Transcript
W4dq1_E8e18 • Masih Muda Jadi Miliarder Berkat Jualan Produk Digital, Gini Caranya...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0661_W4dq1_E8e18.txt
Kind: captions Language: id ee ada yang memang harus bangun personal branding dulu, kasih value dulu ke audiens-nya, ke sosial media dan lain-lain. Baru orang percaya ke dia, akhirnya beli produknya. Iya, itu kan yang umum gitu. Betul. Betul. Yang saya tahu juga gitu sih, Mas. Iya. Nah, yang kalau yang saya mainkan bukan seperti itu tadi. Maka dari itu pola yang saya lakukan adalah saya ngelihat dulu marketnya di mana. Per hari Rp50.000 dulu. Dan itu ya alhamdulillah beberapa itu dari Rp50.000 ada yang seminggu itu sudah bisa hasilin Rp700.000 yang awal-awal ya baru mulai start gitu dari budget Rp50.000. Ibu kalau yang katakanlah gini pengin punya penghasilan katakanlah Rp10 juta per bulan itu sehari itu kita cukup jual empat produk aja itu sudah bisa hasilin segitu. Alias kita budget iklan seharinya Rp100.000-an aja itu sudah bisain kurang lebih R10 juta per bulan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang Mas Sinar. Jauh dari Sidoarjo. Eh, Sidoarjo. Sukoharjo. Iya. Sukoharjo. Sukoharjo. Solo. Solo. Solo. Solo. Coret. Soloret. Karena kalau orang ee kalau kita bilang Sukaharjo itu enggak banyak orang yang tahu kan. Iya. Bilangnya kan Solo ya. Bilangnya seringnya Solo kayak gitu. Siap. Jadi, Mas Dinar ini adalah seorang praktisi boleh dibilang imers ya, Mas ya? Awalnya IMS. Iya, awalnya imerse. Hm. Gitu. Kemudian sekarang menjadi apa ya? Heeh. Produk. Iya. Wah, keren. Produk gitu. Oh, penyebutnya produk digital kreator. Boleh gitu. Siap siap. Mas, kok itu Mas kok ee berpindah awalnya kan seorang imers gitu kemudian jadi produk digital itu gimana itu, Mas? Sebenarnya gini ee awalnya memang dulu itu saya imers-imers itu sudah dari tahun 2014-an lah ya kayak gitu. Dari situ sudah terbiasa ngiklan di tahun 2015 itu sudah mulai kenal ngiklan ya. He masuklah ke dunia inter marketer ya yang dari situ sebenarnya sudah kenal ya namanya namanya produk digital gitu dulu cuma pemainnya dulu rata-rata masih di luar negeri. Ada yang namanya platform namanya Clickbank GVot forum. Nah itu tempat-tempat jualan produk digital zaman dulu gitu ya pas zaman-zaman IMERS. Dari situ sebenarnya sudah pernah melirik cuma kayaknya kapasitas saya belum bisa sampai sana. Plus bisnis yang baru saya rintis itu kan fashion. Dulu saya sebenarnya 2015 sudah ee jualan online pakai iklan ee batik. Oke, gitu. Nah, dari situ alhamdulillah gulung gulung gulung sampai besar juga gitu ya. Sampai akhirnya ee ada era COD itu. Heeh. Heeh. Dulu sempat ada era COD. Akhirnya yang kita yang bermain iklan ee terutama saya ya akhirnya turun gantilah bisnis baru itu franchise. Hm. He. French itu alhamdulillah sampai hampir 300 cabang. Bentar. Jadi waktu Mas Dinar ini sebagai seorang imers berarti juga sekaligus bis owner ya? Iya. Bisnis owner. Bukan hanya kan kadang-kadang ada juga tuh Mas Iers yang bener beneran imers gitu kayak cari produk habis itu diiklankan dropship habis itu reseller gitu ya. Iklan lagi. Kalau Mas Dinar enggak ya? Iya. Saya basicnya awalnya pernah di fase itu dropship reseller itu tak mainkan juga cuma saya juga seorang bisnis owner. Dulu pemain batik gamis itu kan belum banyak. Iya. I. Nah, maka dari itu saya punya produk unggalan di situ. Itu yang bikin saya dulu lumayan ee bertumbuh gede lah gitu kayak gitu. Jadi habis batik sama makanan itu gedean mana, Mas? Kalau ee gedeannya gedean batik pasti karena secara waktunya lebih panjang dia bisnisnya gitu ya. He. Cuma kalau kalau franchise makanan minuman itu minuman boba itu hanya 2 tahun itu sudah sampai 300-an cabang secara grut lebih cepat itu gitu. Oh iya iya itu franchise ya Mas ya? Franchise dulu cuma ya itu COVID datanglah itu mulai Covid datang awal-awal tinggal 15an cafa. Hmm. Enggak bertahan ya? Iya enggak bertahan sampai akhirnya habis bis total gitu. Kantor pun juga aset semuanya sudah habis. Ee itu dari situlah baru akhirnya okelah cari peluang baru. Momentumnya ada di situ. Coba untuk produk digital. Heeh. Heeh. Heeh. Dan ternyata wah ini bisnis yang menurut saya ya secara operasional kan enggak enggak butuh effort yang lumayan gede. He gitu ya. Terus secara operasional bisnis di mana kita enggak perlu mikirin produksi dan lain-lain kayak gitu ya dan bisa diautomasi. Nah, dari situ di zaman COVID karena ya ee lumayan banyak nge-layof juga kan dulu kayaknya yang dapat impact gitu banyak banget gitu ya. Ya sudah sampai akhirnya oke kita fokus ke produk digital kayak gitu. Mas, kalau Mas Sinar kan dari seorang apa ee advertiser kemudian mencoba berpindah ke produk digital. Heeh. Heeh. Heeh. Ketika bikin produk digital, nah itu apa, Mas, yang menjadi wah aku mau bikin produk ini nih. Gitu. Oke. Nah, apa anunya kriterianya gini? Nah, ini ee sebenarnya ee ada beberapa pola, ada beberapa cara main. Cuma kalau saya punya cara main sendiri ya. Mungkin kalau orang pada umumnya buat produk digital itu ya sudah yang penting buat aja. Setelah itu baru mikir jualannya gimana. He. Nah, kalau saya punya pola yang berbeda. Kalau saya yang buat produk digital yang saya mikirin pikirin pertama itu adalah marketnya dulu siapa? Hm. Kita mau main di market mana? Heeh. Heeh. Baru setelah itu kita nyari masalah yang ada di situ apa. Baru solusinya kita buat produk digital. Oke. Pola kalau pola saya seperti itu. He. Dan itu yang alhamdulillah terbut efektif juga sampai sekarang gitu. Yang dibikin seperti pola itu apa, Mas? Contohnya yang pernah Mas Jinar bikin salah satunya produk digital saya itu satu produk digital itu bisa hasilin omset kurang lebih 1,3 M. ituery jadi kita karena dulu juga kebetulan COVID ya di mana kuliner itu bertahannya sama makanan online gitu kan ya ya sudah aku karena punya pengalaman background di FnB juga ya di mana ee cabang-cabang saya juga yang masih bertahan itu kita training juga dengan metode yang sama gitu. He. Nah, dari situ ilmu itulah aku kemas menjadi produk digital pertamanya. Hm. Gitu. E-corse. Nah, dari situlah itu menjadi ee ya bisa dibilang sampai sekarang pun mungkin salah satu produk digital saya yang masih paling paling gede revenue-nya gitu ya. Ya, itu gitu. Gitu ya. Apa tadi Mas? Food delivering mastery. Gimana? Tentang apa itu? Jadi itu kita ngajari bagaimana optimasi jualan lewat GoFood dan Grab Food. Oh, oke oke oke. Ya, kembali lagi jadi solusi memang ya. Iya. Momentumnya tepat, solusinya juga lagi dibutuhkan banget. Oh, dari itu bisa ya. Iya. Sales-nya juga lumayan gila itu sampai 1,3 miliar selama kurang lebih kurang dari 1 tahun itu. Wih lumayan cuan tuh, Mas. Iya. Ibaratnya karena bisa dibilang kan produk digital modalnya Rp0. Iya. Sekali buatnya aja. Sekali buat jualnya berkali-kali. Iya, jualnya berkali-kali. Kalau anak Immer bilangnya nyayir tuh nyayir. Kalau anu Mas menentukan harga jual gimana caranya, Mas? Saya tergantung ini tergantung format ee produknya yang kita deliver seperti apa sama value. Jadi format dan value itu menjadi sebuah ee atau dua buah faktor untuk kita menentukan harga jual. Kalau produknya kita ebook dan lain-lain memang harga jualnya enggak akan bisa tinggi karena dari sudut pandang pembeli pun juga melihatnya ini hanya sebatas ebook. Jadi kalau kita jual terlalu tinggi, kita enggak punya personal branding, agak berat. Nah, itu rata-rata kalau saya sarankan ke kebetulan saya juga ngajar juga produk digital ya ke member-member saya itu ee di bawah R99.000 kalau untuk ebook. Oh, kalau ebook di bawah Rp99.000. Kalau mereka pengin dinaikkan harganya harus buat ebook yang model bundling gitu. Jadi secara value nanti juga akan lebih tinggi. Nah, kalau value-nya tinggi kita bisa jual lebih mahal. He. Nah, tapi kalau memang kita pengin jualan produk digital, katakanlah ee contoh kayak FDM itu for delivery mastery tadi itu kan saya jual R249.000. Hm. Itu karena apa? Kita enggak cuma ee apa? Enggak cuma jualan ee ebook atau apa, enggak. Tapi benar-benar di situ kita ada video ada template-nya, kita sediakan value yang memang impact-nya itu ee benar-benar bisa dirasakan. Iya. Dan kita berikan grup support. Jadi secara produk semakin bagus juga kita ngasih harga lebih pantas juga lebih enak gitu. H kayak gitu. Siap. Siap. Jadi kalau ebook mungkin disarankan di bawah Rp100.000. Kalau bisa ada video, ada grup support. Tadi video call berarti kayak memang kayak 101 mentoring gitu ya. Itu kalau kalau yang apa yang food delivery master yang food delivery mastery. Kalau food delivery mastery supportnya sebatas grup support aja. Oh grup support aja ya. Oke, oke, oke. Dan itu di dijual dengan harga 240. Sangat worthed banget ya bagi Sangat banget yang beli itu ya. Iya iya iya. Siap siap siap gitu. Kalau kita seorang anu Mas ee seorang apa yang yang mau bikin produk ee apa digital, apakah kita harus kayak terkenal dulu atau personal brandingnya bagus dulu atau enggak, Mas? Nah, itu kembali lagi ada dua cara bermain dan kebetulan yang saya mainkan adalah bagaimana enggak terkenal tapi cuannya justru bisa ya kayak gitu makin gila gitu. Karena kan gini gitu ya ee ada beberapa pola dalam kita jualan produk digital gitu. Ee ada yang memang harus bangun personal branding dulu, kasih value dulu ke audiens-nya, ke sosial media dan lain-lain. Baru orang percaya ke dia, akhirnya beli produknya. Iya, itu kan yang umum gitu. Betul. Betul. Yang saya tahu juga gitu sih, Mas. Iya. Nah, yang kalau yang saya mainkan bukan seperti itu tadi. Maka dari itu pola yang saya lakukan adalah saya ngelihat dulu marketnya di mana. Heeh. Heeh. He gitu. Nah, nah kalau market ini saya ee biasanya kategorikan menjadi dua ini. Dua. Yang pertama market pembelajar sama market yang butuh pakar. Hmm. Oke. Dan ini asuhan saya di mana produk digital selama masih ada dua market ini, insyaallah enggak akan turun. Hm. Gitu. Karena orang butuh belajar terus sama butuh pakar untuk ilmu yang baru. Contoh kayak di bidang IMER saja. digital marketing itu ilmu ngiklan itu selalu update terus di mana itu selalu butuh pakar terus gitu. Betul. Heeh. Heeh. Nah, contoh seperti itu. Maka dari itu saya yang tak lihat marketnya dulu saya main di mana. Nah, dari situ tak cari masalahnya buat solusinya dalam bentuk produk yang sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan masalah. Setelah itu kita bangun sebuah sistem ya. Kalau di produk digital ee mungkin teman-teman yang main di produk digital sudah ter udah paham dan sudah terbiasa dengan namanya member area. Heeh. Heeh. He. Jadi kita membat member areanya di mana itu member area itu kayak kalau orang jualan ya ibaratnya toko sama etalasenya buat nanti website-nya buat nampung member-membernya mereka yang beli di situ juga. Iya. Bayar di situ juga gitu ya. Heeh. He. Nah, kayak gitu. Kalau itu sudah baru kita nanti kalau saya jualannya beriklan. Hm. Gitu. Beriklan di Meta kita pakainya Meta Ads. Oh, siap siap. Masih bagus banget ya meta ya, Mas? Ya, kalau kita tahu dengan update-nya kan bisa dibilang bulan Maret kemarin kan Meta bilang sendiri ya, dia ngeluarin artikel kalau Metaad sekarang semuanya algoritmanya sudah berubah ke AI. Jadi sudah punya empat engine mereka sekarang. Empat engine AI itu enggak enggak seperti dulu kayak targeting dan sebagainya ya. Iya. Sekarang interest itu sudah enggak dipeduliin. I betul karena ee cara berpikirnya meta sekarang sudah real time interest. Kalau simpelnya kalau orang bilang real time interest itu apa? Itu kayak ee apa yang kamu minati di saat itu. Saat ini Heeh. Ya itu yang akan ditawarkan ke kita. Wis lebih real time intinya gitu ya. Lebih real time gitu. Oh bisa jadi kayak hari ini interestnya apa, besok jadi beda ya? Beda bahkan per jam. Kayak tadi saya perjalanan ke sini gitu ya, lagi ee ngobrolin tentang eh bukan lagi ngobrolin tentang ini pomet tiba-tiba iklan iklannya muncul muncul tentang pomet gitu ya. Setelah itu tadi pas makan muncul lagi konten iklannya juga sudah berbeda lagi. Tergantung interest kita di saat itu apa. Wih, ya sangat dinamis sekali ya. Sangat dinamis sekali. Beda dengan dulu. Dulu kan ibaratnya orang iklan itu kayak perpustakaan. Heeh. Heeh. Heeh. mana saya kayak Mas Agung mungkin perpustakaannya dilaci yang lain, dilaci sepatu gitu ya. Saya dilaci baju. Nah, iklannya Mas Agung bisa sebulan itu ya tentang sepatu terus. Nah, terus di situ gitu. Iya. Kalau enggak dipindah lacingnya ya enggak akan berpindah konten iklannya. Nah, kalau sekarang sudah enggak kayak gitu. E kayak ya sudah buku disebar di tempat umum kamu lagi minatnya apa. Itu yang ditampilkan sama ini kayak gitu. Siap gitu Mas. Tadi kan Mas Jinar bilang tuh kalau selama ada pembelajar sama dibutuhkan pakar maka akan terus terus dibutuhkan nih produk digital. Kalau saran Mas Dinar ini pilih yang mana? Fokus yang di pembelajar atau yang di pakar? Kalau untuk orang yang baru terjun saya sarankan pembelajar karena kalau pakar itu kita sendiri harus butuh skill kita sendiri harus ert ya. Iya harus ert gitu. Jangan sampai kita ngajarkan ilmu yang yang kita enggak tahu ilmunya gitu. kan jangan sampai gitu. Maka dari itu kalau memang mau main di produk digital, saya sarankan main di ee marketnya itu pembelajar. Contohnya apa? Ini tak kasih contoh sekali. Nah, ini dibocorin. Ini dibocorin sama pakarnya ini. Yang paling sering saya mainkan itu adalah di UMKM, ibu rumah tangga. Heeh. Sama ee pebisnis pemula. Saya mainnya di situ. Oh, contoh kayak ibu rumah tangga dan ini masih saya mainkan sampai sekarang. Bahkan istri saya pun juga punya produk digital sendiri. Hm. itu di kategori resep. Oh, resep itu menurut saya pribadi ya. Kembali lagi cara buatnya paling gampang, ngejualnya juga paling enak gitu ya dan marketnya itu lebar banget permintaannya gitu ya. Tapi kembali lagi market ee meskipun itu cuma apa resep tapi jangan dijual resep gelondongan gitu ibaratnya. Tapi kita kemas menjadi sebuah ide bisnis. Bisnis. Oh, value-nya di situ. Jadi, bukan cuma dapat resepnya, tapi mereka gimana bisa bangun bisnis dengan resep itu. Dengan resep itu. Jadi, sehingga dapat manfaat di situ. Dan itu pola itu yang sampai sekarang pun masih efektif saya mainkan gitu. Dan bahkan ada ibu-ibu juga gitu main di resep itu. Heeh. Penjualannya sampai 40.000 sales. Wih. Jualan resepnya aja ya. Kurang lebih. Jualan resep. Beneran itu jualan dan dia resepnya kolaborasi sama Chef. Oh, gitu. Jadi dia sekarang dulu awal-awal yang B sendiri cuma sekarang dia sudah kolaborasi sama Chef itu. Kalau sekarang mungkin total S sudah 56 M lebih dia. Wih, cuma jualan resep produk digital. Wih keren ya. Sangat lebar sekali potensinya ya. Sangat. Dan itu tadi buatnya sekali jualnya berkali-kali. Kayak produk digital itu bisa bertahan sampai berapa tahun, Mas? Kayak bisa kayak relate atau expired-nya itu sampai berapa lama ya? Oke ya. Ee tergantung problem itu masih relevan apa enggak. Kalau saya bilang gitu ya, sesuai contoh kayak FDM itu bisa sampai 3 tahun itu masih bisa menghasilkan sales. Cuma memang sudah turun ya. Tapi idealnya itu puncaknya itu di bulan ke-elapan. Hmm. Dari awal idealnya puncak kelapan tuh habis itu turun. He. Iya. Oh. Kalau pas lagi puncak gitu, Mas, sampai berapa, Mas? Ee beda-beda. Bisa sampai yang bulanannya ratusan bisa dari satu produk. Wih, gila ya. Gila. Saya kan sambil kita improvement karena gini, ingat juga kalau kita main produk digital harus ingat prosesnya. Mungkin kelihatannya kayak ya itu tadi buat sekali jual berkali-kali tapi kan di di masa kita ngiklan dan lain-lain kita harus lakukan improvement juga. Hmm. Improvement-nya di apa? Contoh food delivery mastery itu yang pertama saya jualnya enggak langsung 249 sebenarnya Rp49.000 karena awalnya cuma modul doang. Heeh. He he. Setelah itu saya improve gitu ya. tak tambahin tentang ee video edukasinya, pembelajarannya dalam bentuk format video tak naikkan lagi gitu. Terus setelah itu tak tambah komponen pendukungnya. Karena dulu ngajarin laris di GoFood Grabfood banyak itu dari ee member itu mereka kesulitan untuk desain dulu Kanva belum secanggih itu kan gitu ya. Tak tak sediaakin template dan lain-lain. Jadi secara value ditambah terus biar harga jualnya bisa naik. He. Dan untuk pemula bisa seperti itu juga polanya, enggak harus yang langsung buat paket lengkap komplit. Kalau untuk awal-awal jujur agak keberatan gitu. Prosesnya juga agak lama. Betul. Misal kayak diubah di gitu kayak anu, Mas, enggak mempengaruhi konsumen ataupun algoritma yang iklan itu, Mas. Enggak. Kan kita yang kita rubah dari sisi produknya. H gitu. Nah, kalau sisi iklan, kalau iklan sendiri kan memang sekarang begitu dinamis ya, di mana kita konten iklan pun juga enggak bisa yang sekarang satu konten dipakai selamanya kayak dulu gitu ya. Memang dari kitanya memang harus ee sering buat konten baru. Kalau memang kebutuhan konten lingk udah udah beda beda hal gitu ya. Karena di fase jualan itu kita ya harus menyesuaikan. Hm. Tapi di yang saya maksud di produknya itu tujuannya adalah buat naikin value-nya itu tadi buat memantaskan kalau nanti tak kasih harga tinggi. Harga 200 itu berbeda dengan harga yang 40 tadi gitu ya, Mas. Oh, oke oke oke. Gitu. Mas, pernah enggak bikin produk digital tapi ternyata enggak direspon audiens dengan bagus? Produk pertama saya. Oh, gitu malah. Iya, itu karena dulu mungkin karena buru-buru juga, nekad juga gitu ya. Jadi produk digital pertama saya itu di ngajari tentang ng-training CS. Hm. Itu ya agak lumayan negat ituim karena langsung langsung kita langsung pakai tim ya. Timnya belum banyak sih, masih dua orang gitu ya. Jadi kita langsung buat tim tiga orang ini gitu modal langsung bareng gitu ya. Itu ngiklan ngiklan sudah habis R1 juta dapatnya cuma Rp200.000. Iklannya Rp1 juta dapatnya Rp200.000. Iya tapi operasionalnya habisnya R10 juta lebih. operasi. Waduh. Kan gaji CS, gaji ini, gaji buat website-nya dulu. Heeh. Heh, he. Itu kan sudah hampir 5 jutaan gitu. Nah, kayak gitu ya seperti itu. Dari situlah baru belajar. Oh, berarti food delivery master itu bukan produk yang pertama ya? Tak kirain pertama loh. Iya. Iya. Kedua, kedua. Kedua. Kedua. Kedua setelah gagal itu setelah belajar dari kegagalan. Belajar dari kegagalan. Wih. Nah, sekarang kan Masnya kan ee expert di bidang pembuatan produk digital berarti ya. Enggak ngajarin orang bikin produk digital, Mas. Sekarang alhamdulillah dari 2024 itu saya sudah ada kelas. Kalau 2024 dulu offline, sekarang di 2025 ini saya sudah adakan online namanya Academy Profit. Apa itu, Mas? Jadi di Akademi Profit ini kita ngajarin ee teman-teman atau Bapak Ibu semuanya yang pengin terjun di produk digital nanti kita bantu ee bagaimana metodenya, cara membuatnya, terus kita kasih tahu juga market-market apa aja yang punya potensinya, step by step-nya, bahkan dari yang enggak punya ide sama sekali sampai bisa jualan. Hmm. Gitu. Enggak takut kesaingan, Mas? Alhamdulillahnya aman. Justru kita semakin sering berbagi itu ya. Jadi dapat ilmu juga saya gitu, ya. dan makin bertumbuh. Justru saya ngerasa seperti itu. Oh, gitu. Oh, maksudnya kan produk digital nanti marketnya bisa sama kan itu di online juga kan. Iya. Terus tapi alhamdulillah sampai sekarang gitu ya karena hampir ee rata-rata yang belajar juga background-nya berbeda-beda. Jadi irisan pasarnya juga berbeda-beda gitu ya. Dan kembali lagi ee yang buat produk digital itu memang banyak. Heeh. Tapi yang bisa punya pola ee produk digital ee dengan pola yang benar itu belum tentu banyak banyak. Oh iya iya. Mungkin hanya beberapa orang yang tahu polanya dan iya work gitu ya. Iya dan work. Kalau yang rata-rata yang belajar sendiri ya kesalahan terbesarnya ya yang paling sering ya itu tadi yang penting buat dulu bahkan sekarang ada eranya AI kan gitu ya pakai CJPT dan lain-lain which is itu ee menurut saya enggak enggak enggak salah gitu asal kita tahu manfaatinnya he gitu ya. Nah itu buat dulu baru jualan. Maka dari itu banyak yang gagalnya di situ. Hm. Gitu. Nah di sini kita ajarkan kalau di Akademi Profit bukan ke sana. Jadi bukan buat produknya dan kalau buat produknya pun kita sudah bantu sekarang. Jadi Oh, bisa dibantu bikin produknya ya. Iya. Kita sudah siapkan ee jadi gini, Akademi Profit itu kita punya empat AI, empat agen AI. Jadi kita memang develop agen AI khusus ngebantu teman-teman yang praktik di produk digital. Nah, itu salah satunya yang bantu mereka nge-develop ide sama modul-modulnya. Heeh. Heeh. Heeh. Gitu. terus membantu mereka untuk buat landing page, terus buat konten iklan. Jadi konten iklan bahkan bisa bantu sampai ee njaderate konten iklan, terus angle konten iklan dan lain-lain. Dan itu sudah kita training. Jadi bukan bukan yang kayak CGBT ya, mohon maaf. Kalau kita enggak bisa pakai enggak enggak enggak enggak dapat output yang baik gitu ya. Betul. Betul. Sangat umum banget itu. Sangat umum banget. Nah, karena ini empatnya sudah kita training khusus gitu ya, jadi output-nya mereka meskipun dipakai oleh pemula pun itu sangat membantu. Apalagi yang gaptek pemula banget gitu ya. Mau terjun produk digital ya kita bantu itu untuk mempermudah aja mereka gitu. Heeh. Siap. Mantap. Nah, gini Mas ee apa perbedaan di sekolah profit ini dengan produk-produk kan sekarang mulai banyak tuh sekolah ee digital apa produk digital ya? Iya. Iya. Apa yang membedakan di situ, Mas? Oke. Sebenarnya gini, yang saya ajarkan adalah pengalaman saya dari tahun 2019 terusun produk digital dan bahkan sampai sekarang masih di dunia dijalankan itu ya. Proven method berarti ya. Alhamdulillah. Insyaallah gitu gitu ya. Itu salah satunya. Terus yang kedua di sini saya juga di Akademi Profit itu teman-teman bisa gabung nanti di webinar. Kita juga ada webinar tiap Kamis gitu ya. Mungkin nanti ee kalau linknya bisa dilampirkan mungkin nanti bar dilampirkan di deskripsi ya. Nah, itu bisa ee gabung dulu di webinar. Setelah itu nanti saya akan perlihatkan bagaimana metode saya. Terus teman-teman juga praktik bareng di situ kok gitu. Bagaimana ngembangin idenya sampai ide itu menjadi ee cocok untuk dijadikan produk digital. Hm. Kayak gitu. Nah, selain itu nanti kalau mau bergabung atau mau ee join ke komunitas, kita juga ada komunitas yang memang tak mentoring. Jadi, saya punya komunitas ee Akademi Profit ee namanya komunitasnya produk Digital Mastery. Nah, di situ kita mentoring one on one. Jadi, kita bahkan kita nge-zoom bareng tiap minggu itu ada zoom bareng, nge-zoom bareng buat apa? Bantuin mereka. He gitu. Tiap Selasa malam gitu kita selalu nge-zoom bareng. Buat apa yang saya tadi yang kayak gaptek enggak bisa ngiklan, kita bantuin nyeting iklannya kayak kayak gitu. E berarti kalau ini lebih anu ya, Mas ya. Ee dulu kan pernah juga offline Mas Mas Dinar terus habis itu sekarang malah full online ya. Iya. Kok malah gitu Mas? Karena gini, kalau offline kapasitas saya kebetulan belum bisa untuk ee menjangkau ke daerah-daerah lain. Hm. Baru sekitar Solo. Di situ ada keterbatasan. Dari situ maka akhirnya dibukalah peluang online itu dan ternyata ya justru itu lebih bisa kita maksudnya jangkauannya akan lebih besar lagi dan enaknya online adalah pembelajarannya itu bisa terus setiap minggu kita bisa ketemu terus bisa pembelajaran terus selamanya. Kalau offline itu rata-rata pembelajaran offline sat du hari praktik setelah itu ya sudah terputus ya terputus. Hm. Nah, kalau di sini ya kita bimbing jadi tiap Selasa malam atau bahkan mereka dapat nomor WA saya pribadi untuk konsultasi juga. Jadi benar-benar kita bantu, kita bimbing dari nol kayak gitu. Diajarin organik enggak, Mas, atau full iklan, Mas? Yang organik ada, yang beriklan ada gitu. Tapi kalau untuk pertamanya ee memang saya sarankan untuk beriklan dulu karena untuk mengejar hasil yang cepat dulu. Oh, gitu. He. Biar mereka tahu, "Oh, ekosistemnya kayak gimana berjalan." Heeh. Heeh. He, gitu. Karena membangun organik itu bisa sampai 6 bulan mungkin baru bisa ngerasain hasilnya. Iya. Lama ya gitu. Apalagi ya kembali lagi dengan background yang berbeda-beda itu tadi gitu ya. Kita ee enggak bisa semuanya harus diorganikkan gitu. Penginnya kan pada cepat. Iya. Sekarang pengin nang buat nang cuan gitu kan. Iya, gitu. Terus tinggal mikin sustainability-nya. Benar, Mas. rata-rata modal yang diperlukan. Misal kita ingin ee apa ibaratnya itu membuat produk digital itu berapa, Mas? Oke. Kalau saya mungkin modalnya bisa dibilang ketika sudah mulai masuk fase jualannya karena beriklan kembali lagi ya. He kalau beriklan kalau dari awalnya yang dari buat produk digital terus sampai buat member area gitu ya semuanya kita sediakan ee free yang membantu mereka untuk buat produknya itu semuanya free sampai desain ee produknya itu semuanya free gitu. He. Terus ke member area kita nanti ada kan sekarang sudah ada beberapa platform ya, beberapa website yang menyediakan member area kayak Skyvel, Link ID kayak gitu dan lain-lain. Nah, kita nanti ada berikan satu rekomendasi ee yang memang itu sistemnya gratis gitu ya, bisa dipakai untuk mereka dan bisa auto kalau saya bilang itu auto profit. Enggak perlu ngapa-ngapain, enggak perlu tambahan CS tapi sistemnya sudah auto profit. Auto profit gitu. Nah, setelah itu baru mulai kita jualan. Nah, jualan ini biasanya kita start budget dari Rp50.000 dulu. Oh, gitu. Campain iklannya. Iya. Oh, oke oke oke. Per hari Rp50.000 dulu. Dan itu ya alhamdulillah beberapa itu dari Rp50.000 ada yang seminggu itu sudah bisa hasilin Rp700.000 yang awal-awal ya baru mulai start gitu dari budget Rp50.000. Kalau yang katakanlah gini pengin punya penghasilan katakanlah R10 juta per bulan itu sehari itu kita cukup jual 4 produk aja itu sudah bisa hasilin segitu. Alias kita budget iklan seharinya Rp100.000-an aja itu sudah bisain kurang lebih R juta per bulan. Gimana? Gimana tu? Jadi gini ee katakanlah kita ee katakanlah gini, kita membuat produk digital terus kita pengin punya penghasilan sebulan katakanlah 10 R juta gitu. Iya. Penghasilan bersih. Iya. Nah, itu ee dari hasil segitu yang yang di dipraktikkan oleh member-member mereka cukup iklan se sehari Rp100.000-an. Oke. Itu sudah bisa untuk mengejar omset segitu. Oh, apalagi kalau kita berani scale gila-gilaan gitu. Oke. Oke. Tergantung mentalnya sekuat berapa, sekuat apa gitu. Kalau mungkin kayak kita-kita yang sudah biasa ee beriklan daniklan harian jutaan itu sudah enggak enggak enggak kepikiran gitu. Tapi kalau yang awal-awal ya itu tadi dari 50 dulu naik ke 100 nanti naik naik naik. Nah, standarnya idealnya kalau yang saya targetkan dari masing-masing ee murid saya, satu produk itu minimal menyentuh budget di angka R500.000 per hari. Jadi yang kita target adalah budget iklannya spending hariannya. bukan omset. Karena kalau omset ya namanya sales itu enggak bisa kita pastikan berapa. Kadang yang R500.000 bisa dapat sehari R juta, kadang ya R500.000 cuma bersihnya dapat Rp200.000 ya bisa gitu. He he gitu kan kalau kayak bajet kan bisa gulung kan Mas ya. Jadi misal kayak besok ee cair habis itu dipakai ikan lagi gitu kan. Iya putar lagi putar lagi put enggak harus nunggu bulanan gitu ya. Iya. Dan kita kan enggak perlu mikir rok, duitnya langsung dimasukkan lagi ke iklan sampai budgetnya di situ tadi. Heeh. Heeh. Terus juga enggak perlu ngirim juga. Iya. Enggak perlu update stok dan sebagainya. Oke. Oke. Mas, untuk bisa dapat apa ya ibaratnya untuk bisa gabunglah dengan ee Mas Dinar ini boleh dibocorin enggak, Mas? Harganya berapa, Mas? Oke, gini. Jadi, kita ada webinar pekanan. Jadi, tiap Kamis itu kita ada webinar. Nanti ee teman-teman boleh bergabung ini buat teman-teman khusus ee para penontonnya pecah telur ya. Kita kasih harga Rp35.000 nanti sudah bisa ee ikut webinar kita nanti belajar langsung sama kita gitu. Sangat terjangkau banget ya, Mas. Sangat terjangkau karena memang itu tadi tujuan kita bantu untuk semua biar ini tahu peluangnya gitu. Oke. Keputusan untuk ee teman-teman mau action atau apa itu tergantung ke teman-teman. Jadi minimal ee lihat dululah gitu, gabung dulu. Ayo kita diskusi bareng di situ. Nah, mau action atau tidak ya terserah kalian gitu ya. Iya. Iya iya iya iya. Mantap. Banyak Mas yang sekarang sudah jadi membernya Mas Dinar. Alhamdulillah kalau member banyak. Kalau peserta webinar sudah ribuan gitu ya. Ribuan. Tapi kalau ee yang jadi benar-benar tak mentoring kurang lebih sudah 200-an orang yang memang tak mentoring untuk di ee produk digital secara one on kayak gitu. He. Berarti nanti juga enggak semuanya dari yang ikut webinar itu action bareng gitu enggak ya, Mas ya? Iya. Tak kembalikan ke mereka gitu. Kalau mau mereka mau action, mau tak ee bantu untuk one onone boleh, silakan gitu. Ee siap siap, Mas. Semoga nanti makin berkembanglah banyak orang terbantu dengan produk digital ini. Karena kan ya solusi Mas saya Mas jadi saya sendiri pun juga belajar jualan produk digital gitu. Nah gitu. Jadi semoga jadi solusilah buat teman-teman yang di luaran sana yang hari ini mungkin sedang mengeluh karena kondisi ekonomi, jualan makanan. agak susah jualan apapun juga agak susah begitu. Benar. Iya. Ya, itu dan salah satu enaknya produk digital karena kita yang jalanin adalah sistem di mana kita sudah punya member area tadi yang sudah jalan otomatis. Ini bisa kita jalankan kita ee running bisnisnya meskipun kita punya bisnis lain enggak masalah. Iya. Jadikan sampingan bisa karena kembali lagi kita buatkan sekali. Setelah itu kita tinggal jualan gitu ya. Selama kita sudah proses ee produk sama sistemnya kita setting dulu, setelah itu tinggal fokus jualan aja. H gitu. Karena sampai sekarang pun bahkan ada satu produk saya yang sampai sekarang 2 bulan ini masih untung enggak pernah iklannya aja enggak pernah tak lihat gitu. Oh, ya. Sudah otomatis gitu tanpa ada CS karena secara follow up dan lain-lain sudah saya jalankan otomatis. Konfirmasi transfer sudah semuanya otomatis gitu. Siap. Siap. Siap. Mantap. Oke, Mas. Ee saya mau penasaran nih sama Mas Dinar untuk ee kan tadi udah di apa pernah ngiklan juga makanan, pernah ngiklan juga apa namanya batik, pernah ini juga ngiklan produk digital. Berarti kalau boleh dibilang biasanya kalau anaknya mesti ditanya, "Mas, sudah spend berapa gitu." Oke, oke, oke. Banyak kayaknya ini spending iklannya ini. Kalau total spending mungkin dari beberapa account udah 3 miliar lebih mungkin. Waduh. Untuk ngiklan doang tak kasihkan ke bosnya Facebook itu sedekah ke Facebook. Gitu ya. Miliar. Oke. Nah, dari 3 miliar itu sudah dapat berapa Mas nih bocoran? Ya, alhamdulillah lah ya. Alhamdulillah. Pasti tentunya kan lebih berkali-kali lipat. Iya. Oh, iya. Iya. Sudah, udah jadi banyak ya. Saya dari nol. Saya itu bapak saya itu cuma petani, ibu saya penjual jamu. Oh ya. Alhamdulillah bisa beli rumah, bisa renov rumah saya juga gitu. Di Sidoarjo, Sidoarjo Sidoarjo gitu bisa bangun rumah, beli rumah, bisa nambah tanah ya. Alhamdulillah. Kalau kalau orang daerah kan biasanya investnya ya ke situ-situ aja gitu. Iya. Kalau orang daerah itu ke tanah, Mas. Iya gitu. Betul. Betul. Keren ya. Boleh enggak, Mas? Misal teman-teman mau main ke sana atau online dulu? Sangat sangat boleh. Kalau mau ketemu offline, monggo silakan ke Solo lah. Kalau ke Suarjo mungkin ee aksesnya agak lumayan jauh. Janjian aja ke Solo. Silakan kita main ngobrol bareng boleh. Iya. Diskusi-diskusi gitu ala-anak Immer kan gitu biasanya. Iya. Iya. Iya. Karena orang Solo sukanya angkringan. Iya. Kita wedangan aja liutan. Liutan boleh. Mantap gitu. Kalau itu, Mas, dulu ketika berpindah-pindah ee disk usaha kan dari apa dari offline dari walaupun immers kan jualannya offline, habis itu jualan produk digital. Pernah mengalami masa-masa shifting yang berat enggak, Mas? Yang kayak apa? Kayak uh berat banget nih, gitu. Oke. Kalau sebentar, kalau dari Facebook itu kalau kalau dari jualan produk fisik ya. Heeh. Kalau jualan produk fisik sebenarnya masa-masa berat justru ini ketika ee kalau fase masa berat pertamanya itu dari dari saya jualan batik itu alhamdulillah dulu sempat kita sampai ee di level kita punya bud offline sudah invest yang lumayan banyak ibaratnya kita all in di situ cuma bertahan 1 tahun itu yang menurut saya kegagalan ibaratnya modal sudah gede keluar di situ habis habis-habis bahkan sampai sekarang mungkin ee fashion-fashion yang dari butiknya masih ada di satu kamar satu gudang itu belum bisa. Iya. Kalau mau ngejual traumanya masih ada gitu gitu. Dari situ sampai akhirnya terus kita balik lagi kita bangun kantor lagi. Nah, kita benar-benar enggak bisa ngejar dulu karena di momen COD sudah meraja lela. Hm. Gitu. Karena kita main fashion. Fashion itu produksinya uang muter 3 bulan lebih gitu ya. He. Terus ditambah COD yang uang muternya nunggu 2 minggu baru bisa cair. Nah, itu cash flownnya benar-benar kacau di situ. Itu yang bikin saya akhirnya ya udah bisnisnya itu benar-benar yang dari 11 karyawan tinggal 3 CS. Hm. Terus iya lay dikasih kesempatan sama teman saya, "Yuk joinan bangun franchise itu tadi. Franchise juga 2 tahun ketemu COVID itu tadi. Itu 300 abang mungkin ya. Alhamdulillah gitu. Heeh. Heeh. Tapi maksudnya pas waktu bergantian-pergantian itu selalu mulus atau apa, Mas? Atau pernah juga agak wah berat nih. Iki berat. Berat ya. Berat gitu. Apalagi ee franchise itu bisa dibilang kita enggak ada yang punya basic di situ. He. Cuma nekat aja gitu ya. He. Bahkan di tahun-tahun pertama ini kita kerjakan foundernya ada empat ya. sudah empat ini sudah jadi masing-masing ada yang jadi CS, ada yang ngurusin boot, ada yang marketing. Saya yang sebagian jualan ngiklannya gitu. Baru sampai setelah itu oke bisa ee berkembang sampai timnya juga lumayan gede. Kita bisa sewa kantor sudah dibagusin itu kantornya. Kantor sudah kita bagusin dan lain-lain. Covid datang itulah ya. Ah sampai kantor itu kosong lagi. Oh polanya sama ya. Tadi bikin butik akhirnya kosong. sekarang bikin kantor juga kosong. Iya. Ya, begitulah pebisnis ya. Betul. Betul. Itu apa boleh disipin gak brandnya Mas? Dulu itu kulinernya itu kalau kuliner kita ee ada lima brand sebenarnya tapi yang salah satunya yang lumayan banyak cabangnya itu ada Wano Boba. Jadi kita minuman Boba Wano Bobati itu kalau cabang kita yang lumayan kencang itu penjualannya di daerah Denpasar. Hmm. Gitu. Daerah Bali. Daerah Bali. Banyak banyak minum boba orang sana. Iya, boleh-boleh gitu. Iya, boleh. Mantap. Kalau yang batiknya apa brandnya, Mas? Batik Dinar. Batikat nama saya sendiri. Oh, namanya sendiri. Iya, Batik Dinar. Sekarang sudah enggak main itu lagi. Masih cuma sudah ee mengelola database, sudah bukan lagi beriklan gitu. Kalau yang untuk batiknya gitu. Jadi kita karena total database pembeli bayar itu mungkin sudah R.000-an ada ya kontak ya. Jadi kita ngelola dari situ aja udah alhamdulillah ada sales gitu. Oh jualannya dari dari ya itu customer-customer yang sudah royal dari lama gitu. Bahkan ada reseller juga beberapa gitu. Berarti batik masih jalan ya? Masih. Oke. Kalau bubat tadi sudah enggak ya? Sudah sama sekali enggak saya tinggalkan. Nah, kalau yang ini Mas produk digital ini kira-kira trennya bakalan sampai kapan ini, Mas? Kalau ee dari data yang saya lihat gitu ya, semakin ke depan ee prospeknya akan semakin baik karena dengan adanya era AI juga di mana orang itu ee dan produk digital itu sangat bergantung banget sama yang namanya momentum gitu ya. Ketika kita tahu momentumnya apa, kita bisa membuat produk yang relevan dengan momentum itu ya kita akan terus bisa memanfaatkan produk digital menjadi sumber penghasilan kita. Hm. Heeh. Heeh. Gitu. Contoh memanfaatkan momentum seperti apa, Mas? Mas yang yang sekarang yang produk digital creator yang sekarang yang baru-baru ini ya mungkin sekarang yang lagi trennya AI. Nah, para pemain di kategori AI itu luar biasa hasilnya. Ratusan juta itu banyak yang hasilnya ratusan juta per bulan. Bikin kelas AI begitu. Bikin kelas AI, bikin produk digital tentang AI. Kan produk digital sebenarnya bentuknya macam-macam. Ada yang e-book tadi, terus ada yang video gitu ya. itu formatnya kelas. Ada yang bentuknya kayak template, kita nyediain template. Contoh kayak ee AI kan ada yang mungkin ee N8N kayak gitu. Nah, itu kan kita bisa sediakan template-template-nya, mereka tinggal pakai kayak gitu. Ada yang model bentuknya aplikasi. Nah, aplikasi itu gambarannya enggak harus yang kayak gini, yang kayak kita website ataupun aplikasi HP gitu enggak. Tapi contoh kayak template Excel yang bisa bantu untuk mengelola keuangan. Heeh. Heeh. Kayak kayak gitu itu bisa juga bisa dijual ya. Bisa banget gitu. Oke oke oke. Seapun kalau saya kira kalau produk digital apapun bisa dijual karena kan itu bakalan tetap dibutuhkan gitu. Bakal tetap dibutuhkan asalnya itu tadi kita tahu marketnya siapa. He he gitu. Terus mungkin juga perletar di YouTube, di TikTok dan sebagainya. Mungkin kalau menurut saya kelebihan dari sebuah ee pendidikan itu ada kurikulumnya. Iya. Betul ya. Iya. Iya. Jadi kan enggak enggak apa jadi kayak audiens itu enggak harus cari di mana-mana. Fokus di situ. Nanti kalau ikutin kurikulumnya insyaallah ada hasil kan gitu. Iya gitu gitu. Dan perlu diingat juga ketika nanti teman-teman katakanlah ya motor terjun produk digital gambarannya jangan melihat produk digital itu kayak buku. Heeh. Heeh. Karena beda. Hm. Iya. Buku itu tipe pembaca yang pengin mereka menikmati bacaannya gitu ya. Kalau produk digital itu tipe orang yang belinya beli produk digital penginnya adalah langsung instan ke intinya apa. Heeh. He he. Nah, itu jangan sampai kita ketika buat produk digital terlalu bertele-tele. Kadang ada beberapa itu yang memang sudah praktik duluan ya. Terus akhirnya ee minta dimentorin saya gitu. masih ada yang kayak format pakai kalau ebook ya masih format daftar isi dan lain-lain pengantar kayak gitu karena ya produk digital kita penawarannya apa ya sudah langsung isinya jelasin tentang itu aja gitu langsung to the point gitu ya to the point aja gitu karena orang pengin baca langsung tahu karena dia posisinya mengalami problemnya pengin langsung tahu dapat solusinya apa gitu. He he he. Oh iya iya beda beda anu ya beda alur ya sama buku ya? Beda alur. Beda alur. Oke. Oke. Oke. Menar. pembaca lah. Heeh. He he. Karena basicnya pembeli produk digital bahkan bisa dibilang mereka sama sekali bukan pembaca buku pun banyak gitu. He he. Ya, mereka memang cari solusi ya. Iya. Problem solving gitu. Mereka yang ngalami masalahnya pengin dapat solusinya. Nah, cara kita delivernya ada yang bentuk ebook, ada yang bentuk video, tergantung produk yang atau ee produk apa kita gitu ya yang cocok nanti penyampaiannya seperti apa gitu. Heeh. He he. Mantap. He muridnya ada yang berhasil enggak, Mas, yang sampai omset banyak begitu? Alhamdulillah sudah ya mulai dari rata-rata ya yang mulai dari R jutaan itu sudah mulai menghasilkan R juta per bulan kayak gitu. Itu sudah ada. Tapi yang masih ee karena kita yang online ini baru kurang lebih berjalan 4 bulanan yang sampai di ratusan mungkin nunggu nanti bulan atau puncak-puncaknya kan biasanya di 6 bulan 6 sampai 8 ya. He itu benar-benar kita bisa ngerasain produk digital kita benar-benar winning itu seperti apa. Sampai ratusan begitu ya. Iya. I tapi puluhan pun juga lumayan banget loh Mas. Iya lumayan. Karena ya itu kayak ibu-ibu ya ada ibu-ibu contoh yang itu tadi. Ibu-ibu itu tadi baru seminggu ngiklan sudah dapat R00.000 sudah senang banget. Iya gitu. Tiap hari dia dia kan sudah punya resep ee sendiri ya. Dia punya resep ee apa? Nasi kebuli kalau enggak salah ya. Nasi kebuli kayak gitu ya. sudah akhirnya dibuat produk digital. Terus setelah itu ee tak bantu nyusunnya, tak bantu bahkan iklannya itu saya bantuin Zoom. Iya. Iya. Rp50.000 aja. Itu bulan minggu pertama dia kita nge-zoom bareng ini Mas, aku sudah dapat segini, alhamdulillah gitu. Senang banget. Alhamdulillah. Jadi hari ini tuh juga itu Mas harus kalau saya bilang harus income-nya banyak. Iya. Jadi enggak harus enggak boleh berpatokan pada satu income. Heeh. Kemarin saya lagi ee main ke tempat Tawang Mangu itu ada seorang pengusaha yang memiliki 34 wisata. Nah, di mana itu wisatanya itu beda-beda. Dan wejangannya apa? Saat ini tuh enggak boleh hanya bermain di satu area aja gitu, harus banyakin area gitu. Ibaratnya kan kita harus naruh telur itu jangan di satu keranjang. Di jangan satu keranjang. Kalau keranjang itu jatuh, jatuh habislah gitu. Nah, ini mungkin solusi nih bagi teman-teman ee penonton pecah telur, yuk kita belajar produk digital karena ke depan kayaknya makin ramai gitu loh, Mas. Iya, iya iya gitu ya. Momentumnya tepat sih kalau mau mulai dari sekarang gitu. Siap. Siap. Closing statement, Mas. Jadi buat ee teman-teman semuanya, buat penonton semuanya pecah telur ee mungkin atau dari teman-teman yang sudah terjun di produk digital duluan gitu ya, sebenarnya bukan ketika kalian gagal atau belum berhasil itu bukan karena ee produk digitalnya atau apa atau mungkin teman-teman belajarnya lambat atau gimana enggak. Cuma karena belum tahu polanya, belum tahu alur benarnya seperti apa. Hm. Nah, kalau seumpama teman-teman katakanlah pengin belajar ya untuk alurnya, polanya yang benar buat produk digital seperti apa nanti silakan gabung di webinar saya. Di situ akan saya ajarkan langsung langsung saya kasih tunjuk saya saya bongkar langsunglah ya bagaimana polanya yang saya mainkan dari tahun 2019. Heeh. Heeh. He. Jadi kalau mau terjun produk digital ee sekarang momentumnya mau pilihannya cuma dua. Mau jadi penonton atau jadi marketnya atau jadi pemainnya. Weh, mantap. Terima kasih. Itulah dia Mas Sinar. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.