Transcript
KBrDK9I0Ufc • Bisnis Paling Menjanjikan dan Sustain Adalah yang Setiap Hari Kita Geluti
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0664_KBrDK9I0Ufc.txt
Kind: captions Language: id Fashion itu HP saya 110, Mas. Bikin baju HP saya 110. Jualnya tebak berapa? 150. 360. Uh, 50 100% ya? 300% kalau dari app. Dan apakah sepi? Laku Mas. 8.000 item omsetnya habisnya sampai 2 miliar. Wow. Padahal tiga kali lipat. Heeh. harganya bisa laku, bisa laku, Mas. Bisnis apa yang menurut Mas Agung kan sudah menginterview banyak ratusan pengusaha yang paling menjanjikan, yang paling sustainable begitu. Heeh. Nah, kalau yang ditanya adalah bidang, maka jawabannya selalu seperti ini. Saya jadi pengusaha yang sustain itu justru pengusaha yang selalu melihat ke dalam, bukan melihat keluar. Kalau dari segi bidang. Oke, jadi artinya adalah bidang usaha yang paling kita tahu, yang paling kita geluti setiap hari itu itulah yang menjanjikan. Kalau UMKM kan enggak bisa, Mas, bikin produk murah, Mas. UMKM kan enggak bisa. Itu kan harus modal besar, Mas. Iya, harus kan harus prepare mesin. Harus, harus prepare mesin, harus prepare quantity yang banyak biar murah gitu kan. Betul. Brandnya juga harus dipikirin berarti murah. Enggak bisa dong. Ini dilakukan UMKM jawabannya bisa. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mas, agak kagok terus terang karena saya nginterview-nya langsung ke Mas Agung walaupun sudah dua kali saya nginterview Mas Agung ya. Oh, iya tah dua kali. Di mana? Waktu detektif bisnis. Oh iya ya. Detek bisnis yang waktu bahas bedah buku di Attitude is everything. Betul. Heeh. Yang kedua satunya satunya di tempat kemping Sendang. Ingat ya? Oke. Oke. Waktu itu detektif bisnis juga tapi bahas tentang karyawan. Karyawan SDM. Iya. Menarik. Sekarang kita pengin bahasnya itu bisnis yang lagi tren saat ini, Mas. Tapi yang on frame, Mas itu baru pertama kali ini. Iya. Dulu kan enggak enggak on frame kan, Masor di belakang kalau keringetan gini. [tertawa] Bukan karena nervous, enggak. Enggak. Dan juga saya merasa kalau nginterview Mas Agung tuh harus rapi, tapi Mas Agung juga casual gitu. [tertawa] Aneh enggak sih? Jomplang enggak sih kayak gini ya? Aman. Tapi terima kasih loh Mbak Retno. The Little Vingure nih. Ini bajunya The Little Vinger. Wah siapa itu? Dikasih endosun kita. [tertawa] Iya. I ya. Mas, mungkin yang pertama pengin saya tahu adalah Mas Agung ini kan juga sudah berapa nginterview berapa narasumber, Mas? Pas waktu dari 2021 sebelum pergantian ke Mas Akor waktu itu kalau enggak salah Mas 300-an lebih 300-an sekian begitu. Oke. Sekarang kan jadi 500 kan. 500 kan Mas AOR sudah sisanya itu ya. ya 200 se karena postingnya kan sehari jadi eh seminggu jadi lebih banyak ya lebih empat kalau yang dokumenter tiga. Tiga kalau dulu satu. Betul. Itu sudah termasuk yang podcastnya Mas ya interview-nya. Ee kalau ke podcast mungkin sudah menyentuh ke 400 kali ya. Podcast juga sudah banyak kok. Oke. Iya iya. Karena temanya adalah bahas bisnis yang lagi tren saat ini. Iya. Mungkin based on experience Mas Agung dulu deh. Heeh. He. Dari sekian banyak nginterview orang. Heeh. He he. Itu yang Mas Agture bisnis yang paling menjanjikan dan sustainable itu bisnis yang apa? Iya, pertanyaan yang menarik ya, Mas. Jadi, dan itu juga mewakili sebuah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya ketika offline ketika ketemu begitu. Kenalan Mas namanya itu. Habis itu saya kan kenalan saya Agung Mas dari pecah telur begitu. Oh, pecah telur. Nah, selalu yang nyeletuk pertanyaan seperti ini, Mas. bisnis apa yang menurut Mas Agung kan sudah menginterview banyak ratusan pengusaha yang paling menjanjikan, yang paling sustainable begitu. Heeh. Nah, kalau yang ditanya adalah bidang, maka jawabannya selalu seperti ini. Saya jadi pengusaha yang sustain itu justru pengusaha yang selalu melihat ke dalam, bukan melihat keluar. Kalau dari segi bidang. Oke. Jadi artinya adalah bidang usaha yang paling kita tahu, yang paling kita geluti setiap hari itu itulah yang menjanjikan. Dan memang ee sebagian besar pengusaha yang saya interview, Mas, ya. Heeh. Cuma nanti Mas Akor juga cross check. Selalu dia itu paham banget sama bidangnya dan sudah bertahun-tahun di bidangnya. Nah, gitu. Jadi, misal contoh nih, contoh saya sendirilah di bidang konten ya, di bidang konten kreator. Oke. Ketika ee saya mulai tertarik di bidang yang lain, ketika saya mencoba suatu yang lain dan kemudian bedol desa meninggalkan konten, nah ini saya yang salah. Karena jenis bisnis mendatang yang paling prospektif di bidang saya adalah ya di bidang yang terkait ee yang saya ketahui gitu. Karena saya yang paling mengetahui, saya mengetahui celahnya di mana, saya mengetahui diferensiasi diferensiasi dari konten saya dan dengan konten yang lain apa. Jadi itulah yang prospektif yang sustainability. Jadi yang bidang yang usaha yang dia itu semakin melihat ke dalam bukan melihat keluar. Hm. Nah, itu sih, Mas yang paling sustainable itu artinya berarti kalau dalam bahasa agama tuh muhasabah, Mas, ya, dalam bisnisnya. Muhasabah itu berarti kan evaluasi, ya, berarti ya ee muhasabah adalah cara untuk bisa sustain di bidangnya kan. Oke. Jadi, itu sebuah cara untuk bisa terus begitu. Lebih tepatnya istikamah kali ya, Mas. Oh. Ee jadi kalau dalam bahasa agama lebih tepatnya istikamah. Terus ada juga yang bilang ee istikamahnya sampai kapan, Pak? ee Mas Agung sendiri juga berpindah-pindah dulu fashion sekarang sekarang ee digital. He. Jadi berpindahnya itu sampai mentok sampai enggak bisa benar-benar di apa-apain gitu loh. Nah, itu baru boleh pindah. Tapi kalau selama belum belum mentok di situ aja terus istikamah di bidang yang teman-teman kuasai. Heeh. Kalau ee kalau saya sekarang, Mas. Jadi harus di bidang yang saya kuasain pertama. Habis itu saya tahu marketnya banyak. Jadi karena kita sekarang sudah di posisi yang banyak pilihan ya, kita tahu bakalan ketika kita masuk di sebuah bisnis tertentu ini akan gede secara secara peluangnya gede gitu loh. He. Nah, itu yang kemudian jadi kalau saya saya tambahi seperti itu. Istikamah. Istikamah kalau tadi ya harus ee muhasabah adalah cara untuk supaya bisa istikamah. Harus ada muhasabah terus-menerus. Yang istikamah. Tapi juga saya pernah nginterview Mas Ageng itu sangat ingat banget ketika Mas Agung tuh bilang gini, "Usaha itu kalau kecil yang difokusin aja pasti bakal panen, pasti bakal bertumbuh sendiri." I misalkan jualan kalau Mas Agung tuh paling sering mencontohkan itu jualan pensil. Heeh. Heeh. Kalau fokus lalu evaluasi setiap sepanjang waktu, setiap saat dan itu terus-menerus itu pun juga pasti bakal menemukan turning point-nya untuk bisa bertumbuh, Mas. Betul. Betul. Sebenarnya itu saya juga nukil juga sih, Mas. Mengutip juga itu katanya kata-katanya KoR yang pusat gad Indonesia itu loh. Walaupun secara bisnis saya tidak senang secara bisnis karena itu bertentangan dengan ideologi yang kami anut. Tapi kalau dari value bisnis kadang-kadang saya oh tertarik begitu ya. Heeh. Jadi kalau Kri itu bilang, jadi misal nih teman-teman jualan pensil spidol waktu itu ya. Spidol spidol ini ee coba teman-teman pikirin terus-menerus em oke bulan ini mungkin laku 5 atau laku enam kita evaluasi, kita muhasabah besok bulan depan diterapkan lagi gitu. Terus sampai bertahun-tahun sampai mungkin sekitar 5 tahun 10 tahun maka teman-teman akan menjadi pedagang seped terbesar. Heeh. di kota Anda atau bahkan Dato Indonesia. Nah, kayak gitu kekuatan dari sebuah keistikamahan dari Heeh. He. Ee setelah semakin melihat ke dalam. Jadi, I hari ini tuh semakin banyak distraksi, Mas. Mas Sakor apaan tuh? Distraksi itu adalah sebuah opportunity yang mungkin bias dimiliki orang lain, tapi ee dia sukses digeluti orang lain, tapi menjadi bias bagi kita. Contoh nih, kita konten begitu ya. Kemudian kita melihat tetangga kita, eh dia sukses di jualan batagor misal. Heeh. Oh, dia sudah sudah memiliki banyak cabang. Ini menurut saya bukan lagi peluang, tapi godaan, Mas. Nah, [tertawa] berarti godaan gitu. godaan fokus gitu ya. Kalau kita masih terlibat dalam operasional yang sangat yang apa yang banyak tapi kalau sudah bisa sudah ada operasional yang berjalan kita tinggal controlling mungkin nambah sesuatu di luar itu menjadi tambahan opportunity gitu loh. Nah itu jadi ya pertama banyak distraksi tadi teman-teman harus benar-benar tahu posisi. Kalau teman-teman masih fokus di bis tertentu ya harus fokus gitu. Jangan terdistraksi, jangan terganggu oleh peluang-peluang yang lihat. Kayaknya kayaknya indah tapi hanya Fota Morgana ketika didekatin. I oke, Mas. Ee yang saya lihat, yang saya capture dari apa yang Mas Agung paparkan ini kan saya melihat ee pebisnis sebagai orang yang punya karakter, Mas ya. Karena kaitannya sama muhasabah, istikamah. Nah, itu kan karakter, Mas, ya. He. Dan saya melihatnya bukan sesuatu yang nyata dilihat. He. Kalau dari sisi bisnis yang benar-benar nyata dilihat. Heeh. Heeh. Itu bisnis di bidang apa? FNB kah? Oke. Kelas apa jasakah atau manufakture atau yang kayak pengin mana. Kembali lagi ke tadi Mas. Jadi kalau ditanya bidang maka bidang yang paling digeloti adalah bidang yang teman-teman paling memahami. Oke, kembali kembali lagi ke situ. Jadi dan cara untuk bisa terus-menerus di bidang yang kita pahami dengan cara muhasabah dan sebagainya itu adalah yang beruntun. Jadi adalah kembali lagi ke bidang yang teman-teman itu paling the best of gitu ya. Ee paling menguasai. Paling menguasai itu sebuah kata kunci yang teman-teman itu bisa melihat lebih dalam daripada orang lain melihatnya. He. Masakor senang apa ya berarti Mas Akakor ya? Di bidang apa Mas Sakor? Saya tuh advokasi seneng advokasi sosial gitu senang. Kalau advokasi berarti ya di bidang yang paling jenengan tahu gitu ya di situ ya. Di situ kalau saya di bidang konten ya di bidang konten ini ya sesuatu yang orang lain tidak tahu yang saya lebih tahu di situ. Itu kalau bidang Mas kalau ditanya bidang. Tapi ada juga hari ini tuh Mas yang saya amati ini menarik Mas yaitu pola bisnis sukses. Apa bedanya? Apa bedanya apa bedanya pola? Apa bedanya bidang? Kalau bidang itu kan bidangnya bisa FnB, bisa kemudian di di bidang content creator atau juga affiliate itu bidang atau di bidang ee pendidikan atau di bidang apapun. Ini kategorinya bidang tadi, pemilihan bidang berdasarkan teman-teman yang paling tahu atau teman-teman yang merasa dekat dengan kesempatan itu. Itu kalau bidang kalau pola, Mas. Jadi gini, ini menarik juga ee bagaimana sih pola bisnis yang sustainable? Ini saya dapat dari seorang kawan di Sidoarjo namanya Mas Hendrik. He. Mas Hendri itu yang punya markas desain yang membantu brand UMKM, sekarang punya roti Goki itu ya. Nah, dia itu bilang gini, "Mas, ee sekarang itu, Mas, ada tambahan enggak cukup brandnya bagus, berarti brand masuk kategori pertama. Dia harus punya brand. Enggak cukup tempat apa produknya dibutuhkan atau ngangenin. Jadi, enggak cukup brandnya bagus, enggak cukup produknya diterima atau produk ngangenin. Tapi yang ketiga adalah murah. Murah ternyata. Dan ee saya saya coba diskusi, Mas I, Mas. Iya. Iya. Terus akhirnya saya flashback ke belakang. Dulu saya punya usaha fashion. Fashion itu HP saya 110, Mas. Bikin baju HP saya 110. Jualnya tebak berapa? 150. 360. Uh, 50. 100% ya. 300% kalau dari HP. Jadi HP 110. Kalau 200% kan berarti 220. Nah, saya jualnya 360-an. Oh, iya. I. Heeh. Iya. 300% e 300% dan apakah sepi? Laku, Mas. Lakunya berapa? Pas waktu big sistem sampai 8.000 item omsetnya habisnya sampai 2 miliar. Wow. Padahal tiga kali lipat. Heeh. Harganya bisa laku. Bisa laku. Dulu banyak teman-teman saya yang dia jualan jualan snack, Mas. Dia itu beli beli banyak gitu. Kiloan. Heeh. Habis itu dipack, Mas. Oke. Dixek, diganti, diganti kemasan, habis itu dijual berapa gram, berapa gram gitu. Katakanlah 200 gr dia tinggal diganti kemasan yang bagus bisa dijual 3 kali, empat kali kelipat dari harga yang curah tadi. Dulu laku di tahun 17, 2017 sampai 2019 itu masih kencang. Heeh. He. Banyak yang seperti itu. Hanya mengganti label, hanya mengganti packing. Heeh. produk yang mungkin isinya sama dengan hal yang produk yang murah bisa jadi mahal. Nah, itu bisa. Nah, itu brandnya bagus, produknya ee dibutuhkan. Yang sekarang yang murah, Mas. Nah, em banyak contoh. Akhirnya saya juga muasabah, oh iya ternyata baju saya sudah enggak bisa karena itu permainan zaman dulu. sekarang harus baju yang value sama harganya itu ee dekat atau bahkan value for money bahasanya. Kata orang value-nya harus lebih tinggi daripada money-nya. Money-nya, uangnya. Ee Mas Jil juga kasih contoh. Contoh Mas ee kita sebut aja brandnya ya. Benang raja. Oh iya. Rame itu, Mas. Benang raja. Ramai. Heeh. Heeh. Heeh. Dia mahal atau murah? Murah lagi. Murah Mas. Dia nyaman enggak? Nyaman. Nyaman. Kurang apa coba? Dia bisa enggak jual mahal? Mungkin harusnya bisa. Tapi dia enggak pilih itu. Dia pilih jual murah, nyaman, ah laris. Heeh. Heeh. Heeh. Contoh lagi dia kasih contoh. Diaw. DIW. DIY. Oh i DIY. DIW. Murah enggak, Pak? Di sana murah, Mas. Murah. [tertawa] Lengkap enggak, Mas? Lengkap lagi. Lengkap. Dingin enggak, Mas? Dingin. Nyaman banget orang beli ke situ. Nyaman. Orang datang sudah dinyamakan. Orang datang nyaman sekali. Produknya murah. Iya. Iya. Produknya murah. Fasilitas lengkap. [tertawa] Nah, kurang apa coba? Nah, kemudian saya lihat produknya Mas Hendri juga. Oke, Mas. Aku belum belum anu nih, belum begitu ee oke sudah paham tapi apa penerapan dari tempatmu gitu ya. Heeh. He. Nah, saya bikin ini, Mas. Bikin ini. Waktu itu dia bikin roti Gogi namanya. Roti Goki itu dia sebut-sebut HP, "Mas, HPP-ku ini 1000 sekian." HP-nya 1000 sekian. 1000 berapa? Aku lupa. 1800 atau berapa, lupa. Termasuk. Nah, salah satu kelebihan dari UMKM sekarang harus bisa bikin produk murah. Heeh. HP-nya murah, tapi rasanya ini boleh diadu kalau makanan. Iya. Nah, dan nanti jualnya juga enggak boleh mahal-mahal. Dia bikin produk harganya 1800 kalau enggak salah HP-nya ya. Kemudian ditambahi kan dia polanya adalah pola kemitraan perkota begitu. Nanti n user di 3.500. Nah, jadi batas atasnya 3.500. 3.500 itu masih murah. Ah, untuk kategori roti yang seperti roti kopi di stasiun, roti O lah bahasanya ya. Memang dia agak segmen low-nya itu, tapi dengan harga Rp3.500 00 orang masih oh ini enak nih worth it ya gitu. Jadi pertama memang harus bisa bikin produk yang dibutuhkan dan ngangenin. Heeh. Kemudian juga brandnya bagus. Brandnya harus bagus, Mas. Heeh. Jadi ee brand ini juga syarat ya. Brand itu apa sih brand yang bagus? Kemasannya sudah bagus, higienis. Terus kemudian secara warna juga dipilihin secara ada ikon dan sebagainya. Namanya juga genah gitu ya. Kemudian juga sosial medianya juga ngenah. Ah, gitu. Kemudian ini soal brand. Kemudian yang ketiga adalah murah tadi. Murah. Oke, betul ini. Nah, kemarin saya juga ketemu lagi, Mas. Ada lagi nih. Ini mumpung tak lanjutin ya, Mas, ya. Ah, jadi waktu saya ke Jakarta, saya mengisi sebuah seminar. Salah satu teman saya adalah Mas Sahid. Waktu itu sebenarnya yang ngisi bertiga, cuma yang satu berhalangan. Jadi, yang ngisi tinggal berdua saya dan Mas Sahid. Saya mewakili pecah telur dan Mas ini mewakili cimol bocot aa. Oh, awalnya saya aneh ini makanan apa ini cimol bocot aa gitu waktu. Tapi waktu diangi si set kayak melungo Mas. Hah hah gitu ya. Kayak terpongoh-pongoh gitu ya. Iya iya iya. Wih. Ee dalam pemaparannya dia, dia menyampaikan, "Mas, Cimol BC A dulu 2 tahun itu rugi, Mas. 2 tahun itu rugi karena harganya cuma dia nyebutin kalau enggak salah R5.000. Jadi R5.000, Mas. tapi banyak peminat sehingga rugi. Terus kemudian ee dia ee diskusi sama owner sama dia kan co-founder ya sama foundernya itu untuk dinaikkan jadi 6.000 baru itu untung. Artinya dia tipis banget kan ngambil untung. Heeh. Dia tipis banget ngambil untung. Sekarang outletnya sudah 400. Wow. Dikelola sendiri, Mas. Bukan franchise, bukan kemitraan. Seluruh Indonesia itu masih di daerah sana aja. Jab ee Jabod Tbk aja belum komplit. Jadi daerah sana memang weh ngeri ya. Jadi memang awalnya wabar sekarang agak mahal jadinya ya karena sekarang sudah ada yang rasa keju dan sebagainya. Jadi memang ada varian-varian yang mewah. Dulu itu masih ee brandnya oke, kemudian makanannya diterima dan ngangenin, harganya murah. Ya, jadi itu adalah sebuah kata kunci teman-teman yang ingin sustain. Eh, sebentar saya kasih tunjuk lagi satu fakta yang menarik. Kaos, Mas. Oke. Kaos. Kaos di TikTok itu harganya murah-murah juga. Iya. Tapi ada saya saya terpaku pada satu brand yang dia itu sebutnya namanya deathless. Oh ya tahu saya itu Mas Deless kan punya orang Kediri Mas. Heeh. Heeh. Heeh. Harganya berapa di TikTok? Berapa? R-an ri. 60-an. 60-an. Itu sangat ngepres juga dengan bahan dan sebagainya. Heeh. Laku keras. Laku keras. Puluhan ribu mungkin per bulan. Nah itu jadi beberapa contoh-contoh itu, Teman-teman. Kalau bikin produk hari ini memang harus brandnya bagus, produknya diterima dan ngangenin. Ngangenin ini orang mau beli lagi, mau pakai jasanya lagi atau makai produknya lagi. Kalau makanan ya nyoba lagi. Kalau pakaian ya beli lagi. Heeh. Dan kemudian yang ketiga adalah murah. Oke. Terus kemudian ini saya ada pertanyaan lagi, Mas. Mas, kalau kalau UMKM kan enggak bisa, Mas, bikin produk murah, Mas. UMKM kan enggak bisa. Itu kan harus modal besar, Mas. Iya, harus kan harus prepare mesin. Harus prepare mesin, harus prepare quantity yang banyak biar murah gitu kan. Betul. Brandnya juga harus dipikirin berarti murah. Enggak bisa dong ini dilakukan UMKM. Jawabannya bisa. Jadi teman-teman bikin prototype kecil dulu. Jadi bikin prototype kecil dulu. Jadi memang di awal-awal itu jangan ngambil untung dulu. Oke ya. Ini memang agak berat ketika teman-teman sudah di fase kebelet kebutuhan. Ini agak berat sih. Nah, orang kebelet kebutuhan itu kan usaha hari ini, dagang hari ini dimakan hari ini, besok dagang lagi. Ini agak kalau kalau konteks yang seperti itu ya agak berat sih. Harus survival mode dulu. Betul. Tapi kalau UMKM itu bisa menahan diri, menahan diri dulu untuk tidak ngambil profit yang banyak, bisa ini di dikelola sekolah kecil dulu, Mas. Jadi memang awalnya prototype katakanlah makanan nih atau gerobakannya sudah kita coba pola yang satu gerobak dulu. Pola satu gerobak. Habis itu ee oh ini winning nih. Coba di tempat lain katakanlah winning juga nih. Wah ini berarti polanya sudah worth nih. Heeh. polanya udah ketemu, udah verified. Nah, di antara mereka entah itu Goki, entah itu Cimol Bajut Aa dan mungkin juga Benang Raja dan lain sebagainya pakai investor. Tapi kalau yang Goki sama Cimat Bajel A saya tahu mereka pakai investor. Jadi bikin bikin small type dulu, small prototype dulu. Kalau sudah berhasil mereka baru cari investor. Mas kan enggak jadi milik kita 100% enggak apa-apa. Kalau itu volumenya gede, walaupun teman-teman enggak miliki 100% tetap gede kok. daripada teman-teman memiliki 100% tapi cuma kecil. Nah, gitu. Dan sekarang kalau enggak seperti itu agak susah bersaing, agak susah sustainability. Ah, begitu. Iya. Dari tiga mungkin dari tiga tiga faktor, Mas ya, antara brand, terus produk yang ngangenin, dan juga murah, Mas. He, apakah memungkinkan untuk itu bisa berjalan beriringan atau mungkin ada skala prioritas yang harus didahulukan? Itu sebuah syarat wajib, Mas. Kayaknya, Mas. syarat wajib. Jadi em kalau murah ini mungkin agak mahal dikit enggak apa-apa sih ya. Ini boleh dikorbanin dikit tapi ya enggak bisa penyebarannya enggak bisa maksimal. Maksimal. Kalau mau maksimal harus tiga-tiganya. Maksudnya brand ya enggak brand yang ngwetop itu enggak sih Mas. Maksudnya atribut brandingnya dipikirin. E atribut brandingnya dipikirin. Maksudnya ya kayak bikin logo yang baik, bikin kemasan yang bagus, kemudian namanya juga mudah diingat. Iya. sosial medianya dihidupin dikit-dikit. Nah, itu sudah kategori ini brand dihidupin. Minimal punya filosofi untuk dirinya sendiri. Punya filosofi untuk dirinya boleh. Bukan band yang sangat ngetop itu enggak. Dan itu enggak perlu pakai jasa jasa profesional. Sekarang pakai AI bisa. Heeh. Gak perlu pakai deret Fibonacci untuk bikin bikin logo brand gitu, Mas. Ya. [tertawa] Siapa tadi? Deret Fibonacci. Sekarang lagi ramai Mas. Itu rekonspirasi. Oh, [tertawa] enggak enggak enggak enggak. itu pakai A bisa kalau Nah, yang yang krusial yang kedua ini produk yang nganing ngangenin dan bisa bikin di harga yang murah ini yang menjadi PR challengening-nya di situ Maseng. Iya, gitu. Saya pikir ee justru malah lagi bisnis yang lagi tren masa gini itu saat ini mungkin justru malah MBG. [tertawa] MBG ya itu kan marketnya pasti. Iya. I. Terus apalagi gak perlu mikirin market juga kan, Mas ya? Karena marketnya sudah Iya. Ah, fix ya. Iya fix ya. Tapi itu enggak bisa di gak bisa ditangkap peluangnya oleh pengusaha kecil. Iya, betul. Itu harus pengusaha besar kan harus bisa harus punya mobil kan operasional. Dapur harus punya dapur. Iya iya iya. Nah, ya. Walaupun sekarang bayarnya sudah bagus ya. Heeh. He. Nah, tapi enggak bisa dicapture oleh pengusaha kecil. Harus pengusaha yang menengah lah kira-kira. Heeh. Nah, gitu, Mas. Dari sekian sekian banyaknya parameter untuk supaya bisnis tren yang lagi saat ini, Mas, ya? He. Termasuk yang sustain, apakah sama antara Mas Agung ketika menginterview banyak orang dengan yang saat ini? Berbeda Mas, dengan yang saat ini mungkin, Mas, ya? He. Apakah ada perspektif yang berbeda ketika sudah tidak nginterview orang saat ini juga apakah melihat bisnis yang lagi tren saat ini? Iya. Jadi, oh ya tadi tak kasih ee quote and quote ya. Jadi itu adalah yang saya bilang tadi itu bukan satu-satunya bis pola bisnis yang sukses, tapi salah satu bisnis yang saat ini saya amati sukses. Oke. Jadi artinya, "Pak, ini jualan mahal sukses?" Ya, bisa jadi bisa jadi. Tapi memang yang hari ini banyak yang kemudian persentasi suksesnya lebih tinggi itu yang harganya murah. Ah, murah. H. Kalau teman-teman punya branding yang sudah kuat, ya enggak apa-apa sih value ee jual yang agak pricey begitu enggak masalah. Faktornya apa, Mas? Ee pola seperti itu terbentuk itu karena apa? Oke. Ekonomikah atau seperti atau bagaimana? Iya. Jadi kalau yang saya amati adalah pola keterbukaan informasi yang sangat cepat, Mas. Jadi contohnya adalah TikTok ya. TikTok itu game changer banget ya. TikTok itu game changer banget. Jadi di situ murah-murah kemudian ee orang mudah sekali untuk bikin sebuah review. Heeh. Ee jadi antara value dan harga harus relate. Jadi ee eranya short content yang kemudian orang sangat mudah untuk memiliki panggung. Hm. Nah, itu yang mengubah cara main-cara main ini. Dan kita lihat orang-orang yang bermain tadi yang yang memiliki grat tadi murah, brandnya bagus, produknya ngangenin, itu tidak peduli eranya apapun dia bisa akan lebih mudah bertahan. Saya saya itu pernah punya teman ee di militar, dia jualan bakso, Mas, insyaallah bakso saya ini sudah susah untuk di dilawan karena saya sudah mengeset harga yang paling murah untuk bakso saya. Jadi, orang mau masuk dengan harga bawahnya itu agak kesulitan dengan bahan-bahan yang seperti ini. Jadi, sampai seperti itu. Kalau kita sudah bisa menentukan harga termurah dan kita bisa untung survive, susah kompetitor untuk bisa masuk. Oke. Saya tuh masih enggak habis pikir, Mas. Anggaplah saya orang awam, Mas, ya. Ketika bisnis dengan harga murah itu untungnya kapan dan [tertawa] balik modalnya bagaimana ataukah ada batasan tertentu untuk menentukan profit margin? Lebih detailnya begitu mungkin, Mas. Iya. Jadi memang mainnya quantity, Mas. Bukan main ee ya main quality tapi plus yang paling penting adalah quantity. Oke. Kalau dulu saya bilang yang yang maksud saya yang murah itu ya enggak murah banget, Mat. Katakanlah margin hanya 10% atau 20% itu namanya kerja rodi atau apa kerja bakti begitu ya. Enggak enggak kayak seperti itu. Yang saya contohkan tadi yang seperti tadi loh, Mas. Yang saya bisa ng tiga kali lipat. Teman-teman yang bermain snack itu bisa bisa apa namanya itu ee ngambil curah kemudian dia packing jual dek kali lipat 4 kali lipat. itu kan sangat tidak sangat tidak wajar begitu. Kalau dulu masih bisa sih, sekarang enggak bisa. Nah, maksudnya murah itu ya kita bisa bertumbuh dengan profit itu. Ah. Ee tapi enggak enggak yang enggak yang gede banget. Contoh nih, ini juga sekaligus menjawab pertanyaan tadi Mas Akor sekarang apakah apakah juga mengamati bisnis yang lagi tren? Masih mengamati karena saya mengembangkan yang kita pecah telur kembangkan kan hari ini ada kelas pecah telur, Mas. Iya. kelas pecah itu harus juga menjawab ee solusi bagi teman-teman yang mereka bingung mau belajar bisnis. Heeh. Nah, itu pun juga saya memakai pola ini, Mas. Saya memakai pola brandnya oke, kelas pecah telur. Ei, logonya juga dibikinin, sosial medya dihidupin dan sebagainya. Yang ketiga harganya murah. Harganya saya bikin Rp95.000. Nah, ini oke. Kalau dulu Mas, enggak ada Mas kelas di bawah Rp100.000 Mas. kelas itu rata-rata 150. Itu pun yang biasa-biasa banget ebook. Wah, katakanlah gitu. Ataupun sekelas ee video yang kayak saya yang ada 30 video di dalamnya atau 15 video di dalam 15 sampai 30 video di dalamnya itu biasanya harganya Rp300.000. Rp300.000. Kalau dulu Rp400.000. Nah, sekarang di bawabah Rp100.000. Nah, itu contohnya gitu. Ee jadi ya harus di memang hari ini fenomennya seperti itu. Nah, kapan balik modelnya? Ya, kita harus mikirin bagaimana kita bisa menciptakan produk yang bagus dengan harga yang ee affordable. Heeh. Sehingga ee ketika kita jual harga enggak mahal-mahal pun masih banyak untungnya ataupun masih layak gitu loh. Masih bisa untuk bertumbuh walaupun tidak seperti dulu dua kali lipat, tiga kali lipat gitu enggak ya. Cuma berapa katakan kalau ditanya persentase mungkin ya di ee 40 sampai 60 peren masih masih oke. Jadi HP katakanlah kita bikin produk di harga di harga Rp10.000 ya sudah jualnya Rp14.000 Rp15.000 Mas ya. Nah kita nanti tinggal kejar quantity bagaimana bisa menghidupi operasional. Heeh. Heeh. Heeh. Kalau dulu kan enggak Mas ya produknya harga Rp5.000 R e HPP-nya katakanlah R.000, jualnya Rp15.000. Oke. Nah, gitu. Tiga kali lipat, empat kali lipat. Itu mungkin satu salah satu alasan kenapa Mas Agung juga tidak banyak tergoda. Karena setiap narasumber tuh pasti pengin ngubungi gimana cara kolaborasi. Kolaborasi bareng pecah telur itu kan godaannya banyak itu, Mas. Betul. Betul. Dengan cara dan konsep apapun model bisnisnya. Heeh. Heeh. [tertawa] Kalau saat ini saya ditanya itu mungkin akan lebih tahan godaan dibanding yang dulu. Iya. Ya, karena sudah menggeluti banyak bisnis, Mas. Dan sudah tahu, Mas. Saya menggeluti banyak bisnis sekitar 14 lebih bisnis yang sudah pernah saya bikin dan he saya sudah intinya belajar dari situ. Oh, nanti gini, nanti gini. Jadi sudah kayak feelingnya sudah kebentuk gitu loh. Oh, ini bakalan sukses. Oh, ini kayaknya agak berat. Bahkan itu pun sekarang juga sering salah nyoba ini. Oh, ini bakalan sukses nih, ternyata enggak sukses. Oh, gitu. Bukan learning by doing ya sekarang ya. By on based on riset ya. Tetapan ya, Mas ya. Iya. Riset tetap dan dilakukan. Iya. [tertawa] Siap. Siap. Siap. Siap. Sekarang nih, Mas kalau diminta mungkin terlepas dari embel-embel pecah telur deh. He sebagai Mas Agung pribadi, sebagai bebisnis. He. Pengin bisnis apa di luar digital? [tertawa] Saya tuh heran ya, Mas ya. Enggak tahu ini sebenarnya ini di luar bidang saya dan saya kok ngotot sekali ini pengin punya bisnis ini. Itu kuliner, Mas. Saya enggak tahu. Saya enggak ada background bisnis kuliner. Enggak enggak pernah bisnis kuliner yang sukses. Pernah sekali atau dua kali enggak sukses. Dan ini di luar dari kepakeman saya. Dan saya itu pengin banget di situ. Enggak tahu kenapa. [tertawa] Dan memang ingin saya ingin saya apa benar-benar wujudkan tapi pelan-pelan. Hm. Jadi saya nabung lah, nabung pengetahuan, nabung relasi di bidang kuliner. Kemudian nanti suatu ketika ya akan tak karena enggak tahu ya teman-teman nanti coba komen ya pernah enggak ngerasa kayak gitu ini di luar di luar bidang kita tapi kita tuh pengin banget. Nah, Mas Akor sendiri pernah enggak ngerasa kayak gitu? Lah ini lagi running, Mas. Kebetulan saya invest ke salah satu bisnis kuliner. Wah, kerenkeren ya. Tapi enggak banyak, Mas. Enggak sampai ratusan karena pengin nyoba aja situasinya sama seperti Mas Agung. Iya. Iya. Terdorong untuk pengin banget di dunia itu, Mas. Kuliner ya. Betul. Iya. Iya. Nah, sekarang lagi semoga insyaallah sih Desember ini running WH. Teman-teman nanti kita gantian interview Mas Sakor. Mas Sakor ini statusnya kan tim ya, boleh dibilang kan karyawan ya, Mas ya. Iya, saya karyawan. Tapi karyawan ini tapi punya pemikiran yang bagus menurut saya ya. Jadi bisa memutar uangnya ini sekarang bahkan mau invest di salah satu ee kuliner gitu ya. Nanti kita ya masih [tertawa] sudahudah kan sudah kan. Nah nanti kita gantian interview. Piye sih carane muter duit Mas ben ben tetap ee bisa berkembang begitu. Introvert saya tuh Mas kalau diinterview gini [tertawa] introvert kayak diintro gitu-gitu saya introvert k pas turu Mas. Makanya saya selalu di balik layar ketika diamani Mas Agung untuk menjadi interviewer. Iya. Iya. Podcast ee di dokumenter saya saya masih oke karena masih di balik layar. He he he. Kalau yang ini ee komen ya teman-teman. Kritik boleh dah. [tertawa] Waktu Mas Akor itu jadi the next interviewer mewakili saya. By the way, aku terima kasih sekali karena Mas AOR saya jadi lebih rileks di rumah, lebih santai. Eh, dulu pas waktu Mas Akor mau jadi interviewers mewakili saya, saya itu debat panjang dengan Mas Ardi. Waduh, [tertawa] ternyata debat panjang saya. Jadi di sisi lain saya ingin memberikan kesempatan karena kan capek sekali toh, Mas. Iya, ya, Mas. Ngerasain toh capek sekali apalagi seorang owner sekaligus terjun. Betul. Wah, itu capek banget energinya luar biasa. Tapi, tapi diin saya senang, Mas. Saya enggak ingin melewatkan itu. Melewatkan ketemu orang pengusaha baru. Wah, itu ricas energi banget. Kita dapat ee apa namanya? Dapat insight baru, dapat relasi baru. Dan tentu ketika kita nginterview seseorang itu kita jadi akrab. Heeh. Dengan dia. Diilah saling bertukar energi. Itu yang menarik. Nah, waktu itu pengin masa kayaknya enggak bisa nih. Saya terus-terusan gitu kan. Akhirnya kita mencari waktu itu Mas Sakor kita coba pertama kali. Wah itu debatable Mas Adi bilang, "Ah kayaknya enggak deh. [tertawa] Nanti Mas Adi silakan di anu tabayun ditanya langsung kepada orangnya. Kalau saya enggak apa-apa, Mas. Kita coba, Mas." gitu. Pertama kali kalau enggak salah ingatku di Kediri bersama IBS Farm. Oh, satu di petani belimbing di Tulungagung. Oh, itu yang pertama ya? Kalau yang IBS kan lebih pertama lagi kalau enggak salah. Kalau yang bareng Mas Agung itu yang pertama. Oh iya ingatku itu yang didampingi Mas Agung ya. Dampingi ya itu. Wah oke ini budal. [tertawa] Terima kasih sekarang sudah heeh membantu kerja di pecah telur dan membuat saya bisa lebih lama di rumah untuk membangun tim. Terima kasih ya Mas sudah diberi kesempatan bertumbuh juga. [tertawa] Oke gitu Mas. Terima kasih. Sama-sama. Next bareng Masor teman-teman. Tak ya. [tertawa] Jangan sayaak mau. Terima kasih teman-teman. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. [tepuk tangan] Uh