Transcript
t8bD_Emu0zg • Singapore Dilemma: Negara Kaya, Tapi Warganya Putus Asa?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1452_t8bD_Emu0zg.txt
Kind: captions Language: id Singapura adalah sebuah [musik] impian dan surga bagi rakyat Indonesia. Uh, warga kelas atas, menengah atas, orang-orang yang mampu, orang-orang yang berkelas, tidak [musik] salah. Tapi pernahkah Anda hari ini membayangkan Singapura dari sudut pandang anak mudanya warga negara Singapura sendiri? [musik] Nah, di video ini kita akan bahas tuntas kenapa justru warga negara Singapura khususnya Genzinya 52% dari mereka itu komplain. [musik] Kenapa? Biaya hidup mahal, gajinya itu tinggi betul R2 juta [musik] per bulan. Tetapi mereka itu boleh dikatakan sangat sulit untuk menabung. Bahkan beli apartemen aja sulit. Kok bisa? Tonton video ini [musik] untuk kita bahas secara detail. Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa. kembali ke acara sisi yang lain di mana sisi yang lain ini selalu membahas the dark side atau the other side yang tidak diberitakan oleh media yang Anda konsumsi selama ini. Tapi saya akan membahas dari sudut pandang yang tidak pernah dibahas orang-orang lain. Sudut pandang ini memang sebuah sudut pandang yang seringkiali kekip kelewat tapi hanya dirasakan oleh orang-orang setempat. Tapi mari kita bahas. Yang pertama adalah gaji sultan potongan besar. Kok bisa sih? Nah, kita lihat nih. Gaji median fresh graduate itu 4.500. Median ya, R2 juta [musik] ya. Saya enggak ngomong betul-betul cuman S1. Kalau cuman S1 ya standarlah negara besar rata-rata 1.00 ya. 1.500 sekarang ya mungkin lebih kurang 20 sampai R5 juta. Tapi kita ngomong median. Kedua, potongan CPF. Ini yang wajib. Semua negara besar wajib. Orang Indonesia suruh bayar BPCS saja sudah teriak-teriak kan. Tapi di negara maju CPF itu wajib. Kalau di Amerika itu seperti i20 ini pajak 20% untuk tabungan. Wajib tabungan untuk apa? Pensiunan dan sebagainya. Yang ketiga, take homepay. Jadi take homepay mereka itu cuman sekitar 3.600. Jadi mereka dipotong gajinya 20 sampai 30%. Jadi ilustrasi kursnya jika Anda belanja di Jakarta, Anda belanja di Singapur, salah satu kota termal di dunia. Ini problem yang sangat terjadi. Kemudian breakdown biaya hidup survival mode-nya mereka. Kita lihat ya, sewa kamar [musik] sharing itu 900 sampai 1$.000 per bulan. Wajar. Sekarang Anda lihat hotel yang paling murah aja lah yang kamarnya itu saya coba ngetes sih di Singapura itu kemarin itu paling murah sekarang R,5 juta loh. Bagi mereka itu kan cuman sekitar 100 sampai 120 dolar. Singapura 1,5 juta itu paling murah. itu kelas cuman IB style eh bukan Ibis style, Ibis budget lah ya. Saya enggak ngomong hotel yang L ya atau loft atau hotel yang atas bawah ya. Mahal sekali transport internet 00 makan hocker center Singapura 5 sampai 6 dolar per porsi wajar Anda cuman makan caketiau lah makanan ya street food-street food-nya Singapura yang dimasak sama uncle-uncelnya Singapore itu 400 asuransi dan kebutuhan 250. Jadi basic biaya hidup di Singapura itu belum-belum sudah 2.000 sisanya tabungan tergerus oleh biaya tak terduga. Dan emang Anda enggak belanja, emang Anda enggak nonton, emang Anda hari ini enggak ada kegiatan lain. Jadi biaya hidup pokok itu udah pasti 2.000. [musik] Bisa Anda bayangkan kalau sudah 2.000 apa yang terjadi? Kita lihat nih. Belum lagi kepotong sama treatmal meal effect. Tradmal itu apa sih? Kayak Anda itu lagi kejar-kejaran ya. Kalau treadmal meal itu kan Anda dipaksa. Anda sudah mau napas sebentar, Anda dipaksa untuk gerak lagi. Jadi, pertama daya beli Singapura 100 dolar Singapura cuma sepertiga daya beli nilai setara di Jakarta. Belum lagi biaya hidup naik 5 sampai 8% per tahun. Seperti Anda tonton video saya sebelumnya tentang Singapura yang agak tumbang itu gaji naik 2 sampai 3% per tahun. Tapi tonton video ini sampai selesai. Anda jangan negatif dulu. Oh, enggak seperti yang Pak Candra katakan. Sabar, tonton dulu. Ini kan namanya sisi lain. Kesimpulannya seperti lari di treatmal, lelah tapi Anda enggak ke mana-mana. Jadi seperti kata Robert Kiosaki, retris. Jadi retris itu kan seperti kayak tikus yang berlari di hamster yang lari di lingkaran itu. Itu kan retris namanya. Nah, jadi negara kaya raya atau kenapa Singapura kaya? Nah, ini kita juga bahas sisi yang lain. Eh, jangan salah loh. Singapura itu salah satu negara di Asia loh. Bukan cuman di ASEAN. Di Asia yang paling kaya, Global Hub and Tax Heaven. 0% brankasnya uang orang Asia. Orang kaya mana di Asia yang enggak taruh duit di Singapura? Ayo kita buka-bukaan deh. Berapa banyak orang Indonesia kaya raya? Bukan cuman orang Tionghoanya, non Tionghoanya juga banyak yang taruh duit di Singapura. Ya, kenapa saya tahu? Ya, ya tahu aja deh gitu. Iya kan? Pokoknya saya tahulah. Keuntungan bagi orang kaya capital gain tax 0%. Siapa yang enggak mau? di negara kita dipajakin terus produk investment universal life infurance, family [musik] office, VCC enak banget dan surga bagi wealth accumulation aset di atas 100 M. Uh, enak banget. Terus tapi dilema arus uang dan neraka properti bagi mereka. Efek samping arus modal masuk. Jadi gini, harga dipotong didorong standar global bukan gaji lokal. krisis property, HDB, resale [musik] 10% kenaikan harga di tahun 2024 saja nih dilemahnya. Kedua, 10,8 tahun gaji utuh untuk memberi flat standar. Dan yang ketiga 3 sampai 5 ton tunggu untuk BO subsidi atau inden. Nah, ini gila enggak ya? Gimana enggak gila negaranya kecil, tanahnya enggak bertambah ke mana-mana, tapi penduduk semakin lama semakin banyak. Bayangkan loh, Singapura penduduk 3 juta lebih. 3 juta lebih itu kalau di Indonesia mah cuman satu satu kota itu kota besar. Contoh kayak Surabaya aja. Itu itu negara loh. Bisa Anda bayangkan. Nah, ini yang jadi masalah di anak muda. Genzinya beli BTO waktu tunggu 3 sampai 5 tahun. Belum lagi dampak menunggu menikah atau tidak menikah sama sekali. Yes. Orang Singapura itu seperti ini problemnya. Jadi mereka tuh sangat sibuk bekerja pagi sampai malam. Hampir sama dengan seluruh kota besar di seluruh dunia. Hampir sama. Nah, ini menciptakan dilema. Ketika ribuan triliun uang besar masuk ke pulau sekecil itu, aset ini jadi inflasi. Harga tanah melambung. Lihat pasar propertinya. Harga HDB resale itu rusun yang harusnya subsidi naik 10% hanya di tahun 2024. 5 tahun terakhir harganya sudah terbang. Sekarang beli HDP resale standar, kamu butuh 10,8 ton gaji utuh. Kamu jangan senang-senang gaji 52 juta. Mereka itu mau beli flat kecil aja perlu 10,8 tahun itu loh maksudnya. Gila kan? Nah, makanya kamu itu kadang-kadang harus bersyukur hidup di Indonesia. Kamu mengeluh, "Wah, pemerintah gini gitu gini gitu. Eh, mall masih ramai loh, jalanan masih macet. Kamu gini gini gini ya. Kamu masih punya sawah di desa loh. Kamu masih punya kebun. [musik] Kadang-kadang kita ini lupa bersyukur. Mereka itu aja mau beli flat. Flat itu bukan tanah loh, apartemen, unit. Butuh 10,8 tahun gaji. Anak mudanya ah ini sudah mulai putus asa. Mau beli yang murah waktu tunggu 3 sampai 5 tahun. Lah kalau sudah menikah terus mau tinggal di mana? Mertua ya kan? Terus kamu mau nikah umur 27, rumahnya baru kebeli 32. Akhirnya jadi apa? Mereka menunda nikah atau malak-malak kadang-kadang di tengah-tengah udah enggak nikah sama sekali. Dan problemnya Anda di Singapura tidak bisa cuman hidup mengandalkan gaji suami. Enggak bisa. Anda juga istri juga harus bekerja. Dua-duanya harus sama-sama bekerja. Kalau enggak stres, enggak cukup ya hidup mereka. Terus anaknya mereka gimana? Ya terpaksa harus cuti setelah itu kerja lagi. Heh ini realita di Singapura. Dan saya tahu persis kenapa ya beberapa teman saya tinggal di Singapura. Memang enak gitu loh. Tapi nanti ini kan kita bicara realitanya, tapi nanti saya bicara sedikit kelebihannya tinggal di Singapura itu apa. Jadi mimpi 5C ini sudah mati. Apa sih 5C? Cash, car, credit card, condo and country club. Ini hanya ada di Indonesia. Anda punya cash, Anda punya mobil, Anda punya kartu kredit, Anda punya kondominio, dan Anda punya country club, club golf gitu ya kan. Contohnya, ini enggak mungkin harga mobil biasa Toyota Corolla aja. Toyota Corolla aja yang paling murah itu udah 1,9 miliar. Belum lagi 7 tahun harus di dijual. Kenapa? Di Singapura itu ada aturan mobil selepas 7 tahun itu harus di-recycle. Enggak boleh pakai mobil tua. Di Indonesia ini kan kadang-kadang lucu ya, mobil sudah 15 tahun, 20 tahun masih dipakai gitu. Di Singapura enggak bisa. Terus ada COE, sertifikat izin R1 miliar lebih. Ini ada COE loh, kepemilikan mobil. Jadi kalau Anda punya mobil di Singapura, Anda dianggap orang kaya. Kesimpulannya, warga loker terpinggirkan oleh biaya hidup standar sultan. Jadi mimpi 5C-nya Singapura ini sudah agak berat. Nah, oleh sebab itu the golden pet atau surga profesional yang pertama adalah banker mengelola uangnya orang kaya. Kedua, corporate lawyer mengurus legalitas perusahaan global. Ketiga, TET talent membangun infrastruktur digital. gajinya bisa sampai 10 sampai 20.000 sing dolar 1 bulan ya lebih kurang gaji mereka kalau Rp20.000 kalau sekarang R.000 ya R00 juta lah 1 bulan ya kan. Nah mereka masih bisa saving Rp240 juta per tahun bersih. Tapi kuncinya adalah ladang emas bagi expert. Kalau Anda enggak expert, Anda enggak bisa tinggal di Singapura. Ini kuncinya. Jadi Anda harus betul-betul high net word individual. Orang-orang yang tinggal di Singapura. Anda orang biasa-biasa aja enggak bakal bisa. Jadi, apakah Singapura itu buruk? Tidak. Singapura itu luar biasa. Hanya jika kamu tahu cara mainnya. Saya sering dapat DM, "Pak, saya mau buka warung di Singapura." Enggak mungkin ya kan? Saya mau jual jadi admin di sana. Saya bilang, "Jangan." Ya, itu enggak masuk akal. Singapura itu high risk, high reward arena. Uang yang masuk tadi perlu dikelola. Peluang terbesar di sana menjadi professional high skill. Anda enggak jadi professional high skill, berat hidup di Singapura. Mending balik Indonesia. Jadi yang pertama banker, kedua corporate lawyer, ketiga tech talent. Ini baru Anda bisa. Kalau enggak jangan harap Anda bisa tinggal di Singapura. Dan kuburan bagi skill pas-pasan dan UMKM. Makanya orang Indonesia, sorry to say, yang bisa kerja di Singapura rata-rata BMI. Ya, kalau Anda skill pas-pasan, buru migran Indonesia, apakah Anda bekerja jadi suster, perawat, pekerja rumah tangga, koki dan sebagainya. Tapi kalau Anda betul-betul mau profesional layaknya orang Singapura, no berat sekali. Jadi intinya kalau ke Singapura untuk berkarir level atas bukan coba-coba nasib. Kalau enggak berlevel karir level atas, goodbye. Anda enggak bisa hidup di Singapura. So, harga sebuah kewarasan mental health genn. Betul. Ini sebuah fakta. Dan satu tingkat stres yang paling tinggi di Asia adalah Singapura. Makanya di Singapura ya kalau Anda perhatikan baik-baik, entah Anda naik teksi, entah Anda itu naik MRT, warganya itu mukanya serius-serius semua. Anda kalau orang naik teksi atau wajahnya itu udah wajah kayak orang mau marah gitu dan tidak ramah sama sekali. Anda ngomong good morning, dia cuma diam. Terus kemudian Anda sudah sampai finish $. Ah gitu dia taksinya 20. Dan itu saya temui berkali-kali. Mereka tuh sangat tidak ramah. Kenapa? [musik] Ini tingkat stresnya tinggi. Pertama lying flat, tang ping ya istilahnya pasrah karena target finansial tidak terkejar. Shift mindset dari you only life ones. Dan yang ketiga yang motivasi grinding di usia produktif. Ini yang betul-betul jadi masalah di Singapura. Jadi ada sebuah simulasi matematika keputusasaan. Ini studi kasus si Budi gaji R.500. Target beli kondo harganya Rp600.000 dia udah saving 1$.000 DPB awal Rp150.000 waktu menabung 12,5 tahun. Eh, dia sudah nabung 12,5 tahun, ternyata harga rumah udah naik lagi. [tertawa] Jadi, garis finish ini dia udah achieve angka yang dia mau menjauh lagi. Udah achieve menjauh lagi. Jadi, sahabat SP30 itulah sebuah red risk yang terjadi di Singapura bagi geni. Saya bicara ini semua benar-benar bukan generasi kedua. Anda first generation yang berjuang karir generasi perintis. Jadi, Tanging versus yolo adalah mindset pertama lying flat. Tang pink ngapain capek kerja atau enggak bakal bisa kebeli. Kerja seadanya, nolak lembur dan pasrah. Itu tang ping. Tang ping itu seperti ya kalau bahasa Mandarin, Ting kayak wajib militer. Ya pasrah, ngikutin aja. Yang kedua adalah yolo. You only life once. 1$.000 dolar enggak cukup, mending buat happy. Beli tas branded, liburan ke Jepang, makan mewah. Enensinya seperti itu. Jadi mereka terjebak siklus yang namanya payck to pay check. Gaji ke gaji selama-lama. Gaji habis kejar-kejaran. Gaji habis kejar-kejaran. Nah, itulah yang seringki menjadi masalah. So, sebagai penutup, apakah Singapura itu enak buat tinggal? Enak kalau untuk high skill. Enak bagi mereka yang punya kemampuan tinggi. Saya percaya itu jauh lebih baik daripada Anda punya income besar. Kalau di Indonesia dipajakin dan bayar koruptor, mending tinggal Singapura. Tapi kalau Anda pas-pasan, Anda dengar gaji Rp50 juta, ndak main-main. Video ini untuk membuka cakrawala berpikir Anda. Kalau Anda memang skillnya pas-pasan, mending jangan cari [musik] kerja di Singapura. Mending cari kerja di negara lain atau di negara kita kadang-kadang yang selalu diomong jelek, lapangan kerja susah. itu justru banyak peluangnya. Nah, jadi simpulan di tangan Anda, ini adalah gladiator, hadiah besar, resiko mati, pelajaran finansial. So, wealth is not income, skill is a king, opportunity is in Indonesia. Jadi, sahabat SU30, kalau Anda mau kerja di Singapura, kebanyakan orang Indonesia yang low skill kebanyakan menjadi PMI. Tapi kalau high skill, Anda bisa jadi profesional. Kalau profesional, masih [musik] jauh lebih baik untuk tingg. Nah, sahabatu, bagaimana pendapat Anda tentang video sisi lain kali saat ini? Tinggalkan komentar Anda di kolom komen. Mari kita diskusi. Sukses untuk Anda. Jangan lupa like-nya and salam hebat luar biasa. Okay.