Transcript
yvpccBXAi6I • Bongkar Resep Donat Enak, Pedagang Ini Gak Takut Ditiru! Rezeki Sudah Diatur!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0652_yvpccBXAi6I.txt
Kind: captions Language: id [musik] Itu semua saya ambil dari pabrik dulu. Itu coklatnya merek ini disuplai dari pabrik. Memang dulu ya lumayan lah. Tapi kalau terigu aku impor, Mas. Ini muahal. Tepung yang saya ambil tuh empat kali lipat dari tepung yang beredar di Tulung Agung. Saya yang bantu itu anak SMKK. Jadi yang prakerin praktik kerja industri di rumah saya. Dan saya alhamdulillah tidak pernah menyembunyikan resep. Jadi bismillahirrahmanirrahim. Saya ikut minterne bocah-bocah yang SMK [musik] SMK tadi. Kalau finansial anak sudah saya [musik] kasih misalkan rumah satu ya sudah lainnya nanti aku iso husnul khotimah ndak terbebani omahku sing kono piye gelangku sak lepak piye ndak. Jadi aku bisa berbahagia kalau bisa memberi kepada orang lain. Memberi apapun ilmu atau finansial yang saya [musik] punya. Saya kepenginnya begitu. Bisa memberi, bisa berbagi. Kan usia sudah 68 itu sudah bau, tinggal camat aja. Insyaallah semoga husnul khatimah. Bismillahirrahmanirrahim. Nama saya Ibu Tuti Sunarni Elok. Kalau di Tulungagung memang dikenal Bu Elok karena usaha saya namanya Elok. Dan usaha saya ini sejak kira-kira 43 tahun yang lalu. Saya masih di Trenggalek dulu. Kalau basic saya sebetulnya pembantu bidan. Jadi perawat di PKI Aisiah. Pada tahun itu pakai BKI Aisyah ramai banget. Tapi karena saya mengikuti suami jadi keluar waktu itu Trenggalek. Aduh ya Allah sepi, Mas. Terus kita itu apa ya mau kerja apa? Saya nyari-nyari hobiku apa. Oh, hobiku kok bikin kue gitu. Lalu di majalah Kartini itu kan ada lomba resep keluarga. Saya ikut menang nomor satu sejat tim. Masak apa? Alhamdulillah masaknya waktu itu kelinci panggang. Kelinci panggang. Jadi saya dulu awalnya itu masakan Mas. Kemudian kita dikirim ke Jakarta di Universitas Trisakti. Saya masak di sana diasisteni mahasiswa-mahasiswa di sana. Alhamdulillah saya dapat nomor dua nasional. Sejak itu terkenanya saya pintar masak. Nah, saya akhirnya dipakai kabupaten dulu sering Pak Harmoko Naliko Semono, Menteri Penerangan, kemudian Pak Larso, Gubernur itu saya sering bantu RT-nya pendopo sana nyusun-nyusun menu. Nah, terkenalnya untuk pintar masak, Mas. [tertawa] Jadi, sejak itu e saya beranikan diri untuk menerima pesanan. Terus saya bingung nyari nama sopo yo kowe apa ya? Akhirnya saya menemukan Elo. Elo itu adik saya yang terkecil yang dulu ikut saya sekolah di Trenggalek gitu. Terus tiba-tiba ke donat itu. Oh, itu panjang donat itu setelah saya sebelum pensiun saya pulang Tulungagung. Nah, di situ saya awal cateringku besar di situ, Mas. Mungkin insyaallah catering-catering seusia itu awal ilmunya dari saya. itu diakui of tidak karena banyak yang aku lese neng Bu Elok, aku lese neng Bu Elok banyak juga yang menyembunyikan itu hak mereka ngih. Saya sudah ikhlas memberikan ilmu. Jadi saya basicnya itu memang ngelesi sebetulnya ngelesi sambil menerima pesenan. Itu menu-menu desert Bu ya. Iya. Istilahnya makanan basah juga ada, desert-desert juga ada. Kemudian kue kering. Kalau hari raya itu kue kering. Wah banyak Mas saya produksinya. Saya yang bantu itu anak SMK. Jadi yang prakerin praktik kerja industri di rumah saya. Dan saya alhamdulillah tidak pernah menyembunyikan resep. Jadi bismillahirrahmanirrahim saya ikut minterne bocah-bocah yang SMK SMA tadi. Jadi tidak anak-anak datang cuma tak suruh ngelipet dos. atau resep ndak tahu mereka ndak. Saya kan senang masakan itu senang tapi kenapa customer senengane kok kue pesan ke saya itu kue nampan kecil-kecil jajanan pasar itu Tulungagung dulu belum ada itu insyaallah elok yang mem anu tahun berapa itu Bu? Oh tahun kira-kira tahun-an kalau gak salah. Kemudian pas ada pengajian apa saya sarankan kalau pesan ojo sing kecil-kecil saya sarankan donat atau bekre gitu. Tapi alhamdulillah cocok juga. Oh donatnya enak. Oh kan gitu. Jadi beralihnya ke donat itu ada pondok di sini itu kalau pesan tuh sampai haul-haul itu mesti R5.000. R5.000 itu saya sarankan juga donat atau bakteri karena mudah kan. gitu. Justru saya karena SDM saya kurang, saya minta santrinya dia untuk bantu semalaman nak tidur itu santrinya dia. Akhirnya memberanikan diri buka outlet donat sendiri. Iya, di rumah Jepun. Tapi setelah itu COVID kan. Terus anakku yo kayaknya ogah-ogahan untuk menekuni donat itu rodo ogah-ogahan gitu. Dia kerja di Bali, sini ditinggal geledak gitu. Terus alhamdulillah ini setelah nganggur pulang ke Tulungagung, Bali ditinggal. Di sini ada teman. Jadi ini tim Mas bukan bukan hanya anak saya. Jadi tim ini mereka-mereka ini akhirnya buka ini. Sehari berapa P Bu sampai sekarang? Insyaallah kalau 300 turun gak pernah insyaallah. Tapi kalau 300 ke atas sampai 500 alhamdulillah sampai sekarang. Tapi titik gadine, Mas. [tertawa] Karena kita pakai bahan premium semua. Jadi memang pangsa pasar yang saya tembak itu memang yang kelas menengah ke atas. Insyaallah mudah-mudahan doa-doa saya terijabah untuk anak-anak pemuda pemudi ini. [tertawa] Jenengan masih terjun sendiri untuk bangun outlet ini, Bu? Kalau interior eksterior mereka anak-anak muda itu lebih pintar daripada saya. Tapi kalau produk si donatnya setelah subuh sampai karyawannya nanti datang. 30 itu baru aku. Jadi setelah subuh saya ngewangi anakku sampai nanti 0.30 karyawan datang. Begitu. Latar belakang saya. Saya itu anak kedua dari saudara 12. Saudara 12 utuh 10. Terus meninggal satu. Lah saya kan di sini. Otomatis saya ini ben lek aku eruh pengin maringi adik-adik ben ora usah nyuwun suami gitu kan gitu. Saya dari suami ya seikhlasnya suami saya gitu. Dan alhamdulillah masyarakat itu percaya kepada saya. Ternyata nyapo kok diarani percaya? Saya di sini ketua paguyuban tukang-tukang kue Tulungagung. Paguyuban Ratu Bersinar namanya. Saya ketua. Kemudian seksi pendidikan di IWAPI, Ikatan Wanita Pengusaha. Kalau dulu masih ada itu Bogasari, saya insyaallah pembina. Jadi di dalam berorganisasi saya insyaallah banyak teman gitu loh, Mas. Dan tukang-tukang ku Tulung Agung itu awalnya kan yo les ning mahku gitu. Kebanyakan kebanyakan. Duh, ini kan produk yang umum ya. Apalagi muncul para pemuda-pemudanya yang inovasinya juga oh lebih lebih gila lagi Bu ya. Iya. Iya. gimana jenengan ngikuti itu, Bu, sehingga donat jenengan masih tetap bisa eksis. Nah, itu pertama rezeki dari Allah. Kedua, karena kita selalu menjaga kualitas bahan karena donatku terkena larang, ya. Makanya aku juga harus memakai bahan yang sepadang dengan harga jual. Jadi premium semua lah. Alhamdulillah saya juga dipercaya sebetulnya nalika elok sebelum ini itu semua saya ambil dari pabrik dulu. Itu coklatnya merek ini disuplai dari pabrik memang dulu ya lumayan lah. Tapi kalau terigu aku impor Mas. Ini muahal. Tepung yang saya ambil tuh empat kali lipat dari tepung yang beredar di Tulungagung. Iya harganya. Makanya aku muni batin dedik. [tertawa] itu ini jual berapa, Bu? Ada yang Rp2.000, R.000, R.000 sampai Rp2.000 satu bisungan itu rata-rata kan ada yang 3.500, 4.000, 5.000 tapi sekarang sudah mulai bermunculan juga mereka berani untuk harga premium walaupun tepungnya biasa saja. Tipsnya bikin donat enak itu dari jenengan apa? Sebelum memulai berdoa dulu. Wah. Kemudian dari bahan dasar donat dengan bahan dasar roti itu kan sama, Mas. Harus ada teligu, harus ada gula, pengembang itu ragi, kemudian ee margarin, kemudian telur. Nah, itu lima ini harus ada margarin kan dari harga Rp4.000 sampai 1 kilonya ada yang 90. Kalau panjenengan jualnya kelas menengah ke bawah ya pakai ada yang 4.000 gak apa-apa lah. Kita kelas atas ya kita pilih yang bahkan 125 1 kilonya. Jadi butter bukan lagi margarin tapi sudah mentega atau butter. Telur juga begitu. Kita yang diperlukan telur yang baru. Jadi kita ambil dari bakul yang ambil di peternak. Jadi baru gitu. Berarti mitos bahwasanya adonan itu beda tangan, beda rasa dan ada pengaruh yang signifikan walaupun itu sudah resep. Jadi sing gawe sing ngasto panjenengan opo aku kan sudah ada resep, sudah ada merek itu rasanya pasti sama. Tapi kalau masakan, nah itu masakan itu beda tangan, beda rasa walaupun sudah ada resepnya. Kok ono lombok saon kayak ono anu gitu ndak tetap ndak sama. Tapi kalau kue apalagi donat itu sudah aku yang bikin atau karyawan yang bikin sama kualitasnya sama ya. Opo ngono kene tak anu takbang ya. Heeh. Aku gak loh. Saya dari usia sekarang dan menjadi doa saya semoga saya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain apalagi untuk anak, cucu, keluarga itu. Semoga saya menjadi orang yang bermanfaat bagi mereka. Apalagi teman-temannya anak saya, timnya anak saya itu tak saya anggap sebagai anak saya sendiri. Doa saya untuk donat elok juga setiap malam masih saya panjatkan. Dan yang paling paling anu lagi, semoga anak saya segera menjadi wanita yang salehah. Amin. Amin ya rabbal alamin. [tertawa] Kalau finansial anak sudah ya saya kasih misalkan rumah satu ya sudah lainnya nanti aku iso husnul khotimah ndak terbebani omahku sing kono piye gelangku sak lepak piye ndak. Jadi aku bisa berbahagia kalau bisa memberi kepada orang lain. Memberi apapun ilmu atau finansial yang saya punya. Saya kepenginnya begitu. Bisa memberi, bisa berbagi. Kan usia sudah 68 itu sudah bau, tinggal camat aja. Insyaallah semoga husnul khatimah. Di Tulungagung itu kebanyakan tuh juga murid. Jadi aku tidak merasa tersaingi, tidak merasa menjadi kompetator mereka itu kepada saya. Jadi saya sudah ikhlas istilahnya gak punya beban. Hanya pesan saya, ayo kita bersaing secara sehat. Sebetulnya mereka juga sudah pandai kok, Mas. Pandainya apa? Kalau kita jual murah mertego iki sing tak gae. Itu sudah tidak menyalahi aturan dan tidak membuat kita itu terbebani. Jadi berjalan apa ada kita lihat itu senang juga mereka-mereka maju itu kita karena jiwa guru ya jiwa anunya ada di saya gitu. Jadi mereka bangkit mereka menjadi kompetitor saya saya ndak ndak merasa begitu gitu. Nama saya Ibu Tuti dari donat Elok. Alamatnya Pasar Pring Bago, Jalan Igusti Murah Rai Tulungagung. Terima kasih atas perhatiannya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [tepuk tangan] [musik] Allah