Cuma Modal 800 Ribu, Pasutri Bisa Raup Omzet Ratusan Juta Dari Jualan Kelapa Muda
UHj4lY1RKPI • 2025-11-24
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Ini tak ajak keluar dari rumah yang
nolong aku. Tinggalnya alhamdulillah,
Mas, di tengah hutan waktu itu. Jadi, ke
kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang,
gak ada tetangga.
Dan itu bukan cuman tinggal di tengah
hutan, tapi tidak ada motor dan tidak
ada HP.
Aku selalu menguatkan dia hanya bilang
gini, aku bakal terus kerja keras. Aku
cuma ngomong gitu sama dia, "Wis,
tungguo [musik] nanti ada sendiri
rezekinya.
Waktu anakku umur 5 tahun ya, anak minta
uang jajan R2.000 itu harus berantem
dulu sama dia. Segitu susahnya. [musik]
Soalnya sehari harus cukup Rp20.000 tuh.
Satu hari harus cukup Rp20.000 untuk
makan, untuk kebutuhan anak, untuk
semuanya [musik] biar bisa buka usaha.
Cara enggak menikmati hidup ya.
Caranya gampang sih, Mas. Jangan nengok
enaknya orang lain. Udah. Soalnya kalau
misalnya kita sudah nengok nikmatnya
orang lain, kita juga lupa nikmatnya
kita sendiri sih, Mas. Sebenarnya itu
aja.
Asalamualaikum. Nama saya Koirul Imron,
owner dari Gudang Degan Sri Rezeki dan
ini istri saya
Sapti Haryanti.
Ini lokasinya di Dusun Kembangan, Desa
Mbobang, Semen, Kediri. Cuman ini kan
kita punya dua. Yang satu di Semen
Kidul. Jadi yang di Semen Kidul itu
gudang satu, sedangkan di sini gudang
dua. Soalnya setelah kami habis kontrak
di Pasar Semen, kami mencari tempat yang
lebih luas. Akhirnya dapatlah tempat di
sini.
Pakai nama gudang itu saya pikir lek itu
dan banyak.
Alhamdulillah, Mas. Tapi nek bagi kami
ini sudah alhamdulillah Mas banyak
dengan bongkar degan tiap harinya
mencapai hampir dua truk kadang naik
kemarau tiga truk itu kadang nek puasa
empat truk itu menurut kami sudah
pencapaian luar bias lah untuk kami yang
baru membuka usaha di sini gitu.
Ini modal usaha kelapa muda dan dianya
itu juga ada grosirnya, ada ecernya dan
ada es degannya. Tapi orang paling kenal
itu dengan es gun Sri Rezeki yang jumbo.
Karena porsinya yang banyak, harganya
juga lebih murah. Rp5.000 tuh udah cup
jumbo. Sebelum pakai cup ini juga pernah
jualan dengan utuh yang mulai dari harga
Rp5.000, Rp6.000 itu udah utuh pakai es
dan gula. Dan orang sini kenalnya ya itu
sebenarnya makanya di sini disebut
namanya degan utuh Sri Rezeki. Awalnya
itu pertamanya enggak niat jualan es
degan Mas. Pertama awal buka itu
jualannya es jeruk. es teh, dan sosis
bakar dan maklor. Cuman kebetulan suami
punya inisiatif ayo tambah jualan degan
gitu loh. Dan itu ngambil degan sehari
10 biji.
Aslinya kami itu Sumatera, Mas. Ini
Medan, saya Riau. Pindah dari Riau dan
Medan itu kami pindah merantau berdua
itu kami sempat ke Jambi, sempat ke
Padang.
Ketemu di mana?
Ketemu di perantauan waktu itu di Riau,
Mas. Dia Iya. Sempat sempat gini, Mas.
Zaman itu zaman BBM kita kan broadcast,
jadi dia ini minta saya, "Tolong dong
broadcastin, aku di sini orang baru,
tolong dong." Aku diam aja, Mas.
Seminggu akhirnya dia marah sama aku.
Loh, kok marah? namanya enggak kenal,
aku enggak mau broadcast kok ngapain
marah-marah gitu loh. Tapi akhirnya dari
marah itu rupanya jadi ketemu malahan
malah jadi jodoh gitu loh. Zaman segitu
kan aku sudah kerja, dia baru merantau
kerja akhirnya dia enggak punya sangu
tak sangonin, enggak punya kos tak
bayarin, enggak punya makan tak beliin
selama sebulan Mas kayak gitu. sebulan
kok kayaknya betah. Akhirnya keterusan,
Mas. Sampai nikah tak biayain terus.
Lan, tolong dipotong, Lan. Itu Lan
kami merantau pertama itu ke Pasir
Pengarayan namanya. di sana 3 bulan,
Mas, mencoba jualan nyetan. Akhirnya
jualan 2 minggu pun ya habis modalnya.
Ikutlah mertua di rumah mertua mencoba
usaha lagi bikin makanan waktu itu. Dan
waktu itu penghasilannya gak seberapa.
Akhirnya tersempatkanlah sama mertua itu
merantaulah jangan di sini kan
penghasilannya belum seberapa. Nanti
anak istrimu biar dihidupin sama
mertuaku kan gitu Mas. Jam 11.00 Malam
aku tanya ini, aku besok pagi pergi
merantau, kamu ikut atau kamu tinggal?
Aku hanya punya waktu itu HP Oppo F11,
Mas, nek gak salah. Waktu itu tak jual
buat modal merantau, beli tiket, Mas.
Terus tak tanyakan ini. Aku berani
nanya. Terus dia jawab, "Aku ikut kamu.
Aku tahu kamu walaupun susah-susah tetap
tanggung jawab. Aku di sini punya orang
tua, tapi aku belum tentu ada yang
nanggung jawabi. Jadi aku ikutah inilah
itu kata-kata dia, Mas. Yang masih
teringat sampai sekarang itu. Itu jadi
awal merantau keluar dari rumah mertua
itu jam .00 subuh, Mas. Jam .00 subuh
itu aku ikut pickup, Mas. Dia naik di
depan sama anakku soalnya masih kecil,
Mas. Masih umur 4 mingguan, 1 bulanan.
Aku duduk di belakang, Mas. Subuh-subuh
jam .00 itu mau ke loket itu. Dan di
belakang itu isinya sayuran sama kelapa,
Mas. Sampai di Jambi, Mas, sisa uang
tinggal Rp2.000. Alhamdulillah kan masih
ada kenalan di sana. Dikasih modal, Mas,
Rp500.000. Dikasih modal Rp500.000 sama
dipinjamin motor. Aku jualan somai, Mas.
Waktu itu 2 minggu. Namanya kita ikut
orang, Mas. Sebaik-baiknya kita ikut
orang kan hati kita yang enggak enak.
Kayak kita aduh masa numpang terus.
Akhirnya waktu 2 minggu itu mulai terasa
aku sama ini ngomong aku tak cari
kerjaan lain tak nyupir. Jadi keterima
Mas aku waktu itu. Ini tak ajak keluar
dari rumah yang nolong aku. Tak ajak
kerja itu tinggalnya alhamdulillah Mas
di tengah hutan waktu itu. Zaman itu
jaga ladang Mas hitungannya kalau di
Jambi jaga ladang. Jadi ke kanan ke kiri
ke depan ke belakang gak ada tetangga.
Adane gubuk sama lampu coklat. itu Mas
zaman sekarang untuk netesin telur itu
loh
tiba-tiba diajak hidup di tengah hutan
sama anak kecil. Apakah waktu itu
kebayang untuk hidup seperti itu?
Enggak. Cuman yang mau gimana lagi ya,
Mas. Dan itu bukan cuman tinggal di
tengah hutan, tapi tidak ada motor dan
tidak ada HP.
Akses ke sananya jalan kaki.
Jalan kaki. Masnya juga pergi kerja
jalan kaki.
3 kilo jalan kaki. Ya lumayan paling ya
15 menitan lah. Dari itu melewati
tengah-tengah sawitan itu Mas. cuman ya
gak apa-apa namanya hidup ya Mas aku
selalu menguatkan dia hanya bilang gini
aku bakal terus kerja keras aku cuma
ngomong gitu sama dia. Wis tungguo nanti
ada sendiri rezekinya dan itu waktu
susah-susahnya itu, Mas enggak ada HP,
enggak ada motor itu ya hanya anak sih,
Mas memang yang menguatkan. Kami selalu
berkata ya jangan sampai anakku mewarisi
susahnya orang tuanya gitu ya. Waktu
ditinggal sama orang tuanya gitu.
[musik]
Ini ya aku sedikit cerita. Waktu anakku
umur 5 tahun ya 4 tahun apa 5 tahun itu
waktu ngontrak di bawah waktu masih
merintis anak minta uang jajan R.000 itu
harus berantem dulu sama dia. Segitu
susahnya soalnya sehari harus cukup
R.000 tuh satu hari harus cukup Rp20.000
untuk makan, untuk kebutuhan anak, untuk
semuanya. Segitu hematnya biar bisa buka
usaha
dan itu dijalani 1 tahun, Mas.
Benar.
Rp2.000 harus cukup 1 hari. Kalau ana
minta jajan 2.000 harus berantem dulu.
Soalnya memang benar, Mas. Soalnya
benar-benar ditabung buat buka usaha. Ya
itu awal buka usaha ini kan.
Untung aja kenapa kami ke sini ya
[musik] itu Mas biaya hidup di Kediri
murah. Beli nasi Rp5.000, lauknya
Rp15.000 Ibu itu sudah macam-macam
sampai sore, malam sudah enggak perlu
makan. Soalnya kalau tidur lapar pun
hilang gitu loh. Dah gitu aja.
Kenapa milih memilih Kediri selain
faktor ekonomi? [musik]
Dari Jambi itu awalnya enggak langsung
Kediri, Mas. Dari Jambi itu pindah ke
Solo. Kami ikut dekorasi, Mas. Dan itu
nyupir juga. Tapi alhamdulillah rezeki
waktu itu lancar juga. Cuman waktu itu
kena COVID, Mas. Banyak gonjang-ganjing
akhirnya yang akhirnya membuat kami
keluarlah dari kerjaan dan akhirnya
harus memutuskan pindah ke mana lagi.
Hanya kami putuskan satu malam. Aku
bilang dia ke Kediri kalau enggak jalan
ke Kalimantan. Aku sudah ngomong gitu.
Akhirnya ke Kediri dijalan nih. Kediri
dijalanin Mas itu awal sampai Kediri itu
dari Solo sampai Kediri itu
perjalanannya terlalu panjang, Mas.
Padahal yang harus ditempuh 5 jam itu
kami tempuh hampir 13 jam. Naik motor,
Mas. Vario. Vario.
Kenapa bisa lama, Mas? Itu zaman COVID,
Mas. Jadi setiap desa mau pindah ke desa
satunya, di sini ada polisi yang jaga.
Kami harus muter lagi cari jalan tikus.
Pindah lagi ke kecamatan satunya, polisi
lagi. Sempat sampai waktu itu pas di
tengah jalan kami kencang, polisi itu
tiba-tiba dari di tengah jalan, Mas.
Kami takut suruh putar balik. Akhirnya
enggak perlu disuruh kami putar balik
sendiri. Tapi di belakang itu ada
tronton, Mas. Hampir kami ketabrak waktu
itu. Akhirnya lewat jalan-jalan tikus
terus sampai Kediri. Akhirnya 13 jam,
Mas. Berangkat dari sana jam 5. Sini jam
.00 sore.
Lalu kepikiran [musik]
jualan degan inspirasinya apa?
Waktu itu kan ini jualan [musik] ST tes,
jeruk sama gorengan 500-an. Terus
tambahi degan lah. Itu ada satu orang
yang ngomong itu. Aku pikiran akhirnya
modal awal 10 degan, Mas. Aku beli habis
selama 3 hari. Terus aku kulak lagi, Mas
dengan harga yang menurutku mahal.
Soalnya kenapa? Degannya udah lama sudah
hampir pecah-pecah tapi masih harga
normal. Dari situ aku punya keinginan,
"Mas, gimana nek aku pulak sendiri tak
jual sendiri?" Aku kepikiran gitu. Tapi
dengan pikiranku yang awam waktu itu
tengok Mas di Facebook waktu itu [musik]
jual degan R3.000 4.000. Oh rupanya itu
di lahannya. Akhirnya sampai sininya
berapa ada ongkirnya Mas? Sampai sininya
segini. Akhirnya waktu itu ada supplier
Mas dari Trenggalek kirim ke sini itu
dengan harganya Rp4.000 sama 4,5. Yang
4.100 butir, yang 4,5 itu 100 butir.
Itu, Mas, dengan aku yang hanya jualan
di depan kos-kosan, Mas. Aku bingung,
Mas, ngabisinnya gimana. Ah, habis duit
Rp800.000. Istriku udah ini belanja
banyak, duitnya enggak balik-balik.
Gimana ini? Mendingan dibuat beli makan,
beli ini. Akhirnya, akhirnya tepot
ototak, Mas. Langsung aku buat Facebook
waktu itu. Entah dari mana aku
kepikirannya enggak tahu. Aku bikin
Facebook tak kasih nama Degan Utuh Sri
Rezeki. Soalnya aku punya niatan jual
degan utuh tapi dengan harga yang murah.
Waktu itu tak jual harga 5,5, Mas. 5,5.
Sampean hitung 4.000. Nek aku jual 5,5
kan berarti untungku cuma R00. Tapi itu
udah pakai es sama gula. Waktu itu aku
enggak mikirin bati, Mas. Enggak mikirin
untung.
Soalnya mikirin gimana balikin modal
duitnya dia kerja. gitu tok. Enggak ada
yang lain. Rupanya setelah aku posting,
Mas, di kecamatan dari Facebook lah
booming, Mas. Waktu itu 200 butir itu 2
hari, Mas. Aku 2 hari, Mas. Benar. Jadi
sehari itu bisa mecah 100.
momentumnya, Mas, sehingga berani sampai
jualan grosir waktu itu apa?
Nah, ini momentumnya Mas waktu itu kenal
Mas sama orang Trenggalek itu ya. Jadi
dia minta tolong Mas waktu itu musim
hujan Mas aku punya barang 800 butir
itu. Aku minta tolonglah Mas dijualkan
separuhnya. Wis enggak usah dibayarin
dulu. Nanti kalau udah habis baru
dibayar. Ya enggak apa-apa, Mas. Naik
400 butir. Rupanya yang dikirim 500. Ini
marah-marah, Mas. Ini gimana? enggak ada
duit untuk bayarnya. Terus tak bilang
dia, "Ini kita dikasih dulu, nanti
habisnya berapa baru kita bayar."
Akhirnya 500 butir itu, Mas tak obral
waktu itu. Rupanya 3 hari habis waktu
itu ya. Waktu itu tak obral Mas ada yang
10.0003, ada yang 10.000 dapat dua.
Terus 500 habis waktu itu 3 hari jelalah
yang dari Trenggalek itu malah
ditambahin lagi. Ini Mas ambilan lagi
enggak usah dibayar dulu, habis baru
bayar. Dari situlah, Mas. Dari satu
momennya akhirnya nek kirim degan itu
enggak 300-an lagi, 700, 500, 800 dari
situ. Itu waktu itu Mas kan kami ngekos,
bayar jualannya di depan kos. Akhirnya
kan tempat pun habis. Akhirnya bingung,
Mas. Yang punya kos ya agak
gonjang-ganjing, kami ya
gonjang-ganjing. Kan gitu. Akhirnya
gimana kalau kita pindah cari rumah
bulat? tak bilang ya rezeki Mas gang dua
rumah kami dikontrakin satu rumah bulat
ya dari situ awalnya kami akhirnya
grosiran itu yang sampai 700 sampai 1000
butir itu di situ akhirnya sama ini
memberanikan diri Mas gimana kalau kita
buka gudang cari sewa lahan kosong lahan
kosong yang bisa bongkar satu truk
sekalian nanti kita cari kendaraan buat
ngecer waktu itu dia ngobrok Mas capek
Mas 1 tahun itu kan kami kan asli
merintis
dan enggak ada libur sama sekali, Mas.
Beneran enggak bohong aku. 1 tahun
enggak ada libur satu hari pun
jenengan sadar diri bahwasanya oke aku
butuh ngonten nih turning pointnya apa?
Nah, kalau itu Mas waktu itu kan
kayaknya nengok orang kok jualan kok
dapat dolar. Gimana caranya waktu itu?
Sebenarnya cuman ini sih Mas, cuman
memamerkan kayak kalau kalau di Facebook
tuh kan jangkauannya luas. Jadi biar
orang tuh tahu kalau misalnya di sini
ada jualan degan, ada grosir degan gitu.
Jadi alhamdulillahnya ya kalau misalnya
dimasukkan ke Facebook itu malah orang
banyak ke sini, Mas. dari Tulung Agung,
Nganjuk, Par, Madiun, Jombang itu
ngambilnya ke sini. Jadi pokoknya dari
konten itu jadi orang tahulah kalau
misalnya di sini ada grosiran degan
gitu. N jadi setiap tanya-tanya sampean
tnya dari mana? Dari Facebook gitu.
Berarti ngonten itu perannya Mbak Septi
full
bareng-bareng sih, Mas, kalau ngonten.
Kalau misalnya aku lagi enggak sibuk, ya
aku yang ngonten. Kalau misalnya apa dia
yang ngonten gitu sih.
M, kalau sekarang perannya apa, Mbak?
Kalau dia perannya tinggal ngitungnya to
sih, Mas. [tertawa] Ngitung nanti aku
bagian transfer ke sana. Ah, gitu dia
ngitung
samawasin anak-anak sih, Mas.
Oh, sama kalau kirim tetap aku, Mas.
Soalnya pelanggan itu lebih senang
dikirim sama aku langsung.
Satu pekan itu habis berapa butir hujan,
Mas?
Nek satu pekan bingung, Mas. Mikirnya.
Pokoknya nek satu hari itu naik
masa-masa hujan, Mas ya. 1 hari ya
1000an, Mas. Tapi kalau musimnya panas
kemungkinan ya bisa sampai 3.000-an Mas.
Terbanyak waktu itu sehari [musik] 7.000
Mas butir 1 hari terbanyak itu waktu
puasa, Mas ya. Tapi puasa momen puasa
itu minimal 5.000 Mas lah. Gini Mas cara
kita ngambil untung ini kan buat belajar
kita semua, Mas ya. cara ngambil untung
kalau untuk yang grosir ngambilnya
sekitar 500 600 butir itu kita ngambil
untung dari Rp300 ke 500 itu gak
apa-apa, Mas. Soalnya kali 500 aja kan
kita sudah dapat Rp150.000-an lah
anggaplah gitu. Sekarang zaman sekarang
di mana kerja dapat Rp150.000 kita
enggak kerja kan gitu kan yang bongkar
ya anak-anak. Sedangkan untuk gaji
anak-anak ini yang kerja kita kan
ngambilnya dari keuntungan outlet jualan
es lah. Jadi alhamdulillah lah pokoknya
kayak gitu lah. Sedangkan untuk yang
bakul langsung penjual itu per butirnya
kita ambil 1.000 ke 1.00 soalnya dia
milih Mas nek ndak yang segini kan ndak
mau gitu loh. Lah itu nek penjual. Jadi
nek yang penjual yang milih 1.000 ke
1.500 lah. Kalau sehari kita ke penjual
bisa 400 butir lah kan kita sudah dapat
Rp600.000 [musik] lah. Anggaplah itu
yang sebagai kita tabung. Nah untuk yang
gaji orang-orang kerja ini ngambil dari
S.
Gudang grosir degan rezeki itu nampaknya
lebih dikenalnya Mbak Septi daripada
sampean, Mas.
Iya soalnya aku lebih menonjolkan dia
sih Mas soalnya modal kan dari dia, Mas.
Tak bilang jadi yang berhak atas ini
semua bukan saya ya. Dia aslinya
enggak sama-sama.
Aku hanya membesarkan, Mas. Nek dia kan
awal modal dari dia. Makanya siapa yang
punya modal kan dia yang punya usaha.
Enggak sama aja sih, Mas. Sama semua.
Jawabannya semua. Sama semua. Dia juga
pekerja keras, Mas. Maksudnya
kalau ngirim pokoknya dia tanggung jawab
loh, Mas. Pekerja keras gitu loh ya. Dan
dianya itu paling malas neneng orang
lelet dan waktunya itu misalnya nih jam
. bangun dia jam .00 bangun dia marah.
Kan jam . disuruh jam . jam . gitu loh.
Aku enggak suka, Mas. Waktu-waktu molor
tu enggak suka. Kadang kalau anak-anak
besok pagi bangun jam .00 ya nanti tak
kasih gaji tambahan. Enggak bangun ya
wis tak kerjain sendiri bongkar muat
sendiri enggak apa-apa Mas. Itu tak
anggap olahraga terus aku yang enggak
bisa membebankan semuanya ke orang-orang
kerja. Kalau mereka capek kita enggak
bisa maksa, Mas gitu loh. Kita juga tahu
kemampuan orang-orang kerja gitu. Jadi
kalau udah laporan, "Mas, aku besok
kayaknya capek enggak bisa." Y ya wis
gak apa-apa tak bongkar sendiri, tak
muat sendiri enggak apa-apa dan aku
enggak setiap hari bongkar muat sendiri
kan gitu, Mas.
Untuk tahu degan bagus dan gak baik itu
ciri-cirinya apa, Mas?
Nek degan Mas itu kan selera
masing-masing.
I
ya. Kalau untuk yang kelamut itu kalau
dipukul, Mas, ini kan mukul tangan kanan
yang ngerasain tangan kiri. Yang tangan
kiri nih, Mas, bagian telapak itu getar,
Mas. Getarnya banget kayak kesetrum.
Det. Terus kalau yang isi pas, isi
sedengan itu getarnya dikit, Mas. Dan
kalau yang untuk isi tebal, nah itu
kayak enggak ada getarnya, Mas. Kalau
ada pun paling dikit banget getarnya.
Ah, itu tebal tapi masih empuk. Cuman
kalau yang suaranya udah keras itu ya
sudah beda degan lah. Itu kayaknya oyen
lah itu kayaknya.
Oke.
3 tahun ini usaha degan dapat apa aja?
Kalau dapat ya alhamdulillah dapat tanah
ya beli kendaraan-kendaraan lah yang
dulu pengin banget enggak bisa beli
sekarang alhamdulillah bisa beli itu
aja. Mbak Septi itu gak ketika
pendapatan naik ke hidup juga naik
lebih ke naiknya lebih ke makanan sih
Mas. Soalnya dulu kan mau makan ini
susah makannya itu susah
balas dendamnya ke makanan Mas.
Jadi lebih ke makanan. Iya serius. Jadi
kayak aduh dulu kan Rp20.000 satu hari
mau makan apa sih Mas yang enak Rp20.000
paling kan sayur bening doang. Kalau
sekarang tuh lebih aduh pengin seafood
pergi ke Tambak Rejo.
Tapi kadang ada sih Mas sebagian orang
ngomong nek gaya hidup kami naiklah.
Bukannya gaya hidup itu namanya
penunjang karir. Kayak dia konten masa
ya pakai baju amburadul kan ya enggak
mungkin.
Kayak aku kirim degan masa enggak enggak
beli pickup kan kayak gitu. Terus kayak
anggota banyak kan banyak anggota masa
motor satu ya enggak mungkin. Akhirnya
kan harus beli motor juga kita
mengerjakan orang kalau orang itu ngikut
sama kita terus enggak ada motor kan
yang bingung akhirnya beli motor juga
gitu sih Mas. lebih ke kami lebih
mementingkan ke ininya, Mas, ke
kebutuhannya. Untuk apa itu kita beli.
Kalau enggak ada butuhnya, enggak usah
beli. Gitu aja sih.
Cara Mbak STI menikmati hidup bagaimana?
Caranya gampang sih, Mas. Jangan nengok
enaknya orang lain. Udah, kalau kita
nengok nikmatnya orang lain, pasti kita
juga pengin, kan? Jadi, waktu kas susah
enggak usah nengok nikmatnya orang tuh
mau punya mobil, punya HP bagus, punya
emas, punya apa, ya udah kan orang itu
wies hidup kita ya udah kayak gini
dinikmatin aja. Jadi kan lebih enak,
lebih enjoy, lebih bahagia. Jadi orang
lain mau punya apa, mau punya ini, mau
punya itu. Ya, urusan orang itu. Itu sih
kadang kan ada orang perempuan terutama
kawannya punya HP nih dia harus punya,
kawannya punya emas nih dia harus punya.
Enggak gitu. Itu namanya enggak nikmatin
hidup. Nikmatin hidup ya udah hidup kita
ya dinikmatin aja kayak gini. Enggak
punya mau di situ beli ini, ya udah
biarin aja. Soalnya kalau misalnya kita
sudah nengok nikmatnya orang lain, kita
juga lupa nikmatnya kita sendiri sih,
Mas. Sebenarnya itu aja. Bagaimana
mensiasati omset turun seperti itu,
Mbak? Apa yang dilakukan?
Gaya hidupnya sih, Mas. Kalau misalnya
omsetnya turun, ya gaya hidupnya juga
diturunin. Kadangkan kan Heeh, benar
loh. Jadi kayak lebih diturunin sih gaya
hidupnya. Misalnya ini omsetnya turun,
ya udah berarti kita harus mengurangin
salah satu misalnya kayak kita sering
keluar malam jadi enggak ini biar
uangnya lebih ditata lagi gitu. Gitu aja
sih.
Gak strategi bisnisnya harus digirinikan
gitu enggak ya? Enggak sih, Mas Mala
ditambah kalau bisa pas musim hujan
harusnya nambah outlet. Jadi kalau
misalnya besok ke depannya kita kena
musim hujan, kita enggak kaget lagi.
Nah, di situlah Mas uniknya kami.
Heeh. [tertawa]
Kami setiap musim hujan bukannya diam
malah nambah outlet.
Heeh. Nambah otel
enggak apa-apa rugi. Yang penting pas
musim hujan. Entah gimana caranya setiap
musim hujan kami nambah.
Enggak apa-apa rugi. Tapi kan cuma di
awal. Ibaratnya sebagai nata mental
kamiah.
Pasti rugi ini. Pasti rugi gitu loh.
Cuman gimana caranya menutupi kerugian
yang itu gitu loh. Jadi ada
tantangannya. Jadi tahun ke depan ini
sudah
sudah jelas bisa dilewati gitu loh. Itu
sudah pasti musim hujan selalu nambah
Mas. Kami kalau omset kotor Mas ya
ibaratnya kayak musim hujan 1000 butir
lah. Anggaplah dapat duit R7 juta. Kalau
kali 30 ya 210 belum yang S. Tapi kami
enggak pernah memikirkan yang pecahan es
soalnya itu untuk nutupi kehidupan kami
sama bayar bocah-bocah gitu loh. Nah,
kalau pas musim kepuasa lah itu lumayan,
Mas. Kalau seharinya R5.000 * 7 35 * 30
enggak ngitung, Mas. 1 M paling Mas
enggak salah. Iya, enggak salah 1 M itu
kan enggak salah tapi kan 50. Iya, Mas.
Benar itu 1 M Rp50 juta itu. Benar pas
puasa kemarin.
Tapi uangnya diputar ya.
Tapi uangnya diputar. dari 1 M itu
enggak mungkin, Mas. Hasil semua. Itu
paling dapat kami dari per butirnya kan
cuma R00.
Rp500. Anggaplah berarti ya kemungkinan
ya alhamdulillah lah masih cukup untuk
beli pickup gitu aja. Ya udah waktu itu
kami habis puasa lebaran alhamdulillah
bisa nambah pickup gitu aja.
Pickup dan tanah sih.
Pickup dan tanah.
usaha,
kerja keras,
doa sama ditemenin sama orang yang tepat
sih, Mas. Itu usahamu akan maju. Kalau
gimanapun, Mas, kalau ditemenin sama
orang yang salah, kita enggak akan maju.
Wis kita
berdoa terus tuh ya enggak boros, pintar
mengelola keuangan lah, jangan merasa
bersaing. Namanya usaha itu ya punya
kita sendiri enggak ada saingan gitu
loh. Wis itu aja.
Sama ada satu hal unik sih, Mas. Dari
awal aku buka usaha sampai sekarang
kayak gini, aku enggak pernah megang
duit speser pun, Mas. Ini yang megang
itu benar. Makanya aku bilang kalau dia
dikelola sama orang yang tepat, semuanya
bakal dapat. Itu aja. Saya Septi dan ini
suami saya. Kami dari Gudang Degan Sri
Rezeki, alamatnya Kediri Semen
mengucapkan terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:32:44 UTC
Categories
Manage