PENJUAL ES GABUS DIFITNAH MENGGUNAKAN SPONS ! DIPERMALUKAN HINGGA DI ANI4YA
z4iPoOiXHe4 • 2026-01-29
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Nah, dari cerita Pak Sudrajat ini ya, oknum tentara dan polisi yang melakukan intimidasi kepada dia itu ya karena menuduh dia menjual es gabus yang terbuat dari bahan berbahaya seperti spons kasur. Tahu kan spons kasur? Gabus kasur, busa kasur gitu. Pak Sudrajat itu bercerita kalau peristiwa tersebut bermula ketika ada seseorang yang diduga oknum polisi. Dia itu datang pura-pura beli kue gabus punya Pak Sudrajat ini. Setelah itu orang itu bersama dengan rekannya yang diduga adalah oknum TNI karena kita bisa lihat dari pakaiannya gitu ya. Tiba-tiba meremas es gabus itu. Diremas dilempar es gabus itu ke wajah Pak Sudajat. Kebayang enggak lu kalau itu orang tua lu gimana, Men? lagi nyari rezeki, lagi nyari nafkah buat keluarga, dilempar dagangannya ke wajah Pak Sudrajat dan langsung dituduh tanpa alasan atau tanpa dasar yang jelas kalau es itu beracun. Geng, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap institusi manapun, ya kali ini jujur aja sebuah pemberitaan atau pembahasan yang cukup mengecewakan menurut gua. Gua yakin kalian juga kecewa lah. Kalian udah lihat belum video ini? Tahu kan kamu kok ini dari busa kan? Iya tahu. Iya. Kenapa kamu jual? Pas berhenti anak-anak ini makan apa? Dari kemarin video ini ramai banget dibahas di media sosial dan berseleweran. Terus ee apa ya? Orang-orang jadi bingung ini konteksnya apa. Kok rame banget? Kok rame banget orang yang melihat dua orang oknum aparat dari dua instansi yang berbeda itu sedang mengintervensi seorang bapak-bapak tua ya sedang mencari rezeki. Nah, di video tersebut si bapak-bapak itu adalah tukang es gabus yang dipaksa oleh oknum anggota TNI dan anggota PORI untuk memakan dagangannya sendiri ya yang mana dituduh kalau bahan pembuatan esnya itu beracun katanya enggak baik untuk tubuh. Dan video ini pun menyebar dengan cepat di media sosial sehingga memicu kemarahan dan keprihatinan dari netizen. Banyak yang menilai tindakan itu enggak pantas terlebih karena melibatkan aparat yang seharusnya melindungi masyarakat. Apalagi orang kecil kayak gitu. Bukan malah dipermalukan, bukan malah ditekan. Ya kan dia nyari nafkah. Dan meskipun di dalam video tersebut tidak terlihat bahwa si pedagang es gabus itu ya mengalami kekerasan fisik atau gimana, tapi video itu aja tuh udah memalukan banget. Kasihan ya. Ya, gua yakin kalau gua jadi bapak itu juga ya di posisi dia gua bakal syok, bakal trauma karena ya dipermalukan di tengah-tengah banyak orang ditekan oleh dua orang berseragam gitu. Tapi di balik itu semua, ternyata ada informasi yang menyebutkan kalau beliau ini diduga mengalami penganiayaan oleh kedua oknum ini dan bahkan ada video pengakuan dari si bapak langsung. Nah, akibatnya ya beliau ini disebut-sebut mengalami trauma dan tidak lagi berani berjualan seperti sebelumnya. Pedagang es kue jadul yang viral dituduh dagangannya beracun mengaku di oleh oknum TNI dan anggota PORI. Bapaknya datang marah-marah saya di apa ditonjok cetotcetot. Nah, setelah video ini viral dan menuai kecaman publik ya pihak oknum TNI dan polisi yang terlibat di dalam video itu akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Mereka menyatakan penyesalan dan berharap permasalahan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Nah, ini nih yang ggak enaknya nih. Giliran mau viralin orang, mengintervensi orang, nuduh orang, gak pernah mikirin keluarga, enggak pernah mikirin keluarga si orang. Gimana perasaan keluarganya dan gimana kalau itu el, keluarga lu gimana gitu. Enggak pernah dipikirin dulu, tapi giliran sudah bermasalah ngomongnya secara kekeluargaan. Nah, ini yang bikin sakit hati. Dan hal inilah yang kemudian menambah kecaman lagi nih dari netizen. Karena sudah mengintimidasi pedagang es gabus tersebut, malah mereka ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Dan padahal ya kalau rakyat yang melakukan hal itu atau sebaliknya gitu ya pasti bakal dipenjara ya kan. Nah ini karena yang melakukannya aparat terhadap rakyat maunya kekeluargaan. Nah di video kali ini kita bakal membahas nih kronologi kenapa si pedagang es gabus tersebut sampai diperlakukan seperti itu. Apa yang terjadi dan apakah beliau sebelumnya melakukan kesalahan yang besar banget atau gimana? Apa benar tuduhan kalau es itu terbuat dari bahan ya namanya es gabus tapi setahu gua sih bukan dari gabus ya. ya, dituduhnya tuh kayak dari gabus, dari spons gitu. Nah, kita bakal bahas untuk kalian yang ketinggalan beritanya di sini, gua bakal rangkum kalian harus simak video ini sampai selesai, tapi jaga emosi kalian. Oke, langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. Ging King. Beli iPhone baru yang kapasitasnya paling kecil dan murah enggak masalah. Tinggal tambahin SSD supaya kapasitasnya jadi lebih besar. Karena dengan tambahan SSD, HP gua yang tadinya cuma 256 gig, sekarang malah jadi 756 gig. Bikin video cinematik ataupun foto, udah enggak khawatir lagi memori bakal penuh. Udah gitu proses pemindahan datanya juga cepat banget. Nih kita bandingin pemindahan data pakai SSD dengan pemindahan data pakai airdrop. Cepat banget kan? SSD yang gua pakai ini harganya juga murah banget terjangkau daripada kalian beli iPhone versi terbaru dengan harga yang mahal. Hanya karena perbedaan kapasitas memori yang mendingan beli yang paling murah ditambah dengan SSD ini. Tapi iPhone kalian jadi berkapasitas besar. Udah gitu SSD-nya kecil dan bisa dibawa ke mana-mana. Simpel kan? Buat yang mau langsung aja check out linknya udah ada di bawah. Untuk pembahasan pertama kita bahas dulu awal mula pedagang S diintimidasi oleh oknum TNI dan polisi ini. Jadi diketahui si pedagang es gabus tersebut bernama Pak Sudrajat. Usianya udah 50 tahun. Beliau ini adalah seorang ayah dari lima orang anak yang tinggal di daerah Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Beliau serta keluarganya tinggal di kontrakan karena rumahnya sedang direnovasi setelah plafonnya ambruk. Nah, jadi dari sini kita bisa menilai kalau ini bukan ee apa ya, keluarga berkecukupan, tapi ini benar-benar keluarga yang sederhana bahkan bisa dikatakan ya pas-pasan lah gitu ya. Pak Sudrajat ini sudah berjualan es gabus selama 30 tahun. Ingat tuh dengar tuh 30 tahun. Jadi kalau tuduhan es gabusnya itu spons ya itu orang-orang yang makan selama 30 tahun kayaknya lemaknya udah keserap deh. Lu tahu spons kan? Spons itu kan nyerap air ya dipakai buat cic piring. Nah, kalau dituduhkan esnya itu terbuat dari spons. Itu orang-orang udah pada kurus di Bojong Gede. Enggak ada orang gendut. Eh, aduh emosi euy. Oke, kita lanjut. Pada awalnya beliau ini berjualan di wilayah Jakarta Pusat, Geng. Sejak tahun 2007. Nah, setiap hari beliau ini berangkat dini nihari loh, Geng. Pagi-pagi buta di saat dua oknum tadi masih ngorok tidur gitu ya. Nah, dia berangkat dari rumahnya untuk mengambil es gabus yang berada di kawasan Depok Lama. Bayangin tuh Jakarta Pusat Depok Lama. Gila, dia jalan. Pak Sudrajat ini membeli es dari pemasok seharga Rp500 per potong dan dia jual kembali dengan harga Rp2.000. Jadi dia bukan dia yang bikin. Dia tuh ngambil dari pemasok, dia jualkan lagi. Dia berkeliling lagi. Dia berkeliling dari jam .00 pagi ya dan baru pulang di jam 5.00 sore dan dia menuju ke rumahnya menggunakan KRL atau kereta listrik. Jika dagangannya habis, Pak Sudrajat ini cuma dapat Rp200.000 sampai Rp300.000 per hari. Dan kata beliau ya uang tersebut cukup untuk dia dan keluarganya makan. Ini mah ini sip hari mah habis terus cuacanya aja hujan. Bawa pego habis. Bawa pego habis. Ya untungnya berapa, Pak? Kalau habis semua sih dapat 400. Nah, dari cerita Pak Sudrajat ini ya, oknum tentara dan polisi yang melakukan intimidasi kepada dia itu ya karena menuduh dia menjual es gabus yang terbuat dari bahan berbahaya seperti spons kasur. Tahu kan spons kasur? Gabus kasur, busa kasur gitu. Makan dulu. Ini dari busa ini. Jelas jelas. Ini dari busa nih. Pak Sudrajat itu bercerita kalau peristiwa tersebut bermula ketika ada seseorang yang diduga oknum polisi. Dia itu datang pura-pura beli kue gabus punya Pak Sudrajat ini. Bang es Bang. Tahu-tahunya di saya dibejak-bejek. Kejadiannya di hari Sabtu tanggal 24 Januari 2026. Setelah itu orang itu bersama dengan rekannya yang diduga adalah oknum TNI karena kita bisa lihat dari pakaiannya gitu ya, tiba-tiba meremas es gabus itu. Diremas dilempar es gabus itu ke wajah Pak Sudajat. Kebayang engak lu kalau itu orang tua lu gimana, Men? Lagi nyari rezeki, lagi nyari nafkah buat keluarga, dilempar dagangannya ke wajah Pak Sudrajat dan langsung dituduh tanpa alasan atau tanpa dasar yang jelas kalau es itu beracun. Ini aparat apa? Dokter apa profesor apa? Aduh, gua sampai nge-blank mau ngomongnya. Emang udah diuji lab terus nuduh kalau itu spon kan belum. Baru lu baru lu remes doang udah langsung nuduh itu spons. Aneh banget anjir. Itu ibaratnya kayak lu beli cokelat terus karena lembek lu anggap itu sama sama tahi. Tah nih lembek soalnya setahu saya tahi itu lembek. Tahi itu kalau sudah kering warnanya coklat. Nah, berarti ini tahia nih bukan coklat ya. Analoginya kayak gitulah. Nah, ini respon makan nih. Hati-hati. Makan. Habisin. Habisin. Engak terus yang mau tah biar kamu ya. Jangan anak-anak kecil ya. Kasihan pelan. Pak Sudrajat ini ya mengaku dia enggak habis pikir atas tuduhan tersebut. Dia bingung. Udah 30 tahun loh geng dia jualan. Beliau itu enggak pernah menerima keluhan dari pembeli. Misalkan ada yang merasa keracunan setelah membeli atau memakan dagangannya, itu enggak pernah ada. Semuanya happy, semuanya kenyang, semuanya senang. Enggak lama setelah itu, oknum TNI dan polisi ini memanggil Pak Sudrajat dan membawa dia ke pos bersama dagangannya dia untuk dimintai keterangan. Di saat itu, Pak Sudrajat ini bilang, "Ya jangan salahkan saya, Pak. Kalau mau ayo kita cek langsung ke pabriknya, langsung ke tempat produksinya yang ada di Depok." Dan ketika dituduh seperti itu, Pak Sudrajat cuma bisa bilang, "Ampun, Pak. Ini bukan saya yang buat. Ini punya bos. Kalau enggak percaya ikut ayo ke Depok." Dia cuma pedagang keliling. Dia cuma menjejakan. Dan Pak Sudrajat juga mengaku membuka satu persatu es kue atau es gabusnya dia yang dia bawa untuk membuktikan isinya bukan spons. Tapi Pak Surajat malah kembali mendapatkan perlakuan kasar yang mana yaitu seperti yang terlihat di video esnya diremas-remas sampai hancur. Lalu beliau disuruh memakan es tersebut. Es sisa tadi yang udah diremes-remes. Nah, sekarang ada pelaku yang menyamarkan nih. Intinya ini gak boleh dimakan karena tadi kita coba kok rasanya beda bukan kue. Ternyata ini bahannya dari spon. Nah, lalu Pak Sudrajat udah menjelaskan berkali-kali bahwa dagangannya itu enggak terbuat dari spons atau bahan berbahaya atau enggak terbuat dari bahan yang beracun sama sekali. Dan bahannya dia jelaskan nih, bahannya itu terbuat dari tepung hungk namanya. yaitu pati murni yang diekstrak dari kacang hijau. Cuma Pak Sudrajat mengaku aparat itu tetap memaksa dia untuk mengaku kalau dagangannya itu mengandung bahan berbahaya atau beracun. Dan dikarenakan Pak Sudrajat ini tidak mau mengakui kalau bahan itu beracun, Pak Sudrajat bercerita kalau dia malah diberikan bogem mentah. Huh, sakit hati ya dengarnya ya. Ya, minimal Pak kalau emang jagoan carilah lawan sepadan. Masa orang tua kayak gitu ya. Ah, enggak cuma Bapak sih yang bisa berantem. Kita juga bisa sih, cuman kayak apa sih closurnya gitu ya. Sedih banget ya. Gua juga sakit hati, Men, ngelihat berita ini. Nah, akibatnya nih ya bagian tubuh si Bapak Tua Rentah ini yaitu di bagian dada sampai bahu itu memar-memar. Bayanginlah yang mukulin aparat udah biasa terlatih keras mukulin orang jual es gabus. Mana makannya jarang lagi tuh bapak-bapak. Giginya udah hampir habis lagi terus. Aduh. Dan enggak cuma dipukul ya, beliau juga mengaku kalau kedua oknum tersebut ya menyabet dia menggunakan selang sampai ditendang pakai sepatu. Dan dari informasi lain juga dikatakan Pak Sudrajat ini disuruh berdiri dengan mengangkat satu kaki seperti ketika seorang murid yang sedang dihukum di depan kelas oleh guru yang kayak kakinya diangkat satu gitu loh. Geng tega banget ya orang tua digituin. Lima kali lima kali bagian apa bapak ni? Sama-sama si Saabet. Sabet pakai apa? Pakai apa? Selangsang. Dan bahkan nih katanya Pak Sudrajat juga mau dikasih minum dari air comberan. Nah, ini bukan pernyataan gue ya. Ini Pak Sudrajat langsung yang bercerita. Dan hal ini dilakukan oleh kedua oknom ini agar Pak Surrajat mau mengakui perbuatan yang sama sekali dia enggak paham. Orang dia cuma jualan. Bukan bukan dia yang punya pabrik. Ini gimana sih? Dua ini enggak paham cara orang berbisnis atau cara orang jualan apa ya? El ya gua kasih tahu ya. Bapak kalau Bapak nonton nih ya, Bapak ke warung Padang aja nih. Padang Merdeka ya, Padang apa lagi itu ee pagi sore dan bla bla bla bla. Mereka itu ya punya supplier yang artinya dagangan mereka di warung itu kalau ada yang enggak enak dan segala macam yang disalahkan itu biasanya orang dapurnya. Yang disalahkan itu biasanya adalah suppliernya. orang yang menitipkan atau orang yang memberikan makanan di warung itu. Jadi mereka itu buka restoran, mereka juga ambil makanan dari tempat lain. Enggak semuanya itu diproduksi di dapur sendiri. Belajarlah minimal ya kalau misalkan enggak paham gitu. Masa iya pedagang yang disalahin? Masa iya dia cuman menjajakan dia yang disalahkan. Ya ke akarnya lah pabriknya di mana, siapa yang bikin. Itu dulu ditanya. Bukan malah yang dagang disuruh ngaku dipaksa dengan kekerasan kayak gitu. Buset. Nah, di saat itu ya beliau ya Pak Sudrajat sudah bilang berkali-kali bahwa dagangannya itu adalah es beneran namun tidak menghentikan penganiayaan yang dialami oleh Pak Sudrajat. Dan selain itu Pak Sudrajat juga mendengar informasi bahwa ada anak yang disebut-sebut sakit katanya setelah memakan es dagangannya dia. Nah, informasi itulah yang menurut Pak Sudrajat memicu perlakuan kasar dari aparat itu kepada dia. Dan beliau mengaku kalau dia sampai mau nangis, Geng. Karena dikurung di pos. Gila, Bang. Es, Bang. Tahunya dibejek-bejek sama anaknya. Jangan itu ada racunnya. Yang bilang itu siapa ya? Ada anak. Anaknya logik ya nih ya, anak kecil kalau misalkan mengkonsumsi es ya namanya juga es. Kalau tiba-tiba dia demam bukan berarti dia keracunan. Kalau dia sakit perut ya bisa jadi ada hal lain yang mungkin yang bisa mengkontaminasi ya bisa jadi kayak kurang steril, kurang higienis gitu ya. Mungkin iya. Tapi kalau sampai dianggap beracun itu perlu uji lab. Enggak bisa main asal tuduh. Dan dikatakan juga kalau pakajat ini sampai ditahan di pos itu sejak jam 3.00 sore sampai malam hari. Manusia loh itu, bukan hewan. Dan si oknum tadi melarang dia kembali berjualan di kawasan Kemayoran. Kalau Pak Sudrajat nekad berjualan, maka beliau bakal ditarik lagi oleh si dua aparat ini. Dan sejak kejadian itu, Pak Sudrajat mengaku belum kembali berjualan sampai sekarang. mungkin ya karena trauma dengan apa yang beliau alami. Meskipun beliau memiliki banyak pelanggan geng di Jakarta Pusat, tapi ya udah dia udah stop. Dan biasanya beliau ini berjualan di daerah Kemayoran Pasar Baru sampai Kota Tua. Dan Pak Sodrajat juga menyebutkan kalau beliau ini tidak diantarkan pulang oleh oknum itu setelah dia dikurung, setelah dia disekap. Itu pulang jam berapa, Bapak? Jam . subuh. Jam 3. subuh nyampai sini. Sampai sini jam jam diantarinak. Boro-boro enggak. Astagfirullah. Masih sakit hati kereta. Bahkan dia sudah dianiaya kayak gitu, bantuan pengobatan pun enggak ada. Beliau bilang baru menerima uang Rp300.000 dari atasannya si oknum tadi pada malam hari setelah kondisinya lebam dan viral. Nah, ketika menceritakan apa yang beliau alami, Pak Sudrajat menceritakannya dengan nada kesal, kecewa, sedih juga, takut juga. Dan beliau juga menambahkan bahwa anggota Babinsa TNI dan Babinkam Tipsas Polri yang diduga melakukan penganiayaan atau si oknum tadi ya, itu tidak menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada dia. Oleh karena itu, Pak Sudrajat mengaku masih menyimpan rasa sakit hati atas perlakuan tersebut dan beliau juga bilang sangat kecewa terhadap aparat yang terlibat ini. Eh, malam. Oh, malam itu pas bawnya pada dikasih duit. Kurang ajar. Sudah ada permintaan maaf dari kedua. Boro-boro enggak. Enggak minta maaf. Enggak ada. Engak ada minta maaf buat kita nih, Geng. Ya, generasi milenial atau Genzy ya atau mungkin generasi di atas kita lagi, Gen Alpha dan lain-lain. Pasti udah enggak asing lah sama es kue atau es gabusi ini. Ya memang es gabusi ini adalah jajanan tradisional yang komposisinya terbuat dari tepung hunku dan santan yang dibekukan lalu dipotong-potong kecil sebelum akhirnya dijajahkan atau dijual. Nama gabus itu tidak merujuk pada bahan baku pembuatannya, melainkan teksturnya yang mirip sama gabus. Ringan, berpori, empuk ketika digigit. Jadi kayak ngegigit gabus. Ya ibaratnya nih ya, lu beli nasi goreng gila, lu pikir abang-abang yang jualnya tuh sakit jiwa ya. Kagak. Yang ngegorengnya waras. Namanya doang. Namanya doang ya. Nasi goreng gila Bapak. Nasi goreng gila. Kenapa gila disebut? Karena bumbunya itu hmm banyak. itu rempah-rempahnya banyak, ada sosis, ada sayur-sayur dan lain-lain. Jadilah nasi goreng gila. Bukan berarti yang ngegoreng gila. Enggak waras yang ngegoreng mah. Ya bisa-bisanya anjir. Es gabus dikira gabus beneran. Aduh. Dulu dulu nih dulu dulu nih dulu si apa? E Fadil Jaidi jual tuh namanya eh traffic ban tahu enggak loh? Traffic ban apaapa gitu coba deh gua gua agak lupa traffic ban yang apa sosis. Terus ada bannya, ada apa ee rotinya gitu. Nah, terus Bapak kira itu terbuat dari karet ban gitu ya, karena namanya traffic ban ya gitu. Gila kali. Ah, gini nih kalau enggak belajar nih pas sekolah. Dan secara visual es gabus itu umumnya memang berbentuk balok panjang yang dipotong kecil-kecil ya. Kayak sponge buat apa ya? Buat cuci piring lah emang bentuknya kayak gitu tapi beda gitu warnanya. cenderung cerah atau pastel warnanya seperti merah muda, hijau, coklat bergantung pada pewarnaan makanan atau mungkin rasanya gitu. Nah, kalau dari bahan-bahannya seharusnya es gabus yang dijual oleh Pak Sudrajat ini aman. Apalagi menurut pengakuan beliau, selama beliau berjualan enggak pernah ada yang komplain. Semuanya baik-baik aja, 30 tahun teruji. Tiba-tiba muncullah nih dua manusia entah berantah yang entah dari mana ini. Menuduh kalau itu adalah es yang berbahan berbahaya dan beracun. Haduh, gila. Nah, itu dia, Geng, ya cerita menurut keterangan dari si korban langsung, yaitu Pak Sudrajat. Nah, sekarang kita dengar nih bagaimana respon dari pihak TNI dan Polri ya atas kejadian yang dilakukan oleh oknum anggota mereka ini. Sekarang kita masuk ke dalam pembahasannya. Dari versi lainnya dikatakan bahwa insiden yang menimpa Pak Sudrajati ini ya bermula dari adanya pengaduan warga katanya. Nah, warga ini bernama M. Arif Fadilah, seorang wiraswasta yang tinggal di hutan Panjang 3 Kemayoran, Jakarta Pusat. Nah, tapi ingat ya, Geng, ini cerita dari pihak sebelah, ibaratnya pihak dari ee aparatnya gitu ya. Dikatakan ya yang namanya Arif tadi melaporkan dugaan penjualan makanan berbahaya berupa es gabus berbahan spons melalui call center 110 pada hari Sabtu tanggal 24 Januari 2026. Pedagang yang dilaporkan ini tidak lain dan tidak bukan adalah si Pak Sudrajat ini. Nah, dari informasi Arif ini ya dikatakan kalau Pak Sudrajat menjual es gabus agar-agar, coklat messis dan juga e sisa kue yang sempat dibeli oleh Arif. Nah, setelah mendapatkan laporan barulah tim piket dari Reskrim Polsek Kemayoran datang ke lokasi yang ada di wilayah Utan Panjang Kemayoran, Jakarta Pusat untuk menindaklanjuti pengaduan dari Arif ini. Dan yang menindaklanjuti laporan tersebut seperti yang terlihat di video adalah oknum anggota polisi dan anggota TNI yang masing-masing dari mereka merupakan bagian dari Babinkam Tipmas Kelurahan Rawa Selatan yaitu yang bernama Aibtu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Kelurahan Hutan Panjang yang bernama Serda Heri Purnomo. Jujur ya, Pak. Jujur banget nih, Pak, kalau dari saya pribadi ya. Sebenarnya Bapak berdua tuh keren ya. Bapak berdua tuh keren. Kenapa? Gua dari dulu mikir ya, kayaknya cuma polisi di Amerika doang deh yang kalau dilaporin ke 911 itu ya, nomor 911 itu langsung face respon. Ternyata di sini gua baru paham nomor telepon 110 milik aparat kita, pengaduan untuk masyarakat biar bisa mendapatkan pertolongan. Ternyata defice respon di dalam kejadian ini. Ini keren. Patut diacungi jempol. Ya, kita enggak boleh bohong juga, Geng. Kita enggak boleh apa ya kita enggak boleh enggak adil juga. kita harus fair ya kan bahwa face responnya dua si Bapak ini itu bagus. Pengaduan masyarakat langsung ditindak tapi penindakannya itu loh Pak yang mungkin agar lebih hati-hati lagi. Aduh kasihan banget ya. Padahal udah keren gitu Pak. Ada laporan nih gini gini gini gini gini langsung ditindak. Wi sudah mantap. Tapi pas penindakannya malah direkam mempermalukan orangnya. Enggak ditanya baik-baik dulu blunder. Akhirnya yang tadinya tuh kita udah kayak wis keren. Yaelah turun lagi kan. Nah, setelah video mereka berdua ini yang meremas-remas es gabus dagangan Pak Sudrajat dan meminta beliau memakan es tersebut dengan cara kasar, viral di media sosial, ya barulah si oknum tadi yang bernama Aitu Ikhwan Mulyadi dan Serdry Purnomo membuat video permintaan maaf berdurasi sekitar 4 menit yang mereka rilis ya dirilis oleh Polres Metro Jakarta Pusat pada hari Selasa tanggal 27 Januari 2026. Di dalam video tersebut juga ada ketua RW 05 Kelurahan Panjang dan ketua RT 10 RW05 Kelurahan Utan Panjang. Dan permintaan maaf itu dikarenakan video yang beredar yang menunjukkan perlakuan kasar mereka terhadap Pak Sudrajat dan sudah membuat kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya ikati hormat pusat dengan ini saya bersama Pak Babar dari Pak dan juga kami di sini bersama pelapor yaitu Bapak R005 Panjang. Nah, si Pak Ikhwan itu menjelaskan tindakan yang dia lakukan bersama dengan Pak Heri ini merupakan respon cepat atas laporan masyarakat yang merasa khawatir akan adanya dugaan peredaran makanan yang berbahaya. di lingkungan mereka. Nah, ini yang gua maksud mereka berdua tuh patut diacungi jempol karena emang face respon banget. Tapi sayangnya cara menanganinya itu salah sih. Dan sebagai petugas di lapangan kata Pak Hiwan ya, pihaknya dia berkewajiban hadir dan merespon setiap laporan demi menjaga keselamatan warga. Cuma dia juga mengakui bahwa dia sudah bertindak terlalu cepat dengan menarik kesimpulan tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah dari pihak yang berwenang yaitu Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kedokteran kepolisian, maupun laboratorium forensik atau lab for dari Polri terhadap es gabus yang dituduhkan mengandung bahan berbahaya itu yang dijual oleh Pak Sudrajat. Nah, si Pak Ikwan ini juga enggak mengelak bahwa dia seharusnya melakukan proses klarifikasi dan verifikasi terlebih dahulu sebelum memberikan informasi kepada masyarakat. Jadi, udah salah banget dia di sini. Dan dia juga mengakui bahwa kabar mengenai es gabus berbahan spons ini yang viral di media sosial bisa mempengaruhi usaha dan kehidupan Pak Sudrajat sebagai pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya dari hasil jualan. Bahkan sangat mungkin bahwa ini akan berdampak bagi orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang es yang sama seperti Pak Sudrajat. Ini kan akhirnya jadi trash issue di tengah-tengah masyarakat. Kehilangan lapangan pekerjaan lagi ya, berkurang lagi lapangan pekerjaan. Mana nyari kerja di negara ini sulit sekali. giliran ada kerja ya dipalakin enggak main-main gitu ya. Ah giliran orang kecil kayak gini malah di diintimidasi enggak jelas dan ya masyarakat jadi takut lah ya untuk membeli es gabus lagi. Kalau misalkan ditumbuhkan rumor-rumor yang enggak benar kayak gini. Gimana nasib mereka? Mau cari duit gimana lagi? Apakah pihak-pihak yang melakukan hal ini atau mengintimidasi mereka ini mau bertanggung jawab untuk memberikan uang pengganti akibat mereka yang kehilangan pekerjaan? Ya, bukan cuma uang sih, pekerjaan pengganti malah. Kalau uang kan sekali ngasih doang. Kalau misalkan dikasih pekerjaan untuk kelangsungan hidup mereka selama-lamanya gitu. Emang mau? Ya enggak ada juga lepas tangan semuanya. Dan dari pihak kepolisiannya sendiri mengakui adanya kekeliruan di dalam tindakan oknum anggota mereka yang menyimpulkan kalau Es gabus itu berbahan spons tanpa disertai pengujian ilmiah terlebih dahulu. Nah, di saat itu ya kasat res Krim Polres Metro Jakarta Pusat yang bernama AKBP Robi Herry Saputra itu mengakui bahwa tindakan yang dilakukan oleh Aibtu Ikhwan Mulyadi dan Serda Harry Purnomo adalah salah karena menyimpulkan semuanya tanpa pemeriksaan laboratorium. Di dalam penjelasannya, Pak Robi ini mengatakan kesimpulan awal tersebut muncul karena tekstur es gabus yang secara kasat mata menyerupai spons. Namun dia menegaskan bahwa penyampaian kesimpulan dan pembuatan video tanpa uji ilmiah merupakan kesalahan prosedural. Dan untuk merespon kejadian tersebut, divisi profesi dan pengamanan yaitu Propam Polres Metro Jakarta Pusat sudah memeriksa sibtu Ikhwan Mulyadi. Dan kata Pak Robi juga Propam turun langsung untuk melakukan penyelidikan mengenai tindakan si Aibtu Mulyadi termasuk dengan proses pemeriksaan awal yang sempat dilakukan di lapangan. Namun untuk tindak lanjut proses pemeriksaan terhadap Ikhwan ya apalagi terkait sanksi gitu ya belum diketahui karena pemeriksaan masih terus berlangsung. Cuma, Geng, Robi ini menegaskan apabila dari hasil pemeriksaan Propam ditemukan adanya pelanggaran, proses penindakan akan tetap dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Dan hingga saat ini Aibtu Ikhwan Mulyadi masih bertugas seperti biasa ee sebagai Bambinam Tipmas, Kelurahan Kampung Rawa. Sementara itu, pihak TNI Angkatan Darat sudah memberikan penjelasan mengenai tindakan yang akan diterima oleh Serda Herry Purnomo yang ikut menginterogasi Pak Sudrajat dengan cara mengintimidasinya. Dan melalui Kolonel Infanteri Doni Pramono selaku Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat atau Kadis Pen AD, Serda Herry ini memberikan klarifikasi atas peristiwa tersebut dalam pertemuan yang digelar di aula markas Polsek Kemayoran, Jakarta Pusat pada hari Senin tanggal 26 Januari 2026. Nah, Pak Doni ini bilang kalau aparat sudah berupaya menemui Pak Sudrajat untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan melalui dialog yang baik. Dan oleh karena itu, Pak Doni berharap tidak akan muncul tuntutan ataupun konflik berkepanjangan setelah pertemuan tersebut. Ya, kita doakan semoga yang terbaik juga ya, Geng. Maksud gua tuh kayak damai sih damai, tapi hak-hak yang harus diterima oleh Pak Sudrajat juga harus ditunaikan, harus dipenuhi. Ya udah trauma, fisiknya disakiti, sekarang pekerjaannya juga hilang karena dia trauma untuk berjualan lagi. Dan kabarnya, Geng, ada pemeriksaan laboratorium dari es gabus yang dituduhkan itu yang dijual oleh Pak Sudrajat. Terus bagaimana hasilnya? Apakah seperti yang dituduhkan oleh si Aibtu Ikhwan dan Serda Herry? Nah, ternyata berdasarkan hasil pengecekan dari tim Doc Docpol Polda Metro Jaya, seluruh sampel makanan yang diambil dari dagangan Pak Sudrajat layak dikonsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya sama sekali. Dan untuk memastikan hasil yang lebih ilmiah, sampelnya juga sudah dikirim ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik Polri. Dan selain itu, penyelidikan menelusuri tempat pembuatan esnya di Depok. Dan hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada penggunaan bahan berbahaya maupun spons sesuai dengan isu yang sempat beredar dan seperti yang dilaporkan oleh si Arif tadi. Nih, Arif nih yang mana sih orangnya? Ngapain sih? Aneh banget anjir. Ngelaporin hal yang maksud gua tuh dari dari dulu udah ada gitu. Kok tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan nuduh-nuduh kalau itu spons. Dan karena hasilnya tidak menunjukkan bahwa es gabus itu berbahaya, ya, Pak Robi menghimbau agar masyarakat untuk lebih bijak di dalam memberikan atau menyebarkan informasi. Nah, tapi seharusnya aparat juga diberikan arahan kalau menemukan sebuah informasi yang belum jelas kebenarannya ya agar bisa memperlakukan seseorang yang dituduh itu dengan manusiawi terlebih dahulu dan jangan langsung bertindak tanpa memiliki bukti yang kuat. Apalagi sampai diperlakukan dengan kasar kayak gitu. Apalagi sampai disekap kayak gitu. dan dipaksa mengaku sesuatu yang yang dia enggak lakuin gitu. Nah, kalau begini jadinya oknum aparatnya sendiri yang mencoreng nama baik instansi karena ee pasti masyarakat bakal berpikir bahwa beginilah cara aparat memperlakukan masyarakat. Jadi kayak distigmakan atau stereotypek gitu, semuanya disama ratain. Dan setelah hasil lab terkait es gabus milik e Pak Sudrajat ini keluar ya ternyata enggak berbahaya dan Pak Sudrajat merasa lega karena terbukti tidak mengandung bahan berbahaya dan layak dikonsumsi tidak seperti yang dituduhkan. Nah di luar itu geng ya setelah semua ini heboh, ternyata kabarnya Pak Sudrajat mendapatkan bantuan nih. Bantuan seperti apa? Sekarang kita bahas bentuk bantuan yang diterima oleh Pak Sudrajat. Jadi, Geng, pasca videonya viral dan mendapatkan sorotan dari berbagai kalangan, Pak Sudrajat akhirnya mendapatkan rezeki nih. Di saat itu, Kombes Paul Abdul Waras selaku Kapolres Metro Depok memberikan sebuah sepeda motor dan modal usaha kepada Pak Sudrajat. Motor dan modal usaha itu diberikan ketika Pak Abdul mendatangi rumah Pak Sudrajat di daerah Bojong Gede, Kabupaten Bogor tepat pada hari Selasa sore tanggal 27 Januari 2026. Kedatangan Pak Abdul ke sana sebagai bentuk kepedulian Polri atau polisi karena ee Pak Sudrajat ini tinggal di wilayah hukum Polres Metro Depok. Dan tidak lama kemudian satu unit motor Yamaha Mio berwarna hijau Tosca diantarkan ke teras rumah beliau. Dan Pak Abdul juga memberikan satu amplop berisikan uang tunai untuk modal usaha. Nah, Pak Abdul mendatangi rumah kontrakan Pak Sudrajat didampingi oleh Kapolsek Bojong Gede yaitu AKP Abdullah dan Kasat Lantas Polres Metro Depok yang bernama AKBP Joko Sembodo. Nah, Pak Abdul juga bilang mengenai polisi yang menyebutkan barang dagangan Pak Sudrajat itu menggunakan spons. Hal tersebut sudah diserahkan ke Polres Jakarta Pusat biar ditindaklanjuti. Nah, di saat itu Pak Sudrajat pun berterima kasih atas pemberian modal usaha serta sepeda motor tersebut. Dan pemerintah Kabupaten Bogor juga memberikan bantuan termasuk sembako kepada Pak Sudrajat. Nah, bantuan ini diberikan oleh perangkat wilayah yaitu sekretaris kecamatan Rawapan Panjang yang bernama Elvi Nila Hartanti. Terus ada kepala desa yang bernama Muhammad Agus serta perwakilan Dinas Sosial yang bernama Ferianto. Pihak pemerintah juga bakal membantu anak-anak Pak Sudrajat agar bisa melanjutkan pendidikan. Bantuan juga datang dari Kang Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat. Ada utusan dari KDM yang menelepon dan langsung mengajak Pak Sudrajat untuk bisa menemui KDM. Dikatakan tidak hanya perangkat wilayah aja yang memberikan bantuan kepada Pak Sudrajat, tetapi juga ada orang-orang dermawan yang lain yang ikut memberikan bantuan karena merasa empati dengan apa yang beliau alami. Tapi apakah permintaan maaf dari oknum aparat ini yang sudah bertindak kasar kepada dia ini dianggap cukup? Ya, nyatanya untuk Pak Sudrajat dan keluarganya permasalahan tidak sesederhana kata maaf itu. Katanya dari apa yang disampaikan oleh Andi anak kedua dari Pak Sudrajat, dia merasa kesal dengan tindakan oknum aparat itu. Dia juga bilang kalau rasa takut atau trauma tetap masih ada bagi Pak Sudrajat dan keluarga. Apalagi mereka adalah orang kecil. Si Andi ini bekerja di Pasar Citayem untuk membantu ekonomi keluarga sebagai kuli angkut. pendidikannya harus terhenti karena perekonomian keluarga yang tidak cukup untuk dia bisa bersekolah. Dan anak-anak Pak Sudrajat yang bersekolah cumalah anak bungsunya aja yang saat ini sudah duduk di kelas E 2. Dan Andi ya bilang kalau Pak Sudrajat ayahnya sudah lama berjualan es bahkan sejak sebelum Andi ini lahir. Dari kotak es yang dijual oleh ayahnya, keluarganya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari bisa makan. Tuduhan terkait es gabus ayahnya yang mengandung bahan berbahaya sempat membuat ayahnya ini takut untuk keluar rumah. Meskipun sebenarnya jauh di lubuk hati yang paling dalam, Pak Sudrajat sebenarnya ingin kembali bekerja berjualan. Ya, karena hanya dengan itulah keluarganya bisa ee tercukupi kebutuhan sehari-harinya, bisa makan. Dan Pak Sudrajat tidak mau keluar rumah bukan karena merasa bersalah, melainkan karena khawatir. Banyak yang termakan isu dan salah paham terhadap dia. Dia takut, beliau takut ketika kembali berjualan dia masih mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan parahnya ya nanti bisa ee tewas gara-gara dituduh yang bukan-bukan. Dan mungkin saat ini Pak Sudrajat sedang butuh waktu untuk menenangkan diri sembari diberikan dukungan agar bisa kembali berani untuk berjualan, Geng. Nah, terus nih, Geng. Ya, setelah dua oknum aparat tadi mendapatkan kecaman dari netizen, tiba-tiba muncul lagi nih. Ya, ini kali ini masyarakat nih dari kalangan sipil yang mendapatkan kecaman dari netizen setelah dia me-review eh es gabus tadi yang dia bilang spons kita bahas. Jadi, geng, ada seorang wanita yang direkam sedang memeras es gabus dan menyebut es gabus itu sebagai spons bedak katanya. Terus si wanita ini juga mempertanyakan kok es bisa diperes kayak gitu cewek ini ban apa ini spons spons bedak nah ya kan nah ini bedak kan ini diperas biasa ini. Terdengar juga ada seorang pria yang mengatakan itu sponse kalau air harusnya enggak bisa diperas seperti itu. Katanya dan di video tersebut netizen jadi beramai-ramai menghujat si wanita ini karena dianggap enggak bisa membedakan antara spons bedak dengan es gabus. tapi mengatakan itu seolah-olah adalah fakta. Padahal itu ya karena dianya aja yang gak tahu kalau memang tekstur es gabus dari puluhan tahun lalu udah kayak gitu. Ada beberapa netizen yang bahkan menyebutkan tindakan yang dilakukan oleh si wanita ini berpotensi masuk ke dalam tindak pidana berupa pencemaran nama baik dan menyerukan ya agar wanita ini segera disomasi ditindaklanjuti. Nah, sekarang dia jadi incaran dari netizen. Nanti kita tunggu aja nih gimana nih si wanita ini bakal muncul enggak ke permukaan untuk minta maaf atau justru dia bakal diperkarakan. Nah, itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai pedagang es gabus yang diintimidasi oleh oknum TNI dan polisi. Dan sebenarnya ya ada netizen yang menginginkan kalau oknum aparat tersebut lebih baik dilaporkan balik. Mungkin atas tuduhan pencemaran nama baik dan penganiayaan. Tapi entahlah ya dari Pak Sudrajatnya sendiri ingin melakukan itu atau enggak ya. Seperti yang mereka akui tadi melalui anaknya gitu ya. Kalau mereka cuma orang kecil, enggak punya power, mereka takut untuk berurusan dengan hukum. ya. Tapi kita tunggu aja, Geng, bagaimana perkembangan dari kasusnya. Oke, gimana, Geng? Menurut kalian tentang pembahasan kita hari ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories