Transcript
gfS502-Pgxo • KORBAN SCAM KAMBOJA MENGAMUK ! 110 WNI BERHASIL KABUR SETELAH MELAWAN PENYIKSA4N
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1578_gfS502-Pgxo.txt
Kind: captions Language: id Geng, hari ini kita bakal ngebahas tentang Kamboja lagi ya. Negara yang di saat ini sedang menjadi sorotan internasional karena sudah menjamurnya perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan orang-orang dari berbagai negara untuk menjadi seorang scammer. ya bahasanya sih membuka lapangan pekerjaan baru ya, tapi ya lapangan pekerjaannya itu benar-benar merugikan banyak pihak dan eh rata-rata ya orang-orang yang dipekerjakan sebagai scammer ini mereka mendapatkan penyiksaan selama berada di kem [musik] tempat mereka bekerja dan enggak sedikit juga hidup mereka justru berakhir di sana dengan organ tubuh mereka yang diperdagangkan. Ya, mengerikan banget. Belum lama ini gua juga baru membahas gitu soal isu dari model asal Belarusia yang dikabarkan meninggal dunia karena dia diculik lalu diperjualbelikan organnya di Myanmar dan juga kita sempat ngebahas tentang banyaknya orang Korea Selatan yang hilang di Kamboja. Kalau berbicara Myanmar dan Kamboja ini mirip-mirip ya karena memang mereka berdekatan juga. Tapi geng di beberapa kejadian sudah ada orang-orang yang berhasil kembali ke negara asal mereka alias selamat. Nah, tidak berselang lama dari kepulangan orang-orang Korea Selatan dari Kamboja, ya syukur alhamdulillahnya sudah banyak juga saudara-saudara kita yang berasal dari Indonesia yang berhasil dipulangkan oleh Kementerian Luar Negeri ke tanah air. Nah, namun ada yang berbeda nih, Geng, dari misi pemulangan warga negara Indonesia ini. di pemulangan mereka kali ini, mereka yang terjebak di sana tidak cuma diam menunggu hingga mereka bisa diselamatkan, tapi mereka justru memberontak, mereka melawan. Mereka berusaha kabur sampai membuat kerusuhan di tempat camp mereka ditampung. Dan untungnya mereka enggak ditangkap oleh perusahaan scam tempat mereka ee dipekerjakan sehingga mereka bisa dipulangkan dalam keadaan selamat. Nah, cuma, Geng, ada di antara mereka yang masih diteror oleh sindikat yang mempekerjakan mereka dan mengancam akan mengeksekusi mereka. Nah, di video kali ini kita bakal merangkum fenomena ini, Geng. Bagaimana pada akhirnya ya orang-orang ini bisa keluar berhasil selamat, serta bagaimana tindakan nyata dari pemerintah Indonesia agar bisa membawa semua korban keluar dari sana. Langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jiri [musik] Ging King. Untuk pembahasan yang pertama, kita bahas dulu nih usaha kabur para WNI atau warga negara Indonesia hingga terjadi [musik] kericuhan di c scammer Kamboja. Jadi, Geng sekitar beberapa waktu lalu, ya sempat terjadi kerusuhan di salah satu tempat yang menjadi markas atau basis dari perusahaan yang mempekerjakan WNI sebagai scammer. Nah, kira-kira lewat enggak nih e di timeline kalian video ini? Coba lihat nih. Dari 97 warga yang melarikan diri, 86 di antaranya diamankan di kantor polisi. Nah, itu video dari para WNI yang berhasil kabur, Geng. Dari markas para sindikat jahat yang mempekerjakan mereka. Nah, tapi yang jadi pertanyaannya apa sih yang sebenarnya terjadi? Kejadiannya itu terjadi di hari Jumat tanggal 17 Oktober 2025 di kota Kitum ya. Tulisannya Kitum. Bacanya gimana nih? Apa Kitam atau Creitum gitu ya. Ini adalah Provinsi Kandal Kamboja. Nah, di hari itu terjadi kerusuhan di salah satu markas atau komplek yang terkenal sebagai tempat dari sindikat kejahatan menjalankan operasinya dengan melakukan penipuan kerja. Mereka mempekerjakan para korban untuk menjadi scammer atau admin judul. Gimana ya? Eh, judulnya aja udah jelas ya. Judulnya adalah markas atau komplek yang terkenal sebagai tempat dari sindikat kejahatan. Kenapa kok dibiarkan sama pemerintah Kamboja? Aneh banget ya. Nah, terus geng seperti sudah menjadi rahasia umum ya di sana. Di kompleks ini, orang-orang tersebut tidak hanya dipaksa untuk menjadi scammer, tapi juga harus mencapai target yang diberikan oleh para sindikat kejahatan dengan jam kerja yang enggak masuk akal dan enggak manusiawi. Jika target itu enggak dipenuhi, maka mereka harus siap menghadapi konsekuensinya, yaitu dengan mendapatkan penyiksaan dalam berbagai bentuk. Dan kemungkinan terburuknya adalah nyawa mereka bisa hilang. Apapun yang tersisa di tubuh mereka kemudian dijual untuk keuntungan sindikat tersebut. Jadi, organ-organnya itu dibelek, dijual. Nah, jadi bisa dikatakan segala sesuatu yang melekat di tubuh para korban harus bisa dijadikan uang [musik] semuanya demi uang. Mulai dari tenaga mereka dikuras sampai dengan ya organ tubuh mereka sendiri. Kerusuhan yang terjadi ketika itu itu enggak bisa dikatakan berjalan dengan mulus tanpa halangan. Sebab para warga negara Indonesia ini mendapatkan perlawanan dari pihak sindikat yang terus menembaki mereka ketika berusaha kabur. Lalu mengapa bisa kerusuhan terjadi di sana nih? Nah, apa nih penyebabnya? Siapa yang memulai? Siapa yang memimpin? Nah, menurut informasi yang didapatkan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI yang ada di Penompen, kerusuhan ini terjadi karena para warga negara Indonesia yang ada di sana ingin keluar, ingin kabur dari perusahaan penipuan online di mana mereka bekerja. Mereka udah kayak putus asa gitu, Geng. Berada di dalam mereka disiksa. Ujung-ujungnya mereka juga nanti bisa kehilangan nyawa karena digituin terus. Ya, sekalian aja lebih baik mereka melawan. Kalau memang mereka dihabisi, ya udah takdirnya sama aja gitu. Cuma jalan dan caranya yang berbeda dan setidaknya mereka sudah berusaha. Dari informasi tersebut dikatakan ada sebanyak 97 warga negara Indonesia yang terlibat di dalam kerusuhan. Nah, namun belakangan diketahui kalau ternyata jumlahnya lebih banyak dari itu, yaitu ada sebanyak 110 orang. Dan menurut informasi yang gua dapatkan dari salah satu sumber, para WNI tersebut berasal dari Medan, Manado, Pontianak, dan juga Batam. Wah, dari kita lihat sih daerah-daerah asalnya daerah orang-orang keras nih ya. Dari Medan, Manado, Pontianak ya, Kalimantan, terus daerah Batam gitu. Nah, rata-rata mereka ini udah lama di Kamboja, tapi beda-beda sih waktu tinggal mereka di sana. Ada yang baru 2 bulan, ada juga yang sampai bahkan sudah 2 tahun. Nah, karena kerusuhan tersebut ya ada sekitar 86 orang WNI yang ditahan oleh pihak kepolisian setempat. Nah, ini konyol banget nih. Bikin rusuh di tempat kejahatan tapi ditahan sama polisi. Itu artinya kan berarti polisi Kamboja juga aduh lolot gitu ya. Masa ia melindungi sebuah perusahaan scam. Terus sementara geng, ada 11 orang yang harus dirawat di rumah sakit karena mengalami luka-luka akibat kerusuhan itu. Dan dari video yang diunggah oleh warga negara Indonesia yang berhasil kabur dari perusahaan scam tersebut dikatakan ada dua orang WNI yang meninggal dunia dalam kerusuhan itu. Nah, namun dari keterangan pihak Kementerian Luar Negeri beruntungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Nah, tapi anehnya katanya ada dua orang yang meninggal dunia. Entah mana yang benar. nih dari pemeriksaan kepolisian setempat ya sayangnya ada empat orang warga negara Indonesia yang harus diproses hukum lebih lanjut alasannya karena mereka diduga melakukan kekerasan dalam aksi itu. Nah, negara kita Indonesia berusaha hadir untuk memastikan keamanan dari para WNI tersebut. Ya, mereka dihukum ee karena mereka melakukan perlawanan. Tapi kan perlawanan untuk penipuan gitu, mereka juga disiksa. KBRI melakukan langkah-langkah dengan berkoordinasi bersama otoritas setempat serta melakukan kunjungan ke konsuleran untuk bisa menemui secara langsung para WNI baik yang ada di kantor polisi maupun yang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Nah, di sini gua heran banget, benar-benar heran ya sama Kamboja ya. Pantesan ee Thailand tuh benci banget sama Kamboja, Geng. Kayak gini ternyata kita baru paham gitu. Dan kalau dipikir-pikir ya, Kamboja nyiksa warga negara Indonesia kayak gitu, itu kalau misalkan Kamboja perang sama Indonesia 100.000% masih menang kita, Geng. Karena gimana ya secara kualitas militernya lebih gila TNI gitu. TNI tuh aduh gua gak bisa enggak bisa ngomong di sini deh. Kalian bisa cek sendiri datanya di internet banyak tapi kok mereka berani banget gitu. Apa mungkin karena negara kita yang enggak terlalu peduli dengan masyarakat masyarakatnya sendiri atau gimana gitu ya mungkin pemikiran pemerintah kita ya udah deh biarin aja deh diapa-apain tuh e warga gua toh kalau misalkan tetap di Indonesia enggak ada lapangan kerja buat ngurang-ngurangin gitu kali ya pemikiran pemerintah kita kali ya padahal kalau dilawan habis itu ya kita ambil contoh zaman dulu ada yang namanya perompak Somalia pernah nahan kapal Indonesia datang ke sana itu kan lebih susah tuh ngelawan tuh ngelawannya di tengah laut perompak Somalia sono tapi menang TNI. Nah, ini Kamboja doang. Jumlah korbannya lebih banyak daripada disandranya kapal. Tapi apa yang terjadi? Ya, kasus ini terus berulang. Wah, sedih banget ya kalau kita pikir-pikir. Semoga Pak Prabowo memperhatikanlah ya hal ini. Selain memulangkan ee saudara-saudara kita yang menjadi korban di sana ya, sekaligus lapangan pekerjaan di Indonesia juga lebih banyaklah gitu. Jangan memperkaya juragan tambang doang gitu kan. Jadi yang lain juga kebagian ya. Amin ya. Terus geng kita lanjut nih. Setelah berhasil kabur dari sana ke 110 WNI tersebut dibawa ke rumah detensi imigrasi penompen untuk ee proses pendataan dan pemeriksaan oleh otoritas setempat. Dan berdasarkan hasil penilaian sementara dari 11 WNI yang melapor dikatakan mereka mengalami kekerasan. Bahkan ada empat orang WNI yang berperan sebagai pemimpin operasi penipuan daring dan juga sebagai pelaku kekerasan terhadap rekan-rekannya. Dan keempat orang inilah yang harus diproses hukum lebih lanjut. Kasus ini pun disebut sudah ditangani oleh pihak kepolisian Kamboja, Geng. Dari keterangan KBRI Pnompen ya, dari total 110 WNI, sebanyak 67 orang dijadwalkan pulang ke Indonesia pada tanggal 22 sampai 24 Oktober 2025. Nah, pihak KBRI sudah memastikan secara penuh terhadap seluruh korban selama proses administrasi dan pemulangan berlangsung. Jadi, sudah dijamin oleh negara. Nah, jadi itu dia, Geng. Bagaimana cerita awalnya ya 110 orang warga negara Indonesia bisa selamat dan kabur dari perusahaan scam tempat mereka dipekerjakan dengan tidak manusiawi. Ya, mereka disiksa di sana dan mereka mengambil keputusan untuk melawan. Nah, oke. Sekarang kita akan membahas cerita-cerita dari para korban nih ya. Bagaimana kondisi mereka di sana? Apa yang mereka alami? Langsung aja kita masuk ke dalam pembahasannya. Jadi, geng, cerita pertama yang bakal kita bahas itu dari korban berinisial V. Dia ini berasal dari kota Tangerang yang diduga menjadi korban TPPO di Kamboja yang mana kakaknya juga bernama Gergorio El Nino Andreas. Nah, dia ini cerita kalau adiknya itu tertipu ee tawaran kerja di luar negeri, tepatnya di Malaysia. Tempat kerjanya ini berada di sebuah restoran. Dia mendapatkan tawaran tersebut. Nah, di saat itu si V ini langsung membuat paspor, terus segala keperluan dokumen-dokumen supaya dia bisa berangkat ke Malaysia. Nah, V pergi dari rumah sekitar sebulan yang lalu. Nah, setelah dia itu pamit ke keluarganya untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka bertemu dengan temannya untuk bekerja, Nino ini sempat bilang setelah pertemuan itu, si adiknya ini V ya, tidak pernah memberikan kabar lagi ke keluarganya. V baru mengabari kalau ternyata pekerjaan yang dijanjikan kepada dia ya, yang katanya dia bakal bekerja di sebuah restoran yang ada di Malaysia, itu semua adalah bohong dan jebakan. Nah, belakangan baru dia menginfokan itu ke keluarganya. Dia justru katanya dibawa ke Vietnam dan dari Vietnam kita udah pasti menebak ya ke mana dia bakal dibawa yaitu ke Kamboja. Nah, V ini dibawa ke sana melalui jalur darat sampai pada akhirnya dia tiba di sebuah tempat yang disebut dengan perusahaan scam online. Nah, beruntungnya nih, Geng, si V ini berhasil kabur dengan para pekerja lain setelah melihat adanya korban yang terluka akibat disiksa. Dari ceritanya si Vino, ya, V ini dibawa oleh pihak kepolisian setempat ke sebuah tempat penampungan. Dia sendiri enggak bisa memastikan tempat tersebut berada di mana dan milik siapa. Tapi ketika berada di sana, V ini menghubungi keluarganya melalui video call. V juga berhasil mendapatkan paspornya. Nah, cuma, Geng, dia itu enggak bisa ee begitu aja pergi dari sana. Dari video yang Nino peroleh dari V, terlihat tempat penampungan tersebut seperti ruang kosong yang memiliki beberapa sekat. Ada sejumlah pria di sana dan Nino sendiri enggak bisa memastikan siapa aja yang berada di sana serta asal mereka. mereka ini dari mana? Dan selain itu V juga sempat membagikan lokasinya dia. Jika dilihat dari Google Maps ya, lokasi penampungan itu berada di wilayah Sangkat Preaeknov, daerah penompen Kamboja. Nah, V ini juga bilang ketika dia pertama kali datang ke sana, dia dibawa oleh pihak kepolisian Kamboja. Namun yang anehnya tempat itu tidak dijaga oleh polisi. Nino sempat bertanya kepada V, apakah yang menjaga tempat penampungan itu adalah ee para petugas imigrasi atau bukan? Nah, namun V juga tidak bisa menjawab hal itu karena tidak tahu siapa orang yang menjaga tempat tersebut, Geng. Nah, meskipun terkurung di dalam tempat penampungan, si V ini masih bisa menggunakan handphone. Namun terkendala karena sinyal di sana agak sulit gitu. Nah, si Nino itu terakhir kali berkomunikasi dengan adiknya si V ini pada hari Selasa eh malam tanggal 21 Oktober 2025. Dia memastikan kondisi adiknya ini baik-baik aja. Dan ada detail lain yang diungkap oleh Nino saat V berada di tempat penampungan tersebut. katanya sempat ada permintaan untuk mentransfer uang sebesar Rp5 juta untuk bisa pulang dan uang tersebut dipergunakan untuk membeli tiket pesawat, Geng. Nah, permintaan tersebut dikoordinasi oleh seseorang yang berada di dalam grup WA yang mana grup tersebut berisi orang-orang yang ada di dalam tempat penampungan. Dan Hino sendiri belum bisa memastikan apakah permintaan itu secara resmi diberikan oleh pihak dari KBRI penompen atau bukan. Sebab ya adiknya si V belum bisa menjelaskan dengan detail bagaimana prosedur tersebut. Nah, Nino juga udah berusaha buat nanya nih ke pihak KBRI yang ada di Kamboja, cuma belum bisa mendapatkan respon sampai sekarang. Dan harapan dari pihak keluarga adalah agar si V ini bisa mendapatkan pengawasan dari KBRI supaya keamanannya bisa terjamin, Geng. Kemudian ada cerita lagi yang diungkap oleh pihak Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia atau P2MI terkait kondisi dari salah satu korban yang namanya disamarkan menjadi Ilham. Jadi, Ilham ini, Geng, berasal dari Bogor ya. Dia ini sudah berhasil kabur dari perusahaan scammer. Tapi meskipun begitu, kondisi dia itu belum bisa dikatakan aman 100%. Kondisinya tersebut juga sudah disampaikan ke pihak keluarga. Nah, P2 MI mendapatkan informasi jika Ilham berangkat ke Singapura awalnya pada bulan September 2025 atas ajakan kenalan adiknya. Jadi, adiknya ini punya kenalan. Nah, Ilham mendapatkan tawaran tersebut dari dia. Di Singapura, Ilham ini sempat bekerja sebagai customer service selama beberapa waktu. Pada tanggal 17 Oktober, Ilham mengabarkan kalau dia sudah berada di Kamboja untuk dipekerjakan secara paksa di perusahaan scammer. Nah, Ilham ini mengaku kalau dia dalam kondisi yang enggak sadar yang mana tiba-tiba dia bangun sudah berada di Kamboja aja. Kemungkinannya jika dia ini dibius dulu, Geng. Sehingga Ilham tidak menyadari ketika dia dibawa pergi ke Kamboja. Dan Ilham ini melarikan diri dari sana. Kemudian meminta pertolongan kepada pihak KBRI Penompen pada tanggal 21 Oktober 2025 agar bisa memastikan kondisi Ilham P2MI itu bakal menyurati perwakilan Indonesia yang ada di Kamboja. Nah, suratnya bakal dikirim oleh pihak ee Direktorat Layanan Pengaduan ee Mediasi dan Advokasi atau yang disingkat dengan LPMA yang mana mereka ini ditugaskan untuk memberi bantuan hukum bagi para pekerja migran Indonesia. Nah, selain itu P2 MI juga sudah melakukan pengumpulan bahan keterangan terhadap kasusnya Ilham ini. Nah, jadi masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Terus ada lagi nih, Geng, cerita dari korban dengan inisial F. Ayahnya yang bernama Firman itu menceritakan bagaimana anaknya itu bisa menjadi korban di Kamboja. Jadi, kabarnya nih ya, F ini menjadi korban penculikan serta eksploitasi oleh sindikat penipuan di Kamboja. Hal ini bisa terjadi setelah F mendapatkan tawaran kerja juga nih sebagai customer service lagi. Di Singapura juga dia ini mendapatkan tawaran dari temannya yang mana ini merupakan sahabatnya lah, teman masa kecil gitu. Dan pada bulan September kemarin akhirnya F ini berangkat untuk kerja di Singapura dan selama dalam kurun waktu sebulan benar-benar bekerja sebagai customer service. Nah, namun di tanggal 17 Oktober secara mendadak tidak bisa dihubungi. Dari cerita firman, di hari itu Ev ini diajak oleh rekannya untuk libur ya liburan dengan naik pesawat. Nah, saat F belum sepenuhnya sadar, dia tiba-tiba sudah berada di sebuah toko. Ini aneh banget nih. Dan keesokan harinya dia tiba-tiba diculik di depan toko tersebut. Dan setelah itu F di Sandra dan dijadikan pekerja paksa untuk penipuan online. Gila ya, teman masa kecilnya loh yang ngejebak dia. Dan menurut cerita dari firman ya, F ini dibawa ke Buffett, sebuah kota di Kamboja yang berbatasan dengan Vietnam. Di sanalah dia dipaksa untuk bekerja sebagai scammer oleh para penculiknya. Nah, F ini kemudian ya merencanakan untuk kabur dengan memanfaatkan waktu ketika diperintah untuk membeli makanan melalui aplikasi ojek online. Dia bersama dengan temannya berhasil kabur dari sana pada tanggal 21 Oktober saat pesanan makanan datang di jam 5.00 pagi. Setelah itu, Ev dan temannya memesan mobil untuk menuju ke KBRI Penompen. Nah, meskipun saat ini dia sudah di bawah perlindungan KBRI, namun dia masih mendapatkan teror berupa chat yang berisikan ancaman dari para sindikat tersebut. Oleh sebab itu, firman ini berharap agar KBRI bisa membantu proses pemulangan F. Selain karena khawatir, Firman juga mengaku kesulitan untuk memenuhi kebutuhan anaknya selama di Kamboja. Dia masih membutuhkan biaya untuk penginapan hotel dan makan sehari-hari yang ternyata tidak ditanggung oleh pihak KBRI. Bayar pajak gitu ya. Giliran ada warga yang terkena musibah di sana dibantu juga kagak. Gila betanget deh pemerintah negara ini. Nah, jadi geng kurang lebih ya begitulah cerita-cerita dari orang-orang yang menjadi korban penipuan dan eksploitasi di Kamboja. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai tindak lanjut pemerintah dalam menangani para warga negara Indonesia yang menjadi korban di Kamboja. Jadi, Geng, meskipun sudah ada sebanyak 110 WNI yang diamankan dan akan segera dipulangkan, tapi faktanya masih banyak sekali WNI yang terjebak di sana. Dan yang lebih mengagetkannya adalah ya ketika pemerintah berusaha sebisa mungkin untuk memulangkan mereka, ternyata masih ada di antara 110 WNI ini yang menolak untuk pulang ke Indonesia. Hal ini diungkap oleh ee Pak Sugiono selaku Menteri Luar Negeri kita. Nah, menurut Pak Sugiono, alasan para WNI yang menolak untuk pulang ini karena mereka ingin mencari kerja di tempat lain, katanya. Jadi, kayak apa ya? Mereka memang lolos dari neraka yang ada di Kamboja, tapi untuk pulang ke kampung halaman juga katanya ya semacam lebih neraka lagi. Pekerjaan enggak ada jadi pengangguran. Hidup capek di sini. Ya, gitulah mungkin ee gambaran yang mereka berikan. Nah, Pak Sugiono ini sendiri menyebutkan pada prinsipnya pihak Kemlu itu menyerahkan kepada para WNI untuk membuat keputusan mereka masing-masing. Akan tetapi, dia memastikan bahwa pemerintah tetap hadir bagi para WNI yang ada di luar negeri, terutama jika mereka memiliki kesulitan selama berada di sana. Sementara itu, Kristina Aryani selaku Wakil Menteri P2 MI itu menyebutkan kalaupun sudah ada banyak kasus mengenai bagaimana skema penipuan kerja yang dijalankan oleh sindikat kriminal yang ada di Kamboja dan bagaimana mereka mempekerjakan karyawannya, masih ada aja WNI yang tergiur untuk bekerja di perusahaan online scam di negara tersebut. Padahal, Geng, Indonesia sendiri tidak pernah menjalin kerja sama penempatan pekerja migran di Kamboja. Nah, jadi ini udah jelas-jelas ilegal. Nah, jadi WNI yang pergi ke Kamboja itu pergi sendiri secara ilegal. Nah, Bu Kristina ini juga mengatakan banyaknya kasus yang dialami oleh warga Indonesia ketika bekerja di Kamboja itu menunjukkan buruknya perlindungan terhadap para pekerja. Selain itu, Bu Kristina juga mengungkapkan bahwa terjadi lonjakan penerbangan dari Indonesia menuju Kamboja dalam seminggu terakhir. Padahal negara tersebut enggak memiliki destinasi wisata yang menjadi perhatian wisatawan seperti Bali atau kayak orang-orang mau ke Vivand, Thailand. Enggak ada. Tapi ngapain ke sana? kok tinggi banget penerbangannya. Nah, dalam seminggu bisa 4 sampai 5 penerbangan ke Kamboja dan ternyata penerbangan tersebut bisa sampai 70% terisi. Nah, kemudian pihak P2MI menemukan adanya visa self employment di Kamboja yang mana ini tidak pernah terjadi di negara-negara lain sebelumnya. Nah, di bulan September kemarin, Duta Besar Kamboja sudah menemui pemerintah Indonesia untuk menyampaikan adanya tren peningkatan warga negara Indonesia yang bekerja di perusahaan online scam. Dari laporan tersebut, Kementerian P2 MI mengirimkan satu tim dari Direktur Cyber P2 MI untuk ee melihat langsung kondisi di Kamboja dan membuat laporan mengenai temuan-temuan yang ada di negara tersebut. Dan laporannya itu bakal diberikan ke Menteri P2 MI dan beliau bakal mengadakan rapat dengan kementerian-kementerian terkait. Nah, dari informasi yang gua dapatkan dari media BBC aja nih, Geng, ya. Selama 3 bulan pertama tahun 2025, KBRI Penompen sudah menangani sebanyak 1301 kasus WNI bermasalah di Kamboja. Nah, angka ini naik menjadi sebesar 174% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu. Gila ya, enggak kapok-kapok orang kita. Nah, secara keseluruhan kasus penipuan online mencakup 85% dari berbagai kasus yang ditangani oleh KBRI penompen. Kasus WNI terlibat penipuan daring di Kamboja mencapai 1112 pada 3 bulan pertama tahun 2025. Dan berdasarkan data KBRI penompen, jumlah ini naik sebesar 263% dibandingkan 306 kasus pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Dan menurut keterangan tertulis yang disampaikan oleh KBRI Penompen, akhir-akhir ini pemerintah Kamboja banyak melakukan operasi penegakan hukum. terhadap tempat-tempat yang dicurigai atau dilaporkan menjadi pusat-pusat penipuan online. Dan menurut pihak KBRI Penompen, hal ini sejalan dengan pembentukan resmi Komisi Pemberantasan Scam Online Kamboja yang diketahui langsung oleh Perdana Menteri Kamboja. Nah, peningkatan jumlah kasus WNI yang bermasalah ini sebagai konsekuensi logis dari peningkatan jumlah WNI yang menetap di Kamboja. KBRI Penompen itu mencatat kasus WNI yang bermasalah sebanyak 3.310 jiwa pada 3 bulan pertama tahun 2025 mencakup sekitar 2,5% jumlah keseluruhan WNI yang tinggal dan bekerja di Kamboja. Wah gila rame banget geng. Direktur perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri yang bernama Pak Juda Nugraha itu menyebutkan bahwa pola keberangkatan WNI ke Kamboja untuk terlibat dalam aktivitas penipuan online ini itu bervariasi. Sebagian memang langsung menuju Kamboja dan biasanya transit melalui negara tetangga seperti Singapura, Malaysia ataupun Thailand. Ada juga WNI yang sebelumnya sudah bekerja di sektor serupa di negara lain seperti Filipina dan kemudian pindah ke Kamboja setelah adanya penertiban eh Philippine Overseas Gambling Operator atau disingkat dengan Pogo pada eh Juli 2024. Meskipun begitu, Pak Juda ini menegaskan bahwa tidak semua kasus penipuan online yang melibatkan WNI di Kamboja bisa dikategorikan sebagai tindak pidana perdagangan orang atau TPPO. Dari 7.000 ee 27 kasus yang tercatat, hanya 1508 kasus yang teridentifikasi sebagai korban TPPO melalui mekanisme identifikasi yang merujuk pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO. Namun ada juga kasus WNI yang awalnya bekerja di judi online lalu pindah ke perusahaan online scam karena tawaran eh remunerasi yang lebih tinggi. Nah, Pak Juda ini juga mengatakan UNODC PBB itu melaporkan adanya ee indikasi normalisasi di mana sebagian WNI secara sadar nih dan sukarela bekerja sebagai penipu online karena diiming-imingi gaji besar. Nah, meskipun aktivitas tersebut merupakan tindakan kriminal, mereka enggak peduli karena udah kayak pasrah gitu. Nah, lalu Geng pemulangan 110 orang warga negara Indonesia dari Kamboja ini perlu kita apresiasi sih Geng walaupun masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Nah, hal ini sama juga diungkapkan oleh anggota Komisi 9 DPR yang bernama Pak Nurhadi yang mengapresiasi langkah cepat pemerintah khususnya Kementerian P2 MI yang sudah berupaya memulangkan WNI. Maraknya kasus TPPO yang ada di Kamboja membuat negara-negara lain juga ikut angkat suara gitu ya. bahkan mengecam pemerintah Kamboja yang dinilai lambat dalam menangani operasi sindikat kejahatan di negara mereka. Sementara itu, di negara tetangga Kamboja yang juga dikenal dengan kasus TPPO-nya yaitu Myanmar sedang melakukan operasi pemberantasan secara besar-besaran. Beberapa hari lalu ya militer Myanmar melancarkan penggerebekan besar-besaran terhadap kompleks penipuan online terbesar di negara tersebut yaitu KK Park yang terletak dekat dengan perbatasan Thailand. Nah, operasi ini berlangsung sejak awal bulan September dan berujung pada penangkapan lebih dari 2000 orang dari dalam kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat kejahatan cber lintas negara ini. Di dalam operasi itu, pasukan militer serta kepolisian Myanmar itu menemukan sejumlah kantor. Ada asrama yang dijadikan sebagai ee pusat aktivitas penipuan, terus ada ratusan komputer dan perangkat komunikasi serta dokumen keuangan yang disita sebagai barang bukti. Nah, sebagian besar pekerja di dalam kompleks direkrut dari luar negeri dengan janji e pekerjaan bergaji tinggi. Tapi setibanya di Myanmar, mereka justru disandra, disiksa, dan dipaksa melakukan penipuan terhadap target dari berbagai negara. Nah, jadi benar-benar udah parah banget, Geng, kalau kita berbicara tentang Kamboja dan Myanmar ini. Dan itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini, ya, mengenai upaya penyelamatan 110 WNI dari perusahaan scammer yang ada di Kamboja. Kita berharap semakin banyak WNI yang pulang dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga ya. Tapi kita berharap juga ya mereka pulang ke Indonesia juga bisa mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak di negara sendiri.