Resume
Wjrh8bTfIlg • Webinar 45 Bencana Akibat Perubahan Iklim - EcoEdu.id
Updated: 2026-02-12 02:09:10 UTC

Berikut adalah rangkuman komprehensif dan terstruktur dari konten video Webinar Ekoedu Indonesia ke-45:

Mengupas Tuntas Bencana Akibat Perubahan Iklim: Dampak, Proyeksi, dan Strategi Adaptasi

Inti Sari (Executive Summary)

Webinar ke-45 yang diselenggarakan oleh Ekoedu Indonesia menghadirkan Prof. Ir. Joko Santoso Abisuroso, PhD., untuk membahas fenomena perubahan iklim dan kaitannya dengan meningkatnya risiko bencana di Indonesia. Pembahasan mencakup dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan, fenomena El Niño yang memicu kebakaran hutan, serta peran faktor antropogenik seperti penurunan muka tanah (land subsidence) yang memperparah banjir rob. Webinar ini juga menekankan pentingnya integrasi data iklim ke dalam perencanaan tata ruang serta strategi adaptasi dan mitigasi yang harus berjalan beriringan sesuai komitmen Paris Agreement.


Poin-Poin Kunci (Key Takeaways)

  • Fenomena El Niño Saat Ini: Indeks El Niño berada pada angka 1,68 (kategori kuat menurut NOAA), yang berkontribusi pada peningkatan hotspot kebakaran hutan, terutama di Kalimantan Timur.
  • Ketahanan Pangan Terancam: Perubahan iklim memengaruhi pola hujan dan suhu, yang berdampak pada penurunan produksi padi dan meningkatnya risiko kekeringan pada lahan non-irigasi.
  • Faktor Antropogenik Kritis: Bencana seperti banjir dan banjir rob tidak semata-mata disebabkan perubahan iklim, tetapi sangat dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan lokal (deforestasi hulu) dan ekstraksi air tanah berlebih (penurunan muka tanah).
  • Proyeksi Iklim & Dampak Ekosistem: Berdasarkan laporan IPCC, kenaikan suhu dan permukaan air laut berpotensi menyebabkan bleaching terumbu karang dan perubahan pola curah hujan yang tidak merata.
  • Pentingnya Adaptasi: Selain mitigasi (pengurangan emisi), adaptasi terhadap perubahan iklim sangat krusial, terutama dengan integrasi data iklim ke dalam perencanaan tata ruang (RTRW).
  • Edukasi Lingkungan: Ekoedu Indonesia berperan sebagai platform pelatihan lingkungan untuk meningkatkan kompetensi SDM dalam menghadapi tantangan ini melalui berbagai paket pelatihan.

Rincian Materi (Detailed Breakdown)

1. Pembukaan dan Profil Ekoedu Indonesia

  • Host & Acara: Webinar dibuka oleh host Silvi, dihadiri oleh sekitar 300-800 peserta dari berbagai instansi pemerintah dan swasta.
  • Profil Ekoedu: Ekoedu adalah platform pelatihan lingkungan hidup yang bertujuan meningkatkan kinerja dan kualitas SDM. Mereka menawarkan 15 paket pelatihan (termasuk AMDAL, KLHS, pemodelan, dan GIS) dengan metode e-learning yang fleksibel.
  • Antusiasme Peserta: Peserta dari berbagai daerah (Sukoharjo, Palembang, Semarang) menyampaikan kekhawatiran mereka terkait dampak kekeringan, asap, dan perubahan cuaca ekstrem terhadap kesehatan dan tata kelola lingkungan.

2. Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pangan dan Kesehatan

  • Definisi Iklim: Menurut WMO, iklim adalah kumpulan data cuaca selama 30 tahun. Perubahan iklim melibatkan pergeseran rata-rata dan varians (standar deviasi) suhu.
  • Ancaman Pangan: Indonesia dengan populasi besar menghadapi risiko penurunan produksi padi akibat perubahan curah hujan dan suhu. Studi kasus di Kalimantan menunjukkan keterbatasan lahan yang cocok untuk padi, sehingga mengandalkan pasokan dari luar daerah yang berisiko pada fluktuasi harga.
  • Dampak Sektor Lain: Peningkatan kasus demam berdarah dan krisis air bersih dikaitkan dengan variabilitas iklim dan fenomena El Niño.

3. El Niño dan Krisis Kebakaran Hutan

  • Kondisi Terkini: Indeks El Niño saat ini mencapai 1,68. Sebagai perbandingan, indeks 1,45 pada tahun 2015 sudah menyebabkan kebakaran masif.
  • Dampak di Lapangan: Terdapat 137 hotspot di Kalimantan Timur, termasuk di kawasan Bukit Soeharto dekat IKN. Ekspos batubara yang terbakar secara spontan akibat suhu tinggi menjadi pemicu utama.
  • Tren: Jumlah hotspot diprediksi akan mencapai puncak pada Oktober-Desember sebelum menurun.

4. Sistem Iklim dan Bencana Hidrometeorologi

  • Klasifikasi Bencana: Bencana tidak hanya geologis (gempa), tetapi juga hidrometeorologi (banjir, kekeringan, tanah longsor) yang dipicu oleh iklim ekstrem.
  • Banjir Rob vs. Banjir Sungai: Banjir rob (penjalaran air laut) berbeda dengan banjir sungai. Istilah "rob" berasal dari Semarang dan menjadi masalah serius ketika bertepatan dengan banjir sungai.
  • Fenomena Longsor: Longsor secara teknis adalah bencana geologis (karena kemiringan dan jenis batuan), tetapi pemicunya seringkali adalah curah hujan ekstrem (faktor iklim).

5. Peran Faktor Antropogenik (Manusia) terhadap Bencana

  • Bukan Satu Penyebab: Bencana jarang terjadi karena satu sebab tunggal. Faktor non-iklim seringkali lebih dominan.
  • Kerusakan DAS: Banjir seringkali dipicu oleh kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di hulu akibat konversi lahan, bukan hanya karena curah hujan tinggi.
  • Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence):
    • Di kota-kota seperti Jakarta dan Semarang, penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah berlebih jauh lebih cepat (hingga 10 cm/tahun) dibandingkan kenaikan permukaan air laut global (3-7 mm/tahun).
    • Solusi seperti reklamasi pantai hanya mengatasi gejala, bukan akar masalah (pembuangan air tanah).
    • Studi kasus Semarang menunjukkan tanggul laut (sea wall) justru membunuh mangrove karena menghalangi masuknya air laut.

6. Proyeksi Masa Depan dan Dampak pada Ekosistem Laut

  • Data IPCC & Model: Indonesia menggunakan ansambel 24 model global dari IPCC AR6 untuk proyeksi iklim. Skenario terburuk (RCP 8.5) memprediksi kenaikan permukaan air laut hingga 1 meter.
  • Bleaching Karang: Kenaikan suhu permukaan laut menyebabkan bleaching (pemutihan) pada terumbu karang. Data di Lombok dan proyeksi di Raja Ampat menunjukkan ancaman serius terhadap ekosistem laut akibat "marine heat wave".
  • Resolusi Data: Kolaborasi dengan BMKG dan JICA menghasilkan data resolusi tinggi (5x5 km) untuk perencanaan yang lebih akurat.

7. Adaptasi, Mitigasi, dan Integrasi Tata Ruang

  • Paris Agreement: Indonesia kini wajib mengurangi emisi (tidak lagi sukarela seperti era Kyoto). Fokus bergeser ke adaptasi karena Indonesia dianggap sebagai "korban" perubahan iklim.
  • Integrasi Tata Ruang: Kementerian ATR/BPN sedang menyusun pedoman integrasi adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan tata ruang, bekerja sama dengan Kementerian LHK.
  • Kasus Abrasi Pantai: Studi di Pondok Bali, Subang, menunjukkan garis pantai mundur hingga 2,3 km dalam 10 tahun akibat kombinasi kenaikan muka air laut, kerusakan mangrove, dan defisit sedimen sungai.

8. Diskusi dan Studi Kasus Lokal (Waduk Gajah Mungkur)

  • Permasalahan Air: Peserta dari Waduk Gajah Mungkur melaporkan penurunan debit air rawa yang signifikan, mengganggu suplai air baku dan irigasi.
  • Respon Pakar: Hal ini terkait pola kemarau yang panjang (El Niño) dan ketergantungan pada air tanah yang semakin menipis. Diperlukan pemetaan risiko resolusi tinggi dan kolabor
Prev Next