File TXT tidak ditemukan.
Transcript
2y5tH7ppDSs • Purbaya vs Sri Mulyani & Dampaknya Ke Ekonomi, Indonesia Menuju 8%?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1416_2y5tH7ppDSs.txt
Kind: captions
Language: id
Sri Mulyani versus Bapak Purbaya, dua
orang ekonom hebat. Pertanyaan saya
kemarin Ibu Sri Mulyani kasihan banget
karena di demo netizen menaikkan pajak
terus bikin susah rakyat katanya
rumahnya sampai dijarah. Nah, apakah Pak
Purbaya dengan gaya koboy-nya ini apakah
bisa mengubah semua fenomena ekonomi
Indonesia yang kelihatannya sangat
disukai oleh rakyat? Tapi bisakah beliau
mewujudkan hal yang luar biasa? Awas
jangan sampai blunder. Saya akan bahas
tuntas di video kali ini. Sahabat
entrepreneur, salam hebat luar biasa.
Selamat datang di channel Sucses Wivoy.
Bagi Anda penonton pertama kali, selamat
datang di channel kami. Channel kami
adalah channel yang membahas edukasi
tentang bisnis, entrepreneurship,
financial, serta bagaimana memberikan
tips eh agar Anda bisa level up. Nah, di
video kali ini saya akan membahas
tentang menteri ekonomi kita yang baru,
yaitu Bapak Purbaya. Bagaimana Bapak
Purbaya ini menggantikan Menteri Ekonomi
yang sudah bahkan tiga periode presiden
beliau menjabat dari era Pak SBY, dari
era Pak Jokowi, bahkan di era Pak
Prabowo. Nah, emak-emak dinosaurus ini
kemarin saya ini juga tahu ya, saya juga
prihatin atas apa yang terjadi sama Ibu
Sri Mulyani. Beliau orang hebat, beliau
orang luar biasa membanggakan bangsa
sampai menjadi salah satu presiden di
World Bank. Tapi akhirnya rakyat itu
enggak tahan sampai rumahnya harus
dijarah. Jujur kamu pernah enggak sih
rumah kamu dijarah? Tahu rasanya itu
gimana? Padahal kamu sudah ada berbuat
sesuatu yang terbaik untuk negeri ini.
Itulah kira-kira perasaan beliau. Jadi
saya sih pribadi ee tidak sedikit pun
melupakan jasa-jasa beliau untuk
membangun Indonesia sebagai seorang
menteri. Terlepas kontroversinya, tapi
kita ini enggak boleh melupakan semua
kebaikan beliau. Dan saya rasa beliau
sudah dapat nilai setitik rusak susu
sebelanga ya karena sebuah kesalahan ya
menurut netizen sih kesalahan tapi
setiap orang itu kan punya prinsipnya
jadi pertahankan prinsip itu tapi tak
sadar menyengsarakan sebagian rakyat dan
akhirnya beliau sudah dapat ganjaran
yang cukup e keras yaitu rumahnya sampai
di jarah menurut saya itu ee sudah
sangat setimpal ya kita hari ini tidak
bolehlah menghakimi kalau kita hari ini
ee tidak tahu kronologisnya sebagai
utama. Nah, sekarang tiba-tiba muncullah
pengganti beliau, Bapak Purbaya. Berapa
hari ini video-video beliau menghiasi ee
video-video di netizen. Wah,
seorang-orang angin surga dan harapan
baru. Pro rakyat banget.
statement-statement beliau itu
seolah-olah kayaknya koboy benar gitu
dan seolah-olah eh membuat eh netizen
ini atau rakyat menjadi happy banget.
Beliau juga memberikan beberapa
statement yang ee dia bilang 1300
triliun negara kita mau bayar hutang
uangnya dari mana? Ditanya seperti itu.
Tapi beliau bilang lah w negara kita
dirampok 3.000 triliun sama koruptor aja
kok diam-diam aja. Nah, itu statement
yang memang sangat mendinginkan hati
netizen. 3.000 triliun ya cukup dong
untuk bayar R300 triliun hutang negara.
Uang hutang negara kita ini dengan kata
lain kan sama aja di jarah sama
koruptor. Makanya netizen kan gemes sama
koruptor. Statement yang saya yakin
sangat disukai oleh netizen. Nah, tetapi
Pak Jokowi juga ada bilang bahwa apa
perbedaan Bu Sri Mulyani sama Pak
Purbaya? Pak Jokowi juga statementnya
sangat jelas, yaitu beda mazhab ya. Beda
mazhab itu artinya betul-betul beda
pemahaman, beda ideologi. Nah,
perbedaannya di mana? Saya akan bahas di
ee video saya yang berikut ini. Pak
Purbaya, Yudi Sadewo, si Koboy, Ibu Sri
Mulyani, si dinosaurus. Filosofi intinya
adalah gaspol, pertumbuhan agresif.
Kalau Bu Sri Mulyani kayak emak-emak di
rumah, rem dulu. Stabilitas utama yang
aman. Fokus sama adalah ekonomi tumbuh
8% kejercuan. Kalau Ibu Surayani jaga
rupiah, jaga persan asing. Kebijakan
kasnya guyur duit, kredit dipermudah.
Kalau Sri Mulyani kencangkan ikat
pinggang, anggaran disiplin. Kemudian
dampaknya ke rakyat, peluang usaha kerja
naik tapi risiko harga naik karena
inflasi. Sedangkan harga kalau Bu Sri
Mulyani harga stabil tapi peluang usaha
lambat. Nah, itulah lima e perbedaan
gaya mainnya Pak Purbaya sama Ibu Sri
Mulyani. Nah, inti perdebatannya adalah
Pak Purbaya ini kecepatan, kalau Bu Sri
Mulyani keamanan. Jadi intinya kecepatan
versus keamanan. Nah, jurus nomor satu
mindset. Yang pertama ini adalah main
aman versus main agresif. Kalau Bu Sri
Mulyani itu kayak kiper, penjaga gawang
yang penting bertahan-bertahannya bagus.
Kalau Pak Purbaya enggak peduli berapa
cetak gol berapapun dia mau kebobolan
berapapun selama cetak golnya lebih
banyak. Misalkan kalau Anda mau
kebobolan 10 gol asal menang dengan 11
gol kamu tetap menang kan. Nah itu
filosofinya Pak Purbaya. Tapi kalau
filosofinya Bu Sri Mulyani bertahan
bertahan bertahan bertahan terus enggak
nyetak gol enggak apa-apa yang penting
enggak kebobolan.
Ya, kurang lebih seperti itu. Nah, yang
kedua jurus uang beredar kredit gampang
versus duit ketat. Kalau Bu Sri Mulyani
itu seperti keran tertutup. Kalau Pak
Purbaya seperti keran mengalir. Ini yang
paling penting buat lu pala pbisnis atau
mau cicil rumah. Jurus andalan Bu Sri
Mulyani itu disiplin anggaran. Uang
ditarik dari pajak dibelanjain dengan
hati-hati. Efeknya bank juga hati-hati
ngasih pinjaman bunga tinggi syarat
ribet. Duit di sistem itu kering. Lu mau
ekspansi bisnis mikir 1000 kali. Mau KPR
cicilannya bikin nangis. Kalau Pak
Purbaya guyur duit dulu. Langkah
pertamanya gokil. R triliun uang
pemerintah yang tadinya tidur di BI
langsung dikucurkan ke bank. Ya kan nih
duit pinjamin ke rakyat biar ekonomi
muter. Artinya buat L peluang KPR dan
kredit kendaraan dengan mudah bunga
lebih murah. Pinjaman modal KUR juga
gampang cair. Y rakyat senang pinjol aja
banyak yang enggak dibalikin.
Jadi kalau netizen ya senang-senang aja
gaya Pak Purbaya ya kan. Tapi hati-hati
loh ya, hati-hati. Saya belum selesai
ngomongnya. Ini kalau netizen yang
dasarnya otaknya itu cuman ee pinjol itu
aja enggak dibayar, kartu kredit dijebol
terus, kredit tanpa agunan enggak pernah
dibayar. Biar PI checking diberantas
namanya jelek enggak apa-apa. Kalau
memang karakter rakyatnya sudah seperti
itu, ini cocok memang untuk karakter
rakyat yang kategori C dan D. Kategori
yang memang mohon maaf kategori yang
memang enggak ada niat baik untuk mau
melunasi hutang. Ya senang-senang aja
gaya koboynya Pak Purbaya. Kalau gaya Bu
Sri Mulyani ya jelas enggak senang.
Aturan yang ketiga, aturan pajak dikejar
setoran sama dikasih tumbuh. Kalau
intensifikasi gimana cara negara dapat
duit? Pajak, pajak, pajak. Itu gayanya
Bu Sri Milyani. Nah, ini gayanya beda
banget sama Pak Purbaya. Bu Sri Mulyani
intensifikasi kayak manager sales yang
push anak buahnya buat kejar target.
Pokoknya target penerimaan pajak harus
tercapai. Caranya peraturan diperketat,
pengawasan diperketat, wajib pajak
terutama pengusaha rasanya kayak
dikejar-kejar buat kejar setoran. Saya
sebagai pengusaha, saya juga merasakan
kalau si Munani betul-betul kita ini
seperti kayak pemerintah itu kayak
depollekor. Pokoknya kita ditagih pajak
terus. Itu gayanya beliau. Tapi kalau
Pak Purbaya, ekstensifikasi ini beda
banget. Dia bilang, "Gue enggak
ngejar-ngejar orang yang sama. Gue mau
bikin orang jadi lebih kaya biar mereka
bayar pajak."
Ini beda kan? Gimana caranya? Itu tadi
kredit rumah ekonomi digaspol. Logikanya
kalau omset bisnis lu naik Rp100 juta
jadi R miliar pajak yang lu bayar
otomatis naik kan tanpa perlu diteror.
Nah gitu. Jadi ini beda aliran buat
pengusaha ya. Ini angin surga. Fokus lu
bukan gimana cara ngurusin pajak yang
ribet tapi gimana cara ngedein bisnis.
Pemerintah ngasih lu pupuk bukan malah
sewa lahan. Kurang lebih kayak gitulah
ya. Sedangkan yang keempat hasil akhir
harga naik sama gaji stagnan. Kalau
hasil akhirnya konsekuensinya dari semua
jurus tadi kalau di Ibu era Sri Mulyani
serba aman konsekuensinya adalah
steknan. Ekonomi melambat, harga stabil
tapi gaji lo juga naiknya segitu-segitu
aja. Bonus akhir tahun ya standar. Mau
pindah kerja cari gaji lebih tinggi ya
susah karena perusahaan juga main aman.
Dompet lu aman tapi enggak berkembang.
Di era Purbaya yang gaspol risiko
terbesarnya cuma satu, inflasi.
Gila-gilaan. Ya kan saya sudah pernah
bahas di video sebelumnya yaitu digu R00
triliun resikonya inflasi. Jadi nasi
goreng yang kamu makan harga Rp15.000
itu di Pulau Jawa itu kalau di Jakarta
Rp20.000 itu nanti pelan-pelan nasi
goreng harganya bisa R30 sampai Rp35.000
tanpa kamu sadari Indomie yang kamu
makan 5.000 perak itu enggak lama lagi
Indomie bisa Rp10.000 inflasi rokok yang
biasa kamu beli itu harganya per batang
R.000 Rp3.000 itu nanti rokok per batang
bisa R.000. Nangis kau. Nah, itu
resikonya Pak Purbaya. Makanya para
penonton Sucs Berty yang jauh lebih
cerdas, Anda pasti akan e mendapatkan
insight ini dari dua gaya yang berbeda
ini. Ya kan? Nah, gampangnya gini. Semua
orang gampang dapat duit. Pemerintah
meledak, "Lu mau beli motor, tetangga lu
mau beli mobil, pengusaha mau bangun
pabrik, pabrik motornya, dealernya,
supplynya, semennya, enggak siap. Apa
yang terjadi? Harga naik." Nah. Nah,
jadi itulah yang akan terjadi. Nah,
kesimpulan awam montir teliti sama
pembalap F1. Kalau Bu Sri Mulyani adalah
montir yang teliti, khas emak-emak ya
bayangin ekonomi Indonesia itu mobil.
Sri Mulyanti itu montir yang super
teliti. Maklum World Bank dia memang
dilatih dididik seperti itu. Dia
pastikan mesinnya sehat, olinya pas,
surat lengkap, remnya pakem, mobil
dijamin aman, enggak bakal mogok. Tapi
jalannya cuma 40 km/h. Very safety and
very strict. Sedangkan Pak Purbaya itu
pembalap F1. Dia enggak peduli surat
hilang, mobil punya potensi. Dia harus
gaspol di 200 km/h. Peluangnya bisa jadi
juara. Resikonya nabrak ee kemudian
ekonomi hancur.
Ya, itu aja sih ya. Nah, jadi sebuah
pilihan fundamental. Pilihan bukan lagi
kita pilih aman atau tidak aman.
pilihannya ada sekarang tumbuh lambat
tapi pasti atau tumbuh cepat tapi
berisiko tinggi. Nah, inilah sebuah
problem yang terjadi. Makanya sekarang
kita lihat nih ada tiga langkah konkret
ya. Terus gua harus gimana? Ada tiga hal
yang harus lu lakuin sekarang juga.
Kalau lu pebisnis get ready. Pintu
kredit bakar mengucur deras. Tapi kunci
semua biaya produksi lu sekarang. Kalau
kontrak jangka panjang sama supplier
lakukan. Lindungi bisnis lu. Kalau
enggak kena inflasi celaka. Hasil
kontrakmu itu adalah 10 tahun yang lalu
ketika kamu tandaan kontrak. Tapi ketika
kamu hari ini sama supplier tiba-tiba
terjadi inflasi sama supplier kamu
enggak bisa kontrak jangka panjang nanti
tiba-tiba dinaikkan harga ee HPP-nya.
Wah bisnismu bisa enggak balik modal?
Bisa tutup bisnis kamu. Yang kedua
adalah kalau lu karyawan, upgrade skill.
Karena ekonomi kalau benar-benar tumbuh,
perusahaan di sektor produktif seperti
manufaktur, konstruksi, sama teknologi
bakal gila-gilaan cari orang jago.
Jangan jadi orang yang biasa-biasa aja.
Jadilah yang dicari biar gaji lo bisa
ngalahin inflasi. Yang ketiga untuk
semuanya jangan cuma nabung tapi berani
investasi. Nabung sama investasi itu
beda loh ya. Ya, jadi semua sama-sama
menyisihkan. Investasi itu pastikan aset
kamu berkembang. Ya, kalau nabung bisa
jadi aset kamu enggak berkembang. Tapi
kamu cukup safe. Dana darurat itu safe.
Tapi berkembang asetnya tidak. Kalau
inflasi beneran datang, uang yang lu
simpan banknya bakal nilainya kegerus.
Pelajari instrumen investasi yang bisa
ngalahin inflasi. Entah itu saham,
properti, emas, atau cripto ya. Protect
your money. Jodoh the game has changed.
Ya, inilah namanya game changer. Era
baru ini menuntut pemain yang cerdas dan
adaptif. Bukan lagi zamannya main aman,
tapi zamannya adalah kalkulasi risiko
dan ambil kesempatan. So, are you ready
to play? Kemudian kita lihat nih di sini
jangan ketinggalan info emas ya. Oleh
sebab itu, itulah sebab apa yang tadi
saya sampaikan, perbedaan gaya Pak
Purbaya sama Bu Sri Mulyani. Siapapun
menterinya kita dukung. Semoga Pak
Purbaya sekarang yang menjabat bisa
membuat terobosan ekonomi yang sangat
luar biasa bagi Indonesia. Dan selamat
bekerja, Pak Purbaya. kami mendukungmu
dan jangan lupa, Pak, kalau remnya blong
hati-hati tetap harus dijaga. Semoga
ekonomi Indonesia terus meningkat,
inflasi bisa terkendali, pertumbuhan
ekonomi 8% terjadi, dan Indonesia
beberapa tahun ke depan moga-moga bisa
yalah lah seperti China 10 tahun yang
lalu, maka kita enggak akan ketinggalan
jauh. Sukses untuk Anda dan selalu dari
saya.