Webinar 117 Inventarisasi Emisi Pencemar Udara
l7BnjLSKgWE • 2025-06-26
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
pengalaman langsung dengan praktikum
dan e-learning yang dapat diakses di
manapun.
Jadi awalnya saya mengikuti pelatihan
Eco Edio ini memang dari grup-grup di
alumni ya, Mbak ya, yang pernah ikut
pelatihan ini. Cerita mereka itu sungguh
bisa dianggap menarik ya karena mereka
pengetahuan mereka tentang yang pengin
mereka ketahui itu meningkat gitu ya.
Kemudian skill-skill yang dihasilkan
dari hasil pelatihan itu juga cukup bisa
dilihat begitu ya, terasa gitu
manfaatnya di kami terutama untuk e para
hutan yang memukan tenaga-tenaga ahli
sehingga saya memilih Eco Edu dan sempat
mengikuti pelatihannya juga dan itu
terbukti benaritu. Nah, saya lihat
Instagram itu ada Edu yang akan
menyenggarakan pelatihan. Nah, di sini
juga saya banyak baca terlebih dahulu ya
terkait tentang informasi yang
disediakan oleh. Nah, menurut saya itu
menjadi hal yang membuat tertarik untuk
ikut pelatihan gitu. Jadi, saya sering
lihat di Instagram gitu bagaimana Eko
Idu menyampaikan informasinya. Eko edu
itu bagus karena pelatihan-pelatihnya
itu selalu tergini terus mengikuti zaman
dan juga pelatihnya atau mentornya itu
bagus-bagus dan terbaiklah di bidangnya.
[Musik]
Iya. Ee yang pertama memang tentu saja
ini meningkatkan dan maksimalkan
skill-skill yang saya harapkan begitu
ya. ee tertanggung dalam penyusunan
dokumen AMD pun saya jadi bisa lebih
produktif, lebih efektif juga ee punya
update gitu ya, update-update
persoalan-persoalan dalam jasan AMDA
terkini dari ahlinya langsing di
lapangan begitu yang pengalamannya tidak
diragukan. Menurut saya pelatihan yang
disediakan ini sangat bermanfaat sekali
dan mudah untuk aksesnya. Jadi ada
teknologi terbaru yang saya dapat itu di
e-learning ya. Itu luar biasa ee
pembelajarannya juga mudah sekali untuk
dipahami. Alhamdulillah bisa mengikuti
dan juga menambah ilmu pengetahuan yang
banyak banget.
[Musik]
eh e-learning ini memang di memang
sangat diperlukan sekali ya, terutama
untuk kita yang dengan keterbatasan
pengetahuan kemudian juga waktu mungkin
ee itu memberikan kita kesempatan untuk
kembali mengingat, kembali mendengarkan
paparan-paparan yang mungkin kurang
jelas. Kemudian juga kita bisa mengulang
sesering mungkin yang kita inginkan.
Kita juga bisa review kembali sehingga
belajar kita bisa lebih efektif dan
efisien.
Arning itu membantu sekali ketika pada
saat penyampaian materi ada yang
ketinggalan gitu ya. Jadi ee saya bisa
lihat materi itu di 7 sangat membantu
Mbak. Jadi saya ee ambil materi terus
lihat video yang bisa diakses kapan aja
dan di mana aja.
4 juta dengan informasi yang kami
peroleh itu jauh dari kasadan
sebenarnya. Jadi apa namanya ya? Kalau
saya bilang terlalu murah itu jadi
sepadanlah.
Jadi menurut sepadan Bu karena memang e
pelatihannya itu pun sangat membantu ya
dalam menyelesaikan satu pekerjaan yang
ada di e sekitar lingkungan saya sendiri
gitu. E saya kira sepatutan sesuailah
dengan apa yang kita dapatkan.
[Musik]
E-KTP
efektif, tepat, dan profesional, hemat,
cermat, dan hebat. Keren, profesional,
dan juga kebinian.
Ya, baik. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi Bapak, Ibu,
dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang
kembali di webinar Eko Edu ke-117.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
dan Ibu semuanya yang sudah selalu setia
untuk mengikuti acara webinar ini. Hari
ini webinar Ekoed Edu akan mengangkat
tema inventarisasi emisi pencemar udara.
Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas
sebagai moderator pada acara ini. Baik
Bapak Ibu semuanya sebelum memulai
webinar pada siang ini, alangkah baiknya
kita berdoa bersama-sama. terlebih
dahulu sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing. Berdoa
dipersilakan.
Berdoa dicukupkan. Untuk acara
selanjutnya, mari kita menyanyikan lagu
Indonesia Raya secara bersama-sama.
Diharapkan kepada Bapak dan Ibu untuk
duduk tegang.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Baik, untuk selanjutnya sebelum kita
memasuki materi inti mungkin di sini
saya akan menyapa apa salah satu peserta
yang mengikuti acara webinar ini. Ee
mungkin saya izin kepada salah satu
peserta di sini saya akan memilih ee
kepada
Bapak
Faustinus.
Saya di sini sudah mengirimkan untuk asu
unmute Bapak Faustinus. Iya. Baik. Baik
Pak. Selamat pagi, Pak. Selamat pagi,
Ibu. Iya. Mungkin Bapak boleh
memperkenalkan diri dulu, Pak. Dari mana
atau instansi dari mana? Iya. Baik,
terima kasih, Bu. Perkenalkan nama saya
Faustinus.
Saya pegawai di ee Dicin Minerba,
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara
di Kementerian SDM. Jabatan saya sebagai
inspektur tambang yang penempatannya di
Provinsi Maluku Kota Ambon. Demikian,
Ibu. Iya. Salam kenal untuk Bapak
Paustinus. Mungkin Ibu Iya. Mungkin saya
di sini ingin lebih tahu apakah ini
pertama kalinya Bapak mengikuti acara
webinar Eko Eddo? Oh, saya sudah sering
Ibu mengikuti kegiatan webinar Eko Edo
dan selalu saya mendapat update
informasi mengenai apa namanya
pelaksanaan webinar terbaru dari EKOED
Eedu di ee grup webinar Ekoed Edu. Iya.
Baik, Pak. Terima kasih, Pak, atas
selalu setia untuk Iko Edu. Iya. Semoga
harapannya di acara webinar ini kita
mendapatkan insight yang sesuai dengan
apa yang Bapak Paustinus harapkan.
Betul, Ibu. Terima kasih, Ibu. Ya, baik,
ya. Terima kasih, Pak Faustinus. Mungkin
di sini saya menyapa satu lagi saja
peserta. Kebetulan ada Ibu Rona Yuliani.
Iya, mohon izin Ibu Rona, saya sudah
mengirimkan untuk tidak di-mute.
Apakah
sudah ada Ibu Rona?
atau mungkin saya alihkan kepada Bapak
Gunawan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Iya. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Pak Gunawan
mungkin ee bisa memperkenalkan terlebih
dahulu, Pak asal dan asal instansinya.
Baik, saya dari
ee Badan Kepegawaian dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung.
Jabatan saya Widya Iswara.
Baik, Pak Gunawan. Ee salam kenal, Pak.
Mungkin di sini saya ada sedikit
pertanyaan saja, Pak. Ee apa harapan
Bapak terhadap webinar ini?
Ee saya sebagai widwara tentunya sangat
perlu ilmu-ilmu pengetahuan.
Dengan adanya kegiatan webinar ini, maka
minimal saya menambah ilmu pengetahuan
dan kalaupun ee mereka membutuhkan
pengetahuan saya maka saya dapat
memberikannya.
Alhamdulillah hampir setiap kegiatan
webinar ini Bu saya mengikuti. Tapi ada
beberapa kali saya gak dapat sertifikat
padahal saya mengikuti terus Bu. Jadi
mohon nanti
ee
setiap kegiatan itu mungkin di gimana
dicatat bagaimana apakah sudah terkirim
semua sertifikatnya atau bagaimana
karena saya tiga kali mengikuti tidak
dapat sertifikat Bu sebelumnya ada semua
jadi hampir setiap bulan saya mengikuti
ini di luar kegiatan saya. Terima kasih
atas ilmu yang diberikan mudah-mudahan
bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. I
waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Ya, terima kasih Pak
Gunawan atas masukannya. Mungkin jika
Bapak atau Bapak dan Ibu lainnya yang ee
apa belum menerima sertifikat bisa saja
mengkontak kami di WhatsApp nanti saya
akan memberikannya.
Baik, untuk itu mungkin saya akan
melanjutkan
ee untuk acara selanjutnya di sini.
P Bapak Ibu semuanya, mungkin izinkan
terlebih dahulu saya untuk mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh kami,
yaitu yang pertama adalah pelatihan
penyusunan laporan pemantauan lingkungan
atau RKL RPL pada gelombang 3 yang akan
dilaksanakan pada tanggal 30 Juni hingga
2 Juli 2025. Lalu kemudian pada minggu
yang sama yaitu kami juga terdapat
pelatihan dengan sertifikat BNSP terkait
pelatihan dan sertifikasi operasional
pengelolaan limbah bahan berbahaya dan
beracun atau biasa disingkat OPL B3.
Lalu dilanjutkan lagi di minggu depannya
pada tanggal 7 hingga 11 Juli 2025 yaitu
tentang pelatihan penunjang dokumen
AMDAL tentang persetujuan teknis untuk
air limbah. Dan kepada Bapak Ibu
semuanya pada pelatihan reguler kami
jika Bapak Ibu melakukan bayar investasi
sebelum H-1 pelatihannya Bapak Ibu akan
mendapatkan diskon sebesar 10%.
Baik, untuk informasi lebih lanjut dapat
menghubungi admin kami Riris dan Misa.
Dan Bapak Ibu juga bisa mengunjungi
sosial media kami yakni ada Instagram,
YouTube channel, Facebook, dan juga
website resmi kami yaitu di
www.ecoedu.co.id
eedu.co.id
ataupun jika Bapak Ibu tertarik langsung
untuk mendaftar, silakan akses saja ke
pendaftaran.co.id.
Selain itu juga kami terdapat inhouse
training yang dapat dilakukan secara
offline sesuai dengan permintaan dari
instansi atau perusahaan Bapak dan Ibu
semuanya. Jadi kami menunggu Bapak dan
Ibu semuanya di pelatihan kami.
Baik, untuk selanjutnya kita akan
langsung saja masuk pada kegiatan utama
kita di mana webinar kali ini kita akan
berdiskusi mengenai inventarisasi emisi
pencemar udara dan kebetulan kami juga
telah menghadirkan narasumber yang
sangat kompeten di bidangnya untuk
memberikan materi dan wawasan yang
bermanfaat ini. Baik, perkenankan saya
langsung saja memperkenalkan narasumber
kita hari ini yaitu ada Bapak Dr. Eng
Asep Sofyan, ST,mt.
Beliau merupakan dosen Teknik Lingkungan
dari Institut Teknologi Bandung.
Selamat siang untuk Pak Asep. Selamat
siang, Mbak Dini. Apakah suara saya
terdengar? Terdengar, Pak. Aman, Pak.
Aman. Baik. Iya. Baik. Ee bagaimana Pak
kabarnya untuk hari ini? Alhamdulillah
kabar baik ya. Alhamdulillah. Semoga
kita selalu sehat ya, Pak. Iya. Baik,
sebelum dimulai mungkin izinkan saya
untuk menyampaikan beberapa teknis yang
di mana untuk pemaparan akan
dilaksanakan selama 1 seteng jam
kemudian dilanjutkan lagi dengan sesi
tanya jawab menggunakan aplikasi Slidu
dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab
secara langsung. Baik, untuk
mengefektifkan waktu saya serahkan
ruangan Zoom ini kepada Pak Asep dan
kepada Bapak dan Ibu semuanya. Selamat
mengikuti acara webinar ini.
Ee bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Bapak, Ibu yang saya hormati, kembali
ee berjumpa lagi ya dengan webinar Ibu
EU. Ee terima kasih Mbak Dini yang sudah
membuka acara ini. Ee topik kita kali
ini tentang inventarisasi emisi ee
pencemar udara. Ee saya akan memulai
untuk share screen ya. Mohon izin Bapak
Ibu ee untuk Nah ya untuk share screen
ee
bagaimana apakah sudah terlihat
share screen atau belum?
Ee Mbak Dini. Oh, iya sudah, Pak. Oh,
sudah ya. Baik.
Iya.
Ee topik kita kali ini tentang
inventarisasi emisi pencemar udara ya.
Jadi ee secara definisi inventarisasi
emisi pencemar udara adalah suatu proses
sistematis untuk mengidentifikasi,
mengkuantifikasi, dan mendokumentasikan
jumlah polutan udara yang dilepaskan ke
atmosfer dari berbagai sumber,
baik yang berasal dari alamiah maupun ee
manusia. Inventarisasi
ini biasanya mencakup berbagai jenis
polutan ya, seperti SO2, NO2,
NH3 ya, VOC, PM.
Kemudian kita akan bandingkan ya
inventarisasi emisi pencemar udara
dengan gas rumah kaca. Sebagaimana
diketahui oleh Bapak Ibu, kata
inventarisasi ini juga
dipakai untuk
inventarisasi gas rumah kaca atau IGRK
ya. Nah, jadi dua benda ini adalah
berbeda. Inventarisasi
emisi pencemar udara dengan
inventarisasi gas rumah kaca adalah dua
benda yang berbeda.
Ee pertama, perbedaan pertama dari sisi
tujuan. Jadi, kalau
inventarisasi pencemar udara ini
tujuannya untuk mengendalikan polusi
udara ya.
Sedangkan inventarisasi GRK untuk
mengatasi perubahan iklim
dari jenis zat yang diinventarisasi.
Kalau
inventarisasi pencemar udara ini adalah
targetnya kesehatan ya. Nah, targetnya
adalah kesehatan.
Sedangkan untuk GRK dia perubahan iklim
jadi berbeda sehingga pencemar udaranya
juga berbeda. Nah, kalau kita lihat
contoh ini ya, PM25, PM10
itu adalah kalau kita hirup kita akan
sakit ya termasuk juga NOX, SO2, CO,
VOC, NH3, PB, O3 dan banyak yang lain
lagi itu disebut dengan
air pollutan atau
polusi atau pencemar udara, ya.
pencemar udara itu targetnya ke
kesehatan.
Sedangkan GRK,
contoh CO2
ya, CO2 itu tidak berdampak apa-apa sama
kesehatan.
Demikian juga CH4
memang ada gangguan ya. Misalnya bau kan
kita tidak suka tapi dia tidak akan
berdampak kepada kesehatan.
Demikian juga N2O.
Jadi targetnya bukan untuk kesehatan.
Ini akan menyebabkan pemanasan global
ya. Jadi GRK ini
tidak berdampak pada kesehatan,
tapi pada pemanasan global yang disebut
dengan efek rumah kaca. Nah, jadi ee
sama sekali berbeda ya. Ini tidak ada
yang beririsan di sini. Ini CO, ini CO2
ya, CH4 ini NO2 dan NO ini N2O ya.
Walaupun ada N tapi ini beda
karakteristiknya berbeda.
Nah, jadi kita bisa katakan bahwa
ketika kita menyebutkan
inventarisasi emisi pencemar udara itu
jangan tertukar dengan inventarisasi gas
rumah kaca.
karena
sangat berbeda. Nah, tadi kita sudah
bahas ya, dampaknya
lebih ke kesehatan.
Kalau GRK lebih kepada pemanasan global,
kemudian regulasi-regulasinya juga
berbeda. Mungkin yang lebih familiar
Bapak, Ibu lebih ke inventarisasi gas
rumah kaca ya.
Eh, di sini ada tentang national
determinantine contribution ya, national
determine contribution ada BUR, ada NC,
ada registry nasional. Ini yang biasa
Bapak Ibu familiar di GRK. Nah, kalau
udara
kita ada istilahnya baku mutu udara
ambien, izin emisi
ya. Jadi berbeda,
regulasinya juga berbeda.
Nah, tapi ada irisan
ya, irisan yang disebut dengan
kobenefit.
Artinya ada polutan-polutan
udara
yang sebetulnya bisa membantu perubahan
iklim
ya.
Ee jadi kalau kita lihat balik lagi ke
sini ya. Nah,
sebetulnya kalau CO2, CH4, N2O itu tidak
ada pengaruhnya terhadap
kesehatan. Jadi tidak dianggap sebagai
pencemar udara.
Tapi partikulat
itu berdampak kepada perubahan iklim
ya. Partikulat berdampak pada perubahan
iklim. Apa
dampak dari partikulat? Ya, karena dia
akan ee
mengabsorb ya ee mengabsorb dari radiasi
matahari.
Nah, radiasi matahari ini ee dalam
jangka panjang ya, makanya disebut
ee long term impact.
Untuk PM 2,5 dan PM1 itu dia akan ee
mengalami dampak tapi tidak seperti CO2
dan CH4 yang dampaknya
singkat ya. Nah, jadi partikular
ee itu bisa berdampak pada perubahan
iklim
ee khususnya
menghalangi radiasi sinar matahari.
Nah, tentu di sini dampaknya sangat
kompleks ya. Ee tapi
penelitian terakhir mengatakan bahwa
dampaknya ada.
terutama ee partikulat dalam bentuk ee
karbon black carbon disebutnya sebagai
black carbon atau BC. Nah,
artinya kita mengenal ada kata kobenefit
ya di sini ee
yang pada dasarnya
kita kurangi GRK kita juga bisa
mengurangi pencemaran udara dan kita
kurangi pencemaran udara kita juga bisa
mengurangi GRK.
Kemudian,
oke kita ee sudahi dulu ya ee topik apa
beda antara pencemar udara dengan GRK.
Mudah-mudahan Bapak Ibu sudah bisa
membedakannya.
Jangan lagi tertukar.
Kita akan menghitung emisi pencemar
udara seperti CO2. Itu seringkiali saya
dengar ya. Nah,
sekarang sudah tidak mungkin tertukar
lagi. Begitu bicara pencemar udara itu
adalah PM 2,5, PM10, SO2, NO2. Nah,
semua pencemar udara.
Begitu bicara gas rumah kaca CO2, CH4,
N2O dan seterusnya. karena
senyawa-senyawanya berbeda.
Kita sudahi diskusi tentang perbedaan
inventarisasi pencemar udara dengan gas
rumah kaca. Sekarang kita fokus pada
topik kita hari ini, yaitu
inventarisasi pencemar udara.
Pertanyaan pertama adalah mengapa kita
harus melakukan inventarisasi
emisi pencemar udara? Nah, kita tahu
bahwa pencemar udara ini berdampak pada
kesehatan.
Bagi Bapak Ibu yang tinggal di kota
besar ya, itu akan menghirup udara kotor
setiap hari dan itu tergantung kepada
gasnya ya.
Kalau dia PM10,
PM10 itu kan artinya partikel yang
ukurannya 10 mikron atau kurang, ya.
Jadi dia ukurannya relatif besar
dibandingkan PM 2,5 2,5 itu artinya dia
2,5 mikron atau kurang.
Nah, ketika kita menghirup PM10 misalnya
ada bus dengan asap yang tebal, nah itu
kemungkinan PM10.
Nah, tapi kalau PM2,5 itu tidak
terlihat,
tidak terlihat ee
secara fisik, ya.
Nah, jadi dari hasil penelitian
ee beberapa tahun terakhir di kota-kota
besar, PM 2,5 ini sudah melebihi baku
mutu.
Apa yang terjadi kalau kita menghirup
PM10 atau PM2,5?
Nah, PM10 itu akan terjadi gangguan
pernapasan atas ya.
Ketika PM 2,5 ikut terhirup, PM 2,5 itu
bisa sampai masuk ke alveulus.
Itu bisa menyebabkan kanker paru-paru.
Jadi lebih bahaya sebetulnya PM2,5.
Demikian juga kalau NO2 ya. NO2 itu gas
iritan.
Dia bisa melukai saluran pernapasan.
Demikian juga SO2. Nah, kalau untuk ozon
itu
ada dua jenis. Ada ozon yang di
permukaan, ada yang di atmosfer di
ketinggian 25 km. Kalau ozon yang di
atas bagus untuk melindungi dari radiasi
ultraviolet, kita sebut sebagai ozon
baik. Tapi ozon yang ada di permukaan
bumi yang terhirup oleh kita itu gas
iritan bisa merusak saluran pernapasan
kita ya. Kemudian ada juga CO. CO ini
dia bisa berikatan dengan darah ya.
Jadi, oksigen ee darah itu akan langsung
bereaksi dengan CO ee sehingga dia tidak
bisa bereaksi dengan oksigen karena
ee
ya akan terjadi
ee
kompetisi ya. Nah, kompetisi
ee
kita menyebutnya
ee kalau keracunan CO itu bisa langsung
pingsan bahkan meninggal ya karena otak
kehabisan oksigen.
Jadi ya mungkin sebagai ilustrasi
mungkin Bapak Ibu pernah mendengar kasus
ada kendaraan berhenti nyala tapi
orangnya pada tidur
di pinggir jalan gitu. Nah, itu kan
kendaraan mengeluarkan CO ya. Biasanya
kendaraannya
kalau dia kendaraannya kurang bagus
dari knalpot itu masuk ke ruangan
ee kita nyetir
ya, ada kebocoran gitu ya. Nah, begitu
masuk
maka biasanya semua langsung pingsan.
pingsan kalau terus menghirup ya karena
mesinnya kan enggak ada yang mematikan
karena orangnya keburu pingsan akhirnya
meninggal.
Jadi CO ini sangat berbahaya ee kalau
terhirup
bisa langsung ee pingsan atau bahkan
meninggal ya.
Nah ee gas-gas yang tadi kita sebut
sebagai pencemar udara ini harus
dikendalikan oleh pemerintah kota ya.
Nah, bagaimana caranya pemerintah kota
untuk
ee mengendalikan pencemaran udara?
Ya, kalau kita ingin mengendalikan
sesuatu tentu kita harus tahu
apa yang kita kendalikan, berapa
jumlahnya.
Misalnya ya, Bapak, Ibu di rumah
sering diganggu oleh tikus,
makanan-makanan habis ya.
ee setiap malam
ada kardus ataupun
barang-barang yang dirusak.
Nah, kalau siang hari tidak ada misalnya
ya, contoh
berarti Bapak Ibu harus melakukan
inventarisasi
ya. pertama
ini tikusnya jenis apa ya, sebesar apa,
kemudian juga dia berasal dari mana,
terus bagaimana cara mengendalikannya
kan kira-kira begitu ya. Nah, demikian
juga dengan pencemaran udara.
Kita sudah tahu dari hasil pengukuran
PM2,-nya ini melebihi baku mutu ya.
PM25-nya melebihi baku mutu. Nah,
sekarang kita kan ingin mengendalikan
pencemaran udara. Langkah pertama di
dalam mengendalikan pencemaran udara
adalah inventarisasi emisi pencemar
udara. ya kita harus tahu ya ee apa saja
yang ada di kota kita, lokasinya di
mana, sumbernya dari mana,
berapa jumlahnya.
Kira-kira begitu ya, Bapak, Ibu. Jadi,
inventarisasi emisi ini merupakan
langkah awal bagi kita untuk mengetahui
musuh kita ini siapa,
ya.
Karena kalau tidak diinventarisasi, kita
juga tidak tahu
ee
sumber ya di sini
ee sumbernya, jenisnya, besarnya
itu menjadi tujuan
dari inventarisasi emisi ya.
Nah,
kalau kita lihat
yang paling utama PM 2,5 karena
rata-rata sekarang di kota-kota besar ya
PM 2,5 ini sudah melebihi baku mutu.
Kemudian PM10,
kemudian NO ya, NOX ini
terdiri dari NO dan NO2 makanya disebut
NO.
Ada SO2,
ada CO,
ada VOC,
ada NH3 ya,
ada PB, ada ozon, ozon permukaan.
Nah,
kemudian
kita coba hitung berapa jumlahnya.
Nah, di
Indonesia saat ini pedoman terakhir ya,
karena ini belum di-update pedoman
terakhir ini tahun 2013. Jadi sudah
cukup lama ya. Sekarang sudah 2025 sudah
12 tahun
belum di-update tapi isinya masih
relevan.
Ee
tentunya kalau kita ingin meningkatkan
masih bisa ya.
ee hanya untuk sekarang karena pedoman
resmi
adanya ini ya, kita pakai ini untuk
bahan webinar kita sekarang. Nah,
kemudian
ee bagaimana cara dapat file ini? Bapak,
Ibu tinggal ketik aja judulnya. Ini
pedoman teknis penyusunan inventarisasi
emisi pencemar udara di perkotaan itu
langsung muncul ya bisa download. dari
website-nya KLH.
Nah,
jadi
inventarisasi emisi ini
merupakan langkah awal tadi ya saya
sudah bilang langkah awal sebelum kita
melakukan langkah-langkah kebijakan
dalam konteks kebijakan perkotaan.
Kita bisa lihat di sini gambarnya ya.
Ini adalah langkah pertama kita
melakukan inventarisasi
emisi
sebagai salah satu bagian dari
strategi pengendalian pencemaran udara
perkotaan.
Kemudian
kita hanya bisa melakukan ya ini kan ada
ada
strategi ya. Nah, ada strategi. Strategi
ini kan ujungnya
tapi kan dari sini harus dari awal ya.
Nah, dari awal
awalnya adalah inventarisasi emisi.
Ini adalah semua langkah-langkah yang
harus kita lakukan jika kita ingin
melakukan pengendalian udara perkotaan.
Kita tidak akan bahas semua ya. kita
hanya fokus kepada
inventarisasi emisi. Bahwa ee
inventarisasi emisi ini adalah hal yang
sangat penting di dalam tahap awal kita
mengendalikan pencemaran udara.
Jadi
nantinya dari hasil kita menyusun itu
kita akan bisa menentukan
opsi-opsi pengendalian pencemaran udara
ya, baik untuk kebijakan,
institusi, penegakan hukum, ekonomi,
teknologi.
Ini semuanya berawal dari inventarisasi
emisi. Jadi inventarisasi emisi ini
menjadi langkah awal yang sangat
penting.
Nah, ketika kita sudah menyadari
pentingnya inventarisasi emisi ya,
langkah selanjutnya adalah kita
melaksanakan inventarisasi emisi atau
biasa disebut V.
Inventarisasi emisi ini diawali dari
perencanaan
ya.
Nah, biasanya inventarisasi emisi ini
tanggung jawab pemerintah,
baik itu pemerintah kabupaten maupun
pemerintah provinsi atau pemerintah
nasional. Misalnya kita sebuah kabupaten
ya. Nah, jadi kabupaten ini sudah
memahami pentingnya inventarisasi emisi
karena itu menjadi dasar menjadi dasar
dan data awal dalam kita menentukan
pengendalian pencemaran udara.
Langkah pertama melakukan perencanaan
ya.
Kira-kira
siapa tim yang akan
mengerjakan
berapa lama? Ya.
Kemudian setelah timnya ada
mulailah mengumpulkan data.
Ya, ini tahap kedua. Nah, mengumpulkan
data.
Setelah itu ada tim lain. Jadi timnya
enggak boleh satu, timnya minimal dua.
Satu yang mencari data dan menghitung,
satu yang memeriksa. Kita sebut sebagai
QA QC.
Q eh quality assurance, quality control.
Apa beda QA dan QC?
Kalau QA itu kontrol internal.
Jadi
ee misalnya begini,
ini tim yang akan melakukan QAQC,
maka tim yang mengumpulkan data dan
menghitung
itu disetor ke tim yang memeriksa.
Tim yang meriksa melakukan QA,
quality assurance. Assurance itu artinya
memastikan
kualitasnya bagus. Contoh, ini data dari
mana?
Oh, dari wawancara. Siapa yang
diwawancarai?
Orang yang lewat. Oh, enggak bisa. Yang
diwawancarai harus kepala dinas atau
kepala bidang
dan harus berbentuk kuesioner. Mana
buktinya? Tidak ada. Enggak bisa. Jadi
harus tertulis
kalau dia bentuknya wawancara.
Misalnya ada sebuah mol. Mol di sini apa
sumber emisinya?
Tenannya ada berapa? Nah, itu tentu ada
tata cara mencari data.
Tata caranya sama saja dengan tata cara
mencari data yang lain ya, tentang ee
prosedur
yang harus di dipenuhi. Jadi sebetulnya
tidak ada prosedur khusus di dalam
inventarisasi emisi mengikuti prosedur
mencari data
yang biasa dilakukan misalnya oleh BPS
atau lembaga lain. Tentu di sana ada
aspek-aspek akurasi ya. Ee nah
setelah oleh tim dilakukan quality
assurance untuk memastikan
kemudian ada juga proses quality
control. Nah, quality control ini apakah
dilakukan oleh tim itu juga atau oleh
tim yang lebih tinggi posisinya misalnya
kepala dinas begitu. Itu untuk
memastikan bahwa semuanya dalam prosedur
yang benar.
Ya, contoh misalnya mengumpulkan data
dari mana? Dari BPS.
Nah, benar enggak datanya itu dari BPS?
Apa buktinya?
Karena oh saya ambil dari website. Nah,
itu tidak bisa. Kecuali website BPS ya
kita ambil dari website
apalagi blogger misalnya. Itu enggak
bisa ee prosedur seperti itu. Itu harus
ada dokumennya.
dan harus ee resmi dari lembaga resmi
ya. Nah, jadi
QA QC ini yang QA lebih kepada
memastikan prosesnya.
Kemudian kontrol, quality control lebih
melihat secara lebih garis besar ya,
secara luas. ee bukan hanya proses dan
prosedur, tapi secara keseluruhan
pengambilan data, penyimpanan data,
dokumentasi data. Karena bisa jadi
tim yang mengambil data benar
tapi yang entry data salah. Itu juga
menjadi
ee konsern dari tim quality control.
Ee saya sering mengalami kasus ya, orang
yang ngumpulkan data
orang lingkungan, orang yang entry data
bukan orang lingkungan.
Kemudian
di data yang diberikan oleh orang
lingkungan itu dikatakan satuannya
misalnya mol,
kemudian ada satuan
miligram. ada 1 miligram/m³,
ada satuan
ee ppm misalnya, itu kan beda-beda
satuannya ya. 1 mikrogram/m³,
1 ppm,
1 mol misalnya,
tapi oleh tim data dianggapnya sama. Dia
hanya memasukkan angkanya saja. Jadi
tidak memperhatikan satuan.
Akhirnya ketika diproses datanya salah.
Setelah ditelusuri, oh ternyata ada
kesalahan waktu entry. Nah, jadi entry
data juga ini menjadi perhatian dari QC.
Betul enggak entry datanya itu. Nah,
setelah entry datanya benar,
proses perhitungan,
proses perhitungannya benar atau tidak?
setelah proses perhitungannya
satuannya benar atau tidak. Ini juga
sering kejadian
ya. Karena orang yang mengerjakannya
beda-beda.
Ada yang menuliskannya kilogram, ada
yang menulisnya ton, ada yang menulisnya
gigagram.
itu hasilnya bisa beda-beda ya kalau
satuannya beda. Nah,
jadi hal-hal seperti ini harus
diperhatikan oleh tim QAQC
supaya hasil inventarisasi emisi itu
yakin ya, yakin benar, tepat, dan
akurat.
Nah, baru nanti nomor empat ada
dokumentasi, pelaporan,
pemeliharaan, dan pemutahiran ya.
Kemudian, nah ini ada diagram alirnya
ya, mulai dari perencanaan,
kemudian nanti ada QA QC sampai akhirnya
membuat laporan ya.
Nah,
untuk menghitung itu ada dua pendekatan,
yaitu top down dan bottom up. Jadi,
kalau top down itu dia menggunakan data
nasional
ya. Tapi kalau bottom up dia menggunakan
data lokal.
Misalnya begini,
nasional ingin tahu sumber emisi
terbesar di Pulau Jawa.
dia tidak mungkin
melakukan bottom up,
maka dia akan melakukan top down.
Misalnya
dari kepadatan penduduk. Dari kepadatan
penduduk kemudian dikalikan dengan
faktor emisi untuk emisi dari domestik.
Kemudian
dari transportasi
ya kan seharusnya kalau dari bottom up
transportasi ini harus dihitung
traffic dari setiap kendaraan yang ada
di kabupaten
masing-masing kabupaten. Ya, mungkin
dari sisi nasional
tidak memungkinkan.
Maka secara top down itu hanya dilihat
dari sisi
traffic jalan nasional. Yang lainnya
diasumsikan berapa persen dari jalan
nasional karena datanya misalnya hanya
punya data nasional. Nah, jadi top down
ini
dilakukan oleh pihak yang sangat luas
kewenangannya
untuk membuat kebijakan yang luas juga.
Contoh misalnya pemerintah nasional
ingin membuat kebijakan pengendalian
pencemaran udara,
dia perlu data itu tidak mungkin bottom
up, itu harus melakukan top down. Nah,
tapi kalau level kabupaten itu bisa
melakukan bottom up ya, yaitu dia cari
datanya dari BPS, dari bagaimana
atau kita bisa kombinasi
ya misalnya kita pakai data nasional
juga pakai data
ee top down dan bottom up kita pakai
mix. Nah, yang paling penting di dalam
pelaporan inventarisasi GRK itu harus
kita sebutkan. Ini data nasional, ini
data provinsi, ini data kabupaten kota,
ini levelnya top down, ini levelnya
bottom up. Itu harus dijelaskan. Nah,
dari berbagai laporan inventarisasi
emisi yang pernah saya baca, banyak yang
tidak mencantumkan informasi itu.
Sehingga kita secara QC salah
ini data, data apa? Data dari siapa,
kedilannya bagaimana ya. Nah, jadi
karena inventarisasi emisi ini
adalah urusannya data, maka hal-hal yang
seperti ini menjadi penting ya. Karena
kalau datanya salah ya nanti
kebijakannya juga salah.
Jadi, Bapak, Ibu sudah bisa membedakan
ya apa itu pengertian top down dan
bottom up.
Nah, ini kira-kira ee bedanya ya, top
down dan bottom up. Nah, pertanyaannya
saya di kabupaten mau melakukan
inventarisasi emisi kabupaten. Harusnya
kan bottom up, boleh enggak top down? Ya
jawabannya tentunya tidak boleh.
Tapi bagaimana kalau ini kami dananya
tidak ada, tenaga ahlinya tidak ada. Ya,
itu kembali lagi kepada kebijakan
setempat ya. Artinya secara ilmiah tidak
boleh. Kalau dia levelnya kecil, kota
atau kabupaten itu harus bottom up.
Nanti bottom up ini dikumpulkan menjadi
data agregat,
data jumlah
dalam sebuah provinsi.
Data-data provinsi ini diagregat jadi
data nasional. Itu yang ideal. Dimulai
dari bottom up ya.
Nah,
secara ilmiah tidak boleh bahwa
kabupaten kota melakukannya secara top
down. Artinya data nasional kemudian di
didetailkan di daerah misalnya
didistribusi normal ya di bukan
distribusi proporsional istilahnya ya
data nasional
kemudian diproporsionalkan
itu enggak bisa secara ilmiah. Nah,
kemudian
ee ketika kita menentukan perhitungan
emisi ini, tentu
kita harus melihat sumber daya yang ada
di kita ya. Tapi secara ilmiah
kalau ingin disebut data yang
berkualitas baik memang dia harus
sedetail mungkin ya ee kita harus me
menghitungnya
sedetail mungkin. Nah, sekarang kita apa
masuk ke dalam sumber.
Jadi
ini ada gambar yang lebih jelas ya. Nah,
ini
ee ini sebenarnya sama aja ya. Ini hanya
beda beda penumusan. Nah, jadi sumber
pencemar udara itu kita bedakan ada
tiga, sumber titik, sumber area, dan
sumber bergerak.
sumber titik misalnya ada industri, PLTU
ya, ada rumah sakit, ada
ee mall ya ee tempat perbelanjaan itu
kita sebut sebagai sumber titik. Nah,
sumber area itu adalah sumber titik yang
terlalu kecil kalau kita hitung
satu-satu.
misalnya pemukiman ya, ada sebuah
perumahan 1000 rumah
itu kan sebetulnya sumber titik juga
dari satu rumah dia mengeluarkan satu
emisi dari kompor misalnya ya dia sumber
titik juga tapi kalau kita perlakukan
dia sebagai sumber titik terlalu banyak
maka kita gabung satu perumahan itu
kita anggap sebagai sumber area
ya. Misalnya
ada sepanjang jalan di situ banyak
sekali rumah makan, pedagang kaki lima,
ee pedagang-pedagang
apa ada kalau malam hari dia buka
restoran gitu kan, siang hari dia enggak
ada pedagang informal.
itu kalau dihitung satu-satu terlalu
banyak, maka kita anggap area itu akan
menghasilkan emisi berapa.
Nah, kalau sumber bergerak
ini dibagi lagi dua, ada yang on road
ya. On road artinya dia ada di jalan
umum. Ada yang non road, dia tidak ada
di jalan umum. Misalnya kereta api,
pesawat, pelabuhan. Ya, termasuk kalau
di tambang itu traktor,
bulldozer ya. Di pertanian ada traktor,
di tambang ada bulldozer, ada alat-alat
berat. Nah, itu kita sebut sebagai non
road
karena dia berada di lokasi tambang atau
dia ada di lokasi pertanian.
Kalau dia berjalan di jalan raya kita
sebut sebagai onround ee mobil, sepeda
motor.
Nah, kita bisa bagi dua ya untuk
perhitungan
kendaraan yang melintas di jalan raya
bisa berdasarkan panjang jalan atau
berdasarkan zona.
Ini kasusnya mirip dengan sumber titik
dan sumber area ya. Sebetulnya kan
sumber area juga asalnya titik tapi
diakumulasi.
Nah, sumber area ini pun sama
ya. Misalnya
ee ada jalan utama, jalan nasional itu
kita bisa hitung berdasarkan
panjang jalan atau sumber garis.
Tapi kalau jalan-jalan komplek
itu tidak mungkin kita pakai sumber
daring. Jalan-jalan kampung, jalan-jalan
komplek itu kita anggap saja sebagai
sebuah sumber area yang isinya ada
puluhan atau ratusan jalan, jalan-jalan
kecil ya itu kita anggap sebagai area.
Jadi ini konsepnya sama dengan
simplifikasi sumber area.
Padahal dia juga titik asalnya ya.
Kemudian kita anggap area. Ini juga sama
asalnya dia garis tapi kemudian kita
anggap area.
Demikian juga untuk nonroad. Kita bisa
anggap dia sebagai sebuah garis atau
sebuah area
tergantung kepada ee kedetailannya ya.
Ee tentu kalau ingin detail semuanya
kita anggap garis. Tapi kan
mungkin waktunya tidak bisa ya dari sisi
ruang lingkupnya tidak bisa. Kalau semua
jalan sampai yang gang yang kecil-kecil
itu kita hitung satu-satu itu tidak
mungkin. Jadi kita anggap aja itu
sebagai sumber area. Termasuk yang non
road juga misalnya traktor banyak
dipakai di sebuah lahan pesawahan
ee kita anggap sebagai sumber area.
Nah, asumsi-asumsi ini itu harus
dituliskan ya di dalam laporan
ini dianggap seb asumsinya apa sehingga
ini dianggap sebagai sumber area. Karena
banyak juga laporan yang isinya hanya
menuliskan hasil aja begitu ya.
prosesnya tidak ada. Nah, ini bahaya.
Kenapa? Karena inventarisasi emisi itu
idealnya di-update tiap tahun
atau 2 tahun atau 3 tahun tergantung
kepada kemampuan. Tapi setidaknya dia
akan di-update secara terus-menerus.
Nah, orang yang akan meng-update di
tahun berikutnya dia kan harus lihat
datanya sebelumnya sedetail apa begitu.
Jadi selain datanya semakin banyak juga
kualitasnya harus semakin bagus. Di sana
disebutkan,
oh ini banyaknya sumber area ya
misalnya. Nah berarti dia sekarang
menargetkan bisa enggak dari sumber area
ini bisa didetailkan lagi apakah menjadi
sumber titik atau sumber garis. Nah, itu
hanya memungkinkan kalau informasi
sumbernya itu ada ya. Apakah ini sumber
titik, sumber garis, sumber area. Nah,
sehingga hal-hal seperti itu harus
dicantumkan di dalam laporan.
Ini adalah contoh-contohnya ya. Tadi
sudah kita bahas kategori sumber. Nah,
kemudian di sini ada istilah tir ya.
Nah, mungkin kita akan masuk ke istilah
tir. Jadi,
tir ini disebut dengan pendekatan
berjenjang.
TIR itu bahasa Indonesianya tahap atau
tingkat. Jadi tahap 1, tahap 2, tahap 3.
Nah, kita mulai dari tir atau tahap 1
yaitu menggunakan metode dasar. Metode
dasar itu kita gunakan data yang sudah
disediakan oleh pemerintah
ya.
Jadi
menggunakan faktor emisi, nanti kita
akan berkenalan dengan faktor emisi
menggunakan faktor emisi default
internasional
misalnya dari MF, EEA, Guidebook ya. itu
bisa di-download di internet atau bisa
dari data nasional ya
ee data provinsi yang kita anggap memang
ini sudah ada tir satu ini sudah ada.
Nah,
tir du
kita coba lebih spesifik lagi faktor
emisinya.
Nah, contoh misalnya
faktor emisi sebuah kendaraan dari
dokumen internasional. Nah, itu kan
rata-rata dari seluruh negara di dunia.
Padahal di Indonesia itu beda
karakteristik kendaraannya. Nah, artinya
kalau kita pakai data lokal itu akan
makin baik.
Jadi, tir ini menjadi data yang lebih
baik daripada tir 1.
Kemudian ada lagi tir 3. Nah, tir 3 ini
kita
hitung langsung.
Misalnya Bapak, Ibu
punya sebuah
kotak dengan tiga buah pembangkit
listrik.
anggaplah semuanya pembangkit listrik
batu bara. Nah, berdasarkan tiru kalau
pembangkit batu bara itu angkanya
misalnya 20
ee
gram per detik misalnya ya 20 gr/ detik.
Nah,
kalau tir dua kita lihat
ini
jenisnya beda.
Yang satu misalnya dia ee
dari sisi prosesnya
berbeda dengan yang kedua, berbeda
dengan yang ketiga. Nah, kita lihat lagi
referensi yang lebih detail.
Ternyata faktor emisinya di buku yang
lebih detail itu beda-beda. Bukan
angkanya 20. Ada yang 15, ada yang 16,
ada yang bahkan lebih besar dari 20, ada
yang 23 misalnya. Nah, itu kan sudah
lebih mendekati kepada kondisi di
lapangan.
Kalau tir 3 kita datangi
pabrik itu kita ukur,
kita dapat data spesifik dari pabrik itu
dengan
spesifikasi
teknis yang ee yang khusus ya
yang dimiliki oleh pabrik itu. misalnya
kualitas batubaranya bagaimana,
prosesnya bagaimana, alat pengendalinya
bagaimana. Jadi itu kita sebut sebagai
tir tiga
atau tingkat tiga atau tahap tiga. Jadi
tir tiga itu artinya yang paling
detail.
Nah,
target dari inventarisasi emisi mencapai
tir 3. Tapi kalau tidak ada kita pakai
tir 2. Kalau tidak ada kita pakai tir
satu. Nah, jadi itu kira-kira ee
pengertian tir 1, 2, dan 3 ya.
Jadi kalau ee tir
3 itu biasanya kita monitoring langsung
ya, monitoring langsung dari tiap pabrik
misalnya.
Nah,
setelah kita mengetahui ya tir 1, tir 2,
tir 3, ternyata tir du apa dua dan 3
tadi itu hanya sebagai bagian
dari metode perhitungan
menggunakan faktor emisi.
Apakah ada metode perhitungan lain? Ada
ya. Selain menggunakan faktor emisi
yaitu menggunakan material balance.
Bagaimana suatu emisi dihitung
berdasarkan neraca massa atau kita uji
cerobongnya. Nah, ini sudah masuk ke
dalam tir ya.
model estimasi e model estimasi survei
kuesioner pertimbangan pakar ini adalah
metode lain untuk menghasilkan data
emisi.
Nah,
tetapi yang paling banyak digunakan
adalah menggunakan faktor emisi, baik
tir 1, 2, atau 3. Nah, sehingga untuk
selanjutnya kita hanya akan bahas yang
faktor emisi.
Nah, ini tadi ya perbandingannya. Nah,
ketika kita menggunakan faktor emisi
untuk sumber titik, sumber area, dan
sumber bergerak,
kita akan mencoba untuk menghitung. Nah,
tapi sekali lagi Bapak, Ibu sudah dapat
wawasan bahwa faktor emisi bukan
satu-satunya metode menghitung emisi.
Ada metode lain.
Yang paling akurat itu adalah
pengukuran.
kita datangi sendiri pabriknya kita ukur
sehingga levelnya dia masuk ke dalam tir
karena dia paling detail. Nah, kemudian
kita bisa juga dengan menggunakan
material balance atau neraca massa.
Nah, kalau kita hitung neraca massanya
itu bisa dikategorikan tir 2.
Nah, kalau kita pakai faktor emisi
tergantung faktor emisinya dikerjakan
oleh siapa. Kalau oleh nasional
ya itu kita bisa sebut sebagai tir 2.
Kalau dia internasional datanya
itu kita sebut sebagai tir satu.
Apa bedanya faktor emisi dengan data
pengukuran? Jadi faktor emisi ini
ditentukan oleh sebuah lembaga ya, baik
pemerintah maupun non pemerintah
yang mengolah data-data pengukuran dari
suatu wilayah. Misalnya kalau faktor
emisinya dihasilkan oleh internasional,
maka data-data internasional ini
misalnya untuk sebuah pabrik ya, ada
pabrik pengolahan kelapa sawit.
Nah, di seluruh dunia ini kan banyak
sekali pabrik kelapa sawit ini
dikumpulkan datanya anggap ada 1000
data kelapa sawit kemudian
dirata-ratakan.
Nah, itu adalah faktor emisi. Jadi,
faktor emisi itu adalah hasil rata-rata
dari data yang sangat banyak.
Nah, kalau yang namanya rata-rata itu
kan dia mencari titik tengah antara
nilai maksimum dan nilai minimum.
Biasanya dia berada di ee medium ya.
Nah, di tengah-tengah. Nilai rata-rata
itu biasanya ada di tengah-tengah. Nah,
kenapa hasil tir satu itu dianggap lebih
tidak akurat? Karena bisa jadi kasus di
daerah kita itu bisa jadi nilainya
maksimum semua atau bisa jadi nilainya
minimum semua, maka nilai rata-rata itu
bisa dianggap salah.
Ya, lebih bagus kita pakai tir du.
Demikian juga kalau kita lebih masuk
lagi ke individu
individu pabrik berarti tir 3. Nah, jadi
faktor emisi itu adalah rata-rata dari
data yang sekian banyak kalau dia
internasional. Bagaimana kalau faktor
emisi nasional? Ya berarti sama nasional
misalnya pemerintah Indonesia
mengumpulkan data-data
pabrik yang ada di Indonesia. Nah,
dibandingkan dengan data internasional,
data Indonesia dia lebih dekat dengan
kondisi kita. Makanya tier du ini lebih
bagus akurasinya. Apalagi kalau tir 3
kita melihat individu.
Jadi, faktor emisi itu dianggap menjadi
metode inventarisasi emisi yang paling
praktis
yang ada di Indonesia. baik itu tir 1,
tir 2, dan tir 3. Nah, sekarang kita
akan praktikkan untuk berbagai sumber.
Jadi, emisi itu adalah
data aktivitas dikali faktor emisi.
Nah, di sini memang ada sebuah faktor
efisiensi ya yang disebut dengan
efisiensi
alat pengendali. Nah, bagi Bapak Ibu
yang biasa bekerja di bidang lingkungan
tentu tahu bahwa kalau sebuah pabrik
tanpa ada alat pengendali polusinya itu
luar biasa banyak. Misalnya pabrik
semen. Pabrik semen pasti mengeluarkan
debu yang sangat banyak sehingga harus
di tampung dulu debunya itu di mulai
dari cyclon ya misalnya back house atau
menggunakan metode lain. Nah, si alat
pengendali ini harus masuk karena yang
kita hitung adalah emisi yang keluar
setelah alat pengendali. Makanya alat
pengendalinya harus kita hitung.
Kemudian
ada contoh ya di sini ee sebelum contoh
di sini ada
kategori sumber titik. Tentu pertama
industri dulu ya. Industri ada rumah
sakit, ada hotel, ada mall, krematorium,
ee sampah ya, pembakaran sampah itu kita
anggap sebagai sumber titik ya.
insinerator misalnya ada insinerator.
Nah, kita akan mulai menghitung di sini
ada sebuah industri membakar
10.000 lit solar per tahun. Ini kita
sebut sebagai data aktivitas ya. Data
aktivitas
10.000 L per bulan.
Kemudian
ee
faktor emisi NOX adalah 3,2 gr/L.
Jadi faktor emisinya 3,2 gram/ L. Alat
pengendalinya itu 70%.
Maka kita masukkan ke rumus ini ya. Tadi
sudah ada rumusnya.
Jadi 10.000 DA-nya 10.000
FE-nya 3,2.
Ini efisiensinya C-nya diganti dengan
angka 70.
Nah, maka 10.000 1000 * 3,2 * 0,3
dapat 9.600 gr atau 9,6 kg
NOx per bulan.
Nah, nanti dari per bulan mau kita ubah
per tahun itu bisa juga ya tinggal
dikali 12.
Tapi kalau dia tidak ada alat pengendali
hasilnya bukan
9,6 kilo. Ininya C-nya enggak ada
berarti 32 kilo. Nah, ini alat
pengendali ini data yang sangat penting.
Nah, sering ya dari hasil saya meriksa
laporan-laporan inventarisasi emisi,
mereka tidak mencantumkan angka alat
pengendali.
Nah, ini bisa salah.
kita sebut sebagai overestimate.
Hasil perhitungan emisinya terlalu
berlebihan
dari kondisi nyata. Jadi alat pengendali
ini harus di dimasukkan ke dalam
data inventarisasi emisi
karena dia pengaruhnya sangat besar ya.
Nah, itu tadi sumber titik. Sekarang
bagaimana dengan sumber area? Sumber
area. Contohnya SPBU, rumah tangga,
proyek konstruksi, TPA.
Kalau tadi insinerator sampah ya yang
sumber titik. Sumber areanya misalnya
pembakaran sampah di TPA, kemudian
hotel, restoran,
dan berbagai bahan apa ee proses-proses
yang sulit kita hitung secara ee sumber
titik.
kita anggap sebagai sumber area.
Nah, kalau sumber area tentu kita harus
tahu berapa areanya ya. Contoh misalnya
di sini ada sebuah lokasi yang membakar
artinya ee memasaknya menggunakan kayu
bakar.
Ada 10.000 rumah menggunakan kayu bakar.
Rata-rata konsumsinya berapa? Berarti
tinggal 10.000. dikali 2
dikali
karena pertanyaannya per tahun ya, jadi
kita kali 365
dapat R7.300.000
kg kayu per tahun. Nanti tinggal kita
kalikan dengan angka 3 ya sebagai faktor
emisi.
Nah, ini faktor emisinya 3 dapat 21,9
ton. PM 2,5 per tahun. Kalau mau pakai
pengendalian misalnya ada efisiensinya
50% maka dia akan menjadi 10,95.
Nah, ini
tidak berarti semuanya kita kasih alat
pengendali kalau di lapangannya tidak
ada ya. Jadi kalau ada saja kita
masukkan alat pengendali.
Jadi di sini kita hitung ya 1
misalnya 2 kg per kayu eh 2 kg kayu per
hari per rumah itu kan sebagai unitnya
nanti dikali
10.000 rumah gitu. Nah itu sumber area
artinya.
Nah, nanti di dalam membuat
inventarisasi emisi ini kita bisa
memanfaatkan GIS atau SIG ya, sistem
informasi geografi.
Kita buat peta. Nah, menurut pedoman
kalau dia
luasnya
ee lebih dari 100 km²,
ukuran gridnya 1 kg * 1 kilo. Tapi kalau
lebih kecil dari 100 km²,
grid-nya 0,5
atau 0,25. Jadi dia lebih
kecil lagi gridnya ya, lebih presisi.
Nah, contoh di sini untuk 400 km²
artinya dia lebih dari 100 ya. Kota
Palembang
ini
kita lihat ini adalah peta kota
Palembang dan ini kotak-kotak ini adalah
kotak 1 * 1 km ya.
Jadi kita beri kotak-kotak seperti itu.
Nanti setelah kita hitung, nah hasil
akhirnya begini.
Jadi ada kotak yang berwarna merah, ada
yang kotak berwarna kuning, ada kotak
yang berwarna hijau.
Isinya jumlah ton per tahun.
Nah, itu yang disebut dengan GIS atau
SIG ya dalam inventarisasi emisi. Jadi
hasil akhirnya seperti ini. Kita
menemukan
suatu kuantitas atau jumlah emisi di
setiap grade.
Nah, contoh misalnya
ee di sebuah kota
ada tiga industri,
ada PLTUA, pabrik B, industri C.
Dari sisi koordinat
ternyata PLTUA
dan pabrik B ini berada di grid yang
sama, grid A1.
industri ada di grid B1 misalnya ya.
Nah, pertama kan kita hitung dulu ininya
ya emisinya.
Konsumsi batubara,
faktor emisi, alat pengendali. Ini
informasinya sudah kita sediakan.
Nah,
nanti dikali dengan
ya data aktivitasnya tadi sudah tahu
Rp50.000 RIB. Kemudian faktor emisinya
15,
C-nya 90
dapat 75 ton.
Pabrik B 120 ton, industri C 100. Nah,
tapi kan dia
A dengan B ini dia satu grade ya di
grade A1.
Makanya 75 ya 75
+ 120
sini
jadi 195.
Nanti industri C dia grid-nya beda. Dia
ada di 100.
Jadi dalam satu grid itu nanti
dijumlahkan.
Kalau dia ada dua pabrik ya dua pabrik
itu dijumlahkan A + B misalnya. Kalau
dia ada 3 A + B + C.
Nah, bagaimana dengan area itu juga
dijumlahkan di kotak itu ada tadi
misalnya 10.000
penduduk menggunakan kayu bakar, emisi
totalnya sekian ditambah emisi industri
artinya emisi titik. Nah, jadi satu
kotak grid 1 * 1 km itu merupakan
akumulasi dari semua emisi yang ada di
sana.
Nah, itu kira-kira manfaat dari adanya
grid ya. Kita bisa mengakumulasikan
semua emisi menjadi satu kotak
ee yang kita hitung kuantitasnya berapa.
Nah, tapi
satu kotak SO2 tidak bisa dijumlahkan
dengan satu kotak NO2 atau PM25
sehingga nanti output petanya
masing-masing.
Peta untuk SO2 sendiri, peta untuk NO2
sendiri,
peta untuk PM 2,5 sendiri.
Nah, tapi untuk PM 2,5 misalnya satu
kotak PM 2,5 itu akumulasi dari sumber
titik, sumber bergerak, sumber ya sumber
titik kan maksudnya sumber tidak
bergerak, sumber titik, sumber area,
ataupun sumber garis. Nah, itu dijumlah
asal dia semuanya PM2,
tapi kalau beda parameter tidak bisa
dijumlah.
Nah, demikian juga kalau area
berarti kita masukkan juga ke dalam grid
tadi ya.
Kemudian bergerak. Nah, bergerak ini ada
jalan utama ya, ada
terminal, jalan kecil, kendaraan parkir,
SPBU
itu kita coba
hitung juga ya. Sumber bergerak.
Untuk sumber bergerak ini ada beberapa
metode. Yang pertama berbasis konsumsi
bahan bakar, ya.
Yang kedua berbasis jarak tempuh,
kemudian berbasis jumlah kendaraan dan
menggunakan model.
Kita mulai dengan yang berbasis konsumsi
bahan bakar.
Jadi kalau kita tahu pemakaian bahan
bakarnya berapa misalnya data dari
Pertamina ya ee kota kita ini disuplai
oleh Pertamina sekian rib liter per hari
atau per bulan atau per tahun ya sekian
ribu liter per bulan misalnya ya sudah
berarti emisinya kita bisa hitung
dan kita harus memilih faktor emisinya
yang satuannya gram/.
Jadi nanti kalau kita bicara faktor
emisi
ee dari jalan ya, dari sumber bergerak
itu ada dua faktor emisi. Ada yang
gram/,
ada yang gram/ km jarak tempuh.
Nah, kita pilih yang gram per literar
tinggal berapa jumlah liternya dikali
gram/ liter dapat gram atau kita
konversi ke ton ya.
Ada juga yang berbasis jarak tempuh kita
sebut sebagai VKT, vehicle kilometers
travel ya. Nah, contoh misalnya
ada 10.000 kendaraan
rata-rata 12.000 km/ tahun. Nah, tinggal
nanti ada satuannya 1,5 gr/ km jarak
tempuh. Jadi, misalnya kita ingin
mengetahui emisi per tahun
di sebuah kota. Nah,
kendaraan itu kan nanti kita
klasifikasikan ya. Nah, nanti di sini
ada
slide yang meng ini klasifikasi
ee nah ini ya.
Jadi nanti kendaraan itu kita bagi
berdasarkan sepeda motor,
mobil penumpang,
mobil
bis, truk, angkutan kota, taksi, roda 3,
pick up, Jeep, Fan, sedan ya. Nah,
itu ee
beda-beda ininya ya.
dari faktor emisinya.
Nah, misalnya untuk kategori sedan
kita bisa lihat di Samsat ya, data dari
Samsat dari kepolisian lalu lintas.
Sebetulnya
jumlah kendaraan baru yang ada di kita
itu berapa?
Jumlah kendaraan yang umurnya 1 tahun,
yang umurnya 2 tahun, umurnya 3 tahun.
Kenapa? Karena biasanya
yang kendaraan baru ini emisinya lebih
sedikit daripada kendaraan yang lama.
Nah, kalau kita dapat datanya berarti
kita bisa me
menyusun inventarisasi yang lebih
detail.
Nah,
kalau misalnya itu tidak ada. Oh, tidak
ada. Tapi rata-rata
untuk kategori sedan itu
dia menempuh 10.000 km per tahun ee
per tahun ya. 10.000 km/ tahun. Bis
rata-rata 30.000
ee km/ tahun. Truk sekitar 40.000 km per
tahun.
Sepeda motor berapa? Nah, jadi
kita tidak menggunakan bahan bakar di
situ. Kita menggunakan jarak tempuh dan
kita cari faktor emisinya yang
menggunakan
faktor emisi gram/ km
bukan gram/.
Kalau gram per liter tadi untuk metode
yang pertama yang menggunakan pemakaian
bahan bakar.
Kalau menggunakan jarak tempuh, kita
cari faktor emisi yang
gram/ km.
Nanti kita hitung dapat
itu juga bisa ya. Nah,
ini adalah yang tadi saya sebutkan ada
yang kurang dari 5 tahun, lebih dari 5.
Kalau datanya ada, nah kita hitung
terpisah karena faktor emisinya juga
biasanya beda ya. Nah, ini kan lebih
detail lagi karena kita pisah-pisah.
Nah, untuk negara maju seperti cover ya
di Eropa atau MOVES di Amerika mereka
sudah membuat basis data. Jadi begitu
ada kendaraan dijual ke masyarakat
datanya sudah langsung masuk ke dalam
basis data nasional sehingga kita lebih
mudah ya di dalam menghitung emisi. Nah,
kalau di Indonesia kan belum ada. Jadi
kita harus membuat
ee basis data sendiri.
Nah, ini adalah perbandingannya.
Ada yang konsumsi bahan bakar, ada yang
jarak tempuh, ada yang kita detailkan
berdasarkan jenis dan jumlah kendaraan
atau menggunakan basis data komputer,
ya.
Nah, bagaimana untuk membuat SIG-nya?
Berarti
dari satu
kotak itu ya, misalnya di sini ada satu
kotak 1 * 1 km.
Nah, misalnya di situ untuk
A2
dia
tergantung kepada
ininya ya. Ee
ada dua cara tadi kita sudah lihat
mungkin yang
ini ya. Oke,
untuk mencapai
ee data aktivitas ini memang kita harus
hitung dulu ee pakai metode yang tadi
ya. Mungkin saya balik lagi ke sini.
Nah, misalnya pakai VKT aja, metode VKT
ya. Ee gram per km. Nah, artinya kita
punya
jalan
panjangnya berapa
dan jalan itu dilintasi oleh kendaraan
dalam 1 hari. Berapa jumlahnya?
Berapa jumlahnya? Berapa jenisnya?
Misalnya untuk satu jenis dulu misalnya
kendaraan bis. Kendaraan bis dalam 1
hari melintas 1000
kendaraan. Nah, dia melintas di grid
yang kita buat kan kita buat grid ya.
Nah, saya ini buat grid
ini 1 km 1 km. Nah, karena dia jalannya
melintasi seperti ini
ya, ini kira-kira panjangnya 1,2 km ya.
Nah,
berarti kan kita ingin menghitung di
grid ini berapa emisinya. Diketahui bis
melintas
dia 1000 kendaraan per hari.
Berarti dia 1000 kendaraan dikali 1,2 km
dikali dengan gram/ km
ya dikali dengan gram/ km.
Artinya kan 1 bis
dalam 1 km dia dapat 1,5
gram. Berarti kalau dia 1,2
berarti 1,2 * 1,5
dia akan menghasilkan berapa gram
di grid itu kali jumlah kendaraan yang
melintas.
Nah, bagaimana kalau jalannya ada dua?
Ada juga jalan yang ke sini ya. sama ini
misalnya 1,3 kilo.
Nah, 1,3 kilo misalnya bis juga yang
melintas di situ berapa
kita hitung nanti untuk sepeda motor,
untuk mobil dihitung satu-satu nanti
dijumlahkan.
Nah, kalau dia jalan utama mungkin bisa.
Nah, bagaimana kalau di sini ada jalan
yang kecil-kecil?
Ada jalan yang ke sini, ke sini, sini
ya. Jalan lokal begitu. Nah,
ini juga ada jalan ke sini, ada jalan ke
sini misalnya ya. Nah, ini kan tidak
mungkin dihitung satu-satu.
Ya sudah, kita hitung saja densitasnya.
Kepadatan kendaraan di sini dan jumlah
jalan total berapa kilometer
gram/ km. Nah, kita sebut sebagai sumber
area.
Jadi, kita
ee
simplifikasi atau sederhanakan. tidak
dihitung satu-satu, tapi ya kita anggap
area tentu grid yang jalan lokalnya
padat
dan trafficnya juga banyak itu 
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:09:01 UTC
Categories
Manage