AGAIN! THE ROOF OF AN ISLAMIC BOARDING SCHOOL COLLAPSES, FEMALE STUDENT DIES WHILE BEING CRASHED ...
xo6IL-bl-IU • 2025-11-07
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Lagi-lagi kejadian yang sama terulang kembali setelah insiden di Pondok Pesantren Alkozini yang ramai karena atap bangunannya yang roboh dan menjadi perbincangan di media sosial. Ditambah dengan adanya video dari Pondok Pesantren Lirboyo ya yang sempat viral juga di mana para santri di saat itu terlihat di video ikut membantu pengecoran bangunan. Nah, ini cukup ramai diperbincangkan ya. sampai yang terakhir itu sempat ada tayangan dari Trans TU yang membuat para santri marah karena dianggap eh Trans TUJ itu membuat framing negatif tentang pesantren mereka. Nah, kali ini insiden lain seputar pesantren terjadi lagi. Mirip-mirip dengan apa yang terjadi di Pondok Pesantren Alkozini, yaitu bangunan pesantren yang roboh. Polisi masih belum bisa memastikan apakah ambruknya bangunan asrama disebabkan cuaca ekstrem, struktur bangunan, atau faktor lain. Kalau di Alkazini ya robohnya di asrama putra. Nah, tapi kali ini bangunan asrama yang teroboh itu terjadi di asrama putri. Insiden ini membuka mata kita bahwa kejadian seperti ini ternyata bukan persoalan yang hanya terjadi di satu tempat aja, tapi di pondok-pondok pesantren lainnya juga terjadi. Nah, meskipun ya yang viral baru dua kali ini, namun ya sepertinya nyawa manusia bukan hanya sekedar angka atau data statistik aja. Sehingga meskipun yang viral baru dua kali ini seharusnya hal seperti ini ya harus menjadi perhatian lebih bagi pemerintah. Harus ee benar-benar ada campur tangan pemerintah untuk turun tangan langsung melihat ke lokasi gitu ya. Dan ini adalah pembelajaran yang benar-benar harus diperhatikan soal bangunan pesantren yang seharusnya dibangun menggunakan konstruksi yang kuat. Nah, di video kali ini kita bakal membahas soal rangkuman insiden robohnya pesantren ini dan mulai dari kronologinya, apakah ada korban jiwa dari peristiwa ini dan bagaimana cerita dari para santri sendiri atau santriwati ya yang ada di sana selama berada di pondok pesantren tersebut. Nah, terus juga insiden bangunan roboh ini menjadi PR bagi semua pengelola pesantren serta Kementerian Agama untuk mengevaluasi kelayakan bangunan dari pondok pesantren itu. Karena seperti yang kita tahu ya, ee data yang dari pemerintah itu mengatakan pesantren-pesantren di Indonesia itu cuma sedikit banget kayak 0 kom sekian persen yang memiliki izin pembangunan atau izin IMB gitu ya, izin mendirikan bangunan. Nah, lalu apa tindakan nyata nih yang bakal dilakukan oleh pemerintah kita untuk menanggulangi insiden e bangunan roboh seperti ini agar tidak terjadi kembali? Nah, gua disclaimer juga ya, Geng, kalau pembahasan ini nih enggak bermaksud untuk mengadu domba pihak manapun atau mem-framing negatif sebuah lembaga atau ee dari satu pihak gitu ya. Melainkan ini adalah sebuah informasi yang tujuannya bisa menjadi edukasi untuk kita semua. Jadi, langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] ging geng. Oke, untuk pembahasan pertama kita bakal masuk ke dalam pembahasan kronologi bangunan roboh di Pondok Pesantren Situbondo ini. Jadi, geng, insiden tersebut terjadi di salah satu pondok pesantren yang bernama Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani yang ada di Desa Belimbing, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Masih satu provinsi dengan Pondok Pesantren Alkozini. Nah, Alkozini itu adanya di Sidoarjo, Geng. Sementara yang terjadi sekarang ini tuh di Situbondo. Nah, ceritanya sekitar jam .00 dini hari pada hari Rabu tanggal 29 Oktober 2025, Sidoarjo sedang dilanda hujan deras yang disertai dengan angin kencang. Cuaca memang sedang tidak bersahabat belakangan itu ya. Tiba-tiba aja atap bangunan yang ada di bangunan asrama putri roboh. Atap tersebut mengenai plafon dan plafon yang tertimpa atap selanjutnya roboh ke dalam bangunan. Nah, karena memang kejadiannya di jam . dini hari para santriwatinya sedang dalam keadaan tertidur sehingga mereka tidak menyadari apapun yang terjadi termasuk kerusakan yang paling parah di sebuah kamar yang ditempati oleh 19 orang santriwati. Nah, jadi ada satu kamar yang paling parah lah isinya 19 orang yang mana e ini 19 dari total 150 orang santriwati yang ada di pesantren tersebut. Para santriwati menjadi korban langsung dievakuasi ke puskesmas serta rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Dari puluhan orang, empat orang di antaranya harus menjalani rawat inap. Dua orang ada yang di Rumah Sakit Basuki, dua orang lain di Rumah Sakit Jatimet. Dua orang yang dirawat di Rumah Sakit Besuki itu harus menjalani tindakan operasi karena luka yang cukup parah. Salah satu santriwati yang menjadi korban itu bernama Aura Adelia asal Desa Bungatan, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Dia di saat itu masih berusia 14 tahun. Nah, aura ini bercerita, Geng. Pada saat insiden terjadi, dia sedang tertidur lelap. Tiba-tiba aja bangunan di kamarnya itu ambruk. Dan beruntungnya dia berhasil menyelamatkan diri dari tempat tersebut karena ya mungkin jatuhnya material bangunan di tempat itu tidak begitu banyak sehingga memungkinkan dia untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu. Setelah dia keluar dari sana, Aura menyebutkan jika pada saat itu kondisi di luar sedang gerimis dan ternyata ada beberapa santriwati lain juga yang masih bisa menyelamatkan diri. Nah, Aura segera berkumpul nih bersama dengan santriwati lain dan duduk sembari menunggu pertolongan. Dia merasa di saat itu dia cek tubuhnya semuanya baik-baik aja, enggak ada yang luka. Namun, Geng, pelan-pelan dia baru menyadari kalau kaki kanannya itu terasa perih banget. Nah, ketika dia melihat ke arah kakinya, ternyata kaki kanannya itu sudah ya robek mengeluarkan cairan merah yang banyak banget. Nah, sontak dia berteriak minta tolong dan enggak lama dari itu aura ini langsung digendong untuk dibawa ke rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan. Aura menyebutkan bukan hanya dia aja yang mengalami luka serius, melainkan ada empat korban lain yang tadi gua sebutkan sudah dirawat di Rumah Sakit Jatimet dan Rumah Sakit Besuki. Ada kesaksian lain dari seorang santri yang bernama putri Mazafa Salsabila. Usianya itu 13 tahun ya. Dia baru mondok di sana itu pada bulan Juni kemarin. Baru aja. Dan menurut ceritanya dia ya, Mafaza ini sempat mendengar hujan ringan dan angin berhembus di sekitar pondok. Malam itu para santriwati itu sedang menghafal Al-Qur'an sebelum tidur. Setelah menghafal Al-Qur'an, semua santriwati pun akhirnya tertidur sekitar jam 11.00 malam. Mereka tidur dalam dua deretan, ya. Nah, Mafaza ini tidur di deretan pertama bersama sekitar 7 sampai 8 orang. Sempat terdengar suara ambruk dan suara itulah yang membangunkan Mafaza. Dan saat dia membuka mata, Mafaza sudah terbangun dengan wajah tertutup bantal milik temannya yang ada di sebelahnya. Menyepit ke saya, bantalnya ditaruh ke muka saya. Oh, jadi biar enggak kena muka ditutup wajahnya begitu. Oh, oke. Cuma di saat itu dia baru sadar pahanya itu udah tertimpa oleh kayu plafon. Nah, beruntungnya posisi tidurnya itu berada di depan lemari sehingga sebagian kayu plafon itu tidak menimpa dia secara langsung ya, akhirnya jatuh ke atas lemari gitu, Geng. Nah, yang seramnya kan kalau lemarinya juga ikut jatuh, ikut ee nimpa dia. Nah, untungnya enggak. Nah, di dalam keadaan panik, Mufza ini langsung bangun dari kasur dan berusaha menyingkirkan kayu yang menimpa pahanya tersebut. Nah, dia segera menuruni tangga untuk menyelamatkan diri dan dia enggak sempat menolong teman-temannya yang lain karena dia panik. dia di situ ya cuma bisa berpikir kalau seandainya itu rubuhnya makin parah gimana gitu. Makanya dia memilih untuk menyelamatkan diri. Nah, selanjutnya nih geng ada kesaksian lain dari seorang warga yang berinisial RS. Dia ini merupakan salah satu dari keluarga korban. Nah, RS ini mengaku dia dikabari dan diminta datang ke asrama putri untuk menemui saudaranya itu. Cuma pada saat informasi itu sampai ke telinga dia, enggak ada pemberitahuan e apa yang sebenarnya terjadi, apa yang dialami oleh saudaranya, dan bagaimana kondisinya. Intinya dia disuruh cepat-cepat datang ke asrama putri tersebut, Geng. Nah, sampai di sana barulah dia melihat langsung bahwa ternyata asrama putri di pesantren itu rubuh. Dan di dalam insiden ini, Geng, ada satu orang yang meninggal dunia. Ya, santriwati tersebut bernama Putri Helmilianti Octaviantika yang usianya masih 13 tahun. Putri ini dikenal sebagai anak yang pendiam di mata keluarganya. Dia ini adalah anak sulung dan ee dia mengerti kondisi perekonomian orang tuanya yang sederhana. Kalau dia sekolah, dia itu enggak pernah diberikan uang saku. Namun, Putri enggak pernah e proteslah dengan hal itu dan dia tetap bersemangat untuk menjalani pendidikan. Nah, setelah dia lulus sekolah, dia ini bercita-cita mau menjadi seorang penghafal Al-Qur'an. Karena itulah putri ini ya memilih untuk terus mondok atau e belajar di pesantren. Dan dia itu baru mondok 6 bulan di sana. Kemudian dipondokkan ke pondok pesantren baru 6 bulan. Baru 6 bulan. Selama 6 bulan gimana, Dik? Putri, Bu, apakah bilang enggak betah atau gimana? Enggak. Anak itu memang kemauannya sendiri memang mau mondok. anaknya pendiam gak pernah ngomong apa-apa dia. Selain karena memang bercita-cita ingin menjadi penghafal Al-Qur'an, putri ini menganggap dengan cara mondok mungkin dia bisa meringankan beban orang tuanya. Dan selama putri mondok, biaya yang dikeluarkan itu hanya Rp20.000 per bulan dan beras seberat 15 kg. Nah, keluarga putri terutama orang tuanya merasa sangat terpukul atas apa yang menimpa anaknya ini. Apalagi putri ini baru saja berulang tahun pada tanggal 20 Oktober kemarin dan saat ini jenazah putri sudah dimakamkan, Geng. Nah, jadi geng kurang lebih begitulah ya gambaran terkait insiden yang terjadi pada saat e bangunan di asrama putri Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani ini roboh. Ya, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai proses penyelidikan terkait penyebab robohnya atap bangunan di sana. Seperti apa? kita bahas. Jadi, Gengs, setelah insiden tersebut terjadi, polisi itu bersama dengan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD, Kemenak, serta pengurus Pondok Pesantren segera meninjau lokasi dan melakukan olah TKP. Pondok pesantren itu sendiri sudah berdiri sejak tahun 2007 dan memiliki sebanyak 300 santri yang terdiri dari santri putra dan juga putri yang tinggal di sana. Kombes Rezi Darmawan selaku Kepala Kepolisian Resor Situbondo itu menyebutkan tim gabungan sudah meminta keterangan dari sejumlah orang untuk mengetahui penyebab pasti dari ambruknya atap bangunan asrama putri tersebut. Namun geng, ketika gua syuting video ini, Pak Rezi itu mengatakan belum bisa menyebutkan dugaan awal dari kejadian itu. Dugaan awalnya mungkin disebabkan karena adanya hujan angin yang melanda pada saat itu. Dan sebagai langkah lanjutan, polisi juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memeriksa kondisi bangunan dan ruangan pondok pesantren. Karena kan ini adalah kejadian yang kesekian kali ya. Kenapa kok pondok pesantren seringkih itu, seasal-asalan itu bangunannya? Padahal mereka kan menjadi tempat atau wadah di mana anak orang dititipkan gitu. Nah, dari keterangan berbagai pihak ya, beliau berharap bisa menemukan titik terang dalam peristiwa ini. Terus sementara itu ya, Geng, ada keterangan lain dari Gatot Subroto selaku Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur. Nah, Bapak ini bilang nih kalau ada penyebab lain selain karena hujan angin yang mana diduga bangunan asrama putri ini bisa roboh karena adanya keretakan di beberapa bagian bangunan akibat gempa bumi berkekuatan 5,7 SR yang terjadi pada 25 September katanya gitu. Itu pemicu salah satunya. Nah, karena adanya retakan tersebut bangunannya jadi rentan ambruk. Apalagi jika ada angin kencang yang mengguncang bangunan. Tapi kan yang menjadi pertanyaannya kalau memang ada kemungkinan dari sana ya sudah diketahui bahwa itu ada keretakan, kenapa enggak dari awal dibenerin gitu ya? Tapi meskipun begitu ya masih dibutuhkan proses penyelidikan lebih lanjut nih geng. Insiden atap roboh ini ikut mendapatkan perhatian dari pemerintah Situbondo karena ya gimana enggak udah makan korban jiwa nih ada yang meninggal. Pemirsa, atap bangunan pondok pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur ambruk satu orang santri putri meninggal dunia akibat insiden ini. Pak Yusuf Rio Wahyu Prayogo selaku Bupati Sitobondo itu sempat mengunjungi dua korban yang masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Besuki dengan maksud memberikan dukungan moral agar mereka ee enggak apa ya terkena tekanan mental, ng-edown atau trauma gitu. Nah, Pak Yusuf ini juga memberikan biaya operasional kepada keluarga korban untuk kebutuhan sehari-hari selama putri mereka dirawat di rumah sakit. Beliau juga menegaskan bahwa seluruh pembiayaan perawatan bagi santriwati yang menjadi korban itu ya ditanggung oleh pemerintah daerah setempat. Nah, sedangkan untuk perbaikan atap bangunan asrama putri pesantren tersebut ya pemerintah daerah sudah mempersiapkan anggaran dari dana biaya tak terduga atau BTT untuk ngebantu itu. Nah, sebab sebelum peristiwa tersebut terjadi sudah ada beberapa pesantren yang ee memberikan usul kepada pemerintah daerah supaya melakukan mitigasi mengenai bangunan di pesantren sesuai dengan standar termasuk ee dengan kelayakan bangunan. Setelah mengunjungi dua korban di rumah sakit, Pak Yusuf ini juga mendatangi Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani ya, lokasi di mana kejadian ini terjadi untuk menggelar doa bersama. Terus kemudian geng, peristiwa ini juga mendapatkan tanggapan dari PBNU melalui wakil ketua umum PBNU yang bernama K. H. Dr. Zulfa Mustofa. Pihak PBNU menyampaikan dukacita atas meninggalnya salah seorang santriwati yang disebabkan karena atap roboh di pondok pesantren itu. Kabar robohnya atap asrama di pesantren itu ya itu menambah duka yang belum selesai akibat ambruknya bangunan di Pondok Pesantren Alkozini sebelumnya. Karena kejadian yang berulang ini, beliau meminta pemerintah agar segera bisa turun tangan nih untuk ngebantu mencari jalan keluar dari situasi memprihatinkan ini yang dialami oleh sejumlah pondok pesantren. Nah, secara internal pihak PBNU memastikan terus melakukan monitoring pendataan serta menginventarisasi atas sejumlah aset milik pondok pesantren, terutama terkait bangunan fisik. Nah, beliau juga memerintahkan RMI bekerja sama dengan para pihak untuk membantu pondok pesantren yang sudah tua yang ada di lingkungan NU ini. Dan RMI sendiri adalah singkatan dari Rabithah Maahid Al-Islamiyah, yaitu sebuah lembaga berbentuk perikatan pondok pesantren-pondok pesantren yang ada atau yang berada di bawah naungan PBNU. Dan hingga saat ini tidak kurang dari sebanyak 26.000-an pondok pesantren yang ada di Indonesia yang berafiliasi dengan NU. Terus di dalam hal ini, Geng, Kementerian Agama juga turut menyampaikan dukacita atas apa yang menimpa para santriwati ini yang menjadi korban. Sebagai bentuk dukungan, ya, Kemenak menyalurkan bantuan sebesar Rp200 juta untuk merenovasi asrama tersebut. Dan setelah asrama tersebut roboh, Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani diliburkan sementara selama seminggu. Khususnya bagi santriwati ya, karena sebagian dari santriwati ini ya merasa trauma. Dan selain karena santriwati yang masih syok dan trauma atas insiden tersebut, alasan diliburkannya pondok pesantren ini ya agar proses perbaikan asrama putrinya bisa dilaksanakan. Nah, kemungkinan besar ya pondok pesantren ini bakal kembali berjalan ee seperti biasa gitu setelah keluarnya hasil yang sudah menyatakan jika bangunan yang ada di sana aman untuk digunakan dan renovasi bangunannya sudah selesai. Nah, ini ya lebih baiklah seperti itu ya karena takutnya malah terjadi kejadian susulan gitu. Kejadian ini tentunya harus menjadi evaluasi dari berbagai pihak agar tidak terjadi kejadian yang sama untuk kesekian kalinya. Nah, apa nih yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait? Untuk itu, kita bakal masuk ke dalam pembahasan selanjutnya mengenai langkah-langkah yang diambil untuk mencegah insiden bangunan roboh ini bisa terulang. Langsung aja kita bahas. Nah, insiden bangunan roboh di pondok pesantren yang sedang menjadi perhatian berbagai pihak dan menjadi sebuah hal yang harus menjadi koncern agar segera bisa ditangani. Nah, Basnang Said selaku Direktur Pendidikan diniah dan pondok pesantren di Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama itu menyampaikan kalau pihaknya sudah meninjau asrama putri yang roboh di pondok pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani. ini dikatakan saat ini sedang ada rencana untuk mengubah Peraturan Menteri Agama nomor 30 tahun 2020 tentang pendirian dan penyelenggaraan pesantren. Sedikit informasi nih, Geng. Selama ini permohonan pendirian pesantren itu tidak mewajibkan bagi setiap pengaju untuk melampirkan keapsahan serta kelayakan bangunan. Nah, ada beberapa dokumen yang diharuskan untuk dilampirkan, yaitu surat pernyataan yang memuat komitmen untuk mengamalkan nilai Islam rahmatan lil alamin dan berdasarkan Pancasila Undang-Undang 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhineka Tunggal Ika. Kemudian ada fotokopi KTP kiai pengasuh pesantren, kurikulum dan dokumen pembelajaran. Nah, terus ada daftar nama santri mukim paling sedikit harus ada 15 orang dan keputusan pengesahan badan hukum bagi yayasan dan organisasi masyarakat Islam. Nah, daftar nama pendidik serta tenaga kependidikan, foto gedung, papan nama, dan denah pesantren, surat keterangan domisili dari desa atau kelurahan. Lalu yang terakhir adalah fotokopi bukti dokumen kepemilikan tanah. Nah, itu dia beberapa syaratnya tuh. Selanjutnya Kepala Kantor Kementerian Agama itu bakal melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen, verifikasi, dan kunjungan ke lokasi. Sekitar 2 minggu lebih proses ini berjalan sampai nantinya bakal keluar rekomendasi dari Kepala Kantor Kementerian Agama pada Menteri Agama dan kemudian menteri bakal memberikan izin terdaftar bagi pesantren yang memperoleh rekomendasi tersebut. Nah, izin terdaftar ini diberikan dalam bentuk piagam statistik pesantren yang memuat nomor statistik pesantren, nama pesantren, alamat, serta pendirinya. Dan Pak Basnang menyadari hal ini sehingga revisi peraturan nanti bakal ada petunjuk teknis yang lebih rinci karena dinilai ya ee syarat membangun pesantren yang kayak sebelumnya itu kayak kurang ketat gitu. Nah, jika pesantren ingin mendapatkan nomor statistik pesantren, maka seluruh bangunan termasuk asrama dan masjidnya harus melampirkan persetujuan bangunan gedung atau PBG serta sertifikat like fungsi atau SLF. Nah, untuk bisa memperoleh PBG dan SLF ini, tata letak dan konsep arsitekturnya juga harus diserahkan kepada otoritas yang berwenang untuk kemudian dikaji terkait kelayakan, keselamatan, keamanan bangunan. Nah, untuk saat ini, Geng, ada lebih dari 42.000 pesantren loh, Geng, di Indonesia. Tapi dari data kementerian ya, ee Kementerian Pekerjaan Umum itu cuma 51 pesantren. Dari puluhan ribu tersebut yang punya PBG. Gila enggak tuh? Berarti yang lain tuh kayak antara layak atau enggak tuh bangunannya. Nah, Pak Basnang itu menyampaikan kalau pihak mereka sedang melakukan pendataan yang bekerja sama dengan ee penyuluh agama di seluruh Indonesia. Pendataan tersebut juga meliputi ya pesantren yang memiliki bangunan tinggi. Nah, terus Geng gimana nih caranya untuk menyelesaikan permasalahan yang sepertinya sistemik di dalam kasus tersebut? Nah, di saat itu dosen pasca sarjana UI Jakarta yang bernama Swendi itu menyebutkan lembaga pendidikan pesantren tuh sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Sebenarnya salah satu buktinya ya baru pada tahun 2019 lalu lembaga pesantren baru diakui melalui sebuah undang-undang. Nah, menurut beliau pesantren sebagai ruang pendidikan asli di Indonesia memang bisa dikatakan sangat terlambat untuk diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan. Jadi kadang bukan salah pesantrennya juga gitu. Pemerintah kita juga ya gitulah. Termasuk di dalam hal ini ya mereka bisa mendapatkan kesetaraan seperti halnya lembaga pendidikan lain kayak SMA, SMP ya sekolah reguler lah. Pak Suwendi ini juga memberikan bukti lainnya yaitu pesantren yang disebut oleh beliau belum mendapatkan perlakuan yang adil soal anggaran. Alokasi pendidikan dari APBN sebesar 20% itu hanya kecil, Geng. Sampai ke pesantren. Misalnya nih saat ini ada 3.000 sekian triliun APBN secara keseluruhan pada 2025. Kalau 20%-nya itu untuk pendidikan berarti ada 600 triliun. Nah, sayangnya 600 triliun itu yang sampai ke pesantren cuma 1 triliun doang dibagi untuk sekian ribu. Itu itu artinya cuma 0,1% yang diberikan ke pesantren. Padahal jumlah santri ada sekitar 1,6 juta dan 42.000 pesantren. Kebayang tuh ya dibaginya kecil-kecil banget. Nah, uangnya tidak mencukupi untuk banyaknya pesantren dan santri-santri yang ada di Indonesia, Geng. Nah, pada realitanya, Geng, sesuai dengan undang-undang ya, pesantren juga menjalankan fungsi pendidikan dan Pak Suendi juga menyebutkan anggaran untuk renovasi bangunan pesantren itu masih minim banget. Beliau menduga minimnya anggaran bagi pesantren ini berdampak pada kualitas bangunan yang ada di pondok pesantren yang ada di Indonesia. Jadi, bukan semuanya salah dari pihak pondok pesantren aja, melainkan disebabkan karena adanya andil dari pemerintah yang memang ya enggak adill lah, tidak memberikan anggaran yang cukup. Dan berdasarkan riset yang berjudul manajemen keuangan berkelanjutan di pondok pesantren ya pendekatan kewirausahaan dan tantangannya itu tertulis sumber pendanaan utama dari pesantren itu berasal dari iuran santri donasi dan pengelolaan uang mandiri dari usaha seperti koperasi bisnis kerajinan tangan hingga agrobisnis. Dan seperti yang dijelaskan oleh Pak Suendi tadi di riset itu juga tertulis pendanaan dari pemerintah memang ada tapi dikit banget. Dan riset tersebut juga menyimpulkan masalah terkait transparansi dan akuntabilitas juga sering dijumpai di pesantren. Sebagian pesantren disebut belum memenuhi pentingnya pencatatan atau pembukuan untuk mengatur aliran keuangan. Terkait soal pendanaan yang dianggap tidak cukup, Pak Basnang ini mengatakan pihaknya membuka ruang bagi pesantren jika membutuhkan pendanaan untuk merenovasi fasilitas yang ada di pondok pesantren. Dan selama ini pendanaan tersebut bisa diajukan dan akan diverifikasi oleh Kementerian Agama. Di sisi lain terkait dengan upaya hukum mengenai robohnya bangunan pesantren, Pak Suwendi ini menyerahkan semuanya kepada penegak hukum. Menurut beliau, penegak hukum harus bekerja sesuai dengan bukti yang ada. Sehingga jika terbukti lalai, ada yang menyalahi aturan, maka pihak yang bersangkutan bisa ditindak secara hukum, Geng. Nah, apa yang terjadi dengan Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Jailani ini? Ironis banget. Belum selesai kita berdamai dengan apa yang terjadi di Pondok Pesantren Alkozini, udah ada lagi insiden yang serupa. Nah, walaupun begitu ya, salah satu korban yang bernama Mafaza ya yang selamat gitu ya, dia mengaku tidak merasa kapok gitu, justru bertekad untuk kembali ke pondok pesantren segera setelah kondisinya pulih. Nah, sementara pihak keluarga korban yang meninggal dunia mengaku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi kepada anak mereka sehingga mereka tidak akan menuntut siapapun atas insiden ini. Nah, itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai robohnya atap asrama putri di salah satu pondok pesantren yang ada di Sutubondo. Gimana geng menurut pendapat kalian tentang kejadian yang terus berulang seperti ini? Coba tuliskan komentar di bawah.
Resume
Categories