File TXT tidak ditemukan.
Purbaya vs Sri Mulyani & Dampaknya Ke Ekonomi, Indonesia Menuju 8%?
2y5tH7ppDSs • 2025-09-21
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Sri Mulyani versus Bapak Purbaya, dua orang ekonom hebat. Pertanyaan saya kemarin Ibu Sri Mulyani kasihan banget karena di demo netizen menaikkan pajak terus bikin susah rakyat katanya rumahnya sampai dijarah. Nah, apakah Pak Purbaya dengan gaya koboy-nya ini apakah bisa mengubah semua fenomena ekonomi Indonesia yang kelihatannya sangat disukai oleh rakyat? Tapi bisakah beliau mewujudkan hal yang luar biasa? Awas jangan sampai blunder. Saya akan bahas tuntas di video kali ini. Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa. Selamat datang di channel Sucses Wivoy. Bagi Anda penonton pertama kali, selamat datang di channel kami. Channel kami adalah channel yang membahas edukasi tentang bisnis, entrepreneurship, financial, serta bagaimana memberikan tips eh agar Anda bisa level up. Nah, di video kali ini saya akan membahas tentang menteri ekonomi kita yang baru, yaitu Bapak Purbaya. Bagaimana Bapak Purbaya ini menggantikan Menteri Ekonomi yang sudah bahkan tiga periode presiden beliau menjabat dari era Pak SBY, dari era Pak Jokowi, bahkan di era Pak Prabowo. Nah, emak-emak dinosaurus ini kemarin saya ini juga tahu ya, saya juga prihatin atas apa yang terjadi sama Ibu Sri Mulyani. Beliau orang hebat, beliau orang luar biasa membanggakan bangsa sampai menjadi salah satu presiden di World Bank. Tapi akhirnya rakyat itu enggak tahan sampai rumahnya harus dijarah. Jujur kamu pernah enggak sih rumah kamu dijarah? Tahu rasanya itu gimana? Padahal kamu sudah ada berbuat sesuatu yang terbaik untuk negeri ini. Itulah kira-kira perasaan beliau. Jadi saya sih pribadi ee tidak sedikit pun melupakan jasa-jasa beliau untuk membangun Indonesia sebagai seorang menteri. Terlepas kontroversinya, tapi kita ini enggak boleh melupakan semua kebaikan beliau. Dan saya rasa beliau sudah dapat nilai setitik rusak susu sebelanga ya karena sebuah kesalahan ya menurut netizen sih kesalahan tapi setiap orang itu kan punya prinsipnya jadi pertahankan prinsip itu tapi tak sadar menyengsarakan sebagian rakyat dan akhirnya beliau sudah dapat ganjaran yang cukup e keras yaitu rumahnya sampai di jarah menurut saya itu ee sudah sangat setimpal ya kita hari ini tidak bolehlah menghakimi kalau kita hari ini ee tidak tahu kronologisnya sebagai utama. Nah, sekarang tiba-tiba muncullah pengganti beliau, Bapak Purbaya. Berapa hari ini video-video beliau menghiasi ee video-video di netizen. Wah, seorang-orang angin surga dan harapan baru. Pro rakyat banget. statement-statement beliau itu seolah-olah kayaknya koboy benar gitu dan seolah-olah eh membuat eh netizen ini atau rakyat menjadi happy banget. Beliau juga memberikan beberapa statement yang ee dia bilang 1300 triliun negara kita mau bayar hutang uangnya dari mana? Ditanya seperti itu. Tapi beliau bilang lah w negara kita dirampok 3.000 triliun sama koruptor aja kok diam-diam aja. Nah, itu statement yang memang sangat mendinginkan hati netizen. 3.000 triliun ya cukup dong untuk bayar R300 triliun hutang negara. Uang hutang negara kita ini dengan kata lain kan sama aja di jarah sama koruptor. Makanya netizen kan gemes sama koruptor. Statement yang saya yakin sangat disukai oleh netizen. Nah, tetapi Pak Jokowi juga ada bilang bahwa apa perbedaan Bu Sri Mulyani sama Pak Purbaya? Pak Jokowi juga statementnya sangat jelas, yaitu beda mazhab ya. Beda mazhab itu artinya betul-betul beda pemahaman, beda ideologi. Nah, perbedaannya di mana? Saya akan bahas di ee video saya yang berikut ini. Pak Purbaya, Yudi Sadewo, si Koboy, Ibu Sri Mulyani, si dinosaurus. Filosofi intinya adalah gaspol, pertumbuhan agresif. Kalau Bu Sri Mulyani kayak emak-emak di rumah, rem dulu. Stabilitas utama yang aman. Fokus sama adalah ekonomi tumbuh 8% kejercuan. Kalau Ibu Surayani jaga rupiah, jaga persan asing. Kebijakan kasnya guyur duit, kredit dipermudah. Kalau Sri Mulyani kencangkan ikat pinggang, anggaran disiplin. Kemudian dampaknya ke rakyat, peluang usaha kerja naik tapi risiko harga naik karena inflasi. Sedangkan harga kalau Bu Sri Mulyani harga stabil tapi peluang usaha lambat. Nah, itulah lima e perbedaan gaya mainnya Pak Purbaya sama Ibu Sri Mulyani. Nah, inti perdebatannya adalah Pak Purbaya ini kecepatan, kalau Bu Sri Mulyani keamanan. Jadi intinya kecepatan versus keamanan. Nah, jurus nomor satu mindset. Yang pertama ini adalah main aman versus main agresif. Kalau Bu Sri Mulyani itu kayak kiper, penjaga gawang yang penting bertahan-bertahannya bagus. Kalau Pak Purbaya enggak peduli berapa cetak gol berapapun dia mau kebobolan berapapun selama cetak golnya lebih banyak. Misalkan kalau Anda mau kebobolan 10 gol asal menang dengan 11 gol kamu tetap menang kan. Nah itu filosofinya Pak Purbaya. Tapi kalau filosofinya Bu Sri Mulyani bertahan bertahan bertahan bertahan terus enggak nyetak gol enggak apa-apa yang penting enggak kebobolan. Ya, kurang lebih seperti itu. Nah, yang kedua jurus uang beredar kredit gampang versus duit ketat. Kalau Bu Sri Mulyani itu seperti keran tertutup. Kalau Pak Purbaya seperti keran mengalir. Ini yang paling penting buat lu pala pbisnis atau mau cicil rumah. Jurus andalan Bu Sri Mulyani itu disiplin anggaran. Uang ditarik dari pajak dibelanjain dengan hati-hati. Efeknya bank juga hati-hati ngasih pinjaman bunga tinggi syarat ribet. Duit di sistem itu kering. Lu mau ekspansi bisnis mikir 1000 kali. Mau KPR cicilannya bikin nangis. Kalau Pak Purbaya guyur duit dulu. Langkah pertamanya gokil. R triliun uang pemerintah yang tadinya tidur di BI langsung dikucurkan ke bank. Ya kan nih duit pinjamin ke rakyat biar ekonomi muter. Artinya buat L peluang KPR dan kredit kendaraan dengan mudah bunga lebih murah. Pinjaman modal KUR juga gampang cair. Y rakyat senang pinjol aja banyak yang enggak dibalikin. Jadi kalau netizen ya senang-senang aja gaya Pak Purbaya ya kan. Tapi hati-hati loh ya, hati-hati. Saya belum selesai ngomongnya. Ini kalau netizen yang dasarnya otaknya itu cuman ee pinjol itu aja enggak dibayar, kartu kredit dijebol terus, kredit tanpa agunan enggak pernah dibayar. Biar PI checking diberantas namanya jelek enggak apa-apa. Kalau memang karakter rakyatnya sudah seperti itu, ini cocok memang untuk karakter rakyat yang kategori C dan D. Kategori yang memang mohon maaf kategori yang memang enggak ada niat baik untuk mau melunasi hutang. Ya senang-senang aja gaya koboynya Pak Purbaya. Kalau gaya Bu Sri Mulyani ya jelas enggak senang. Aturan yang ketiga, aturan pajak dikejar setoran sama dikasih tumbuh. Kalau intensifikasi gimana cara negara dapat duit? Pajak, pajak, pajak. Itu gayanya Bu Sri Milyani. Nah, ini gayanya beda banget sama Pak Purbaya. Bu Sri Mulyani intensifikasi kayak manager sales yang push anak buahnya buat kejar target. Pokoknya target penerimaan pajak harus tercapai. Caranya peraturan diperketat, pengawasan diperketat, wajib pajak terutama pengusaha rasanya kayak dikejar-kejar buat kejar setoran. Saya sebagai pengusaha, saya juga merasakan kalau si Munani betul-betul kita ini seperti kayak pemerintah itu kayak depollekor. Pokoknya kita ditagih pajak terus. Itu gayanya beliau. Tapi kalau Pak Purbaya, ekstensifikasi ini beda banget. Dia bilang, "Gue enggak ngejar-ngejar orang yang sama. Gue mau bikin orang jadi lebih kaya biar mereka bayar pajak." Ini beda kan? Gimana caranya? Itu tadi kredit rumah ekonomi digaspol. Logikanya kalau omset bisnis lu naik Rp100 juta jadi R miliar pajak yang lu bayar otomatis naik kan tanpa perlu diteror. Nah gitu. Jadi ini beda aliran buat pengusaha ya. Ini angin surga. Fokus lu bukan gimana cara ngurusin pajak yang ribet tapi gimana cara ngedein bisnis. Pemerintah ngasih lu pupuk bukan malah sewa lahan. Kurang lebih kayak gitulah ya. Sedangkan yang keempat hasil akhir harga naik sama gaji stagnan. Kalau hasil akhirnya konsekuensinya dari semua jurus tadi kalau di Ibu era Sri Mulyani serba aman konsekuensinya adalah steknan. Ekonomi melambat, harga stabil tapi gaji lo juga naiknya segitu-segitu aja. Bonus akhir tahun ya standar. Mau pindah kerja cari gaji lebih tinggi ya susah karena perusahaan juga main aman. Dompet lu aman tapi enggak berkembang. Di era Purbaya yang gaspol risiko terbesarnya cuma satu, inflasi. Gila-gilaan. Ya kan saya sudah pernah bahas di video sebelumnya yaitu digu R00 triliun resikonya inflasi. Jadi nasi goreng yang kamu makan harga Rp15.000 itu di Pulau Jawa itu kalau di Jakarta Rp20.000 itu nanti pelan-pelan nasi goreng harganya bisa R30 sampai Rp35.000 tanpa kamu sadari Indomie yang kamu makan 5.000 perak itu enggak lama lagi Indomie bisa Rp10.000 inflasi rokok yang biasa kamu beli itu harganya per batang R.000 Rp3.000 itu nanti rokok per batang bisa R.000. Nangis kau. Nah, itu resikonya Pak Purbaya. Makanya para penonton Sucs Berty yang jauh lebih cerdas, Anda pasti akan e mendapatkan insight ini dari dua gaya yang berbeda ini. Ya kan? Nah, gampangnya gini. Semua orang gampang dapat duit. Pemerintah meledak, "Lu mau beli motor, tetangga lu mau beli mobil, pengusaha mau bangun pabrik, pabrik motornya, dealernya, supplynya, semennya, enggak siap. Apa yang terjadi? Harga naik." Nah. Nah, jadi itulah yang akan terjadi. Nah, kesimpulan awam montir teliti sama pembalap F1. Kalau Bu Sri Mulyani adalah montir yang teliti, khas emak-emak ya bayangin ekonomi Indonesia itu mobil. Sri Mulyanti itu montir yang super teliti. Maklum World Bank dia memang dilatih dididik seperti itu. Dia pastikan mesinnya sehat, olinya pas, surat lengkap, remnya pakem, mobil dijamin aman, enggak bakal mogok. Tapi jalannya cuma 40 km/h. Very safety and very strict. Sedangkan Pak Purbaya itu pembalap F1. Dia enggak peduli surat hilang, mobil punya potensi. Dia harus gaspol di 200 km/h. Peluangnya bisa jadi juara. Resikonya nabrak ee kemudian ekonomi hancur. Ya, itu aja sih ya. Nah, jadi sebuah pilihan fundamental. Pilihan bukan lagi kita pilih aman atau tidak aman. pilihannya ada sekarang tumbuh lambat tapi pasti atau tumbuh cepat tapi berisiko tinggi. Nah, inilah sebuah problem yang terjadi. Makanya sekarang kita lihat nih ada tiga langkah konkret ya. Terus gua harus gimana? Ada tiga hal yang harus lu lakuin sekarang juga. Kalau lu pebisnis get ready. Pintu kredit bakar mengucur deras. Tapi kunci semua biaya produksi lu sekarang. Kalau kontrak jangka panjang sama supplier lakukan. Lindungi bisnis lu. Kalau enggak kena inflasi celaka. Hasil kontrakmu itu adalah 10 tahun yang lalu ketika kamu tandaan kontrak. Tapi ketika kamu hari ini sama supplier tiba-tiba terjadi inflasi sama supplier kamu enggak bisa kontrak jangka panjang nanti tiba-tiba dinaikkan harga ee HPP-nya. Wah bisnismu bisa enggak balik modal? Bisa tutup bisnis kamu. Yang kedua adalah kalau lu karyawan, upgrade skill. Karena ekonomi kalau benar-benar tumbuh, perusahaan di sektor produktif seperti manufaktur, konstruksi, sama teknologi bakal gila-gilaan cari orang jago. Jangan jadi orang yang biasa-biasa aja. Jadilah yang dicari biar gaji lo bisa ngalahin inflasi. Yang ketiga untuk semuanya jangan cuma nabung tapi berani investasi. Nabung sama investasi itu beda loh ya. Ya, jadi semua sama-sama menyisihkan. Investasi itu pastikan aset kamu berkembang. Ya, kalau nabung bisa jadi aset kamu enggak berkembang. Tapi kamu cukup safe. Dana darurat itu safe. Tapi berkembang asetnya tidak. Kalau inflasi beneran datang, uang yang lu simpan banknya bakal nilainya kegerus. Pelajari instrumen investasi yang bisa ngalahin inflasi. Entah itu saham, properti, emas, atau cripto ya. Protect your money. Jodoh the game has changed. Ya, inilah namanya game changer. Era baru ini menuntut pemain yang cerdas dan adaptif. Bukan lagi zamannya main aman, tapi zamannya adalah kalkulasi risiko dan ambil kesempatan. So, are you ready to play? Kemudian kita lihat nih di sini jangan ketinggalan info emas ya. Oleh sebab itu, itulah sebab apa yang tadi saya sampaikan, perbedaan gaya Pak Purbaya sama Bu Sri Mulyani. Siapapun menterinya kita dukung. Semoga Pak Purbaya sekarang yang menjabat bisa membuat terobosan ekonomi yang sangat luar biasa bagi Indonesia. Dan selamat bekerja, Pak Purbaya. kami mendukungmu dan jangan lupa, Pak, kalau remnya blong hati-hati tetap harus dijaga. Semoga ekonomi Indonesia terus meningkat, inflasi bisa terkendali, pertumbuhan ekonomi 8% terjadi, dan Indonesia beberapa tahun ke depan moga-moga bisa yalah lah seperti China 10 tahun yang lalu, maka kita enggak akan ketinggalan jauh. Sukses untuk Anda dan selalu dari saya.
Resume
Categories