TRANS 7 ATTACKED BY STUDENTS DUE TO NARRATIVES DEPRECIATE KIAYAI & ISLAMIC BOARDING SCHOOL
NEpSLrfep6w • 2025-10-16
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, kasus robohnya bangunan di Pondok Pesantren Alkozini menimbulkan dampak yang cukup besar di masyarakat. Dari kasus ini, publik akhirnya tahu jika banyak bangunan pesantren yang ternyata tidak memiliki izin mendirikan bangunan atau IMB. Ada juga yang ternyata baru tahu kalau ada sebuah kebiasaan atau budaya di pesantren yang menerapkan hukuman ke para santri yang mana salah satu hukumannya adalah untuk membantu ngecor bangunan di pondok tersebut. Ratusan santri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur ini tengah bekerja bakti dalam proses pengocoran gedung Ponpes empat lantai. Dalam video yang viral di media sosial itu terlihat santri tak menggunakan alat keselamatan seperti helm proyek. Nah, ini jujur aja ya ee mungkin enggak semua pesantren ya ada beberapa yang mewajibkan hal seperti itu dan mungkin ya aturan seperti itu punya maksud tersendiri dan tujuan tersendiri. ada yang maksudnya baik, ada yang mungkin maksudnya itu sebagai apa ya hukuman yang enggak harus ee menyakiti fisik atau secara enggak langsung pesantren ingin mengajarkan ee hal lain kepada para santri ya, terutama skill dalam bangunan mungkin ya. Gua enggak tahu juga ya kita orang yang dari luar pondok atau luar pesantren kayaknya enggak bisa terlalu mengomentari hal ini terlalu dalam karena kan itu sudah menjadi aturan di sana gitu, Geng. Kita juga harus menghormati. Nah, tapi banyak masyarakat atau netizen yang tentunya merasa miris dengan hal itu dan banyak masyarakat yang mengecam tindakan ini. Namun enggak sedikit juga yang menganggap ini wajar. Terutama bagi mereka yang memang lulusan pondok pesantren dengan mengatakan jika hal tersebut biasa terjadi di sana dan sudah menjadi salah satu upaya bagi pihak pesantren untuk mendisiplinkan santri-santri. Nah, makanya seperti yang gua katakan tadi ya, kita enggak bisa terlalu jauh mencampuri urusan itu. Cuma ya kita membahas ini dari beberapa sudut pandang. Ya, kalau misalkan di pesantren cara menghukumnya seperti itu berbeda lagi dengan di sekolah-sekolah. Contoh kayak kasus yang baru-baru ini terjadi. Nanti kita bakal bahas juga, yaitu seorang siswa SMA yang sibuk ngudut terus digampar sama pihak sekolah atau gurunya atau kepala sekolahnya ya malah demo mana yang lebih baik. Kalau gua secara pribadi ya mending kayak si santri-santri ini diberikan hukuman dengan cara ya disuruh membantu ngecor bangunan ya kan secara enggak langsung itu melatih fisik dia, melatih skill dia di dalam ee pembangunan tersebut ya katakanlah ya sesimpel itu dan itu tidak menyakiti dia gitu. Nah, sementara yang kasus di SMA yang pertama nih jadi problem yang benar-benar besar banget. Si siswanya kena gampar secara fisik itu menyakitkan. Yang kedua ini mencoreng nama baik dunia pendidikan Indonesia karena dampaknya panjang banget. Beberapa siswa-siswa lain tiba-tiba berdemo meminta si kepala sekolah untuk dipecatlah apalah gitu. Mereka mogok untuk belajar. Nah, makanya kalau kita bandingkan kayaknya kasus dari yang santri-santri ini ya enggak buruk-buruk amat gitu ya dengan kasus yang ada di SMA. Nah, tapi kita hari ini fokus dengan kasus para santri yang dari pesantren ini. Nah, jadi geng gara-gara kasus kemarin yaitu pesantren yang roboh, isu tentang kehidupan pesantren jadi sorotan banyak orang sampai ada salah satu stasiun TV yang menayangkan video-video kehidupan di pesantren. Di dalam program tersebut ada video yang memperlihatkan ya bagaimana para santri menundukkan kepala mereka ketika ee berpapasan dengan kiai. Pemberian uang terhadap pemuka agama atau guru atau kiai di sana. bahkan sampai mencium tangan kiai. Hal-hal seperti ini ya memang biasa ya kita temukan di pesantren. Nah, namun yang justru membuat orang-orang di luar menjadi berkomentar negatif adalah narasi dari voice over atau narasi dari si pembawa berita di dalam tayangan tersebut di dalam acara TV itu yang mana seolah-olah ya si voice over-nya itu mencemooh kiai, mencemooh santri, mencemooh pondok pesantren. Mulai dari nyapu, ngepel, nyuci pakaian, cuci perabotan dapur, bahkan ngelap daun tanaman, koleksi kiai. Dan kiainya sebagian orang menganggap ini tuh layaknya feodalisme di zaman penjajahan. Nah, karena itulah muncul sebuah gerakan di media sosial untuk memboikot stasiun TV tersebut. Tuntutan ini berasal dari orang-orang yang berasal dari kalangan santri, keluarga kiai, dan siapa saja yang merasa jika tayangan tersebut menuai kata-kata yang enggak pantas atau merendahkan sehingga menciptakan narasi yang enggak benar terhadap pondok pesantren. Nah, di video kali ini kita bakal bahas nih, Geng, tentang ee bagaimana hal ini bisa terjadi dan kok bisa kasus ini jadi besar banget. Sekarang jadi heboh banget nih, Geng. Di mana-mana ada protes, ya gara-gara stasiun TV tersebut. Nah, langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo geng, welcome back to kamar Jerry [Musik] Genggeng. Untuk pembahasan yang pertama, kita akan bahas dulu tayangan provokatif terhadap pondok pesantren ini. Jadi, geng pasca insiden yang menimpa Pondok Pesantren Alkozini yang sampai menelan banyak korban karena diduga tidak memiliki izin dan struktur bangunan yang tidak sempurna menimbulkan gelombang reaksi negatif di tengah-tengah masyarakat. Jujur aja ya, Geng. Kalau gua ditanya komentar soal pesantren Alkozini kemarin, jujur gua di situ tuh agak apa ya, agak agak agak enggak terima, sedih juga, terus agak geram juga dengan pernyataan ee pihak pengurus pondok pesantren yang bilang kalau ini takdir. Terus juga ya cukup miris dengan penemuan sebuah mobil Mercy mahal di reruntuhan pondok pesantren itu yang mana seharusnya tuh mobil kalau dijual terus memperbaiki atau membuat struktur bangunan yang lebih baik kayaknya cukup gitu. Di bagian situ sih jujur gua mengkritisi itu. Di bagian hal itu gua merasa sakit hati aja gitu sama tuh pesantren ya. Tapi di bagian lain ya jelas enggak. Tujuan pesantren itu positif ya. Mengajarkan para santri untuk e memperdalam ilmu agama. ya kan? Memperdalam kajian mereka terhadap Al-Qur'an itu sangat positif. Harusnya di-support. Nah, yang enggak bisa kita support adalah bagaimana si pengurusnya membangun sebuah tempat belajar mengajar yang enggak aman untuk para santri. Nah, itu patut banget kita kritik ya kan. Gara-gara kasus di pesantren Alkozini ternyata dampaknya enggak cuma dirasakan oleh pondok pesantren itu aja, namun juga pondok-pondok yang lain terkena imbasnya karena kecenderungan dari netizen yang suka menggeneralisasi sesuatu. alias menstereotypek semuanya. Kalau misalkan pesantren A bikin salah, seolah-olah semua pesantren salah. Padahal belum tentu pondok pesantren lain bangunan dan tata kelolanya seperti pondok pesantren Alkozini. Walaupun ya sudah ditemukan banyak pesantren yang tidak memiliki IMB. Hal inilah yang membuat isu tentang pondok pesantren masih jadi topik hangat yang dibicarakan di media sosial. Sampai pada akhirnya isu tersebut tidak hanya menjadi konsumsi media aja, tapi sudah merambah ke stasiun TV nasional. Ada salah satu stasiun TV yaitu Trans 7 di sebuah program yang bernama Expos Unsensor yang menampilkan salah satu episode yang tayang pada hari Senin tanggal 13 Oktober 2025 dengan judul yang provokatif. Jujur ya dari nama programnya aja udah provokatif banget. Expos unsensor. Wah gila berarti kan tanpa sensor gitu yang diekpos tanpa sensor berarti berani banget. Judulnya lebih provokatif lagi. Tulisannya kayak gini. Santrinya minum susu aja kudu jongkok. Emang gini kehidupan pondok? What? Duh, ngerime tapi mencolok gitu ya. Menusuk hati gitu. Enggak cuma judulnya aja, Geng. Tayangannya berupa kompilasi dari video-video kehidupan santri di pondok pesantren juga ikut ditampilkan. Tapi narasi yang dibawakan dengan voice over-nya dinilai sangat merendahkan atau mencemooh. Jadi, ada tayangan video yang dinarasikan oleh expos ya dengan kalimat disuruh ngepel sampai ngelap daun. Voice over-nya melanjutkan dengan kalimat udah kaya raya, dikasih banyak amplop, eh pekerjaan mengurus rumah yang seharusnya dikerjakan oleh asisten rumah tangga dialihkan dong ke santri dan santriwati. Karena belakangan viral nih beberapa video para santri dan santriwati berberes rumah kiainya. Mulai dari nyapu, ngepel, nyuci pakaian, cuci perabotan dapur, bahkan ngelap daun tanaman koleksi kiainya. Sebagian orang menganggap itu tuh layaknya feodalisme di zaman penjajahan. Namun, bagi sebagian santri, melakukan kerja bakti di rumah kiai adalah keistimewaan walau gratisan. Udah kayak raya dikasih banyak amplop. Eh, pekerjaan mengurus rumah yang harusnya dikerjain oleh asisten rumah tangga dialihkan dong ke santri dan santriwati. Nah, jadi kurang lebih begitu, Geng, narasi dari video tersebut. Enggak cuma kalimatnya aja yang ngeselin, tapi nada dari voice over-nya juga terdengar meledek-ledek para santri tersebut. Jujur aja nih, Geng, ya. Sebagai orang yang lahir besar di Aceh dulu waktu kecil ya, gua tuh pernah melakukan hal ini walaupun bukan e sebagai santri yang mondok. Dulu gua belajar ngaji di TPA, tempat pengajian Al-Qur'an. Nah, kita terhadap guru ngaji itu memang harus apa ya kayak eh gimana ya? Kayak hormat udah pasti. Terus juga terkadang ee kita ada inisiatif sendiri nih, itu guru misalkan datangnya naik motor, tiba-tiba di jam istirahat kita sama teman-teman kayak, "Eh, ambil motor Bu Guru atau ambil motor Pak Guru, kita cuci, kita cuci." Dan itu menurut gua bukan sesuatu yang haram, bukan sesuatu yang salah, enggak juga disebut feodal di zaman gua kecil dulu, ya. Tapi itu adalah sebuah bentuk penghormatan dan penghargaan kita terhadap guru. Dan ada juga guru yang ee tipikalnya dia enggak punya rumah. Misalkan dia itu ee didatangkan dari kota lain. Nah, akhirnya dikasih satu ruangan di TPA tersebut. Ruangan itu untuk dia tinggal bersama suaminya misal ya kan. Nah, ketika dia sedang mengajar kita melihat tong sampah di depan ruangan atau unit dia tinggal itu penuh. Kita ambil kita buang. Kacanya kotor kita lap. itu sangat biasa terjadi. Apalagi santri yang mondok. Emang santri mondok mau ngapain lagi? Mau ngapain di dalam pondok? Lu coba rasain mondok deh. Mereka tiap hari belajar ibadah, terus kalau misalkan mereka tiba-tiba nyari kegiatan lain dengan membersihkan rumah kiai. Gua rasa itu sangat-sangat wajar. Sangat-sangat wajar. Kita aja enggak mondok dulu ya. Kita belajar kajian di TPA yang selesainya kita pulang. kita masih mau membersihkan rumah guru ngaji kita yang mana atau tempat tinggalnya dia yang juga ee di lingkungan TPA tersebut. Itu perlu gua kasih gambaran. Jadi, buat yang bikin narasi ini yang salah bukan si voice over dari TV itu ya, tapi script writernya yang salah. Scriptwriternya, producernya yang salah. Lu harus belajar dulu, lu rasain dulu deh mondok itu seperti apa. Enggak ada tuh kegiatan lain ya di sana selain belajar mengajar. mungkin nge-game ada atau main handphone ada. Tapi karena saking mereka itu enggak punya kegiatan lain, membersihkan rumah kiai, membersihkan rumah gurunya kayaknya itu enggak enggak sebuah hal yang negatif deh. Mengisi kekosongan, mengisi mengisi kegiatan dengan hal yang positif. Ketimbang anak-anak yang di luar pondok yang kerjanya apa ya? Kerjanya tawuran atau bawa cewek checkin di redo doors. Betteran mana lebih baik mana? Lebih feodal mana? Itu aja sih ya. Coba dipikirin dulu nih ya buat si voiceovernya. Oke, kita lanjut lagi. Kemudian nih, Geng, ada video yang ditayangkan juga oleh program tersebut yang menunjukkan kalau kiai di pondok pesantren ini semacam digambarkan kaya raya. Harga mobilnya bisa sampai miliaran rupi harga sarungnya sampai jutaan. Sementara para pengikutnyaalah yang memberikan amplop berisikan uang. Diketahui juga di antara video-video yang tayang tersebut ada yang berasal dari video santri di Pondok e Lirboyo. Untuk narasi kayak gini nih, Geng. Sebenarnya ada benar ada enggaknya ya. Ee di dalam Islam kita diajarkan untuk sederhana, bukannya bermewah-mewahan. Tapi ketika seorang pemuka agama terlihat bermewah-mewahan ya patut apa ya kita ini juga ya maksudnya kayak dikritik boleh tapi ya jangan di luar konteks lah. Contohin aja kayak gini. Misalkan itu mobil, sarung atau baju mahalnya dia ternyata dihadiahkan oleh alumni pondok pesantren misalkan. Kan banyak tuh alumni yang tiba-tiba jadi pengusaha kaya, terus dia menghormati kiainya, dia balik, dia kasih uang, dia kasih mobil, rasa-rasanya itu wajar aja, enggak sih? Ya. Nah, tapi kalau memang segala barang mewah itu dibeli dengan hasil hasil ee sumbangsi atau biaya dari pesantren yang diberikan oleh para santri, ya itu rasa-rasanya enggak pantas. Nah, jadi balik lagi nih ke akar permasalahannya itu kira-kira barangbarang itu dari mana dan ya eloknya gitu ya. eloknya memang seorang pemuka agama itu tidak bermewah-mewahan. Lebih baik sederhana. Itu yang eloknya. Tapi kalau misalkan ternyata ada yang bermewah-mewahan, ada yang koleksi mobil sport atau segala macam, ya udahlah itu urusan mereka gitu ya. Kita tidak bisa mengurusi seseorang sampai ke hal-hal yang pribadi gitu, Geng. Terus, geng ya balik lagi nih. Salah satu video yang ditampilkan ternyata berasal dari salah satu video santri di Pondok Lirboyo tadi. Pondok pesantren tersebut juga sedang ramai diperbincangkan karena kasus rubuhnya bangunan di Pondok Pesantren Alkozini. Karena ada video ketika santri di pondok pesantren tersebut yang disuruh ngecor bangunan. Video viral di media sosial ini memperlihatkan ratusan santri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur kerja bakti dalam proses pengecoran gedung berlantai 4 di pondok pesantren tersebut. Sebagaimana layaknya tukang bangunan, para santri ini dilibatkan dalam proses pengecoran. Dan video tersebut ramai, Geng, di sosial media. Transju dianggap tidak menyajikan tayangan yang berimbang, katanya sehingga menyudutkan kiai, santri, serta pesantren. Padahal sebenarnya ada kebaikan-kebaikan lain dari pesantren Lirboyo ini yang tidak disorot dan juga tidak ditayangkan oleh Trans Tujuh. Singkat ceritanya, ketika video tersebut tayang, tidak butuh waktu lama sampai pada akhirnya banyak kritikan yang muncul karena video tersebut. Terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan santri dan alumni-alumninya. Mereka menyurukan untuk memboikot Trans 7 di media sosial sampai gerakan ini jadi trending, Geng DX. Dan ada template di Instagram untuk menyuarakan aksi boikotnya. Pemboikotan ini ya diambil karena menganggap apa yang ditayangkan oleh Trans TUJ di dalam program Expos Ansensor membuat orang-orang jadi melihat santri, kiai, dan pondok pesantren dengan citra negatif. Nah, yang mana dalam artiannya tayangan tersebut dianggap merupakan sebuah hinaan. tentunya orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren atau orang yang berkecimpung di ranah keagamaan itu enggak akan sepakat ya dengan hal ini sehingga mereka mengecam tayangan di Trans Tuju tersebut. Dan reaksi tersebut tidak hanya disuarakan melalui media sosial aja tapi juga dengan aksi nyata. Ratusan orang yang terdiri dari santri dan umat muslim mendatangi kantor Trans TU sebagai aksi protes mereka terhadap tayangan dari Trans TUJ yang dianggap merupakan framing negatif terhadap pondok pesantren dan ulama besar atau kiai. Tayangan tersebut juga udah diketahui, Geng, oleh Pengurus Besar eh PBNU, K. H. Yahya Kholil Staquf atau Gus Yahya menyampaikan keberatan dan protes keras terhadap tayangan tersebut. Dan menurutnya tayangan itu enggak cuma melanggar prinsip jurnalisme, tapi juga sekaligus melecehkan pesantren dan tokoh-tokohnya. Beliau menilai isi tayangan tersebut secara terang-terangan telah menghina dan merendahkan dunia pesantren. Enggak hanya menyentuh institusi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tetapi juga menyudutkan tokoh-tokoh pesantren yang sangat dihormati oleh orang-orang NU. Nah, Gus Yahya ini menyebutkan bahwa konten tayangan itu enggak hanya mencederai nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh dunia pesantren, tapi juga berpotensi mengganggu harmoni sosial di tengah masyarakat. Dan beliau menilai tayangan itu sudah membangkitkan amarah di kalangan pesantren dan warga NU. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, saya menyatakan keberatan dan protes keras terhadap tayangan Tran TUJ dalam segmen acara Expos Uncensored yang ditayangkan kemarin, hari Senin, 13 Oktober 2025. Nah, sebagai langkah awal PBNU menuntut pihak Transet Tuju dan induk perusahaannya yaitu Transcorporation untuk mengambil langkah nyata dan bertanggung jawab atas kerusakan sosial ee yang ditimbulkan akibat tayangan tersebut. Dan PBNU juga sudah menginstruksikan kepada lembaga hukumnya untuk menempuh jalur hukum. Beliau memastikan bahwa langkah-langkah konkret akan diambil agar kasus ini diselesaikan dengan baik dan sesuai dengan koridor hukum. Sementara itu, Gus Yahya mengajak para kiai, santri, dan warga NU untuk tetap teguh dan tidak kehilangan semangat dalam berhitmah. Ee meskipun ada pihak-pihak yang tidak menyukai pesantren beserta nilai-nilainya. Terus, Geng, ada juga beberapa tuntutan yang diajukan oleh para alumni dari Pondok Pesantren Lirboyo terkait video yang ditayangkan oleh Trans Tujuh. Yang pertama ini ya, ada yang mengecam pihak Trans TUJ yang menayangkan tayangan yang meremehkan kiai, santri, dan pesantren. Khususnya kiai pesantren Lirboyo yang di dalam tayangan tersebut. Terus kedua menuntut pihak Trans Tujuh agar meminta maaf secara terbuka dan secara khusus kepada e Masyik Pondok Pesantren Lirboyo. Masyik sendiri adalah kumpulan orang yang tergabung di dalam sebuah lembaga organisasi dan suborganisasi. Dan ketiga ya ee mereka juga meminta Trans TUJ untuk menarik semua tayangan tersebut dari platform media. Terus yang keempat meminta kepada Trans 7 untuk menayangkan edukasi khusus kiai dan pesantren secara utuh tanpa dipotong baik untuk sumbangsi sejarah dan mencegah kesalahpahaman kepada masyarakat. Terus yang kelima, jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, maka pihak dari alumni Pondok Pesantren Lirboyo akan menempuh jalur hukum pidana maupun perdata. Terus kemudian nih, Geng, ada seorang budayawan peneliti sekaligus dosen dari UIN Saizu Purwokerto. Namanya itu adalah Pak Dimas Indianto. Dia menyebutkan jika tayangan tersebut dipenuhi dengan logical falesy atau sesat pikir yang dampaknya menimbulkan stereotype terhadap pesantren. Nah, pertama pendidikan pesantren itu sering disalahpahami oleh mereka yang memandangnya dari perspektif pendidikan Barat yang serba formal dan struktural. Nah, ini harus dibedain nih, Geng, ya. apa yang kita jalani di sekolah formal biasa, sekolah reguler dengan pesantren jangan disama-samain gitu karena ya udah pasti beda. Terus mana yang lebih baik? Masing-masing ada kebaikannya, masing-masing juga ada kekurangannya gitu. Jadi jangan dibanding-bandingkan. Terus, geng, ya, dikatakan juga oleh si bapak ini ya, padahal pesantren memiliki nilai yang berbeda. Pesantren bukan cuma menjadi tempat belajar ilmu agama, melainkan tempat untuk membentuk manusia dengan pemikiran yang apa ya, yang lurus, utuh, terutama dalam akhlak dan adab. Nah, di sinilah letak keunikan dari pesantren itu, yaitu pendidikan yang hidup dan berlangsung sepanjang waktu. Bukan hanya di dalam ruang kelas. Di pesantren, santri tidak dibatasi oleh jadwal pelajaran seperti di sekolah umum yang mana ya masuk jam .00, pulang jam .00 gitu kan. Nah, kalau di pesantren enggak. Mereka belajar terus selama mereka berada di sana. Pendidikan di sana akan terus berlangsung melalui interaksi, teladan, dan pengabdian kepada kiai. Sikap hormat dan adab yang harus dijaga oleh santri terhadap kiai itu bukan dipandang sebagai sekedar formalitas, melainkan wujud penghormatan terhadap ilmu dan ee pemberi ilmu. Sebagian pihak mungkin memandang adab santri terhadap kiai seperti berbicara dengan sopan, menundukkan badan, atau berjalan membungkuk sebagai bentuk feodalisme. Tapi sebenarnya tindakan ini lahir dari kesadaran spiritual bahwa ilmu membutuhkan penghormatan. Adab harus lebih tinggi dari ilmu. Benar banget kok. Enggak ada yang salah. Kecuali ya udah kelewatan misalkan kayak air cuci kaki kiai diminum atau ludah kiai ditelan atau apalah. Ah itu udah air celup jarinya diminum. Ah itu udah sesat. Tapi kalau hanya sekedar memberikan penghormatan, sopan santun, kayaknya enggak ada salahnya deh. Kalian coba ke Jogja, kalian coba ke Solo. Kalian lihat tuh anak-anak muda di Jogja, di Solo ya yang asli Jogja, warga Jogja yang masih tinggal di lingkungan apa, desa-desa atau mungkin ganggang gitu ya. Kalau di depan nenek-nenek tua ya mereka tuh jalannya nunduk, "Mbah, mbah kok salut banget." Jogja, Solo tuh ih pokoknya Jawa Tengah tuh ih mantap banget deh. Lembut banget. Itu kan enggak perlu menjadi seorang santri juga mereka harus kayak gitu. Tapi memang ada adat istiadat atau culture-nya mereka yang menghormati orang tua dan itu enggak salah. Toh kiai di sebuah pesantren itu juga orang tua kan. Mereka kan juga selain mereka juga memberikan ilmu kepada para santrinya, mereka juga orang tua dan wajar banget mereka mendapatkan penghormatan. Tapi ingat, yang berlebihan itu gak baik. Seperti yang gua katakan tadi, contoh air celup jarinya lah dijual atau karomah-karomah dan lain pokoknya yang berlebihan, yang lebai-lebai itu kayaknya enggak. Itu enggak banget. Tapi kalau sekedar penghormatan itu kayaknya wajib gitu. Nah, terus kita lanjut lagi nih. Yang kedua nih yang dikatakan oleh si Bapak ini ya masih dari Pak Dimas. Gus Dur mengatakan jika pesantren adalah bagian dari subculture dan itu artinya di pesantren ada satu konsep budaya yang menjadi kesepakatan bersama. Di dalam tradisi pesantren, berbicara kepada kiai harus penuh dengan tata krama. Misalnya, suara yang direndahkan, kata-kata yang harus dijaga, dan pandangan yang ditentukan. Dan semua ini merupakan pendidikan akhlak yang tidak bisa diajarkan melalui buku. Namun, itu semua dipraktikkan, dirasakan, dan dijalani. Pendidikan seperti ini tidak akan ditemukan di ruang belajar formal yang hanya menekankan kemampuan kognitif. Santri juga dilatih untuk mengabdi kepada kiai melalui bantuan sehari-hari seperti menimba air, menyapu halaman, membersihkan rumah sampai mengurus keperluan kecil dari kiai tersebut. Dan pekerjaan ini sering dianggap sebagai kerja kasar oleh sebagian orang yang tidak memahami pesantren. Tapi di dalam kultur pesantren, pengabdian ini adalah bagian dari proses mendidik mendidik jiwa dari seorang santri. Nah, saat seorang santri membantu kiai, mereka sesungguhnya belajar banyak hal. Mulai dari ketelitian, kedisiplinan, kesabaran, sampai keikhlasan. Semua itu membentuk karakter santri yang menjadi pribadi yang siap terjun ke masyarakat dengan penuh tanggung jawab. Enggak usah jauh-jauh ke pesantren ya. Lu nonton aja deh film-film Soulin yang mungkin agamanya beda ya. Agamanya beda. Lihat bagaimana tuh para anak-anak kecil yang hidup sebagai Shin itu kan di bihara-bihara sana ngambil air pakai timba ya ngambil apa namanya? Ngambil buah-buahan di hutan terus diberikan ke gurunya. Kayaknya mirip aja. Mirip. Cuma beda agamanya aja ya. Balik lagi sudah banyak yang tertuci otaknya dan pandangannya terhadap Islam. Jadinya apapun yang ada di dalam dunia Islam tuh kayaknya dibenci ya jemah mereka. Termasuk terkadang orang Islamnya sendiri gitu. Padahal kalau kita pikir-pikir budaya atau sistem seperti pesantren ini enggak cuma di Islam aja, bahkan di dunia Buddha pun ada. Nonton aja film Shaulin. Kalau enggak percaya nonton aja. Bedanya di sana belajarnya kungfu, kalau di dalam pesantren belajarnya silat. Ya gitulah. Terus geng ya kita lanjut lagi nih. Yang ketiga, ketika sudah lulus dan sukses di masyarakat, banyak santri yang kembali kepada kiai dengan membawa amplop berisi uang sebagai bentuk terima kasih. Nah, ini yang gua katakan tadi nih. Tradisi ini dikenal sebagai bisyarah. Amplop tersebut bukanlah upah, melainkan ungkapan syukur dan penghormatan. Bagi santri, keberhasilannya itu merupakan hasil dari doa kiai yang dikabulkan. Kultur tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan santri dan kiai tidak pernah putus. Pendidikan pesantren tidak berakhir pada ijazah atau wisuda, namun berlanjut seumur hidup. Seorang santri bakal selalu menjadi murid e dan kiainya akan selalu menjadi guru. Nah, ibaratnya tuh dia punya guru spiritual gitu dan relasi ini bersifat spiritual moral bukan hanya administratif formal seperti sekolah-sekolah biasa, sekolah kita SMA kita sudah lulus ya udah kita sudah lupa sama guru kita terkadang ya kan. Nah kalau di pesantren enggak hubungan itu akan terjalin terus sampai mati gitu. Nah hal inilah yang membedakan pesantren dengan model pendidikan Barat. Pendidikan Barat sering sekali menekankan pencapaian akademik, nilai ujian, serta sertifikat ya kan. Kayak mendapatkan rapor, nilai tinggi ya. Bahkan ada yang wisudanya tuh sampai gini-gini di apa, di kamera seolah-olah tuh apa yang dia jalani selama sekolah itu adalah ee perbudakan gitu. Pas dia lulus rasanya lega dari perbudakan, dia langsung wei fak fak gitu kan. Nah, itu bedanya pendidikan barat sama pendidikan pesantren. Nah, pesantren justru menargetkan sesuatu yang lebih dalam yaitu pembentukan jiwa. Dalam pendidikan pesantren, kegagalan bukan diukur karena nilai yang jelek, melainkan dari rusaknya akhlak dan moral. Nah, di dalam pesantren ada kalimat yang berbunyi, "Alabu fauqol ilmi" yang artinya adab atau akhlak berada lebih tinggi tingkatannya dibandingkan ilmu itu sendiri. Yang artinya jika seseorang yang memiliki ilmu namun tidak punya adab, itu tidak menjadikan dia sebagai orang yang bijak. Karena itulah di pesantren santri bakal diajarkan untuk selalu menjaga hati, menghormati guru, dan tidak sombong meskipun memiliki banyak pengetahuan. Meskipun banyak yang memprotes dan memboikot Trans Tujuh, tapi ada netizen yang mencoba untuk melihat hal ini dari dua sisi. Salah satunya adalah Adrin Vandra. Dalam video yang dia unggah di Instagramnya, dia mengajak agar kita menghindari sentimen-sentimen negatif dulu dan membuka pikiran kita. Adrin ini menjelaskan video-video yang ditampilkan oleh Trans Tuju dan dari penggunaan kalimat yang digunakan di dalam voice over-nya ketika mengomentari video-video itu adalah mendeskripsikan apa yang ada di video tersebut. ya. Karena video e yang ditayangkan itu bukanlah video editan atau e pembuatan AI, melainkan video asli yang memang terjadi di lingkungan pesantren, kata dia. Nah, tapi geng yang jadi masalahnya adalah dalam program tersebut mengatakan kalau kiai itu kaya raya karena pemberian amplop. Nah, itu kan framing namanya ya. Nah, karena kalimat itulah yang dianggap hanyalah sebuah asumsi dengan menghubung-hubungkan dengan bukti berupa video yang ditampilkan. Padahal belum tentu yang terjadi seperti itu. Belum tentu kiainya kaya raya. Belum tentu kiainya. Ya memang misal dia memang kaya raya, tapi belum tentu karena amplop yang diberikan oleh para santri. Di balik dia berprofesi sebagai kiai, tidak ada undang-undang yang melarang kiai untuk berbisnis juga. Tapi bukan berbisnis agama ya. Contoh nih, misalkan kayak kiai ya, dia mengajarkan ilmu agama tapi di luar itu dia punya bisnis atau usaha kelontong misalkan jual beli beras, punya kebun yang luas, punya kebun sawit atau apa. Emang undang-undang melarang itu enggak kan? Jadi dia kayak rayanya belum tentu dari uang amplop. Menurut Adrin ini bagaimana cara agar bisa membalikkan citra baik pesantren itu adalah dengan memberikan bukti tandingan bahwa kiai-kiai ini tidak kaya karena diberikan amplop. Dan oleh karena itu, tugas dari santri yaitu memberikan bukti tandingan kepada masyarakat untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa apa yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti narasi yang ditunjukkan oleh Trans 7. Jadi bukan cuma menyerang Trans 7 tapi berusaha memberikan kesan yang positif juga nih berdasarkan bukti yang ada. [Musik] Nah, terus ada juga nih, Geng, netizen yang secara terang-terangan malah membela Trans Tuju nih. Ada gitu. Seperti salah satunya akun Instagram dengan username Superarman_moonlight Fox yang mengunggah sebuah video yang direkam di lingkungan pesantren. Dalam video tersebut terlihat para santri yang mengantri untuk mendapatkan jeruk. Ya, namun jeruk tersebut tidak diberikan secara langsung oleh ee si pembagi itu. Mungkin itu adalah salah satu pengurus dari pondok itu ya. Tapi jeruk itu malah diambil dari kerdus kemudian dilempar ke lantai dan para santrinya lah yang harus mengambil jeruk tersebut di lantai. Enggak cukup sampai di situ juga ada juga jeruk yang sampai ditendang oleh pengurus pondok dan para santrinya harus nangkap rebut-rebutan. Nah, terlihat santri-santri itu secara bergerombolan ya memperebutkan jeruk yang ditendang. Nah, kalau ini jujur aja ini salah ya. Kalau gua pribadi sih gua menilainya salah. Itu bukanlah ee sesuatu yang bisa dianggap sebagai manusia beradab gitu. Makanan ditendang-tendang tuh enggak baik. makanan digelinding-gelindingin di lantai itu enggak baik, ya kan? Nah, kalau ini gua yakin 1000% bukan ajaran, bukan ajaran turun-temurun atau bukan ajaran yang menjadi culture di pesantren, tapi ini bisa dikatakan dengan kalimat ya terserah mau senang atau enggak, tapi inilah oknum. Jadi sekumpulan orang ya, sekelompok manusia ada satu yang cacat. Cacat inilah yang disebut dengan oknum. Enggak semua orang itu benar. Dari sebanyak itu pesantren di muka bumi ini atau di Indonesia ini khususnya, ada satu pesantren yang ada orang cacatnya tuh contohnya tuh di video itu tuh orang cacatnya tuh gua bisa berani bilang dia cacat karena dia nendang-nendang makanan terserah tuh orang enggak senang sama gua, silakan. Tapi menurut gua gara-gara dia, gara-gara video dia itu jadi memperburuk citra pesantren, ya kan? Terus, Geng, selain itu ada lagi video yang diposting oleh akun lain nih, Geng. Yaitu akun wargabahagia. Yang memperlihatkan ada seorang pemuka agama yang menyalami santri-santri. Di antara santri-santri tersebut ada yang memberikan salam tempel dengan menyelipkan uang ke tangan pemuka agama itu. Nah, isi komentarnya pun juga diisi oleh netizen-netizen yang memihak kepada Trans Tuju. Orang-orang yang membela Trans Tujuh rata-rata menyebutkan jika apa yang ditayangkan itu adalah salah satu dari fakta pondok pesantren. Tapi kenapa banyak orang yang justru tidak terima fakta tersebut? Ya, mau kalian setuju atau enggak ee ini penilaiannya dari kalian ya. Yang jelas di sini gua hanya menyampaikan beritanya bukan membela satu pihak. Tapi jujur kalau kalian tanya nih ya, apakah hal yang dilakukan di situ seperti menyalami e kiai terus ngasih duit itu adalah hal yang haram atau dilarang agama? Sebenarnya sih enggak ya. Karena kan kita enggak tahu itu acara apa ya bisa jadi mungkin si kiainya habis ngisi ceramah tapi tidak dibayar. Nah, melainkan keikhlasan dari para pendengarnya, keikhlasan dari para santrinya mau ngasih ee santunan berapa atau ee bersedekah. Itu kan enggak itu kan enggak salah sebenarnya kalau menurut gua enggak salah. Nah, tapi kan kalau di framing seolah-olah ee kiai itu wajib dikasih amplop, dikasih duit, ya. Akhirnya kan terlihat dan terdengar salah, ya kan? Ya, logikanya gini, lu ke tukang urut aja, lu rela kok ngasih duit seikhlasnya? Ya kan? Ini masa ke seorang pemuka agama yang memberikan kita ilmu, mencerahkan ee batin kita gitu ya. Kita enggak boleh ngasih sesuatu. Ya, itu aneh banget menurut gue. Seharusnya ya boleh-boleh aja. Tapi kita gak tahu nih apakah di dalam video tersebut di belakangnya mereka diwajibkan untuk ngasih duit atau seikhlasnya. Kalau misalkan itu diwajibkan lu harus ngasih duit lah itu salah. Tapi kalau misalkan yang mampu boleh kasih, yang tidak mampu tidak apa-apa itu enggak salah menurut gua. Enggak salah menurut gua nih. Tapi terserah nih menurut kalian. Setelah mendapatkan kecaman, bahkan adanya gerakan untuk memboikot Trans T 7, akhirnya ya pihak Trans 7 memberikan klarifikasi. Sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan ya klarifikasi dari pihak Trans Tuju. Jadi geng pasnya mendapatkan kritik kecaman bahkan sampai ke ancaman untuk di boikot. Trans pun memberikan klarifikasi lewat unggahan di akun Instagramnya. Pihak Trans Tujuh menyampaikan jika mereka sudah melakukan review dan tindakan-tindakan atas ketelodoran yang kurang teliti sehingga merugikan keluarga besar dari Pondok Pesantren Lirboyo khususnya. telah setuju menyampaikan permohonan maaf kepada segenap kiai dan keluarga dan para pengasuh, santri serta alumni Pondok Pesantren Lirboyo khususnya di bawah naungan Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat. Trans juga menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas ketidaknyamanan mereka terkait ee tayangan ee video tersebut. Dan pihak Transuju juga menegaskan jika mereka sudah menyampaikan permohonan maaf kepada Gus Adib, salah satu putra dari K. K. H. Anwar Mansyur dan Trasu juga sudah menyampaikan surat permohonan maaf secara resmi kepada beliau. Enggak cuma satu klarifikasi aja yang diberikan, ada juga Andi Kairil selaku production director Tras 7J juga menyampaikan permintaan maaf atas kelalaian mereka mengenai narasi di dalam program tersebut. Sama dengan klarifikasi sebelumnya, pihak Transuju menyampaikan permintaan maaf kepada pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, pengasuh, santri, dan alumni pondok tersebut. Mereka mengakui kelalaian dalam isi pemberitaan itu yang mana mereka tidak melakukan sensor yang mendalam secara teliti dari materi yang merupakan materi pihak luar. Isi pemberitaan itu di mana kami tidak melakukan ee sensor yang mendalam secara teliti materi dari pihak luar. Namun kami tidak berlepas tanggung jawab atas kesalahan tersebut. Namanya aja expos unsensor. Minta maaf karena kurang melakukan sensor. Namanya aja udah unsensor berarti ya memang enggak ada sensornya gitu kan. Nah, terus geng ya menurut dia ya pihak dari Tuju tidak lepas tanggung jawab atas kesalahan ini dan hal ini tentunya bakal menjadi pelajaran bagi Trans Tuju untuk lebih teliti dan untuk memahami ee hubungan antara santri dengan kiai, pengasuh dan juga alumni nantinya. Nah, bentuk pertanggungjawaban dari Trans TUJ juga terlihat ketika pihak Trans Tujuh menerima audiensi dari himpunan alumni Santri Lirboyo yaitu Himasal yang ada di Jabod Detabek pada tanggal 14 Oktober kemarin. Dalam pertemuan tersebut ya Himasal memberikan pernyataan sikap serta pihak Trans Tuju beritikad baik untuk menindaklanjuti hal ini. Nah, kemudian Trans Tuju mengunggah video ketika mereka bersilaturahmi ke pemimpin Pondok Pesantren Lirboyo pada tanggal 15 Oktober. Nah, isunya nih, Geng, sudah terselesaikan. Tapi gua lihat malah yang sekarang bertengkar itu adalah sesama netizen yang berada di dua belah pihak yang terbelah gitu. Gua tekankan ya, karena isu seperti ini jangan membuat kita jadi terpecah belah. Apalagi jika masalahnya udah selesai ya dari internalnya udah kelar gitu. Biarkan ini jadi pelajaran untuk kita semua untuk berhati-hati dalam menayangkan sesuatu dengan narasi yang kita buat karena belum tentu diterima oleh semua orang. Itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai gerakan boikot ras 7 yang diinisiasikan oleh netizen khususnya bagi mereka yang punya background santri yang disebabkan oleh tayangan video yang dianggap membuat pesantren jadi diframing secara negatif. Gimana, Geng, menurut kalian? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories