Dari 2 Ekor Kambing, Jadi Ratusan Ekor! Jual 1 Ekor Kambing Bisa Beli Rumah Cash
4pwBbH6h8-A • 2025-11-14
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [musik] Nah, cuman nu sewu dari ee pemerintah sendiri mengatur harga daging, pemerintah juga tidak memberikan solusi ke peternak. Itu rata-rata peternak hari ini kesulitan jual untuk ee dagingnya, cuman negara impor daging dari luar. Itulah yang menjadikan peternakan kita itu agak lesu hari ini. Seperti itu, Mas. Ya, alhamdulillah untuk kaki petong itu real laku tertinggi Mas R50 juta itu Jagat Satrio. Jagat Satrio itu kambing tidak kontes. Itu maskot saya 2014 itu laku di 2016-2017 itu dibeli sama peternak yang ada di Bogor itu Rp250 juta. Gak masuk akal, Mas. Kalau saya bilang kalau orang waktu itu saya transaksi segitu itu ya dibilang hoak. Banyak itu yang ngentahi hoak. AK settingan gitu, Mas. Tapi itu real saya. Saya waktu itu dibeli Pak Yohanes itu jagat Satrio sama darah anak Jagat Satrio 1 sama induk kawinan sama Jagat Satrio itu kalau enggak salah sekitar Rp300 juta saya dapat uang waktu itu di 2017. Itu ril semua Mas. Saya laku Rp150 juta itu juga ril. Saya itu belinya R0 juta dari peternak. Jadi kalau memang orang awam, Mas ya, orang awam di luar yang bermain di eta tawa ngomong kambing itu istilahnya laku R juta R50 juta itu market. Market supaya apa? Orang beli mahal kan gitu Mas. Sebenarnya itu real, Mas. Jadi kambing kali gesing ini tidak bisa dimonopoli siapapun. Baik pemain papan atas, baik pemodal besar. [musik] [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Ahmad Syafiudin, tanggal lahir 1982. Mas Sfi ya, tapi identiknya kalau di dunia perkambingan kaki petung. Jadi banyak orang yang tahu itu di kaki petungnya bukan nama saya pribadi gitu. Alamat Dusun Cendong Purworejo RT3 RW4 Sanonan Kabupaten Bitar. Untuk Google Map-nya kaki petung farm Britar sudah nyampai. Jadi untuk masalah nama kaki petung ini memang diambil dari kambing pertama saya ikut kontes. Asal muasal muncul nama farm kaki petong itu nama maskot saya pertama kepala merah dulu waktu itu juara satu nasional. Pertama kontes Bitar keduanya di kontes nasional Probolinggo di Bentar [musik] itu Mas. Jadi nama kaki petong diambil dari salah satu maskot pertama kali kambing [musik] dari kandang sini kaki petong gitu Mas. Jadi saya menamai kambing-kambing yang pernah bertengger nk papan atas dari sini itu semuanya sesuai dengan materi. Kalau bahasa jawanya kan gini Mas. Asma itu kan kirot jopo. Asmo kirotojopo kan gitu Mas. Jadi kan identiknya nanti dengan nama itu otomatis secara tidak langsung kambing itu membentuk karakternya sendiri dengan nama. Jadi memang kaki petung itu dinamai kaki petung karena apa, Mas? Tulangannya itu besar-besar seperti pring petung. Jadi namanya kaki petong waktu itu. Itu kepala merah waktu itu juara ekstrem nomor satu nasional [musik] itu mulainya melejitnya nama saya di dunia per wedusan ya dari kaki petung itu gitu Mas. Kalau farm kaki petung kita fokusnya di kambing kali gesing saja Mas. Jadi kita tidak dikomoditas lain seperti domba, bur ataupun sanen. Karena apa? Dari semua komoditas memang dulu saya juga pernah bermain di domba juga sudah pernah. Nah, di situ dari sinilah ada istilahnya kita mengambil di sekupnya kambing kaligesing itu. Karena satu memang kambing etawa itu luar biasa. Jadi luar biasa semuanya. Jadi kalau di kambing etawa itu kan luar biasanya satu untuk kontes identiknya kambing etawa kali gesing itu kan kontes Mas. Kontes itu luar biasanya kan gini dikontes tuh kan kita satu masalah kalau kita boleh ngomong pertarungan gengsi lah. Jadi adu gengsi dengan kambing itu luar biasanya dari kambingnya juga perawatannya juga luar biasa terus dari seninya juga luar biasa ya. [musik] Terus dari sisi lain kambing kaliges ini kan ada tiga grid ya. Jadi tidak dimiliki oleh komoditas lain. Jadi dari kambing kaliging itu ada yang kelasnya untuk kelas daging dan susu, ada kelas breeding seni, ada yang kelas kontes. Tapi kebanyakan peternak itu memandang kambing kaligeseng ini kelirunya semua kambing kali geseng ini mahal kambing kontes lah. Banyak tantangannya kan di situ, Mas. Tapi kalau istilahnya kita bisa memaksimalkan dari beberapa poin tadi semua mendapatkan pundi-pundi rupiah kan gitu Mas. dari breeding seni, terus dari breeding kontes, dari breeding susu dan dagingnya. Susu pun untuk kambing kali gesing ini susunya masih di nomor satu dari komoditas lain kualitasnya. Harga jualnya pun di susu kambing Kaligesing ini pun juga lebih tinggi dari jenis komoditas lain. Jadi kita fokusnya itu kita melihara satu macam tapi sudah bergerak nk tiga variasi gitu Mas. Jadi kita bisa memaksimalkan di manapun. Sumama kita beternak kecil istilahnya kita mau memaksimalkan nk beding susu dan dagingnya pun juga bisa. Terus kambing kali gesing ini juga kan walaupun itu kambing istilahnya kurang bagus bisa beranak bagus. Kambing yang super belum tentu anaknya juga super gitu loh Mas. Jadi luar biasanya situ gitu loh. Pertama saya mainnya di kambing Jawa toh, Mas? Kambing Jawa randu. Jadi kambing Jawa randu saya juga pernah main terus domba. Jadi kan dari kedua jenis waktu itu kan belum ada komoditas lain seperti hari ini seperti Dorper, terus Sanen, terus Bur kan belum ada waktu itu Mas. Saya bermain kambing itu dari 2005. Saya 2005 itu baru nikah umur 24 tahun kalau enggak salah. Manten anyar waktu itu, Mas. Jadi sisa-sisane dinggi raga jadiadi manten tak tukokno wedus gitu loh, Mas. Kalau saya domba itu main di 2010-2011. Kalau dulu saya kan cuman ee untuk main domba itu kan kita cuman membangun dari relasi, Mas. Jadi saya di sini cuman mencarikan barang untuk domba. Waktu itu kita setor ke Kudus. Jadi 1 minggu sekali itu satu pickup itu sekitar 40 sampai 50 ekor 1 minggu sekali. Waktu itu domba masih di harga sekitar R-an.000 kalau enggak salah per kilonya. Ya, saya potong loh. [musik] Kalau saya di usaha itu modal uang itu bukan yang utama. Nomor satu kita mempunyai skill. Keduanya kita kepercayaan. Kalau kita ngomongkan punya modal tapi skill kita enggak enggak punya, terus relasi atau kepercayaan pada publik kita juga enggak punya, kita juga enggak bisa. Tapi kalau kita punya skill, terus punya kepercayaan di publik, kita enggak perlu modal banyak. Saya bermain di etawa pun pertama juga kita enggak punya apa-apa. Kalau saya berangkatnya mulai dari 2005 itu saya mempunyai uang itu Rp4.500, Mas. Itu sisanya buat biaya. Waktu itu saya kan nikahan, Mas. Nikahan kan saya biaya sendiri itu kan saya juga ngumpul-ngumpulkan uang. Terus itu kan setelah selesai buat nyaur hutang, tak belikan [musik] kambing kaligesing ini dua, jantan dan betina. Kepala merah sama kepala hitam. Itu tak rawat selama 1 tahun rugi. Jadi rugi Mas. Masalahnya kita kan belum mengetahui benar yang namanya pemula itu kan belum mengetahui spek kambing itu yang bagus gimana, yang mahal gimana, terus perawatannya itu gimana. Kita tuh kan masih masih nol. Betul, Mas. Sebelum saya bermain kambing kali gesing ini kan saya ngikut orang, Mas. Jadi saya saya tamat sekolah itu tahun 2019 2000. Saya lulusan dari SMK Dr. Ismail Blitar, jurusan teknik ya. Jadi kalau ngomongkan pekerjaan hari ini sudah melenceng jauh dari waktu sekolah. Karena sekolah saya teknik jadi mesin perkakas. Setelah saya lulus sekolah kita mau bekerja itu kan juga istilahnya modal enggak ada. Sebetulnya waktu di sekolah saya juga punya peluang baik waktu itu, Mas. Saya masuk di 4 GTVC Malang itu sebetulnya keterima. Cuman dari situlah kita modalnya untuk masuk waktu itu kalau enggak salah itu biayanya Rp juta, Mas. Lah kan orang tua juga enggak punya modal toh. Akhirnya saya juga enggak jadi masuk VDC. Saya melanjutkan sekolah taker tamat. Setelah tamat saya bingung mau cari kerjaan di mana lah. Teman-teman semua berangkat ke Malaysia waktu itu. Mas mau ngikut Mas sebetulnya cuman biayanya tuh kita enggak punya. Waktu itu masuk ke Malaysia lewat sekolah itu biayanya kalau enggak salah sekitar Rp2.500. Kalau saya itu terus terang gini, Mas. Yo, jadi dari orang tua itu semua kan petani [musik] toh, Mas. Bukannya kita itu petani punya tanah yang luas gak. Cuman dari Bapak saya sama ibu itu cuman petani. Ibu saya buruh waktu itu di pabrik kacang. Nguncek kacang itu, Mas. Jadi untuk membiayai anak-anaknya sekolah itu dari ibu saya. Karena bapak saya kan sudah tua, Mas. Kalau umurnya sudah 50 tahunan kan yang jelas enggak bisa toh, Mas. Kita tuh untuk istilahnya mencari solusi gimana-gimana yang yang pokok ayah saya itu bekerja nk sawah pulang terus sama gaduh sapi punya orang gitu, Mas. Terus ibu saya tuh buruh di pabrik kacang ngoncek kacang itu. Itu kalau enggak salah per harine waktu itu gajiannya kalau enggak salah sekitar berapa ya? Rp125 kalau enggak salah, Mas. Waktu itu saya kan dari tiga bersaudara. Jadi saya nomor dua, kakak saya itu bekerja nk Batam. Terus saya nomor dua laki-laki, nomor tiga adik saya. Lah saya masih punya tanggungan masih adik saya. Jadi kalau kita ngomongkan di keluarga saya itu yang dulu sudah berhasil apa sudah diragati sampai SMA baru ngeragati adie gitu, Mas. Saya pun sama saya sudah tam sekolah gimana saya bisa ee nanti istilahnya ngentasni adik saya untuk sekolah. Ya kita tahulah yang namanya petani untuk kebutuhan sehari-hari aja kan minim toh Mas. Terus apalagi biaya sekolah anak yang waktu itu dua saya masuk di SMK, adik saya kalau enggak salah itu masuknya sudah tamat MI. Jadi untuk kebutuhan sehari-hari ya kita apa adanya, Mas. Jadi memang saya berangkatnya juga dari nol dek situ. Jadi saya bangkitnya itu waktu tamat dari STM dari SMK. Jadi teman-teman kerja nk luar negeri, saya nk rumah, nk rumah saya berpikir otak, Mas. Istilahnya gimana nanti teman-teman saya itu pulang dari luar negeri itu bisa beli apa, saya juga bisa beli apa. Jadi yang memacu istilahnya semangat saya n situ situ. Jadi awal mula saya mendapatkan modal juga bingung, Mas. Kita mau bekerja itu modalnya dari mana? Ya jelas saya tuh memutar otak gimana kita bisa dapat modal. Akhirnya waktu itu saya juga mancing-mancing, Mas. Jadi ee buruh lah buruh dek sawah itu di Lombok waktu itu di Lombok Mas cabe modalnya kita waktu itu saya enggak punya modal modal semangat sama ya kita itu tadi Mas setiap hari kita kerja flashback ke belakangan juga terenyuh Mas jadi saya itu kan gimana kita bisa mendapatkan modal waktu itu kan gitu loh Mas kita mau utang bank juga enggak punya jonggole apa utang bank kita sertifikat juga enggak punya terus istilahnya kita juga enggak pernah utang hutang hutang-hutang itu kan gak pernah takut toh Mas. Yang namanya kita itu e orang kecil kalau kita hutang takut. Mending kita kalau enggak punya yo diam usaha kan gitu toh. Jadi waktu itu saya akhirnya gini Mas menemukan suatu ide gimana kita dapat uang tapi di situ semuanya aman. Citak botol Mas. Ketimbang kita jual tanah kan mending tanah kita olah kita jual kan tanahnya masih, Mas. Lah itu waktu itu saya cak boto. Jadi saya membuat bata merah itu sampai di 2.500 bata. Jadi saya pagi itu bekerja nk sawah, nanti sore sama malam setelah saya pulang ngaji saya cak boto sampai pagi. Nanti pagi di sawah lagi gitu. Itu dapat 2.500 tak jual dapat uang 2.500 waktu itu bata merah itu per 100-nya kalau enggak salah Rp100.000 lah. Dari situlah uang Rp2.500 itu tak buat nyewa sawah mendapatkan sawah cengkal R50 ru. Nah, itu lekas tak buat usaha untuk nanam cabe. Itu pun yo tak kerjai sendiri, Mas. itu saya di sebelum nikah yo. Jadi setelah saya punya modal seperti itu akhirnya tak kembangkan, tak kembangkan sampai mempunyai sewa tanah itu kalau enggak salah 1 hektar yaitu ada yang cabe, ada yang jagung, ada yang pari gitu, Mas. Karena kita baunya sendiri gitu loh, Mas. Kita mauemburuhkan juga enggak bisa. Terus di rumah ya juga masih kita ternak sapi. Jadi dari sawah kita istilahnya setelah bekerja pulang bawa rumput kasih pakan sapi. Terus sama saya juga ternak mentok waktu itu, Mas. Mentok. Karena kan gimana saya itu berpikir bisa mendapatkan hasil untuk harian, bulanan, sama tahunan. Cuman konsep itu semua hancur, Mas. Kalau kita istilahnya tidak mempunyai modal besar hancur. Nah, jadi kan kalau kita ngomongkan dari segi usaha, dari pengalaman saya pribadi, mending kita itu usaha satu. Satu gimana kita pelajari setelah nanti kita berhasil baru kita angkat istilahnya usaha-usaha yang terpendam itu kita angkat ke permukaan. Seperti hari inilah istilahnya saya sudah ee berhasil nk dunia kambing lah. Dik situ kan waktu itu saya juga mempunyai pernah di usaha pertanian. peternakan yang lain itu kita angkat kan bisa karena kita sudah ada penopang modalnya kan gitu Mas. Itu masalnya kita berdiri sendiri loh kita enggak cari investor loh ya. Kalau masalah hutang punya Mas tapi hutang dipeternak. Tapi untuk utang untuk modal itu enggak ada. Enggak ada Mas. Jadi saya tuh modalnya cuman kepercayaan itu saja. Kalau masalah hutang istilahnya ya itu tadi Mas kita cuman hutang nk peternak karena kita bawa kambing dari peternak-peternak mitra itu kan enggak bisa langsung 100% kita langsung bayar semua, Mas. Karena dengan jumlahnya yang juga banyak. Mitra saya kan ada sekitar 200 sampai 300 orang itu yang berputar. Kalau kita ngomongkan perputaran dari kambing ya juga banyak kan gitu Mas. Nah, itu kita kan nk sini kan cuman dari peternak itu kan kita jadi barang ini harga sekian-sekian kita kasih DP berapa persen atau separuh atau apa nanti kan setelahnya 1 minggu 2 minggu nanti kita kasih gitu. Jadi memang saya modalnya kepercayaan. Jadi kebanyakan peternak itu hari ini belum mumpuni di bidang breeding, [musik] tapi dia sudah melakukan istilahnya tradingnya ataupun jual beli. Itu yang bahaya. Kalau saya dulu sebelum saya terjun nk dunia jual beline, saya mempelajari dulu karakter kambing itu gimana. Waktu itu saya 2009 itu berangkat ke Jawa Tengah tuh belajar, Mas. Saya cuman belajar. Jadi waktu itu saya juga ekonomi belum mapan. Saya mempunyai anak kecil itu tak tinggal. Saya di Jawa Tengah 1 minggu 4 hari. 1 minggu itu, Mas. Saya enggak pulang. Saya cuman belajar mengamati dari kambing itu satu persatu. Lurine si A, si B itu seperti apa toh? Terus anak turune dari anak, putu, buyut itu seperti apa karakternya? Karena di kambing Kaligesing ini yang sampai sekarang yang paling ngetren itu dari luri tiga. Sumar, Tumpang, Basuki. Lah itu yang tak pelajari lah. Saya di Kaligesing itu di Purworejo itu saya datang ke ke pemiliknya masing-masing. Saya tanya anaknya Basuki itu di mana? Di mana baru saya datang, Mas. Jadi saya nk sana itu kan mesti 4 hari 1 minggu itu seperti itu. Karena pas saya datangi peternak satu-satu saya baru ngamati woh pejantan ini dari anak Basuki dari induknya ini. Ini karakternya seperti ini. Ini punya anak karakternya seperti ini. Oh ini punya cucu karakternya seperti ini. Sumar tumpang sama lah. Saya setelah di sini menguasai tentang breeding tentang galurnya baru saya berani istilahnya nk sini ke jual belinya. Karena kita jual beli di etawa seperti kita jual kambing kan kita harus juga bisa menganalisa toh Mas. Woh kambing ini bagus buat breeding. Woh kambing ini tidak bagus buat breeding. Woh kambing ini nanti besarnya buat kontes. Oh kambing ini kambing seni kontes. Woh kambing ini breeding. Woh kambing ini daging. Kan kita harus bisa toh Mas lah. Terus kambing ini dari terahnya siapa dengan ciri fisiknya seperti ini kan gitu. Bulunya terus posturnya model pasnya model telinganya itu yang banyak dibelajari kan harus gitu Mas. Jadi agak rumitnya nk situ. Tapi kalau kita sudah hafal satu persatu dengan karakter masing-masing, otomatis kan walaupun kita nanti istilahnya sebelum kita itu nk sini mempunyai peternak-peternak banyak, kita sudah mumpuni, Mas. Lah saya yang saya pegang kan gini, sebelum kita itu berbicara pada seseorang, kita mengarahkan seseorang, kita harus bisa melaksanakan dulu, kita harus mengerti dulu. Conto kulo karo jenengan, "Mas, kambing ini bagus, Mas, jenengan kalau breeding ini yang harga sekian seekian sekian." Tapi kalau saya sendiri belum melakukan, otomatis kan di situ apa yang saya bicarakan sama peternak, apa yang saya perintahkan ke peternak kan cuman strategi marketing istilahnya penjualan saja toh, Mas. Jadi saya itu penjualan dari dulu itu kita mengandalkan dari marketing peternak sendiri. Saya enggak pernah promosi media ini kambing ini bagus, ini kambing ini anakannya bagus, gak. Tapi yang barang yang tak kasihkan di peternak setelah beranak itu nanti seperti apa? Terus prediksi saya dari kecil saya memberikan kambing ke peternak itu kecil seperti ini besarnya jadi apa? Itu kan yang berbicara nk situ kan. Itu juga perlu jam terbang juga enggak lumayan sedikit toh Mas kan gitu. Karena pengalaman itu kan kita tidak bisa dibukukan, tidak bisa ditulis kan gitu, Mas. Kan rasa cuman itu kalau kita bermain di kambing kali gesing, kalau kita istilahnya mau hati-hati dalam istilahnya menjalankan bisnis itu ya nk situ rata-rata kan orang yang jualan kambing kali gesing itu kan 1 2 tahun sudah habis. [musik] Karena apa? Sebelum dia itu jualan dia tidak ee belum bisa mengamati dari kambing tersebut. Asal jual ini harga sekian sekian sekian kan gitu, Mas. Karena kambing kaligesing ini kan identik dengan kambing seni lah. Banyak peternak pemula sendiri yang tidak paham dengan speknya itu masuk ke gridnya daging [musik] atau gridnya seni breeding atau gridnya kontes lah. Yang jualan otomatis yang jualan instan-instan ngomong ini cempe kelas kontes kan gitu Mas. Supaya apa harganya mahal. Nanti setelah dibeli peternak ternyata dikonteskan juga enggak masuk otomatis peternak juga kecewa. lah kita mengecewakan peternak satu otomatis [musik] secara tidak langsunglah ini sudah membawa 10 peternak 10 peternak membawa 20 peternak kan gitu tuh Mas jadi [musik] market saya nk situ populasinya berapa kalau di kandang hari ini pan sekitar 100-an kalau di peternak banyak Mas saya megang peternak mitra itu sekitar 200-an orang lebi [musik] Mas di mitra kalau kita ngomong satu peternak itu pegang 10 sudah 2.000 kambing kan gitu. Itu kan perputaran saya kan setiap hari ini kan di situ. Jadi kan kita ngambil hari ini kita ngambil di mitra yang wilayah sana besok setelah ini laku besok ngambil di wilayah sana wilayah sana kan gitu Mas enggak ada habisnya. Jadi semua yang ada nk kandang ini semua ya hasil biding mitra semua. Malah kita ke pasar jual. Kalau perputaran uang saya enggak pernah ngitung Mas. Kalau kita enggak bisa narget sehari keluar berapa, Mas? Rata-rata ya kita kan kalau ngomong peternak yang istilahnya sudah e banyak ke sini satu hari ya kita kadang ya bisa sampai 10 ekor kadang ya cuman 2 ekor tapi kita hitungannya kalau saya itu presentasinya per bulan kita per bulan mengeluarkan kambing berapa ekor sampai 150 ekor keluar ada yang gridnya kelas pasar kelas pasar kelas daging ada yang gridnya ke breeding ada gritnya yang sening beberapa dari sekian banyak peternak yang masuk ke katakori kelasen ini paling cuman beberapa ekor gitu, Mas. Jadi, yang banyak itu masuknya di greitnya breeding sama gritnya daging. Kalau saya semua ya, Mas. Karena kan di sini kan kita punya mitra ya, Mas. Jadi kita punya mutra itu kita fokuskan gimana kita itu bisa antara mitra dan mitra itu ikut kaki petung itu ada fatback-nya. Kita itu sama peternak itu istilahnya ya kita tuh kerja sama lah simbiosis mutualisme. Kita sama-sama menguntungkan. Peternak juga dapat untung saya juga dapat untung. Jadi saya peternak itu menata peternak dari awal. Peternak punya modal berapa pun saya bisa. Seama bah saya punya modal Rp2.500 Mama jenengan saya mau mitra saya mau jenengan olah mau jenengan tata. Jenengan kasih apa? Tak kasihkan dua Rp2.500. Tapi speknya yang seperti ini lah. Nanti sambil belajar mengolah dari awal istilahnya kambing kan otomatis dengan harga segitu kan satu biasanya kambing itu kan rusak enggak normal gitu loh Mas. Enggak normal pertumbuhan atau apaah nanti kan peternak kita bina supaya apa ini bisa berkembang dari Rp2.500 gimana itu bisa berkembang. Jadi orientasi kita ke peternak itu gimana itu berkembang. Terus kita berikan edukasi ke peternak sendiri. Gimana cara breeding yang benar tuh seperti apa? Lah peternak hari ini juga dituntut oleh kreativitasnya peternak. Jadi hari ini saya mengedukasi peternak kambing kaligesing ini bukan nk sekup kontesnya. Kontes itu cuman nk sini bonus bagi saya. Kalau keluar kambing yang bagus itu bonus. Tapi gimana kita bisa memaksimalkan dari gridnya terendah itu kita bisa dapat keuntungan. peternak itu semata-mata pelihara kambing kaligeseng ini nanti bukan bertujuannya kambing saya beranak bagus supaya laku mahal gak gimana peternak itu nanti breeding itu bisa berkembang lah di situ bisa memaksimalkan barang yang ada walaupun di gridnya grid pasar pun masih bisa ada keuntungan saya ngambil dari peternak rata-rata sampai ada yang 1 bulan setengah 2 bulan setengah ada yang 5 bulan ya kita tergantung kebutuhan peternak jadi saya terus berin inovasi ya. Karena di sini kan saya menanam di peternak, otomatis saya memanen lagi toh, Mas. Lah, dengan keadaan panca pasar hari ini yang naik turun, turunnya juga enggak kira-kira kan gitu toh, Mas. Apalagi hari ini ya kita perlu prihatin di dunia peternakan rodok nangis, Mas. Terutama di dunia peternakan di bidang dagingnya. Harga daging itu kan sudah diatur oleh negara juga sekian-sekian toh, Mas. Nah, cuman nu sewu dari ee pemerintah sendiri mengatur harga daging, pemerintah juga tidak memberikan solusi ke peternak. itu rata-rata peternak hari ini kesulitan jual untuk e dagingnya cuman negara impor daging dari luar. Itulah yang menjadikan peternakan kita itu agak lesu. Hari ini seperti itu, Mas. Terutama nk ee sekupnya nk daging kan gitu. Hari ini domba pun juga nangis, Mas. Kita istilahnya untuk operasional saja enggak nutut. Makanya kan kalau kita cuman nk daging saja seperti itu. Makanya kalau saya nk kambing kali gesing itu kan e kita daging juga bisa bersaing, breeding juga bisa bersaing, seni ada lah. Di sinilah saya juga menciptakan istilahnya kreativitas saya sendiri. Kita juga memikirkan peternak. Gimana peternak itu bisa memangkas cost operasional supaya ada keuntungan. Kalau kemarin-kemarin sih kita masih belum berpikiran sampai situ karena masih harga pasarnya masih bagus. Cempe itu rata-rata kalau kemarin tuh yang kualitas dari peternak saya yang istilahnya grid-nya grid sale ya itu kita jual masih di angka R juta Rp2.500 masih laku. Tapi sekarang cempe yang kualitasnya kurang bagus itu rata-rata di pasaran yang laku kan cuma Rp1.250 Rp1.300 sampai Rp1.500. Sedangkan kalau itu peternak itu merawat dari buntingnya terus dari beranak dari jual itu kan gak dapat keuntungan Mas. Kalau di sini kita tidak bisa mengolah pakan yang benar-benar bisa untuk peternak. Ee rata-rata kan gini. Jadi peternak itu kan kebanyakan kambing kalig gesing ini kan untuk cempe itu kan ditambah susu toh, Mas. Kalau beranak dua otomatis kan susu indonnya enggak cukup. Nah, itu rata-rata ditambah susu supaya apa? Kelihatan badannya bagus. Nanti kalau dikeluarkan waktu sudah lepas sapi, umur 3 bulan 4 bulan itu kan cepat laku kan gitu loh, Mas. Tapi kalau kita tambah susu 1 hari 1 ekor itu nk 1 liter. 1 liter kalau kita pakai susu sapi pun enggak bisa maksimal. Kita pakai susu sapi. Kalau di sini susu sapi kita belinya R.500. Tapi per daerah beda lah, Mas. Yo, harga itu variatif. Kalau 12.500 1 hari 1 ekor. Berarti kan kalau kita kalikan dek 3 bulan sudah berapa? 10 hari kan sudah 130. 130 * 3 berarti kan sudah 400 1 bulan dik 1 bulan 400 terus kalau dek 3 bulan 4 bulan 400 * 4 Rp1.200 kalau kita jual cempitnya cuma laku Rp1.250 ini kan habis Mas jadi peternak kan juga enggak dapat apa-apa terus saya sendiri yang jual mau ngambil keuntungan berapa juga bingung Mas mesakno peternak lah lek lah ii payune me sak mene lah kita mau ambil keuntungan Rp50.000 Rp100.000 enggak cukup untuk operasional. Itu yang kita harus putar otak di situ. Makanya hari ini saya menciptakan lagi istilahnya di sini untuk starter fit ya. Jadi fit starter itu untuk kebutuhan cempe 1 bulan setengah sampai ke 5 bulan sampai ke atas. Itu kan sudah kita hitung Mas dari kebutuhan cempe itu proteinnya berapa, karbonya berapa, TDN-nya berapa. Berarti kebutuhan cempe 1 hari itu kan antara 1 sampai 2 ons starter pakan starter tadi lah itu kan kita pakai pakan starter itu jualnya nk beternak Rp10.000 per kilo. Komposisinya kita dari 16 macam. Jadi seperti ada dari unsur karbohidrat, serat sama protein. Yang jelas kan dari bahan bakunya kanu Mas, serat, protein, karbohidrat sama tambahan lain-lain. Jadi lain-lain kan seperti pemacu pertumbuhan, pemaju untuk pertumbuhan bulu, tulang. Nah, di situ kita campurkan ada 16 macam dan di situ kan kebutuhan cempe yang sudah tak aplikan di kandang ini kan. Jadi yang seperti ini sudah enggak nyusu, Mas. Nih, ini sudah kita pakai costnya cuman satu ekor cempe itu 1 sampai 2 ons per hari. Berarti kan biayanya cuman 2.000 per hari sama air putih. Itu aja lah. Semua cempe itu kita sape seperti ini. Ini kan umur sekitarnya 2 bulan 2 bulan, 2 bulan setengah lah. Ini kan susu bisa kita perah dari peternak lah. Susu kita jual kan gitu. Jadi kita juga memberikan solusi nk peternak seperti itu lah. Susu itu kita jual, kita tampung lagi nk sini. Ini dibutuhkan lagi untuk peternak-peternak mitra saya yang kontes. Jadi untuk cetut kontes tetap kita kasih susu. Jadi perputarannya di situ gitu, Mas. Kalau kita enggak memikirkan beli lagi dari peternak, kita enggak memikirkan sampai n situ Mas. Asalkan kita jual untung ya sudah. Tapi kan gimana kita itu sama peternak itu peternak ngikut kita itu ada feedback-nya nk situ kita ada pertanggungjawaban masalah penjualan hasil breedingnya. Nah, terus ngolah dari gimana kita memecahkan permasalahan nk peternak itu supaya ada nk sini untuk kos pengeluarannya bisa ditekan kan gitu toh Mas. Kalau kambingnya bagus sih oke aja enggak apa-apa kita ragat pakai susu. Tapi kalau kambingnya kualitasnya sedang atau kualitasnya cuman di pasar kita jual cuman dik laku Rp1.300 Rp1.250 peternak nangis ini, Mas. Kalau kita boleh ngomong, kalau kita boleh lihat nk potensi dek wilayah terutama nk pedesaan, kita pun mau mendapatkan pundi rupiah sebetulnya gampang kalau kita bisa kreatif. Apalagi pemuda hari ini didukung dengan teknologi juga, Mas. lah di sini ya akhirnya kita bisa menggiatkan untuk pemuda itu satu beternak dan bertani. Karena untuk penopang kehidupan yang jelas dari dua unsur inilah yang istilahnya bisa menopang kehidupan itu baik kehidupan di pedesaan di wilayah maupun itu di negara. Negara sendiri tanpa pertanian dan peternakan juga susah toh Mas. Kan gitu. Kalau kita sudah dijajah oleh masalah pang negara juga habis Mas. Kan gitu toh walaupun teknologi pun canggih kan gitu lah. Terus peternak hari ini tidak bisa digusur dengan teknologi kan gitu Mas. Kalau teknologi perkembangan teknologi, kemajuan teknologi dengan sekarang ada AE apa ae yaah itu kan kemajuan teknologi pesat Mas. Cuman beternak itu kan gak bisa, Mas. Berernak itu adalah rasa loh, Mas. Kita rasa beternak itu kita rasa dengan ternak itu kan gimana beternak kita gimana memelihara itu kan rasa itu kan gak bisa digantikan oleh teknologi kan di situ kita itu memang dari awal saya nol Mas dari awal saya nol tadi yang tak bicarakan di depan saya itu pelihara dua ekor rugi setelah itu saya beralih ke sapi. Sapi juga saya dihapusi sama teman dibohongi sama teman saya juga rugi. Saya beralih kambing. Kambing juga mati waktu itu, Mas. Jadi perjalanan seperti itu. Terus saya gaduh waktu itu, Mas. Gaduh satu ekor kambing itu yang belikan kakak saya Rp1.500. Itulah bibitnya yang pertama istilahnya untuk bibit bangkit sampai hari ini nk situ Rp1.500 itu waktu itu lah. Terus dengan berjalannya waktu saya menginjak ke dunia jual beli di 2011 itu kan harga hancur. Harga kambing hancur. Hampir seperti inilah tapi lebih parah 2011. Nah, itu saya mulai berangkat terus 2013 saya hancur, Mas. Jadi, saya di sini e ilmu belum mumpuni, uang saya banyak yang istilahnya itu rugi untuk jual beline. Waktu itu saya malah jual tanah hasil dari kerja saya sebelum nikah. Saya kan punya tadi kan punya sewan tuh 1 hektar toh, Mas. Nah, itu dari situ saya bisa beli tanah itu kalau enggak salah waktu itu masih harga perunya tuh sekitar Rp750.000. Tak jual tak buat nambeli rugi Mas. Nambeli rugi waktu itu 2012 di situ tanah tak jual tak buat namble rugi lah. Saya ini dari dulu memang gini Mas dari sesuatu mana yang istilahnya saya rugi saya harus dapat impasnya kalau bisa lebih. Jadi saya kan dari 2010 memulai jual beli di sini saya kan masih melakukan penelitian lah. Jadi masalah penelitian sistemnya jual beline kayak opo lah di dunia kambing. Opo seperti pasar kita beli jual ndak. Jadi saya mempelajari jual beli, mempelajari sistem. Akhirnya terciptanya sistem itu saya mempunyai sistem itu 2017 ke atas 2018 lah. Saya baru merasakan bisa merasakan di sini perputaran keuntungan itu di 2020. Jadi perjalanan dari 2010 istilahnya kita itu dapat merasakan hasil kerja kita itu di 2020 [musik] selama senggang 10 tahun. Ya, yang jelas dari saya kerugian saya jual tanah, yang jelas dari tanah saya juga sudah banyak. Terus ya kita buat kebutuhan sehari-hari. Mobil juga ada [musik] ya. Alhamdulillah peternak yang kita bina [musik] Mas ya. Alhamdulillah ya. Satu memang tujuan saya Mas bukan tujuan utama kita itu bukan masalah kita mencari keuntungan. Jadi gimana tujuan tujuan saya awal itu gimana kita itu bisa di sini meningkatkan perekonomian masyarakat kecil menengah [musik] ke atas kan gitu Mas dengan beternak secara tidak langsung peternak kecil itu kita bina kita bimbing dari hasil breedingnya itu kalau keluar bagus ya kita belinya juga mahal kita tidak sombonglah Mas di sini peternak saya tuh juga ada yang sudah beli tanah ada yang juga sudah buat beli rumah itu dari [musik] ternak dengan istilahnya pokoknya manut dengan sistem kita loh. Karena apa? Beternak itu yang kita jaga di sini kan dari kesabaran kita toh, Mas. Kita kan enggak bisa instan. Kalau kita mau hasil banyak, kita juga harus sabar gimana kuantitas ini menuju kualitas kan gitu. [musik] Kalau kuantitas saja otomatis kita untuk kebutuhan sehari-hari kan belum bisa mencukupi. Tapi kalau dengan kuantitas dan kualitas kita jual cempe satu aja di peternak. Ada yang kita beli R30 juta, ada yang kita beli Rp40 juta, ada yang kita beli Rp50 juta. Cempe itu, Mas. Iya. Yang kelas ke kontes, tapi yang cempe biasa kita beli ke peternak seperti yang ada di samping ini. Kita beli di peternak rata-rata nanti harga sekitar R5 juta. Yang kita beli Rp50 juta itu waktu itu kita nk kelas D, Mas. Sudah kelas D R5 juta itu. Itu di kelas D itu yang saya beli Rp50 juta itu mahkota raja itu saya ngambil dari Peter Kediri itu Rp50 juta itu kelas [musik] D. Ini kan kambing yang di kandang ini yang bagus-bagus itu kan juga hasil biding mitra. Saya beli 30, 35, 25 itu jempe ya. Makanya kan kalau kita nk sini peternak itu istilahnya nurut sama kita masal kita itu nk peternak enggak ada mas istilahnya untuk ngapusi enggak ada lah saya. Prinsip saya menata. [musik] Jadi prinsip saya itu gini Mas, gimana kita itu bisa membantu masyarakat kecil menengah itu supaya menopang kehidupannya itu dari beternak gitu loh, Mas. Tapi kuncinya juga harus sabar. Peternak sendiri juga harus ngikuti alurnya kita kan gitu loh, Mas. Kalau peternak enggak sabar, lekas mulai beternak terus beranak jelek terus wah ngopeni wedus tukane larang anake kok elek doleh rugi ganti [musik] ya gak jadi Mas karena di peternak itu yang tak pelajari yang keluar kambing bagus-bagus itu rata-rata orangnya yang rawat itu orangnya ikhlas-ikhlas semua kalau kita hitung secara matematis enggak ketemu dietawa seperti itu. Tapi kalau kita penggemukan bisa enggak ketemu Mas ya. Alhamdulillah untuk kaki petung itu real laku tertinggi Mas. R250 juta itu Jagat Satrio. Jagat Satrio itu kambing tidak kontes. Itu maskot saya 2014 itu laku di 2016-2017 itu dibeli sama peternak yang ada di Bogor itu Rp250 juta itu realil. Kambing itu tidak kontes. Waktu itu kambing yang kontes klase grand champion lakune di bawah 200. itu sama anak-anakannya dan di peternak saya satu Selo Jagat itu laku 175 terus satunya putra mahkota itu yang dibeli orang Jakarta Masali Jakarta itu laku 188 terus cucunya jagat itu yang yang ada di Bagus Fam sengat ini laku Rp50 juta. Saya membuktikan bahwa kambing breeding itu lebih mahal dari kambing kontes itu di situ Mas karena apa? Kambing breeding itu kan mesin ya Mas mesin pencetak lah. Sebenarnya yang mahal itu kan mesin pencetaknya bukan dari produksinya. Jadi jagat satro itu bukan kambing kontes, tapi dia kambing breeding. Gak masuk akal, Mas. Kalau saya bilang, kalau orang waktu itu saya transaksi segitu itu ya dibilang hoak. Banyak itu yang ngentai hoak, hoak settingan gitu, Mas. Tapi itu real saya. Saya waktu itu dibeli Pak Yohanes itu jagat Satrio sama darah anak Jagat Satrio 1 sama induk kawinan sama Jagat Satrio itu kalau enggak salah sekitar Rp300 juta saya dapat uang waktu itu di 2017. 2018 saya jual lagi Gadeng Satrio yang buat logo saya kaki petung itu. Itu kan Gadeng Satrio itu laku Rp150 juta itu real. Itu dibeli sama orang Jepara. Terus saya beli lagi kambing Rp50 juta putra mahkota itu laku di 2022 kalau enggak salah itu. Saya dulu juga enggak bisa bayangkan, Mas gimana kambing itu kok lakunya segitu itu bener apa gak. Waktu saya mau mulai bermain kambing leh paling ngapusi, Mas. Tapi kenyataan di Lampangan setelah saya main, setelah di sini saya menjadi pemain, saya di sini juga memelihara lah. Ternyata memang yo juga kalau kualitas kambing itu memang bagus, memang juga lakunya bagus. Hari inilah kita ngomongkan kambing ini harganya drop, Mas. Yo, di kelasnya di kelas daging. Tapi kambing yang kualitasnya bagus, kita megang uang R5 juta atau R5 juta, kita cari kambing kontes. Belum tentu dapat ya, Mas. Nah, di sinilah sisi sisi baiknya dari kambing kaligeseng di sini. Kalau ngomongin kambing yang sekupnya biasa di pasar, walaupun hari ini kita bawa satu truk pun dapat harga Rp1.500 indukan cempe Rp1.500, Rp1.300 dapat itu real semua Mas. Saya laku Rp150 juta itu juga ril. Saya itu belinya R0 juta dari peternak. Jadi kalau memang orang awam, Mas ya, orang awam di luar yang bermain di etawa ngomong kambing itu istilahnya laku R juta R50 juta itu market. Market supaya apa? Orang beli mahal kan gitu Mas. Sebenarnya itu real, Mas. Jadi kambing kali gesing ini tidak bisa dimonopoli siapapun. Baik pemain papan atas, baik pemodal besar. 2017 tuh kambing yang bagus-bagus dihabiskan sama gudang garam sama senarmas, Mas. Supaya apa? Kambing yang masuk 10 besar, 1 sampai 10 dibeli semua rata-rata. Waktu itu kontes setelah 2018 kambing kayak habis. Karena pemahaman mereka beli kambing yang gridnya bagus dikawinkan dengan gridnya bagus keluar kambing bagus. Kalau keluar kambing bagus dari sinilah kita menata lagi market. Orang kalau mau beli kambing yang bagus ya harus dari farm kita lah. Di situ enggak bisa lah. Di situlah uniknya luar biasanya kambing tawa dek situ gitu loh, Mas. Jadi tidak bisa dimonopoli siapapun. Tapi kalau jenisnya komoditas lain bisa dimonopoli oleh pemodal besar. Tapi kalau kambingnya tawa enggak bisa, Mas. Seperti sayalah tahu kambing. Woh, kambing ini kualitasnya bagus, tak beli semua, tak breedingkan. Belum tentu nanti breedingnya itu hasilnya bagus. Ya, contohnya seperti itu, Mas. Jagat Satrio itu bukan kambing kontes. Tapi mengapa Jagat Satrio mengeluarkan kambing kelas kontes semua? Anaknya juga grand champion. Sedangkan kambing yang grand champion belum tentu anakannya masuk ke kontes gitu loh, Mas. Makane kambing tawa hargane tetap mahal nk sekelase seni nk situ. Bukannya kita itu marketing terus istilahnya kita jual beli laku sekian itu istilahnya buat meng-up di media gak. Itu real itu. Itu tahun 2023 saya tuh beli dari Kediri itu R225 juta itu [musik] punya Erico. Saya pelaku sendiri loh beli loh. Bukannya saya jual loh. Itu dibeli orang Jawa Tengah dua ekor sama bentung itu laku Rp550 juta lah. Itu bukan kita up media bukan Mas. real itu. Tapi kalau orang lain ya kemungkinan alah iku me gur up-apan mediah wedus ben payu kan untung Mas. Tapi sebenarnya itu real itu berbicara fakta saya. Makanya kalau kita nk sini beternak itu yang tak ajari nk peternak yang tak buat pesan untuk peternak. Beternaklah yang benar. Perbaiki [musik] kualitas ternaknya. Manakala nanti ternaknya itu sudah berkualitas, nk situlah nanti pansa pasar akan terbentuk sendiri dek pamit itu. Karena apa? Orang itu akan mencari bibit-bibit yang berkualitas. Lah kambing yang berkualitas itu tidak bisa gak usah kita tawar-tawarkan di media itu laku, Mas. Tapi kalau kambing itu kualitasnya kurang, kita tawarkan di media, kita bawa ke pasar belum tentu laku. Itu Mas. Makanya peternak-peternak saya hari ini saya juga terus upgrade terus untuk kualitas kambing. Karena ee di seni kontes sendiri pun dari tahun ke tahun ke tahun itu perkembangannya juga luar biasa. Karena kita ada 12 parameter. Kita mengejar 12 parameter itu kalau dulu di tahun sekitar 2014 kita tuh kontes tuh masuk 7uh parameter aja sudah juara, Mas. Sekarang kita tuh masuk ke 11 parameter belum tentu juara Mas. Berarti kan perkembangan bleeding itu kan luar biasanya di situ. Dulu kambing yang kepalanya mluwer-mblur gini itu pno satu kontesan dari satu audien kontes peserta paling ada satu dua sekarang rata-rata semua gini bulun driwul yang driwul-driwul paling di satu event itu beberapa kambing sekarang semua dreiwul jadi peternak sekarang memang juga mulai juga breedingnya juga ada kemajuan satu didukung dengan informasi teknologi dari media terus keduanya belajar dari pengolahan pakan teknologi pakan kan gitu toh ya pengelolaan kandang karena saya berpikirnya n sini gimana kambing ini yang sudah menjadi plasputfah Indonesia tetap bertahan sampai anak [musik] cucu kita. Jadi kita bertahan pada produk asli dari Indonesia. Walaupun nenek moyangnya ini dulu juga dari India Jamna kan gitu Mas. Tapi kan kambing etawa yang asli hari ini tidak seperti kambing yang ada di Indonesia. Nah, kambing yang modelnya seperti ini, seperti kambing Kaligesing hari ini tidak dimiliki oleh negara lain lah. Ini harus bangganya kita n situ pesan saya untuk para peternak pemula. Jadi, jangan berkecil hati. Kita punya modal berapa pun kita bisa asalkan semua kita [musik] pelajari. Saya berangkat juga dari nol dari modal kecil. Jadi, yang ada di dunia ini apa yang tidak mungkin? Semua pasti mungkin. Manakala kita menekuni dalam satu bidang. Walaupun peternak pemula itu punya modal sedikit, dia asalkan tekun mau belajar, kesempatan yang namanya rezeki itu kita gak tahu. Itu yang tak alami gitu, Mas. Saya dulu juga orang enggak punya apa-apa. Tapi dengan ketekunan saya, dengan kegigihan saya, dengan perjuangan saya, di titik sampai titik hari ini, kita bisa menikmati apa yang kita perjuangkan dulu. Jadi untuk peternak pemula walaupun punya modal sedikit, belajar banyak di para-para peternak yang sudah [musik] sukses ataupun seniornya banyak belajar. Karena apa? Di semua wilayah itu peternak itu banyak lah. Sekarang peternak yang istilahnya sudah bisa itu mengajari peternak pemula itu banyak yang [musik] enggak plelit ilmulah hari inilah, Mas. Karena kita sama-sama ini satu perjuangan untuk mempertahankan genetik ras kali gesing ini sebagai plaspan upra Indonesia. Terus untuk para broker atau pemain-pemain di kambing Kaligesing ini gimana kita itu bisa nk sini menjaga dari investor-investor besar. Jadi kalau ada investor besar yang di sini mau hobi ke dunia kambing, mari kita jaga. Jangan kita ambil istilahnya manfaat dimanfaatkan untuk nanti istilahnya jadi rugi. Karena apa? Dengan adanya investor-investor besar otomatis bisa mendongkrak harga kambing kaligesing ini. Jadi seperti itu, Mas. Jadi semua itu walaupun peternak pemula kalau mau belajar mau konsisten di situ banyak istilahnya kita berkesempatan mempunyai sukses. Makanya saya di peternak pemula saya saya bina gimana kita itu bisa sukses bersama. Bukan saya saja yang sukses, tapi peternak gimana bisa merasakan dari hasil breeding kambing Kaligesing ini. Terima kasih yang sudah menonton channel dari Pecah Telur. Sebelum tak akhiri, saya nama Ahmad Syafiin e alamat di Desa Centong, Purworejo Sanan Kulon, Kabupaten Blitar RT3 RW4. Saya akhiri. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.
Resume
Categories