Transcript
l7BnjLSKgWE • Webinar 117 Inventarisasi Emisi Pencemar Udara
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0151_l7BnjLSKgWE.txt
Kind: captions Language: id pengalaman langsung dengan praktikum dan e-learning yang dapat diakses di manapun. Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan Eco Edio ini memang dari grup-grup di alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh bisa dianggap menarik ya karena mereka pengetahuan mereka tentang yang pengin mereka ketahui itu meningkat gitu ya. Kemudian skill-skill yang dihasilkan dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa dilihat begitu ya, terasa gitu manfaatnya di kami terutama untuk e para hutan yang memukan tenaga-tenaga ahli sehingga saya memilih Eco Edu dan sempat mengikuti pelatihannya juga dan itu terbukti benaritu. Nah, saya lihat Instagram itu ada Edu yang akan menyenggarakan pelatihan. Nah, di sini juga saya banyak baca terlebih dahulu ya terkait tentang informasi yang disediakan oleh. Nah, menurut saya itu menjadi hal yang membuat tertarik untuk ikut pelatihan gitu. Jadi, saya sering lihat di Instagram gitu bagaimana Eko Idu menyampaikan informasinya. Eko edu itu bagus karena pelatihan-pelatihnya itu selalu tergini terus mengikuti zaman dan juga pelatihnya atau mentornya itu bagus-bagus dan terbaiklah di bidangnya. [Musik] Iya. Ee yang pertama memang tentu saja ini meningkatkan dan maksimalkan skill-skill yang saya harapkan begitu ya. ee tertanggung dalam penyusunan dokumen AMD pun saya jadi bisa lebih produktif, lebih efektif juga ee punya update gitu ya, update-update persoalan-persoalan dalam jasan AMDA terkini dari ahlinya langsing di lapangan begitu yang pengalamannya tidak diragukan. Menurut saya pelatihan yang disediakan ini sangat bermanfaat sekali dan mudah untuk aksesnya. Jadi ada teknologi terbaru yang saya dapat itu di e-learning ya. Itu luar biasa ee pembelajarannya juga mudah sekali untuk dipahami. Alhamdulillah bisa mengikuti dan juga menambah ilmu pengetahuan yang banyak banget. [Musik] eh e-learning ini memang di memang sangat diperlukan sekali ya, terutama untuk kita yang dengan keterbatasan pengetahuan kemudian juga waktu mungkin ee itu memberikan kita kesempatan untuk kembali mengingat, kembali mendengarkan paparan-paparan yang mungkin kurang jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang sesering mungkin yang kita inginkan. Kita juga bisa review kembali sehingga belajar kita bisa lebih efektif dan efisien. Arning itu membantu sekali ketika pada saat penyampaian materi ada yang ketinggalan gitu ya. Jadi ee saya bisa lihat materi itu di 7 sangat membantu Mbak. Jadi saya ee ambil materi terus lihat video yang bisa diakses kapan aja dan di mana aja. 4 juta dengan informasi yang kami peroleh itu jauh dari kasadan sebenarnya. Jadi apa namanya ya? Kalau saya bilang terlalu murah itu jadi sepadanlah. Jadi menurut sepadan Bu karena memang e pelatihannya itu pun sangat membantu ya dalam menyelesaikan satu pekerjaan yang ada di e sekitar lingkungan saya sendiri gitu. E saya kira sepatutan sesuailah dengan apa yang kita dapatkan. [Musik] E-KTP efektif, tepat, dan profesional, hemat, cermat, dan hebat. Keren, profesional, dan juga kebinian. Ya, baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko Edu ke-117. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu semuanya yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Hari ini webinar Ekoed Edu akan mengangkat tema inventarisasi emisi pencemar udara. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya sebelum memulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa bersama-sama. terlebih dahulu sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersilakan. Berdoa dicukupkan. Untuk acara selanjutnya, mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak dan Ibu untuk duduk tegang. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Baik, untuk selanjutnya sebelum kita memasuki materi inti mungkin di sini saya akan menyapa apa salah satu peserta yang mengikuti acara webinar ini. Ee mungkin saya izin kepada salah satu peserta di sini saya akan memilih ee kepada Bapak Faustinus. Saya di sini sudah mengirimkan untuk asu unmute Bapak Faustinus. Iya. Baik. Baik Pak. Selamat pagi, Pak. Selamat pagi, Ibu. Iya. Mungkin Bapak boleh memperkenalkan diri dulu, Pak. Dari mana atau instansi dari mana? Iya. Baik, terima kasih, Bu. Perkenalkan nama saya Faustinus. Saya pegawai di ee Dicin Minerba, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara di Kementerian SDM. Jabatan saya sebagai inspektur tambang yang penempatannya di Provinsi Maluku Kota Ambon. Demikian, Ibu. Iya. Salam kenal untuk Bapak Paustinus. Mungkin Ibu Iya. Mungkin saya di sini ingin lebih tahu apakah ini pertama kalinya Bapak mengikuti acara webinar Eko Eddo? Oh, saya sudah sering Ibu mengikuti kegiatan webinar Eko Edo dan selalu saya mendapat update informasi mengenai apa namanya pelaksanaan webinar terbaru dari EKOED Eedu di ee grup webinar Ekoed Edu. Iya. Baik, Pak. Terima kasih, Pak, atas selalu setia untuk Iko Edu. Iya. Semoga harapannya di acara webinar ini kita mendapatkan insight yang sesuai dengan apa yang Bapak Paustinus harapkan. Betul, Ibu. Terima kasih, Ibu. Ya, baik, ya. Terima kasih, Pak Faustinus. Mungkin di sini saya menyapa satu lagi saja peserta. Kebetulan ada Ibu Rona Yuliani. Iya, mohon izin Ibu Rona, saya sudah mengirimkan untuk tidak di-mute. Apakah sudah ada Ibu Rona? atau mungkin saya alihkan kepada Bapak Gunawan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Iya. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Pak Gunawan mungkin ee bisa memperkenalkan terlebih dahulu, Pak asal dan asal instansinya. Baik, saya dari ee Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jabatan saya Widya Iswara. Baik, Pak Gunawan. Ee salam kenal, Pak. Mungkin di sini saya ada sedikit pertanyaan saja, Pak. Ee apa harapan Bapak terhadap webinar ini? Ee saya sebagai widwara tentunya sangat perlu ilmu-ilmu pengetahuan. Dengan adanya kegiatan webinar ini, maka minimal saya menambah ilmu pengetahuan dan kalaupun ee mereka membutuhkan pengetahuan saya maka saya dapat memberikannya. Alhamdulillah hampir setiap kegiatan webinar ini Bu saya mengikuti. Tapi ada beberapa kali saya gak dapat sertifikat padahal saya mengikuti terus Bu. Jadi mohon nanti ee setiap kegiatan itu mungkin di gimana dicatat bagaimana apakah sudah terkirim semua sertifikatnya atau bagaimana karena saya tiga kali mengikuti tidak dapat sertifikat Bu sebelumnya ada semua jadi hampir setiap bulan saya mengikuti ini di luar kegiatan saya. Terima kasih atas ilmu yang diberikan mudah-mudahan bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. I waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya, terima kasih Pak Gunawan atas masukannya. Mungkin jika Bapak atau Bapak dan Ibu lainnya yang ee apa belum menerima sertifikat bisa saja mengkontak kami di WhatsApp nanti saya akan memberikannya. Baik, untuk itu mungkin saya akan melanjutkan ee untuk acara selanjutnya di sini. P Bapak Ibu semuanya, mungkin izinkan terlebih dahulu saya untuk mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh kami, yaitu yang pertama adalah pelatihan penyusunan laporan pemantauan lingkungan atau RKL RPL pada gelombang 3 yang akan dilaksanakan pada tanggal 30 Juni hingga 2 Juli 2025. Lalu kemudian pada minggu yang sama yaitu kami juga terdapat pelatihan dengan sertifikat BNSP terkait pelatihan dan sertifikasi operasional pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun atau biasa disingkat OPL B3. Lalu dilanjutkan lagi di minggu depannya pada tanggal 7 hingga 11 Juli 2025 yaitu tentang pelatihan penunjang dokumen AMDAL tentang persetujuan teknis untuk air limbah. Dan kepada Bapak Ibu semuanya pada pelatihan reguler kami jika Bapak Ibu melakukan bayar investasi sebelum H-1 pelatihannya Bapak Ibu akan mendapatkan diskon sebesar 10%. Baik, untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi admin kami Riris dan Misa. Dan Bapak Ibu juga bisa mengunjungi sosial media kami yakni ada Instagram, YouTube channel, Facebook, dan juga website resmi kami yaitu di www.ecoedu.co.id eedu.co.id ataupun jika Bapak Ibu tertarik langsung untuk mendaftar, silakan akses saja ke pendaftaran.co.id. Selain itu juga kami terdapat inhouse training yang dapat dilakukan secara offline sesuai dengan permintaan dari instansi atau perusahaan Bapak dan Ibu semuanya. Jadi kami menunggu Bapak dan Ibu semuanya di pelatihan kami. Baik, untuk selanjutnya kita akan langsung saja masuk pada kegiatan utama kita di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai inventarisasi emisi pencemar udara dan kebetulan kami juga telah menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat ini. Baik, perkenankan saya langsung saja memperkenalkan narasumber kita hari ini yaitu ada Bapak Dr. Eng Asep Sofyan, ST,mt. Beliau merupakan dosen Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung. Selamat siang untuk Pak Asep. Selamat siang, Mbak Dini. Apakah suara saya terdengar? Terdengar, Pak. Aman, Pak. Aman. Baik. Iya. Baik. Ee bagaimana Pak kabarnya untuk hari ini? Alhamdulillah kabar baik ya. Alhamdulillah. Semoga kita selalu sehat ya, Pak. Iya. Baik, sebelum dimulai mungkin izinkan saya untuk menyampaikan beberapa teknis yang di mana untuk pemaparan akan dilaksanakan selama 1 seteng jam kemudian dilanjutkan lagi dengan sesi tanya jawab menggunakan aplikasi Slidu dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung. Baik, untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Pak Asep dan kepada Bapak dan Ibu semuanya. Selamat mengikuti acara webinar ini. Ee bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, Ibu yang saya hormati, kembali ee berjumpa lagi ya dengan webinar Ibu EU. Ee terima kasih Mbak Dini yang sudah membuka acara ini. Ee topik kita kali ini tentang inventarisasi emisi ee pencemar udara. Ee saya akan memulai untuk share screen ya. Mohon izin Bapak Ibu ee untuk Nah ya untuk share screen ee bagaimana apakah sudah terlihat share screen atau belum? Ee Mbak Dini. Oh, iya sudah, Pak. Oh, sudah ya. Baik. Iya. Ee topik kita kali ini tentang inventarisasi emisi pencemar udara ya. Jadi ee secara definisi inventarisasi emisi pencemar udara adalah suatu proses sistematis untuk mengidentifikasi, mengkuantifikasi, dan mendokumentasikan jumlah polutan udara yang dilepaskan ke atmosfer dari berbagai sumber, baik yang berasal dari alamiah maupun ee manusia. Inventarisasi ini biasanya mencakup berbagai jenis polutan ya, seperti SO2, NO2, NH3 ya, VOC, PM. Kemudian kita akan bandingkan ya inventarisasi emisi pencemar udara dengan gas rumah kaca. Sebagaimana diketahui oleh Bapak Ibu, kata inventarisasi ini juga dipakai untuk inventarisasi gas rumah kaca atau IGRK ya. Nah, jadi dua benda ini adalah berbeda. Inventarisasi emisi pencemar udara dengan inventarisasi gas rumah kaca adalah dua benda yang berbeda. Ee pertama, perbedaan pertama dari sisi tujuan. Jadi, kalau inventarisasi pencemar udara ini tujuannya untuk mengendalikan polusi udara ya. Sedangkan inventarisasi GRK untuk mengatasi perubahan iklim dari jenis zat yang diinventarisasi. Kalau inventarisasi pencemar udara ini adalah targetnya kesehatan ya. Nah, targetnya adalah kesehatan. Sedangkan untuk GRK dia perubahan iklim jadi berbeda sehingga pencemar udaranya juga berbeda. Nah, kalau kita lihat contoh ini ya, PM25, PM10 itu adalah kalau kita hirup kita akan sakit ya termasuk juga NOX, SO2, CO, VOC, NH3, PB, O3 dan banyak yang lain lagi itu disebut dengan air pollutan atau polusi atau pencemar udara, ya. pencemar udara itu targetnya ke kesehatan. Sedangkan GRK, contoh CO2 ya, CO2 itu tidak berdampak apa-apa sama kesehatan. Demikian juga CH4 memang ada gangguan ya. Misalnya bau kan kita tidak suka tapi dia tidak akan berdampak kepada kesehatan. Demikian juga N2O. Jadi targetnya bukan untuk kesehatan. Ini akan menyebabkan pemanasan global ya. Jadi GRK ini tidak berdampak pada kesehatan, tapi pada pemanasan global yang disebut dengan efek rumah kaca. Nah, jadi ee sama sekali berbeda ya. Ini tidak ada yang beririsan di sini. Ini CO, ini CO2 ya, CH4 ini NO2 dan NO ini N2O ya. Walaupun ada N tapi ini beda karakteristiknya berbeda. Nah, jadi kita bisa katakan bahwa ketika kita menyebutkan inventarisasi emisi pencemar udara itu jangan tertukar dengan inventarisasi gas rumah kaca. karena sangat berbeda. Nah, tadi kita sudah bahas ya, dampaknya lebih ke kesehatan. Kalau GRK lebih kepada pemanasan global, kemudian regulasi-regulasinya juga berbeda. Mungkin yang lebih familiar Bapak, Ibu lebih ke inventarisasi gas rumah kaca ya. Eh, di sini ada tentang national determinantine contribution ya, national determine contribution ada BUR, ada NC, ada registry nasional. Ini yang biasa Bapak Ibu familiar di GRK. Nah, kalau udara kita ada istilahnya baku mutu udara ambien, izin emisi ya. Jadi berbeda, regulasinya juga berbeda. Nah, tapi ada irisan ya, irisan yang disebut dengan kobenefit. Artinya ada polutan-polutan udara yang sebetulnya bisa membantu perubahan iklim ya. Ee jadi kalau kita lihat balik lagi ke sini ya. Nah, sebetulnya kalau CO2, CH4, N2O itu tidak ada pengaruhnya terhadap kesehatan. Jadi tidak dianggap sebagai pencemar udara. Tapi partikulat itu berdampak kepada perubahan iklim ya. Partikulat berdampak pada perubahan iklim. Apa dampak dari partikulat? Ya, karena dia akan ee mengabsorb ya ee mengabsorb dari radiasi matahari. Nah, radiasi matahari ini ee dalam jangka panjang ya, makanya disebut ee long term impact. Untuk PM 2,5 dan PM1 itu dia akan ee mengalami dampak tapi tidak seperti CO2 dan CH4 yang dampaknya singkat ya. Nah, jadi partikular ee itu bisa berdampak pada perubahan iklim ee khususnya menghalangi radiasi sinar matahari. Nah, tentu di sini dampaknya sangat kompleks ya. Ee tapi penelitian terakhir mengatakan bahwa dampaknya ada. terutama ee partikulat dalam bentuk ee karbon black carbon disebutnya sebagai black carbon atau BC. Nah, artinya kita mengenal ada kata kobenefit ya di sini ee yang pada dasarnya kita kurangi GRK kita juga bisa mengurangi pencemaran udara dan kita kurangi pencemaran udara kita juga bisa mengurangi GRK. Kemudian, oke kita ee sudahi dulu ya ee topik apa beda antara pencemar udara dengan GRK. Mudah-mudahan Bapak Ibu sudah bisa membedakannya. Jangan lagi tertukar. Kita akan menghitung emisi pencemar udara seperti CO2. Itu seringkiali saya dengar ya. Nah, sekarang sudah tidak mungkin tertukar lagi. Begitu bicara pencemar udara itu adalah PM 2,5, PM10, SO2, NO2. Nah, semua pencemar udara. Begitu bicara gas rumah kaca CO2, CH4, N2O dan seterusnya. karena senyawa-senyawanya berbeda. Kita sudahi diskusi tentang perbedaan inventarisasi pencemar udara dengan gas rumah kaca. Sekarang kita fokus pada topik kita hari ini, yaitu inventarisasi pencemar udara. Pertanyaan pertama adalah mengapa kita harus melakukan inventarisasi emisi pencemar udara? Nah, kita tahu bahwa pencemar udara ini berdampak pada kesehatan. Bagi Bapak Ibu yang tinggal di kota besar ya, itu akan menghirup udara kotor setiap hari dan itu tergantung kepada gasnya ya. Kalau dia PM10, PM10 itu kan artinya partikel yang ukurannya 10 mikron atau kurang, ya. Jadi dia ukurannya relatif besar dibandingkan PM 2,5 2,5 itu artinya dia 2,5 mikron atau kurang. Nah, ketika kita menghirup PM10 misalnya ada bus dengan asap yang tebal, nah itu kemungkinan PM10. Nah, tapi kalau PM2,5 itu tidak terlihat, tidak terlihat ee secara fisik, ya. Nah, jadi dari hasil penelitian ee beberapa tahun terakhir di kota-kota besar, PM 2,5 ini sudah melebihi baku mutu. Apa yang terjadi kalau kita menghirup PM10 atau PM2,5? Nah, PM10 itu akan terjadi gangguan pernapasan atas ya. Ketika PM 2,5 ikut terhirup, PM 2,5 itu bisa sampai masuk ke alveulus. Itu bisa menyebabkan kanker paru-paru. Jadi lebih bahaya sebetulnya PM2,5. Demikian juga kalau NO2 ya. NO2 itu gas iritan. Dia bisa melukai saluran pernapasan. Demikian juga SO2. Nah, kalau untuk ozon itu ada dua jenis. Ada ozon yang di permukaan, ada yang di atmosfer di ketinggian 25 km. Kalau ozon yang di atas bagus untuk melindungi dari radiasi ultraviolet, kita sebut sebagai ozon baik. Tapi ozon yang ada di permukaan bumi yang terhirup oleh kita itu gas iritan bisa merusak saluran pernapasan kita ya. Kemudian ada juga CO. CO ini dia bisa berikatan dengan darah ya. Jadi, oksigen ee darah itu akan langsung bereaksi dengan CO ee sehingga dia tidak bisa bereaksi dengan oksigen karena ee ya akan terjadi ee kompetisi ya. Nah, kompetisi ee kita menyebutnya ee kalau keracunan CO itu bisa langsung pingsan bahkan meninggal ya karena otak kehabisan oksigen. Jadi ya mungkin sebagai ilustrasi mungkin Bapak Ibu pernah mendengar kasus ada kendaraan berhenti nyala tapi orangnya pada tidur di pinggir jalan gitu. Nah, itu kan kendaraan mengeluarkan CO ya. Biasanya kendaraannya kalau dia kendaraannya kurang bagus dari knalpot itu masuk ke ruangan ee kita nyetir ya, ada kebocoran gitu ya. Nah, begitu masuk maka biasanya semua langsung pingsan. pingsan kalau terus menghirup ya karena mesinnya kan enggak ada yang mematikan karena orangnya keburu pingsan akhirnya meninggal. Jadi CO ini sangat berbahaya ee kalau terhirup bisa langsung ee pingsan atau bahkan meninggal ya. Nah ee gas-gas yang tadi kita sebut sebagai pencemar udara ini harus dikendalikan oleh pemerintah kota ya. Nah, bagaimana caranya pemerintah kota untuk ee mengendalikan pencemaran udara? Ya, kalau kita ingin mengendalikan sesuatu tentu kita harus tahu apa yang kita kendalikan, berapa jumlahnya. Misalnya ya, Bapak, Ibu di rumah sering diganggu oleh tikus, makanan-makanan habis ya. ee setiap malam ada kardus ataupun barang-barang yang dirusak. Nah, kalau siang hari tidak ada misalnya ya, contoh berarti Bapak Ibu harus melakukan inventarisasi ya. pertama ini tikusnya jenis apa ya, sebesar apa, kemudian juga dia berasal dari mana, terus bagaimana cara mengendalikannya kan kira-kira begitu ya. Nah, demikian juga dengan pencemaran udara. Kita sudah tahu dari hasil pengukuran PM2,-nya ini melebihi baku mutu ya. PM25-nya melebihi baku mutu. Nah, sekarang kita kan ingin mengendalikan pencemaran udara. Langkah pertama di dalam mengendalikan pencemaran udara adalah inventarisasi emisi pencemar udara. ya kita harus tahu ya ee apa saja yang ada di kota kita, lokasinya di mana, sumbernya dari mana, berapa jumlahnya. Kira-kira begitu ya, Bapak, Ibu. Jadi, inventarisasi emisi ini merupakan langkah awal bagi kita untuk mengetahui musuh kita ini siapa, ya. Karena kalau tidak diinventarisasi, kita juga tidak tahu ee sumber ya di sini ee sumbernya, jenisnya, besarnya itu menjadi tujuan dari inventarisasi emisi ya. Nah, kalau kita lihat yang paling utama PM 2,5 karena rata-rata sekarang di kota-kota besar ya PM 2,5 ini sudah melebihi baku mutu. Kemudian PM10, kemudian NO ya, NOX ini terdiri dari NO dan NO2 makanya disebut NO. Ada SO2, ada CO, ada VOC, ada NH3 ya, ada PB, ada ozon, ozon permukaan. Nah, kemudian kita coba hitung berapa jumlahnya. Nah, di Indonesia saat ini pedoman terakhir ya, karena ini belum di-update pedoman terakhir ini tahun 2013. Jadi sudah cukup lama ya. Sekarang sudah 2025 sudah 12 tahun belum di-update tapi isinya masih relevan. Ee tentunya kalau kita ingin meningkatkan masih bisa ya. ee hanya untuk sekarang karena pedoman resmi adanya ini ya, kita pakai ini untuk bahan webinar kita sekarang. Nah, kemudian ee bagaimana cara dapat file ini? Bapak, Ibu tinggal ketik aja judulnya. Ini pedoman teknis penyusunan inventarisasi emisi pencemar udara di perkotaan itu langsung muncul ya bisa download. dari website-nya KLH. Nah, jadi inventarisasi emisi ini merupakan langkah awal tadi ya saya sudah bilang langkah awal sebelum kita melakukan langkah-langkah kebijakan dalam konteks kebijakan perkotaan. Kita bisa lihat di sini gambarnya ya. Ini adalah langkah pertama kita melakukan inventarisasi emisi sebagai salah satu bagian dari strategi pengendalian pencemaran udara perkotaan. Kemudian kita hanya bisa melakukan ya ini kan ada ada strategi ya. Nah, ada strategi. Strategi ini kan ujungnya tapi kan dari sini harus dari awal ya. Nah, dari awal awalnya adalah inventarisasi emisi. Ini adalah semua langkah-langkah yang harus kita lakukan jika kita ingin melakukan pengendalian udara perkotaan. Kita tidak akan bahas semua ya. kita hanya fokus kepada inventarisasi emisi. Bahwa ee inventarisasi emisi ini adalah hal yang sangat penting di dalam tahap awal kita mengendalikan pencemaran udara. Jadi nantinya dari hasil kita menyusun itu kita akan bisa menentukan opsi-opsi pengendalian pencemaran udara ya, baik untuk kebijakan, institusi, penegakan hukum, ekonomi, teknologi. Ini semuanya berawal dari inventarisasi emisi. Jadi inventarisasi emisi ini menjadi langkah awal yang sangat penting. Nah, ketika kita sudah menyadari pentingnya inventarisasi emisi ya, langkah selanjutnya adalah kita melaksanakan inventarisasi emisi atau biasa disebut V. Inventarisasi emisi ini diawali dari perencanaan ya. Nah, biasanya inventarisasi emisi ini tanggung jawab pemerintah, baik itu pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi atau pemerintah nasional. Misalnya kita sebuah kabupaten ya. Nah, jadi kabupaten ini sudah memahami pentingnya inventarisasi emisi karena itu menjadi dasar menjadi dasar dan data awal dalam kita menentukan pengendalian pencemaran udara. Langkah pertama melakukan perencanaan ya. Kira-kira siapa tim yang akan mengerjakan berapa lama? Ya. Kemudian setelah timnya ada mulailah mengumpulkan data. Ya, ini tahap kedua. Nah, mengumpulkan data. Setelah itu ada tim lain. Jadi timnya enggak boleh satu, timnya minimal dua. Satu yang mencari data dan menghitung, satu yang memeriksa. Kita sebut sebagai QA QC. Q eh quality assurance, quality control. Apa beda QA dan QC? Kalau QA itu kontrol internal. Jadi ee misalnya begini, ini tim yang akan melakukan QAQC, maka tim yang mengumpulkan data dan menghitung itu disetor ke tim yang memeriksa. Tim yang meriksa melakukan QA, quality assurance. Assurance itu artinya memastikan kualitasnya bagus. Contoh, ini data dari mana? Oh, dari wawancara. Siapa yang diwawancarai? Orang yang lewat. Oh, enggak bisa. Yang diwawancarai harus kepala dinas atau kepala bidang dan harus berbentuk kuesioner. Mana buktinya? Tidak ada. Enggak bisa. Jadi harus tertulis kalau dia bentuknya wawancara. Misalnya ada sebuah mol. Mol di sini apa sumber emisinya? Tenannya ada berapa? Nah, itu tentu ada tata cara mencari data. Tata caranya sama saja dengan tata cara mencari data yang lain ya, tentang ee prosedur yang harus di dipenuhi. Jadi sebetulnya tidak ada prosedur khusus di dalam inventarisasi emisi mengikuti prosedur mencari data yang biasa dilakukan misalnya oleh BPS atau lembaga lain. Tentu di sana ada aspek-aspek akurasi ya. Ee nah setelah oleh tim dilakukan quality assurance untuk memastikan kemudian ada juga proses quality control. Nah, quality control ini apakah dilakukan oleh tim itu juga atau oleh tim yang lebih tinggi posisinya misalnya kepala dinas begitu. Itu untuk memastikan bahwa semuanya dalam prosedur yang benar. Ya, contoh misalnya mengumpulkan data dari mana? Dari BPS. Nah, benar enggak datanya itu dari BPS? Apa buktinya? Karena oh saya ambil dari website. Nah, itu tidak bisa. Kecuali website BPS ya kita ambil dari website apalagi blogger misalnya. Itu enggak bisa ee prosedur seperti itu. Itu harus ada dokumennya. dan harus ee resmi dari lembaga resmi ya. Nah, jadi QA QC ini yang QA lebih kepada memastikan prosesnya. Kemudian kontrol, quality control lebih melihat secara lebih garis besar ya, secara luas. ee bukan hanya proses dan prosedur, tapi secara keseluruhan pengambilan data, penyimpanan data, dokumentasi data. Karena bisa jadi tim yang mengambil data benar tapi yang entry data salah. Itu juga menjadi ee konsern dari tim quality control. Ee saya sering mengalami kasus ya, orang yang ngumpulkan data orang lingkungan, orang yang entry data bukan orang lingkungan. Kemudian di data yang diberikan oleh orang lingkungan itu dikatakan satuannya misalnya mol, kemudian ada satuan miligram. ada 1 miligram/m³, ada satuan ee ppm misalnya, itu kan beda-beda satuannya ya. 1 mikrogram/m³, 1 ppm, 1 mol misalnya, tapi oleh tim data dianggapnya sama. Dia hanya memasukkan angkanya saja. Jadi tidak memperhatikan satuan. Akhirnya ketika diproses datanya salah. Setelah ditelusuri, oh ternyata ada kesalahan waktu entry. Nah, jadi entry data juga ini menjadi perhatian dari QC. Betul enggak entry datanya itu. Nah, setelah entry datanya benar, proses perhitungan, proses perhitungannya benar atau tidak? setelah proses perhitungannya satuannya benar atau tidak. Ini juga sering kejadian ya. Karena orang yang mengerjakannya beda-beda. Ada yang menuliskannya kilogram, ada yang menulisnya ton, ada yang menulisnya gigagram. itu hasilnya bisa beda-beda ya kalau satuannya beda. Nah, jadi hal-hal seperti ini harus diperhatikan oleh tim QAQC supaya hasil inventarisasi emisi itu yakin ya, yakin benar, tepat, dan akurat. Nah, baru nanti nomor empat ada dokumentasi, pelaporan, pemeliharaan, dan pemutahiran ya. Kemudian, nah ini ada diagram alirnya ya, mulai dari perencanaan, kemudian nanti ada QA QC sampai akhirnya membuat laporan ya. Nah, untuk menghitung itu ada dua pendekatan, yaitu top down dan bottom up. Jadi, kalau top down itu dia menggunakan data nasional ya. Tapi kalau bottom up dia menggunakan data lokal. Misalnya begini, nasional ingin tahu sumber emisi terbesar di Pulau Jawa. dia tidak mungkin melakukan bottom up, maka dia akan melakukan top down. Misalnya dari kepadatan penduduk. Dari kepadatan penduduk kemudian dikalikan dengan faktor emisi untuk emisi dari domestik. Kemudian dari transportasi ya kan seharusnya kalau dari bottom up transportasi ini harus dihitung traffic dari setiap kendaraan yang ada di kabupaten masing-masing kabupaten. Ya, mungkin dari sisi nasional tidak memungkinkan. Maka secara top down itu hanya dilihat dari sisi traffic jalan nasional. Yang lainnya diasumsikan berapa persen dari jalan nasional karena datanya misalnya hanya punya data nasional. Nah, jadi top down ini dilakukan oleh pihak yang sangat luas kewenangannya untuk membuat kebijakan yang luas juga. Contoh misalnya pemerintah nasional ingin membuat kebijakan pengendalian pencemaran udara, dia perlu data itu tidak mungkin bottom up, itu harus melakukan top down. Nah, tapi kalau level kabupaten itu bisa melakukan bottom up ya, yaitu dia cari datanya dari BPS, dari bagaimana atau kita bisa kombinasi ya misalnya kita pakai data nasional juga pakai data ee top down dan bottom up kita pakai mix. Nah, yang paling penting di dalam pelaporan inventarisasi GRK itu harus kita sebutkan. Ini data nasional, ini data provinsi, ini data kabupaten kota, ini levelnya top down, ini levelnya bottom up. Itu harus dijelaskan. Nah, dari berbagai laporan inventarisasi emisi yang pernah saya baca, banyak yang tidak mencantumkan informasi itu. Sehingga kita secara QC salah ini data, data apa? Data dari siapa, kedilannya bagaimana ya. Nah, jadi karena inventarisasi emisi ini adalah urusannya data, maka hal-hal yang seperti ini menjadi penting ya. Karena kalau datanya salah ya nanti kebijakannya juga salah. Jadi, Bapak, Ibu sudah bisa membedakan ya apa itu pengertian top down dan bottom up. Nah, ini kira-kira ee bedanya ya, top down dan bottom up. Nah, pertanyaannya saya di kabupaten mau melakukan inventarisasi emisi kabupaten. Harusnya kan bottom up, boleh enggak top down? Ya jawabannya tentunya tidak boleh. Tapi bagaimana kalau ini kami dananya tidak ada, tenaga ahlinya tidak ada. Ya, itu kembali lagi kepada kebijakan setempat ya. Artinya secara ilmiah tidak boleh. Kalau dia levelnya kecil, kota atau kabupaten itu harus bottom up. Nanti bottom up ini dikumpulkan menjadi data agregat, data jumlah dalam sebuah provinsi. Data-data provinsi ini diagregat jadi data nasional. Itu yang ideal. Dimulai dari bottom up ya. Nah, secara ilmiah tidak boleh bahwa kabupaten kota melakukannya secara top down. Artinya data nasional kemudian di didetailkan di daerah misalnya didistribusi normal ya di bukan distribusi proporsional istilahnya ya data nasional kemudian diproporsionalkan itu enggak bisa secara ilmiah. Nah, kemudian ee ketika kita menentukan perhitungan emisi ini, tentu kita harus melihat sumber daya yang ada di kita ya. Tapi secara ilmiah kalau ingin disebut data yang berkualitas baik memang dia harus sedetail mungkin ya ee kita harus me menghitungnya sedetail mungkin. Nah, sekarang kita apa masuk ke dalam sumber. Jadi ini ada gambar yang lebih jelas ya. Nah, ini ee ini sebenarnya sama aja ya. Ini hanya beda beda penumusan. Nah, jadi sumber pencemar udara itu kita bedakan ada tiga, sumber titik, sumber area, dan sumber bergerak. sumber titik misalnya ada industri, PLTU ya, ada rumah sakit, ada ee mall ya ee tempat perbelanjaan itu kita sebut sebagai sumber titik. Nah, sumber area itu adalah sumber titik yang terlalu kecil kalau kita hitung satu-satu. misalnya pemukiman ya, ada sebuah perumahan 1000 rumah itu kan sebetulnya sumber titik juga dari satu rumah dia mengeluarkan satu emisi dari kompor misalnya ya dia sumber titik juga tapi kalau kita perlakukan dia sebagai sumber titik terlalu banyak maka kita gabung satu perumahan itu kita anggap sebagai sumber area ya. Misalnya ada sepanjang jalan di situ banyak sekali rumah makan, pedagang kaki lima, ee pedagang-pedagang apa ada kalau malam hari dia buka restoran gitu kan, siang hari dia enggak ada pedagang informal. itu kalau dihitung satu-satu terlalu banyak, maka kita anggap area itu akan menghasilkan emisi berapa. Nah, kalau sumber bergerak ini dibagi lagi dua, ada yang on road ya. On road artinya dia ada di jalan umum. Ada yang non road, dia tidak ada di jalan umum. Misalnya kereta api, pesawat, pelabuhan. Ya, termasuk kalau di tambang itu traktor, bulldozer ya. Di pertanian ada traktor, di tambang ada bulldozer, ada alat-alat berat. Nah, itu kita sebut sebagai non road karena dia berada di lokasi tambang atau dia ada di lokasi pertanian. Kalau dia berjalan di jalan raya kita sebut sebagai onround ee mobil, sepeda motor. Nah, kita bisa bagi dua ya untuk perhitungan kendaraan yang melintas di jalan raya bisa berdasarkan panjang jalan atau berdasarkan zona. Ini kasusnya mirip dengan sumber titik dan sumber area ya. Sebetulnya kan sumber area juga asalnya titik tapi diakumulasi. Nah, sumber area ini pun sama ya. Misalnya ee ada jalan utama, jalan nasional itu kita bisa hitung berdasarkan panjang jalan atau sumber garis. Tapi kalau jalan-jalan komplek itu tidak mungkin kita pakai sumber daring. Jalan-jalan kampung, jalan-jalan komplek itu kita anggap saja sebagai sebuah sumber area yang isinya ada puluhan atau ratusan jalan, jalan-jalan kecil ya itu kita anggap sebagai area. Jadi ini konsepnya sama dengan simplifikasi sumber area. Padahal dia juga titik asalnya ya. Kemudian kita anggap area. Ini juga sama asalnya dia garis tapi kemudian kita anggap area. Demikian juga untuk nonroad. Kita bisa anggap dia sebagai sebuah garis atau sebuah area tergantung kepada ee kedetailannya ya. Ee tentu kalau ingin detail semuanya kita anggap garis. Tapi kan mungkin waktunya tidak bisa ya dari sisi ruang lingkupnya tidak bisa. Kalau semua jalan sampai yang gang yang kecil-kecil itu kita hitung satu-satu itu tidak mungkin. Jadi kita anggap aja itu sebagai sumber area. Termasuk yang non road juga misalnya traktor banyak dipakai di sebuah lahan pesawahan ee kita anggap sebagai sumber area. Nah, asumsi-asumsi ini itu harus dituliskan ya di dalam laporan ini dianggap seb asumsinya apa sehingga ini dianggap sebagai sumber area. Karena banyak juga laporan yang isinya hanya menuliskan hasil aja begitu ya. prosesnya tidak ada. Nah, ini bahaya. Kenapa? Karena inventarisasi emisi itu idealnya di-update tiap tahun atau 2 tahun atau 3 tahun tergantung kepada kemampuan. Tapi setidaknya dia akan di-update secara terus-menerus. Nah, orang yang akan meng-update di tahun berikutnya dia kan harus lihat datanya sebelumnya sedetail apa begitu. Jadi selain datanya semakin banyak juga kualitasnya harus semakin bagus. Di sana disebutkan, oh ini banyaknya sumber area ya misalnya. Nah berarti dia sekarang menargetkan bisa enggak dari sumber area ini bisa didetailkan lagi apakah menjadi sumber titik atau sumber garis. Nah, itu hanya memungkinkan kalau informasi sumbernya itu ada ya. Apakah ini sumber titik, sumber garis, sumber area. Nah, sehingga hal-hal seperti itu harus dicantumkan di dalam laporan. Ini adalah contoh-contohnya ya. Tadi sudah kita bahas kategori sumber. Nah, kemudian di sini ada istilah tir ya. Nah, mungkin kita akan masuk ke istilah tir. Jadi, tir ini disebut dengan pendekatan berjenjang. TIR itu bahasa Indonesianya tahap atau tingkat. Jadi tahap 1, tahap 2, tahap 3. Nah, kita mulai dari tir atau tahap 1 yaitu menggunakan metode dasar. Metode dasar itu kita gunakan data yang sudah disediakan oleh pemerintah ya. Jadi menggunakan faktor emisi, nanti kita akan berkenalan dengan faktor emisi menggunakan faktor emisi default internasional misalnya dari MF, EEA, Guidebook ya. itu bisa di-download di internet atau bisa dari data nasional ya ee data provinsi yang kita anggap memang ini sudah ada tir satu ini sudah ada. Nah, tir du kita coba lebih spesifik lagi faktor emisinya. Nah, contoh misalnya faktor emisi sebuah kendaraan dari dokumen internasional. Nah, itu kan rata-rata dari seluruh negara di dunia. Padahal di Indonesia itu beda karakteristik kendaraannya. Nah, artinya kalau kita pakai data lokal itu akan makin baik. Jadi, tir ini menjadi data yang lebih baik daripada tir 1. Kemudian ada lagi tir 3. Nah, tir 3 ini kita hitung langsung. Misalnya Bapak, Ibu punya sebuah kotak dengan tiga buah pembangkit listrik. anggaplah semuanya pembangkit listrik batu bara. Nah, berdasarkan tiru kalau pembangkit batu bara itu angkanya misalnya 20 ee gram per detik misalnya ya 20 gr/ detik. Nah, kalau tir dua kita lihat ini jenisnya beda. Yang satu misalnya dia ee dari sisi prosesnya berbeda dengan yang kedua, berbeda dengan yang ketiga. Nah, kita lihat lagi referensi yang lebih detail. Ternyata faktor emisinya di buku yang lebih detail itu beda-beda. Bukan angkanya 20. Ada yang 15, ada yang 16, ada yang bahkan lebih besar dari 20, ada yang 23 misalnya. Nah, itu kan sudah lebih mendekati kepada kondisi di lapangan. Kalau tir 3 kita datangi pabrik itu kita ukur, kita dapat data spesifik dari pabrik itu dengan spesifikasi teknis yang ee yang khusus ya yang dimiliki oleh pabrik itu. misalnya kualitas batubaranya bagaimana, prosesnya bagaimana, alat pengendalinya bagaimana. Jadi itu kita sebut sebagai tir tiga atau tingkat tiga atau tahap tiga. Jadi tir tiga itu artinya yang paling detail. Nah, target dari inventarisasi emisi mencapai tir 3. Tapi kalau tidak ada kita pakai tir 2. Kalau tidak ada kita pakai tir satu. Nah, jadi itu kira-kira ee pengertian tir 1, 2, dan 3 ya. Jadi kalau ee tir 3 itu biasanya kita monitoring langsung ya, monitoring langsung dari tiap pabrik misalnya. Nah, setelah kita mengetahui ya tir 1, tir 2, tir 3, ternyata tir du apa dua dan 3 tadi itu hanya sebagai bagian dari metode perhitungan menggunakan faktor emisi. Apakah ada metode perhitungan lain? Ada ya. Selain menggunakan faktor emisi yaitu menggunakan material balance. Bagaimana suatu emisi dihitung berdasarkan neraca massa atau kita uji cerobongnya. Nah, ini sudah masuk ke dalam tir ya. model estimasi e model estimasi survei kuesioner pertimbangan pakar ini adalah metode lain untuk menghasilkan data emisi. Nah, tetapi yang paling banyak digunakan adalah menggunakan faktor emisi, baik tir 1, 2, atau 3. Nah, sehingga untuk selanjutnya kita hanya akan bahas yang faktor emisi. Nah, ini tadi ya perbandingannya. Nah, ketika kita menggunakan faktor emisi untuk sumber titik, sumber area, dan sumber bergerak, kita akan mencoba untuk menghitung. Nah, tapi sekali lagi Bapak, Ibu sudah dapat wawasan bahwa faktor emisi bukan satu-satunya metode menghitung emisi. Ada metode lain. Yang paling akurat itu adalah pengukuran. kita datangi sendiri pabriknya kita ukur sehingga levelnya dia masuk ke dalam tir karena dia paling detail. Nah, kemudian kita bisa juga dengan menggunakan material balance atau neraca massa. Nah, kalau kita hitung neraca massanya itu bisa dikategorikan tir 2. Nah, kalau kita pakai faktor emisi tergantung faktor emisinya dikerjakan oleh siapa. Kalau oleh nasional ya itu kita bisa sebut sebagai tir 2. Kalau dia internasional datanya itu kita sebut sebagai tir satu. Apa bedanya faktor emisi dengan data pengukuran? Jadi faktor emisi ini ditentukan oleh sebuah lembaga ya, baik pemerintah maupun non pemerintah yang mengolah data-data pengukuran dari suatu wilayah. Misalnya kalau faktor emisinya dihasilkan oleh internasional, maka data-data internasional ini misalnya untuk sebuah pabrik ya, ada pabrik pengolahan kelapa sawit. Nah, di seluruh dunia ini kan banyak sekali pabrik kelapa sawit ini dikumpulkan datanya anggap ada 1000 data kelapa sawit kemudian dirata-ratakan. Nah, itu adalah faktor emisi. Jadi, faktor emisi itu adalah hasil rata-rata dari data yang sangat banyak. Nah, kalau yang namanya rata-rata itu kan dia mencari titik tengah antara nilai maksimum dan nilai minimum. Biasanya dia berada di ee medium ya. Nah, di tengah-tengah. Nilai rata-rata itu biasanya ada di tengah-tengah. Nah, kenapa hasil tir satu itu dianggap lebih tidak akurat? Karena bisa jadi kasus di daerah kita itu bisa jadi nilainya maksimum semua atau bisa jadi nilainya minimum semua, maka nilai rata-rata itu bisa dianggap salah. Ya, lebih bagus kita pakai tir du. Demikian juga kalau kita lebih masuk lagi ke individu individu pabrik berarti tir 3. Nah, jadi faktor emisi itu adalah rata-rata dari data yang sekian banyak kalau dia internasional. Bagaimana kalau faktor emisi nasional? Ya berarti sama nasional misalnya pemerintah Indonesia mengumpulkan data-data pabrik yang ada di Indonesia. Nah, dibandingkan dengan data internasional, data Indonesia dia lebih dekat dengan kondisi kita. Makanya tier du ini lebih bagus akurasinya. Apalagi kalau tir 3 kita melihat individu. Jadi, faktor emisi itu dianggap menjadi metode inventarisasi emisi yang paling praktis yang ada di Indonesia. baik itu tir 1, tir 2, dan tir 3. Nah, sekarang kita akan praktikkan untuk berbagai sumber. Jadi, emisi itu adalah data aktivitas dikali faktor emisi. Nah, di sini memang ada sebuah faktor efisiensi ya yang disebut dengan efisiensi alat pengendali. Nah, bagi Bapak Ibu yang biasa bekerja di bidang lingkungan tentu tahu bahwa kalau sebuah pabrik tanpa ada alat pengendali polusinya itu luar biasa banyak. Misalnya pabrik semen. Pabrik semen pasti mengeluarkan debu yang sangat banyak sehingga harus di tampung dulu debunya itu di mulai dari cyclon ya misalnya back house atau menggunakan metode lain. Nah, si alat pengendali ini harus masuk karena yang kita hitung adalah emisi yang keluar setelah alat pengendali. Makanya alat pengendalinya harus kita hitung. Kemudian ada contoh ya di sini ee sebelum contoh di sini ada kategori sumber titik. Tentu pertama industri dulu ya. Industri ada rumah sakit, ada hotel, ada mall, krematorium, ee sampah ya, pembakaran sampah itu kita anggap sebagai sumber titik ya. insinerator misalnya ada insinerator. Nah, kita akan mulai menghitung di sini ada sebuah industri membakar 10.000 lit solar per tahun. Ini kita sebut sebagai data aktivitas ya. Data aktivitas 10.000 L per bulan. Kemudian ee faktor emisi NOX adalah 3,2 gr/L. Jadi faktor emisinya 3,2 gram/ L. Alat pengendalinya itu 70%. Maka kita masukkan ke rumus ini ya. Tadi sudah ada rumusnya. Jadi 10.000 DA-nya 10.000 FE-nya 3,2. Ini efisiensinya C-nya diganti dengan angka 70. Nah, maka 10.000 1000 * 3,2 * 0,3 dapat 9.600 gr atau 9,6 kg NOx per bulan. Nah, nanti dari per bulan mau kita ubah per tahun itu bisa juga ya tinggal dikali 12. Tapi kalau dia tidak ada alat pengendali hasilnya bukan 9,6 kilo. Ininya C-nya enggak ada berarti 32 kilo. Nah, ini alat pengendali ini data yang sangat penting. Nah, sering ya dari hasil saya meriksa laporan-laporan inventarisasi emisi, mereka tidak mencantumkan angka alat pengendali. Nah, ini bisa salah. kita sebut sebagai overestimate. Hasil perhitungan emisinya terlalu berlebihan dari kondisi nyata. Jadi alat pengendali ini harus di dimasukkan ke dalam data inventarisasi emisi karena dia pengaruhnya sangat besar ya. Nah, itu tadi sumber titik. Sekarang bagaimana dengan sumber area? Sumber area. Contohnya SPBU, rumah tangga, proyek konstruksi, TPA. Kalau tadi insinerator sampah ya yang sumber titik. Sumber areanya misalnya pembakaran sampah di TPA, kemudian hotel, restoran, dan berbagai bahan apa ee proses-proses yang sulit kita hitung secara ee sumber titik. kita anggap sebagai sumber area. Nah, kalau sumber area tentu kita harus tahu berapa areanya ya. Contoh misalnya di sini ada sebuah lokasi yang membakar artinya ee memasaknya menggunakan kayu bakar. Ada 10.000 rumah menggunakan kayu bakar. Rata-rata konsumsinya berapa? Berarti tinggal 10.000. dikali 2 dikali karena pertanyaannya per tahun ya, jadi kita kali 365 dapat R7.300.000 kg kayu per tahun. Nanti tinggal kita kalikan dengan angka 3 ya sebagai faktor emisi. Nah, ini faktor emisinya 3 dapat 21,9 ton. PM 2,5 per tahun. Kalau mau pakai pengendalian misalnya ada efisiensinya 50% maka dia akan menjadi 10,95. Nah, ini tidak berarti semuanya kita kasih alat pengendali kalau di lapangannya tidak ada ya. Jadi kalau ada saja kita masukkan alat pengendali. Jadi di sini kita hitung ya 1 misalnya 2 kg per kayu eh 2 kg kayu per hari per rumah itu kan sebagai unitnya nanti dikali 10.000 rumah gitu. Nah itu sumber area artinya. Nah, nanti di dalam membuat inventarisasi emisi ini kita bisa memanfaatkan GIS atau SIG ya, sistem informasi geografi. Kita buat peta. Nah, menurut pedoman kalau dia luasnya ee lebih dari 100 km², ukuran gridnya 1 kg * 1 kilo. Tapi kalau lebih kecil dari 100 km², grid-nya 0,5 atau 0,25. Jadi dia lebih kecil lagi gridnya ya, lebih presisi. Nah, contoh di sini untuk 400 km² artinya dia lebih dari 100 ya. Kota Palembang ini kita lihat ini adalah peta kota Palembang dan ini kotak-kotak ini adalah kotak 1 * 1 km ya. Jadi kita beri kotak-kotak seperti itu. Nanti setelah kita hitung, nah hasil akhirnya begini. Jadi ada kotak yang berwarna merah, ada yang kotak berwarna kuning, ada kotak yang berwarna hijau. Isinya jumlah ton per tahun. Nah, itu yang disebut dengan GIS atau SIG ya dalam inventarisasi emisi. Jadi hasil akhirnya seperti ini. Kita menemukan suatu kuantitas atau jumlah emisi di setiap grade. Nah, contoh misalnya ee di sebuah kota ada tiga industri, ada PLTUA, pabrik B, industri C. Dari sisi koordinat ternyata PLTUA dan pabrik B ini berada di grid yang sama, grid A1. industri ada di grid B1 misalnya ya. Nah, pertama kan kita hitung dulu ininya ya emisinya. Konsumsi batubara, faktor emisi, alat pengendali. Ini informasinya sudah kita sediakan. Nah, nanti dikali dengan ya data aktivitasnya tadi sudah tahu Rp50.000 RIB. Kemudian faktor emisinya 15, C-nya 90 dapat 75 ton. Pabrik B 120 ton, industri C 100. Nah, tapi kan dia A dengan B ini dia satu grade ya di grade A1. Makanya 75 ya 75 + 120 sini jadi 195. Nanti industri C dia grid-nya beda. Dia ada di 100. Jadi dalam satu grid itu nanti dijumlahkan. Kalau dia ada dua pabrik ya dua pabrik itu dijumlahkan A + B misalnya. Kalau dia ada 3 A + B + C. Nah, bagaimana dengan area itu juga dijumlahkan di kotak itu ada tadi misalnya 10.000 penduduk menggunakan kayu bakar, emisi totalnya sekian ditambah emisi industri artinya emisi titik. Nah, jadi satu kotak grid 1 * 1 km itu merupakan akumulasi dari semua emisi yang ada di sana. Nah, itu kira-kira manfaat dari adanya grid ya. Kita bisa mengakumulasikan semua emisi menjadi satu kotak ee yang kita hitung kuantitasnya berapa. Nah, tapi satu kotak SO2 tidak bisa dijumlahkan dengan satu kotak NO2 atau PM25 sehingga nanti output petanya masing-masing. Peta untuk SO2 sendiri, peta untuk NO2 sendiri, peta untuk PM 2,5 sendiri. Nah, tapi untuk PM 2,5 misalnya satu kotak PM 2,5 itu akumulasi dari sumber titik, sumber bergerak, sumber ya sumber titik kan maksudnya sumber tidak bergerak, sumber titik, sumber area, ataupun sumber garis. Nah, itu dijumlah asal dia semuanya PM2, tapi kalau beda parameter tidak bisa dijumlah. Nah, demikian juga kalau area berarti kita masukkan juga ke dalam grid tadi ya. Kemudian bergerak. Nah, bergerak ini ada jalan utama ya, ada terminal, jalan kecil, kendaraan parkir, SPBU itu kita coba hitung juga ya. Sumber bergerak. Untuk sumber bergerak ini ada beberapa metode. Yang pertama berbasis konsumsi bahan bakar, ya. Yang kedua berbasis jarak tempuh, kemudian berbasis jumlah kendaraan dan menggunakan model. Kita mulai dengan yang berbasis konsumsi bahan bakar. Jadi kalau kita tahu pemakaian bahan bakarnya berapa misalnya data dari Pertamina ya ee kota kita ini disuplai oleh Pertamina sekian rib liter per hari atau per bulan atau per tahun ya sekian ribu liter per bulan misalnya ya sudah berarti emisinya kita bisa hitung dan kita harus memilih faktor emisinya yang satuannya gram/. Jadi nanti kalau kita bicara faktor emisi ee dari jalan ya, dari sumber bergerak itu ada dua faktor emisi. Ada yang gram/, ada yang gram/ km jarak tempuh. Nah, kita pilih yang gram per literar tinggal berapa jumlah liternya dikali gram/ liter dapat gram atau kita konversi ke ton ya. Ada juga yang berbasis jarak tempuh kita sebut sebagai VKT, vehicle kilometers travel ya. Nah, contoh misalnya ada 10.000 kendaraan rata-rata 12.000 km/ tahun. Nah, tinggal nanti ada satuannya 1,5 gr/ km jarak tempuh. Jadi, misalnya kita ingin mengetahui emisi per tahun di sebuah kota. Nah, kendaraan itu kan nanti kita klasifikasikan ya. Nah, nanti di sini ada slide yang meng ini klasifikasi ee nah ini ya. Jadi nanti kendaraan itu kita bagi berdasarkan sepeda motor, mobil penumpang, mobil bis, truk, angkutan kota, taksi, roda 3, pick up, Jeep, Fan, sedan ya. Nah, itu ee beda-beda ininya ya. dari faktor emisinya. Nah, misalnya untuk kategori sedan kita bisa lihat di Samsat ya, data dari Samsat dari kepolisian lalu lintas. Sebetulnya jumlah kendaraan baru yang ada di kita itu berapa? Jumlah kendaraan yang umurnya 1 tahun, yang umurnya 2 tahun, umurnya 3 tahun. Kenapa? Karena biasanya yang kendaraan baru ini emisinya lebih sedikit daripada kendaraan yang lama. Nah, kalau kita dapat datanya berarti kita bisa me menyusun inventarisasi yang lebih detail. Nah, kalau misalnya itu tidak ada. Oh, tidak ada. Tapi rata-rata untuk kategori sedan itu dia menempuh 10.000 km per tahun ee per tahun ya. 10.000 km/ tahun. Bis rata-rata 30.000 ee km/ tahun. Truk sekitar 40.000 km per tahun. Sepeda motor berapa? Nah, jadi kita tidak menggunakan bahan bakar di situ. Kita menggunakan jarak tempuh dan kita cari faktor emisinya yang menggunakan faktor emisi gram/ km bukan gram/. Kalau gram per liter tadi untuk metode yang pertama yang menggunakan pemakaian bahan bakar. Kalau menggunakan jarak tempuh, kita cari faktor emisi yang gram/ km. Nanti kita hitung dapat itu juga bisa ya. Nah, ini adalah yang tadi saya sebutkan ada yang kurang dari 5 tahun, lebih dari 5. Kalau datanya ada, nah kita hitung terpisah karena faktor emisinya juga biasanya beda ya. Nah, ini kan lebih detail lagi karena kita pisah-pisah. Nah, untuk negara maju seperti cover ya di Eropa atau MOVES di Amerika mereka sudah membuat basis data. Jadi begitu ada kendaraan dijual ke masyarakat datanya sudah langsung masuk ke dalam basis data nasional sehingga kita lebih mudah ya di dalam menghitung emisi. Nah, kalau di Indonesia kan belum ada. Jadi kita harus membuat ee basis data sendiri. Nah, ini adalah perbandingannya. Ada yang konsumsi bahan bakar, ada yang jarak tempuh, ada yang kita detailkan berdasarkan jenis dan jumlah kendaraan atau menggunakan basis data komputer, ya. Nah, bagaimana untuk membuat SIG-nya? Berarti dari satu kotak itu ya, misalnya di sini ada satu kotak 1 * 1 km. Nah, misalnya di situ untuk A2 dia tergantung kepada ininya ya. Ee ada dua cara tadi kita sudah lihat mungkin yang ini ya. Oke, untuk mencapai ee data aktivitas ini memang kita harus hitung dulu ee pakai metode yang tadi ya. Mungkin saya balik lagi ke sini. Nah, misalnya pakai VKT aja, metode VKT ya. Ee gram per km. Nah, artinya kita punya jalan panjangnya berapa dan jalan itu dilintasi oleh kendaraan dalam 1 hari. Berapa jumlahnya? Berapa jumlahnya? Berapa jenisnya? Misalnya untuk satu jenis dulu misalnya kendaraan bis. Kendaraan bis dalam 1 hari melintas 1000 kendaraan. Nah, dia melintas di grid yang kita buat kan kita buat grid ya. Nah, saya ini buat grid ini 1 km 1 km. Nah, karena dia jalannya melintasi seperti ini ya, ini kira-kira panjangnya 1,2 km ya. Nah, berarti kan kita ingin menghitung di grid ini berapa emisinya. Diketahui bis melintas dia 1000 kendaraan per hari. Berarti dia 1000 kendaraan dikali 1,2 km dikali dengan gram/ km ya dikali dengan gram/ km. Artinya kan 1 bis dalam 1 km dia dapat 1,5 gram. Berarti kalau dia 1,2 berarti 1,2 * 1,5 dia akan menghasilkan berapa gram di grid itu kali jumlah kendaraan yang melintas. Nah, bagaimana kalau jalannya ada dua? Ada juga jalan yang ke sini ya. sama ini misalnya 1,3 kilo. Nah, 1,3 kilo misalnya bis juga yang melintas di situ berapa kita hitung nanti untuk sepeda motor, untuk mobil dihitung satu-satu nanti dijumlahkan. Nah, kalau dia jalan utama mungkin bisa. Nah, bagaimana kalau di sini ada jalan yang kecil-kecil? Ada jalan yang ke sini, ke sini, sini ya. Jalan lokal begitu. Nah, ini juga ada jalan ke sini, ada jalan ke sini misalnya ya. Nah, ini kan tidak mungkin dihitung satu-satu. Ya sudah, kita hitung saja densitasnya. Kepadatan kendaraan di sini dan jumlah jalan total berapa kilometer gram/ km. Nah, kita sebut sebagai sumber area. Jadi, kita ee simplifikasi atau sederhanakan. tidak dihitung satu-satu, tapi ya kita anggap area tentu grid yang jalan lokalnya padat dan trafficnya juga banyak itu emisinya lebih besar daripada grid yang jalan lokalnya sedikit ya, trafficnya sedikit. Nah, itu nanti kita bisa hitung secara proporsional ya. Nah, itu kira-kira ee bagaimana menghitung ee emisi dari sumber bergerak di grid. Nah, bagaimana kalau kereta api? Ya, kereta api dia kan ada jalurnya. Berarti jalur itu melintasi berapa grid? Ya, kita hitung saja 1 hari ya melintasnya mungkin tidak sampai 1000. Kalau kereta api paling 10 kali lintas bolak-balik sehari ya tergantung traffic kereta apinya kan. Nah, nanti tinggal dicari emisi kereta api per kilometer. Demikian juga kalau dia kapal laut. Tapa laut berarti kan dia melintasi satu laut. Nanti emisinya ada di laut ya. Grid-nya berarti sampai ke laut. Laut juga kita grid. Nah, kalau pesawat terbang biasanya kita hanya menghitung di bandara saja. Karena ketika dia sudah terbang, emisinya akan terdispersi ya, tidak terlalu berpengaruh kepada kesehatan manusia. Jadi kita abaikan. Kita hanya menghitung berapa jumlah pesawat terbang di bandara. Nah, bandara kan pasti ada grid-nya. Ada grid yang ada bandaranya. Nah, di situ berarti ada jumlah kendara apa? Jumlah pesawat ya. Nah, nanti ada faktor emisi per pesawat, apakah gram per liter atau gram ya biasanya gram per liter ya. Jadi ee karena dia bukan trafficnya ya atau bukan distance ya, bukan jarak, tapi dia adalah berapa emisi yang dia keluarkan ketika dia take off landing di bandara itu. Kalau yang cruise ya, cruise itu artinya dia terbang melintasi atmosfer itu tidak kita hitung. Tapi kalau untuk menghitung gas rumah kaca itu dihitung karena walaupun dia ada di atmosfer kan dia akhirnya berkontribusi kepada ee ini ya ee lapisan lapisan rumah kaca. Jadi kan rumah kaca itu dia ee menyelimuti bumi. Jadi yang di atas itu juga dihitung. Tapi kalau untuk kesehatan itu enggak ada urusan. Makanya kita enggak enggak hitung yang cruise dari pesawat terbang. Kita hanya hitung yang ada di bandara. Kemudian kita masuk ke ya ini sumber bergerak sudah ya. Ini contoh ada sebuah peta kota Palembang yang ruas jalannya ini ada ya. Nah, kalau kita lihat ini kan ruas jalan utama. Nah, yang kecil-kecilnya nanti kita hitung menggunakan area. Ini ada faktor emisi yang ditetapkan oleh ee KLH. Nah, tapi ini kan tahun 2010 ya, sekarang sudah 2025 sudah 15 tahun. Apakah ini ada perubahan atau tidak? E, untuk saat ini KLH belum meng-update ya. Jadi kita bisa pakai yang tahun 2010 ini. Nah, sebetulnya perkembangan inventarisasi emisi di dunia ini sangat pesat. Jadi kalau di kita ee banyak masalah ya. Pertama pedomannya belum di-update selama 15 tahun. Ini terakhir 2010, sekarang sudah 2025. Kedua, daerah-daerah yang melakukan inventarisasi emisi juga masih sedikit, bisa dihitung dengan jari. Nah, artinya kan ini belum menjadi prioritas bagi daerah. Kalau di negara maju itu mereka update terakhir contoh untuk Eropa ya. ini Eropa. MF EEA ini Eropa. Dia pedoman terakhir tahun 2023. Silakan dicek nanti di internet ya. Dia terakhir 2023. Artinya 2 tahun yang lalu dia sudah di-update. Nah, artinya di luar ini sangat maju dan mereka memiliki ee pelaporan yang rapi, ya. Nah, mudah-mudahan dengan apa baik itu standar di internasional ya, maupun standar nasional beberapa negara yang sudah mengembangkan ya. Nah, di sini ditulis Indonesia itu sedang dikembangkan ya. Nah, sedang dikembangkan. ee kita banyak mengacu ke MF EEA ya ke Eropa ini faktor emisi itu barangkali ya ee pemaparan dari saya mudah-mudahan bisa apa ya memenuhi ekspektasi Bapak Ibu tadi dari Mbak Dini ya menyampaikan Mudah-mudahan bisa memenuhi ekspektasi. Ee kalau belum silakan mungkin ada pertanyaan saya kembalikan ke Mbak Dini. Iya. Baik. Ee terima kasih banyak kepada Pak Asep atas pemateriannya yang sangat bermanfaat ini dan kita lanjutkan lagi pada sesi tanya jawab dari Slido terlebih dahulu. Di sini saya akan menampilkannya. Baik, untuk pertanyaan dari aplikasi Sidu ini sudah kami rangkum menjadi enam pertanyaan. Ee kita mulai saja dari pertanyaan pertama ini yaitu sejauh ini bagaimana penerapan pengawasan batas emisi di Indonesia? Iya, terima kasih. Ini bagi Bapak Ibu yang sudah memberikan pertanyaan ya. Ee jadi tadi saya apa saya sudah sampaikan bahwa inventarisasi emisi ini tampaknya kurang populer ya di Indonesia. Buktinya sedikit sekali daerah yang sudah melakukan inventarisasi emisi. Kalaupun sudah melakukan biasanya tidak memenuhi syarat-syarat yang tadi sudah kita bahas ya. misalnya tidak ada QA QC, kemudian tidak ada update dan akhirnya tidak dimanfaatkan untuk mengendalikan emisi. Nah, mudah-mudahan dengan diskusi kita pada hari ini kesadaran kita makin tinggi bahwa kita tidak bisa melakukan pengendalian emisi tanpa inventarisasi emisi yang baik. Misalnya sebuah kota ini hasil pengukuran menunjukkan PM 2,5 yang tinggi. Nah, PM2,5 ini sumbernya dari mana? Kan begitu pertanyaannya. Nah, kalau misalnya inventarisasi emisinya ada dan bagus, kita jadi bisa tahu, oh ternyata PM 2,5 ini banyaknya dari debu jalan. Karena dari hasil studi saya di beberapa daerah itu PM 2,5 banding PM 10-nya itu beda-beda. Jadi kan PM 2,5 ini bagian dari PM 10. Ada yang PM 2,5-nya ini setengah dari PM artinya 50%. Nah, 50% artinya imbang antara PM 10 dan PM 2,5. Tapi ada juga yang PM 2,5-nya ini 75% misalnya 755% dari PM 10 itu artinya dominan PM10 itu isinya PM 2,5. Artinya banyak debu halus walaupun dihisap diukur masuk kategori PM10. Nah, kalau saya lihat yang PM 2,5-nya dominan itu ya sampai 75% itu kebanyakan daerah-daerah yang transportasi padat karena PM2,nya bersumber dari pembuangan kendaraan bermotor. Jadi, kendaraan bermotor itu walaupun bensin enggak kelihatan, tapi dia itu ada PN 2,5-nya ya. Nah, tapi kalau misalnya PM 2,5-nya hanya 25% contohnya dia tidak banyak ya. Berarti banyaknya tuh PM3, PM4, PM5 sama PM 10 mengisi misalnya 75%. Itu biasanya di daerah konstruksi. Jadi banyak konstruksi, banyak ya daerah yang debu terbangnya itu banyak ya. Artinya jalannya banyak yang tidak di aspal. Nah, itu biasanya PM10-nya dominan. Nah, artinya ee ketika kita melakukan inventarisasi emisi kan kita jadi tahu apa yang harus kita lakukan ya karena berbeda karakteristik PN 2,5 dan PN sebagai contoh. Kalau itu sudah dilakukan maka kita bisa menentukan pengawasan batas emisi. Nah, sekarang pengawasan ini apa yang mau diawasi? Ya, emisinya juga belum dihitung, belum dianalisis ya. yang tadi saya bilang PM 2,5 banding PM 10 itu salah satu tindak lanjut dari inventarisasi emisi ya yang kita sebut dengan analisis inventarisasi emisi. Tapi itu dilakukan kalau inventarisasi emisinya sudah ada. kita bisa lakukan analisis inventarisasi emosi dan di sanalah kita bisa melakukan pengawasan batas emosi setelah kita melakukan analisis inventarisasi emisi. Nah, itu kira-kira pengertian dari pengawasan batas emisi. Nah, ini kan pertanyaannya bagaimana penerapannya ya. Jangankan pengawasan batas emisi, inventarisasi emisinya saja belum. Jadi masih jauh tuh penerapannya kan. Pertama inventarisasi emisi dulu, kedua analisis baru pengawasan. Nah, di kota-kota yang saya pernah bantu ya memang masih struggle ya, masih berjuang di level di level apa? Di level ee ini ya, di level inventarisasi emisi belum ke analisis dan pengawasan. Nah, pengawasan ini ada dua. Ada pengawasan kualitas udara ambien ya, artinya tanggung jawab kota. Ada juga pengawasan dari sisi ee industri. Nah, kalau dari sisi industri memang sudah bagus karena sekarang kan sudah ada aturan baru tentang pertek emisi dan SLO. Nah, di sana diatur secara jelas batas emisi. Jadi, kalau pertanyaannya bagaimana penerapan pengawasan batas emisi di industri? Nah, di Indonesia jawabannya sudah bagus karena sudah ada dokumen pertek dan SLO. Tapi kalau batas emisi secara umum dari kegiatan domestik, transportasi, dari kegiatan komersil yang lain itu masih struggle ya, masih berjuang. Kemudian dari Pak Faustinus, terima kasih Pak Paustinus pertanyaannya. Bagaimana data inventarisasi emisi digunakan oleh pemerintah? Bagaimana menggunakannya? Nah, menggunakannya memang tidak bisa langsung digunakan. Setelah dihitung harus ada analisis. Nah, untuk analisis ini memang saya tidak sampaikan di sini ya, karena mungkin itu topiknya ee agak panjang ya. Nah, tapi secara umum ketika ya saya lebih suka tadi mengendalikan tikus ya. Nah, ceritanya kita sudah tahu tikusnya jenis apa, sebesar apa, perilakunya kita sudah tahu jumlahnya di mana, jumlahnya berapa di mana keluarnya dari mana. Nah, kira-kira kita menggunakan data itu untuk apa? Nah, kalau misalnya tikusnya besar-besar sebesar kucing, ya. Nah, pasti kita tidak akan pakai perangkat tikus, enggak masuk dia, enggak muat pakai metode lain. Nah, kalau ternyata tikusnya kecil-kecil, oke, perangkap tikus atau lem tikus. Kalau tikusnya sebesar kucing, pakai lem tikus, lem tikusnya ke bawah, hilang lem tikusnya ya. Karena nempel terus dia kabur ke bawah tuh lem tikusnya. Nah, jadi di sini data inventarisasi itu membuat kita terang benderang karakteristik emisi di tempat kita ya. Penggunaannya bagaimana? Nah, kita lakukan analisis emisi dan nanti kita buat ee strategi kebijakan emisi. Jadi, mungkin saya hanya beri kata kuncinya saja karena untuk menjelaskan analisis emisi ini itu panjang sekali ya. Ee apalagi kebijakan. Nah, kebijakan juga panjang sekali. Tetapi kita bisa katakan kalau sudah ada datanya itu lebih mudah. Nah, kemudian Pak Paustinus juga ee bertanya kalau sudah ada hasil inventarisasi, bagaimana cara mengukur efektivitas program pengurangan emisi? Nah, tentu kalau kita sudah melakukan inventarisasi emisi yang benar, yang benar itu apa? Yang benar adalah yang dilakukan tiap tahun. Misalnya kita melakukan inventarisasi emisi dari industri saja. dari industri yang ada misalnya industri A tahun ini dia menghitung sejumlah 1.000 kemudian kita katakan bisa enggak diturunkan tahun kemudian ya tahun depan dari 1000 turun jadi 800. Jelas bahwa inventarisasi emisi ini bisa digunakan untuk mengukur kebijakan. Nah, tapi kalau misalnya inventarisasi emisinya tidak dilakukan tiap tahun atau datanya aneh, ya misalnya tahun lalu datanya 1.000, sekarang kenapa jadi 50? Ini jauh sekali. Oh, dulu beda orang yang ngukurnya, yang menghitungnya ya. itu tentu membingungkan ya kalau kualitas datanya seperti itu. Jadi di sini syarat agar data inventarisasi emisi bisa kita pakai untuk mengukur keberhasilan kebijakan pengendalian pencemaran udara sangat tergantung kepada kualitas dari data ya. Nah, kalau datanya tidak valid ya kita juga jadi bingung. Kemudian bagaimana cara inventarisasi polusi dari pembakaran sampah? Berarti kalau pembakaran sampah tergantung ee areanya ya. Apakah kita mau menghitung bagaimana pembakaran sampah level RT dan bagaimana pembakaran sampah level kabupaten? Kalau level kabupaten berarti kita harus hitung menggunakan metode area. Karena kalau mau pakai titik ada 3.000 titik misalnya di satu kabupaten, siapa yang mau survei ke 3.000 titik? gitu. Berarti kita pakai area kita cukup sampling beberapa titik kemudian dianggap sebagai unit satuan dikali jumlah. Nah, tapi kalau dia di RT ya 1 RT paling 10 titik ya misalnya oh yang suka bakar sampah ini ini bisa kita hitung berdasarkan sumber titik ya. Nah, ee kalau kita lihat tir satu itu sudah ada dari pembakaran sampah dia berapa gram per met² misalnya ya atau ee ya artinya kita bisa cari tir satunya karena kan pembakaran sampah masuk ke dalam kategori ee ee yang harus dihitung. Bagaimana kalau tir dua? Bagaimana kalau tir 3? Nah, kalau misalnya kita mau tir ya sebetulnya bisa yang disebut dengan tungku bakar. Jadi ada tungku bakar, ada alat ukur yang mengukur berapa NO2, CO2, C eh apa? NO2, SO2, CO ya. ee itu menggunakan tungku bakar di laboratorium, kemudian sampahnya dibakar di situ. Nah, keluarlah tir nah apakah sudah ada yang melakukan tir 3? Kita tinggal browsing paper. Ada enggak laporan yang mengatakan? Kalau ada dan karakteristik sampahnya mirip berarti kita bisa pakai sebagai tirtig. Nah, kemudian ada pertanyaan juga ini kalau sudah ada emisinya bagaimana cara mengaturnya? Ya tentu balik lagi kalau masyarakat kan kepada kesadaran ya. Jadi kita katakan bahwa dari pembakaran sampah itu akan menghasilkan partikular termasuk PM 2,5. Nah, dampak kesehatannya itu bisa menyebabkan kanker. Sehingga sekarang banyak sekali orang yang terkena kanker karena kualitas lingkungan yang makin buruk salah satunya ya. Nah, itu bisa kita katakan ya. Ee Bapak Ibu mau kanker enggak begitu? Enggak. Ya sudah hentikan bakar sampah. Lebih baik dikomposkan begitu. Komposkan tidak akan menimbulkan ee CO PM 2,5 gitu ya. Nah, jadi memang harus ada alasan kenapa seorang atau sekelompok masyarakat mengubah perilakunya. Kemudian juga ada pertanyaan ee faktor emisi bahan bakar bensin spesifik pertamak turbo dexlite. Nah, sebetulnya ESDM 2018 sudah mengeluarkan ya. Jadi itu sudah tier du karena data nasional. Kalau IPCC dia masih tir 1. Jadi lebih baik kita pakai tir 2 atau data ESDM 2018. Kemudian model dispersi bagaimana memvalidasinya. Nah, ee model dispersi menjadi salah satu alat analisis inventarisasi emisi. Tadi kan ee topik webinar kita kali ini adalah inventarisasi emisi, hanya menghitung. Nah, belum menganalisis. Nanti salah satu tahap analisis adalah memodelkan baik menggunakan Air mode atau CAMX, WRF CAM, SAR. banyak sekali ya software-software yang bisa dipakai untuk melakukan analisis inventarisasi emisi dari sana akan keluar dispersi model ya atau model dispersi yang menghasilkan konsentrasi dan distribusinya. Nah, bagaimana memvalidasinya? Ya, kita harus pakai data pemantauan. Kalau pemantauannya tidak ada, nah ini tergantung kita melakukan model dispersi ini untuk apa. Kalau misalnya untuk pekerjaan AMDAL atau pertekemantauan ambien ya. Nah, tapi kalau misalnya pekerjaan yang lain yang hanya modeling ya tergantung kepada ee ruang lingkupnya ya. Ee yang jelas modeling ini bisa kita lakukan modeling hanya untuk mengetahui dispersi atau mengetahui dispersi dengan akurat. Nah, kalau ada kata akurat berarti harus ada pemantauan, harus ada validasi. Ya, ini sebagai sebuah konsekuensi dari kata akurat, ya. Nah, bukan sekedar dimodelkan. Mudah-mudahan bisa menjawab. Kalau masih ada ee saya kembalikan ke Mbak Dini ya. Iya. Baik, terima kasih atas jawabannya kepada Pak Asep. Dan kita langsung saja masuk ke sesi selanjutnya yaitu pertanyaan langsung dari peserta Zoom dan saya akan batasi untuk dua penanya saja. Jadi kepada Bapak Ibu yang ingin bertanya atau berdiskusi dipersilakan saja langsung mengaktifkan atau menggunakan fitur rise hand-nya. Kalau di YouTube enggak ada ya? Pertanyaan dari YouTube. Kalau dari YouTube e mohon sebentar, Pak. Saya mungkin sambil menunggu yang raise hand. Iya. Baik, Pak. Ya, jadi Bapak Ibu mudah-mudahan ya dengan webinar ini kita makin sadar bahaya kesehatan akibat pencemaran udara. ee memang pencemaran udara ini bahayanya tidak langsung ee dibandingkan dengan misalnya bukannya mendoakan ya Bapak Ibu kejepit pintu. Ahah itu langsung kan. Nah. Nah itu. Tapi kalau ini kan dia butuh waktu e bertahun-tahun tapi itu secara data terbukti ya tingkat kesehatan kita menurun. Ini ada dua penanya. Mungkin saya serahkan ke Mbak Dini bagaimana pengaturannya. Iya. Baik, Pak Asep. Dan kebetulan saya sudah cek untuk dari Zoom itu eh dari YouTube itu tidak ada yang bertanya. Oh, baik ya. Jadi kita langsung saja pada yang ada di dalam ruangan Zoom ini karena saya melihat Pak Sugeng terlebih dahulu untuk r-nya. Jadi dipersilakan kepada Pak Sugeng untuk langsung bertanya. Iya, terima kasih, Pak. Iya, Pak. Kami bukan dari disiplin teknik lingkungan ya, Pak. Pengin tanya, Pak. Iya. Tapi sering sering anu apa ee membuat apa RTR ulasan RTRW kemudian RPJP itu kan sering tertulis ee analisis mengenai apa ee indeks kualitas udara gitu ya, Pak ya. Iya. Nah, apakah indeksudara tadi itu memang dihitung oleh masing-masing daerah yang berlaku di kabupaten, provinsi, maupun nasional ya saya ambil yang diambil di kabupaten itu kan sering muncul indeks kualitas udaranya sekian gitu lah. Apakah itu sudah dipertimbangkan dari metode tadi ee istilahnya perhitungannya jadi artinya tadi dengan model satu titik, kemudian garis, kemudian area kemudian apa sumber sumber apa emisinya juga bisa sumber berjalan bisa sumber tetap. I apakah itu Pak? Kemudian kira-kira bagaimana ya misalnya penghitungan akhir indeks kualitas udara dengan ee inventarisasi emisi ee udara tadi, Pak. Baik, terima kasih, Pak. Ee kita tampung aja ya. Silakan, Mbak Anisa, ya. Baik, kepada Mbak Anisa dipersilakan. I baik. Eh, terima kasih eh Mbak Dini dan Pak Asep khususnya Pak Asep atas pemaparannya, Pak. Jadi begini, Pak. Saya kan pernah juga apa namanya ikut pelatihan LCA. Terus juga dari LCA itu juga saya mau menghitung ee dari emisinya. Nah, kalau untuk khususnya emisi yang inventarisasi itu ee apakah harus emisi yang punya keluaran ee dan bisa dihitung. Contoh kan kalau kita inventarisasi emisi itu ee biasanya dari stek atau enggak dari cerobung boiler itu kan langsung bisa diukur tuh, Pak. Nah, tapi kan kalau misalnya dari emisi ee GRK itu kata ee ya katakanlah emisi GRK itu bisa aja dari danau itu kan kita hitung Pak ee apa namanya nilai COD BOD-nya gitu. Jadi sebenarnya untuk inventarisasi emisinya itu apakah yang maksudnya yang langsung ya Pak? Apakah harus yang langsung bisa diukur gitu. Nah, kalau misalnya mau inventarisasi emisi dari danau ee atau enggak misalnya dari danau itu juga ada BOD, COD-nya, dari amonianya, apakah itu ee misalnya ini perusahaan Pak saya, apakah saya harus menghitungnya, Pak atau ee cuma dari cerobongnya aja begitu. Itu pertama. Terus yang kedua, misal begini, "Pak, saya punya pabrik di daerah Sulawesi Selatan. Terus Provinsi Sulawesi Selatan tuh dia membuat laporan ee emisi GRK-nya ee apa namanya? Per tahun atau enggak per 5 tahun sekali itu di ee di provinsinya. Nah, ee misalnya sebagai DLH Provinsi, apakah mereka menghitung juga sumber dari pabrik-pabrik? Contohnya pabrik saya. Nah, kalau misalnya pabrik saya juga dihitung, apakah itu tidak double counting, Pak? Karena jadi saya pun menghitung juga, terus eh DLH pun juga menghitung gitu apakah itu sebenarnya double counting atau tidak, Pak gitu. Takutnya juga misalnya saya melaporkan ke KLHK nih. Nah, ternyata dari pabrik saya, pabrik A yang asal dari Sulawesi Selatan tuh menghasilkan misalnya 1 ton CO2. Nah, terus ee Provinsi Sulawesi Selatan juga melaporkan emisi dari provinsinya misalnya sebanyak ee 11 juta ton. Nah, sebenarnya kan dalam 11 juta itu ada emisi saya gitu. Jangan sampai nanti mereka tambahkan akhirnya double counting. Padahal ee emisi saya itu sudah dihitung sama DLH. Itu baiknya seperti apa, Pak? Biar tidak ada miskomunikasi gitu atau sebenarnya mekanismenya tuh seperti apa sih, Pak, dalam pelaporan? Terima kasih, Pak. Baik, terima kasih ya. Pertanyaannya bagus-bagus. Kita akan mulai dari Pak Sugeng. Terima kasih, Pak Sugeng. Ee perhatian Bapak ya terhadap lingkungan ee terkait IKU. Jadi, IKU itu bagian dari IKLH atau indeks kualitas lingkungan hidup. Ee kemudian di dalam IKLH ada IKU ee indeks kualitas udara, ada IKA, indeks kualitas air, ada indeks kualitas lahan. Nah, ee kalau Bapak ingin ee lebih mendalami IKLH itu Bapak ee browsing saja ee Peraturan Menteri IKLH ya, Peraturan Menteri IKLH. Nah, itu langsung muncul ee Permen LH nomor 27. Nah, nanti Bapak Bapak bisa lihat. Nah, kalau kita lihat di peraturan itu IKU dihitung berdasarkan data pemantauan, bukan data emisi. H. Jadi, ada aturannya di sana. Pemantauan di roadside, pemantauan di daerah yang non road side ya. Roadside itu pinggir jalan, ada yang bukan di pinggir jalan. Jadi dia dihitung berdasarkan data pemantauan. Kalau dari pemantauan nilainya buruk, maka IKU-nya buruk. Kalau pemantauannya bagus, dia akan bagus. Jadi, kita sebut sebagai penilaian grab sampling. Nah, kalau di dalam ee ilmu sampling itu ada yang disebut dengan grab sampling. Grab sampling itu adalah sampling sesaat. Jadi, IKU itu kita lakukan dengan sampling sesaat. Sedangkan ee inventarisasi emisi kita melihat data 1 tahun, akumulasi 1 tahun. Nah, sebetulnya dua data ini bisa kita gabungkan tapi memang tidak mudah ya, butuh satu proses ee penggabungan itu. Tetapi kalau kita lihat perbedaannya ada kalau IKU menggunakan sampling sesaat dengan pemantauan. Kalau inventarisasi emisi merupakan data akumulasi 1 tahun yang terdistribusi di seluruh daerah. Jadi kita ingin tahu distribusi semua. Apakah kita boleh menggunakan IKU menggunakan inventarisasi emisi? Jawabannya boleh bahkan harus. Kalau semua daerah sudah melakukan inventarisasi emisi. Nah, masalahnya kan sekarang baru sedikit ya. Iya. E sekitar 14 kota. Itu pun tahun 2015 ya. Ee jadi sudah lama enggak ada update lagi. Nah, mungkin ada yang update tapi saya tidak monitor ya. seperti kemarin DKI tahun 2024 sudah melakukan ya, sekarang lagi ee QAQC. Mungkin daerah lain juga ada tapi ini kan tidak merata. Jadi, IKU itu seharusnya secara teori dihitung berdasarkan inventarisasi emisi. Tapi karena inventarisasi emisi yang sifatnya dia menyeluruh dan komprehensif itu tidak ada, ya sudah kita sampling sesaat saja, ya. Nah, jadi IKU itu kenapa metodenya seperti itu? Karena pengkondisian, ya. Jadi kondisi di kita ini belum bisa menggunakan IKU apa ee inventarisasi emisi dan juga pemantauan kontinue. Harusnya kan pemantauan itu kontinue. Nah, ini dua syarat ini tidak ada akhirnya. Ya sudah, pemantauan sesaat ya gimana lumayan gitu ya. Lumayan metode yang disepakati memang ada yang sudah punya inventarisasi emisi, ada yang sudah pemantauan kontinue. Misalnya Jakarta, Surabaya itu ada pemantauan kontinu. Tapi kan ee IKU berlaku untuk seluruh Indonesia. Nah, tidak bisa ee beda-beda begitu ya. Itu alasan kenapa IKU akhirnya dipakai metode yang paling sederhana yaitu sampling sesaat menggunakan data pemantauan. Nah, terus bagaimana ke depannya? Ya, seharusnya kita mulai berbenah gitu ya, memperbaiki metode dengan yang lebih baik. Nah, tadi Bapak juga menyinggung tentang RTRW. Sebetulnya RTRW juga bisa berperan di dalam menurunkan pencemaran udara ya ee yaitu dengan nah RTRW kan spasial. Jadi sebenarnya cocok tuh kalau daerahnya sudah melakukan inventarisasi emisi yang spasial kemudian dioverlay dengan data RTRW itu sangat sangat ideal ya. Mudah-mudahan ke depannya kita bisa seperti itu. Nah, kemudian tadi dari Mbak siapa ya? Saya tidak catat, Pak. Mau tanya sedikit, Pak. Silakan, Pak. Pak, kalau misalnya inventarisasi emisi itu sudah ada, mestinya kan penentuan indekualitas saudara itu juga berlaku minimal 1 tahun ya, Pak ya? Iya. 1 tahun ya. Jadi istilahnya ada review ulang tiap tahun berarti ya, Pak ya? Iya. Kemudian kalau memang belum ada kita pakai yang sampling sesaat tadi itu gambaran itu pakai rentu atau enggak ya, Pak? Ya. Ya, secara statistik banyak kelemahan IKU itu karena kalau sesaat ee bulan Juli Agustus kalau di Pulau Jawa ya itu kan kemarau. Iya. Eeah itu pasti lebih tinggi. Heeh. Nah, gimana kalau diamplingnya di bulan Januari atau Februari pas hujan? Nah, itu kan rendah IKU-nya. Kemudian pemilihan lokasi roadside. Oke. Pinggir jalan itu bisa digeser-geser kan ee ya pilih jalan yang resepi misalnya gitu. Apalagi sekarang IKLH itu kan menjadi target bupati ee gubernur. Nah, kalau sudah ada target hasilnya harus bagus katanya gitu ya. Ini di negara lain, Pak ya. Bukan di kita ya. Jadi kan kita arahnya SDG Pak ya. Jadi terbuka, Pak. Ee penyimpangan-penyimpangan itu terbuka dengan metode yang lemah ya. Tapi gimana ya ee apa kondisinya begitu ya. Ya sudah. Tapi ee pertanyaan Bapak bagus kan? Jadi banyak juga yang tidak tahu sejarahnya IKU ya. Iya. sekarang jadi kita itu e baru baru saya baru woh oh ternyata IKU itu tidak gampang ini menentukannya ini loh harus tadi inventarisasi emisi tadi harus cukup banyak Pak yang ya itu idealnya ya idealnya kalau di negara maju memang mereka menentukan indeks itu berdasarkan inventarisasi emisi dan pemantauan kontinue selama setahun penuh dirata-ratakan ya itu idealnya ya. Nah, tapi setidaknya kita ada kemajuan ya, Pak. Ee ada kemajuan sudah ada IKU ya artinya ee ya namanya juga negara berkembang, Pak ya. Negara berkembang kan berkembang terus bertahap begitu. Mungkin masih ada Pak Sugeng. Cuma kadang-kadang kalau kita bicara ke Dinas Lingkungan Hidup itu kan di daerah kan anggaran untuk instrumentasi itu kan sangat-sangat terbatas, Pak. Wong pemantauan air sungai saja kadang-kadang dananya itu terbatas sekali gitu. Saya saya pernah cari-cari data gitu kan. Wah ini datanya saja sudah sangat minim gitu. Makasih, Pak. Ee iya masalah dana itu memang sulit ya di kita ee ya. terbatas, Pak. Nah, mungkin apa apalagi dengan efisiensi anggaran ini kan wah ini apalagi yang mau dilakukan? Efisiensi ee itu tambah lagi. Iya. Tapi setidaknya secara teoritis kita tahu ya mana yang ideal. Nah, mudah-mudahan nanti ke depannya ekonomi Indonesia lebih baik. Kita bisa menentukan kondisi yang ideal. tadi dari Mbak siapa ya? Mbak Anisa ya, Pak? Ah, Mbak Anisa. Nah, terima kasih ya, Mbak Anisa. Ee saya asumsikan bahwa Mbak Anisa bisa membedakan inventarisasi emisi udara dengan gas rumah kaca. Karena tadi pertanyaannya tentang gas rumah kaca, tapi saya asumsikan bisa membedakan ya. E jadi ee ini saya sudah tahu, Pak. ini tentang pencemaran udara, tapi saya mau nanya tentang GRK gitu kira-kira ee karena pertanyaannya ee agak beda nih dengan yang kita bahas dari tadi ee jam 10. Sekarang yaitu tentang gas rumah kaca. Jadi gas rumah kaca itu kan ada skop 1 2 3. Kalau skop satu dilakukan oleh kita sendiri, scop du dia beli ya energi dari pihak lain misalnya dari PLN. Skop tiga itu yang dilakukan tidak oleh sendiri. Misalnya kalau dia sewa atau dia misalnya ee menggunakan bersama. Nah, itu kita tidak bisa klaim ya. Nah, jadi di dalam pelaporan GRK yang benar itu sudah ditulis scop. Nanti pemda tinggal ngumpulkan. dia hanya akan mengambil dari scop saja sehingga tidak terjadi double counting. Karena kalau yang scop itu PLN sudah lapor ke pemerintah ya. Kemudian yang misalnya dia menggunakan kendaraan ya atau pesawat itu kan bersama. Mungkin maskapai dia sudah melaporkan ke pemerintah kalau dia mobil rental. Itu juga mungkin dia sudah melaporkan ke pemerintah. Nah, pemerintah hanya ngambil dari perusahaan yang scope satu saja yang hanya dimiliki oleh perusahaan itu. Misalnya dia punya boiler, punya genset, punya insinerator yang dia miliknya sendiri. Nah, jadi tidak akan terjadi double counting. Itu kira-kira tata cara pelaporan. Kita melaporkan harus jelas mana skop 1, skop du, skop 3. Nah, kemudian GRK itu berbeda dengan pencemaran udara. Kalau pencemaran udara kan tadi hanya sumber titik, sumber garis, sumber area sangat terbatas. Tapi kalau GRK itu luas sekali termasuk tadi contohnya danau. Danau menghasilkan metan itu bagaimana prosedurnya. Nah, jadi ee yang kita bahas dari tadi jam 10. Memang hanya metode perhitungan pencemaran udara. Nah, kalau Mbak Anisa ingin tahu lebih jelas tentang gas rumah kaca, rasanya saya pernah menyampaikan ya ee webinar khusus tentang gas rumah gas rumah kaca itu ee nanti dilihat saja di YouTube ee Ekoed Eduing ya, Ecoedu Grk. Nah, itu muncul nanti ee berbagai ini ya, metode perhitungan. ee berbagai ee topik webinar tentang GRK. Nah, di sana dibahas juga tuh perhitungan seperti yang tadi ada contoh-contoh ya kan tadi kita sudah bahas contoh menghitung yang area gimana ee bergerak bagaimana. Nah, itu di topik webinar GRK juga sama saya sampaikan contoh-contohnya. Mungkin dari saya itu dulu ee karena ini sudah jam 12.00 lebih ee saya kembalikan ke Mbak Dini. Sekali lagi terima kasih atas perhatian Bapak Ibu semua. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih kepada Pak Asep dan ee sesi tanya jawab kita cukupkan karena di sini juga sudah menunjukkan jam 12.1 menit. Dan terima kasih juga kepada Bapak Ibu yang sudah berpartisipasi sebelum menutup acara webinar ini, kepada Pak Asep untuk memberikan closing statement-nya ya. Mudah-mudahan dengan pembahasan ini inventarisasi emisi semakin populer ya, semakin populer di tengah keterbatasan dana kita masih bisa memperjuangkan agar inventarisasi emisi ini tetap ada ya. Nah, terima kasih. Baik, untuk selanjutnya kita akan melakukan dokumentasi terlebih dahulu dan kepada Bapak dan Ibu semuanya yang bisa mengaktifkan kameranya dipersilakan untuk mengaktifkan kamera. Kita akan berfoto terlebih dahulu. Baik, langsung saja saya akan melakukan perhitungan mundur dimulai dari angka 3 2 1 ya sekali lagi 3 2 1 dokumentasi dicukupkan. Saya ucapkan sekali lagi kepada Pak Asep atas penyampaian materinya yang sangat bermanfaat. Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan. Apabila Pak Asep ingin meninggalkan ruangan Zoom, sudah dipersilakan. Baik, saya izin duluan ya. Baik Bapak dan Ibu, berakhir sudah acara webinar di hari ini. Bagi Bapak dan Ibu yang ingin mendapatkan e-sertifikatnya, Bapak Ibu bisa langsung saja mengisi link presensi kehadiran yang tertera di layar ini. Dan ketika Bapak, Ibu mengisi presensi, pastikan nama dan email sudah diketik dengan benar karena hal ini akan mempengaruhi pengiriman e-sertifikatnya. Baik, saya akhiri kegiatan webinar hari ini. Mohon maaf apabila ada salah sikap dan ucap dari saya. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan selamat melanjutkan aktivitas lainnya.