Transcript
4nl4_lxbMPY • ASN Belajar Seri 16 | 2025 - ASN Hebat Peduli K3: Membangun Lingkungan Kerja yang Aman dan Produktif
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0227_4nl4_lxbMPY.txt
Kind: captions
Language: id
Zaman yang terus
bergerak, sambut dengan penuh
semangat. Saatnya kita
melangkah. Hadapi segala
tantangan. Tingkatkan setiap
kompetensi untuk pelayanan
berdampak. Bersama
ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul
berprestasi selalu inisiatif dan
kolaboratif untuk inovasi yang
berkelanjutan menjadi ASN berakhlak
mulia siap menyongsong Indonesia
emas ASM belajar
wujudkan
pemerintahan berkelas
Dunia satukan tekad pantang
menyerah jadi ASN getar
berkualitas belajar
wujudkan kelas
dunia tekad pantang
menyerah jadi AS berkualitas
[Musik]
sama
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo
buddhaya. Salam kebajikan, rahayu.
Rahayu, dan salam sehat untuk kita
semua. Sebelum mengawali acara ASN
Belajar seri ke-16 pada pagi hari ini,
saya ingin berpantun terlebih dahulu dan
boleh dijawab dengan kata cakep di
tempat di manaun Sobat SN berada dan
jempolnya terangkat ke atas ya. Pagi
cerah, burung bernyanyi,
cukup. ASN datang penuh semangat
canggup. K3 dijaga setiap hari
demi kerja selamat dan sehat.
Baik, saya yakin sobat ASN di mana pun
berada saat ini sudah bergabung dengan
kami dan penuh semangat untuk mengikuti
seri ke-16 pada pagi hari ini. Dan saya
senang sekali untuk dapat menyapa
terlebih dahulu kepada yang terhormat
Kepala BPSDM Jawa Timur Bapak Dr.
Ramlianto, S.P.MP yang telah bergabung
secara online. Yang kami hormati para
narasumber, Direktur Bina Pengujian
Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Bapak
Muhammad Yusuf, ST., M.Si. si selamat
pagi juga yang kami hormati Komisi 3
Dewan K3 Provinsi Jawa Timur bidang
kerja sama K3 dan Humas Prof. Dr. Adity
Sudiarno, ST. Aidip Nebos.
Pakar Kesehatan dan Keselamatan K3
Universitas Erlangga Unair, Ibu Dr.
Putri Ayuni Alainur, SKM, MKK, Isert,
OHT, serta Bapak, Ibu, Sobat ASN di mana
pun Anda berada yang telah tergabung
secara Zoom maupun yang sudah bergabung
dalam YouTube BPSDM Jatim TV. Dan
selamat pagi, selamat bergabung kami
ucapkan dalam ASN Belajar seri ke-16
dengan tema ASN Hebat Petudi K3
membangun lingkungan kerja yang aman dan
produktif yang dipersembahkan oleh BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Puji syukur kita
haturkan kehadirat Tuhan yang maha kuasa
karena berkat hidayah-Nya kita dapat
berkumpul kembali secara online dari
Sabang sampai dengan Maraoke untuk
mengikuti ASN belajar seri ke-16 tahun
2025 kali ini. Dan tentu saja pada tema
kali ini saya Fan Patriia yang akan
menjadi moderator sampai dengan selesai
nanti. di mana tema kali ini kita akan
berbincang tentang penerapan keselamatan
dan kesehatan kerja K3 yang merupakan
elemen penting dalam menciptakan
lingkungan kerja yang tidak hanya aman
saja, tetapi juga mendukung
produktivitas yang maksimal. Dalam
rangka tercapainya para aparatur sipil
negara ini tentunya memiliki peran yang
besar dalam memastikan bahwa setiap
aspek K3 diterapkan secara konsisten di
setiap instansi baik di tingkat pusat
maupun di tingkat daerah. Kegiatan ini
tentu saja dapat memberikan wawasan
lebih luas mengenai prinsip-prinsip K3
sekaligus mendorong ASN untuk lebih
peduli dan berkomitmen dalam menciptakan
lingkungan kerja yang tidak hanya aman
saja, tetapi juga nyaman dan mendukung
tercapainya tujuan organisasi.
dengan implementasi K3 yang optimal,
tidak hanya mensejahterakan para ASN
saja, tetapi juga produktivitas kerja
yang bisa meningkat sehingga berdampak
positif pada kualitas pelayanan publik
dan keberlanjutan kinerja pemerintah.
Selengkapnya akan dibahas melalui ASN
Belajar seri ke-16 tahun 2025. Hari
[Musik]
ini. Sobat ASN di manapun Anda berada.
Sekali lagi Anda bisa bergabung melalui
BPSDM Jatim TV di YouTube dan tentu saja
yang sudah bergabung dengan Zoom
presensi nanti akan kami hadirkan di
Semesta Bangkom. Dan mengawali acara
kita pada ASN belajar seri ke-16 kali
ini, marilah kita bersama-sama menyimak
keynote speech yang akan disampaikan
oleh Kepala BPSDM Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto, S.P.,MP.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita.
sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah
air, selamat bertemu kembali dalam
webinar series ASN belajar, sebuah
wahana pengembangan kompetensi ASN dalam
jaringan persembahan Jatim Corporate
University, Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Provinsi Jawa
Timur. Hari ini, Rabu tanggal 30 April
2025, ASN Belajar telah memasuki seri
ke-16. Kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN
di seluruh tanah air untuk terus
mengikuti secara aktif program ASN
belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih
kami. Kami terus berkomitmen sekaligus
terus berikhtiar untuk menyajikan
topiktik pengembangan kompetensi yang
menarik, kekinian, dan tentu berdampak
secara nyata terhadap peningkatan
kompetensi dan kinerja aparatur sipil
negara di seluruh Indonesia.
Sahabat ASN, hari ini ASN belajar seri
ke-16 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka menyambut sebuah
momentum spesial Hari Keselamatan dan
Kesehatan Kerja atau K3 Internasional
atau World Day for Safety and Health At
Work yang diperingati setiap tanggal 28
April.
Karena itu ASN belajar seri ke-16 tahun
2025 ini mengangkat topik ASN hebat
peduli K3 membangun lingkungan kerja
yang aman dan
produktif. Nah, sudah menjadi tradisi
akademik dalam ASN belajar bahwa topik
menarik ini akan kita bahas secara
intensif dari beragam perspektif bersama
para narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sapat di seluruh tanah air, Hari
Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3
International atau World Day for Safety
and Health at Work pertama kali
dicanangkan oleh organisasi Perburuan
Internasional ILO pada tahun 2023 dan
kemudian menjadi agenda tahunan untuk
meningkatkan kesadaran global terkait
pentingnya keselamatan dan kesehatan di
tempat kerja.
Tujuan utama dari hari K3 Internasional
adalah mendorong pencegahan kecelakaan
dan penyakit akibat kerja. Kampanye ini
juga menjadi momentum untuk mengajak
seluruh masyarakat internasional
membangun budaya kerja yang mengutamakan
keselamatan dan kesehatan demi menekan
angka kecelakaan dan kematian kerja di
seluruh dunia.
Tahun 2025 ini hari K3 Internasional
mengusung
tema Revolutionizing heart and safety
the role of artificial intelligence and
digitalization at work atau merevolusi
kesehatan dan keselamatan peran
artificial intelligence dan digitalisasi
di tempat kerja.
Sebagaimana kita sadari bersama, Sobat
ASN, peran teknologi khususnya
kecerdasan buatan atau artificial
intelligence dan digitalisasi kini makin
menonjol dalam dunia kerja. Robot sudah
digunakan untuk menangani tugas-tugas
berbahaya seperti mengelola bahan
beracun, bekerja dalam suhu ekstrem,
atau melakukan pekerjaan berat dan
berulang. Sementara itu, alat pemantau
berbasis sensor mampu mendeteksi potensi
bahaya secara
dini. Sobat ASN, tentu saja yang harus
menjadi kita sadari bersama digitalisasi
bukanlah sekedar layar dan data. Ia
adalah lentera yang menerangi
celah-celah gelap di tempat kerja. Dari
helm pintar hingga sentor tak kasat
mata. Setiap denyut teknologi mengalun
demi menjaga nyawa dan asa manusia.
Tentu revolusi ini bukan menggantikan
manusia, tapi merangkulkan tangan baru
agar keselamatan tak lagi menjadi
pilihan, melainkan budaya kerja yang
tumbuh dan menyatu.
Artificial intelligence hadir bukan
untuk menghapus rasa, tapi memperhalus
langkah, membimbing manusia bekerja
cerdas tanpa kehilangan arah. Oleh
karena itu, hari K3 ini sudah seharusnya
kita rayakan bukan hanya dengan spanduk
dan seremoni, tapi dengan tekad untuk
menjadikan teknologi sebagai sekutu
harmoni. Karena di tempat kerja yang
aman dan sehat, masa depan tumbuh dan
martabat manusia menjadi kuat.
Shabat ASN di seluruh tanah air. Lalu
bagaimana kita sebagai ASN membangun dan
mengembangkan budaya kerja yang bukan
hanya produktif tapi mengarustamakan
kesehatan dan keselamatan kerja. Nah,
untuk membahas cerdas dan tuntas topik
ini, kami telah mengundang para
narasumber luar biasa yang sudah barang
tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada para narasumber hebat yang telah
berkenan hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat ASN di
seluruh tanah air. Pertama kami
menyampaikan terima kasih kepada yang
terhormat Bapak Muhammad Yusuf STM, SI.
Beliau adalah Direktur Bina Pengujian
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kementerian Tenaga Kerja Republik
Indonesia. Yang kedua, kami menyampaikan
terima kasih kepada yang terhormat Bapak
Prof. Dr. Adityya Sudiarno, ST dari
Komisi 3 Dewan Keselahatan dan
Keselamatan Kerja Jawa Timur. Dan yang
ketiga kami menyampaikan terima kasih
kepada Ibu Dr. Putri Ayuni Alaya Nur,
SKM MKK. Beliau adalah pakar kesehatan
dan keselamatan kerja Universitas
Airlangga Surabaya.
Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan
seksama webinar ASN belajar seri ke-16
tahun 2025. Semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih atas ke speech
yang telah disampaikan kepada Bapak Dr.
Rahmianto, S.P,MP. Nah, sobat ASN di
mana pun berada yang baru saja bergabung
mungkin belum ada yang paham mengenai
aturan dari ASN belajar seri ke-16 kali
ini. Jadi untuk yang pertama sesi tanya
jawab ini dilakukan setiap selesai
pemateri menyampaikan materinya dan 30
menit kami berikan untuk memaparkan
materi pada setiap narasumber. Kemudian
yang kedua, mohon untuk para penanya
nantinya raise hand jika ingin
berinteraksi secara langsung melalui
open cam dan juga open mic. Jadi nanti
tim dari panitia yang ada di sini akan
menyambungkan dan menghubungkan sobat
ASN untuk bisa berinteraksi secara
langsung melalui open cam dan juga open
mic. Dan yang ketiga, link absensi
peserta serta e-sertifikat nantinya akan
diisi dan juga akan hadir di semesta
Bangkom. Jadi pastikan sobat ASN untuk
mengisi semua yang ada di aplikasi
semesta Bangkom di setiap akhir sesi.
Dan pastikan e-sertifikat ini sudah
didapatkan. Namun jika belum dapat,
namanya juga belum tertulis dengan
jelas, mohon dilakukan pengecekan secara
berkala selama ASN belajar seri ke-16
ini berlangsung. Baik, kita sudah sampai
pada sesi pertama kali ini. Untuk itu,
segera kita akan terhubung dengan
narasumber kita yang pertama
yaitu Direktur Bina Pengujian
Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yang
kami hormati Bapak Muhammad Yusuf, ST.
M. Selamat pagi,
Bapak. Selamat pagi, Pak Direktur.
Iya. Selamat pagi. Baik. Asalamualaikum,
Bapak. Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Bagaimana kabarnya untuk
hari Rabu ini, Pak?
Alhamdulillah diberi kesehatan dan
keselamatan sehingga bisa bertemu dengan
semua sobat ASN seluruh Indonesia. Dua
hal yang penting ya, kesehatan dan
keselamatan. Nah, hal ini juga yang akan
kita bahas pada momen kali ini. Untuk
itu waktu kami silakan Pak Direktur
ya. Ee terima kasih ee Pak Moderator.
Mungkin bisa ditampilkan di layar
presentasi
saya. Saya pertama saya ingin
menyampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Kepala
Badan Pengembangan SDM Provinsi Jatim,
Bapak Dr.
Ramlianto, S.PMP. Kemudian juga tentu
rekan-rekan narasumber pada hari ini
Bapak Prof. Dr. Adityya Sudiarno ST,
IDEPnebos dan Dr. Putri Ayuni Alya Nur
SKM
MK3. Dan tentu saya ingin menyampaikan
salam hormat saya kepada seluruh
rekan-rekan sobat ASN di seluruh
Indonesia. Alhamdulillah kita bisa
bertemu pada pagi hari ini dan surprise
bagi saya karena webinar ini ternyata
diikuti dari seluruh Indonesia.
Ya, Bapak dan Ibu sekalian,
ee saya ingin pada kesempatan ini ingin
sharing dan berbagi ya tentang K3,
keselamatan dan kesehatan kerja
khususnya bagi kita sebagai insan ASN.
Kenapa?
Karena secara filosofi dan juga nature
dari pekerjaan kita sebagai ASN tentu
setiap hari dihadapkan pada layanan
publik. Ada yang di dalam ruangan
indoor, ada yang di outdoor di mana
semuanya punya
potensi menimbulkan kecelakaan
dan penyakit akibat kerja. Nah, ini ee
tentu kita
ingin hidup kalau sekarang bilangnya
work life balance ya, hidup juga
sejahtera ya, ASN juga perlu sejahtera.
Nah, bagaimana caranya? Salah satu
caranya adalah dengan melaksanakan K3.
Baik. Ee mulai mungkin slide-nya bisa
dipaparkan di jelas ya di judul dulu
Mbak. Terlihat semua ya. Saya ingin
memulai dari judul yang sudah dipilihkan
oleh panitia yang begitu inspiratif ya.
ASN Hebat Peduli
K3. Saya pernah sempat tinggal di Jawa
Timur.
ada fenomena dulu apa yang dikatakan
hebat. Waktu itu
saya sering naik kendaraan umum ya. Jadi
ya
baru ee antara Surabaya dan Jogja gitu
ya.
yang dikatakan hebat
adalah naik bis ya, Teman-teman. Di Jawa
Timur mungkin sudah sangat terkenal ya
dengan merek-merek bus yang begitu luar
biasa ya. Kalau dari Surabaya, dari
Bungur Asih ke Jogja itu hebat itu
driver atau suir bus itu yang bisa
membawa penumpang dengan sangat cepat.
Ya, maka kita masih suka lihat ya di
TikTok sekarang ada yang gimana ya antar
besing salib-menyalib. Apakah itu yang
dibilang
hebat gitu
ya? Tentu kita semua sepakat tidak ya.
Kita sepakat saja bahwa yang dibilang
hebat adalah orang yang bisa sama
seperti superhero waktu kita kecil ya
menyelamatkan orang lain ya
menyelamatkan masyarakat. Itulah yang
dibilang hebat. Begitu juga dengan kita
ASN. ASN yang hebat adalah ASN yang bisa
memberi keselamatan kepada baik diri
sendiri maupun
kepada masyarakat yang kita
layani. Saya barusan saja dapat data
bahwa sampai Oktober
2024 sudah ada 227 rekan kita
yang tewas ya, yang gugur pada saat
bekerja ya. Dan ini tentu bukan angka
yang kecil ya, ini angka yang besar.
Jangankan
227, satu saja itu sudah besar bagi kita
ya. Oke. Bagaimana kita membangun
fondasi untuk bisa membangun keselamatan
dan kesehatan kerja? Next
slide. Ini ada enam ee yang ingin saya
sampaikan, enam poin yang ingin saya
sampaikan. Kita lanjut.
Yang
pertama sori ini layarnya mungkin bisa
dibesarkan
ya. Ya.
Ee pertama cukup pertama meningkatkan
kesadaran tentang tujuan kita adalah
meningkatkan kesadaran
tentang apa itu keselamatan dan
kesehatan kerja bagi ASN.
Yang kedua ee memberikan pengetahuan
tentang bagaimana implementasi K3 yang
efektif dan membangun komitmen untuk
menciptakan lingungan kerja yang aman
dan
produktif. Jadi
awareness, knowledge, dan komitmen ya.
awareness dulu kita bangun kemudian
harus ditambah dengan knowledge. Setelah
itu kita butuh komitmen. Karena kalau di
tempat kerja tidak ada komitmen pimpinan
maka semua program, semua kebijakan
tidak akan berjalan. Ya. Jadi ini tiga
hal yang harus kita bangun di kantor
masing-masing, di unit kerja
masing-masing. Pertama apa? Pertama
awareness dulu. Betapa pentingnya kita
melaksanakan K3. Kenapa penting?
Kemudian knowledge-nya harus kita
tambah. Ada banyak sekali ilmu
multidisiplin ilmu untuk bisa memahami
K3 dan juga membangun komitmen. Komitmen
pimpinan, komitmen kita semua ya. Itu
harus dibangun. Next
slide. Apa itu pengertian K3?
Sobat ASN yang saya
banggakan, K3
sesungguhnya melekat inherent ya dalam
peradaban manusia.
Kalau sekarang teman-teman sobat ASN
kenal alat pelindung diri
ya, baju yang kita pakai adalah alat
pelindung diri pada masa itu. Bukan
sekedar fashion ya. Pada masa
manusia purba ya, awal-awal peradaban
baju adalah alat pelindung diri.
Kemudian pada saat pembangunan dulu
ee Romawi ya, bangsa Romawi membangun
polosium dan lain sebagainya,
mereka membangun bangunan-bangunan
tinggi. Kemudian ada batu yang jatuh
kena kepala. Mereka bangun bikin yang
namanya helm. Akhirnya helm berkembang.
Nah,
sekarang revolusi industri juga
memunculkan banyak
sekali penerapan
K3 ya, mulai dari kita bagaimana
K3 permesinan, K3 ee listrik, K3
ee transportasi, konstruksi dan lain
sebagainya ya.
manusia sesuai dengan peradabannya tadi
belajar tentang
K3. Jadi, Bapak dan Ibu, saya sering
ee sering apa namanya ya? Sering
menyampaikan bahwa K3 itu ilmu yang
mahal karena belajarnya dari korban baik
itu korban meninggal maupun korban
sakit. Jadi ini ilmu mahal Bapak dan Ibu
sekalian. Kita belajar dari korban
sehingga kalau ada kecelakaan yang harus
dicari adalah hikmahnya. Kenapa sampai
terjadi seperti itu? Ya. Nah, singkatnya
K3 adalah upaya kita untuk menjamin
keselamatan diri kita dan orang lain di
tempat kerja agar selalu sehat dan
produktif.
Ya, tadi kalau revolusi industri sudah
memunculkan banyak ilmu-ilmu K3.
Sekarang tadi dikaitkan dengan tema
K3 internasional tahun 2025. Apakah AI,
apakah digitalisasi juga akan
memunculkan
potensi kecelakaan dan penyakit kerja di
tempat
kerja? Nanti akan dijelaskan oleh
narasumber lain, tapi itu akan jadi satu
trigger kita
untuk
bisa awareness lagi, bisa aware lagi
tentang potensi-potensi kecelakaan yang
ada di tempat kerja kita, khususnya di
ASN ya. termasuk masalah sekarang tren
psikososial
ya, ergonomi psikososial itu se sekarang
sudah menjadi ee kebutuhan kita untuk
lebih perhatian. Kenapa? Balik lagi
karena saya pengin enggak stres kalau
kerja. Saya pengin happy, saya pengin
bahagia. Work life balance saya dapat
kan begitu ya. Oke, next.
Nah, tentu ASN, Sobat ASN semua, kita
bekerja ada di tempat kerja kita, ada di
unit kerja
kita, tidak lepas
dari regulasi ya. Dan ada banyak
regulasi yang sudah mendukung kita. Yang
pertama Undang-Undang Nomor 1 tahun 0
tentang keselamatan Kerja. Kemudian ada
Undang-Undang 13 tahun 2013 tentang
Ketenagakerjaan. Ada juga PP50 2012
tentang penerapan sistem manajemen K3
dan Peremalaker 5 tahun 2018 tentang K3
lingkungan kerja. Ya, selain itu
juga kita sudah sangat kita sangat
mengapresiasi MenPAN sudah mengeluarkan
MenPAN RB sudah
mengeluarkan peraturan nomor 6 tahun
2022 bahwa ASN adalah sebagai
model pelayanan publik yang aman dan
berintegritas yang selamat. dan
berintegritasi. Kemudian juga di
PP 94 tahun 2021 bahwa disiplin ASN
mencakup kepatuhan terhadap protokol
keselamatan
kerja. Dan yang terbaru adalah
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023
tentang ASN yang menyatakan bahwa
harus bekerja ACSN harus bekerja dengan
aman dan selamat. Jadi inilah komitmen
atau kebijakan pemerintah pusat yang
harus kita laksanakan bersama. Sebagai
pimpinan unit kerja di berbagai level,
kita harus
peduli pada keselamatan dan
kesehatan seluruh anggota yang ada di
bawah kita. Begitu juga keselamatan dan
kesehatan masyarakat yang kita
layani. Ini next slide.
Ya, ini sudah disampaikan tadi. Next
slide di rencana induk K3 nasional
2020 2 sampai 2025 adalah K3 menjadi
budaya di setiap kegiatan pekerjaan
menuju Indonesia berbudaya K3 tahun
2025. Apakah ini sudah tercapai? Ini
akan terus kita usahakan Bapak dan Ibu
sekalian ya.
Dan tentu kami di Kementerian
Ketenagakerjaan akan terus memperkuat
regulasi dan pengawasan,
kemudian juga meningkatkan kompetensi
SDMK3 baik itu di sektor privat maupun
di sektor layanan publik dan juga
meningkatkan kolaborasi lintas sektor
termasuk di antaranya adalah ee lintas
instansi
pemerintah. Next slide.
Apa peran kita? Per Sobat ASN dalam
rangka K3 yang pertama tadi sesuai
dengan Permenpan RB ya. Kita jadi
teladan, jadi role model dalam disiplin
dan kepatuhan K3.
disiplin dan kepatuhan K3 ini
tentunya harus dilatar belakangi oleh
motivasi ya tadi motivasi dari juga
paradigma kita bahwa layanan kita
harus selamat harus sehat ya tempat
kerja kita harus selamat dan sehat
kemudian diikuti dengan adanya protokol
keselamatan dan kesehatan kerja atau
aturan atau SOP yang kita bangun di
tempat kerja kita
masing-masing. Kemudian SOP yang sudah
kita
susun jangan rest in paper ya, tetapi
harus aktif
disosialisasikan melalui pelatihan,
melalui safety meeting, safety briefing
ya dan lain sebagainya. Jadi ini harus
di lakukan secara
konsisten untuk apa? untuk kita punya
target outcome mewujudkan zero accident
di lingkungan kerja kita.
Dan tentu pada saatnya nanti kita akan
mendorong setiap instansi pemerintah
juga menerapkan sistem manajemen
K3 di tempat kerja
masing-masing. Ini yang ee siklus yang
akan kita bangun di instansi kerja kita
ya, Bapak dan Ibu sekalian. Jadi tetap
apa
ee fase ini masing-masing
akan mulai
dari
aspek tadi awareness dulu. Awareness
kita menambah knowledge, membuat
protokolnya, kemudian kita
sosialisasikan sehingga outcome-nya
adalah membuttikan zero accident dan
pembangun secara berkelanjutan melalui
sistem manajemen K3.
Kita tidak ingin lagi tahun depan
misalnya angka tadi saya di awal saya
sudah
sampaikan 2024 ada
227 rekan kita yang
tewas. Mudah-mudahan tahun ini itu bisa
kita kurangi dengan berbagai upaya kita
meningkatkan K3. Next.
Ini beberapa contoh aksi nyata peduli K3
di lingkungan ASN ya. Yang
pertama kita membentuk tim
K3 di
internal instansi
masing-masing. Di sinilah kita
melakukan tadi awareness dan knowledge
ya. Awareness, knowledge, dan komitment.
slide saya yang pertama di awal tadi
ya. Kita bentuk tim untuk membangun apa?
Awareness, knowledge, dan
komitmen.
Nah, yang paling tidak mudah ya, yang
paling tidak mudah adalah membangun
awareness.
Ada banyak sekali contoh-contoh
ee kecelakaan kerja ya. Sekarang mungkin
ada rekan-rekan yang di
BPBD ya.
di BPBD
ini sudah sangat terlatih. Tapi yang
paling penting dari BPHD ee misalnya
kalau kita menolong korban bencana yang
harus dipastikan adalah kita sendiri
harus tim rescue itu
harus selamat, harus aman dulu baru bisa
menolong yang lain. Jangan kita masuk
kita dalam kondisi yang tidak aman ya.
Kemudian kalau di kantor misalnya ya, di
kantor itu mulai nanti
dari masalah
kelistrikan. Bapak dan Ibu
sudah mendengar di media ya, membaca
melihat di media. Ada banyak kantor
pemerintah
yang mengalami bahaya kebakaran. Ya, ini
hal-hal yang dimulai dari hal-hal kecil
kepedulian terhadap K3 listrik misalnya,
ya. Jadi, awareness itu ee nanti akan
dibahas lebih detail oleh ee narasumber
berikutnya. Saya tidak akan banyak di
sini.
Kemudian salah satu juga yang penting
adalah melakukan simulasi evaluasi
darurat. Indonesia adalah negeri
dengan potensi bencana
yang sangat beragam ya. Mulai dari gempa
bumi, gunung
meletus,
longsor,
banjir, dan lain sebagainya. Ya, kita
punya banyak bencana sehingga kita harus
lebih aware terhadap
bencana, baik itu bencana alam maupun
bencana industri ya. Di daerah-daerah
industri misalnya di Gresik ya. Kalau di
Bontang misalnya di Kalimantan Timur ya,
di kawasan-kawasan industri harus juga
bersiap diri untuk bahaya industri,
industrial disaster selain dari natural
disaster ya atau bencana alam. Nah,
bagaimana kalau gempa itu harus dilatih?
Bapak dan Ibu, saya pernah melatih
penggunaan apar saja ya, alat pemadam
api ringan itu yang laki-laki enggak
berani, yang berani malah yang
perempuan. Sehingga tim K3 itu jangan
isinya laki-laki semua ya, Bapak, Ibu
ya. Kalau maentuk tim K3 ya itu dipilih
yang komitmen yang paling kuat ya,
passion yang paling kuat untuk membantu
orang ya.
Kemudian simulasi evakuasi dar dilakukan
secara berkala Bapak dan Ibu. Bagaimana
kalau yang berada di gedung-gedung
tinggi ya di atas empat lantai itu harus
latihan
juga. Kalau tidak dilatih pada saat
darurat semua mengandalkan
insting refleks ya. Ini ada ada
prosedurnya ya. bagaimana turun tadi
lantai 4 misalnya ada keadaan darurat
itu ada prosedurnya Bapak Ibu ya
bagaimana evakuasi ada prosedurnya ya
dan itu harus dipelajari kemudian
menyediakan alat pembadan piringan dan
alat keselamatan kerja lainnya ya dan
dilatih cara penggunaannya kemudian juga
memastikan ergonomi dan kenyamanan ruang
kerja serta
menerapkan yang paling basic menerapkan
5R R di tempat kerja masing-masing,
ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin.
Ini yang paling basic, Bapak dan Ibu.
Belum lagi kita bicara nanti gimana
dengan
ee psikososial, ya. Nah, jadi ini
didiskusikan, didialogkan. Jadi,
masing-masing tempat kerja punya
karakteristik, masing-masing pekerjaan
punya karakteristik K3 yang
berbeda-beda. Ya. Next slide.
Nah, ini tantangan dan solusi yang kita
hadapi
ya. Kurangnya kesadaran akan pentingnya
K3 itu introspeksi untuk diri kita
sendiri ya, Bapak dan Ibu sekalian bisa
mengintrospeksi apakah kita sudah aware
waktu berangkat
kantor kita pakai helm.
Kalau yang pakai mobil, apakah kita
sudah pakai safety belt di depan maupun
di belakang?
Apakah kita aware dengan apakah kita
sudah sadar bahwa kendaraan kita perlu
di maintenance ya, perlu dicek
remnya, olinya segala macamnya, bannya
ya dicek secara
berkala apakah kita sudah aware
dengan peralatan kerja
kita, teman-teman yang di pertanian
misalnya yang di UPT ya, UPTD.
UPTD ada alat-alat mekanik, ada
alat-alat listrik, ada
alat-alat
ee yang menghasilkan panas, uap dan lain
sebagainya ya. Ada alat berat juga di
situ.
Apakah sudah di-maintenance dengan baik?
Ya, belum
lagi teman-teman saya tadi pertanian
saya barusan dapat info bahwa
teman-teman yang di kebun bibit misalnya
di pembibitan itu ada yang sudah terkena
heat
stress. Heat stress ini stres karena
terpapar panas. Kita tahu akibat climate
change suhu apa temperatur bumi itu naik
ya 1 derajat. itu efeknya besar loh ya.
Bagaimana kita mengatur jam kerja
supaya yang ada di tempat kerja outdoor
terutama itu tidak terkena heat stress.
Karena heat stress itu kalau dibiarkan
akan jadi heat stroke nanti ya. Di
tempat kerja yang bising bagaimana?
Apakah kita peduli
penggunaan ee alat pelindung diri earma
atau earplug ya kalau tidak bisa
dikurangi e kebisingannya?
Apakah kita peduli bahwa tempat kerja
kita lampunya tinggal 5 watt ya sehingga
yang di komputer sering capek ini
atau ada yang input data saja ya input
data kita tidak peduli dengan kita belum
peduli dengan mereka harus 4 jam 5 jam
tanpa exercise gitu ya.
Ya, aturannya bahwa setiap 1 jam bekerja
di depan komputer Bapak dan Ibu itu
harus relaksasi ya. Matanya
direlaksasi apa
ee tangannya, punggungnya itu harus
direlaksasi ya. Misalnya seperti itu.
Jadi tapi nah di lain sisi kita juga
punya keterbatasan anggaran dan sarana
untuk melengkapi semua itu. Nah, ini
kuncinya di mana? Kuncinya di
komitmen. Jadi kalau di
perusahaan-perusahaan maju
itu no compromise ya, no negotiable.
Kalau menyangkut K3, apakah kita akan
bisa sampai ke sana? Insyaallah ya
mudah-mudahan. Jadi kalau semua
menyangkut K3 itu sudah enggak ada
alasan lagi, harus diterima gitu ya.
Jadi ya kalau lampu kalau itu menyangkut
K3 ya harus ditambah lampu yang terang
misalnya ya.
Kalau alat ya harus di peralatan harus
dimaintenance ya, tidak bisa tidak gitu
ya. Itu ee tantangan dari aspek
manajemen tentunya ya. Nah, kemudian
tentu ee solusinya bagaimana ya?
Solusinya tadi sudah saya juga
sampaikan.
Jadi kita mulai dari awareness, dari
campaign kita kampanyekan secara
internal dan istikamah. secara
terus-menerus berkalan. Kemudian
mengintegrasikan prinsip-prinsip K3
dalam SOP yang kita buat, Bapak dan Ibu.
SOP layanan yang kita buat. Masukkan
prinsip-prinsip K3 di
sana. Nah, misalnya apa? Misalnya yang
paling sederhana soal antrian. Bapak
jangan biarkan masyarakat antri 2 jam
berdiri, Pak. Harus sediakan tempat
duduk. Itu yang sering kita lihat di
media ya. Masyarakat antri berjam-jam ya
jangan sampai seperti itu ya. Kita harus
siapkan tempat yang baik ya. Karena
nyangkut K3
juga. Kemudian alat pelindung diri ya.
Jadi untuk teman-teman Satpol PP
misalnya ya, alat pelindung diri ayo
dilengkapi gitu ya dalam melaksanakan
SOP dalam melaksnya masing-masing dan
lain sebagainya. Kemudian juga tadi
sudah saya sampaikan komitmen pimpinan
perlu sekali untuk kita bangun. Next.
penutup saya ingin ee berpesan bahwa
kita
harus peduli pada diri kita dan juga
kepada rekan-rekan kerja kita. Karena K3
tidak bisa kita kerjakan bersama. Sama
dengan seperti masuk surga enggak
ternyata enggak bisa sendirian, Bapak
dan
Ibu. Kalau kita mau selamat, mau sehat,
kita juga harus mengajak rekan kita
untuk sehat dan selamat.
satu rekan kita yang kita indikasi
misalnya TBC, tuberkulosis itu juga satu
isu besar. Ada 1 juta lebih warga
Indonesia yang diindikasikan TBC saat
ini. Kalau kita peduli, maka
ayo ada SOP untuk treatment rekan kita
yang TPC. Kalau dibiarkan apa? Maka satu
kantor akan tertular. Nah, ini
contoh-contoh ya, bahwa K3 adalah
tanggung jawab kita bersama.
Kemudian sebagaimana
tadi sudah saya sampaikan dalam
kebijakan kita sebagai yang diatur dalam
peraturanpan RB bahwa ASN adalah role
model bagi pelayanan publik ya wajib
menjadi pelopor untuk menjaga
keselamatan dan kesehatan kerja. Jadi
sekali lagi Bapak dan Ibu mari kita
wujudkan ASN Hebat yang peduli K3.
Demikian yang bisa saya sampaikan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih banyak Pak
Direktur atas pemaparan materi yang saya
juga turut menyimak bahwa penting sekali
bagaimana kita menjaga kesehatan dan
keselamatan selama kita bertugas dan
bekerja. Dan kita akan membuka sesi
diskusi pada momen kali ini. Untuk sobat
ASN yang ingin sekali berinteraksi
secara langsung silakan rais hand. Maka
tim dari kami akan langsung
menghubungkan sobat ASN di manapun Anda
berada untuk bisa bertanya dan
berdiskusi dengan narasumber kita yang
pertama yaitu Pak Direktur yaitu Bapak
Muhammad Yusuf kali ini. Silakan sobat
ASN. Selain kita juga akan menghubungkan
interaksi kita juga ada pertanyaan. Oh
baik sudah terhubung. Selamat pagi.
Dengan siapa ini? Bapak boleh open mic
ya. Suaranya sudah terdengar.
Selamat pagi, Bapak. Asalamualaikum.
Asalamualaikum. Waalaikumsalam. Dengan
Bapak siapa ini?
Ya, mohon maaf, saya dari Pak Solin dari
Dinas Perpustakaan Partisipan Kabupaten
Banyuwangi. Bu, dari Banyuwangi. Selamat
pagi. Salam
baik.
yang
baik suaranya agak sedikit
terputus-putus namun terdengar saat ini
dengar
baik Pak Slamet. Betul ya
Ya, silakan untuk pertanyaannya Pak
Samet.
Oh, Pak Solihin mohon maaf saya Bapak
Sihin. Iya, mohon maaf Pak. Disilakan.
Langsung saja
punya ini mohon maaf kami akan langsung
bertanya aja bagaimana kita dapat
menerapkan
prinsip-prinsip K3 yaitu keselamatan itu
dan kesehatan kerja dalam kerja
khususnya di ASN itu. Yang pertama. Nah,
yang kedua bagaimana sih, Pak ee cara
mengidentifikasi bahaya dan risiko di
tempat kerja? Apa saja program K3 yang
perlu diterapkan dan bagaimana
memastikan kepatuhan terhadap peraturan
K3 itu, Pak. Itu aja dua yang perlu saya
saya tanyakan. Kurang lebihnya saya
mohon maaf. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
kepada Pak Direktur izin untuk menjawab.
Tadi agak kurang jelas ya tadi bagaimana
menerapkan prinsip-prinsip K3 ya. I
betul salah ya. Betul ya Pakin?
Betul betul ya Pakin. Ee terima kasih ee
Pak Solin berdinas di Dinas
Perpustakaan di Banyuwangi ya.
Nah, saya ingin ee yang pertama tadi,
Pak, tiga prinsip tadi itu, Pak. Ada
kesadaran dulu, ada motivasi dulu,
kemudian ada pengetahuan kita tentang
potensi bahaya, dan yang ketiga ada
komitmen. Nah, ya itu
ee tiga prinsip yang awal, ya. Tiga
prinsip awal yang mendasari semua
kegiatan kita. Contoh saya boleh contoh
di perpustakaan ya, Pak
ya. Ya, Pak Solin bekerja di
perpustakaan, Pak. Dinas di dinas
perpustakaan apa di di gedung di
perpustakaannya, Pak?
Di perpustakaan. Di perpustakaan dan I
contoh,
Pak. Mulai dari yang pertama adalah
awareness.
Kalau kita keliling-keliling di
perpustakaan, Pak, kira-kira Pak apa
menurut apa kita apa potensi bahaya yang
mungkin muncul di lingkungan
perpustakaan baik dari aspek apa
keselamatan maupun dari aspek kesehatan
itu harus kita buat listnya, Pak.
Modelnya gitu. Coba bikin listnya dulu
ya. Semakin banyak pengetahuan nanti
yang kita dapat, maka listnya akan
semakin banyak.
Contoh bahwa buku-buku
itu menimbulkan debu,
Pak. Ya, debu bahaya untuk apa? Untuk
pernapasan pernaapasan kesehatan kita,
ya. Kemudian yang kedua, ada bahaya apa
lagi di perpustakaan? Ada
bahaya listrik, ya kan? Ada. Oh, tadi
debu itu ada standarnya, Pak. Jadi,
standar debu di ruangan tempat kerja itu
kita ada standarnya. Nanti akan
dijelaskan oleh narasumber kedua. Tapi
kita harus mengidentifikasi dulu. Jadi,
prinsip pertama
mengidentifikasi potensi bahaya dan
penyakit. Ya, tadi saya coba pancing
identifikasi potensi bahaya dari di
perpustakaan. Ada debu, ada bahaya
listrik, ada bahaya biologi. Contohnya
apa,
Pak? Yang dari binatang ada enggak, Pak?
Di perpustakaan, Pak Solihin?
Gak ada, Pak. Ada tikus, ada kutu, ada
macam-macam itu. Kami ada standarnya,
Pak, ya. Ada nilai ambang batasnya.
Kemudian dari
aspek penerangan. Penerangannya, Pak.
Pencahayaan itu juga kita ada
standarnya.
Kemudian dari ventilasi, Pak, udara.
Saya pernah datang ke satu perpustakaan,
udaranya sangat apa? Lembab, sangat
mengap gitu ya. Ya. Jadi dari aspek
biologi ada, dari aspek apa ee fisika
ada, aspek ee
apa ee bacaannya iya pencahayaan ada dan
macam-macam ya. Jadi coba kita
identifikasi dulu ya. Sesudah kita
identifikasi, maka yang langkah kedua
adalah kita pikirkan bagaimana
mengatasihan
masalah tersebut ya, pencegahannya ya.
Contoh tadi kalau
misalnya ada bahaya tikus atau bahaya
kutu, bagaimana caranya? Ya, kalau tadi
gelap bagaimana caranya ya? Ya kalau
gelap lampunya kurang punya tambah lampu
misalnya ya. Itu hal-hal yang simpel.
ventilasi kurang, udaranya kok kurang
enak gitu ya. Solusinya bagaimana? Bisa
enggak ventilasi dari secara alami
ditambah tambah jendela
atau ditambah dengan ee apa? AC misalnya
kalau mau pakai AC. Soal debu misalnya
ya, bagaimana kita membuat
sistem untuk apa ee kebersihan ya. Kalau
kebersihannya selama ini dilakukan
mungkin kalau debu di lantai dengan debu
di buku kan beda ya, Pak ya. Saya enggak
tahu ya. Tapi bikin coba dilihat
prosedurnya bagaimana kita mengatasi
debuk di sana ya. Itu cara-caranya. Nah,
kemudian pertanyaan yang kedua
itu menarik ini, Pak. Bagaimana
memastikan aturan itu dilaksanakan gitu
ya. Ee itu tadi, Pak. Kalau PR ketiga
komitmen,
Pak. Jadi membangun komitmen. Kita harus
jadikan satu SOP di tadi ada integrasi
SOP dengan SOP yang sudah ada
sekarang. Kalau sudah ada
aturannya, maka aturan itu harus
dijalankan ya dengan
konsisten. Jadi kita berdasarkan aturan.
Jadi kesadaran saja tidak cukup ya.
Kesadaran tuangkan dalam aturan. Setelah
aturan laksanakan aturan kan itu itu
ee pakem yang kita pakai ya.
Mudah-mudahan dari situ kemudian
muncul menjadi budaya yang kita harapkan
kan ke sana ke budaya. Tapi sebelum bisa
jadi budaya ya harus agak dipaksa
sedikit, Pak. Ah gitu.
Kalau kalau apa ya agak dipekso ya, tapi
bisa juga caranya makso gimana caranya
memaksa?
ya bisa juga kita kasih motivasi, Pak ya
dengan coba bikin
ee
misalnya penghargaan ya kasih
penghargaan kepada insan ASN di unit
kerja yang peduli K3 ya.
Kira-kira seperti itu. Jadi kasih
penghargaan bisa apa?
Kasih ee hukuman juga boleh ya.
Baik, demikian untuk jawabannya. Pak
Salihin sudah terjawab dengan lengkap
begitu Pak ya.
Baik. Terima kasih banyak Pak Solihin
atas pertanyaannya dan sudah tergabung
dengan kami. Baik Pak Direktur, ada satu
penanya lagi yang rais hand. Jadi kami
akan menghubungkan penanya tersebut
untuk bisa berdiskusi secara langsung.
Selamat pagi. Pagi. Ah, baik. Dengan
Bapak siapa ini? Dengan Randi dari BPSDM
Jatim. Baik, Pak Randi. Wah, luar biasa
Pak Randi. Silakan untuk pertanyaannya.
Baik, selamat pagi, Pak. Pak Muhammad
Yusuf ya. Selamat pagi, Mas Randi. Pagi,
Pak. Izin bertanya, Pak. Tentunya kalau
kita bicara implementasi ketiga sangat
berkaitan erat dengan aturan, Pak. ya,
khususnya undang-undang ya. Kita
sama-sama tahu Undang-Undang 1 tahun
1970 sudah sangat lama ya, Pak ya. Ya,
saya sempat mendengar info ada revisi,
Pak. Saya kita pengin tahu
perkembangannya sudah sejauh mana.
Khususnya terkait dengan instansi
pemerintah diwajibkan dalam salah satu
di dalamnya untuk bisa menerapkan K3.
Karena dari dari pengetahuan kami selama
ini industri, Pak, yang lebih ditekankan
di Undang-Undang 1 1970. Mungkin itu,
Pak. Terima kasih. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Ya, Mas Randi. Eh, ini
update untuk kita masih ini ya,
masih sangat mengharapkan banyak masukan
ya untuk ee revisi Undang-Undang 170.
Jadi insyaallah ini
ee on progress gitu ya, sampai sejauh
mana ya.
ini
tahapannya masih di tahap-tahap awal,
Pak. Jadi
ee kita masih tahapannya masih ada
kajian-kajian yang dan mengumpulkan
berbagai masukan dari stakeholder ya.
Nah, saya ingin ee meluruskan terkait
dengan implementasinya ya. Kalau kita
bicara undang-undang 170 itu bicara
tempat kerja dan tempat kerja ini
ee pun ya bahkan kalau kita perdefinisi
di Undang-Undang 70 tempat ibadah
sekalipun itu adalah tempat kerja ya.
Yayasan itu tempat kerja.
Jadi di mana ada tenaga kerja itu bisa
di ee golongkan sebagai 170 apa ee masuk
ke dalam ruang lingkup Undang-Undang
keselamatan kerja.
Jadi kalau terkait dengan aturan tadi,
Pak, saya pikir kita sudah
sangat berprogres ya dengan
undang-undang tadi
undang-undang undang-undang ASN ya.
Kemudian juga dengan Permenpan RB itu
sudah sudah apa menjadi modalitas kita
untuk bisa melaksanakan K3 di setiap
unit kerja. Jadi sudah sebetulnya tidak
ada alasan ya untuk kita di ASN untuk
tidak melaksanakan atau kesulitan
mencari dasar hukum. Nah, ini jadi sudah
tidak ada alasan lagi
untuk apa nih tidak ada dasar hukumnya.
Oh, tidak bisa ya. Karena sudah ada dua
undang-undang besar undang-undang 170
dan undang-undang 20 2023 yang mendorong
itu. Nah, bahwa ee ini perlu
penguatan-penguatan ya. Sekarang
penguatannya tidak di level
undang-undang
tetapi
di level implementasi. bagaimana kita
bisa membangun itu karena sudah ada
amanahnya. Kira-kira begitu. Jadi ee
saya terima kasih inisiatif dari BPSDM
Jawa Timur yang sudah
menginisiasi tema kita
pada minggu ini yang ee B ke-16 ya. ini
luar biasa dan saya harapkan juga nanti
BPSDM di provinsi-provinsi lain untuk
bisa membuat acara sesi-sesi yang sama.
Ini mungkin ee lebih ke awareness
tapi lebih spesifik lagi kita bisa
bangun apa ee kita bisa ee membuat
webinar yang lebih tematik begitu ya.
Karena skopnya ASN, Sobat ASN bekerja di
berbagai macam. Guru juga mengalami
potensi
bahaya, penyakit kerja dan kecelakaan
kerja. Kalau kita lihat di media sosial
ada guru yang harus menyeberangi sungai
dengan dan lain sebagainya apa ee
kendala di alam ya. Kemudian tadi ada
SATPOL PP, ada di BP ee apa ee Badan
Penang Bencana ya, ada di
UPTP, penyuluh pertanian kita misalnya,
bagaimana mereka harus menjaga
keselamatannya.
Penyakit, di rumah sakit juga tidak
kurang-kurang dari apa potensi bahaya
ya. dan ya hampir semua tempat kerja
kita punya potensi bahaya sehingga ee
dalam kesempatan ini saya sekali sekali
lagi mencampaikan apresiasi dan saran
mungkin ke depan kita bisa membuat satu
tema-tema yang
ee tema-tema pelatihan yang tematik yang
memang dibutuhkan oleh ee sobat-sobat
ASN di seluruh Indonesia. Terima kasih.
Mas Randi. Iya.
Baik. Terima kasih banyak juga untuk
jawabannya Bapak dan juga sarannya. Ini
sangat berarti bagi kami. Semoga saja
minggu depan atau bahkan bulan depan
kita bisa mengadakan ASN belajar dengan
lebih tematik lagi. Dan waktu harus kami
cukupkan untuk sesi narasumber kita yang
pertama kali ini. Terima kasih banyak
kami sampaikan kepada Direktur Bina
Pengujian Keselamatan dan Kesehatan
Kemenaker Republik Indonesia Bapak
Muhammad Yusuf, ST. M.Si. si. Sampai
jumpa, Bapak. Salam sehat selalu, ya.
Mohon izin pamit, ya. Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Jangan ke mana-mana, Sobat
ASN karena kita masih selesai dengan ee
narasumber kita yang pertama dan kita
masih akan lanjut dengan narasumber kita
yang kedua sesuai dengan apa yang telah
disampaikan oleh Pak Yusuf selaku
narasumber yang pertama bahwa narasumber
yang kedua ini akan memberikan pemaparan
yang lebih detail dan lebih jelas
mengenai K3. Jangan ke mana-mana, tetap
bersama kami. Dan buat Anda yang belum
bergubung bergabung dengan kami, Sobat
ASN, silakan mendaftarkan diri dan juga
link presensi ini akan ada di aplikasi
Semesta Bangkom. Kita akan kembali
dengan narasumber kita yang kedua
setelah yang satu ini.
[Musik]
Terima kasih, Sobat ASN masih bersama
dengan kami dalam ASN Belajar seri ke-16
tahun 2025. Dan kita sudah tergabung
dengan narasumber kita yang kedua yaitu
Komisi 3 Dewan K3 Provinsi Jawa Timur
bidang kerja sama K3 dan humas Prof. Dr.
Adity Sudiarno, ST. Aidip Nebos. Kita
akan terhung Pak Adityya. Selamat pagi,
Prof.
Selamat pagi, Mbak Fani. Dan selamat
pagi ee sapat ASN semuanya.
Baik, terima kasih telah bergabung dan
telah memberikan waktunya pada hari Rabu
ini. Kita tentunya ingin sekali untuk
mendapatkan banyak sekali ilmu dan juga
pemaparan materi yang akan disampaikan.
Kepada waktunya, Pak Adityya disilakan.
Baik. Ee Bapak, Ibu, sobat ASN semua,
saya mohon izin untuk eh share screen ya
dari ee laptop.
Baik. Ee apakah ini sudah tampak
ya? Ya, sudah tampak Bapak. Sudah tampak
ya. Baik. Ee Bapak Ibu sekalian, saya
buka dulu. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Ee
salam sehat selalu dan semoga kita
senantiasa diberikan keselamatan dan
kesehatan ya dalam menjalankan aktivitas
kita sehari-hari.
Sebelumnya saya sampaikan banyak ee
terima kasih kepada Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Dr. Ramlianto dan
ee Bapak Ibu di BPSDM yang telah
memberikan kesempatan dan kepercayaan
kepada kami ya ee di Dewan K3 Provinsi
Jawa Timur untuk ee membersamai
program-program yang dilaksanakan selama
beberapa waktu. belakangan termasuk juga
pada kesempatan kali ini. Nah, pada
kesempatan kali ini dalam seri ASN
Belajar rupanya sudah seri yang ke-16 ya
di tahun ini ya ini dalam rangka
memperingati ya ee Hari K3 sedunia atau
Hari K3 Internasional maka saya kemarin
diminta untuk menyampaikan terkait
dengan best practice penerapan
Permenaker R ya nomor 5 tahun 2018 yang
mana Permenaker ini ee membicarakan kan
tentang K3 lingkungan kerja ya.
Khususnya yang akan kita akan bahas pada
hari ini adalah yang terkait dengan ASN
ya. Jadi pokok bahasan kita hari ini
adalah
ee bagaimana sih sebetulnya penerapan
Permenaker ya ee 5 2018 ini dalam
konteks lingkungan kita, dalam pekerjaan
kita sebagai
IS. Oke, Bapak Ibu sekalian ya. Ee jadi
mungkin ini beberapa di antara kita ada
yang sudah ee cukup familiar ya dengan
Permenaker ini dan mungkin juga ada
beberapa yang ee belum familiar. Maka
kita coba simak kembali sebetulnya
Permenaker 5 2018 ini ya ruang
lingkupnya seperti apa ya. Secara umum
yang akan dibahas di dalam Permenaker 5
2018 itu adalah terkait dengan
keselamatan dan kesehatan kerja
lingkungan.
kita akan membahas ya terkait dengan
lingkungan kerja di dalam keseharian
kita itu ada faktor faktor bahaya apakah
sih sebetulnya yang perlu kita cermati
sehingga kita bisa bekerja dengan
selamat, kita bisa bekerja dengan sehat
dan akhirnya bisa meningkatkan
produktivitas ya. Nah, kalau kita lihat
di dalam Promenaker ini memang cukup
banyak bab yang ditampilkan, pasal-pasal
yang ada begitu ya. Kemudian juga
mencakup banyak sekali ee nilai ambang
batas, standar indeks, contoh-contoh
formulir ya, pedoman ya, yang mana
jumlahnya itu sebanyak 258 halaman. Dan
ini kalau kita bahas satu persatu tentu
pada pagi hari ini tidak cukup waktunya
gitu ya. maka saya akan menyampaikan
beberapa highlight utama yang penting
yang nanti bisa memberikan bekang bagi
kita semua untuk ee ya setidaknya
memahami ya secara helicopter view
kira-kira apa sih yang perlu kita
antisipasi, apa yang perlu kita
perhatikan dalam lingan kita
sehari-hari. Nanti akan saya sampaikan
beberapa contoh best practice ya,
bagaimana ini bisa diterapkan dalam
lingkungan pekerjaan kita yang juga
merupakan best practice dipakai pada
berbagai macam instansi ya kelas dunia
ya. Instansi kelas dunia artinya sebuah
instansi yang dia tidak hanya dalam
level ee apa namanya nasional ya ee apa
kinerjanya tapi dalam level
internasional. Nah, itu ternyata ada
beberapa best practice yang sangat
relate dengan ya K3 lingkungan kerja
dalam pokok bahasan kita hari
ini. Bapak, Ibu sekalian, Sobat ASN ya.
Sebelum kita masuk terkait dengan ee ada
berapa faktor bahaya di dalam Premangar
ini, maka saya ingin mengulas ya secara
umum dulu apa sih sebetulnya yang
dimaksud dengan keselamatan dan
kesehatan kerja. K3
ini ya kalau di Indonesia ini kan juga
diperingati sebagai salah satu bulan K3
ya Januari sampai Februari. Kemudian
kemarin tanggal 28 kita memperingati
sebagai hari K3 internasional. Maka
sebetulnya apa K3 itu?
Bapak, Ibu sekalian, Satn, K3 itu adalah
segala
kegiatan yang orientasinya ini adalah
menjamin dan melindungi keselamatan dan
kesehatan tenaga kerja kita melalui
upaya pencegahan kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja.
Ya, kalau kita bicara terkait dengan
upaya untuk memberikan proteksi, upaya
untuk memberikan perlindungan gitu ya
kepada tenaga kerja, maka kita ini
sebagai seorang pimpinan di instansi
kita ya, staf-staf kita, para ASN yang
bekerja dalam lingungan kita ini juga
termasuk tenaga kerja yang menjadi
partner pekerja kita yang perlu kita
berikan perlindungan terhadap
keselamatan kerjanya dan juga
potensi-potensi peny penyakit yang
mungkin nanti akan diderita oleh mereka.
sehingga konteks dalam keselamatan dan
kesehatan kerja itu adalah apapun
kegiatan itu yang perlu kita lakukan
dalam rangka memberikan perlindungan,
dalam rangka memberikan sebuah garansi
kepada ya ccle kita, kepada staf kita,
kepada rekan kerja kita, maka ya ini
adalah upaya untuk kita ee menerapkan K3
itu ya sehingga mereka semua yang berada
dalam ccle kita, lingkungan kita itu
terhindar dari kejadian yang tidak kita
inginkan. Apakah kejadian itu berupa
kecelakaan kerja maupun juga penyakit
akibat kerja. Kecelakaan kerja itu kalau
mungkin di industri yang beresiko tinggi
mungkin akan bisa kita bayangkan
kecelakaan itu adalah suatu kondisi di
mana seseorang itu mungkin
mengalami luka, mengalami suatu apa
namanya ee accident yang akan membuat
dia ee h mungkin ya mungkin ada
mengakibatkan fatality gitu ya. ya. Maka
di dalam ling pekerjaan kita hal-hal
seperti itu juga ternyata punya potensi
untuk terjadi. Ya, mungkin resikonya
tidak sebesar ya tenaga kerja yang ada
dalam industri beresiko tinggi seperti
katakanlah petrochemical, oil and cas
tapi resiko itu masih ada. Maka upaya
kita untuk memberikan perlindungan ini
adalah upaya yang merupakan upaya yang
perlu kita lakukan untuk bisa
menjalankan prinsip-prinsip K3 ya. Di
samping kecelakaan kerja sendiri juga
ada isu terkait dengan penyakit-penyakit
akibat kerja. Nanti akan saya berikan
contoh. Ada beberapa penyakit akibat
kerja yang sekiranya itu cukup banyak
kita temui dalam lingkungan pekerjaan
kita sebagai ya seorang ASN yang mungkin
lebih banyak beraktivitas itu di dalam
office, dalam kantor berhubungan dengan
pekerjaan-pekerjaan administratif. Nanti
ada contoh-contoh penyakit akibat kerja
yang kita kenal sebagai singkatan
kontrat ya nanti akan saya jelaskan.
Bapak Ibu sekalian di dalam Permenang
ke5 2018 itu tadi kita spesifik
membahasnya adalah terkait dengan
lingkungan kerja. Laras
pertanyaannya ya apa sih lingan kerja
itu? Apakah itu sama dengan tempat
kerja? Lingan kerja itu adalah aspek
hygien ya Bapak Ibu sekalian. aspek
haijin di tempat kerja yang di dalamnya
itu mencakup beberapa faktor. Faktor
fisika, faktor kimia, faktor biologi,
faktor ergonomi, dan faktor psikologi
yang keberadaannya ini ada di tempat
kerja yang dapat mempengaruhi
keselamatan dan kesehatan kerja. Ya,
jadi ini bukan belajar seperti di ee
anak-anak kita di SMA gitu ya, belajar
fisika, kimia bukan tetapi ada
faktor-faktor bahaya. yang berhubungan
dengan faktor bahaya fisika, kime yang
perlu kita tahu ya dalam rangka kita
bisa memberikan perlindungan ya kepada
partner-partner kerja kita. Jadi kalau
kita bicara lengan kerja ini adalah
aspek hygienya ya, aspek penerapan ya ee
upaya-upaya untuk bisa memberikan satu
apa ee proteksi terhadap kesehatan ya
para ee pekerja kita, para apa ccle kita
sekitar sekitar lingkungan kerja kita.
Ya, kira-kira begitu. Nah, nanti kita
akan lihat ada beberapa faktor yang
mungkin secara lebih detail apa sih
sebetulnya definisinya faktor fisika,
kimia, biologi, ergonomi, dan psikologi
itu yang ada dalam ling. Nah, sementara
kalau kita bicara tentang tempat kerja,
maka tempat kerja ini akan lebih merujuk
kepada suatu entitas yang kita sebut
sebagai entitas fisik, ya. Tiap ruangan
atau lapangan terbuka ataupun tertutup
gitu ya, baik dia bergerak ataupun
tetap. Di mana tenaga kerja atau yang
sering ya, di mana tenaga kerja itu
bekerja atau ya lokasi yang sering
dimasuki tenaga kerja untuk keperluan
suatu usaha dan di mana terdapat sumber
atau sumber-sumber bahaya termasuk semua
ruangan, lapangan, halaman sekelilingnya
merupakan bagian yang berhubungan dengan
tempat kerja tersebut. Jadi kalau kita
bicara tempat kerja singkat kata itu
adalah ya entitas fisiknya ya. Entitas
fisiknya atau yang kita sebut sebagai
area gitu ya, area tertentu begitu yang
di mana itu dipergunakan oleh tenaga
kerja untuk bekerja ataupun dimasuki ya
oleh ee seorang tenaga kerja untuk
beraktivitas. Nah, di dalam tempat kerja
itu ada sumber-sumber bahaya. Kira-kira
begitu ya. sumber-sumber bahaya yang
perlu kita antisipasi. Sehingga kalau
kita lihat apa sih lingan kerja, apa sih
tempat kerja, maka ini dibedakan. Salah
satunya adalah bahwa tempat kerja
berbeda dengan lengan kerja adalah
tempat kerja itu lebih merujuk kepada
entitas fisik ya. Oke, Bapak Ibu
sekalian dalam pembahasan kita di
Permenaker 5 2018 yang perlu saya
sampaikan untuk memberikan highlight
kepada kita semua tentang apa sih
sebetulnya isi dari Permenaker itu yang
jumlah halamannya sangat banyak. Yang
utama adalah kita akan mengenal lima
cakup lima cakupan ya faktor lengan
kerja yang apa ya
yang mendominasi yang ada dalam sekitar
kita, yang ada dalam ccle kita. Ada ada
beberapa. Yang pertama adalah faktor
fisika. Tadi sudah saya sebutkan ya. Ada
faktor fisika, kemudian nanti ada faktor
kimia ya. Kemudian yang ketiga nanti ada
faktor biologi yang berhubungan dengan
hewan, tumbuhan dan lain sebagainya.
Kemudian nanti ada faktor ergonomi. Nah,
ini nantilah yang merupakan faktor yang
akan banyak ya berhubungan dengan kita
ketika kita itu aktivitasnya lebih
didominasi dengan aktivitas pekerjaan di
lingkungan perkantoran. Ya, nanti kalau
yang di lapangan mungkin nanti akan
banyak berhubungan dengan faktor kimia,
banyak berhubungan dengan biologi,
fisika, dan seterusnya. Kemudian
berikutnya juga ada faktor yang kelima
yaitu adalah faktor psikologi yang
terkait dengan ee aspek mentali dari ee
apa ee para pekerja di sekitarnya. Jadi
lima poin inilah yang ada di dalam ee
cangkupan Permenagaker 5
2018. Untuk apa ya syarat-syarat K3
lemungan kerja ini dilakukan? Ternyata
tujuannya adalah untuk mewujudkan satu
lingan kerja yang aman, yang sehat, dan
nyaman dalam rangka mencegah kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja. Jadi
konteksnya kita tidak hanya bicara
selamat saja, tidak hanya bicara tentang
keamanan saja maupun tentang kesehatan,
tapi juga bicara tentang kenyamanan.
Prinsip-prinsip di dalam ee Permen Agar
5 2018 khususnya yang berhubungan dengan
ergonomi itu di antaranya adalah kita
perlu merancang suatu lingan kerja kita
ya sekitar kita gitu ya supaya
memberikan aspek kenyamanan bagi pekerja
kita, supaya memberikan aspek ee apa ee
kenyamanan, comfort gitu ya. sehingga
kita bisa bekerja dengan lebih ee tenang
ya, lebih enak ya, sehingga pada
akhirnya produktivitasnya meningkat.
Jadi konteksnya seperti itu ya, ingin
mewujudkan suatu lingkungan kerja yang
aman, sehat dan nyaman. Nah, Bapak, Ibu
sekalian di dalam faktor-faktor bahaya
tersebut tentu ada standarisasi yang
perlu kita perhatikan ya. pengendalian
yang akan kita lakukan untuk memberikan
perlindungan kepada pekerja kita, kepada
staf kita, kepada sircle kita itu ketika
kita masuk ke dalam faktor fisika dan
faktor kimia ya, faktor satu dan faktor
du di sini maka kita perlu memperhatikan
NAB. NAB ini adalah nilai ambang batas.
Misalnya faktor fisika itu ada
berhubungan dengan ee pencahayaan,
berhubungan dengan kebisingan. Maka di
sana kita akan menggunakan nilai ambang
batas sebagai kriteria bahwa lingkungan
kerja kita itu cukup aman ataukah tidak.
Ya, begitu juga untuk faktor nomor dua,
penggunaan bahan-bahan kimia yang
berbahaya itu akan menggunakan
standarisasi nilai
NA ya. Kemudian untuk faktor biologi,
faktor ergonomi, faktor psikologi yang
notab ini adalah faktor-faktor yang bisa
kita katakan faktor lebih soft begitu
ya. maka kita akan menggunakan suatu
patokan kitaebut sebagai stan. Sehingga
kalau kita lihat dalam Permenaker itu
ada cukup banyak halaman lampirannya.
Maka halaman lampiran itu tidak hanya
mencakup nilai ambang batas, tapi
mencakup standarnya. Misalnya apa yang
perlu diperhatikan supaya lingkungan
kerja kita itu cukup nyaman, cukup
ergonomis, maka ada standar katakanlah
antrometri yang perlu kita perhatikan,
ada standar melakukan manual material
handling misalnya, berapa besar beban
yang layak yang diangkat oleh seseorang
untuk melakukan
aktivitas pengangkatan secara manual.
Nah, maka itu menggunakan istilah
standar-standar. Sehingga yang perlu
kita pahami di sini adalah dalam
menerapkan kaki lingan kerja itu ada
lima faktor. Kemudian masing-masingnya
kita perlu menjaga ya kita perlu menjaga
supaya faktor kimia dan faktor fisika
itu di bawah atau masih dalam rentang
aman pada nilai ambang batasnya.
Sementara untuk yang biologi, ergonomi,
maupun psikologi maka ya kita harapkan
masih dalam koridor standar-standar yang
kita tentukan ya. Jadi kalau kita bicara
ekonomi maka ada standarnya standar
antrometri, standar mengangkat beban
yang berat dan sebagainya. Termasuk juga
dalam faktor psikologi standarnya orang
bisa menerima beban kerja dalam waktu 1
hari itu seberapa besar load beban yang
diizinkan untuk dia bisa terima.
Kira-kira begitu gambarannya ya. Jadi
ada lima buah cakupan faktor bahayanya
yang perlu kita lihat. Nah,
masing-masing itu seperti apa ya? maka
masing-masing itu untuk faktor fisika
yang pertama faktor ini adalah faktor
yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga
kerja ya yang bisa ee mempengaruhi
terhadap ASN ya dalam pekerjaan kita
sebagai seorang ASN yang faktor itu
bersifat
fisika yang disebabkan karena misalnya
adalah penggunaan mesin, penggunaan
peralatan-peralatan tertentu, penggunaan
bahan-bahan tertentu dan kondisi
lingkungan di sekitar tempat kerja yang
dapat menyebabkan
Gangguan dan penyakit akibat kerja
meliputi di antaranya adalah iklim
kerja, kebisingan, getaran, radiasi
gelombang mikro, radiasi ultra, violet,
radiasi medan magnet statis, tekanan
udara dan bencaan. Kalau pekerjaan kita
itu sebagai seorang ASN itu banyak di
lapangan nyuluh misalnya tadi kalau ee
Pak Direktur menyebutkan yang di dalam
penanganan bencana daerah begitu ya ada
potensi ya rekan-rekan HN ini ya
terpapar oleh iklim kerja yang
ekstrem panas ekstrem misalnya ya atau
mungkin suhu yang dingin misalnya ketika
ee evakuasi atau penyelamatan itu harus
dilakukan dalam kondisi malam dan hujan
lebat misalnya, maka berhubungan dengan
faktor-faktor fisika,
kebisingan,
getaran ya. Kemudian yang mungkin lebih
banyak kita akan rasakan itu sebagai
misalnya seorang ASN yang bekerja
aktivitasnya itu ee didominasi pekerjaan
di kantor, di office, maka isu tekanan
udara, pencahayaan inilah yang mungkin
akan lebih banyak ee berinteraksi dengan
kita ya. pencahayaan di dalam ruang
station kerja kita, dalam ruang kerja
kita, ya di depan laptop misalnya, di
depan komputer, maka perlu ada
pencayaan-pencayaan yang perlu kita atur
dan ada nilai ambang batas yang bisa
kita gunakan sebagai rujukan dari ee
Pramaker 5 2018 itu. Kemudian yang
kedua, yang kedua adalah faktor kimia.
Nah, jadi faktor yang dapat mempengaruhi
aktivitas tenaga kerja ini sifatnya
adalah kimiawi yang mana orientasinya
itu berhubungan dengan penggunaan
bahan-bahan kimia maupun
turunannya ya, kontaminan kimia di
udara, adanya uap partikulat dan lain
sebagainya.
Mungkin potensi faktor kimia ini
memberikan paparan kepada rekan-rekan
ASN itu ketika misalnya adalah melakukan
pengujian atau melakukan evaluasi dalam
sebuah industri tertentu yang
menggunakan yang menghasilkan
bahan-bahan kimia misalnya, maka ada
potensi paparan di sana ya, kontaminan
kimia berupa gas, uap, partikula
tertentu yang sekiranya akan berpengaruh
kepada ee kondisi kesehatan. Maka ini
adalah faktor kimia. Kira-kira seperti
itu ruang lingkupnya, ya. Kemudian
berikutnya adalah faktor biologi. Faktor
biologi ini apa? Faktor biologi adalah
faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas
tenaga kerja yang sifatnya adalah
berhubungan dengan biologi ya, meliputi
hewan, tumbuhan, dan produknya serta
mengukur organisme lainnya yang dapat
mengakibatkan suatu penyakit akibat
kerja. Rekan-rekan kita ASN yang bekerja
di rumah sakit, rekan-rekan ASN yang
bekerja di lingkungan Puskesmas, di
lingkungan klinik, di
laboratorium-laboratorium, maka ada
potensi untuk berinteraksi dengan faktor
bahaya biologi ini. Apakah ada
standar-standar yang perlu dipatuhi,
standar-standar yang perlu dicermati
untuk bisa memberikan satu perlindungan
atau proteksi kepada rekan-rekan ASN
yang bekerja di satu lingan kerja yang
karakteristiknya cukup banyak ya,
berhubungan dengan faktor
biologi ya. Oke, berikutnya adalah
faktor ergonomi. Nah, nanti di dalam
faktor ergonomi inilah yang ingin yang
saya bahas ya, mungkin lebih spesifik
karena inilah yang ee relatif banyak
punya irisan, banyak punya keterubungan
dengan kita semua yang ada di dalam ee
apa ee sesi ini. Apa faktor ergonomi itu
ya? Istilah ergonomi saya yakin sudah
cukup banyak ya ASN yang pernah dengar
gitu ya. Ya, ergonomi adalah faktor
ergonomi adalah faktor yang dapat
mempengaruhi aktivitas tenaga kerja
disebabkan oleh ketidaksesuaian antara
fas kerja entah itu meliputi cara kerja,
posisi kerja, alat kerja, perubahan
angkat terhadap tenaga kerja. Kalau di
industriakan banyak isunya adalah
terkait dengan material handling,
memindahkan material, memindahkan benda
hasil produksi, output produksi dan
sebagainya yang diangkat secara manual.
Nah, mungkin nanti di dalam kita di ASN
mungkin aktivitas seperti itu tidak
banyak tapi ada. Nah, ini termasuk juga
bagian dari isu ergonomi yang perlu kita
cermati ya. Nah, yang dalam bagian
ergonomi ini yang akan banyak
berinteraksi dengan kita itu adalah ya
bagaimana cara kita bekerja ya,
bagaimana cara kita misalnya adalah
menata sebuah lingkungan kerja kita
supaya lebih teratur, lebih apa ya ee
lebih tertib, lebih terawat dan lain
sebagainya. Maka meliputi cara kerja.
Nanti akan saya tampilkan salah satu
best practice yang mungkin kita sudah
pernah dengar begitu ya. Namanya adalah
5S dalam bahasa Jepang.
Cara kerja. Cara kerja best practice ini
banyak diterapkan di
industri-industri kelas dunia yang word
class company ya. Kemudian posisi kerja,
cara kita dudur ya. Iya. Peralatan kerja
kita, meja dan sebagainya, alat-alat
kerja yang kita gunakan ya. Mungkin
kalau kita alat kerja kita itu berupa
hand tools misalnya. Kadang-kadang alat
kerja seperti hand tools ya yang kita
gunakan perkakas-perkakas itu ya ya
untuk melakukan kegiatan ee apa
perbaikan dan sebagainya itu terkadang
ya tidak cukup ergonomis sehingga
memberikan suatu dampak kepada ya fungsi
tubuh kita. Kira-kira gitu. Sehingga
kalau kita bicara tentang ergonomi itu
adalah yang berhubungan dengan
ketidaksesuaian fasilitas dan
sebagainya. nanti akan saya sampaikan
kira-kira ruang lingkupnya ekonomi itu
seperti apa ya supaya nanti bisa lebih
memberikan gambaran tentang ergonomi itu
sendiri. Oke, berikutnya yang kelima
yang faktor yang kelima adalah faktor
psikologi. Faktor yang mempengaruhi
aktivitas tenaga kerja disebabkan karena
hubungan antar personal dan tempat
kerja, peran dan tanggung jawab terhadap
pekerjaan. Nah, ini merupakan satu
faktor bahaya
yang ada di manapun, ada di tipikal
pekerjaan apapun.
bilang bukan apa kerja dalam suatu
lingkungan instansi pemerintah, suatu
industri ya suatu ee kondisi pekerjaan
di lapangan pun ada kondisi software
psikologis yang berhubungan dengan
hubungan interpersonal dengan pihak
lain, dengan kolega kerja kita, dengan
cirkel kita, dengan atasan kita, dengan
bawahan kita ya, dengan yang satu layer
atau satu level ini seringki terjadi ee
ee apa mungkin ketidaksesuaian, tidak
cocokan, ada peran tanggung jawab yang
mungkin ee apa tidak seimbang, peran
tanggung jawab yang harusnya
dilaksanakan tapi dilaksanakan akhirnya
menjadi beban bagi rekan kerja yang lain
dan seterusnya. Maka ini adalah faktor
psikologis yang juga ada di dalam
konteks eh apa permakir 5 2018. Sehingga
faktor psikologis ini di antaranya di
permak 5 2018 itu diukur dengan
menggunakan kuioner SPS stress diagnosis
survey. Jadi untuk bisa mengetahui
seseorang dalam suatu lingan pekerjaan
itu dia ya faktorologisnya masih dalam
ambang batas fajar ataukah tidak ya
dalam bahasa sederhana adalah stres
ataukah tidak. maka kita bisa melakukan
pengukuran. Ini pun juga termasuk dalam
konteks lingan kerja. Sekali lagi apa
yang ada dalam faktor-faktor ini dalam
kerja ini adalah suatu hal yang abstrak,
suatu hal yang ee apa ya ada ya tetapi
mungkin sulit untuk diilihat secara
langsung ya. faktor fisika misalnya ya,
kebisingan ada paparan kebisingan suara
suara yang mengganggu itu ada tapi tidak
mudah untuk kita lihat secara langsung
ya termasuk juga faktorologis stres
kerja ya pekerjaan yang mungkin overload
dan sebagainya itu ada tapi sulit untuk
kita bisa lihat secara langsung faktor
ergonomi tadi kenyamanan ketika kita
bekerja di dalam suatu fasilitas kerja
station kerja ternyata tidak cukup tidak
cukup nyaman sih sehingga ya pekerjaan
kita cenderung lama untuk selesai, maka
sifatnya adalah suatu hal yang abstrak
juga. Ya, jadi Bapak Ibu lima faktor
inilah yang ada di dalam PR akhir 520.
Nah, maka saya mohon izin untuk masuk ke
dalam konteks ergonomi di mana view ini
akan sangat banyak di dalam dengan
pekerjaan kita. Ya, sebetulnya saya juga
ingin membahas yang psikologis lebih
dalam, tetapi mungkin karena waktunya
tidak cukup banyak, maka saya akan lebih
banyak menekankan ke ee isu atau faktor
buyer. Kebetulan juga di faktor high
ekonomi ini ya, kita sudah punya SNI ya
911 ya yang terkait dengan ee pengukuran
ee faktor resiko ergonomi. Sehingga saya
kira ini menjadi suatu hal yang penting
untuk kita bahas. Nah, sekarang kita
kembalikan dulu apa sih sebetulnya
ergonomi. Ergonomi itu adalah suatu
ilmu, suatu disiplin keilmuan yang
berkaitan dengan ya interaksi antara
manusia dan elemen lain dalam suatu
sistem ya. Jadi dalam suatu sistem
pekerjaan kita, kita sebagai seorang
pekerja, sebagai seorang AS ini kan
berinteraksi dengan elemen lain dalam
lingkungan pekerjaan kita. Berinteraksi
dengan elemen lain itu apa?
Interaksi kita dalam pekerjaan itu
mungkin akan berhubungan dengan
interaksi kita dengan ini apa namanya
ee faktor pencahayaan akan berhubungan
dengan rekan kerja kita, akan
berhubungan dengan jumlah banyak
sedikitnya pekerjaan yang harus kita
lakukan, akan berhubungan dengan
fasilitas kerja yang kita gunakan. Ya,
intinya adalah ergonomi itu adalah suatu
disiplin yang ingin mencoba untuk
menerapkan teori-teori, prinsip ya,
bagaimana kita bisa merancang suatu
lingkungan pekerjaan kita itu supaya
ergonomis, supaya sesuai ya antara ya
peralatan dengan pengguna. Sehingga
dalam bahasa yang yang sangat dikenal di
kalangan teman-teman International
Ergonomic Association ya atau asosiasi
profesi yang menaungi ergonomi ya maupun
perhimpunan ergonomi Indonesia maka
terminologi yang umum kita pakai itu
adalah fitting a job to a person ya atau
fitting the task. Jadi dalam lingut
pekerjaan itu ketika kita bekerja ada
konteks di mana ingan kerja kita itu
tidak cukup nyaman buat kita. Maka akan
menyesuaikan itu bukan orangnya tapi
yang akan menyesuaikan itu adalah
lingkungannya yang kami sesuaikan adalah
pekerjaannya yang akan menyesuaikan itu
adalah tasnya. sehingga kita perlu
melakukan sebuah rekayasa untuk
memperbaiki tas pekerjaannya supaya fit
dengan karakteristik si pekerja tadi.
Kira-kira begitu ya. Jadi dalam ergonomi
itu kita tahu orang punya keterbatasan,
orang punya kelebihan. Orang punya
keterbatasan ketika dia bekerja dengan
kondisi paparan panas ekstrem maka ada
batasannya. Nah, supaya nanti panasnya
tidak terlalu ekstrem misalnya, apa yang
harus dilakukan? Nah, itu yang kita
intervensi. Oh, yang harus kita lakukan
itu adalah membuat ventilasi. Oh, yang
harus kita lakukan itu adalah menambah
pencahayaan misalnya. Maka yang
menyesuaikan itu ya bukan orangnya, tapi
pekerjaannya. Tapi yang kita akan
sesuaikan adalah elemen-elemen di luar
orangnya. Kira-kira sehingga analogi ini
akan menarik untuk kita simak ya Bapak
Ibu sekalian. Ergonomis itu akan
berpikir ya, seorang ahli ergonomi itu
akan berpikir bagaimana melakukan
fitting rancangan itu terhadap pekerja,
terhadap orangnya. Jadi, andai kata ini
adalah sebuah
permainan ya, permainan e apa namanya?
kuda-kudaan begitu ya. Maka ketika orang
ini ee apa ee katakanlah ee apa ya
anggaplah badut atau pelawaklah di
sebuah sirkus. Maka ketika dia
menggunakan ini untuk menghibur
anak-anak gitu ya, supaya orang tidak
mengalami cedera pada kakinya, maka
boleh jadi ya permanan itu
dimodifikasi bagian punggungnya di sini
sehingga kaki dari orang ini akan fit di
sini dan tidak terjadi di mana orang itu
mengalami problem kaki menjadi berbentuk
O karena lebarnya dari ee punggung di
sini. Jadi yang kita akan lakukan itu
adalah fitting di desain. Desainnya kita
rebuang. Bukan orangnya dipaksa untuk
ngikutin ini, bukan dipaksa untuk
mengikuti permainan ini. Kira-kira
begitu ya. Sehingga peralatan ini akan
beradaptasi atau kita modifikasi agar
sesuai dengan penggunaannya. Maka kalau
dalam contoh sederhana itu dalam kita
bekerja dalam ling
perkantoran, ada sebuah kursi itu yang
bisa dinaik turunkan supaya apa? supaya
orang dengan ketinggian tertentu yang
mungkin berbeda dengan rekan kerja
lainnya yang juga menggunakan kursi itu
mungkin supaya dia bisa lebih nyaman,
bisa lebih produktif ketika dia bekerja
pada akhirnya. Kira-kira begitu. Nah,
berbeda dengan pendekatan satunya ya.
Orang dipaksa untuk beradaptasi tidak
demikian dalam konteks ergonomi. Maka
yang dilakukan ee apa? Perubahan
modifikasi adalah justru lingkungan
kerjanya atau peralatannya.
Nah, apa prinsip dasar ergonomi yang
baru kita tahu
supaya standar-standar dalam ergonomi
itu bisa terpenuhi? Maka prinsip
dasarnya adalah Bapak, Ibu bisa
menggunakan istilah
enase. Enase itu adalah untuk efektif
E. Kemudian ada nyaman singkat dengan N.
Kemudian ada aman ya. Maka dalam bekerja
itu kita perlu aman atau selamat, kita
perlu sehat juga, kita perlu efisien.
Ya, enas dia dibaca Enas ya. Ya, ada
pakar yang mengatakan ee apa ya mungkin
bukan enase tapi e A ns e bisa juga
enggak ada masalah tapi setidaknya
prinsip-prinsip apakah itu efektif,
nyaman, aman, sehat, itu bisa terpenuhi.
Ya, ini dituliskan enase efektif,
nyaman, aman, sehat itu supaya lebih
mudah diingat kira-kira begitu. Tapi
intinya adalah dalam kita menerapkan
prinsip ergonomi ini, kita ingin
meyakinkan bahwa pekerjaan kita yang
kita berikan intervensi itu perlu kita
lakukan intervensi supaya apa? Supaya
efektif, supaya memberikan kenyamanan,
supaya memberikan keamanan dan
keselamatan, supaya memberikan
kesehatan, supaya memberikan efisiensi.
Ya, jadi efisiensi tidak hanya ada pada
anggaran, Bapak, Ibu sekalian. Efisiensi
juga ada pada konteks ergonomi ya. Kalau
beberapa waktu belakangan ini kan kita
di lingkungan insentif pemerintah kan ee
sedang getol-getolnya melakukan
efisiensi. Maka efisiensi itu ada dalam
konteks ergonomi ya, tidak hanya ada
dalam konteks lingkaran sementara ya.
Nah, peralatan-peralatan kerja yang bisa
kita lakukan adjustment seperti ini bisa
diturunkan, bisa dinaikan, bisa ditarik
ke kiri ke kanan, bisa digerakkan ke
kiri kanan. ya. Untuk apa? Untuk
memberikan pemenuhan terhadap
prinsip-prinsip efektif, nyaman, aman,
sehat,
dan ya. Apakah harus seperti itu? Ya,
tidak. Nanti bentuk contoh tnya akan
sangat banyak sekali Bapak, Ibu sekalian
ya. Andai kata kita tidak mampu,
katakanlah dari segi anggaran tidak bisa
menupport ee dengan peralatan-peralatan
yang adjustable seperti itu, maka nanti
ada treatmentnya ya. Bisa dengan
memberikan treatmen berupa peregangan
ya, berupa rotasi. ya tukar posisi dan
sebagainya itu adalah treatment yang
bisa kita lakukan supaya orang tidak
katakanlah tidak terpapar dengan ee apa
peralatan kerja yang tidak fit dengan
tubuh ya nanti akan saya bahas setelah
yang ini. Nah, Bapak Ibu sekalian,
prinsip tadi NAC itu perlu kita penuhi
dalam rangka apa? Best practice-nya ya,
penerapan terbaiknya itu perlu kita
lakukan untuk apa? Untuk menghindari
para pekerja kita itu dari problematika
gotra ya. Gotrak ini adalah ya bahasa
Indonesia ya ini bukan bukan ojol ya
trak gitu ya bukan temannya ojol ya
bukan komoditornya ojolak ini
singkang kontrak itu adalah gangguan
otot ya rangka akibat kerja ya jadi
kontrak itu adalah ganggian otot dan
rangka akibat kerja ada otot dan rangka
kita itu yang mungkin mengalami over
exerction mungkin mengalami tekanan yang
berlebih saat bekerja Apa contoh bentuk
kegiatan apa penyakit yang sering kita
jumpai bahkan itu dilangkan lingkungan
pekerjaan administratif adalah karpal
tunel syndrome Bapak Ibu sekalian. Oke.
Di sebab ASN kapal tan sindrom adalah
suatu problematika di lingkungan
pergelangan tangan ini ya di mana
terjadi suatu ee apa ya
suatu himpitan begitu ya. Himpitan yang
akan mengganggu saraf-saraf kita di
bagian bawah sini, di dalam bawah lorong
kalar itu. Nah, ini Bapak Ibu ASN yang
dokter ya, ini pasti akan bisa
menjelaskan dengan lebih baik ya. Ya,
intinya apa? Penyakit ini terjadi karena
bisa jadi kita terlalu banyak
beraktivitas di dalam suatu apa
perangkat kerja kita ya, gadget kita,
laptop kita dalam waktu durasi yang
panjang tanpa ada sebuah relaksasi.
sehingga seringkiali tangan kita ini
menyentuh keyboard yang mungkin tidak
ergonomis, menyentuh keyboard yang ee
apa cukup keras begitu dia dalam waktu
yang lama sehingga akhirnya terjadi
problem karpol
tanron ya akan berpengaruh kepada
kemampuan motorik dan sensorik tangan
ya. Jadi yang mengalami CTS ini nanti di
lingan ibu jari jari telunduk dan jari
tengah karena ada himpitan di bagian
sini. Kira-kira begitu. Nah, ini
seringkiali
terjah studi yang mencoba merangkum ya
Karpal syndrome ini terjadi di tipikal
pekerjaan apa dan salah satunya adalah
pekerjaan di lingungan apa. Begitu juga
dalam lingungan pekerjaan office ada
yang namanya lower back pain problem ya.
Ada lower back pain ya suatu kesakitan
di bagian punggung bagian bawah gitu ya
yang mana akan menunukan rasa nyeri atau
perasaan tidak nyaman ya. kalanya ini
muncul dengan tiba-tiba dan lain
sebagainya. Kenapa? Karena kita terlalu
banyak aktivitas di kursi. Duduk dalam
posisi statis, duduk dalam posisi tidak
bergerak sama berjam-jam. Maka ada
potensi mengalami seperti itu. Kemudian
apalagi yang kontrak yang sering kita
jumpai dalam kasus-kasus pekerjaan kita
yang lebih banyak berinterasi dengan
administrasi dan lain sebagainya adalah
penyakit
tendonitis ya. gangguan berupa
peradangan atau oriasi pada tendon ya.
Nah, di sinilah ee terjadi suatu apa?
Tendon ituis peradangan itu di area
tumit, lutut, siku, bahu, dan lain
sebagainya ya. Karena ada beban yang
cukup besar terjadi pada t. Kapan ini
terjadi? Mungkin pada saat kita
melakukan aktivitas pengangkatan
material, mungkin pada saat kita
sederhana, ibu-ibu mungkin terjadi pada
kasus di mana harus menggunakan sepatu
High Hills, berjalan dalam ee durasi
yang lama, dalam ee jarak yang jauh dan
sebagainya itu ada potensi karena ada ya
iritasi pada tendon karena adanya beban
yang cukup besar yang harus dipikul oleh
ee otot-otot kita khususnya di wilayah
tumit, lutut, siku dan bah. Nah, ini ini
seringki terjadi. Lalu, bagaimana best
practice-nya untuk bisa kita terhindar
dari situ? Maka secara prinsip ya
ergonomi ini atau katikal liman kerja
untuk faktor bayar ekonomi itu
merekomendasikan banyak peregangan otot
saat bekerja ya. Entah itu dengan
melakukan back extension, next forward
ya, ataupun apa next left and right ya,
di apa
dimiringkan ditekuk begitu ya, maupun
yang ee apa peregangan-peregangan yang
lain gitu ya. Maka ini ini perlu untuk
dilakukan supaya potensi-potensi resiko
tadi itu bisa terkurangi. Jadi memang
kalau kita banyak bekerja di lingkungan
pekerjaan ya e office administrasi itu
kita akan lebih banyak terpapar dengan
potensi-potensi diam duduk secara statis
ya. Pekerjaan-pekerjaan sedentary,
pekerjaan yang membutuhkan waktu durasi
yang panjang namun posisi tubuhnya itu
tidak tidak mobile, tidak bergerak. Nah,
ini ada potensi ke arah maka best
practice-nya adalah dibuat seperti ini.
Cukup banyak Bapak, Ibu sekalian
kampaign-kampain atau kampanye-kampanye
yang dibuat oleh ee
perusahaan-perusahaan begitu yang bisa
kita contoh gitu ya, yang meletakkan
model-model begini, informasi-informasi
untuk peregangan otot ini dalam meja
kerja kita ya. Bahkan ada yang membuat
ini ditampilkan best practice itu
ditampilkan pada saat kita login untuk
presensi harian. Nah, itu kadang-kadang
ditampilkan itu sebagai sebuah apa?
Reminder, sebagai sebuah kampanye,
sebagai sebuah iklan bahwa mereka yang
bekerja perlu ada aktivitas perkara. Itu
contoh-contoh best practice yang ada di
industri. Yang sederhana dibuatkan
poster, ditempel di meja, tempel di
dinding dan lain sebagainya. Atau yang
lebih advance dimasukkan dalam sebuah ee
apa? platform tertentu, online tertentu.
Sehingga pada saat kita cek ee apa
namanya? ceklok ya atau pada saat kita
ngisikan presensi itu kita bisa teringat
kembali dengan perlunya perkangan ya.
Oke saya lanjutkan Bapak Ibu sekalian
maka apa contoh best practice lain yang
bisa kita pelajari dari kasus-kasus di
perusahaan-perusahaan yang bisa kita
adaptasi dalam lingungan pekerjaan kita
sehari-hari dan berhubungan dengan K3
lingkungan kerja. Bapak, Ibu sekalian,
dalam konteks ergonomi yang ada dalam
Permenaker 5 2018 itu tidak menutup
kemungkinan hanya isu terkait dengan
manual handling dan juga antromedik. Ada
isu tata cara kerja tadi n ada depan
cara kerja. Maka cara kerja itu adalah
bagaimana kita mengatur workstation
kita, station kerja kita. ambil contoh
dalam ilustrasi gambar seperti ini. Di
sini mungkin gambar sederhana dengan
pekerjaan yang sehari-hari kita juga
rasakan. Kita juga lihat di dalam
pekerjaan kita dalam sehari-hari
ternyata ada cukup banyak faktor bahaya
yang berpotensi untuk menimbulkan
problematika bagi pekerjaan di sana.
Ternyata kalau kita lihat ini jumlahnya
ada
11 dari contoh kasus ini ya. Misalnya
pertama adalah rantai yang tidak rata
ya. ada ee karpet yang mungkin akan
membuat orang itu terpeleset, terjatuh
ya. Kemudian ada benda-benda yang
berserakan, files on floor ya. Kemudian
nanti ada eh aktivitas yang kita sebut
sebagai sitting add ya, kegiatan duduk
dalam durasi waktu yang lama misalnya.
Kemudian yang keempat adalah beberapa
boks yang disusun ya dan lain sebagainya
sampai yang poin ke-11. termasuk juga di
antaranya adalah ee orang mengangkat ya
jumlahnya besar ya. Kemudian rocking on
chair ini adalah kayak ee duduk di dalam
di atas kursi tapi sambil
dimain-mainkan. Ini kan seringkiali kita
jumpang. Nah, maka ini juga termasuk
salah satu view dalam ergonomi dalam
lingan kerja kita yang perlu kita
perhatikan. Maka ada dalam ilustrasi ini
kita temukan 11 potensi bahaya yang akan
memberikan satu ee tingkat resiko kepada
para pekerja di situ. Nah, lalu
bagaimana supaya yang seperti ini tidak
muncul gak terjadi? Maka salah satu tips
dan triksnya best practice dari berbagai
macam world class company ya itu adalah
melakukan
5S ya. 5S ini ya saya yakin di sini
sudah pernah mendengar begitu ya apa itu
5S dan bahkan mungkin dilakukan sebuah
kampaign. Kami pun di perguruan tinggi
kami di ITS mengadakan kompetisi 5S ini
setiap tahun ya yang kita lakukan supaya
teman-teman di apa lingkungan kampus itu
ya baik dosen maupun teknik ya tenaga
pendidikannya itu terhadap lingkungan
kerja ergonomis yang mereka harus jaga
dan ini ternyata banyak juga penerapan
ini dipakai di world class company
contohnya adalah di Toyota kita tahu
bahwa Toyota adalah perusahaan pera
manufaktor mobil yang tidak hanya
beroperasi di Indonesia. Dia menerapkan
5S ini dengan sangat baik, ada
kompetisinya ya. Kemudian di Hidard ya,
produsen eh apa HP ya, apa merek brand
HP gitu ya. eh untuk laptop, untuk
printer itu menggunakan Harley David dan
sebagainya semua menggunakan mereka
sukses. Bahkan dia kasus-kasus yang
ditulis oleh praktisi dari
perusahaan-perusahaan itu menyebutkan
adalah salah satu ciri dari world class
company adalah bagaimana dia menjaga
faktor bahaya ergonomi itu dengan cara
menerapkan 5S dengan baik.
5S ini tidak hanya sekedar meringkas,
merapikan, menyapu, merawat, ya membuat
lebih rajin, tidak. Tetapi secara
filosofi ini mampu me apa ya
menggerakkan krisos yang ada di kita,
ccle di sekitar kita itu untuk saling
bersinergi dalam menjaga lingan kerja
kita supaya lebih teratur ya. Supaya
lebih teratur, supaya lebih apa namanya?
sehat, tidak ada yang berantakan dan
tidak mengganggu atas kerja kita yang
lain ya. Siri, seton, seisus dan seri
itu apa ya? Dalam bahasa Indonesia itu
adalah ringkas juga bisa kita
terjemahkan menjadi sisih ya. Ini juga
bahasa Indonesia ringkas sisih
Indonesia. Short ini bahasa Inggrisnya
yang dipakai di e apa namanya? Di
negara-negara Amerika maupun Eropa yang
menerapkan prinsip-prinsip di Indonesia.
Ini prinsip lama tetapi sampai sekarang
masih dilakukan dan ini adalah bagian
dari best practice bagaimana ergonomi
dalam kerja kita ya. Jadi sir itu adalah
ringkas atau sisih ya kita bersihkan ya
sori kita ringkas ya enggak kita pakai
kita buang kita sisihkan kira-kira
begitu dia adalah setan setan adalah set
in order ya setan ini bukan setan ya
tapi setan dalam Jepang itu adalah kita
lakukan kegiatan untuk merapik menyusun
ya setelah tadi yang enggak perlu kita
sisihkan, kita pilah-pilah sekarang kita
rapikan, kita tata, kita
kelompok-kelompokkan, ya. Kemudian nanti
ada yang namanya SEO. Apa sayo ini? Seso
ini adalah kita baru membersihkan shine
atau meresikkan atau menyapu. Izin,
Prof. 5 menit lagi. Oke. Baik, sudah di
reminder insyaallah sampai ini waktunya
enggak lebih dari 5 menit. Kemudian
berikutnya
adalah eh yang keempat adalah seatsu
standardize. Kita perlu melakukan
standarisasi. Kita perlu melakukan
kegiatan itu untuk kita rawan. Jadi apa
sudah kita upayakan di sini? Kita CC,
kita rapikan, kita bersihkan, maka kita
upayakan untuk apa? Kita jaga sebagai
sebuah standarisasi kita ya. Maka yang
adalah siksu. Kemudian yang kelima
adalah situk ya. Sitsuk adalah sustain.
Bagaimana upaya 1 2 3 4 yang sudah kita
buat sampai standar ini adalah kita
melakukan secara terus-menerus. Kita
rajin, kita sinambung untuk melakukan
hal yang sama. kita konsisten dari waktu
ke waktu untuk makan. Maka inilah
prinsip di dalam ya faktor bahaya
ergonomi yang perlu kita lakukan ya.
Kira-kira
demiki nah ini adalah ilustrasi
gambar-gambar yang mungkin bisa
memberikan suatu inspirasi dan kegiatan
seperti ini tidak hanya penting buat
penerapan lingkungan kerja tapi juga
sangat penting untuk apa? Meningkatkan
teamwork di antara kita. Karena kita
melakukan kegiatan seri ini menyisihkan
gitu ya. kemudian melakukan kegiatan apa
me me apa ya memilah-milah begitu ya itu
tidak hanya dilakukan oleh satu orang
tapi dilakukan oleh ya beberapa orang
beberapa orang tergabung dalam sebuah
klim kira-kira begitu ya yang kedua ni
contoh tadi rapi atau kita
kelompok-kelompok kita buat oh ini
tempatnya untuk A tempatnya untuk B ya
ini kalau misalnya kita digudang dan
sebagainya sangat penting sekali
Ya. Kemudian yang ketiga adalah kita
pastikan untuk selalu bersih resik ya.
Anggaplah ini kalau dalam sebuah lini
produksi ini harus bersih sama di lewan
kerja kita ya. Di ruang meeting harus
selalu disapu, di ruang kerja kita harus
selalu resik, harus selalu disapu dan
seterusnya. Kemudian kita buat status
standar atau rawat ya. seringkiali kita
buatkan SOP-nya, kita buat panduannya
yang bisa kita letakkan di misalnya
adalah di papan-papan tertentu atau di
meja-meja apa di apa majalah-majalah
dinding dan seterusnya ya. Kemudian yang
kelima yang terakhir adalah rajin. Nah,
kita lakukan kegiatan-kegiatan yang bisa
mensimulus. Ya, ini contoh sederhana
Bapak Ibu. Saya beberapa kali diminta
oleh perusahaan di Indonesia untuk
mendampingi mereka melakukan ya
penerapan faktor ini, faktor ergonomi
dalam banan kerja. J kita adakan
kompetisi
5S ya, satu perusahaan. Di kampus kami
pun juga demikian. Ada kompus fungsinya.
Tiap tahun kita evaluasi bahkan menjadi
salah satu poin dalam pencapaian kinerja
para pegawai. Di antaranya seperti itu.
Jadi ada kinerja sekian persen itu dari
ya dari ee apa penerapan 5S-nya secara
praktik del itu konsisten atau ini
adalah upaya-upaya yang kita lakukan
untuk bisa menjaga
kesinambungan. Nah, ini bagian dari K3
lingan kerja Bapak Ibu sekalian. Best
PRnya banyak. Toyota sudah membuktikan,
Hel Pockard sudah membuktikan, Harley
Davidson sudah membuktikan, ya. Kemudian
Kaza Zauza juga sudah membuktikan dan
seterusnya. Ya, kira-kira begitu bagian
dari sebuah lingkungan kerja yang bisa
meningkatkan produktivitas para pekerja
ya. Hanya dari konteks yang membersihkan
tadi, meringkas dan seterusnya.
Kira-kira itu ya Bapak, Ibu, Sobat ASN
ya. Semoga ini bisa memberikan satu ee
penjelasan yang
cukup apa lengkap gitu ya. Dan saya
tutup sebelum saya kembalikan ke MC. Ada
sebuah pantun di atas meja ada ngengat
ngengat terbang ditangkap raja. Mari
kerja dengan selamat dengan semangat
tetap ingat ergonomi dan keselamatan
kerja. Demikian
Bapak Ibu Sopat SN semoga bisa
memberikan penjelasan yang cukup ee
komprehensif terkait dengan Permenaker 5
2018 bagi terima kasih. Saya kembalikan
ke Mbak Pani. Baik, terima kasih banyak
Prof atas apa yang telah disampaikan.
Kurang lebih 30 menit ini ringkas sesuai
dengan 5S tadi juga gitu ya. Begitu
mudahnya kita dapat menangkap apa yang
telah disampaikan dan ternyata banyak
yang excited ini Prof. Ada yang sudah
raise hand. Untuk itu, sesi tanya jawab
dan diskusi kita akan buka sekarang.
Kita akan hubungkan dengan sobat ASN
yang sudah open cam dan open mic.
Selamat pagi,
Pak. Nampaknya berdua. Selamat pagi,
Pak. Open mic dulu. Suaranya belum
terdengar dengan jelas di studio kami.
Selamat pagi. Baik. Dengan Bapak siapa?
Pak permisi dari Jember dengan Pak Nuno
dari Pemkap Jember. Pak Nurul betul
ngih? Betul. Baik dari Jember. Disilakan
Pak untuk pertanyaannya.
Ee ini tadi ee menarik sekali apa yang
disampaikan oleh Prof. tadi terkait
dengan kaitannya dengan peningkatan
kinerja itu ada beberapa faktor yang
mempengaruhi. termasuk tadi ada faktor
lingkungan kerja di antaranya salah satu
faktor yang mempengaruhi adalah faktor
psikologi, Pak. Selain faktor kimia,
faktor biologi, ada faktor psikologi.
Ini yang sangat menarik ee pembahasannya
tadi walaupun tidak banyak dibahas ee
ini
Bapak terkait
dengan psikologi ini yang kami amati
utamanya di lingkungan kami itu kan
banyak sekali
ee seperti halnya kita adanya cres atau
ketidaknyamanan dengan rekan kerja.
dengan keputus kebijakan-kebijakan
atasan, kemudian juga dari ee hubungan
dengan bawa dan sebagainya itu sangat
berpengaruh pada ee emosi kita dan mood
kita saat kita kerja. Saat kita kerja
tiba-tiba ada ee hal-hal seperti itu
yang berkaitan dengan ee kebijakan
pimpinan atau reaksi teman sejawat atau
dengan bawahan kadang-kadang sangat
mempengaruh sekali dengan mood kita.
Nah, ini ee faktor-faktor yang lain.
Selain itu juga ada misalnya kita di
lingkungan Pemkad sendiri di sini kan
kadang-kadang tidak puasa kalau kita
sedang berada di lingkungan kerja
tiba-tiba kita di dimutasi misalnya
dimutasi di tempat yang kadang-kadang
kita tidak menguasai bidang itu. Nah,
kadang-kadang kita juga mendapat bawahan
atau mendapat rekan yang misalnya baru
dan yang bersangkutan itu juga tidak
menguasai di bidang tersebut. Tapi
karena kita hanya menerima misalnya kita
kan misalnya di satu tempat ini
tiba-tiba ada mutasi dari tempat yang
lain di bidang kita dan yang
bersangkutan itu secara SDM-nya tidak
sesuai dengan bidang sehingga
kadang-kadang kita juga
kesulitan secara tidak langsung
kadang-kadang kita ngomong atau kita
berinteraksi kadang-kadang ada
ketidaksalah kesalahpahaman akhirnya
terjadi dis seperti itu dan terjadilah
ketidaknyamanan yang disampaikan oleh
profesor tadi ketidak nyamanan ee
kenyamanan itu kan salah satu indikator
yang mendukung kinerja kita. Sedangkan
kita secara tidak langsung kita selaku
pegawai kadang-kadang kita tidak berdaya
dengan hal seperti itu yang sifatnya ada
di lingkungan. Nah, menurut Profesor ini
kira-kira fenomena ini loh, apakah ini
hanya terjadi di lingkungan saya saja
atau di secara umum ataukah ini juga
terjadi di maksudnya lingkungan yang
lain dan dengan adanya ee seperti ini
kira-kira fenomena ini cara
penanggulangannya gimana? Kadang-kadang
kan kalau kita melihat
di beberapa instansi, Pak, mohon maaf
ya, kadang-kadang kita lebih cenderung
ke manajemen hasil yang penting hasilnya
selesai gitu. Pimpinan
kadang-kadang mengukur kinerja kita
dengan selesainya target-target yang
terpenuhi. Sedangkan proses yang ada di
lingkungan atau proses yang ada di
lingkungan kerja itu kadang-kadang
ee jauh
dari walaupun ada di pemikiran tapi
tidak menjadi beberapa prioritas untuk
dipikirkan oleh pimpinan gitu loh. Untuk
sebagai pemberhat sebagai apa ee
ilmuwan-ilmuwan yang ber di bidang ini
barangkali bisa memberikan saran
yang ee ideal kepada pemerintah sehingga
bisa menerapkan ini. khususnya kepada
kita selaku pegawai yang terkait bukan
hanya keamanan kerja tetapi kenyamanan
kerja
tadiak. Itu dari saya. Terima kasih,
Bapak. Mohon maaf kalau ada
penyampaian-penyampaian yang
kurang nyaman. Terima kasih. Baik ya.
Terima kasih Pak Nurul dari Jember ya.
Saya izin untuk langsung memberikan
respon ya.
Jadi ee kondisi yang seperti
diilustrasikan oleh Pak Nurul itu
terjadi di banyak tempat, tidak hanya di
lingkungan kerja Bapak saja, tapi di
banyak tempat ya. Karena memang ee
lingkungan kerja kita itu kan kita tidak
bekerja seorang diri, kita bekerja
dengan pihak-pihak lain yang menjadi
partner kerja kita. Entah itu partner
kerja kita itu sebagai katakanlah
atasan, sebagai rekan kerja kita yang
satu level, maupun juga ya tim kita yang
ada di dalam staf atau bawahan kita.
Nah, karena ini kita bekerja dengan
berinteraksi dengan banyak orang, maka
akan muncul ya mungkin ee
ketidakcocokan like and dislike dan lain
sebagainya. termasuk juga fenomena tadi
ada mungkin rotasi pegawai, mutasi
pegawai, promosi pegawai sehingga circle
kita ini menjadi berubah, pimpinan kita
berubah, staf kita mungkin berubah yang
mana bisa jadi yang kita harapkan itu
adalah tim kerja kita itu semuanya
berkompeten, tapi ternyata
tidak cukup mumpuni kompetensinya ya dan
seterusnya. Maka ini fenomena-fenomena
yang terjadi di ya semua tempat dalam
pekerjaan.
ya. Sehingga apa sih sebetulnya yang
perlu kita lakukan untuk ee menghadapi
fenomena seperti itu supaya faktor ee
apa psikologis tadi itu tidak menjadi ee
apa ya isu yang ee meresahkan ya.
Intinya kita tahu nih bahwa dalam lengan
kerja kita itu ada faktor psikologis.
Tapi apa yang bisa kita lakukan supaya
memperbaiki ya kondisi seperti itu kan
begitu ya yang perlu kita lakukan. Maka
salah satu di antaranya adalah kita
perlu ada sebuah ee apa program-program
yang bisa me apa ya merekatkan kita
semua. Contoh seperti tadi kita
melakukan kegiatan 5S. Sederhana kami di
kampus melakukan kegiatan 5S itu untuk
apa? Supaya ada sinergi, supaya ada
kolaborasi. Entah itu rekan kerja kita
yang baru atau mungkin rekan kerja kita
yang tadi kita katakan tidak kompeten
sebagainya. kita pernah bekerja dalam
satu tim yang sama. Ketika kita bekerja
dalam satu tim yang sama, maka kita
mungkin akan ee apa ya? Muncul semangat
untuk saling belajar, kita, muncul
semangat untuk saling bekerja sama.
Sehingga yang tadinya itu mungkin ketika
baru dipindah dan sebagainya kemudian
kompetensi enggak ada, maka lambat laut
itu akan belajar. kebersamaan itu akan
bisa me apa ya me apa ya istilahnya
menanggulangi atau menangani isu-isu
tadi like and dislike. Kemudian adalah
hal lagi yang yang bisa kita lakukan
atau yang perlu kita lakukan ya. Kita di
ASN itu di lingkungan Kementerian
Pendayagunaan Apun Negara itu kan pernah
tuh merilis sebuah kempa budaya kan
berakhlak ya kan. Ada kan kalau di BUMN
ada akhlak, kalau di lingkungan
pemerintah AS itu ada
berakhlak, berorientasi kepada pelayanan
yang akuntable, kompeten, harmonis,
loyal, adaptif, dan kolaboratif. Maka
upaya-upaya kempit ini harus terus
di-endorse, harus terus dimunculkan.
Untuk apa? Untuk bisa setiap para
pegawai itu punya semangat untuk
mengabur diri, punya semangat untuk
meningkatkan kompetensi diri, punya
semangat untuk apa? menjaga keharmonisan
supaya tidak ada lagi misalnya adalah
like and dislike yang mendominasi itu
perlu memahami harmonis ilmu nanti
contoh ya Bapak Ibu sekalian di lingan
ee perusahaan-perusahaan yang mungkin
sudah lebih tertata, sudah lebih baik
maka mereka itu selalu ya rutin
mengadakan event-event seperti coffee
morning meeting untuk mengaktualisasikan
budaya akhlak. Bapak, Ibu sekalian. Jadi
di sebuah perusahaan ya itu mereka
menerapkan atau menginternalisasi
bagaimana akhlak itu diterapkan. Caranya
gimana? Cafe Morning Meeting Senin
misalnya ya ada rapat singkat kurang
lebih 30 menit. Maka salah satu di
antaranya itu adalah disisipkan 5 menit
untuk bergiliran si A, si B, si C untuk
apa? menjelaskan bagaimana sih mereka
sudah menerapkan budaya akhlak itu dalam
keseharian. Mungkin si A si A
menceritakan, "Oh, pengalaman saya
kemarin melakukan apa? Implementasi
akhlak. Saya mengaktualisasikan akhlak
khususnya untuk harmonis itu begini
misalnya mereka akan cerita. Nah, proses
seperti ini akan membangkitkan kembali
bahwasanya ee apa? kampanye itu terus
digaungkan. Bahwasanya ya budaya
berakhlak itu kalau di ASN itu ada dan
terus dipupuk. Nah, isu seperti ini ini
bisa ya lambat laun itu akan mereduksi
yang namanya tadi ya kondisi kerja yang
tidak nyaman, kondisi kerja yang mungkin
saling ee apa namanya? Saling tidak
kondusif ya. Sehingga aktualisasi macam
seperti ini ini dibangkitkan dari ya
semua pihak. maka setidaknya itu akan
bisa saling ee memahami bahwa oh ya
ternyata kalau sedang bekerja itu saya
mungkin memang secara personal ada
problem dengan si A tapi problem itu
tidak boleh di apa istilahnya enggak
boleh dipertahankan terus-menerus kan
harus mulai di apa membuka diri untuk
bisa saling berkolaborasi. Nah,
kira-kira begitu, Pak. Ya, itu itu
cara-cara yang bisa dilakukan yang
diterapkan di be perusahaan best
practice yang bisa kitaikan referensilah
untuk bisa apa namanya memperbaiki
kondisi faktor psikologis yang
mengganggu dalam bersamaan. Kira-kira
begitu Pak Nurul. Semoga bisa memberikan
satu jawaban yang cukup ee lengkap ya.
Baik, terima kasih banyak Prof. Pak
Nurul. Demikian begitu ya jawabannya.
Semoga saja ini dapat membantu dan dapat
diaplikasikan di tempat kerja Bapak.
Terima kasih banyak telah terhubung
dengan kami juga dan kami harus cukupkan
Prof untuk waktu diskusi dan tanya
jawabnya karena keterbatasan waktu.
Terima kasih banyak Prof. atas waktu
yang telah diberikan untuk mengisi
menjadi narasumber di ASN Belajar seri
ke-16 kali ini. Sekali lagi kami ucapkan
terima kasih kepada Komisi 3 Dewan K3
Provinsi Jawa Timur bidang kerja sama K3
dan Humas Prof. Dr. Adityya Sudiarno,
ST. Aidip Nebos. Sampai jumpa kembali.
Prof. Sehat
selalu. Terima kasih.
Baik, Sobat ASN, kami masih memiliki
satu narasumber juga yang tentu saja
akan memberikan materinya terkait dengan
tema kita hari ini. ASN Hebat Peduli K3
Membangun lingkungan kerja yang aman dan
produktif. Dan kita akan terhubung
dengan narasumber kita yang ketiga
setelah yang satu ini.
[Musik]
Ya, sobat ASN masih bersama dengan kami
di ASN Belajar seri ke-16 persembahan
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Dan kita akan
selalu terhubung dengan narasumber kita
yang ketiga yaitu pakar kesehatan dan
keselamatan kerja K3 Universitas
Erlangga Ibu Dr. Putri Ayuni Alainur SKM
MKK IERT Ohta. Selamat pagi Bu Putri.
Selamat pagi Bu Fani. Baik.
Asalamualaikum. Apa kabarnya hari ini?
Waalaikumsalam. Alhamdulillah sehat. Apa
kabar juga? Baik. terima kasih sudah
memberikan waktunya untuk menjadi
narasumber kali ini. Dan dari dua
narasumber tadi tentunya ini akan
berkaitan terkait dengan tema kita pada
hari ini. Untuk itu waktu kami silakan
Bu Putri.
Baik, terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Mohon izin
Bapak Ibu saya untuk share screen untuk
materi hari
ini. Sudah terlihat?
sudah terlihat.
Baik, belum terlihat. Tadi sempat
terlihat.
Sebentar. Boleh ditampilkan kembali.
Saya coba. Iya.
Baik, sudah terlihat dengan jelas. izin
untuk menginformasikan waktu yang kami
berikan 30 menit, Ibu Putri. Terima
kasih. Baik, terima kasih banyak Bu
Fanit. Ee selamat siang Bapak Ibu.
Terima kasih sudah berkenan sampai akhir
gitu ya untuk acara kali ini webinar ASN
Belajar seri ke-16 oleh Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur. Izinkan kami, Putri
Ayuni Alaya Nur selaku dosen dari
Departemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga untuk menyampaikan
materi pada hari ini. Berikut adalah
sedikit background dari pendidikan kami.
Ee kemudian kami di sini bergabung di
Asosiasi Perhimpunan Ahli Kesehatan
Kerja Indonesia dan The Indonesian
Industrial Hygen Association.
Sebagai agenda dari hari ini, yang
pertama kami akan menjelaskan terkait
dengan latar belakang mengapa ee ASN
juga perlu untuk mengaplikasikan K3 di
tempat kerjanya. Kemudian yang kedua
adalah hasil penelitian yang menyebutkan
terkait dengan pentingnya lingkungan
yang aman bagi ASN, penerapan K3 modern,
dan bagaimanakah perilaku kerja di
ASN. Sebagai latar belakang, mungkin
tadi sudah disampaikan oleh pembicara
terdahulu yaitu oleh Pak Yusuf dan Prof.
Adit bahwa kita mempunyai dasar hukum
dan regulasi baik secara internasional
maupun secara nasional. Di internasional
kita punya ISO
450018 yang menyebutkan bahwa instansi
pemerintah juga harus melakukan sistem
manajemen K3 yang terintegrasi. Begitu
juga dengan U1 tahun 0, Permenkes nomor
70 tahun 2016, Permenkes 48 tahun 2016,
dan Permenaker 5 tahun 2018 yang sudah
dijelaskan secara gamblang tadi oleh Pak
Adit dari
ITS. Jadi kalau kita sampaikan tadi juga
sudah disampaikan oleh Pak Yusuf bahwa
sebenarnya ASN ini bisa kita bedakan
secara tematik gitu ya. resiko kerjanya
sangat beragam bahwa teman-teman yang
ada di lingkungan, yang ada di
perkantoran, yang ada di laboratorium,
yang ada di rumah sakit itu mempunyai
resiko kerja yang sangat beragam. Jadi
kita bisa sampaikan bahwa ada cedera
yang pertama adalah cedera fisik atau
bahaya fisik yang itu disebabkan oleh
alat kerja. Mungkin teman-teman di
lapangan ada yang mengoperasikan tren,
ada yang mengoperasikan alat-alat berat
gitu nggih. Kemudian ada juga kecelakaan
dinas. Mungkin Bapak Ibu yang perlu
melakukan perjalanan dinas dan terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan selama
perjalanan dinas itu bisa mengakibatkan
kecelakaan dinas atau mungkin Bapak Ibu
yang bekerja di kantoran bisa terjadi ee
lingkungan kerja yang tidak ergonomis
seperti yang tadi sudah disampaikan oleh
Pak Adit. Dan yang kedua yaitu potensi
resiko terkait dengan kesehatan mental
yang tadi sudah dipertanyakan juga oleh
ee Pak Nurul gitungnya dari PEPKP
Jember. Jadi stres kemudian tekanan
mungkin Bapak Ibu yang melakukan
pelayanan publik mengalami masalah gitu
ya ketika diadu ee mendapatkan pengaduan
oleh konsumen kemudian mendapatkan
masalah atau komplain dari masyarakat
atau dari pelanggan itu juga merupakan
sebuah tekanan tersendiri. Bahkan ketika
Bapak dan Ibu mengalami stres yang
berlebihan dan itu terjadi terus-menerus
bisa terjadi burn out hingga terjadi
kematian akibat adanya stres itu yang
berkepanjangan. Yang ketiga adalah
adanya bahaya dari lingkungan itu
sendiri yang tadi sudah disebutkan juga
oleh Pak Adit bahwa ada polusi,
kebisingan atau mungkin Bapak dan Ibu di
laboratorium yang melakukan atau
menangani bahan berbahaya atau kimia
berbahaya yang di mana kita harus mau
tidak mau, suka tidak suka, kita harus
berhubungan dengan bahan-bahan kimia
tersebut. Nah, bahan-bahan tersebut
semuanya ada dan mungkin kita tidak
sadari bahwa itu berbahaya bagi
kehidupan kita. sehingga kita harus
menangani resiko kerja yang ada di ee
Bapak, Ibu, Sobat ASN sekalian. Berikut
adalah dua. Yang pertama adalah hasil
penelitian penelitian kami salah satunya
di salah satu dinas gitu nggih di
Surabaya yang menyatakan bahwa
sebenarnya ASN itu sangat berpotensi
terhadap adanya stres kerja. Nah, dan
stres ini diakibatkan oleh gender atau
jenis kelamin gitu ya. Jadi, orang
perempuan wanita itu lebih beresiko
terhadap terjadinya stres kerja
dibandingkan laki-laki. Dan yang kedua
adalah kebiasaan untuk olahraga. Orang
yang lebih ee suka olahraga itu resiko
stresnya lebih rendah daripada ee Bapak
Ibu ASN yang cenderung jarang
berolahraga. Begitu. Kemudian ada juga
di ee kejadian yang di-share di tahun
2024 yaitu adanya kecelakaan yang
terjadi pada 2 SN di Jalan Lingkar
Sumatera di Lampung Selatan. Yang ini
terjadi karena adanya kecelakaan dinas.
Jadi salah satu bentuk atau yang mungkin
kita tidak sadari bahwa sebenarnya
kecelakaan selama perjalanan itu juga
menjadi angka kecelakaan akibat kerja
yang disebabkan oleh ee pekerjaan kita.
Kemudian selanjutnya yaitu Bapak Ibu
sudah ASN ini sangat dituntut gitu ya
untuk produktivitas dan pelayanan
publiknya karena kita sadari bahwa ASN
ini adalah ujung tombak pelayanan non
publik sehingga Bapak dan Ibu harus
tetap sehat dan produktif. Bagaimana
ketika Bapak dan Ibu misalkan satu orang
dari satu bagian yang harus melakukan
pelayanan publik itu tidak masuk, maka
terjadinya antrian cukup besar, kemudian
masyarakat melakukan pengaduan dan
segala macam itu karena kondisi Bapak
dan Ibu yang tiba-tiba menurun. Karena
itu, ASN diharapkan sangat harus tetap
sehat dan produktif di segala kondisi.
Ngaten. Kemudian yang kedua adalah K3
membantu mengurangi absenteisme atau
ketidakhadiran karena Bapak dan Ibu
sakit atau cidera sehingga layanan yang
Bapak Ibu lakukan, layanan publik yang
Ibu lakukan tidak terganggu. Kami
berharap dengan K3 mungkin tadi juga
sudah disampaikan tentang Pak Adit
misalkan menghadirkan atau mengadakan
kursi ergonomis di tempat kerja sehingga
kita mengurangi cedera ee punggung gitu
misalkan atau kita susah stretching.
Mungkin tadi Bapak dan Ibu menanyakan
ada menaikkan kapan sih kita harus
stretching? seharusnya setiap 2 jam
sekali kita bisa
stretching. Mungkin di beberapa kantor
sudah ada pemanasan sederhana semacam
itu. Kemudian kita sadari bahwa adanya
perubahan paradigma ee K3 modern. Jadi
K3 itu tidak lagi hanya sekedar mencegah
kecelakaan. Jadi, Bapak dan Ibu tidak
boleh celaka, tapi Bapak dan Ibu juga
harus tetap sehat secara holistik, baik
itu secara fisik, mental, emosional,
sosial, intelektual, dan spiritual. Jadi
tidak boleh adanya batasan semisal Bapak
dan Ibu tidak boleh melakukan kegiatan
keagamaan karena sedang bekerja. Itu
merupakan salah satu tanda bahwa
kesehatan Bapak dan Ibu tidak terjamin
di tempat kerja. Kemudian secara
emosional, Bapak dan Ibu tidak boleh
berpendapat. Bapak dan Ibu tidak boleh
untuk melakukan protes terhadap apa yang
terjadi gitu ya. Itu juga merupakan
suatu bentuk bahwa K3 di tempat Bapak,
Ibu belum terjamin secara atau
terlaksana secara baik. Begitu. Kemudian
yang kedua, mungkin tadi Pak Adi juga
sudah menyampaikan bahwa kemarin di
tanggal 28 April kita ada bulan ee hari
K3 internasional yang mencakup temanya
adalah terkait dengan artificial
intelligence dan digitalisasi. sehingga
digitalisasi ini juga harus kita
aplikasikan di tempat kerja kita terkait
dengan K3 semisal penggunaan device gitu
ya untuk mengidentifikasi bahwa oh Bapak
ini lelah, Ibu ini lelah sehingga kita
harus melakukan peregangan atau
pergantian shift atau mungkin istirahat
sejenak gitu ya untuk supaya tenaga
kerja kita tidak diforsir karena lelah
yang berlebihan. Kemudian yang ketiga
adalah budaya organisasi. kita harus
mengaplikasikan K3 itu di semua level.
Tidak hanya pimpinannya saja yang
selamat dan sehat selama bekerja, tapi
juga dari first line-nya dia. Jadi dari
pihak pertama dari orang yang melakukan
pelayanan publik sampai dari orang yang
di belakang layar itu juga semua pihak
harus mendapatkan ee penerapan K3 secara
adil di tempat kerja.
Nah, ini merupakan share terkait dengan
hasil penelitian mengenai pentingnya
lingkungan kerja yang aman bagi ASN.
Yang pertama adalah penelitian yang
dilakukan oleh Kemen Kominfo bekerja
sama dengan ITB pada tahun 2020. Beliau
menguji uji coba variable devices untuk
pemantauan kesehatan petugas di
lapangan. hasilnya bahwa penggunaan
smart helmet, jadi menggunakan helm yang
canggih gitu ng kemudian ada IoT health
tracker juga ini untuk mengurangi
kelelahan berat hingga 60%. Jadi
device-nya ini sudah menghasilkan ee
pembuktian bahwa helmet dan eh health
tracker ini mengidentifikasi untuk
menghindari kelelahan kerja yang
berlebihan terhadap tenaga di lapangan.
Kemudian perlu adanya sistem
e-ereorting. Jadi kalau Bapak dan Ibu di
lapangan ada kecelakaan gitu ya, bisa
dilakukan pelaporan secara insidental
saat itu juga maksimal 2 jam gitu ya
dari e aplikasi yang ditemukan oleh
Kemenkominfo dan IPB ini. Kemudian yang
kedua adalah ee studi yang dilakukan
oleh Pusat Kajian Kesehatan Kerja tahun
2021 beliau menganalisis data kesehatan
mental 500 ASN di pusat layanan
masyarakat. di situ temuannya adalah ASN
yang bekerja di lingkungan dengan resiko
tinggi. Misalkan dia harus berkonflik
dengan masyarakat, harus berhubungan
dengan konsumen, kemudian dia
mendapatkan beban kerja yang berlebihan
itu mengalami tingkat stres dua kali
lebih tinggi daripada pekerja yang tidak
berhubungan langsung dengan konsumen
atau dengan masyarakat. dan instansi
dengan program konseling dan
fleksibilitas kerja ini melaporkan bahwa
terjadi penurunan burnout hingga 35%.
Mungkin tadi sekalian menjawab dengan
pertanyaan Pak Nurul tadi ya, bahwa
perlu adanya program konseling dan
fleksibilitas kerja dari tempat
perusahaan, tempat ee instansi Bapak dan
Ibu masing-masing. Apapun itu harus
dikonsultasikan dengan ahlinya, gitu ya.
Ketika Bapak dan Ibu mengalami stres,
Bapak dan Ibu punya wadah untuk
meluapkan stres tersebut. dan ada solusi
yang diberikan oleh pihak konselornya
untuk masalah yang Bapak Ibu sampaikan.
Begitu sehingga beliau ee penelitian
yang kedua merekomendasikan adanya
integrasi kesehatan mental dalam
kebijakan K3 ASN. Yang ketiga adalah eh
penelitian oleh Kemenpan RB bekerja sama
dengan Universitas Indonesia yang
melakukan survei terhadap 1200 ASN di 12
kementerian menyatakan bahwa lingkungan
kerja dengan standar K3 yang baik itu
akan menghasilkan produktivitas bagi ASN
23% lebih tinggi daripada standar K3-nya
yang tidak baik. tidak misalkan tidak
menghasil, tidak mempunyai kursi yang
ergonomis, tidak punya ventilasi yang
baik atau AD yang disediakan tidak baik.
Kemudian keluhan kesehatan fisik itu
menurun. Misalkan Bapak dan Ibu punya
nyeri punggung, mata lelah, itu melaku
terjadi penurunan sebesar 40% setelah
terjadinya perubahan perbaikan
workstation atau stasiun kerja yang
Bapak, Ibu tempati saat ini gitu.
Kemudian penelitian yang keempat yaitu
oleh BKN dan MFEB UI. Dia melakukan
pemetaan budaya K3 di 20 instansi
pemerintahan menghasilkan bahwa di
instansi pemerintah yang punya ee budaya
K3 yang kuat, dia punya reward system
yang bagus, pelatihannya juga dilakukan
secara rutin, maka terjadi penurunan 50%
kecelakaan kerja sehingga kepuasan kerja
dari ASN itu meningkat sebesar 28%.
Jadi faktor kunci dalam hal ini budaya
K3 itu bisa diaplikasikan di sebuah
instansi pemerintah itu dukungan yang
paling penting didapatkan oleh
pemimpinnya. Ketika pemimpinnya
mendukung kemudian seluruh pekerja yang
ada di situ berpartisipasi aktif untuk
menghasilkan budaya K3 yang kuat, maka
tidak akan tidak mungkin bahwa K3 di
tempat tersebut akan menjadi budaya yang
dilakukan secara tidak dipaksakan gitu
ya. secara natural bisa terjadi di suatu
tempat kerja. Kemudian ini dari
internasional ee ada laporan dari OECD,
lembaga lembaga internasional dari
negara-negara maju. Dia menghasilkan
temuan bahwa regulasi K3 yang ketat
untuk ASN di beberapa daerah, di
beberapa negara itu meningkatkan
absensinya 30% lebih rendah daripada
negara yang K3-nya tidak terlalu ketat.
Kemudian karena absensinya lebih tinggi,
jadi karena pekerjanya banyak yang
masuk, maka tingkat kepuasan masyarakat
terhadap layanan publiknya juga lebih
tinggi.
Begitu. Jadi kalau ada tantangan dan
solusi yang kita mungkin kita hadapi di
instansi masing-masing gitu ya, Mbak,
kalau anggaran kita terbatas, kita bisa
kerja sama lintas sektoral gitu.
Misalkan Bapak dan Ibu membutuhkan
klinik kesehatan, ee kita bisa kerja
sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk
menghasilkan atau untuk melakukan
konseling dari kesehatan tenaga kerja
kita. Mungkin ada kekurangan kesadaran
ASN tentang K3. Kita bisa melakukan
pelatihan-pelatihan K3 dengan kuis
berhadiah, dengan adanya
sertifikasi-sertifikasi yang dibayari
oleh instansi. Kemudian birokrasi
pelaporan yang lambat misalkan kita bisa
melakukan digitalisasi sistem pelaporan
apapun yang ada di tempat kerja Bapak
Ibu terkait dengan
K3 ini terkait dengan penerapan K3
modern. Jadi kalau tadi ee Pak Adit
sudah menyampaikan terkait dengan
ergonomi. Jadi holistiknya adalah
ergonomi psikososial dan budaya
keselamatan. Jadi K3 saat ini itu harus
melakukan pendekatan proaktif. Jadi,
Bapak dan Ibu tidak lagi menunggu
reaktif gitu ya. Kalau ada masalah,
kalau ada kejadian kecelakaan baru kita
melakukan
perbaikan. Saat ini harus melakukan ya
duluan ditemukan, preventif, pencegahan.
Jadi, Bapak dan Ibu misalkan melakukan
risk assessment atau penilaian resiko di
tempat kerja Bapak Ibu. hal sepele gitu
ya. Mungkin Bapak dan Ibu saat ini di
ruangan bisa mengidentifikasi apa saja
sih bahaya dari tempat saat ini gitu ya.
Tadi sudah dijelaskan ada lima bahaya
oleh Pak Adit. Bagaimana dengan bahaya
fisiknya, bahaya kimianya, bahaya
biologi, bahaya psikososial dan
ergonominya? Apakah ada? Ketika ada
bahaya itu, Bapak dan Ibu bisa melakukan
pengendalian dari bahaya-bahaya yang
ada. Atau mungkin kita bisa lakukan
tindakan pengendalian. Misalkan Bapak
dan Ibu yang ada di lapangan, kerja di
lapangan gitu ya. Bapak dan Ibu wajib
mendapatkan safety induction atau
pengarahan awal ketika Bapak dan Ibu
baru datang di tempat tersebut. Misalkan
saya menjadi tamu di instansi Bapak dan
Ibu, saya harus mendapatkan safety
induction. Ke manakah ketika ada
kebakaran? Jalur evakuasinya seperti
apa? titik kumpulnya di mana? Apakah
saat ini sedang ada ee evakuasi, ada
simulasi kebakaran atau tidak? ataukah
mungkin ada ee apar terdekatnya di mana
gitu ya sehingga kita bisa melakukan ee
bantu untuk memadamkan api. Hal semacam
itu. Yang kedua yaitu berbasis
teknologi. Kita bisa lakukan IoT,
kemudian artificial intelligence,
kemudian device dan reporting. Dan
kesehatan holistik yang tadi bahwa tidak
hanya fisik tapi juga mental, spiritual,
emosional dan segala macamnya. Dan yang
terakhir adalah K3 ini adalah
partisipasi aktif. Jadi, Bapak dan Ibu
tidak hanya menjadi orang yang reaktif,
oh tidak disuruh oleh pimpinan, tidak
boleh. Jadi K3 ini ada akan menjadi
sangat penting ketika Bapak dan Ibu juga
menyadari bahwa K3 ini penting bagi
hidup saya, gitu ya. Jadi, Bapak dan Ibu
juga harus ikut serta dalam
program-program yang di apa ya diusulkan
atau dibuat oleh pimpinan tertinggi di
instansi Bapak dan Ibu.
Jadi penerapan K3 modern pada ESN yang
pertama adalah yang bisa dilakukan
adalah implementasi regulasi dan
kebijakan yang ada. Dari tadi ee Pak
Yusuf sudah menyatakan terkait dengan
regulasi dan kebijakan yang ada.
Kemudian Pak Adit juga menjelaskan
terkait dengan detailnya Permenaker 5
tahun 2018. Bapak dan Ibu bisa melakukan
implementasi dari regulasi-regulasi yang
ada di Indonesia. Minimalnya di
Indonesia. Kemudian ketika sudah
diimplementasikan, Bapak dan Ibu juga
bisa mengintegrasikan dalam sistem dan
penilaian kerja. Misalkan Bapak dan Ibu
bisa di sistem penilaian kinerjanya
Bapak dan Ibu gitu ya, dimasukkan
tentang unsur 5S-nya tadi. Jadi kerapian
dari meja kerja masing-masing itu
seperti apa gitu. Kerajinan dari
masing-masing individu terkait dengan
lingkungan kerjanya seperti apa, itu
juga bisa dilakukan. Yang kedua yaitu
lingkungan kerja yang ergonomis. Bapak
dan Ibu bisa melakukan penyesuaian
kursi, meja, monitor untuk mencegah
adanya gangguan tulang belakang. Jadi
memang kursi, meja, dan monitor ini
sangat bergantung dari tim pengadaan
gitu nggih Bapak dan Ibu. Tapi Bapak dan
Ibu punya hak untuk melakukan pengusulan
atau menyatakan ke tim pengadaan, tolong
dong bahwa yang diusulkan yang diadakan
nanti adalah kursi, meja, dan monitor
yang ergonomis, gitu. Jadi, Bapak dan
Ibu bisa memberikan masukan-masukan
kursi yang ergonomis seperti apa, meja
yang ergonomis seperti apa. Yang kedua
yaitu pengaturan pencahayaan, sirkulasi
udara dan kebisingan. Jadi tadi ee Pak
Adit sudah menyatakan terkait dengan
nilai ambang batas gitu ya. Berapa sih
kebisingan di tempat kerjanya Bapak dan
Ibu? Saya khawatir Bapak dan Ibu tidak
tahu berapa kebisingan di tempat kerja
kita masing-masing gitu ya. Jadi, Bapak
dan Ibu tidak bisa komplain bahwa
ruanganku kok terlalu bising ya, kok di
atas NAB ya, gitu. Jadi mungkin hal
pertama yang bisa dilakukan adalah
melakukan pengukuran pencahayaan,
pengukuran kebisingan di tempat kerja
Bapak dan Ibu. Yang ketiga adalah
peningkatan kesadaran atau budaya
keselamatan. Karena perlu adanya
pelatihan K3 berkalah. Bapak dan Ibu
harus tahu dari basic K3 itu apa hingga
bagaimana untuk melakukan budaya K3 yang
secara sustain secara sadar Bapak Ibu
lakukan, gitu ya. Jadi harus ada
pelatihan K3 yang secara berkala.
Kemudian ada kampanye dari pihak
instansi gitu dari pimpinan tertinggi
instansi melalui media-media. Misalkan
ada poster, ada webinar semacam ini yang
dilakukan oleh BPSDM itu sudah sangat
melakukan peningkatan kesadaran terkait
dengan K3.
Yang keempat adalah pengelolaan resiko
psikososial. Jadi terkait dengan stres
kerjanya Bapak dan Ibu, mungkin yang
sudah dilakukan oleh pemerintah saat ini
adalah adanya fleksibilitas waktu kerja.
Bapak dan Ibu bisa WFH, Bapak dan Ibu
bisa melakukan webinar secara hybrid
semacam ini. Jadi, kita bisa meeting
dari manaun secara fleksibel, secara
online gitu ya. Jadi untuk melakukan
fleksibilitas waktu kerja. Yang kedua
yaitu mungkin Bapak dan Ibu di instansi
masing-masing bisa mempunyai program
employee assistant program atau program
untuk konseling gitu ya. Jadi ada
instansi mengundang konselor untuk
konsultasi. Misalkan setiap minggu,
setiap hari Rabu nanti konselornya
datang. Monggo siapa saja yang mau
konsul gitu ya, mau melakukan konseling
terkait dengan stres kerja ini. Kemudian
yang kedu ee kelima adalah kesehatan
preventif. Bapak dan Ibu perlu melakukan
medical check up tahunan untuk deteksi
dini penyakit. Mungkin dari Bapak dan
Ibu yang di bawah Kementerian Kesehatan
ada juga ee kewajiban untuk pengukuran
kebugaran setiap 1 tahun dua kali gitu
ya. Jadi Bapak dan Ibu diukur
kebugarannya apakah bugar atau tidak.
Kemudian ada juga yang melalui pos bindu
masing-masing untuk pendeteksian dini
penyakit. ee kemudian dilakukan
vaksinasi, nutrisi sehat, dan olahraga
rutin di kantor. Jadi ya setiap hari
Jumat jangan sampai telat, Bapak Ibu.
Itu merupakan salah satu healing gitu
ya, healing stres kita untuk kita tetap
sehat, bugar, dan selamat di tempat
kerja. Yang keenam adalah tanggap
darurat dan kesiapan bencana. Bapak dan
Ibu di instansi masing-masing mohon izin
ee disediakan waktu, disediakan dana,
disediakan apa ya? waktu untuk melakukan
simulasi kebakaran, simulasi ee untuk
kejadian gempa, untuk evakuasi, karena
kita tidak tahu kapankah kejadian itu
yang sebenarnya terjadi, gitu ya. Jadi,
setidaknya Bapak dan Ibu di instansi
Bapak dan Ibu tuh tahu mau keluar itu
keluarnya lewat jalur yang mana? Saya
belok kanan atau belok kiri gitu.
Misalkan kalau ada apar gimana sih cara
pakai APAR? itu setidaknya Bapak dan Ibu
bisa melakukan simulasi itu. Kemudian
penyediaan P3K, alat pemadam dan dan
jalur evakuasi yang memadai. Jadi jalur
evakuasi pun ada aturannya Bapak dan Ibu
gitu ya. Misalkan harus ada
spotlight-nya atau ee penerangan yang di
mana kalau gelap itu tetap terang
gitu. Nah, kemudian yang selanjutnya
adalah kita harus melakukan perilaku
kerja. Perilaku kerja yang kita bisa
lakukan secara individu terkait dengan
K3 adalah yang pertama mematuhi prosedur
K3. Jadi, Bapak dan Ibu misalkan di
lapangan gitu ya diwajibkan oleh ee
pihak ee apa namanya? kontraktornya
untuk memakai APD ya dipakai gitu Bapak
Ibu walaupun Bapak dan Ibu dari kantor
dari kementerian pusat ya kalau di
lapangan tetap harus menggunakan APD
yang ditentukan di lapangan di
konstruksinya. Misalkan harus pakai
helm, pakai sapatu safety, pakai rompi,
itu juga harus dilakukan. Kemudian
mengikuti protokol evakuasi darurat,
mengetahui lokasi P3K dan jalur
evakuasi. Hal ini kita bisa dapatkan
informasi ketika di lapangan itu dengan
safety induction. Jadi, ketika safety
induction, Bapak dan Ibu bisa
mendapatkan informasi-informasi yang
dibutuhkan terkait dengan K3.
Kemudian yang kedua adalah penerapan
ergonomi di kantor, menjaga postur duduk
yang benar. Jadi, K Pak Adi tadi
menyampaikan ya harusnya kursinya yang
menyesuaikan dengan tubuh kita. Kalau
saya pendek ya kursinya harusnya bisa
diturunkan supaya kaki saya enggak
gantung gitu ya. Kemudian yang kedua
adalah mengambil istirahat singkat micro
braks. Jadi setiap 20 menit bagi Bapak
dan Ibu yang menggunakan layar Bapak dan
Ibu bisa melakukan peregangan, istirahat
singkat. selama 20 detik untuk melihat
selain layar selama di sejauh 20 kaki.
Jadi misalkan di dekatnya Bapak Ibu ada
taman, lihatlah hijau-hijau dari taman
itu sejauh 20 kaki selama 20 detik. Jadi
Bapak dan Ibu bisa istirahat sekejap
gitu ya. Nah, ini terkait dengan
aturan-aturan WFH WFA. Jadi terkait
dengan fleksibilitas kerja Bapak dan
Ibu. Kemungkinan Bapak dan Ibu di
instansi masing-masing bisa melakukan
pengaturan kerja secara fleksibel. bisa
bekerja dari mana saja gitu ya, work
from anywhere and work from home. Eh,
kami dari FKM UNAIR mungkin ini eh
videonya kami buat ketika pandemi
kemarin gitu ya, Bapak dan Ibu. Ini
sedikit masukan mungkin bagi Bapak dan
Ibu yang nanti melakukan WFH, nanti
melakukan work from anywhere bisa
menyesuaikan meja kerjanya atau stasiun
kerjanya sesuai dengan video yang kami
putar berikut.
Ya, mungkin ee jadi Bapak dan Ibu
mungkin yang saat ini gitu ya, ada yang
pakai laptop dan belum mensejajarkan
matanya bisa menggunakan tumpukan buku
saja minimal Bapak Ibu. Jadi tidak perlu
beli alatnya dulu sehingga mata kita
bisa sejajar, kemudian tengkuk kita
tidak terlalu menunduk gitu ya. Itu juga
mencegah untuk kelelahan dari ee leher
kita. Yang selanjutnya adalah terkait
dengan gaya hidup yang sehat. Jadi,
Bapak dan Ibu bisa mengonsumsi makanan
bergizi, minum air cukup, jangan lupa
gitu ya untuk minumnya. Karena banyak
sekali pekerja-pekerja kita itu yang ee
lah nanti sajalah gitu ya untuk minum
air cukup. Jadi kalau mungkin ada yang
sedang haus bisa sekarang gitu ya
diminum air putihnya di sekitarnya bisa
diambil dulu karena kita butuh ke
dehidrasi itu jangan sampai mengganggu
dari produktivitas kerja kita. Kemudian
yang selanjutnya adalah mengelola stres
dengan teknik relaksasi yang baik. Jadi,
Bapak dan Ibu bisa nafas lebih dalam
meditasi untuk stres yang ee relaksasi
dari stres yang terjadi. Kemudian yang
selanjutnya adalah pelaporan kondisi
tidak aman. Jadi, mungkin di sekitar
Bapak dan Ibu saat ini ada lantai yang
licin, ada kabel-kabel yang terkelupas,
mungkin ada atap yang hampir roboh. Itu
bisa disampaikan kepada tim K3. Jika
memang belum ada tim K3 di tempat kerja
Bapak dan Ibu bisa disampaikan ke pihak
sarana prasarana sehingga bisa melakukan
perbaikan segera sehingga kondisi tidak
aman ini bisa segera diperbaiki oleh
pihak yang berwajib. Kemudian yang kedua
mungkin ada sistem e-ereorting di tempat
kerja Bapak dan Ibu bisa dilakukan
pelaporan
segera. Ini yang bisa dilakukan oleh ee
instansi gitu ya untuk budaya K3 bahwa
kita harus melakukan komunikasi terbuka.
apapun itu harus disampaikan kepada
semua tenaga kerja kita. Resiko
kerjanya, APD-nya juga bisa saling
mengingatkan gitu ya. Jadi harus
disampaikan untuk semua orang. Yang
kedua yaitu kolaborasi program K3. Nah,
jadi misalkan Bapak dan Ibu belum punya
ee tenaga kerja yang mampu untuk
melakukan simulasi kebakaran, Bapak dan
Ibu bisa melakukan pengajuan, permohonan
terhadap ee Dinas Kebakaran ee
masing-masing gitu ya, di tempat
masing-masing, di kota masing-masing
untuk melakukan simulasi kebakaran di
tempat kerjanya Bapak dan Ibu. Mungkin
ada pelatihan K3 juga bisa dilakukan
dengan kerja sama dengan teman-teman
dari Disnaker setempat. kemudian
melakukan pembentukan kelompok pengawas
K3 di unit kerja masing-masing. Yang
selanjutnya adalah Bapak dan Ibu bisa
menjadi role model gitu ya. Pimpinan dan
atasan itu harus memberikan contoh yang
baik. Misalkan kalau memang di tempat
kerja Bapak dan Ibu tidak boleh merokok,
pimpinannya juga harus memberikan contoh
bahwa tidak boleh merokok di tempat
kerjanya. Kemudian memberikan apresiasi
reward and punishment gitu ya. Ketika
ada pegawai yang sangat rajin, K3-nya
sudah diaplikasikan dengan sangat baik
di tempat kerjanya, meja kerjanya sangat
rapi, rawat, resik, ringkas gitu ya,
maka bisa diberikan apresiasi berupa
reward apapun terserah dari instansi
masing-masing. Ini adalah terkait dengan
mungkin ada masalah di lapangan gitu ya.
ya yang harus dilakukan misalkan harus
menggunakan helm, ada permit to work
yang harus dilakukan dulu atau
menyediakan jalur dengan reflektor. Yang
kedua adalah bekerja di kantor gitu ya.
Pastikan bahwa Bapak dan Ibu ruangnya
berventilasi dengan baik, pencahayaannya
cukup, lingkungan kerjanya aman,
keamanan secara individu juga aman,
stasiun kerja ergonomis, kemudian
minimalisasi manual handling. Manual
handling tadi yang mengangkat secara
manual ya. Kemudian ketika Bapak dan Ibu
mungkin ada yang bekerja dengan komputer
saat ini, lakukan istirahat mata secara
rutin setiap 20 menit. Jadi sekali lagi
20 menit bekerja, istirahatkan 20 detik
saja Bapak dan Ibu untuk memandang yang
hijau-hijau, untuk merelaksasi mata mata
Bapak dan Ibu untuk memandang hal yang
lain selain layar. jangan pindah ke HP
gitu ya Bapak Ibu untuk sejauh 20
kaki. Kemudian ini adalah tantangan dan
solusi. Ketika Bapak dan Ibu malas pakai
APD maka instansi harus melakukan
sosialisasi terkait dengan dampak
kecelakaan. Kemudian ketika ada stres
karena beban kerja yang berat gitu ya,
jadi salah satu orang itu saja yang
dikasih beban kerja maka harus dilakukan
time management dan dilakukan employee
assistant program. Kemudian ketika ada
kurangnya partisipasi berarti kita harus
evaluasi apakah program K3 kita kurang
menyenangkan untuk merekrut ee
partisipasi aktif dari masyarakat atau
dari tenaga kerja kita. Ini adalah
indikator sukses perilaku K3. Yang
pertama ketika angka kecelakaan kerja
itu turun termasuk angka kecelakaan
kerja ketika dinas di lapangan, Bapak
dan Ibu. Yang kedua adalah meningkatnya
partisipasi dalam pelatihan K3 yang
awalnya enggak ada yang mau ikut.
Alhamdulillah akhirnya semuanya ikut
gitu ng. Kemudian yang ketiga adalah
lingkungan kerja Bapak dan Ibu lebih
nyaman, tidak bising ee keluhan sakit
punggungnya menurun, keluhan sakit
matanya menurun, kemudian beban kerja
tidak besar, stres kerjanya menurun. Itu
juga merupakan indikator sukses dari
perilaku K3 ini. Tadi sudah disampaikan
ternyata ada yang bergeser gitu ya. Jadi
saya dan Pak Adi ternyata mempunyai
pemikiran yang sama untuk membahas
terkait dengan 5R
housekeeping. Jadi housekeeping ini akan
saya ee lewati saja gitu ya terkait
dengan jadi yang kita harapkan adalah
dari gambar yang di kiri gitu ya Bapak
dan Ibu. Mungkin ada penjual buah yang
semacam yang di kiri berubah menjadi
yang di kanan. Buahnya ditatah
dikelompokkan sesuai dengan jenisnya
kemudian menarik penjual gitu ya. Jadi
ee melakukan 5S itu bisa di tempat mana
saja. Misalkan di kantor Bapak dan Ibu
saat ini ada banyak tumpukan berkas
seperti gambar yang di kiri bisa berubah
menjadi yang di kanan. Ada yang ada di
meja kerja itu hanyalah benda-benda yang
berkaitan dengan pekerjaan saja. Jadi
ini adalah sedikit gambaran ketika Bapak
dan Ibu mau meletakkan berkas atau
apapun yang ada di tempat kerja Bapak
dan Ibu. ee kotaknya itu adalah kotak
dari tempat kerja Bapak dan Ibu. Yang 14
inci pertama adalah benda-benda yang
sangat sering Bapak dan Ibu ambil. Jadi
misalkan yang ya kurang lebih dari 5
kali per menit itu Bapak dan Ibu butuh
misalkan ballp atau mungkin kertas gitu.
Yang agak jauh lagi itu yang lebih
jarang lagi Bapak dan Ibu ambil dan yang
paling jauh adalah barang-barang yang
jarang banget Bapak Ibu ambil gitu ya.
Jadi, Bapak dan Ibu bisa mengelompokkan.
Jadi, Bapak dan Ibu enggak perlu
menjangkau terlalu jauh bagi
barang-barang yang terlalu sering Bapak
dan Ibu butuhkan, gitu. Letakkan lebih
dekat dengan posisi kerjanya Bapak dan
Ibu sehingga Bapak dan Ibu tidak perlu
melakukan kegiatan atau perilaku kerja
yang tidak ergonomis selama bekerja di
tempat
kerja. K3 bagi ASN itu bukan hanya
sebuah kewajiban, tapi investasi untuk
membangun birokrasi yang tangguh dan
berorientasi pada pelayanan optimal.
Sekian dari saya. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih banyak. Saya
sangat menyimak sekali apa yang
disampaikan dan ternyata satu pemikiran
dengan Prof. Adit tadi ya tentang 5R
tadi. Baik. Nah, untuk interaksi kami
cukupkan. Namun kami memiliki satu
pertanyaan dari salah satu sobat ASN Bu
Putri. Kami akan bacakan
pertanyaannya dari Nugi. Bapak Nugi,
pertanyaannya untuk melihat lingkungan
kerja yang ergonomis, terkadang kantor
ini tidak punya peralatan yang
dibutuhkan, Bu. Jadi sangat terbatas
mungkin ya, seperti tidak punya alat
untuk mengukur pencahayaan, humidity,
dan lain-lain. Lalu terkait dengan
masalah seperti ini, bagaimana
solusinya, Bu Putri?
Baik, terima kasih Bu Pak Nugi gitu ya
untuk pertanyaannya. Ya, terima kasih
Mbak Fani. Jadi, Bapak dan Ibu mungkin
sedikit menyampaikan, mohon maaf nanti
kalau misalkan di tempat kerjanya Bapak
dan Ibu ada yang berbeda gitu ya. Setahu
sependek yang kami tahu bahwa kalau di
Puskesmas setiap Puskesmas itu
mendapatkan namanya sanitarian kit. Nah,
sanitarian kit ini adalah bantuan dari
Dinas Kesehatan dari Kementerian
Kesehatan Pusat untuk setiap puskesmas
di setiap daerah.
Nah, di situ Bapak dan Ibu bisa
melakukan pengukuran pencahayaan,
pengukuran kebisingan, kemudian
pengukuran kelembaban itu dari
sanitarian kit. Mungkin Bapak dan Ibu
bisa melakukan permohonan ke puskesmas
setempat untuk melakukan pengukuran
pencahayaan, kebisingan dan kelembaban
di tempat kerja Bapak dan Ibu. Kemudian
kalau misalkan Bapak dan Ibu mempunyai
anggaran lebih gitu ya, di UPTK2
masing-masing ee dinas di Dinas
Ketenagakerjaan itu ada UPTK2 yang
melakukan pengukuran kebisingan dan
pencahayaan. Ketika sewaktu-waktu dia
bisa melakukan pengukuran secara gratis
gitu ya. Nanti mungkin bisa ditanyakan
dengan teman-teman di instansi UPTK2.
Tapi ketika Bapak dan Ibu melakukan
permohonan seperti kami ada penelitian
ya, kami harus berbayar untuk pengukuran
itu. Tapi insyaallah kalau di Puskesmas
nanti bisalah kerja sama dengan
Puskesmasing gitu nggih untuk pengukuran
ini. Terima
kasih. Maaf sekali sobat ASN karena
memang keterbatasan waktu pada seri kali
ini. Maka untuk sesi tanya jawab kami
harus cukupkan satu pertanyaan saja dan
kami harus ee hilangkan sesi interaksi
secara langsung begitu ya dengan Ibu
Putri. Namun terima kasih banyak Ibu
Putri atas waktu dan juga buah pikir
yang telah disampaikan. Presentasi yang
sangat luar biasa sekali, sangat
insightful bagi kami untuk dapat
mengaplikasikannya dan
mengimplementasikannya di tempat ASNASN
berada. Dan kami harus akhiri dan
cukupkan terima kasih banyak Ibu Putri,
pakar kesehatan dan keselamatan K3
Universitas Erlangga, Ibu Dr. Putri
Ayuni Alaya Nur, SKM, MKK, IER Ohta.
Sampai jumpa kembali, Bu Putri. Salam
sehat
selalu. Baik, Sobat ASN di mana pun
berada. Sebelum kami mengakhiri pada
seri kali ini, kami ingin mengingatkan
kembali bahwa help desk jika mungkin
sobat ASN setelah mengikuti si kali ini
belum mendapatkan e-sertifikat ataupun
ada kendala lain bisa menghubungi nomor
WhatsApp di 0821664461.
Sekali lagi health kami di nomor
WhatsApp
0821664461 semesta Bangk. Dan sobat ASN
sebelum mengakhiri kami juga ingin
mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada narasumber kita
yang pertama tadi yaitu Direktur Bina
Pengujian Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Kemenaker Republik Indonesia Bapak
Muhammad Yusuf, ST. M.Si. SI. Juga
narasumber kita yang kedua yaitu Komisi
3 Dewan K3 Provinsi Jawa Timur bidang
kerja sama K3 dan Humas Prof. Dr.
Adityya Sudiarno, ST. Aidip Nebos. Dan
juga yang telah memberikan pemaparan
materinya barusan yaitu pakar kesehatan
dan keselamatan kerja K3 Universitas
Erlangga Unair Ibu Dr. Putri Ayuni Alaya
Nur SKM MKK IERT Ohta. Sobat ASN sebelum
mengakhiri untuk mengecek kembali secara
berkala semesta Bangkom guna mengunduh
e-sertifikat. Dan demikian seluruh
rangkaian ASN belajar seri ke-16 pada
hari ini. Terima kasih banyak atas
partisipasi dan antusiasmenya yang telah
tergabung secara Zoom meeting maupun
yang telah tergabung di YouTube BPSDM
Jatim TV. Kita akan selalu bertemu
dengan seri-seri berikutnya dengan
tema-tema yang lebih menarik. Tetap
semangat sampai jumpa. Saya Fan Patriia
pamit undur diri. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Bye. Zaman yang terus
bergerak, sambut dengan penuh
semangat. Saatnya kita
melangkah. Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap
kompetensi untuk pelayanan
berdampak bersama
ASN
belajar. Ciptakan SDM unggul
berprestasi selalu inisiatif dan
kolaboratif untuk inovasi yang
berkelanjutan.
menjadi ASN berakhlak
mulia. Siap menyongsong Indonesia
emas. ASM belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia. Satukan
tekad pantang
menyerah jadi ASN getar berkualitas.
Belajar
wujudkan
perintah kelas
dunia tekad pantang
menyerah jadi AS berkuas
[Musik]
sama
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]