Bongkar Resep Donat Enak, Pedagang Ini Gak Takut Ditiru! Rezeki Sudah Diatur!
yvpccBXAi6I • 2025-11-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[musik]
Itu semua saya ambil dari pabrik dulu.
Itu coklatnya merek ini disuplai dari
pabrik. Memang dulu ya lumayan lah. Tapi
kalau terigu aku impor, Mas. Ini muahal.
Tepung yang saya ambil tuh empat kali
lipat dari tepung yang beredar di Tulung
Agung.
Saya yang bantu itu anak SMKK. Jadi yang
prakerin praktik kerja industri di rumah
saya. Dan saya alhamdulillah tidak
pernah menyembunyikan resep. Jadi
bismillahirrahmanirrahim.
Saya ikut minterne bocah-bocah yang SMK
[musik] SMK tadi.
Kalau finansial anak sudah saya [musik]
kasih misalkan rumah satu ya sudah
lainnya nanti aku iso husnul khotimah
ndak terbebani omahku sing kono piye
gelangku sak lepak piye ndak. Jadi aku
bisa berbahagia kalau bisa memberi
kepada orang lain. Memberi apapun ilmu
atau finansial yang saya [musik] punya.
Saya kepenginnya begitu. Bisa memberi,
bisa berbagi. Kan usia sudah 68 itu
sudah bau, tinggal camat aja. Insyaallah
semoga husnul khatimah.
Bismillahirrahmanirrahim. Nama saya Ibu
Tuti Sunarni Elok. Kalau di Tulungagung
memang dikenal Bu Elok karena usaha saya
namanya Elok. Dan usaha saya ini sejak
kira-kira 43 tahun yang lalu. Saya masih
di Trenggalek dulu. Kalau basic saya
sebetulnya pembantu bidan. Jadi perawat
di PKI Aisiah. Pada tahun itu pakai BKI
Aisyah ramai banget. Tapi karena saya
mengikuti suami jadi keluar waktu itu
Trenggalek. Aduh ya Allah sepi, Mas.
Terus kita itu apa ya mau kerja apa?
Saya nyari-nyari hobiku apa. Oh, hobiku
kok bikin kue gitu. Lalu di majalah
Kartini itu kan ada lomba resep
keluarga. Saya ikut menang nomor satu
sejat tim.
Masak apa?
Alhamdulillah masaknya waktu itu kelinci
panggang. Kelinci panggang. Jadi saya
dulu awalnya itu masakan Mas. Kemudian
kita dikirim ke Jakarta di Universitas
Trisakti. Saya masak di sana diasisteni
mahasiswa-mahasiswa di sana.
Alhamdulillah saya dapat nomor dua
nasional. Sejak itu terkenanya saya
pintar masak. Nah, saya akhirnya dipakai
kabupaten dulu sering Pak Harmoko Naliko
Semono, Menteri Penerangan, kemudian Pak
Larso, Gubernur itu saya sering bantu
RT-nya pendopo sana nyusun-nyusun menu.
Nah, terkenalnya untuk pintar masak,
Mas. [tertawa]
Jadi, sejak itu e saya beranikan diri
untuk menerima pesanan. Terus saya
bingung nyari nama sopo yo kowe apa ya?
Akhirnya saya menemukan Elo. Elo itu
adik saya yang terkecil yang dulu ikut
saya sekolah di Trenggalek gitu.
Terus tiba-tiba ke donat itu.
Oh, itu panjang donat itu setelah saya
sebelum pensiun saya pulang Tulungagung.
Nah, di situ saya awal cateringku besar
di situ, Mas. Mungkin insyaallah
catering-catering seusia
itu awal ilmunya dari saya. itu diakui
of tidak karena banyak yang aku lese
neng Bu Elok, aku lese neng Bu Elok
banyak juga yang menyembunyikan itu hak
mereka ngih. Saya sudah ikhlas
memberikan ilmu. Jadi saya basicnya itu
memang ngelesi sebetulnya ngelesi sambil
menerima pesenan.
Itu menu-menu desert Bu ya.
Iya. Istilahnya makanan basah juga ada,
desert-desert juga ada. Kemudian kue
kering. Kalau hari raya itu kue kering.
Wah banyak Mas saya produksinya. Saya
yang bantu itu anak SMK. Jadi yang
prakerin praktik kerja industri di rumah
saya. Dan saya alhamdulillah tidak
pernah menyembunyikan resep. Jadi
bismillahirrahmanirrahim
saya ikut minterne bocah-bocah yang SMK
SMA tadi. Jadi tidak anak-anak datang
cuma tak suruh ngelipet dos. atau resep
ndak tahu mereka ndak. Saya kan senang
masakan itu senang tapi kenapa customer
senengane kok kue pesan ke saya itu kue
nampan kecil-kecil jajanan pasar itu
Tulungagung dulu belum ada itu
insyaallah elok yang mem anu
tahun berapa itu Bu?
Oh tahun kira-kira tahun-an
kalau gak salah. Kemudian pas ada
pengajian apa saya sarankan kalau pesan
ojo sing kecil-kecil saya sarankan donat
atau bekre gitu. Tapi alhamdulillah
cocok juga. Oh donatnya enak. Oh kan
gitu. Jadi beralihnya ke donat itu ada
pondok di sini itu kalau pesan tuh
sampai haul-haul itu mesti R5.000.
R5.000 itu saya sarankan juga donat atau
bakteri karena mudah kan. gitu. Justru
saya karena SDM saya kurang, saya minta
santrinya dia untuk bantu semalaman nak
tidur itu santrinya dia.
Akhirnya memberanikan diri buka outlet
donat sendiri.
Iya, di rumah Jepun. Tapi setelah itu
COVID kan. Terus anakku yo kayaknya
ogah-ogahan untuk menekuni donat itu
rodo ogah-ogahan gitu. Dia kerja di
Bali, sini ditinggal geledak gitu.
Terus alhamdulillah ini setelah nganggur
pulang ke Tulungagung, Bali ditinggal.
Di sini ada teman. Jadi ini tim Mas
bukan bukan hanya anak saya. Jadi tim
ini mereka-mereka ini akhirnya buka ini.
Sehari berapa P Bu
sampai sekarang? Insyaallah kalau 300
turun gak pernah insyaallah. Tapi kalau
300 ke atas sampai 500 alhamdulillah
sampai sekarang. Tapi titik gadine, Mas.
[tertawa] Karena kita pakai bahan
premium semua. Jadi memang pangsa pasar
yang saya tembak itu memang yang kelas
menengah ke atas. Insyaallah
mudah-mudahan doa-doa saya terijabah
untuk anak-anak pemuda pemudi ini.
[tertawa]
Jenengan masih terjun sendiri untuk
bangun outlet ini, Bu? Kalau interior
eksterior mereka anak-anak muda itu
lebih pintar daripada saya. Tapi kalau
produk si donatnya
setelah subuh sampai karyawannya nanti
datang. 30 itu baru aku. Jadi setelah
subuh saya ngewangi anakku sampai nanti
0.30 karyawan datang. Begitu. Latar
belakang saya. Saya itu anak kedua dari
saudara 12. Saudara 12 utuh 10. Terus
meninggal satu. Lah saya kan di sini.
Otomatis saya ini ben lek aku eruh
pengin maringi adik-adik ben ora usah
nyuwun suami gitu kan gitu. Saya dari
suami ya seikhlasnya suami saya gitu.
Dan alhamdulillah masyarakat itu percaya
kepada saya. Ternyata
nyapo kok diarani percaya? Saya di sini
ketua paguyuban tukang-tukang kue
Tulungagung. Paguyuban Ratu Bersinar
namanya. Saya ketua. Kemudian seksi
pendidikan di IWAPI, Ikatan Wanita
Pengusaha. Kalau dulu masih ada itu
Bogasari, saya insyaallah pembina. Jadi
di dalam berorganisasi
saya insyaallah banyak teman gitu loh,
Mas. Dan tukang-tukang ku Tulung Agung
itu awalnya kan yo les ning mahku gitu.
Kebanyakan kebanyakan.
Duh, ini kan produk yang umum ya.
Apalagi muncul para pemuda-pemudanya
yang inovasinya juga
oh lebih
lebih gila lagi Bu ya.
Iya. Iya. gimana jenengan ngikuti itu,
Bu, sehingga donat jenengan masih tetap
bisa eksis.
Nah, itu pertama rezeki dari Allah.
Kedua, karena kita selalu menjaga
kualitas bahan karena donatku terkena
larang, ya. Makanya aku juga harus
memakai bahan yang sepadang dengan harga
jual. Jadi premium semua lah.
Alhamdulillah saya juga dipercaya
sebetulnya nalika elok sebelum ini itu
semua saya ambil dari pabrik dulu. Itu
coklatnya merek ini disuplai dari pabrik
memang dulu ya lumayan lah. Tapi kalau
terigu aku impor Mas. Ini muahal. Tepung
yang saya ambil tuh empat kali lipat
dari tepung yang beredar di Tulungagung.
Iya harganya. Makanya aku muni batin
dedik. [tertawa]
itu
ini jual berapa, Bu?
Ada yang Rp2.000, R.000, R.000 sampai
Rp2.000
satu bisungan itu
rata-rata kan ada yang 3.500, 4.000,
5.000 tapi sekarang sudah mulai
bermunculan juga mereka berani untuk
harga premium walaupun tepungnya biasa
saja.
Tipsnya bikin donat enak itu dari
jenengan apa?
Sebelum memulai berdoa dulu.
Wah. Kemudian dari bahan dasar donat
dengan bahan dasar roti itu kan sama,
Mas. Harus ada teligu, harus ada gula,
pengembang itu ragi, kemudian ee
margarin, kemudian telur. Nah, itu lima
ini harus ada margarin kan dari harga
Rp4.000 sampai 1 kilonya ada yang 90.
Kalau panjenengan jualnya kelas menengah
ke bawah ya pakai ada yang 4.000 gak
apa-apa lah. Kita kelas atas ya kita
pilih yang bahkan 125 1 kilonya. Jadi
butter bukan lagi margarin tapi sudah
mentega atau butter. Telur juga begitu.
Kita yang diperlukan telur yang baru.
Jadi kita ambil dari bakul yang ambil di
peternak. Jadi baru gitu. Berarti mitos
bahwasanya adonan itu beda tangan, beda
rasa dan ada pengaruh yang signifikan
walaupun itu sudah resep. Jadi sing gawe
sing ngasto panjenengan opo aku kan
sudah ada resep, sudah ada merek itu
rasanya pasti sama. Tapi kalau masakan,
nah itu masakan itu beda tangan, beda
rasa walaupun sudah ada resepnya. Kok
ono lombok saon kayak ono anu gitu ndak
tetap ndak sama. Tapi kalau kue apalagi
donat itu sudah aku yang bikin atau
karyawan yang bikin sama kualitasnya
sama
ya. Opo ngono kene tak anu takbang ya.
Heeh. Aku gak loh.
Saya dari usia sekarang dan menjadi doa
saya semoga saya menjadi orang yang
bermanfaat bagi orang lain apalagi untuk
anak, cucu, keluarga itu. Semoga saya
menjadi orang yang bermanfaat bagi
mereka. Apalagi teman-temannya anak
saya, timnya anak saya itu tak saya
anggap sebagai anak saya sendiri. Doa
saya untuk donat elok juga setiap malam
masih saya panjatkan. Dan yang paling
paling anu lagi, semoga anak saya segera
menjadi wanita yang salehah. Amin. Amin
ya rabbal alamin. [tertawa]
Kalau finansial anak sudah ya saya kasih
misalkan rumah satu ya sudah lainnya
nanti aku iso husnul khotimah ndak
terbebani omahku sing kono piye gelangku
sak lepak piye ndak. Jadi aku bisa
berbahagia kalau bisa memberi kepada
orang lain. Memberi apapun ilmu atau
finansial yang saya punya. Saya
kepenginnya begitu. Bisa memberi, bisa
berbagi. Kan usia sudah 68 itu sudah
bau, tinggal camat aja. Insyaallah
semoga husnul khatimah. Di Tulungagung
itu kebanyakan tuh juga murid. Jadi aku
tidak merasa tersaingi, tidak merasa
menjadi kompetator mereka itu kepada
saya. Jadi saya sudah ikhlas istilahnya
gak punya beban. Hanya pesan saya, ayo
kita bersaing secara sehat. Sebetulnya
mereka juga sudah pandai kok, Mas.
Pandainya apa? Kalau kita jual murah
mertego iki sing tak gae. Itu sudah
tidak menyalahi aturan dan tidak membuat
kita itu terbebani. Jadi berjalan apa
ada kita lihat itu senang juga
mereka-mereka maju itu kita karena jiwa
guru ya jiwa anunya ada di saya gitu.
Jadi mereka bangkit mereka menjadi
kompetitor saya saya ndak ndak merasa
begitu gitu.
Nama saya Ibu Tuti dari donat Elok.
Alamatnya Pasar Pring Bago, Jalan Igusti
Murah Rai Tulungagung. Terima kasih atas
perhatiannya. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[tepuk tangan]
[musik]
Allah
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:32:48 UTC
Categories
Manage