Transcript
9ayMbAxgeS8 • ASN Belajar Seri 15 | 2025 - Kenali, Pahami, Cegah| Antikorupsi Dimulai dari Kita
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0225_9ayMbAxgeS8.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Zaman yang terus
bergerak, sambut dengan penuh
semangat. Saatnya kita
melangkah. Hadapi segala
tantangan. Tingkatkan setiap
kompetensi untuk pelayanan
berdampak. Bersama
ASN belajar. ciptakan SDM unggul
berprestasi selalu inisiatif dan
kolaboratif untuk inovasi yang
berkelanjutan menjadi ASN berakhlak
mulia siap menyongsong Indonesia
emas ASM belajar
wujudkan
pemerintahan berkelas dunia satukan
Bukan tekad pantang
menyerah jadi ASNAR
berkualitas belajar
wujudkan
pemerintahan kelas
dunia tekad pantang
menyerah jadi AS berkualitaskan
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatull
warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan selamat datang
dalam acara webinar ASN Belajar seri 15.
Kenali, Pahami, Cegah. Anti korupsi
dimulai dari kita. Senang sekali pada
pagi hari ini bersama dengan saya Lukman
Ali yang akan menemani Bapak, Ibu, Sobat
ASN sekalian selama kurang lebih 3 jam
ke depan kita akan berbagi banyak sekali
insight seputar korupsi yang terjadi
yang sering terjadi di sekitar kita.
Namun sebelum itu saya ingin menyapa
bagi sobat ASN yang tengah bergabung
melalui platform Zoom ataupun yang
tengah bergabung melalui platform kanal
YouTube kami di BPSDM Jatim TV. Kami
ucapkan selamat datang di webinar ASN
belajar seri 15. Pastikan koneksi
internet Anda dalam kondisi stabil
sebelum mengikuti acara ini agar dapat
mengikuti acara dengan lancar dan juga
nyaman. Dan kami juga ingin
menginformasikan kepada sobat SN yang
tengah menyaksikan acara webinar kali
ini, jangan lupa untuk mengisi absensi
via Semesta Bangkom untuk klaim
sertifikat. Baik, Sobat SN, sebelum kami
lanjut acara inti di pagi hari ini, saya
ingin sapa terlebih dahulu kepada para
tamu undangan kita yang sangat luar
biasa. Saya akan sapa kepada yang
terhormat Dr. Ramlianto, SPMP selaku
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur.
Kemudian saya juga ingin ucapkan selamat
datang kepada yang kami hormati Ibu Doti
Ramatiasi selaku Kasatgas Kampanye
Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Anti
Korupsi KPK. Selamat datang, Ibu. Saya
juga ingin sapa kepada yang kami hormati
Dr. Eko Supeno, M.Si. selaku chairman
AILG UNER Surabaya. Selamat pagi, Pak
Eko. Dan juga yang terakhir kami ingin
sapa kepada yang kami hormati Bapak Heri
Santoso, S. M. AK selaku ahli pembangun
integritas utama Inspektorat Provinsi
Jawa Timur. Senang sekali di kesempatan
kali ini, Sobat SN, kita akan banyak
sekali kulik terkait bentuk-bentuk
korupsi yang marak terjadi di lingkungan
kita. Karena sebenarnya kalau saya lihat
Sobat SN beberapa akhir ini kita
dikejutkan dengan banyak sekali
berita-berita yang kurang menyenangkan
ya. terkait salah satu pejabat di BUMN
bahwasanya beliau ini melakukan korupsi
yang nilainya itu cukup fantastis bahkan
satuannya sudah bukan di miliaran,
satuannya bukan di triliun tapi di
kuadriliun yang saya sendiri bahkan
belum pernah membayangkan akan ada
satuan angka tersebut di ekonomi yang
kacau balau saat ini. Apalagi di tahun
2025 saya baru dengar kata kuadrilun
itu. Dan sontak ketika berita itu muncul
menuai berbagai kecaman ya kecaman
negatif dari publik di mana orang sudah
mulai turun kepercayaannya akan
produk-produk dalam negeri. Utamanya
waktu itu adalah bahan bakar minyak dan
mereka pada beralih ke brand kompetitor.
Dan saya lihat bahwasanya ini sebenarnya
multiplayer effect-nya banyak sekali ya.
pembangunan ekonomi kita ini jadi
terhambat dan mirisnya adalah korupsi
ini dilakukan oleh orang yang pintar dan
orang yang berkuasa. Orang yang
seharusnya dapat membuat perubahan bagi
ekonomi Indonesia tapi justru malah
menjatuhkan ekonomi bangsa Indonesia.
Ini sangat miris banget. Apalagi ketika
sosok yang seharusnya menjadi role model
oleh masyarakat dilihat. Saya takutnya
ini akan menjadi budaya yang jelek di
masyarakat kita. Padahal kalau kita
lihat, Sobat
TN, PR Indonesia ini masih banyak
sekali. Kalau kita bicara terkait dengan
sustainable development goals di tahun
2030, ketimpangan kemiskinan yang masih
gap-nya masih tinggi, kesetaraan
pendidikan, kesetaraan untuk akses ke
pekerjaan yang layak, akses untuk energi
yang merata, kemudian akses bagaimana
cara kita bisa mengembangkan komunitas
yang menjadi ee penggerak ekonomi di
tiap desa. Kenapa harus ada orang-orang
egois yang seharusnya ekonomi itu bisa
berputar di situ tapi malah digunakan
untuk tujuan kepentingan pribadi? Nah,
kali ini kita akan banyak bahas
insight-insight bagaimana cara kita
sebagai seorang ASN bisa menjadi agent
of change dalam hal budaya transformasi
anti korupsi di lingkungan kerja kita
masing-masing. Selengkapnya akan kita
bahas di webinar ASN Belajar seri 15.
Kenali, Pahami, Cegah Anti Korupsi
dimulai dari kita.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Anda kembali menyaksikan webinar ASN
belajar seri 15. Masih bersama dengan
saya Lukman Ali. Sebelum kami masuk ke
sesi acara berikutnya, terlebih dahulu
saya ingin mengingatkan kembali bagi
Sobat TSN jangan lupa untuk mengisi
absensi via Semesta Bangkom untuk klaim
sertifikat dan pastikan kondisi internet
Anda dalam keadaan stabil agar dapat
mengikuti acara dengan lancar dan juga
nyaman. Kali ini kita akan bersama-sama
dengarkan opening speech yang akan
disampaikan secara langsung oleh Dr.
Ramlianto, Spaku Kepala BPSDM Provinsi
Jawa Timur. Kepada yang terhormat Dr.
Ramlianto, SPMP. Kami silakan.
Silakan, Pak Ramli.
Ee bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam. Salam sehat
dan salam sejahtera untuk kita sekalian,
Sobat ASN di seluruh tanah air. Selamat
bertemu kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN dalam jaringan
persembahan Jatim Corporate eh
University Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari
ini, Kamis tanggal 24 April tahun 2025,
kita sudah memasuki ee ASN Belajar seri
ke 15 yang nanti akan membahas hal yang
terkait dengan ee anti korupsi di
Indonesia.
Ee kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada seluruh Sabat SN di
seluruh tanah air yang terus berkomitmen
dan secara serius mengikuti kegiatan
webinar series ASN belajar ini. Untuk
merespon itu semua, kami selalu
berkomitmen sekaligus terus berikhtiar
untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu kita berharap
berdampak langsung terhadap peningkatan
kompetensi dan kinerja aparatur sipil
negara di Indonesia. Sampat AS SN di
seluruh tanah air, hari ini ASN belajar
seri ke-15 tahun 2025 ini menyajikan
kembali tema yang tidak pernah lekang
oleh zaman. karena memang kita masih
sangat membutuhkan untuk terus
mengembangkan kompetensi yang terkait
dengan ini, yakni terkait dengan anti
korupsi. Dan kali ini kita secara khusus
akan membahas tentang tema kenali,
Pahami, Cegah Anti Korupsi mulai dari
kita. Sbet STN di seluruh tanah air. Ee
tentu kita sama-sama mengikuti
perkembangan bagaimana semangat melawan
korupsi di
Indonesia. Bahwa kita sudah memiliki
sebuah konsensus nasional. Kita memiliki
sebuah kesepakatan kolektif bahwa
korupsi adalah musuh kita semua.
berangkat dari konsensus nasional,
berangkat dari ee kesepakatan kolektif
bangsa kita bahwa korupsi adalah musuh
kita bersama, maka yang harus kita
miliki sebagai anak bangsa adalah
korupsi ee menjadi musuh kita. Oleh
sebab itu harus menjadi mindset yang
harus dimiliki setiap individu. Jadi
kesepakatan nasional atau konsensus
nasional atau kesepakatan kolektif
bangsa kita bahwa korupsi adalah musuh
kita bersama harus menjadi mindset yang
dimiliki oleh siapapun di negeri ini.
Dan wujudnya apa? Wujudnya adalah
bagaimana setiap individu di negeri kita
ini berintegritas dan berani menolak ee
korupsi. Sebab itu, Bapak, Ibu sekalian
di dalam konteks ee seminar ini, webinar
ini kita kemudian ingin mengkaji secara
mendalam bagaimana setiap individu
khususnya aparatur siipil negara
tentunya itu berintegritas dan berani
menolak korupsi. Nah, sebab itu perlu
kita kenali, perlu kita pahami dengan
baik seperti apa indikasi-indikasi yang
mengarah kepada terjadinya tindak pidana
korupsi. Dalam kajian ini, dalam seminar
ini juga kita akan lihat bagaimana para
pemimpin di negeri ini di semua level,
di semua tingkatan, di semua e sektor
itu menjadi role model yang menunjukkan
integritasnya. Dengan begitu ee para ASN
di seluruh Indonesia, Sobat ASN di
seluruh Indonesia, maka kita punya role
model, kita punya contoh konkret, kita
punya panutan, kita punya
ee apa pemimpin yang bisa kita tiru
menginspirasi masyarakatnya bagaimana
dia menjadi ee role model yang
berintegritas. Nah, tentu saja untuk
membahas ini kami sudah mengundang ee
para narasumber yang luar biasa. Dan
kami menyampaikan terima kasih yang
terteringga atas kehadiran para
narasumber yang sudah ee berkenan hadir
bersama kita. Yang pertama nanti ee Ibu
Doti Rahmati yang merupakan Kasatgas
Kampanye Direktorat Sosialisasi dan
Kampanye Anti Korupsi dari eh KPK. Kami
menyampaikan terima kasih juga kepada
Bapak Rektor Eko Supeno ee yang
merupakan chairman dari AILG Universitas
Airlangga Surabaya. Dan kami juga
menyampaikan terima kasih kepada Pak
Heri Santoso, S. M.ak yang merupakan
ahli pembangun integritas utama dari
Inspektorat Provinsi Jawa Timur. Sebab
itu ee kami mengundang dengan hormat
seluruh sobat ASN di seluruh tanah air
untuk mengikuti kegiatan ini secara
seksama. Semoga bermanfaat.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
sekali lagi Pak Ramli atas opening
speech yang telah disampaikan. Saya
sepakat dengan apa yang Bapak sampaikan
bahwasanya memang harus dimulai dari
mindsetnya terlebih dahulu. Terima kasih
sekali lagi, Pak, sudah menjempatani
para sobat ASN untuk bersama-sama kita
cegah anti korupsi dimulai dari diri
kita masing-masing. Salam sehat selalu
untuk Pak Ramli. Kita bertemu lagi di
event-event selanjutnya. Thank you,
Pak. Baik, Sobat ASN di mana pun Anda
berada. Kini saatnya kita sudah masuk ke
sesi yang paling ditunggu-tunggu, yakni
akan ada narasumber kita yang pertama.
Beliau adalah Kasatgas kampanye
Direktorat Sosialisasi dan kampanye Anti
Korupsi KPK. Saya akan langsung saja
sapa beliau. Selamat datang Bu Doti
Rahmatiasi.
Halo, sobat ASN di seluruh Indonesia.
Apa kabar nih? Mudah-mudahan sehat.
Terima kasih, Mas. Mas Lukman
panggilannya ya. Iya. Kalau saya
panggilnya Bu Doti, Bu Asi atau Bu
Rahma. Bu, Bu Doti aja,
Bu Doti. Oke, Bu Doti. Thank you, Bu,
sudah berkenan bergabung di webinar ASN
belajar seri 15. Ini menarik sekali ya,
Bu ya. karena akhir-akhir ini kan lagi
banyak ee sliweran berita yang kurang
menyenangkan ya di publik kita seperti
itu. Dan kalau saya lihat memang ee
ketika kita bicara korupsi itu kita
sudah bukan bicara terkait dengan
penindakan tapi lebih dari itu kita
sudah harus mulai melakukan tindakan
pencegahan dan memang yang namanya
pencegahan ini kan enggak bisa dilakukan
sendiri. Harus ada sinergitas antar
seluruh stakeholder dari masyarakat,
swasta, maupun pemerintah atau ASN itu
sendiri. Kalau saat ini di Kasatgas
kampanye di Bu Doti ini ee
kampanye-kampanye apa yang lagi
digenjarkan di akhir-akhir ini, Bu?
Untuk apa namanya menyuarakan terkait
dengan budaya anti korupsi? Sebelum kita
masuk ke materi, Ibu
ya pas banget nih Mas Ali. Kebetulan di
sini forumnya forum ASN ya. Jadi memang
kami di Direktorat Sosialisasi dan
Kampanye Anti Korupsi ee banyak
melakukan upaya kampanye ya. Kalau tahun
lalu mungkin tahun politik kami
mengkampanyekan anti politik uang gitu.
Jadi supaya masyarakat bisa menghindari
diri dari ee godaan ee suap atau ee
politik uang. Nah, kalau ee biasanya
tahun-tahun ini kami mengkampanyekan
terkait dengan bagaimana supaya
masyarakat tidak permisif terhadap
korupsi atau perilaku koruptif di
layanan publik gitu. Jadi misalnya iya
biasa kan masyarakat suka kasih uang
tanda terima kasih gitu ya, enggak
apa-apa deh gitu setelah layanan atau
misalnya masyarakat ee enggak mau
ngikutin peraturan nih gitu. Saya kan
cuma punya waktu sebentar nih mau ngurus
KTP atau ngurus apa, udah deh bayar
orang aja atau bayar aja deh biar cepat
budaya instan itu ya. Nah, jadi kita
mengkampanyekan bagaimana supaya
masyarakat bisa sadar ee untuk tidak
memberikan gratifikasi atau suap di
layanan publik. Mungkin kalau kita di
lembaga ee pemerintah ya sebagai ASN
sudah banyak melakukan improvisasi,
sudah banyak melakukan perubahan, tapi
kita juga harus mengedukasi ee
masyarakatnya supaya mereka juga paham
ee dan tidak ee menormalisasi atau tidak
permisif lagi untuk melakukan hal-hal
itu gitu, Mas. Salah satunya dengan
adanya platform digital yang sudah
mendukung transparansi ya, Bu ya,
terkait dengan layanan publik ya. Oke.
Iya. Baik, Bu Doti ee sebelum kita
serahkan kepada Bu Doti, saya ingin e
reminder sekali lagi kepada Sobat TSN
yang hadir di sini. Nanti akan ada sesi
Q&A dengan Bu Doti. Jadi, pastikan Anda
untuk menyimak dan nanti akan kami
berikan kesempatan bagi Anda yang ingin
bertanya kepada narasumber kita, kami
persilakan untuk rais hand nanti akan
kami pilih untuk penanya terbaik. Dan Bu
Doti, langsung saja saya tidak sabar
untuk mendengarkan materi dari Ibu. Kami
persilakan, Ibu. Monggo. Terima kasih.
Terima kasih Mas Lukman. Baik.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, semangat pagi
sobat ASN, Bapak, Ibu, rekan-rekan semua
yang ada di seluruh Indonesia. Rasanya
senang sekali dan bahagia saya bisa
ketemu dengan Bapak Ibu ee melalui forum
webinar ASN Belajar yang dilakukan oleh
BPSDM ee Provinsi Jawa Timur. Sebelumnya
saya juga mau menghaturkan ee terima
kasih dan juga penghargaan
setinggi-tingginya untuk ee BPSDM
Provinsi Jawa Timur yang telah
menginisiasi kegiatan ini yang sungguh
luar biasa ya karena bisa memberikan
pengetahuan, wawasan atau juga inspirasi
bagi ee teman-teman ASN. kepada Bapak
Ramlianto dan juga para narasumber
lainnya, Pak Eko dan Master Harry. Eh,
salam kenal dan e mudah-mudahan kita
bisa memberikan ee pengetahuan baru dan
juga wawasan untuk ee rekan-rekan ASN di
seluruh Indonesia. Baik, ee sesi yang
saya akan bawakan ini terkait dengan
korupsi. Jadi, mungkin nanti Bapak Ibu
yang sudah pernah mungkin ya mendapatkan
sosialisasi ee anti korupsi mau bertanya
juga boleh nanti di sesi diskusinya. Dan
mungkin saya akan langsung saja
bagaimana caranya kita untuk
berkontribusi ee dalam pemberantasan
korupsi khususnya sebagai ASN. Ya,
sebelum mengacu ke sana atau menuju ke
sana, saya mau mengajak rekan-rekan
semua di seluruh Indonesia untuk tahu
dulu sebenarnya kondisi saat ini seperti
apa. Tadi sudah disinggung banyak ya
oleh Mas Lukman. Ee mungkin langsung
saja. Oh ya, kenalkan saya Doti Rahmati,
bisa dipanggil dengan Mbak Doti. Saya
sekarang ee Kasat Gas di Direktorat
Sosialisasi dan Kampanye Anti Korupsi
KPK. Nah, saat ini kita tahu ya, Bapak
Ibu
ee di berita atau di sosial media Bapak,
Ibu e bangun tidur, baca berita, kita
tahu bahwa Indonesia itu tidak sendiri
tapi dalam kondisi yang global ya, kita
menghadapi tantangan yang luar biasa. Ee
jadi saat ini kita menghadapi perubahan
geopolitik ee di dunia internasional.
Kita tahu ada kebijakan Trump dan juga
ee melawan negara Cina gitu dan di mana
Indonesia juga tentunya akan terpengaruh
dengan kebijakan-kebijakan itu ya.
Kemudian juga kita tahu ada perubahan
iklim, banyak bencana terjadi, krisis
global, krisis energi, krisis pangan.
Itu tidak hanya di Indonesia tapi di
seluruh dunia. Nah, kemudian kita juga
tahu sekarang sudah masuk era digital
dan itu sangat-sangat pesat
perkembangannya ee teknologi digital itu
juga mempengaruhi kehidupan kita
sehari-hari dan juga mempengaruhi proses
kerja kita. Nah, sehingga ada tujuan nih
yang mau kita capai, tujuan negara
Indonesia. Tapi di satu sisi kita
menghadapi banyak sekali tantangan di
mana Indonesia bukan negara sendiri gitu
ya, tapi secara global kita juga
terdampak dari kebijakan-kebijakan ee
atau kondisi geopolitik internasional
gitu. Nah, bagaimana kita sebagai ASN
itu nanti berperan dan satu lagi
tantangannya adalah yang membuat negara
kita semakin ee berat ya ada untuk
mencapai tujuan negara ini adalah
permasalahan korupsi. Jadi ee bagaimana
caranya negara kita bisa mencapai tujuan
negaranya kalau misalnya korupsi ini
masih marak terjadi di Indonesia. Nah,
Bapak Ibu bisa lihat indikator apa sih
yang dipakai oleh negara kita untuk
mengukur separah apa tingkat korupsi di
Indonesia. Yang pertama adalah kita akan
menggunakan ee yang namanya IPK. Ya,
Bapak Ibu mungkin sering mendengar ee
indeks persepsi korupsi Indonesia. Jadi
ini adalah salah satu ee survei yang
dilakukan oleh transparansi
internasional tidak hanya di Indonesia
tapi di
180-an negara di dunia dan peringkat
negara kita tuh masih jauh dari angka
yang kita harapkan. Ini bukan sekedar
angka Bapak Ibu, tapi bagaimana ee dunia
internasional itu melihat seperti apa ee
tingkat keparahan korupsi yang ada di
Indonesia. Dan ternyata ee di tahun ini
data yang dirilis oleh Transparansi
Internasional ee Indonesia atau TI juga
ya itu skor negara kita ada di angka 37
dari 100. Artinya masih sangat panjang
perjuangan untuk
ee apa ya memberantas korupsi dan
bagaimana kita bisa meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. tadi sudah di
disinggung juga ya oleh Mas Lukman
bagaimana bisa memberikan kesejahteraan
dari sisi kesehatan kemudian pendidikan
dan lain sebagainya supaya bisa diakses
oleh masyarakat luas. Nah, ini ee masih
menjadi satu indikator. Kemudian kalau
dilihat dari
perilaku masyarakat Indonesia ternyata
masih sangat permisif terhadap korupsi.
Ini juga bisa dilihat dari data yang
dirilis oleh Badan Pusat Statistik.
Mungkin di slide berikutnya dari BPS.
BPS ee menilai atau melakukan survei
setiap tahun untuk mengukur seberapa
parah atau seberapa permisifnya
masyarakat Indonesia. Jadi kalau tadi
kita lihat IPK itu mengukur ee sistemnya
konteks ee di SUP negara Indonesia. Tapi
kalau IPAK atau indeks perilaku anti
korupsi ini yang diukur oleh BPS melihat
individunya, jadi perilaku koruptif ee
masyarakat Indonesianya. Jadi sistemnya
dilihat ee secara kenegaraan dilihat ee
individu pribadinya juga dilihat gitu.
Nah, ternyata hasil skor ini juga
menunjukkan bahwa masyarakat kita masih
permisif karena skornya itu ee masih ada
di angka
3,85 ya.
dari skala ee semakin tinggi angkanya
artinya semakin tidak permisif. Nah,
kalau semakin mendekati nol semakin
permisif dan ini juga yang masih harus
kita perjuangkan dan ini ee BPS mengukur
e bagaimana permisivitas masyarakat di
tingkat PTI corruption. Jadi korupsi
kecil-kecilan yang tadi sedikit saya
bahas bagaimana masyarakat menghadapi
ee peti corruption atau korupsi
kecil-kecilan ini dalam kehidupan
sehari-hari yang mereka alami, yang
mereka lihat, yang mereka hadapi dalam
kehidupan sehari-hari di layanan publik
mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan ee
dan layanan publik lainnya. Next. Yang
berikutnya kemudian ada satu lagi ee
indikator negara kita yang dilihat dari
sistemnya yaitu survei yang dilakukan
oleh KPK melalui survei penilaian
integritas. Nah, ini respondennya
tentunya Bapak Ibu mungkin ya sebagai
ASN yang bekerja di instansi pernah
menjadi salah satu respondennya. memang
respondennya salah satunya adalah dari
internal instansi untuk mengukur atau
melihat atau menilai apakah di dalam
instansinya masih ada ditemukan
gratifikasi atau misalnya masih terjadi
ee kecurangan dalam pengadaan barang dan
jasa dan lain sebagainya. Dan juga
masyarakat sebagai pengguna layanan
publik ini juga menjadi respondennya.
Nah, lagi-lagi angka indeks integritas
nasional kita dari hasil survei penilai
integritas ini masih ada di angka
71,53 dari skala 100. Nah, artinya apa?
Artinya masih rentan. Angka ini
menunjukkan bahwa di sistem ee birokrasi
atau tata kelola pemerintahan negara
kita ini masih rentan ditemukan
praktik-praktik korupsi di mana yang
di-highlight dalam survei ini adalah
perihal transparansi, kemudian
integritas tugas, kemudian ada juga
terkait dengan pengadaan barang dan jasa
dan pengelolaan SDM misalnya untuk
mutasi rotasi pegawai, apakah masih ada
suap? Kemudian apakah di dalam ee sistem
masih ada gratifikasi dan lain
sebagainya. Jadi dari tiga indikator ini
terlihat memang saat ini ee sesuai data
terupdate bahwa di Indonesia perjalanan
untuk ee memperjuangkan pemberantasan
korupsi masih diperlukan ya karena
kondisi yang real. Ditambah lagi ee
tantangan yang kita hadapi menghadapi
kondisi global yang ee penuh
ketidakpastian saat ini gitu. Jadi apa
yang bisa kita lakukan? Tadi sudah
disebutkan bahwa Bapak Ibu kita semua
sebagai ee ASN diharapkan untuk menjadi
garda
terdepan menjadi agen perubahan. Ee jadi
di situ kita juga bisa berperan untuk
tentunya dimulai dari diri kita dan juga
untuk mengedukasi mengedukasi keluarga,
mengedukasi ee masyarakat di lingkungan
kita gitu. Perihal ee terkait dengan
pencegahan korupsi ini. Berikutnya.
Nah, kemudian ee apa sebenarnya yang ee
dimaksud dengan ee korupsi ya yang
dihadapi yang dihadapi di Indonesia?
Mungkin Bapak Ibu di daerah
masing-masing bisa melihat secara real
dampak dari korupsi itu sendiri ya. Dan
bahkan parahnya kenapa korupsi ini
disebut extraordinary crime Bapak Ibu?
karena korbannya itu tidak merasa
menjadi korban, tidak merasa beda dengan
perampokan, beda dengan kasus pembunuhan
gitu ya, atau beda dengan kasus
pencurian. Tapi korupsi ini jahatnya itu
adalah kita yang menjadi korban korupsi
itu tidak merasa sebagai korban. Padahal
jelas-jelas kita atau masyarakat ya itu
dirugikan dari sisi akses ke kesehatan,
akses ke pendidikan, akses ke
kesejahteraan hal-hal yang lainnya yang
memang seharusnya bisa didapatkan dengan
lebih baik tapi belum ee dapat terwujud
kesejahteraan itu sesuai dengan apa yang
kita tujukan di dalam undang-undang
kita. Jadi, dampak korupsi itu masif. ee
kalau kita lihat ya adanya permainan
atau monopoli mungkin kita kalau lihat
berita ee minyak langkas terus kemudian
kemarin kasus yang Pertamina mohon maaf
saya nyebut merek ya itu bagaimana ee
masyarakat dibohongi gitu ada permainan
kartel minyak di sana itu tentunya
merusak pasar, merusak persaingan usaha
yang sehat, merusak harga ee dan merusak
ekonomi ya dan juga lagi-lagi yang
dirugikan masyarakat. Tapi jahatnya
korupsi adalah kita baru tahu belakangan
dan tidak merasa sebagai korban gitu.
Karena mungkin dampak langsungnya ee
kurang berasa ya seperti seperti kasus
ee kriminal lainnya. Kemudian yang kedua
itu meruntuhkan hukum tentunya ya. Kalau
misalnya ada jual beli pasal hukum bisa
diperjual belikan ya tentunya ini
merusak ee hukum dan juga merusak proses
demokrasi.
Kalau kita lihat sekarang kok kayaknya
perkawinan antara politik dan
juga apa ya yang namanya klientalisme
gitu ya, politik dan juga mohon maaf
tanda pemerintahan gitu ya. Jadi
bagaimana kita bisa menjaga ee menjaga
integritas dimulai dari diri kita
sendiri. Bagaimana kita bisa menjaga
diri kita dari berbagai konflik
kepentingan apalagi yang arahnya ke arah
politik itu sebagai ASN kan harus netral
ya. Nah, bagaimana ini bisa ee dijaga
oleh ee teman-teman semua supaya tidak
ee semakin parah merusak demokrasi.
Kemudian yang sangat jelas itu
menurunkan kualitas hidup dan
pembangunan berkelanjutan ya tadi
kesehatan ee pendidikan, ee
kesejahteraan dan lain sebagainya. Dan
tentunya ketika kita tidak bisa
mengakses kesejahteraan, kita tidak bisa
mengakses ee urusan kesehatan, kita
tidak bisa mengakses urusan pendidikan,
kita tidak bisa mengakses urusan makan
dan lain sebagainya, di mana di situ
seharusnya negara hadir, itu sudah
terjadi pelanggaran hak asasi
manusia. Dan ternyata kejahatan korupsi
ini bisa mendorong atau menyebabkan
kejahatan lain berkembang. misalnya ee
uang hasil korupsi dicuci gitu ya,
kemudian dibikin bisnis ee lain dan juga
itu menghasilkan kejahatan ee lainnya
gitu, kasus kriminal lainnya misalnya ee
kejahatan ee hal-hal yang negatif
lainnya gitu ya. Jadi itu bisa terjadi.
Kemudian, nah kenapa korupsi ini ee
sangat jahat ya dianggap extraordinary
crime? Ternyata di luar dampak ini ada
yang namanya social cost of corruption
atau biaya sosial dari korupsi. Mungkin
di slide berikutnya bisa dilihat oleh ee
rekan-rekan semua.
Jadi, social cost corruption
ini kalau misalnya ada satu kasus
korupsi terjadi itu tidak bisa dilihat
hanya dari kerugiannya berapa miliar sih
dari satu kasus ini. Tapi kita harus
melihat dampak sosialnya itu seberapa
besar. Misalnya ketika ada kasus korupsi
itu biaya eksplisitnya.
Artinya dari kasus ini ee yang nilainya
berapa yang dikorupsi yang dinikmati
oleh ee pelaku korupsi itu disebut biaya
eksplisit. Tapi ada juga biaya
antisipasi misalnya bagaimana ee biaya
untuk pencegahan korupsi seperti yang
kita lakukan sekarang kan sebenarnya
negara mengeluarkan anggaran ya untuk
ini semua gitu karena ada korupsi yang
terjadi di Indonesia gitu. Kemudian ada
juga biaya yang implisit. Jadi misalnya
opportunity cost akibat korupsi misalnya
kalau misalnya itu korupsinya
infrastruktur, negara harus ngutang lagi
sama negara lain buat membangun
infrastruktur yang dikorupsi yang ambruk
misalnya. Nah, kita bayar bunganya lagi,
negara bayar bunganya lagi gitu. Jadi
itu satu kesatuan ya, tidak bisa dilihat
oh kalau misalnya ada satu kasus kor oh
kerugiannya ini cuma R miliar gitu. Tapi
apa imbasnya, kerugian sosial apa yang
ee dihasilkan dari kasus korupsi yang
terjadi itu. Nah, itu kejahatan korupsi
ee begitu luar biasa. Jadi, yang kita
biasa lihat adalah di permukaannya saja
padahal di dalam lautnya atau kayak
gunung es gitu ya, itu ee apa namanya
menghasilkan dampak sosial yang begitu
masif.
berikutnya. Nah, Bapak Ibu kemudian ee
apa sih bedanya antara PTI corruption,
grand corruption dan political atau
state capture corruption? Ya, dan kita
bisa lihat dalam kehidupan sehari-hari
atau dalam berita saat ini ya yang ee
banyak media massa sampaikan bisa
melihat pola-pola ini sebenarnya masih
ee syarat atau markak terjadi di negara
kita. Kalau PT Corruption tadi yang
diukur oleh BPS bahwa eh di negara kita
masih ada eh masyarakat yang sangat
permisif ya dengan PT corruption. Di
mana sebenarnya PT Corruption ini adalah
eh
penyalahgunaan oleh pejabat publik dalam
interaksinya dengan pengguna layanan
publik ya di kehidupan sehari-hari. Jadi
tadi misalnya di layanan publik baik itu
tingkat RT, RW, kelurahan, kecamatan ee
atau tingkat ee daerah gitu ya. Ee
petugasnya misalnya ee mau mendahulukan
yang kasih gratifikasi. Nah, itu jenis
PTI corruption atau misalnya
masyarakatnya enggak apa-apa deh ngasih
ini kan uang tanda terima kasih atau ini
kan sekedar uang rokok. Nah, seperti
itu. Jadi ee itu bisa mempengaruhi
proses layanan publik yang seharusnya
bisa dinikmati oleh semua masyarakat
secara sama ya, secara sama standar yang
sama. Tapi karena ada ee PTI corruption
yang terjadi, tentunya yang rugi lagi
nanti adalah masyarakat. Misalnya ada
jadi favoritism, ah nanti layan ini yang
lebih cepat gitu, yang ini nanti aja
gitu atau pakai orang dalam dan lain
sebagainya. Kemudian ee ini juga
sebenarnya PT Corruption tidak bisa
dianggap sebagai korupsi kecil karena
kalau misalnya dikalkulasi, divaluasi
itu jadinya gede banget ee apa namanya
hasil dari PT corruption kalau misalnya
kita kalkulasi atau valuasi dari eh
kasus-kasus yang terjadi di berbagai
layanan publik. Nah, tapi untuk PTI
corruption ini enggak harus ditangani
secara penindakan gitu ya. karena nanti
penjara penuh tapi kasusnya atau ee
kejadiannya tetap berulang. Nah, yang
dilakukan adalah melalui perubahan
sistem atau perbaikan sistem yang
didorong kepada seluruh pemerintah
daerah dan juga seluruh elemen dan juga
mengedukasi masyarakatnya dan juga ee
mengedukasi ee ee pejabat layanan
publiknya gitu ya. salah satunya dengan
ee upaya-upaya edukasi seperti yang kita
lakukan saat ini. Kemudian kalau grand
corruption ee mungkin Bapak Ibu ee
pernah tahu ya. Jadi ini lebih besar
lagi gitu kejadiannya dan banyak sekali
segelintir ee orang yang melakukan tapi
merugikan banyak orang. Jadi misalnya
kerugian keuangan negara kasus IKTP gitu
ya dan lain sebagainya itu gede banget
kasusnya. Nah, yang agak ngeri juga
sekarang terjadi adalah political
corruption atau state capture
corruption. Sebenarnya korupsi ini
adalah bentuk dari manipulasi kebijakan
ee yang diinstitusionalkan gitu ya oleh
para pengambil keputusan politik
sebenarnya untuk mengamankan posisinya
masing-masing nih. Mengamankan posisinya
masing-masing ee sehingga mereka bisa
mengeruk lagi gitu ya. mempertahankan
kekuasaan, mempertahankan status, dan
ujung-ujungnya memperkaya dirinya
sendiri lagi dan ee kelompok elitnya ee
lagi gitu dengan melakukan ee manipulasi
kebijakan untuk mengamankan ee
kekuasaannya. Nah, itu disebut eh
political corruption atau state capture
corruption. Next.
Nah, yang berikutnya kalau sesuai dengan
undang-undang ee tindak pidana korupsi
itu sebenarnya ada 30 jenis, tapi
kemudian diklasifikasi menjadi tujuh
jenis besar dan ee nanti Bapak Ibu bisa
pelajari ya. Tapi yang sering ee terjadi
ya, yang marak terjadi di masyarakat
kita sehari-hari itu atau di di apa
namanya? di dalam ee kondisi tata kelola
pemerintahan itu banyak yang terjadi
adalah gratifikasi, kemudian
suap-menyuap atau benturan kepentingan
dalam pengadaan, ee kemudian perbuatan
curang ya, penggelapan dalam jabatan dan
yang ee memang banyak terjadi itu adalah
gratifikasi dan suap-menyuap. Ini ee
dilihat dari ee kasus korupsi yang
ditangani oleh KPK banyak itu berkaitan
dengan suap-menyuap dan juga
gratifikasi. Jadi misalnya dalam
perizinan, kemudian dalam penentuan
kebijakan ee dan lain-lain ya di situ
marak terjadi suap-menyuap dan
gratifikasi. Dan juga kasus berikutnya
yang banyak terjadi dan kasusnya banyak
ditangani oleh KPK juga berkaitan dengan
pengadaan barang dan jasa. Jadi banyak
terjadi ee korupsi ee saat pengadaan
barang dan jasa. Berikutnya.
Nah, nih Bapak Ibu nanti setelah sesi
ini diharapkan bisa memahami bedanya ya.
Apa beda
gratifikasi, kemudian ee beda suap,
maaf, beda gratifikasi, suap, dan
pemerasan. Jadi kalau gratifikasi Bapak,
Ibu itu sangat tipis sekali. Jadi kita
harus berhati-hati ya dengan gratifikasi
ini. Gratifikasi itu ada kaitannya
dengan jabatan yang kita punya. Jadi
kalau misalnya nanti Bapak, Ibu di dunia
kerja kita ketemu dengan satu kondisi
yang membuat kita galau, membuat kita
dilematis gitu ya. Nah, itu Bapak Ibu
filter aja di dalam dirinya sendiri nih.
Kalau misalnya ada
seseorang mau memberikan hadiah buat
kita dalam konteks apa? Apakah dia
sahabat kita? Apakah dia famili? Apakah
dia vendor atau rekanan atau ee bawahan
dan lain sebagainya ya. Ada enggak
kaitannya dengan jabatan kita di posisi
kita sekarang? Misalnya, misalnya kalau
misalnya ada kaitannya dengan di posisi
kita sekarang, nah itu masuk dalam
kategori gratifikasi dan bisa dipastikan
gratifikasi ee ilegal. Artinya kita
harus menolak ya misalnya dari rekanan
atau dari ee orang yang punya
kepentingan dengan jabatan yang lagi
kita emban saat ini gitu. Tapi kalau
misalnya dari sahabat dekat kita, dari
famili kita ulang tahun dikasih hadiah
dari sahabat dekat ya yang tidak ada
kaitannya dengan jabatan kita. Artinya
ketika kita tidak menduduki jabatan ini
ya memang dari dulu dia baik, memang dia
famili kita gitu. Jadi kalaupun kita
tidak menduduki jabatan ini ya enggak
ada kepentingannya lagi gitu. Memang
memang tetap baik, tetap memberikan
hadiah, tetap ini. Nah, itu ee
dipastikan bukan bentuk dari
gratifikasi. Tapi kalau ada imbasnya,
ada kaitannya dengan jabatan kita, nah
itu hati-hati. Itu bentuk dari
gratifikasi. Memang sifatnya atau
tujuannya untuk menanam budi. Jadi,
Bapak Ibu, kita semua enggak minta nih.
Tidak minta. kita tidak pernah meminta
orang tersebut untuk memberi, tapi
memang ada tujuannya untuk menanam budi.
Kemudian tidak ada kesepakatan karena
tidak ada permintaan ya. Kita tidak
minta tapi dikasih gitu. Nah, hati-hati
biasanya ini juga yang memberikan
gratifikasi itu cerdas ya. Misalnya kita
di kantor sudah menolak nih, jelas-jelas
ada aturan tentang gratifikasi. kita
menolak eh ternyata dikirimlah ke rumah
atau dikirimlah dititiplah lewat supir
gitu ya di parkiran supir kita enggak
ngerti konteks
gratifikasi kemudian dimasukkan ke mobil
atau di rumah yang terima atau yang
terima pasangan atau anak yang enggak
ngerti konsep gratifikasi belum
tersosialisasi gitu atau kita belum
ngobrol tentang e gratifikasi misalnya
hati-hati ya nak nanti kalau di rumah
ada yang kirim-kirim ini kasih tahu gitu
atau misalnya kirim enggak ketahuan
siapa gitu. Nah, itu Bapak Ibu bisa
laporkan saja ke gratifikasi online atau
di instansinya masing-masing. Kalau
sudah ada unit pengendali gratifikasi
bisa laporkan saja untuk me apa ya
menggugurkan menggugurkan ee ancaman
atau jeratan pasal gratifikasi 12B ini
gitu. ketika kita sudah melaporkan kita
sudah tidak ee ada kaitannya atau tidak
lagi terjelat terjelat pasal ee 12B ini.
Kemudian kalau misalnya suap apa?
Tentunya suap beda dengan gratifikasi
Bapak Ibu. Suap ini harus ada
kesepakatan. Ada yang mau atau minta
disuap, ada juga yang punya kepentingan
mau memberikan suap. Jadi sifatnya
transaksional biasanya dilakukan secara
rahasia atau tertutup dan ada
kesepakatan. Jadi misalnya bentuk
suapnya apa itu disepakati dulu.
Misalnya saya maunya mobil listrik versi
terbaru gitu atau saya maunya apa nilai
uang dalam bentuk dolar dalam bentuk apa
nilai ini. Oke nanti yang dibarter apa?
Oh, saya mau tolong dong kebijakan ini e
diubah gitu ya untuk mengamankan
kepentingan bisnis saya misalnya gitu
atau misalnya tolong dong kasih izinnya
saya mau buka usaha terkait ini gitu.
Jadi ada sifatnya transaksional ada yang
ee memberikan janji ada juga yang
dijanjikan dan biasanya ee dilakukan
secara rahasia dan tertutup. Nah,
kemudian kalau pemerasan ini juga
tentunya berbeda. Kalau pemerasan ini
adalah ee satu pihak. Jadi sebenarnya ee
orangnya itu tidak mau ya tidak artinya
mau mengikuti prosedur, tidak mau main
kotor misalnya, tapi ternyata sama
pejabat ee layanan publiknya atau sama
pejabatnya itu dipaksa diminta atau ya
pemerasan ya. Jadi dengan ancaman
tertentu misalnya dalam satu proses
pengadaan ee salah satu vendor
sebenarnya enggak mau nih main kotor,
maunya ikut aturan aja gitu. Tapi
kemudian ada indikasi ee mau saya
lulusin enggak perusahaannya?
Ee kalau misalnya mau saya lagi mau
ganti mobil nih, mau ganti mobil baru
gitu, bisa enggak kasih nanti saya
lulusin. Ada ancaman kalau misalnya
tidak kasih saya mobil, ya udah mohon
maaf ee perusahaan Anda saya coret dari
listing misalnya gitu. Nah, itu ada
ancamancaman tertentu masuk ke dalam
konteks pemerasan. Jadi beda ya, Bapak
Ibu. yang memang banyak sekali akan kita
hadapi dalam ee keseharian kita nanti
adalah gratifikasi. Ini yang sering
bikin kita galau nih ini terima apa
enggak, boleh terima apa enggak gitu.
Memang konteks gratifikasi ini sifatnya
tanda kutip haram kita terima kalau
misalnya ada kaitannya dengan jabatan
kita. Tapi kalau enggak ada kaitannya
dengan konflik kepentingan atau dengan
jabatan kita atau bertentangan dengan
tugas kita, itu boleh. Boleh ya.
Misalnya Bapak Ibu ee amit-amit ya mohon
maaf gitu. Misalnya mengalami bencana
atau kedukaan terus dikasih ee uang
duka. Nah itu selama nilainya wajar dan
tidak ada konflik kepentingan di sana ya
itu sasa saja diterima gitu. Atau
misalnya saat lebaran tetangga kasih
makanan gitu. Memang dari dulu suka
kirim-kirim makanan gitu ya. Nah ini
boleh enggak sih dari tetangga ya?
Tetangganya ada kaitannya dengan jabatan
apa enggak? Oh enggak. Tapi kalau
misalnya ada vendor kasih hampers atau
kirim parcel gitu ya buat kita, wah
ngapain nih kirim-kirim parcel gitu ya
dari vendor. Nah, ini ada kaitannya
dengan jabatan yang kita punya. Kalau
misalnya kita tidak ada di jabatan itu,
apa kira-kira mereka masih kirim-kirim?
Itu kan enggak juga ya, Bapak, Ibu. Jadi
kurang lebih ee perbedaannya seperti
itu. Next, yang
berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu ee tadi
ya yang saya sampaikan. Jadi hati-hati
Bapak Ibu dengan gratifikasi. Jadi ee
bagaimana kita bisa ee sebagai ASN bisa
membentengi dari diri kita dulu kemudian
kita edukasi ke keluarga, kita edukasi
ke masyarakat. Yang pertama yang rentan
adalah memang gratifikasi ini ya. Ini
hukumannya enggak main-main. Bentuknya
juga macam-macam Bapak Ibu ada di pasal
12B dan C. Sebenarnya gratifikasi ini
adalah pemberian dalam arti luas. Kalau
dalam undang-undang ini bentuknya
macam-macam. ada uang, ada barang, ada
diskon, ada komisi, pinjaman tanpa buka
tiket perjalanan, ee fasilitas gitu ya.
Ee fasilitasnya banyak ya, perjalanan,
hotel, wisata, pengobatan, dan lain-lain
fasilitas yang bisa kita terima. Terus
diterimanya bisa di Indonesia atau di
luar negeri. Kemudian dilakukannya bisa
lewat sarana elektronik atau tanpa
sarana elektronik. Sekarang apalagi udah
modelnya digital ya, udah caseless gitu.
dan bentuknya macam-macam. Nah, ini
nanti yang di yang diberikan yang tidak
diperbolehkan oleh undang-undang adalah
yang berkaitan dengan jabatan kita dan
bertentangan dengan kewajiban kita atau
tugas kita sebagai pegawai negeri atau
sebagai penyelenggara negara. Tapi kalau
tidak ada konflik kepentingan atau tidak
ada kaitannya dengan jabatan kita
sebagai ASN itu boleh gitu ya. Nanti
aturan mainnya seperti apa. Kemudian
ancaman hukumannya enggak main-main
Bapak Ibu. Jadi ada pidana penjara 4
sampai 20 tahun dan juga dendanya itu
R00 juta sampai R miliar. Nah
ee kurang lebih gratifikasi seperti itu.
Nah, bagaimana nanti Bapak Ibu ketika
dihadapkan dengan gratifikasi ini ya
laporkan gitu ya ketika menemukan ini
kira-kira ada kaitannya sama jabatan
saya nih. Ah, saya tapi saya enggak
enggak ketemu orangnya enggak bisa
nolak. Kalau mungkin kalau orangnya
ngasih langsung ke saya, saya tolak.
Tapi ini orangnya enggak ada, gitu atau
dititipin ke siapa. Nah, ini laporkan
saja Bapak, Ibu. Dengan melaporkan
Bapak, Ibu sudah menggugurkan ee jeratan
Pasal 12B ini.
Berikutnya mungkin saya jelaskan sambil
cepat aja ya, Bapak, Ibu karena
keterbatasan waktu. Next.
Nah, kemudian ee modus korupsi
yang menyedihkan juga ya Bapak Ibu di
Indonesia itu terjadi melibatkan
keluarga.
melibatkan keluarga dan bahkan beberapa
kasus korupsi yang ditangani oleh KPK
itu banyak
rasionalisasi yang terucap dari pelaku
korupsi untuk membahagiakan istri, untuk
membahagiakan
keluarga, melakukan korupsi gitu. Jadi
mereka memberikan
rasionalisasi untuk kebahagiaan
keluarga. Jadi melakukan korupsi
tujuannya adalah membahagiakan keluarga.
Ini sebuah apa ya rasionalisasi yang
keliru ya atau menormalisasi ee
kejahatan korupsi gitu. Dan lagi-lagi
ketika pelaku korupsi itu melakukan
korupsi melibatkan keluarga.
Misalnya ini ada banyak kasus di KPK
yang ditangani oleh KPK itu melibatkan
suami istri. Ada mohon maaf ya kayak
dulu kasusnya Nazaruddin dan istrinya.
Kemudian ada juga ayah dengan anaknya.
Ayahnya anggota dewan, anaknya ee
vendor, salah satu vendor. Terus kemarin
ee terus mereka bermain ee di
pengadaan. Kemudian ada juga yang ee
adik kakak ya, kemudian ipar, mertua,
menantu dan lain sebagainya. Dan ini
sudah menjadi apa ya satu fenomena
yang membuat kita miris ya. Kita tahu
bahwa keluarga itu adalah benteng
terkecil ee pendidikan moral dimulai
dari keluarga. Anak-anak itu mengenal
nilai-nilai dari
keluarga. Benteng pertahanan moral ada
di keluarga. Ibu menjadi madrasah
pertama anaknya dimulai dari keluarga.
Suami mendidik istrinya di keluarga juga
gitu. Jadi ketika keluarga ini ter ee
cemar oleh kasus korupsi itu menjadi
satu fenomena yang yang menyedihkan,
yang ironi, yang ee membuat kami semua
di KPK dan juga mungkin Bapak Ibu yang
tahu ya khawatir gitu harus lewat mana
lagi. Sedangkan keluarga adalah skup
terkecil ya, lingkungan terkecil yang
kita tahu yang paling tidak masih bisa
kita ee lindungi atau jaga supaya tidak
terkontaminasi dengan yang namanya
korupsi. Kemudian ketika melakukan
korupsi lagi-lagi juga melibatkan
keluarga misalnya untuk mencuci uang.
Jadi misalnya bikin polis asuransi atas
nama istrinya, anaknya, cuci uang ee
aset-asetnya, dikasih nama atas ee
istrinya, anak-anaknya, dan lain
sebagainya ya. investasi dan lain
sebagainya. Dan ini ee apa ya sangat
fenomena ini terjadi real di Indonesia
dan kasusnya banyak ditangani oleh KPK
dan ini artinya sebuah warning sistem
buat kita semua untuk menjaga mulai dari
diri kita kemudian yang lingkungan
terkecil kita ee di keluarga gitu. Next.
Nah, ini tadi yang saya jelaskan
rasionalisasi itu ya atau misalnya kita
ee mudah-mudahan Bapak Ibu enggak lagi
nanti yang merasionalisasi kan gaji gaji
kita kecil gitu. Jadi boleh dong
melakukan korupsi, boleh dong terima
suap atau terima gratifikasi. Jangan ya
Bapak Ibu. Jadi jangan sampai e
melakukan rasionalisasi seperti itu.
Masih banyak jalan menuju Roma. masih
ada 11 cara tanpa harus melakukan
korupsi atau penyimpangan lainnya yang
bisa kita lakukan yang ada di jalan yang
sesuai dengan aturan atau norma atau ee
undang-undang gitu ya. Jadi kalau karena
saya ee muslim gitu jangan sampai nanti
Bapak Ibu memberikan hasil uang panas
untuk kasih makan keluarga karena
percaya tidak percaya itu akan
berpengaruh kepada hasilnya gitu. karena
ee tidak jadi atau tidaknya berkah ya
menjadi berkah atau tidaknya itu
ternyata berpengaruh apakah ee itu
didapatkan dari hasil yang panas atau
haram atau yang bersih ee sepertinya itu
apa ya sangat masuk akal juga gitu. Dan
banyak kasus yang kita lihat
juga ada kejadian gitu. Jadi ee dari
hasil kejahatan ya anaknya jadi anak
yang tidak bisa diatur. Bahkan kita tahu
ya kasus kasus korupsi besar
ee RAT ya berawal dari anaknya yang
mukulin anak orang kan Mario Dendi.
Kemudian korupsi bapaknya terungkap
gitu. Jadi oh ternyata itu tuh satu
siklus yang tidak bisa dihindari ya.
Satu fenomena sosial yang menarik juga
gitu untuk diteliti gitu. Wah, ternyata
ya mungkin ini ada kaitannya juga dengan
nilai-nilai, ada kaitannya juga dengan
norma-norma ee di dalam keluarga dan
lain sebagainya. Seperti yang tadi saya
jelaskan bahwa keluarganya sudah
terkontaminasi oleh ee kejahatan
korupsi. Kemudian ada juga korupsi
terjadi ee adanya tekanan. Jadi kita
sebenarnya enggak mau nih, tapi ada
pressure dari atasan untuk kita
melakukan manipulasi atau kita melakukan
ee kecurangan-kecurangan gitu. Di mana
misalnya ancamannya adalah ee jabatan
kita yang dipertaruhkan. Ini kejadian
juga di salah satu kementerian di mana
menterinya itu terlibat kasus korupsi
dan anak buahnya yang ee tertangkap juga
kemudian terungkap bahwa ee ternyata
memang mereka dalam kondisi pressure ya
atau tertekan gitu. Kemudian atau
arogan. Kalau arogas ini berkaitan
dengan ee superioritas memang
kewenangan, serakah ya itu ee arogan
capability berkaitan dengan jabatan ya
otoritas kedudukan dan juga ada
kesempatan. Jadi ya karena punya jabatan
bisa akses ke kebijakan, punya akses ke
keuangan, ee punya akses ke kekuasaan.
Jadi ee tergoda untuk melakukan ee
kejahatan korupsi.
berikutnya. Nah, next. Bagaimana peran
kita semua, peran Bapak, Ibu,
rekan-rekan semua dalam memberantas
korupsi? Slide berikutnya. Nah, mungkin
kita dalam kehidupan sehari-hari ya,
baik di ee lingkungan kerja kita ee kita
mengalami
tantangan-tantangan untuk menegakkan
integritas gitu. Jadi misalnya kok kita
kayak jadi asing sendiri ya, kita kok
kayak jadi ah suci sendiri gitu. Nah,
apa yang harus kita lakukan? Mungkin
slide
berikutnya. Next
slide ya. Tantangannya ini misalnya
misalnya Bapak Ibu
menghadapi tekanan dari atasan atau
pihak yang berkepentingan gitu.
ee tadi ya pressure
itu kalau misalnya enggak mau melakukan
akhirnya resikonya dimutasi misalnya
atau diasingkan gitu ya atau misalnya
lingkungan kerjanya tidak mendukung ah
udahlah semua orang juga sama kok dari
angkatan ke angkatan sama melakukan itu
gitu misalnya atau misalnya enggak ada
perlindungan di dalam institusinya untuk
whistle blower atau ee yang melakukan
whistle blowing ya mengadukan gitu. gitu
malah dikucilkan, malah diasingkan, atau
malah terancam. Ee atau misalnya karena
keterbatasan pengetahuan tentang
regulasi dan etika. Jadi misalnya
ee salah satu apa namanya? Pegawai
enggak tahu nih aturannya gimana atau
misalnya belum pernah ikutan
sosialisasi dan lain sebagainya itu
sebenarnya juga ee berpengaruh ya karena
misalnya enggak tahu kalau gratifikasi
ini ternyata ada di undang-undang dan
ancamannya itu berat.
Dan ada juga yang karena tekanan sosial
dan budaya lokal. Tapi memang ee KPK
pernah melakukan ee kajian atau
penelitian terkait dengan gratifikasi.
Ya, sebenarnya kan orang bilang ya bahwa
gratifikasi ini budaya timur kok. Kita
hidup di Indonesia budaya timur kok
biasa saling memberi, saling menerima.
Nah, ternyata KPK melakukan kajian ke
beberapa kebudayaan di ee adat di
beberapa daerah di Indonesia. ternyata
sama hasilnya adalah iya, tapi yang
dimaksud itu bukan seperti konsepnya
gratifikasi dan ternyata itu muncul
karena adanya kekuasaan gitu. Jadi
ketika ada kekuasaan di situlah muncul
gratifikasi. Padahal konsep yang diusung
oleh adat dan juga budaya adalah di mana
raja itu harusnya memberikan ee apa
namanya? melalui kewenangannya
memberikan ee kesejahteraan untuk
rakyatnya. Tapi ee dalam satu ee apa
namanya? Dalam satu masa ada ee kejadian
di mana raja menerima upeti gitu ya,
upeti dan pada akhirnya ada yang tidak
amanah. Jadi ee menjadi sebuah kebiasaan
gitu. Padahal konsep ee yang diusung
oleh adat dan juga kebudayaan adalah
saling memberi itu tidak konsepnya tidak
seperti itu. Kemudian berikutnya, nah
bagaimana ini menjadi tantangan kita ya
dan yang sekarang kita lakukan pada pagi
hari ini sebenarnya untuk mengingatkan
kembali, memperkuat ee kepada
rekan-rekan ASN di seluruh Indonesia,
Bapak Ibu sebenarnya nilai-nilai itu
sudah ada di diri kita dan juga
nilai-nilai itu sudah ada di lingkungan
sosial kita gitu. Karena kita hidup di
Indonesia penuh aturan norma nilai ya
Pancasila ya adat istiadat. Sekarang
lagi ada ee aturan untuk ee berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai anti korupsi.
Itu sebenarnya satu kesatuan yang tidak
terpisahkan ya Bapak, Ibu. Seperti
misalnya yang ee kami ee sosialisasikan
atau sebarkan ke masyarakat ada sembilan
nilai anti korupsi. Sebenarnya ini tidak
bertentangan dengan adat istiadat
manapun, tidak bertentangan dengan
proses pendidikan ee manun, dan tidak
bertentangan dengan nilai-nilai atau
norma yang ada di ee masyarakat
Indonesia, gitu. Jadi, misalnya tentang
kejujuran, agama mana yang tidak
mengajarkan kejujuran? Semua agama
mengajarkan kejujuran.
semua adat atau ee budaya budaya ide
Indonesia mengajarkan kejujuran,
kemudian
kepedulian. Ee budaya kita gotongroyong
mengajarkan kepedulian, empati dan lain
sebagainya. Kemudian ee kemandirian ya
itu juga ada di dalam ee tradisi kita,
kerja keras dan lain sebagainya. Jadi
sebenarnya nilai-nilai anti korupsi ini
sangat inline atau selaras dengan ee
nilai norma yang ada dan berlaku di
Indonesia. Nah, memang tantangannya
adalah karena sudah menjadi kebiasaan
pada akhirnya kok korupsi disebut
sebagai budaya. Jangan dong ya, nanti
kita diprotes oleh budayawan ya. Di mana
sebenarnya budaya ini adalah nilai-nilai
luhur yang isinya sangat positif dan ee
jangan sampai justru ee menjadi
normalisasi bahwa korupsi adalah sebuah
budaya. Jangan ya. Jadi korupsi itu
adalah ee kebiasaan ee bukan ee bukan
budaya gitu. Nah, ini ee prosesnya
kurang lebih seperti ini. Jadi, ee apa
yang bisa kita lakukan? Kenapa konteks
pada pagi hari ini dimulai dari diri
sendiri? Karena ternyata dari diri
sendiri ketika kita memulai itu ke depan
bisa menjadi aksi kolektif yang kemudian
mempengaruhi untuk menjadi sebuah budaya
gitu. Sebuah tradisi, sebuah budaya.
Jadi, sikap membentuk perilaku dan
kemudian perilaku ini perilaku
individu-individu berkumpul menjadi aksi
kolektif. Dan ee aksi ini tentunya
membangun ee sebuah budaya ya yang
mempengaruhi sikap dan perilaku
individu-individu di dalamnya. Dan
masyarakat kita terkenal dengan dikenal
dengan masyarakat yang sosial gitu.
Guyub masyarakatnya sosial dan ee sangat
menjunjung tinggi ee nilai-nilai yang
ada di masyarakat gitu, tradisi-tradisi
ya. Nah, jadi ini sangat berpengaruh dan
ee Bapak Ibu nanti setelah dari kelas
ini mungkin jangan sebut lagi korupsi
sebagai budaya ya Bapak Ibu. Nah, yang
kita sebut budaya adalah hal-hal yang
baik, hal-hal yang luhur dan juga
positif.
Berikutnya, ini yang tadi saya jelaskan
ee ada seil nilai anti korupsi. Jadi,
bagaimana kita memulai dengan diri kita
sendiri? Ya, secara sederhana
kelihatannya mudah, tapi kalau kita
lakoni itu tidak mudah juga ya gitu.
karena ini harus menjadi habitual ee
kebiasaan kita sehari-hari dan juga
nanti menjadi sikap menjadi perilaku
kita menjadi kebiasaan yang mempengaruhi
diri kita dan juga lingkungan kita. Jadi
misalnya sembilan nilai anti korupsi ini
atau yang dikenal oleh masyarakat karena
KPK mensosialisasikan melalui
ee di dibikin ee apa namanya? Kalimat
Jumat bersepedah Kakak biar mudah
diingat gitu ya. pronimnya ada jujur ee
mandiri, tanggung jawab Jumat gitu ya.
Kemudian ada bersepeda, berani,
sederhana, peduli, disiplin, adil,
kakaknya kerja keras. Jadi nanti kalau
Bapak, Ibu mengenalkan nilai ini ke
keluarga atau ke anak-anak, ee dek, ayo
ee hari Jumat bersepeda yuk, Kakak,
gitu. Jadi apa tuh, Pak, gitu, nanti
dijelaskan. Nah, ini yang selalu kita
usung ee sebenarnya dari hal yang
sederhana ini, dari sembilan nilai anti
korupsi ini kita sudah bisa
berkontribusi atau ee memberikan dampak
yang positif untuk ee upaya pencegahan
korupsi. Karena kalau misalnya kita
menginternalisasikan, membiasakan, dan
juga ee melakukan sembilan nilai ini
dalam keseharian kita, insyaallah kita
bisa menghindari diri kita dari
godaan-godaan ee dan perilaku korupsi.
Berikutnya, nah ini strategi
pemberantasan korupsi, Bapak, Ibu. Apa
sih yang bisa dilakukan juga oleh
teman-teman ASN? Ya, tentunya
teman-teman ASN sangat bisa
berkontribusi tadi dalam dirinya sendiri
ee masuk nilai itu. Kemudian bagaimana
dengan lingkungan sosialnya baik di
tingkat ee apa namanya keluarga,
lingkungan sosial dan juga lingkungan
kerja terutama ya bisa melakukan upaya
pendidikan. Jadi tidak hanya guru,
mungkin di sini ada Bapak Ibu guru ya.
ee nanti Bapak Ibu guru bisa melakukan
ee internalisasi ee pendidikan anti
korupsi yang selaras juga dengan
pendidikan karakter kepada anak didiknya
misalnya atau lewat pembiasan-pembiasan
tidak harus belajar di kelas tapi
misalnya lewat ekstrakurikuler atau
pembiasan-pembiasan yang ada di sekolah
dan juga Bapak Ibu bisa melakukan upaya
pendidikan di rumah misalnya atau kalau
Bapak Ibu yang ee punya peran sosial
lainnya misalnya jadi ketua pengaji
kajian atau ketua gereja atau misalnya
punya jabatan sosial lainnya ee aktif di
gereja, aktif di masjid, aktif di
lingkungan sosial, punya ee teman-teman
arisan dan lain sebagainya sebenarnya
bisa ya melakukan upaya-upaya ini untuk
ee turut mengajak atau turut e
menginspirasi, turut memberikan ee
edukasi terkait dengan anti korupsi.
Kemudian di lingkup instansi ini yang
dilakukan upaya pencegahan ya ee
bagaimana nanti Bapak Ibu
berkontribusi untuk
ee kompetensinya itu ee mendukung upaya
pencegahan korupsi. Jadi ee selain Bapak
Ibu sebagai individu tentunya sebagai
ASN juga diharapkan ee profesional dan
juga bisa adaptif gitu ya ee beradaptasi
dengan ee sistem yang baru dan lain
sebagainya sehingga nanti upaya-upaya
perbaikan yang mendukung ee kerja
pencegahan korupsi ini bisa di dilakukan
secara optimal dan ee penindakan ya
penindakan. Jadi jangan sampai nih kita
terlibat ee apalagi sampai masuk ke
penindakan, tapi bagaimana Bapak Ibu
bisa
berkontribusi untuk upaya penindakan
Bapak Ibu bisa menjadi whistle blower ee
yang tentunya ee identitas Bapak Ibu
atau keselamatan Bapak Ibu sebenarnya
dilindungi oleh undang-undang dan juga
ee dirahasiakan ya. Jadi, Bapak, Ibu
bisa kalau kalau menghadapi indikasi
tindak pidana korupsi di instansinya
atau di lingkungannya, Bapak, Ibu bisa
melakukan pengaduan gitu. Nah, jadi ee
bisa dilakukan melalui upaya pendidikan,
pencegahan, penindakan dan KPK itu tidak
bisa berjuang sendirian. tentunya harus
melibatkan banyak elemen masyarakat
termasuk juga peran serta masyarakat itu
kita libatkan komunitas, seniman,
budayawan, apapun profesi Bapak Ibu
menjadi ASN itu salah satu profesi yang
Bapak Ibu miliki. Tapi di lingkungan
sosial Bapak Ibu juga punya peran. ada
yang jadi orang tua, kemudian punya
peran lainnya di lingkup sosial itu
sangat bisa dimanfaatkan juga oleh Bapak
Ibu untuk mengajak ee lingkungan
sekitarnya ke arah kebaikan di mana ee
bisa juga menghindari diri atau
menghindari keluarga dari godaan
korupsi.
Berikutnya, nah ini ya. Jadi melalui
pendidikan seperti ini yang kita lakukan
pada pagi hari ini nih sebenarnya
mendukung mendukung upaya perbaikan,
mendukung ee bertambahnya pengetahuan,
kompetensi Bapak Ibu sehingga nanti
ketika berhadapan dengan dilema-dilema
ee korupsi sehari-hari, Bapak Ibu sudah
bisa ee menjawab tantangan itu dari
dimulai dari dirinya sendiri. Jadi
dilakukan sosialisasi kampanye seperti
yang kita lakukan saat ini adalah
sosialisasi. Kemudian ada juga
pendidikan anti korupsi. Bagaimana ee
pendidikan anti korupsi itu diinsersi
diinsersi di seluruh jenang pendidikan
baik secara informal, formal, dan
nonformal. Kemudian di Pusat Edukasi
Anti Korupsi di sini ada Master Harry
ya, Master Harry sebagai API ee juga
berusaha untuk mengedukasi dan juga ee
berusaha untuk mengajak kita semua ya
untuk ee menghindari yang namanya
korupsi. Nah, kemudian ada yang namanya
pencegahan korupsi Bapak Ibu. pencegahan
itu misalnya KPK melakukan monitoring
system atau di instansi ya sekarang ada
di KPK ada tim Korsub yang tentunya
bekerja sama dengan ee pemda tempat
Bapak Ibu bernaung. Nah, tujuannya
adalah bukan untuk memata-mata, ya, tapi
membantu ee Bapak Ibu membantu pemda
untuk ee memotret atau ee memetakkan di
mana sih sebenarnya dari tata kelola
atau sistem birokrasi ini yang masih ada
celah, celah untuk ee terjadinya korupsi
sehingga itu diperbaiki. Makanya jangan
sampai ke penindakan gitu ya, tapi ini
bisa diperbaiki dari upaya pencegahan.
targetnya adalah sistem misalnya kita
melakukan sosialisasi khusus gratifikasi
ee kemudian
bagaimana ee Bapak Ibu bisa menghindari
gratifikasi kemudian ada sistem
pelaporan LHKPN itu tujuannya adalah
untuk mencegah mencegah korupsi terjadi
di dalam sistem berikutnya.
Nah, kemudian yang tidak kalah penting
tentunya kalau di sini ada Bapak, Ibu
yang menjadi pimpinan di instansinya
gitu ya, diharapkan dengan amat sangat
untuk
menjadi agen pendorong ya dan juga
inspirator ee memiliki komitmen komitmen
untuk memulai dari dirinya sendiri ee
untuk menghindari yang namanya korupsi.
karena sangat sulit ya kalau misalnya
bawahannya itu ingin ee bersih gitu,
ingin ee berintegritas tapi kemudian
atasannya tidak mendukung bahkan sering
memberikan pressure gitu. Ini juga
menjadi tantangan yang berat. Jadi
sebenarnya bagaimana pimpinan ini
menjadi ee kunci, tokoh kunci yang juga
mendukung kebijakan anti korupsi, budaya
integritas dan lain-lain turunannya ya
sampai dengan ke kegiatan atau ee
keseharian di dalam instansinya. Jadi ee
menjadi penggerak gitu, menjadi ee agen
kunci ee yang bisa menginspirasi para
bawahan ya. Berikutnya.
Nah, kemudian tadi apa yang bisa kita
lakukan sebagai ASN ee dan juga di
lingkungan sosial ya tadi ee Leud 9
nilai anti korupsi terinternalisasi dan
dilakukan menolak atau menghindari
gratifikasi. Nah, sekarang menghindari
konflik kepentingan Bapak Ibu.
Sebenarnya gratifikasi masuk juga di
sini ya. Jadi, bagaimana kita bisa
memilah-milah ee langkah kita dalam
keseharian itu kira-kira syarat enggak
sih dengan konflik kepentingan dan apa
yang harus kita lakukan hindari gitu.
Jadi, misalnya kalau misalnya tadi
terkait gratifikasi ya, arahnya pasti ke
konflik kepentingan. Jadi nanti ketika
kita dituntut untuk bikin satu keputusan
aduh jadi ada ewuh pakaiwuh gitu. Enggak
enak nih karena sering dikasih, enggak
enak nih karena sering dikasih hadiah,
enggak enak nih karena sering dijamu
makan dan lain sebagainya. itu
memunculkan konflik-konflik kepentingan
dan ini harus dihindari. Dengan
menghindari konflik kepentingan dengan
menolak ee gratifikasi Bapak Ibu tuh
sudah berkontribusi
nyata dan akan memberikan dampak positif
untuk upaya pemberantasan korupsi di
Indonesia.
Berikutnya apa saja konflik kepentingan
yang tadi ya? Gratifikasi. Ada juga
misalnya aset jabatan atau instansi
misalnya penggunaan kendaraan dinas
untuk kepentingan pribadi yang di luar
tugas atau misalnya menjaga informasi
rahasia, menentukan honor atau gajinya
sendiri, rangkap jabatan, kemudian akses
khusus, tidak sesuai prosedur atau
penilaian suatu objek kualifikasi tidak
berdasarkan prosedur atau tidak
berdasarkan standar. ini banyak atau
syarat dengan konflik-konflik
kepentingan dan ee ini harus dihindari
khususnya ee di dunia kerja ASN ya ee
akan banyak ketemu di lapangan ee
berbagai konflik kepentingan dan itu
sangat mengganggu pasti bikin dilema. Di
satu sisi tidak sesuai dengan hati
nurani. Di sisi lain ada tekanan dari
atasan atau tekanan dari lingkungan.
Karena ini bagaimana Bapak Ibu dituntut
untuk bisa
ee menyeimbangkan ya tentunya harus
menegakkan integritas apapun resikonya
ya. Jadi ini memang ee salah satu ee
tantangan yang dihadapi oleh Bapak Ibu
yang bekerja di instansi
berikutnya. Nah, ini tadi sudah saya
jelaskan.
Next, ya. ini. Jadi ee apa yang bisa
dilakukan oleh kita semua ya sebagai ASN
ya, sebagai pejabat atau ASN tentunya
luruskan dulu niat kita bekerja di
instansi itu untuk
apa. Tentunya ada poin edit value Bapak
Ibu, Bapak Ibu pasti punya tujuan mulia
punya edit value ya. enggak sekedar cari
uang gitu,
tapi punya edit value mau bermanfaat
buat negara ini, mau bermanfaat untuk
masyarakat, gitu. Jadi, nah itu
ditegakkan lagi edit value ini di mana
kita sebagai ee
manusia niatnya untuk ibadah, gitu. Jadi
kerja di instansi tidak tidak
semata-mata untuk cari uang karena kalau
mau cari uang jadi pengusaha aja gitu
atau ya kerja di luar instansi yang
sudah jelas kita tahu kalau dari negara
ya sudah ketakerlah gajinya berapa ya
Bapak Ibu mau cari kaya jadi pengusaha.
Nah, saya yakin di dalam hati Bapak,
Ibu, kenapa mau jadi ASN? Pasti punya
satu tujuan mulia, satu edit value yang
Bapak, Ibu mau capai sebagai manusia
yang punya kebutuhan berkomunikasi
dengan Tuhannya. Jadi pasti ada satu
tujuan mulia yang Bapak, Ibu mau capai
lewat jalan yang Bapak Ibu tempuh.
Kenapa Bapak Ibu ingin bekerja atau
mengabdi untuk negara? Pasti ada, saya
yakin itu. Dan ee bagaimana cara
menghindari diri kita untuk tidak
melakukan atau tergoda dari korupsi.
Kita kuatkan lagi ee niat itu. Bahwa
saya bekerja di instansi, saya mau
berkontribusi untuk negara saya, saya
mau berkontribusi untuk masyarakat
Indonesia. Saya mau memberikan yang
terbaik. Saya hidup sekali di dunia
sebagai manusia, punya kebutuhan untuk
ee berkomunikasi dengan Tuhan saya gitu
ya. Punya tujuan lebih dari sekedar
hidup. Karena kalau hidup sekedar hidup
katanya ya hewan juga hidup gitu. Tapi
kan kita manusia yang punya akal lebih
dari itu. Pasti kita punya tujuan yang
yang lebih yang mau kita capai dari
sekedar menjalani hidup di dunia gitu.
Ada tujuan lain yang mau kita capai.
Nah, itu ditegakkan lagi menjalankan
amanah ini dengan sungguh-sungguh,
ikhlas, penuh integritas, insyaallah
profesional. Jangan takut. Oh, saya
takut kompet tidak kompeten dan lain
sebaga. Tenang. BPSDM itu punya banyak
sekali ee program-program yang nanti
akan ee meningkatkan kompetensi Bapak
Ibu supaya menjadi ASN yang profesional.
Jadi, tidak perlu khawatir. Nah, yang
harus kita kuatkan adalah niat kita
untuk bekerja. Kenapa kita memilih jalan
menjadi ASN? Pasti ada tujuan mulia.
Nah, itu yang kita ingat, itu yang kita
tegakkan. Nah, sebagai orang tua Bapak,
Ibu yang sudah menjadi ayah, sudah
menjadi ibu, sudah menjadi suami atau
istri tentunya ini sangat penting ya
diajarkan juga ke anak-anak ee karena
apalagi golden kalau yang punya
anak-anak golden usia golden age ya lagi
ee belajar untuk nilai-nilai mana yang
benar, mana yang salah, mana yang boleh,
mana yang tidak boleh. Nah, itu Bapak,
Ibu sebagai ayah, sebagai ibu atau yang
di sini berprofesi sebagai guru juga
bisa berkontribusi untuk menanamkan
nilai dan juga karakter anti korupsi
kepada anak-anaknya, kepada suami istri
juga. Jadi di sini nanti Bapak atau Ibu
ya saling mengingatkan nih antar
pasangan. Bapak-bapak mohon maaf jangan
marah ya. Nanti kalau misalnya istrinya
di rumah nanya, dikasih uang terus
istrinya nanya, "Ah, ini uang apa ya,
Pak?" gitu kan kemarin udah gitu, oh ini
gaji ke-13 Bu misalnya ya. Oh jelas
gitu. Tapi kalau misalnya kan kemarin
THR udah ini apaagi gitu ditanya tuh
sama istrinya sumbernya jangan ah ribet
deh rese. Udah deh enggak saya kasih
uang lagi. Jangan ya Bapak-bapak ya.
Tapi ee itu bentuk dari kontrol seorang
istri supaya memastikan ee harta yang
akan dikelola dan dimakan sama anak-anak
keluarganya itu jadi berkah gitu.
Kemudian sebagai sosial e berperan
sebagai sosial tadi misalnya ada yang
jadi ketua RT mungkin atau misalnya ee
aktif di pengajian, aktif di ee
keagamaan lain ya di ee himpunan atau
komunitas keagamaan aktif di lingkungan
sosial itu tentunya Bapak Ibu bisa
menjadi agen perubahan juga bisa menjadi
contoh ee apalagi kalau
membawa institusi ya bisa menjadi contoh
atau bisa memberikan ee dampak yang
positif juga untuk lingkungan sosial.
Jadi itu dimulai dulu dari diri sendiri,
kemudian kita sebarkan lagi ke keluarga,
ke lingkungan terdekat, dan juga ke
masyarakat.
Berikutnya ya. Jangan mau jadi pelaku
amit-amit ya. Jangan sampai, jangan mau
kita terjerumus jadi pelaku. Dan juga
karena korupsi ini kejahatan yang
ekstraordinary, kita juga jangan mau
jadi korban ya. Kita jangan mau jadi
korban. Bapak, Ibu nanti bisa hindari
gratifikasi atau kalau misalnya Bapak,
Ibu ada konflik kepentingan bisa diclare
ya. Misalnya Bapak Ibu jadi panitia
pengadaan, ternyata calon pesertanya ada
kenalan atau ada saudara. Nah, itu Bapak
Ibu bisa melakukan declare atau
deklarasi supaya tidak terjadi konflik
kepentingan kemudian menjadi teladan
tadi ee dan lain sebagainya. Nah, ini ee
bisa dilakukan oleh Bapak Ibu. Nah, ini
saya ee mengutip dari ee Pak Hatta bahwa
kurang cerdas itu bisa diperbaiki dengan
belajar. Tapi kalau misalnya tidak jujur
itu sulit diperbaiki. Jadi, jujur ini
adalah karakter keharusan.
Next. Ya, ini sesuai dengan ee topik
pada pagi hari ini ya. Kalau kita mau
memberikan perubahan untuk lingkungan ya
harus dimulai dari diri kita sendiri.
Jadi kalau kata Mahatma Gandhi our
greatest ability as humans is not to
change the world but change
ourselves. Kurang lebih itu Bapak Ibu
yang bisa saya sampaikan. Semoga
memberikan ee manfaat positif untuk
Bapak Ibu mengingatkan kembali ya untuk
yang sudah tahu atau yang belum tahu
bisa menjadi pengetahuan baru dan juga
ini mudah-mudahan bisa diingat terus dan
bisa menjadi ee pemantik semangat kita
lagi nih ASN seluruh Indonesia untuk yuk
kembali lagi ke tujuan mulia kita. Apa
sih kenapa kita jadi ASN? Kenapa kita
melamar jadi ASN dan apa yang mau kita
capai gitu. apa iya kita mau kaya lewat
jalan ASN ini kan enggak ya pasti ada
tujuan mulia yang mau kita berikan
kontribusi kita, mau kita berikan untuk
kebaikan bangsa dan negara kita. Jadi
itu saja dari saya Bapak Ibu mohon maaf
jika ada kekurangan dan nanti jika ada
yang mau ditanyakan atau disampaikan
bisa di sesi diskusi. Ee jika masih ada
waktu dan saya bisa jawab saya akan
jawab. Demikian terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Oh ya saya kasih pantun
boleh ya?
sekali nih jalan jalan-jalan ke hutan
jati cakep
cakep pulangnya bawa daun sirih cakep
mari kita tanam integritas sejati cakep
demi Indonesia yang bersih dan bebas
dari korupsi
cakep thank you thank you Bu Doti untuk
materinya sangat menggugah ya buat kita
bisa menjadi agen perubahan
Ee barangkali nanti sobat ASN ada yang
ingin bertanya, silakan untuk langsung
aja raise hand. Tapi Bu ee sebetulnya
saya mau tanya sedikit aja ya sebelum
saya serahkan ke sobat ASN. Ini tadi kan
kita lihat ee bahwasanya IPK Indonesia
itu di angka 37 ya Bu ya. Which is kalau
misalnya semakin mendekati nol semakin
buruk ya Bu ya. Semakin mendekati 100
semakin baik. Saya pernah baca
bahwasanya ee Indonesia pernah
mendapatkan IPK di angka 40. Nah, kenapa
ini bisa terjadi penurunan? Dan
sebenarnya kalau kita berkaca terhadap
negara-negara di ASEAN, let's say tadi
yang di Singapura ataupun di Malaysia,
skor IPK-nya lebih tinggi. Sistem apa
yang bisa kita pelajari dari mereka
untuk bisa kita terapkan di Indonesia,
Bu? Silakan, Bu Doti. Keren banget ini
pertanyaannya ya, Mas Lukman. Jadi kita
pernah ee betul kita pernah dapat angka
ee empat ya itu zamannya pemerintahan
SBYBY. Jadi kenapa waktu itu bisa bagus?
karena ee memang ada satu kebijakan atau
strategi ya strategi ee pemberantas skor
komitmen dari PSBY itu sangat kuat bisa
mendorong bagaimana seluruh ee elemen
atau seluruh instansi ini bisa komit ee
untuk melakukan upaya-upaya
pemberantasan korupsi dan ee kita semua
tahu ya sekarang ee di masa ini kok
kenapa nilainya semakin turun semakin
turun dan ee perkembangan ee apa namanya
dunia politik juga yang
semakin dekat gitu dengan kekuasaan ya
ee kayak misalnya apa
klientelisme kemudian ee dan lain-lain
itu ee mempengaruhi ee kinerja dari ee
survei ini gitu. Kemudian kalau kita
lihat lagi ada juga pengaruhnya ee
mungkin ya ini indikasi ya dan memang
ini di di dilihat dari sisi
komitmen. Ada satu kejadian peristiwa
kenapa skor kita sempat turun sekali
waktu itu karena ada ee yang namanya
revisi Undang-Undang KPK. Oke. Nah,
waktu itu dunia internasional melihat
bahwa oh kok tidak ada komitmen ya dari
ee pemerintah Indonesia untuk
memberantas korupsi gitu. He. Sehingga
ini kan terjadi dilema, bukan dilematis
ya, terjadi polemik, terjadi pro dan
kontra di mana demonstrasi besar juga
terjadi saat itu ya waktu adanya
perubahan gitu. Dan ternyata itu
kebijakan, proses perubahan kebijakan
itu ternyata berpengaruh juga ee
terhadap dunia internasional melihat
atau mengukur komitmen ee negara
Indonesia terhadap ee pemberantasan
korupsi. Jadi itu waktu itu ee kenapa ee
turun kemudian ee kondisi politik di
Indonesia juga banyak kasus-kasus ee
besar terjadi ee pasca itu ya sehingga
itu juga mempengaruhi ee nilai ee skor
kita yang turun gitu. Oke. Nah,
sebenarnya IPK ini juga tidak bisa
dilihat apa namanya tidak bisa berdiri
sendiri. Kita lihat lagi kepada survei
lain ya kayak SPAK tadi dan juga SPI.
Ternyata memang hasilnya sama
mengkonfirmasi bahwa memang di negara
kita masih ee diperlukan sebuah e upaya
luar biasa untuk upaya pemberantasan
korupsi itu, Mas. Lalu apa yang bisa
dipelajari dari negara Singapura ataupun
Malaysia yang skornya lebih tinggi, Bu,
dibandingkan dengan kita? Kalau ee Mas
Lukman ee pernah ke Singapura atau
teman-teman ya kita tahu pertama adalah
ee komitmen untuk menegakkan hukum ya.
Jadi kita tahu kalau di negara Singapura
kenapa gini, kenapa orang Indonesia
ketika traveling atau berkunjung ke
Singapura bisa comply dengan ee
aturannya yang segitu rigid, bahkan
takut untuk meludah, takut untuk makan
permen karet gitu. Heeh. Karena
Singapura memberlakukan denda dan tidak
bisa disuap petugasnya. Oke. Jadi kalau
misalnya kita kena denda, bayar denda
gitu dan itu diproses secara hukum,
secara jelas. Nah, di Indonesia itu kita
tahu ya banyak contoh ya. Ini saya tidak
mendiskreditkan satu daerah, tapi ini
contoh yang ada di e berita atau di
sosial media yang saya baca. He. Di Bali
deh. Di Bali kan banyak touris, over
tourism. sempat viral juga waktu itu
ketika ada ee turis asing ee itu
mengalami kasus ya di sana ternyata
mengalami pemerasan gitu, pemerasan oleh
petugas ya, pemerasan oleh ee petugas.
Nah, ini juga mempengaruhi cara pandang
ee dunia internasional gitu. Oh,
ternyata di negara Indonesia tuh bisalah
petugasnya diakalin, bisalah petugasnya
dikasih uang selesai gitu. Makanya
mereka senang tuh ke Indonesia dibanding
misalnya ke Singapura gitu. I kurang
lebih itu, Mas. Jadi memang ee bagaimana
kita
menegakkan aturan atau menegakkan hukum
dan
ee meningkatkan integritas ee pejabat
layanan publiknya supaya enggak lagi
bisa terima gratifikasi atau suap gitu.
Sehingga itu sangat bisa mempengaruhi ee
peningkatan skor ee IPK kita. dari
pemerintah memang harus bisa membentuk
suatu peraturan yang rigid, tapi dari
kitanya juga harus bisa membentuk
culturnya. Ya, peraturan ya sebenarnya
peraturan di Indonesia tuh enggak
kalah-kalah
bagus gitu ya. Maksudnya banyak
peraturan ya walaupun misalnya masih
banyak perlu diharmonisasi gitu, masih
banyak yang bentrok atau bertentangan,
tapi peraturan tuh sudah sangat banyak
di Indonesia ya. Heeh. Tapi
kadang-kadang peraturan yang terlalu
rigid itu juga menimbulkan ee ya
menimbulkan celah untuk dilakukan
korupsi gitu. Kalau misalnya ee yang
harusnya menegakkan aturan ini tidak
menjalankan aturan ee atau tidak
berintegritas. Jadi itu tantangannya
sih, Mas. Oke. I see. Thank you, Bu
Doti. Ini ada penanya dari Sobat ASN.
Saya akan persilakan Bapak silakan untuk
diperkenalkan namanya dan unit kerjanya,
Pak. Silakan, Pak.
Izin. Iya, Bu. Bertanya sedikit.
Silakan. I
ee terima kasih Pak Moderator. Ini ini
terkait dengan korupsi ini kan
sebenarnya isu klasik ya. Dari dulu-dulu
kita sudah sering mendengarkan terutama
kita di aparatur SP negara ini. Iya.
Nah, Bu Liel maksudnya begini, korupsi
ini kan semakin lama semakin banyak gitu
ya. semakin canggih, polanya juga
semakin canggih. Nah, apakah memang
ee negara kita yang belum
mempunyai intervensi yang begitu dalam
atau begitu kuat untuk pencegahan
korupsi termasuk juga penanganan atau
penindakan korupsi atau memang budaya
kita itu dari dulu memang suka korupsi
gitu. Kenapa? Contoh masalah penindakan
ya penindakan itu kok enggak tobat-tobat
gitu. sudah dipenjara keluar nanti
korupsi lagi. Apakah memang penindakan
itu kurang kurang seram gitu, kurang
ekstrem? Apakah perlu penindakan yang
lebih ekstrem? Contoh misalkan kalau
korupsi sekian miliar itu dipotong
tangannya. Apakah harus seperti itu?
Kemudian untuk pendidikan sekarang ini,
Bu, untuk pendidikan pencegahan korupsi
memang kan seharusnya berbasis keluarga
ya. Iya. Kenapa? Karena dari beberapa ee
literatur yang kita baca itu kan akarnya
dari korupsi itu kan di level keluarga,
di gaya hidupnya
keluarga. Nah, di aparatur di ASN
sekarang itu memang
pendidikan-pendidikan terkait dengan
keluarga itu jarang sekali. Apakah tidak
ada regulasi atau kebijakan dari
kementerian untuk bisa lebih
penetrasinya ke tingkat keluarga gitu?
Supaya itu dimulai dari dari bawah gitu.
Jangan sampai dari bawah tidak ada
pendidikan, dari terus keluarga tidak
ada pendidikan, tiba-tiba nanti masuk
dan menjabat satu posisi tertentu ya
tetap korupsi juga gitu. Yang jadi
korbannya keluarga. Terima kasih Bu.
Izin. Makasih Pak siapa? Maaf Yudi Bu.
Yudi dari Sumut. Yudi dari Oh, dari
Sumatera Utara ya. Ee terima kasih, Pak
Yudi. Pertanyaannya bagus sekali. ee Pak
Yudi sering menyimak berita dan juga
pasti sering baca juga ya
fenomena-fenomena sosial di negara kita.
Terima kasih banyak, Pak Yudi. Nah,
berkaitan dengan penindakan ini benar
banget ee pasti Pak Yudi dan teman-teman
di sini juga melihat ya kok kayaknya
pelaku korupsi itu enggak jerak-jerak
padahal ee apa namanya? Penindakan yang
dilakukan tuh sudah luar biasa ya. Nah,
ee memang kalau sekarang dilihat e Pak
Yudi dan juga teman-teman di sini ada
satu instrumen nih. Nih fenomena yang
terjadi di Indonesia ya, scopnya
Indonesia. Percaya atau tidak percaya
dari sebuah kajian yang dilakukan oleh
ee KPK kalau tidak salah bersama
Fakultas Hukum UGM beberapa tahun silam
sebelum ada usulan untuk memiskinkan
koruptor itu ternyata hasil
kajiannya menyatakan
bahwa pelaku korupsi di Indonesia itu
enggak takut mati, Pak. enggak takut
mati gitu. Yang penting keluarganya
masih aman tuh tujuh turunan harta
hartanya sisa harta hasil korupsinya
tapi mereka takut miskin gitu. Nah, oleh
karena itu jadi pelaku korupsi tuh
pintar ya
ngitung-ngitung korupsi berapa,
hukumannya berapa tahun ya udah aman
buat tujuh turunan. Makanya sekarang
kita perlu satu instrumen yang lagi
didorong nih ke legislatif yaitu
Undang-Undang Perampasan Aset. Karena
pelaku korupsi tuh takut banget kalau
misalnya jadi miskin. Kenapa? Karena
ketika dia miskin, enggak punya harta,
itu orang lingkungan sosial enggak akan
memberikan dia tempat atau ruang, ya
kan? Masyarakat kita kan ee masih
memberikan tempat atau ruang untuk ya
gini deh, enggak usah naif ya. Coba e
kita tanya atau kita lihat di lingkungan
sosial kita, kesuksesan itu apa sih?
Orang kan masih menganggap atau
memandang, "Oh, sukses itu yang banyak
uangnya. Oh, sukses itu yang punya
jabatan tinggi gitu ya." Bukan, bukan
sukses yang bermanfaat banyak untuk
masyarakat, enggak gitu. Bermanfaat
kalau hidupnya sederhana dianggap enggak
sukses. Masih pandangannya orang
Indonesia masih seperti itu. Masih
sukses itu masih yang wah uangnya
banyak, tujuh turunan enggak habis-habis
gitu. Padahal hasil korupsi atau hasil
kejahatan. Nah, sehingga ee penindakan
itu memang harus dilengkapi dengan
instrumen-instrumen yang mendukung ke
arah sana. Jadi, misalnya ada wacana
nih, kenapa sih enggak ditembak mati aja
kayak di Cina? Di mana pelurunya itu
yang beli adalah keluarganya, pelaku
korupsi bukan negara gitu ya. Ya,
lagi-lagi karena kultur di Indonesia
atau di sini ternyata pelaku korupsi
enggak takut mati selama hartanya masih
aman untuk tujuh turunan. ya fine-fine
aja gitu enggak apa-apa yang penting
keluarga saya masih sejahtera. Nah,
justru mereka takut kalau misalnya
miskin. Kenapa? Karena tidak lagi
mendapat tempat di lingkungan sosial,
enggak dihargai lagi. Karena cara
pandang kita sukses itu adalah orang
yang uangnya banyak, punya kuasa dan
lain sebagainya gitu. Jadi memang ini
apa ya fenomena sosial yang ada di
masyarakat kita yang mungkin ee kita
juga sebagai punya peran untuk
mengedukasi masyarakat ya atau dimulai
dari keluarga dulu deh yuk. kita ajak
nih, kita ajarin ke keluarga, ke anak
kita, sukses itu bukan yang uangnya
banyak, tapi hasil dari korupsi gitu.
Sukses itu ketika kamu banyak memberi
manfaat positif untuk lingkungan kamu,
gitu. Nah, gimana caranya mengubah
persepsi ini, mengubah mindset ini? Nah,
itu tantangan kita juga. Jadi, sekarang
Undang-Undang Perampasan Aset itu lagi
diupayakan didorong ke
legislatif ee masih menjadi pro dan
kontra ya. Nah, kita tunggu aja apakah
berhasil masuk ee Prolektas atau gimana
gitu. Masih dibahas ee belum belum
disahkan. Jadi, itu bisa menjadi satu
instrumen yang insyaallah akan membuat
pelaku korupsi jerak karena itu hartanya
di mana pun bisa ditarik masuk ke
Indonesia untuk bayar ganti rugi negara
yang sudah dirugikan dari hasil korupsi
yang ditarik ditarik diinvestasikan juga
di negara luar dicuci gitu ya. Jadi kita
butuh satu instrumen itu. Kemudian
pendidikan. Benar sekali ee Pak Yudi ee
berdasarkan ee apa berbasis keluarga ya.
Ini juga kita upayakan. KPK juga
mendorong di KPK ada yang namanya
program pencegahan berbasis keluarga
atau keluarga berintegritas. Jadi memang
kita juga ee bekerja sama ya dengan
berbagai instansi. Mungkin memang belum
masif ya, masih ee piloting dan masih
sedikit-sedikit gitu. Memang belum ada
ee satu kebijakan khusus. Mungkin ini
bisa didorong juga ke instansi terkait
untuk membuat kebijakan dan juga
dilakukan secara bersama-sama bagaimana
ee pencegahan korupsi berbasis keluarga
ini bisa dibuat secara lebih masif gitu
ee dengan dipayungi sebuah kebijakan.
Tapi walaupun belum ada kebijakan
khusus, saya yakin pasti ada kebijakan
yang ee bisa kita gunakan atau mendukung
ke arah sana juga ya. Jadi misalnya
kayak ee pendidikan karakter itu ya
pendidikan nilai ya dimulai dari
keluarga. Sebenarnya itu juga bisa jadi
satu instrumen yang bisa kita lakukan
untuk ee melakukan upaya-upaya
pencegahan korupsi yang dimulai dari
keluarga. Memang kelihatan sepele tapi
tidak mudah untuk dilakukan ya, Pak
Yudit. Tapi jangan jangan ee putus asa
gitu. Memang ee ini tantangan yang harus
kita hadapi dan harus kita pecahkan,
harus kita lakukan bersama-sama. Terima
kasih banyak ee Pak Yudi untuk ee
pertanyaan dan diskusinya. Terima kasih
Pak Yudi untuk pertanyaannya. Semoga
menjawab. Thank you, Bu Doti. Ini
sebenarnya saya masih pengin banyak
diskusi tapi karena keterbatasan waktu
sekali lagi saya harus mengakhiri sesi
kali ini. Sebelum diakhiri sesi kali
ini, Bu Doti, saya berikan kesempatan
untuk memberikan closing statement
kepada seluruh sobat ASN yang tengah
menyaksikan acara di siang hari ini.
Silakan Bu Doti. Baik, terima kasih
Masman. Ee teman-teman Sobat ASN ee
jangan pernah putus asa ketika di
lapangan menghadapi dilema-dilema atau
godaan korupsi atau tekanan-tekanan kita
untuk menegakkan integritas di
lingkungan kerja dan juga di lingkungan
sosial. Itu tantangan yang harus kita
hadapi bersama-sama. Tapi kita yakin
kita satu tujuan. Ingat lagi tujuan kita
bersama. Kenapa kita mau jadi ASN?
Kenapa kita mau kerja untuk negara ini?
pasti ada satu ultimate goals yang mau
kita capai ya sebagai manusia yang hidup
sekali di dunia bukan untuk mencari
kekayaan. Jadi ee saya yakin ee
rekan-rekan sobat ASN di mana pun berada
bisa mengingat ini, menegakkan kembali
integritas dan juga komitmennya bersama
dan juga bisa menjadi inspirasi untuk
sesama ee Sobat ASN di mana pun berada.
Jadi jangan patah semangat terus lakukan
upaya-upaya kecil karena sekecil apapun
upaya Sobat ASN untuk pemberantasan
korupsi pasti akan berdampak positif
untuk negara ini. Jadi tetap semangat
itu saja. Terima kasih Mas Lukman. Thank
you Bu Doti. Kapan-kapan main-main ya Bu
ya ke WBSDM Jawa Timur ya Bu ya. Dengan
senang hati. Siap Ibu. Thank you Ibu.
Semoga kita bisa bertemu lagi di lain
waktu ya Ibu. Salam sehat selalu. Bu
Datih. Sehat selalu. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Sobat SN itu tadi diskusi
menarik kita dengan narasumber pertama
kita, tapi kita masih punya dua
narasumber lagi. Kita akan kembali
setelah jeda padiwara berikut ini.
[Musik]
Iya.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
He.
[Musik]
Anda kembali menyaksikan webinar ASN
Belajar seri 15 bersama dengan saya
Lukmanali. Kali ini kita sudah
kedatangan narasumber kedua kita, Dr.
Eko Supeno. Selamat siang, Dr. Eko.
Selamat siang, Mas Lukman. Kabar baik,
Pak Eko? Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Oke, Pak Eko ini sebagai chairman
Antiorruption Learning Group UNER
Surabaya. Kalau boleh dijelaskan
terlebih dahulu Anti Cororruption
Learning Group UNER Surabaya ini
kegiatannya ngapain aja, Pak? Dan
tugasnya biasanya ngapain aja, Pak? Oke.
Ee salam kenal untuk Bapak Ibu sekalian.
Salam hormat saya untuk Bapak Kepala
BSDM, Bu Doti, ee Mas, dan Sahabat ASEN.
pertama sedikit saya luruskan AILG itu
singkatannya bukan anti ee korupsi tapi
itu adalah
Langga institution. Iya for learning and
growths ya. Jadi oh Erlangga Institution
for learning and growth. Oke. Thank you,
Pak. Sudah diluruskan, Pak. Oke. Kalau
ee kalau di apa namanya entitas Bapak
ini kaitannya dengan pencegahan korupsi,
apa saja yang dilakukan, Pak,
kegiatannya, Pak? Jadi, jadi kebetulan
tahun
2024 saya peserta tim diminta oleh
teman-teman
KPK untuk ee membantu melakukan riset ee
dari versi kualitatif untuk SPI di 27
kabupaten, kota dan provinsi di Jawa
Timur. Oke. Dan sudah kita kebetulan ada
41 perguruan tinggi seb seluruh
Indonesia. Kebetulan Universitas
Airlangba ditunjuk pada waktu itu untuk
presentasi di tingkat nasional berkaitan
dengan hasil risetnya dalam konteks ee
mencegah korupsi ya dalam konteks
mencegar korupsi dalam perspektif
pendekatan kualitatif. Jadi oleh karena
itu, nah ini banyak teman-teman dari
Inspektorat di wilayah yang kita kaji
itu sering berdiskusi dengan kita
berkaitan dengan ee aksi tindak lanjut
seperti apa dari hasil SPI yang sudah
dirilis oleh KPK di tahun 2024. Oh, oke.
I see. I see. Oke, kalau begitu Pak,
saya persilakan terlebih dahulu kepada
Pak Eko untuk menyampaikan materi.
Sebelum itu saya juga ingin mereminder
bagi sobat SN yang ingin bertanya di
sesi Q&A nanti kami persilakan untuk
bertanya. Silakan Pak Eko. Siapsiap.
Bentar saya mau
ee sudah kelihatan ya ee slide saya
ya. Halo
Pak Eko. Sudah kelihatan slide saya
ini masih belum tertampil Bapak.
masih belum tertampil di layar saya.
Ee kan belum belum ya. Masih belum ya.
Mungkin bisa diop share kemudian diulang
kembali Pak share screen-nya Pak. Oke.
Oke.
Coba.
Oke, sudah tampil, Mas. Oke, ya. Ini
sudah tertampil, Pak. Silakan, Pak Eko.
Nggih. Terima kasih. Ee pertama saya ee
sedikit ee memberi masukan atau sedikit
alat di tagline di tagline tagline acara
ee belajar ee seri ke-15 tadi kan ee
kenali, pahami, cegah. Nah, itu nanti
kalimatnya jangan disanggung. Cegah anti
korupsi. Harusnya cegah korupsi. Jadi
kalau penyebutannya cegah anti korupsi
malah kita disuruh korupsi nanti. Ee
tagline-nya tagline di awal tadi ya.
Baik Bapak Ibu sekalian. Kalau tadi Bu
Doti menyampaikan tentang banyak hal
berkaitan dengan positioning Indonesia
dalam kegiatan korupsi dan apa tindakan
dari korupsi, saya nanti saya awali dari
hasil studi kita ya. Hasil studi kita,
hasil kajian kita berkaitan dengan benar
enggak sih ee ee situasional korupsi di
Indonesia itu ada enggak datanya? karena
ini menyangkut ratusan ribu informan
atau responden yang mengisi ee SPI yang
diselenggarakan oleh KPK dari seluruh
Indonesia gitu ya yang kemudian ee kita
tampilkan pada saat itu dan kami share
dan sebagainya. Saya tidak akan
memperpanjang tentang
kenapa impactnya ee korupsi itu perlu
dicegah. ee tadi sudah panjang lebar
disampaikan oleh Bu Doti gitu ya tentang
ee impactnya yang luar biasa digambarkan
melalui Gunung Es gitu ya. Mungkin
ujungnya sedikit tapi dalamnya impactnya
memang luar biasa gitu ya. kebanggaan
apa ya sebetulnya bisa kita
menjadikan
ee menjadi ikon atau menjadi guideline
hidup kita bangsa sebagai bangsa gitu.
Kalau kita itu masuk atau kategori
bangsa dikenal sebagai bangsa ee
koruptor gitu ya. Nah, ini tadi sudah
begitu banyak disampaikan. Nah, saya
dalam konteks ini akan memberikan
fakta-fakta dari hasil korupsi berbasis.
Tidak hanya karena di SPI itu kan yang
mengisi tidak hanya dari internal
birokrat itu sendiri, tapi masyarakat,
pengguna layanan dan para ekspert, para
ahli dalam konteks ee berkaitan dengan
korupsi. Eh mungkin saya awali dengan
positioning. Tadi disebutkan kalau ee Bu
Tadi nyampaikan posisi IPK kita ya indep
korupsi dari ee TI dari IJW dan
sebagainya. Ini saya hanya mengutip dari
SPI yang dirilis oleh KPK di tahun 2024
gitu ya. Kalau kita bandingkan ini cukup
menarik gitu ya. secara nasional
sebetulnya ada kenaikan yaitu 71
meskipun kategori masih relatif merah
tapi bagaiman dengan Jawa Timur Jawa
Timur bisa turun gitu. Sebetulnya kalau
dilihat dari ee nilainya ya ee sebelum
masuknya faktor koreksi Jawa Timur itu
masih di atas rata-rata nasional gitu
ya. Baik dari ekspor eksternal,
masyarakat, pengguna layanan, pemanfaat
layanan, maupun internalnya. Tetapi
karena adanya faktor koreksi
SPI yang cukup besar ya sampai ee 11
koma ya, baik ber pelaksanaan SP maupun
fakta korupsi sehingga nilai Jawa Timur
itu jadi ee rendah. Tetapi nasional
faktor korisinya relatif ee relatif ee
rendah. meskipun se meskipun satu
meskipun tiga itu tetap adalah ee satu
kondisi yang seharusnya tidak boleh
terjadi dan sebagainya
ya. Ee
sebentar izin ya Bapak Ibu sekalian.
ini ee materi saya kan masih tetap
kelihatan ya. Ini ada beberapa komentar.
Ini sudah terlihat kok, Pak. Sudah
terlihat. Iya. Ya. Oke. Baik, baik. Akan
saya lanjutkan lagi.
Nah, ini yang menarik dari data nasional
ini
ya. Ee itu menunjukkan gini. Yang
pertama pemberian gratifikasi dari
masyarakat terjadi tanpa adanya
kesepakatan. tadi memang disebutkan kan
kriteria gratifikasi, kriteria suap,
kriteria pemberasa. Gratifikasi
50% itu kan berarti kalau 10 orang yang
ditanya lima dari 10 orang ya dari
ratusan ribu informan itu menyatakan
memberi
gratifikasi tanpa ada kesepakatan.
Memang gak ada kesepakatan. Jadi mau ya
nanti ini akan memunculkan oh kalau gitu
benar enggak sih gratifikasi budaya
kita? Karena kalau dalam secara
konseptual budaya itu kan akumulasi dari
tindakan yang terus-menerus kan
melahirkan ebit kebiasaan menjadi kultur
kita. Yang lebih memprihatinkan lagi 9
dari 10
informan. 9 dari 10 itu pernah
menyatakan ee pernah memberikan
gratifikasi 9 dari 10. Jadi hanya dari
kalau disurvei 10 orang satu aja yang
enggak pernah ngasih gratifikasi jika
berhubungan dian
birokrasi. Ya, ini kan cukup
memperhatinkan ya besarannya. Ah, ini
memang relatif kecil ya, Bapak, Ibu
sekalian ya. Di masih maksimal 100.000.
Tapi itu kan sebuah
kebiasaan ya. Semua kan dimulai dari
yang kecil
98,34 kan. Kemudian
43,4% pemberi gratifikasi dari
masyarakat untuk mendapatkan kemudahan
layanan terjadi lebih dari satu kali.
Jadi ini setidak-tidaknya masyarakat
merasa bahwa dengan gratifikasi itu
diharapkan ada kemudahan dan itu
disampaikan hampir mendekati 50%. Jadi
kalau hitungannya 10 orang yang ditanya
itu 4 lebih orang itu menyatakannya
dengan gratifikasi semua urus jadi
beres. Sebetulnya ini kan masukan juga
untuk siapa itu? untuk
birokrasi
58,7% pemberian gratifikasi dari
masyarakat terjadi dengan kesepakatan
untuk kemudahan
pelayanan. Nah, Bapak Ibu sekalian, jadi
49,1% tadi kalau dari
50,1% yang pertama tadi itu ee tidak
sepakat. Yang sepakat 49, 58 itu
alasannya karena untuk mendapatkan
kemudahan dari layanan. Jadi sebetulnya
dari masyarakatnya sendiri
itu mengepus ya wong itu bukan sebuah
kesepakatan kok. Mereka sendiri yang
berinisiasi dan
sebagainya. Nah dari sini menunjukkan
bahwa masyarakat kita itu punya sikat
toleran terhadap
korupsi dari data di awal tadi ya.
Nah, indikasi dengan adanya toleransi
terhadap tindak korupsi ya atau
penyimpangan dan yang dilakukan oleh
masyarakat maupun ee dengan birokrat itu
menunjukkan data seperti
ini. Jadi ini itu catatan kecil saya itu
ada n-nya informalnya itu ada
259.320 312 informat.
Nah, jadi frekuensi pemberian
gratifikasi tanpa adanya kesempatan
berdasarkan keperluan yang
menganggap bahwa memberi gratifikasi itu
masalah pribadi kepentingan keluarga ada
43%. Kepenting kepentingan pekerjaan
atau kantor itu 52,6%.
Jadi para pemberi
gratifikasi ya mayoritas
50,6%. Jadi kalau dari 10 misalnya 5
orang itu karena faktor kepentingan
kantor. Nah, jadi ini cukup
memprihatinkan. Jadi ternyata tidak
hanya kepentingan faktor pribadi yang
besar, tapi kepentingan institusi,
organisasi atau kantor di mana dia
bekerja itu juga memberi kontribusi.
Jadi kalau entitasnya ini ya masyarakat
ya, organisasi masyarakat di mana dia
bekerja ya entitas
birokrat ini menjadi pelengkap sudah ya
dua-duanya eh tiga-tiganya menjadi tiga
entitas ini menjadi toleran sangat besar
ya dan sebagainya. Alasan masyarakat
memberikan
gratifikasi. Nah, tadi kan ya ini
sebagai bentuk lah ini tadi kata Bu Doti
apakah ini sebuah budaya kewajaran ya
karena ya ucapan terima kasihlah kalau
tadi dinilainya kan 5 90% lebih ya
sekitar 100.000 itu ya sebagai ucapan
terima kasih ya.
Kemudian ee untuk mencari aman ada
17,4% untuk membangun relasi ya biar
nanti urusan terus-menerus akan lancar
14,6% sungkan atau tidak enak ya.
Berarti ini kan ada hubungan ee relasi
ya, relasi kuasa mungkin juga ya itu ada
13,4% yang
cukup masih memperhatinkan ya. Saya
tanda kasih petik masih memphatinkan.
Itu diminta oleh petugas itu ada 5,7%.
Wah, kecil itu Pak. Lah tapi tetap kan
muncul ada diminta berarti ada di
kalangan itu. Itu karena diminta oleh
petugas. Jadi
ini mungkin kategorinya bukan
gratifikasi, bukan suap, tapi pemerasan
dalam tanda petik ya. E pemerasan kecil
dan sebagainya. bagaimana se terhadap
korupsi. Ah, ini juga kita
lanjutkan
ee informasi dia bisa memberikan
gratifikasi
ya itu
dari pegawai pemerintah
42 atas dasar keinginan sendiri 22. Jadi
informasi bisa kok. Ya,
jadi informan itu memberitahu ke kita
ya, Mangoritas
mengatakan gratifikasi itu bisa
dilakukan. Itu dari pegawai pemerintah
ya. Jadi ini gambaran ee yang cukup
memprihatinkan berkaitan dengan data
bahwa ee kan tagline-nya tadi kan
kenali. Ini ini faktanya Bapak Ibu
sekalian. Mari kita pahami sampai di
level mana ee gratifikasi itu terjadi.
Ya, juga ucapan terima kasih tadi sudah
saya
jelaskan. Nah, ini Bapak Ibu
sekalian ini di level internal bagaimana
ee para birokrat itu sebetulnya
tahu ya. Ada 32,6% atau kurang lebih 3
dari 10 bagai pemerintah mengaku tahu
koleganya menyalahgunakan fasilitas
kantor untuk kepenginan pribadi. Tapi
excuse tahu kita ini. Jadi kalau kita
konsep mencegah
korupsi tadi di
telekline ee kenapa muncul tagline itu?
Karena faktanya itu memang ada tiga dari
10 pegawai pemerintah itu tahu
kolegannya melakukan memanfaatkan
menyalahgunakan fasilitas
kantor. Ya, mungkin hal-hal yang kecil
misalnya mobil
dinas, kendaraan dinas ee apa ini
perangkat-perangkat sori ee kantor
perangkat kantor alat ee apa ini
komputer, laptop atau apapunlah ya. Ini
faktanya semacam itu, Bapak Ibu. Nah,
penyalahgunaan aset pemerintah yang
dilakukan oleh pejabat
pegawai. Nah, tadi kan digambarkan
tentang berbagai macam bentuk
gratifikasi oleh ee Bu Doti. Nah, ini
Bapak Ibu sekalian variasinya ya.
Berkaitan dengan gedung hotel, villa
milik instansi ada 67, kendaraan kantor
ada
27,56%, anggaran kantor
11,86%, air listrik dan Wi kantor ada.
Nah, ini ya kita ini sering semua hampir
di Indonesia untuk menjadi sebuah
kebiasaan kan ya.
Bagaimana dengan frekuensi
penyalahgunaan pemenang instansi premer
yang diketahui oleh sesama
pegawai yang menyatakan sering
melihat ya sesama pegawai itu ada 10%
berarti dari kalau 10 ya satu dari 9 itu
sering mereka mengakui sendiri mengisi
menyatakan sering ada
32 pers kadang-kadang
dan yang mengatakan jarang ada
58%. Bapak Ibu sekalian, apapun sekecil
apapun 10% ya cukup relatif tinggi ya
itu
sering mengatakan bahwa ada
penyalahgunaan
wewenang
ya berkaitan dengan indeks integritas
nasional.
Nah, ini ini variasi, Pak, ya, dari tiga
kelompok informan, expert, ya. Exp itu
expert. Kemudian internal
ya sepenjam ini pengalaman adanya
praktik punggungli terjadi
di Kementerian, Lembaga dan Pemerintahan
Daerah ya itu
ada 78,9%.
Jadi ee umumnya para ekspert ini
kan ee ini
ya orang yang punya pengalaman yang para
pensiunan, mantan pejabat dan sebag
mengakui
ya secara dari internal ada informasi
bahwa hampir
50% atau 5 dari 10 orang proses
pemilihan diatur untuk menangkan
penyediaan barang dan
jasa meskipun itu udah udae
katalog. Oh ini luar biasa ya. Jadi
sepertinya tadi disampaikan oleh Bu Doti
semakin sulit itu semakin menantang.
Orang Indonesia itu kan punya prinsip
kepepet mulet tahu aja
caranya. Jadi sangat menarik sekali data
ini gitu ya.
Nah, penyedia barang
71,3% penyedia barang dan jasa pemenang
pengadaan memiliki hubungan kedekatan
dengan pejabat.
Penyedia barang dan jasa, pemenang
pengadaan memiliki hubungan kedekatan
dengan pejabat baik dalam kontak
keluarga, organisasi ataupun dukumen dan
sebagainya.
71,3% berarti 7 dari 10 format itu yang
mengikuti proses panduan itu kenal
dekat. Jadi
kalau kalau pengin merintis usaha gitu
mungkin kasarannya gitu ya. ya harus
punya relasi
dulu. Nah, begitu seterusnya berkaitan
dengan data-data yang cukup
memperhatinkan dengan jumlah pegawai
yang menggunakan fasilitas kantor,
kualitas transparansi dan sebagainya itu
masih cukup memperhatinkan. Bagaimana
dengan kondisi di Jawa Timur kalau
dilihat dari angkakannya more less ya
sampai mendekati ya dan sebagainya.
Makanya tadi kalau dilihat perbandingan
saya mencoba membandingkan nasional
dengan Jawa Timur itu skornya tidak
terlalu ee jauh dan sebagainya. Nah, ini
yang poin penting buat kami untuk kami
tawarkan kepada ee teman-teman ASN
berkaitan dengan rencana aksinya. Apa
sih yang harus dilakukan berdasarkan
hasil dari olah data dan FGD dengan para
stakeholder?
Sebetulnya ini
juga apa ya mereduksi dari apa yang
disampaikan oleh Bu Doti tadi dan
sebagainya. kami menawarkan ya model
holistik anti penyimpangan ya ini hasil
kajian kita
sebnya ee ini nanti dari kuadran ini
Bapak Ibu sekalian itu akan memunculkan
rencana-rencana aksi yang biasanya nanti
kami ini sering berdiskusi dengan
teman-teman ee SPI tim SPI di
masing-masing kabupaten daerah yang
datang berkunjung dan berdiskusi tindak
lanjut dengan kita. Jadi kalau apa yang
disampaikan oleh Bu Doti tadi dengan
berbagai macam, apa sih yang harus kita
lakukan? Karena kita sudah kenal nih
hampir semua ee para peserta di sini
pasti kenal apa itu korupsi, pasti paham
itu
korupsi. Pertanyaannya bagaimana
mencegah korupsi? Bukan mencegah anti
korupsi, tapi mencegah korupsi. Nah,
kami menawarkan karena itu tidak bisa
dalam konteks ee individunya saja. Nah,
ini ini pendekatan holistik dalam bentuk
kuadran yang mungkin nanti akan kita
jabarkan menjadi rencana aksi pada rana
mana setiap daerah, setiap instansi,
setiap kementerian, setiap lembaga itu
titik
tekannya ya supaya dari kuadran ini akan
muncul ee tindakan-tindakan yang bisa
atau lebih terukur dalam bentuk
rencanaksi.
ya, kami bagi menjadi ee empat
kuadran dari sumbu pendekatan internal,
eksternal dan dari kelompok individu
atau organisasi. Kita lihat kuadran
pertama yaitu tentang individu internal.
apa menjadi
ee upaya untuk mencegah, upaya untuk ee
menghindari terjadinya tindak korupsi.
Yang pertama yang kita pahami dari apa
yang telah dijelaskan oleh ee Bu Doti di
awal, yaitu gaya hidup.
Gaya hidup ini mendorong orang untuk
melakukan potensi terj penyimpangan.
Mungkin di awal menjadi SN tujuannya
mulia ya. Tapi begitu dia masuk ke gaya
hidup, lifestyle baru atau FOMO
ya, fear of missing out itu takut
ketinggalan segala sesuatu.
Kemudian hari gini belum ganti HP, hari
gini belum punya sepeda motor. Hari gini
belum punya mobil, hari gini belum punya
rumah bagus, hari gini belum punya ee
perangkat teknologi terkini, belum adit.
Itu semua
mengepus ya. Padahal kita punya ee
peribahasa jangan jangan besar-pasar
daripada tiang.
Tapi kan lifestyle kita, gaya hidup
kita. Saya masih ingat di
zaman ee pemerintahan Ordo Baru dulu,
Pak itu pernah
melarang siaran iklan gitu ya, supaya
orang itu tidak terdorong meskipun saya
juga enggak sepakat gitu karena ekonomi
harus bergerak. sebagai seorang ekonom
saya tidak sepakat untuk
itu. Tapi itu ternyata tidak diikuti
oleh perbaikan finansial secara wajar.
Kemudian orang jadi loh ada barang ini
ya, ada barang ini, ada barang belum
lagi melihat tetangga, belum lagi
melihat ini ya keingin gaya hidup gaya
hidup punya pengaruh besar Bapak Ibu
sekalian. Nah, ini juga menjadi
ee langkah pertama yang harus
diperhatikan oleh siapa? dunia
pendidikan Bapak Ibu sekalian di mana
itu ya mulai dari
PAUD kurikulum
kita tidak diajarkan anak untuk menjadi
lebih ee apa membangun gaya hidup yang
ya membangun kelompok-kelompok siswa
yang
egalit kan gitu ya. Tidak. Kemudian ya
mohon maaf saya masih ingat dulu SMA
mungkin baju kan seragam itu semua tu
sepatu juga mungkin relatif seragam
hitam. Sekarang kan enggak lagi Bapak
Ibu
sekalian sekarang kan misalnya HP
misalnya sepeda motor sudah jelas
dilarang tapi kita kan toleran itu
anak-anak itu bisa bawa mobil bisa bawa
kendaraan pada sekolah-sekolah yang
favorit gitu ya.
Kita kan membiarkan asal tidak diparkir
di lingkungan
sekolah. Sehingga masyarakat yang
rumahnya di sekitar lingkungan sekolah
misalnya itu kan membuka lahan
parkir dan kita excuse untuk itu. Nah,
gini loh ya. Jadi ini gaya hidup. Nah,
gimana apa yang harus dilakukan oleh
pemerintah ini, institusi ini untuk
berkaitan dengan kemudian kapasitas
individu. Nah, saya sangat luar biasa.
nya bangsa dan saya merasa terhormat
diundang oleh BPSDM untuk menjadi bagian
di dalam webinar pendidikan esen 15 ini.
Ini adalah upaya atau ikhtiar
meningkatkan
kapasitas individu dalam konteks
knowledge-nya.
Tapi ya jangan kemudian tahu ini
kemudian menjadi lebih excuse kan tadi
kalau kata Buddha. Oh ternyata bisa ya
itu kan sama dengan ee penjahat
kecil-kecilan di penjara. Awalnya dia
hanya mencuri jemuran begitu di penjara
kenal cara mencuri sepeda motor, nyuri
sepeda motor keluar masuk penjara
penjara meningkat pengetahuannya jadi
nyuri mobil. Enggak harus semacam itu,
gitu ya. Tapi justru ee peningkatan
kapasitas individu ini termasuk
nasihat-nasihat pijak ee punya
integritas pribadi dan sebagain adalah
konteks untuk melihat kapasitas individu
harus meningkat. Knowledge-nya,
skill-nya. Skillnya penting juga tadi
kan enggak bisa kita harus bisa jadi
pegawai negeri penghasilan. Skill-nya
gimana? Ada enggak kemampuan
alternatif sehingga oke kita enggak
korupsi di
kantor? Setelah di kantor apa? Gimana
cara cari? Nah, kapasitas individu harus
ditingkatkan, skill-nya harus
ditingkatkan.
Ya, jadi sejak awal
ee bahkan saya pernah dulu pernah ada
mata kul namanya organisasi industri.
Orang itu diajarkan untuk membuat pohon
keputusan. Membuat pohon keputusan. Jadi
kalau saya setelah lulus itu mau jadi
apa ini? Pagai negeri atau
swasta? Kalau negeri apa? Negeri mana?
Ya, pemerintah daerah atau pemerintah
pusat? Kalau pusat seperti dan
sebagainya itu membuat pohon keputus.
Kalau swasta mau usaha sendiri, modal
sendiri atau modal pinjam. Kalau modal
sendiri dari tabungan orang tua atau
keluarga pembuat itu sehingga ini
nulisnya terus-menerus tidak cukup
ngapunten tidak cukup diajari atau
dibekali tentang jangan korupsi ya
jangan menyimpang dan enggak cukup tapi
kapasitas-kapasitas yang lainnya
sehingga mereka itu punya alternatif
pendapatan dan sebagainya ya Bapak Ibu
sekalian. Terus resistensi pada
penyimpangan.
Nah, itu tadi kan cukup
memprihatinkan
tiga dari 10 informan yang jumlahnya
ratusan ribu itu membiarkan, mengetahui
penyimpangan ya dia toleran itu. Nah,
ini kan cukup harusnya dibangun harus
kita punya resistensi risih ya. Ada ada
kerisihan
terhadap satu penyimpangan ya. Nah,
speak up kita tidak diajarkan di
lingkungan kita itu tentang speak up.
Berani ngomong terhadap segala sesuatu
ya. Apalagi kalau yang melakukan atasan.
Kemudian profesionalisme, konsekuensi
logis sebagai ciri masyarakat modern
yang mengerjakan apa yang dia
janjikan, melaksanakan apa yang
diperintahkan secara
kelembagaan
ya. Jadi ada profil ya kerjakan apa yang
di dituliskan yang dideskripsikan.
Kemudian internalisasi integritas
terus-menerus. Tadi sudah cukup banyak
disampaikan oleh Botti membangun diri,
membentengi diri dan
sebagainya ya.
TL-tekline dulu saya cukup senang untuk
ada teleklen. Hari gini belum bayar apa
pajak ya hari gini
ya. Itu
kan apa
ya mengena pasti gitu ya.
Magic of world ya. Kata-kata itu bisa
loh
terus-menerus. Kita itu kalau tiap hari
disebut orang ganteng banget sih kamu,
ganteng banget, cantik banget sih kamu.
Itu tanpa disadari meningkatkan kepedean
kita. Begitu juga kamu kok baik sih?
Kamu kok baik? itu beban loh. Akhirnya
dia enggak akan mau menyimpang itu mikir
ya. Karena tiap hari itu nah orang kita
itu enggak enggak gampang
muji ya. Enggak gampang muji ya. Mahal.
Padahal muji
itu ee sesuatu yang murah dan mampu
meningkatkan integritas. Ya, ketemu
teman ini cantik ini keren banget ya.
Kenapa susah banget malah iri dan syirik
itu yang nah ini yang mungkin perlu
dipang. Nah, sekarang kita lihat kuadran
di internal organisasi. Kebijakan
internal organisasi itu penting Bapak
Ibu
sekalian. Komitmen pemimpin tadi yang
disebutkan
oleh ee Ibu pimpinan tentang kepatuhan
kepada ee aturan main ya. tidak ada
toleransi, tidak ada excuse ya, tidak
ada ya. Jadi kalau disebutkan ee ada
penanya tadi loh enforcem-nya kita ini
apa harus lebih keras? Sebenarnya kalau
kalau kebijakannya dikerjakan dengan
konsisten itu ya enggak perlu sampai ada
hukuman kan, Bapak, Ibu sekalian. Nanti
dari sini ada komitmen dari pemimpin
untuk tegas. Tidak sekedar pemimpin.
Karena gini, ada perbedaan dia pemimpin
atau manajer kan. Kalau pemimpin
orientasinya pada people, kalau manajer
dia orientasinya kepada
prosedur. Nah, pemimpin enggak cukup
saya pemimpin, tapi dia juga harus
sebagai
manajer, gitu ya. Artinya ketaatan pada
prosedur itu harus kekeh. Kalau
orientasi pada people kan kadang muncul
kalimat sakno, kasihan gitu ya. Kasihan.
Okelah kita boleh boleh tapi kan harus
terbatasi oleh yang
namanya ee aturan tadi prosedur. Jadi
positioning dia sebagai pemimpin yang
sekaligus manajer itu harus
bersamaan. Tapi jadi manajer terus
enggak bisa memfungsikan dirinya sebagai
pemimpin. Dia akan kehilangan anak buah.
anak buahnya bapak pimpinan saya itu
semua harus sesuai prosedur sesuai
prosedur gak melihat situasional. Nah,
ini juga perlu juga di perlu
diperhatikan di mana menyeimbangkan itu.
Kalau
gitu apa yang dilakukannya ya
pemimpinnya juga harus ditingkatkan
kapasitasnya Bapak Ibu sekalian.
Kemudian ada budaya organisasi yang
dikenal tadi kalau misalnya ada budaya
malu, ada
budaya disiplin dan sebagainya ya kita
bangun kembali. Bapak, Ibu sekalian,
saya masih ingat ee dulu waktu
ee melamar pekerjaan itu ada salah satu
nasihatnya gini. Kalau kamu sebelum
diwawancara itu harus datang satu hari
sebelumnya untuk melihat apa? Untuk
melihat budaya organisasi dari di mana
instansimu itu nanti
bekerja. Ya, ukurannya seperti apa? Jadi
kalau kamu datang satu hari sebelumnya
kemudian datang setengah jam sebelum jam
masuk kantor tuh lihat pegawai itu
datang lari atau datang dengan
nyantai atau datang
dengan menuju absen gitu ya menuju absen
ya menuju absen itu punya impact dan
sebagainya ini termasuk budaya budaya
organisasi
kemudian Pak ini kan kalau Kalau di kita
kan dulu ada terkenal istilah 70.04 ya,
jam 0. Masuk, setelah itu keluar jam .00
baru masuk lagi untuk absen. Sebetulnya
itu masih bisa diatasi dengan cara
sistem, sensor dan sebagainya. Kalau
kita pergi ke mana ini? Ke mall gitu,
ke apa ini? supermarket atau ke toko
baju pakaian yang menjual yang mal-mal
itu kan setiap barang itu
kan ada kunci yang kalau kita keluar kan
bunyi kalau perlu pegawai gitu
Pak keluar di jam keluar kantor di jam
anu itu bunyi itu jadi masih bisa
diatasi sudutnya diasah sistem jadi dia
mau keluar bunyi didit gitu ya kecuali
dia bisa kan barang itu kalau sudah
dibelikan di dikasir dikeluarin tuh itu
mungkin apa sampai seperti itu Pak itu
kalau sudah saking jengkelnya mungkin
perlu sampai seperti itu, Pak ya. Nah,
cuma jangan kolaborasi dengan petugas
untuk dilepas gitu dan sebagainya. Nah,
itu ini sekaligus menjelaskan tentang
sistem kerja berbasis elektronik ya.
Jadi
meratakan manusia seperti
robot. Robot masih lebih disiplin, Pak.
sudah disiplin kerja, kerjanya terukur
enggak korupsi kan. Kalau kita ini
enggak terukur, enggak disiplin, korupsi
gitu mending robot ya. Terukur kerjanya
produktif korupsi mungkin masih
dimaklumi ya dan sebagainya. Waskat
pengawasan melekat harus tetap jalan
konsep lama tapi terus-menerus bukan
kemudian pengawasan melekat hanya pada
satu dua orang tertentu gitu ya. Tapi
holistik harus semuanya diperlukan adil
dari konsep ini. Kemudian insentif
kinerja,
Pak. Kita enggak bisa ngomong
misalnya ee
misalnya ya kita kan sudah sepakat jadi
AS gak Pak. Sistem stake and cariet itu
mungkin tetap penting, Pak. kan enggak
gampang mengeluarkan itu. Mari kita cari
pola-pola pendekatan dari
beberapa ee restoran-restoran
internasional itu. Jadi gini, Pak.
Selalu
dirilis karyawan terbaik bulan
ini. Selalu dirilis manajer terbaik
bulan
ini. Nah, itu nanti kalau berturut-turut
dalam bulan dia memenangkan positioning
itu, maka dia dapat bonus. Entah mau
liburan ke luar kota bersama keluarga
entah ke luar negeri entah apa itu
enggak usah kalau bonus basisnya indik
pr kerja atau semua dapat semua ini
kerja bagus enggak bagus semua pasti
dapat itu juga enggak mendidik gitu ya
tapi
insentif apa ya apresiasi dari
organisasi itu penting
penghargaan-penghargaan diumumkan ini
loh karyawan terbaik bulan karena pada
dasarnya semua orang pengin dipuji
pengin dilemm ya. Baik dilem konteks
individu tadi di dalam pendekatan
internal individu maupun pendekatan
internal organisasi itu penting sebagai
bentuk apresiasi. Nah, bagaimana dengan
individu
eksternal? Nah, ini cukup menarik ya.
Per
masyarakat. Saya sangat senang waktu FGD
di Pitan.
ee saya dapat informasi yang wow buat
saya. Saya senang sekali dari Ibu
Sekretaris Inspektorat singkat saya.
Ternyata gini Bapak Ibu sekalian pada
daerah-daerah pada kelompok mas atau
lingkungan masyarakat yang masyarakatnya
julit. Julit
itu wis bahas saya banget. Jadi
semakin enggak terlalu kompleks
masyarakatnya satu daerah dan tahu
ASN enggak mungkin dia bisa beli mobil
itu diomongin oleh masyarakat itu
ternyata berpengaruh besar dan saya
dapat informasi itu luar biasa masukan
oh gitu ya asik juga kalau masyarakat
kalau Surabaya kan kita enggak mau tahu
kok kalau Bapak mau ASN mau jadi apa aja
mau beli ma kan enggak pernah dipikir
oleh masyarakat tetangga kanan kiri tapi
kalau di
daerah ya masyarakatnya julit itu
penting ternyata ya digunem atau
dibicarakan atau dipertanyakan itu salah
satu bentuk kontrol dari masyarakat kita
masyarakat
kita ya jadi media sosial peran media
sosial itu kan ekspresi dari kejulutan
yang kemudian ditumpahkan ke media
sosial itu bisa memberikan kontrol ya
bisa
memberikan upaya-upaya untuk melakukan
pencegahan Bapak Ibu sekalian Ya, ini
sebagai bentuk dari pengawasan publik.
Tadi juga disebutkan oleh Butoti tentang
peran keluarga. E menurut kami keluarga
itu individu yang
eksternal ya, bukan dari dirinya tapi
pengaruh dari keluarga. Ada orang yang
kuat dari pengaruh keluarganya tapi ada
orang kuat enggak tega men keluarganya.
Ya. Ee ee jangan sampai nanti keluarga
saya miskin, jangan sampai keluarga dan
sebagainya ya, Bapak Ibu sekalian ya.
itu juga penting ternyata nilai-nilai
keluarga ya. Dulu ada film apa ya?
Keluarga harmoni itu apa itu ya? Nah,
itu luar biasa itu filmf film-film
semacam itu kan sekarang sudah enggak
ada Bapak Ibus ya. Kita sekarang malah
banyak disukuhi itu film-film yang
sifatnya itu menakutkan ya. Poconglah,
rumah hantuah ya, suster ngesot lah.
Tapi nilai-nilai keluarga enggak dapat
lagi loh dulu. Itu keluarga cemara gitu
misalnya kan enggak ada. Itu gimana
internalisasi nilai itu muncul di
keluarga kita. Wong isinya itu film-film
setan semua kita. Coba ibu sekalian
kodrat misal misalnya gitu contoh ya
gitu loh. Jadi makanya sangat
mengejutkan ketika ada film apa itu
kartun yang dalam 10 hari bisa ditonton
sampai 5 jumbo itu ya nilai nilai-nilai
kebersamaan. Nah, itu penting Bapak Ibu
sekalian. Menurut saya ini
artinya ada kebijakan
eksternal
ya di level organisasi. Bagaimana itu
misalnya pemerintah meng-endorse,
mengpus, mendorong, memfasilitasi,
membuat gitu ya film-film yang sifatnya
edukasi dan masuk di ruang keluarga
bukan lagi maaf ya sinetron-sinetron
yang mendorong mengepus munculnya gaya
hidup baru, gaya hidup yang sebetulnya
enggak realistis. sekarang ngapunten
panjenengan kalau di Jakarta ketemu
banyak orang tampilan luar biasa itu di
mall-mall dengan tampilan glamornya
dengan padahal di rumahnya dia dari
keluarganya masuk kampung lorong kok
enggak jelas meang dalam kehidupan
realitas sosialnya itu enggak seperti
gaya glamornya dia di mall-mall itor
segala ini kan ya itu tadi yang fomo
tadi gaya hidup dari mana itu mereka
dapat film-film di keluarga, di ruang
publik, di ruang keluarga itu sudah
tidak mendapatkan nilai-nilai baru dan
sebagainya. Nah, itu Bapak, Ibu sekalian
di intern. Dan terakhir dari saya yaitu
tentang eksternal organisasi. Makanya
penting di sini kajian pemerintah pusat
dalam konteks dunia pendidikan membangun
ya membangun kurikulum
yang ee satu saat saya pernah dengan
salah satu direktur pembelajaran
mahasiswa Belmawa itu diskusi ee beliau
cerita tentang kenapa ya pendidikan kita
ini semakin ke sini semakin individ
semakin orang itu mudah untuk berkelai
Laworan target geng ngantar gitu kok
enggak semakin maju. Tapi justru kenapa
zaman dulu itu tidak seperti munculnya
nasionalisme bangga sebagai suatu bangsa
kan gitu. Kenapa ya dan sebagainya? Nah,
ini kan menunjukkan bahwa kita perlu
perlu duduk kembali, perlu merenungkan
arah pendidikan kita itu ke mana, Bapak,
Ibu sekalian ya, kebijakan pemerintah
untuk jadi kita kan enggak bisa nyalakan
yang ngapunten. Kalau dari data KPK kan
99% para korupsi itu orang dari lulusan
perguruan tinggi loh, Bapak Ibu
sekalian. Lulusan perguruan tinggi orang
yang eh well educated gitu ya.
Orang-orang yang teredukasi dengan baik.
gitu ya. Ya, paham loh itu kenal. Jadi
semakin pintar itu semakin tahu cela
gitu ya. Ini kan kebalik. Nah, makanya
tadi masa gak ada bangga-bangannya
Indonesia itu makanya saya selalu
menyampaikan kepada mahasiswa saya
termasuk Amerika itu sudah mikirin
pindah
planet. Indonesia itu masih ngomong
pansos. Mereka itu sudah mikiri mineral
di
planet-planet luar angkasa.
kita masih korupsi tambah
mineral kan gitu Bapak Ibu sekalian kan
jauh banget
gapnya ini kan perlu kita renungkan
sebagai bang nilai ini, pemahaman ini
kan harus terus-menerus disampaikan
kepada generasi muda, generasi mungkin
agak susahlah mengcut atau mendidik
memaksa birokrat sekarang ini sampai
masa-masa yang konnya. Okelah kita
bangun generasi baru sebaiknya kita
bangun generasi baru untuk kita
putus. Nah itu dari mana ya kebijakan
pemerintah penegakan hukum tadi l
investment tadi
ya jadi di era diputus dalam satu
generasi ya itu harus komitmen
bersama ya dan sebagainya.
Nah, dan yang sedikit mungkin lebih
aplikatif ya dibangunlah sistem aplikasi
integrit. Saya berharap ya saya pernah
ketemu sama Mas Rul ya yang mengerjakan
pekerjaan Indonesia satu data itu susah
enggak sih menjadikan susah karena setia
birokasi itu punya berapa aplikasi dan
sebagainya ya sudah terlanjur semacam
tapi dengan adanya sistem aplikasi
terintegrated ya integrated ya Bapak Ibu
sekalian kita lihatlah e-commerce
e-commerce itu kan kenapa mereka itu
bisa kenapa kita enggak
bisa ya kalau boleh saya sebut
internasional
misada misalnya ya atau misalnya ee apa
ini
namanya Alibaba ya dan sebagainya bisa
mengangin sendiri itu kan memang dan
mereka menjadi barang-barangnya
kompetitif layanannya begitu cepat
begitu
ee atau sfi misalnya misalnya ada
keluhan bisa direspon sebegitu cepat di
kita gimana Bapak Ibu sekalian? Apa
secepat
itu? Nah, ini ini harus dilakukan
bersama-sama, Pak. Gak bisa ASN-nya
dipukuli terus tapi sistem enggak
mendukung. Komitmen atasan gak ada,
kebijakan gak mendukung. J waduh
ya kata orang Surabaya Bunda semua
enggak
bisa. Semua ini harus di bisa dilakukan
secara bersama-sama. Kalau semua ini
dilakukan bersama-sama, saya yakin ya
kita akan sampai kita kenal korupsi,
kita paham korupsi, dan kita bisa
menghindari korupsi. Saya kira itu yang
bisa saya sampaikan ee Mas Lukman ee
untuk membuka wacana, membuka pemikiran
berkaitan dengan gerakan anti korupsi.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Thank you, Pak Eko. Eh,
fakta-fakta yang cukup ini ya, Pak ya,
menyakitkan ya, Pak ya. Tadi sudah
dijelaskan sebenarnya oleh Bu Doti
bahwasanya ketika survei penilaian
integritas ini memang kita masih rentan
terhadap perilaku korupsi dan
didetailkan tadi oleh Bapak bahwasanya
sikap toleran masyarakat Indonesia
terhadap korupsi jujur rada miris gitu
ya. Saya jadi bertanya-tanya nih, Pak.
Sebenarnya kapan ya, Pak ya, Indonesia
itu bisa setara dengan Singapura yang
tadi apa nilai IPK apa e nilai indeks
pencegahan korupsinya itu tinggi gitu
loh. Apalagi ya, Pak ya, di tahun 2045,
Pak, kita kan mau Indonesia emas ya.
Jadinya apa benar Indonesia emas atau
Indonesia cemas gitu? Kalau pandangan
Pak Eko gimana, Pak? Oke. E Indonesia
emas mulai sudah mulai dari sekarang ya,
harga emas naik terus kan. Oh, iya
betul. Gamemas naik terus. Tapi
maksudnya bukan konteks itu ya, Pak ya.
Oke. Ee ee gini, di saat bisa enggak sih
kita ngejar Singapura? Gak ada yang
enggak bisa di dunia ini. Pasti bisa kan
gitu ya. Tapi ketika kita sampai
Singapura, Singapura sudah pindah ke
lebih atas lagi kan gitu ya. Heeh. Kan
harus bergerak terus sampai pada piknya
pada satu tertentu. Heeh.
Ee saya juga sering menyampaikan kepada
mahasiswa saya kan gitu ya kan enggak
ada alasan kita ini enggak menyamai
Singapura itu negeri seluas apa sih kan
gitu ya negeri sama Jawa Timur aja
mereka bisa negeri sekecil ya apa kita
menjadi negeri kecil aja supaya bisa
seperti Singapura kan enggak juga kan
gitu Singapura itu bisa sampai di tahap
itu karena apa di sana memang penegaran
hukumnya luar bias komitmennya luar
biasa coba Mbak bandingkan perkapita
mereka. Kita kan juga enggak bisa apple
to Apple bandingkan dengan Singapura
dapat buatan mereka 49.000 US dolar.
Kita kan 3,09 US dollar jauh banget gitu
ya kita dipaksa makanya ya komitmen dong
sudah sepakat jadi ASN enggak juga
semacam itu kan gitu ya. Ya ini makanya
tadi kalau uang korupsi itu bisa
terdistribusi kembali maka fungsi
pemerintah di dalam ekonomi publik itu
Mas Heeh. itu ada mendedistribusikan
kembali kekayaan alam ini gitu dan tidak
boleh ada makanya biar tidak terjadi
jadi polition tadi dalam ekonomi publik
itu begini disebutkan gini
ya kita itu harus memilih memilih apa
memilih gini positioning kita itu
sebagai pemerintah itu harusnya kan
mengatur mengarahkan ngawasi terhadap
kekayaan ya swasta itu diatur diarahk
dan diawasi
Benar enggak? Betul. Tapi di Indonesia
ini conflict of interest, pihak yang
diatur, diarahkan, dan diawasi itu
sekarang jadi pihak yang mengatur,
mengarahkan dan ngawasi. Jadi pihak yang
sama ya, Pak ya? Sama public of
interest. Jadi dia tahu itu semuanya.
Nah, itu komitmen itu dulu. Jadi jangan
ngomong sampai ke Singapura lama tuh.
Maka kita harus bisa memisahkan kamu
kalau jadi pihak yang mengatur
mengarahkan, mengawasi ya jangan jadi
pengusaha dong. Jadi pihak yang diatur
diarahkan diawasi. Kamu kalau memilih
pihak yang diatur diarahkan diawasi ya
jangan dari pihak yang mengatur
ngarahkan ngawasi. Kamu sudah pengusaha
tapi kamu menjadi pejabat yang mengatur
gimana? Conflic of interest gitu. Nah,
itu dulu dong dibenahi dulu. Kalau itu
it's oke mungkin kita akan sampai pada
titik yang kita harapkan bersama. Itu
maksudnya. Benar. Benar Pak Eko. Ee
sekedar curhatan ya, Pak ya. ee waktu
kemarin yang korupsi di bahan bakar
minyak itu muncul ee muncul
reaction-reaction dari media sosial Pak
TikTok gitu ya, Pak ya. Bahwa
orang-orang itu akan lebih memilih untuk
melakukan korupsi karena hukum bisa
ditaklukkan dengan mudah gitu
dibandingkan dengan apa yang mereka
dapat gitu. Nah, saya rada miris jujur
dengan opini-opini seperti itu yang
banyak disetujui oleh masyarakat kita di
TikTok media sosial gitu. Kalau menurut
Pak Eko tadi kan juga terkait dengan
model holistik anti penyimpangan kan itu
masuk di salah satunya di eksternal dan
individu pengawasan media sosial gitu
ya. Bagaimana intervensi dari pemerintah
untuk bisa menangani isu tersebut supaya
persepsi atau mindset di publik itu
sudah bisa kita kendalikan dan tidak
kacau balau seperti situasi sekarang
ini, Pak?
Oke. Oke. Oke. Jadi, jadi gini, saya
pernah satu diskusi gitu forum dengan
teman dengan lihat korupsi dengan saya
sampai pada ekstrem gini. Indonesia itu
kalau pengin dibayar lebih baik dan
terjad redistribusi
kekuasaan kasih kebijakan tentang pajak
hukum Paris. Hukum pajak Paris. Jadi
enggak bisa tuh. Saya kong belum rani.
Begitu saya meninggal 50% kekayaan saya
masuk negara.
Oke. Jadi akan memunculkan orang-orang
kaya baru. Heeh. Bukan oligarki. Heeh.
Iya kan? Heeh. Terus su kalau gitu saya
ngapain dong numpuk kayaan besar-besar.
Iya. Toh nanti kalau saya meninggal itu
enggak ke anak saya kan dirampas oleh
negara. Jadi dibatasi oleh sebuah sistem
dulu. Oke. Kan gitu. Orang ngapain si
ngumpul tuh nanti pasti kena pajaknya
itu masuk negara tuh 50%. Iya. Benar ya.
Heeh. Nah, sehingga masyarakat itu semua
terdistribusi dari kekayaan negara.
Ingat loh, setiap satu nyawa penduduk
Indonesia itu adalah pemegas saham
republik ini. Ya, sepakat benar enggak?
Iya, kan? Pemilih saham. Jadi mereka
berhak untuk mendapatkan semua kekayaan
ada di negeri ini. Kapan itu diberikan?
Kita enggak pernah kan dilibatkan di
dalam proses rapat pemegang saham nih.
Kan enggak. Heeh. So, kalau gitu negara
dong paling di kiri kan fungsi negara
dalam pentingnya mendistribusikan semua
aset ini kepada seluruh pemilik saham.
Nah, kita pemilik saham dong. Jadi
enggak adil kalau kemudian yang dapat
adalah mereka-mereka
aja. Ini saya sampai pada satu karena
itu salah satu cara supaya orang enggak
jadi apatis Ded ya. Itu kan bentuk
apatis ya. Yang bahaya apatis itu kan
munculnya fatalism ya. Fatalism
kepasrahan. Wis percumlah.
Wis kalau enggak melok ya enggak keduman
kan gitu. Itu fatalism. Kalau sudah
seperti itu, Mas. Iya. Ya benar kata Pak
Brow Pak Prabowo dulu ya Indonesia itu
akan hilang. He kan gitu ya. Indonesia
akan hilang. Sudah fatalis pasrah sudah
gimana kan gitu ya. Ingat loh Indonesia
itu saya enggak nyuruh naturalisasi ya,
tapi kita masuk Piala dunia itu kan
faktor naturalisasi mentrigger kita bisa
masuk Piala Kan U17 kita itu bagi saya
mengangin insight. So kalau gitu kita
belajar harus tidak belajar biasa-biasa
saja itu belajar dari sesuatu yang
enggak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Kebijakan naturalisme itu bagus dalam
konteks ini gitu ya. Artinya open mind
kita untuk belajar. Jadi kita membuat
pilihan-pilihan tadi kalau saya beli
ekstrem wis paris itu 50% masuk negara
biar ada distribusi
kita kebagian Mas Lukman. Oke siap-siap
Pak Eko. Thank you Pak. Ini ada satu
penanya masuk Pak. Kita akan masuk ke
Q&A session terlebih dahulu. Silakan Pak
Dani.
Baik terima kasih.
Ya, silakan, Pak. Suara saya ya sudah
terdengar, Pak.
Terima kasih. Menarik sekali tadi yang
disampaikan ee yang di poin terakhir ya
tadi disampaikan ee fatalism dan He
ini lazim. Jadi saya menanggapi fatalism
ini lazim terjadi di kita bahwasanya
kalau enggak ikut ya enggak dapat gitu
kan.
Ee kemudian dan ironinya fatalism ini
juga ada keteladanan yang tidak bisa
kita contoh gitu. Jadi ee dalam waktu
dekat ini kita sudah melihat banyak ee
keteladanan yang tidak bisa diteladani
gitu. Aturan mengganggu rubah aturannya
gitu. Ini saya kira sangat bertolak
belakang sekali dengan kondisi yang ada.
yang ingin saya tanyakan
yaitu ee ketika keteladanan ini tidak
terjadi apa yang perlu kita lakukan
gitu. Jadi kita melihat biasa kalau kami
dari ASN di bawah melihat atasannya,
atasannya melihat atasannya lagi. Bahkan
ee keteladanan ini tidak terjadi ketika
setoran itu masih ada gitu. Jadi ee
mohon petunjuknya apabila kita melihat
situasi yang seperti ini, kita harus
bagaimana gitu. Terima kasih. Ee saya
jawab langsung ya, Mas Lukman ya.
Oke, terima kasih Pak Dani. Tadi di poin
terakhir saya, saya bilang itu. Kita itu
kalau waktu belum ada naturalisasi sepak
bola sampai kapanpak sulit kita masuk di
level yang lebih bagus. Faktor luar itu
ternyata berpengaruh besar kan gitu ya.
sama fatalism menerima yang pandum
menerima kenyataan ini itu kalau
dipelihara terus-menerus rusak pasien
kalau keteladanan memang enggak ada,
kita harus ngambil dari luar. No choice,
tidak ada pilihan lain. Kita harus punya
eh breakthrough, harus punya terobosan.
pola yang didekat di pakai PS itu bisa
kita kita ambil contoh lain, kita ambil
kita ambil contoh lain, kita ambil orang
lain untuk memperbanai kita ini semua
karena faktanya sudah enggak ada contoh,
Pak. Loh, Pak, gimana caranya wong ini
birokrasi? Saya sampai pada satu
kesimpulan gini, Pak, saking gregetannya
dalam diskusi itu, kalau gitu negara ini
serahkan saja pada outsourcing, pada
kelompok profesional. Enggak ada
birokrasi pada momen pada
kelompok-kelompok tertentu dikelola oleh
orang profesional. Bayar naturalisasi
kan kayak gitu, Pak. Bayar
kelola pada bagian-bagian pada industri
yang memang kita hir orang-orang
orang-orang dengan kapasitas yang luar
biasa yang punya. Jadi enggak jangan
diasn-kan sampai kemudian nulari Pak.
nulari ini pola ini nulari kan nular
hidup itu Pak contoh baik kan jadi pola
pendekatan yang dilakukan oleh mohon
maaf ya gak ada hubungannya saya cinta
dan sebagain cara yang dikerjakan oleh
kalau orang gemar bola ST atau Sintayong
itu nulari kepada yang lainnya kepada
Nova
Harianto kan ada intervensi pendidikan
yang luar biasa mindset baru di dalam
melakukan sama Pak birokrasi begitu Itu
menurut saya kalau memang sudah enggak
bisa contoh memang kita terus ya ya
sudahlah gimana lading gimana gak bisa
di sini peran keberanian breakthrough
itu kita panggil profesional kita garap
kita serahi kayak semacam unit khusus
sampai kemudian terpolak sehingga
terjadi proses evolusi pergantian
kepemimpinan dengan gaya
baru dengan ritme baru dengan mekanisme
baru dengan pola pikir baru insyaallah
Indonesia akan jadi lebih baik. Nah,
gitu Pak Dani ya. Tidak ee saya sedikit
pesimis karena dan saya kalau jenengan
menanggapi Mas moderator mohon maaf
ee membicarakan tentang evolusi kita ini
kan satu sistem gitu. Jadi sedangkan
reformasi yang sudah kita gadang-gadang
saja ee mungkin tidak bisa dikatakan
berhasil gitu apalagi evolusi. Nah, saya
tertarik. Jadi mungkin kenapa saat ini
ASN tidak banyak dib ee tidak dibuka,
tetapi P3K mungkin akan ngubah itu
sedikit-sedikit.
ee tetapi yang sudah ada
pun masih buat kita semua bahwasanya
sistem ini juga perlu dibenahi. Dulu
waktu saya
masih idealis, masih muda, sekarang
sudah medium, itu pernah mengusulkan
potong generasi karena ya saya melihat
keteladanan itu tidak terjadi gitu. Dan
mungkin kalau sekarang kita mau potong
generasi sangat tidak mungkin lagi.
Apalagi ee Undang-Undang TNI Polri itu
yang baru memungkinkan mereka di
usia-usia yang sudah lanjut untuk masih
tetap berkarya. Terima kasih.
Nggih. Saya suka kenapa saya ngomong
evolusi? Kan pendekatan sosial itu kan
revolusi atau evolusi kan gitu ya.
Revolusi enggak dikenal di kita dengan
adanya undang-undang kita. proses
evolusi itu didekati dengan cara yang
baru tadi dengan masuknya intervensi
baru itu evolusi dengan proses perubahan
ee yang baru. Jadi kalau kemudian ada
profesional yang masuk di kita enggak
usah direcoki, biarin aja. Ngapunten ya.
Ngapunten. Kasih saya contoh contoh
tentang STY tadi. Bagaimana dia kekennya
dia tidak bisa diintervensi untuk ee
pemain titipan
Pak. Kekennya dia ada hasilnya tuh sama
nanti profesional ya. Jangan kemudian
ditambahi tim titipan. Kalau itu ya sama
aja gitu. Nah, proses ini pasti cepat
atau lambat gitu ya akan menciptakan
karena kita kan enggak mengenal revolusi
misalnya kan gitu Pak. Revolusi sudah
cukuplah 17 Agustus gitu. Kita memproses
itu sehingga nanti ada regenerasi baru,
nilai-nilai baru ditanamkan yang kan
gini kita menciptakan virus kebaikan
baru kan yang nular itu kan virus Pak
ya. Virus kebaikan baru dengan cara apa?
ngambil virus baru yang bagus dari luar
kita tanamkan itu. Nah, gitu. Kalau
nunggu kita, Pak. Nunggu jenengan saya,
waduh Pakarene wong Surabaya ngenteni
linggis
kambeng. Lama, Pak. Lama banget itu
evolusinya itu
lama. Itu Pak Dani ya, Pak Dani mohon
maaf ini kayak Surabaya gini. Terima
kasih. Gigih. Nggih. Nggih. N ni untuk
pertanyaannya Pak Eko. Saya sebetulnya
punya satu pertanyaan tapi enggak bisa
saya sampaikan karena waktunya terbatas.
Mungkin nanti ke depan kita bisa diskusi
langsung gitu ya, Pak. Harapannya Bapak
bisa main-main ke BPSDMJAT nih, Pak.
Kapan-kapan, Pak. Iya. Siap, Pak Eko.
Barangkali sebelum ditutup bisa dibantu
untuk berikan closing statement, Pak.
Silakan, Pak. Oke. Baik, terima kasih.
Eh, closing statement saya
eh satu.
resistensi kepada penyimpangan harus
kita
tingkatkan resistensi pada dua openm
keterbukaan pada diri kita harus banyak
belajar
ee investasi 1 hari bajet 1
jam untuk meningkatkan kita.
Yang
ketiga, berani
untuk berbuat baik. Saya kira itu tiga
hal yang mungkin perlu kita bangun dari
diri kita sebagai tagline dari ee tema
hari ini. Resistensi, pengembangan
knowledge, dan berani berbuat baik.
Thank you, Pak Eko sekali lagi untuk
seluruh insetnya. Semoga berkah untuk
Bapak. Salam sehat selalu, Pak. Thank
you, Pak. Amin.
Baik, Sobat ASN di mana pun Anda berada.
Kita masih punya satu sesi terakhir
sebelum kita akhiri webinar ASN belajar
seri 15. Jangan ke mana-mana, kita
kembali setelah jeda pandiwara berikut
ini.
[Musik]
Anda kembali lagi menyaksikan webinar
ASN belajar seri 15. Kenali, Pahami, Ceg
Anti Korupsi dimulai dari kita. Kali ini
kita sudah kedatangan tamu spesial Pak
Heri Santoso, S, M. AK. Beliau selaku
ahli pembangun integritas utama
Inspektorat Provinsi Jawa Timur. Saya
akan sapa beliau. Selamat siang, Pak
Heri.
Selamat siang, Mas Lukman. Kabar baik,
Pak Heri? Alhamdulillah baik semua. Tadi
di sesi pertama dan kedua kita sudah
disuguhi dengan banyak sekali
fakta-fakta yang menyakitkan bahwasanya
masyarakat Indonesia sebenarnya
mempunyai sikap toleran terhadap korupsi
yang cenderung miris. Kali ini kita akan
coba mendengarkan point of view dari Pak
Heri Santoso. Bagaimana sebenarnya kita
bisa membentuk culture atau budaya yang
baik yang berintegritas di kalangan ASN.
Saya langsung saja persilakan kepada Pak
Heri untuk menyampaikan materinya.
Silakan, Pak. Oke. Siap. Matur nuwun,
Mas Rman. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
integritas buat sobat ASN semua. Yang
terhormat Pak Ramli mungkin masih
bergabung. Kemudian Bu Toti dan Pak Eko.
Alhamdulillah pada siang hari ini kita
masih bergabung pada
kegiatan ASN Belajar ya. Jadi Bapak Ibu
semua memang tadi sudah disampaikan oleh
Bu Toti maupun Pak Eko bahwa rapot untuk
pencegahan korupsi di negara
kita itu sangat ee kurang bagus sekali
ya. mulai dari internasional, kemudian
di nasional maupun di Provinsi Jawa
Timur itu pun juga kita sangat ee kurang
bagus sekali nilainya.
Jadi ee itu semua memang salah satu
penyebab tadi sudah disampaikan secara
detail oleh Bu Toti maupun
Pakeno. Dan kami
selaku
ee ahli pembangun integritas terutama di
Inspektorat PI Jawa Timur
juga diundang dalam rangka untuk
menyampaikan apa-apa atau upaya apa yang
dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jawa
Timur.
dalam rangka untuk melakukan pencegahan
korupsi khususnya di Provinsi Jawa
Timur. Namun ee sebelum akan saya mulai
untuk
ee
slide-nya bentar Bapak Ibu
ya.
Sudah kelihatan ya slide-nya Bapak Ibu.
Loading Pak Heri? Sudah sudah kelihatan.
Masih loading Bapak. Oh iya. Oke, jadi
pada akhir-akhir ini Bapak, Ibu atau
Sobat ASN semua sering kita lihat ya di
TikTok itu. Jadi ditampilkan jejak
digital dari tokoh-tokoh atau para
pejabat yang dulunya sebelum menjabat
bicaraan namun setelah menjabat berbeda
sama yang disampaikan.
Jadi sering itu mulai dari pemerintah
pusat sampai dengan pemerintah daerah
bahkan juga sampai pasangan pun
ditampilkan juga bahwa seringki dari
jejak digital yang ada di medsos itu
seringki tidak adanya konsistensi Bapak
Ibu ya. Jadi konsistensi antara apa yang
diucapkan dulu dengan apa yang dilakukan
pada saat ini. Jadi
seringki sudah sudah tampil Mas Lukman
belum
Pak. Barangkali dari Pak Heri ada tim
yang membantu, Pak. Apa mungkin dari ini
tim
BPSDN kami sudah boleh kami bantu ya,
Pak untuk share slide-nya Pak. Iya yang
fix ya.
Ya. Jadi kami lanjutkan Bapak Ibu. Jadi
pada intinya konsistensi antara apa yang
diucapkan dengan apa yang dilakukan itu
sangat dibutuhkan sekali pada saat ini.
Itulah namanya integritas. Jadi
seringki ee sebelumnya kita ngomong A,
namun saat menjabat. Nah, itu
seringkiali sudah berbeda. Kalau dalam
bahasa jawanya itu bisa disebut dengan
jarkoni. Jarkoni itu iso ngujar ora iso
ngelakoni. Nah, itu seringki yang ada.
Jadi kalau bagi sobat ASN yang ada di
luar pulau Jawa
mungkin apa artinya iso ngujar ora iso
ngelakoni. Jadi ora jadi ngujar itu dia
itu pandai kalau berkata-kata dalam
berberita itu itu pandai tapi pada
akhirnya apa yang
disampaikan apa yang seringki
dipidatokan itu tidak sesuai dengan apa
yang dilaksanakan dan dalam era apa era
medsos saat ini seringki itu ditampil
kembali dalam bentuk TikTok atau realil
atau di Instagram atau sebagainya
seringkiali ketika sebelum menjawab
jabat. Kemudian setelah menjabat itu
sangat berbeda sekali dan ini akibatnya
mempengaruhi ee kekurang percayaan pada
masyarakat atau publik bahwa sebenarnya
kalau orang sudah menjabat itu akhirnya
apa-apa
yang diidealkan atau diwacanakan yang
baik itu akan berubah. Jadi di sini kami
akan menampilkan terkait integritas.
tadi juga sudah disebut oleh Bu Toti
maupun Pak Eko. Jadi, integritas itu
merupakan karakter yang menunjukkan
konsistensi ya. Ee sebelumnya Mas
sebelumnya jadi karakter ini menunjukkan
konsistensi antara perkataan dan
perbuatan seseorang yang di dalamnya
mengandung nilai kejujuran, keteladanan,
keadilan, dan bertanggung jawab. Jadi
konsistensi ini yang kita butuhkan saat
ini. Jadi seringki kalau orang ketika
sudah menjabat itu sudah berbeda antara
apa yang diomongkan dulu sama yang
dilakukan dan itu tak terjadi mulai dari
pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah ya. Jadi kalau sampai pernah kita
apa kita tuangkan juga ini di slide juga
dari Bung Hatta atau Muhammad Hatta
bahwa beliau pernah menyampaikan kurang
cerdas itu dapat diperbaiki dengan
belajar sedangkan kurang cakap dapat
dihilangkan dengan pengalaman namun
tidak jujur itu sulit diperbaiki. Jadi
kejujuran inilah adalah yang sumber dari
pembentukan integritas pada diri kita
masing-masing. Ya. Jadi kalau kita
sebelum memulai ee
memperbaiki instansi kita atau
pemerintah kita, ya kita juga harus bisa
memperbaiki diri kita sendiri. Maka ini
sangat pas sekali dengan tema ASN
belajar ini, yaitu kenali, pahami, cegah
korupsi. Berarti sudah bisa diralat oleh
Pak Eko ya, mulai dari diri kita
sendiri.
Lanjut. Jadi karakter integritas itu
apa? Ini yang perlu kami sampaikan
Bapak, Ibu ya. Jadi karakter integritas
itu adalah bersikap jujur, tulus, dan
dapat dipercaya. Jujur ini memang tadi
sudah disampaikan oleh Bung Hatta bahwa
itu sangat sulit sekali sehingga pernah
ada ini salah satu apa pimpinan yang
mengatakan lebih baik saya
diberikan satu orang jujur daripada
diberikan 10 orang yang pintar.
Karena kalau orang pintar kalau enggak
jujur itu sama saja nanti malah bisa ee
meruntuhkan nilai-nilai yang ada di
suatu instansi atau
organisasi. Dan di jujur ini ee ini
pernah Bapak Ibu saya cerita tentang
pengalaman kami waktu ngajar.
Jujur waktu saya ngajar di apa di
orientasi di DPRD itu ada yang pernah
menyampaikan, "Pak, kalau jujur ini
sangat sulit sekali, Pak. Apalagi di
rumah tangga." Jadi kalau di rumah
tangga itu kalau saya jujur, nah itu
bisa malah-malah rumah tangga kami ini
enggak harmonis. Karena apa? Kalau saya
jujur dapat berapa, dapat berapa, saya
berikan ya saya dapat apa, mau pergi ke
mana saya harus jujur. Lah artinya jujur
di sini ini berbeda konteks dengan jujur
yang ada di rumah tangga Bapak, Ibu ya.
Jadi kalau jujur sini adalah dalam
rangka untuk pelaksanaan
tugas Bapak, Ibu selaku ASN atau pegawai
yang digaji ya. Jadi selaku ASN atau
pegawai yang digaji itu harus
menampilkan karakter jujur. Jadi jangan
di alihkan atau konteks lain. Jadi jujur
sini memang kita harus benar-benar
jujur. Apa yang kita ee lakukan itu
sesuai dengan kode etik kita atau sesuai
dengan tupoki kita. Kemudian tulus kita
bekerja dalam rangka tulus, ikhlas dan
dapat dipercaya.
meskipun kita nanti jadi pimpinan sampai
level tertinggi pun, tapi
kalau tidak ada kepercayaan pada
masyarakat atau pada publik, ya akhirnya
timbul hal-hal yang terdiri pada saat
ini. Ada demo atau ketidakpuasan atau
kritik atau apapun ya bisa dilakukan
lewat medsos atau demo secara langsung
ya.
Jadi ee karakter integritas yang utama
adalah jujur, tulus, dan dapat
dipercaya. Kemudian berikut adalah
bertindak transparan dan konsisten. Jadi
transparan ini memang kita harus
benar-benar transparan, harus istilahnya
sekarang ee dimulai sistem digitalisasi.
Jadi semua itu harus dilaporkan, harus
transparan ya. sampai-sampai nanti
ketika sampai desa pun di desa itu harus
transparan berapa APBD yang diterima
mulai penerimaan belanja itu harus juga
diilaporkan ya dan itu juga harus
konsisten jangan sampai tahun
ini sangat bagus sekali
pelaporannya kemudian berikutnya enggak
ada pelaporan jadi memang harus
konsisten ya kemudian yang berikutnya
adalah menjaga martabat dan tidak
melakukan ataupun hal-hal tercela. Jadi,
Bapak, Ibu selaku ASN ini juga punya
kode estetik, juga punya ee disiplin
pegawai itu juga harus ditaati. Jadi
ketika sumpah ee ketika menjadi pegawai
pertama kali itu harus dipegang sampai
saat ini. Jadi sumpah itu tidak
diucapkan ketika pertama kali, tapi
tetap harus ditanamkan dalam diri dengan
menjaga martabat dan tidak melakukan
hal-hal tercela. Itu merupakan salah
satu dari karakter integritas. Kemudian
bertanggung jawab atas hasil kerja.
ketika diberikan pekerjaan ya harus
diilaksanakan ya. Jadi seringki ee kami
ini menemui para pegawai yang yang mohon
maaf ya lagi isinya itu lagi ee ngopi
ketika jam kerja. Kemudian kita tanya
mereka, "Pak, ini kenapa Pak kok jam
kerja ini sudah ngopi?" Padahal kan
belum jam istirahat. Eh, bilangnya enak
aja seperti itu lah. Saya kan enggak
diberikan pekerjaan oleh pimpinan, Pak.
Jadi, kan sangat wajar sekali kalau saya
enggak diberi pekerjaan ya otomatis saya
tinggal ngopi. Ya, hal-hal seperti itu
akhirnya saya tanyakan ke pimpinannya
ya. Pimpinannya juga menjawab lah,
bagaimana kita memberi pekerjaan
orang-orang seperti itu ketika diberikan
tanggung jawab pekerjaan enggak selesai.
ketika diberikan tanggung jawab juga
enggak di ee apa diselesaikan secara
tepat waktu. Akhirnya orang-orang
seperti ini menjadikan suatu hal-hal
yang kurang baik bagi pembentukan
integritas yang ada di instansi
tersebut. Jadi selaku pegawai ASN atau
pegawai yang digaji itu harus mempunyai
tanggung jawab dalam hasil kerja sesuai
dengan yang diberikan atau diberikan
pekerjaan oleh pimpinan. Kemudian yang
terakhir adalah bersikap objektif. Jadi
objektif ini juga kita siapapun yang
selaku misalnya kalau Bapak Ibu ASN di
instansi pelayanan maka siapapun yang
melakukan pengurusan itu harus di apa ee
dilayani dengan sepenuh hati. Jadi tidak
hanya orang yang
memberikan uang atau apa atau
gratifikasi itu yang dipercepat tapi
seluruhnya harus dilayani secara
objektif ya. Jadi dalam rangka untuk
pembentukan karakter integritas ini
memang harus kita mulai dari diri kita
sendiri. Jadi tidak mungkin kita
melakukan perubahan di tingkat yang
lebih besar lagi di instansi kita atau
malah di pemerintah daerah atau
pemerintah pusat. Kalau diri kita
sendiri masih belum bisa mencerminkan
sifat-sifat integritas tersebut. Lanjut.
dalam rangka membentukkan integritas.
Tadi saya sebutkan melalui diri sendiri.
Kemudian kalau ini melalui instansi
pemerintah, Bapak, Ibu. Di instansi
pemerintah itu seringkiali kita lihat
ada tulisan zona integritas.
Jadi kalau zona integritas itu
seharusnya orang-orang yang berada di
zona tersebut atau instansi tersebut itu
harus bisa menampilkan karakter-karakter
integritas yang saya sebutkan tadi ya.
Seringki zona integritas ini hanya
semacam simbol aja. Jadi semacam ya tadi
disampaikan oleh Bupi maupun Pak Eko
hanya semacam kampanye aja tapi enggak
ada perubahan. Nah, ini yang
seringki ee menjadikan nilai atau
rapgahan korupsi di negara kita sangat
buruk sekali. Jadi mulai zona integritas
ini
kalau aturannya itu ada di
Permenpan RB nomor 90 tahun 2021 tentang
pembangunan dan evaluasi zona integritas
menuju WBK dan WBM di instansi
pemerintah. Jadi ketika zona integritas
sudah terbentuk maka ditingkatkan
menjadi
WBK, wilayah
bebas dari korupsi. Nah, ini ada
kata-kata darinya ini jangan langsung
wilayah bebas korupsi lah. Ini seringki
singkatan WPK ini seringki bias wilayah
bebas korupsi. Jadi kita bebas korupsi
tadi seperti apa juga disampaikan oleh
Pak Eko ya sebenarnya pencegahan itu di
korupsinya bukan pencegahan anti korupsi
gitu. Jadi secara ee definisi dari WPK
ini wilayah bebas dari korupsi ya. Jadi
ini yang dicita-citakan ketika suatu
instansi sudah melakukan pembentukan
atau pembangunan zona integritas yang
ada di instansinya tersebut. Jadi kalau
suatu instansi sudah menampilkan di
gapurannya atau apa gitu zona
integritas, otomatis itu sudah tidak ada
lagi apa nilai gratifikasi, tidak ada
lagi suap. Namun sebaliknya ya zona
integritas itu hanya semacam
simbol-simbol aja karena memang ee dalam
diri mulai dari pimpinan sampai ke level
bawa pegawai itu kurangnya dari karakter
integritas tersebut ya. Jadi dianggap
korupsi
itu biasa. Kalau kecil sudah dibiasakan,
sedikit dibiasakan. Nanti lama-lama
kalau sudah terbiasa ya akan menjadi
yang lebih besar lagi ya.
Lanjut. Untuk Pemerintah Provinsi Jawa
Timur ee kita
sudah mempunyai instansi-instansi yang
sudah naik dari level zona integritas
tadi Bapak, Ibu ya, yaitu predikat WBK.
Ya, jadi sini sudah banyak instansi di
Pemerintah Jawa Timur maupun unit kerja
yang melakukan pelayanan itu sudah
mendapatkan predikat wilayah bebas dari
korupsi ya. Dan ini juga kita apa kita
upayakan semakin lama semakin bertambah.
Jadi tidak hanya menjadi suatu slogan
saja zona integritas BPK, tapi juga
harus bisa menjadi karakter dari pegawai
yang ada di instansi yang sudah
memperoleh predikat WBK maupun zona
integritas.
Lanjut. Nah, ini sekarang ee dalam
upayah pemerintah Provinsi Jawa Timur
untuk pencegahan korupsi.
Jadi
lanjut. Nah, tadi sudah disampaikan juga
oleh Bu Toti berbagai macam jenis-jenis
korupsi mulai perugian keuangan negara,
kemudian penggelapan dalam jabatan,
perbuatan curang, pemerasan, gratifikasi
suap. Jadi ini semua merupakan ee
unsur-unsur apa yang disebut dengan
jenis tindak pidana korupsi. Tadi sudah
disampaikan oleh Bu Toti secara panjang
lebar. Namun yang akan kami sampaikan
adalah upaya pemerintah Provinsi Jawa
Timur dalam rangka untuk melakukan
pencegahan tindak pidana korupsi.
Lanjut. Ee pertama adalah untuk
pencegahan pungutan liar atau pungli
atau pemerasan dalam unsur korupsi
tersebut. Jadi, pemerintah provinsi Jawa
Timur ini ee sudah bekerja sama dengan
kepolisian, kemudian kejaksaan dan
instansi lain bahwa kita sudah
mendirikan pusco saber pungli atau pusco
untuk sapu bersih pencegahan pungli yang
ada di pemerintah provinsi Jawa Timur.
Ya. Jadi selain kita mempunyai Posco
Saber Pungli yang ada di Jalan
Ngagel Utara yang Agel Utara nomor 47.
Jadi kalau Bapak Ibu yang asli Surabaya
ya, asli Surabaya ketika lewat setelah
Jalan Pucang menuju selatan itu sebelum
toko buku Uranus ya sebelumnya itu ada
kantor namanya Pusco Saber Pungli. Jadi,
Puskaberpungli ini memang ee kami
dirikan kami bangun sebagai layanan
untuk
masyarakat seandainya mendapatkan
pemerasan atau pungutan liar oleh
pegawai di instansi pemerintah ini bisa
melaporkan lewat di BOSCO tersebut atau
bisa lewat aplikasi namanya aplikasinya
itu Siduli ya. Selain itu kami juga
melakukan sosialisasi. Sosialisasi ke
Dinas Kesehatan selaku yang mempunyai ee
unit kerja banyak pelayanan rumah sakit
atau UPT Dinas Kesehatan. Kemudian di
Dinas Pendidikan, Sekolah-sekolah kita
ini juga melakukan sosialisasi terkait
adanya pungutan liar. Dan dari hasil
tindak lanjut ini juga sangat banyak
pengaduan-pengaduan tentang pungutan
liar yang ada di sekolah ya. sering kita
lakukan pemeriksaan dan kita tindak
lanjuti sehingga ee pungutan liar yang
ada di sekolah maupun di instansi
pemerintah yang bersifat layanan ini
tidak akan terjadi lagi.
berikutnya. Kemudian untuk pencegahan
gratifikasi, Bapak Ibu. Jadi gratifikasi
sudah disampaikan oleh Ibu Toti bahwa
kalau
gratifikasi ini adalah ee
sifatnya ee SN-nya ini pasif. Jadi yang
memberikan adalah yang ee pemohon
layanan atau yang lain-lainnya. Jadi
kita sudah mempunyai ee pedoman
pengendalian
gratifikasi yaitu sesuai dengan
Pergub 2024 tentang pedoman pengendalian
gratifikasi. Dan dari pergup ini
kemudian ditindak lanjuti dengan
pembentukan UPG di masing-masing
instansi UPG pembantu. Jadi unit
pengendali
gratifikasi. Kemudian hal ini sudah kita
lakukan sosialisasi kepada ee para OBG
pembantu yang ada di Pemerintah Provinsi
Jawa Timur di bulan November kemarin.
Dan insyaallah untuk di berapa pohon
tadi ini? Pap akan kami lakukan
sosialisasi seluruh ASN yang ada di Jawa
Timur dalam rangka untuk pengendalian
gratifikasi yang ada di Pemerintah
Provinsi Jawa Timur.
Lanjut. Kemudian untuk swap-menyuap
Bapak Ibu. Nah, ini seringki yang sangat
banyak sekali ya di medsos ini ya.
AP-Munyap mulai yang ee yang terbaru
kan di instansi kehakiman itu ada swap.
Jadi di pemerintah provinsi Jawa Timur
khususnya di Inspektorat sendiri itu
kita sudah melakukan atau memulai untuk
di setiap surat penugasan kami
cantumkan ee barang siapa yang disuap
atau menyuap akan terkena sanksi. Jadi
setiap penugasan kami ketika melakukan
pemeriksaan itu akan ada cekline-nya.
Barang siapa yang menerima suap atau
menyuap akan mendapatkan sanksi dan ini
juga suap-menyuap ini disosialisasisikan
juga di ee forum pengusaha. Jadi melalui
KAD
komite advokasi daerah. Nah, jadi forum
pengusaha-pengusaha ini kami berikan
juga sosialisasi terkait ee bahayanya
suap-menyuap dan apa sanksi-sanksinya.
Dan seringkali ini bisa bersama dengan
KPK juga di Direktor Direktorat AKBU
ya. Kemudian di sekolah-sekolah juga
gitu. Kami juga melakukan ee sosialisasi
tersebut. Lanjut.
Kemudian
untuk ee pembentukan integritas di
instansi-instansi pemuda Provinsi Jawa
Timur juga sudah
mempunyai 35 orang pembangun integritas.
Ji termasuk saya ini juga salah satu
dari 35 yang orang
pembentuk ahli pembangun integritas.
Jadi kami ini
ditugaskan untuk melakukan ee
pembangunan integritas yang ada di
instansi yang kami ee kami bekerja. Jadi
misalnya untuk ahli pembangun integritas
ini juga ada di rumah sakit-rumah sakit,
kebanyakan di pelayanan-pelayanan. Jadi
membantu teman-teman instansi untuk
membangun zona integritas sampai menjadi
wilayah bebas. dari korupsi dan situ
juga kita juga mempunyai paksi
penyuluhan anti korupsi dan kebetulan
juga ee ketua Paksi Jawa Timur itu ada
di Inspektorat Pemerintah Provinsi Jawa
Timur. Jadi itu upaya upaya yang
dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa
Timur dalam rangka untuk melakukan
pencegahan korupsi.
Lanjut. Kemudian di sini ee ini agak
boram ya, agak boram ya. Jadi ini
komitmen jadi komitmen ee dari Pak
Sekretaris Daerah Pak Adi Karono dalam
rangka untuk ee selalu ee
menjaga ee pemerintah Provinsi Jawa
Timur untuk pencegahan korupsi. Yaitu
ada komitmen dari Pak Sekretaris Daerah
Pak Adi Karono ya. Komitmen ini
istilahnya itu
merupakan support dari pemerintah
Provinsi Jawa Timur terhadap upaya dari
KPK dalam rangka untuk Stranas PK atau
strategi nasional pencegahan korupsi
tahun 2025
sampai 2026.
Lanjut. Kemudian upaya berikutnya dari
Pemerintah Jawa Timur
yaitu terkait sama MCP. Jadi KPK itu
dalam
rangka melakukan pencegahan korupsi ada
di pemerintah daerah KPK
melakukan ee suatu penilaian yaitu
namanya IPKD. Jadi indeks pencegahan
korupsi daerah MCP.
Jadi alhamdulillah untuk mulai tahun
2018 sampai
2024 pemerintah Jawa Timur ini
menduduki ranking 3 di ee seluruh
provinsi yang ada di
Indonesia.
Lanjut. Lanjut. Untuk tahun 2024 ini,
MCP Pemerintah Jawa Timur ee nilainya
93,87.
Jadi kalau MCB ini dinilai mulai dari
perencanaan. Dimulai perencanaan ini
sudah istilahnya
mengakomodir ee kegiatan-kegiatan yang
dalam rangka untuk pencegahan korupsi.
Jadi mulai dari
perencanaan, penganggaran, pengadaan
barang jasa, kemudian pelayanan publik,
pengawasan APIB, manajemen ASN,
pengelolaan BMD, dan optimalisasi pajak.
Jadi tahun 2024 kita memperoleh nilai
93,87% dan ini masuk peringkat ke 82
secara
nasional dan peringkat 6 dari 38
pemerintah Fron. Alhamdulillah. Tapi
tetap kita terus melakukan upaya-upaya
pencegahan korupsi mulai dari
perencanaan sampai optimasi pajak sesuai
dengan ee indeks pencegahan korupsi.
pemerintah daerah.
Lanjut.
Lanjut. Kemudian kita juga ee ikut serta
dalam rangka pencegahan korupsi melalui
Stranas PK, strategi nasional pencegahan
korupsi sejak
tahun 2016. Jadi ini ee milestone-nya
atau upaya-upaya yang sudah kita lakukan
dalam rangka untuk mendorong atau ee apa
ee kegiatan-kegiatan yang
menjadi ee milestone dari Sternas PK
yang diinisiasi oleh KPK RI. Lanjut.
Nah, ini yang terakhir Bapak, Ibu semua
bahwa apapun upaya mulai dari diri kita
sendiri maupun upaya-upaya yang sudah
dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jawa
Timur itu hanya merupakan
suatu ee apa
istilahnya upaya yang harus didukung
oleh seluruh pegawai. Jadi tidak hanya
walaupun kita sudah berusaha secara
baik, namun kalau pegawai tidak
mempunyai karakter integritas ya aknya
sama saja seperti saat ini. Jadi Jawa
Timur
menjadi istilahnya trending topik di
medsos mulai dari hibah yang belum
selesai, korupsi hibah belum selesai,
kemudian ada lagi di Bank Jatim juga.
Jadi otomatis ini menjadi PR kita
bersama dan kita mulai dari diri kita
sendiri yaitu dengan membiasakan yang
benar bukan membenarkan yang biasa. Jadi
inilah harus menjadi tagline buat diri
kita selaku ASN ya di manaun juga Bapak
Ibu semua. Jadi integritas itu harus
kita tanam mulai diri kita, kemudian
kita tularkan di sekitar kita, instansi
kita, kemudian kita kembangkan sehingga
apa yang diomongkan itu konsisten dengan
apa yang dilaksanakan. Ya, karena jejak
digital itu sekarang itu sangat mudah
sekali ya.
Apalagi ee TikTok sekarang itu orang
menunggu itu tidak membaca apapun tapi
yang dilihat itu adalah TikTok. Jadi ee
pengaruh TikTok sangat luar biasa untuk
pemberitaan-pemberitaan yang kurang baik
di pemerintah Jawa Timur. Jadi kami
harapkan sobat ASN semua untuk
membiasakan yang benar bukan membenarkan
yang biasa.
dari kami, Mas Lukman.
Thank you, Pak Heri untuk Terima kasih.
Thank you, Pak, untuk inset-insetnya.
Sebelum saya lempar ke sobat ASN untuk
satu orang penanya, saya mau tanya
terlebih dahulu. tadi kan sudah
dijelaskan ya, Pak ya. Banyak sekali
rencana aksi dan juga program-program
yang sudah dilaksanakan oleh Bapak dan
tim seperti itu. Pertanyaannya adalah
Pak seberapa efektif inisiasi tersebut,
Pak ee terhadap pengurangan kejadian
korupsi di lingkungan Provinsi Jawa
Timur. Apakah sudah pernah dilakukan
tracking seperti itu efektivitas program
yang dilakukan terhadap dampaknya dan
mana saja program yang dipandang kurang
efektif untuk dilaksanakan di Provinsi
Jawa Timur, Pak Heri?
Sebenarnya kalau program-program
pencegahan korupsi itu ada
nilai-nilainya. Jadi seperti yang salah
satunya itu melalui SPI yang sudah
dijelaskan oleh Pak Dr. Eko. Jadi SPI
itu survei ee penilaian integritas. Jadi
survei penilaian integritas itu yang
dinilai mulai dari internal. Oke.
Internal itu adalah pegawai yang ada di
Pempr Jatim itu di ee disurvei. Heeh.
He. Jadi kemudian eksternal, eksternal
itu mulai dari pemohon layanan. Jadi
untuk menjabat misalnya di Samsat
pemohon layanan itu juga disurvei
terkait ee misalnya pelayanannya
bagaimana, ada gratifikasi atau enggak,
ada pemeras toolong enggak seperti itu.
Kemudian ada. Jadi nilai-nilai itu yang
menggambarkan apa yang terjadi saat ini
di pemerintah Provinsi Jawa Timur. I
artinya nilai kita itu tinggi tapi
faktor koreksi tadi jelasnya Pak Ekos
Supenno sangat tinggi juga faktor
koreksi. Heeh. He. Karena walaupun kita
sudah berusaha keras, tapi ada oknum
yang masih melakukan ee korupsi.
Misalnya di oke hiba, DPRD atau Bank
Jatim itu kan pengaruhi nilai integritas
kita. sehingga nanti orang-orang ini kan
yang namanya
pencegahan korupsi itu tidak harus
berhenti saat ini, tapi terus
dilaksanakan sampai semua itu
benar-benar paham, minimal bisa
dikurangi dan nilai indeks dari SPI
maupun ee IPAK itu menjadi tinggi. Itu
Mas ya. Berarti efektif atau cukup
efektif atau belum efektif, Pak?
Kalau efektif enggak efektif, kalau
efektif sesuatu tujuan sudah efektif.
Tapi kalau dari nilai SPI tadi yang
menjadi indikator ya terus terang ini
masih harus lebih berusaha lagi itu.
Oke, siap not. Thank you, Pak Hari. Ini
ada satu orang penanya barangkali bisa
dibantu pin tim. Oke, silakan dari Bu
Murni dari Kominfo. Kami persilakan
untuk unmute Ibu menyampaikan
pertanyaannya.
Bu Murni
monitor. Oke, barangkali mungkin ada
perut. Oke, ini terdengar tapi suaranya
masih kecil. Terima kasih Bu Murni atas
kesempatannya. Mohon izin, Pak.
Ee ada jelas ya suaranya ya? Ya, sudah
jelas dengar. Halo. Sudah jelas, Ibu.
Silakan. Ee ya ada dua nih, Pak yang mau
ditanyakan. Ee yang pertama kalau kita
bicara tentang KKN itu kan korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Tapi ee kenapa ya
yang selalu santter kita dengar dan
menjadi sorotan di pemberitaan itu
selalu terkait hanya korupsi aja?
Padahal polusi dan nepotisme itu
lingkungan pemerintahan itu juga masih
banyak. Berarti percuma dong kita bilang
KKN kalau yang tetap yang kita
perbincangkan hanya korupsi aja. Terus
yang kedua ee apakah pembelian sembako
dari wali murid
sepadang ee merupakan
suatu grafit
teksi? Terus
nominal yang menjadi gratifikasi itu
berapa menurut undang-undang?
hitungannya tuh apakah ke kalau memang
ada nominalnya apakah hitungannya itu
per satu guru setiap nominal atau berapa
jumlah guru yang
diberikan. Itu aja Pak. Terima kasih,
Pak Eko. Ee sori Pak Heri tadi jelas
untuk pertanyaan kedua, Pak.
Gigih. Nggih. Jadi ini yang pertanyaan
kedua itu Iya. Pertanyaan kedua punten
Bu Murni. Pertanyaan kedua tadi suaranya
sedikit pelan. Boleh diulangi untuk
pertanyaan kedua Bu
Murni. Oke, mungkin sebelum menunggu Bu
Murni connect tadi, pertanyaan pertama
terlebih dahulu deh, Pak terkait dengan
KKN. Kenapa yang harus di-highlight,
dikomunikasikan terus-menerus adalah
korupsinya? Padahal kepanjangannya
adalah kolusi dan nepotisme. Silakan,
Pak Heri. Oke, terima kasih Mas Lukman.
Jadi ini seringkali yang menjadi
pertanyaan semua ya. Jadi kalau sesuai
dengan undang-undang itu memang yang
dikedepankan adalah Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2001 ini yang
dasar itu tentang pemberantasan tindak
pidana korupsi. Ya. Jadi di sini memang
ee kalau dulu memang itu ada ya aturan
tentang KKN, tapi sekarang ini yang ada
adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang pemeran tindak pidana korupsi.
Jadi di sini enggak menyebutkan sama
sekali polosi,
nepotisme dan ini
juga ya memang kondisi saat ini yang
terjadi di pemerintah saat ini yang jadi
ya teman-temannya semua jadi seperti
ini. Jadi memang ini mungkin yang lebih
pas teman KPK nanti jawab kenapa kok
yang sekarang ada ini adalah
Undang-Undang Pemasan tindak pidana
korupsi bukan tindak pidana KKN?
Jadi yang KN terakhir ini sudah hilang,
"Mas, berarti tinggal korupsi
aja." Jadi, makanya kita sekarang fokus
ke korupsi. Jadi, enggak ada lagi yang
namanya polusi, nepotisme sudah gak ada
lagi. Jadi akhirnya ya itu tadi seluruh
jabatan ya tahu sendiri kondisi saat ini
seperti itu ya. Thank you, Pak Heri
untuk jawabannya. Bu Murni apakah sudah
bisa tersambung dengan kami Bu?
Ya. Iya. Tadi pertanyaan kedua masih
belum terdengar, Ibu.
Yang kedua tuh tentang ini, Pak.
Pembagian sembako. Buat ee dari wali
murid kepada guru. Biasanya tuh kayak ee
kenaikan kelas kan biasanya atau Ramadan
atau mau lebaran tuh biasanya dari wali
murid itu memberikan sembako biasanya
ya. kayak ya sejenis itu. Nah, yang saya
tandakan apakah itu termasuk
gratifikasi atau bukan? Terus kalau
memang iya nominal yang menjadi hitungan
gratifikasi itu berapa? Apakah ee
sebesar yang kita berikan untuk satu
guru atau total berapa guru yang
diberikan itu Pak sih. Oke, thank you Bu
Murni. Sudah clear ya Pak Heri ya. Ya
sudah. Oke, silakan, Pak. Oke. Jadi,
kalau yang namanya yang apa istilahnya
itu sekolah kadang-kadang ngajari anak
untuk saling memberi apa itu memang ya
ke apa ya istilahnya kearifan lokal ya.
Artinya yang di sini yang tidak
diperkenankan itu adalah ee pungutan
liar. Jadi kalau yang namanya pungli itu
ee wali murid, wali murid itu
disuruh untuk urunan dengan nilai yang
sudah ditentukan ya. Nilai sudah
ditentukan. Jadi misalnya untuk ngasih
tambahan honor guru-guru atau apa, maka
wali murid harus ngasih ee urunan atau
iuran yang nilainya sudah ditentukan.
Ya, nilainya sudah ditentukan itu yang
tidak diperkenankan.
Tapi kalau namanya sumbangan ya memang
beda antara yang namanya
pungutan, sumbangan. Kalau sumbangan itu
sukarela. Misalnya ada wali murid yang
merasa istilahnya itu ee berhutang budi
karena anaknya ini sudah diajar di
sekolah situ mendapatkan prestasi yang
bagus kemudian dia menyumbang sekolah
dalam rangka untuk apa? misalnya
dikuatkan bangunan masjid atau musala
atau dibelikan bangku atau komputer itu
namanya sumbangan. Itu bukan pungli.
Jadi kalau yang namanya pungli itu sudah
wajib membayar dengan nilai yang sudah
ditentukan ya itu mungkin dari kami Pak
Mas Lukman. Terima kasih, Bu Murni.
Terima kasih untuk pertanyaannya Ibu.
Salam sehat selalu, Pak Heri. Tidak
terasa kita sudah berada di ujung acara
webinar ASN belajar seri 15. Sebelum
diakhiri barangkali dari Bapak ada
closing statement yang ingin
disampaikan, Pak. Silakan, Pak. Oke.
Siap. Jadi, intinya integritas itu harus
dimulai dari diri kita sendiri. Jadi,
kita itu sebenarnya sudah punya alarm
ya. Kalau kita mau melakukan sesuatu
yang tidak baik dari diri kita tuh sudah
ee tahu bahwa ini memang tidak baik.
Tapi kalau alarm atau suara hati kita
ini enggak diperhatikan ya, maka
lama-lama ini akan tertutup. Nah,
korupsi itu mulai dari kita ini
membiarkan hal-hal yang kecil dulu. Wis
enggak apa-apa wong sementara aja
setelah itu kan. Apalagi kalau kita
sudah merasa orang yang beriman dalam
tanda kutip, wis enggak apa-apolah saiki
korupsi siti-sidik nanti istilahnya itu
tobat itu kan sudah diampuni oleh Allah
lah. Itu hal-hal permisif seperti itu
harus dihilangkan mulai sekarang. Jadi
semua itu harus dari diri kita sendiri
baru kita melangkah ke instansi kita
baru ke yang lebih luas lagi. Itu
mungkin Mas Rman.
Terima kasih Pak Heri sekali lagi atas
kehadirannya di webinar kali ini. Salam
sehat selalu Pak Heri. Semoga kita
ketemu lagi di next event ya Pak ya.
Thank you Pak. Matur nuwun. Siap sobat
ASN sekalian di manapun Anda berada.
Perbincangan saya dengan Pak Heri tadi
mengakhiri pertemuan kita di webinar ASN
belajar seri 15. Kenali paham anti
korupsi dimulai dari kita. Sekali lagi,
sesuai dengan topik dari hasil
kesimpulan diskusi siang ini adalah
bagaimanapun kita tidak bisa mengubah
budaya yang ada di Indonesia kalau
memang diri kita sendiri belum berubah
mindsetnya. Jadi harapannya adalah
ketika Sobat ASN sudah mengikuti acara
webinar kali ini, Sobat ASN bisa
mengubah mindset dalam dirinya baru
nanti kita bisa bergerak menjadi agen of
chain budaya transformasi anti korupsi
di lingkungan sekitar kita. Dan jangan
lupa sekali lagi buat Sobat ASN untuk
mengisi absensi via Semesta Bangkom
untuk klaim sertifikat. Dan akhir kata
saya Lukman beserta tim BPSDM Jatim
pamit undur diri. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Sampai jumpa di webinar ASN
seri berikutnya. Bye bye. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Zaman yang terus
bergerak, sambut dengan penuh
semangat. Saatnya kita
melangkah. Hadapi segala
tantangan. Tingkatkan setiap
kompetensi untuk pelayanan berdampak.
Bersama
ASN
belajar. Ciptakan SDM unggul
berprestasi selalu inisiatif dan
kolaboratif untuk inovasi yang
berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak
mulia. Siap menyongsong Indonesia emas.
[Musik]
ASM belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia satukan
tekad pantang
menyerah jadi ASNAR
berkualitas belajar
wujud
pemerintahan kelas
dunia bukan tekad pantang
menyerah jadi
berkuit
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Yeah.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]