Transcript
S1lTQH7W4rA • 7 Kebiasaan Orang Tionghoa Yang Bisa Buat Cepat Kaya (Hanya Keturunan China yang Dapat Ilmu Ini)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1375_S1lTQH7W4rA.txt
Kind: captions Language: id Kalian lihat ya di lingkungan sekitar kalian ketika kalian menemukan orang Chinese yang sekarang disebut dengan cindo. Hidup mereka itu hemat. Hidup mereka itu tidak berfoya-foya. Tapi tiba-tiba ketika mereka ada musibah, ada masalah, mereka enggak bingung cari tetangganya. Tapi mereka tuh sudah aja ada tabungan, ada simpanan. Nah, kenapa kok orang Tionghoa itu bisa seperti itu? Nah, di video kali ini saya akan berbagi semuanya vulgar, tidak ada yang saya tutupi. Semoga Anda bisa menangkap apa yang saya sampaikan melalui video ini. Welcome to Success before 30 Business and Financial Mentoring. Sahaterpreneur, salam hebat luar biasa. Selamat datang kembali ke Bisnis and Financial Mentoring. Video kali ini saya akan berbagi tentang e mengapa sih kok orang Tionghoa itu kalau masalah kelola keuangan itu jago. Kenapa kok orang Tionghoa kaya-kaya gitu? Berarti enggak semuanya. Cuman prinsip-prinsip apa yang diajarkan dan ditanamkan di keluarga orang-orang Tionghoa itu akan saya bagi semuanya melalui video ini. Masalahnya kenapa? Karena orang Chinese itu kalau masalah keuangan memang tidak tabu. Contoh adalah waktu saya kecil, saya itu masih ingat saya itu diberikan uang saku Rp100 waktu itu tahun 0-an. Rp100 itu cukup untuk kalau jajan di e kampung atau di sekolah itu cukup untuk beli satu makanan. sama minuman bawa sendiri ya. Makanan itu mungkin cuman donat atau nasi bungkus yang kecil Rp100. Mungkin zaman sekarang mungkin ya katakanlah sekitar ya Rp10.000 lah ya enggak sampailah mungkin katakanlah sekitar R8.000. Nah itu saya alami. Cukup enggak cukup uang itu harus cukup. Jadi kalau mau merengek apapun kita harus pikir otak, pikir cara itu budgetmu 1 hari. Nah, ini pengalaman saya pribadi. Jadi, entah saya kelaparan, entah saya itu pengin jajan lebih ya harus putar otak caranya gimana. Kamu harus lebih. Jadi, uang itu harus kerja bukan hadiah. Orang Tionghoa itu pantang meminta-minta. Ini salah satu ciri khas orang-orang Tionghoa. Jadi mereka tuh malu kalau minta gitu loh. Eh, aku minta dong. Malu. Karena mereka merasa kalau saya mau dapat sesuatu, saya harus bekerja sesuatu. Jadi tolonglah ee bagi saya duit loh. Terus orang ngomong, "Wah, berarti orang Tionghoa gengsi dong." Ini bukan masalah gengsi, ini masalah mindset. Nah, mindsetnya orang Tionghoa itu benar-benar mereka itu kalau mau dapat sesuatu ya harus bekerja ya, harus berusaha. Enggak ada semua itu hasil giveaway itu enggak ada. Makanya mental giveaway itu bagi orang Tionghoa itu adalah aib. Saya sejak kecil pun sangat pantang diajarkan untuk meminta sama teman apalagi sama tetangga. Uh, itu saya bisa diajar habis-habisan sama orang tua saya. Karena orang tua saya selalu mengajarkan segala sesuatu didapat itu dari pengorbanan. Segala sesuatu didapat dari kerja keras. Tidak ada sesuatu itu langsung jatuh langit dari Tuhan. Jadi kalau kamu menang undian berhadiah itu kebetulan dan itu bukan jadi andalan utama. Kalau apalagi di sosmat sekarang banyak mental-mental giveaway ya. Kamu hari ini disawer orang jangan bangga gitu. Itu membuat mentalmu rusak. Karena enak ya saya disawer ya, kok dapat duitnya gampang banget gitu. Itu jangan senang-senang dulu karena berarti di otakmu kamu mendapatkan sesuatu itu ternyata harus dengan bikin drama gitu, bikin narasi, bikin cerita sehingga mengetuk hati orang sehingga orang itu mau nyawer dirimu. Itu paling anti bagi orang Tionghoa. Terus bukan cuma disuruh nabung, tapi juga belajar bedain keinginan sama kebutuhan. Ngerti untung dan rugi. Bahkan uang jajan pun harus sering cari dulu. Bantu di toko keluarga. Contoh kayak saya. Saya itu mau dapat permen Mentos aja. Waktu saya SD kan namanya anak SD dikasih permen Mentos doyan lah. Saya harus kerja dulu, magang dulu di toko paman. Minimal magang 2 jam baru saya pulang bawa permen. Jadi enggak ada saya tuh minimal 2 jam harus jaga toko dulu. Enggak ada saya ceritanya tinggal ngambil permen gitu terus nanti hitungan belakangan gitu atau ngebon di warung. Bu makan dulu nasi ya. Nanti ngebon dulu, kasbon dulu. Bayarnya kapan? Nanti kalau gajian. Enggak ada. Itu enggak boleh. Kalau orang Tiong kayak gitu tuh. Nah, dari sini kita bisa tahu perbedaan mindsetnya. Bersih-bersih kek atau jaga warung kek, apapun itu kita harus barter dengan jasad dan tenaga kita. Jadi, anak SD bantu jagain toko pas libur tujuannya bukan nyuruh kerja keras, tapi ngajarin tanggung jawab dan menghargai proses cari duit. Jadi, sejak kecil kita sudah diajarkan seperti itu, gitu. Terus yang kedua, hidup sederhana anti pamer. Uh, kalau kami pamer sesuatu, wah pulang itu sama orang tua itu bisa saya dihajar. Karena ayah saya ini kan termasuk killer juga ya. Ayah saya ini penganut Tiongoatulen. Jadi sejak kecil kalau kita itu tidak ngikutin aturan sabuknya itu sudah keluar, rotannya itu sudah keluar. Jadi pulang itu kaki saya sudah pasti merah-merah semua ya. kadang berdarah gitu loh. Jadi kena penjalin atau kena rotan itu dihajar sejak kecil dan dia enggak betuli. Saya mau nangis apapun tetap dihajar yang menghentikan ibu saya. Tapi dari situ saya mungkin mungkin bagi sebagian besar orang Anda mungkin berkata, "Wah, itu kekerasan zaman sekarang KDRT atau mungkin penganiayaan anak kecil kena hukum HAM sekarang." Tapi sadar enggak ketika diterapkan itu semua maka anak Anda itu bermental lembek. Kalau anak Anda bermental lembek itu mutlak sara orang tuanya. Saya memang tidak membenarkan perilaku ayah saya, tapi benefit yang saya dapatkan adalah saya mentalnya pekerja keras. Bayangkan saya bikin success before 30 ini aja udah sejak 11 tahun yang lalu. Mungkin banyak content kreator 11 tahun yang lalu udah berhenti ngonten, berhenti bikin konten udah enggak tahan. Saya sampai detik ini termasuk contonent kreator lama yang masih bertahan dan konsisten bikin konten berapa pun view-nya. Itu menunjukkan bahwa kalau kamu mau sukses itu harus berkorban. Enggak ada sih kiranya Anda mau sukses itu dari giveaway itu enggak ada. Bahkan kami paling anti giveaway juga. Jadi buat mereka kekayaan itu bukan buat dipamerin. Kalau bisa beli baju bagus ya dipakai waktu perlu aja. Waktu itu mungkin Imlek atau tahun baru ya udah selesai. Bukan tiap hari pamer baju baru terus diposting di Instagram terus mau terlihat soal kaya. Oh itu kami bisa pantang banget gitu. Sisanya cukup fungsi dan rapi. Mereka percaya nilai sesean bukan dari tampilannya tapi hasil dan kontribusinya. Contoh, banyak militer Tionghoa di Indonesia bajunya simpel kan. Batik aja simpel enggak norak cincinnya di mana, jam tangannya di mana, dipamerin di mana, terus gayanya seperti ini. Ya itu kan ngundang syiriknya orang. Saya lagi ngomongin siapa gitu. Tapi intinya orang Tionga paling nganti seperti itu. Anda perhatikan deh. Sembilan naga di Indonesia bajunya biasa itu jam tangannya biasa enggak ada yang dipamerin. Ya karena orang Tiongoa memang seperti itu ya. Beda mungkin kalau non Chinese ya. Saya enggak tahu lagi ya. Mungkin kalau pas saat hari raya gitu ya, itu kan saatnya pamer tuh biasanya bajunya harus glamur, ee perhiasannya harus kelihatan wow, ditunjuk-tunjukkan, jadi dihambur-hamburkan gitu loh. Seolah-olah show off itu kan mengundang syirik matanya orang ya. Dan akhirnya ujung-ujungnya ngutang entar kalau ngutang enggak dibalikin ngamuk. Nah, itu bukan budaya orang Tiongh gitu. Jadi, pagan nyetir sendiri, makan di tempat biasa. Makanya saya itu sering banget waktu saya itu kalau saya podcast dan beberapa bintang tamu saya itu nanya, "Pak Candra ajudannya mana?" gitu. Saya bilang, "Ya, ajudan saya mungkin ada satu dua, saya enggak pakai banyak loh, Pak. Kalau namanya public figure itu kan biasanya ajudannya itu 10 gitu. Saya ngomong, "Buat apa?" "Pemborosan." Saya pernah diundang kampus waktu itu di Bali, di Singaraja, Surabaya. Saya berangkat dari Surabaya ke Singaraja itu malah naik kereta. berhenti di Banyuwangi, terus naik kapal terus dijemput naik mobil biasa sama mahasiswa Singaraja. Saya bilang, "Loh, Pak Canda, kenapa enggak Denpasar?" Daripassar kan kita jemput sama aja. Saya kan bisa lebih menghemat di kereta kecuali waktu itu saya enggak buru-buru gitu loh. Nah, saya itu selalu berpikir efisiensi toh ini lebih murah, lebih efisiensi, saya bisa mengerjakan banyak hal. Dan akhirnya mahasiswa yang jemput saya, dia bilang, "Loh, Pak Candra pengawalnya mana? Ajudannya mana?" Saya ngomong, "Emang pentingkah ajudan? Emang pentingkah pengawal? Nah, mereka yang kaget. Pak Candra sudah kaya raya tapi kok sederhana banget. Ya, itulah orang Tionghoa. Orang Tionghoa itu pantang untuk berboros-boros. Kami itu paling dihajar kalau masalah pemborosan. Betul-betul. Kalau enggak perlu pun handphone ini pun kalau enggak rusak enggak akan ganti kita orang Chinese. Ya, enggak mungkin kita tuh beli setahun sekali terus tahun depan ganti lagi. Enggak mungkin. Orang Chinese enggak gitu didiknya. Jadi bahkan karena pelit, tapi karena fokus mereka tuh bukan butuh validasi dari orang lain. Butuh pengakuan tetangga, butuh tepuk tangan, enggak, enggak seperti itu, gitu. Jadi hidup sederhana anti pamer orang Cina ini siapa penampilan ya kayak gini aja ya, biasa aja. Kacamata yang penting berfungsi bagus. Merek nomor dua gitu loh. Bahkan ayah saya selalu mengajarkan kamu tuh kalau pakai barang bermerek ngundang pencuri katanya. ngundang pencuri, ngundang penjahat untuk maong kamu. Makanya ayah saya kadang-kadang enggak pakai dompet. Dia duitnya diselip di kantongnya aja. Saya tanya, "Loh, Pah, duit itu kan kan kotor kalau ditaruh dompet kan bersenton dan kulit ya daripada ngundang perapok katanya." Ya kadang-kadang ekstrem juga sih, tapi saya pakai dompet juga gitu tapi ya zaman sudah berubah. Tapi saking ekstremnya seperti itulah didikan orang tua saya tentang hemat kepada anak-anaknya. Nah, dari sini kita bisa tahu prinsip orang Tionghoa itu memang beda dan itu sudah turun-temurun dari sonokonoknya gitu. Yang ketiga, nabung agresif dan anti utang konsumtif. Orang Tiongho itu kalau bisa suka beli barang cash, gak mau utang ya. Kalaupun utang hitungannya itu pasti rumit. Dia mau cari bunga yang paling murah, yang paling menguntungkan. Jadi enggak mungkin. Apalagi kalau sekarang orang Tionghoa itu eh kalau benar ya ada payeter atau itu dihitung benar-benar enggak mungkin melakukan sesuatu itu pelater tuh misalkan atau pinjol gitu ya hutang sejuta yang dicairin cuman Rp800.000 balikinnya 1,2. Itu orang Tiongo udah bisa hitung tuh R1 juta pinjamnya dapatnya 800 balikin 1,2. 800 ke 1,2 itu kan R00.000. Orang Tiong pasti enggak mau. Kenapa? Sekepet apapun dia akan pasti cari cara yang pinjam uang yang kalau dia butuh duit yang bunganya semurah mungkin dan gak asal pencet-pencet gitu aja. Anda coba perhatikan itu orang Chinese asli. Jadi dia akan cari bunga yang serendah-rendahnya. Nah itu dia. Dan bagi mereka uang itu alat bertahan hidup. Makanya mereka juga anti utang konsumtif. Mereka tuh kalau KPR enggak mau panjang-panjang ya kan. Kalau KKB itu enggak mau panjang-panjang. Bukan tambah panjang tambah enak. Kalau orang orang non Tiongha ya biasanya yang saya tahu ya kadang-kadang mereka tuh yang penting wah angsurannya kecil tapi enggak dihitung. Angsuran kecil berarti jangkanya tambah panjang. Kalau jangkanya tambah panjang kan berarti bunganya semakin besar. Mereka enggak ngitung ke situ. Orang dewa kalau bisa seminim mungkin kalau bisa setahun selesai. Jadi enggak mau lama-lama atau 2 tahun. Kalau KPR kalau bisa maksimal 5 tahun. Jadi mereka itu enggak mau lama-lama. Enggak mungkin mereka KPR 15 tahun, 20 tahun. Enggak mau mereka. Karena yang dihitung itu bukan cuman angsurannya, tapi juga dihitung bunganya. Nah, itulah utang konsumtif. Mereka sangat enggak mau. Mau beli motor atau HP baru, mereka akan tahan sampai benar-benar ada dananya. Bukan asal pencet-pencet beli terus bayar pakai peleter. Enggak seperti itu. Ya, itu orang Tionga. Makanya banyak orang ngomong orang Tionga kan pelit. Orang Tionghoa kan asal keluar duitnya susah. Ya karena memang dapatnya juga susah. Ya, Anda harus tahu itu. Makanya sekarang Anda jangan syirik sama orang Tiongoa kalau mereka itu kaya raya tapi masih tetap sederhana. Kadang bahkan mereka itu tinggal masih di rumah lama tapi duitnya banyak gitu. Dan mereka mengeluarkan uang sesuatu itu pasti dipikirkan enggak asal keluar tapi pengembaliannya gimana. Uang ini kalau saya keluarkan nanti kembalinya seperti apa. Nah, inilah perbedaan orang Chinese ya. yang asli ya seperti itu. Nah, tapi sekarang anak-anak muda Chinese juga banyak yang ngawur sih ya karena pengaruh sosmet juga, pengaruh influencer juga. Jadi kadang orang-orang Chinese zaman sekarang ya terjadi hampir di seluruh dunia juga sepertinya mm juga gampang bervoya-foya juga. Dikit-dikit suka ngave juga dikit-dikit juga suka ee keluarkan uang itu juga enggak pakai mikir. Nah, itu kadang-kadang ee harus dipikirkan baik-baik ya. Jadi prinsip-prinsip seperti orang tiongong yang saya ajarkan di sini itu sangat terjadi ya di kehidupan zaman sekarang terutama dirikan orang tua dulu. Keempat investasi di aset nyata. Tabungan itu penting tapi investasi itu jauh lebih penting. Mayoritas orang Tionghoa itu menaruh uang mereka itu ke properti dan emas karena mereka percaya aset nyata itu tahan inflasi dan bisa diwariskan ke anak cucu. Itulah sebab kenapa saya selalu mengajarkan tiga cara menabung. Kalau Anda lihat video saya 9 tahun yang lalu, menabung emas, menabung loga mulia, dan menabung properti. Nah, itu memang benar pasti ada itu. Orang Tiong itu pasti ujung-ujungnya ada emasnya, ada propertinya. Saham itu ada tapi mungkin ya zaman sekarang karena itu kan ilmu keuangan baru ya. Tapi kalau ilmu keuangan yang sudah ribuan tahun itu kan emas sama properti. Itu orang Tiongak. Contoh punya rumah kecil disewakan lalu putar hasil sewanya buat beli rumah kedua 10 tahun asetnya berkembang tanpa harus kerja keras. Jadi di Indonesia ini banyak jual tanah untuk beribadah. Seringkiali tanah tersebut pelan-pelan pindah ke orang Tionghoa. Makanya banyak pengusaha Tionghavel properti Pak Ciputra dan teman-temannya itu juga kadang-kadang jika sikat aset-aset murah. Contohnya ada orang enggak mau beli aset kuburan. Orang Chinese malah suka properti semurah mungkin. kuburan bagi mereka mau banyak setannya kayak mau banyak apa. Nah, mereka punya cara gitu loh. Sampai menyulap tanah kuburan pun mereka bisa sulap menjadi perumahan yang mewah gitu. Meskipun asal-usulnya dulu banyak kuburan atau banyak isu atau apa, mereka enggak peduli gitu. Karena bagi mereka yang terpenting ee tanah itu semurah mungkin. Nah, mereka juga punya tata cara lah ya. Orang Tiongoa saya enggak tahulah ya. Ada adat istiadatnya sendiri yang pokoknya tanah yang kuburan pun mereka bisa buat aman, nyaman. dan gak banyak setannya ya enggak tahulah orang Tiongo itu ada aja pokoknya canggihlah. Terus investasi di aset nyata. Jadi orang Chinese itu investasi penting. Mayoritas orang Chinese sementara uang mereka di properti emas mereka percaya akan bertahan sampai kapanpun. Itu yang sudah saya sampaikan tadi. Kelima, kerja keras tapi juga efisien. Kerja bukan cuman jam panjang kerja, lembur dan kerja, tapi juga soal hasil. Mereka terbiasa kerja dari pagi sampai malam, tapi juga cari cepat, efektif waktu, uang. Jadi setiap menit dihitung nilainya. Contoh bukan cuman rajin kerja, tapi juga belajar otomasi, delegasi, dan cari sistem yang bikin kerjaan beres lebih cepat dan itu bikin mereka lebih cepat naik. Karena orang Chinese itu juga otaknya tuh mikir karena mereka didoktrin time is money, waktu itu adalah duit. Jadi kamu buang waktu berarti buang duit. Ya, itu orang Chinese memang dididiknya seperti itu. Nah, oleh sebab itu padahal kita tahu itu juga enggak sepenuhnya benar karena sebenarnya waktu itu kan juga berharga ya. waktu itu juga ee ada kandungan nyawa gitu. Buang waktu juga buang-buang ee umur Anda, umur usia kalian. Buang waktu itu juga membuangkan kebahagiaan dalam kehidupan. Jadi waktu itu definisinya luas gitu. Tapi orang Chinese yang benar-benar Chinese waktu itu duit itu jadi mereka buang waktu berarti buang duit. Makanya kalau Anda lihat ke Anda ke China ya, Anda lihat pedagang di toko-toko itu mereka itu enggak mau pelanggan itu lari dari toko pulang tanpa membeli barangnya. Enggak mau mereka. Mereka pasti akan pastikan minimal mereka beli sesuatu baru boleh cabut dari tokonya. Orang Chinese memang begitu. Seram ya. Nah, yang keenam beli barang bukan karena fungsi tapi bukan karena gengsi. Nah, kadang orang sini itu kan yang penting pameran jam pameran ini supaya kelihatan wow kan. Tapi prinsip mereka kalau enggak berguna ya enggak usah beli. Mereka enggak suka beli barang karena FOMO atau tren. Mereka lebih pilih barang awet, multifungsi, dan tahan lama. contoh laptop, alat masak, furniture, mereka lebih pahan bertahun-tahun walau harganya lebih mahal karena tahu murah sekarang bisa mahal nanti gitu. Dan yang ketujuh adalah mewariskan karakter bukan cuman harta. Jadi orang kenapa orang Chinese itu sangat mengutamakan pendidikan sekolah yang lebih mahal bukan karena mau gengsi, tidak tapi karena orang Chinese itu percaya kalau sekolah di tempat yang lebih baik maka akan menciptakan lingkungan yang lebih positif untuk anak-anaknya. Mereka tidak peduli mereka akan bayar berapa pun untuk biaya sekolah lebih mahal. Yang terpenting anaknya dapat pendidikan yang terbaik. Itu orang Chinese. Jadi enggak asal jadi mereka enggak akan cari alasan aduh ee kalau bisa sekolah gratis ya. Cari sekolah yang lebih murah, cari sekolah yang lebih gratis supaya nanti ditanggung pemerintah. Kalau pemerintah yang enggak ngasih sekolah gratis pemerintah enggak bagus. Orang Chinese enggak begitu. Orang Chinese enggak peduli pemerintah mau ngapain. Mereka enggak peduli. Yang penting mereka akan cari cara berusaha sendiri tanpa tergantung sama pemerintah. Itu orang Chinese. Tapi kalau orang Chinese pintarnya juga apa? Kalau ada asuransi digratiskan pakai BPJS, mereka pakai BPJS juga. Mereka pintar-pintar hitung-hitungan. Orang Chinese enggak gangsi. Kalau pakai BPJS saja hasilnya sama dengan asuransi yang swasta, ngapain kita harus bayar lebih untuk asuransi swasta? Gitu loh orang Chinese itu. Iya kan? Nah, jadi mereka pakai BPJS juga enggak gengsi juga mereka. Yang penting bagi mereka ee mana yang lebih cuan mereka akan cari gitu. Nah, anak-anak diajari kerja keras, tanggung jawab, hemat sejak kecil. Bukan dimanja dengan duit tapi ditumbuh dengan mental pejuang. Contoh, anak SMA bantu orang tua di toko sepulang sekolah saat dewasa dia akan menjadi pemilik cabang bisnis sendiri karena sudah ngerti cara kerja disiplin sejak muda. Oleh sebab itu, sahabat entrepreneur, saya bukan mendewa-dewakan orang Chinese sekalipun saya keturunan Chinese. Saya pun juga banyak belajar dari saudara-saudara saya di Indonesia yang non Chinese. Banyak juga nilai-nilai positif yang saya bisa pelajari dari teman-teman kita yang non Chinese. Orang Chinese juga bukan tanpa kelemahan. Orang Chinese memang punya kelebihan masalah finansial aja, pendidikan finansial. Orang Chinese juga punya kelebihan masalah disiplin dan waktu. Tapi orang Chinese juga banyak kelemahan. Contoh masalah bersyukur. Nah, itu kadang orang Chinese harus banyak belajar sama saudara-saudara kita yang non Chinese di Indonesia. Contohnya berbahagia. Orang Chinese itu kadang kebahagiaan itu nomor kesekian. Nah, kita harus belajar sama saudara-saudara kita di Indonesia yang mereka itu hidupnya berserah lebih banyak berbahagia. Hidup bukan cuma sekedar mengejar uang, tapi hidup itu jangan lupa beribadah. Nah, orang Chinese kadang lupa di situ. Nah, sehingga orang Chinese hidupnya juga enggak balance. Makanya kita harus belajar juga sama saudara-saudara kita di Indonesia yang tentunya eh cukup balance untuk masalah itu. Tetapi jangan iri kalau orang Chinese lebih kaya, lebih sukses, lebih bisa pintar nabung karena memang didikannya seperti itu. Jadi oleh sebab itu singkat kata video ini saya buat tujuannya untuk menceritakan bagaimana pengalaman kita dibesarkan sama orang Chinese dari leluhur-leluhur kita dan itulah edukasi yang turuntemurun yang tidak putus sampai sekarang. Dari situlah kita akan membuat pendidikan kita menjadi jauh lebih baik. So, ambil positifnya. Anda bisa terapkan dalam hidup kalian. Pasti hidup kalian maju. Sukses untuk Anda. Salam hebat luar biasa. Yeah.