350 Cabang BANGKRUT Keluarga Hancur, Hidup "GEMBEL" dg 2 Anak, Bangkit Lewat Usaha Sambel
cSaanjqVBYs • 2025-09-08
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Tidak ada rumah sama sekali. Kami
ditumpangin rumah sama keluarga sodagar
kayak gitu, Mas. Dan rumah itu tidak ada
mohon maaf WC-nya. Kita perlu pakai
kantong kresek gitu, Mas untuk buang air
besar. Itu momen di mana saya pengin
merubah gitu ekonomi saya. Mengangkat
harkat derajat ekonomi orang tua itu
salah satu caranya adalah dengan
pendidikan. Bapak saya lulusan SD, Ibu
saya lulusan SD, kakak SMK kalau enggak
salah. Saya pikir saatnya sayalah yang
punya kesempatan untuk bisa kuliah.
Kalau bukan saya siapa lagi gitu. Itu
deh satu-satunya cara untuk saya bisa
keluar dari keterkungkungan keluarga
besar ini, gitu.
[Musik]
Saya ini punya gerai pizza 350 cabang
habis gembel, enggak bisa makan.
[Musik]
Halo, asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Diand
Agustin. Saya hari ini dikasih amanah
sebagai founder sekaligus direktur PT
Alu Cinta Padamu yang membawahi rumah
Sambalu Bandar Lampung. Bapak, Ibu itu
sebenarnya kalau dari kampung itu dari
keluarga yang berada. Bapak ada dapat
ujian suka main judi, terus akhirnya mau
enggak mau ibu harus berjuang untuk
menutup hutang yang banyak. Itulah yang
menyebabkan kondisi ekonomi Bapak Ibu
terpuruk gitu. Bahkan sampai kalau mau
ngomongin tentang sekolah itu SMP
dibilang sama Ibu, "Udah, Yayan, kamu
enggak usah sekolah lagi." Akhirnya
kakak saya yang sudah lulus SMA bilang,
"Sayang, kalau kamu enggak sekolah, kamu
tak sekolahin." gitu. Waktu itu kakak
saya kerja di pabrik. Jadi latar
belakang keluarga saya sangat amat
sederhana. Bahkan kami pernah ada di
posisi tidak ada rumah sama sekali. Kami
ditumpangin rumah sama keluarga sodagar
kayak gitu, Mas. Dan rumah itu tidak ada
mohon maaf WC-nya. Kita perlu pakai
kantong kresek gitu, Mas, untuk buang
air besar. Itu momen di mana saya pengin
merubah gitu ekonomi saya. Saya akhirnya
kerja, Mas. berangkat ke Solo. Di situ
saya ikut kerja jadi kapster salon
khusus muslimah. Di situ alhamdulillah
selama 1 tahun saya kerja, saya izin
untuk kuliah. Jadi dari jam .30 pagi
saya jadi pembantu rumah tangga bos saya
sendiri gitu. Dan alhamdulillah orangnya
baik banget. Saya pokoknya ya cuci
bajunya, ngepel ya namanya pembantu
rumah tangga gitu loh, Mas. Terus
ngantterin anaknya sekolah habis itu
terus kerja di salonnya. jam . sore itu
terus akhirnya saya kuliah sampai jam
09.00 ikut kelas karyawan 9.00 malam
terus pulang naruh motor habis itu saya
lesin anak tetangga terus sampai jam
12.00 semalam pulang istirahat besok
gitu terus alhamdulillah lulus
mengangkat harkat derajat ekonomi orang
tua itu salah satu caranya adalah dengan
pendidikan bapak saya lulusan SD, ibu
saya lulusan SD, kakak SMK kalau enggak
salah. Saya pikir saatnya sayalah yang
punya kesempatan untuk bisa kuliah.
Kalau bukan saya siapa lagi gitu. Itu
deh satu-satunya cara untuk saya bisa
keluar dari keterkungkungan keluarga
besar ini, gitu. Maksud hati
dengan kuliah siapa tahu dapat kehidupan
yang jauh lebih baik ya. Jadi D3
komunikasi massa jadi penyiar gitu kan.
Masuk Lampung langsung daftar di RRI
Mas. Daftarlah masuk pertama keterima,
Mas. Sebenarnya hari pertama adalah
interview bersama pimpinan RRI itu saya
sudah menikah. 1 minggu setelah menikah
langsung dibawa ke Bandara Lampung.
Sampai sini ketemu orang pimpinannya
orang Batak, Mas. Orang Batak itu kan
keras ya. Siapa nama kamu? Pertama kali
saya interview, kerja ikut orang
dibentek begitu ciut nyari saya. Habis
itu saya langsung bilang, "Saya enggak
mau kerja. Pokoknya saya enggak mau
kerja. Saya maunya dagang." Akhirnya
2007 saya mulai jualan. Brand pertama
saya saya jualan jilbab. Terus akhirnya
tutup hamil kan melahirkan. Terus brand
kedua jualan sambal pecel. Brand ketiga
jualan jamu. Terus banyak sampai pada
akhirnya saya punya 12 brand jatuh
bangun. Jatuh bangun jualan pizza punya
350 cabang se-Indonesia Mas. Itu
tertinggi di antara semua brand yang
sudah saya bangun. brand saya yang ke-13
yang sambal alu itulah itu jadi turning
point kehidupan saya dan ternyata yang
ke-13 inilah kehidupan saya berubah
semua berubah ya rumah tangga berubah
kehidupan ekonomi berubah spiritual dan
semuanya berubah
kalau ngomongin 11 tahun perjalanan
kehidupan rumah tangga kami itu, Mas,
kehidupan kami itu kayak roller coaster.
Jadi, habis naik turun naik turun itu
enggak ada jedanya, enggak ada
berhenti-berhentinya. Setelah sekarang
ya, Mas, setelah dilalui itu ternyata
aku baru sadar ternyata gini, Mas.
Segala sesuatu yang berakad ketika salah
satunya itu melenceng keluar dari
syariat, itu keberkahan Allah pasti
dicabut gitu. Kalau keberkahan sama
Allah dicabut, sudah pasti jelas sudah
mulai akan timbul berantakan-berantakan
gitu, Mas. Saya masih ingat betul waktu
itu guru saya bilang gini, "Mbak Dian,
kamu enggak akan pernah bisa bisnismu
berjalan dengan baik kalau rumah
tanggamu tidak kamu tidak kamu
selesaikan gitu. Ini enggak akan pernah
bisa berjalan lurus kalau rumah tanggamu
tidak baik." Artinya rumah tangga baik,
insyaallah bisnisnya baik. Kalau itu
couple planer saat itu ada dari sisi
saya yang terlalu melekat. Saking
melekatnya, saking cintanya, mungkin
Allah cemburu sehingga apa yang dalam
diri saya itu menjadikan berhala kecil
untuk diri saya, Mas. Itu cara Allah
mengembalikan saya ke jalan seharusnya,
gitu. Berantakan, Mas. Sangat
berantakan. Semua orang yang ada dalam
hidup saya pergi, saya ditinggalkan.
Saya hanya bersama dua anak saya. Bisnis
yang saya bangun dalam kondisi tertinggi
tadi itu, Mas. Saya punya gerai pizza
350 cabang habis gembel enggak bisa
makan.
Terus saya tinggal di bedengan. Saya
bawa uang Rp500.000,
400 untuk bayar bedeng itu yang
Rp100.000 untuk saya bisa beli beras,
saya bisa beli ayam. Di situlah mulai
saya hidup sedikit terluntah-luntah sama
anak-anak gitu. Terus memulai sambal alu
di situ, jualan nasi liwet, ayam bakar
sama anak-anak sama dua anak saya itu.
Saya sempat depresi mau rasanya mati
aja. Untung ketemu sama teman yang
ngajak kajian selama 7 hari. Itu setiap
hari saya perlu kajian. Karena kalau
enggak saya merasa kayak mau mati aja,
Mas. Karena aku merasa kayak ya kamu
enggak pantes, kamu enggak cantik, kamu
enggak becus, kamu enggak berharga gitu.
Ya udah jelas yang terjadi di rumah
tangga ini ya. Karena kamu kamu sudah
seberjuang itu sudah memperjuangkan itu
tetap aja kamu ditinggalkan. Jadi memang
udah kamu enggak pantes. Udah itu yang
membuat saya akhirnya kayak merasa
enggak berguna gitu loh, Mas. Kalau kata
anak saya tuh saya itu ketawa-ketawa air
mata sambil keluar kepalanya
jedot-jedotin ke tembok. Saya itu di
kamar katanya udah berhari-hari enggak
mandi, udah berantakan. Cuman ya kayak
orang gila gitu loh, Mas. Wis sudah
enggak ini. Dan tapi itu momen yang
seumur hidup enggak bisa saya lupakan.
Saya dibangunkannya, saya didudukkan
sama teman saya. Saya ditamparnya, Mas.
Dia bilang gini, "Bangun, Dian." Kata
dia gitu. "Saya enggak mau bangun kan.
Saya didudukkan, saya ditamparnya
sekencang mungkin." "Bangun, Dian kata
dia gitu." Kamu sampai kapan kamu
menangis gitu? Kamu sampai kapan kamu
jadi orang gila kayak gini gitu. Yang
kamu tangisi yang membuatmu jadi gila
kayak gini sedang bersenang-senang
dengan orang lain sementara kamu
menghancurkan dirimu. Sakit Mas
tamparannya tuh sakit banget. Tapi
sakitnya itu menyadarkan saya. Iya juga
ya gitu. Kenapa saya harus menghancurkan
diri saya gitu? Sementara dia aja enggak
sadar. Bahkan dia sedang
bersenang-senang gitu. Besoknya saya
mulai bangun, saya mulai mandi, saya
mulai urus anak-anak saya, Mas. Saya
mulai berangkat ngaji, saya mulai ngurus
usaha saya, saya mulai sadar bahwa oh ya
ya saya berharga. Saya mulai ke
psikolog. Dari situ akhirnya bangkit dan
mulai sadar ternyata Allah itu baik.
Dari situ terus saya ketemu kelas pola
pertolongan Allah dan saya mulai sadar
ternyata saya hanya kehilangan satu
orang dan saya mendapatkan begitu banyak
orang yang mencintai saya gitu, Mas.
Pulang itu saya berlinang air mata gitu.
Tapi mau tahu enggak, Mas? Saya seperti
menjadi seseorang yang baru. Tahajudnya
saya pertama kali dalam hidup saya
tahajud itu saya bilang gini sama Allah,
"Ya Allah, jika memang Engkau rida
dengan apa yang saya perbuat hari ini,
saya rida. Apapun yang hari ini engkau
pengin saya lakukan, saya rida." Saya
pasrah. Saya pertama kali dalam hidup
saya, doa saya sudah bukan lagi doa
meminta, tapi saya memasrahkan apa yang
ada dalam hidup saya. Bahkan kalau hari
ini engkau meminta saya, mati pun saya
rida, ya Allah. Setelah itu, besoknya
enteng hidup saya, Mas. Enteng banget.
Saya merasa kayak beban itu hilang
semua. Keajaiban mulai datang.
Orang-orang baik mulai dekat. Rezeki
mulai hadir, anak-anak saya mulai
membaik, sambal alu, mulai membaik,
rezeki mulai datang, komunitas dan
banyak banget karunia-karunia itu mulai
hadir dalam hidup saya setelah momen
itu. Jadi Allah itu kalau kasih
pertolongannya itu di luar apa yang kita
prediksikan gitu. Walaupun kita tuh
harus hancur dululah harga dirinya,
hancur dulu kesombongannya, hancur dulu
egonya, gitu. Kita terlalu fokus dengan
hati manusia, tapi lupa dengan siapa
yang membuat hati. Doa kita itu kadang
gini, "Ya Allah, saya bisa mengubah
keadaan." Tapi bukan, "Ya Allah,
Engkaulah yang membuat keadaan ini. Aku
pasrahkan semuanya kepadamu." Tapi kita
hanya fokus dengan ikhtiar kita. Kita
hanya fokus dengan kita dan manusianya,
bukan fokus kepada sang pembuat manusia.
Harusnya dalam kondisi seperti itu
harusnya kita pasrah, kita ikhlas, ya.
kita pasrahkan semuanya kepada Allah.
Bukan malah justru kita terlalu
menggenggam. Kita justru malah enggak
fokus sama diri kita. Kita malah justru
enggak balik sama Allah. Malah kita
fokus sama ikhtiar yang inilah, yang
itulah. Fokus mempercantik dirilah,
fokus inilah, fokus itulah. Tapi lupa
untuk balik kepada Allah. Balik kepada
merayu kepada Allah tapi malah balik
merayu kepada manusianya. Sehingga Allah
enggak suka. Allah jadi cemburu. Kita
terlalu mencintai makhluknya. Lupa untuk
mencintai Allah.
[Musik]
Kenapa sambal alu? Karena saya bisa
masak, saya bisa bikin sambal gitu. Dan
waktu itu nasi liwet itu saya agak jago
lah buatnya. Jadi saya enggak perlu
ribet-ribet lagi buat gitu loh, Mas.
Nah, sambal alu memang itu sudah ada
sebenarnya itu ide sudah lama sudah
dipikirkan cuman memang belum
terealisasi. Jadi saat itulah kayaknya
saatnya untuk mulai saya buat.
Alhamdulillah dari 5 kotak, 10 kotak
lama-lama jadi 20, 30 kotak.
Alhamdulillah instansi mulai order terus
akhirnya lama-lama jadi 50 kotak, 100
kotak, ribuan kotak. Alhamdulillah, Mas
di situ. Jadi pagi bangun jam . gitu kan
produksi sendiri, habis itu ngantar anak
sekolah terus habis itu masak lagi.
Belum lagi ngadmin, terus habis itu
masak lagi terus belanja sendiri.
Lama-lama kok aku gempor juga ya.
akhirnya punya karyawan satu dua orang
yang bantu produksi aku ngadmin terus
aku belajar bikin ads sendiri FB ads
waktu itu ya kayak gitu Mas terus sampai
K lakuin sendiri itu kalau enggak salah
aku pernah itu semua serba dilakuin
sendiri orderan ribuan dikerjain dengan
beberapa karyawan sampai mimisan-mimisan
itu Mas wis pokoknya yang penting bisa
hidup bisa makan anak-anak ini kayak
gitu flashback di tahun 2017 ya Mas
Sambal alu itu pertama kali saya jualan
lewat bedengan itu, itu mungkin pertama
kali yang jual makanan berat via
delivery online dan WhatsApp. Karena
waktu zaman itu itu belum ada, Mas,
orang yang jualan makanan berat itu
pakai media sosial. Itu satu. Terus
kedua, yang pertama kali pionir nasi
liwet dan nasi daun jeruk dengan
positioning makan sambal sepuasnya itu
baru sambal alu. Dari situlah kan
pionirnya makan sambal sepuasnya dan
nasi liwet, nasi daun jeruk di Bandar
Lampung. Maka begitu mudah diterima.
Terima kasih.
Salu cinta padamu.
Jadi gini, Mas. belajar dari imprinting.
Segala sesuatu yang belum ramai di
daerah A tapi sudah ramai di daerah B,
kita bisa adopsi ATM gitu. Nasi liwet,
nasi daun jeruk itu kan di Jawa Barat
banyak banget, Mas. Sudahan, Mas. Terus
saya berpikir ini mah di Bandar Lampung
belum banyak. Saya bawalah konsep itu ke
Bandar Lampung. Nah, itu imprinting di
situlah. Makanya karena pionir itu
akhirnya terkenalah sambal alu dengan
nasi liwet dan nasi daun jeruknya gitu.
Dan kebetulan saya memang suka ngulik
gitu loh, Mas. resep-resep itu saya suka
ketika saya kulik resepnya terus saya
coba blind test uji ngangenin kepada
ratusan responden dan ternyata valid
rasanya ya sudah kita jual. Jadi
ujigangan itu gini waktu pertama kali
saya jualan di bedengan itu Mas mungkin
iya saya memang belum banyaklah duitnya
tapi setiap kali saya jualan nih
misalkan satu hari laku lima, yang satu
saya kirim gratis. Nah, misalkan nih
saya laku lima. Yang satu saya kirim
gratis saya suruh ngisi kuesioner.
Gimana rasanya, tampilannya gimana,
nanti besok laku lagi tuh tujuh yang
satu saya gratisin lagi sampai kurang
lebih 200 orang yang dapat gratis. Nah,
dari 200 orang itu ngisi nilai berapa
nilainya? Kalau di atas 8 berarti valid
produknya. Nah, itu menurut saya uji
ngangenin. Pakai cara ekonomis dengan
duit yang tidak seberapa. Kalau duitnya
sudah banyak biasanya uji ngangen kan
langsung banyak gitu kan. 200 hari itu
juga gitu kita bagi-bagi sampel dengan
target market yang kita sudah tentukan
terus kita langsung sebar kuesioner gitu
sesuai dengan yang kita pilih perempuan,
pencinta pedas. Kalau aku memang
perempuan sih karena kan perempuan
kebanyakan impulsif ya target market
terbesar di Indonesia kan perempuan gitu
kan. Dikit-dikit belanja kan perempuan.
Sambal alu itu adalah saripati semua
kegagalan dan semua keberhasilan dari 12
brand yang saya bangun dan yang gagal
dan yang sukses saya ambil. Jadi dari
situ belajarnya mulai dari sistem
mindset keuangan, mindset produknya,
corporate mindsetnya itu dari 12
kegagalan tadi itu. Jadi buat saya
ketika teman-teman mulai merasakan
kegagalan atau mengalami kegagalan itu
bukan mulai dari nol. Justru mereka itu
memulai dari angka 1 2 3 karena mereka
investasi ilmu gitu.
Everage-nya ya pas kurang lebih ya
hampir 1 tahun saya sudah mulai agak
ramai tuh ketemu partner. Partner saya
itu waktu itu jadi sopir gokar.
Sebenarnya dia tuh pebisnis, Mas. Cuman
karena dia lagi mencari jati diri,
nambahin kesibukan dengan sopir gokar.
Kebetulan pas pakai beliau ngambillah
nasi tampah kami di bedeng itu di
kontrakan itu. Dibawalah enggak ketemu
saya, tapi ketemu admin saya gitu. Ini
kok wangi banget. Nasi liwat kan wangi
ya, Mas. Nasi kan wangi. Terus balik
lagi dia ketemu Moza dan Mabel.
Anak-anak saya di depan kontrakan. Lah
ini anaknya Mbak Dian gitu. Udah kenal,
udah teman lama cuman enggak tahu kalau
kisah saya jadi seanjlok itu gitu loh,
Mas.
Heeh. Ini serius, Mbak Dian. Karena dia
tahunya kan saya punya 350 cabang, Mas.
Iya kan? Jadi teman-teman saya itu waktu
itu saya benar-benar lost kontak gitu.
Nah, begitu dia tahu, saya dihubungin,
"Bak Dian ketemu dong gitu." Terus
ketemu terus ngobrol terus karena dia
cicip produk dan segala macam, beliau
menawarkan untuk yuk mbak kerja sama.
Niat awalnya adalah sebenarnya dia
pengin bantu juga sih. Kasihan Mbak Dian
kok ngelihatnya ngenes gitu kan.
Terus akhirnya 4 bulan lah saya
memikirkan untuk tak ambil enggak ya.
Apa tawarannya Bu?
Dia punya dana dari investor. Dia punya
ilmu. Dia pintar jago marketing tapi dia
enggak bisa bikin produk. Mbak mau
enggak nih ada dana investor kamu kan
jago bikin produk. Ayo punya restoran
rumah makan. Ayo enggak mau enggak?
Terus aku mikir kan kondisiku kayak gini
gitu. Takutnya nanti aku enggak bisa
mengelola dengan baik. Saya juga lagi
teras isu dengan seseorang kan gitu ya,
Mas. Tapi entah kenapa Allah itu
condongkan untuk enggak apa-apa diterima
ini orang baik, ini orang baik gitu.
Setelah 4 bulan, saya juga tanya sama
kakak, kakak saya kan juga bantu saya
kan, Mas, Kakak, terus ibu dan segala
macam. Dan pada akhirnya saya terima.
Terus saya bilang sama partner saya,
"Oke, saya mau tapi ingat ya, kamu
incharge di dalam perusahaan ini.
Incharge karena aku kurang bisa di
marketing." Saya bilang, "Saya hanya
pintar operasional produk gitu.
Marketing aku kurang pintar gitu. Oke,
Mbak, enggak apa-apa. Jadi, kita bagi
saham." Dari situ akhirnya cabang
pertama di Pramuka. 1 tahun pakai dana
investor, Mas. Terus habis itu tahun
kedua pakai dana investor lagi untuk
buka cabang yang kedua. Setelah itu baru
tahun ketiga, keempat sudah pakai dana
sendiri sampai sekarang. Sebelumnya itu
juga saat aku mulai memutuskan untuk
menerima investor terus berpartner itu
perlu banyak belajar, Mas. Karena selama
aku 12 kali kegagalan itu salah satunya
itu aku harus menanggung hutang R00 juta
kan. Itu karena kurangnya ilmu
menghadapi investasi dan investor gitu.
Itu perlu untuk diperhatikan. kita perlu
mencari investor yang ngerti bagaimana
investasi yang benar, akadnya yang benar
itu yang seperti apa. Karena kebanyakan
investor itu ngertinya bagi untung aja
tapi enggak ngerti bagi rugi. Itu satu.
Terus dengan partner pun kita pun juga
harus ngerti bagian dia itu yang seperti
apa. Contoh misalkan dia bagian apa aja
tuh di dalam usaha, operasional kah,
finance kah, SDM kah atau operasional
kah itu ada bagian persentasenya, Mas.
Jadi enggak sembarangan ya sudah kita
fifty-fifty ya. Enggak seperti itu
ternyata. Jadi ada bagiannya. Kalau
guruku ngajarin tuh contohnya ya Mas,
kalau kamu operasional kamu ada di 40%.
Kalau kamu misalkan di SDM oke
di 20% marketing di 20%. Jadi kalau
misalkan kamu cuman ngurusin marketing
ya sudah kamu di 20%. kan. Jadi itu
perlu benar-benar ilmu. Maka kenapa
kadang-kadang teman-teman yang
berpartner, punya akad itu suka
kadang-kadang bermasalah di akhir karena
mereka kurang ilmu. Itu dari Pos Dania
sih. Jadi Pos Dania sih bilangnya
mungkin itu standar yang diberikan
kepada saya. Saya enggak tahu ya kan
orang itu pasti punya presentasenya
masing-masing. Dan balik lagi sebenarnya
itu kan balik lagi dengan akad atau
ridanya masing-masing. Tapi kalau mau
lebih standar di situ karena operasional
kan lebih banyak yang dikerjain lebih
ribet. Wajar kalau lebih banyak gitu.
Dan buat saya aku sepertinya lebih
enteng ketika kita punya patokan dan
ketika kita punya guru patokannya di
situ ya sudah clear daripada kita
gontok-gontokan debat kusin malah kita
enggak ngerti yang benar yang mana.
Caraku melunasi hutang itu, itu juga
keajaiban. Mau tahu enggak? Aku tuh
digaji dari perusahaanku tuh cabang
pertama. Mau tahu enggak? Aku tuh digaji
Rp3 juta, Mas. Alu yang dipramuka.
Karena aku sudah ikhtiar berikrar bahwa
aku harus digaji dari perusahaanku.
Karena belajar dari 12 kali kegagalan
tadi. Jadi aku digaji dari perusahaanku
gajiku Rp3 juta dengan omset berapaapun
gajinya Rp3 juta. Bagaimana caraku untuk
melunasi hutang itu? Dihasilkan dari
pembayaran supplier yang belum selesai
di pizza semua. Aku datangin, aku
hadapin bapak-bapak semuanya gede-gede
badannya. Tapi kebetulan karena mungkin
yang menghadapi perempuan ya, jadi
mungkin mereka lebih kalem gitu. Tapi
saya bilang sama mereka, "Bapak, saya
bilang separuh hutang perusahaan lama
saya yang akan membayar. Tapi saya minta
tolong jangan tagih. Saya ada di sini,
saya akan bayar semampu saya bayar."
Saya bilang gitu. Tapi kalau Bapak nanti
nagih-nagih saya jadi kayak konsentrasi.
Tapi percaya sama saya, saya tidak akan
lari ke mana-mana. Bayangin, Mas. R00
juta saya tuh bayar tuh satu supplier
Rp200.000, Rp100.000. Tapi mau tahu
enggak Allah itu kasih bantuannya? Tidak
ada satuun yang komplain. Itu yang bikin
saya tuh kayak sampai hari ini takjub
ya. Kok bisa ya Allah itu bikin hati
supplier-suplier itu tuh untuk ya wislah
enggak apa-apa gitu. Dan tahun 2018 kan
itu Mas 2022 lunas. Entah dengan cara
apa. Tak hadapin satu-satu. Ada uang R1
juta tak kasih, ada uang Rp juta tak
kasih. bisa bayar hutang itu terakhir
itu tahun 2019 saya punya bagi hasil itu
R30 juta. Saya tanya sama guru saya,
"Ustadz, saya punya uang R30 juta. Saya
mau bayar hutang, tapi hutang saya R500
juta, tapi saya punya duitnya cuman R30
juta. Saya pengin umrah. Apa yang harus
saya lakukan?" Bayar hutang kan
kewajiban. Umrah itu kan sunah. Apa yang
harus saya lakukan? Kata ustaz saya,
"Berangkat umrah." Kata dia gitu. Terus
hutangnya gimana? sampai sana minta
Allah lunasin hutang. Akhirnya saya
berangkat, Mas. Saya berangkat sampai
sana. Pertama kali dalam hidup saya 2019
saya minta sama Allah, "Ya Allah,
lunasin hutang saya ya Allah. Saya hanya
punya uang R30 juta. Saya ke sini ya
Allah." Pulang dari umrah itu entah
kenapa ya Allah duit entah dari mana.
Lunas 2 tahun setelahnya. Dari situ
akhirnya alhamdulillah saya bisa beli
rumah.
Buat aku tuh happy itu kalau bisa
membuat orang lain bahagia. Ya, hari ini
aku tuh hanya ingin bisa memberikan
manfaatlah buat orang lain tuh. Buat aku
tuh udah sukses sih. Maka kenapa
akhirnya visi misi perusahaanku sudah
bukan lagi tentang seberapa banyak
pencapaian perusahaan kan, tapi seberapa
banyak perubahan yang aku ingin berikan
ke perusahaan gitu, terutama kepada
anak-anak gitu, kepada karyawan gitu,
kepada masyarakat, kepada lingkungan
gitu. Karena ternyata itu berdampak gitu
dan itu yang membuatku lebih bahagia.
Karena seberapa banyak, Mas, harta yang
aku punya enggak membuatku bahagia tuh.
Bahkan aku kehilangan semuanya hilang,
bersih, suami enggak ada duit dari mulai
banyak terus dari punya hutang R00 juta.
Iya. Enggak. Apaapa membuat bahagia?
Enggak. Ternyata enggak. Fana ternyata
duit itu. Aku ngerti nih jadi tulang
punggung keluarga itu susah. Maka aku
pengin apa yang menjadi keberuntungan
dan karunia yang Allah kasih ke aku,
mereka itu juga ikut merasakan. Contoh,
Allah kasih kemudahan di hidupku itu
ngerasain umrah mudah. Aku juga pengin
tuh karyawanku tuh juga ngerasain umrah.
Terus aku tuh sama Allah dimudahin tuh
jadi tulang punggung keluarga. Makanya
aku pengin tuh cita-citanya karyawanku
tuh gajinya tuh kalau bisa di atas
rata-rata. Terus aku nih sama Allah
dikasih kemudahan nih bisa ngasih
pendidikan yang terbaik buat anak-anakku
gitu dengan segala plus minusnya.
Makanya aku pengin ngasih dayare untuk
karyawan-karyawanku perempuan gitu loh.
Itu meaning buat aku, Mas. Gitu. di
perusahaan kami itu mindset corporate
itu memang sudah tertanam dari awal
gitu. Saya beruntung dengan 12 kali
kegagalan itu akhirnya punya saripati
yang terbenar, pola sukses yang benar
itu. Ini nih yang harus aku lakukan.
Salah satunya adalah punya corporate
mindset. Corporate mindset itu adalah
salah satunya akhirnya punya sistem.
Sistem itu ketika aku tidak ada
perusahaan masih tetap berjalan pun
mindset terhadap keuangan. Jadi akhirnya
perusahaan itu bisa bertumbuh sustain
dengan sehat. Makanya dari satu cabang,
dua cabang, tiga cabang, empat cabang
itu berjalan dengan sistem, berjalan
dengan organisasi gitu, Mas. Itulah yang
menurut aku ya yang sampai hari ini
membuat perusahaanku bisa bertumbuh
walaupun belum sempurna, tapi menurut
aku Mas sudah lumayan kuatlah itu karena
organisasi dan sistem. Sistem itu adalah
budaya yang kita bentuk dari awal sampai
akhir gitu ya. Budaya apa aja? Budaya
mulai dari memperlakukan uang masuk
sampai uang keluar. Budaya mulai dari
bagaimana karyawan menjalankan SOP.
Mulai dari mencuci ayam sampai
output-nya ayam jadi ayam bakar. Budaya
dari bagaimana supplier masuk membawa
beras sampai pada akhirnya jadi nasi
liwet. Itu semua ada budaya yang sudah
terdokumentasikan dengan baik dan harus
diikuti oleh semua karyawan. Saya
memonitor tim yang ada di bawah saya.
Tim yang ada di bawah saya memonitor tim
yang ada di bawahnya. tim yang ada di
bawahnya memonitor tim yang ada di
bawahnya gitu. Kalau sampai hari ini
kami masih punya delan level lah, delan
tingkat gitu. Kalau kalau kata guru saya
sih harusnya punya 22 tahapan level ya
untuk menjadikan perusahaan itu bisa
mandiri, sustain dan benar-benar bisa
corporate lah ya. Corporate itu artinya
ketika foundernya sudah enggak ada
bertahun-tahun perusahaan itu masih ada.
Total ya 150-an sih. Kalau dua brand ya
300-an lah. Lumayan. Kalau dibayangkan
dulu yang cuman tiga orang, sekarang
sudah 150. Ah, banyak sih. Tapi
sebenarnya kalau dihitung-hitung dengan
baru empat cabang itu termasuk besar
sih. Itu termasuk gemuk. Tetapi Mas ee
yang saya tanamkan itu adalah saya
menginvestasikan di awal yang paling
besar itu adalah backup office-nya,
manajemennya gitu. Kalau tidak ada
manajemen, karena aku bangunnya awalnya
ada corporate mindset, jadi yang aku
bentuk duluan itu adalah manajemen,
penggantiku, tangan kanan dan tangan
kiriku gitu. Kalau misal gak ada
manajemennya ya aman-aman aja sih. Cuman
aku terus bawahku langsung operator.
Pasti tidak segemuk itu pasti lebih lean
gitu. Tapi karena aku menginvestasikan,
membagi sebagian apa yang aku dapat
untuk teman-teman manajemen, membagi
pekerjaanku dengan teman-teman
manajemen, akhirnya jadi lebih gemuk
aja. Tapi dengan target dengan manajemen
yang sebanyak ini, aku perlu berapa
cabang? Misalkan dengan manajemen segini
aku harus perlu 10 cabang ya. Nah,
sekarang baru lima cabang. Berarti perlu
lima cabang lagi gitu. gaji itu yang
jelas ketika kita menjabat di perusahaan
kita. Karena saya menjabat di perusahaan
sebagai direktur, otomatis saya dapat
gaji, Mas. Kecuali kalau memang bisnis
ownernya itu tidak menjabat, ya tidak
perlu dapat gaji. Deviden saja. Itu pun
kalau perform ya, Mas. E bisnis owner
tuh kan ada yang di kick out dari
direksi karena mungkin dia enggak
perform. Ada yang seperti itu. Jadi dia
tidak usah dapat gaji. Sama yang kedua
deviden. Deviden itu sudah jelas pasti
dari saham kan.
Jadi gini ee yang pertama sudah jelas
yang tadi saya sebutkan ya Mas e sambal
alu itu pionir. Pionir itu kan kalau
biasanya tuh FM di industri itu kalau
enggak yang paling enak, yang paling
unik pionir gitu. Biasanya target market
itu ngelirik kan. Nah, alhamdulillah
sambal alu itu pionir ya di Bandar
Lampung ya. Terus yang kedua memang kami
secara marketing itu mengedepankan
emosional brand, emotional value
dibandingin rational value. Jadi buat
buat kami kalau rational value itu kayak
produk lah, Mas. Ayam bakar, sambal,
nasi itu udah jelas pasti semua akan
berlomba-lomba untuk bikin produknya
lebih enak. Tetapi buat saya kalau kita
kejar-kejaran terus dengan produk akan
makin banyak orang yang bisa ngejar
produk kita. Karena itu rasional value
bisa dilihat, bisa ditiru, Mas. Tapi
yang susah untuk ditiru itu adalah
emotional value. Apa? Cerita, perasaan,
sesuatu yang tidak bisa diukur dan
dilihat secara kasat mata, emosional
gitu. Apa engagement dengan customer dan
itu hanya bisa didapatkan dari feel
mereka terhadap brand. Nah, itu yang
kita mau tingkatkan. Itulah kenapa after
sales kita kita perbaiki, pelayanan kita
kita perbaiki, experience-nya di sambal
alu kita tingkatkan. Sehingga orang mau
beli sambal alu itu bukan tentang sambal
alu itu ayam bakarnya enak. Tapi mereka
merasa ketika mereka beli di Sambal alu
mereka feel different. Banyak sekali
teman-teman yang beli di Sambal alu itu
sudah bukan lagi tentang ayam bakarnya
enak, sambalnya enak. Tapi kalau aku
beli di Sambal alu tuh aku tuh udah
merasa kayak ngumrohin
karyawan-karyawannya kayak gitu. Aku tuh
merasa kalau aku beli di Sambal alu tuh
aku tuh merasa ikut berpahala. Nah, ya
seperti itu. Hal yang seperti itu kan
tidak bisa dicompare dengan kompetitor
lain, Mas. Susah untuk dicompare. Kan
itu yang menurutku menjadi daya saing
yang kuat ya untuk sambal alu. Terus
yang selanjutnya adalah di Sambal alu
itu wow experience-nya. Wow. Experience
itu adalah salah satunya sambal alu itu
memberikan experience makan sambal
sepuasnya, memberikan menu menu
tradisional yang keseluruhan itu otentik
hanya diberikan di rumah makan Sambal
alu. Terus Sambal alu pun juga
memberikan experience ketika customer
masuk itu customer itu akan disuguhkan
pengalaman disambut sukacita oleh para
karyawan. Nah, kayak greeting selamat
datang. siap makan sambal sepuasnya.
Begituun pas pulang mereka juga akan
disambut dengan hangat ee dengan ucapan
terima kasih alu cinta padamu. Selain
itu juga di produk mereka juga makan
sambal sepuasnya itu disuguhkan
sealu-alunya. Boleh makan sepuasnya di
tempat gitu harus habis kalau sanggup
menghabiskan gitu. Nah, terus sisi lain
wow experience Sambal alu itu ada di
pelayanan salah satunya ada di handling
komplain kami. Sambal alu diajarkan
ketika ada yang komplain, kami ingin
membuat customer yang komplain dari
benci, enggak suka karena komplain jadi
cinta. Caranya seperti apa? Mereka
ketika komplain, misalkan contoh
ketinggalan nih sambal, ketinggalan nih
timun misalkan mereka boleh menyampaikan
kepada kami, kami akan ganti itu bahkan
full. Jadi enggak cuma diganti sambalnya
atau timunnya, Mas, tapi diganti satu
menu dan diantarkan sampai rumah gitu.
Setiap yang memberikan kritik dan saran,
setiap yang memberikan komplain, kami
terima dengan baik. Bahkan kami kasih
komplimen rasa terima kasih berupa
produk gitu. Jadi insyaallah
mudah-mudahan wow experience itu yang
akan diterima. Mudah-mudahan bisa
menjadi salah satu faktor sambal alu
diterima oleh masyarakat Bandar Lampung.
Dan kita punya visi- misi yang kuat sih.
Salah satu visi kita itu kan kita pengin
punya memperkuat lokal menjadi inspirasi
dan membangun peradaban.
Menjadi lokal champion itu adalah kita
ingin menjadi juara di semua daerah di
mana nanti kita existing. Kalau di
Bandar Lampung berarti ingin menjadi
hero di Lampung. heronya itu bukan
menjadi produk kebanggaan. Misalkan
contoh kayak produk di Lampung itu yang
khas gitu, tuh tidak. Tapi ingin jadi
juara itu juara yang memberikan
kebermanfaatan gitu. Jadi penginnya di
Lampung itu adalah juara memberikan
kebermanfaatan kepada masyarakat di
sekitarnya. Menginspirasi itu lebih ke
apa? Prestasinya, menginspirasi
kegiatan-kegiatannya, value-value-nya.
Mudah-mudahan walaupun kami ini masih
UMKM kecil bisa menginspirasi
teman-teman nasional. gitu. Terus
membangun peradaban adalah kami lumayan
fokus sama pendidikan sih, Mas, gitu.
Maka kami punya daycare untuk anak-anak
karyawan. Kita juga bikin beasiswa untuk
sekolah-sekolah di Bandar Lampung. Dan
di Sambal sendiri itu ada mini
pesantren, kita ada tahsin dan semuanya
itu kita lakukan itu utuh. Kita ngajarin
nilai-nilai itu enggak cuman dari luar
tapi dari dalam secara utuh gitu. Buat
saya utuhnya itu adalah peradaban. Kalau
buat saya, saya hanya ingin mencari
sukses itu enggak cuman sukses, tapi
sukses berkah. Sukses yang mendatangkan
ketenangan, sukses yang mendatangkan
kebahagiaan, sukses yang memberikan
kebermanfaatan dunia dan akhirat. Salah
satunya ya memanusiakan manusia itu
adalah salah satu jalan bagi saya dan
perusahaan saya untuk mendatangkan
keberkahan gitu sih. Saya Dian Agustin,
owner dari Sambal Alu, Bandar Lampung.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Oh
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:32:48 UTC
Categories
Manage