Transcript
NEpSLrfep6w • TRANS 7 ATTACKED BY STUDENTS DUE TO NARRATIVES DEPRECIATE KIAYAI & ISLAMIC BOARDING SCHOOL
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1565_NEpSLrfep6w.txt
Kind: captions
Language: id
Geng, kasus robohnya bangunan di Pondok
Pesantren Alkozini menimbulkan dampak
yang cukup besar di masyarakat. Dari
kasus ini, publik akhirnya tahu jika
banyak bangunan pesantren yang ternyata
tidak memiliki izin mendirikan bangunan
atau IMB. Ada juga yang ternyata baru
tahu kalau ada sebuah kebiasaan atau
budaya di pesantren yang menerapkan
hukuman ke para santri yang mana salah
satu hukumannya adalah untuk membantu
ngecor bangunan di pondok tersebut.
Ratusan santri di Pondok Pesantren
Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur ini
tengah bekerja bakti dalam proses
pengocoran gedung Ponpes empat lantai.
Dalam video yang viral di media sosial
itu terlihat santri tak menggunakan alat
keselamatan seperti helm proyek.
Nah, ini jujur aja ya ee mungkin enggak
semua pesantren ya ada beberapa yang
mewajibkan hal seperti itu dan mungkin
ya aturan seperti itu punya maksud
tersendiri dan tujuan tersendiri. ada
yang maksudnya baik, ada yang mungkin
maksudnya itu sebagai apa ya hukuman
yang enggak harus ee menyakiti fisik
atau secara enggak langsung pesantren
ingin mengajarkan ee hal lain kepada
para santri ya, terutama skill dalam
bangunan mungkin ya. Gua enggak tahu
juga ya kita orang yang dari luar pondok
atau luar pesantren kayaknya enggak bisa
terlalu mengomentari hal ini terlalu
dalam karena kan itu sudah menjadi
aturan di sana gitu, Geng. Kita juga
harus menghormati. Nah, tapi banyak
masyarakat atau netizen yang tentunya
merasa miris dengan hal itu dan banyak
masyarakat yang mengecam tindakan ini.
Namun enggak sedikit juga yang
menganggap ini wajar. Terutama bagi
mereka yang memang lulusan pondok
pesantren dengan mengatakan jika hal
tersebut biasa terjadi di sana dan sudah
menjadi salah satu upaya bagi pihak
pesantren untuk mendisiplinkan
santri-santri. Nah, makanya seperti yang
gua katakan tadi ya, kita enggak bisa
terlalu jauh mencampuri urusan itu. Cuma
ya kita membahas ini dari beberapa sudut
pandang. Ya, kalau misalkan di pesantren
cara menghukumnya seperti itu berbeda
lagi dengan di sekolah-sekolah. Contoh
kayak kasus yang baru-baru ini terjadi.
Nanti kita bakal bahas juga, yaitu
seorang siswa SMA yang sibuk ngudut
terus digampar sama pihak sekolah atau
gurunya atau kepala sekolahnya ya malah
demo mana yang lebih baik. Kalau gua
secara pribadi ya mending kayak si
santri-santri ini diberikan hukuman
dengan cara ya disuruh membantu ngecor
bangunan ya kan secara enggak langsung
itu melatih fisik dia, melatih skill dia
di dalam ee pembangunan tersebut ya
katakanlah ya sesimpel itu dan itu tidak
menyakiti dia gitu. Nah, sementara yang
kasus di SMA yang pertama nih jadi
problem yang benar-benar besar banget.
Si siswanya kena gampar secara fisik itu
menyakitkan. Yang kedua ini mencoreng
nama baik dunia pendidikan Indonesia
karena dampaknya panjang banget.
Beberapa siswa-siswa lain tiba-tiba
berdemo meminta si kepala sekolah untuk
dipecatlah apalah gitu. Mereka mogok
untuk belajar. Nah, makanya kalau kita
bandingkan kayaknya kasus dari yang
santri-santri ini ya enggak buruk-buruk
amat gitu ya dengan kasus yang ada di
SMA. Nah, tapi kita hari ini fokus
dengan kasus para santri yang dari
pesantren ini. Nah, jadi geng gara-gara
kasus kemarin yaitu pesantren yang
roboh, isu tentang kehidupan pesantren
jadi sorotan banyak orang sampai ada
salah satu stasiun TV yang menayangkan
video-video kehidupan di pesantren. Di
dalam program tersebut ada video yang
memperlihatkan ya bagaimana para santri
menundukkan kepala mereka ketika ee
berpapasan dengan kiai. Pemberian uang
terhadap pemuka agama atau guru atau
kiai di sana. bahkan sampai mencium
tangan kiai. Hal-hal seperti ini ya
memang biasa ya kita temukan di
pesantren. Nah, namun yang justru
membuat orang-orang di luar menjadi
berkomentar negatif adalah narasi dari
voice over atau narasi dari si pembawa
berita di dalam tayangan tersebut di
dalam acara TV itu yang mana seolah-olah
ya si voice over-nya itu mencemooh kiai,
mencemooh santri, mencemooh pondok
pesantren. Mulai dari nyapu, ngepel,
nyuci pakaian, cuci perabotan dapur,
bahkan ngelap daun tanaman, koleksi
kiai. Dan kiainya sebagian orang
menganggap ini tuh layaknya feodalisme
di zaman penjajahan.
Nah, karena itulah muncul sebuah gerakan
di media sosial untuk memboikot stasiun
TV tersebut. Tuntutan ini berasal dari
orang-orang yang berasal dari kalangan
santri, keluarga kiai, dan siapa saja
yang merasa jika tayangan tersebut
menuai kata-kata yang enggak pantas atau
merendahkan sehingga menciptakan narasi
yang enggak benar terhadap pondok
pesantren. Nah, di video kali ini kita
bakal bahas nih, Geng, tentang ee
bagaimana hal ini bisa terjadi dan kok
bisa kasus ini jadi besar banget.
Sekarang jadi heboh banget nih, Geng. Di
mana-mana ada protes, ya gara-gara
stasiun TV tersebut. Nah, langsung aja
kita bahas secara lengkap. Halo geng,
welcome back to kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Untuk pembahasan yang pertama,
kita akan bahas dulu tayangan provokatif
terhadap pondok pesantren ini.
Jadi, geng pasca insiden yang menimpa
Pondok Pesantren Alkozini yang sampai
menelan banyak korban karena diduga
tidak memiliki izin dan struktur
bangunan yang tidak sempurna menimbulkan
gelombang reaksi negatif di
tengah-tengah masyarakat. Jujur aja ya,
Geng. Kalau gua ditanya komentar soal
pesantren Alkozini kemarin, jujur gua di
situ tuh agak apa ya, agak agak agak
enggak terima, sedih juga, terus agak
geram juga dengan pernyataan ee pihak
pengurus pondok pesantren yang bilang
kalau ini takdir. Terus juga ya cukup
miris dengan penemuan sebuah mobil Mercy
mahal di reruntuhan pondok pesantren itu
yang mana seharusnya tuh mobil kalau
dijual terus memperbaiki atau membuat
struktur bangunan yang lebih baik
kayaknya cukup gitu. Di bagian situ sih
jujur gua mengkritisi itu. Di bagian hal
itu gua merasa sakit hati aja gitu sama
tuh pesantren ya. Tapi di bagian lain ya
jelas enggak. Tujuan pesantren itu
positif ya. Mengajarkan para santri
untuk e memperdalam ilmu agama. ya kan?
Memperdalam kajian mereka terhadap
Al-Qur'an itu sangat positif. Harusnya
di-support. Nah, yang enggak bisa kita
support adalah bagaimana si pengurusnya
membangun sebuah tempat belajar mengajar
yang enggak aman untuk para santri. Nah,
itu patut banget kita kritik ya kan.
Gara-gara kasus di pesantren Alkozini
ternyata dampaknya enggak cuma dirasakan
oleh pondok pesantren itu aja, namun
juga pondok-pondok yang lain terkena
imbasnya karena kecenderungan dari
netizen yang suka menggeneralisasi
sesuatu. alias menstereotypek semuanya.
Kalau misalkan pesantren A bikin salah,
seolah-olah semua pesantren salah.
Padahal belum tentu pondok pesantren
lain bangunan dan tata kelolanya seperti
pondok pesantren Alkozini. Walaupun ya
sudah ditemukan banyak pesantren yang
tidak memiliki IMB. Hal inilah yang
membuat isu tentang pondok pesantren
masih jadi topik hangat yang dibicarakan
di media sosial. Sampai pada akhirnya
isu tersebut tidak hanya menjadi
konsumsi media aja, tapi sudah merambah
ke stasiun TV nasional. Ada salah satu
stasiun TV yaitu Trans 7 di sebuah
program yang bernama Expos Unsensor yang
menampilkan salah satu episode yang
tayang pada hari Senin tanggal 13
Oktober 2025 dengan judul yang
provokatif. Jujur ya dari nama
programnya aja udah provokatif banget.
Expos unsensor. Wah gila berarti kan
tanpa sensor gitu yang diekpos tanpa
sensor berarti berani banget. Judulnya
lebih provokatif lagi. Tulisannya kayak
gini. Santrinya minum susu aja kudu
jongkok. Emang gini kehidupan pondok?
What? Duh, ngerime tapi mencolok gitu
ya. Menusuk hati gitu. Enggak cuma
judulnya aja, Geng. Tayangannya berupa
kompilasi dari video-video kehidupan
santri di pondok pesantren juga ikut
ditampilkan. Tapi narasi yang dibawakan
dengan voice over-nya dinilai sangat
merendahkan atau mencemooh. Jadi, ada
tayangan video yang dinarasikan oleh
expos ya dengan kalimat disuruh ngepel
sampai ngelap daun. Voice over-nya
melanjutkan dengan kalimat udah kaya
raya, dikasih banyak amplop, eh
pekerjaan mengurus rumah yang seharusnya
dikerjakan oleh asisten rumah tangga
dialihkan dong ke santri dan santriwati.
Karena belakangan viral nih beberapa
video para santri dan santriwati
berberes rumah kiainya. Mulai dari
nyapu, ngepel, nyuci pakaian, cuci
perabotan dapur, bahkan ngelap daun
tanaman koleksi kiainya. Sebagian orang
menganggap itu tuh layaknya feodalisme
di zaman penjajahan. Namun, bagi
sebagian santri, melakukan kerja bakti
di rumah kiai adalah keistimewaan walau
gratisan.
Udah kayak raya dikasih banyak amplop.
Eh, pekerjaan mengurus rumah yang
harusnya dikerjain oleh asisten rumah
tangga dialihkan dong ke santri dan
santriwati.
Nah, jadi kurang lebih begitu, Geng,
narasi dari video tersebut. Enggak cuma
kalimatnya aja yang ngeselin, tapi nada
dari voice over-nya juga terdengar
meledek-ledek para santri tersebut.
Jujur aja nih, Geng, ya. Sebagai orang
yang lahir besar di Aceh dulu waktu
kecil ya, gua tuh pernah melakukan hal
ini walaupun bukan e sebagai santri yang
mondok. Dulu gua belajar ngaji di TPA,
tempat pengajian Al-Qur'an. Nah, kita
terhadap guru ngaji itu memang harus apa
ya kayak
eh gimana ya? Kayak hormat udah pasti.
Terus juga terkadang ee kita ada
inisiatif sendiri nih, itu guru misalkan
datangnya naik motor, tiba-tiba di jam
istirahat kita sama teman-teman kayak,
"Eh, ambil motor Bu Guru atau ambil
motor Pak Guru, kita cuci, kita cuci."
Dan itu menurut gua bukan sesuatu yang
haram, bukan sesuatu yang salah, enggak
juga disebut feodal di zaman gua kecil
dulu, ya. Tapi itu adalah sebuah bentuk
penghormatan dan penghargaan kita
terhadap guru. Dan ada juga guru yang ee
tipikalnya dia enggak punya rumah.
Misalkan dia itu ee didatangkan dari
kota lain. Nah, akhirnya dikasih satu
ruangan di TPA tersebut. Ruangan itu
untuk dia tinggal bersama suaminya misal
ya kan. Nah, ketika dia sedang mengajar
kita melihat tong sampah di depan
ruangan atau unit dia tinggal itu penuh.
Kita ambil kita buang. Kacanya kotor
kita lap.
itu sangat biasa terjadi.
Apalagi santri yang mondok. Emang santri
mondok mau ngapain lagi? Mau ngapain di
dalam pondok? Lu coba rasain mondok deh.
Mereka tiap hari belajar ibadah, terus
kalau misalkan mereka tiba-tiba nyari
kegiatan lain dengan membersihkan rumah
kiai. Gua rasa itu sangat-sangat wajar.
Sangat-sangat wajar. Kita aja enggak
mondok dulu ya. Kita belajar kajian di
TPA yang selesainya kita pulang. kita
masih mau membersihkan rumah guru ngaji
kita yang mana atau tempat tinggalnya
dia yang juga ee di lingkungan TPA
tersebut. Itu perlu gua kasih gambaran.
Jadi, buat yang bikin narasi ini yang
salah bukan si voice over dari TV itu
ya, tapi script writernya yang salah.
Scriptwriternya, producernya yang salah.
Lu harus belajar dulu, lu rasain dulu
deh mondok itu seperti apa. Enggak ada
tuh kegiatan lain ya di sana selain
belajar mengajar. mungkin nge-game ada
atau main handphone ada. Tapi karena
saking mereka itu enggak punya kegiatan
lain, membersihkan rumah kiai,
membersihkan rumah gurunya kayaknya itu
enggak enggak sebuah hal yang negatif
deh. Mengisi kekosongan, mengisi mengisi
kegiatan dengan hal yang positif.
Ketimbang anak-anak yang di luar pondok
yang kerjanya apa ya? Kerjanya tawuran
atau bawa cewek checkin di redo doors.
Betteran mana lebih baik mana? Lebih
feodal mana? Itu aja sih ya. Coba
dipikirin dulu nih ya buat si
voiceovernya. Oke, kita lanjut lagi.
Kemudian nih, Geng, ada video yang
ditayangkan juga oleh program tersebut
yang menunjukkan kalau kiai di pondok
pesantren ini semacam digambarkan kaya
raya. Harga mobilnya bisa sampai
miliaran rupi harga sarungnya sampai
jutaan. Sementara para pengikutnyaalah
yang memberikan amplop berisikan uang.
Diketahui juga di antara video-video
yang tayang tersebut ada yang berasal
dari video santri di Pondok e Lirboyo.
Untuk narasi kayak gini nih, Geng.
Sebenarnya ada benar ada enggaknya ya.
Ee di dalam Islam kita diajarkan untuk
sederhana, bukannya bermewah-mewahan.
Tapi ketika seorang pemuka agama
terlihat bermewah-mewahan ya patut apa
ya kita ini juga ya maksudnya kayak
dikritik boleh tapi ya jangan di luar
konteks lah. Contohin aja kayak gini.
Misalkan itu mobil, sarung atau baju
mahalnya dia ternyata dihadiahkan oleh
alumni pondok pesantren misalkan. Kan
banyak tuh alumni yang tiba-tiba jadi
pengusaha kaya, terus dia menghormati
kiainya, dia balik, dia kasih uang, dia
kasih mobil, rasa-rasanya itu wajar aja,
enggak sih? Ya. Nah, tapi kalau memang
segala barang mewah itu dibeli dengan
hasil hasil ee sumbangsi atau biaya dari
pesantren yang diberikan oleh para
santri, ya itu rasa-rasanya enggak
pantas. Nah, jadi balik lagi nih ke akar
permasalahannya itu kira-kira
barangbarang itu dari mana dan ya
eloknya gitu ya. eloknya memang seorang
pemuka agama itu tidak bermewah-mewahan.
Lebih baik sederhana. Itu yang eloknya.
Tapi kalau misalkan ternyata ada yang
bermewah-mewahan, ada yang koleksi mobil
sport atau segala macam, ya udahlah itu
urusan mereka gitu ya. Kita tidak bisa
mengurusi seseorang sampai ke hal-hal
yang pribadi gitu, Geng. Terus, geng ya
balik lagi nih. Salah satu video yang
ditampilkan ternyata berasal dari salah
satu video santri di Pondok Lirboyo
tadi. Pondok pesantren tersebut juga
sedang ramai diperbincangkan karena
kasus rubuhnya bangunan di Pondok
Pesantren Alkozini. Karena ada video
ketika santri di pondok pesantren
tersebut yang disuruh ngecor bangunan.
Video viral di media sosial ini
memperlihatkan ratusan santri di Pondok
Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa
Timur kerja bakti dalam proses
pengecoran gedung berlantai 4 di pondok
pesantren tersebut.
Sebagaimana layaknya tukang bangunan,
para santri ini dilibatkan dalam proses
pengecoran. Dan video tersebut ramai,
Geng, di sosial media. Transju dianggap
tidak menyajikan tayangan yang
berimbang, katanya sehingga menyudutkan
kiai, santri, serta pesantren. Padahal
sebenarnya ada kebaikan-kebaikan lain
dari pesantren Lirboyo ini yang tidak
disorot dan juga tidak ditayangkan oleh
Trans Tujuh. Singkat ceritanya, ketika
video tersebut tayang, tidak butuh waktu
lama sampai pada akhirnya banyak
kritikan yang muncul karena video
tersebut. Terutama bagi mereka yang
berasal dari kalangan santri dan
alumni-alumninya. Mereka menyurukan
untuk memboikot Trans 7 di media sosial
sampai gerakan ini jadi trending, Geng
DX. Dan ada template di Instagram untuk
menyuarakan aksi boikotnya. Pemboikotan
ini ya diambil karena menganggap apa
yang ditayangkan oleh Trans TUJ di dalam
program Expos Ansensor membuat
orang-orang jadi melihat santri, kiai,
dan pondok pesantren dengan citra
negatif. Nah, yang mana dalam artiannya
tayangan tersebut dianggap merupakan
sebuah hinaan. tentunya orang-orang yang
pernah mengenyam pendidikan di pesantren
atau orang yang berkecimpung di ranah
keagamaan itu enggak akan sepakat ya
dengan hal ini sehingga mereka mengecam
tayangan di Trans Tuju tersebut. Dan
reaksi tersebut tidak hanya disuarakan
melalui media sosial aja tapi juga
dengan aksi nyata. Ratusan orang yang
terdiri dari santri dan umat muslim
mendatangi kantor Trans TU sebagai aksi
protes mereka terhadap tayangan dari
Trans TUJ yang dianggap merupakan
framing negatif terhadap pondok
pesantren dan ulama besar atau kiai.
Tayangan tersebut juga udah diketahui,
Geng, oleh Pengurus Besar eh PBNU, K. H.
Yahya Kholil Staquf atau Gus Yahya
menyampaikan keberatan dan protes keras
terhadap tayangan tersebut. Dan
menurutnya tayangan itu enggak cuma
melanggar prinsip jurnalisme, tapi juga
sekaligus melecehkan pesantren dan
tokoh-tokohnya. Beliau menilai isi
tayangan tersebut secara terang-terangan
telah menghina dan merendahkan dunia
pesantren. Enggak hanya menyentuh
institusi pesantren sebagai lembaga
pendidikan Islam tertua di Indonesia,
tetapi juga menyudutkan tokoh-tokoh
pesantren yang sangat dihormati oleh
orang-orang NU. Nah, Gus Yahya ini
menyebutkan bahwa konten tayangan itu
enggak hanya mencederai nilai-nilai
luhur yang dijunjung tinggi oleh dunia
pesantren, tapi juga berpotensi
mengganggu harmoni sosial di tengah
masyarakat. Dan beliau menilai tayangan
itu sudah membangkitkan amarah di
kalangan pesantren dan warga NU.
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Atas nama Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama, saya menyatakan
keberatan dan protes keras terhadap
tayangan Tran TUJ dalam segmen acara
Expos Uncensored yang ditayangkan
kemarin, hari Senin, 13 Oktober 2025.
Nah, sebagai langkah awal PBNU menuntut
pihak Transet Tuju dan induk
perusahaannya yaitu Transcorporation
untuk mengambil langkah nyata dan
bertanggung jawab atas kerusakan sosial
ee yang ditimbulkan akibat tayangan
tersebut. Dan PBNU juga sudah
menginstruksikan kepada lembaga hukumnya
untuk menempuh jalur hukum. Beliau
memastikan bahwa langkah-langkah konkret
akan diambil agar kasus ini diselesaikan
dengan baik dan sesuai dengan koridor
hukum. Sementara itu, Gus Yahya mengajak
para kiai, santri, dan warga NU untuk
tetap teguh dan tidak kehilangan
semangat dalam berhitmah. Ee meskipun
ada pihak-pihak yang tidak menyukai
pesantren beserta nilai-nilainya. Terus,
Geng, ada juga beberapa tuntutan yang
diajukan oleh para alumni dari Pondok
Pesantren Lirboyo terkait video yang
ditayangkan oleh Trans Tujuh. Yang
pertama ini ya, ada yang mengecam pihak
Trans TUJ yang menayangkan tayangan yang
meremehkan kiai, santri, dan pesantren.
Khususnya kiai pesantren Lirboyo yang di
dalam tayangan tersebut. Terus kedua
menuntut pihak Trans Tujuh agar meminta
maaf secara terbuka dan secara khusus
kepada e Masyik Pondok Pesantren
Lirboyo. Masyik sendiri adalah kumpulan
orang yang tergabung di dalam sebuah
lembaga organisasi dan suborganisasi.
Dan ketiga ya ee mereka juga meminta
Trans TUJ untuk menarik semua tayangan
tersebut dari platform media. Terus yang
keempat meminta kepada Trans 7 untuk
menayangkan edukasi khusus kiai dan
pesantren secara utuh tanpa dipotong
baik untuk sumbangsi sejarah dan
mencegah kesalahpahaman kepada
masyarakat. Terus yang kelima, jika
tuntutan tersebut tidak dipenuhi, maka
pihak dari alumni Pondok Pesantren
Lirboyo akan menempuh jalur hukum pidana
maupun perdata. Terus kemudian nih,
Geng, ada seorang budayawan peneliti
sekaligus dosen dari UIN Saizu
Purwokerto. Namanya itu adalah Pak Dimas
Indianto. Dia menyebutkan jika tayangan
tersebut dipenuhi dengan logical falesy
atau sesat pikir yang dampaknya
menimbulkan stereotype terhadap
pesantren. Nah, pertama pendidikan
pesantren itu sering disalahpahami oleh
mereka yang memandangnya dari perspektif
pendidikan Barat yang serba formal dan
struktural. Nah, ini harus dibedain nih,
Geng, ya. apa yang kita jalani di
sekolah formal biasa, sekolah reguler
dengan pesantren jangan disama-samain
gitu karena ya udah pasti beda. Terus
mana yang lebih baik? Masing-masing ada
kebaikannya, masing-masing juga ada
kekurangannya gitu. Jadi jangan
dibanding-bandingkan. Terus, geng, ya,
dikatakan juga oleh si bapak ini ya,
padahal pesantren memiliki nilai yang
berbeda. Pesantren bukan cuma menjadi
tempat belajar ilmu agama, melainkan
tempat untuk membentuk manusia dengan
pemikiran yang apa ya, yang lurus, utuh,
terutama dalam akhlak dan adab. Nah, di
sinilah letak keunikan dari pesantren
itu, yaitu pendidikan yang hidup dan
berlangsung sepanjang waktu. Bukan hanya
di dalam ruang kelas. Di pesantren,
santri tidak dibatasi oleh jadwal
pelajaran seperti di sekolah umum yang
mana ya masuk jam .00, pulang jam .00
gitu kan. Nah, kalau di pesantren
enggak. Mereka belajar terus selama
mereka berada di sana. Pendidikan di
sana akan terus berlangsung melalui
interaksi, teladan, dan pengabdian
kepada kiai. Sikap hormat dan adab yang
harus dijaga oleh santri terhadap kiai
itu bukan dipandang sebagai sekedar
formalitas, melainkan wujud penghormatan
terhadap ilmu dan ee pemberi ilmu.
Sebagian pihak mungkin memandang adab
santri terhadap kiai seperti berbicara
dengan sopan, menundukkan badan, atau
berjalan membungkuk sebagai bentuk
feodalisme. Tapi sebenarnya tindakan ini
lahir dari kesadaran spiritual bahwa
ilmu membutuhkan penghormatan. Adab
harus lebih tinggi dari ilmu. Benar
banget kok. Enggak ada yang salah.
Kecuali ya udah kelewatan misalkan kayak
air cuci kaki kiai diminum atau ludah
kiai ditelan atau apalah. Ah itu udah
air celup jarinya diminum. Ah itu udah
sesat. Tapi kalau hanya sekedar
memberikan penghormatan, sopan santun,
kayaknya enggak ada salahnya deh. Kalian
coba ke Jogja, kalian coba ke Solo.
Kalian lihat tuh anak-anak muda di
Jogja, di Solo ya yang asli Jogja, warga
Jogja yang masih tinggal di lingkungan
apa, desa-desa atau mungkin ganggang
gitu ya. Kalau di depan nenek-nenek tua
ya mereka tuh jalannya nunduk, "Mbah,
mbah kok salut banget." Jogja, Solo tuh
ih pokoknya Jawa Tengah tuh ih mantap
banget deh. Lembut banget. Itu kan
enggak perlu menjadi seorang santri juga
mereka harus kayak gitu. Tapi memang ada
adat istiadat atau culture-nya mereka
yang menghormati orang tua dan itu
enggak salah. Toh kiai di sebuah
pesantren itu juga orang tua kan. Mereka
kan juga selain mereka juga memberikan
ilmu kepada para santrinya, mereka juga
orang tua dan wajar banget mereka
mendapatkan penghormatan. Tapi ingat,
yang berlebihan itu gak baik. Seperti
yang gua katakan tadi, contoh air celup
jarinya lah dijual atau karomah-karomah
dan lain pokoknya yang berlebihan, yang
lebai-lebai itu kayaknya enggak. Itu
enggak banget. Tapi kalau sekedar
penghormatan itu kayaknya wajib gitu.
Nah, terus kita lanjut lagi nih. Yang
kedua nih yang dikatakan oleh si Bapak
ini ya masih dari Pak Dimas. Gus Dur
mengatakan jika pesantren adalah bagian
dari subculture dan itu artinya di
pesantren ada satu konsep budaya yang
menjadi kesepakatan bersama. Di dalam
tradisi pesantren, berbicara kepada kiai
harus penuh dengan tata krama. Misalnya,
suara yang direndahkan, kata-kata yang
harus dijaga, dan pandangan yang
ditentukan. Dan semua ini merupakan
pendidikan akhlak yang tidak bisa
diajarkan melalui buku. Namun, itu semua
dipraktikkan, dirasakan, dan dijalani.
Pendidikan seperti ini tidak akan
ditemukan di ruang belajar formal yang
hanya menekankan kemampuan kognitif.
Santri juga dilatih untuk mengabdi
kepada kiai melalui bantuan sehari-hari
seperti menimba air, menyapu halaman,
membersihkan rumah sampai mengurus
keperluan kecil dari kiai tersebut. Dan
pekerjaan ini sering dianggap sebagai
kerja kasar oleh sebagian orang yang
tidak memahami pesantren. Tapi di dalam
kultur pesantren, pengabdian ini adalah
bagian dari proses mendidik mendidik
jiwa dari seorang santri. Nah, saat
seorang santri membantu kiai, mereka
sesungguhnya belajar banyak hal. Mulai
dari ketelitian, kedisiplinan,
kesabaran, sampai keikhlasan. Semua itu
membentuk karakter santri yang menjadi
pribadi yang siap terjun ke masyarakat
dengan penuh tanggung jawab. Enggak usah
jauh-jauh ke pesantren ya. Lu nonton aja
deh film-film Soulin yang mungkin
agamanya beda ya. Agamanya beda. Lihat
bagaimana tuh para anak-anak kecil yang
hidup sebagai Shin itu kan di
bihara-bihara sana ngambil air pakai
timba ya ngambil apa namanya? Ngambil
buah-buahan di hutan terus diberikan ke
gurunya. Kayaknya mirip aja. Mirip. Cuma
beda agamanya aja ya. Balik lagi sudah
banyak yang tertuci otaknya dan
pandangannya terhadap Islam. Jadinya
apapun yang ada di dalam dunia Islam tuh
kayaknya dibenci ya jemah mereka.
Termasuk terkadang orang Islamnya
sendiri gitu. Padahal kalau kita
pikir-pikir budaya atau sistem seperti
pesantren ini enggak cuma di Islam aja,
bahkan di dunia Buddha pun ada. Nonton
aja film Shaulin. Kalau enggak percaya
nonton aja. Bedanya di sana belajarnya
kungfu, kalau di dalam pesantren
belajarnya silat. Ya gitulah. Terus geng
ya kita lanjut lagi nih. Yang ketiga,
ketika sudah lulus dan sukses di
masyarakat, banyak santri yang kembali
kepada kiai dengan membawa amplop berisi
uang sebagai bentuk terima kasih. Nah,
ini yang gua katakan tadi nih. Tradisi
ini dikenal sebagai bisyarah. Amplop
tersebut bukanlah upah, melainkan
ungkapan syukur dan penghormatan. Bagi
santri, keberhasilannya itu merupakan
hasil dari doa kiai yang dikabulkan.
Kultur tersebut juga menunjukkan bahwa
hubungan santri dan kiai tidak pernah
putus. Pendidikan pesantren tidak
berakhir pada ijazah atau wisuda, namun
berlanjut seumur hidup. Seorang santri
bakal selalu menjadi murid e dan kiainya
akan selalu menjadi guru. Nah, ibaratnya
tuh dia punya guru spiritual gitu dan
relasi ini bersifat spiritual moral
bukan hanya administratif formal seperti
sekolah-sekolah biasa, sekolah kita SMA
kita sudah lulus ya udah kita sudah lupa
sama guru kita terkadang ya kan. Nah
kalau di pesantren enggak hubungan itu
akan terjalin terus sampai mati gitu.
Nah hal inilah yang membedakan pesantren
dengan model pendidikan Barat.
Pendidikan Barat sering sekali
menekankan pencapaian akademik, nilai
ujian, serta sertifikat ya kan. Kayak
mendapatkan rapor, nilai tinggi ya.
Bahkan ada yang wisudanya tuh sampai
gini-gini di apa, di kamera seolah-olah
tuh apa yang dia jalani selama sekolah
itu adalah ee perbudakan gitu. Pas dia
lulus rasanya lega dari perbudakan, dia
langsung wei fak fak gitu kan. Nah, itu
bedanya pendidikan barat sama pendidikan
pesantren. Nah, pesantren justru
menargetkan sesuatu yang lebih dalam
yaitu pembentukan jiwa. Dalam pendidikan
pesantren, kegagalan bukan diukur karena
nilai yang jelek, melainkan dari
rusaknya akhlak dan moral. Nah, di dalam
pesantren ada kalimat yang berbunyi,
"Alabu fauqol ilmi" yang artinya adab
atau akhlak berada lebih tinggi
tingkatannya dibandingkan ilmu itu
sendiri. Yang artinya jika seseorang
yang memiliki ilmu namun tidak punya
adab, itu tidak menjadikan dia sebagai
orang yang bijak. Karena itulah di
pesantren santri bakal diajarkan untuk
selalu menjaga hati, menghormati guru,
dan tidak sombong meskipun memiliki
banyak pengetahuan. Meskipun banyak yang
memprotes dan memboikot Trans Tujuh,
tapi ada netizen yang mencoba untuk
melihat hal ini dari dua sisi. Salah
satunya adalah Adrin Vandra. Dalam video
yang dia unggah di Instagramnya, dia
mengajak agar kita menghindari
sentimen-sentimen negatif dulu dan
membuka pikiran kita. Adrin ini
menjelaskan video-video yang ditampilkan
oleh Trans Tuju dan dari penggunaan
kalimat yang digunakan di dalam voice
over-nya ketika mengomentari video-video
itu adalah mendeskripsikan apa yang ada
di video tersebut. ya. Karena video e
yang ditayangkan itu bukanlah video
editan atau e pembuatan AI, melainkan
video asli yang memang terjadi di
lingkungan pesantren, kata dia. Nah,
tapi geng yang jadi masalahnya adalah
dalam program tersebut mengatakan kalau
kiai itu kaya raya karena pemberian
amplop. Nah, itu kan framing namanya ya.
Nah, karena kalimat itulah yang dianggap
hanyalah sebuah asumsi dengan
menghubung-hubungkan dengan bukti berupa
video yang ditampilkan. Padahal belum
tentu yang terjadi seperti itu. Belum
tentu kiainya kaya raya. Belum tentu
kiainya. Ya memang misal dia memang kaya
raya, tapi belum tentu karena amplop
yang diberikan oleh para santri. Di
balik dia berprofesi sebagai kiai, tidak
ada undang-undang yang melarang kiai
untuk berbisnis juga. Tapi bukan
berbisnis agama ya. Contoh nih, misalkan
kayak kiai ya, dia mengajarkan ilmu
agama tapi di luar itu dia punya bisnis
atau usaha kelontong misalkan jual beli
beras, punya kebun yang luas, punya
kebun sawit atau apa. Emang
undang-undang melarang itu enggak kan?
Jadi dia kayak rayanya belum tentu dari
uang amplop. Menurut Adrin ini bagaimana
cara agar bisa membalikkan citra baik
pesantren itu adalah dengan memberikan
bukti tandingan bahwa kiai-kiai ini
tidak kaya karena diberikan amplop. Dan
oleh karena itu, tugas dari santri yaitu
memberikan bukti tandingan kepada
masyarakat untuk menunjukkan kepada
masyarakat bahwa apa yang sebenarnya
terjadi bukanlah seperti narasi yang
ditunjukkan oleh Trans 7. Jadi bukan
cuma menyerang Trans 7 tapi berusaha
memberikan kesan yang positif juga nih
berdasarkan bukti yang ada.
[Musik]
Nah, terus ada juga nih, Geng, netizen
yang secara terang-terangan malah
membela Trans Tuju nih. Ada gitu.
Seperti salah satunya akun Instagram
dengan username Superarman_moonlight
Fox yang mengunggah sebuah video yang
direkam di lingkungan pesantren. Dalam
video tersebut terlihat para santri yang
mengantri untuk mendapatkan jeruk. Ya,
namun jeruk tersebut tidak diberikan
secara langsung oleh ee si pembagi itu.
Mungkin itu adalah salah satu pengurus
dari pondok itu ya. Tapi jeruk itu malah
diambil dari kerdus kemudian dilempar ke
lantai dan para santrinya lah yang harus
mengambil jeruk tersebut di lantai.
Enggak cukup sampai di situ juga ada
juga jeruk yang sampai ditendang oleh
pengurus pondok dan para santrinya harus
nangkap rebut-rebutan. Nah, terlihat
santri-santri itu secara bergerombolan
ya memperebutkan jeruk yang ditendang.
Nah, kalau ini jujur aja ini salah ya.
Kalau gua pribadi sih gua menilainya
salah. Itu bukanlah ee sesuatu yang bisa
dianggap sebagai manusia beradab gitu.
Makanan ditendang-tendang tuh enggak
baik. makanan digelinding-gelindingin di
lantai itu enggak baik, ya kan? Nah,
kalau ini gua yakin 1000% bukan ajaran,
bukan ajaran turun-temurun atau bukan
ajaran yang menjadi culture di
pesantren, tapi ini bisa dikatakan
dengan kalimat ya terserah mau senang
atau enggak, tapi inilah oknum. Jadi
sekumpulan orang ya, sekelompok manusia
ada satu yang cacat. Cacat inilah yang
disebut dengan oknum. Enggak semua orang
itu benar. Dari sebanyak itu pesantren
di muka bumi ini atau di Indonesia ini
khususnya, ada satu pesantren yang ada
orang cacatnya tuh contohnya tuh di
video itu tuh orang cacatnya tuh gua
bisa berani bilang dia cacat karena dia
nendang-nendang makanan terserah tuh
orang enggak senang sama gua, silakan.
Tapi menurut gua gara-gara dia,
gara-gara video dia itu jadi memperburuk
citra pesantren, ya kan? Terus, Geng,
selain itu ada lagi video yang diposting
oleh akun lain nih, Geng. Yaitu akun
wargabahagia.
Yang memperlihatkan ada seorang pemuka
agama yang menyalami santri-santri. Di
antara santri-santri tersebut ada yang
memberikan salam tempel dengan
menyelipkan uang ke tangan pemuka agama
itu. Nah, isi komentarnya pun juga diisi
oleh netizen-netizen yang memihak kepada
Trans Tuju. Orang-orang yang membela
Trans Tujuh rata-rata menyebutkan jika
apa yang ditayangkan itu adalah salah
satu dari fakta pondok pesantren. Tapi
kenapa banyak orang yang justru tidak
terima fakta tersebut? Ya, mau kalian
setuju atau enggak ee ini penilaiannya
dari kalian ya. Yang jelas di sini gua
hanya menyampaikan beritanya bukan
membela satu pihak. Tapi jujur kalau
kalian tanya nih ya, apakah hal yang
dilakukan di situ seperti menyalami e
kiai terus ngasih duit itu adalah hal
yang haram atau dilarang agama?
Sebenarnya sih enggak ya. Karena kan
kita enggak tahu itu acara apa ya bisa
jadi mungkin si kiainya habis ngisi
ceramah tapi tidak dibayar. Nah,
melainkan keikhlasan dari para
pendengarnya, keikhlasan dari para
santrinya mau ngasih ee santunan berapa
atau ee bersedekah. Itu kan enggak itu
kan enggak salah sebenarnya kalau
menurut gua enggak salah. Nah, tapi kan
kalau di framing seolah-olah ee kiai itu
wajib dikasih amplop, dikasih duit, ya.
Akhirnya kan terlihat dan terdengar
salah, ya kan? Ya, logikanya gini, lu ke
tukang urut aja, lu rela kok ngasih duit
seikhlasnya? Ya kan? Ini masa ke seorang
pemuka agama yang memberikan kita ilmu,
mencerahkan ee batin kita gitu ya. Kita
enggak boleh ngasih sesuatu. Ya, itu
aneh banget menurut gue. Seharusnya ya
boleh-boleh aja. Tapi kita gak tahu nih
apakah di dalam video tersebut di
belakangnya mereka diwajibkan untuk
ngasih duit atau seikhlasnya. Kalau
misalkan itu diwajibkan lu harus ngasih
duit lah itu salah. Tapi kalau misalkan
yang mampu boleh kasih, yang tidak mampu
tidak apa-apa itu enggak salah menurut
gua. Enggak salah menurut gua nih. Tapi
terserah nih menurut kalian.
Setelah mendapatkan kecaman, bahkan
adanya gerakan untuk memboikot Trans T
7, akhirnya ya pihak Trans 7 memberikan
klarifikasi. Sekarang kita bakal masuk
ke dalam pembahasan ya klarifikasi dari
pihak Trans Tuju.
Jadi geng pasnya mendapatkan kritik
kecaman bahkan sampai ke ancaman untuk
di boikot. Trans pun memberikan
klarifikasi lewat unggahan di akun
Instagramnya. Pihak Trans Tujuh
menyampaikan jika mereka sudah melakukan
review dan tindakan-tindakan atas
ketelodoran yang kurang teliti sehingga
merugikan keluarga besar dari Pondok
Pesantren Lirboyo khususnya. telah
setuju menyampaikan permohonan maaf
kepada segenap kiai dan keluarga dan
para pengasuh, santri serta alumni
Pondok Pesantren Lirboyo khususnya di
bawah naungan Pondok Pesantren Putri
Hidayatul Mubtadiaat. Trans juga
menyampaikan permohonan maaf kepada
publik atas ketidaknyamanan mereka
terkait ee tayangan ee video tersebut.
Dan pihak Transuju juga menegaskan jika
mereka sudah menyampaikan permohonan
maaf kepada Gus Adib, salah satu putra
dari K. K. H. Anwar Mansyur dan Trasu
juga sudah menyampaikan surat permohonan
maaf secara resmi kepada beliau.
Enggak cuma satu klarifikasi aja yang
diberikan, ada juga Andi Kairil selaku
production director Tras 7J juga
menyampaikan permintaan maaf atas
kelalaian mereka mengenai narasi di
dalam program tersebut. Sama dengan
klarifikasi sebelumnya, pihak Transuju
menyampaikan permintaan maaf kepada
pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo,
pengasuh, santri, dan alumni pondok
tersebut. Mereka mengakui kelalaian
dalam isi pemberitaan itu yang mana
mereka tidak melakukan sensor yang
mendalam secara teliti dari materi yang
merupakan materi pihak luar.
Isi pemberitaan itu di mana kami tidak
melakukan ee sensor yang mendalam secara
teliti materi dari pihak luar. Namun
kami tidak berlepas tanggung jawab atas
kesalahan tersebut.
Namanya aja expos unsensor. Minta maaf
karena kurang melakukan sensor. Namanya
aja udah unsensor berarti ya memang
enggak ada sensornya gitu kan. Nah,
terus geng ya menurut dia ya pihak dari
Tuju tidak lepas tanggung jawab atas
kesalahan ini dan hal ini tentunya bakal
menjadi pelajaran bagi Trans Tuju untuk
lebih teliti dan untuk memahami ee
hubungan antara santri dengan kiai,
pengasuh dan juga alumni nantinya. Nah,
bentuk pertanggungjawaban dari Trans TUJ
juga terlihat ketika pihak Trans Tujuh
menerima audiensi dari himpunan alumni
Santri Lirboyo yaitu Himasal yang ada di
Jabod Detabek pada tanggal 14 Oktober
kemarin. Dalam pertemuan tersebut ya
Himasal memberikan pernyataan sikap
serta pihak Trans Tuju beritikad baik
untuk menindaklanjuti hal ini. Nah,
kemudian Trans Tuju mengunggah video
ketika mereka bersilaturahmi ke pemimpin
Pondok Pesantren Lirboyo pada tanggal 15
Oktober. Nah, isunya nih, Geng, sudah
terselesaikan. Tapi gua lihat malah yang
sekarang bertengkar itu adalah sesama
netizen yang berada di dua belah pihak
yang terbelah gitu. Gua tekankan ya,
karena isu seperti ini jangan membuat
kita jadi terpecah belah. Apalagi jika
masalahnya udah selesai ya dari
internalnya udah kelar gitu. Biarkan ini
jadi pelajaran untuk kita semua untuk
berhati-hati dalam menayangkan sesuatu
dengan narasi yang kita buat karena
belum tentu diterima oleh semua orang.
Itu dia geng pembahasan kita kali ini
mengenai gerakan boikot ras 7 yang
diinisiasikan oleh netizen khususnya
bagi mereka yang punya background santri
yang disebabkan oleh tayangan video yang
dianggap membuat pesantren jadi
diframing secara negatif. Gimana, Geng,
menurut kalian? Coba tinggalkan komentar
di bawah.