Solusi Saat Tenaga Petani Makin Sedikit, Anak Muda Ogah ke Sawah: Alat Pertanian Modern
TXoNhCj6k7c • 2026-01-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Ini grambyangan aja dari bibit. Bibit basah dalam 1 hektar ya. Itu untuk biaya cabutnya saja itu sampai 900 sampai [musik] Rp1.200 untuk nyabutnya. Cabut saja. Iya. Kita kita pakai ukuran 1 hektar katakanlah dengan dirubah menjadi pengalihan bibit kering yang 1 hektar ini cuman biaya cabut atau biaya potong gulung. itu 200 itu dari mulai bibit cabutnya setelah cabut kan butuh tanam setelah mau tanam pakai orang dalam 1 hektar itu 400 * 6 biasanya sing ini kan 1/4 bau 400 * 6 muncullah biaya tanam Rp2.400 400 setelah punya mesin ini, karena mesin ini punya kapasitas 1 hari 1 hektar, katakanlah dikerjakan dua orang, satu orang katakanlah dikasih 200 karena itu jalani mesin ya. 200 * 2 400. Yang tadinya Rp2.400 cuman keluar uang 400. Coba bayangkan berapa selisih efisiensi [musik] biaya yang menjanjikan untuk masa depan itu? [musik] Dan itu enggak bakalan waktu berapa tahun berhenti. Enggak. Selagi manusia masih manusia makan nasi [tertawa] berarti kan harus tanam padi. Pas awal oke kita bersama bareng. Saya bangun sama partner sebelum adanya uang [musik] itu semangat semua. Pas ketika uang itu sudah ada, kita dealing project sekian ratus juta, sekian miliar, saya ditikung partner saya. Karena yang megang keuangan itu partner saya lah. Itu di situ pelajaran terbesar saya mengenai usaha. [musik] Kurang lebih kalau kita bicara nominal 3 miliar. Ora usah ngemut-ngemut berapa utangmu, kapan bojomu. Sing penting awakmu sehat. Sehat pikirane, sehat awake kabeh rampung. Sing rampung sopo? Yo waktu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya nama Ponco Widodo. Ini beralamatkan di Desa Bodeh, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang. Dan saya punya istri satu, punya anak dua. Dan ini lagi menjalani usaha untuk bibit kering [musik] dan alat mesin tanam padi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Angga. Saya putra dari Pak Ponco. Di sini saya sebagai regenerasinya Poncotani. Saya mulai buat pembibitan padi siap tanam itu dari tahun 2006. Dulu itu kita menggunakan sistemnya semi basah. semi basa itu yang bibitnya dicabut berjalannya waktu ya 2000 ya COVID itulah salah satunya saya mengalami kesulitan kesulitannya untuk tenaga cabut kalau misalnya ada pesanan yang lumayan banyak kita harus cari orang cabut bahkan sampai ngambil dari lain daerah kalau sini berarti ngambil dari daerah Kecamatan Petarukan lumayan jauh sehingga cost untuk biaya itu kan dobel untuk biaya transportnya Dari situlah saya akhirnya berpikir dan itu juga berawal dari masukan-masukan anak saya. Angga. Jadi dia sudah berpikir ke depannya, "Pak, ini nanti untuk ke depan tenaga kerja itu sudah mulai berkurang. Coba Bapak beralih ke bibit yang tidak cabut. Coba lihat contoh-contoh kan banyak yang pakai tray, pakai nampan dan sebagainya. Akhirnya saya mengikuti mengikuti perkembangan yang mungkin anak muda kan lebih tahu luas ya dibanding [musik] kita yang memang tahunnya ada di sini gitu. Saya mulai bikin awalnya tiga Paris. Nah, dari tiga Paris itu ya yang namanya uji coba enggak sekali dua [musik] kali berhasil, Mas. saya hampir 1 tahun baru bisa ketemu. Jadi gini, dengan wawasan yang diberikan sama anak saya, saya juga berpikir. Tapi ya sambilnya berjalan, saya membuat bibit kering, saya juga enggak berhenti. Bibit basah berjalan. Saya tawarkan satu pun enggak ada yang mau. Apa-apaan itu gitu. Iya, yang orang kan kalau musim tanam itu kan hampir ee kita ramai ya. Dalam arti ramai orang butuh bibit kan banyak gitu [musik] ya. Tapi saya bikin tak coba tak tanam di tempatnya sendiri. Nah, dari situlah mereka melihat ternyata dari bibit yang saya buat yang namanya bibit kering ini [musik] kalau bisa dibilang bibit gulung karena dipotong terus digulung gitu ya. dari hasil panennya itu lebih bagus, anakannya lebih banyak, kemudian juga lebih efisien untuk e bikinnya lah. Dari situlah akhirnya saya berkembang dari 3 bikin 10, dari 10 bikin 25. Terus berkembangnya waktu saya berpikir bibit kering itu identik dengan tanamnya pakai mesin gitu, Mas. Terus terang kita enggak enggak menutupi bahwa mesin awal itu kita menggunakan mesin bantuan yang dari pemerintah. Saya kan basic [musik] kuliah di Telkom sebelumnya. Jadi pas saya di sana saya nyambil juga usaha digital marketing kayak gitu. Itu di tahun sebelum COVID pun berarti kan 2019 ya. Itu awal-awal saya masuk kuliah yang kedua. Di situ saya melihat sebuah sesuatu permasalahan yang besar karena saya sering bolak-balik dan sering komunikasi sama Bapak. Setiap hari itu saya enggak pernah ketinggalan telepon. Tiap hari telepon Bapak kayak gitu lagi apa udah makan atau belum kayak gitu kan. Karena saya ada yang janggal dari usaha pertama Bapak kan emang basic dari lama kan pembibitan padi semai basah ya yang siap tanam itu harus dicabut dulu. [musik] Jadi setiap bulan itu buat bayar karyawan aja enggak bisa. Ini ada yang salah ini kayak gitu kan. Karena Bapak setiap bulan itu ini gimana enggak ya gitu karena kan Bapak punya putra kan dua [musik] saya sama kakak. Tapi yang sering komunikasi mengenai apa yang Bapak lagi jalani di pertanian ini kan seringnya sama saya gitu ya. Emang sih kalau misal mengenai basic pertanian saya enggak ada basic pertanian. Nah, dari situ saya melihat posisi 2022 berarti kan COVID ini kan mulai mau berhenti ya. Saya ngambil tugas akhir itu ditolak terus. Ini cerita awalnya ditolak terus judul saya terus bapak nyampein loh kenapa enggak enggak kamu ngambil di sisi pertaniannya? Tak pikir saya ngambil UI bagian edukasi dalam pertanian [musik] kayak gitu kan. Saya juga nyampaiin ke Bapak, Pak. Saya menemukan sebuah kejanggalan besar di dalam satu jurnal bahwa di Indonesia ini kan posisi penanaman padi itu [musik] kan setiap tahunnya menurun dikarenakan apa? Pertama orang tanam semakin kurang ya karena umur regenerasinya hampir tidak ada. Jadi saya juga ngambil sisi tadi ambil yang Bapak ini ternyata emang disetujui kan tugas akhirnya kan. Nah itu saya kembangkan saya dalami lagi di tahun 2019 itu alat yang capung ini itu ternyata didistribusi seluruh Indonesia bantuannya bantuannya tapi yang digunakan hanya sekian persen kayak gitu lah. Saya menyampaikan ke Bapak, "Ayo Pak, mau kapan lagi Bapak kalau enggak nyoba? Bapak nyari coba di daerah kita Kecamatan Bodeh ada enggak alat yang kayak gini? Bibitnya ini bibitnya enggak bisa pakai yang cabut. Coba Bapak, inilah riset Angga belum bisa bantuin. Tahun 2022 itu Bapak ayolah enggak pulang ke rumah lah. Wong Angga belum selesai kok kuliahnya kayak gitu kan. Nah, berjalannya waktu kenapa enggak, Pak? Kita nanti ke depannya usaha dari hulu ke hilir. Kayak gitu. Kalau kita melihat dari sudut pandang kita sebagai pengusaha gitu ya dan sebagai petani khususnya di pangan dan padi, permasalahan terbesar itu adalah sumber daya. Yang kedua, kalau kita bicara hulu, sebelum kita mau melakukan tanam ataupun perawatan, mau kapasitas besar, permasalahan paling utama adalah bibit. Bibit itu menjadi [musik] permasalahan utama tanam serentak. Kalau saya ya bisa dibilang [musik] masih tahapan orang ngomong itu jadul ya. Jadi kita menggunakan sistem-sistem yang terdahulu. Makanya tadi disampaikan sama Angga bahwa saya merubah ini atas penemuannya si Angga. Jadi, Pak Gini tak lakukan karena dia kan hanya bisanya ngomong enggak bisa berbuat apa-apa. Wong enggak di rumah ya. Enggak di rumah itu yang melakukan saya tak coba gini-gini saya ada kesulitan telepon terus terang memang walaupun Angga di luar memang tidak ada hari dia enggak telepon kadang-kadang pagi siang sore malam-malam itu sehari enggak cukup sekali dia telepon ya ngobrol ya tanya dan sebagainya lah dari perkambangan tadi yang dia berikan [musik] Bapak yang penting nyoba urusan bagus jadi dan tidak belakang yang penting Bapak nyoba dengan sistem [musik] yang mungkin dia progreskan atau dia rencanakan saya tinggal ngikuti. Tak laksanakan tak gini tak gitu ya. Alhamdulillah ee berjalannya waktu ini kan berkembang dari 315. Nah itu belum lama. Maksudnya gini saya diskusi sama Bapak ngembangin bibit kering ini 2023 karena Bapak pas tak sampaikan dari tahun 2022 baru nyoba di tahun 2023. Masih pakai tray itu masih pakai tray belum yang pakai mulsa kan saya tak sampaikan, "Pak, coba pakai mulsa cuma emang masih kesusahan kayak gitu ya." Itu perjalanan saya sebelumnya itu di sana ya kuliah ya kerja saya juga kerja karena kerja saya itu di sana di bagian [musik] bantu kakak ya kakak juga di Purwokerto. Terus saya juga mencoba untuk keluar dari zona nyaman pekerjaan ya. saya buka usaha yaitu digital marketing yang tadi agensi saya pun mendaftarkan PT namanya Angkasa Digital [musik] Media kayak gitu. Nah, di situ saya menaungi di sana di Purwokerto membina 150 MKM masuk ke projek-projek tahunan ke corporate-korporate kayak gitu ya. Saya di sana pas awal oke kita bersama bareng saya bangun sama partner sebelum adanya uang itu semangat semua pas ketika uang itu sudah ada, kita dealing project sekian [musik] ratus juta sekian miliar saya ditikung partner saya karena yang megang keuangan itu partner saya lah. Itu di situ pelajaran terbesar saya mengenai usaha. Kurang lebih kalau kita bicara nominal R miliar habis nikah ini. Ini nikah itu posisi kolab. Kolab. Setelah nikah selesai saya ngomong enggak. Kamu kan apa usaha di bidang market. Ngapain kamu marketin punya orang? Punya bapak kan ada itu bibit. [musik] Terserah kamu mau di market model kayak apa. Kan itu sudah ada medianya tinggal kamu kembangkan. Nah, posisi kondisi lagi pusing lagi akhirnya pulang kan. Lebih baik kamu pulang. Istri bawa ayo bareng-bareng sama bapak. Terserah kamu mau bikin apa, buat apa. Yang penting ini sudah ada media usaha itu. Mau sukses mau tidak terserah kamu. Enggak itu mengalir karena saya projject tahunan, Mas. Sedangkan yang harus menjalankan operasional ini kan setiap bulan ada operasional yang harus berjalan. Sedangkan yang ditikung ini saya uang betul-betul habis. Saya harus fight jalanin ini semua untuk setiap per bulannya itu jalan dengan karyawan yang sudah cukup banyak saat itu kurang lebih 15 kalau total ya. Karena ada beberapa yang ee remote ada yang standby kayak gitu ya. Lah sedangkan digital ini kan sebenarnya yang paling mahal apa sih per bulannya bayar A B C D E-nya kayak gitu ya. Ditambah dengan adanya kita projek tahunan setiap bulan itu kita bayar gaji ada keluar juga corporate itu kan saya kan projjectnya kan bikin sistem digital marketing perusahaan [musik] itu yang kita pegang tiga corporate setiap bulan muter operasional besar itu di situ saya habis-habisan sampai gini hari ini butuh uang Rp3 juta. Saya harus gimana caranya? Saya muter atak tawarin bikin website ke UMKM UMKM ternyata ada yang mau untuk jalanin operasional. Besok ada pembayaran katakanlah untuk pembayaran Adob Kak gitu ya atau apa kayak gitu yang butuh R2 juta atau apa ya saya harus fight kayak gitu. Nah, ada titik di mana udah enggak kuat ini jalanin. Pas ketika mau gajian saya udah enggak ada uang tak jalani itu semua. Nah, yang nikung ini kan partner. Semua karyawan saya masuk ke partner karena partner ini membawa nama yang sama. Bikin PT cuma diganti tambahan tok. Saya angkasa digital Media yang nikung bikin PT-nya angkasa digital media kreatif dan itu sudah rilis PT-nya. Enggak tahu itu sudah rilis PT-nya sudah rilis karyawan saya masuk ke sana semua dengan iming-iming gaji dan lain-lain kayak gitu kan. Karena posisi saat gaji itu saya enggak bisa gaji habis-habisan bawahnya utang Mas saya semua aset itu dibawa sama karyawan saya di sana tinggal sisa gedung kantor tok ya kan di kontrakan kantor ya yang sudah tak bentuk kantor dan itu pun saya masih kurang kantornya harus yang karyawan ini nyebarin pokoknya ini masih ada sewa jadi sampai dilepas sewa kantor tersebut untuk nutup itu saya mau ke kakak saya malu Iya kan? Terus lah itu dulu sebelum jadi istri yang bertahan cuma satu. Saya sebenarnya enggak ada pandangan itu. Saya mau nikah sama si ini si Vita ya, istri saya, "Mas, saya ada gudang. Siapa tahu bisa untuk tinggal sementara. Gudang, Mas." Nah, di situ ya udah enggak apa-apa saya ke sana tak bersihin gudangnya. Ini ini, ini. Saat itu saya masih punya tuh aset terakhir ya, MacBook M2 Pro saat itu ya. Saya masih sisa aset itu MacBook sama iPhone. Itu untuk terakhir saya untuk bisa fight saya untuk kerja. Saya nyari tiap harinya untuk operasional. Yang penting ada tempat, yang penting ada Wi-Fi. Eh, itu saya sisa terakhir dan saya tetap enggak kuat karena berjalannya waktu sampai saat itu saya itu udah saya mau pergi jalanin ini yang harus operasional muter saya sendiri soalnya hutang sana sini kan untuk nutupin juga operasional. Enggak kuat saya jalanin berapa bulan karena saya saat itu juga sama si istri saya ngucap ayo nikah. Dan itu direspon saya harus ketemu sama orang tuanya, sama neneknya dan ternyata direspon besok mau ke orang tuanya saya berarti kan ke Pemalang ya. Posisi saya itu sudah mau mikir saya mau pergi apa ya maksudnya gini ya menikah tapi nanti kayak gitu loh. Otomatis kan saya pulang ya sudah tadi yang Bapak sampaikan karena apa prosesnya saya enggak pernah cerita sama orang tua. Tak tahan sendiri saya di sana gimana-gimana. Terus Bapak gini, "Wis kowe istirahat loh." Karena saya pulang itu kurus makan sekali. Saya juga rokok itu saat itu yang penting ada. L paling ya kalau misal ada uang Rp10.000 ya saya beli rokok Rp10.000 apa ya gitu. Enggak yang saat sekarang ini yang apa yang aku penginkan ya bebas gitu kan. Bapak itu di rumah cuma itu tok istirahat pokoknya tidur bangun makan ada rokok tidur lagi. Saya 1 bulan full perbaikan gizi [tertawa] saya itu berat badan itu sudah di angka berapa hampir ya 52 apa 53 itu. Kalau ini ideal kan saya 68 ya itu sampai 50. Saya punya anak [musik] dua, Mas. Jadi yang satu kan sudah sudah mandiri ya dalam arti walaupun ini awalnya pengin mandiri lepas dari kakaknya ya saya biarkan yang tadinya bareng dengan kakaknya dukung usaha kakaknya tapi siang anggap pengin mencoba mandiri dan saya selalu mengajarkan sama anak itu jangan selalu menggantungkan orang tua atau menggantungkan orang lain. Jadi usaha kayak gitu tak biarin aja karena itu adalah pembelajaran pematangan nanti dia ke depan. Kalau tanpa ada pembelajaran bikin BT sampai bangkrut kayak gitu, nanti untuk ke depan mungkin ada hal yang lain kan berarti sudah siap. Dalam kondisi dia sudah ya bisa dibilang sudah Pak saya angkat tangan ya baru ya memang sudah pulang sebetulnya ya dua-duanya Mas dulu kakaknya juga sama ya pada saat itu ya saya bisa ngucuri dana yang untuk bisa bangkit lagi kayak gitu. Iya pas ada. Tapi kan yang namanya yaitu tadi wong sing jenenge pegawai negeri hanya hidup itu cukup untuk sederhana. Kalau pengin mewah juga bingung dari mana itu uang. Kalau enggak mau cari sampingan usaha yang lain. Makanya saya selama sekian tahun bisa melihat hasil ya hasil pembibitan ini setelah perubahan kayak gini. Karena memang banyak kos biaya yang luar biasa perbedaannya. Saya kan pulang posisi sudah enggak punya harapan lah. Tapi kan pas Bapak di rumah kan karena gini prinsip saya selama saya menjalankan sebuah apa keputusan saya karena Bapak itu menyampaikan intinya jangan sampai apa yang kamu lakukan ngerepotin orang lain. Walaupun itu kondisi saya ngap-ngap ya udah enggak punya harapan. Walaupun di situ Bapak bantu ke saya itu full support mental ya, karena semua saya hadapin sendiri kayak gitu. Saya pulang itu ya bahasanya ya saya bersyukur ya masih ada Bapak sama Ibu saya untuk pulang. Betul-betul pulang semua tak ceritakan di situ Bapak support mental dan saya punya harapan lagi di ceritanya lucu sampai ke titik bahasa ada poncotan itu lucu sekali. Saya kan bosan 1 bulan karena saya disuruh sama bapak itu gini, ora usah ngemut-ngemut berapa utangmu, kapan bojomu. Sing penting awakmu sehat. Sehat pikirane, sehat awake, engko kabeh rampung. Sing rampungke sopo? Yo bapak cuma nyampein itu. Lah karena saya 1 bulan full di rumah bosan ya. Karena Bapak usahanya itu tadi pembibitan padi yang khusus basah. Saya tidak ada basic sama sekali di dunia pertanian. Otomatis dengan adanya saya bosan tidur kan saya kan ke belakang ya ke belakang rumah. Tamunya Bapak kan banyak mau beli bibit dan lain-lain. Bapak kan dines lah yang nemuin kan saya otomatis saya ditanyain Mas lah tuku bibit nggo setengah bau piro? Loh setengah bau sepiro? Seprapat sepiro? Saya sama sekali bahasa bahasa pertanian saya juga enggak tahu. Berjalannya waktu Bapak nyampe, "Ndung, K ngapain luru sing adoh-adoh?" Sing nang ngarep moto iku dadi dalan. Di situ saya pun masih menolak. Ini bukan bidangku. [tertawa] Eh, ini bukan bidangku. Nah, dari berjalannya waktu karena saya juga berjalannya waktu itu dalam waktu dekat menikah. Saya tak perdalam lagi deh, ada apa dalam pertanian. Saya knectkan lagi dalam penelitian yang dulu kayak gitu. Karena saya kuliah penelitian yang tadi ee sudah mau sidang kan ke Jeda lama nih karena kab jadi enggak saya selesaikan kuliahnya. Selesai-selesai 14 semester [tertawa] tapi enggak lulus kayak gitu. Saya fokus. Bapak kan nyampai [musik] awakmu opo sing kuwi neng ngarep moto katon barang katon opo sih sing ora bisa dipelajari apa sih yang enggak bisa dipelajari wong iku barang nyata kok kelihatan usahanya kelihatan tinggal dipelajarin di situ. Saya punya harapan titik awal saya baca jurnal saya baca-baca informasi tentang pertanian saya juga belajar ke Bapak ini pembibitan gimana dan lain-lain kayak gitu. Dari situlah saya menemukan sebuah titik poin yang tadi kita kembali ke awal. Hulu ini terpenting saya riset seluruh kabupaten. Ternyata satu kabupaten ini saya menjual bibit padi itu tak telusuri enggak ada berapa persennya. Karena Kabupaten Pemalang itu 32.000 hektar lahan tanam sawah. Kalau kita sebagai gabungan pembibitan padi yang untuk menyediakan siap tanam enggak nyampai 5%. Boro-boro 5, 3% aja enggak nyampai. Gimana kita mau tanam serentak? Di situlah saya, Pak. Ayo. Ini bibit kering bisa menjadi salah satu penyelesaian masalah tanam di Pemalang. Kita bicara Pemalang dulu kayak gitu kan. Enggak lah. Wong sopo sing apin nerimo tanam ini. Nah, di situlah karena Bapak ya tadi menjalankan awal sempat gagal, sempat gagal, sempat gagal untuk uji cobanya. Saya saya gini, Bapak itu paham teknis. Kalau saya paham market kan kayak gitu. Tak coba dulu kita coba 1 2 3 baris. Yuk kita buka jasa tanam pakai alat capung kayak gitu. Alat yang walking maju ke depan itu kan yang dari bantuan. Kita coba dulu jalannya seperti apa dari situ. Karena garis besarnya Bapak masih nyemai bibit basah. Saya mau nyetop ini karena yang bibit kering ini belum menjadi belum maksimal. Maksimal kayak gitu. ketemu masalah lagi. Ketemu masalahnya gini, kita udah bisa bibitnya karena saya desain bibit kering ini optimalnya lebar berapa, panjang berapa, jumlah gabah berapa, sampai masuk ke lahan berapa udah ketemu. Cuma posisinya permasalahan lagi ketika Bapak melakukan jasa tanam, mesin yang walging ini tidak bisa lahan dalam, sedangkan di sini lahannya dalam semua. Di situlah saya kembali ke basic media ini. Kalau saya enggak kenalkan ke media, ikhtiar saya gini. Ayo, Pak, gaweo sosm bapak depan kamera. Angga sing ngetag video, Angga sing ngedit, Angga sing posting. Nanti ketemu jalan keluar. Bibit. Bibit kita dari awal itu emang bibit bibit. Enggak enggak yang lain wong [musik] itu kan hanya mengalir begitu saja. Sekarang gini, setelah saya proses bibit jadi mulai kan orang tertarik, "Oh, itu tanamannya Pak Ponco juga pakai bibit kering. Bagus, Pak. Saya coba." Nah, akhirnya pakai yang mesin itu tadi lah. Dari situ ternyata tidak bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di lapangan. Di tempat yang lumpurnya dalam enggak bisa. Yang tadinya saya pengin untung jadi buntung karena mesin masuk enggak bisa kerja, harus cari orang bawa pulang. Nah, dari situ kita ngobrol sama si Angga, coba kita cari-cari mesin yang kecil untuk bisa menggantikan alat tanam ini biar nanti otomatis dengan alat tanam yang mudah itu jelas bibit kita akan lari gitu loh. Ketemulah dengan mesin kecil ini. Ya, awalnya saya enggak enggak berpikir untuk produksi banyak enggak. Saya bikin satu yang kecil, satu yang gede. Kita coba lah. Ini yang yang ngawali kita memang bidangnya dia. Dia medio, dia kemudian disebar luaskan. Saya nyantai aja cuman punya dua ya. Minimal tanam tempat sendiri kemudian lingkungan. Tahu-tahu pak ada yang nanya kan di TikToknya kan saya Bapak mulai live. Saya disuruh ngomong di depan kamera di video katanya live gitu loh ya. Yang saya sampaikan, yang saya lakukan aja cara bikin bibit kering, cara dan lain sebagainya. Ngomong yang nonton berapa? Yang nonton satu, Pak. Itu sudah setengah jam saya ngomong itu yang nonton satu. Sudah ditutup aja enggak mau yang nonton satu itu awal-awal ini suruh nge-live, Pak. Sabar, Pak. Besoknya lagi suruh live lagi besoknya. Lah dari situ mulai berjalannya waktu ternyata banyak yang nanya itu alat sampai Angga mencoba kalau minat silakan PO. Setelah ada yang pesan. Nah ini awal nih Mas orang pertama beli mesin poncotani itu di bulan 6 tanggal 2. Berarti 2 Juni saya rilis pertama mesin. Bahkan orangnya sudah tanggal 2 datang. Ini belum pulang. Ini pulang sekitar jam . Jam 3.00 pagi mesin baru dibawa terus sudah itu kan pertama Mas kita produksi kita buat selanjutnya mulai setelah itu kan odonannya harga dan sebagainya ini mulai buka PO bertambah bertambah sampai sebetulnya ya kita mulai lancar produksi kirim produksi kirim itu yo di bulan September ya September 2024 baru September Oktober November Desember kurang lebih baru 4 bulan itu kita kan waktu mau mau berpikir ke sana kita sama Angga cari yang bisa bikinlah katakanlah lah kebetulan saya ketemu dengan orang Purwokerto ya juga Angga yang tahu nah kita sodorkan bisa enggak buat kayak gini ini sama dengan dengan ada produk yang kayak gini sama tapi kan belum ada yang produksi gitu loh ada dari luar negeri ada setelah ini kita sodorkan ternyata sana bisa dan itu saya enggak berpikir ini mau saya jual enggak Untuk kepentingan saya menunjang bibit kering itu laku. Misalnya nanti buat kalau sudah oke nambah du nambah 5 nambah 10 kan ke depan kan berarti itu bisa dikelola sama Angga untuk jasa tanam. Ternyata di pikirannya Angga bukan jasa tanamnya, tapi mengembangkan ini yang dibutuhkan oleh petani itu ini. Nah, dia akhirnya konsen untuk itu di medsosnya sehingga sampai sekarang jam ini itu sudah kerepotan inden, Mas, mesinnya. Karena [musik] memang betul-betul yang dibutuhkan itu mesin yang seperti ini. Karena gini, prosesnya itu RnD ya, reset and development ini berjalan seiringnya waktu dalam PO. Sebenarnya salah ya, karena ini di luar ekspektasi kita, kita harus menunjukkan kita sebagai market. Poncotani ini marketnya, ada pihak produksinya dan ada yang sebagai yang menyediakan mesin. Kita akan MOU dengan Honda kayak gitu ya. Jadi tiga poin ini saya harus bisa menunjukkan seberapa market ini berjalan, produksinya juga berjalan, Hondanya juga menyiapkan untuk mesinnya juga lah. Di situ emang enggak mudah sampai di titik sekarang kita sudah dapati 400 PO ya. 400 PO setiap minggunya kita sudah bisa mencapai 100 unit. 2026 kan kita sudah tambah pabrik satu lagi. Alhamdulillah kayak gitu. Jadi ee yang tadinya bisa 1 minggu eh 1 bulan itu 100, kita 1 bulan sudah diangkat 300 kayak gitu. Itu berawal betul-betul panjang kayak gitu. Iya ceritanya panjang. Iya kayak gitu. Dan mesin ini juga kan sudah udah uji layak TKDN SNI eh gitu. Iya dan Poncotani ini juga kan tempat pelatihan juga. Jadi gini dengan medsosnya Angga ya yang tadi akunnya Poncotani memang ambil dari nama saya kan nama saya kan Ponco Widodo. Wis ben enggak orang enggak bingung Ponco Tani saja. Nah, setelah mereka melihat mereka antusias sekali untuk pengin memiliki alat ini. Karena di semua daerah itu sudah kasusnya itu sama, permasalahannya sama. Itu semakin ke sini semakin menghilang karena tidak ada generasi penerusnya. Nah, dia datang sak rombongan, sak mobil, dua mobil. Nah, akhirnya ya setiap hari juga kan saya menjelaskan ini loh cara bikin bibit kering, ini loh cara kerjanya mesin, ini loh kelebihan, kelemahan perbandingan antaranya bibit pasar dengan bibit kering. dari situ lah mungkin ya dari video-video itu karena memang kita sudah anu awalnya memang di di didahulukan dari sini dulu Kabupaten Pemalang mengadakan sekolah lapang bahkan ini juga ikut sekolah lapang itu sekolah lapangnya ini ada di sini ini mengadakan sampai dua kali di Desa sini sendiri Kecamatan Boda sendiri kemudian Kecamatan Warung Pring Kecamatan Moga berawal dari situ kita menyampaikan kepada mereka masalah bibit kering, masalah ee mesin lah. Itu enggak tahu dari luar itu podo ngikuti minta pelatihan pelatihan pelatihan dari Matiun, dari Pati, dari Demak, Demak aja beapa bus sudah ke sini. Kemudian dari Purbalingga, dari Tegal, dari Selawi dan sudah sudah lumayan banyak. Nah, jadi gini yang sudah berjalan dengan mesin restoran planter yang yang capung itu ee mereka itu sudah bisa sebetulnya. Hanya dengan kondisi lahan yang saya alami karena saya pakai alat itu tidak bisa menyelesaikan setelah kondisi sekarang itu lahan masuknya kombet mesin mesin panen. Dengan masuknya mesin panen lahan itu lumpurnya jadi dalam. Jadi alat yang tadinya digunakan itu bisa dengan lumpur dalam akhirnya menjadi enggak bisa ditunjang dengan itu enggak bisa tenaga sudah menghilang. Solusi ini yang PR awal saya itu kan karena solusi untuk menggantikan tenaga harus pakai alat. Alat ini yang memang bisa masuk [musik] di lumpur dalam. Oke. Di lumpur ancar oke lah. Ketemulah mesin seperti ini. Nah, setelah mereka datang mencoba ya ini yang kita cari di situlah. Makanya kayaknya sih dengan waktu yang singkat ya, karena memang ini sangat dibutuhkan sehingga mereka berbondong-bondong untuk mendapatkan alat ini untuk pengganti tenaga tanam. Itu yang tentang pelatihan ya. Mereka kan yang utama kan bibitnya enggak ngerti caranya gimana. Nah, makanya Angga anu, Pak dibikin aja tempat pelatihan. Nah, setelah berjalannya waktu mungkin dilihat ini sama pemerintah. Akhirnya kemarin saya kedatangan dari BPP Balai Besar Pelatihan e Pertanian untuk bisa kalau pelatihan ini diilegalkan, didaftarkan ke Kementerian Pertanian supaya terdaftar menjadi tempat pelatihan yang resmi gitu. Makanya mereka itu tertarik. Salah satunya gini, ini grambyangan aja dari bibit. Bibit basah dalam 1 hektar ya, itu untuk biaya cabutnya saja itu sampai 900 sampai Rp1.200 untuk nyabutnya. Cabut saja. Iya. Kita kita pakai ukuran 1 hektar katakanlah dengan dirubah menjadi pengalihan bibit kering yang 1 hektar ini cuman biaya cabut atau biaya potong gulung. itu 200 itu dari mulai bibit cabutnya setelah cabut kan butuh tanam setelah mau tanam pakai orang dalam 1 hektar itu 400 * 6 biasanya sing ini kan 1/4 bau 400 * 6 muncullah biaya tanam Rp2.400 400 setelah punya mesin ini, karena mesin ini punya kapasitas 1 hari 1 hektar, katakanlah dikerjakan dua orang, satu orang katakanlah dikasih 200 karena itu jalani mesin ya. 200 * 2 400. Yang tadinya Rp2.400 cuman keluar uang 400. Coba bayangkan berapa selisih efisiensi biaya dari segi hasil ya, Mas. Bibit kering dengan bibit basah itu kalau saya saya uji coba dan saya tanam sendiri itu perbandingannya 2 banding 3, Mas. Itu terpaut di anakan. Anakannya lebih banyak yang kering. Kenapa? Karena bibit basah itu ditanam pada usia 25 sampai-sampai 1 bulan umur 23. Tapi kalau bibit kering dari mulai umur 13 hari sudah bisa tanam. Di situ pengaruhannya bibit kering ditanam sebelum beranak, bibit basah ditanam setelah beranak. Pada saat beranak dia pindah, otomatis penyesuaian menjadi stres, pertumbuhannya lambat, bibit kering belum beranak ditanam saat proses manak dia enggak ada gangguan. Sehingga untuk berkembangnya sempurna, kalau ini berkembangnya ada hambatan. Makanya kalau ini anakan 20, yang ini bisa 30. Otomatis terpaut di hasilnya, Mas. ya. Iya. Otomatis ini 20, ini 30. Jadi kalau misal mesin ini yang empat baris ya atau 4 row gitu, itu kan kita jual untuk promo ini kan di 13,5 ya 13,5 dengan harga normal kan Rp7 juta. Nah, yang market sudah berjalan ini ada yang tani mandiri, ada yang berbentuk dengan kapoktan yang menggunakan Boomdes kayak gitu ya. Secara hitung-hitungan kita sudah berjalan yang tani mandiri sebelum pesan kita kan dengan PO itu 1 bulan ataupun pas awal itu diangkat 2 bulan. Jadi beliau itu belajar dulu pembibitannya wo-woro dengan tanam menggunakan mesin karena emang di tempat salah satunya ada Bojonegoro ya terus ada lagi Lamongan. Lamongan, Nganjo, Pati, Cemak itu secara alat kita yang sudah di sana pernah dapat rekor di 20 hari 25 hektar. 1 hektar sudah dihitung berapa keuntungannya? Ya ada yang 1 bulan sudah balik modal, yang tani mandiri. Makanya slogan kami itu bertani cerdas, petani mandiri. Bahwa kenapa saya libatkan dalam konten juga itu ada anak muda. Ini bisa menjadi ekonomi kreatif di bidang pangan bagi anak-anak muda, enggak harus orang tua kayak gitu. Tetapi ini juga bisa masuk yang secara kelompok ataupun kapoktan kayak gitu ya, yang mau ini menjadi subusaha dalam Boomdes ya atau dana desa ini dialokasikan menjadi pemasukan desa itu bisa kayak gitu lah. Mengenai alat ini ketahanannya yang kita bisa ukur kalau dengan perawatan yang setelah pakai kita ya seperti umumnya alat ya dibersihin. Kalau ini ada olinya yo diganti olinya. kayak gitu. Kalau alat kita secara ketahanan kita hitung harusnya di angka 5 tahun tinggal di situ bisa enggak cara ngerawatnya? Misal pun tidak bisa cara ngerawatnya tergantung semua alatlah kayak gitu. Mau 1 tahun rusak, 2 tahun rusak, sekali pakai rusak tergantung bisa cara pakainya enggak. Makanya di kita itu ada solusinya. yang beli alatnya kita masuk dalam Poncotani akademi. Nanti kita ikutkan bimbingan teknis dari persemean sampai ke menjadi operator agar bisa ahli dalam operator tersebut. ke depannya itu walaupun petani mempunyai 1/3 hektar ya atau 3.500 m² ke depannya punya satu alat itu secara analisa mesin ini sebelum Rn kita baca market itu kayak gitu 1/3 hektar orang sudahudah punya alat ini bisa diangka 1 hektar orang sudah punya alat ini. Karena gini, kita bicara kalau emang sudah tidak ada sumber daya tanam ya atau tenaga tanam dengan adanya kita punya lahan apalagi 1 hektar, Pak. Bisa katakanlah ini panen 2 minggu ataupun 3 minggu pengolahan lahan langsung tanam sendiri. Ini kan jangkupan efisiensinya juga kan tinggi kayak gitu secara mandiri juga. Sedangkan alat ini tidak hanya untuk pribadi, bisa untuk kita sewakan juga. Jasa tanam. Jasa tanam. Makanya ada juga di Poncotani Akademi bagaimana cara untuk bisa profit dalam jasa tanam. Makanya untuk jasa tanam ini, Mas. Jadi dari ini kan kebetulan kan desa kan ada anggaran ketahanan pangan 20% lah. Kemarin barusan hari Minggu kan ada dari Purbalingga Bomdes-nya namanya Tirta Mandiri. Di sana ada anggaran 214. Nah, kita berbicara di sini kan berbicara untuk BoomDes karena ada ada sisi efisiensi petani langsung yang menggunakan mesin secara mandiri. Ada sisi bawa ini untuk bisa dijadikan bisnis. Contoh tadi di satu unit di angka Rp13.500. kita yang ada di sini di Poncotani yang sudah berjalan tanam ya tanam ke orang gitu ya jasanya itu yang 1 hektar sewanya Rp1.200 200 1 hektar. Katalah musim tanam dalam satu desa itu perjalanan dari beberapa orang tanam itu selama 1 bulan. Kapasitas dia tanam 1 hari 1 hektar selama 1 bulan sudah dapat berapa itu? R36 juta. Harga 1 bulan modal kembali. He ini yang bikin Boomdes berbondong-bondong ke sini karena tak kasih pelatihan yang berbunyi untuk bisnis yang menjanjikan untuk masa depan itu. Itu dan itu enggak bakalan waktu berapa tahun berhenti. Enggak. Selagi manusia masih manusia makan nasi berarti kan harus tanam padi. Nah, itulah makanya sudah ada berapa puluh Bomdes yang sudah ke sini dan sudah juga ada yang persis e dia tulis awalnya kan untuk pelatihannya kan apa setudi tiru. Jadi dia jiplak baik pesemannya baik penyiramannya semuanya sama dengan saya dan dia sudah berjalan sudah ada yang ada pesenan 40 hektar 50 hektar gitu. ini yang yang membuat para BUMDES yang ada di desa itu tertariknya di situ. Kalau saya gini, saya itu selalu kalau ngomong dengan petani yang langsung maksudnya pelaku untuk tanah mesin ini, itu saya sarankan bikin pesemian gak usah cari lahan. Depan rumah boleh, samping rumah boleh, belakang rumah boleh, depan samping belakang gak ada pinggir jalan kan begitu luas kan. Perbandingannya 1 dibanding 4. Katakanlah kalau 1 hektar bibit basah butuh waktu eh butuh luasan 12 * 1,5 m. 12 * 1,5 m yang 1 hektar. Kalau bibit kering cukup 3 * 1,5 m. Terpaut jauh per hektarnya. lah kalau misalnya perorangan cuman tadi 1/3 hektar setengah hektar cukup paling berapa meter disemi di mungkin di teras rumah mungkin di mana enggak membutuhkan lahan yang harus ada airnya cuman disiram kan itu efisiensinya di situ Mas untuk swas sembada pangan itu salah satunya harus bisa dalam 1 tahun itu tanam padi itu tiga kali minimal berarti kan bisa empat kali kalau saya bisa empat kali Iya. Karena apa? Kemarin kita diundang di Sukamandi, di PRMP sana itu kan dalam rangka program 1 hari panen, 1 hari olah, 1 hari tanam. Jadi sekarang panen, sekarang tanam. Enggak pakai nanti-nantian depan kombet jalan kan panen kombet. Belakangnya rotari olah, belakangnya Poncotani tanam. Jadi satu hari itu sudah langsung tanam. Berarti program itulah yang bisa membuat minimal setahun tiga kali. Kenapa harus pakai lama gitu loh? Karena kalau dengan model atau metode yang lama mau bikin pesemean kan harus panen dulu. Benar enggak? Harus dibacak dulu. Bikin lahan pesemean terus disem nunggu 1 bulan paling gak 1 seteng bulan lah. Kalau kali tiga musim tanam sudah 4 bulan setengah, Mas. Tapi dengan program ini ponsotani yang dibikin enggak ada jeda waktu. Hari ini panen, hari ini olah, hari ini tanam. Itu sehingga setahun bisa empat kali. Itu pendapat yang salah, Mas. Justru dengan saya masih duduk di PNS-nya, saya masih kerja di kecamatan, itu salah satu komunitas saya untuk merekrut kades-kades semua untuk memperkenalkan bahwa saya punya usaha ini lewat ya komunitas di PNS-nya itu. E karena hampir ya orang-orang satu kecamatan kan mesti ngumpulnya di kecamatan. Dengan saya berdiri di sana kan saya lebih lebih luas untuk menyampaikan informasi ini, Mas. Makanya kemarin ya ngobrol-ngobrol Angga juga Angga sama ibunya, "Enggak usah pensiun lah, Kak satu kantor dekat itu loh. Ada hal-hal yang penting kan bisa izin sebentar misalnya mungkin ada tamu dan sebagainya foto Bapak kan bisa izin sebentar gak masalah yang penting kan tidak mengganggu aktivitas kantor setiap harinya kan kita enggak terganggulah untuk dinusnya enggak terganggu. Makanya pelatihan itu tak alihkan ke Sabtu dan Minggu karena saya libur gitu. Yang pertama yang jelas kita bibit sudah ya. Ini metode ini juga kan pertama ya yang ada di Indonesia kan dengan metode pulsa. Yang kedua alat tanam metode tarik ini juga SNI pertama di Indonesia. Yang kedua adalah pematang yang belum ada di ini lagi proses Rn. Alat galeng, alat pematang yang betul-betul sistemnya itu minimalis. Bikin jalan yang bikin galengan itu loh jalan yang untuk sekat sawah saya. Sekat sawah itu kan sangat repot ya. Tebu ora duwe galeng. E lah itu kan hampir semua ya. Hampir semua kebutuhannya petani khususnya petani padi. Sekarang itu tenaga kerja untuk pematang sudah hampir enggak ada kan tenaga yang nyangkul lah. Nyangkul. Kalau nyangkol nyangkol di sawah berarti bikin pematang lah. Ini saya lagi RND bikin pematang. Saya dari Poncotani dan ini anak saya sebagai penerus nanti dari Poncotani yang beralamatkan di Desa Bodeh, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Categories