Transcript
cSaanjqVBYs • 350 Cabang BANGKRUT Keluarga Hancur, Hidup "GEMBEL" dg 2 Anak, Bangkit Lewat Usaha Sambel
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0597_cSaanjqVBYs.txt
Kind: captions Language: id Tidak ada rumah sama sekali. Kami ditumpangin rumah sama keluarga sodagar kayak gitu, Mas. Dan rumah itu tidak ada mohon maaf WC-nya. Kita perlu pakai kantong kresek gitu, Mas untuk buang air besar. Itu momen di mana saya pengin merubah gitu ekonomi saya. Mengangkat harkat derajat ekonomi orang tua itu salah satu caranya adalah dengan pendidikan. Bapak saya lulusan SD, Ibu saya lulusan SD, kakak SMK kalau enggak salah. Saya pikir saatnya sayalah yang punya kesempatan untuk bisa kuliah. Kalau bukan saya siapa lagi gitu. Itu deh satu-satunya cara untuk saya bisa keluar dari keterkungkungan keluarga besar ini, gitu. [Musik] Saya ini punya gerai pizza 350 cabang habis gembel, enggak bisa makan. [Musik] Halo, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Diand Agustin. Saya hari ini dikasih amanah sebagai founder sekaligus direktur PT Alu Cinta Padamu yang membawahi rumah Sambalu Bandar Lampung. Bapak, Ibu itu sebenarnya kalau dari kampung itu dari keluarga yang berada. Bapak ada dapat ujian suka main judi, terus akhirnya mau enggak mau ibu harus berjuang untuk menutup hutang yang banyak. Itulah yang menyebabkan kondisi ekonomi Bapak Ibu terpuruk gitu. Bahkan sampai kalau mau ngomongin tentang sekolah itu SMP dibilang sama Ibu, "Udah, Yayan, kamu enggak usah sekolah lagi." Akhirnya kakak saya yang sudah lulus SMA bilang, "Sayang, kalau kamu enggak sekolah, kamu tak sekolahin." gitu. Waktu itu kakak saya kerja di pabrik. Jadi latar belakang keluarga saya sangat amat sederhana. Bahkan kami pernah ada di posisi tidak ada rumah sama sekali. Kami ditumpangin rumah sama keluarga sodagar kayak gitu, Mas. Dan rumah itu tidak ada mohon maaf WC-nya. Kita perlu pakai kantong kresek gitu, Mas, untuk buang air besar. Itu momen di mana saya pengin merubah gitu ekonomi saya. Saya akhirnya kerja, Mas. berangkat ke Solo. Di situ saya ikut kerja jadi kapster salon khusus muslimah. Di situ alhamdulillah selama 1 tahun saya kerja, saya izin untuk kuliah. Jadi dari jam .30 pagi saya jadi pembantu rumah tangga bos saya sendiri gitu. Dan alhamdulillah orangnya baik banget. Saya pokoknya ya cuci bajunya, ngepel ya namanya pembantu rumah tangga gitu loh, Mas. Terus ngantterin anaknya sekolah habis itu terus kerja di salonnya. jam . sore itu terus akhirnya saya kuliah sampai jam 09.00 ikut kelas karyawan 9.00 malam terus pulang naruh motor habis itu saya lesin anak tetangga terus sampai jam 12.00 semalam pulang istirahat besok gitu terus alhamdulillah lulus mengangkat harkat derajat ekonomi orang tua itu salah satu caranya adalah dengan pendidikan bapak saya lulusan SD, ibu saya lulusan SD, kakak SMK kalau enggak salah. Saya pikir saatnya sayalah yang punya kesempatan untuk bisa kuliah. Kalau bukan saya siapa lagi gitu. Itu deh satu-satunya cara untuk saya bisa keluar dari keterkungkungan keluarga besar ini, gitu. Maksud hati dengan kuliah siapa tahu dapat kehidupan yang jauh lebih baik ya. Jadi D3 komunikasi massa jadi penyiar gitu kan. Masuk Lampung langsung daftar di RRI Mas. Daftarlah masuk pertama keterima, Mas. Sebenarnya hari pertama adalah interview bersama pimpinan RRI itu saya sudah menikah. 1 minggu setelah menikah langsung dibawa ke Bandara Lampung. Sampai sini ketemu orang pimpinannya orang Batak, Mas. Orang Batak itu kan keras ya. Siapa nama kamu? Pertama kali saya interview, kerja ikut orang dibentek begitu ciut nyari saya. Habis itu saya langsung bilang, "Saya enggak mau kerja. Pokoknya saya enggak mau kerja. Saya maunya dagang." Akhirnya 2007 saya mulai jualan. Brand pertama saya saya jualan jilbab. Terus akhirnya tutup hamil kan melahirkan. Terus brand kedua jualan sambal pecel. Brand ketiga jualan jamu. Terus banyak sampai pada akhirnya saya punya 12 brand jatuh bangun. Jatuh bangun jualan pizza punya 350 cabang se-Indonesia Mas. Itu tertinggi di antara semua brand yang sudah saya bangun. brand saya yang ke-13 yang sambal alu itulah itu jadi turning point kehidupan saya dan ternyata yang ke-13 inilah kehidupan saya berubah semua berubah ya rumah tangga berubah kehidupan ekonomi berubah spiritual dan semuanya berubah kalau ngomongin 11 tahun perjalanan kehidupan rumah tangga kami itu, Mas, kehidupan kami itu kayak roller coaster. Jadi, habis naik turun naik turun itu enggak ada jedanya, enggak ada berhenti-berhentinya. Setelah sekarang ya, Mas, setelah dilalui itu ternyata aku baru sadar ternyata gini, Mas. Segala sesuatu yang berakad ketika salah satunya itu melenceng keluar dari syariat, itu keberkahan Allah pasti dicabut gitu. Kalau keberkahan sama Allah dicabut, sudah pasti jelas sudah mulai akan timbul berantakan-berantakan gitu, Mas. Saya masih ingat betul waktu itu guru saya bilang gini, "Mbak Dian, kamu enggak akan pernah bisa bisnismu berjalan dengan baik kalau rumah tanggamu tidak kamu tidak kamu selesaikan gitu. Ini enggak akan pernah bisa berjalan lurus kalau rumah tanggamu tidak baik." Artinya rumah tangga baik, insyaallah bisnisnya baik. Kalau itu couple planer saat itu ada dari sisi saya yang terlalu melekat. Saking melekatnya, saking cintanya, mungkin Allah cemburu sehingga apa yang dalam diri saya itu menjadikan berhala kecil untuk diri saya, Mas. Itu cara Allah mengembalikan saya ke jalan seharusnya, gitu. Berantakan, Mas. Sangat berantakan. Semua orang yang ada dalam hidup saya pergi, saya ditinggalkan. Saya hanya bersama dua anak saya. Bisnis yang saya bangun dalam kondisi tertinggi tadi itu, Mas. Saya punya gerai pizza 350 cabang habis gembel enggak bisa makan. Terus saya tinggal di bedengan. Saya bawa uang Rp500.000, 400 untuk bayar bedeng itu yang Rp100.000 untuk saya bisa beli beras, saya bisa beli ayam. Di situlah mulai saya hidup sedikit terluntah-luntah sama anak-anak gitu. Terus memulai sambal alu di situ, jualan nasi liwet, ayam bakar sama anak-anak sama dua anak saya itu. Saya sempat depresi mau rasanya mati aja. Untung ketemu sama teman yang ngajak kajian selama 7 hari. Itu setiap hari saya perlu kajian. Karena kalau enggak saya merasa kayak mau mati aja, Mas. Karena aku merasa kayak ya kamu enggak pantes, kamu enggak cantik, kamu enggak becus, kamu enggak berharga gitu. Ya udah jelas yang terjadi di rumah tangga ini ya. Karena kamu kamu sudah seberjuang itu sudah memperjuangkan itu tetap aja kamu ditinggalkan. Jadi memang udah kamu enggak pantes. Udah itu yang membuat saya akhirnya kayak merasa enggak berguna gitu loh, Mas. Kalau kata anak saya tuh saya itu ketawa-ketawa air mata sambil keluar kepalanya jedot-jedotin ke tembok. Saya itu di kamar katanya udah berhari-hari enggak mandi, udah berantakan. Cuman ya kayak orang gila gitu loh, Mas. Wis sudah enggak ini. Dan tapi itu momen yang seumur hidup enggak bisa saya lupakan. Saya dibangunkannya, saya didudukkan sama teman saya. Saya ditamparnya, Mas. Dia bilang gini, "Bangun, Dian." Kata dia gitu. "Saya enggak mau bangun kan. Saya didudukkan, saya ditamparnya sekencang mungkin." "Bangun, Dian kata dia gitu." Kamu sampai kapan kamu menangis gitu? Kamu sampai kapan kamu jadi orang gila kayak gini gitu. Yang kamu tangisi yang membuatmu jadi gila kayak gini sedang bersenang-senang dengan orang lain sementara kamu menghancurkan dirimu. Sakit Mas tamparannya tuh sakit banget. Tapi sakitnya itu menyadarkan saya. Iya juga ya gitu. Kenapa saya harus menghancurkan diri saya gitu? Sementara dia aja enggak sadar. Bahkan dia sedang bersenang-senang gitu. Besoknya saya mulai bangun, saya mulai mandi, saya mulai urus anak-anak saya, Mas. Saya mulai berangkat ngaji, saya mulai ngurus usaha saya, saya mulai sadar bahwa oh ya ya saya berharga. Saya mulai ke psikolog. Dari situ akhirnya bangkit dan mulai sadar ternyata Allah itu baik. Dari situ terus saya ketemu kelas pola pertolongan Allah dan saya mulai sadar ternyata saya hanya kehilangan satu orang dan saya mendapatkan begitu banyak orang yang mencintai saya gitu, Mas. Pulang itu saya berlinang air mata gitu. Tapi mau tahu enggak, Mas? Saya seperti menjadi seseorang yang baru. Tahajudnya saya pertama kali dalam hidup saya tahajud itu saya bilang gini sama Allah, "Ya Allah, jika memang Engkau rida dengan apa yang saya perbuat hari ini, saya rida. Apapun yang hari ini engkau pengin saya lakukan, saya rida." Saya pasrah. Saya pertama kali dalam hidup saya, doa saya sudah bukan lagi doa meminta, tapi saya memasrahkan apa yang ada dalam hidup saya. Bahkan kalau hari ini engkau meminta saya, mati pun saya rida, ya Allah. Setelah itu, besoknya enteng hidup saya, Mas. Enteng banget. Saya merasa kayak beban itu hilang semua. Keajaiban mulai datang. Orang-orang baik mulai dekat. Rezeki mulai hadir, anak-anak saya mulai membaik, sambal alu, mulai membaik, rezeki mulai datang, komunitas dan banyak banget karunia-karunia itu mulai hadir dalam hidup saya setelah momen itu. Jadi Allah itu kalau kasih pertolongannya itu di luar apa yang kita prediksikan gitu. Walaupun kita tuh harus hancur dululah harga dirinya, hancur dulu kesombongannya, hancur dulu egonya, gitu. Kita terlalu fokus dengan hati manusia, tapi lupa dengan siapa yang membuat hati. Doa kita itu kadang gini, "Ya Allah, saya bisa mengubah keadaan." Tapi bukan, "Ya Allah, Engkaulah yang membuat keadaan ini. Aku pasrahkan semuanya kepadamu." Tapi kita hanya fokus dengan ikhtiar kita. Kita hanya fokus dengan kita dan manusianya, bukan fokus kepada sang pembuat manusia. Harusnya dalam kondisi seperti itu harusnya kita pasrah, kita ikhlas, ya. kita pasrahkan semuanya kepada Allah. Bukan malah justru kita terlalu menggenggam. Kita justru malah enggak fokus sama diri kita. Kita malah justru enggak balik sama Allah. Malah kita fokus sama ikhtiar yang inilah, yang itulah. Fokus mempercantik dirilah, fokus inilah, fokus itulah. Tapi lupa untuk balik kepada Allah. Balik kepada merayu kepada Allah tapi malah balik merayu kepada manusianya. Sehingga Allah enggak suka. Allah jadi cemburu. Kita terlalu mencintai makhluknya. Lupa untuk mencintai Allah. [Musik] Kenapa sambal alu? Karena saya bisa masak, saya bisa bikin sambal gitu. Dan waktu itu nasi liwet itu saya agak jago lah buatnya. Jadi saya enggak perlu ribet-ribet lagi buat gitu loh, Mas. Nah, sambal alu memang itu sudah ada sebenarnya itu ide sudah lama sudah dipikirkan cuman memang belum terealisasi. Jadi saat itulah kayaknya saatnya untuk mulai saya buat. Alhamdulillah dari 5 kotak, 10 kotak lama-lama jadi 20, 30 kotak. Alhamdulillah instansi mulai order terus akhirnya lama-lama jadi 50 kotak, 100 kotak, ribuan kotak. Alhamdulillah, Mas di situ. Jadi pagi bangun jam . gitu kan produksi sendiri, habis itu ngantar anak sekolah terus habis itu masak lagi. Belum lagi ngadmin, terus habis itu masak lagi terus belanja sendiri. Lama-lama kok aku gempor juga ya. akhirnya punya karyawan satu dua orang yang bantu produksi aku ngadmin terus aku belajar bikin ads sendiri FB ads waktu itu ya kayak gitu Mas terus sampai K lakuin sendiri itu kalau enggak salah aku pernah itu semua serba dilakuin sendiri orderan ribuan dikerjain dengan beberapa karyawan sampai mimisan-mimisan itu Mas wis pokoknya yang penting bisa hidup bisa makan anak-anak ini kayak gitu flashback di tahun 2017 ya Mas Sambal alu itu pertama kali saya jualan lewat bedengan itu, itu mungkin pertama kali yang jual makanan berat via delivery online dan WhatsApp. Karena waktu zaman itu itu belum ada, Mas, orang yang jualan makanan berat itu pakai media sosial. Itu satu. Terus kedua, yang pertama kali pionir nasi liwet dan nasi daun jeruk dengan positioning makan sambal sepuasnya itu baru sambal alu. Dari situlah kan pionirnya makan sambal sepuasnya dan nasi liwet, nasi daun jeruk di Bandar Lampung. Maka begitu mudah diterima. Terima kasih. Salu cinta padamu. Jadi gini, Mas. belajar dari imprinting. Segala sesuatu yang belum ramai di daerah A tapi sudah ramai di daerah B, kita bisa adopsi ATM gitu. Nasi liwet, nasi daun jeruk itu kan di Jawa Barat banyak banget, Mas. Sudahan, Mas. Terus saya berpikir ini mah di Bandar Lampung belum banyak. Saya bawalah konsep itu ke Bandar Lampung. Nah, itu imprinting di situlah. Makanya karena pionir itu akhirnya terkenalah sambal alu dengan nasi liwet dan nasi daun jeruknya gitu. Dan kebetulan saya memang suka ngulik gitu loh, Mas. resep-resep itu saya suka ketika saya kulik resepnya terus saya coba blind test uji ngangenin kepada ratusan responden dan ternyata valid rasanya ya sudah kita jual. Jadi ujigangan itu gini waktu pertama kali saya jualan di bedengan itu Mas mungkin iya saya memang belum banyaklah duitnya tapi setiap kali saya jualan nih misalkan satu hari laku lima, yang satu saya kirim gratis. Nah, misalkan nih saya laku lima. Yang satu saya kirim gratis saya suruh ngisi kuesioner. Gimana rasanya, tampilannya gimana, nanti besok laku lagi tuh tujuh yang satu saya gratisin lagi sampai kurang lebih 200 orang yang dapat gratis. Nah, dari 200 orang itu ngisi nilai berapa nilainya? Kalau di atas 8 berarti valid produknya. Nah, itu menurut saya uji ngangenin. Pakai cara ekonomis dengan duit yang tidak seberapa. Kalau duitnya sudah banyak biasanya uji ngangen kan langsung banyak gitu kan. 200 hari itu juga gitu kita bagi-bagi sampel dengan target market yang kita sudah tentukan terus kita langsung sebar kuesioner gitu sesuai dengan yang kita pilih perempuan, pencinta pedas. Kalau aku memang perempuan sih karena kan perempuan kebanyakan impulsif ya target market terbesar di Indonesia kan perempuan gitu kan. Dikit-dikit belanja kan perempuan. Sambal alu itu adalah saripati semua kegagalan dan semua keberhasilan dari 12 brand yang saya bangun dan yang gagal dan yang sukses saya ambil. Jadi dari situ belajarnya mulai dari sistem mindset keuangan, mindset produknya, corporate mindsetnya itu dari 12 kegagalan tadi itu. Jadi buat saya ketika teman-teman mulai merasakan kegagalan atau mengalami kegagalan itu bukan mulai dari nol. Justru mereka itu memulai dari angka 1 2 3 karena mereka investasi ilmu gitu. Everage-nya ya pas kurang lebih ya hampir 1 tahun saya sudah mulai agak ramai tuh ketemu partner. Partner saya itu waktu itu jadi sopir gokar. Sebenarnya dia tuh pebisnis, Mas. Cuman karena dia lagi mencari jati diri, nambahin kesibukan dengan sopir gokar. Kebetulan pas pakai beliau ngambillah nasi tampah kami di bedeng itu di kontrakan itu. Dibawalah enggak ketemu saya, tapi ketemu admin saya gitu. Ini kok wangi banget. Nasi liwat kan wangi ya, Mas. Nasi kan wangi. Terus balik lagi dia ketemu Moza dan Mabel. Anak-anak saya di depan kontrakan. Lah ini anaknya Mbak Dian gitu. Udah kenal, udah teman lama cuman enggak tahu kalau kisah saya jadi seanjlok itu gitu loh, Mas. Heeh. Ini serius, Mbak Dian. Karena dia tahunya kan saya punya 350 cabang, Mas. Iya kan? Jadi teman-teman saya itu waktu itu saya benar-benar lost kontak gitu. Nah, begitu dia tahu, saya dihubungin, "Bak Dian ketemu dong gitu." Terus ketemu terus ngobrol terus karena dia cicip produk dan segala macam, beliau menawarkan untuk yuk mbak kerja sama. Niat awalnya adalah sebenarnya dia pengin bantu juga sih. Kasihan Mbak Dian kok ngelihatnya ngenes gitu kan. Terus akhirnya 4 bulan lah saya memikirkan untuk tak ambil enggak ya. Apa tawarannya Bu? Dia punya dana dari investor. Dia punya ilmu. Dia pintar jago marketing tapi dia enggak bisa bikin produk. Mbak mau enggak nih ada dana investor kamu kan jago bikin produk. Ayo punya restoran rumah makan. Ayo enggak mau enggak? Terus aku mikir kan kondisiku kayak gini gitu. Takutnya nanti aku enggak bisa mengelola dengan baik. Saya juga lagi teras isu dengan seseorang kan gitu ya, Mas. Tapi entah kenapa Allah itu condongkan untuk enggak apa-apa diterima ini orang baik, ini orang baik gitu. Setelah 4 bulan, saya juga tanya sama kakak, kakak saya kan juga bantu saya kan, Mas, Kakak, terus ibu dan segala macam. Dan pada akhirnya saya terima. Terus saya bilang sama partner saya, "Oke, saya mau tapi ingat ya, kamu incharge di dalam perusahaan ini. Incharge karena aku kurang bisa di marketing." Saya bilang, "Saya hanya pintar operasional produk gitu. Marketing aku kurang pintar gitu. Oke, Mbak, enggak apa-apa. Jadi, kita bagi saham." Dari situ akhirnya cabang pertama di Pramuka. 1 tahun pakai dana investor, Mas. Terus habis itu tahun kedua pakai dana investor lagi untuk buka cabang yang kedua. Setelah itu baru tahun ketiga, keempat sudah pakai dana sendiri sampai sekarang. Sebelumnya itu juga saat aku mulai memutuskan untuk menerima investor terus berpartner itu perlu banyak belajar, Mas. Karena selama aku 12 kali kegagalan itu salah satunya itu aku harus menanggung hutang R00 juta kan. Itu karena kurangnya ilmu menghadapi investasi dan investor gitu. Itu perlu untuk diperhatikan. kita perlu mencari investor yang ngerti bagaimana investasi yang benar, akadnya yang benar itu yang seperti apa. Karena kebanyakan investor itu ngertinya bagi untung aja tapi enggak ngerti bagi rugi. Itu satu. Terus dengan partner pun kita pun juga harus ngerti bagian dia itu yang seperti apa. Contoh misalkan dia bagian apa aja tuh di dalam usaha, operasional kah, finance kah, SDM kah atau operasional kah itu ada bagian persentasenya, Mas. Jadi enggak sembarangan ya sudah kita fifty-fifty ya. Enggak seperti itu ternyata. Jadi ada bagiannya. Kalau guruku ngajarin tuh contohnya ya Mas, kalau kamu operasional kamu ada di 40%. Kalau kamu misalkan di SDM oke di 20% marketing di 20%. Jadi kalau misalkan kamu cuman ngurusin marketing ya sudah kamu di 20%. kan. Jadi itu perlu benar-benar ilmu. Maka kenapa kadang-kadang teman-teman yang berpartner, punya akad itu suka kadang-kadang bermasalah di akhir karena mereka kurang ilmu. Itu dari Pos Dania sih. Jadi Pos Dania sih bilangnya mungkin itu standar yang diberikan kepada saya. Saya enggak tahu ya kan orang itu pasti punya presentasenya masing-masing. Dan balik lagi sebenarnya itu kan balik lagi dengan akad atau ridanya masing-masing. Tapi kalau mau lebih standar di situ karena operasional kan lebih banyak yang dikerjain lebih ribet. Wajar kalau lebih banyak gitu. Dan buat saya aku sepertinya lebih enteng ketika kita punya patokan dan ketika kita punya guru patokannya di situ ya sudah clear daripada kita gontok-gontokan debat kusin malah kita enggak ngerti yang benar yang mana. Caraku melunasi hutang itu, itu juga keajaiban. Mau tahu enggak? Aku tuh digaji dari perusahaanku tuh cabang pertama. Mau tahu enggak? Aku tuh digaji Rp3 juta, Mas. Alu yang dipramuka. Karena aku sudah ikhtiar berikrar bahwa aku harus digaji dari perusahaanku. Karena belajar dari 12 kali kegagalan tadi. Jadi aku digaji dari perusahaanku gajiku Rp3 juta dengan omset berapaapun gajinya Rp3 juta. Bagaimana caraku untuk melunasi hutang itu? Dihasilkan dari pembayaran supplier yang belum selesai di pizza semua. Aku datangin, aku hadapin bapak-bapak semuanya gede-gede badannya. Tapi kebetulan karena mungkin yang menghadapi perempuan ya, jadi mungkin mereka lebih kalem gitu. Tapi saya bilang sama mereka, "Bapak, saya bilang separuh hutang perusahaan lama saya yang akan membayar. Tapi saya minta tolong jangan tagih. Saya ada di sini, saya akan bayar semampu saya bayar." Saya bilang gitu. Tapi kalau Bapak nanti nagih-nagih saya jadi kayak konsentrasi. Tapi percaya sama saya, saya tidak akan lari ke mana-mana. Bayangin, Mas. R00 juta saya tuh bayar tuh satu supplier Rp200.000, Rp100.000. Tapi mau tahu enggak Allah itu kasih bantuannya? Tidak ada satuun yang komplain. Itu yang bikin saya tuh kayak sampai hari ini takjub ya. Kok bisa ya Allah itu bikin hati supplier-suplier itu tuh untuk ya wislah enggak apa-apa gitu. Dan tahun 2018 kan itu Mas 2022 lunas. Entah dengan cara apa. Tak hadapin satu-satu. Ada uang R1 juta tak kasih, ada uang Rp juta tak kasih. bisa bayar hutang itu terakhir itu tahun 2019 saya punya bagi hasil itu R30 juta. Saya tanya sama guru saya, "Ustadz, saya punya uang R30 juta. Saya mau bayar hutang, tapi hutang saya R500 juta, tapi saya punya duitnya cuman R30 juta. Saya pengin umrah. Apa yang harus saya lakukan?" Bayar hutang kan kewajiban. Umrah itu kan sunah. Apa yang harus saya lakukan? Kata ustaz saya, "Berangkat umrah." Kata dia gitu. Terus hutangnya gimana? sampai sana minta Allah lunasin hutang. Akhirnya saya berangkat, Mas. Saya berangkat sampai sana. Pertama kali dalam hidup saya 2019 saya minta sama Allah, "Ya Allah, lunasin hutang saya ya Allah. Saya hanya punya uang R30 juta. Saya ke sini ya Allah." Pulang dari umrah itu entah kenapa ya Allah duit entah dari mana. Lunas 2 tahun setelahnya. Dari situ akhirnya alhamdulillah saya bisa beli rumah. Buat aku tuh happy itu kalau bisa membuat orang lain bahagia. Ya, hari ini aku tuh hanya ingin bisa memberikan manfaatlah buat orang lain tuh. Buat aku tuh udah sukses sih. Maka kenapa akhirnya visi misi perusahaanku sudah bukan lagi tentang seberapa banyak pencapaian perusahaan kan, tapi seberapa banyak perubahan yang aku ingin berikan ke perusahaan gitu, terutama kepada anak-anak gitu, kepada karyawan gitu, kepada masyarakat, kepada lingkungan gitu. Karena ternyata itu berdampak gitu dan itu yang membuatku lebih bahagia. Karena seberapa banyak, Mas, harta yang aku punya enggak membuatku bahagia tuh. Bahkan aku kehilangan semuanya hilang, bersih, suami enggak ada duit dari mulai banyak terus dari punya hutang R00 juta. Iya. Enggak. Apaapa membuat bahagia? Enggak. Ternyata enggak. Fana ternyata duit itu. Aku ngerti nih jadi tulang punggung keluarga itu susah. Maka aku pengin apa yang menjadi keberuntungan dan karunia yang Allah kasih ke aku, mereka itu juga ikut merasakan. Contoh, Allah kasih kemudahan di hidupku itu ngerasain umrah mudah. Aku juga pengin tuh karyawanku tuh juga ngerasain umrah. Terus aku tuh sama Allah dimudahin tuh jadi tulang punggung keluarga. Makanya aku pengin tuh cita-citanya karyawanku tuh gajinya tuh kalau bisa di atas rata-rata. Terus aku nih sama Allah dikasih kemudahan nih bisa ngasih pendidikan yang terbaik buat anak-anakku gitu dengan segala plus minusnya. Makanya aku pengin ngasih dayare untuk karyawan-karyawanku perempuan gitu loh. Itu meaning buat aku, Mas. Gitu. di perusahaan kami itu mindset corporate itu memang sudah tertanam dari awal gitu. Saya beruntung dengan 12 kali kegagalan itu akhirnya punya saripati yang terbenar, pola sukses yang benar itu. Ini nih yang harus aku lakukan. Salah satunya adalah punya corporate mindset. Corporate mindset itu adalah salah satunya akhirnya punya sistem. Sistem itu ketika aku tidak ada perusahaan masih tetap berjalan pun mindset terhadap keuangan. Jadi akhirnya perusahaan itu bisa bertumbuh sustain dengan sehat. Makanya dari satu cabang, dua cabang, tiga cabang, empat cabang itu berjalan dengan sistem, berjalan dengan organisasi gitu, Mas. Itulah yang menurut aku ya yang sampai hari ini membuat perusahaanku bisa bertumbuh walaupun belum sempurna, tapi menurut aku Mas sudah lumayan kuatlah itu karena organisasi dan sistem. Sistem itu adalah budaya yang kita bentuk dari awal sampai akhir gitu ya. Budaya apa aja? Budaya mulai dari memperlakukan uang masuk sampai uang keluar. Budaya mulai dari bagaimana karyawan menjalankan SOP. Mulai dari mencuci ayam sampai output-nya ayam jadi ayam bakar. Budaya dari bagaimana supplier masuk membawa beras sampai pada akhirnya jadi nasi liwet. Itu semua ada budaya yang sudah terdokumentasikan dengan baik dan harus diikuti oleh semua karyawan. Saya memonitor tim yang ada di bawah saya. Tim yang ada di bawah saya memonitor tim yang ada di bawahnya. tim yang ada di bawahnya memonitor tim yang ada di bawahnya gitu. Kalau sampai hari ini kami masih punya delan level lah, delan tingkat gitu. Kalau kalau kata guru saya sih harusnya punya 22 tahapan level ya untuk menjadikan perusahaan itu bisa mandiri, sustain dan benar-benar bisa corporate lah ya. Corporate itu artinya ketika foundernya sudah enggak ada bertahun-tahun perusahaan itu masih ada. Total ya 150-an sih. Kalau dua brand ya 300-an lah. Lumayan. Kalau dibayangkan dulu yang cuman tiga orang, sekarang sudah 150. Ah, banyak sih. Tapi sebenarnya kalau dihitung-hitung dengan baru empat cabang itu termasuk besar sih. Itu termasuk gemuk. Tetapi Mas ee yang saya tanamkan itu adalah saya menginvestasikan di awal yang paling besar itu adalah backup office-nya, manajemennya gitu. Kalau tidak ada manajemen, karena aku bangunnya awalnya ada corporate mindset, jadi yang aku bentuk duluan itu adalah manajemen, penggantiku, tangan kanan dan tangan kiriku gitu. Kalau misal gak ada manajemennya ya aman-aman aja sih. Cuman aku terus bawahku langsung operator. Pasti tidak segemuk itu pasti lebih lean gitu. Tapi karena aku menginvestasikan, membagi sebagian apa yang aku dapat untuk teman-teman manajemen, membagi pekerjaanku dengan teman-teman manajemen, akhirnya jadi lebih gemuk aja. Tapi dengan target dengan manajemen yang sebanyak ini, aku perlu berapa cabang? Misalkan dengan manajemen segini aku harus perlu 10 cabang ya. Nah, sekarang baru lima cabang. Berarti perlu lima cabang lagi gitu. gaji itu yang jelas ketika kita menjabat di perusahaan kita. Karena saya menjabat di perusahaan sebagai direktur, otomatis saya dapat gaji, Mas. Kecuali kalau memang bisnis ownernya itu tidak menjabat, ya tidak perlu dapat gaji. Deviden saja. Itu pun kalau perform ya, Mas. E bisnis owner tuh kan ada yang di kick out dari direksi karena mungkin dia enggak perform. Ada yang seperti itu. Jadi dia tidak usah dapat gaji. Sama yang kedua deviden. Deviden itu sudah jelas pasti dari saham kan. Jadi gini ee yang pertama sudah jelas yang tadi saya sebutkan ya Mas e sambal alu itu pionir. Pionir itu kan kalau biasanya tuh FM di industri itu kalau enggak yang paling enak, yang paling unik pionir gitu. Biasanya target market itu ngelirik kan. Nah, alhamdulillah sambal alu itu pionir ya di Bandar Lampung ya. Terus yang kedua memang kami secara marketing itu mengedepankan emosional brand, emotional value dibandingin rational value. Jadi buat buat kami kalau rational value itu kayak produk lah, Mas. Ayam bakar, sambal, nasi itu udah jelas pasti semua akan berlomba-lomba untuk bikin produknya lebih enak. Tetapi buat saya kalau kita kejar-kejaran terus dengan produk akan makin banyak orang yang bisa ngejar produk kita. Karena itu rasional value bisa dilihat, bisa ditiru, Mas. Tapi yang susah untuk ditiru itu adalah emotional value. Apa? Cerita, perasaan, sesuatu yang tidak bisa diukur dan dilihat secara kasat mata, emosional gitu. Apa engagement dengan customer dan itu hanya bisa didapatkan dari feel mereka terhadap brand. Nah, itu yang kita mau tingkatkan. Itulah kenapa after sales kita kita perbaiki, pelayanan kita kita perbaiki, experience-nya di sambal alu kita tingkatkan. Sehingga orang mau beli sambal alu itu bukan tentang sambal alu itu ayam bakarnya enak. Tapi mereka merasa ketika mereka beli di Sambal alu mereka feel different. Banyak sekali teman-teman yang beli di Sambal alu itu sudah bukan lagi tentang ayam bakarnya enak, sambalnya enak. Tapi kalau aku beli di Sambal alu tuh aku tuh udah merasa kayak ngumrohin karyawan-karyawannya kayak gitu. Aku tuh merasa kalau aku beli di Sambal alu tuh aku tuh merasa ikut berpahala. Nah, ya seperti itu. Hal yang seperti itu kan tidak bisa dicompare dengan kompetitor lain, Mas. Susah untuk dicompare. Kan itu yang menurutku menjadi daya saing yang kuat ya untuk sambal alu. Terus yang selanjutnya adalah di Sambal alu itu wow experience-nya. Wow. Experience itu adalah salah satunya sambal alu itu memberikan experience makan sambal sepuasnya, memberikan menu menu tradisional yang keseluruhan itu otentik hanya diberikan di rumah makan Sambal alu. Terus Sambal alu pun juga memberikan experience ketika customer masuk itu customer itu akan disuguhkan pengalaman disambut sukacita oleh para karyawan. Nah, kayak greeting selamat datang. siap makan sambal sepuasnya. Begituun pas pulang mereka juga akan disambut dengan hangat ee dengan ucapan terima kasih alu cinta padamu. Selain itu juga di produk mereka juga makan sambal sepuasnya itu disuguhkan sealu-alunya. Boleh makan sepuasnya di tempat gitu harus habis kalau sanggup menghabiskan gitu. Nah, terus sisi lain wow experience Sambal alu itu ada di pelayanan salah satunya ada di handling komplain kami. Sambal alu diajarkan ketika ada yang komplain, kami ingin membuat customer yang komplain dari benci, enggak suka karena komplain jadi cinta. Caranya seperti apa? Mereka ketika komplain, misalkan contoh ketinggalan nih sambal, ketinggalan nih timun misalkan mereka boleh menyampaikan kepada kami, kami akan ganti itu bahkan full. Jadi enggak cuma diganti sambalnya atau timunnya, Mas, tapi diganti satu menu dan diantarkan sampai rumah gitu. Setiap yang memberikan kritik dan saran, setiap yang memberikan komplain, kami terima dengan baik. Bahkan kami kasih komplimen rasa terima kasih berupa produk gitu. Jadi insyaallah mudah-mudahan wow experience itu yang akan diterima. Mudah-mudahan bisa menjadi salah satu faktor sambal alu diterima oleh masyarakat Bandar Lampung. Dan kita punya visi- misi yang kuat sih. Salah satu visi kita itu kan kita pengin punya memperkuat lokal menjadi inspirasi dan membangun peradaban. Menjadi lokal champion itu adalah kita ingin menjadi juara di semua daerah di mana nanti kita existing. Kalau di Bandar Lampung berarti ingin menjadi hero di Lampung. heronya itu bukan menjadi produk kebanggaan. Misalkan contoh kayak produk di Lampung itu yang khas gitu, tuh tidak. Tapi ingin jadi juara itu juara yang memberikan kebermanfaatan gitu. Jadi penginnya di Lampung itu adalah juara memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat di sekitarnya. Menginspirasi itu lebih ke apa? Prestasinya, menginspirasi kegiatan-kegiatannya, value-value-nya. Mudah-mudahan walaupun kami ini masih UMKM kecil bisa menginspirasi teman-teman nasional. gitu. Terus membangun peradaban adalah kami lumayan fokus sama pendidikan sih, Mas, gitu. Maka kami punya daycare untuk anak-anak karyawan. Kita juga bikin beasiswa untuk sekolah-sekolah di Bandar Lampung. Dan di Sambal sendiri itu ada mini pesantren, kita ada tahsin dan semuanya itu kita lakukan itu utuh. Kita ngajarin nilai-nilai itu enggak cuman dari luar tapi dari dalam secara utuh gitu. Buat saya utuhnya itu adalah peradaban. Kalau buat saya, saya hanya ingin mencari sukses itu enggak cuman sukses, tapi sukses berkah. Sukses yang mendatangkan ketenangan, sukses yang mendatangkan kebahagiaan, sukses yang memberikan kebermanfaatan dunia dan akhirat. Salah satunya ya memanusiakan manusia itu adalah salah satu jalan bagi saya dan perusahaan saya untuk mendatangkan keberkahan gitu sih. Saya Dian Agustin, owner dari Sambal Alu, Bandar Lampung. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Oh