Masih Muda Jadi Miliarder Berkat Jualan Produk Digital, Gini Caranya...
W4dq1_E8e18 • 2025-12-11
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
ee ada yang memang harus bangun personal
branding dulu, kasih value dulu ke
audiens-nya, ke sosial media dan
lain-lain. Baru orang percaya ke dia,
akhirnya beli produknya.
Iya,
itu kan yang umum gitu.
Betul. Betul. Yang saya tahu juga gitu
sih, Mas.
Iya. Nah, yang kalau yang saya mainkan
bukan seperti itu tadi. Maka dari itu
pola yang saya lakukan adalah saya
ngelihat dulu marketnya di mana. Per
hari Rp50.000 dulu. Dan itu ya
alhamdulillah beberapa itu dari Rp50.000
ada yang seminggu itu sudah bisa hasilin
Rp700.000 yang awal-awal ya baru mulai
start gitu
dari budget Rp50.000. Ibu kalau yang
katakanlah gini pengin punya penghasilan
katakanlah Rp10 juta per bulan itu
sehari itu kita cukup jual empat produk
aja itu sudah bisa hasilin segitu. Alias
kita budget iklan seharinya Rp100.000-an
aja itu sudah bisain
kurang lebih R10 juta per bulan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat datang Mas Sinar. Jauh dari
Sidoarjo. Eh, Sidoarjo. Sukoharjo. Iya.
Sukoharjo.
Sukoharjo. Solo.
Solo. Solo. Solo. Coret.
Soloret.
Karena kalau orang ee kalau kita bilang
Sukaharjo itu enggak banyak orang yang
tahu kan.
Iya. Bilangnya kan Solo ya.
Bilangnya seringnya Solo kayak gitu.
Siap.
Jadi, Mas Dinar ini adalah seorang
praktisi boleh dibilang imers ya, Mas
ya? Awalnya IMS.
Iya, awalnya imerse.
Hm.
Gitu.
Kemudian sekarang menjadi apa
ya? Heeh.
Produk.
Iya.
Wah, keren.
Produk gitu.
Oh, penyebutnya produk digital kreator.
Boleh gitu.
Siap siap.
Mas, kok itu Mas kok ee berpindah
awalnya kan seorang imers gitu kemudian
jadi produk digital itu gimana itu, Mas?
Sebenarnya gini ee awalnya memang dulu
itu saya imers-imers itu sudah dari
tahun 2014-an lah ya
kayak gitu. Dari situ sudah terbiasa
ngiklan di tahun 2015 itu sudah mulai
kenal ngiklan ya. He
masuklah ke dunia inter marketer ya yang
dari situ sebenarnya sudah kenal ya
namanya namanya produk digital gitu dulu
cuma pemainnya dulu rata-rata masih di
luar negeri. Ada yang namanya platform
namanya Clickbank GVot forum. Nah itu
tempat-tempat jualan produk digital
zaman dulu gitu ya pas zaman-zaman
IMERS. Dari situ sebenarnya sudah pernah
melirik cuma kayaknya kapasitas saya
belum bisa sampai sana. Plus
bisnis yang baru saya rintis itu kan
fashion. Dulu saya sebenarnya 2015 sudah
ee jualan online pakai iklan ee batik.
Oke,
gitu. Nah, dari situ alhamdulillah
gulung gulung gulung sampai besar juga
gitu ya. Sampai akhirnya ee ada era COD
itu. Heeh. Heeh.
Dulu sempat ada era COD. Akhirnya yang
kita yang bermain iklan ee terutama saya
ya akhirnya turun gantilah bisnis baru
itu franchise.
Hm. He.
French itu alhamdulillah sampai hampir
300 cabang.
Bentar. Jadi waktu Mas Dinar ini sebagai
seorang imers berarti juga sekaligus bis
owner ya?
Iya. Bisnis owner.
Bukan hanya kan kadang-kadang ada juga
tuh Mas Iers yang bener beneran imers
gitu kayak cari produk habis itu
diiklankan
dropship habis itu
reseller gitu ya.
Iklan lagi. Kalau Mas Dinar enggak ya?
Iya. Saya basicnya awalnya pernah di
fase itu dropship reseller itu tak
mainkan juga cuma saya juga seorang
bisnis owner.
Dulu pemain batik gamis itu kan belum
banyak.
Iya. I.
Nah, maka dari itu saya punya produk
unggalan di situ. Itu yang bikin saya
dulu lumayan ee bertumbuh gede lah gitu
kayak gitu.
Jadi habis batik sama makanan itu gedean
mana, Mas?
Kalau ee
gedeannya gedean batik pasti karena
secara
waktunya lebih panjang dia bisnisnya
gitu ya. He.
Cuma kalau kalau franchise makanan
minuman itu minuman boba itu hanya 2
tahun itu sudah sampai 300-an cabang
secara grut lebih cepat itu gitu.
Oh iya iya itu franchise ya Mas ya?
Franchise dulu cuma ya itu COVID
datanglah itu
mulai Covid datang awal-awal tinggal
15an cafa.
Hmm. Enggak bertahan ya?
Iya enggak bertahan sampai akhirnya
habis bis total gitu. Kantor pun juga
aset semuanya sudah habis. Ee itu dari
situlah baru akhirnya okelah cari
peluang baru. Momentumnya ada di situ.
Coba untuk produk digital.
Heeh. Heeh. Heeh.
Dan ternyata wah ini bisnis yang
menurut saya ya
secara operasional kan enggak enggak
butuh effort yang lumayan gede.
He
gitu ya. Terus secara operasional bisnis
di mana kita enggak perlu mikirin
produksi dan lain-lain kayak gitu ya
dan bisa diautomasi. Nah, dari situ di
zaman COVID karena ya ee lumayan banyak
nge-layof juga kan dulu kayaknya yang
dapat impact gitu banyak banget gitu ya.
Ya sudah sampai akhirnya oke kita fokus
ke produk digital kayak gitu.
Mas, kalau Mas Sinar kan dari seorang
apa ee advertiser kemudian mencoba
berpindah ke
produk digital.
Heeh. Heeh. Heeh.
Ketika bikin produk digital, nah itu
apa, Mas, yang menjadi wah aku mau bikin
produk ini nih. Gitu. Oke.
Nah, apa anunya kriterianya
gini? Nah, ini ee sebenarnya ee ada
beberapa pola, ada beberapa cara main.
Cuma kalau saya punya cara main sendiri
ya. Mungkin kalau orang pada umumnya
buat produk digital itu ya sudah yang
penting buat aja. Setelah itu baru mikir
jualannya gimana.
He.
Nah, kalau saya punya pola yang berbeda.
Kalau saya yang buat produk digital yang
saya mikirin pikirin pertama itu adalah
marketnya dulu siapa?
Hm.
Kita mau main di market mana? Heeh.
Heeh.
Baru setelah itu kita nyari masalah yang
ada di situ apa. Baru solusinya kita
buat produk digital.
Oke.
Pola kalau pola saya seperti itu.
He.
Dan itu yang alhamdulillah terbut
efektif juga sampai sekarang
gitu. Yang dibikin seperti pola itu apa,
Mas? Contohnya yang pernah Mas Jinar
bikin
salah satunya produk digital saya itu
satu produk digital itu bisa hasilin
omset kurang lebih 1,3 M. ituery
jadi kita karena dulu juga kebetulan
COVID ya di mana kuliner itu bertahannya
sama
makanan online gitu kan ya ya sudah aku
karena punya pengalaman background di
FnB juga ya di mana ee cabang-cabang
saya juga yang masih bertahan itu kita
training juga dengan metode yang sama
gitu. He.
Nah, dari situ ilmu itulah aku kemas
menjadi produk digital pertamanya.
Hm.
Gitu. E-corse. Nah, dari situlah itu
menjadi ee ya bisa dibilang sampai
sekarang pun mungkin salah satu produk
digital saya yang masih paling paling
gede revenue-nya gitu ya. Ya, itu gitu.
Gitu ya. Apa tadi Mas? Food delivering
mastery.
Gimana? Tentang apa itu?
Jadi itu kita ngajari bagaimana optimasi
jualan lewat GoFood dan Grab Food. Oh,
oke oke oke. Ya, kembali lagi
jadi solusi memang ya.
Iya. Momentumnya tepat, solusinya juga
lagi dibutuhkan banget.
Oh,
dari itu bisa ya.
Iya. Sales-nya juga lumayan gila itu
sampai 1,3 miliar selama
kurang lebih kurang dari 1 tahun itu.
Wih lumayan cuan tuh, Mas.
Iya.
Ibaratnya
karena bisa dibilang kan produk digital
modalnya Rp0.
Iya.
Sekali buatnya aja.
Sekali buat jualnya berkali-kali.
Iya, jualnya berkali-kali. Kalau anak
Immer bilangnya nyayir tuh
nyayir.
Kalau anu Mas menentukan harga jual
gimana caranya, Mas?
Saya tergantung ini tergantung format ee
produknya yang kita deliver seperti apa
sama value. Jadi format dan value itu
menjadi sebuah ee atau dua buah faktor
untuk kita menentukan harga jual.
Kalau produknya kita ebook dan lain-lain
memang harga jualnya enggak akan bisa
tinggi karena dari sudut pandang pembeli
pun juga melihatnya ini hanya sebatas
ebook. Jadi kalau kita jual terlalu
tinggi, kita enggak punya personal
branding, agak berat. Nah, itu rata-rata
kalau saya sarankan ke
kebetulan saya juga ngajar juga produk
digital ya ke member-member saya itu
ee di bawah R99.000 kalau untuk ebook.
Oh, kalau ebook di bawah Rp99.000.
Kalau mereka pengin dinaikkan harganya
harus buat ebook yang model bundling
gitu. Jadi secara value nanti juga akan
lebih
tinggi. Nah, kalau value-nya tinggi kita
bisa jual lebih mahal. He.
Nah, tapi kalau memang kita pengin
jualan produk digital, katakanlah ee
contoh kayak FDM itu for delivery
mastery tadi itu kan saya jual R249.000.
Hm.
Itu karena apa? Kita enggak cuma ee apa?
Enggak cuma jualan ee ebook atau apa,
enggak. Tapi benar-benar di situ kita
ada video ada template-nya, kita
sediakan value yang memang
impact-nya itu ee
benar-benar bisa dirasakan.
Iya. Dan kita berikan grup support. Jadi
secara produk semakin bagus juga kita
ngasih harga lebih pantas juga lebih
enak gitu. H
kayak gitu.
Siap. Siap. Jadi kalau ebook mungkin
disarankan di bawah Rp100.000.
Kalau bisa ada video, ada grup support.
Tadi video call berarti kayak memang
kayak 101 mentoring gitu ya.
Itu kalau kalau yang apa yang food
delivery master
yang food delivery mastery.
Kalau food delivery mastery supportnya
sebatas grup support aja.
Oh grup support aja ya. Oke, oke, oke.
Dan itu di dijual dengan harga 240.
Sangat worthed banget ya bagi
Sangat banget
yang beli itu ya.
Iya iya iya.
Siap siap siap
gitu.
Kalau kita seorang anu Mas ee seorang
apa yang yang mau bikin produk ee apa
digital,
apakah kita harus
kayak terkenal dulu atau personal
brandingnya bagus dulu atau enggak, Mas?
Nah, itu kembali lagi ada dua cara
bermain dan kebetulan yang saya mainkan
adalah
bagaimana enggak terkenal tapi cuannya
justru
bisa ya kayak gitu
makin gila gitu.
Karena kan gini gitu ya ee ada beberapa
pola dalam kita jualan produk digital
gitu.
Ee ada yang memang harus bangun personal
branding dulu, kasih value dulu ke
audiens-nya, ke sosial media dan
lain-lain. Baru orang percaya ke dia,
akhirnya beli produknya.
Iya,
itu kan yang umum gitu.
Betul. Betul. Yang saya tahu juga gitu
sih, Mas.
Iya. Nah, yang kalau yang saya mainkan
bukan seperti itu tadi. Maka dari itu
pola yang saya lakukan adalah saya
ngelihat dulu marketnya di mana.
Heeh. Heeh. He
gitu. Nah, nah kalau market ini saya ee
biasanya kategorikan menjadi dua ini.
Dua. Yang pertama market pembelajar sama
market yang butuh pakar.
Hmm. Oke.
Dan ini asuhan saya di mana produk
digital selama masih ada dua market ini,
insyaallah enggak akan turun.
Hm.
Gitu. Karena orang butuh belajar terus
sama butuh pakar untuk ilmu yang baru.
Contoh kayak
di bidang IMER saja. digital marketing
itu ilmu ngiklan itu selalu update terus
di mana itu selalu butuh pakar terus
gitu.
Betul. Heeh. Heeh.
Nah, contoh seperti itu. Maka dari itu
saya yang tak lihat marketnya dulu saya
main di mana.
Nah, dari situ tak cari masalahnya buat
solusinya dalam bentuk produk yang
sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan
masalah. Setelah itu kita bangun sebuah
sistem ya. Kalau di produk digital ee
mungkin teman-teman yang main di produk
digital sudah ter udah paham dan sudah
terbiasa dengan namanya member area.
Heeh. Heeh. He.
Jadi kita membat member areanya di mana
itu member area itu kayak kalau orang
jualan ya ibaratnya toko sama etalasenya
buat nanti website-nya buat nampung
member-membernya mereka yang beli di
situ juga.
Iya. Bayar di situ juga gitu ya.
Heeh. He.
Nah, kayak gitu. Kalau itu sudah baru
kita nanti kalau saya jualannya
beriklan.
Hm.
Gitu.
Beriklan di Meta
kita pakainya Meta Ads.
Oh, siap siap. Masih bagus banget ya
meta ya, Mas? Ya, kalau kita tahu dengan
update-nya kan bisa dibilang bulan Maret
kemarin kan Meta bilang sendiri ya, dia
ngeluarin artikel kalau Metaad sekarang
semuanya algoritmanya sudah berubah ke
AI.
Jadi sudah punya empat engine mereka
sekarang. Empat engine AI itu
enggak enggak seperti dulu kayak
targeting dan sebagainya ya.
Iya. Sekarang interest itu sudah enggak
dipeduliin. I betul
karena
ee cara berpikirnya meta sekarang sudah
real time interest. Kalau simpelnya
kalau orang bilang real time interest
itu apa? Itu kayak ee apa yang kamu
minati di saat itu.
Saat ini Heeh.
Ya itu yang akan ditawarkan ke kita.
Wis lebih real time intinya gitu ya.
Lebih real time gitu.
Oh bisa jadi kayak hari ini interestnya
apa, besok jadi beda ya?
Beda bahkan per jam. Kayak tadi saya
perjalanan ke sini gitu ya,
lagi ee ngobrolin tentang eh bukan lagi
ngobrolin tentang ini pomet tiba-tiba
iklan iklannya
muncul
muncul tentang pomet gitu ya. Setelah
itu tadi
pas makan muncul lagi konten iklannya
juga sudah berbeda lagi. Tergantung
interest kita di saat itu apa.
Wih, ya sangat dinamis sekali ya.
Sangat dinamis sekali. Beda dengan dulu.
Dulu kan ibaratnya orang iklan itu
kayak perpustakaan.
Heeh. Heeh. Heeh. mana saya kayak Mas
Agung mungkin perpustakaannya dilaci
yang lain, dilaci sepatu gitu ya.
Saya dilaci baju. Nah, iklannya Mas
Agung bisa sebulan itu ya tentang sepatu
terus.
Nah, terus di situ gitu.
Iya. Kalau enggak dipindah lacingnya ya
enggak akan berpindah konten iklannya.
Nah, kalau sekarang sudah enggak kayak
gitu. E
kayak ya sudah buku disebar di tempat
umum kamu lagi minatnya apa. Itu yang
ditampilkan sama ini kayak gitu.
Siap
gitu
Mas. Tadi kan Mas Jinar bilang tuh kalau
selama ada pembelajar sama dibutuhkan
pakar maka akan terus
terus dibutuhkan nih produk digital.
Kalau saran Mas Dinar ini pilih yang
mana?
Fokus yang di pembelajar atau yang di
pakar?
Kalau untuk orang yang baru terjun saya
sarankan pembelajar
karena kalau pakar itu kita sendiri
harus butuh skill kita sendiri harus ert
ya.
Iya harus ert gitu. Jangan sampai kita
ngajarkan ilmu yang
yang kita enggak tahu ilmunya gitu. kan
jangan sampai gitu. Maka dari itu kalau
memang mau main di produk digital, saya
sarankan main di ee marketnya itu
pembelajar. Contohnya apa? Ini tak kasih
contoh sekali.
Nah, ini dibocorin. Ini dibocorin sama
pakarnya ini.
Yang paling sering saya mainkan itu
adalah di UMKM, ibu rumah tangga.
Heeh.
Sama ee pebisnis pemula. Saya mainnya di
situ.
Oh,
contoh kayak ibu rumah tangga dan ini
masih saya mainkan sampai sekarang.
Bahkan istri saya pun juga punya produk
digital sendiri.
Hm. itu di kategori resep.
Oh,
resep itu menurut saya pribadi ya.
Kembali lagi
cara buatnya paling gampang, ngejualnya
juga paling enak gitu ya dan marketnya
itu lebar banget permintaannya gitu ya.
Tapi kembali lagi market ee meskipun itu
cuma apa resep tapi jangan dijual resep
gelondongan gitu ibaratnya.
Tapi kita kemas menjadi sebuah ide
bisnis.
Bisnis. Oh,
value-nya di situ. Jadi, bukan cuma
dapat resepnya, tapi mereka gimana bisa
bangun bisnis dengan resep itu.
Dengan resep itu.
Jadi, sehingga dapat manfaat di situ.
Dan itu pola itu yang
sampai sekarang pun masih efektif saya
mainkan gitu.
Dan bahkan ada ibu-ibu juga gitu main di
resep itu.
Heeh.
Penjualannya sampai 40.000 sales.
Wih. Jualan resepnya aja ya.
Kurang lebih.
Jualan resep. Beneran itu jualan dan dia
resepnya kolaborasi sama Chef.
Oh, gitu. Jadi dia sekarang dulu
awal-awal yang B sendiri cuma sekarang
dia sudah kolaborasi sama Chef itu.
Kalau sekarang mungkin total S sudah 56
M lebih dia.
Wih,
cuma jualan resep produk digital.
Wih keren ya. Sangat lebar sekali
potensinya ya.
Sangat. Dan itu tadi buatnya sekali
jualnya berkali-kali. Kayak produk
digital itu bisa bertahan sampai berapa
tahun, Mas? Kayak bisa kayak relate atau
expired-nya itu sampai berapa lama ya?
Oke ya. Ee tergantung problem itu masih
relevan apa enggak. Kalau saya bilang
gitu ya, sesuai contoh kayak FDM itu
bisa sampai 3 tahun itu masih
bisa menghasilkan sales. Cuma memang
sudah turun ya. Tapi idealnya itu
puncaknya itu di bulan ke-elapan.
Hmm. Dari awal idealnya puncak kelapan
tuh
habis itu turun.
He. Iya.
Oh. Kalau pas lagi puncak gitu, Mas,
sampai berapa, Mas?
Ee beda-beda. Bisa sampai yang
bulanannya ratusan bisa dari satu
produk. Wih, gila ya.
Gila. Saya kan sambil kita improvement
karena gini, ingat juga kalau kita main
produk digital harus ingat prosesnya.
Mungkin kelihatannya kayak ya itu tadi
buat sekali jual berkali-kali tapi kan
di di masa kita ngiklan dan lain-lain
kita harus lakukan improvement juga.
Hmm. Improvement-nya di apa?
Contoh food delivery mastery itu yang
pertama saya jualnya enggak langsung 249
sebenarnya Rp49.000
karena awalnya cuma modul doang.
Heeh. He he.
Setelah itu saya improve gitu ya. tak
tambahin tentang ee video edukasinya,
pembelajarannya dalam bentuk format
video tak naikkan lagi gitu. Terus
setelah itu tak tambah komponen
pendukungnya. Karena dulu ngajarin laris
di GoFood Grabfood banyak itu dari ee
member itu mereka kesulitan untuk desain
dulu Kanva belum secanggih itu kan
gitu ya. Tak tak sediaakin template dan
lain-lain. Jadi secara value ditambah
terus biar harga jualnya bisa naik. He.
Dan untuk pemula bisa seperti itu juga
polanya, enggak harus yang langsung buat
paket lengkap komplit. Kalau untuk
awal-awal jujur agak keberatan gitu.
Prosesnya juga agak lama.
Betul. Misal kayak diubah di gitu kayak
anu, Mas, enggak mempengaruhi konsumen
ataupun algoritma yang iklan itu, Mas.
Enggak. Kan kita yang kita rubah dari
sisi produknya. H
gitu. Nah, kalau sisi iklan, kalau iklan
sendiri kan memang sekarang begitu
dinamis ya,
di mana kita konten iklan pun juga
enggak bisa yang sekarang satu konten
dipakai selamanya kayak dulu gitu ya.
Memang dari kitanya memang harus ee
sering buat konten baru. Kalau memang
kebutuhan konten lingk udah udah beda
beda hal gitu ya. Karena di fase jualan
itu kita ya harus menyesuaikan. Hm.
Tapi di yang saya maksud di produknya
itu tujuannya adalah buat naikin
value-nya itu tadi
buat memantaskan kalau nanti tak kasih
harga tinggi.
Harga 200 itu berbeda dengan harga yang
40 tadi gitu ya, Mas. Oh, oke oke oke.
Gitu.
Mas, pernah enggak bikin produk digital
tapi ternyata enggak direspon audiens
dengan bagus?
Produk pertama saya.
Oh, gitu malah.
Iya, itu karena dulu mungkin karena
buru-buru juga, nekad juga gitu ya. Jadi
produk digital pertama saya itu di
ngajari tentang ng-training CS.
Hm.
Itu ya agak lumayan negat ituim
karena langsung langsung kita langsung
pakai tim ya. Timnya belum banyak sih,
masih dua orang gitu ya. Jadi kita
langsung buat tim tiga orang ini gitu
modal langsung bareng gitu ya. Itu
ngiklan ngiklan sudah habis R1 juta
dapatnya cuma Rp200.000.
Iklannya Rp1 juta dapatnya Rp200.000.
Iya tapi operasionalnya habisnya R10
juta lebih. operasi. Waduh. Kan gaji CS,
gaji ini, gaji buat website-nya dulu.
Heeh. Heh, he.
Itu kan sudah hampir 5 jutaan gitu.
Nah, kayak gitu ya seperti itu. Dari
situlah baru belajar.
Oh, berarti food delivery master itu
bukan produk yang pertama ya? Tak kirain
pertama loh.
Iya. Iya. Kedua, kedua.
Kedua.
Kedua. Kedua setelah
gagal itu
setelah belajar dari kegagalan.
Belajar dari kegagalan.
Wih. Nah, sekarang kan Masnya kan ee
expert di bidang pembuatan produk
digital berarti ya. Enggak ngajarin
orang bikin produk digital, Mas.
Sekarang alhamdulillah dari 2024 itu
saya sudah ada kelas. Kalau 2024 dulu
offline, sekarang di 2025 ini saya sudah
adakan online namanya Academy Profit.
Apa itu, Mas? Jadi di Akademi Profit ini
kita ngajarin ee teman-teman atau Bapak
Ibu semuanya yang pengin terjun di
produk digital nanti kita bantu ee
bagaimana metodenya, cara membuatnya,
terus kita kasih tahu juga market-market
apa aja yang punya potensinya,
step by step-nya, bahkan dari yang
enggak punya ide sama sekali sampai bisa
jualan.
Hmm.
Gitu.
Enggak takut kesaingan, Mas?
Alhamdulillahnya aman.
Justru kita semakin sering berbagi itu
ya. Jadi dapat ilmu juga saya gitu, ya.
dan makin bertumbuh. Justru saya ngerasa
seperti itu.
Oh, gitu. Oh, maksudnya kan produk
digital nanti marketnya bisa sama kan
itu di online juga kan.
Iya.
Terus
tapi alhamdulillah sampai sekarang gitu
ya karena hampir ee rata-rata yang
belajar juga background-nya
berbeda-beda. Jadi irisan pasarnya juga
berbeda-beda gitu ya. Dan kembali lagi
ee yang buat produk digital itu memang
banyak. Heeh.
Tapi yang bisa punya pola ee produk
digital ee dengan pola yang benar itu
belum tentu banyak
banyak. Oh iya iya. Mungkin hanya
beberapa orang yang tahu polanya dan
iya
work gitu ya.
Iya dan work. Kalau yang rata-rata yang
belajar sendiri ya kesalahan terbesarnya
ya yang paling sering ya itu tadi yang
penting buat dulu bahkan sekarang ada
eranya AI kan
gitu ya pakai CJPT dan lain-lain which
is itu ee menurut saya enggak enggak
enggak salah gitu asal kita tahu
manfaatinnya he
gitu ya. Nah itu buat dulu baru jualan.
Maka dari itu banyak yang gagalnya di
situ.
Hm.
Gitu. Nah di sini kita ajarkan kalau di
Akademi Profit bukan ke sana. Jadi bukan
buat produknya dan kalau buat produknya
pun kita sudah bantu sekarang. Jadi
Oh, bisa dibantu bikin produknya ya.
Iya. Kita sudah siapkan ee jadi gini,
Akademi Profit itu kita punya empat AI,
empat agen AI. Jadi kita memang develop
agen AI khusus ngebantu teman-teman yang
praktik di produk digital. Nah, itu
salah satunya yang bantu mereka
nge-develop ide sama modul-modulnya.
Heeh. Heeh. Heeh.
Gitu. terus membantu mereka untuk buat
landing page,
terus buat konten iklan. Jadi konten
iklan bahkan bisa bantu sampai ee
njaderate konten iklan, terus angle
konten iklan dan lain-lain. Dan itu
sudah kita training. Jadi bukan bukan
yang kayak CGBT ya, mohon maaf. Kalau
kita enggak bisa pakai enggak enggak
enggak enggak dapat output yang baik
gitu ya.
Betul. Betul. Sangat umum banget itu.
Sangat umum banget. Nah, karena ini
empatnya sudah kita training khusus gitu
ya, jadi
output-nya mereka meskipun dipakai oleh
pemula pun itu sangat membantu. Apalagi
yang gaptek pemula banget gitu ya. Mau
terjun produk digital ya kita bantu itu
untuk mempermudah aja mereka gitu. Heeh.
Siap. Mantap.
Nah, gini Mas ee apa perbedaan di
sekolah profit ini
dengan
produk-produk kan sekarang mulai banyak
tuh sekolah
ee
digital apa produk digital ya? Iya. Iya.
Apa yang membedakan di situ, Mas?
Oke. Sebenarnya gini, yang saya ajarkan
adalah pengalaman saya dari tahun 2019
terusun produk digital dan bahkan sampai
sekarang masih di dunia
dijalankan itu ya. Proven method berarti
ya.
Alhamdulillah. Insyaallah gitu gitu ya.
Itu salah satunya. Terus yang kedua di
sini saya juga di Akademi Profit itu
teman-teman bisa gabung nanti di
webinar. Kita juga ada webinar tiap
Kamis
gitu ya. Mungkin nanti ee kalau linknya
bisa dilampirkan mungkin nanti bar
dilampirkan di deskripsi ya.
Nah, itu bisa ee gabung dulu di webinar.
Setelah itu nanti saya akan perlihatkan
bagaimana metode saya.
Terus teman-teman juga praktik bareng di
situ kok gitu. Bagaimana ngembangin
idenya sampai ide itu menjadi ee
cocok untuk dijadikan produk digital.
Hm.
Kayak gitu. Nah, selain itu nanti kalau
mau bergabung atau mau ee join ke
komunitas, kita juga ada komunitas yang
memang tak mentoring.
Jadi, saya punya komunitas ee Akademi
Profit ee namanya komunitasnya produk
Digital Mastery.
Nah, di situ kita mentoring one on one.
Jadi, kita bahkan kita nge-zoom bareng
tiap minggu itu ada zoom bareng,
nge-zoom bareng buat apa? Bantuin
mereka.
He
gitu. Tiap Selasa malam gitu kita selalu
nge-zoom bareng. Buat apa yang saya tadi
yang kayak gaptek enggak bisa ngiklan,
kita bantuin nyeting iklannya kayak
kayak gitu.
E berarti kalau ini lebih anu ya, Mas
ya. Ee dulu kan pernah juga offline Mas
Mas Dinar terus habis itu sekarang malah
full online ya.
Iya.
Kok malah gitu Mas?
Karena gini, kalau offline kapasitas
saya kebetulan belum bisa untuk ee
menjangkau ke daerah-daerah lain.
Hm.
Baru sekitar Solo. Di situ ada
keterbatasan. Dari situ maka akhirnya
dibukalah peluang online itu dan
ternyata ya justru itu lebih bisa kita
maksudnya jangkauannya akan lebih besar
lagi dan enaknya online adalah
pembelajarannya itu bisa terus setiap
minggu kita bisa ketemu terus bisa
pembelajaran terus selamanya. Kalau
offline itu rata-rata pembelajaran
offline
sat du hari praktik setelah itu ya sudah
terputus ya
terputus. Hm.
Nah, kalau di sini ya kita bimbing jadi
tiap Selasa malam atau bahkan mereka
dapat nomor WA saya pribadi untuk
konsultasi juga. Jadi benar-benar kita
bantu, kita bimbing dari nol kayak gitu.
Diajarin organik enggak, Mas, atau full
iklan, Mas?
Yang organik ada, yang beriklan ada
gitu. Tapi kalau untuk pertamanya ee
memang saya sarankan untuk beriklan dulu
karena untuk mengejar hasil yang
cepat dulu.
Oh,
gitu. He.
Biar mereka tahu, "Oh, ekosistemnya
kayak gimana berjalan."
Heeh. Heeh. He,
gitu. Karena membangun organik itu bisa
sampai 6 bulan mungkin baru bisa
ngerasain hasilnya.
Iya. Lama ya
gitu. Apalagi ya kembali lagi dengan
background yang berbeda-beda itu tadi
gitu ya.
Kita ee enggak bisa semuanya harus
diorganikkan gitu.
Penginnya kan pada cepat.
Iya. Sekarang pengin nang buat
nang cuan gitu kan.
Iya, gitu.
Terus tinggal mikin sustainability-nya.
Benar,
Mas. rata-rata modal yang diperlukan.
Misal kita ingin ee apa ibaratnya itu
membuat produk digital itu berapa, Mas?
Oke. Kalau saya mungkin modalnya bisa
dibilang ketika sudah mulai masuk fase
jualannya karena beriklan kembali lagi
ya. He
kalau beriklan kalau dari awalnya yang
dari buat produk digital terus sampai
buat member area gitu ya semuanya kita
sediakan ee free yang membantu mereka
untuk buat produknya itu semuanya free
sampai desain ee produknya itu semuanya
free
gitu. He.
Terus ke member area kita nanti ada kan
sekarang sudah ada beberapa platform ya,
beberapa website yang menyediakan member
area kayak Skyvel, Link ID kayak gitu
dan lain-lain. Nah, kita nanti ada
berikan satu rekomendasi ee
yang memang itu sistemnya gratis gitu
ya, bisa dipakai untuk mereka dan bisa
auto kalau saya bilang itu auto profit.
Enggak perlu ngapa-ngapain, enggak perlu
tambahan CS tapi sistemnya sudah
auto profit.
Auto profit gitu. Nah, setelah itu baru
mulai kita jualan. Nah, jualan ini
biasanya kita start budget dari Rp50.000
dulu.
Oh,
gitu.
Campain iklannya.
Iya. Oh,
oke oke oke.
Per hari Rp50.000 dulu. Dan itu ya
alhamdulillah beberapa itu dari Rp50.000
ada yang seminggu itu sudah bisa hasilin
Rp700.000 yang awal-awal ya baru mulai
start gitu
dari budget Rp50.000. Kalau yang
katakanlah gini pengin punya penghasilan
katakanlah R10 juta per bulan itu sehari
itu kita cukup jual 4 produk aja itu
sudah bisa hasilin segitu. Alias kita
budget iklan seharinya Rp100.000-an aja
itu sudah bisain
kurang lebih R juta per bulan.
Gimana? Gimana tu?
Jadi gini ee
katakanlah kita ee katakanlah gini, kita
membuat produk digital terus kita pengin
punya penghasilan
sebulan katakanlah 10 R juta gitu.
Iya. Penghasilan bersih.
Iya. Nah, itu ee dari hasil segitu yang
yang di dipraktikkan oleh member-member
mereka cukup iklan se sehari
Rp100.000-an.
Oke.
Itu sudah bisa untuk mengejar omset
segitu.
Oh,
apalagi kalau kita berani scale
gila-gilaan gitu. Oke. Oke.
Tergantung mentalnya sekuat berapa,
sekuat apa gitu. Kalau mungkin kayak
kita-kita yang sudah biasa ee beriklan
daniklan harian jutaan itu sudah enggak
enggak enggak kepikiran gitu. Tapi kalau
yang awal-awal ya itu tadi dari 50 dulu
naik ke 100 nanti naik naik naik. Nah,
standarnya idealnya kalau yang saya
targetkan dari masing-masing ee murid
saya, satu produk itu minimal menyentuh
budget di angka R500.000 per hari.
Jadi yang kita target adalah budget
iklannya spending hariannya. bukan
omset. Karena kalau omset ya namanya
sales itu enggak bisa kita pastikan
berapa.
Kadang yang R500.000 bisa dapat sehari R
juta, kadang ya R500.000 cuma bersihnya
dapat Rp200.000 ya bisa gitu. He he
gitu
kan kalau kayak bajet kan bisa gulung
kan Mas ya. Jadi misal kayak besok ee
cair habis itu dipakai ikan lagi gitu
kan.
Iya putar lagi putar lagi put
enggak harus nunggu bulanan gitu ya.
Iya. Dan kita kan enggak perlu mikir
rok, duitnya langsung dimasukkan lagi ke
iklan
sampai budgetnya
di situ tadi.
Heeh. Heeh. Terus juga enggak perlu
ngirim juga.
Iya.
Enggak perlu update stok dan sebagainya.
Oke. Oke. Mas, untuk bisa dapat apa ya
ibaratnya untuk bisa gabunglah dengan ee
Mas Dinar ini boleh dibocorin enggak,
Mas? Harganya berapa, Mas?
Oke, gini. Jadi, kita ada webinar
pekanan. Jadi, tiap Kamis itu kita ada
webinar. Nanti ee teman-teman boleh
bergabung ini buat teman-teman khusus ee
para penontonnya pecah telur ya. Kita
kasih harga Rp35.000 nanti sudah bisa ee
ikut webinar kita nanti belajar langsung
sama kita
gitu.
Sangat terjangkau banget ya, Mas.
Sangat terjangkau karena memang itu tadi
tujuan kita bantu untuk semua biar ini
tahu peluangnya gitu.
Oke.
Keputusan untuk ee teman-teman mau
action atau apa itu tergantung ke
teman-teman.
Jadi minimal ee lihat dululah gitu,
gabung dulu. Ayo kita diskusi bareng di
situ. Nah, mau action atau tidak ya
terserah kalian gitu ya.
Iya. Iya iya iya iya.
Mantap. Banyak Mas yang sekarang sudah
jadi membernya Mas Dinar.
Alhamdulillah kalau member banyak. Kalau
peserta webinar sudah ribuan gitu ya.
Ribuan. Tapi kalau ee yang jadi
benar-benar tak mentoring kurang lebih
sudah 200-an orang yang memang tak
mentoring untuk di ee produk digital
secara one on kayak gitu. He. Berarti
nanti juga enggak semuanya dari yang
ikut webinar itu action bareng gitu
enggak ya, Mas ya? Iya. Tak kembalikan
ke mereka gitu. Kalau mau mereka mau
action, mau tak ee bantu untuk one onone
boleh, silakan gitu.
Ee siap siap, Mas. Semoga nanti makin
berkembanglah banyak orang terbantu
dengan produk digital ini. Karena kan ya
solusi Mas saya Mas jadi saya sendiri
pun juga belajar jualan produk digital
gitu.
Nah gitu. Jadi semoga jadi solusilah
buat teman-teman yang di luaran sana
yang hari ini mungkin
sedang mengeluh karena
kondisi ekonomi, jualan makanan. agak
susah jualan apapun juga agak susah
begitu.
Benar. Iya. Ya, itu dan salah satu
enaknya produk digital karena kita yang
jalanin adalah sistem di mana kita sudah
punya member area tadi yang sudah jalan
otomatis. Ini bisa kita jalankan kita ee
running bisnisnya meskipun kita punya
bisnis lain enggak masalah.
Iya. Jadikan sampingan bisa karena
kembali lagi kita buatkan sekali.
Setelah itu kita tinggal jualan gitu ya.
Selama kita sudah proses ee produk sama
sistemnya kita setting dulu, setelah itu
tinggal fokus jualan aja. H
gitu.
Karena sampai sekarang pun bahkan ada
satu produk saya yang sampai sekarang 2
bulan ini masih untung enggak pernah
iklannya aja enggak pernah tak lihat
gitu.
Oh, ya.
Sudah otomatis gitu
tanpa ada CS karena secara follow up dan
lain-lain sudah saya jalankan otomatis.
Konfirmasi transfer sudah
semuanya otomatis gitu. Siap. Siap.
Siap.
Mantap. Oke, Mas. Ee saya mau penasaran
nih sama Mas Dinar untuk ee kan tadi
udah di apa pernah ngiklan juga makanan,
pernah ngiklan juga
apa namanya batik, pernah ini juga
ngiklan
produk digital. Berarti kalau boleh
dibilang biasanya kalau anaknya mesti
ditanya, "Mas, sudah spend berapa gitu."
Oke, oke, oke.
Banyak kayaknya ini spending iklannya
ini.
Kalau total spending mungkin dari
beberapa account udah 3 miliar lebih
mungkin.
Waduh.
Untuk ngiklan doang tak kasihkan ke
bosnya Facebook itu
sedekah ke Facebook.
Gitu ya.
Miliar.
Oke. Nah, dari 3 miliar itu sudah dapat
berapa Mas nih bocoran?
Ya, alhamdulillah lah ya. Alhamdulillah.
Pasti tentunya kan lebih berkali-kali
lipat.
Iya.
Oh, iya. Iya.
Sudah, udah jadi banyak ya. Saya dari
nol. Saya itu bapak saya itu cuma
petani, ibu saya penjual jamu. Oh
ya. Alhamdulillah bisa beli rumah, bisa
renov rumah saya juga gitu.
Di Sidoarjo, Sidoarjo Sidoarjo gitu bisa
bangun rumah, beli rumah,
bisa nambah tanah ya. Alhamdulillah.
Kalau kalau orang daerah kan biasanya
investnya ya ke situ-situ aja gitu.
Iya. Kalau orang daerah itu ke tanah,
Mas.
Iya gitu.
Betul. Betul. Keren ya.
Boleh enggak, Mas? Misal teman-teman mau
main ke sana atau online dulu?
Sangat sangat boleh. Kalau mau ketemu
offline, monggo silakan ke Solo lah.
Kalau ke Suarjo mungkin ee aksesnya agak
lumayan jauh. Janjian aja ke Solo.
Silakan kita main ngobrol bareng boleh.
Iya. Diskusi-diskusi gitu ala-anak Immer
kan gitu biasanya.
Iya. Iya. Iya.
Karena orang Solo sukanya angkringan.
Iya.
Kita wedangan aja
liutan.
Liutan boleh.
Mantap
gitu. Kalau itu, Mas, dulu ketika
berpindah-pindah ee disk usaha kan dari
apa dari offline dari walaupun immers
kan jualannya offline, habis itu jualan
produk digital.
Pernah mengalami masa-masa shifting yang
berat enggak, Mas? Yang kayak apa? Kayak
uh berat banget nih, gitu.
Oke. Kalau sebentar, kalau dari Facebook
itu kalau kalau dari jualan produk fisik
ya. Heeh.
Kalau jualan produk fisik sebenarnya
masa-masa berat justru ini ketika ee
kalau fase masa berat pertamanya itu
dari dari saya jualan batik itu
alhamdulillah dulu sempat kita sampai ee
di level kita punya bud offline
sudah invest yang lumayan banyak
ibaratnya kita all in di situ
cuma bertahan 1 tahun itu yang menurut
saya kegagalan
ibaratnya modal sudah gede keluar di
situ habis
habis-habis bahkan sampai sekarang
mungkin ee fashion-fashion yang dari
butiknya masih ada di satu kamar satu
gudang itu belum bisa. Iya. Kalau mau
ngejual traumanya masih ada gitu
gitu. Dari situ sampai akhirnya terus
kita balik lagi kita bangun kantor lagi.
Nah, kita benar-benar enggak bisa ngejar
dulu karena di momen COD sudah meraja
lela.
Hm.
Gitu. Karena kita main fashion.
Fashion itu produksinya uang muter 3
bulan lebih gitu ya. He.
Terus ditambah COD yang uang muternya
nunggu 2 minggu baru bisa cair. Nah, itu
cash flownnya benar-benar kacau di situ.
Itu yang bikin saya akhirnya ya udah
bisnisnya itu benar-benar yang dari 11
karyawan tinggal 3 CS.
Hm.
Terus iya lay
dikasih kesempatan sama teman saya, "Yuk
joinan bangun franchise itu tadi.
Franchise juga 2 tahun ketemu COVID itu
tadi.
Itu 300 abang mungkin ya. Alhamdulillah
gitu.
Heeh. Heeh. Tapi maksudnya pas waktu
bergantian-pergantian itu selalu mulus
atau apa, Mas? Atau pernah juga agak wah
berat nih. Iki
berat.
Berat ya.
Berat gitu. Apalagi ee franchise itu
bisa dibilang kita enggak ada yang punya
basic di situ.
He.
Cuma nekat aja gitu ya.
He.
Bahkan di tahun-tahun pertama ini kita
kerjakan foundernya ada empat ya. sudah
empat ini sudah jadi masing-masing ada
yang jadi CS, ada yang ngurusin boot,
ada yang marketing. Saya yang sebagian
jualan ngiklannya gitu.
Baru sampai setelah itu oke bisa ee
berkembang sampai timnya juga lumayan
gede. Kita bisa sewa kantor sudah
dibagusin itu kantornya.
Kantor sudah kita bagusin dan lain-lain.
Covid datang itulah ya. Ah sampai kantor
itu kosong lagi.
Oh polanya sama ya. Tadi bikin butik
akhirnya kosong. sekarang bikin kantor
juga kosong.
Iya. Ya, begitulah pebisnis ya. Betul.
Betul. Itu apa boleh disipin gak
brandnya Mas? Dulu itu kulinernya itu
kalau kuliner kita ee ada lima brand
sebenarnya tapi yang salah satunya yang
lumayan banyak cabangnya itu ada Wano
Boba. Jadi kita minuman Boba
Wano Bobati itu kalau cabang kita yang
lumayan kencang itu penjualannya di
daerah Denpasar.
Hmm.
Gitu.
Daerah Bali.
Daerah Bali. Banyak banyak minum boba
orang sana.
Iya, boleh-boleh gitu.
Iya, boleh. Mantap. Kalau yang batiknya
apa brandnya, Mas?
Batik Dinar. Batikat nama saya sendiri.
Oh, namanya sendiri.
Iya,
Batik Dinar. Sekarang sudah enggak main
itu lagi.
Masih cuma sudah ee mengelola database,
sudah bukan lagi beriklan gitu. Kalau
yang untuk batiknya
gitu. Jadi kita karena total database
pembeli bayar itu mungkin sudah R.000-an
ada ya kontak ya. Jadi kita ngelola dari
situ aja udah alhamdulillah ada sales
gitu.
Oh
jualannya dari dari ya itu
customer-customer yang sudah royal dari
lama gitu. Bahkan ada reseller juga
beberapa gitu.
Berarti batik masih jalan ya?
Masih.
Oke. Kalau bubat tadi sudah enggak ya?
Sudah sama sekali enggak saya
tinggalkan.
Nah, kalau yang ini Mas produk digital
ini kira-kira trennya bakalan sampai
kapan ini, Mas?
Kalau ee dari data yang saya lihat gitu
ya, semakin ke depan ee prospeknya akan
semakin baik karena dengan adanya era AI
juga di mana orang itu ee dan produk
digital itu sangat bergantung banget
sama yang namanya momentum gitu ya.
Ketika kita tahu momentumnya apa, kita
bisa membuat produk yang relevan dengan
momentum itu
ya kita akan terus bisa memanfaatkan
produk digital menjadi sumber
penghasilan kita.
Hm. Heeh. Heeh.
Gitu.
Contoh memanfaatkan momentum seperti
apa, Mas?
Mas
yang yang sekarang yang produk digital
creator yang sekarang yang baru-baru ini
ya mungkin sekarang yang lagi trennya
AI. Nah, para pemain di kategori AI itu
luar biasa hasilnya. Ratusan juta itu
banyak yang hasilnya ratusan juta per
bulan.
Bikin kelas AI begitu.
Bikin kelas AI, bikin produk digital
tentang AI. Kan produk digital
sebenarnya bentuknya macam-macam. Ada
yang e-book tadi,
terus ada yang video gitu ya. itu
formatnya kelas. Ada yang bentuknya
kayak template, kita nyediain template.
Contoh kayak ee AI kan ada yang mungkin
ee N8N kayak gitu. Nah, itu kan kita
bisa sediakan template-template-nya,
mereka tinggal pakai kayak gitu. Ada
yang model bentuknya aplikasi.
Nah, aplikasi itu gambarannya enggak
harus yang kayak gini,
yang kayak kita website ataupun aplikasi
HP gitu enggak. Tapi contoh kayak
template Excel yang bisa bantu untuk
mengelola keuangan.
Heeh. Heeh. Kayak kayak gitu itu bisa
juga
bisa dijual ya.
Bisa banget gitu.
Oke oke oke. Seapun kalau saya kira
kalau produk digital apapun bisa dijual
karena kan itu bakalan tetap dibutuhkan
gitu.
Bakal tetap dibutuhkan asalnya itu tadi
kita tahu marketnya siapa.
He he
gitu.
Terus mungkin juga perletar
di YouTube, di TikTok dan sebagainya.
Mungkin kalau menurut saya kelebihan
dari sebuah ee pendidikan itu ada
kurikulumnya.
Iya.
Betul ya.
Iya. Iya.
Jadi kan enggak enggak apa jadi kayak
audiens itu enggak harus cari di
mana-mana. Fokus di situ. Nanti kalau
ikutin kurikulumnya insyaallah ada hasil
kan gitu.
Iya gitu gitu. Dan perlu diingat juga
ketika nanti teman-teman katakanlah ya
motor terjun produk digital gambarannya
jangan melihat produk digital itu kayak
buku.
Heeh. Heeh.
Karena beda.
Hm. Iya. Buku itu tipe pembaca yang
pengin mereka menikmati bacaannya gitu
ya. Kalau produk digital itu tipe orang
yang belinya beli produk digital
penginnya adalah langsung instan ke
intinya apa.
Heeh. He he.
Nah, itu jangan sampai kita ketika buat
produk digital terlalu bertele-tele.
Kadang ada beberapa itu yang memang
sudah praktik duluan ya. Terus akhirnya
ee minta dimentorin saya gitu. masih ada
yang kayak format pakai kalau ebook ya
masih format daftar isi dan lain-lain
pengantar kayak gitu karena ya produk
digital kita penawarannya apa ya sudah
langsung isinya
jelasin tentang itu aja gitu
langsung to the point gitu ya
to the point aja gitu
karena orang pengin baca langsung tahu
karena dia posisinya mengalami
problemnya pengin langsung tahu dapat
solusinya apa gitu.
He he he.
Oh iya iya
beda beda anu ya beda alur ya sama buku
ya?
Beda alur. Beda alur.
Oke. Oke. Oke. Menar. pembaca lah. Heeh.
He he.
Karena basicnya pembeli produk digital
bahkan bisa dibilang mereka sama sekali
bukan pembaca buku pun banyak gitu. He
he.
Ya, mereka memang cari solusi ya.
Iya. Problem solving gitu. Mereka yang
ngalami masalahnya pengin dapat
solusinya. Nah, cara kita delivernya ada
yang bentuk ebook, ada yang bentuk
video, tergantung produk yang atau ee
produk apa kita gitu ya yang cocok nanti
penyampaiannya seperti apa gitu.
Heeh. He he. Mantap. He
muridnya ada yang berhasil enggak, Mas,
yang sampai omset banyak begitu?
Alhamdulillah sudah ya mulai dari
rata-rata ya yang mulai dari R jutaan
itu sudah mulai menghasilkan R juta per
bulan kayak gitu. Itu sudah ada. Tapi
yang masih ee
karena kita yang online ini baru kurang
lebih berjalan 4 bulanan yang sampai di
ratusan mungkin nunggu nanti bulan atau
puncak-puncaknya kan biasanya di 6 bulan
6 sampai 8 ya. He
itu benar-benar kita bisa ngerasain
produk digital kita benar-benar winning
itu seperti apa.
Sampai ratusan begitu ya. Iya. I
tapi puluhan pun juga lumayan banget loh
Mas.
Iya lumayan. Karena ya itu kayak ibu-ibu
ya ada ibu-ibu contoh yang itu tadi.
Ibu-ibu itu tadi baru seminggu ngiklan
sudah dapat R00.000 sudah senang banget.
Iya
gitu.
Tiap hari dia dia kan sudah punya resep
ee sendiri ya. Dia punya resep
ee apa? Nasi kebuli kalau enggak salah
ya. Nasi kebuli kayak gitu ya. sudah
akhirnya dibuat produk digital. Terus
setelah itu ee tak bantu nyusunnya, tak
bantu bahkan iklannya itu saya bantuin
Zoom.
Iya. Iya.
Rp50.000 aja. Itu bulan minggu pertama
dia kita nge-zoom bareng ini Mas, aku
sudah dapat segini, alhamdulillah gitu.
Senang banget.
Alhamdulillah. Jadi hari ini tuh juga
itu Mas harus
kalau saya bilang harus income-nya
banyak.
Iya.
Jadi enggak harus enggak boleh
berpatokan pada satu income.
Heeh. Kemarin saya lagi ee main ke
tempat Tawang Mangu itu ada seorang
pengusaha yang memiliki 34 wisata.
Nah, di mana itu wisatanya itu
beda-beda.
Dan wejangannya apa? Saat ini tuh enggak
boleh hanya bermain di satu
area aja gitu, harus banyakin area gitu.
Ibaratnya kan kita harus naruh telur itu
jangan di satu keranjang.
Di jangan satu keranjang. Kalau
keranjang itu
jatuh,
jatuh habislah gitu. Nah, ini mungkin
solusi nih bagi teman-teman ee penonton
pecah telur, yuk kita belajar produk
digital karena ke depan kayaknya makin
ramai gitu loh, Mas.
Iya, iya iya
gitu ya.
Momentumnya tepat sih kalau mau mulai
dari sekarang gitu.
Siap. Siap. Closing statement, Mas.
Jadi buat ee teman-teman semuanya, buat
penonton semuanya pecah telur ee mungkin
atau dari teman-teman yang sudah terjun
di produk digital duluan gitu ya,
sebenarnya bukan ketika kalian gagal
atau belum berhasil itu bukan karena ee
produk digitalnya atau apa atau mungkin
teman-teman belajarnya lambat atau
gimana enggak. Cuma karena belum tahu
polanya, belum tahu alur benarnya
seperti apa.
Hm. Nah, kalau seumpama teman-teman
katakanlah pengin belajar ya untuk
alurnya, polanya yang benar buat produk
digital seperti apa nanti silakan gabung
di webinar saya. Di situ akan saya
ajarkan langsung langsung saya kasih
tunjuk saya saya bongkar langsunglah ya
bagaimana polanya yang saya mainkan dari
tahun 2019.
Heeh. Heeh. He.
Jadi kalau mau terjun produk digital ee
sekarang momentumnya mau pilihannya cuma
dua. Mau jadi penonton atau jadi
marketnya atau jadi pemainnya.
Weh, mantap. Terima kasih. Itulah dia
Mas Sinar. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:31:24 UTC
Categories
Manage