Transcript
XqvoSrjIJYM • Apa Sewa Rumah Lebih Bijak Daripada Beli Rumah?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1367_XqvoSrjIJYM.txt
Kind: captions
Language: id
Tahukah kalian sekarang terjadi sebuah
perdebatan besar yaitu sebaiknya saat
ini tuh beli properti atau sebaiknya
sewa properti? Kita akan bahas semuanya
saling satunya.
Welcome to Success Before Thy Level Up
Podcast.
Pak Toni, welcome back to Level Up
Podcast ya. Selamat pagi, Pak Canton.
Selamat pagi. Salam hebat luar biasa,
Pak. Selamat, Pak. Luar biasa, Pak Toni.
Tadi saya opening iya sebuah hook di
mana saya cerita tentang perdebatan di
mana anak-anak zaman sekarang ini
terutama di kota besar, Pak. Iya. Yang
mana properti sudah semakin melejit,
melangit dan Genset ini yang first ini
ya, Pak ya. First beginner ya, bukan
orang tuanya Sultan ya. Iya. Ee orang
tuanya belum mampu ya, enggak mampu lagi
beli rumah di pusat kota. Enggak usah
ngomong di pusat kota, di pinggiran aja
udah enggak kebeli untuk para genset ini
meskipun gaji mereka sudah UMR. Iya.
Sehingga mereka prefer atau cenderung
untuk
sewa. Nah, Pak Toni setuju enggak? Ini
sebetulnya problem ini bukan hanya
problem ee anak-anak zaman sekarang,
Pak. Ya. I zaman kita dulu ya di
tahun 5 sampai 2000-an itu juga sama.
Orang-orang yang baru pertama kali
bekerja, H fresh graduate pasti akan
sulit untuk membeli rumah. Itu bukan
hanya problem daripada anak-anak saat
ini. Bukan cuman zaman sekarang ya. Iya.
Kayaknya setiap zaman sama ya. Setiap
zaman sama. Yang namanya fresh graduate
itu selalu susah untuk beli rumah.
Kenapa? Yang namanya fresh graduate kan
berarti income-nya masih kecil, Pak.
Baru pertama kali. Ya, biasanya ya
kalaupun bisa ya kita harus mau untuk
merelakan
daripada ee ws kita ya daripada
keinginan-keinginan kita untuk
disisihkan agar kita bisa punya rumah
seperti itu. Oke. Nah, jadi menurut
Bapak sebetulnya beli rumah sekarang itu
rugi enggak sih, Pak? Artinya gini,
kalau kita punya prinsip, oke,
katakanlah misalkan fresh graduate itu
susah, tapi misalkan dia sudah kerja 10
tahun, dia sudah mulai punya tabungan,
dia pengin punya rumah pertama, enggak
salah kan, Pak? Iya. Atau dia sewa dulu
tapi sampai satu level akhirnya dia
sudah bisa ngumpulin DP y untuk enggak
tahu beli apartemen kah i atau dia
mungkin DP rumah yang kecil kah. Betul.
Nah, itu menurut Bapak langkah yang
benar enggak kalau seperti itu? Langkah
yang tepat sekali. Langkah yang tepat.
Jadi intinya tetap harus punya rumah
pertama ya, Pak? Iya. Daripada uangnya
habis hanya untuk sewa seumur hidup ya.
Seumur hidup. Oke. Jadi profesinya ee
bukan profesinya ya, dia menjadi
kontraktor. Hm. bukan profesinya yang
kontraktor, tapi ee tiap tahun pindah
dari satu kontrak ke tempat kontrak yang
lain, dari tempat kos ke tempat kos yang
lain. Itu kan pindah-pindah itu juga
memerlukan effort, memerlukan apa
namanya ya banyak hal lah. Jadi kalau
barang dipindah-pindah kan gampang rusak
juga. Ini ada sebuah statement lucu,
Pak. Tapi sebenarnya menurut saya juga
boleh dipikirkan komplain utama sekarang
mereka beli rumah harganya Rp300 juta,
terus developer jualnya R00 juta.
Akhirnya kena KPR jadi R800 juta, Pak.
15 tahun sampai 20 tahun. Bayangkan
rumah R00 juta dia harus beli Rp800
juta. Apa benar sih harus beli tetap
beli rumah pertama? Menurut Pak Toni
gimana? Ya, R juta itu kan harus
dihitungkan ya, Pak ya, dari harga
tanah, kemudian biaya pembangunan.
Otomatis yang bangun pun kan butuh
profit, Pak. Kalau enggak kan enggak
mungkin biaya vasum ya. Iya, biaya vasum
segala macam. Jadi kan wajar kalau rumah
yang kalau dihitung-hitung R00 juta itu
R00 juta itu wajar. Iya kan? Nah, kalau
kemudian ke R00 juta itu kan karena ada
biaya bunga, bunga KPR dan saat ini
bunga KPR bisa dikatakan rendah, Pak. Di
zamankan tahun 95 2000 itu ee bunga KPR
bisa 20% ke atas. Iya. Iya. Sekarang
bunga zaman kita ya, Pak ya. Iya. Zaman
kita sekarang lebih murah bunganya,
lebih manusiawi 10%. Kenapa? Karena saat
ini kan ee biaya untuk apa namanya? Bank
memiliki menarik deposito itu kan
bunganya rendah juga lebih rendah. Jadi
nyut nah sehingga bunga KPR pun lebih
rendah. Dulu bunga deposit itu bisa 24%
loh Pak. Betul. Nah itu pada saat bunga
depos 24% itu KPR-nya bisa 32% Pak.
Setuju. Nah itu kulaknya mahal. Kulaknya
mahal bahasanya kulaknya mahal. Berarti
intinya, Pak, kalau kita enggak segera
memiliki rumah pertama, bahkan rumah
Rp800 juta pun enggak kebeli gitu ya,
Pak ya? Ya, dicoba aja. Hm. Kalau kita
ee istilahnya
nabung selama 20 tahun terkumpul uang
R00 juta. Pertanyaannya 20 tahun lagi
ada enggak rumah Rp800 juta? Rumah Rp800
juta 20 tahun lagi. Jangan-jangan sama
kayak rumah sekarang yang mungkin
harganya 5 M. Iya. Dulu. Nah, ini tak ee
saya pada saat bekerja tahun 96 saya
masih ingat rumah yang ukuran 36 Heeh.
di daerah pinggir kota itu harganya 70
sampai Rp0 juta lah waktu itu ya waktu
itu ya tahun '96. Tahun '96. Kan Bapak
mau merit tuh pasti sudah mulai mikir
kan harus punya rumah pertama dan
sebagainya. Betul. Nah itu 7080 juta Pak
di pinggir kota I. Nah, kalau sekarang
misalkan 2025 ya, 29 tahun kemudian H
saya mau beli rumah di pinggiran kota
Rp0 juta di lokasi yang sama, bisa
enggak, Pak? Susah. Bukan saya katakan
susah, Pak. Sudah pasti enggak karena
tanah ee rumah yang mau saya beli dulu
harganya Rp0 juta itu sekarang harganya
sudah M, Pak. Iya. Jadi kalau saya
nabung ngumpulin selama 30 tahun Rp0
juta. Rp0 juta saya belikan rumah
terbang, Pak. Harga properti tidak
pernah naik, Pak. Harga properti tidak
naik, tapi harga properti itu terbang.
Jadi, bagi para sahabat SP30 yang saat
ini genset atau milenial ya, yang Anda
masih kepikir sewa tidak salah, tapi
statement dari Pak Toni bisa
dipertimbangkan. Iya. Kalau Anda enggak
memulai sekarang 20 tahun lagi semakin
gak kebeli gitu ya, Pak. Iya. Kenapa?
Karena Tuhan sudah tidak menciptakan
tanah lagi bagi kita. setuju. Tapi Tuhan
masih menciptakan anak i bagi orang yang
mau membuat anak gitu kan. Dan
permasalahannya banyak orang hobi buat
anak. Betul enggak? Betul. Betul. Jadi
populasi manusia terus bertumbuh tapi
tanah tidak lagi bertumbuh. Iya. Jadi
hukum supply and demand kan Pak siap.
Kalau supplynya tetap demandnya terus
bertambah ya harga tanah akan terus naik
Pak. Makanya salah satu instrumen
investasi adalah beli kita membeli tanah
dan membeli properti. Tanah. Siap.
Sekarang gini, Pak. Pertanyaan
berikutnya. Ada tips enggak, Pak? Oke
deh. Kalau gitu saya tertarik nih beli
rumah pertama. Ada enggak tips, Pak,
kalau mau beli rumah murah itu gimana?
Jadi butuh apa aja? Punya cash keras kah
atau cicilan? Apa menurut Pak Toni?
Supaya saya kebeli deh, Pak. gitu loh. I
kalau memang kita bisa punya
penghasilan yang multiple source of
income yang pernah saya kupas di
berbagai podcast kita sebelumnya ya.
Nah, kalau kita punya multiple source of
income ya otomatis
kalau kita punya cash kita bisa kerja
keras, punya duit banyak kita beli cash
itu pasti kondisinya lebih murah
daripada nyicil Pak. Itu pasti. I iya
kan? Nah, dan yang kedua kalau cash itu
pilihannya banyak Pak. Iya, kita lebih I
cari gimana caranya yang murah ya? Cari
yang orang itu menjual murah ya katanya
BU ya atau BUB butuh uang banget gitu
kan. Nah itu pasti harganya murah. Nah
apalagi kondisi sekarang banyak ya. Saat
ini banyak. Kenapa? Karena kan kondisi
saat ini kan ya banyak orang mengatakan
ee kondisi Indonesia tidak baik-baik
saja sehingga banyak sekali rumah yang
dijual ya saat terjadi bumbung properti
itu hampir jarang loh Pak ada tanah
dijual rumah dijual itu jarang plang ya
papan-papan itu jarang nah saat ini
banyak nah saat bertebaran seperti ini
berarti banyak rumah seal Pak Hmm iya ok
nah kalau kita punya cash tinggal kita
pilih gitu jadi intinya apapun itu mau
mau hard cash atau mau KPR intinya tetap
harus dimulai gitu ya, Pak. Iya. Nah,
tapi kalau bagi orang yang waduh saya
kalau beli cash susah. Iya. Nah, ya Anda
harus mau KPR KPR. Rumah baru atau rumah
second?
Ee kalau saya, saya lebih suka rumah
second. Oke. Iya. Kenapa? Tapi itu
prinsip ya, Pak ya. Kadang ada orang
sukanya rumah baru. Iya, rumah baru kan
kelihatan baru semua, Pak. Nah, kalau
rumah se atau beli tanah terus bangun
sendiri gitu. Ada orang suka kayak gitu.
Ada yang suka seperti itu. Tapi biasanya
yang suka seperti itu ee biasanya orang
yang punya uang, Pak. Ada se kalau Pak
Toni istilahnya yang punya jadi yang
maksudnya punya uang itu punya
idealisme. Oh, kalau jadi dia pun ee
punya uang beli tanah bangun sendiri.
Kalau Bapak rumah
second, Bapak ambrukkan dulu barus Bapak
bangun ulang atau Bapak langsung depati?
Eh, direnovasi, Pak. Kita kenapa kok
saya suka rumah second? Cari yang
harganya miring, Pak. Oke. Nah, harganya
miring. Nah, kemudian kita suka
lokasinya, kita renovasi. Nah, itu
biasanya kalau kita jual kembali itu
biasanya naik. Nah, kalau kita tempati
itu ya otomatis harganya lebih murah,
Pak. Oke, siap. Terus, Pak, lebih bagus
mana beli rumah di perumahan yang
harganya udah digoreng sama developer
jadi tinggi atau bangun sendiri risiko
mahal tapi dibalak sama kontraktor?
Nah, dalam hal ini kalau kita mau
praktis, yes, ya. Belilah lewat
developer. Hm. Itu praktis, Pak.
Surat-surat menyurat semuanya kan ee
kalau developernya benar ya, Pak ya.
Cari developer besar itu lebih aman,
Pak. Betul. Betul. Tidak mungkin
sertifikatnya ganda, ya kan? Nah, kalau
kita beli tanah kemudian kita bangun
sendiri ada risiko kalau kita tidak
mengerti surat, enggak ngerti harus
ngeceknya gimana di beberapa lokasi
kadang-kadang bisa kena sertifikat
ganda. Tapi kadang-kadang kalau kita
justru KPR kan malah lebih aman ya
karena bank akan jauh lebih teliti dan
lebih cerewet daripada kita karena bank
yang ngeluarin duit kan Pak ya. Betul.
Betul. Karena biasanya kalau kita ke
bank itu pasti harus lewat notaris.
Notaris checking ke BPN segala macam.
Terus kemudian ya bank pun juga ee
biasanya melakukan semacam survei ee
harganya benar enggak segala macam. Nah,
itu memang lebih enak sih. Oke, Mbak.
Peran terakhir, Pak, untuk mengakhiri
perdebatan
ini. Tipsnya paling bagus mana sebaiknya
sewa rumah atau kita paksa kita beli
rumah di pinggir kota atau nabung dulu
di instrumen investasi lain selagi
muda. Nah, ini penting, Pak. Karena
namanya anak muda ini kan maunya yang
paling cepat, Pak. Ya, saya kalau taruh
duit di rumah nanti betul saya punya
rumah, tapi bisa jadi lebih baik
daripada uang saya saya belikan rumah
saya taruh di instrumen lain yang
kenaikannya lebih cepat ee 10 tahun
lagi. Dan akhirnya 10 tahun lagi saya
tetap bisa beli rumah tapi lebih bagus
daripada saya nyicil yang tak
perkesudahan ini. Nah, namanya anak muda
ini kan tetap pengin cepat gitu loh.
Saran Bapak rumah dulu atau instrumen
investasi yang lain dulu?
itu choice, Pak. Ya, jadi setiap orang
bisa punya pilihan. Cuman ee pada
umumnya ya
kalau kita memang kepengin betul-betul
punya rumah ya kita harus mau membayar
harganya, Pak. H setuju. Membayar
harganya dengan apa? Ya kita harus
membayar harga dengan mengelola uang
dulu, Pak. Betul. Nah, kita harus menata
dulu. Iya. Iya. Nah, saya biasanya
menyarankan orang untuk men lima pos
keuangan. Lima pos keuangan. Apa aja
itu, Pak? Yang pertama dia harus
menyisihkan uang untuk posnit untuk
kebutuhan sehari-hari. Kemudian poson.
Nah, pos-nya ini yang di remak. Iya.
Supaya kita bisa mulai melakukan saving
and investment. I. Nah, kalaupun kita
mau ngambil utang, jangan utang yang
konsumtif, tapi utang yang produktif.
Iya. Yaitu utang yang bisa untuk
menghasilkan ke depannya. Salah satunya
utang produktif yaitu KPR, Pak. Iya. I.
Jadi pada saat kita sebetulnya menabung
di KPR itu kita mengambil utang tapi
sekaligus sebetulnya menempatkan itu di
posisi pos investasi. Jadi utang kita
masuk ke dalam pos investasi. Jadi
utangnya utang positif. Betul. Yang mana
ya dengan kita mempunyai rumah itu kan
kita sudah hemat, Pak. Hemat uang sewa.
Iya. Satu. Iya. Yang kedua, hemat uang
pindah kontrak dari tahun ke tahun. Iya
kan? Yang ketiga, kita bisa membeli
barang sudah permanen di sana. Kita bisa
men-setting dulu. Iya. I. Nah, jadi ee
kita punya plan dalam 5 10 tahun ke
depan kita sudah tahu bahwa kita akan
tinggal di rumah itu. Hm. Nah, setelah
mungkin 10 20 tahun KPR-nya habis, mau
punya rumah yang lebih bagus silakan
seperti itu. Nah, tapi kita betul-betul
sudah menata kehidupan kita sejak awal.
Oke, Pak. Kalau saya pengin belajar
lebih dalam, ya. Baik, saya masih
bingung nih, pengin konsultasi lebih
pribadi. Iya. Termasuk ya saya pengin
cerita kondisi keuangan saya. Iya. Saya
pengin nih konseling pribadi sama Pak
Toni atau mungkin sama saya ya, Sahabat
SP30. Yang terbaik saya ini punya rumah
dulu, apartemen dulu atau investasi dulu
atau emas dulu atau saham dulu. Bingung,
Pak. Saya, Pak. Iya. Kira-kira kita ada
workshop enggak, Pak, untuk membahas
ini, Pak? Ada, Pak. Dan saya akan
sharing mengenai bagaimana caranya saya
bisa punya rumah pertama, kemudian saya
bisa punya instrumen-instrumen investasi
yang lain. Betul. Iya. Dalam workshop
tersebut. Intinya saya di workshop ini
selain saya ini mencurhatkan kebingungan
saya ya artinya saya ini sudah punya ee
kayak salah satu mungkin calon peserta
workshop kita ini juga bilang saya ini
punya duit lebih nih ya saya ini mau
tabung dulu atau buka cabang lagi ya ya
kan nah itu nanti juga menjadi salah
satu peserta workshop kita nah hal-hal
seperti ini itu bisa ee kita diskusikan
di workshop kita nanti, Pak ya tanggal
31 Mei dan 1 Juni.
202. So, Anda cepat klik link di
deskripsi sekarang juga. Dan kita juga
ada tamu ya, Pak ya. Iya. Heeh. Kita ada
ee narasumber yang lain di samping kita
berdua yaitu Bang Sandiaga Uno. Keren.
Yang mana beliau juga mengawali
bisnisnya di masa krisis, Pak. Ya. Masa
krisis. Nah, dan saat itu dan jadi
miliarder di saat krisis. Iya. ya justru
dia mengatakan bahwa beberapa daripada
investasinya dia yang paling berhasil
itu ditempatkan pada saat masa krisis.
Nah, itulah kita harus belajar dari
orang-orang seperti ini sehingga kita
bisa lihat opportunity. Tapi sekali lagi
itu semua nanti akan dibahas di workshop
yaitu sesuaikan dengan profil risiko
kalian. Jadi apakah kalian itu agresif
atau kalian itu moderate atau kalian itu
yang ee tidak terlalu agresif. Iya. Nah,
itu semua disesuaikan. Soalnya kalau
enggak sesuai profi resiko bahaya juga
itu. Iya. Heeh. Jangan sampai salah
penempatan gitu ceritanya. Dan saya ee
kemarin sudah ngobrol sama sahabat saya
yang kemarin juga ngisi workshop kita.
Iya. Iya. Yaitu Profi. Iya. Kabarnya dia
juga mau berbagi, Pak. Eah. Untuk ee
sharing-sharing tentang gimana sih
memilih saham yang murah i dalam kondisi
seperti ini ya. Iya. Nah, tapi snya yang
kali ini karena dia hanya sebagai gu
speaker hanya 2 jam saja. 2 jam aja. I
intinya kita bisa cukup belajar 2 jam
ya. I dari Proferi sahabat SD 30 sharing
kita cukup luar biasa Pak Toni. Daripada
kita debat terus enggak ada habisnya.
Sewa atau beli beli atau sewa terus.
Mereka yang sewa juga punya teorinya
sewa. Yang beli punya teorinya beli.
Jadi Anda tim sewa atau tim beli? Tulis
di kolom
komen Anda mau tim kontraktor seumur
hidup atau memulai cicilan pertama untuk
punya rumah. Ya kan? Intinya Anda hari
ini daripada debat terus kalau Anda
serius pengin belajar dan tahu
portofolio yang terbaik untuk
disesuaikan dengan kondisi kalian. Jadi
ibaratnya gini ya kalau saya boleh
closing statement itu seperti ini. Ee
kalau kalian itu sakit ee kolesterol
jangan minum obat diare gitu loh Pak ya.
Iya. Jadi minumlah obat yang tepat
sesuai dengan penyakit kalian. Sama juga
nata keuangan kayak gitu, Pak ya. Jangan
sampai kita invest kalau tidak sesuai
dengan karakter dan portofolio dan
profit risiko kita, Pak. Ya. Ya. Dan
sesuai dan disesuaikan dengan pekerjaan
kalian, kan ya. I. Nah, kalau Andaat e
investasi ke portofolio yang pas, saya
khawatir kalian salah ngikutin orang
lain, ngikuti trip orang enggak
disesuaikan dengan portofolio kalian,
enggak disesuai dengan profit resiko
kalian, enggak disesuai dengan pekerjaan
kalian, enggak disesuaikan dengan sumber
income utama kalian, malah nanti
kejeblos ya. Jangan dan jangan fomo
karena banyak juga orang yang beli
properti karena fomo, Pak. Siap. Baik,
terima kasih sahabatu. Kita tutup ee
podcast kita hari ini. Sukses untuk
Anda. Sampai jumpa di puncak kemakmuran
dan salam hebat. Luar luar biasa. Tapi
saya melihat bahwa ini temporary karena
memang tekanan dari situasi perekonomian
global, geopolitik, perang dagang dan
juga ada ee situasi internal marketnya
seperti ini. Ini kesempatan kita
berbenah dan gunakan don't waste a very
good crisis. Karena crisis itu pasti
akan ada silver lining-nya, akan ada
peluangnya di balik eh krisis tersebut.
Setuju orang sukses itu mencintai
crisis?
Yes, some of my best investments is made
during crisis. Pokoknya gini loh, Pak
Sandi ini yang saya tahu dari podcast
kita yang lalu kan lahir di saat crisis
dan sekarang ini saya tadi sudah sempat
spill orang sukses mencintai crisis.
Jadi dengan kata lain, Pak Sandi ini
mencintai crisis.
Waktu podcast cuman 15 menit, 30 menit
enggak bisa. Nah, perlu waktu yang cukup
panjang gitu. Sahabat SP30 pengin enggak
belajar sama Bang Sandi langsung? Kita
kebetulan mengundang dengan hormat di
podcast ini ya. Bang Sandi bersedia ya
hadir di workshop kami ya. Insyaallah.
Yes. Catat tanggalnya 31 Mei sampai 1
Juni. Langsung klik link di deskripsi
sekarang juga untuk Anda jangan sampai
ketinggalan. Nanti Anda akan belajar
dari Bang Sandi langsung apa yang beliau
smell, apa yang beliau sense waktu
crisis di 98.
[Musik]