Transcript
4nl4_lxbMPY • ASN Belajar Seri 16 | 2025 - ASN Hebat Peduli K3: Membangun Lingkungan Kerja yang Aman dan Produktif
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0227_4nl4_lxbMPY.txt
Kind: captions Language: id Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas Dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan kelas dunia tekad pantang menyerah jadi AS berkualitas [Musik] sama [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan, rahayu. Rahayu, dan salam sehat untuk kita semua. Sebelum mengawali acara ASN Belajar seri ke-16 pada pagi hari ini, saya ingin berpantun terlebih dahulu dan boleh dijawab dengan kata cakep di tempat di manaun Sobat SN berada dan jempolnya terangkat ke atas ya. Pagi cerah, burung bernyanyi, cukup. ASN datang penuh semangat canggup. K3 dijaga setiap hari demi kerja selamat dan sehat. Baik, saya yakin sobat ASN di mana pun berada saat ini sudah bergabung dengan kami dan penuh semangat untuk mengikuti seri ke-16 pada pagi hari ini. Dan saya senang sekali untuk dapat menyapa terlebih dahulu kepada yang terhormat Kepala BPSDM Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, S.P.MP yang telah bergabung secara online. Yang kami hormati para narasumber, Direktur Bina Pengujian Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Bapak Muhammad Yusuf, ST., M.Si. si selamat pagi juga yang kami hormati Komisi 3 Dewan K3 Provinsi Jawa Timur bidang kerja sama K3 dan Humas Prof. Dr. Adity Sudiarno, ST. Aidip Nebos. Pakar Kesehatan dan Keselamatan K3 Universitas Erlangga Unair, Ibu Dr. Putri Ayuni Alainur, SKM, MKK, Isert, OHT, serta Bapak, Ibu, Sobat ASN di mana pun Anda berada yang telah tergabung secara Zoom maupun yang sudah bergabung dalam YouTube BPSDM Jatim TV. Dan selamat pagi, selamat bergabung kami ucapkan dalam ASN Belajar seri ke-16 dengan tema ASN Hebat Petudi K3 membangun lingkungan kerja yang aman dan produktif yang dipersembahkan oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur. Puji syukur kita haturkan kehadirat Tuhan yang maha kuasa karena berkat hidayah-Nya kita dapat berkumpul kembali secara online dari Sabang sampai dengan Maraoke untuk mengikuti ASN belajar seri ke-16 tahun 2025 kali ini. Dan tentu saja pada tema kali ini saya Fan Patriia yang akan menjadi moderator sampai dengan selesai nanti. di mana tema kali ini kita akan berbincang tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja K3 yang merupakan elemen penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya aman saja, tetapi juga mendukung produktivitas yang maksimal. Dalam rangka tercapainya para aparatur sipil negara ini tentunya memiliki peran yang besar dalam memastikan bahwa setiap aspek K3 diterapkan secara konsisten di setiap instansi baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Kegiatan ini tentu saja dapat memberikan wawasan lebih luas mengenai prinsip-prinsip K3 sekaligus mendorong ASN untuk lebih peduli dan berkomitmen dalam menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya aman saja, tetapi juga nyaman dan mendukung tercapainya tujuan organisasi. dengan implementasi K3 yang optimal, tidak hanya mensejahterakan para ASN saja, tetapi juga produktivitas kerja yang bisa meningkat sehingga berdampak positif pada kualitas pelayanan publik dan keberlanjutan kinerja pemerintah. Selengkapnya akan dibahas melalui ASN Belajar seri ke-16 tahun 2025. Hari [Musik] ini. Sobat ASN di manapun Anda berada. Sekali lagi Anda bisa bergabung melalui BPSDM Jatim TV di YouTube dan tentu saja yang sudah bergabung dengan Zoom presensi nanti akan kami hadirkan di Semesta Bangkom. Dan mengawali acara kita pada ASN belajar seri ke-16 kali ini, marilah kita bersama-sama menyimak keynote speech yang akan disampaikan oleh Kepala BPSDM Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, S.P.,MP. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita. sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN dalam jaringan persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini, Rabu tanggal 30 April 2025, ASN Belajar telah memasuki seri ke-16. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh tanah air untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami terus berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topiktik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di seluruh Indonesia. Sahabat ASN, hari ini ASN belajar seri ke-16 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka menyambut sebuah momentum spesial Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 Internasional atau World Day for Safety and Health At Work yang diperingati setiap tanggal 28 April. Karena itu ASN belajar seri ke-16 tahun 2025 ini mengangkat topik ASN hebat peduli K3 membangun lingkungan kerja yang aman dan produktif. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sapat di seluruh tanah air, Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 International atau World Day for Safety and Health at Work pertama kali dicanangkan oleh organisasi Perburuan Internasional ILO pada tahun 2023 dan kemudian menjadi agenda tahunan untuk meningkatkan kesadaran global terkait pentingnya keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. Tujuan utama dari hari K3 Internasional adalah mendorong pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Kampanye ini juga menjadi momentum untuk mengajak seluruh masyarakat internasional membangun budaya kerja yang mengutamakan keselamatan dan kesehatan demi menekan angka kecelakaan dan kematian kerja di seluruh dunia. Tahun 2025 ini hari K3 Internasional mengusung tema Revolutionizing heart and safety the role of artificial intelligence and digitalization at work atau merevolusi kesehatan dan keselamatan peran artificial intelligence dan digitalisasi di tempat kerja. Sebagaimana kita sadari bersama, Sobat ASN, peran teknologi khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence dan digitalisasi kini makin menonjol dalam dunia kerja. Robot sudah digunakan untuk menangani tugas-tugas berbahaya seperti mengelola bahan beracun, bekerja dalam suhu ekstrem, atau melakukan pekerjaan berat dan berulang. Sementara itu, alat pemantau berbasis sensor mampu mendeteksi potensi bahaya secara dini. Sobat ASN, tentu saja yang harus menjadi kita sadari bersama digitalisasi bukanlah sekedar layar dan data. Ia adalah lentera yang menerangi celah-celah gelap di tempat kerja. Dari helm pintar hingga sentor tak kasat mata. Setiap denyut teknologi mengalun demi menjaga nyawa dan asa manusia. Tentu revolusi ini bukan menggantikan manusia, tapi merangkulkan tangan baru agar keselamatan tak lagi menjadi pilihan, melainkan budaya kerja yang tumbuh dan menyatu. Artificial intelligence hadir bukan untuk menghapus rasa, tapi memperhalus langkah, membimbing manusia bekerja cerdas tanpa kehilangan arah. Oleh karena itu, hari K3 ini sudah seharusnya kita rayakan bukan hanya dengan spanduk dan seremoni, tapi dengan tekad untuk menjadikan teknologi sebagai sekutu harmoni. Karena di tempat kerja yang aman dan sehat, masa depan tumbuh dan martabat manusia menjadi kuat. Shabat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita sebagai ASN membangun dan mengembangkan budaya kerja yang bukan hanya produktif tapi mengarustamakan kesehatan dan keselamatan kerja. Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Muhammad Yusuf STM, SI. Beliau adalah Direktur Bina Pengujian Kesehatan dan Keselamatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia. Yang kedua, kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. Adityya Sudiarno, ST dari Komisi 3 Dewan Keselahatan dan Keselamatan Kerja Jawa Timur. Dan yang ketiga kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Dr. Putri Ayuni Alaya Nur, SKM MKK. Beliau adalah pakar kesehatan dan keselamatan kerja Universitas Airlangga Surabaya. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-16 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas ke speech yang telah disampaikan kepada Bapak Dr. Rahmianto, S.P,MP. Nah, sobat ASN di mana pun berada yang baru saja bergabung mungkin belum ada yang paham mengenai aturan dari ASN belajar seri ke-16 kali ini. Jadi untuk yang pertama sesi tanya jawab ini dilakukan setiap selesai pemateri menyampaikan materinya dan 30 menit kami berikan untuk memaparkan materi pada setiap narasumber. Kemudian yang kedua, mohon untuk para penanya nantinya raise hand jika ingin berinteraksi secara langsung melalui open cam dan juga open mic. Jadi nanti tim dari panitia yang ada di sini akan menyambungkan dan menghubungkan sobat ASN untuk bisa berinteraksi secara langsung melalui open cam dan juga open mic. Dan yang ketiga, link absensi peserta serta e-sertifikat nantinya akan diisi dan juga akan hadir di semesta Bangkom. Jadi pastikan sobat ASN untuk mengisi semua yang ada di aplikasi semesta Bangkom di setiap akhir sesi. Dan pastikan e-sertifikat ini sudah didapatkan. Namun jika belum dapat, namanya juga belum tertulis dengan jelas, mohon dilakukan pengecekan secara berkala selama ASN belajar seri ke-16 ini berlangsung. Baik, kita sudah sampai pada sesi pertama kali ini. Untuk itu, segera kita akan terhubung dengan narasumber kita yang pertama yaitu Direktur Bina Pengujian Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yang kami hormati Bapak Muhammad Yusuf, ST. M. Selamat pagi, Bapak. Selamat pagi, Pak Direktur. Iya. Selamat pagi. Baik. Asalamualaikum, Bapak. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabarnya untuk hari Rabu ini, Pak? Alhamdulillah diberi kesehatan dan keselamatan sehingga bisa bertemu dengan semua sobat ASN seluruh Indonesia. Dua hal yang penting ya, kesehatan dan keselamatan. Nah, hal ini juga yang akan kita bahas pada momen kali ini. Untuk itu waktu kami silakan Pak Direktur ya. Ee terima kasih ee Pak Moderator. Mungkin bisa ditampilkan di layar presentasi saya. Saya pertama saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Badan Pengembangan SDM Provinsi Jatim, Bapak Dr. Ramlianto, S.PMP. Kemudian juga tentu rekan-rekan narasumber pada hari ini Bapak Prof. Dr. Adityya Sudiarno ST, IDEPnebos dan Dr. Putri Ayuni Alya Nur SKM MK3. Dan tentu saya ingin menyampaikan salam hormat saya kepada seluruh rekan-rekan sobat ASN di seluruh Indonesia. Alhamdulillah kita bisa bertemu pada pagi hari ini dan surprise bagi saya karena webinar ini ternyata diikuti dari seluruh Indonesia. Ya, Bapak dan Ibu sekalian, ee saya ingin pada kesempatan ini ingin sharing dan berbagi ya tentang K3, keselamatan dan kesehatan kerja khususnya bagi kita sebagai insan ASN. Kenapa? Karena secara filosofi dan juga nature dari pekerjaan kita sebagai ASN tentu setiap hari dihadapkan pada layanan publik. Ada yang di dalam ruangan indoor, ada yang di outdoor di mana semuanya punya potensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Nah, ini ee tentu kita ingin hidup kalau sekarang bilangnya work life balance ya, hidup juga sejahtera ya, ASN juga perlu sejahtera. Nah, bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah dengan melaksanakan K3. Baik. Ee mulai mungkin slide-nya bisa dipaparkan di jelas ya di judul dulu Mbak. Terlihat semua ya. Saya ingin memulai dari judul yang sudah dipilihkan oleh panitia yang begitu inspiratif ya. ASN Hebat Peduli K3. Saya pernah sempat tinggal di Jawa Timur. ada fenomena dulu apa yang dikatakan hebat. Waktu itu saya sering naik kendaraan umum ya. Jadi ya baru ee antara Surabaya dan Jogja gitu ya. yang dikatakan hebat adalah naik bis ya, Teman-teman. Di Jawa Timur mungkin sudah sangat terkenal ya dengan merek-merek bus yang begitu luar biasa ya. Kalau dari Surabaya, dari Bungur Asih ke Jogja itu hebat itu driver atau suir bus itu yang bisa membawa penumpang dengan sangat cepat. Ya, maka kita masih suka lihat ya di TikTok sekarang ada yang gimana ya antar besing salib-menyalib. Apakah itu yang dibilang hebat gitu ya? Tentu kita semua sepakat tidak ya. Kita sepakat saja bahwa yang dibilang hebat adalah orang yang bisa sama seperti superhero waktu kita kecil ya menyelamatkan orang lain ya menyelamatkan masyarakat. Itulah yang dibilang hebat. Begitu juga dengan kita ASN. ASN yang hebat adalah ASN yang bisa memberi keselamatan kepada baik diri sendiri maupun kepada masyarakat yang kita layani. Saya barusan saja dapat data bahwa sampai Oktober 2024 sudah ada 227 rekan kita yang tewas ya, yang gugur pada saat bekerja ya. Dan ini tentu bukan angka yang kecil ya, ini angka yang besar. Jangankan 227, satu saja itu sudah besar bagi kita ya. Oke. Bagaimana kita membangun fondasi untuk bisa membangun keselamatan dan kesehatan kerja? Next slide. Ini ada enam ee yang ingin saya sampaikan, enam poin yang ingin saya sampaikan. Kita lanjut. Yang pertama sori ini layarnya mungkin bisa dibesarkan ya. Ya. Ee pertama cukup pertama meningkatkan kesadaran tentang tujuan kita adalah meningkatkan kesadaran tentang apa itu keselamatan dan kesehatan kerja bagi ASN. Yang kedua ee memberikan pengetahuan tentang bagaimana implementasi K3 yang efektif dan membangun komitmen untuk menciptakan lingungan kerja yang aman dan produktif. Jadi awareness, knowledge, dan komitmen ya. awareness dulu kita bangun kemudian harus ditambah dengan knowledge. Setelah itu kita butuh komitmen. Karena kalau di tempat kerja tidak ada komitmen pimpinan maka semua program, semua kebijakan tidak akan berjalan. Ya. Jadi ini tiga hal yang harus kita bangun di kantor masing-masing, di unit kerja masing-masing. Pertama apa? Pertama awareness dulu. Betapa pentingnya kita melaksanakan K3. Kenapa penting? Kemudian knowledge-nya harus kita tambah. Ada banyak sekali ilmu multidisiplin ilmu untuk bisa memahami K3 dan juga membangun komitmen. Komitmen pimpinan, komitmen kita semua ya. Itu harus dibangun. Next slide. Apa itu pengertian K3? Sobat ASN yang saya banggakan, K3 sesungguhnya melekat inherent ya dalam peradaban manusia. Kalau sekarang teman-teman sobat ASN kenal alat pelindung diri ya, baju yang kita pakai adalah alat pelindung diri pada masa itu. Bukan sekedar fashion ya. Pada masa manusia purba ya, awal-awal peradaban baju adalah alat pelindung diri. Kemudian pada saat pembangunan dulu ee Romawi ya, bangsa Romawi membangun polosium dan lain sebagainya, mereka membangun bangunan-bangunan tinggi. Kemudian ada batu yang jatuh kena kepala. Mereka bangun bikin yang namanya helm. Akhirnya helm berkembang. Nah, sekarang revolusi industri juga memunculkan banyak sekali penerapan K3 ya, mulai dari kita bagaimana K3 permesinan, K3 ee listrik, K3 ee transportasi, konstruksi dan lain sebagainya ya. manusia sesuai dengan peradabannya tadi belajar tentang K3. Jadi, Bapak dan Ibu, saya sering ee sering apa namanya ya? Sering menyampaikan bahwa K3 itu ilmu yang mahal karena belajarnya dari korban baik itu korban meninggal maupun korban sakit. Jadi ini ilmu mahal Bapak dan Ibu sekalian. Kita belajar dari korban sehingga kalau ada kecelakaan yang harus dicari adalah hikmahnya. Kenapa sampai terjadi seperti itu? Ya. Nah, singkatnya K3 adalah upaya kita untuk menjamin keselamatan diri kita dan orang lain di tempat kerja agar selalu sehat dan produktif. Ya, tadi kalau revolusi industri sudah memunculkan banyak ilmu-ilmu K3. Sekarang tadi dikaitkan dengan tema K3 internasional tahun 2025. Apakah AI, apakah digitalisasi juga akan memunculkan potensi kecelakaan dan penyakit kerja di tempat kerja? Nanti akan dijelaskan oleh narasumber lain, tapi itu akan jadi satu trigger kita untuk bisa awareness lagi, bisa aware lagi tentang potensi-potensi kecelakaan yang ada di tempat kerja kita, khususnya di ASN ya. termasuk masalah sekarang tren psikososial ya, ergonomi psikososial itu se sekarang sudah menjadi ee kebutuhan kita untuk lebih perhatian. Kenapa? Balik lagi karena saya pengin enggak stres kalau kerja. Saya pengin happy, saya pengin bahagia. Work life balance saya dapat kan begitu ya. Oke, next. Nah, tentu ASN, Sobat ASN semua, kita bekerja ada di tempat kerja kita, ada di unit kerja kita, tidak lepas dari regulasi ya. Dan ada banyak regulasi yang sudah mendukung kita. Yang pertama Undang-Undang Nomor 1 tahun 0 tentang keselamatan Kerja. Kemudian ada Undang-Undang 13 tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan. Ada juga PP50 2012 tentang penerapan sistem manajemen K3 dan Peremalaker 5 tahun 2018 tentang K3 lingkungan kerja. Ya, selain itu juga kita sudah sangat kita sangat mengapresiasi MenPAN sudah mengeluarkan MenPAN RB sudah mengeluarkan peraturan nomor 6 tahun 2022 bahwa ASN adalah sebagai model pelayanan publik yang aman dan berintegritas yang selamat. dan berintegritasi. Kemudian juga di PP 94 tahun 2021 bahwa disiplin ASN mencakup kepatuhan terhadap protokol keselamatan kerja. Dan yang terbaru adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN yang menyatakan bahwa harus bekerja ACSN harus bekerja dengan aman dan selamat. Jadi inilah komitmen atau kebijakan pemerintah pusat yang harus kita laksanakan bersama. Sebagai pimpinan unit kerja di berbagai level, kita harus peduli pada keselamatan dan kesehatan seluruh anggota yang ada di bawah kita. Begitu juga keselamatan dan kesehatan masyarakat yang kita layani. Ini next slide. Ya, ini sudah disampaikan tadi. Next slide di rencana induk K3 nasional 2020 2 sampai 2025 adalah K3 menjadi budaya di setiap kegiatan pekerjaan menuju Indonesia berbudaya K3 tahun 2025. Apakah ini sudah tercapai? Ini akan terus kita usahakan Bapak dan Ibu sekalian ya. Dan tentu kami di Kementerian Ketenagakerjaan akan terus memperkuat regulasi dan pengawasan, kemudian juga meningkatkan kompetensi SDMK3 baik itu di sektor privat maupun di sektor layanan publik dan juga meningkatkan kolaborasi lintas sektor termasuk di antaranya adalah ee lintas instansi pemerintah. Next slide. Apa peran kita? Per Sobat ASN dalam rangka K3 yang pertama tadi sesuai dengan Permenpan RB ya. Kita jadi teladan, jadi role model dalam disiplin dan kepatuhan K3. disiplin dan kepatuhan K3 ini tentunya harus dilatar belakangi oleh motivasi ya tadi motivasi dari juga paradigma kita bahwa layanan kita harus selamat harus sehat ya tempat kerja kita harus selamat dan sehat kemudian diikuti dengan adanya protokol keselamatan dan kesehatan kerja atau aturan atau SOP yang kita bangun di tempat kerja kita masing-masing. Kemudian SOP yang sudah kita susun jangan rest in paper ya, tetapi harus aktif disosialisasikan melalui pelatihan, melalui safety meeting, safety briefing ya dan lain sebagainya. Jadi ini harus di lakukan secara konsisten untuk apa? untuk kita punya target outcome mewujudkan zero accident di lingkungan kerja kita. Dan tentu pada saatnya nanti kita akan mendorong setiap instansi pemerintah juga menerapkan sistem manajemen K3 di tempat kerja masing-masing. Ini yang ee siklus yang akan kita bangun di instansi kerja kita ya, Bapak dan Ibu sekalian. Jadi tetap apa ee fase ini masing-masing akan mulai dari aspek tadi awareness dulu. Awareness kita menambah knowledge, membuat protokolnya, kemudian kita sosialisasikan sehingga outcome-nya adalah membuttikan zero accident dan pembangun secara berkelanjutan melalui sistem manajemen K3. Kita tidak ingin lagi tahun depan misalnya angka tadi saya di awal saya sudah sampaikan 2024 ada 227 rekan kita yang tewas. Mudah-mudahan tahun ini itu bisa kita kurangi dengan berbagai upaya kita meningkatkan K3. Next. Ini beberapa contoh aksi nyata peduli K3 di lingkungan ASN ya. Yang pertama kita membentuk tim K3 di internal instansi masing-masing. Di sinilah kita melakukan tadi awareness dan knowledge ya. Awareness, knowledge, dan komitment. slide saya yang pertama di awal tadi ya. Kita bentuk tim untuk membangun apa? Awareness, knowledge, dan komitmen. Nah, yang paling tidak mudah ya, yang paling tidak mudah adalah membangun awareness. Ada banyak sekali contoh-contoh ee kecelakaan kerja ya. Sekarang mungkin ada rekan-rekan yang di BPBD ya. di BPBD ini sudah sangat terlatih. Tapi yang paling penting dari BPHD ee misalnya kalau kita menolong korban bencana yang harus dipastikan adalah kita sendiri harus tim rescue itu harus selamat, harus aman dulu baru bisa menolong yang lain. Jangan kita masuk kita dalam kondisi yang tidak aman ya. Kemudian kalau di kantor misalnya ya, di kantor itu mulai nanti dari masalah kelistrikan. Bapak dan Ibu sudah mendengar di media ya, membaca melihat di media. Ada banyak kantor pemerintah yang mengalami bahaya kebakaran. Ya, ini hal-hal yang dimulai dari hal-hal kecil kepedulian terhadap K3 listrik misalnya, ya. Jadi, awareness itu ee nanti akan dibahas lebih detail oleh ee narasumber berikutnya. Saya tidak akan banyak di sini. Kemudian salah satu juga yang penting adalah melakukan simulasi evaluasi darurat. Indonesia adalah negeri dengan potensi bencana yang sangat beragam ya. Mulai dari gempa bumi, gunung meletus, longsor, banjir, dan lain sebagainya. Ya, kita punya banyak bencana sehingga kita harus lebih aware terhadap bencana, baik itu bencana alam maupun bencana industri ya. Di daerah-daerah industri misalnya di Gresik ya. Kalau di Bontang misalnya di Kalimantan Timur ya, di kawasan-kawasan industri harus juga bersiap diri untuk bahaya industri, industrial disaster selain dari natural disaster ya atau bencana alam. Nah, bagaimana kalau gempa itu harus dilatih? Bapak dan Ibu, saya pernah melatih penggunaan apar saja ya, alat pemadam api ringan itu yang laki-laki enggak berani, yang berani malah yang perempuan. Sehingga tim K3 itu jangan isinya laki-laki semua ya, Bapak, Ibu ya. Kalau maentuk tim K3 ya itu dipilih yang komitmen yang paling kuat ya, passion yang paling kuat untuk membantu orang ya. Kemudian simulasi evakuasi dar dilakukan secara berkala Bapak dan Ibu. Bagaimana kalau yang berada di gedung-gedung tinggi ya di atas empat lantai itu harus latihan juga. Kalau tidak dilatih pada saat darurat semua mengandalkan insting refleks ya. Ini ada ada prosedurnya ya. bagaimana turun tadi lantai 4 misalnya ada keadaan darurat itu ada prosedurnya Bapak Ibu ya bagaimana evakuasi ada prosedurnya ya dan itu harus dipelajari kemudian menyediakan alat pembadan piringan dan alat keselamatan kerja lainnya ya dan dilatih cara penggunaannya kemudian juga memastikan ergonomi dan kenyamanan ruang kerja serta menerapkan yang paling basic menerapkan 5R R di tempat kerja masing-masing, ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin. Ini yang paling basic, Bapak dan Ibu. Belum lagi kita bicara nanti gimana dengan ee psikososial, ya. Nah, jadi ini didiskusikan, didialogkan. Jadi, masing-masing tempat kerja punya karakteristik, masing-masing pekerjaan punya karakteristik K3 yang berbeda-beda. Ya. Next slide. Nah, ini tantangan dan solusi yang kita hadapi ya. Kurangnya kesadaran akan pentingnya K3 itu introspeksi untuk diri kita sendiri ya, Bapak dan Ibu sekalian bisa mengintrospeksi apakah kita sudah aware waktu berangkat kantor kita pakai helm. Kalau yang pakai mobil, apakah kita sudah pakai safety belt di depan maupun di belakang? Apakah kita aware dengan apakah kita sudah sadar bahwa kendaraan kita perlu di maintenance ya, perlu dicek remnya, olinya segala macamnya, bannya ya dicek secara berkala apakah kita sudah aware dengan peralatan kerja kita, teman-teman yang di pertanian misalnya yang di UPT ya, UPTD. UPTD ada alat-alat mekanik, ada alat-alat listrik, ada alat-alat ee yang menghasilkan panas, uap dan lain sebagainya ya. Ada alat berat juga di situ. Apakah sudah di-maintenance dengan baik? Ya, belum lagi teman-teman saya tadi pertanian saya barusan dapat info bahwa teman-teman yang di kebun bibit misalnya di pembibitan itu ada yang sudah terkena heat stress. Heat stress ini stres karena terpapar panas. Kita tahu akibat climate change suhu apa temperatur bumi itu naik ya 1 derajat. itu efeknya besar loh ya. Bagaimana kita mengatur jam kerja supaya yang ada di tempat kerja outdoor terutama itu tidak terkena heat stress. Karena heat stress itu kalau dibiarkan akan jadi heat stroke nanti ya. Di tempat kerja yang bising bagaimana? Apakah kita peduli penggunaan ee alat pelindung diri earma atau earplug ya kalau tidak bisa dikurangi e kebisingannya? Apakah kita peduli bahwa tempat kerja kita lampunya tinggal 5 watt ya sehingga yang di komputer sering capek ini atau ada yang input data saja ya input data kita tidak peduli dengan kita belum peduli dengan mereka harus 4 jam 5 jam tanpa exercise gitu ya. Ya, aturannya bahwa setiap 1 jam bekerja di depan komputer Bapak dan Ibu itu harus relaksasi ya. Matanya direlaksasi apa ee tangannya, punggungnya itu harus direlaksasi ya. Misalnya seperti itu. Jadi tapi nah di lain sisi kita juga punya keterbatasan anggaran dan sarana untuk melengkapi semua itu. Nah, ini kuncinya di mana? Kuncinya di komitmen. Jadi kalau di perusahaan-perusahaan maju itu no compromise ya, no negotiable. Kalau menyangkut K3, apakah kita akan bisa sampai ke sana? Insyaallah ya mudah-mudahan. Jadi kalau semua menyangkut K3 itu sudah enggak ada alasan lagi, harus diterima gitu ya. Jadi ya kalau lampu kalau itu menyangkut K3 ya harus ditambah lampu yang terang misalnya ya. Kalau alat ya harus di peralatan harus dimaintenance ya, tidak bisa tidak gitu ya. Itu ee tantangan dari aspek manajemen tentunya ya. Nah, kemudian tentu ee solusinya bagaimana ya? Solusinya tadi sudah saya juga sampaikan. Jadi kita mulai dari awareness, dari campaign kita kampanyekan secara internal dan istikamah. secara terus-menerus berkalan. Kemudian mengintegrasikan prinsip-prinsip K3 dalam SOP yang kita buat, Bapak dan Ibu. SOP layanan yang kita buat. Masukkan prinsip-prinsip K3 di sana. Nah, misalnya apa? Misalnya yang paling sederhana soal antrian. Bapak jangan biarkan masyarakat antri 2 jam berdiri, Pak. Harus sediakan tempat duduk. Itu yang sering kita lihat di media ya. Masyarakat antri berjam-jam ya jangan sampai seperti itu ya. Kita harus siapkan tempat yang baik ya. Karena nyangkut K3 juga. Kemudian alat pelindung diri ya. Jadi untuk teman-teman Satpol PP misalnya ya, alat pelindung diri ayo dilengkapi gitu ya dalam melaksanakan SOP dalam melaksnya masing-masing dan lain sebagainya. Kemudian juga tadi sudah saya sampaikan komitmen pimpinan perlu sekali untuk kita bangun. Next. penutup saya ingin ee berpesan bahwa kita harus peduli pada diri kita dan juga kepada rekan-rekan kerja kita. Karena K3 tidak bisa kita kerjakan bersama. Sama dengan seperti masuk surga enggak ternyata enggak bisa sendirian, Bapak dan Ibu. Kalau kita mau selamat, mau sehat, kita juga harus mengajak rekan kita untuk sehat dan selamat. satu rekan kita yang kita indikasi misalnya TBC, tuberkulosis itu juga satu isu besar. Ada 1 juta lebih warga Indonesia yang diindikasikan TBC saat ini. Kalau kita peduli, maka ayo ada SOP untuk treatment rekan kita yang TPC. Kalau dibiarkan apa? Maka satu kantor akan tertular. Nah, ini contoh-contoh ya, bahwa K3 adalah tanggung jawab kita bersama. Kemudian sebagaimana tadi sudah saya sampaikan dalam kebijakan kita sebagai yang diatur dalam peraturanpan RB bahwa ASN adalah role model bagi pelayanan publik ya wajib menjadi pelopor untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja. Jadi sekali lagi Bapak dan Ibu mari kita wujudkan ASN Hebat yang peduli K3. Demikian yang bisa saya sampaikan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak Pak Direktur atas pemaparan materi yang saya juga turut menyimak bahwa penting sekali bagaimana kita menjaga kesehatan dan keselamatan selama kita bertugas dan bekerja. Dan kita akan membuka sesi diskusi pada momen kali ini. Untuk sobat ASN yang ingin sekali berinteraksi secara langsung silakan rais hand. Maka tim dari kami akan langsung menghubungkan sobat ASN di manapun Anda berada untuk bisa bertanya dan berdiskusi dengan narasumber kita yang pertama yaitu Pak Direktur yaitu Bapak Muhammad Yusuf kali ini. Silakan sobat ASN. Selain kita juga akan menghubungkan interaksi kita juga ada pertanyaan. Oh baik sudah terhubung. Selamat pagi. Dengan siapa ini? Bapak boleh open mic ya. Suaranya sudah terdengar. Selamat pagi, Bapak. Asalamualaikum. Asalamualaikum. Waalaikumsalam. Dengan Bapak siapa ini? Ya, mohon maaf, saya dari Pak Solin dari Dinas Perpustakaan Partisipan Kabupaten Banyuwangi. Bu, dari Banyuwangi. Selamat pagi. Salam baik. yang baik suaranya agak sedikit terputus-putus namun terdengar saat ini dengar baik Pak Slamet. Betul ya Ya, silakan untuk pertanyaannya Pak Samet. Oh, Pak Solihin mohon maaf saya Bapak Sihin. Iya, mohon maaf Pak. Disilakan. Langsung saja punya ini mohon maaf kami akan langsung bertanya aja bagaimana kita dapat menerapkan prinsip-prinsip K3 yaitu keselamatan itu dan kesehatan kerja dalam kerja khususnya di ASN itu. Yang pertama. Nah, yang kedua bagaimana sih, Pak ee cara mengidentifikasi bahaya dan risiko di tempat kerja? Apa saja program K3 yang perlu diterapkan dan bagaimana memastikan kepatuhan terhadap peraturan K3 itu, Pak. Itu aja dua yang perlu saya saya tanyakan. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. kepada Pak Direktur izin untuk menjawab. Tadi agak kurang jelas ya tadi bagaimana menerapkan prinsip-prinsip K3 ya. I betul salah ya. Betul ya Pakin? Betul betul ya Pakin. Ee terima kasih ee Pak Solin berdinas di Dinas Perpustakaan di Banyuwangi ya. Nah, saya ingin ee yang pertama tadi, Pak, tiga prinsip tadi itu, Pak. Ada kesadaran dulu, ada motivasi dulu, kemudian ada pengetahuan kita tentang potensi bahaya, dan yang ketiga ada komitmen. Nah, ya itu ee tiga prinsip yang awal, ya. Tiga prinsip awal yang mendasari semua kegiatan kita. Contoh saya boleh contoh di perpustakaan ya, Pak ya. Ya, Pak Solin bekerja di perpustakaan, Pak. Dinas di dinas perpustakaan apa di di gedung di perpustakaannya, Pak? Di perpustakaan. Di perpustakaan dan I contoh, Pak. Mulai dari yang pertama adalah awareness. Kalau kita keliling-keliling di perpustakaan, Pak, kira-kira Pak apa menurut apa kita apa potensi bahaya yang mungkin muncul di lingkungan perpustakaan baik dari aspek apa keselamatan maupun dari aspek kesehatan itu harus kita buat listnya, Pak. Modelnya gitu. Coba bikin listnya dulu ya. Semakin banyak pengetahuan nanti yang kita dapat, maka listnya akan semakin banyak. Contoh bahwa buku-buku itu menimbulkan debu, Pak. Ya, debu bahaya untuk apa? Untuk pernapasan pernaapasan kesehatan kita, ya. Kemudian yang kedua, ada bahaya apa lagi di perpustakaan? Ada bahaya listrik, ya kan? Ada. Oh, tadi debu itu ada standarnya, Pak. Jadi, standar debu di ruangan tempat kerja itu kita ada standarnya. Nanti akan dijelaskan oleh narasumber kedua. Tapi kita harus mengidentifikasi dulu. Jadi, prinsip pertama mengidentifikasi potensi bahaya dan penyakit. Ya, tadi saya coba pancing identifikasi potensi bahaya dari di perpustakaan. Ada debu, ada bahaya listrik, ada bahaya biologi. Contohnya apa, Pak? Yang dari binatang ada enggak, Pak? Di perpustakaan, Pak Solihin? Gak ada, Pak. Ada tikus, ada kutu, ada macam-macam itu. Kami ada standarnya, Pak, ya. Ada nilai ambang batasnya. Kemudian dari aspek penerangan. Penerangannya, Pak. Pencahayaan itu juga kita ada standarnya. Kemudian dari ventilasi, Pak, udara. Saya pernah datang ke satu perpustakaan, udaranya sangat apa? Lembab, sangat mengap gitu ya. Ya. Jadi dari aspek biologi ada, dari aspek apa ee fisika ada, aspek ee apa ee bacaannya iya pencahayaan ada dan macam-macam ya. Jadi coba kita identifikasi dulu ya. Sesudah kita identifikasi, maka yang langkah kedua adalah kita pikirkan bagaimana mengatasihan masalah tersebut ya, pencegahannya ya. Contoh tadi kalau misalnya ada bahaya tikus atau bahaya kutu, bagaimana caranya? Ya, kalau tadi gelap bagaimana caranya ya? Ya kalau gelap lampunya kurang punya tambah lampu misalnya ya. Itu hal-hal yang simpel. ventilasi kurang, udaranya kok kurang enak gitu ya. Solusinya bagaimana? Bisa enggak ventilasi dari secara alami ditambah tambah jendela atau ditambah dengan ee apa? AC misalnya kalau mau pakai AC. Soal debu misalnya ya, bagaimana kita membuat sistem untuk apa ee kebersihan ya. Kalau kebersihannya selama ini dilakukan mungkin kalau debu di lantai dengan debu di buku kan beda ya, Pak ya. Saya enggak tahu ya. Tapi bikin coba dilihat prosedurnya bagaimana kita mengatasi debuk di sana ya. Itu cara-caranya. Nah, kemudian pertanyaan yang kedua itu menarik ini, Pak. Bagaimana memastikan aturan itu dilaksanakan gitu ya. Ee itu tadi, Pak. Kalau PR ketiga komitmen, Pak. Jadi membangun komitmen. Kita harus jadikan satu SOP di tadi ada integrasi SOP dengan SOP yang sudah ada sekarang. Kalau sudah ada aturannya, maka aturan itu harus dijalankan ya dengan konsisten. Jadi kita berdasarkan aturan. Jadi kesadaran saja tidak cukup ya. Kesadaran tuangkan dalam aturan. Setelah aturan laksanakan aturan kan itu itu ee pakem yang kita pakai ya. Mudah-mudahan dari situ kemudian muncul menjadi budaya yang kita harapkan kan ke sana ke budaya. Tapi sebelum bisa jadi budaya ya harus agak dipaksa sedikit, Pak. Ah gitu. Kalau kalau apa ya agak dipekso ya, tapi bisa juga caranya makso gimana caranya memaksa? ya bisa juga kita kasih motivasi, Pak ya dengan coba bikin ee misalnya penghargaan ya kasih penghargaan kepada insan ASN di unit kerja yang peduli K3 ya. Kira-kira seperti itu. Jadi kasih penghargaan bisa apa? Kasih ee hukuman juga boleh ya. Baik, demikian untuk jawabannya. Pak Salihin sudah terjawab dengan lengkap begitu Pak ya. Baik. Terima kasih banyak Pak Solihin atas pertanyaannya dan sudah tergabung dengan kami. Baik Pak Direktur, ada satu penanya lagi yang rais hand. Jadi kami akan menghubungkan penanya tersebut untuk bisa berdiskusi secara langsung. Selamat pagi. Pagi. Ah, baik. Dengan Bapak siapa ini? Dengan Randi dari BPSDM Jatim. Baik, Pak Randi. Wah, luar biasa Pak Randi. Silakan untuk pertanyaannya. Baik, selamat pagi, Pak. Pak Muhammad Yusuf ya. Selamat pagi, Mas Randi. Pagi, Pak. Izin bertanya, Pak. Tentunya kalau kita bicara implementasi ketiga sangat berkaitan erat dengan aturan, Pak. ya, khususnya undang-undang ya. Kita sama-sama tahu Undang-Undang 1 tahun 1970 sudah sangat lama ya, Pak ya. Ya, saya sempat mendengar info ada revisi, Pak. Saya kita pengin tahu perkembangannya sudah sejauh mana. Khususnya terkait dengan instansi pemerintah diwajibkan dalam salah satu di dalamnya untuk bisa menerapkan K3. Karena dari dari pengetahuan kami selama ini industri, Pak, yang lebih ditekankan di Undang-Undang 1 1970. Mungkin itu, Pak. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Ya, Mas Randi. Eh, ini update untuk kita masih ini ya, masih sangat mengharapkan banyak masukan ya untuk ee revisi Undang-Undang 170. Jadi insyaallah ini ee on progress gitu ya, sampai sejauh mana ya. ini tahapannya masih di tahap-tahap awal, Pak. Jadi ee kita masih tahapannya masih ada kajian-kajian yang dan mengumpulkan berbagai masukan dari stakeholder ya. Nah, saya ingin ee meluruskan terkait dengan implementasinya ya. Kalau kita bicara undang-undang 170 itu bicara tempat kerja dan tempat kerja ini ee pun ya bahkan kalau kita perdefinisi di Undang-Undang 70 tempat ibadah sekalipun itu adalah tempat kerja ya. Yayasan itu tempat kerja. Jadi di mana ada tenaga kerja itu bisa di ee golongkan sebagai 170 apa ee masuk ke dalam ruang lingkup Undang-Undang keselamatan kerja. Jadi kalau terkait dengan aturan tadi, Pak, saya pikir kita sudah sangat berprogres ya dengan undang-undang tadi undang-undang undang-undang ASN ya. Kemudian juga dengan Permenpan RB itu sudah sudah apa menjadi modalitas kita untuk bisa melaksanakan K3 di setiap unit kerja. Jadi sudah sebetulnya tidak ada alasan ya untuk kita di ASN untuk tidak melaksanakan atau kesulitan mencari dasar hukum. Nah, ini jadi sudah tidak ada alasan lagi untuk apa nih tidak ada dasar hukumnya. Oh, tidak bisa ya. Karena sudah ada dua undang-undang besar undang-undang 170 dan undang-undang 20 2023 yang mendorong itu. Nah, bahwa ee ini perlu penguatan-penguatan ya. Sekarang penguatannya tidak di level undang-undang tetapi di level implementasi. bagaimana kita bisa membangun itu karena sudah ada amanahnya. Kira-kira begitu. Jadi ee saya terima kasih inisiatif dari BPSDM Jawa Timur yang sudah menginisiasi tema kita pada minggu ini yang ee B ke-16 ya. ini luar biasa dan saya harapkan juga nanti BPSDM di provinsi-provinsi lain untuk bisa membuat acara sesi-sesi yang sama. Ini mungkin ee lebih ke awareness tapi lebih spesifik lagi kita bisa bangun apa ee kita bisa ee membuat webinar yang lebih tematik begitu ya. Karena skopnya ASN, Sobat ASN bekerja di berbagai macam. Guru juga mengalami potensi bahaya, penyakit kerja dan kecelakaan kerja. Kalau kita lihat di media sosial ada guru yang harus menyeberangi sungai dengan dan lain sebagainya apa ee kendala di alam ya. Kemudian tadi ada SATPOL PP, ada di BP ee apa ee Badan Penang Bencana ya, ada di UPTP, penyuluh pertanian kita misalnya, bagaimana mereka harus menjaga keselamatannya. Penyakit, di rumah sakit juga tidak kurang-kurang dari apa potensi bahaya ya. dan ya hampir semua tempat kerja kita punya potensi bahaya sehingga ee dalam kesempatan ini saya sekali sekali lagi mencampaikan apresiasi dan saran mungkin ke depan kita bisa membuat satu tema-tema yang ee tema-tema pelatihan yang tematik yang memang dibutuhkan oleh ee sobat-sobat ASN di seluruh Indonesia. Terima kasih. Mas Randi. Iya. Baik. Terima kasih banyak juga untuk jawabannya Bapak dan juga sarannya. Ini sangat berarti bagi kami. Semoga saja minggu depan atau bahkan bulan depan kita bisa mengadakan ASN belajar dengan lebih tematik lagi. Dan waktu harus kami cukupkan untuk sesi narasumber kita yang pertama kali ini. Terima kasih banyak kami sampaikan kepada Direktur Bina Pengujian Keselamatan dan Kesehatan Kemenaker Republik Indonesia Bapak Muhammad Yusuf, ST. M.Si. si. Sampai jumpa, Bapak. Salam sehat selalu, ya. Mohon izin pamit, ya. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jangan ke mana-mana, Sobat ASN karena kita masih selesai dengan ee narasumber kita yang pertama dan kita masih akan lanjut dengan narasumber kita yang kedua sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Pak Yusuf selaku narasumber yang pertama bahwa narasumber yang kedua ini akan memberikan pemaparan yang lebih detail dan lebih jelas mengenai K3. Jangan ke mana-mana, tetap bersama kami. Dan buat Anda yang belum bergubung bergabung dengan kami, Sobat ASN, silakan mendaftarkan diri dan juga link presensi ini akan ada di aplikasi Semesta Bangkom. Kita akan kembali dengan narasumber kita yang kedua setelah yang satu ini. [Musik] Terima kasih, Sobat ASN masih bersama dengan kami dalam ASN Belajar seri ke-16 tahun 2025. Dan kita sudah tergabung dengan narasumber kita yang kedua yaitu Komisi 3 Dewan K3 Provinsi Jawa Timur bidang kerja sama K3 dan humas Prof. Dr. Adity Sudiarno, ST. Aidip Nebos. Kita akan terhung Pak Adityya. Selamat pagi, Prof. Selamat pagi, Mbak Fani. Dan selamat pagi ee sapat ASN semuanya. Baik, terima kasih telah bergabung dan telah memberikan waktunya pada hari Rabu ini. Kita tentunya ingin sekali untuk mendapatkan banyak sekali ilmu dan juga pemaparan materi yang akan disampaikan. Kepada waktunya, Pak Adityya disilakan. Baik. Ee Bapak, Ibu, sobat ASN semua, saya mohon izin untuk eh share screen ya dari ee laptop. Baik. Ee apakah ini sudah tampak ya? Ya, sudah tampak Bapak. Sudah tampak ya. Baik. Ee Bapak Ibu sekalian, saya buka dulu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Ee salam sehat selalu dan semoga kita senantiasa diberikan keselamatan dan kesehatan ya dalam menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Sebelumnya saya sampaikan banyak ee terima kasih kepada Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Dr. Ramlianto dan ee Bapak Ibu di BPSDM yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada kami ya ee di Dewan K3 Provinsi Jawa Timur untuk ee membersamai program-program yang dilaksanakan selama beberapa waktu. belakangan termasuk juga pada kesempatan kali ini. Nah, pada kesempatan kali ini dalam seri ASN Belajar rupanya sudah seri yang ke-16 ya di tahun ini ya ini dalam rangka memperingati ya ee Hari K3 sedunia atau Hari K3 Internasional maka saya kemarin diminta untuk menyampaikan terkait dengan best practice penerapan Permenaker R ya nomor 5 tahun 2018 yang mana Permenaker ini ee membicarakan kan tentang K3 lingkungan kerja ya. Khususnya yang akan kita akan bahas pada hari ini adalah yang terkait dengan ASN ya. Jadi pokok bahasan kita hari ini adalah ee bagaimana sih sebetulnya penerapan Permenaker ya ee 5 2018 ini dalam konteks lingkungan kita, dalam pekerjaan kita sebagai IS. Oke, Bapak Ibu sekalian ya. Ee jadi mungkin ini beberapa di antara kita ada yang sudah ee cukup familiar ya dengan Permenaker ini dan mungkin juga ada beberapa yang ee belum familiar. Maka kita coba simak kembali sebetulnya Permenaker 5 2018 ini ya ruang lingkupnya seperti apa ya. Secara umum yang akan dibahas di dalam Permenaker 5 2018 itu adalah terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan. kita akan membahas ya terkait dengan lingkungan kerja di dalam keseharian kita itu ada faktor faktor bahaya apakah sih sebetulnya yang perlu kita cermati sehingga kita bisa bekerja dengan selamat, kita bisa bekerja dengan sehat dan akhirnya bisa meningkatkan produktivitas ya. Nah, kalau kita lihat di dalam Promenaker ini memang cukup banyak bab yang ditampilkan, pasal-pasal yang ada begitu ya. Kemudian juga mencakup banyak sekali ee nilai ambang batas, standar indeks, contoh-contoh formulir ya, pedoman ya, yang mana jumlahnya itu sebanyak 258 halaman. Dan ini kalau kita bahas satu persatu tentu pada pagi hari ini tidak cukup waktunya gitu ya. maka saya akan menyampaikan beberapa highlight utama yang penting yang nanti bisa memberikan bekang bagi kita semua untuk ee ya setidaknya memahami ya secara helicopter view kira-kira apa sih yang perlu kita antisipasi, apa yang perlu kita perhatikan dalam lingan kita sehari-hari. Nanti akan saya sampaikan beberapa contoh best practice ya, bagaimana ini bisa diterapkan dalam lingkungan pekerjaan kita yang juga merupakan best practice dipakai pada berbagai macam instansi ya kelas dunia ya. Instansi kelas dunia artinya sebuah instansi yang dia tidak hanya dalam level ee apa namanya nasional ya ee apa kinerjanya tapi dalam level internasional. Nah, itu ternyata ada beberapa best practice yang sangat relate dengan ya K3 lingkungan kerja dalam pokok bahasan kita hari ini. Bapak, Ibu sekalian, Sobat ASN ya. Sebelum kita masuk terkait dengan ee ada berapa faktor bahaya di dalam Premangar ini, maka saya ingin mengulas ya secara umum dulu apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan keselamatan dan kesehatan kerja. K3 ini ya kalau di Indonesia ini kan juga diperingati sebagai salah satu bulan K3 ya Januari sampai Februari. Kemudian kemarin tanggal 28 kita memperingati sebagai hari K3 internasional. Maka sebetulnya apa K3 itu? Bapak, Ibu sekalian, Satn, K3 itu adalah segala kegiatan yang orientasinya ini adalah menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja kita melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Ya, kalau kita bicara terkait dengan upaya untuk memberikan proteksi, upaya untuk memberikan perlindungan gitu ya kepada tenaga kerja, maka kita ini sebagai seorang pimpinan di instansi kita ya, staf-staf kita, para ASN yang bekerja dalam lingungan kita ini juga termasuk tenaga kerja yang menjadi partner pekerja kita yang perlu kita berikan perlindungan terhadap keselamatan kerjanya dan juga potensi-potensi peny penyakit yang mungkin nanti akan diderita oleh mereka. sehingga konteks dalam keselamatan dan kesehatan kerja itu adalah apapun kegiatan itu yang perlu kita lakukan dalam rangka memberikan perlindungan, dalam rangka memberikan sebuah garansi kepada ya ccle kita, kepada staf kita, kepada rekan kerja kita, maka ya ini adalah upaya untuk kita ee menerapkan K3 itu ya sehingga mereka semua yang berada dalam ccle kita, lingkungan kita itu terhindar dari kejadian yang tidak kita inginkan. Apakah kejadian itu berupa kecelakaan kerja maupun juga penyakit akibat kerja. Kecelakaan kerja itu kalau mungkin di industri yang beresiko tinggi mungkin akan bisa kita bayangkan kecelakaan itu adalah suatu kondisi di mana seseorang itu mungkin mengalami luka, mengalami suatu apa namanya ee accident yang akan membuat dia ee h mungkin ya mungkin ada mengakibatkan fatality gitu ya. ya. Maka di dalam ling pekerjaan kita hal-hal seperti itu juga ternyata punya potensi untuk terjadi. Ya, mungkin resikonya tidak sebesar ya tenaga kerja yang ada dalam industri beresiko tinggi seperti katakanlah petrochemical, oil and cas tapi resiko itu masih ada. Maka upaya kita untuk memberikan perlindungan ini adalah upaya yang merupakan upaya yang perlu kita lakukan untuk bisa menjalankan prinsip-prinsip K3 ya. Di samping kecelakaan kerja sendiri juga ada isu terkait dengan penyakit-penyakit akibat kerja. Nanti akan saya berikan contoh. Ada beberapa penyakit akibat kerja yang sekiranya itu cukup banyak kita temui dalam lingkungan pekerjaan kita sebagai ya seorang ASN yang mungkin lebih banyak beraktivitas itu di dalam office, dalam kantor berhubungan dengan pekerjaan-pekerjaan administratif. Nanti ada contoh-contoh penyakit akibat kerja yang kita kenal sebagai singkatan kontrat ya nanti akan saya jelaskan. Bapak Ibu sekalian di dalam Permenang ke5 2018 itu tadi kita spesifik membahasnya adalah terkait dengan lingkungan kerja. Laras pertanyaannya ya apa sih lingan kerja itu? Apakah itu sama dengan tempat kerja? Lingan kerja itu adalah aspek hygien ya Bapak Ibu sekalian. aspek haijin di tempat kerja yang di dalamnya itu mencakup beberapa faktor. Faktor fisika, faktor kimia, faktor biologi, faktor ergonomi, dan faktor psikologi yang keberadaannya ini ada di tempat kerja yang dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja. Ya, jadi ini bukan belajar seperti di ee anak-anak kita di SMA gitu ya, belajar fisika, kimia bukan tetapi ada faktor-faktor bahaya. yang berhubungan dengan faktor bahaya fisika, kime yang perlu kita tahu ya dalam rangka kita bisa memberikan perlindungan ya kepada partner-partner kerja kita. Jadi kalau kita bicara lengan kerja ini adalah aspek hygienya ya, aspek penerapan ya ee upaya-upaya untuk bisa memberikan satu apa ee proteksi terhadap kesehatan ya para ee pekerja kita, para apa ccle kita sekitar sekitar lingkungan kerja kita. Ya, kira-kira begitu. Nah, nanti kita akan lihat ada beberapa faktor yang mungkin secara lebih detail apa sih sebetulnya definisinya faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikologi itu yang ada dalam ling. Nah, sementara kalau kita bicara tentang tempat kerja, maka tempat kerja ini akan lebih merujuk kepada suatu entitas yang kita sebut sebagai entitas fisik, ya. Tiap ruangan atau lapangan terbuka ataupun tertutup gitu ya, baik dia bergerak ataupun tetap. Di mana tenaga kerja atau yang sering ya, di mana tenaga kerja itu bekerja atau ya lokasi yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya termasuk semua ruangan, lapangan, halaman sekelilingnya merupakan bagian yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. Jadi kalau kita bicara tempat kerja singkat kata itu adalah ya entitas fisiknya ya. Entitas fisiknya atau yang kita sebut sebagai area gitu ya, area tertentu begitu yang di mana itu dipergunakan oleh tenaga kerja untuk bekerja ataupun dimasuki ya oleh ee seorang tenaga kerja untuk beraktivitas. Nah, di dalam tempat kerja itu ada sumber-sumber bahaya. Kira-kira begitu ya. sumber-sumber bahaya yang perlu kita antisipasi. Sehingga kalau kita lihat apa sih lingan kerja, apa sih tempat kerja, maka ini dibedakan. Salah satunya adalah bahwa tempat kerja berbeda dengan lengan kerja adalah tempat kerja itu lebih merujuk kepada entitas fisik ya. Oke, Bapak Ibu sekalian dalam pembahasan kita di Permenaker 5 2018 yang perlu saya sampaikan untuk memberikan highlight kepada kita semua tentang apa sih sebetulnya isi dari Permenaker itu yang jumlah halamannya sangat banyak. Yang utama adalah kita akan mengenal lima cakup lima cakupan ya faktor lengan kerja yang apa ya yang mendominasi yang ada dalam sekitar kita, yang ada dalam ccle kita. Ada ada beberapa. Yang pertama adalah faktor fisika. Tadi sudah saya sebutkan ya. Ada faktor fisika, kemudian nanti ada faktor kimia ya. Kemudian yang ketiga nanti ada faktor biologi yang berhubungan dengan hewan, tumbuhan dan lain sebagainya. Kemudian nanti ada faktor ergonomi. Nah, ini nantilah yang merupakan faktor yang akan banyak ya berhubungan dengan kita ketika kita itu aktivitasnya lebih didominasi dengan aktivitas pekerjaan di lingkungan perkantoran. Ya, nanti kalau yang di lapangan mungkin nanti akan banyak berhubungan dengan faktor kimia, banyak berhubungan dengan biologi, fisika, dan seterusnya. Kemudian berikutnya juga ada faktor yang kelima yaitu adalah faktor psikologi yang terkait dengan ee aspek mentali dari ee apa ee para pekerja di sekitarnya. Jadi lima poin inilah yang ada di dalam ee cangkupan Permenagaker 5 2018. Untuk apa ya syarat-syarat K3 lemungan kerja ini dilakukan? Ternyata tujuannya adalah untuk mewujudkan satu lingan kerja yang aman, yang sehat, dan nyaman dalam rangka mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Jadi konteksnya kita tidak hanya bicara selamat saja, tidak hanya bicara tentang keamanan saja maupun tentang kesehatan, tapi juga bicara tentang kenyamanan. Prinsip-prinsip di dalam ee Permen Agar 5 2018 khususnya yang berhubungan dengan ergonomi itu di antaranya adalah kita perlu merancang suatu lingan kerja kita ya sekitar kita gitu ya supaya memberikan aspek kenyamanan bagi pekerja kita, supaya memberikan aspek ee apa ee kenyamanan, comfort gitu ya. sehingga kita bisa bekerja dengan lebih ee tenang ya, lebih enak ya, sehingga pada akhirnya produktivitasnya meningkat. Jadi konteksnya seperti itu ya, ingin mewujudkan suatu lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman. Nah, Bapak, Ibu sekalian di dalam faktor-faktor bahaya tersebut tentu ada standarisasi yang perlu kita perhatikan ya. pengendalian yang akan kita lakukan untuk memberikan perlindungan kepada pekerja kita, kepada staf kita, kepada sircle kita itu ketika kita masuk ke dalam faktor fisika dan faktor kimia ya, faktor satu dan faktor du di sini maka kita perlu memperhatikan NAB. NAB ini adalah nilai ambang batas. Misalnya faktor fisika itu ada berhubungan dengan ee pencahayaan, berhubungan dengan kebisingan. Maka di sana kita akan menggunakan nilai ambang batas sebagai kriteria bahwa lingkungan kerja kita itu cukup aman ataukah tidak. Ya, begitu juga untuk faktor nomor dua, penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya itu akan menggunakan standarisasi nilai NA ya. Kemudian untuk faktor biologi, faktor ergonomi, faktor psikologi yang notab ini adalah faktor-faktor yang bisa kita katakan faktor lebih soft begitu ya. maka kita akan menggunakan suatu patokan kitaebut sebagai stan. Sehingga kalau kita lihat dalam Permenaker itu ada cukup banyak halaman lampirannya. Maka halaman lampiran itu tidak hanya mencakup nilai ambang batas, tapi mencakup standarnya. Misalnya apa yang perlu diperhatikan supaya lingkungan kerja kita itu cukup nyaman, cukup ergonomis, maka ada standar katakanlah antrometri yang perlu kita perhatikan, ada standar melakukan manual material handling misalnya, berapa besar beban yang layak yang diangkat oleh seseorang untuk melakukan aktivitas pengangkatan secara manual. Nah, maka itu menggunakan istilah standar-standar. Sehingga yang perlu kita pahami di sini adalah dalam menerapkan kaki lingan kerja itu ada lima faktor. Kemudian masing-masingnya kita perlu menjaga ya kita perlu menjaga supaya faktor kimia dan faktor fisika itu di bawah atau masih dalam rentang aman pada nilai ambang batasnya. Sementara untuk yang biologi, ergonomi, maupun psikologi maka ya kita harapkan masih dalam koridor standar-standar yang kita tentukan ya. Jadi kalau kita bicara ekonomi maka ada standarnya standar antrometri, standar mengangkat beban yang berat dan sebagainya. Termasuk juga dalam faktor psikologi standarnya orang bisa menerima beban kerja dalam waktu 1 hari itu seberapa besar load beban yang diizinkan untuk dia bisa terima. Kira-kira begitu gambarannya ya. Jadi ada lima buah cakupan faktor bahayanya yang perlu kita lihat. Nah, masing-masing itu seperti apa ya? maka masing-masing itu untuk faktor fisika yang pertama faktor ini adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja ya yang bisa ee mempengaruhi terhadap ASN ya dalam pekerjaan kita sebagai seorang ASN yang faktor itu bersifat fisika yang disebabkan karena misalnya adalah penggunaan mesin, penggunaan peralatan-peralatan tertentu, penggunaan bahan-bahan tertentu dan kondisi lingkungan di sekitar tempat kerja yang dapat menyebabkan Gangguan dan penyakit akibat kerja meliputi di antaranya adalah iklim kerja, kebisingan, getaran, radiasi gelombang mikro, radiasi ultra, violet, radiasi medan magnet statis, tekanan udara dan bencaan. Kalau pekerjaan kita itu sebagai seorang ASN itu banyak di lapangan nyuluh misalnya tadi kalau ee Pak Direktur menyebutkan yang di dalam penanganan bencana daerah begitu ya ada potensi ya rekan-rekan HN ini ya terpapar oleh iklim kerja yang ekstrem panas ekstrem misalnya ya atau mungkin suhu yang dingin misalnya ketika ee evakuasi atau penyelamatan itu harus dilakukan dalam kondisi malam dan hujan lebat misalnya, maka berhubungan dengan faktor-faktor fisika, kebisingan, getaran ya. Kemudian yang mungkin lebih banyak kita akan rasakan itu sebagai misalnya seorang ASN yang bekerja aktivitasnya itu ee didominasi pekerjaan di kantor, di office, maka isu tekanan udara, pencahayaan inilah yang mungkin akan lebih banyak ee berinteraksi dengan kita ya. pencahayaan di dalam ruang station kerja kita, dalam ruang kerja kita, ya di depan laptop misalnya, di depan komputer, maka perlu ada pencayaan-pencayaan yang perlu kita atur dan ada nilai ambang batas yang bisa kita gunakan sebagai rujukan dari ee Pramaker 5 2018 itu. Kemudian yang kedua, yang kedua adalah faktor kimia. Nah, jadi faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja ini sifatnya adalah kimiawi yang mana orientasinya itu berhubungan dengan penggunaan bahan-bahan kimia maupun turunannya ya, kontaminan kimia di udara, adanya uap partikulat dan lain sebagainya. Mungkin potensi faktor kimia ini memberikan paparan kepada rekan-rekan ASN itu ketika misalnya adalah melakukan pengujian atau melakukan evaluasi dalam sebuah industri tertentu yang menggunakan yang menghasilkan bahan-bahan kimia misalnya, maka ada potensi paparan di sana ya, kontaminan kimia berupa gas, uap, partikula tertentu yang sekiranya akan berpengaruh kepada ee kondisi kesehatan. Maka ini adalah faktor kimia. Kira-kira seperti itu ruang lingkupnya, ya. Kemudian berikutnya adalah faktor biologi. Faktor biologi ini apa? Faktor biologi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja yang sifatnya adalah berhubungan dengan biologi ya, meliputi hewan, tumbuhan, dan produknya serta mengukur organisme lainnya yang dapat mengakibatkan suatu penyakit akibat kerja. Rekan-rekan kita ASN yang bekerja di rumah sakit, rekan-rekan ASN yang bekerja di lingkungan Puskesmas, di lingkungan klinik, di laboratorium-laboratorium, maka ada potensi untuk berinteraksi dengan faktor bahaya biologi ini. Apakah ada standar-standar yang perlu dipatuhi, standar-standar yang perlu dicermati untuk bisa memberikan satu perlindungan atau proteksi kepada rekan-rekan ASN yang bekerja di satu lingan kerja yang karakteristiknya cukup banyak ya, berhubungan dengan faktor biologi ya. Oke, berikutnya adalah faktor ergonomi. Nah, nanti di dalam faktor ergonomi inilah yang ingin yang saya bahas ya, mungkin lebih spesifik karena inilah yang ee relatif banyak punya irisan, banyak punya keterubungan dengan kita semua yang ada di dalam ee apa ee sesi ini. Apa faktor ergonomi itu ya? Istilah ergonomi saya yakin sudah cukup banyak ya ASN yang pernah dengar gitu ya. Ya, ergonomi adalah faktor ergonomi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja disebabkan oleh ketidaksesuaian antara fas kerja entah itu meliputi cara kerja, posisi kerja, alat kerja, perubahan angkat terhadap tenaga kerja. Kalau di industriakan banyak isunya adalah terkait dengan material handling, memindahkan material, memindahkan benda hasil produksi, output produksi dan sebagainya yang diangkat secara manual. Nah, mungkin nanti di dalam kita di ASN mungkin aktivitas seperti itu tidak banyak tapi ada. Nah, ini termasuk juga bagian dari isu ergonomi yang perlu kita cermati ya. Nah, yang dalam bagian ergonomi ini yang akan banyak berinteraksi dengan kita itu adalah ya bagaimana cara kita bekerja ya, bagaimana cara kita misalnya adalah menata sebuah lingkungan kerja kita supaya lebih teratur, lebih apa ya ee lebih tertib, lebih terawat dan lain sebagainya. Maka meliputi cara kerja. Nanti akan saya tampilkan salah satu best practice yang mungkin kita sudah pernah dengar begitu ya. Namanya adalah 5S dalam bahasa Jepang. Cara kerja. Cara kerja best practice ini banyak diterapkan di industri-industri kelas dunia yang word class company ya. Kemudian posisi kerja, cara kita dudur ya. Iya. Peralatan kerja kita, meja dan sebagainya, alat-alat kerja yang kita gunakan ya. Mungkin kalau kita alat kerja kita itu berupa hand tools misalnya. Kadang-kadang alat kerja seperti hand tools ya yang kita gunakan perkakas-perkakas itu ya ya untuk melakukan kegiatan ee apa perbaikan dan sebagainya itu terkadang ya tidak cukup ergonomis sehingga memberikan suatu dampak kepada ya fungsi tubuh kita. Kira-kira gitu. Sehingga kalau kita bicara tentang ergonomi itu adalah yang berhubungan dengan ketidaksesuaian fasilitas dan sebagainya. nanti akan saya sampaikan kira-kira ruang lingkupnya ekonomi itu seperti apa ya supaya nanti bisa lebih memberikan gambaran tentang ergonomi itu sendiri. Oke, berikutnya yang kelima yang faktor yang kelima adalah faktor psikologi. Faktor yang mempengaruhi aktivitas tenaga kerja disebabkan karena hubungan antar personal dan tempat kerja, peran dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Nah, ini merupakan satu faktor bahaya yang ada di manapun, ada di tipikal pekerjaan apapun. bilang bukan apa kerja dalam suatu lingkungan instansi pemerintah, suatu industri ya suatu ee kondisi pekerjaan di lapangan pun ada kondisi software psikologis yang berhubungan dengan hubungan interpersonal dengan pihak lain, dengan kolega kerja kita, dengan cirkel kita, dengan atasan kita, dengan bawahan kita ya, dengan yang satu layer atau satu level ini seringki terjadi ee ee apa mungkin ketidaksesuaian, tidak cocokan, ada peran tanggung jawab yang mungkin ee apa tidak seimbang, peran tanggung jawab yang harusnya dilaksanakan tapi dilaksanakan akhirnya menjadi beban bagi rekan kerja yang lain dan seterusnya. Maka ini adalah faktor psikologis yang juga ada di dalam konteks eh apa permakir 5 2018. Sehingga faktor psikologis ini di antaranya di permak 5 2018 itu diukur dengan menggunakan kuioner SPS stress diagnosis survey. Jadi untuk bisa mengetahui seseorang dalam suatu lingan pekerjaan itu dia ya faktorologisnya masih dalam ambang batas fajar ataukah tidak ya dalam bahasa sederhana adalah stres ataukah tidak. maka kita bisa melakukan pengukuran. Ini pun juga termasuk dalam konteks lingan kerja. Sekali lagi apa yang ada dalam faktor-faktor ini dalam kerja ini adalah suatu hal yang abstrak, suatu hal yang ee apa ya ada ya tetapi mungkin sulit untuk diilihat secara langsung ya. faktor fisika misalnya ya, kebisingan ada paparan kebisingan suara suara yang mengganggu itu ada tapi tidak mudah untuk kita lihat secara langsung ya termasuk juga faktorologis stres kerja ya pekerjaan yang mungkin overload dan sebagainya itu ada tapi sulit untuk kita bisa lihat secara langsung faktor ergonomi tadi kenyamanan ketika kita bekerja di dalam suatu fasilitas kerja station kerja ternyata tidak cukup tidak cukup nyaman sih sehingga ya pekerjaan kita cenderung lama untuk selesai, maka sifatnya adalah suatu hal yang abstrak juga. Ya, jadi Bapak Ibu lima faktor inilah yang ada di dalam PR akhir 520. Nah, maka saya mohon izin untuk masuk ke dalam konteks ergonomi di mana view ini akan sangat banyak di dalam dengan pekerjaan kita. Ya, sebetulnya saya juga ingin membahas yang psikologis lebih dalam, tetapi mungkin karena waktunya tidak cukup banyak, maka saya akan lebih banyak menekankan ke ee isu atau faktor buyer. Kebetulan juga di faktor high ekonomi ini ya, kita sudah punya SNI ya 911 ya yang terkait dengan ee pengukuran ee faktor resiko ergonomi. Sehingga saya kira ini menjadi suatu hal yang penting untuk kita bahas. Nah, sekarang kita kembalikan dulu apa sih sebetulnya ergonomi. Ergonomi itu adalah suatu ilmu, suatu disiplin keilmuan yang berkaitan dengan ya interaksi antara manusia dan elemen lain dalam suatu sistem ya. Jadi dalam suatu sistem pekerjaan kita, kita sebagai seorang pekerja, sebagai seorang AS ini kan berinteraksi dengan elemen lain dalam lingkungan pekerjaan kita. Berinteraksi dengan elemen lain itu apa? Interaksi kita dalam pekerjaan itu mungkin akan berhubungan dengan interaksi kita dengan ini apa namanya ee faktor pencahayaan akan berhubungan dengan rekan kerja kita, akan berhubungan dengan jumlah banyak sedikitnya pekerjaan yang harus kita lakukan, akan berhubungan dengan fasilitas kerja yang kita gunakan. Ya, intinya adalah ergonomi itu adalah suatu disiplin yang ingin mencoba untuk menerapkan teori-teori, prinsip ya, bagaimana kita bisa merancang suatu lingkungan pekerjaan kita itu supaya ergonomis, supaya sesuai ya antara ya peralatan dengan pengguna. Sehingga dalam bahasa yang yang sangat dikenal di kalangan teman-teman International Ergonomic Association ya atau asosiasi profesi yang menaungi ergonomi ya maupun perhimpunan ergonomi Indonesia maka terminologi yang umum kita pakai itu adalah fitting a job to a person ya atau fitting the task. Jadi dalam lingut pekerjaan itu ketika kita bekerja ada konteks di mana ingan kerja kita itu tidak cukup nyaman buat kita. Maka akan menyesuaikan itu bukan orangnya tapi yang akan menyesuaikan itu adalah lingkungannya yang kami sesuaikan adalah pekerjaannya yang akan menyesuaikan itu adalah tasnya. sehingga kita perlu melakukan sebuah rekayasa untuk memperbaiki tas pekerjaannya supaya fit dengan karakteristik si pekerja tadi. Kira-kira begitu ya. Jadi dalam ergonomi itu kita tahu orang punya keterbatasan, orang punya kelebihan. Orang punya keterbatasan ketika dia bekerja dengan kondisi paparan panas ekstrem maka ada batasannya. Nah, supaya nanti panasnya tidak terlalu ekstrem misalnya, apa yang harus dilakukan? Nah, itu yang kita intervensi. Oh, yang harus kita lakukan itu adalah membuat ventilasi. Oh, yang harus kita lakukan itu adalah menambah pencahayaan misalnya. Maka yang menyesuaikan itu ya bukan orangnya, tapi pekerjaannya. Tapi yang kita akan sesuaikan adalah elemen-elemen di luar orangnya. Kira-kira sehingga analogi ini akan menarik untuk kita simak ya Bapak Ibu sekalian. Ergonomis itu akan berpikir ya, seorang ahli ergonomi itu akan berpikir bagaimana melakukan fitting rancangan itu terhadap pekerja, terhadap orangnya. Jadi, andai kata ini adalah sebuah permainan ya, permainan e apa namanya? kuda-kudaan begitu ya. Maka ketika orang ini ee apa ee katakanlah ee apa ya anggaplah badut atau pelawaklah di sebuah sirkus. Maka ketika dia menggunakan ini untuk menghibur anak-anak gitu ya, supaya orang tidak mengalami cedera pada kakinya, maka boleh jadi ya permanan itu dimodifikasi bagian punggungnya di sini sehingga kaki dari orang ini akan fit di sini dan tidak terjadi di mana orang itu mengalami problem kaki menjadi berbentuk O karena lebarnya dari ee punggung di sini. Jadi yang kita akan lakukan itu adalah fitting di desain. Desainnya kita rebuang. Bukan orangnya dipaksa untuk ngikutin ini, bukan dipaksa untuk mengikuti permainan ini. Kira-kira begitu ya. Sehingga peralatan ini akan beradaptasi atau kita modifikasi agar sesuai dengan penggunaannya. Maka kalau dalam contoh sederhana itu dalam kita bekerja dalam ling perkantoran, ada sebuah kursi itu yang bisa dinaik turunkan supaya apa? supaya orang dengan ketinggian tertentu yang mungkin berbeda dengan rekan kerja lainnya yang juga menggunakan kursi itu mungkin supaya dia bisa lebih nyaman, bisa lebih produktif ketika dia bekerja pada akhirnya. Kira-kira begitu. Nah, berbeda dengan pendekatan satunya ya. Orang dipaksa untuk beradaptasi tidak demikian dalam konteks ergonomi. Maka yang dilakukan ee apa? Perubahan modifikasi adalah justru lingkungan kerjanya atau peralatannya. Nah, apa prinsip dasar ergonomi yang baru kita tahu supaya standar-standar dalam ergonomi itu bisa terpenuhi? Maka prinsip dasarnya adalah Bapak, Ibu bisa menggunakan istilah enase. Enase itu adalah untuk efektif E. Kemudian ada nyaman singkat dengan N. Kemudian ada aman ya. Maka dalam bekerja itu kita perlu aman atau selamat, kita perlu sehat juga, kita perlu efisien. Ya, enas dia dibaca Enas ya. Ya, ada pakar yang mengatakan ee apa ya mungkin bukan enase tapi e A ns e bisa juga enggak ada masalah tapi setidaknya prinsip-prinsip apakah itu efektif, nyaman, aman, sehat, itu bisa terpenuhi. Ya, ini dituliskan enase efektif, nyaman, aman, sehat itu supaya lebih mudah diingat kira-kira begitu. Tapi intinya adalah dalam kita menerapkan prinsip ergonomi ini, kita ingin meyakinkan bahwa pekerjaan kita yang kita berikan intervensi itu perlu kita lakukan intervensi supaya apa? Supaya efektif, supaya memberikan kenyamanan, supaya memberikan keamanan dan keselamatan, supaya memberikan kesehatan, supaya memberikan efisiensi. Ya, jadi efisiensi tidak hanya ada pada anggaran, Bapak, Ibu sekalian. Efisiensi juga ada pada konteks ergonomi ya. Kalau beberapa waktu belakangan ini kan kita di lingkungan insentif pemerintah kan ee sedang getol-getolnya melakukan efisiensi. Maka efisiensi itu ada dalam konteks ergonomi ya, tidak hanya ada dalam konteks lingkaran sementara ya. Nah, peralatan-peralatan kerja yang bisa kita lakukan adjustment seperti ini bisa diturunkan, bisa dinaikan, bisa ditarik ke kiri ke kanan, bisa digerakkan ke kiri kanan. ya. Untuk apa? Untuk memberikan pemenuhan terhadap prinsip-prinsip efektif, nyaman, aman, sehat, dan ya. Apakah harus seperti itu? Ya, tidak. Nanti bentuk contoh tnya akan sangat banyak sekali Bapak, Ibu sekalian ya. Andai kata kita tidak mampu, katakanlah dari segi anggaran tidak bisa menupport ee dengan peralatan-peralatan yang adjustable seperti itu, maka nanti ada treatmentnya ya. Bisa dengan memberikan treatmen berupa peregangan ya, berupa rotasi. ya tukar posisi dan sebagainya itu adalah treatment yang bisa kita lakukan supaya orang tidak katakanlah tidak terpapar dengan ee apa peralatan kerja yang tidak fit dengan tubuh ya nanti akan saya bahas setelah yang ini. Nah, Bapak Ibu sekalian, prinsip tadi NAC itu perlu kita penuhi dalam rangka apa? Best practice-nya ya, penerapan terbaiknya itu perlu kita lakukan untuk apa? Untuk menghindari para pekerja kita itu dari problematika gotra ya. Gotrak ini adalah ya bahasa Indonesia ya ini bukan bukan ojol ya trak gitu ya bukan temannya ojol ya bukan komoditornya ojolak ini singkang kontrak itu adalah gangguan otot ya rangka akibat kerja ya jadi kontrak itu adalah ganggian otot dan rangka akibat kerja ada otot dan rangka kita itu yang mungkin mengalami over exerction mungkin mengalami tekanan yang berlebih saat bekerja Apa contoh bentuk kegiatan apa penyakit yang sering kita jumpai bahkan itu dilangkan lingkungan pekerjaan administratif adalah karpal tunel syndrome Bapak Ibu sekalian. Oke. Di sebab ASN kapal tan sindrom adalah suatu problematika di lingkungan pergelangan tangan ini ya di mana terjadi suatu ee apa ya suatu himpitan begitu ya. Himpitan yang akan mengganggu saraf-saraf kita di bagian bawah sini, di dalam bawah lorong kalar itu. Nah, ini Bapak Ibu ASN yang dokter ya, ini pasti akan bisa menjelaskan dengan lebih baik ya. Ya, intinya apa? Penyakit ini terjadi karena bisa jadi kita terlalu banyak beraktivitas di dalam suatu apa perangkat kerja kita ya, gadget kita, laptop kita dalam waktu durasi yang panjang tanpa ada sebuah relaksasi. sehingga seringkiali tangan kita ini menyentuh keyboard yang mungkin tidak ergonomis, menyentuh keyboard yang ee apa cukup keras begitu dia dalam waktu yang lama sehingga akhirnya terjadi problem karpol tanron ya akan berpengaruh kepada kemampuan motorik dan sensorik tangan ya. Jadi yang mengalami CTS ini nanti di lingan ibu jari jari telunduk dan jari tengah karena ada himpitan di bagian sini. Kira-kira begitu. Nah, ini seringkiali terjah studi yang mencoba merangkum ya Karpal syndrome ini terjadi di tipikal pekerjaan apa dan salah satunya adalah pekerjaan di lingungan apa. Begitu juga dalam lingungan pekerjaan office ada yang namanya lower back pain problem ya. Ada lower back pain ya suatu kesakitan di bagian punggung bagian bawah gitu ya yang mana akan menunukan rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman ya. kalanya ini muncul dengan tiba-tiba dan lain sebagainya. Kenapa? Karena kita terlalu banyak aktivitas di kursi. Duduk dalam posisi statis, duduk dalam posisi tidak bergerak sama berjam-jam. Maka ada potensi mengalami seperti itu. Kemudian apalagi yang kontrak yang sering kita jumpai dalam kasus-kasus pekerjaan kita yang lebih banyak berinterasi dengan administrasi dan lain sebagainya adalah penyakit tendonitis ya. gangguan berupa peradangan atau oriasi pada tendon ya. Nah, di sinilah ee terjadi suatu apa? Tendon ituis peradangan itu di area tumit, lutut, siku, bahu, dan lain sebagainya ya. Karena ada beban yang cukup besar terjadi pada t. Kapan ini terjadi? Mungkin pada saat kita melakukan aktivitas pengangkatan material, mungkin pada saat kita sederhana, ibu-ibu mungkin terjadi pada kasus di mana harus menggunakan sepatu High Hills, berjalan dalam ee durasi yang lama, dalam ee jarak yang jauh dan sebagainya itu ada potensi karena ada ya iritasi pada tendon karena adanya beban yang cukup besar yang harus dipikul oleh ee otot-otot kita khususnya di wilayah tumit, lutut, siku dan bah. Nah, ini ini seringki terjadi. Lalu, bagaimana best practice-nya untuk bisa kita terhindar dari situ? Maka secara prinsip ya ergonomi ini atau katikal liman kerja untuk faktor bayar ekonomi itu merekomendasikan banyak peregangan otot saat bekerja ya. Entah itu dengan melakukan back extension, next forward ya, ataupun apa next left and right ya, di apa dimiringkan ditekuk begitu ya, maupun yang ee apa peregangan-peregangan yang lain gitu ya. Maka ini ini perlu untuk dilakukan supaya potensi-potensi resiko tadi itu bisa terkurangi. Jadi memang kalau kita banyak bekerja di lingkungan pekerjaan ya e office administrasi itu kita akan lebih banyak terpapar dengan potensi-potensi diam duduk secara statis ya. Pekerjaan-pekerjaan sedentary, pekerjaan yang membutuhkan waktu durasi yang panjang namun posisi tubuhnya itu tidak tidak mobile, tidak bergerak. Nah, ini ada potensi ke arah maka best practice-nya adalah dibuat seperti ini. Cukup banyak Bapak, Ibu sekalian kampaign-kampain atau kampanye-kampanye yang dibuat oleh ee perusahaan-perusahaan begitu yang bisa kita contoh gitu ya, yang meletakkan model-model begini, informasi-informasi untuk peregangan otot ini dalam meja kerja kita ya. Bahkan ada yang membuat ini ditampilkan best practice itu ditampilkan pada saat kita login untuk presensi harian. Nah, itu kadang-kadang ditampilkan itu sebagai sebuah apa? Reminder, sebagai sebuah kampanye, sebagai sebuah iklan bahwa mereka yang bekerja perlu ada aktivitas perkara. Itu contoh-contoh best practice yang ada di industri. Yang sederhana dibuatkan poster, ditempel di meja, tempel di dinding dan lain sebagainya. Atau yang lebih advance dimasukkan dalam sebuah ee apa? platform tertentu, online tertentu. Sehingga pada saat kita cek ee apa namanya? ceklok ya atau pada saat kita ngisikan presensi itu kita bisa teringat kembali dengan perlunya perkangan ya. Oke saya lanjutkan Bapak Ibu sekalian maka apa contoh best practice lain yang bisa kita pelajari dari kasus-kasus di perusahaan-perusahaan yang bisa kita adaptasi dalam lingungan pekerjaan kita sehari-hari dan berhubungan dengan K3 lingkungan kerja. Bapak, Ibu sekalian, dalam konteks ergonomi yang ada dalam Permenaker 5 2018 itu tidak menutup kemungkinan hanya isu terkait dengan manual handling dan juga antromedik. Ada isu tata cara kerja tadi n ada depan cara kerja. Maka cara kerja itu adalah bagaimana kita mengatur workstation kita, station kerja kita. ambil contoh dalam ilustrasi gambar seperti ini. Di sini mungkin gambar sederhana dengan pekerjaan yang sehari-hari kita juga rasakan. Kita juga lihat di dalam pekerjaan kita dalam sehari-hari ternyata ada cukup banyak faktor bahaya yang berpotensi untuk menimbulkan problematika bagi pekerjaan di sana. Ternyata kalau kita lihat ini jumlahnya ada 11 dari contoh kasus ini ya. Misalnya pertama adalah rantai yang tidak rata ya. ada ee karpet yang mungkin akan membuat orang itu terpeleset, terjatuh ya. Kemudian ada benda-benda yang berserakan, files on floor ya. Kemudian nanti ada eh aktivitas yang kita sebut sebagai sitting add ya, kegiatan duduk dalam durasi waktu yang lama misalnya. Kemudian yang keempat adalah beberapa boks yang disusun ya dan lain sebagainya sampai yang poin ke-11. termasuk juga di antaranya adalah ee orang mengangkat ya jumlahnya besar ya. Kemudian rocking on chair ini adalah kayak ee duduk di dalam di atas kursi tapi sambil dimain-mainkan. Ini kan seringkiali kita jumpang. Nah, maka ini juga termasuk salah satu view dalam ergonomi dalam lingan kerja kita yang perlu kita perhatikan. Maka ada dalam ilustrasi ini kita temukan 11 potensi bahaya yang akan memberikan satu ee tingkat resiko kepada para pekerja di situ. Nah, lalu bagaimana supaya yang seperti ini tidak muncul gak terjadi? Maka salah satu tips dan triksnya best practice dari berbagai macam world class company ya itu adalah melakukan 5S ya. 5S ini ya saya yakin di sini sudah pernah mendengar begitu ya apa itu 5S dan bahkan mungkin dilakukan sebuah kampaign. Kami pun di perguruan tinggi kami di ITS mengadakan kompetisi 5S ini setiap tahun ya yang kita lakukan supaya teman-teman di apa lingkungan kampus itu ya baik dosen maupun teknik ya tenaga pendidikannya itu terhadap lingkungan kerja ergonomis yang mereka harus jaga dan ini ternyata banyak juga penerapan ini dipakai di world class company contohnya adalah di Toyota kita tahu bahwa Toyota adalah perusahaan pera manufaktor mobil yang tidak hanya beroperasi di Indonesia. Dia menerapkan 5S ini dengan sangat baik, ada kompetisinya ya. Kemudian di Hidard ya, produsen eh apa HP ya, apa merek brand HP gitu ya. eh untuk laptop, untuk printer itu menggunakan Harley David dan sebagainya semua menggunakan mereka sukses. Bahkan dia kasus-kasus yang ditulis oleh praktisi dari perusahaan-perusahaan itu menyebutkan adalah salah satu ciri dari world class company adalah bagaimana dia menjaga faktor bahaya ergonomi itu dengan cara menerapkan 5S dengan baik. 5S ini tidak hanya sekedar meringkas, merapikan, menyapu, merawat, ya membuat lebih rajin, tidak. Tetapi secara filosofi ini mampu me apa ya menggerakkan krisos yang ada di kita, ccle di sekitar kita itu untuk saling bersinergi dalam menjaga lingan kerja kita supaya lebih teratur ya. Supaya lebih teratur, supaya lebih apa namanya? sehat, tidak ada yang berantakan dan tidak mengganggu atas kerja kita yang lain ya. Siri, seton, seisus dan seri itu apa ya? Dalam bahasa Indonesia itu adalah ringkas juga bisa kita terjemahkan menjadi sisih ya. Ini juga bahasa Indonesia ringkas sisih Indonesia. Short ini bahasa Inggrisnya yang dipakai di e apa namanya? Di negara-negara Amerika maupun Eropa yang menerapkan prinsip-prinsip di Indonesia. Ini prinsip lama tetapi sampai sekarang masih dilakukan dan ini adalah bagian dari best practice bagaimana ergonomi dalam kerja kita ya. Jadi sir itu adalah ringkas atau sisih ya kita bersihkan ya sori kita ringkas ya enggak kita pakai kita buang kita sisihkan kira-kira begitu dia adalah setan setan adalah set in order ya setan ini bukan setan ya tapi setan dalam Jepang itu adalah kita lakukan kegiatan untuk merapik menyusun ya setelah tadi yang enggak perlu kita sisihkan, kita pilah-pilah sekarang kita rapikan, kita tata, kita kelompok-kelompokkan, ya. Kemudian nanti ada yang namanya SEO. Apa sayo ini? Seso ini adalah kita baru membersihkan shine atau meresikkan atau menyapu. Izin, Prof. 5 menit lagi. Oke. Baik, sudah di reminder insyaallah sampai ini waktunya enggak lebih dari 5 menit. Kemudian berikutnya adalah eh yang keempat adalah seatsu standardize. Kita perlu melakukan standarisasi. Kita perlu melakukan kegiatan itu untuk kita rawan. Jadi apa sudah kita upayakan di sini? Kita CC, kita rapikan, kita bersihkan, maka kita upayakan untuk apa? Kita jaga sebagai sebuah standarisasi kita ya. Maka yang adalah siksu. Kemudian yang kelima adalah situk ya. Sitsuk adalah sustain. Bagaimana upaya 1 2 3 4 yang sudah kita buat sampai standar ini adalah kita melakukan secara terus-menerus. Kita rajin, kita sinambung untuk melakukan hal yang sama. kita konsisten dari waktu ke waktu untuk makan. Maka inilah prinsip di dalam ya faktor bahaya ergonomi yang perlu kita lakukan ya. Kira-kira demiki nah ini adalah ilustrasi gambar-gambar yang mungkin bisa memberikan suatu inspirasi dan kegiatan seperti ini tidak hanya penting buat penerapan lingkungan kerja tapi juga sangat penting untuk apa? Meningkatkan teamwork di antara kita. Karena kita melakukan kegiatan seri ini menyisihkan gitu ya. kemudian melakukan kegiatan apa me me apa ya memilah-milah begitu ya itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang tapi dilakukan oleh ya beberapa orang beberapa orang tergabung dalam sebuah klim kira-kira begitu ya yang kedua ni contoh tadi rapi atau kita kelompok-kelompok kita buat oh ini tempatnya untuk A tempatnya untuk B ya ini kalau misalnya kita digudang dan sebagainya sangat penting sekali Ya. Kemudian yang ketiga adalah kita pastikan untuk selalu bersih resik ya. Anggaplah ini kalau dalam sebuah lini produksi ini harus bersih sama di lewan kerja kita ya. Di ruang meeting harus selalu disapu, di ruang kerja kita harus selalu resik, harus selalu disapu dan seterusnya. Kemudian kita buat status standar atau rawat ya. seringkiali kita buatkan SOP-nya, kita buat panduannya yang bisa kita letakkan di misalnya adalah di papan-papan tertentu atau di meja-meja apa di apa majalah-majalah dinding dan seterusnya ya. Kemudian yang kelima yang terakhir adalah rajin. Nah, kita lakukan kegiatan-kegiatan yang bisa mensimulus. Ya, ini contoh sederhana Bapak Ibu. Saya beberapa kali diminta oleh perusahaan di Indonesia untuk mendampingi mereka melakukan ya penerapan faktor ini, faktor ergonomi dalam banan kerja. J kita adakan kompetisi 5S ya, satu perusahaan. Di kampus kami pun juga demikian. Ada kompus fungsinya. Tiap tahun kita evaluasi bahkan menjadi salah satu poin dalam pencapaian kinerja para pegawai. Di antaranya seperti itu. Jadi ada kinerja sekian persen itu dari ya dari ee apa penerapan 5S-nya secara praktik del itu konsisten atau ini adalah upaya-upaya yang kita lakukan untuk bisa menjaga kesinambungan. Nah, ini bagian dari K3 lingan kerja Bapak Ibu sekalian. Best PRnya banyak. Toyota sudah membuktikan, Hel Pockard sudah membuktikan, Harley Davidson sudah membuktikan, ya. Kemudian Kaza Zauza juga sudah membuktikan dan seterusnya. Ya, kira-kira begitu bagian dari sebuah lingkungan kerja yang bisa meningkatkan produktivitas para pekerja ya. Hanya dari konteks yang membersihkan tadi, meringkas dan seterusnya. Kira-kira itu ya Bapak, Ibu, Sobat ASN ya. Semoga ini bisa memberikan satu ee penjelasan yang cukup apa lengkap gitu ya. Dan saya tutup sebelum saya kembalikan ke MC. Ada sebuah pantun di atas meja ada ngengat ngengat terbang ditangkap raja. Mari kerja dengan selamat dengan semangat tetap ingat ergonomi dan keselamatan kerja. Demikian Bapak Ibu Sopat SN semoga bisa memberikan penjelasan yang cukup ee komprehensif terkait dengan Permenaker 5 2018 bagi terima kasih. Saya kembalikan ke Mbak Pani. Baik, terima kasih banyak Prof atas apa yang telah disampaikan. Kurang lebih 30 menit ini ringkas sesuai dengan 5S tadi juga gitu ya. Begitu mudahnya kita dapat menangkap apa yang telah disampaikan dan ternyata banyak yang excited ini Prof. Ada yang sudah raise hand. Untuk itu, sesi tanya jawab dan diskusi kita akan buka sekarang. Kita akan hubungkan dengan sobat ASN yang sudah open cam dan open mic. Selamat pagi, Pak. Nampaknya berdua. Selamat pagi, Pak. Open mic dulu. Suaranya belum terdengar dengan jelas di studio kami. Selamat pagi. Baik. Dengan Bapak siapa? Pak permisi dari Jember dengan Pak Nuno dari Pemkap Jember. Pak Nurul betul ngih? Betul. Baik dari Jember. Disilakan Pak untuk pertanyaannya. Ee ini tadi ee menarik sekali apa yang disampaikan oleh Prof. tadi terkait dengan kaitannya dengan peningkatan kinerja itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi. termasuk tadi ada faktor lingkungan kerja di antaranya salah satu faktor yang mempengaruhi adalah faktor psikologi, Pak. Selain faktor kimia, faktor biologi, ada faktor psikologi. Ini yang sangat menarik ee pembahasannya tadi walaupun tidak banyak dibahas ee ini Bapak terkait dengan psikologi ini yang kami amati utamanya di lingkungan kami itu kan banyak sekali ee seperti halnya kita adanya cres atau ketidaknyamanan dengan rekan kerja. dengan keputus kebijakan-kebijakan atasan, kemudian juga dari ee hubungan dengan bawa dan sebagainya itu sangat berpengaruh pada ee emosi kita dan mood kita saat kita kerja. Saat kita kerja tiba-tiba ada ee hal-hal seperti itu yang berkaitan dengan ee kebijakan pimpinan atau reaksi teman sejawat atau dengan bawahan kadang-kadang sangat mempengaruh sekali dengan mood kita. Nah, ini ee faktor-faktor yang lain. Selain itu juga ada misalnya kita di lingkungan Pemkad sendiri di sini kan kadang-kadang tidak puasa kalau kita sedang berada di lingkungan kerja tiba-tiba kita di dimutasi misalnya dimutasi di tempat yang kadang-kadang kita tidak menguasai bidang itu. Nah, kadang-kadang kita juga mendapat bawahan atau mendapat rekan yang misalnya baru dan yang bersangkutan itu juga tidak menguasai di bidang tersebut. Tapi karena kita hanya menerima misalnya kita kan misalnya di satu tempat ini tiba-tiba ada mutasi dari tempat yang lain di bidang kita dan yang bersangkutan itu secara SDM-nya tidak sesuai dengan bidang sehingga kadang-kadang kita juga kesulitan secara tidak langsung kadang-kadang kita ngomong atau kita berinteraksi kadang-kadang ada ketidaksalah kesalahpahaman akhirnya terjadi dis seperti itu dan terjadilah ketidaknyamanan yang disampaikan oleh profesor tadi ketidak nyamanan ee kenyamanan itu kan salah satu indikator yang mendukung kinerja kita. Sedangkan kita secara tidak langsung kita selaku pegawai kadang-kadang kita tidak berdaya dengan hal seperti itu yang sifatnya ada di lingkungan. Nah, menurut Profesor ini kira-kira fenomena ini loh, apakah ini hanya terjadi di lingkungan saya saja atau di secara umum ataukah ini juga terjadi di maksudnya lingkungan yang lain dan dengan adanya ee seperti ini kira-kira fenomena ini cara penanggulangannya gimana? Kadang-kadang kan kalau kita melihat di beberapa instansi, Pak, mohon maaf ya, kadang-kadang kita lebih cenderung ke manajemen hasil yang penting hasilnya selesai gitu. Pimpinan kadang-kadang mengukur kinerja kita dengan selesainya target-target yang terpenuhi. Sedangkan proses yang ada di lingkungan atau proses yang ada di lingkungan kerja itu kadang-kadang ee jauh dari walaupun ada di pemikiran tapi tidak menjadi beberapa prioritas untuk dipikirkan oleh pimpinan gitu loh. Untuk sebagai pemberhat sebagai apa ee ilmuwan-ilmuwan yang ber di bidang ini barangkali bisa memberikan saran yang ee ideal kepada pemerintah sehingga bisa menerapkan ini. khususnya kepada kita selaku pegawai yang terkait bukan hanya keamanan kerja tetapi kenyamanan kerja tadiak. Itu dari saya. Terima kasih, Bapak. Mohon maaf kalau ada penyampaian-penyampaian yang kurang nyaman. Terima kasih. Baik ya. Terima kasih Pak Nurul dari Jember ya. Saya izin untuk langsung memberikan respon ya. Jadi ee kondisi yang seperti diilustrasikan oleh Pak Nurul itu terjadi di banyak tempat, tidak hanya di lingkungan kerja Bapak saja, tapi di banyak tempat ya. Karena memang ee lingkungan kerja kita itu kan kita tidak bekerja seorang diri, kita bekerja dengan pihak-pihak lain yang menjadi partner kerja kita. Entah itu partner kerja kita itu sebagai katakanlah atasan, sebagai rekan kerja kita yang satu level, maupun juga ya tim kita yang ada di dalam staf atau bawahan kita. Nah, karena ini kita bekerja dengan berinteraksi dengan banyak orang, maka akan muncul ya mungkin ee ketidakcocokan like and dislike dan lain sebagainya. termasuk juga fenomena tadi ada mungkin rotasi pegawai, mutasi pegawai, promosi pegawai sehingga circle kita ini menjadi berubah, pimpinan kita berubah, staf kita mungkin berubah yang mana bisa jadi yang kita harapkan itu adalah tim kerja kita itu semuanya berkompeten, tapi ternyata tidak cukup mumpuni kompetensinya ya dan seterusnya. Maka ini fenomena-fenomena yang terjadi di ya semua tempat dalam pekerjaan. ya. Sehingga apa sih sebetulnya yang perlu kita lakukan untuk ee menghadapi fenomena seperti itu supaya faktor ee apa psikologis tadi itu tidak menjadi ee apa ya isu yang ee meresahkan ya. Intinya kita tahu nih bahwa dalam lengan kerja kita itu ada faktor psikologis. Tapi apa yang bisa kita lakukan supaya memperbaiki ya kondisi seperti itu kan begitu ya yang perlu kita lakukan. Maka salah satu di antaranya adalah kita perlu ada sebuah ee apa program-program yang bisa me apa ya merekatkan kita semua. Contoh seperti tadi kita melakukan kegiatan 5S. Sederhana kami di kampus melakukan kegiatan 5S itu untuk apa? Supaya ada sinergi, supaya ada kolaborasi. Entah itu rekan kerja kita yang baru atau mungkin rekan kerja kita yang tadi kita katakan tidak kompeten sebagainya. kita pernah bekerja dalam satu tim yang sama. Ketika kita bekerja dalam satu tim yang sama, maka kita mungkin akan ee apa ya? Muncul semangat untuk saling belajar, kita, muncul semangat untuk saling bekerja sama. Sehingga yang tadinya itu mungkin ketika baru dipindah dan sebagainya kemudian kompetensi enggak ada, maka lambat laut itu akan belajar. kebersamaan itu akan bisa me apa ya me apa ya istilahnya menanggulangi atau menangani isu-isu tadi like and dislike. Kemudian adalah hal lagi yang yang bisa kita lakukan atau yang perlu kita lakukan ya. Kita di ASN itu di lingkungan Kementerian Pendayagunaan Apun Negara itu kan pernah tuh merilis sebuah kempa budaya kan berakhlak ya kan. Ada kan kalau di BUMN ada akhlak, kalau di lingkungan pemerintah AS itu ada berakhlak, berorientasi kepada pelayanan yang akuntable, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif. Maka upaya-upaya kempit ini harus terus di-endorse, harus terus dimunculkan. Untuk apa? Untuk bisa setiap para pegawai itu punya semangat untuk mengabur diri, punya semangat untuk meningkatkan kompetensi diri, punya semangat untuk apa? menjaga keharmonisan supaya tidak ada lagi misalnya adalah like and dislike yang mendominasi itu perlu memahami harmonis ilmu nanti contoh ya Bapak Ibu sekalian di lingan ee perusahaan-perusahaan yang mungkin sudah lebih tertata, sudah lebih baik maka mereka itu selalu ya rutin mengadakan event-event seperti coffee morning meeting untuk mengaktualisasikan budaya akhlak. Bapak, Ibu sekalian. Jadi di sebuah perusahaan ya itu mereka menerapkan atau menginternalisasi bagaimana akhlak itu diterapkan. Caranya gimana? Cafe Morning Meeting Senin misalnya ya ada rapat singkat kurang lebih 30 menit. Maka salah satu di antaranya itu adalah disisipkan 5 menit untuk bergiliran si A, si B, si C untuk apa? menjelaskan bagaimana sih mereka sudah menerapkan budaya akhlak itu dalam keseharian. Mungkin si A si A menceritakan, "Oh, pengalaman saya kemarin melakukan apa? Implementasi akhlak. Saya mengaktualisasikan akhlak khususnya untuk harmonis itu begini misalnya mereka akan cerita. Nah, proses seperti ini akan membangkitkan kembali bahwasanya ee apa? kampanye itu terus digaungkan. Bahwasanya ya budaya berakhlak itu kalau di ASN itu ada dan terus dipupuk. Nah, isu seperti ini ini bisa ya lambat laun itu akan mereduksi yang namanya tadi ya kondisi kerja yang tidak nyaman, kondisi kerja yang mungkin saling ee apa namanya? Saling tidak kondusif ya. Sehingga aktualisasi macam seperti ini ini dibangkitkan dari ya semua pihak. maka setidaknya itu akan bisa saling ee memahami bahwa oh ya ternyata kalau sedang bekerja itu saya mungkin memang secara personal ada problem dengan si A tapi problem itu tidak boleh di apa istilahnya enggak boleh dipertahankan terus-menerus kan harus mulai di apa membuka diri untuk bisa saling berkolaborasi. Nah, kira-kira begitu, Pak. Ya, itu itu cara-cara yang bisa dilakukan yang diterapkan di be perusahaan best practice yang bisa kitaikan referensilah untuk bisa apa namanya memperbaiki kondisi faktor psikologis yang mengganggu dalam bersamaan. Kira-kira begitu Pak Nurul. Semoga bisa memberikan satu jawaban yang cukup ee lengkap ya. Baik, terima kasih banyak Prof. Pak Nurul. Demikian begitu ya jawabannya. Semoga saja ini dapat membantu dan dapat diaplikasikan di tempat kerja Bapak. Terima kasih banyak telah terhubung dengan kami juga dan kami harus cukupkan Prof untuk waktu diskusi dan tanya jawabnya karena keterbatasan waktu. Terima kasih banyak Prof. atas waktu yang telah diberikan untuk mengisi menjadi narasumber di ASN Belajar seri ke-16 kali ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Komisi 3 Dewan K3 Provinsi Jawa Timur bidang kerja sama K3 dan Humas Prof. Dr. Adityya Sudiarno, ST. Aidip Nebos. Sampai jumpa kembali. Prof. Sehat selalu. Terima kasih. Baik, Sobat ASN, kami masih memiliki satu narasumber juga yang tentu saja akan memberikan materinya terkait dengan tema kita hari ini. ASN Hebat Peduli K3 Membangun lingkungan kerja yang aman dan produktif. Dan kita akan terhubung dengan narasumber kita yang ketiga setelah yang satu ini. [Musik] Ya, sobat ASN masih bersama dengan kami di ASN Belajar seri ke-16 persembahan BPSDM Provinsi Jawa Timur. Dan kita akan selalu terhubung dengan narasumber kita yang ketiga yaitu pakar kesehatan dan keselamatan kerja K3 Universitas Erlangga Ibu Dr. Putri Ayuni Alainur SKM MKK IERT Ohta. Selamat pagi Bu Putri. Selamat pagi Bu Fani. Baik. Asalamualaikum. Apa kabarnya hari ini? Waalaikumsalam. Alhamdulillah sehat. Apa kabar juga? Baik. terima kasih sudah memberikan waktunya untuk menjadi narasumber kali ini. Dan dari dua narasumber tadi tentunya ini akan berkaitan terkait dengan tema kita pada hari ini. Untuk itu waktu kami silakan Bu Putri. Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mohon izin Bapak Ibu saya untuk share screen untuk materi hari ini. Sudah terlihat? sudah terlihat. Baik, belum terlihat. Tadi sempat terlihat. Sebentar. Boleh ditampilkan kembali. Saya coba. Iya. Baik, sudah terlihat dengan jelas. izin untuk menginformasikan waktu yang kami berikan 30 menit, Ibu Putri. Terima kasih. Baik, terima kasih banyak Bu Fanit. Ee selamat siang Bapak Ibu. Terima kasih sudah berkenan sampai akhir gitu ya untuk acara kali ini webinar ASN Belajar seri ke-16 oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Izinkan kami, Putri Ayuni Alaya Nur selaku dosen dari Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga untuk menyampaikan materi pada hari ini. Berikut adalah sedikit background dari pendidikan kami. Ee kemudian kami di sini bergabung di Asosiasi Perhimpunan Ahli Kesehatan Kerja Indonesia dan The Indonesian Industrial Hygen Association. Sebagai agenda dari hari ini, yang pertama kami akan menjelaskan terkait dengan latar belakang mengapa ee ASN juga perlu untuk mengaplikasikan K3 di tempat kerjanya. Kemudian yang kedua adalah hasil penelitian yang menyebutkan terkait dengan pentingnya lingkungan yang aman bagi ASN, penerapan K3 modern, dan bagaimanakah perilaku kerja di ASN. Sebagai latar belakang, mungkin tadi sudah disampaikan oleh pembicara terdahulu yaitu oleh Pak Yusuf dan Prof. Adit bahwa kita mempunyai dasar hukum dan regulasi baik secara internasional maupun secara nasional. Di internasional kita punya ISO 450018 yang menyebutkan bahwa instansi pemerintah juga harus melakukan sistem manajemen K3 yang terintegrasi. Begitu juga dengan U1 tahun 0, Permenkes nomor 70 tahun 2016, Permenkes 48 tahun 2016, dan Permenaker 5 tahun 2018 yang sudah dijelaskan secara gamblang tadi oleh Pak Adit dari ITS. Jadi kalau kita sampaikan tadi juga sudah disampaikan oleh Pak Yusuf bahwa sebenarnya ASN ini bisa kita bedakan secara tematik gitu ya. resiko kerjanya sangat beragam bahwa teman-teman yang ada di lingkungan, yang ada di perkantoran, yang ada di laboratorium, yang ada di rumah sakit itu mempunyai resiko kerja yang sangat beragam. Jadi kita bisa sampaikan bahwa ada cedera yang pertama adalah cedera fisik atau bahaya fisik yang itu disebabkan oleh alat kerja. Mungkin teman-teman di lapangan ada yang mengoperasikan tren, ada yang mengoperasikan alat-alat berat gitu nggih. Kemudian ada juga kecelakaan dinas. Mungkin Bapak Ibu yang perlu melakukan perjalanan dinas dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan dinas itu bisa mengakibatkan kecelakaan dinas atau mungkin Bapak Ibu yang bekerja di kantoran bisa terjadi ee lingkungan kerja yang tidak ergonomis seperti yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Adit. Dan yang kedua yaitu potensi resiko terkait dengan kesehatan mental yang tadi sudah dipertanyakan juga oleh ee Pak Nurul gitungnya dari PEPKP Jember. Jadi stres kemudian tekanan mungkin Bapak Ibu yang melakukan pelayanan publik mengalami masalah gitu ya ketika diadu ee mendapatkan pengaduan oleh konsumen kemudian mendapatkan masalah atau komplain dari masyarakat atau dari pelanggan itu juga merupakan sebuah tekanan tersendiri. Bahkan ketika Bapak dan Ibu mengalami stres yang berlebihan dan itu terjadi terus-menerus bisa terjadi burn out hingga terjadi kematian akibat adanya stres itu yang berkepanjangan. Yang ketiga adalah adanya bahaya dari lingkungan itu sendiri yang tadi sudah disebutkan juga oleh Pak Adit bahwa ada polusi, kebisingan atau mungkin Bapak dan Ibu di laboratorium yang melakukan atau menangani bahan berbahaya atau kimia berbahaya yang di mana kita harus mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus berhubungan dengan bahan-bahan kimia tersebut. Nah, bahan-bahan tersebut semuanya ada dan mungkin kita tidak sadari bahwa itu berbahaya bagi kehidupan kita. sehingga kita harus menangani resiko kerja yang ada di ee Bapak, Ibu, Sobat ASN sekalian. Berikut adalah dua. Yang pertama adalah hasil penelitian penelitian kami salah satunya di salah satu dinas gitu nggih di Surabaya yang menyatakan bahwa sebenarnya ASN itu sangat berpotensi terhadap adanya stres kerja. Nah, dan stres ini diakibatkan oleh gender atau jenis kelamin gitu ya. Jadi, orang perempuan wanita itu lebih beresiko terhadap terjadinya stres kerja dibandingkan laki-laki. Dan yang kedua adalah kebiasaan untuk olahraga. Orang yang lebih ee suka olahraga itu resiko stresnya lebih rendah daripada ee Bapak Ibu ASN yang cenderung jarang berolahraga. Begitu. Kemudian ada juga di ee kejadian yang di-share di tahun 2024 yaitu adanya kecelakaan yang terjadi pada 2 SN di Jalan Lingkar Sumatera di Lampung Selatan. Yang ini terjadi karena adanya kecelakaan dinas. Jadi salah satu bentuk atau yang mungkin kita tidak sadari bahwa sebenarnya kecelakaan selama perjalanan itu juga menjadi angka kecelakaan akibat kerja yang disebabkan oleh ee pekerjaan kita. Kemudian selanjutnya yaitu Bapak Ibu sudah ASN ini sangat dituntut gitu ya untuk produktivitas dan pelayanan publiknya karena kita sadari bahwa ASN ini adalah ujung tombak pelayanan non publik sehingga Bapak dan Ibu harus tetap sehat dan produktif. Bagaimana ketika Bapak dan Ibu misalkan satu orang dari satu bagian yang harus melakukan pelayanan publik itu tidak masuk, maka terjadinya antrian cukup besar, kemudian masyarakat melakukan pengaduan dan segala macam itu karena kondisi Bapak dan Ibu yang tiba-tiba menurun. Karena itu, ASN diharapkan sangat harus tetap sehat dan produktif di segala kondisi. Ngaten. Kemudian yang kedua adalah K3 membantu mengurangi absenteisme atau ketidakhadiran karena Bapak dan Ibu sakit atau cidera sehingga layanan yang Bapak Ibu lakukan, layanan publik yang Ibu lakukan tidak terganggu. Kami berharap dengan K3 mungkin tadi juga sudah disampaikan tentang Pak Adit misalkan menghadirkan atau mengadakan kursi ergonomis di tempat kerja sehingga kita mengurangi cedera ee punggung gitu misalkan atau kita susah stretching. Mungkin tadi Bapak dan Ibu menanyakan ada menaikkan kapan sih kita harus stretching? seharusnya setiap 2 jam sekali kita bisa stretching. Mungkin di beberapa kantor sudah ada pemanasan sederhana semacam itu. Kemudian kita sadari bahwa adanya perubahan paradigma ee K3 modern. Jadi K3 itu tidak lagi hanya sekedar mencegah kecelakaan. Jadi, Bapak dan Ibu tidak boleh celaka, tapi Bapak dan Ibu juga harus tetap sehat secara holistik, baik itu secara fisik, mental, emosional, sosial, intelektual, dan spiritual. Jadi tidak boleh adanya batasan semisal Bapak dan Ibu tidak boleh melakukan kegiatan keagamaan karena sedang bekerja. Itu merupakan salah satu tanda bahwa kesehatan Bapak dan Ibu tidak terjamin di tempat kerja. Kemudian secara emosional, Bapak dan Ibu tidak boleh berpendapat. Bapak dan Ibu tidak boleh untuk melakukan protes terhadap apa yang terjadi gitu ya. Itu juga merupakan suatu bentuk bahwa K3 di tempat Bapak, Ibu belum terjamin secara atau terlaksana secara baik. Begitu. Kemudian yang kedua, mungkin tadi Pak Adi juga sudah menyampaikan bahwa kemarin di tanggal 28 April kita ada bulan ee hari K3 internasional yang mencakup temanya adalah terkait dengan artificial intelligence dan digitalisasi. sehingga digitalisasi ini juga harus kita aplikasikan di tempat kerja kita terkait dengan K3 semisal penggunaan device gitu ya untuk mengidentifikasi bahwa oh Bapak ini lelah, Ibu ini lelah sehingga kita harus melakukan peregangan atau pergantian shift atau mungkin istirahat sejenak gitu ya untuk supaya tenaga kerja kita tidak diforsir karena lelah yang berlebihan. Kemudian yang ketiga adalah budaya organisasi. kita harus mengaplikasikan K3 itu di semua level. Tidak hanya pimpinannya saja yang selamat dan sehat selama bekerja, tapi juga dari first line-nya dia. Jadi dari pihak pertama dari orang yang melakukan pelayanan publik sampai dari orang yang di belakang layar itu juga semua pihak harus mendapatkan ee penerapan K3 secara adil di tempat kerja. Nah, ini merupakan share terkait dengan hasil penelitian mengenai pentingnya lingkungan kerja yang aman bagi ASN. Yang pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Kemen Kominfo bekerja sama dengan ITB pada tahun 2020. Beliau menguji uji coba variable devices untuk pemantauan kesehatan petugas di lapangan. hasilnya bahwa penggunaan smart helmet, jadi menggunakan helm yang canggih gitu ng kemudian ada IoT health tracker juga ini untuk mengurangi kelelahan berat hingga 60%. Jadi device-nya ini sudah menghasilkan ee pembuktian bahwa helmet dan eh health tracker ini mengidentifikasi untuk menghindari kelelahan kerja yang berlebihan terhadap tenaga di lapangan. Kemudian perlu adanya sistem e-ereorting. Jadi kalau Bapak dan Ibu di lapangan ada kecelakaan gitu ya, bisa dilakukan pelaporan secara insidental saat itu juga maksimal 2 jam gitu ya dari e aplikasi yang ditemukan oleh Kemenkominfo dan IPB ini. Kemudian yang kedua adalah ee studi yang dilakukan oleh Pusat Kajian Kesehatan Kerja tahun 2021 beliau menganalisis data kesehatan mental 500 ASN di pusat layanan masyarakat. di situ temuannya adalah ASN yang bekerja di lingkungan dengan resiko tinggi. Misalkan dia harus berkonflik dengan masyarakat, harus berhubungan dengan konsumen, kemudian dia mendapatkan beban kerja yang berlebihan itu mengalami tingkat stres dua kali lebih tinggi daripada pekerja yang tidak berhubungan langsung dengan konsumen atau dengan masyarakat. dan instansi dengan program konseling dan fleksibilitas kerja ini melaporkan bahwa terjadi penurunan burnout hingga 35%. Mungkin tadi sekalian menjawab dengan pertanyaan Pak Nurul tadi ya, bahwa perlu adanya program konseling dan fleksibilitas kerja dari tempat perusahaan, tempat ee instansi Bapak dan Ibu masing-masing. Apapun itu harus dikonsultasikan dengan ahlinya, gitu ya. Ketika Bapak dan Ibu mengalami stres, Bapak dan Ibu punya wadah untuk meluapkan stres tersebut. dan ada solusi yang diberikan oleh pihak konselornya untuk masalah yang Bapak Ibu sampaikan. Begitu sehingga beliau ee penelitian yang kedua merekomendasikan adanya integrasi kesehatan mental dalam kebijakan K3 ASN. Yang ketiga adalah eh penelitian oleh Kemenpan RB bekerja sama dengan Universitas Indonesia yang melakukan survei terhadap 1200 ASN di 12 kementerian menyatakan bahwa lingkungan kerja dengan standar K3 yang baik itu akan menghasilkan produktivitas bagi ASN 23% lebih tinggi daripada standar K3-nya yang tidak baik. tidak misalkan tidak menghasil, tidak mempunyai kursi yang ergonomis, tidak punya ventilasi yang baik atau AD yang disediakan tidak baik. Kemudian keluhan kesehatan fisik itu menurun. Misalkan Bapak dan Ibu punya nyeri punggung, mata lelah, itu melaku terjadi penurunan sebesar 40% setelah terjadinya perubahan perbaikan workstation atau stasiun kerja yang Bapak, Ibu tempati saat ini gitu. Kemudian penelitian yang keempat yaitu oleh BKN dan MFEB UI. Dia melakukan pemetaan budaya K3 di 20 instansi pemerintahan menghasilkan bahwa di instansi pemerintah yang punya ee budaya K3 yang kuat, dia punya reward system yang bagus, pelatihannya juga dilakukan secara rutin, maka terjadi penurunan 50% kecelakaan kerja sehingga kepuasan kerja dari ASN itu meningkat sebesar 28%. Jadi faktor kunci dalam hal ini budaya K3 itu bisa diaplikasikan di sebuah instansi pemerintah itu dukungan yang paling penting didapatkan oleh pemimpinnya. Ketika pemimpinnya mendukung kemudian seluruh pekerja yang ada di situ berpartisipasi aktif untuk menghasilkan budaya K3 yang kuat, maka tidak akan tidak mungkin bahwa K3 di tempat tersebut akan menjadi budaya yang dilakukan secara tidak dipaksakan gitu ya. secara natural bisa terjadi di suatu tempat kerja. Kemudian ini dari internasional ee ada laporan dari OECD, lembaga lembaga internasional dari negara-negara maju. Dia menghasilkan temuan bahwa regulasi K3 yang ketat untuk ASN di beberapa daerah, di beberapa negara itu meningkatkan absensinya 30% lebih rendah daripada negara yang K3-nya tidak terlalu ketat. Kemudian karena absensinya lebih tinggi, jadi karena pekerjanya banyak yang masuk, maka tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan publiknya juga lebih tinggi. Begitu. Jadi kalau ada tantangan dan solusi yang kita mungkin kita hadapi di instansi masing-masing gitu ya, Mbak, kalau anggaran kita terbatas, kita bisa kerja sama lintas sektoral gitu. Misalkan Bapak dan Ibu membutuhkan klinik kesehatan, ee kita bisa kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk menghasilkan atau untuk melakukan konseling dari kesehatan tenaga kerja kita. Mungkin ada kekurangan kesadaran ASN tentang K3. Kita bisa melakukan pelatihan-pelatihan K3 dengan kuis berhadiah, dengan adanya sertifikasi-sertifikasi yang dibayari oleh instansi. Kemudian birokrasi pelaporan yang lambat misalkan kita bisa melakukan digitalisasi sistem pelaporan apapun yang ada di tempat kerja Bapak Ibu terkait dengan K3 ini terkait dengan penerapan K3 modern. Jadi kalau tadi ee Pak Adit sudah menyampaikan terkait dengan ergonomi. Jadi holistiknya adalah ergonomi psikososial dan budaya keselamatan. Jadi K3 saat ini itu harus melakukan pendekatan proaktif. Jadi, Bapak dan Ibu tidak lagi menunggu reaktif gitu ya. Kalau ada masalah, kalau ada kejadian kecelakaan baru kita melakukan perbaikan. Saat ini harus melakukan ya duluan ditemukan, preventif, pencegahan. Jadi, Bapak dan Ibu misalkan melakukan risk assessment atau penilaian resiko di tempat kerja Bapak Ibu. hal sepele gitu ya. Mungkin Bapak dan Ibu saat ini di ruangan bisa mengidentifikasi apa saja sih bahaya dari tempat saat ini gitu ya. Tadi sudah dijelaskan ada lima bahaya oleh Pak Adit. Bagaimana dengan bahaya fisiknya, bahaya kimianya, bahaya biologi, bahaya psikososial dan ergonominya? Apakah ada? Ketika ada bahaya itu, Bapak dan Ibu bisa melakukan pengendalian dari bahaya-bahaya yang ada. Atau mungkin kita bisa lakukan tindakan pengendalian. Misalkan Bapak dan Ibu yang ada di lapangan, kerja di lapangan gitu ya. Bapak dan Ibu wajib mendapatkan safety induction atau pengarahan awal ketika Bapak dan Ibu baru datang di tempat tersebut. Misalkan saya menjadi tamu di instansi Bapak dan Ibu, saya harus mendapatkan safety induction. Ke manakah ketika ada kebakaran? Jalur evakuasinya seperti apa? titik kumpulnya di mana? Apakah saat ini sedang ada ee evakuasi, ada simulasi kebakaran atau tidak? ataukah mungkin ada ee apar terdekatnya di mana gitu ya sehingga kita bisa melakukan ee bantu untuk memadamkan api. Hal semacam itu. Yang kedua yaitu berbasis teknologi. Kita bisa lakukan IoT, kemudian artificial intelligence, kemudian device dan reporting. Dan kesehatan holistik yang tadi bahwa tidak hanya fisik tapi juga mental, spiritual, emosional dan segala macamnya. Dan yang terakhir adalah K3 ini adalah partisipasi aktif. Jadi, Bapak dan Ibu tidak hanya menjadi orang yang reaktif, oh tidak disuruh oleh pimpinan, tidak boleh. Jadi K3 ini ada akan menjadi sangat penting ketika Bapak dan Ibu juga menyadari bahwa K3 ini penting bagi hidup saya, gitu ya. Jadi, Bapak dan Ibu juga harus ikut serta dalam program-program yang di apa ya diusulkan atau dibuat oleh pimpinan tertinggi di instansi Bapak dan Ibu. Jadi penerapan K3 modern pada ESN yang pertama adalah yang bisa dilakukan adalah implementasi regulasi dan kebijakan yang ada. Dari tadi ee Pak Yusuf sudah menyatakan terkait dengan regulasi dan kebijakan yang ada. Kemudian Pak Adit juga menjelaskan terkait dengan detailnya Permenaker 5 tahun 2018. Bapak dan Ibu bisa melakukan implementasi dari regulasi-regulasi yang ada di Indonesia. Minimalnya di Indonesia. Kemudian ketika sudah diimplementasikan, Bapak dan Ibu juga bisa mengintegrasikan dalam sistem dan penilaian kerja. Misalkan Bapak dan Ibu bisa di sistem penilaian kinerjanya Bapak dan Ibu gitu ya, dimasukkan tentang unsur 5S-nya tadi. Jadi kerapian dari meja kerja masing-masing itu seperti apa gitu. Kerajinan dari masing-masing individu terkait dengan lingkungan kerjanya seperti apa, itu juga bisa dilakukan. Yang kedua yaitu lingkungan kerja yang ergonomis. Bapak dan Ibu bisa melakukan penyesuaian kursi, meja, monitor untuk mencegah adanya gangguan tulang belakang. Jadi memang kursi, meja, dan monitor ini sangat bergantung dari tim pengadaan gitu nggih Bapak dan Ibu. Tapi Bapak dan Ibu punya hak untuk melakukan pengusulan atau menyatakan ke tim pengadaan, tolong dong bahwa yang diusulkan yang diadakan nanti adalah kursi, meja, dan monitor yang ergonomis, gitu. Jadi, Bapak dan Ibu bisa memberikan masukan-masukan kursi yang ergonomis seperti apa, meja yang ergonomis seperti apa. Yang kedua yaitu pengaturan pencahayaan, sirkulasi udara dan kebisingan. Jadi tadi ee Pak Adit sudah menyatakan terkait dengan nilai ambang batas gitu ya. Berapa sih kebisingan di tempat kerjanya Bapak dan Ibu? Saya khawatir Bapak dan Ibu tidak tahu berapa kebisingan di tempat kerja kita masing-masing gitu ya. Jadi, Bapak dan Ibu tidak bisa komplain bahwa ruanganku kok terlalu bising ya, kok di atas NAB ya, gitu. Jadi mungkin hal pertama yang bisa dilakukan adalah melakukan pengukuran pencahayaan, pengukuran kebisingan di tempat kerja Bapak dan Ibu. Yang ketiga adalah peningkatan kesadaran atau budaya keselamatan. Karena perlu adanya pelatihan K3 berkalah. Bapak dan Ibu harus tahu dari basic K3 itu apa hingga bagaimana untuk melakukan budaya K3 yang secara sustain secara sadar Bapak Ibu lakukan, gitu ya. Jadi harus ada pelatihan K3 yang secara berkala. Kemudian ada kampanye dari pihak instansi gitu dari pimpinan tertinggi instansi melalui media-media. Misalkan ada poster, ada webinar semacam ini yang dilakukan oleh BPSDM itu sudah sangat melakukan peningkatan kesadaran terkait dengan K3. Yang keempat adalah pengelolaan resiko psikososial. Jadi terkait dengan stres kerjanya Bapak dan Ibu, mungkin yang sudah dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah adanya fleksibilitas waktu kerja. Bapak dan Ibu bisa WFH, Bapak dan Ibu bisa melakukan webinar secara hybrid semacam ini. Jadi, kita bisa meeting dari manaun secara fleksibel, secara online gitu ya. Jadi untuk melakukan fleksibilitas waktu kerja. Yang kedua yaitu mungkin Bapak dan Ibu di instansi masing-masing bisa mempunyai program employee assistant program atau program untuk konseling gitu ya. Jadi ada instansi mengundang konselor untuk konsultasi. Misalkan setiap minggu, setiap hari Rabu nanti konselornya datang. Monggo siapa saja yang mau konsul gitu ya, mau melakukan konseling terkait dengan stres kerja ini. Kemudian yang kedu ee kelima adalah kesehatan preventif. Bapak dan Ibu perlu melakukan medical check up tahunan untuk deteksi dini penyakit. Mungkin dari Bapak dan Ibu yang di bawah Kementerian Kesehatan ada juga ee kewajiban untuk pengukuran kebugaran setiap 1 tahun dua kali gitu ya. Jadi Bapak dan Ibu diukur kebugarannya apakah bugar atau tidak. Kemudian ada juga yang melalui pos bindu masing-masing untuk pendeteksian dini penyakit. ee kemudian dilakukan vaksinasi, nutrisi sehat, dan olahraga rutin di kantor. Jadi ya setiap hari Jumat jangan sampai telat, Bapak Ibu. Itu merupakan salah satu healing gitu ya, healing stres kita untuk kita tetap sehat, bugar, dan selamat di tempat kerja. Yang keenam adalah tanggap darurat dan kesiapan bencana. Bapak dan Ibu di instansi masing-masing mohon izin ee disediakan waktu, disediakan dana, disediakan apa ya? waktu untuk melakukan simulasi kebakaran, simulasi ee untuk kejadian gempa, untuk evakuasi, karena kita tidak tahu kapankah kejadian itu yang sebenarnya terjadi, gitu ya. Jadi, setidaknya Bapak dan Ibu di instansi Bapak dan Ibu tuh tahu mau keluar itu keluarnya lewat jalur yang mana? Saya belok kanan atau belok kiri gitu. Misalkan kalau ada apar gimana sih cara pakai APAR? itu setidaknya Bapak dan Ibu bisa melakukan simulasi itu. Kemudian penyediaan P3K, alat pemadam dan dan jalur evakuasi yang memadai. Jadi jalur evakuasi pun ada aturannya Bapak dan Ibu gitu ya. Misalkan harus ada spotlight-nya atau ee penerangan yang di mana kalau gelap itu tetap terang gitu. Nah, kemudian yang selanjutnya adalah kita harus melakukan perilaku kerja. Perilaku kerja yang kita bisa lakukan secara individu terkait dengan K3 adalah yang pertama mematuhi prosedur K3. Jadi, Bapak dan Ibu misalkan di lapangan gitu ya diwajibkan oleh ee pihak ee apa namanya? kontraktornya untuk memakai APD ya dipakai gitu Bapak Ibu walaupun Bapak dan Ibu dari kantor dari kementerian pusat ya kalau di lapangan tetap harus menggunakan APD yang ditentukan di lapangan di konstruksinya. Misalkan harus pakai helm, pakai sapatu safety, pakai rompi, itu juga harus dilakukan. Kemudian mengikuti protokol evakuasi darurat, mengetahui lokasi P3K dan jalur evakuasi. Hal ini kita bisa dapatkan informasi ketika di lapangan itu dengan safety induction. Jadi, ketika safety induction, Bapak dan Ibu bisa mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan terkait dengan K3. Kemudian yang kedua adalah penerapan ergonomi di kantor, menjaga postur duduk yang benar. Jadi, K Pak Adi tadi menyampaikan ya harusnya kursinya yang menyesuaikan dengan tubuh kita. Kalau saya pendek ya kursinya harusnya bisa diturunkan supaya kaki saya enggak gantung gitu ya. Kemudian yang kedua adalah mengambil istirahat singkat micro braks. Jadi setiap 20 menit bagi Bapak dan Ibu yang menggunakan layar Bapak dan Ibu bisa melakukan peregangan, istirahat singkat. selama 20 detik untuk melihat selain layar selama di sejauh 20 kaki. Jadi misalkan di dekatnya Bapak Ibu ada taman, lihatlah hijau-hijau dari taman itu sejauh 20 kaki selama 20 detik. Jadi Bapak dan Ibu bisa istirahat sekejap gitu ya. Nah, ini terkait dengan aturan-aturan WFH WFA. Jadi terkait dengan fleksibilitas kerja Bapak dan Ibu. Kemungkinan Bapak dan Ibu di instansi masing-masing bisa melakukan pengaturan kerja secara fleksibel. bisa bekerja dari mana saja gitu ya, work from anywhere and work from home. Eh, kami dari FKM UNAIR mungkin ini eh videonya kami buat ketika pandemi kemarin gitu ya, Bapak dan Ibu. Ini sedikit masukan mungkin bagi Bapak dan Ibu yang nanti melakukan WFH, nanti melakukan work from anywhere bisa menyesuaikan meja kerjanya atau stasiun kerjanya sesuai dengan video yang kami putar berikut. Ya, mungkin ee jadi Bapak dan Ibu mungkin yang saat ini gitu ya, ada yang pakai laptop dan belum mensejajarkan matanya bisa menggunakan tumpukan buku saja minimal Bapak Ibu. Jadi tidak perlu beli alatnya dulu sehingga mata kita bisa sejajar, kemudian tengkuk kita tidak terlalu menunduk gitu ya. Itu juga mencegah untuk kelelahan dari ee leher kita. Yang selanjutnya adalah terkait dengan gaya hidup yang sehat. Jadi, Bapak dan Ibu bisa mengonsumsi makanan bergizi, minum air cukup, jangan lupa gitu ya untuk minumnya. Karena banyak sekali pekerja-pekerja kita itu yang ee lah nanti sajalah gitu ya untuk minum air cukup. Jadi kalau mungkin ada yang sedang haus bisa sekarang gitu ya diminum air putihnya di sekitarnya bisa diambil dulu karena kita butuh ke dehidrasi itu jangan sampai mengganggu dari produktivitas kerja kita. Kemudian yang selanjutnya adalah mengelola stres dengan teknik relaksasi yang baik. Jadi, Bapak dan Ibu bisa nafas lebih dalam meditasi untuk stres yang ee relaksasi dari stres yang terjadi. Kemudian yang selanjutnya adalah pelaporan kondisi tidak aman. Jadi, mungkin di sekitar Bapak dan Ibu saat ini ada lantai yang licin, ada kabel-kabel yang terkelupas, mungkin ada atap yang hampir roboh. Itu bisa disampaikan kepada tim K3. Jika memang belum ada tim K3 di tempat kerja Bapak dan Ibu bisa disampaikan ke pihak sarana prasarana sehingga bisa melakukan perbaikan segera sehingga kondisi tidak aman ini bisa segera diperbaiki oleh pihak yang berwajib. Kemudian yang kedua mungkin ada sistem e-ereorting di tempat kerja Bapak dan Ibu bisa dilakukan pelaporan segera. Ini yang bisa dilakukan oleh ee instansi gitu ya untuk budaya K3 bahwa kita harus melakukan komunikasi terbuka. apapun itu harus disampaikan kepada semua tenaga kerja kita. Resiko kerjanya, APD-nya juga bisa saling mengingatkan gitu ya. Jadi harus disampaikan untuk semua orang. Yang kedua yaitu kolaborasi program K3. Nah, jadi misalkan Bapak dan Ibu belum punya ee tenaga kerja yang mampu untuk melakukan simulasi kebakaran, Bapak dan Ibu bisa melakukan pengajuan, permohonan terhadap ee Dinas Kebakaran ee masing-masing gitu ya, di tempat masing-masing, di kota masing-masing untuk melakukan simulasi kebakaran di tempat kerjanya Bapak dan Ibu. Mungkin ada pelatihan K3 juga bisa dilakukan dengan kerja sama dengan teman-teman dari Disnaker setempat. kemudian melakukan pembentukan kelompok pengawas K3 di unit kerja masing-masing. Yang selanjutnya adalah Bapak dan Ibu bisa menjadi role model gitu ya. Pimpinan dan atasan itu harus memberikan contoh yang baik. Misalkan kalau memang di tempat kerja Bapak dan Ibu tidak boleh merokok, pimpinannya juga harus memberikan contoh bahwa tidak boleh merokok di tempat kerjanya. Kemudian memberikan apresiasi reward and punishment gitu ya. Ketika ada pegawai yang sangat rajin, K3-nya sudah diaplikasikan dengan sangat baik di tempat kerjanya, meja kerjanya sangat rapi, rawat, resik, ringkas gitu ya, maka bisa diberikan apresiasi berupa reward apapun terserah dari instansi masing-masing. Ini adalah terkait dengan mungkin ada masalah di lapangan gitu ya. ya yang harus dilakukan misalkan harus menggunakan helm, ada permit to work yang harus dilakukan dulu atau menyediakan jalur dengan reflektor. Yang kedua adalah bekerja di kantor gitu ya. Pastikan bahwa Bapak dan Ibu ruangnya berventilasi dengan baik, pencahayaannya cukup, lingkungan kerjanya aman, keamanan secara individu juga aman, stasiun kerja ergonomis, kemudian minimalisasi manual handling. Manual handling tadi yang mengangkat secara manual ya. Kemudian ketika Bapak dan Ibu mungkin ada yang bekerja dengan komputer saat ini, lakukan istirahat mata secara rutin setiap 20 menit. Jadi sekali lagi 20 menit bekerja, istirahatkan 20 detik saja Bapak dan Ibu untuk memandang yang hijau-hijau, untuk merelaksasi mata mata Bapak dan Ibu untuk memandang hal yang lain selain layar. jangan pindah ke HP gitu ya Bapak Ibu untuk sejauh 20 kaki. Kemudian ini adalah tantangan dan solusi. Ketika Bapak dan Ibu malas pakai APD maka instansi harus melakukan sosialisasi terkait dengan dampak kecelakaan. Kemudian ketika ada stres karena beban kerja yang berat gitu ya, jadi salah satu orang itu saja yang dikasih beban kerja maka harus dilakukan time management dan dilakukan employee assistant program. Kemudian ketika ada kurangnya partisipasi berarti kita harus evaluasi apakah program K3 kita kurang menyenangkan untuk merekrut ee partisipasi aktif dari masyarakat atau dari tenaga kerja kita. Ini adalah indikator sukses perilaku K3. Yang pertama ketika angka kecelakaan kerja itu turun termasuk angka kecelakaan kerja ketika dinas di lapangan, Bapak dan Ibu. Yang kedua adalah meningkatnya partisipasi dalam pelatihan K3 yang awalnya enggak ada yang mau ikut. Alhamdulillah akhirnya semuanya ikut gitu ng. Kemudian yang ketiga adalah lingkungan kerja Bapak dan Ibu lebih nyaman, tidak bising ee keluhan sakit punggungnya menurun, keluhan sakit matanya menurun, kemudian beban kerja tidak besar, stres kerjanya menurun. Itu juga merupakan indikator sukses dari perilaku K3 ini. Tadi sudah disampaikan ternyata ada yang bergeser gitu ya. Jadi saya dan Pak Adi ternyata mempunyai pemikiran yang sama untuk membahas terkait dengan 5R housekeeping. Jadi housekeeping ini akan saya ee lewati saja gitu ya terkait dengan jadi yang kita harapkan adalah dari gambar yang di kiri gitu ya Bapak dan Ibu. Mungkin ada penjual buah yang semacam yang di kiri berubah menjadi yang di kanan. Buahnya ditatah dikelompokkan sesuai dengan jenisnya kemudian menarik penjual gitu ya. Jadi ee melakukan 5S itu bisa di tempat mana saja. Misalkan di kantor Bapak dan Ibu saat ini ada banyak tumpukan berkas seperti gambar yang di kiri bisa berubah menjadi yang di kanan. Ada yang ada di meja kerja itu hanyalah benda-benda yang berkaitan dengan pekerjaan saja. Jadi ini adalah sedikit gambaran ketika Bapak dan Ibu mau meletakkan berkas atau apapun yang ada di tempat kerja Bapak dan Ibu. ee kotaknya itu adalah kotak dari tempat kerja Bapak dan Ibu. Yang 14 inci pertama adalah benda-benda yang sangat sering Bapak dan Ibu ambil. Jadi misalkan yang ya kurang lebih dari 5 kali per menit itu Bapak dan Ibu butuh misalkan ballp atau mungkin kertas gitu. Yang agak jauh lagi itu yang lebih jarang lagi Bapak dan Ibu ambil dan yang paling jauh adalah barang-barang yang jarang banget Bapak Ibu ambil gitu ya. Jadi, Bapak dan Ibu bisa mengelompokkan. Jadi, Bapak dan Ibu enggak perlu menjangkau terlalu jauh bagi barang-barang yang terlalu sering Bapak dan Ibu butuhkan, gitu. Letakkan lebih dekat dengan posisi kerjanya Bapak dan Ibu sehingga Bapak dan Ibu tidak perlu melakukan kegiatan atau perilaku kerja yang tidak ergonomis selama bekerja di tempat kerja. K3 bagi ASN itu bukan hanya sebuah kewajiban, tapi investasi untuk membangun birokrasi yang tangguh dan berorientasi pada pelayanan optimal. Sekian dari saya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak. Saya sangat menyimak sekali apa yang disampaikan dan ternyata satu pemikiran dengan Prof. Adit tadi ya tentang 5R tadi. Baik. Nah, untuk interaksi kami cukupkan. Namun kami memiliki satu pertanyaan dari salah satu sobat ASN Bu Putri. Kami akan bacakan pertanyaannya dari Nugi. Bapak Nugi, pertanyaannya untuk melihat lingkungan kerja yang ergonomis, terkadang kantor ini tidak punya peralatan yang dibutuhkan, Bu. Jadi sangat terbatas mungkin ya, seperti tidak punya alat untuk mengukur pencahayaan, humidity, dan lain-lain. Lalu terkait dengan masalah seperti ini, bagaimana solusinya, Bu Putri? Baik, terima kasih Bu Pak Nugi gitu ya untuk pertanyaannya. Ya, terima kasih Mbak Fani. Jadi, Bapak dan Ibu mungkin sedikit menyampaikan, mohon maaf nanti kalau misalkan di tempat kerjanya Bapak dan Ibu ada yang berbeda gitu ya. Setahu sependek yang kami tahu bahwa kalau di Puskesmas setiap Puskesmas itu mendapatkan namanya sanitarian kit. Nah, sanitarian kit ini adalah bantuan dari Dinas Kesehatan dari Kementerian Kesehatan Pusat untuk setiap puskesmas di setiap daerah. Nah, di situ Bapak dan Ibu bisa melakukan pengukuran pencahayaan, pengukuran kebisingan, kemudian pengukuran kelembaban itu dari sanitarian kit. Mungkin Bapak dan Ibu bisa melakukan permohonan ke puskesmas setempat untuk melakukan pengukuran pencahayaan, kebisingan dan kelembaban di tempat kerja Bapak dan Ibu. Kemudian kalau misalkan Bapak dan Ibu mempunyai anggaran lebih gitu ya, di UPTK2 masing-masing ee dinas di Dinas Ketenagakerjaan itu ada UPTK2 yang melakukan pengukuran kebisingan dan pencahayaan. Ketika sewaktu-waktu dia bisa melakukan pengukuran secara gratis gitu ya. Nanti mungkin bisa ditanyakan dengan teman-teman di instansi UPTK2. Tapi ketika Bapak dan Ibu melakukan permohonan seperti kami ada penelitian ya, kami harus berbayar untuk pengukuran itu. Tapi insyaallah kalau di Puskesmas nanti bisalah kerja sama dengan Puskesmasing gitu nggih untuk pengukuran ini. Terima kasih. Maaf sekali sobat ASN karena memang keterbatasan waktu pada seri kali ini. Maka untuk sesi tanya jawab kami harus cukupkan satu pertanyaan saja dan kami harus ee hilangkan sesi interaksi secara langsung begitu ya dengan Ibu Putri. Namun terima kasih banyak Ibu Putri atas waktu dan juga buah pikir yang telah disampaikan. Presentasi yang sangat luar biasa sekali, sangat insightful bagi kami untuk dapat mengaplikasikannya dan mengimplementasikannya di tempat ASNASN berada. Dan kami harus akhiri dan cukupkan terima kasih banyak Ibu Putri, pakar kesehatan dan keselamatan K3 Universitas Erlangga, Ibu Dr. Putri Ayuni Alaya Nur, SKM, MKK, IER Ohta. Sampai jumpa kembali, Bu Putri. Salam sehat selalu. Baik, Sobat ASN di mana pun berada. Sebelum kami mengakhiri pada seri kali ini, kami ingin mengingatkan kembali bahwa help desk jika mungkin sobat ASN setelah mengikuti si kali ini belum mendapatkan e-sertifikat ataupun ada kendala lain bisa menghubungi nomor WhatsApp di 0821664461. Sekali lagi health kami di nomor WhatsApp 0821664461 semesta Bangk. Dan sobat ASN sebelum mengakhiri kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada narasumber kita yang pertama tadi yaitu Direktur Bina Pengujian Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kemenaker Republik Indonesia Bapak Muhammad Yusuf, ST. M.Si. SI. Juga narasumber kita yang kedua yaitu Komisi 3 Dewan K3 Provinsi Jawa Timur bidang kerja sama K3 dan Humas Prof. Dr. Adityya Sudiarno, ST. Aidip Nebos. Dan juga yang telah memberikan pemaparan materinya barusan yaitu pakar kesehatan dan keselamatan kerja K3 Universitas Erlangga Unair Ibu Dr. Putri Ayuni Alaya Nur SKM MKK IERT Ohta. Sobat ASN sebelum mengakhiri untuk mengecek kembali secara berkala semesta Bangkom guna mengunduh e-sertifikat. Dan demikian seluruh rangkaian ASN belajar seri ke-16 pada hari ini. Terima kasih banyak atas partisipasi dan antusiasmenya yang telah tergabung secara Zoom meeting maupun yang telah tergabung di YouTube BPSDM Jatim TV. Kita akan selalu bertemu dengan seri-seri berikutnya dengan tema-tema yang lebih menarik. Tetap semangat sampai jumpa. Saya Fan Patriia pamit undur diri. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Bye. Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. menjadi ASN berakhlak mulia. Siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas. Belajar wujudkan perintah kelas dunia tekad pantang menyerah jadi AS berkuas [Musik] sama [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]