Transcript
zHflxit7EUc • Webinar 133 Ekonomi Sirkular dan Peluang Pengembangannya
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0167_zHflxit7EUc.txt
Kind: captions
Language: id
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu,
dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang
kembali di webinar Eko Edo ke-13.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semua yang
sudah selalu setia untuk mengikuti acara
webinar ini. Dan hari ini webinar Ekoed
Edu akan mengangkat tema ekonomi
sirkular dan peluang pengembangannya.
Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas
sebagai moderator pada acara ini. Baik
Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai
webinar pada siang ini, alangkah baiknya
kita berdoa bersama-sama sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing.
Untuk itu berdoa dipersilakan.
Berdoa dicukupkan.
Untuk acara selanjutnya, mari kita
menyanyikan lagu Indonesia Raya secara
bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak
Ibu untuk duduk tegak.
[musik]
Ya. Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di
sini izinkan saya untuk mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh kami,
yaitu
di minggu selanjutnya pada tanggal 10
hingga 14 November 2025. Di sini kami
akan mengadakan dua pelatihan, yaitu
yang pertama adalah pelatihan penunjang
dokumen AMDAL dan SLO persetujuan teknis
untuk emisi udara gelombang 21.
Kemudian pelatihan dan sertifikasi
pengambilan contoh uji air atau PCUA
gelombang 3. Kemudian dilanjutkan pada
minggu selanjutnya yaitu tanggal 17
hingga 21 November 2025. Di sini kami
akan mengadakan pelatihan penunjang
dokumen AMDAL persetujuan teknis untuk
limbah B3 gelombang 11. Dan untuk itu,
Bapak Ibu apabila Bapak, Ibu ee
mengikuti pelatihan penunjang dokumen
AMDAL baik yang untuk emisi udara
ataupun limbah B3, Bapak Ibu ketika
melakukan pembayarannya pada H-1
pelatihan, Bapak Ibu akan mendapatkan
diskon 10% sehingga Bapak Ibu cukup
membayarkan biaya investasi sebesar
Rp3.600. R600.000. Dan kemudian untuk
sertifikasi PCUA Bapak Ibu ee cukup
mengeluarkan biaya investasi sebesar
Rp.500.000.
Dan untuk informasi lebih lanjut dapat
menghubungi admin kami yaitu Riris dan
Nisa. Bapak, Ibu juga bisa mengunjungi
sosial media kami yaitu ada Instagram,
YouTube channel, Facebook, Twitter, dan
juga website resmi kami di
www.ecoedu.co.id.
Dan juga bagi Bapak Ibu yang tertarik
langsung untuk mendaftar, silakan akses
ke pendaftaran.co.id.
Dan selain itu juga kami di sini
terdapat inhouse training yang dapat
dilakukan secara offline sesuai sesuai
dengan permintaan dari instansi atau
perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami
tunggu Bapak Ibu semua di pelatihan
dan baik Bapak Ibu, selanjutnya kita
akan langsung masuk pada kegiatan utama
kita yang di mana webinar kali ini kita
akan berdiskusi mengenai ekonomi
sirkular dan peluang pengembangannya.
Dan tentu saja di sini kami telah
menghadirkan narasumber yang sangat
kompeten di bidangnya untuk memberikan
materi dan wawasan yang bermanfaat ini.
Dan langsung saja baik, perkenankan saya
untuk memperkenalkan narasumber kita
hari ini yaitu Bapak Fitrian Ardiansyah.
Beliau merupakan ISG and Impact Director
ACLF
di ADM Capital Climate Hong Kong.
Dan kebetulan juga ee Pak Fitrian sudah
ada di dalam ruangan Zoom. Mungkin saya
akan menyapa terlebih dahulu. Selamat
siang, Pak Fitrian.
Selamat pagi menjelang siang.
Asalamualaikum.
Ya. Waalaikumsalam, Pak Fitrian. Apa
kabarnya hari ini, Pak?
Eh, baik, terima kasih. Senang sekali ee
bisa diundang ee ee ke Eko Edu dan
menyapa Bapak Ibu sekalian juga.
I kami juga sangat ee berterima kasih
kepada Pak Fitrian atas terima undangan
dari kami. Ee mungkin ee izin Pak
Fitrian sebelum melanjutkan atau
melakukan pemaparan ini, saya akan
menyampaikan beberapa teknis terlebih
dahulu yaitu yang pertama untuk
pemaparan ini akan dilaksanakan selama 1
seteng jam kemudian dilanjutkan lagi
dengan sesi tanya jawab dengan
menggunakan aplikasi Slidu dan
dilanjutkan lagi dengan tanya jawab
secara langsung. Dan untuk itu untuk
mengefektifkan waktu saya serahkan
ruangan Zoom ini kepada Pak Fitrian dan
kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat
mengikuti pelatihan eh mengikuti webinar
mohon maaf.
Terima kasih. Ee asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi, salam sejahtera bagi kita semua.
Ee mungkin saya ingin minta bantuan ee
untuk slide-nya ya. Oke.
Oke. Emm,
slide-nya sudah ya? Ee Mbak Dini ya?
Oh, sudah, Pak.
Oke. Oke, makasih ya. Selamat pagi
sekali lagi Ibu, Bapak, rekan-rekan
peserta webinar. E terima kasih kepada
ee Eko Edu terutama atas undangan dan
kesempatan untuk berbagi. Sekali lagi
kalau enggak salah saya sudah ini yang
kali ketiga ya ee saya ada di ruangan
Eko Edu. Ee nama saya Fitri Adiansyah.
Eh sehari-hari saya dipercaya menjadi
ESG, environment social and governance
dan juga impact director di suatu eh
impact fund atau pembiayaan yang punya
dampak eh dari Asia Climate Smart
Landscape Fund yang berbasis di Hongkong
eh dimanage atau dikelola oleh satu
lembaga eh keuangan non perbankan ADM
Capital. Eh basisnya di Hongkong tapi
coverage kita ada di Asia Pasifik
termasuk juga Indonesia, Australia, New
Zealand dan sekitarnya.
Hari ini ee terutama
kita akan membahas ekonomi sirkular. Ee
bukan sekedar konsep lingkungan yang
saya pahami tentunya, tapi mungkin nanti
Bapak Ibu sekalian bisa kita membahas
lebih lanjut bahwa ini sebenarnya
pendekatan pembangunan yang
mudah-mudahan bisa mengubah cara kita
memproduksi, mengkonsumsi ee dan juga
berinvestasi. Jadi, ekonomi sirkular ini
ee menantang kita untuk berpikir ulang
bagaimana limbah bisa menjadi sumber
daya. ee mungkin next slide eh
ee bagi sumber daya kemudian bagaimana
ee desain ini bisa mencegah ee polusi
limbah sejak awal dan bagaimana sistem
bisa dibangun agar regeneratif dan juga
bukan eksploitatif. Ee kenapa? Karena e
banyak ee ekspert pakar ee juga ee
menyatakan bahwa Indonesia kali ini nih
terutama mungkin di pulau-pulau besar ee
seperti Jawa yang juga pada penduduknya
Bali dan sebagainya. kita nih sedang ada
di titik kritis, titik kritis dan
krisis. Di satu sisi kita ingin
membangun ee mengembangkan banyak hal.
Ee tapi ee di sisi lain karena
pembangunan, karena konsumsi kita,
karena produksi kita, limbah ee sampah
dan ee polusi menjadi lebih banyak dan
lebih kompleks. Jadi ee ini sesuatu yang
sangat-sangat menantang bagi kita. di
satu pihak kita ingin maju, di pihak
lain ee ada istilahnya konsekuensi
karena kemajuan itu. Ee apa yang kita
lihat misalnya ee sungai-sungai badan
air, banyak plastik di sana dari pesisir
juga hingga residu industri di hulu dan
sebagainya. Ah, di sisi lain kita
melihat peluang juga ee yang luar biasa
sebenarnya. Karena kalau kita punya
mindset bahwa limbah sampah itu adalah
sesuatu yang sebenarnya juga ee bisa
jadi sesuatu yang sangat bermanfaat, ini
bisa kita inovasikan ya. Bisa inovasi
dari ulang, biomaterial daya laut,
teknologi pengelolaan limbah, dan model
bisnis berbasis sirkular ini yang
nantinya mungkin kita bisa didiskusikan
adalah bisa kemudian juga tumbuh dari
level UMKM yang sangat-sangat sederhana.
atau kecil hingga level korporasi dan
juga skalanya besar yang akan dibantu
oleh pemerintah daerah atau pemerintah
pusat. Jadi ee kita melihat ya bahwa
pendekatan ekonomi sirkular ini bisa
jadi bisa menggabungkan banyak hal
nantinya. Mengatasi isu kemudian juga
membantu kita tetap ee bisa lebih maju
dan berkembang dalam konteks
pembangunan, tapi juga tentunya harus
ada kolaborasi nantinya. Nah, ini daftar
isi dari ee presentasi atau sharing saya
kali ini. Ee nanti ee mudah-mudahan akan
lebih komplit dan tentunya ada tanya
jawab yang ee kita ee sangat nantikan.
Saya saya sangat bersedia untuk diskusi.
Ee lanjut.
Nah, mungkin pertama kita telusuri
sebenarnya apa sih ekonomi sirkular itu
kan. Jadi ee mungkin Bapak Ibu ee yang
pernah ee melihat atau kita sama-samaah
pernah ee SMA kuliah dan sebagainya
mungkin kita tahu bahwa ada hukum
termodinamika ya. Jadi ee energi meter
dan sebagainya ee enggak hilang, Pak.
Mungkin efisiensinya berkurang tapi
enggak hilang. Berarti ada sesuatu yang
kemudian habis kita pakai kita konsumsi
ada yang dibuang kan. Nah, itu
residu-residu itulah yang harus kita
lihat. Jadi, bagaimana ekonomi sirkular
itu adalah sebenarnya suatu sistem untuk
kita membantu berpikir bagaimana kita
bisa meminimalkan limbah atau polusi
atau byproduct istilahnya dari ee hasil
konsumsi, dari hasil produksi kita dan
kemudian memaksimalkan nilai yang ee
kita ee ambil dari sumber daya yang kita
pakai. Misalnya, misalnya ee kalau
dilihat di ee apa gambaran tadi yang di
kanan bisa kelihatan bahwa sumber daya
yang masuk dari sistem produksi dan
konsumsi kita itu kalau bisa tidak
terlalu banyak. Jadi kita efisiensikan
tapi kemudian yang keluar juga tidak
terlalu banyak kita bisa pakai lagi.
Pada dasarnya ekonomi sirkular seperti
itu. Close loop lah intinya. Jadi
berbeda dari pendekatan linear yang
mungkin selama ini kita kenal. Kalau
linear kan kita ambil, kita pakai, kita
buat, kita buang gitu kan. Seakan-akan
ee kita selalu akan ada sumber daya yang
tidak habis gitu terus-menerus. Jadi
pada gilirannya ekonomi sirkular ini
menekankan pada gimana kita bisa
mendesain sistem kita sehingga ee input
yang kita pakai ee sumber daya yang kita
pakai itu bisa lebih minimum dan lebih
bermanfaat. Ah, kemudian tetap kita daur
ulang, kita pakai terus dalam sistem
produksi dan konsumsi kita ee sehingga
tidak ee ada hal yang mubazil sehingga
limbah dan ee pada gilirannya sesuatu
yang dibuang akan minimal dan limbahnya
juga kalau bisa kita kemudian pakai lagi
dan sebagainya. Jadi tujuannya bukan
hanya untuk mengurangi dampak lingkungan
ee menurut saya, tapi juga menciptakan
sistem ekonomi yang lebih efisien,
tangguh, dan mudah-mudahan juga nanti
berkeadilan karena nanti ee resource
atau sumber daya yang ada itu bisa
dipakai bersama. Jadi menurut BPPENAS,
data-data yang saya dapatkan juga dari
pemerintah, jika kita serius melakukan
transisi eh menuju ekonomi sirkular ini,
Indonesia sebenarnya berpotensi
meningkatkan PDB ya produk domestik
bruto kita hingga Rp593 triliun pada
tahun 2045. Kenapa? Ya tentunya karena
value yang kebuang gara-gara kita
menyampah, membuang limbah dan
sebagainya itu kita bisa manfaatkan lagi
masuk dalam ekonomi kita dan ekonomi
kita berkembang. Bukan hanya itu, em ada
catatan juga ee dari banyak pihak bahwa
kalau itu bisa dilakukan sebanyak
sekitar 4,4 juta pekerjaan baru bisa
tercipta di sektor-sektor seperti
pengelolaan limbah, logistik, manufaktur
berkelanjutan, dan ekonomi kreatif.
Kalau ee Bapak-bapak yang tahu dan
senang ee sepak bola misalnya mungkin
tahu bahwa sekarang beberapa jersey atau
ee apa sih namanya? seragam ee klub
sepak bola di luar negeri ee tim
nasional dan sebagainya sudah memakai
beberapa produk-produk dari ekonomi
sular dari ee recycle plastik dan
sebagainya. Nanti kita bisa diskusikan
bersama. Jadi pada dasarnya di banyak
negara dan sudah mulai juga sih di
Indonesia ini bukan sekedar ee wacana
atau rencana. Jadi ini sudah ada
strategi pembangunan nasional yang
mungkin ee perlu kita dorong bersama
untuk kita adopsi di level ee kabupaten
atau provinsi kabupaten dan mungkin juga
desa nantinya ee dalam bentuk berbagai
kebijakan dan juga yang penting adalah
peta jalan lintas sektornya seperti apa.
Jadi menariknya prinsip-prinsip
sirkularitas ini sebenarnya bukan hal
yang baru bagi kita. Kalau kita tahu
gotong-royong, hidup hemat, memperbaiki
barang sebelum membeli yang baru,
kemudian memanfaatkan yang sudah ada,
memanfaatkan kembali sumber daya yang
ada dan sebagainya. Sebenarnya semua
sudah harusnya ya tertanam dalam budaya
kita sejak lama. Tantangannya sebenarnya
menurut saya ya sekarang adalah
bagaimana kita memperkuat nilai-nilai
tersebut dengan teknologi, inovasi ee
dan kebijakan yang tepat. Jadi,
bagaimana kita membangun ekosistem yang
mendukung pelaku usaha kita semua nih
juga konsumen terutama UMKM juga untuk
bertransformasi dan bagaimana kita
memastikan bahwa transisi ini atau
transformasi ini inklusif. Jadi
melibatkan banyak pihak, membuka peluang
dan juga bahkan bukan menutupnya. Jadi
ee banyak hal yang kita bisa bahas,
banyak hal yang kita bisa lihat dan
opportunity atau peluangnya juga banyak.
Dan ini mudah-mudahan kalau kita bisa
lakukan fondasi banget nih masa depan
ekonomi Indonesia. Karena banyak sekali
sumber daya kita yang sekarang
sepertinya banyak tapi lama-lama akan
habis walaupun katanya itu renewable
karena kita membuangnya, memubazirkannya
dan kadang-kadang juga membuatnya
menjadi lebih buruk ya kayak sungai dan
sebagainya kan bagus tuh renewable tapi
karena banyak sampah banyak ini jadi
lebih buruk kualitasnya dan kuantitasnya
akirnya enggak bisa pakai. ee ee slide
selanjutnya.
Jadi, Bapak, Ibu sekalian, ketika kita
bicara tentang ekonomi sirkular ee
sebenarnya kita bicara tentang
transformasi yang sangat-sangat
sistemik. Jadi cara baru kita harus ee
berbeda ya dalam memandang produksi,
konsumsi, dan nilai sumber daya itu. Ee
menurut banyak pihak ada lima sebenarnya
pilar utama yang menjadi atau bisa
dikatakan fondasi pendekatan ini. Yang
pertama tentunya desain. Jadi desain
dari produk itu sendiri. Kita harus
kemudian mengubah desain menjadi lebih
berkelanjutan. Contoh saya yang saya
sampaikan tadi mengenai jersei timnas,
tim nasional gitu kan. ersi ee klub-klub
sepak bola di luar tuh sudah kemudian
sudah didesain bukan hanya lebih bagus,
lebih baru dan sebagainya, tapi juga ee
materialnya seperti apa gitu. Jadi
produk tidak dirancang lagi untuk ee
pertama ee sumber dayanya juga lebih
lebih ee minimum ya memakai sumber daya
baru. Jadi sumber daya yang sudah ada
sampah atau plastik yang bisa diyeluk
tapi juga produknya tidak dirancang
untuk cepat rusak. Jadi yang disebut eh
fast fashion ya. Jadi, e fashion yang
cepat dan sebagainya sudah kemudian
direduksi. Jadi, kalau bisa dia lebih
durability ya, lebih lama, tidak cepat
rusak sehingga tidak cepat dibuang. Tapi
memang banyak sekali kita sekarang dapat
ee tantangannya dapat banyak produk dari
luar, saya enggak usah sebutkan dari
negara mana yang cepat banget, murah
banget dan akhirnya ketika sekali pakai
belum sampai sebulan udah udah rusak ya,
misalnya karena mungkin seing murahnya
kita beli lagi, kita beli lagi jadi
sampah gitu kan. Nah, jadi yang kita
fokuskan adalah gimana desain ini bisa
menjadi lebih lama, lebih tidak cepat
rusak, memanfaatkan sumber daya yang
lebih baik lagi ee sehingga ee bisa
didaur ulang dan sebagainya. Desain ini
sebagai awal ee dan alat yang strategis
menurut saya karena dia bisa kemudian
mencegah limbah sejak awal karena dia
mereduksi ee mengurangi sumber daya yang
dipakai dan kemudian memperpanjang
siklus hidup barang itu sendiri. Jadi
kalau kita lihat sebagai ee misalnya
pemerintah, sisi pemerintah, bisa enggak
kita kemudian memberikan semacam
insentif, semacam support, apakah
pengurangan pajak? Saya enggak enggak
lihat eh apa enggak enggak enggak merasa
ini banyak dilakukan ya ee untuk
misalnya inovasi-inovasi desainer,
inovasi-inovasi produk dari suatu
perusahaan atau UMKM yang kemudian bisa
e lebih tahan lama ini sebenarnya. Jadi
mereka akan lebih kompetitif kalau bisa
di-support seperti itu ya. Terus yang
kedua, penggunaan bahan daur ulang dan
ee terbalukan ya. Jadi kita perlu
beralih sekarang dari bahan baku yang
lumayan ekstraktif yang habis cepat gitu
kan. Boros energi, boros e sumber daya
alam dan sebagainya. Apalagi juga
menghasilkan emisi tinggi menuju
material atau bahan yang bisa
diperbaharui dan diproses ulang. Jadi
plastik yang cepat sekali pakai dan
kemudian ee dibuang. Nah, mungkin harus
kita cari alternatif ee apakah kemudian
kita pakai ee plastik yang sudah bisa
terus-menerus recycle atau alternatif
bahan lainnya yang sekarang juga lagi di
ee gagas inovasinya menggunakan kasafa
atau singkong, menggunakan siwit atau
rumput laut menjadi alternatif plastik
dan sebagainya. Jadi langkah ini ketika
kita menggunakan bahan yang bisa ulang
dan terbalukan bukan hanya kemudian
menambah nilai ee memberikan nilai
tambah ya dari produk itu sendiri, tapi
juga sebenarnya tentunya kita akan
berkontribusi terhadap ee kebijakan
pemerintah ee dan negara ini yang untuk
mengurangi jajak karbon climate change
dan sebagainya, tapi juga membuat
inovasi terhadap ee rantai pasok yang
baru ya. Jadi ada beberapa yang mungkin
dulu misalnya nanam singkong untuk
makan, sekarang nanam singkong untuk
menjadi ee bahan baku ee alternatif ee
plastik misalnya atau bahan baku
alternatif ee apa energi misalnya dan
sebagainya. Itu yang kita lihat ee bisa
jadi terobosan dan ee sekali lagi ini
tentunya perlu di support. Yang ketiga
ee yang yang penting adalah dalam
konteks pilar ekonomi e sirkular adalah
model bisnisnya itu harus berbasis
ee reuse, repair, dan sewa. Maksudnya
apa? Jadi harus ada pergeseran dari
kepemilikan yang kita punya gitu kan.
Mungkin ada beberapa yang kalau ee kita
enggak punya ee maksudnya gini ee kalau
kita punya atau kita beli kan kita
cenderung kemudian ee gampang juga
kemudian membuangnya. Tapi kalau bisa
kemudian ee getuk tular kemudian ee apa
menyewakan dan sebagainya sehingga bisa
dipakai banyak pihak ee secara brentet
dan sebagainya itu mungkin ee konsumen
ee tidak melulu kemudian akan beli lagi
beli lagi. Jadi ada beberapa yang
sekarang mungkin kalau di ee perkotaan
ee kita lihat ada ee apa ee ee
model-model bisnis yang ee apa yang yang
tr love misalnya yang sesuatu yang
sebenarnya sudah dipakai tapi ee sayang
untuk dibuang kemudian disewakan kembali
ataupun dijual ee sehingga karena
bahannya masih bagus dan sebagainya
value-nya masih ada. Nah, fleksibilitas
seperti itu mungkin perlu kemudian
didorong lebih lanjut sehingga pelaku
usaha bisa memperpanjang nilai produk
yang ada dan ini ee juga biasanya
menciptakan ekonomi yang lebih inklusif
dan efisien. Saya dulu pernah ee ee lama
tinggal ee di negara lain misalnya di
Australia. ee banyak sekali ee ketika ee
apa ee rekan-rekan kita atau kita
sendiri ee punya bayi misalnya kan
biasanya ada peraturan di sana untuk ee
kalau kita naik mobil si bayi harus
ditempatkan di ee tempat duduk spesial
atau spesifik untuk bayi atau anak-anak
kecil. Enggak boleh duduk ee apa
diendong atau apapun. Tapi kalau beli
itu kan sangat mahal. Jadi biasa
biasanya kemudian ada model usaha untuk
menyewakan atau kemudian ee meminjam
tapi dengan pembayaran tertentu
ketimbang kita beli kemudian kalau
enggak dipakai karena sudah enggak punya
bayar lagi kita buang jadi sampah dan
sebagainya. Kemudian itu jadi model
bisnis baru. Hal-hal semacam itu mungkin
kita bisa ee lihat apa saja sih yang
bisa jadikan dijadikan peluang ee yang
sebelumnya kalau kita beli tentunya
nanti mungkin terlalu mahal atau
kemudian kalau sudah enggak dipakai
dibuang dan sebagainya. Jadi ee model
bisnis seperti ini bisa jadi terobosan.
Yang keempat yang mungkin sangat-sangat
berhubungan dengan banyak pihak dari
pusat sampai daerah adalah sebenarnya
manajemen limbah dan daur ulang yang
lebih efektif. Jadi kita lihat mindset
kita ee mungkin Bapak Ibu sekalian sudah
paham bahwa sekali lagi limbah atau
sampah itu sebenarnya bukan harusnya ee
dianggap sebagai akhir dari siklus, tapi
seharusnya awal dari proses yang kita
ingin ciptakan. Jadi konteksnya tadi
lingkaran bukan linear. Tapi sayangnya
memang banyak sekali sekarang ee
konvensional sistem kita adalah kita
pakai ya kita ambil sumber dayanya kita
pakai untuk produksi terus kita konsumsi
kalau enggak dipakai lagi buang.
sehingga kita tahu di TPA tempat
pembuangan akhir makin lama makin
menumpuk makin menumpuk dan akhirnya ee
pemerintah daerah, pemerintah kota dan
sebagainya harus cari lahan lagi.
Akhirnya berantem lagi sama ee
masyarakat sekitar kena bau, karena ini
dan sebagainya. itu yang ee pada
gilirannya menciptakan masalah-masalah
baru. Jadi, kalau mindset dari awal
sudah bisa dirubah, bagaimana kemudian
sistem pengumpulannya menjadi lebih ee
sistematik, efisien, pemilih pemilihan
sampahnya juga ee lebih tepat,
pengelolaannya lebih tepat, material
yang sebenarnya masih bisa diselamatkan,
masih bisa tetap dipakai, bisa masuk ke
ee siklus ekonomi yang memang lebih
produktif dan menciptakan nilai tambah.
Jadi, ada beberapa terobosan Bapak, Ibu
sekalian yang pernah ee saya dan
beberapa rekan lakukan misalnya di ee
sektor tekstil ya. Ee mungkin kalau
Bapak Ibu ada di Jawa Tengah ada
beberapa ee pabrik tekstil atau garmen.
Kemudian dia tahu bahwa kalau untuk
membuat baju atau bahan-bahan ee
produksi yang lainnya itu kan ada
cutting-cuttingnya. Kemudian ee udah
setelah bahan atau produknya jadi,
cutting-kating yang sisanya itu
seringkiali sebelum-sebelumnya itu harus
dibuang. Nah, ini yang sebenarnya
sangat-sangat disayangkan alhasil yang
bisa dilakukan dan perbosannya sudah
ada. Si pabrik ini kemudian bekerja sama
dengan pabrik lain yang memang sudah
biasa membuat benang atau membuat ee apa
ee ya benang dan ee material lainnya
untuk bahan-bahan tekstil lainnya.
Kemudian itu diproses lagi hasil-hasil
pemilahan cutting itu dan jadi benang
lagi yang baru. Ee memang benang yang
baru ini tantangannya secara teknologi
adalah dia ee tidak sekuat sebelumnya
karena mungkin karena sudah diblend
sebagainya dan sebagainya. Ee dan
sayangnya ee ketika ini mau di ee apa
dipakai lagi untuk ee beberapa produk ee
ada requirement atau syarat dari ee yang
impor ya. Kalau kita misalnya mau ekspor
ke negara-negara seperti di Eropa segala
macam, persentase eh recycle-nya itu
harus berapa persen dan sebagainya itu
mungkin belum masuk tuh ke Indonesia.
Jadi karena masih mungkin kontennya
masih kecil kalau itu banyak akan diakui
sebagai ee produk recycle. Jadi, Bapak,
Ibu sekalian, sebenarnya produk recycle
itu enggak melulus 100% recycle. Jadi,
misalnya polyester, nilon, dan
sebagainya kalau dia dicampur 30% 40% ee
mungkin masih bisa dianggap recycle gitu
kan, recycle material. Nah, kalau itu
banyak inputnya ee produk-produk dawur
ulang ini itu akan memudahkan Indonesia
masuk ke pasar-pasar yang memang
mengakui dan memberikan nilai tambah
terhadap produk-produk tersebut. Nah,
ini harus ada kemudian komitmen kerja
sama ter si sektor swastanya pemerintah
untuk negosiasi dengan ee importir yang
ada di ee negara-negara maju seperti
Eropa dan sebagainya. Ee terakhir pilar
ekonominya seperti yang saya sampaikan
tadi tentunya tentu ee diperlukan
kemitraan lintas sektor. Jadi ekonomi
sirkular ini tidak bisa berjalan
sendiri. Produsen, konsumen, pemerintah,
lembaga keuangan harus saling terhubung.
masyarakat juga dalam ekosistem yang
sangat-sangat transparan dan
kolaboratif. Tantangannya banyak masih
tentunya walaupun misalnya lima di
ekonomi ini kita lakukan. Pertama,
skalabilitas. Seringki yang dilakukan
saat ini mungkin masih skala-skala kecil
untuk recycling, untuk daur ulang,
pemilahan sampah dan sebagainya. Nah,
ini bagaimana skala-skala kecil ini bisa
kita agregasi sehingga skala ekonominya
menjadi ee banyak sehingga investasi
infrastrukturnya bisa kemudian
ditambahkan. Dan berikutnya adalah
insentif. Ini masih jadi hambatan utama.
Ee istilah kata adalah ngapain saya
melakukan itu capek-capek kalau ternyata
ujung-ujungnya costnya lebih mahal gitu
kan, biayanya lebih mahal atau enggak
ada enggak ada support juga yang saya
terima, ya udahlah saya buang aja. Nah,
itu yang yang terjadi pada gilirannya.
Kalau itu dibuang adalah cost-nya ke
masyarakat atau ke ee lingkungan akan
menjadi lebih besar. Jadi banyak pelaku
usaha kecil tuh pada gilirannya belum
punya akses ke teknologi, enggak punya
kemudian juga akses ke pembiayaan atau
ke pasar atau market sirkular itu. Jadi
tanpa dukungan yang tepat tentunya kita
akan tertinggal dalam transisi ini
dibandingkan negara-negara lain seperti
Vietnam yang sudah memproduksi banyak
sekali untuk garmen ya misalnya yang
recycle. Di sinilah sebenarnya peran
kita sama-sama untuk memperlihatkan atau
melihat bagaimana kita bisa membangun
sistem yang memungkinkan ya inklusi ini
bisa terjadi sehingga menyediakan
insentif dan sebagainya. Eh, next slide.
Jadi, Bapak Ibu sekalian ee rekan-rekan
yang saya harga ee hormati. Indonesia
sebenarnya yang seperti saya katakan
tadi ee dan didukung data-data pakar
kita tuh sebenarnya lumayan kritis dan
krisis ya dalam konteks sampah, limbah
dan sebagainya. Kita tuh sudah
menghasilkan 60 juta ton atau lebih
limbah setiap tahunnya. Bayangkan itu
jadi gulung sendiri di beberapa
kota-kota besar atau menengah di
Indonesia.
Dan sayangnya hanya sekitar 7% yang
berhasil didaur ulang secara formal,
secara resmi. Jadi angka ini menunjukkan
bahwa sebenarnya sebagian potensi
material kita tuh masih terbuang.
Jadi sumber daya kita tuh benar-benar
kita sia-siakan. Cuman 7% loh yang kita
lakukan. Padahal ini bisa jadi sumber
daya baru yang bisa dikelola dengan
pendekatan ekonomi sirkular tadi.
Tentunya tantangan ini harus kita atasi
bersama ya. Dan kita sekali lagi
mindsetnya harus melihat ini sebagai
peluang besar. Potensi ekonomi sekirual
ini sangat-sangat menjanjikan. Terutama
kalau kita mau zoom in ya ee ke
sektor-sektor tertentu. Yang pertama
yang immediately yang dekat banget ya
dengan banyak masyarakat di Indonesia
adalah sektor pertanian dan perkebunan.
Jadi setiap musim panen misalnya kita
banyak lihat misalnya di ee pedesaan
dekat-dekat Jawa, dekat-dekat Sumatera
dan sebagainya banyak sekali yang saya
sebut biowaste gitu kan. Ee hasil limbah
sisa ee panen gabah atau kan atau Bagas
atau apa ini sebenarnya bisa diproses ee
dari ee segi banyak hal gitu kan.
ceraminya, kulit buahnya, limbah
ternaknya diolah dengan tepat misalnya
akan bisa menjadi beberapa produk
turunan yang sangat-sangat baik. Bisa
langsung di di apa dikelola menjadi
pupuk organik misalnya ke komposting dan
sebagainya. ee atau kalau kita bisa
kemudian memberikan pembiayaan ini yang
sedang kami lihat ya di IDM Capital ee
dan di beberapa
ee lembaga pembiayaan atau perbankan ee
gimana kita bisa memberikan KPEX ya
pembiayaan untuk ee ee capital
expenditure misalnya membangun pabrik
skala kecil atau menengah untuk
mengelola limbah-limbah dari pertanian
peternakan kebunaan itu menjadi biogas.
Yogas kemudian bisa disalurkan ke
rumah-rumah ee di kampung untuk kemudian
memasak. Itu juga sesuatu yang kemudian
renewable. Nanti akan dapat juga kredit
kartbonnya dan sebagainya. Atau bahan
baku industri hijaus. Mungkin
teman-teman pernah dengar biochar
misalnya kemudian juga bisa masuk ke ee
tanah lagi untuk membantu mengurangi
degradasi ee lahan misalnya. Jadi pada
giderannya ini bukan hanya mengurangi
limbah, tapi juga meningkatkan
produktivitas lahan kita dan ee
mudah-mudahan juga ee ujung-ujungnya
meningkatkan ketahanan pangan kita.
Karena kalau ini bisa masuk nutriennya
kan masih bagus tuh. Kalau bisa masuk ke
tanah akan membantu juga produksi dan
panen-panen selanjutnya. Yang kedua
sektor yang juga sebenarnya lumayan
dekat karena kita negara kepulauan
adalah perikanan dan kelautan.
kita tuh banyak sekali punya biomaterial
laut yang masih banyak belum kita
manfaatkan. Rumput laut misalnya ee
diolah bisa menjadi alternatif tekstil,
alternatif bioplastik. Nah, limbah ikan
misalnya bisa dimanfaatkan untuk pakan
pakan ternak atau di beberapa kesempatan
kosmetik. Nah, dengan value yang luar
biasa. Ee kita dengar misalnya DNA
salmon diperkenalkan di beberapa kota
besar untuk kecantikan. Loh, kita kan
enggak perlu di salmon. Kenapa kita
enggak ngambil dari beberapa ee
biometeri laut yang kita punya? Nah, ini
sesuatu yang mungkin menjadi tantangan
R&D atau pengembangan riset dan
development ee apa litbank kita di
berbagai perusahaan dan juga pemerintah
untuk melihat opsi-opsinya apa. Karena
kalau enggak itu jadi dibuang dan
sebagainya menjadi hal-hal yang
sangat-sangat mubazir. Ee sewit ataupun
rumput laut banyak kita pakai memang
untuk makanan agar, keragenan dan
sebagainya. Tapi sebenarnya banyak
sekali spesies atau jenis atau ee
variitas rumput laut yang bisa digunakan
untuk biimulan, untuk kosmetik, untuk
tadi alternatif plastik dan sebagainya.
Cuman memang harga kalau di dalam negeri
ya masih belum masuk karena ya plastik
masih dihargai murah sehingga yang
seperti ini kan ketika dianggap mahal
orang enggak akan pakai tapi di berbagai
negara sudah dipakai dan ini bisa jadi
peluang kita untuk ekspor ke
negara-negara tersebut. Jadi sektor ini
bisa bisa banget sih sebenarnya untuk
membuka peluang baru untuk ekonomi kita
berbasis ekonomi sirkular. Ketiga ee
seperti saya juga tadi sebutkan,
manufaktur dan tekstil. ee industri ini
ee menghasilkan limbah dan jumlahnya
sangat besar seperti saya sebutkan
sebelumnya, tapi juga sebenarnya punya
potensi inovasi tinggi. Yang paling
cepat melakukan inovasi untuk recycle
polyester dari botol plastik itu adalah
industri manufaktur dan tekstil.
Desain-desainnya banyak sekali
sepatu-sepatu bagus ya itu hasilnya dari
ee materialnya dari recycle dan
sebagainya. dan desainnya juga eh
seringkiali sudahudah masuk ke
desain-desain modular yang memungkinkan
pakaian diperbaiki dan digunakan ulang.
Ee sekarang juga sudah masuk nih
merambah ke ee industri manufaktur
lainnya
seperti mobil, em kemudian motor dan
sebagainya. Jadi pendekatan sekirular
industri tekstil, industri manufaktur
ini saya pikir menjadi tiang utama
harusnya karena kita tahu banyak sekali
sekarang tekanan terhadap industri
tekstil kita karena tekanan dari import
dan sebagainya.
Em namun tentunya untuk mewujudkan ini
semua tidak mudah, Ibu Bapak sekalian.
Kita butuh ekosistem pendukung yang
kuat. Pertama mulai dari regulasi yang
mendorong desain tadi untuk
berkelanjutan ee mendorong juga akses
pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.
Karena kalau enggak ada kapital, enggak
ada modal, gimana kita bisa punya
infrastruktur, gimana kita bisa punya
pabrik dan sebagainya. ee atau tadi
enggak ada inovasi karena enggak ada
pembiayaannya, enggak ada R&D, enggak
ada leadbank dan sebagainya. Kita juga
perlu infrastruktur daur ulang yang
terintegrasi. Jadi enggak spread all
over intinya enggak enggak kemudian ke
mana-mana ada di mana-mana sehingga
logistiknya mahal. Jadi ada di ee
masukkan ke satu kawasan. Jadi insentif
bagi inovator dan investor ini bisa
masuk ke sektor ini secara bersama.
Jadi, Indonesia punya sumber daya selalu
ee kasus klasiknya adalah itu. Tapi kita
sebenarnya juga punya kreativitas, kita
punya semangat gotong-royong, kita punya
kekayaan dan super tadi. Tapi gimana
kemudian kita perlu ee menjahitnya
bersama sehingga menjadi satu sistem
yang memungkinkan transisi ini berjalan
secara inklusif dan terukur. Eh, next
slide, please. Jadi, Ibu Bapak sekalian,
ee sebenarnya ada contoh-contoh praktis
yang tadi juga sebenar sebenarnya saya
sudah sebutkan. Ee di tengah
tantangan-tantangan terhadap limbah,
krisis, sumber daya alam, banyak sekali
muncul inovasi lokal ee yang kita patut
apresiasi dan sebenarnya bisa kita
pelajari sama-sama. J Indonesia sudah
ada alternatif plastik dari ee kasafa
ya, dari singkong, dari sewit, dari
macam-macam gitu kan. dan mereka bukan
hanya memberikan solusi teknis, tapi
juga memperlihatkan semangat ee
komunitas, semangat pihak swasta baik
skala kecil dan menengah untuk mendorong
keberlanjutan. Jadi kalau kita lihat C
with textile dan ee kemasan hijau ya ini
rumput laut sudah ee diperkenalkan,
sudah ada file, sudah ada uji coba ee
yang sebelumnya dikenal hanya sebagai
komoditas pangan, sekarang sudah jadi
alternatif plastik. ya, inovasi ini
membuka peluang baru. Nah, tentunya ee
cuman memang ee tantangan berikutnya
adalah ee untuk membudidayakan sewit
atau rumput laut itu ternyata enggak
enggak mudah dan banyak terkonsentrasi
di timur Indonesia. Sedangkan pabrik
atau produksinya ada di tengah atau
barat Indonesia. Logistiknya terlalu
jauh. Nah, sekarang yang kita harus
lihat adalah bagaimana ee budidaya itu
kemudian dengan produksinya bisa
didekatkan atau ditemukan di tengah
apakah kemudian ada investasi baru di
misalnya NTT, NTB atau Sulawesi untuk ee
pabrik-pabrik yang bisa langsung
mengelola ee sumber-sumber daya alam
dari ee rumput laut itu menjadi lebih
bisa dimanfaatkan ee dan punya nilai
tambah. Berikutnya contoh praktis yang
sebenarnya ada di perkotaan ee bank
sampah. Tapi sekali lagi bank sampah
mungkin banyak orang enggak tahu gitu
kan dan orang perkotaan mungkin sudah
terlalu sibuk dan sebagainya tidak
banyak ee ber ee apa mempunyai link link
atau konektivitas dengan bank sampah.
Keterkaitan dengan bank sampah. Jadi di
beberapa perkotaan
ada teman-teman anak-anak muda nih
memberikan solusi inovasi mempunyai bank
sampah digital dan juga ada perusahaan
atau startup yang kemudian ee melakukan
itu. Ada dulang untuk sampah ee ee kalau
enggak salah sampah elektronik. Ada yang
lain untuk sampah organik dan juga
sampah ee plastik. ada ada macam-macam
yang mungkin nanti kita bisa share
sama-sama lewat Ekoed Edu contoh-contoh
praktis ini. Jadi mereka membuat semacam
platform ee yang kemudian aplikasi atau
platform ini bisa diconnect oleh banyak
pihak sehingga siapa yang ingin membuang
sampahnya tanda kutip itu bisa dikonnect
atau dikaitkan dengan siapa yang bisa
mengelolahnya. Jadi menghubungkan warga
bahkan pembulung sekalipun ee pelaku
daur ulang dan sebagainya. Nah, dan di
situ ada biasanya ada sistem ee
gamifikasi atau sistem insentif. Jadi,
kalau sudah ee melakukan itu mereka akan
dapat poin dan poin ini ee link ke
pelacakan materialnya seperti apa, kalau
itu benar, kemudian ee apa sampah atau
limbahnya bisa dilakukan ulang bisa.
Kemudian si pelakunya mendapatkan poin
dan ee dapat insentif dan poinnya bisa
ditukar, bisa jadi rupiah, bisa jadi
pembelian yang lain dan sebagainya dan
sebagainya. ee di apa aplikasi saya
sekarang ada beberapa mungkin
teman-teman pernah dengar surplus.
surplus misalnya aplikasi di mana ee ada
beberapa restoran banyak sih sebenarnya
sudah masuk yang mungkin Bapak Ibu
sekalian tahu ya kalau setiap ee rumah
makan atau restoran atau toko kue atau
apa di jam-jam tertentu sudah sore atau
malam kan sayang sekali ya kalau
misalnya dibuang dan akhirnya jadi
sampah jadi limbah lagi. Nah, dengan
aplikasi ini mereka kemudian bisa
memberitahukan konsumen di berbagai
tempat bahwa oh jam segini akan ada
diskon karena mungkin ini ee sangat
sayang untuk kalau ini nanti basi atau
sebagainya. Nah, ini apakah ada yang
bisa memanfaatkan mau beli tapi tentunya
dengan expiry date eh apa e
kedeluasannya sudah ditulis dan
sebagainya. Nah, karena itu mereka bisa
connect. Oh, berarti si pembeli akan
bilang, "Oke, saya akan beli." Sehingga
itu enggak jadi sampah lagi. Mungkin
dimanfaatkan untuk yang lain dan
sebagainya. Jadi sistem ini ee walaupun
mungkin belum skalanya belum besar tapi
minimal ee melakukan kontribusi untuk
minimalis minimalisasi sampah dari
sampah makanan, limbah makanan dan
sebagainya. Jadi yang dulunya jadi beban
sekarang jadi peluang ekonomi. Nah,
platform-platform seperti ini juga
banyak sekarang dikembangkan di berbagai
perkotaan. Ee mudah-mudahan ini bisa
jadi connect e bisa jadi hal yang bisa
dikembangkan lebih lanjut. Tak kalah
penting juga yang saya lihat adalah ee
contoh praktis lainnya adalah tumbuh
kembangnya ccular MSMI atau UMKM yang
fokus banget nih dengan eh cirkular
ekonomi sirkuler. Ada UMKM yang fokus
banget untuk pengelolaan daur ulang
sampai elektronik tadi seperti diulang
untuk perbaikan daur ulangnya dan
pemanfaatan kembali barang. Ada yang
prelove untuk fashion atau baju atau tas
dan sebagainya. Ada yang fokus untuk
banyak hal gitu kan limbah-limbah
lainnya. Jadi mereka kemudian ee bukan
hanya memperpanjang nilai produk,
kemudian menciptakan lapangan kerja
baru, tapi juga membangun ee sistem
ekonomi yang dulunya enggak terkonnect
menjadi connect gitu kan. Ee sehingga
sistem ekonomi lokalnya menjadi tangguh.
Tantangannya masih banyak sih sebenarnya
Bapak Ibu sekalian. Yang pertama sekali
lagi gimana ini bisa connect ke akses
pasar. tadi karena masih skala-skala
kecil dan ee yang seperti contoh saya
saya ee apa sharing tadi mengenai
tekstil bisa enggak kemudian ini dibantu
dengan ee negosiasi kemudian juga dengan
ee kebijakan sehingga ee produk yang
tadinya bagus bisa kemudian kita ekspor
dan punya nilai tambah. Kemudian
pembiayaan. Pembiayaan itu bisa jadi
hambatan yang lumayan paling signifikan
karena kalau tanpa pembiayaan tidak akan
ada kemudian pabrik yang dibangun untuk
pengelolaan daur ulang. Nah,
dibandingkan misalnya di negara-negara
lain ya, ee seperti negara-negara maju
tentunya sudah ada tuh pabrik-pabrik
untuk pengelolaan plastik. Sekarang
kemarin saya diskusi sama satu ee
perusahaan di Yogyakarta yang mereka
sudah bergerak untuk ee apa sih namanya?
Punya sistem dengan ee pemulung dengan
ee TPS ee sebelum sampai ke TPL untuk
menyeleksi plastik. Tapi proposal mereka
adalah ee plastik ini dikembangkan bukan
sekedar untuk menjadi plastik baru, tapi
kemudian
ee mereka ingin membangun pabriknya
untuk melakukan pirolisis. Nah,
pirolisis ini ee mungkin teman-teman
Ekoedu sudah pernah ada ee sesi
sebelumnya ee saya kurang paham yang
kemudian mengubah e plastik ini menjadi
sumber daya ee BBM ya, bahan bakar
minyak yang bisa dipakai untuk kendaraan
dan sebagainya. Nah, ini sangat-sangat
menarik. Kenapa? Karena kemudian ya kita
tahu memang plastik kan dari e
materialnya dari ee minyak bumi dan
sebagainya ya. Nah, ini bisa kemudian
kita sirkul sirkulisasi lagi untuk
dipakai plastik-plastik yang tidak
bermanfaat tadi yang atau sudah dibuang
menjadi bahan bakar minyak dengan
teknologi tertentu. Nah, tapi tentunya
ini memerlukan pembiayaan, memerlukan
research eh penelitian dan pengembangan
yang lebih lanjut. Eh, next slide
please.
Jadi, Ibu Bapak sekalian ee ekonomi
sirkular yang seperti yang saya sharing
tadi bukan sekedar solusi lingkungan. Ee
sekali lagi, jadi dia adalah peluang
investasi. Dia punya dampak nyata.
Mengurangi limbah itu dampak
sangat-sangat nyata. Kita sudah setiap
hari mungkin ngelihat ee di sungai, di
ee sekitar kita, sampah plastik, sampah
banyak hal dan sebagainya. Kemudian kita
juga bisa harus melihat opsi bagaimana
sistem ekonomi kita yang linear ya,
ambil, pakai, buang itu sedikit demi
sedikit kita ubah gitu kan sekuat
apapun, sedemikian rupa sehingga kita
bisa kemudian menjadi lebih lingkar
gitu, lebih eh round atau lebih
sirkular. Jadi menuju sistem yang
bagaimana material yang kita pakai itu
sedikit banyak kita kurangi, tapi yang
sudah kita pakai sedikit banyak kita
bisa inovasikan, kita bisa pakai lebih
lanjut. bahkan menjadi produk baru. Tapi
ini enggak akan bisa kita lakukan kalau
kita enggak dapat investasi, kalau kita
enggak dapat pembiayaan, kalau enggak
kita dapat support finance-nya. Yang
pertama tentunya ini skalanya besar.
Kalau kita membuat tadi kawasan
terintegrasi enggak enggak mungkin kalau
enggak ada investasi kapital yang besar.
Jadi perlu misalnya salah satunya green
bonds, surat utang, tapi surat utang
hijau. Jadi surat utang itu adalah
misalnya orang mau investasi dengan
membeli surat utang itu sehingga uang
yang mereka ee bayarkan itu kita bisa
pakai untuk membiayai ee pembangunan
pabrik skala besar atau kawasan skala
besar. Instrumen seperti ini ee di
berbagai negara sih sudah dilakukan dan
sangat-sangat memungkinkan untuk
mendorong pembuatan fasilitas besar dari
ulang karena perlu triliunan rupiah ya.
Kemudian produksi bersih, infrastruktur
sirkular lainnya juga masuk ke situ.
Jadi bukan hanya untuk satu sektor tapi
banyak sektor dan kemudian karena
konsentrasi cost-nya akan menjadi lebih
murah ke depannya. Jadi di Indonesia
saya lihat nih ya ada sektor tekstil,
elektronik bisa jadi prioritas utama
karena potensi daur ulangnya dengan ee
investasi yang memang besar e sangat
tinggi nih. Jadi mulai limbah kain,
limbah atau komponen elektronik.
Sekarang sudah banyak kita ada EV kan
elektronic vehicle baik yang motor dan
mobil. Nah, ini kemudian baterainya
gimana nih? kan juga harus ada tuh
kemudian ee investasi untuk ee mengelola
atau mengolah hal-hal tersebut menjadi
lebih ee sirkular, lebih baik dan
sebagainya dipakai menjadi sumber daya
baru. Yang kedua, pembiayaan yang
mungkin bisa kita dorong dan pemerintah
sudah kemarin ee menelurkan ee satu
Perpres ya nomor 110
2025 mengenai karbon kredit ya, mengenai
nilai ekonomi karbon. Kenapa ini
penting? Karena dengan kita sirkul
ekonomi pada dasarnya kita mereduksi
atau mengurangi ee karbon footprint
kita, jejak karbon kita. karena kita
enggak akan ee ngambil sesuatu baru dari
alam. Kita juga enggak membuang yang
kemudian menjadi limbah, metaman, dan
sebagainya yang menghasilkan emisi. Jadi
kita memakainya lagi. Nah, kredit karbon
ini mekanismenya kita harus dorong terus
nih ke pemerintah sehingga pelaku usaha
kita- kita dapat insentif ketika kita
melakukan restorasi, kita melakukan ee
apa pengurangan emisi dari aktivitas
sularer yang kita lakukan. karena kita
kan enggak membuang sampah, kita enggak
memakai sumber daya alam yang baru dan
sebagainya. Nah, komponen emisi yang
kita reduksi ini ee bisa seharusnya
dikompensasi menjadi karbon kredit di
berbagai negara sudah dilakukan itu.
Jadi, ini ee membuka peluang pembiayaan.
Yang ketiga, pembiayaan berbasis hasil.
Nah, ini sudah dilakukan sebenarnya
performance based finance. Ee biasanya
pembeli yang melakukannya ini misalnya
eh kalau saya minta produk Anda ee dan
ada komponen recycle komponen daur
ulangnya lebih banyak, saya akan bayar
lebih. Nah, itu berdasarkan hasil. Nah,
premium itu premium pricing ini ee di
berbagai produk sudah dilakukan baik di
kayu, baik di plastik, baik di komponen
manufacturing yang lain. Nah, dana ini
tidak dikuturkan hanya berdasarkan
rencana tapi juga berdasarkan capaian.
Jadi, misal rencananya oke 30% dari
total eh komposisi produknya recycle.
Tapi kalau mereka dapat lebih 40 atau
50% ada tambahan e premium dari price
yang mereka dapatin. Nah, mereka juga
bisa menegosiasikan ini menjadi advance
payment sebenarnya. Jadi pembayaran yang
dimajukan terlebih dahulu itu negosiasi
antara si penjual dan pembeli. Nah, ini
sebenarnya sudah dilakukan ee tapi
skalanya harus kita dorong terus untuk
lebih banyak karena ini model ee semacam
ini sangat-sangat ee sangat apa ya ee
signifikan untuk melakukan perubahan
karena konteksnya adalah penjual dan
pembeli langsung bernegosiasi. Tapi
model ini mendorong akuntabilitas ya.
Nah, jadi harus ada transparansi. Jangan
sampai udah ngomong kayak gitu kemudian
dicek oleh pembelinya. Kalau sayang
misalnya pembelinya dari luar eh
ternyata kita maaf-maaf kata ngibul gitu
kan atau berbohong ternyata hanya
komponennya 10% padahal ngakunya 30%
40%. Nah, itu satu sektor akan kena
dampaknya semua kalau kita ee sangat ee
atau tidak melakukannya dengan jujur.
Jadi, itu sangat sangat tidak akan
membantu. Terakhir tentunya kemitraan
publik, swasta, pemerintah, dan
filantropi. Jadi proyek sular ini
membutuhkan dukungan lintas sektor
terutama kalau kita ingin menjangkau
pelaku usaha kecil, kemudian juga
komunitas lokal ee insentifnya seperti
apa ke mereka, tenaga kerjanya bagaimana
kita bisa biayai juga. Mungkin enggak
semuanya dari komersial, ada juga
filantropi, yayasan yang bisa membantu,
pemerintah juga bisa membantu. Jadi
kolaborasi yang tepat. Kemudian ada
roadmap nasional, sektor-sektor apa aja
yang harus didukung, tekstil,
elektronik, pertanian, perkebunan, dan
sebagainya itu juga mesti kita lihat
kelautan. Jadi bayangkan kalau limbah
tekstil misalnya dari industri garmen
bisa diolah menjadi bahan baku baru,
tapi diolahnya, maaf kata diolahnya oleh
UMKM setempat kan ada kemitraan tuh
jadinya. Nah, ketika UMKM setempat sudah
diolah, masuk lagi ke pabrik itu, pabrik
itu kemudian bisa mengolah menjadi
produk yang akhir dan dijual misalnya ke
Eropa, Amerika dan sebagainya, value-nya
bisa dapetin lebih dan UMKM yang ada
sekitarnya bisa mendapatkan nilai
tambah. Saya lihat ini peluang mungkin
di sekitaran ee Jawa Barat, Bandung
sekitarnya, kemudian juga Jawa Tengah,
Boilali sekitarnya untuk tekstil ya.
manufaktur yang lainnya juga seperti
itu. Kalau makanan mungkin di bahkan di
ee apa provinsi seperti Lampung ee dan
sebagainya juga menjadi penting gitu
kan. Jadi ekonomi sekular sebenarnya
sudah dilakukan dan bukan sekedar wacana
tapi tentunya investasinya memang butuh
lumayan besar dan inovasi dari
pembiayaan atau investasi ini
masih-masih sangat diperlukan ke
depannya. Next slide, please.
Jadi, Ibu Bapak sekalian ee tadi kita
sudah berbicara mengenai pembiayaan,
kita sudah berbicara mengenai
kolaborasi, tapi ada satu hal yang
memang sangat penting dalam konteks
ekonomi sekuler. Karena kita perlu
mindset baru, kita perlu sesuatu cara
berpikir atau cara pandang yang berbeda.
Dan karenanya biasanya kita memerlukan
teknologi pendukung yang juga baru. Jadi
dari dalam transisi menuju ekonomi
sekular ini teknologi menurut saya
adalah enabler utama eh faktor ee apa
yang akan menentukan apakah kita bisa
apa enggak. Teknologi misalnya seperti
IoT and AI. Nah, jadi bisa mungkin
dilakukan ke depannya nanti memantau
limbah seperti apa, real time-nya
seperti apa, berapa ee sampah yang sudah
menggunung di mana, apakah bisa
dimanfaatkan, pemilih pemilihannya
gimana dan sebagainya. Sekarang sudah
dilakukan dengan sistem-sistem aplikasi
yang sederhana ya. tadi kan koneksi
antara si penjual yang ee misalnya toko
kue, toko makanan segala macam, tapi ke
depannya itu sistemnya harus di dipakai
untuk sektor yang lebih besar lagi.
Berikutnya adalah bioteknologi. Ee
bioteknologi ini penting banget. Eh,
sekarang ada beberapa pilot atau eh
testing di mana ada mikrobia misalnya
yang di ee introduce, diperkenalkan
untuk memakan sampah atau limbah lebih
lebih cepat. Dan kemudian residunya bisa
menjadi daur ulang ee organik ee untuk
jadi misalnya kompos, pupuk dan
sebagainya. Ee mungkin Ibu Bapak di
beberapa tempat atau di daerah
masing-masing tahu Meget ya. Megget itu
lava. Kemudian jadi makanan eh sori e
limbah dan sebagainya. Jadi dimakan
kemudian lavanya menjadi bisa jadi pakan
ternak, bisa jadi juga sumber ee oil
atau minyak. Nah, untuk goreng dan
sebagainya itu sudah diperkenalkan. Saya
juga pernah ngelihat di Bali. Saya
pernah melihat juga di beberapa tempat
di Jawa dan sebagainya ini juga ee ada
beberapa ee pelaku usaha di Singapura
sudah mencoba untuk memanfaatkan itu dan
membeli dari Indonesia untuk oilnya gitu
kan. Alternative oil ee dari MAGET
misalnya. Kemudian platform digital
seperti saya tadi sebutkan, sistem MRV
monitoring, reporting verification-nya
karena harus transparan. Jangan sampai
kita bilang klaim bahwa ini eh recycle
atau sudah daur ulang tapi ternyata
enggak atau persentasenya kurang. Nah,
itu kan akan tidak dipercaya oleh pihak
pelaku pasar. Kemudian ee banyak hal ya
pengelolaan logistik tentunya menjadi
penting karena logistik ini ee akan
sangat signifikan mengkoneksi ee si
pelaku usaha yang melakukan darur ulang
dengan si pembeli atau yang tadi
misalnya yang seperti siwit. Jadi
budidayanya ada di mana? Di timur
Indonesia, tapi publiknya ada di barat
Indonesia. Kan nyambungnya terlalu jauh.
Alhasil terlalu mahal. Makanya enggak
bisa komit, enggak bisa berkompetisi.
Nah, bagaimana kita bisa kemudian link
antara itu logistiknya juga bisa di
diconnect gitu kan. Jadi tantangannya
banyak sekali. Masih UMKM terutama di
daerah mungkin belum mempunyai akses
terhadap teknologi ini atau mungkin
tidak punya kapasitas juga untuk
mengadopsi teknologi ini. Jadi perlu
dukungan untuk training kapasitas
mungkin Eco Edu. Nanti kita bisa
sama-sama lihat apa aja yang bisa
dilakukan. ada beberapa network ee UMKM
dari pihak kami misalnya, mungkin bisa
kita diskusikan sama-sama untuk apa aja
sih teknologi sesederhana apa yang bisa
mungkan mungkin untuk UMKM yang fokus
makanan, UMKM yang fokus tadi agriway ya
menjadi biochar, menjadi ee biostimulan,
menjadi ee kompos misalnya ee atau yang
daur ulang ee sampah elektronik ya bisa
dimanfaatin apa aja. kita punya partner
seperti Dulang untuk bisa sama-sama
nanti ada training untuk UMKM di daerah
bisa jadi sesuatu yang bisa kita
sama-sama lakukan. Jadi teknologinya
sebenarnya enggak perlu canggih-canggih
banget untuk beberapa level. Dia harus
terjangkau yang pasti dan relevan bagi
pelaku sektor ekonomi sirkular yang ada
di daerah masing-masing. Ee lanjut
slide berikutnya.
Jadi, Ibu Bapak sekalian ee yang kita
sama-sama kankan sebenarnya dalam
konteks sirkular namanya juga rantainya
menjadi bulat ya. Itu enggak bisa kita
lakukan sendiri-sendiri. Jadi harus ada
keterlibatan
ee kolaborasi yang menyeluruh dan setara
ya. Jadi, biar kita sama-sama komplemen,
kita sama-sama terlibat. Jadi tentunya
keterlibatan masyarakat lokal dan UMKM
menjadi ujung tombak inovasi dan
implementasi di lapangan. komitmen
sektor swasta juga sangat penting untuk
membangun rantai pasok karena mereka
biasanya brand kita tahu ada ee saya
pernah eh menjadi advisor di Pepsico
misalnya mereka sangat lihat opsi-opsi
apa aja yang bisa kemudian mereka
lakukan untuk membeli lagi si ee
material atau botol yang enggak pakai
kemudian mereka akan olah dan
sebagainya. Nah, itu ada sistem insentif
yang bisa dibangun dengan pelaku sistem
pembulung dan sebagainya juga. Jadi
menjadi penting komitmen sektor swasta,
regulasi dan insentif pemerintah. Apakah
bisa misalnya lewat terpres ekonomi
hijau sehingga memberikan arah dan
dukungan agar transisi yang kita
inginkan punya landasan hukum dan fiskal
yang kuat. tentunya tentu juga adalah
lembaga keuangan ini berperan penting
dalam menyediakan pembiayaan inovatif
yang seperti tadi saya sebutkan green
bond carbon credit dan sebagainya hingga
skema berbasis hasil performance base.
Namun kolaborasi ini hanya akan efektif
Ibu Bapak sekalian jika dibangun satu di
atas dasar kepercayaan, transparansi dan
juga kesetaraan. Jadi, ekonomi sirkuler
ini akan sulit tumbuh ya kalau misalnya
tadi enggak ada kolaborasi apalagi
enggak ada kolaborasi yang inklusif dan
berkelanjutan. Ee lanjut slide
berikutnya.
Jadi, Ibu Bapak sekalian, ada banyak
yang bisa kita lakukan karena ini
peluang yang masih ee baru misalnya di
berbagai tempat banyak yang enggak tahu
juga, tapi value-nya sebenarnya sudah
banyak e dihargai di ee misalnya
negara-negara yang lain yang membutuhkan
produk yang banyak komponen ekonomi
sekularnya. Yang pertama pertanyaannya
sekarang mungkin bukan mengapa ekonomi
sekular ini penting, tapi apa yang bisa
kita lakukan sama-sama. atau mungkin
sendiri-sendiri ee di awal apa yang kita
bisa lakukan. Pertama yang dibutuhkan
dan sangat dibutuhkan saat ini adalah
gimana kita bisa membangun pipeline
project yang bankable. Nah, apa
maksudnya? Ini menjadi penting untuk
kita pahami sama-sama. Jadi, proyek yang
dibangun itu bukan hanya bagus, bukan
hanya berdampak, tapi juga layak secara
finansial. Karena kalau dia layak
finansial, misalnya gini, kita ambil
limbah atau sampah yang kita ingin
setelah dipilah dan sebagainya, kita
kemudian ubah menjadi produk baru. Nah,
produk barunya itu harus punya bukan
hanya nilai tambah, tapi juga bisa
diterima pasar. Ada beberapa ee Smi atau
UMKM di beberapa tempat yang mengubah
limbah kayu menjadi furniture atau
menjadi ee kayak apa? meja ini jadi ee
tatakan dan sebagainya. Nah, kemudian
dia furnis lagi, dijual dengan nilai
tambah karena dia bilang ini 100% atau
bahkan 80% ee recycle karena
memanfaatkan limbah. Ada yang
memanfaatkan limbah plastik untuk juga
ee jadi beberapa material rumah ee
termasuk meja, kursi, furniture dan
sebagainya itu juga ee dihargai lumayan
ee mahal ya ee di kafe-kafe dan
sebagainya sudah dibeli dan sebagainya.
Jadi, high end. Nah, ini ketika ada
transaksi yang berkelanjutan
em berarti dia bisa dianggap layak
secara finansial dan kemudian si pihak
perbankan atau pihak lembaga keuangan
akan mau juga melakukan investasi
tambahan untuk si pelaku usaha untuk
bisa membangun pabriknya, membangun
workshop-nya, membangun tempat kerjanya
dan sebagainya. Dan bahkan mengambil ee
apa pekerja pengrajin di sekitarannya
untuk membiayai dan sebagainya.
Kemudian yang paling penting adalah juga
kita perlu kalau bagi ekspert pakar dari
universitas ee kita gimana atau riset
tadi mengembangkan metodologi yang
kredibel. Kita harus ngelihatin
metodologi yang apa bisa mengakses atau
melakukan analisis dampaknya. Dampak
lingkungannya jangan sampai kemudian
bahkan dengan ekonomi struktural dampak
lingkungannya lebih lebih buruk
misalnya. Jadi ee sehingga apa ee aspek
sosial lingkungannya bisa lebih diukur,
bisa lebih di ee teliti lebih lanjut dan
dikomunikasikan dengan jelas. Di sisi
implementasi. Nah, seperti tawaran saya
tadi dengan teman-teman Ekoedu dan
mungkin Bapak Ibu sekalian, bagaimana
kita bisa membangun kapasitas lokal
untuk tata kelolanya, untuk kemudian
pengembangan kapasitas ee R&D-nya
misalnya pengembangan kapasitas
knowledge satu sektor mengenai
circularity tadi, apakah tekstil,
elektronik atau kemudian sampah organik
dan sebagainya. Nah, kemudian bisa ee
bukan hanya kemampuan institusi
daerahnya menaik ee meningkat, tapi juga
tata kelolanya berjalan transparan dan
akcountable. Dan tak kalah pentingnya
sejak awal kalau bisa kita bisa
melibatkan investor sejak tahap desain.
Investor ini enggak perlu perbankan
besar dan sebagainya. Siapapun yang
kemudian kita lihat punya peluang bahkan
perusahaan yang akan membeli itu bisa
kita libatkan. Mereka maunya apa sih
gitu kan ee produknya seperti apa dan
sebagainya. Kalau kita tahu kita bisa
membangun produk yang memang diinginkan
pasar dan investor bisa masuk. Dengan
begitu proyek sular atau konsep sular
ekonomi ini dapat disusun sesuai
ekspektasi pasar, sesuai ekspektasi
investor, dan juga bahkan yang pada
gilirannya penting adalah punya dampak
ee positif terhadap sosial dan
lingkungan. Jadi misalnya di kami ya di
SLFDM Capital kami mendukung sekali
inisiatif yang menggabungkan dampak
lingkungan dan kelayakan finansial tadi.
Nah, itu akan menjadi ee project ataupun
company ataupun perusahaan ataupun
aktivitas bisnis yang lebih mudah
dibiayai. Nah, ini yang kemudian perlu
ee rancangan sama-sama, support
sama-sama dari semua pihak. Ee lanjut
sebagai penutup,
Ibu Bapak sekalian. Kita lihat ekonomi
sular. Sekali lagi bukan hanya solusi
lingkungan, ia adalah peluang bisnis,
inovasi,
dan ee pembangunan yang inklusif. ee ke
depannya dengan pendekatan yang
kolaboratif nih yang kita bisa sama-sama
lakukan ee tentunya berbasis inovasi
lokal, kita bisa menjadikannya motor
untuk transisi menuju Indonesia yang
tetap lebih maju karena kita ingin ee
membangun ya, tapi kemudian tidak ada
limbah atau limbahnya menjadi lebih
berkurang, rendah emisi, tangguh dan
sebagainya. Tentunya tantangannya masih
kompleks. Peluangnya
buat saya tentunya jauh lebih besar.
dari pengelolaan limbah menjadi bahan
baku yang baru. Itu kan tantangan
sekaligus peluang penciptaan lapangan
kerja yang hijau. Kemudian kalau ini
bisa kita dorong sama-sama ee insyaallah
kita bisa dapetin ee hasil yang lebih
baik. Negara-negara negara-negara lain
sudah ee menunjukkan ini bisa dilakukan,
kenapa kita enggak? Jadi kita bisa
sama-sama membangun ekosistem yang
saling menguatkan. kita bisa mendorong
proyek-proyek sular yang bankable tadi.
Kita bisa libatkan komunitas, sektor
swasta, R&D, universitas, research, ee
kemudian investor sejak awal dan kita
harus pastikan bahwa setiap langkah yang
kita lakukan itu harus ada dampaknya,
dampak nyata, dampak positif bagi
lingkungan, ekonomi, dan masyarakat.
Saya sendiri terbuka untuk diskusi,
kolaborasi ee dan ketuk tular kemudian
kita urun rumbuk ide dan sebagainya. ee
mungkin lanjut kita bisa ee ini kontak
saya kalau bisa dilihat ee silakan bisa
ee apa email lebih mudah ee kita lihat
apa aja yang bisa dilakukan. ee ada
beberapa partner di berbagai daerah yang
sudah mengembangkan ekonomi sirkular
baik di sektor tekstil, sektor
elektronik, ee kemudian sektor makanan
atau food dan juga agriculture dan juga
kelautan dan sebagainya mungkin bisa
kita manfaatkan atau bisa kita kerjakan
sama-sama. Ee lanjut.
Jadi buat saya
banyak hal yang bisa kita lakukan. Ee
tapi mungkin kita bisa sama-sama lihat
nanti apa yang bisa kita kembangkan di
berbagai daerah masing-masing. Sektor
apa aja dan kontribusi apa dari berbagai
pihak. Apakah dari sektor pemerintah
seperti apa polisi, kebijakan ee
insentif dari sektor ee misalnya
universitas atau pendidikan, research,
R&D, teknologi, dari segi ekonomi UMKM
ee kapasitas peningkatan di lokal dan
sebagainya. Apa saja yang bisa kita
lakukan, rantai pasok, perdagangan, itu
mungkin semuanya yang bisa kita
sama-sama lihat. Ee sekian dari saya ee
banyak waktu mungkin mudah-mudahan masih
untuk kita diskusi dan ee tanya jawab.
Ee maaf kalau banyak kesalahan saya
kembalikan ke moderator. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Terima
kasih.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih banyak kepada
Pak Fitrian atas pemaparan materinya
yang sangat informatif dan membuka
wawasan kita semuanya. Dan baik Bapak
Ibu peserta kita juga sudah mendengarkan
penjelasan bagaimana jika sircular
sistem ini dilakukan secara kolaboratif
dan juga didukung oleh regulasi dapat
memberikan ee cobenefit seperti menjadi
solusi permasalahan lingkungan dan juga
meningkatkan ekonomi negara. Dan baik
untuk itu kita akan lanjutkan pada sesi
tanya jawab dari Slidu terlebih dahulu
ya. Kebetulan ee untuk pertanyaan dari
Pak dari aplikasi Slidu ini sudah ada 11
pertanyaan Pak Fitrian dan mungkin bisa
langsung saja dijawab oleh Pak Fitrian
ee pertanyaannya satu persatu.
Oke. Emm
sebentar saya minum dulu. Boleh ya?
[tertawa]
Iya boleh, Pak.
Oke. Em menurut ee saya ini pertanyaan
paling bagus nih karena dekat banget nih
dengan kita-kita nih di pedesaan, di
daerah tempat kita masing-masing.
Ee jadi kalau di pedesaan tergantung
karakteristik dari desanya.
Karakteristik dari desanya tentunya kita
lihat apa sih yang diproduksi atau
dikonsumsi di desa tersebut. biasanya
yang diproduksi kan banyak mungkin ya ee
adalah ee produk-produk pertanian ya ee
misalnya apakah padi, apakah jagung,
apakah kopi, kakau atau macam-macam.
Nah, itu kita bisa lihat mungkin dari
banyak produksi yang ada ee limbahnya
banyak limbah pertanian. limbah
pertanian itu sebenarnya ee mudah-mudah
susah dalam artian sebenarnya mudah
untuk kita masukkan ke dalam sistem
ekonomi karena biomassanya tinggi banget
dan ini bisa masih bisa dimanfaatkan
untuk banyak hal untuk pupuk, untuk
biochart dan sebagainya. Kalau ee
dia atau si produk ini ee belum ada yang
manfaatin, mungkin bisa dikelola
sama-sama ee lewat tingkat desa ee
dengan karang tuna atau pemuda
sekitarnya untuk ngelihatin oke setelah
di ee apa sih namanya? Dilakukan panen,
apakah ini ada yang mengumpulkan? Nah,
kalau sudah dikumpulkan ee limbahnya,
limbah pertanian ini, apakah sudah ada
fasilitas untuk mengolahnya ya menjadi
tadi pupuk organik atau enggak? Kalau
enggak ada atau belum, kita harus
identifikasi ada enggak yang mengambil
ee limbah e pertanian ini di ee daerah
ee dekat desa itu ee setempat yang dekat
yang kemudian mengolahnya menjadi
biochar. Nah, kalau misalnya teman-teman
tahu di daerahnya di mana, mungkin nanti
saya bisa identifikasikan, saya bisa
share ke teman-temannya Edu ada
fasilitas fasilitas biochar,
fasilitas-fasilitas pupuk organik ee
atau agriinput yang organik, saprodi dan
sebagainya, saprotan yang bisa kemudian
memanfaatkan limbah ini dan kemudian
adalah transaksi dan menghargai ee ee
apa menghargai si apa namanya ee limbah
tadi menjadi ee sumber untuk ekonomi
sekular.
sebagai itu atau kalau mau melakukan
sendiri di tingkat pedesaan tadi ya tadi
harus dilihat bagaimana infrastruktur
pengolah pengolahannya menjadi atau bisa
dibangun di tingkat desa itu. Kalau ee
dari segi produksinya, dari segi
konsumsi sayangnya memang di tingkat
desa sama juga di perkotaan bisa jadi
mengkonsumsi banyak nih makanan-makanan
ee yang atau jajanan yang ee paket atau
kemasannya plastik ya. Nah, ini
tantangan utama nih mungkin yang harus
dilakukan adalah memilah terlebih
dahulu. Jadi, plastik jangan sampai
kebuang dan sebagainya. Ada kemudian ee
pemilahan-pemilihan dan yang pada
gilirannya bisa kemudian nanti connect.
Nah, karena di desa mungkin enggak bisa
kita langsung memproses ee plastik tadi.
Ee kecuali ada kemudian pilot ya ee
teman-teman Ibu Bapak sekalian di
Kepulauan Seribu kalau nanti tertarik
nanti saya bisa connect. di mana plastik
itu diolah menj menjadi ee melalui
sistem pirolisis menjadi BBM baru. Tapi
unit pirolisisnya ee pengelolaannya itu
unit yang e mobile ya yang bisa jalan
atau bisa di ee apa ee di-share bukan
di-share maksudnya di ee dipakai di
berbagai tempat ya di apa sih ditaruh di
berbagai tempat atau keliling misalnya.
Nah, itu dilakukan oleh satu pihak e
landscape Indonesia di Pulau Seribu.
Nah, ini kalau tertarik atau menarik ini
bisa dilakukan. Mungkin nanti hasil
polisisnya menjadi sesuatu ee BBM atau
bahan bakar minyaknya enggak akan banyak
dari satu desa, tapi mungkin jadi salah
satu opsi dan itu bisa mungkin akan ee
masuk ke apakah bisa digunakan untuk
genset, untuk digunakan untuk yang lain
dan sebagainya. Itu yang pertama.
Mudah-mudahan menjawab ya. Yang kedua,
bagaimana cara menyeimbangkan
pertumbuhan sektor ekstraktif dengan
keberlanjutan lingkungan, tapi tetap
meningkatkan kualitas penduduk dan
pemeratan ekonomi. Nah, ini pertanyaan
di skala makro dan skala polisi. Saya
pikir di skala ee ini sangat-sangat
tergantung oleh kebijakan pemerintah.
Jadi, sektor ekstraktif kan banyak nih,
mining kah, kegunaan besar kah, ee
tambang dan sebagainya. ee nah ini yang
mungkin atau BBM segala macam atau
manufaktur yang besar juga. Nah, mungkin
harus ada ee kebijakan dari pemerintah
bahwa apapun yang mereka lakukan
limbahnya tentu harus diolah. Nah,
apakah olahannya itu kemudian bisa
dipakai lagi untuk ee di ee si sektor
itu sendiri, industri itu sendiri? Itu
harus dilihat industri perindustrinya
akan berbeda. Ee sawit misalnya kan
walaupun mungkin ee tidak benar-benar
didorong banget oleh pemerintah yang
saya tahu ya. Tapi sawit melihat karena
tekanan pasar dan juga kebutuhan energi
dia misalnya ketika mengolah ee di PKS
ya, pabrik pengolahan sawit cangkang
tandan buah kosong dan sebagainya.
Kemudian mereka ee kelola lagi untuk
jadi ee biomassa untuk boiler. Jadi itu
kan ccular circular juga. Kemudian
limbah cairnya yang jadi pome palm oil
meal effluent itu mereka kelola lagi
mereka tangkap jadi biogas. Bahkan di
beberapa tempat di ee Sumatera misalnya,
Biogas ini sudah ada kerja sama dengan
PGN ee pabrik gas negara. Jadi ada CNG
ya kalau enggak salah ya e Bio CNG. Nah,
ini sesuatu yang bisa kemudian dilakukan
oleh si sektor tadi ee dengan
pemerintah, dengan pihak swasta lainnya.
Jadi kualitasnya tetap dijaga,
pemerhatan ekonomi. Nah, ini sesuatu
yang ee saya tadi mungkin bisa kasih ee
contoh yang ee lumayan real di mana ada
satu pabrik di Jawa Tengah tekstilnya
dia cutting cuttingnya, hasil cuttingnya
mereka kemudian kasih atau share ke UMKM
sekitarnya. UMKM-nya ee mereka olah lagi
menjadi produk baru. Nah, produk ini
kemudian oleh si pabrik itu dijual
menjadi nilai tambah ee tertentu. Kalau
teman-teman pernah dengar dulu ada apa
ee suatu perusahaan yang memang memakai
plastik banyak, mereka kemudian kerja
sama brand tertentu ini atau merek
tertentu ini dengan e UMKM setempat.
akhirnya jadi tas ee hasil daur ulang
atau daur pakai ee dari ee limbah-limbah
plastik tadi. Nah, itu sesuatu yang bisa
kemudian sama-sama untuk memastikan ada
juga manfaat bagi penduduk sekitar. Tapi
untuk tadi kualitas lingkungan segala
macam itu peraturan pemerintah dan
enforcement atau penegakan hukum juga
dari pemerintah. Jangan sampai limbahnya
gampang sekali dibuang ke sungai, ke
lahan ee yang lain dan sebagainya. ee
itu. Dan berikutnya indikator
keberhasilan penerapan ekonomi sirkular
di sesuatu daerah atau sektor industri.
Sebenarnya sudah ada secara global sudah
ada semacam parameter atau matriksnya.
Nah, Bapak, Ibu sekalian, Pak Saiful ya
di sini ee hanya saja saya pikir kita
perlu lihat ini eeah mungkin LH,
Kementerian LH bisa memberikan opsi ee
dan juga sharing session ke pemerintah
daerah ee apa saja sih parameter atau
KPI komponen-komponen utamanya ee di
suatu daerah atau sektor? Kalau sektor
industri ada beberapa yang sudah punya,
Pak. Nah, sektor tekstil tadi, sektor
elektronik dan sebagainya. Nah, ini yang
kemudian kita masukkan ke ee menjadi
indikator juga di daerah tersebut. Nah,
getok tular ini yang kita harus pastikan
nih. Kalau mau nanti saya bisa share ee
yang dipakai di beberapa sektor atau
beberapa negara lain untuk mungkin bisa
dilihat apakah bisa diaplikasikan ke
daerah atau sektor industri tertentu di
daerah itu. Ee itu yang kita lihat
indikator keberhasilannya biasanya ee
dia harus ee mereduksi ee sumber daya
atau material yang dipakai sebagai
input. Nah, misalnya yang sebelumnya
kita anggap 100%. Nah, mungkin tahun
depan harus ada penurunan dari 100%
menjadi 90%. Nah, ini bahan baku dari
alam yang dipakai atau bahan baku dari
luar. Nah, 10% yang e sisanya itu dari
recycle dari e dar ulang yang dipakai.
Nah, makin lama makin lama itu akan
menjadi mungkin enggak akan 0% tapi
mungkin 50-50. Nah, itu menjadi sesuatu
indikator keberhasilan. Selain itu juga
limbah yang dibuang ee menjadi lebih
berkurang dari 100% menjadi 70, 80 90
dan kemudian masuk close loop system.
Jadi Pak Saiful, Bapak Ibu sekalian itu
mungkin indikator-indikator yang bisa
kita kemudian dorong. Nah, lebih
kompleks dari itu ee tapi nanti kita
bisa share sama-sama.
Ee berikutnya Ibu Hairunisa bagaimana
kebijakan pengelolaan limbah dapat
disinergikan dengan konsep ekonomi
sekular untuk menekan pencemaran
lingkungan. Kenapa ini pertanyaannya
saya pikir penting banget? Ee pertama
tantangannya ada di ee kebijakan
pemerintah itu sendiri.
Ee sangat disayangkan banyak kebijakan
pemerintah itu sektoral dan silo.
Padahal ekonomi sekular itu harusnya dia
secara horizontal eh komprehensif antar
lintas sektor. Jadi misalnya
pengelolangan limbah, kita tahu ada
kebijakan pengelolaan limbah industri,
pengelolan limbah pertanian, pengelolan
limbah macam-macam. Tapi kadang-kadang
pengolan limbah industri enggak connect
dengan misalnya sektor yang akan memakai
limbahnya itu. Tapi sekarang sebenarnya
ada terobbosan ee misalnya terbosan
waste to energy e pengelolan limbah dari
ee limbah itu sendiri menjadi energi.
Jadi ada apakah itu dari biomassa
pertanian gitu kan. Nah kerjaamanya
dengan ISDM. Nah kemudian e bagaimana
ini masuk kayak sawit kan ee dari ee
POME menjadi ee energi gas atau energi
listrik. Nah, itu bisa dikonnect. Ee
biogas dari ee kotoran ternak juga bisa
jadi energi ee sumber daya untuk memasak
dan sebagainya. Itu juga bisa diconnect
dan sebagainya. Jadi kalau kita lihat
sih enggak usah terlalu mul ee di level
pusat mungkin kita bisa lakukan itu di
level kabupaten atau daerah. Bagaimana
BAPPEDA di daerah bisa kemudian
memastikan semuanya connect gitu atau
kemudian di tingkat kecamatan. Tapi
mungkin yang paling paling penting
sekarang Bapak dari kabupaten atau kota.
Nah, itu kemudian ada lintas sektor
diskusi di situ. Sayang banget ya, kalau
enggak sumber daya alam di daerah itu
makin lama makin habis dan kalau sudah
habis baru bingung gitu kan. Kita enggak
punya kekayaan atau sumber daya alam
lagi bahkan nanti impor. Ee berikutnya
bagaimana pendapat Anda tentang energi
kimia yang tersimpan dalam plastik
diubah menjadi energi mekanis mekanika
mesin ini maksudnya yang pirolisis ya
mungkin yang saya pahami ya. Di mana
plastik tadi diubah menjadi bahan bakar
minyak lagi gitu kan. pemahaman saya ya
ee saya bukan orang minyak dan ee
seperti itu. Ee saya lihat karena memang
plastik ee atau sumber daya plastik itu
di apa ee
dihasilkan dari ee bahan bakar ee minyak
bumi e dan sebagainya ya memang harusnya
bisa dikembalikan lagi menjadi minyak
bumi itu kan dengan proses teknologi
hidolisis tadi. Jadi itu sah-sah dan
bagus. Tapi memang harus dilihat nanti
gimana itu teknologinya bisa
dikembangkan secara lebih masif ee dan
juga bermanfaat buat sekitarnya. Ee yang
saya tadi sebutkan
contoh pilot di ee Kepulauan Seribu di
Jogja dan sebagainya itu sesuatu yang
memang lagi dikembangkan ee tapi memang
masih masih tataran e pilot atau trial.
Nah, semoga ini bisa menjawab ya Bapak
Ibu sekalian. Nah, berikutnya penggunaan
mobil listrik apakah sudah memenuhi
ketentuan ekonomi?
Ee saya jawabnya belum dan sudah gitu
ya. Jadi sebagian besar belum karena ee
mobil listrik kita kan banyak dari hasil
tambang ya. Ya, baterainya sendiri tuh
masih banyak dari baterai baru, dari
litium, dari macam-macam gitu kan yang
memang ee
apa atonikel ya, yang macam-macam itu
dari hasil tambang dan kemudian setelah
dipakai harus dibuang gitu. Nah, ini
mungkin pemikiran baru bagaimana ada
teknologi yang kemudian baterainya bisa
di didaur ulang atau dipakai untuk ee
hal yang lain. Sedangkan untuk mobilnya
sendiri rangka dan sebagainya juga masih
banyak either plastik aluminium dan
sebagainya dari yang dari yang ee sumber
daya alam baru.
Mungkin terobosa yang dilakukan yang
saya lihat sih ee tapi belum di
Indonesia saya lihat e tapi sudah ada di
mobil-mobil di luar itu rangka-rangka
kayak kayu atau apa gitu kan yang
kemudian atau ee karet ya atau letter
gitu kan kulit ya sori ee dari jok dan
itu udah udah e udah sebagian e udah ada
ee input atau material dari bahan-bahan
sirkular. Nah, ini yang saya lihat tapi
harganya menjadi lebih mahal memang.
karena itu tantangan terbaru bagaimana
itu bisa kemudian lebih banyak
dikembangkan. Jadi pada dasar
pembangunan mobil listrik mungkin belum
100% memenuhi ketentuan ekonomi sirkular
karena memang masih awal. Ee lanjut.
Seberapa besar potensi ekonomi sirkular
dalam menciptakan lapangan kerja hijau
di masa depan?
Ee sekarang yang saya lihat kalau ini
bisa dimanage dengan baik terutama di di
beberapa daerah itu lumayan signifikan
ya. Ee saya berkunjung ke satu
perusahaan saya enggak bisa sebutkan
namanya di sini.
Jadi perusahaan ini memberikan servis
untuk pengelolaan sampah dan limbah.
Mereka memilah dan sebagainya limbahnya.
Kemudian kalau yang organik menjadi ee
pupuk dan sebagainya yang plastik
kemudian ee masuk ke pabrik-pabrik besar
seperti pabrik ee botol ee air minerelar
atau mineral atau yang lain-lainnya ee
dan kemudian diolah dan sebagainya itu
menciptakan lapangan kerja yang formal
dan informal baru ya. Yang informal
tentunya memberikan support tambahan
insentif bagi pemulung karena ada
insentif baru buat mereka memilah dan
mendapatkan ee tambahan penghasilan.
Yang kedua ee si perusahaan ini kemudian
juga bisa memberikan pekerjaan, lapangan
pekerjaan untuk ee beberapa anak-anak
muda untuk checking, untuk kemudian
melakukan pengembangan sistem dan
sebagainya. Jadi pengembangan aplikasi
yang saya bilang surplus misalnya itu
juga ee membuat opsi baru bagi ee tenaga
kerja ee di perkotaan untuk melihat oke
bagaimana mengconnect ee apa restoran
dan sebagainya yang sayang banget kalau
makanannya kebuang akhirnya masuk ke ee
konsumen baru dan sebagainya. Ini juga
menciptakan sektor baru atau lapangan
kerja baru. Tapi memang skalanya belum
terlalu masif. Nah, kecuali di beberapa
pihak ee perusahaan besar ya yang sudah
kalau enggak salah dekat Surabaya
mengembangkan pabrik daur ulang plastik
ya itu tentunya ada banyak sekali e
pekerja yang kemudian bisa di ee hre ya
bisa di ee pekerjakan di sana dan
sebagainya. Jadi memang s skalanya ini
yang kita harus lihat banyak masih
kecil-kecil tadi UMKM kerja sama dengan
public txil juga memberikan pekerjaan
baru. Opsinya banyak sekarang tapi
memang harus kita e sama-sama.
Berikutnya barang-barang komersil
sekarang kualitasnya rendah agar sengaja
supaya cepat ganti baru dengan beli lagi
seperti HP, baju dan lain karena cepat
rusak jadi produsen sengaja.
Saya pikir memang ini masuknya ranah
kebijakan pemerintah.
ee bukan hanya kualitasnya rendah,
bahkan di berbagai kesempatan kan ada
pertanyaannya, kenapa waktu itu
Indonesia ee sepertinya membiarkan ee
impor ee sampah, impor limbah, impor
barang-barang dengan kualitas eh secondh
gitu kan yang barang bekas masuk ke
Indonesia dengan mudah. Nah, ini juga
pertanyaan besar ya. Jadi, bagaimana
kita bisa
push ee kebijakan-kebijakan di pusat, di
sektor-sektor untuk lebih ini ya, lebih
peduli? Ee saya pribadi diskusi sering
dengan teman-teman di BAPENAS misalnya
di beberapa sektor Kementerian
Keindustrian dan sebagainya. Tapi memang
harus ada conek nih antara Kementerian A
dengan Kementerian B, Kementerian
Perdagangan misalnya dengan Kementerian
Perindustrian. Jangan sampai Kementerian
Perustrian sudah push untuk ekonomi
sekular, tapi Kementerian Perdagangan
masih misalnya memberikan opsi untuk ee
dagang hal-hal yang yang tadi
dipertanyakan kualitasnya rendah dan
sebagainya. Dan juga memang biasanya
kualitas rendah ini murah,
murah sekali. Cuman kalau dilihat dari
masa e pakainya misalnya oh cuma 3 bulan
atau bahkan kurang sedang sedangkan
kalau kita beli baju sedikit relatif
lebih lebih mahal daripada itu kita bisa
pakai 2 tahun gitu kan. Tapi kan memang
banyak orang berpikirnya singkat. Nah,
ini mindset kita juga nih sama-sama.
Jangan sampai gara-gara mungkin ini
10.000 cuma 3 bulan. Nah, ini mungkin
50.000 kita pakai 2 tahun. Berarti kalau
3 bulan kita pakai R.000,
2 tahun itu akan lebih mahal dari
Rp50.000. Nah, itu tapi memang banyak
enggak masuk sih dengan mindset-mindset
kita sebagai konsumen yang inginnya
langsung murah. Ee lanjut.
Jika pengelolaan sampah padat ee fokus
pada pengeluan sampah organik yang
terpisah dari yang lain, apakah ini bisa
meningkatkan efektivitas ekonomi
sekular? Yes, sangat bisa. Jadi kalau
kita bisa dari awal sudah memilah,
memisahkan
itu bisa meningkatkan efektivitas
ekonomi sirkuler dan sangat-sangat
membantu. Masalahnya kita dengan sistem
persampahan kita dari awal sampai akhir
itu seringki banyak tercampur.
Berikutnya,
seberapa jauh seharusnya pemerintah
terlibat dalam ekonomi struktur yang
berkelanjutan? Karena seringkiali
program pemerintahannya jangka pendek.
Harusnya sih terlibatnya dari awal
karena tanpa kebijakan dan insentif yang
jelas
agak sulit di berbagai tempat di daerah
ekonomi sekural berkembang. Tapi
ketimbang kita mengeluh, saya ngelihat
ada beberapa opsi dari ee teman-teman
UMKM, teman-teman korporasi melihat ini
peluang ada tidak adanya support
pemerintah karena ada demand dan supply.
Jadi ada permintaan terhadap produk yang
sirkular sehingga sebenarnya peluang.
Nah, gimana kita menyiasatinya? kita
adain dulu sambil kita negosiasi dan
sama-sama support pemerintah untuk
kebijakan yang ada. Jadi enggak nunggu
gitu kan. Itu yang sesuatu yang saya
pikir lebih baik. Eeah kalau nunggu
terus kita akan jalan-jalan dan kita
akan kalah terus dari negara lain.
Terakhir bagaimana melaksanakan ini
secara kuantitatif karena niat butuh
aksi kuantitatif mengingat kita manusia
memiliki banyak keterbatasan sumber
daya. Nah, itulah makanya tadi ada MRV,
ada sistem yang perlu dibangun. Makanya
saya juga ee mengajak ee lembaga
teman-teman dari lembaga penelitian,
teman-teman dari universitas untuk
melihat bagaimana sistem ini dikelola
dan kemudian dibangun KPI KPI matriks
MRV-nya monitoring, reporting,
verifikasi.
Ini karena biasanya kayak kayak saya mau
invest nih e perusahaan kami nih mau
invest untuk suatu ee aktivitas ekonomi
sekolah pabriklah anggaplah pabrik
pengelolaan daut-daurut ulang.
Kalau dari sistem panik finansialnya kan
to the point tuh kita invest mereka
memproduksi produksinya menghasilkan
dibeli dan ada hasilnya dan kemudian
bisa membayar kita. Nah kalau kayak gitu
em itu kan gampang tuh straight forward
ya to the point. Tapi kan sebenarnya
dampaknya adalah oke dengan dia daur
ulang berapa ton sampah yang kemudian
bisa direduksi. Nah, itu harus dicatat
tuh. Kita minta komponen impact atau
dampak itu masuk ke situ. Misalnya kalau
mereka memproduksi dari ulang 10 ton,
sebenarnya berapa ton sampah yang
kemudian bisa direduksi dan dari sampah
itu sebenarnya berapa emisi gas rumah
kacanya yang bisa di ee avoid ya, bisa
dicegah atau kemudian berapa dari 10
tahun itu pengepul, pengumpul sampai
pemulung yang kemudian masuk sistem
lantai pasoknya si ekonomis kular. kita
harus hitung juga berapa ekonomi
tambahan atau nilai tambah secara income
dan sebagainya ke pihak-pihak tersebut.
Itu harus masuk tuh, Ibu, Bapak
sekalian. Saya pikir itu ee vital ya,
signifikan untuk melihat ee secara
kuantitatif apa aja yang kita bisa
hitung sama-sama. Semoga itu ee membantu
ya ee sharing saya. Kasih saya
kembalikan ke moderator.
Iya. Baik, ee terima kasih kepada Pak
Fitrian atas ee jawabannya dan kita akan
lanjutkan pada sesi selanjutnya yaitu
pertanyaan langsung dari peserta Zoom.
Dan di sini untuk yang pertama saya akan
batasi dulu untuk dua penanya dan
kebetulan juga ini sudah ada yang raise
hand.
Dipersilakan kepada Pak Irza untuk
menyampaikan pertanyaannya.
Ya, terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Saya
perempuan, Mbak.
Oh, iya. Mohon maaf, Bu.
Iya. ini saya ee terkait sirkular
ekonomi mungkin lebih ke sharing karena
kebetulan penelitian disertasi saya
tentang circular ekonomi khususnya
expanded eh apa producer responsibility
eh sampai ke kebijakan di mana di dalam
ee kebijakan pemerintah ada Permen LH ee
LHK 75 tahun 2019 tentang ee pengurangan
ee ee ee sampah oleh produsen ee kita
sirkuler ekonomi itu ee dalam penelitian
saya ee terkait terutama ee kemasan
plastik dari salah satu produsen ee air
mineral terbesar di Indonesia. Ee banyak
negara yang sudah berhasil itu karena
mandatory kalau kita masih dalam sisi ee
sukarela. Jadi
volun ya Bu ya? Volun banyak ya.
Jadi dari 500-an yang sudah
disosialisasi Pak, baru 50 yang menyusun
ee apa ee peta ee peta pengurangan
sampahnya dan baru 20 yang sudah punya
jaringan, Pak. Itu pun sudah dianggap
suatu keberhasilan, sudah mendapat
penghargaan. Sementara dari hasil
hitungan saya itu ee kinerjanya baru
18%, Pak. Jadi dari ee kemasan yang dia
ee lempar ke pasar baru 18% yang ee bisa
dia olah kembali ee untuk direus ee
padahal dia sudah gembar-gembor 25
menuju 50. Nah, itu sudah dianggap
sangat berhasil dan di lapangan saya
temukan bahwa ee mereka ee ee diaman ee
diamanatkan untuk melibatkan bank sampah
dan sejenisnya. Nah, kebetulan saya juga
bekerja di Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Tanah Datar. Itu permasalahan
susah untuk bank sampah berkembang
karena ee harga itu sangat floktatif.
Jadi ee padahal bank sampah itu kan cuma
mengambil margin selisih harga, Pak.
Nah, jadi itu sangat susah. Begitu juga
ee apa yang dikomplain mereka sudah
mengumpulkan jaringan ternyata ee apa ee
TPS3R, TPST itu tidak menjual ke
jaringan mereka. Mereka tetap
berdasarkan harga yang lebih tinggi,
yang lebih kompetitif. Nah, seharusnya
dari pertemuan yang saya ini dan sudah
menjadi tulisan yang kemarin sudah saya
ikutkan seminar seharusnya ee itu
didorong untuk seperti negara yang sudah
ee sudah maju, yang sudah berhasil itu
harus mandatori, ada rasa tanggung jawab
bukan cuma sekedar ee apa ee
sukarela, kemudian insentif,
disinsentif, kemudian demand untuk harga
juga walaupun e pasar Tapi apabila ee
kebutuhan dari industri itu ee dalam
memenuhi target persentase kemasannya ee
harus dia penuhi, otomatis pasarnya ada
dan e harga akan lebih bersaing. Nah,
mungkin itu, Pak. Jadi, bagaimana daerah
ee daerah ee dan itu juga Pak ee
terpusat walaupun memang pasarnya Jawa
sampai Bali, Pak. Jadi ee padahal
sampahnya kan tersebar di seluruh
Indonesia. Ee jadi masih banyak terlalu
banyak PR ee tapi paling tidak itu ee ee
kontribusi kecil itu bisa memberi
gambaran bahwa memang ee
apa yang selama ini oh sudah
berkontribusi, sudah ini, sudah
melakukan edukasi macam-macam
kenyataannya belum serius, Pak. Itu
saja, terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Ee Mbak Dini, saya boleh
langsung respon?
Iya, silakan, Pak.
Makasih, Bu. Ee Ibu dari Tanah Datar ya,
Bu ya.
Jadi, saya pikir apa yang Ibu sampaikan
tadi itu sangat
relevan dan langsung noh ya kalau boleh
kita ee jabarkan. Ee memang ada
peraturan pemerintah tadi LHK nomor 75
ya, Bu ya 2019. Em
bedanya memang walaupun dimandatkan eh
untuk e extended producer responsibility
ini ee macam-macam
istilahnya ee kewajibannya bagi si
perusahaan untuk circular dan sebagainya
memang masih dalam konteks ee voluntary
atau sukarela tadi seperti Ibu
sampaikan. Nah, inilah mungkin makanya
kita sama-sama nih ke pemerintah pusat
kita bilang bahwa kita sebenarnya ada
krisis nih, krisis sampah. Ee enggak
usah jauh-jauh di Jakarta sendiri kita
lihat hampir setiap hari. Kemudian di
berbagai bahkan tempat wisata seperti
Bali dan sebagainya hampir tuh ya apa
kita lihat juga ee pantainya kalau di
musim-musim tertentu banyak sekali
sampah plastik dan sebagainya. Em
sebenarnya di tingkat global ee Ibu
Bapak sekalian itu ada sudah ada pledge
atau komitmen ee agar si produsen atau
pemilik brand atau pemilik merek itu ee
bisa kemudian
ee
bukan hanya berkomitmen tapi juga
terlibat dalam rantai pasok sehingga ee
mereka bukan hanya kemudian mendukung
secara komitmen ee suara atau ee ee
verbal tapi juga langsung masuk ke
rantai pasoknya. Ee mungkin yang kita
bisa lakukan sama-sama selain
mengingatkan pemerintah tadi adalah juga
ya ada semacam advokasi ya mungkin Ibu
Bapak sekalian harus ee bisa bermitra
bisa jadi dengan misalnya NGO atau
lembaga-lembaga non pemerintah yang
memang bisa memfokuskan kepada advokasi
sehingga apa yang seharusnya
dikomitmenkan benar-benar bisa di ee
terapkan ya. Tadi kalau cuman 18% dan
sebagainya efisiensinya sangat-sangat
rendah. Nah, ini yang harus kita push
sama-sama. Jadi, yang yang
sayang-sayangnya eh sayang sekali memang
masih masih terjadi kendala di lapangan
seperti itu. Kalau di beberapa daerah ee
saya sendiri kemarin terlibat dengan
beberapa diskusi di pusat ee dengan Pak
sekalipun dengan salah satu investor
Belanda. Sekarang kita mau lihat nih
kota mana skala menengah. Jadi bukan
hanya di Jawa Bali ya, Bu dan juga Ibu
Bapak sekalian untuk melihat bisa enggak
ada semacam ee ekosistem sirkular yang
kemudian bisa dikembangkan. ee pertama
dari sampah perkotaannya, kemudian
sampah pedesaan tadi yang dari sisi ee
biomassa dan sebagainya untuk kemudian
diubah dan kemudian kembangkan ee
materialnya bisa dimanfaatkan untuk
produk baru. Ee selain itu konversi tadi
misalnya BAS dan sebagainya bisa jadi
energi atau kalau mungkin jadi nanti ee
pupok organik atau apapun namanya
reduksi emisinya ini bisa kemudian
dibiayai menjadi ee karbon kredit. Nah,
ini lagi diskusi antara ee pemerintah ee
satu negara di Eropa itu Belanda dengan
pemerintah Indonesia untuk mendorong
pembiayaan ini. Nah, mungkin nanti saya
bisa share kalau mudah-mudahan
kuartal pertama tahun depan sudah ada
kesepakatan dan saya lagi dan beberapa
teman lagi post sama-sama ini bukan
hanya terkonsentrasi di Jawa Bali. ee
walaupun memang Jawa Bali banyak
penduduknya, tapi memang isu ini menjadi
tantangan banyak pihak di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua
sekalipun dan juga Nusa Tenggara. Nah,
ini yang yang kita ingin sama-sama lihat
di mana yang kita bisa lakukan. Ee itu
itu saja sementara. Tapi saya saya
sepakat e Bu bahwa ee komitmen-komitmen
yang sudah ada memang bukan hanya harus
ditranslasikan, tapi harus jadi
mandatory dan ini peran pemerintah
menjadi penting dan mandatori ini juga
nanti bisa ee kita link dengan ee
kewajiban mereka siutusan tadi kalau
mereka ada brand global secara global
karena mereka komitmennya kan harusnya
menunjukkan bahwa itu bukan hanya ee di
atas kertas tapi juga benar-benar
dilakukan di lapangan. Terima kasih.
Iya. Baik. Ee terima kasih Bu Irza atas
ee diskusinya.
Ee mungkin ee dipersilakan bagi Bapak
Ibu apabila ada hal yang ingin
ditanyakan ataupun didiskusikan ee bisa
langsung saja menggunakan fitur rise
hand nanti dari kami akan ee membuka
untuk unmute.
Oke. Baik, kebetulan di sini sudah ada
Pak Yusuf.
Dipersilakan Pak Yusuf untuk ee
memberikan pertanyaannya.
Ya, terima kasih kesempatannya. Ee saya
setuju dengan Ibu Iradi ya. Artinya sih
sebenarnya kuncinya masalah sirkular
ekonomi ini ada di regulasi. Saya di
Bandung ini buat yayasan yang bergerak
di ya mungkin bisa disebut sirkular
ekonomi. Itu benar Bu yang disampaikan.
Kenapa di satu sisi, misalkan di sisi
lingkungan kita coba apa ee mengolah
limbah tersebut. Tapi satu sisi lagi
kita terkendala dengan pemasarannya.
Contoh misalkan dengan pet ini. Itu
benar Bu, minggu ini aja pet-nya sudah
turun lagi. Harganya menjadi R3.800.
Dari awal bulan Januari itu harganya
5.000 ke atas kayak gitu. Selidik punya
selidik yang tadi Bapak sampaikan.
Benar. Jadi jalur pasok distribusi ini
terhambat lagi oleh ee pasokan impor,
Pak. Gitu kan. Mereka harganya lebih
rendah dan sebagainya sehingga
penanganan lingkungan ini jadi apa ya
terhambatlah seperti itu. Termasuk juga
ke magot. Magot juga sama kita reduksi
dari organik. cuman para apa ya poluntir
tadi itu sama ke mana harus apa ee ee
menyalurkannya, ke mana pemasarannya.
Hanya disuruh-suruh aja oleh Dinas
Lingkungan Hidup untuk mereduksi magot
lah, mereduksi untuk apa untuk apa,
tetapi tidak ada pembinaan langsung ini
dijalurkan ke mana gitu. Termasuk juga
ee polarisis, termasuk juga mungkin
ekoenzim dan sebagainya gitu. Jadi ee
harapan saya di sini yang pertama yang
harus ditekankan adalah regulasi dari
pemerintah mengenai eh sustability
mengenai ekonomi sirkular ini gitu kan.
Apakah memang benar ee kita bentuk
perbanyak ee lembaga-lembaga sirkuleron
company atau memang ee lembaga-lembaga
yang memang di bawah pemerintahan gitu.
Satu kecamatan itu ada seperti apa
alurnya. Karena yang jadi masalah
sekarang sular ekonomi itu parsial gitu.
Parsial tuh yang ngangkut sampahnya
siapa
udah terserah gitu. RW enggak mau tahu
kamu yang penting ngangkutlah. Ini
gajinya per bulan. Setelah itu di mana
dipilahnya? Enggak ada gitu. termasuk
juga perusahaan-perusahaan besar yang
mempunyai tanggung jawab responsibility
terhadap residu ya. Terutama yang
sekarang saya agak berat residunya itu
adalah kemasan-kemasan Ciki. Karena mau
tidak mau itu harus dibakar,
tidak bisa kita recycle dan sebagainya.
Tapi mana perhatian mereka gitu kan,
perhatian dari dari
perusahaan-perusahaan ini terhadap
lembaga-lembaga pengolah sirkuler ini.
Nah, yang terakhir
ee regulasi pemerintah perlu membentuk
sebuah ekosistem yang ee terintegrasi
dari hulu sampai hilir. Hulunya sudah
jelas, Permen sudah jelas bahwa ada
tanggung jawab dari produksi yang
menghasilkan limbah. Nah, yang jadi
pertanyaan juga adalah bagaimana ee apa
ekosistem dari pengangkutan, pengolahan
sampai kembali lagi ke pabrik ini
benar-benar terpantau dan datanya ada
sampai saat ini parsial. Semua di
Indonesia ini datanya parsial.
Kalau misalkan pengin tahu ee berapa
sebenarnya pemulung yang ada di
Indonesia parsial semuanya, Pak. Kita
enggak pernah tahu sampah kita yang
dikeluarkan dari rumah itu akhirnya di
mana. Tidak ada data yang bisa
menggambarkan itu. Kalau ada yang bisa
menggambarkan itu, saya kira ekonomi
sirkular ini menjadi satu bagian apa ya
dunia baru dari bidang misalkan ee
lapangan kerja akan terbentuk, ekonomi,
dunia usaha juga akan terbentuk,
lingkungan juga akan terbantu. Ini kan
parsial semua. tidak ada satu dalang
yang yang mengonstr apa membuat alur
dari awal sampai akhir itu enggak ada
gitu. LH juga parsial datanya semua
gitu. Termasuk juga apa ee
produsen-produsen
ee penghasil limbah yang menghasilkan
sampah rumah tangga atau sejenis rumah
tangga gitu. Jadi ini seakan-akan banyak
sekali wacana tapi sebenarnya
implementasinya masing-masing.
Itu aja sih sebenarnya. Itu aja mungkin
ee tambahan dari saya ya. Semoga
pemerintah bisa membuat satu ekosistem
yang jelas dari hulu sampai hilirnya itu
seperti apa gitu. Sehingga ee masalah
lingkungan, masalah ekonomi sirkular ini
tidak ada wacana. Saya juga masih
bingung gitu dengan apa dengan pengajuan
saya. Mungkin saya juga akan ajukan ke
Dinas Perindustrian agar bisa menjaga
para pemulung kita gitu. Agar
bahan-bahan baku impor dari recycle ini
ya dijagalah gitu. Karena semakin rendah
malas pemulungnya untuk mulungin buat
apa cuman 1000 perak per kilo gitu kan
tapi harus jalan-jalan keliling dan
sebagainya. Ini sangat berpengaruh. Itu
aja Bu Pak Pitrian. Makasih banyak.
Mungkin lanjut ee langsung ya, Pak
Yusuf. Makasih banyak, Pak. Em
konteks apa yang disebutkan Pak Yusuf
memang
apa ya agak miris ya kalau kita lihat ee
sebenarnya sekali lagi kita sudah
lumayan kritis atau krisis ya dalam
konteks limbah sampah ee polusi yang
kita temukan hampir sehari-hari di
banyak tempat di Indonesia. Tapi
solusinya juga sebenarnya ada seperti
tadi Pak Yusof bilang. Em, tapi kok jadi
kayak ngejelimet sendiri gitu ya? Karena
kita tidak kordinil, tidak koordinasi.
Ee kita juga tidak gotong-royong dengan
baik, jadi silo, e jadi apa
terpisah-pisah dan sebagainya.
Em ya memang kita enggak perlu eh enggak
boleh ee capek ee untuk selalu ngobrol
ke pemerintah mengambil kebijakan bahwa
ini harus dilakukan ya ee dengan
koordinasi dan sebagainya dan
mengadvokasikan juga ke pemilik ee merek
atau ke pemilik ee perusahaan untuk
mereka bertanggung jawab itu langsung
bukan hanya dari sisi apa yang mereka
ucapkan tapi juga benar-benar
dinyatakan.
Ee tapi selain itu apa yang dilakukan
Pak Yusuf kita harus sangat hargai
sebenarnya apa yang beliau beliau
lakukan sebenarnya banyak sudah
dilakukan UMKM dan teman-teman di banyak
tempat. Nah, yang mungkin yang kita
harus lakukan adalah mengidentifikasi
sebenarnya aktivitas-aktivitas seperti
ini ada di mana aja dan mungkin Pak
Yusuf kalau berkenan nanti kita bisa
tektokan informasi. Insyaallah kalau
misalnya nanti ada ee saya bisa connect
mudah-mudahan dengan misalnya beberapa
grup yang ekosistemnya agak lebih besar.
Ee sekali lagi mungkin kita enggak bisa
melakukan ee solusi keseluruhan, tapi
mungkin ada beberapa hal yang kita bisa
bantu kita connect ee antara misalnya
tadi yang bisa memanfaatkan
produk-produk hasil sirkular.
Mudah-mudahan dengan harga yang lebih
cocok dan sebagainya ee sehingga kita
bisa ee minimal tetap memberikan
semangat ya menyemangati pelaku-pelaku
ee UMKM atau komunitas yang fokus banget
dengan ekonomi sekular, dengan
pengelolaan limbah, pengelolan sampah
dan sebagainya. E karena kalau dari
pihak saya, Pak Yusuf dan Ibu Bapak
sekalian, saya tuh selalu mulai dari dua
sisi. Sisi pertama dari sisi demand atau
sisi permintaan pasar. Jadi benar kata
Pak Yusuf, jangan sampai teman-teman di
lapangan ee di daerah-daerah diminta
untuk melakukan sesuatu tapi sebenarnya
enggak ada akses pasarnya. Kalau saya
selalu memulai dengan akses pasar,
pasarnya minta apa sih gitu kan. Nah,
kalau pasarnya minta apa kemudian ada
enggak komitmen dari pasarnya untuk
membeli atauourcing ya? mengambil itu
secara berkelanjutan atau
berkesinambungan. Kalau itu ada, itu
akan lebih memudahkan. Jangan sampai
kita membuat sesuatu kemudian enggak ada
pasnya itu bukan hanya sebenarnya enggak
mbazil tapi sangat disayangkan. Jadi
enggak ada insentif tambahan dan
kemudian price pricing-nya seperti apa
ee harganya bisa disepakati enggak dan
sebagainya. Walaupun nanti ada fluktuasi
dan sebagainya tapi tetap di koridor
yang memang bisa disepakati.
Em tadi yang kemasan ee makanan yang
memang sekali pakai dan sebagainya itu
memang tantangan besar dan memang harus
ada koneksi dan harus di fasilitasi
pemerintah dan mungkin juga Kadin ya
untuk sama-sama untuk melihat bagaimana
si pemilik merek tadi, brand tadi bisa
tanggung jawab ya. Jangan sampai cuman
pakai kemudian buang dan sebagainya.
Jadi ekosistem terintegrasi itu memang
perlu support pemerintah, perlu
pembiayaan Pak Yusuf dan juga ada
permintaan pasal Bandung itu potensinya
luar biasa. Tapi memang kalau
masing-masing masih silo dan enggak ada
yang koordinir sangat-sangat disayangkan
ke depannya akan sulit ya nantinya.
Mungkin itu Pak Yusuf dan Ibu Bapak
sekalian.
Makasih
ya. Makasih kepada Pak Yusuf atas ee
pertanyaannya tadi. Ee mungkin ini masih
ada tersisa waktu sekitar 15 menit. Bagi
Bapak Ibu yang ingin ee bertanya atau
berdiskusi dipersilakan saja untuk
menggunakan eh fitur raise hand dan
nanti dari kami akan ee mengajukan untuk
unmute.
Ee mungkin saya akan batasi kembali
untuk dua penanya.
dipersilakan bagi Bapak Ibu bisa
memanfaatkan waktunya untuk berdiskusi
ee terkait ekonomi sirkuler.
Eh, baik, di sini sudah ada Pak Faizal
yang rais hand. Dipersilakan kepada Pak
Faizal.
Baik, Pak. Terima kasih atas
kesempatannya.
Perkenalkan, Pak. Saya Faizani, Pak,
dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten
Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan.
Terima kasih atas pemaparan yang sangat
komprehensif tadi dari Pakah.
Nah,
ini dari kami, Pak. Ee perspektif
pemerintah daerah
ini kami melihat bahwa tantangan utama
dalam penerapan
ekonomi sirkular ini adalah sinkronasi
sinkronisasi ya kebijakan lintas sektor
dan kelembagaan.
Karena isu ini bersinggungan dengan
bidang lingkungan hidup, kemudian ee
perindustrian, kemudian ada perdagangan,
kemudian ada pemberdayaan masyarakat.
Nah, sejalan dengan hal itu, izinkan
saya menyampaikan pertanyaan, Pak.
Nah, bagaimana strategi terbaik, Pak,
agar pemerintah daerah
ini dapat memperkuat koordinasi lintas
perangkat daerah dan memastikan bahwa
kebijakan ekonomi sirkular terintegrasi
dalam dokumen perencanaan pembangunan
daerah seperti RPJMD, kemudian ada RPPLH
sehingga implementasinya berkelanjutan
dan memiliki ee dampak nyata bagi
masyarakat. Mungkin itu, Pak, yang kami
sampaikan. Terima kasih atas perhatian
dan arahannya. Terima Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh, Pak Faisal. Makasih banyak,
Pak. Em dari Tabalong ya Kalimantan
Selatan. Pertanyaannya mungkin bisa
kemudian dimanfaatkan ee atau bermanfaat
bagi banyak pihak di daerah.
Pertama saya mulai dari koordinasi yang
tadi ee Pak Faisal sampaikan. Itu memang
sesuatu yang perlu dijalankan, tapi
koordinasi juga enggak bisa dilakukan
kalau sekedar koordinasi Pak Faisal.
Jadi memang harus kita sama-sama melihat
pengalaman saya dengan beberapa daerah
misalnya kita ee
melihat dulu sebenarnya baseline ee
data-data awal apa aja yang ada di
daerah tersebut. Jadi memang
permasalahan di Indonesia tuh biasanya
awalnya dari itu, Pak. kita enggak punya
data, enggak bisa kemudian menganalisis
data, dan kemudian enggak bisa
menghasilkan data yang tepat juga. Jadi
memang datanya harus kita lihat
maksudnya apa datanya itu harus existing
em sektor atau industri yang memang
menghasilkan limbah atau sampah paling
banyak apa sih gitu kan yang kemudian di
kabupaten atau daerah Bapak Tabalong ee
sangat dianggap sudah meresahkanlah ya
atau limbah atau ee sampahnya menjadi
masalah setiap hari. N kemudian existing
itu kita lihat dikaitkan dengan
infrastruktur apa aja yang daerah
tersebut punya, Pak. Ee untuk kemudian
melakukan ee atau memberikan solusi atau
kemudian mengakomodir sehingga ee
permasalahan tadi bisa diselesaikan.
Nah, kalau itu kan ketika baseline itu
dilakukan tentunya ada gap, ada
kesenjangan.
Dari situ kita lihat oke berarti ada
infrastruktur apa saja yang harus di
kelola. Tapi sambil juga mengembangkan
ee data-data tersebut sebagai baseline,
Pak Faisal, saran saya pribadi sih
dengan pengalaman di beberapa daerah
adalah kemudian kita juga lihat rantai
pasok apa saja sih yang memang ada atau
dekat dengan Kabupaten ee Tabalong atau
daerah setempat yang bisa dikonnect yang
bisa memanfaatkan em hasil-hasil
produksi ekonomi sekular tadi ketika
limbahnya sudah di em apa dikelola dan
diubah menjadi produk ee baru produk
dari ekonomi. Kulang karena sangat
disayangkan seperti tadi juga pertanyaan
Pak Yusuf, kalau sudah dikelola dengan
baik atau diproduksi dengan baik, ada
UMKM juga yang terlibat ternyata enggak
bisa dikoneksikan ke pasar ya, Pak. Pak
Pak Faisal. Nah, itu sayang nanti ee
sudah pada semangat jadi semangatnya
turun lagi dan kemudian enggak ada
insentif kan. Nah, setelah itu kemudian
kita petakkan jadi data-data tadi e kita
lihat juga kemudian sebenarnya ada
enggak sih polisi-polisi per sektor per
dinas yang memang sudah ada atau bisa
dimanfaatkan untuk kemudian kickof-nya
menjadi lebih cepat gitu kan. Kalau
belum kan tentunya nanti ada perlu
kebijakan baru tapi biasanya kebijakan
baru kan makan waktu ya Pak Faisal
tahulah ada beberapa hal yang e akan
perlu nanti tektokan antar dinas atau di
dalam dinas sendiri kemudian dengan Pak
Bupati atau dengan dengan BPEDA dan
sebagainya. Tapi sambil menunggu Anda
enggak sih dari kebijakan-kebijakan yang
sudah ada untuk membantu mpush ini. Nah,
itu harus didiskusikan sama-sama. Tapi
yang paling penting tadi yang ekosistem
lantai pasoknya kita juga lihat kalau
bisa reconnect. Kalau belum mungkin
nanti perlu bantuan dari provinsi atau
dari pusat atau dari pihak swasta Kadin
atau ee siapapun ee apa ee asosiasi ee
dari industri itu yang kemudian bisa
dipertemukan Pak. Setelah itu baru kita
lihat berarti mungkin ada infrastruktur
baru yang perlu dikembangkan. Apakah ada
pabrik atau ada pengolahanpengolahannya
apa bisa kemudian dilakukan oleh
masyarakat setempat, pengumpulan
sampahnya dan sebagainya seperti itu.
Nah, setelah itu baru kita lihat oke
berapa sih biaya yang diperlukan biaya
itu kemudian kita minta apakah bisa
dikerja samamakan dengan bank ee di
daerah bank csel atau bank-bank
pemerintah Himbara atau juga bank yang
lain atau dari CSR CSR mereka kita
gabungkan sehingga bisa kemudian jadi
pilot pertama habis itu kita gulirkan
lebih lanjut. Jadi koneksi itu bisa jadi
terintegrasi. Eh, Pak Faisal, saya
melihat kalau misalnya ee kita enggak
mulai dari data, kita enggak analisis
dan sebagainya, baseline ini akan sayang
nanti kita udah ee apa sih namanya? Ah,
semangat dan sebagainya, tapi kemudian
salah sasaran atau kurang tepat.
Berikutnya kalau enggak connect dengan
ekosistem rantai pasok yang ada di
pasar, enggak ada yang beli juga gitu.
Enggak ada yang ngasih insentif pricing
dan sebagainya sehingga investasinya
juga enggak bisa datang sih. Kira-kira
gitu sih, Pak. Nah, saya pikir nanti
harus dilihat juga ee potensi
identifikasi sektor apa tadi yang
benar-benar punya masalah atau
memberikan masalah secara limbah, sampah
dan sebagainya. Tapi juga gampang untuk
kita konversi produknya menjadi produk
sirkular yang punya nilai tambah besar.
Kalau itu bisa connect, insyaallah akan
lebih mudah. Kira-kira gitu, Pak. Nah,
ada beberapa template-nya. Nanti mungkin
saya juga e bisa share ke teman-teman
panitia atau sekretariat di Eko Edu
untuk melihat daerah-daerah mana saja
yang sudah melakukan dengan mungkin
enggak sempurna tapi relati lebih baik.
Makasih
ya. Baik ee terima kasih kepada Pak
Faisal. Ee baik Bapak Ibu semuanya di
sini saya akan memberikan satu
kesempatan lagi bagi ee peserta yang ada
di dalam Zoom. dipersilakan bagi Bapak
Ibu apabila ada hal yang ingin
ditanyakan ataupun didiskusikan
dipersilakan untuk ee langsung saja eh
raise hand.
Oke. Baik. Di sini sudah ada ee mungkin
ini Bapak atau Ibu Najha
dipersilakan.
Halo. Iya, Mbak. Saya Najha.
Dipersilakan, Bu.
Iya, makasih. Jadi, Pak Fitrian terima
kasih. Jadi, saya dari Kementerian
Lingkungan Hidup di kantor pusat ee
Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup
Kantor Regional di Sulawesi, Maluku di
Makassar.
Nah, ee Pak Fitrian, kami sebenarnya
melihat bahwa ee ekonomi sirkular itu
memang kita mulai dari pemilahan
terutama di sumber mau di rumah, di
pasar. Nah, untuk memanfaatkan itu
sebenarnya saya juga kurang ee setuju
dengan beberapa teman bahwa bagaimana
sih rantai pasok kalau kita sudah
menerapkan ekonomi sirkuler. Sementara
untuk melihat secara sederhana
misalnya di rumah kita sudah melakukan
pemilahan bawa ke bank sampah nanti bank
sampah nanti akan menyalurkannya ke
industri daur ulang. Kemudian misalnya
di rumah kita juga melakukan pemilahan
sampah organik. kita buat kompos, kita
bikin ekoenzim, kita bisa manfaatkan
sendiri di menjadi media tanam. Kemudian
ekoenzim bisa kita manfaatkan untuk
sejuta manfaat. Nah, termasuk juga di
pasar. Di pasar itu kan sampah-sampah ee
sisa sayuran, sampah organik itu bisa
dibuat kompos. Hasilnya nanti bisa juga
dimanfaatkan menjadi media tanam untuk
ee membuat penghijauan di sekitar pasar.
Kan seperti itu aja sebenarnya
sederhananya. tidak perlu kita kemudian
ee apa namanya sampah kemasan tadi
sisa-sisa plastik kemasan kan yang
paling sederhana kita bisa mengajarkan
anak-anak sekolah, anak-anak di rumah
untuk membuat menjadikannya sebagai ekob
itu kan itu aja dulu enggak usah kita
pikirkan rantai pasok yang panjang, yang
jelimet, yang susah sementara kita tidak
melakukan hal-hal yang sangat sederhana.
Kemudian di teman, beberapa teman di
daerah juga mereka itu sebenarnya kurang
kami misalnya dari kementerian, dari
provinsi sudah berkali-kali memberikan
ee sosialisasi, edukasi, pendampingan
terkait penerapan ekonomi sirkular. Tapi
beberapa ee teman di daerah itu memang
mungkin ee kurang kreatif. Jadi mereka
tidak mikirnya sampai ke situ bahwa
harus melakukan sosialisasi pendampingan
yang tidak tidak boleh hanya dilakukan
sekali tapi harus berkali-kali sampai ee
hal itu bisa berjalan
dan sebenarnya di situ aja tapi itu
tidak dilakukan, sebagian besar tidak
dilakukan oleh teman-teman di daerah
yang punya tanggung jawab untuk
melakukan pengolahan sampah.
Nah, kami juga sudah ada beberapa ee
pelaku ee pelaku ee apa namanya atau
komunitas pegiat sampah. Kami sudah
sampaikan bahwa orang-orang seperti itu
yang harus dirangkul untuk membantu kita
melakukan pengelolaan sampah di
pemukiman, di pasar, di mana. Tapi ee
beberapa teman di daerah juga itu mereka
mengatakan bahwa ee kita bisa
menciptakan misalnya tadi pelaku pegiat
ekon ee pegiat ekonomi sirkular itu si
A. Mereka bilang, "Oh, kita bisa
menciptakan sia-sia lain di tempat
lain." Tapi kan itu tidak dilaksanakan.
Kenapa tidak kita merangkul yang sudah
ada dan minta mereka untuk bersama-sama
mengembangkan ekonomi sirkular di tempat
lain? Karena mereka kan sudah merasa
bahwa sudah tahu bahwa kegiatan ini
sangat besar manfaatnya, nilai
ekonominya sangat jelas. Sehingga kita
perlu merangkul orang-orang seperti itu.
Nah, kalau menurut saya seperti itu
tadi, Pak Fitrian, bahwa hal-hal
sederhana dulu kita lakukan. Nah, kita
juga bisa melihat kalau kita bisa
menghitung semua teman-teman yang berada
di pemerintah daerah di pusat secara
pribadi apakah kita sudah melakukan
pemilahan sampah di rumah sendiri.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan
orang lain melakukan itu? Kita selalu
apa namanya mengharapkan orang lain
melakukan itu. Pemerintah atau
masyarakat melakukan itu kalau kita
sendiri tidak melakukan itu. Nah, itu
dulu. Jadi kalau semua misalnya instansi
di daerah, perguruan tinggi yang sudah
sangat konsern untuk melakukan
pengolahan sampah melalui ekonomi sular,
melakukan pemilahan yang sedikit demi
sedikit pasti akan dampaknya juga akan
besar. Nah, kemudian yang kedua kita
terkait data tadi kita juga sebagian
besar tidak memiliki data berapa sih
misalnya kita sudah melakukan pemilahan,
sudah melakukan pengolahan sampah secara
organik tapi datanya tidak ada. sehingga
bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ee
sampah yang kita kelola sudah sekian
persen. Nah, kalau menurut saya itu Pak
Fitrian.
Terima kasih Bu Bu Dini. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Em, Mbak Dini moderator nih ada dua lagi
atau gimana menurut waktu ee kita gabung
atau gimana? Silakan
ee mungkin ee digabungkan boleh ya, Pak.
Ya, tapi mungkin mohon izin ee Pak Yusuf
saya akan memberikan kesempatan kepada
yang belum bertanya. Jadi, saya akan
memberikan satu kesempatan lagi kepada
Bu Agustina. Dipersilakan kepada Bu
Agustina
ya. Terima kasih ee narasumber, Bapak
narasumber dan moderator. Ee izin saya
ingin bertanya dari dari berbagai
pendapat yang disampaikan tadi ya. Saya
berpikir sebenarnya kebijakan apa atau
regulasi apa yang
tepat gitu untuk mendukung agar ekonomi
sirkuler ini bisa bisa terlaksana gitu
ya. Sebenarnya potensi itu ada dan
kegiatan itu juga sudah ada tapi mungkin
belum belum terkoordinasi dengan baik
sehingga ee belum maksimal mungkin. Nah,
untuk kebutuhan itu kira-kira
regulasinya atau kebijakan pemerintah
yang harus diambil itu seperti apa, Pak?
Itu saya mungkin. Terima kasih, Pak.
Ee terima kasih ee Bu Agustina. Emm Ibu
Najhah juga tadi. Ee mungkin saya ee
respon ke Ibu Nasah terlebih dahulu tadi
ya. Saya lihat memang Bu Naza ee
seringkiali kita ngelihatnya tadi masih
silo. Ee oh ini urusan sana, ini urusan
sana, ini bukan ususan saya atau em saya
sudah melakukan ini yang lain belum gitu
kan. Kenapa enggak dibantu dan
sebagainya. Memang ee semua memulai dari
kita masing-masing. Seperti ee saya
paparkan di awal ekonomi sekular itu
sebenarnya memang mengubah mindset.
Mindset awalnya adalah mindset dari kita
sendiri ya. bahwa apapun yang kita ee
pakai harusnya enggak linier. Kita
pakai, kita eh kita ambil, kita pakai
kemudian kita buang. Nah, itu memang
masuknya ke mindset ee karakter dan juga
kemudian perilaku kita. Em dan itu
memang enggak bisa enggak harus
dilakukan dari bukan hanya edukasi
seperti Ibu Nas tadi bilang, tapi juga
praktik sehari-hari di kita
masing-masing di lapangan. Mungkin
contoh yang Ibu sampaikan tadi, Ibu Nak
itu adalah ee sampah atau limbah rumah
tangga ya atau limbah ee apa ee pasar
dan sebagainya memang dekat sekali
dengan kita dan memang harus ee kita
lihat dan kita sama-sama ee apa
mendorong perubahan perilaku. Tapiang
perubahan perilaku ini lama ee Ibu Nasa
mungkin tahu lebih lebih tahu dari saya.
ee membutuhkan waktu ee mengubah
kebiasaan, mengubah persepsi, mengubah
dulu kan misalnya kita mungkin ibu ibu
bapak atau ee kakek nenek kita bahkan
kalau ke pasar enggak bawa kantong
plastik kan bawanya kantong kresek yang
apa sih namanya? Bambu atau kemudian ee
pakai kain dan sebagainya. sekarang kita
semuanya plastikan dan sebagainya ya,
plastik kita buang dan sebagainya itu
memang perubahan-perubahan yang cepat
dan kemudian kita enggak bisa balik lagi
ke hal-hal yang lebih alami. Nah, ini
sesuatu yang membutuhkan ee apa ee
seperti Ibu tadi bilang ee konstan ya
untuk kemudian ee handholding atau
kemudian mendampingi untuk kemudian
perubahan-perubahan. Ya memang seperti
itu dilakukan tapi itu mungkin bukan
satu-satunya Bu Naza dan Ibu Naza pasti
tahu di Pusdal tadi bahwa ada suatu
perubahan masif juga diperlukan. masif
itu ada dua sih sebenarnya yang apa tiga
bahkan yang bisa apa mengubahnya selain
dari perilaku. Nah, perilaku itu sekali
lagi menunggu waktu. Yang pertama memang
kebijakan pemerintah. Saya pikir
kebijakan pemerintah tadi sudah ada
seperti Ibu Iza sampaikan ada permen,
ada ini segala macam. Nah, tinggal
bagaimana itu bisa ditegakkan dan
didorong ee lebih lebih lanjut. Yang
berikutnya adalah dari sisi rantai
pasok. Kenapa itu penting Bu? Karena ee
mungkin karena saya masuk pelaku rentai
pasok karena mau enggak mau yang
memproduksi skala besar adalah
perusahaan Bu ee pabrik dan sebagainya
yang produksi saya roti dengan kemasan
ada plastiknya sekarang semuanya ee air
mineral juga sebagainya. Jadi walaupun
ada perubahan berilaku kalau setiap hari
kita tetap dijejali dengan semuanya
plastik semuanya apa komponen-komponen
material yang memang gampang sekali
kebuang dan akhirnya menjadi sampah
kita, itu akan sangat sulit. Jadi memang
rantai pasok perubahannya menjadi juga
penting. Tapi rantai pasok ini kan skala
ekonomi besar. Jadi skala ekonomi besar
ini juga harus ada kebijakan dan
insentif. Nah, insentifnya makanya dari
pasar dan juga dari pembiayaan dalam
investasi. Jadi memang enggak bisa kita
kemudian ini hanya masyarakat aja, ini
hanya rantai pasok aja, ini hanya
komunitas saja atau ini dari pembiayaan
atau investasi lain semua harus
digabung. Jadi memang apa yang
disampaikan tadi mungkin beberapa
masukan sebelumnya memang harus ada
kerja sama dan kejelasan dari
masing-masing pihak dan bekerja sama. Em
saya pikir ee itu em dan em apa ya ee
kalau kalau saya lihat em ke depannya
mungkin ee mungkin ee buat semua juga
sebenarnya kita sih sekarang emm
kalau saya lihat kita bisa ee melihat
potensi sama-sama yang ada di lapangan
ee data-data yang ada juga memang harus
benar-benar kita perbaharui ee dan
kemudian ee kita lihat gap-nya apa aja
gitu. kita mulai dari sana ee kemudian
kita koneksi dengan apa saja yang bisa
kita lakukan di dekat kita dan juga
kemudian juga kalau kita bisa connect
juga dengan kebijakan pemerintah yang
kemudian bisa mendorong perubahan
menjadi lebih cepat, kemudian juga ada
permintaan dari pasar yang memang
meminta produk ee baru dari e ekonomi
sirkul ini dengan harga yang lebih
lumayan itu kita harus dekati juga dan
tentunya kemudahan dan ketersediaan
investasi semacam itu. Ee mungkin itu
dari saya, Mbak ee Mbak Dini sebagai
moderator. Ada yang saya miss enggak?
Masih. Maaf kalau misalnya masih miss.
Ee sudah, Pak, sepertinya.
Ya. Baik. Ee kalau begitu mungkin untuk
sesi tanya jawab dicukupkan dan terima
kasih kepada Bapak Ibu yang sudah
berpartisipasi dan mohon maaf juga bagi
Bapak Ibu yang belum mendapatkan
kesempatan untuk bertanya. Dan untuk
menutup acara webinar ini kepada Pak
Fitrian untuk memberikan closing
statement-nya.
Em terima kasih ee Mbak ini moderator
dan Ibu Bapak sekalian. Saya sudah
kebanyakan ee bicara enggak enak juga
terlalu banyak. Jadi mungkin
kita sudah lihat sama-sama bahwa seperti
Bu Agustina tadi bilang potensinya sudah
banyak nih. E kita harus mulai dari
mana? Nah, ini yang mungkin ee kita
harus e lihat di sektor kita
masing-masing, di daerah kita
masing-masing. Ee data menjadi penting,
informasi menjadi penting. Oke.
Kebijakan apa yang sudah ada kita bisa
pakai enggak? Kemudian insentif apa yang
sudah ada. Kalau belum apa yang kita
bisa lakukan? berikutnya rantai pasok
apa aja yang sudah ada dan bisa ngambil
itu. Kemudian ekosistem apa aja yang
atau infrastruktur apa saja apa saja
yang sudah ada juga gitu kan. UMKM kah,
pengepul kah, ee sistem pemilahan dan
sebagainya itu kita manfaatkan dan tapi
semuanya kemudian harus juga kita
connect ke permintaan pasar dan
investasi yang memang bisa masuk pada
knya harus ada koordinasi ee yang
kemudian harus ada leader ya atau
kepemimpinan champion lah yang bisa
mengkoordinasikan ini di daerah atau di
sektor masing-masing. Kalau enggak ada
susah nanti seperti mungkin tadi Pak
Yusf bilang ada silo atau masing-masing
akan berpikir ee beda-beda. Nah, dan Pak
Faisal tadi sebenarnya ee suatu
pertanyaan yang bagus. Apa yang bisa
kita lakukan duluan? Nah, itu yang data,
data, data, dan kemudian analisis dan
kemudian mengkoneksikan itu menjadi
siopsi apa aja yang bisa dikembangkan
untuk sehingga ekonomial bukan hanya
bagus di atas kertas seperti Ibu Izza
tadi sampaikan padahal enggak
komitmennya mungkin enggak
diterjemahkan. Nah, apa yang
kemudian-kemudian bisa kita terjemahkan
dari diri kita sendiri seperti Buas juga
disampaikan dan tapi juga ee skala
masif, skala lebih besar ee perusahaan
bisa terlibat, pemerintah juga bisa
terlibat dan investor juga bisa
terlibat. Saya pikir itu sementara
terakhir dari saya mohon maaf kalau
banyak kesalahan. Senang sekali sekali
lagi bisa sharing ee kepada Ibu Bapak
sekalian dari semua penjuru Indonesia.
Sukses selalu tantangan ini
mudah-mudahan bisa jadi ee peluang dan
masa depan bagi Indonesia untuk kita
menjadi lebih baik. Makasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Terima kasih Pak Fitrian. Mungkin untuk
selanjutnya kita akan dokumentasi
terlebih dahulu kepada Bapak Ibu yang
bisa mengaktifkan kameranya
dipersilakan.
Baik Bapak Ibu semuanya saya akan mulai.
Untuk melakukan perhitungan mundur
dimulai dari angka 3.
ya. Mungkin satu kali lagi. 3 2 1.
Oke. Baik. ee untuk dokumentasi sudah
dicukupkan dan mungkin saya ucapkan
sekali lagi terima kasih kepada Pak
Fitrian atas penyampaian materinya dan
mudah-mudahan bermanfaat dan membuka
wawasan bagi kita semua dan semoga di
lain kesempatan kita dapat berdiskusi
kembali dan bertemu dalam kegiatan
berikutnya. Dan untuk itu dengan hormat
kepada Pak Fitrian apabila ingin
meninggalkan ruangan Zoom sudah
dipersilakan Pak.
Kasih semuanya sekali lagi semoga
bermanfaat dan sukses semua.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih banyak kepada
Pak Fitrian
dan baik ee Bapak Ibu semuanya, berakhir
sudah acara webinar di hari ini dan bagi
Bapak Ibu yang ingin mendapatkan
e-sertifikat, Bapak Ibu dapat mengisi
link presensi kehadiran yang tertera di
layar ini. Dan ketika Bapak, Ibu mengisi
presensinya, pastikan nama dan email
sudah diketik dengan benar karena hal
ini akan mempengaruhi pengiriman
e-sertifikatnya.
Dan baik saya akhiri kegiatan webinar
hari ini. Mohon maaf apabila saya ada
salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik
wal hidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
siang dan selamat melanjutkan aktivitas
lainnya.