Transcript
4pwBbH6h8-A • Dari 2 Ekor Kambing, Jadi Ratusan Ekor! Jual 1 Ekor Kambing Bisa Beli Rumah Cash
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0643_4pwBbH6h8-A.txt
Kind: captions
Language: id
[musik]
Nah, cuman nu sewu dari ee pemerintah
sendiri mengatur harga daging,
pemerintah juga tidak memberikan solusi
ke peternak. Itu rata-rata peternak hari
ini kesulitan jual untuk ee dagingnya,
cuman negara impor daging dari luar.
Itulah yang menjadikan peternakan kita
itu agak lesu hari ini. Seperti itu,
Mas. Ya, alhamdulillah untuk kaki petong
itu real laku tertinggi Mas R50 juta itu
Jagat Satrio. Jagat Satrio itu kambing
tidak kontes. Itu maskot saya 2014 itu
laku di 2016-2017 itu dibeli sama
peternak yang ada di Bogor itu Rp250
juta. Gak masuk akal, Mas. Kalau saya
bilang kalau orang waktu itu saya
transaksi segitu itu ya dibilang hoak.
Banyak itu yang ngentahi hoak. AK
settingan gitu, Mas. Tapi itu real saya.
Saya waktu itu dibeli Pak Yohanes itu
jagat Satrio sama darah anak Jagat
Satrio 1 sama induk kawinan sama Jagat
Satrio itu kalau enggak salah sekitar
Rp300 juta saya dapat uang waktu itu di
2017. Itu ril semua Mas. Saya laku Rp150
juta itu juga ril. Saya itu belinya R0
juta dari peternak. Jadi kalau memang
orang awam, Mas ya, orang awam di luar
yang bermain di eta tawa ngomong kambing
itu istilahnya laku R juta R50 juta itu
market. Market supaya apa? Orang beli
mahal kan gitu Mas. Sebenarnya itu real,
Mas. Jadi kambing kali gesing ini tidak
bisa dimonopoli siapapun. Baik pemain
papan atas, baik pemodal besar. [musik]
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Nama saya Ahmad Syafiudin,
tanggal lahir 1982.
Mas Sfi ya, tapi identiknya kalau di
dunia perkambingan kaki petung. Jadi
banyak orang yang tahu itu di kaki
petungnya bukan nama saya pribadi gitu.
Alamat Dusun Cendong Purworejo RT3 RW4
Sanonan Kabupaten Bitar. Untuk Google
Map-nya kaki petung farm Britar sudah
nyampai. Jadi untuk masalah nama kaki
petung ini memang diambil dari kambing
pertama saya ikut kontes. Asal muasal
muncul nama farm kaki petong itu nama
maskot saya pertama kepala merah dulu
waktu itu juara satu nasional. Pertama
kontes Bitar keduanya di kontes nasional
Probolinggo di Bentar [musik] itu Mas.
Jadi nama kaki petong diambil dari salah
satu maskot pertama kali kambing [musik]
dari kandang sini kaki petong gitu Mas.
Jadi saya menamai kambing-kambing yang
pernah bertengger nk papan atas dari
sini itu semuanya sesuai dengan materi.
Kalau bahasa jawanya kan gini Mas. Asma
itu kan kirot jopo. Asmo kirotojopo kan
gitu Mas. Jadi kan identiknya nanti
dengan nama itu otomatis secara tidak
langsung kambing itu membentuk
karakternya sendiri dengan nama. Jadi
memang kaki petung itu dinamai kaki
petung karena apa, Mas? Tulangannya itu
besar-besar seperti pring petung. Jadi
namanya kaki petong waktu itu. Itu
kepala merah waktu itu juara ekstrem
nomor satu nasional [musik]
itu mulainya melejitnya nama saya di
dunia per wedusan ya dari kaki petung
itu gitu Mas. Kalau farm kaki petung
kita fokusnya di kambing kali gesing
saja Mas. Jadi kita tidak dikomoditas
lain seperti domba, bur ataupun sanen.
Karena apa? Dari semua komoditas memang
dulu saya juga pernah bermain di domba
juga sudah pernah. Nah, di situ dari
sinilah ada istilahnya kita mengambil di
sekupnya kambing kaligesing itu. Karena
satu memang kambing etawa itu luar
biasa. Jadi luar biasa semuanya. Jadi
kalau di kambing etawa itu kan luar
biasanya satu untuk kontes identiknya
kambing etawa kali gesing itu kan kontes
Mas. Kontes itu luar biasanya kan gini
dikontes tuh kan kita satu masalah kalau
kita boleh ngomong pertarungan gengsi
lah. Jadi adu gengsi dengan kambing itu
luar biasanya dari kambingnya juga
perawatannya juga luar biasa terus dari
seninya juga luar biasa
ya. [musik] Terus dari sisi lain kambing
kaliges ini kan ada tiga grid ya. Jadi
tidak dimiliki oleh komoditas lain. Jadi
dari kambing kaliging itu ada yang
kelasnya untuk kelas daging dan susu,
ada kelas breeding seni, ada yang kelas
kontes. Tapi kebanyakan peternak itu
memandang kambing kaligeseng ini
kelirunya semua kambing kali geseng ini
mahal kambing kontes lah. Banyak
tantangannya kan di situ, Mas. Tapi
kalau istilahnya kita bisa memaksimalkan
dari beberapa poin tadi semua
mendapatkan pundi-pundi rupiah kan gitu
Mas. dari breeding seni, terus dari
breeding kontes, dari breeding susu dan
dagingnya. Susu pun untuk kambing kali
gesing ini susunya masih di nomor satu
dari komoditas lain kualitasnya. Harga
jualnya pun di susu kambing Kaligesing
ini pun juga lebih tinggi dari jenis
komoditas lain. Jadi kita fokusnya itu
kita melihara satu macam tapi sudah
bergerak nk tiga variasi gitu Mas. Jadi
kita bisa memaksimalkan di manapun.
Sumama kita beternak kecil istilahnya
kita mau memaksimalkan nk beding susu
dan dagingnya pun juga bisa. Terus
kambing kali gesing ini juga kan
walaupun itu kambing istilahnya kurang
bagus bisa beranak bagus. Kambing yang
super belum tentu anaknya juga super
gitu loh Mas. Jadi luar biasanya situ
gitu loh. Pertama saya mainnya di
kambing Jawa toh, Mas? Kambing Jawa
randu. Jadi kambing Jawa randu saya juga
pernah main terus domba. Jadi kan dari
kedua jenis waktu itu kan belum ada
komoditas lain seperti hari ini seperti
Dorper, terus Sanen, terus Bur kan belum
ada waktu itu Mas. Saya bermain kambing
itu dari 2005. Saya 2005 itu baru nikah
umur 24 tahun kalau enggak salah. Manten
anyar waktu itu, Mas. Jadi sisa-sisane
dinggi raga jadiadi manten tak tukokno
wedus gitu loh, Mas. Kalau saya domba
itu main di 2010-2011. Kalau dulu saya
kan cuman ee untuk main domba itu kan
kita cuman membangun dari relasi, Mas.
Jadi saya di sini cuman mencarikan
barang untuk domba. Waktu itu kita setor
ke Kudus. Jadi 1 minggu sekali itu satu
pickup itu sekitar 40 sampai 50 ekor 1
minggu sekali. Waktu itu domba masih di
harga sekitar R-an.000 kalau enggak
salah per kilonya. Ya, saya potong loh.
[musik]
Kalau saya di usaha itu modal uang itu
bukan yang utama. Nomor satu kita
mempunyai skill. Keduanya kita
kepercayaan. Kalau kita ngomongkan punya
modal tapi skill kita enggak enggak
punya, terus relasi atau kepercayaan
pada publik kita juga enggak punya, kita
juga enggak bisa. Tapi kalau kita punya
skill, terus punya kepercayaan di
publik, kita enggak perlu modal banyak.
Saya bermain di etawa pun pertama juga
kita enggak punya apa-apa. Kalau saya
berangkatnya mulai dari 2005 itu saya
mempunyai uang itu Rp4.500, Mas. Itu
sisanya buat biaya. Waktu itu saya kan
nikahan, Mas. Nikahan kan saya biaya
sendiri itu kan saya juga
ngumpul-ngumpulkan uang. Terus itu kan
setelah selesai buat nyaur hutang, tak
belikan [musik] kambing kaligesing ini
dua, jantan dan betina. Kepala merah
sama kepala hitam. Itu tak rawat selama
1 tahun rugi. Jadi rugi Mas. Masalahnya
kita kan belum mengetahui benar yang
namanya pemula itu kan belum mengetahui
spek kambing itu yang bagus gimana, yang
mahal gimana, terus perawatannya itu
gimana. Kita tuh kan masih masih nol.
Betul, Mas. Sebelum saya bermain kambing
kali gesing ini kan saya ngikut orang,
Mas. Jadi saya saya tamat sekolah itu
tahun 2019 2000. Saya lulusan dari SMK
Dr. Ismail Blitar, jurusan teknik ya.
Jadi kalau ngomongkan pekerjaan hari ini
sudah melenceng jauh dari waktu sekolah.
Karena sekolah saya teknik jadi mesin
perkakas. Setelah saya lulus sekolah
kita mau bekerja itu kan juga istilahnya
modal enggak ada. Sebetulnya waktu di
sekolah saya juga punya peluang baik
waktu itu, Mas. Saya masuk di 4 GTVC
Malang itu sebetulnya keterima. Cuman
dari situlah kita modalnya untuk masuk
waktu itu kalau enggak salah itu
biayanya Rp juta, Mas. Lah kan orang tua
juga enggak punya modal toh. Akhirnya
saya juga enggak jadi masuk VDC. Saya
melanjutkan sekolah taker tamat. Setelah
tamat saya bingung mau cari kerjaan di
mana lah. Teman-teman semua berangkat ke
Malaysia waktu itu. Mas mau ngikut Mas
sebetulnya cuman biayanya tuh kita
enggak punya. Waktu itu masuk ke
Malaysia lewat sekolah itu biayanya
kalau enggak salah sekitar Rp2.500.
Kalau saya itu terus terang gini, Mas.
Yo, jadi dari orang tua itu semua kan
petani [musik] toh, Mas. Bukannya kita
itu petani punya tanah yang luas gak.
Cuman dari Bapak saya sama ibu itu cuman
petani. Ibu saya buruh waktu itu di
pabrik kacang. Nguncek kacang itu, Mas.
Jadi untuk membiayai anak-anaknya
sekolah itu dari ibu saya. Karena bapak
saya kan sudah tua, Mas. Kalau umurnya
sudah 50 tahunan kan yang jelas enggak
bisa toh, Mas. Kita tuh untuk istilahnya
mencari solusi gimana-gimana yang yang
pokok ayah saya itu bekerja nk sawah
pulang terus sama gaduh sapi punya orang
gitu, Mas. Terus ibu saya tuh buruh di
pabrik kacang ngoncek kacang itu. Itu
kalau enggak salah per harine waktu itu
gajiannya kalau enggak salah sekitar
berapa ya? Rp125
kalau enggak salah, Mas. Waktu itu saya
kan dari tiga bersaudara. Jadi saya
nomor dua, kakak saya itu bekerja nk
Batam. Terus saya nomor dua laki-laki,
nomor tiga adik saya. Lah saya masih
punya tanggungan masih adik saya. Jadi
kalau kita ngomongkan di keluarga saya
itu yang dulu sudah berhasil apa sudah
diragati sampai SMA baru ngeragati adie
gitu, Mas. Saya pun sama saya sudah tam
sekolah gimana saya bisa ee nanti
istilahnya ngentasni adik saya untuk
sekolah. Ya kita tahulah yang namanya
petani untuk kebutuhan sehari-hari aja
kan minim toh Mas. Terus apalagi biaya
sekolah anak yang waktu itu dua saya
masuk di SMK, adik saya kalau enggak
salah itu masuknya sudah tamat MI. Jadi
untuk kebutuhan sehari-hari ya kita apa
adanya, Mas. Jadi memang saya
berangkatnya juga dari nol dek situ.
Jadi saya bangkitnya itu waktu tamat
dari STM dari SMK. Jadi teman-teman
kerja nk luar negeri, saya nk rumah, nk
rumah saya berpikir otak, Mas.
Istilahnya gimana nanti teman-teman saya
itu pulang dari luar negeri itu bisa
beli apa, saya juga bisa beli apa. Jadi
yang memacu istilahnya semangat saya n
situ situ. Jadi awal mula saya
mendapatkan modal juga bingung, Mas.
Kita mau bekerja itu modalnya dari mana?
Ya jelas saya tuh memutar otak gimana
kita bisa dapat modal. Akhirnya waktu
itu saya juga mancing-mancing, Mas. Jadi
ee buruh lah buruh dek sawah itu di
Lombok waktu itu di Lombok Mas cabe
modalnya kita waktu itu saya enggak
punya modal modal semangat sama ya kita
itu tadi Mas setiap hari kita kerja
flashback ke belakangan juga terenyuh
Mas jadi saya itu kan gimana kita bisa
mendapatkan modal waktu itu kan gitu loh
Mas kita mau utang bank juga enggak
punya jonggole apa utang bank kita
sertifikat juga enggak punya terus
istilahnya kita juga enggak pernah utang
hutang hutang-hutang itu kan gak pernah
takut toh Mas. Yang namanya kita itu e
orang kecil kalau kita hutang takut.
Mending kita kalau enggak punya yo diam
usaha kan gitu toh. Jadi waktu itu saya
akhirnya gini Mas menemukan suatu ide
gimana kita dapat uang tapi di situ
semuanya aman. Citak botol Mas.
Ketimbang kita jual tanah kan mending
tanah kita olah kita jual kan tanahnya
masih, Mas. Lah itu waktu itu saya cak
boto. Jadi saya membuat bata merah itu
sampai di 2.500 bata. Jadi saya pagi itu
bekerja nk sawah, nanti sore sama malam
setelah saya pulang ngaji saya cak boto
sampai pagi. Nanti pagi di sawah lagi
gitu. Itu dapat 2.500 tak jual dapat
uang 2.500 waktu itu bata merah itu per
100-nya kalau enggak salah Rp100.000
lah. Dari situlah uang Rp2.500 itu tak
buat nyewa sawah mendapatkan sawah
cengkal R50 ru. Nah, itu lekas tak buat
usaha untuk nanam cabe. Itu pun yo tak
kerjai sendiri, Mas. itu saya di sebelum
nikah yo. Jadi setelah saya punya modal
seperti itu akhirnya tak kembangkan, tak
kembangkan sampai mempunyai sewa tanah
itu kalau enggak salah 1 hektar yaitu
ada yang cabe, ada yang jagung, ada yang
pari gitu, Mas. Karena kita baunya
sendiri gitu loh, Mas. Kita
mauemburuhkan juga enggak bisa. Terus di
rumah ya juga masih kita ternak sapi.
Jadi dari sawah kita istilahnya setelah
bekerja pulang bawa rumput kasih pakan
sapi. Terus sama saya juga ternak mentok
waktu itu, Mas. Mentok. Karena kan
gimana saya itu berpikir bisa
mendapatkan hasil untuk harian, bulanan,
sama tahunan. Cuman konsep itu semua
hancur, Mas. Kalau kita istilahnya tidak
mempunyai modal besar hancur.
Nah, jadi kan kalau kita ngomongkan dari
segi usaha, dari pengalaman saya
pribadi, mending kita itu usaha satu.
Satu gimana kita pelajari setelah nanti
kita berhasil baru kita angkat
istilahnya usaha-usaha yang terpendam
itu kita angkat ke permukaan. Seperti
hari inilah istilahnya saya sudah ee
berhasil nk dunia kambing lah. Dik situ
kan waktu itu saya juga mempunyai pernah
di usaha pertanian. peternakan yang lain
itu kita angkat kan bisa karena kita
sudah ada penopang modalnya kan gitu
Mas. Itu masalnya kita berdiri sendiri
loh kita enggak cari investor loh ya.
Kalau masalah hutang punya Mas tapi
hutang dipeternak.
Tapi untuk utang untuk modal itu enggak
ada.
Enggak ada Mas. Jadi saya tuh modalnya
cuman kepercayaan itu saja. Kalau
masalah hutang istilahnya ya itu tadi
Mas kita cuman hutang nk peternak karena
kita bawa kambing dari peternak-peternak
mitra itu kan enggak bisa langsung 100%
kita langsung bayar semua, Mas. Karena
dengan jumlahnya yang juga banyak. Mitra
saya kan ada sekitar 200 sampai 300
orang itu yang berputar. Kalau kita
ngomongkan perputaran dari kambing ya
juga banyak kan gitu Mas. Nah, itu kita
kan nk sini kan cuman dari peternak itu
kan kita jadi barang ini harga
sekian-sekian kita kasih DP berapa
persen atau separuh atau apa nanti kan
setelahnya 1 minggu 2 minggu nanti kita
kasih gitu. Jadi memang saya modalnya
kepercayaan.
Jadi kebanyakan peternak itu hari ini
belum mumpuni di bidang breeding,
[musik]
tapi dia sudah melakukan istilahnya
tradingnya ataupun jual beli. Itu yang
bahaya. Kalau saya dulu sebelum saya
terjun nk dunia jual beline, saya
mempelajari dulu karakter kambing itu
gimana. Waktu itu saya 2009 itu
berangkat ke Jawa Tengah tuh belajar,
Mas. Saya cuman belajar. Jadi waktu itu
saya juga ekonomi belum mapan. Saya
mempunyai anak kecil itu tak tinggal.
Saya di Jawa Tengah 1 minggu 4 hari. 1
minggu itu, Mas. Saya enggak pulang.
Saya cuman belajar mengamati dari
kambing itu satu persatu. Lurine si A,
si B itu seperti apa toh? Terus anak
turune dari anak, putu, buyut itu
seperti apa karakternya? Karena di
kambing Kaligesing ini yang sampai
sekarang yang paling ngetren itu dari
luri tiga. Sumar, Tumpang, Basuki. Lah
itu yang tak pelajari lah. Saya di
Kaligesing itu di Purworejo itu saya
datang ke ke pemiliknya masing-masing.
Saya tanya anaknya Basuki itu di mana?
Di mana baru saya datang, Mas. Jadi saya
nk sana itu kan mesti 4 hari 1 minggu
itu seperti itu. Karena pas saya datangi
peternak satu-satu saya baru ngamati woh
pejantan ini dari anak Basuki dari
induknya ini. Ini karakternya seperti
ini. Ini punya anak karakternya seperti
ini. Oh ini punya cucu karakternya
seperti ini. Sumar tumpang sama lah.
Saya setelah di sini menguasai tentang
breeding tentang galurnya baru saya
berani istilahnya nk sini ke jual
belinya. Karena kita jual beli di etawa
seperti kita jual kambing kan kita harus
juga bisa menganalisa toh Mas. Woh
kambing ini bagus buat breeding. Woh
kambing ini tidak bagus buat breeding.
Woh kambing ini nanti besarnya buat
kontes. Oh kambing ini kambing seni
kontes. Woh kambing ini breeding. Woh
kambing ini daging. Kan kita harus bisa
toh Mas lah. Terus kambing ini dari
terahnya siapa dengan ciri fisiknya
seperti ini kan gitu. Bulunya terus
posturnya model pasnya model telinganya
itu yang banyak dibelajari kan harus
gitu Mas. Jadi agak rumitnya nk situ.
Tapi kalau kita sudah hafal satu persatu
dengan karakter masing-masing, otomatis
kan walaupun kita nanti istilahnya
sebelum kita itu nk sini mempunyai
peternak-peternak banyak, kita sudah
mumpuni, Mas.
Lah saya yang saya pegang kan gini,
sebelum kita itu berbicara pada
seseorang, kita mengarahkan seseorang,
kita harus bisa melaksanakan dulu, kita
harus mengerti dulu. Conto kulo karo
jenengan, "Mas, kambing ini bagus, Mas,
jenengan kalau breeding ini yang harga
sekian seekian sekian." Tapi kalau saya
sendiri belum melakukan, otomatis kan di
situ apa yang saya bicarakan sama
peternak, apa yang saya perintahkan ke
peternak kan cuman strategi marketing
istilahnya penjualan saja toh, Mas. Jadi
saya itu penjualan dari dulu itu kita
mengandalkan dari marketing peternak
sendiri. Saya enggak pernah promosi
media ini kambing ini bagus, ini kambing
ini anakannya bagus, gak. Tapi yang
barang yang tak kasihkan di peternak
setelah beranak itu nanti seperti apa?
Terus prediksi saya dari kecil saya
memberikan kambing ke peternak itu kecil
seperti ini besarnya jadi apa? Itu kan
yang berbicara nk situ kan. Itu juga
perlu jam terbang juga enggak lumayan
sedikit toh Mas kan gitu. Karena
pengalaman itu kan kita tidak bisa
dibukukan, tidak bisa ditulis kan gitu,
Mas. Kan rasa cuman itu kalau kita
bermain di kambing kali gesing, kalau
kita istilahnya mau hati-hati dalam
istilahnya menjalankan bisnis itu ya nk
situ rata-rata kan orang yang jualan
kambing kali gesing itu kan 1 2 tahun
sudah habis. [musik] Karena apa? Sebelum
dia itu jualan dia tidak ee belum bisa
mengamati dari kambing tersebut. Asal
jual ini harga sekian sekian sekian kan
gitu, Mas. Karena kambing kaligesing ini
kan identik dengan kambing seni lah.
Banyak peternak pemula sendiri yang
tidak paham dengan speknya itu masuk ke
gridnya daging [musik]
atau gridnya seni breeding atau gridnya
kontes lah. Yang jualan otomatis yang
jualan instan-instan ngomong ini cempe
kelas kontes kan gitu Mas. Supaya apa
harganya mahal. Nanti setelah dibeli
peternak ternyata dikonteskan juga
enggak masuk otomatis peternak juga
kecewa. lah kita mengecewakan peternak
satu otomatis [musik] secara tidak
langsunglah ini sudah membawa 10
peternak 10 peternak membawa 20 peternak
kan gitu tuh Mas jadi [musik] market
saya nk situ
populasinya berapa
kalau di kandang hari ini pan sekitar
100-an kalau di peternak banyak Mas saya
megang peternak mitra itu sekitar 200-an
orang lebi [musik] Mas di mitra kalau
kita ngomong satu peternak itu pegang 10
sudah 2.000 kambing kan gitu. Itu kan
perputaran saya kan setiap hari ini kan
di situ. Jadi kan kita ngambil hari ini
kita ngambil di mitra yang wilayah sana
besok setelah ini laku besok ngambil di
wilayah sana wilayah sana kan gitu Mas
enggak ada habisnya. Jadi semua yang ada
nk kandang ini semua ya hasil biding
mitra semua. Malah kita ke pasar jual.
Kalau perputaran uang saya enggak pernah
ngitung Mas. Kalau kita enggak bisa
narget sehari keluar berapa, Mas?
Rata-rata ya kita kan kalau ngomong
peternak yang istilahnya sudah e banyak
ke sini satu hari ya kita kadang ya bisa
sampai 10 ekor kadang ya cuman 2 ekor
tapi kita hitungannya kalau saya itu
presentasinya per bulan kita per bulan
mengeluarkan kambing berapa ekor sampai
150 ekor keluar ada yang gridnya kelas
pasar kelas pasar kelas daging ada yang
gridnya ke breeding ada gritnya yang
sening
beberapa dari sekian banyak peternak
yang masuk ke katakori kelasen ini
paling cuman beberapa ekor gitu, Mas.
Jadi, yang banyak itu masuknya di
greitnya breeding sama gritnya daging.
Kalau saya semua ya, Mas. Karena kan di
sini kan kita punya mitra ya, Mas. Jadi
kita punya mutra itu kita fokuskan
gimana kita itu bisa antara mitra dan
mitra itu ikut kaki petung itu ada
fatback-nya. Kita itu sama peternak itu
istilahnya ya kita tuh kerja sama lah
simbiosis mutualisme. Kita sama-sama
menguntungkan. Peternak juga dapat
untung saya juga dapat untung. Jadi saya
peternak itu menata peternak dari awal.
Peternak punya modal berapa pun saya
bisa. Seama bah saya punya modal Rp2.500
Mama jenengan saya mau mitra saya mau
jenengan olah mau jenengan tata.
Jenengan kasih apa? Tak kasihkan dua
Rp2.500. Tapi speknya yang seperti ini
lah. Nanti sambil belajar mengolah dari
awal istilahnya kambing kan otomatis
dengan harga segitu kan satu biasanya
kambing itu kan rusak enggak normal gitu
loh Mas. Enggak normal pertumbuhan atau
apaah nanti kan peternak kita bina
supaya apa ini bisa berkembang dari
Rp2.500 gimana itu bisa berkembang. Jadi
orientasi kita ke peternak itu gimana
itu berkembang. Terus kita berikan
edukasi ke peternak sendiri. Gimana cara
breeding yang benar tuh seperti apa? Lah
peternak hari ini juga dituntut oleh
kreativitasnya peternak. Jadi hari ini
saya mengedukasi peternak kambing
kaligesing ini bukan nk sekup kontesnya.
Kontes itu cuman nk sini bonus bagi
saya. Kalau keluar kambing yang bagus
itu bonus. Tapi gimana kita bisa
memaksimalkan dari gridnya terendah itu
kita bisa dapat keuntungan. peternak itu
semata-mata pelihara kambing kaligeseng
ini nanti bukan bertujuannya kambing
saya beranak bagus supaya laku mahal gak
gimana peternak itu nanti breeding itu
bisa berkembang lah di situ bisa
memaksimalkan barang yang ada walaupun
di gridnya grid pasar pun masih bisa ada
keuntungan saya ngambil dari peternak
rata-rata sampai ada yang 1 bulan
setengah 2 bulan setengah ada yang 5
bulan ya kita tergantung kebutuhan
peternak
jadi saya terus berin inovasi ya. Karena
di sini kan saya menanam di peternak,
otomatis saya memanen lagi toh, Mas.
Lah, dengan keadaan panca pasar hari ini
yang naik turun, turunnya juga enggak
kira-kira kan gitu toh, Mas. Apalagi
hari ini ya kita perlu prihatin di dunia
peternakan rodok nangis, Mas. Terutama
di dunia peternakan di bidang dagingnya.
Harga daging itu kan sudah diatur oleh
negara juga sekian-sekian toh, Mas. Nah,
cuman nu sewu dari ee pemerintah sendiri
mengatur harga daging, pemerintah juga
tidak memberikan solusi ke peternak. itu
rata-rata peternak hari ini kesulitan
jual untuk e dagingnya cuman negara
impor daging dari luar. Itulah yang
menjadikan peternakan kita itu agak
lesu. Hari ini seperti itu, Mas.
Terutama nk ee sekupnya nk daging kan
gitu. Hari ini domba pun juga nangis,
Mas. Kita istilahnya untuk operasional
saja enggak nutut. Makanya kan kalau
kita cuman nk daging saja seperti itu.
Makanya kalau saya nk kambing kali
gesing itu kan e kita daging juga bisa
bersaing, breeding juga bisa bersaing,
seni ada lah. Di sinilah saya juga
menciptakan istilahnya kreativitas saya
sendiri. Kita juga memikirkan peternak.
Gimana peternak itu bisa memangkas cost
operasional supaya ada keuntungan. Kalau
kemarin-kemarin sih kita masih belum
berpikiran sampai situ karena masih
harga pasarnya masih bagus. Cempe itu
rata-rata kalau kemarin tuh yang
kualitas dari peternak saya yang
istilahnya grid-nya grid sale ya itu
kita jual masih di angka R juta Rp2.500
masih laku. Tapi sekarang cempe yang
kualitasnya kurang bagus itu rata-rata
di pasaran yang laku kan cuma Rp1.250
Rp1.300 sampai Rp1.500. Sedangkan kalau
itu peternak itu merawat dari buntingnya
terus dari beranak dari jual itu kan gak
dapat keuntungan Mas. Kalau di sini kita
tidak bisa mengolah pakan yang
benar-benar bisa untuk peternak.
Ee rata-rata kan gini. Jadi peternak itu
kan kebanyakan kambing kalig gesing ini
kan untuk cempe itu kan ditambah susu
toh, Mas. Kalau beranak dua otomatis kan
susu indonnya enggak cukup. Nah, itu
rata-rata ditambah susu supaya apa?
Kelihatan badannya bagus. Nanti kalau
dikeluarkan waktu sudah lepas sapi, umur
3 bulan 4 bulan itu kan cepat laku kan
gitu loh, Mas. Tapi kalau kita tambah
susu 1 hari 1 ekor itu nk 1 liter. 1
liter kalau kita pakai susu sapi pun
enggak bisa maksimal. Kita pakai susu
sapi. Kalau di sini susu sapi kita
belinya R.500. Tapi per daerah beda lah,
Mas. Yo, harga itu variatif. Kalau
12.500
1 hari 1 ekor. Berarti kan kalau kita
kalikan dek 3 bulan sudah berapa? 10
hari kan sudah 130. 130 * 3 berarti kan
sudah 400 1 bulan dik 1 bulan 400 terus
kalau dek 3 bulan 4 bulan 400 * 4
Rp1.200 kalau kita jual cempitnya cuma
laku Rp1.250 ini kan habis Mas jadi
peternak kan juga enggak dapat apa-apa
terus saya sendiri yang jual mau ngambil
keuntungan berapa juga bingung Mas
mesakno peternak lah lek lah ii payune
me sak mene lah kita mau ambil
keuntungan Rp50.000 Rp100.000 enggak
cukup untuk operasional. Itu yang kita
harus putar otak di situ. Makanya hari
ini saya menciptakan lagi istilahnya di
sini untuk starter fit ya. Jadi fit
starter itu untuk kebutuhan cempe 1
bulan setengah sampai ke 5 bulan sampai
ke atas. Itu kan sudah kita hitung Mas
dari kebutuhan cempe itu proteinnya
berapa, karbonya berapa, TDN-nya berapa.
Berarti kebutuhan cempe 1 hari itu kan
antara 1 sampai 2 ons starter pakan
starter tadi lah itu kan kita pakai
pakan starter itu jualnya nk beternak
Rp10.000 per kilo.
Komposisinya kita dari 16 macam. Jadi
seperti ada dari unsur karbohidrat,
serat sama protein. Yang jelas kan dari
bahan bakunya kanu Mas, serat, protein,
karbohidrat sama tambahan lain-lain.
Jadi lain-lain kan seperti pemacu
pertumbuhan, pemaju untuk pertumbuhan
bulu, tulang. Nah, di situ kita
campurkan ada 16 macam dan di situ kan
kebutuhan cempe yang sudah tak aplikan
di kandang ini kan. Jadi yang seperti
ini sudah enggak nyusu, Mas. Nih, ini
sudah kita pakai costnya cuman satu ekor
cempe itu 1 sampai 2 ons per hari.
Berarti kan biayanya cuman 2.000 per
hari sama air putih. Itu aja lah. Semua
cempe itu kita sape seperti ini. Ini kan
umur sekitarnya 2 bulan 2 bulan, 2 bulan
setengah lah. Ini kan susu bisa kita
perah dari peternak lah. Susu kita jual
kan gitu. Jadi kita juga memberikan
solusi nk peternak seperti itu lah. Susu
itu kita jual, kita tampung lagi nk
sini. Ini dibutuhkan lagi untuk
peternak-peternak mitra saya yang
kontes. Jadi untuk cetut kontes tetap
kita kasih susu. Jadi perputarannya di
situ gitu, Mas. Kalau kita enggak
memikirkan beli lagi dari peternak, kita
enggak memikirkan sampai n situ Mas.
Asalkan kita jual untung ya sudah. Tapi
kan gimana kita itu sama peternak itu
peternak ngikut kita itu ada
feedback-nya nk situ kita ada
pertanggungjawaban masalah penjualan
hasil breedingnya. Nah, terus ngolah
dari gimana kita memecahkan permasalahan
nk peternak itu supaya ada nk sini untuk
kos pengeluarannya bisa ditekan kan gitu
toh Mas. Kalau kambingnya bagus sih oke
aja enggak apa-apa kita ragat pakai
susu. Tapi kalau kambingnya kualitasnya
sedang atau kualitasnya cuman di pasar
kita jual cuman dik laku Rp1.300 Rp1.250
peternak nangis ini, Mas.
Kalau kita boleh ngomong, kalau kita
boleh lihat nk potensi dek wilayah
terutama nk pedesaan, kita pun mau
mendapatkan pundi rupiah sebetulnya
gampang kalau kita bisa kreatif. Apalagi
pemuda hari ini didukung dengan
teknologi juga, Mas. lah di sini ya
akhirnya kita bisa menggiatkan untuk
pemuda itu satu beternak dan bertani.
Karena untuk penopang kehidupan yang
jelas dari dua unsur inilah yang
istilahnya bisa menopang kehidupan itu
baik kehidupan di pedesaan di wilayah
maupun itu di negara. Negara sendiri
tanpa pertanian dan peternakan juga
susah toh Mas. Kan gitu. Kalau kita
sudah dijajah oleh masalah pang negara
juga habis Mas. Kan gitu toh walaupun
teknologi pun canggih kan gitu lah.
Terus peternak hari ini tidak bisa
digusur dengan teknologi kan gitu Mas.
Kalau teknologi perkembangan teknologi,
kemajuan teknologi dengan sekarang ada
AE apa ae yaah itu kan kemajuan
teknologi pesat Mas. Cuman beternak itu
kan gak bisa, Mas. Berernak itu adalah
rasa loh, Mas. Kita rasa beternak itu
kita rasa dengan ternak itu kan gimana
beternak kita gimana memelihara itu kan
rasa itu kan gak bisa digantikan oleh
teknologi kan di situ
kita itu memang dari awal saya nol Mas
dari awal saya nol tadi yang tak
bicarakan di depan saya itu pelihara dua
ekor rugi setelah itu saya beralih ke
sapi. Sapi juga saya dihapusi sama teman
dibohongi sama teman saya juga rugi.
Saya beralih kambing. Kambing juga mati
waktu itu, Mas. Jadi perjalanan seperti
itu. Terus saya gaduh waktu itu, Mas.
Gaduh satu ekor kambing itu yang belikan
kakak saya Rp1.500. Itulah bibitnya yang
pertama istilahnya untuk bibit bangkit
sampai hari ini nk situ Rp1.500 itu
waktu itu lah. Terus dengan berjalannya
waktu saya menginjak ke dunia jual beli
di 2011 itu kan harga hancur. Harga
kambing hancur. Hampir seperti inilah
tapi lebih parah 2011. Nah, itu saya
mulai berangkat terus 2013 saya hancur,
Mas. Jadi, saya di sini e ilmu belum
mumpuni, uang saya banyak yang
istilahnya itu rugi untuk jual beline.
Waktu itu saya malah jual tanah hasil
dari kerja saya sebelum nikah. Saya kan
punya tadi kan punya sewan tuh 1 hektar
toh, Mas. Nah, itu dari situ saya bisa
beli tanah itu kalau enggak salah waktu
itu masih harga perunya tuh sekitar
Rp750.000.
Tak jual tak buat nambeli rugi Mas.
Nambeli rugi waktu itu 2012 di situ
tanah tak jual tak buat namble rugi lah.
Saya ini dari dulu memang gini Mas dari
sesuatu mana yang istilahnya saya rugi
saya harus dapat impasnya kalau bisa
lebih. Jadi saya kan dari 2010 memulai
jual beli di sini saya kan masih
melakukan penelitian lah. Jadi masalah
penelitian sistemnya jual beline kayak
opo lah di dunia kambing. Opo seperti
pasar kita beli jual ndak. Jadi saya
mempelajari jual beli, mempelajari
sistem. Akhirnya terciptanya sistem itu
saya mempunyai sistem itu
2017 ke atas 2018 lah. Saya baru
merasakan bisa merasakan di sini
perputaran keuntungan itu di 2020. Jadi
perjalanan dari 2010 istilahnya kita itu
dapat merasakan hasil kerja kita itu di
2020 [musik] selama senggang 10 tahun.
Ya, yang jelas dari saya kerugian saya
jual tanah, yang jelas dari tanah saya
juga sudah banyak. Terus ya kita buat
kebutuhan sehari-hari. Mobil juga ada
[musik]
ya. Alhamdulillah peternak yang kita
bina [musik] Mas ya. Alhamdulillah ya.
Satu memang tujuan saya Mas bukan tujuan
utama kita itu bukan masalah kita
mencari keuntungan. Jadi gimana tujuan
tujuan saya awal itu gimana kita itu
bisa di sini meningkatkan perekonomian
masyarakat kecil menengah [musik] ke
atas kan gitu Mas dengan beternak secara
tidak langsung peternak kecil itu kita
bina kita bimbing dari hasil breedingnya
itu kalau keluar bagus ya kita belinya
juga mahal kita tidak sombonglah Mas di
sini peternak saya tuh juga ada yang
sudah beli tanah ada yang juga sudah
buat beli rumah itu dari [musik] ternak
dengan istilahnya pokoknya manut dengan
sistem kita loh. Karena apa? Beternak
itu yang kita jaga di sini kan dari
kesabaran kita toh, Mas. Kita kan enggak
bisa instan. Kalau kita mau hasil
banyak, kita juga harus sabar gimana
kuantitas ini menuju kualitas kan gitu.
[musik] Kalau kuantitas saja otomatis
kita untuk kebutuhan sehari-hari kan
belum bisa mencukupi. Tapi kalau dengan
kuantitas dan kualitas kita jual cempe
satu aja di peternak. Ada yang kita beli
R30 juta, ada yang kita beli Rp40 juta,
ada yang kita beli Rp50 juta.
Cempe itu, Mas.
Iya. Yang kelas ke kontes, tapi yang
cempe biasa kita beli ke peternak
seperti yang ada di samping ini. Kita
beli di peternak rata-rata nanti harga
sekitar R5 juta. Yang kita beli Rp50
juta itu waktu itu kita nk kelas D, Mas.
Sudah kelas D R5 juta itu. Itu di kelas
D itu yang saya beli Rp50 juta itu
mahkota raja itu saya ngambil dari Peter
Kediri itu Rp50 juta itu kelas [musik]
D. Ini kan kambing yang di kandang ini
yang bagus-bagus itu kan juga hasil
biding mitra. Saya beli 30, 35, 25 itu
jempe ya. Makanya kan kalau kita nk sini
peternak itu istilahnya nurut sama kita
masal kita itu nk peternak enggak ada
mas istilahnya untuk ngapusi enggak ada
lah saya. Prinsip saya menata. [musik]
Jadi prinsip saya itu gini Mas, gimana
kita itu bisa membantu masyarakat kecil
menengah itu supaya menopang
kehidupannya itu dari beternak gitu loh,
Mas. Tapi kuncinya juga harus sabar.
Peternak sendiri juga harus ngikuti
alurnya kita kan gitu loh, Mas. Kalau
peternak enggak sabar, lekas mulai
beternak terus beranak jelek terus wah
ngopeni wedus tukane larang anake kok
elek doleh rugi ganti [musik] ya gak
jadi Mas karena di peternak itu yang tak
pelajari yang keluar kambing bagus-bagus
itu rata-rata orangnya yang rawat itu
orangnya ikhlas-ikhlas semua kalau kita
hitung secara matematis enggak ketemu
dietawa seperti itu. Tapi kalau kita
penggemukan bisa
enggak ketemu Mas
ya. Alhamdulillah untuk kaki petung itu
real laku tertinggi Mas. R250 juta itu
Jagat Satrio. Jagat Satrio itu kambing
tidak kontes. Itu maskot saya 2014 itu
laku di 2016-2017 itu dibeli sama
peternak yang ada di Bogor itu Rp250
juta itu realil. Kambing itu tidak
kontes. Waktu itu kambing yang kontes
klase grand champion lakune di bawah
200. itu sama anak-anakannya dan di
peternak saya satu Selo Jagat itu laku
175 terus satunya putra mahkota itu yang
dibeli orang Jakarta Masali Jakarta itu
laku 188 terus cucunya jagat itu yang
yang ada di Bagus Fam sengat ini laku
Rp50 juta. Saya membuktikan bahwa
kambing breeding itu lebih mahal dari
kambing kontes itu di situ Mas karena
apa? Kambing breeding itu kan mesin ya
Mas mesin pencetak lah. Sebenarnya yang
mahal itu kan mesin pencetaknya bukan
dari produksinya. Jadi jagat satro itu
bukan kambing kontes, tapi dia kambing
breeding. Gak masuk akal, Mas. Kalau
saya bilang, kalau orang waktu itu saya
transaksi segitu itu ya dibilang hoak.
Banyak itu yang ngentai hoak, hoak
settingan gitu, Mas. Tapi itu real saya.
Saya waktu itu dibeli Pak Yohanes itu
jagat Satrio sama darah anak Jagat
Satrio 1 sama induk kawinan sama Jagat
Satrio itu kalau enggak salah sekitar
Rp300 juta saya dapat uang waktu itu di
2017.
2018 saya jual lagi Gadeng Satrio yang
buat logo saya kaki petung itu. Itu kan
Gadeng Satrio itu laku Rp150 juta itu
real. Itu dibeli sama orang Jepara.
Terus saya beli lagi kambing Rp50 juta
putra mahkota itu laku di 2022
kalau enggak salah itu. Saya dulu juga
enggak bisa bayangkan, Mas gimana
kambing itu kok lakunya segitu itu bener
apa gak. Waktu saya mau mulai bermain
kambing leh paling ngapusi, Mas. Tapi
kenyataan di Lampangan setelah saya
main, setelah di sini saya menjadi
pemain, saya di sini juga memelihara
lah. Ternyata memang yo juga kalau
kualitas kambing itu memang bagus,
memang juga lakunya bagus. Hari inilah
kita ngomongkan kambing ini harganya
drop, Mas. Yo, di kelasnya di kelas
daging. Tapi kambing yang kualitasnya
bagus, kita megang uang R5 juta atau R5
juta, kita cari kambing kontes. Belum
tentu dapat ya, Mas. Nah, di sinilah
sisi sisi baiknya dari kambing
kaligeseng di sini. Kalau ngomongin
kambing yang sekupnya biasa di pasar,
walaupun hari ini kita bawa satu truk
pun dapat harga Rp1.500 indukan cempe
Rp1.500, Rp1.300 dapat
itu real semua Mas. Saya laku Rp150 juta
itu juga ril. Saya itu belinya R0 juta
dari peternak. Jadi kalau memang orang
awam, Mas ya, orang awam di luar yang
bermain di etawa ngomong kambing itu
istilahnya laku R juta R50 juta itu
market. Market supaya apa? Orang beli
mahal kan gitu Mas. Sebenarnya itu real,
Mas. Jadi kambing kali gesing ini tidak
bisa dimonopoli siapapun. Baik pemain
papan atas, baik pemodal besar. 2017 tuh
kambing yang bagus-bagus dihabiskan sama
gudang garam sama senarmas, Mas. Supaya
apa? Kambing yang masuk 10 besar, 1
sampai 10 dibeli semua rata-rata. Waktu
itu kontes setelah 2018 kambing kayak
habis. Karena pemahaman mereka beli
kambing yang gridnya bagus dikawinkan
dengan gridnya bagus keluar kambing
bagus. Kalau keluar kambing bagus dari
sinilah kita menata lagi market. Orang
kalau mau beli kambing yang bagus ya
harus dari farm kita lah. Di situ enggak
bisa lah. Di situlah uniknya luar
biasanya kambing tawa dek situ gitu loh,
Mas. Jadi tidak bisa dimonopoli
siapapun. Tapi kalau jenisnya komoditas
lain bisa dimonopoli oleh pemodal besar.
Tapi kalau kambingnya tawa enggak bisa,
Mas. Seperti sayalah tahu kambing. Woh,
kambing ini kualitasnya bagus, tak beli
semua, tak breedingkan. Belum tentu
nanti breedingnya itu hasilnya bagus.
Ya, contohnya seperti itu, Mas. Jagat
Satrio itu bukan kambing kontes. Tapi
mengapa Jagat Satrio mengeluarkan
kambing kelas kontes semua? Anaknya juga
grand champion. Sedangkan kambing yang
grand champion belum tentu anakannya
masuk ke kontes gitu loh, Mas. Makane
kambing tawa hargane tetap mahal nk
sekelase seni nk situ. Bukannya kita itu
marketing terus istilahnya kita jual
beli laku sekian itu istilahnya buat
meng-up di media gak. Itu real itu. Itu
tahun 2023 saya tuh beli dari Kediri itu
R225 juta itu [musik] punya Erico. Saya
pelaku sendiri loh beli loh. Bukannya
saya jual loh. Itu dibeli orang Jawa
Tengah dua ekor sama bentung itu laku
Rp550 juta lah. Itu bukan kita up media
bukan Mas. real itu. Tapi kalau orang
lain ya kemungkinan alah iku me gur
up-apan mediah wedus ben payu kan untung
Mas. Tapi sebenarnya itu real itu
berbicara fakta saya.
Makanya kalau kita nk sini beternak itu
yang tak ajari nk peternak yang tak buat
pesan untuk peternak. Beternaklah yang
benar. Perbaiki [musik] kualitas
ternaknya. Manakala nanti ternaknya itu
sudah berkualitas, nk situlah nanti
pansa pasar akan terbentuk sendiri dek
pamit itu. Karena apa? Orang itu akan
mencari bibit-bibit yang berkualitas.
Lah kambing yang berkualitas itu tidak
bisa gak usah kita tawar-tawarkan di
media itu laku, Mas. Tapi kalau kambing
itu kualitasnya kurang, kita tawarkan di
media, kita bawa ke pasar belum tentu
laku. Itu Mas. Makanya peternak-peternak
saya hari ini saya juga terus upgrade
terus untuk kualitas kambing. Karena ee
di seni kontes sendiri pun dari tahun ke
tahun ke tahun itu perkembangannya juga
luar biasa. Karena kita ada 12
parameter. Kita mengejar 12 parameter
itu kalau dulu di tahun sekitar 2014
kita tuh kontes tuh masuk 7uh parameter
aja sudah juara, Mas. Sekarang kita tuh
masuk ke 11 parameter belum tentu juara
Mas. Berarti kan perkembangan bleeding
itu kan luar biasanya di situ. Dulu
kambing yang kepalanya mluwer-mblur gini
itu pno satu kontesan dari satu audien
kontes peserta paling ada satu dua
sekarang rata-rata semua gini bulun
driwul yang driwul-driwul paling di satu
event itu beberapa kambing sekarang
semua dreiwul jadi peternak sekarang
memang juga mulai juga breedingnya juga
ada kemajuan satu didukung dengan
informasi teknologi dari media terus
keduanya belajar dari pengolahan pakan
teknologi pakan kan gitu toh ya
pengelolaan kandang karena saya
berpikirnya n sini gimana kambing ini
yang sudah menjadi plasputfah Indonesia
tetap bertahan sampai anak [musik] cucu
kita. Jadi kita bertahan pada produk
asli dari Indonesia. Walaupun nenek
moyangnya ini dulu juga dari India Jamna
kan gitu Mas. Tapi kan kambing etawa
yang asli hari ini tidak seperti kambing
yang ada di Indonesia. Nah, kambing yang
modelnya seperti ini, seperti kambing
Kaligesing hari ini tidak dimiliki oleh
negara lain lah. Ini harus bangganya
kita n situ
pesan saya untuk para peternak pemula.
Jadi, jangan berkecil hati. Kita punya
modal berapa pun kita bisa asalkan semua
kita [musik] pelajari. Saya berangkat
juga dari nol dari modal kecil. Jadi,
yang ada di dunia ini apa yang tidak
mungkin? Semua pasti mungkin. Manakala
kita menekuni dalam satu bidang.
Walaupun peternak pemula itu punya modal
sedikit, dia asalkan tekun mau belajar,
kesempatan yang namanya rezeki itu kita
gak tahu. Itu yang tak alami gitu, Mas.
Saya dulu juga orang enggak punya
apa-apa. Tapi dengan ketekunan saya,
dengan kegigihan saya, dengan perjuangan
saya, di titik sampai titik hari ini,
kita bisa menikmati apa yang kita
perjuangkan dulu. Jadi untuk peternak
pemula walaupun punya modal sedikit,
belajar banyak di para-para peternak
yang sudah [musik] sukses ataupun
seniornya banyak belajar. Karena apa? Di
semua wilayah itu peternak itu banyak
lah. Sekarang peternak yang istilahnya
sudah bisa itu mengajari peternak pemula
itu banyak yang [musik] enggak plelit
ilmulah hari inilah, Mas. Karena kita
sama-sama ini satu perjuangan untuk
mempertahankan genetik ras kali gesing
ini sebagai plaspan upra Indonesia.
Terus untuk para broker atau
pemain-pemain di kambing Kaligesing ini
gimana kita itu bisa nk sini menjaga
dari investor-investor besar. Jadi kalau
ada investor besar yang di sini mau hobi
ke dunia kambing, mari kita jaga. Jangan
kita ambil istilahnya manfaat
dimanfaatkan untuk nanti istilahnya jadi
rugi. Karena apa? Dengan adanya
investor-investor besar otomatis bisa
mendongkrak harga kambing kaligesing
ini. Jadi seperti itu, Mas. Jadi semua
itu walaupun peternak pemula kalau mau
belajar mau konsisten di situ banyak
istilahnya kita berkesempatan mempunyai
sukses. Makanya saya di peternak pemula
saya saya bina gimana kita itu bisa
sukses bersama. Bukan saya saja yang
sukses, tapi peternak gimana bisa
merasakan dari hasil breeding kambing
Kaligesing ini. Terima kasih yang sudah
menonton channel dari Pecah Telur.
Sebelum tak akhiri, saya nama Ahmad
Syafiin e alamat di Desa Centong,
Purworejo Sanan Kulon, Kabupaten Blitar
RT3 RW4. Saya akhiri. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.