Transcript
pt0oO1oiUyM • Webinar 112 Sanitasi Inklusif Kota: Kesiapan Regulasi dan Suara Pemangku Kepentingan di Indonesia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0146_pt0oO1oiUyM.txt
Kind: captions Language: id Alumni pelatihan kami sudah lebih dari 2.500 orang yang berasal dari seluruh Indonesia. Pelayanan kami terbuka untuk perusahaan, pemerintahan, perorangan, ataupun pemerhati lingkungan. Ekoed Edu selalu berusaha menyajikan pelatihan yang berkualitas dengan menghadirkan pengajar yang berpengalaman. memberikan pengalaman langsung dengan praktikum dan e-learning yang dapat diakses di manapun. Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan Eco Edio ini memang dari grup-grup di alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh bisa dianggap menarik ya, karena mereka pengetahuan mereka tentang yang pengin mereka ketahui itu meningkat gitu ya. Kemudian skill-skill yang dihasilkan dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa dilihat begitu ya. terasa gitu manfaatnya di kami terutama untuk ee para konsultan yang memerlukan tenaga-tenaga ahli sehingga saya memilih Eco Edu dan sempat mengikuti pelatihannya juga dan itu terbukti benar gitu. Nah, saya lihat Instagram itu ada Edu ya yang akan menyenggarakan pelatihan. Nah, di sini juga saya banyak baca terlebih dahulu ya terkait tentang informasi yang diselu. Nah, menurut saya itu menjadi hal yang membuat tertarik untuk ikut pelatihan gitu. Jadi saya sering lihat di Instagram gitu bagaimana Idu menyampaikan informasinya. Eko edu itu bagus karena pelatihan-pelatihannya itu selalu terkini terus mengikuti zaman dan juga pelatihnya atau mentornya itu bagus-bagus dan terbaiklah [Musik] keannya. Iya. Ee yang pertama memang tentu saja ini meningkatkan dan maksimalkan skill-skill yang saya harapkan gitu ya. eh ter dalam penyusunan dokumen AMD saya jadi bisa lebih produktif, lebih efektif juga ee punya update gitu ya, update-update persoalan-persoalan dalam jurusan AMDA terkini dari ahlinya langsing di lapangan begitu yang pengalamannya tidak diragukan. Menurut saya pelatihan yang disediakan ini sangat bermanfaat sekali dan mudah untuk aksesnya gitu. Jadi ada teknologi terbaru yang saya dapat itu di e-learning ya. Itu luar biasa ee pembelajarannya juga mudah sekali untuk dipahami. Alhamdulillah bisa mengikuti dan juga menambah ilmu pengetahuan yang banyak banget. [Musik] eh-learning ini memang di memang sangat diperlukan sekali ya, terutama untuk kita yang dengan keterbatasan pengetahuan kemudian juga waktu mungkin ee itu memberikan kita kesempatan untuk kembali mengingat, kembali mendengarkan paparan-paparan yang mungkin kurang jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang sesering mungkin yang kita inginkan. Kita juga bisa review kembali sehingga belajar kita bisa lebih efektif dan efisien. itu membantu sekali ketika pada saat penyampaian materi ada yang ketinggalan gitu ya. Jadi ee saya bisa lihat materi itu di sangat membantu Mbak. Jadi saya ee ambil materi terus lihat video yang bisa diakses kapan aja dan gimana [Musik] aja. R juta dengan informasi yang kami peroleh itu jauh dari tas padan sebenarnya. Jadi apa namanya ya kalau saya bilang terlalu murah itu jadi sepadanlah. Jadi menurut sepadan Bu karena memang e pelatihannya itu pun sangat membantu ya dalam menyelesaikan satu pekerjaan yang ada di e sekitar lingkungan saya sendiri gitu. E saya kira sepat sesuailah dengan apa yang kita [Musik] dapatkan. EKP efektif, tepat dan profesional, hemat, cermat, dan hebat. Keren, profesional dan juga keginian. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko Edu ke-112. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu semuanya yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Hari ini webinar Ekoed Eduedu akan mengangkat tema Sanitasi inklusif kota, kesiapan regulasi dan suara pemangku kepentingan di Indonesia. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersilakan. Berdoa dicukupkan. Untuk acara selanjutnya, mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak dan Ibu semuanya untuk duduk tegak. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya izinkan saya untuk mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh kami. yakni yang pertama yaitu pelatihan penunjang dokumen AMDAL terkait persetujuan teknis untuk limbah B3 yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 sampai dengan 23 Mei 2025. Kemudian dilanjutkan pada tanggal yang sama yaitu pelatihan dan sertifikasi pengelolaan limbah padat B3 atau biasa disingkat dengan PLB3. Dan kemudian untuk minggu selanjutnya yaitu yakni pada tanggal 26 hingga 30 Mei 2025 kami akan melaksanakan pelatihan pemodelan dispersi udara air mod CPF dan juga high split. Eh jika Bapak dan Ibu melakukan pembayaran H-1 pelatihan, Bapak Ibu akan mendapatkan diskon 10% dari biaya investasi. Baik, untuk informasi lebih lanjut ee Bapak Ibu dapat menghubungi admin kami Riris dan juga Nisa yang tertera kontak kontaknya ada di dalam ee ada di dalam presentasi kami. Kemudian juga selain itu kami juga terdapat Instagram, YouTube channel, Facebook, Twitter, dan juga ada website yang bisa dikunjungi melalui eh www.coeduitco.id ataupun apabila Bapak Ibu langsung tertarik, Bapak Ibu bisa langsung mendaftar saja ke pendaftaran.edu.co.id. Selain itu juga kami terdapat inhouse training yang dapat dilakukan secara offline ataupun juga online dengan sesuai permintaan dari instansi atau perusahaan Bapak dan Ibu semuanya. Untuk selanjutnya kita akan langsung saja masuk pada kegiatan utama kita. di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai sanitasi inklusif kota tentang kesiapan regulasi dan suara pemangku kepentingan di Indonesia. Dan di sini juga kita telah kami telah menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat ini. Baik, perkenankan saya untuk memperkenalkan narasumber kita hari ini yaitu ada Ibu dr. Anriiti, SPMP, PhD. Beliau merupakan associate profesor Fakultas Teknik Sipil Sipil dan Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung. Dan kebetulan Ibu Amindria sudah ada di dalam ruangan Zoom ini. Selamat siang kepada Ibu Aminda. Selamat siang, Bu Dini. Terima kasih atas perkenalannya. Iya. Baik, Bu. E bagaimana kabarnya pada siang hari ini? Alhamdulillah baik. Semoga semuanya juga sehat-sehat ya. Iya. Baik. Alhamdulillah. Baik, Ibu ee mohon izin dulu saya untuk menyampaikan beberapa teknis teknisnya. Ee untuk pemaparan akan dilaksanakan selama 1 seteng jam. Kemudian nanti dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan menggunakan aplikasi Slido dan dilanjut juga nanti ada tanya jawab secara langsung. Untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Ibu dan kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat mengikuti acara webinar ini. Oke, ini boleh langsung ya? Iya, silakan. Oke. Baik, makasih Bu Dini. Terima kasih kepada Eko Edu juga hari ini sudah berkenan untuk memberikan apa ya ruang buat saya untuk sharing ya. Ee pesertanya banyak sekali ya, ada 260 orang di Zoom ini termasuk saya gitu loh ya. Alhamdulillah senang banget ya. Mudah-mudahan ee apa yang saya sharing pada hari ini bisa menjadi bahan diskusi gitu. Tapi mungkin ee apa posisi ee kita disklaimer dulu ya, bahwa saya yakin Bapak dan Ibu semua yang ada di ruangan ini, terutama teman-teman dari pemerintah daerah, dari pemerintah pusat mungkin kalau ada ya atau praktisi juga adalah orang yang memiliki keahlian lebih dari saya ya, terutama dengan apa yang terjadi di lapangan gitu. Jadi mudah-mudahan ee sesi kali ini justru membuka ruang diskusi ya, Pak ya. Karena apa yang akan kita diskusikan pada hari ini adalah sesuatu yang saya pikir cukup kompleks gitu ya, sangat kompleks. Dan batasan antara hal yang baik dan juga lebih baik gitu ya, itu kadang-kadang agak sedikit blur, ada trade off ee untuk mencapai tujuan-tujuan yang berbeda. sehingga ee ini ee diskusi kali ini atau materi kali ini kita perlu lihat dengan kacamata kebijaksanaan ya gitu ya. Oke. Baik. Saya izin untuk mm sharing ee sebentar. Oke. Ee sebentar saya kok tidak bisa menemukan. Mungkin saya ulang dulu ya, Bapak Ibu. H. Oke, mudah-mudahan bisa melihat ee aplikasi untuk menampilkan bahan tayang hari ini ya. Jadi, judulnya hari ini adalah saya ingin sharing soal sanitasi inklusif kota gitu. Sebetulnya terminologinya kalau di bidang pembangunan ya eh development sector itu adalah citywide inclusive sanitation. Tapi eh kita akan coba bahas dalam konteks eh sanitasi kota yang inklusif gitu. Dan kemudian sebetulnya ee apa sih itu e sanitasi yang inklusif? Kemudian kesiapan regulasi kita di Indonesia itu seperti apa dan bagaimana suara pemangku kepentingan di Indonesia. Ee perkenalkan dulu sebelumnya bahwa saya adalah ee staf pengajar di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, juga peneliti di Pusat Studi Lingkungan Hidup ya ee di ITB. Saat ini saya menjabat sebagai kepala laboratorium haji industri dan toksikologi. Juga Kasubak Kepala Subbagian Pengelolaan jejaring dan Kunjungan Internasional di Kantor Urusan Internasional ITB. Tapi hari ini saya akan berbicara dalam kapasitas saya sebagai peneliti. Nah, mungkin yang pertama adalah ee mudah-mudahan kita bisa interaktif ya, Bapak dan Ibu ya. Saya ingin mengajak Bapak dan Ibu untuk berefleksi terlebih dahulu melihat apa masalah yang ada di kota Bapak Ibu. Apa sih tantangannya gitu yang paling utama, yang paling terasa oleh Bapak dan Ibu dalam pengelolaan sanitasi di kota Bapak dan Ibu. Boleh ditaruh, ditulis di chat. Boleh juga eh raise hand bagi Bapak yang Ibu ingin bicara secara langsung singkat. Silakan Bapak atau Ibu sebagai pembuka saya coba monitor chat-nya juga. Kalau saya di Kota Bandung atau bukan Kota Bandung ya. Saya secara personal di rumah orang tua saya, saya itu melihat bahwa greay water, air buangan dari cucian itu belum dialirkan ke tempat yang layak ya dan belum diolah dengan layak juga. Ee jadi saya lihat pipanya itu mengarah pada sawah di belakang rumah gitu dan itu yang terjadi di hampir seluruh tetangga orang tua saya di sebuah komplek perumahan yang lama gitu. Apakah itu terjadi juga mungkin di daerah Bapak dan Ibu? Oke, kelihatannya terjadi ya. Nanti silakan kalau ada permasalahan yang ingin disampaikan mangga bisa diketik di chat ya. Terima kasih Mas Jati di daerah saya betul air tergenang bahkan banjir di jalan ya. Itulah realita kehidupan yang kita alami begitu ya di kota-kota di Indonesia. Ee ketika hujan ada kekhawatiran bahwa apa namanya terkait dengan drainase yang biasanya tergabung ya dengan grey water gitu. Jadi kalau banjir greay water itu ya bisa ini ya bisa meluap ke jalanan. Itu yang dikhawatirkan. Baik, itu adalah salah satu permasalahan ee sanitasi kita masih ada masalah yang terlihat ya, yang visibel. Nah, kita lihat bahwa ternyata masalah yang invisibel juga masih sangat banyak sekali. Oke, sekarang kenapa sanitasi inklusif itu penting? Kita coba dulu untuk memahami filosofinya ya, prinsipnya kenapa sih kok kita tuh harus mencapai sebuah sanitasi yang inklusif gitu. Nah, yang pertama tentunya adalah kita lihat faktanya dulu nih bahwa di Mohon izin Bu Anin Bu Aninria ini ee apa untuk PowerPoint-nya tidak bergerak ya? Ee tidak bergerak ya. Padahal saya sudah gerakkan sebentar ya. Ee coba lagi. Kita coba lagi ya, Bapak dan Ibu. ini terlihat sekarang ya. Kalau seperti ini, kalau saya gerakkan ini 1 2 3 gerak enggak? Ee belum sih, Bu. Oh, belum ya? Belum ya. Oke. Kalau ini kelihatan ya. Ee sekarang terlihat Bu ya. Oke, kalau itu kita kita akan ee scroll aja ya supaya tidak ada masalah teknis ya. Nah, ini mengapa sanitasi inklusif itu penting. Itu sekarang yang harus kita pahami terlebih dahulu ya, Bapak dan Ibu ya. Gitu ya. Karena ini akan menjadi ee landasan utama kenapa kita ini memperjuangkan sanitasi yang kita sebut dengan inklusif pada hari ini. Dan apa itu inklusif? Nah, yang pertama kita lihat dulu faktanya nih bahwa sekarang ee sampai tahun 2017, 2020, 2022, belum lama dari sekarang gitu ya. bahwa setengah dari penduduk dunia Bu 4,2 miliar orang itu ternyata belum memiliki sanitasi yang aman. Nah, coba kita berefleksi juga pada kondisi rumah kita masing-masing. Apakah kita memiliki sambungan kepada Perumda? Kalau di saya mungkin Perumda Tirta Wening ya yang melayani air limbah perpipaan. atau ee biasanya kalau tinggal di residensial ya perumahan kluster itu ada tahun manajemennya itu mereka punya sistem ee pengelolaan air limbah dan air minum terpisah ya sendiri ya. Nah, apakah rumah kita sudah tersambung dengan itu gitu? Kalau belum berarti mungkin kita menggunakan yang lain. Biasanya tuh kalau kita tidak tersambung dengan sistem perpipaan, air limbah perpipaan, kita biasanya mungkin akan punya tangki septik. Tapi seperti yang tadi kita sudah sentuh di awal bahwa tangki septik hanya apa? menampung air limbah yang berasal dari toilet yaitu black water. Sementara grey water-nya itu biasanya kalau kita punya tangki septik itu enggak akan masuk ke ee tangki septik ya. Biasanya dibuang ke parit, ke selokan atau ke tempat lain atau kalau rumahnya dekat dengan sungai biasanya dibuang ke sungai. Nah, itu ee setengahnya itu tidak punya sanitasi yang aman gitu. Kemudian 600 juta orang di dunia ini dari sekitar berapa miliar nih? 9 10 miliar gitu ya. Itu tidak punya toilet itu sekitar berarti berapa? Ee 6% ya gitu ya. Ada tidak punya toilet dari 10 miliar orang. Kalau kita lihat mungkin hanya 6% tapi tetap bahwa toilet itu sebetulnya adalah simbol dari peradaban, simbol dari harkat dan martabat seseorang gitu ya. Nah, jadi 673 juta itu terlalu besar juga angkanya kalau kita larinya adalah ke simbol peradaban. Kemudian juta ratusan juta anak di sekolah tidak memiliki bahkan akses sanitasi yang dasar. Ini beban ini akan lebih buruk diterima oleh anak-anak sekolah yang perempuan. Kenapa? Karena mereka menstruasi. Anak gadis, anak perempuan, dan perempuan dewasa yang mengalami menstruasi, mereka punya tantangan yang sangat khusus. sehingga sanitasi juga harus memasukkan isu yang kita sebut dengan manajemen kebersihan menstruasi atau MKM ya. Ee rasanya di kabinet sebelumnya ee saya pernah melihat ada sebuah panduan gitu ya, manajemen ee manajemen kebersihan menstruasi di sekolah itu sangat baik sekali gitu. Oke, kemudian kita lihat ada 1 juta kematian akibat wash setiap tahun, water sanitation hygiene ya, Bapak dan Ibu. Nah, sementara ee disinyalir bahwa 10%-nya itu kematiannya akibat sanitasi gitu. Walaupun nanti ee patway-nya bisa aja gitu ya, karena sanitasi yang buruk dia tidak cuci tangan. Kemudian ee kenapa enggak cuci tangan? Behavior hygienya jelek dan juga karena enggak ada air yang mengalir dan sabun di sana maka itu kombinasi dari keseluruhannya. Nah, kalau sanitasinya buruk ini kebetulan ada mahasiswa saya sedang melakukan penelitian ee kalau sanitasinya buruk itu apa sih dampaknya terhadap kualitas hidup? Ya, kita tidak lagi sekedar bicara diare, tapi kita bicara kualitas hidup orang gitu. Kalau kalau di India misalnya ya, ada banyak bukti bahwa ketika ee apa dilakukan pembangunan toilet ee dilakukan pembangunan toilet, subsidi toilet di dalam rumah itu angka serangan seksual pada perempuan itu menurun 30%. ada sebuah paper yang mengatakan seperti itu. Ee ya itu berarti kan dampak dari sanitasi itu bukan hanya kesehatan secara fisik ya, diare dan lain-lain, tapi juga kesejahteraan secara umum bahkan keselamatan. Oke. Kemudian siapa sih yang tertinggal? Nah, sekarang kita bicara inklusifnya nih ya. Tadi kita bicara akses sanitasi bahwa ee ada angka-angka sekian gitu. Tapi kalau kita lihat dalam lagi dari lima dari dari setengah penduduk dunia yang tidak punya sanitasi aman itu tuh siapa yang paling banyak? Jangan-jangan ee orang dari keluarga menengah ke atas itu semuanya berkumpul pada 50% yang sudah punya. Sementara yang 50% yang tadi yang belum punya sanitasi aman itu semuanya yang marginal ya. Bisa jadi adalah orang dengan disabilitas atau teman-teman divabel kita sebutnya ya. ada bisa perempuan dan anak-anak atau ee keluarga dari ekonomi rendah gitu ya, dari pemukiman kumuh perkotaan, orang-orang yang tinggal di daerah 3T siapa tahu itu yang sebetulnya membangun ee pool yang 50% tadi gitu. Kalau kita bicara seperti itu, maka weight-nya gitu ya, bobotnya itu sudah beda. Silakan, Pak Irwan. Ada yang raise hand ya. untuk risen di akhir Ibu Anendri. Oh, oke. Baikbaik nanti di akhir saja ya. Oke. E mohon e ditampung dulu ya. Oke. Ee baik baik sebentar. Oke. Nah, eh saya ingin menekankan di sini bahwa sanitasi tidak hanya soal toilet. Eh toilet adalah simbol dari sanitasi ya memang ya dia adalah user interface-nya. Tapi sebetulnya sanitasi itu adalah ee banyak hal. sudah menjadi bagian dari kita sehari-hari membentuk harkat martabat kita, produktivitas, kesetaraan, gender, ya, keberlanjutan dan lain-lain. Nanti kita akan coba ee selami satu-satu. Nah, oleh karena itu perlu adanya perubahan paradigma dalam sektor sanitasi untuk mencapai akses universal yang aman. Nah, oleh karena itu muncullah suatu ee pemahaman atau suatu konsep yang namanya CWIS. Kita akan sebut itu dengan CWIS eh from now on ya untuk eh simplifikasi terminologi yaitu citywide inclusive sanitation. Tapi pada dasarnya city wide inclusive sanitation itu bukan sesuatu hal yang baru gitu ya. Artinya ee ini tuh sudah terpikirkan sejak lama gitu ya. Yang pertama, prinsip yang fundamentalnya sekali itu adalah bahwa semua penduduk di kota itu ya termasuk yang rentan tanpa terkecuali harus memiliki akses sesuai kebutuhannya. Jadi bukan berarti aksesnya tuh harus sama tipe teknologinya, enggak. Tapi sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya ya konteks. Jadi ada ada konteks di situ. Lalu satu lagi ee ketika kita bicara CWIS, kita tidak lagi sekedar bicara ee hal yang teknis ya. pipa, sankiseptik gitu dan sebagainya. Tapi di situ ada elemen-elemen yang sifatnya noneknis. Ada harus inklusif, memprioritaskan hak asasi dahulu, harus holistik, dan melibatkan stakeholder. Nah, kemudian yang ketiga ee bagi teman-teman engineer gitu ya, bahwa ee dalam menyediakan layanan sanitasi yang inklusif, kita tidak lagi bisa berpaku hanya pada ee layanan pipa. Sebagai seseorang yang dilatih sebagai teknik lingkungan ya saya dulu S1, S2-nya teknik lingkungan. Saya setuju di perkotaan yang paling efisien dalam memberikan layanan yang aman itu adalah pipa. Kenapa? Karena eh pipa itu kan tersentralisasi ya, one management gitu, one system one management. Jadi kalau ada kegagalan pada bagian yang A eh sistem lain bisa backup. Kemudian pengendalian, monitoring, risiko itu juga bisa dilakukan gitu ya. Ee lebih lebih terkelola dengan baik. ee terpusat juga gitu ya sehingga ee apa sistem itu dapat diketahui dan dikendalikan dengan satu jendela gitu. Tapi dalam kenyataannya kita ini kan ee untuk mencapai layanan apa mungkin pipanisasi perkotaan itu mungkin butuh ratusan tahun ke depan ya gitu ya. Karena ee perpipaan itu bukan investasi yang sedikit dan kalau melihat tren percep tren kecepatan peningkatan jumlah akses perpipaan kita juga ee kayaknya enggak mungkin itu bisa dicapai dalam 5 atau 10 tahun ke depan. Oleh karena itu ee karena sanitasi inklusif, sanitasi yang setara itu tidak bisa menunggu, ya. Kita ini adalah kita ini hidup ya, hidup e akan mengeluarkan buangan, akan minum air, akan melakukan kegiatan hygien, maka itu semua kita lakukan hari ini, tadi pagi, kemarin, besok ya. Jadi itu enggak bisa menunggu. Oleh karena itu, ragam teknologi ini harus dipertimbangkan baik pipa maupun non pipa asalkan mindset kita itu tetap ke arah ee kualitas layanan itu harus aman gitu. Itu tantangan besar sekali pada saat ini bagi para engineering, para engineer ya. Oke, kemudian yang terakhir ini juga bicara soal transparansi dan mix bisnis model. Nanti kita lihat apa itu. Oke, saya ingin menunjukkan suatu gambar di sini. ee ini adalah rantai layanan sanitasi. Saya kebetulan dipercaya ee cukup sering ya oleh ee teman-teman dekat saya di Provinsi Jawa Barat untuk melihat atau memberikan masukan p dokumen kajian lingkungan hidup strategis gitu. yang menurut saya itu dokumen itu sangat strategis sekali karena bisa menentukan ee arah kebijakan ya dan rambu-rambu apa yang harus diperhatikan supaya ee apa per apa wilayah tersebut itu bisa berkelanjutan dari sisi ekonominya, dari sisi lingkungan, dari sisi sosial gitu ya. Tapi terutama tadi lingkungan yang bisa memberikan akses pada ekonomi dan sosial. Nah, salah satu elemen yang paling sering tersorot oleh saya adalah masalah air minum dan sanitasi. Kenapa? Katakanlah begini, ee saya mau kasih contoh ITB ya. ITB organisasi saya, kampus di mana saya bekerja itu ingin menjadi world class university, universitas kelas dunia. Terus tapi saya suka bilang ITB enggak akan bisa jadi world class university kalau toiletnya aja rusak gitu. Kenapa? Karena toilet, air itu adalah suatu persyaratan dasar dari pembangunan berkelanjutan. Kalau kita mau tarik ke balik lagi ke sektor pembangunan ya, orang tidak akan maju ee suatu negara tidak akan maju menjadi ee sebuah negara yang adidaya gitu ya. Kalau masalah sanitasinya itu tidak selesai, tidak selesai semua ee apa sebagian besar paling tidak gitu ya. Mungkin kalau di apa di berbagai negara yang sudah maju misalnya kalau Amerika Serikat terlalu kompleks saya pikir ya ya Australia lah katakanlah gitu ya ee masalah sanitasi juga ada gitu di beberapa daerah yang remote ya yang terpencil ee dan masalah sanitasi mereka juga mungkin beda. Mereka sudah memikirkan emerging pollutance di dalam buangan domestik ya dan lain-lain. Kalau kita sekarang kita masih memikirkan atau bukan memikirkan ya, bahkan perlu ada perubahan paradigma gitu ya. Ee udah jangan lagi deh mikir sanitasi layak, tapi harus sudah berpikir seluruh rantai layanan sanitasi menuju ke sanitasi aman. Jadi sanitasi itu tidak berhenti sampai tangki septik, Bapak, Ibu, gitu. Ini kan karena kita kan kenyataannya memang ee sedikit sekali yang punya akses pipa ya. Kalau kita punya akses pipa ke IPAL gitu, IPAL domestik kota ee misalnya kalau di Bandung itu di Bojong Soang gitu ee itu bisa e ya udah itu ya kita anggap bahwa limbah kita baik yang grey water maupun eh black water itu akan dikelola secara aman nanti di IPAL karena ada proses pengolahan di situ gitu. Nanti setelahnya ada slutch mungkin memang dan itu adalah hal lain gitu ya, bagaimana pengelolaan slutch dilakukan agar tidak mencemari lingkungan. Tapi dalam hal ini biasanya tuh kita hanya mindsetnya tuh berhenti sampai tangki septik. Bahkan saya tuh suka main TikTok ya Bapak Ibu karena anak saya sudah remaja sehingga saya merasa perlu keep up juga. Beberapa kali saya menemukan ee postingan bahwa tangki septik yang baik itu adalah tangki septik yang tidak usah dikuras gitu. Intinya seperti itu. Dan itu kan itu bukan hanya sekali dua kali tapi banyak sekali yang saya temukan di situ. Ee dan ini adalah kesalahpahaman yang mengakar di masyarakat. menyediakan tangki septik bukan berarti selesai. Limbah yang masuk ke dalam tangki septik itu harus disedot secara berkala. Pengosongan tangki septik itu harus dilakukan secara berkala setidaknya ee 2 sampai 3 tahun sekali idealnya begitu ya gitu. Kenapa? Karena tangki septik itu yang sesuai dengan standar nasional Indonesia itu harus kedap. Kalau kedap tidak ada ruang untuk rembes kan ya. Artinya yang namanya kemasukan materi pada suatu saat dia akan penuh sehingga ee ketik nah itulah kenapa harus dikosongkan dan disedot gitu. Kalau Ibu Bapak punya tangki septik di rumah katakanlah sudah 20 tahun enggak pernah ada kejadian apa-apa itu bisa itu berarti tangki septiknya tidak kendap Bapak dan Ibu. Dan itu ke mana larinya? tentu saja itu akan rembes ke air tanah yang bisa jadi mencemari sumur. Kalau Bapak Ibu masih menggunakan sumur ya gitu ya, sumur yang kita gunakan untuk sehari-hari. Jadi seperti siklus ya artinya buangannya ke situ-situ lagi yang tidak diolah. Nah, oleh karena itu eh mindsetnya ketika bicara citywide inclusive sanitation eh terutama untuk yang non pipa ya, kita mindsetnya udah harus seluruh rantai layanan mulai dari di tangkap di sini ada user interface nih ya toilet ya makanya toilet itu jamban itu baru sebagian kecil dari sanitasi baru user interface-nya aja. Di sini ada tangki septik. Tangki septik kalau lihat dari kata-kata ini, ini fungsinya bukan mengolah. yang utama, tapi fungsinya adalah menahan contain containment. Nah, nanti dia akan dikosongkan, disedot oleh petugas penyedot. Ini bisa dari mana-mana aktornya. Ada yang ee private ya atau swasta, ada juga yang dari kalau di Jakarta ada layanan dari Paljaya ya. Di Bandung juga rasanya ada layanan dari Perumda Tirta Tauening. Mohon maaf ee koreksi jika saya salah. Oke, dari sini kemudian akan dibawa ke IPLT, instalasi pengolah air ee tinja e ya pengolahan air e pengolahan lumpur tinja sori IPLT lumpur tinja. Nah, ini yang menarik nih cerita saya tadi balik ke KLHs ya. Jadi ada dua hal yang sering ee saya highlight. Yang pertama adalah oh ternyata pemahaman perbedaan antara sanitasi aman dan layak itu belum terinternalisasi di daerah. Kadang-kadang orang tidak tah tidak tahu ee apa aman dan apa layak bedanya tuh seperti apa. Jadi orang ee kadang-kadang kita itu belum move on dari MDG ya, Bapak Ibu, Millenium Development Goals. Padahal sebenarnya mandat nasionalnya RPJMN kita udah mandatnya udah eh aman ya, udah masuk ke sustainable development goals dan SDG itu akan habis pada tahun 2030. Jadi harusnya kita sudah bisa mencapai akses universal terhadap sanitasi aman itu di 2030. Itu yang dijanjikan ketika kita meratifikasi SB. Sebetulnya PR besar buat kita semua termasuk saya. Oke. Lalu dari situ ee kita akan lihat setelahnya. Nah, ini ee mohon maaf dari dalam bahasa Inggris, tapi secara umum CWIS itu punya enam elemen. Jadi kalau kita ngomongin sanitasi inklusif itu tidak hanya soal teknologi. Itu mungkin yang ee menjadi agak kompleks ya. Yang pertama CWIS itu ada outcomes-nya. Jadi luaran dari suatu konsep sanitasi yang diterapkan yang inklusif itu pertama dia harus adil. adil atau setara ya. Karena ini maksudnya apa nih? Adil atau setara ini artinya dia tidak boleh beda-bedain. Ee kalau misalnya membeda-bedakan dalam arti gini ee Perumda itu biasanya punya blok tarif sistem, betul kan Bapak Ibu ya. Jadi kalau ee orang yang tinggal di perumahan yang baik ada kriterianya gitu ya. mungkin akan beda-beda di setiap ee PDAM dia membayar unit price lebih mahal dibandingkan dengan orang yang pemakaian airnya sedikit dan dianggap berasal dari ekonomi yang rendah. Itu adalah salah satu bentuk fairness. Kenapa? Karena ee orang membayar sesuai dengan kemampuannya gitu. Jadi seperti itu contohnya. Dan kemudian salah satu bentuk fairness yang lain adalah ee dipikirkan di tempat publik itu adalah akses untuk teman di fabel untuk mengakses ee toilet di Puskesmas misalnya. Artinya toilet yang ada di Puskesmas harus memperhatikan ee orang yang pakai kursi roda supaya bisa masuk gitu. Eah itu kan udah soal teknis, soal anggaran, soal political will juga soal pemahaman ee teknis gitu ya. Nah, itu jadi itu salah satu bentuk pengejauan tahan ya. Safety. Safety tadi outcomes-nya tadi yang kita highlight adalah kita udah move on. Harusnya bukan lagi layak tapi sudah harus ke aman. Di sini artinya tarikannya mau enggak mau semua buangan manusia itu berasal dari rumah ya domestik ya baik itu greay maupun black water harus dikelola di sepanjang sanitation service chain yang tadi rantai layanan sanitasi. Artinya ketika nanti airnya sampai ke lingkungan ya, baik itu setelah keluar dari IPLT ataupun yang lain dari IPAL, IPAL Efluen itu sudah tidak lagi apa ee menyebabkan kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan. Sudah memenuhi persyaratan kesehatan yang diatur gitu ya. Oke, terus kemudian sustainability ini juga outcomes dari CWIS yaitu apa yang kita kerjakan sekarang itu harus bisa berjalan sampai jangka waktu yang lama. Itu satu. Kemudian untuk bisa mencapai tiga outcomes ini ada equity, safety, dan sustainability. ada ada caranya atau cara kerjanya atau gimana ya istilahnya tata kelolanya itu prinsipnya ada tiga yaitu responsibility, ada tanggung jawab yang jelas antara aktor ya pemangku kepentingan, ada accountability artinya di sini ada manajemen yang transparan, ada monitoring dari kinerja dan ada sistem insentif dan disinentif yang berfungsi untuk meningkatkan atau mendorong peningkatan kinerja itu. akuntabilitas. Ee kemudian yang terakhir adalah resource planning dan managementen. Jadi di sini ada ee finansial, ada human sosial ya, ada technological goals dari sanitasi yang akan kita lakukan. Nah, ini juga harus bisa dikelola dengan baik dari perspektif manajemen. Oke. Nah, dari enam prinsip CWIS nih, mana yang kira-kira paling sulit diwujudkan di tempat Bapak Ibu? Tadi dari enam tuh berarti ada ini ya, ada equity, safety, sustainability, responsibility, accountability, dan resource planning dan management. Oke, nanti silakan ee sambil berpikir saya ingin menunjukkan sesuatu tentang ee kalau tadi kan di kota ya, ini studi kasusnya ada yang di kota dan di desa. Nah, ini jadi ee ini adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh dua tim peneliti ya yang ee kami ikuti terkait dengan perempuan dan sanitasi. Jadi ee kalau kita ngomongin perempuan ya, ibu-ibu gitu, bayangkan ibu Anda atau saya sebagai seorang ibu ya, saya pikir-pikir kalau di rumah waktu saya tuh banyak banget di dapur sama di kamar mandi gitu. Saya memasak, mencuci depan wastahol itu adalah ee apa? Aktivitas yang dominan gitu. Lalu kemudian di kamar mandi ada mesin cuci ya, membersihkan kamar mandi. Kalau dulu waktu masih punya anak bayi, saya yang mandiin anak bayi. Terus belum sekarang ee bersihin gris trap gitu ya. itu juga satu PR gitu. Nah, artinya saya banyak sekali bersentuhan dengan sanitasi. Kebetulan aja saya lahir dan juga besar. Kemudian sekarang ee memiliki keluarga dari tingkat ekonomi menengah yang berpendidikan tinggi ya. Sehingga relasi kuasa saya tuh ee berbeda dengan orang yang mungkin demografinya beda dari saya. Ketika misalnya saya sama suami saya mau memutuskan membeli sesuatu ya ee pendapat saya akan dipertimbangkan oleh suami saya gitu. Artinya saya bisa memberikan ee atau gini istilahnya saya punya agency gitu ya untuk ee berpendapat dan punya keinginan. Nah, ini ya. Nah, secara umum di masyarakat yang ketimuran saya pikir begitu ya istilahnya bahwa e walau ee masyarakat ini tuh ada role-nya masing-masing gitu antara pria atau laki-laki dan perempuan. Di kebanyakan daerah pedesaan dan beberapa perkotaan juga kohort yang spesifik ya biasanya laki-laki itu dipandang sebagai ee pencari nafkah di luar rumah gitu. Sementara perempuan dan anak-anak itu dipandang sebagai orang yang akan ngurus rumah tangga. Termasuk salah satunya responsibility-nya itu yang utama adalah ya intinya apa? Mengurus soal segala sesuatu tentang air, air dan jamban urusan perempuan ya. Dan itu tuh bisa berarti beda-beda pengalaman ini. Buat saya kalau saya disuruh ngurus air dan jamban mungkin saya urusannya adalah nyikat kamar mandi sama bayar tagihan air gitu. Tapi buat perempuan yang ada di Nusa Tenggara, daerah yang 6 jam jauhnya dari Kupang, kebetulan teman e mahasiswa saya ada yang sedang melakukan penelitian di sana. Buat ibu-ibu di sana, air sanitasi itu menjadi pengurus itu artinya mereka harus jalan mendaki, menuruni bukit yang terjal 2 jam PP sambil bawa air di jerigen. Bahkan kemarin ee maksudnya cerita iya ada yang ee ibu hamil ee hamilnya sudah cukup besar 6 bulan ya. Lalu seperti biasa dia ngambil air dan segala macam sehingga akhirnya dia keguguran tengah jalan itu. Itu adalah sebuah cerita yang bukan fiktif Bapak dan Ibu ya. Itu ada gitu tapi mungkin kita tidak mengalami tapi hanya karena kita tidak mengalami hanya karena kita tidak melihat bukan berarti itu tidak benar gitu ya. Jadi ee itu empati kita yang mungkin harus diasah bahwa sanitasi adalah tentang pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Nah, kemudian kita lihat ee di sini ada suatu grafik yang menggambarkan lingkaran-lingkaran ya. Ini kita sebut dengan model sosioekologi. Jadi intinya ee yang paling tengah itu adalah individu levelnya. Kemudian naik sedikit itu adalah keluarganya, tetangganya, ada budaya di situ ya. Lalu naik lagi itu adalah lingkungannya seperti apa nih? Lingkungan adatnya seperti apa? cuacanya suhunya dingin, panas gitu ya, atau tetangganya akrab gitu atau enggak pernah ngobrol sama tetangga. Nah, itu environment ya. Kemudian strukturalnya itu adalah kayak apa pemerintahnya? Apakah ee egal apa ya? Apakah menganut paham yang egalit gitu ya. Ee kalau di Amerika mungkin Demokrat dengan satu lagi apa ee republik gitu ya. itu beda mungkin gitu sistem struktur yang diberikan gitu ya dalam kehidupan sendi-sendi kehidupan warga gitu. Nah, itu di struktural. Kemudian yang terakhir adalah infrastrukturnya kayak apa? Ada enggak sih PLT? Ada enggak sih segala macam. Nah, itu jadi maksud dari model ini adalah bahwa perilaku yang dilakukan individu di tengah itu ternyata dipengaruhi oleh layer-layer di atasnya. Jadi kalau kita mau nyalahin ee ada anak stunting di suatu desa ya, anaknya stunting terus kita mau menyalahkan ini ibunya yang salah karena ngurus anaknya enggak benar. Enggak bisa begitu juga. Karena perilaku maternal itu dipengaruhi oleh banyak hal di Indonesia seperti itu ya. Ada satu mahasiswa saya juga yang melakukan penelitian di Jakarta ee untuk melihat sebetulnya layer mana yang paling mempengaruhi gitu ya. dan tergantung tergantung dari ibunya gitu ya. Ee katakanlah ibu tersebut pendidikannya hanya sampai SMP kemudian ee dia tidak bekerja. Itu yang saya temukan di Nusa Tenggara. Ibu itu bilang gitu ee ketika ditanya sebenarnya ibu tuh pengin WC yang kayak gimana gitu ya. Jawabannya adalah saya ragu-ragu dia. Saya kayaknya harus tanya Bapak dulu gitu ya. Habis kan saya enggak kerja gitu. Saya kan tahu diri saya enggak enak, saya enggak enggak maulah katanya menentukan apa-apa di rumah gitu. Itu itu kata-kata yang saya ee dengar sendiri waktu ada penelitian gitu ya. Nah, itu jadi mungkin ini ini ee apa harus diperhatikan bahwa ketika ada suatu fenomena anak stunting diare gitu ya ee nyalahinnya jangan langsung ibunya duluan nih sebagai primary caretaker, tapi kita lihat bahkan sampai ke servisnya ada enggak, bahkan sampai ke itu tuh ee pemerintahnya menganut paham apa sih gitu. Itu harus dilihat juga gitu. Kemudian lingkungannya tuh gimana? Apakah lingkungannya ee kohesi sosialnya kuat gitu ya? Apakah di situ ada volunteer ee terutama dari kader gitu ya? Nah, ini kader posyandru itu juga itu tuh ee dari penelitian kami ya, mereka itu adalah aktor yang sangat sangat sangat penting, sangat berperan dalam menentukan perilaku maternal terkait sanitasi gitu ya. Oke. Ini ini sekilas tentang ee pengertian inklusif tadi gitu ya. Oke, terus ada satu lagi ee kelompok marginal yang berbeda yaitu teman-teman di fabel. Yang menarik adalah ee kadang-kadang ada berbagai istilah gitu. Istilah yang lama itu sudah enggak dipakai lagi. Itu sudah politically incorrect ya. Lalu ada istilah disabilitas. Tapi Indonesia punya terminologi yang berbeda, yaitu diabilitas. Divable, Teman-teman. Divable. Kenapa? karena ee kondisi yang dialami teman-teman di fabel itu bukannya disable, bukannya mereka tidak bisa, tapi mereka berbeda bisanya gitu. Jadi ee bisa tapi dengan cara yang berbeda. Makanya lebih tepat kalau disebut dengan ee kelompok di Fabel, teman-teman di Fabel. Dan ini mungkin semantik ya, tapi ini memberikan makna empowerment yang berbeda gitu menyebutkannya ini. Jadi ee salah satu penelitian kami juga ini di daerah Indonesia Timur waktu itu ee berinteraksi dengan teman-teman di Fabel ee dari yang memiliki asosiasi dan komunitas. Dan kami juga sangat terharu gitu ya melihat bahwa oh mereka ini sangat berdaya sekali gitu. Dan salah satu yang paling berharga buat saya adalah saya mendapatkan pelatihan selama 1 jam ya di melalui Zoom waktu itu. Ee judulnya adalah bagaimana cara berinteraksi dengan teman-teman di Fabel. Itu sangat ee apa ya eh life changing buat saya karena ee sesuatu yang saya tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Oke, ini mungkin kita akan skip aja, tapi saya ingin memperlihatkan ee hasil dari penelitian ini gitu ya. Ee pertanyaan penelitiannya pada waktu itu adalah apa yang menyebabkan tingkat partisipasi teman-teman Livabel pada program sanitasi itu kecil. Jadi ternyata kalau kita lihat di sini bisa macam-macam tuh dan ini adalah suatu rangkaian gitu ya. Katakanlah gini ee kan masyarakat di Fabel itu teman-teman di Fabel punya kebutuhan sanitasi yang berbeda ya enggak sih Bapak Ibu? dari sisi luasan ruangan aja, ruangan toilet itu berbeda. Dia ee mereka teman-teman kita ini butuh ruangan yang lebih luas karena buat manuver kursi rodanya. Mereka butuh ada health button gitu. Mereka butuh ada pegangan di dindingnya supaya bisa ee mengangkat badannya ke toilet. Ini kalau kita berpikir dengan yang menggunakan kursi roda ya gitu. Jadi, tapi kalau kita sebagai orang yang ee tidak menggunakan kursi roda, kita mungkin enggak kebayang gitu bahwa kebutuhannya itu secara fitur-fiturnya itu kayak gimana aja sih, gitu ya. Jadi kalau misalnya mereka tidak ditanya ee Bapak, Ibu, Mbak, Mas, butuh apa? Bagaimana cara Bapak dan Ibu menggunakan toilet supaya kami bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut gitu. Kalau enggak ditanya kan enggak tahu karena kita tidak mengalami sehingga kita tidak ada di sepatu mereka gitu. We're not in their shoes gitu. Jadi kalau kita enggak bertanya ya kita enggak tahu gitu. Nah, karena tidak ditanya maka tidak diketahui kebutuhannya. Karena tidak diketahui kebutuhannya, mereka jadi tidak bisa mengakses sanitasi. dan mungkin ada juga ee dampak kesehatan yang dihasilkan atau dampak psikologis yang dihasilkan juga gitu. Ee ada satu makalah ya di daerah Afrika saya baca tesim e bukan apa ee cuplikan wawancaranya gitu ya. Ee ada orang tua yang pakai kursi roda terus beliau bilang gini ya kan ini kan toiletnya toilet jongkok gitu ya. ee buat saya untuk menggunakan itu itu susah sekali katanya. Saya harus berpegangan, tangan saya harus berpegangan pada lantai toilet yang di mana kadang-kadang itu ada kotorannya. Jadi dia merasa itu tuh sangat mengganggu ya. Dia sedih karena itu merasa dia enggak apa ya harkat dan martabatnya tuh jadi enggak ada gitu. Karena dia juga enggak pengin kotor, dia juga pengin bersih sama kayak kita ya gitu ya. Nah, jadi di situ ya apa namanya? Ada cerita itu ya ee experience dari ee teman-teman yang terpinggirkan karena ketika merancang toiletnya itu tidak mempertimbangkan kebutuhan ee kelompok marginal yang kebutuhannya itu sangat spesifik dan berbeda. Oke, itu hambatannya dari apa sih apa aja yang menyebabkan tidak inklusif tadi ya secara kita sebutnya secara umum aja. Yang pertama dari aspek struktur dan sosialnya gitu. Kalau struktur kita bicara ee ininya lah ya apa ee infrastrukturnya ya. Tangganya terlalu tinggi, jambannya kecil, jambannya jongkok, enggak ada palang penyangga, wastafelnya enggak enggak nyampe. Kalau misalnya orangnya pakai kursi roda enggak kelihatan mau ngambil sabunnya susah gitu ya. Jalannya licin atau tidak rata, enggak ada remnya. Bahkan ee ketika ada tangga kan enggak bisa naik kursi roda sendiri ya gitu ya. Dan itu yang salah satunya hambatan sosialnya ada ada stigma negatif terhadap penyandang disabilitas gitu ya. Sebetulnya bukan karena sebel enggak, tapi karena sayang, karena cinta, karena kasihan. Jadi ee karena ini yang ditemukan di Nusa Tenggara ya Bapak, Ibu ya. Karena terlalu sayang maka geraknya dibatasi karena khawatir gitu. Nah, akibatnya kurang otonomi, kurang privasi dan martabat saat menggunakan fasilitas sanitasi. Oke, ini sama ee model sosiolog ee ekologi. Jadi, saya tidak akan sampaikan lagi. Oke. Salah satu yang menarik juga ee dari temuan ini tuh sebetulnya pemerintah di ee di kota yangu kami datangi ee bukannya tidak mau melibatkan kelompok divabel sudah diundang tapi ee dari desa gitu ya sampai ke ibu kota terdekat itu dia tuh 6 jam dengan mobil yang ajluk-ajlukan gitu loh kata orang Sunda ya. Jadi tidak memungkinkan bagi ee perangkat eh bagi teman-teman di Fabel untuk secara fisik menghadiri gitu. Nah, itu ada tantangan-tantangan geografis di situ. Ada juga tantangan-tantangan yang sifatnya kultural. Kadang-kadang gini, ee saya pengin banget ngundang ee teman-teman di Fabel, tapi saya bingung ngomongnya gimana ya gitu karena takut menyinggung gitu. Nah, itu yang salah satu yang ee dirasakan oleh beberapa informan yang kami temukan. Oke, mari kita tutup sejenak mengenai ee divabel, divabilitas, dan sanitasi. Nah, ini kita sambil break 3 menit aja. Break 3 menit saya minum, ya. Nah, dari enam prinsip CWIS yang tadi ini ee mana yang kira-kira paling susah, tantangan yang paling besar di kota Bapak, Ibu? Silakan ditulis di chat. 3 menit. Oke. Eh, iya kita lihat ada yang chat nih. Sustainability tiap pilkada. Menarik nih. Responsibility. Iya, betul. Eh, dari dua hal ini tapi saya pengin komentarin dulu yang tiap pilkada ya Bu Vioni ya dari Andalas. Terima kasih menurut saya menarik sekali itu. Betul. Eh, dan memang nature-nya begitu ya kalau kita lihat ya. Karena saya yakin setiap ee apa calon gitu, kepala daerah itu punya visi sendiri yang ingin dibangun gitu. Sehingga kadang-kadang apakah suaranya tidak terdengar Bapak, Ibu? Bagi yang lain? Terdengar Ibu. Oh, terdengar ya. Berarti mungkin dari ee itu apa? Dari Bapak atau Ibu Pius ya. Oke, terima kasih ya ee Pilkada ya gitu. Hampir semua tantangannya banyak sekali. Makanya itu PR kita bersama ya. Nanti kita akan coba gitu ee bagaimana nih sebaiknya. Oke, terima kasih sharing-nya Bapak Ibu untuk yang ini. Ee oke. Nah, sekarang kita akan melihat ke literatur gitu. Jadi CWIS itu memang suatu konsep yang sangat besar Bapak Ibu. Dan saya bisa paham sekali bahwa we are in the same boat ya. Bahwa kita semua ini sekarang berada pada suatu masa yang sangat menantang. Ee dan bukan saatnya lagi salah-salahan gitu. Ini salahnya dinas apa, salahnya akademisi salahnya, tapi justru tantangan yang pelik ini membutuhkan kolaborasi yang legowo gitu. Kalau saya bilang kolaborasi yang legowo, saling berbagi data gitu ya, dan ee cost sharing mungkin gitu atau responsibility sharing dan sebagainya. Tapi kalau kita lihat dari berbagai negara-negara yang mirip dengan Indonesia, kami melakukan sebuah kajian literatur ya untuk baca nih ya ini kira-kira di negara lain yang konteksnya tuh mirip-mirip Indonesia lah ya gitu kayak Ghana atau kayak ee yang lain ya di Amerika Selatan. Apa sih sebetulnya yang menjadi hambatan dan mendorong ee implementasi dari CWIS? Yang pertama adalah ini faktor keberhasilan dulu ya. Jadi ada suatu daerah yang berhasil menerapkan CWIS tadi. Berarti tadi kuncinya yang enam elemen tadi ya itu berhasil diterapkan walaupun mungkin tidak 100% sempurna tapi kemajuannya cukup besar. Yang pertama itu dia ada dukungan masyarakat dan petugas sedotinja. Ini menarik nih buat saya. Jadi petugas sedot tinjanya itu ee gimana ya secara umum itu ee diformalisasi walaupun itu mungkin bukan kata yang tepat tapi dibina gitu. Jadi ee semua petugas DOTINJ yang tadinya tuh sebagai operator lepasan swasta ya, mereka berusaha sendiri itu didata, dibuatkan asosiasi kemudian dilakukan pelatihan, dilakukan pemantauan gitu ada kartunya gitu eh kartu anggotanya dan ee banyak technical support yang diberikan ee dengan bergabung pada asosiasi petugas sedot tinja tersebut sehingga ee walaupun mereka beroperasi dengan sistem pasar ya artinya ya sudah bisnis gitu, tapi ee difasilitasi oleh pemerintah pada waktu itu sehingga itu bisa berjalan dengan baik. Ada capacity building-nya juga dan lain-lain ya. Kemudian adanya kemauan politik dan regulasi yang tegas. Nah, ini di negara yang berhasil ternyata ada komitmen politik lokal untuk mendukung satu reformasi kebijakan dan dua alokasi sumber daya. Itu dua kunci itu. Nah, yang ketiga adalah peningkatan kesadaran. ini ee kesadarannya tidak hanya pemerintah gitu. Enggak, enggak boleh juga ya menyalahkan pemerintah terus menerus. Enggak. Akademisi juga harus ee disalahin nih. Kemudian masyarakat juga kita sebagai warga harus disalahin juga. Apakah warga ini sudah mau berkenan membangun tangki septik yang sesuai SNI? Sudah mau berkenan ee membayar jasa sedot gitu ya. Layanan layanan pengosongan tangki septik terjadwal. Apakah mau enggak langganan itu subscribe gitu. Itu kan kesadarannya ada di warga, bolanya ada di warga ya. G sulitnya dari sanitasi yang nonpipa tuh seperti itu. Bahwa penanggung jawab dari setiap rantainya itu bisa beda-beda. Tadi kalau pipa misalnya air minum PDAM ya penanggung jawabnya satu instansi ya PDA Perumda gitu dari A sampai Z. Paling nanti pas di setelah meteran air aja tuh nanti warga akan bertanggung jawab tuh. Tapi kalau sanitasinya non pipa itu penanggung jawabnya banyak sekali aktor-aktornya. Nah, itu yang menjadikan kenapa sanitasi itu lebih susah dikelola dibandingkan dengan air minum. Kemudian pusat pengetahuan dan komunikasi. Nah, ini ee terkait dengan yang tadi juga ya ee petugas sedot tinja. Jadi ada database-nya, ada sistem informasinya gitu dan segala macam. Karena karena apa ya harapannya itu adalah ketika tangki septiknya sudah dikosongkan, petugasnya itu tidak buang sembarangan di sungai gitu, tapi masuk ke IPLT. Nah, jadi ada sistem insentif dan disinsentifnya di situ. Lalu di sini ada dukungan donor dan sumber daya, dukungan dana awal, teknis, pelatihan gitu ya. intinya ada semacam seed money gitu ya untuk memulai sistem itu. Kemudian tata kelola yang tata kelola yang kolaboratif, regulasi yang responsif dan pertimbangan kelayakan sistem. Di mana desain sistem harus mempertimbangkan aspek politik, sosial, lingkungan, dan kapasitas lokal secara utuh. gitu sih. Ini ini ee ini adalah hal-hal yang secara empiris atau di dalam kenyataan itu ditemukan pada kasus-kasus yang berhasil mengimplementasikan CWIS gitu. Walaupun ini bagus sekali tapi tetap kadang-kadang masih ada ya hal-hal yang ditemukan di lapangan dan ini semua studi kasusnya bukan dari Indonesia ya, dari negara-negara yang mirip Indonesia. Yang pertama adalah koordinasi lintas lembaga yang lemah, keterlibatan masyarakat yang rendah gitu ya. Ee ketidaksesuaian antara standar pelayanan minimumnya versi mereka gitu dengan tujuan SDG. Hambatan politik pembiayaannya tidak berkelanjutan, keterjangkauan rendah bagi populasi rentan, kapasitas dan literasi. Operator sedot tinjanya sedikit, sanitasi bukan prioritas, dan regulasi yang tidak mendukung inovasi. Nah, ee nanti kita coba akan kupas ini dengan melihat pada konteks Indonesia. Tapi saya yakin Bapak Ibu melihat ke 9 poin ini pasti merasa familiar gitu ya. Kayaknya saya juga merasakan di poin empat mungkin atau poin yang mana gitu ya, sanitasi bukan prioritas gitu gitu. Nah, itu kadang-kadang ee dilemanya adalah ketika modelnya adalah pemberdayaan masyarakat ya. di mana kita kan sebagai sebuah apa seorang ahli pembangunan atau praktisi pembangunan, kita akan menyerahkan bolanya itu pada masyarakat supaya mereka terberdayakan. Harapannya kita maunya mereka tuh koncern sama sanitasi eh tapi ternyata enggak penginnya bangun jalan gitu. Sama-sama infrastruktur dasar kan gitu ya. Tapi ya itulah kenyataannya sanitasi seringki berkompetisi dengan kebutuhan yang lain gitu. Oke. Kemudian ee nah dari sini saya akan menayangkan hasil penelitian saya yang berada pada sebuah kota di Jawa Barat gitu ya. Ee jadi kami melakukan 26 analisis eh dokumen dianalisis melalui skema kualitatif dokumen analysis dan juga ada wawancara dari 35 partisipan yang merepresentasikan aktor pemerintah dan perwakilan masyarakat rentak. Tapi setelah dilihat, kota ini juga merepresentasikan kebanyakan kota di Indonesia. Artinya hampir semua kota yang saya datangi itu punya masalah gitu. Ee punya masalah yang pelik juga yang ee jawaban itu tidak sederhana ya. Oke. Pertama adalah akses siapa yang tertinggal. secara umum teman-teman kami ini ya gitu ya atau partisipan yang kami wawancara itu sudah punya awareness yang tinggi tentang ee hak asasi, prinsip kesetaraan, marginalisasi itu tidak boleh gitu ya segala macam. Dan bahkan regulasi di Indonesia itu sudah menegaskan bahwa sanitasi adalah hak setiap warga dan SPM mewajibkan akses dasar bagi semua. Terlepas bahwa SPM belum menyebutkan soal sanitasi aman. Kemudian kelompok rentan ada kebijakan propur sudah ada kebijakan kita bagus sekali tapi ketika dalam implementasinya itu ee apa ya seringki misalnya pendanaannya terfragmentasi ya ee sehingga tidak bisa dari skema pendanaan itu menghasilkan sesuatu yang bermakna. Kalau saya analogikan gini deh Bapak Ibu, saya kan ketua lab ya. Nah, di ITB itu ada banyak lab nih. Ee ada dan ada budget atau anggaran dari program studi gitu. Katakanlah anggarannya Rp100 juta gitu. Kalau dibagi ke lima laboratorium dengan kebutuhan yang beda-beda itu masing-masing kalau merata hanya dapat 20 juta nih gitu. Tapi ee R juta kalau di laptop bisa beli apa sih gitu ya. aduh enggak bisa beli alat-alat yang mahal gitu yang bisa di manfaatnya besar. Tapi kalau anggarannya itu Rp100 juta, maka bisa beli satu alat yang bermakna gitu. Jadi kadang-kadang fragmentasinya lebih ke situ sih ee untuk bisa menghasilkan apa ya suatu kegiatan yang bermakna karena tidak bisa dipungkiri ee program-program yang sifatnya soft building ya eh kayak apa namanya e awareness building, membangun kelembagaan itu tuh ee rentang waktunya cukup lama ya. Kemudian keadilan sejati menuntut akses tak hanya dari rumah tangga tapi juga di fasilitas publik. Nah, ini salah satu yang disoroti. Ee kalau di sektor pembangunan sanitasi sendiri sepertinya fokusnya sudah mulai di healthc ya, di layanan ee apa fasilitas kesehatan dan juga di fasilitas pendidikan di sekolah gitu. Penelitian yang saya lakukan dulu pernah juga masuk ke wisata gitu. Nanti kita lihat ya ee seperti apa di daerah pariwisata. Oke. Nah, ini saya membaca ini tuh sangat tertarik sekali. Ini adalah sebuah tool yang dikeluarkan oleh ee teman-teman dari Unhas ya. Mungkin Bapak, Ibu ada yang dari Unhas di sini. Saya menemukan ini di laman web-nya eh Monas, Monash University Australia. Di iniat eh ini kayaknya merupakan hasil penelitian yang didanai oleh Waterf Women Fund ya, Australian Aid juga. Nah, ini ada satu file PDF eh judulnya adalah refleksi atas infrastruktur air dan sanitasi. sebuah alat bantu untuk praktisi dalam melakukan pendekatan desain partisipatif yang inklusif. Jadi kalau kita berpikir, oh sanitasi yang inklusif itu adalah soal adanya rem buat yang pakai kursi roda. Oh, sanitasi inklusif itu adalah soal punya pegangan di dinding gitu ya. Tapi tidak hanya itu. Untuk bisa sampai ke sana kan kita harus tahu kebutuhannya ya. Jadi desain yang inklusif itu bukan hanya apa yang kita bangun, tapi bagaimana kita membangunnya, dengan siapa kita membangun itu dan suara siapa yang kita pertimbangkan dalam perancangan gitu. Nah, itu yang pertama. Jadi, kalau balik ke tempat tadi ini tuh sebenarnya dalam satu PDF tuh ada banyak kartu gitu ya, Bapak dan Ibu. Jadi si kartu-kartu ini bisa kita jadikan acuan ee bertanya pada diri kita sendiri, bertanya pada masyarakat yang kita apa ajak sebagai partner gitu ya dalam proses pembangunan sanitasi dengan Q card yang ada di sini. Nanti Bapak dan Ibu bisa lihat ada linknya di sini ee apa itu ada satu PDF yang mungkin bisa digunakan di daerah Bapak dan Ibu kalau relevan ya. Oke, kemudian eh kita tadi balik ke pernyataan bahwa inclusion in design is not just about what we build, but how we build it with whom and whose voices are hurt. Ini ada satu ilustrasi yang diambil dari penelitian kami yang terdahulu di daerah Nusa Tenggara juga ya, Labuhan Bajo Mandalika. Jadi menyoroti bagaimana proses ee desain inklusi itu harus mempertimbangkan bukan cuman hasil akhir tapi juga prosesnya. Inklusif tidak prosesnya partisipatif tidak gitu. Oke, lanjutnya tadi ngomongin baru e ya. Nah, sekarang aman tadi tuh kita sudah mention sedikit ya. Nih kalau saya lihat di sini ee seringkiali kita itu masih berhenti pada MDG nih di basic ya basic sanitation. Eh, dulu namanya tuh improve atau layak gitu. Sekarang si layaknya itu dibagi dua antara shared yang eh pakainya bareng-bareng dan basic sanitation. Basic basic namanya juga basic ya. Berarti kalau ada kalau basic ada yang advance-nya. Nah, yang basic-nya itu adalah private improve facility. Jadi layak ya ee nanti kita sama-sama lihat lagi pemahaman layak tapi dia dipakai sendiri di rumah gitu dan bisa memisahkan X kereta dari human contact yaitu tadi dengan cara adanya tangki septik ya kan dia kan contain ya artinya dia tidak ee fungsinya tuh menahan supaya enggak ada yang lepas ke lingkungan gitu karena kalau lepas nanti bisa jadi berkontak lagi sama manusia itu basic tapi dalam SDG udah memikirkan harusnya safely manage sanitasi yang aman di mana limbah kita itu yang dari toilet itu dibuang, diolah dengan aman, ditransportasikan gitu ya. Ee dibentuk sedemikian rupa dengan berbagai proses fisika, kimia, biologi gitu. Ee sehingga nanti dia bisa dibuang dengan aman ke lingkungan. Jadi sebenarnya itu harapannya. Oke, lanjut sedikit lagi. Nah, ini adalah contoh ee kerja sama penelitian kami di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan dengan teman-teman dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ya. Ee kebetulan beliau ini Pak Anjar ini adalah ahli machine learning dan geo spasial. Jadi di sini adalah salah satu metode ee untuk memetakan ee daerah yang kompleks gitu. Bapak, Ibu bayangin kalau misalnya ini Singapura ya, Singapura tuh gampang sekali karena semuanya pipa. Mereka tahu persis pipa ini di mana, pipa ini di mana gitu. Tapi sementara kalau di apa kota-kota kayak Bandung, kayak Jakarta ya mungkin Solo gitu kadang-kadang kita tuh tidak tahu persis kan siapa aja yang punya tangki septik gitu. Kalau dipetain itu titiknya sebelah mana sih gitu ya. itu perlu sensus kayaknya ya, sangat mahal sekali untuk bisa memetakan itu. Nah, ini yang dilakukan oleh ee teman kami dari Geospasial Sains gitu. Jadi, ee kebetulan dari satelit itu bisa ada data per gedung di atas gitu. Nah, si data gedungnya itu ee diplotkan ke dalam peta dengan anggapan gedung yang besar gitu ya, rumah yang besar ee itu dianggap sebagai apa? eh low priority gitu. Tapi kalau gedungnya kecil gitu ya, pendek juga enggak tinggi, itu disebut sebagai gedung yang ee high priority. Artinya kemungkinan dia merupakan gedung yang dari ekonomi menengah ke bawah gitu. Jadi harus dapat prioritas. Jadi ada aspek inklusinya tuh di situ gitu. Lalu di sini dipetakan juga jaringan waste water treatment plan ya yang dikelola oleh Perundumda. Kita bisa lihat terkonsentrasinya di mana gitu ya. Dan ini memberikan gambaran nih. Jadi sebetulnya ee apa namanya kita itu seberapa sih coverage-nya dari sisi spasial gitu ya. Nah, sayangnya untuk bisa apa ya memetakan dengan pasti yang non pipa itu ada di mana itu masih sulit gitu. Saya juga masih belum ketemu ya gitu ya. yang bisa kita keluarkan dari peta ini dari peta dari data satelit pertama adalah waste water volume per day dianggapnya dari kepadatan penduduk ya kemudian eh blood vulnerability apakah dia itu rentan terhadap banjir atau enggak karena kalau dia rentan banjir kita bikin IPAL di sana ya IPALnya nanti kebanjiran gitu ya nah dan sebagainya jadi itu sebenarnya contoh aja untuk menampilkan bahwa ada banyak decision making approach gitu ya yang bisa kita gunakan untuk ee city wide inclusive sanitation. Oke, lanjut. Ada skema pembiayaan. Nah, ini sebetulnya ee hal yang paling klasik ya biasanya gitu. Bahkan sama ya, kita juga kemarin misalnya pengin bangun laboratorium minta apa kerja sama dengan negara lain join lab gitu. Okelah kalau negara lain mau apa bantu dalam hal konstruksi gitu ya dan pembangunannya. Tapi nanti maintenance-nya bagaimana ya gitu ya. Nah, jadi kadang-kadang atau rehabilitasi infrastruktur itu yang cukup besar. Tanpa pendanaan yang memadai dan komitmen politik, sistem sanitasi sulit beroperasi berkelanjutan. Kenapa dipair antara pendanaan dengan komitmen politik? Nah, karena penentuan pendanaannya berapa ya kan karena political will gitu ya. Ya, karena kuenya APBN, APBD itu ya segitu-gitu aja. kita harus potong-potong kuenya dibagi ke berbagai sektor kepentingan gitu. Jadi tergantung prioritas ee politik ya pada saat itu gitu. Kalau prioritasnya bukan sanitasi ya kuenya buat sanitasi ya sedikit tu. Jadi itu ya kenapa ee biasanya jadi sisi dua mata uang, dua sisi mata uang antara pendanaan dan political commitment. Oke, next. Koordinasi. Nah, ini juga ee tapi ini mah masalah ya. Bahkan ITB pun kadang-kadang lulusan itu suka mendapatkan komentar dari user gitu ya, sulit bekerja dalam tim gitu ya. Inilah PR kita bersama. Bagaimana kita sebagai seorang individu, sebagai seorang anggota kelompok ya, bahkan sebagai suatu perwakilan dari organisasi ini justru bisa melakukan kolaborasi. Jadi bukan koordinasi ya. Saya sih tidak kalau koordinasi mungkin masih terlalu ini kita edit aja ya menjadi kolaborasi dan keterlibatan gitu. Jadi di sini kita lihat bahwa eh yang di-highlight adalah ini itu adalah shared responsibility atau tanggung jawab bersama. Ketika kita sudah framingnya adalah tanggung jawab bersama, maka kita enggak salah-salahan lagi, tapi justru demi mencari solusi ee kolaborasi itu akan terjadi. Kan tidak semua bahwa ee beban itu harus ditanggung oleh satu orang gitu ya, satu organisasi, tapi shared responsibility di sini menjadi penting. Oke. Nah, kemudian ini tentang akuntabilitas gitu. Emang kadang-kadang kalau domestik itu susah ya. Ee mau nyalahin pemerintah, warganya juga kadang suka buang sampah di sungai kan gitu ya. Mau nyalahin warga apakah tempat sampahnya ada enggak gitu. Nah, jadi ee apa istilahnya kesalahan itu udah ya udah sudah terdistribusi. Yang sering kita lakukan adalah bagaimana caranya supaya ee apa namanya? Akuntabilitas, sistem akuntabilitas itu terbangun dengan baik. Ini bukan maksudnya salah-salahan, tapi justru untuk misal mengidentifikasi area perbaikan dengan segera sehingga efisien gitu. Mekanisme pengaduan gitu. Tapi sekarang ya kebiasaan netizen ya senangnya itu menyampaikan keluhan lewat media sosial. Saya juga heran ya. Padahal sebetulnya kan ada juga telepon untuk menyampaikan keluhan pada yang apa instansi yang spesifik gitu ya. ke ITB ngeluhnya kan bisa ke prodi, tapi senangnya ngeluhnya ke media sosial gitu kadang-kadang ya. Nah, jadi tapi itu adalah salah satu bentuk akuntabilitas sebetulnya walaupun misalnya lewat jalur viral tapi akuntabilitasnya jadi tergugah gitu ya. Dan itu mudah-mudahan sih enggak enggak gitu ya bahwa setiap keluhan yang ada akan ditangani dengan baik. Nah, kemudian data sanitasi perlu juga bisa diakses gitu. Sebetulnya mungkin bukan sulit diakses dalam arti menyembunyikan data, enggak. Tapi yang saya asumsikan sebetulnya data itu memang scattered gitu. Jadi tidak ada knowledge management yang baik atau datanya memang tidak ada gitu. Eh, yang paling yang kita ukur adalah data tentang user interface-nya. Dinas kesehatan biasanya tuh ngukur ngukur jamban sehat ya. Tapi kalau jamban sehat itu kita balikkan ke definisi SDG juga ee apa gitu. Itu yang mungkin ada terminologi dan konsep-konsep yang berbeda-beda yang dilakukan oleh berbagai sektor. Sebenarnya enggak apa-apa kalau bermanfaat buat kebijakannya gitu ya. Cuman ketika kita mauelakukan meta apa metaanalitik ya dari atas gitu, maka kita bisa melihat adanya fragmentasi kelembagaan dan akuntabilitas yang belum optimal. Oke. Kemudian ee ini masalah perencanaan. Itu dia yang tadi saya sampaikan gitu ya. ee sanitasi kerap kali bukan menjadi isu yang seksi baik bagi masyarakat itu sendiri ya, baik bagi ee donor ataupun filantropi. Hanya hanya beberapa aja nih yang main disitasi secara khusus ya atau ee apalagi ee lender ya gitu ya. Karena dinilainya mungkin viabilitas ekonominya kok kayaknya kecil ya, enggak ada ya gitu ya. Jadi itu yang sebenarnya harus diubah paradigmanya ya gitu ya. Nah ee kemudian tanpa adanya reformasi kelembagaan dan model pendanaan yang lebih fleksibel terutama untuk yang non pipa maka keberlanjutan sistem sanitasi sulit dicapai. Ini saya ingin kasih contoh nih ya. Ee jadi waktu penelitian itu kan ceritanya kita pengin menghubungkan antara pariwisata dengan sanitasi karena kebetulan penelitian itu setelah COVID waktu itu. Nah, pas COVID ee orang kan peduli dengan hygiene gitu ya. Jadi ternyata oh ee kita tuh mengedepankan safety dan hygien itu adalah cara untuk menarik pelanggan ee tamu ya wisatawan gitu ke ke destinasi wisata kita. Tapi gimana caranya supaya sanitasinya masuk? Oh iya, karena kan untuk hygien dan apa? Hijin yang baik, eh safety gitu ya, enggak ada penularan penyakit kan perlu air, perlu toilet yang bagus, perlu apa? Peneluran limbah yang baik. Nah, itu jadi sanitasinya ketarik ke pariwisata. Jadi kita bisa menemukan yang namanya value proposition. Artinya kita meyakinkan para pelaku usaha pariwisata untuk koncern terhadap sanitasi. karena mereka punya stake di sana, mereka punya risiko. Kalau sanitasi mereka jelek secara kawasan, mereka bisa jatuh. Nanti enggak ada lagi yang mau main pelabuhan bajo, gitu ya. Jadi ini ee yang namanya value proposition. Jadi saya berharap teman-teman, Bapak, Ibu semua di sini bisa menemukan apa value preposition yang tepat atau sesuai untuk daerah saya ee untuk bisa menerapkan CWIS. Oke, ini contoh lain. Ee ini saya berusaha mengembangkan instrumen CWIS bersama dengan salah seorang mahasiswa ya. Ee kalau yang peta ini adalah untuk menarik sampel karena waktu itu metodenya adalah survei. Tentunya kalau kita survei kan enggak mungkin 2,5 juta orang disurvei. Namanya itu sensus ya gitu ya. Jadi ee dengan menggunakan ee formula statistik waktu itu kita menemukan jumlah sampelnya itu 400-an dan gimana caranya supaya tersebar yaitu menggunakan machine learning untuk bisa menentukan titik koordinat sampling. Nah, intinya kami bertanya pada orang yang ditemukan di titik koordinat itu mengenai performa CWIS. Jadi kalau di rumah Anda gitu ya ee Anda punya tangki septik yang tangki septik punya enggak? Apakah diangkut tiap hari? Eh sori kok tiap hari 2 tahun sekali gitu ya. Nah kalau iya itu berarti kan kinerjanya tuh besar kinerja safety-nya. Contoh ya contoh. Tapi pada intinya ini pertanyaan ada banyak ya dan kita bisa lihat untuk di kota ini. Ini kota Bandung ee kinerja CWIS-nya cukup baik ya. Kalau kita lihat yang min, yang paling baik itu adalah responsibility dan equity. Eh, safety yang perlu mendapat perhatian adalah resource planning dan management, akcountability dan transparency. Ya, itu dua poin itu ya. Sisanya safety, sustainability, eh equity, dan responsibility. Tapi yang paling menonjol adalah equity dan responsibility-nya. Oke, sekarang kita menuju pada bagian akhir. Sebelum kita Q&A, sebetulnya ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan dulu, ya. Ee pertama, sanitasi adalah hak asasi manusia menurut CWIS. Kedua, adanya kesenjangan implementasi terhadap kelompok rentan. Karena mekanisme pemantauan dan penegakannya susah. Orang saya tanya, "Ada berapa jumlah teman-teman di fabel di dusunnya?" itu menjawabnya juga pusing gitu kan ya kan kita harus bertanyanya layer ya layer by layer kan apa definisi divabel apakah divabel itu artinya yang tidak bisa mobilisasi saja ataukah ee keterbelakangan mental termasuk divabel ataukah orang yang memiliki gangguan kejiwaan termasuk divabel jadi pertanyaan-pertanyaan itu jadi jadi jadi layer gitu jadi lay ketig masalah keuangan dan ketergant gantungan pada perdanaan pemerintah. Oke, ini sering terjadi terutama pada sanitasi. Kenapa sanitasi sekali lagi memiliki aspek psikologi yang berbeda dengan air? Coba kalau air minum ya, ah kalau mahal juga kita akan beli pokoknya saya enggak mau ee merasa haus gitu. Tapi kalau air limbah sama halnya dengan sampah. Ah enggak mau ah enggak mau bayar retribusi, buang aja entar sambil lewat ke sungai gitu. Karena saya tidak akan merasakan dampaknya. Jadi ada ada aspek psikologi yang berbeda di situ. Partisipasi swasta minim karena sanitasi belum menarik secara finansial. Saya koreksi belum menarik karena memang model bisnisnya yang aja yang belum ketemu yang pas gitu. Saya yakin ketika nanti teman-teman dari sekolah bisnis manajemen misalnya ya menemukan model bisnis yang pas untuk sanitasi, menggaasi yang besar ya siapa tahu ya. Who knows? Dan terakhir perencanaan program tidak selalu berpihak pada kelompok rentan sini. Oke, ini ada lagi fokus pemerintah masih pada sanitasi dasar secara umum ya ee belum menjadi aman karena memang ee gap-nya besar, effortnya besar. Lalu sanitasi adalah tanggung jawab bersama tapi sering enggak jelas gitu. Ini kalau misalnya nih tangki septik ee apakah pemerintah harus memberikan subsidi nih atau jatuhnya urusannya pribadi masing-masing lah. Kalau mau sehat ya bikin tangki septiknya gitu. Itu yang mungkin seringkiali menjadi apa shared responsibility tapi yang kejelasannya masih kurang gitu. Terus keterbatasan data dan transparansi kelembagaan terfragmentasi dan kurangi informasi dan keterlibatan masyarakat. gitu. Itu yang ee terjadi ya pada tipikal yang ada di kota-kota di negara berkembang. Bukan hanya Bandung, bukan hanya Jakarta, Solo, bukan hanya di Indonesia, tapi ee negara-negara lain yang mirip konteksnya dengan kita. Nah, ini adalah yang kami usulkan empat langkah, empat jalan atau patway menuju CWIS. Berangkat dari data empirik yang kami temukan tentunya. Yang pertama paling penting adalah komitmen politik dan tata kelola kolaboratif. Kenapa? Karena ee peningkatan layanan sanitasi di kelompok marginal sangat dipengaruhi oleh komitmen politik kepala daerah. Kenapa kira-kira Bapak Ibu? Ada yang mau cerita enggak? Atau menebak atau mungkin ada pengalaman sebelumnya gitu. Kalau enggak ada mungkin saya mau cerita sesuatu yang bukan di Indonesia ya. Jadi ee ada suatu konsep yang lahir dari Amerika Serikat namanya itu ketidakadilan lingkungan. Jadi waktu itu ada peta, saya lihat ya, saya tunjukin nama mahasiswa ini ada peta ee yang warnanya biru tua itu adalah lokasi industri yang ee intensif akan melakukan pencemaran gitu dari karakternya ya. yang warnanya hijau tua itu adalah kumpulan orang etnis ee ya orang dari kelompok kulit hitam atau mungkin bukan hanya kulit hitam ya, pokoknya people of color gitu istilahnya ya, ada Hispanik, ada Arab gitu, ada yang lain-lain ada Asia gitu. Nah, pertanyaan saya itu kok ee Bapak, Ibu, teman-teman bisa lihat kan ee waktu itu saya tanya ya bahwa ee yang biru muda itu ketemu sama hijau tua. Eh, sori yang biru tua ketemu sama hijau tua. Artinya ee kelompok industri itu keberadaannya itu cenderung berdekatan. Dekat banget sama orang-orang yang ee banyak proporsi people of color. Kalau orang kulit putih Kaukasia itu mereka jarang banget tinggal di dekat sama industri gitu. Nah, pertanyaan saya kenapa gitu ee mana gitu ya? Salah satu jawabannya waktu itu adalah karena eh People of Color biasanya lebih cenderung tidak menggunakan suaranya untuk protes gitu. Eh, karena mungkin mereka marginal ya pada saat itu. Orang-orang yang marginal menghadapi mayoritas itu berat sekali dari sisi psikologinya ya. Ee kita cuman berdua, kita mau menghadapi orang 1000 gitu. Protes yang dialami oleh kita yang berdua sementara orang yang seribunya fine-faine aja. Nah, jadi itu yang menyebabkan ee komitmen politik itu sangat penting. Karena dengan adanya komitmen politik, teman-teman ini yang power-nya untuk bisa protes, bisa demand ee pemenuhan haknya itu kadang-kadang ee kurang gitu ya. Jadi itu di situ poinnya yang mungkin apa kenapa jadi penting komitmen politik. Kedua ee sori ini masih di soal tata kelola kolaboratif ya. Ini Pokja itu sudah berjalan lama sekali ya. Dari mulai namanya Pokja apa? AMPL, PPAS, enggak tahu saya sekarang namanya pokjanya apa lagi nih. Tapi saya pikir Pokja itu walaupun dia adc ya, tapi itu bagus banget ya. Dia sangat agile gitu untuk bisa mengatasi masalah klasik yang sering terjadi di Indonesia yaitu egoektoral dan memperkuat koordinasi antar lembaga. Nah, sekarang apakah kan Pokja itu kan ee biasanya hanya pemerintah ya gitu. apa ee kita punya enggak sih platform yang anggotanya tuh lebih luas lagi ada pemerintah, ada swasta, dan ada akademisi tuh. Nah, kemudian ee pemasaran sanitasi dan penguatan kapasitas ini menjadi penting juga karena adanya pergeseran paradigma yang tadi kan kita dituntut oleh CWIS ya. Dengan adanya pergeseran paradigma tentunya mindset kita juga harus berubah gitu. ee mindsetnya berubah, bisnis prosesnya jadi berubah juga. Ee ketika kita sudah punya mindset, sudah punya motivasi untuk mengubah bisnis proses, yang tersisa adalah penguatan kapasitas supaya kita tahu caranya bagaimana. Ketika kita sudah berubah, kita bisa perform gitu. Nah, itu ya. Jadi ee dalam hal ini yang perlu diberikan perubahan mindset dan penguatan kapasitas tuh banyak banget. tadi kita kembali lagi ke rantai pasok layanan sanitasi ya yang aktornya beda-beda. Tiga, model bisnis dan skema pembiayaan berkelanjutan. Ini penting. Kenapa? Karena seringki katakanlah ee kita bisa ngumpul-ngumpulin uang gitu ya, udunan untuk membangunnya. Tapi begitu memeliharanya yang butuh komitmen. Setidaknya dalam jangka waktu usia pakai 20 tahun gitu ya. Ya, itu yang mentok tuh gitu. Jadi, gimana nih bisnis modelnya, skema pembiayaan berkelanjutannya seperti apa untuk sanutasi. Yang terakhir adalah knowledge management atau manajemen pengetahuan dan transparansi data. Ini penting banget nih untuk ee supaya enggak ada hambatan dalam pemantauan, evaluasi, dan perencanaan sanitasi. intervensinya diperlukan untuk membenahi fragmentasi dan membuka akses data antar lembaga pemerintah. Oke. Nah, ini adalah sesuatu yang saya ingin Bapak dan Ibu pikirkan ya bersama. Ee jadi apakah sanitasi di daerah saya benar-benar inklusif? Mungkin ee ini adalah bagian dari instrumen yang kami kembangkan bersama dengan mahasiswa. Tapi pertanyaannya banyak sebetulnya. Cuman ini saya ambil empat pertanyaan dulu aja. Ini mohon menjadi bahan refleksi ya. Pemerintah daerah saya punya komitmen kuat terhadap sanitasi. Apa buktinya gitu? Pemerintah di kota saya peduli pada pengelolaan air limbah. Apakah ada di dalam RPJMN RPJPD gitu ya, RPJMD gitu. Saya tahu siapa yang bertanggung jawab terhadap sistem sanitasi di tempat saya. Ini ngomongin kelembagaan ya. Kalau kita tahu siapa artinya set up kelembagaannya sudah baik, sudah disosialisasikan dan diseminasikan. Dan terakhir ini terkait dengan outcomes-nya akses sanitasi di kota saya sudah adil dan aman. Ya, itu adalah pertanyaan refleksi yang mudah-mudahan bisa dibawa pulang tapi bisa juga didiskusikan bersama pada saat Q&A. Oke, ini juga mangga ee terakhir nanti ya setelah QN aja. Dari saya penutup, sanitasi adalah hak asasi, bukan layanan tambahan. Jadi, enggak bisa disambil-sambil. Dan tantangan laginya adalah bagaimana kita memastikan bahwa suara kelompok yang paling terdampak tidak hilang. Itu terakhir ini saya akan mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa-mahasiswa dan kolega saya yang sama-sama meneliti dalam bidang CWIS. Demikian Bu ee Dini, terima kasih ya. Baik, terima kasih kepada Ibu Andria atas pematerian yang sangat menarik sekali ini terutama terkait inklusif ee tentang sanitasi yang mungkin masih menjadi tantangan di Indonesia karena masih ee kurangnya kesadaran atau pemahaman dari ya dari pemerintah ataupun kesadaran masyarakat. Baik, ee kita akan lanjutkan lagi pada sesi tanya jawab dari Slidu terlebih dahulu. Di sini saya akan tampilkan ee di sini kami sudah melakukan ee rekap dari pertanyaan dan ada seman pertanyaan. Mungkin kepada Ibu Anindria bisa langsung saja dijawab pertanyaannya satu persatu. Oke. Ah, nomor satu saya enggak tahu, saya enggak punya di kepala saya ya ee nomornya gitu, tapi ada SNI tentang tangki septik. Ee tapi kalau tangki septik itu berarti ee dia baru me apa ya istilahnya melingkupi satu elemen kecil dari safety begitu ya. Karena kan tangki septik yang aman itu salah satunya enggak boleh kedap, harus ada bidang resapan dan sebagainya lah. Secara teknis itu ada pada SNI, cuma saya enggak hafal nomor SNI-nya ya. Ee Mbak ee Ibu Najwa nanti mungkin bisa dibrowsing. Tapi yang jelas untuk ee SNI Tangkiseptik itu baru ee sedikit dari enam elemen CWIS tadi gitu ya. untuk menghitung kebutuhan prasarana juga sebetulnya ee akan sangat kontekstual. Itu dulu mungkin untuk yang nomor satu ya. Baik, dilanjutkan dengan pertanyaan nomor dua, Ibu. Oke, nomor dua. Eh, tangki septik kedap air belum ada jaringan limbah domestik hingga outletnya ke drainas. Ya, ini juga memang apa namanya ee jadi permasalahan terutama di kota begitu ya. Karena kan maunya kan memang ada ee apa namanya ee bidang resapan dan sebagainya gitu. Jaringan limbah domestik juga belum ada. Tapi ini manual booknya manual book apa dulu nih gitu. Kalau manual book-nya dari produsen tangki septiknya ee kita harus cross checking ke SNI-nya gitu. Karena ee apa ya istilahnya pelaku swasta ee operator swasta atau pelaku swasta yang melakukan bisnis di bidang sanitasi juga belum tentu well inform mengenai prinsip-prinsip dasar dari sanitasi yang aman gitu. Jadi tadi mohon dicek dulu manual booknya itu ee manual book yang mana gitu Bu ya. Kalau manual book-nya produsennya ya bisa jadi gitu bahwa itu sebetulnya ee apa ee belum ada pemahaman yang baik karena kalau udah dari tang e tangki septik ya yang pasti memang harus dikosongkan gitu. Oke terus kemudian tadi berikutnya langsung ya Mbak Dini ya. Iya di kota di Jabar yang memanfaatkan potensi biogas di limbah tangki septik. Nah, saya belum terinformasikan soal ini ee tapi ini menarik nih konsepnya infrastrukturnya biaya gitu. Ee oke, saya kalau dari sisi teknis Bapak dan Ibu kan mungkin sudah terbayang ya, cuman ee saya melihat ada drivers dan barriernya itu adalah masalah sosiokulturalnya, pemanfaatan resource ini ya kan biogas dari limbah eh septic tank. Karena si limbah tangkis septik sebetulnya kan kalau udah dijadiin biogas kan ya tingkat keamanannya kan baik-baik aja ya. Cuma di sini akan ada elemen masalah disgasnya, penerimaannya, public acceptance. Mau enggak nih dari tangki septik dijadiin buat masak gitu ya. Itu salah satu yang ee saya meneliti yang mirip tapi lebih ke arah reclaim water ya atau air daur ulang digunakan untuk keperluan domestik. Kalau ngelihat dari hasil penelitian saya, jadi saya menjawabnya dengan anal apa ee berefleksi pada penelitian yang ini yaitu tadi bahwa sebetulnya secara teknis itu mampu bisa dilakukan tapi orang tidak mau menerima untuk ee penggunaan-penggunaan tertentu. Jadi kalau air buangan yang di apa? air buangan yang diolah kembali ada berbagai penggunaan yang mungkin buat nyiram tanaman, nonpotable, non domestik itu ya buat menyiram kebakaran gitu atau yang nonpotable domestik kayak misalnya buat cuci-cuci gitu ya ee di buat ee cuci motor, cuci rumah, buat ngepel gitu. Ada yang ee non sori domestik, nonpotable tapi kontak buat mandi gitu. Terus ada lagi yang domestik kontak potable diminum lagi gitu. Nah, itu penerimaannya tuh beda-beda untuk setiap penggunaan. Jadi kalau mau menggunakan ee limbah dari septic tank untuk biogas, nah itu penggunaannya karena kalau biogasnya untuk kompor gitu, maka ee ya harus dilihat lagi public acceptance-nya seperti apa. Itu yang paling buat saya ee mendasar sekali ya. Nanti kalau misalnya oh penerimaannya ee tergantung nih arahannya gimana. Kalau penerimaannya bagus maka ya sudah gas aja kan gitu ya ee di dilakukan program ini. Tapi kalau penerimaannya jelek ada dua opsi. Apakah kita tidak akan lakukan program ini atau kita akan melakukan sanitation marketing supaya acceptance-nya naik gitu. Itu mungkin nomor selanjutnya tangki septik yang bagus. Nah, itu tadi ya sebetulnya seperti yang saya sampaikan, konsep tangki septik yang bagus adalah yang dikuras setiap 23 tahun sekali karena dia kan kedap ya tadi. Kalau kalau tidak dikuras tapi udah ee tapi enggak apa-apa ya saya khawatir ada rembesan keluar gitu yang bisa mencemari air tanah di rumah. Nah, ini developer ini menarik sekali. Oke, kalau developer ini juga saya ini adalah fenomena yang sudah mulai dibahas di Kementerian Lingkungan Hidup saya rasa saya eh sori sori salah Kementerian Pekerjaan Umum PU ya ee saya waktu itu berdiskusi dengan salah seorang staf di PU ee beliau tuh kemarin concern soal ini ee developer gitu. Nah, jadi memang ee ada banyak developer yang bandel juga ya gitu ya, di mana janjinya ada pengeluaran limbah tapi ternyata enggak benar dilakukannya gitu. Terus ada lagi developer yang memang sudah bagus berkomitmen karena punya branding sustainability, punya branding green living gitu ya. Jadi mereka serius melakukan itu. Tapi saat ini masih scattered sekali gitu. Eh, saya juga tinggal di sebuah kawasan yang dikembangkan oleh developer dan si orang dari apa tahun manajemennya cerita soal air ya kemarin ya. I dari pemerintah daerah itu memberikan waktu 3 tahun agar air kami harus memenuhi syarat kesehatan yang minum bukan lagi yang sanitasi katanya gitu. Oh, itu bagus berarti ya. artinya sudah ada kewajiban dari pemerintah daerah untuk meningkatkan kinerja developer sebagai penyelenggara layanan gitu. Nah, jadi sudah dimulai saya pikir tapi mungkin ee harus lebih dikomunikasikan lagi supaya warga tahu juga. Jadi warga juga ya orang yang tinggal di apa di perumahan itu bisa menuntut tuh ke tol manajemen atau ke developernya ya karena janjinya harusnya kan semuanya itu baik gitu. Oke, next. ee strategi yang optimal dalam pengaplikasian program ke masyarakat daerah yang minim pengetahuan gitu ya. Nah, ee oke. Nah, ini kalau saya biasa melihat masalah ini tuh ada elemen pengetahuan di sini, ada elemen willingness atau keinginan. Orang yang tahu eh orang yang tidak tahu mungkin dia enggak mau, tapi enggak maunya karena enggak tahu. Tapi begitu orang itu tahu, dikasih tahu, belum tentu orang tuh mau malah ngeyel, enggak mau gitu ya. itu misalnya kayak ada orang yang ee merokok itu apa menimbulkan impotensi dan gangguan janin karena dia tadinya enggak tahu dia ngerokok aja terus ya. Tapi begitu dikasih tahu oleh si ininya di dalam bungkus rokoknya merokok menyebabkan gangguan kehamilan jantung janin impotensi dan lain-lain ya kanker gitu. Tapi orangnya kan tahu tapi enggak mau berhenti. Tetap aja gitu. Jadi kadang-kadang ee apa untuk melakukan program itu tidak sesederhana memberitahu masyarakat dengan pendekatan public health. Bapak jangan BABS. Kalau Bapak BABS nanti Bapak bisa kena diare. Gitu kan. Itu ngasih tahu ya. Memberitahu kalau PABS itu bisa menyebabkan diare. Nanti jawabannya saya sudah BABS selama 20 tahun diare jarang-jarang gitu kan. Jadinya ee susah gitu. Jadi kadang-kadang eh strategi behavior change itu tuh banyak sekali tekniknya. Ada yang dan itu tergantung dari kondisi masyarakatnya. Masyarakatnya percaya dengan tetua adat, nurutnya sama tetua adat, maka behavior change-nya masuknya lewat tetua adat. Masyarakatnya ee percaya dengan influencer yang ada di TikTok gitu. Maka influencer di TikToknya itu kalau ngomong jangan ngomong tangk septik itu yang baik. tidak boleh di apa enggak usah dikuras gitu. Jadi itu jadi ee tadi ya strategi behavior change bisa melalui banyak moda dan strategi. Oke, next one dari Pak Budi Legowo. Ee ini tentang sampah ya, Pak ya. Limbah padat ya. Selain dana ini dia sama seperti sanitasi yang sifatnya offside. Saya memandang sampah itu kompleks. Kenapa? Karena aktornya banyak banget, Pak. Itu bukan satu rantai ya dipegang sama Dinas Kebersihan ya, Bu ya, Bapak ya. Biasanya ya tadi nanti dari rumah tanggung jawab rumah masing-masing kan ya. Mau milah apa enggak, mau mengurangi sampah atau enggak, ee mau ngompos atau enggak gitu. Di situ nanti ee kalau dikatakanlah dikompos di rumah baru nanti yang bocornya keluar itulah yang dikelola. Biasanya di situ yang tanggung jawab juga RT ya. Nanti RT yang nanggung jawab dia ngambil sampah masuk ke TPS. Nah, dari TPS sudah bukan tanggung jawab RT. Biasanya nanti masuk ke baru dinas gitu sampai ke TPA. Jadi sudah gitu nanti di sepanjang rantai itu tuh ada aktor-aktor lain, ada pemulung, ada recycler gitu ya, ada yang lain gitu. Jadi ee rumitnya itu adalah sebenarnya kelembagaan ya, Pak gitu. behavior change, kelembagaan, soal dana tentu saja gitu ya, tapi ee dana pun dibuat menjadi lebih rumit karena tadi banyaknya aktor yang terlibat dalam rantai layanannya. Ya, begitu Pak untuk yang sampah ee Budi. Terima kasih. Kemudian cara melaksanakan integrasi produk hukum pusat daerah dan teknisme. Nah, oke. Ini juga sering banget terjadi ya ee antara pusat dan daerah. Tapi saya pikir kalau ini kita pakai konsepnya ini, Pak, multievel governance gitu. Jadi ee kelembagaan itu tuh ada yang horizontal dan ada yang vertikal ya gitu ya. dan hubungannya itu menjadi ee unik di era desentralisasi sekarang semenjak 2001 di mana daerah tidak lagi menjawab ke pusat. Artinya hubungannya itu ee katakannya gini misalnya ini tuh ada kasus Citarum ya. Citarum itu segmen melewati belasan kabupaten kota ketika ada pencemaran di hulu yang merupakan kewenangan wilayah dari Kabupaten X gitu. Kemudian di bawah kabupaten Y-nya kena sampahnya. Tapi gimana caranya kabupaten Y bisa mendapatkan dis insentif ya atau punishment gitu. Karena itu karena susah hubungannya tuh ee antar sesama daerah. Jadi menurut saya ini jawabannya rumit dan kalau kita bicara produk hukum ya ini juga suatu hal yang mahal. Artinya untuk bisa membuat sebuah produk hukum sampai jadi itu kan mahal dan cukup panjang jalannya. Tapi ya salah satunya sih harusnya bisa difasilitasi oleh para ahli ya gitu ya. Ee setidaknya untuk menyusun naskah akademik dan juga melihat secara holistik permasalahan antara pusat dan daerah. Teknis monitoring pendataan yang ideal. Nah, ini juga ini sebagai bentuk dari knowledge management gitu ya. Eh, itu yang kalau menurut saya itulah salah satu di mana Indonesia ini masih kurang sekali knowledge management. Kadang-kadang kita tuh nanya data ke suatu daerah, kadang-kadang yang ke ITB juga sama lah ya, ke direktorat apa gitu. Nanya data oh datanya udah di si Ibu itu, tapi kemarin Ibu itu sudah resign gitu. Jadi ada turnover staff mempengaruhi eh knowledge managemennya gitu. Padahal sebenarnya harusnya enggak enggak begitu. Jadi monitoring pendataan perlu governance-nya sendiri, perlu tata kelolanya sendiri. Gimana cara kita membangun sebuah sistem yang memudahkan pendataan yang ideal? Nah, saya enggak bisa menjawab apa yang ideal itu karena setiap daerah pasti punya ee kebutuhan yang beda-beda. Mungkin begitu, Mbak Anisa. Dan dari Pak Budi ya tadi regulasi pembuangan sampah di perbatasan daerah. Ee adakah koordinasi daerah dalam pembuangan sampah? Nah, ini tadi tadi saya sudah sedikit menjawab itu dengan ee apa melalui yang apa tadi ee Sungai Citarum ya. Kalau berkaca pada Belanda misalnya, Belanda itu menganut one river one management. Jadi sama kayak kita, kita punya BBS tuh Balai Besar wilayah sungai ya gitu ya yang harusnya dia tuh one river one management juga. Artinya semua yang terkait sungai itu walaupun dilewati oleh berbagai kabupaten kota ada dalam kewenangannya si kita sebutnya waterboard kalau di Belanda gitu. Jadi kalau ada perbatasan ee kota A sama kota B ya tetap aja itu punyanya ee wewenangnya si waterboard gitu. Nanti si GT-nya atau si apa itu diperlakukan sebagai klien yang akan membeli air yang dialokasikan untuk kebutuhan domestik. Nah, kira-kira tuh seperti itu contoh kelembagaannya. Di Indonesia kita punya kalau di spam aja ya ee kalau wilayahnya itu sudah jadi perbatasan, maka ditarik ke spam regional oleh yang dikelola oleh levelnya provinsi gitu. Dan kalau ada batas antar provinsi dikelolanya lebih ke pusat lagi. Jadi ee itu bisa diatasi dengan tadi multivel governance tadi itu. Cuman memang implementasinya tidak semudah itu. Karena kadang-kadang daerah yang ini punya kepentingan, daerah ini punya keinginan kepentingan jadi enggak ketemu kepentingannya. Nah, itu itu yang membuat itu jadi lebih beyond textbook gitu ya. Begitu Bu Dini yang ada di slide. Iya. Baik, terima kasih Ibu Anindria atas jawabannya dan kita langsung lanjut pada sesi pertanyaan langsung dari peserta Zoom. Di sini saya akan batasi dulu kepada dua penanya saja. Dipersilakan kepada Bapak dan Ibu yang ingin berdiskusi langsung bisa menggunakan fitur rise hand. Ya, mungkin ee saya ulangi lagi, dipersilakan kepada Bapak dan Ibu semuanya yang ingin berdiskusi langsung bisa saja langsung menggunakan fitur rise hand. Di sini saya akan memberi batas waktu selama 1 menit terlebih dahulu. Barangkali barangkali Bapak dan Ibu masih memikirkan untuk pertanyaannya. Enggak, Bapak, Ibu. Kalau enggak ada di sini juga nanti enggak apa-apa boleh lewat email barangkali ingin berkotak atau Linkin. Saya juga ada Linkin. Ee sepertinya tidak ada ya, Ibu Anindria. Baik, saya akan tulis di chat untuk linkin-nya ya. I. Baik kalau gitu bagi Bapak Ibu yang emang masih ee apa ya berpikir untuk pertanyaannya bisa diskusi langsung yang sudah di-share oleh Ibu Anendria sendiri di kolom chat. Oh, di sini sudah ada Pak Irza yang Rign. Dipersilakan kepada Pak Irza untuk langsung memberikan pertanyaan. Terima kasih, Bu. Ee saya dari Pemda Tanah Datftar. ee kebetulan kita ee terkait IPLT punya tapi kembali terkendala operasionalnya ee apa masalah tanah dan jadi sudah dibangun oleh provinsi tetapi sampai saat ini belum juga operasional sehingga kita di LH ee kesulitan dalam ee menertibkan jadi datang dari luar kemudian entah ke mana ee pengolahannya. Nah, jadi ee kesulitannya makanya saya tadi buat responsibility ee rasa tanggung jawab ee itu kan kebutuhan dasar sekali. Sementara ee tidak mungkin hanya karena alasan ee APBD apa pemotongan anggaran dan sebagainya. Sementara lingkungan ee itu menghasilkan limbah yang setiap hari dan sudah menjadi apa? capaian untuk pembangunan berkelanjutan ya kan. Nah, jadi ee mungkin ada pengalaman di daerah lain yang bisa di-share sehingga ee permasalahan ini bisa terselesaikan. Terima kasih Ibu. Asalamualaikum. Waalaikumsalam. Dipersilakan kepada Iburia langsung untuk menjawab. Baik. Baik. Terima kasih. Terima kasih Bu Irza. Itu pertanyaannya penting sekali Bu. Ini itu tuh tarik-tarikan sebetulnya kita tuh rebutan kuehnya gitu ya. Karena tadi kue anggarannya segitu gitu. Tapi ee kenapa ya kok tidak diprioritaskan untuk kebutuhan dasar gitu? Pada tahun 2000 berapa ya saya dulu ya 18 rasanya saya tuh pernah melihat data ee berapa persentase APBD bahkan sebelum ada pemotongan anggaran ya Bu ya ee berapa sih data APBD yang dialokasikan untuk infrastruktur dasar ini yaitu air minum sanitasi. Saya cukup tercengang melihat angkanya itu rata-rata nasional adalah 2 kom% dari total APBD ya gitu ya. Padahal ee tadi seperti Ibu Iza bilang ya, bahwa kita ini kan tiap hari mengeluarkan buangan itu urgen sekali untuk diatasi gitu. Dan ee apa ya pola atau kecenderungan itu juga masih saya lihat pada ketika membicarakan ee risiko lingkungan dalam dokumen-dokumen KLHs gitu. Karena ee biasanya tuh yang jadi isu adalah perubahan iklim ee atau risiko-risiko lingkungan lain. Memang itu juga e urgen gitu ya. Tapi untuk sanitasi dan ee air minum sebetulnya dengan adanya apa tekanan lingkungan yang lain kayak perubahan iklim justru sanitasi dan air yang kuat itu bisa menjadi kapasitas adaptif yang sangat strong gitu loh. Jadi ya memang eh apa apa tadi responsibility ya tadi Buza ya itu belum di-share ee secara apa terinternalisasi begitulah ee bukan hanya di ee yang menentukan anggaran ya tapi juga yang melaksanakan dan ee bahkan saya sebagai warga gitu mungkin juga tidak cukup memiliki responsibility untuk melakukan apa yang saya bisa gitu. mungkin dalam kapasitas saya sebagai peneliti ee saya harus lebih getol lagi ya melakukan yang namanya research translation gitu. Dari res itu saya pengin banget jadi sesuatu yang bermakna gitu ya seperti yang hari ini saya lakukan. Ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab saya sebagai akademisi gitu. Tapi e tentunya bahwa kita semua punya responsibility yang berbeda-beda gitu ya. Dan kalau ee tadi Ibu nanya tentang best practice gitu ya, eh itu tadi ya eh sebetulnya value preposition-nya mungkin yang belum ketemu. Karena contoh yang dari tadi Nusa Tenggara itu tadinya ee apa namanya? Ketika enggak ada COVID ya ee sektor wisata itu enggak pernah ngomongin ee sanitasi tapi terus COVID kan. Lalu eh menteri pada waktu itu saya ingat Pak Sandiaga Uno ee beliau tuh punya program toilet gitu. Toilet di destinasi wisata tuh saya ingat banget langsung wah wah ini pas banget dengan kemelan saya gitu ya bahwa ternyata ee ee Pak Menteri dulu ya menyambungkan toilet dengan citra destinasi wisata gitu. Nah, di situlah salah satu bentuk ee adanya disrupsi yang qadarullahnya COVID yang kita sendiri juga enggak mau yang suatu yang negatif ya, yang membuat adanya eh responsibility gitu di untuk memasukkan ee wisata apa tadi ee itu ya ke dalam destinasi wisata, ke dalam sebuah perencanaan daerah dengan sangat intens gitu. Jadi toilet jadi bagian yang sangat penting, sanitasi itu penting gitu ya. Apakah gitu ya, diperlukan disrupsi yang seperti itu dulu kan jangan sampai ya Bu ya. Tetapi pada intinya saya pikir memang kalau melihat dari berbagai pengalaman yang sudah lampau selalu perlu disrupsi untuk bisa berubah, untuk bisa mengambil tanggung jawab itu. Walaupun saya enggak mau, saya juga kita berharap bahwa disrupsinya adalah sesuatu yang buruk ya. Bisa jadi disrupsi itu adalah sesuatu yang baik. Mungkin begitu Bu Irza. dipersilakan kepada Bu Irzih karena sudah cukup. Baik, untuk selanjutnya dipersilakan ee satu penanya lagi. Barangkali masih ada yang ingin didiskusikan secara langsung dengan Ibu Anendria. Mungkin di sini saya akan memberikan waktu 1 menit kepada Bapak dan Ibu semuanya. Barangkali masih ada yang ingin didiskusikan langsung terkait sanitasi dengan Ibu Antea. Ya, dipersilakan kepada Bapak Ramli. Ee cek apakah suara saya terdengar? Ee sudah terdengar, Pak. Oh, I terima kasih banyak. Salam kenal, Bu Anindia. Ee saya Pak Ramli dari Sulawesi Tenggara. Ee saya ingin bertanya seperti ini. Di daerah kami itu di Sulawesi Tenggara ada 17 kabupaten kota dan hanya ada satu kabupaten kota yang tidak punya pesisir. Artinya 16 kabupaten kota itu punya pesisir dan rata-rata tinggal di ee pesisir pantai atau di atas laut begitu. Nah, ee bisa diberikan ee teknologi atau mungkin rekomendasi terkait dengan ee apa ee sanitasi di atas laut begitu khususnya misalnya kayak teman-teman kita suku Bajo dan seterusnya karena di tempat kami banyak sekali begitu. ee kemarin ee faktual di lapangannya rata-rata mereka memakai dua. Yang pertama itu fabrikasi ee tapi tidak berhasil di beberapa tempat fabrikasinya justru dijadikan apa septik sanitasi itu yang warna hitam yang kapasitas 5 KK itu dijadikan sebagai tempat air oleh mereka tidak dijadikan sebagai tangis septik. Kemudian ada beberapa di mana ee tangis septiknya itu tenggelam ketika air pasang begitu. Nah, ini bagaimana? Terus yang kedua ada juga yang membuat dari cincin. Cincin sumur yang diameternya sekitar 50 cent ditam disusun 3 sampai 4 sehingga tingginya sekitar 1,5 m sampai 2 m. Di mana di bawahnya itu di beton begitu. Jadi tidak terkena langsung dengan tanah begitu. E di situ tinjanya di dimasukkan dan dia pasang surut naik naik turun begitu. Apakah metodologi itu sudah tepat ataukah ada metodologi lain? Ee seperti itu, Bu. Terima kasih. Baik, terima kasih banyak, Bapak. Ini ini studi kasus yang ee pelik ya, karena ee sanitasi itu ada sanitasi perkotaan, ada sanitasi wilayah khusus, terutama pesisir menjadi salah satu yang secara geografi dan morfologi itu ee ada tantangan spesifiknya ya, Pak, ya. Nah, ee kalau saya biasanya ketika kita bicara solusi itu solusi ee tidak hanya solusi teknis, tapi juga solusi sosioteknis gitu. Karena tadi seperti yang Bapak sampaikan ya, oh ternyata ada ada elemen behavior juga di situ gitu. Tadi yang disampaikan ee sepertinya secara teknologi itu sudah ee konsepnya sih sudah betul Pak ya, bahwa kita memerlukan sistem modular kompak yang bisa dipasang di daerah yang terbatas atau bisa mengambang ketika dia pasang begitu ya. hanya nanti kan tinggal robusness ya atau ee apa ketahanan dari teknologi tersebut untuk bisa mempertahankan fungsinya ya dalam kondisi apa ee kondisi-kondisi parameter-parameter kondisi yang spesifik untuk daerah tersebut gitu. Terus kemudian juga ee yang mungkin kalau kalau daerahnya tidak langsung di atas air gitu ya, masih bisa menggunakan IPALS komunal kalau skala kecil dengan sistem biofilter misalnya atau constructed wland yang cocok untuk lingkungan pesisir. Tapi kalau di atas air sepertinya tadi satu-satunya cara adalah teknologi onside-nya yang tahan air laut dan tanah lunak gitu. Nah, kemudian tapi tetap saja bahwa ketika kita bicara tangki septik itu tetap harus di ee amankan begitu ya. Nah, sekarang itu adalah salah satu tantangannya juga gitu. Apakah sistem penyedotan tangki septiknya kalau dia berada di air itu dengan menggunakan kendaraan yang berbeda gitu ya dan sebagainya. Tapi yang jelas ee solusi teknis itu harus dibarengi dengan aspek sosialnya gitu ya. ee bisa jadi kalau misalnya tadi misalnya warga diberikan itu tapi menggunakannya untuk hal peruntukan yang berbeda sehingga tujuan dari teknologinya tidak tercapai. Nah, itu mungkin yang ee cukup rumit gitu. Itu dulu mungkin, Pak. Bagaimana, Pak Romli? Apakah pertanyaan eh apakah jawabannya sudah cukup? Em, mungkin bisa jadi studi lanjutan mungkin Bu Nil. E, contoh kasus misalnya Kabupaten Wakatobi. Wakat itu terdiri ya terdiri dari ee apa empat ee pulau besar. Ada Wangi-wangi, Kalidupa, Tomia, dan Minongko. IPLT itu hanya dibangun di Pulau Wangi-wangi, sedangkan tiga pulau lainnya itu tidak ada IPLT begitu. Ee sedangkan ee penduduknya ini merata. Memang yang paling banyak di Wangi-wangi tapi di Kalidupomia dan Minungko juga kan ee menghasilkan limbah. Nah, seperti itu. Selama ini masyarakat di sana karena topografinya itu berpori besar sehingga mereka mencari lubang untuk dimasukkan ke dalam sela-sela lubang itu. Jadi ee tekstur tanahnya Bu Nilia itu berkarang begitu, berbatu-batu besar berkarang begitu. mereka masukkan ke situ ee pipa limbah pinjanya dengan asumsi bahwa kalau dimasukkan ke situ tidak akan tidak akan penuh tangki settingnya begitu. Itu yang terjadi begitu. Betul. Betul. Ee ya sedangkan kan ee mereka ini kekurangan air dan rata-rata air di mereka itu berasal dari air gua begitu. Airmartesis di dalam gua. Nah, ini kan kontradiktif tadi kan dijelaskan kalau apa kalau sanitasinya tidak digunakan dengan baik nanti mereimplikasi terhadap lingkungan. Nah, di sana begitu Bu kejadiannya begitu. Kalau kita mau apa namanya bikin tangkai septik yang dia itu kita gali, masalahnya di sana tanahnya tanah bercadas begitu. Kalau linggis itu, Bu, kalau di Palu itu ee percikan apinya tuh kelihatan begitu. Jadi perlu breaker untuk bisa menggali. Jadi mereka tuh ee apa kalau menggali itu agak sulit begitu. Nah, ini kira-kira ada solusi enggak, Bu kondisi yang seperti itu? Terima kasih. Oke, kalau solusi saya harus main dulu ke sana nih, Paknya untuk lihat nih. Tapi yang jelas ee ini adalah ee bentuk sanitasi yang menantang ya. Karena kadang-kadang ee ketika kita ngomongin sanitasi kan ada viabilitas finansial dan ekonomi juga ya gitu. Ee untuk daerah yang non perkotaan itu kadang-kadang viabilitasnya itu kalau kita mau menggunakan infrastruktur ee itu kecil karena ee skalanya tuh enggak masuk gitu. economy of scale-nya tuh enggak masuk gitu. Nah, jadi dengan adanya constrain finance apa ya constrain finansial tersebut maka teknologinya itu ee akan jadi mahal gitu, Pak. Tapi dalam ini yang harus kita kaji sebetulnya itu ee sebetulnya Bapak malah memberikan ide sih untuk kajian ya, bagaimana untuk bisa menghadapi tantangan morfologi seperti yang tadi Bapak sampaikan dengan kepulauan juga begitu ya, dengan ee tingkat penduduk yang mungkin tidak memenuhi economy of scale gitu ya. Dalam hal ini tentunya ee kami sebagai peneliti memandang itu sebagai tantangan yang menarik untuk diteliti ya gitu. Cuma saya juga ingin tahu juga ya ee IPLT-nya kenapa hanya dibangun di satu pulau? Apakah karena memang ee pendanaan gitu, Pak, yang terbatas? Bagaimana, Pak Ramli? Iya. Tadi masih di-mute jadi enggak bisa ngomong. Ee iya. Jadi ee biaya konstruksinya mahal Bu. Nah, karena kan dia di kepulauan dan dia masuk dalam kawasan taman nasional sehingga seperti pasir, besi, kemudian semen itu diambil dari luar Wakatobi begitu. Nah, posisi koperasi Wakatobi ini kan kepulauan. Betul. Nah, jadi kita itu naik sekitar 10 sampai 15%. Jadi kalau misalnya bikin PLT 6 miliar berarti 6 miliar ditambah 10 sampai 15% karena mobilisasi biaya itu yang membuat dia besar. Itu baru sampai di Wangi-wangi Bu. Terus nanti kalau dari Wangi-wangi mau ke Kalidupa nambah lagi jambah sekitar 3 sampai 5% lagi biayanya begitu. Nah, itu sih kendalanya karena kenapa hanya di di mana di Wangi-wangi saja ada IPLT sedangkan di 30nya ee tidak ada. mungkin ke depannya pemerintah akan ke arah sana begitu. Hanya kan kembali lagi masalah pembiayaan ee karena ruang lingkup pembicaraan kita ini adalah ee penelitian begitu. Makanya saya bertanya apakah ada begitu ee solusi atau penelitian terkait dengan hal semacam itu. Ee selain di Wakatobi sebenarnya ada juga Bu ee kami punya wilayah namanya ee Batu Atas begitu. Itu di Kabupaten Buton Selatan. ee pulau ini di tengah-tengah samudra begitu ee ya sekitar 40 mil dari bibir pantai. Dia ini posisinya antara pulau Sulawesi dengan gugusan NTT dan NTB. Begitu dia di hampir hampir tengah-tengah begitu posisinya bisa dicek di Google Earth. Penduduknya itu kurang lebih sekitar ee 12.000 jiwaan begitu. Ada enam desa di sana. Kondisinya sama Bu seperti seperti di Wakatobi begitu. di sana tidak ada IPLT begitu. Jadi masyarakat kalau yang tinggal di pesisir ya buang langsung ke pesisir begitu ya. Begitu apa pasang mereka buang hajat begitu begitu surut ya hajatnya kelihatan begitu. Iya. Ya, makanya tadi di awal pertanyaan saya apakah ada teknologi yang memungkinkan untuk kita gunakan ee seperti itu untuk divisi ya. Ee ee mungkin terakhir ini sharing saja begitu ee kepada teman-teman di kabupaten kota yang lainnya terkait dengan masalah apa IPL kayaknya dan pendanaan setahu saya begitu. Ee ee tadi kayak ee pertanyaan sebelumnya ya begitu ee saya tertarik juga untuk mengomentari. Setahu saya ketika bantuan dari pemerintah pusat itu datang, masalah legalitas lahan itu menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan. Ee masalahnya biasanya adalah serah terima proyek tersebut itu tidak diamini oleh pemerintah daerah karena satu dalam hal misalnya ada satu yang sudah tidak berfungsi atau yang lainnya. ee sehingga tidak mau serah terima ee terbengkalai dan tidak dimanfaatkan. Sering sekali terjadinya seperti itu di daerah begitu. Ee solusinya seperti apa? Ee baiknya di mitigasi saja Bu begitu. Kebutuhan dananya berapa sih untuk memperbaiki? ee kemudian ee Ibu dari DLH itu berkomunikasi dengan teman-teman di PUPR kemudian ketemu dengan Kementerian Balai Cipta Karya atau BPPW kalau di provinsi Balai Prasaran Penemukiman Wilayah ketemu dengan bagian perencanaan atau ke bagian PPK sanitasinya disampaikan begitu kira-kira dari bantuan pemerintah itu berapa bisa diberikan bantuan, kemudian dari komitmen daerah itu berapa. Kalau di daerah ternyata juga defisit anggaran, maka bisa dilihat Bu potensi pendanaan lainnya itu dari mana. Kalau daerah Ibu banyak tambang atau misalnya banyak pengusaha, maka melalui Forum POGOJA. Nah, sekarang kan sudah ada forum POGA Bu tahun 2020 itu yang nomor 20 tahun 2020 kan ada forum POGA. Nanti ibu panggil mereka minta CSR-nya seperti itu. Di Kabupaten Kolaka di Sulawesi Tenggara itu dilaksanakan Bu begitu sehingga mereka mendapatkan banyak bantuan dari CSR karena banyaknya tambang di sana. Ee cara-cara seperti ini bisa digunakan juga oleh ee kabupaten kota yang lainnya atau misalnya kayak di Bantaeng. Di Bantaeng itu karena apa? bupatinya itu mempunyai relasi dengan pihak Jepang begitu sehingga banyak ee apa perusahaan-perusahaan dari luar begitu yang CSR-nya bisa dialihkan ke Bantaeng sehingga Bantaeng itu mempunyai banyak dana hibah. Nah, seperti itu sih Bu ee sharing-nya. Kalau mau diskusi lebih lanjut nanti bisalah begitu. Terima kasih banyak ya. Terima kasih banyak Pak. Itu alternatif pendanaan penting ya Pak ya untuk diidentifikasi ya. tadi saya note juga nanti mudah-mudahan kita bisa diskusi lebih lanjut. Terima kasih banyak. Iya. Baik, ini karena adanya keterbatasan waktu mungkin untuk sesi tanya jawab kita cukupkan. Dan kepada Bapak dan Ibu yang masih ingin berdiskusi dengan Ibu Anindria, tadi Ibu Anindria sudah memberikan kontaknya, bisa langsung saja hubungi Ibu Anindria di Linkin ataupun lewat email yang sudah tertera di chat Zoom ini. Dan terima kasih juga ee kepada Bapak, Ibu semuanya yang sudah berpartisipasi untuk menutup acara webinar ini kepada Ibu Anendindria untuk memberikan statement-nya. ing statement eh apa ya? Baik, terima kasih banyak atas perhatian Bapak dan Ibu semua. Saya senang sekali bisa ee sharing apa yang kami lakukan ya tahun lalu dan ee mendapatkan feedback yang sangat baik. Menarik sekali juga karena sebagai seorang peneliti kemarin saya memang lebih banyak ke daerah perkotaan ya gitu. Jadi harapannya ke depan saya bisa mulai merambah ke daerah yang apa yang khas ya gitu yang spesifik. Indonesia kan Indonesia bukan Jawa ya, Pak ya. Jadi e banyak sekali hal-hal yang belum saya lihat juga gitu. Nah, jadi tadi ngelihat cerita-cerita dari Bapak semua tuh jadi ini ya ee mengagendakan penelitian berikutnya kayaknya ke Wakatobi nih gitu ya. Gitu memang penasaran ingin melihat gitu ya. Itu penutupnya adalah bahwa sanitasi adalah terlihat seperti ranah publik eh ranah privasi begitu ya. Tapi sebetulnya sanitasi itu juga ranah publik gitu. Dan eh back and forward eh tanggung jawab itu seperti yang tadi kita highlight bahwa itu adalah shared responsibility. Eh pertama kita juga paham ada yang namanya prinsip pollut pay principle. Artinya kita sebagai manusia yang membuang hajat setiap hari tentunya punya tanggung jawab ya untuk ee mengelola hajat ee limbah yang kita keluarkan tersebut. Ee di sisi lain PBB sudah meng apa? menggaungkan bahwa sanitasi adalah hak asasi manusia. Dan kalau sudah masuk ke ranah human rights gitu ya, artinya kita sebagai warga negara yang memproklamirkan diri kita itu mengabdi pada negara dan negara punya tanggung jawab untuk memenuhi hak asasi warganya ya. ee sebagai apa? Beauty bearer gitu. Orang yang memegang kewajiban untuk memenuhi hak. Nah, ya sebetulnya ya tanggung jawab dan hak dan kewajiban itulah gitu. Tapi kita juga sebagai individu ee jangan salah gitu, jangan menuntut haknya saja, tapi kita juga punya tanggung jawab besar sebagai poluters-nya justru gitu. Jadi, sanitasi adalah urusan kita semua. bukannya bukan urusan siapa-siapa, tapi urusan kita semua sekali lagi yang ee di mana kolaborasi adalah satu-satunya cara gitu. Karena kalau enggak kolaborasi ee mengingat rantai layanan sanitasi yang bisa jadi terfragmentasi kalau kita enggak saling ngobrol gitu ya. Nah, itu yang mungkin pesan saya terakhir. Jadi, mudah-mudahan Bapak, Ibu masih tetap semangat untuk meningkatkan sanitasi Indonesia. Karena kalau nanti Indonesia Emas 2045 masih ada yang BABS kayaknya jadi retorik lagi gitu ya Indonesia emasnya. Mungkin gitu deh saya penutupnya. Terima kasih banyak Bu Dini dan Bapak Ibu semua atas kesempatannya ya. Baik, terima kasih kepada Ibu Anindria atas pemaparan webinarnya yang sangat luar biasa ini. Namun sebelum menutup acara webinar ini, kita akan melakukan dokumentasi terlebih dahulu. Dan kepada Bapak Ibu semuanya yang bisa mengaktifkan kameranya dipersilakan. Kita akan mulai untuk melakukan dokumentasi. Saya akan melakukan ee perhitungan mundur dari angka tiga. Kita mulai saja. ee 3 2 1 ya. Sekali lagi 321. Oke ee kita cukupkan untuk dokumentasinya. Saya ucapkan terima kasih lagi kepada Ibu Anindria atas penyampaian materi yang sangat bermanfaat ini. Semoga kita juga bisa bertemu lagi di lain kesempatan dan kepada Ibu Anendria apabila ingin meninggalkan ruangan Zoom sudah dapat dipersilakan. Baik, terima kasih Bapak Ibu semua. Buudini. Terima kasih. Asalamualaikum warahmat wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, kepada Bapak dan Ibu semuanya, berakhir sudah acara webinar di hari ini. Dan bagi Bapak Ibu yang ingin mendapatkan e-sertifikat, Bapak Ibu dapat mengisi link presensi kehadiran yang tertera di layar ini. Dan ketika Bapak Ibu mengisi presensi, pastikan nama dan email sudah diketik dengan benar karena hal ini akan mempengaruhi pengiriman e-sertifikatnya. Baik, saya akhiri kegiatan webinar hari ini. Mohon maaf apabila saya ada salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan selamat melanjutkan aktivitas lainnya.