Transcript
UHj4lY1RKPI • Cuma Modal 800 Ribu, Pasutri Bisa Raup Omzet Ratusan Juta Dari Jualan Kelapa Muda
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0649_UHj4lY1RKPI.txt
Kind: captions Language: id Ini tak ajak keluar dari rumah yang nolong aku. Tinggalnya alhamdulillah, Mas, di tengah hutan waktu itu. Jadi, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, gak ada tetangga. Dan itu bukan cuman tinggal di tengah hutan, tapi tidak ada motor dan tidak ada HP. Aku selalu menguatkan dia hanya bilang gini, aku bakal terus kerja keras. Aku cuma ngomong gitu sama dia, "Wis, tungguo [musik] nanti ada sendiri rezekinya. Waktu anakku umur 5 tahun ya, anak minta uang jajan R2.000 itu harus berantem dulu sama dia. Segitu susahnya. [musik] Soalnya sehari harus cukup Rp20.000 tuh. Satu hari harus cukup Rp20.000 untuk makan, untuk kebutuhan anak, untuk semuanya [musik] biar bisa buka usaha. Cara enggak menikmati hidup ya. Caranya gampang sih, Mas. Jangan nengok enaknya orang lain. Udah. Soalnya kalau misalnya kita sudah nengok nikmatnya orang lain, kita juga lupa nikmatnya kita sendiri sih, Mas. Sebenarnya itu aja. Asalamualaikum. Nama saya Koirul Imron, owner dari Gudang Degan Sri Rezeki dan ini istri saya Sapti Haryanti. Ini lokasinya di Dusun Kembangan, Desa Mbobang, Semen, Kediri. Cuman ini kan kita punya dua. Yang satu di Semen Kidul. Jadi yang di Semen Kidul itu gudang satu, sedangkan di sini gudang dua. Soalnya setelah kami habis kontrak di Pasar Semen, kami mencari tempat yang lebih luas. Akhirnya dapatlah tempat di sini. Pakai nama gudang itu saya pikir lek itu dan banyak. Alhamdulillah, Mas. Tapi nek bagi kami ini sudah alhamdulillah Mas banyak dengan bongkar degan tiap harinya mencapai hampir dua truk kadang naik kemarau tiga truk itu kadang nek puasa empat truk itu menurut kami sudah pencapaian luar bias lah untuk kami yang baru membuka usaha di sini gitu. Ini modal usaha kelapa muda dan dianya itu juga ada grosirnya, ada ecernya dan ada es degannya. Tapi orang paling kenal itu dengan es gun Sri Rezeki yang jumbo. Karena porsinya yang banyak, harganya juga lebih murah. Rp5.000 tuh udah cup jumbo. Sebelum pakai cup ini juga pernah jualan dengan utuh yang mulai dari harga Rp5.000, Rp6.000 itu udah utuh pakai es dan gula. Dan orang sini kenalnya ya itu sebenarnya makanya di sini disebut namanya degan utuh Sri Rezeki. Awalnya itu pertamanya enggak niat jualan es degan Mas. Pertama awal buka itu jualannya es jeruk. es teh, dan sosis bakar dan maklor. Cuman kebetulan suami punya inisiatif ayo tambah jualan degan gitu loh. Dan itu ngambil degan sehari 10 biji. Aslinya kami itu Sumatera, Mas. Ini Medan, saya Riau. Pindah dari Riau dan Medan itu kami pindah merantau berdua itu kami sempat ke Jambi, sempat ke Padang. Ketemu di mana? Ketemu di perantauan waktu itu di Riau, Mas. Dia Iya. Sempat sempat gini, Mas. Zaman itu zaman BBM kita kan broadcast, jadi dia ini minta saya, "Tolong dong broadcastin, aku di sini orang baru, tolong dong." Aku diam aja, Mas. Seminggu akhirnya dia marah sama aku. Loh, kok marah? namanya enggak kenal, aku enggak mau broadcast kok ngapain marah-marah gitu loh. Tapi akhirnya dari marah itu rupanya jadi ketemu malahan malah jadi jodoh gitu loh. Zaman segitu kan aku sudah kerja, dia baru merantau kerja akhirnya dia enggak punya sangu tak sangonin, enggak punya kos tak bayarin, enggak punya makan tak beliin selama sebulan Mas kayak gitu. sebulan kok kayaknya betah. Akhirnya keterusan, Mas. Sampai nikah tak biayain terus. Lan, tolong dipotong, Lan. Itu Lan kami merantau pertama itu ke Pasir Pengarayan namanya. di sana 3 bulan, Mas, mencoba jualan nyetan. Akhirnya jualan 2 minggu pun ya habis modalnya. Ikutlah mertua di rumah mertua mencoba usaha lagi bikin makanan waktu itu. Dan waktu itu penghasilannya gak seberapa. Akhirnya tersempatkanlah sama mertua itu merantaulah jangan di sini kan penghasilannya belum seberapa. Nanti anak istrimu biar dihidupin sama mertuaku kan gitu Mas. Jam 11.00 Malam aku tanya ini, aku besok pagi pergi merantau, kamu ikut atau kamu tinggal? Aku hanya punya waktu itu HP Oppo F11, Mas, nek gak salah. Waktu itu tak jual buat modal merantau, beli tiket, Mas. Terus tak tanyakan ini. Aku berani nanya. Terus dia jawab, "Aku ikut kamu. Aku tahu kamu walaupun susah-susah tetap tanggung jawab. Aku di sini punya orang tua, tapi aku belum tentu ada yang nanggung jawabi. Jadi aku ikutah inilah itu kata-kata dia, Mas. Yang masih teringat sampai sekarang itu. Itu jadi awal merantau keluar dari rumah mertua itu jam .00 subuh, Mas. Jam .00 subuh itu aku ikut pickup, Mas. Dia naik di depan sama anakku soalnya masih kecil, Mas. Masih umur 4 mingguan, 1 bulanan. Aku duduk di belakang, Mas. Subuh-subuh jam .00 itu mau ke loket itu. Dan di belakang itu isinya sayuran sama kelapa, Mas. Sampai di Jambi, Mas, sisa uang tinggal Rp2.000. Alhamdulillah kan masih ada kenalan di sana. Dikasih modal, Mas, Rp500.000. Dikasih modal Rp500.000 sama dipinjamin motor. Aku jualan somai, Mas. Waktu itu 2 minggu. Namanya kita ikut orang, Mas. Sebaik-baiknya kita ikut orang kan hati kita yang enggak enak. Kayak kita aduh masa numpang terus. Akhirnya waktu 2 minggu itu mulai terasa aku sama ini ngomong aku tak cari kerjaan lain tak nyupir. Jadi keterima Mas aku waktu itu. Ini tak ajak keluar dari rumah yang nolong aku. Tak ajak kerja itu tinggalnya alhamdulillah Mas di tengah hutan waktu itu. Zaman itu jaga ladang Mas hitungannya kalau di Jambi jaga ladang. Jadi ke kanan ke kiri ke depan ke belakang gak ada tetangga. Adane gubuk sama lampu coklat. itu Mas zaman sekarang untuk netesin telur itu loh tiba-tiba diajak hidup di tengah hutan sama anak kecil. Apakah waktu itu kebayang untuk hidup seperti itu? Enggak. Cuman yang mau gimana lagi ya, Mas. Dan itu bukan cuman tinggal di tengah hutan, tapi tidak ada motor dan tidak ada HP. Akses ke sananya jalan kaki. Jalan kaki. Masnya juga pergi kerja jalan kaki. 3 kilo jalan kaki. Ya lumayan paling ya 15 menitan lah. Dari itu melewati tengah-tengah sawitan itu Mas. cuman ya gak apa-apa namanya hidup ya Mas aku selalu menguatkan dia hanya bilang gini aku bakal terus kerja keras aku cuma ngomong gitu sama dia. Wis tungguo nanti ada sendiri rezekinya dan itu waktu susah-susahnya itu, Mas enggak ada HP, enggak ada motor itu ya hanya anak sih, Mas memang yang menguatkan. Kami selalu berkata ya jangan sampai anakku mewarisi susahnya orang tuanya gitu ya. Waktu ditinggal sama orang tuanya gitu. [musik] Ini ya aku sedikit cerita. Waktu anakku umur 5 tahun ya 4 tahun apa 5 tahun itu waktu ngontrak di bawah waktu masih merintis anak minta uang jajan R.000 itu harus berantem dulu sama dia. Segitu susahnya soalnya sehari harus cukup R.000 tuh satu hari harus cukup Rp20.000 untuk makan, untuk kebutuhan anak, untuk semuanya. Segitu hematnya biar bisa buka usaha dan itu dijalani 1 tahun, Mas. Benar. Rp2.000 harus cukup 1 hari. Kalau ana minta jajan 2.000 harus berantem dulu. Soalnya memang benar, Mas. Soalnya benar-benar ditabung buat buka usaha. Ya itu awal buka usaha ini kan. Untung aja kenapa kami ke sini ya [musik] itu Mas biaya hidup di Kediri murah. Beli nasi Rp5.000, lauknya Rp15.000 Ibu itu sudah macam-macam sampai sore, malam sudah enggak perlu makan. Soalnya kalau tidur lapar pun hilang gitu loh. Dah gitu aja. Kenapa milih memilih Kediri selain faktor ekonomi? [musik] Dari Jambi itu awalnya enggak langsung Kediri, Mas. Dari Jambi itu pindah ke Solo. Kami ikut dekorasi, Mas. Dan itu nyupir juga. Tapi alhamdulillah rezeki waktu itu lancar juga. Cuman waktu itu kena COVID, Mas. Banyak gonjang-ganjing akhirnya yang akhirnya membuat kami keluarlah dari kerjaan dan akhirnya harus memutuskan pindah ke mana lagi. Hanya kami putuskan satu malam. Aku bilang dia ke Kediri kalau enggak jalan ke Kalimantan. Aku sudah ngomong gitu. Akhirnya ke Kediri dijalan nih. Kediri dijalanin Mas itu awal sampai Kediri itu dari Solo sampai Kediri itu perjalanannya terlalu panjang, Mas. Padahal yang harus ditempuh 5 jam itu kami tempuh hampir 13 jam. Naik motor, Mas. Vario. Vario. Kenapa bisa lama, Mas? Itu zaman COVID, Mas. Jadi setiap desa mau pindah ke desa satunya, di sini ada polisi yang jaga. Kami harus muter lagi cari jalan tikus. Pindah lagi ke kecamatan satunya, polisi lagi. Sempat sampai waktu itu pas di tengah jalan kami kencang, polisi itu tiba-tiba dari di tengah jalan, Mas. Kami takut suruh putar balik. Akhirnya enggak perlu disuruh kami putar balik sendiri. Tapi di belakang itu ada tronton, Mas. Hampir kami ketabrak waktu itu. Akhirnya lewat jalan-jalan tikus terus sampai Kediri. Akhirnya 13 jam, Mas. Berangkat dari sana jam 5. Sini jam .00 sore. Lalu kepikiran [musik] jualan degan inspirasinya apa? Waktu itu kan ini jualan [musik] ST tes, jeruk sama gorengan 500-an. Terus tambahi degan lah. Itu ada satu orang yang ngomong itu. Aku pikiran akhirnya modal awal 10 degan, Mas. Aku beli habis selama 3 hari. Terus aku kulak lagi, Mas dengan harga yang menurutku mahal. Soalnya kenapa? Degannya udah lama sudah hampir pecah-pecah tapi masih harga normal. Dari situ aku punya keinginan, "Mas, gimana nek aku pulak sendiri tak jual sendiri?" Aku kepikiran gitu. Tapi dengan pikiranku yang awam waktu itu tengok Mas di Facebook waktu itu [musik] jual degan R3.000 4.000. Oh rupanya itu di lahannya. Akhirnya sampai sininya berapa ada ongkirnya Mas? Sampai sininya segini. Akhirnya waktu itu ada supplier Mas dari Trenggalek kirim ke sini itu dengan harganya Rp4.000 sama 4,5. Yang 4.100 butir, yang 4,5 itu 100 butir. Itu, Mas, dengan aku yang hanya jualan di depan kos-kosan, Mas. Aku bingung, Mas, ngabisinnya gimana. Ah, habis duit Rp800.000. Istriku udah ini belanja banyak, duitnya enggak balik-balik. Gimana ini? Mendingan dibuat beli makan, beli ini. Akhirnya, akhirnya tepot ototak, Mas. Langsung aku buat Facebook waktu itu. Entah dari mana aku kepikirannya enggak tahu. Aku bikin Facebook tak kasih nama Degan Utuh Sri Rezeki. Soalnya aku punya niatan jual degan utuh tapi dengan harga yang murah. Waktu itu tak jual harga 5,5, Mas. 5,5. Sampean hitung 4.000. Nek aku jual 5,5 kan berarti untungku cuma R00. Tapi itu udah pakai es sama gula. Waktu itu aku enggak mikirin bati, Mas. Enggak mikirin untung. Soalnya mikirin gimana balikin modal duitnya dia kerja. gitu tok. Enggak ada yang lain. Rupanya setelah aku posting, Mas, di kecamatan dari Facebook lah booming, Mas. Waktu itu 200 butir itu 2 hari, Mas. Aku 2 hari, Mas. Benar. Jadi sehari itu bisa mecah 100. momentumnya, Mas, sehingga berani sampai jualan grosir waktu itu apa? Nah, ini momentumnya Mas waktu itu kenal Mas sama orang Trenggalek itu ya. Jadi dia minta tolong Mas waktu itu musim hujan Mas aku punya barang 800 butir itu. Aku minta tolonglah Mas dijualkan separuhnya. Wis enggak usah dibayarin dulu. Nanti kalau udah habis baru dibayar. Ya enggak apa-apa, Mas. Naik 400 butir. Rupanya yang dikirim 500. Ini marah-marah, Mas. Ini gimana? enggak ada duit untuk bayarnya. Terus tak bilang dia, "Ini kita dikasih dulu, nanti habisnya berapa baru kita bayar." Akhirnya 500 butir itu, Mas tak obral waktu itu. Rupanya 3 hari habis waktu itu ya. Waktu itu tak obral Mas ada yang 10.0003, ada yang 10.000 dapat dua. Terus 500 habis waktu itu 3 hari jelalah yang dari Trenggalek itu malah ditambahin lagi. Ini Mas ambilan lagi enggak usah dibayar dulu, habis baru bayar. Dari situlah, Mas. Dari satu momennya akhirnya nek kirim degan itu enggak 300-an lagi, 700, 500, 800 dari situ. Itu waktu itu Mas kan kami ngekos, bayar jualannya di depan kos. Akhirnya kan tempat pun habis. Akhirnya bingung, Mas. Yang punya kos ya agak gonjang-ganjing, kami ya gonjang-ganjing. Kan gitu. Akhirnya gimana kalau kita pindah cari rumah bulat? tak bilang ya rezeki Mas gang dua rumah kami dikontrakin satu rumah bulat ya dari situ awalnya kami akhirnya grosiran itu yang sampai 700 sampai 1000 butir itu di situ akhirnya sama ini memberanikan diri Mas gimana kalau kita buka gudang cari sewa lahan kosong lahan kosong yang bisa bongkar satu truk sekalian nanti kita cari kendaraan buat ngecer waktu itu dia ngobrok Mas capek Mas 1 tahun itu kan kami kan asli merintis dan enggak ada libur sama sekali, Mas. Beneran enggak bohong aku. 1 tahun enggak ada libur satu hari pun jenengan sadar diri bahwasanya oke aku butuh ngonten nih turning pointnya apa? Nah, kalau itu Mas waktu itu kan kayaknya nengok orang kok jualan kok dapat dolar. Gimana caranya waktu itu? Sebenarnya cuman ini sih Mas, cuman memamerkan kayak kalau kalau di Facebook tuh kan jangkauannya luas. Jadi biar orang tuh tahu kalau misalnya di sini ada jualan degan, ada grosir degan gitu. Jadi alhamdulillahnya ya kalau misalnya dimasukkan ke Facebook itu malah orang banyak ke sini, Mas. dari Tulung Agung, Nganjuk, Par, Madiun, Jombang itu ngambilnya ke sini. Jadi pokoknya dari konten itu jadi orang tahulah kalau misalnya di sini ada grosiran degan gitu. N jadi setiap tanya-tanya sampean tnya dari mana? Dari Facebook gitu. Berarti ngonten itu perannya Mbak Septi full bareng-bareng sih, Mas, kalau ngonten. Kalau misalnya aku lagi enggak sibuk, ya aku yang ngonten. Kalau misalnya apa dia yang ngonten gitu sih. M, kalau sekarang perannya apa, Mbak? Kalau dia perannya tinggal ngitungnya to sih, Mas. [tertawa] Ngitung nanti aku bagian transfer ke sana. Ah, gitu dia ngitung samawasin anak-anak sih, Mas. Oh, sama kalau kirim tetap aku, Mas. Soalnya pelanggan itu lebih senang dikirim sama aku langsung. Satu pekan itu habis berapa butir hujan, Mas? Nek satu pekan bingung, Mas. Mikirnya. Pokoknya nek satu hari itu naik masa-masa hujan, Mas ya. 1 hari ya 1000an, Mas. Tapi kalau musimnya panas kemungkinan ya bisa sampai 3.000-an Mas. Terbanyak waktu itu sehari [musik] 7.000 Mas butir 1 hari terbanyak itu waktu puasa, Mas ya. Tapi puasa momen puasa itu minimal 5.000 Mas lah. Gini Mas cara kita ngambil untung ini kan buat belajar kita semua, Mas ya. cara ngambil untung kalau untuk yang grosir ngambilnya sekitar 500 600 butir itu kita ngambil untung dari Rp300 ke 500 itu gak apa-apa, Mas. Soalnya kali 500 aja kan kita sudah dapat Rp150.000-an lah anggaplah gitu. Sekarang zaman sekarang di mana kerja dapat Rp150.000 kita enggak kerja kan gitu kan yang bongkar ya anak-anak. Sedangkan untuk gaji anak-anak ini yang kerja kita kan ngambilnya dari keuntungan outlet jualan es lah. Jadi alhamdulillah lah pokoknya kayak gitu lah. Sedangkan untuk yang bakul langsung penjual itu per butirnya kita ambil 1.000 ke 1.00 soalnya dia milih Mas nek ndak yang segini kan ndak mau gitu loh. Lah itu nek penjual. Jadi nek yang penjual yang milih 1.000 ke 1.500 lah. Kalau sehari kita ke penjual bisa 400 butir lah kan kita sudah dapat Rp600.000 [musik] lah. Anggaplah itu yang sebagai kita tabung. Nah untuk yang gaji orang-orang kerja ini ngambil dari S. Gudang grosir degan rezeki itu nampaknya lebih dikenalnya Mbak Septi daripada sampean, Mas. Iya soalnya aku lebih menonjolkan dia sih Mas soalnya modal kan dari dia, Mas. Tak bilang jadi yang berhak atas ini semua bukan saya ya. Dia aslinya enggak sama-sama. Aku hanya membesarkan, Mas. Nek dia kan awal modal dari dia. Makanya siapa yang punya modal kan dia yang punya usaha. Enggak sama aja sih, Mas. Sama semua. Jawabannya semua. Sama semua. Dia juga pekerja keras, Mas. Maksudnya kalau ngirim pokoknya dia tanggung jawab loh, Mas. Pekerja keras gitu loh ya. Dan dianya itu paling malas neneng orang lelet dan waktunya itu misalnya nih jam . bangun dia jam .00 bangun dia marah. Kan jam . disuruh jam . jam . gitu loh. Aku enggak suka, Mas. Waktu-waktu molor tu enggak suka. Kadang kalau anak-anak besok pagi bangun jam .00 ya nanti tak kasih gaji tambahan. Enggak bangun ya wis tak kerjain sendiri bongkar muat sendiri enggak apa-apa Mas. Itu tak anggap olahraga terus aku yang enggak bisa membebankan semuanya ke orang-orang kerja. Kalau mereka capek kita enggak bisa maksa, Mas gitu loh. Kita juga tahu kemampuan orang-orang kerja gitu. Jadi kalau udah laporan, "Mas, aku besok kayaknya capek enggak bisa." Y ya wis gak apa-apa tak bongkar sendiri, tak muat sendiri enggak apa-apa dan aku enggak setiap hari bongkar muat sendiri kan gitu, Mas. Untuk tahu degan bagus dan gak baik itu ciri-cirinya apa, Mas? Nek degan Mas itu kan selera masing-masing. I ya. Kalau untuk yang kelamut itu kalau dipukul, Mas, ini kan mukul tangan kanan yang ngerasain tangan kiri. Yang tangan kiri nih, Mas, bagian telapak itu getar, Mas. Getarnya banget kayak kesetrum. Det. Terus kalau yang isi pas, isi sedengan itu getarnya dikit, Mas. Dan kalau yang untuk isi tebal, nah itu kayak enggak ada getarnya, Mas. Kalau ada pun paling dikit banget getarnya. Ah, itu tebal tapi masih empuk. Cuman kalau yang suaranya udah keras itu ya sudah beda degan lah. Itu kayaknya oyen lah itu kayaknya. Oke. 3 tahun ini usaha degan dapat apa aja? Kalau dapat ya alhamdulillah dapat tanah ya beli kendaraan-kendaraan lah yang dulu pengin banget enggak bisa beli sekarang alhamdulillah bisa beli itu aja. Mbak Septi itu gak ketika pendapatan naik ke hidup juga naik lebih ke naiknya lebih ke makanan sih Mas. Soalnya dulu kan mau makan ini susah makannya itu susah balas dendamnya ke makanan Mas. Jadi lebih ke makanan. Iya serius. Jadi kayak aduh dulu kan Rp20.000 satu hari mau makan apa sih Mas yang enak Rp20.000 paling kan sayur bening doang. Kalau sekarang tuh lebih aduh pengin seafood pergi ke Tambak Rejo. Tapi kadang ada sih Mas sebagian orang ngomong nek gaya hidup kami naiklah. Bukannya gaya hidup itu namanya penunjang karir. Kayak dia konten masa ya pakai baju amburadul kan ya enggak mungkin. Kayak aku kirim degan masa enggak enggak beli pickup kan kayak gitu. Terus kayak anggota banyak kan banyak anggota masa motor satu ya enggak mungkin. Akhirnya kan harus beli motor juga kita mengerjakan orang kalau orang itu ngikut sama kita terus enggak ada motor kan yang bingung akhirnya beli motor juga gitu sih Mas. lebih ke kami lebih mementingkan ke ininya, Mas, ke kebutuhannya. Untuk apa itu kita beli. Kalau enggak ada butuhnya, enggak usah beli. Gitu aja sih. Cara Mbak STI menikmati hidup bagaimana? Caranya gampang sih, Mas. Jangan nengok enaknya orang lain. Udah, kalau kita nengok nikmatnya orang lain, pasti kita juga pengin, kan? Jadi, waktu kas susah enggak usah nengok nikmatnya orang tuh mau punya mobil, punya HP bagus, punya emas, punya apa, ya udah kan orang itu wies hidup kita ya udah kayak gini dinikmatin aja. Jadi kan lebih enak, lebih enjoy, lebih bahagia. Jadi orang lain mau punya apa, mau punya ini, mau punya itu. Ya, urusan orang itu. Itu sih kadang kan ada orang perempuan terutama kawannya punya HP nih dia harus punya, kawannya punya emas nih dia harus punya. Enggak gitu. Itu namanya enggak nikmatin hidup. Nikmatin hidup ya udah hidup kita ya dinikmatin aja kayak gini. Enggak punya mau di situ beli ini, ya udah biarin aja. Soalnya kalau misalnya kita sudah nengok nikmatnya orang lain, kita juga lupa nikmatnya kita sendiri sih, Mas. Sebenarnya itu aja. Bagaimana mensiasati omset turun seperti itu, Mbak? Apa yang dilakukan? Gaya hidupnya sih, Mas. Kalau misalnya omsetnya turun, ya gaya hidupnya juga diturunin. Kadangkan kan Heeh, benar loh. Jadi kayak lebih diturunin sih gaya hidupnya. Misalnya ini omsetnya turun, ya udah berarti kita harus mengurangin salah satu misalnya kayak kita sering keluar malam jadi enggak ini biar uangnya lebih ditata lagi gitu. Gitu aja sih. Gak strategi bisnisnya harus digirinikan gitu enggak ya? Enggak sih, Mas Mala ditambah kalau bisa pas musim hujan harusnya nambah outlet. Jadi kalau misalnya besok ke depannya kita kena musim hujan, kita enggak kaget lagi. Nah, di situlah Mas uniknya kami. Heeh. [tertawa] Kami setiap musim hujan bukannya diam malah nambah outlet. Heeh. Nambah otel enggak apa-apa rugi. Yang penting pas musim hujan. Entah gimana caranya setiap musim hujan kami nambah. Enggak apa-apa rugi. Tapi kan cuma di awal. Ibaratnya sebagai nata mental kamiah. Pasti rugi ini. Pasti rugi gitu loh. Cuman gimana caranya menutupi kerugian yang itu gitu loh. Jadi ada tantangannya. Jadi tahun ke depan ini sudah sudah jelas bisa dilewati gitu loh. Itu sudah pasti musim hujan selalu nambah Mas. Kami kalau omset kotor Mas ya ibaratnya kayak musim hujan 1000 butir lah. Anggaplah dapat duit R7 juta. Kalau kali 30 ya 210 belum yang S. Tapi kami enggak pernah memikirkan yang pecahan es soalnya itu untuk nutupi kehidupan kami sama bayar bocah-bocah gitu loh. Nah, kalau pas musim kepuasa lah itu lumayan, Mas. Kalau seharinya R5.000 * 7 35 * 30 enggak ngitung, Mas. 1 M paling Mas enggak salah. Iya, enggak salah 1 M itu kan enggak salah tapi kan 50. Iya, Mas. Benar itu 1 M Rp50 juta itu. Benar pas puasa kemarin. Tapi uangnya diputar ya. Tapi uangnya diputar. dari 1 M itu enggak mungkin, Mas. Hasil semua. Itu paling dapat kami dari per butirnya kan cuma R00. Rp500. Anggaplah berarti ya kemungkinan ya alhamdulillah lah masih cukup untuk beli pickup gitu aja. Ya udah waktu itu kami habis puasa lebaran alhamdulillah bisa nambah pickup gitu aja. Pickup dan tanah sih. Pickup dan tanah. usaha, kerja keras, doa sama ditemenin sama orang yang tepat sih, Mas. Itu usahamu akan maju. Kalau gimanapun, Mas, kalau ditemenin sama orang yang salah, kita enggak akan maju. Wis kita berdoa terus tuh ya enggak boros, pintar mengelola keuangan lah, jangan merasa bersaing. Namanya usaha itu ya punya kita sendiri enggak ada saingan gitu loh. Wis itu aja. Sama ada satu hal unik sih, Mas. Dari awal aku buka usaha sampai sekarang kayak gini, aku enggak pernah megang duit speser pun, Mas. Ini yang megang itu benar. Makanya aku bilang kalau dia dikelola sama orang yang tepat, semuanya bakal dapat. Itu aja. Saya Septi dan ini suami saya. Kami dari Gudang Degan Sri Rezeki, alamatnya Kediri Semen mengucapkan terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah.