Transcript
TXoNhCj6k7c • Solusi Saat Tenaga Petani Makin Sedikit, Anak Muda Ogah ke Sawah: Alat Pertanian Modern
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0680_TXoNhCj6k7c.txt
Kind: captions
Language: id
Ini grambyangan aja dari bibit. Bibit
basah dalam 1 hektar ya. Itu untuk biaya
cabutnya saja itu sampai 900 sampai
[musik]
Rp1.200 untuk nyabutnya. Cabut saja.
Iya. Kita kita pakai ukuran 1 hektar
katakanlah dengan dirubah menjadi
pengalihan bibit kering yang 1 hektar
ini cuman biaya cabut atau biaya potong
gulung. itu 200 itu dari mulai bibit
cabutnya setelah cabut kan butuh tanam
setelah mau tanam pakai orang dalam 1
hektar itu 400 * 6 biasanya sing ini kan
1/4 bau 400 * 6 muncullah biaya tanam
Rp2.400 400 setelah punya mesin ini,
karena mesin ini punya kapasitas 1 hari
1 hektar, katakanlah dikerjakan dua
orang, satu orang katakanlah dikasih 200
karena itu jalani mesin ya. 200 * 2 400.
Yang tadinya Rp2.400
cuman keluar uang 400. Coba bayangkan
berapa selisih efisiensi [musik]
biaya yang menjanjikan untuk masa depan
itu? [musik] Dan itu enggak bakalan
waktu berapa tahun berhenti. Enggak.
Selagi
manusia
masih manusia makan nasi [tertawa]
berarti kan harus tanam padi.
Pas awal oke kita bersama bareng. Saya
bangun sama partner sebelum adanya uang
[musik] itu semangat semua. Pas ketika
uang itu sudah ada, kita dealing project
sekian ratus juta, sekian miliar, saya
ditikung partner saya. Karena yang
megang keuangan itu partner saya lah.
Itu di situ pelajaran terbesar saya
mengenai usaha. [musik]
Kurang lebih kalau kita bicara nominal 3
miliar. Ora usah ngemut-ngemut berapa
utangmu, kapan bojomu. Sing penting
awakmu sehat. Sehat pikirane, sehat
awake kabeh rampung. Sing rampung sopo?
Yo waktu.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya nama Ponco Widodo. Ini
beralamatkan di Desa Bodeh, Kecamatan
Bodeh, Kabupaten Pemalang. Dan saya
punya istri satu, punya anak dua. Dan
ini lagi menjalani usaha untuk bibit
kering [musik] dan alat mesin tanam
padi.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Nama saya Angga. Saya putra
dari Pak Ponco. Di sini saya sebagai
regenerasinya Poncotani.
Saya mulai buat pembibitan padi siap
tanam itu dari tahun 2006. Dulu itu kita
menggunakan sistemnya semi basah. semi
basa itu yang bibitnya dicabut
berjalannya waktu ya 2000 ya COVID
itulah salah satunya saya mengalami
kesulitan kesulitannya untuk tenaga
cabut kalau misalnya ada pesanan yang
lumayan banyak kita harus cari orang
cabut bahkan sampai ngambil dari lain
daerah kalau sini berarti ngambil dari
daerah Kecamatan Petarukan lumayan jauh
sehingga cost untuk biaya itu kan dobel
untuk biaya transportnya Dari situlah
saya akhirnya berpikir dan itu juga
berawal dari masukan-masukan anak saya.
Angga. Jadi dia sudah berpikir ke
depannya, "Pak, ini nanti untuk ke depan
tenaga kerja itu sudah mulai berkurang.
Coba Bapak beralih ke bibit yang tidak
cabut. Coba lihat contoh-contoh kan
banyak yang pakai tray, pakai nampan dan
sebagainya. Akhirnya saya mengikuti
mengikuti perkembangan yang mungkin anak
muda kan lebih tahu luas ya dibanding
[musik] kita yang memang tahunnya ada di
sini gitu. Saya mulai bikin awalnya tiga
Paris. Nah, dari tiga Paris itu ya yang
namanya uji coba enggak sekali dua
[musik] kali berhasil, Mas. saya hampir
1 tahun baru bisa ketemu. Jadi gini,
dengan wawasan yang diberikan sama anak
saya, saya juga berpikir. Tapi ya
sambilnya berjalan, saya membuat bibit
kering, saya juga enggak berhenti. Bibit
basah berjalan. Saya tawarkan satu pun
enggak ada yang mau. Apa-apaan itu gitu.
Iya, yang orang kan kalau musim tanam
itu kan hampir ee kita ramai ya. Dalam
arti ramai orang butuh bibit kan banyak
gitu [musik] ya. Tapi saya bikin tak
coba tak tanam di tempatnya sendiri.
Nah, dari situlah mereka melihat
ternyata dari bibit yang saya buat yang
namanya bibit kering ini [musik] kalau
bisa dibilang bibit gulung karena
dipotong terus digulung gitu ya. dari
hasil panennya itu lebih bagus,
anakannya lebih banyak, kemudian juga
lebih efisien untuk e bikinnya lah. Dari
situlah akhirnya saya berkembang dari 3
bikin 10, dari 10 bikin 25. Terus
berkembangnya waktu saya berpikir bibit
kering itu identik dengan tanamnya pakai
mesin gitu, Mas. Terus terang kita
enggak enggak menutupi bahwa mesin awal
itu kita menggunakan mesin bantuan yang
dari pemerintah.
Saya kan basic [musik] kuliah di Telkom
sebelumnya. Jadi pas saya di sana saya
nyambil juga usaha digital marketing
kayak gitu. Itu di tahun sebelum COVID
pun berarti kan 2019 ya. Itu awal-awal
saya masuk kuliah yang kedua. Di situ
saya melihat sebuah sesuatu permasalahan
yang besar karena saya sering
bolak-balik dan sering komunikasi sama
Bapak. Setiap hari itu saya enggak
pernah ketinggalan telepon. Tiap hari
telepon Bapak kayak gitu lagi apa udah
makan atau belum kayak gitu kan. Karena
saya ada yang janggal dari usaha pertama
Bapak kan emang basic dari lama kan
pembibitan padi semai basah ya yang siap
tanam itu harus dicabut dulu. [musik]
Jadi setiap bulan itu buat bayar
karyawan aja enggak bisa. Ini ada yang
salah ini kayak gitu kan. Karena Bapak
setiap bulan itu ini gimana enggak ya
gitu karena kan Bapak punya putra kan
dua [musik] saya sama kakak. Tapi yang
sering komunikasi mengenai apa yang
Bapak lagi jalani di pertanian ini kan
seringnya sama saya gitu ya. Emang sih
kalau misal mengenai basic pertanian
saya enggak ada basic pertanian. Nah,
dari situ saya melihat posisi
2022 berarti kan COVID ini kan mulai mau
berhenti ya. Saya ngambil tugas akhir
itu ditolak terus. Ini cerita awalnya
ditolak terus judul saya terus bapak
nyampein loh kenapa enggak enggak kamu
ngambil di sisi pertaniannya? Tak pikir
saya ngambil UI bagian edukasi dalam
pertanian [musik]
kayak gitu kan. Saya juga nyampaiin ke
Bapak, Pak. Saya menemukan sebuah
kejanggalan besar di dalam satu jurnal
bahwa di Indonesia ini kan posisi
penanaman padi itu [musik] kan setiap
tahunnya menurun dikarenakan apa?
Pertama orang tanam semakin kurang ya
karena umur regenerasinya hampir tidak
ada. Jadi saya juga ngambil sisi tadi
ambil yang Bapak ini ternyata emang
disetujui kan tugas akhirnya kan. Nah
itu saya kembangkan saya dalami lagi di
tahun 2019 itu alat yang capung ini itu
ternyata didistribusi seluruh Indonesia
bantuannya
bantuannya tapi yang digunakan hanya
sekian persen kayak gitu lah. Saya
menyampaikan ke Bapak, "Ayo Pak, mau
kapan lagi Bapak kalau enggak nyoba?
Bapak nyari coba di daerah kita
Kecamatan Bodeh ada enggak alat yang
kayak gini? Bibitnya ini bibitnya enggak
bisa pakai yang cabut. Coba Bapak,
inilah riset Angga belum bisa bantuin.
Tahun 2022 itu Bapak ayolah enggak
pulang ke rumah lah. Wong Angga belum
selesai kok kuliahnya kayak gitu kan.
Nah, berjalannya waktu kenapa enggak,
Pak? Kita nanti ke depannya usaha dari
hulu ke hilir. Kayak gitu. Kalau kita
melihat dari sudut pandang kita sebagai
pengusaha gitu ya dan sebagai petani
khususnya di pangan dan padi,
permasalahan terbesar itu adalah sumber
daya. Yang kedua, kalau kita bicara
hulu, sebelum kita mau melakukan tanam
ataupun perawatan, mau kapasitas besar,
permasalahan paling utama adalah bibit.
Bibit itu menjadi [musik] permasalahan
utama tanam serentak.
Kalau saya ya bisa dibilang [musik]
masih tahapan orang ngomong itu jadul
ya. Jadi kita menggunakan sistem-sistem
yang terdahulu. Makanya tadi disampaikan
sama Angga bahwa saya merubah ini atas
penemuannya si Angga. Jadi, Pak Gini tak
lakukan karena dia kan hanya bisanya
ngomong enggak bisa berbuat apa-apa.
Wong enggak di rumah
ya. Enggak di rumah itu
yang melakukan saya tak coba gini-gini
saya ada kesulitan telepon terus terang
memang walaupun Angga di luar memang
tidak ada hari dia enggak telepon
kadang-kadang pagi siang sore
malam-malam itu sehari enggak cukup
sekali dia telepon ya ngobrol ya tanya
dan sebagainya lah dari perkambangan
tadi yang dia berikan [musik]
Bapak yang penting nyoba urusan bagus
jadi dan tidak belakang yang penting
Bapak nyoba dengan sistem [musik] yang
mungkin dia progreskan atau dia
rencanakan saya tinggal ngikuti. Tak
laksanakan tak gini tak gitu ya.
Alhamdulillah ee berjalannya waktu ini
kan berkembang dari 315.
Nah itu belum lama.
Maksudnya gini saya diskusi sama Bapak
ngembangin bibit kering ini 2023 karena
Bapak pas tak sampaikan dari tahun 2022
baru nyoba di tahun 2023. Masih pakai
tray itu masih pakai tray belum yang
pakai mulsa kan saya tak sampaikan,
"Pak, coba pakai mulsa cuma emang masih
kesusahan kayak gitu ya." Itu perjalanan
saya sebelumnya itu di sana ya kuliah ya
kerja saya juga kerja karena kerja saya
itu di sana di bagian [musik] bantu
kakak ya kakak juga di Purwokerto. Terus
saya juga mencoba untuk keluar dari zona
nyaman pekerjaan ya. saya buka usaha
yaitu digital marketing yang tadi agensi
saya pun mendaftarkan PT namanya Angkasa
Digital [musik] Media kayak gitu. Nah,
di situ saya menaungi di sana di
Purwokerto membina 150 MKM masuk ke
projek-projek tahunan ke
corporate-korporate kayak gitu ya. Saya
di sana pas awal oke kita bersama bareng
saya bangun sama partner sebelum adanya
uang itu semangat semua pas ketika uang
itu sudah ada, kita dealing project
sekian [musik] ratus juta sekian miliar
saya ditikung partner saya karena yang
megang keuangan itu partner saya lah.
Itu di situ pelajaran terbesar saya
mengenai usaha. Kurang lebih kalau kita
bicara nominal R miliar
habis nikah ini. Ini nikah itu posisi
kolab.
Kolab.
Setelah nikah selesai saya ngomong
enggak. Kamu kan apa usaha di bidang
market. Ngapain kamu marketin punya
orang? Punya bapak kan ada itu bibit.
[musik]
Terserah kamu mau di market model kayak
apa. Kan itu sudah ada medianya tinggal
kamu kembangkan. Nah, posisi kondisi
lagi pusing lagi akhirnya pulang kan.
Lebih baik kamu pulang. Istri bawa ayo
bareng-bareng sama bapak. Terserah kamu
mau bikin apa, buat apa. Yang penting
ini sudah ada media usaha itu. Mau
sukses mau tidak terserah kamu.
Enggak itu mengalir karena saya projject
tahunan, Mas. Sedangkan yang harus
menjalankan operasional ini kan setiap
bulan ada operasional yang harus
berjalan. Sedangkan yang ditikung ini
saya uang betul-betul habis. Saya harus
fight jalanin ini semua untuk setiap per
bulannya itu jalan dengan karyawan yang
sudah cukup banyak saat itu kurang lebih
15 kalau total ya. Karena ada beberapa
yang ee remote ada yang standby kayak
gitu ya. Lah sedangkan digital ini kan
sebenarnya yang paling mahal apa sih per
bulannya bayar A B C D E-nya kayak gitu
ya. Ditambah dengan adanya kita projek
tahunan
setiap bulan itu kita bayar gaji ada
keluar juga corporate itu kan saya kan
projjectnya kan bikin sistem digital
marketing perusahaan [musik]
itu yang kita pegang tiga corporate
setiap bulan muter operasional besar itu
di situ saya habis-habisan sampai gini
hari ini butuh uang Rp3 juta. Saya harus
gimana caranya? Saya muter atak tawarin
bikin website ke UMKM UMKM ternyata ada
yang mau untuk jalanin operasional.
Besok ada pembayaran katakanlah untuk
pembayaran Adob Kak gitu ya atau apa
kayak gitu yang butuh R2 juta atau apa
ya saya harus fight kayak gitu. Nah, ada
titik di mana udah enggak kuat ini
jalanin. Pas ketika mau gajian saya udah
enggak ada uang tak jalani itu semua.
Nah, yang nikung ini kan partner. Semua
karyawan saya masuk ke partner karena
partner ini membawa nama yang sama.
Bikin PT cuma diganti tambahan tok. Saya
angkasa digital Media yang nikung bikin
PT-nya angkasa digital media kreatif dan
itu sudah rilis PT-nya. Enggak tahu itu
sudah rilis PT-nya sudah rilis karyawan
saya masuk ke sana semua dengan
iming-iming gaji dan lain-lain kayak
gitu kan. Karena posisi saat gaji itu
saya enggak bisa gaji habis-habisan
bawahnya utang Mas
saya semua aset itu dibawa sama karyawan
saya di sana tinggal sisa gedung kantor
tok ya kan di kontrakan kantor ya yang
sudah tak bentuk kantor dan itu pun saya
masih kurang kantornya harus yang
karyawan ini nyebarin pokoknya ini masih
ada sewa jadi sampai dilepas sewa kantor
tersebut untuk nutup itu saya mau ke
kakak saya malu Iya kan? Terus lah itu
dulu sebelum jadi istri yang bertahan
cuma satu. Saya sebenarnya enggak ada
pandangan itu. Saya mau nikah sama si
ini si Vita ya, istri saya, "Mas, saya
ada gudang. Siapa tahu bisa untuk
tinggal sementara. Gudang, Mas." Nah, di
situ ya udah enggak apa-apa saya ke sana
tak bersihin gudangnya. Ini ini, ini.
Saat itu saya masih punya tuh aset
terakhir ya, MacBook M2 Pro saat itu ya.
Saya masih sisa aset itu MacBook sama
iPhone. Itu untuk terakhir saya untuk
bisa fight saya untuk kerja. Saya nyari
tiap harinya untuk operasional. Yang
penting ada tempat, yang penting ada
Wi-Fi. Eh, itu saya sisa terakhir dan
saya tetap enggak kuat karena
berjalannya waktu sampai saat itu saya
itu udah saya mau pergi jalanin ini yang
harus operasional muter saya sendiri
soalnya hutang sana sini kan untuk
nutupin juga operasional. Enggak kuat
saya jalanin berapa bulan karena saya
saat itu juga sama si istri saya ngucap
ayo nikah. Dan itu direspon saya harus
ketemu sama orang tuanya, sama neneknya
dan ternyata direspon besok mau ke orang
tuanya saya berarti kan ke Pemalang ya.
Posisi saya itu sudah mau mikir saya mau
pergi apa ya maksudnya gini ya menikah
tapi nanti kayak gitu loh. Otomatis kan
saya pulang ya sudah tadi yang Bapak
sampaikan karena apa prosesnya saya
enggak pernah cerita sama orang tua. Tak
tahan sendiri saya di sana
gimana-gimana. Terus Bapak gini, "Wis
kowe istirahat loh." Karena saya pulang
itu kurus makan sekali. Saya juga rokok
itu saat itu yang penting ada. L paling
ya kalau misal ada uang Rp10.000 ya saya
beli rokok Rp10.000 apa ya gitu. Enggak
yang saat sekarang ini yang apa yang aku
penginkan ya bebas gitu kan. Bapak itu
di rumah cuma itu tok istirahat pokoknya
tidur bangun makan ada rokok tidur lagi.
Saya 1 bulan full
perbaikan gizi [tertawa]
saya itu berat badan itu sudah di angka
berapa hampir
ya 52 apa 53 itu. Kalau ini ideal kan
saya 68 ya itu sampai 50.
Saya punya anak [musik] dua, Mas. Jadi
yang satu kan sudah sudah mandiri ya
dalam arti walaupun ini awalnya pengin
mandiri lepas dari kakaknya ya saya
biarkan yang tadinya bareng dengan
kakaknya dukung usaha kakaknya tapi
siang anggap pengin mencoba mandiri dan
saya selalu mengajarkan sama anak itu
jangan selalu menggantungkan orang tua
atau menggantungkan orang lain. Jadi
usaha kayak gitu tak biarin aja karena
itu adalah pembelajaran pematangan nanti
dia ke depan. Kalau tanpa ada
pembelajaran bikin BT sampai bangkrut
kayak gitu, nanti untuk ke depan mungkin
ada hal yang lain kan berarti sudah
siap. Dalam kondisi dia sudah ya bisa
dibilang sudah Pak saya angkat tangan ya
baru ya memang sudah pulang sebetulnya
ya dua-duanya Mas dulu kakaknya juga
sama ya pada saat itu ya saya bisa
ngucuri dana yang untuk bisa bangkit
lagi kayak gitu. Iya pas ada. Tapi kan
yang namanya yaitu tadi wong sing
jenenge pegawai negeri hanya hidup itu
cukup untuk sederhana. Kalau pengin
mewah juga bingung dari mana itu uang.
Kalau enggak mau cari sampingan usaha
yang lain. Makanya saya selama sekian
tahun bisa melihat hasil ya hasil
pembibitan ini setelah perubahan kayak
gini. Karena memang banyak kos biaya
yang luar biasa perbedaannya. Saya kan
pulang posisi sudah enggak punya harapan
lah. Tapi kan pas Bapak di rumah kan
karena gini prinsip saya selama saya
menjalankan sebuah apa keputusan saya
karena Bapak itu menyampaikan intinya
jangan sampai apa yang kamu lakukan
ngerepotin orang lain. Walaupun itu
kondisi saya ngap-ngap ya udah enggak
punya harapan. Walaupun di situ Bapak
bantu ke saya itu full support mental
ya, karena semua saya hadapin sendiri
kayak gitu. Saya pulang itu ya bahasanya
ya saya bersyukur ya masih ada Bapak
sama Ibu saya untuk pulang. Betul-betul
pulang semua tak ceritakan di situ Bapak
support mental dan saya punya harapan
lagi di ceritanya lucu sampai ke titik
bahasa ada poncotan itu lucu sekali.
Saya kan bosan 1 bulan karena saya
disuruh sama bapak itu gini, ora usah
ngemut-ngemut berapa utangmu, kapan
bojomu. Sing penting awakmu sehat. Sehat
pikirane, sehat awake, engko kabeh
rampung. Sing rampungke sopo? Yo bapak
cuma nyampein itu. Lah karena saya 1
bulan full di rumah bosan ya. Karena
Bapak usahanya itu tadi pembibitan padi
yang khusus basah. Saya tidak ada basic
sama sekali di dunia pertanian. Otomatis
dengan adanya saya bosan tidur kan saya
kan ke belakang ya ke belakang rumah.
Tamunya Bapak kan banyak mau beli bibit
dan lain-lain. Bapak kan dines lah yang
nemuin kan saya otomatis saya ditanyain
Mas lah tuku bibit nggo setengah bau
piro? Loh setengah bau sepiro? Seprapat
sepiro? Saya sama sekali bahasa bahasa
pertanian saya juga enggak tahu.
Berjalannya waktu Bapak nyampe, "Ndung,
K ngapain luru sing adoh-adoh?" Sing
nang ngarep moto iku dadi dalan. Di situ
saya pun masih menolak. Ini bukan
bidangku. [tertawa]
Eh, ini bukan bidangku. Nah, dari
berjalannya waktu karena saya juga
berjalannya waktu itu dalam waktu dekat
menikah. Saya tak perdalam lagi deh, ada
apa dalam pertanian. Saya knectkan lagi
dalam penelitian yang dulu kayak gitu.
Karena saya kuliah penelitian yang tadi
ee sudah mau sidang kan ke Jeda lama nih
karena kab jadi enggak saya selesaikan
kuliahnya. Selesai-selesai 14 semester
[tertawa] tapi enggak lulus kayak gitu.
Saya fokus. Bapak kan nyampai [musik]
awakmu opo sing kuwi neng ngarep moto
katon barang katon opo sih sing ora bisa
dipelajari apa sih yang enggak bisa
dipelajari wong iku barang nyata kok
kelihatan usahanya kelihatan tinggal
dipelajarin di situ. Saya punya harapan
titik awal saya baca jurnal saya
baca-baca informasi tentang pertanian
saya juga belajar ke Bapak ini
pembibitan gimana dan lain-lain kayak
gitu. Dari situlah saya menemukan sebuah
titik poin yang tadi kita kembali ke
awal. Hulu ini terpenting saya riset
seluruh kabupaten. Ternyata satu
kabupaten ini saya menjual bibit padi
itu tak telusuri enggak ada berapa
persennya. Karena Kabupaten Pemalang itu
32.000
hektar lahan tanam sawah. Kalau kita
sebagai gabungan pembibitan padi yang
untuk menyediakan siap tanam enggak
nyampai 5%. Boro-boro 5, 3% aja enggak
nyampai. Gimana kita mau tanam serentak?
Di situlah saya, Pak. Ayo. Ini bibit
kering bisa menjadi salah satu
penyelesaian masalah tanam di Pemalang.
Kita bicara Pemalang dulu kayak gitu
kan. Enggak lah. Wong sopo sing apin
nerimo tanam ini. Nah, di situlah karena
Bapak ya tadi menjalankan awal sempat
gagal, sempat gagal, sempat gagal untuk
uji cobanya. Saya saya gini, Bapak itu
paham teknis. Kalau saya paham market
kan kayak gitu. Tak coba dulu kita coba
1 2 3 baris. Yuk kita buka jasa tanam
pakai alat capung kayak gitu. Alat yang
walking maju ke depan itu kan yang dari
bantuan. Kita coba dulu jalannya seperti
apa dari situ. Karena garis besarnya
Bapak masih nyemai bibit basah. Saya mau
nyetop ini karena yang bibit kering ini
belum menjadi
belum maksimal.
Maksimal kayak gitu. ketemu masalah
lagi. Ketemu masalahnya gini, kita udah
bisa bibitnya karena saya desain bibit
kering ini optimalnya lebar berapa,
panjang berapa, jumlah gabah berapa,
sampai masuk ke lahan berapa udah
ketemu. Cuma posisinya permasalahan lagi
ketika Bapak melakukan jasa tanam, mesin
yang walging ini tidak bisa lahan dalam,
sedangkan di sini lahannya dalam semua.
Di situlah saya kembali ke basic media
ini. Kalau saya enggak kenalkan ke
media, ikhtiar saya gini. Ayo, Pak,
gaweo sosm bapak depan kamera. Angga
sing ngetag video, Angga sing ngedit,
Angga sing posting. Nanti ketemu jalan
keluar. Bibit.
Bibit
kita dari awal itu emang bibit
bibit. Enggak enggak yang lain wong
[musik] itu kan hanya mengalir begitu
saja. Sekarang gini, setelah saya proses
bibit jadi mulai kan orang tertarik,
"Oh, itu tanamannya Pak Ponco juga pakai
bibit kering. Bagus, Pak. Saya coba."
Nah, akhirnya pakai yang mesin itu tadi
lah. Dari situ ternyata tidak bisa
menyelesaikan permasalahan-permasalahan
yang ada di lapangan. Di tempat yang
lumpurnya dalam enggak bisa. Yang
tadinya saya pengin untung jadi buntung
karena mesin masuk enggak bisa kerja,
harus cari orang bawa pulang. Nah, dari
situ kita ngobrol sama si Angga, coba
kita cari-cari mesin yang kecil untuk
bisa menggantikan alat tanam ini biar
nanti otomatis dengan alat tanam yang
mudah itu jelas bibit kita akan lari
gitu loh. Ketemulah dengan mesin kecil
ini. Ya, awalnya saya enggak enggak
berpikir untuk produksi banyak enggak.
Saya bikin satu yang kecil, satu yang
gede. Kita coba lah. Ini yang yang
ngawali kita memang bidangnya dia. Dia
medio, dia kemudian disebar luaskan.
Saya nyantai aja cuman punya dua ya.
Minimal tanam tempat sendiri kemudian
lingkungan. Tahu-tahu pak ada yang nanya
kan di TikToknya kan saya Bapak mulai
live. Saya disuruh ngomong di depan
kamera di video katanya live gitu loh
ya. Yang saya sampaikan, yang saya
lakukan aja cara bikin bibit kering,
cara dan lain sebagainya. Ngomong yang
nonton berapa? Yang nonton satu, Pak.
Itu sudah setengah jam saya ngomong itu
yang nonton satu. Sudah ditutup aja
enggak mau yang nonton satu itu
awal-awal ini suruh nge-live, Pak.
Sabar, Pak. Besoknya lagi suruh live
lagi besoknya. Lah dari situ mulai
berjalannya waktu ternyata banyak yang
nanya itu alat sampai Angga mencoba
kalau minat silakan PO. Setelah ada yang
pesan. Nah ini awal nih Mas orang
pertama beli mesin poncotani itu di
bulan 6 tanggal 2. Berarti 2 Juni saya
rilis pertama mesin. Bahkan orangnya
sudah tanggal 2 datang. Ini belum
pulang. Ini pulang sekitar jam . Jam
3.00 pagi mesin baru dibawa terus sudah
itu kan pertama Mas kita produksi kita
buat selanjutnya mulai setelah itu kan
odonannya harga dan sebagainya ini mulai
buka PO bertambah bertambah sampai
sebetulnya ya kita mulai lancar produksi
kirim produksi kirim itu yo di bulan
September ya
September
2024 baru September Oktober November
Desember kurang lebih baru 4 bulan
itu kita kan waktu mau mau berpikir ke
sana kita sama Angga cari yang bisa
bikinlah katakanlah lah kebetulan saya
ketemu dengan orang Purwokerto ya juga
Angga yang tahu nah kita sodorkan bisa
enggak buat kayak gini ini sama dengan
dengan ada produk yang kayak gini sama
tapi kan belum ada yang produksi gitu
loh ada dari luar negeri ada setelah ini
kita sodorkan ternyata sana bisa dan itu
saya enggak berpikir ini mau saya jual
enggak
Untuk kepentingan saya menunjang bibit
kering itu laku. Misalnya nanti buat
kalau sudah oke nambah du nambah 5
nambah 10 kan ke depan kan berarti itu
bisa dikelola sama Angga untuk jasa
tanam. Ternyata di pikirannya Angga
bukan jasa tanamnya, tapi mengembangkan
ini yang dibutuhkan oleh petani itu ini.
Nah, dia akhirnya konsen untuk itu di
medsosnya sehingga sampai sekarang jam
ini itu sudah kerepotan inden, Mas,
mesinnya. Karena [musik] memang
betul-betul yang dibutuhkan itu mesin
yang seperti ini.
Karena gini,
prosesnya itu RnD ya, reset and
development ini berjalan seiringnya
waktu dalam PO. Sebenarnya salah ya,
karena ini di luar ekspektasi kita, kita
harus menunjukkan kita sebagai market.
Poncotani ini marketnya, ada pihak
produksinya dan ada yang sebagai yang
menyediakan mesin. Kita akan MOU dengan
Honda kayak gitu ya. Jadi tiga poin ini
saya harus bisa menunjukkan seberapa
market ini berjalan, produksinya juga
berjalan, Hondanya juga menyiapkan untuk
mesinnya juga lah. Di situ emang enggak
mudah sampai di titik sekarang kita
sudah dapati 400 PO ya. 400 PO setiap
minggunya kita sudah bisa mencapai 100
unit. 2026 kan kita sudah tambah pabrik
satu lagi. Alhamdulillah kayak gitu.
Jadi ee yang tadinya bisa 1 minggu eh 1
bulan itu 100, kita 1 bulan sudah
diangkat 300 kayak gitu. Itu berawal
betul-betul panjang kayak gitu. Iya
ceritanya panjang. Iya kayak gitu. Dan
mesin ini juga kan sudah udah uji layak
TKDN SNI eh gitu. Iya dan Poncotani ini
juga kan tempat pelatihan juga. Jadi
gini dengan medsosnya Angga ya yang tadi
akunnya Poncotani memang ambil dari nama
saya kan nama saya kan Ponco Widodo. Wis
ben enggak orang enggak bingung Ponco
Tani saja. Nah, setelah mereka melihat
mereka antusias sekali untuk pengin
memiliki alat ini. Karena di semua
daerah itu sudah kasusnya itu sama,
permasalahannya sama. Itu semakin ke
sini semakin menghilang karena tidak ada
generasi penerusnya. Nah, dia datang sak
rombongan, sak mobil, dua mobil. Nah,
akhirnya ya setiap hari juga kan saya
menjelaskan ini loh cara bikin bibit
kering, ini loh cara kerjanya mesin, ini
loh kelebihan, kelemahan perbandingan
antaranya bibit pasar dengan bibit
kering. dari situ lah mungkin ya dari
video-video itu karena memang kita sudah
anu awalnya memang di di didahulukan
dari sini dulu Kabupaten Pemalang
mengadakan sekolah lapang bahkan ini
juga ikut sekolah lapang itu sekolah
lapangnya ini ada di sini ini mengadakan
sampai dua kali di Desa sini sendiri
Kecamatan Boda sendiri kemudian
Kecamatan Warung Pring Kecamatan Moga
berawal dari situ kita menyampaikan
kepada mereka masalah bibit kering,
masalah ee mesin lah. Itu enggak tahu
dari luar itu podo ngikuti minta
pelatihan pelatihan pelatihan dari
Matiun, dari Pati, dari Demak, Demak aja
beapa bus sudah ke sini. Kemudian dari
Purbalingga, dari Tegal, dari Selawi dan
sudah sudah lumayan banyak. Nah, jadi
gini yang sudah berjalan dengan mesin
restoran planter yang yang capung itu ee
mereka itu sudah bisa sebetulnya. Hanya
dengan kondisi lahan yang saya alami
karena saya pakai alat itu tidak bisa
menyelesaikan setelah kondisi sekarang
itu lahan masuknya kombet mesin mesin
panen. Dengan masuknya mesin panen lahan
itu lumpurnya jadi dalam. Jadi alat yang
tadinya digunakan itu bisa dengan lumpur
dalam akhirnya menjadi enggak bisa
ditunjang dengan itu enggak bisa tenaga
sudah menghilang. Solusi ini yang PR
awal saya itu kan karena solusi untuk
menggantikan tenaga harus pakai alat.
Alat ini yang memang bisa masuk [musik]
di lumpur dalam. Oke. Di lumpur ancar
oke lah. Ketemulah mesin seperti ini.
Nah, setelah mereka datang mencoba ya
ini yang kita cari di situlah. Makanya
kayaknya sih dengan waktu yang singkat
ya, karena memang ini sangat dibutuhkan
sehingga mereka berbondong-bondong untuk
mendapatkan alat ini untuk pengganti
tenaga tanam. Itu yang tentang pelatihan
ya. Mereka kan yang utama kan bibitnya
enggak ngerti caranya gimana. Nah,
makanya Angga anu, Pak dibikin aja
tempat pelatihan. Nah, setelah
berjalannya waktu mungkin dilihat ini
sama pemerintah.
Akhirnya kemarin saya kedatangan dari
BPP Balai Besar Pelatihan e Pertanian
untuk bisa kalau pelatihan ini
diilegalkan,
didaftarkan ke Kementerian Pertanian
supaya terdaftar menjadi tempat
pelatihan yang resmi gitu.
Makanya mereka itu tertarik. Salah
satunya gini, ini grambyangan aja dari
bibit. Bibit basah dalam 1 hektar ya,
itu untuk biaya cabutnya saja itu sampai
900 sampai Rp1.200 untuk nyabutnya.
Cabut saja. Iya. Kita kita pakai ukuran
1 hektar katakanlah dengan dirubah
menjadi pengalihan bibit kering yang 1
hektar ini cuman biaya cabut atau biaya
potong gulung. itu 200 itu dari mulai
bibit cabutnya setelah cabut kan butuh
tanam setelah mau tanam pakai orang
dalam 1 hektar itu 400 * 6 biasanya sing
ini kan 1/4 bau 400 * 6 muncullah biaya
tanam Rp2.400 400 setelah punya mesin
ini, karena mesin ini punya kapasitas 1
hari 1 hektar, katakanlah dikerjakan dua
orang, satu orang katakanlah dikasih 200
karena itu jalani mesin ya. 200 * 2 400.
Yang tadinya Rp2.400
cuman keluar uang 400. Coba bayangkan
berapa selisih efisiensi biaya dari segi
hasil ya, Mas. Bibit kering dengan bibit
basah itu kalau saya saya uji coba dan
saya tanam sendiri itu perbandingannya 2
banding 3, Mas. Itu terpaut di anakan.
Anakannya lebih banyak yang kering.
Kenapa? Karena bibit basah itu ditanam
pada usia 25 sampai-sampai 1 bulan umur
23. Tapi kalau bibit kering dari mulai
umur 13 hari sudah bisa tanam. Di situ
pengaruhannya bibit kering ditanam
sebelum beranak, bibit basah ditanam
setelah beranak. Pada saat beranak dia
pindah, otomatis penyesuaian menjadi
stres, pertumbuhannya lambat, bibit
kering belum beranak ditanam saat proses
manak dia enggak ada gangguan. Sehingga
untuk berkembangnya sempurna, kalau ini
berkembangnya ada hambatan. Makanya
kalau ini anakan 20, yang ini bisa 30.
Otomatis terpaut di hasilnya, Mas. ya.
Iya. Otomatis ini 20, ini 30.
Jadi kalau misal mesin ini yang empat
baris ya atau 4 row gitu, itu kan kita
jual untuk promo ini kan di 13,5 ya 13,5
dengan harga normal kan Rp7 juta. Nah,
yang market sudah berjalan ini ada yang
tani mandiri, ada yang berbentuk dengan
kapoktan yang menggunakan Boomdes kayak
gitu ya. Secara hitung-hitungan kita
sudah berjalan yang tani mandiri sebelum
pesan kita kan dengan PO itu 1 bulan
ataupun pas awal itu diangkat 2 bulan.
Jadi beliau itu belajar dulu
pembibitannya wo-woro dengan tanam
menggunakan mesin karena emang di tempat
salah satunya ada Bojonegoro ya terus
ada lagi
Lamongan. Lamongan, Nganjo,
Pati, Cemak
itu secara alat kita yang sudah di sana
pernah dapat rekor di 20 hari 25 hektar.
1 hektar sudah dihitung berapa
keuntungannya? Ya ada yang 1 bulan sudah
balik modal, yang tani mandiri. Makanya
slogan kami itu bertani cerdas, petani
mandiri. Bahwa kenapa saya libatkan
dalam konten juga itu ada anak muda. Ini
bisa menjadi ekonomi kreatif di bidang
pangan bagi anak-anak muda, enggak harus
orang tua kayak gitu. Tetapi ini juga
bisa masuk yang secara kelompok ataupun
kapoktan kayak gitu ya, yang mau ini
menjadi subusaha dalam Boomdes ya atau
dana desa ini dialokasikan menjadi
pemasukan desa itu bisa kayak gitu lah.
Mengenai alat ini ketahanannya yang kita
bisa ukur kalau dengan perawatan yang
setelah pakai kita ya seperti umumnya
alat ya dibersihin.
Kalau ini ada olinya yo diganti olinya.
kayak gitu. Kalau alat kita secara
ketahanan kita hitung harusnya di angka
5 tahun tinggal di situ bisa enggak cara
ngerawatnya? Misal pun tidak bisa cara
ngerawatnya tergantung semua alatlah
kayak gitu. Mau 1 tahun rusak, 2 tahun
rusak, sekali pakai rusak tergantung
bisa cara pakainya enggak. Makanya di
kita itu ada solusinya. yang beli
alatnya kita masuk dalam Poncotani
akademi. Nanti kita ikutkan bimbingan
teknis dari persemean sampai ke menjadi
operator agar bisa ahli dalam operator
tersebut. ke depannya itu walaupun
petani mempunyai 1/3 hektar ya atau
3.500 m² ke depannya punya satu alat itu
secara analisa mesin ini sebelum Rn kita
baca market itu kayak gitu 1/3 hektar
orang sudahudah punya alat ini bisa
diangka 1 hektar orang sudah punya alat
ini. Karena gini, kita bicara kalau
emang sudah tidak ada sumber daya tanam
ya atau tenaga tanam dengan adanya kita
punya lahan apalagi 1 hektar, Pak. Bisa
katakanlah ini panen 2 minggu ataupun 3
minggu pengolahan lahan langsung tanam
sendiri. Ini kan jangkupan efisiensinya
juga kan tinggi kayak gitu secara
mandiri juga. Sedangkan alat ini tidak
hanya untuk pribadi, bisa untuk kita
sewakan juga. Jasa tanam.
Jasa tanam. Makanya ada juga di
Poncotani Akademi bagaimana cara untuk
bisa profit dalam jasa tanam.
Makanya untuk jasa tanam ini, Mas. Jadi
dari ini kan kebetulan kan desa kan ada
anggaran ketahanan pangan 20% lah.
Kemarin barusan hari Minggu kan ada dari
Purbalingga Bomdes-nya namanya Tirta
Mandiri. Di sana ada anggaran 214. Nah,
kita berbicara di sini kan berbicara
untuk BoomDes karena ada ada sisi
efisiensi petani langsung yang
menggunakan mesin secara mandiri. Ada
sisi bawa ini untuk bisa dijadikan
bisnis.
Contoh tadi di satu unit di angka
Rp13.500.
kita yang ada di sini di Poncotani yang
sudah berjalan tanam ya tanam ke orang
gitu ya jasanya itu yang 1 hektar
sewanya Rp1.200 200 1 hektar. Katalah
musim tanam dalam satu desa itu
perjalanan dari beberapa orang tanam itu
selama 1 bulan. Kapasitas dia tanam 1
hari 1 hektar selama 1 bulan sudah dapat
berapa itu? R36 juta. Harga 1 bulan
modal kembali. He
ini yang bikin Boomdes
berbondong-bondong ke sini karena tak
kasih pelatihan yang berbunyi untuk
bisnis yang menjanjikan untuk masa depan
itu. Itu dan itu enggak bakalan waktu
berapa tahun berhenti. Enggak. Selagi
manusia
masih manusia makan nasi
berarti kan harus tanam padi. Nah,
itulah makanya sudah ada berapa puluh
Bomdes yang sudah ke sini dan sudah juga
ada yang persis e dia tulis awalnya kan
untuk pelatihannya kan apa setudi tiru.
Jadi dia jiplak baik pesemannya baik
penyiramannya semuanya sama dengan saya
dan dia sudah berjalan sudah ada yang
ada pesenan 40 hektar 50 hektar gitu.
ini yang yang membuat para BUMDES yang
ada di desa itu tertariknya di situ.
Kalau saya gini, saya itu selalu kalau
ngomong dengan petani yang langsung
maksudnya pelaku untuk tanah mesin ini,
itu saya sarankan bikin pesemian gak
usah cari lahan. Depan rumah boleh,
samping rumah boleh, belakang rumah
boleh, depan samping belakang gak ada
pinggir jalan kan begitu luas kan.
Perbandingannya 1 dibanding 4.
Katakanlah kalau 1 hektar bibit basah
butuh waktu eh butuh luasan 12 * 1,5 m.
12 * 1,5 m yang 1 hektar. Kalau bibit
kering cukup 3 * 1,5 m. Terpaut jauh per
hektarnya. lah kalau misalnya perorangan
cuman tadi 1/3 hektar setengah hektar
cukup paling berapa meter disemi di
mungkin di teras rumah mungkin di mana
enggak membutuhkan lahan yang harus ada
airnya cuman disiram kan itu
efisiensinya di situ Mas untuk swas
sembada pangan itu salah satunya harus
bisa dalam 1 tahun itu tanam padi itu
tiga kali minimal berarti kan bisa empat
kali kalau saya bisa empat kali Iya.
Karena apa? Kemarin kita diundang di
Sukamandi, di PRMP sana itu kan dalam
rangka program 1 hari panen, 1 hari
olah, 1 hari tanam. Jadi sekarang panen,
sekarang tanam. Enggak pakai
nanti-nantian depan kombet jalan kan
panen kombet. Belakangnya rotari olah,
belakangnya Poncotani tanam. Jadi satu
hari itu sudah langsung tanam. Berarti
program itulah yang bisa membuat minimal
setahun tiga kali. Kenapa harus pakai
lama gitu loh? Karena kalau dengan model
atau metode yang lama mau bikin pesemean
kan harus panen dulu. Benar enggak?
Harus dibacak dulu. Bikin lahan pesemean
terus disem nunggu 1 bulan paling gak 1
seteng bulan lah. Kalau kali tiga musim
tanam sudah 4 bulan setengah, Mas. Tapi
dengan program ini ponsotani yang
dibikin enggak ada jeda waktu. Hari ini
panen, hari ini olah, hari ini tanam.
Itu sehingga setahun bisa empat kali.
Itu pendapat yang salah, Mas. Justru
dengan saya masih duduk di PNS-nya, saya
masih kerja di kecamatan, itu salah satu
komunitas saya untuk merekrut
kades-kades semua untuk memperkenalkan
bahwa saya punya usaha ini lewat ya
komunitas di PNS-nya itu. E karena
hampir ya orang-orang satu kecamatan kan
mesti ngumpulnya di kecamatan. Dengan
saya berdiri di sana kan saya lebih
lebih luas untuk menyampaikan informasi
ini, Mas. Makanya kemarin ya
ngobrol-ngobrol Angga juga Angga sama
ibunya, "Enggak usah pensiun lah, Kak
satu kantor dekat itu loh. Ada hal-hal
yang penting kan bisa izin sebentar
misalnya mungkin ada tamu dan sebagainya
foto Bapak kan bisa izin sebentar gak
masalah yang penting kan tidak
mengganggu aktivitas kantor setiap
harinya kan kita enggak terganggulah
untuk dinusnya enggak terganggu. Makanya
pelatihan itu tak alihkan ke Sabtu dan
Minggu karena saya libur gitu. Yang
pertama yang jelas kita bibit sudah ya.
Ini metode ini juga kan pertama ya yang
ada di Indonesia kan dengan metode
pulsa.
Yang kedua alat tanam metode tarik ini
juga SNI pertama di Indonesia. Yang
kedua adalah pematang yang belum ada di
ini lagi proses Rn.
Alat galeng,
alat pematang yang betul-betul sistemnya
itu minimalis. Bikin jalan yang
bikin galengan itu loh
jalan yang untuk
sekat sawah saya.
Sekat sawah itu kan sangat repot ya.
Tebu ora duwe galeng.
E lah itu kan hampir semua ya.
Hampir semua kebutuhannya petani
khususnya petani padi. Sekarang itu
tenaga kerja untuk pematang sudah hampir
enggak ada kan
tenaga yang nyangkul lah.
Nyangkul. Kalau nyangkol nyangkol di
sawah berarti bikin pematang lah. Ini
saya lagi RND bikin pematang.
Saya dari Poncotani dan ini anak saya
sebagai penerus nanti dari Poncotani
yang beralamatkan di Desa Bodeh,
Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang,
Jawa Tengah. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.