Transcript
dz9rL-Fi4X4 • Webinar 123 Dari Makro ke Mikro: Perencanaan Infrastruktur Hijau Biru Terintegrasi
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0157_dz9rL-Fi4X4.txt
Kind: captions Language: id mereka itu Ya, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko ke-123. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu semua yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Hari ini webinar Eko akan mengangkat tema dari makro ke mikro perencanaan infrastruktur hijau biru terintegrasi. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum memulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersilakan. Baik, berdoa dicukupkan. Untuk selanjutnya mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak dan Ibu untuk duduk tegak. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di sini izinkan saya untuk mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh kami yaitu yang pertama kami akan mengadakan pelatihan dasar AMDAL gelombang 18 di tanggal 1 hingga 10 September 2025. Ee dan untuk biaya investasi pada pelatihan ini yaitu sebesar Rp4.500.000. Kemudian dilanjutkan pada tanggal 8 hingga 12 September 2025. Di sini kami akan mengadakan dua pelatihan, yaitu yang pertama pelatihan pemodelan dispersi udara airpff, dan high split gelombang 19. Kemudian pelatihan dinamika sistem untuk kajian lingkungan gelombang 12 pada tanggal yang sama. Dan kedua pelatihan ini akan mendapatkan diskon 10% apabila Bapak Ibu melakukan pembayaran pada H-1 pelatihan. Dan untuk informasi lebih lanjut, Bapak Ibu dapat menghubungi admin kami yaitu Riris dan Nisa. Selain itu juga Bapak Ibu bisa mengunjungi sosial media kami di Instagram, YouTube, channel, Facebook, Twitter atau juga Bapak dan Ibu dapat mengunjungi website resmi kami di www.ecoedu.co.id ecoedu.co.id ataupun Bapak Ibu apabila tertarik pada pelatihan kami dapat mendaftar langsung di pendaftaran.ecoedu.co.id. Nah, selain itu juga kami di sini memiliki eh pelatihan inhouse training yang dapat dilakukan secara offline maupun online sesuai dengan permintaan dari instansi atau perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami tunggu di pelatihan. Oke. Baik Bapak Ibu, kita langsung saja untuk masuk kepada kegiatan utama kita di mana webinar kali ini akan berdiskusi mengenai dari makro ke mikro, perencanaan infrastruktur hijau biru terintegrasi. Dan di sini juga kami sudah menghadirkan ee narasumber yang kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat ini. Dan langsung saja kita perkenalkan narasumber kita hari ini yaitu ada Prof. Dr. Sri Maryati, STMIP. Beliau merupakan guru besar tata kelola infrastruktur wilayah dan kota berkelanjutan di Institut Teknologi Bandung. Ya, selamat siang, Prof. Prof. Sri. Selamat siang, Mbak Dini. Bagaimana, Prof. Kabarnya hari ini? Alhamdulillah baik. Ini cuma suaranya agak serak-serak. Iya. Baik, Prof. Mudah-mudahan ee segera sehat ya, Prof ya. Amin. Amin ya rabbal alamin. Ya. Baik, Prof. Mungkin sebelum ee mulai untuk lanjut ke acara intinya, izinkan saya menyampaikan beberapa teknis terlebih dahulu, yaitu yang pertama untuk pemaparan akan dilaksanakan selama 1,eng jam, kemudian nanti akan dilanjutkan pada sesi tanya jawab menggunakan aplikasi Slidu dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung. Baik, untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Prof. Sri Mariati dan kepada Bapak Ibu semuanya selamat mengikuti webinar kali ini. Ya, baik ee terima kasih Mbak Dini. Ee Bapak Ibu sekalian selamat pagi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Nah, izin mungkin ini apa ee suaranya mudah-mudahan ee cukup jelas ya. Ini sudah beberapa hari ini kehilangan suara ya. Iya, Bapak Ibu. Jadi ee webinar kita kali ini seperti tadi yang sudah disampaikan oleh Mbak moderator ya, Mbak Dini, kita akan ee berdiskusi ya sebetulnya ini ee nanti sifatnya diskusi saja yaitu mengenai perencanaan ee infrastruktur hijau biru terintegrasi ya. Jadi judulnya dari makro ke mikro perencanaan infrastruktur hijau biru terintegrasi. Nah, ini ee jadi kita secara garis besar akan membahas bagaimana ee cara merencanakan ya cara merencanakan infrastruktur ee hijau biru itu agar ee terintegrasi dan kemudian nanti ee tentunya kita harapkan ee dapat berkelanjutan begitu. Nah, ini adalah ee outline ee diskusi kita hari ini. Jadi, yang pertama kita akan membahas lagi ya, karena ini sebetulnya di webinar kalau tidak salah tahun kemarin ya, kita sudah membahas begitu tapi ini untuk mengingatkan kembali mengenai konsep ee infrastruktur hijau biru ya. Kalau yang ee tahun kemarin mungkin penekanannya di ee infrastruktur hijaunya ya dan ee bagaimana masalah-masalah atau isu dalam implementasinya ya. Nah, jadi kalau ee itu yang sebelumnya, sekarang kita lanjutkan ee dengan menggabungkan konsep infrastruktur hijau biru dan penekanannya adalah bagaimana di dalam ee proses perencanaannya yang terintegrasi. Nah, kemudian pada bagian kedua kita akan melihat ee skala dan bentuk infrastruktur hijau biru dan ee terakhir kita akan berdiskusi mengenai perencanaan ee infrastruktur hijau biru itu sendiri seperti apa. Nah, ini untuk mengingatkan kembali ee Bapak Ibu mungkin masih ee ingat ya ee di webinar di tahun kemarin itu tentang ee apa perbedaan antara infrastruktur ee hijau biru hijau ya. Kalau di hari ini kita akan di biru hijau karena banyak penekanannya di airnya ya. Jadi birunya itu adalah air. Kemudian apa bedanya dengan biru hijau dengan hijau dan dengan abu-abu ya Bapak Ibu. Nah, jadi kita bisa lihat di sini. Jadi ee yang hijau biru ini dia sebetulnya menggabungkan konsep ee manajemen air ya, manajemen air termasuk misalnya ee sungai dan sebagainya ya dan menggabungkannya dengan konsep ee hijau ya yang seperti misalnya ee untuk ekosistem services ya. Jadi, jadi dia tidak hanya hijau saja tapi menggabungkan juga dengan water management. Nah, eh ini kadang-kadang kita sebut green blue infrastructure atau blue green infrastructure ya. Yang ini eh tergantung kepada penekanannya lebih ke mana begitu ya. Kalau penekanannya atau lebih banyak ke infrastruktur hijaunya kita sebut green blue infrastructure. Nah, tapi kalau penekanannya lebih banyak ke aspek airnya kita sebut blue green infrastructure. Nah, seperti pertemuan kita hari ini mungkin penekanannya lebih banyak kepada ee infrastruktur apa airnya ya. Ee airnya. Jadi yang hijaunya ini adalah ee bagian dari ee air yang lebih besar yang akan kita bahas. Nah, kalau green infrastructure ini ee walaupun banyak definisinya ya. Kalau kita cari di website Grid infrastructure itu kadang-kadang membahas juga ee energi hijau ya, misalnya energi dari sampah ya, dari ee dari biogas ya atau energi-energi terbarukan kadang-kadang disebut juga sebagai green infrastructure. Nah, tapi dalam konteks kita lebih menekankan kepada ee apa namanya? fitur-fitur ee lingkungan ya yang ee didesain dan dikelola untuk ee apa namanya ee yang atau untuk menyampaikan ya ee ekosistem services atau mem-provide eh ekosistem services. Jadi ee secara umum mungkin dapat kita pahami seperti apa ee green space ya ee dengan berbagai variasinya ya termasuk juga misalnya eh roof garden ya misalnya itu kan juga eh roof top garden itu mungkin bisa masuk green blue infrastructure karena mungkin hijaunya lebih banyak daripada eh blue-nya ya atau hijaunya ya. Jadi eh itu green infrastructure. Nah, sedangkan greay infrastructure ini adalah eh infrastruktur ya, terutama kalau kita kaitkan dengan air dan air limbah begitu. Dia ee disebut abu-abu ini karena biasanya kita menggunakan konstruksi ya, konstruksi seperti baja atau beton ya. yang warnanya kan abu-abu ya kalau beton sama baja. Nah, itu yang disebut sebagai ee greay infrastructure ya. Jadi ee ini mungkin bedanya kalau grey itu yang disebutnya tradisional ya, karena hanya menggunakan ee beton, kemudian baja yang berwarna hijau misalnya, kemudian ee sebetulnya evolusinya itu dari grey dulu ya, kemudian pindah ke green. Nah, jadi ada pemikiran bagaimana kalau dalam infrastruktur itu kita hubungkan juga dengan ee hijau-hijaunya ya. misalnya ee apa penyediaan infrastruktur digabungkan dengan ee misalnya dengan ee green open space misalnya ya atau memang ada infrastruktur yang kita sebut sebagai green infrastructure misalnya adalah eh rain garden misalnya ya. Jadi rain garden itu ada ada hijau-hijaunya juga gitu ya. Jadi tidak hanya air. Jadi pada saat hujan baru dia ee berfungsi untuk menyerapkan air ke dalam tanah. Nah, kemudian ee konsep terakhir itu adalah ee sebenarnya sudah banyak lagi mungkin ya, tapi dalam eh tiga ini evolusinya dimulai dari grey, kemudian green, lalu eh blue green infrastructure ya. Nah, kalau blue green infrastructure unsur airnya ini lebih besar ya. Jadi kita bicaranya dalam konteks misalnya sungai gitu ya. Jadi tidak hanya misalnya ee individual ee rumah tangga ya. Jadi kita ee bicaranya dalam konteks yang lebih luas. Jadi eh water bodies di sini ya misalnya sungai, dana eh misalnya juga ee mungkin kawasan pesisir ya dan sebagainya. Jadi ini konteksnya konteks airnya lebih luas. Nah, jadi itu mungkin ya perbedaannya Bapak Ibu antara infrastruktur abu-abu atau grey infrastructure, lalu eh infrastruktur hijau atau green infrastructure dan eh infrastruktur hijau biru ya atau blue green infrastructure di mana evolusinya mungkin dimulai dari ee infrastruktur abu-abu lalu bergerak ke green infrastructure kemudian terakhir ke eh blue green infrastructure. Nah, eh jadi eh kita lihat eh blue blue green infrastructure secara lebih spesifik ya, Bapak Ibu. Jadi blue-nya ini atau hijaunya ini me-refer kepada sungai atau badan air lainnya ya. Sementara ee hijaunya ini me-refer kepada ee landskapnya ya. Lansskap-nya yang hijau ya. landskapnya yang hijau. Jadi ini berbagai contohnya misalnya di daerah perkotaan ya mungkin seperti ini. Di sini ada mungkin drainase begitu ya, ada ee drainas kemudian dikombinasikan dengan di sini ya water cycle-nya itu eh drainas ini merupakan ee juga bagian dari water bodies misalnya ya. Nah, ini ee kita kombinasikan dengan berbagai konsep hijau ya. Nah, kalau di sini mungkin kurang terlihat greennya ya di sini. Nah, tetapi greennya ini ada di ee pada konsep ee air ini diresapkan ke dalam tanah begitu. Nah, untuk yang natural ya atau kawasan ee apa ee ya ini tentu saja ini di daerah perkotaan kan mungkin seperti ini ya ee dominasinya. Nah, sedangkan yang diharapkan dengan konsep eh blue green infrastructure itu adalah pemandangan yang seperti di bawah ini ya. Jadi ee apa di sini ada ee water bodies-nya ya, ada ee sungai mungkin atau selokan yang sudah didesain khusus misalnya. Nah, kemudian yang greennya ini kita lihat di sini ya. Jadi ee ada ee apa ee hijau-hijaunya ya. Jadi itu ee kira-kira konsep ee blueegreen ee infrastructure. Nah, selanjutnya mungkin ee apa kita singkat ya Bapak Ibu. Infrastruktur hijau biru ini menjadi ee IHB ya atau ee infrastruktur hijau biru. Nah, di sini mungkin ee kita akan lihat ee skala yang berbeda dari infrastruktur hijau biru yaitu ee dari skala regional ya. Karena kalau kita bicara sungai atau badan air tentunya kita tidak bisa bicaranya di dalam batasan wilayah administrasi ya atau skalanya. Ya, mohon izin Bapak Ibu ee sepertinya untuk Prof. Sri Mariati sedang ada gangguan teknis. Jadi mohon ditunggu sebentar Bapak Ibu semuanya kecil. Jadi kalau ee apa namanya lebih makro kira-kira begitu. Nah, kemudian ee tentu saja misalnya kalau kita bicara sungai, sungai itu tentu akan melewati ee wilayah administrasi juga ya ee misalnya kota atau kabupaten begitu. Jadi di situ juga ada ee ininya ada ee bagiannya. Nah, kemudian dalam skala terkecil itu adalah ee skala rumah tangga atau individu. Nah, ini tadi yang dalam judul ee diskusi kita hari ini. Jadi dari makro ke mikro. Nah, ini bagaimana ya? Karena tentu ee infrastruktur hijau biru ini tidak tidak bisa hanya misalnya di ee neighborhood saja misalnya ya atau di regional saja ya. Nah, tentu bisa. Tetapi kalau kita tadi bicara sesuai dengan judulnya yaitu yang integrasi ya terintegrasi ee supaya benefitnya lebih luas maka ee kita perlu ee melakukan perencanaan dari makro ke mikro ini ya. yang di mana makro ini mungkin dalam skala ee regional begitu ya. Kalau kita bicara sungai di Indonesia mungkin kita bicara daerah aliran sungai, wilayah aliran sungai ya. Kemudian wilayah yang ee lebih kecil lagi yaitu wilayah kota dan kabupaten. Mungkin kita bicaranya administratif. Kemudian ee skala yang lebih kecil lagi itu adalah wilayah ee atau ee apa namanya? rumah tangga ya atau individu. Nah, kalau kita lihat nanti ini kita akan lihat ee beberapa contoh ya untuk yang perencanaan pada level makro pada level regional ini atau wilayah daerah aliran sungai atau wilayah aliran sungai itu pendekatannya mungkin akan ee lebih banyak bersifat ee teknokratik. Jadi ee teknokratik ini mungkin ee apa banyak analisis-analisis yang dilakukan ya yang ee saentifik begitu. Jadi mungkin aspek partisipatifnya itu ee tidak terlalu banyak ya Bapak Ibu di sini. Nah, tapi begitu kita bicara ee pada level mikro, nah ini adalah ee partisipasinya mungkin akan lebih banyak ya. Jadi kalau kita merencanakan dalam level DAS mungkin agak sulit ya kalau ee terlalu banyak partisipasi misalnya ya atau ee semuanya harus diputuskan bersama oleh masyarakat mungkin agak agak sulit begitu. Oleh karena itu, pada pendekatan makro ini kita menggunakan pendekatan ee teknokratik ya, berdasarkan hasil-hasil analisis saintifik yang kemudian ee kita apa kita nanti pada level yang lebih kecil lagi pada level mikro. Nah, ini baru ee banyak atau baru mungkin bisa kita melakukan ee analisis-analisis yang sifatnya partisipatif. Nanti kita akan lihat ee beberapa contoh ya ee di berbagai negara ya. Ee nanti mungkin apakah di Indonesia ada ee contohnya. Nah, kebetulan kami sudah pernah melakukan studi tapi nanti mungkin kita lihat dulu ee apa namanya ee beberapa contoh di Belanda dan juga di India. Nah, ee Bapak Ibu ini contohnya ya mungkin ee kita mulai dari tadi karena dari regional ya. regional itu misalnya ee ini ya contohnya adalah ee seperti ini disebutnya di sini adalah strategik ya atau kalau di Indonesia mungkin kita menyebutnya kawasan fungsional ya seperti tadi daerah aliran sungai ya atau misalnya ee pengelolaan pesisir ya dan sebagainya ya. Ini jadi ee ini contohnya yang ee yang sifatnya tadi ya regional ya meliputi kawasan fungsional. Nah, ee kemudian ini yang wilayah kota ya, yang wilayah kota ini adalah ee contoh-contohnya seperti apa? Mungkin ee bisa dibuat ada taman kota ya ini atau regional park ya. Kemudian juga ada community forest ya. Ini ini contoh saja eh open access ya site tapi tentu saja sudah menggabungkan dengan unsur-unsur yang ee hijau tadi ya. Nah, kemudian ini yang wilayah yang lebih kecil lagi. Mungkin kalau di Indonesia wilayah ee apa kecamatan misalnya ya, ini juga bisa dikembangkan berbagai konsep ee green blue infrastructure ya. Dan ini adalah berikutnya skala neighborhood ya atau skala lingkungan ya. Juga mungkin terdiri atas beberapa ee rumah tangga begitu ya. Nah, yang akan kita diskusikan hari ini adalah bagaimana kita mengintegrasikan semua skala ini begitu ya di dalam suatu ee perencanaan agar nanti ee implementasinya dapat dilakukan ee secara integrasi dan tentu saja nanti ee diharapkan akan ee berkelanjutan. Nah, ee baik Bapak Ibu, kita ee ini ya ee langsung saja mungkin ke bagian ketiga tadi di apa di dalam outline ya diskusi kita hari ini nanti akan ada tiga bagian ya yang tadi sudah dijelaskan mengenai konsepnya. konsep ee infrastruktur hijau biru. Kemudian tadi ee skala-skalanya ya ternyata juga ee bisa dibedakan dalam skala regional, dalam skala kota ya ee dan dalam skala ee neighborhood ya. Nah, kemudian ee sekarang kita akan lihat bagaimana kita ee menyusun ya perencanaan atau merencanakan ee infrastruktur dari berbagai skala ini secara terintegrasi ya. Nah, ee kita akan lihat ee ini contoh ya, ini salah satu contoh yaitu eh project room for the River ya di Belanda. Nah, ini saya sendiri belum pernah ya melihat ee projek ini secara langsung. Nah, tetapi ee saya berkesempatan bertemu dengan ee salah satu anggota tim ya yang terlibat di dalam projek ee Room for the River ini dan ee sedikit ee apa namanya ee melakukan diskusi ya, bagaimana projek ini direncanakan ee hingga misalnya pada level yang tadi kita sebut level neighborhood. Nah, ini kalau kita lihat ya, ini adalah sebenarnya salah satu ee contoh ya, bagian yang dilakukan di project eh room for the River di Belanda ya. Jadi project ini sebetulnya tidak hanya bagian ini ya, tidak hanya di bagian yang seperti di gambar ini, tetapi ini meliputi juga ee sungai yang panjang ya. Karena kita tidak bisa sebetulnya merencanakan kalau kita bicara ee sungai ya itu ee kalau kita melakukan intervensi di satu titik walaupun ee di titik yang terlihat kecil tetapi pengaruhnya itu akan ee apa berada di seluruh wilayah sungai ya seperti ee juga di dalam transportasi ya dalam transportasi itu ee jalan misalnya kalau kita menutup saja jalan ya walaupun yang ditutup itu hanya misalnya hanya 5 m, tetapi implikasinya mungkin akan jauh sekali ya, menimbulkan kemacetan di mana-mana ya. Jadi ee itu jadi projek ini sebenarnya dia ee dimulainya dari skala makro ya, dari kalau di Indonesia itu kita sebut daerah aliran sungai. Jadi di sepanjang sungai ini dilakukan ee penataan begitu ya. Nah, ee tetapi ee dalam projek ini ee secara umum ya penataan atau pada level makro ee di dalam perencanaan ee sungai ya, sungai yang dilakukan ini itu ee pada level makronya semua dilakukan secara ee teknis ya atau menggunakan pendekatan teknokratik ya. Bahkan ee di sini juga diketahui bahwa pada awalnya masyarakat melakukan penolakan ya terhadap projek ini karena menganggap ee projek ini sifatnya top down ya. Ee jadi langsung dikerjakan saja dengan berbasis analisis-analisis yang ee sifatnya saentifik gitu ya. Jadi sudah misalnya analisis hidrologi, analisis ee ruangan dan sebagainya tanpa melibatkan atau porsi partisipasinya sangat kecil ya. Jadi ee disampaikan bahwa projek ini awalnya mendapat ee penolakan dari masyarakat karena ee dianggap ee sangat bersifat top down. Jadi tidak tidak apa tidak partisipatif begitu ya. Nah, tapi dalam kesempatan ee saya bertemu dengan ee apa namanya ee salah satu anggota tim ya yang mengerjakan Room for the River ini ee apa beliau sampaikan bahwa memang di dalam ee pada level makro pada perencanaan daerah aliran sungai memang ee tidak bisa ya terlalu banyak ee kegiatan partisipatif karena ee apa namanya ini skalanya sangat luas ya. Nanti saya bisa kasih contoh juga ya dalam penelitian yang kami lakukan di Indonesia ya, bahwa pada level makro, pada level daerah aliran sungai keputusan-keputusan mungkin akan ee sedikit sekali ya aspek ee partisipasi partisipatifnya ya. Jadi ini diputuskan saja berdasarkan ee analisis-analisis ee teknokratik ya. Yang mana yang baiknya misalnya perhitungan ee curah hujan, kemudian ee apa namanya ee perhitungan banjir ya dan sebagainya. Tentu itu tidak bisa secara ee partisipatif ya. Nah, jadi ee proyek ini ee seperti itu ya. Nah, ini ee ini adalah ee salah satu bagian yang kemudian ee dalam proyek ini ee dilakukan pendetailan ya. Jadi disampaikan oleh anggota tim yang saya berkesempatan ee berdiskusi tersebut. Jadi setelah dilakukan perencanaan secara makro pada level daerah aliran sungai, barulah ee pada detail-detailnya ya misalnya di kawasan ini dilakukan perencanaan yang lebih melibatkan masyarakat ya. Jadi untuk daerah aliran sungainya atau makronya itu dilakukan di tahap awal di mana pendekatannya adalah teknokratik. Nah, kemudian setelah ee secara makro ini sudah tertangani ya, itu baru nanti pendetailan pada beberapa kawasan ini ee dilakukan ee secara partisipatif. Ini ini contohnya yang apa namanya ee yang sangat terkenal ya kalau kita cari bagian dari project eh Room for the River yaitu di yang disebut dengan eeah ini eh Needs Megan mungkin bacanya benar ya begitu ya. di Nitz Megan ini dikembangkan menjadi suatu kawasan pariwisata ya ee dan bisa digunakan oleh masyarakat ya. Nah, ini ini sebelumnya seperti ini nih di kawasan ini ya. Jadi tidak ada ee ini bisa kita lihat kan seperti ada dua sungai begitu ya. Lalu di sini ada pulau. Nah, ini ee setelah dilakukan penataan. Kalau ini adalah sebelum ee dilakukan penataan ya. Nah, sekarang kita lihat eh apa sih yang dilakukan di eh proyek eh Room for the River ini. Nah, eh sebagaimana kita ketahui Belanda itu kan ee namanya juga Netherlands ya. Jadi Netherlands itu dari namanya bisa kita lihat bahwa ee tanahnya ya ee itu adalah di bawah air ya. Nah, jadi ee tentu banyak sekali kejadian-kejadian banjir ya. ancaman banjir ini meningkat apalagi ee dengan adanya perubahan ee iklim ya. Nah, jadi seperti yang saya sampaikan ee jadi perencanaannya dilakukan di pertama-tama adalah di ee katakanlah di daerah aliran sungainya ya. Jadi di ee di sungai-sungai ini ya di ada ee ini sungai ini nyambung sebetulnya ya dia menyambung mungkin kalau di kita itu ya daerah aliran sungai ya jadi ini ada ancaman banjir ee secara keseluruhan di daerah aliran sungai ini yang ini diperburuk juga oleh adanya ee perubahan iklim. Nah ee sebelumnya mungkin Bapak Ibu pernah melihat ee di Belanda itu ada juga projek Delta ya. Jadi di Project Delta ini kan ee apa ee dibuat tanggul-tanggul ya ee tanggul-tanggul air. Jadi dibuat lebih tinggi supaya ee airnya tidak masuk ke darat ya. Jadi seperti di benteng begitu ya ee apa Belanda itu seperti di benteng supaya akhirnya tidak masuk ke apa namanya ke daratannya ya. Nah, namun dengan pendekatan baru yaitu proyek Room for the River ini ee justru ee apa namanya? Sungai-sungai ini dilebarkan jadi memberi ruang ya yang lebih besar lagi kepada ee sungai-sungai gitu. Jadi tidak hanya meninggikan ee tanggul ya. Mungkin kalau project Delta yang meninggikan tanggul ini lebih eh ke grey infrastructure ya. Nah, eh project room for the River ini mempunyai tujuan ganda yaitu untuk pengendalian banjir dan juga untuk meningkatkan kualitas ruang dan ee ekologinya ya, meliputi ee kualitas landskap-nya ya dan juga memberikan ruang-ruang untuk ee rekreasi. Nah, kemudian ee dalam hal apa mungkin ee project room for the river ini terhubung dengan infrastruktur hijau biru ya, kita dapat lihat di sini. Jadi ini eh project room for the river ini menerapkan konsep infrastruktur hijau biru dan nature base ya solution. Nah, jadi kita lihat ee yang pertama project ini memberikan ruang untuk air ya dalam hal ini adalah sungai. Dengan cara apa? Dengan cara melebarkan alur, ya. Kemud kemudian juga ee menurunkan ee flat float eh plane dan juga membuat ee kanal-kanal ya, membuat kanal-kanal. Jadi memberikan ruang yang lebih banyak untuk air gitu kira-kira ya. Kemudian ee untuk tanggulnya sendiri di relokasi ee menjauh ya dari tepi sungai. Nah, kemudian eh Natur B solution-nya itu ada di lahan basah ya atau wetland, kemudian eh ada hutan rivarian dan juga koridor ekologis. Nah, kemudian dalam projek ini juga dilakukan integrasi dengan tata ruang yaitu dalam pengembangan ee taman-taman ya, kemudian jalur sepeda dan ruang publik. Nah, manfaat ya dan dampak yang diharapkan dari projek ini adalah reduksi muka air saat banjir ya. Karena ruangnya sudah diperbesar ya, ruang untuk ee airnya sudah diperbesar. Jadi mereduksi ee muka air saat banjir ee dan kapasitas debitnya menjadi lebih besar ya karena ruangnya diperbesar. Kemudian juga peningkatan biodiversitas ya dan kualitas air. Nah, lalu ada juga cobenefit sosial ya, benefit yang mungkin ee tidak secara langsung ya dari projek ini ee yaitu adanya ee taman-taman rekreasi pariwisata ya dan juga ee nilai properti akan meningkat juga ya dengan adanya ee projek ini. Nah, ee kemudian ee yang lainnya adalah ee ini diharapkan tentu dalam jangka panjang ya, kota sungai ini akan lebih resilien ya terhadap ee perubahan iklim. Nah, kita kan sekarang ini sudah tidak jelas lagi ya ee apa namanya musim hujan itu kapan ya ee yang apa namanya saat musim hujan tapi hujan enggak turun-turun gitu ya, saat musim kemarau tapi hujan juga ada turun gitu ya. Jadi ee kita mungkin harus menciptakan kota yang lebih resilien terhadap iklim. Nah, ini juga dimaksudkan projek ini adalah ee meningkatkan resiliensi kota terhadap perubahan iklim. Nah, kemudian ee ini tadi lokasinya dan contoh projek utama ya. Nah, tetapi tadi ee seperti yang saya sampaikan sebenarnya dia ee ini tu di sepanjang sungai ya. ini tadi ee mungkin agak saya pribadi agak sulit ini membacanya seperti apa. Jadi di sungai ini ya, di sungai-sungai ini ya ee yang tentu sungai itu kan enggak bisa dipotong berdasarkan wilayah administrasi. Jadi dia ee ini ya di sungai-sungai ini ini ee menyambung sungainya. Tapi ada di beberapa titik tadi yang dikembangkan ya. ini yang apa yang sangat terkenal ya, yang tadi yang saya berikan contohnya yaitu di ee poin di Nit Megan Land ini ya. Jadi ini di sini dilakukan ee relokasi tanggulnya lebih kurang 350 m kemudian dibuat ee kanal tambahan dan juga dibuat juga ee taman-taman kotanya ya di sini. Kemudian juga ada di tempat-tempat lain juga ee dilakukan misalnya bypass ya ee jadi langsung ee dipotong gitu harusnya ee dan juga hal-hal lain ya. Ini yang beberapa lokasi yang sangat terkenal. Nah, tetapi di ee secara keseluruhan projek ini didesain dulu untuk ee penataan ee dalam lingkup daerah aliran sungai ya. Nah, nanti baru ee ke detail-detail ke ee misalnya sebagai contoh di empat wilayah ini ya. Nah, ini contohnya. Nah, ee tahapan pengerjaan. Nah, ini Bapak Ibu bisa lihat di sini ya. Jadi pada tahap awal itu mereka melihatnya secara makro dulu secara ee tadi dalam lingkup daerah aliran sungai ya. beberapa studi ini sangat teknokratik ee dilakukan ya seperti studi hidraulik kemudian ee skenario debit, analisis risiko dengan multikriteria ya, pendekatan multi kriteria. Jadi kalau kita lihat di sini ee sangat kurang ya tentu partisipasinya minta pendapat masyarakat belum dilakukan pada tahapan makro ini. Nah, kemudian dilakukan ee desain yang terintegrasi ya antara teknik sipil, ekologi, ee arkeologi, dan juga tata ruang ya. Ini juga masih ee apa namanya? Pendekatannya teknokratik. Nah, kemudian setelah dilakukan studi-studi yang sifatnya teknokratik ini baru di ee tahapan perizinan ya dan lahan karena ee di sini memang ada ya penggusuran tuh ee ada di sini ee tapi mungkin bukan penggusuran maksudnya dipindahkan ya. Jadi ada pembebasan lahan ee dengan kompensasi ya. Lalu ada ee relokasi juga ya karena kan menyediakan ruang tambahan nih untuk air ya atau untuk sungai. Jadi pastinya ada relokasi ee dan juga dilakukan koordinasi ee multievel ya ee dalam lingkup nasional, provinsi ya. Kemudian ee ada juga di sana ee di Belanda itu ada waterboard ya dan juga ee pada lingkup kota ya. Nah, kemudian konstruksinya dilakukan ee secara bertahap ya. ada ee penggalian ee apa namanya kanal-kanalnya, kemudian relokasi tanggul, kemudian penataan ya dan juga ee terakhir baru vegetasinya. Nah, dan tahap terakhir adalah monitoring dan adaptasi ya, yaitu meliputi ee kinerja hidrauliknya dilihat ee lalu suksesi, ekologi dan pemanfaatan oleh publik ya. Jadi ee apa tahapannya adalah seperti ini. Dimulai dari tahapan yang ee dari segi area atau wilayahnya dia ee sangat makro dan pendekatannya bersifat ee teknokratik ya ee sangat ee saentifik ya. Nah, kemudian setelah setelah apa namanya? Dilakukan di level makro tadi baru di pendetailan-pendetailan di ee bagian-bagian tertentu. Nah, itu dilakukan ee partisipasi masyarakat ya seperti yang di eh Ned Megan eh Land tadi ya. Itu baru dilakukan ee proses perencanaan yang partisipatif. Nah, ee setelah itu baru ee implementasi skala mikronya ya. ee dilakukan di neighborhood atau permukiman misalnya membuat taman tadi ya. Taman itu memang ee dilakukan partisipatif ya. Jadi apa yang akan di ini sudah ada nih ee pulaunya lalu akan dilakukan apa ya. Jadi di situ ada ee taman rian. taman ini pada saat tidak hujan ya, dia berfungsi sebagai taman ya, makanya disebut ee infrastruktur hijau biru. Ee tetapi pada saat turun hujan dia berfungsi untuk menampung air. Nah, kemudian juga ee koridor ee drainase alami ya misalnya rain garden. Nah, ini tentu harus ee partisipatif ya ini sifatnya. Ee kemudian juga adaptasi bangunan. Tentu ini juga harus ee karena di adaptasi bangunan kan dilakukan oleh individu mungkin ya terhadap rumahnya. Jadi ini juga ee pada tahap makro mikronya baru melibatkan masyarakat. Nah, jadi ee kemudian juga ee di sini juga ee apa namanya dinyatakan pada waktu mendesain ee jalur sepeda dan jalur pejalan kaki ya ee di tepi sungai atau kanal ini juga ee ini dilakukan secara ee partisipatif. Jadi setelah dibuat perencanaan makro yang detail-detailnya ya di lokasi-lokasi tertentu baru dilakukan perencanaan secara mikro. Nah, ee dampak pada warga seperti apa ya dan lingkungannya ee ee sudah terjadi pengurangan banjir lokal ya dan juga kualitas hidup meningkat ya, nilai properti juga meningkat, kemudian juga ee ekosistem urbannya menjadi lebih baik ya, ada penurunan suhu lokal dan sebagainya. Nah, kemudian ini juga edukasi ya edukasi terhadap masyarakat ya gitu. Nah, ini ee ini mungkin dalam konteks ee apa Indonesia nih ya ee neighborhood ya RT dan RW ya atau di kampung tepi sungai ya. Ini ee ini sudah pada tahap mikro. Nah, ee tadi partisipasi dan tata kelolanya seperti apa? Tadi ee sudah disampaikan di pada level makro ini sedikit mungkin ya ee partisipasinya. Nah, tetapi dari segi tata kelola dilakukan ee kemitraan atau koordinasi ee lintas level dari pemerintah pusat ee provinsi ya, kemudian ee ada waterboard-nya dan juga pada level kota. Nah, di sini juga ee pada level makro karena ada relokasi ini ada skema kompensasi ya dan juga relokasi terencana dan juga ee dikomunikasikan sebetulnya kepada masyarakat mengenai resiko-resikonya ya. Nah, kemudian dari segi pendanaan ini ee secara keluruh keseluruhan adalah kombinasi dari anggaran nasional ya dan juga ee proyek-proyek dari daerah. Nah, ee untuk level mikronya setelah makronya jadi ini ya, perencanaannya jadi sudah diimplementasikan ee yang mikro lebih cenderung kepada penataan dengan pelibatan masyarakat ini dilakukan ee konsultasi publik ya. Sebenarnya konsultasi publik itu sudah dilakukan juga ya pada tahap makro. Namun tidak ini sifatnya hanya menginformasikan akan ada proyek seperti ini begitu ya. Nah, ee namun pada tahap ini tuh ee masyarakat juga cenderung menolak karena menganggap ini sifatnya top down begitu ya. Nah, tapi di sini fungsinya ee dilakukan apa? Sosialisasi ya, konsultasi publik ee dan sebagainya dan pada akhirnya masyarakat ee dapat menerima begitu ya. Nah, kemudian ee pada level mikro ini dilakukan kodesain ee ruang publik. Jadi masyarakat terlibat nih di dalam mendesain ee ruang-ruang publik ya yang merupakan bagian dari ee proyek besar eh Room for the River. Nah, contohnya tadi di bagian yang eh Needs Megan ini ya eh River Park yang ada di Needs Megan ini dirancang dengan ee partisipasi masyarakat. Nah, ini adalah ee perbandingannya seperti apa ya? Kalau di skala makro ini dilakukan sistem sungai nasional, tapi ini dilakukan terintegrasi ya sesuai dengan judul dari webinar kita. Jadi dia tidak hanya berhenti di makro tapi didetailkan di mikronya juga ya. Tapi perencanaannya diawali dari makro. Jadi bukan mikro, mikro mikro lalu digabung jadi makro. bukan seperti itu. Jadi dimulainya dari yang makro dulu ee lalu sudah ada konsepnya nanti ini dikembangkan apa, dikembangkan apa, dikembangkan apa. Nah, lalu detail pada masing-masing lokasi itu ee dilakukan secara partisipatif begitu ya. Nah, jadi di sini ee tujuannya agak beda. Kalau di skala makro secara keseluruhan reduksi resiko banjir besar ya. ee kalau di skala mikro mungkin ya genangan-genangan lokal ee kualitas hidup dan ekologi. Nah, ee jenis intervensinya yang dilakukan di sini ya karena dia skala ee apa namanya? Makro dilakukan bypass misalnya relokasi tanggul ya dan sebagainya. Sedangkan di sini ee lebih ke intervensnya di skala mikro lebih kepada ee codesain ya. Jadi ee ataupun misalnya pembuatan-pembuatan rain garden yang rain garden ini biasanya dilakukan di individu ya di individu bangunan. Nah, yang ini ee contohnya ya, contoh ee yang dilakukan di skala mikro seperti ini ya. Nah, kemudian yang di yang makro maksudnya yang di skala mikronya misalnya dalam pengembangan ee taman-taman ya, taman-taman banjir lokal, jalur sepeda dan sebagainya. Nah, ini yang aktor yang terlibat juga kita lihat di sini agak berbeda ya. Kalau skala makro ini mungkin kalau masyarakat ini komunitas lokal ini hanya diinformasikan akan ada proyek seperti ini begitu ya. Jadi tidak terlalu banyak, tapi di sini yang berperan itu adalah dari ee apa? Dari level nasional, kemudian provinsi ya, waterboard-nya dan juga dari kota. Nah, sedangkan di skala mikro ini ee dimulai dari pemerintah kota, komunitas lokal, dan juga ee LSM. Nah, manfaatnya tentu ini tidak bisa dipisahkan ya. Artinya kalau yang skala makronya sukses ya ee diikuti oleh mikro yang sukses ini baru projeknya dapat dikatakan sukses. Jadi kesuksesannya ee sangat tergantung satu sama lainnya walaupun dimulai dari yang makro dulu ya. Jadi ee yang skala makro ini manfaatnya untuk keamanan nasional kemudian perlindungan infrastruktur vital. Nah, sedangkan di mikro ini lebih ke ee biodiversitas ya, rekreasi, edukasi warga, dan juga ee peningkatan nilai properti. Nah, jadi ee itu ya contohnya. Mungkin kita balik ke gambarnya tadi. Jadi di sini ya ini salah satu bagian saja sebetulnya yang apa namanya yang taman ini tadi ya. ee salah satu bagian taman yang ditata gitu ya. Ee ini yang level mikronya yang melibatkan partisipasi masyarakat. Tapi sebelumnya untuk seluruh sungai ini ini dilakukan ee perencanaan dan penataan ee secara makro dulu ya baru nanti pendetailannya di sini. Nah, kita lihat di sini ya di di area ini ee sebelumnya ini hanya ada satu sungai ya. Nah, tetapi dengan konsep room for the river kita menambah ee maksudnya project ini menambah lagi nih ee ruang-ruang untuk sungai ya. Jadi di sini kelihatan ada tambahannya. Nah, ini dan di sini ada ee apa? Ada taman ya. Ada taman-taman dan tentu saja ini mungkin harus dibangun ee jembatan baru di sini. Nah, kalau kita lihat tentu ini ya ini bagian sebelumnya begitu. ee sebelum ada penataan. Nah, kalau kita lihat memang mungkin ada yang harus direlokasi ya dari wilayah yang sebelah yang di sebelah sini begitu. Nah, jadi ee ini yang sudah jadinya adalah seperti ini. Nah, ee kemudian contoh kedua. Nah, kalau contoh kedua ini saya pernah ya mengunjungi atau melihat ee secara langsung ee ini banyak sekali nanti kalau kalau dilihat ya ee di Ahmed Abad ini nanti ee apa kita lihat apa sungai yang ditata sangat baik gitu ya di dokumen-dokumentasi perencanaannya ya. ini eh yang disebut dengan Sabar Mati River Front eh project ya di Ahmad eh Ahmed Abad ya. Jadi ini dalam konteks ee infrastruktur hijau biru. Nah, jadi ee ini ya mereka itu punya badan tersendiri untuk yang sabar mati projek ini begitu ya. Mereka punya ee ini sendiri. Kemudian ee tujuannya adalah untuk proteksi banjir ya. Kemudian juga untuk urban renewual ya. Nah, ee kemudian ee juga tentu ada beberapa manfaat ya atau tujuan misalnya untuk ee pengendali banjir, kemudian tentu untuk beautification ya dan juga untuk eh real estate development. Nah, ini adalah yang dilakukan yang di apa namanya ee projek-projek yang dilakukan di Sabar Mati. River Sabar Mati ini adalah sungainya ya. Nah, jadi ee sebelumnya ee sungai ini adalah tempat pembuangan sampah ya dan juga waste water. Jadi semuanya dibuang di sungai ini. Jadi ee tidak menariklah ya pencemarannya tinggi dan sebagainya. Nah, kemudian dilakukan penataan. Nah, di sini juga ada ee relokasi ya tentunya dilakukan penataan ya. Kemudian juga ee penataan alur sungai ya yang diperlukan seperti apa dan ini kalau kita lihat di sini dia ee apa namanya? Aspek engineering-nya sangat besar ya ee di projek sabar mati ini ya. Jadi ee karena memang dia skalanya besar ee di seluruh ee wilayah sungai. Jadi kalau terlalu partisipatif ya itu agak sulit. Jadi memang di tahap awal dia ee sangat ee rekayasanya sangat kental ya di Sabar Mati Project ini. Bahkan hingga saat ini mungkin ee partisipasinya masih sangat kurang ya kalau dibandingkan dengan ee yang di room for the river tadi karena memang ini belum sepenuhnya selesai ya. bisa bermati project ini. Nah, ee apa yang dilakukan di sini ya? Jadi ee apa yang di sini mengkombinasikan antara green aspeknya ee lalu blue-nya di mana? Ya, di sini ya. Penataan sungainya, penataan sungai ee sabar mati ini ya. Jadi ee di sini dilakukan ee greennya itu di mananya? Jadi dilakukan juga pengembangan taman-taman ya. Kemudian landscaping, penanaman tanaman, kemudian juga eh urban green space ditingkatkan. Eh lalu juga ada beberapa bagian itu yang digunakan sebagai public space ya untuk market ya, market kemudian rekreasi, festival dan sebagainya. Nah, ini juga ee meningkatkan estetika dan ee nantinya mungkin ya makro climate karena Ahmed Abad ini katanya ee hanya ada dua musim di sini ya, yaitu panas atau sangat panas ya. Jadi waktu saya ke sana itu suhu mencapai ee 40 derajat Celcius. Jadi ini merupakan isu di sana ya. Jadi penataan ee Sungai Sabar Mati ini juga ditujukan untuk ee makroklimate ya untuk menurunkan suhu juga ya. Tapi saya kira mungkin belum belum karena belum projectnya belum selesai. Nah, ini mungkin perbandingannya ya antara eh sabar mati River Front di India di Ahmed Abad dan Room for the River di Netherland. Ya, tentu ini ee beda masalah, beda intervensi. Ya, beda masalah, beda intervensi. Karena kalau di Belanda itu adalah banjir ya. Ee masalah utamanya adalah banjir karena ee Belanda ada di ee apa namanya? di bawah air ya sesuai dengan namanya kan Netherland. Nah, kalau di ee apa ee Sabar Mati River ini permasalahannya banjir juga iya ya? banjir juga iya, tapi dia pada saat ee kering gitu itu surut ee apa namanya apa ee kelihatan ininya dasarnya ya. Jadi ee dan yang persoalan utamanya itu adalah ee suhunya sangat panas di sana ya. Jadi ee mungkin beda masalah, beda juga pendekatan ya. Ee tetapi project ini memberikan contoh bahwa ee dimulainya dari yang makronya dulu gitu ya, baru ke mikronya ya. Nah, jadi ee di sini misalnya kita lihat ee integrasinya ya memang di sini mungkin belum terlalu kelihatan nih yang aspek ee ekologi dan partisipatifnya ya yang disabar mati karena mereka masih dalam tahap yang makronya ya yang ee penataan yang rekayasanya ya. Nah, sedangkan Room for the River ini sudah mulai ke apa ee tahapan partisipasi ya. Nah, ini dimensi sosialnya ya semuanya ee pasti akan ada apa ee relokasi ya di mana-mana sebetulnya kalau kita akan melakukan perbaikan. Nah, tapi di sebenarnya relokasi juga waktu itu juga ee pada tah makro ya yang di room for the river ini. Jadi ee tidak ditanya satu-satu ya misalnya bagaimana pendapatnya tentu akan sangat sulit kalau membuat perencanaan dalam level makro. misalnya kita ee meminta apa partisipasi dari semua masyarakat ya itu. Nah ee ini mungkin kalau kita lihat ya ini gambarnya tapi di beberapa bagian di Sabar Mati River Front ini sudah jadi ya. Saya ada fotonya cuma e tidak sebagus ini gitu ya karena pada saat musim apa sungainya ini enggak penuh seperti ini ya. Ee jadi kurang bagus. Nah, mungkin kita lihat di sini ya nanti ini memang perencanaannya tapi di beberapa bagian ini sudah terjadi ya. Jadi saya apa namanya kagum juga maksudnya di India pun sudah bisa membuat yang seperti ini ya ee mengimplementasikan ee apa ee konsep-konsep ini ya. Dan ini juga keterlibatan dari perguruan tinggi sangat besar ya. kebetulan ee kami mempunyai kolega juga di apa ee universitas di sini ya yang mereka juga terlibat ya di dalam pengembangan ee sabar mati ee river river front ya. Jadi kalau apa namanya ee atau istilahnya nih mungkin kota tepian sungai karena sungainya ini besar ya besar ee membagi wilayahnya apa di sana ya kemudian dilakukan penataan. Jadi di beberapa bagian sebetulnya sudah sudah terjadi nih di sini ya ee bentuk-bentuk seperti ini. Jadi pada malam hari itu karena kalau mungkin kalau siang hari ee panas jadi ee baru kelihatan ramai itu pada malam hari ya orang-orang keluar begitu menikmati sungai gitu ya ee dengan apa beberapa pepohonan. Nah, ini kalau kita lihat bagaimana konsepnya ya ee ini seperti ini ya. Jadi ee ini kan tadi kita lihat dia bertingkat ini kan bertingkat nih seperti ini ya bertingkat. Jadi konsepnya kalau ini meluap dia akan ee tidak langsung. Jadi ini berperan juga sebagai tanggul sebetulnya ya yang ini bagian yang ini. Nah tapi dibuatnya kalau kita lihat ini kan mungkin lebih kelihatan ya. Ini di ini sungainya di sini ya. Nah, kemudian ee di sini juga dibuat sebetulnya ee apa namanya? Tempat berjalan kaki ya. Berjalan kaki, sepeda dan sebagainya. Lalu di sini ee juga ada nih penataan ya. Nah, bisa kita lihat di sini kan integrasi antara ee hij birunya ini birunya dan ini adalah ee hijaunya itu ya. Jadi, nah ini pun sebenarnya kalau kalau misalnya airnya ini meluap mungkin dia enggak sampai ke sini dulu, ya. Jadi, ee seperti ada tambulnya begitu ya. Nah, ini contoh yang sabar mati. Nah, ee nah ini kita sudah sampai di kesimpulan ini Mbak Dini. Ee jadi apa ee tapi di di bawah kesimpulannya nanti saya ada contoh ya di Indonesia. Jadi ee pengembangan infrastruktur hijau biru ini memang harus kalau kita memang mau menghasilkan ya yang karena kalau biru kalau hijau saja mungkin bisa ee apa secara sporadis ya mungkin pokoknya ya kita mulai aja dulu di mana begitu ya. Nah, tetapi kalau kita ingin kalau hijau biru karena hijaunya ini menyangkut badan air ya ee seperti sungai ee sebaiknya kita melakukan perencanaan secara terintegrasi dan dimulai dari makro dulu begitu ya. Nah, untuk ee perencanaan pada level makro ini memang ee banyaknya pendekatan yang digunakan itu adalah pendekatan ee teknokratis yang ee mungkin partisipati partisipasinya itu sangat kurang ya. mungkin hanya memberikan ee informasi atau konsultasi publik gitu ya kepada masyarakat begitu hanya ini kita akan ada projek ini gambaran besarnya seperti apa gitu ya. Jadi tidak tidak ee apa sifatnya tuh tidak meminta pendapat masyarakat ya ataupun ee apa ee desain-desain dari masyarakat ya. Jadi itu di tahap makronya. Nah, namun tahap makro ini memang harus diikuti dengan ee mikronya ya, karena pada beberapa bagian ya mungkin itu ee justru dalam pengembangan yang hijaunya ini akan harusnya didukung dari level mikronya begitu ya. Ee termasuk juga ee oleh masyarakat misalnya ya. mereka juga misalnya menerapkan atau menampung air hujan atau misalnya tidak membuang air ke sungai tentu kita pasti memerlukan dukungan dari masyarakat ya pada level ee mikronya ya. Nah, ini pada level mikro ini bisa dilakukan secara ee partisipatif ya. Nah, ini yang ee tadi pertanyaannya ya, apakah ada di Indonesia gitu sudah ada belum gitu ya. Nah, ee apa mungkin sudah ada beberapa potongan-potongan begitu ya. Nah, ini kebetulan kami ee melakukan penelitian ya dan ee beberapa bagian ini ditulis ee sebagai tugas akhir begitu ya oleh mahasiswa. Jadi ee ini apa kami mencoba ini melakukan simulasi ya ee apakah pendekatan partisipatif itu bisa dilakukan ee pada level makro begitu ya. Nah, jadi kami di awalnya ini mengambil kasus daerah aliran Sungai Cisanggarung ya. ini mungkin dari sini dari Kuningan mulainya terus ke sini ya ee apa dan dia berakhir di di sini ya ee berakhir di ee Laut Jawa ya ini ee sungai Cisanggarung itu. Nah, dan melintas ee beberapa ini ee kabupaten ya, dua kalau Cisanggarung ini Kuningan dan Kabupaten Cirebon. dan sedikit bagian di Kabupaten Berebes ini sedikit sekali di ujungnya ini dengan Kabupaten Brebes. Nah, ee ini juga kami ee apa melakukan wawancara ya dengan pemerintah kota juga ee pemerintah kabupaten maksudnya ee juga dengan ee apa dengan BBWS ya ee Cimanduk Cisanggarung ee apa menanyakan bagaimana prosesnya gitu ya. Mungkin di sini ada Bapak Ibu peserta juga ya. ee mungkin waktu itu kami juga melakukan FGD gitu dengan Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon yang dilaksanakan di ITB kampus Cirebon ya. Nah, jadi ee ini apa ee sudah melakukan wawancara memang sudah ada sebetulnya mekanisme koordinasi ya di ee yang dilakukan di Indonesia ya. Karena kalau sungai tadi seperti yang saya sampaikan ee ada ini kan lintas kabupaten misalnya ya, jadi ini ada dari ee pemerintah pusat juga ya dari BBWS ini sangat berperan juga ini melakukan koordinasi ee pengelolaan ee wilayah sungai. Nah, di sini kami mencoba ee pertama-tama melakukan pendekatan secara teknokratik ya. Jadi dengan menggunakan ee kriteria-kriteria ya untuk menentukan di mana lokasi ee infrastruktur hijau biru yang tepat ya. Jadi sungainya sebenarnya sudah ada tapi ee kita ingin mengintegrasikan dengan ee infrastruktur hijau biru gitu ya supaya karena ini di beberapa bagian ini terjadi banjir ee pada saat musim hujan. Nah, kami ee apa namanya? ee membuat kriteria kemudian ee melakukan analisis ya ee untuk menentukan lokasi-lokasinya untuk ee kalau di peta ini sebagai contoh adalah lahan basah ya atau wetland itu ada di mana saja gitu ya. Nah, dari hasil ee simulasi kami dengan menggunakan perhitungan dengan pemodelan ee mendapatkan ya akhirnya di lokasi-lokasi ini mungkin tidak terlalu jelas begitu ya Bapak Ibu lokasinya, tapi ada nih ee beberapa lokasi yang dihasilkan dari ee analisis ee GIS ya dengan menggunakan berbagai kriteria analisis overlay. Nah, jadi kalau dari analisis overlay itu ee sudah ditentukan lokasi lokasinya ya berdasarkan pendekatan teknokratis. Nah, kemudian kami ee ini hanya mensimulasikan saja sebagaimana ee seberapa efektif jika dilakukan ee proses perencanaan partisipatif begitu ya di dalam ee perencanaan ee infrastruktur hijau biru. Nah, ee tidak apa namanya ee ini sebenarnya tidak bermaksud ee menyatakan bahwa proses partisipatif itu ee tidak baik, tetapi mungkin kalau dilakukan pada skala makro itu agak susah begitu ya. karena kami ee mengabaikan ini dulu nih ee apa lokasi yang kami dapatkan dari ee pemodelan kami. Kemudian kami meminta pendapat nih dari peserta ee apa namanya ee FGD begitu ya. kira-kira di mana nih lokasi yang tepat begitu ya. Ee misalnya ingin dikombinasikan dengan pengendalian banjir. Nah, tentu akan sangat sulit begitu ee jika hanya meminta pendapat ya walaupun kita sudah oke kita sepakati ee jenis infrastrukturnya ini dan kita letakkan di daerah yang rawan banjir begitu. Nah, itu juga sulit ee menentukannya di mana begitu ya dan juga sulit untuk ee apa ee mencapai kesepakatan karena beda-beda ya. Ee jadi itu kesulitan yang kita hadapi kalau kita melakukan perencanaan secara makro tapi kita ingin pendekatannya partisipatif begitu. Nah, ee akhirnya kita munculkan yang ini ya yang memang ada beberapa bagian yang mendekati. Oh ya, memang lokasinya ee mendekati di sana, tapi ada juga yang berbeda begitu. Nah, jadi ee ee tetapi jika lokasi ini misalnya kita zoom ya, kita zoom out, nah mungkin ee itu adalah titik-titik yang sudah ditentukan itu mungkin bisa kita detailkan perencanaannya ya. Kita detailkan lagi perencanaannya, kemudian ee bagaimana desainnya. Nah, itu mungkin bisa melibatkan masyarakat ya. misalnya apakah ini akan dikembangkan untuk pariwisata? Nah, itu ee saya yakin mungkin apa dengan proses partisipasi akan sangat baik ya. Nah, di wilayah sini ee ini tuh juga ada Waduk Dharma ya. Mungkin Bapak Ibu pernah mendengar atau bahkan mungkin pernah ke sana ya, itu juga sudah berkembang ee pariwisata dan masyarakat juga terlibat ya di dalam ee apa namanya pengembangan ee kawasan pariwisata begitu di sana. Nah, mungkin bentuknya modelnya seperti itu. Jadi ee setelah kita tentukan lokasi-lokasinya ya, beberapa lokasi sebetulnya bisa kita kembangkan karena ee merupakan tahap awal dari infrastruktur hijau biru begitu ya. Nah, kemudian ee setelah ada lokasi mungkin nanti desain dan sebagainya itu bisa kita lakukan secara partisipatif. misalnya ini mau diapakan, mau dibuat apa ee taman rekreasi atau misalnya ee tempat pejalan kaki misalnya ya, itu bisa ee kita lakukan secara partisipatif ya. Saya pernah membaca ee di saya lupa membaca di mana ya, tapi ada satu desa di Indonesia di Jawa ya, di Jawa. Jadi mengembangkan ee pariwisata dengan apa namanya? arung jeram tapi pakai ban gitu ya, pakai ban ininya ya. Itu juga memberikan pendapatan kepada desa yang cukup besar begitu ya dengan menggabungkan jugalah dengan konsep-konsep hijau dan sebagainya tapi ini dilakukan oleh komunitas ya. Nah, kalau secara mikro seperti itu setelah didesain ee apa namanya secara keseluruhan itu akan sangat baik begitu ya. Nah, di desa ini tadinya ee apa sungai itu dianggap inilah musuh ya dan juga kotor. Tapi dengan ee bersama-sama dikembangkan ee apa sebagai tempat wisata dan masyarakat merasakan adanya keuntungan ya dengan pengembangan pariwisata ini karena sungainya juga bersih jadi bisa untuk arung jeram begitu ya. Ee jadi ee apa terpelihara begitu. Nah, tapi persoalannya kalau ini dilakukan pada level desa ya, sedangkan sungai itu kan dia tidak pasti di hulunya sudah melewati desa yang lain, nanti yang ini akan ke hilir begitu ya. Kalau tidak dilakukan secara terintegrasi ya mungkin dia hanya pas di desa itu saja yang kualitas airnya baik ya tapi ee akan repot gitu motongnya gitu ya karena di hulunya tidak tidak direncanakan ya. Nah, ini mungkin ee Bapak Ibu yang ee apa namanya? Mungkin masih banyak hal yang perlu kita diskusikan lagi ya, bagaimana kita mengimplementasikan ini di Indonesia ya. Tapi tadi sudah ada beberapa contoh di luar tapi tentu ee tidak mengambil contoh di luar itu adalah ya untuk ini saja ya. Karena mungkin di Indonesia yang secara terintegrasi itu yang skala besarnya mungkin sudah ada ya beberapa ee dinding-dinding penahan ya terutama di pantai utara Jawa mungkin itu menjadi contoh juga. Nah, nanti mungkin pendetailannya itu bisa dilakukan secara ee mikro begitu ya. Dan mungkin ee pesannya juga adalah bahwa ee perencanaannya mestinya disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi. Tadi kita akan lihat ya kalau Belanda itu permasalahan utamanya adalah banjir dari laut ee air masuk dari laut ya sehingga sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. Nah, tapi kalau di India selain banjir itu adalah juga suhu gitu ya. Jadi ee menghasilkan konsep yang berbeda. Nah, mungkin ee itu Bapak Ibu sebagai ee bahan diskusi kita ya. Ini ada beberapa referensi tapi yang tadi projek-projek tadi itu banyak sekali bisa dilihat ya di website-nya ya. Nah, kita akhiri mungkin sesi pemaparannya ya, dilanjutkan dengan diskusi. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak kepada Prof. Sri atas pemaparan materi yang sangat informatif dan membuka wawasan kita semua. Bapak, Ibu peserta kita juga sudah mendengarkan penjelasan yang komprehensif dimulai dari konsep infrastruktur hijau biru, kemudian ada best practice infrastruktur biru hijau di Belanda dan juga Sabar Mati River Front hingga juga perencanaan infrastruktur hijau biru di daerah aliran sungai Cisanggarung. Baik, untuk itu kita akan lanjutkan pada sesi diskusi yaitu yang pertama ee di sini ada pertanyaan dari aplikasi SL Slido terlebih dahulu. Baik, Prof. Sri di sini sudah ada delapan pertanyaan dari aplikasi SLU. Mungkin untuk Prof. Sri menjawab satu satu persatu dari pertanyaannya. Iya. Baik. Ee terima kasih ini atas apa ee pertanyaannya dan juga mungkin nanti ee berbagai komentar ya. Ee nah yang pertama apakah infrastruktur yang terintegrasi akan membentuk suatu ekosistem sehingga memiliki daya dukung dan daya tampung bagi habitat fauna? Nah, iya ini ee justru ini ya yang kita harapkan. Jadi kita mungkin kalau hanya sepotong-sepotong kita mulai dari yang kecil-kecil ya karena kan begitu ya. Ada yang bilang kita mulainya kalau merencanakan tuh dari ee seperti puzzle gitu nanti ee kecil-kecil nanti membentuk yang besar atau gimana. Nah, ee kalau dalam infrastruktur mungkin dari yang makronya dulu ya. Jadi bukan seperti menyusun puzzle ya. Kalau ya kalau puzzelnya jadi membentuk sesuatu gitu ya. Tapi kalau tidak membentuk sesuatu nah ini yang kita khawatirkan. Nah, justru dengan yang kita mulai dari yang makro lalu terintegrasi yang diharapkan adalah ee ini memang ya akan membentuk suatu atau memberikan ekosistem services yang lebih baik dan berkelanjutan sebetulnya ya ee kata-kata berkelanjutannya itu. Jadi ee tentu saja jika memang didesain ya ini tergantung desain kita. Kalau kita mendesainnya untuk habitat fauna ee ini juga bisa ya. Nah, sebetulnya ada satu contoh yang mungkin tidak saya ee sampaikan di sini, tapi saya sebutkan saja ada mungkin nanti bisa dicari juga yaitu di Sydney ya. Nah, di Sydney itu juga ee apa namanya? Ditata seperti ini, tapi dia di pinggir laut. Di pinggir di pinggir laut. Jadi ee menerapkan juga ee konsep ini ya. Jadi ee untuk hewan-hewan juga ya umumnya kan kalau ada ee apa namanya? hijau-hijaunya itu ada hewan, ada hewan-hewannya juga ya. Nah, ini yang saya ingat ee di Sydney ini ada ya di Australia. Jadi dia memang ee ada bagian ya bagian yang ee juga melengkapi dengan tanaman-tanaman langkah ya. Jadi kayak kayak museum gitu, museum tanaman dan juga hewan ya. Nah, jadi ini tergantung gimana kita mendesainnya saja ya. Kalau kita ingin mendesain untuk habitat fauna tentu harus direncanakan saya ya walaupun mungkin bisa saja kalau banyak pohon nanti ee faunanya akan datang ya burung-burungnya. Tapi kalau ee mestinya kita rencanakan, memang kita rencanakan dari awal untuk misalnya ee meningkatkan ee atau memperbaiki habitat untuk fauna ya seperti itu. Nah, kemudian ee tantangan ya yang telah terbangun seperti Kota Bandung. Nah, ini memang ee apa secara umum sebetulnya ya dalam perencanaan ya. Kalau sudah terbangun itu sulit gitu, tidak seperti membangun kota baru ya. membangun IKN misalnya ya. Kalau IKN sudah belum ada apa-apa itu malah lebih gampang. Nah, ee tetapi ee seperti contoh contoh-contoh tadi ya yang saya sampaikan itu sebenarnya sudah terbangun ee sudah terbangun semuanya. Apalagi yang di yang sabar mati itu kan sama saja sebetulnya ee Ahmed Abad itu juga kota pusat kotanya itu ya mungkin seperti Bandung. Dia kan metropolitan gitu ya, metropolitan. Jadi seperti Bandung juga. Jadi adat juga. Nah, tetapi ya memang ee ee apa namanya? Tapi semuanya sudah mengarah ke sana gitu. Jadi semuanya sudah kompak akan melakukan itu dan akhirnya ee bisa begitu ya bisa dilakukan. Saya sebenarnya tidak menyangka juga ya di India ya saya kira ee apa kita lebih ini gitu mungkin ya. Nah, tetapi di India sudah terjadi begitu ya walaupun baru kanalnya saja yang atau sungainya sungai Sabar Mati ini yang ditata. Jadi ee memang mungkin ee tantangannya ya ee pasti akan terjadi relokasi begitu ya. Yang di Belanda pun kan demikian saya sampaikan terjadi relokasi dan sebagainya karena ee untuk yang di Belanda misalnya dia memperlebar sungai kan room for the river gitu. Jadi pasti ada penduduk yang dielokasi. Nah, tapi ya apa ini tentu dengan apa kerja sama semua pihak sebetulnya ya. dan juga dukungan dari berbagai level ya. Tadi kalau kita lihat yang di yang di Belanda itu kan dari level nasional kan aktor yang terlibat sampai LSM lingkungan juga yang sabar mati ini mereka membentuk badan khusus gitu ya untuk ee penataan Sabar Mati River begitu. Jadi ee itu mungkin yang ee sudah pasti akan banyak tantangan terutama dari relokasi ya ee selain dananya pasti dana juga diperlukan apa pendanaan gitu. Nah, mengatasinya gimana? Ya, mengatasinya tadi kalau ini perlu memang ee koordinasi dan ee dukungan ya dari semua pihak ya. mungkin secara sederhananya begitu. Ee karena saya melihat ee ada beber di beberapa tempat yang kita tidak menyangka oh sudah ada gitu ya ini. Nah, ternyata bisa begitu ya ee dilaksanakan di tempat yang sudah terbangun, yang sudah padat gitu ya, yang kondisi sungainya sudah sangat parah ternyata bisa dilakukan. Nah, ee kemudian berikutnya ee kalau di daerah bekas tambang batuara. Nah, ini mungkin bisa ya mungkin bisa dilakukan, tapi yang saya sampaikan tadi ee masalah berbeda, kondisi berbeda, tentu desainnya berbeda. Jadi kita juga enggak bisa juga ya langsung oh kayak yang di Belanda itu sukses. Lalu kita tiru di Indonesia. tentu kita ada beberapa penyesuaian ya yang perlu dilakukan. Nah, kalau tambang batubara ini ee apa biasanya ya ini ada beberapa rekan jug rekan kami juga ya di SPPK itu yang ee sudah melakukan penelitian ya. Namun biasanya itu adalah lebih ke greennya ya. Sedangkan ee apa lekukan-lekukan cekungan bekas penambangan ini ya biasanya ee diisi air juga sih terisi air begitu ya sehingga nanti bisa dimanfaatkan ya. Ee tentu ini harus diteliti juga nih kandungan masih ada kandungan-kandungan dari batu bara atau tidak gitu ya. ee tetapi airnya ini di Kalimantan kan yang banyak ya di sekitar IKN ee itu ee bisa dimanfaatkan atau hanya untuk ini saja ya. Paling tidak kan kalau ada ee apa namanya? Kolam air mungkin dia bisa menurunkan suhu gitu ya. Kan kalau di Kalimantan juga agak panas ya sebetulnya. Jadi kalau ada kolam-kolam itu mungkin bisa menurunkan ee suhu. Kemudian sebenarnya bisa juga ee apa ee diberikan tanaman-tanaman yang cocok mungkin ya untuk dikembangkan ya. Jadi sebenarnya bisa juga begitu ee dilakukan ya. Namun memang mungkin butuh penelitian walaupun ada beberapa rekan kami di SPPK itu yang sudah mengeksplorasi bagaimana nih lahan ee bekas tambang ini kalau kita kembangkan menjadi daerah yang lebih hijau gitu ya. Ee dengan juga ee air-air ya kolam-kolam air biasanya seperti itu. Nah ee bagaimana meyakinkan ya? Nah, eh mungkin kita saya tidak mengeksplorasi terlebih eh apa lebih jauh ya di dua projek Sabar Mati dan ee apa room for the river ini ya. Ee bagaimana kita meyakinkan stakeholder gitu ya. Tapi biasanya ee terkait biaya ini mereka akan mengundang ee investor investor swasta ya karena mungkin tidak bisa tercukupi dengan dana pemerintah. Jadi mereka akan mengundang ini saya saya terus terang belum belum mengeksplorasi ini ya ee apa atau bertanya gitu seperti apa pendanaannya. Tapi ee kalau saya lihat yang di Sabar Mati ini ada lahan-lahan yang sudah ditata ini diberikan ke seperti apa ya, real estate gitu ya, real estate. Nah, jadi sumber pendanaannya nanti mereka juga berkontribusi. Jadi ada bagian yang merupakan ee pihak swasta. Jadi tidak semuanya di ee menggunakan misalnya katakanlah APBD gitu ya yang sabar mati ini walaupun mereka ada badan khusus yang mengelola pengelolaan ee Sungai Sabar Mati ini, tapi mereka juga mengundang investor swasta ya antara lain dalam pengembangan ee real estate gitu. Jadi sudah ada juga mall-mall misalnya yang dibangun di ee di area sana di area River Front itu. Nah, ee seberapa besar project room for the River bisa mengendalikan debit banjir? Jadi ini ee ini juga mungkin saya tidak terlalu mengecek ya bagaimana bisa mengendalikan debit banjir tapi ee apa diharapkan dengan menambah ruang ya untuk aliran sungai itu dia bisa ee menambah lagi ya menambah lagi ruang untuk mengendalikan debit banjir begitu. Cuma memang perlu kita cek ya ee dia seberapa seberapa efektif gitu dalam mengendalikan debit banjir. Tapi kalau kita lihat dia memang sepanjang sungai itu di ini lagi dilebarkan lagi ya. Ee kalau sebelumnya dalam projek Delta itu lebih ke membangun tanggul gitu, melindungi kotanya dari air yang masuk gitu ya, dari laut. Nah, kalau ini dia memperlebar sungainya. Jadi kalau ada air masuk kan kalau Belanda problemnya itu adalah air dari laut ya yang masuk itu masuk ke sungai. Nah, sungainya ini dilebarkan gitu. Jadi biar biar aja dia masuk gitu. Tapi tetap sih sebetulnya dikombinasikan dengan tanggul ya. Tetap ada tanggulnya begitu. Nah, ee itu ee yang pertama ini saya mungkin harus kita cek mungkin bersama-sama bagaimana ininya, tapi paling tidak dengan memperlebar ruang untuk sungai ee itu dapat mengurangi debit banjir. Nah, juga budgetnya bagaimana ya? Ee biasanya ini sekarang ee projek-projek ini sudah menggunakan tidak hanya dana dari pemerintah ya ee tapi biasanya akan mengundang ee pihak swasta begitu masuk ee di dalam ee proyek-proyek ini. Nah, kalau ini kan saya belum pernah soalnya ke mengunjungi projek ini. Tapi yang sabar mati tadi seperti itu ya. Jadi apa tempat wisata ya, wisata itu dikelola oleh swasta. kemudian juga ee real estate ya ee kemudian mall-mall ya itu juga termasuk kontribusi dari swasta yang diundang untuk ee juga berpartisipasi dalam projek ini. Ee masukan untuk tata kelola infrastruktur hijau biru pada setiap level ya. Institusi apa saja yang seharusnya berperan besar dalam pengelolaan pada tiap level. Nah, tadi kalau pada level makro ya, kalau kita bicara daerah aliran sungai sebetulnya ee setelah kami ee melakukan FGD itu sebenarnya sudah ada ee institusi tata kelolanya ya. Jadi sudah ada misalnya ee apa namanya? BBWS ya. Kemudian ee itu sebagai perwakilan pemerintah pusat ya. Kemudian juga sudah ada pemerintah ee provinsi ya. Kemudian ada juga ee pemerintah kota dan kabupaten. Nah, itu ee sudah ada forum ee koordinasinya ya ee dalam pengelolaan infrastruktur hijau biru. Nah, kemudian ee tadi pada level yang ee kota ya, level kota ya ee masing-masing kan ada ya biasanya di level yang tengah-tengah ini kan dia berdasarkan wilayah administratif. Nah, itu juga sudah ada pemerintah kota ya atau pemerintah kabupaten dengan masing-masing dinas yang terkait. Ee kalau kami dulu mengidentifikasi ee bukan dulu sebenarnya baru beberapa bulan yang lalu ya penelitiannya mengidentifikasi di level kota ini mungkin yang terkait itu ada Dinas PU tapi ya tergantung kota kabupatennya juga karena kadang-kadang berbeda juga struktur organisasinya ya. ee ada PU dan juga ee Bapeda ya yang biasanya kami ee apa ee berkolaborasi atau melakukan wawancara. Nah, juga pada level ee mikro itu sebetulnya kan sudah level neighborhood ya, permukiman atau rumah tangga. Nah, sebetulnya pemerintah kota juga bisa masuk di sana. Nah, mungkin di kita mungkin yang masih kurang itu adalah bagaimana kita melibatkan begitu ya ee pihak swasta ee untuk apa masukan ya masukan pendanaan gitu maksudnya untuk meningkatkan ee pendanaan dalam pengembangan ee infrastruktur hijau biru ini. Ya, mungkin itu yang masih yang perlu kita dorong lagi. Nah, ee yang sudah mengimplementasikan. Nah, kalau secara konsep seperti itu kami juga awalnya mencari ya yang terutama yang yang makro yang skala makronya sudah ada apa belum yang seperti ee Sabar Mati River atau seperti apa namanya ee room for the River ya. E sudah ada belum projectnya? Ya memang kalau dalam project yang seperti itu tuh belum ada. Nah, mungkin yang ada itu di kita kan yang pembuatan tanggul yang di pantai utara Jawa ya. Nah, itu sebetulnya ini sama juga cuma itu baru blue-ya greennya itu mungkin belum gitu ya ee belum ada. Nah, kalau kami juga melihat di wilayah ee di daerah aliran Sungai Cisanggarung sebetulnya ee sudah ada tahapan awal ya dari green blue infrastructure seperti misalnya di Waduk Dharma misalnya. Nah, itu sudah sebetulnya kan waduknya sendiri adalah yang biru-biru eh yang birunya ya yang hijaunya itu sudah ada sebetulnya ee apa ee hijau-hijauan tanaman-tanaman gitu ya. ee seperti itu. Nah, cuma memang ee belum seperti project yang Sabar Mati River yang secara keseluruhan begitu ya ee ataupun Room for the River. Tapi kalau yang kecil-kecil sebetulnya sudah ada ya. Ee saya dulu pernah lihat ee Kota Bandung pun sebetulnya ada ee ini ya seperti kolam apa wetland kalau enggak salah ya memang agak di pinggiran. Nah, kemudian juga ee Kota Bogor itu atau Kabupaten Bogor juga dulu kalau tidak salah ada ee jadi air hujan itu masuk ke gorong-gorong ya. Kemudian nanti dimanfaatkan lagi ya terutama untuk kampung yang daerah perkampungan ya yang lahannya itu sudah tidak ada gitu ya. Nah, ee tadi sebetulnya ya apakah mungkin sebetulnya kalau melihat contoh-contoh mungkin kalau kita bilang e itu kan di Belanda gitu ya wajar gitu ya. Nah, tapi sebetulnya di India di India saya juga kagum saya kira ee apa belum ada begitu. Nah, ternyata sudah ada. Jadi sebetulnya kalau kita ingin sebetulnya bisa bisa sih sebetulnya ya. Cuma tadi perlu apa ee koordinasi dan juga mungkin pendanaan ini yang kita perlu pikirkan ee sumber-sumber pendanaan kreatif gitu ya yang tidak hanya mengandalkan dari ee dari daerah. Nah ee tentu ini yang apa terakhir ya negosiasi yang tepat ee untuk masyarakat menengah bawah pada saat ee prapenataan. Nah, ee tadi saya sampaikan ya, sebetulnya penolakan tentu tidak hanya di projek-projek di Indonesia ya, bahkan oh di Belanda pun juga ada penolakan begitu ya. Ee masyarakat beranggapan ini terlalu top down begitu, mereka harus direlokasi gitu. Nah, cuma dengan ee ganti untung yang tepat begitu ya. ee juga masyarakat sebetulnya bukan masalah ganti untung. Ee disosialisasikan juga bahwa ee ini manfaat secara keseluruhan ya. Bagaimana manfaat ee projek ini secara keseluruhan ya mereka akhirnya mau juga gitu ya dipindahkan awalnya mereka menolak. Jadi sebenarnya tidak hanya di Indonesia. Nah, ee kuncinya ya memang di mungkin ee sosialisasi awal walaupun projjectnya sebenarnya skala makro tadi kan ee tidak e umumnya memang top down begitu ya. Partisipasinya tuh sangat kecil misalnya tidak dimintai pendapat tapi kita ada projek ini harus dilakukan relokasi ya mungkin harus apa bersedia dipindahkan gitu ya. Nah, tapi memang diberikan ee ganti untung ya yang tepat ya dan di juga di apa ee diinformasikan bahwa kontribusi mereka sangat penting begitu ee apa di dalam projek ini ya. ee ya mungkin apa negosiasi mungkin bukan negosiasi mungkin kalau diinformasikan ee dengan baik begitu ya dengan baik dan ada dijelaskan ee bagaimana apa ganti untungnya mungkin ini ya ee tidak menjamin juga tapi biasanya itu yang apa hal-hal yang perlu kita pikirkan atau kita negosiasikan begitu. Nah, tapi memang kalau melihat contoh tadi ya, lagi-lagi di India yang tadinya ee tidak terpikir begitu ada sama seperti ee waktu saya pertama kali ke Bangkok itu enggak tidak menyangka di situ tuh ada sudah dari bandara ke pusat kotanya tuh ada kereta ya. Itu kan tidak menyangka tapi ternyata bisa juga gitu ya. Pasti kalau itu kan ada pasti ada relokasi, ada penolakan tuh sudah pasti gitu ya. Jadi ee sebenarnya ya mungkin kalau kita bisa apa berkolaborasi dengan semuanya mungkin bisa diwujudkan begitu ya. Mungkin itu Mbak Dini sudah semua ya yang dari ini dari chat. Iya sudah Prof. Sri. Baik terima kasih Prof. Sri. Ee di sini kita akan melanjutkan di sesi selanjutnya yaitu pertanyaan langsung dari peserta Zoom dan saya akan batasi dulu untuk dua penanya. Di sini sudah ada juga yang raise hand ada Pak Sugeng ya. Dipersilakan kepada Pak Sugeng untuk bertanya ya. Terima kasih. Makasih Bu Sri Maryati. Ee kami ini ada beberapa catatan ini Bu yang yang pertama itu ee tadi kan beberapa contoh dari blue green infrastructure tadi di Belanda, kemudian di mana tadi? Di ee di India. India ya. Di India. Nah, itu kan lebih banyak mengelola sungai ya. Istilahnya berkaitan dengan sungai. Kemudian ee tujuannya adalah mengendalikan banjir. Ee di Indonesia itu sebetulnya pengelolaan sungai itu sebetulnya salah satu adalah mengelola air permukaan ya Bu ya. Di samping itu kan sebutnya ada air tanah ya Bu yang sekarang terkenal dengan bronbut besin. Jadi cekungan air tanah. Nah, apakah cekungan air tanah itu sendiri tidak berpengaruh terhadap perencanaan ee blue green infrastructure gitu loh. Ini yang pertama. Kemudian yang kedua ee terkait dengan pengelolaan sungai kami ambil contoh misalnya di daerah ISTIMah Yogyakarta. Jogja itu kan baru ada bandara baru Jogja Yogyakarta international airport itu ancamannya sekarang itu kan sebetulnya kan ee satu mungkin masalah terkait dengan kegempan ya yang nanti berdampak kepada tsunami sehingga ancamannya itu satu tsunami. Kemudian secara alami setiap harian itu kontinental self-nya atau laut dangkalnya itu kan apa? Continental sel-nya itu kan pendek kemudian langsung ke kontinental slope yang langsung menuju ke laut yang dalam sehingga ee ee menciptakan satu green green green infrastructur atau blue green infrastructure misalnya dengan mr itu kan sangat sulit sekali. Nah, sekarang yang dikembangkan memang ee tanaman-tanaman yang lain seperti cemara udang itu yang memang sekarang dimiripkan seperti mroove itu sebagai ee penanggulangan terhadap tsunami maupun terhadap abrasi. Kemudian secara gre infrastructure pemasangan tripod itu sekarang kan sudah banyak sekali di pantai selatan bahkan di sungai Bogowonto sendiri yang ada di sebelah barat bandara itu sudah dibuat kanal sepanjang 300 m untuk membuang endapan-endapan yang berasal dari sungai Bogowonto. Nah, bandara itu kan terletak antara Sungai Bogowonto dan Sungai Progo. Sebelah timurnya itu Sungai Progo, Bu. Jadi ee bagian utaranya itu meliputi beberapa kabupaten. Secara administrasi ada Kabupaten Porojo, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Magelang dan sumber materialnya itu berasal dari daerah Gunung ee Sumbing. Kemudian juga berawal dari daerah Merapi, daerah Gunung Merapi. Nah, itu sedimentasinya kan cukup sangat tinggi. Jadi ancaman sedimentasi sungai itu sangat tinggi di daerah Muara sebetulnya ya. sehingga ombaknya juga terlalu tinggi sehingga sekarang secara infrastructur dipasangi apa tribut-tribut yang cukup besar gitu. Nah, sekarang yang sudah jadi itu ee di selatan bandara yang dari sebelah timur Sungai Bogonto ke arah timur itu sudah jadi areal apa? Ee pariwisata, kemudian jadi green infrastructure, kemudian tempat wisata juga. Lah ini ancamannya mestinya kan kita harus mempertimbangkan dari daerah hulu sampai ke hilir sungai ya, Bu ya. Sungai Bowoto ke hilirnya itu kan sebetulnya kan sekarang kan sangat berkembang pesat itu daerah Purworejo ke utara itu kan terkait dengan Borobudur itu menjadi daerah-daerah tujuan wisata ee yang e strategis jadi pusat strategis kawasan wisata nasional. Nah, itu berkembang pemukiman-pemukiman yang cukup pesat juga itu. Nah, ini bagaimana pandangan Ibu untuk menciptakan apa? blue green ee infrastructur sehingga ee satu sai ee tujuan utamanya sebetulnya kan mengatasi masalah banjir supaya bandaranya itu aman dari ancaman banjir. Padahal di sebelah utaranya sekarang berkembang ee ee istilahnya ee gre infrastructure ya gre infrastructure. Nah, ini gre infrastructur ini kan sebetulnya yang ketiga green infrastructur kemudian green infrastructure dan blue green infrastructur itu tiga-tiganya bisa berjalan bersama-sama ya Bu ya. Jadi antara agri infrastruktur yang membuat mungkin bentungan, kemudian pengendali apa ee ee sedimen mungkin di Sabud di daerah Merapi itu sudah cukup banyak. Kira-kira ee pendapat Ibu bagaimana? Kemudian ee kira-kira ini menjadi satu apa ya istilahnya kerangka dasar atau menjadi kewajiban untuk mengelola DAS setiap DAS untuk setiap apa ya wilayah ya. Jadi ini sekarang kan di PU itu kan ada yang ngurusi air permukaan itu kan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, kemudian di bawahnya ada BBWS itu. Sedangkan yang ngurusi air tanah itu sekarang masih dipegang oleh ee ESDM, Kementerian ESDM fisiki Badan Geologi itu loh, Bu. Nah, ini ini informasi aja. Terima kasih, Bu. Ya. Ya, langsung aja ya Mbak Dini, ya. Iya, silakan, Pak. Terima kasih. Ini terima kasih Pak Sugang. Ini banyak juga apa insight-nya ya. Jadi ee iya memang betul, Pak. Nah, ee sebetulnya ini makanya judulnya tuh terintegrasi gitu ya. Salah satu contohnya itu ya sungai. Tapi memang di dalam konsep ee infrastruktur hijau biru itu juga ada ee konsep di mana kita memasukkan air itu ke dalam tanah gitu ya, Pak ya. Ee jadi nah bahkan di di itu ya di apa yang ee room for the River yang di Belanda. Nah, itu ee tetap mereka yang skala kecilnya itu tetap di dilakukan apa? Rain garden kan ada rain garden-nya ya. Rain Garden itu ee di skala kecilnya kalau hujan airnya ee ada juga yang dimasukkan ke dalam tanah begitu. Nah, mungkin perhitungan-perhitungan ee dengan perhitungan detail ya saya kira mungkin kalau ee teman-teman banyak yang dari ee sipil ya ee atau sumber daya air itu mungkin sangat gampang gitu menghitung. tadi kan ada pertanyaan ee seberapa efektif dalam mengendalikan banjir yang mungkin tidak hanya dari satu jenis infrastruktur ee tapi misalnya tadi room for the river ya untuk air permukaannya tapi tetap ada yang bahkan yang di itu tadi yang di apa project room for the river itu pada skala mikro itu dibuat juga rain garden rain garden itu biasanya dia dibuat di halaman-halaman rumah begitu ya jadi akhirnya ada juga kalau hujan dimasukkan ke dalam tanah gitu. Karena sumur ini buat sumur resapan, Bu. Iya. Kenapa? Sumur resapan namanya sumur resapan. Iya. Iya. Rain garden. Iya. Ee konsepnya sama. Nah ee kalau yang sungainya sendiri itu untuk menampung ee air yang dari laut yang masuk gitu. Jadi dikombinasikan seperti itu. Nah, ee sama sebetulnya Pak tidak harus semuanya itu ee dengan apa namanya ee perkembangan saat ini kan memang mungkin perlu ya infrastruktur hijau biru. Tetapi pada beberapa bagian tentu tidak mengurangi bahwa semuanya itu tidak boleh ada yang abu-abu gitu ya. Ee semuanya harus hijau biru. Tidak demikian juga. Jadi ee kadang-kadang ee malah di tahap awal ya seperti di project room for the River itu mungkin sebagian besar dia masih apa tanggul gitu ya. Nah, tapi dilengkapi gitu dengan ee penanaman tanaman sehingga tapi tanggulnya sih tidak dibuang ya tetap aja ada tanggul gitu. Nah, tapi di ee tanggul ini kan konsep grey infrastructure. Nah, itu yang di beberapa bagian mungkin kalau kita cari di website ee ada beberapa kritikan untuk project Delta. Sama-sama di Belanda juga kalau project Delta itu dia ee apa lebih ke greay greay sekali enggak ada greennya gitu. Nah, jadi yang ee mengkombinasikan itu ya kira-kira. Jadi ee sebenarnya tidak menghilangkan, tidak harus semuanya atau dengan adanya konsep ini jadi kita apa ee meninggalkan gray di beberapa bagian kita perlu tetap perlu begitu yang grey infrastructure ini izin saya sambil ini apa nyolokin listrik. Nah, ee kemudian ee nah sama Pak, jadi ee sebetulnya air tanah pun itu masuk pengelolaan air tanah itu masuk ke ke dalam pengelolaan itu ya ee green blue infrastructure juga sebetulnya bisa kita kombinasikan. Jadi artinya ee tidak bentuknya bisa kita variasikan ya antar ee bentuk-bentuk itu dan tidak berarti bahwa dengan adanya konsep blue green infrastructure itu infrastruktur grey-nya itu kita tinggalkan sama sekali begitu. Jadi bisa berjalan bersama-sama. Justru mungkin yang sabar mati ee River Front malah ee apa namanya? Sampai saat ini ya ee walaupun di dalam dokumen perencanaan akan dibuat yang hijau-hijaunya juga, tapi yang terbangun saat ini sih lebih masih masih kuat gitu ya ee gray infrastructure-nya. Jadi sebetulnya ee itu ee bisa berjalan bersama-sama dan tidak kita hilangkan gitu ya. Ee pada beberapa bagian kita tetap memerlukan ee greay infrastructure gitu. Begitu mungkin Pak ee ya. Jadi air tanah bagaimana kita mengintegrasikan. Nah, memang ee apa ee ini tergantung dari kalau misalnya yang kami tadi kebetulan ee mengenai sungai ee secara institusi memang mungkin terpisah ya, Pak ya. Nah, tapi memang kalau dari segi perencanaan tetap bisa diintegrasikan antara air tanah dengan air permukaan mestinya ya mestinya diintegrasikan gitu walaupun institusinya mungkin ee berbeda gitu ya di ini. Kemudian yang ini Bu yang apa yang Bandara Jogja Internasional Airport itu Bu kelihatannya kok kelihatannya projjectnya masih parsial-parsial gitu ya. Iya belum terintegrasi gitu. Iya. Jadi istilahnya pengelolaan hulu dan hilir itu ya jalan sendiri-sendiri gitu. Iya. Iya itu mungkin Pak ya yang yang perlu sebetulnya ee apa kalau saya lihat ee di di misalnya ada kalau di Belanda itu mereka tuh ada khusus gitu yang mengurusi air ya karena memang masalah mereka air gitu ya. Nah itu semuanya kalau bicara air itu ya di badan itu gitu. Nah, yang sabar mati tadi sampai mereka membentuk ee organisasi khusus itu ada kantornya. Kebetulan saya berkesempatan ee berdiskusi gitu ya, mengunjungi kantornya itu ada di tepi sungai itu gitu. Nah, itu tuh khusus pokoknya masalah sungai itu ada di sana tapi tidak hanya urusan sungai termasuk misalnya sampah ee air limbah gitu tuh menjadi urusan ee badan itu gitu. Kalau menurut pandangan Ibu untuk mengelola perencanaan blue green infrastructure ini demikian juga ya sampai ke GRE infrastructurnya tadi itu ditangani satu proyek apa istilahnya itu proyek tertentu misalnya seperti proyek Merapi, proyek Bengawan Solo gitu atau mungkin ini dikelola oleh satu badan tetap yang menangani semua permasalahanesahan mengenai ee daerah berhaliran sungai dan mungkin juga cekungan air tanah, Bu. Ya, kalau yang dictoh yang di apa ee kalau yang Belanda kan dia memang ini Pak ada khusus gitu ya, jadi bukan tim koordinasi. Nah, yang di Sabar Sabar Mati pun itu juga ee semacam otoritas khusus gitu ya. Jadi bukan koordinasi. Kalau koordinasi kan mengkoordinasikan saja ya mungkin ya. Jadi kalau proyek yang apa e temporer itu senya proyek bungan Solo itu sekarang sudah selesai. Kemudian proyek Merapi itu yang mengenai apa sabodem itu juga sekian tahun sudah selesai gitu ya selama aliran laharnya masih tetap gitu ya Bu. Nanti kalau aliran laharnya pindah mungkin proyeknya ada lagi gitu ya. Iya. Iya, iya. Tidak berdasarkan projek sih, Pak. Kalau yang di Belanda tidak berdasarkan projek. Jadi, projek. Jadi, ada lembaga sendiri yang memang menangani pengelolaan DAS yang menangani blue green infrastructur ya. Iya. Iya, betul, Pak. Jadi memang sebaiknya gitu. Jadi sehingga apa penanganan DAS itu tidak parsial e tidak bisa terintegrasi dari hulu sampai ke hilir, Bu. Ya. Iya. Iya. Dan dia itu pokoknya masalah air itu ada di satu badan itu satu badan ya. Jadi di Indonesia itu masalah air yang menangani masih agak agak agak banyak ini. Jadi ada yang di bawah ISDM, ada yang di bawah ee pekerjaan umum. Ini memang perlu perlu perlu pemikiran anu ke depan yang yang lebih sistem sehingga penanganan bencana saja kan tumpang tindih lembaga itu kan banyak sekali. Ibu, saya juga heran itu sehingga ini antara yang membuat peta ancaman kemeta risikonya lembaganya beda-beda iya. Iya. Perlu yang lebih terintegrasi. Iya betul Bu. Makasih Bu. Saya kira ini sekedar apa perenungan ke depan. Iya iya saya kembalikan ke moderator. Oke. Baik. Terima kasih Pak Sugeng atas diskusi yang menarik ini. Dan kita akan lanjutkan pada pertanyaan selanjutnya yaitu yang akan disampaikan oleh Pak Gali yang sudah raise hand. Oke, dipersilakan Pak Gali ya. Baik terima kasih. Eh, selamat siang Prof. Sri makasih Mbak ya. Izin bertanya Prof. Eh untuk mengenai blue green eh infrastructur ini apakah bisa diaplikasikan untuk ee selain mengatasi banjir untuk daerah yang ee ada kenaikan air laut ee dengan adanya subsiden tanah ya seperti di Demak, di Desa Saung dan juga di Jakarta itu yang di daerah utara ya itu ada kenaikan air laut itu apakah pertama apakah bisa diaplikasikan kan. Ee kemudian yang kedua untuk blue green ini ee persentasenya berapa persen, Prof? untuk ee yang blue-nya berapa, greennya berapa, itu bisa dikatakan sebagai bluegreen infrastructure. Yang ketiga ee apakah bluegr juga bisa diaplikasikan di daerah gurun ee gurun berpasir yang ee mungkin seperti kita lihat Arab Saudi juga akan mengembangkan kota ee yang e megah ya di tengah padang pasir. Dan satu lagi Prof. Ee yang keempat ee misalkan Prof. Sri ee ditunjuk sebagai perencana nanti untuk rekonstruksi ee Gaza di Palestina ee pasca perang nanti di ee bangun kembali itu ee kira-kira yang cocok infrastrukturnya seperti apa, Prof? Apakah blue green bisa applicable di sana juga? Sekian dari saya, terima kasih. Selamat siang. Ya, langsung aja ya, Mbak Dini ya. Ya, terima kasih, Pak Galih. Ee nah ee tadi Pak ya secara keseluruhan memang perlu kita lihat permasalahannya ya. Ee jadi mungkin mungkin di apa pertemuan kita tahun kemarin itu yang membahas juga tentang green infrastructure kan sudah disampaikan sebetulnya green blue infrastructure ini atau blue green infrastructure bisa kita desain sesuai dengan apa ee permasalahan yang ingin kita selesaikan. Nah, antara lain misalnya banjir ya atau ee tadi yang Pak Sugeng tadi misalnya kekurangan air gitu ya. kekurangan air tentu intervensinya mungkin ee beda ya dengan banjir atau ee masalah iklim misalnya. Nah ee jadi perlu kita lihat ee permasalahan dan ee solusinya ee mungkin tidak sama ya walaupun berhasil gitu di suatu tempat. Nah, jadi ee kalau persoalannya penurunan ee apa muka tanah gitu ya ee jadi ee seperti ya mungkin kalau kita mau mencegah ee solusinya mungkin ya dari mencegah dulu ya mencegah terjadinya penurunan ee muka tanah yang mungkin kebanyakan karena ini ya ee penyedotan air tanah biasanya ya ee penyedotan air tanah. Nah, maka mungkin intervensinya sebetulnya ya tidak harus ee green blue infrastructure. Mungkin kalau seperti itu ya ee penyediaan air atau kontrol terhadap ee pengeboran atau pengambilan air tanah untuk mencegah muka air tanah itu ee muka tanahnya ya, muka tanahnya yang turun. Nah, tapi kalau sudah terjadi kan agak sulit ya untuk menaikkannya lagi gitu muka tanahnya. Nah, mungkin itu bisa di tadi saya sampaikan sebetulnya kita ee tidak bisa juga sih 100% meninggalkan ee greay infrastructure ya seperti yang sudah terjadi saat ini ee apa yang sudah dikerjakan ya pembangunan tanggul misalnya ee yang sebetulnya itu adalah grey infrastructure tapi untuk mencegah tadi ee air laut masuk begitu ya karena sudah terlanjur turun di muka tanahnya. Tapi untuk mencegah di kemudian hari turun lagi ya mungkin juga perlu dipadukan dengan intervensi ee pengendalian atau pengambilan air tanah begitu. Nah ee kemudian nah berapa persen blue dan green-nya itu ya agar dapat disebut infrastruktur hijau biru. Nah ini sebenarnya tidak ada aturan yang ininya Pak ee aturan bakunya ya harus berapa begitu. Tapi kalau ee contoh-contoh tadi itu karena sungainya dulu gitu ya, airnya dulu lalu dilengkapi dengan ee vegetasi. Nah, maka dia disebut dengan infrastruktur hijau biru tapi tidak ada ee perbandingannya berapa ya. Tentu makin banyak hijau-hijaunya makin makin baik juga begitu. Nah, kalau di padang pasir dengan melihat contoh-contoh yang sudah ada ya, bahkan di di mana gitu ya, bisa menanam sayuran gitu ya. Ee jadi padang pasir tapi bisa ditanam sayuran terus air dari air laut itu bisa digunakan. Nah, kelihatannya sih tidak menutup kemungkinan ya bisa dilakukan begitu. Cuma memang kalau padang pasir ini saya juga enggak tahu ya. Kalau di Mesir kan ada padang pasir juga tapi ada sungai Nil juga yang besar gitu ya. Nah, itu ee mestinya bisa juga sih dikombinasikan. Bahkan di mana ya tempat yang sangat panas itu dia di ya itu tadi di Ahmed Abad itu juga ee kurang sekali ya ee panas sekali gitu ya. Enggak tahu karena emang enggak ada pohon-pohonnya tapi mereka sudah mulai mencoba menanam tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman gitu ya di untuk melengkapi sungai. ternyata bisa juga bisa tumbuh gitu ya ininya. Jadi kelihatannya sih melihat yang sudah terjadi memungkinkan sebetulnya ee dilakukan di ee gurun. Nah, tapi memang ee kita perlu pelajari ya ee atau memang perlu ada inovasi-inovasi yang bisa dilakukan gitu ya. ee bagaimana caranya mungkin ada tanaman-tanaman khusus gitu. Termasuk juga ee perencanaan di Gaza tentu ee karena apa namanya belum ini belum saya belum mengkaji ee apa bagaimana kondisinya, bagaimana aspek ruangnya ya. Nah, itu ee saya belum bisa menjawab. Tapi sebagai contoh begini, Pak. Ee apa ee dulu kami pernah melakukan studi ya ee mengenai sampah begitu di semasa haji ya ee semasa haji saya ingat semasa iya betul semasa haji. Jadi jumlah sampah itu semasa haji itu sangat tinggi gitu. ini untuk mengilustrasikan aja bagaimana kita harus pertama memahami dulu kondisi di wilayahnya ya baru kita ee bisa merekomendasikan begitu. Jadi kalau dilihat ee mungkin kita tidak pernah terpikir ya bahwa ee jumlah sampah semasa haji itu bisa berkali-kali lipat dari masa biasa. Nah, kalau kita menyediakan infrastruktur persampahan ee seperti biasa, tentu pada masa haji ini akan banyak sekali sampah yang tidak tertangani. Tapi kalau kita menyediakan infrastruktur dengan menggunakan data semasa haji, mungkin juga ee akan idle selama tidak haji. Mungkin kalau bagi ee apa namanya? Saudi Arabia enggak masalah ya, mungkin karena mereka banyak uangnya gitu ya. Tapi kalau seperti di negara kita misalnya mungkin agak perlu ya dikaji pada desain yang seperti apa ya ee kapasitas desain seperti apa dia yang optimal. Nah, ini terus terang kalau yang Gaza ini saya belum apa namanya ee mengeksplorasi bagaimana kebutuhannya ya, jumlah penduduknya gimana, sumber airnya ee seperti apa. Nah, ini ee mohon maaf jadi belum belum apa terpikirkan gitu ya. Tetapi saya yakin dengan melihat ee yang sudah terjadi maksud saya inovasi-inovasi yang sudah ada pada saat ini ya itu ee bisa ya mungkin ya mungkin enggak terlalu yakin juga mungkin bisa ee diimplementasikan termasuk di wilayah gurun gitu. Nah, mungkin itu ee sementara ya Pak Galih dan juga Bu Mbak Dini ya. Baik ya. Baik. Terima kasih. kepada Pak Galih dan kepada Bu Prof. Sri atas ee pertanyaan dan diskusinya yang sangat menarik ini. Dan kebetulan juga di sini sudah jam 12.00 siang. Jadi untuk sesi tanya jawab kita cukupkan. Terima kasih kepada Bapak Ibu yang sudah berpartisipasi dan untuk menutup acara webinar ini kepada Prof. Sri untuk memberikan closing statement-nya. I baik eh terima kasih Mbak Dini. Jadi, Bapak Ibu mungkin ee apa konsep ini sebetulnya sudah ada bibit-bibitnya ya di Indonesia. Mudah-mudahan nanti ee dengan tentu perlu inovasi dan yang terpenting itu adalah bagaimana kita ee memahami kebutuhan ee setempat ya. Setempat itu ya bisa seluruh Indonesia gitu kan. tentu beda kebutuhannya dengan di tempat lain. Walaupun tadi beberapa contoh ee memang contoh-contoh saya tadi duanya itu dari ee luar negeri ya. Tetapi itu tadi di dalam merencanakan mungkin harus lihat konteks ee setempat dan tadi ee untuk perencanaan terintegrasi kita mestinya mulai dari yang makronya dulu lalu nanti ee baru kita merencanakan yang mikronya dengan ee lebih banyak pendekatan yang sifatnya partisipatif. Mungkin itu ee Mbak Dini. Semoga tadi bermanfaat ee bagi kita semuanya ya. Dan tentu ini masih perlu banyak hal yang perlu kita eksplorasi bersama-sama. I. Baik. Ee terima kasih kepada Prof. Sri Mariati dan mungkin sebelum Prof. Sri meninggalkan ruangan Zoom, kita akan melakukan dokumentasi terlebih dahulu. Bagi Bapak Ibu yang bisa mengaktifkan kameranya dipersilakan untuk open kamera dan saya akan mulai saja melakukan perhitungan mundur dari angka 3. 2 1 ya sekali lagi 3 2 1. Oke. Baik, untuk dokumentasi sudah dicukupkan. Saya ucapkan terima kasih kembali kepada Prof. Sri Mariati atas penyampaian materinya yang sangat bermanfaat. Semoga kita juga bertemu lagi di lain kesempatan. Kepada Prof. Maryati apabila ingin meninggalkan ruangan Zoom sudah dipersilakan, Prof. Ya. Baik, terima kasih Mbak Dini. Terima kasih Bapak Ibu sekalian. Baik. Ee baik Bapak Ibu semuanya, berakhir sudah acara webinar hari ini. Bagi Bapak Ibu yang ingin mendaftar mendapatkan e-sertifikat, Bapak Ibu dapat mengisi link presensi kehadiran yang tertera di layar ini. Dan ketika Bapak, Ibu mengisi presensinya, pastikan nama dan email sudah diketik dengan benar karena hal ini akan mempengaruhi pengiriman e-sertifikatnya. Baik, ee saya akhiri kegiatan webinar hari ini. Mohon maaf apabila saya ada salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan selamat melanjutkan aktivitas lainnya.