Resume
41zRZSEHeFk • Innovation Academy BPSDM Jatim 2024 (Day 2)
Updated: 2026-02-12 02:05:07 UTC

Berikut adalah rangkuman komprehensif dari konten video "Innovation Academy 2024" yang diselenggarakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur.


Membangun Ekosistem Inovasi Daerah: Ringkasan Lengkap Innovation Academy 2024 Jawa Timur

Inti Sari (Executive Summary)

Innovation Academy 2024 yang diselenggarakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur menghadirkan narasumber ahli dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI untuk membekal pejabat administrator dan fungsional dengan strategi membangun budaya inovasi yang berkelanjutan. Acara ini tidak hanya membahas definisi inovasi, tetapi menekankan pentingnya mindset, ekosistem pendukung, serta metode praktis seperti diagnosa masalah dan perancangan solusi kreatif (design thinking) untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat.

Poin-Poin Kunci (Key Takeaways)

  • Inovasi adalah Budaya, Bukan Acara: Inovasi harus menjadi mindset sehari-hari, bukan sekadar kegiatan seremonial atau mengejar penghargaan.
  • Diagnosa adalah Kunci: Mengidentifikasi masalah dengan tepat (95% dari proses) jauh lebih penting daripada langsung mencari solusi (5%).
  • Tingkat Dampak: Inovasi harus memberikan dampak pada level Mikro (layanan langsung), Meso (kinerja organisasi), dan Makro (kesejahteraan masyarakat).
  • Metode Berpikir: Terdapat tiga pendekatan inovasi: In the Box (memodifikasi yang ada), Out of the Box (pikiran lateral/melawan arus), dan Shopping List (meniru dan memodifikasi inovasi sukses daerah lain).
  • Tantangan Jawa Timur: Meskipun jumlah inovasi banyak, peringkat Indeks Inovasi Jawa Timur turun, menandakan perlunya ekosistem yang lebih terintegrasi dan pengawasan yang ketat.
  • Kolaborasi Regulasi: Perlu sinergi antara regulasi dari Kemendagri dan Kemenpan RB agar pelaporan inovasi di daerah tidak tumpang tindih.

Rincian Materi (Detailed Breakdown)

1. Konsep Dasar & Pentingnya Inovasi (Bagian 1-3)

Sesi pertama dibuka oleh Bapak Hartoto (Kepala Pusat Inovasi Administrasi Negara LAN RI). Beliau menekankan bahwa inovasi adalah kontributor terbesar terhadap daya saing, melampaui sumber daya alam.
* Definisi Inovasi: Menurut PP 38, inovasi harus memiliki unsur Kebaruan (bukan baru total, bisa modifikasi/replikasi/ATM), Kemanfaatan, dan unsur Pemerintahan.
* Dampak Inovasi (PDI):
* Mikro: Dampak langsung pada penerima layanan (contoh: pengurusan akta kelahiran yang cepat).
* Meso: Dampak pada kinerja organisasi/OPD (peningkatan SAKIP).
* Makro: Dampak jangka panjang pada kesejahteraan masyarakat.
* Keberlanjutan: Inovasi harus menjadi warisan organisasi, bukan tergantung pada satu orang inovator. Jika inovator pindah, inovasi harus tetap jalan.

2. Metodologi & Teknik Menggagaskan Inovasi (Bagian 4-5)

Pembahasan lanjut ke teknik mencari ide solusi masalah.
* Diagnosa Masalah: Analogis seperti dokter mengobati pasien. Contoh kasus kebakaran hutan yang gagal diatasi karena salah identifikasi stakeholder (pelaku pembakaran sengaja, bukan masalah teknis).
* Tiga Pendekatan Inovasi:
1. In the Box Thinking: Menggunakan matematika sederhana (Tambah, Kurang, Bagi, Kali). Contoh: Mengurangi jenis layanan agar fokus, atau membagi jalur khusus lansia.
2. Out of the Box Thinking: Berpikir lateral. Contoh: Bisnis taksi tanpa armada (Grab/Gojek) atau hotel tanpa bangunan (Airbnb).
3. Shopping List: Meniru inovasi daerah lain (Amati, Tiru, Modifikasi).
* Reverse Thinking: Berpikir terbalik dari kebiasaan. Contoh: Jika warung sepi karena kotor dan lambat, solusinya adalah membuatnya bersih dan cepat.

3. Praktik Bedah Proposal Inovasi Daerah (Bagian 6-15)

Peserta dari berbagai OPD dan Kabupaten/Kota mempresentasikan rancangan inovasinya untuk mendapatkan masukan langsung dari narasumber.
* Bappeda Jember: Platform digital publikasi kelitbangan dan penjaringan inovasi (Sioda) yang terintegrasi dengan Jatim Berdasi.
* Bakorwil Jember: Sinergi Bakorwil sebagai pusat informasi strategis bagi ASN di 7 kabupaten/kota wilayah kerja.
* Kabupaten Gresik: Pantas Berdasi (Sistem TPP berbasis kinerja organisasi dan individu). Jika kinerja organisasi rendah, TPP individu turun meskipun kinerja personal tinggi.
* RSUD Dr. Sutomo: Pengembangan Kewaspadaan Kolektif Turn Around Time (TAT) untuk mempercepat pelayanan di IGD agar pasien tidak menumpuk.
* BRIDA Tulungagung: Si Nona (Sistem Inovasi Teknologi Tulungagung) untuk database inovasi dan HAKI yang terintegrasi.
* Dinas Pertanian Jatim: Klinik Tanaman Keliling. Mengoptimalkan mobil operasional sebagai laboratorium bergerak untuk mendeteksi hama tanaman langsung ke lokasi petani.
* Inspektorat Jatim: Membuat Pedoman Teknis implementasi aplikasi IT berbasis perilaku untuk mengurangi angka kegagalan aplikasi pemerintah yang mangkrak.

4. Ekosistem Inovasi & Tantangan Jawa Timur (Bagian 16-19)

Sesi kedua dipandu oleh Dr. Tri Widodo Wahyu Utama (Deputi Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN RI).
* Paradigma Inovasi: Inovasi adalah alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Banyak inovasi di Indonesia (ribuan) namun belum meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara signifikan karena inovasi tersebut terpisah-pisah (tidak sistematis).
* Kondisi Jawa Timur: Peringkat inovasi Jatim pernah naik ke peringkat 2, namun turun ke peringkat 6. Ini menandakan ketiadaan "pengawalan" (guardianship) terhadap inovasi.
* Strategi Lompatan: Jawa Timur ditargetkan melakukan lompatan besar, bukan peningkatan bertahap. Target penurunan kemiskinan harus agresif (menuju Zero Poverty 2045).
* Pilar Strategis:
* Kebijakan: Regulasi yang mendukung inovasi, bukan menghambat.
* Manajemen Kinerja: Mengaitkan inovasi dengan promosi jabatan.
* Perencanaan & Anggaran: Mengalokasikan anggaran hanya untuk proposal yang inovatif.

5. Laboratorium Inovasi & Teknik 5D (Bagian 20-22)

Dr. Tri memperkenalkan konsep Laboratorium Inovasi Pemerintah Daerah dengan metode 5D:
1. Drum Up: Membangun kesadaran dan antusiasme. Menghindari pola pikir "monyet" (hanya mementingkan perut sendiri) dan "kerbau" (hanya bekerja jika disuruh).
2. Diagnosa: Mengidentifikasi masalah dengan teknik Reverse Thinking (Berpikir Terbalik). Contoh: Melompat tinggi dengan membalikkan badan (Fosbury Flop) atau dokter yang mendatangi pasien bukan sebaliknya.
3. Desain: Menyusun rencana aksi, sumber daya, dan indikator keberhasilan.
4. Deliver: Pelaksanaan dan monitoring evaluasi.
5. Display: Pameran atau publikasi inovasi sebagai bentuk syiar kebaikan, bukan untuk pamer (ujub).

6. Tanya Jawab & Sinkronisasi Regulasi (Bagian 23-24)

Sesi diskusi terbuka mengenai tantangan teknis di lapangan.
* Peran BRIDA: BRIDA (Badan Riset dan Inovasi Daerah) harus menjadi orkestrator ekosistem inovasi, memastikan setiap OPD memiliki inovasi minimal satu per tahun, dan membuat Roadmap Inovasi.
* Tumpang Tindih Regulasi: Peserta menyampaikan kebingungan perbedaan format antara Kemendagri (IGD) dan Kemenpan RB.
* Solusi LAN: LAN berada di tengah untuk menjembatani. Inti inovasi adalah pelayanan, bukan seremonial. Pelaporan inovasi adalah insentif, bukan kewajiban yang memotong anggaran.

7. Penutup & Ajakan Aksi (Bagian 25-26)

Acara ditutup oleh Ibu Amalia Pramodiansari (mewakili Kepala BPSDM Jatim) dan narasumber.
* Pesan Anti-Mainstream: Inovasi memerlukan keberanian berpikir beda. Contoh unik: "Rompi Disiplin" di Gorontalo untuk pegawai terlambat, atau "Akta Kelahiran Domba" di Garut untuk mengontrol inflasi sektor peternakan.
* Follow-up: Inovasi yang lahir dari acara ini akan didampingi dan diarahkan untuk masuk ke kompetisi (Sinovik, KPP, IGA).
* Administrasi: Peserta diingatkan untuk mengisi survei kepuasan (Sukma e-Jatim) dan cek sertifikat elektronik.

Kesimpulan & Pesan Penutup

Innovation Academy 2024 menegaskan bahwa inovasi pemerintahan bukanlah sekadar membuat aplikasi atau mengikuti tren, melainkan tentang memecahkan masalah nyata masyarakat dengan cara-cara yang kreatif dan terukur. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Timur diharapkan dapat meninggalkan zona nyaman (business as usual), membangun kolaborasi lintas sektor, dan menjadikan inovasi sebagai budaya organisasi yang tertanam kuat demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang excellent.

Prev Next