Singapore Dilemma: Negara Kaya, Tapi Warganya Putus Asa?
t8bD_Emu0zg • 2026-01-06
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Singapura adalah sebuah [musik] impian
dan surga bagi rakyat Indonesia. Uh,
warga kelas atas, menengah atas,
orang-orang yang mampu, orang-orang yang
berkelas, tidak [musik] salah. Tapi
pernahkah Anda hari ini membayangkan
Singapura dari sudut pandang anak
mudanya warga negara Singapura sendiri?
[musik]
Nah, di video ini kita akan bahas tuntas
kenapa justru warga negara Singapura
khususnya Genzinya 52% dari mereka itu
komplain. [musik] Kenapa? Biaya hidup
mahal, gajinya itu tinggi betul R2 juta
[musik] per bulan. Tetapi mereka itu
boleh dikatakan sangat sulit untuk
menabung. Bahkan beli apartemen aja
sulit. Kok bisa? Tonton video ini
[musik] untuk kita bahas secara detail.
Sahabat entrepreneur, salam hebat luar
biasa. kembali ke acara sisi yang lain
di mana sisi yang lain ini selalu
membahas the dark side atau the other
side yang tidak diberitakan oleh media
yang Anda konsumsi selama ini. Tapi saya
akan membahas dari sudut pandang yang
tidak pernah dibahas orang-orang lain.
Sudut pandang ini memang sebuah sudut
pandang yang seringkiali kekip kelewat
tapi hanya dirasakan oleh orang-orang
setempat. Tapi mari kita bahas. Yang
pertama adalah gaji sultan potongan
besar. Kok bisa sih? Nah, kita lihat
nih. Gaji median fresh graduate itu
4.500.
Median ya, R2 juta [musik] ya. Saya
enggak ngomong betul-betul cuman S1.
Kalau cuman S1 ya standarlah negara
besar rata-rata 1.00 ya. 1.500 sekarang
ya mungkin lebih kurang 20 sampai R5
juta. Tapi kita ngomong median. Kedua,
potongan CPF. Ini yang wajib. Semua
negara besar wajib. Orang Indonesia
suruh bayar BPCS saja sudah
teriak-teriak kan. Tapi di negara maju
CPF itu wajib. Kalau di Amerika itu
seperti i20 ini pajak 20% untuk
tabungan. Wajib tabungan untuk apa?
Pensiunan dan sebagainya. Yang ketiga,
take homepay. Jadi take homepay mereka
itu cuman sekitar 3.600. Jadi mereka
dipotong gajinya 20 sampai 30%. Jadi
ilustrasi kursnya jika Anda belanja di
Jakarta, Anda belanja di Singapur, salah
satu kota termal di dunia. Ini problem
yang sangat terjadi. Kemudian breakdown
biaya hidup survival mode-nya mereka.
Kita lihat ya, sewa kamar [musik]
sharing itu 900 sampai 1$.000 per bulan.
Wajar. Sekarang Anda lihat hotel yang
paling murah aja lah yang kamarnya itu
saya coba ngetes sih di Singapura itu
kemarin itu paling murah sekarang R,5
juta loh. Bagi mereka itu kan cuman
sekitar 100 sampai 120 dolar. Singapura
1,5 juta itu paling murah. itu kelas
cuman IB style eh bukan Ibis style, Ibis
budget lah ya. Saya enggak ngomong hotel
yang L ya atau loft atau hotel yang atas
bawah ya. Mahal sekali transport
internet 00 makan hocker center
Singapura 5 sampai 6 dolar per porsi
wajar Anda cuman makan caketiau lah
makanan ya street food-street food-nya
Singapura yang dimasak sama
uncle-uncelnya Singapore itu 400
asuransi dan kebutuhan 250. Jadi basic
biaya hidup di Singapura itu belum-belum
sudah 2.000 sisanya tabungan tergerus
oleh biaya tak terduga. Dan emang Anda
enggak belanja, emang Anda enggak
nonton, emang Anda hari ini enggak ada
kegiatan lain. Jadi biaya hidup pokok
itu udah pasti 2.000. [musik] Bisa Anda
bayangkan kalau sudah 2.000 apa yang
terjadi? Kita lihat nih. Belum lagi
kepotong sama treatmal meal effect.
Tradmal itu apa sih? Kayak Anda itu lagi
kejar-kejaran ya. Kalau treadmal meal
itu kan Anda dipaksa. Anda sudah mau
napas sebentar, Anda dipaksa untuk gerak
lagi. Jadi, pertama daya beli Singapura
100 dolar Singapura cuma sepertiga daya
beli nilai setara di Jakarta. Belum lagi
biaya hidup naik 5 sampai 8% per tahun.
Seperti Anda tonton video saya
sebelumnya tentang Singapura yang agak
tumbang itu gaji naik 2 sampai 3% per
tahun. Tapi tonton video ini sampai
selesai. Anda jangan negatif dulu. Oh,
enggak seperti yang Pak Candra katakan.
Sabar, tonton dulu. Ini kan namanya sisi
lain. Kesimpulannya seperti lari di
treatmal, lelah tapi Anda enggak ke
mana-mana. Jadi seperti kata Robert
Kiosaki, retris. Jadi retris itu kan
seperti kayak tikus yang berlari di
hamster yang lari di lingkaran itu. Itu
kan retris namanya. Nah, jadi negara
kaya raya atau kenapa Singapura kaya?
Nah, ini kita juga bahas sisi yang lain.
Eh, jangan salah loh. Singapura itu
salah satu negara di Asia loh. Bukan
cuman di ASEAN. Di Asia yang paling
kaya, Global Hub and Tax Heaven. 0%
brankasnya uang orang Asia. Orang kaya
mana di Asia yang enggak taruh duit di
Singapura? Ayo kita buka-bukaan deh.
Berapa banyak orang Indonesia kaya raya?
Bukan cuman orang Tionghoanya, non
Tionghoanya juga banyak yang taruh duit
di Singapura. Ya, kenapa saya tahu? Ya,
ya tahu aja deh gitu. Iya kan? Pokoknya
saya tahulah. Keuntungan bagi orang kaya
capital gain tax 0%. Siapa yang enggak
mau? di negara kita dipajakin terus
produk investment universal life
infurance, family [musik] office, VCC
enak banget dan surga bagi wealth
accumulation aset di atas 100 M. Uh,
enak banget. Terus tapi dilema arus uang
dan neraka properti bagi mereka. Efek
samping arus modal masuk. Jadi gini,
harga dipotong didorong standar global
bukan gaji lokal. krisis property, HDB,
resale [musik]
10% kenaikan harga di tahun 2024 saja
nih dilemahnya. Kedua, 10,8 tahun gaji
utuh untuk memberi flat standar. Dan
yang ketiga 3 sampai 5 ton tunggu untuk
BO subsidi atau inden. Nah, ini gila
enggak ya? Gimana enggak gila negaranya
kecil, tanahnya enggak bertambah ke
mana-mana, tapi penduduk semakin lama
semakin banyak. Bayangkan loh, Singapura
penduduk 3 juta lebih. 3 juta lebih itu
kalau di Indonesia mah cuman satu satu
kota itu kota besar. Contoh kayak
Surabaya aja. Itu itu negara loh. Bisa
Anda bayangkan. Nah, ini yang jadi
masalah di anak muda. Genzinya beli BTO
waktu tunggu 3 sampai 5 tahun. Belum
lagi dampak menunggu menikah atau tidak
menikah sama sekali. Yes. Orang
Singapura itu seperti ini problemnya.
Jadi mereka tuh sangat sibuk bekerja
pagi sampai malam. Hampir sama dengan
seluruh kota besar di seluruh dunia.
Hampir sama. Nah, ini menciptakan
dilema. Ketika ribuan triliun uang besar
masuk ke pulau sekecil itu, aset ini
jadi inflasi. Harga tanah melambung.
Lihat pasar propertinya. Harga HDB
resale itu rusun yang harusnya subsidi
naik 10% hanya di tahun 2024. 5 tahun
terakhir harganya sudah terbang.
Sekarang beli HDP resale standar, kamu
butuh 10,8 ton gaji utuh.
Kamu jangan senang-senang gaji 52 juta.
Mereka itu mau beli flat kecil aja perlu
10,8 tahun itu loh maksudnya. Gila kan?
Nah, makanya kamu itu kadang-kadang
harus bersyukur hidup di Indonesia. Kamu
mengeluh, "Wah, pemerintah gini gitu
gini gitu. Eh, mall masih ramai loh,
jalanan masih macet. Kamu gini gini gini
ya. Kamu masih punya sawah di desa loh.
Kamu masih punya kebun.
[musik]
Kadang-kadang kita ini lupa bersyukur.
Mereka itu aja mau beli flat. Flat itu
bukan tanah loh, apartemen, unit. Butuh
10,8 tahun gaji. Anak mudanya ah ini
sudah mulai putus asa. Mau beli yang
murah waktu tunggu 3 sampai 5 tahun. Lah
kalau sudah menikah terus mau tinggal di
mana? Mertua ya kan? Terus kamu mau
nikah umur 27, rumahnya baru kebeli 32.
Akhirnya jadi apa? Mereka menunda nikah
atau malak-malak kadang-kadang di
tengah-tengah udah enggak nikah sama
sekali. Dan problemnya Anda di Singapura
tidak bisa cuman hidup mengandalkan gaji
suami. Enggak bisa. Anda juga istri juga
harus bekerja. Dua-duanya harus
sama-sama bekerja. Kalau enggak stres,
enggak cukup ya hidup mereka. Terus
anaknya mereka gimana? Ya terpaksa harus
cuti setelah itu kerja lagi. Heh ini
realita di Singapura. Dan saya tahu
persis kenapa ya beberapa teman saya
tinggal di Singapura. Memang enak gitu
loh. Tapi nanti ini kan kita bicara
realitanya, tapi nanti saya bicara
sedikit kelebihannya tinggal di
Singapura itu apa. Jadi mimpi 5C ini
sudah mati. Apa sih 5C? Cash, car,
credit card, condo and country club. Ini
hanya ada di Indonesia. Anda punya cash,
Anda punya mobil, Anda punya kartu
kredit, Anda punya kondominio, dan Anda
punya country club, club golf gitu ya
kan. Contohnya, ini enggak mungkin harga
mobil biasa Toyota Corolla aja. Toyota
Corolla aja yang paling murah itu udah
1,9 miliar. Belum lagi 7 tahun harus di
dijual. Kenapa? Di Singapura itu ada
aturan mobil selepas 7 tahun itu harus
di-recycle. Enggak boleh pakai mobil
tua. Di Indonesia ini kan kadang-kadang
lucu ya, mobil sudah 15 tahun, 20 tahun
masih dipakai gitu. Di Singapura enggak
bisa. Terus ada COE, sertifikat izin R1
miliar lebih. Ini ada COE loh,
kepemilikan mobil. Jadi kalau Anda punya
mobil di Singapura, Anda dianggap orang
kaya. Kesimpulannya, warga loker
terpinggirkan oleh biaya hidup standar
sultan. Jadi mimpi 5C-nya Singapura ini
sudah agak berat. Nah, oleh sebab itu
the golden pet atau surga profesional
yang pertama adalah banker mengelola
uangnya orang kaya. Kedua, corporate
lawyer mengurus legalitas perusahaan
global. Ketiga, TET talent membangun
infrastruktur digital. gajinya bisa
sampai 10 sampai 20.000 sing dolar 1
bulan ya lebih kurang gaji mereka kalau
Rp20.000 kalau sekarang R.000 ya R00
juta lah 1 bulan ya kan. Nah mereka
masih bisa saving Rp240 juta per tahun
bersih. Tapi kuncinya adalah ladang emas
bagi expert. Kalau Anda enggak expert,
Anda enggak bisa tinggal di Singapura.
Ini kuncinya. Jadi Anda harus
betul-betul high net word individual.
Orang-orang yang tinggal di Singapura.
Anda orang biasa-biasa aja enggak bakal
bisa. Jadi, apakah Singapura itu buruk?
Tidak. Singapura itu luar biasa. Hanya
jika kamu tahu cara mainnya. Saya sering
dapat DM, "Pak, saya mau buka warung di
Singapura." Enggak mungkin ya kan? Saya
mau jual jadi admin di sana. Saya
bilang, "Jangan." Ya, itu enggak masuk
akal. Singapura itu high risk, high
reward arena. Uang yang masuk tadi perlu
dikelola. Peluang terbesar di sana
menjadi professional high skill. Anda
enggak jadi professional high skill,
berat hidup di Singapura. Mending balik
Indonesia. Jadi yang pertama banker,
kedua corporate lawyer, ketiga tech
talent. Ini baru Anda bisa. Kalau enggak
jangan harap Anda bisa tinggal di
Singapura. Dan kuburan bagi skill
pas-pasan dan UMKM. Makanya orang
Indonesia, sorry to say, yang bisa kerja
di Singapura rata-rata BMI. Ya, kalau
Anda skill pas-pasan, buru migran
Indonesia, apakah Anda bekerja jadi
suster, perawat, pekerja rumah tangga,
koki dan sebagainya. Tapi kalau Anda
betul-betul mau profesional layaknya
orang Singapura, no berat sekali. Jadi
intinya kalau ke Singapura untuk
berkarir level atas bukan coba-coba
nasib. Kalau enggak berlevel karir level
atas, goodbye. Anda enggak bisa hidup di
Singapura. So, harga sebuah kewarasan
mental health genn.
Betul. Ini sebuah fakta. Dan satu
tingkat stres yang paling tinggi di Asia
adalah Singapura. Makanya di Singapura
ya kalau Anda perhatikan baik-baik,
entah Anda naik teksi, entah Anda itu
naik MRT, warganya itu mukanya
serius-serius semua. Anda kalau orang
naik teksi atau wajahnya itu udah wajah
kayak orang mau marah gitu dan tidak
ramah sama sekali. Anda ngomong good
morning, dia cuma diam.
Terus kemudian Anda sudah sampai finish
$. Ah gitu dia taksinya 20. Dan itu saya
temui berkali-kali. Mereka tuh sangat
tidak ramah. Kenapa? [musik] Ini tingkat
stresnya tinggi. Pertama lying flat,
tang ping ya istilahnya pasrah karena
target finansial tidak terkejar. Shift
mindset dari you only life ones. Dan
yang ketiga yang motivasi grinding di
usia produktif. Ini yang betul-betul
jadi masalah di Singapura. Jadi ada
sebuah simulasi matematika keputusasaan.
Ini studi kasus si Budi gaji R.500.
Target beli kondo harganya Rp600.000 dia
udah saving 1$.000 DPB awal Rp150.000
waktu menabung 12,5 tahun. Eh, dia sudah
nabung 12,5 tahun, ternyata harga rumah
udah naik lagi. [tertawa]
Jadi, garis finish ini dia udah achieve
angka yang dia mau menjauh lagi. Udah
achieve menjauh lagi. Jadi, sahabat SP30
itulah sebuah red risk yang terjadi di
Singapura bagi geni. Saya bicara ini
semua benar-benar bukan generasi kedua.
Anda first generation yang berjuang
karir generasi perintis. Jadi, Tanging
versus yolo adalah mindset pertama lying
flat. Tang pink ngapain capek kerja atau
enggak bakal bisa kebeli. Kerja
seadanya, nolak lembur dan pasrah. Itu
tang ping. Tang ping itu seperti ya
kalau bahasa Mandarin, Ting kayak wajib
militer.
Ya pasrah, ngikutin aja. Yang kedua
adalah yolo. You only life once. 1$.000
dolar enggak cukup, mending buat happy.
Beli tas branded, liburan ke Jepang,
makan mewah. Enensinya seperti itu. Jadi
mereka terjebak siklus yang namanya
payck to pay check. Gaji ke gaji
selama-lama. Gaji habis kejar-kejaran.
Gaji habis kejar-kejaran. Nah, itulah
yang seringki menjadi masalah. So,
sebagai penutup, apakah Singapura itu
enak buat tinggal? Enak kalau untuk high
skill. Enak bagi mereka yang punya
kemampuan tinggi. Saya percaya itu jauh
lebih baik daripada Anda punya income
besar. Kalau di Indonesia dipajakin dan
bayar koruptor, mending tinggal
Singapura. Tapi kalau Anda pas-pasan,
Anda dengar gaji Rp50 juta, ndak
main-main. Video ini untuk membuka
cakrawala berpikir Anda. Kalau Anda
memang skillnya pas-pasan, mending
jangan cari [musik] kerja di Singapura.
Mending cari kerja di negara lain atau
di negara kita kadang-kadang yang selalu
diomong jelek, lapangan kerja susah. itu
justru banyak peluangnya. Nah, jadi
simpulan di tangan Anda, ini adalah
gladiator, hadiah besar, resiko mati,
pelajaran finansial. So, wealth is not
income, skill is a king, opportunity is
in Indonesia. Jadi, sahabat SU30, kalau
Anda mau kerja di Singapura, kebanyakan
orang Indonesia yang low skill
kebanyakan menjadi PMI. Tapi kalau high
skill, Anda bisa jadi profesional. Kalau
profesional, masih [musik] jauh lebih
baik untuk tingg.
Nah, sahabatu, bagaimana pendapat Anda
tentang video sisi lain kali saat ini?
Tinggalkan komentar Anda di kolom komen.
Mari kita diskusi. Sukses untuk Anda.
Jangan lupa like-nya and salam hebat
luar biasa. Okay.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:20:32 UTC
Categories
Manage