Transcript
z4iPoOiXHe4 • PENJUAL ES GABUS DIFITNAH MENGGUNAKAN SPONS ! DIPERMALUKAN HINGGA DI ANI4YA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1660_z4iPoOiXHe4.txt
Kind: captions
Language: id
Nah, dari cerita Pak Sudrajat ini ya,
oknum tentara dan polisi yang melakukan
intimidasi kepada dia itu ya karena
menuduh dia menjual es gabus yang
terbuat dari bahan berbahaya seperti
spons kasur. Tahu kan spons kasur? Gabus
kasur, busa kasur gitu. Pak Sudrajat itu
bercerita kalau peristiwa tersebut
bermula ketika ada seseorang yang diduga
oknum polisi. Dia itu datang pura-pura
beli kue gabus punya Pak Sudrajat ini.
Setelah itu orang itu bersama dengan
rekannya yang diduga adalah oknum TNI
karena kita bisa lihat dari pakaiannya
gitu ya. Tiba-tiba meremas es gabus itu.
Diremas dilempar es gabus itu ke wajah
Pak Sudajat. Kebayang enggak lu kalau
itu orang tua lu gimana, Men? lagi nyari
rezeki, lagi nyari nafkah buat keluarga,
dilempar dagangannya ke wajah Pak
Sudrajat dan langsung dituduh tanpa
alasan atau tanpa dasar yang jelas kalau
es itu beracun.
Geng, tanpa mengurangi rasa hormat
terhadap institusi manapun, ya kali ini
jujur aja sebuah pemberitaan atau
pembahasan yang cukup mengecewakan
menurut gua. Gua yakin kalian juga
kecewa lah. Kalian udah lihat belum
video ini?
Tahu kan kamu kok ini dari busa kan? Iya
tahu.
Iya. Kenapa kamu jual?
Pas berhenti anak-anak ini makan apa?
Dari kemarin video ini ramai banget
dibahas di media sosial dan
berseleweran. Terus ee apa ya?
Orang-orang jadi bingung ini konteksnya
apa. Kok rame banget? Kok rame banget
orang yang melihat dua orang oknum
aparat dari dua instansi yang berbeda
itu sedang mengintervensi seorang
bapak-bapak tua ya sedang mencari
rezeki. Nah, di video tersebut si
bapak-bapak itu adalah tukang es gabus
yang dipaksa oleh oknum anggota TNI dan
anggota PORI untuk memakan dagangannya
sendiri ya yang mana dituduh kalau bahan
pembuatan esnya itu beracun katanya
enggak baik untuk tubuh. Dan video ini
pun menyebar dengan cepat di media
sosial sehingga memicu kemarahan dan
keprihatinan dari netizen. Banyak yang
menilai tindakan itu enggak pantas
terlebih karena melibatkan aparat yang
seharusnya melindungi masyarakat.
Apalagi orang kecil kayak gitu. Bukan
malah dipermalukan, bukan malah ditekan.
Ya kan dia nyari nafkah. Dan meskipun di
dalam video tersebut tidak terlihat
bahwa si pedagang es gabus itu ya
mengalami kekerasan fisik atau gimana,
tapi video itu aja tuh udah memalukan
banget. Kasihan ya. Ya, gua yakin kalau
gua jadi bapak itu juga ya di posisi dia
gua bakal syok, bakal trauma karena ya
dipermalukan di tengah-tengah banyak
orang ditekan oleh dua orang berseragam
gitu. Tapi di balik itu semua, ternyata
ada informasi yang menyebutkan kalau
beliau ini diduga mengalami penganiayaan
oleh kedua oknum ini dan bahkan ada
video pengakuan dari si bapak langsung.
Nah, akibatnya ya beliau ini
disebut-sebut mengalami trauma dan tidak
lagi berani berjualan seperti
sebelumnya. Pedagang es kue jadul yang
viral dituduh dagangannya beracun
mengaku di oleh oknum TNI dan anggota
PORI.
Bapaknya datang
marah-marah saya di apa ditonjok
cetotcetot.
Nah, setelah video ini viral dan menuai
kecaman publik ya pihak oknum TNI dan
polisi yang terlibat di dalam video itu
akhirnya menyampaikan permintaan maaf.
Mereka menyatakan penyesalan dan
berharap permasalahan ini bisa
diselesaikan secara kekeluargaan. Nah,
ini nih yang ggak enaknya nih. Giliran
mau viralin orang, mengintervensi orang,
nuduh orang, gak pernah mikirin
keluarga, enggak pernah mikirin keluarga
si orang. Gimana perasaan keluarganya
dan gimana kalau itu el, keluarga lu
gimana gitu. Enggak pernah dipikirin
dulu, tapi giliran sudah bermasalah
ngomongnya secara kekeluargaan. Nah, ini
yang bikin sakit hati. Dan hal inilah
yang kemudian menambah kecaman lagi nih
dari netizen. Karena sudah
mengintimidasi pedagang es gabus
tersebut, malah mereka ingin
menyelesaikan masalah ini secara
kekeluargaan. Dan padahal ya kalau
rakyat yang melakukan hal itu atau
sebaliknya gitu ya pasti bakal dipenjara
ya kan. Nah ini karena yang melakukannya
aparat terhadap rakyat maunya
kekeluargaan. Nah di video kali ini kita
bakal membahas nih kronologi kenapa si
pedagang es gabus tersebut sampai
diperlakukan seperti itu. Apa yang
terjadi dan apakah beliau sebelumnya
melakukan kesalahan yang besar banget
atau gimana? Apa benar tuduhan kalau es
itu terbuat dari bahan ya namanya es
gabus tapi setahu gua sih bukan dari
gabus ya.
ya, dituduhnya tuh kayak dari gabus,
dari spons gitu. Nah, kita bakal bahas
untuk kalian yang ketinggalan beritanya
di sini, gua bakal rangkum kalian harus
simak video ini sampai selesai, tapi
jaga emosi kalian. Oke, langsung aja
kita bahas secara lengkap. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry.
Ging King. Beli iPhone baru yang
kapasitasnya paling kecil dan murah
enggak masalah. Tinggal tambahin SSD
supaya kapasitasnya jadi lebih besar.
Karena dengan tambahan SSD, HP gua yang
tadinya cuma 256 gig, sekarang malah
jadi 756
gig. Bikin video cinematik ataupun foto,
udah enggak khawatir lagi memori bakal
penuh. Udah gitu proses pemindahan
datanya juga cepat banget. Nih kita
bandingin pemindahan data pakai SSD
dengan pemindahan data pakai airdrop.
Cepat banget kan? SSD yang gua pakai ini
harganya juga murah banget terjangkau
daripada kalian beli iPhone versi
terbaru dengan harga yang mahal. Hanya
karena perbedaan kapasitas memori yang
mendingan beli yang paling murah
ditambah dengan SSD ini. Tapi iPhone
kalian jadi berkapasitas besar. Udah
gitu SSD-nya kecil dan bisa dibawa ke
mana-mana. Simpel kan? Buat yang mau
langsung aja check out linknya udah ada
di bawah. Untuk pembahasan pertama kita
bahas dulu awal mula pedagang S
diintimidasi oleh oknum TNI dan polisi
ini.
Jadi diketahui si pedagang es gabus
tersebut bernama Pak Sudrajat. Usianya
udah 50 tahun. Beliau ini adalah seorang
ayah dari lima orang anak yang tinggal
di daerah Bojong Gede, Kabupaten Bogor.
Beliau serta keluarganya tinggal di
kontrakan karena rumahnya sedang
direnovasi setelah plafonnya ambruk.
Nah, jadi dari sini kita bisa menilai
kalau ini bukan ee apa ya, keluarga
berkecukupan, tapi ini benar-benar
keluarga yang sederhana bahkan bisa
dikatakan ya pas-pasan lah gitu ya. Pak
Sudrajat ini sudah berjualan es gabus
selama 30 tahun. Ingat tuh dengar tuh 30
tahun. Jadi kalau tuduhan es gabusnya
itu spons ya itu orang-orang yang makan
selama 30 tahun kayaknya lemaknya udah
keserap deh. Lu tahu spons kan? Spons
itu kan nyerap air ya dipakai buat cic
piring. Nah, kalau dituduhkan esnya itu
terbuat dari spons. Itu orang-orang udah
pada kurus di Bojong Gede. Enggak ada
orang gendut. Eh, aduh emosi euy. Oke,
kita lanjut. Pada awalnya beliau ini
berjualan di wilayah Jakarta Pusat,
Geng. Sejak tahun 2007. Nah, setiap hari
beliau ini berangkat dini nihari loh,
Geng. Pagi-pagi buta di saat dua oknum
tadi masih ngorok tidur gitu ya. Nah,
dia berangkat dari rumahnya untuk
mengambil es gabus yang berada di
kawasan Depok Lama. Bayangin tuh Jakarta
Pusat Depok Lama. Gila, dia jalan. Pak
Sudrajat ini membeli es dari pemasok
seharga Rp500 per potong dan dia jual
kembali dengan harga Rp2.000. Jadi dia
bukan dia yang bikin. Dia tuh ngambil
dari pemasok, dia jualkan lagi. Dia
berkeliling lagi. Dia berkeliling dari
jam .00 pagi ya dan baru pulang di jam
5.00 sore dan dia menuju ke rumahnya
menggunakan KRL atau kereta listrik.
Jika dagangannya habis, Pak Sudrajat ini
cuma dapat Rp200.000 sampai Rp300.000
per hari. Dan kata beliau ya uang
tersebut cukup untuk dia dan keluarganya
makan.
Ini mah ini sip hari mah habis terus
cuacanya aja hujan.
Bawa pego habis. Bawa pego habis. Ya
untungnya berapa, Pak?
Kalau habis semua sih dapat 400.
Nah, dari cerita Pak Sudrajat ini ya,
oknum tentara dan polisi yang melakukan
intimidasi kepada dia itu ya karena
menuduh dia menjual es gabus yang
terbuat dari bahan berbahaya seperti
spons kasur. Tahu kan spons kasur? Gabus
kasur, busa kasur gitu.
Makan dulu. Ini dari busa ini. Jelas
jelas. Ini dari busa nih.
Pak Sudrajat itu bercerita kalau
peristiwa tersebut bermula ketika ada
seseorang yang diduga oknum polisi. Dia
itu datang pura-pura beli kue gabus
punya Pak Sudrajat ini.
Bang es Bang.
Tahu-tahunya di saya dibejak-bejek.
Kejadiannya di hari Sabtu tanggal 24
Januari 2026. Setelah itu orang itu
bersama dengan rekannya yang diduga
adalah oknum TNI karena kita bisa lihat
dari pakaiannya gitu ya, tiba-tiba
meremas es gabus itu. Diremas dilempar
es gabus itu ke wajah Pak Sudajat.
Kebayang engak lu kalau itu orang tua lu
gimana, Men? Lagi nyari rezeki, lagi
nyari nafkah buat keluarga, dilempar
dagangannya ke wajah Pak Sudrajat dan
langsung dituduh tanpa alasan atau tanpa
dasar yang jelas kalau es itu beracun.
Ini aparat apa? Dokter apa profesor apa?
Aduh, gua sampai nge-blank mau
ngomongnya. Emang udah diuji lab terus
nuduh kalau itu spon kan belum. Baru lu
baru lu remes doang udah langsung nuduh
itu spons. Aneh banget anjir. Itu
ibaratnya kayak lu beli cokelat terus
karena lembek lu anggap itu sama sama
tahi. Tah nih lembek soalnya setahu saya
tahi itu lembek. Tahi itu kalau sudah
kering warnanya coklat. Nah, berarti ini
tahia nih bukan coklat
ya. Analoginya kayak gitulah. Nah, ini
respon
makan nih. Hati-hati.
Makan. Habisin. Habisin. Engak terus
yang mau tah biar kamu ya. Jangan
anak-anak kecil ya. Kasihan pelan.
Pak Sudrajat ini ya mengaku dia enggak
habis pikir atas tuduhan tersebut. Dia
bingung. Udah 30 tahun loh geng dia
jualan. Beliau itu enggak pernah
menerima keluhan dari pembeli. Misalkan
ada yang merasa keracunan setelah
membeli atau memakan dagangannya, itu
enggak pernah ada. Semuanya happy,
semuanya kenyang, semuanya senang.
Enggak lama setelah itu, oknum TNI dan
polisi ini memanggil Pak Sudrajat dan
membawa dia ke pos bersama dagangannya
dia untuk dimintai keterangan. Di saat
itu, Pak Sudrajat ini bilang, "Ya jangan
salahkan saya, Pak. Kalau mau ayo kita
cek langsung ke pabriknya, langsung ke
tempat produksinya yang ada di Depok."
Dan ketika dituduh seperti itu, Pak
Sudrajat cuma bisa bilang, "Ampun, Pak.
Ini bukan saya yang buat. Ini punya bos.
Kalau enggak percaya ikut ayo ke Depok."
Dia cuma pedagang keliling. Dia cuma
menjejakan. Dan Pak Sudrajat juga
mengaku membuka satu persatu es kue atau
es gabusnya dia yang dia bawa untuk
membuktikan isinya bukan spons. Tapi Pak
Surajat malah kembali mendapatkan
perlakuan kasar yang mana yaitu seperti
yang terlihat di video esnya
diremas-remas sampai hancur. Lalu beliau
disuruh memakan es tersebut. Es sisa
tadi yang udah diremes-remes. Nah,
sekarang ada pelaku yang menyamarkan
nih.
Intinya ini gak boleh dimakan
karena tadi kita coba kok rasanya beda
bukan kue. Ternyata ini bahannya dari
spon.
Nah, lalu Pak Sudrajat udah menjelaskan
berkali-kali bahwa dagangannya itu
enggak terbuat dari spons atau bahan
berbahaya atau enggak terbuat dari bahan
yang beracun sama sekali. Dan bahannya
dia jelaskan nih, bahannya itu terbuat
dari tepung hungk namanya. yaitu pati
murni yang diekstrak dari kacang hijau.
Cuma Pak Sudrajat mengaku aparat itu
tetap memaksa dia untuk mengaku kalau
dagangannya itu mengandung bahan
berbahaya atau beracun. Dan dikarenakan
Pak Sudrajat ini tidak mau mengakui
kalau bahan itu beracun, Pak Sudrajat
bercerita kalau dia malah diberikan
bogem mentah.
Huh, sakit hati ya dengarnya ya. Ya,
minimal Pak kalau emang jagoan carilah
lawan sepadan. Masa orang tua kayak gitu
ya. Ah, enggak cuma Bapak sih yang bisa
berantem. Kita juga bisa sih, cuman
kayak apa sih closurnya gitu ya. Sedih
banget ya. Gua juga sakit hati, Men,
ngelihat berita ini. Nah, akibatnya nih
ya bagian tubuh si Bapak Tua Rentah ini
yaitu di bagian dada sampai bahu itu
memar-memar. Bayanginlah yang mukulin
aparat udah biasa terlatih keras mukulin
orang jual es gabus. Mana makannya
jarang lagi tuh bapak-bapak. Giginya
udah hampir habis lagi terus. Aduh. Dan
enggak cuma dipukul ya, beliau juga
mengaku kalau kedua oknum tersebut ya
menyabet dia menggunakan selang sampai
ditendang pakai sepatu. Dan dari
informasi lain juga dikatakan Pak
Sudrajat ini disuruh berdiri dengan
mengangkat satu kaki seperti ketika
seorang murid yang sedang dihukum di
depan kelas oleh guru yang kayak kakinya
diangkat satu gitu loh. Geng
tega banget ya orang tua digituin.
Lima kali
lima kali bagian apa bapak
ni?
Sama-sama si Saabet. Sabet pakai apa?
Pakai apa? Selangsang.
Dan bahkan nih katanya Pak Sudrajat juga
mau dikasih minum dari air comberan.
Nah, ini bukan pernyataan gue ya. Ini
Pak Sudrajat langsung yang bercerita.
Dan hal ini dilakukan oleh kedua oknom
ini agar Pak Surrajat mau mengakui
perbuatan yang sama sekali dia enggak
paham. Orang dia cuma jualan. Bukan
bukan dia yang punya pabrik. Ini gimana
sih? Dua ini enggak paham cara orang
berbisnis atau cara orang jualan apa ya?
El ya gua kasih tahu ya. Bapak kalau
Bapak nonton nih ya, Bapak ke warung
Padang aja nih. Padang Merdeka ya,
Padang apa lagi itu ee pagi sore dan bla
bla bla bla. Mereka itu ya punya
supplier yang artinya dagangan mereka di
warung itu kalau ada yang enggak enak
dan segala macam yang disalahkan itu
biasanya orang dapurnya. Yang disalahkan
itu biasanya adalah suppliernya. orang
yang menitipkan atau orang yang
memberikan makanan di warung itu. Jadi
mereka itu buka restoran, mereka juga
ambil makanan dari tempat lain. Enggak
semuanya itu diproduksi di dapur
sendiri. Belajarlah minimal ya kalau
misalkan enggak paham gitu. Masa iya
pedagang yang disalahin? Masa iya dia
cuman menjajakan dia yang disalahkan. Ya
ke akarnya lah pabriknya di mana, siapa
yang bikin. Itu dulu ditanya. Bukan
malah yang dagang disuruh ngaku dipaksa
dengan kekerasan kayak gitu. Buset.
Nah, di saat itu ya beliau ya Pak
Sudrajat sudah bilang berkali-kali bahwa
dagangannya itu adalah es beneran namun
tidak menghentikan penganiayaan yang
dialami oleh Pak Sudrajat. Dan selain
itu Pak Sudrajat juga mendengar
informasi bahwa ada anak yang
disebut-sebut sakit katanya setelah
memakan es dagangannya dia. Nah,
informasi itulah yang menurut Pak
Sudrajat memicu perlakuan kasar dari
aparat itu kepada dia. Dan beliau
mengaku kalau dia sampai mau nangis,
Geng. Karena dikurung di pos.
Gila, Bang. Es, Bang.
Tahunya dibejek-bejek
sama anaknya.
Jangan itu ada racunnya.
Yang bilang itu siapa ya? Ada
anak. Anaknya
logik ya nih ya, anak kecil kalau
misalkan mengkonsumsi es ya namanya juga
es. Kalau tiba-tiba dia demam bukan
berarti dia keracunan. Kalau dia sakit
perut ya bisa jadi ada hal lain yang
mungkin yang bisa mengkontaminasi ya
bisa jadi kayak kurang steril, kurang
higienis gitu ya. Mungkin iya. Tapi
kalau sampai dianggap beracun itu perlu
uji lab. Enggak bisa main asal tuduh.
Dan dikatakan juga kalau pakajat ini
sampai ditahan di pos itu sejak jam 3.00
sore sampai malam hari. Manusia loh itu,
bukan hewan. Dan si oknum tadi melarang
dia kembali berjualan di kawasan
Kemayoran. Kalau Pak Sudrajat nekad
berjualan, maka beliau bakal ditarik
lagi oleh si dua aparat ini. Dan sejak
kejadian itu, Pak Sudrajat mengaku belum
kembali berjualan sampai sekarang.
mungkin ya karena trauma dengan apa yang
beliau alami. Meskipun beliau memiliki
banyak pelanggan geng di Jakarta Pusat,
tapi ya udah dia udah stop. Dan biasanya
beliau ini berjualan di daerah Kemayoran
Pasar Baru sampai Kota Tua. Dan Pak
Sodrajat juga menyebutkan kalau beliau
ini tidak diantarkan pulang oleh oknum
itu setelah dia dikurung, setelah dia
disekap.
Itu pulang jam berapa, Bapak? Jam .
subuh. Jam
3. subuh nyampai sini.
Sampai sini jam
jam diantarinak.
Boro-boro enggak.
Astagfirullah.
Masih sakit hati
kereta.
Bahkan dia sudah dianiaya kayak gitu,
bantuan pengobatan pun enggak ada.
Beliau bilang baru menerima uang
Rp300.000 dari atasannya si oknum tadi
pada malam hari setelah kondisinya lebam
dan viral. Nah, ketika menceritakan apa
yang beliau alami, Pak Sudrajat
menceritakannya dengan nada kesal,
kecewa, sedih juga, takut juga. Dan
beliau juga menambahkan bahwa anggota
Babinsa TNI dan Babinkam Tipsas Polri
yang diduga melakukan penganiayaan atau
si oknum tadi ya, itu tidak menyampaikan
permintaan maaf secara langsung kepada
dia. Oleh karena itu, Pak Sudrajat
mengaku masih menyimpan rasa sakit hati
atas perlakuan tersebut dan beliau juga
bilang sangat kecewa terhadap aparat
yang terlibat ini.
Eh, malam.
Oh, malam itu
pas bawnya pada dikasih duit. Kurang
ajar.
Sudah ada permintaan maaf dari kedua.
Boro-boro enggak. Enggak minta maaf.
Enggak ada. Engak ada minta maaf
buat kita nih, Geng. Ya, generasi
milenial atau Genzy ya atau mungkin
generasi di atas kita lagi, Gen Alpha
dan lain-lain. Pasti udah enggak asing
lah sama es kue atau es gabusi ini. Ya
memang es gabusi ini adalah jajanan
tradisional yang komposisinya terbuat
dari tepung hunku dan santan yang
dibekukan lalu dipotong-potong kecil
sebelum akhirnya dijajahkan atau dijual.
Nama gabus itu tidak merujuk pada bahan
baku pembuatannya, melainkan teksturnya
yang mirip sama gabus. Ringan, berpori,
empuk ketika digigit. Jadi kayak
ngegigit gabus.
Ya ibaratnya nih ya, lu beli nasi goreng
gila, lu pikir abang-abang yang jualnya
tuh sakit jiwa ya. Kagak. Yang
ngegorengnya waras. Namanya doang.
Namanya doang ya. Nasi goreng gila
Bapak. Nasi goreng gila. Kenapa gila
disebut? Karena bumbunya itu hmm banyak.
itu rempah-rempahnya banyak, ada sosis,
ada sayur-sayur dan lain-lain. Jadilah
nasi goreng gila. Bukan berarti yang
ngegoreng gila. Enggak waras yang
ngegoreng mah. Ya bisa-bisanya anjir. Es
gabus dikira gabus beneran. Aduh. Dulu
dulu nih dulu dulu nih dulu si apa? E
Fadil Jaidi jual tuh namanya eh traffic
ban tahu enggak loh? Traffic ban apaapa
gitu coba deh gua gua agak lupa traffic
ban yang apa sosis. Terus ada bannya,
ada apa ee rotinya gitu. Nah, terus
Bapak kira itu terbuat dari karet ban
gitu ya, karena namanya traffic ban ya
gitu.
Gila kali. Ah,
gini nih kalau enggak belajar nih pas
sekolah. Dan secara visual es gabus itu
umumnya memang berbentuk balok panjang
yang dipotong kecil-kecil ya. Kayak
sponge buat apa ya? Buat cuci piring lah
emang bentuknya kayak gitu tapi beda
gitu warnanya. cenderung cerah atau
pastel warnanya seperti merah muda,
hijau, coklat bergantung pada pewarnaan
makanan atau mungkin rasanya gitu. Nah,
kalau dari bahan-bahannya seharusnya es
gabus yang dijual oleh Pak Sudrajat ini
aman. Apalagi menurut pengakuan beliau,
selama beliau berjualan enggak pernah
ada yang komplain. Semuanya baik-baik
aja, 30 tahun teruji. Tiba-tiba
muncullah nih dua manusia entah berantah
yang entah dari mana ini. Menuduh kalau
itu adalah es yang berbahan berbahaya
dan beracun. Haduh, gila.
Nah, itu dia, Geng, ya cerita menurut
keterangan dari si korban langsung,
yaitu Pak Sudrajat. Nah, sekarang kita
dengar nih bagaimana respon dari pihak
TNI dan Polri ya atas kejadian yang
dilakukan oleh oknum anggota mereka ini.
Sekarang kita masuk ke dalam
pembahasannya.
Dari versi lainnya dikatakan bahwa
insiden yang menimpa Pak Sudrajati ini
ya bermula dari adanya pengaduan warga
katanya. Nah, warga ini bernama M. Arif
Fadilah, seorang wiraswasta yang tinggal
di hutan Panjang 3 Kemayoran, Jakarta
Pusat. Nah, tapi ingat ya, Geng, ini
cerita dari pihak sebelah, ibaratnya
pihak dari ee aparatnya gitu ya.
Dikatakan ya yang namanya Arif tadi
melaporkan dugaan penjualan makanan
berbahaya berupa es gabus berbahan spons
melalui call center 110 pada hari Sabtu
tanggal 24 Januari 2026. Pedagang yang
dilaporkan ini tidak lain dan tidak
bukan adalah si Pak Sudrajat ini. Nah,
dari informasi Arif ini ya dikatakan
kalau Pak Sudrajat menjual es gabus
agar-agar, coklat messis dan juga e sisa
kue yang sempat dibeli oleh Arif. Nah,
setelah mendapatkan laporan barulah tim
piket dari Reskrim Polsek Kemayoran
datang ke lokasi yang ada di wilayah
Utan Panjang Kemayoran, Jakarta Pusat
untuk menindaklanjuti pengaduan dari
Arif ini. Dan yang menindaklanjuti
laporan tersebut seperti yang terlihat
di video adalah oknum anggota polisi dan
anggota TNI yang masing-masing dari
mereka merupakan bagian dari Babinkam
Tipmas Kelurahan Rawa Selatan yaitu yang
bernama Aibtu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa
Kelurahan Hutan Panjang yang bernama
Serda Heri Purnomo.
Jujur ya, Pak. Jujur banget nih, Pak,
kalau dari saya pribadi ya. Sebenarnya
Bapak berdua tuh keren ya. Bapak berdua
tuh keren. Kenapa? Gua dari dulu mikir
ya, kayaknya cuma polisi di Amerika
doang deh yang kalau dilaporin ke 911
itu ya, nomor 911 itu langsung face
respon. Ternyata di sini gua baru paham
nomor telepon 110
milik aparat kita, pengaduan untuk
masyarakat biar bisa mendapatkan
pertolongan. Ternyata defice respon di
dalam kejadian ini. Ini keren. Patut
diacungi jempol. Ya, kita enggak boleh
bohong juga, Geng. Kita enggak boleh apa
ya kita enggak boleh enggak adil juga.
kita harus fair ya kan bahwa face
responnya dua si Bapak ini itu bagus.
Pengaduan masyarakat langsung ditindak
tapi penindakannya itu loh Pak yang
mungkin agar lebih hati-hati lagi. Aduh
kasihan banget ya. Padahal udah keren
gitu Pak. Ada laporan nih gini gini gini
gini gini langsung ditindak. Wi sudah
mantap. Tapi pas penindakannya malah
direkam mempermalukan orangnya. Enggak
ditanya baik-baik dulu blunder. Akhirnya
yang tadinya tuh kita udah kayak wis
keren. Yaelah turun lagi kan. Nah,
setelah video mereka berdua ini yang
meremas-remas es gabus dagangan Pak
Sudrajat dan meminta beliau memakan es
tersebut dengan cara kasar, viral di
media sosial, ya barulah si oknum tadi
yang bernama Aitu Ikhwan Mulyadi dan
Serdry Purnomo membuat video permintaan
maaf berdurasi sekitar 4 menit yang
mereka rilis ya dirilis oleh Polres
Metro Jakarta Pusat pada hari Selasa
tanggal 27 Januari 2026. Di dalam video
tersebut juga ada ketua RW 05 Kelurahan
Panjang dan ketua RT 10 RW05 Kelurahan
Utan Panjang. Dan permintaan maaf itu
dikarenakan video yang beredar yang
menunjukkan perlakuan kasar mereka
terhadap Pak Sudrajat dan sudah membuat
kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya ikati
hormat pusat dengan ini saya bersama Pak
Babar dari Pak dan juga kami di sini
bersama pelapor yaitu Bapak R005
Panjang.
Nah, si Pak Ikhwan itu menjelaskan
tindakan yang dia lakukan bersama dengan
Pak Heri ini merupakan respon cepat atas
laporan masyarakat yang merasa khawatir
akan adanya dugaan peredaran makanan
yang berbahaya. di lingkungan mereka.
Nah, ini yang gua maksud mereka berdua
tuh patut diacungi jempol karena emang
face respon banget. Tapi sayangnya cara
menanganinya itu salah sih. Dan sebagai
petugas di lapangan kata Pak Hiwan ya,
pihaknya dia berkewajiban hadir dan
merespon setiap laporan demi menjaga
keselamatan warga. Cuma dia juga
mengakui bahwa dia sudah bertindak
terlalu cepat dengan menarik kesimpulan
tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah
dari pihak yang berwenang yaitu Dinas
Kesehatan DKI Jakarta, kedokteran
kepolisian, maupun laboratorium forensik
atau lab for dari Polri terhadap es
gabus yang dituduhkan mengandung bahan
berbahaya itu yang dijual oleh Pak
Sudrajat. Nah, si Pak Ikwan ini juga
enggak mengelak bahwa dia seharusnya
melakukan proses klarifikasi dan
verifikasi terlebih dahulu sebelum
memberikan informasi kepada masyarakat.
Jadi, udah salah banget dia di sini. Dan
dia juga mengakui bahwa kabar mengenai
es gabus berbahan spons ini yang viral
di media sosial bisa mempengaruhi usaha
dan kehidupan Pak Sudrajat sebagai
pedagang kecil yang menggantungkan
hidupnya dari hasil jualan. Bahkan
sangat mungkin bahwa ini akan berdampak
bagi orang-orang yang berprofesi sebagai
pedagang es yang sama seperti Pak
Sudrajat. Ini kan akhirnya jadi trash
issue di tengah-tengah masyarakat.
Kehilangan lapangan pekerjaan lagi ya,
berkurang lagi lapangan pekerjaan. Mana
nyari kerja di negara ini sulit sekali.
giliran ada kerja ya dipalakin enggak
main-main gitu ya. Ah giliran orang
kecil kayak gini malah di
diintimidasi enggak jelas dan ya
masyarakat jadi takut lah ya untuk
membeli es gabus lagi. Kalau misalkan
ditumbuhkan rumor-rumor yang enggak
benar kayak gini. Gimana nasib mereka?
Mau cari duit gimana lagi? Apakah
pihak-pihak yang melakukan hal ini atau
mengintimidasi mereka ini mau
bertanggung jawab untuk memberikan uang
pengganti akibat mereka yang kehilangan
pekerjaan? Ya, bukan cuma uang sih,
pekerjaan pengganti malah. Kalau uang
kan sekali ngasih doang. Kalau misalkan
dikasih pekerjaan untuk kelangsungan
hidup mereka selama-lamanya gitu. Emang
mau? Ya enggak ada juga lepas tangan
semuanya. Dan dari pihak kepolisiannya
sendiri mengakui adanya kekeliruan di
dalam tindakan oknum anggota mereka yang
menyimpulkan kalau Es gabus itu berbahan
spons tanpa disertai pengujian ilmiah
terlebih dahulu. Nah, di saat itu ya
kasat res Krim Polres Metro Jakarta
Pusat yang bernama AKBP Robi Herry
Saputra itu mengakui bahwa tindakan yang
dilakukan oleh Aibtu Ikhwan Mulyadi dan
Serda Harry Purnomo adalah salah karena
menyimpulkan semuanya tanpa pemeriksaan
laboratorium. Di dalam penjelasannya,
Pak Robi ini mengatakan kesimpulan awal
tersebut muncul karena tekstur es gabus
yang secara kasat mata menyerupai spons.
Namun dia menegaskan bahwa penyampaian
kesimpulan dan pembuatan video tanpa uji
ilmiah merupakan kesalahan prosedural.
Dan untuk merespon kejadian tersebut,
divisi profesi dan pengamanan yaitu
Propam Polres Metro Jakarta Pusat sudah
memeriksa sibtu Ikhwan Mulyadi. Dan kata
Pak Robi juga Propam turun langsung
untuk melakukan penyelidikan mengenai
tindakan si Aibtu Mulyadi termasuk
dengan proses pemeriksaan awal yang
sempat dilakukan di lapangan. Namun
untuk tindak lanjut proses pemeriksaan
terhadap Ikhwan ya apalagi terkait
sanksi gitu ya belum diketahui karena
pemeriksaan masih terus berlangsung.
Cuma, Geng, Robi ini menegaskan apabila
dari hasil pemeriksaan Propam ditemukan
adanya pelanggaran, proses penindakan
akan tetap dilakukan sesuai dengan
aturan yang berlaku. Dan hingga saat ini
Aibtu Ikhwan Mulyadi masih bertugas
seperti biasa ee sebagai Bambinam
Tipmas, Kelurahan Kampung Rawa.
Sementara itu, pihak TNI Angkatan Darat
sudah memberikan penjelasan mengenai
tindakan yang akan diterima oleh Serda
Herry Purnomo yang ikut menginterogasi
Pak Sudrajat dengan cara
mengintimidasinya.
Dan melalui Kolonel Infanteri Doni
Pramono selaku Kepala Dinas Penerangan
Angkatan Darat atau Kadis Pen AD, Serda
Herry ini memberikan klarifikasi atas
peristiwa tersebut dalam pertemuan yang
digelar di aula markas Polsek Kemayoran,
Jakarta Pusat pada hari Senin tanggal 26
Januari 2026. Nah, Pak Doni ini bilang
kalau aparat sudah berupaya menemui Pak
Sudrajat untuk menyelesaikan persoalan
secara kekeluargaan melalui dialog yang
baik. Dan oleh karena itu, Pak Doni
berharap tidak akan muncul tuntutan
ataupun konflik berkepanjangan setelah
pertemuan tersebut. Ya, kita doakan
semoga yang terbaik juga ya, Geng.
Maksud gua tuh kayak damai sih damai,
tapi hak-hak yang harus diterima oleh
Pak Sudrajat juga harus ditunaikan,
harus dipenuhi. Ya udah trauma, fisiknya
disakiti, sekarang pekerjaannya juga
hilang karena dia trauma untuk berjualan
lagi.
Dan kabarnya, Geng, ada pemeriksaan
laboratorium dari es gabus yang
dituduhkan itu yang dijual oleh Pak
Sudrajat. Terus bagaimana hasilnya?
Apakah seperti yang dituduhkan oleh si
Aibtu Ikhwan dan Serda Herry? Nah,
ternyata berdasarkan hasil pengecekan
dari tim Doc Docpol Polda Metro Jaya,
seluruh sampel makanan yang diambil dari
dagangan Pak Sudrajat layak dikonsumsi
dan tidak mengandung zat berbahaya sama
sekali. Dan untuk memastikan hasil yang
lebih ilmiah, sampelnya juga sudah
dikirim ke Dinas Kesehatan dan
Laboratorium Forensik Polri. Dan selain
itu, penyelidikan menelusuri tempat
pembuatan esnya di Depok. Dan hasil
pemeriksaan menunjukkan tidak ada
penggunaan bahan berbahaya maupun spons
sesuai dengan isu yang sempat beredar
dan seperti yang dilaporkan oleh si Arif
tadi. Nih, Arif nih yang mana sih
orangnya? Ngapain sih? Aneh banget
anjir. Ngelaporin hal yang maksud gua
tuh dari dari dulu udah ada gitu. Kok
tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan
nuduh-nuduh kalau itu spons. Dan karena
hasilnya tidak menunjukkan bahwa es
gabus itu berbahaya, ya, Pak Robi
menghimbau agar masyarakat untuk lebih
bijak di dalam memberikan atau
menyebarkan informasi. Nah, tapi
seharusnya aparat juga diberikan arahan
kalau menemukan sebuah informasi yang
belum jelas kebenarannya ya agar bisa
memperlakukan seseorang yang dituduh itu
dengan manusiawi terlebih dahulu dan
jangan langsung bertindak tanpa memiliki
bukti yang kuat. Apalagi sampai
diperlakukan dengan kasar kayak gitu.
Apalagi sampai disekap kayak gitu. dan
dipaksa mengaku sesuatu yang yang dia
enggak lakuin gitu. Nah, kalau begini
jadinya oknum aparatnya sendiri yang
mencoreng nama baik instansi karena ee
pasti masyarakat bakal berpikir bahwa
beginilah cara aparat memperlakukan
masyarakat. Jadi kayak distigmakan atau
stereotypek gitu, semuanya disama
ratain. Dan setelah hasil lab terkait es
gabus milik e Pak Sudrajat ini keluar ya
ternyata enggak berbahaya dan Pak
Sudrajat merasa lega karena terbukti
tidak mengandung bahan berbahaya dan
layak dikonsumsi tidak seperti yang
dituduhkan. Nah di luar itu geng ya
setelah semua ini heboh, ternyata
kabarnya Pak Sudrajat mendapatkan
bantuan nih. Bantuan seperti apa?
Sekarang kita bahas bentuk bantuan yang
diterima oleh Pak Sudrajat.
Jadi, Geng, pasca videonya viral dan
mendapatkan sorotan dari berbagai
kalangan, Pak Sudrajat akhirnya
mendapatkan rezeki nih. Di saat itu,
Kombes Paul Abdul Waras selaku Kapolres
Metro Depok memberikan sebuah sepeda
motor dan modal usaha kepada Pak
Sudrajat. Motor dan modal usaha itu
diberikan ketika Pak Abdul mendatangi
rumah Pak Sudrajat di daerah Bojong
Gede, Kabupaten Bogor tepat pada hari
Selasa sore tanggal 27 Januari 2026.
Kedatangan Pak Abdul ke sana sebagai
bentuk kepedulian Polri atau polisi
karena ee Pak Sudrajat ini tinggal di
wilayah hukum Polres Metro Depok. Dan
tidak lama kemudian satu unit motor
Yamaha Mio berwarna hijau Tosca
diantarkan ke teras rumah beliau. Dan
Pak Abdul juga memberikan satu amplop
berisikan uang tunai untuk modal usaha.
Nah, Pak Abdul mendatangi rumah
kontrakan Pak Sudrajat didampingi oleh
Kapolsek Bojong Gede yaitu AKP Abdullah
dan Kasat Lantas Polres Metro Depok yang
bernama AKBP Joko Sembodo. Nah, Pak
Abdul juga bilang mengenai polisi yang
menyebutkan barang dagangan Pak Sudrajat
itu menggunakan spons. Hal tersebut
sudah diserahkan ke Polres Jakarta Pusat
biar ditindaklanjuti. Nah, di saat itu
Pak Sudrajat pun berterima kasih atas
pemberian modal usaha serta sepeda motor
tersebut. Dan pemerintah Kabupaten Bogor
juga memberikan bantuan termasuk sembako
kepada Pak Sudrajat. Nah, bantuan ini
diberikan oleh perangkat wilayah yaitu
sekretaris kecamatan Rawapan Panjang
yang bernama Elvi Nila Hartanti. Terus
ada kepala desa yang bernama Muhammad
Agus serta perwakilan Dinas Sosial yang
bernama Ferianto. Pihak pemerintah juga
bakal membantu anak-anak Pak Sudrajat
agar bisa melanjutkan pendidikan.
Bantuan juga datang dari Kang Dedi
Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat. Ada
utusan dari KDM yang menelepon dan
langsung mengajak Pak Sudrajat untuk
bisa menemui KDM. Dikatakan tidak hanya
perangkat wilayah aja yang memberikan
bantuan kepada Pak Sudrajat, tetapi juga
ada orang-orang dermawan yang lain yang
ikut memberikan bantuan karena merasa
empati dengan apa yang beliau alami.
Tapi apakah permintaan maaf dari oknum
aparat ini yang sudah bertindak kasar
kepada dia ini dianggap cukup? Ya,
nyatanya untuk Pak Sudrajat dan
keluarganya permasalahan tidak
sesederhana kata maaf itu. Katanya dari
apa yang disampaikan oleh Andi anak
kedua dari Pak Sudrajat, dia merasa
kesal dengan tindakan oknum aparat itu.
Dia juga bilang kalau rasa takut atau
trauma tetap masih ada bagi Pak Sudrajat
dan keluarga. Apalagi mereka adalah
orang kecil. Si Andi ini bekerja di
Pasar Citayem untuk membantu ekonomi
keluarga sebagai kuli angkut.
pendidikannya harus terhenti karena
perekonomian keluarga yang tidak cukup
untuk dia bisa bersekolah. Dan anak-anak
Pak Sudrajat yang bersekolah cumalah
anak bungsunya aja yang saat ini sudah
duduk di kelas E 2. Dan Andi ya bilang
kalau Pak Sudrajat ayahnya sudah lama
berjualan es bahkan sejak sebelum Andi
ini lahir. Dari kotak es yang dijual
oleh ayahnya, keluarganya bisa mencukupi
kebutuhan sehari-hari bisa makan.
Tuduhan terkait es gabus ayahnya yang
mengandung bahan berbahaya sempat
membuat ayahnya ini takut untuk keluar
rumah. Meskipun sebenarnya jauh di lubuk
hati yang paling dalam, Pak Sudrajat
sebenarnya ingin kembali bekerja
berjualan. Ya, karena hanya dengan
itulah keluarganya bisa ee tercukupi
kebutuhan sehari-harinya, bisa makan.
Dan Pak Sudrajat tidak mau keluar rumah
bukan karena merasa bersalah, melainkan
karena khawatir. Banyak yang termakan
isu dan salah paham terhadap dia. Dia
takut, beliau takut ketika kembali
berjualan dia masih mendapatkan
perlakuan yang sama. Bahkan parahnya ya
nanti bisa ee tewas gara-gara dituduh
yang bukan-bukan. Dan mungkin saat ini
Pak Sudrajat sedang butuh waktu untuk
menenangkan diri sembari diberikan
dukungan agar bisa kembali berani untuk
berjualan, Geng. Nah, terus nih, Geng.
Ya, setelah dua oknum aparat tadi
mendapatkan kecaman dari netizen,
tiba-tiba muncul lagi nih. Ya, ini kali
ini masyarakat nih dari kalangan sipil
yang mendapatkan kecaman dari netizen
setelah dia me-review eh es gabus tadi
yang dia bilang spons kita bahas.
Jadi, geng, ada seorang wanita yang
direkam sedang memeras es gabus dan
menyebut es gabus itu sebagai spons
bedak katanya. Terus si wanita ini juga
mempertanyakan kok es bisa diperes kayak
gitu
cewek ini ban apa
ini spons spons bedak
nah ya kan nah
ini bedak kan
ini diperas biasa ini.
Terdengar juga ada seorang pria yang
mengatakan itu sponse kalau air harusnya
enggak bisa diperas seperti itu. Katanya
dan di video tersebut netizen jadi
beramai-ramai menghujat si wanita ini
karena dianggap enggak bisa membedakan
antara spons bedak dengan es gabus. tapi
mengatakan itu seolah-olah adalah fakta.
Padahal itu ya karena dianya aja yang
gak tahu kalau memang tekstur es gabus
dari puluhan tahun lalu udah kayak gitu.
Ada beberapa netizen yang bahkan
menyebutkan tindakan yang dilakukan oleh
si wanita ini berpotensi masuk ke dalam
tindak pidana berupa pencemaran nama
baik dan menyerukan ya agar wanita ini
segera disomasi ditindaklanjuti. Nah,
sekarang dia jadi incaran dari netizen.
Nanti kita tunggu aja nih gimana nih si
wanita ini bakal muncul enggak ke
permukaan untuk minta maaf atau justru
dia bakal diperkarakan.
Nah, itu dia geng pembahasan kita kali
ini mengenai pedagang es gabus yang
diintimidasi oleh oknum TNI dan polisi.
Dan sebenarnya ya ada netizen yang
menginginkan kalau oknum aparat tersebut
lebih baik dilaporkan balik. Mungkin
atas tuduhan pencemaran nama baik dan
penganiayaan. Tapi entahlah ya dari Pak
Sudrajatnya sendiri ingin melakukan itu
atau enggak ya. Seperti yang mereka akui
tadi melalui anaknya gitu ya. Kalau
mereka cuma orang kecil, enggak punya
power, mereka takut untuk berurusan
dengan hukum. ya. Tapi kita tunggu aja,
Geng, bagaimana perkembangan dari
kasusnya. Oke, gimana, Geng? Menurut
kalian tentang pembahasan kita hari ini?
Coba tinggalkan komentar di bawah.