File TXT tidak ditemukan.
Transcript
Uyb4zcRgZJc • ASN Belajar Seri 18 | 2025 - Buku : Gerbang Ilmu-Jendela Kalbu
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0230_Uyb4zcRgZJc.txt
Kind: captions Language: id Hasen bua semangat membara di era digital terus berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemelak Jawa Timur terus melaju bersama PPSN Jatim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat [Musik] ASNU tiada yang tertinggal no one left behind kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemerlang Jawa Timur terus terus meltsp Jim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat aset unggur tiada yang tertinggal no one left behind kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi Masih cemel Jawa Timur terus melaju. Bersama BSDM Jatim kita terus melesar untuk Indonesia emas prestasi hebat bersama kampus satelit PP PSM Jatim no one left behind. ASN unggul dan berkualitas Melasa tinggi Indonesia jaya [Musik] Yeah. Bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. [Musik] ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia tekad pantang menyerah jadi berkuit [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu. Rahayu. Rahayu. Selamat pagi kepada yang terhormat Kepala BPSDM Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, S.P.Mp. Yang kami hormati para narasumber, Kepala Pusat Analis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca, Bapak Nuradi Saputra, Esos, M.Si., Si. Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Erlangga. Prof. Dr. Rahma Sugiharti, Dranda, M.Si. Editor Buku Pusat Perbukuan Kemendikdas, Bapak Wijanarko Adi Nugroho, S.Si., M.M. serta Bapak, Ibu, Sobat ASN di mana pun berada yang telah bergabung dalam Zoom meeting maupun akun YouTube BPSDM Jawa Timur TV dari seluruh Indonesia. Kerja kelompok di rumah Caca. Mengerjakan tugas dari Pak Iwan. Jadi orang gemar membaca agar menambah wawasan. Ye, selamat pagi dan selamat bergabung secara online dalam acara webinar seri ke-18 tahun 2025 ASN Belajar dengan tema buku gerbang ilmu jendela kalbu yang dipersembahkan oleh BPSDM Jawa Timur. Alhamdulillah puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa karena atas berkatnya kita semua pada hari ini diberikan kesehatan sehingga dapat berjumpa secara online pada hari Rabu 15 Mei 2025 bertempat di kantor BPSDM Jawa Timur yang ada di Jalan Balongsaritama Gadel Tandes Surabaya. Dan yang pasti saya senang sekali pada pagi hari ini Bapak Ibu, saya Yuri Sabrina yang akan berkesempatan ya menjadi moderator sekaligus saya akan menemani Bapak Ibu dalam acara ASN belajar pada pagi hari ini. Yang pasti pada pagi hari ini ASN belajar akan membahas tentang pentingnya membaca buku sebagai bentuk pemahaman ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Namun ternyata buku tidak hanya bisa menambah dan memperdalam wawasan. Dari buku kita juga akan bisa membentuk karakter dan juga pandangan hidup agar kita bisa hidup lebih bijaksana. Dan mengingat bahwa 2 hari lagi kita akan memperingati hari buku nasional yaitu tepatnya pada tanggal 17 Mei 2025. Maka ASN belajar kali ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan serta inspirasi baru bagi peserta ASN belajar dalam dunia pengetahuan dengan pendekatan yang lebih mendalam dan reflektif sekaligus mampu menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kaya secara spiritual. Selengkapnya akan dibahas dalam webinar ASN Belajar 18 2025. [Musik] Bapak, Ibu mengingatkan untuk tidak lupa mengisi absensi di Semesta Bangkom ya. Jadi bisa langsung ke semesta Bangkom di 0821664461 ataupun juga di link webinar yang sudah diberikan. Dan sebelumnya Bapak Ibu saya ingin mempersilakan terlebih dahulu untuk keynote speech kita pada pagi hari ini yaitu Kepala BPSDN Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, SP. MP. Kami silakan. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini, Kamis tanggal 15 Mei 2025, ASN Belajar telah memasuki seri ke-18. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami, kami selalu berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik pengembangan kompetensi yang menarik bahkan kekinian dan tentu berdampak secara nyata terhadap pengembangan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-18 tahun 2025 ini menyikan salah satu topik dalam rangka turut serta menyemarakkan pemikiran dalam momen Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei. Di mana pada tahun 2002 hari buku nasional pertama kali dicetuskan oleh Prof. Abdul Malik Fajar, Menteri Pendidikan Nasional saat itu tanggal 17 Mei dipilih sebagai hari istimewa karena bertepatan dengan momen berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980. Pemilihan tanggal ini menunjukkan eratnya kaitan antara hari buku nasional dengan upaya untuk mencerdaskan bangsa melalui budaya membaca. Karena itu, Sobat SN, SN belajar seri ke-18 tahun 2025 ini mengangkat topik buku gerbang ilmu jendela kalbu. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sabat ASN di seluruh tanah air telah terbukti secara historis bahwa buku adalah saksi perjalanan akal budi manusia dari zaman kegelapan menuju pencerahan, dari ketidaktahuan menuju kebijaksanaan yang melintasi batas generasi dan peradaban. telah terbukti secara historis bahwa buku merupakan instrumen utama dalam mentransmisikan pengetahuan, membangun peradaban, dan menumbuh kembangkan kesadaran kolektif umat manusia dari zaman ke zaman. Dan juga telah terbukti secara historis bahwa buku memainkan peran sentral dalam menjaga integritas ilmu pengetahuan. Bahkan ketika arus informasi digital datang sili berganti, buku tetap menjadi mercing pencari kebenaran. Membaca buku tentu bukan sekedar kegiatan mengisi waktu senggang. Ia adalah proses transendental jembatan antara ketidaktahuan menuju pencerahan. Lewat membaca, ilmu berpindah dari generasi ke generasi, dari pikiran ke pikiran, menembus sekat geografis dan zaman. Dari buku-buku kuno yang ditulis tangan hingga karya kontemporer yang dicetak massal, semuanya menyimpan warisan intelektual yang tak ternilai. Di era teknologi informasi yang serba cepat ini, kita memang disuguhkan lautan data dan informasi melalui layar. Namun tidak semua yang tampil di gawai adalah kebenaran, validitas dan kedalaman seringki menjadi korban dari kecepatan. Di sinilah buku tampil bukan sebagai lawan, melainkan sebagai penyeimbang tempat informasi diuji, dianalisis, dan disusun secara sistematis dengan akurasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Buku hadir tidak hanya sebagai sumber ilmu, tetapi juga sebagai jendela kalbu. Ia menyapa jiwa yang gelisah, memberi arah pada mereka yang kehilangan bijakan, dan menghidupkan imajinasi pada mereka yang haus akan makna. Buku-buku sastra, filsafat, sejarah hingga sains bukan hanya membentuk intelektualitas kita, tetapi juga membangun empati, etika, dan kepekaan nurani. Oleh karena itu, dalam semangat hari buku nasional ini, marilah kita hidupkan kembali budaya literasi bukan hanya dengan membaca, tapi juga menulis, berdiskusi, dan membumikan gagasan-gagasan kita lewat buku. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca dan bangsa yang membaca adalah bangsa yang mampu menulis masa depannya sendiri dengan penuh kesadaran dan kemuliaan. Buku mungkin tak bersuara, namun nadanya menggema jauh di kedalaman pikiran dan perasaan. Maka jangan biarkan buku-buku kita terdiam di rak-rak berdebu. Bukalah satu, bacalah sejenak, dan biarkan ia menuntunmu menembus batas ketidaktahuan menuju cakrawala ilmu dan akhirnya ke jendela kalbu. Sahabat ASN di seluruh tanah air, lalu bagaimana ikhtiar kita agar buku terus menjadi bagian tak terpisahkan dari tumbuh kembang kita sebagai sumber daya utama pembangunan bangsa. Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang dengan hormat para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Nuradi Saputra, Sos, M.Si. SI. Beliau adalah Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kedua, kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Wijanarko Adinugroho, S.Si., M.M. Beliau adalah editor buku pada Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar Menengah Republik Indonesia. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda, M.Si. Beliau adalah Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-18 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Sobat ASN, baru saja kita saksikan bersama, kita simak bersama kenote speech yang sudah diberikan oleh Bapak Dr. Ramlianto, Spaku Kepala BPSDM Jawa Timur. tentunya dari kenote speech yang diberikan oleh beliau ini bisa menjadi acuan ya untuk mencapai tujuan dari terselenggaranya webinar seri ke-18 tahun 2025 ini. Dan yang pasti harapan kita bersama adalah acara ini dapat berjalan dengan lancar hingga selesai nanti. Amin. Amin ya rabbal alamin. Baik, sebelum saya menyapa para narasumber ya dan mempersilakan narasumber pertama untuk memberikan pemaparan materinya, saya akan menyampaikan terlebih dahulu kepada sobat ASN mengenai tata cara tanya jawab serta interaksi yang bisa dilakukan selama berjalannya acara. Yang pertama, sesi tanya jawab atau diskusi nanti akan dilakukan di akhir setiap pemaparan narasumber. Kedua, penanya harap menyebutkan identitas diri berupa nama dan juga instansinya dari mana. Lalu yang ketiga, sekali lagi kami mengingatkan untuk jangan lupa link absensi peserta yang sudah diberikan bisa diisi di aplikasi semesta Bangkok. Dan rasanya tidak perlu lama-lama lagi, langsung saja kita akan memulai sesi pertama webinar ASN Belajar seri 18 tahun 2025 hari ini dan sudah bergabung bersama dengan kita secara online narasumber kita pada hari ini. Yang pertama adalah Kepala Pusat Analis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Bapak Nurhadi Saputra, Esos, M.Si. Kami silakan. [Musik] Bapak Nur hadir. Selamat pagi. Sehat, Pak? Alhamdulillah sehat. Alhamdulillah. Bapak sudah siap pagi hari ini untuk memberikan ee materi di insyaallah sesi pertama ini. Siap ya, Pak? Ya. Baik, Sobat ASN sepertinya juga sudah tidak sabar untuk menyimak materi dari Pak Nurhah Saputra. Kalau begitu langsung saja Pak Nur Hadihadi. Waktu dan tempat kami persilakan. Baik, terima kasih ee Mbak moderator. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Yang saya hormati Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, S.PMP. Ee serta Bapak, Ibu peserta webinar ASN Belajar seri 18 dengan tema buku gerbang Ilmu Jendela Kalbu. Baik ee Bapak, Ibu, dan teman-teman dari ASN seluruh Indonesia. Tanggal 17 seperti yang disampaikan oleh Bapak Kepala BPSDM bahwa 17 Mei nanti adalah hari buku nasional yang juga merupakan ee peringatan hari jadinya Perpustakaan Nasional. ini adalah menjadi sebuah momentum ee bagi perpustakaan nasional bagaimana meningkatkan literasi di penjuru ee negeri ini. Baik, mungkin saya slide-nya saya Oh, oke. Ee langsung saja next. Ee kita akan melihat bagaimana kondisi literasi karena buku ini tidak bisa menjauh dari literasi. Kondisi literasi di Indonesia. Lanjut aja, Mas. Mengapa literasi penting? Literasi adalah pondasi semua proses belajar. Tanpa literasi dasar, siswa akan kesulitan memahami konten pelajaran. Ini menurut pendapat Lee tahun 2024, literasi adalah kemampuan berbanding lurus dengan keterampilan berpikir kritis. Jadi, semakin literasi siswa semakin baik kemampuan berpikir logis dan analitis mereka. Kemudian literasi juga penting dalam peningkatan ee yang berdampak langsung pada pencapaian akademik. Studi menunjukkan korelasi positif atas antara skor literasi dan prestasi akademik ee lintas bidang. Kemudian juga literasi memperkuat kesiapan menghadapi kompleksitas zaman. Dalam era digital, literasi membantu siswa memilah informasi dan mengambil keputusan berbasis bukti. Dan urgensi literasi sejalan dengan pencapaian SDGIS keempat, yaitu pendidikan yang berkualitas mendukung capaian target 4.1 dan 4.6 tentang standar minimum kemampuan literasi membaca dan liberasi sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian PPN BAPENAS 2024. Lanjut. Ini adalah kondisi ee literasi khususnya untuk siswa-siswi ee di Indonesia pada studi PISA Program of International Assessment Student Assessment tahun 2022. Indikator literasi membaca siswa yang ee usia 15 tahun itu mengalami penurunan dari skor 371 menjadi 359 di tahun 2022 dan ini jauh di bawah rata-rata ee negara-negara yang tergabung dalam OECD. Kemudian juga pada rapor pendidikan 2024, indikator kemampuan ee literasi murid bisa dilihat di paparan ini bahwa memang hampir sebagian besar berada dalam kategori sedang dan ada satu yaitu di kategori SMA kesetaraan mengalami ee kemampuan literasinya kurang. Lanjut. Nah, ini adalah data dari BPS. Berdasarkan data BPS tahun 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas hanya mencapai 9 ee 9,22 9 ee 22 tahun atau sekitar setara jenjang SMP dengan porsinya 10,20% yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. 30,85% yang memiliki ijazah SMA atau sederajat. 22,79% memiliki ijazah SMP, 24,72% memiliki hanya memiliki ijazah SD. Dan kemudian juga banyak dari lulusan pendidikan menengah yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan akhirnya menerima pekerjaan bergaji rendah. ini berdasarkan perhitungan Bank Dunia e dari ee Sakernas dan ee lebih dari 55% siswa tidak mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan matematika. Dan karena mereka berada dalam sistem pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi, kurikulum yang diajarkan cenderung tidak selaras dengan kebutuhan pasar saat ini atau yang dipersyaratkan elang industri. Inilah jika kita melihat ee bagaimana kondisi ee ee generasi muda bangsa ee kita ini yang kemudian merasa kesulitan untuk ee mereka bisa mendapatkan pekerjaan. Lanjut saja. Nah, ini adalah dampak literasi untuk sosial ekonomi. Kita tahu bahwa ee ketika literasi ini sangat minim, maka banyak sekali dampak ee dampak yang tidak baik yang akan kita hadapi. Kompetensi dan upah yang rendah, kemudian biaya tinggi untuk perbaikan karakter, biaya tinggi untuk peningkatan kesehatan, dan biaya tinggi untuk mengatasi kriminalitas. Hal inilah yang lazim terjadi ketika sebuah negara mengalami ee literasi yang rendah. Dan ketika kita mencapai nanti target kita adalah kita bisa mencapai literasi yang tinggi, maka kita berharap penurunan angka kemiskinan dan pengurangan kesenjangan ekonomi semakin kuat, terbuka pilihan pekerjaan dan lebih produktif, kemudian lebih banyak terlibat dalam kegiatan komunitas dan peningkatan kesejahteraan individual. Lanjut. Dalam perspektif ee kemiskinan dan kesejahteraan, literasi ini mempunyai peran penting. Karena kita lihat dalam grafik gambar ini bahwa kesejahteraan ee itu akan di diperoleh oleh seseorang ketika mereka menerima keadilan informasi. Ini dalam perspektif perpustakaan nasional. Karena kami melihat kemiskinan dan kesejahteraan yang terjadi ini bukan karena ketidakmampuan seseorang untuk ee melakukan eksplorasi terhadap kemampuan dirinya, tetapi lebih sering terjadi mereka tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk apa yang bisa mereka lakukan. Jadi kita kami melihat bahwa ketika ee seseorang kemudian bisa mendapat keadilan informasi, kemudian juga mendapat literasi yang cukup, maka kita percaya bahwa orang tersebut mampu mengembangkan ee kapasitas dirinya, mampu ee berusaha untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Jadi menurut kami literasi sangat erat bagaimana meningkatkan kesejahteraan ee setiap orang, keadaan materi seseorang dan kemampuan akses informasi melalui teknologi informasi komunikasi. Kemudian ee ketidak tersediaan informasi yang berkualitas dan kurangnya ases yang dibutuhkan, ketidakmampuan orang dalam mendapatkan informasi yang berguna akibat pendidikan, pengalaman, dan kontekstual. Inilah yang kemudian menjadi penyebab kesejahteraan ini tidak bisa ee terjadi di masyarakat kita. Lanjut. Literasi tidak sama dengan informasi. Informasi adalah sekumpulan data atau fakta yang telah diolah dan disajikan sehingga memiliki makna, nilai, dan pesan yang dapat dipahami oleh penerima. Informasi dapat berupa keterangan, pernyataan, gagasan atau tanda-tanda yang mengandung nilai. makna dan pesan baik dalam bentuk, data, fakta, maupun penjelasan. Pesan yang mempunyai arti bagi penerimanya dan mempunyai nilai nyata yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan ee saat itu atau masa yang akan datang. Setiap individu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Tidak semua individu sama informasi yang dibutuhkannya. Setiap informasi yang ada digunakan untuk memecahkan masalah, menambah wawasan, dan kebutuhan lainnya. Fenomena ini dapat dianggap sebagai pentingnya informasi bagi kehidupan ee setiap individu. Dalam kata lain, informasi sebagai komoditas utama dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan informasi merupakan tindakan individu dalam memenuhi kekurangan pengetahuan tentang informasi yang dibutuhkan. Kekurangan pengetahuan tersebut diselesaikan dengan mengakses informasi kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan kepuasan dan manfaat karena rasa ingin tahunya telah dipenuhi. Lanjut. Ini kebutuhan informasi. Kebutuhan informasi adalah kondisi yang dirasakan oleh individu bahwa pengetahuan yang dimilikinya tidak memadai untuk menangani situasi dalam konteks sosial, psikologis, dan profesional. Jadi ketika kita sebagai manusia membutuhkan informasi ada ada tiga faktor. Pertama adalah kebutuhan fisiologis yaitu bagaimana kita membutuhkan informasi untuk kebutuhan primer yang bertujuan untuk memenuhi fungsi-fungsi yang ada pada diri individu. Misalnya kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Kemudian juga kebutuhan kognitif, kebutuhan untuk memenuhi pikiran melalui pembelajaran, memperoleh ilmu dari pendidikan formal ataupun nonformal. Ini seperti yang hari ini kita lakukan. Bagaimana ee kegiatan ini mampu menambah ee informasi kepada kita menjadi sebuah pengetahuan yang melalui ee pelatihan webinar ini. Kemudian ada kebutuhan afektif, pemenuhan kebutuhan individu yang berkaitan dengan emosional. misalnya informasi yang dibutuhkan untuk memuaskan kesenangan pribadi. Lanjut. Untuk memperoleh informasi maka kita harus membaca. Situasi membaca dibagi menjadi empat menurut OECD. Situasi personal ya karena kita membaca untuk kesenangan dan untuk pengembangan diri. Kemudian situasi edukasional membaca dilakukan untuk belajar atau mencari informasi penunjang pembelajaran dan kemudian situasi publik membaca untuk memahami isu-isu sosial atau berkontribusi dalam kehidupan masyarakat dan situasi okoposional membaca menjadi bagian dari pelaksanaan tugas atau pekerjaan tertentu. Lanjut. Informasi dalam media. Ya, seperti yang kita pahami bahwa setiap dalam sejarah kehidupan manusia bahwa setiap manusia mencoba menyampaikan pesan kepada manusia lain. Ketika zaman sebelum adanya ee pesan yang bisa di dibawa, pesan-pesan itu disampaikan melalui pahatan-pahatan di dalam setiap gua yang ee purba. Dan inilah sejarah pertama kali bagaimana pesan itu di catat atau dipahat atau di di ditempatkan di sebuah media yang bisa dibawa ke mana-mana. Tahap pertama ketika buku berkembang, kita akan melihat ada yang namanya ee tablet tanah liat ee bangsa Sumerian yang ada pada tahun 3500 sebelum Masehi. di Mesopotamia. Jadi, tablet lilin bangsa Sumeria ini adalah sebuah pondasi awal cikal bakal pertama bagaimana pesan yang dituliskan di dalam sebuah ee tablet tanah liat yang merekam sejarah dan ee hukum dan kemudian juga tata cara hidup ee dari bangsa Sumeria. Bangsa Sumeria diyakini sebagai bangsa pertama yang menggunakan aksara paku atau simbol logo fonetik, alfabet konsonan, dan suku kata yang diukir ke dalam tablet tanah liat yang dibiarkan mengering atau dibakar dalam tungku untuk membuatnya bertahan selama mudir. Baik, tablet ee tanah liat bangsa Sumeria ini kemudian berganti. Next. Selanjut beralih ee kemudian menggunakan metode gulungan papirus. Papirus paling awal yang masih ada yang berisi kata-kata tertulis di sekitar 2.400 sebelum Masehi. ee berasal dari Mesir. Mesir menggunakan bahan ini selama ratusan tahun sebelum Yunani dan Romawi akhirnya mengadopsi teknik ini. Gulungan-gulungan ini digulung dan sering dimasukkan ke dalam tabung kayu untuk melindunginya. Dan buku-buku ini diproduksi dengan merekatkan sejumlah gulungan hingga panjang 10 m atau dalam beberapa kasus bahkan lebih panjang ee seperti sejarah ee raja Mesir Ramses 3 yang panjangnya sampai dengan 40 m. Lanjut. Kemudian ee tadi setelah adanya papirus maka dikenal namanya perkamen. Perkamen itu ee ada sekitar 500 sampai dengan 200 sebelum masehi. Perkamen adalah bahan tipis yang terbuat dari kulit anak sapi, kulit domba, atau bahkan kulit kambing. Perkamen muncul akibat kelangkaan terhadap papirus. Harga papirus naik karena tidak seimbangnya antara kebutuhan papirus dengan ketersediaan lahan pertanian. Jadi kalau ee sebelumnya itu adalah pohon ee papirus itu digunakan dari ee sejenis padi-padian yang tumbuh kemudian diolah menjadi sebuah ee media untuk menuliskan pesan. Lanjut. Setelah perkamen, maka teknik penulisan dikenal namanya dengan tablet lilin yang ditemukan 200 ee sebelum tahun 200 sebelum Masehi. Dikembangkan oleh orang Romawi dan Yunani. Tablet ini pada dasarnya adalah balok kayu dengan dilapisi lilin yang memungkinkannya ditulis dengan menggunakan stylus dan kemudian dihapus untuk digunakan kembali. Tablet lilin ini seringki disatukan dengan salah satu ujungnya ee dengan tali seperti cincin untuk membentuk e kodek yang yang bahasa Latin aslinya tuh berarti kayu tapi kemudian dikenal sebagai kumpulan halaman yang dijilid. Jadi inilah sejarah ee pertama kali media tulisan yang kemudian dijilid. Walaupun sebenarnya dengan kata kodek itu aslinya adalah kayu. Kodek menjadi sangat populer di seluruh Eropa menggantikan gulungan yang sebelumnya. Ee ketika zaman Papirus kemudian zaman perkamen itu semua menggunakan gulungan, maka di ketika dimulainya adanya e era tablet lilin ini beralih menjadi ee penjilitan. Lanjut kertas. Ee kemudian era kertas. Jadi setelah ee itu kita akan memasuki fase era kertas yaitu tahun 105 Masehi. Cirun seorang Kasim istana menemukan pembuatan kertas untuk menulis dan menggunakan kombinasi buah murbei, kulit kayu, rami, kain tua, dan bahkan menggunakan jari ikan untuk membuat bubur kertas. 868 Masehi. Buku pertama dicetak di atas kertas di Cina menggunakan balok kayu yang memiliki karakter yang diukir dalam relif terbalik. Tinta kemudian ditempatkan di atas balok kayu untuk membuat cetakan di atas kertas. Lanjut. Ini adalah ee kitab Gutenberg. Kitab Gutenberg dianggap sebagai sebuah revolusi bagaimana buku ini diciptakan. tahun 1455 buku besar pertama yang dicetak menggunakan mesin cetak Gutenberg dan menandai dimulainya revolusi Gutenberg. Mungkin selama ini kita tahu bahwa eh penerbitan buku pertama adalah penerbitan yang dilakukan oleh eh Gutenberg dan inilah sebenarnya Gutenberg hanya menerbitkan Alkitab eh 42 baris adalah versi terjemahan kitab suci dalam bahasa Latin yang dikerjakan oleh Yohannes Gutenberg. ada sekitar 180 salinan aktivitas Gutenberg yang diproduksi dengan 135 di antaranya dibuat pada kertas dan 45 pada velum atau ee kulit hewan. Lanjut. Kemudian ee di tahun ketika komputer sudah ee mulai mer ee mulai ada, maka pertama kali buku yang ee dituang dalam apa yang terekam dalam compact disk itu adalah The New Groller Electronic Encyclopedia yang diterbitkan kan oleh penerbit ee terbesar di Amerika Serikat. Dan sejak itu ee buku ini ee menjadi buku yang paling banyak dicari ee karena merupakan buku pertama yang diterbitkan secara digital dalam bentuk compact dis. Tapi pada kelanjutannya komplek di sini tidak tidak lagi menjadi sebuah ee buku yang bisa dibaca, tetapi menjadi sebuah buku audio. Buku audio. Buku audio adalah buku yang ee di yang didengarkan oleh ee oleh kita ketika kita ketika kita akan membaca buku, kita tidak lagi membaca tapi mendengarkan audiobook yang ada di dalam compact dising. Lanjut. Kemudian di tahun eh 190 sebenarnya ebook e sudah diproduksi e dalam proyek Genberg. yaitu upaya mendigitalkan dan mengarsifkan karya budaya ee yang kategorinya adalah public domain. Namun baru pergantian abad 21 format ini tersedia secara umum dan diterima sebagai format penerbitan. Novel karya Stephen King berjudul Riding The Ballet tahun 2000 menjadi buku elektronik yang pertama dipasarkan secara massal. Dalam waktu 24 jam pertama rilis terjual lebih dari 400.000 ribu eksemplar yang merusak server penerbit dan menyebabkan penggemar harus menunggu berjam-jam sebelum mereka dapat mengunduh salinannya. Lanjut. Nah, ini kemudian media penyampaian pesan atau tulisan ini kemudian beralih ee dengan adanya Kindle yang yang dirilis oleh Amazon ee merupakan sebuah perangkat pembaca ebook pertama yang dirilis pada tanggal 19 November 2007. Kindle terjual habis dalam waktu 5,5 jam dan tetap kehabisan stok hingga akhir April 2008. Hindle generasi pertama ini memiliki layar 6 inch dengan tampilan skala abu-abu 4 tingkat dan menyimpan 250 MB yang cukup untuk menyimpan 200 judul tanpa ilustrasi dan memiliki slot ee kartu memori SD card. Lanjut. Ya, ini ee buku mempunyai peran penting dalam penyebaran ilmu pengetahuan karena menjadi media transformasi dan penyebar luasan informasi yang dapat menembus batas geografis. Buku juga melestarikan pengetahuan dan budaya, menjadi sumber referensi dan mendukung perkembangan intelektual serta emosional. Inilah yang kemudian ee menjadikan perpustakaan sebagai sebuah institusi yang melestarikan ilmu pengetahuan di mana buku-buku disimpan kemudian dirawat ee kemudian diolah dan kemudian dialiidiakan sehingga bisa di gunakan oleh generasi yang akan datang. perpustakaan untuk saat ini dari sisi pemerintahan khususnya dalam Undang-Undang ee 23 tahun 2014, urusan perpustakaan merupakan urusan wajib non pelayanan dasar yaitu urusan yang wajib dilaksanakan oleh setiap pemerintah daerah baik di level provinsi dan kabupaten kota ini menjadi sebuah ee sebuah kewajiban bagi pemerintah daerah untuk menyelenggarakan perpustakaan menyelenggarakan perpustakaan, merawat semua khanah budaya bangsa sehingga bangsa kita tetap terjaga baik itu ilmu pengetahuan dan kebudayaannya dan bisa di ee turunkan kepada anak cucu kita. Baik, mungkin itu saja menutup ee paparan saya. Saya membaca quote. Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya menurut Josep Brki. Mungkin itu saja eh mungkin eh dilanjutkan dengan tanya jawab. Terima kasih. Wabillahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Menarik sekali Pak Nuradi Saputra pemaparan materinya saya jadi banyak belajar ternyata sejarahnya terbuat terbuatnya buku itu begitu ya sampai akhirnya di zaman modern ini sudah mulai banyak yang ee digital ya Pak ya gitu. Nah, untuk sobat ASN yang sudah menyimak pemaparan materi pertama dari Bapak Nurhari Saputra, silakan ee bisa rais hand ataupun kalau memungkinkan tidak memungkinkan untuk on cam ya bisa chat saja di kolom chat nanti akan saya bantu bacakan. Apakah sudah ada pertanyaan dari sobat ASN yang hadir pada pagi hari ini? Kita coba cek. Oke, sekali lagi untuk sobat ASN yang ingin bertanya kepada narasumber pertama kita pada pagi hari ini. Oke, baik. Sudah ada ternyata sepertinya. Selamat pagi Bapak Joko. Iya, belum di-unmute seetulnya. Mohon waktu, Bapak. Oke, sudah ada satu penanya pada pagi hari ini, Bapak Joko Kusma Renoto NH dari Singosari Malang. Baik, terima kasih. Silakan Bapak. Terima kasih. Selamat pagi. Semangat pagi semuanya. Terima kasih pada materi yang telah disampaikan oleh Pakeri tadi. Saya mengikuti paparan dari ee Bapak tadi. Namun izin saya ingin bertanya, kenapa proses ee yang disebut dengan suhuf-suhuf di zaman Nabi Ibrahim itu jauh sebelum Masehi. Kemudian zaman ee abad ke600-an di zaman pembukuan Al-Qur'an itu sampai ada mushaf Utsmani itu kan juga merupakan pencaratan. Ee tadi sayaat Bapak belum mencantum itu, Pak. Padahal itu fakta sejarah yang sampai sekarang masih bisa kita lihat otentikasinya di zaman itu sudah ada dilakukan proses itu. Itu yang pertama. Mengapa itu disampaikan? Yang kedua berkaitan dengan buku yang ada ini. Kebetulan saya dulu pernah jadi ee petugas ya perpustakaan gitu, Pak. Ya, lama sudah perpustakaan. Memang ee minat baca masyarakat umumnya agensi di saat ini sangat kurang di dalam membaca buku tetapi mereka sangat tinggi di dalam membaca medsos seperti WhatsApp dan lain sebagainya. itu bagaimana menyikapi perubahan minat baca Genzi di mana menurunnya membaca buku tapi meningkatnya membaca mereka di berbagai medsos yang ada. Apakah memang ini satu proses perbaikan atau kemunduran? Ya, Pak. Demikian, Pak. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Saya langsung jawab ee moderator. Silakan Bapak. Silakan Bapak. Langsung dijawab saja dulu. Baik, Pak I. Baik, Pak Joko. Tadi mungkin Pak Joko sampaikan ee ketika zuhub-zuhuf ini tidak masuk ke dalam ee paparan saya. Memang, Pak, apa yang saya paparkan ini hanya ee momentum ketika setiap memang ee data yang dihasilkan oleh peneliti yang sebelumnya. Jadi memang tadi ee kalau ee diperkirakan Pak ketika zaman Nabi Ibrahim itu mungkin media yang dipakai adalah ee media papirus. Tapi ini juga ee belum kami belum bisa memastikan itu, Pak. Tetapi memang kalau mengingat dengan ee kurun waktunya, maka di zaman Nabi Ibrahim itu kemungkinan besar media yang dipakai adalah papirus. Dan mohon maaf mungkin ee sampai saat ini belum ada pembuktian akademis terkait dengan ee zuhub-zuhub tersebut gitu, Pak. Jadi memang tadi ketika kita bicara ada tablet tanah liat, kemudian ada papirus, kemudian ada lanjut lagi Perkamen, kemudian berlanjut-berlanjut lagi itu adalah ee media-media yang pertama kali ee digunakan atau ditemukan ya berdasarkan yang kemudian juga tadi yang Bapak sampaikan bagaimana ketika sekarang tren ee ee yang beralih dari yang tadinya membaca secara baik baik. Eh, untuk pertanyaan dari Pak Joko mungkin kita bisa hold dulu ya karena ada kendala teknis dari tempat Bapak Nur Hadi Saputra mungkin. Oke. Baik, sudah sepertinya. Baik, Bapak Nurhah Hadi bisa. Iya, mohon maaf saya. Halo. Iya, Pak. Iya, mohon maaf saya terlempar tadi kayaknya sinyalnya kurang bagus. Siap, Bapak. Silakan dilanjutkan. Baik. E tadi melanjutkan ee ee Pak Joko sekarang ini memang peralihan trennya dari membaca konvensional kemudian ke arah digital. Ini hampir sebagian besar Genzi yang mungkin kita temui bahwa mereka lebih nyaman terhadap perangkat digital untuk membaca informasi, membaca ee pesan-pesan yang disampaikan. Pada prinsipnya kalau dari kami ee itu tidak masalah, Pak. Karena memang ee perbedaan generasi ini juga membuat ada perbedaan metode ee dan setiap orang saya yakin juga akan berbeda kenyamanannya. Apakah itu membaca secara ee cetak yaitu buku atau membaca ee secara digital. Tapi intinya silakan ee Bapak, Ibu, dan siapapun itu ketika membaca dan itu memang bisa menambah pengetahuan kepada Bapak, Ibu. Untuk perpustakaan sendiri, kami juga sudah menyediakan layanan yang ee berbentuk digital dan tetap mempertahankan layanan yang konvensional. Jadi silakan saja mana ee yang lebih nyamannya. Tapi perlu dipahami juga ketika kita membaca digital ini yang sering kami temukan bahwa ee hasil survei yang kami lakukan ternyata ada titik jenuh. ada titik jenuh baik itu kelelahan secara fisik misalnya mata dan segala macam ketika membaca ee secara digital. Inilah yang seringki ee ketika membaca digital itu ee kita tidak memahami secara penuh pesan atau informasi yang disampaikan. Beda dengan buku. Tapi kembali lagi yaitu kembali terhadap ee ee orang tersebut lebih nyamannya ee menggunakan media apa ee silakan tapi yang penting teruslah membaca dan teruslah menambah informasi dan pengetahuan untuk menambah kemampuan kompetensi diri sendiri. Mungkin itu Pak Joko, Pak. tadi ee Bapak Musinggung di dalam proses penulisan literasi Al-Qur'an dari yang awalnya dari kulit tulang-tulang disatukan dalam satu mushaf di zaman Khalifah Utsman bin Affan itu tadi adalah satu karya fenomenal yang luar biasa yang utentifikasinya sampai dengan sekarang ini masih terjaga, Pak. Jadi kalau yang lain, teori-teori yang lain mungkin bisa berubah, tetapi yang ditulis di kitab Al-Qur'an itu hingga akhir zaman tidak akan berubah. Itu mohon kiranya nanti bisa disampaikan sebagai satu proses yang luar biasa peralian dari ee kulit-kulit unta, tulang-tulang, mungkin pohon dan sebagainya ke dalam satu ee satu mushaf gitu. Itu aja. Terima kasih. Iya. Baik, Pak. Karena memang itu, Pak. Jadi musaf itu ketika menuliskan di kulit ee pada kenyataannya kulit itu sudah digunakan sebagai media tulis jauh sebelum Al-Qur'an ada. Walaupun pada kita ketika kita melihat ee fase penulisannya atau ee ini yang tidak apa namanya penulisan Al-Qur'an itu merupakan sebuah ee sejarah besar bagaimana kemudian peralihan-peralihan ini sampai kemudian ke media yang modern ini tidak ada perubahan secara isi. Tetapi secara penggunaan material atau media penulisan ini ee perkamen dan kemudian ee apa namanya ee papirus itu sudah digunakan sebelum adanya Al-Qur'an, Pak. Iya. Karena tadi saya lihat ada Papirus menggunakan ee tanah liat, Pak. Ya. Tapi ada juga menggunakan batu, Pak. Batuis batu tadi. Iya, betul. Oke, Pak. Terima kasih. Terima kasih informasinya. Semangat pagi. Baik, Pak. Terima kasih Bapak Joko. Luar biasa insight-nya. Terima kasih. Baik, untuk penanya selanjutnya apakah sudah ada? Kita akan buka untuk dua penanya pada sesi pertama pagi hari ini. Silakan apakah ada yang sudah rais hand atau mungkin mengetikkan chat di kolom chat nanti ee akan saya bantu untuk bacakan. Oke, penanya kedua di materi pertama yang sudah disampaikan oleh Bapak Nurhah Saputra, Sos, M.Si. selaku Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca. Baik. Oke, terima kasih. Sepertinya tidak ada lagi yang rais hand. Pak Nurhadi Saputra terima kasih banyak sudah berkenan untuk memaparkan materi yang pertama pada pagi hari ini, Bapak. Apakah habis ini Bapak akan ada kegiatan selanjutnya? Iya. Iya. Mis ini kebetulan kami sedang mempersiapkan ee beberapa rangkaian acara agenda acara menyambut hari buku dan kemudian hari juga HUD ee Perpustakaan Nasional. Insyaallah tanggal 7, 16 Mei besok ini merupakan hari puncak. Jadi karena tanggal 17 Meiya itu hari Minggu, hari Sabtu ya, hari Sabtu. Jadi kita majukan besok untuk ee beberapa agenda kegiatan walaupun tetap tanggal 17-nya tetap ada acara di ee gedung utama kami di Medan Merdeka Selatan. Baik. Oh, Pak, ternyata masih ada satu pertanyaan. Masih bisa, Pak, ya, untuk dijawab, ya, ya. Oke. Baik, silakan untuk penanya selanjutnya. Selamat pagi Bapak Fathur Rahman dari Jember ya, Pak ya. Ya, silakan Bapak warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatumsalam warahmatullah. Makasih Pak Nur ee paparannya keadi ini. Saya Fadhurahman dari Pustakawan dari Dinas Perpustakaan Jember. Oh, baikur, Pak. Baik, Bapak. Enggih. Saya sebetulnya sangat miris mungkin dengan kondisi apa minat baca masyarakat ya. Tapi kalau kita ambil pelajarannya, saya mengambil dari akar masalahnya, Pak. Baik. Contohnya kalau dipus menjadi contoh Bapak dan Ibu guru. Selama ini mungkin ee Bapak dan Ibu guru bukan menjadi penikmat setia dari sebuah buku dari jendela ilmu itu. mungkin juga di ee perpustakaan khusus di kantor, di instansi ya kan itu minimal ada rak buku ataupun perpustakaan mini di setiap atau perpustakaan khusus di setiap lembaga dan ee itu tidak diberikan contoh oleh para pengambil kebijakan, para pejabat di sana tidak membiasakan diri. Saya katakan pembiasaan, Pak. Nah, mungkinkah ada strategi ataupun pemantik ee inovasi bagaimana Perpustakaan Nasional memancing inovasi yang lebih radikal, Pak? Supaya para para yang harusnya menjadi teladan itu apa namanya? Membiasakan. Jadi pola pembiasaan itu menurut kami lebih penting daripada apa namanya motivasi. Sekadar motivasi. Jadi pembiasaan itu saya belajar dari dulu turunnya perintah iqra, perintah membaca. Baginda Nabi pada waktu turunnya Iqra itu adalah langsung diperintah, Pak. Jadi mungkin selama ini harus ada pola pembiasaan selama ini untuk para pengambil kebijakan dan yang harusnya menjadi teladan itu menj apa membiasakan diri akhirnya dicontoh oleh anak didiknya, oleh karyawan di bawahnya ataupun oleh peserta didik yang menjadi ee ee binaannya. Mungkin Perpusnas ada apa pemantik inovasi. bagaimana strategi supaya inovasi pembiasaan ini muncul. Matur nuwun. Terima kasih. Cukup itu saja, Pak. Iya. Baik, Pak Faturrahman. Mungkin ee sedikit menanggapi memang, Pak kami di Perpustakaan Nasional juga ada batasan-batasan di mana kami bisa memunculkan atau meregulasi atau yang bisa diadaptasi langsung kepada misalnya pemerintah daerah. Kalau tadi Bapak sampaikan bagaimana guru bisa mencontohkan kepada siswa-siswinya, ya kami tidak bisa ee sifatnya instruksi, tapi kami akan menggandeng ee dengan Kemendik ee Kemendikbud. Jadi beberapa program kegiatan dalam peningkatan literasi yang ee di sekolah sudah kita lakukan dengan apa bersama dengan Kemendikbud. termasuk juga bagaimana memenuhi kebutuhan buku ee bagi siswa ee sekolah dan kemudian ee anak-anak yang ada di luar yang di jadi antara Perpustakaan Nasional dengan Kemendikbud tahun 2024 kemarin sudah menyalurkan sekitar 10 juta buku. Kalau untuk Perpustakaan Nasional sendiri ada 10 juta buku yang kita berikan kepada perpustakaan desa di seluruh Indonesia. setiap desa itu akan mendapatkan 1000 buku dan ini memang ee kita lakukan bagaimana mendekatkan buku kepada masyarakat. Nah, ini juga kita berikan pelatihan kepada ee pengelola perpustakaan desanya, bagaimana mereka bisa mengajak anak-anak di sekitarnya untuk kemudian berkunjung dan memanfaatkan buku yang kita berikan. sama dengan ee kami di Kemendikbud juga melakukan seperti itu, tetapi ee mereka memberikan atau menyalurkan bantuan buku ini kepada sekolah. Nah, ini memang kami inginnya apa yang sudah kami lakukan di pusat ee kemudian ini ditindaklanjuti oleh teman-teman di daerah. Bagaimana mungkin Bapak Pak Faturahman dari Dinas Perpustakaan ini juga mengawal bahwa ada berapa banyak desa di Jember yang kemudian menerima bantuan tersebut dan bagaimana pemanfaatannya, bagaimana kemudian mengadvokasi pengelola perpustakaannya untuk ee bisa memaksimalkan pemanfaatan dari koleksi ini, Pak. Jujur, Pak ee kami di pusat memang tangan kami tidak terlalu luas sehingga kami tidak bisa kemudian memantau sampai di unit-unit terkecilnya. Kebijakan yang kami lakukan adalah kebijakan yang bisa ber elaborasi dengan pemerintah baik itu di level provinsi dan kabupaten kota. Dan kami berharap sangat berharap sekali dengan ee teman-teman di Dinas Perpustakaan bagaimana juga ini menjalankan peran dan kewenangannya. Karena kita tahu bahwa salah satu penilaian indikator kinerja kunci pemerintah daerah, keberhasilan ee urusan perpustakaan itu punya poin dua, bagaimana peningkatan literasi masyarakat, indeks peningkatan pembangunan literasi masyarakat, dan kemudian tingkat kegemaran membaca masyarakat. Silakan ee dari teman-teman di Dinas Perpustakaan menterjemahkan ini sehingga kinerja pemerintahnya pemerintah daerahnya menjadi baik. Ketika indeks literasi, indeks pembangunan literasinya tinggi, kemudian tingkat kegemaran membacanya tinggi, otomatis juga penilaian terhadap kinerja pemerintah daerahnya juga tinggi. Kami berharap besar Pak Faturrahman dan kemudian ee rekan-rekan di Dinas Perpustakaan di daerah ini ikut andil. Jadi ee melakukan ee pengembangan dan pembinaan perpustakaan dan pengembangan ee kegemaran membaca di ee wilayah Bapak Ibu sekalian. Mungkin itu Pak Faturrahman. Baik, terima kasih Pak Fak Pak Fthurahman ya Pak ya Bapak terima kasih. Oke. Baik, sudah ada dua penanya tadi dan sudah dijawab semua oleh Bapak Nurhadi Saputra. Bapak sekali lagi kami ucapkan terima kasih karena sudah berkenan untuk mengisi materi ya menjadi pemateri pertama pada pagi hari ini di ASN Belajar seri 18 tahun 2025 ini. Dan ee kami doakan semoga besok sampai lusa acaranya bisa berjalan lancar ya, Pak ya, untuk hari buku nasionalnya. Amin. Amin. Terima kasih. Baik. Baik. Terima kasih sekali lagi Bapak Nurhari Saputra. Sampai bertemu lagi. Sehat selalu Bapak. Sehat. Sama-sama. Sehat-sehat selalu Bapak Ibu semua. Baik, itu tadi dia pemateri pertama kita pada pagi hari ini ya, Kepala Pusat Analis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca yaitu Bapak Nurhadi Saputra, Esos, M.Si. Dan selanjutnya ee tanpa berlama-lama lagi kita akan masuk ke segmen kedua. Di pemateri kedua pada pagi hari ini akan ada Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yaitu dengan Prof. untuk Ramah. Tapi sebelumnya kita akan menyaksikan terlebih dahulu untuk video yang satu ini. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] He. [Musik] Baik, Sobat ASN yang berada di seluruh Indonesia yang sekarang sudah bergabung di online bersama kita di Zoom Meeting maupun di YouTube channel. Eh, untuk pemateri kedua pada hari ini akan ada Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda, M.Si. Yaitu selaku Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Erlangga. [Musik] Selamat pagi, Bu Rahma, ya. Selamat pagi, Mbak. Luar biasa sekali pagi hari ini saya bisa bertemu dengan Bu Rahma, ya, Bu. Baik, sama-sama. Baik. E kalau saya baca kurikulum VT-nya, Bu Rahma ini beberapa kali mengambil ee apa ini Bu namanya? Akademik ya. Mengambil akademik di beberapa jurusan ya. Ada S3 Pengembangan SDM sekolah pasca Sarjana UNER itu sampai sekarang ya Bu ya masih dijalani. Betul. Sampai sekarang dua kali S kesempatan mengajar. Iya. Siap. dan juga Ibu ini menulis beberapa buku. Betul ya, Bu ya? Iya. Luar biasa sekali. Baik, pada pagi hari ini materi yang akan dibawakan Bu Rahma yaitu buku membaca dan ASN. Iya. Baik, betul. Baik, Ibu Rahma langsung saja kami silakan untuk pemaparan materi kedua pada pagi hari ini. I. Baik, terima kasih. Ee yang saya hormati Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, S.MP. Ee yang saya hormati pula para narasumber Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas Republik Indonesia, Bapak Nuradi Saputra, Esos, M.Si. si demikian juga yang saya hormati ee editor buku pusat Perbukuan Kemendikdasmen Republik Indonesia Bapak eh Wijanaro, SSI, M.M. serta ee Bapak Ibu ASN yang telah hadir melalui Zoom pada hari ini. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera ee untuk kita semua. Eh, Bapak, Ibu, seperti yang telah disampaikan oleh Gote Speaker yaitu Kepala BBSDM Jawa Timur Bapak Dr. Ramli. Ee di era digital seperti saat ini buku dan aktivitas ee membaca mengalami perubahan dan transformasi yang luar biasa. Buku cetak bisa diubah menjadi e-book dan aktivitas membaca ee tidak lagi sebatas membaca buku cetak ya, tetapi kita bisa membaca ebook ya, bahkan membaca secara online melalui platform-platform digital ya, yang disediakan di internet ya. Perubahan-perubahan inilah yang berdampak pada sifat membaca dan bahkan fungsi buku cetak itu sendiri. membaca sudah tidak lagi sebagai aktivitas yang penuh makna mendalam pemahaman tidak secara ee mendalam pula seperti yang kita lakukan saat membaca buku cetak tentunya. Tetapi membaca saat ini lebih pada aktivitas yang ee disediakan oleh media yang terus-menerus berganti medianya. Jadi membaca bukan aktivitas yang dilakukan dengan fokus penuh gitu ya. membaca bukan aktivitas yang ee dibutuhkan waktu lama, tetapi bisa dilakukan dalam waktu yang relatif cepat ya sekilas dan dengan pemahaman yang sepotong-potong. Bahkan kita mungkin jika membaca ebook atau membaca online dari platform digital melalui internet, saya yakin pasti kita membaca secara scanning. Demikian juga para siswa ya, mahasiswa itu jika membaca digital sudah tidak lagi secara mendalam ya membaca sekilas-sekilas ya sepotong-potong sehingga pemahamannya tidak utuh. Nah, inilah yang saat ini menjadi persoalan di negara maju seperti yang Bapak Ibu baca di berbagai media ya. seperti yang dilakukan oleh pemerintah Swedia di antaranya itu ee Swedia memutuskan untuk mengubah sistem pendidikannya dengan kembali menggunakan buku cetak. Kenapa? Karena alasannya penggunaan media digital ya dengan melalui gawai yang dilakukan oleh anak-anak atau siswa justru dapat mengganggu fokus pada pelajaran ya. Nah, ini yang ee juga ditiru oleh negara-negara lain seperti Jerman ya ee Finlandia dan beberapa negara maju lainnya. Ini sudah mengubah mulai mengubah ee pendidikan ee yang berbasis digital di mana anak-anak itu ee bisa menggunakan gawai komputer untuk mencari informasi ya demi tugas mereka. tetapi ee pemerintah ee seperti Swedia, Jerman itu sudah mulai tidak lagi percaya gitu ya pada ee media digital karena dipandang ee penggunaan perangkat digital ini ee bisa mengubah atau meminimalisir pemahaman siswa pada apa yang dibacanya. Ya, dulu seperti Swedia itu optimis bahwa penggunaan perangkat digital bisa mengubah ya ee apa pendidikan karena media digital mudah diakses dan mempersiapkan para siswa menuju tuntutan digital pada abad 21. Namun ee ee apa yang dilakukan sejak tahun 2009 ya akhirnya ee negara ini memutuskan untuk mengganti ya ee apa buku-buku ebook ya dan perangkat digital dan diganti dengan ee ebook cetak dan bisa dipahami ee Swedia sekarang ini ee mempersiap siapkan sekitar 1,7 triliun ya untuk ee membeli buku-buku cetak yang siap dikoleksi oleh perpustakaan dan siap untuk dibaca siswa. Nah, kenapa ee negara-negara tersebut beralih ke buku cetak ya? Karena salah satunya adalah eh temuan PISA Program for International Student Assessment itu mengungkap bahwa ada korelasi erat antara penurunan pengetahuan siswa Swedia dan beberapa negara tersebut yang saya sebutkan dan penggunaan ponsel. Jadi sepertinya penggunaan ponsel ya, gadget itu malah untuk membaca, mencari informasi malah justru menurunkan pengetahuan para siswa. Nah, kalau dikaitkan dengan literasi tentunya ee sudah barang tentu karena ee penurunan pengetahuan terjadi maka literasi mereka juga akan menurun. Nah, ee perubahan-perubahan inilah yang menunjukkan pada kita bahwa buku cetak masih menjadi andalan untuk membangun masyarakat berpengetahuan. Ya, kenapa ya? Karena dengan buku cetak, orang bisa membaca secara mendalam ya, buku bisa dibawa ke mana-mana dan tentunya ee sudah pasti kita akan membaca mulai dari awal sampai akhir dan sudah barang tentu pemahaman kita akan lebih mendalam jika dibandingkan kalau kita membaca buku digital yang siap kita cari bagian-bagian yang kita butuhkan dan bagian itulah yang hanya kita ee dalami. Itu sebabnya kenapa ee pemerintah di negara-negara maju saat ini ee mulai memutuskan untuk mengubah sistem pendidikannya dan kembali menggunakan ee buku cetak. Ee next. Nah, kemudian ee masalahnya kita semua ini sebetulnya sepakat tentang manfaat buku dan membaca. Namun mengapa masih banyak klaim-klaim minat baca dan kegemaran membaca buku masyarakat di Indonesia masih rendah. ya ee kita bisa menyaksikan atau membaca mengikuti banyak ee media bahwa Indonesia itu di urutan kesekian dari bawah gitu ya dalam hal ee literasi gitu. Bahkan juga diakui minat baca dan kegemaran membaca masyarakat Indonesia masih kalah jauh daripada negara tetangga kita gitu ya. Nah, penyebabnya apa Bapak Ibu? sebetulnya banyak. Namun ada tiga hal penyebab. Ee mohon dibantu untuk ee selanjutnya ee screen selanjutnya ya. Penyebabnya ada tiga. Yang pertama tentu saja seperti yang saya katakan tadi bahwa perkembangan teknologi digital yang sangat luar biasa saat ini itu telah ee memupus minat dan kegemaran membaca kita ya. Terutama ketika kita semua ya tidak terkecuali orang dewasa ya. Anak-anak, orang dewasa tentu senang bermain game bahkan bermedia sosial. Ya, ini yang membuat perhatian kita atau minat kita membaca buku ini mulai terkikis. ya mungkin ee membaca buku dipandang ee bukan kegiatan yang menyenangkan dibanding kita bermain games atau bermedia sosial gitu ya, melakukan interaksi ee di di banyak WA grup misalnya begitu. Nah, itu yang pertama yang menjadi penyebab. Yang kedua ee yang menjadi penyebab adalah minat dan kegemaran membaca buku itu cenderung di Indonesia dibangun secara instan. Jadi, Bapak, Ibu, kita semua bisa menyaksikan ya ee sebenarnya pemerintah itu sudah ee mulai atau bahkan sudah sejak lama ee mensosialisasikan dan mengharapkan implementasi peningkatan literasi di seluruh bidang terutama di banyak sekolah ya. Tetapi saya pikir ee itu merupakan upaya-upaya yang cenderung instan dilakukan. Kenapa? Karena ketika mereka ee diminta untuk membaca di banyak sekolah sebetulnya itu dilakukan, mohon maaf menurut saya instan ya. bahkan ee dengan sebuah ee perintah gitu ya, dengan ada tugas tanpa dilandasi dengan fondasi ketika mereka masih kecil. Nah, ini hal yang paling penting ketika kita ee mau menumbuhkan minat dan kegemaran membaca buku. Sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah pondasi ee minat dan kegemaran buku membaca buku. ketika anak masih kecil. Dengan demikian, ketika program literasi dicanangkan, maka program itu tentunya ee tidak sekedar dijalankan secara formalitas oleh anak-anak kita gitu ya. Mereka pasti dengan fondasi yang kuat, program membaca 15 menit misalnya akan dilakukan dengan penuh kesenangan dan kenikmatan. Itu penyebab yang kedua. Penyebab yang ketiga, buku dan membaca di masyarakat kita ya, terutama dalam sistem pendidikan kita cenderung ditempatkan dalam konteks pendidikan atau akademis. Jadi tidak heran kalau konstruksi masyarakat ketika memaknai buku dan membaca ini selalu dianalogikan dengan oh tugas. tugas sekolah ini adalah tugas dari guru. Begitu. Oleh karena itu, ketika kita ingin menanamkan kegemaran membaca atau kegemaran pada buku perlu ditempatkan dalam konteks yang bukan sekedar menjalankan kewajiban pendidikan atau tugas belajar, tetapi ditempatkan dalam konteks yang membaca buku itu menyenangkan. Ya. Ee Bapak Ibu ee mohon izin pertanyaan kemudian adalah apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan minat dan kegemaran membaca para ASN gitu kira-kira. Nah, mohon izin ee saya menawarkan sesuai bidang ee ilmu saya yaitu ilmu sosial ee saya menawarkan perlunya dikembangkan pendekatan yang berbasis AirSat. Airsat ini ee kalau bisa diartikan itu adalah nilai pakai kedua. Nah, untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi wacana baru tentang bagaimana mengembangkan minat dan kegemaran membaca buku, maka kita perlu yang namanya nilai pakai kedua atau airsats. Nah, artinya nilai pakai kedua itu adalah sebuah nilai yang di luar cara atau strategi mainstream yang cenderung selama ini dilakukan dan cenderung menurut saya tidak optimal gitu kira-kira. Artinya begini ee ketika program banyak dilakukan, kenapa masih banyak klaim klaim minat dan kegemaran membaca ini masih rendah? Oleh karena itu saya menawarkan bahwa untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi butuh wacana baru tentang bagaimana mengembangkan minat dan kegemaran membaca buku di luar cara-cara mainstream yang selama ini dipandang oleh masyarakat ya lebih akademis atau lebih formal begitu. Nah, ee lanjut Bapak, Ibu. Izinkan saya menyampaikan tentang AirSat. AirStat ini sebenarnya konsep yang dikemukakan oleh Theodor Adurno yang merupakan konsep tentang keberhasilan industri budaya dan upaya komodifikasi budaya untuk mendongkrak peningkatan aktivitas konsumsi produk dalam masyarakat modern. Bapak, Ibu, Theodor Adorno dalam ee ilmu sosial itu dikenal sebagai pencetus masa Frankfurt. Nah, Theodor Adorno ini memang sebenarnya mengkritik bagaimana cara-cara kapitalis ini memanipulasi konsumen untuk tetap ya mengkonsumsi produk-produk budaya yang disediakan atau ditawarkan oleh industri budaya kapitalisme. Nah, konsep Airsart itu merujuk pada pengertian nilai pakai kedua pada produk dalam masyarakat modern yang didominasi oleh aktivitas konsumsi. Jadi, Bapak, Ibu ee kita sudah tahu semua. Saya kira ee kalau kita atau seseorang membeli tas gitu ya, nilai pakai pertama adalah dikonstruksi oleh orang bahwa tas ini ee memiliki fungsi sebagai wadah barang-barang kita. Itu fungsi pertama. Tetapi apa yang dilakukan oleh industri budaya? Kata Theodor Adorno, sebuah tas itu bisa dirancang mempunyai nilai pakai kedua. Dan justru ketika dirancang memiliki nilai pakai kedua, maka orang akan membeli tas sekalipun harganya miliaran atau ratusan juta gitu ya. Karena apa? Karena tas yang dirancang dengan branded tertentu ini memberikan tawaran bukan sekedar memberikan fungsi pertama tetapi fungsi kedua yaitu simbol status sosial. Oleh karena itu, Bapak Ibu bisa saksikan di YouTube saya kira ee bagaimana ketika Luna Maya menikah gitu ya, itu banyak artis-artis ya menggunakan tas. Saya kira tasnya itu tidak ratusan ribu, Bapak, Ibu. Bukan saja puluhan juta bahkan ratusan juta. Kalau kita orang normal itu berpikir kenapa pas puluhan juta, ratusan juta dibeli. Kita saja bisa beli sepeda motor berapa puluh ya Bapak, Ibu. Tetapi kenapa dibeli? Yaitu cara kapitalisme itu menawarkan fungsi kedua tas. Nah, menurut Theodor Adurno dalam masyarakat kapitalisme ya yang dia sebut didominasi oleh aktivitas konsumsi, kita ini sebenarnya banyak mengkonsumsi barang-barang yang bukan kita andalkan sebagai fungsi pertama, tetapi fungsi kedua ya. Kita membeli air mineral gitu ya. Saya kira banyak di antara kita bukan membeli air mineral karena ee kita memiliki rasa haus atau air mineral itu tidak ditawarkan sebagai ee mengatasi rasa dahaga. Tetapi air mineral kita ini sekarang dikemas ya. Dikemas dengan menawarkan fungsi kedua. banyak air mineral yang dikemas. Wah, ini banyak mineralnya ya. Ee tidak banyak ee mineral yang mengandung ee zat-zat tertentu yang ee berguna bagi kesehatan. Ini adalah nilai pakai kedua. Nah, kenapa kita lebih senang gitu ya membeli air mineral yang lebih mahal karena ada mineralnya ya, mineral yang berguna untuk kesehatan. Sementara sebenarnya air mineral itu apa? Air mineral itu adalah air yang biasa mengatasi rasa dahaga kita. Tetapi orang bisa membeli ya lebih mahal dari ee katakanlah air menalar biasa itu. Kenapa ya? Karena ee menurut Theodor Adorno pintar-pintarnya gitu ya industri budaya mengemas barangnya, produknya dengan nilai pakai kedua. Nah, nilai pakai kedua ini ternyata sangat jitu Bapak, Ibu. Saya masih ingat ketika keponaan saya itu ingin naksir cewek dan nembak supaya berhasil dia nyontoh gitu ya. Ee tokoh Rangga dalam film AADC yang dimainkan oleh Ncolas Saputra ya. Dia ingin menyontoh Rangga. Bagaimana keberhasilan Rangga itu menggait cewek yang namanya cinta dengan membaca buku filsafat? Karena Rangga kan senang buku filsafat. Nah, ee ponaan saya ini karena pengalamannya lima kali naksir lima kali ditolak Bapak Ibu, maka dia menirukan ya. Dia ee membaca buku filsafat. Bayangkan ponaan saya ini sebetulnya sekolah di Institut Teknologi, tetapi karena ingin berhasil menembak cewek, maka dia meniru yang namanya Rangga ini. Bagaimana Rangga ini berhasil ya sebagai orang yang kutu buku tetapi disenangi cewek. Nah, ini adalah fungsi kedua membaca. Padahal ponahan saya itu disuruh belajar, disuruh membaca, tidak mau. Tapi ketika dia mau naksir cewek, dia mulai membaca dan ditunjukkanlah kesan bahwa dia ini kutu buku. Akhirnya Bapak, Ibu memang berhasil. Jadi ketika naksir keenam kalinya ponaan saya ini berhasil ya menggait cewek dan menjadi pacarnya. Ini menunjukkan Bapak Ibu sebenarnya ketika kita mau menumbuhkan kegemaran membaca menurut saya belajar dari apa yang dikatakan Theodor Adorno, kita tidak bisa semata-mata mengandalkan fungsi pertama membaca yaitu membaca sebagai ee cara untuk supaya pintar membaca ee harus dilakukan supaya kita lebih berpenget Ah. Tetapi strategi itu menurut Theodor Adurno itu sebenarnya kurang bisa ee kita andalkan meningkatkan ee konsumsi. Jadi kalau kita mengatakan, kita berasumsi bahwa membaca itu adalah sama dengan mengkonsumsi produk, maka yang harus dilakukan supaya membaca tetap menjadi konsumsi produk dan akan dilakukan secara sukarela, maka kita harus menawarkan apa yang dinamakan fungsi kedua atau nilai pakai kedua. Ini juga terlihat Bapak Ibu, bagaimana kita bisa memahami orang menggunakan behel itu sakit sekali. Tetapi kenapa rela? Karena saya pikir bukan kepingin cantik, tetapi kepingin gaya. Sekarang Bapak Ibu bisa ee lihat ya, orang menggunakan bekel itu bisa macam-macam. Bahkan orang menggunakan vehikel pengin seperti Tom Cruis ya. Tom Cruis itu menggunakan vehikel dengan macam-macam dan ketawa pun juga PD. Artinya begini, ketika kita menawarkan aktivitas konsumsi produk, jangan lupa kita bisa menyontoh apa yang dilakukan oleh industri budaya atau komodikasi budaya kapitalisme dengan menawarkan nilai pakai kedua. Nah, Bapak Ibu ee mohon ee slide selanjutnya bagaimana dengan meningkatkan ee buku eh meningkatkan kegemaran membaca buku ya. Oleh karena itu kalau kita menginginkan masyarakat gemar membaca buku, janganlah semata-mata menawarkan bahwa buku itu sumber pengetahuan. ya. Janganlah menawarkan pada anak-anak kita misalnya buku ini perlu di baca karena nanti akan dievaluasi karena ee kata-kata evaluasi itu identik dengan buku ini membaca karena disuruh membaca karena berkaitan dengan bidang pendidikan ya. Nah, oleh karena itu kalau kita mau belajar dari apa yang disampaikan masa Frankfurt oleh Theodor Adurno, kita perlu menggunakan ya cara-cara nilai pakai kedua. Jadi buku membaca buku kita menyuruh orang membaca buku jangan semata-mata karena mau di ee dinilai atau jangan semata-mata ini adalah program tetapi membaca buku perlu dikonstruksi untuk mendapatkan nilai pakai kedua. Nah, nilai pakai kedua ini kita bisa ee bisa menggunakan nilai apapun yang penting bukan nilai pakai pertama seperti fungsi tas tadi. Kalau kita menjual tas dengan fungsi pertama yaitu sebagai wadah ya barang-barang kita ya kita tidak usah menggunakan tas seharga puluhan juta atau ratusan juta. Kita bisa menawarkan atau menggunakan tas kresek saja saya kira. Nanti kita gonta ganti tas kreseknya warnanya hijau. Selasa warna kuning sampai dengan Sabtu warna hitam. Begitu. Itu fungsi pertama Bapak Ibu. Kalau kita mau menjual tas dengan fungsi pertama, ya semua tidak akan laku. Tapi kalau menjual fungsi per kedua saya kira itu jauh lebih sukses ya. Oleh karena itu membaca buku perlu dikonstruksi dengan nilai pakai kedua. Jadi kalau ASN kita mau berharap ASN ini ee membaca buku begitu ya, jangan terus kemudian kita harus membaca buku karena buku adalah sumber pengetahuan. Dengan buku kita akan pintar atau kunjungilah perpustakaan karena perpustakaan adalah gudang ilmu gitu ya. Orang susah mengkonstruksi Bapak Ibu mohon maaf. Jadi yang paling penting adalah kita menentukan-nya gitu ya. Tujuannya katakanlah misalnya bisa membaca karena memperoleh sesuatu untuk kepentingan pengembangan karir ASN. Katakanlah begitu. Saya yakin orang pasti senang karena dengan karir yang ee meningkat tentunya akan ee sangat ee menggembirakan dan membanggakan. Demikian juga kita bisa ee melakukan atau menempatkan nilai pakai kedua ini untuk peningkatan kualitas pelayanan publik gitu ya. Jadi ee ASN-nya ASN yang inovatif ini begitu atau membangun identitas sosial ya. AS orang itu biasanya kalau disuruh membaca supaya pintar biasanya tidak mau artinya kurang tertarik tetapi bacalah gitu ya atau kita bisa membaca karena alasan wah kita menjadi ASN trend setter ya kalau ditanya berdiskusi misalnya kita bisa mengemukakan semua hal ya yang tidak diketahui orang lain Bapak Ibu. Ibu, ini saya rasa lebih ya memenuhi tujuan daripada kita menawarkan membaca buku dengan fungsi pertama. Bapak Ibu saya masih ingat ya, mohon maaf karena saya ini mengajar di ee Prodi Ilmu Informasi dan Ilmu Perpustakaan. Seringali saya mengatakan dengan contoh pada anak-anak. Kalau Anda me membuat slogan supaya ee orang bisa datang ke perpustakaan, contohlah itu depot di rumah saya. Depot di rumah saya ini membuat judul atau ee nama depotnya adalah soto ayam cakar kuntilanak gitu Bapak Ibu bukan soto lesat. Nah, bisa bayangkan ini ada Bapak Ibu tapi sekarang depotnya sudah kena pelebaran jalan ya Bapak Ibu. Sungguh ini semua banyak yang beli antrenya itu panjang. Padahal Bapak Ibu bukanya itu jam 09.00 remang-remang gelap Bapak Ibu. Bapak Ibu bisa bayangkan kok bisa gitu ya ee orang berduyun-duyun datang membeli soto yang mungkin sotonya ini saya rasa ya soto rasanya begitu saja ya Bapak Ibu. Tapi dengan soto cakar kuntil anak banyak yang datang. Ketika saya datang remang-remang ya gelap. Saya itu tidak tahu ini sambal atau lontong saya ambil begitu. Eh ternyata sambal. Tapi begitu banyak orang datang ke situ. Saya bisa bayangkan kalau soto itu diberi soto lesat gitu ya. Itu pasti fungsi pertama. Tapi soto cakar kuntilanak itu orang akan penasaran. Itu fungsi kedua, Bapak, Ibu. Jadi, kalau kita mau meningkatkan kegemaran membaca, menumbuhkan kegemaran membaca, pakailah fungsi kedua. seperti apa yang dikatakan oleh tokoh ya ee masa Frankfurt yaitu Theodor Adorno. Meskipun Theodor Adorno ini mengkritik para kapitalis yang memanipulasi dengan fungsi kedua ketika menawarkan ee produk-produk industri budaya. Tetapi ini merupakan sebetulnya makna kesuksesan Bapak, Ibu. para kapitalis menawarkan produksi atau produk budaya yang saya rasa itu lebih mengena di hati para konsumen dan kita ee saran saya ee kita bisa belajar dari konsepsat yang dikemukakan oleh masa Frankfur ya. Saya rasa ee demikian yang bisa saya sampaikan Bapak Ibu. Wasalamualaikum warahmatullahi [Musik] wabarakatuh. Terima kasih Prof. Rahma karena sudah memberikan pemaparan materi untuk sesi kedua ini ya. Ini menarik sekali tadi kalau saya dengar soto cakar apa, Prof? Tadi kuntilanak ya. Ini bisa dijadikan salah satu contoh soto cakar kuntilanak, Mbak ya. Soto cakar kuntilanak. Kita penasaran e kira-kira kapan ya mau buka lagi ya nanti ya warung sotonya ya. Iya. Itu saya juga tidak tahu itu pindah ke mana karena kena pelebaran jalan. Oh sayang sekali. Mudah-mudahan tetap ee laku itu. Amin. Amin. Baik, Prof. ee kita akan e masuk ke sesi tanya jawab seperti biasa untuk sobat ASN yang mau bertanya silakan rais hand ya atau mungkin ketik chat di kolom chat nanti saya akan bantu bacakan nanti akan dijawab langsung pertanyaannya oleh Prof. Rahma. Baik, apakah sudah ada pertanyaan teman-teman dari Sobat ASN? Oke. Baik. Ini menarik sekali ya materi kedua pada hari ini dari Prof. Rahma gitu kan tentang buku membaca dan ASN ya. Jadi memang harus dicari keunikannya ya Prof ya. Kalau misalkan mau ngajak orang-orang untuk mau baca itu harus ada satu unik yang out of the box biar orang-orang tuh mau membaca gitu. Karena memang literasi zaman sekarang itu kalau dilihat-lihat agak banyak berkurang ya, Dok ya, Prof. ya. seperti itu ya. Ee literasi sebetulnya ee program literasi banyak ya, tetapi pengemasan untuk bisa ee menumbuhkan ya gemar membaca agar literasi kita meningkat itu yang sebetulnya butuh strategi khusus ya. Betul. Nah, ini ee karena saya dari ilmu sosial, saya meminjam ee konsep yang dikemukakan oleh salah satu teoritisi dari masa Frankfurt yaitu Theodor Adurno yang sebetulnya mengkritisi cara kapitalisme, menggiring ya konsumsi yang luar biasa. Tetapi itu sebetulnya kesuksesan bagi kapitalisme industri budaya. Nah, itu yang perlu kita contoh gitu ya. Menawarkan fungsi kedua meskipun oleh Theodor Adurno ini dianggap ya melakukan manipulasi massa begitu ya untuk kepentingan keuntungan kapitalisme. Baik. Wah, ini sepertinya sudah ada satu sobat ASN yang mau bertanya. Selamat pagi Bu Ninit dari BPSDM Jember. Selamat pagi Bu. Selamat pagi, Bu. Silakan, Bu Ninit. Langsung saja bertanya ke Prof Rahm. Terima kasih, moderator. Ee selamat pagi Prof. Rahma. Saya Ninit dari BKPSDM Jember. Ee topik yang Ibu sampaikan pagi ini sangatlah menarik dari sudut pandang kami sebagai seorang ibu dan seorang ASN, Ibu. Nah, ee ketika saya menjadi seorang ibu ee agak sulit Bu untuk memaksa anak-anak kami yang sudah biasa ee pegang jajet ee untuk membaca dan mengerjakan tugas. Kalau ee misalkan kami kami menggunakan metode merangkum dari buku manual dium, apakah itu masih efektif ya, Bu? Mohon saran. Untuk pertanyaan yang kedua, kami sebagai ASN dituntut untuk gercep Ibu merespon ee ketika ada peraturan perundangan baru, ketika kami harus membuat suatu konsep dan tata naskah dinas. Ditambah lagi dengan efisiensi anggaran di daerah, Ibu. Jadi ee sekarang ini lagi ngetren paperless. Jadi kami membacanya dengan media digital. Nah, dengan media digital ini dengan keterbatasan waktu dan multitasking tugas yang dibebankan kepada kami, akhirnya kami membacanya sepotong-potong saja, Bu. Control fine seperti itu, Bu. Menurut Ibu, bagaimana ee saran masukan kami sebagai ASN agar lebih baik? Karena ee yang kami rasakan ketika kami membaca sepotong-potong dengan contol fine seperti itu ee pemahaman kami tidak begitu mendalam Ibu dan kami lebih mudah memang menemukan jawaban tapi lupanya juga lebih cepat. Ibu mohon saran dan masukan. Terima kasih, Prof. Rahma. Silakan Prof. Rahma bisa langsung menjawab untuk pertanyaan dari Bu Ninit. Iya, terima kasih Bu Ninit ya. Ee sungguh luar biasa Bu Ninit ini memberi perhatian pada putra-putrinya ya. Dan ini sekaligus juga ee Bu Ninit ee ya saya alhamdulillah Bu Ninit ee apa peduli ya pada bagaimana kita ini perlu meningkatkan atau menumbuhkan kegemaran membaca pada anak-anak ya. Ee Bu Ninit seperti yang saya sampaikan ee sebetulnya menumbuhkan atau meningkatkan kegemaran membaca itu tidak bisa instannya. Kita ini ee kalau menurut teori yang paling ideal ee sejak anak-anak ee belum bisa berbicara dan mulai bisa berbicara kita itu perlu membangun atmosfer gemar membaca. atmosfernya dalam hal ini atmosfer di dalam keluarga ya. Jadi anak-anak itu biasakan melihat kita pegang buku gitu ya. Biasakan anggota keluarga yang lain tidak banyak menonton TV ya. Jadi diusahakan anak-anak kita itu melihat itu semua gitu ya. Bahkan ketika ee akan ee pergi keluar untuk healing begitu ee bisa dibiasakan kita sesekali datang ke perpustakaan atau ee datang ke toko buku gitu ya. pendek kata, di manapun ee keluarga itu berkumpul, entah itu di dalam rumah atau di luar, ee perlu dibiasakan membangun atmosfer buku, gemar membaca gitu ya. Nah, jika itu fondasi sudah terbentuk, terbangun, maka insyaallah anak tidak akan terpengaruh gitu ya pada kegiatan-kegiatan yang lain. Sekalipun itu menyenangkan ya. Apalagi kalau anak sudah bisa membaca sendiri karena fondasi itu maka saya yakin anak itu akan memilih buku dibanding dengan kegiatan lainnya. Nah, kenapa? Karena ee ketika fondasi itu sudah mulai dibangun dan anda ee anak merasakan senang membaca atau anak ee mulai senang membaca, maka yang diperoleh itu adalah pengalaman yang luar biasa dalam membaca. Ee Bu Ninit, jadi begini. ee dalam buku katakanlah ee buku cerita atau novel jika itu dibaca oleh anak kita yang memang senang membaca maka itu adalah pengalaman batin yang luar biasa ya. Ee saya masih ingat ee cerita dari Prof. Yohanes Surya ya. Bagaimana dia itu senang fisika karena diawali dengan nenek kakeknya yang membacakan cerita dan ketika dia sudah mulai bisa membaca dan membaca banyak buku cerita serta novel, dia itu seperti masuk dalam dunia satu ke dunia lainnya sehingga tidak akan dia beralih ke kegiatan lainnya gitu ya. itu yang diperlukan. Sehingga kenapa ketika Yohanes Surya menekuni fisika ini beliau seperti ee masuk dalam dunia fisika, dunia lain ya. Bukan dunia ini ya yang ee menakutkan, tapi dunia cerita satu ke dunia cerita yang lain. Makanya kenapa tidak heran seorang Profesor Yohanes Surya itu pintar fisika gitu ya. Demikian juga ya ketika kita mau menumbuhkan gemar membaca yang pertama pada anak kita bangunlah atmosfer gitu ya. Dan ee kalau memang kita tidak bis tidak sempat membangun atmosfer, saya rasa kita perlu menggunakan nilai pakai kedua, Ibu. Jadi jangan nilai pakai pertama gitu ya. Bacalah nak supaya pintar. Bacalah nak ini karena ada tugas guru. Kamu ini nanti gak dapat nilai bagus begitu ya. Itu adalah cara-cara yang menempatkan konteks membaca dalam kepentingan akademik. Ya, tentu itu akan beban ya. Padahal orang yang gemar membaca itu tanpa beban menikmati. Oleh karena itu, kita perlu merancang nilai pakai kedua ini, Ibu, supaya anak bisa membaca tanpa dibebani. Harus meringkas gu ya, harus menunjukkan ringkasannya. Ini mana bukti kalau kamu sudah membaca ringkasanmu mana gitu ya. Ini ini sama dengan nilai pakai pertama tadi ya. yang dibangun adalah bagaimana cara kita menggunakan atau memikirkan. Ya, ini memang ee kembali lagi pada ee niat ya orang tua untuk menggagas sedikit berinovasi apa ini nilai pakai kedua ini gitu. Ee kira-kira Bu ee Ninit matur nuwun. Baik, Bu Ninit. Semoga bisa terpuaskan mendapatkan jawaban dari Prof. Rahma ya. Mohon maaf kira-kira anu ya ada pertanyaan kedua nggih. Ngih. Ada pertanyaan kedua Prof. Iya. Mohon maaf ya. Lah pertanyaan kedua yang berkaitan dengan ee koleksi-koleksi ee non cetak ya. Karena koleksi-koleksi non cetak ini atau katakanlah buku digital ini memang menawarkan kemudahan dan kecepatan kita mencari informasi dan pengetuan. Bu Ninit, saya sendiri juga kalau oga membaca mulai dari pertama sampai belakang saya Ctrl F saja. Kemudian di bagian yang ketemu ya itu saya baca. Nah, inilah yang ee menurut negara Swedia membuat ee anak-anak siswa-siswa ini ee mendapatkan informasi atau pengetahuan sepotong-potong jika dibandingkan dengan ini membaca buku. Karena membaca buku yang kita pegang ya itu pasti akan kita baca mulai dari awal sampai akhir. Meskipun itu butuh beberapa hari tapi kita beri batas biasanya. Ini saya baca sampai di sini begitu ya. Itu jelas ya. Nah, ee kalau seandainya gitu ya ee di perpustakaan atau ee di tempat-tempat tertentu ya itu kekurangan ee buku cetak karena kita merasa bahwa buku cetak itu lebih mempunyai keunggulan daripada ee buku digital gitu ya. ee saya menyarankan melakukan kolaborasi ya dengan pihak-pihak lain katakanlah begitu ya yang sama-sama juga memiliki buku cetak sehingga ee tentunya kita bisa join koleksi cetak itu tanpa harus membeli karena memang ee membeli buku cetak ini luar biasa mahal ya dia saja me ee menganggarkan 1,7 7 triliun di tahun 2025 untuk mengisi ee ini koleksi-koleksi di perpustakaan yang disebarkan, diperuntukkan sekolah-sekolah di Swedia. Nah, untuk di Indonesia saya rasa karena anggaran ini sekarang berbasis efisiensi, nah saran saya kita bisa melakukan kolaborasi dengan pihak-pihak lain. Ya, memang agak lebih ribet ya, tetapi itu adalah sal satu-satunya cara kalau kita berasumsi bahwa buku cetak akan lebih ee produktif ya, menghasilkan pengetahuan daripada buku digital. Begitu Bu Ninit. Matur nuwun. Terima kasih, Prof. Baik Bu Ninit sudah aman ya Bu. Dua pertanyaan sudah dijawab Prof. Rahma langsung ya seputar tentang nilai pakai kedua dan juga ee kolaborasi buku ya Bu ya. Semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Bu Nunit. Terima kasih Bu Ninit, sehat selalu. Sampai bertemu lagi. Baik, ada satu lagi sepertinya penanya yang sudah rais hand, Prof. Baik. Apakah monggo. Heeh. Silakan. Selamat pagi. Wah, kalau tadi Bu Ninit dari Jember, sekarang ada Bu Indra dari Pacitan. Selamat pagi, Bu Indra. Bu Indira ya. Bu Indira atau Bu Indra? Bu Indira. Baik, selamat pagi Bu Indira. Silakan Ibu. Selamat pagi menuju siang I Prof. Ngih. Selamat pagi, Bu Indra. Iya. Saya sangat setuju dengan Prof. Instan, ya. ini ee karena pengalaman saya sendiri sebagai orang tua ee bahwa untuk membangun anak gemar membaca harus dimulai dari balita. Itu justru lebih efektif karena kalau sudah SD, SMP ee baru diajak membaca itu saya merasa lebih sulit karena mereka sudah mengenal gadget ya. Kalau dulu waktu masih awal-awal kita masih bisa membatasi anak bahwa bermain gadget itu hanya hari Sabtu dan Minggu. Tapi rasanya untuk ee saat ini sulit karena dari anak sudah 1 tahun saja sudah dipegangi HP. Ya, itu yang ee menyulitkan bagi orang tua kalau sudah anak tergantung pada HP. Ee kalau menurut saya memang harus dimulai dari usia PAUD ya, Ibu. Bagaimana ee sekolah PAUD kemudian TK itu memberi memulai untuk memperkenalkan anak senang membaca. Kalau sudah mereka dari balita itu senang membaca, tentu akan lebih mudah ee ke depannya untuk mereka lebih suka lagi untuk membaca. Pengalaman saya waktu anak saya belum masih umur 2 tahun itu memang kita harus sering mengajak ee ke toko buku, Ibu. Jadi, setiap akhir Minggu saya ajak ke sana, mereka akan memilih buku sesuai usia dari yang mulai hanya bergambar, kemudian begitu masuk ke ee TK itu sudah mulai ee berbeda lagi bukunya. kemudian masuk SD berbeda juga sampai akhirnya ee dia bisa menentukan ee sekolah tujuan hanya karena tahap-tahap membaca tadi. Jadi begitu mau masuk ee SMA atau kuliah dia sudah bisa menentukan, oh saya pengin ke sana. Lain kalau dengan yang misalkan membaca tadi instan anak-anak sekarang begitu sudah masuk kelas 3 SMA mau masuk perguruan tinggi masih ragu. saya pengin apa, pengin kuliah di mana, itu masih bimbang. Tapi kalau anak sudah biasa membaca kemudian buku bacaannya itu sudah dia sudah cocok di satu arah ya itu akan lebih mudah memilih jurusan yang dia kehendaki. Jadi mungkin ini juga tugas dari guru-guru PAUD, guru-guru TK bahwa untuk segera me apa ya tidak hanya bermain tapi bagaimana membaca itu menjadi suatu hal yang menyenangkan. Karena buku-buku sekarang tentu saja saya melihat buku yang mudah dibaca anak-anak ya, terus yang menarik itu memang mahal, Ibu. Jadi buku sejarah, sejarah Indonesia kita saja itu masih yang banyak uraian kalimat ya, Bu ya. Tapi buku-buku anak saya yang sejarah dunia itu lebih ke cergam, Ibu. Dan ternyata cergam itu lebih mudah dipahami anak-anak. Jadi ee mungkin itu tadi kita harus banyak menyediakan buku-buku di perpustakaan yang membuat anak itu betah untuk membaca dengan cergam ya. Meskipun cergam tapi itu menunjukkan ee bukan apa ya tetap tetap nilai aslinya nilai asli sejarahnya hanya dibentuk dalam bentuk cergam. Jadi kalau anak-anak membaca tulisan terus kan mungkin jenuh ya Ibu. Tapi dengan ee imajinasi mereka juga terbangun. Jadi lebih mudah untuk menghafalkan atau memahami sejarah itu sendiri. Saya kira itu mungkin ee tadi yang lebih difokuskan adalah bagaimana anak-anak mulai dari PAUD sudah diajar untuk gemar membaca. Saya kira itu, Ibu. Terima kasih ilmunya hari ini. Oke. Oke. Ee ee apakah bisa langsung ee dijawab? Boleh. Silakan, Prof. Langsung saja. Iih. Terima kasih, Bu Indira ee dari Pacitan. Luar biasa ya Ibu ini ee sangat perhatian ya pada ini. Jenengan pemberhati ya saya rasa pemberhati gemar membaca dan literasi ya budaya literasi ya. Ee saya setuju Bu. Jadi untuk menumbuhkan dan mengembangkan kegemaran membaca itu tidak bisa instan. Nah, ee sebenarnya dimulai sebelum PAUD itu dimulai dari keluarga, tapi perlu ada perhatian karena tongkat estafet itu ya ee kemudian diarahkan ke ee lembaga pendidikan ya. Jadi kalau dari keluarga sudah membangun atmosfer yang perlu di ee perhatikan adalah tahap selanjutnya adalah tongkatnya ada di ya sekolah PAUD. Ya, benar saya setuju ee dengan ee panjenengan harus dimulai juga terus dibalita artinya diteruskan ya diteruskan ke balita. Nah, karena apa? Karena ketika kita mulai menanamkan kegemar membaca sejak SD, SMP akan semakin sulit karena mereka sudah mengenal gadget sejak awal ya. Apalagi generasi kita ini ya, generasi alfa lahir sudah jej. Nah, itu tambah susah lagi. Makanya kenapa atmosfer dalam keluarga itu perlu di berperan penting di awal masa hidup anak-anak. Kemudian tongkat estafetnya diteruskan ke sekolah PAUD dan demikian juga SD, SMP, SMA. Nah, ee saya setuju kenapa? Karena anak yang memiliki fondasi atmosfer ya dalam keluarga, senang membaca kemudian diteruskan di PAUD ya yang ee juga dikembangkan kegemaran membacanya. Saya yakin ketika nanti dia sudah diberi gadget, dia tidak akan menggunakan gadgetnya untuk kepentingan lain selain kepentingan membaca. Saya pernah ee meneliti ya, salah satu responden saya itu ketika si anak itu ee diberi fondasi kegemaran membaca sejak kecil kemudian diteruskan ke PAUD, maka ketika dia diberi tablet, tabletnya itu diisi dengan ebook ya dan dia ke mana-mana bawa tabletnya. berbeda dengan teman-teman lainnya yang tabletnya itu dipakai untuk menonton YouTube. Ya, biasanya mohon maaf Bapak Ibu ee sebagai orang tua di Indonesia itu daripada anaknya itu nakal atau mengganggu aktivitas ee orang tuanya ya, anaknya diberi tablet dan kemudian disetelkan film-film kartun. Nah, itu sangat saya sangat prihatin ya, Bu ya. Itu sebenarnya ee ee agak kontraproduktif ya. Ya, jangan harap dia akan bisa ditumbuhkan kegemaran membaca karena sudah ee terlanjur menyenangi tablet yang ee dipakai untuk menonton YouTube, film-film kartun gitu ya. Nah, saya juga setuju pada Ibu Indira bahwa yang namanya anak kalau sudah senang membaca gitu ya, dia akan haus bacaan itu. itu proses yang ee secara apa ee secara alamiah itu terjadi. Kalau dia sejak awal sudah diberi fondasi senang membaca, dia membaca, dia senang membaca, menikmati membaca, maka dia akan haus bacaan. Oleh karena itu sudah waktunya misalnya ee di SD, SMP itu perlu memperbanyak koleksi berbagai jenis dan berbagai genre. Nah, saya ee setuju pada panjenengan misalnya buku sejarah bukan ansih sejarahnya, tetapi dikemas dalam ee cerita bergambar itu jauh akan ee lebih disenangi anak-anak ya. Makanya berbagai jenis dan berbagai genre ya. Ee saya pernah ee mewawancarai responden penelitian saya juga begitu. Dia mengatakan, "Saya itu sudah senang membaca Bu, tapi karena saya tidak mempunyai uang untuk membeli, datanglah saya ke perpustakaan. sudah saya baca semua itu, tapi saya tunggu-tunggu kapan ini bacaan baru hadir gitu ya atau ada katanya gak ada. Ditunggu-tunggu tidak ada. Akhirnya ya inilah ee titik krusialnya. jangan sampai dia terpengaruh ya pada teman-teman ee terpengaruh anak-anak atau teman-teman lainnya untuk beralih ya itu tadi nge-games atau yang lainnya ya dan menjauhi kegiatan membaca ini yang tidak kita harapkan tentunya nggih. Matur nuwun Bu Indira. Indira senang sekali bisa juga berbagi atau sharing ya ee tentang insight pada masalah-masalah apa saja yang sering dihadapi. Ya memang benar saya setuju dengan Bu Indira kalau anak-anak kecil itu Prof. lebih suka cergam cerita bergambar karena saya dari kecil itu saya dicekokin komik sama bapak saya. Komik bukan obat batuk ya, Prof. ya. Ini benar-benar buku buku Cgam cerita gambar komik gitu. Nah, itu yang akhirnya bikin anak-anak kecil untuk mau terus membaca sampai dia dewasa. Begitu memang membantu sekali cergam itu. Terima kasih Bu Indira untuk insight-nya. Prof terima kasih sudah menjawab pertanyaan kedua dari Bu Indira pada sesi materi kedua pagi hari ini. Baik, Prof. Mungkin ada sedikit lagi yang mau disampaikan untuk sobat ASN yang sekarang sedang menyimak penjelasan dari Prof. Rahma tentang buku. Baik. Ee terima kasih ya bagi Bapak Ibu ee ASN entah itu ee sebagai ASN yang ee tentunya perlu meningkatkan ee pelayanan publik ya dengan inovasi-inovasinya atau sebagai orang tua yang saya rasa ee perlu perhatian pada peningkatan kegembaran membaca atau para ASN yang ee ee berstatus guru atau pendidik ya. Saya rasa ee ikut serta meningkatkan atau menumbuhkan ya minat dan meningkatkan kegemaran membaca ee sangat penting ya. ee dengan tadi apa yang disampaikan Pak Nurhadi Saputra dengan membaca kita sebetulnya memiliki pengetahuan ya kita berliterasi hanya bangsa yang memiliki literasi tinggi maka bangsa itu bisa bersaing ya dengan bangsa lainnya negara lainnya. Oleh karena itu kita perlu ee untuk tidak henti-hentinya ikut ee serta dalam menumbuhkan minat dan mengembangkan kegemaran membaca ee dalam ee status apapun ya, dalam posisi apapun. Ee yang paling penting itu adalah menggagas strategi ya. Seperti yang saya katakan, saya menawarkan strategi eh Airsart atau nilai pakai kedua dan ini adalah tentu hanya salah satu strategi yang saya tawarkan. Tentu Bapak Ibu ASN ee bisa mengembangkan strategi-strategi lain yang tidak hanya berkutat pada nilai pakai pertama, tapi nilai pakai kedua yang bisa digagas ee sendiri oleh Bapak Ibu. Demikian, matur nuwun. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Prof. Rahma sekali lagi sudah berkenan untuk memberikan materi di sesi kedua pada pagi hari ini ya di ASN Belajar seri ke-18 tahun 2025. Prof. silakan melanjutkan kembali aktivitasnya. Terima kasih, sehat selalu untuk Prof. Rahma dan Sobat ASN. Jangan ke mana-mana. Kita masih akan ada satu segmen lagi. Ini adalah segmen yang terakhir di webinar ASN Belajar seri ke-18 tahun 2025 pada pagi hari ini. Jadi, jangan ke mana-mana. Kita akan kembali lagi setelah yang satu ini. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Kembali lagi bersama saya Yuri Sabrina, Sobat ASN dan ee kita sudah masuk ke segmen terakhir pada webinar ASN Belajar seri ke-18 hari ini ya. Dan sudah bersama kita bergabung bersama kita di sini. Untuk narasumber kita yang ketiga ada Bapak Wijar Narko Adi Nugroho, S.Si., M.M. selaku editor buku Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau biasa disingkat Kemendikdasmen Republik Indonesia. [Musik] Selamat pagi Bapak Wijanarko. Selamat pagi, Mbak. Gimana kabar, Pak? Sehat? Alhamdulillah sehat, ya. Alhamdulillah sehat. Kira-kira akan ada berapa ratus slide hari ini yang akan dipaparkan materinya? Waduh, sebagian besar sudah disampaikan tadi itu Bapak mungkin sharing aja nanti ya. Iya. Baik. Berarti Bapak Wijanarko akan melengkapi ya, Pak ya, melengkapi sesi pertama dan juga sesi kedua yang tadi sudah diberikan Bapak Nur Hadi Saputra dan eh Prof. Ahmad. Baik, silakan Pak Wijanarko langsung saja untuk sesi materi ketiga pada pagi hari ini. Oke. Baik, terima kasih. Ee bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, Ibu semuanya ee salam kenal, salam sehat, salam sejahtera. Ee yang kami hormati eh Bapak Dr. Ramlianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Yang kami hormati Pak Nurhadi Saputra eh Kepala Pusat Analis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional. Yang kami hormati juga Prof. ee Dr. Rahma Sugihartati sebagai Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Erlangga. Serta ee tidak lupa pula Bapak Ibu semuanya ee teman-teman ASN yang mungkin saat ini sedang ee menyimak gitu ya dari berbagai macam ee tempat gitu ya. Bapak Ibu sekalian salam kenal semuanya. Ee perkenalkan saya Wijarani Nugroho. Bapak Ibu sekalian ee saya kebetulan bertugas di pusat perbukuan ee sebagai editor buku dan ee saat ini gitu ya mungkin sedikit sekilas saja mungkin ya ee pusat perbukuan sendiri adalah ee sebuah lembaga yang dibentuk gitu ya untuk ee melaksanakan mandat dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Bapak, Ibu sekalian. Jadi di dalam undang-undang tersebut ee ada amanah secara langsung bahwa memang diperlukan untuk mengembangkan ekosistem perbukuan yang nantinya akan bermanfaat dalam proses ee peningkatan kualitas literasi di masyarakat. Ibu sekalian ee pusat berbukuan sendiri mungkin memiliki beberapa ee ini perkenalan saja ya Bapak Ibu sekalian sekilas ee memiliki beberapa tugas dan fungsi antara lain di antaranya adalah terkait dengan ee penyusunan buku pendidikan, kemudian ada lagi ee penilaian buku pendidikan, kemudian ada lagi pengawasan buku serta ee pembinaan pelaku perbukuan, dan yang terakhir adalah pengembangan sistem informasi perbukuan. ee beberapa hal nanti akan coba kita kami sampaikan gitu ya sebelum nantinya kita masuk ke materi yang sebelumnya. Oke. Ee berikutnya boleh ee ya ini adalah tugas dan fungsi dari pusat perbukuan Bapak Ibu sekalian ee sebagai sebuah lembaga yang dibentuk ee sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017. Ee jadi mungkin ini sebagai tambahan informasi Bapak, Ibu sekalian bahwa sebenarnya Indonesia sudah memiliki undang-undang terkait dengan buku yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 dan kemudian juga sudah ada ee peraturan pemerintahnya nomor 75 tahun 2019. Dan sesudah itu kemudian keluar banyak sekali aturan-aturan turunan yang sebenarnya bisa dijadikan payung hukum, dijadikan landasan bagi ee semua pihak baik ee masyarakat maupun pemerintah daerah sebenarnya untuk ee tadi melaksanakan program-program terkait dengan literasi dan perbukuan seperti itu. Oke. Ee boleh berikutnya ya. Ini dasar hukumnya sudah banyak sekali Bapak Ibu sekalian. ee ini bisa jadi landasan ee bagi Bapak Ibu sekalian yang ingin melakukan pengembangan kompetensi terkait perbukuan gitu ya. Dan pengembangan kompetensi seperti apa nanti akan coba kami sampaikan dan kami juga punya ada platform-platformnya gitu yang mungkin akan membantu Bapak Ibu sekalian dalam proses ee penggembangan kompetensi sebagai e ASN. Oke, berikutnya ya. Oke, jadi tema yang diberikan kepada kami adalah terkait dengan ee buku sebagai gerbang ilmu dan jendela kalbu gitu ya, Bapak, Ibu sekalian ya. Nah, ee tadi sudah disampaikan oleh Pak ee Nurhadi dan Bu e Rahma gitu ya, bahwa eh ada banyak sekali ee kegunaan membaca, manfaat dan sebagainya. Tapi ee saya ingin e memulainya dengan ee mungkin kita mengingat kembali itu ya, Bapak, Ibu sekalian proses-proses ketika kita pertama kali belajar membaca. atau mungkin kita memperhatikan anak-anak kita belajar membaca gitu ya, Bapak, Ibu sekalian. Ada fenomena unik gitu ya. Tadi mungkin sudah sempat disinggung sih ketib Rahma ya, bahwa ada fenomena fenomena unik di ee anak-anak kita gitu ya, bahwa anak-anak kita itu punya kecenderungan cepat sekali belajar membaca. Tapi kemudian ee dalam ee se perjalanan waktu gitu ya ee kemudian anak-anak kita kehilangan ee motivasi, kehilangan minat gitu ya untuk membaca yang itu akhirnya ee berpengaruh gitu ya pada ee penggunaan bukunya seperti itu. ee anak-anak kita yang umurnya mungkin PAAUD gitu ya, baru mau masuk SD itu ee sudah ee lancar membaca, sudah mengenal huruf dan sebagainya. Tapi ketika mereka beranjak di kelas 4, kelas 5, tiba-tiba ee mulai menjauh dari buku gitu ya. Ini sebuah fenomena yang unik gitu ya. Ee padahal tadi Pak juga sudah menyampaikan bahwa sebenarnya kita punya tingkat kegemaran membaca ya mungkin tidak bisa dibilang tinggi tapi juga tidak bisa dibilang sangat rendah gitu ya. Ee seharusnya itu menjadi indikator gitu bahwa sebenarnya ee masih ada gitu ya motivasi untuk membaca di antara anak-anak kita. Nah, ini masalahnya kenapa gitu kan ya. Nah, ini yang coba nanti ee kami sampaikan di ee pertemuan ini nantinya. Ee tapi sebelum itu, Bapak, Ibu sekalian ee kita melihat lagi bahwa anak-anak kita yang kemudian ee kehilangan minat motivasi membaca itu mungkin merasa bahwa buku sudah tidak cukup penting dalam proses ee pertumbuhan mereka atau perkembangan mereka. Nah, ee saat ini gitu ya ee sudah cukup banyak ee arus informasi melalui internet, gawai dan sebagainya sehingga anak-anak kita mulai teralihkan. teralikan yang tadinya membaca buku, memegang buku, kemudian mulai memegang gawai, gadget dan sebagainya dan merasa bahwa ee mungkin informasi lebih cepat didapatkan di sana dan itu benar, tapi juga di satu sisi itu menimbulkan ee dampak gitu ya terhadap beberapa hal. Nah, pertanyaannya adalah kemudian lagi ee ketika kita harus menjelaskan kenapa kemudian ee buku itu penting itu terutama untuk anak-anak kita dan lebih lagi adalah untuk diri kita sendiri ee untuk teman-teman kita sebagai ASN gitu ya Bapak Ibu sekalian. Maka ee kita harus memahami itu dulu sebelum kita bisa menjelaskan ini ke masyarakat, ke anak-anak kita, ke keluarga kita. Oke, berikutnyaah yang ini sudah mungkin sekilas aja ini sudah jelas bahwa buku adalah sumber pengetahuan gu ya, Bapak, Ibu sekalian. Dan ee itu ee saya pikir tidak bisa di ee sangkal lagi ya, bahwa memang buku seberpat. Makanya yang perlu digaris bawahi adalah saya setuju dengan yang disampaikan Bu Rahma tadi bahwa ee meskipun buku sebagai sumber pengetahuan ee sepertinya ee meletakkan buku hanya sebagai dokumen akademik itu malah justru membatasi pemanfaatan bukunya ya. Ee tadi Bu Rahma sudah menyampaikan bahwa ya buku tidak tidak bisa hanya digunakan sebagai ee ee posisinya sebagai dokumen akademik saja. Dan kami di pusat perbukuan sepakat dengan hal tersebut. Di pusat perbukuan sendiri buku itu bukan hanya sebagai sumber informasi tapi juga sebagai ee rekreasi gitu ya. Jadi di pusat perbukuan itu ada yang slogan yang kami sebut sebagai membaca untuk kesenangan. membaca ya hanya untuk rekreasi saja, untuk ee have fun saja, untuk bersenang-senang, bukan untuk nambah ilmu, bukan untuk nambah ee pengetahuan dan sebagainya. Walaupun kemudian dalam prosesnya e secara tidak langsung pengetahuan itu bertambah. Nah, itu yang pertama. Yang kedua adalah ee kenapa buku itu penting? Karena buku itu sendiri menjadi ee tempat untuk berlatih, berpikir kritis, dan kreatif. ee kita juga sudah sepakat bahwa di era abad 21 gitu ya, bahwa kebutuhan akan kualitas literasi yang baik itu sangat penting. Dan salah satu eh indikator dari kualitas literasi yang baik adalah critical thinking dan creative thinking. Nah, tentunya creative thinking dan critical thinking ini hanya terlatih pada kondisi-kondisi real tertentu ya, Bapak, Ibu sekalian. Nah, buku memberikan wahana, memberikan tempat untuk mensimulasikan pikiran kita gitu ya. Sehingga kemampuan berpikir kritis dan kreatif ini bisa dilatih seperti itu. Dan ada banyak bukunya dan sifatnya nonfiksi gitu ya. ada banyak buku novel, mungkin komik, mungkin cerita bergambar dan sebagainya yang mau tidak mau ketika membaca ee kita gitu, kita itu para pembaca dipaksa untuk berpikir lebih gitu ya, sehingga secara tidak langsung itu akan membuat critical thinking dan creative thinking kita bertambah. Oke, berikutnya adalah kenapa buku itu penting adalah buku merupakan ee cara untuk melakukan pengembangan kompetensi teknis dan sosial kultural. Ada banyak buku gitu ya yang memang berisi gitu ya, berisi ee tadi hal-hal yang sifatnya bisa meningkatkan kompetensi kita secara entah secara kognitif, motorik. Dan di satu sisi juga ada buku-buku yang memang membantu kita untuk berlatih atau memahami kondisi masyarakat baik itu melatih empati kita gitu ya, kemudian ee kepimpinan gitu ya, serta tentunya adalah ee bagaimana buku tersebut ee bisa membuat kita ee ee melakukan komunikasi publik yang baik seperti itu. tiga hal ini sepertinya ada hal yang memang sangat dibutuhkan oleh teman-teman di ee yang memang bidangnya adalah bergerak di pelayanan publik seperti itu. Lalu kemudian lagi ee buku juga bisa menjadi sarana kita untuk ee belajar ee sepanjang hayat ya, Bapak, Ibu sekalian menjadi cara untuk belajar mandiri tanpa harus bergantung pada ee teman atau pada orang [Musik] lain. Lalu berikutnya lagi adalah buku itu penting karena bisa membantu kita untuk ee membangun integritas dan etika pelayanan. ee ada banyak ee buku yang diterbitkan gitu Bapak Ibu sekalian ee untuk menjelaskan kepada publik ee tentang entah SOP, entah alur pelayanan dan sebagainya entah etika dan sebagainya yang itu tentunya bisa ee membantu kita juga untuk menjalani ee proses-proses dalam pelayanan publik agar lebih baik. Oke. Dan yang terakhir adalah Bapak, Ibu sekalian, buku ee bisa menjadi pemicu perubahan sosial gitu ya. Ada banyak orang yang terinspirasi ketika membaca buku kemudian bergerak melakukan perubahan ee sehingga kemudian itu berdampak pada masyarakat sekitarnya. di kami sendiri, di pusat perbukuan sendiri, kami ee kerap berkolaborasi bekerja sama dengan komunitas-komunitas, dengan ee masyarakat-masyarakat yang memang ee menjadikan buku bukan hanya sebagai bahan bacaan, tapi juga sebagai landasan untuk melakukan gerakan bersama seperti itu. Dan dalam prosesnya memang ee kami dapatkan bahwa banyak fenomena di mana masyarakat memang terinspirasi gitu ya dengan buku-buku tertentu yang kemudian melakukan gerakan-gerakan bersama dan itu juga yang menjadi dasar proses penyusunan buku yang dilakukan di pusat perbukuan. ada beberapa buku-buku yang sifatnya ee tematik gitu ya, bertema tertentu gitu ya, yang memang tujuannya adalah untuk menjadi inspirasi dan harapannya adalah buku-buku ini bisa menjadi atau menjadi pemantik gitu ya untuk ee terjadinya perubahan ee di masyarakat seperti itu. Oke, berikutnya adalah. Nah, pertanyaannya lagi, apakah kalau tadi buku itu penting, apakah semua buku seperti itu bisa melakukan tadi ya, bisa menjadi sumber pengetahuan, bisa menjadi ee wahana pelatihan untuk eh critical thinking gitu, apakah bisa menjadi sumber terjadinya pemicu perubahan sosial dan sebagainya. Apakah seperti itu? Apakah seluruh bukunya seperti itu? atau memang hanya ada buku-buku ter Nah, di pusat perbukuan sendiri kami meyakini bahwa ee tidak ada buku yang sifatnya general. Ee setiap buku memiliki spesifik pembaca sasarannya masing-masing dan ee tentunya ee buku seperti ini tentunya memiliki maksud dan fungsi tujuannya masing-masing gitu ya. Tapi apapun bukunya tentunya buku yang tadi bisa memberikan ee inspirasi menjadi sumber pengetahuan dan sebagainya haruslah buku-buku yang baik. Kuncinya seperti itu. Jadi hanya buku-buku yang baiklah yang tadi bisa memberikan banyak manfaat bagi para pembacanya gitu kan. Nah, pertanyaannya lagi yang kedua adalah kalau gitu buku yang baik itu seperti apa gitu ya Bapak Ibu sekalian. Nah, ini menarik sekali. Ee di pusat perbukuan sendiri ada tiga prinsip sebenarnya yang ee secara princiipel gitu ya menjelaskan apa itu yang dimaksud dengan buku yang baik. Jadi buku yang baik itu adalah buku yang memang yang pertama adalah memberikan daya unggah Bapak Ibu sekalian. daya unggah. Berarti buku ini bukan hanya ee bisa mentransfer ilmu pengetahuan gitu ya, tapi juga tadi bisa mentransfer maksud dan keinginan mungkin dari si penulisnya. Itu yang pertama. Yang kedua adalah buku ini bisa memberikan daya guga. Buku ini kemudian bukan hanya tadi mentransfer knowledge, tapi juga bisa menggugah pembacanya gitu ya untuk memiliki motivasi atau interest terhadap sesuatu. Dan yang terakhir adalah buku yang baik. itu adalah buku yang bisa memberikan daya ubah ee pembacanya yang sudah terguga kemudian bergerak untuk kemudian melakukan perubahan dan sebagai tentunya kita ee berada di dalam posisi sebagai agen of change eh sebagai agen perubahan tentunya maka penting bagi kita untuk mulai melihat dan membaca buku yang bisa memberikan dampak perubahan yang baik di ee baik di diri kita maupun di masyarakat. masakan seperti itu. Nah, lalu buku seperti apa yang bisa memberikan memiliki tiga prinsip ini? Jadi, ee buku yang bisa memberikan tiga prinsip ini tentulah pasti buku yang bermutu, Bapak, Ibu sekalian. Nah, buku yang bermutu ini ee tentunya dianggap buku bermutu ketika memang buku-buku ini memenuhi standar dan kaidah ee mutu perbukuan seperti itu. Ee mungkin boleh minta tolong ke slide berikutnya. ya. Nah, di ee Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 di PP-nya kemudian di Permendikbutristek ee nomor 20 terkait eh nomor 22 tahun 2022 bahwa ee sudah ada itu standar mutu untuk buku baik itu buku umum atau buku pendidikan ee untuk mengetahui sebenarnya buku yang bermutu itu seperti apa. Nah, buku yang bermutu sendiri dianggap bermutu ketika dia memenuhi empat standar, yaitu standar materi. Yang kedua, standar ee desain, yang berikutnya adalah standar ee penyajian, dan yang terakhir adalah standar grafika. Bapak, Ibu sekalian, standar materi itu memuat ee bagaimana materi atau ee teks ataupun gambar yang ada dalam buku tersebut memang bermutu dalam secara materinya, Bapak, Ibu sekalian. Ee biasanya ini membuat prinsip-prinsip yang sangat ee principal sekali, kritikal sekali. misalkan terkait dengan ee legalitas misalnya seperti buku yang bermutu adalah buku yang memenuhi ee aspek ee legalitas keapsahan konten baik itu teks atau gambarnya untuk digunakan. Kemudian lagi misalnya buku yang bermutu adalah buku yang tidak melanggar norma seperti itu. Nah, itu di antaranya gitu ya untuk materi. Kemudian materinya mungkin bisa dianggap ee up to date gitu ya sehingga itu bisa dianggap sebagai buku bermutu walaupun ini nanti terkait lagi dengan jenis dan klasifikasi bukunya masing-masing. Lalu kemudian terkait dengan standar penyajian. Standar penyajian juga ee menjadi salah satu ukuran kebermutuhan buku Bapak Ibu sekalian. Ee bagaimana kemudian buku itu nantinya bisa dianggap memenuhi ee standar yang bisa digunakan di masyarakat sehingga bisa memberikan dampak yang baik kepada masyarakat. Nah, standar penyajian ini mencakup beberapa hal sebenarnya. ada ee standar terkait dengan ee penggunaan bukunya. Kemudian bagaimana kemudian buku itu ee disajikan ee untuk membaca sasaran yang spesifik gitu ya. Kemudian lagi bagaimana buku tersebut dijenjangkan atau ee disesuaikan dengan target pembaca sasarannya. Nah, di dalam standar penyajian sendiri ada yang kami sebut sebagai perjenjangan. Jadi kalau tadi salah satu sebabnya gitu ya, kenapa kemudian ada banyak anak-anak kita yang kehilangan motivasi ketika ee membaca buku gitu ya, ketika belajar membaca adalah salah satu sebabnya adalah karena ee anak-anak kita tidak diberikan buku yang tepat untuk ee yang sesuai dengan level kemampuan membacanya ya. Jadi ee setiap ee kita setiap kita itu punya level membaca yang berbeda-beda gu ya. Ee di pusat perbukuan sendiri di dalam ee peraturan kepala beskap ee kami membuat pedoman perjenjangan gitu ya, dari mulai A sampai E gitu ya. Dari mulai pembaca dini sampai pembaca mahir. Ee tujuannya apa? Tujuannya adalah agar ee kita sebagai orang dewasa bisa memilih buku sesuai dengan kemampuan membaca masing-masing. Atau bahkan ketika kita memilihkan buku untuk anak-anak kita, kita bisa memilih buku sesuai dengan kemampuan membacanya masing-masing. Nah, harapannya kenapa seperti itu? Karena tadi ada banyak ee fenomena di mana ee para pembaca dini ini, kami menyebutnya pembaca dini, anak-anak yang baru belajar membaca ini ini mengalami kehilangan motivasi karena mereka tadi salah satunya adalah tidak memperoleh buku yang tepat ya buku-buku yang tadinya mungkin ee masuk dalam kategori pembaca mahir tapi kemudian diberikan kepada anak-anak ini ee dengan harapan mungkin tadinya anak-anak ini ee bisa bisa mengikuti gitu ya, me me apa membaca, memahami g tapi ternyata memberikan buku yang di luar level membacanya itu justru malah membuat anak-anak ini frustasi. atau bahkan sebaliknya ada anak-anak kita yang mungkin ee jenjang SMP gitu ya, SMP, SD gitu ya, yang sebenarnya membacanya itu sudah cukup tinggi, sudah sampai ke pembaca semenjana misal atau pembaca madya, tapi kemudian malah diberikan bukunya justru buku-buku yang ee membaca awal gitu ya, yang mungkin ceritanya cukup sederhana, mungkin ee terlalu banyak ornamen-ornamen, gambar, desain dan sebagainya. desainnya enggak sehingga si anak sendiri merasa jenuh gitu ya. Jenuh karena ee terlalu cepat memahami, memaknai, kemudian merasa terlalu mudah gitu ya memahami bukunya dan dia jenuh sehingga akhirnya berhenti untuk membaca. Nah, ee hal-hal tersebut inilah yang kemudian kami coba ee hindari dalam proses penyusunan buku biasanya karena itu penting ee di dilakukan gitu ketika mungkin ada teman-teman ASN yang akan berkontribusi untuk menyusun buku untuk memikirkan ee target pembaca sasarannya sehingga bukunya bisa disajikan dan tadi memenuhi salah satu standar yaitu standar penyajian. Nah, standar berikutnya adalah standar desain. Eh, sebagaimana sebuah produk kreatif gitu ya, Bapak, Ibu sekalian. Jadi, buku itu menariknya buku itu adalah bukan hanya sebuah produk akademik ya, tapi buku juga sebagai sebuah produk industri dan di luar itu adalah buku sendiri adalah sebuah produk kreatif gitu ya. maka penting sekali untuk mendesain buku agar itu menarik untuk dilihat. Kemudian lagi dan ini ee bergantung sekali dengan ee apa penggunaan bukunya gitu ya. Sebagai contoh misalkan ee dalam sebuah ee buku novel yang mungkin halaman ratusan halamat biasanya desainer yang baik, layouter yang baik pasti memberikan halaman jeda sehingga pembaca bisa beristirahat sejenak sehingga mata itu tidak lelah gitu ya. Kemudian lagi ee dalam ee buku-buku bergambar terutama biasanya selalu ada space ruang untuk pembaca ee merenung atau berpikir atau menerka cerita gitu ya sebelum lanjut ke halaman berikutnya gitu ya. Nah, proses-proses ini tanpa disadari sebenarnya menjadi salah satu faktor bagaimana kemudian buku itu menjadi menarik Bapak Ibu sekalian. Kemudian lagi penggunaan-penggunaan gambar, ilustrasi gitu ya. ilustrasi yang terlalu banyak akan membuat buku tersebut menjadi terlalu ramai dan buat ee pembaca-pembaca tertentu itu tidak menarik. Tapi di satu sisi juga tanpa ilustrasi buku menjadi sangat apa ya hampa gitu ya, kosong dan sebagainya. Dan itu juga tidak menarik karena itu penting untuk proporsional ee bagaimana menyajikan ilustrasinya. Apakah itu akan dibuat dengan ilustrasi yang ee style tertentu gitu ya, Bapak, Ibu sekalian ataukah dengan yang realistik gitu ya, seperti itu. Nah, itu juga jadi satu pertimbangan apakah sebuah buku itu ee memenuhi standar desain. Kemudian standar grafika. Standar grafika adalah standar buku tersebut ketika diproduksi baik itu dalam bentuk cetak ataupun dalam bentuk format elektronik. Kalau dalam bentuk cetak berarti harus diperhatikan ee kertas apa yang akan digunakan, kemudian penjilitannya seperti apa, kemudian lagi ee covernya akan seperti apa gitu ya, packing-nya akan seperti apa dan sebagainya. Itu juga menjadi salah satu faktor kemudian buku itu kemudian bisa dianggap bermutu atau jika dia dalam bentuk ee elektronik maka harus diperhatikan lagi ee file bukunya akan digunakan di platform apa gitu ya. Apakah ukuran file bukunya memenuhi atau sesuai dengan spesifikasi gawai yang akan digunakan menggunakannya nanti. Nah, itu juga jadi ee salah satu pertimbangan dalam menentukan standar mutu buku khususnya buku di pendidikan seperti itu. Oke, berikutnya. Nah, ini adalah pedoman perjenjangan. Bapak, Ibu sekalian di Pusat Perbukuan sendiri kami sangat ee koncern sekali dengan perjunjangan ini karena memang ada banyak temuan, ada banyak riset, ada banyak kajian yang menyebutkan bahwa ee salah satu tadi ke salah satu hal yang menyebabkan kita anak-anak kita e kehilangan motivasi membaca adalah ee terkait dengan ee ketidak ee pasnya gitu ya ee para pembaca ini ee ketika memperoleh buku bukunya gitu ya. Nah, karena itu diperlukan perjenjangan ini sehingga harapannya adalah ee kita semuanya sebagai orang dewasa bisa memilih buku yang tepat untuk anak-anak kita dan bisa juga mungkin memilih buku yang tepat untuk diri kita sendiri gitu ya. Ee pedoman perjanjangan ini mengacu pada kemampuan membaca sebenarnya Bapak Ibu sekalian. Jadi meskipun di dalam Salindia ini kami menjelaskan ada usia tapi sebenarnya usia itu bukan patokan. Kenapa seperti itu? karena ee ada banyak kasus, ada banyak fenomena bahwa usia ee usia perkembangan anak itu tidak mencerminkan kemampuan membacanya. Mungkin Bapak Ibu sekalian pernah menemui, mungkin ada anak-anak yang secara usia kelas 6 SD atau sudah SMP bahkan. Tapi kemudian mungkin dia bisa membaca tapi memahami bacaannya mungkin belum cukup baik seperti itu. Dari hasil tes PISA juga sebenarnya sudah banyak ee data yang menunjukkan bahwa anak-anak kita itu bisa membaca tapi kemudian kemampuan literasinya kok tidak tinggi gitu ya. Karena memang ee kemampuan bacanya tadi tidak disertai dengan kemampuan memahami bacaan. Nah, itu yang disebut sebagai kemampuan ee membaca. atau leveling seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. Leveling-nya sendiri ada dari A hingga E. Dari mulai pembaca ee dini, kemudian ada pembaca awal, kemudian ada pembaca semenjana, lalu ada pembaca madya dan pembaca mahir gitu ya. Ee di dalam Perkap-nya sendiri sebenarnya sudah disampaikan ee kriteria atau indikator ee masing-masing pembaca ini di Perkap nomor 39 tahun 2022. Jadi ada terkait dengan jumlah kata, dengan jumlah halaman, terkait dengan penggunaan tanda baca, kemudian terkait dengan genre yang bisa digunakan digunakan atau dibaca itu juga ada di sana seperti itu. Misalkan ee yang paling simpel saja misalnya adalah jumlah kata gitu ya. Kita selalu beranggapan bahwa buku yang baik itu adalah buku yang penuh dengan kata-kata ya. Padahal ternyata tidak. bahwa untuk pembaca dini justru buku yang baik adalah buku yang worthless yang kata-katanya sedikit bahwa cerita itu disampaikan justru dominan dengan banyak gambar seperti itu. Dan itu bukan berarti kemudian menghambat anak untuk belajar membaca, malah justru anak-anak di pembaca dini yang level membacanya pembaca dini justru mengalami ketertarikan membaca pertama kali justru ketika bertemu dengan buku-buku yang seperti itu. buku-buku yang kata-katanya sedikit, kata-katanya sederhana, bahkan mungkin ee belum sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ee tapi gambarnya full ee cerita. Bahkan gambarnya itu ada gambar yang sifatnya mungkin hanya hitam putih juga tidak apa-apa gitu, tergantung konteks ceritanya. Tapi justru buku-buku tersebut yang justru menarik buat anak-anak kita. Kami pernah melakukan semacam e survei gitu ya terhadap beberapa anak gitu ya. menyaj memberikan mereka beberapa buku gitu ya dengan asumsi gitu. Buku-buku tersebut dipilih oleh orang dewasa dan menurut orang dewasa itu adalah buku yang menarik. Tapi ternyata anak-anak kita justru tidak tertarik dengan buku-buku seperti itu. Mereka justru tertarik dengan buku-buku yang katakanlah dari ilustrasinya gitu Bapak Ibu sekalian. ee kita biasanya memilih buku-buku ilustrasi bagus itu adalah ee ilustrasinya itu ee orang lengkap dengan badan profesional misalnya seperti itu. Kita sebagai orang dewasa mungkin seperti itu. Tapi ternyata buat anak-anak justru ilustrasi yang adalah ilustrasi yang kayak coret-coretan anak-anak itu aja yang secara profesional tidak lengkap gitu ya anggota tubuhnya gitu ya. Tapi ee apa kadang bahkan menurut kita kok kayak aneh gitu ya. Tapi ternyata buat anak-anak sih itu menarik. itu perspektif yang berbeda antara orang dewasa dan anak-anak. Tapi di situ adalah hal yang penting adalah itu adalah fase awal bagi anak-anak untuk mulai belajar, untuk mulai menggemari buku, untuk mulai cinta membaca seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. Dan itu penting sekali. Kenapa? Karena ketika mereka nanti tumbuh, ketika mereka memperoleh ee buku yang tepat sesuai dengan kemampuan membacanya, maka tidak perlu lagi kita ee apa istilahnya ee memaksa-maksa anak-anak untuk ayo baca, ayo baca, gitu ya. Ee tanpa sadar mereka akan ee mulai cipta buku, mulai tertarik membaca tanpa harus disuruh gitu ya. karena mereka akan merasa bahwa ee membaca itu adalah sebuah kebutuhan gitu ya. Dan ya tadi namanya kebutuhan berarti kan harus sesuai dengan dirinya masing-masing Bapak Ibu sekalian seperti itu. Oke berikutnya. Nah ini klasifikasi klasifikasi buku yang ada di ee Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017. Jadi di Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 Bapak Ibu sekalian ee buku itu secara umum dibagi jadi dua, buku umum dan buku pendidikan gitu ya. di buku umum itu buku yang mungkin biasa kita temui di toko buku, di perpustakaan umum gitu ya, di macam-macam gitu ya, taman baca gitu ya, kemudian lagi ee ya di banyak tempat Bapak Ibu sekali. Tapi intinya adalah buku umum itu adalah buku yang bisa kita temui secara bebas. Ee kontennya macam-macam, bentuknya macam-macam, genrenya macam-macam gitu ya. beraneka jenis dan ini ee tidak ada ee batasan sebenarnya. Ee standar mutunya itu biasanya hanya terkait dengan apakah buku tersebut tidak berisi konten-konten yang terlarang gitu yang melanggar Pancasila dan sebagainya seperti itu. Yang kedua adalah buku pendidikan. Buku pendidikan ini adalah buku yang diperbolehkan untuk digunakan di sekolah Bapak Ibu sekalian. Nah, di dalam prosesnya buku umum bisa berubah menjadi buku pendidikan melalui proses yang kami sebut sebagai penilaian buku. Ini sesuai tadi ada tugas dan fungsi dari pusat perbukuan dan bentuknya itu tidak harus ee bentuk buku yang sifatnya teks mata pelajaran gitu ya. Tadi Bu Rahma sudah menyampaikan ee ketika kita memikirkan buku seolah-olah ee buku itu hanya buku pelajaran saja gitu ya. Padahal di dalam undang-undangnya sendiri, buku pendidikan itu tidak harus berbentuk buku pelajaran. Ada bentuk buku yang kami sebut sebagai buku noneks. Nah, buku noneks ini ee sifatnya sama seperti buku umum. Ada puisi, ada novel, ada apa komik, bahkan ada komik, ada macam-macam sekali gitu ya. Dan isinya juga macam-macam, ceritanya macam-macam gitu ya. Nah, ini ee buku-buku yang bisa digunakan di satuan pendidikan ini kami sebut sebagai buku pendidikan. Buku pendidikan. Nah, di buku pendidikan sendiri ee kami mengkategorikannya menjadi tiga. Ada buku panduan pendidik, ada buku referensi, dan buku pengayaan. Seperti itu. Oke, berikutnya ya. Nah, ini jenis bukunya secara umum. Ada buku fiksi Bapak, Ibu sekalian. buku ee nonfiksi. Kemudian ada lagi gabungan gitu ya, kami menyebutnya fiksi gitu ya, fakta yang difiksikan gitu ya. Buku fiksi itu apa? Jadi buku fiksi ini sendiri adalah buku yang berisi dengan ee cerita-cerita rekaan imajinatif tidak berdasarkan kejadian nyata sepenuhnya. Bentuknya macam-macam. Bisa novel, komik gitu ya. bisa romansa, bisa wah banyak sekali bukunya ya. Tidak melulu buku dan Tidak Melulu buku fiksi itu adalah buku yang sifatnya hanya untuk senang-senang cerita gitu ya Bapak Ibu sekalian. Ada buku-buku fiksi yang itu mengandung nilai-nilai ee keluhuran gitu ya. Mungkin kita juga ee sudah tahu bahwa ee dahulu gitu ya dan sampai saat ini gitu ya kita punya banyak karya sastra. Ada sastra-sastterra adil luhung yang itu mengandung nilai-nilai keluhuran. Ada juga buku-buku sastra yang mengandung nilai-nilai sejarah seperti itu. Ini buku fiksi. Lalu ada buku lagi buku nonfiksi. Buku yang disusun berdasarkan fakta, data, atau ee pengalaman nyata gitu ya. Biasanya karena ini berdasarkan data atau fakta, biasanya ada referensi-referensi tertentu yang di ee nyatakan atau diate-ekkan di dalam bukunya gitu ya. Ee kemudian lagi biasanya ada ee daftar pustaka yang cukup spesifik gitu ya untuk meyakinkan pembaca bahwa materi, konten, teks, dan gambar dan sebagainya memang bersumber pada data-data yang empiris. Seperti itu Bapak Ibu sekalian. Lalu ada lagi faksi. Ini adalah buku yang menggabungkan elemen fiksi dan nonfiksi. Mungkin dari kita pernah membaca beberapa novel gu ya, tapi novel-novel sejarah gitu ya, Bapak, Ibu sekalian. kisah-kisah sejarah yang kemudian dibalut dan disampaikan, dinarasikan gitu ya secara ee ee fiksi, secara naratif gitu ya sehingga ee fakta-fakta sejarah tadi bisa ee dinikmati dengan lebih ee santai seperti itu atau buku otobiografi juga banyak seperti itu. Oke, ee berikutnya ya. Nah, ini yang mau kami sampaikan sebenar intinya baca dan makna nanti ya, Bapak, Ibu sekalian. Ee bagaimana kemudian kegiatan membaca bisa menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan gitu ya dan ini menjadi kebutuhan buat kita semuanya. Bagaimana caranya gitu Bapak, Ibu sekalian bahwa membaca ini ya tidak hanya sekedar sebuah kegiatan yang sifatnya normatif gitu ya, normalitas, tapi juga jadi menjadi ini menjadi kebutuhan kita mungkin seperti ee ini ya kebutuhan primer ya, sandang, pangan, papan tapi salah satunya lagi adalah membaca. Nah, yang pertama adalah Bapak, Ibu sekalian. Oke, berikutnya tetapkan dulu tujuan membacanya. Tujuan membaca membantu kita memilih bahan bacaan yang tepat sesuai dengan yang kita perlukan. Kalau kita ingin membaca untuk menambah informasi, tentu akan lebih baik kita membaca buku-buku nonfiksi misalnya seperti itu. Ee kemudian kalau kita ingin untuk rekreasi itu tentu kita akan memilih buku-buku fiksi yang tentunya menyenangkan sebagainya. Tapi secara umum adalah ee jangan membaca asal membaca ya. apa yang ingin kita dapat, apa yang ingin kita pelajari, apa yang ingin kita nikmati dari buku yang saat ini ada di tangan kita, ada yang ingin kita peroleh atau ingin kita baca. Itu yang pertama. Yang kedua, pilih buku yang ee relevan dan berkualitas tadi ya, Bapak, Ibu sekalian. Oke. Ee slide berikutnya boleh ya. Jadi ini tadi pilih buku yang relevan artinya tadi sesuai dengan tujuan kita membaca, sesuai dengan level membacanya ya. ee kalau memang kita punya ee atau mungkin ee pembaca-pembaca mungkin mengalami kesulitan memahami buku dengan konteks tertentu gitu ya, kita cari dari mulai yang paling sederhana seperti itu. Kemudian lagi ee mungkin buat kita yang ee berfokus atau ee bekerja pada bidang-bidang tertentu bisa memilih buku yang sesuai dengan bidang kerja kita atau peran kita. Kemudian lagi agar bukunya itu berkualitas mungkin bisa yang salah satu jaminannya adalah ee memilih buku dengan penulis-penulis yang juga ee kompeten atau diterbitkan oleh lembaga-lembaga yang kredibel. Ee bukunya tentu harus up to date tentunya ya sehingga itu bisa kita ee nikmati dan pelajari dan itu bermanfaat untuk pengembangan kompetensi kita ke depan. Oke, berikutnya. Oke. Nah, membaca itu hanya tahap awal gitu ya. Jadi kalau judul tadi webinarnya adalah buku ilmu ya Bapak Ibu sekalian. Ee hanya seperti gerbang gitu ya. Itu kan hanya awalnya saja. Utamanya adalah sesudah gerbangnya gitu ya. Nah, membaca itu hanya tahap awal. Maka sesudah membaca apakah prosesnya berhenti? Ee ada salah satu lagi untuk ee tahapan untuk melihat apakah proses membaca kita itu sudah cukup bermakna atau belum. Yang pertama adalah membuat refleksi pastinya apa yang sudah saya pelajari dari buku yang saya baca ya. Apa yang saya ingat? Mungkin hanya awal-awal mungkin hanya ingat judulnya saja gitu ya. Kemudian nanti ingat beberapa kutipan kalimat gitu ya di sana paragraf dan sebagainya hingga akhirnya kita bisa membuat semacam resume gitu ya. resume, ringkasan, resensi dari buku yang sudah kita baca gitu ya. Nah, resume ringkasan resensi yang kita buat ini itu akan menjadi ee menunjukkan gitu indikasi bahwa memang proses membaca kita bukan hanya proses membaca huruf demi huruf, kata demi kata, tapi juga sudah memaknai maksud, kalimat, paragraf gitu ya, konten, materi, gambar dan sebagainya yang ada di buku. Sehingga itu bisa bermanfaat untuk diri kita sendiri, bisa kita simpan sebagai sebuah memori yang sifatnya jangka panjang. ya ee salah satu kelebihan dari penggunaan buku cetak gitu ya memproses membaca ini dibandingkan dengan proses menikmati atau melihat visual-visual lain Bapak Ibu sekalian seperti video gitu ya simulasi dan sebagainya adalah ada proses ee penanaman memori jangka panjang ya Bapak Ibu sekalian mungkin kita pernah merhatiin anak-anak kita atau anak-anak pada saat sekarang tuh cenderung lebih suka ee apa menikmati tayangan-tayangan dengan visual yang sifatnya jangka pendek ya kayak di TikTok gitu ya atau story Instagram gitu ya atau apa ya short di YouTube dan sebagainya gitu ya. Ee karena memang pada masa saat ini adalah anak-anak kita cenderung cepat untuk menyerap informasi gitu ya. Tapi dampak yang ee tidak baiknya adalah Bapak, Ibu sekalian, kecepatan penyerapan informasi tadi tidak diimbangi dengan ee keawetan informasi tersebut bertahan di memori jangka pajak. Nah, buku proses membaca yang mungkin lebih lambat prosesnya dalam penyerap informasi, perlu beberapa tahapan, perlu beberapa proses, justru malah membuat ee memori jangka panjang kita bisa lebih awet, lebih bertahan lama itu sehingga informasi yang masuk itu meskipun kita bacanya sudah bertahun-tahun yang lalu kita masih ingat gitu ya. ya sebagai mungkin ee refleksi saja mungkin Bapak Ibu sekalian mungkin masih ingat dengan buku-buku yang dibaca ketika dulu kecil gitu ya. Bandingkan dengan tayangan-tayangan ee apa sosial media atau apa yang mungkin dia lihat ee beberapa bulan lalu gitu misalnya ya. itu menunjukkan bahwa memang membaca itu membuat ee memori jangka panjang kita itu lebih kuat dan ini ee bisa lebih dioptimalkan ketika kita membaca kemudian membuat ee refleksi seperti Bu ya. Oke. Ee berikutnya ya, berikutnya adalah ee luangkan waktu jangan di waktu luang ya. berikan waktu di dalam 24 jam ee keseharian kita untuk membuka buku. Mungkin tidak banyak 5 menit gitu ya, hanya untuk sekedar ee melihat beberapa kalimat, be halaman gitu ya. Tapi luangkan waktunya, sediakan waktunya itu ya Bapak Ibu sekalian. Jangan kemudian membaca ee ketika ah lagi enggak ngapa-ngapain gitu ya. karena itu tidak akan menimbulkan kebiasaan atau pembiasaan. Tapi ketika kita meluangkan waktu meskipun hanya 5 menit gitu ya, itu akan membuat kita memiliki atau ee mengalokasikan waktu kita dalam sehari itu bahwa memang ada kebutuhan untuk membaca dan secara perlahan biasanya itu akan bertambah, bertambah, bertambah, bertambah seperti itu Bapak, Ibu sekalian. mungkin saat mau tidur, mungkin saat mau ya saat-saat sedang ee sudah akan istirahat seperti itu gitu ya. itu akan membantu sekali dalam proses pembiasaan dan ee kalau kita ada anak kecil gitu di rumah dan sebagainya, mereka akan melihat kita bahwa oh orang tuanya e memegang buku gitu ya, membaca buku dan itu akan menjadi proses pembiasaan juga di ee dalam rumah seperti itu. Lalu kemudian lagi berikutnya baca, tulis, dan sebar. ini sebenarnya ee terkait dengan ee refleksi tadi Bapak, Ibu sekalian bahwa proses membaca itu tidak hanya ee membaca atau memaknai tulisan saja, tapi juga memahami konten buku secara keseluruhan dan agar itu bisa menempel atau berada di dalam memorial kita dalam jangka waktu yang cukup panjang, maka tadi menuangkan apa yang sudah kita baca dalam bentuk tulisan. mungkin hanya satu kalimat awalnya gitu ya, beberapa paragraf kemudian sampai bahkan mungkin bisa berlembar-lembar halaman gu ya. Nah, kalau membaca itu membantu otak kita untuk menyerap Bapak Ibu sekalian. Maka menulis itu membantu untuk otak kita menyusun sistematis, berpikir sistematis. Bapak, Ibu sekalian dari mulai umum ke khusus misalkan seperti itu. Dari mulai yang umum ke detail gitu. gitu. Itu juga bisa. Nah, ini akan membantu kita di dalam proses pekerjaan kita nantinya. Kita juga sudah paham mungkin bahwa dalam proses pekerjaan kita sistematika itu sangat penting sekali. Ee karena itu ee penting sekali bagi ee kita untuk ketika kita sehabis membaca ee kita habis membaca tentu untuk ee menuangkan kembali dalam bentuk tulisan. kita bisa membuat resensi, kita bisa membuat resume dan lain sebagainya. Ee dan sekarang kan sudah banyak ini ya, sudah banyak ee apa media-media untuk menyebarluaskan. ada sosial media, ada macam-macam ya, sehingga resensis ee apa resume segala macam ringkasan dan sebagainya itu akan bermanfaat untuk pembaca-pembaca yang belum membaca buku tersebut gitu. dan itu akan berdampak gitu ya, akan menimbulkan ee gelombang ee keinginan atau motivasi untuk membaca yang lebih besar lagi seperti itu. Di beberapa sosial media di Instagram, di ee TikTok gitu ya, sepertinya ada banyak eh influencer-influencer yang memang menggunakan cara yang tersebut gitu ya. membaca kemudian menyebarluaskan ee takbir bukunya dan itu secara tidak langsung pasti akan berdampak pada ee proses peningkatan kualitas literasi kita. Nah, kemudian ASN dan buku dari ee tadi yang sudah kami sampaikan ada tiga hal sebenarnya hubungan antara ee ASN dan buku. sebagai pengguna, sebagai penggerak, dan sebagai kontributor. Sebagai pengguna tentu ee kita hanya entah sebagai sumber pengetahuan, rujukan kebijakan, pengembangan diri, bahan-bahan untuk ee meningkatkan kompetensi sebagai pembaca ya Bapak, Ibu sekalian. Kemudian sebagai penggerak kita berupaya agar ee budaya membaca dan menulis itu mulai hadir ee baik di diri kita maupun di sekitar kita. Entah itu di kantor gitu ya, entah itu di rumah gitu ya. Sini kita membaca untuk menginspirasi. Lalu kemudian sebagai kontributor kita bergerak ke tahapan selanjutnya ee menjadi terlibat aktif ya dalam proses penyusunan buku sebagai pelaku perbukuan. Kalau di undang-undang kami menyebutnya pelaku perbukuan. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyusunan buku. Di sana ada penulis, ada editor, ada ilustrator, ada desainer, ada ee pengembang ee buku elektronik, buku digital. ada penerbit, ada percetakan, ada toko buku seperti itu. Dan menjadi kontributor ini tentunya ee perlu belajar dulu ya sebelumnya Bapak Ibu sekalian. Di pusat perbukuan sendiri sebenarnya ada program untuk melakukan pembinaan terhadap pelaku perbukuan. Jadi pusat perbukuan sendiri secara aktif ee mengadakan workshop, seminar, ee webinar, macam-macam dan sebagainya. Bapak, Ibu sekalian untuk mengajak Bapak, Ibu, teman-teman semuanya yang tertarik untuk menjadi kontributor buku, menjadi ee apa? pelaku aktif itu yang terlibat dalam proses penyusunan buku ee pelatihan ee bahkan ada sertifikasi sertifikasi untuk penulis dan editor profesional itu. sehingga diharapkannya nantinya ada banyak orang yang berkontribusi terhadap proses penyusunan buku dan ini membuat ee buku menjadi semakin banyak, semakin bervariasi, semakin beragam dan masyarakat kemudian punya banyak pilihan dan akhirnya tertarik untuk ee mulai ee membaca buku seperti itu. Oke, berikutnya. Oke. Nah, ini adalah platform yang coba kami sampaikan kepada Bapak, Ibu sekalian, yaitu CB, Sistem Informasi Perbukuan Indonesia. Bapak, Ibu sekalian. Jadi, Kemendikdesman melalui pusat perbukuan sudah menyediakan platform di mana Bapak, Ibu sebenarnya bisa ber tadi menjadi tiga tadi, menjadi pengguna, menjadi ee apa? penggerak dan juga menjadi kontributor seperti itu. Nah, sebagai pengguna di CB, CB sendiri adalah sebuah ekosistem digital Bapak, Ibu sekalian. Di dalamnya ada macam-macam. Ada katalog buku, ada buku-buku yang bisa dibaca, diunduh secara free, gratis, ada ee kebijakan-kebijakan, pedoman-pedoman yang mungkin bisa digunakan sebagai referensi ketika Bapak, Ibu akan melakukan proses penyusunan buku dan sebagainya. Sebagai ee portofolio juga Bapak, Ibu sekalian. Jadi di sana ada data-data pelaku perbukuan yang di mana ee para pelaku perbukuan ini memiliki portofolio masing-masing sehingga ketika mungkin instansi atau lembaga Bapak Ibu sekalian ingin membuat buku kemudian ingin bekerja sama bisa memilih dari sana karena di sana ada tadi ada ee ekosistem digital pelaku perbukuan gitu ya. Lalu di dalamnya juga ada ee informasi seputar perbukuan nasional. di sana ada ee jadwal-jadwal pelatihan, workshop, seminar, dan sebagainya. Ada jadwal sertifikasi, ada agenda-agenda event. Ee seperti yang sekarang ini kita akan ee dalam waktu dekat ada Hari Buku Nasional ya, Bapak, Ibu sekalian. Kemudian lagi ada ee bentuk-bentuk kolaborasi antara Kemendik Desmen dengan lembaga-lembaga lain. Kemudian lagi bentuk-bentuk fasilitasi antara Desmen dengan lembaga lain juga entah itu bentuk ee dengan pemerintah daerah gitu atau bahkan dengan ee lembaga komunitas-komunitas gitu ya atau lembaga-lembaga swasta lainnya gitu ya. seperti misalnya ee di awal tahun kemarin misalnya Mendidmen melalui pusat perbukuan memfasilitasi terkait pengembangan buku digital di ee pemerintah provinsi Bali seperti itu. Itu salah satunya. Nah, kemudian lagi misalnya ada kerja sama ee terkait dengan penyusunan peraturan daerah misal terkait dengan perbukuan gitu ya, gerakan literasi dan sebagainya dengan e beberapa pemerintah di Indonesia Timur seperti itu. Itu salah satu ee informasi-informasi yang ada di dalam CB Bapak Ibu sekalian. Oke, berikutnya ya. Ada dua domain yang bisa Bapak Ibu akses, yaitu di httpsbuku.go.id. Ini adalah domain untuk ee alamat untuk Bapak Ibu yang ingin bertindak sebagai ee pengguna dan penggerak. Bapak, Ibu sekalian ee di dalamnya ada banyak ee buku ee yang bisa Bapak Ibu unduh secara gratis. mau dicetak sendiri silakan gitu ya. Bisa digunakan secara free. Kemudian lagi di dalamnya juga ada banyak informasi-informasi lainnya terkait program-program e literasi yang ada di Kemendikdesmen. Lalu ada laman yang kedua yaitu app.buku.go.id. ini adalah laman khusus untuk pelaku perbukuan yang ingin berkontribusi dalam ee proses penyediaan buku atau penyusunan buku seperti itu. Ee di dalamnya ada ee buku ee daftar buku yang bisa dibeli ini bagi pemerintah daerah ya dan sekolah gitu ya. ada sekian judul buku yang bisa digunakan di satuan pendidikan dibeli melalui dana BOS atau bahkan dana DAK misalnya seperti itu. Kemudian lagi di dalamnya ada informasi terkait eh event workshop gu ya pelatihan dan sebagainya. Lalu di sana juga ada ee berita-berita terkait dengan ee apa ee kolaborasi antara pusat perbukuan dengan lembaga-lembaga lainnya gitu ya. Nah, di dua laman inilah Bapak, Ibu mungkin bisa mengakses secara free untuk mengeksplore dan mungkin bisa ee menggunakan apa yang ada di dalam kedua laman ini sebagai bentuk peningkatan kompetensi ke depannya nantinya. Seperti itu. Oke, berikutnya ya. Ini di laman pertama ya tadi ya di buku.go.id ada di katalog bukunya itu ada buku teks, ada buku noneks gitu ya. Ee kami menyarankan Bapak, Ibu untuk mengakses buku noneksnya dan melihat ee bahwa yang namanya buku pendidikan tidak melulu bicara soal buku teks pelajaran. Beliau di sana ada buku komik, novel, dan buku puisi. Dan ke depannya ee ada banyak buku-buku lainnya, jenis lainnya seperti itu. Ini bisa digunakan Bapak, Ibu untuk ee mungkin mengajari anak ee putra-putrinya untuk gemar membaca gitu ya ee dan sebagainya, Bu. Kemudian lagi bentuknya Bapak Ibu sekalian di CB ini tidak hanya buku yang sifatnya PDF gitu ya yang bisa dicetak situ tapi di sana juga ada buku yang bentuknya buku ee audio gitu ya. Mungkin ini untuk ee teman-teman kita atau anak-anak kita yang mengalami kebutuhan g berkebutuhan khusus sehingga memerlukan buku untuk yang sifatnya e audio. Lalu kemudian lagi ada buku interaktif di mana buku-buku yang telah disusun oleh Kemendikdas Desment kemudian dijadikan interaktif. Di dalamnya ada simulasi, di dalamnya ada ee apa? ada animasi itu ya, ada gambar dan sebagainya yang itu membantu anak-anak kita untuk memahami konteks materi bahan bacaannya. Oke, berikutnya. Nah, ini alasan ya Bapak, Ibu sekalian kenapa harus ee membaca melalui CB ee tentunya adalah kemudahan akan membaca gundo. Jadi, Bapak Ibu sekalian cukup membuat akun. Saya yakin saat ini kan hampir semua dari kita sudah punya akun email ya, Bapak, Ibu sekalian. cukup membuat akun dan nanti kemudian bisa mengakses seluruh buku yang ada di ee CB seperti itu. Lalu kemudian keberagaman jenisnya juga sangat banyak sekali tadi ada novel, ada puisi dan sebagainya. Format bukunya juga banyak. PDF audio interaktif bisa diunduh secara gratis, bisa digunakan secara free. Kemudian eh buku-bukunya adalah buku-buku terkini. Rata-rata sebagian besar adalah terbitan tahun 2020 ke atas. Bapak, Ibu sekalian. Kemudian ada kelengkapan informasi buku. Ee buku-buku tersebut disusun dengan bentuk tanggung jawab yang jelas, Bapak, Ibu sekalian. Ee di dalamnya ada informasi siapa saja yang terlibat. Bapak, Ibu bisa mengecek ee di dalamnya penulisnya siapa, editornya siapa, kemudian ilustratornya siapa, desainernya siapa. sehingga ada keyakinan, ada jaminan bahwa buku-buku tersebut memang ee disusun dengan ee mengacu pada standar mutu buku yang ada. Seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. Dan beberapa buku ee memang ee disusun bekerja sama dengan penulis-penulis yang sudah profesional, Bapak, Ibu. Penulis-penulis yang memang sudah punya karya yang bukunya mungkin sering kita lihat di toko-toko buku ya, Bapak, Ibu sekalian. Seperti itu. Oke, berikutnya. Kemudian ini bagi Bapak Ibu yang ingin menjadi kontributor dan memiliki akun di CBI Bapak Ibu sekalian ee Bapak Ibu bisa mendapat informasi terbaru terkait dengan kebijakan perbukuan, event dan sebagainya. Kemudian ada layanan perbukuan juga ee seperti misalnya ee di ini sudah lewat ya sebenarnya. Jadi ee kemarin itu kami membuka seleksi untuk penulis buku untuk pendidikan khusus misalnya gitu ya. Siapa saja boleh ASN non ASN gitu ya. Kebanyakan kebetulan kemarin yang banyak ee diterima adalah para guru Bapak Ibu sekalian. Dan biasanya nanti di bulan September Oktober kami membuka program kurasi di mana ee para penulis pemula diperkenankan untuk apply e naskahnya. untuk nantinya kemudian yang terpilih akan diberikan bimbingan mentoring gitu ya oleh para penulis-penulis profesional sehingga kemudian naskahnya bisa ee diterbitkan gitu ya, baik itu diterbitkan melalui Kemendik Dasment atau bahkan diterbitkan oleh penerbit-penerbit eh major dalam industri penerbitan gitu ya. Biasanya ada program-program seperti itu di pusat perbukuan dan informasi-informasinya biasanya disampaikan melalui platform CB ini Bapak Ibu sekalian. Oke, berikutnya ee akhir kata Bapak Ibu sekalian ee terima kasih sekali lagi atas kesempatan yang diberikan ee buat kami. Ee meningkatkan kualitas literasi tentu tidak akan bisa berjalan dengan baik kalau tidak meningkatkan mutu bukunya gitu ya. Dan ee mutu buku menjadi salah satu kunci dan peningkatan kompetensi pembaca, peningkatan kompetensi pelaku perbukuan. itu juga menjadi salah satu peran penting dalam meningkatkan kualitas literasi. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya kembalikan ke pembawa [Musik] acara. Baik, terima kasih Pak Wijanarko untuk sesi ketiga kita pada siang hari ini ya. Wah, menarik sekali. Ternyata sekarang sudah ada satu platform yang memudahkan kami dan juga ee tidak hanya sobat ASN tapi juga seluruh ya seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa membaca buku lewat CB itu tadi ya Pak Wijanarko ya. Betul. Betul. Wah menarik waktu saya ee dengar Bapak bilang ini enggak cuman buku-buku yang hanya tulisan-tulisan aja tapi juga ada komik-komik ya. Ada Marvel segala macam gitu ya Pak ya. tuh seru tuh. Jadi menjawab pertanyaan ee yang di segmen-segmen sebelumnya juga gitu, Pak. Nah, untuk pertanyaan yang kali ini kita akan open satu pertanyaan saja dari Sobat ASN yang sudah hadir. Halo, selamat siang Bapak Dani dari Ngawi ya, Pak. Betul. Selamat siang. Terima kasih Mbak atas waktunya. Silakan langsung saja, Pak Dani. Baik, saya Dani dari DLH Kabupaten Ngawi. Terima kasih, Pak Wijanko ya. Jadi sangat menarik tadi ee yang disampaikan terkait buku-buku ini. Ee sebetulnya ada satu sebetulnya yang ingin saya tanyakan ini terkait buku yang ee buku-buku apa ya aliran kanan atau aliran kiri yang notabini oleh pemerintah di bredel gitu. Jadi tidak diizinkan untuk beredar. Bahkan kemarin sempat viral di media sosial ada seorang penulis buku jurnalis yang dia ee membuat buku undercover gitu. Kemudian ee yang dia dapatkan itu dipenjara gitu. saya melihat, wah ini kok seperti ini. Padahal kita ada lembaga yang mengkaji tentang buku ini sendiri. Apakah yang menjadi pertanyaan menurut panjenengan bagaimana pendapatnya terkait hal-hal yang seperti itu? Yang pertama. Nah, lalu yang kedua, apakah bukunya itu sendiri, produk bukunya itu apakah tidak perlu dinilai dulu oleh lembaga yang berwenang ee sehingga ini layak edar atau tidak itu ee apa ya pemerintah hadir di sini untuk memberikan ee keterangan kepada masyarakat bahwasanya buku ini undercover ini tidak layak eder karena seperti ini ee data-datanya ini fiksi atau non fiksi seperti itu. sehingga masyarakat yang mengetahui hal ini itu clear gitu. Ee kemudian tadi saya sempat tertarik CB kemari, wah ternyata juga menarik ini. Jadi ketika tadi yang pemateri yang kedua tadi disampaikan bahwasanya ee digital mulai ditinggalkan oleh negara maju yang sekarang beralih menjadi buku-buku cetak lagi. Tetapi ini adalah ee saya melihat bahwa ini terobosan bahwasanya ee literasi ini bisa me membuka banyak gerbang, membuka banyak ee pengetahuan bagi kita. Jadi ee sedikit terkait literasi saya di DLH salah satunya menangani terkait ee apa pemotongan pohon. Ee ini banyak orang minta, "Pak, ini mohon dipotong karena membahayakan." Membahayakan karena di aturannya ada tertulis memungkinkan untuk dipotong apabila membahayakan gitu. Nah, di poin membahayakan ini saya seringki menyampaikan bahwasanya membahayakan ini persepsi. Jadi, ini menjadi berbahaya atau tidak itu tergantung literasi kita. Jadi kami kalau di dinas teknis kan oh ini membahayakan karena lapuk keropos seperti itu. Jadi masyarakat melihat ini miring membaakan minta potong gitu aja. Jadi saya menarik ini literasi. Jadi terima kasih atas masukan-masukan dan pencerahannya tadi. Terima kasih. Boleh langsung dijawab. Baik, silakan langsung saja Pak Wijanarko dijawab pertanyaan dari Pak Dani. Oke, terima kasih Pak Dani pertanyaannya luar biasa sekali ya. Eh, pertama terkait dengan buku kiri ya Bu atau pengawasan buku. Sebenarnya itu masuk dalam kategori pengawasan ee perbukuan ya Pak Dani. Ya, sebenarnya ee tadi sudah kami sampaikan bahwa setiap buku itu ketika dia dianggap akan memberikan dampak atau manfaat gitu ya, maka dia harus masuk dalam kategori buku baik. dan buku baik sendiri memiliki standar mutunya tadi ya sekalian. Nah, terkait dengan buku-buku ini gitu ya secara umum ee pertama adalah harus dilihat apakah buku tersebut melanggar standar mutu buku atau tidak ya. Pemerintah sebenarnya sudah punya gitu ya punya regulasi terkait standar mutu bukunya. hanya yang saat ini sedang dikaji dan sedang disusun sebenarnya adalah siapa yang akan melaksanakan ee pengukuran atau pengkajian apakah sebuah buku itu tadi memenuhi standar mutu atau tidak. Nah, untuk buku pendidikan Pak Dani itu sudah dilakukan oleh Kemendik Dasma melalui pusat perbukuan gitu ya. Hanya untuk untuk buku umum ini yang memang sedang dalam proses penyusunan lembaganya Bapak Ibu sekalian. Jadi ee ada sebuah lembaga yang berfungsi entah namanya apa nanti melakukan pengawasan buku yang akan mempertimbangkan apakah sebuah buku itu ketika dia sudah diadarkan gitu ya ee memang memenuhi kelayakan atau tidak gitu ya. Jadi ee sifatnya sih sebenarnya pembinaan ya kalau di perbukuan ya karena kita ingin meningkatkan kualitas literasi. Jadi ee sifatnya adalah pembinaan gitu ya ee bagi penulisnya, bagi penerbitnya, bagi pihak-pihak yang terlibat gitu ya untuk memahami standar mutu bukunya itu. Jadi sifatnya bukan dinilai dulu kemudian baru diedarkan gitu ya, tapi ee diedarkan tapi kemudian harapannya adalah para pihak yang terlibat ini sudah memahami mutu bukunya. Itu yang pertama. Ee yang kedua adalah kalau untuk sekolah sendiri sudah dilakukan proses penilaian buku namanya tadi saya sudah sampaikan. Jadi buku-buku yang mau masuk ke sekolah. Nah, kalau ini bedanya adalah kalau sekolah itu kan sifatnya ee masuk kategori ee penggunaan anggarannya adalah anggaran pemerintah ya. Sehingga biasanya itu disaring dulu baru kemudian ee boleh diedarkan. Nah, ini namanya penilaian buku. ini juga sudah dilakukan dan rutin dilakukan dan boleh diikuti oleh siapa saja sebenarnya. Jadi sebenarnya simpelnya sih sebenarnya kalau ingin tahu apakah bukunya memenuhi standar mutu buku ee ya tinggal daftarkan saja ke penilaian. Nanti biasanya di kami di pusat perbukuan akan memberikan masukan gitu ya. Jadi karena sifatnya tadi pembinaan tidak serta-merta kemudian buku yang dalam tanda kutip tadi entah kiri kanan atau tidak memenuhi standar langsung dibedel tidak seperti itu. Ee diberikan pemahaman, diberikan ee penjelasan bagian mana yang perlu dikoreksi, bagian mana yang perlu diperbaiki gitu ya. Harapannya adalah para pelaku perbukuan yang terlibat di dalam proses penyusunan buku tersebut bisa memahami dan bisa memperbaiki kemudian bisa menerbitkan kembali gitu ya. Jadi kami juga tidak ingin apa ya memberangus atau membatasi gitu ya kebebasan berekspresi gitu ya. Jadi yang kami lakukan adalah memberikan saran dan rekomendasi seperti itu. Yang ketiga adalah tadi terkait ee literasi ya. Emm tadi kan ee kami sudah sampaikan bahwa salah satu manfaat buku itu adalah untuk melatih eh critical thinking dan eh kreatif gitu ya. Jadi, ada banyak buku yang ee satu buku gitu, satu buku menurut saya adalah itu bisa dilihat dari berbagai macam aspek gitu ya. Mungkin kita bisa lihat ada beberapa novel yang ee mungkin secara isi kayak istilahnya mungkin vulgar gitu ya. seolah-olah ada pornografi, seolah-olerasan, dan tapi justru novel-novel tersebut ee mendapatkan ee apa penilaian yang cukup baik sebagai karya sastra misalnya seperti itu. Nah, kita bisa melihat itu dari banyak perspektif dan itu bisa menjadi ruang diskusi dan ya itu salah satu fungsi dari buku gitu ya untuk berpikir kritis gitu ya bisa menjadi ruang diskusi dan ee harapannya adalah ee buku-buku tadi memang harusnya ditempatkan sesuai porsinya, sesuai manfaatnya. Ada buku-buku yang memang cocok ditaruh di sekolah. ada buku-buku yang mungkin cocoknya hanya di ada di ruang-ruang diskusi di ee apa di kampus atau di universitas gitu ya. Ada buku-buku yang mungkin cocoknya diskusikan di ruang-ruang kelas gitu ya. ada buku-buku yang memang sesuainya ya hanya untuk dibaca saja sebagai rekreasi misalnya seperti itu. Nah, itu harapan kami ee masyarakat, penerbit ee penulis bisa ee memahami ee porsi bukunya masing-masing sehingga bisa menempatkan bukunya sesuai dengan tempatnya masing-masing. Mungkin seperti itu. Ee Pak Dani. Terima kasihah. Mana sudah terpuaskan dengan jawaban dari Pak Wijanarko? sudah ee sedikit memberi masukan mungkin nanti untuk koleksi buku-bukunya yang di CB itu mungkin lebih ee rnya lebih luas lagi. Karena kalau saya melihat mungkin bagi ASN teman-teman yang sedang mengikuti ini biar lebih menariklah isinya. Terima kasih. Iya. I terima kasih Pak Dani sudah kami usahakan. Terima kasih Pak Dani. Sehat selalu. Terima kasih. Baik, Pak Wijanarko itu tadi sudah ee selesai ya untuk sesi tanya jawab. Terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu sekaligus melengkapi mulai dari sesi pemateri pertama sampai kedua ya. Tadi dilengkapi oleh Pak Wijan Narko dan sehat selalu Pak sampai bertemu lagi di lain kesempatan ya. Iya. Terima kasih. Terima kasih. Selamat siang Pak Wijanarko. Baik. Sobat ASN, sebelum mengakhiri sesi kali ini, saya ingatkan kembali untuk tidak lupa mengecek secara berkala di semesta Bangkom untuk mengunduh e-sertifikat. Dan demikian seluruh rangkaian acara webinar ASN belajar seri 18 tahun 2025. Terima kasih saya ucapkan untuk antusiasme seluruh sobat ASN yang sudah menyaksikan lewat Zoom meeting ataupun lewat live YouTube BPSDM Jawa Timur TV, Jatim TV. Dan persembahan terakhir dari saya, pantun penutup untuk seri 18 2025 kali ini ya. Boleh dibantu bilang mantap ya. Ikan hiu taringnya tajam. Mantap. Ikan koi berenangnya di kolam. Mantap. Terima kasih Bapak, Ibu, Sobat ASN Belajar. Semoga webinar seri kali ini bisa terus membuat Sobat ASN makin bersinar. Saya Yuri Sabrina pamit. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. [Musik] Zaman yang terus bergerak. Sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. [Musik] ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASNAR berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia bukan tekad pantang menyerah jadi berkualit Kita [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]