File TXT tidak ditemukan.
Webinar 133 Ekonomi Sirkular dan Peluang Pengembangannya
zHflxit7EUc • 2025-11-06
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu,
dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang
kembali di webinar Eko Edo ke-13.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semua yang
sudah selalu setia untuk mengikuti acara
webinar ini. Dan hari ini webinar Ekoed
Edu akan mengangkat tema ekonomi
sirkular dan peluang pengembangannya.
Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas
sebagai moderator pada acara ini. Baik
Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai
webinar pada siang ini, alangkah baiknya
kita berdoa bersama-sama sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing.
Untuk itu berdoa dipersilakan.
Berdoa dicukupkan.
Untuk acara selanjutnya, mari kita
menyanyikan lagu Indonesia Raya secara
bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak
Ibu untuk duduk tegak.
[musik]
Ya. Baik Bapak Ibu, untuk selanjutnya di
sini izinkan saya untuk mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh kami,
yaitu
di minggu selanjutnya pada tanggal 10
hingga 14 November 2025. Di sini kami
akan mengadakan dua pelatihan, yaitu
yang pertama adalah pelatihan penunjang
dokumen AMDAL dan SLO persetujuan teknis
untuk emisi udara gelombang 21.
Kemudian pelatihan dan sertifikasi
pengambilan contoh uji air atau PCUA
gelombang 3. Kemudian dilanjutkan pada
minggu selanjutnya yaitu tanggal 17
hingga 21 November 2025. Di sini kami
akan mengadakan pelatihan penunjang
dokumen AMDAL persetujuan teknis untuk
limbah B3 gelombang 11. Dan untuk itu,
Bapak Ibu apabila Bapak, Ibu ee
mengikuti pelatihan penunjang dokumen
AMDAL baik yang untuk emisi udara
ataupun limbah B3, Bapak Ibu ketika
melakukan pembayarannya pada H-1
pelatihan, Bapak Ibu akan mendapatkan
diskon 10% sehingga Bapak Ibu cukup
membayarkan biaya investasi sebesar
Rp3.600. R600.000. Dan kemudian untuk
sertifikasi PCUA Bapak Ibu ee cukup
mengeluarkan biaya investasi sebesar
Rp.500.000.
Dan untuk informasi lebih lanjut dapat
menghubungi admin kami yaitu Riris dan
Nisa. Bapak, Ibu juga bisa mengunjungi
sosial media kami yaitu ada Instagram,
YouTube channel, Facebook, Twitter, dan
juga website resmi kami di
www.ecoedu.co.id.
Dan juga bagi Bapak Ibu yang tertarik
langsung untuk mendaftar, silakan akses
ke pendaftaran.co.id.
Dan selain itu juga kami di sini
terdapat inhouse training yang dapat
dilakukan secara offline sesuai sesuai
dengan permintaan dari instansi atau
perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami
tunggu Bapak Ibu semua di pelatihan
dan baik Bapak Ibu, selanjutnya kita
akan langsung masuk pada kegiatan utama
kita yang di mana webinar kali ini kita
akan berdiskusi mengenai ekonomi
sirkular dan peluang pengembangannya.
Dan tentu saja di sini kami telah
menghadirkan narasumber yang sangat
kompeten di bidangnya untuk memberikan
materi dan wawasan yang bermanfaat ini.
Dan langsung saja baik, perkenankan saya
untuk memperkenalkan narasumber kita
hari ini yaitu Bapak Fitrian Ardiansyah.
Beliau merupakan ISG and Impact Director
ACLF
di ADM Capital Climate Hong Kong.
Dan kebetulan juga ee Pak Fitrian sudah
ada di dalam ruangan Zoom. Mungkin saya
akan menyapa terlebih dahulu. Selamat
siang, Pak Fitrian.
Selamat pagi menjelang siang.
Asalamualaikum.
Ya. Waalaikumsalam, Pak Fitrian. Apa
kabarnya hari ini, Pak?
Eh, baik, terima kasih. Senang sekali ee
bisa diundang ee ee ke Eko Edu dan
menyapa Bapak Ibu sekalian juga.
I kami juga sangat ee berterima kasih
kepada Pak Fitrian atas terima undangan
dari kami. Ee mungkin ee izin Pak
Fitrian sebelum melanjutkan atau
melakukan pemaparan ini, saya akan
menyampaikan beberapa teknis terlebih
dahulu yaitu yang pertama untuk
pemaparan ini akan dilaksanakan selama 1
seteng jam kemudian dilanjutkan lagi
dengan sesi tanya jawab dengan
menggunakan aplikasi Slidu dan
dilanjutkan lagi dengan tanya jawab
secara langsung. Dan untuk itu untuk
mengefektifkan waktu saya serahkan
ruangan Zoom ini kepada Pak Fitrian dan
kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat
mengikuti pelatihan eh mengikuti webinar
mohon maaf.
Terima kasih. Ee asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi, salam sejahtera bagi kita semua.
Ee mungkin saya ingin minta bantuan ee
untuk slide-nya ya. Oke.
Oke. Emm,
slide-nya sudah ya? Ee Mbak Dini ya?
Oh, sudah, Pak.
Oke. Oke, makasih ya. Selamat pagi
sekali lagi Ibu, Bapak, rekan-rekan
peserta webinar. E terima kasih kepada
ee Eko Edu terutama atas undangan dan
kesempatan untuk berbagi. Sekali lagi
kalau enggak salah saya sudah ini yang
kali ketiga ya ee saya ada di ruangan
Eko Edu. Ee nama saya Fitri Adiansyah.
Eh sehari-hari saya dipercaya menjadi
ESG, environment social and governance
dan juga impact director di suatu eh
impact fund atau pembiayaan yang punya
dampak eh dari Asia Climate Smart
Landscape Fund yang berbasis di Hongkong
eh dimanage atau dikelola oleh satu
lembaga eh keuangan non perbankan ADM
Capital. Eh basisnya di Hongkong tapi
coverage kita ada di Asia Pasifik
termasuk juga Indonesia, Australia, New
Zealand dan sekitarnya.
Hari ini ee terutama
kita akan membahas ekonomi sirkular. Ee
bukan sekedar konsep lingkungan yang
saya pahami tentunya, tapi mungkin nanti
Bapak Ibu sekalian bisa kita membahas
lebih lanjut bahwa ini sebenarnya
pendekatan pembangunan yang
mudah-mudahan bisa mengubah cara kita
memproduksi, mengkonsumsi ee dan juga
berinvestasi. Jadi, ekonomi sirkular ini
ee menantang kita untuk berpikir ulang
bagaimana limbah bisa menjadi sumber
daya. ee mungkin next slide eh
ee bagi sumber daya kemudian bagaimana
ee desain ini bisa mencegah ee polusi
limbah sejak awal dan bagaimana sistem
bisa dibangun agar regeneratif dan juga
bukan eksploitatif. Ee kenapa? Karena e
banyak ee ekspert pakar ee juga ee
menyatakan bahwa Indonesia kali ini nih
terutama mungkin di pulau-pulau besar ee
seperti Jawa yang juga pada penduduknya
Bali dan sebagainya. kita nih sedang ada
di titik kritis, titik kritis dan
krisis. Di satu sisi kita ingin
membangun ee mengembangkan banyak hal.
Ee tapi ee di sisi lain karena
pembangunan, karena konsumsi kita,
karena produksi kita, limbah ee sampah
dan ee polusi menjadi lebih banyak dan
lebih kompleks. Jadi ee ini sesuatu yang
sangat-sangat menantang bagi kita. di
satu pihak kita ingin maju, di pihak
lain ee ada istilahnya konsekuensi
karena kemajuan itu. Ee apa yang kita
lihat misalnya ee sungai-sungai badan
air, banyak plastik di sana dari pesisir
juga hingga residu industri di hulu dan
sebagainya. Ah, di sisi lain kita
melihat peluang juga ee yang luar biasa
sebenarnya. Karena kalau kita punya
mindset bahwa limbah sampah itu adalah
sesuatu yang sebenarnya juga ee bisa
jadi sesuatu yang sangat bermanfaat, ini
bisa kita inovasikan ya. Bisa inovasi
dari ulang, biomaterial daya laut,
teknologi pengelolaan limbah, dan model
bisnis berbasis sirkular ini yang
nantinya mungkin kita bisa didiskusikan
adalah bisa kemudian juga tumbuh dari
level UMKM yang sangat-sangat sederhana.
atau kecil hingga level korporasi dan
juga skalanya besar yang akan dibantu
oleh pemerintah daerah atau pemerintah
pusat. Jadi ee kita melihat ya bahwa
pendekatan ekonomi sirkular ini bisa
jadi bisa menggabungkan banyak hal
nantinya. Mengatasi isu kemudian juga
membantu kita tetap ee bisa lebih maju
dan berkembang dalam konteks
pembangunan, tapi juga tentunya harus
ada kolaborasi nantinya. Nah, ini daftar
isi dari ee presentasi atau sharing saya
kali ini. Ee nanti ee mudah-mudahan akan
lebih komplit dan tentunya ada tanya
jawab yang ee kita ee sangat nantikan.
Saya saya sangat bersedia untuk diskusi.
Ee lanjut.
Nah, mungkin pertama kita telusuri
sebenarnya apa sih ekonomi sirkular itu
kan. Jadi ee mungkin Bapak Ibu ee yang
pernah ee melihat atau kita sama-samaah
pernah ee SMA kuliah dan sebagainya
mungkin kita tahu bahwa ada hukum
termodinamika ya. Jadi ee energi meter
dan sebagainya ee enggak hilang, Pak.
Mungkin efisiensinya berkurang tapi
enggak hilang. Berarti ada sesuatu yang
kemudian habis kita pakai kita konsumsi
ada yang dibuang kan. Nah, itu
residu-residu itulah yang harus kita
lihat. Jadi, bagaimana ekonomi sirkular
itu adalah sebenarnya suatu sistem untuk
kita membantu berpikir bagaimana kita
bisa meminimalkan limbah atau polusi
atau byproduct istilahnya dari ee hasil
konsumsi, dari hasil produksi kita dan
kemudian memaksimalkan nilai yang ee
kita ee ambil dari sumber daya yang kita
pakai. Misalnya, misalnya ee kalau
dilihat di ee apa gambaran tadi yang di
kanan bisa kelihatan bahwa sumber daya
yang masuk dari sistem produksi dan
konsumsi kita itu kalau bisa tidak
terlalu banyak. Jadi kita efisiensikan
tapi kemudian yang keluar juga tidak
terlalu banyak kita bisa pakai lagi.
Pada dasarnya ekonomi sirkular seperti
itu. Close loop lah intinya. Jadi
berbeda dari pendekatan linear yang
mungkin selama ini kita kenal. Kalau
linear kan kita ambil, kita pakai, kita
buat, kita buang gitu kan. Seakan-akan
ee kita selalu akan ada sumber daya yang
tidak habis gitu terus-menerus. Jadi
pada gilirannya ekonomi sirkular ini
menekankan pada gimana kita bisa
mendesain sistem kita sehingga ee input
yang kita pakai ee sumber daya yang kita
pakai itu bisa lebih minimum dan lebih
bermanfaat. Ah, kemudian tetap kita daur
ulang, kita pakai terus dalam sistem
produksi dan konsumsi kita ee sehingga
tidak ee ada hal yang mubazil sehingga
limbah dan ee pada gilirannya sesuatu
yang dibuang akan minimal dan limbahnya
juga kalau bisa kita kemudian pakai lagi
dan sebagainya. Jadi tujuannya bukan
hanya untuk mengurangi dampak lingkungan
ee menurut saya, tapi juga menciptakan
sistem ekonomi yang lebih efisien,
tangguh, dan mudah-mudahan juga nanti
berkeadilan karena nanti ee resource
atau sumber daya yang ada itu bisa
dipakai bersama. Jadi menurut BPPENAS,
data-data yang saya dapatkan juga dari
pemerintah, jika kita serius melakukan
transisi eh menuju ekonomi sirkular ini,
Indonesia sebenarnya berpotensi
meningkatkan PDB ya produk domestik
bruto kita hingga Rp593 triliun pada
tahun 2045. Kenapa? Ya tentunya karena
value yang kebuang gara-gara kita
menyampah, membuang limbah dan
sebagainya itu kita bisa manfaatkan lagi
masuk dalam ekonomi kita dan ekonomi
kita berkembang. Bukan hanya itu, em ada
catatan juga ee dari banyak pihak bahwa
kalau itu bisa dilakukan sebanyak
sekitar 4,4 juta pekerjaan baru bisa
tercipta di sektor-sektor seperti
pengelolaan limbah, logistik, manufaktur
berkelanjutan, dan ekonomi kreatif.
Kalau ee Bapak-bapak yang tahu dan
senang ee sepak bola misalnya mungkin
tahu bahwa sekarang beberapa jersey atau
ee apa sih namanya? seragam ee klub
sepak bola di luar negeri ee tim
nasional dan sebagainya sudah memakai
beberapa produk-produk dari ekonomi
sular dari ee recycle plastik dan
sebagainya. Nanti kita bisa diskusikan
bersama. Jadi pada dasarnya di banyak
negara dan sudah mulai juga sih di
Indonesia ini bukan sekedar ee wacana
atau rencana. Jadi ini sudah ada
strategi pembangunan nasional yang
mungkin ee perlu kita dorong bersama
untuk kita adopsi di level ee kabupaten
atau provinsi kabupaten dan mungkin juga
desa nantinya ee dalam bentuk berbagai
kebijakan dan juga yang penting adalah
peta jalan lintas sektornya seperti apa.
Jadi menariknya prinsip-prinsip
sirkularitas ini sebenarnya bukan hal
yang baru bagi kita. Kalau kita tahu
gotong-royong, hidup hemat, memperbaiki
barang sebelum membeli yang baru,
kemudian memanfaatkan yang sudah ada,
memanfaatkan kembali sumber daya yang
ada dan sebagainya. Sebenarnya semua
sudah harusnya ya tertanam dalam budaya
kita sejak lama. Tantangannya sebenarnya
menurut saya ya sekarang adalah
bagaimana kita memperkuat nilai-nilai
tersebut dengan teknologi, inovasi ee
dan kebijakan yang tepat. Jadi,
bagaimana kita membangun ekosistem yang
mendukung pelaku usaha kita semua nih
juga konsumen terutama UMKM juga untuk
bertransformasi dan bagaimana kita
memastikan bahwa transisi ini atau
transformasi ini inklusif. Jadi
melibatkan banyak pihak, membuka peluang
dan juga bahkan bukan menutupnya. Jadi
ee banyak hal yang kita bisa bahas,
banyak hal yang kita bisa lihat dan
opportunity atau peluangnya juga banyak.
Dan ini mudah-mudahan kalau kita bisa
lakukan fondasi banget nih masa depan
ekonomi Indonesia. Karena banyak sekali
sumber daya kita yang sekarang
sepertinya banyak tapi lama-lama akan
habis walaupun katanya itu renewable
karena kita membuangnya, memubazirkannya
dan kadang-kadang juga membuatnya
menjadi lebih buruk ya kayak sungai dan
sebagainya kan bagus tuh renewable tapi
karena banyak sampah banyak ini jadi
lebih buruk kualitasnya dan kuantitasnya
akirnya enggak bisa pakai. ee ee slide
selanjutnya.
Jadi, Bapak, Ibu sekalian, ketika kita
bicara tentang ekonomi sirkular ee
sebenarnya kita bicara tentang
transformasi yang sangat-sangat
sistemik. Jadi cara baru kita harus ee
berbeda ya dalam memandang produksi,
konsumsi, dan nilai sumber daya itu. Ee
menurut banyak pihak ada lima sebenarnya
pilar utama yang menjadi atau bisa
dikatakan fondasi pendekatan ini. Yang
pertama tentunya desain. Jadi desain
dari produk itu sendiri. Kita harus
kemudian mengubah desain menjadi lebih
berkelanjutan. Contoh saya yang saya
sampaikan tadi mengenai jersei timnas,
tim nasional gitu kan. ersi ee klub-klub
sepak bola di luar tuh sudah kemudian
sudah didesain bukan hanya lebih bagus,
lebih baru dan sebagainya, tapi juga ee
materialnya seperti apa gitu. Jadi
produk tidak dirancang lagi untuk ee
pertama ee sumber dayanya juga lebih
lebih ee minimum ya memakai sumber daya
baru. Jadi sumber daya yang sudah ada
sampah atau plastik yang bisa diyeluk
tapi juga produknya tidak dirancang
untuk cepat rusak. Jadi yang disebut eh
fast fashion ya. Jadi, e fashion yang
cepat dan sebagainya sudah kemudian
direduksi. Jadi, kalau bisa dia lebih
durability ya, lebih lama, tidak cepat
rusak sehingga tidak cepat dibuang. Tapi
memang banyak sekali kita sekarang dapat
ee tantangannya dapat banyak produk dari
luar, saya enggak usah sebutkan dari
negara mana yang cepat banget, murah
banget dan akhirnya ketika sekali pakai
belum sampai sebulan udah udah rusak ya,
misalnya karena mungkin seing murahnya
kita beli lagi, kita beli lagi jadi
sampah gitu kan. Nah, jadi yang kita
fokuskan adalah gimana desain ini bisa
menjadi lebih lama, lebih tidak cepat
rusak, memanfaatkan sumber daya yang
lebih baik lagi ee sehingga ee bisa
didaur ulang dan sebagainya. Desain ini
sebagai awal ee dan alat yang strategis
menurut saya karena dia bisa kemudian
mencegah limbah sejak awal karena dia
mereduksi ee mengurangi sumber daya yang
dipakai dan kemudian memperpanjang
siklus hidup barang itu sendiri. Jadi
kalau kita lihat sebagai ee misalnya
pemerintah, sisi pemerintah, bisa enggak
kita kemudian memberikan semacam
insentif, semacam support, apakah
pengurangan pajak? Saya enggak enggak
lihat eh apa enggak enggak enggak merasa
ini banyak dilakukan ya ee untuk
misalnya inovasi-inovasi desainer,
inovasi-inovasi produk dari suatu
perusahaan atau UMKM yang kemudian bisa
e lebih tahan lama ini sebenarnya. Jadi
mereka akan lebih kompetitif kalau bisa
di-support seperti itu ya. Terus yang
kedua, penggunaan bahan daur ulang dan
ee terbalukan ya. Jadi kita perlu
beralih sekarang dari bahan baku yang
lumayan ekstraktif yang habis cepat gitu
kan. Boros energi, boros e sumber daya
alam dan sebagainya. Apalagi juga
menghasilkan emisi tinggi menuju
material atau bahan yang bisa
diperbaharui dan diproses ulang. Jadi
plastik yang cepat sekali pakai dan
kemudian ee dibuang. Nah, mungkin harus
kita cari alternatif ee apakah kemudian
kita pakai ee plastik yang sudah bisa
terus-menerus recycle atau alternatif
bahan lainnya yang sekarang juga lagi di
ee gagas inovasinya menggunakan kasafa
atau singkong, menggunakan siwit atau
rumput laut menjadi alternatif plastik
dan sebagainya. Jadi langkah ini ketika
kita menggunakan bahan yang bisa ulang
dan terbalukan bukan hanya kemudian
menambah nilai ee memberikan nilai
tambah ya dari produk itu sendiri, tapi
juga sebenarnya tentunya kita akan
berkontribusi terhadap ee kebijakan
pemerintah ee dan negara ini yang untuk
mengurangi jajak karbon climate change
dan sebagainya, tapi juga membuat
inovasi terhadap ee rantai pasok yang
baru ya. Jadi ada beberapa yang mungkin
dulu misalnya nanam singkong untuk
makan, sekarang nanam singkong untuk
menjadi ee bahan baku ee alternatif ee
plastik misalnya atau bahan baku
alternatif ee apa energi misalnya dan
sebagainya. Itu yang kita lihat ee bisa
jadi terobosan dan ee sekali lagi ini
tentunya perlu di support. Yang ketiga
ee yang yang penting adalah dalam
konteks pilar ekonomi e sirkular adalah
model bisnisnya itu harus berbasis
ee reuse, repair, dan sewa. Maksudnya
apa? Jadi harus ada pergeseran dari
kepemilikan yang kita punya gitu kan.
Mungkin ada beberapa yang kalau ee kita
enggak punya ee maksudnya gini ee kalau
kita punya atau kita beli kan kita
cenderung kemudian ee gampang juga
kemudian membuangnya. Tapi kalau bisa
kemudian ee getuk tular kemudian ee apa
menyewakan dan sebagainya sehingga bisa
dipakai banyak pihak ee secara brentet
dan sebagainya itu mungkin ee konsumen
ee tidak melulu kemudian akan beli lagi
beli lagi. Jadi ada beberapa yang
sekarang mungkin kalau di ee perkotaan
ee kita lihat ada ee apa ee ee
model-model bisnis yang ee apa yang yang
tr love misalnya yang sesuatu yang
sebenarnya sudah dipakai tapi ee sayang
untuk dibuang kemudian disewakan kembali
ataupun dijual ee sehingga karena
bahannya masih bagus dan sebagainya
value-nya masih ada. Nah, fleksibilitas
seperti itu mungkin perlu kemudian
didorong lebih lanjut sehingga pelaku
usaha bisa memperpanjang nilai produk
yang ada dan ini ee juga biasanya
menciptakan ekonomi yang lebih inklusif
dan efisien. Saya dulu pernah ee ee lama
tinggal ee di negara lain misalnya di
Australia. ee banyak sekali ee ketika ee
apa ee rekan-rekan kita atau kita
sendiri ee punya bayi misalnya kan
biasanya ada peraturan di sana untuk ee
kalau kita naik mobil si bayi harus
ditempatkan di ee tempat duduk spesial
atau spesifik untuk bayi atau anak-anak
kecil. Enggak boleh duduk ee apa
diendong atau apapun. Tapi kalau beli
itu kan sangat mahal. Jadi biasa
biasanya kemudian ada model usaha untuk
menyewakan atau kemudian ee meminjam
tapi dengan pembayaran tertentu
ketimbang kita beli kemudian kalau
enggak dipakai karena sudah enggak punya
bayar lagi kita buang jadi sampah dan
sebagainya. Kemudian itu jadi model
bisnis baru. Hal-hal semacam itu mungkin
kita bisa ee lihat apa saja sih yang
bisa jadikan dijadikan peluang ee yang
sebelumnya kalau kita beli tentunya
nanti mungkin terlalu mahal atau
kemudian kalau sudah enggak dipakai
dibuang dan sebagainya. Jadi ee model
bisnis seperti ini bisa jadi terobosan.
Yang keempat yang mungkin sangat-sangat
berhubungan dengan banyak pihak dari
pusat sampai daerah adalah sebenarnya
manajemen limbah dan daur ulang yang
lebih efektif. Jadi kita lihat mindset
kita ee mungkin Bapak Ibu sekalian sudah
paham bahwa sekali lagi limbah atau
sampah itu sebenarnya bukan harusnya ee
dianggap sebagai akhir dari siklus, tapi
seharusnya awal dari proses yang kita
ingin ciptakan. Jadi konteksnya tadi
lingkaran bukan linear. Tapi sayangnya
memang banyak sekali sekarang ee
konvensional sistem kita adalah kita
pakai ya kita ambil sumber dayanya kita
pakai untuk produksi terus kita konsumsi
kalau enggak dipakai lagi buang.
sehingga kita tahu di TPA tempat
pembuangan akhir makin lama makin
menumpuk makin menumpuk dan akhirnya ee
pemerintah daerah, pemerintah kota dan
sebagainya harus cari lahan lagi.
Akhirnya berantem lagi sama ee
masyarakat sekitar kena bau, karena ini
dan sebagainya. itu yang ee pada
gilirannya menciptakan masalah-masalah
baru. Jadi, kalau mindset dari awal
sudah bisa dirubah, bagaimana kemudian
sistem pengumpulannya menjadi lebih ee
sistematik, efisien, pemilih pemilihan
sampahnya juga ee lebih tepat,
pengelolaannya lebih tepat, material
yang sebenarnya masih bisa diselamatkan,
masih bisa tetap dipakai, bisa masuk ke
ee siklus ekonomi yang memang lebih
produktif dan menciptakan nilai tambah.
Jadi, ada beberapa terobosan Bapak, Ibu
sekalian yang pernah ee saya dan
beberapa rekan lakukan misalnya di ee
sektor tekstil ya. Ee mungkin kalau
Bapak Ibu ada di Jawa Tengah ada
beberapa ee pabrik tekstil atau garmen.
Kemudian dia tahu bahwa kalau untuk
membuat baju atau bahan-bahan ee
produksi yang lainnya itu kan ada
cutting-cuttingnya. Kemudian ee udah
setelah bahan atau produknya jadi,
cutting-kating yang sisanya itu
seringkiali sebelum-sebelumnya itu harus
dibuang. Nah, ini yang sebenarnya
sangat-sangat disayangkan alhasil yang
bisa dilakukan dan perbosannya sudah
ada. Si pabrik ini kemudian bekerja sama
dengan pabrik lain yang memang sudah
biasa membuat benang atau membuat ee apa
ee ya benang dan ee material lainnya
untuk bahan-bahan tekstil lainnya.
Kemudian itu diproses lagi hasil-hasil
pemilahan cutting itu dan jadi benang
lagi yang baru. Ee memang benang yang
baru ini tantangannya secara teknologi
adalah dia ee tidak sekuat sebelumnya
karena mungkin karena sudah diblend
sebagainya dan sebagainya. Ee dan
sayangnya ee ketika ini mau di ee apa
dipakai lagi untuk ee beberapa produk ee
ada requirement atau syarat dari ee yang
impor ya. Kalau kita misalnya mau ekspor
ke negara-negara seperti di Eropa segala
macam, persentase eh recycle-nya itu
harus berapa persen dan sebagainya itu
mungkin belum masuk tuh ke Indonesia.
Jadi karena masih mungkin kontennya
masih kecil kalau itu banyak akan diakui
sebagai ee produk recycle. Jadi, Bapak,
Ibu sekalian, sebenarnya produk recycle
itu enggak melulus 100% recycle. Jadi,
misalnya polyester, nilon, dan
sebagainya kalau dia dicampur 30% 40% ee
mungkin masih bisa dianggap recycle gitu
kan, recycle material. Nah, kalau itu
banyak inputnya ee produk-produk dawur
ulang ini itu akan memudahkan Indonesia
masuk ke pasar-pasar yang memang
mengakui dan memberikan nilai tambah
terhadap produk-produk tersebut. Nah,
ini harus ada kemudian komitmen kerja
sama ter si sektor swastanya pemerintah
untuk negosiasi dengan ee importir yang
ada di ee negara-negara maju seperti
Eropa dan sebagainya. Ee terakhir pilar
ekonominya seperti yang saya sampaikan
tadi tentunya tentu ee diperlukan
kemitraan lintas sektor. Jadi ekonomi
sirkular ini tidak bisa berjalan
sendiri. Produsen, konsumen, pemerintah,
lembaga keuangan harus saling terhubung.
masyarakat juga dalam ekosistem yang
sangat-sangat transparan dan
kolaboratif. Tantangannya banyak masih
tentunya walaupun misalnya lima di
ekonomi ini kita lakukan. Pertama,
skalabilitas. Seringki yang dilakukan
saat ini mungkin masih skala-skala kecil
untuk recycling, untuk daur ulang,
pemilahan sampah dan sebagainya. Nah,
ini bagaimana skala-skala kecil ini bisa
kita agregasi sehingga skala ekonominya
menjadi ee banyak sehingga investasi
infrastrukturnya bisa kemudian
ditambahkan. Dan berikutnya adalah
insentif. Ini masih jadi hambatan utama.
Ee istilah kata adalah ngapain saya
melakukan itu capek-capek kalau ternyata
ujung-ujungnya costnya lebih mahal gitu
kan, biayanya lebih mahal atau enggak
ada enggak ada support juga yang saya
terima, ya udahlah saya buang aja. Nah,
itu yang yang terjadi pada gilirannya.
Kalau itu dibuang adalah cost-nya ke
masyarakat atau ke ee lingkungan akan
menjadi lebih besar. Jadi banyak pelaku
usaha kecil tuh pada gilirannya belum
punya akses ke teknologi, enggak punya
kemudian juga akses ke pembiayaan atau
ke pasar atau market sirkular itu. Jadi
tanpa dukungan yang tepat tentunya kita
akan tertinggal dalam transisi ini
dibandingkan negara-negara lain seperti
Vietnam yang sudah memproduksi banyak
sekali untuk garmen ya misalnya yang
recycle. Di sinilah sebenarnya peran
kita sama-sama untuk memperlihatkan atau
melihat bagaimana kita bisa membangun
sistem yang memungkinkan ya inklusi ini
bisa terjadi sehingga menyediakan
insentif dan sebagainya. Eh, next slide.
Jadi, Bapak Ibu sekalian ee rekan-rekan
yang saya harga ee hormati. Indonesia
sebenarnya yang seperti saya katakan
tadi ee dan didukung data-data pakar
kita tuh sebenarnya lumayan kritis dan
krisis ya dalam konteks sampah, limbah
dan sebagainya. Kita tuh sudah
menghasilkan 60 juta ton atau lebih
limbah setiap tahunnya. Bayangkan itu
jadi gulung sendiri di beberapa
kota-kota besar atau menengah di
Indonesia.
Dan sayangnya hanya sekitar 7% yang
berhasil didaur ulang secara formal,
secara resmi. Jadi angka ini menunjukkan
bahwa sebenarnya sebagian potensi
material kita tuh masih terbuang.
Jadi sumber daya kita tuh benar-benar
kita sia-siakan. Cuman 7% loh yang kita
lakukan. Padahal ini bisa jadi sumber
daya baru yang bisa dikelola dengan
pendekatan ekonomi sirkular tadi.
Tentunya tantangan ini harus kita atasi
bersama ya. Dan kita sekali lagi
mindsetnya harus melihat ini sebagai
peluang besar. Potensi ekonomi sekirual
ini sangat-sangat menjanjikan. Terutama
kalau kita mau zoom in ya ee ke
sektor-sektor tertentu. Yang pertama
yang immediately yang dekat banget ya
dengan banyak masyarakat di Indonesia
adalah sektor pertanian dan perkebunan.
Jadi setiap musim panen misalnya kita
banyak lihat misalnya di ee pedesaan
dekat-dekat Jawa, dekat-dekat Sumatera
dan sebagainya banyak sekali yang saya
sebut biowaste gitu kan. Ee hasil limbah
sisa ee panen gabah atau kan atau Bagas
atau apa ini sebenarnya bisa diproses ee
dari ee segi banyak hal gitu kan.
ceraminya, kulit buahnya, limbah
ternaknya diolah dengan tepat misalnya
akan bisa menjadi beberapa produk
turunan yang sangat-sangat baik. Bisa
langsung di di apa dikelola menjadi
pupuk organik misalnya ke komposting dan
sebagainya. ee atau kalau kita bisa
kemudian memberikan pembiayaan ini yang
sedang kami lihat ya di IDM Capital ee
dan di beberapa
ee lembaga pembiayaan atau perbankan ee
gimana kita bisa memberikan KPEX ya
pembiayaan untuk ee ee capital
expenditure misalnya membangun pabrik
skala kecil atau menengah untuk
mengelola limbah-limbah dari pertanian
peternakan kebunaan itu menjadi biogas.
Yogas kemudian bisa disalurkan ke
rumah-rumah ee di kampung untuk kemudian
memasak. Itu juga sesuatu yang kemudian
renewable. Nanti akan dapat juga kredit
kartbonnya dan sebagainya. Atau bahan
baku industri hijaus. Mungkin
teman-teman pernah dengar biochar
misalnya kemudian juga bisa masuk ke ee
tanah lagi untuk membantu mengurangi
degradasi ee lahan misalnya. Jadi pada
giderannya ini bukan hanya mengurangi
limbah, tapi juga meningkatkan
produktivitas lahan kita dan ee
mudah-mudahan juga ee ujung-ujungnya
meningkatkan ketahanan pangan kita.
Karena kalau ini bisa masuk nutriennya
kan masih bagus tuh. Kalau bisa masuk ke
tanah akan membantu juga produksi dan
panen-panen selanjutnya. Yang kedua
sektor yang juga sebenarnya lumayan
dekat karena kita negara kepulauan
adalah perikanan dan kelautan.
kita tuh banyak sekali punya biomaterial
laut yang masih banyak belum kita
manfaatkan. Rumput laut misalnya ee
diolah bisa menjadi alternatif tekstil,
alternatif bioplastik. Nah, limbah ikan
misalnya bisa dimanfaatkan untuk pakan
pakan ternak atau di beberapa kesempatan
kosmetik. Nah, dengan value yang luar
biasa. Ee kita dengar misalnya DNA
salmon diperkenalkan di beberapa kota
besar untuk kecantikan. Loh, kita kan
enggak perlu di salmon. Kenapa kita
enggak ngambil dari beberapa ee
biometeri laut yang kita punya? Nah, ini
sesuatu yang mungkin menjadi tantangan
R&D atau pengembangan riset dan
development ee apa litbank kita di
berbagai perusahaan dan juga pemerintah
untuk melihat opsi-opsinya apa. Karena
kalau enggak itu jadi dibuang dan
sebagainya menjadi hal-hal yang
sangat-sangat mubazir. Ee sewit ataupun
rumput laut banyak kita pakai memang
untuk makanan agar, keragenan dan
sebagainya. Tapi sebenarnya banyak
sekali spesies atau jenis atau ee
variitas rumput laut yang bisa digunakan
untuk biimulan, untuk kosmetik, untuk
tadi alternatif plastik dan sebagainya.
Cuman memang harga kalau di dalam negeri
ya masih belum masuk karena ya plastik
masih dihargai murah sehingga yang
seperti ini kan ketika dianggap mahal
orang enggak akan pakai tapi di berbagai
negara sudah dipakai dan ini bisa jadi
peluang kita untuk ekspor ke
negara-negara tersebut. Jadi sektor ini
bisa bisa banget sih sebenarnya untuk
membuka peluang baru untuk ekonomi kita
berbasis ekonomi sirkular. Ketiga ee
seperti saya juga tadi sebutkan,
manufaktur dan tekstil. ee industri ini
ee menghasilkan limbah dan jumlahnya
sangat besar seperti saya sebutkan
sebelumnya, tapi juga sebenarnya punya
potensi inovasi tinggi. Yang paling
cepat melakukan inovasi untuk recycle
polyester dari botol plastik itu adalah
industri manufaktur dan tekstil.
Desain-desainnya banyak sekali
sepatu-sepatu bagus ya itu hasilnya dari
ee materialnya dari recycle dan
sebagainya. dan desainnya juga eh
seringkiali sudahudah masuk ke
desain-desain modular yang memungkinkan
pakaian diperbaiki dan digunakan ulang.
Ee sekarang juga sudah masuk nih
merambah ke ee industri manufaktur
lainnya
seperti mobil, em kemudian motor dan
sebagainya. Jadi pendekatan sekirular
industri tekstil, industri manufaktur
ini saya pikir menjadi tiang utama
harusnya karena kita tahu banyak sekali
sekarang tekanan terhadap industri
tekstil kita karena tekanan dari import
dan sebagainya.
Em namun tentunya untuk mewujudkan ini
semua tidak mudah, Ibu Bapak sekalian.
Kita butuh ekosistem pendukung yang
kuat. Pertama mulai dari regulasi yang
mendorong desain tadi untuk
berkelanjutan ee mendorong juga akses
pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.
Karena kalau enggak ada kapital, enggak
ada modal, gimana kita bisa punya
infrastruktur, gimana kita bisa punya
pabrik dan sebagainya. ee atau tadi
enggak ada inovasi karena enggak ada
pembiayaannya, enggak ada R&D, enggak
ada leadbank dan sebagainya. Kita juga
perlu infrastruktur daur ulang yang
terintegrasi. Jadi enggak spread all
over intinya enggak enggak kemudian ke
mana-mana ada di mana-mana sehingga
logistiknya mahal. Jadi ada di ee
masukkan ke satu kawasan. Jadi insentif
bagi inovator dan investor ini bisa
masuk ke sektor ini secara bersama.
Jadi, Indonesia punya sumber daya selalu
ee kasus klasiknya adalah itu. Tapi kita
sebenarnya juga punya kreativitas, kita
punya semangat gotong-royong, kita punya
kekayaan dan super tadi. Tapi gimana
kemudian kita perlu ee menjahitnya
bersama sehingga menjadi satu sistem
yang memungkinkan transisi ini berjalan
secara inklusif dan terukur. Eh, next
slide, please. Jadi, Ibu Bapak sekalian,
ee sebenarnya ada contoh-contoh praktis
yang tadi juga sebenar sebenarnya saya
sudah sebutkan. Ee di tengah
tantangan-tantangan terhadap limbah,
krisis, sumber daya alam, banyak sekali
muncul inovasi lokal ee yang kita patut
apresiasi dan sebenarnya bisa kita
pelajari sama-sama. J Indonesia sudah
ada alternatif plastik dari ee kasafa
ya, dari singkong, dari sewit, dari
macam-macam gitu kan. dan mereka bukan
hanya memberikan solusi teknis, tapi
juga memperlihatkan semangat ee
komunitas, semangat pihak swasta baik
skala kecil dan menengah untuk mendorong
keberlanjutan. Jadi kalau kita lihat C
with textile dan ee kemasan hijau ya ini
rumput laut sudah ee diperkenalkan,
sudah ada file, sudah ada uji coba ee
yang sebelumnya dikenal hanya sebagai
komoditas pangan, sekarang sudah jadi
alternatif plastik. ya, inovasi ini
membuka peluang baru. Nah, tentunya ee
cuman memang ee tantangan berikutnya
adalah ee untuk membudidayakan sewit
atau rumput laut itu ternyata enggak
enggak mudah dan banyak terkonsentrasi
di timur Indonesia. Sedangkan pabrik
atau produksinya ada di tengah atau
barat Indonesia. Logistiknya terlalu
jauh. Nah, sekarang yang kita harus
lihat adalah bagaimana ee budidaya itu
kemudian dengan produksinya bisa
didekatkan atau ditemukan di tengah
apakah kemudian ada investasi baru di
misalnya NTT, NTB atau Sulawesi untuk ee
pabrik-pabrik yang bisa langsung
mengelola ee sumber-sumber daya alam
dari ee rumput laut itu menjadi lebih
bisa dimanfaatkan ee dan punya nilai
tambah. Berikutnya contoh praktis yang
sebenarnya ada di perkotaan ee bank
sampah. Tapi sekali lagi bank sampah
mungkin banyak orang enggak tahu gitu
kan dan orang perkotaan mungkin sudah
terlalu sibuk dan sebagainya tidak
banyak ee ber ee apa mempunyai link link
atau konektivitas dengan bank sampah.
Keterkaitan dengan bank sampah. Jadi di
beberapa perkotaan
ada teman-teman anak-anak muda nih
memberikan solusi inovasi mempunyai bank
sampah digital dan juga ada perusahaan
atau startup yang kemudian ee melakukan
itu. Ada dulang untuk sampah ee ee kalau
enggak salah sampah elektronik. Ada yang
lain untuk sampah organik dan juga
sampah ee plastik. ada ada macam-macam
yang mungkin nanti kita bisa share
sama-sama lewat Ekoed Edu contoh-contoh
praktis ini. Jadi mereka membuat semacam
platform ee yang kemudian aplikasi atau
platform ini bisa diconnect oleh banyak
pihak sehingga siapa yang ingin membuang
sampahnya tanda kutip itu bisa dikonnect
atau dikaitkan dengan siapa yang bisa
mengelolahnya. Jadi menghubungkan warga
bahkan pembulung sekalipun ee pelaku
daur ulang dan sebagainya. Nah, dan di
situ ada biasanya ada sistem ee
gamifikasi atau sistem insentif. Jadi,
kalau sudah ee melakukan itu mereka akan
dapat poin dan poin ini ee link ke
pelacakan materialnya seperti apa, kalau
itu benar, kemudian ee apa sampah atau
limbahnya bisa dilakukan ulang bisa.
Kemudian si pelakunya mendapatkan poin
dan ee dapat insentif dan poinnya bisa
ditukar, bisa jadi rupiah, bisa jadi
pembelian yang lain dan sebagainya dan
sebagainya. ee di apa aplikasi saya
sekarang ada beberapa mungkin
teman-teman pernah dengar surplus.
surplus misalnya aplikasi di mana ee ada
beberapa restoran banyak sih sebenarnya
sudah masuk yang mungkin Bapak Ibu
sekalian tahu ya kalau setiap ee rumah
makan atau restoran atau toko kue atau
apa di jam-jam tertentu sudah sore atau
malam kan sayang sekali ya kalau
misalnya dibuang dan akhirnya jadi
sampah jadi limbah lagi. Nah, dengan
aplikasi ini mereka kemudian bisa
memberitahukan konsumen di berbagai
tempat bahwa oh jam segini akan ada
diskon karena mungkin ini ee sangat
sayang untuk kalau ini nanti basi atau
sebagainya. Nah, ini apakah ada yang
bisa memanfaatkan mau beli tapi tentunya
dengan expiry date eh apa e
kedeluasannya sudah ditulis dan
sebagainya. Nah, karena itu mereka bisa
connect. Oh, berarti si pembeli akan
bilang, "Oke, saya akan beli." Sehingga
itu enggak jadi sampah lagi. Mungkin
dimanfaatkan untuk yang lain dan
sebagainya. Jadi sistem ini ee walaupun
mungkin belum skalanya belum besar tapi
minimal ee melakukan kontribusi untuk
minimalis minimalisasi sampah dari
sampah makanan, limbah makanan dan
sebagainya. Jadi yang dulunya jadi beban
sekarang jadi peluang ekonomi. Nah,
platform-platform seperti ini juga
banyak sekarang dikembangkan di berbagai
perkotaan. Ee mudah-mudahan ini bisa
jadi connect e bisa jadi hal yang bisa
dikembangkan lebih lanjut. Tak kalah
penting juga yang saya lihat adalah ee
contoh praktis lainnya adalah tumbuh
kembangnya ccular MSMI atau UMKM yang
fokus banget nih dengan eh cirkular
ekonomi sirkuler. Ada UMKM yang fokus
banget untuk pengelolaan daur ulang
sampai elektronik tadi seperti diulang
untuk perbaikan daur ulangnya dan
pemanfaatan kembali barang. Ada yang
prelove untuk fashion atau baju atau tas
dan sebagainya. Ada yang fokus untuk
banyak hal gitu kan limbah-limbah
lainnya. Jadi mereka kemudian ee bukan
hanya memperpanjang nilai produk,
kemudian menciptakan lapangan kerja
baru, tapi juga membangun ee sistem
ekonomi yang dulunya enggak terkonnect
menjadi connect gitu kan. Ee sehingga
sistem ekonomi lokalnya menjadi tangguh.
Tantangannya masih banyak sih sebenarnya
Bapak Ibu sekalian. Yang pertama sekali
lagi gimana ini bisa connect ke akses
pasar. tadi karena masih skala-skala
kecil dan ee yang seperti contoh saya
saya ee apa sharing tadi mengenai
tekstil bisa enggak kemudian ini dibantu
dengan ee negosiasi kemudian juga dengan
ee kebijakan sehingga ee produk yang
tadinya bagus bisa kemudian kita ekspor
dan punya nilai tambah. Kemudian
pembiayaan. Pembiayaan itu bisa jadi
hambatan yang lumayan paling signifikan
karena kalau tanpa pembiayaan tidak akan
ada kemudian pabrik yang dibangun untuk
pengelolaan daur ulang. Nah,
dibandingkan misalnya di negara-negara
lain ya, ee seperti negara-negara maju
tentunya sudah ada tuh pabrik-pabrik
untuk pengelolaan plastik. Sekarang
kemarin saya diskusi sama satu ee
perusahaan di Yogyakarta yang mereka
sudah bergerak untuk ee apa sih namanya?
Punya sistem dengan ee pemulung dengan
ee TPS ee sebelum sampai ke TPL untuk
menyeleksi plastik. Tapi proposal mereka
adalah ee plastik ini dikembangkan bukan
sekedar untuk menjadi plastik baru, tapi
kemudian
ee mereka ingin membangun pabriknya
untuk melakukan pirolisis. Nah,
pirolisis ini ee mungkin teman-teman
Ekoedu sudah pernah ada ee sesi
sebelumnya ee saya kurang paham yang
kemudian mengubah e plastik ini menjadi
sumber daya ee BBM ya, bahan bakar
minyak yang bisa dipakai untuk kendaraan
dan sebagainya. Nah, ini sangat-sangat
menarik. Kenapa? Karena kemudian ya kita
tahu memang plastik kan dari e
materialnya dari ee minyak bumi dan
sebagainya ya. Nah, ini bisa kemudian
kita sirkul sirkulisasi lagi untuk
dipakai plastik-plastik yang tidak
bermanfaat tadi yang atau sudah dibuang
menjadi bahan bakar minyak dengan
teknologi tertentu. Nah, tapi tentunya
ini memerlukan pembiayaan, memerlukan
research eh penelitian dan pengembangan
yang lebih lanjut. Eh, next slide
please.
Jadi, Ibu Bapak sekalian ee ekonomi
sirkular yang seperti yang saya sharing
tadi bukan sekedar solusi lingkungan. Ee
sekali lagi, jadi dia adalah peluang
investasi. Dia punya dampak nyata.
Mengurangi limbah itu dampak
sangat-sangat nyata. Kita sudah setiap
hari mungkin ngelihat ee di sungai, di
ee sekitar kita, sampah plastik, sampah
banyak hal dan sebagainya. Kemudian kita
juga bisa harus melihat opsi bagaimana
sistem ekonomi kita yang linear ya,
ambil, pakai, buang itu sedikit demi
sedikit kita ubah gitu kan sekuat
apapun, sedemikian rupa sehingga kita
bisa kemudian menjadi lebih lingkar
gitu, lebih eh round atau lebih
sirkular. Jadi menuju sistem yang
bagaimana material yang kita pakai itu
sedikit banyak kita kurangi, tapi yang
sudah kita pakai sedikit banyak kita
bisa inovasikan, kita bisa pakai lebih
lanjut. bahkan menjadi produk baru. Tapi
ini enggak akan bisa kita lakukan kalau
kita enggak dapat investasi, kalau kita
enggak dapat pembiayaan, kalau enggak
kita dapat support finance-nya. Yang
pertama tentunya ini skalanya besar.
Kalau kita membuat tadi kawasan
terintegrasi enggak enggak mungkin kalau
enggak ada investasi kapital yang besar.
Jadi perlu misalnya salah satunya green
bonds, surat utang, tapi surat utang
hijau. Jadi surat utang itu adalah
misalnya orang mau investasi dengan
membeli surat utang itu sehingga uang
yang mereka ee bayarkan itu kita bisa
pakai untuk membiayai ee pembangunan
pabrik skala besar atau kawasan skala
besar. Instrumen seperti ini ee di
berbagai negara sih sudah dilakukan dan
sangat-sangat memungkinkan untuk
mendorong pembuatan fasilitas besar dari
ulang karena perlu triliunan rupiah ya.
Kemudian produksi bersih, infrastruktur
sirkular lainnya juga masuk ke situ.
Jadi bukan hanya untuk satu sektor tapi
banyak sektor dan kemudian karena
konsentrasi cost-nya akan menjadi lebih
murah ke depannya. Jadi di Indonesia
saya lihat nih ya ada sektor tekstil,
elektronik bisa jadi prioritas utama
karena potensi daur ulangnya dengan ee
investasi yang memang besar e sangat
tinggi nih. Jadi mulai limbah kain,
limbah atau komponen elektronik.
Sekarang sudah banyak kita ada EV kan
elektronic vehicle baik yang motor dan
mobil. Nah, ini kemudian baterainya
gimana nih? kan juga harus ada tuh
kemudian ee investasi untuk ee mengelola
atau mengolah hal-hal tersebut menjadi
lebih ee sirkular, lebih baik dan
sebagainya dipakai menjadi sumber daya
baru. Yang kedua, pembiayaan yang
mungkin bisa kita dorong dan pemerintah
sudah kemarin ee menelurkan ee satu
Perpres ya nomor 110
2025 mengenai karbon kredit ya, mengenai
nilai ekonomi karbon. Kenapa ini
penting? Karena dengan kita sirkul
ekonomi pada dasarnya kita mereduksi
atau mengurangi ee karbon footprint
kita, jejak karbon kita. karena kita
enggak akan ee ngambil sesuatu baru dari
alam. Kita juga enggak membuang yang
kemudian menjadi limbah, metaman, dan
sebagainya yang menghasilkan emisi. Jadi
kita memakainya lagi. Nah, kredit karbon
ini mekanismenya kita harus dorong terus
nih ke pemerintah sehingga pelaku usaha
kita- kita dapat insentif ketika kita
melakukan restorasi, kita melakukan ee
apa pengurangan emisi dari aktivitas
sularer yang kita lakukan. karena kita
kan enggak membuang sampah, kita enggak
memakai sumber daya alam yang baru dan
sebagainya. Nah, komponen emisi yang
kita reduksi ini ee bisa seharusnya
dikompensasi menjadi karbon kredit di
berbagai negara sudah dilakukan itu.
Jadi, ini ee membuka peluang pembiayaan.
Yang ketiga, pembiayaan berbasis hasil.
Nah, ini sudah dilakukan sebenarnya
performance based finance. Ee biasanya
pembeli yang melakukannya ini misalnya
eh kalau saya minta produk Anda ee dan
ada komponen recycle komponen daur
ulangnya lebih banyak, saya akan bayar
lebih. Nah, itu berdasarkan hasil. Nah,
premium itu premium pricing ini ee di
berbagai produk sudah dilakukan baik di
kayu, baik di plastik, baik di komponen
manufacturing yang lain. Nah, dana ini
tidak dikuturkan hanya berdasarkan
rencana tapi juga berdasarkan capaian.
Jadi, misal rencananya oke 30% dari
total eh komposisi produknya recycle.
Tapi kalau mereka dapat lebih 40 atau
50% ada tambahan e premium dari price
yang mereka dapatin. Nah, mereka juga
bisa menegosiasikan ini menjadi advance
payment sebenarnya. Jadi pembayaran yang
dimajukan terlebih dahulu itu negosiasi
antara si penjual dan pembeli. Nah, ini
sebenarnya sudah dilakukan ee tapi
skalanya harus kita dorong terus untuk
lebih banyak karena ini model ee semacam
ini sangat-sangat ee sangat apa ya ee
signifikan untuk melakukan perubahan
karena konteksnya adalah penjual dan
pembeli langsung bernegosiasi. Tapi
model ini mendorong akuntabilitas ya.
Nah, jadi harus ada transparansi. Jangan
sampai udah ngomong kayak gitu kemudian
dicek oleh pembelinya. Kalau sayang
misalnya pembelinya dari luar eh
ternyata kita maaf-maaf kata ngibul gitu
kan atau berbohong ternyata hanya
komponennya 10% padahal ngakunya 30%
40%. Nah, itu satu sektor akan kena
dampaknya semua kalau kita ee sangat ee
atau tidak melakukannya dengan jujur.
Jadi, itu sangat sangat tidak akan
membantu. Terakhir tentunya kemitraan
publik, swasta, pemerintah, dan
filantropi. Jadi proyek sular ini
membutuhkan dukungan lintas sektor
terutama kalau kita ingin menjangkau
pelaku usaha kecil, kemudian juga
komunitas lokal ee insentifnya seperti
apa ke mereka, tenaga kerjanya bagaimana
kita bisa biayai juga. Mungkin enggak
semuanya dari komersial, ada juga
filantropi, yayasan yang bisa membantu,
pemerintah juga bisa membantu. Jadi
kolaborasi yang tepat. Kemudian ada
roadmap nasional, sektor-sektor apa aja
yang harus didukung, tekstil,
elektronik, pertanian, perkebunan, dan
sebagainya itu juga mesti kita lihat
kelautan. Jadi bayangkan kalau limbah
tekstil misalnya dari industri garmen
bisa diolah menjadi bahan baku baru,
tapi diolahnya, maaf kata diolahnya oleh
UMKM setempat kan ada kemitraan tuh
jadinya. Nah, ketika UMKM setempat sudah
diolah, masuk lagi ke pabrik itu, pabrik
itu kemudian bisa mengolah menjadi
produk yang akhir dan dijual misalnya ke
Eropa, Amerika dan sebagainya, value-nya
bisa dapetin lebih dan UMKM yang ada
sekitarnya bisa mendapatkan nilai
tambah. Saya lihat ini peluang mungkin
di sekitaran ee Jawa Barat, Bandung
sekitarnya, kemudian juga Jawa Tengah,
Boilali sekitarnya untuk tekstil ya.
manufaktur yang lainnya juga seperti
itu. Kalau makanan mungkin di bahkan di
ee apa provinsi seperti Lampung ee dan
sebagainya juga menjadi penting gitu
kan. Jadi ekonomi sekular sebenarnya
sudah dilakukan dan bukan sekedar wacana
tapi tentunya investasinya memang butuh
lumayan besar dan inovasi dari
pembiayaan atau investasi ini
masih-masih sangat diperlukan ke
depannya. Next slide, please.
Jadi, Ibu Bapak sekalian ee tadi kita
sudah berbicara mengenai pembiayaan,
kita sudah berbicara mengenai
kolaborasi, tapi ada satu hal yang
memang sangat penting dalam konteks
ekonomi sekuler. Karena kita perlu
mindset baru, kita perlu sesuatu cara
berpikir atau cara pandang yang berbeda.
Dan karenanya biasanya kita memerlukan
teknologi pendukung yang juga baru. Jadi
dari dalam transisi menuju ekonomi
sekular ini teknologi menurut saya
adalah enabler utama eh faktor ee apa
yang akan menentukan apakah kita bisa
apa enggak. Teknologi misalnya seperti
IoT and AI. Nah, jadi bisa mungkin
dilakukan ke depannya nanti memantau
limbah seperti apa, real time-nya
seperti apa, berapa ee sampah yang sudah
menggunung di mana, apakah bisa
dimanfaatkan, pemilih pemilihannya
gimana dan sebagainya. Sekarang sudah
dilakukan dengan sistem-sistem aplikasi
yang sederhana ya. tadi kan koneksi
antara si penjual yang ee misalnya toko
kue, toko makanan segala macam, tapi ke
depannya itu sistemnya harus di dipakai
untuk sektor yang lebih besar lagi.
Berikutnya adalah bioteknologi. Ee
bioteknologi ini penting banget. Eh,
sekarang ada beberapa pilot atau eh
testing di mana ada mikrobia misalnya
yang di ee introduce, diperkenalkan
untuk memakan sampah atau limbah lebih
lebih cepat. Dan kemudian residunya bisa
menjadi daur ulang ee organik ee untuk
jadi misalnya kompos, pupuk dan
sebagainya. Ee mungkin Ibu Bapak di
beberapa tempat atau di daerah
masing-masing tahu Meget ya. Megget itu
lava. Kemudian jadi makanan eh sori e
limbah dan sebagainya. Jadi dimakan
kemudian lavanya menjadi bisa jadi pakan
ternak, bisa jadi juga sumber ee oil
atau minyak. Nah, untuk goreng dan
sebagainya itu sudah diperkenalkan. Saya
juga pernah ngelihat di Bali. Saya
pernah melihat juga di beberapa tempat
di Jawa dan sebagainya ini juga ee ada
beberapa ee pelaku usaha di Singapura
sudah mencoba untuk memanfaatkan itu dan
membeli dari Indonesia untuk oilnya gitu
kan. Alternative oil ee dari MAGET
misalnya. Kemudian platform digital
seperti saya tadi sebutkan, sistem MRV
monitoring, reporting verification-nya
karena harus transparan. Jangan sampai
kita bilang klaim bahwa ini eh recycle
atau sudah daur ulang tapi ternyata
enggak atau persentasenya kurang. Nah,
itu kan akan tidak dipercaya oleh pihak
pelaku pasar. Kemudian ee banyak hal ya
pengelolaan logistik tentunya menjadi
penting karena logistik ini ee akan
sangat signifikan mengkoneksi ee si
pelaku usaha yang melakukan darur ulang
dengan si pembeli atau yang tadi
misalnya yang seperti siwit. Jadi
budidayanya ada di mana? Di timur
Indonesia, tapi publiknya ada di barat
Indonesia. Kan nyambungnya terlalu jauh.
Alhasil terlalu mahal. Makanya enggak
bisa komit, enggak bisa berkompetisi.
Nah, bagaimana kita bisa kemudian link
antara itu logistiknya juga bisa di
diconnect gitu kan. Jadi tantangannya
banyak sekali. Masih UMKM terutama di
daerah mungkin belum mempunyai akses
terhadap teknologi ini atau mungkin
tidak punya kapasitas juga untuk
mengadopsi teknologi ini. Jadi perlu
dukungan untuk training kapasitas
mungkin Eco Edu. Nanti kita bisa
sama-sama lihat apa aja yang bisa
dilakukan. ada beberapa network ee UMKM
dari pihak kami misalnya, mungkin bisa
kita diskusikan sama-sama untuk apa aja
sih teknologi sesederhana apa yang bisa
mungkan mungkin untuk UMKM yang fokus
makanan, UMKM yang fokus tadi agriway ya
menjadi biochar, menjadi ee biostimulan,
menjadi ee kompos misalnya ee atau yang
daur ulang ee sampah elektronik ya bisa
dimanfaatin apa aja. kita punya partner
seperti Dulang untuk bisa sama-sama
nanti ada training untuk UMKM di daerah
bisa jadi sesuatu yang bisa kita
sama-sama lakukan. Jadi teknologinya
sebenarnya enggak perlu canggih-canggih
banget untuk beberapa level. Dia harus
terjangkau yang pasti dan relevan bagi
pelaku sektor ekonomi sirkular yang ada
di daerah masing-masing. Ee lanjut
slide berikutnya.
Jadi, Ibu Bapak sekalian ee yang kita
sama-sama kankan sebenarnya dalam
konteks sirkular namanya juga rantainya
menjadi bulat ya. Itu enggak bisa kita
lakukan sendiri-sendiri. Jadi harus ada
keterlibatan
ee kolaborasi yang menyeluruh dan setara
ya. Jadi, biar kita sama-sama komplemen,
kita sama-sama terlibat. Jadi tentunya
keterlibatan masyarakat lokal dan UMKM
menjadi ujung tombak inovasi dan
implementasi di lapangan. komitmen
sektor swasta juga sangat penting untuk
membangun rantai pasok karena mereka
biasanya brand kita tahu ada ee saya
pernah eh menjadi advisor di Pepsico
misalnya mereka sangat lihat opsi-opsi
apa aja yang bisa kemudian mereka
lakukan untuk membeli lagi si ee
material atau botol yang enggak pakai
kemudian mereka akan olah dan
sebagainya. Nah, itu ada sistem insentif
yang bisa dibangun dengan pelaku sistem
pembulung dan sebagainya juga. Jadi
menjadi penting komitmen sektor swasta,
regulasi dan insentif pemerintah. Apakah
bisa misalnya lewat terpres ekonomi
hijau sehingga memberikan arah dan
dukungan agar transisi yang kita
inginkan punya landasan hukum dan fiskal
yang kuat. tentunya tentu juga adalah
lembaga keuangan ini berperan penting
dalam menyediakan pembiayaan inovatif
yang seperti tadi saya sebutkan green
bond carbon credit dan sebagainya hingga
skema berbasis hasil performance base.
Namun kolaborasi ini hanya akan efektif
Ibu Bapak sekalian jika dibangun satu di
atas dasar kepercayaan, transparansi dan
juga kesetaraan. Jadi, ekonomi sirkuler
ini akan sulit tumbuh ya kalau misalnya
tadi enggak ada kolaborasi apalagi
enggak ada kolaborasi yang inklusif dan
berkelanjutan. Ee lanjut slide
berikutnya.
Jadi, Ibu Bapak sekalian, ada banyak
yang bisa kita lakukan karena ini
peluang yang masih ee baru misalnya di
berbagai tempat banyak yang enggak tahu
juga, tapi value-nya sebenarnya sudah
banyak e dihargai di ee misalnya
negara-negara yang lain yang membutuhkan
produk yang banyak komponen ekonomi
sekularnya. Yang pertama pertanyaannya
sekarang mungkin bukan mengapa ekonomi
sekular ini penting, tapi apa yang bisa
kita lakukan sama-sama. atau mungkin
sendiri-sendiri ee di awal apa yang kita
bisa lakukan. Pertama yang dibutuhkan
dan sangat dibutuhkan saat ini adalah
gimana kita bisa memba
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:09:39 UTC
Categories
Manage