Transcript
8BdxfJn_o9k • ASN Belajar Seri 4 | 2026 - Personal Branding ASN: Profesional, Etis, dan Berintegritas
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0294_8BdxfJn_o9k.txt
Kind: captions
Language: id
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
berhak kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan
hadir di sini untuk mengabdi rencanakan
tugas ke bangga negerit
melainkani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Kami dari sini tugas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya.
Sattif dan berkolaborasi
bergandeng tangan
tujuan
untuk menjadikan ASN lebih berakhlak.
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
kami dari sini tegas dengan hati
Tujuhkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan. Satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih beragam
mengerjas penuh hati tulus membantu
sesama
malam. melayani
dengan bang kami melayani
dengan mengat kami melayani
H
Bersama membangun asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti mengikuti zaman
dengan semangat pembaharuan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jing Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam
visi yang terang menjawab tantangan
jangan gemilang
PPSDM Jawa Timur Center of Exens masa
depan demil
bersama membangun asa
menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti mengiti zaman
dengan semangat pembaharuan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSDM Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencetak STM berkompetensi.
Tangguh cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang. Menjawab
tantangan jangan gemilang.
PPS SDM Jawa Timur Center of Exans masa
depan gemilang.
e
Oh
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Oh.
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Marah kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri.
Situk melainkani bangsa dengan
akuntabilitas tinggi.
Hong
bereda di sini tugas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangga satu tujuan untuk
menjadikan ASN lebih berakhlak.
bekerja sepenuh hati, tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa.
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi.
Bergandeng tangan satu tujuan untuk
menjadikan ASN lebih beragam.
mengerjas penuh hati tulus membantu
sesama dengan kami melayani
dengan kami melayani
dengan mengangan kami melayani
bangsa
Asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti mengikuti zaman
dengan semangat pembaruan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jim Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas tangguh inovasi
bersatu dalam visi yang terang menjawab
tantangan jangan gemilang
PPSDM Jawa Timur Center of Exens masa
depan demilah
bersama membangun asa
menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti mengiti zaman
dengan semangat pembaruan,
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM Jatim Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas penuh inovasi bersatu
dalam visi yang terang menjawab
tantangan jangan gemilang
PPSDN Jawa Timur senter ofans masa depan
donil
Yeah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
seluruh Indonesia. Senang sekali saya
Lukman dapat menyapa Sobat ASN tentunya
dalam acara webinar ASN Belajar
persembahan spesial Corpu SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Saya juga ingin
mengucapkan selamat datang untuk sobat
ASN yang tengah menyaksikan acara ini
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dan
juga platform Zoom meeting. Mohon maaf
karena tadi ada kendala operasional
sehingga acara kami mulai lebih lambat.
Namun kami ucapkan terima kasih atas
ketersediaannya untuk menunggu webinar
ASN belajar. Bersama-sama kita akan
tingkatkan kompetensi dan terus-menerus
belajar dengan para praktisi dan juga
para narasumber yang sangat luar biasa.
Sobat ASN, tantangan ASN tidak hanya
mengenai apa yang kita kerjakan, namun
lebih dari itu bagaimana kita juga hadir
di hadapan publik di era yang semakin
terbuka dan digital, sikap, cara bicara,
dan juga interaksi antara ASN dengan
masyarakat membentuk persepsi masyarakat
terhadap kualitas birokrasi dan juga
pemerintah. Di sinilah personal branding
menjadi sangat penting bagi seorang ASN.
di mana personal branding tidak lagi
dikaitkan dengan pencitraan semata,
tetapi bagaimana nilai-nilai yang
dipegang oleh ASN ini tercermin dalam
pekerjaan mereka sehari-hari.
Selengkapnya akan kita bahas di webinar
ASN Belajar seri 4 tahun 2026 personal
branding ASN profesional etis dan
berintegritas.
Dan untuk membuka webinar ASN belajar
seri 4 kali ini, mari kita dengarkan
bersama opening speech yang akan
disampaikan oleh Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto, SPMP.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat SN
di seluruh tanah air. Selamat bertemu
kembali dalam ruang belajar bersama
webinar series ASN belajar persembahan
JATM Corporate University Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur.
Forum Pengembangan Kompetensi ASN ini
merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk
menjaga semangat pembelajaran ASN agar
tetap menyala dan berkelanjutan di
tengah tugas pengabdian yang semakin
kompleks.
Sabat ASN, tema yang kita angkat pada
seri keempat tahun 2026 ini adalah
personal branding ASN, profesional,
etis, dan berintegritas.
Tema ini adalah sebuah penegasan bahwa
citra diri ASN harus dibangun di atas
pondasi nilai. Personal branding bukan
tentang pencitraan kosong, bukan pula
tentang popularitas semata, tetapi
tentang konsistensi antara nilai, sikap,
dan kinerja.
ASN yang kuat personal branding-nya
adalah ASN yang profesional dalam
bekerja, etis dalam bersikap, dan teguh
dalam menjaga integritas.
Sobat ASN di seluruh tanah air, di era
keterbukaan informasi dan digitalisasi
yang masif saat ini, ruang publik tidak
lagi memiliki sekat yang tegas.
Setiap pernyataan, sikap, dan keputusan
aparatur sipil negara dapat dengan cepat
menjadi konsumsi publik.
Dalam konteks ini, ASN tidak hanya
bekerja di balik meja birokrasi, tetapi
juga hadir di ruang sosial yang luas
menjadi representasi langsung dari wajah
negara.
Personel branding ASN lahir dari
realitas tersebut. Ia bukan sekedar
persoalan citra individual, melainkan
refleksi kualitas institusi dan
kredibilitas negara.
Ketika personal branding ASN kuat,
profesional, dan berintegritas, maka
kepercayaan publik terhadap birokrasi
akan tumbuh. Sebaliknya ketika personal
branding ASN lemah, inkonsisten
atau bertentangan dengan nilai etika,
maka kepercayaan publik dapat teruntuh
hanya oleh satu tindakan yang viral.
Urgensi personal branding juga semakin
menguat karena perubahan ekspektasi
masyarakat.
Publik hari ini tidak hanya menilai
kinerja dari hasil akhir, tapi juga dari
proses, sikap, dan nilai yang
menyertainya. ASN dituntut tidak hanya
kompeten secara teknis, tetapi juga
komunikatif, empatik, dan tentu
beretika.
Sbat SN, dalam perspektif ini personal
branding menjadi jembatan antara
kompetensi dan kepercayaan, antara
kinerja dan legitimasi publik.
Lebih jauh, personal branding yang sehat
berakar pada keselarasan antara nilai,
perilaku, dan peran jabatan. Ia bukan
pencitraan artifisial, melainkan
konsistensi karakter yang tercermin
dalam tindakan sehari-hari.
ASN yang mampu membangun personal
branding secara autentik akan lebih
dipercaya, lebih berwibawa, dan lebih
efektif dalam menjalankan tugas
pelayanan publik.
Pada akhirnya personal branding adalah
bagian dari tanggung jawab moral ASN
yang menuntut kesadaran bahwa setiap
aparatur adalah teladan, setiap perilaku
adalah pesan, dan setiap keputusan
adalah cermin nilai-nilai negara. Dalam
birokrasi modern, personal branding
bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan
strategis untuk membangun birokrasi yang
profesional, etis, dan berintegritas.
birokrasi yang bukan hanya bekerja tapi
juga dipercaya dan dihormati oleh
masyarakat.
Sobat ASN di seluruh tanah air. Oleh
karena itu, melalui ASN Belajar seri ke4
tahun 2026 ini, kita ingin menegaskan
bahwa personal branding ASN membutuhkan
kesadaran nilai, konsistensi perilaku,
dan integritas yang terus dirawat
melalui proses belajar yang
berkelanjutan agar setiap aparatur mampu
menampilkan jati diri profesional yang
selaras. antara yang diyakini, apa yang
diucapkan, dan apa yang dikerjakan dalam
melayani masyarakat. Dengan demikian,
personal branding ASN tidak boleh
dibangun secara instan atau artifisial,
melainkan melalui proses pembelajaran
yang mendalam dan reflektif. Ia tumbuh
dari kapasitas diri yang terus diasah,
karakter yang terus diuji, serta
keberanian untuk menjaga etika di tengah
tekanan dan sorotan publik. Dari proses
inilah akan lahir ASN yang tidak hanya
dikenal karena jabatannya, tetapi
dihormati karena integritasnya,
dipercaya karena konsistensinya, dan
diingat karena keteladanannya.
Sobat SN di seluruh tanah air, kehadiran
para narasumber hebat kali ini akan
semakin memberikan wawasan yang luas dan
makin memantapkan langkah pengadilan
kita sebagai S Indonesia. Atas nama
BPSDM Provinsi Jawa Timur dan seluruh SN
Indonesia, izinkan kami menyampaikan
apresiasi dan penghormatan
setinggi-tingginya.
Kepada pertama Bapak Dr. Suko Widodo,
M.Si.,
akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Airlangga yang akan
memperkaya pemahaman kita tentang relasi
citra diri, etika, dan ruang publik.
Kedua kepada Ibu Dr. Dewi Retno Syarsi,
M.Si., Psikolog.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Erlangga yang akan mengulas personal
branding dari perspektif psikologi dan
karakter ASN. Dan ketiga, kami
menyampaikan terima kasih kepada Ibu
Rizki Putri, Sos, MCOM, Communication
Facilitator dan founder Sinergi Bicara
yang akan berbagi praktik komunikasi
profesional dalam membangun citra ASN
yang kredibel dan berintegritas.
Kehadiran para narasumber hari ini
menegaskan bahwa ASN belajar bukan
sekedar forum diskusi tetapi ruang
strategis untuk menyatukan visi,
menyelaraskan kebijakan, dan memastikan
bahwa pembelajaran benar-benar
bertransformasi menjadi kinerja dan
dampak nyata. Nah, Sobat ASN, mari kita
simak dengan seksama webinar ASN Belajar
seri ke-4 tahun 2026. Semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih
kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas
opening speech yang telah disampaikan.
Dan sebelum kita masuk ke narasumber
kita yang pertama, terlebih dahulu kami
izin menginformasikan dan juga
mengingatkan bahwasanya link presensi
sudah dapat sobat ASN akses melalui
laman semesta Bangkom. Dan dikarenakan
saat ini traffic presensi sedang tinggi,
maka Sobat ASN dapat cek secara berkala
karena nantinya untuk link presensi ini
akan menjadi syarat untuk mendapatkan
e-sertificate dari BPSDM Jawa Timur. Dan
juga kami ingin menginformasikan
bahwasanya nanti selama sesi tanya jawab
kita juga akan menyediakan souvenir yang
menarik, spesial dari BPSDM Jawa Timur.
Jadi pastikan untuk Anda dapat menyimak
materi baik-baik dan kalau misalnya ada
hal yang ingin dikonfirmasi kepada
narasumber langsung saja bisa
menggunakan feature rais hand melalui
Zoom atau bisa drop question di live
YouTube BPSDM Jatim TV. Kali ini kita
akan masuk ke materi kita yang pertama.
kali ini akan berbicara terkait dengan
komunikasi publik ASN sebagai pondasi
personal branding yang berintegritas.
Materi kali ini akan disampaikan secara
langsung oleh Bapak Dr. Suko Widodo.
Beliau ini merupakan dosen Prodi Ilmu
Komunikasi FISIP Universitas Erlangga
Surabaya
dan telah hadir bersama dengan kita
semua di sini, Pak Suko Widodo. Selamat
pagi, Pak Suko.
Pagi, Mas Lukman. Sehat selalu,
sehat. Alhamdulillah. Terakhir kali kita
bertemu tahun lalu di ITS waktu itu Pak
Suko sempat isi kelas kami di SIMT ITS.
Kalau Bapak ingat,
saya selalu ingat orang yang cerdas lah.
Salam sehat selalu, Pak Suko. Kali ini
kita akan mendengarkan paparan materi
menarik dari Pak Suko mengenai
komunikasi publik selama kurang lebih 30
menit, Pak. Nanti kita akan lanjut ke
sesi tanya jawab. Silakan Pak Suko.
Makasih, Mas Sali. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. ee saudara
sebangsa dan seasn belajar ee ada
kalimat yang menarik dari ee Pak Ramli
tadi bahwa setiap perilaku adalah pesan
ee dalam konteks saya belajar komunikasi
ee hari-hari ini kita mengalami sebuah
ee perubahan mendasar di dalam tata cara
ee berkomunikasi tidak lagi dibatasi
oleh ee ruang dan waktu seperti di masa
silam. Islam, tetapi mungkin jauh lebih
luas. Itulah kenapa ee pesan Pak Ramli
ee direktur Universitas BPSDM ini
menarik ya, karena e ini tempat yang
bagus sih. Saya berharap apa teman-teman
di Sesia sesekali tengoklah tempat Pak
Ramli yang ya kampus dia persis dengan
kampus. ee bedanya ee dengan kampus kami
misalnya di UNER di tempat Pak Ramli ini
lebih apa praksis, lebih ee interaktif
dan lebih memberikan kesempatan orang
untuk berinteraksi. Ee Mas Sali dan
semua teman saya memulai dengan slide
ini. Silakan diklik next. Jadi saya
membahas ee soal personal branding e
berkaitan dengan reputasi.
ee akhir tahun 2025 kita menyaksikan ee
foto ini yang cukup luar biasa apa ya
luar biasa muntakat yaitu Nepal. Nepal
terkenal ee bagaimana media sosial yang
dihentikan oleh pemerintah karena
anak-anak muda terus memprotes ee ee
pemerintahnya. Tetapi justru itu yang
titik balik ee terjadi apa yang kita
sering sebut sebagai nepalisme ya. semua
orang ee ee orang-orang pemerintah,
parlemen, politisi, ee pejabat diseret
secara fisik yang ee sangat ngeri. Maka
anak muda yang ee di gambar ini,
Mas Sali bisa menterjemahkan tulisan
ini, Mas, yang ditulis di ee kertas
dipegang gadis cantik ini.
Kira-kira terjemahnya ee para ASN jangan
lupa angsuran motornya segera
diselesaikan kira-kira itu. Tapi bukan
itu yang ingin saya katakan. Tetapi
peristiwa ini menunjukkan bahwa ee
anak-anak muda ee Gensi dan X pasti
sisanya yang sekarang ini sedang atau Y
yang sekarang ini mendominasi ee
masyarakat kita ini ee menentukan arah
itu dan itulah titik awal dari ketika
kita bilang di mana posisi kita berada
yaitu di posisi saya berada di antara
orang-orang netizen yang ee ee maha
benar dengan segala kritik dan ee
kecamannya dunia menjadi ee menjadi sama
dan tidak ada ee struktur. Tapi tentu
sebagai e seorang pega negeri kita tentu
punya arah ee apa yang Anda lakukan hari
ini ee berbeda dengan mungkin 20 atau 10
tahun lalu. Kalau 10 atau 15 tahun lalu
ee kalau Anda melayani misalnya ee
kekecewaan dari ee klien Anda atau ee
konsumen atau warga negara semisal
misalnya Anda di Puskesmas ya dan ketika
Anda melayani ee dengan tidak terlalu
bagus maka paling banter Anda dibahas
oleh 11 sampai 12 orang. Wah, itu
petugasnya ee ee sudah tidak ee ganteng
tapi belagu misalnya. Tetapi hari ini
ketika Anda melakukan hal yang salah
dalam melayani, maka seketika itu jutaan
orang seluruh dunia akan menyaksikan
bagaimana ee citra diri Anda, brand
Anda, ee reputasi Anda, bahwa itulah
kualitas ASN. Karena itu ee apa ee akhir
dari membangun brand yaitu next ee bisa
di lanjut. Nah, next. Oke. Nah, inilah
kemudian yang menghadirkan orang yang
saya kagumi. Pada akhirnya integritas
menjadi jawabannya. Anda lihat bagaimana
seorang susila
yang usianya 73 tahun akhirnya dipercaya
untuk memimpin ee pemerintahan. ee
transisi di Nepal bukan karena dia ee
seorang yang muda, bukan apa, tapi
integritas.
Susila Karki adalah seorang hakim agung
yang kemudian pensiun dan kemudian dia
ee di panggil lagi lewat discourse ee
pilihan yang itu ditentukan oleh media
sosial dan anak muda memilih Sus Karki
untuk memimpin Nepal. Nah, belajar dari
peristiwa ini maka mari pelan-pelan kita
apa yang kira-kira harus dilakukan ee
seorang ASN di dalam melayani melayani
mencapai tujuannya dia sebagai ASN.
Seringki kesalan kita adalah kita
terlalu mencintai cita-cita kita. Kita
terlalu mencintai tujuannya kita. Tapi
kita tidak setia dengan tujuan kita.
sehingga orang lebih banyak melakukan
apa yang diinginkan
bukan apa yang diinginkan oleh ee tujuan
dari publik. Next.
I next ya. Oke. Nah, ini yang saya kira
eh next apa di ada penjelasan di
bawahnya. Ini yang kita sebut we are
moving from a wood of solid structure to
one of light eh shifting condition. Kita
sedang bergerak eh
dari dari dunia yang terstruktur kokkoh
menuju dunia yang sangat cair dan ee
terus berubah. tidak lagi Anda bisa apa
mengandalkan ee apa yang ee Anda yakini,
tetapi Anda juga harus membuat ee
keyakinan pada orang lain. Itulah di
dalam komunikasi ee yang bagus, seorang
Peter Drcker mengatakan bahwa kemampuan
komunikasi yang baik adalah ketika ASN
mampu mendengarkan suara yang tidak
berbunyi. Nah, kalau Anda sudah
menangkap ee apa suara yang tidak
berbunyi, suara orang terpinggirkan,
maka Anda bisa melakukan setia dengan
menjalani memenuhi itu. Artinya apa?
Saran saya mulai sekarang semua ASN,
semua ASN ee secara kelembagaan saja.
Karena personal branding ASN itu bukan
personal branding atas nama individu,
tetapi dia adalah representasi dari
institusi.
Seorang ee guru tentu ee dia harus ee
dekat dengan buku, dengan literatur,
dengan etis dan sebagainya. Seorang
dokter tentu dengan jadwal yang tetap.
Nah, perilaku-perilaku itu seperti kata
Pak Randi tadi adalah perilaku itu
adalah pesan yang terbaik dibanding
kata-kata dalam dunia yang cair ini. ee
kita kemudian ee dalam sorotan ee di
dalam ee tidak hanya sorotan ya, tapi
dalam pemantauan karena ee fungsi media
sosial telekomunikasi adalah ee cara
terbaik untuk melakukan akuntabilitas
publik terhadap ee Busi ASN. Oke, next.
Nah, dalam perubahan ini ee maka next
ya. ini yang kemudian menjadi persepsi
terakhir. Tetapi ini ee riset ketika
tahun 2000
2019 yang waktu itu belum ee belum kita
belum move ketika ee apa ya ketika masih
ee belum pandemi. Nah, ini pandangan
publik yang saya kira ee kita harus
menjawabnya. Pertama bahwa persepsi
lamban dan birokratis. Saya tidak perlu
menanyakan apakah itu Anda lakukan atau
tidak. Sejaknya ini yang harus
dihindari. Yang kedua adalah kurangnya
transparansi. Nanti kita bicara tentang
ee hak atas informasi publik
Undang-Undang ee 1428.
Kemudian rendahnya inovasi dan adaptasi.
Kritik terbesar dari e SN anak muda
adalah pegawai negeri kakaian upacara
cius ini. Jadi makanya apa yang membuat
upacara? Apakah meresmikan ee apa ya
panen raya itu ee Anda harus turun atau
Anda cukup datang atau apa. Nah, ini kan
harus diukur gitu loh sehingga Anda
tidak mendapat persepsi buruk. Ee
kurangnya akuntabilitas individu,
kesenjangan kompetensi antar generasi.
Karena agak beda ya Bapak, Ibu sekalian.
Saya sering menyaksikan hanya karena
target waktu atau ketentuan ee kita
tidak
ee melakukan perubahan-perubahan.
Misalnya ee saya tahun 92 mungkin ketika
Anda belum lahir ya mengajar itu
2 jam 3 jam mahasiswa itu masih tekun
mendengarkan.
Tapi hari ini kalau saya jangankan 1 jam
ya, jangankan 2 jam, ngajar setengah jam
aja sudah protes. Saya selalu mencatat
bahwa setiap menit ke-15 tuh mahasiswa
sudah usrek. Usrek itu apa ya? Sudah
bingung. Dan biasanya mereka menundukkan
kepala dukaan saya. Mereka berdoa, "Ya
Allah, semoga Pak Suko segera keluar
dari ruangan ini." Karena mereka tidak
ee tidak ee lagi memandang ee sosok
dosen ee dengan branding yang hanya ee
seperti instruktur. Mereka menganggap ee
dosen sebagai partner yang egaliter.
Karena itu pola ini harus dirubah kalau
kita menjawab ee terhadap ee personal
branding yang kita lakukan. sama Anda
pun juga begitu melakukan itu, melakukan
itu. Yang ketiga, loyalitas pada
institusi itu kewajiban dan publik. Ya,
itu saja. Jadi ee ini akan kita jelaskan
ee terakhir
pertanyaan saya yang selalu kepada ee
peserta ee soal personal branding
terhadap kes itu adalah andai kata
karena rumusan ASN itu mesti wah mesti
korupsi nih ASN ini ke negeri misalnya
kira-kira kalau Anda mendapat
gratifikasi
atas kuasa Anda mengeluarkan izin apa
yang Anda lakukan kira-kira
gak usah dijawab di batin saja ya. Tapi
Anda akan mendapat tantangan itu ee ee
ketika Anda ee ee ee berhadapan dengan
publik dan di situlah letak ujian utama.
Apakah Anda setia membangun brand Anda
sebagai orang yang anti korupsi atau
tidak? Next.
Oke. Apa sih sebelumnya personal
branding? Personal branding adalah janji
sebetulnya. Brand. Jadi di masa silam ya
brand itu dulu sebetulnya adalah tanda
ya. Jadi di masa silam kalau Anda
belajar soal brand itu kan ee misalnya
kuda kuda itu kan mesti ee agar tidak
hilang kepemilikannya maka dia dicap itu
ya dicap jarannya dicap biar enggak
hilang. SW Sukodo. Itu punyanya Sukow
Widodo. Atau orang mengatakan peneng ya.
Kalau anjing itu dikasih ee surat itu
pendeng agar tidak mengganggu agar saya
bertanggung jawab pada anjing saya
misalnya. Namanya peneng. Nah, brand itu
kemudian ee dalam perkembangannya ee
tahun se apa ya? Tahun abad ke-20 dia
kemudian menjadi
sebuah pesan dan dia adalah representasi
dari diri kita. dia adalah janji bahwa
oh kalau mereknya merek ya brand merek
oh ini kalau mereknya ee Honda wah pasti
nomor satu.
Nah, ketika kemudian Yamaha ee Yamaha
membuat brand, tapi ini klaim ya, Yamaha
kemudian mengklaim bahwa ee ee
Yamaha selalu di depan, Honda muncul
lagi misalnya bahwa ee apapun Honda
selalu unggul misalnya dia tapi
klaim-klaim ini tidak ee menjadi gagal
kalau apa ya tindakan-tindakan
ee institusi atau ee dalam hal ini
teknologinya tidak bisa memenuhi harapan
publik.
Ibaratnya semacam itu. Jadi kalau Anda
pengin menjadi ASN yang bagus, tentu
Anda harus memenuhi janji Anda sesuai
dengan janji ee sebagai ASN dan tentu
saja ruangnya adalah pada ruang di mana
Anda bekerja. Tupoksimu itu apa? Saya
adalah ee seorang pegawai pemerintah di
bidang hukum. Maka mau tidak mau Anda
harus belajar hukum, Anda paham
pasal-pasalnya dan sebagainya. Kalau
Anda misalnya di bidang pertanian, maka
seluruh otak dan sebagainya Anda harus
mencitrakan bagaimana minimal dengan
material pengetahuan itu baru nanti soal
ee komunikasinya, soal relasinya, soal
dan sebagainya.
Ingat bahwa personal branding bukan soal
apa ya keterkenalan, tapi soal
konsistensi. dari yang Anda lakukan.
Next,
ya. Ee personal branding ASN ini adalah
jejak profesional ya yang ee ee ada tiga
hal membacanya. pertama ee ee soal ee
bagaimana cara kita ee berkomunikasi.
Yang kedua adalah cara kita melayani. Ee
dan ini menjadi kebiasaan ya cara kita
bekerja itu ee ee apakah kita datang
terlambat atau tidak. Ya, mohon maaf ya,
seringkiali saya menyaksikan ee misalnya
jam 0.00 pagi mereka masih sarapan terus
di warung terus baru jam 09.00 masuk
terus ada azan zuhur mereka masuk ke
masjid dan sebagainya. Paling gampang
itu melihat waktu puasa itu wah ini AS
ini wah ini perlu dipantau ulang. Nah,
tindakan-tindakan
Anda ee perilaku Anda itu adalah pesan
yang ditangkap orang dan itu mesti ee
dimerki oleh atau dibrand. Jadi brand
itu ee klaim tapi dia itu ditentukan
oleh pandangan publik orang yang menilai
bukan oleh Anda. Sebagus apapun kalau
Anda melakukan apa tindakan atau dengan
cara tapi kalau ee pandangan publik
kemudian negatif berarti yang Anda
lakukan lebih banyak pencitraan bukan
theil dari brand yang secara konsisten
menunjukkan cara kerja Anda, cara Anda
mengkomunikasikan. Jadi dia dilihat dari
kebiasaan-kebiasaan.
Tentu saya menyarankan Anda punya patron
yang rutin misalnya ee datang tepat
waktu ee berbagian rapi, semua tata
ucapannya ee dan sebagainya. Termasuk
untuk saya sering menyaksikan misalnya
ini barang sepele ya, ini sepele ya ee
ketika oh sori ini oke ponsel. Ketika
Anda mendapat apa? mendapat ee
hati-hati. Makanya ketika Anda ee
berbicara dengan atasan Anda, kemudian
Anda ee scrolling, Anda capture kemudian
Anda kirimkan orang lain. Itu dalam
konteks komunikasi. Enggak benar itu gak
boleh. Karena sebetulnya perbincangan
Anda adalah dengan orang itu. Jadi
hati-hati Anda jangan menggampangkan
karena penggampangan Anda terhadap pola
komunikasi itu justru merusak bahwa oh
orang ini suka membocorkan rahasia. Oke,
next.
Nah, ada tiga pondasi melihat ee
persoalan itu. Ee pertama adalah
kinerja, kemudian kepercayaan, ee
kepatuhan. Tiga hal itu ukuran pertama
adalah kerjamu.
Percuma kalau Anda ee pakai seragam
tepat waktu tapi gak iso nyambut gae
plunga-plongo jadi pega negeri. Waduh
rek akeh tunggal ii dulu masuknya lewat
apa itu kan orang jadi gitu kan. Anda
harus ketok smart itu wajib. Dan smart
itu bukan ee sekedar ee sekedar apa ya,
bukan bukan ee sekedar banyaknya Anda
melakukan kata-kata, tetapi ee keputusan
Anda melakukan yang itu menghasilkan
output yang terukur itu. Jadi kalau
misalnya Anda membuat rancangan sebagai
orang e bPeda mungkin ya, Anda
ditugaskan menghitung ee apa ya misalnya
menghitung sebuah anggaran, maka Anda
pasti harus dengan ee dengan ee
dengan otak Anda melakukan pekerjaan itu
dengan bagus. mengkomunikasikan orang
atau atasan Anda atau ee orang lain itu
bisa membacanya dan tentu
kepatuhan-kepatuhan
mengikuti ini boleh, ini tidak dan
sebagainya. Pondasinya tiga hal itu ya,
tiga hal itu. Kinerja, kepercayaan,
kepatuhan. ada pegaan negeri ee ASN yang
pointer tapi enggak patuh hari iki
misalnya pada atasan karena itu
strukturnya itu dan itu yang terjadi
sekarang ini meskipun tarik-menarik kita
tahu kan bahwa antar generasi ee terjadi
konflik. Saya alami juga kepada ee ee
pengalaman saya kepada mahasiswa.
Saya sering mendapat keluhan ee tapi ini
perbankan ya, bukan ASN. Sekarang saya
punya punya kawan yang cerita bahwa
anak-anak muda ini kurang ajar Pak Suko.
Dia tidak etis loh. Kenapa kami minta
dia ee pergi mengunjungi misalnya
seseorang yang apa yang yang mm yang
abonnemen yang tidak apa ya tidak rutin
bayar itu ya. Jadi ada tunggaan kamu.
Tugasmu adalah pergi ee ngambil uang ke
sana. lagi anak itu berangkat dan
kemudian dia sudah selesai
mestinya secara etis dia melaporkan pada
atasan.
Atasannya marah ini ditunggu seminggu
enggak laporan 2 minggu baru damping loh
Anda kok gak laporan padahal sudah beres
pekerjaan. Nah, ini kan soal komunikasi,
kepatuhan juga. Hal semacam ini ee
khususnya kepada muda ee ee kenapa saya
dimarahi Pak Suko saya mengerjakan dan
uangnya sudah masuk misalnya. Ya, tidak
seperti itu. Tentu kan ada persyaratan
untuk membangun ee kegiatan agar mencari
tujuan sehingga pribadimu itu bisa
diterima oleh semua orang. Secara tas ee
material kegiatan oke, tetapi tentu ada
ee proses lain yang harus mempelaporan
dan sebagainya. Next.
Next. Nah, tahukah Anda bahwa
kepercayaan itu tidak mudah dicapai? Dia
tumbuh pelan seperti pohon terus
berkembang. Tapi dia bisa tumbang dalam
sekejap ketika Anda tidak setia dengan
brand atau dengan kebiasaan-kebiasaan
yang ee sebagai ASN. Nah, reputasi ini
puncaknya di reputasi. Nah, kalau Anda
bisa menjaga reputasi, maka tentu Anda
akan mengalami kenaikan-kenaikan
posisi strategis di dalam ee ASN. Next.
Nah, reputasi itu bukan logo. Jadi, ee
ini coba saya renungkan misalnya gini,
reputasi itu bukan karena Anda sebagai
DISUP punya pangkat di sini.
Anda sebagai ee BPBD dengan seragam yang
penuh gagah, berani. Bukan itu, bukan
itu. Itu ee itu atribut yang secukupnya
saja.
Mohon maaf ya, di Indonesia kebanyakan
sibuk dengan seragam tetapi ee ee justru
tidak sibuk dengan ee tadi kualitas
kinerja tadi. Padahal pondasi ee ee
personal brand itu adalah pada ketika
dia menunjukkan kinerjanya salah satunya
ya. Salah satatunya. Jadi ee nah kalau
Anda bisa mengangkat reputasi maka
ketika salah itu akan mudah. Nah, di
mana letaknya? Nah, Saudara sekalian
misalnya Anda punya hubungan yang bagus
di mata masyarakat sebagai seorang
penyuluh lapangan ee penyuluh lapangan
dan atau dokter di lapangan. Maka ee
kalau Anda ee setia mengerjakan ee apa
yang Anda lakukan, sudah disiplin, sudah
menunjukkan tata cara melayani kan ada
cara melayani ke masyarakat, maka Anda
mendapatkan nama baik brand yang cukup
bagus.
Nah, ketika Anda salah maka orang akan
memaafkan. Itu banyak kasus itu ya,
kasus kasus-kasus. Jadi tentu sebagai
apa ya, sebagai pribadi kan seringkiali
kita ee mengalami kesalahan. Karena
ketika kita mengalami kegagalan ee di
dalam ee di dalam melayani masyarakat,
maka Anda akan ee dimaafkan kalau Anda
melakukan tindakan-tindakan kinerja itu
disiplin, ee patuh dan sebagainya. Oke,
next. Nah, sering ee kemudian pada
posisi posisi ini kan jangka panjang.
Next. Boleh. Oke, next, ya. Jadi
kuncinya pada pemangku kepentingan
nanti. Next ya. Nah.
Nah, reputasi ini kan bagian dari dari
ee tumpukan brand atas diri Anda dan
brand itu adalah berasal dari kinerja
Anda. Nah,
orang yang ee ee personal brand-nya
bagus ketika dia menampilkan proof of eh
action dari ee yang lakukan daripada
janji-janji.
Hati-hati betul ya. Seringkiali kalau
Anda di pejabat ya kami akan menampung
pikiran Anda. Gak bisa anak muda gak
bisa lagi mengatakan mereka. Coba lihat
saya pelajari betul ee
demonstrasi-demonstrasi yang terjadi itu
tidak pernah atau jarang menemukan titik
temu karena pertama ee mindset kita
sudah kita merasa lebih dari orang lain,
lebih dari rakyat. Jadi kalau ada ee ada
ee ee customer atau klien atau ee warga
yang komplain itu satu mereka akan
menolak kok itu rakyat salah atau ee ee
ee yang kedua ee dia tidak ya menganggap
bahwa komplain itu komplain itu ee tidak
harus dipenuhi.
Ingat
complain is gift. Kalau ada ee apa ya
misalnya rakyat protes misalnya, maka
itu hadiah sebetulnya. Hadiah berarti
orang itu konsern terhadap itu. Kalau
Anda diabaikan oleh masyarakat enggak
ada gunanya ee ASN itu enggak ada
gunanya. Maka ee saya selalu menyarankan
ee Anda harus punya riset-riset kecil
atas institusi Anda. Gak apa-apa kalau
misalnya Anda apa yang menyampaikan pada
pimpinan Anda, "Pak, ini sudah berubah,
Bu, hari ini sudah berubah keadaan."
Maka sesekali dinas kita harus
ditanyakan kepada masyarakat, kepada
stakeholdernya. Kalau Anda dinas
kehutanan, ya tanyakan siapa yang
berhubungan dengan kehutanan? ya pasti
industri kehutanan, masyarakat dan
sebagainya. Tanyakan peran Anda. Kalau
ee Anda memberikan saran kepada pemimpin
atau bos Anda, ini akan bagus ya. Review
diri itu menjadi penting.
Jadi jangan sampai harus berubah.
Pikiran seorang ee Pak Ramli ketika
membangun BPSDM ini sebetulnya adalah
pikiran yang bertujuan untuk memenuhi
ekspektasi rakyat, ekspektasi publik
yang ini ee selama ini ee tidak pernah
dilakukan dan ketika apa ya pergeseran
pergeseran pandangan karena yang kita
sebut pertama dunia sudah cair tidak
lagi terstruktur ini apa yang sekarang
tidak berubah teman-teman kalau Kalau ee
di dalam ini agak mundur ya. Kalau
Ronggow Warsito itu kan pernah naliko
kali ilang kedunge, pasar ilang
kumandange. Pada saat itulah terjadi
zaman kolendur
negara sudah berubah. Hari ini terjadi.
Hari ini terjadi kita tidak lagi ee
menggunakan surat fisik. Kita tidak lagi
sehingga apa ya? Tidak lagi apa ya?
Tidak lagi mengundang cara-cara kuno.
Kritik Pak Prabowo misalnya saya dalam
perjalanannya lihat spanduk-spanduk
misalnya. Spanduk-spanduk itu menarik
bagi saya dan saya sudah lama itu
mencatat itu. Betul tuh. Kalau saya
datang ke berbadah tuh isinya p
gombal-gombal yang dipasang yang dan
klaim-klaim
misalnya ya saya cerita tapi jangan
bilang siapa-siapa. Kalau kantor Anda
itu juara apa ya? Juara terbaik di
Indonesia, kota terbaik di Indonesia,
walikota Anda pasang piala dan Anda
melakukan itu, usahakan hindari.
Masyarakat enggak butuh itu.
Brand yang diharapkan masyarakat bukan
juara. Mereka enggak butuh juara, tapi
mereka bisa bekerja baik, mereka belajar
dengan baik dan sebagainya. Jadi
sesekali Anda ee merubah itu. Bukan
tidak patuh, tetapi tentu harus ada
komunikasi pada pimpinan untuk
menjelaskan itu. Karena saya tahu kalau
Anda menentang bos Anda menolak kan
malah bahaya. Anda bisa dimutasi atau
malah dimutilasi
juga. Next.
Nah, reputasi adalah janji yang harus
ditepati.
Jadi, brand itu merek ya. Jadi kan kalau
dulu pemilikan pemilikan ee pemilikan
menyangkut equity ee menyangkut batin
kita, dia adalah janji. ee ee kalau ee
kalau misalnya Anda punya produk paling
gampang lihat produk, maka maka Anda
biasanya akan buat klaim apa presisi
apao-opo dan yang lebih ee yang nyata
adalah jargon-jargon kan
misalnya misalnya kan ee
Australia Selatan bangkit menuju Jaya
itu klaim itu klaim
hati-hati menggunakan klaim. Karena
ketika klaim itu kemudian tidak datang
pada tindakan-tindakan seperti kata Pak
Ramli tadi perilaku maka blls kantor
Anda gak dap dan itu yang terjadi
penyakitnya para apa ya para lembaga
Esens semacam itu. Kita buat yel-yel,
kita terus buat pantun misalnya sakjane
ya patek indah ya kadang-kadang itu
memaksa orang ya memaksa dalam
komunikasi inilah apa ya perubahan-perus
kita hitung banget g loh ya jadi anda
orang dipaksa nanti kalau saya ngomong
ini anda bilang cakep ya jadi dipaksa
gak bisa itu brand itu tumbuh dengan ori
or urus dan hari ini anak mud muda,
butuh orisinal, autentik dan Anda bisa
menemukan kalau Anda telaten
mempelajari, mendengarkan suara yang
lirih, suara yang tidak berbunyi. Nah,
brand ini kemudian sesuatu yang harus
ditepati. Dia adalah janji sebetulnya.
Oh, kalau ada ASN itu janji saya apa?
Janji saya bekerja keras, saya disiplin,
saya tepat waktu, saya melayani
di bidang saya. Kemudian yang kedua
adalah operasinya, praktiknya.
Praktiknya itu benar-benar harus di
dijalankan betul ya yang ee kinerjanya,
konsistensi ee komunikasi itu dan
hasilnya adalah reputasi. Jadi reputasi
itu puncak dari brand ee yang Anda
tepati. Ben itu adalah sebetulnya adalah
tindakan-tindakan Anda ee apa yang
dijanjikan ketika Anda sumpah menjadi
bagian negeri. Kan itu kalau saya tanya
tadi bahwa kalau Anda dapat gratifikasi
apa? Saya tidak jawab. Catat dalam hati
Anda dan renungkan aja dijawab dalam
hati masing-masing. Next.
Nah, ini kan janji itu harapan
ekspektasi. Terus praktiknya dijawab
dengan kinerja yang real. Terus setelah
itu apakah ee apa konfirmasi apakah
betul tidak sampai nanti munculnya
kepuasan orang dan reputasi.
Cara yang jujur adalah ee ketika Anda
diukur brandnya adalah mulai dari
sederhana. Misalnya Anda membuat angket
kepada teman-teman. Ee tugas saya ini
sebagai ee ee tugas saya sebagai
resepsionis.
Apakah saya sudah menemui memenuhi
harapan? Tanya aja kepada teman-temannya
dan sebagainya.
Suatu saat pernah ya saya ini datang ke
ee ke kantor pemerintah datang misalnya
begini ya. Jadi kan pesannya Pak Ramli
kan yang profesional, etis,
berintegritas. Saya datang ke ee tempat
itu. Saya mengucapkan selamat pagi Mbak.
Si ASN menjawab dengan suara yang indah,
seindah suaranya Aura Kasih.
Eh, saya dia jawab, "Pagi, pagi, Mbak."
"Pagi." Tapi dia tidak melihat saya sama
sekali. Dia duduk dengan tenang sambil
HPAN gini dan melayani begini. "Pagi,
Mbak. Pagi. Ada yang bisa saya bantu,
Pak?"
ini
sudah dalam catatan saya. Oh, ini sudah
salah brand semacam itu. Akhirnya satu
orang mawa lembaga itu akhirnya saya
cap, oh kantor ini memang kantor
brengsek. Kantor ini tidak paham
komunikasi. Kantor ini sombong
padahal khaya itu terbukti. Pada sisi
lain saya datang ee ee datang
dengan cara beda. E saya agak
mencontohkan di luar negeri misalnya
kalau Anda datang di apa datang
makanya sesekali nonton drama cinta ya
atau drama Kore agak lumayan bisa
dipelajari walaupun hidup tidak semudah
itu. Jadi datang periksa dokter,
dokternya datang menyambut ee selamat
datang. Kemudian ketika pulang dari
rumah sakit dia antarkan sampai keluar.
Berandia luar biasa. Pernahkah dokter
kita melakukan itu? Atau perawat aja
misalnya dia datang. Jadi ucapan
itu tidak cukup brand. Dia pada level
komunikasi itu pikiran, ucapan dan
tindakan.
Hal yang paling mendasar dari brand yang
tangkap ASN adalah ketika dia melakukan
tindakan.
Ketika dia misalnya kalau misalnya
dia bawa berkas ya, ASN itu bawa berkas,
saya bawa berkas ee Pak ini gimana?
Terus ASN itu melayani dengan itu
ditulis Pak yang itu loh. Masa enggak
bisa itu loh, Pak.
Coba bayangkan kalau seorang ASN datang
pada pelayanan dan membantu, "Oh, ini
Pak ini contohnya ini di sini dia
melakukan tindakan itu, itu baru kembang
brand."
Jadi merubah merubah merubah ee brand
atau untuk brand adalah ketika dia
melakukan contoh ril praksis yang
dilakukan bukan sekedar klaim-klaim
tadi. Kita adalah kabupaten terbaik ee
se Jawa Timur, kita terbaik
se-Indonesia. Gak bisa klaim itu kecuali
Anda melakukan hal kecil bahwa seluruh
pegawai negeri melakukan tindakan itu di
Puskesmas didatangi sakit apa, Bu?
Kelunya apa dengan telat? Mengapa harus
demikian? Begitulah sumpah dari yang
Anda janjikan kepada ee rakyat sebagai
ASN. Next.
Nah, personal branding ee bukan membuat
diri terlihat hebat, gak, tapi membuat
publik merasa aman karena Anda bisa
diandalkan.
Banyak loh rumah sakit yang sukses di
Tulungagung, di mana-mana itu enak di
rumah sakit itu ibunya telaten, melayani
dan sebagainya, ada antusiasme semacam.
Jadi dasar dari BR itu adalah berasal
dari pikiran Anda. Ketika Anda melayani.
Spirit Anda adalah melayani. Karena
kebaikan hidup Anda adalah melayani,
maka ya ee janji Anda reputasi e janji
itu yang harus Anda penuhi. Next.
Nah, personal eh branding bagi ASN ee
dia merupakan jejak profesional yang
terbaca dari empat hal. Cara kerjamu,
komunikasimu pada yang Anda layani,
terus cara melayani Anda dan cara
menjaga integritas. pengalaman dari
Susila Kark di Nepal dia akan selalu
dipanggil. Kalau Anda punya brand yang
bagus sebagai ASN maka di manaun Anda
akan dipercaya.
Ini hanya soal kebiasaan, soal passion.
Nah, passion sekarang
passion itu bakat bukan men. Passion itu
adalah ketika Anda sabar melakukan
sesuatu yang meskipun itu bukan
keinginanmu, tapi Anda kerjakan.
Itu passion. Jadi passion misalnya, oh
passion-nya anak saya itu sebagai ya
tidak persis benar itu. Passion adalah
ketika dia memilih itu dan dia
menjalankan dengan ikhlas.
Jadi, ASN adalah orang yang memiliki
passion, kualitas passion yang bagus
passionnya di situ. Next.
Nah, ini yang saya kira ee
praktik-praktiknya Anda bisa ee apa ya?
Bisa
ee membacanya di
Oke, sebentar. Oke.
Oke. Iya. Jadi, Anda bisa melihat
bagaimana ee passion itu dikembangkan
pada ee tata cara ya. Jadi ee cara
pekerjaan. Nah, praktik tindakan
personal branding itu adalah satu
kompetensi. Tunjukkan keahlianmu. Kalau
Anda sebagai perencana ya berarti Anda
punya perencanaan. Bagaimana pengetahuan
membuat rencana? Kalau sebagai humas
pemerintah, maka Anda bisa harus membuat
kemampuan untuk menulis, melayani,
memilih kata yang bagus. Kalau Anda ee
passion-nya Anda, sori bukan passionnya
kalian keuangan ya Anda harus paham
betul keuangan. Jadi praktik real dari
eh personal branding bagi ASN adalah
satu kompetisi. Kompetensi kompetensi
kemampuanmu. Kompetensi itu harus diasah
betul ya. Kalau Anda misalnya bagian ee
perizinan, Anda kan tidak harus ee Anda
harus bisa menjelaskan kepada masyarakat
izin yang mudah itu seperti ini. Bukan
janji ee kami melayani satu atap atau
satu pintu. Pintune siji malah grundelan
tutup banyak pintu. Kenapa tidak
misalnya jadi logika-logika itu dipakai.
Yang kedua, integritas.
Integritas itu kalau Anda bisa
menghindari konflik kepentingan, fast
interest, jarak
ee yang situasinya abu-abu harus Anda
jaga. Anda harus berani mengatakan tidak
pada gratifikasi. Gak perlu Anda marah
misalnya, "Pak, jangan nyogok saya itu
menghina saya." Enggak. Cara komunikasi
dengan bagus. Oh, tidak, Pak. Gak boleh,
Pak. di sini karena ini adalah tugas
saya misalnya. Yang ketiga adalah
orientasi cara berpikir bahwa
ee pastilah Anda harus ee ramah
hospitality yang tadi saya contohkan
bagaimana dokter spesialis pun mengapa
pada banyak ke Penang, ke Singapura ya
karena dokternya ikut melayani keluar
menyambut tamu. Dia tahu jadwalnya ini
kaitannya dengan apa ya ee pengetahuan
ee ee komunikasi ya. dia datang kapan
kemudian ada berjanji Anda menyambutnya
dan sebagainya. Kemudian responsif bukan
reaktif. Responsif itulah gito-gito ya.
Kalau ada orang sakit ya datang ee ee
dengan sungguh-sungguh. Jadi tak
menampakkan kolaborasi pasti kan Anda
tidak bisa ee kaku ee Anda harus bisa
kerja sama dan yang terakhir adalah Anda
harus menghindari dari ee
kalimat-kalimat yang menyalahkan.
kalimat yang sifatnya provokasi atau
menyulut ee menyulut persoalan semacam
itu. Next.
Nah, reputasi ASN lahir dari pelayanan
yang konsisten,
bukan dengan kalimat meyakinkan.
Percuma Anda menulis tulisan
besar-besar, ya. Misalnya ee kami apa ya
pengabdianku adalah terdepan pret kata
penduduk itu has janji tok karena apa
dalam praksisnya tidak di apa tidak
ditaati
brand adalah ketaatan kepatuan terhadap
apa yang dijanjikan.
Next.
Nah, ini intinya bahwa pelayanan rapi
adalah komunikasi publik yang paling
dipercaya. Jadi, ee tindakan-tindakan
yang nyata ee itu adalah brand yang ee
begitu ee ditangkap. Terakhir ee sebelum
nanti kita tanya jawab, lalu bagaimana
dengan medsos? Metsos misal tentu boleh
pakai medsos. Tetapi ketika Anda menjadi
ASN sama dengan tentara maka memang Anda
harus punya batas-batas tertentu. Jangan
sampai kemudian medsosmu merusak
reputasimu sebagai seorang ASN. Demikian
Mas Ali yang bisa aku sampaikan. Nanti
kita mungkin ada slide yang belum. Tapi
saya akan senang sekali kalau kita ada
ee pertanyaan-pertanyaan dari
teman-teman. Ee ingat bahwa menjadi ASN
itu adalah mimpi begitu banyak orang.
Anda tahu. Apalagi hari-hari ini ketika
banyak mahasiswa S2, S1 terpaksa bukan
tidak baik ya, Gojek bukan tidak baik
dia melakukan sesuatu yang kemudian
tidak sesuai dengan apa ya dengan
kompetensinya.
ee misalnya ee misalnya harusnya dia
mengajar tapi dia harus ee apa melakukan
tindakan sebagai seorang driver. Ee saya
tidak mengatakan Gojek itu jelek, kita
juga terima kasih. Tapi kadang-kadang ee
apa ya, begitu banyak orang yang pengin
jadi ASN tapi dia tidak memenuhi
persyaratan itu. Nah, maka ketika Anda
sudah jadi ASN ee kekuasaan ada pada
Anda, jaga betul ee komitmen Anda,
keahlian Anda ee agar ee Anda bisa
menemukan ee apa yang Anda harapkan.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Pak Suko atas materinya yang sangat
menarik sekali. Building reputation ini
dimulai dari kita aware akan janji yang
kita hadirkan di publik dan bagaimana
kita secara konsisten memenuhi janji
tersebut. Jangan lupa tiga pondasi yang
tadi disampaikan oleh Pak Suko kinerja
kepercayaan dan juga kepatuhan. Kali ini
kita akan masuk ke sesi tanya jawab
bersama dengan Sobat ASN yang sudah
mengaktifkan feature r hand via Zoom.
Saya izin undang terlebih dahulu untuk
penanya kita yang pertama. Kami
persilakan Bu Tri. Selamat pagi menuju
siang Bu Tri.
Mohon izin Bu Putri masih oke sudah
masuk suaranya. I
eh baik terima kasih I Pak ee atas
kesempatannya Pak.
Ee di sini sangat menarik ya. Ini juga
tadi saya kenapa offcam karena tadi
sambil ngajar ini baru selesai ngajar di
kelas 11 tadi gitu.
Ee yang ingin saya tanyakan tadi ee luar
biasa penjelasannya yang disampaikan.
Yang pertama adalah eh bagaimana
personal branding itu dikaitkan dengan
core value ASN.
Eh bagaimana personal branding ASN itu
bisa dikaitkan dengan core value ASN
itu. Nah, kemudian yang ee
terus yang kedua, strategi apa sih untuk
membangun personal branding yang
profesional gitu? ee bagi ASN. Kemudian
apakah ee platform apa saja yang
digunakan selain media sosial? Kalau
kita tadi ee sudah saya simak ketika
bermedia sosial harus berhati-hati dan
sebagainya, tetapi kita juga tetap butuh
menggunakan media sosial asal kita bijak
gitu ya.
Nah, etika dan integrasi terkait the
ketika untuk membangun personal branding
itu bagaimana sih etika dan
integritasnya terkait the dos dan the
dons. Apa batasan etika dalam personal
branding ASN? Kemudian pahami kodir etik
terkait dengan PP nomor 42 tahun 2004
yang sebagai pedoman perilakunya. Nah,
kemudian bagaimana sih untuk menjaga
integritasnya?
Ee terus tantangan dan solusi. Tantangan
utama terkait solusi ee yang ingin saya
tanyakan solusi terkait dengan analisis
SW SWAT dari diri sendiri eh itu
bagaimana. Kemudian eh yang lain sih
kayaknya untuk upgrade scale eh skill
yang secara berkelanjutan ya seperti
itu. Jadi itu aja sih yang ingin saya
tanyakan terkait dengan etika dan
integritasnya. The DOS dan the-nya.
Kemudian terkait dengan ee tadi ya ee
tantangannya, terus bagaimana ketika
dikaitkan dengan ee analisis SW diri
sendiri itu bagaimana untuk pengaitan
dari hal itu gitu. Terima kasih
Putri.
Terima kasih. Saya boleh tanya Putri?
Silakan Pak Suko?
Iya boleh Pak. Silakan Pak.
Putri mengajar di mana?
Saya mengajar di SMA Negeri 1 Madang di
Kabupaten Bogor ee Jawa Barat, Provinsi
Jawa Barat di Dinas Pendidikan Wayat ee
bahasa Indonesia sama ekonomi. Bahasa
Indonesia sama ekonomi. Kemudian saya
dosen untuk MKDU Bahasa Indonesia juga
di Universitas Teknologi Nusantara di
Bogor. Salah satu PTS ee Bogor.
Saya sudah menduga. Jadi satu ee ee
Putri
konsisten konsistenlah sebagai ASN.
Nanti kalau Anda tidak konsisten, Anda
nanti akan mendapatkan
akanatkan citra yang tidak terlalu
bagus. Biasanya saya juga saya juga
anggota dewan pendidikan. Saya selalu
menyarankan kepada guru-guru itu satu,
setialah. Setialah pada tugas.
Tugasmu apa? Tugas saya adalah mengajar.
Maka bangunlah cara mengajar simpel aja.
Cara mengajar yang baik gitu aja. Dengan
jujur, e dengan jujur tanyakan kepada
siswa. Biasanya gitu, Mbak. Saya
tanyakan kepada siswa sampai misalnya
gini,
saya ngajar umur saya sekarang 62 tahun.
Saya tanya kepada anak-anak, kan saya
kalau ngajar seringki punya kelemahan.
Jadi, Anda harus sadar dulu dengan
kelemahan. Sebagai seorang yang ee guru,
yang juga dosen, saya kira Anda punya
keistimewaan, ya. Tetapi di balik
keistimewaan, Anda harus mulai menyadari
kelemahan. Saya selalu menanyakan
kalau orang tua sesaya itu kan kalau
ngajar seperti dulu pada zaman saya muda
itu sering saya ucapkan
menyenangkan bagi saya tapi menjenuhkan
bagi ee mahasiswa.
Saya harus berjanji sampai saya akhirnya
dialog dengan anak saya ingat kalau Pak
Suko nanti ngajarnya bilang dulu lebih
dari dua kali silakan Anda keluar dari
ruangan itu. Berarti saya gagal.
Ini saya lakukan untuk menghindari dari
cara-cara otoriter bagi seorang
pendidik.
Pendidik itu punya kecenderungan
otoriter, Bu.
ini secara teori konsep sudah jelaslah
karena apa? Dia punya kuasa ilmu
menganggap muridnya itu adalah apa? Ee
ee saya lebih dan mereka kita isi.
Kondisi saat ini berbeda karena apa?
Anak-anak sudah mendapatkan asupan dari
berbagai media untuk belajar. Itulah
kenapa salah satu cara ASN khususnya
guru di dalam bangun diri adalah dia
tetap melakukan percaya diri. percaya
diri itu dibangun dari dia harus belajar
tidak henti. Yang kedua adalah kita ee
kita mencoba untuk apa ya memberikan
empati bahwa orang lain bisa lebih dari
saya kalau dia dapat semacam itu. Saya
tidak punya ee tidak memberikan saran
apapun, tetapi komitmen mulai dari ee
percaya diri ee ee tetap percaya diri
tetapi kesediaan belajar itu menjadi
penting. Ee kita tidak bisa mengatakan
bahwa saya terbaik. Yang mengatakan ee
ee saya baik adalah orang lain. Maka
satu-satunya jalan ee dari personal
branding yang Anda katakan core value
macam-macam ya memang ada limitnya. ada
batasnya. Tidak bisa kita akan
mendapatkan semua orang. Makanya kan
penyakit orang sekarang adalah viral.
Dipikir yang viral itu pasti berhasil.
Akhirnya dia memaksa temannya untuk
like, like atas apa yang di
dikomunikasikan.
Saya lebih menyarankan daripada Anda
viral diri, lebih baik Anda memvitalkan
diri dengan belajar dan itu yang kedua
soal etis itu tentu ee berbeda ee
kelemahan kita kalau personal branding
itu dianggap
banyak ASN yang mengartiskan diri.
Ingat, Anda bukan artis dan itu bukan
profesi kita. Profesi kita adalah
melayani publik. Itu aja saya kira saran
saya. Makasih
atas jawabannya. Butri terima kasih.
Mohon berkenan untuk ee mengirim alamat
dan juga nomor WhatsApp ke tim admin
kami untuk pengiriman hadiah. Terima
kasih Butri. Salam sehat selalu Pak
Suko. Terima kasih. Tidak terasa kita
sudah berada di penghujung sesi pertama
kali ini. Barangkali sebelum ditutup Pak
Suko, ada satu closing statement yang
ingin Bapak sampaikan kepada sobat ASN
yang menyaksikan acara kali ini. Silakan
Pak Suko
Lukman Ali adalah seorang moderator yang
bagus. Dia tahu memilih kata, dia tahu
berpakaian, dia tahu nafas.
pelajarannya adalah dia ee ee Mas Lukwan
Ali ini ee kalau lihat personal
brandingnya sudah on the track ee dengan
lalu memperhatikan kepentingan orang
lain. Dia potong kata dan dia menjadi
begitu karena dia setia bahwa dia mau
belajar. Jadi intinya ee saya tidak
harus mengharuskan Anda sebagai apa,
tapi belajar ee dan tidak menyerah
adalah cara terbaik untuk membangun
reputasi.
Terima kasih Pak Suko atas closing
statement yang sangat menarik sekali.
Salam sehat selalu. Kita bertemu lagi di
event-event selanjutnya, Pak. Thank you,
Pak.
Thank you. Mohon maaf. Makasih, Mas dan
semuanya. Terima kasih Pak Suko. Sampai
bertemu lagi. Sobat ASN jangan ke
mana-mana karena masih ada dua
narasumber yang tidak kalah menarik.
Tetap di webinar ASN Belajar seri 4
tahun 2026.
He.
Anda kembali lagi menyaksikan webinar
ASN Belajar seri 4 tahun 2026. Personal
branding ASN profesional, etis, dan
berintegritas. Di materi kedua kali ini
kita akan menyimak paparan sangat
menarik mengenai penguatan karakter,
integritas diri, dan kematangan
psikologis ASN dalam membangun personal
branding bersama dengan Dr. Dewi Retno
Suminar. Beliau ini merupakan Dekan
Fakultas Psikologi Universitas Erlangga
Surabaya.
Selamat siang, Bu Dewi. Kabar baik.
Selamat siang, Mas Lukman Ali. Suara
saya terdengarkah?
Terdengar dengan jelas, Bu Dewi. Kabar
baik, Ibu.
Oke. Alhamdulillah kabar baik juga.
Luar biasa banget, Bu. tadi ee sempat
disampaikan juga oleh Pak Suko di materi
sebelumnya bahwasanya problem yang
seringkiali dialami oleh teman-teman ASN
ini adalah kurangnya akuntabilitas
individu. Dan kalau kita bicara terkait
dengan kurangnya akuntabilitas ini kan
berkaitan erat dengan karakter,
integritas diri, dan juga kematangan
psikologis. Kali ini kita ingin
mendengarkan paparan menarik dari Bu
Dewi terkait hal tersebut kurang lebih
selama 30 menit. Nanti kita lanjutkan
dengan sesi tanya jawab. Silakan Bu
Dewi.
Iya, terima kasih. ee nanti saya bisa
dibantu juga ya untuk slide ee ee
show-nya karena saya tidak sendiri. Iya.
Ee terima kasih. Jadi ee satu hal yang
menarik. Jadi apapun aturannya, apapun
yang terjadi semua kembali pada
manusianya.
Ya, sebelumnya terima kasih ee saya
ucapkan asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Ee shalom, om swastiastu.
Namo buddhaya. Salam kebajikan. buat
semuanya. Terima kasih atas kesempatan
yang diberikan pada saya gitu ya. Jadi
ee materi yang akan saya berikan adalah
tentang integritas sendiri dan
kematangan psikologis ASN. Jadi seperti
yang disampaikan tadi memang kembali
pada manusianya ya pada diri sendiri
gitu ya. Ee jadi next silakan.
Ah, oke. Saya perlu memperkenalkan diri.
Ini orang sudah tua gitu ya, sudah tuir.
Ini seorang nenek dari lima orang cucu
gitu ya. Oke, bisa next ke materinya.
Nah, kembali ee tadi sudah disebutkan
branding yang disampaikan oleh Pak Suko
ada kaitannya untuk ee ini ya ee
bagaimana
ee memberikan pelayanan karena pelayanan
itu bisa rusak branding organisasi bisa
rusak karena ee orang satu orang aja
gitu ya. Oleh karena itu, saya ingin
coba ee seberapa pentingkah personal
branding, kasus-kasus yang terjadi ee
pada ASN eh integritas sendiri, self
integrated eh integrity itu adalah
kaitannya ketika mereka tidak bisa ee
menyelaraskan ya value-value yang harus
dia miliki dengan ee apa yang dia
tampilkan gitu ya. Oleh karena itu ee
saya ingin coba menyampaikan bisa di-s
ya seberapa pentingkah gitu ya. Saya
ingin coba e memberikan penegasan dulu
gitu ya.
Ee personal yang branding adalah ee
gambaran diri seseorang, gambaran diri
Anda gitu ya di hadapan orang lain, di
publik gitu ya. ee ini khususnya ee
kalau kita mau lihat ASN pasti ee ada
ada ini yang harus dirubah ya
branding-nya juga ya bahwa secara ASN
itu kan pegawai negeri sipil ya,
aparatur sipil negara. Ketika sipil
negara maka sebenarnya Anda tidak hanya
membawa personal branding Anda, tetapi
juga brandingnya sebagai seorang ASN.
Nah, ini yang menjadi beratnya adalah
ketika rusaknya satu orang tadi yang
disampaikan oleh Pak Suko gitu ya, juga
akan berdampak pada orang lain. Nah, ini
akan menjadi e PR buat kita. Kita akan
membawa bagaimana cara yang kita harus
perkenalkan diri Anda di hadapan publik.
Kalau ASN itu adalah rapi mulai
penampilannya rapi ee cara
berkomunikasinya ini harus harus harus
ditunjukkan gitu ya. Karena kembali lagi
kita harus bagaimana membentuk personal
branding. Ini yang ee ee ingin saya
sampaikan di sini bisa next.
Nah, saya sebenarnya inginnya ada
interaktif di sini. Semua pasti akan
tahu tentang B Habibi, Pak Purbaya ya,
si Genit ini gitu ya. Ada ada satu hal
yang branding, mereka mempunyai branding
sendiri gitu ya.
Kita akan melihat apa yang bisa Anda
katakan tentang dia gitu ya. Ee mungkin
karena mereka artis, kalau mereka adalah
tokoh gitu ya. Nah, Anda juga gitu. Anda
sebagai seorang ASN, saya ingin sebagai
ASN di bagian apa gitu ya. Saya adalah
ASN yang bergerak di bidang sebagai
seorang guru. Apa yang harus dilakukan
sebagai brandnya seorang guru? Digugu
dan ditiru gitu kan. Apa yang bisa saya
bandingkan ee ketika saya sebagai
seorang dosen? Apa yang saya bisa
lakukan kalau saya bekerja sebagai
seorang pegawai yang ada di birokrasi
sebagai bagian kepegawaian? Anda sendiri
yang sebenarnya bisa mempunyai gambaran
tentang itu. Ya, saya belajar satu sosok
di sini yang ASN gitu ya ee Pak Purbaya
gitu ya. Ee Anda buka deh di di di
internet gitu ambil image-nya Pak Purba
ya. Anda lihat gitu bagaimana dia
berpikir, bagaimana dia tersenyum,
bagaimana dia tersenyum dengan me
membuat orang lain gemes gitu ya. ini
orang kamu kok enggak tahu ya ini saya
ini orang pintar ini saya orang ini
image yang ingin dia sampaikan. Nah, ini
juga eh Raditi kalau dia seorang artis
ya ini juga kelihatan kan dari jadi
sebuah eh body language bahasa tubuh
Anda dan kemudian bagaimana Anda
mengeluarkan itu itu juga akan
mempengaruhi gitu ya. Jadi ee bagaimana
ketika Anda menyambut kalau misal Anda
di bagian pelayanan gitu ya ee di sebuah
ee kelurahan, pelayanan di sebuah ee
kantor pemerintah misalnya pendaftaran
tanah, Anda harus tahu bagaimana gitu
ya. Ini ini ada cerminnya. Nah, ini
harus ditemukan dulu di masing-masing
ya, di masing-masing individu yang ada
di dalam organisasi itu gitu ya. Satu
contoh gitu ya. Satu contoh ee Anda bisa
aja memberikan layanan ini ini terkait
misalnya satu contoh
ee seorang dekan ya itu ya dekan gitu
ini pegawai negeri dekan gitu di sebuah
perguruan tinggi ini saya saya coba
untuk saya aja deh lebih memudahkan
untuk bisa memain bayangannya mereka
adalah oh diladenin
ee harusnya misalnya ee mobil dengan
sopir yang gini selama saya bisa sopir
sendiri why not gitu ya.
Ya, kalau misalnya memang harus
brandingnya misal suatu contoh ibu harus
ke suatu tempat di situ ada tamu ee ibu
harus diantar oleh oleh sopir. Oke, saya
pakai waktu itu. Tapi kalau dari rumah
ke kantor kenapa harus pakai software
gitu. Ada satu hal yang harus dipahami
di sini. ee orang kalau dia menjadi
seorang ASN dengan jabatan tertentu
enggak perlu dong ada sesuatu hal yang
harus misalnya ee harus dilayani,
diladeni, gak selalu gitu ya. Jadi ada
sesatu hal kapan dia harus menampilkan
diri sebagai ee cerminan dari sebuah
institusi dan kapan dia tampil sebagai
diri sendiri. Nah, ini yang harus harus
bisa dipisahkan ya. Ini yang harus bisa
diketahui oleh semua orang ASN. Kenapa
pejabat ASN terjebak dalam suatu
rutinitas minta dilayani, minta no
berarti dia belum selesai dengan diri
sendiri. Next. Untuk itu biar kita bisa
lihat di sini. Next. Nah, bagaimana
untuk ee langkah dalam menguatkan
personal branding? Ini yang ingin saya
sampaikan. Ee bisa next ya, personal
branding. Next. Nah, ini yang pertama
kenal diri otentiknya.
Saya ini siapa gitu ya. Oh. Oh, saya
seorang ASN yang sudah 33 tahun bekerja,
sudah 25 tahun bekerja, 15 tahun
bekerja. Saya adalah seorang guru, saya
adalah pelayan birokrasi. Bagaimana saya
membantu mereka biar tidak terlalu
terjebak untuk lama-lama. Nah, ini loh
yang harus kenal diri dulu.
Saya ini siapa?
Saya ini siapa? Ini yang harus dipahami
dulu. Kenal diri otentik. Oleh karena
itu, seorang ASN kalau dia ada personal
branding, dia harus selesai dulu dengan
dirinya ketika dia memberikan pelayanan
keluar.
Kalau dia belum selesai dengan dirinya,
masih galau, masih bingung, masih tidak
tahu bagaimana dia berperan. saya ada di
mana dan peran saya sebagai apa. Dia
tidak sadar itu, maka berarti dia belum
selesai dengan dirinya.
Saya ada di mana dan peran saya sebagai
apa.
Karena suatu tempat itu akan memberikan
suatu apa ya, suatu
ee status itu akan memberikan suatu
peran apa yang harus dia lakukan.
Kalau saya status saya sebagai dosen,
maka saya ada di situ harus memberikan
layanan yang terbaik untuk mahasiswa
saya. Kalau saya ini sebagai dekan, maka
saya harus memberikan hal terbaik bagi
orang-orang yang ada menjadi tanggung
jawab saya. Ee bagaimana dengan
tekniknya? Bagaimana teknik itu bisa
bahagia, teknik itu bisa sejahtera,
dosen bisa sejahtera, mahasiswa bisa
belajar. Jadi itu yang harus ada di
dalam benak para orang-orang yang
menduduki suatu status tertentu. Nah,
ini yang kadang-kadang kesadaran
ya itu menjadi tidak bisa dia buat
karena mereka belum selesai dengan
dirinya.
Diri otentik aku orangnya apa?
Hal yang menarik ketika orang di Korea
tahu, "Ih, tipe kamu apa ya, MBTI-nya
misalnya, Mayor Bridge-nya apa." Itu kan
sebenarnya mereka sudah tahu aku tuh
orang kayak apa. Nah, kadang-kadang
seorang ASN masih belum selesai dengan
ini. Ini yang harus diselesaikan dulu
gitu. MBTI saya apa? Tipis saya apa?
Tipical saya apa? Ketika saya ada energi
energi saya itu dari eksternal atau dari
internal, dia harus paham.
Iya kan? Apakah saya seorang strovert
ataukah saya seorang introvert.
Apakah saya seorang sensing? Apakah saya
seorang intuitif?
Ketika saya ada informasi, saya ambil,
saya terima. Apakah saya seringki orang
sensing yang tahu saya orang detail?
Apakah saya orang intuitif
dalam mengambil keputusan? Apakah saya
orang yang feeling pakai perasaan?
Apakah saya menggunakan thinking? Nah,
ini yang seringki kita tidak kenal diri
kita sendiri. Apakah saya seorang
perencana ya, orang judging apakah saya
seorang yang perifik
P tipe saya reaktif?
Nah, ini yang harus paham dulu.
Kesadaran ini PR bagi semua ASN untuk
tahu aku tuh orangnya kayak apa.
Kalau masih belum mengenal diri sendiri
maka tidak bisa memberikan
suatu pelayanan yang benar-benar
memiliki suatu integritas.
Kalau ee bisa diketahui kenapa orang itu
kok PD banget gitu ya, percaya diri ya.
Karena dia sudah selesai dengan dirinya,
dia sudah tahu aku tuh orangnya kayak
apa. Nah, kita mau coba lihat ketika
step yang kedua, kalau orang sudah kenal
dirinya, dia bisa membangun brand dengan
bagus. Dia tahu saya akan menjadikan
orang yang dikenal sebagai orang yang
kayak apa. Iya kan?
Kemudian ee atribut brand itu bisa di
gampanglah
ya. saya seorang ee dekan yang
bagaimana, saya seorang dosen yang
bagaimana, saya seorang pelayan pengabdi
masyarakat yang kayak apa, saya seorang
lurah yang kayak apa? Saya seorang guru
yang kayak apa?
Ya, saya pencatat ee orang yang melayani
di front office yang kayak apa. Kalau
dia sudah selesai dengan dirinya, dia
berani menciptakan sebuah brand.
Nah, kenapa ini yang akan akhirnya dia
siap untuk berubah?
Dia siap untuk menjadi orang yang tidak
seperti biasanya gitu ya. Kalau seorang
guru tuh harusnya dengan dia berani
untuk guru yang tampil beda.
Dia berani memberikan pelayanan yang
berbeda
pada masyarakat dengan dirinya yang
baru. Dia sudah siap untuk mengambil
suatu resiko itu loh, Bu. Biasanya
seorang dekan itu ee apa-apa kalau tanda
tangan tinggal pilih, tinggal telepon
suruh mereka datang. Tidak selalu
seperti itu. Dia bisa mengantar ketika
sudah selesai tanda tangan, dia jalan
sendiri kemudian dia datang ke tempat
yang loh Bu kan tinggal panggil. Nah,
ini saya membuat saya bisa jalan.
Ini kan suatu behavior yang sebenarnya
tidak terjebak pada saya seharusnya
kayak apa.
Tergantung daripada self integrated-nya
dia. Integritas dirinya apa. Iya kan?
ABS asal bapak senang, asal bos senang
itu sudah tidak boleh lagi gitu loh ya.
Kalau dia sudah menjadi seorang bos, dia
sudah servicing, dia sudah melayani
karena dia sudah selesai dengan dirinya.
Kalau dia belum selesai dengan dirinya,
personal brandingnya adalah dia meminta
orang lain untuk melayani dia. Kalau dia
sebagai seorang bos, ini yang salah. Ini
yang saya katakan dia harus terima dulu
dirinya, harus selesai dulu dengan
dirinya. dia tidak bisa memberikan
layanan dengan baik kalau dia masih
belum selesai dengan dirinya ya. Oke,
next. Kita mau coba lihat di sini
kita mau coba lihat seringkiali orang
terjebak ketinggal kenal dirinya adalah
secara fisik. Wah, saya penampilannya
harus bagaimana gitu ya. Saya harus
bagaimana? Saya bingung gitu dengan
dirinya. No, terima dulu dirinya. Kalau
saya gendut ya ya sudah gendut dengan
diri saya tapi saya terima kegendutan
saya. Tapi saya bagaimana tetap harus
mempunyai PR untuk menguruskan tubuh
gitu kan. Ah hidung saya pesek. Okelah
dengan hidung yang kecil ini bagaimana
saya untuk tetap bisa memberikan
layanan. Oleh karena itu, kenapa kalau
kaitannya dengan fisik itu kita sudah
tahu bahwa apa yang harus saya lakukan
untuk memb saya terima diri saya
orangnya pendek, saya terima diri saya
tinggi gitu ya. Saya terima diri saya
mungil gitu. Ini yang harus diterima
dulu. Bersyukur dengan kemungilannya,
bersyukur dengan kegemukannya.
Sehingga ketika
dia memberikan layanan, dia sudah tidak
sibuk lagi dengan dirinya. Citra
inteligensia itu kelihatan buku yang dia
baca apa. Dia orang cerdas, orang pintar
atau orang bodoh gitu kan. Citra moral
ya tentang baik buruknya. Dia harus tahu
bagaimana citra moral tadi itu ada di
dalam diri seseorang.
Kalau dia sudah, "Wah, ini sudah enggak
sesuai dengan hati nurani saya, maka
saya tidak akan terima." Misalnya, itu
satu hal yang harus ada di dalam diri
seseorang ya.
Ee
kalau Jawa itu ada yang manunggaling,
roso begitu ya. Kalau kalau tindak
tanduk itu harus sesuai dengan apa yang
saya lakukan itu sesuai dengan apa yang
ada di dalam diri kita. Itu yang harus
ada dan ini harus dilakukan.
Kalau orang belum selesai dengan
dirinya,
dia masih bingung untuk memperkaya
dirinya, masih haus untuk dihargai. Ini
yang sebenarnya tidak boleh seorang ASN
harus sudah selesai dengan dirinya.
Kalau saya masuk di dalam pelayanan ya
saya harus sudah selesai dengan diri
saya, bukan saya harus minta dilayani
gitu kan. Saya harus self fishing kepada
orang lain. Nah, ini yang belum belum
dimiliki ya. Kita harus ke sana. Next.
Nah, dinamika dari personal branding
ini, personal brandnya ini yang harus
dipahami gitu ya. Jadi ini harus bisa
dilihat apa yang harus kita lakukan gitu
ya. Sebentar saya bisa biar lebih
jelasnya dari sini adalah
dari proses dinamika itu kita akan
melihat gitu ya.
Hal apa yang dipikirkan. Kita masih
galau dengan apa yang dipikirkan. hal
apa yang Anda tidak ingin orang lain
tahu. Jadi, personal branding itu sudah
ada inti di tengah-tengahnya tadi. Kita
sudah tidak ee berpikir apa yang Anda
orang lain ingin ingin lihat saya gitu
ya. Saya sudah tidak bingung lagi dengan
itu gitu ya. Jadi kalau misalnya saya
jadi host gitu ya, ee jadi pembawa acara
gitu ya, jadi maka saya sudah tidak
boleh merasa bingung lagi orang lain
melihat saya itu bajunya bagaimana,
bagaimana, apakah saya kelihatan gemuk
ini ya itu sudah harus selesai dengan
itu ya. Itu personal brand. Oleh karena
itu ee kita harus kembali pada
integritas sendiri itu. Next. Bisa kita
lihat di situ ke next yang berikutnya.
Jadi kalau kita mau mengarah kepada
integritas diri kita, maka kita harus
tahu
self diri kita,
behavior, perilaku kita yang kita
munculkan itu harus berdasar pada value,
nilai-nilai apa yang ada di dalam diri
kita.
Jadi kalau orang lain misalnya seorang
leader gitu ya, kalau di dalam value-nya
adalah orang lain harus ngelayani saya.
Maka, maka behavior dia, perilaku dia ya
pokoknya tolong dong saya disiapin
semuanya gitu ya. Tapi kalau di dalam
value-nya saya ini enggak bisa jadi
seorang dekan yang baik kalau saya tidak
memiliki tendik yang baik. Misalnya
dekan misalnya ya, saya tidak bisa
menjadi dekan yang baik kalau saya tidak
mempunyai ee mahasiswa yang baik juga.
Kalau misalnya ee integritas untuk
behavior sebagai ibu aja deh. Saya tidak
bisa menjadi ibu yang baik kalau saya
tidak mempunyai anak yang baik. Artinya
kita tahu bahwa saya menjadi ibu yang
baik ketika saya berperan dan kemudian
anak-anak saya menjadi orang yang baik.
Iya kan? Jadi itu suatu timbal balik
barengan gitu ya. Nah, ini yang harus
diada kesadaran ini. Guru itu yang
menjadi guru yang baik kalau dia bisa
mendidik anak-anak didiknya menjadi anak
didik yang baik. Baru saya bisa menepuk
diri saya bahwa saya adalah orang yang
baik, ibu yang baik, guru yang baik.
Ketika orang yang berinteraksi dengan
saya mengatakan saya baik. Nah, inilah
yang kesadaran ini value inilah yang
harus ada.
Nah, ini tidak semuanya ee paham tentang
ini, gitu ya. Oleh karena itu
perilakunya kadang-kadang dia ee apa ya
cara berpikirnya dia pokoknya aku harus
dilayani gitu. Ini yang harus tidak
boleh gitu.
Jadi ee value nilai-nilai. Kalau saya
ini orang ee seorang yang baik ya
perilakunya harus kelihatan baik juga
gitu ya. Tersenyum gitu ya. Sudah tidak
gitu ya, tidak lagi ee tidak sulit untuk
tersenyum gitu ya. Oke, next. Bisa
dilihat di situ yang berikutnya. Nah,
berikutnya adalah kaitannya adalah
dengan kematangan psikologis gitu.
matang, mature gitu ya. Ketika kita
bicara tentang maturity, kematangan,
maka kita tidak bisa melihat, "Oh, saya
masih muda, Bu. Kalau saya masih muda ya
saya seenaknya sendiri." No.
Matang itu, next. Kita bisa lihat di
situ, kematangan itu tidak tergantung
usia.
Seringki orang mengatakan orang yang
semakin tua harusnya dia semakin matang.
Tetapi tidak semua orang tua itu matang
pribadinya. Why? Kenapa?
Karena dia harus bisa ya semakin tua
harusnya semakin matang. Tapi tidak
semua orang tua yang lebih lebih matang.
Why? Kenapa?
Karena dia tidak tahu bagaimana cara
mengendalikan dirinya. mengendalikan
pikiran ini yang harus dipakai.
Iya. Jadi kalau orang itu kalau dia
menghadapi tekanan dia masih bingung,
panik berarti dia belum matem
karena dia tidak bisa mengendalikan
pikiran. Oke. Oke, Bu. Ini ada masalah
ini. Oke, sebentar. What next? Apa
solusi yang bisa kita pakai?
Kalau orang sudah bisa berpikir tentang
vot next, apa yang dilakukan?
Maka dia sudah selesai dengan dirinya.
Nah, inilah kontrol diri. Inilah yang
sebenarnya harus mulai dilatih.
Satu contoh, ini bisa dilatih mulai
kecil gitu,
Bu. Nilai saya jelek. Misalnya nilainya
jelek.
What next? Dengan nilai jelek kamu, Nak.
Ya, ini gurunya yang salah. Saya
mengatakan pasti, "Apakah semua nilainya
jelek, Nak? Enggak ada yang bagus."
Kenapa ya dia bisa bagus?
Ya, karena mungkin dia, Nah, berarti dia
harus tahu dirinya. Oke, aku kemarin
tidak belajar dengan baik. Nah,
proses-proses inilah yang menjadikan
seseorang kenapa orang itu kenapa ya
orang ini usia sekian kok dia sudah
mature, sudah matang.
Karena biasa diajarin untuk
merefleksikan
apakah behaviors yang saya lakukan
berdampak negatif dari orang lain.
Banyak pokoknya saya gini dia yang salah
loh. Enggak.
Kenapa dia itu misalnya marah, kenapa
dia protes, kenapa dia mengkritis?
Karena mungkin behavior saya tidak
memberikan hal yang positif bagi orang
lain. Nah, inilah yang harus di di
dipelajari gitu ya. Nah, ini yang
kadang-kadang tidak aware gitu ya
tentang hal tersebut ya. Jadi ini yang
memang harusnya bagaimana dia belajar
untuk mengatur pikiran.
Seringki saya ee menyampaikan kalau
seseorang yang ee reaktif maka saya
ajarkan mereka untuk mengontrol diri.
Tik tik tik. Jadi 1 2 3 4 5 baru respon.
Ya, kalau kita reaktif maka pasti ee
berarti ada problem dalam self control
saya.
Nah, ini yang harus dilatih
ya. Melatih ini harus dilakukan. Kontrol
diri ini harus dilakukan. Ya, bisa kita
lihat di next yang berikutnya.
Seringki orang tidak pernah bersyukur,
terima kasih ya Tuhan dengan hari ini
gitu ya, maka dia masih galau, masih
bingung,
masih nyari terus orang itu harusnya
misalnya satu contoh, orang kalau dia
sudah kedudukannya seperti itu, dia
harus bersyukur dengan apa yang dia
dapatkan.
Iya kan?
itu kekuatan dalam setiap kehidupan itu
kan dia harus bisa transcenden ini. Nah,
ini yang kadang-kadang kelewat oleh
orang-orang tidak pernah bersyukur.
Kalau dia tidak pernah bersyukur, dia
masih bingung dalam behavior-nya dia,
maka pasti seorang ASN enggak bisa
menjadi guru yang baik, tidak bisa
memberikan layanan yang baik. Karena
apa? Dia masih galau dengan dirinya.
Nah, agar dia tidak galo. Nah,
seringkali kayak gini loh. Itu loh dia
itu kan sudah penghasilannya udah gede,
kenapa kok dia masih korupsi? Ya, karena
dia tidak bersyukur.
Iya kan? Karena dia tidak bersyukur
gitu. Iya kan? Maka kita harus belajar
untuk bersyukur itu. Karena tidak semua
orang bisa merasa, "Ya Tuhan, terima
kasih kalau aku enggak kayak gini, aku
enggak jadi kayak gini." Nah, itu yang
harus ada.
Ya Allah, terima kasih ya Tuhan aku
sudah kau berikan ini sehingga aku harus
merasa, harus merasa lebih sabar lebih
gini gitu.
Ini yang kadang-kadang mereka dalam
setiap kelas kehidupan ini tidak pernah
bersyukur.
Nah, ini yang harus dilatih
ya. Ketika orang itu bersyukur maka dia
masih tidak galau dengan dirinya.
Terima kasih Tuhan aku sudah menjadi
ini. Terima kasih kalau enggak gini aku
enggak jadi orang yang Nah, gitu loh.
Ini yang harus dilatih gitu ya. Oke,
next. Mungkin nanti bisa lebih banyak
kalau dengan diskusi ya. Next. Bisa kita
lihat ini adalah tahapan.
Bisa dilihat yang berikutnya untuk
presentasi yang berikutnya, slide
berikutnya.
Slide berikutnya.
Punten, Bu
Dewi. Kami mengalami kendala
konektivitas.
Mohon izin kami masih berusaha untuk
menyambungkan kembali konektivitas kami
agar slide bisa tertampil dengan
sempurna dan baik. Barangkali dari Bu
Dewi apakah bisa sembari kami menunggu
untuk memperbaiki jaringan, Bu Dewi bisa
menyampaikan lebih lanjut materi di sesi
kali ini.
Oke. Oh iya,
mohon maaf, Ibu.
Iya, terima kasih, Mas Lukman. Nah, dari
sini saya bisa tahu gitu, ya.
Jadi ee yang slide berikutnya adalah
kalau kita ee di era digital ini kan
semuanya tadi ya diviralkan semua harus
kita tidak boleh takut untuk tidak
menjadi seorang yang eh fear ya missing
out pada suatu informasi. Jangan galau
saya enggak enggak enggak ketinggalan
berita is
saya pasti menjadi orang yang join of
missing out. Jadi artinya eh
informasi-informasi ketika saya tidak
update is no problem. Saya menjadi orang
yang boleh bertanya apa sih itu?
Jangan takut. Saya menjadi orang yang
ketinggalan berita.
Apa sih itu? Belajar open mind. open
heart itu yang harus dilakukan. Kita
harus belajar untuk menjadi orang yang
gitu ya, orang yang eh join of missing
out. Jadi kita boleh kok belajar, kita
tahu openman, aku enggak ngerti loh iku
opo sih iku gitu. Iya kan? Sikap inilah
yang harus muncul. Oleh karena itu di
situ ada step-step ya nanti mungkin di
slide yang berikutnya itu adalah
ee bagaimana kita ee bisa ya eh positive
thinking tentang diri ya harus harus
self acceptance gitu
ya. Mungkin bisa saya bantu dengan e
slide saya gitu gimana share dari saya
gitu Mas Bu Dewi boleh. Terima kasih
atas bantuannya, Ibu.
Oke. Oke. Kalau gitu sebentar
saya bukakan biar lebih mudah untuk
ee
I
saya bantu untuk share biar lebih mudah.
Mudah ya.
Nah, ini dia ya. Ee bisa terlihat ya.
Lihat, Ibu. Silakan, Ibu.
Iya. Nah, ini yang saya ingin sampaikan
adalah stepnya.
Kita harus positive thinking tentang
diri. Kita harus menerima diri.
Ah, saya ini enggak se secantik dia.
Kita enggak boleh kayak gitu. Kita harus
terima. Terima kasih ya Tuhan. saya
mempunyai hidung yang kayak gini ya,
hidung saya tidak terlalu bangir, maka
ah lebih mudah nanti lebih ee tidak
mudah pilek bisa kayak gitu. Jadi harus
ke sana positive thinking tentang diri
kita harus acceptance, self acceptance.
Kemudian yang berikutnya adalah perluas
wawasan agar mudah melihat persoalan
secara bijak. Jadilah orang cerdas.
Orang cerdas itu adalah orang yang
belajar dari pengalaman orang lain.
Kalau kita orang enggak, orang pintar
itu kan belajar dari pengalaman
hidupnya. Maka jadilah orang cerdas,
belajar dari pengalaman hidup orang
lain. Tapi jangan juga menjadi orang
bodoh gitu ya. Sudah kesandung
berkali-kali tetap aja seperti itu. Dia
enggak mau belajar ya. Jadi, open mind,
open heart itu harus dilakukan ya.
Kemudian self control,
belajar menunda respon bagi orang yang
impulsif. Kalau dapat berita apa
langsung share, dapat apa share gitu ya.
Kita harus bisa memanfaatkan teknologi
dengan bagus gitu ya. Oke, self control
i kan kontrol diri harus ada tag tek tag
tek tag baru kita memberikan respon gitu
ya. Ya. Kemudian choice of word dalam
komunikasi baik lisan maupun tertulis.
Jadi kalau misalnya dalam ee share
apapun kita harus lihat kira-kira orang
itu reaksinya kayak apa ya gitu ya.
Kalau saya ngomong kayak gini orang lain
bagaimana? Nah, ini yang harus ada di
dalam siri seseorang ya. Itu yang
mungkin perlu ee jadi step ini yang
harus kita lakukan. Kita harus menerima
diri. Jadi kalau kita ee tidak bisa
mempunyai integritas diri kalau kita
masih masih galau dengan diri kita ya
kita harus melakukan self control.
Jadilah orang cerdas dan kemudian
memilih kata ketika berkomunikasi baik
lisan maupun tertulis. Ya, itu yang
mungkin perlu ee saya sampaikan. Mungkin
lebih bagus kalau kita pakai dengan
tanya jawab ya nanti ya. Oke, itu aja
dari saya. Terima kasih
ya. Itu mungkin bisa membantu dari slide
yang saya sampaikan gitu.
Oke, itu aja mungkin.
Terima kasih Bu Dewi. Walaupun tadi
sempat ada hambatan tapi tidak
mengurangi esensi luar biasa dari materi
yang Bu Dewi sampaikan. Jadi
kesimpulannya kalau boleh saya sampaikan
tadi jurus junnya itu ada 4 s. Self
awareness, self acceptance, self
integrity, and self control. Jadi
sebelum menyempurnakan diri jadi pribadi
yang lebih baik harus punya self
awareness dan self acceptance yang baik
dulu. Caranya apa? Caranya sering-sering
refleksi seperti yang tadi Bu Dewi
sampaikan. Kali ini kita akan masuk ke
sesi tanya jawab. Bagi sahabat ASN yang
ingin bertanya kepada narasumber kedua
kita, kami persilakan untuk dapat
mengacungkan tangan atau menggunakan
feature rise hand pada platform Zoom.
Nanti kita akan undang untuk bertanya
kepada narasumber kedua kita. Pertanyaan
sebelum kami menunggu ee para sobat ASN
yang ingin bertanya kepada Bu Dewi. Bu
Dewi, saya ingin tanya tadi kan kalau
kita lihat step-stepnya itu adalah
kenali diri, berani bermimpi, kembangkan
atribut dan juga siap berubah dan ambil
resiko. Tapi ada beberapa opini-opini
yang ada di sekitar kita. Kebetulan saya
juga bukan orang psikolog, jadi saya
tidak tahu apakah opini sudah tepat atau
belum gitu ya. Tapi katanya yang namanya
karakter ini tidak bisa dirubah gitu.
Apakah memang demikian, Bu? Jadi ketika
orang sudah lahir dengan karakter
negatif gitu ya, ingin mengembangkan
citra positif bagaimanapun gak bisa
karena memang karakter bawaan dari lahir
karakter tidak bisa dirubah. Bagaimana
pendapat Bu Dewi terhadap opini Bu?
Ini yang pendapat yang salah gitu ya.
Jadi sebenarnya gini,
ee
kembali pada diri kita ya,
kenapa orang pemarah itu masih bisa
berubah untuk tidak menjadi pemarah?
Karena kalau di dalam dirinya masih bisa
belajar b oke saya punya kemampuan untuk
belajar untuk menelaah dengan baik, maka
pemarah itu tidak bisa keluar gitu ya.
Jadi gini gini gini ee mungkin perlu
saya sampaikan behavior perilaku kita
itu adalah
interaksi antara person individu kita
ya. Kalau saya orangnya pemarah,
orangnya gini ya pemarah itu dengan
situation.
Jadi kalau orang pemarah itu masih bisa
menjadi orang sabar kalau dia bisa
memaknai situasi sekitarnya dengan
bagus.
Oleh karena itu, dia bisa melakukan self
control. dia bisa melakukan menunda
reaksi untuk menjadi tidak pemarah kan
gitu. Nah, inilah yang disebut dengan
bagaimana dia memiliki self integritas
yang bagus, integritas dirinya baik.
Kalau integritas dirinya baik, maka dia
tidak menjadi orang yang mudah untuk
reaktif. Nah, ini yang harus dilatih.
Iya. Jadi, gitu. Jadi, ee
ada orang mengatakan, "Wah, itu
wataknya." gitu ya. Enggak mungkin dia
bisa berubah. Nak.
Kalau dia bisa mempunyai kemauan dalam
dirinya untuk change, untuk berubah,
iya kan? Bukan kemudian aku kayak gini,
terimanan, aku kayak gini, enggak mau,
ya sudah. Bukan seperti itu, gitu kan.
Kalau misalnya terimain kaku kayak gini
ya berarti dia bukan orang yang mau
berubah gitu. Tidak ingin untuk berubah,
untuk change gitu ya. Oleh karena itu
saya seringki menyampaikan gitu ya,
kalau kita sudah kenal diri dengan
bagus, oh diri kita otentiknya bagus,
maka kita tahu bagaimana cara
menempatkan diri, kita bisa memaknai
situasi dengan bagus. Itu yang harus
kita lakukan, gitu. Begitu Mas Lukman.
Bu Dewi atas jawabannya. Kali ini sudah
ada sobat ASN yang bergabung bersama
dengan kami untuk bertanya. Pada Bu
Dewi, kami ingin undang terlebih dahulu
untuk sobat ASN yang telah bergabung
atas nama Pak Yudi. Selamat siang, Pak
Yudi.
Punten, Pak Yudi, untuk mik-nya masih
belum ter-unmute, Pak.
Apakah sudah bisa didengar?
Iya, boleh audionya didekatkan, Bapak
biar lebih terdengar dengan jelas.
Oh, iya.
Iya. Baik, terima kasih untuk
kesempatannya yang bertanya
pada sesi yang kedua ini. Ee izin
bertanya ee Ibu. Jadi kan ee kalau kita
setiap hari Senin kan pasti kita ada
apel ya. Jadi kita selalu ee membaca
yang namanya ASN berakhlak. Jadi sering
kita itu membaca dan membaca tapi tanpa
ee mungkin banyak juga yang bisa
memahami dan tidak ya. Jadi kadang ee
sesuai dengan
kesadaran diri kita tadi salah satu
personel branding yang setelah diajarkan
tadi
dalam beberapa kali kesempatan, izin
mungkin bercerita sedikit ya. Saya sudah
ada beberapa kali pindah ee kantor dari
yang pernah di pelayanan sampai dengan
yang sekarang saya kembali lagi ke
bidang litbang itu saya memang lihat ada
beberapa karakter setiap kantor itu
pasti ada mempunyai ciri-ciri tersendiri
setelah saya pelajari dari ini ya
kebetulan karena ini yang pertama kali
saya mengikuti seminar Ibu terima kasih
kesempatannya bisa bergabung yang ingin
saya tanyakan ketika kita berada di
lingkungan yang ee ee kita bilang toksik
ya. Kita kan sering kita selalu
mengingatkan, kita selalu berusaha untuk
mengkritik, tapi ketika kita melakukan
itu kita tersisih. itu sudah beberapa
kali saya alami dan kita akan selalu apa
ya di tahu sendiriah kalau kita itu di
lingkup ASN itu gimana kalau kita vokal,
kalau kita ini ingin maju dan berapa
kalip pun saya berusaha untuk maju
ee ditekan gitu. Jadi sampai sekarang
saya sampai ah masa bodoh aja lah yang
penting saya kerja benar saya tidak ini.
Ee perlu gak kita itu menggunakan sikap
masa bodoh itu karena dari beberapa hal
yang saya pelajari dari empat hal tadi
salah sebenarnya masa bodoh ini. Tapi
kalau saya tidak masa bodoh kita
tersingkir gitu. Mohon tipnya Ibu ya.
Terima kasih.
Terima kasih. Ini Pak Didik ya Pak Didik
ya tadi ya?
Yudi, Bu. E,
Pak
Yudi. Yudi.
Yudit. Oke.
Iya. Karena kebetulan saya kan di sini
kan perantau. Saya dari Litbang Kota
Palembang. Kalau saya kan perantau
kebetulan
dari Palembang. Iya.
Dari Palembang. Iya, Pak. Ya. Oke. Jadi
gini Pak ee
satu contoh ya. Seringkiali orang
mengatakan gini,
ini saya berhadapan dengan orang yang
toxik gitu ya,
jengkel saya gitu ya, enggak
menyenangkan gitu ya, Pak ya. Kalau saya
cuek kan enggak boleh gitu ya. Jadi apa
yang harus kita lakukan begini, Bapak.
Ee ada satu hal yang saya seringki
memberikan, jangan biarkan orang lain
menentukan emosi diri.
Jangan biarkan orang lain menentukan
emosi diri atau jangan emosi kita
ditentukan oleh orang lain. Itu
istilahnya. Iya kan,
Bu? Itu loh orang itu jengkel banget,
Bu. Enggak menyenangkan. Oke. Enggak
menyenangkan dan itu berakibat pada diri
kamu. Enggak. Misalnya satu contoh
berhadapan itu berdampak enggak dengan
diri kita? Kalau itu tidak ber Bu, itu
berdampak banget Bu, orangnya tidak
menyenangkan Bu, orang kayak gini. Oke,
kita maknai aja. Coba kita pahami orang
itu. Seringki kan kita ditentukan oleh
orang lain, Bapak. Satu contoh ya. Satu
contoh,
Bu. Saya ini gitu ya. Saya ini enggak
bisa berkembang dengan baik, Bu. Selama
orang itu. Nah, ini kan ini sebenarnya
kan ini ini kan negatifnya kita kan
seperti itu. Iya kan? Berarti kan kita
harus mencoba melihat kepada diri kita.
Aku tuh orangnya kayak apa? Jadi
fokusnya pada diri kita. Iya kan?
Kemudian orang itu loh, Bu enggak
menyenangkan. Oke. Kenapa yang enggak
menyenangkan? Orang itu ya bermasalah
gini-gini. Oke. Selama orang itu tidak
langsung mengena pada diri kita, maka
sebenarnya kita sahsah saja untuk
fine-fine aja gitu. I kan kecuali
misalnya satu contoh ya, orang itu
terbukti benar-benar gitu ya negatif
pada diri kita. Maka kita boleh
mengatakan langsung. Seringki yang
terjadi adalah ini adalah bahaya
orang-orang kita.
kita itu tidak bisa asertif, tidak
berani mengatakan tidak atau jangan
sekarang.
Yang akibatnya akibatnya gitu ya, oh
enggak, Pak. Tapi di belakangnya
mangkel sama dia enggak. Jadi kita harus
berani ngomong gitu. Saya bisa
mengatakan misalnya satu contoh,
Mbakmak, Mbak itu udah bagus deh, tapi
kalau sebaiknya tu kan harusnya kayak
gini. Nah, itu kan menjadi lebih enak.
Yang seringkiali terjadi adalah kita
diam berhadapan dengan orang yang toxik,
tapi kemudian di belakang kita merasa,
"Hm, aku enggak suka yang ini." Nah, ini
berarti kan kita masih menipu diri kita.
Kita cobalah menjadi orang yang
apa di dalam dan di luar itu sama.
Kalau kalau saya harus berubah untuk
mengatakan yang bagus, maka kita gunakan
choice of word. Memilih kata yang bagus.
Satu contoh ya. Saya sih sebenarnya
senang aja ya, Pak ya. Ee misalnya pergi
sama Bapak kayak gini gini. Tapi tolong
dong, Pak ee kalau pergi ya pergi aja.
Tapi jangan sampai ee ada hal-hal yang
lain yang tidak menyenangkan bagi saya.
Tolong tidak dilakukan kepada saya, Pak.
itu ngomong aja,
"Wah, saya senang dong ini ada
undangannya." Tapi maaf ya, karena saya
besok e bukan jadi oh enggak apa-apa,
Bu. Iya, saya ini munafik. Tidak ada
satu kata munafik itu yang seringkiali
terjadi. Apa yang saya katakan itu
seringki berbeda dengan apa yang di
hati. Nah, ini yang seringkiali terjadi.
Jadi, satunya satunya kata
dan hati itu yang kadang-kadang tidak
dilakukan.
Nah, ini yang saya katakan ini harus
kita latih gitu ya. Satu contoh ee
budaya kita kan budaya sungkan, budaya
enggak enakan. Itu yang membuat pribadi
kita tidak menjadi pribadi yang
terintegritas gitu ya. Integritas kita
menjadi
ternodai kalau kita percaya bahwa asal
Bapak senang asal enggak bisa seperti
itu. Kalau kita tidak suka, ya katakan
tidak suka. Tetapi tadi yang saya
katakan step yang terakhir, choice of
word. Memilih kata. Pilihlah kata yang
pas ketika saya mengatakan menolak.
Nah, gitu loh. Jadi memang
kalau kita di manaun dengan sikap yang
seperti ini mungkin orang-orang, "Oh,
Bu, nanti kan kita tersisihkan, orang
enggak suka. Mari kita ya biarkan."
Selama dia tidak langsung mengatakan
tidak suka pada saya, maka saya tidak
akan menganggap bahwa dia tidak suka.
Ini yang seringkiali membuat kita
kadang-kadang kita terbayak dengan ee
apa ya ungkapan orang lain terhadap diri
kita. Nah, ini yang membuat kita ee
menjadi sedih gitu ya. Contoh-contoh
gitu ya. Kita kan bukan penjual es krim
gitu ya. Seorang penjual es krim kan
menyenangkan bagi orang lain gitu ya.
Iya kan? Ini ini ini kalimat ini saya
kemarin tuh ee
ada kalimat yang bagus gitu ya.
Janganlah menjadi ee apa?
ee Anda tidak mungkin menjadi seorang ee
pimpinan gitu. Karena yang seorang
pimpinan itu tidak mungkin menjadi
penjual es krim. Karena kalau penjual es
krim itu akan menyenangkan semua orang
gitu. Nah, itu ya itu itu kalimat yang
bagus banget gitu ya. Ya, bahwa
sebenarnya dalam interaksi pun juga
kayak gitu. Kita tidak mungkin
menyenangkan orang lain. Kita tidak
mungkin menyenangkan semua orang. Pasti
ada orang yang tidak suka.
Tapi seringki kita merasa bahwa semua
orang harus suka pada kita sehingga
akhirnya ee kita ee enggak berani
menyatakan apa yang kita rasakan. Enggak
boleh seperti itu. Jadi memang ee
kadang-kadang memang kita tidak terbiasa
untuk mengatakan tidak atau jangan
sekarang. Ini yang menjadikan bahayanya
kan di situ. Kenapa saya mengatakan itu?
Karena seringki ini yang membuat kita
berhadapan dengan orang toosik itu diam
aja ya, Pak ya, Pak Yudi ya. Pokoknya
enggak enak gini ya, enggak bisa, Pak.
Bapak berani harus berani mengatakan
tidak gitu ya. Karena itu untuk
kesehatan mental juga ya. Kita sehat
mental kalau apa yang ada di hati itu
sama dengan ada yang kita ucapkan gitu.
Begitu Pak Yudi.
Iya. Terima kasih masukannya Ibu. Terima
kasih Bu Dewi.
Semangat ya Bapak harus untuk sehat
mental ng
sehat dulu mentalnya Ibu.
Iya betul.
Terima kasih Bu Dewi atas jawabannya.
Pak Yudi mohon izin jangan lupa untuk
mengirim data diri ke tim admin Zoom
kami untuk pengiriman hadiah. Salam
sehat selalu, Pak Yudi. Terima kasih,
Pak.
Baik, Bu Dewi. Tidak terasa kita sudah
berada di penghujung sesi kedua kali
ini. Bu Dewi, terima kasih sekali lagi
karena paparannya sangat reflektif
sekali. Semoga ini bisa menjadi self
reflection yang tepat untuk sobat ASN
yang menyaksikan acara kali ini.
Barangkali sebelum ditutup, saya berikan
kesempatan untuk Bu Dewi menyampaikan
satu closing statement kepada Sobat ASN
yang masih menyaksikan webinar kali ini.
Bu, silakan.
Iya, inti daripada
agar kita menyatu antara apa yang
dikatakan dengan apa yang menjadi value
kita, yang pertama adalah tolong gitu
ya. Tolong untuk ee temukan diri otentik
Anda sehingga Anda menjadi berani untuk
berbuat apapun tanpa ragu dan tanpa
takut akan penilaian orang lain terhadap
diri kita. Itu aja, Mas. Selamat untuk
menemukan diri di ontic diri kita
sendiri.
Terima kasih Bu Dewi atas paparannya.
Salam sehat selalu, Ibu. Bertemu lagi di
event-event selanjutnya ya, Bu ya. I
semuanya.
Baik, Sahabat ASN, kita masih punya satu
pembicara yang menarik juga, jadi jangan
ke mana-mana. Tetap di webinar ASN
Belajar seri 4 tahun 2026.
Ya, Anda kembali lagi menyaksikan
webinar ASN belajar seri 4 tahun 2026.
Kali ini kita akan belajar bersama-sama
terkait dengan teknik komunikasi yang
profesional dan humanis bersama dengan
ahlinya Kak Rizkiani Putri, SOS MCOM
selaku communication facilitator dan
juga founder Sinergi Bicara.
Saya seorang introvert dan saya tidak
pernah mengira bisa ada di posisi
sekarang hari ini.
Halo, saya Riskandi Putri, founder
Sinergi Bicara. Menjadi seorang
introvert sejak kecil membuat saya
menyadari bahwa komunikasi demikian
penting untuk mencapai apa yang kita
impikan. Sinergi Bicara hadir untuk
memfasilitasi siapa saja, apapun latar
belakang Anda, bagaimanapun personality
Anda untuk bisa bertumbuh bersama dengan
kami.
Communication community, empowerment
practice and growth.
Bersama sinergi bicara, setiap panggung
adalah kesempatan dan setiap kesempatan
adalah panggung.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman
dan Investasi Yang terhormat Bapak Luhud
Bins
dan namanya semakin
Setelah berperang di salah satu ada
ketua tim penggerak PKK Provinsi Jawa
Timur Ibu Arumi Bahsir Alms itu tahu apa
sih sebenarnya rahasia sukses menjadi
suan bintar.
Selamat datang kembali dalam program
ada satu hal yang menarik
di antara begitu banyaknya pilihan dalam
ada satu kewajiban menjadi santri yang
mampu berwirausaha bermanfaat bagi
sesama dan sekaligus membela negara
disilakan.
dan giliran acara satu kata menjadi
kalimat lebih dari satu kalimat menjadi
paragraf menjadi segar cerita a iu e o
tangan dong
peserta mata kuliah public speaking
universitas
switch our mind to be a great speaker
untuk menjadi pembicara yang hebat
setiap Pembicara hebat masih bersedia
mendengarkan
telah hadir bersama dengan kita semua di
sini. Kak Putri. Selamat siang, Kak
Putri. Kabar baik.
Selamat siang waktu Indonesia Timur,
tengah, dan barat karena memang
benar-benar sudah siang. Kabar baik.
Terima kasih, Mas Lukman Ali.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kebetulan saya juga
tergabung dan follow komunitas Teman
Bicara. Terima kasih sudah memberikan
wadah bagi teman-teman yang seringki
berkecipung di dunia public speaking ini
untuk selalu belajar. Saya tidak sabar
untuk mendengarkan materi dan paparan
menarik dari Kak Putri tentunya terkait
dengan teknik komunikasi yang tepat
untuk personal branding ASN. Saya
persilakan waktunya kurang lebih selama
30 menit, Kak. Nanti kita langsung masuk
ke sesi tanya jawab.
Siap. Terima kasih, Mas Lukman. Satu
kehormatan bagi saya bertemu dengan ASN
dan juga non ASN seluruh Indonesia dan
tentu karena inisiatif prakarsa dari
BPSDM Jawa Timur. Terima kasih BPSDM
Jawa Timur sudah mempertemukan saya
dengan banyak sosok-sosok hebat garda
terdepan pelayanan publik di Indonesia.
Nah, ee siang hari ini pertama saya
ucapkan terima kasih karena saya satu
panggung dengan dosen saya. Pak Suko
adalah sosok yang sangat saya idolakan.
Bu Dewi walaupun baru kari pertama jumpa
ya pada siang hari ini, tapi saya banyak
belajar dari beliau. Jadi, izinkan saya
berbagi apa yang sudah saya siapkan dan
mudah-mudahan Bapak, Ibu, rekan-rekan
ASN maupun ASN yang hari ini bergabung
berkenan. Bismillahirrahmanirrahim.
Di YouTube channel 6100 lebih bergabung
termasuk yang di Zoom ya. Saya upayakan
30 menit akan cukup untuk sesi kita
berinteraksi di awal ini. Mbak Dayun
boleh dibantu. Saya akan tampilkan satu
postingan yang bikin kita berjumpa hari
ini. Apakah itu? Ya, ini dia awal ketika
saya mendapat undangan dari BPSDM Jawa
Timur berkolaborasi untuk informasi
terkait ASN belajar seri 4 tahun 2026
ini. Saya langsung baca kolom komen Kak
Day boleh ditampilkan kolom komennya.
yang luar biasa pada kolom komentar
adalah tuh apresiasi diberikan kepada
BPSDM Jawa Timur karena agenda ini
enggak terbatas eksklusif untuk ASN Jawa
Timur saja tapi juga seluruh Indonesia.
Bahkan yang bukan ASN bisa bergabung
karena multiplatform enggak cuma via
Zoom tapi juga via YouTube channel kanal
YouTube dari BPSDM Jatim TV. Nah, yang
menarik adalah ketika teman-teman
memberikan apresiasi kepada BPSDM Jatim
sebagai lembaga instansi-institusi,
kita kemudian tahu bahwa setiap
instansi-institusi itu pasti punya
institutional brand yang muncul adalah
keren banget BPSDM Jatim aktif sekali
bikin webinar mantap. Terima kasih kami
yang dari luar Jawa Timur bisa
bergabung. Apresiasi bertubi-tubi datang
dan itu adalah pujian reputasi yang
terbangun. Tapi ingat dalam
institutional brand di dalamnya ada
sumber daya manusia, di dalamnya ada
aset manusia yang bekerja yang tidak
mungkin program ini terlaksana kalau
bukan karena inisiatif support dari
Kepala BPSDM Jawa Timur dengan
rekan-rekan yang ada di BPSDM Jawa
Timur. Kebayang enggak suatu hari Anda
ketemu, kenal seseorang bersalaman, lalu
dengar beliau ternyata bekerja di BPSDM
Jawa Timur dan Anda merasa sudah banyak
terbantu dengan hadirnya ASN belajar.
Apa kesan Anda terhadap kawan ASN BPSDM
Jawa Timur ini? Pasti positif. Bu, Pak,
Mbak, Mas, Kak. Makasih ya. ASN belajar
sudah diselenggarakan secara rutin. Saya
ikut belajar walaupun saya tidak ee
berstatus ASN Jawa Timur. Bayangkan dari
citra lembaga muncul citra positif
individu. Tapi sayangnya ini enggak bisa
berjalan satu arah. Enggak bisa kalau
instansi kerja keras bikin eh
institutional brand yang baik dan
positif, reputasi yang positif kalau
ternyata di dalamnya ada orang-orang
individu yang tidak profesional,
tidak punya etika dan tidak
berintegritas. Itulah kenapa ketika
kemudian Kak Dayan boleh dimunculkan
materi kita,
ada satu komentar sangat menarik muncul.
Boleh dalam format full screen. Terima
kasih Kak Dayan. Oke, sip. Ini kita
upayakan dulu panahnya ke atas. Oke,
sip. Sudah enggak muncul ya. Yang atas
itu ada kotak. Kak Dian boleh hiding
meeting float-nya dulu.
Ini saya harus dibantu dengan dua device
karena kalau enggak saya enggak bisa
lihat ee ekspresi Bapak dan Ibu,
komentar Bapak dan Ibu di YouTube
channel ya. Saya sambil pantau nih
situasinya teman-teman bagaimana.
Masih terganggu sedikit Kak Dayan. Boleh
dibantu Mas Dimas untuk hiding meeting
float-nya
masih muncul. Nah, oke sudah hilang.
Walaupun di bawah ada kotak tapi enggak
apa-apa ya maaf ya teman-teman. Atau
gini aja deh boleh enggak dibagi linknya
ke tim BPSDM Jatim? mungkin akan lebih
clear kalau dari BPSDM Jatim sambil saya
tampilkan ini sambil nanti e kadain
komunikasi interaksi dengan tim BPSDM
Jatim ya untuk bantu. Jadi ee izinkan
saya menyampaikan kegelisahan saya
ketika muncul pertanyaan sangat menarik
ini yang kemarin mantengin pasti tahu
siapa beliau yang nulis. Sengaja saya
blur untuk jaga ya identitasnya. Karena
kalau kita baca komentar ini dengan
nada, semua ASN juga butuh validasi ya,
Min. Tak kira yang butuh hanya para
pejabat to. Nah, kesannya akan julit.
Tapi kalau kita baca dengan semua ASN
juga butuh validasi ya, Min. Tak kira
yang butuh hanya para pejabat to. Saya
kira yang butuh validasi hanya pejabat
saja gitu. Itu akan berbeda kan
maknanya. Jadi kita enggak bisa klaim
wah ini yang ngomong ini julit, yang
nulis ini julit. atau kita klaim kok
questioning kok mempertanyakan ini kan
hal yang valid jelas enggak cuman
pimpinan aja yang butuh pencitraan atau
validasi gitu bukan itu yang akan kita
diskusikan kita justru akan gali bukan
tentang kenapa seseorang punya pandangan
ini, tapi kenapa saya tadi catat
statement Pak Ramli Kepala BPSBM Jawa
Timur pada saat eh opening speech beliau
menyampaikan personal branding bukan
pencitraan artifisial jadi bukan sesuatu
yang diformulasikan, dibuat dengan
sengaja dan itu sesuatu yang dangkal
hanya di permukaan. Tidak, itu bukan
sesuatu yang didesain semata, tapi
sesuatu yang Nah, kita akan diskusikan.
Boleh dibantu slide berikutnya, Kak
Dian.
Oke, ini dia. Ini enaknya kalau dari
kami, kami bisa next dari sini ya.
Personal branding bukan tentang
pengin dipuji, pengin dianggap paling
jago, maaf, atau ngejar like dan
applause. Ini kata kunci yang kita
sepakati bersama dulu. Jadi, personal
branding ini maafkan saya masih harus
menyesuaikan nih. Boleh digeser sedikit
posisinya biar sinyalnya agak bagus. Kay
pengin dibuci bukan pengin dianggap
paling jago atau ngejar like dan
applause. Kita sepakati dulu ya. Poinnya
itu tiga hal ini. Kita membangun
personal brand bukan karena pengin dapat
pujian, pengin dibilang paling jago atau
demi eh ribuan, ratusan ribu like,
maupun applause dari audiens kita, dari
target audiens kita.
Personal branding adalah tentang
kejelasan dan konsistensi. Ini yang saya
masukkan, saya senada dengan apa yang
disampaikan oleh Pak Suko Widodo. Ini
adalah tentang kejelasan dan
konsistensi. Seputar apa? Nah, ini dia
seputar kayaknya saya izin materinya
dari tempat saya aja deh. Boleh enggak?
Kayaknya delay nih. Maaf banget.
Karena mohon maaf ya Bapak, Ibu,
rekan-rekan yang bergabung. Saya yakin
saya dimaafkan ini kalau sudah kena
hal-hal yang teknis gini jadi
terkendala.
Jadi saya izin untuk menampilkan dari
sisi saya dulu.
Punten,
mohon maaf
semoga dimaklumi. Kita share dulu materi
saya.
Oke.
Baik.
Mudah-mudahan sudah terlihat dan tidak
ada kotak di atas ataupun kotak di
bawah. Aman? Boleh saya dibantu bisikin
Kak Dayan? Aman.
Personal braining adalah tentang
kejelasan dan konsistensi.
kita ingin dikenal sebagai siapa? Nilai
apa yang kita pegang teguh, masalah apa
yang bisa kita bantu selesaikan sebagai
ASN, sebagai pegawai, sebagai staf, atau
bahkan sebagai pimpinan. Jadi, personal
brand itu enggak eksklusif cuma untuk
dibentuk oleh pimpinan saja. Siapapun
individu entitas yang ada di dalam
lembaga, di mana kita merupakan sumber
daya manusia yang ada di dalamnya, punya
peran bahkan kewajiban untuk membangun
personal brand. Tapi kita mulai dari
sini dulu. kita pengin dikenal sebagai
siapa? Nilai apa yang kita pegang teguh,
masalah apa yang bisa kita bantu
selesaikan. Kenapa poin masalah ini bisa
muncul? Supaya ketahuan eksertis-nya
apa, bidang keahliannya apa, ya. Dan
sebagai penguat juga untuk kita ketahui
bersama, validasi itu memang bisa jadi
muncul, tapi buat saya pribadi itu
bonus, itu efek samping. Kalau sampai
terjadi dan validasi itu sesuai dengan
apa yang kita inginkan, maka syukur
alhamdulillah. Tapi kalau tidak ya
personal brand kita tetap jalan bukan
karena belum ada validasi terus kita
berhenti menampilkan diri kita, value
kita, karakter personal eh karakter
personal kita, termasuk integritas dan
kinerja kita enggak ya. Jadi personal
brand tetap jalan. Bahkan fun fact-nya,
fakta menariknya nih yang sering
terjadi. Orang yang terlalu berburu
validasi ya, butuh pengakuan sana sini
ke sana kemari itu brandingnya mudah
goyah
karena dia fokus pada validasi, fokus
pada hasil akhir. Sementara orang yang
fokus pada value, yaitu orang-orang yang
fokus pada proses, menjalani menikmati
proses karena punya prinsip yang dijaga
dan kemudian disengaja atau tidak
disebarluaskan, brandingnya juga justru
berlaku jangka panjang.
Sudah mulai kebayang? Jadi kalau Anda
fokus pada tujuan hasil akhir, validasi
tujuan Anda, branding Anda akan mudah
goyah karena Anda akan fokus pada saya
di lingkungan ini pengin dinilai seperti
apa, di lingkungan lain pengin dinilai
seperti apa. Sementara kalau kita fokus
pada value yang ada dalam diri kita nih
ya nih ibarat tanaman itu bibit yang
kita pelihara, kita jaga supaya dia
tumbuh berawal dari unggul, tumbuhnya
juga dengan subur nanti panen raya itu
sehingga brandingnya pun jangka panjang.
Sederhananya, validasi membuat kita
diterima,
tapi personal branding lah yang membuat
kita dipercaya.
Saya akan masuk ke materi kata percaya
ini adalah public trust. Karena Anda
adalah ASN, Anda bekerja di sektor
pelayanan publik, maka memiliki
kepercayaan publik, mendapatkan
kepercayaan publik itu harga mati.
penting
ASN non ASN bekerja di pemerintahan,
mohon maaf dengan segala hormat dibayar
oleh rakyat. Maka kepercayaan rakyat itu
penting.
Bukan applause yang kita cari. Lebih
dari itu, public trust adalah impact,
dampak ya yang dibangun lewat kualitas
kepribadian dan konsistensi performa
seumur hidup. Dan ini yang kemudian
mewujud lewat personal branding. Membuat
seseorang memiliki personal branding
tertentu dan kemudian membuat dirinya
berbeda dengan orang lain di sekitarnya.
Sama-sama ASN, sama-sama bekerja di
BPSDM Jawa Timur, sama-sama bekerja di
pemerintahan,
sama-sama kepala daerah. Tapi kalau
kualitas kepribadian dan konsistensi
performa integritasnya berbeda, tentu
level public trust-nya juga akan
berbeda.
Baik, tadi adalah pengantar Mas Lukman.
Kita masuk ke materi utama bagaimana
agar kita semua Bapak Ibu yang
menyandang posisi profesi sebagai ASN
ataupun non ASN yang bekerja di sektor
pemerintahan bisa membangun personal
brand masa kini sebagai sosok yang
profesional, etis, dan punya integritas.
Tiga poin kita coba kaji satu demi satu.
Kita mulai dari sini dulu. Saya tolong
dibantu. Saya akan baca di YouTube
channel ya, BPSDM Jatim TV. Begitu
dengar kata ASN yang langsung terbersit
di benak Bapak, Ibu, rekan-rekan, apa
kata ASN itu identik dengan ASN itu
titik titik titik satu kata aja. Saya
mau sambil baca, Mas Lukman. Kalau nanti
dari eh Zoom meeting kita, Zoom meeting
chat kita ada respons, boleh dibantu
bacakan ASN titik ttitik titik. Kalau di
YouTube channel ASN hadir nih jawabannya
masih hadir.
Boleh saya dibantu? Formal. Terima kasih
kawan kepaniteraan hukum PTUN Semarang.
Katanya ASN itu formal, ASN itu
pemerintah. ASN itu berkualitas. ASN itu
pekerja pemerintah. Gaji melayani,
idaman mertua muncul. Disiplin, pegawai,
mengabdi, birokrasi, melayani, abdi
negara settle.
keren, menyala, pelayanan, dapat
pensiun, kebanggaan. Waduh, luar biasa
ya 6.300 yang gabung lewat YouTube
channel BPSDM Jatim TV aktif semua.
Terima kasih. Jawabannya beragam.
Sebagian Anda sepakat, sebagian Anda
tidak. Itu adalah apa yang terpikir oleh
Anda sebagai ASN atau non ASN yang
bekerja di pemerintahan. Sekarang saya
coba tanya, ada enggak ini yang gabung
yang tidak bekerja di sektor
pemerintahan, bukan ASN juga. Saya
pengin tahu dong kalau dengar kata ASN
ini kan tadi bicara dari perspektif eh
publik internal. Saya pengin tahu kalau
dari perspektif publik eksternal di luar
lingkaran pemerintahan bukan ASN atau
non ASN yang bekerja di pemerintahan.
ASN itu apa coba? Yang tidak bekerja di
pemerintahan.
ASN itu ada yang bilang idaman.
Hot nyambung dari mana ya? Abdi
pelayanan publik akhlak yang baik.
Aparatur negara. Oke. Sip. Berarti match
ya antara definisi yang Anda munculkan
dengan definisi publik eksternal yang
Anda munculkan.
Tapi ah saya lanjut nih. Pernah enggak
Bapak, Ibu, rekan-rekan punya pengalaman
lagi enak-enaknya fokus kerja nih, eh
dibilang jutek, jutek, jutek ya? Jutek
mukanya fokus terus dikatain jutek
karena kayak merengut gitu kerjanya.
Dibilang enggak happy. Padahal emang
ekspresinya gitu. Atau ada juga
orang-orang yang wah kalau ada apa-apa
satset. Tapi di sisi lain dia yang fast
response ini dikatain penjilat.
Ada juga yang rajin banget tapi dikatain
cari muka.
Ada juga yang murah senyum banget tapi
dikatain sok ramah. Ada juga yang
multitalenta dikatain segala-gala
diborong. Ada juga yang kurang disiplin.
Nah, itu enggak ada tuh persamaannya.
Kurang disiplin ya. Kurang disiplin aja.
Terlambat hadir di forum. Kalau acara
belum dimulai belum kelihatan batang
hidungnya gitu ya. Tapi kalau ada orang
yang disiplin bisa dinilai ganda. Jadi
kalau tidak disiplin ya tidak disiplin
saja. Tapi kalau disiplin wah mulai dari
wah beliau ini disiplin ya atau beliau
ini kenapa sih sok penting banget jam
segini sudah datang. Ah tuh
omongan-omongan semacam itu aksinya bisa
jadi satu. Tapi reaksinya beragam.
Pasti pernah ya di antara kawan-kawan
punya pengalaman ini. Pak Yudi pun tadi
yang sempat curhat di sesi Bu Dewi
cerita pengalaman ini. Maunya sih
bekerja dengan penuh integritas tapi
ternyata malah jadi omongan bahkan
dijauhi teman-teman. Nah, ini sesuatu
yang sedih. Tapi apakah kemudian kita
harus berhenti melakukan kebaikan dan
komitmen kinerja? Kita lanjut dulu.
Karena kalau Anda membatasi definisi
personal branding hanya pada pencitraan,
maka selesai sudah. Personal brand itu
terbentuk, kalau kata terbentuk kan
berarti tanpa sengaja dan atau dibentuk
dengan sengaja atas perilaku yang
konsisten. Enggak bisa seseorang mikir,
"Aku pengin dikenal sebagai sosok yang
cerdas." Ini baru dalam alam pikiran
nih, kognitif.
Lalu dia dengan yakinnya publik akan
menilai dia cerdas. Padahal dalam forum
dia tidak pernah terlihat menyampaikan
ide, aspirasi, gagasan, kritik
konstruktif. Bagaimana bisa? Jadi memang
yang kemudian membuat personal brain
mewujud salah satunya adalah karena
perilaku yang konsisten. Salah satunya
ya selain value yang kemudian orang akan
tahu dan orang akan lihat.
Nah, sekarang kita fokus pada personal
branding dalam konteks ASN. Pertama kita
harus pahami dulu personal branding itu
bukan sesuatu yang satu arah dari kita
untuk publik kita, bukan. Karena
personal branding sebetulnya datangnya
dari persepsi publik.
Jadi mau kita sedahsyat apapun
mencitrakan diri, melakukan
kebiasaan-kebiasaan perilaku yang
menurut kita positif dalam pekerjaan,
dalam keseharian, tapi kalau persepsi
publik bilang, "Ah, itu mah kalau di
depan orang, di belakang orang
kompetensinya enggak gitu-gitu amat,
sikapnya enggak gitu-gitu amat, nilai
dan integritasnya enggak gitu-gitu amat,
ya sudah." Jadi, personal branding itu
bukan kita,
tapi publik yang mempersepsi.
Mulai dari cara kita bekerja, cara kita
berkomunikasi, cara kita membuat
keputusan, dan cara kita bersikap saat
diawasi atau tidak. Contoh, hari ini
pimpinan menyampaikan akan datang lebih
pagi di kantor. Lalu kita ngerasa inilah
waktunya saya akan tunjukkan kepada
pimpinan bahwa saya datang lebih pagi
daripada pimpinan saya.
Begitu hari berikutnya tidak ada
informasi pimpinan akan datang lebih
awal di kantor. Ya, kita datang ya 5
menit. sebelum jam kantor dimulai.
Kok bisa beda ya ketika dilihat atau
tidak dilihat, ketika sedang diawasi
atau tidak diawasi. Nah, selama Anda
masih membedakan sikap perilaku Anda
ketika orang lain melihat atau tidak
melihat,
selama Anda membedakan cara Anda
berkomunikasi
ketika orang lain melihat atau tidak
melihat. Di tempat kita bekerja ada
kawan-kawan yang membantu untuk
kebersihan, yang membantu untuk
keamanan. Nah, menariknya kalau kita
lagi dalam konteks ngobrol santai dengan
mereka, kita bisa, "Mbak, bersihin, Mas.
Itu tadi kamar mandi masih kotor." Tapi
ketika sedang ada tamu datang, kita
mengubah tun gaya komunikasi kita. Ee,
Mbak, itu tadi komunikasi eh komunikasi
itu tadi kamar mandinya masih kotor.
Boleh tolong dibantu bersihkan? Kenapa
bisa beda ya? Nah, itu dia personal
branding adalah bagaimana Anda tampil
dengan atau tanpa dilihat oleh orang
lain yang menurut Anda punya relasi
kuasa lebih tinggi untuk memberikan
pengawasan dan penilaian terhadap diri
Anda.
Oke. Nah, ini dia. Terus apa, Mbak
bedanya ASN yang punya personal branding
dengan influencer yang mereka melakukan
strategi untuk branding juga?
kita bagi. Kalau influencer fokusnya
tentu pada popularitas. Kalau ASN mohon
maaf Bapak Ibu dengan segala hormat
fokus Anda bukan pada popularitas
melainkan public trust, kepercayaan
publik. Influencer bebas mau bikin
konten apa aja. Nanti kalau ada apa-apa
eh tinggal minta maaf. Kalaupun memang
ada sesuatu yang harus diproses secara
hukum, ya nanti akan diproses. Tapi
kalau ASN enggak bisa semudah itu. Anda
bawa nama lembaga, Anda bawa nama
instansi tempat Anda bekerja, maka Anda
terikat dengan etika dan regulasi. Anda
tidak berdiri seorang diri, "Mbak, saya
ini selain sebagai ASN, saya aktif juga,
Mbak, review-review. Saya juga
influencer. Terus gimana?" Nah, ini yang
menarik.
Kalau Anda punya satu account di mana di
situ muncul Anda juga sebagai seorang
ASN, di mana di situ juga muncul
kegiatan Anda sehari-hari sebagai
seorang influencer atau brand ambassador
untuk beberapa brand, maka tentu Anda
harus menjaga agar value Anda tidak
terjadi gap antara posisi sebagai ASN
maupun posisi sebagai influencer. Harus
cari jalan tengahnya, harus cari ee
sisi yang bisa Anda munculkan sehingga
diri Anda yang otentik. Kalau kata Bu
Dewi, bagus banget. Saya suka diri Anda
yang otentik sebagai individu itu
terlihat. Tapi di sisi lain sebagai
seorang ASN bagian dari negara, abdi
negara itu juga profesional dan
berintegritas. Jadi enggak boleh bebas
konten Anda ketika sedang bikin konten
untuk posisi Anda sebagai influencer.
Kemudian mencederai posisi Anda sebagai
seorang ASN. Tidak boleh. Terakhir
target audiens-nya siapa? Kalau
influencer mah bebas. Masyarakat secara
umum ya siapun.
anyone gitu. Karena mereka berhak untuk
menilai, berhak untuk eh bikin ri kolom
comment section. Beda kalau udah jadi
ASN.
Yang jadi sasaran utama adalah
masyarakat negara. Ada nama negara yang
Anda bawa, ada masyarakat yang hatinya
harus ikut Anda jaga, perasaannya harus
ikut Anda jaga. Oke, lagi-lagi ini saya
tuh bikin materi saya lengkapi dari
sajiannya Pak Suko dan Bu Dewi.
Mudah-mudahan bisa sedikit banyak
merangkum ya, memudahkan apa yang Mas
Lukman akan e sajikan hari ini. ASN
tidak dituntut viral, tapi harus punya
peran vital, kontribusi nyata dan layak
dipercaya supaya posisinya vital. Ini
saya kutip dari Pak Suko. Izin, nanti
saya tambahkan nama Pak Suko di sini.
Jangan berburu viral, tapi jadilah sosok
yang berkontribusi secara vital. Dari
mana kita tahu kontribusi kita vital?
Ya, karena nyata, aksinya nyata dan kita
layak dipercaya. Oke, sekarang kita
masuk ke sini nih. Pilar personal
branding ASN. Sekali lagi saya berangkat
dari apa yang dititipkan oleh BPSDM Jawa
Timur dan saya sangat sepakat kita akan
pelajari detailnya profesional, etis,
berintegritas. Mulai dari kata
profesional sendiri, Bapak Ibu pasti
sudah pahamlah makna profesional,
kompeten sesuai dengan tupoki,
secara waktu, disiplin, taat, prosedur.
Komunikasinya jelas dan solutif. Tolong
digaris bawahi kata solutif ya. Karena
kalau komunikasinya jelas tapi ternyata
tidak solutif, mohon maaf berarti harus
belajar dulu supaya produk pelayanan
publiknya bisa diterima baik, lebih baik
oleh masyarakat. Harus solutif, Bapak,
Ibu. Kata kuncinya itu kompeten,
disiplin, komunikatif, solutif. Oke.
Lalu bagaimana cerminnya? Diantaranya
adalah bukan hanya sekedar hadir tepat
waktu. Kalau sudah jam kerja sudah harus
siap pelayanan. Bahkan sebelum itu Anda
hadir mempersiapkan. Ada beberapa teman
itu yang cerita kalau sebelum bekerja
mereka akan cek hal-hal yang merupakan
PR yang di hari sebelumnya belum
selesai. itu dicek dulu bisa enggak ini
diselesaikan sekarang sebelum jam kerja
operasional saya memberikan pelayanan
publik atau ini memang harus dikerjakan
pada jam operasional saya pelayanan
publik. Nah, itu sesuatu yang sangat
baik sekali. Mempersiapkan diri,
inisiatif.
Di saat yang sama membantu menyampaikan
penjelasan dengan cara yang empatik itu
menunjukkan bahwa kita enggak sekedar
bisa, tapi kita juga membumi. Jadi,
lebih dari sekedar kompeten. Kita adalah
ASN, petugas pelayanan publik yang empat
gitu ya. Karena waktu yang terbatas saya
bikin sedikit cepat. Untuk poin
profesional ini, pertanyaan refleksinya
adalah apakah
hari ini saya dikenal sebagai ASN yang
memudahkan atau justru saya dikenal
sebagai ASN yang mempersulit urusan
publik yang saya layani. Ini pertanyaan
refleksi. Silakan dijawab secara
personal.
Bukan sekedar tanya dengan feedback
form, "Bapak, Ibu, apakah sudah puas
dengan pelayanan kami?" Tapi apakah
secara spirit value kita selalu berusaha
memudahkan urusan orang lain tanpa
melanggar aturan regulasi yang ada? Itu
yang paling penting. Ya, memudahkan
bukan berarti kacamata kuda, tutup mata
atas regulasi. Tidak.
Yang kedua, pilar kedua adalah etis.
Etika didefinisikan sebagai batas
perilaku yang pantas
dan ada norma sosial, norma masyarakat
yang ee menyepakati itu. Contoh
konkretnya nada bicara kita ke
masyarakat. Apakah etis? Bagaimana kita
berinteraksi, berkomunikasi di grup
WhatsApp kantor, apakah etis? Bagaimana
cara kita menggunakan media sosial? cara
kita ee like konten-konten yang ini
boleh enggak ya saya like ini sesuai
enggak ya dengan value saya sebagai ASN?
Lalu komentar ini komentar yang tepat
enggak ya atau komentar yang akan justru
bikin blunder gitu ya. Ini materi yang
boleh saya share enggak ya melalui media
sosial saya lewat Instagram saya, TikTok
saya, lewat WhatsApp status saya. Boleh
enggak ya materi seperti ini saya
bagikan ulang di grup-grup WA saya di
mana saya bergabung. Nah, segala
sesuatunya harus dengan pertimbangan
terlebih dahulu.
Ini contoh ya. Ketika kita mengeluh
sebagai ASN soal pekerjaan kita di media
sosial dampaknya apa? Kebayang enggak?
Misal nih ya, misal
namanya ini enggak cuman Genzi aja sih,
generasi manapun kalau lagi pengin
curhat, curhat aja gitu. Mungkin kalau
generasi X Y gitu ya, milenial curhatnya
bisa jadi di WhatsApp status gitu dengan
menulis cerita atau di Instagram story.
Tapi kalau teman-teman Genzi mungkin
punya cara yang lebih e menarik juga
berbeda kreatif untuk curhat. Tapi
ketika secara eksplisit orang tahu kita
bekerja di mana, siapa pimpinan kita,
siapa rekan kerja kita, lalu kita secara
terbuka, secara eksplisit menuliskan
nama pimpinan atau nama rekan kerja yang
menurut kita enggak banget.
Nah, itu akan menjadi sesuatu yang
lagi-lagi blunder, berdampak pada
reputasi lembaga instansi tempat kita
bekerja.
Oke. Wah, bagus banget nih saya dapat
respon dari ee YouTube ya. Mm
sebentar disaring dulu, Kakak dan
dipertimbangkan. Tuh, ini adalah value
yang baik yang ee seyogyanya tidak hanya
dimiliki oleh KMT Wawan Setiawan 779
yang bergabung lewat YouTube channel,
tapi juga oleh semua rekan-rekan ASN non
ASN yang bergabung hari ini. Pesan
kuncinya kalau bicara soal, kita bicara
profesional, etis, apa yang kita anggap
sepele?
Alah, cuman gini doang, cuman gini aja.
Ini kan sepele, ini kan kecil gitu. bisa
jadi justru berdampak sangat besar
terhadap citra institusi
sebagai misal, wah mumpung nih bisa
pulang lebih awal sementara publik,
teman-teman online kita, followers kita
tahu kita tuh kerja di mana gitu ya.
Tiba-tiba posisi jam 3.00 sore posting
story lagi ada di mall. Uh, padahal
belum selesai itu jam kerja. Karena
menurut kita sepele.
Ketika ada satu orang kemudian mendapati
itu dan menjadikan itu sebagai konten
versi dia, "Teman gue nih ASN, teman
saya nih ASN jam 3.00 sore udah
jalan-jalan di mall aja gitu." Padahal
mana kita tahu posisinya beliau lagi
bekerja di mall.
Ada beberapa pelayanan yang dilakukan di
mall kan bisa jadi. Tapi ketika kegiatan
yang dilakukan bukan sedang melayani
publik, melayani masyarakat, tapi sedang
bersenang-senang, nah di situlah citra
institusi akan terdampak.
Jadi pertimbangan kembali ini sepele
atau tidak, ini berdampak atau tidak.
Ya, yang ketiga tadi sudah profesional,
etis, sekarang kita bicara integritas.
Apa itu integritas? Konsistensi
antara nilai, ucapan dan tindakan. Apa
yang dipegang teguh, diyakini,
diucapkan, dan dilakukan
itu paralel,
linier, sama
satu nafas, konsisten.
Cirinya apa? Orang-orang yang
berintegritas, tidak oportunis,
berani berkata tidak pada pelanggaran.
Sikapnya di depan maupun di belakang
sama. Pelayanannya pada sosok dengan
posisi jabatan tinggi dengan sosok yang
mungkin berangkat dari latar belakang
berbeda sama. Ketika dilihat pimpinan
tidak dilihat pimpinan. Ketika dilihat
petinggi, tidak dilihat petinggi. Sama.
Itu adalah ciri ASN yang berintegritas.
Dan masih banyak lagi ciri lainnya.
Pesan kunci, integritas tidak diuji saat
situasi serba kondusif. Kalau kita ada
dalam situasi kerja yang teman-teman
kita itu kondusif, pimpinan kita
kondusif, nah memang sudah sepatutnya
integritas itu mewujud. Justru aneh
kalau di tengah situasi yang kondusif
Anda tidak punya integritas. Namun
integritas itu justru diuji saat kita
punya kesempatan untuk menyimpang,
melakukan kesalahan,
melakukan penyimpangan.
Kalau Anda bisa melewati itu, maka
itulah momen di mana Anda layak disebut
sebagai ASN yang berintegritas.
Justru dalam situasi yang sulit, Anda
berani berkata tidak. Anda berani
bilang, "Saya tidak bersedia melakukan
ini,
saya tidak mau terlibat dalam kesalahan
ini sekalipun itu kolektif dan
lain-lain."
Susah, susah. Tapi Pak Yudi terima kasih
tadi sudah berbagi cerita. Bapak
membuktikan bahwa Bapak bisa dan
kawan-kawan yang bergabung hari ini juga
saya yakin bisa. Oke.
Setiap ASN adalah wajah negara.
Sekarang kita akan bicara personal
branding ASN di era digital. Di mana
media sosial sudah bukan ruang pribadi
sepenuhnya kecuali Anda private dan
followernya cuma Anda sendiri. Jadi
sudah enggak ada follower lain tuh. Nah,
itu boleh. Anda mau nampilin apa aja
silakan Anda private. Enggak ada
siapapun yang Anda follow. Enggak ada
siapapun yang follow Anda. Karena media
sosial hari ini adalah ruang publik
digital di mana kalau Anda pajang foto
profil yang seperti apa, itu akan
menceritakan siapa diri Anda. Ketika
Anda mengunggah konten yang seperti apa,
itu akan menceritakan siapa diri Anda.
Caption Anda, cara Anda nulis komentar
itu akan menceritakan siapa diri Anda.
Konten-konten tipe apa saja yang Anda
repost itu akan menceritakan siapa diri
Anda. Anda ingin dikenal sebagai orang
yang humoris,
yang atraktif, lalu yang Anda munculkan
adalah repost konten-konten yang
humoris, yang atraktif, silakan. Tapi
kalau Anda ingin dikenal sebagai sosok
yang pemikir, serius, filosofis, ya
tentu konten-konten yang Anda repost
akan sejalan dengan apa yang Anda
minati. Jadi sederhana kok apa yang kita
lakukan dalam keseharian itu sebetulnya
sengaja atau tidak pasti akan membentuk
personal brand kita khususnya di ruang
digital.
Nah, enggak cuma kita menggunakan media
sosial secara bijaksana tapi juga secara
aman.
Prinsipnya apa? Tidak melanggar posisi
kita yang idealnya netral.
Selah apapun, sekesal apapun, sejenuh
apapun, sebenci apapun,
Anda masih dibayar oleh rakyat dan Anda
harus jaga perasaan rakyat. Boleh enggak
saya berbagi pandangan di ruang-ruang
tertentu yang Anda bisa
pertanggungjawabkan dan Anda bisa dengan
argumentasi yang kokoh, boleh, tapi
tidak di ruang yang
semaunya Anda manfaatkan. Jadi kata
kunci pertama adalah tidak melanggar
netralitas, tidak menyebar kebencian
atau hoa
tidak membuka aib institusi. Mbak,
bagaimana apabila terjadi kesalahan atau
penyimpangan di tempat saya? Ada
jalurnya Bapak, Ibu dan Bapak Ibu sudah
tahu ke mana harus menyampaikan itu.
Bukan di ruang publik.
Whistle blower misalnya, salah satu
upaya jalan untuk Bapak, Ibu
menyampaikan ketika Bapak, Ibu melihat
ada sesuatu yang tidak seharusnya
terjadi di sekitar Bapak, Ibu dan itu
ada jalurnya.
Rumusnya kalau ragu jangan unggah, kalau
ragu jangan komen, kalau ragu jangan
repost.
Itu aja ya. Oke, ini latihan sederhana
saja. Silakan dilakukan secara mandiri
untuk refleksi sekaligus aktivasi. Yang
pertama harus dilakukan adalah cermin
personal brand. Bapak, Ibu bisa
tuliskan, rekan-rekan bisa tuliskan tiga
kata yang ingin dilekatkan pada dirinya
sebagai ASN. Tadi kan banyak banget tuh
ya definisi. ASN itu abdi negara, ASN
itu settle, ASN itu melayani. Nah, coba
Bapak dan Ibu lekatkan pada dirinya
pengin dikenal sebagai ASN yang seperti
apa? Apakah solutif misalnya kata
pertama, disiplin misalnya kata kedua,
atau yang ketiga rajin misalnya. Mbak,
saya orangnya enggak rajin-rajin amat,
tapi tiap kali mengerjakan sesuatu, saya
selalu mengerjakan sebaik-baiknya. Ya
udah, tulis aja kompeten. Misalnya
Bapak, Ibu merasa ahli di bidang itu,
tapi berbeda dengan beberapa teman yang
rajin banget. Kalau Anda memang ee
merasa itu adalah tahap berikutnya dan
itu bukan tiga kata utama yang ingin
Anda lekatkan pada diri Anda, lekatkan
selama itu positif, selama itu mewakili
kata profesional, etis, berintegritas,
do it. Lakukan. Ya. Kemudian setelah
Anda tuliskan tiga kata, Bapak, Ibu,
rekan-rekan, yang kedua adalah pilih
satu dulu, kecil-kecilan dulu, enggak
langsung gede, enggak langsung banyak.
Satu dulu. Kebiasaan apa yang perlu
diperbaiki? Misal yang paling terasa
adalah Mbak, saya tuh selalu datangnya
mepet dengan jam kerja, jam operasional
pelayanan. Maka belajar untuk melakukan
perilaku kecil yang kemudian menjadi
kebiasaan
bagi Anda mulai hari ini. Misal tidak
menunda-nunda pekerjaan, pimpinan minta
apa, Anda sedang tidak ada kegiatan,
lakukan. Bukan masih seminggu kerjain
nanti nge-game dulu atau istirahat dulu,
ngopi dulu sama teman. Bukan.
Misal Anda ingin mengubah sikap
menunda-nunda pekerjaan menjadi tidak
menunda-nunda pekerjaan. Misal Anda
ingin mengubah sikap biasa datang
terlambat, biasa datang terlalu tepat
waktu, bukan sebelum waktunya. Maka Anda
ubah menjadi oke saya akan belajar untuk
ini. Problemnya di saya itu kalau tidur
terlalu larut, Mbak karena melakukan
hal-hal yang sebetulnya enggak penting.
Saya tahu scrolling-srolling enggak
jelas. Udah deh, saya coba atur nih.
Biasanya tidurnya di atas jam 09.00 saya
bikin mulai hari ini, mulai malam ini,
jam 09.00
21.00 saya sudah tidur, saya sudah masuk
kamar, ee HP saya letakkan, saya
nonaktifkan, kemudian saya kondisikan
anak-anak masuk kamar juga, lampu saya
padamkan, saya berdoa, setelah itu
tidur. Nah, itu adalah hal yang ketika
berawal dari perilaku kecil dilakukan
secara konsisten, maka akan menjadi
kebiasaan baik untuk Bapak dan Ibu.
Kalau sudah, latihan kedua adalah
lakukan atau buat satu komitmen mini.
Ya, tadi kan udah tuh dari sisi
personal. Misal mulai besok saya
berkomitmen membangun personal branding
ASN melalui cara apa dan itu bisa
sederhana, bisa kecil tapi dampaknya
luar biasa bagi Bapak dan Ibu. Oke,
sebagai penutup Mas Lukman dan
rekan-rekan yang bergabung hari ini,
mari kita sama-sama berkomitmen siap
bertumbuh menjadi ASN yang profesional
etis berintegritas.
bahwa personal branding bukan
pencitraan. Bahwa ASN mendapatkan
kepercayaan publik karena punya
konsistensi sikap dan perilaku sehingga
menunjukkan kualitas kinerjanya,
kualitas performanya.
Dan pada akhirnya profesional etis
berintegritas adalah investasi reputasi
seumur hidup. Pak Yudi, hari ini Bapak
disisihkan, hari ini Bapak diabaikan.
Tapi kita enggak pernah tahu, Pak.
beberapa waktu ke depan justru
kepercayaan itu akan datang kepada Bapak
karena investasi Bapak sudah masuk pada
level high return. Waktunya untuk
pengembalian dengan bunga yang sangat
tinggi. Karena Bapak sudah investasi
seumur hidup, Pak. Menjaga
profesionalisme itu, etika itu, dan
integritas itu seumur hidup. Pak Yudi
dan rekan-rekan semua ini berlaku untuk
kita. Jabatan pasti berakhir, namun
reputasi akan tetap tinggal.
Jabatan cuma sementara, tapi reputasi
itulah yang melekat pada diri kita. Dan
reputasi ASN dibangun dari hal-hal
kecil. Hal-hal kecil yang kita lakukan
dengan benar, tepat, dan bijaksana
setiap hari. Mulai detik ini, mulai
sekarang juga. Terima kasih. Selamat
siang. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya siap untuk berdiskusi
bersama Mas Lukman dan rekan-rekan.
Silakan.
Wow, thank you banget Kak Putri sudah
memberikan berbagai sentilan kecil itu
dengan sangat asertif ya. Yang paling
penting adalah bagaimana tadi kalau kita
sebagai seorang ASN itu kita tidak hanya
mencerminkan value-value dalam pekerjaan
kita itu di konteks profesional, tapi
juga dalam konteks pribadi kita. Bahkan
kalau tadi Kak Putri sempat bilang kalau
kita sudah punya media sosial itu
artinya itu sudah menjadi konsumsi
publik. Jadi apa yang kita lakukan itu
juga mencerminkan value kita sebagai
seorang ASN. Kali ini saya ingin undang
untuk sobat ASN yang ingin bertanya
kepada narasumber terakhir kita, silakan
bisa langsung aktifkan feature hand di
Zoom. Tapi sebelum itu saya boleh tanya
Kak Putri, ada satu pertanyaan yang
ganjel di pikiran saya nih. Kalau tadi
Kak Putri bilang ketika personal
branding itu salah satu yang ditonjolkan
itu adalah value gitu ya. Value itu yang
menjadi pondasinya gitu. Dalam hidup kan
seringkiali kita ada dua value yang
beriringan, personal dan juga
professional value. Okelah kalau di
pekerjaan kita sudah didapatkan tuh core
value ASN berakhlak itu kita sudah dapat
tuh profesional etis integritas gitu.
Tapi kan tidak bisa professional value
itu berjalan sendiri ketika kita tidak
punya personal value yang cukup kuat
untuk melakukan itu dengan konsisten
gitu. Pertanyaannya adalah bagaimana
cara kita bisa menemukan personal value
tersebut gitu ya. Karena saya yakin
tidak semua orang itu punya self
awareness yang tinggi gitu. Kadang kala
kita juga sulit untuk mengenali diri
kita sendiri. Kalau dari pengalamannya
Kak Putri seperti apa?
Punten, Kak Putri, suaranya masih ter
oke,
maafkan.
Pertanyaan sangat menarik, Mas Lukman.
Saya sendiri dapat pertanyaan itu. Ini
tantangan enggak cuman buat teman-teman
ASN ya, kita semua sebagai individu.
Ketika kita eh sebagai diri punya
personal life dan sebagai individu yang
berkarya punya professional life,
ada ekspektasi
culture yang diharapkan melekat pada
kita dalam situasi profesional
bermasyarakat. Tapi kita pribadi, saya
punya personal value dan punya personal
habit yang bisa jadi enggak ketemu
dengan apa yang jadi ekspektasi
masyarakat atau instansi tempat saya
bekerja.
Sebelum menjawab ini saya mau tanya
dulu.
Ee hari ini saya terakhir minum sebelum
subuh tadi.
Bapak, Ibu bisa menebak enggak kalau
saya terakhir minum sebelum subuh tadi?
Bagi sebagian orang akan melihat, "Mbak,
energinya kayak orang barusan minum"
gitu ya. Nah, kalau buat saya itulah
pilihan komitmen profesionalisme. Bukan
karena Anda sedang melakukan sesuatu hal
lalu itu berdampak pada diri Anda. Kalau
tadi bahasa Bu Dewi, enggak bisa ee apa
yang kita pikirkan itu dipengaruhi oleh
cara orang lain menilai kita. Enggak
bisa. Enggak boleh ditentukan dari
faktor eksternal. Itu harus dibangun
secara internal. Jadi, yang pertama
harus diketahui adalah saya punya value
apa? saya punya personal habit apa yang
itu bisa menunjang performa saya secara
profesional.
Kebiasaan-kebiasaan baik apa yang itu
bisa menunjang integritas saya sebagai
ee individu yang bekerja secara
profesional. Itu dulu pertemukan dulu
dua aspek itu. Personal habit yang baik
dengan ee standar budaya yang harusnya
kita penuhi. Nah, kalau udah mari kita
cari pelan-pelan apa yang kita belum
punya nih. Kita belum punya nih tapi
standarnya di sini. nih. Dan itu harus
dilakukan secara bertahap, pelan.
Jadi, enggak ada alasan
saya lagi sakit atau tadi malam saya
nonton bola Piala Dunia, saya ngantuk.
Sehingga hari ini dalam melayani saya
enggak bisa performa saya optimal. Oh,
enggak bisa. Anda suka bola, Anda nonton
bola. Malam sebelumnya Anda nonton bola,
Anda harus pastikan besok Anda tetap
fresh. Gimana caranya?
Karena kalau sudah begitu, itulah yang
disebut profesional, etis, dan
berintegritas. Jadi tahapannya
pelan-pelan pertemukan yang sudah baik
lalu pelan-pelan pertemukan yang belum
terpenuhi itu sehingga kemudian menjadi
sama baiknya. Bahkan bisa jadi ada
hal-hal yang Anda punya tapi budaya
kerja Anda belum memunculkan itu dan itu
bisa jadi bagian yang membuat Anda
kemudian dijadikan role model bagi
rekan-rekan kerja Anda. Bahkan membuat
Anda direkognisi sebagai sosok yang
punya ee kualitas lebih dan kemudian
mendapatkan kepercayaan lebih.
pelan-pelan potensi karir menjadi
seorang pemimpin. Semoga terjawab ya,
Mas Lukman dan Bapak Ibu yang bergabung
hari ini, Sobat ASN.
Thank you, Kak Putri atas jawabannya
yang sangat menarik sekali. Kali ini ada
Sobat ASN yang ingin bertanya dengan Kak
Putri. Ya, saya izin undang terlebih
dahulu untuk Sobat ASN yang sudah
mengaktifkan feature ada dari Pak
Ronald. Selamat siang, Pak Ronald.
Kasih ee kesempatannya. Ee mohon izin ee
saya ral dari Balai Pusat Pengembangan
Kompetensi SN 1 Kindageri.
Ee tadi saya tertarik nih sama Mbak Puti
yang video perkenalannya itu saya dari
kecil interpret gitu atau sekarang jadi
seperti ini gitu ya. Nah, saya ingin
tanyakan ee kiat sederhana mengendali
potensi diri bagaimana gitu sehingga
kita bisa menerima apa adanya lalu kita
bisa selesai dengan diri kita dan
sehingga kita bisa bangun personal value
dan personal planing yang lebih baik
gitu. Nah, kebetulan sesekali saya juga
mengajar untuk pelatihan dasar CPNS.
Kadang-kadang saya semangat kalau
konsatif, tapi kalau ada audiens yang
tiba-tiba di luar hapan, nah itu
konsentrasi saya itu sudah kuya, gitu.
Jadi kadang-kadang dikenal sebagai
pengajar yang aktif, tahu-tahu tiba-tiba
ya jadi kaku, jadi menjemukkan gitu.
Terima kasih ya.
Aduh,
Pak Ronald terima kasih. Ini saya
melihat sosok Bapak luar biasa.
pengalaman jam terbang sudah sangat
tinggi. Ee mentor juga bagi kawan-kawan
ASLN lain. Terima kasih. Yang luar biasa
dari Pak Ronat adalah dengan pengalaman
rekam jejak yang sedemikian panjang,
posisi yang juga enggak bisa dipandang
remeh, Bapak masih bersedia belajar. Itu
luar biasa. Itu sangat luar biasa.
Apalagi, Pak, belajarnya hari ini dari
tiga sosok yang tiga-tiganya berbeda
ini, termasuk saya yang mungkin secara
usia setahun lebih muda dari Pak Ronald
ya. Jadi, terima kasih Bapak sudah
hadir. Saya akan jawab pertanyaan yang
kedua dulu. tadi tadi Bapak sempat
cerita ee soal fokus atau energi yang
kemudian berubah di tengah-tengah ee
performance.
Kalau buat saya, Pak, saya kalau lagi
ada dalam situasi itu saya justru akan
kondisikan untuk itu menjadi gimmik
bagian dari gimmik. Jadi, misal saya
lagi bicara sesuatu lalu kemudian saya
lupa.
Tidak haram hukumnya, tidak berdosa Pak
Ronald untuk kemudian bilang, "Tadi
terakhir saya ngomong apa ya? Bapak, Ibu
ada yang ingat enggak? Ini bagi Bapak
Ibu yang ingat, Bapak Ibu sudah jelas
saya rekomendasikan nih ke depan punya
peluang untuk jadi fasilitator juga atau
trainer juga. Nah, padahal Bapak lagi
lupa tapi ternyata audiens mengingat apa
yang Bapak sampaikan. Jadi itu akan jadi
bagian dari gimik Pak. Sebetulnya itu
contoh, Pak. Contoh. Contoh. Lalu,
misalnya Bapak sedang ee ingin
menyampaikan sebuah informasi yang
sensitif
dan Bapak merasa ini ee perlu tidak ya
disampaikan. Bapak bisa menyampaikan
informasi yang berangkat dari data,
fakta, atau cerita yang memang muncul
lewat ee media. Kemudian Bapak minta
pandangan rekan-rekan yang hadir pada
forum di kelas Bapak untuk menyampaikan
pandangan. Jadi, seolah-olah ide gagasan
itu datangnya dari audiens, bukan dari
Bapak. Sehingga sesuatu yang sensitif
itu menjadi bahan diskusi bersama, bukan
sesuatu yang kemudian Bapak tembakan
sebagai bentuk brainwashing kepada
rekan-rekan yang hadir. Itu strategis
sehingga apa? Bapak akan rileks dan
audience akan melihat begini, selain e
proses belajarnya berlangsung
interaktif, audience akan melihat Bapak
sebagai sosok yang empatik. Tidak
sekedar menembakkan pesan dan merasa
bahwa statement Bapak paling tepat, tapi
Bapak merangkul audiens untuk berdiskusi
dan belajar bersama. Nah, berkaitan
dengan pertanyaan pertama tadi Pak
Ronald, em
semua pasti
punya masa di mana mengalami kesulitan.
ketika harus menghadapi situasi-situasi
yang sulit atau bahkan mempertemukan
personal value-nya dengan institutional
value. Dan itu tidak mudah, Pak. Sangat
tidak mudah. Sangat tidak mudah. Tapi di
saat yang sama kalau kan kita bicara ada
dinamika realita ya, Pak ya. Realita itu
kan enggak enggak ee solid, enggak
terjadi ee dari aksi A kemudian muncul
reaksi B gitu, enggak. Tapi dengan kita
belajar bahwa ternyata ada ruang
diskusi, dialektika, ruang di mana orang
kemudian belajar memahami bahwa kita
sebagai manusia pun ada kalanya juga
bisa jadi bikin salah, lupa, tampak
kurang kompeten, dan kita bersedia. Ini
yang paling penting. Bukan soal menjadi
sempurna, tapi mengakui secara terbuka
deklarasi, Pak, bahwa saya tidak
sempurna dan saya siap belajar bersama.
Jadi buat saya ketika ada personal value
yang enggak ketemu ee Bapak tadi bilang
Mbak Putri nih kan menceritakan kalau
Mbak Putri introvert.
Introvert ekstrovert itu bukan jaminan
seseorang menjadi public speaker yang
menawan, Pak.
Bukan karena seseorang ekstrovert lalu
dia terlahir dengan ee talenta menjadi
pembicara publik yang menawan. Tidak.
Karena masih ada aspek kekayaan
linguistik kosakata, Pak. kecerdasan
linguistik, yang kedua keterampilan
berkomunikasi dan kesediaan untuk tampil
praktik, praktik, praktik. Jadi bukan
tentang introvert, ekstrovert, tapi
tentang bagaimana kita mau terus belajar
dan sekalipun gagal kita enggak trauma
untuk bangkit lagi. Buat saya yang
terpenting itu, Pak. Dan mudah-mudahan
walaupun mm pertanyaan Bapak tadi kan
cukup saya tahu ada hal yang lebih
spesifik dan itu case study personal
dari Bapak yang tidak bisa Bapak
ceritakan pada pertemuan ini. Tapi
mudah-mudahan arah jawaban saya itu
menuju pada arah pertanyaan Bapak.
Kalau Bapak ingin diskusi lebih lanjut,
Instagram DM saya terbuka lebar, Pak.
Monggo menyapa. Saya siap untuk diskusi
lebih lanjut di ruang private untuk
kebutuhan profesional Bapak. Terima
kasih.
Terima kasih, Kak Putri untuk jawabannya
Pak Ronald. Terima kasih untuk
pertanyaannya. Semoga Bapak diberikan
kesehatan selalu. Jangan lupa untuk
kirim data diri ya, Pak ya untuk
pengiriman hadiah dari tim BPSDM Jatim
TV. Kak Putri. Tidak terasa sebenarnya
kami ingin mengobrol lebih banyak lagi
dengan Kak Putri. Namun karena
keterbatasan waktu, kami harus
mengakhiri sesi kali ini. Namun sebelum
itu, bagi sobat ASN yang masih setia
menunggu dan menyaksikan acara webinar
kali ini sampai dengan detik kali ini,
barangkali dari Kak Putri ada satu
closing statement yang ingin Kakak
sampaikan kepada teman-teman atau
sobat-sobat ASN yang masih setia melihat
acara siang hari ini. Silakan, Kak
Putri.
Wow, saya tidak punya personal closing
statement. Saya bantu ingatkan
teman-teman apa yang disampaikan Pak
Ramli, Pak Suko, dan Bu Dewi tadi
sebagai pengingat untuk bersama.
Personal branding bukan pencitraan eh
artificial. Membangun personal branding
adalah membangun konsistensi antara
kepribadian dan performa kinerja kita
sebagai ASN yang melayani publik,
masyarakat Indonesia. Maka untuk itu,
jadilah versi otentik terbaik diri Anda.
Jadilah versi otentik terbaik Anda
sebagai ASN. Dan bangun personality itu
bangun personal brand itu bukan untuk
Anda, tapi untuk membuat Indonesia
semakin sejahtera. Bayangkan apabila
masyarakat percaya kepada ASN,
masyarakat percaya pada pemerintah,
masyarakat percaya bahwa hal-hal yang
berkaitan dengan pelayanan publik mereka
dapatkan dengan sebaik-baiknya. Dan
bayangkan bagaimana wajah Indonesia ke
depan dengan kerja keras, kerja cerdas,
kerja ikhlas dari Bapak, Ibu yang
memberikan pelayanan.
Bismillahirrahmanirrahim. Saya yakin
Indonesia akan jadi negara maju. Amin.
Amin. Allahum amin. Kak Putri, thank you
so much. Semoga kita bisa bertemu
offline kapan-kapan. Semoga Kak Putri
juga diberikan kesehatan selalu dan juga
semakin semangat juga untuk membagikan
inspirasi dan juga pengetahuan kepada
rekan-rekan sekitar. Salam sehat selalu,
Kak Putri. Kita bertemu lagi di
event-event selanjutnya. Thank you, Kak.
Ya, tidak terasa Sobat ASN, kita sudah
berada di pengujung acara webinar ASN
belajar seri 4 tahun 2026. mewakili
kerabat kerja dan tim yang bertugas.
Kami mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada sobat ASN yang
sudah menyaksikan acara ini sampai
dengan siang hari ini. Sekali lagi kami
ingin menginformasikan dan juga
mengingatkan untuk jangan lupa mengisi
link presensi via Semesta Bangkom untuk
mendapatkan e-sertificate dari BPSDM
Jawa Timur. Dan webinar ASM belajar seri
4 tahun 2026 kali ini dipersembahkan
spesial oleh Corpu SDGIS BPSD Provinsi
Jawa Timur. Saya Lukman beserta tim yang
bertugas pamit undur diri. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Sampai bertemu di webinar
seri berikutnya. Bye bye.
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Marlah kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri.
Situt melengkuntabilitas
tinggi.
Heb
di sini tugas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi.
Bergandeng tangan
tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak.
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
kami dari sini tegas dengan hati
Tujuh kata kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan. Satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih beragung
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama di rembangan kami malam. melayani
dengan bang kami melayani
bangsa
H