File TXT tidak ditemukan.
7 Kebiasaan Orang Tionghoa Yang Bisa Buat Cepat Kaya (Hanya Keturunan China yang Dapat Ilmu Ini)
S1lTQH7W4rA • 2025-06-03
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Kalian lihat ya di lingkungan sekitar
kalian ketika kalian menemukan orang
Chinese yang sekarang disebut dengan
cindo. Hidup mereka itu hemat. Hidup
mereka itu tidak berfoya-foya. Tapi
tiba-tiba ketika mereka ada musibah, ada
masalah, mereka enggak bingung cari
tetangganya. Tapi mereka tuh sudah aja
ada tabungan, ada simpanan. Nah, kenapa
kok orang Tionghoa itu bisa seperti itu?
Nah, di video kali ini saya akan berbagi
semuanya vulgar, tidak ada yang saya
tutupi. Semoga Anda bisa menangkap apa
yang saya sampaikan melalui video
ini. Welcome to Success before 30
Business and Financial Mentoring.
Sahaterpreneur, salam hebat luar biasa.
Selamat datang kembali ke Bisnis and
Financial Mentoring. Video kali ini saya
akan berbagi tentang e mengapa sih kok
orang Tionghoa itu kalau masalah kelola
keuangan itu jago. Kenapa kok orang
Tionghoa kaya-kaya gitu? Berarti enggak
semuanya. Cuman prinsip-prinsip apa yang
diajarkan dan ditanamkan di keluarga
orang-orang Tionghoa itu akan saya bagi
semuanya melalui video ini. Masalahnya
kenapa? Karena orang Chinese itu kalau
masalah keuangan memang tidak tabu.
Contoh adalah waktu saya kecil, saya itu
masih ingat saya itu diberikan uang saku
Rp100 waktu itu tahun 0-an. Rp100 itu
cukup untuk kalau jajan di e kampung
atau di sekolah itu cukup untuk beli
satu makanan.
sama minuman bawa sendiri ya. Makanan
itu mungkin cuman donat atau nasi
bungkus yang kecil Rp100. Mungkin zaman
sekarang mungkin ya katakanlah sekitar
ya Rp10.000 lah ya enggak sampailah
mungkin katakanlah sekitar R8.000. Nah
itu saya alami. Cukup enggak cukup uang
itu harus cukup. Jadi kalau mau merengek
apapun kita harus pikir otak, pikir cara
itu budgetmu 1 hari. Nah, ini pengalaman
saya pribadi. Jadi, entah saya
kelaparan, entah saya itu pengin jajan
lebih ya harus putar otak caranya
gimana. Kamu harus lebih. Jadi, uang itu
harus kerja bukan hadiah. Orang Tionghoa
itu pantang meminta-minta. Ini salah
satu ciri khas orang-orang Tionghoa.
Jadi mereka tuh malu kalau minta gitu
loh. Eh, aku minta dong. Malu. Karena
mereka merasa kalau saya mau dapat
sesuatu, saya harus bekerja sesuatu.
Jadi tolonglah ee bagi saya duit loh.
Terus orang ngomong, "Wah, berarti orang
Tionghoa gengsi dong." Ini bukan masalah
gengsi, ini masalah mindset. Nah,
mindsetnya orang Tionghoa itu
benar-benar mereka itu kalau mau dapat
sesuatu ya harus bekerja ya, harus
berusaha. Enggak ada semua itu hasil
giveaway itu enggak ada. Makanya mental
giveaway itu bagi orang Tionghoa itu
adalah aib. Saya sejak kecil pun sangat
pantang diajarkan untuk meminta sama
teman apalagi sama tetangga. Uh, itu
saya bisa diajar habis-habisan sama
orang tua saya. Karena orang tua saya
selalu mengajarkan segala sesuatu
didapat itu dari pengorbanan. Segala
sesuatu didapat dari kerja keras. Tidak
ada sesuatu itu langsung jatuh langit
dari Tuhan. Jadi kalau kamu menang
undian berhadiah itu kebetulan dan itu
bukan jadi andalan utama. Kalau apalagi
di sosmat sekarang banyak mental-mental
giveaway ya. Kamu hari ini disawer orang
jangan bangga gitu. Itu membuat mentalmu
rusak. Karena enak ya saya disawer ya,
kok dapat duitnya gampang banget gitu.
Itu jangan senang-senang dulu karena
berarti di otakmu kamu mendapatkan
sesuatu itu ternyata harus dengan bikin
drama gitu, bikin narasi, bikin cerita
sehingga mengetuk hati orang sehingga
orang itu mau nyawer dirimu. Itu paling
anti bagi orang Tionghoa. Terus bukan
cuma disuruh nabung, tapi juga belajar
bedain keinginan sama kebutuhan. Ngerti
untung dan rugi. Bahkan uang jajan pun
harus sering cari dulu. Bantu di toko
keluarga. Contoh kayak saya. Saya itu
mau dapat permen Mentos aja. Waktu saya
SD kan namanya anak SD dikasih permen
Mentos doyan lah. Saya harus kerja dulu,
magang dulu di toko paman. Minimal
magang 2 jam baru saya pulang bawa
permen. Jadi enggak ada saya tuh minimal
2 jam harus jaga toko dulu. Enggak ada
saya ceritanya tinggal ngambil permen
gitu terus nanti hitungan belakangan
gitu atau ngebon di warung. Bu makan
dulu nasi ya. Nanti ngebon dulu, kasbon
dulu. Bayarnya kapan? Nanti kalau
gajian. Enggak ada. Itu enggak boleh.
Kalau orang Tiong kayak gitu tuh. Nah,
dari sini kita bisa tahu perbedaan
mindsetnya. Bersih-bersih kek atau jaga
warung kek, apapun itu kita harus barter
dengan jasad dan tenaga kita. Jadi, anak
SD bantu jagain toko pas libur tujuannya
bukan nyuruh kerja keras, tapi ngajarin
tanggung jawab dan menghargai proses
cari duit. Jadi, sejak kecil kita sudah
diajarkan seperti itu, gitu. Terus yang
kedua, hidup sederhana anti pamer. Uh,
kalau kami pamer sesuatu, wah pulang itu
sama orang tua itu bisa saya dihajar.
Karena ayah saya ini kan termasuk killer
juga ya. Ayah saya ini penganut
Tiongoatulen. Jadi sejak kecil kalau
kita itu tidak ngikutin aturan sabuknya
itu sudah keluar, rotannya itu sudah
keluar. Jadi pulang itu kaki saya sudah
pasti merah-merah semua ya. kadang
berdarah gitu loh. Jadi kena penjalin
atau kena rotan itu dihajar sejak kecil
dan dia enggak betuli. Saya mau nangis
apapun tetap dihajar yang menghentikan
ibu saya. Tapi dari situ saya mungkin
mungkin bagi sebagian besar orang Anda
mungkin berkata, "Wah, itu kekerasan
zaman sekarang KDRT atau mungkin
penganiayaan anak kecil kena hukum HAM
sekarang." Tapi sadar enggak ketika
diterapkan itu semua maka anak Anda itu
bermental lembek. Kalau anak Anda
bermental lembek itu mutlak sara orang
tuanya. Saya memang tidak membenarkan
perilaku ayah saya, tapi benefit yang
saya dapatkan adalah saya mentalnya
pekerja keras. Bayangkan saya bikin
success before 30 ini aja udah sejak 11
tahun yang lalu. Mungkin banyak content
kreator 11 tahun yang lalu udah berhenti
ngonten, berhenti bikin konten udah
enggak tahan. Saya sampai detik ini
termasuk contonent kreator lama yang
masih bertahan dan konsisten bikin
konten berapa pun view-nya. Itu
menunjukkan bahwa kalau kamu mau sukses
itu harus berkorban. Enggak ada sih
kiranya Anda mau sukses itu dari
giveaway itu enggak ada. Bahkan kami
paling anti giveaway juga. Jadi buat
mereka kekayaan itu bukan buat
dipamerin. Kalau bisa beli baju bagus ya
dipakai waktu perlu aja. Waktu itu
mungkin Imlek atau tahun baru ya udah
selesai. Bukan tiap hari pamer baju baru
terus diposting di Instagram terus mau
terlihat soal kaya. Oh itu kami bisa
pantang banget gitu. Sisanya cukup
fungsi dan rapi. Mereka percaya nilai
sesean bukan dari tampilannya tapi hasil
dan kontribusinya. Contoh, banyak
militer Tionghoa di Indonesia bajunya
simpel kan. Batik aja simpel enggak
norak cincinnya di mana, jam tangannya
di mana, dipamerin di mana, terus
gayanya seperti ini. Ya itu kan ngundang
syiriknya orang. Saya lagi ngomongin
siapa
gitu. Tapi intinya orang Tionga paling
nganti seperti itu. Anda perhatikan deh.
Sembilan naga di Indonesia bajunya biasa
itu jam tangannya biasa enggak ada yang
dipamerin. Ya karena orang Tiongoa
memang seperti itu ya. Beda mungkin
kalau non Chinese ya. Saya enggak tahu
lagi ya. Mungkin kalau pas saat hari
raya gitu ya, itu kan saatnya pamer tuh
biasanya bajunya harus glamur, ee
perhiasannya harus kelihatan wow,
ditunjuk-tunjukkan, jadi
dihambur-hamburkan gitu loh. Seolah-olah
show off itu kan mengundang syirik
matanya orang ya. Dan akhirnya
ujung-ujungnya ngutang entar kalau
ngutang enggak dibalikin ngamuk. Nah,
itu bukan budaya orang Tiongh gitu.
Jadi, pagan nyetir sendiri, makan di
tempat biasa. Makanya saya itu sering
banget waktu saya itu kalau saya podcast
dan beberapa bintang tamu saya itu
nanya, "Pak Candra ajudannya mana?"
gitu. Saya bilang, "Ya, ajudan saya
mungkin ada satu dua, saya enggak pakai
banyak loh, Pak. Kalau namanya public
figure itu kan biasanya ajudannya itu 10
gitu. Saya ngomong, "Buat apa?"
"Pemborosan." Saya pernah diundang
kampus waktu itu di Bali, di Singaraja,
Surabaya. Saya berangkat dari Surabaya
ke Singaraja itu malah naik kereta.
berhenti di Banyuwangi, terus naik kapal
terus dijemput naik mobil biasa sama
mahasiswa Singaraja. Saya bilang, "Loh,
Pak Canda, kenapa enggak Denpasar?"
Daripassar kan kita jemput sama aja.
Saya kan bisa lebih menghemat di kereta
kecuali waktu itu saya enggak buru-buru
gitu loh. Nah, saya itu selalu berpikir
efisiensi toh ini lebih murah, lebih
efisiensi, saya bisa mengerjakan banyak
hal. Dan akhirnya mahasiswa yang jemput
saya, dia bilang, "Loh, Pak Candra
pengawalnya mana? Ajudannya mana?" Saya
ngomong, "Emang pentingkah ajudan? Emang
pentingkah pengawal? Nah, mereka yang
kaget. Pak Candra sudah kaya raya tapi
kok sederhana banget. Ya, itulah orang
Tionghoa. Orang Tionghoa itu pantang
untuk
berboros-boros. Kami itu paling dihajar
kalau masalah pemborosan. Betul-betul.
Kalau enggak perlu pun handphone ini pun
kalau enggak rusak enggak akan ganti
kita orang Chinese. Ya, enggak mungkin
kita tuh beli setahun sekali terus tahun
depan ganti lagi. Enggak mungkin. Orang
Chinese enggak gitu didiknya. Jadi
bahkan karena pelit, tapi karena fokus
mereka tuh bukan butuh validasi dari
orang lain. Butuh pengakuan tetangga,
butuh tepuk tangan, enggak, enggak
seperti itu, gitu. Jadi hidup sederhana
anti pamer orang Cina ini siapa
penampilan ya kayak gini aja ya, biasa
aja. Kacamata yang penting berfungsi
bagus. Merek nomor dua gitu loh. Bahkan
ayah saya selalu mengajarkan kamu tuh
kalau pakai barang bermerek ngundang
pencuri katanya. ngundang pencuri,
ngundang penjahat untuk maong kamu.
Makanya ayah saya kadang-kadang enggak
pakai dompet. Dia duitnya diselip di
kantongnya aja. Saya tanya, "Loh, Pah,
duit itu kan kan kotor kalau ditaruh
dompet kan bersenton dan kulit ya
daripada ngundang perapok katanya." Ya
kadang-kadang ekstrem juga sih, tapi
saya pakai dompet juga gitu tapi ya
zaman sudah berubah. Tapi saking
ekstremnya seperti itulah didikan orang
tua saya tentang hemat kepada
anak-anaknya. Nah, dari sini kita bisa
tahu prinsip orang Tionghoa itu memang
beda dan itu sudah turun-temurun dari
sonokonoknya gitu. Yang ketiga, nabung
agresif dan anti utang konsumtif. Orang
Tiongho itu kalau bisa suka beli barang
cash, gak mau utang ya. Kalaupun utang
hitungannya itu pasti rumit. Dia mau
cari bunga yang paling
murah, yang paling menguntungkan. Jadi
enggak mungkin. Apalagi kalau sekarang
orang Tionghoa itu eh kalau benar ya ada
payeter atau itu dihitung benar-benar
enggak mungkin melakukan sesuatu itu
pelater tuh misalkan atau pinjol gitu ya
hutang sejuta yang dicairin cuman
Rp800.000 balikinnya 1,2. Itu orang
Tiongo udah bisa hitung tuh R1 juta
pinjamnya dapatnya 800 balikin 1,2. 800
ke 1,2 itu kan R00.000. Orang Tiong
pasti enggak mau. Kenapa? Sekepet apapun
dia akan pasti cari cara yang pinjam
uang yang kalau dia butuh duit yang
bunganya semurah mungkin dan gak asal
pencet-pencet gitu aja. Anda coba
perhatikan itu orang Chinese asli. Jadi
dia akan cari bunga yang
serendah-rendahnya. Nah itu dia. Dan
bagi mereka uang itu alat bertahan
hidup. Makanya mereka juga anti utang
konsumtif. Mereka tuh kalau KPR enggak
mau panjang-panjang ya kan. Kalau KKB
itu enggak mau panjang-panjang. Bukan
tambah panjang tambah enak. Kalau orang
orang non Tiongha ya biasanya yang saya
tahu ya kadang-kadang mereka tuh yang
penting wah angsurannya kecil tapi
enggak dihitung. Angsuran kecil berarti
jangkanya tambah panjang. Kalau
jangkanya tambah panjang kan berarti
bunganya semakin besar. Mereka enggak
ngitung ke situ. Orang dewa kalau bisa
seminim mungkin kalau bisa setahun
selesai. Jadi enggak mau lama-lama atau
2 tahun. Kalau KPR kalau bisa maksimal 5
tahun. Jadi mereka itu enggak mau
lama-lama. Enggak mungkin mereka KPR 15
tahun, 20 tahun. Enggak mau mereka.
Karena yang dihitung itu bukan cuman
angsurannya, tapi juga dihitung
bunganya. Nah, itulah utang konsumtif.
Mereka sangat enggak mau. Mau beli motor
atau HP baru, mereka akan tahan sampai
benar-benar ada dananya. Bukan asal
pencet-pencet beli terus bayar pakai
peleter. Enggak seperti itu. Ya, itu
orang Tionga. Makanya banyak orang
ngomong orang Tionga kan pelit. Orang
Tionghoa kan asal keluar duitnya susah.
Ya karena memang dapatnya juga susah.
Ya, Anda harus tahu itu. Makanya
sekarang Anda jangan syirik sama orang
Tiongoa kalau mereka itu kaya raya tapi
masih tetap sederhana. Kadang bahkan
mereka itu tinggal masih di rumah lama
tapi duitnya banyak gitu. Dan mereka
mengeluarkan uang sesuatu itu pasti
dipikirkan enggak asal keluar tapi
pengembaliannya gimana. Uang ini kalau
saya keluarkan nanti kembalinya seperti
apa. Nah, inilah perbedaan orang Chinese
ya. yang asli ya seperti itu. Nah, tapi
sekarang anak-anak muda Chinese juga
banyak yang ngawur sih ya karena
pengaruh sosmet juga, pengaruh
influencer juga. Jadi kadang orang-orang
Chinese zaman sekarang ya terjadi hampir
di seluruh dunia juga sepertinya mm juga
gampang bervoya-foya juga. Dikit-dikit
suka ngave juga dikit-dikit juga suka ee
keluarkan uang itu juga enggak pakai
mikir. Nah, itu kadang-kadang ee harus
dipikirkan baik-baik ya. Jadi
prinsip-prinsip seperti orang tiongong
yang saya ajarkan di sini itu sangat
terjadi ya di kehidupan zaman sekarang
terutama dirikan orang tua dulu. Keempat
investasi di aset
nyata. Tabungan itu penting tapi
investasi itu jauh lebih penting.
Mayoritas orang Tionghoa itu menaruh
uang mereka itu ke properti dan emas
karena mereka percaya aset nyata itu
tahan inflasi dan bisa diwariskan ke
anak cucu. Itulah sebab kenapa saya
selalu mengajarkan tiga cara menabung.
Kalau Anda lihat video saya 9 tahun yang
lalu, menabung emas, menabung loga
mulia, dan menabung properti. Nah, itu
memang benar pasti ada itu. Orang Tiong
itu pasti ujung-ujungnya ada emasnya,
ada propertinya. Saham itu ada tapi
mungkin ya zaman sekarang karena itu kan
ilmu keuangan baru ya. Tapi kalau ilmu
keuangan yang sudah ribuan tahun itu kan
emas sama properti. Itu orang Tiongak.
Contoh punya rumah kecil
disewakan lalu putar hasil sewanya buat
beli rumah kedua 10 tahun asetnya
berkembang tanpa harus kerja keras. Jadi
di Indonesia ini banyak jual tanah untuk
beribadah. Seringkiali tanah tersebut
pelan-pelan pindah ke orang Tionghoa.
Makanya banyak pengusaha Tionghavel
properti Pak Ciputra dan teman-temannya
itu juga kadang-kadang jika sikat
aset-aset murah. Contohnya ada orang
enggak mau beli aset kuburan. Orang
Chinese malah suka properti semurah
mungkin. kuburan bagi mereka mau banyak
setannya kayak mau banyak apa. Nah,
mereka punya cara gitu loh. Sampai
menyulap tanah kuburan pun mereka bisa
sulap menjadi perumahan yang mewah gitu.
Meskipun asal-usulnya dulu banyak
kuburan atau banyak isu atau apa, mereka
enggak peduli gitu. Karena bagi mereka
yang terpenting ee tanah itu semurah
mungkin. Nah, mereka juga punya tata
cara lah ya. Orang Tiongoa saya enggak
tahulah ya. Ada adat istiadatnya sendiri
yang pokoknya tanah yang kuburan pun
mereka bisa buat aman, nyaman. dan gak
banyak setannya ya enggak tahulah orang
Tiongo itu ada aja pokoknya canggihlah.
Terus investasi di aset nyata. Jadi
orang Chinese itu investasi penting.
Mayoritas orang Chinese sementara uang
mereka di properti emas mereka percaya
akan bertahan sampai kapanpun. Itu yang
sudah saya sampaikan tadi. Kelima, kerja
keras tapi juga efisien. Kerja bukan
cuman jam panjang kerja, lembur dan
kerja, tapi juga soal hasil. Mereka
terbiasa kerja dari pagi sampai malam,
tapi juga cari cepat, efektif waktu,
uang. Jadi setiap menit dihitung
nilainya. Contoh bukan cuman rajin
kerja, tapi juga belajar otomasi,
delegasi, dan cari sistem yang bikin
kerjaan beres lebih cepat dan itu bikin
mereka lebih cepat naik. Karena orang
Chinese itu juga otaknya tuh mikir
karena mereka didoktrin time is money,
waktu itu adalah duit. Jadi kamu buang
waktu berarti buang duit. Ya, itu orang
Chinese memang dididiknya seperti itu.
Nah, oleh sebab itu padahal kita tahu
itu juga enggak sepenuhnya benar karena
sebenarnya waktu itu kan juga berharga
ya. waktu itu juga ee ada kandungan
nyawa gitu. Buang waktu juga buang-buang
ee umur Anda, umur usia kalian. Buang
waktu itu juga membuangkan kebahagiaan
dalam kehidupan. Jadi waktu itu
definisinya luas gitu. Tapi orang
Chinese yang benar-benar Chinese waktu
itu duit itu jadi mereka buang waktu
berarti buang duit. Makanya kalau Anda
lihat ke Anda ke China ya, Anda lihat
pedagang di toko-toko itu mereka itu
enggak mau pelanggan itu lari dari toko
pulang tanpa membeli barangnya. Enggak
mau mereka. Mereka pasti akan pastikan
minimal mereka beli sesuatu baru boleh
cabut dari tokonya. Orang Chinese memang
begitu. Seram ya. Nah, yang keenam beli
barang bukan karena fungsi tapi bukan
karena gengsi. Nah, kadang orang sini
itu kan yang penting pameran jam pameran
ini supaya kelihatan wow kan. Tapi
prinsip mereka kalau enggak berguna ya
enggak usah beli. Mereka enggak suka
beli barang karena FOMO atau tren.
Mereka lebih pilih barang awet,
multifungsi, dan tahan lama. contoh
laptop, alat masak, furniture, mereka
lebih pahan bertahun-tahun walau
harganya lebih mahal karena tahu murah
sekarang bisa mahal nanti gitu. Dan yang
ketujuh adalah mewariskan karakter bukan
cuman harta. Jadi orang kenapa orang
Chinese itu sangat mengutamakan
pendidikan sekolah yang lebih mahal
bukan karena mau gengsi, tidak tapi
karena orang Chinese itu percaya kalau
sekolah di tempat yang lebih baik maka
akan menciptakan lingkungan yang lebih
positif untuk anak-anaknya. Mereka tidak
peduli mereka akan bayar berapa pun
untuk biaya sekolah lebih mahal. Yang
terpenting anaknya dapat pendidikan yang
terbaik. Itu orang Chinese. Jadi enggak
asal jadi mereka enggak akan cari alasan
aduh ee kalau bisa sekolah gratis ya.
Cari sekolah yang lebih murah, cari
sekolah yang lebih gratis supaya nanti
ditanggung pemerintah. Kalau pemerintah
yang enggak ngasih sekolah gratis
pemerintah enggak bagus. Orang Chinese
enggak begitu. Orang Chinese enggak
peduli pemerintah mau ngapain. Mereka
enggak peduli. Yang penting mereka akan
cari cara berusaha sendiri tanpa
tergantung sama pemerintah. Itu orang
Chinese. Tapi kalau orang Chinese
pintarnya juga apa? Kalau ada asuransi
digratiskan pakai BPJS, mereka pakai
BPJS juga. Mereka pintar-pintar
hitung-hitungan. Orang Chinese enggak
gangsi. Kalau pakai BPJS saja hasilnya
sama dengan asuransi yang swasta,
ngapain kita harus bayar lebih untuk
asuransi swasta? Gitu loh orang Chinese
itu. Iya kan? Nah, jadi mereka pakai
BPJS juga enggak gengsi juga mereka.
Yang penting bagi mereka ee mana yang
lebih cuan mereka akan cari gitu. Nah,
anak-anak diajari kerja keras, tanggung
jawab, hemat sejak kecil. Bukan dimanja
dengan duit tapi ditumbuh dengan mental
pejuang. Contoh, anak SMA bantu orang
tua di toko sepulang sekolah saat dewasa
dia akan menjadi pemilik cabang bisnis
sendiri karena sudah ngerti cara kerja
disiplin sejak muda. Oleh sebab itu,
sahabat entrepreneur, saya bukan
mendewa-dewakan orang Chinese sekalipun
saya keturunan Chinese. Saya pun juga
banyak belajar dari saudara-saudara saya
di Indonesia yang non Chinese. Banyak
juga nilai-nilai positif yang saya bisa
pelajari dari teman-teman kita yang non
Chinese. Orang Chinese juga bukan tanpa
kelemahan. Orang Chinese memang punya
kelebihan masalah finansial aja,
pendidikan finansial. Orang Chinese juga
punya kelebihan masalah disiplin dan
waktu. Tapi orang Chinese juga banyak
kelemahan. Contoh masalah bersyukur.
Nah, itu kadang orang Chinese harus
banyak belajar sama saudara-saudara kita
yang non Chinese di Indonesia. Contohnya
berbahagia. Orang Chinese itu kadang
kebahagiaan itu nomor kesekian. Nah,
kita harus belajar sama saudara-saudara
kita di Indonesia yang mereka itu
hidupnya berserah lebih banyak
berbahagia. Hidup bukan cuma sekedar
mengejar uang, tapi hidup itu jangan
lupa beribadah. Nah, orang Chinese
kadang lupa di situ. Nah, sehingga orang
Chinese hidupnya juga enggak balance.
Makanya kita harus belajar juga sama
saudara-saudara kita di Indonesia yang
tentunya eh cukup balance untuk masalah
itu. Tetapi jangan iri kalau orang
Chinese lebih kaya, lebih sukses, lebih
bisa pintar nabung karena memang
didikannya seperti itu. Jadi oleh sebab
itu singkat kata video ini saya buat
tujuannya untuk menceritakan bagaimana
pengalaman kita dibesarkan sama orang
Chinese dari leluhur-leluhur kita dan
itulah edukasi yang turuntemurun yang
tidak putus sampai sekarang. Dari
situlah kita akan membuat pendidikan
kita menjadi jauh lebih baik. So, ambil
positifnya. Anda bisa terapkan dalam
hidup kalian. Pasti hidup kalian maju.
Sukses untuk Anda. Salam hebat luar
biasa. Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:20:50 UTC
Categories
Manage