhirnya dialog dengan anak saya ingat kalau Pak Suko nanti ngajarnya bilang dulu lebih dari dua kali silakan Anda keluar dari ruangan itu. Berarti saya gagal. Ini saya lakukan untuk menghindari dari cara-cara otoriter bagi seorang pendidik. Pendidik itu punya kecenderungan otoriter, Bu. ini secara teori konsep sudah jelaslah karena apa? Dia punya kuasa ilmu menganggap muridnya itu adalah apa? Ee ee saya lebih dan mereka kita isi. Kondisi saat ini berbeda karena apa? Anak-anak sudah mendapatkan asupan dari berbagai media untuk belajar. Itulah kenapa salah satu cara ASN khususnya guru di dalam bangun diri adalah dia tetap melakukan percaya diri. percaya diri itu dibangun dari dia harus belajar tidak henti. Yang kedua adalah kita ee kita mencoba untuk apa ya memberikan empati bahwa orang lain bisa lebih dari saya kalau dia dapat semacam itu. Saya tidak punya ee tidak memberikan saran apapun, tetapi komitmen mulai dari ee percaya diri ee ee tetap percaya diri tetapi kesediaan belajar itu menjadi penting. Ee kita tidak bisa mengatakan bahwa saya terbaik. Yang mengatakan ee ee saya baik adalah orang lain. Maka satu-satunya jalan ee dari personal branding yang Anda katakan core value macam-macam ya memang ada limitnya. ada batasnya. Tidak bisa kita akan mendapatkan semua orang. Makanya kan penyakit orang sekarang adalah viral. Dipikir yang viral itu pasti berhasil. Akhirnya dia memaksa temannya untuk like, like atas apa yang di dikomunikasikan. Saya lebih menyarankan daripada Anda viral diri, lebih baik Anda memvitalkan diri dengan belajar dan itu yang kedua soal etis itu tentu ee berbeda ee kelemahan kita kalau personal branding itu dianggap banyak ASN yang mengartiskan diri. Ingat, Anda bukan artis dan itu bukan profesi kita. Profesi kita adalah melayani publik. Itu aja saya kira saran saya. Makasih atas jawabannya. Butri terima kasih. Mohon berkenan untuk ee mengirim alamat dan juga nomor WhatsApp ke tim admin kami untuk pengiriman hadiah. Terima kasih Butri. Salam sehat selalu Pak Suko. Terima kasih. Tidak terasa kita sudah berada di penghujung sesi pertama kali ini. Barangkali sebelum ditutup Pak Suko, ada satu closing statement yang ingin Bapak sampaikan kepada sobat ASN yang menyaksikan acara kali ini. Silakan Pak Suko Lukman Ali adalah seorang moderator yang bagus. Dia tahu memilih kata, dia tahu berpakaian, dia tahu nafas. pelajarannya adalah dia ee ee Mas Lukwan Ali ini ee kalau lihat personal brandingnya sudah on the track ee dengan lalu memperhatikan kepentingan orang lain. Dia potong kata dan dia menjadi begitu karena dia setia bahwa dia mau belajar. Jadi intinya ee saya tidak harus mengharuskan Anda sebagai apa, tapi belajar ee dan tidak menyerah adalah cara terbaik untuk membangun reputasi. Terima kasih Pak Suko atas closing statement yang sangat menarik sekali. Salam sehat selalu. Kita bertemu lagi di event-event selanjutnya, Pak. Thank you, Pak. Thank you. Mohon maaf. Makasih, Mas dan semuanya. Terima kasih Pak Suko. Sampai bertemu lagi. Sobat ASN jangan ke mana-mana karena masih ada dua narasumber yang tidak kalah menarik. Tetap di webinar ASN Belajar seri 4 tahun 2026. He. Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN Belajar seri 4 tahun 2026. Personal branding ASN profesional, etis, dan berintegritas. Di materi kedua kali ini kita akan menyimak paparan sangat menarik mengenai penguatan karakter, integritas diri, dan kematangan psikologis ASN dalam membangun personal branding bersama dengan Dr. Dewi Retno Suminar. Beliau ini merupakan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Erlangga Surabaya. Selamat siang, Bu Dewi. Kabar baik. Selamat siang, Mas Lukman Ali. Suara saya terdengarkah? Terdengar dengan jelas, Bu Dewi. Kabar baik, Ibu. Oke. Alhamdulillah kabar baik juga. Luar biasa banget, Bu. tadi ee sempat disampaikan juga oleh Pak Suko di materi sebelumnya bahwasanya problem yang seringkiali dialami oleh teman-teman ASN ini adalah kurangnya akuntabilitas individu. Dan kalau kita bicara terkait dengan kurangnya akuntabilitas ini kan berkaitan erat dengan karakter, integritas diri, dan juga kematangan psikologis. Kali ini kita ingin mendengarkan paparan menarik dari Bu Dewi terkait hal tersebut kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita lanjutkan dengan sesi tanya jawab. Silakan Bu Dewi. Iya, terima kasih. ee nanti saya bisa dibantu juga ya untuk slide ee ee show-nya karena saya tidak sendiri. Iya. Ee terima kasih. Jadi ee satu hal yang menarik. Jadi apapun aturannya, apapun yang terjadi semua kembali pada manusianya. Ya, sebelumnya terima kasih ee saya ucapkan asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee shalom, om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. buat semuanya. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya gitu ya. Jadi ee materi yang akan saya berikan adalah tentang integritas sendiri dan kematangan psikologis ASN. Jadi seperti yang disampaikan tadi memang kembali pada manusianya ya pada diri sendiri gitu ya. Ee jadi next silakan. Ah, oke. Saya perlu memperkenalkan diri. Ini orang sudah tua gitu ya, sudah tuir. Ini seorang nenek dari lima orang cucu gitu ya. Oke, bisa next ke materinya. Nah, kembali ee tadi sudah disebutkan branding yang disampaikan oleh Pak Suko ada kaitannya untuk ee ini ya ee bagaimana ee memberikan pelayanan karena pelayanan itu bisa rusak branding organisasi bisa rusak karena ee orang satu orang aja gitu ya. Oleh karena itu, saya ingin coba ee seberapa pentingkah personal branding, kasus-kasus yang terjadi ee pada ASN eh integritas sendiri, self integrated eh integrity itu adalah kaitannya ketika mereka tidak bisa ee menyelaraskan ya value-value yang harus dia miliki dengan ee apa yang dia tampilkan gitu ya. Oleh karena itu ee saya ingin coba menyampaikan bisa di-s ya seberapa pentingkah gitu ya. Saya ingin coba e memberikan penegasan dulu gitu ya. Ee personal yang branding adalah ee gambaran diri seseorang, gambaran diri Anda gitu ya di hadapan orang lain, di publik gitu ya. ee ini khususnya ee kalau kita mau lihat ASN pasti ee ada ada ini yang harus dirubah ya branding-nya juga ya bahwa secara ASN itu kan pegawai negeri sipil ya, aparatur sipil negara. Ketika sipil negara maka sebenarnya Anda tidak hanya membawa personal branding Anda, tetapi juga brandingnya sebagai seorang ASN. Nah, ini yang menjadi beratnya adalah ketika rusaknya satu orang tadi yang disampaikan oleh Pak Suko gitu ya, juga akan berdampak pada orang lain. Nah, ini akan menjadi e PR buat kita. Kita akan membawa bagaimana cara yang kita harus perkenalkan diri Anda di hadapan publik. Kalau ASN itu adalah rapi mulai penampilannya rapi ee cara berkomunikasinya ini harus harus harus ditunjukkan gitu ya. Karena kembali lagi kita harus bagaimana membentuk personal branding. Ini yang ee ee ingin saya sampaikan di sini bisa next. Nah, saya sebenarnya inginnya ada interaktif di sini. Semua pasti akan tahu tentang B Habibi, Pak Purbaya ya, si Genit ini gitu ya. Ada ada satu hal yang branding, mereka mempunyai branding sendiri gitu ya. Kita akan melihat apa yang bisa Anda katakan tentang dia gitu ya. Ee mungkin karena mereka artis, kalau mereka adalah tokoh gitu ya. Nah, Anda juga gitu. Anda sebagai seorang ASN, saya ingin sebagai ASN di bagian apa gitu ya. Saya adalah ASN yang bergerak di bidang sebagai seorang guru. Apa yang harus dilakukan sebagai brandnya seorang guru? Digugu dan ditiru gitu kan. Apa yang bisa saya bandingkan ee ketika saya sebagai seorang dosen? Apa yang saya bisa lakukan kalau saya bekerja sebagai seorang pegawai yang ada di birokrasi sebagai bagian kepegawaian? Anda sendiri yang sebenarnya bisa mempunyai gambaran tentang itu. Ya, saya belajar satu sosok di sini yang ASN gitu ya ee Pak Purbaya gitu ya. Ee Anda buka deh di di di internet gitu ambil image-nya Pak Purba ya. Anda lihat gitu bagaimana dia berpikir, bagaimana dia tersenyum, bagaimana dia tersenyum dengan me membuat orang lain gemes gitu ya. ini orang kamu kok enggak tahu ya ini saya ini orang pintar ini saya orang ini image yang ingin dia sampaikan. Nah, ini juga eh Raditi kalau dia seorang artis ya ini juga kelihatan kan dari jadi sebuah eh body language bahasa tubuh Anda dan kemudian bagaimana Anda mengeluarkan itu itu juga akan mempengaruhi gitu ya. Jadi ee bagaimana ketika Anda menyambut kalau misal Anda di bagian pelayanan gitu ya ee di sebuah ee kelurahan, pelayanan di sebuah ee kantor pemerintah misalnya pendaftaran tanah, Anda harus tahu bagaimana gitu ya. Ini ini ada cerminnya. Nah, ini harus ditemukan dulu di masing-masing ya, di masing-masing individu yang ada di dalam organisasi itu gitu ya. Satu contoh gitu ya. Satu contoh ee Anda bisa aja memberikan layanan ini ini terkait misalnya satu contoh ee seorang dekan ya itu ya dekan gitu ini pegawai negeri dekan gitu di sebuah perguruan tinggi ini saya saya coba untuk saya aja deh lebih memudahkan untuk bisa memain bayangannya mereka adalah oh diladenin ee harusnya misalnya ee mobil dengan sopir yang gini selama saya bisa sopir sendiri why not gitu ya. Ya, kalau misalnya memang harus brandingnya misal suatu contoh ibu harus ke suatu tempat di situ ada tamu ee ibu harus diantar oleh oleh sopir. Oke, saya pakai waktu itu. Tapi kalau dari rumah ke kantor kenapa harus pakai software gitu. Ada satu hal yang harus dipahami di sini. ee orang kalau dia menjadi seorang ASN dengan jabatan tertentu enggak perlu dong ada sesuatu hal yang harus misalnya ee harus dilayani, diladeni, gak selalu gitu ya. Jadi ada sesatu hal kapan dia harus menampilkan diri sebagai ee cerminan dari sebuah institusi dan kapan dia tampil sebagai diri sendiri. Nah, ini yang harus harus bisa dipisahkan ya. Ini yang harus bisa diketahui oleh semua orang ASN. Kenapa pejabat ASN terjebak dalam suatu rutinitas minta dilayani, minta no berarti dia belum selesai dengan diri sendiri. Next. Untuk itu biar kita bisa lihat di sini. Next. Nah, bagaimana untuk ee langkah dalam menguatkan personal branding? Ini yang ingin saya sampaikan. Ee bisa next ya, personal branding. Next. Nah, ini yang pertama kenal diri otentiknya. Saya ini siapa gitu ya. Oh. Oh, saya seorang ASN yang sudah 33 tahun bekerja, sudah 25 tahun bekerja, 15 tahun bekerja. Saya adalah seorang guru, saya adalah pelayan birokrasi. Bagaimana saya membantu mereka biar tidak terlalu terjebak untuk lama-lama. Nah, ini loh yang harus kenal diri dulu. Saya ini siapa? Saya ini siapa? Ini yang harus dipahami dulu. Kenal diri otentik. Oleh karena itu, seorang ASN kalau dia ada personal branding, dia harus selesai dulu dengan dirinya ketika dia memberikan pelayanan keluar. Kalau dia belum selesai dengan dirinya, masih galau, masih bingung, masih tidak tahu bagaimana dia berperan. saya ada di mana dan peran saya sebagai apa. Dia tidak sadar itu, maka berarti dia belum selesai dengan dirinya. Saya ada di mana dan peran saya sebagai apa. Karena suatu tempat itu akan memberikan suatu apa ya, suatu ee status itu akan memberikan suatu peran apa yang harus dia lakukan. Kalau saya status saya sebagai dosen, maka saya ada di situ harus memberikan layanan yang terbaik untuk mahasiswa saya. Kalau saya ini sebagai dekan, maka saya harus memberikan hal terbaik bagi orang-orang yang ada menjadi tanggung jawab saya. Ee bagaimana dengan tekniknya? Bagaimana teknik itu bisa bahagia, teknik itu bisa sejahtera, dosen bisa sejahtera, mahasiswa bisa belajar. Jadi itu yang harus ada di dalam benak para orang-orang yang menduduki suatu status tertentu. Nah, ini yang kadang-kadang kesadaran ya itu menjadi tidak bisa dia buat karena mereka belum selesai dengan dirinya. Diri otentik aku orangnya apa? Hal yang menarik ketika orang di Korea tahu, "Ih, tipe kamu apa ya, MBTI-nya misalnya, Mayor Bridge-nya apa." Itu kan sebenarnya mereka sudah tahu aku tuh orang kayak apa. Nah, kadang-kadang seorang ASN masih belum selesai dengan ini. Ini yang harus diselesaikan dulu gitu. MBTI saya apa? Tipis saya apa? Tipical saya apa? Ketika saya ada energi energi saya itu dari eksternal atau dari internal, dia harus paham. Iya kan? Apakah saya seorang strovert ataukah saya seorang introvert. Apakah saya seorang sensing? Apakah saya seorang intuitif? Ketika saya ada informasi, saya ambil, saya terima. Apakah saya seringki orang sensing yang tahu saya orang detail? Apakah saya orang intuitif dalam mengambil keputusan? Apakah saya orang yang feeling pakai perasaan? Apakah saya menggunakan thinking? Nah, ini yang seringki kita tidak kenal diri kita sendiri. Apakah saya seorang perencana ya, orang judging apakah saya seorang yang perifik P tipe saya reaktif? Nah, ini yang harus paham dulu. Kesadaran ini PR bagi semua ASN untuk tahu aku tuh orangnya kayak apa. Kalau masih belum mengenal diri sendiri maka tidak bisa memberikan suatu pelayanan yang benar-benar memiliki suatu integritas. Kalau ee bisa diketahui kenapa orang itu kok PD banget gitu ya, percaya diri ya. Karena dia sudah selesai dengan dirinya, dia sudah tahu aku tuh orangnya kayak apa. Nah, kita mau coba lihat ketika step yang kedua, kalau orang sudah kenal dirinya, dia bisa membangun brand dengan bagus. Dia tahu saya akan menjadikan orang yang dikenal sebagai orang yang kayak apa. Iya kan? Kemudian ee atribut brand itu bisa di gampanglah ya. saya seorang ee dekan yang bagaimana, saya seorang dosen yang bagaimana, saya seorang pelayan pengabdi masyarakat yang kayak apa, saya seorang lurah yang kayak apa? Saya seorang guru yang kayak apa? Ya, saya pencatat ee orang yang melayani di front office yang kayak apa. Kalau dia sudah selesai dengan dirinya, dia berani menciptakan sebuah brand. Nah, kenapa ini yang akan akhirnya dia siap untuk berubah? Dia siap untuk menjadi orang yang tidak seperti biasanya gitu ya. Kalau seorang guru tuh harusnya dengan dia berani untuk guru yang tampil beda. Dia berani memberikan pelayanan yang berbeda pada masyarakat dengan dirinya yang baru. Dia sudah siap untuk mengambil suatu resiko itu loh, Bu. Biasanya seorang dekan itu ee apa-apa kalau tanda tangan tinggal pilih, tinggal telepon suruh mereka datang. Tidak selalu seperti itu. Dia bisa mengantar ketika sudah selesai tanda tangan, dia jalan sendiri kemudian dia datang ke tempat yang loh Bu kan tinggal panggil. Nah, ini saya membuat saya bisa jalan. Ini kan suatu behavior yang sebenarnya tidak terjebak pada saya seharusnya kayak apa. Tergantung daripada self integrated-nya dia. Integritas dirinya apa. Iya kan? ABS asal bapak senang, asal bos senang itu sudah tidak boleh lagi gitu loh ya. Kalau dia sudah menjadi seorang bos, dia sudah servicing, dia sudah melayani karena dia sudah selesai dengan dirinya. Kalau dia belum selesai dengan dirinya, personal brandingnya adalah dia meminta orang lain untuk melayani dia. Kalau dia sebagai seorang bos, ini yang salah. Ini yang saya katakan dia harus terima dulu dirinya, harus selesai dulu dengan dirinya. dia tidak bisa memberikan layanan dengan baik kalau dia masih belum selesai dengan dirinya ya. Oke, next. Kita mau coba lihat di sini kita mau coba lihat seringkiali orang terjebak ketinggal kenal dirinya adalah secara fisik. Wah, saya penampilannya harus bagaimana gitu ya. Saya harus bagaimana? Saya bingung gitu dengan dirinya. No, terima dulu dirinya. Kalau saya gendut ya ya sudah gendut dengan diri saya tapi saya terima kegendutan saya. Tapi saya bagaimana tetap harus mempunyai PR untuk menguruskan tubuh gitu kan. Ah hidung saya pesek. Okelah dengan hidung yang kecil ini bagaimana saya untuk tetap bisa memberikan layanan. Oleh karena itu, kenapa kalau kaitannya dengan fisik itu kita sudah tahu bahwa apa yang harus saya lakukan untuk memb saya terima diri saya orangnya pendek, saya terima diri saya tinggi gitu ya. Saya terima diri saya mungil gitu. Ini yang harus diterima dulu. Bersyukur dengan kemungilannya, bersyukur dengan kegemukannya. Sehingga ketika dia memberikan layanan, dia sudah tidak sibuk lagi dengan dirinya. Citra inteligensia itu kelihatan buku yang dia baca apa. Dia orang cerdas, orang pintar atau orang bodoh gitu kan. Citra moral ya tentang baik buruknya. Dia harus tahu bagaimana citra moral tadi itu ada di dalam diri seseorang. Kalau dia sudah, "Wah, ini sudah enggak sesuai dengan hati nurani saya, maka saya tidak akan terima." Misalnya, itu satu hal yang harus ada di dalam diri seseorang ya. Ee kalau Jawa itu ada yang manunggaling, roso begitu ya. Kalau kalau tindak tanduk itu harus sesuai dengan apa yang saya lakukan itu sesuai dengan apa yang ada di dalam diri kita. Itu yang harus ada dan ini harus dilakukan. Kalau orang belum selesai dengan dirinya, dia masih bingung untuk memperkaya dirinya, masih haus untuk dihargai. Ini yang sebenarnya tidak boleh seorang ASN harus sudah selesai dengan dirinya. Kalau saya masuk di dalam pelayanan ya saya harus sudah selesai dengan diri saya, bukan saya harus minta dilayani gitu kan. Saya harus self fishing kepada orang lain. Nah, ini yang belum belum dimiliki ya. Kita harus ke sana. Next. Nah, dinamika dari personal branding ini, personal brandnya ini yang harus dipahami gitu ya. Jadi ini harus bisa dilihat apa yang harus kita lakukan gitu ya. Sebentar saya bisa biar lebih jelasnya dari sini adalah dari proses dinamika itu kita akan melihat gitu ya. Hal apa yang dipikirkan. Kita masih galau dengan apa yang dipikirkan. hal apa yang Anda tidak ingin orang lain tahu. Jadi, personal branding itu sudah ada inti di tengah-tengahnya tadi. Kita sudah tidak ee berpikir apa yang Anda orang lain ingin ingin lihat saya gitu ya. Saya sudah tidak bingung lagi dengan itu gitu ya. Jadi kalau misalnya saya jadi host gitu ya, ee jadi pembawa acara gitu ya, jadi maka saya sudah tidak boleh merasa bingung lagi orang lain melihat saya itu bajunya bagaimana, bagaimana, apakah saya kelihatan gemuk ini ya itu sudah harus selesai dengan itu ya. Itu personal brand. Oleh karena itu ee kita harus kembali pada integritas sendiri itu. Next. Bisa kita lihat di situ ke next yang berikutnya. Jadi kalau kita mau mengarah kepada integritas diri kita, maka kita harus tahu self diri kita, behavior, perilaku kita yang kita munculkan itu harus berdasar pada value, nilai-nilai apa yang ada di dalam diri kita. Jadi kalau orang lain misalnya seorang leader gitu ya, kalau di dalam value-nya adalah orang lain harus ngelayani saya. Maka, maka behavior dia, perilaku dia ya pokoknya tolong dong saya disiapin semuanya gitu ya. Tapi kalau di dalam value-nya saya ini enggak bisa jadi seorang dekan yang baik kalau saya tidak memiliki tendik yang baik. Misalnya dekan misalnya ya, saya tidak bisa menjadi dekan yang baik kalau saya tidak mempunyai ee mahasiswa yang baik juga. Kalau misalnya ee integritas untuk behavior sebagai ibu aja deh. Saya tidak bisa menjadi ibu yang baik kalau saya tidak mempunyai anak yang baik. Artinya kita tahu bahwa saya menjadi ibu yang baik ketika saya berperan dan kemudian anak-anak saya menjadi orang yang baik. Iya kan? Jadi itu suatu timbal balik barengan gitu ya. Nah, ini yang harus diada kesadaran ini. Guru itu yang menjadi guru yang baik kalau dia bisa mendidik anak-anak didiknya menjadi anak didik yang baik. Baru saya bisa menepuk diri saya bahwa saya adalah orang yang baik, ibu yang baik, guru yang baik. Ketika orang yang berinteraksi dengan saya mengatakan saya baik. Nah, inilah yang kesadaran ini value inilah yang harus ada. Nah, ini tidak semuanya ee paham tentang ini, gitu ya. Oleh karena itu perilakunya kadang-kadang dia ee apa ya cara berpikirnya dia pokoknya aku harus dilayani gitu. Ini yang harus tidak boleh gitu. Jadi ee value nilai-nilai. Kalau saya ini orang ee seorang yang baik ya perilakunya harus kelihatan baik juga gitu ya. Tersenyum gitu ya. Sudah tidak gitu ya, tidak lagi ee tidak sulit untuk tersenyum gitu ya. Oke, next. Bisa dilihat di situ yang berikutnya. Nah, berikutnya adalah kaitannya adalah dengan kematangan psikologis gitu. matang, mature gitu ya. Ketika kita bicara tentang maturity, kematangan, maka kita tidak bisa melihat, "Oh, saya masih muda, Bu. Kalau saya masih muda ya saya seenaknya sendiri." No. Matang itu, next. Kita bisa lihat di situ, kematangan itu tidak tergantung usia. Seringki orang mengatakan orang yang semakin tua harusnya dia semakin matang. Tetapi tidak semua orang tua itu matang pribadinya. Why? Kenapa? Karena dia harus bisa ya semakin tua harusnya semakin matang. Tapi tidak semua orang tua yang lebih lebih matang. Why? Kenapa? Karena dia tidak tahu bagaimana cara mengendalikan dirinya. mengendalikan pikiran ini yang harus dipakai. Iya. Jadi kalau orang itu kalau dia menghadapi tekanan dia masih bingung, panik berarti dia belum matem karena dia tidak bisa mengendalikan pikiran. Oke. Oke, Bu. Ini ada masalah ini. Oke, sebentar. What next? Apa solusi yang bisa kita pakai? Kalau orang sudah bisa berpikir tentang vot next, apa yang dilakukan? Maka dia sudah selesai dengan dirinya. Nah, inilah kontrol diri. Inilah yang sebenarnya harus mulai dilatih. Satu contoh, ini bisa dilatih mulai kecil gitu, Bu. Nilai saya jelek. Misalnya nilainya jelek. What next? Dengan nilai jelek kamu, Nak. Ya, ini gurunya yang salah. Saya mengatakan pasti, "Apakah semua nilainya jelek, Nak? Enggak ada yang bagus." Kenapa ya dia bisa bagus? Ya, karena mungkin dia, Nah, berarti dia harus tahu dirinya. Oke, aku kemarin tidak belajar dengan baik. Nah, proses-proses inilah yang menjadikan seseorang kenapa orang itu kenapa ya orang ini usia sekian kok dia sudah mature, sudah matang. Karena biasa diajarin untuk merefleksikan apakah behaviors yang saya lakukan berdampak negatif dari orang lain. Banyak pokoknya saya gini dia yang salah loh. Enggak. Kenapa dia itu misalnya marah, kenapa dia protes, kenapa dia mengkritis? Karena mungkin behavior saya tidak memberikan hal yang positif bagi orang lain. Nah, inilah yang harus di di dipelajari gitu ya. Nah, ini yang kadang-kadang tidak aware gitu ya tentang hal tersebut ya. Jadi ini yang memang harusnya bagaimana dia belajar untuk mengatur pikiran. Seringki saya ee menyampaikan kalau seseorang yang ee reaktif maka saya ajarkan mereka untuk mengontrol diri. Tik tik tik. Jadi 1 2 3 4 5 baru respon. Ya, kalau kita reaktif maka pasti ee berarti ada problem dalam self control saya. Nah, ini yang harus dilatih ya. Melatih ini harus dilakukan. Kontrol diri ini harus dilakukan. Ya, bisa kita lihat di next yang berikutnya. Seringki orang tidak pernah bersyukur, terima kasih ya Tuhan dengan hari ini gitu ya, maka dia masih galau, masih bingung, masih nyari terus orang itu harusnya misalnya satu contoh, orang kalau dia sudah kedudukannya seperti itu, dia harus bersyukur dengan apa yang dia dapatkan. Iya kan? itu kekuatan dalam setiap kehidupan itu kan dia harus bisa transcenden ini. Nah, ini yang kadang-kadang kelewat oleh orang-orang tidak pernah bersyukur. Kalau dia tidak pernah bersyukur, dia masih bingung dalam behavior-nya dia, maka pasti seorang ASN enggak bisa menjadi guru yang baik, tidak bisa memberikan layanan yang baik. Karena apa? Dia masih galau dengan dirinya. Nah, agar dia tidak galo. Nah, seringkali kayak gini loh. Itu loh dia itu kan sudah penghasilannya udah gede, kenapa kok dia masih korupsi? Ya, karena dia tidak bersyukur. Iya kan? Karena dia tidak bersyukur gitu. Iya kan? Maka kita harus belajar untuk bersyukur itu. Karena tidak semua orang bisa merasa, "Ya Tuhan, terima kasih kalau aku enggak kayak gini, aku enggak jadi kayak gini." Nah, itu yang harus ada. Ya Allah, terima kasih ya Tuhan aku sudah kau berikan ini sehingga aku harus merasa, harus merasa lebih sabar lebih gini gitu. Ini yang kadang-kadang mereka dalam setiap kelas kehidupan ini tidak pernah bersyukur. Nah, ini yang harus dilatih ya. Ketika orang itu bersyukur maka dia masih tidak galau dengan dirinya. Terima kasih Tuhan aku sudah menjadi ini. Terima kasih kalau enggak gini aku enggak jadi orang yang Nah, gitu loh. Ini yang harus dilatih gitu ya. Oke, next. Mungkin nanti bisa lebih banyak kalau dengan diskusi ya. Next. Bisa kita lihat ini adalah tahapan. Bisa dilihat yang berikutnya untuk presentasi yang berikutnya, slide berikutnya. Slide berikutnya. Punten, Bu Dewi. Kami mengalami kendala konektivitas. Mohon izin kami masih berusaha untuk menyambungkan kembali konektivitas kami agar slide bisa tertampil dengan sempurna dan baik. Barangkali dari Bu Dewi apakah bisa sembari kami menunggu untuk memperbaiki jaringan, Bu Dewi bisa menyampaikan lebih lanjut materi di sesi kali ini. Oke. Oh iya, mohon maaf, Ibu. Iya, terima kasih, Mas Lukman. Nah, dari sini saya bisa tahu gitu, ya. Jadi ee yang slide berikutnya adalah kalau kita ee di era digital ini kan semuanya tadi ya diviralkan semua harus kita tidak boleh takut untuk tidak menjadi seorang yang eh fear ya missing out pada suatu informasi. Jangan galau saya enggak enggak enggak ketinggalan berita is saya pasti menjadi orang yang join of missing out. Jadi artinya eh informasi-informasi ketika saya tidak update is no problem. Saya menjadi orang yang boleh bertanya apa sih itu? Jangan takut. Saya menjadi orang yang ketinggalan berita. Apa sih itu? Belajar open mind. open heart itu yang harus dilakukan. Kita harus belajar untuk menjadi orang yang gitu ya, orang yang eh join of missing out. Jadi kita boleh kok belajar, kita tahu openman, aku enggak ngerti loh iku opo sih iku gitu. Iya kan? Sikap inilah yang harus muncul. Oleh karena itu di situ ada step-step ya nanti mungkin di slide yang berikutnya itu adalah ee bagaimana kita ee bisa ya eh positive thinking tentang diri ya harus harus self acceptance gitu ya. Mungkin bisa saya bantu dengan e slide saya gitu gimana share dari saya gitu Mas Bu Dewi boleh. Terima kasih atas bantuannya, Ibu. Oke. Oke. Kalau gitu sebentar saya bukakan biar lebih mudah untuk ee I saya bantu untuk share biar lebih mudah. Mudah ya. Nah, ini dia ya. Ee bisa terlihat ya. Lihat, Ibu. Silakan, Ibu. Iya. Nah, ini yang saya ingin sampaikan adalah stepnya. Kita harus positive thinking tentang diri. Kita harus menerima diri. Ah, saya ini enggak se secantik dia. Kita enggak boleh kayak gitu. Kita harus terima. Terima kasih ya Tuhan. saya mempunyai hidung yang kayak gini ya, hidung saya tidak terlalu bangir, maka ah lebih mudah nanti lebih ee tidak mudah pilek bisa kayak gitu. Jadi harus ke sana positive thinking tentang diri kita harus acceptance, self acceptance. Kemudian yang berikutnya adalah perluas wawasan agar mudah melihat persoalan secara bijak. Jadilah orang cerdas. Orang cerdas itu adalah orang yang belajar dari pengalaman orang lain. Kalau kita orang enggak, orang pintar itu kan belajar dari pengalaman hidupnya. Maka jadilah orang cerdas, belajar dari pengalaman hidup orang lain. Tapi jangan juga menjadi orang bodoh gitu ya. Sudah kesandung berkali-kali tetap aja seperti itu. Dia enggak mau belajar ya. Jadi, open mind, open heart itu harus dilakukan ya. Kemudian self control, belajar menunda respon bagi orang yang impulsif. Kalau dapat berita apa langsung share, dapat apa share gitu ya. Kita harus bisa memanfaatkan teknologi dengan bagus gitu ya. Oke, self control i kan kontrol diri harus ada tag tek tag tek tag baru kita memberikan respon gitu ya. Ya. Kemudian choice of word dalam komunikasi baik lisan maupun tertulis. Jadi kalau misalnya dalam ee share apapun kita harus lihat kira-kira orang itu reaksinya kayak apa ya gitu ya. Kalau saya ngomong kayak gini orang lain bagaimana? Nah, ini yang harus ada di dalam siri seseorang ya. Itu yang mungkin perlu ee jadi step ini yang harus kita lakukan. Kita harus menerima diri. Jadi kalau kita ee tidak bisa mempunyai integritas diri kalau kita masih masih galau dengan diri kita ya kita harus melakukan self control. Jadilah orang cerdas dan kemudian memilih kata ketika berkomunikasi baik lisan maupun tertulis. Ya, itu yang mungkin perlu ee saya sampaikan. Mungkin lebih bagus kalau kita pakai dengan tanya jawab ya nanti ya. Oke, itu aja dari saya. Terima kasih ya. Itu mungkin bisa membantu dari slide yang saya sampaikan gitu. Oke, itu aja mungkin. Terima kasih Bu Dewi. Walaupun tadi sempat ada hambatan tapi tidak mengurangi esensi luar biasa dari materi yang Bu Dewi sampaikan. Jadi kesimpulannya kalau boleh saya sampaikan tadi jurus junnya itu ada 4 s. Self awareness, self acceptance, self integrity, and self control. Jadi sebelum menyempurnakan diri jadi pribadi yang lebih baik harus punya self awareness dan self acceptance yang baik dulu. Caranya apa? Caranya sering-sering refleksi seperti yang tadi Bu Dewi sampaikan. Kali ini kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Bagi sahabat ASN yang ingin bertanya kepada narasumber kedua kita, kami persilakan untuk dapat mengacungkan tangan atau menggunakan feature rise hand pada platform Zoom. Nanti kita akan undang untuk bertanya kepada narasumber kedua kita. Pertanyaan sebelum kami menunggu ee para sobat ASN yang ingin bertanya kepada Bu Dewi. Bu Dewi, saya ingin tanya tadi kan kalau kita lihat step-stepnya itu adalah kenali diri, berani bermimpi, kembangkan atribut dan juga siap berubah dan ambil resiko. Tapi ada beberapa opini-opini yang ada di sekitar kita. Kebetulan saya juga bukan orang psikolog, jadi saya tidak tahu apakah opini sudah tepat atau belum gitu ya. Tapi katanya yang namanya karakter ini tidak bisa dirubah gitu. Apakah memang demikian, Bu? Jadi ketika orang sudah lahir dengan karakter negatif gitu ya, ingin mengembangkan citra positif bagaimanapun gak bisa karena memang karakter bawaan dari lahir karakter tidak bisa dirubah. Bagaimana pendapat Bu Dewi terhadap opini Bu? Ini yang pendapat yang salah gitu ya. Jadi sebenarnya gini, ee kembali pada diri kita ya, kenapa orang pemarah itu masih bisa berubah untuk tidak menjadi pemarah? Karena kalau di dalam dirinya masih bisa belajar b oke saya punya kemampuan untuk belajar untuk menelaah dengan baik, maka pemarah itu tidak bisa keluar gitu ya. Jadi gini gini gini ee mungkin perlu saya sampaikan behavior perilaku kita itu adalah interaksi antara person individu kita ya. Kalau saya orangnya pemarah, orangnya gini ya pemarah itu dengan situation. Jadi kalau orang pemarah itu masih bisa menjadi orang sabar kalau dia bisa memaknai situasi sekitarnya dengan bagus. Oleh karena itu, dia bisa melakukan self control. dia bisa melakukan menunda reaksi untuk menjadi tidak pemarah kan gitu. Nah, inilah yang disebut dengan bagaimana dia memiliki self integritas yang bagus, integritas dirinya baik. Kalau integritas dirinya baik, maka dia tidak menjadi orang yang mudah untuk reaktif. Nah, ini yang harus dilatih. Iya. Jadi, gitu. Jadi, ee ada orang mengatakan, "Wah, itu wataknya." gitu ya. Enggak mungkin dia bisa berubah. Nak. Kalau dia bisa mempunyai kemauan dalam dirinya untuk change, untuk berubah, iya kan? Bukan kemudian aku kayak gini, terimanan, aku kayak gini, enggak mau, ya sudah. Bukan seperti itu, gitu kan. Kalau misalnya terimain kaku kayak gini ya berarti dia bukan orang yang mau berubah gitu. Tidak ingin untuk berubah, untuk change gitu ya. Oleh karena itu saya seringki menyampaikan gitu ya, kalau kita sudah kenal diri dengan bagus, oh diri kita otentiknya bagus, maka kita tahu bagaimana cara menempatkan diri, kita bisa memaknai situasi dengan bagus. Itu yang harus kita lakukan, gitu. Begitu Mas Lukman. Bu Dewi atas jawabannya. Kali ini sudah ada sobat ASN yang bergabung bersama dengan kami untuk bertanya. Pada Bu Dewi, kami ingin undang terlebih dahulu untuk sobat ASN yang telah bergabung atas nama Pak Yudi. Selamat siang, Pak Yudi. Punten, Pak Yudi, untuk mik-nya masih belum ter-unmute, Pak. Apakah sudah bisa didengar? Iya, boleh audionya didekatkan, Bapak biar lebih terdengar dengan jelas. Oh, iya. Iya. Baik, terima kasih untuk kesempatannya yang bertanya pada sesi yang kedua ini. Ee izin bertanya ee Ibu. Jadi kan ee kalau kita setiap hari Senin kan pasti kita ada apel ya. Jadi kita selalu ee membaca yang namanya ASN berakhlak. Jadi sering kita itu membaca dan membaca tapi tanpa ee mungkin banyak juga yang bisa memahami dan tidak ya. Jadi kadang ee sesuai dengan kesadaran diri kita tadi salah satu personel branding yang setelah diajarkan tadi dalam beberapa kali kesempatan, izin mungkin bercerita sedikit ya. Saya sudah ada beberapa kali pindah ee kantor dari yang pernah di pelayanan sampai dengan yang sekarang saya kembali lagi ke bidang litbang itu saya memang lihat ada beberapa karakter setiap kantor itu pasti ada mempunyai ciri-ciri tersendiri setelah saya pelajari dari ini ya kebetulan karena ini yang pertama kali saya mengikuti seminar Ibu terima kasih kesempatannya bisa bergabung yang ingin saya tanyakan ketika kita berada di lingkungan yang ee ee kita bilang toksik ya. Kita kan sering kita selalu mengingatkan, kita selalu berusaha untuk mengkritik, tapi ketika kita melakukan itu kita tersisih. itu sudah beberapa kali saya alami dan kita akan selalu apa ya di tahu sendiriah kalau kita itu di lingkup ASN itu gimana kalau kita vokal, kalau kita ini ingin maju dan berapa kalip pun saya berusaha untuk maju ee ditekan gitu. Jadi sampai sekarang saya sampai ah masa bodoh aja lah yang penting saya kerja benar saya tidak ini. Ee perlu gak kita itu menggunakan sikap masa bodoh itu karena dari beberapa hal yang saya pelajari dari empat hal tadi salah sebenarnya masa bodoh ini. Tapi kalau saya tidak masa bodoh kita tersingkir gitu. Mohon tipnya Ibu ya. Terima kasih. Terima kasih. Ini Pak Didik ya Pak Didik ya tadi ya? Yudi, Bu. E, Pak Yudi. Yudi. Yudit. Oke. Iya. Karena kebetulan saya kan di sini kan perantau. Saya dari Litbang Kota Palembang. Kalau saya kan perantau kebetulan dari Palembang. Iya. Dari Palembang. Iya, Pak. Ya. Oke. Jadi gini Pak ee satu contoh ya. Seringkiali orang mengatakan gini, ini saya berhadapan dengan orang yang toxik gitu ya, jengkel saya gitu ya, enggak menyenangkan gitu ya, Pak ya. Kalau saya cuek kan enggak boleh gitu ya. Jadi apa yang harus kita lakukan begini, Bapak. Ee ada satu hal yang saya seringki memberikan, jangan biarkan orang lain menentukan emosi diri. Jangan biarkan orang lain menentukan emosi diri atau jangan emosi kita ditentukan oleh orang lain. Itu istilahnya. Iya kan, Bu? Itu loh orang itu jengkel banget, Bu. Enggak menyenangkan. Oke. Enggak menyenangkan dan itu berakibat pada diri kamu. Enggak. Misalnya satu contoh berhadapan itu berdampak enggak dengan diri kita? Kalau itu tidak ber Bu, itu berdampak banget Bu, orangnya tidak menyenangkan Bu, orang kayak gini. Oke, kita maknai aja. Coba kita pahami orang itu. Seringki kan kita ditentukan oleh orang lain, Bapak. Satu contoh ya. Satu contoh, Bu. Saya ini gitu ya. Saya ini enggak bisa berkembang dengan baik, Bu. Selama orang itu. Nah, ini kan ini sebenarnya kan ini ini kan negatifnya kita kan seperti itu. Iya kan? Berarti kan kita harus mencoba melihat kepada diri kita. Aku tuh orangnya kayak apa? Jadi fokusnya pada diri kita. Iya kan? Kemudian orang itu loh, Bu enggak menyenangkan. Oke. Kenapa yang enggak menyenangkan? Orang itu ya bermasalah gini-gini. Oke. Selama orang itu tidak langsung mengena pada diri kita, maka sebenarnya kita sahsah saja untuk fine-fine aja gitu. I kan kecuali misalnya satu contoh ya, orang itu terbukti benar-benar gitu ya negatif pada diri kita. Maka kita boleh mengatakan langsung. Seringki yang terjadi adalah ini adalah bahaya orang-orang kita. kita itu tidak bisa asertif, tidak berani mengatakan tidak atau jangan sekarang. Yang akibatnya akibatnya gitu ya, oh enggak, Pak. Tapi di belakangnya mangkel sama dia enggak. Jadi kita harus berani ngomong gitu. Saya bisa mengatakan misalnya satu contoh, Mbakmak, Mbak itu udah bagus deh, tapi kalau sebaiknya tu kan harusnya kayak gini. Nah, itu kan menjadi lebih enak. Yang seringkiali terjadi adalah kita diam berhadapan dengan orang yang toxik, tapi kemudian di belakang kita merasa, "Hm, aku enggak suka yang ini." Nah, ini berarti kan kita masih menipu diri kita. Kita cobalah menjadi orang yang apa di dalam dan di luar itu sama. Kalau kalau saya harus berubah untuk mengatakan yang bagus, maka kita gunakan choice of word. Memilih kata yang bagus. Satu contoh ya. Saya sih sebenarnya senang aja ya, Pak ya. Ee misalnya pergi sama Bapak kayak gini gini. Tapi tolong dong, Pak ee kalau pergi ya pergi aja. Tapi jangan sampai ee ada hal-hal yang lain yang tidak menyenangkan bagi saya. Tolong tidak dilakukan kepada saya, Pak. itu ngomong aja, "Wah, saya senang dong ini ada undangannya." Tapi maaf ya, karena saya besok e bukan jadi oh enggak apa-apa, Bu. Iya, saya ini munafik. Tidak ada satu kata munafik itu yang seringkiali terjadi. Apa yang saya katakan itu seringki berbeda dengan apa yang di hati. Nah, ini yang seringkiali terjadi. Jadi, satunya satunya kata dan hati itu yang kadang-kadang tidak dilakukan. Nah, ini yang saya katakan ini harus kita latih gitu ya. Satu contoh ee budaya kita kan budaya sungkan, budaya enggak enakan. Itu yang membuat pribadi kita tidak menjadi pribadi yang terintegritas gitu ya. Integritas kita menjadi ternodai kalau kita percaya bahwa asal Bapak senang asal enggak bisa seperti itu. Kalau kita tidak suka, ya katakan tidak suka. Tetapi tadi yang saya katakan step yang terakhir, choice of word. Memilih kata. Pilihlah kata yang pas ketika saya mengatakan menolak. Nah, gitu loh. Jadi memang kalau kita di manaun dengan sikap yang seperti ini mungkin orang-orang, "Oh, Bu, nanti kan kita tersisihkan, orang enggak suka. Mari kita ya biarkan." Selama dia tidak langsung mengatakan tidak suka pada saya, maka saya tidak akan menganggap bahwa dia tidak suka. Ini yang seringkiali membuat kita kadang-kadang kita terbayak dengan ee apa ya ungkapan orang lain terhadap diri kita. Nah, ini yang membuat kita ee menjadi sedih gitu ya. Contoh-contoh gitu ya. Kita kan bukan penjual es krim gitu ya. Seorang penjual es krim kan menyenangkan bagi orang lain gitu ya. Iya kan? Ini ini ini kalimat ini saya kemarin tuh ee ada kalimat yang bagus gitu ya. Janganlah menjadi ee apa? ee Anda tidak mungkin menjadi seorang ee pimpinan gitu. Karena yang seorang pimpinan itu tidak mungkin menjadi penjual es krim. Karena kalau penjual es krim itu akan menyenangkan semua orang gitu. Nah, itu ya itu itu kalimat yang bagus banget gitu ya. Ya, bahwa sebenarnya dalam interaksi pun juga kayak gitu. Kita tidak mungkin menyenangkan orang lain. Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang. Pasti ada orang yang tidak suka. Tapi seringki kita merasa bahwa semua orang harus suka pada kita sehingga akhirnya ee kita ee enggak berani menyatakan apa yang kita rasakan. Enggak boleh seperti itu. Jadi memang ee kadang-kadang memang kita tidak terbiasa untuk mengatakan tidak atau jangan sekarang. Ini yang menjadikan bahayanya kan di situ. Kenapa saya mengatakan itu? Karena seringki ini yang membuat kita berhadapan dengan orang toosik itu diam aja ya, Pak ya, Pak Yudi ya. Pokoknya enggak enak gini ya, enggak bisa, Pak. Bapak berani harus berani mengatakan tidak gitu ya. Karena itu untuk kesehatan mental juga ya. Kita sehat mental kalau apa yang ada di hati itu sama dengan ada yang kita ucapkan gitu. Begitu Pak Yudi. Iya. Terima kasih masukannya Ibu. Terima kasih Bu Dewi. Semangat ya Bapak harus untuk sehat mental ng sehat dulu mentalnya Ibu. Iya betul. Terima kasih Bu Dewi atas jawabannya. Pak Yudi mohon izin jangan lupa untuk mengirim data diri ke tim admin Zoom kami untuk pengiriman hadiah. Salam sehat selalu, Pak Yudi. Terima kasih, Pak. Baik, Bu Dewi. Tidak terasa kita sudah berada di penghujung sesi kedua kali ini. Bu Dewi, terima kasih sekali lagi karena paparannya sangat reflektif sekali. Semoga ini bisa menjadi self reflection yang tepat untuk sobat ASN yang menyaksikan acara kali ini. Barangkali sebelum ditutup, saya berikan kesempatan untuk Bu Dewi menyampaikan satu closing statement kepada Sobat ASN yang masih menyaksikan webinar kali ini. Bu, silakan. Iya, inti daripada agar kita menyatu antara apa yang dikatakan dengan apa yang menjadi value kita, yang pertama adalah tolong gitu ya. Tolong untuk ee temukan diri otentik Anda sehingga Anda menjadi berani untuk berbuat apapun tanpa ragu dan tanpa takut akan penilaian orang lain terhadap diri kita. Itu aja, Mas. Selamat untuk menemukan diri di ontic diri kita sendiri. Terima kasih Bu Dewi atas paparannya. Salam sehat selalu, Ibu. Bertemu lagi di event-event selanjutnya ya, Bu ya. I semuanya. Baik, Sahabat ASN, kita masih punya satu pembicara yang menarik juga, jadi jangan ke mana-mana. Tetap di webinar ASN Belajar seri 4 tahun 2026. Ya, Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN belajar seri 4 tahun 2026. Kali ini kita akan belajar bersama-sama terkait dengan teknik komunikasi yang profesional dan humanis bersama dengan ahlinya Kak Rizkiani Putri, SOS MCOM selaku communication facilitator dan juga founder Sinergi Bicara. Saya seorang introvert dan saya tidak pernah mengira bisa ada di posisi sekarang hari ini. Halo, saya Riskandi Putri, founder Sinergi Bicara. Menjadi seorang introvert sejak kecil membuat saya menyadari bahwa komunikasi demikian penting untuk mencapai apa yang kita impikan. Sinergi Bicara hadir untuk memfasilitasi siapa saja, apapun latar belakang Anda, bagaimanapun personality Anda untuk bisa bertumbuh bersama dengan kami. Communication community, empowerment practice and growth. Bersama sinergi bicara, setiap panggung adalah kesempatan dan setiap kesempatan adalah panggung. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Yang terhormat Bapak Luhud Bins dan namanya semakin Setelah berperang di salah satu ada ketua tim penggerak PKK Provinsi Jawa Timur Ibu Arumi Bahsir Alms itu tahu apa sih sebenarnya rahasia sukses menjadi suan bintar. Selamat datang kembali dalam program ada satu hal yang menarik di antara begitu banyaknya pilihan dalam ada satu kewajiban menjadi santri yang mampu berwirausaha bermanfaat bagi sesama dan sekaligus membela negara disilakan. dan giliran acara satu kata menjadi kalimat lebih dari satu kalimat menjadi paragraf menjadi segar cerita a iu e o tangan dong peserta mata kuliah public speaking universitas switch our mind to be a great speaker untuk menjadi pembicara yang hebat setiap Pembicara hebat masih bersedia mendengarkan telah hadir bersama dengan kita semua di sini. Kak Putri. Selamat siang, Kak Putri. Kabar baik. Selamat siang waktu Indonesia Timur, tengah, dan barat karena memang benar-benar sudah siang. Kabar baik. Terima kasih, Mas Lukman Ali. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kebetulan saya juga tergabung dan follow komunitas Teman Bicara. Terima kasih sudah memberikan wadah bagi teman-teman yang seringki berkecipung di dunia public speaking ini untuk selalu belajar. Saya tidak sabar untuk mendengarkan materi dan paparan menarik dari Kak Putri tentunya terkait dengan teknik komunikasi yang tepat untuk personal branding ASN. Saya persilakan waktunya kurang lebih selama 30 menit, Kak. Nanti kita langsung masuk ke sesi tanya jawab. Siap. Terima kasih, Mas Lukman. Satu kehormatan bagi saya bertemu dengan ASN dan juga non ASN seluruh Indonesia dan tentu karena inisiatif prakarsa dari BPSDM Jawa Timur. Terima kasih BPSDM Jawa Timur sudah mempertemukan saya dengan banyak sosok-sosok hebat garda terdepan pelayanan publik di Indonesia. Nah, ee siang hari ini pertama saya ucapkan terima kasih karena saya satu panggung dengan dosen saya. Pak Suko adalah sosok yang sangat saya idolakan. Bu Dewi walaupun baru kari pertama jumpa ya pada siang hari ini, tapi saya banyak belajar dari beliau. Jadi, izinkan saya berbagi apa yang sudah saya siapkan dan mudah-mudahan Bapak, Ibu, rekan-rekan ASN maupun ASN yang hari ini bergabung berkenan. Bismillahirrahmanirrahim. Di YouTube channel 6100 lebih bergabung termasuk yang di Zoom ya. Saya upayakan 30 menit akan cukup untuk sesi kita berinteraksi di awal ini. Mbak Dayun boleh dibantu. Saya akan tampilkan satu postingan yang bikin kita berjumpa hari ini. Apakah itu? Ya, ini dia awal ketika saya mendapat undangan dari BPSDM Jawa Timur berkolaborasi untuk informasi terkait ASN belajar seri 4 tahun 2026 ini. Saya langsung baca kolom komen Kak Day boleh ditampilkan kolom komennya. yang luar biasa pada kolom komentar adalah tuh apresiasi diberikan kepada BPSDM Jawa Timur karena agenda ini enggak terbatas eksklusif untuk ASN Jawa Timur saja tapi juga seluruh Indonesia. Bahkan yang bukan ASN bisa bergabung karena multiplatform enggak cuma via Zoom tapi juga via YouTube channel kanal YouTube dari BPSDM Jatim TV. Nah, yang menarik adalah ketika teman-teman memberikan apresiasi kepada BPSDM Jatim sebagai lembaga instansi-institusi, kita kemudian tahu bahwa setiap instansi-institusi itu pasti punya institutional brand yang muncul adalah keren banget BPSDM Jatim aktif sekali bikin webinar mantap. Terima kasih kami yang dari luar Jawa Timur bisa bergabung. Apresiasi bertubi-tubi datang dan itu adalah pujian reputasi yang terbangun. Tapi ingat dalam institutional brand di dalamnya ada sumber daya manusia, di dalamnya ada aset manusia yang bekerja yang tidak mungkin program ini terlaksana kalau bukan karena inisiatif support dari Kepala BPSDM Jawa Timur dengan rekan-rekan yang ada di BPSDM Jawa Timur. Kebayang enggak suatu hari Anda ketemu, kenal seseorang bersalaman, lalu dengar beliau ternyata bekerja di BPSDM Jawa Timur dan Anda merasa sudah banyak terbantu dengan hadirnya ASN belajar. Apa kesan Anda terhadap kawan ASN BPSDM Jawa Timur ini? Pasti positif. Bu, Pak, Mbak, Mas, Kak. Makasih ya. ASN belajar sudah diselenggarakan secara rutin. Saya ikut belajar walaupun saya tidak ee berstatus ASN Jawa Timur. Bayangkan dari citra lembaga muncul citra positif individu. Tapi sayangnya ini enggak bisa berjalan satu arah. Enggak bisa kalau instansi kerja keras bikin eh institutional brand yang baik dan positif, reputasi yang positif kalau ternyata di dalamnya ada orang-orang individu yang tidak profesional, tidak punya etika dan tidak berintegritas. Itulah kenapa ketika kemudian Kak Dayan boleh dimunculkan materi kita, ada satu komentar sangat menarik muncul. Boleh dalam format full screen. Terima kasih Kak Dayan. Oke, sip. Ini kita upayakan dulu panahnya ke atas. Oke, sip. Sudah enggak muncul ya. Yang atas itu ada kotak. Kak Dian boleh hiding meeting float-nya dulu. Ini saya harus dibantu dengan dua device karena kalau enggak saya enggak bisa lihat ee ekspresi Bapak dan Ibu, komentar Bapak dan Ibu di YouTube channel ya. Saya sambil pantau nih situasinya teman-teman bagaimana. Masih terganggu sedikit Kak Dayan. Boleh dibantu Mas Dimas untuk hiding meeting float-nya masih muncul. Nah, oke sudah hilang. Walaupun di bawah ada kotak tapi enggak apa-apa ya maaf ya teman-teman. Atau gini aja deh boleh enggak dibagi linknya ke tim BPSDM Jatim? mungkin akan lebih clear kalau dari BPSDM Jatim sambil saya tampilkan ini sambil nanti e kadain komunikasi interaksi dengan tim BPSDM Jatim ya untuk bantu. Jadi ee izinkan saya menyampaikan kegelisahan saya ketika muncul pertanyaan sangat menarik ini yang kemarin mantengin pasti tahu siapa beliau yang nulis. Sengaja saya blur untuk jaga ya identitasnya. Karena kalau kita baca komentar ini dengan nada, semua ASN juga butuh validasi ya, Min. Tak kira yang butuh hanya para pejabat to. Nah, kesannya akan julit. Tapi kalau kita baca dengan semua ASN juga butuh validasi ya, Min. Tak kira yang butuh hanya para pejabat to. Saya kira yang butuh validasi hanya pejabat saja gitu. Itu akan berbeda kan maknanya. Jadi kita enggak bisa klaim wah ini yang ngomong ini julit, yang nulis ini julit. atau kita klaim kok questioning kok mempertanyakan ini kan hal yang valid jelas enggak cuman pimpinan aja yang butuh pencitraan atau validasi gitu bukan itu yang akan kita diskusikan kita justru akan gali bukan tentang kenapa seseorang punya pandangan ini, tapi kenapa saya tadi catat statement Pak Ramli Kepala BPSBM Jawa Timur pada saat eh opening speech beliau menyampaikan personal branding bukan pencitraan artifisial jadi bukan sesuatu yang diformulasikan, dibuat dengan sengaja dan itu sesuatu yang dangkal hanya di permukaan. Tidak, itu bukan sesuatu yang didesain semata, tapi sesuatu yang Nah, kita akan diskusikan. Boleh dibantu slide berikutnya, Kak Dian. Oke, ini dia. Ini enaknya kalau dari kami, kami bisa next dari sini ya. Personal branding bukan tentang pengin dipuji, pengin dianggap paling jago, maaf, atau ngejar like dan applause. Ini kata kunci yang kita sepakati bersama dulu. Jadi, personal branding ini maafkan saya masih harus menyesuaikan nih. Boleh digeser sedikit posisinya biar sinyalnya agak bagus. Kay pengin dibuci bukan pengin dianggap paling jago atau ngejar like dan applause. Kita sepakati dulu ya. Poinnya itu tiga hal ini. Kita membangun personal brand bukan karena pengin dapat pujian, pengin dibilang paling jago atau demi eh ribuan, ratusan ribu like, maupun applause dari audiens kita, dari target audiens kita. Personal branding adalah tentang kejelasan dan konsistensi. Ini yang saya masukkan, saya senada dengan apa yang disampaikan oleh Pak Suko Widodo. Ini adalah tentang kejelasan dan konsistensi. Seputar apa? Nah, ini dia seputar kayaknya saya izin materinya dari tempat saya aja deh. Boleh enggak? Kayaknya delay nih. Maaf banget. Karena mohon maaf ya Bapak, Ibu, rekan-rekan yang bergabung. Saya yakin saya dimaafkan ini kalau sudah kena hal-hal yang teknis gini jadi terkendala. Jadi saya izin untuk menampilkan dari sisi saya dulu. Punten, mohon maaf semoga dimaklumi. Kita share dulu materi saya. Oke. Baik. Mudah-mudahan sudah terlihat dan tidak ada kotak di atas ataupun kotak di bawah. Aman? Boleh saya dibantu bisikin Kak Dayan? Aman. Personal braining adalah tentang kejelasan dan konsistensi. kita ingin dikenal sebagai siapa? Nilai apa yang kita pegang teguh, masalah apa yang bisa kita bantu selesaikan sebagai ASN, sebagai pegawai, sebagai staf, atau bahkan sebagai pimpinan. Jadi, personal brand itu enggak eksklusif cuma untuk dibentuk oleh pimpinan saja. Siapapun individu entitas yang ada di dalam lembaga, di mana kita merupakan sumber daya manusia yang ada di dalamnya, punya peran bahkan kewajiban untuk membangun personal brand. Tapi kita mulai dari sini dulu. kita pengin dikenal sebagai siapa? Nilai apa yang kita pegang teguh, masalah apa yang bisa kita bantu selesaikan. Kenapa poin masalah ini bisa muncul? Supaya ketahuan eksertis-nya apa, bidang keahliannya apa, ya. Dan sebagai penguat juga untuk kita ketahui bersama, validasi itu memang bisa jadi muncul, tapi buat saya pribadi itu bonus, itu efek samping. Kalau sampai terjadi dan validasi itu sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka syukur alhamdulillah. Tapi kalau tidak ya personal brand kita tetap jalan bukan karena belum ada validasi terus kita berhenti menampilkan diri kita, value kita, karakter personal eh karakter personal kita, termasuk integritas dan kinerja kita enggak ya. Jadi personal brand tetap jalan. Bahkan fun fact-nya, fakta menariknya nih yang sering terjadi. Orang yang terlalu berburu validasi ya, butuh pengakuan sana sini ke sana kemari itu brandingnya mudah goyah karena dia fokus pada validasi, fokus pada hasil akhir. Sementara orang yang fokus pada value, yaitu orang-orang yang fokus pada proses, menjalani menikmati proses karena punya prinsip yang dijaga dan kemudian disengaja atau tidak disebarluaskan, brandingnya juga justru berlaku jangka panjang. Sudah mulai kebayang? Jadi kalau Anda fokus pada tujuan hasil akhir, validasi tujuan Anda, branding Anda akan mudah goyah karena Anda akan fokus pada saya di lingkungan ini pengin dinilai seperti apa, di lingkungan lain pengin dinilai seperti apa. Sementara kalau kita fokus pada value yang ada dalam diri kita nih ya nih ibarat tanaman itu bibit yang kita pelihara, kita jaga supaya dia tumbuh berawal dari unggul, tumbuhnya juga dengan subur nanti panen raya itu sehingga brandingnya pun jangka panjang. Sederhananya, validasi membuat kita diterima, tapi personal branding lah yang membuat kita dipercaya. Saya akan masuk ke materi kata percaya ini adalah public trust. Karena Anda adalah ASN, Anda bekerja di sektor pelayanan publik, maka memiliki kepercayaan publik, mendapatkan kepercayaan publik itu harga mati. penting ASN non ASN bekerja di pemerintahan, mohon maaf dengan segala hormat dibayar oleh rakyat. Maka kepercayaan rakyat itu penting. Bukan applause yang kita cari. Lebih dari itu, public trust adalah impact, dampak ya yang dibangun lewat kualitas kepribadian dan konsistensi performa seumur hidup. Dan ini yang kemudian mewujud lewat personal branding. Membuat seseorang memiliki personal branding tertentu dan kemudian membuat dirinya berbeda dengan orang lain di sekitarnya. Sama-sama ASN, sama-sama bekerja di BPSDM Jawa Timur, sama-sama bekerja di pemerintahan, sama-sama kepala daerah. Tapi kalau kualitas kepribadian dan konsistensi performa integritasnya berbeda, tentu level public trust-nya juga akan berbeda. Baik, tadi adalah pengantar Mas Lukman. Kita masuk ke materi utama bagaimana agar kita semua Bapak Ibu yang menyandang posisi profesi sebagai ASN ataupun non ASN yang bekerja di sektor pemerintahan bisa membangun personal brand masa kini sebagai sosok yang profesional, etis, dan punya integritas. Tiga poin kita coba kaji satu demi satu. Kita mulai dari sini dulu. Saya tolong dibantu. Saya akan baca di YouTube channel ya, BPSDM Jatim TV. Begitu dengar kata ASN yang langsung terbersit di benak Bapak, Ibu, rekan-rekan, apa kata ASN itu identik dengan ASN itu titik titik titik satu kata aja. Saya mau sambil baca, Mas Lukman. Kalau nanti dari eh Zoom meeting kita, Zoom meeting chat kita ada respons, boleh dibantu bacakan ASN titik ttitik titik. Kalau di YouTube channel ASN hadir nih jawabannya masih hadir. Boleh saya dibantu? Formal. Terima kasih kawan kepaniteraan hukum PTUN Semarang. Katanya ASN itu formal, ASN itu pemerintah. ASN itu berkualitas. ASN itu pekerja pemerintah. Gaji melayani, idaman mertua muncul. Disiplin, pegawai, mengabdi, birokrasi, melayani, abdi negara settle. keren, menyala, pelayanan, dapat pensiun, kebanggaan. Waduh, luar biasa ya 6.300 yang gabung lewat YouTube channel BPSDM Jatim TV aktif semua. Terima kasih. Jawabannya beragam. Sebagian Anda sepakat, sebagian Anda tidak. Itu adalah apa yang terpikir oleh Anda sebagai ASN atau non ASN yang bekerja di pemerintahan. Sekarang saya coba tanya, ada enggak ini yang gabung yang tidak bekerja di sektor pemerintahan, bukan ASN juga. Saya pengin tahu dong kalau dengar kata ASN ini kan tadi bicara dari perspektif eh publik internal. Saya pengin tahu kalau dari perspektif publik eksternal di luar lingkaran pemerintahan bukan ASN atau non ASN yang bekerja di pemerintahan. ASN itu apa coba? Yang tidak bekerja di pemerintahan. ASN itu ada yang bilang idaman. Hot nyambung dari mana ya? Abdi pelayanan publik akhlak yang baik. Aparatur negara. Oke. Sip. Berarti match ya antara definisi yang Anda munculkan dengan definisi publik eksternal yang Anda munculkan. Tapi ah saya lanjut nih. Pernah enggak Bapak, Ibu, rekan-rekan punya pengalaman lagi enak-enaknya fokus kerja nih, eh dibilang jutek, jutek, jutek ya? Jutek mukanya fokus terus dikatain jutek karena kayak merengut gitu kerjanya. Dibilang enggak happy. Padahal emang ekspresinya gitu. Atau ada juga orang-orang yang wah kalau ada apa-apa satset. Tapi di sisi lain dia yang fast response ini dikatain penjilat. Ada juga yang rajin banget tapi dikatain cari muka. Ada juga yang murah senyum banget tapi dikatain sok ramah. Ada juga yang multitalenta dikatain segala-gala diborong. Ada juga yang kurang disiplin. Nah, itu enggak ada tuh persamaannya. Kurang disiplin ya. Kurang disiplin aja. Terlambat hadir di forum. Kalau acara belum dimulai belum kelihatan batang hidungnya gitu ya. Tapi kalau ada orang yang disiplin bisa dinilai ganda. Jadi kalau tidak disiplin ya tidak disiplin saja. Tapi kalau disiplin wah mulai dari wah beliau ini disiplin ya atau beliau ini kenapa sih sok penting banget jam segini sudah datang. Ah tuh omongan-omongan semacam itu aksinya bisa jadi satu. Tapi reaksinya beragam. Pasti pernah ya di antara kawan-kawan punya pengalaman ini. Pak Yudi pun tadi yang sempat curhat di sesi Bu Dewi cerita pengalaman ini. Maunya sih bekerja dengan penuh integritas tapi ternyata malah jadi omongan bahkan dijauhi teman-teman. Nah, ini sesuatu yang sedih. Tapi apakah kemudian kita harus berhenti melakukan kebaikan dan komitmen kinerja? Kita lanjut dulu. Karena kalau Anda membatasi definisi personal branding hanya pada pencitraan, maka selesai sudah. Personal brand itu terbentuk, kalau kata terbentuk kan berarti tanpa sengaja dan atau dibentuk dengan sengaja atas perilaku yang konsisten. Enggak bisa seseorang mikir, "Aku pengin dikenal sebagai sosok yang cerdas." Ini baru dalam alam pikiran nih, kognitif. Lalu dia dengan yakinnya publik akan menilai dia cerdas. Padahal dalam forum dia tidak pernah terlihat menyampaikan ide, aspirasi, gagasan, kritik konstruktif. Bagaimana bisa? Jadi memang yang kemudian membuat personal brain mewujud salah satunya adalah karena perilaku yang konsisten. Salah satunya ya selain value yang kemudian orang akan tahu dan orang akan lihat. Nah, sekarang kita fokus pada personal branding dalam konteks ASN. Pertama kita harus pahami dulu personal branding itu bukan sesuatu yang satu arah dari kita untuk publik kita, bukan. Karena personal branding sebetulnya datangnya dari persepsi publik. Jadi mau kita sedahsyat apapun mencitrakan diri, melakukan kebiasaan-kebiasaan perilaku yang menurut kita positif dalam pekerjaan, dalam keseharian, tapi kalau persepsi publik bilang, "Ah, itu mah kalau di depan orang, di belakang orang kompetensinya enggak gitu-gitu amat, sikapnya enggak gitu-gitu amat, nilai dan integritasnya enggak gitu-gitu amat, ya sudah." Jadi, personal branding itu bukan kita, tapi publik yang mempersepsi. Mulai dari cara kita bekerja, cara kita berkomunikasi, cara kita membuat keputusan, dan cara kita bersikap saat diawasi atau tidak. Contoh, hari ini pimpinan menyampaikan akan datang lebih pagi di kantor. Lalu kita ngerasa inilah waktunya saya akan tunjukkan kepada pimpinan bahwa saya datang lebih pagi daripada pimpinan saya. Begitu hari berikutnya tidak ada informasi pimpinan akan datang lebih awal di kantor. Ya, kita datang ya 5 menit. sebelum jam kantor dimulai. Kok bisa beda ya ketika dilihat atau tidak dilihat, ketika sedang diawasi atau tidak diawasi. Nah, selama Anda masih membedakan sikap perilaku Anda ketika orang lain melihat atau tidak melihat, selama Anda membedakan cara Anda berkomunikasi ketika orang lain melihat atau tidak melihat. Di tempat kita bekerja ada kawan-kawan yang membantu untuk kebersihan, yang membantu untuk keamanan. Nah, menariknya kalau kita lagi dalam konteks ngobrol santai dengan mereka, kita bisa, "Mbak, bersihin, Mas. Itu tadi kamar mandi masih kotor." Tapi ketika sedang ada tamu datang, kita mengubah tun gaya komunikasi kita. Ee, Mbak, itu tadi komunikasi eh komunikasi itu tadi kamar mandinya masih kotor. Boleh tolong dibantu bersihkan? Kenapa bisa beda ya? Nah, itu dia personal branding adalah bagaimana Anda tampil dengan atau tanpa dilihat oleh orang lain yang menurut Anda punya relasi kuasa lebih tinggi untuk memberikan pengawasan dan penilaian terhadap diri Anda. Oke. Nah, ini dia. Terus apa, Mbak bedanya ASN yang punya personal branding dengan influencer yang mereka melakukan strategi untuk branding juga? kita bagi. Kalau influencer fokusnya tentu pada popularitas. Kalau ASN mohon maaf Bapak Ibu dengan segala hormat fokus Anda bukan pada popularitas melainkan public trust, kepercayaan publik. Influencer bebas mau bikin konten apa aja. Nanti kalau ada apa-apa eh tinggal minta maaf. Kalaupun memang ada sesuatu yang harus diproses secara hukum, ya nanti akan diproses. Tapi kalau ASN enggak bisa semudah itu. Anda bawa nama lembaga, Anda bawa nama instansi tempat Anda bekerja, maka Anda terikat dengan etika dan regulasi. Anda tidak berdiri seorang diri, "Mbak, saya ini selain sebagai ASN, saya aktif juga, Mbak, review-review. Saya juga influencer. Terus gimana?" Nah, ini yang menarik. Kalau Anda punya satu account di mana di situ muncul Anda juga sebagai seorang ASN, di mana di situ juga muncul kegiatan Anda sehari-hari sebagai seorang influencer atau brand ambassador untuk beberapa brand, maka tentu Anda harus menjaga agar value Anda tidak terjadi gap antara posisi sebagai ASN maupun posisi sebagai influencer. Harus cari jalan tengahnya, harus cari ee sisi yang bisa Anda munculkan sehingga diri Anda yang otentik. Kalau kata Bu Dewi, bagus banget. Saya suka diri Anda yang otentik sebagai individu itu terlihat. Tapi di sisi lain sebagai seorang ASN bagian dari negara, abdi negara itu juga profesional dan berintegritas. Jadi enggak boleh bebas konten Anda ketika sedang bikin konten untuk posisi Anda sebagai influencer. Kemudian mencederai posisi Anda sebagai seorang ASN. Tidak boleh. Terakhir target audiens-nya siapa? Kalau influencer mah bebas. Masyarakat secara umum ya siapun. anyone gitu. Karena mereka berhak untuk menilai, berhak untuk eh bikin ri kolom comment section. Beda kalau udah jadi ASN. Yang jadi sasaran utama adalah masyarakat negara. Ada nama negara yang Anda bawa, ada masyarakat yang hatinya harus ikut Anda jaga, perasaannya harus ikut Anda jaga. Oke, lagi-lagi ini saya tuh bikin materi saya lengkapi dari sajiannya Pak Suko dan Bu Dewi. Mudah-mudahan bisa sedikit banyak merangkum ya, memudahkan apa yang Mas Lukman akan e sajikan hari ini. ASN tidak dituntut viral, tapi harus punya peran vital, kontribusi nyata dan layak dipercaya supaya posisinya vital. Ini saya kutip dari Pak Suko. Izin, nanti saya tambahkan nama Pak Suko di sini. Jangan berburu viral, tapi jadilah sosok yang berkontribusi secara vital. Dari mana kita tahu kontribusi kita vital? Ya, karena nyata, aksinya nyata dan kita layak dipercaya. Oke, sekarang kita masuk ke sini nih. Pilar personal branding ASN. Sekali lagi saya berangkat dari apa yang dititipkan oleh BPSDM Jawa Timur dan saya sangat sepakat kita akan pelajari detailnya profesional, etis, berintegritas. Mulai dari kata profesional sendiri, Bapak Ibu pasti sudah pahamlah makna profesional, kompeten sesuai dengan tupoki, secara waktu, disiplin, taat, prosedur. Komunikasinya jelas dan solutif. Tolong digaris bawahi kata solutif ya. Karena kalau komunikasinya jelas tapi ternyata tidak solutif, mohon maaf berarti harus belajar dulu supaya produk pelayanan publiknya bisa diterima baik, lebih baik oleh masyarakat. Harus solutif, Bapak, Ibu. Kata kuncinya itu kompeten, disiplin, komunikatif, solutif. Oke. Lalu bagaimana cerminnya? Diantaranya adalah bukan hanya sekedar hadir tepat waktu. Kalau sudah jam kerja sudah harus siap pelayanan. Bahkan sebelum itu Anda hadir mempersiapkan. Ada beberapa teman itu yang cerita kalau sebelum bekerja mereka akan cek hal-hal yang merupakan PR yang di hari sebelumnya belum selesai. itu dicek dulu bisa enggak ini diselesaikan sekarang sebelum jam kerja operasional saya memberikan pelayanan publik atau ini memang harus dikerjakan pada jam operasional saya pelayanan publik. Nah, itu sesuatu yang sangat baik sekali. Mempersiapkan diri, inisiatif. Di saat yang sama membantu menyampaikan penjelasan dengan cara yang empatik itu menunjukkan bahwa kita enggak sekedar bisa, tapi kita juga membumi. Jadi, lebih dari sekedar kompeten. Kita adalah ASN, petugas pelayanan publik yang empat gitu ya. Karena waktu yang terbatas saya bikin sedikit cepat. Untuk poin profesional ini, pertanyaan refleksinya adalah apakah hari ini saya dikenal sebagai ASN yang memudahkan atau justru saya dikenal sebagai ASN yang mempersulit urusan publik yang saya layani. Ini pertanyaan refleksi. Silakan dijawab secara personal. Bukan sekedar tanya dengan feedback form, "Bapak, Ibu, apakah sudah puas dengan pelayanan kami?" Tapi apakah secara spirit value kita selalu berusaha memudahkan urusan orang lain tanpa melanggar aturan regulasi yang ada? Itu yang paling penting. Ya, memudahkan bukan berarti kacamata kuda, tutup mata atas regulasi. Tidak. Yang kedua, pilar kedua adalah etis. Etika didefinisikan sebagai batas perilaku yang pantas dan ada norma sosial, norma masyarakat yang ee menyepakati itu. Contoh konkretnya nada bicara kita ke masyarakat. Apakah etis? Bagaimana kita berinteraksi, berkomunikasi di grup WhatsApp kantor, apakah etis? Bagaimana cara kita menggunakan media sosial? cara kita ee like konten-konten yang ini boleh enggak ya saya like ini sesuai enggak ya dengan value saya sebagai ASN? Lalu komentar ini komentar yang tepat enggak ya atau komentar yang akan justru bikin blunder gitu ya. Ini materi yang boleh saya share enggak ya melalui media sosial saya lewat Instagram saya, TikTok saya, lewat WhatsApp status saya. Boleh enggak ya materi seperti ini saya bagikan ulang di grup-grup WA saya di mana saya bergabung. Nah, segala sesuatunya harus dengan pertimbangan terlebih dahulu. Ini contoh ya. Ketika kita mengeluh sebagai ASN soal pekerjaan kita di media sosial dampaknya apa? Kebayang enggak? Misal nih ya, misal namanya ini enggak cuman Genzi aja sih, generasi manapun kalau lagi pengin curhat, curhat aja gitu. Mungkin kalau generasi X Y gitu ya, milenial curhatnya bisa jadi di WhatsApp status gitu dengan menulis cerita atau di Instagram story. Tapi kalau teman-teman Genzi mungkin punya cara yang lebih e menarik juga berbeda kreatif untuk curhat. Tapi ketika secara eksplisit orang tahu kita bekerja di mana, siapa pimpinan kita, siapa rekan kerja kita, lalu kita secara terbuka, secara eksplisit menuliskan nama pimpinan atau nama rekan kerja yang menurut kita enggak banget. Nah, itu akan menjadi sesuatu yang lagi-lagi blunder, berdampak pada reputasi lembaga instansi tempat kita bekerja. Oke. Wah, bagus banget nih saya dapat respon dari ee YouTube ya. Mm sebentar disaring dulu, Kakak dan dipertimbangkan. Tuh, ini adalah value yang baik yang ee seyogyanya tidak hanya dimiliki oleh KMT Wawan Setiawan 779 yang bergabung lewat YouTube channel, tapi juga oleh semua rekan-rekan ASN non ASN yang bergabung hari ini. Pesan kuncinya kalau bicara soal, kita bicara profesional, etis, apa yang kita anggap sepele? Alah, cuman gini doang, cuman gini aja. Ini kan sepele, ini kan kecil gitu. bisa jadi justru berdampak sangat besar terhadap citra institusi sebagai misal, wah mumpung nih bisa pulang lebih awal sementara publik, teman-teman online kita, followers kita tahu kita tuh kerja di mana gitu ya. Tiba-tiba posisi jam 3.00 sore posting story lagi ada di mall. Uh, padahal belum selesai itu jam kerja. Karena menurut kita sepele. Ketika ada satu orang kemudian mendapati itu dan menjadikan itu sebagai konten versi dia, "Teman gue nih ASN, teman saya nih ASN jam 3.00 sore udah jalan-jalan di mall aja gitu." Padahal mana kita tahu posisinya beliau lagi bekerja di mall. Ada beberapa pelayanan yang dilakukan di mall kan bisa jadi. Tapi ketika kegiatan yang dilakukan bukan sedang melayani publik, melayani masyarakat, tapi sedang bersenang-senang, nah di situlah citra institusi akan terdampak. Jadi pertimbangan kembali ini sepele atau tidak, ini berdampak atau tidak. Ya, yang ketiga tadi sudah profesional, etis, sekarang kita bicara integritas. Apa itu integritas? Konsistensi antara nilai, ucapan dan tindakan. Apa yang dipegang teguh, diyakini, diucapkan, dan dilakukan itu paralel, linier, sama satu nafas, konsisten. Cirinya apa? Orang-orang yang berintegritas, tidak oportunis, berani berkata tidak pada pelanggaran. Sikapnya di depan maupun di belakang sama. Pelayanannya pada sosok dengan posisi jabatan tinggi dengan sosok yang mungkin berangkat dari latar belakang berbeda sama. Ketika dilihat pimpinan tidak dilihat pimpinan. Ketika dilihat petinggi, tidak dilihat petinggi. Sama. Itu adalah ciri ASN yang berintegritas. Dan masih banyak lagi ciri lainnya. Pesan kunci, integritas tidak diuji saat situasi serba kondusif. Kalau kita ada dalam situasi kerja yang teman-teman kita itu kondusif, pimpinan kita kondusif, nah memang sudah sepatutnya integritas itu mewujud. Justru aneh kalau di tengah situasi yang kondusif Anda tidak punya integritas. Namun integritas itu justru diuji saat kita punya kesempatan untuk menyimpang, melakukan kesalahan, melakukan penyimpangan. Kalau Anda bisa melewati itu, maka itulah momen di mana Anda layak disebut sebagai ASN yang berintegritas. Justru dalam situasi yang sulit, Anda berani berkata tidak. Anda berani bilang, "Saya tidak bersedia melakukan ini, saya tidak mau terlibat dalam kesalahan ini sekalipun itu kolektif dan lain-lain." Susah, susah. Tapi Pak Yudi terima kasih tadi sudah berbagi cerita. Bapak membuktikan bahwa Bapak bisa dan kawan-kawan yang bergabung hari ini juga saya yakin bisa. Oke. Setiap ASN adalah wajah negara. Sekarang kita akan bicara personal branding ASN di era digital. Di mana media sosial sudah bukan ruang pribadi sepenuhnya kecuali Anda private dan followernya cuma Anda sendiri. Jadi sudah enggak ada follower lain tuh. Nah, itu boleh. Anda mau nampilin apa aja silakan Anda private. Enggak ada siapapun yang Anda follow. Enggak ada siapapun yang follow Anda. Karena media sosial hari ini adalah ruang publik digital di mana kalau Anda pajang foto profil yang seperti apa, itu akan menceritakan siapa diri Anda. Ketika Anda mengunggah konten yang seperti apa, itu akan menceritakan siapa diri Anda. Caption Anda, cara Anda nulis komentar itu akan menceritakan siapa diri Anda. Konten-konten tipe apa saja yang Anda repost itu akan menceritakan siapa diri Anda. Anda ingin dikenal sebagai orang yang humoris, yang atraktif, lalu yang Anda munculkan adalah repost konten-konten yang humoris, yang atraktif, silakan. Tapi kalau Anda ingin dikenal sebagai sosok yang pemikir, serius, filosofis, ya tentu konten-konten yang Anda repost akan sejalan dengan apa yang Anda minati. Jadi sederhana kok apa yang kita lakukan dalam keseharian itu sebetulnya sengaja atau tidak pasti akan membentuk personal brand kita khususnya di ruang digital. Nah, enggak cuma kita menggunakan media sosial secara bijaksana tapi juga secara aman. Prinsipnya apa? Tidak melanggar posisi kita yang idealnya netral. Selah apapun, sekesal apapun, sejenuh apapun, sebenci apapun, Anda masih dibayar oleh rakyat dan Anda harus jaga perasaan rakyat. Boleh enggak saya berbagi pandangan di ruang-ruang tertentu yang Anda bisa pertanggungjawabkan dan Anda bisa dengan argumentasi yang kokoh, boleh, tapi tidak di ruang yang semaunya Anda manfaatkan. Jadi kata kunci pertama adalah tidak melanggar netralitas, tidak menyebar kebencian atau hoa tidak membuka aib institusi. Mbak, bagaimana apabila terjadi kesalahan atau penyimpangan di tempat saya? Ada jalurnya Bapak, Ibu dan Bapak Ibu sudah tahu ke mana harus menyampaikan itu. Bukan di ruang publik. Whistle blower misalnya, salah satu upaya jalan untuk Bapak, Ibu menyampaikan ketika Bapak, Ibu melihat ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di sekitar Bapak, Ibu dan itu ada jalurnya. Rumusnya kalau ragu jangan unggah, kalau ragu jangan komen, kalau ragu jangan repost. Itu aja ya. Oke, ini latihan sederhana saja. Silakan dilakukan secara mandiri untuk refleksi sekaligus aktivasi. Yang pertama harus dilakukan adalah cermin personal brand. Bapak, Ibu bisa tuliskan, rekan-rekan bisa tuliskan tiga kata yang ingin dilekatkan pada dirinya sebagai ASN. Tadi kan banyak banget tuh ya definisi. ASN itu abdi negara, ASN itu settle, ASN itu melayani. Nah, coba Bapak dan Ibu lekatkan pada dirinya pengin dikenal sebagai ASN yang seperti apa? Apakah solutif misalnya kata pertama, disiplin misalnya kata kedua, atau yang ketiga rajin misalnya. Mbak, saya orangnya enggak rajin-rajin amat, tapi tiap kali mengerjakan sesuatu, saya selalu mengerjakan sebaik-baiknya. Ya udah, tulis aja kompeten. Misalnya Bapak, Ibu merasa ahli di bidang itu, tapi berbeda dengan beberapa teman yang rajin banget. Kalau Anda memang ee merasa itu adalah tahap berikutnya dan itu bukan tiga kata utama yang ingin Anda lekatkan pada diri Anda, lekatkan selama itu positif, selama itu mewakili kata profesional, etis, berintegritas, do it. Lakukan. Ya. Kemudian setelah Anda tuliskan tiga kata, Bapak, Ibu, rekan-rekan, yang kedua adalah pilih satu dulu, kecil-kecilan dulu, enggak langsung gede, enggak langsung banyak. Satu dulu. Kebiasaan apa yang perlu diperbaiki? Misal yang paling terasa adalah Mbak, saya tuh selalu datangnya mepet dengan jam kerja, jam operasional pelayanan. Maka belajar untuk melakukan perilaku kecil yang kemudian menjadi kebiasaan bagi Anda mulai hari ini. Misal tidak menunda-nunda pekerjaan, pimpinan minta apa, Anda sedang tidak ada kegiatan, lakukan. Bukan masih seminggu kerjain nanti nge-game dulu atau istirahat dulu, ngopi dulu sama teman. Bukan. Misal Anda ingin mengubah sikap menunda-nunda pekerjaan menjadi tidak menunda-nunda pekerjaan. Misal Anda ingin mengubah sikap biasa datang terlambat, biasa datang terlalu tepat waktu, bukan sebelum waktunya. Maka Anda ubah menjadi oke saya akan belajar untuk ini. Problemnya di saya itu kalau tidur terlalu larut, Mbak karena melakukan hal-hal yang sebetulnya enggak penting. Saya tahu scrolling-srolling enggak jelas. Udah deh, saya coba atur nih. Biasanya tidurnya di atas jam 09.00 saya bikin mulai hari ini, mulai malam ini, jam 09.00 21.00 saya sudah tidur, saya sudah masuk kamar, ee HP saya letakkan, saya nonaktifkan, kemudian saya kondisikan anak-anak masuk kamar juga, lampu saya padamkan, saya berdoa, setelah itu tidur. Nah, itu adalah hal yang ketika berawal dari perilaku kecil dilakukan secara konsisten, maka akan menjadi kebiasaan baik untuk Bapak dan Ibu. Kalau sudah, latihan kedua adalah lakukan atau buat satu komitmen mini. Ya, tadi kan udah tuh dari sisi personal. Misal mulai besok saya berkomitmen membangun personal branding ASN melalui cara apa dan itu bisa sederhana, bisa kecil tapi dampaknya luar biasa bagi Bapak dan Ibu. Oke, sebagai penutup Mas Lukman dan rekan-rekan yang bergabung hari ini, mari kita sama-sama berkomitmen siap bertumbuh menjadi ASN yang profesional etis berintegritas. bahwa personal branding bukan pencitraan. Bahwa ASN mendapatkan kepercayaan publik karena punya konsistensi sikap dan perilaku sehingga menunjukkan kualitas kinerjanya, kualitas performanya. Dan pada akhirnya profesional etis berintegritas adalah investasi reputasi seumur hidup. Pak Yudi, hari ini Bapak disisihkan, hari ini Bapak diabaikan. Tapi kita enggak pernah tahu, Pak. beberapa waktu ke depan justru kepercayaan itu akan datang kepada Bapak karena investasi Bapak sudah masuk pada level high return. Waktunya untuk pengembalian dengan bunga yang sangat tinggi. Karena Bapak sudah investasi seumur hidup, Pak. Menjaga profesionalisme itu, etika itu, dan integritas itu seumur hidup. Pak Yudi dan rekan-rekan semua ini berlaku untuk kita. Jabatan pasti berakhir, namun reputasi akan tetap tinggal. Jabatan cuma sementara, tapi reputasi itulah yang melekat pada diri kita. Dan reputasi ASN dibangun dari hal-hal kecil. Hal-hal kecil yang kita lakukan dengan benar, tepat, dan bijaksana setiap hari. Mulai detik ini, mulai sekarang juga. Terima kasih. Selamat siang. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya siap untuk berdiskusi bersama Mas Lukman dan rekan-rekan. Silakan. Wow, thank you banget Kak Putri sudah memberikan berbagai sentilan kecil itu dengan sangat asertif ya. Yang paling penting adalah bagaimana tadi kalau kita sebagai seorang ASN itu kita tidak hanya mencerminkan value-value dalam pekerjaan kita itu di konteks profesional, tapi juga dalam konteks pribadi kita. Bahkan kalau tadi Kak Putri sempat bilang kalau kita sudah punya media sosial itu artinya itu sudah menjadi konsumsi publik. Jadi apa yang kita lakukan itu juga mencerminkan value kita sebagai seorang ASN. Kali ini saya ingin undang untuk sobat ASN yang ingin bertanya kepada narasumber terakhir kita, silakan bisa langsung aktifkan feature hand di Zoom. Tapi sebelum itu saya boleh tanya Kak Putri, ada satu pertanyaan yang ganjel di pikiran saya nih. Kalau tadi Kak Putri bilang ketika personal branding itu salah satu yang ditonjolkan itu adalah value gitu ya. Value itu yang menjadi pondasinya gitu. Dalam hidup kan seringkiali kita ada dua value yang beriringan, personal dan juga professional value. Okelah kalau di pekerjaan kita sudah didapatkan tuh core value ASN berakhlak itu kita sudah dapat tuh profesional etis integritas gitu. Tapi kan tidak bisa professional value itu berjalan sendiri ketika kita tidak punya personal value yang cukup kuat untuk melakukan itu dengan konsisten gitu. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita bisa menemukan personal value tersebut gitu ya. Karena saya yakin tidak semua orang itu punya self awareness yang tinggi gitu. Kadang kala kita juga sulit untuk mengenali diri kita sendiri. Kalau dari pengalamannya Kak Putri seperti apa? Punten, Kak Putri, suaranya masih ter oke, maafkan. Pertanyaan sangat menarik, Mas Lukman. Saya sendiri dapat pertanyaan itu. Ini tantangan enggak cuman buat teman-teman ASN ya, kita semua sebagai individu. Ketika kita eh sebagai diri punya personal life dan sebagai individu yang berkarya punya professional life, ada ekspektasi culture yang diharapkan melekat pada kita dalam situasi profesional bermasyarakat. Tapi kita pribadi, saya punya personal value dan punya personal habit yang bisa jadi enggak ketemu dengan apa yang jadi ekspektasi masyarakat atau instansi tempat saya bekerja. Sebelum menjawab ini saya mau tanya dulu. Ee hari ini saya terakhir minum sebelum subuh tadi. Bapak, Ibu bisa menebak enggak kalau saya terakhir minum sebelum subuh tadi? Bagi sebagian orang akan melihat, "Mbak, energinya kayak orang barusan minum" gitu ya. Nah, kalau buat saya itulah pilihan komitmen profesionalisme. Bukan karena Anda sedang melakukan sesuatu hal lalu itu berdampak pada diri Anda. Kalau tadi bahasa Bu Dewi, enggak bisa ee apa yang kita pikirkan itu dipengaruhi oleh cara orang lain menilai kita. Enggak bisa. Enggak boleh ditentukan dari faktor eksternal. Itu harus dibangun secara internal. Jadi, yang pertama harus diketahui adalah saya punya value apa? saya punya personal habit apa yang itu bisa menunjang performa saya secara profesional. Kebiasaan-kebiasaan baik apa yang itu bisa menunjang integritas saya sebagai ee individu yang bekerja secara profesional. Itu dulu pertemukan dulu dua aspek itu. Personal habit yang baik dengan ee standar budaya yang harusnya kita penuhi. Nah, kalau udah mari kita cari pelan-pelan apa yang kita belum punya nih. Kita belum punya nih tapi standarnya di sini. nih. Dan itu harus dilakukan secara bertahap, pelan. Jadi, enggak ada alasan saya lagi sakit atau tadi malam saya nonton bola Piala Dunia, saya ngantuk. Sehingga hari ini dalam melayani saya enggak bisa performa saya optimal. Oh, enggak bisa. Anda suka bola, Anda nonton bola. Malam sebelumnya Anda nonton bola, Anda harus pastikan besok Anda tetap fresh. Gimana caranya? Karena kalau sudah begitu, itulah yang disebut profesional, etis, dan berintegritas. Jadi tahapannya pelan-pelan pertemukan yang sudah baik lalu pelan-pelan pertemukan yang belum terpenuhi itu sehingga kemudian menjadi sama baiknya. Bahkan bisa jadi ada hal-hal yang Anda punya tapi budaya kerja Anda belum memunculkan itu dan itu bisa jadi bagian yang membuat Anda kemudian dijadikan role model bagi rekan-rekan kerja Anda. Bahkan membuat Anda direkognisi sebagai sosok yang punya ee kualitas lebih dan kemudian mendapatkan kepercayaan lebih. pelan-pelan potensi karir menjadi seorang pemimpin. Semoga terjawab ya, Mas Lukman dan Bapak Ibu yang bergabung hari ini, Sobat ASN. Thank you, Kak Putri atas jawabannya yang sangat menarik sekali. Kali ini ada Sobat ASN yang ingin bertanya dengan Kak Putri. Ya, saya izin undang terlebih dahulu untuk Sobat ASN yang sudah mengaktifkan feature ada dari Pak Ronald. Selamat siang, Pak Ronald. Kasih ee kesempatannya. Ee mohon izin ee saya ral dari Balai Pusat Pengembangan Kompetensi SN 1 Kindageri. Ee tadi saya tertarik nih sama Mbak Puti yang video perkenalannya itu saya dari kecil interpret gitu atau sekarang jadi seperti ini gitu ya. Nah, saya ingin tanyakan ee kiat sederhana mengendali potensi diri bagaimana gitu sehingga kita bisa menerima apa adanya lalu kita bisa selesai dengan diri kita dan sehingga kita bisa bangun personal value dan personal planing yang lebih baik gitu. Nah, kebetulan sesekali saya juga mengajar untuk pelatihan dasar CPNS. Kadang-kadang saya semangat kalau konsatif, tapi kalau ada audiens yang tiba-tiba di luar hapan, nah itu konsentrasi saya itu sudah kuya, gitu. Jadi kadang-kadang dikenal sebagai pengajar yang aktif, tahu-tahu tiba-tiba ya jadi kaku, jadi menjemukkan gitu. Terima kasih ya. Aduh, Pak Ronald terima kasih. Ini saya melihat sosok Bapak luar biasa. pengalaman jam terbang sudah sangat tinggi. Ee mentor juga bagi kawan-kawan ASLN lain. Terima kasih. Yang luar biasa dari Pak Ronat adalah dengan pengalaman rekam jejak yang sedemikian panjang, posisi yang juga enggak bisa dipandang remeh, Bapak masih bersedia belajar. Itu luar biasa. Itu sangat luar biasa. Apalagi, Pak, belajarnya hari ini dari tiga sosok yang tiga-tiganya berbeda ini, termasuk saya yang mungkin secara usia setahun lebih muda dari Pak Ronald ya. Jadi, terima kasih Bapak sudah hadir. Saya akan jawab pertanyaan yang kedua dulu. tadi tadi Bapak sempat cerita ee soal fokus atau energi yang kemudian berubah di tengah-tengah ee performance. Kalau buat saya, Pak, saya kalau lagi ada dalam situasi itu saya justru akan kondisikan untuk itu menjadi gimmik bagian dari gimmik. Jadi, misal saya lagi bicara sesuatu lalu kemudian saya lupa. Tidak haram hukumnya, tidak berdosa Pak Ronald untuk kemudian bilang, "Tadi terakhir saya ngomong apa ya? Bapak, Ibu ada yang ingat enggak? Ini bagi Bapak Ibu yang ingat, Bapak Ibu sudah jelas saya rekomendasikan nih ke depan punya peluang untuk jadi fasilitator juga atau trainer juga. Nah, padahal Bapak lagi lupa tapi ternyata audiens mengingat apa yang Bapak sampaikan. Jadi itu akan jadi bagian dari gimik Pak. Sebetulnya itu contoh, Pak. Contoh. Contoh. Lalu, misalnya Bapak sedang ee ingin menyampaikan sebuah informasi yang sensitif dan Bapak merasa ini ee perlu tidak ya disampaikan. Bapak bisa menyampaikan informasi yang berangkat dari data, fakta, atau cerita yang memang muncul lewat ee media. Kemudian Bapak minta pandangan rekan-rekan yang hadir pada forum di kelas Bapak untuk menyampaikan pandangan. Jadi, seolah-olah ide gagasan itu datangnya dari audiens, bukan dari Bapak. Sehingga sesuatu yang sensitif itu menjadi bahan diskusi bersama, bukan sesuatu yang kemudian Bapak tembakan sebagai bentuk brainwashing kepada rekan-rekan yang hadir. Itu strategis sehingga apa? Bapak akan rileks dan audience akan melihat begini, selain e proses belajarnya berlangsung interaktif, audience akan melihat Bapak sebagai sosok yang empatik. Tidak sekedar menembakkan pesan dan merasa bahwa statement Bapak paling tepat, tapi Bapak merangkul audiens untuk berdiskusi dan belajar bersama. Nah, berkaitan dengan pertanyaan pertama tadi Pak Ronald, em semua pasti punya masa di mana mengalami kesulitan. ketika harus menghadapi situasi-situasi yang sulit atau bahkan mempertemukan personal value-nya dengan institutional value. Dan itu tidak mudah, Pak. Sangat tidak mudah. Sangat tidak mudah. Tapi di saat yang sama kalau kan kita bicara ada dinamika realita ya, Pak ya. Realita itu kan enggak enggak ee solid, enggak terjadi ee dari aksi A kemudian muncul reaksi B gitu, enggak. Tapi dengan kita belajar bahwa ternyata ada ruang diskusi, dialektika, ruang di mana orang kemudian belajar memahami bahwa kita sebagai manusia pun ada kalanya juga bisa jadi bikin salah, lupa, tampak kurang kompeten, dan kita bersedia. Ini yang paling penting. Bukan soal menjadi sempurna, tapi mengakui secara terbuka deklarasi, Pak, bahwa saya tidak sempurna dan saya siap belajar bersama. Jadi buat saya ketika ada personal value yang enggak ketemu ee Bapak tadi bilang Mbak Putri nih kan menceritakan kalau Mbak Putri introvert. Introvert ekstrovert itu bukan jaminan seseorang menjadi public speaker yang menawan, Pak. Bukan karena seseorang ekstrovert lalu dia terlahir dengan ee talenta menjadi pembicara publik yang menawan. Tidak. Karena masih ada aspek kekayaan linguistik kosakata, Pak. kecerdasan linguistik, yang kedua keterampilan berkomunikasi dan kesediaan untuk tampil praktik, praktik, praktik. Jadi bukan tentang introvert, ekstrovert, tapi tentang bagaimana kita mau terus belajar dan sekalipun gagal kita enggak trauma untuk bangkit lagi. Buat saya yang terpenting itu, Pak. Dan mudah-mudahan walaupun mm pertanyaan Bapak tadi kan cukup saya tahu ada hal yang lebih spesifik dan itu case study personal dari Bapak yang tidak bisa Bapak ceritakan pada pertemuan ini. Tapi mudah-mudahan arah jawaban saya itu menuju pada arah pertanyaan Bapak. Kalau Bapak ingin diskusi lebih lanjut, Instagram DM saya terbuka lebar, Pak. Monggo menyapa. Saya siap untuk diskusi lebih lanjut di ruang private untuk kebutuhan profesional Bapak. Terima kasih. Terima kasih, Kak Putri untuk jawabannya Pak Ronald. Terima kasih untuk pertanyaannya. Semoga Bapak diberikan kesehatan selalu. Jangan lupa untuk kirim data diri ya, Pak ya untuk pengiriman hadiah dari tim BPSDM Jatim TV. Kak Putri. Tidak terasa sebenarnya kami ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan Kak Putri. Namun karena keterbatasan waktu, kami harus mengakhiri sesi kali ini. Namun sebelum itu, bagi sobat ASN yang masih setia menunggu dan menyaksikan acara webinar kali ini sampai dengan detik kali ini, barangkali dari Kak Putri ada satu closing statement yang ingin Kakak sampaikan kepada teman-teman atau sobat-sobat ASN yang masih setia melihat acara siang hari ini. Silakan, Kak Putri. Wow, saya tidak punya personal closing statement. Saya bantu ingatkan teman-teman apa yang disampaikan Pak Ramli, Pak Suko, dan Bu Dewi tadi sebagai pengingat untuk bersama. Personal branding bukan pencitraan eh artificial. Membangun personal branding adalah membangun konsistensi antara kepribadian dan performa kinerja kita sebagai ASN yang melayani publik, masyarakat Indonesia. Maka untuk itu, jadilah versi otentik terbaik diri Anda. Jadilah versi otentik terbaik Anda sebagai ASN. Dan bangun personality itu bangun personal brand itu bukan untuk Anda, tapi untuk membuat Indonesia semakin sejahtera. Bayangkan apabila masyarakat percaya kepada ASN, masyarakat percaya pada pemerintah, masyarakat percaya bahwa hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan publik mereka dapatkan dengan sebaik-baiknya. Dan bayangkan bagaimana wajah Indonesia ke depan dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dari Bapak, Ibu yang memberikan pelayanan. Bismillahirrahmanirrahim. Saya yakin Indonesia akan jadi negara maju. Amin. Amin. Allahum amin. Kak Putri, thank you so much. Semoga kita bisa bertemu offline kapan-kapan. Semoga Kak Putri juga diberikan kesehatan selalu dan juga semakin semangat juga untuk membagikan inspirasi dan juga pengetahuan kepada rekan-rekan sekitar. Salam sehat selalu, Kak Putri. Kita bertemu lagi di event-event selanjutnya. Thank you, Kak. Ya, tidak terasa Sobat ASN, kita sudah berada di pengujung acara webinar ASN belajar seri 4 tahun 2026. mewakili kerabat kerja dan tim yang bertugas. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada sobat ASN yang sudah menyaksikan acara ini sampai dengan siang hari ini. Sekali lagi kami ingin menginformasikan dan juga mengingatkan untuk jangan lupa mengisi link presensi via Semesta Bangkom untuk mendapatkan e-sertificate dari BPSDM Jawa Timur. Dan webinar ASM belajar seri 4 tahun 2026 kali ini dipersembahkan spesial oleh Corpu SDGIS BPSD Provinsi Jawa Timur. Saya Lukman beserta tim yang bertugas pamit undur diri. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sampai bertemu di webinar seri berikutnya. Bye bye. Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Marlah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Situt melengkuntabilitas tinggi. Heb di sini tugas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi. Bergandeng tangan tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak. bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa kami dari sini tegas dengan hati Tujuh kata kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragung bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama di rembangan kami malam. melayani dengan bang kami melayani bangsa H