Transcript
dz9rL-Fi4X4 • Webinar 123 Dari Makro ke Mikro: Perencanaan Infrastruktur Hijau Biru Terintegrasi
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0157_dz9rL-Fi4X4.txt
Kind: captions
Language: id
mereka itu
Ya, asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu,
dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang
kembali di webinar Eko ke-123.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semua yang sudah selalu setia untuk
mengikuti acara webinar ini. Hari ini
webinar Eko akan mengangkat tema dari
makro ke mikro perencanaan infrastruktur
hijau biru terintegrasi.
Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas
sebagai moderator pada acara ini.
Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum memulai
webinar pada siang ini, alangkah baiknya
kita berdoa bersama-sama sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing.
Berdoa dipersilakan.
Baik, berdoa dicukupkan. Untuk
selanjutnya mari kita menyanyikan lagu
Indonesia Raya secara bersama-sama.
Diharapkan kepada Bapak dan Ibu untuk
duduk tegak.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di
sini izinkan saya untuk mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh kami
yaitu yang pertama kami akan mengadakan
pelatihan dasar AMDAL gelombang 18 di
tanggal 1 hingga 10 September 2025.
Ee dan untuk biaya investasi pada
pelatihan ini yaitu sebesar Rp4.500.000.
Kemudian dilanjutkan pada tanggal 8
hingga 12 September 2025. Di sini kami
akan mengadakan dua pelatihan, yaitu
yang pertama pelatihan pemodelan
dispersi udara airpff, dan high split
gelombang 19. Kemudian pelatihan
dinamika sistem untuk kajian lingkungan
gelombang 12 pada tanggal yang sama. Dan
kedua pelatihan ini akan mendapatkan
diskon 10% apabila Bapak Ibu melakukan
pembayaran pada H-1 pelatihan.
Dan untuk informasi lebih lanjut, Bapak
Ibu dapat menghubungi admin kami yaitu
Riris dan Nisa. Selain itu juga Bapak
Ibu bisa mengunjungi sosial media kami
di Instagram, YouTube, channel,
Facebook, Twitter atau juga Bapak dan
Ibu dapat mengunjungi website resmi kami
di www.ecoedu.co.id ecoedu.co.id
ataupun Bapak Ibu apabila tertarik pada
pelatihan kami dapat mendaftar langsung
di pendaftaran.ecoedu.co.id.
Nah, selain itu juga kami di sini
memiliki eh pelatihan inhouse training
yang dapat dilakukan secara offline
maupun online sesuai dengan permintaan
dari instansi atau perusahaan Bapak Ibu
semuanya. Jadi kami tunggu di pelatihan.
Oke. Baik Bapak Ibu, kita langsung saja
untuk masuk kepada kegiatan utama kita
di mana webinar kali ini akan berdiskusi
mengenai dari makro ke mikro,
perencanaan infrastruktur hijau biru
terintegrasi. Dan di sini juga kami
sudah menghadirkan ee narasumber yang
kompeten di bidangnya untuk memberikan
materi dan wawasan yang bermanfaat ini.
Dan langsung saja kita perkenalkan
narasumber kita hari ini yaitu ada Prof.
Dr. Sri Maryati, STMIP. Beliau merupakan
guru besar tata kelola infrastruktur
wilayah dan kota berkelanjutan di
Institut Teknologi Bandung. Ya, selamat
siang, Prof. Prof. Sri.
Selamat siang, Mbak Dini.
Bagaimana, Prof. Kabarnya hari ini?
Alhamdulillah baik. Ini cuma suaranya
agak serak-serak.
Iya. Baik, Prof. Mudah-mudahan ee segera
sehat ya, Prof ya.
Amin. Amin ya rabbal alamin.
Ya. Baik, Prof. Mungkin sebelum ee mulai
untuk lanjut ke acara intinya, izinkan
saya menyampaikan beberapa teknis
terlebih dahulu, yaitu yang pertama
untuk pemaparan akan dilaksanakan selama
1,eng jam, kemudian nanti akan
dilanjutkan pada sesi tanya jawab
menggunakan aplikasi Slidu dan
dilanjutkan lagi dengan tanya jawab
secara langsung. Baik, untuk
mengefektifkan waktu saya serahkan
ruangan Zoom ini kepada Prof. Sri
Mariati dan kepada Bapak Ibu semuanya
selamat mengikuti webinar kali ini.
Ya, baik ee terima kasih Mbak Dini. Ee
Bapak Ibu sekalian selamat pagi.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Nah, izin mungkin ini apa ee suaranya
mudah-mudahan ee cukup jelas ya. Ini
sudah beberapa hari ini kehilangan suara
ya.
Iya, Bapak Ibu. Jadi ee webinar kita
kali ini seperti tadi yang sudah
disampaikan oleh Mbak moderator ya, Mbak
Dini, kita akan ee berdiskusi ya
sebetulnya ini ee nanti sifatnya diskusi
saja yaitu mengenai perencanaan ee
infrastruktur hijau biru terintegrasi
ya. Jadi judulnya dari makro ke mikro
perencanaan infrastruktur hijau biru
terintegrasi. Nah, ini ee jadi kita
secara garis besar akan membahas
bagaimana ee cara merencanakan ya cara
merencanakan infrastruktur ee hijau biru
itu agar ee terintegrasi dan kemudian
nanti ee tentunya kita harapkan ee dapat
berkelanjutan begitu. Nah, ini adalah ee
outline ee diskusi kita hari ini. Jadi,
yang pertama kita akan membahas lagi ya,
karena ini sebetulnya di webinar kalau
tidak salah tahun kemarin ya, kita sudah
membahas begitu tapi ini untuk
mengingatkan kembali mengenai konsep ee
infrastruktur hijau biru ya. Kalau yang
ee tahun kemarin mungkin penekanannya di
ee infrastruktur hijaunya ya dan ee
bagaimana masalah-masalah atau isu dalam
implementasinya ya. Nah, jadi kalau ee
itu yang sebelumnya, sekarang kita
lanjutkan ee dengan menggabungkan konsep
infrastruktur hijau biru dan
penekanannya adalah bagaimana di dalam
ee proses perencanaannya yang
terintegrasi.
Nah, kemudian pada bagian kedua kita
akan melihat ee skala dan bentuk
infrastruktur hijau biru dan ee terakhir
kita akan berdiskusi mengenai
perencanaan ee infrastruktur hijau biru
itu sendiri seperti apa. Nah, ini untuk
mengingatkan kembali ee Bapak Ibu
mungkin masih ee ingat ya ee di webinar
di tahun kemarin itu tentang ee apa
perbedaan antara infrastruktur ee hijau
biru hijau ya. Kalau di hari ini kita
akan di biru hijau karena banyak
penekanannya di airnya ya. Jadi birunya
itu adalah air. Kemudian apa bedanya
dengan biru hijau dengan hijau dan
dengan abu-abu ya Bapak Ibu. Nah, jadi
kita bisa lihat di sini. Jadi ee yang
hijau biru ini dia sebetulnya
menggabungkan konsep ee manajemen air
ya, manajemen air termasuk misalnya ee
sungai dan sebagainya ya dan
menggabungkannya dengan konsep ee hijau
ya yang seperti misalnya ee untuk
ekosistem services ya. Jadi, jadi dia
tidak hanya hijau saja tapi
menggabungkan juga dengan water
management. Nah, eh ini kadang-kadang
kita sebut green blue infrastructure
atau blue green infrastructure ya. Yang
ini eh tergantung kepada penekanannya
lebih ke mana begitu ya. Kalau
penekanannya atau lebih banyak ke
infrastruktur hijaunya kita sebut green
blue infrastructure. Nah, tapi kalau
penekanannya lebih banyak ke aspek
airnya kita sebut blue green
infrastructure. Nah, seperti pertemuan
kita hari ini mungkin penekanannya lebih
banyak kepada ee infrastruktur apa
airnya ya. Ee airnya. Jadi yang hijaunya
ini adalah ee bagian dari ee air yang
lebih besar yang akan kita bahas. Nah,
kalau green infrastructure
ini ee walaupun banyak definisinya ya.
Kalau kita cari di website Grid
infrastructure itu kadang-kadang
membahas juga ee energi hijau ya,
misalnya energi dari sampah ya, dari ee
dari biogas ya atau energi-energi
terbarukan kadang-kadang disebut juga
sebagai green infrastructure. Nah, tapi
dalam konteks kita lebih menekankan
kepada ee apa namanya? fitur-fitur ee
lingkungan ya yang ee didesain dan
dikelola untuk ee
apa namanya ee yang atau untuk
menyampaikan ya ee ekosistem services
atau mem-provide eh ekosistem services.
Jadi ee secara umum mungkin dapat kita
pahami seperti apa ee green space ya ee
dengan berbagai variasinya ya termasuk
juga misalnya eh roof garden ya misalnya
itu kan juga eh roof top garden itu
mungkin bisa masuk green blue
infrastructure karena mungkin hijaunya
lebih banyak daripada eh blue-nya ya
atau hijaunya ya. Jadi eh itu green
infrastructure. Nah, sedangkan greay
infrastructure ini adalah eh
infrastruktur ya, terutama kalau kita
kaitkan dengan air dan air limbah
begitu. Dia ee disebut abu-abu ini
karena biasanya kita menggunakan
konstruksi ya, konstruksi seperti baja
atau beton ya. yang warnanya kan abu-abu
ya kalau beton sama baja. Nah, itu yang
disebut sebagai ee greay infrastructure
ya. Jadi ee ini mungkin bedanya kalau
grey itu yang disebutnya tradisional ya,
karena hanya menggunakan ee beton,
kemudian baja yang berwarna hijau
misalnya, kemudian ee sebetulnya
evolusinya itu dari grey dulu ya,
kemudian pindah ke green. Nah, jadi ada
pemikiran bagaimana kalau dalam
infrastruktur itu kita hubungkan juga
dengan ee hijau-hijaunya ya. misalnya ee
apa penyediaan infrastruktur digabungkan
dengan ee misalnya dengan ee green open
space misalnya ya atau memang ada
infrastruktur yang kita sebut sebagai
green infrastructure misalnya adalah eh
rain garden misalnya ya. Jadi rain
garden itu ada ada hijau-hijaunya juga
gitu ya. Jadi tidak hanya air. Jadi pada
saat hujan baru dia ee berfungsi untuk
menyerapkan air ke dalam tanah. Nah,
kemudian ee konsep terakhir itu adalah
ee sebenarnya sudah banyak lagi mungkin
ya, tapi dalam eh tiga ini evolusinya
dimulai dari grey, kemudian green, lalu
eh blue green infrastructure ya. Nah,
kalau blue green infrastructure unsur
airnya ini lebih besar ya. Jadi kita
bicaranya dalam konteks misalnya sungai
gitu ya. Jadi tidak hanya misalnya ee
individual ee rumah tangga ya. Jadi kita
ee bicaranya dalam konteks yang lebih
luas. Jadi eh water bodies di sini ya
misalnya sungai, dana eh misalnya juga
ee mungkin kawasan pesisir ya dan
sebagainya. Jadi ini konteksnya konteks
airnya lebih luas. Nah, jadi itu mungkin
ya perbedaannya Bapak Ibu antara
infrastruktur abu-abu atau grey
infrastructure, lalu eh infrastruktur
hijau atau green infrastructure dan eh
infrastruktur hijau biru ya atau blue
green infrastructure di mana evolusinya
mungkin dimulai dari ee infrastruktur
abu-abu lalu bergerak ke green
infrastructure kemudian terakhir ke eh
blue green infrastructure.
Nah, eh jadi eh kita lihat eh blue blue
green infrastructure secara lebih
spesifik ya, Bapak Ibu. Jadi blue-nya
ini atau hijaunya ini me-refer kepada
sungai atau badan air lainnya ya.
Sementara ee hijaunya ini me-refer
kepada ee landskapnya ya. Lansskap-nya
yang hijau ya. landskapnya yang hijau.
Jadi ini berbagai contohnya misalnya di
daerah perkotaan ya mungkin seperti ini.
Di sini ada mungkin drainase begitu ya,
ada ee drainas kemudian dikombinasikan
dengan di sini ya water cycle-nya itu eh
drainas ini merupakan ee juga bagian
dari water bodies misalnya ya. Nah, ini
ee kita kombinasikan dengan berbagai
konsep hijau ya. Nah, kalau di sini
mungkin kurang terlihat greennya ya di
sini. Nah, tetapi greennya ini ada di ee
pada konsep ee air ini diresapkan ke
dalam tanah begitu. Nah, untuk yang
natural ya atau kawasan ee apa ee ya ini
tentu saja ini di daerah perkotaan kan
mungkin seperti ini ya ee dominasinya.
Nah, sedangkan yang diharapkan dengan
konsep eh blue green infrastructure itu
adalah pemandangan yang seperti di bawah
ini ya. Jadi ee apa di sini ada ee water
bodies-nya ya, ada ee sungai mungkin
atau selokan yang sudah didesain khusus
misalnya. Nah, kemudian yang greennya
ini kita lihat di sini ya. Jadi ee ada
ee apa ee hijau-hijaunya ya. Jadi itu ee
kira-kira konsep ee blueegreen ee
infrastructure.
Nah, selanjutnya mungkin ee apa kita
singkat ya Bapak Ibu. Infrastruktur
hijau biru ini menjadi ee IHB ya atau ee
infrastruktur hijau biru. Nah, di sini
mungkin ee kita akan lihat ee skala yang
berbeda dari infrastruktur hijau biru
yaitu ee dari skala regional ya. Karena
kalau kita bicara sungai atau badan air
tentunya kita tidak bisa bicaranya di
dalam batasan wilayah administrasi ya
atau skalanya.
Ya, mohon izin Bapak Ibu ee sepertinya
untuk
Prof. Sri Mariati sedang ada gangguan
teknis. Jadi mohon ditunggu sebentar
Bapak Ibu semuanya
kecil. Jadi kalau ee apa namanya lebih
makro kira-kira begitu. Nah, kemudian ee
tentu saja misalnya kalau kita bicara
sungai, sungai itu tentu akan melewati
ee wilayah administrasi juga ya ee
misalnya kota atau kabupaten begitu.
Jadi di situ juga ada ee ininya ada ee
bagiannya. Nah, kemudian dalam skala
terkecil itu adalah ee skala rumah
tangga atau individu.
Nah, ini tadi yang dalam judul ee
diskusi kita hari ini. Jadi dari makro
ke mikro. Nah, ini bagaimana ya? Karena
tentu ee infrastruktur hijau biru ini
tidak tidak bisa hanya misalnya di ee
neighborhood saja misalnya ya atau di
regional saja ya. Nah, tentu bisa.
Tetapi kalau kita tadi bicara sesuai
dengan judulnya yaitu yang integrasi ya
terintegrasi ee supaya benefitnya lebih
luas maka ee kita perlu ee melakukan
perencanaan dari makro ke mikro ini ya.
yang di mana makro ini mungkin dalam
skala ee regional begitu ya. Kalau kita
bicara sungai di Indonesia mungkin kita
bicara daerah aliran sungai, wilayah
aliran sungai ya. Kemudian wilayah yang
ee lebih kecil lagi yaitu wilayah kota
dan kabupaten. Mungkin kita bicaranya
administratif. Kemudian ee skala yang
lebih kecil lagi itu adalah wilayah ee
atau ee apa namanya? rumah tangga ya
atau individu. Nah, kalau kita lihat
nanti ini kita akan lihat ee beberapa
contoh ya untuk yang perencanaan pada
level makro pada level regional ini atau
wilayah daerah aliran sungai atau
wilayah aliran sungai itu pendekatannya
mungkin akan ee lebih banyak bersifat ee
teknokratik. Jadi ee teknokratik ini
mungkin ee apa banyak analisis-analisis
yang dilakukan ya yang ee saentifik
begitu. Jadi mungkin aspek
partisipatifnya itu ee tidak terlalu
banyak ya Bapak Ibu di sini. Nah, tapi
begitu kita bicara ee pada level mikro,
nah ini adalah ee partisipasinya mungkin
akan lebih banyak ya. Jadi kalau kita
merencanakan dalam level DAS mungkin
agak sulit ya kalau ee terlalu banyak
partisipasi misalnya ya atau ee semuanya
harus diputuskan bersama oleh masyarakat
mungkin agak agak sulit begitu. Oleh
karena itu, pada pendekatan makro ini
kita menggunakan pendekatan ee
teknokratik ya, berdasarkan hasil-hasil
analisis saintifik yang kemudian ee kita
apa kita nanti pada level yang lebih
kecil lagi pada level mikro. Nah, ini
baru ee banyak atau baru mungkin bisa
kita melakukan ee analisis-analisis yang
sifatnya partisipatif. Nanti kita akan
lihat ee beberapa contoh ya ee di
berbagai negara ya. Ee nanti mungkin
apakah di Indonesia ada ee contohnya.
Nah, kebetulan kami sudah pernah
melakukan studi tapi nanti mungkin kita
lihat dulu ee apa namanya ee beberapa
contoh di Belanda dan juga di India.
Nah, ee Bapak Ibu ini contohnya ya
mungkin ee kita mulai dari tadi karena
dari regional ya. regional itu misalnya
ee ini ya contohnya adalah ee seperti
ini disebutnya di sini adalah strategik
ya atau kalau di Indonesia mungkin kita
menyebutnya kawasan fungsional ya
seperti tadi daerah aliran sungai ya
atau misalnya ee pengelolaan pesisir ya
dan sebagainya ya. Ini jadi ee ini
contohnya yang ee yang sifatnya tadi ya
regional ya meliputi kawasan fungsional.
Nah, ee kemudian ini yang wilayah kota
ya, yang wilayah kota ini adalah ee
contoh-contohnya seperti apa? Mungkin ee
bisa dibuat ada taman kota ya ini atau
regional park ya. Kemudian juga ada
community forest ya. Ini ini contoh saja
eh open access ya site tapi tentu saja
sudah menggabungkan dengan unsur-unsur
yang ee hijau tadi ya. Nah, kemudian ini
yang wilayah yang lebih kecil lagi.
Mungkin kalau di Indonesia wilayah ee
apa kecamatan misalnya ya, ini juga bisa
dikembangkan berbagai konsep ee green
blue infrastructure ya. Dan ini adalah
berikutnya skala neighborhood ya atau
skala lingkungan ya. Juga mungkin
terdiri atas beberapa ee rumah tangga
begitu ya. Nah, yang akan kita
diskusikan hari ini adalah bagaimana
kita mengintegrasikan semua skala ini
begitu ya di dalam suatu ee perencanaan
agar nanti ee implementasinya dapat
dilakukan ee secara integrasi dan tentu
saja nanti ee diharapkan akan ee
berkelanjutan.
Nah, ee baik Bapak Ibu, kita ee ini ya
ee langsung saja mungkin ke bagian
ketiga tadi di apa di dalam outline ya
diskusi kita hari ini nanti akan ada
tiga bagian ya yang tadi sudah
dijelaskan mengenai konsepnya. konsep ee
infrastruktur hijau biru. Kemudian tadi
ee skala-skalanya ya ternyata juga ee
bisa dibedakan dalam skala regional,
dalam skala kota ya ee dan dalam skala
ee neighborhood ya. Nah, kemudian ee
sekarang kita akan lihat bagaimana kita
ee menyusun ya perencanaan atau
merencanakan ee infrastruktur dari
berbagai skala ini secara terintegrasi
ya. Nah, ee kita akan lihat ee ini
contoh ya, ini salah satu contoh yaitu
eh project room for the River ya di
Belanda. Nah, ini saya sendiri belum
pernah ya melihat ee projek ini secara
langsung. Nah, tetapi ee saya
berkesempatan bertemu dengan ee salah
satu anggota tim ya yang terlibat di
dalam projek ee Room for the River ini
dan ee sedikit ee apa namanya ee
melakukan diskusi ya, bagaimana projek
ini direncanakan ee hingga misalnya pada
level yang tadi kita sebut level
neighborhood.
Nah, ini kalau kita lihat ya, ini adalah
sebenarnya salah satu ee contoh ya,
bagian yang dilakukan di project eh room
for the River di Belanda ya. Jadi
project ini sebetulnya tidak hanya
bagian ini ya, tidak hanya di bagian
yang seperti di gambar ini, tetapi ini
meliputi juga ee sungai yang panjang ya.
Karena kita tidak bisa sebetulnya
merencanakan kalau kita bicara ee sungai
ya itu ee kalau kita melakukan
intervensi di satu titik walaupun ee di
titik yang terlihat kecil tetapi
pengaruhnya itu akan ee apa berada di
seluruh wilayah sungai ya seperti ee
juga di dalam transportasi ya dalam
transportasi itu ee jalan misalnya kalau
kita menutup saja jalan ya walaupun yang
ditutup itu hanya misalnya hanya 5 m,
tetapi implikasinya mungkin akan jauh
sekali ya, menimbulkan kemacetan di
mana-mana ya. Jadi ee itu jadi projek
ini sebenarnya dia ee dimulainya dari
skala makro ya, dari kalau di Indonesia
itu kita sebut daerah aliran sungai.
Jadi di sepanjang sungai ini dilakukan
ee penataan begitu ya. Nah, ee tetapi ee
dalam projek ini ee secara umum ya
penataan atau pada level makro ee di
dalam perencanaan ee sungai ya, sungai
yang dilakukan ini itu ee pada level
makronya semua dilakukan secara ee
teknis ya atau menggunakan pendekatan
teknokratik ya. Bahkan ee di sini juga
diketahui bahwa pada awalnya masyarakat
melakukan penolakan ya terhadap projek
ini karena menganggap ee projek ini
sifatnya top down ya. Ee jadi langsung
dikerjakan saja dengan berbasis
analisis-analisis yang ee sifatnya
saentifik gitu ya. Jadi sudah misalnya
analisis hidrologi, analisis ee ruangan
dan sebagainya tanpa melibatkan atau
porsi partisipasinya sangat kecil ya.
Jadi ee disampaikan bahwa projek ini
awalnya mendapat ee penolakan dari
masyarakat karena ee dianggap ee sangat
bersifat top down. Jadi tidak tidak apa
tidak partisipatif begitu ya. Nah, tapi
dalam kesempatan ee saya bertemu dengan
ee apa namanya ee salah satu anggota tim
ya yang mengerjakan Room for the River
ini ee apa beliau sampaikan bahwa memang
di dalam ee pada level makro pada
perencanaan daerah aliran sungai memang
ee tidak bisa ya terlalu banyak ee
kegiatan partisipatif karena ee apa
namanya ini skalanya sangat luas ya.
Nanti saya bisa kasih contoh juga ya
dalam penelitian yang kami lakukan di
Indonesia ya, bahwa pada level makro,
pada level daerah aliran sungai
keputusan-keputusan mungkin akan ee
sedikit sekali ya aspek ee partisipasi
partisipatifnya ya. Jadi ini diputuskan
saja berdasarkan ee analisis-analisis ee
teknokratik ya. Yang mana yang baiknya
misalnya perhitungan ee curah hujan,
kemudian ee apa namanya ee perhitungan
banjir ya dan sebagainya. Tentu itu
tidak bisa secara ee partisipatif ya.
Nah, jadi ee proyek ini ee seperti itu
ya. Nah, ini ee ini adalah ee salah satu
bagian yang kemudian ee dalam proyek ini
ee dilakukan pendetailan ya. Jadi
disampaikan oleh anggota tim yang saya
berkesempatan ee berdiskusi tersebut.
Jadi setelah dilakukan perencanaan
secara makro pada level daerah aliran
sungai, barulah ee pada detail-detailnya
ya misalnya di kawasan ini dilakukan
perencanaan yang lebih melibatkan
masyarakat ya. Jadi untuk daerah aliran
sungainya atau makronya itu dilakukan di
tahap awal di mana pendekatannya adalah
teknokratik. Nah, kemudian setelah ee
secara makro ini sudah tertangani ya,
itu baru nanti pendetailan pada beberapa
kawasan ini ee dilakukan ee secara
partisipatif. Ini ini contohnya yang apa
namanya ee yang sangat terkenal ya kalau
kita cari bagian dari project eh Room
for the River yaitu di yang disebut
dengan eeah ini eh Needs Megan mungkin
bacanya benar ya begitu ya. di Nitz
Megan ini dikembangkan menjadi suatu
kawasan pariwisata ya ee dan bisa
digunakan oleh masyarakat ya. Nah, ini
ini sebelumnya seperti ini nih di
kawasan ini ya. Jadi tidak ada ee ini
bisa kita lihat kan seperti ada dua
sungai begitu ya. Lalu di sini ada
pulau. Nah, ini ee setelah dilakukan
penataan. Kalau ini adalah sebelum ee
dilakukan penataan ya.
Nah, sekarang kita lihat eh apa sih yang
dilakukan di eh proyek eh Room for the
River ini. Nah, eh sebagaimana kita
ketahui Belanda itu kan ee namanya juga
Netherlands ya. Jadi Netherlands itu
dari namanya bisa kita lihat bahwa ee
tanahnya ya ee itu adalah di bawah air
ya. Nah, jadi ee tentu banyak sekali
kejadian-kejadian
banjir ya. ancaman banjir ini meningkat
apalagi ee dengan adanya perubahan ee
iklim ya. Nah, jadi seperti yang saya
sampaikan ee jadi perencanaannya
dilakukan di pertama-tama adalah di ee
katakanlah di daerah aliran sungainya
ya. Jadi di ee di sungai-sungai ini ya
di ada ee ini sungai ini nyambung
sebetulnya ya dia menyambung mungkin
kalau di kita itu ya daerah aliran
sungai ya jadi ini ada ancaman banjir ee
secara keseluruhan di daerah aliran
sungai ini yang ini diperburuk juga oleh
adanya ee perubahan iklim.
Nah ee sebelumnya mungkin Bapak Ibu
pernah melihat ee di Belanda itu ada
juga projek Delta ya. Jadi di Project
Delta ini kan ee apa ee dibuat
tanggul-tanggul ya ee tanggul-tanggul
air. Jadi dibuat lebih tinggi supaya ee
airnya tidak masuk ke darat ya. Jadi
seperti di benteng begitu ya ee apa
Belanda itu seperti di benteng supaya
akhirnya tidak masuk ke apa namanya ke
daratannya ya. Nah, namun dengan
pendekatan baru yaitu proyek Room for
the River ini ee justru ee apa namanya?
Sungai-sungai ini dilebarkan jadi
memberi ruang ya yang lebih besar lagi
kepada ee sungai-sungai gitu. Jadi tidak
hanya meninggikan ee tanggul ya. Mungkin
kalau project Delta yang meninggikan
tanggul ini lebih eh ke grey
infrastructure ya.
Nah, eh project room for the River ini
mempunyai tujuan ganda yaitu untuk
pengendalian banjir dan juga untuk
meningkatkan kualitas ruang dan ee
ekologinya ya, meliputi ee kualitas
landskap-nya ya dan juga memberikan
ruang-ruang untuk ee rekreasi.
Nah, kemudian ee dalam hal apa mungkin
ee project room for the river ini
terhubung dengan infrastruktur hijau
biru ya, kita dapat lihat di sini. Jadi
ini eh project room for the river ini
menerapkan konsep infrastruktur hijau
biru dan nature base ya solution. Nah,
jadi kita lihat ee yang pertama project
ini memberikan ruang untuk air ya dalam
hal ini adalah sungai. Dengan cara apa?
Dengan cara melebarkan alur, ya. Kemud
kemudian juga ee menurunkan ee flat
float eh plane dan juga membuat ee
kanal-kanal ya, membuat kanal-kanal.
Jadi memberikan ruang yang lebih banyak
untuk air gitu kira-kira ya. Kemudian ee
untuk tanggulnya sendiri di relokasi ee
menjauh ya dari tepi sungai. Nah,
kemudian eh Natur B solution-nya itu ada
di lahan basah ya atau wetland, kemudian
eh ada hutan rivarian dan juga koridor
ekologis. Nah, kemudian dalam projek ini
juga dilakukan integrasi dengan tata
ruang yaitu dalam pengembangan ee
taman-taman ya, kemudian jalur sepeda
dan ruang publik. Nah, manfaat ya dan
dampak yang diharapkan dari projek ini
adalah reduksi muka air saat banjir ya.
Karena ruangnya sudah diperbesar ya,
ruang untuk ee airnya sudah diperbesar.
Jadi mereduksi ee muka air saat banjir
ee dan kapasitas debitnya menjadi lebih
besar ya karena ruangnya diperbesar.
Kemudian juga peningkatan biodiversitas
ya dan kualitas air. Nah, lalu ada juga
cobenefit sosial ya, benefit yang
mungkin ee tidak secara langsung ya dari
projek ini ee yaitu adanya ee
taman-taman rekreasi pariwisata ya dan
juga ee nilai properti akan meningkat
juga ya dengan adanya ee projek ini.
Nah, ee kemudian ee
yang lainnya adalah ee ini diharapkan
tentu dalam jangka panjang ya, kota
sungai ini akan lebih resilien ya
terhadap ee perubahan iklim. Nah, kita
kan sekarang ini sudah tidak jelas lagi
ya ee apa namanya musim hujan itu kapan
ya ee yang apa namanya saat musim hujan
tapi hujan enggak turun-turun gitu ya,
saat musim kemarau tapi hujan juga ada
turun gitu ya. Jadi ee kita mungkin
harus menciptakan kota yang lebih
resilien terhadap iklim. Nah, ini juga
dimaksudkan projek ini adalah ee
meningkatkan
resiliensi kota terhadap perubahan
iklim.
Nah, kemudian ee ini tadi lokasinya dan
contoh projek utama ya. Nah, tetapi tadi
ee seperti yang saya sampaikan
sebenarnya dia ee ini tu di sepanjang
sungai ya. ini tadi ee mungkin agak saya
pribadi agak sulit ini membacanya
seperti apa. Jadi di sungai ini ya, di
sungai-sungai ini ya ee yang tentu
sungai itu kan enggak bisa dipotong
berdasarkan wilayah administrasi. Jadi
dia ee ini ya di sungai-sungai ini ini
ee menyambung sungainya. Tapi ada di
beberapa titik tadi yang dikembangkan
ya. ini yang apa yang sangat terkenal
ya, yang tadi yang saya berikan
contohnya yaitu di ee poin di Nit Megan
Land ini ya. Jadi ini di sini dilakukan
ee relokasi tanggulnya lebih kurang 350
m kemudian dibuat ee kanal tambahan dan
juga dibuat juga ee taman-taman kotanya
ya di sini. Kemudian juga ada di
tempat-tempat lain juga ee dilakukan
misalnya bypass ya ee jadi langsung ee
dipotong gitu harusnya ee dan juga
hal-hal lain ya. Ini yang beberapa
lokasi yang sangat terkenal. Nah, tetapi
di ee secara keseluruhan projek ini
didesain dulu untuk ee penataan ee dalam
lingkup daerah aliran sungai ya. Nah,
nanti baru ee ke detail-detail ke ee
misalnya sebagai contoh di empat wilayah
ini ya.
Nah, ini contohnya. Nah, ee tahapan
pengerjaan. Nah, ini Bapak Ibu bisa
lihat di sini ya. Jadi pada tahap awal
itu mereka melihatnya secara makro dulu
secara ee tadi dalam lingkup daerah
aliran sungai ya. beberapa studi ini
sangat teknokratik ee dilakukan ya
seperti studi hidraulik kemudian ee
skenario debit, analisis risiko dengan
multikriteria ya, pendekatan multi
kriteria. Jadi kalau kita lihat di sini
ee sangat kurang ya tentu partisipasinya
minta pendapat masyarakat belum
dilakukan pada tahapan makro ini. Nah,
kemudian dilakukan ee desain yang
terintegrasi ya antara teknik sipil,
ekologi, ee arkeologi, dan juga tata
ruang ya. Ini juga masih ee apa namanya?
Pendekatannya teknokratik. Nah, kemudian
setelah dilakukan studi-studi yang
sifatnya teknokratik ini baru di ee
tahapan perizinan ya dan lahan karena ee
di sini memang ada ya penggusuran tuh ee
ada di sini ee tapi mungkin bukan
penggusuran maksudnya dipindahkan ya.
Jadi ada pembebasan lahan ee dengan
kompensasi ya. Lalu ada ee relokasi juga
ya karena kan menyediakan ruang tambahan
nih untuk air ya atau untuk sungai. Jadi
pastinya ada relokasi ee dan juga
dilakukan koordinasi ee multievel ya ee
dalam lingkup nasional, provinsi ya.
Kemudian ee ada juga di sana ee di
Belanda itu ada waterboard ya dan juga
ee pada lingkup kota ya.
Nah, kemudian konstruksinya dilakukan ee
secara bertahap ya. ada ee penggalian ee
apa namanya kanal-kanalnya, kemudian
relokasi tanggul, kemudian penataan ya
dan juga ee terakhir baru vegetasinya.
Nah, dan tahap terakhir adalah
monitoring dan adaptasi ya, yaitu
meliputi ee kinerja hidrauliknya dilihat
ee lalu suksesi, ekologi dan pemanfaatan
oleh publik ya. Jadi ee apa tahapannya
adalah seperti ini. Dimulai dari tahapan
yang ee dari segi area atau wilayahnya
dia ee sangat makro dan pendekatannya
bersifat ee teknokratik ya ee sangat ee
saentifik ya. Nah, kemudian setelah
setelah apa namanya? Dilakukan di level
makro tadi baru di
pendetailan-pendetailan di ee
bagian-bagian tertentu. Nah, itu
dilakukan ee partisipasi masyarakat ya
seperti yang di eh Ned Megan eh Land
tadi ya. Itu baru dilakukan ee proses
perencanaan yang partisipatif.
Nah, ee setelah itu baru ee implementasi
skala mikronya ya. ee dilakukan di
neighborhood atau permukiman misalnya
membuat taman tadi ya. Taman itu memang
ee dilakukan partisipatif ya. Jadi apa
yang akan di ini sudah ada nih ee
pulaunya lalu akan dilakukan apa ya.
Jadi di situ ada ee taman rian. taman
ini pada saat tidak hujan ya, dia
berfungsi sebagai taman ya, makanya
disebut ee infrastruktur hijau biru. Ee
tetapi pada saat turun hujan dia
berfungsi untuk menampung air. Nah,
kemudian juga ee koridor ee drainase
alami ya misalnya rain garden. Nah, ini
tentu harus ee partisipatif ya ini
sifatnya. Ee kemudian juga adaptasi
bangunan. Tentu ini juga harus ee karena
di adaptasi bangunan kan dilakukan oleh
individu mungkin ya terhadap rumahnya.
Jadi ini juga ee pada tahap makro
mikronya baru melibatkan masyarakat.
Nah, jadi ee kemudian juga ee di sini
juga ee apa namanya dinyatakan pada
waktu mendesain ee jalur sepeda dan
jalur pejalan kaki ya ee di tepi sungai
atau kanal ini juga ee ini dilakukan
secara ee partisipatif. Jadi setelah
dibuat perencanaan makro yang
detail-detailnya ya di lokasi-lokasi
tertentu baru dilakukan perencanaan
secara mikro. Nah, ee dampak pada warga
seperti apa ya dan lingkungannya ee ee
sudah terjadi pengurangan banjir lokal
ya dan juga kualitas hidup meningkat ya,
nilai properti juga meningkat, kemudian
juga ee ekosistem urbannya menjadi lebih
baik ya, ada penurunan suhu lokal dan
sebagainya. Nah, kemudian ini juga
edukasi ya edukasi terhadap masyarakat
ya
gitu. Nah, ini ee ini mungkin dalam
konteks ee apa Indonesia nih ya ee
neighborhood ya RT dan RW ya atau di
kampung tepi sungai ya. Ini ee ini sudah
pada tahap mikro.
Nah, ee tadi partisipasi dan tata
kelolanya seperti apa? Tadi ee sudah
disampaikan di pada level makro ini
sedikit mungkin ya ee partisipasinya.
Nah, tetapi dari segi tata kelola
dilakukan ee kemitraan atau koordinasi
ee lintas level dari pemerintah pusat ee
provinsi ya, kemudian ee ada
waterboard-nya dan juga pada level kota.
Nah, di sini juga ee pada level makro
karena ada relokasi ini ada skema
kompensasi ya dan juga relokasi
terencana dan juga ee dikomunikasikan
sebetulnya kepada masyarakat mengenai
resiko-resikonya ya. Nah, kemudian dari
segi pendanaan ini ee secara keluruh
keseluruhan adalah kombinasi dari
anggaran nasional ya dan juga ee
proyek-proyek dari daerah.
Nah, ee untuk level mikronya setelah
makronya jadi ini ya, perencanaannya
jadi sudah diimplementasikan
ee yang mikro lebih cenderung kepada
penataan dengan pelibatan masyarakat ini
dilakukan ee konsultasi publik ya.
Sebenarnya konsultasi publik itu sudah
dilakukan juga ya pada tahap makro.
Namun tidak ini sifatnya hanya
menginformasikan akan ada proyek seperti
ini begitu ya. Nah, ee namun pada tahap
ini tuh ee masyarakat juga cenderung
menolak karena menganggap ini sifatnya
top down begitu ya. Nah, tapi di sini
fungsinya ee dilakukan apa? Sosialisasi
ya, konsultasi publik ee dan sebagainya
dan pada akhirnya masyarakat ee dapat
menerima begitu ya. Nah, kemudian ee
pada level mikro ini dilakukan kodesain
ee ruang publik. Jadi masyarakat
terlibat nih di dalam mendesain ee
ruang-ruang publik ya yang merupakan
bagian dari ee proyek besar eh Room for
the River. Nah, contohnya tadi di bagian
yang eh Needs Megan ini ya eh River Park
yang ada di Needs Megan ini dirancang
dengan ee partisipasi masyarakat.
Nah, ini adalah ee perbandingannya
seperti apa ya? Kalau di skala makro ini
dilakukan sistem sungai nasional, tapi
ini dilakukan terintegrasi ya sesuai
dengan judul dari webinar kita. Jadi dia
tidak hanya berhenti di makro tapi
didetailkan di mikronya juga ya. Tapi
perencanaannya diawali dari makro. Jadi
bukan mikro, mikro mikro lalu digabung
jadi makro. bukan seperti itu. Jadi
dimulainya dari yang makro dulu ee lalu
sudah ada konsepnya nanti ini
dikembangkan apa, dikembangkan apa,
dikembangkan apa. Nah, lalu detail pada
masing-masing lokasi itu ee dilakukan
secara partisipatif begitu ya. Nah, jadi
di sini ee tujuannya agak beda. Kalau di
skala makro secara keseluruhan reduksi
resiko banjir besar ya. ee kalau di
skala mikro mungkin ya genangan-genangan
lokal ee kualitas hidup dan ekologi.
Nah, ee jenis intervensinya yang
dilakukan di sini ya karena dia skala ee
apa namanya? Makro dilakukan bypass
misalnya relokasi tanggul ya dan
sebagainya. Sedangkan di sini ee lebih
ke intervensnya di skala mikro lebih
kepada ee codesain ya. Jadi ee ataupun
misalnya pembuatan-pembuatan
rain garden yang rain garden ini
biasanya dilakukan di individu ya di
individu bangunan.
Nah, yang ini ee contohnya ya, contoh ee
yang dilakukan di skala mikro seperti
ini ya. Nah, kemudian yang di yang makro
maksudnya yang di skala mikronya
misalnya dalam pengembangan ee
taman-taman ya, taman-taman banjir
lokal, jalur sepeda dan sebagainya. Nah,
ini yang aktor yang terlibat juga kita
lihat di sini agak berbeda ya. Kalau
skala makro ini mungkin kalau masyarakat
ini komunitas lokal ini hanya
diinformasikan akan ada proyek seperti
ini begitu ya. Jadi tidak terlalu
banyak, tapi di sini yang berperan itu
adalah dari ee apa? Dari level nasional,
kemudian provinsi ya, waterboard-nya dan
juga dari kota. Nah, sedangkan di skala
mikro ini ee dimulai dari pemerintah
kota, komunitas lokal, dan juga ee LSM.
Nah, manfaatnya tentu ini tidak bisa
dipisahkan ya. Artinya kalau yang skala
makronya
sukses ya ee diikuti oleh mikro yang
sukses ini baru projeknya dapat
dikatakan sukses. Jadi kesuksesannya ee
sangat tergantung satu sama lainnya
walaupun dimulai dari yang makro dulu
ya. Jadi ee yang skala makro ini
manfaatnya untuk keamanan nasional
kemudian perlindungan infrastruktur
vital. Nah, sedangkan di mikro ini lebih
ke ee biodiversitas ya, rekreasi,
edukasi warga, dan juga ee peningkatan
nilai properti.
Nah, jadi ee itu ya contohnya. Mungkin
kita balik ke gambarnya tadi. Jadi di
sini ya ini salah satu bagian saja
sebetulnya yang apa namanya yang taman
ini tadi ya. ee salah satu bagian taman
yang ditata gitu ya. Ee ini yang level
mikronya yang melibatkan partisipasi
masyarakat. Tapi sebelumnya untuk
seluruh sungai ini ini dilakukan ee
perencanaan dan penataan ee secara makro
dulu ya baru nanti pendetailannya di
sini. Nah, kita lihat di sini ya di di
area ini ee sebelumnya ini hanya ada
satu sungai ya. Nah, tetapi dengan
konsep room for the river kita menambah
ee maksudnya project ini menambah lagi
nih ee ruang-ruang untuk sungai ya. Jadi
di sini kelihatan ada tambahannya.
Nah, ini dan di sini ada ee apa? Ada
taman ya. Ada taman-taman dan tentu saja
ini mungkin harus dibangun ee jembatan
baru di sini. Nah, kalau kita lihat
tentu ini ya ini bagian sebelumnya
begitu. ee sebelum ada penataan. Nah,
kalau kita lihat memang mungkin ada yang
harus direlokasi ya dari wilayah yang
sebelah yang di sebelah sini begitu.
Nah, jadi ee ini yang sudah jadinya
adalah seperti ini.
Nah, ee kemudian contoh kedua. Nah,
kalau contoh kedua ini saya pernah ya
mengunjungi atau melihat ee secara
langsung ee ini banyak sekali nanti
kalau kalau dilihat ya ee di Ahmed Abad
ini nanti ee apa kita lihat apa sungai
yang ditata sangat baik gitu ya di
dokumen-dokumentasi perencanaannya ya.
ini eh yang disebut dengan Sabar Mati
River Front eh project ya di Ahmad eh
Ahmed Abad ya. Jadi ini dalam konteks ee
infrastruktur hijau biru.
Nah, jadi ee ini ya mereka itu punya
badan tersendiri untuk yang sabar mati
projek ini begitu ya. Mereka punya ee
ini sendiri. Kemudian ee tujuannya
adalah untuk proteksi banjir ya.
Kemudian juga untuk urban renewual ya.
Nah, ee kemudian ee juga tentu ada
beberapa manfaat ya atau tujuan misalnya
untuk ee pengendali banjir, kemudian
tentu untuk beautification ya dan juga
untuk eh real estate development.
Nah, ini adalah yang dilakukan yang di
apa namanya ee projek-projek yang
dilakukan di Sabar Mati. River Sabar
Mati ini adalah sungainya ya. Nah, jadi
ee sebelumnya
ee sungai ini adalah tempat pembuangan
sampah ya dan juga waste water. Jadi
semuanya dibuang di sungai ini. Jadi ee
tidak menariklah ya pencemarannya tinggi
dan sebagainya. Nah, kemudian dilakukan
penataan. Nah, di sini juga ada ee
relokasi ya tentunya dilakukan penataan
ya. Kemudian juga ee penataan alur
sungai ya yang diperlukan seperti apa
dan ini kalau kita lihat di sini dia ee
apa namanya? Aspek engineering-nya
sangat besar ya ee di projek sabar mati
ini ya. Jadi ee karena memang dia
skalanya besar ee di seluruh ee wilayah
sungai. Jadi kalau terlalu partisipatif
ya itu agak sulit. Jadi memang di tahap
awal dia ee sangat ee rekayasanya sangat
kental ya di Sabar Mati Project ini.
Bahkan hingga saat ini mungkin ee
partisipasinya masih sangat kurang ya
kalau dibandingkan dengan ee yang di
room for the river tadi karena memang
ini belum sepenuhnya selesai ya. bisa
bermati project ini.
Nah, ee apa yang dilakukan di sini ya?
Jadi ee apa yang di sini
mengkombinasikan antara green aspeknya
ee lalu blue-nya di mana? Ya, di sini
ya. Penataan sungainya, penataan sungai
ee sabar mati ini ya. Jadi ee di sini
dilakukan ee greennya itu di mananya?
Jadi dilakukan juga pengembangan
taman-taman ya. Kemudian landscaping,
penanaman tanaman, kemudian juga eh
urban green space ditingkatkan. Eh lalu
juga ada beberapa bagian itu yang
digunakan sebagai public space ya untuk
market ya, market kemudian rekreasi,
festival dan sebagainya. Nah, ini juga
ee meningkatkan estetika dan ee nantinya
mungkin ya makro climate karena Ahmed
Abad ini katanya ee hanya ada dua musim
di sini ya, yaitu panas atau sangat
panas ya. Jadi waktu saya ke sana itu
suhu mencapai ee 40 derajat Celcius.
Jadi ini merupakan isu di sana ya. Jadi
penataan ee Sungai Sabar Mati ini juga
ditujukan untuk ee makroklimate ya untuk
menurunkan suhu juga ya. Tapi saya kira
mungkin belum belum karena belum
projectnya belum selesai.
Nah, ini mungkin perbandingannya ya
antara eh sabar mati River Front di
India di Ahmed Abad dan Room for the
River di Netherland. Ya, tentu ini ee
beda masalah, beda intervensi. Ya, beda
masalah, beda intervensi. Karena kalau
di Belanda itu adalah banjir ya. Ee
masalah utamanya adalah banjir karena ee
Belanda ada di ee apa namanya? di bawah
air ya sesuai dengan namanya kan
Netherland. Nah, kalau di ee apa ee
Sabar Mati River ini permasalahannya
banjir juga iya ya? banjir juga iya,
tapi dia pada saat ee kering gitu itu
surut ee apa namanya apa ee kelihatan
ininya dasarnya ya. Jadi ee dan yang
persoalan utamanya itu adalah ee suhunya
sangat panas di sana ya. Jadi ee mungkin
beda masalah, beda juga pendekatan ya.
Ee tetapi project ini memberikan contoh
bahwa ee dimulainya dari yang makronya
dulu gitu ya, baru ke mikronya ya.
Nah, jadi ee di sini misalnya kita lihat
ee integrasinya ya memang di sini
mungkin belum terlalu kelihatan nih yang
aspek ee ekologi dan partisipatifnya ya
yang disabar mati karena mereka masih
dalam tahap yang makronya ya yang ee
penataan yang rekayasanya ya. Nah,
sedangkan Room for the River ini sudah
mulai ke apa ee tahapan partisipasi ya.
Nah, ini dimensi sosialnya ya semuanya
ee pasti akan ada apa ee relokasi ya di
mana-mana sebetulnya kalau kita akan
melakukan perbaikan. Nah, tapi di
sebenarnya relokasi juga waktu itu juga
ee pada tah makro ya yang di room for
the river ini. Jadi ee tidak ditanya
satu-satu ya misalnya bagaimana
pendapatnya tentu akan sangat sulit
kalau membuat perencanaan dalam level
makro. misalnya kita ee meminta apa
partisipasi dari semua masyarakat ya
itu.
Nah ee ini mungkin kalau kita lihat ya
ini gambarnya tapi di beberapa bagian di
Sabar Mati River Front ini sudah jadi
ya. Saya ada fotonya cuma e tidak
sebagus ini gitu ya karena pada saat
musim apa sungainya ini enggak penuh
seperti ini ya. Ee jadi kurang bagus.
Nah, mungkin kita lihat di sini ya nanti
ini memang perencanaannya tapi di
beberapa bagian ini sudah terjadi ya.
Jadi saya apa namanya kagum juga
maksudnya di India pun sudah bisa
membuat yang seperti ini ya ee
mengimplementasikan
ee apa ee konsep-konsep ini ya. Dan ini
juga keterlibatan dari perguruan tinggi
sangat besar ya. kebetulan ee kami
mempunyai kolega juga di apa ee
universitas di sini ya yang mereka juga
terlibat ya di dalam pengembangan ee
sabar mati ee river river front ya. Jadi
kalau apa namanya ee atau istilahnya nih
mungkin kota tepian sungai karena
sungainya ini besar ya besar ee membagi
wilayahnya apa di sana ya kemudian
dilakukan penataan. Jadi di beberapa
bagian sebetulnya sudah sudah terjadi
nih di sini ya ee bentuk-bentuk seperti
ini. Jadi pada malam hari itu karena
kalau mungkin kalau siang hari ee panas
jadi ee baru kelihatan ramai itu pada
malam hari ya orang-orang keluar begitu
menikmati sungai gitu ya ee dengan apa
beberapa pepohonan.
Nah, ini kalau kita lihat bagaimana
konsepnya ya ee ini seperti ini ya. Jadi
ee ini kan tadi kita lihat dia
bertingkat ini kan bertingkat nih
seperti ini ya bertingkat. Jadi
konsepnya kalau ini meluap dia akan ee
tidak langsung. Jadi ini berperan juga
sebagai tanggul sebetulnya ya yang ini
bagian yang ini. Nah tapi dibuatnya
kalau kita lihat ini kan mungkin lebih
kelihatan ya. Ini di ini sungainya di
sini ya. Nah, kemudian ee di sini juga
dibuat sebetulnya ee apa namanya? Tempat
berjalan kaki ya. Berjalan kaki, sepeda
dan sebagainya. Lalu di sini ee juga ada
nih penataan ya. Nah, bisa kita lihat di
sini kan integrasi antara ee hij birunya
ini birunya dan ini adalah ee hijaunya
itu ya. Jadi, nah ini pun sebenarnya
kalau kalau misalnya airnya ini meluap
mungkin dia enggak sampai ke sini dulu,
ya. Jadi, ee seperti ada tambulnya
begitu ya.
Nah, ini contoh yang sabar mati. Nah, ee
nah ini kita sudah sampai di kesimpulan
ini Mbak Dini. Ee jadi apa ee tapi di di
bawah kesimpulannya nanti saya ada
contoh ya di Indonesia. Jadi ee
pengembangan infrastruktur hijau biru
ini memang harus kalau kita memang mau
menghasilkan ya yang karena kalau biru
kalau hijau saja mungkin bisa ee apa
secara sporadis ya mungkin pokoknya ya
kita mulai aja dulu di mana begitu ya.
Nah, tetapi kalau kita ingin kalau hijau
biru karena hijaunya ini menyangkut
badan air ya ee seperti sungai ee
sebaiknya kita melakukan perencanaan
secara terintegrasi dan dimulai dari
makro dulu begitu ya. Nah, untuk ee
perencanaan pada level makro ini memang
ee banyaknya pendekatan yang digunakan
itu adalah pendekatan ee teknokratis
yang ee mungkin partisipati
partisipasinya itu sangat kurang ya.
mungkin hanya memberikan ee informasi
atau konsultasi publik gitu ya kepada
masyarakat begitu hanya ini kita akan
ada projek ini gambaran besarnya seperti
apa gitu ya. Jadi tidak tidak
ee apa sifatnya tuh tidak meminta
pendapat masyarakat ya ataupun ee apa ee
desain-desain dari masyarakat ya. Jadi
itu di tahap makronya. Nah, namun tahap
makro ini memang harus diikuti dengan ee
mikronya ya, karena pada beberapa bagian
ya mungkin itu ee justru dalam
pengembangan yang hijaunya ini akan
harusnya didukung dari level mikronya
begitu ya. Ee termasuk juga ee oleh
masyarakat misalnya ya. mereka juga
misalnya menerapkan atau menampung air
hujan atau misalnya tidak membuang air
ke sungai tentu kita pasti memerlukan
dukungan dari masyarakat ya pada level
ee mikronya ya. Nah, ini pada level
mikro ini bisa dilakukan secara ee
partisipatif ya. Nah, ini yang ee tadi
pertanyaannya ya, apakah ada di
Indonesia gitu sudah ada belum gitu ya.
Nah, ee apa mungkin sudah ada beberapa
potongan-potongan begitu ya. Nah, ini
kebetulan kami ee melakukan penelitian
ya dan ee beberapa bagian ini ditulis ee
sebagai tugas akhir begitu ya oleh
mahasiswa. Jadi ee ini apa kami mencoba
ini melakukan simulasi ya ee apakah
pendekatan partisipatif itu bisa
dilakukan ee pada level makro begitu ya.
Nah, jadi kami di awalnya ini mengambil
kasus daerah aliran Sungai Cisanggarung
ya. ini mungkin dari sini dari Kuningan
mulainya terus ke sini ya ee apa dan dia
berakhir di di sini ya ee berakhir di ee
Laut Jawa ya ini ee sungai Cisanggarung
itu.
Nah, dan melintas ee beberapa
ini ee
kabupaten ya, dua kalau Cisanggarung ini
Kuningan dan Kabupaten Cirebon. dan
sedikit bagian di Kabupaten Berebes ini
sedikit sekali di ujungnya ini dengan
Kabupaten Brebes. Nah, ee ini juga kami
ee apa melakukan wawancara ya dengan
pemerintah kota juga ee pemerintah
kabupaten maksudnya ee juga dengan ee
apa dengan BBWS ya ee Cimanduk
Cisanggarung ee apa menanyakan bagaimana
prosesnya gitu ya. Mungkin di sini ada
Bapak Ibu peserta juga ya. ee mungkin
waktu itu kami juga melakukan FGD gitu
dengan Kabupaten Kuningan, Kabupaten
Cirebon yang dilaksanakan di ITB kampus
Cirebon ya. Nah, jadi ee ini apa ee
sudah melakukan wawancara memang sudah
ada sebetulnya mekanisme koordinasi ya
di ee yang dilakukan di Indonesia ya.
Karena kalau sungai tadi seperti yang
saya sampaikan ee ada ini kan lintas
kabupaten misalnya ya, jadi ini ada dari
ee pemerintah pusat juga ya dari BBWS
ini sangat berperan juga ini melakukan
koordinasi ee pengelolaan ee wilayah
sungai. Nah, di sini kami mencoba ee
pertama-tama melakukan pendekatan secara
teknokratik ya. Jadi dengan menggunakan
ee kriteria-kriteria ya untuk menentukan
di mana lokasi ee infrastruktur hijau
biru yang tepat ya. Jadi sungainya
sebenarnya sudah ada tapi ee kita ingin
mengintegrasikan dengan ee infrastruktur
hijau biru gitu ya supaya karena ini di
beberapa bagian ini terjadi banjir ee
pada saat musim hujan. Nah, kami ee apa
namanya? ee membuat kriteria kemudian ee
melakukan analisis ya ee untuk
menentukan lokasi-lokasinya
untuk ee kalau di peta ini sebagai
contoh adalah lahan basah ya atau
wetland itu ada di mana saja gitu ya.
Nah, dari hasil ee simulasi kami dengan
menggunakan perhitungan dengan pemodelan
ee mendapatkan ya akhirnya di
lokasi-lokasi ini mungkin tidak terlalu
jelas begitu ya Bapak Ibu lokasinya,
tapi ada nih ee beberapa lokasi yang
dihasilkan dari ee analisis ee GIS ya
dengan menggunakan berbagai kriteria
analisis overlay. Nah, jadi kalau dari
analisis overlay itu ee sudah ditentukan
lokasi lokasinya ya berdasarkan
pendekatan teknokratis. Nah, kemudian
kami ee ini hanya mensimulasikan saja
sebagaimana ee seberapa efektif jika
dilakukan ee proses perencanaan
partisipatif begitu ya di dalam ee
perencanaan ee infrastruktur hijau biru.
Nah, ee tidak apa namanya ee ini
sebenarnya tidak bermaksud ee menyatakan
bahwa proses partisipatif itu ee tidak
baik, tetapi mungkin kalau dilakukan
pada skala makro itu agak susah begitu
ya. karena kami ee mengabaikan ini dulu
nih ee apa lokasi yang kami dapatkan
dari ee pemodelan kami. Kemudian kami
meminta pendapat nih dari peserta ee apa
namanya ee FGD begitu ya. kira-kira di
mana nih lokasi yang tepat begitu ya. Ee
misalnya ingin dikombinasikan dengan
pengendalian banjir. Nah, tentu akan
sangat sulit begitu ee jika hanya
meminta pendapat ya walaupun kita sudah
oke kita sepakati ee jenis
infrastrukturnya ini dan kita letakkan
di daerah yang rawan banjir begitu. Nah,
itu juga sulit ee menentukannya di mana
begitu ya dan juga sulit untuk ee apa ee
mencapai kesepakatan karena beda-beda
ya. Ee jadi itu kesulitan yang kita
hadapi kalau kita melakukan perencanaan
secara makro tapi kita ingin
pendekatannya partisipatif begitu. Nah,
ee akhirnya kita munculkan yang ini ya
yang memang ada beberapa bagian yang
mendekati. Oh ya, memang lokasinya ee
mendekati di sana, tapi ada juga yang
berbeda begitu. Nah, jadi ee ee tetapi
jika lokasi ini misalnya kita zoom ya,
kita zoom out, nah mungkin ee itu adalah
titik-titik yang sudah ditentukan itu
mungkin bisa kita detailkan
perencanaannya ya. Kita detailkan lagi
perencanaannya, kemudian ee bagaimana
desainnya. Nah, itu mungkin bisa
melibatkan masyarakat ya. misalnya
apakah ini akan dikembangkan untuk
pariwisata? Nah, itu ee saya yakin
mungkin apa dengan proses partisipasi
akan sangat baik ya.
Nah, di wilayah sini ee ini tuh juga ada
Waduk Dharma ya. Mungkin Bapak Ibu
pernah mendengar atau bahkan mungkin
pernah ke sana ya, itu juga sudah
berkembang ee pariwisata dan masyarakat
juga terlibat ya di dalam ee apa namanya
pengembangan ee kawasan pariwisata
begitu di sana. Nah, mungkin bentuknya
modelnya seperti itu. Jadi ee setelah
kita tentukan lokasi-lokasinya ya,
beberapa lokasi sebetulnya bisa kita
kembangkan karena ee merupakan tahap
awal dari infrastruktur hijau biru
begitu ya. Nah, kemudian ee setelah ada
lokasi mungkin nanti desain dan
sebagainya itu bisa kita lakukan secara
partisipatif. misalnya ini mau diapakan,
mau dibuat apa ee taman rekreasi atau
misalnya ee tempat pejalan kaki misalnya
ya, itu bisa ee kita lakukan secara
partisipatif ya. Saya pernah membaca ee
di saya lupa membaca di mana ya, tapi
ada satu desa di Indonesia di Jawa ya,
di Jawa. Jadi mengembangkan ee
pariwisata dengan apa namanya? arung
jeram tapi pakai ban gitu ya, pakai ban
ininya ya. Itu juga memberikan
pendapatan kepada desa yang cukup besar
begitu ya dengan menggabungkan jugalah
dengan konsep-konsep hijau dan
sebagainya tapi ini dilakukan oleh
komunitas ya. Nah, kalau secara mikro
seperti itu setelah didesain ee apa
namanya secara keseluruhan itu akan
sangat baik begitu ya. Nah, di desa ini
tadinya ee apa sungai itu dianggap
inilah musuh ya dan juga kotor. Tapi
dengan ee bersama-sama dikembangkan ee
apa sebagai tempat wisata dan masyarakat
merasakan adanya keuntungan ya dengan
pengembangan pariwisata ini karena
sungainya juga bersih jadi bisa untuk
arung jeram begitu ya. Ee jadi ee apa
terpelihara begitu. Nah, tapi
persoalannya kalau ini dilakukan pada
level desa ya, sedangkan sungai itu kan
dia tidak pasti di hulunya sudah
melewati desa yang lain, nanti yang ini
akan ke hilir begitu ya. Kalau tidak
dilakukan secara terintegrasi ya mungkin
dia hanya pas di desa itu saja yang
kualitas airnya baik ya tapi ee akan
repot gitu motongnya gitu ya karena di
hulunya tidak tidak direncanakan ya.
Nah, ini mungkin ee Bapak Ibu yang ee
apa namanya? Mungkin masih banyak hal
yang perlu kita diskusikan lagi ya,
bagaimana kita mengimplementasikan ini
di Indonesia ya. Tapi tadi sudah ada
beberapa contoh di luar tapi tentu ee
tidak
mengambil contoh di luar itu adalah ya
untuk ini saja ya. Karena mungkin di
Indonesia yang secara terintegrasi itu
yang skala besarnya mungkin sudah ada ya
beberapa
ee dinding-dinding penahan ya terutama
di pantai utara Jawa mungkin itu menjadi
contoh juga. Nah, nanti mungkin
pendetailannya itu bisa dilakukan secara
ee mikro begitu ya. Dan mungkin ee
pesannya juga adalah bahwa ee
perencanaannya mestinya disesuaikan
dengan permasalahan yang dihadapi. Tadi
kita akan lihat ya kalau Belanda itu
permasalahan utamanya adalah banjir dari
laut ee air masuk dari laut ya sehingga
sangat terpengaruh oleh perubahan iklim.
Nah, tapi kalau di India selain banjir
itu adalah juga suhu gitu ya. Jadi ee
menghasilkan konsep yang berbeda.
Nah, mungkin ee itu Bapak Ibu sebagai ee
bahan diskusi kita ya. Ini ada beberapa
referensi tapi yang tadi projek-projek
tadi itu banyak sekali bisa dilihat ya
di website-nya ya. Nah, kita akhiri
mungkin sesi pemaparannya ya,
dilanjutkan dengan diskusi. Terima kasih
banyak atas perhatiannya.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih banyak kepada
Prof. Sri atas pemaparan materi yang
sangat informatif dan membuka wawasan
kita semua. Bapak, Ibu peserta kita juga
sudah mendengarkan penjelasan yang
komprehensif dimulai dari konsep
infrastruktur hijau biru, kemudian ada
best practice infrastruktur biru hijau
di Belanda dan juga Sabar Mati River
Front hingga juga perencanaan
infrastruktur hijau biru di daerah
aliran sungai Cisanggarung. Baik, untuk
itu kita akan lanjutkan pada sesi
diskusi yaitu yang pertama ee di sini
ada pertanyaan dari aplikasi SL Slido
terlebih dahulu.
Baik, Prof. Sri di sini sudah ada
delapan pertanyaan dari aplikasi SLU.
Mungkin untuk Prof. Sri menjawab satu
satu persatu dari pertanyaannya.
Iya. Baik. Ee terima kasih ini atas apa
ee pertanyaannya dan juga mungkin nanti
ee berbagai komentar ya. Ee nah yang
pertama apakah infrastruktur yang
terintegrasi akan membentuk suatu
ekosistem sehingga memiliki daya dukung
dan daya tampung bagi habitat fauna?
Nah, iya ini ee justru ini ya yang kita
harapkan. Jadi kita mungkin kalau hanya
sepotong-sepotong kita mulai dari yang
kecil-kecil ya karena kan begitu ya.
Ada yang bilang kita mulainya kalau
merencanakan tuh dari ee seperti puzzle
gitu nanti ee kecil-kecil nanti
membentuk yang besar atau gimana. Nah,
ee kalau dalam infrastruktur mungkin
dari yang makronya dulu ya. Jadi bukan
seperti menyusun puzzle ya. Kalau ya
kalau puzzelnya jadi membentuk sesuatu
gitu ya. Tapi kalau tidak membentuk
sesuatu nah ini yang kita khawatirkan.
Nah, justru dengan yang kita mulai dari
yang makro lalu terintegrasi yang
diharapkan adalah ee ini memang ya akan
membentuk suatu atau memberikan
ekosistem services yang lebih baik dan
berkelanjutan sebetulnya ya ee kata-kata
berkelanjutannya itu. Jadi ee tentu saja
jika memang didesain ya ini tergantung
desain kita. Kalau kita mendesainnya
untuk habitat fauna ee ini juga bisa ya.
Nah, sebetulnya ada satu contoh yang
mungkin tidak saya ee sampaikan di sini,
tapi saya sebutkan saja ada mungkin
nanti bisa dicari juga yaitu di Sydney
ya. Nah, di Sydney itu juga ee apa
namanya? Ditata seperti ini, tapi dia di
pinggir laut. Di pinggir di pinggir
laut. Jadi ee menerapkan juga ee konsep
ini ya. Jadi ee untuk hewan-hewan juga
ya umumnya kan kalau ada ee apa namanya?
hijau-hijaunya itu ada hewan, ada
hewan-hewannya juga ya. Nah, ini yang
saya ingat ee di Sydney ini ada ya di
Australia. Jadi dia memang ee ada bagian
ya bagian yang ee juga melengkapi dengan
tanaman-tanaman langkah ya. Jadi kayak
kayak museum gitu, museum tanaman dan
juga hewan ya. Nah, jadi ini tergantung
gimana kita mendesainnya saja ya. Kalau
kita ingin mendesain untuk habitat fauna
tentu harus direncanakan saya ya
walaupun mungkin bisa saja kalau banyak
pohon nanti ee faunanya akan datang ya
burung-burungnya. Tapi kalau ee mestinya
kita rencanakan, memang kita rencanakan
dari awal untuk misalnya ee meningkatkan
ee atau memperbaiki habitat untuk fauna
ya seperti itu.
Nah, kemudian ee tantangan ya yang telah
terbangun seperti Kota Bandung. Nah, ini
memang ee apa secara umum sebetulnya ya
dalam perencanaan ya. Kalau sudah
terbangun itu sulit gitu, tidak seperti
membangun kota baru ya. membangun IKN
misalnya ya. Kalau IKN sudah belum ada
apa-apa itu malah lebih gampang. Nah, ee
tetapi ee seperti contoh contoh-contoh
tadi ya yang saya sampaikan itu
sebenarnya sudah terbangun ee sudah
terbangun semuanya. Apalagi yang di yang
sabar mati itu kan sama saja sebetulnya
ee Ahmed Abad itu juga kota pusat
kotanya itu ya mungkin seperti Bandung.
Dia kan metropolitan gitu ya,
metropolitan. Jadi seperti Bandung juga.
Jadi adat juga. Nah, tetapi ya memang ee
ee apa namanya? Tapi semuanya sudah
mengarah ke sana gitu. Jadi semuanya
sudah kompak akan melakukan itu dan
akhirnya ee bisa begitu ya bisa
dilakukan. Saya sebenarnya tidak
menyangka juga ya di India ya saya kira
ee apa kita lebih ini gitu mungkin ya.
Nah, tetapi di India sudah terjadi
begitu ya walaupun baru kanalnya saja
yang atau sungainya sungai Sabar Mati
ini yang ditata. Jadi ee memang mungkin
ee tantangannya ya ee pasti akan terjadi
relokasi begitu ya. Yang di Belanda pun
kan demikian saya sampaikan terjadi
relokasi dan sebagainya karena ee untuk
yang di Belanda misalnya dia memperlebar
sungai kan room for the river gitu. Jadi
pasti ada penduduk yang dielokasi. Nah,
tapi ya apa ini tentu dengan apa kerja
sama semua pihak sebetulnya ya. dan juga
dukungan dari berbagai level ya. Tadi
kalau kita lihat yang di yang di
Belanda itu kan dari level nasional kan
aktor yang terlibat sampai LSM
lingkungan juga yang sabar mati ini
mereka membentuk badan khusus gitu ya
untuk ee penataan Sabar Mati River
begitu. Jadi ee itu mungkin yang ee
sudah pasti akan banyak tantangan
terutama dari relokasi ya ee selain
dananya pasti dana juga diperlukan apa
pendanaan gitu. Nah, mengatasinya
gimana? Ya, mengatasinya tadi kalau ini
perlu memang ee koordinasi dan ee
dukungan ya dari semua pihak ya. mungkin
secara sederhananya begitu. Ee karena
saya melihat
ee ada beber di beberapa tempat yang
kita tidak menyangka oh sudah ada gitu
ya ini. Nah, ternyata bisa begitu ya ee
dilaksanakan di tempat yang sudah
terbangun, yang sudah padat gitu ya,
yang kondisi sungainya sudah sangat
parah ternyata bisa dilakukan.
Nah, ee kemudian berikutnya ee kalau di
daerah bekas tambang batuara. Nah, ini
mungkin bisa ya mungkin bisa dilakukan,
tapi yang saya sampaikan tadi ee masalah
berbeda, kondisi berbeda, tentu
desainnya berbeda. Jadi kita juga enggak
bisa juga ya langsung oh kayak yang di
Belanda itu sukses. Lalu kita tiru di
Indonesia. tentu kita ada beberapa
penyesuaian ya yang perlu dilakukan.
Nah, kalau tambang batubara ini ee apa
biasanya ya ini ada beberapa rekan jug
rekan kami juga ya di SPPK itu yang ee
sudah melakukan penelitian ya. Namun
biasanya itu adalah lebih ke greennya
ya. Sedangkan ee apa lekukan-lekukan
cekungan bekas penambangan ini ya
biasanya ee diisi air juga sih terisi
air begitu ya sehingga nanti bisa
dimanfaatkan ya. Ee tentu ini harus
diteliti juga nih kandungan masih ada
kandungan-kandungan dari batu bara atau
tidak gitu ya. ee tetapi airnya ini di
Kalimantan kan yang banyak ya di sekitar
IKN ee itu ee bisa dimanfaatkan atau
hanya untuk ini saja ya. Paling tidak
kan kalau ada ee apa namanya? Kolam air
mungkin dia bisa menurunkan suhu gitu
ya. Kan kalau di Kalimantan juga agak
panas ya sebetulnya. Jadi kalau ada
kolam-kolam itu mungkin bisa menurunkan
ee suhu. Kemudian sebenarnya bisa juga
ee apa ee diberikan tanaman-tanaman yang
cocok mungkin ya untuk dikembangkan ya.
Jadi sebenarnya bisa juga begitu
ee dilakukan ya. Namun memang mungkin
butuh penelitian walaupun ada beberapa
rekan kami di SPPK itu yang sudah
mengeksplorasi bagaimana nih lahan ee
bekas tambang ini kalau kita kembangkan
menjadi daerah yang lebih hijau gitu ya.
Ee dengan juga ee air-air ya kolam-kolam
air biasanya seperti itu.
Nah ee bagaimana meyakinkan ya? Nah, eh
mungkin kita saya tidak mengeksplorasi
terlebih eh apa lebih jauh ya di dua
projek Sabar Mati dan ee apa room for
the river ini ya. Ee bagaimana kita
meyakinkan stakeholder gitu ya. Tapi
biasanya ee terkait biaya ini mereka
akan mengundang ee investor investor
swasta ya karena mungkin tidak bisa
tercukupi dengan dana pemerintah. Jadi
mereka akan mengundang ini saya saya
terus terang belum belum mengeksplorasi
ini ya ee apa atau bertanya gitu seperti
apa pendanaannya. Tapi ee kalau saya
lihat yang di Sabar Mati ini ada
lahan-lahan yang sudah ditata ini
diberikan ke seperti apa ya, real estate
gitu ya, real estate. Nah, jadi sumber
pendanaannya nanti mereka juga
berkontribusi. Jadi ada bagian yang
merupakan ee pihak swasta. Jadi tidak
semuanya di ee menggunakan misalnya
katakanlah APBD gitu ya yang sabar mati
ini walaupun mereka ada badan khusus
yang mengelola pengelolaan ee Sungai
Sabar Mati ini, tapi mereka juga
mengundang
investor swasta ya antara lain dalam
pengembangan ee real estate gitu. Jadi
sudah ada juga mall-mall misalnya yang
dibangun di ee di area sana di area
River Front itu.
Nah, ee seberapa besar project room for
the River bisa mengendalikan debit
banjir? Jadi ini ee ini juga mungkin
saya tidak terlalu mengecek ya bagaimana
bisa mengendalikan debit banjir tapi ee
apa diharapkan dengan menambah ruang ya
untuk aliran sungai itu dia bisa ee
menambah lagi ya menambah lagi ruang
untuk mengendalikan debit banjir begitu.
Cuma memang perlu kita cek ya ee dia
seberapa seberapa efektif gitu dalam
mengendalikan debit banjir. Tapi kalau
kita lihat dia memang sepanjang sungai
itu di ini lagi dilebarkan lagi ya. Ee
kalau sebelumnya dalam projek Delta itu
lebih ke membangun tanggul gitu,
melindungi kotanya dari air yang masuk
gitu ya, dari laut. Nah, kalau ini dia
memperlebar sungainya. Jadi kalau ada
air masuk kan kalau Belanda problemnya
itu adalah air dari laut ya yang masuk
itu masuk ke sungai. Nah, sungainya ini
dilebarkan gitu. Jadi biar biar aja dia
masuk gitu. Tapi tetap sih sebetulnya
dikombinasikan dengan tanggul ya. Tetap
ada tanggulnya begitu.
Nah, ee itu ee yang pertama ini saya
mungkin harus kita cek mungkin
bersama-sama bagaimana ininya, tapi
paling tidak dengan memperlebar ruang
untuk sungai ee itu dapat mengurangi
debit banjir.
Nah, juga budgetnya bagaimana ya? Ee
biasanya ini sekarang ee projek-projek
ini sudah menggunakan tidak hanya dana
dari pemerintah ya ee tapi biasanya akan
mengundang ee pihak swasta begitu masuk
ee di dalam ee proyek-proyek ini. Nah,
kalau ini kan saya belum pernah soalnya
ke mengunjungi projek ini. Tapi yang
sabar mati tadi seperti itu ya. Jadi apa
tempat wisata ya, wisata itu dikelola
oleh swasta. kemudian juga ee real
estate ya ee kemudian mall-mall ya itu
juga termasuk kontribusi dari swasta
yang diundang untuk ee juga
berpartisipasi dalam projek ini.
Ee masukan untuk tata kelola
infrastruktur hijau biru pada setiap
level ya. Institusi apa saja yang
seharusnya berperan besar dalam
pengelolaan pada tiap level. Nah, tadi
kalau pada level makro ya, kalau kita
bicara daerah aliran sungai sebetulnya
ee setelah kami ee melakukan FGD itu
sebenarnya sudah ada ee institusi tata
kelolanya ya. Jadi sudah ada misalnya ee
apa namanya? BBWS ya. Kemudian ee itu
sebagai perwakilan pemerintah pusat ya.
Kemudian juga sudah ada pemerintah
ee provinsi ya. Kemudian ada juga ee
pemerintah kota dan kabupaten. Nah, itu
ee sudah ada forum ee koordinasinya ya
ee dalam pengelolaan infrastruktur hijau
biru. Nah, kemudian ee tadi pada level
yang ee kota ya, level kota ya ee
masing-masing kan ada ya biasanya di
level yang tengah-tengah ini kan dia
berdasarkan wilayah administratif. Nah,
itu juga sudah ada pemerintah kota ya
atau pemerintah kabupaten dengan
masing-masing dinas yang terkait. Ee
kalau kami dulu mengidentifikasi ee
bukan dulu sebenarnya baru beberapa
bulan yang lalu ya penelitiannya
mengidentifikasi di level kota ini
mungkin yang terkait itu ada Dinas PU
tapi ya tergantung kota kabupatennya
juga karena kadang-kadang berbeda juga
struktur organisasinya ya. ee ada PU dan
juga ee Bapeda ya yang biasanya kami ee
apa ee berkolaborasi atau melakukan
wawancara.
Nah, juga pada level ee mikro itu
sebetulnya kan sudah level neighborhood
ya, permukiman atau rumah tangga. Nah,
sebetulnya pemerintah kota juga bisa
masuk di sana. Nah, mungkin di kita
mungkin yang masih kurang itu adalah
bagaimana kita melibatkan begitu ya ee
pihak swasta ee untuk apa masukan ya
masukan pendanaan gitu maksudnya untuk
meningkatkan ee pendanaan dalam
pengembangan ee infrastruktur hijau biru
ini. Ya, mungkin itu yang masih yang
perlu kita dorong lagi.
Nah, ee yang sudah mengimplementasikan.
Nah, kalau secara konsep seperti itu
kami juga awalnya mencari ya yang
terutama yang yang makro yang skala
makronya sudah ada apa belum yang
seperti ee Sabar Mati River atau seperti
apa namanya ee room for the River ya. E
sudah ada belum projectnya? Ya memang
kalau dalam project yang seperti itu tuh
belum ada. Nah, mungkin yang ada itu di
kita kan yang
pembuatan tanggul yang di pantai utara
Jawa ya. Nah, itu sebetulnya ini sama
juga cuma itu baru blue-ya greennya itu
mungkin belum gitu ya ee belum ada. Nah,
kalau kami juga melihat di wilayah ee di
daerah aliran Sungai Cisanggarung
sebetulnya ee sudah ada tahapan awal ya
dari green blue infrastructure seperti
misalnya di Waduk Dharma misalnya. Nah,
itu sudah sebetulnya kan waduknya
sendiri adalah yang biru-biru eh yang
birunya ya yang hijaunya itu sudah ada
sebetulnya ee apa ee hijau-hijauan
tanaman-tanaman gitu ya. ee seperti itu.
Nah, cuma memang ee belum seperti
project yang Sabar Mati River yang
secara keseluruhan begitu ya ee ataupun
Room for the River. Tapi kalau yang
kecil-kecil sebetulnya sudah ada ya. Ee
saya dulu pernah lihat ee Kota Bandung
pun sebetulnya ada ee ini ya seperti
kolam apa wetland kalau enggak salah ya
memang agak di pinggiran. Nah, kemudian
juga ee Kota Bogor itu atau Kabupaten
Bogor juga dulu kalau tidak salah ada ee
jadi air hujan itu masuk ke
gorong-gorong ya. Kemudian nanti
dimanfaatkan lagi ya terutama untuk
kampung yang
daerah perkampungan ya yang lahannya itu
sudah tidak ada gitu ya.
Nah, ee tadi sebetulnya ya apakah
mungkin sebetulnya kalau melihat
contoh-contoh
mungkin kalau kita bilang e itu kan di
Belanda gitu ya wajar gitu ya. Nah, tapi
sebetulnya di India di India saya juga
kagum saya kira ee apa belum ada begitu.
Nah, ternyata sudah ada. Jadi sebetulnya
kalau kita ingin sebetulnya bisa bisa
sih sebetulnya ya. Cuma tadi perlu apa
ee koordinasi dan juga mungkin pendanaan
ini yang kita perlu pikirkan ee
sumber-sumber pendanaan kreatif gitu ya
yang tidak hanya mengandalkan dari ee
dari daerah.
Nah ee tentu ini yang apa terakhir ya
negosiasi yang tepat ee untuk masyarakat
menengah bawah pada saat ee prapenataan.
Nah, ee tadi saya sampaikan ya,
sebetulnya penolakan tentu tidak hanya
di projek-projek di Indonesia ya, bahkan
oh di Belanda pun juga ada penolakan
begitu ya. Ee masyarakat beranggapan ini
terlalu top down begitu, mereka harus
direlokasi gitu. Nah, cuma dengan ee
ganti untung yang tepat begitu ya. ee
juga masyarakat sebetulnya bukan masalah
ganti untung. Ee disosialisasikan juga
bahwa ee ini manfaat secara keseluruhan
ya. Bagaimana manfaat ee projek ini
secara keseluruhan ya mereka akhirnya
mau juga gitu ya dipindahkan awalnya
mereka menolak. Jadi sebenarnya tidak
hanya di Indonesia. Nah, ee kuncinya ya
memang di mungkin ee sosialisasi awal
walaupun projjectnya sebenarnya skala
makro tadi kan ee tidak e umumnya memang
top down begitu ya. Partisipasinya tuh
sangat kecil misalnya tidak dimintai
pendapat tapi kita ada projek ini harus
dilakukan relokasi ya mungkin harus apa
bersedia dipindahkan gitu ya. Nah, tapi
memang diberikan ee ganti untung ya yang
tepat ya dan di juga di apa ee
diinformasikan bahwa kontribusi mereka
sangat penting begitu ee apa di dalam
projek ini ya.
ee ya mungkin apa negosiasi mungkin
bukan negosiasi mungkin kalau
diinformasikan
ee dengan baik begitu ya dengan baik dan
ada dijelaskan ee bagaimana apa ganti
untungnya mungkin ini ya ee tidak
menjamin juga tapi biasanya itu yang apa
hal-hal yang perlu kita pikirkan atau
kita negosiasikan
begitu. Nah, tapi memang kalau melihat
contoh tadi ya, lagi-lagi di India yang
tadinya ee tidak terpikir begitu ada
sama seperti ee waktu saya pertama kali
ke Bangkok itu enggak tidak menyangka di
situ tuh ada sudah dari bandara ke pusat
kotanya tuh ada kereta ya. Itu kan tidak
menyangka tapi ternyata bisa juga gitu
ya. Pasti kalau itu kan ada pasti ada
relokasi, ada penolakan tuh sudah pasti
gitu ya. Jadi ee sebenarnya ya mungkin
kalau kita bisa apa berkolaborasi dengan
semuanya mungkin bisa diwujudkan begitu
ya. Mungkin itu Mbak Dini sudah semua ya
yang dari ini
dari chat.
Iya sudah Prof. Sri. Baik terima kasih
Prof. Sri. Ee di sini kita akan
melanjutkan di sesi selanjutnya yaitu
pertanyaan langsung dari peserta Zoom
dan saya akan batasi dulu untuk dua
penanya. Di sini sudah ada juga yang
raise hand ada Pak Sugeng
ya. Dipersilakan kepada Pak Sugeng untuk
bertanya
ya. Terima kasih.
Makasih Bu Sri Maryati.
Ee kami ini ada beberapa catatan ini Bu
yang yang pertama itu ee tadi kan
beberapa contoh dari blue green
infrastructure tadi di Belanda, kemudian
di mana tadi? Di ee di
India.
India ya. Di India. Nah, itu kan lebih
banyak mengelola sungai ya. Istilahnya
berkaitan dengan sungai. Kemudian ee
tujuannya adalah mengendalikan banjir.
Ee di Indonesia itu sebetulnya
pengelolaan sungai itu sebetulnya salah
satu adalah mengelola air permukaan ya
Bu ya. Di samping itu kan sebutnya ada
air tanah ya Bu yang sekarang terkenal
dengan bronbut besin. Jadi cekungan air
tanah. Nah, apakah cekungan air tanah
itu sendiri tidak berpengaruh terhadap
perencanaan ee blue green infrastructure
gitu loh. Ini yang pertama. Kemudian
yang kedua
ee terkait dengan pengelolaan sungai
kami ambil contoh misalnya di daerah
ISTIMah Yogyakarta. Jogja itu kan baru
ada bandara baru Jogja Yogyakarta
international airport itu ancamannya
sekarang itu kan sebetulnya kan ee satu
mungkin masalah terkait dengan kegempan
ya yang nanti berdampak kepada tsunami
sehingga ancamannya itu satu tsunami.
Kemudian secara alami setiap harian itu
kontinental self-nya atau laut
dangkalnya itu kan apa? Continental
sel-nya itu kan pendek kemudian langsung
ke kontinental slope yang langsung
menuju ke laut yang dalam sehingga ee ee
menciptakan satu green green green
infrastructur atau blue green
infrastructure misalnya dengan mr itu
kan sangat sulit sekali. Nah, sekarang
yang dikembangkan memang ee
tanaman-tanaman yang lain seperti cemara
udang itu yang memang sekarang
dimiripkan seperti mroove itu sebagai ee
penanggulangan terhadap tsunami maupun
terhadap abrasi. Kemudian secara gre
infrastructure pemasangan tripod itu
sekarang kan sudah banyak sekali di
pantai selatan bahkan di sungai
Bogowonto sendiri yang ada di sebelah
barat bandara itu sudah dibuat kanal
sepanjang 300 m untuk membuang
endapan-endapan yang berasal dari sungai
Bogowonto.
Nah, bandara itu kan terletak antara
Sungai Bogowonto dan Sungai Progo.
Sebelah timurnya itu Sungai Progo, Bu.
Jadi ee bagian utaranya itu meliputi
beberapa kabupaten. Secara administrasi
ada Kabupaten Porojo, Kabupaten
Kulonprogo, Kabupaten Magelang dan
sumber materialnya itu berasal dari
daerah Gunung ee Sumbing. Kemudian juga
berawal dari daerah Merapi, daerah
Gunung Merapi. Nah, itu sedimentasinya
kan cukup sangat tinggi. Jadi ancaman
sedimentasi sungai itu sangat tinggi di
daerah Muara sebetulnya ya. sehingga
ombaknya juga terlalu tinggi sehingga
sekarang secara infrastructur dipasangi
apa tribut-tribut yang cukup besar gitu.
Nah, sekarang yang sudah jadi itu ee di
selatan bandara yang dari sebelah timur
Sungai Bogonto ke arah timur itu sudah
jadi areal apa? Ee pariwisata, kemudian
jadi green infrastructure, kemudian
tempat wisata juga. Lah ini ancamannya
mestinya kan kita harus mempertimbangkan
dari daerah hulu sampai ke hilir sungai
ya, Bu ya. Sungai Bowoto ke hilirnya itu
kan sebetulnya kan sekarang kan sangat
berkembang pesat itu daerah Purworejo ke
utara itu kan terkait dengan Borobudur
itu menjadi daerah-daerah tujuan wisata
ee yang e strategis jadi pusat strategis
kawasan wisata nasional. Nah, itu
berkembang pemukiman-pemukiman yang
cukup pesat juga itu. Nah, ini bagaimana
pandangan Ibu untuk menciptakan apa?
blue green ee infrastructur sehingga ee
satu sai ee tujuan utamanya sebetulnya
kan mengatasi masalah banjir supaya
bandaranya itu aman dari ancaman banjir.
Padahal di sebelah utaranya sekarang
berkembang ee ee istilahnya ee gre
infrastructure ya gre infrastructure.
Nah, ini gre infrastructur ini kan
sebetulnya yang ketiga green
infrastructur kemudian green
infrastructure dan blue green
infrastructur itu tiga-tiganya bisa
berjalan bersama-sama ya Bu ya. Jadi
antara agri infrastruktur yang membuat
mungkin bentungan, kemudian pengendali
apa ee ee sedimen mungkin di Sabud di
daerah Merapi itu sudah cukup banyak.
Kira-kira ee pendapat Ibu bagaimana?
Kemudian ee kira-kira ini menjadi satu
apa ya istilahnya kerangka dasar atau
menjadi kewajiban untuk mengelola DAS
setiap DAS untuk setiap apa ya wilayah
ya. Jadi ini sekarang kan di PU itu kan
ada yang ngurusi air permukaan itu kan
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air,
kemudian di bawahnya ada BBWS itu.
Sedangkan yang ngurusi air tanah itu
sekarang masih dipegang oleh ee ESDM,
Kementerian ESDM fisiki Badan Geologi
itu loh, Bu. Nah, ini ini informasi aja.
Terima kasih, Bu.
Ya. Ya, langsung aja ya Mbak Dini, ya.
Iya, silakan, Pak.
Terima kasih. Ini terima kasih Pak
Sugang. Ini banyak juga apa insight-nya
ya. Jadi ee iya memang betul, Pak. Nah,
ee sebetulnya ini makanya judulnya tuh
terintegrasi gitu ya. Salah satu
contohnya itu ya sungai. Tapi memang di
dalam konsep ee infrastruktur hijau biru
itu juga ada ee konsep di mana kita
memasukkan air itu ke dalam tanah gitu
ya, Pak ya. Ee jadi nah bahkan di di itu
ya di apa yang
ee
room for the River yang di Belanda. Nah,
itu ee tetap mereka yang skala kecilnya
itu tetap di dilakukan apa? Rain garden
kan ada rain garden-nya ya. Rain Garden
itu ee di skala kecilnya kalau hujan
airnya ee ada juga yang dimasukkan ke
dalam tanah begitu. Nah, mungkin
perhitungan-perhitungan
ee dengan perhitungan detail ya saya
kira mungkin kalau ee teman-teman banyak
yang dari ee sipil ya ee atau sumber
daya air itu mungkin sangat gampang gitu
menghitung. tadi kan ada pertanyaan ee
seberapa efektif dalam mengendalikan
banjir yang mungkin tidak hanya dari
satu jenis infrastruktur ee tapi
misalnya tadi room for the river ya
untuk air permukaannya tapi tetap ada
yang bahkan yang di itu tadi yang di apa
project room for the river itu pada
skala mikro itu dibuat juga rain garden
rain garden itu biasanya dia dibuat di
halaman-halaman rumah begitu ya jadi
akhirnya ada juga kalau hujan dimasukkan
ke dalam tanah gitu. Karena
sumur ini buat sumur resapan, Bu. Iya.
Kenapa?
Sumur resapan namanya sumur resapan.
Iya. Iya. Rain garden. Iya. Ee konsepnya
sama. Nah ee kalau yang sungainya
sendiri itu untuk menampung ee air yang
dari laut yang masuk gitu. Jadi
dikombinasikan seperti itu. Nah, ee sama
sebetulnya Pak tidak harus semuanya itu
ee dengan apa namanya ee perkembangan
saat ini kan memang mungkin perlu ya
infrastruktur hijau biru. Tetapi pada
beberapa bagian tentu tidak mengurangi
bahwa semuanya itu tidak boleh ada yang
abu-abu gitu ya. Ee semuanya harus hijau
biru. Tidak demikian juga. Jadi ee
kadang-kadang ee malah di tahap awal ya
seperti di project room for the River
itu mungkin sebagian besar dia masih apa
tanggul gitu ya. Nah, tapi dilengkapi
gitu dengan ee penanaman tanaman
sehingga tapi tanggulnya sih tidak
dibuang ya tetap aja ada tanggul gitu.
Nah, tapi di ee tanggul ini kan konsep
grey infrastructure. Nah, itu yang di
beberapa bagian mungkin kalau kita cari
di website ee ada beberapa kritikan
untuk project Delta. Sama-sama di
Belanda juga kalau project Delta itu dia
ee apa lebih ke greay greay sekali
enggak ada greennya gitu. Nah, jadi yang
ee mengkombinasikan itu ya kira-kira.
Jadi ee sebenarnya tidak menghilangkan,
tidak harus semuanya atau dengan adanya
konsep ini jadi kita apa ee meninggalkan
gray di beberapa bagian kita perlu tetap
perlu begitu yang grey infrastructure
ini izin saya sambil ini apa nyolokin
listrik.
Nah, ee kemudian ee
nah sama Pak, jadi ee sebetulnya air
tanah pun itu masuk pengelolaan air
tanah itu masuk ke ke dalam pengelolaan
itu ya ee green blue infrastructure juga
sebetulnya bisa kita kombinasikan. Jadi
artinya ee tidak bentuknya bisa kita
variasikan ya antar ee bentuk-bentuk itu
dan tidak berarti bahwa dengan adanya
konsep blue green infrastructure itu
infrastruktur grey-nya itu kita
tinggalkan sama sekali begitu. Jadi bisa
berjalan bersama-sama. Justru mungkin
yang sabar mati ee River Front malah ee
apa namanya? Sampai saat ini ya ee
walaupun di dalam dokumen perencanaan
akan dibuat yang hijau-hijaunya juga,
tapi yang terbangun saat ini sih lebih
masih masih
kuat gitu ya ee gray infrastructure-nya.
Jadi sebetulnya ee itu ee bisa berjalan
bersama-sama dan tidak kita hilangkan
gitu ya. Ee pada beberapa bagian kita
tetap memerlukan ee greay infrastructure
gitu.
Begitu mungkin Pak ee
ya. Jadi air tanah bagaimana kita
mengintegrasikan. Nah, memang ee apa ee
ini tergantung dari kalau misalnya yang
kami tadi kebetulan ee mengenai sungai
ee secara institusi memang mungkin
terpisah ya, Pak ya. Nah, tapi memang
kalau dari segi perencanaan tetap bisa
diintegrasikan antara air tanah dengan
air permukaan
mestinya ya mestinya diintegrasikan gitu
walaupun institusinya mungkin ee berbeda
gitu ya di ini.
Kemudian yang ini Bu yang apa yang
Bandara Jogja Internasional Airport itu
Bu kelihatannya kok kelihatannya
projjectnya masih parsial-parsial gitu
ya.
Iya belum terintegrasi gitu.
Iya. Jadi istilahnya pengelolaan hulu
dan hilir itu ya jalan sendiri-sendiri
gitu.
Iya. Iya itu mungkin Pak ya yang yang
perlu sebetulnya ee apa kalau saya lihat
ee di
di misalnya ada kalau di Belanda itu
mereka tuh ada khusus gitu yang
mengurusi air ya karena memang masalah
mereka air gitu ya. Nah itu semuanya
kalau bicara air itu ya di badan itu
gitu. Nah, yang sabar mati tadi sampai
mereka membentuk ee organisasi khusus
itu ada kantornya. Kebetulan saya
berkesempatan ee berdiskusi gitu ya,
mengunjungi kantornya itu ada di tepi
sungai itu gitu. Nah, itu tuh khusus
pokoknya masalah sungai itu ada di sana
tapi tidak hanya urusan sungai termasuk
misalnya sampah ee air limbah gitu tuh
menjadi urusan ee badan itu gitu. Kalau
menurut pandangan Ibu untuk mengelola
perencanaan blue green infrastructure
ini demikian juga ya sampai ke GRE
infrastructurnya tadi itu ditangani satu
proyek apa istilahnya itu proyek
tertentu misalnya seperti proyek Merapi,
proyek Bengawan Solo gitu atau mungkin
ini dikelola oleh satu badan tetap yang
menangani semua permasalahanesahan
mengenai ee daerah berhaliran sungai dan
mungkin juga cekungan air tanah, Bu.
Ya, kalau yang dictoh yang di apa ee
kalau yang Belanda kan dia memang ini
Pak ada khusus gitu ya, jadi bukan tim
koordinasi.
Nah, yang di Sabar Sabar Mati pun itu
juga ee semacam otoritas khusus gitu ya.
Jadi bukan koordinasi. Kalau koordinasi
kan
mengkoordinasikan saja ya mungkin ya.
Jadi kalau proyek yang apa e temporer
itu senya proyek bungan Solo itu
sekarang sudah selesai. Kemudian proyek
Merapi itu yang mengenai apa sabodem itu
juga sekian tahun sudah selesai gitu ya
selama aliran laharnya masih tetap gitu
ya Bu. Nanti kalau aliran laharnya
pindah mungkin proyeknya ada lagi gitu
ya. Iya. Iya, iya. Tidak berdasarkan
projek sih, Pak. Kalau yang
di Belanda tidak berdasarkan projek.
Jadi,
projek. Jadi, ada lembaga sendiri yang
memang menangani pengelolaan DAS yang
menangani blue green infrastructur ya.
Iya. Iya, betul, Pak.
Jadi memang sebaiknya gitu. Jadi
sehingga apa penanganan DAS itu tidak
parsial e tidak bisa terintegrasi dari
hulu sampai ke hilir, Bu. Ya.
Iya. Iya. Dan dia itu pokoknya masalah
air itu ada di satu badan itu
satu badan ya. Jadi di Indonesia itu
masalah air yang menangani masih agak
agak agak banyak ini. Jadi ada yang di
bawah ISDM, ada yang di bawah ee
pekerjaan umum.
Ini memang perlu perlu
perlu pemikiran anu ke depan yang yang
lebih sistem sehingga penanganan bencana
saja kan tumpang tindih lembaga itu kan
banyak sekali. Ibu, saya juga heran itu
sehingga ini antara yang membuat peta
ancaman kemeta risikonya lembaganya
beda-beda
iya. Iya. Perlu yang lebih terintegrasi.
Iya betul Bu. Makasih Bu. Saya kira ini
sekedar apa perenungan ke depan.
Iya iya
saya kembalikan ke moderator.
Oke. Baik. Terima kasih Pak Sugeng atas
diskusi yang menarik ini. Dan kita akan
lanjutkan pada pertanyaan selanjutnya
yaitu yang akan disampaikan oleh Pak
Gali yang sudah raise hand.
Oke, dipersilakan Pak Gali
ya. Baik terima kasih. Eh, selamat siang
Prof. Sri makasih Mbak ya. Izin bertanya
Prof.
Eh untuk mengenai blue green eh
infrastructur ini apakah bisa
diaplikasikan untuk ee selain mengatasi
banjir untuk daerah yang ee ada kenaikan
air laut ee dengan adanya subsiden tanah
ya seperti di Demak, di Desa Saung dan
juga di Jakarta itu yang di daerah utara
ya itu ada kenaikan air laut itu apakah
pertama apakah bisa diaplikasikan kan.
Ee kemudian yang kedua untuk blue green
ini ee persentasenya berapa persen,
Prof? untuk ee yang blue-nya berapa,
greennya berapa, itu bisa dikatakan
sebagai bluegreen infrastructure.
Yang ketiga ee apakah bluegr juga bisa
diaplikasikan di daerah gurun ee gurun
berpasir yang ee mungkin seperti kita
lihat Arab Saudi juga akan mengembangkan
kota ee yang e megah ya di tengah padang
pasir. Dan satu lagi Prof. Ee yang
keempat ee misalkan Prof. Sri ee
ditunjuk sebagai perencana nanti untuk
rekonstruksi ee Gaza di Palestina ee
pasca perang nanti di ee bangun kembali
itu ee kira-kira yang cocok
infrastrukturnya seperti apa, Prof?
Apakah blue green bisa applicable di
sana juga? Sekian dari saya, terima
kasih. Selamat siang.
Ya, langsung aja ya, Mbak Dini ya. Ya,
terima kasih, Pak Galih. Ee nah ee tadi
Pak ya secara keseluruhan memang perlu
kita lihat permasalahannya ya. Ee jadi
mungkin mungkin di apa pertemuan kita
tahun kemarin itu yang membahas juga
tentang green infrastructure kan sudah
disampaikan sebetulnya green blue
infrastructure ini atau blue green
infrastructure
bisa kita desain sesuai dengan apa ee
permasalahan yang ingin kita selesaikan.
Nah, antara lain misalnya banjir ya atau
ee tadi yang Pak Sugeng tadi misalnya
kekurangan air gitu ya. kekurangan air
tentu intervensinya mungkin ee beda ya
dengan banjir atau ee masalah iklim
misalnya. Nah ee jadi perlu kita lihat
ee permasalahan dan ee solusinya ee
mungkin tidak sama ya walaupun berhasil
gitu di suatu tempat. Nah, jadi ee
kalau persoalannya penurunan ee apa muka
tanah gitu ya ee jadi ee
seperti
ya mungkin kalau kita mau mencegah ee
solusinya mungkin ya dari mencegah dulu
ya mencegah terjadinya penurunan ee muka
tanah yang mungkin kebanyakan karena ini
ya ee penyedotan air tanah biasanya ya
ee penyedotan air tanah. Nah, maka
mungkin intervensinya sebetulnya ya
tidak harus ee green blue
infrastructure. Mungkin kalau seperti
itu ya ee penyediaan air atau kontrol
terhadap ee pengeboran atau pengambilan
air tanah untuk mencegah muka air tanah
itu ee muka tanahnya ya, muka tanahnya
yang turun. Nah, tapi kalau sudah
terjadi kan agak sulit ya untuk
menaikkannya lagi gitu muka tanahnya.
Nah, mungkin itu bisa di tadi saya
sampaikan sebetulnya kita ee tidak bisa
juga sih 100% meninggalkan ee greay
infrastructure ya seperti yang sudah
terjadi saat ini ee apa yang sudah
dikerjakan ya pembangunan tanggul
misalnya ee yang sebetulnya itu adalah
grey infrastructure tapi untuk mencegah
tadi ee air laut masuk begitu ya karena
sudah terlanjur turun di muka tanahnya.
Tapi untuk mencegah di kemudian hari
turun lagi ya mungkin juga perlu
dipadukan dengan intervensi ee
pengendalian atau pengambilan air tanah
begitu.
Nah ee kemudian nah berapa persen blue
dan green-nya itu ya agar dapat disebut
infrastruktur hijau biru. Nah ini
sebenarnya tidak ada aturan yang ininya
Pak ee aturan bakunya ya harus berapa
begitu. Tapi kalau ee contoh-contoh tadi
itu karena sungainya dulu gitu ya,
airnya dulu lalu dilengkapi dengan ee
vegetasi. Nah, maka dia disebut dengan
infrastruktur hijau biru tapi tidak ada
ee perbandingannya berapa ya. Tentu
makin banyak hijau-hijaunya makin makin
baik juga begitu.
Nah, kalau di padang pasir dengan
melihat contoh-contoh yang sudah ada ya,
bahkan di di mana gitu ya, bisa menanam
sayuran gitu ya. Ee jadi padang pasir
tapi bisa ditanam sayuran terus air dari
air laut itu bisa digunakan. Nah,
kelihatannya sih tidak menutup
kemungkinan ya bisa
dilakukan begitu. Cuma memang kalau
padang pasir ini saya juga enggak tahu
ya. Kalau di Mesir kan ada padang pasir
juga tapi ada sungai Nil juga yang besar
gitu ya. Nah, itu ee mestinya bisa juga
sih dikombinasikan.
Bahkan di mana ya tempat yang sangat
panas itu dia di
ya itu tadi di Ahmed Abad itu juga ee
kurang sekali ya ee panas sekali gitu
ya. Enggak tahu karena emang enggak ada
pohon-pohonnya tapi mereka sudah mulai
mencoba menanam tumbuh-tumbuhan,
tanam-tanaman gitu ya di untuk
melengkapi sungai. ternyata bisa juga
bisa tumbuh gitu ya ininya. Jadi
kelihatannya sih melihat yang sudah
terjadi memungkinkan sebetulnya ee
dilakukan di ee gurun. Nah, tapi memang
ee kita perlu pelajari ya ee atau memang
perlu ada inovasi-inovasi yang
bisa dilakukan gitu ya. ee bagaimana
caranya mungkin ada tanaman-tanaman
khusus gitu. Termasuk juga ee
perencanaan di Gaza tentu ee karena apa
namanya belum ini belum saya belum
mengkaji ee apa bagaimana kondisinya,
bagaimana aspek ruangnya ya. Nah, itu ee
saya belum bisa menjawab. Tapi sebagai
contoh begini, Pak. Ee apa ee dulu kami
pernah melakukan studi ya ee mengenai
sampah begitu di semasa haji ya ee
semasa haji saya ingat semasa iya betul
semasa haji. Jadi jumlah sampah itu
semasa haji itu sangat tinggi gitu. ini
untuk mengilustrasikan aja bagaimana
kita harus pertama memahami dulu kondisi
di wilayahnya ya baru kita ee bisa
merekomendasikan begitu. Jadi kalau
dilihat ee mungkin kita tidak pernah
terpikir ya bahwa ee jumlah sampah
semasa haji itu bisa berkali-kali lipat
dari masa biasa. Nah, kalau kita
menyediakan infrastruktur persampahan ee
seperti biasa, tentu pada masa haji ini
akan banyak sekali sampah yang tidak
tertangani. Tapi kalau kita menyediakan
infrastruktur dengan menggunakan data
semasa haji, mungkin juga ee akan idle
selama tidak haji. Mungkin kalau bagi ee
apa namanya? Saudi Arabia enggak masalah
ya, mungkin karena mereka banyak uangnya
gitu ya. Tapi kalau seperti di negara
kita misalnya mungkin agak perlu ya
dikaji pada desain yang seperti apa ya
ee kapasitas desain seperti apa dia yang
optimal. Nah, ini terus terang kalau
yang Gaza ini saya
belum apa namanya ee mengeksplorasi
bagaimana kebutuhannya ya, jumlah
penduduknya gimana, sumber airnya ee
seperti apa. Nah, ini ee mohon maaf jadi
belum belum apa terpikirkan gitu ya.
Tetapi saya yakin dengan melihat ee yang
sudah terjadi maksud saya
inovasi-inovasi yang sudah ada pada saat
ini ya itu ee bisa ya mungkin ya mungkin
enggak terlalu yakin juga mungkin bisa
ee diimplementasikan termasuk di wilayah
gurun gitu. Nah, mungkin itu ee
sementara ya Pak Galih dan juga Bu Mbak
Dini
ya. Baik ya. Baik. Terima kasih. kepada
Pak Galih dan kepada Bu Prof. Sri atas
ee pertanyaan dan diskusinya yang sangat
menarik ini. Dan kebetulan juga di sini
sudah jam 12.00 siang. Jadi untuk sesi
tanya jawab kita cukupkan. Terima kasih
kepada Bapak Ibu yang sudah
berpartisipasi
dan untuk menutup acara webinar ini
kepada Prof. Sri untuk memberikan
closing statement-nya.
I baik eh terima kasih Mbak Dini. Jadi,
Bapak Ibu mungkin ee apa konsep ini
sebetulnya sudah ada bibit-bibitnya ya
di Indonesia. Mudah-mudahan nanti ee
dengan tentu perlu inovasi dan yang
terpenting itu adalah bagaimana kita ee
memahami kebutuhan ee setempat ya.
Setempat itu ya bisa seluruh Indonesia
gitu kan. tentu beda kebutuhannya dengan
di tempat lain. Walaupun tadi beberapa
contoh ee memang contoh-contoh saya tadi
duanya itu dari ee luar negeri ya.
Tetapi itu tadi di dalam merencanakan
mungkin harus lihat konteks ee setempat
dan tadi ee untuk perencanaan
terintegrasi kita mestinya mulai dari
yang makronya dulu lalu nanti ee baru
kita merencanakan yang mikronya dengan
ee lebih banyak pendekatan yang sifatnya
partisipatif.
Mungkin itu ee Mbak Dini. Semoga tadi
bermanfaat ee bagi kita semuanya ya. Dan
tentu ini masih perlu banyak hal yang
perlu kita eksplorasi bersama-sama.
I. Baik. Ee terima kasih kepada Prof.
Sri Mariati dan mungkin sebelum Prof.
Sri meninggalkan ruangan Zoom, kita akan
melakukan dokumentasi terlebih dahulu.
Bagi Bapak Ibu yang bisa mengaktifkan
kameranya dipersilakan untuk open kamera
dan saya akan mulai saja melakukan
perhitungan mundur dari angka 3.
2 1
ya sekali lagi 3 2 1.
Oke. Baik, untuk dokumentasi sudah
dicukupkan.
Saya ucapkan terima kasih kembali kepada
Prof. Sri Mariati atas penyampaian
materinya yang sangat bermanfaat. Semoga
kita juga bertemu lagi di lain
kesempatan.
Kepada Prof. Maryati apabila ingin
meninggalkan ruangan Zoom sudah
dipersilakan, Prof.
Ya. Baik, terima kasih Mbak Dini. Terima
kasih Bapak Ibu sekalian.
Baik. Ee baik Bapak Ibu semuanya,
berakhir sudah acara webinar hari ini.
Bagi Bapak Ibu yang ingin mendaftar
mendapatkan e-sertifikat, Bapak Ibu
dapat mengisi link presensi kehadiran
yang tertera di layar ini. Dan ketika
Bapak, Ibu mengisi presensinya, pastikan
nama dan email sudah diketik dengan
benar karena hal ini akan mempengaruhi
pengiriman e-sertifikatnya.
Baik, ee saya akhiri kegiatan webinar
hari ini. Mohon maaf apabila saya ada
salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik
wal hidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
siang dan selamat melanjutkan aktivitas
lainnya.