Webinar 112 Sanitasi Inklusif Kota: Kesiapan Regulasi dan Suara Pemangku Kepentingan di Indonesia
pt0oO1oiUyM • 2025-05-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Alumni pelatihan kami sudah lebih dari 2.500 orang yang berasal dari seluruh Indonesia. Pelayanan kami terbuka untuk perusahaan, pemerintahan, perorangan, ataupun pemerhati lingkungan. Ekoed Edu selalu berusaha menyajikan pelatihan yang berkualitas dengan menghadirkan pengajar yang berpengalaman. memberikan pengalaman langsung dengan praktikum dan e-learning yang dapat diakses di manapun. Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan Eco Edio ini memang dari grup-grup di alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh bisa dianggap menarik ya, karena mereka pengetahuan mereka tentang yang pengin mereka ketahui itu meningkat gitu ya. Kemudian skill-skill yang dihasilkan dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa dilihat begitu ya. terasa gitu manfaatnya di kami terutama untuk ee para konsultan yang memerlukan tenaga-tenaga ahli sehingga saya memilih Eco Edu dan sempat mengikuti pelatihannya juga dan itu terbukti benar gitu. Nah, saya lihat Instagram itu ada Edu ya yang akan menyenggarakan pelatihan. Nah, di sini juga saya banyak baca terlebih dahulu ya terkait tentang informasi yang diselu. Nah, menurut saya itu menjadi hal yang membuat tertarik untuk ikut pelatihan gitu. Jadi saya sering lihat di Instagram gitu bagaimana Idu menyampaikan informasinya. Eko edu itu bagus karena pelatihan-pelatihannya itu selalu terkini terus mengikuti zaman dan juga pelatihnya atau mentornya itu bagus-bagus dan terbaiklah [Musik] keannya. Iya. Ee yang pertama memang tentu saja ini meningkatkan dan maksimalkan skill-skill yang saya harapkan gitu ya. eh ter dalam penyusunan dokumen AMD saya jadi bisa lebih produktif, lebih efektif juga ee punya update gitu ya, update-update persoalan-persoalan dalam jurusan AMDA terkini dari ahlinya langsing di lapangan begitu yang pengalamannya tidak diragukan. Menurut saya pelatihan yang disediakan ini sangat bermanfaat sekali dan mudah untuk aksesnya gitu. Jadi ada teknologi terbaru yang saya dapat itu di e-learning ya. Itu luar biasa ee pembelajarannya juga mudah sekali untuk dipahami. Alhamdulillah bisa mengikuti dan juga menambah ilmu pengetahuan yang banyak banget. [Musik] eh-learning ini memang di memang sangat diperlukan sekali ya, terutama untuk kita yang dengan keterbatasan pengetahuan kemudian juga waktu mungkin ee itu memberikan kita kesempatan untuk kembali mengingat, kembali mendengarkan paparan-paparan yang mungkin kurang jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang sesering mungkin yang kita inginkan. Kita juga bisa review kembali sehingga belajar kita bisa lebih efektif dan efisien. itu membantu sekali ketika pada saat penyampaian materi ada yang ketinggalan gitu ya. Jadi ee saya bisa lihat materi itu di sangat membantu Mbak. Jadi saya ee ambil materi terus lihat video yang bisa diakses kapan aja dan gimana [Musik] aja. R juta dengan informasi yang kami peroleh itu jauh dari tas padan sebenarnya. Jadi apa namanya ya kalau saya bilang terlalu murah itu jadi sepadanlah. Jadi menurut sepadan Bu karena memang e pelatihannya itu pun sangat membantu ya dalam menyelesaikan satu pekerjaan yang ada di e sekitar lingkungan saya sendiri gitu. E saya kira sepat sesuailah dengan apa yang kita [Musik] dapatkan. EKP efektif, tepat dan profesional, hemat, cermat, dan hebat. Keren, profesional dan juga keginian. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko Edu ke-112. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu semuanya yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Hari ini webinar Ekoed Eduedu akan mengangkat tema Sanitasi inklusif kota, kesiapan regulasi dan suara pemangku kepentingan di Indonesia. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersilakan. Berdoa dicukupkan. Untuk acara selanjutnya, mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak dan Ibu semuanya untuk duduk tegak. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya izinkan saya untuk mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh kami. yakni yang pertama yaitu pelatihan penunjang dokumen AMDAL terkait persetujuan teknis untuk limbah B3 yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 sampai dengan 23 Mei 2025. Kemudian dilanjutkan pada tanggal yang sama yaitu pelatihan dan sertifikasi pengelolaan limbah padat B3 atau biasa disingkat dengan PLB3. Dan kemudian untuk minggu selanjutnya yaitu yakni pada tanggal 26 hingga 30 Mei 2025 kami akan melaksanakan pelatihan pemodelan dispersi udara air mod CPF dan juga high split. Eh jika Bapak dan Ibu melakukan pembayaran H-1 pelatihan, Bapak Ibu akan mendapatkan diskon 10% dari biaya investasi. Baik, untuk informasi lebih lanjut ee Bapak Ibu dapat menghubungi admin kami Riris dan juga Nisa yang tertera kontak kontaknya ada di dalam ee ada di dalam presentasi kami. Kemudian juga selain itu kami juga terdapat Instagram, YouTube channel, Facebook, Twitter, dan juga ada website yang bisa dikunjungi melalui eh www.coeduitco.id ataupun apabila Bapak Ibu langsung tertarik, Bapak Ibu bisa langsung mendaftar saja ke pendaftaran.edu.co.id. Selain itu juga kami terdapat inhouse training yang dapat dilakukan secara offline ataupun juga online dengan sesuai permintaan dari instansi atau perusahaan Bapak dan Ibu semuanya. Untuk selanjutnya kita akan langsung saja masuk pada kegiatan utama kita. di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai sanitasi inklusif kota tentang kesiapan regulasi dan suara pemangku kepentingan di Indonesia. Dan di sini juga kita telah kami telah menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat ini. Baik, perkenankan saya untuk memperkenalkan narasumber kita hari ini yaitu ada Ibu dr. Anriiti, SPMP, PhD. Beliau merupakan associate profesor Fakultas Teknik Sipil Sipil dan Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung. Dan kebetulan Ibu Amindria sudah ada di dalam ruangan Zoom ini. Selamat siang kepada Ibu Aminda. Selamat siang, Bu Dini. Terima kasih atas perkenalannya. Iya. Baik, Bu. E bagaimana kabarnya pada siang hari ini? Alhamdulillah baik. Semoga semuanya juga sehat-sehat ya. Iya. Baik. Alhamdulillah. Baik, Ibu ee mohon izin dulu saya untuk menyampaikan beberapa teknis teknisnya. Ee untuk pemaparan akan dilaksanakan selama 1 seteng jam. Kemudian nanti dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan menggunakan aplikasi Slido dan dilanjut juga nanti ada tanya jawab secara langsung. Untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Ibu dan kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat mengikuti acara webinar ini. Oke, ini boleh langsung ya? Iya, silakan. Oke. Baik, makasih Bu Dini. Terima kasih kepada Eko Edu juga hari ini sudah berkenan untuk memberikan apa ya ruang buat saya untuk sharing ya. Ee pesertanya banyak sekali ya, ada 260 orang di Zoom ini termasuk saya gitu loh ya. Alhamdulillah senang banget ya. Mudah-mudahan ee apa yang saya sharing pada hari ini bisa menjadi bahan diskusi gitu. Tapi mungkin ee apa posisi ee kita disklaimer dulu ya, bahwa saya yakin Bapak dan Ibu semua yang ada di ruangan ini, terutama teman-teman dari pemerintah daerah, dari pemerintah pusat mungkin kalau ada ya atau praktisi juga adalah orang yang memiliki keahlian lebih dari saya ya, terutama dengan apa yang terjadi di lapangan gitu. Jadi mudah-mudahan ee sesi kali ini justru membuka ruang diskusi ya, Pak ya. Karena apa yang akan kita diskusikan pada hari ini adalah sesuatu yang saya pikir cukup kompleks gitu ya, sangat kompleks. Dan batasan antara hal yang baik dan juga lebih baik gitu ya, itu kadang-kadang agak sedikit blur, ada trade off ee untuk mencapai tujuan-tujuan yang berbeda. sehingga ee ini ee diskusi kali ini atau materi kali ini kita perlu lihat dengan kacamata kebijaksanaan ya gitu ya. Oke. Baik. Saya izin untuk mm sharing ee sebentar. Oke. Ee sebentar saya kok tidak bisa menemukan. Mungkin saya ulang dulu ya, Bapak Ibu. H. Oke, mudah-mudahan bisa melihat ee aplikasi untuk menampilkan bahan tayang hari ini ya. Jadi, judulnya hari ini adalah saya ingin sharing soal sanitasi inklusif kota gitu. Sebetulnya terminologinya kalau di bidang pembangunan ya eh development sector itu adalah citywide inclusive sanitation. Tapi eh kita akan coba bahas dalam konteks eh sanitasi kota yang inklusif gitu. Dan kemudian sebetulnya ee apa sih itu e sanitasi yang inklusif? Kemudian kesiapan regulasi kita di Indonesia itu seperti apa dan bagaimana suara pemangku kepentingan di Indonesia. Ee perkenalkan dulu sebelumnya bahwa saya adalah ee staf pengajar di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, juga peneliti di Pusat Studi Lingkungan Hidup ya ee di ITB. Saat ini saya menjabat sebagai kepala laboratorium haji industri dan toksikologi. Juga Kasubak Kepala Subbagian Pengelolaan jejaring dan Kunjungan Internasional di Kantor Urusan Internasional ITB. Tapi hari ini saya akan berbicara dalam kapasitas saya sebagai peneliti. Nah, mungkin yang pertama adalah ee mudah-mudahan kita bisa interaktif ya, Bapak dan Ibu ya. Saya ingin mengajak Bapak dan Ibu untuk berefleksi terlebih dahulu melihat apa masalah yang ada di kota Bapak Ibu. Apa sih tantangannya gitu yang paling utama, yang paling terasa oleh Bapak dan Ibu dalam pengelolaan sanitasi di kota Bapak dan Ibu. Boleh ditaruh, ditulis di chat. Boleh juga eh raise hand bagi Bapak yang Ibu ingin bicara secara langsung singkat. Silakan Bapak atau Ibu sebagai pembuka saya coba monitor chat-nya juga. Kalau saya di Kota Bandung atau bukan Kota Bandung ya. Saya secara personal di rumah orang tua saya, saya itu melihat bahwa greay water, air buangan dari cucian itu belum dialirkan ke tempat yang layak ya dan belum diolah dengan layak juga. Ee jadi saya lihat pipanya itu mengarah pada sawah di belakang rumah gitu dan itu yang terjadi di hampir seluruh tetangga orang tua saya di sebuah komplek perumahan yang lama gitu. Apakah itu terjadi juga mungkin di daerah Bapak dan Ibu? Oke, kelihatannya terjadi ya. Nanti silakan kalau ada permasalahan yang ingin disampaikan mangga bisa diketik di chat ya. Terima kasih Mas Jati di daerah saya betul air tergenang bahkan banjir di jalan ya. Itulah realita kehidupan yang kita alami begitu ya di kota-kota di Indonesia. Ee ketika hujan ada kekhawatiran bahwa apa namanya terkait dengan drainase yang biasanya tergabung ya dengan grey water gitu. Jadi kalau banjir greay water itu ya bisa ini ya bisa meluap ke jalanan. Itu yang dikhawatirkan. Baik, itu adalah salah satu permasalahan ee sanitasi kita masih ada masalah yang terlihat ya, yang visibel. Nah, kita lihat bahwa ternyata masalah yang invisibel juga masih sangat banyak sekali. Oke, sekarang kenapa sanitasi inklusif itu penting? Kita coba dulu untuk memahami filosofinya ya, prinsipnya kenapa sih kok kita tuh harus mencapai sebuah sanitasi yang inklusif gitu. Nah, yang pertama tentunya adalah kita lihat faktanya dulu nih bahwa di Mohon izin Bu Anin Bu Aninria ini ee apa untuk PowerPoint-nya tidak bergerak ya? Ee tidak bergerak ya. Padahal saya sudah gerakkan sebentar ya. Ee coba lagi. Kita coba lagi ya, Bapak dan Ibu. ini terlihat sekarang ya. Kalau seperti ini, kalau saya gerakkan ini 1 2 3 gerak enggak? Ee belum sih, Bu. Oh, belum ya? Belum ya. Oke. Kalau ini kelihatan ya. Ee sekarang terlihat Bu ya. Oke, kalau itu kita kita akan ee scroll aja ya supaya tidak ada masalah teknis ya. Nah, ini mengapa sanitasi inklusif itu penting. Itu sekarang yang harus kita pahami terlebih dahulu ya, Bapak dan Ibu ya. Gitu ya. Karena ini akan menjadi ee landasan utama kenapa kita ini memperjuangkan sanitasi yang kita sebut dengan inklusif pada hari ini. Dan apa itu inklusif? Nah, yang pertama kita lihat dulu faktanya nih bahwa sekarang ee sampai tahun 2017, 2020, 2022, belum lama dari sekarang gitu ya. bahwa setengah dari penduduk dunia Bu 4,2 miliar orang itu ternyata belum memiliki sanitasi yang aman. Nah, coba kita berefleksi juga pada kondisi rumah kita masing-masing. Apakah kita memiliki sambungan kepada Perumda? Kalau di saya mungkin Perumda Tirta Wening ya yang melayani air limbah perpipaan. atau ee biasanya kalau tinggal di residensial ya perumahan kluster itu ada tahun manajemennya itu mereka punya sistem ee pengelolaan air limbah dan air minum terpisah ya sendiri ya. Nah, apakah rumah kita sudah tersambung dengan itu gitu? Kalau belum berarti mungkin kita menggunakan yang lain. Biasanya tuh kalau kita tidak tersambung dengan sistem perpipaan, air limbah perpipaan, kita biasanya mungkin akan punya tangki septik. Tapi seperti yang tadi kita sudah sentuh di awal bahwa tangki septik hanya apa? menampung air limbah yang berasal dari toilet yaitu black water. Sementara grey water-nya itu biasanya kalau kita punya tangki septik itu enggak akan masuk ke ee tangki septik ya. Biasanya dibuang ke parit, ke selokan atau ke tempat lain atau kalau rumahnya dekat dengan sungai biasanya dibuang ke sungai. Nah, itu ee setengahnya itu tidak punya sanitasi yang aman gitu. Kemudian 600 juta orang di dunia ini dari sekitar berapa miliar nih? 9 10 miliar gitu ya. Itu tidak punya toilet itu sekitar berarti berapa? Ee 6% ya gitu ya. Ada tidak punya toilet dari 10 miliar orang. Kalau kita lihat mungkin hanya 6% tapi tetap bahwa toilet itu sebetulnya adalah simbol dari peradaban, simbol dari harkat dan martabat seseorang gitu ya. Nah, jadi 673 juta itu terlalu besar juga angkanya kalau kita larinya adalah ke simbol peradaban. Kemudian juta ratusan juta anak di sekolah tidak memiliki bahkan akses sanitasi yang dasar. Ini beban ini akan lebih buruk diterima oleh anak-anak sekolah yang perempuan. Kenapa? Karena mereka menstruasi. Anak gadis, anak perempuan, dan perempuan dewasa yang mengalami menstruasi, mereka punya tantangan yang sangat khusus. sehingga sanitasi juga harus memasukkan isu yang kita sebut dengan manajemen kebersihan menstruasi atau MKM ya. Ee rasanya di kabinet sebelumnya ee saya pernah melihat ada sebuah panduan gitu ya, manajemen ee manajemen kebersihan menstruasi di sekolah itu sangat baik sekali gitu. Oke, kemudian kita lihat ada 1 juta kematian akibat wash setiap tahun, water sanitation hygiene ya, Bapak dan Ibu. Nah, sementara ee disinyalir bahwa 10%-nya itu kematiannya akibat sanitasi gitu. Walaupun nanti ee patway-nya bisa aja gitu ya, karena sanitasi yang buruk dia tidak cuci tangan. Kemudian ee kenapa enggak cuci tangan? Behavior hygienya jelek dan juga karena enggak ada air yang mengalir dan sabun di sana maka itu kombinasi dari keseluruhannya. Nah, kalau sanitasinya buruk ini kebetulan ada mahasiswa saya sedang melakukan penelitian ee kalau sanitasinya buruk itu apa sih dampaknya terhadap kualitas hidup? Ya, kita tidak lagi sekedar bicara diare, tapi kita bicara kualitas hidup orang gitu. Kalau kalau di India misalnya ya, ada banyak bukti bahwa ketika ee apa dilakukan pembangunan toilet ee dilakukan pembangunan toilet, subsidi toilet di dalam rumah itu angka serangan seksual pada perempuan itu menurun 30%. ada sebuah paper yang mengatakan seperti itu. Ee ya itu berarti kan dampak dari sanitasi itu bukan hanya kesehatan secara fisik ya, diare dan lain-lain, tapi juga kesejahteraan secara umum bahkan keselamatan. Oke. Kemudian siapa sih yang tertinggal? Nah, sekarang kita bicara inklusifnya nih ya. Tadi kita bicara akses sanitasi bahwa ee ada angka-angka sekian gitu. Tapi kalau kita lihat dalam lagi dari lima dari dari setengah penduduk dunia yang tidak punya sanitasi aman itu tuh siapa yang paling banyak? Jangan-jangan ee orang dari keluarga menengah ke atas itu semuanya berkumpul pada 50% yang sudah punya. Sementara yang 50% yang tadi yang belum punya sanitasi aman itu semuanya yang marginal ya. Bisa jadi adalah orang dengan disabilitas atau teman-teman divabel kita sebutnya ya. ada bisa perempuan dan anak-anak atau ee keluarga dari ekonomi rendah gitu ya, dari pemukiman kumuh perkotaan, orang-orang yang tinggal di daerah 3T siapa tahu itu yang sebetulnya membangun ee pool yang 50% tadi gitu. Kalau kita bicara seperti itu, maka weight-nya gitu ya, bobotnya itu sudah beda. Silakan, Pak Irwan. Ada yang raise hand ya. untuk risen di akhir Ibu Anendri. Oh, oke. Baikbaik nanti di akhir saja ya. Oke. E mohon e ditampung dulu ya. Oke. Ee baik baik sebentar. Oke. Nah, eh saya ingin menekankan di sini bahwa sanitasi tidak hanya soal toilet. Eh toilet adalah simbol dari sanitasi ya memang ya dia adalah user interface-nya. Tapi sebetulnya sanitasi itu adalah ee banyak hal. sudah menjadi bagian dari kita sehari-hari membentuk harkat martabat kita, produktivitas, kesetaraan, gender, ya, keberlanjutan dan lain-lain. Nanti kita akan coba ee selami satu-satu. Nah, oleh karena itu perlu adanya perubahan paradigma dalam sektor sanitasi untuk mencapai akses universal yang aman. Nah, oleh karena itu muncullah suatu ee pemahaman atau suatu konsep yang namanya CWIS. Kita akan sebut itu dengan CWIS eh from now on ya untuk eh simplifikasi terminologi yaitu citywide inclusive sanitation. Tapi pada dasarnya city wide inclusive sanitation itu bukan sesuatu hal yang baru gitu ya. Artinya ee ini tuh sudah terpikirkan sejak lama gitu ya. Yang pertama, prinsip yang fundamentalnya sekali itu adalah bahwa semua penduduk di kota itu ya termasuk yang rentan tanpa terkecuali harus memiliki akses sesuai kebutuhannya. Jadi bukan berarti aksesnya tuh harus sama tipe teknologinya, enggak. Tapi sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya ya konteks. Jadi ada ada konteks di situ. Lalu satu lagi ee ketika kita bicara CWIS, kita tidak lagi sekedar bicara ee hal yang teknis ya. pipa, sankiseptik gitu dan sebagainya. Tapi di situ ada elemen-elemen yang sifatnya noneknis. Ada harus inklusif, memprioritaskan hak asasi dahulu, harus holistik, dan melibatkan stakeholder. Nah, kemudian yang ketiga ee bagi teman-teman engineer gitu ya, bahwa ee dalam menyediakan layanan sanitasi yang inklusif, kita tidak lagi bisa berpaku hanya pada ee layanan pipa. Sebagai seseorang yang dilatih sebagai teknik lingkungan ya saya dulu S1, S2-nya teknik lingkungan. Saya setuju di perkotaan yang paling efisien dalam memberikan layanan yang aman itu adalah pipa. Kenapa? Karena eh pipa itu kan tersentralisasi ya, one management gitu, one system one management. Jadi kalau ada kegagalan pada bagian yang A eh sistem lain bisa backup. Kemudian pengendalian, monitoring, risiko itu juga bisa dilakukan gitu ya. Ee lebih lebih terkelola dengan baik. ee terpusat juga gitu ya sehingga ee apa sistem itu dapat diketahui dan dikendalikan dengan satu jendela gitu. Tapi dalam kenyataannya kita ini kan ee untuk mencapai layanan apa mungkin pipanisasi perkotaan itu mungkin butuh ratusan tahun ke depan ya gitu ya. Karena ee perpipaan itu bukan investasi yang sedikit dan kalau melihat tren percep tren kecepatan peningkatan jumlah akses perpipaan kita juga ee kayaknya enggak mungkin itu bisa dicapai dalam 5 atau 10 tahun ke depan. Oleh karena itu ee karena sanitasi inklusif, sanitasi yang setara itu tidak bisa menunggu, ya. Kita ini adalah kita ini hidup ya, hidup e akan mengeluarkan buangan, akan minum air, akan melakukan kegiatan hygien, maka itu semua kita lakukan hari ini, tadi pagi, kemarin, besok ya. Jadi itu enggak bisa menunggu. Oleh karena itu, ragam teknologi ini harus dipertimbangkan baik pipa maupun non pipa asalkan mindset kita itu tetap ke arah ee kualitas layanan itu harus aman gitu. Itu tantangan besar sekali pada saat ini bagi para engineering, para engineer ya. Oke, kemudian yang terakhir ini juga bicara soal transparansi dan mix bisnis model. Nanti kita lihat apa itu. Oke, saya ingin menunjukkan suatu gambar di sini. ee ini adalah rantai layanan sanitasi. Saya kebetulan dipercaya ee cukup sering ya oleh ee teman-teman dekat saya di Provinsi Jawa Barat untuk melihat atau memberikan masukan p dokumen kajian lingkungan hidup strategis gitu. yang menurut saya itu dokumen itu sangat strategis sekali karena bisa menentukan ee arah kebijakan ya dan rambu-rambu apa yang harus diperhatikan supaya ee apa per apa wilayah tersebut itu bisa berkelanjutan dari sisi ekonominya, dari sisi lingkungan, dari sisi sosial gitu ya. Tapi terutama tadi lingkungan yang bisa memberikan akses pada ekonomi dan sosial. Nah, salah satu elemen yang paling sering tersorot oleh saya adalah masalah air minum dan sanitasi. Kenapa? Katakanlah begini, ee saya mau kasih contoh ITB ya. ITB organisasi saya, kampus di mana saya bekerja itu ingin menjadi world class university, universitas kelas dunia. Terus tapi saya suka bilang ITB enggak akan bisa jadi world class university kalau toiletnya aja rusak gitu. Kenapa? Karena toilet, air itu adalah suatu persyaratan dasar dari pembangunan berkelanjutan. Kalau kita mau tarik ke balik lagi ke sektor pembangunan ya, orang tidak akan maju ee suatu negara tidak akan maju menjadi ee sebuah negara yang adidaya gitu ya. Kalau masalah sanitasinya itu tidak selesai, tidak selesai semua ee apa sebagian besar paling tidak gitu ya. Mungkin kalau di apa di berbagai negara yang sudah maju misalnya kalau Amerika Serikat terlalu kompleks saya pikir ya ya Australia lah katakanlah gitu ya ee masalah sanitasi juga ada gitu di beberapa daerah yang remote ya yang terpencil ee dan masalah sanitasi mereka juga mungkin beda. Mereka sudah memikirkan emerging pollutance di dalam buangan domestik ya dan lain-lain. Kalau kita sekarang kita masih memikirkan atau bukan memikirkan ya, bahkan perlu ada perubahan paradigma gitu ya. Ee udah jangan lagi deh mikir sanitasi layak, tapi harus sudah berpikir seluruh rantai layanan sanitasi menuju ke sanitasi aman. Jadi sanitasi itu tidak berhenti sampai tangki septik, Bapak, Ibu, gitu. Ini kan karena kita kan kenyataannya memang ee sedikit sekali yang punya akses pipa ya. Kalau kita punya akses pipa ke IPAL gitu, IPAL domestik kota ee misalnya kalau di Bandung itu di Bojong Soang gitu ee itu bisa e ya udah itu ya kita anggap bahwa limbah kita baik yang grey water maupun eh black water itu akan dikelola secara aman nanti di IPAL karena ada proses pengolahan di situ gitu. Nanti setelahnya ada slutch mungkin memang dan itu adalah hal lain gitu ya, bagaimana pengelolaan slutch dilakukan agar tidak mencemari lingkungan. Tapi dalam hal ini biasanya tuh kita hanya mindsetnya tuh berhenti sampai tangki septik. Bahkan saya tuh suka main TikTok ya Bapak Ibu karena anak saya sudah remaja sehingga saya merasa perlu keep up juga. Beberapa kali saya menemukan ee postingan bahwa tangki septik yang baik itu adalah tangki septik yang tidak usah dikuras gitu. Intinya seperti itu. Dan itu kan itu bukan hanya sekali dua kali tapi banyak sekali yang saya temukan di situ. Ee dan ini adalah kesalahpahaman yang mengakar di masyarakat. menyediakan tangki septik bukan berarti selesai. Limbah yang masuk ke dalam tangki septik itu harus disedot secara berkala. Pengosongan tangki septik itu harus dilakukan secara berkala setidaknya ee 2 sampai 3 tahun sekali idealnya begitu ya gitu. Kenapa? Karena tangki septik itu yang sesuai dengan standar nasional Indonesia itu harus kedap. Kalau kedap tidak ada ruang untuk rembes kan ya. Artinya yang namanya kemasukan materi pada suatu saat dia akan penuh sehingga ee ketik nah itulah kenapa harus dikosongkan dan disedot gitu. Kalau Ibu Bapak punya tangki septik di rumah katakanlah sudah 20 tahun enggak pernah ada kejadian apa-apa itu bisa itu berarti tangki septiknya tidak kendap Bapak dan Ibu. Dan itu ke mana larinya? tentu saja itu akan rembes ke air tanah yang bisa jadi mencemari sumur. Kalau Bapak Ibu masih menggunakan sumur ya gitu ya, sumur yang kita gunakan untuk sehari-hari. Jadi seperti siklus ya artinya buangannya ke situ-situ lagi yang tidak diolah. Nah, oleh karena itu eh mindsetnya ketika bicara citywide inclusive sanitation eh terutama untuk yang non pipa ya, kita mindsetnya udah harus seluruh rantai layanan mulai dari di tangkap di sini ada user interface nih ya toilet ya makanya toilet itu jamban itu baru sebagian kecil dari sanitasi baru user interface-nya aja. Di sini ada tangki septik. Tangki septik kalau lihat dari kata-kata ini, ini fungsinya bukan mengolah. yang utama, tapi fungsinya adalah menahan contain containment. Nah, nanti dia akan dikosongkan, disedot oleh petugas penyedot. Ini bisa dari mana-mana aktornya. Ada yang ee private ya atau swasta, ada juga yang dari kalau di Jakarta ada layanan dari Paljaya ya. Di Bandung juga rasanya ada layanan dari Perumda Tirta Tauening. Mohon maaf ee koreksi jika saya salah. Oke, dari sini kemudian akan dibawa ke IPLT, instalasi pengolah air ee tinja e ya pengolahan air e pengolahan lumpur tinja sori IPLT lumpur tinja. Nah, ini yang menarik nih cerita saya tadi balik ke KLHs ya. Jadi ada dua hal yang sering ee saya highlight. Yang pertama adalah oh ternyata pemahaman perbedaan antara sanitasi aman dan layak itu belum terinternalisasi di daerah. Kadang-kadang orang tidak tah tidak tahu ee apa aman dan apa layak bedanya tuh seperti apa. Jadi orang ee kadang-kadang kita itu belum move on dari MDG ya, Bapak Ibu, Millenium Development Goals. Padahal sebenarnya mandat nasionalnya RPJMN kita udah mandatnya udah eh aman ya, udah masuk ke sustainable development goals dan SDG itu akan habis pada tahun 2030. Jadi harusnya kita sudah bisa mencapai akses universal terhadap sanitasi aman itu di 2030. Itu yang dijanjikan ketika kita meratifikasi SB. Sebetulnya PR besar buat kita semua termasuk saya. Oke. Lalu dari situ ee kita akan lihat setelahnya. Nah, ini ee mohon maaf dari dalam bahasa Inggris, tapi secara umum CWIS itu punya enam elemen. Jadi kalau kita ngomongin sanitasi inklusif itu tidak hanya soal teknologi. Itu mungkin yang ee menjadi agak kompleks ya. Yang pertama CWIS itu ada outcomes-nya. Jadi luaran dari suatu konsep sanitasi yang diterapkan yang inklusif itu pertama dia harus adil. adil atau setara ya. Karena ini maksudnya apa nih? Adil atau setara ini artinya dia tidak boleh beda-bedain. Ee kalau misalnya membeda-bedakan dalam arti gini ee Perumda itu biasanya punya blok tarif sistem, betul kan Bapak Ibu ya. Jadi kalau ee orang yang tinggal di perumahan yang baik ada kriterianya gitu ya. mungkin akan beda-beda di setiap ee PDAM dia membayar unit price lebih mahal dibandingkan dengan orang yang pemakaian airnya sedikit dan dianggap berasal dari ekonomi yang rendah. Itu adalah salah satu bentuk fairness. Kenapa? Karena ee orang membayar sesuai dengan kemampuannya gitu. Jadi seperti itu contohnya. Dan kemudian salah satu bentuk fairness yang lain adalah ee dipikirkan di tempat publik itu adalah akses untuk teman di fabel untuk mengakses ee toilet di Puskesmas misalnya. Artinya toilet yang ada di Puskesmas harus memperhatikan ee orang yang pakai kursi roda supaya bisa masuk gitu. Eah itu kan udah soal teknis, soal anggaran, soal political will juga soal pemahaman ee teknis gitu ya. Nah, itu jadi itu salah satu bentuk pengejauan tahan ya. Safety. Safety tadi outcomes-nya tadi yang kita highlight adalah kita udah move on. Harusnya bukan lagi layak tapi sudah harus ke aman. Di sini artinya tarikannya mau enggak mau semua buangan manusia itu berasal dari rumah ya domestik ya baik itu greay maupun black water harus dikelola di sepanjang sanitation service chain yang tadi rantai layanan sanitasi. Artinya ketika nanti airnya sampai ke lingkungan ya, baik itu setelah keluar dari IPLT ataupun yang lain dari IPAL, IPAL Efluen itu sudah tidak lagi apa ee menyebabkan kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan. Sudah memenuhi persyaratan kesehatan yang diatur gitu ya. Oke, terus kemudian sustainability ini juga outcomes dari CWIS yaitu apa yang kita kerjakan sekarang itu harus bisa berjalan sampai jangka waktu yang lama. Itu satu. Kemudian untuk bisa mencapai tiga outcomes ini ada equity, safety, dan sustainability. ada ada caranya atau cara kerjanya atau gimana ya istilahnya tata kelolanya itu prinsipnya ada tiga yaitu responsibility, ada tanggung jawab yang jelas antara aktor ya pemangku kepentingan, ada accountability artinya di sini ada manajemen yang transparan, ada monitoring dari kinerja dan ada sistem insentif dan disinentif yang berfungsi untuk meningkatkan atau mendorong peningkatan kinerja itu. akuntabilitas. Ee kemudian yang terakhir adalah resource planning dan managementen. Jadi di sini ada ee finansial, ada human sosial ya, ada technological goals dari sanitasi yang akan kita lakukan. Nah, ini juga harus bisa dikelola dengan baik dari perspektif manajemen. Oke. Nah, dari enam prinsip CWIS nih, mana yang kira-kira paling sulit diwujudkan di tempat Bapak Ibu? Tadi dari enam tuh berarti ada ini ya, ada equity, safety, sustainability, responsibility, accountability, dan resource planning dan management. Oke, nanti silakan ee sambil berpikir saya ingin menunjukkan sesuatu tentang ee kalau tadi kan di kota ya, ini studi kasusnya ada yang di kota dan di desa. Nah, ini jadi ee ini adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh dua tim peneliti ya yang ee kami ikuti terkait dengan perempuan dan sanitasi. Jadi ee kalau kita ngomongin perempuan ya, ibu-ibu gitu, bayangkan ibu Anda atau saya sebagai seorang ibu ya, saya pikir-pikir kalau di rumah waktu saya tuh banyak banget di dapur sama di kamar mandi gitu. Saya memasak, mencuci depan wastahol itu adalah ee apa? Aktivitas yang dominan gitu. Lalu kemudian di kamar mandi ada mesin cuci ya, membersihkan kamar mandi. Kalau dulu waktu masih punya anak bayi, saya yang mandiin anak bayi. Terus belum sekarang ee bersihin gris trap gitu ya. itu juga satu PR gitu. Nah, artinya saya banyak sekali bersentuhan dengan sanitasi. Kebetulan aja saya lahir dan juga besar. Kemudian sekarang ee memiliki keluarga dari tingkat ekonomi menengah yang berpendidikan tinggi ya. Sehingga relasi kuasa saya tuh ee berbeda dengan orang yang mungkin demografinya beda dari saya. Ketika misalnya saya sama suami saya mau memutuskan membeli sesuatu ya ee pendapat saya akan dipertimbangkan oleh suami saya gitu. Artinya saya bisa memberikan ee atau gini istilahnya saya punya agency gitu ya untuk ee berpendapat dan punya keinginan. Nah, ini ya. Nah, secara umum di masyarakat yang ketimuran saya pikir begitu ya istilahnya bahwa e walau ee masyarakat ini tuh ada role-nya masing-masing gitu antara pria atau laki-laki dan perempuan. Di kebanyakan daerah pedesaan dan beberapa perkotaan juga kohort yang spesifik ya biasanya laki-laki itu dipandang sebagai ee pencari nafkah di luar rumah gitu. Sementara perempuan dan anak-anak itu dipandang sebagai orang yang akan ngurus rumah tangga. Termasuk salah satunya responsibility-nya itu yang utama adalah ya intinya apa? Mengurus soal segala sesuatu tentang air, air dan jamban urusan perempuan ya. Dan itu tuh bisa berarti beda-beda pengalaman ini. Buat saya kalau saya disuruh ngurus air dan jamban mungkin saya urusannya adalah nyikat kamar mandi sama bayar tagihan air gitu. Tapi buat perempuan yang ada di Nusa Tenggara, daerah yang 6 jam jauhnya dari Kupang, kebetulan teman e mahasiswa saya ada yang sedang melakukan penelitian di sana. Buat ibu-ibu di sana, air sanitasi itu menjadi pengurus itu artinya mereka harus jalan mendaki, menuruni bukit yang terjal 2 jam PP sambil bawa air di jerigen. Bahkan kemarin ee maksudnya cerita iya ada yang ee ibu hamil ee hamilnya sudah cukup besar 6 bulan ya. Lalu seperti biasa dia ngambil air dan segala macam sehingga akhirnya dia keguguran tengah jalan itu. Itu adalah sebuah cerita yang bukan fiktif Bapak dan Ibu ya. Itu ada gitu tapi mungkin kita tidak mengalami tapi hanya karena kita tidak mengalami hanya karena kita tidak melihat bukan berarti itu tidak benar gitu ya. Jadi ee itu empati kita yang mungkin harus diasah bahwa sanitasi adalah tentang pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Nah, kemudian kita lihat ee di sini ada suatu grafik yang menggambarkan lingkaran-lingkaran ya. Ini kita sebut dengan model sosioekologi. Jadi intinya ee yang paling tengah itu adalah individu levelnya. Kemudian naik sedikit itu adalah keluarganya, tetangganya, ada budaya di situ ya. Lalu naik lagi itu adalah lingkungannya seperti apa nih? Lingkungan adatnya seperti apa? cuacanya suhunya dingin, panas gitu ya, atau tetangganya akrab gitu atau enggak pernah ngobrol sama tetangga. Nah, itu environment ya. Kemudian strukturalnya itu adalah kayak apa pemerintahnya? Apakah ee egal apa ya? Apakah menganut paham yang egalit gitu ya. Ee kalau di Amerika mungkin Demokrat dengan satu lagi apa ee republik gitu ya. itu beda mungkin gitu sistem struktur yang diberikan gitu ya dalam kehidupan sendi-sendi kehidupan warga gitu. Nah, itu di struktural. Kemudian yang terakhir adalah infrastrukturnya kayak apa? Ada enggak sih PLT? Ada enggak sih segala macam. Nah, itu jadi maksud dari model ini adalah bahwa perilaku yang dilakukan individu di tengah itu ternyata dipengaruhi oleh layer-layer di atasnya. Jadi kalau kita mau nyalahin ee ada anak stunting di suatu desa ya, anaknya stunting terus kita mau menyalahkan ini ibunya yang salah karena ngurus anaknya enggak benar. Enggak bisa begitu juga. Karena perilaku maternal itu dipengaruhi oleh banyak hal di Indonesia seperti itu ya. Ada satu mahasiswa saya juga yang melakukan penelitian di Jakarta ee untuk melihat sebetulnya layer mana yang paling mempengaruhi gitu ya. dan tergantung tergantung dari ibunya gitu ya. Ee katakanlah ibu tersebut pendidikannya hanya sampai SMP kemudian ee dia tidak bekerja. Itu yang saya temukan di Nusa Tenggara. Ibu itu bilang gitu ee ketika ditanya sebenarnya ibu tuh pengin WC yang kayak gimana gitu ya. Jawabannya adalah saya ragu-ragu dia. Saya kayaknya harus tanya Bapak dulu gitu ya. Habis kan saya enggak kerja gitu. Saya kan tahu diri saya enggak enak, saya enggak enggak maulah katanya menentukan apa-apa di rumah gitu. Itu itu kata-kata yang saya ee dengar sendiri waktu ada penelitian gitu ya. Nah, itu jadi mungkin ini ini ee apa harus diperhatikan bahwa ketika ada suatu fenomena anak stunting diare gitu ya ee nyalahinnya jangan langsung ibunya duluan nih sebagai primary caretaker, tapi kita lihat bahkan sampai ke servisnya ada enggak, bahkan sampai ke itu tuh ee pemerintahnya menganut paham apa sih gitu. Itu harus dilihat juga gitu. Kemudian lingkungannya tuh gimana? Apakah lingkungannya ee kohesi sosialnya kuat gitu ya? Apakah di situ ada volunteer ee terutama dari kader gitu ya? Nah, ini kader posyandru itu juga itu tuh ee dari penelitian kami ya, mereka itu adalah aktor yang sangat sangat sangat penting, sangat berperan dalam menentukan perilaku maternal terkait sanitasi gitu ya. Oke. Ini ini sekilas tentang ee pengertian inklusif tadi gitu ya. Oke, terus ada satu lagi ee kelompok marginal yang berbeda yaitu teman-teman di fabel. Yang menarik adalah ee kadang-kadang ada berbagai istilah gitu. Istilah yang lama itu sudah enggak dipakai lagi. Itu sudah politically incorrect ya. Lalu ada istilah disabilitas. Tapi Indonesia punya terminologi yang berbeda, yaitu diabilitas. Divable, Teman-teman. Divable. Kenapa? karena ee kondisi yang dialami teman-teman di fabel itu bukannya disable, bukannya mereka tidak bisa, tapi mereka berbeda bisanya gitu. Jadi ee bisa tapi dengan cara yang berbeda. Makanya lebih tepat kalau disebut dengan ee kelompok di Fabel, teman-teman di Fabel. Dan ini mungkin semantik ya, tapi ini memberikan makna empowerment yang berbeda gitu menyebutkannya ini. Jadi ee salah satu penelitian kami juga ini di daerah Indonesia Timur waktu itu ee berinteraksi dengan teman-teman di Fabel ee dari yang memiliki asosiasi dan komunitas. Dan kami juga sangat terharu gitu ya melihat bahwa oh mereka ini sangat berdaya sekali gitu. Dan salah satu yang paling berharga buat saya adalah saya mendapatkan pelatihan selama 1 jam ya di melalui Zoom waktu itu. Ee judulnya adalah bagaimana cara berinteraksi dengan teman-teman di Fabel. Itu sangat ee apa ya eh life changing buat saya karena ee sesuatu yang saya tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Oke, ini mungkin kita akan skip aja, tapi saya ingin memperlihatkan ee hasil dari penelitian ini gitu ya. Ee pertanyaan penelitiannya pada waktu itu adalah apa yang menyebabkan tingkat partisipasi teman-teman Livabel pada program sanitasi itu kecil. Jadi ternyata kalau kita lihat di sini bisa macam-macam tuh dan ini adalah suatu rangkaian gitu ya. Katakanlah gini ee kan masyarakat di Fabel itu teman-teman di Fabel punya kebutuhan sanitasi yang berbeda ya enggak sih Bapak Ibu? dari sisi luasan ruangan aja, ruangan toilet itu berbeda. Dia ee mereka teman-teman kita ini butuh ruangan yang lebih luas karena buat manuver kursi rodanya. Mereka butuh ada health button gitu. Mereka butuh ada pegangan di dindingnya supaya bisa ee mengangkat badannya ke toilet. Ini kalau kita berpikir dengan yang menggunakan kursi roda ya gitu. Jadi, tapi kalau kita sebagai orang yang ee tidak menggunakan kursi roda, kita mungkin enggak kebayang gitu bahwa kebutuhannya itu secara fitur-fiturnya itu kayak gimana aja sih, gitu ya. Jadi kalau misalnya mereka tidak ditanya ee Bapak, Ibu, Mbak, Mas, butuh apa? Bagaimana cara Bapak dan Ibu menggunakan toilet supaya kami bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut gitu. Kalau enggak ditanya kan enggak tahu karena kita tidak mengalami sehingga kita tidak ada di sepatu mereka gitu. We're not in their shoes gitu. Jadi kalau kita enggak bertanya ya kita enggak tahu gitu. Nah, karena tidak ditanya maka tidak diketahui kebutuhannya. Karena tidak diketahui kebutuhannya, mereka jadi tidak bisa mengakses sanitasi. dan mungkin ada juga ee dampak kesehatan yang dihasilkan atau dampak psikologis yang dihasilkan juga gitu. Ee ada satu makalah ya di daerah Afrika saya baca tesim e bukan apa ee cuplikan wawancaranya gitu ya. Ee ada orang tua yang pakai kursi roda terus beliau bilang gini ya kan ini kan toiletnya toilet jongkok gitu ya. ee buat saya untuk menggunakan itu itu susah sekali katanya. Saya harus berpegangan, tangan saya harus berpegangan pada lantai toilet yang di mana kadang-kadang itu ada kotorannya. Jadi dia merasa itu tuh sangat mengganggu ya. Dia sedih karena itu merasa dia enggak apa ya harkat dan martabatnya tuh jadi enggak ada gitu. Karena dia juga enggak pengin kotor, dia juga pengin bersih sama kayak kita ya gitu ya. Nah, jadi di situ ya apa namanya? Ada cerita itu ya ee experience dari ee teman-teman yang terpinggirkan karena ketika merancang toiletnya itu tidak mempertimbangkan kebutuhan ee kelompok marginal yang kebutuhannya itu sangat spesifik dan berbeda. Oke, itu hambatannya dari apa sih apa aja yang menyebabkan tidak inklusif tadi ya secara kita sebutnya secara umum aja. Yang pertama dari aspek struktur dan sosialnya gitu. Kalau struktur kita bicara ee ininya lah ya apa ee infrastrukturnya ya. Tangganya terlalu tinggi, jambannya kecil, jambannya jongkok, enggak ada palang penyangga, wastafelnya enggak enggak nyampe. Kalau misalnya orangnya pakai kursi roda enggak kelihatan mau ngambil sabunnya susah gitu ya. Jalannya licin atau tidak rata, enggak ada remnya. Bahkan ee ketika ada tangga kan enggak bisa naik kursi roda sendiri ya gitu ya. Dan itu yang salah satunya hambatan sosialnya ada ada stigma negatif terhadap penyandang disabilitas gitu ya. Sebetulnya bukan karena sebel enggak, tapi karena sayang, karena cinta, karena kasihan. Jadi ee karena ini yang ditemukan di Nusa Tenggara ya Bapak, Ibu ya. Karena terlalu sayang maka geraknya dibatasi karena khawatir gitu. Nah, akibatnya kurang otonomi, kurang privasi dan martabat saat menggunakan fasilitas sanitasi. Oke, ini sama ee model sosiolog ee ekologi. Jadi, saya tidak akan sampaikan lagi. Oke. Salah satu yang menarik juga ee dari temuan ini tuh sebetulnya pemerintah di ee di kota yangu kami datangi ee bukannya tidak mau melibatkan kelompok divabel sudah diundang tapi ee dari desa gitu ya sampai ke ibu kota terdekat itu dia tuh 6 jam dengan mobil yang ajluk-ajlukan gitu loh kata orang Sunda ya. Jadi tidak memungkinkan bagi ee perangkat eh bagi teman-teman di Fabel untuk secara fisik menghadiri gitu. Nah, itu ada tantangan-tantangan geografis di situ. Ada juga tantangan-tantangan yang sifatnya kultural. Kadang-kadang gini, ee saya pengin banget ngundang ee teman-teman di Fabel, tapi saya bingung ngomongnya gimana ya gitu karena takut menyinggung gitu. Nah, itu yang salah satu yang ee dirasakan oleh beberapa informan yang kami temukan. Oke, mari kita tutup sejenak mengenai ee divabel, divabilitas, dan sanitasi. Nah, ini kita sambil break 3 menit aja. Break 3 menit saya minum, ya. Nah, dari enam prinsip CWIS yang tadi ini ee mana yang kira-kira paling susah, tantangan yang paling besar di kota Bapak, Ibu? Silakan ditulis di chat. 3 menit. Oke. Eh, iya kita lihat ada yang chat nih. Sustainability tiap pilkada. Menarik nih. Responsibility. Iya, betul. Eh, dari dua hal ini tapi saya pengin komentarin dulu yang tiap pilkada ya Bu Vioni ya dari Andalas. Terima kasih menurut saya menarik sekali itu. Betul. Eh, dan memang nature-nya begitu ya kalau kita lihat ya. Karena saya yakin setiap ee apa calon gitu, kepala daerah itu punya visi sendiri yang ingin dibangun gitu. Sehingga kadang-kadang apakah suaranya tidak terdengar Bapak, Ibu? Bagi yang lain? Terdengar Ibu. Oh, terdengar ya. Berarti mungkin dari ee itu apa? Dari Bapak atau Ibu Pius ya. Oke, terima kasih ya ee Pilkada ya gitu. Hampir semua tantangannya banyak sekali. Makanya itu PR kita bersama ya. Nanti kita akan coba gitu ee bagaimana nih sebaiknya. Oke, terima kasih sharing-nya Bapak Ibu untuk yang ini. Ee oke. Nah, sekarang kita akan melihat ke literatur gitu. Jadi CWIS itu memang suatu konsep yang sangat besar Bapak Ibu. Dan saya bisa paham sekali bahwa we are in the same boat ya. Bahwa kita semua ini sekarang berada pada suatu masa yang sangat menantang. Ee dan bukan saatnya lagi salah-salahan gitu. Ini salahnya dinas apa, salahnya akademisi salahnya, tapi justru tantangan yang pelik ini membutuhkan kolaborasi yang legowo gitu. Kalau saya bilang kolaborasi yang legowo, saling berbagi data gitu ya, dan ee cost sharing mungkin gitu atau responsibility sharing dan sebagainya. Tapi kalau kita lihat dari berbagai negara-negara yang mirip dengan Indonesia, kami melakukan sebuah kajian literatur ya untuk baca nih ya ini kira-kira di negara lain yang konteksnya tuh mirip-mirip Indonesia lah ya gitu kayak Ghana atau kayak ee yang lain ya di Amerika Selatan. Apa sih sebetulnya yang menjadi hambatan dan mendorong ee implementasi dari CWIS? Yang pertama adalah ini faktor keberhasilan dulu ya. Jadi ada suatu daerah yang berhasil menerapkan CWIS tadi. Berarti tadi kuncinya yang enam elemen tadi ya itu berhasil diterapkan walaupun mungkin tidak 100% sempurna tapi kemajuannya cukup besar. Yang pertama itu dia ada dukungan masyarakat dan petugas sedotinja. Ini menarik nih buat saya. Jadi petugas sedot tinjanya itu ee gimana ya secara umum itu ee diformalisasi walaupun itu mungkin bukan kata yang tepat tapi dibina gitu. Jadi ee semua petugas DOTINJ yang tadinya tuh sebagai operator lepasan swasta ya, mereka berusaha sendiri itu didata, dibuatkan asosiasi kemudian dilakukan pelatihan, dilakukan pemantauan gitu ada kartunya gitu eh kartu anggotanya dan ee banyak technical support yang diberikan ee dengan bergabung pada asosiasi petugas sedot tinja tersebut sehingga ee walaupun mereka beroperasi dengan sistem pasar ya artinya ya sudah bisnis gitu, tapi ee difasilitasi oleh pemerintah pada waktu itu sehingga itu bisa berjalan dengan baik. Ada capacity building-nya juga dan lain-lain ya. Kemudian adanya kemauan politik dan regulasi yang tegas. Nah, ini di negara yang berhasil ternyata ada komitmen politik lokal untuk mendukung satu reformasi kebijakan dan dua alokasi sumber daya. Itu dua kunci itu. Nah, yang ketiga adalah peningkatan kesadaran. ini ee kesadarannya tidak hanya pemerintah gitu. Enggak, enggak boleh juga ya menyalahkan pemerintah terus menerus. Enggak. Akademisi juga harus ee disalahin nih. Kemudian masyarakat juga kita sebagai warga harus disalahin juga. Apakah warga ini sudah mau berkenan membangun tangki septik yang sesuai SNI? Sudah mau berkenan ee membayar jasa sedot gitu ya. Layanan layanan pengosongan tangki septik terjadwal. Apakah mau enggak langganan itu subscribe gitu. Itu kan kesadarannya ada di warga, bolanya ada di warga ya. G sulitnya dari sanitasi yang nonpipa tuh seperti itu. Bahwa penanggung jawab dari setiap rantainya itu bisa beda-beda. Tadi kalau pipa misalnya air minum PDAM ya penanggung jawabnya satu instansi ya PDA Perumda gitu dari A sampai Z. Paling nanti pas di setelah meteran air aja tuh nanti warga akan bertanggung jawab tuh. Tapi kalau sanitasinya non pipa itu penanggung jawabnya banyak sekali aktor-aktornya. Nah, itu yang menjadikan kenapa sanitasi itu lebih susah dikelola dibandingkan dengan air minum. Kemudian pusat pengetahuan dan komunikasi. Nah, ini ee terkait dengan yang tadi juga ya ee petugas sedot tinja. Jadi ada database-nya, ada sistem informasinya gitu dan segala macam. Karena karena apa ya harapannya itu adalah ketika tangki septiknya sudah dikosongkan, petugasnya itu tidak buang sembarangan di sungai gitu, tapi masuk ke IPLT. Nah, jadi ada sistem insentif dan disinsentifnya di situ. Lalu di sini ada dukungan donor dan sumber daya, dukungan dana awal, teknis, pelatihan gitu ya. intinya ada semacam seed money gitu ya untuk memulai sistem itu. Kemudian tata kelola yang tata kelola yang kolaboratif, regulasi yang responsif dan pertimbangan kelayakan sistem. Di mana desain sistem harus mempertimbangkan aspek politik, sosial, lingkungan, dan kapasitas lokal secara utuh. gitu sih. Ini ini ee ini adalah hal-hal yang secara empiris atau di dalam kenyataan itu ditemukan pada kasus-kasus yang berhasil mengimplementasikan CWIS gitu. Walaupun ini bagus sekali tapi tetap kadang-kadang masih ada ya hal-hal yang ditemukan di lapangan dan ini semua studi kasusnya bukan dari Indonesia ya, dari negara-negara yang mirip Indonesia. Yang pertama adalah koordinasi lintas lembaga yang lemah, keterlibatan masyarakat yang rendah gitu ya. Ee ketidaksesuaian antara standar pelayanan minimumnya versi mereka gitu dengan tujuan SDG. Hambatan politik pembiayaannya tidak berkelanjutan, keterjangkauan rendah bagi populasi rentan, kapasitas dan literasi. Operator sedot tinjanya sedikit, sanitasi bukan prioritas, dan regulasi yang tidak mendukung inovasi. Nah, ee nanti kita coba akan kupas ini dengan melihat pada konteks Indonesia. Tapi saya yakin Bapak Ibu melihat ke 9 poin ini pasti merasa familiar gitu ya. Kayaknya saya juga merasakan di poin empat mungkin atau poin yang mana gitu ya, sanitasi bukan prioritas gitu gitu. Nah, itu kadang-kadang ee dilemanya adalah ketika modelnya adalah pemberdayaan masyarakat ya. di mana kita kan sebagai sebuah apa seorang ahli pembangunan atau praktisi pembangunan, kita akan menyerahkan bolanya itu pada masyarakat supaya mereka terberdayakan. Harapannya kita maunya mereka tuh koncern sama sanitasi eh tapi ternyata enggak penginnya bangun jalan gitu. Sama-sama infrastruktur dasar kan gitu ya. Tapi ya itulah kenyataannya sanitasi seringki berkompetisi dengan kebutuhan yang lain gitu. Oke. Kemudian ee nah dari sini saya akan menayangkan hasil penelitian saya yang berada pada sebuah kota di Jawa Barat gitu ya. Ee jadi kami melakukan 26 analisis eh dokumen dianalisis melalui skema kualitatif dokumen analysis dan juga ada wawancara dari 35 partisipan yang merepresentasikan aktor pemerintah dan perwakilan masyarakat rentak. Tapi setelah dilihat, kota ini juga merepresentasikan kebanyakan kota di Indonesia. Artinya hampir semua kota yang saya datangi itu punya masalah gitu. Ee punya masalah yang pelik juga yang ee jawaban itu tidak sederhana ya. Oke. Pertama adalah akses siapa yang tertinggal. secara umum teman-teman kami ini ya gitu ya atau partisipan yang kami wawancara itu sudah punya awareness yang tinggi tentang ee hak asasi, prinsip kesetaraan, marginalisasi itu tidak boleh gitu ya segala macam. Dan bahkan regulasi di Indonesia itu sudah menegaskan bahwa sanitasi adalah hak setiap warga dan SPM mewajibkan akses dasar bagi semua. Terlepas bahwa SPM belum menyebutkan soal sanitasi aman. Kemudian kelompok rentan ada kebijakan propur sudah ada kebijakan kita bagus sekali tapi ketika dalam implementasinya itu ee apa ya seringki misalnya pendanaannya terfragmentasi ya ee sehingga tidak bisa dari skema pendanaan itu menghasilkan sesuatu yang bermakna. Kalau saya analogikan gini deh Bapak Ibu, saya kan ketua lab ya. Nah, di ITB itu ada banyak lab nih. Ee ada dan ada budget atau anggaran dari program studi gitu. Katakanlah anggarannya Rp100 juta gitu. Kalau dibagi ke lima laboratorium dengan kebutuhan yang beda-beda itu masing-masing kalau merata hanya dapat 20 juta nih gitu. Tapi ee R juta kalau di laptop bisa beli apa sih gitu ya. aduh enggak bisa beli alat-alat yang mahal gitu yang bisa di manfaatnya besar. Tapi kalau anggarannya itu Rp100 juta, maka bisa beli satu alat yang bermakna gitu. Jadi kadang-kadang fragmentasinya lebih ke situ sih ee untuk bisa menghasilkan apa ya suatu kegiatan yang bermakna karena tidak bisa dipungkiri ee program-program yang sifatnya soft building ya eh kayak apa namanya e awareness building, membangun kelembagaan itu tuh ee rentang waktunya cukup lama ya. Kemudian keadilan sejati menuntut akses tak hanya dari rumah tangga tapi juga di fasilitas publik. Nah, ini salah satu yang disoroti. Ee kalau di sektor pembangunan sanitasi sendiri sepertinya fokusnya sudah mulai di healthc ya, di layanan ee apa fasilitas kesehatan dan juga di fasilitas pendidikan di sekolah gitu. Penelitian yang saya lakukan dulu pernah juga masuk ke wisata gitu. Nanti kita lihat ya ee seperti apa di daerah pariwisata. Oke. Nah, ini saya membaca ini tuh sangat tertarik sekali. Ini adalah sebuah tool yang dikeluarkan oleh ee teman-teman dari Unhas ya. Mungkin Bapak, Ibu ada yang dari Unhas di sini. Sa
Resume
Categories