Transcript
AemeIg5sevc • ASN Mengaji - "Is Our Way of Purifying Ourselves Correct?"
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0097_AemeIg5sevc.txt
Kind: captions
Language: id
jadi harus begini minimal begini
makanya saya kalau di rumah itu selalu
pakai hanafik jadi kalau di rumah saya
nyentuh istri meluk istri bahkan istri
pun saya menganggap tidak batal karena
dan di rumah saya pakai air keran Ketika
pakai air keran kemudian kalau untuk
minimal saya basuh seperempat bagian
ubun-ubun
sisanya sama semua
mau ikut pakai Hanafi pakai air keran
kemudian minimal basuh seperempat ini
kalau Hanafi kalau Maliki
Maliki bersentuhan laki-laki perempuan
itu batal kalau syahwat kalau ndak
syahwat
sama
[Tertawa]
kalau Maliki itu kalau sahabat batal
kalau sampai nyentuh kemudian nyetrum
itu batal kalau ndak nyetrum
Apa bedanya Maliki dengan Syafi'i
bedanya juga sama dua satu kalau Maliki
air tidak harus mengalir terus bebas
bedanya kalau Maliki gosok itu wajib
itu kan saya ambil air saya alirkan
selesai ini namanya membasuh
setelah Saya Arkan begini kemudian
digosok begini Ini namanya gosok
dengan air
Setelah air rata Kemudian jenengan
begini kan itu namanya gosok
kalau Syafi'i sunnah kalau Maliki wajib
Jadi kalau Syafi'i itu setelah dibasuh
begini diginiin sunnah tapi kalau Maliki
wajib satu nomor dua bedanya di kepala
Kalau Syafi'i
seperempat kalau Maliki harus rata
Jadi kalau Malik harus seperti ini
dikembalikan lagi
kalau Syafi'i yang seperti ini ini
sunnah kalau Maliki wajib
Nah makanya kalau yang Maliki Agak repot
terutama untuk perempuan
[Musik]
Saya biasanya kalau di tempat saya di
Pasuruan itu kan saya rumah asli
Pasuruan itu kan jarang kamar mandi di
Pasuruan itu ada keran khusus itu jarang
berarti pakai hanafikan ndak bisa
alternatifnya supaya nyentuh istri tidak
batal
tadi itu jadi harus pakai airnya
kemudian digosok setelah digosok
kemudian kepala itu harus rata ini
perbedaan Hanafi Maliki Syafi'i dan anda
bisa menggunakan ini tidak harus ketika
di Mekkah di rumah pun boleh kata ulama
yang penting satu paket dan saya tiap
hari kalau untuk di rumah selalu pakai
Hanafi lanjut
kita akan membahas tentang
mensucikan dari najis Kalau kemarin suci
dari hadas Sekarang kita akan membahas
suci dari najis Nanti akan saya
sampaikan mulai paling ketat sampai
paling mudah sebagai alternatif
lanjut nah sebelum Saya bahas ada
beberapa hadits yang berkaitan tentang
air ini saya saya sampaikan dulu
dalilnya hadits pertama riwayat Imam
Baihaqi dan yang lain Rasulullah
Mengatakan innalla yunaji
kata Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam air itu tidak bisa najis
kecuali bau rasa dan warnanya berubah
jadi hadis ini ini air bisa najis karena
rubah sifatnya tapi umum air sedikit
ataupun banyak itu berubah atau tidak
berubah itu berpengaruhnya adalah kalau
berubah ini harus pertama hadis kedua
Rasulullah mengatakan
kalau air itu banyak kata Rasulullah
tidak bisa najis berarti hadis ini
mengatakan kalau banyak tidak najis tapi
harus pertama najis itu kalau berubah
yang ketiga ada ijma ulama ijma air itu
sedikit banyak kalau berubah najis
dari sini kemudian ulama berbeda
pendapat
pertama ini adalah pendapat Mazhab
Syafi'i Mazhab Syafi'i air itu dibagi
dua ada air sedikit ada air banyak air
sedikit Itu air yang kurang 2 gula air
dua kulah itu kalau saya buat kotak gini
kotak ini air dua kulah itu adalah
panjang lebar tinggi
kisaran 70 cm
itu panjang lebar tinggi 70 cm itu
berarti airnya Banyak
kalau Mazhab Syafi'i kalau airnya Banyak
kena
najis makan nggak najis selagi belum
berubah tapi kalau airnya sedikit
cipratan najis berubah ndak berubah kata
Mazhab Syafi'i itu najis contoh di
toilet umum itu biasanya airnya pakai
apa
ada yang bakteri itu Cuma segini pun
kira-kira kalau jenengan
6 Plus cipratan jenengan ke BAK ini
pasti nampas Makanya kalau Mazhab
Syafi'i bak air yang di toilet itu
kebanyakan najis Kenapa kok najis Karena
airnya sedikit cipratan dari najis
sedikit saja tidak berubah itu najis
makanya untuk masalah air Mazhab Syafi'i
agak ketat
Nanti saya sampaikan enaknya Bagaimana
ini
makanya dulu kenapa orang-orang Desa
dulu itu kamar mandinya gede-gede
besar-besar kecuali orang kota tipe
minimalis
Kenapa karena orang-orang dulu orang tua
kita nenek-nenek kita kakaknya kita itu
banyak ngaji Mazhab Syafi'i makanya
mereka itu punya kamar mandi itu besar
supaya nanti kalau tercipratan najis
tidak najis yang penting tidak berubah
ini makanya kalau dulu ada yang sampai
bak itu dikasih dua warna ini warna
pertama warna kedua ini warna minimal
dua kulah
panjang lebar tinggi atasnya itu berarti
lebih jadi Kalau umpama airnya itu di
bawah yang coklat ini itu berarti sudah
sangat minim harus ditambah Bun nah
mayoritas ulama mengatakan dua kulah itu
adalah panjang ini panjang lebar
tinggi itu 60 cm
[Musik]
ini berarti 20 itu panjang lebar tinggi
itu adalah minimal 60 cm meskipun ada
yang mengatakan 60 cm intinya total 60
kali 3
180 jadi
80 kemudian tingginya cuma 20 lah
tinggal nanti lebarnya dibuat berapa
yang sekiranya totalnya adalah 60 atau
70 kali 3
ini yang banyak keliru banyak ditole
toilet terutama rest area itu antara
kamar mandi makanya Kenapa di
masjid-masjid di masjid-masjid itu
biasanya kalau masjidnya ikut Mazhab
Syafi'i antara toilet dengan tempat
wudhu itu biasanya ada kolamnya
Kenapa kok ada kolamnya karena kalau
nggak ada kolamnya rentan najis
apalagi toiletnya toilet berdiri apalagi
toiletnya kemudian antara toilet dengan
tempat wudhu itu tidak ada jeda
ketika jenengan kencing kira-kira area
toilet area tempat kencing itu najis
atau suci
kan kemungkinan besar najis kena kaki
jenengan basah
ketika basah kemudian jenengan masuk
dari tempat toilet ke tempat wudhu
kira-kira kaki jenengan
ketika bawaan najis ke tempat wudhu
basah semua kira-kira tempat untuk rata
dengan aja atau ndak
Setelah dari tempat wudhu keliling
masjid
[Tertawa]
nya kan tinggi dari tempat wudhu dari
tempat kencing dari toilet bawa najis
dibawa ke tempat wudhu area tempat wudhu
itu sudah najis karena terbawa dari
toilet setelah itu kemudian dibawa ke
masjid keliling ke masjid
makanya biasanya masjid-masjid yang di
desain oleh Mazhab Syafi'i itu biasanya
antara toilet ke tempat wudhu atau
setelah tempat wudhu ke masjid itu ada
kolam yang kolamnya itu harusnya 2 bulan
sekiranya panjang lebar tingginya itu
660 Supaya apa supaya ketika kaki kita
masuk ke dalam kolam keluar sudah suci
itu kenapa beberapa masjid banyak yang
seperti itu
Nah makanya hadis Mazhab Syafi'i ini
didasari oleh beberapa pendapat ini
didasari oleh beberapa hadis yang
pertama kata Mazhab Syafi'i ketika orang
Arab badui dulu kan
Arab Baduy itu dulu pernah kencing di
masjid pernah dengar ceritanya oleh
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
disuruh apa
disuruh Kenapa Masya Allah hebatnya
Rasulullah
dilarang dikongkon selesaikan kencingnya
kenapa
sampeyan nek Wong Lanang
jangan disentak Jangan dimarahi
selesaikan dulu
oleh Rasulullah alaihi wasallam disuruh
ambil air disiramkan ke
tapi ingat di zaman Rasulullah yang
namanya Masjid itu lantainya bukan
keramik tapi
pasir maka ketika ada kencing disiramkan
langsung Suci Kenapa Suci Karena airnya
tersebut
lho Kalau umpama jenengan di sini ada
kencing jenengan siram Itu nanti bukan
mensucikan tapi merata
makanya nanti saya sampaikan caranya
bagaimana
air yang digunakan
apalagi dari pel-pelan sini ada kencing
ambil pel-pelan dipel setelah dipel
masukkan lagi ke timba kemarin
itu namanya meratakan najis lho Ustadz
kan di zaman Rasulullah
karena pasir bukan keramik kalau dengan
nyiram keramik itu tidak meresap bangga
dalam hadis riwayat Bukhari Muslim orang
bangun tidur itu oleh Rasulullah
dilarang tangannya itu dimasukkan ke
dalam air yang airnya sedikit kenapa
Karena di zaman Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam sahabat itu biasanya
kalau istinja pakai batu
karena pakai batu berarti area
dubur itu masih najis dan orang tidur
itu ndak tahu tangani
[Musik]
macam-macam waktu tidur kan nggak tahu
maka kata Rasulullah alaihi wasallam
karena kita tidak tahu kemungkinan
tangan kita kemana kan bisa jadi
garuk-garuk area najis maka Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis
Bukhari Muslim dilarang dimasukkan ke
dalam bak karena baknya airnya kecil
kemasukan najis ikut najis ini dasar
mazhab
makanya para jamaah Kalau jenengan ikut
Mazhab Syafi'i
ini ada
pakaian najis
kalau jenengan ada pakaian najis
kemudian ini ada
bak kemudian pakaian najisnya dimasukkan
ke dalam bak itu namanya bukan
mensucikan najis tapi meratakan
Kenapa karena baknya airnya sedikit
jenengan pakaiannya najis dimasukkan ke
dalam air maka airnya ikut
Makanya kalau pakai mesin cuci
mesin cuci ada dua ada mesin cuci yang
bukaan atas
biasanya diisi air kemudian pakaiannya
dimasukkan
ada yang mesin cuci langsung kering
bukan depan biasanya ke depan itu cara
mensucikannya beda kalau yang bukaan
atas jenengan kemudian naruh air di
mesin cuci
pakaian jenengan yang untuk sholat
pakaian anaknya yang bekas Kompol
jenengan jadikan satu masukkan ke dalam
mesin cuci maka Mesin cucinya najis
Kenapa Karena airnya sedikit kejatuhan
najis maka airnya ikut
Makanya bagaimana Ustadz cara mensucikan
pakaian yang najis kalau kita pakai
mesin cuci yang bukan atas kalau saya
mending ada dua cara tapi cara yang
paling baik yang pertama apa jenengan
punya tempat Pakaian kotor itu dua ada
Pakaian kotor Suci ada Pakaian kotor
najis
Pakaian kotor Suci apa baju jenengan
kotor kena reget tubuh tapi kan Suci ada
pakaian anak jenengan kena kompor itu
najis dipisah pakaian yang kotor tapi
Suci langsung masukkan pakaian yang
najis kena ompol dibilas dulu setelah
bau ompolnya hilang ompolnya hilang
tinggal dimasukkan baru sudah suci Tapi
kalau dari awal dicampur itu bisa najis
semua
tapi kalau yang pesen cuci yang bukaan
depan hasil keputusan basul Masail
mengatakan yang penting diproses dua
kali sudah suci
Kok bisa Ustadz yang kayak di rumah saya
itu kan mesin bukaan depan saya masukkan
Suci najis kemudian saya saya apa Saya
pencet ya bilas Apa itu kan kemudian
airnya keluar kemudian menggiling ketika
gilingan pertama itu kan kotorannya
terbuang berarti ketika gilingan pertama
air itu najis tapi najisnya hilang
kemudian saya pencet gilingan kedua
muncul air air yang kedua itu sudah
mensucikan Makanya kalau mesin cuci
bukaan depan yang langsung mesin cuci
yang langsung kering itu bisa dengan
cara dua atau tiga kali proses bilasan
air itu sudah Suci ndak usah dipisah
tapi kalau yang bukan atas itu harus
bisa
paling enak untuk masalah air itu
ngambil hadits yang pertama saja tidak
digabung kata mazhab Maliki air itu
najis kalau berubah kalau tidak berubah
suci
paling enak Saya biasanya kalau pakai
Maliki ini kalau terpaksa kan pernah
saya Saya biasanya kalau kita lihat umum
kalau kran bisa dibuka saya ngambil
airnya dari kran langsung karena yang di
bak itu kan rentan najis kalau pakai
Syafi'i tapi kan ada waktu waktu saya
masuk ke toilet
keran dibuka
satu-satunya air yang ada di bak kecil
Ya sudah kalau dalam kondisi seperti ini
saya tutup mata ikut Maliki sing penting
Banyu manajerni
ndak mampu tidak berubah warnanya Ya
sudah saya pakai makanya saya katakan
tadi dengan kita ikut mazhab lain itu
kadang-kadang dalam kondisi tertentu
bisa kita pakai
najis itu kata ulama ada dua ada Najis
aininya ada najis hukmia itu najis yang
Bendanya masih ada warnanya ada baunya
ada rasanya ada cuma untuk rasa dijilat
Dikira
ada
itu najis yang kebendaannya hilang sudah
tidak ada baunya sudah tidak ada
warnanya sudah tidak ada rasanya tapi
belum disucikan ini cara mensucikannya
beda kalau najis aininya cara
mensucikannya harus hilang
baunya harus hilang warnanya hilang
rasanya hilang kalau tidak bisa kata
ulama yang tidak boleh kumpul itu adalah
bau sama warna contoh start baju saya
kena darah
Ketika saya kucek Ustad sudah saya
bersihkan rasanya sudah tidak ada bau
amisnya hilang tapi berjejak merahnya
masih ada dan tidak bisa dihilangkan
kata ulama kalau tersisa salah satunya
bercak atau bau maka sudah Suci
kena darah sudah dikucek amisnya hilang
tapi bercak merahnya masih ada berarti
sudah Suci Atau sisa bau warnanya nggak
ada contoh kalau dengan wawi
kira-kira Kalau dicium masih terasa
aroma terapinya tidak
terasa tapi warnanya kan hilang
ketika warnanya hilang bau masih ada
kata lama berarti sudah suci
yang pasti najis itu kalau warna dan bau
campur
aroma terapinya menyengat
harus salah satunya dihilangkan darah
juga sama ketika dicuci bau amisnya
masih ada bercaknya masih ada berarti
masih najis cara sucinya harus salah
satunya hilang warnanya hilang atau
baunya hilang kalau salah satunya hilang
tinggal salah satunya maka sudah Suci
kalau najis itu mudah najis hukmia itu
yang penting disiram itu
kasih contoh maka hati-hati ini merebut
masjid harus ngerti cara mensucikan
najis
ini ada lantai di tengah-tengah ada
kotoran hewan ada orang ngompol anak
kecil ngompol kalau jenengan siram
karena ini najis aininya Bendanya kan
masih ada maka air yang digunakan
caranya jangan langsung disiram apalagi
di sini ada apa
sih semangat semangat bersihkan pakai
pel-pelan kemudian Air pel-pelannya
pel-pelannya langsung dimasukkan ke situ
dikucek-kucek dimasukkan ke dalam air
bak gawe
caranya bagaimana caranya kalau najis
hukmia adalah jadikan dulu najis lainnya
itu menjadi najis hukmiyah
contoh ini ada kotoran
atau ada kencing caranya bagaimana ambil
gombal Ambil tisu caranya bagaimana ini
kita bersihkan dulu sampai baunya
warnanya rasanya hilang setelah selesai
tinggal disiram setelah disiram air yang
digunakan
kalau saya di rumah itu paling gampang
pakai ini semprotan
Saya di rumah itu kalau kalau ada ya
biasa ya punya anak bayi itu kan sing
ngompol sing muntah itu kalau langsung
disiram lagi semua Saya biasanya
Bagaimana ya sudah saya ambil gombal
area kena muntah area kena kompor itu
saya bersihkan semua setelah saya
bersihkan hati-hati ini kalau netes ini
najis ambil bak ambil bak sisa untuk
membersihkan itu saya taruh sini Saya
biasanya untuk memastikan saya pakai
tisu basah setelah bersih semua ya saya
pakai tisu basah terakhir Setelah
selesai saya ambil semprotan saya
semprotkan rata ke area itu sudah
selesai tinggal dikeringkan Suci
cuma semprotan itu ada dua ada semprotan
yang keluarnya itu seperti spray kayak
kayak apa ya kayak uap itu tidak bisa
tapi ada semprotan yang itu yang
keluarnya air Biasanya kalau dengan
pingin tahu keluar ayat atau ndak
jenengan semprotkan tangan kalau
disemprotkan tangan basah tapi tidak
ngalir itu tidak bisa tapi kalau
jenengan semprotkan begini kemudian
airnya ngalir milih itu itu berarti Bisa
Saya biasanya pakai ini itu saya semprot
setelah tadi dibersihkan ya saya semprot
rata Ya sudah sudah Suci tinggal
dikeringkan Suci
maka Margot Margot masjid hati-hati
kalau mau mensucikan jadikan dulu
disiram
terakhir dari saya ini saya ingin
sedikit
untuk mensucikan najis itu yang paling
mudah ikut mazhab Hanafi Makanya kalau
jenengan agak kesulitan itu pakai Hanafi
contoh
jenengan kalau HPnya kena najis kalau
pakai Syafii syaratnya diapakan
kalau pakai Syafi'i harus disiram
karena pakai sapi itu kan harus hilang
beli lagi kan Eman Untungnya ada mazhab
Hanafi makanya saya sampaikan pada
banyak itu supaya jadi alternatif contoh
lagi jenengan tahu baju baju batik yang
harganya mahal itu kira-kira kalau masuk
ke laundry cari yang white clean atau
dry clean
dry clean kan kira-kira ada airnya nggak
kalau pakai Syafii nggak bisa
nah ini saya sampaikan Hanafi bon begini
ini bedanya siapa sama Nabi di Alquran
Allah mengatakan
Allah aku turunkan dari langit air yang
mensucikan
Mazhab Syafi'i ketat Kenapa kok pakai
air karena Alquran menggunakan air
Berarti selain air tidak bisa mensucikan
ndak usah tanya kata Syafi'i jadi Safi
itu karakternya ndak usah tanya kalau
masalah ibadah jadi kalau Allah
mengatakan aku turunkan dari langit air
yang mensucikan berarti yang bisa
mensucikan cuma air air pun kata Syafi'i
harus Air Yang Jernih air tercampur teh
ndak bisa air tercampur kemudian kapur
nggak bisa pokoknya harus air jernih ini
sapi tapi kalau Hanafi mengatakan begini
Kenapa air bisa mensucikan kata Hanafi
karena air bisa menghilangkan najis
Kenapa Allah menurunkan air untuk
mensucikan karena air bisa menghilangkan
maka kata mazhab Hanafi sing penting
najisnya hilang sudah suci
makanya kata Hanafi Beliau mengatakan
semua benda cair itu bisa mensucikan
tidak harus Air ini kalau malam Syafi'i
harus Air ini tapi kalau mata Hanafi
jenengan najis disiram sampai Banyu
Sprite
disiram pakai air apa ya air teh bisa
pakai air apapun bisa yang penting
najisnya hilang bahkan kalau kata mazhab
Hanafi air ludah itu bisa mensucikan
Umpama ibu-ibu
payudaranya najis karena muntah anaknya
disucikan dengan disusun diambil anaknya
itu sudah Suci Kenapa karena air
ludahnya anak itu termasuk yang bisa
mensucikan
karena menghilangkan
setelah selesainya suami tidak usah
disucikan payudaranya Kenapa karena air
liur itu kata mata Hanafi cairan yang
bisa mensucikan
keringat jenengan penyakit keringatnya
dikumpulkan jadi tidak jelas
pokoknya benda cair bisa menghilangkan
itu suci ini
[Tertawa]
menggosok yang terkena najis pada tanah
sampai benda dan bekas najisnya hilang
jenengan punya sepatu punya sandal
nginjak kotoran
kalau sholat jenazah biasanya sepatunya
harus dilepas Makanya jangan sering kan
Lihat ada orang sholat jenazah di luar
sepatunya dilepas atau seandainya
dilepas pernah lihat Kenapa kok dilepas
karena Mazhab Syafi'i Kenapa kok najis
karena bawah sandal itu najis karena
bawah sadar najis kalau dipakai itu
namanya nempel tapi kalau bawahnya najis
kita injak itu tidak masalah sama dengan
ini kan ini saya pakai
pakai sajadah sajadah atasnya Suci kan
ndak masalah makanya Kenapa orang-orang
yang fanatik Syafi'i
kalau dia sholat pakai sandal-sandanya
dilepas supaya diinjak karena bawahnya
kan najis Tapi kalau pakai Hanafi dengan
kita pakai sandal pakai sepatu Andaikan
kena najis kita gunakan Jalan tergesek
oleh tanah najisnya hilang otomatis
sudah suci itu Hanafi
enak apa ndak dalam kondisi tertentu
enak bener
contoh jenangan
biasanya orang umroh sandalnya taruh di
luar atau digendong
digendong
Karena setelah dipakai itu kan
gesek-gesek-geseknya hilang
makanya kadang-kadang pendapat-pendapat
seperti ini bisa kita pakai yang ketiga
kalau dalam mazhab Hanafi termasuk yang
mensucikan adalah mengusap benda yang
tidak berpori contoh kaca tidak berpori
pedang tidak berpori HP berpori nggak
tahan api kalau HP jenengan kena najis
nggak usah disiram cukup cari tisu basah
di pusat Pakai tisu basah najisnya
hilang sudah suci
enakan tidak perlu ganti HP kan
dibandingkan ganti HP kan mending
pindahan dulu
benda-benda seperti
keramik itu
Kalau umpama pakai Hanafi tinggal pakai
tisu basah najisnya dihilangkan kering
dengan api
kering dengan sinar matahari atau angin
untuk bahan-bahan yang kemudian menancap
di tanah
itu Umpama ada orang yang kencing di
situ tapi karena kena sinar matahari
karena kena angin baunya ndak ada warna
otomatis
-keramik di depan itu ada yang ngompol
di situ
hilang kencingnya hilang baunya hilang
warnanya hilang karena otomatis suci
termasuk kata Hanafi yang mensucikan itu
adalah api
yang mensucikan itu api
karena karena orang itu kan kalau Mas
kalau punya dosa banyak kalau mau masuk
surga itu kan dibersihkan dulu
bersihkannya pakai apa
termasuk yang bisa mensucikan adalah api
ini bisa kita pakai contoh apa
batu bata
batu bata itu kalau jenengan pernah
lihat itu kadang-kadang orang buat
batuk-batuk itu
di situ
tanahnya dicetak kemudian di
bakar kalau Syafi'i kan najis tapi
dengan menggunakan hanafik ketika
dibakar
sisa tanahnya itu suci termasuk
Syafi'i benda najis dibakar kuatnya
bukan uap apa namanya asapnya itu najis
ada babi guli guling
dibakar kan keluar asap kalau Syafii
asap dari najis itu najis
Kalau umpama pakaian jenengan basah
karena asapnya najis tapi kalau Hanafi
sesuatu yang berubah bentuk itu suci
jadi kalau Hanafi ada kotoran kok
dibakar uapnya kotoran itu suci
kotorannya najis
makanya untuk najis itu lebih gampang
Hanabi pohon lanjut termasuk pakaian
panjang kalau Hanafi pakaian panjang
ibu-ibu biasanya kan sekarang kan lagi
ngetren pakaian nyapu tanah itu kan
ngetren sekarang
andaikan ketika dianyaku tanah kena
najis tapi dengan sapuan yang kedua
ketiga kena tanah najisnya hilang
otomatis Suci kemudian benang Syafi'i
Hanafi benang kalau najis disisir
sekiranya najisnya hilang Suci Intinya
kalau Hanafi yang penting najisnya
hilang otomatis
itu kalau ingin jenengan punya bagian
pakai dry clean kena najis harus ikut
halal
ini yang mungkin bisa saya sampaikan
kalau ada yang mau disisihkan saya
persilahkan Insya Allah di pertemuan
selanjutnya kita akan nonton cara
mensucikan yang bagus videonya sama cara
perkutut Monggo kalau ada mau ditanyakan
saya persilahkan
tadi keterangan kalau ada satu pesan
masjid
ini ada ada kotoran ada kotoran kalau
disiram itu bukan membersihkan tapi
meratakan
Itu kan menurut Syafi'i kalau kita ikut
Hanafi berarti
dilihat dulu Jadi kalau di sini
jenengan siram kalau air yang digunakan
siram Berubah itu juga sama
karena intinya najisnya masih ada
makanya paling aman Kalau yang kayak
Kenapa jenenge
itu kalau pakai Hanafi yang tidak
berpori enakan langsung diusap cari tisu
basah Langsung dibersihkan pakai tisu
basah yang penting najisnya sudah hilang
suci Jangan disiram kalau disiram
masalahnya nanti air nyiramnya itu kan
masih ada kecuali setelah nyiram
dibersihkan sampai bersih karena itu
najisnya hilang
Marbot Masjid itu harus tahu cara
mensucikan najis Kalau kayak seperti ini
dengan pakaian apa
vakum yang penting najisnya hilang bau
rasa warnanya hilang
[Musik]
makanya saya
jadi kalau di rumah saya yang istri
meluk istri bahkan
kemudian
minimal bakso
ikan
[Musik]
yang pertama
terkait tentang masalah mazhab mazhab
itu sampai hari kiamat tetap berlaku
dan mazhab itu biasanya masing-masing
punya karakter sendiri ada di daerah
yang cocoknya pakai mazhab tertentu
Ustadz saya kalau hidup di masyarakat
itu enaknya pakai bahasa apa kata ulama
mazhab yang biasa dipakai yang tidak
menimbulkan konflik itu paling bagus
jangan senang tampil beda
contoh Nanti insya Allah kapan-kapan
kita akan membahas tentang apa saja
najis najis itu ulama ada yang khilafiat
ada yang najis disepakati ada yang najis
ulama akhilafiyah contoh yang disepakati
contoh najis yang ulama khilafiyah apa
anjing
tapi dari Ustad Mari pengajian anjing
maka ada salah seorang yang pernah
belajar kepada mazhab kepada Imam Ahmad
bin hambal
mengatakan Kamu dari mana Saya dari
Yaman Oh Yaman itu daerahnya Mazhab
Syafi'i kamu tidak perlu belajar ke saya
kenapa jangan sampai setelah kamu
belajar ke saya pulang jadi orang yang
tampil beda akhirnya menimbulkan konflik
jadi kita dengan belajar mazhab itu satu
sebagai orang kita dengan melihat mazhab
itu kalau ada orang yang beda kita nggak
gampang nyalahkan tapi mana yang kita
pakai pakailah yang kemudian terbiasa di
masyarakat Kenapa Ustad jenengan
menyampaikan masalah Hanafi macam-macam
supaya kita dalam kondisi tertentu bisa
pakai dan kalau ada orang yang seperti
itu kita tidak menyalahkan
karena otak itu kalau yang di otak itu
hanya ada petir dawanan itu
karena yang dipunya cuma petir tapi
kalau di otak itu
lap-lapan ada kemudian tisu basah enak
lihat kaca kotor ndak cocok pakai petir
pakai apa Pakai itu Tsubasa
kotor
itu semua mazhab itu sesuai Sampai Akhir
Zaman tetap dipakai cuma kadang-kadang
di satu daerah itu kemudian ada mazhab
itu yang biasa dipakai yang kita pakai
itu tapi dengan kita belajar banyak
mazhab dalam kondisi tertentu Kita bisa
punya pilihan
saya kasih contoh makanya Kenapa kok
jangan senang jadi orang yang tampil
beda
saya kasih contoh ulama dulu Imam Ahmad
bin hambal itu termasuk ulama
perawi hadits karena beliau adalah orang
yang meriwayatkan hadits beliau punya
kitab namanya mushaf Ahmad kumpulan
hadits itu ada 11 jilid beliau adalah
ulama hadits yang meriwayatkan salat
qobliyah magrib jadi salah satu hadis
yang menjelaskan ada qobliyah magrib itu
riwayat Imam Ahmad bin hambal
tapi Imam Ahmad bin hambal seumur hidup
hanya pernah melakukan
qobliyah maghrib cuma sekali
pertanyaannya Kenapa apakah karena
beliau malas salat Sunnah ternyata tidak
Imam Ahmad bin Hambali itu anaknya
sendiri ngomong Ayah saya itu sehari
semalam salatnya
300 rokaat
jangan salatnya Berapa rakaat
[Tertawa]
Oke kita itu sholat paling baik kita
sholat paling banyak itu gelem shalat
lima waktu terus untung wong itu
kadang-kadang juga
Kalau puasa
Muhammad NU
R Masya Allah Maksudnya bagaimana
Muhammad NU rakaat ini rumah
Muhammadiyah speed kecepatannya
[Tertawa]
kalau terawat yang paling favorit itu
Imam Ahmad bin hambal itu sehari semalam
300 rakaat kecuali beliau usia 80-an 80
tahunan dulu beliau di termasuk ulama
yang korban kriminalisasi karena beliau
itu dipenjara di dalam penjara itu
dicampui ketika usia 80 tahun beliau
badannya agak ringkih ketika ringki itu
salatnya dikurangi
jadi berapa
300 jadi 150 rokaat per hari
jenengan yang sehat
Berarti Imam Ahmad bin Hambali maghrib
bukan karena malas murid nyatanya Kenapa
engkau tidak salat kemudian karena
beliau karena saya sudah kadung tinggal
di daerah yang daerah itu sudah pakai
mazhab Abu Hanifah yang mengatakan salat
tapi menimbulkan konflik tukaran
ini penting nih sekarang ini banyak
orang yang kemudian senang ngomong
sunnah tapi kemudian senang itu Karan
mazhab Abu Hanifah Imam Ahmad bin hambal
sendiri Beliau mengatakan saya
meninggalkan qobliyah maghrib yang
menurut saya sunnah karena saya
meriwayatkan Karena saya takut kalau
saya melakukan itu akan menimbulkan
konflik
makanya Masjid itu kalau kita lihat
banyak pendapat yang disampaikan itu
enak rukun
pendapatnya ini
pendapat ini jadi waktu salat Allahu
Akbar
yang lain
Allahu akbar
Ustadz yang dipakai Bagaimana sebisa
mungkin kita pakai yang ideal
kecuali dalam kondisi tertentu
saya di daerah di rumah orang itu tidak
ketemu
pernah ke masjid
saya nggak ngomong masjidnya nggak enak
Masjid itu antara tempat kencing dengan
tempat wudu itu nyampur
dan saya tahu pasti yang namanya orang
kencing nikmatnya ke tempat wudhu
saya akhirnya Bagaimana ya sudah saya
harus tutup mata pokok kencingnya
tapi sebisa mungkin dalam kondisi ideal
kita pakai yang hati hati
ada lagi
nanti setelah pengajian kita dengan
takmir yang keliling jangan tidak
[Tertawa]
kalau cekap saya anggap cukup Semoga
menjadi ilmu manfaat Barokah semoga ilmu
yang kita peroleh bisa kita praktekkan
dan menjadi penyempurna ibadah kita
kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala Amin ya
robbal alamin Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillah
[Musik]
Assalamualaikum
ini yang bisa saya sampaikan kurang
lebihnya saya mohon maaf Subhanallah
wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta
Astaghfirullah
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh