Transcript
xo6IL-bl-IU • AGAIN! THE ROOF OF AN ISLAMIC BOARDING SCHOOL COLLAPSES, FEMALE STUDENT DIES WHILE BEING CRASHED ...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1587_xo6IL-bl-IU.txt
Kind: captions
Language: id
Lagi-lagi kejadian yang sama terulang
kembali setelah insiden di Pondok
Pesantren Alkozini yang ramai karena
atap bangunannya yang roboh dan menjadi
perbincangan di media sosial. Ditambah
dengan adanya video dari Pondok
Pesantren Lirboyo ya yang sempat viral
juga di mana para santri di saat itu
terlihat di video ikut membantu
pengecoran bangunan. Nah, ini cukup
ramai diperbincangkan ya. sampai yang
terakhir itu sempat ada tayangan dari
Trans TU yang membuat para santri marah
karena dianggap eh Trans TUJ itu membuat
framing negatif tentang pesantren
mereka. Nah, kali ini insiden lain
seputar pesantren terjadi lagi.
Mirip-mirip dengan apa yang terjadi di
Pondok Pesantren Alkozini, yaitu
bangunan pesantren yang roboh.
Polisi masih belum bisa memastikan
apakah ambruknya bangunan asrama
disebabkan cuaca ekstrem, struktur
bangunan, atau faktor lain.
Kalau di Alkazini ya robohnya di asrama
putra. Nah, tapi kali ini bangunan
asrama yang teroboh itu terjadi di
asrama putri. Insiden ini membuka mata
kita bahwa kejadian seperti ini ternyata
bukan persoalan yang hanya terjadi di
satu tempat aja, tapi di pondok-pondok
pesantren lainnya juga terjadi. Nah,
meskipun ya yang viral baru dua kali
ini, namun ya sepertinya nyawa manusia
bukan hanya sekedar angka atau data
statistik aja. Sehingga meskipun yang
viral baru dua kali ini seharusnya hal
seperti ini ya harus menjadi perhatian
lebih bagi pemerintah. Harus ee
benar-benar ada campur tangan pemerintah
untuk turun tangan langsung melihat ke
lokasi gitu ya. Dan ini adalah
pembelajaran yang benar-benar harus
diperhatikan soal bangunan pesantren
yang seharusnya dibangun menggunakan
konstruksi yang kuat. Nah, di video kali
ini kita bakal membahas soal rangkuman
insiden robohnya pesantren ini dan mulai
dari kronologinya, apakah ada korban
jiwa dari peristiwa ini dan bagaimana
cerita dari para santri sendiri atau
santriwati ya yang ada di sana selama
berada di pondok pesantren tersebut.
Nah, terus juga insiden bangunan roboh
ini menjadi PR bagi semua pengelola
pesantren serta Kementerian Agama untuk
mengevaluasi kelayakan bangunan dari
pondok pesantren itu. Karena seperti
yang kita tahu ya, ee data yang dari
pemerintah itu mengatakan
pesantren-pesantren di Indonesia itu
cuma sedikit banget kayak 0 kom sekian
persen yang memiliki izin pembangunan
atau izin IMB gitu ya, izin mendirikan
bangunan. Nah, lalu apa tindakan nyata
nih yang bakal dilakukan oleh pemerintah
kita untuk menanggulangi insiden e
bangunan roboh seperti ini agar tidak
terjadi kembali? Nah, gua disclaimer
juga ya, Geng, kalau pembahasan ini nih
enggak bermaksud untuk mengadu domba
pihak manapun atau mem-framing negatif
sebuah lembaga atau ee dari satu pihak
gitu ya. Melainkan ini adalah sebuah
informasi yang tujuannya bisa menjadi
edukasi untuk kita semua. Jadi, langsung
aja kita bahas secara lengkap. Halo,
geng. Welcome back to Kamar Jerry
[Musik]
ging geng. Oke, untuk pembahasan pertama
kita bakal masuk ke dalam pembahasan
kronologi bangunan roboh di Pondok
Pesantren Situbondo ini.
Jadi, geng, insiden tersebut terjadi di
salah satu pondok pesantren yang bernama
Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir
Jailani yang ada di Desa Belimbing,
Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo,
Jawa Timur. Masih satu provinsi dengan
Pondok Pesantren Alkozini. Nah, Alkozini
itu adanya di Sidoarjo, Geng. Sementara
yang terjadi sekarang ini tuh di
Situbondo. Nah, ceritanya sekitar jam
.00 dini hari pada hari Rabu tanggal 29
Oktober 2025, Sidoarjo sedang dilanda
hujan deras yang disertai dengan angin
kencang. Cuaca memang sedang tidak
bersahabat belakangan itu ya. Tiba-tiba
aja atap bangunan yang ada di bangunan
asrama putri roboh. Atap tersebut
mengenai plafon dan plafon yang tertimpa
atap selanjutnya roboh ke dalam
bangunan. Nah, karena memang kejadiannya
di jam . dini hari para santriwatinya
sedang dalam keadaan tertidur sehingga
mereka tidak menyadari apapun yang
terjadi termasuk kerusakan yang paling
parah di sebuah kamar yang ditempati
oleh 19 orang santriwati. Nah, jadi ada
satu kamar yang paling parah lah isinya
19 orang yang mana e ini 19 dari total
150 orang santriwati yang ada di
pesantren tersebut. Para santriwati
menjadi korban langsung dievakuasi ke
puskesmas serta rumah sakit terdekat
untuk mendapatkan perawatan medis. Dari
puluhan orang, empat orang di antaranya
harus menjalani rawat inap. Dua orang
ada yang di Rumah Sakit Basuki, dua
orang lain di Rumah Sakit Jatimet. Dua
orang yang dirawat di Rumah Sakit Besuki
itu harus menjalani tindakan operasi
karena luka yang cukup parah. Salah satu
santriwati yang menjadi korban itu
bernama Aura Adelia asal Desa Bungatan,
Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo,
Jawa Timur. Dia di saat itu masih
berusia 14 tahun. Nah, aura ini
bercerita, Geng. Pada saat insiden
terjadi, dia sedang tertidur lelap.
Tiba-tiba aja bangunan di kamarnya itu
ambruk. Dan beruntungnya dia berhasil
menyelamatkan diri dari tempat tersebut
karena ya mungkin jatuhnya material
bangunan di tempat itu tidak begitu
banyak sehingga memungkinkan dia untuk
menyelamatkan diri terlebih dahulu.
Setelah dia keluar dari sana, Aura
menyebutkan jika pada saat itu kondisi
di luar sedang gerimis dan ternyata ada
beberapa santriwati lain juga yang masih
bisa menyelamatkan diri. Nah, Aura
segera berkumpul nih bersama dengan
santriwati lain dan duduk sembari
menunggu pertolongan. Dia merasa di saat
itu dia cek tubuhnya semuanya baik-baik
aja, enggak ada yang luka. Namun, Geng,
pelan-pelan dia baru menyadari kalau
kaki kanannya itu terasa perih banget.
Nah, ketika dia melihat ke arah kakinya,
ternyata kaki kanannya itu sudah ya
robek mengeluarkan cairan merah yang
banyak banget. Nah, sontak dia berteriak
minta tolong dan enggak lama dari itu
aura ini langsung digendong untuk dibawa
ke rumah sakit agar bisa mendapatkan
perawatan. Aura menyebutkan bukan hanya
dia aja yang mengalami luka serius,
melainkan ada empat korban lain yang
tadi gua sebutkan sudah dirawat di Rumah
Sakit Jatimet dan Rumah Sakit Besuki.
Ada kesaksian lain dari seorang santri
yang bernama putri Mazafa Salsabila.
Usianya itu 13 tahun ya. Dia baru mondok
di sana itu pada bulan Juni kemarin.
Baru aja. Dan menurut ceritanya dia ya,
Mafaza ini sempat mendengar hujan ringan
dan angin berhembus di sekitar pondok.
Malam itu para santriwati itu sedang
menghafal Al-Qur'an sebelum tidur.
Setelah menghafal Al-Qur'an, semua
santriwati pun akhirnya tertidur sekitar
jam 11.00 malam. Mereka tidur dalam dua
deretan, ya. Nah, Mafaza ini tidur di
deretan pertama bersama sekitar 7 sampai
8 orang. Sempat terdengar suara ambruk
dan suara itulah yang membangunkan
Mafaza. Dan saat dia membuka mata,
Mafaza sudah terbangun dengan wajah
tertutup bantal milik temannya yang ada
di sebelahnya.
Menyepit ke saya, bantalnya ditaruh ke
muka saya. Oh, jadi biar enggak kena
muka ditutup wajahnya begitu. Oh, oke.
Cuma di saat itu dia baru sadar pahanya
itu udah tertimpa oleh kayu plafon. Nah,
beruntungnya posisi tidurnya itu berada
di depan lemari sehingga sebagian kayu
plafon itu tidak menimpa dia secara
langsung ya, akhirnya jatuh ke atas
lemari gitu, Geng. Nah, yang seramnya
kan kalau lemarinya juga ikut jatuh,
ikut ee nimpa dia. Nah, untungnya
enggak. Nah, di dalam keadaan panik,
Mufza ini langsung bangun dari kasur dan
berusaha menyingkirkan kayu yang menimpa
pahanya tersebut. Nah, dia segera
menuruni tangga untuk menyelamatkan diri
dan dia enggak sempat menolong
teman-temannya yang lain karena dia
panik. dia di situ ya cuma bisa berpikir
kalau seandainya itu rubuhnya makin
parah gimana gitu. Makanya dia memilih
untuk menyelamatkan diri. Nah,
selanjutnya nih geng ada kesaksian lain
dari seorang warga yang berinisial RS.
Dia ini merupakan salah satu dari
keluarga korban. Nah, RS ini mengaku dia
dikabari dan diminta datang ke asrama
putri untuk menemui saudaranya itu. Cuma
pada saat informasi itu sampai ke
telinga dia, enggak ada pemberitahuan e
apa yang sebenarnya terjadi, apa yang
dialami oleh saudaranya, dan bagaimana
kondisinya. Intinya dia disuruh
cepat-cepat datang ke asrama putri
tersebut, Geng. Nah, sampai di sana
barulah dia melihat langsung bahwa
ternyata asrama putri di pesantren itu
rubuh. Dan di dalam insiden ini, Geng,
ada satu orang yang meninggal dunia. Ya,
santriwati tersebut bernama Putri
Helmilianti
Octaviantika yang usianya masih 13
tahun. Putri ini dikenal sebagai anak
yang pendiam di mata keluarganya. Dia
ini adalah anak sulung dan ee dia
mengerti kondisi perekonomian orang
tuanya yang sederhana. Kalau dia
sekolah, dia itu enggak pernah diberikan
uang saku. Namun, Putri enggak pernah e
proteslah dengan hal itu dan dia tetap
bersemangat untuk menjalani pendidikan.
Nah, setelah dia lulus sekolah, dia ini
bercita-cita mau menjadi seorang
penghafal Al-Qur'an. Karena itulah putri
ini ya memilih untuk terus mondok atau e
belajar di pesantren. Dan dia itu baru
mondok 6 bulan di sana. Kemudian
dipondokkan ke pondok pesantren baru 6
bulan.
Baru 6 bulan.
Selama 6 bulan gimana, Dik? Putri, Bu,
apakah bilang enggak betah atau gimana?
Enggak. Anak itu memang kemauannya
sendiri memang mau mondok. anaknya
pendiam gak pernah ngomong apa-apa dia.
Selain karena memang bercita-cita ingin
menjadi penghafal Al-Qur'an, putri ini
menganggap dengan cara mondok mungkin
dia bisa meringankan beban orang tuanya.
Dan selama putri mondok, biaya yang
dikeluarkan itu hanya Rp20.000 per bulan
dan beras seberat 15 kg. Nah, keluarga
putri terutama orang tuanya merasa
sangat terpukul atas apa yang menimpa
anaknya ini. Apalagi putri ini baru saja
berulang tahun pada tanggal 20 Oktober
kemarin dan saat ini jenazah putri sudah
dimakamkan, Geng. Nah, jadi geng kurang
lebih begitulah ya gambaran terkait
insiden yang terjadi pada saat e
bangunan di asrama putri Pondok
Pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani ini
roboh. Ya, sekarang kita bakal masuk ke
dalam pembahasan mengenai proses
penyelidikan terkait penyebab robohnya
atap bangunan di sana. Seperti apa? kita
bahas.
Jadi, Gengs, setelah insiden tersebut
terjadi, polisi itu bersama dengan tim
dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah
atau BPBD, Kemenak, serta pengurus
Pondok Pesantren segera meninjau lokasi
dan melakukan olah TKP. Pondok pesantren
itu sendiri sudah berdiri sejak tahun
2007 dan memiliki sebanyak 300 santri
yang terdiri dari santri putra dan juga
putri yang tinggal di sana. Kombes Rezi
Darmawan selaku Kepala Kepolisian Resor
Situbondo itu menyebutkan tim gabungan
sudah meminta keterangan dari sejumlah
orang untuk mengetahui penyebab pasti
dari ambruknya atap bangunan asrama
putri tersebut. Namun geng, ketika gua
syuting video ini, Pak Rezi itu
mengatakan belum bisa menyebutkan dugaan
awal dari kejadian itu. Dugaan awalnya
mungkin disebabkan karena adanya hujan
angin yang melanda pada saat itu. Dan
sebagai langkah lanjutan, polisi juga
akan berkoordinasi dengan pihak terkait
untuk memeriksa kondisi bangunan dan
ruangan pondok pesantren. Karena kan ini
adalah kejadian yang kesekian kali ya.
Kenapa kok pondok pesantren seringkih
itu, seasal-asalan itu bangunannya?
Padahal mereka kan menjadi tempat atau
wadah di mana anak orang dititipkan
gitu. Nah, dari keterangan berbagai
pihak ya, beliau berharap bisa menemukan
titik terang dalam peristiwa ini. Terus
sementara itu ya, Geng, ada keterangan
lain dari Gatot Subroto selaku Kepala
Pelaksana BPBD Jawa Timur. Nah, Bapak
ini bilang nih kalau ada penyebab lain
selain karena hujan angin yang mana
diduga bangunan asrama putri ini bisa
roboh karena adanya keretakan di
beberapa bagian bangunan akibat gempa
bumi berkekuatan 5,7
SR yang terjadi pada 25 September
katanya gitu. Itu pemicu salah satunya.
Nah, karena adanya retakan tersebut
bangunannya jadi rentan ambruk. Apalagi
jika ada angin kencang yang mengguncang
bangunan. Tapi kan yang menjadi
pertanyaannya kalau memang ada
kemungkinan dari sana ya sudah diketahui
bahwa itu ada keretakan, kenapa enggak
dari awal dibenerin gitu ya? Tapi
meskipun begitu ya masih dibutuhkan
proses penyelidikan lebih lanjut nih
geng. Insiden atap roboh ini ikut
mendapatkan perhatian dari pemerintah
Situbondo karena ya gimana enggak udah
makan korban jiwa nih ada yang
meninggal.
Pemirsa, atap bangunan pondok pesantren
Syekh Abdul Qadir Jailani di Kabupaten
Situbondo, Jawa Timur ambruk satu orang
santri putri meninggal dunia akibat
insiden ini.
Pak Yusuf Rio Wahyu Prayogo selaku
Bupati Sitobondo itu sempat mengunjungi
dua korban yang masih menjalani
perawatan medis di Rumah Sakit Besuki
dengan maksud memberikan dukungan moral
agar mereka ee enggak apa ya terkena
tekanan mental, ng-edown atau trauma
gitu. Nah, Pak Yusuf ini juga memberikan
biaya operasional kepada keluarga korban
untuk kebutuhan sehari-hari selama putri
mereka dirawat di rumah sakit. Beliau
juga menegaskan bahwa seluruh pembiayaan
perawatan bagi santriwati yang menjadi
korban itu ya ditanggung oleh pemerintah
daerah setempat. Nah, sedangkan untuk
perbaikan atap bangunan asrama putri
pesantren tersebut ya pemerintah daerah
sudah mempersiapkan anggaran dari dana
biaya tak terduga atau BTT untuk
ngebantu itu. Nah, sebab sebelum
peristiwa tersebut terjadi sudah ada
beberapa pesantren yang ee memberikan
usul kepada pemerintah daerah supaya
melakukan mitigasi mengenai bangunan di
pesantren sesuai dengan standar termasuk
ee dengan kelayakan bangunan. Setelah
mengunjungi dua korban di rumah sakit,
Pak Yusuf ini juga mendatangi Pondok
Pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani ya,
lokasi di mana kejadian ini terjadi
untuk menggelar doa bersama. Terus
kemudian geng, peristiwa ini juga
mendapatkan tanggapan dari PBNU melalui
wakil ketua umum PBNU yang bernama K. H.
Dr. Zulfa Mustofa. Pihak PBNU
menyampaikan dukacita atas meninggalnya
salah seorang santriwati yang disebabkan
karena atap roboh di pondok pesantren
itu. Kabar robohnya atap asrama di
pesantren itu ya itu menambah duka yang
belum selesai akibat ambruknya bangunan
di Pondok Pesantren Alkozini sebelumnya.
Karena kejadian yang berulang ini,
beliau meminta pemerintah agar segera
bisa turun tangan nih untuk ngebantu
mencari jalan keluar dari situasi
memprihatinkan ini yang dialami oleh
sejumlah pondok pesantren. Nah, secara
internal pihak PBNU memastikan terus
melakukan monitoring pendataan serta
menginventarisasi
atas sejumlah aset milik pondok
pesantren, terutama terkait bangunan
fisik. Nah, beliau juga memerintahkan
RMI bekerja sama dengan para pihak untuk
membantu pondok pesantren yang sudah tua
yang ada di lingkungan NU ini. Dan RMI
sendiri adalah singkatan dari Rabithah
Maahid Al-Islamiyah, yaitu sebuah
lembaga berbentuk perikatan pondok
pesantren-pondok pesantren yang ada atau
yang berada di bawah naungan PBNU. Dan
hingga saat ini tidak kurang dari
sebanyak 26.000-an pondok pesantren yang
ada di Indonesia yang berafiliasi dengan
NU. Terus di dalam hal ini, Geng,
Kementerian Agama juga turut
menyampaikan dukacita atas apa yang
menimpa para santriwati ini yang menjadi
korban. Sebagai bentuk dukungan, ya,
Kemenak menyalurkan bantuan sebesar
Rp200 juta untuk merenovasi asrama
tersebut. Dan setelah asrama tersebut
roboh, Pondok Pesantren Syekh Abdul
Qadir Jailani diliburkan sementara
selama seminggu. Khususnya bagi
santriwati ya, karena sebagian dari
santriwati ini ya merasa trauma. Dan
selain karena santriwati yang masih syok
dan trauma atas insiden tersebut, alasan
diliburkannya pondok pesantren ini ya
agar proses perbaikan asrama putrinya
bisa dilaksanakan. Nah, kemungkinan
besar ya pondok pesantren ini bakal
kembali berjalan ee seperti biasa gitu
setelah keluarnya hasil yang sudah
menyatakan jika bangunan yang ada di
sana aman untuk digunakan dan renovasi
bangunannya sudah selesai. Nah, ini ya
lebih baiklah seperti itu ya karena
takutnya malah terjadi kejadian susulan
gitu. Kejadian ini tentunya harus
menjadi evaluasi dari berbagai pihak
agar tidak terjadi kejadian yang sama
untuk kesekian kalinya. Nah, apa nih
yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait?
Untuk itu, kita bakal masuk ke dalam
pembahasan selanjutnya mengenai
langkah-langkah yang diambil untuk
mencegah insiden bangunan roboh ini bisa
terulang. Langsung aja kita bahas.
Nah, insiden bangunan roboh di pondok
pesantren yang sedang menjadi perhatian
berbagai pihak dan menjadi sebuah hal
yang harus menjadi koncern agar segera
bisa ditangani. Nah, Basnang Said selaku
Direktur Pendidikan diniah dan pondok
pesantren di Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Kementerian Agama itu
menyampaikan kalau pihaknya sudah
meninjau asrama putri yang roboh di
pondok pesantren Syekh Abdul Qadir
Jailani. ini dikatakan saat ini sedang
ada rencana untuk mengubah Peraturan
Menteri Agama nomor 30 tahun 2020
tentang pendirian dan penyelenggaraan
pesantren. Sedikit informasi nih, Geng.
Selama ini permohonan pendirian
pesantren itu tidak mewajibkan bagi
setiap pengaju untuk melampirkan
keapsahan serta kelayakan bangunan. Nah,
ada beberapa dokumen yang diharuskan
untuk dilampirkan, yaitu surat
pernyataan yang memuat komitmen untuk
mengamalkan nilai Islam rahmatan lil
alamin dan berdasarkan Pancasila
Undang-Undang 1945 Negara Kesatuan
Republik Indonesia, serta Bhineka
Tunggal Ika. Kemudian ada fotokopi KTP
kiai pengasuh pesantren, kurikulum dan
dokumen pembelajaran. Nah, terus ada
daftar nama santri mukim paling sedikit
harus ada 15 orang dan keputusan
pengesahan badan hukum bagi yayasan dan
organisasi masyarakat Islam. Nah, daftar
nama pendidik serta tenaga kependidikan,
foto gedung, papan nama, dan denah
pesantren, surat keterangan domisili
dari desa atau kelurahan. Lalu yang
terakhir adalah fotokopi bukti dokumen
kepemilikan tanah. Nah, itu dia beberapa
syaratnya tuh. Selanjutnya Kepala Kantor
Kementerian Agama itu bakal melakukan
pemeriksaan kelengkapan dokumen,
verifikasi, dan kunjungan ke lokasi.
Sekitar 2 minggu lebih proses ini
berjalan sampai nantinya bakal keluar
rekomendasi dari Kepala Kantor
Kementerian Agama pada Menteri Agama dan
kemudian menteri bakal memberikan izin
terdaftar bagi pesantren yang memperoleh
rekomendasi tersebut. Nah, izin
terdaftar ini diberikan dalam bentuk
piagam statistik pesantren yang memuat
nomor statistik pesantren, nama
pesantren, alamat, serta pendirinya. Dan
Pak Basnang menyadari hal ini sehingga
revisi peraturan nanti bakal ada
petunjuk teknis yang lebih rinci karena
dinilai ya ee syarat membangun pesantren
yang kayak sebelumnya itu kayak kurang
ketat gitu. Nah, jika pesantren ingin
mendapatkan nomor statistik pesantren,
maka seluruh bangunan termasuk asrama
dan masjidnya harus melampirkan
persetujuan bangunan gedung atau PBG
serta sertifikat like fungsi atau SLF.
Nah, untuk bisa memperoleh PBG dan SLF
ini, tata letak dan konsep arsitekturnya
juga harus diserahkan kepada otoritas
yang berwenang untuk kemudian dikaji
terkait kelayakan, keselamatan, keamanan
bangunan. Nah, untuk saat ini, Geng, ada
lebih dari 42.000 pesantren loh, Geng,
di Indonesia. Tapi dari data kementerian
ya, ee Kementerian Pekerjaan Umum itu
cuma 51 pesantren. Dari puluhan ribu
tersebut yang punya PBG. Gila enggak
tuh? Berarti yang lain tuh kayak antara
layak atau enggak tuh bangunannya. Nah,
Pak Basnang itu menyampaikan kalau pihak
mereka sedang melakukan pendataan yang
bekerja sama dengan ee penyuluh agama di
seluruh Indonesia. Pendataan tersebut
juga meliputi ya pesantren yang memiliki
bangunan tinggi.
Nah, terus Geng gimana nih caranya untuk
menyelesaikan permasalahan yang
sepertinya sistemik di dalam kasus
tersebut? Nah, di saat itu dosen pasca
sarjana UI Jakarta yang bernama Swendi
itu menyebutkan lembaga pendidikan
pesantren tuh sering mendapatkan
perlakuan yang tidak adil. Sebenarnya
salah satu buktinya ya baru pada tahun
2019 lalu lembaga pesantren baru diakui
melalui sebuah undang-undang. Nah,
menurut beliau pesantren sebagai ruang
pendidikan asli di Indonesia memang bisa
dikatakan sangat terlambat untuk diakui
sebagai bagian dari sistem pendidikan.
Jadi kadang bukan salah pesantrennya
juga gitu. Pemerintah kita juga ya
gitulah. Termasuk di dalam hal ini ya
mereka bisa mendapatkan kesetaraan
seperti halnya lembaga pendidikan lain
kayak SMA, SMP ya sekolah reguler lah.
Pak Suwendi ini juga memberikan bukti
lainnya yaitu pesantren yang disebut
oleh beliau belum mendapatkan perlakuan
yang adil soal anggaran. Alokasi
pendidikan dari APBN sebesar 20% itu
hanya kecil, Geng. Sampai ke pesantren.
Misalnya nih saat ini ada 3.000 sekian
triliun APBN secara keseluruhan pada
2025. Kalau 20%-nya itu untuk pendidikan
berarti ada 600 triliun. Nah, sayangnya
600 triliun itu yang sampai ke pesantren
cuma 1 triliun doang dibagi untuk sekian
ribu. Itu itu artinya cuma 0,1% yang
diberikan ke pesantren. Padahal jumlah
santri ada sekitar 1,6 juta dan 42.000
pesantren. Kebayang tuh ya dibaginya
kecil-kecil banget. Nah, uangnya tidak
mencukupi untuk banyaknya pesantren dan
santri-santri yang ada di Indonesia,
Geng. Nah, pada realitanya, Geng, sesuai
dengan undang-undang ya, pesantren juga
menjalankan fungsi pendidikan dan Pak
Suendi juga menyebutkan anggaran untuk
renovasi bangunan pesantren itu masih
minim banget. Beliau menduga minimnya
anggaran bagi pesantren ini berdampak
pada kualitas bangunan yang ada di
pondok pesantren yang ada di Indonesia.
Jadi, bukan semuanya salah dari pihak
pondok pesantren aja, melainkan
disebabkan karena adanya andil dari
pemerintah yang memang ya enggak adill
lah, tidak memberikan anggaran yang
cukup. Dan berdasarkan riset yang
berjudul manajemen keuangan
berkelanjutan di pondok pesantren ya
pendekatan kewirausahaan dan
tantangannya itu tertulis sumber
pendanaan utama dari pesantren itu
berasal dari iuran santri donasi dan
pengelolaan uang mandiri dari usaha
seperti koperasi bisnis kerajinan tangan
hingga agrobisnis. Dan seperti yang
dijelaskan oleh Pak Suendi tadi di riset
itu juga tertulis pendanaan dari
pemerintah memang ada tapi dikit banget.
Dan riset tersebut juga menyimpulkan
masalah terkait transparansi dan
akuntabilitas juga sering dijumpai di
pesantren. Sebagian pesantren disebut
belum memenuhi pentingnya pencatatan
atau pembukuan untuk mengatur aliran
keuangan. Terkait soal pendanaan yang
dianggap tidak cukup, Pak Basnang ini
mengatakan pihaknya membuka ruang bagi
pesantren jika membutuhkan pendanaan
untuk merenovasi fasilitas yang ada di
pondok pesantren. Dan selama ini
pendanaan tersebut bisa diajukan dan
akan diverifikasi oleh Kementerian
Agama. Di sisi lain terkait dengan upaya
hukum mengenai robohnya bangunan
pesantren, Pak Suwendi ini menyerahkan
semuanya kepada penegak hukum. Menurut
beliau, penegak hukum harus bekerja
sesuai dengan bukti yang ada. Sehingga
jika terbukti lalai, ada yang menyalahi
aturan, maka pihak yang bersangkutan
bisa ditindak secara hukum, Geng. Nah,
apa yang terjadi dengan Pondok Pesantren
Syekh Abdul Qadir Jailani ini? Ironis
banget. Belum selesai kita berdamai
dengan apa yang terjadi di Pondok
Pesantren Alkozini, udah ada lagi
insiden yang serupa. Nah, walaupun
begitu ya, salah satu korban yang
bernama Mafaza ya yang selamat gitu ya,
dia mengaku tidak merasa kapok gitu,
justru bertekad untuk kembali ke pondok
pesantren segera setelah kondisinya
pulih. Nah, sementara pihak keluarga
korban yang meninggal dunia mengaku
sudah ikhlas dengan apa yang terjadi
kepada anak mereka sehingga mereka tidak
akan menuntut siapapun atas insiden ini.
Nah, itu dia geng pembahasan kita kali
ini mengenai robohnya atap asrama putri
di salah satu pondok pesantren yang ada
di Sutubondo. Gimana geng menurut
pendapat kalian tentang kejadian yang
terus berulang seperti ini? Coba
tuliskan komentar di bawah.