Bisnis Paling Menjanjikan dan Sustain Adalah yang Setiap Hari Kita Geluti
KBrDK9I0Ufc • 2025-12-16
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Fashion itu HP saya 110, Mas. Bikin baju
HP saya 110. Jualnya tebak berapa? 150.
360. Uh, 50 100% ya? 300% kalau dari
app. Dan apakah sepi? Laku Mas. 8.000
item omsetnya habisnya sampai 2 miliar.
Wow.
Padahal tiga kali lipat.
Heeh. harganya bisa laku, bisa laku,
Mas. Bisnis apa yang menurut Mas Agung
kan sudah menginterview banyak ratusan
pengusaha
yang paling menjanjikan, yang paling
sustainable begitu.
Heeh.
Nah, kalau yang ditanya adalah bidang,
maka jawabannya selalu seperti ini. Saya
jadi pengusaha yang sustain itu justru
pengusaha yang selalu melihat ke dalam,
bukan melihat keluar. Kalau dari segi
bidang. Oke,
jadi artinya adalah bidang usaha yang
paling kita tahu, yang paling kita
geluti setiap hari itu itulah yang
menjanjikan. Kalau UMKM kan enggak bisa,
Mas, bikin produk murah, Mas. UMKM kan
enggak bisa. Itu kan harus modal besar,
Mas.
Iya, harus kan harus prepare mesin.
Harus, harus prepare mesin, harus
prepare quantity yang banyak biar murah
gitu kan.
Betul.
Brandnya juga harus dipikirin berarti
murah. Enggak bisa dong. Ini dilakukan
UMKM
jawabannya bisa.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Mas, agak kagok terus terang karena saya
nginterview-nya langsung ke Mas Agung
walaupun sudah dua kali saya nginterview
Mas Agung ya.
Oh, iya tah dua kali. Di mana?
Waktu detektif bisnis.
Oh iya ya. Detek bisnis yang waktu bahas
bedah buku
di
Attitude is everything.
Betul. Heeh. Yang kedua
satunya satunya di tempat kemping
Sendang. Ingat ya?
Oke. Oke. Waktu itu detektif bisnis juga
tapi bahas
tentang karyawan.
Karyawan SDM.
Iya.
Menarik.
Sekarang kita pengin bahasnya itu bisnis
yang lagi tren saat ini, Mas.
Tapi yang on frame, Mas itu baru pertama
kali ini.
Iya.
Dulu kan enggak enggak on frame kan,
Masor di belakang kalau keringetan gini.
[tertawa]
Bukan karena nervous, enggak.
Enggak. Dan juga saya merasa kalau
nginterview Mas Agung tuh harus rapi,
tapi Mas Agung juga casual gitu.
[tertawa] Aneh enggak sih? Jomplang
enggak sih kayak gini ya? Aman.
Tapi terima kasih loh Mbak Retno. The
Little Vingure nih. Ini bajunya The
Little Vinger.
Wah siapa itu?
Dikasih
endosun kita. [tertawa]
Iya. I ya. Mas, mungkin yang pertama
pengin saya tahu adalah Mas Agung ini
kan juga sudah berapa nginterview berapa
narasumber, Mas? Pas waktu dari 2021
sebelum pergantian ke Mas Akor waktu itu
kalau enggak salah Mas 300-an lebih
300-an sekian begitu.
Oke.
Sekarang kan jadi 500 kan. 500 kan Mas
AOR sudah
sisanya itu ya. ya 200 se karena
postingnya kan sehari jadi eh seminggu
jadi lebih banyak ya lebih
empat kalau yang dokumenter tiga. Tiga
kalau dulu satu.
Betul. Itu sudah termasuk yang
podcastnya Mas ya interview-nya.
Ee kalau ke podcast mungkin sudah
menyentuh ke 400 kali ya. Podcast juga
sudah banyak kok.
Oke. Iya iya. Karena temanya adalah
bahas bisnis yang lagi tren saat ini.
Iya.
Mungkin based on experience Mas Agung
dulu deh.
Heeh. He.
Dari sekian banyak nginterview orang.
Heeh. He he.
Itu yang Mas Agture bisnis yang paling
menjanjikan dan sustainable itu bisnis
yang apa?
Iya, pertanyaan yang menarik ya, Mas.
Jadi, dan itu juga mewakili sebuah
pertanyaan yang sering ditanyakan kepada
saya ketika offline ketika ketemu
begitu. Kenalan Mas namanya itu. Habis
itu saya kan kenalan saya Agung Mas
dari pecah telur begitu. Oh, pecah
telur. Nah, selalu yang nyeletuk
pertanyaan seperti ini, Mas. bisnis apa
yang menurut Mas Agung kan sudah
menginterview banyak ratusan pengusaha
yang paling menjanjikan, yang paling
sustainable begitu.
Heeh.
Nah, kalau yang ditanya adalah bidang,
maka jawabannya selalu seperti ini. Saya
jadi pengusaha yang sustain itu justru
pengusaha yang selalu melihat ke dalam,
bukan melihat keluar. Kalau dari segi
bidang.
Oke.
Jadi artinya adalah bidang usaha yang
paling kita tahu, yang paling kita
geluti setiap hari itu itulah yang
menjanjikan. Dan memang ee sebagian
besar pengusaha yang saya interview,
Mas, ya.
Heeh.
Cuma nanti Mas Akor juga cross check.
Selalu dia itu paham banget sama
bidangnya dan sudah bertahun-tahun di
bidangnya.
Nah, gitu. Jadi, misal contoh nih,
contoh saya sendirilah di bidang konten
ya, di bidang konten kreator.
Oke.
Ketika ee saya mulai tertarik di bidang
yang lain, ketika saya mencoba suatu
yang lain dan kemudian bedol desa
meninggalkan konten, nah ini saya yang
salah.
Karena jenis bisnis mendatang yang
paling prospektif di bidang saya adalah
ya di bidang yang terkait ee yang saya
ketahui gitu. Karena saya yang paling
mengetahui, saya mengetahui celahnya di
mana, saya mengetahui diferensiasi
diferensiasi dari konten saya dan dengan
konten yang lain apa.
Jadi itulah yang prospektif yang
sustainability. Jadi yang bidang yang
usaha yang dia itu semakin melihat ke
dalam bukan melihat keluar.
Hm. Nah, itu sih, Mas
yang paling sustainable
itu artinya berarti
kalau dalam bahasa agama tuh muhasabah,
Mas, ya, dalam bisnisnya.
Muhasabah itu berarti kan evaluasi, ya,
berarti ya ee muhasabah adalah cara
untuk bisa sustain di bidangnya kan.
Oke.
Jadi, itu sebuah cara untuk bisa terus
begitu. Lebih tepatnya istikamah kali
ya, Mas.
Oh.
Ee jadi kalau dalam bahasa agama lebih
tepatnya istikamah. Terus ada juga yang
bilang ee istikamahnya sampai kapan,
Pak? ee Mas Agung sendiri juga
berpindah-pindah dulu fashion sekarang
sekarang ee digital. He.
Jadi berpindahnya itu sampai mentok
sampai enggak bisa benar-benar di
apa-apain gitu loh. Nah, itu baru boleh
pindah. Tapi kalau selama belum
belum mentok di situ aja terus istikamah
di bidang yang teman-teman kuasai.
Heeh.
Kalau ee kalau saya sekarang, Mas. Jadi
harus di bidang yang saya kuasain
pertama. Habis itu saya tahu marketnya
banyak. Jadi karena kita sekarang sudah
di posisi yang banyak pilihan ya, kita
tahu bakalan ketika kita masuk di sebuah
bisnis tertentu ini akan gede
secara secara peluangnya gede gitu loh.
He.
Nah, itu yang kemudian jadi kalau saya
saya tambahi seperti itu.
Istikamah.
Istikamah kalau tadi ya harus
ee muhasabah adalah cara untuk supaya
bisa istikamah. Harus ada muhasabah
terus-menerus.
Yang istikamah. Tapi juga saya pernah
nginterview Mas Ageng itu sangat ingat
banget ketika Mas Agung tuh bilang gini,
"Usaha itu kalau kecil yang difokusin
aja pasti bakal panen, pasti bakal
bertumbuh sendiri."
I
misalkan jualan kalau Mas Agung tuh
paling sering mencontohkan itu jualan
pensil.
Heeh. Heeh. Kalau fokus lalu evaluasi
setiap sepanjang waktu, setiap saat dan
itu terus-menerus
itu pun juga pasti bakal menemukan
turning point-nya untuk bisa bertumbuh,
Mas. Betul. Betul. Sebenarnya itu saya
juga nukil juga sih, Mas. Mengutip juga
itu katanya kata-katanya KoR yang pusat
gad Indonesia itu loh. Walaupun secara
bisnis saya tidak senang secara bisnis
karena itu bertentangan dengan ideologi
yang kami anut.
Tapi kalau dari value bisnis
kadang-kadang saya oh tertarik begitu
ya. Heeh.
Jadi kalau Kri itu bilang, jadi misal
nih teman-teman jualan pensil spidol
waktu itu ya. Spidol
spidol ini ee coba teman-teman pikirin
terus-menerus em oke bulan ini mungkin
laku 5 atau laku enam kita evaluasi,
kita muhasabah besok bulan depan
diterapkan lagi gitu. Terus sampai
bertahun-tahun sampai mungkin sekitar 5
tahun 10 tahun maka teman-teman akan
menjadi pedagang seped terbesar. Heeh.
di kota Anda atau bahkan Dato Indonesia.
Nah, kayak gitu kekuatan dari sebuah
keistikamahan dari
Heeh. He.
Ee setelah semakin melihat ke dalam.
Jadi,
I
hari ini tuh semakin banyak distraksi,
Mas. Mas Sakor
apaan tuh?
Distraksi itu adalah sebuah opportunity
yang mungkin bias
dimiliki orang lain, tapi ee dia sukses
digeluti orang lain, tapi menjadi bias
bagi kita. Contoh nih, kita
konten begitu ya. Kemudian kita melihat
tetangga kita, eh dia sukses di jualan
batagor misal.
Heeh.
Oh, dia sudah sudah memiliki banyak
cabang. Ini menurut saya bukan lagi
peluang, tapi godaan, Mas. Nah,
[tertawa] berarti godaan gitu. godaan
fokus
gitu
ya. Kalau kita masih
terlibat dalam operasional yang sangat
yang apa yang banyak tapi kalau sudah
bisa sudah ada operasional yang berjalan
kita tinggal controlling mungkin nambah
sesuatu di luar itu menjadi tambahan
opportunity gitu loh.
Nah itu jadi
ya pertama banyak distraksi tadi
teman-teman harus benar-benar tahu
posisi. Kalau teman-teman masih fokus di
bis tertentu ya harus fokus gitu. Jangan
terdistraksi, jangan terganggu oleh
peluang-peluang yang lihat. Kayaknya
kayaknya indah tapi hanya Fota Morgana
ketika didekatin.
I oke, Mas. Ee yang saya lihat, yang
saya capture dari apa yang Mas Agung
paparkan ini kan saya melihat ee
pebisnis sebagai orang yang punya
karakter, Mas ya. Karena kaitannya sama
muhasabah, istikamah. Nah, itu kan
karakter, Mas, ya. He.
Dan saya melihatnya bukan sesuatu yang
nyata dilihat.
He.
Kalau dari sisi bisnis yang benar-benar
nyata dilihat.
Heeh. Heeh.
Itu bisnis di bidang apa? FNB kah?
Oke.
Kelas apa jasakah
atau manufakture atau yang kayak pengin
mana.
Kembali lagi ke tadi Mas. Jadi kalau
ditanya bidang maka bidang yang paling
digeloti adalah bidang yang teman-teman
paling memahami.
Oke,
kembali kembali lagi ke situ. Jadi dan
cara untuk bisa terus-menerus di bidang
yang kita pahami dengan cara muhasabah
dan sebagainya itu adalah yang beruntun.
Jadi adalah kembali lagi ke bidang yang
teman-teman itu paling the best of gitu
ya. Ee paling menguasai.
Paling menguasai itu sebuah kata kunci
yang teman-teman itu bisa melihat lebih
dalam daripada orang lain melihatnya.
He.
Masakor senang apa ya berarti Mas Akakor
ya? Di bidang apa Mas Sakor?
Saya tuh advokasi seneng
advokasi
sosial gitu senang.
Kalau advokasi berarti ya di bidang yang
paling jenengan tahu gitu ya di situ
ya. Di situ kalau saya di bidang konten
ya di bidang konten ini ya sesuatu yang
orang lain tidak tahu yang saya lebih
tahu di situ. Itu kalau bidang Mas kalau
ditanya bidang. Tapi ada juga hari ini
tuh Mas yang saya amati ini menarik Mas
yaitu pola bisnis sukses. Apa bedanya?
Apa bedanya apa bedanya pola? Apa
bedanya bidang? Kalau bidang itu kan
bidangnya bisa FnB, bisa kemudian di di
bidang content creator
atau juga affiliate itu bidang
atau di bidang ee pendidikan atau di
bidang apapun. Ini kategorinya bidang
tadi, pemilihan bidang berdasarkan
teman-teman yang paling tahu atau
teman-teman yang merasa dekat dengan
kesempatan itu.
Itu kalau bidang kalau pola, Mas. Jadi
gini, ini menarik juga ee bagaimana sih
pola bisnis yang sustainable? Ini saya
dapat dari seorang kawan di Sidoarjo
namanya Mas Hendrik.
He.
Mas Hendri itu yang punya markas desain
yang membantu brand UMKM,
sekarang punya roti Goki itu ya. Nah,
dia itu bilang gini, "Mas, ee sekarang
itu, Mas,
ada tambahan
enggak cukup brandnya bagus, berarti
brand masuk kategori pertama. Dia harus
punya brand. Enggak cukup tempat apa
produknya dibutuhkan atau ngangenin.
Jadi, enggak cukup brandnya bagus,
enggak cukup produknya diterima atau
produk ngangenin. Tapi yang ketiga
adalah murah.
Murah ternyata. Dan ee saya saya coba
diskusi, Mas I, Mas. Iya. Iya.
Terus akhirnya saya flashback ke
belakang. Dulu saya punya usaha fashion.
Fashion itu HP saya 110, Mas. Bikin baju
HP saya 110. Jualnya tebak berapa?
150.
360. Uh, 50. 100% ya.
300% kalau dari HP. Jadi HP 110.
Kalau 200% kan berarti 220. Nah, saya
jualnya 360-an.
Oh, iya. I. Heeh. Iya. 300%
e 300% dan apakah sepi? Laku, Mas.
Lakunya berapa? Pas waktu big sistem
sampai 8.000 item omsetnya habisnya
sampai 2 miliar.
Wow.
Padahal tiga kali lipat.
Heeh.
Harganya bisa laku. Bisa laku. Dulu
banyak teman-teman saya yang dia jualan
jualan snack, Mas. Dia itu beli beli
banyak gitu. Kiloan.
Heeh.
Habis itu dipack, Mas. Oke.
Dixek, diganti, diganti kemasan, habis
itu dijual berapa gram, berapa gram
gitu.
Katakanlah 200 gr dia tinggal diganti
kemasan yang bagus bisa dijual 3 kali,
empat kali kelipat dari harga yang curah
tadi.
Dulu laku di tahun 17, 2017 sampai 2019
itu masih kencang.
Heeh. He.
Banyak yang seperti itu. Hanya mengganti
label, hanya mengganti packing.
Heeh. produk yang mungkin isinya sama
dengan hal yang produk yang murah bisa
jadi mahal.
Nah, itu bisa. Nah, itu brandnya bagus,
produknya ee dibutuhkan.
Yang sekarang yang murah, Mas. Nah, em
banyak contoh. Akhirnya saya juga
muasabah, oh iya ternyata baju saya
sudah enggak bisa karena itu permainan
zaman dulu. sekarang harus baju yang
value sama harganya itu
ee dekat atau bahkan value for money
bahasanya. Kata orang value-nya harus
lebih tinggi daripada money-nya.
Money-nya, uangnya.
Ee Mas Jil juga kasih contoh. Contoh Mas
ee kita sebut aja brandnya ya. Benang
raja.
Oh iya. Rame itu, Mas.
Benang raja. Ramai.
Heeh. Heeh. Heeh.
Dia mahal atau murah?
Murah lagi.
Murah Mas. Dia nyaman enggak?
Nyaman.
Nyaman. Kurang apa coba? Dia bisa enggak
jual mahal? Mungkin
harusnya bisa.
Tapi dia enggak pilih itu. Dia pilih
jual murah, nyaman,
ah laris.
Heeh. Heeh. Heeh.
Contoh lagi dia kasih contoh. Diaw. DIW.
DIY.
Oh i
DIY. DIW.
Murah enggak, Pak? Di sana
murah, Mas.
Murah. [tertawa] Lengkap enggak, Mas?
Lengkap lagi.
Lengkap. Dingin enggak, Mas? Dingin.
Nyaman banget orang beli ke situ.
Nyaman. Orang datang sudah dinyamakan.
Orang datang nyaman sekali. Produknya
murah.
Iya. Iya.
Produknya murah. Fasilitas lengkap.
[tertawa] Nah, kurang apa coba? Nah,
kemudian saya lihat produknya Mas Hendri
juga. Oke, Mas.
Aku belum belum anu nih, belum begitu ee
oke sudah paham tapi apa penerapan dari
tempatmu gitu ya.
Heeh. He.
Nah, saya bikin ini, Mas. Bikin ini.
Waktu itu dia bikin roti Gogi namanya.
Roti Goki itu dia sebut-sebut HP, "Mas,
HPP-ku ini 1000 sekian."
HP-nya 1000 sekian. 1000 berapa? Aku
lupa. 1800 atau berapa, lupa. Termasuk.
Nah, salah satu kelebihan dari UMKM
sekarang harus bisa bikin produk murah.
Heeh.
HP-nya murah, tapi rasanya ini boleh
diadu kalau makanan.
Iya. Nah, dan nanti jualnya juga enggak
boleh mahal-mahal. Dia bikin produk
harganya 1800 kalau enggak salah HP-nya
ya. Kemudian ditambahi kan dia polanya
adalah pola kemitraan perkota begitu.
Nanti n user di 3.500.
Nah, jadi
batas atasnya 3.500.
3.500 itu masih murah.
Ah,
untuk kategori roti yang seperti roti
kopi di stasiun, roti O lah bahasanya
ya. Memang dia agak segmen low-nya itu,
tapi dengan harga Rp3.500 00 orang masih
oh ini enak nih worth it ya gitu.
Jadi pertama memang harus bisa bikin
produk yang
dibutuhkan dan ngangenin.
Heeh.
Kemudian juga brandnya bagus. Brandnya
harus bagus, Mas.
Heeh.
Jadi ee brand ini juga syarat ya. Brand
itu apa sih brand yang bagus? Kemasannya
sudah bagus, higienis. Terus kemudian
secara warna juga dipilihin secara ada
ikon dan sebagainya.
Namanya juga genah gitu ya. Kemudian
juga sosial medianya juga ngenah. Ah,
gitu. Kemudian ini soal brand. Kemudian
yang ketiga adalah murah tadi.
Murah.
Oke, betul ini. Nah, kemarin saya juga
ketemu lagi, Mas. Ada lagi nih. Ini
mumpung tak lanjutin ya, Mas, ya. Ah,
jadi waktu saya ke Jakarta, saya mengisi
sebuah seminar.
Salah satu teman saya adalah Mas Sahid.
Waktu itu sebenarnya yang ngisi bertiga,
cuma yang satu berhalangan. Jadi, yang
ngisi tinggal berdua saya dan Mas Sahid.
Saya mewakili pecah telur dan Mas ini
mewakili cimol bocot aa.
Oh,
awalnya saya aneh ini makanan apa ini
cimol bocot aa gitu waktu. Tapi waktu
diangi si set kayak melungo Mas. Hah hah
gitu ya. Kayak terpongoh-pongoh gitu ya.
Iya iya iya.
Wih.
Ee dalam pemaparannya dia, dia
menyampaikan, "Mas, Cimol BC A dulu 2
tahun itu rugi, Mas. 2 tahun itu rugi
karena harganya cuma dia nyebutin kalau
enggak salah R5.000.
Jadi R5.000, Mas. tapi banyak peminat
sehingga rugi. Terus kemudian ee dia ee
diskusi sama owner sama dia kan
co-founder ya sama foundernya itu untuk
dinaikkan jadi 6.000
baru itu untung. Artinya dia tipis
banget kan ngambil untung.
Heeh.
Dia tipis banget ngambil untung.
Sekarang outletnya sudah 400.
Wow.
Dikelola sendiri, Mas. Bukan franchise,
bukan kemitraan.
Seluruh Indonesia itu masih di daerah
sana aja. Jab ee Jabod Tbk aja belum
komplit. Jadi daerah sana memang weh
ngeri ya. Jadi memang awalnya wabar
sekarang agak mahal jadinya ya karena
sekarang sudah ada yang rasa keju dan
sebagainya. Jadi memang ada
varian-varian yang mewah.
Dulu itu masih ee brandnya oke, kemudian
makanannya diterima dan ngangenin,
harganya murah. Ya, jadi itu adalah
sebuah kata kunci teman-teman yang
ingin sustain. Eh, sebentar saya kasih
tunjuk lagi satu fakta yang menarik.
Kaos, Mas.
Oke.
Kaos. Kaos di TikTok itu harganya
murah-murah juga. Iya.
Tapi ada saya saya terpaku pada satu
brand yang dia itu
sebutnya namanya deathless.
Oh ya tahu saya itu Mas
Deless kan punya orang Kediri Mas.
Heeh. Heeh. Heeh.
Harganya berapa di TikTok?
Berapa? R-an ri.
60-an.
60-an. Itu sangat ngepres juga dengan
bahan dan sebagainya.
Heeh.
Laku keras. Laku keras. Puluhan ribu
mungkin per bulan. Nah itu jadi beberapa
contoh-contoh itu, Teman-teman. Kalau
bikin produk hari ini memang harus
brandnya bagus, produknya diterima dan
ngangenin. Ngangenin ini orang mau beli
lagi, mau pakai jasanya lagi atau makai
produknya lagi. Kalau makanan ya nyoba
lagi. Kalau pakaian ya beli lagi.
Heeh.
Dan kemudian yang ketiga adalah murah.
Oke.
Terus kemudian ini saya ada pertanyaan
lagi, Mas. Mas, kalau
kalau UMKM kan enggak bisa, Mas, bikin
produk murah, Mas. UMKM kan enggak bisa.
Itu kan harus modal besar, Mas. Iya,
harus kan harus prepare mesin.
Harus prepare mesin, harus prepare
quantity yang banyak biar murah gitu
kan.
Betul.
Brandnya juga harus dipikirin berarti
murah. Enggak bisa dong ini dilakukan
UMKM.
Jawabannya bisa.
Jadi teman-teman bikin prototype kecil
dulu. Jadi bikin prototype kecil dulu.
Jadi memang di awal-awal itu jangan
ngambil untung dulu.
Oke
ya. Ini memang agak berat ketika
teman-teman sudah di fase kebelet
kebutuhan. Ini agak berat sih. Nah,
orang kebelet kebutuhan itu kan usaha
hari ini, dagang hari ini dimakan hari
ini,
besok dagang lagi. Ini agak kalau kalau
konteks yang seperti itu ya agak berat
sih.
Harus survival mode dulu.
Betul.
Tapi kalau UMKM itu bisa menahan diri,
menahan diri dulu untuk tidak ngambil
profit yang banyak,
bisa ini di dikelola sekolah kecil dulu,
Mas. Jadi memang awalnya prototype
katakanlah makanan nih atau gerobakannya
sudah kita coba pola yang satu gerobak
dulu.
Pola satu gerobak. Habis itu ee oh ini
winning nih. Coba di tempat lain
katakanlah winning juga nih. Wah ini
berarti polanya sudah worth nih.
Heeh.
polanya udah ketemu, udah verified. Nah,
di antara mereka entah itu Goki, entah
itu Cimol Bajut Aa dan mungkin juga
Benang Raja dan lain sebagainya pakai
investor. Tapi kalau yang Goki sama
Cimat Bajel A saya tahu mereka pakai
investor. Jadi bikin bikin small type
dulu, small prototype dulu. Kalau sudah
berhasil mereka baru cari
investor. Mas kan enggak jadi milik kita
100% enggak apa-apa.
Kalau itu volumenya gede, walaupun
teman-teman enggak miliki 100% tetap
gede kok. daripada teman-teman memiliki
100% tapi cuma kecil.
Nah, gitu. Dan sekarang kalau enggak
seperti itu agak susah bersaing, agak
susah sustainability. Ah, begitu.
Iya. Dari tiga mungkin dari tiga tiga
faktor, Mas ya, antara brand, terus
produk yang ngangenin, dan juga murah,
Mas.
He,
apakah memungkinkan untuk itu bisa
berjalan beriringan atau mungkin ada
skala prioritas yang harus didahulukan?
Itu sebuah syarat wajib, Mas. Kayaknya,
Mas.
syarat wajib. Jadi em kalau murah ini
mungkin agak mahal dikit enggak apa-apa
sih ya. Ini boleh dikorbanin dikit tapi
ya enggak bisa penyebarannya enggak bisa
maksimal.
Maksimal.
Kalau mau maksimal harus tiga-tiganya.
Maksudnya brand ya enggak brand yang
ngwetop itu enggak sih Mas. Maksudnya
atribut brandingnya dipikirin.
E
atribut brandingnya dipikirin. Maksudnya
ya kayak bikin logo yang baik, bikin
kemasan yang bagus,
kemudian namanya juga mudah diingat.
Iya. sosial medianya dihidupin
dikit-dikit. Nah, itu sudah kategori ini
brand dihidupin.
Minimal punya filosofi untuk dirinya
sendiri.
Punya filosofi untuk dirinya boleh.
Bukan band yang sangat ngetop itu
enggak. Dan itu enggak perlu pakai jasa
jasa profesional. Sekarang pakai AI
bisa.
Heeh.
Gak perlu pakai deret Fibonacci untuk
bikin bikin logo brand gitu, Mas. Ya.
[tertawa]
Siapa tadi?
Deret Fibonacci. Sekarang lagi ramai
Mas. Itu rekonspirasi.
Oh, [tertawa]
enggak enggak enggak enggak. itu pakai A
bisa
kalau Nah, yang yang krusial yang kedua
ini produk yang nganing ngangenin dan
bisa bikin di harga yang murah ini yang
menjadi PR challengening-nya di situ
Maseng.
Iya,
gitu.
Saya pikir ee justru malah lagi bisnis
yang lagi tren masa gini itu saat ini
mungkin justru malah MBG. [tertawa]
MBG ya
itu kan marketnya pasti.
Iya. I.
Terus
apalagi gak perlu mikirin market juga
kan, Mas ya? Karena marketnya sudah
Iya. Ah, fix ya.
Iya fix ya.
Tapi itu enggak bisa di gak bisa
ditangkap peluangnya oleh pengusaha
kecil.
Iya, betul.
Itu harus pengusaha besar kan harus bisa
harus punya mobil kan operasional.
Dapur
harus punya dapur.
Iya iya iya.
Nah, ya. Walaupun sekarang bayarnya
sudah bagus ya.
Heeh. He.
Nah, tapi enggak bisa dicapture oleh
pengusaha kecil. Harus pengusaha yang
menengah lah kira-kira. Heeh. Nah, gitu,
Mas. Dari sekian sekian banyaknya
parameter untuk supaya bisnis tren yang
lagi saat ini, Mas, ya?
He.
Termasuk yang sustain, apakah sama
antara Mas Agung ketika menginterview
banyak orang dengan yang saat ini?
Berbeda Mas, dengan yang saat ini
mungkin, Mas, ya? He.
Apakah ada perspektif yang berbeda
ketika sudah tidak nginterview orang
saat ini juga apakah melihat bisnis yang
lagi tren saat ini?
Iya. Jadi, oh ya tadi tak kasih ee quote
and quote ya. Jadi itu adalah yang saya
bilang tadi itu bukan satu-satunya
bis pola bisnis yang sukses, tapi salah
satu bisnis yang saat ini saya amati
sukses.
Oke.
Jadi artinya, "Pak, ini jualan mahal
sukses?"
Ya, bisa jadi bisa jadi. Tapi memang
yang hari ini banyak yang kemudian
persentasi suksesnya lebih tinggi itu
yang harganya
murah.
Ah, murah.
H.
Kalau teman-teman punya branding yang
sudah kuat, ya enggak apa-apa sih value
ee jual yang agak pricey begitu enggak
masalah.
Faktornya apa, Mas? Ee pola seperti itu
terbentuk itu karena apa?
Oke.
Ekonomikah atau seperti atau bagaimana?
Iya. Jadi kalau yang saya amati adalah
pola keterbukaan informasi yang sangat
cepat, Mas.
Jadi contohnya adalah TikTok ya. TikTok
itu game changer banget ya. TikTok itu
game changer banget. Jadi di situ
murah-murah kemudian ee orang mudah
sekali untuk bikin sebuah review.
Heeh.
Ee jadi antara value dan harga harus
relate. Jadi ee eranya short content
yang kemudian orang sangat mudah untuk
memiliki panggung.
Hm. Nah, itu yang mengubah cara
main-cara main ini. Dan kita lihat
orang-orang yang bermain tadi yang yang
memiliki grat tadi murah,
brandnya bagus, produknya ngangenin, itu
tidak peduli eranya apapun dia bisa akan
lebih mudah bertahan.
Saya saya itu pernah punya teman
ee di militar, dia jualan bakso, Mas,
insyaallah bakso saya ini sudah susah
untuk di dilawan karena saya sudah
mengeset harga yang paling murah untuk
bakso saya. Jadi, orang mau masuk dengan
harga bawahnya itu agak kesulitan dengan
bahan-bahan yang seperti ini.
Jadi, sampai seperti itu. Kalau kita
sudah bisa menentukan harga termurah dan
kita bisa untung survive,
susah kompetitor untuk bisa masuk.
Oke. Saya tuh masih enggak habis pikir,
Mas. Anggaplah saya orang awam, Mas, ya.
Ketika bisnis dengan harga murah itu
untungnya kapan dan [tertawa]
balik modalnya bagaimana ataukah ada
batasan tertentu untuk menentukan profit
margin?
Lebih detailnya begitu mungkin, Mas.
Iya. Jadi memang mainnya quantity, Mas.
Bukan main ee ya main quality tapi plus
yang paling penting adalah quantity.
Oke.
Kalau dulu saya bilang yang yang maksud
saya yang murah itu ya enggak murah
banget, Mat. Katakanlah margin hanya 10%
atau 20% itu namanya kerja rodi atau apa
kerja bakti begitu ya. Enggak enggak
kayak seperti itu.
Yang saya contohkan tadi yang seperti
tadi loh, Mas. Yang saya bisa ng tiga
kali lipat.
Teman-teman yang bermain snack itu bisa
bisa apa namanya itu ee
ngambil curah kemudian dia packing jual
dek kali lipat 4 kali lipat. itu kan
sangat tidak sangat tidak wajar begitu.
Kalau dulu masih bisa sih, sekarang
enggak bisa.
Nah, maksudnya murah itu ya kita bisa
bertumbuh dengan profit itu.
Ah.
Ee tapi enggak enggak yang enggak yang
gede banget. Contoh nih, ini juga
sekaligus menjawab pertanyaan tadi Mas
Akor
sekarang apakah apakah juga mengamati
bisnis yang lagi tren? Masih mengamati
karena saya mengembangkan
yang kita pecah telur kembangkan kan
hari ini ada kelas pecah telur, Mas.
Iya. kelas pecah itu harus juga menjawab
ee solusi bagi teman-teman yang mereka
bingung mau belajar bisnis.
Heeh.
Nah, itu pun juga saya memakai pola ini,
Mas. Saya memakai pola
brandnya oke, kelas pecah telur. Ei,
logonya juga dibikinin, sosial medya
dihidupin dan sebagainya.
Yang ketiga harganya murah. Harganya
saya bikin Rp95.000.
Nah, ini
oke.
Kalau dulu Mas, enggak ada Mas kelas di
bawah Rp100.000 Mas. kelas itu rata-rata
150. Itu pun yang biasa-biasa banget
ebook. Wah, katakanlah gitu. Ataupun
sekelas ee video yang kayak saya yang
ada 30 video di dalamnya atau 15 video
di dalam 15 sampai 30 video di dalamnya
itu biasanya harganya Rp300.000.
Rp300.000. Kalau dulu
Rp400.000. Nah, sekarang
di bawabah Rp100.000. Nah, itu contohnya
gitu. Ee jadi ya harus di memang hari
ini fenomennya seperti itu. Nah, kapan
balik modelnya? Ya, kita harus mikirin
bagaimana kita bisa menciptakan produk
yang bagus dengan harga yang ee
affordable.
Heeh.
Sehingga ee ketika kita jual harga
enggak mahal-mahal pun masih banyak
untungnya ataupun masih layak gitu loh.
Masih bisa untuk bertumbuh walaupun
tidak seperti dulu dua kali lipat, tiga
kali lipat gitu enggak ya. Cuma berapa
katakan kalau ditanya persentase mungkin
ya di ee 40 sampai 60 peren
masih
masih oke. Jadi HP katakanlah kita bikin
produk di harga
di harga Rp10.000 ya sudah jualnya
Rp14.000 Rp15.000
Mas ya. Nah kita nanti tinggal kejar
quantity bagaimana bisa menghidupi
operasional.
Heeh. Heeh. Heeh.
Kalau dulu kan enggak Mas ya produknya
harga Rp5.000 R e HPP-nya katakanlah
R.000, jualnya Rp15.000. Oke.
Nah, gitu. Tiga kali lipat, empat kali
lipat.
Itu mungkin satu salah satu alasan
kenapa Mas Agung juga tidak banyak
tergoda. Karena setiap narasumber tuh
pasti pengin ngubungi gimana cara
kolaborasi.
Kolaborasi bareng pecah telur itu kan
godaannya banyak itu, Mas.
Betul. Betul.
Dengan cara dan konsep apapun model
bisnisnya.
Heeh. Heeh.
[tertawa]
Kalau saat ini saya ditanya itu mungkin
akan lebih tahan godaan
dibanding yang dulu.
Iya.
Ya, karena sudah menggeluti banyak
bisnis, Mas. Dan sudah tahu, Mas. Saya
menggeluti banyak bisnis sekitar 14
lebih bisnis yang sudah pernah saya
bikin dan
he
saya sudah intinya belajar dari situ.
Oh, nanti gini, nanti gini. Jadi sudah
kayak feelingnya sudah kebentuk gitu
loh. Oh, ini bakalan sukses. Oh, ini
kayaknya agak berat. Bahkan itu pun
sekarang juga sering salah nyoba ini.
Oh, ini bakalan sukses nih, ternyata
enggak sukses. Oh, gitu.
Bukan learning by doing ya sekarang ya.
By on based on riset ya. Tetapan ya, Mas
ya.
Iya. Riset tetap dan dilakukan. Iya.
[tertawa]
Siap. Siap. Siap. Siap.
Sekarang nih, Mas kalau diminta mungkin
terlepas dari embel-embel pecah telur
deh.
He
sebagai Mas Agung pribadi, sebagai
bebisnis.
He.
Pengin bisnis apa di luar digital?
[tertawa]
Saya tuh heran ya, Mas ya. Enggak tahu
ini sebenarnya ini di luar bidang saya
dan saya kok ngotot sekali ini pengin
punya bisnis ini. Itu kuliner, Mas.
Saya enggak tahu. Saya enggak ada
background bisnis kuliner. Enggak enggak
pernah bisnis kuliner yang sukses.
Pernah sekali atau dua kali enggak
sukses.
Dan ini di luar dari kepakeman saya. Dan
saya itu pengin banget di situ. Enggak
tahu kenapa.
[tertawa]
Dan memang ingin saya ingin saya apa
benar-benar wujudkan tapi pelan-pelan.
Hm.
Jadi saya nabung lah,
nabung pengetahuan, nabung relasi di
bidang kuliner.
Kemudian nanti suatu ketika ya akan tak
karena enggak tahu ya teman-teman nanti
coba komen ya pernah enggak ngerasa
kayak gitu ini di luar di luar bidang
kita tapi kita tuh pengin banget. Nah,
Mas Akor sendiri pernah enggak ngerasa
kayak gitu?
Lah ini lagi running, Mas.
Kebetulan saya invest ke salah satu
bisnis kuliner. Wah, kerenkeren
ya. Tapi enggak banyak, Mas. Enggak
sampai ratusan karena pengin nyoba aja
situasinya sama seperti Mas Agung.
Iya. Iya.
Terdorong untuk pengin banget di dunia
itu, Mas.
Kuliner ya.
Betul.
Iya. Iya.
Nah, sekarang lagi semoga insyaallah sih
Desember ini running
WH. Teman-teman nanti kita gantian
interview Mas Sakor. Mas Sakor ini
statusnya kan tim ya, boleh dibilang kan
karyawan ya, Mas ya.
Iya, saya karyawan.
Tapi karyawan ini tapi punya pemikiran
yang bagus menurut saya ya.
Jadi bisa memutar uangnya ini sekarang
bahkan mau invest di salah satu
ee kuliner gitu ya. Nanti kita ya masih
[tertawa] sudahudah kan sudah kan. Nah
nanti kita gantian interview. Piye sih
carane muter duit Mas ben
ben tetap ee bisa berkembang begitu.
Introvert saya tuh Mas kalau diinterview
gini [tertawa] introvert
kayak diintro gitu-gitu saya
introvert k pas turu Mas.
Makanya saya selalu di balik layar
ketika diamani Mas Agung untuk menjadi
interviewer.
Iya. Iya.
Podcast ee di dokumenter saya saya masih
oke karena masih di balik layar.
He he he.
Kalau yang ini ee komen ya teman-teman.
Kritik boleh dah. [tertawa]
Waktu Mas Akor itu jadi the next
interviewer mewakili saya. By the way,
aku terima kasih sekali karena Mas AOR
saya jadi lebih rileks di rumah, lebih
santai. Eh, dulu pas waktu Mas Akor mau
jadi interviewers mewakili saya, saya
itu debat panjang dengan Mas Ardi.
Waduh, [tertawa]
ternyata
debat panjang saya. Jadi di sisi lain
saya ingin memberikan kesempatan
karena kan capek sekali toh, Mas.
Iya, ya, Mas.
Ngerasain toh
capek sekali apalagi seorang owner
sekaligus terjun.
Betul.
Wah, itu capek banget energinya luar
biasa. Tapi, tapi diin saya senang, Mas.
Saya enggak ingin melewatkan itu.
Melewatkan ketemu orang pengusaha baru.
Wah, itu ricas energi banget.
Kita dapat ee apa namanya? Dapat insight
baru, dapat relasi baru.
Dan tentu ketika kita nginterview
seseorang itu kita jadi akrab.
Heeh.
Dengan dia.
Diilah saling bertukar energi. Itu yang
menarik.
Nah, waktu itu pengin masa kayaknya
enggak bisa nih. Saya terus-terusan gitu
kan. Akhirnya kita mencari waktu itu Mas
Sakor kita coba pertama kali. Wah itu
debatable Mas Adi bilang, "Ah kayaknya
enggak deh. [tertawa] Nanti Mas Adi
silakan di anu tabayun ditanya langsung
kepada orangnya. Kalau saya enggak
apa-apa, Mas. Kita coba, Mas." gitu.
Pertama kali kalau enggak salah ingatku
di Kediri bersama IBS Farm.
Oh, satu di petani belimbing di
Tulungagung.
Oh, itu yang pertama ya? Kalau yang IBS
kan lebih pertama lagi kalau enggak
salah. Kalau yang bareng Mas Agung itu
yang pertama.
Oh iya ingatku itu
yang didampingi Mas Agung ya.
Dampingi ya itu. Wah oke ini budal.
[tertawa]
Terima kasih sekarang sudah heeh
membantu kerja di pecah telur dan
membuat saya bisa lebih lama di rumah
untuk membangun tim.
Terima kasih ya Mas sudah diberi
kesempatan bertumbuh juga. [tertawa]
Oke gitu Mas.
Terima kasih.
Sama-sama.
Next bareng Masor teman-teman. Tak ya.
[tertawa]
Jangan sayaak mau. Terima kasih
teman-teman. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
[tepuk tangan]
Uh
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:25 UTC
Categories
Manage