File TXT tidak ditemukan.
Transcript
Uyb4zcRgZJc • ASN Belajar Seri 18 | 2025 - Buku : Gerbang Ilmu-Jendela Kalbu
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0230_Uyb4zcRgZJc.txt
Kind: captions
Language: id
Hasen bua semangat
membara di era digital terus berkarya
berkolaborasi inisiatif
tinggi inovasi cemelak Jawa Timur terus
melaju bersama
PPSN Jatim kita terus melesat untuk
Indonesia emas prestasi hebat
[Musik]
ASNU tiada yang tertinggal no one left
behind kita terus
melangkah
berkolaborasi inisiatif
tinggi inovasi cemerlang Jawa Timur
terus terus
meltsp Jim kita terus melesat untuk
Indonesia emas prestasi hebat aset
unggur tiada yang
tertinggal no one left behind kita terus
melangkah
berkolaborasi inisiatif
tinggi inovasi Masih cemel Jawa Timur
terus
melaju. Bersama
BSDM Jatim kita terus melesar untuk
Indonesia emas prestasi hebat bersama
kampus satelit PP PSM Jatim no one left
behind. ASN unggul dan
berkualitas Melasa
tinggi Indonesia jaya
[Musik]
Yeah.
Bergerak, sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita
melangkah. Hadapi segala
tantangan. Tingkatkan setiap
kompetensi untuk pelayanan
berdampak. Bersama
ASN
belajar. Ciptakan SDM unggul
berprestasi.
selalu inisiatif dan
kolaboratif untuk inovasi yang
berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak
mulia siap menyongsong Indonesia emas.
[Musik]
ASM belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia satukan
tekad pantang
menyerah jadi ASN getar
berkualitas belajar
wujudkan
pemerintahan kelas
dunia tekad pantang
menyerah jadi
berkuit
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Om swastiastu. Namo
buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu.
Rahayu. Rahayu. Selamat pagi kepada yang
terhormat Kepala BPSDM Jawa Timur Bapak
Dr. Ramlianto,
S.P.Mp. Yang kami hormati para
narasumber, Kepala Pusat Analis
Perpustakaan dan Pengembangan Budaya
Baca, Bapak Nuradi Saputra, Esos, M.Si.,
Si. Ketua Program Studi Magister Sains
Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Erlangga. Prof. Dr. Rahma Sugiharti,
Dranda,
M.Si. Editor Buku Pusat Perbukuan
Kemendikdas, Bapak Wijanarko Adi
Nugroho, S.Si., M.M. serta Bapak, Ibu,
Sobat ASN di mana pun berada yang telah
bergabung dalam Zoom meeting maupun akun
YouTube BPSDM Jawa Timur TV dari seluruh
Indonesia. Kerja kelompok di rumah Caca.
Mengerjakan tugas dari Pak Iwan.
Jadi orang gemar membaca agar menambah
wawasan. Ye,
selamat pagi dan selamat bergabung
secara online dalam acara webinar seri
ke-18 tahun 2025 ASN Belajar dengan tema
buku gerbang ilmu jendela kalbu yang
dipersembahkan oleh BPSDM Jawa Timur.
Alhamdulillah puji syukur kehadirat
Tuhan yang maha esa karena atas
berkatnya kita semua pada hari ini
diberikan kesehatan sehingga dapat
berjumpa secara online pada hari Rabu 15
Mei 2025 bertempat di kantor BPSDM Jawa
Timur yang ada di Jalan Balongsaritama
Gadel Tandes Surabaya.
Dan yang pasti saya senang sekali pada
pagi hari ini Bapak Ibu, saya Yuri
Sabrina yang akan berkesempatan ya
menjadi moderator sekaligus saya akan
menemani Bapak Ibu dalam acara ASN
belajar pada pagi hari ini. Yang pasti
pada pagi hari ini ASN belajar akan
membahas tentang pentingnya membaca buku
sebagai bentuk pemahaman ilmu
pengetahuan dan spiritualitas.
Namun ternyata buku tidak hanya bisa
menambah dan memperdalam wawasan. Dari
buku kita juga akan bisa membentuk
karakter dan juga pandangan hidup agar
kita bisa hidup lebih bijaksana. Dan
mengingat bahwa 2 hari lagi kita akan
memperingati hari buku nasional yaitu
tepatnya pada tanggal 17 Mei 2025. Maka
ASN belajar kali ini juga diharapkan
dapat memberikan wawasan serta inspirasi
baru bagi peserta ASN belajar dalam
dunia pengetahuan dengan pendekatan yang
lebih mendalam dan reflektif sekaligus
mampu menjadi individu yang tidak hanya
cerdas secara intelektual tetapi juga
kaya secara spiritual. Selengkapnya akan
dibahas dalam webinar ASN Belajar 18
2025.
[Musik]
Bapak, Ibu mengingatkan untuk tidak lupa
mengisi absensi di Semesta Bangkom ya.
Jadi bisa langsung ke semesta Bangkom di
0821664461 ataupun juga di link webinar
yang sudah diberikan. Dan sebelumnya
Bapak Ibu saya ingin mempersilakan
terlebih dahulu untuk keynote speech
kita pada pagi hari ini yaitu Kepala
BPSDN Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto,
SP. MP. Kami silakan.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN
di seluruh tanah air, selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University, Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa
Timur. Hari ini, Kamis tanggal 15 Mei
2025, ASN Belajar telah memasuki seri
ke-18.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami, kami
selalu berkomitmen sekaligus terus
berikhtiar untuk menyajikan topik
pengembangan kompetensi yang menarik
bahkan kekinian dan tentu berdampak
secara nyata terhadap pengembangan
kompetensi dan kinerja aparatur sipil
negara di Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-18 tahun 2025 ini menyikan salah satu
topik dalam rangka turut serta
menyemarakkan pemikiran dalam momen Hari
Buku Nasional yang diperingati setiap
tanggal 17 Mei. Di mana pada tahun 2002
hari buku nasional pertama kali
dicetuskan oleh Prof. Abdul Malik Fajar,
Menteri Pendidikan Nasional saat itu
tanggal 17 Mei dipilih sebagai hari
istimewa karena bertepatan dengan momen
berdirinya Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia pada tahun
1980. Pemilihan tanggal ini menunjukkan
eratnya kaitan antara hari buku nasional
dengan upaya untuk mencerdaskan bangsa
melalui budaya membaca.
Karena itu, Sobat SN, SN belajar seri
ke-18 tahun 2025 ini mengangkat topik
buku gerbang ilmu jendela
kalbu. Nah, sudah menjadi tradisi
akademik dalam ASN belajar bahwa topik
menarik ini akan kita bahas secara
intensif dari beragam perspektif bersama
para narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sabat ASN di seluruh tanah air telah
terbukti secara historis bahwa buku
adalah saksi perjalanan akal budi
manusia dari zaman kegelapan menuju
pencerahan, dari ketidaktahuan menuju
kebijaksanaan yang melintasi batas
generasi dan peradaban.
telah terbukti secara historis bahwa
buku merupakan instrumen utama dalam
mentransmisikan pengetahuan, membangun
peradaban, dan menumbuh kembangkan
kesadaran kolektif umat manusia dari
zaman ke zaman. Dan juga telah terbukti
secara historis bahwa buku memainkan
peran sentral dalam menjaga integritas
ilmu pengetahuan. Bahkan ketika arus
informasi digital datang sili berganti,
buku tetap menjadi
mercing pencari kebenaran. Membaca buku
tentu bukan sekedar kegiatan mengisi
waktu senggang. Ia adalah proses
transendental jembatan antara
ketidaktahuan menuju pencerahan.
Lewat membaca, ilmu berpindah dari
generasi ke generasi, dari pikiran ke
pikiran, menembus sekat geografis dan
zaman. Dari buku-buku kuno yang ditulis
tangan hingga karya kontemporer yang
dicetak massal, semuanya menyimpan
warisan intelektual yang tak
ternilai. Di era teknologi informasi
yang serba cepat ini, kita memang
disuguhkan lautan data dan informasi
melalui layar. Namun tidak semua yang
tampil di gawai adalah kebenaran,
validitas dan kedalaman seringki menjadi
korban dari kecepatan. Di sinilah buku
tampil bukan sebagai lawan, melainkan
sebagai penyeimbang tempat informasi
diuji, dianalisis, dan disusun secara
sistematis dengan akurasi yang bisa
dipertanggungjawabkan.
Buku hadir tidak hanya sebagai sumber
ilmu, tetapi juga sebagai jendela kalbu.
Ia menyapa jiwa yang gelisah, memberi
arah pada mereka yang kehilangan
bijakan, dan menghidupkan
imajinasi pada mereka yang haus akan
makna. Buku-buku sastra, filsafat,
sejarah hingga sains bukan hanya
membentuk intelektualitas kita, tetapi
juga membangun empati, etika, dan
kepekaan
nurani. Oleh karena itu, dalam semangat
hari buku nasional ini, marilah kita
hidupkan kembali budaya literasi bukan
hanya dengan membaca, tapi juga menulis,
berdiskusi, dan membumikan
gagasan-gagasan kita lewat buku. Karena
bangsa yang besar adalah bangsa yang
membaca dan bangsa yang membaca adalah
bangsa yang mampu menulis masa depannya
sendiri dengan penuh kesadaran dan
kemuliaan. Buku mungkin tak bersuara,
namun nadanya menggema jauh di kedalaman
pikiran dan perasaan. Maka jangan
biarkan buku-buku kita terdiam di
rak-rak berdebu. Bukalah satu, bacalah
sejenak, dan biarkan ia menuntunmu
menembus batas ketidaktahuan menuju
cakrawala ilmu dan akhirnya ke jendela
kalbu. Sahabat ASN di seluruh tanah air,
lalu bagaimana ikhtiar kita agar buku
terus menjadi bagian tak terpisahkan
dari tumbuh kembang kita sebagai sumber
daya utama pembangunan bangsa. Nah,
untuk membahas cerdas dan tuntas topik
ini, kami telah mengundang dengan hormat
para narasumber luar biasa yang sudah
barang tentu sangat kompeten di
bidangnya. Kami menyampaikan terima
kasih dan apresiasi kepada para
narasumber hebat yang telah berkenan
hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat ASN di
seluruh tanah
air. Pertama kami menyampaikan terima
kasih kepada yang terhormat Bapak Nuradi
Saputra, Sos, M.Si. SI. Beliau adalah
Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan
Pengembangan Budaya Baca pada
Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia. Kedua, kami menyampaikan
terima kasih kepada yang terhormat Bapak
Wijanarko Adinugroho, S.Si., M.M. Beliau
adalah editor buku pada Pusat Perbukuan
Kementerian Pendidikan Dasar Menengah
Republik Indonesia. Dan ketiga, kami
menyampaikan terima kasih kepada Ibu
Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda,
M.Si. Beliau adalah Ketua Program Studi
Magister Sains Informasi dan
Perpustakaan Universitas Airlangga
Surabaya. Nah, Sobat ASN, mari kita
simak dengan seksama webinar ASN belajar
seri ke-18 tahun 2025. Semoga
bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Sobat ASN, baru saja kita saksikan
bersama, kita simak bersama kenote
speech yang sudah diberikan oleh Bapak
Dr. Ramlianto, Spaku Kepala BPSDM Jawa
Timur. tentunya dari kenote speech yang
diberikan oleh beliau ini bisa menjadi
acuan ya untuk mencapai tujuan dari
terselenggaranya webinar seri ke-18
tahun 2025 ini. Dan yang pasti harapan
kita bersama adalah acara ini dapat
berjalan dengan lancar hingga selesai
nanti. Amin. Amin ya rabbal alamin.
Baik, sebelum saya menyapa para
narasumber ya dan mempersilakan
narasumber pertama untuk memberikan
pemaparan materinya, saya akan
menyampaikan terlebih dahulu kepada
sobat ASN mengenai tata cara tanya jawab
serta interaksi yang bisa dilakukan
selama berjalannya acara. Yang pertama,
sesi tanya jawab atau diskusi nanti akan
dilakukan di akhir setiap pemaparan
narasumber. Kedua, penanya harap
menyebutkan identitas diri berupa nama
dan juga instansinya dari mana. Lalu
yang ketiga, sekali lagi kami
mengingatkan untuk jangan lupa link
absensi peserta yang sudah diberikan
bisa diisi di aplikasi semesta Bangkok.
Dan rasanya tidak perlu lama-lama lagi,
langsung saja kita akan memulai sesi
pertama webinar ASN Belajar seri 18
tahun 2025 hari ini dan sudah bergabung
bersama dengan kita secara online
narasumber kita pada hari ini. Yang
pertama adalah Kepala Pusat Analis
Perpustakaan dan Pengembangan Budaya
Baca Bapak Nurhadi Saputra, Esos, M.Si.
Kami silakan.
[Musik]
Bapak Nur hadir.
Selamat pagi.
Sehat, Pak? Alhamdulillah sehat.
Alhamdulillah. Bapak sudah siap pagi
hari ini untuk memberikan ee materi di
insyaallah sesi pertama ini. Siap ya,
Pak?
Ya. Baik, Sobat ASN sepertinya juga
sudah tidak sabar untuk menyimak materi
dari Pak Nurhah Saputra. Kalau begitu
langsung saja Pak Nur Hadihadi. Waktu
dan tempat kami persilakan.
Baik, terima kasih ee Mbak moderator.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, salam
sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto,
S.PMP. Ee serta Bapak, Ibu peserta
webinar ASN Belajar seri 18 dengan tema
buku gerbang Ilmu Jendela Kalbu.
Baik ee Bapak, Ibu, dan teman-teman dari
ASN seluruh
Indonesia. Tanggal 17 seperti yang
disampaikan oleh Bapak Kepala BPSDM
bahwa 17 Mei nanti adalah hari buku
nasional yang juga merupakan ee
peringatan hari jadinya Perpustakaan
Nasional.
ini adalah menjadi sebuah momentum ee
bagi perpustakaan nasional bagaimana
meningkatkan literasi di penjuru ee
negeri
ini. Baik, mungkin saya slide-nya saya
Oh, oke. Ee langsung
saja
next. Ee kita akan melihat bagaimana
kondisi literasi karena buku ini tidak
bisa menjauh dari literasi. Kondisi
literasi di Indonesia. Lanjut aja, Mas.
Mengapa literasi penting? Literasi
adalah pondasi semua proses belajar.
Tanpa literasi dasar, siswa akan
kesulitan memahami konten pelajaran. Ini
menurut pendapat Lee tahun
2024, literasi adalah kemampuan
berbanding lurus dengan keterampilan
berpikir kritis. Jadi, semakin literasi
siswa semakin baik kemampuan berpikir
logis dan analitis mereka.
Kemudian literasi juga penting dalam
peningkatan ee yang berdampak langsung
pada pencapaian akademik. Studi
menunjukkan korelasi positif atas antara
skor literasi dan prestasi akademik ee
lintas bidang. Kemudian juga literasi
memperkuat kesiapan menghadapi
kompleksitas zaman. Dalam era digital,
literasi membantu siswa memilah
informasi dan mengambil keputusan
berbasis bukti. Dan urgensi literasi
sejalan dengan pencapaian SDGIS keempat,
yaitu pendidikan yang berkualitas
mendukung capaian target 4.1 dan 4.6
tentang standar minimum kemampuan
literasi membaca dan liberasi
sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian
PPN BAPENAS
2024. Lanjut.
Ini adalah kondisi ee literasi khususnya
untuk siswa-siswi ee di
Indonesia pada studi PISA Program of
International Assessment Student
Assessment tahun 2022. Indikator
literasi membaca siswa yang ee usia 15
tahun itu mengalami penurunan dari skor
371 menjadi 359 di tahun 2022 dan ini
jauh di bawah rata-rata ee negara-negara
yang tergabung dalam OECD.
Kemudian juga pada rapor pendidikan
2024, indikator kemampuan ee literasi
murid bisa dilihat di paparan ini bahwa
memang hampir sebagian besar berada
dalam kategori
sedang dan ada satu yaitu di kategori
SMA kesetaraan mengalami ee kemampuan
literasinya
kurang.
Lanjut. Nah, ini adalah data dari BPS.
Berdasarkan data BPS tahun 2024,
rata-rata lama sekolah penduduk
Indonesia usia 15 tahun ke atas hanya
mencapai 9 ee 9,22 9 ee 22 tahun atau
sekitar setara jenjang
SMP dengan porsinya 10,20% yang
menyelesaikan pendidikan di perguruan
tinggi.
30,85% yang memiliki ijazah SMA atau
sederajat.
22,79% memiliki ijazah SMP,
24,72% memiliki hanya memiliki ijazah
SD. Dan kemudian juga banyak dari
lulusan pendidikan menengah yang tidak
memiliki keterampilan yang dibutuhkan
dunia kerja dan akhirnya menerima
pekerjaan bergaji rendah. ini
berdasarkan perhitungan Bank Dunia e
dari ee
Sakernas dan ee lebih dari 55% siswa
tidak mencapai kompetensi minimum dalam
literasi dan
matematika. Dan karena mereka berada
dalam sistem pendidikan vokasi dan
pendidikan tinggi, kurikulum yang
diajarkan cenderung tidak selaras dengan
kebutuhan pasar saat ini atau yang
dipersyaratkan elang industri. Inilah
jika kita melihat ee bagaimana
kondisi ee ee generasi muda bangsa ee
kita ini yang kemudian merasa kesulitan
untuk ee mereka bisa mendapatkan
pekerjaan. Lanjut saja.
Nah, ini adalah dampak literasi untuk
sosial ekonomi. Kita tahu bahwa ee
ketika literasi ini sangat minim, maka
banyak sekali dampak ee dampak yang
tidak baik yang akan kita
hadapi. Kompetensi dan upah yang rendah,
kemudian biaya tinggi untuk perbaikan
karakter, biaya tinggi untuk peningkatan
kesehatan, dan biaya tinggi untuk
mengatasi kriminalitas. Hal inilah yang
lazim terjadi ketika sebuah negara
mengalami ee literasi yang rendah. Dan
ketika kita mencapai nanti target kita
adalah kita bisa mencapai literasi yang
tinggi, maka kita berharap penurunan
angka kemiskinan dan pengurangan
kesenjangan ekonomi semakin kuat,
terbuka pilihan pekerjaan dan lebih
produktif, kemudian lebih banyak
terlibat dalam kegiatan komunitas dan
peningkatan kesejahteraan
individual. Lanjut.
Dalam perspektif ee kemiskinan dan
kesejahteraan, literasi ini mempunyai
peran penting. Karena kita lihat dalam
grafik gambar ini
bahwa kesejahteraan ee itu akan di
diperoleh oleh seseorang ketika mereka
menerima keadilan informasi. Ini dalam
perspektif perpustakaan nasional. Karena
kami melihat kemiskinan dan
kesejahteraan yang terjadi ini bukan
karena ketidakmampuan seseorang untuk ee
melakukan eksplorasi terhadap kemampuan
dirinya, tetapi lebih sering terjadi
mereka tidak mendapatkan informasi yang
cukup untuk apa yang bisa mereka
lakukan. Jadi kita kami melihat bahwa
ketika ee
seseorang kemudian bisa mendapat
keadilan informasi, kemudian juga
mendapat literasi yang cukup, maka kita
percaya bahwa orang tersebut mampu
mengembangkan ee kapasitas dirinya,
mampu ee berusaha untuk memperbaiki
kualitas hidupnya. Jadi menurut
kami literasi sangat erat bagaimana
meningkatkan kesejahteraan ee setiap
orang, keadaan materi seseorang dan
kemampuan akses informasi melalui
teknologi informasi komunikasi. Kemudian
ee ketidak tersediaan informasi yang
berkualitas dan kurangnya ases yang
dibutuhkan, ketidakmampuan orang dalam
mendapatkan informasi yang berguna
akibat pendidikan, pengalaman, dan
kontekstual. Inilah yang kemudian
menjadi penyebab kesejahteraan ini tidak
bisa ee terjadi di masyarakat kita.
Lanjut.
Literasi tidak sama dengan
informasi. Informasi adalah sekumpulan
data atau fakta yang telah diolah dan
disajikan sehingga memiliki makna,
nilai, dan pesan yang dapat dipahami
oleh penerima. Informasi dapat berupa
keterangan, pernyataan, gagasan atau
tanda-tanda yang mengandung nilai. makna
dan pesan baik dalam bentuk, data,
fakta, maupun penjelasan. Pesan yang
mempunyai arti bagi penerimanya dan
mempunyai nilai nyata yang dapat
digunakan untuk mengambil keputusan ee
saat itu atau masa yang akan
datang. Setiap individu memiliki
kebutuhan informasi yang berbeda-beda.
Tidak semua individu sama informasi yang
dibutuhkannya. Setiap informasi yang ada
digunakan untuk memecahkan masalah,
menambah wawasan, dan kebutuhan lainnya.
Fenomena ini dapat dianggap sebagai
pentingnya informasi bagi kehidupan ee
setiap
individu. Dalam kata lain, informasi
sebagai komoditas utama dalam kehidupan
sehari-hari. Kebutuhan informasi
merupakan tindakan individu dalam
memenuhi kekurangan pengetahuan tentang
informasi yang dibutuhkan.
Kekurangan pengetahuan tersebut
diselesaikan dengan mengakses informasi
kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan
kepuasan dan manfaat karena rasa ingin
tahunya telah
dipenuhi.
Lanjut. Ini kebutuhan informasi.
Kebutuhan informasi adalah kondisi yang
dirasakan oleh individu bahwa
pengetahuan yang dimilikinya tidak
memadai untuk menangani situasi dalam
konteks sosial, psikologis, dan
profesional.
Jadi ketika kita sebagai manusia
membutuhkan informasi ada ada tiga
faktor. Pertama adalah kebutuhan
fisiologis yaitu bagaimana kita
membutuhkan informasi untuk kebutuhan
primer yang bertujuan untuk memenuhi
fungsi-fungsi yang ada pada diri
individu. Misalnya kebutuhan sandang,
pangan, dan papan. Kemudian juga
kebutuhan kognitif, kebutuhan untuk
memenuhi pikiran melalui pembelajaran,
memperoleh ilmu dari pendidikan formal
ataupun nonformal. Ini seperti yang hari
ini kita lakukan. Bagaimana ee kegiatan
ini mampu menambah
ee informasi kepada kita menjadi sebuah
pengetahuan yang melalui ee pelatihan
webinar ini. Kemudian ada kebutuhan
afektif, pemenuhan kebutuhan individu
yang berkaitan dengan emosional.
misalnya informasi yang dibutuhkan untuk
memuaskan kesenangan
pribadi.
Lanjut. Untuk memperoleh informasi maka
kita harus
membaca. Situasi membaca dibagi menjadi
empat menurut OECD. Situasi personal ya
karena kita membaca untuk kesenangan dan
untuk pengembangan diri.
Kemudian situasi
edukasional membaca dilakukan untuk
belajar atau mencari informasi penunjang
pembelajaran dan kemudian situasi publik
membaca untuk memahami isu-isu sosial
atau berkontribusi dalam kehidupan
masyarakat dan situasi
okoposional membaca menjadi bagian dari
pelaksanaan tugas atau pekerjaan
tertentu.
Lanjut. Informasi dalam media.
Ya, seperti yang kita pahami bahwa
setiap dalam sejarah kehidupan manusia
bahwa setiap manusia mencoba
menyampaikan
pesan kepada manusia
lain. Ketika zaman sebelum adanya
ee pesan yang bisa di
dibawa, pesan-pesan itu disampaikan
melalui pahatan-pahatan di dalam setiap
gua yang ee purba.
Dan inilah sejarah pertama kali
bagaimana pesan itu di catat atau
dipahat atau di
di ditempatkan di sebuah media yang bisa
dibawa ke
mana-mana. Tahap pertama ketika buku
berkembang, kita akan melihat ada yang
namanya ee tablet tanah liat ee bangsa
Sumerian yang ada pada tahun 3500
sebelum Masehi. di
Mesopotamia. Jadi, tablet lilin bangsa
Sumeria ini adalah sebuah pondasi awal
cikal bakal pertama bagaimana pesan yang
dituliskan di dalam sebuah ee tablet
tanah liat yang merekam sejarah dan ee
hukum dan kemudian juga tata cara hidup
ee dari bangsa Sumeria. Bangsa Sumeria
diyakini sebagai bangsa pertama yang
menggunakan aksara paku atau simbol logo
fonetik, alfabet konsonan, dan suku kata
yang diukir ke dalam tablet tanah liat
yang dibiarkan mengering atau dibakar
dalam tungku untuk membuatnya bertahan
selama
mudir. Baik, tablet ee tanah liat bangsa
Sumeria ini
kemudian berganti. Next.
Selanjut
beralih ee kemudian menggunakan metode
gulungan
papirus. Papirus paling awal yang masih
ada yang berisi kata-kata tertulis di
sekitar 2.400 sebelum Masehi. ee berasal
dari Mesir. Mesir menggunakan bahan ini
selama ratusan tahun sebelum Yunani dan
Romawi akhirnya mengadopsi teknik ini.
Gulungan-gulungan ini digulung dan
sering dimasukkan ke dalam tabung kayu
untuk melindunginya. Dan buku-buku ini
diproduksi dengan merekatkan sejumlah
gulungan hingga panjang 10 m atau dalam
beberapa kasus bahkan lebih panjang ee
seperti sejarah ee raja Mesir Ramses 3
yang panjangnya sampai dengan 40 m.
Lanjut. Kemudian ee tadi setelah adanya
papirus maka dikenal namanya
perkamen. Perkamen itu ee ada sekitar
500 sampai dengan 200 sebelum masehi.
Perkamen adalah bahan tipis yang terbuat
dari kulit anak sapi, kulit domba, atau
bahkan kulit kambing. Perkamen muncul
akibat kelangkaan terhadap papirus.
Harga papirus naik karena tidak
seimbangnya antara kebutuhan papirus
dengan ketersediaan lahan pertanian.
Jadi kalau ee sebelumnya itu adalah
pohon ee papirus itu digunakan dari ee
sejenis padi-padian yang tumbuh kemudian
diolah menjadi sebuah ee media untuk
menuliskan pesan. Lanjut.
Setelah perkamen, maka teknik
penulisan dikenal namanya dengan tablet
lilin yang ditemukan 200 ee sebelum
tahun 200 sebelum Masehi. Dikembangkan
oleh orang Romawi dan Yunani. Tablet ini
pada dasarnya adalah balok kayu dengan
dilapisi lilin yang memungkinkannya
ditulis dengan menggunakan stylus dan
kemudian dihapus untuk digunakan
kembali. Tablet lilin ini seringki
disatukan dengan salah satu ujungnya ee
dengan tali seperti cincin untuk
membentuk e kodek yang yang bahasa Latin
aslinya tuh berarti kayu tapi kemudian
dikenal sebagai kumpulan halaman yang
dijilid. Jadi inilah sejarah ee pertama
kali media tulisan yang kemudian
dijilid. Walaupun sebenarnya dengan kata
kodek itu aslinya adalah
kayu. Kodek menjadi sangat populer di
seluruh Eropa menggantikan gulungan yang
sebelumnya. Ee ketika zaman Papirus
kemudian zaman perkamen itu semua
menggunakan gulungan, maka di ketika
dimulainya adanya e era tablet lilin ini
beralih menjadi ee
penjilitan.
Lanjut kertas. Ee kemudian era kertas.
Jadi setelah ee itu kita akan memasuki
fase era kertas yaitu tahun 105 Masehi.
Cirun seorang Kasim istana menemukan
pembuatan kertas untuk menulis dan
menggunakan kombinasi buah murbei, kulit
kayu, rami, kain tua, dan bahkan
menggunakan jari ikan untuk membuat
bubur kertas.
868 Masehi. Buku pertama dicetak di atas
kertas di Cina menggunakan balok kayu
yang memiliki karakter yang diukir dalam
relif terbalik. Tinta kemudian
ditempatkan di atas balok kayu untuk
membuat cetakan di atas kertas.
Lanjut. Ini adalah ee kitab Gutenberg.
Kitab Gutenberg dianggap sebagai sebuah
revolusi bagaimana buku ini diciptakan.
tahun 1455 buku besar pertama yang
dicetak menggunakan mesin cetak
Gutenberg dan menandai dimulainya
revolusi Gutenberg. Mungkin selama ini
kita tahu bahwa
eh penerbitan buku pertama adalah
penerbitan yang dilakukan oleh eh
Gutenberg dan inilah sebenarnya
Gutenberg hanya menerbitkan Alkitab eh
42 baris adalah versi terjemahan kitab
suci dalam bahasa Latin yang dikerjakan
oleh Yohannes Gutenberg. ada sekitar 180
salinan aktivitas Gutenberg yang
diproduksi dengan 135 di antaranya
dibuat pada kertas dan 45 pada velum
atau ee kulit
hewan. Lanjut.
Kemudian ee di tahun
ketika komputer sudah
ee mulai mer ee mulai ada, maka pertama
kali buku yang ee dituang dalam apa yang
terekam dalam compact disk itu
adalah The New Groller Electronic
Encyclopedia yang diterbitkan kan oleh
penerbit ee terbesar di Amerika Serikat.
Dan sejak itu ee buku ini ee menjadi
buku yang paling banyak dicari ee karena
merupakan buku pertama yang diterbitkan
secara digital dalam bentuk compact dis.
Tapi pada kelanjutannya komplek di sini
tidak tidak lagi menjadi sebuah ee buku
yang bisa dibaca, tetapi menjadi sebuah
buku audio. Buku audio. Buku audio
adalah buku yang ee di yang didengarkan
oleh
ee oleh kita ketika kita ketika kita
akan membaca buku, kita tidak lagi
membaca tapi mendengarkan audiobook yang
ada di dalam compact
dising.
Lanjut. Kemudian di tahun eh
190 sebenarnya ebook e sudah diproduksi
e dalam proyek Genberg. yaitu upaya
mendigitalkan dan mengarsifkan karya
budaya ee yang kategorinya adalah public
domain. Namun baru pergantian abad 21
format ini tersedia secara umum dan
diterima sebagai format penerbitan.
Novel karya Stephen King berjudul Riding
The Ballet tahun 2000 menjadi buku
elektronik yang pertama dipasarkan
secara massal. Dalam waktu 24 jam
pertama rilis terjual lebih dari 400.000
ribu eksemplar yang merusak server
penerbit dan menyebabkan penggemar harus
menunggu berjam-jam sebelum mereka dapat
mengunduh
salinannya. Lanjut.
Nah, ini kemudian
media penyampaian pesan atau tulisan ini
kemudian beralih ee dengan adanya Kindle
yang yang dirilis oleh
Amazon ee merupakan sebuah perangkat
pembaca ebook pertama yang dirilis pada
tanggal 19 November
2007. Kindle terjual habis dalam waktu
5,5 jam dan tetap kehabisan stok hingga
akhir April 2008.
Hindle generasi pertama ini memiliki
layar 6 inch dengan tampilan skala
abu-abu 4 tingkat dan menyimpan 250
MB yang cukup untuk menyimpan 200 judul
tanpa ilustrasi dan memiliki slot ee
kartu memori SD card. Lanjut.
Ya, ini ee buku mempunyai peran penting
dalam penyebaran ilmu pengetahuan karena
menjadi media transformasi dan penyebar
luasan informasi yang dapat menembus
batas geografis. Buku juga melestarikan
pengetahuan dan budaya, menjadi sumber
referensi dan mendukung perkembangan
intelektual serta emosional. Inilah yang
kemudian
ee menjadikan
perpustakaan sebagai sebuah institusi
yang melestarikan ilmu pengetahuan di
mana buku-buku disimpan kemudian dirawat
ee kemudian diolah dan kemudian
dialiidiakan sehingga bisa di gunakan
oleh generasi yang akan datang.
perpustakaan untuk saat ini dari sisi
pemerintahan khususnya dalam
Undang-Undang ee 23 tahun 2014, urusan
perpustakaan merupakan urusan wajib non
pelayanan dasar yaitu urusan yang wajib
dilaksanakan oleh setiap pemerintah
daerah baik di level provinsi dan
kabupaten kota ini menjadi sebuah
ee sebuah kewajiban bagi pemerintah
daerah untuk menyelenggarakan
perpustakaan
menyelenggarakan perpustakaan, merawat
semua khanah budaya bangsa sehingga
bangsa kita tetap
terjaga baik itu ilmu pengetahuan dan
kebudayaannya dan bisa di ee turunkan
kepada anak cucu kita. Baik, mungkin itu
saja menutup ee paparan saya. Saya
membaca
quote. Ada kejahatan yang lebih kejam
daripada membakar buku. Salah satunya
adalah tidak membacanya menurut Josep
Brki. Mungkin itu saja eh mungkin eh
dilanjutkan dengan tanya jawab. Terima
kasih. Wabillahi taufik walhidayah.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
Menarik sekali Pak Nuradi Saputra
pemaparan materinya saya jadi banyak
belajar ternyata sejarahnya terbuat
terbuatnya buku itu begitu ya sampai
akhirnya di zaman modern ini sudah mulai
banyak yang ee digital ya Pak ya gitu.
Nah, untuk sobat ASN yang sudah menyimak
pemaparan materi pertama dari Bapak
Nurhari Saputra, silakan ee bisa rais
hand ataupun kalau memungkinkan tidak
memungkinkan untuk on cam ya bisa chat
saja di kolom chat nanti akan saya bantu
bacakan. Apakah sudah ada pertanyaan
dari sobat ASN yang hadir pada pagi hari
ini? Kita coba cek.
Oke, sekali lagi untuk sobat ASN yang
ingin bertanya kepada narasumber pertama
kita pada pagi hari ini. Oke, baik.
Sudah ada ternyata sepertinya. Selamat
pagi Bapak
Joko. Iya, belum di-unmute seetulnya.
Mohon waktu, Bapak.
Oke, sudah ada satu penanya pada pagi
hari ini, Bapak
Joko Kusma Renoto
NH dari Singosari Malang. Baik, terima
kasih.
Silakan Bapak. Terima kasih. Selamat
pagi. Semangat pagi semuanya.
Terima kasih pada materi yang telah
disampaikan oleh Pakeri tadi. Saya
mengikuti paparan dari ee Bapak tadi.
Namun izin saya ingin bertanya, kenapa
proses ee yang disebut dengan
suhuf-suhuf di zaman Nabi Ibrahim itu
jauh sebelum Masehi. Kemudian zaman ee
abad
ke600-an di zaman pembukuan Al-Qur'an
itu sampai ada mushaf Utsmani itu kan
juga merupakan
pencaratan. Ee tadi sayaat Bapak belum
mencantum itu, Pak.
Padahal itu fakta sejarah yang sampai
sekarang masih bisa kita lihat
otentikasinya
di zaman itu sudah ada dilakukan proses
itu. Itu yang pertama. Mengapa itu
disampaikan? Yang kedua berkaitan dengan
buku yang ada ini. Kebetulan saya dulu
pernah jadi ee petugas ya perpustakaan
gitu, Pak. Ya, lama sudah perpustakaan.
Memang ee minat baca masyarakat umumnya
agensi di saat ini sangat kurang di
dalam membaca buku tetapi mereka sangat
tinggi di dalam membaca medsos seperti
WhatsApp dan lain sebagainya.
itu bagaimana menyikapi
perubahan minat baca
Genzi di mana menurunnya membaca buku
tapi meningkatnya membaca mereka di
berbagai medsos yang ada. Apakah memang
ini satu proses perbaikan atau
kemunduran? Ya, Pak. Demikian, Pak.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah. Saya
langsung jawab ee moderator.
Silakan Bapak. Silakan Bapak. Langsung
dijawab saja dulu.
Baik, Pak I. Baik, Pak Joko. Tadi
mungkin Pak Joko sampaikan ee ketika
zuhub-zuhuf ini tidak masuk ke dalam ee
paparan saya. Memang, Pak, apa yang saya
paparkan ini hanya ee momentum ketika
setiap memang
ee data yang dihasilkan oleh peneliti
yang sebelumnya. Jadi memang tadi ee
kalau ee diperkirakan Pak ketika zaman
Nabi Ibrahim
itu mungkin media yang dipakai adalah ee
media
papirus. Tapi ini juga ee belum kami
belum bisa memastikan itu, Pak. Tetapi
memang kalau mengingat dengan ee kurun
waktunya, maka di zaman Nabi Ibrahim itu
kemungkinan besar media yang dipakai
adalah papirus.
Dan mohon maaf mungkin ee sampai saat
ini belum ada pembuktian akademis
terkait dengan ee zuhub-zuhub tersebut
gitu, Pak. Jadi memang tadi ketika kita
bicara ada tablet tanah liat, kemudian
ada papirus, kemudian ada lanjut lagi
Perkamen, kemudian berlanjut-berlanjut
lagi itu adalah
ee media-media yang pertama kali ee
digunakan atau ditemukan ya
berdasarkan yang kemudian juga tadi yang
Bapak sampaikan bagaimana ketika
sekarang
tren ee ee yang beralih dari yang
tadinya membaca secara
baik baik. Eh, untuk pertanyaan dari Pak
Joko mungkin kita bisa hold dulu ya
karena ada kendala teknis dari tempat
Bapak Nur Hadi Saputra mungkin.
Oke. Baik, sudah sepertinya. Baik, Bapak
Nurhah Hadi bisa. Iya, mohon maaf saya.
Halo.
Iya, Pak. Iya, mohon maaf saya terlempar
tadi kayaknya sinyalnya kurang bagus.
Siap, Bapak. Silakan dilanjutkan. Baik.
E tadi melanjutkan ee ee Pak Joko
sekarang ini memang peralihan trennya
dari membaca konvensional kemudian ke
arah digital. Ini hampir sebagian besar
Genzi yang mungkin kita temui bahwa
mereka lebih nyaman terhadap perangkat
digital untuk membaca informasi, membaca
ee pesan-pesan yang disampaikan. Pada
prinsipnya kalau dari kami ee itu tidak
masalah, Pak. Karena memang ee perbedaan
generasi ini juga membuat
ada perbedaan metode ee dan setiap orang
saya yakin juga akan berbeda
kenyamanannya. Apakah itu membaca secara
ee cetak yaitu buku atau membaca ee
secara
digital. Tapi intinya silakan ee Bapak,
Ibu, dan siapapun itu ketika membaca dan
itu memang bisa menambah pengetahuan
kepada Bapak, Ibu. Untuk perpustakaan
sendiri, kami juga sudah menyediakan
layanan yang ee berbentuk digital dan
tetap mempertahankan layanan yang
konvensional. Jadi silakan saja mana ee
yang lebih nyamannya. Tapi perlu
dipahami juga ketika kita membaca
digital ini yang sering kami temukan
bahwa ee hasil survei yang kami lakukan
ternyata ada titik jenuh. ada titik
jenuh baik itu kelelahan secara fisik
misalnya mata dan segala macam ketika
membaca ee secara digital. Inilah yang
seringki ee ketika membaca digital itu
ee kita tidak memahami secara penuh
pesan atau informasi yang disampaikan.
Beda dengan buku. Tapi kembali lagi
yaitu kembali terhadap ee ee orang
tersebut lebih nyamannya ee menggunakan
media apa
ee silakan tapi yang penting teruslah
membaca dan teruslah menambah informasi
dan pengetahuan untuk menambah kemampuan
kompetensi diri sendiri. Mungkin itu Pak
Joko,
Pak. tadi ee Bapak Musinggung di dalam
proses penulisan literasi Al-Qur'an dari
yang awalnya dari kulit
tulang-tulang disatukan dalam satu
mushaf di zaman Khalifah Utsman bin
Affan itu tadi adalah satu karya
fenomenal yang luar biasa yang
utentifikasinya sampai dengan sekarang
ini masih terjaga, Pak. Jadi kalau yang
lain, teori-teori yang lain mungkin bisa
berubah, tetapi yang ditulis di kitab
Al-Qur'an itu hingga akhir zaman tidak
akan berubah. Itu mohon kiranya nanti
bisa disampaikan sebagai satu proses
yang luar biasa peralian dari ee
kulit-kulit unta, tulang-tulang, mungkin
pohon dan sebagainya ke dalam satu ee
satu mushaf gitu. Itu aja. Terima kasih.
Iya. Baik, Pak. Karena memang itu, Pak.
Jadi musaf itu ketika menuliskan di
kulit ee pada kenyataannya kulit itu
sudah digunakan sebagai media tulis jauh
sebelum Al-Qur'an ada. Walaupun pada
kita ketika kita melihat ee fase
penulisannya atau ee ini yang tidak apa
namanya penulisan Al-Qur'an itu
merupakan sebuah ee sejarah besar
bagaimana kemudian peralihan-peralihan
ini sampai kemudian ke media yang modern
ini tidak ada perubahan secara isi.
Tetapi secara penggunaan material atau
media penulisan ini ee perkamen dan
kemudian ee apa namanya ee papirus itu
sudah digunakan sebelum adanya
Al-Qur'an, Pak. Iya. Karena tadi saya
lihat ada Papirus menggunakan ee tanah
liat, Pak. Ya. Tapi ada juga menggunakan
batu, Pak. Batuis batu tadi. Iya, betul.
Oke, Pak. Terima kasih. Terima kasih
informasinya. Semangat pagi. Baik, Pak.
Terima kasih Bapak Joko. Luar biasa
insight-nya. Terima kasih. Baik, untuk
penanya selanjutnya apakah sudah ada?
Kita akan buka untuk dua penanya pada
sesi pertama pagi hari ini. Silakan
apakah ada yang sudah rais hand atau
mungkin mengetikkan chat di kolom chat
nanti ee akan saya bantu untuk bacakan.
Oke, penanya kedua di materi pertama
yang sudah disampaikan oleh Bapak Nurhah
Saputra, Sos, M.Si. selaku Kepala Pusat
Analisis Perpustakaan dan Pengembangan
Budaya Baca. Baik. Oke, terima kasih.
Sepertinya tidak ada lagi yang rais
hand. Pak Nurhadi Saputra terima kasih
banyak sudah berkenan untuk memaparkan
materi yang pertama pada pagi hari ini,
Bapak. Apakah habis ini Bapak akan ada
kegiatan selanjutnya?
Iya. Iya. Mis ini kebetulan kami sedang
mempersiapkan ee beberapa rangkaian
acara agenda acara menyambut hari buku
dan kemudian hari juga HUD ee
Perpustakaan Nasional. Insyaallah
tanggal 7, 16 Mei besok ini merupakan
hari puncak. Jadi karena tanggal 17
Meiya itu hari Minggu, hari Sabtu ya,
hari Sabtu. Jadi kita majukan besok
untuk ee beberapa agenda kegiatan
walaupun tetap tanggal 17-nya tetap ada
acara di ee gedung utama kami di Medan
Merdeka Selatan. Baik. Oh, Pak, ternyata
masih ada satu pertanyaan. Masih bisa,
Pak, ya, untuk dijawab, ya, ya. Oke.
Baik, silakan untuk penanya selanjutnya.
Selamat pagi
Bapak Fathur Rahman dari
Jember ya, Pak ya. Ya, silakan Bapak
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatumsalam warahmatullah.
Makasih Pak
Nur ee paparannya keadi ini. Saya
Fadhurahman dari Pustakawan dari Dinas
Perpustakaan Jember.
Oh, baikur, Pak.
Baik, Bapak.
Enggih. Saya sebetulnya sangat miris
mungkin dengan
kondisi apa minat baca masyarakat ya.
Tapi kalau kita ambil pelajarannya, saya
mengambil dari akar masalahnya, Pak.
Baik. Contohnya kalau dipus menjadi
contoh Bapak dan Ibu guru. Selama ini
mungkin ee Bapak dan Ibu guru bukan
menjadi penikmat setia dari sebuah buku
dari jendela ilmu itu. mungkin juga di
ee perpustakaan khusus di kantor, di
instansi ya kan itu minimal ada rak buku
ataupun perpustakaan mini di setiap atau
perpustakaan khusus di setiap lembaga
dan ee itu tidak diberikan contoh oleh
para pengambil kebijakan, para pejabat
di sana tidak membiasakan diri. Saya
katakan pembiasaan, Pak. Nah, mungkinkah
ada strategi ataupun pemantik ee inovasi
bagaimana Perpustakaan Nasional
memancing inovasi yang lebih radikal,
Pak? Supaya para para yang harusnya
menjadi teladan itu apa
namanya? Membiasakan. Jadi pola
pembiasaan itu menurut kami lebih
penting daripada apa namanya motivasi.
Sekadar motivasi. Jadi pembiasaan itu
saya belajar dari dulu turunnya perintah
iqra, perintah membaca. Baginda Nabi
pada waktu turunnya Iqra itu adalah
langsung diperintah, Pak. Jadi mungkin
selama
ini harus ada pola pembiasaan selama ini
untuk para pengambil kebijakan dan yang
harusnya menjadi teladan itu menj apa
membiasakan diri akhirnya dicontoh oleh
anak didiknya, oleh karyawan di bawahnya
ataupun oleh peserta didik yang menjadi
ee ee binaannya. Mungkin Perpusnas ada
apa pemantik inovasi. bagaimana strategi
supaya inovasi pembiasaan ini muncul.
Matur nuwun. Terima kasih. Cukup itu
saja, Pak. Iya. Baik, Pak Faturrahman.
Mungkin ee sedikit menanggapi memang,
Pak kami di Perpustakaan Nasional juga
ada batasan-batasan di mana kami
bisa memunculkan atau meregulasi atau
yang bisa diadaptasi langsung kepada
misalnya pemerintah daerah. Kalau tadi
Bapak sampaikan bagaimana guru bisa
mencontohkan kepada siswa-siswinya, ya
kami tidak bisa ee sifatnya instruksi,
tapi kami akan menggandeng ee dengan
Kemendik ee Kemendikbud. Jadi beberapa
program kegiatan dalam peningkatan
literasi yang ee di sekolah sudah kita
lakukan dengan apa bersama dengan
Kemendikbud. termasuk juga bagaimana
memenuhi kebutuhan buku ee bagi siswa ee
sekolah dan kemudian ee anak-anak yang
ada di luar yang di jadi antara
Perpustakaan Nasional dengan Kemendikbud
tahun 2024 kemarin sudah menyalurkan
sekitar 10 juta buku. Kalau untuk
Perpustakaan Nasional sendiri ada 10
juta buku yang kita berikan kepada
perpustakaan desa di seluruh Indonesia.
setiap desa itu akan mendapatkan 1000
buku dan ini memang ee kita lakukan
bagaimana mendekatkan buku kepada
masyarakat. Nah, ini juga kita berikan
pelatihan kepada ee pengelola
perpustakaan desanya, bagaimana mereka
bisa mengajak anak-anak di sekitarnya
untuk kemudian berkunjung dan
memanfaatkan buku yang kita berikan.
sama dengan ee kami di Kemendikbud juga
melakukan seperti itu, tetapi ee mereka
memberikan atau menyalurkan bantuan buku
ini kepada sekolah. Nah, ini memang kami
inginnya apa yang sudah kami lakukan di
pusat ee kemudian ini ditindaklanjuti
oleh teman-teman di daerah. Bagaimana
mungkin Bapak Pak Faturahman dari Dinas
Perpustakaan ini juga mengawal bahwa ada
berapa banyak desa di Jember yang
kemudian menerima bantuan tersebut dan
bagaimana pemanfaatannya, bagaimana
kemudian mengadvokasi pengelola
perpustakaannya untuk ee bisa
memaksimalkan pemanfaatan dari koleksi
ini, Pak. Jujur, Pak ee kami di pusat
memang tangan kami tidak terlalu luas
sehingga kami tidak bisa kemudian
memantau sampai di unit-unit
terkecilnya. Kebijakan yang kami lakukan
adalah kebijakan yang bisa ber elaborasi
dengan pemerintah baik itu di level
provinsi dan kabupaten kota. Dan kami
berharap sangat berharap sekali dengan
ee teman-teman di Dinas Perpustakaan
bagaimana juga ini menjalankan peran dan
kewenangannya. Karena kita tahu bahwa
salah satu penilaian indikator kinerja
kunci pemerintah daerah, keberhasilan ee
urusan perpustakaan itu punya poin dua,
bagaimana peningkatan literasi
masyarakat, indeks peningkatan
pembangunan literasi masyarakat, dan
kemudian tingkat kegemaran membaca
masyarakat. Silakan ee dari teman-teman
di Dinas Perpustakaan menterjemahkan ini
sehingga kinerja pemerintahnya
pemerintah daerahnya menjadi baik.
Ketika indeks literasi, indeks
pembangunan literasinya tinggi, kemudian
tingkat kegemaran membacanya tinggi,
otomatis juga penilaian terhadap kinerja
pemerintah daerahnya juga tinggi. Kami
berharap besar Pak Faturrahman dan
kemudian ee rekan-rekan di Dinas
Perpustakaan di daerah ini ikut andil.
Jadi ee melakukan ee pengembangan dan
pembinaan perpustakaan
dan pengembangan ee kegemaran membaca di
ee wilayah Bapak Ibu sekalian. Mungkin
itu Pak Faturrahman.
Baik, terima kasih Pak Fak Pak
Fthurahman ya Pak ya Bapak terima
kasih. Oke. Baik, sudah ada dua penanya
tadi dan sudah dijawab semua oleh Bapak
Nurhadi Saputra. Bapak sekali lagi kami
ucapkan terima kasih karena sudah
berkenan untuk mengisi materi ya menjadi
pemateri pertama pada pagi hari ini di
ASN Belajar seri 18 tahun 2025 ini. Dan
ee kami doakan semoga besok sampai lusa
acaranya bisa berjalan lancar ya, Pak
ya, untuk hari buku nasionalnya. Amin.
Amin. Terima kasih. Baik. Baik. Terima
kasih sekali lagi Bapak Nurhari Saputra.
Sampai bertemu lagi. Sehat selalu Bapak.
Sehat. Sama-sama. Sehat-sehat selalu
Bapak Ibu semua.
Baik, itu tadi dia pemateri pertama kita
pada pagi hari ini ya, Kepala Pusat
Analis Perpustakaan dan Pengembangan
Budaya Baca yaitu Bapak Nurhadi Saputra,
Esos, M.Si. Dan
selanjutnya ee tanpa berlama-lama lagi
kita akan masuk ke segmen kedua. Di
pemateri kedua pada pagi hari ini akan
ada Ketua Program Studi Magister Sains
Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Airlangga yaitu dengan Prof. untuk
Ramah. Tapi sebelumnya kita akan
menyaksikan terlebih dahulu untuk video
yang satu ini.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
He.
[Musik]
Baik, Sobat ASN yang berada di seluruh
Indonesia yang sekarang sudah bergabung
di online bersama kita di Zoom Meeting
maupun di YouTube channel. Eh, untuk
pemateri kedua pada hari ini akan ada
Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda,
M.Si. Yaitu selaku Ketua Program Studi
Magister Sains Informasi dan
Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Erlangga.
[Musik]
Selamat pagi, Bu Rahma,
ya. Selamat pagi, Mbak. Luar biasa
sekali pagi hari ini saya bisa bertemu
dengan Bu Rahma, ya, Bu.
Baik, sama-sama. Baik. E kalau saya baca
kurikulum VT-nya, Bu Rahma ini beberapa
kali mengambil ee apa ini Bu namanya?
Akademik ya. Mengambil akademik di
beberapa jurusan ya. Ada S3 Pengembangan
SDM sekolah pasca Sarjana UNER itu
sampai sekarang ya Bu ya masih dijalani.
Betul. Sampai sekarang dua kali S
kesempatan mengajar. Iya. Siap. dan juga
Ibu ini menulis beberapa buku. Betul ya,
Bu ya?
Iya. Luar biasa sekali. Baik, pada pagi
hari ini materi yang akan dibawakan Bu
Rahma yaitu buku membaca dan ASN.
Iya. Baik, betul. Baik, Ibu Rahma
langsung saja kami silakan untuk
pemaparan materi kedua pada pagi hari
ini. I. Baik, terima kasih. Ee yang saya
hormati Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur
Bapak Dr. Ramlianto,
S.MP. Ee yang saya hormati pula para
narasumber Kepala Pusat Analisis
Perpustakaan dan Pengembangan Budaya
Baca Perpusnas Republik Indonesia, Bapak
Nuradi Saputra, Esos, M.Si. si demikian
juga yang saya hormati ee editor buku
pusat Perbukuan
Kemendikdasmen Republik Indonesia Bapak
eh
Wijanaro, SSI, M.M. serta ee Bapak Ibu
ASN yang telah hadir melalui Zoom pada
hari ini. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, salam
sejahtera ee untuk kita semua. Eh,
Bapak, Ibu, seperti yang telah
disampaikan oleh Gote Speaker yaitu
Kepala BBSDM Jawa Timur Bapak Dr. Ramli.
Ee di era digital seperti saat ini buku
dan aktivitas ee membaca mengalami
perubahan dan transformasi yang luar
biasa. Buku cetak bisa diubah menjadi
e-book dan aktivitas membaca ee tidak
lagi
sebatas membaca buku cetak ya, tetapi
kita bisa membaca ebook ya, bahkan
membaca secara online melalui
platform-platform digital ya, yang
disediakan di internet ya.
Perubahan-perubahan inilah yang
berdampak pada sifat membaca dan bahkan
fungsi buku cetak itu sendiri. membaca
sudah tidak lagi sebagai aktivitas yang
penuh makna mendalam pemahaman tidak
secara ee mendalam pula seperti yang
kita lakukan saat membaca buku cetak
tentunya. Tetapi membaca saat ini lebih
pada aktivitas yang ee disediakan oleh
media yang terus-menerus berganti
medianya. Jadi membaca bukan aktivitas
yang dilakukan dengan fokus penuh gitu
ya. membaca bukan aktivitas yang ee
dibutuhkan waktu lama, tetapi bisa
dilakukan dalam waktu yang relatif cepat
ya sekilas dan dengan pemahaman yang
sepotong-potong. Bahkan kita mungkin
jika membaca ebook atau membaca online
dari
platform digital melalui internet, saya
yakin pasti kita membaca secara
scanning. Demikian juga para siswa ya,
mahasiswa itu jika membaca digital sudah
tidak lagi secara mendalam ya membaca
sekilas-sekilas ya sepotong-potong
sehingga pemahamannya tidak utuh. Nah,
inilah yang saat ini menjadi persoalan
di negara maju seperti yang Bapak Ibu
baca di berbagai media ya. seperti yang
dilakukan oleh pemerintah Swedia di
antaranya itu ee Swedia memutuskan untuk
mengubah sistem pendidikannya dengan
kembali menggunakan buku cetak. Kenapa?
Karena alasannya penggunaan media
digital ya dengan melalui gawai yang
dilakukan oleh anak-anak atau siswa
justru dapat mengganggu fokus pada
pelajaran ya. Nah, ini yang ee juga
ditiru oleh negara-negara lain seperti
Jerman ya ee Finlandia dan beberapa
negara maju lainnya. Ini sudah mengubah
mulai mengubah ee pendidikan ee yang
berbasis digital di mana anak-anak itu
ee bisa menggunakan gawai komputer untuk
mencari informasi ya demi tugas mereka.
tetapi ee pemerintah ee seperti Swedia,
Jerman itu sudah mulai tidak lagi
percaya gitu ya pada
ee media digital karena dipandang ee
penggunaan perangkat digital ini ee bisa
mengubah atau meminimalisir pemahaman
siswa pada apa yang dibacanya.
Ya, dulu seperti Swedia itu optimis
bahwa penggunaan perangkat digital bisa
mengubah ya
ee apa pendidikan karena media digital
mudah diakses dan mempersiapkan para
siswa menuju tuntutan digital pada abad
21.
Namun ee ee apa yang dilakukan sejak
tahun 2009 ya akhirnya ee negara ini
memutuskan untuk mengganti ya ee apa
buku-buku ebook ya dan perangkat digital
dan diganti dengan ee ebook cetak dan
bisa dipahami ee Swedia sekarang ini
ee mempersiap siapkan sekitar
1,7 triliun ya untuk ee membeli
buku-buku cetak yang
siap dikoleksi oleh perpustakaan dan
siap untuk dibaca siswa.
Nah, kenapa ee negara-negara tersebut
beralih ke buku cetak ya? Karena salah
satunya adalah eh temuan PISA Program
for International Student Assessment itu
mengungkap bahwa ada korelasi erat
antara penurunan pengetahuan siswa
Swedia dan beberapa negara tersebut yang
saya sebutkan dan penggunaan ponsel.
Jadi sepertinya penggunaan ponsel ya,
gadget itu malah untuk membaca, mencari
informasi malah justru menurunkan
pengetahuan para siswa. Nah, kalau
dikaitkan dengan literasi tentunya ee
sudah barang tentu karena ee penurunan
pengetahuan terjadi
maka literasi mereka juga akan menurun.
Nah, ee perubahan-perubahan inilah yang
menunjukkan pada kita bahwa buku cetak
masih menjadi andalan untuk membangun
masyarakat berpengetahuan. Ya, kenapa
ya? Karena dengan buku cetak, orang bisa
membaca secara mendalam ya, buku bisa
dibawa ke mana-mana dan tentunya ee
sudah pasti kita akan membaca mulai dari
awal sampai akhir dan sudah barang tentu
pemahaman kita akan lebih mendalam jika
dibandingkan kalau kita membaca buku
digital yang siap kita cari
bagian-bagian yang kita butuhkan dan
bagian itulah yang hanya kita ee dalami.
Itu sebabnya kenapa ee pemerintah di
negara-negara maju saat ini ee mulai
memutuskan untuk mengubah sistem
pendidikannya dan kembali menggunakan ee
buku cetak. Ee next.
Nah, kemudian ee
masalahnya kita semua ini sebetulnya
sepakat tentang manfaat buku dan
membaca. Namun mengapa masih banyak
klaim-klaim minat baca dan kegemaran
membaca buku masyarakat di Indonesia
masih rendah. ya ee kita bisa
menyaksikan atau membaca mengikuti
banyak ee media bahwa Indonesia itu di
urutan kesekian dari bawah gitu ya dalam
hal ee literasi gitu. Bahkan juga diakui
minat baca dan kegemaran membaca
masyarakat Indonesia masih kalah jauh
daripada negara tetangga kita gitu ya.
Nah, penyebabnya apa Bapak Ibu?
sebetulnya banyak. Namun ada tiga hal
penyebab.
Ee mohon dibantu untuk ee selanjutnya
ee screen selanjutnya ya. Penyebabnya
ada tiga. Yang pertama tentu saja
seperti yang saya katakan tadi bahwa
perkembangan teknologi digital yang
sangat luar biasa saat ini itu telah ee
memupus minat dan kegemaran membaca kita
ya. Terutama ketika kita semua ya tidak
terkecuali orang dewasa ya. Anak-anak,
orang dewasa tentu senang bermain game
bahkan bermedia sosial. Ya, ini yang
membuat perhatian kita atau minat kita
membaca buku ini mulai terkikis. ya
mungkin ee membaca buku dipandang ee
bukan kegiatan yang menyenangkan
dibanding kita bermain games atau
bermedia sosial gitu ya, melakukan
interaksi ee di di banyak WA grup
misalnya begitu. Nah, itu yang pertama
yang menjadi penyebab. Yang kedua ee
yang menjadi penyebab adalah minat dan
kegemaran membaca buku itu cenderung di
Indonesia dibangun secara instan. Jadi,
Bapak, Ibu, kita semua bisa menyaksikan
ya ee sebenarnya pemerintah itu sudah ee
mulai atau bahkan sudah sejak
lama ee
mensosialisasikan dan mengharapkan
implementasi peningkatan literasi di
seluruh bidang terutama di banyak
sekolah ya. Tetapi saya pikir ee itu
merupakan upaya-upaya yang cenderung
instan dilakukan. Kenapa? Karena ketika
mereka ee diminta untuk membaca di
banyak sekolah sebetulnya itu dilakukan,
mohon maaf menurut saya instan ya.
bahkan ee dengan sebuah ee perintah gitu
ya, dengan ada tugas tanpa dilandasi
dengan fondasi ketika mereka masih
kecil. Nah, ini hal yang paling penting
ketika kita ee mau menumbuhkan minat dan
kegemaran membaca buku. Sebenarnya yang
perlu diperhatikan adalah pondasi ee
minat dan kegemaran buku membaca buku.
ketika anak masih kecil. Dengan
demikian, ketika program literasi
dicanangkan, maka program itu tentunya
ee tidak sekedar dijalankan secara
formalitas oleh anak-anak kita gitu ya.
Mereka pasti dengan fondasi yang kuat,
program membaca 15 menit misalnya akan
dilakukan dengan penuh kesenangan dan
kenikmatan. Itu penyebab yang kedua.
Penyebab yang
ketiga, buku dan membaca di masyarakat
kita ya, terutama dalam sistem
pendidikan kita cenderung ditempatkan
dalam konteks pendidikan atau akademis.
Jadi tidak heran kalau konstruksi
masyarakat ketika memaknai buku dan
membaca ini selalu dianalogikan dengan
oh tugas. tugas sekolah ini adalah tugas
dari guru. Begitu. Oleh karena itu,
ketika kita ingin menanamkan kegemaran
membaca atau kegemaran pada buku perlu
ditempatkan dalam konteks yang bukan
sekedar menjalankan kewajiban pendidikan
atau tugas belajar, tetapi ditempatkan
dalam konteks yang membaca buku itu
menyenangkan. Ya. Ee Bapak Ibu ee mohon
izin pertanyaan kemudian adalah apa yang
bisa dilakukan untuk mengembangkan minat
dan kegemaran membaca para ASN gitu
kira-kira. Nah, mohon izin ee saya
menawarkan sesuai bidang ee ilmu saya
yaitu ilmu sosial ee saya menawarkan
perlunya dikembangkan pendekatan yang
berbasis AirSat.
Airsat ini ee kalau bisa diartikan itu
adalah nilai pakai kedua. Nah, untuk
mendekonstruksi dan merekonstruksi
wacana baru tentang bagaimana
mengembangkan minat dan kegemaran
membaca buku, maka kita perlu yang
namanya nilai pakai kedua atau airsats.
Nah, artinya nilai pakai kedua itu
adalah sebuah nilai yang di luar cara
atau strategi mainstream yang cenderung
selama ini dilakukan dan cenderung
menurut saya tidak optimal gitu
kira-kira. Artinya begini ee ketika
program banyak dilakukan, kenapa masih
banyak klaim klaim minat dan kegemaran
membaca ini masih rendah? Oleh karena
itu saya menawarkan bahwa untuk
mendekonstruksi dan merekonstruksi butuh
wacana baru tentang bagaimana
mengembangkan minat dan kegemaran
membaca buku di luar cara-cara
mainstream yang selama ini dipandang
oleh masyarakat ya lebih akademis atau
lebih formal begitu. Nah, ee lanjut
Bapak, Ibu. Izinkan saya menyampaikan
tentang AirSat. AirStat ini sebenarnya
konsep yang dikemukakan oleh Theodor
Adurno yang merupakan konsep tentang
keberhasilan industri budaya dan upaya
komodifikasi budaya untuk mendongkrak
peningkatan aktivitas konsumsi produk
dalam masyarakat modern. Bapak, Ibu,
Theodor Adorno dalam ee ilmu sosial itu
dikenal sebagai pencetus masa Frankfurt.
Nah, Theodor Adorno ini memang
sebenarnya mengkritik bagaimana
cara-cara kapitalis ini
memanipulasi konsumen untuk tetap ya
mengkonsumsi produk-produk budaya yang
disediakan atau ditawarkan oleh industri
budaya kapitalisme. Nah, konsep Airsart
itu merujuk pada pengertian nilai pakai
kedua pada produk dalam masyarakat
modern yang didominasi oleh aktivitas
konsumsi. Jadi, Bapak,
Ibu ee kita sudah tahu semua. Saya
kira ee kalau kita atau seseorang
membeli tas gitu ya, nilai pakai pertama
adalah dikonstruksi oleh orang bahwa tas
ini ee memiliki fungsi sebagai wadah
barang-barang kita. Itu fungsi pertama.
Tetapi apa yang dilakukan oleh industri
budaya? Kata Theodor
Adorno, sebuah tas itu bisa dirancang
mempunyai nilai pakai kedua. Dan justru
ketika dirancang memiliki nilai pakai
kedua, maka orang akan membeli tas
sekalipun harganya miliaran atau ratusan
juta gitu ya. Karena apa? Karena tas
yang dirancang dengan branded tertentu
ini memberikan tawaran bukan sekedar
memberikan fungsi pertama tetapi fungsi
kedua yaitu simbol status sosial. Oleh
karena itu, Bapak Ibu bisa saksikan di
YouTube saya kira ee bagaimana ketika
Luna Maya menikah gitu ya, itu banyak
artis-artis ya menggunakan tas. Saya
kira tasnya itu tidak ratusan ribu,
Bapak, Ibu. Bukan saja puluhan juta
bahkan ratusan juta. Kalau kita orang
normal itu berpikir kenapa pas puluhan
juta, ratusan juta dibeli. Kita saja
bisa beli sepeda motor berapa puluh ya
Bapak, Ibu. Tetapi kenapa dibeli? Yaitu
cara
kapitalisme itu menawarkan fungsi kedua
tas. Nah, menurut Theodor Adurno dalam
masyarakat kapitalisme ya yang dia sebut
didominasi oleh aktivitas konsumsi, kita
ini sebenarnya banyak mengkonsumsi
barang-barang yang
bukan kita andalkan sebagai fungsi
pertama, tetapi fungsi kedua ya. Kita
membeli air mineral gitu ya.
Saya kira banyak di antara kita bukan
membeli air mineral
karena
ee
kita memiliki rasa haus atau air mineral
itu tidak ditawarkan sebagai ee
mengatasi rasa dahaga. Tetapi air
mineral kita ini sekarang
dikemas ya. Dikemas dengan menawarkan
fungsi kedua.
banyak air mineral yang dikemas. Wah,
ini banyak mineralnya ya. Ee tidak
banyak ee mineral yang mengandung ee
zat-zat tertentu yang ee berguna bagi
kesehatan. Ini adalah nilai pakai kedua.
Nah, kenapa kita lebih senang gitu ya
membeli air mineral yang lebih mahal
karena ada mineralnya ya, mineral yang
berguna untuk kesehatan. Sementara
sebenarnya air mineral itu apa? Air
mineral itu adalah air yang biasa
mengatasi rasa dahaga kita. Tetapi
orang bisa membeli ya lebih mahal dari
ee katakanlah air menalar biasa itu.
Kenapa ya?
Karena ee menurut Theodor Adorno
pintar-pintarnya gitu ya industri budaya
mengemas barangnya,
produknya dengan nilai pakai
kedua. Nah, nilai pakai kedua ini
ternyata sangat jitu Bapak, Ibu. Saya
masih ingat ketika keponaan saya itu
ingin naksir cewek dan nembak supaya
berhasil dia nyontoh gitu ya.
Ee tokoh Rangga dalam film AADC yang
dimainkan oleh Ncolas Saputra ya. Dia
ingin menyontoh Rangga. Bagaimana
keberhasilan Rangga itu menggait cewek
yang namanya cinta dengan membaca buku
filsafat? Karena Rangga kan senang buku
filsafat. Nah, ee ponaan saya ini karena
pengalamannya lima kali naksir lima kali
ditolak Bapak Ibu, maka dia menirukan
ya. Dia ee membaca buku filsafat.
Bayangkan ponaan saya ini sebetulnya
sekolah di Institut Teknologi, tetapi
karena ingin berhasil menembak cewek,
maka dia meniru yang namanya Rangga ini.
Bagaimana Rangga ini berhasil ya sebagai
orang yang kutu buku tetapi disenangi
cewek. Nah, ini adalah fungsi kedua
membaca.
Padahal ponahan saya itu disuruh
belajar, disuruh membaca, tidak mau.
Tapi ketika dia mau naksir cewek, dia
mulai membaca dan ditunjukkanlah kesan
bahwa dia ini kutu buku. Akhirnya Bapak,
Ibu memang berhasil. Jadi ketika naksir
keenam kalinya ponaan saya ini berhasil
ya menggait cewek dan menjadi pacarnya.
Ini menunjukkan Bapak Ibu sebenarnya
ketika kita
mau menumbuhkan kegemaran
membaca menurut saya belajar dari apa
yang dikatakan Theodor Adorno, kita
tidak bisa semata-mata mengandalkan
fungsi pertama membaca yaitu membaca
sebagai ee cara untuk supaya pintar
membaca ee harus dilakukan supaya kita
lebih berpenget Ah. Tetapi strategi itu
menurut Theodor Adurno itu sebenarnya
kurang bisa ee kita andalkan
meningkatkan ee konsumsi. Jadi kalau
kita mengatakan, kita berasumsi bahwa
membaca itu adalah sama dengan
mengkonsumsi produk, maka yang harus
dilakukan supaya membaca tetap menjadi
konsumsi produk dan akan dilakukan
secara sukarela, maka kita harus
menawarkan apa yang dinamakan fungsi
kedua atau nilai pakai kedua.
Ini juga terlihat Bapak Ibu, bagaimana
kita bisa
memahami orang menggunakan
behel itu sakit sekali. Tetapi kenapa
rela? Karena saya pikir bukan kepingin
cantik, tetapi kepingin gaya. Sekarang
Bapak Ibu bisa ee lihat ya, orang
menggunakan bekel itu bisa macam-macam.
Bahkan orang menggunakan vehikel pengin
seperti Tom Cruis ya. Tom Cruis itu
menggunakan vehikel dengan macam-macam
dan ketawa pun
juga PD. Artinya begini, ketika kita
menawarkan aktivitas konsumsi produk,
jangan lupa kita bisa menyontoh apa yang
dilakukan oleh industri budaya atau
komodikasi budaya kapitalisme dengan
menawarkan nilai pakai kedua. Nah, Bapak
Ibu ee mohon ee slide selanjutnya
bagaimana dengan meningkatkan
ee buku eh meningkatkan kegemaran
membaca buku ya. Oleh karena itu kalau
kita
menginginkan
masyarakat gemar membaca
buku, janganlah
semata-mata menawarkan bahwa buku itu
sumber pengetahuan. ya. Janganlah
menawarkan pada anak-anak kita misalnya
buku ini perlu di baca karena nanti akan
dievaluasi karena ee kata-kata evaluasi
itu identik dengan buku
ini membaca karena disuruh membaca
karena berkaitan dengan bidang
pendidikan ya. Nah, oleh karena itu
kalau kita mau
belajar dari apa yang disampaikan masa
Frankfurt oleh Theodor Adurno, kita
perlu menggunakan ya cara-cara nilai
pakai kedua. Jadi buku membaca buku kita
menyuruh orang membaca buku jangan
semata-mata karena mau di ee
dinilai atau jangan semata-mata ini
adalah
program tetapi membaca buku perlu
dikonstruksi untuk mendapatkan nilai
pakai kedua. Nah, nilai pakai kedua ini
kita bisa
ee bisa menggunakan nilai apapun yang
penting bukan nilai pakai pertama
seperti fungsi tas tadi. Kalau kita
menjual tas dengan fungsi pertama yaitu
sebagai wadah ya barang-barang kita ya
kita tidak usah menggunakan tas seharga
puluhan juta atau ratusan juta. Kita
bisa menawarkan atau menggunakan tas
kresek saja saya kira. Nanti kita gonta
ganti tas kreseknya warnanya hijau.
Selasa warna kuning sampai dengan Sabtu
warna hitam. Begitu. Itu fungsi pertama
Bapak Ibu. Kalau kita mau menjual tas
dengan fungsi pertama, ya semua tidak
akan laku. Tapi kalau menjual fungsi per
kedua saya kira itu jauh lebih sukses
ya. Oleh karena itu membaca buku perlu
dikonstruksi dengan nilai pakai kedua.
Jadi kalau ASN kita mau berharap ASN ini
ee membaca buku begitu
ya, jangan terus kemudian kita harus
membaca buku karena buku adalah sumber
pengetahuan. Dengan buku kita akan
pintar atau kunjungilah perpustakaan
karena perpustakaan adalah gudang ilmu
gitu ya. Orang susah mengkonstruksi
Bapak Ibu mohon maaf. Jadi yang paling
penting adalah kita
menentukan-nya gitu ya. Tujuannya
katakanlah misalnya bisa membaca karena
memperoleh sesuatu untuk kepentingan
pengembangan karir ASN. Katakanlah
begitu. Saya yakin orang pasti senang
karena dengan karir yang ee meningkat
tentunya akan ee sangat ee
menggembirakan dan membanggakan.
Demikian juga kita bisa
ee melakukan atau menempatkan nilai
pakai kedua ini untuk peningkatan
kualitas pelayanan publik gitu ya. Jadi
ee ASN-nya ASN yang inovatif ini
begitu atau membangun identitas sosial
ya. AS orang itu biasanya kalau disuruh
membaca supaya pintar biasanya tidak mau
artinya kurang tertarik tetapi bacalah
gitu ya atau kita bisa membaca karena
alasan wah kita menjadi ASN trend setter
ya kalau ditanya berdiskusi misalnya
kita bisa mengemukakan semua hal ya yang
tidak diketahui orang lain Bapak Ibu.
Ibu, ini saya rasa lebih ya memenuhi
tujuan daripada kita menawarkan membaca
buku dengan fungsi
pertama. Bapak Ibu saya masih ingat ya,
mohon maaf karena saya ini mengajar di
ee Prodi Ilmu Informasi dan Ilmu
Perpustakaan. Seringali saya mengatakan
dengan contoh pada anak-anak. Kalau Anda
me membuat slogan supaya ee orang bisa
datang ke
perpustakaan,
contohlah itu depot di rumah saya. Depot
di rumah saya ini membuat judul atau ee
nama depotnya
adalah soto ayam cakar kuntilanak gitu
Bapak Ibu bukan soto lesat. Nah, bisa
bayangkan ini ada Bapak Ibu tapi
sekarang depotnya sudah kena pelebaran
jalan ya Bapak Ibu. Sungguh ini semua
banyak yang beli antrenya itu panjang.
Padahal Bapak Ibu bukanya itu jam 09.00
remang-remang gelap Bapak Ibu. Bapak Ibu
bisa bayangkan kok bisa gitu ya ee orang
berduyun-duyun datang membeli soto yang
mungkin sotonya ini saya rasa ya soto
rasanya begitu saja ya Bapak Ibu. Tapi
dengan soto cakar kuntil anak banyak
yang datang. Ketika saya datang
remang-remang ya gelap. Saya itu tidak
tahu ini sambal atau lontong saya ambil
begitu. Eh ternyata sambal. Tapi begitu
banyak orang datang ke situ. Saya bisa
bayangkan kalau soto itu diberi soto
lesat gitu ya. Itu pasti fungsi pertama.
Tapi soto cakar kuntilanak itu orang
akan penasaran. Itu fungsi kedua, Bapak,
Ibu. Jadi, kalau kita
mau meningkatkan kegemaran membaca,
menumbuhkan kegemaran membaca, pakailah
fungsi kedua. seperti apa yang dikatakan
oleh tokoh ya
ee masa Frankfurt yaitu Theodor Adorno.
Meskipun Theodor Adorno
ini mengkritik para kapitalis yang
memanipulasi dengan fungsi kedua ketika
menawarkan ee produk-produk industri
budaya. Tetapi ini merupakan sebetulnya
makna kesuksesan Bapak, Ibu. para
kapitalis menawarkan produksi atau
produk budaya yang saya rasa itu lebih
mengena di hati para
konsumen dan kita ee saran saya ee kita
bisa belajar dari konsepsat yang
dikemukakan oleh masa Frankfur ya. Saya
rasa ee demikian yang bisa saya
sampaikan Bapak Ibu. Wasalamualaikum
warahmatullahi
[Musik]
wabarakatuh. Terima kasih Prof. Rahma
karena sudah memberikan pemaparan materi
untuk sesi kedua ini ya. Ini menarik
sekali tadi kalau saya dengar soto cakar
apa, Prof? Tadi kuntilanak ya.
Ini bisa dijadikan salah satu contoh
soto cakar kuntilanak, Mbak ya. Soto
cakar kuntilanak. Kita penasaran e
kira-kira kapan ya mau buka lagi ya
nanti ya warung sotonya ya. Iya. Itu
saya juga tidak tahu itu pindah ke mana
karena kena pelebaran jalan. Oh sayang
sekali. Mudah-mudahan tetap ee laku itu.
Amin. Amin. Baik, Prof. ee kita akan e
masuk ke sesi tanya jawab seperti biasa
untuk sobat ASN yang mau bertanya
silakan rais hand ya atau mungkin ketik
chat di kolom chat nanti saya akan bantu
bacakan nanti akan dijawab langsung
pertanyaannya oleh Prof. Rahma. Baik,
apakah sudah ada pertanyaan
teman-teman dari Sobat ASN? Oke.
Baik. Ini menarik sekali ya materi kedua
pada hari ini dari Prof. Rahma gitu kan
tentang buku membaca dan ASN ya. Jadi
memang harus dicari keunikannya ya Prof
ya. Kalau misalkan mau ngajak
orang-orang untuk mau baca itu harus ada
satu unik yang out of the box biar
orang-orang tuh mau membaca gitu. Karena
memang literasi zaman sekarang itu kalau
dilihat-lihat agak banyak berkurang ya,
Dok ya, Prof. ya.
seperti itu ya.
Ee literasi sebetulnya ee program
literasi banyak ya, tetapi pengemasan
untuk bisa ee menumbuhkan ya gemar
membaca agar literasi kita meningkat itu
yang sebetulnya butuh strategi khusus
ya. Betul. Nah, ini ee karena saya dari
ilmu sosial, saya
meminjam ee konsep yang dikemukakan oleh
salah satu teoritisi dari masa Frankfurt
yaitu Theodor Adurno yang sebetulnya
mengkritisi cara
kapitalisme, menggiring ya konsumsi yang
luar biasa. Tetapi itu sebetulnya
kesuksesan bagi kapitalisme industri
budaya. Nah, itu yang perlu kita contoh
gitu ya. Menawarkan fungsi kedua
meskipun oleh Theodor Adurno ini
dianggap
ya melakukan manipulasi massa begitu
ya untuk kepentingan keuntungan
kapitalisme. Baik. Wah, ini sepertinya
sudah ada satu sobat ASN yang mau
bertanya. Selamat pagi Bu Ninit dari
BPSDM Jember. Selamat pagi Bu.
Selamat pagi, Bu. Silakan, Bu Ninit.
Langsung saja bertanya ke Prof Rahm.
Terima kasih,
moderator. Ee selamat pagi Prof. Rahma.
Saya Ninit dari BKPSDM Jember. Ee topik
yang Ibu sampaikan pagi ini sangatlah
menarik dari sudut pandang kami sebagai
seorang ibu dan seorang ASN, Ibu. Nah,
ee ketika saya menjadi seorang ibu ee
agak sulit Bu untuk memaksa anak-anak
kami yang sudah biasa ee pegang
jajet ee untuk membaca dan mengerjakan
tugas. Kalau ee misalkan kami kami
menggunakan metode merangkum dari buku
manual dium, apakah itu masih efektif
ya, Bu? Mohon saran.
Untuk pertanyaan yang kedua, kami
sebagai ASN dituntut untuk gercep Ibu
merespon ee ketika ada peraturan
perundangan baru, ketika kami harus
membuat suatu konsep dan tata naskah
dinas. Ditambah lagi dengan efisiensi
anggaran di daerah, Ibu. Jadi ee
sekarang ini lagi ngetren paperless.
Jadi kami membacanya dengan media
digital. Nah, dengan media digital ini
dengan keterbatasan waktu dan
multitasking tugas yang dibebankan
kepada kami, akhirnya kami membacanya
sepotong-potong saja, Bu. Control fine
seperti itu, Bu. Menurut Ibu, bagaimana
ee saran masukan kami sebagai ASN agar
lebih baik? Karena ee yang kami rasakan
ketika kami membaca sepotong-potong
dengan contol fine seperti itu ee
pemahaman kami tidak begitu mendalam Ibu
dan kami lebih mudah memang menemukan
jawaban tapi lupanya juga lebih cepat.
Ibu mohon saran dan masukan. Terima
kasih, Prof.
Rahma. Silakan Prof. Rahma bisa langsung
menjawab untuk pertanyaan dari Bu Ninit.
Iya, terima kasih Bu Ninit ya. Ee
sungguh luar biasa Bu Ninit ini memberi
perhatian pada putra-putrinya ya. Dan
ini sekaligus juga ee Bu Ninit ee ya
saya alhamdulillah Bu Ninit ee apa
peduli ya pada bagaimana kita ini perlu
meningkatkan atau menumbuhkan kegemaran
membaca pada anak-anak ya. Ee Bu Ninit
seperti yang saya sampaikan ee
sebetulnya menumbuhkan atau meningkatkan
kegemaran membaca itu tidak bisa
instannya. Kita ini ee kalau menurut
teori yang paling ideal ee sejak
anak-anak ee belum bisa berbicara dan
mulai bisa berbicara kita itu perlu
membangun atmosfer gemar membaca.
atmosfernya dalam hal ini atmosfer di
dalam keluarga ya. Jadi anak-anak itu
biasakan melihat kita pegang buku gitu
ya. Biasakan anggota keluarga yang lain
tidak banyak menonton TV ya. Jadi
diusahakan anak-anak kita itu melihat
itu semua gitu ya. Bahkan ketika ee akan
ee pergi keluar untuk healing begitu ee
bisa dibiasakan kita sesekali datang ke
perpustakaan atau ee datang ke toko buku
gitu ya. pendek kata, di manapun ee
keluarga itu berkumpul, entah itu di
dalam rumah atau di luar, ee perlu
dibiasakan membangun
atmosfer buku, gemar membaca gitu ya.
Nah, jika itu fondasi sudah terbentuk,
terbangun, maka insyaallah anak tidak
akan terpengaruh gitu ya pada
kegiatan-kegiatan yang lain. Sekalipun
itu menyenangkan ya. Apalagi kalau anak
sudah bisa membaca sendiri karena
fondasi itu maka saya yakin anak itu
akan memilih buku dibanding dengan
kegiatan lainnya. Nah, kenapa? Karena ee
ketika fondasi itu sudah mulai dibangun
dan anda ee anak
merasakan senang membaca atau anak ee
mulai senang membaca, maka yang
diperoleh itu adalah pengalaman yang
luar biasa dalam membaca. Ee Bu Ninit,
jadi begini.
ee dalam buku katakanlah ee buku cerita
atau
novel jika itu dibaca oleh anak kita
yang memang senang membaca maka itu
adalah pengalaman batin yang luar biasa
ya. Ee saya masih ingat ee cerita dari
Prof. Yohanes Surya ya. Bagaimana dia
itu senang fisika karena diawali dengan
nenek kakeknya yang membacakan cerita
dan ketika dia sudah mulai bisa membaca
dan membaca banyak buku cerita serta
novel, dia itu seperti masuk dalam dunia
satu ke dunia lainnya sehingga tidak
akan dia beralih ke kegiatan lainnya
gitu ya. itu yang diperlukan. Sehingga
kenapa ketika Yohanes Surya menekuni
fisika ini beliau seperti ee masuk dalam
dunia fisika, dunia lain ya. Bukan dunia
ini ya yang ee menakutkan,
tapi dunia cerita satu ke dunia cerita
yang lain. Makanya kenapa tidak heran
seorang Profesor Yohanes Surya itu
pintar fisika gitu ya. Demikian juga ya
ketika kita mau menumbuhkan gemar
membaca yang pertama pada anak kita
bangunlah atmosfer gitu ya. Dan ee kalau
memang kita tidak bis tidak sempat
membangun atmosfer, saya rasa kita perlu
menggunakan nilai pakai kedua, Ibu. Jadi
jangan nilai pakai pertama gitu ya.
Bacalah nak supaya pintar. Bacalah nak
ini karena ada tugas guru. Kamu ini
nanti gak dapat nilai bagus begitu ya.
Itu adalah cara-cara yang menempatkan
konteks membaca dalam kepentingan
akademik. Ya, tentu itu akan beban ya.
Padahal orang yang gemar membaca itu
tanpa beban menikmati. Oleh karena itu,
kita perlu merancang nilai pakai kedua
ini, Ibu, supaya anak bisa membaca tanpa
dibebani. Harus meringkas gu ya, harus
menunjukkan ringkasannya. Ini mana bukti
kalau kamu sudah membaca ringkasanmu
mana gitu ya. Ini ini sama dengan nilai
pakai pertama tadi ya. yang dibangun
adalah bagaimana cara kita menggunakan
atau memikirkan. Ya, ini memang ee
kembali lagi pada ee niat ya orang tua
untuk menggagas sedikit berinovasi apa
ini nilai pakai kedua
ini gitu. Ee kira-kira Bu ee Ninit matur
nuwun.
Baik, Bu Ninit. Semoga bisa
terpuaskan mendapatkan jawaban dari
Prof. Rahma ya. Mohon maaf kira-kira anu
ya ada pertanyaan kedua nggih. Ngih. Ada
pertanyaan kedua Prof. Iya. Mohon maaf
ya. Lah pertanyaan kedua yang berkaitan
dengan
ee
koleksi-koleksi ee non cetak ya.
Karena koleksi-koleksi non cetak ini
atau katakanlah buku digital ini
memang menawarkan kemudahan dan
kecepatan kita mencari informasi dan
pengetuan. Bu Ninit, saya sendiri juga
kalau oga membaca mulai dari pertama
sampai belakang saya Ctrl F saja.
Kemudian di bagian yang ketemu ya itu
saya baca. Nah, inilah yang ee menurut
negara Swedia membuat ee anak-anak
siswa-siswa ini ee mendapatkan informasi
atau pengetahuan sepotong-potong jika
dibandingkan dengan ini membaca buku.
Karena membaca buku yang kita pegang ya
itu pasti akan kita baca mulai dari awal
sampai akhir. Meskipun itu butuh
beberapa hari tapi kita beri batas
biasanya. Ini saya baca sampai di sini
begitu ya. Itu jelas ya. Nah, ee kalau
seandainya gitu ya ee di perpustakaan
atau ee di tempat-tempat tertentu ya itu
kekurangan ee buku cetak karena kita
merasa bahwa buku cetak itu lebih
mempunyai keunggulan daripada ee buku
digital gitu ya. ee saya menyarankan
melakukan kolaborasi ya dengan
pihak-pihak lain katakanlah begitu ya
yang sama-sama juga memiliki buku cetak
sehingga ee tentunya kita bisa join
koleksi cetak itu tanpa harus membeli
karena memang ee membeli buku cetak ini
luar biasa mahal ya dia saja me ee
menganggarkan 1,7 7 triliun di tahun
2025 untuk mengisi ee ini
koleksi-koleksi di perpustakaan yang
disebarkan, diperuntukkan
sekolah-sekolah di Swedia. Nah, untuk di
Indonesia saya rasa karena anggaran ini
sekarang berbasis efisiensi, nah saran
saya kita bisa melakukan kolaborasi
dengan pihak-pihak
lain. Ya, memang agak lebih ribet ya,
tetapi itu adalah sal satu-satunya cara
kalau kita berasumsi bahwa buku cetak
akan lebih
ee produktif ya, menghasilkan
pengetahuan daripada buku digital.
Begitu Bu Ninit. Matur nuwun.
Terima kasih, Prof. Baik Bu Ninit sudah
aman ya Bu. Dua pertanyaan sudah dijawab
Prof. Rahma langsung ya seputar tentang
nilai pakai kedua dan juga ee kolaborasi
buku ya Bu ya. Semoga bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari Bu Nunit.
Terima kasih Bu Ninit, sehat selalu.
Sampai bertemu
lagi. Baik, ada satu lagi sepertinya
penanya yang sudah rais hand,
Prof. Baik. Apakah monggo.
Heeh.
Silakan. Selamat pagi. Wah, kalau tadi
Bu Ninit dari Jember, sekarang ada Bu
Indra dari Pacitan. Selamat pagi, Bu
Indra. Bu Indira ya. Bu Indira atau Bu
Indra?
Bu Indira. Baik, selamat pagi Bu
Indira. Silakan Ibu. Selamat pagi menuju
siang I Prof. Ngih. Selamat pagi, Bu
Indra. Iya. Saya sangat setuju dengan
Prof. Instan, ya. ini ee karena
pengalaman saya sendiri sebagai orang
tua ee bahwa untuk membangun anak gemar
membaca harus dimulai dari
balita. Itu justru lebih efektif karena
kalau sudah SD, SMP ee baru diajak
membaca itu saya merasa lebih sulit
karena mereka sudah mengenal gadget ya.
Kalau dulu waktu masih awal-awal kita
masih bisa membatasi anak bahwa bermain
gadget itu hanya hari Sabtu dan
Minggu. Tapi rasanya untuk ee saat ini
sulit karena dari anak sudah 1 tahun
saja sudah dipegangi HP. Ya, itu yang ee
menyulitkan bagi orang tua kalau sudah
anak tergantung pada HP.
Ee kalau menurut saya memang harus
dimulai dari usia PAUD ya, Ibu.
Bagaimana ee sekolah PAUD kemudian TK
itu memberi memulai untuk memperkenalkan
anak senang
membaca. Kalau sudah mereka dari balita
itu senang membaca, tentu akan lebih
mudah ee ke depannya untuk mereka lebih
suka lagi untuk membaca.
Pengalaman saya waktu anak saya belum
masih umur 2 tahun itu memang kita harus
sering mengajak ee ke toko buku, Ibu.
Jadi, setiap akhir Minggu saya ajak ke
sana, mereka akan memilih buku sesuai
usia dari yang mulai hanya bergambar,
kemudian begitu masuk ke ee TK itu sudah
mulai ee berbeda lagi bukunya. kemudian
masuk SD berbeda juga sampai akhirnya ee
dia bisa
menentukan ee sekolah tujuan hanya
karena tahap-tahap membaca
tadi. Jadi begitu mau masuk ee SMA atau
kuliah dia sudah bisa menentukan, oh
saya pengin ke
sana. Lain kalau dengan yang misalkan
membaca tadi instan anak-anak sekarang
begitu sudah masuk kelas 3 SMA mau masuk
perguruan tinggi masih ragu.
saya pengin apa, pengin kuliah di mana,
itu masih bimbang. Tapi kalau anak sudah
biasa membaca kemudian buku bacaannya
itu sudah dia sudah cocok di satu arah
ya itu akan lebih mudah memilih jurusan
yang dia kehendaki. Jadi mungkin ini
juga tugas dari guru-guru PAUD,
guru-guru TK bahwa untuk segera me apa
ya tidak hanya bermain tapi bagaimana
membaca itu menjadi suatu hal yang
menyenangkan.
Karena buku-buku sekarang tentu saja
saya melihat buku yang mudah dibaca
anak-anak ya, terus yang menarik itu
memang mahal,
Ibu. Jadi buku sejarah, sejarah
Indonesia kita saja itu masih yang
banyak uraian kalimat ya, Bu ya. Tapi
buku-buku anak saya yang sejarah dunia
itu lebih ke cergam, Ibu. Dan ternyata
cergam itu lebih mudah dipahami
anak-anak.
Jadi ee mungkin itu tadi kita harus
banyak menyediakan buku-buku di
perpustakaan yang membuat anak itu betah
untuk membaca dengan cergam ya. Meskipun
cergam tapi itu menunjukkan
ee bukan apa ya tetap tetap nilai
aslinya nilai asli sejarahnya hanya
dibentuk dalam bentuk
cergam. Jadi kalau anak-anak membaca
tulisan terus kan mungkin jenuh ya Ibu.
Tapi dengan ee imajinasi mereka juga
terbangun. Jadi lebih mudah untuk
menghafalkan atau memahami sejarah itu
sendiri. Saya kira itu mungkin ee tadi
yang lebih difokuskan adalah bagaimana
anak-anak mulai dari PAUD sudah diajar
untuk gemar membaca. Saya kira itu, Ibu.
Terima kasih ilmunya hari ini.
Oke. Oke. Ee ee apakah bisa langsung ee
dijawab? Boleh. Silakan, Prof. Langsung
saja.
Iih. Terima kasih, Bu Indira ee dari
Pacitan. Luar biasa ya Ibu ini ee sangat
perhatian ya pada ini. Jenengan
pemberhati ya saya rasa pemberhati gemar
membaca dan literasi ya budaya literasi
ya. Ee saya setuju Bu. Jadi untuk
menumbuhkan dan mengembangkan kegemaran
membaca itu tidak bisa instan. Nah, ee
sebenarnya dimulai sebelum PAUD itu
dimulai dari keluarga, tapi perlu ada
perhatian karena tongkat estafet itu ya
ee kemudian diarahkan ke ee lembaga
pendidikan ya. Jadi kalau dari keluarga
sudah membangun atmosfer yang perlu di
ee perhatikan adalah tahap selanjutnya
adalah tongkatnya ada di ya sekolah
PAUD. Ya, benar saya setuju ee dengan ee
panjenengan harus dimulai juga terus
dibalita artinya diteruskan ya
diteruskan ke balita. Nah, karena apa?
Karena ketika kita mulai menanamkan
kegemar membaca sejak SD, SMP akan
semakin sulit karena mereka sudah
mengenal gadget sejak awal ya. Apalagi
generasi kita ini ya, generasi alfa
lahir sudah jej. Nah, itu tambah susah
lagi. Makanya kenapa atmosfer dalam
keluarga itu perlu di berperan penting
di awal masa hidup anak-anak. Kemudian
tongkat estafetnya diteruskan ke sekolah
PAUD dan demikian juga SD, SMP, SMA.
Nah, ee saya setuju kenapa? Karena anak
yang memiliki fondasi atmosfer ya dalam
keluarga, senang membaca kemudian
diteruskan di PAUD ya yang ee juga
dikembangkan kegemaran membacanya. Saya
yakin ketika nanti dia sudah diberi
gadget, dia tidak akan menggunakan
gadgetnya untuk kepentingan lain selain
kepentingan membaca. Saya pernah ee
meneliti ya, salah satu responden saya
itu ketika si anak itu ee diberi fondasi
kegemaran membaca sejak kecil kemudian
diteruskan ke PAUD, maka ketika dia
diberi tablet, tabletnya itu diisi
dengan ebook ya dan dia ke mana-mana
bawa tabletnya. berbeda dengan
teman-teman lainnya yang tabletnya itu
dipakai untuk menonton YouTube. Ya,
biasanya mohon maaf Bapak Ibu ee sebagai
orang tua di Indonesia itu daripada
anaknya itu nakal atau mengganggu
aktivitas ee orang tuanya ya, anaknya
diberi tablet dan kemudian disetelkan
film-film kartun. Nah,
itu sangat saya sangat prihatin ya,
Bu ya. Itu sebenarnya ee ee agak
kontraproduktif ya. Ya, jangan harap dia
akan bisa ditumbuhkan kegemaran membaca
karena sudah ee terlanjur menyenangi
tablet yang ee dipakai untuk menonton
YouTube, film-film kartun gitu ya. Nah,
saya juga setuju pada Ibu Indira bahwa
yang
namanya anak kalau sudah senang membaca
gitu ya, dia akan haus bacaan itu. itu
proses yang ee
secara apa ee secara alamiah itu
terjadi. Kalau dia sejak awal sudah
diberi fondasi senang membaca, dia
membaca, dia senang membaca, menikmati
membaca, maka dia akan haus bacaan. Oleh
karena itu sudah waktunya misalnya ee di
SD, SMP itu perlu memperbanyak koleksi
berbagai jenis dan berbagai genre. Nah,
saya ee setuju pada panjenengan misalnya
buku sejarah bukan ansih sejarahnya,
tetapi dikemas dalam ee cerita bergambar
itu jauh akan ee lebih disenangi
anak-anak ya. Makanya berbagai jenis dan
berbagai genre ya. Ee saya
pernah ee mewawancarai responden
penelitian saya juga begitu. Dia
mengatakan, "Saya itu sudah senang
membaca Bu, tapi karena saya tidak
mempunyai uang untuk membeli, datanglah
saya ke perpustakaan.
sudah saya baca semua
itu, tapi saya tunggu-tunggu kapan ini
bacaan baru hadir gitu ya atau ada
katanya gak ada. Ditunggu-tunggu tidak
ada. Akhirnya ya inilah ee titik
krusialnya. jangan sampai dia
terpengaruh ya pada teman-teman ee
terpengaruh anak-anak atau teman-teman
lainnya untuk beralih ya itu tadi
nge-games atau yang lainnya ya dan
menjauhi kegiatan membaca ini yang tidak
kita harapkan tentunya nggih. Matur
nuwun Bu Indira.
Indira senang sekali bisa juga berbagi
atau sharing ya ee tentang insight
pada masalah-masalah apa saja yang
sering dihadapi. Ya memang benar saya
setuju dengan Bu Indira kalau anak-anak
kecil itu Prof. lebih suka cergam cerita
bergambar karena saya dari kecil itu
saya dicekokin komik sama bapak saya.
Komik bukan obat batuk ya, Prof. ya. Ini
benar-benar buku buku Cgam cerita gambar
komik gitu. Nah, itu yang akhirnya bikin
anak-anak kecil untuk mau terus membaca
sampai dia dewasa. Begitu memang
membantu sekali cergam itu. Terima kasih
Bu Indira untuk insight-nya. Prof terima
kasih sudah menjawab pertanyaan kedua
dari Bu Indira pada sesi materi kedua
pagi hari ini. Baik, Prof. Mungkin ada
sedikit lagi yang mau disampaikan untuk
sobat ASN yang sekarang sedang menyimak
penjelasan dari Prof. Rahma tentang
buku. Baik. Ee terima kasih ya bagi
Bapak Ibu ee ASN entah itu ee sebagai
ASN yang ee tentunya perlu meningkatkan
ee pelayanan publik ya dengan
inovasi-inovasinya atau sebagai orang
tua yang saya
rasa ee perlu perhatian pada peningkatan
kegembaran membaca atau para ASN yang ee
ee berstatus guru atau pendidik ya. Saya
rasa
ee ikut serta meningkatkan atau
menumbuhkan ya minat dan meningkatkan
kegemaran membaca ee sangat penting ya.
ee dengan tadi apa yang disampaikan Pak
Nurhadi Saputra dengan membaca kita
sebetulnya memiliki pengetahuan ya kita
berliterasi hanya bangsa yang memiliki
literasi tinggi maka bangsa itu bisa
bersaing ya dengan bangsa lainnya negara
lainnya. Oleh karena itu kita perlu ee
untuk tidak
henti-hentinya ikut ee serta dalam
menumbuhkan minat dan mengembangkan
kegemaran membaca ee dalam ee status
apapun ya, dalam posisi
apapun. Ee yang paling penting itu
adalah menggagas strategi ya. Seperti
yang saya katakan, saya menawarkan
strategi eh Airsart atau nilai pakai
kedua dan ini adalah tentu hanya salah
satu strategi yang saya tawarkan. Tentu
Bapak Ibu ASN ee bisa mengembangkan
strategi-strategi lain yang tidak hanya
berkutat pada nilai pakai pertama, tapi
nilai pakai kedua yang bisa digagas ee
sendiri oleh Bapak Ibu. Demikian, matur
nuwun. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
Prof. Rahma sekali lagi sudah berkenan
untuk memberikan materi di sesi kedua
pada pagi hari ini ya di ASN Belajar
seri ke-18 tahun 2025. Prof. silakan
melanjutkan kembali aktivitasnya. Terima
kasih, sehat selalu untuk Prof. Rahma
dan Sobat ASN. Jangan ke mana-mana. Kita
masih akan ada satu segmen lagi. Ini
adalah segmen yang terakhir di webinar
ASN Belajar seri ke-18 tahun 2025 pada
pagi hari ini. Jadi, jangan ke
mana-mana. Kita akan kembali lagi
setelah yang satu ini.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Kembali lagi bersama saya Yuri Sabrina,
Sobat ASN dan ee kita sudah masuk ke
segmen terakhir pada webinar ASN Belajar
seri ke-18 hari ini ya. Dan sudah
bersama kita bergabung bersama kita di
sini. Untuk narasumber kita yang
ketiga ada Bapak Wijar Narko Adi
Nugroho, S.Si., M.M. selaku editor buku
Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah atau biasa disingkat
Kemendikdasmen Republik Indonesia.
[Musik]
Selamat pagi Bapak Wijanarko.
Selamat pagi, Mbak. Gimana kabar, Pak?
Sehat? Alhamdulillah sehat, ya.
Alhamdulillah sehat. Kira-kira akan ada
berapa ratus slide hari ini yang akan
dipaparkan materinya?
Waduh, sebagian besar sudah disampaikan
tadi itu
Bapak mungkin sharing aja nanti ya. Iya.
Baik. Berarti Bapak Wijanarko akan
melengkapi ya, Pak ya, melengkapi sesi
pertama dan juga sesi kedua yang tadi
sudah diberikan Bapak Nur Hadi Saputra
dan eh Prof. Ahmad. Baik, silakan Pak
Wijanarko langsung saja untuk sesi
materi ketiga pada pagi hari ini. Oke.
Baik, terima kasih. Ee
bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Bapak, Ibu semuanya ee salam kenal,
salam sehat, salam
sejahtera. Ee yang kami hormati eh Bapak
Dr. Ramlianto, Kepala Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Yang kami hormati Pak Nurhadi
Saputra eh Kepala Pusat Analis
Perpustakaan dan Pengembangan Budaya
Baca Perpustakaan Nasional. Yang kami
hormati juga Prof. ee Dr. Rahma
Sugihartati sebagai Ketua Program Studi
Magister Sains Informasi dan
Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Erlangga. Serta
ee tidak lupa pula Bapak Ibu semuanya ee
teman-teman ASN yang mungkin saat ini
sedang ee menyimak gitu ya dari berbagai
macam ee tempat gitu ya. Bapak Ibu
sekalian salam kenal semuanya. Ee
perkenalkan saya Wijarani Nugroho. Bapak
Ibu sekalian ee saya kebetulan bertugas
di pusat perbukuan ee sebagai editor
buku dan
ee saat ini gitu ya mungkin sedikit
sekilas saja mungkin ya ee pusat
perbukuan sendiri adalah ee sebuah
lembaga yang dibentuk gitu ya untuk ee
melaksanakan mandat dari Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem
Perbukuan. Bapak, Ibu sekalian. Jadi di
dalam undang-undang tersebut ee ada
amanah secara langsung bahwa memang
diperlukan untuk mengembangkan ekosistem
perbukuan yang nantinya akan bermanfaat
dalam proses ee peningkatan kualitas
literasi di masyarakat. Ibu
sekalian ee pusat berbukuan sendiri
mungkin memiliki beberapa ee ini
perkenalan saja ya Bapak Ibu sekalian
sekilas ee memiliki beberapa tugas dan
fungsi antara lain di antaranya adalah
terkait dengan ee penyusunan buku
pendidikan, kemudian ada lagi ee
penilaian buku pendidikan, kemudian ada
lagi pengawasan buku serta ee pembinaan
pelaku perbukuan, dan yang terakhir
adalah pengembangan sistem informasi
perbukuan. ee beberapa hal nanti akan
coba kita kami sampaikan gitu ya sebelum
nantinya kita masuk ke materi yang
sebelumnya. Oke. Ee berikutnya boleh ee
ya ini adalah tugas dan fungsi dari
pusat perbukuan Bapak Ibu sekalian ee
sebagai sebuah lembaga yang dibentuk ee
sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor
3 Tahun 2017. Ee jadi mungkin ini
sebagai tambahan informasi Bapak, Ibu
sekalian bahwa sebenarnya Indonesia
sudah memiliki undang-undang terkait
dengan buku yaitu Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2017 dan kemudian juga sudah ada
ee peraturan pemerintahnya nomor 75
tahun 2019. Dan sesudah itu kemudian
keluar banyak sekali aturan-aturan
turunan yang sebenarnya bisa dijadikan
payung hukum, dijadikan landasan bagi ee
semua pihak baik ee masyarakat maupun
pemerintah daerah sebenarnya untuk ee
tadi melaksanakan program-program
terkait dengan literasi dan perbukuan
seperti itu. Oke. Ee boleh berikutnya
ya. Ini dasar hukumnya sudah banyak
sekali Bapak Ibu sekalian. ee ini bisa
jadi landasan ee bagi Bapak Ibu sekalian
yang ingin melakukan pengembangan
kompetensi terkait perbukuan gitu ya.
Dan pengembangan kompetensi seperti apa
nanti akan coba kami sampaikan dan kami
juga punya ada platform-platformnya gitu
yang mungkin akan membantu Bapak Ibu
sekalian dalam proses ee penggembangan
kompetensi sebagai e
ASN. Oke,
berikutnya ya. Oke, jadi tema yang
diberikan kepada kami adalah terkait
dengan ee buku sebagai gerbang ilmu dan
jendela kalbu gitu ya, Bapak, Ibu
sekalian ya. Nah, ee tadi sudah
disampaikan oleh Pak ee Nurhadi dan Bu e
Rahma gitu ya, bahwa eh ada banyak
sekali ee kegunaan membaca, manfaat dan
sebagainya. Tapi ee saya ingin e
memulainya dengan ee mungkin kita
mengingat kembali itu ya, Bapak, Ibu
sekalian proses-proses ketika kita
pertama kali belajar membaca.
atau mungkin kita memperhatikan
anak-anak kita belajar membaca gitu ya,
Bapak, Ibu sekalian. Ada fenomena unik
gitu ya. Tadi mungkin sudah sempat
disinggung sih ketib Rahma ya, bahwa ada
fenomena fenomena unik di ee anak-anak
kita gitu ya, bahwa anak-anak kita itu
punya kecenderungan cepat sekali belajar
membaca.
Tapi kemudian ee dalam ee se perjalanan
waktu gitu ya ee kemudian anak-anak kita
kehilangan ee motivasi, kehilangan minat
gitu ya untuk
membaca yang itu akhirnya ee berpengaruh
gitu ya pada ee penggunaan bukunya
seperti itu. ee anak-anak kita yang
umurnya mungkin PAAUD gitu ya, baru mau
masuk SD itu ee sudah ee lancar membaca,
sudah mengenal huruf dan sebagainya.
Tapi ketika mereka beranjak di kelas 4,
kelas 5, tiba-tiba ee mulai menjauh dari
buku gitu ya. Ini sebuah fenomena yang
unik gitu ya. Ee padahal tadi Pak juga
sudah menyampaikan bahwa sebenarnya kita
punya tingkat kegemaran membaca ya
mungkin tidak bisa dibilang tinggi tapi
juga tidak bisa dibilang sangat rendah
gitu ya. Ee seharusnya itu menjadi
indikator gitu bahwa sebenarnya ee masih
ada gitu ya motivasi untuk membaca di
antara anak-anak kita. Nah, ini
masalahnya kenapa gitu kan ya. Nah, ini
yang coba nanti ee kami sampaikan di ee
pertemuan ini nantinya. Ee tapi sebelum
itu, Bapak, Ibu sekalian ee kita melihat
lagi bahwa anak-anak kita yang kemudian
ee kehilangan minat motivasi membaca itu
mungkin merasa bahwa buku sudah tidak
cukup penting dalam proses ee
pertumbuhan mereka atau perkembangan
mereka. Nah, ee saat ini gitu ya ee
sudah cukup banyak ee arus informasi
melalui internet, gawai dan sebagainya
sehingga anak-anak kita mulai
teralihkan. teralikan yang tadinya
membaca buku, memegang buku, kemudian
mulai memegang gawai, gadget dan
sebagainya dan merasa bahwa ee mungkin
informasi lebih cepat didapatkan di sana
dan itu benar, tapi juga di satu sisi
itu menimbulkan ee dampak gitu ya
terhadap beberapa hal. Nah,
pertanyaannya adalah kemudian lagi ee
ketika kita harus menjelaskan kenapa
kemudian ee buku itu penting itu
terutama untuk anak-anak kita dan lebih
lagi adalah untuk diri kita sendiri ee
untuk teman-teman kita sebagai ASN gitu
ya Bapak Ibu sekalian. Maka ee kita
harus memahami itu dulu sebelum kita
bisa menjelaskan ini ke masyarakat, ke
anak-anak kita, ke keluarga kita. Oke,
berikutnyaah yang ini sudah mungkin
sekilas aja ini sudah jelas bahwa buku
adalah sumber
pengetahuan gu ya, Bapak, Ibu sekalian.
Dan ee itu ee saya pikir tidak bisa di
ee sangkal lagi ya, bahwa memang buku
seberpat. Makanya yang perlu digaris
bawahi adalah saya setuju dengan yang
disampaikan Bu Rahma tadi bahwa ee
meskipun buku sebagai sumber pengetahuan
ee sepertinya ee meletakkan buku hanya
sebagai dokumen akademik itu malah
justru membatasi pemanfaatan bukunya ya.
Ee tadi Bu Rahma sudah menyampaikan
bahwa ya buku tidak tidak bisa hanya
digunakan sebagai ee ee posisinya
sebagai dokumen akademik saja. Dan kami
di pusat perbukuan sepakat dengan hal
tersebut. Di pusat perbukuan sendiri
buku itu bukan hanya sebagai sumber
informasi tapi juga sebagai ee rekreasi
gitu ya. Jadi di pusat perbukuan itu ada
yang slogan yang kami sebut sebagai
membaca untuk kesenangan. membaca ya
hanya untuk rekreasi saja, untuk ee have
fun saja, untuk bersenang-senang, bukan
untuk nambah ilmu, bukan untuk nambah ee
pengetahuan dan sebagainya. Walaupun
kemudian dalam prosesnya e secara tidak
langsung pengetahuan itu bertambah. Nah,
itu yang pertama. Yang kedua adalah
ee kenapa buku itu penting? Karena buku
itu sendiri menjadi ee tempat untuk
berlatih, berpikir kritis, dan kreatif.
ee kita juga sudah sepakat bahwa di era
abad 21 gitu ya, bahwa kebutuhan akan
kualitas literasi yang baik itu sangat
penting. Dan salah satu eh indikator
dari kualitas literasi yang baik adalah
critical thinking dan creative thinking.
Nah, tentunya creative thinking dan
critical thinking ini hanya terlatih
pada kondisi-kondisi real tertentu ya,
Bapak, Ibu sekalian. Nah, buku
memberikan wahana, memberikan tempat
untuk mensimulasikan pikiran kita gitu
ya. Sehingga kemampuan berpikir kritis
dan kreatif ini bisa dilatih seperti
itu. Dan ada banyak bukunya dan sifatnya
nonfiksi gitu ya. ada banyak buku novel,
mungkin komik, mungkin cerita bergambar
dan sebagainya yang mau tidak mau ketika
membaca ee kita gitu, kita itu para
pembaca dipaksa untuk berpikir lebih
gitu ya, sehingga secara tidak langsung
itu akan membuat critical thinking dan
creative thinking kita bertambah.
Oke, berikutnya adalah kenapa buku itu
penting adalah buku merupakan ee cara
untuk melakukan pengembangan kompetensi
teknis dan sosial
kultural. Ada banyak buku gitu ya yang
memang berisi gitu ya, berisi ee tadi
hal-hal yang sifatnya bisa meningkatkan
kompetensi kita secara entah secara
kognitif, motorik.
Dan di satu sisi juga ada buku-buku yang
memang membantu kita untuk berlatih atau
memahami kondisi
masyarakat baik itu melatih empati kita
gitu ya, kemudian ee kepimpinan gitu ya,
serta tentunya adalah ee bagaimana buku
tersebut ee bisa membuat kita ee ee
melakukan komunikasi publik yang baik
seperti itu. tiga hal ini sepertinya ada
hal yang memang sangat dibutuhkan oleh
teman-teman di ee yang memang bidangnya
adalah bergerak di pelayanan publik
seperti
itu. Lalu kemudian lagi ee buku juga
bisa menjadi sarana kita untuk ee
belajar ee sepanjang hayat ya, Bapak,
Ibu sekalian menjadi cara untuk belajar
mandiri tanpa harus bergantung pada ee
teman atau pada orang
[Musik]
lain. Lalu berikutnya lagi adalah buku
itu penting karena bisa membantu kita
untuk ee membangun integritas dan etika
pelayanan.
ee ada banyak ee buku yang diterbitkan
gitu Bapak Ibu sekalian ee untuk
menjelaskan kepada publik ee tentang
entah SOP, entah alur pelayanan dan
sebagainya entah etika dan sebagainya
yang itu tentunya bisa ee membantu kita
juga untuk menjalani ee proses-proses
dalam pelayanan publik agar lebih baik.
Oke. Dan yang terakhir adalah Bapak, Ibu
sekalian, buku ee bisa menjadi pemicu
perubahan sosial gitu ya. Ada banyak
orang yang terinspirasi ketika membaca
buku kemudian bergerak melakukan
perubahan ee sehingga kemudian itu
berdampak pada masyarakat sekitarnya. di
kami sendiri, di pusat perbukuan
sendiri, kami ee kerap berkolaborasi
bekerja sama dengan
komunitas-komunitas, dengan ee
masyarakat-masyarakat yang memang ee
menjadikan buku bukan hanya sebagai
bahan bacaan, tapi juga sebagai landasan
untuk melakukan gerakan bersama seperti
itu. Dan dalam prosesnya memang ee kami
dapatkan bahwa banyak fenomena di mana
masyarakat memang terinspirasi gitu ya
dengan buku-buku tertentu yang kemudian
melakukan gerakan-gerakan bersama dan
itu juga yang menjadi dasar proses
penyusunan buku yang dilakukan di pusat
perbukuan. ada beberapa buku-buku yang
sifatnya ee tematik gitu ya, bertema
tertentu gitu ya, yang memang tujuannya
adalah untuk menjadi inspirasi dan
harapannya adalah buku-buku ini bisa
menjadi atau menjadi pemantik gitu ya
untuk ee terjadinya perubahan ee di
masyarakat seperti
itu. Oke, berikutnya adalah. Nah,
pertanyaannya lagi, apakah kalau tadi
buku itu penting, apakah semua buku
seperti itu bisa melakukan tadi ya, bisa
menjadi sumber pengetahuan, bisa menjadi
ee wahana pelatihan untuk eh critical
thinking gitu, apakah bisa menjadi
sumber terjadinya pemicu perubahan
sosial dan sebagainya. Apakah seperti
itu? Apakah seluruh bukunya seperti itu?
atau memang hanya ada buku-buku ter Nah,
di pusat perbukuan sendiri kami meyakini
bahwa ee tidak ada buku yang sifatnya
general. Ee setiap buku memiliki
spesifik pembaca sasarannya
masing-masing dan ee tentunya ee buku
seperti ini tentunya memiliki maksud dan
fungsi tujuannya masing-masing gitu ya.
Tapi apapun bukunya tentunya buku yang
tadi bisa memberikan ee inspirasi
menjadi sumber pengetahuan dan
sebagainya haruslah buku-buku yang baik.
Kuncinya seperti itu. Jadi hanya
buku-buku yang baiklah yang tadi bisa
memberikan banyak manfaat bagi para
pembacanya gitu kan. Nah, pertanyaannya
lagi yang kedua adalah kalau gitu buku
yang baik itu seperti apa gitu ya Bapak
Ibu sekalian. Nah, ini menarik sekali.
Ee di pusat perbukuan sendiri ada tiga
prinsip sebenarnya yang ee secara
princiipel gitu ya menjelaskan apa itu
yang dimaksud dengan buku yang baik.
Jadi buku yang baik itu adalah buku yang
memang yang pertama adalah memberikan
daya unggah Bapak Ibu sekalian.
daya unggah. Berarti buku ini bukan
hanya ee bisa mentransfer ilmu
pengetahuan gitu ya, tapi juga tadi bisa
mentransfer maksud dan keinginan mungkin
dari si penulisnya. Itu yang pertama.
Yang kedua adalah buku ini bisa
memberikan daya guga. Buku ini kemudian
bukan hanya tadi mentransfer knowledge,
tapi juga bisa menggugah pembacanya gitu
ya untuk memiliki motivasi atau interest
terhadap sesuatu.
Dan yang terakhir adalah buku yang baik.
itu adalah buku yang bisa memberikan
daya ubah ee pembacanya yang sudah
terguga kemudian bergerak untuk kemudian
melakukan perubahan dan sebagai tentunya
kita ee berada di dalam posisi sebagai
agen of change eh sebagai agen perubahan
tentunya maka penting bagi kita untuk
mulai melihat dan membaca buku yang bisa
memberikan dampak perubahan yang baik di
ee baik di diri kita maupun di
masyarakat. masakan seperti itu. Nah,
lalu buku seperti apa yang bisa
memberikan memiliki tiga prinsip
ini? Jadi,
ee buku yang bisa memberikan tiga
prinsip ini tentulah pasti buku yang
bermutu, Bapak, Ibu sekalian. Nah, buku
yang bermutu ini ee tentunya dianggap
buku bermutu ketika memang buku-buku ini
memenuhi standar dan kaidah ee mutu
perbukuan seperti itu. Ee mungkin boleh
minta tolong ke slide berikutnya.
ya. Nah, di ee Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2017 di PP-nya kemudian di
Permendikbutristek ee nomor 20 terkait
eh nomor 22 tahun 2022 bahwa ee sudah
ada itu standar mutu untuk buku baik itu
buku umum atau buku pendidikan ee untuk
mengetahui sebenarnya buku yang bermutu
itu seperti apa. Nah, buku yang bermutu
sendiri dianggap bermutu ketika dia
memenuhi empat standar, yaitu standar
materi. Yang kedua, standar ee desain,
yang berikutnya adalah standar ee
penyajian, dan yang terakhir adalah
standar grafika. Bapak, Ibu sekalian,
standar materi itu memuat ee bagaimana
materi atau ee teks ataupun gambar yang
ada dalam buku tersebut memang bermutu
dalam secara materinya, Bapak, Ibu
sekalian.
Ee biasanya ini membuat prinsip-prinsip
yang sangat ee principal sekali,
kritikal sekali. misalkan terkait dengan
ee legalitas misalnya seperti buku yang
bermutu adalah buku yang memenuhi ee
aspek ee legalitas keapsahan konten baik
itu teks atau gambarnya untuk digunakan.
Kemudian lagi misalnya buku yang bermutu
adalah buku yang tidak melanggar norma
seperti itu. Nah, itu di antaranya gitu
ya untuk materi. Kemudian materinya
mungkin bisa dianggap ee up to date gitu
ya sehingga itu bisa dianggap sebagai
buku bermutu walaupun ini nanti terkait
lagi dengan jenis dan klasifikasi
bukunya masing-masing. Lalu kemudian
terkait dengan standar penyajian.
Standar penyajian juga ee menjadi salah
satu ukuran kebermutuhan buku Bapak Ibu
sekalian. Ee bagaimana kemudian buku itu
nantinya bisa dianggap memenuhi ee
standar yang bisa digunakan di
masyarakat sehingga bisa memberikan
dampak yang baik kepada masyarakat. Nah,
standar penyajian ini mencakup beberapa
hal sebenarnya. ada ee standar terkait
dengan ee penggunaan bukunya. Kemudian
bagaimana kemudian buku itu ee disajikan
ee untuk membaca sasaran yang spesifik
gitu ya. Kemudian lagi bagaimana buku
tersebut dijenjangkan atau ee
disesuaikan dengan target pembaca
sasarannya. Nah, di dalam standar
penyajian sendiri ada yang kami sebut
sebagai perjenjangan. Jadi kalau tadi
salah satu sebabnya gitu ya, kenapa
kemudian ada banyak anak-anak kita yang
kehilangan motivasi ketika ee membaca
buku gitu ya, ketika belajar membaca
adalah salah satu sebabnya adalah karena
ee anak-anak kita tidak diberikan buku
yang tepat untuk ee yang sesuai dengan
level kemampuan
membacanya ya. Jadi ee setiap ee kita
setiap kita itu punya level membaca yang
berbeda-beda gu ya. Ee di pusat
perbukuan sendiri di dalam ee peraturan
kepala beskap ee kami membuat pedoman
perjenjangan gitu ya, dari mulai A
sampai E gitu ya. Dari mulai pembaca
dini sampai pembaca mahir. Ee tujuannya
apa? Tujuannya adalah agar ee kita
sebagai orang dewasa bisa memilih buku
sesuai dengan kemampuan membaca
masing-masing. Atau bahkan ketika kita
memilihkan buku untuk anak-anak kita,
kita bisa memilih buku sesuai dengan
kemampuan membacanya
masing-masing. Nah, harapannya kenapa
seperti itu? Karena tadi ada banyak ee
fenomena di mana ee para pembaca dini
ini, kami menyebutnya pembaca dini,
anak-anak yang baru belajar membaca ini
ini mengalami kehilangan motivasi karena
mereka tadi salah satunya adalah tidak
memperoleh buku yang tepat ya buku-buku
yang tadinya mungkin
ee masuk dalam kategori pembaca mahir
tapi kemudian diberikan kepada anak-anak
ini ee dengan harapan mungkin tadinya
anak-anak ini ee bisa bisa mengikuti
gitu ya, me me apa membaca, memahami g
tapi
ternyata memberikan buku yang di luar
level membacanya itu justru malah
membuat anak-anak ini frustasi. atau
bahkan sebaliknya ada anak-anak kita
yang mungkin ee jenjang SMP gitu ya,
SMP, SD gitu ya, yang sebenarnya
membacanya itu sudah cukup tinggi, sudah
sampai ke pembaca semenjana misal atau
pembaca madya, tapi kemudian malah
diberikan bukunya justru buku-buku yang
ee membaca awal gitu ya, yang mungkin
ceritanya cukup sederhana, mungkin ee
terlalu banyak ornamen-ornamen, gambar,
desain dan sebagainya. desainnya enggak
sehingga si anak sendiri merasa jenuh
gitu ya. Jenuh karena ee terlalu cepat
memahami, memaknai, kemudian merasa
terlalu mudah gitu ya memahami bukunya
dan dia jenuh sehingga akhirnya berhenti
untuk membaca. Nah, ee hal-hal tersebut
inilah yang kemudian kami coba ee
hindari dalam proses penyusunan buku
biasanya karena itu penting ee di
dilakukan gitu ketika mungkin ada
teman-teman ASN yang akan berkontribusi
untuk menyusun buku untuk memikirkan ee
target pembaca sasarannya sehingga
bukunya bisa disajikan dan tadi memenuhi
salah satu standar yaitu standar
penyajian.
Nah, standar berikutnya adalah standar
desain. Eh, sebagaimana sebuah produk
kreatif gitu ya, Bapak, Ibu sekalian.
Jadi, buku itu menariknya buku itu
adalah bukan hanya sebuah produk
akademik ya, tapi buku juga sebagai
sebuah produk industri dan di luar itu
adalah buku sendiri adalah sebuah produk
kreatif gitu ya. maka penting sekali
untuk mendesain buku agar itu menarik
untuk dilihat. Kemudian lagi dan ini
ee bergantung sekali dengan ee apa
penggunaan bukunya gitu ya. Sebagai
contoh misalkan ee dalam sebuah ee buku
novel yang mungkin halaman ratusan
halamat biasanya desainer yang baik,
layouter yang baik pasti memberikan
halaman jeda sehingga pembaca bisa
beristirahat sejenak sehingga mata itu
tidak lelah gitu ya. Kemudian lagi ee
dalam ee buku-buku bergambar terutama
biasanya selalu ada space ruang untuk
pembaca ee merenung atau berpikir atau
menerka cerita gitu ya sebelum lanjut ke
halaman berikutnya gitu ya. Nah,
proses-proses ini tanpa disadari
sebenarnya menjadi salah satu faktor
bagaimana kemudian buku itu menjadi
menarik Bapak Ibu sekalian. Kemudian
lagi penggunaan-penggunaan gambar,
ilustrasi gitu ya. ilustrasi yang
terlalu banyak akan membuat buku
tersebut menjadi terlalu ramai dan buat
ee pembaca-pembaca tertentu itu tidak
menarik. Tapi di satu sisi juga tanpa
ilustrasi buku menjadi sangat apa ya
hampa gitu ya, kosong dan sebagainya.
Dan itu juga tidak menarik karena itu
penting untuk proporsional ee bagaimana
menyajikan ilustrasinya. Apakah itu akan
dibuat dengan ilustrasi yang ee style
tertentu gitu ya, Bapak, Ibu sekalian
ataukah dengan yang realistik gitu ya,
seperti itu. Nah, itu juga jadi satu
pertimbangan apakah sebuah buku itu ee
memenuhi standar desain. Kemudian
standar grafika. Standar grafika adalah
standar buku tersebut ketika diproduksi
baik itu dalam bentuk cetak ataupun
dalam bentuk format elektronik. Kalau
dalam bentuk cetak berarti harus
diperhatikan ee kertas apa yang akan
digunakan, kemudian penjilitannya
seperti apa, kemudian lagi ee covernya
akan seperti apa gitu ya, packing-nya
akan seperti apa dan sebagainya. Itu
juga menjadi salah satu faktor kemudian
buku itu kemudian bisa dianggap bermutu
atau jika dia dalam bentuk ee elektronik
maka harus diperhatikan lagi ee file
bukunya akan digunakan di platform apa
gitu ya. Apakah ukuran file bukunya
memenuhi atau sesuai dengan spesifikasi
gawai yang akan digunakan menggunakannya
nanti. Nah, itu juga jadi ee salah satu
pertimbangan dalam menentukan standar
mutu buku khususnya buku di pendidikan
seperti itu. Oke,
berikutnya. Nah, ini adalah pedoman
perjenjangan. Bapak, Ibu sekalian di
Pusat Perbukuan sendiri kami sangat ee
koncern sekali dengan perjunjangan ini
karena memang ada banyak temuan, ada
banyak riset, ada banyak kajian yang
menyebutkan bahwa ee salah satu tadi ke
salah satu hal yang menyebabkan kita
anak-anak kita e kehilangan motivasi
membaca adalah ee terkait dengan ee
ketidak ee pasnya gitu ya ee para
pembaca ini ee ketika memperoleh buku
bukunya gitu ya. Nah, karena itu
diperlukan perjenjangan ini sehingga
harapannya adalah ee kita semuanya
sebagai orang dewasa bisa memilih buku
yang tepat untuk anak-anak kita dan bisa
juga mungkin memilih buku yang tepat
untuk diri kita sendiri gitu ya. Ee
pedoman perjanjangan ini mengacu pada
kemampuan membaca sebenarnya Bapak Ibu
sekalian. Jadi meskipun di dalam
Salindia ini kami menjelaskan ada usia
tapi sebenarnya usia itu bukan patokan.
Kenapa seperti itu? karena ee ada banyak
kasus, ada banyak fenomena bahwa usia ee
usia perkembangan anak itu tidak
mencerminkan kemampuan membacanya.
Mungkin Bapak Ibu sekalian pernah
menemui, mungkin ada anak-anak yang
secara usia kelas 6 SD atau sudah SMP
bahkan. Tapi kemudian mungkin dia bisa
membaca tapi memahami bacaannya mungkin
belum cukup baik seperti itu. Dari hasil
tes PISA juga sebenarnya sudah banyak ee
data yang menunjukkan bahwa anak-anak
kita itu bisa membaca tapi kemudian
kemampuan literasinya kok tidak tinggi
gitu ya. Karena memang ee kemampuan
bacanya tadi tidak disertai dengan
kemampuan memahami bacaan. Nah, itu yang
disebut sebagai kemampuan ee membaca.
atau leveling seperti itu, Bapak, Ibu
sekalian. Leveling-nya sendiri ada dari
A hingga E. Dari mulai pembaca ee dini,
kemudian ada pembaca awal, kemudian ada
pembaca semenjana, lalu ada pembaca
madya dan pembaca mahir gitu ya. Ee di
dalam Perkap-nya sendiri sebenarnya
sudah disampaikan
ee kriteria atau indikator ee
masing-masing pembaca ini di Perkap
nomor 39 tahun 2022. Jadi ada terkait
dengan jumlah kata, dengan jumlah
halaman, terkait dengan penggunaan tanda
baca, kemudian terkait dengan genre yang
bisa digunakan digunakan atau dibaca itu
juga ada di sana seperti itu. Misalkan
ee yang paling simpel saja misalnya
adalah jumlah kata gitu ya. Kita selalu
beranggapan bahwa buku yang baik itu
adalah buku yang penuh dengan kata-kata
ya. Padahal ternyata tidak. bahwa untuk
pembaca dini justru buku yang baik
adalah buku yang worthless yang
kata-katanya
sedikit bahwa cerita itu disampaikan
justru dominan dengan banyak gambar
seperti itu. Dan itu bukan berarti
kemudian menghambat anak untuk belajar
membaca, malah justru anak-anak di
pembaca dini yang level membacanya
pembaca dini justru mengalami
ketertarikan membaca pertama kali justru
ketika bertemu dengan buku-buku yang
seperti itu. buku-buku yang kata-katanya
sedikit, kata-katanya sederhana, bahkan
mungkin ee belum sesuai dengan kaidah
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ee
tapi gambarnya full ee cerita. Bahkan
gambarnya itu ada gambar yang sifatnya
mungkin hanya hitam putih juga tidak
apa-apa gitu, tergantung konteks
ceritanya. Tapi justru buku-buku
tersebut yang justru menarik buat
anak-anak kita. Kami pernah melakukan
semacam e survei gitu ya terhadap
beberapa anak gitu ya. menyaj memberikan
mereka beberapa buku gitu ya dengan
asumsi gitu. Buku-buku tersebut dipilih
oleh orang dewasa dan menurut orang
dewasa itu adalah buku yang menarik.
Tapi ternyata anak-anak kita justru
tidak tertarik dengan buku-buku seperti
itu. Mereka justru tertarik dengan
buku-buku yang katakanlah dari
ilustrasinya gitu Bapak Ibu sekalian. ee
kita biasanya memilih buku-buku
ilustrasi bagus itu adalah ee
ilustrasinya itu ee orang lengkap dengan
badan profesional misalnya seperti itu.
Kita sebagai orang dewasa mungkin
seperti itu. Tapi ternyata buat
anak-anak justru ilustrasi yang adalah
ilustrasi yang kayak coret-coretan
anak-anak itu aja yang secara
profesional tidak lengkap gitu ya
anggota tubuhnya gitu ya. Tapi ee apa
kadang bahkan menurut kita kok kayak
aneh gitu ya. Tapi ternyata buat
anak-anak sih itu menarik. itu
perspektif yang berbeda antara orang
dewasa dan anak-anak. Tapi di situ
adalah hal yang penting adalah itu
adalah fase awal bagi anak-anak untuk
mulai belajar, untuk mulai menggemari
buku, untuk mulai cinta membaca seperti
itu, Bapak, Ibu sekalian. Dan itu
penting sekali. Kenapa? Karena ketika
mereka nanti tumbuh, ketika mereka
memperoleh ee buku yang tepat sesuai
dengan kemampuan membacanya,
maka tidak perlu lagi kita ee apa
istilahnya ee memaksa-maksa anak-anak
untuk ayo baca, ayo baca, gitu ya. Ee
tanpa sadar mereka akan ee mulai cipta
buku, mulai tertarik membaca tanpa harus
disuruh gitu ya. karena mereka akan
merasa bahwa ee membaca itu adalah
sebuah kebutuhan gitu ya. Dan ya tadi
namanya kebutuhan berarti kan harus
sesuai dengan dirinya masing-masing
Bapak Ibu sekalian seperti itu. Oke
berikutnya. Nah ini klasifikasi
klasifikasi buku yang ada di ee
Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2017. Jadi di Undang-Undang Nomor 3
tahun 2017 Bapak Ibu sekalian ee buku
itu secara umum dibagi jadi dua, buku
umum dan buku pendidikan gitu ya. di
buku umum itu buku yang mungkin biasa
kita temui di toko buku, di perpustakaan
umum gitu ya, di macam-macam gitu ya,
taman baca gitu ya, kemudian lagi ee ya
di banyak tempat Bapak Ibu sekali. Tapi
intinya adalah buku umum itu adalah buku
yang bisa kita temui secara bebas. Ee
kontennya macam-macam, bentuknya
macam-macam, genrenya macam-macam gitu
ya. beraneka jenis dan ini
ee tidak ada ee batasan sebenarnya. Ee
standar mutunya itu biasanya hanya
terkait dengan apakah buku tersebut
tidak berisi konten-konten yang
terlarang gitu yang melanggar Pancasila
dan sebagainya seperti itu. Yang kedua
adalah buku pendidikan. Buku pendidikan
ini adalah buku yang diperbolehkan untuk
digunakan di sekolah Bapak Ibu sekalian.
Nah, di dalam prosesnya buku umum bisa
berubah menjadi buku pendidikan melalui
proses yang kami sebut sebagai penilaian
buku. Ini sesuai tadi ada tugas dan
fungsi dari pusat perbukuan dan
bentuknya itu tidak harus ee bentuk buku
yang sifatnya teks mata pelajaran gitu
ya. Tadi Bu Rahma sudah menyampaikan ee
ketika kita memikirkan buku seolah-olah
ee buku itu hanya buku pelajaran saja
gitu ya. Padahal di dalam
undang-undangnya sendiri, buku
pendidikan itu tidak harus berbentuk
buku pelajaran. Ada bentuk buku yang
kami sebut sebagai buku noneks. Nah,
buku noneks ini ee sifatnya sama seperti
buku umum. Ada puisi, ada novel, ada apa
komik, bahkan ada komik, ada macam-macam
sekali gitu ya. Dan isinya juga
macam-macam, ceritanya macam-macam gitu
ya. Nah, ini ee buku-buku yang bisa
digunakan di satuan pendidikan ini kami
sebut sebagai buku pendidikan. Buku
pendidikan. Nah, di buku pendidikan
sendiri ee kami mengkategorikannya
menjadi tiga. Ada buku panduan pendidik,
ada buku referensi, dan buku pengayaan.
Seperti itu. Oke,
berikutnya ya. Nah, ini jenis bukunya
secara umum. Ada buku fiksi Bapak, Ibu
sekalian.
buku ee
nonfiksi. Kemudian ada lagi gabungan
gitu ya, kami menyebutnya fiksi gitu ya,
fakta yang difiksikan gitu ya. Buku
fiksi itu apa? Jadi buku fiksi ini
sendiri adalah buku yang berisi dengan
ee cerita-cerita rekaan
imajinatif tidak berdasarkan kejadian
nyata
sepenuhnya. Bentuknya macam-macam. Bisa
novel, komik gitu ya. bisa romansa, bisa
wah banyak sekali bukunya ya. Tidak
melulu buku dan Tidak Melulu buku fiksi
itu adalah buku yang sifatnya hanya
untuk senang-senang cerita gitu ya Bapak
Ibu sekalian. Ada buku-buku fiksi yang
itu mengandung nilai-nilai ee keluhuran
gitu ya. Mungkin kita juga ee sudah tahu
bahwa ee dahulu gitu ya dan sampai saat
ini gitu ya kita punya banyak karya
sastra. Ada sastra-sastterra adil luhung
yang itu mengandung nilai-nilai
keluhuran. Ada juga buku-buku sastra
yang mengandung nilai-nilai sejarah
seperti itu. Ini buku fiksi. Lalu ada
buku lagi buku nonfiksi. Buku yang
disusun berdasarkan fakta, data, atau ee
pengalaman nyata gitu ya. Biasanya
karena ini berdasarkan data atau fakta,
biasanya ada referensi-referensi
tertentu yang di ee nyatakan atau
diate-ekkan di dalam bukunya gitu ya.
Ee kemudian lagi biasanya ada ee daftar
pustaka yang cukup spesifik gitu ya
untuk meyakinkan pembaca bahwa materi,
konten, teks, dan gambar dan sebagainya
memang bersumber pada data-data yang
empiris. Seperti itu Bapak Ibu sekalian.
Lalu ada lagi faksi. Ini adalah buku
yang menggabungkan elemen fiksi dan
nonfiksi. Mungkin dari kita pernah
membaca beberapa novel gu ya, tapi
novel-novel sejarah gitu ya, Bapak, Ibu
sekalian. kisah-kisah sejarah yang
kemudian dibalut dan disampaikan,
dinarasikan gitu ya secara
ee ee fiksi, secara naratif gitu ya
sehingga ee fakta-fakta sejarah tadi
bisa ee dinikmati dengan lebih ee santai
seperti itu atau buku otobiografi juga
banyak seperti itu. Oke, ee
berikutnya ya. Nah, ini yang mau kami
sampaikan sebenar intinya baca dan makna
nanti ya, Bapak, Ibu
sekalian. Ee bagaimana kemudian kegiatan
membaca bisa menjadi sebuah kegiatan
yang menyenangkan gitu ya dan ini
menjadi kebutuhan buat kita semuanya.
Bagaimana caranya gitu Bapak, Ibu
sekalian bahwa membaca ini ya tidak
hanya sekedar sebuah kegiatan yang
sifatnya normatif gitu ya, normalitas,
tapi juga jadi menjadi ini menjadi
kebutuhan kita mungkin seperti ee ini ya
kebutuhan primer ya, sandang, pangan,
papan tapi salah satunya lagi adalah
membaca. Nah, yang pertama adalah Bapak,
Ibu sekalian. Oke,
berikutnya tetapkan dulu tujuan
membacanya.
Tujuan membaca membantu kita memilih
bahan bacaan yang tepat sesuai dengan
yang kita perlukan. Kalau kita ingin
membaca untuk menambah informasi, tentu
akan lebih baik kita membaca buku-buku
nonfiksi misalnya seperti itu. Ee
kemudian kalau kita ingin untuk rekreasi
itu tentu kita akan memilih buku-buku
fiksi yang tentunya menyenangkan
sebagainya. Tapi secara umum adalah ee
jangan membaca asal membaca ya.
apa yang ingin kita dapat, apa yang
ingin kita pelajari, apa yang ingin kita
nikmati dari buku yang saat ini ada di
tangan kita, ada yang ingin kita peroleh
atau ingin kita baca. Itu yang
pertama. Yang
kedua, pilih buku yang ee relevan dan
berkualitas tadi ya, Bapak, Ibu
sekalian. Oke. Ee slide berikutnya
boleh ya. Jadi ini tadi pilih buku yang
relevan artinya tadi sesuai dengan
tujuan kita membaca, sesuai dengan level
membacanya ya. ee kalau memang kita
punya
ee atau mungkin ee pembaca-pembaca
mungkin mengalami kesulitan memahami
buku dengan konteks tertentu gitu ya,
kita cari dari mulai yang paling
sederhana seperti itu. Kemudian lagi ee
mungkin buat kita yang ee berfokus atau
ee bekerja pada bidang-bidang tertentu
bisa memilih buku yang sesuai dengan
bidang kerja kita atau peran kita.
Kemudian lagi agar bukunya itu
berkualitas mungkin bisa yang salah satu
jaminannya adalah ee memilih buku dengan
penulis-penulis yang juga ee kompeten
atau diterbitkan oleh lembaga-lembaga
yang
kredibel. Ee bukunya tentu harus up to
date tentunya ya sehingga itu bisa kita
ee nikmati dan pelajari dan itu
bermanfaat untuk pengembangan kompetensi
kita ke
depan. Oke, berikutnya.
Oke. Nah, membaca itu hanya tahap awal
gitu ya. Jadi kalau judul tadi
webinarnya adalah buku ilmu ya Bapak Ibu
sekalian. Ee hanya seperti gerbang gitu
ya. Itu kan hanya awalnya saja. Utamanya
adalah sesudah gerbangnya gitu ya. Nah,
membaca itu hanya tahap awal. Maka
sesudah membaca apakah prosesnya
berhenti? Ee ada salah satu lagi untuk
ee tahapan untuk melihat apakah proses
membaca kita itu sudah cukup bermakna
atau belum. Yang pertama adalah membuat
refleksi pastinya apa yang sudah saya
pelajari dari buku yang saya baca ya.
Apa yang saya ingat? Mungkin hanya
awal-awal mungkin hanya ingat judulnya
saja gitu ya. Kemudian nanti ingat
beberapa kutipan kalimat gitu ya di sana
paragraf dan sebagainya hingga akhirnya
kita bisa membuat semacam resume gitu
ya. resume, ringkasan, resensi dari buku
yang sudah kita baca gitu ya. Nah,
resume ringkasan resensi yang kita buat
ini itu akan menjadi ee menunjukkan gitu
indikasi bahwa memang proses membaca
kita bukan hanya proses membaca huruf
demi huruf, kata demi kata, tapi juga
sudah memaknai maksud, kalimat, paragraf
gitu ya, konten, materi, gambar dan
sebagainya yang ada di buku. Sehingga
itu bisa bermanfaat untuk diri kita
sendiri, bisa kita simpan sebagai sebuah
memori yang sifatnya jangka panjang.
ya ee salah satu kelebihan dari
penggunaan buku cetak gitu ya memproses
membaca ini dibandingkan dengan proses
menikmati atau melihat visual-visual
lain Bapak Ibu sekalian seperti video
gitu ya simulasi dan sebagainya adalah
ada proses ee penanaman memori jangka
panjang ya Bapak Ibu sekalian mungkin
kita pernah merhatiin anak-anak kita
atau anak-anak pada saat sekarang tuh
cenderung lebih suka ee apa menikmati
tayangan-tayangan dengan visual yang
sifatnya jangka pendek ya kayak di
TikTok gitu ya atau story Instagram gitu
ya atau apa ya short di YouTube dan
sebagainya gitu ya. Ee karena memang
pada masa saat ini adalah anak-anak kita
cenderung cepat untuk menyerap informasi
gitu ya. Tapi dampak yang
ee tidak baiknya adalah Bapak, Ibu
sekalian, kecepatan penyerapan informasi
tadi tidak diimbangi dengan
ee keawetan informasi tersebut bertahan
di memori jangka pajak.
Nah, buku proses membaca yang mungkin
lebih lambat prosesnya dalam penyerap
informasi, perlu beberapa tahapan, perlu
beberapa proses, justru malah membuat ee
memori jangka panjang kita bisa lebih
awet, lebih bertahan lama itu sehingga
informasi yang masuk itu meskipun kita
bacanya sudah bertahun-tahun yang lalu
kita masih ingat gitu ya. ya sebagai
mungkin ee refleksi saja mungkin Bapak
Ibu sekalian mungkin masih ingat dengan
buku-buku yang dibaca ketika dulu kecil
gitu ya. Bandingkan dengan
tayangan-tayangan ee apa sosial media
atau apa yang mungkin dia lihat ee
beberapa bulan lalu gitu misalnya ya.
itu menunjukkan bahwa memang membaca itu
membuat ee memori jangka panjang kita
itu lebih kuat dan ini ee bisa lebih
dioptimalkan ketika kita membaca
kemudian membuat ee refleksi seperti Bu
ya. Oke. Ee
berikutnya ya, berikutnya adalah
ee luangkan waktu jangan di waktu luang
ya.
berikan
waktu di dalam 24 jam ee keseharian kita
untuk membuka buku. Mungkin tidak banyak
5 menit gitu ya, hanya untuk sekedar ee
melihat beberapa kalimat, be halaman
gitu ya. Tapi luangkan waktunya,
sediakan waktunya itu ya Bapak Ibu
sekalian. Jangan kemudian membaca ee
ketika ah lagi enggak ngapa-ngapain gitu
ya. karena itu tidak akan menimbulkan
kebiasaan atau pembiasaan. Tapi ketika
kita meluangkan waktu meskipun hanya 5
menit gitu ya, itu akan membuat kita
memiliki atau ee mengalokasikan waktu
kita dalam sehari itu bahwa memang ada
kebutuhan untuk membaca dan secara
perlahan biasanya itu akan bertambah,
bertambah, bertambah, bertambah seperti
itu Bapak, Ibu sekalian. mungkin saat
mau tidur, mungkin saat mau ya saat-saat
sedang ee sudah akan istirahat seperti
itu gitu ya. itu akan membantu sekali
dalam proses pembiasaan dan ee kalau
kita ada anak kecil gitu di rumah dan
sebagainya, mereka akan melihat kita
bahwa oh orang tuanya e memegang buku
gitu ya, membaca buku dan itu akan
menjadi proses pembiasaan juga di ee
dalam rumah seperti itu. Lalu kemudian
lagi
berikutnya baca, tulis, dan sebar.
ini sebenarnya ee terkait dengan ee
refleksi tadi Bapak, Ibu sekalian bahwa
proses membaca itu tidak hanya ee
membaca atau memaknai tulisan saja, tapi
juga memahami konten buku secara
keseluruhan dan agar itu bisa menempel
atau berada di dalam memorial kita dalam
jangka waktu yang cukup panjang, maka
tadi menuangkan apa yang sudah kita baca
dalam bentuk tulisan. mungkin hanya satu
kalimat awalnya gitu ya, beberapa
paragraf kemudian sampai bahkan mungkin
bisa berlembar-lembar halaman gu ya.
Nah, kalau membaca itu membantu otak
kita untuk menyerap Bapak Ibu sekalian.
Maka menulis itu membantu untuk otak
kita menyusun sistematis, berpikir
sistematis. Bapak, Ibu sekalian dari
mulai umum ke khusus misalkan seperti
itu. Dari mulai yang umum ke detail
gitu. gitu. Itu juga bisa. Nah, ini akan
membantu kita di dalam proses pekerjaan
kita nantinya. Kita juga sudah paham
mungkin bahwa dalam proses pekerjaan
kita sistematika itu sangat penting
sekali. Ee karena itu ee penting sekali
bagi ee kita untuk ketika kita sehabis
membaca ee kita habis membaca tentu
untuk ee menuangkan kembali dalam bentuk
tulisan. kita bisa membuat resensi, kita
bisa membuat resume dan lain sebagainya.
Ee dan sekarang kan sudah banyak ini ya,
sudah banyak ee apa media-media untuk
menyebarluaskan. ada sosial media, ada
macam-macam ya, sehingga resensis ee apa
resume segala macam ringkasan dan
sebagainya itu akan bermanfaat untuk
pembaca-pembaca yang belum membaca buku
tersebut gitu. dan itu akan berdampak
gitu ya, akan menimbulkan ee gelombang
ee keinginan atau motivasi untuk membaca
yang lebih besar lagi seperti itu. Di
beberapa sosial media di Instagram, di
ee TikTok gitu ya, sepertinya ada banyak
eh influencer-influencer yang memang
menggunakan cara yang tersebut gitu ya.
membaca kemudian menyebarluaskan ee
takbir bukunya dan itu secara tidak
langsung pasti akan berdampak pada ee
proses peningkatan kualitas literasi
kita. Nah, kemudian ASN dan
buku dari ee tadi yang sudah kami
sampaikan ada tiga hal sebenarnya
hubungan antara ee ASN dan buku.
sebagai pengguna, sebagai penggerak, dan
sebagai
kontributor. Sebagai pengguna tentu
ee kita
hanya entah sebagai sumber pengetahuan,
rujukan kebijakan, pengembangan diri,
bahan-bahan untuk ee meningkatkan
kompetensi sebagai pembaca ya Bapak, Ibu
sekalian. Kemudian sebagai penggerak
kita berupaya agar ee budaya membaca dan
menulis itu mulai hadir ee baik di diri
kita maupun di sekitar kita. Entah itu
di kantor gitu ya, entah itu di rumah
gitu ya. Sini kita membaca untuk
menginspirasi.
Lalu kemudian sebagai kontributor kita
bergerak ke tahapan selanjutnya ee
menjadi terlibat aktif ya dalam proses
penyusunan buku sebagai pelaku
perbukuan. Kalau di undang-undang kami
menyebutnya pelaku perbukuan.
Pihak-pihak yang terlibat dalam proses
penyusunan buku. Di sana ada penulis,
ada editor, ada ilustrator, ada
desainer, ada ee pengembang ee buku
elektronik, buku digital. ada penerbit,
ada percetakan, ada toko buku seperti
itu. Dan menjadi kontributor ini
tentunya ee perlu belajar dulu ya
sebelumnya Bapak Ibu sekalian. Di pusat
perbukuan sendiri sebenarnya ada program
untuk melakukan pembinaan terhadap
pelaku perbukuan. Jadi pusat perbukuan
sendiri secara aktif ee mengadakan
workshop, seminar, ee webinar,
macam-macam dan sebagainya. Bapak, Ibu
sekalian untuk mengajak Bapak, Ibu,
teman-teman semuanya yang tertarik untuk
menjadi kontributor buku, menjadi ee
apa? pelaku aktif itu yang terlibat
dalam proses penyusunan buku
ee pelatihan ee bahkan ada sertifikasi
sertifikasi untuk penulis dan editor
profesional itu. sehingga diharapkannya
nantinya ada banyak orang yang
berkontribusi terhadap proses penyusunan
buku dan ini membuat ee buku menjadi
semakin banyak, semakin bervariasi,
semakin beragam dan masyarakat kemudian
punya banyak pilihan dan akhirnya
tertarik untuk ee mulai ee membaca buku
seperti itu. Oke,
berikutnya.
Oke. Nah, ini adalah platform yang coba
kami sampaikan kepada Bapak, Ibu
sekalian, yaitu CB, Sistem Informasi
Perbukuan Indonesia. Bapak, Ibu
sekalian. Jadi, Kemendikdesman melalui
pusat perbukuan sudah menyediakan
platform di mana Bapak, Ibu sebenarnya
bisa ber tadi menjadi tiga tadi, menjadi
pengguna, menjadi ee apa?
penggerak dan juga menjadi kontributor
seperti itu. Nah, sebagai pengguna di
CB, CB sendiri adalah sebuah ekosistem
digital Bapak, Ibu sekalian. Di dalamnya
ada macam-macam. Ada katalog buku, ada
buku-buku yang bisa dibaca, diunduh
secara free, gratis, ada ee
kebijakan-kebijakan, pedoman-pedoman
yang mungkin bisa digunakan sebagai
referensi ketika Bapak, Ibu akan
melakukan proses penyusunan buku dan
sebagainya. Sebagai ee portofolio juga
Bapak, Ibu sekalian. Jadi di sana ada
data-data pelaku perbukuan yang di mana
ee para pelaku perbukuan ini memiliki
portofolio masing-masing sehingga ketika
mungkin instansi atau lembaga Bapak Ibu
sekalian ingin membuat buku kemudian
ingin bekerja sama bisa memilih dari
sana karena di sana ada tadi ada
ee ekosistem digital pelaku perbukuan
gitu ya. Lalu di dalamnya juga ada ee
informasi seputar perbukuan nasional. di
sana ada ee jadwal-jadwal pelatihan,
workshop, seminar, dan sebagainya. Ada
jadwal
sertifikasi, ada agenda-agenda event. Ee
seperti yang sekarang ini kita akan ee
dalam waktu dekat ada Hari Buku Nasional
ya, Bapak, Ibu sekalian. Kemudian lagi
ada ee bentuk-bentuk kolaborasi antara
Kemendik Desmen dengan lembaga-lembaga
lain. Kemudian lagi bentuk-bentuk
fasilitasi antara Desmen dengan lembaga
lain juga entah itu bentuk ee dengan
pemerintah daerah gitu atau bahkan
dengan ee lembaga komunitas-komunitas
gitu ya atau lembaga-lembaga swasta
lainnya gitu ya. seperti misalnya ee di
awal tahun kemarin misalnya Mendidmen
melalui pusat perbukuan memfasilitasi
terkait pengembangan buku digital di ee
pemerintah provinsi Bali seperti itu.
Itu salah satunya. Nah, kemudian lagi
misalnya ada kerja sama ee terkait
dengan penyusunan peraturan daerah misal
terkait dengan perbukuan gitu ya,
gerakan literasi dan sebagainya dengan e
beberapa pemerintah di Indonesia Timur
seperti itu. Itu salah satu ee
informasi-informasi yang ada di dalam CB
Bapak Ibu sekalian. Oke,
berikutnya ya. Ada dua domain yang bisa
Bapak Ibu akses, yaitu di
httpsbuku.go.id. Ini adalah domain untuk
ee alamat untuk Bapak Ibu yang ingin
bertindak sebagai ee pengguna dan
penggerak. Bapak, Ibu sekalian ee di
dalamnya ada banyak ee buku ee yang bisa
Bapak Ibu unduh secara gratis. mau
dicetak sendiri silakan gitu ya. Bisa
digunakan secara free. Kemudian lagi di
dalamnya juga ada banyak
informasi-informasi lainnya terkait
program-program e literasi yang ada di
Kemendikdesmen. Lalu ada laman yang
kedua yaitu app.buku.go.id.
ini adalah laman khusus untuk pelaku
perbukuan yang ingin berkontribusi dalam
ee proses penyediaan buku atau
penyusunan buku seperti
itu. Ee di dalamnya ada ee buku ee
daftar buku yang bisa dibeli ini bagi
pemerintah daerah ya dan sekolah gitu
ya. ada sekian judul buku yang bisa
digunakan di satuan pendidikan dibeli
melalui dana BOS atau bahkan dana DAK
misalnya seperti itu. Kemudian lagi di
dalamnya ada informasi terkait eh event
workshop gu ya pelatihan dan sebagainya.
Lalu di sana juga ada ee berita-berita
terkait dengan ee apa ee kolaborasi
antara pusat perbukuan dengan
lembaga-lembaga lainnya gitu ya. Nah, di
dua laman inilah Bapak, Ibu mungkin bisa
mengakses secara free untuk mengeksplore
dan mungkin bisa ee menggunakan apa yang
ada di dalam kedua laman ini sebagai
bentuk peningkatan kompetensi ke
depannya nantinya. Seperti itu. Oke,
berikutnya ya. Ini di laman pertama ya
tadi ya di
buku.go.id ada di katalog bukunya itu
ada buku teks, ada buku noneks gitu ya.
Ee kami menyarankan Bapak, Ibu untuk
mengakses buku noneksnya dan melihat ee
bahwa yang namanya buku pendidikan tidak
melulu bicara soal buku teks pelajaran.
Beliau di sana ada buku komik, novel,
dan buku puisi. Dan ke depannya ee ada
banyak buku-buku lainnya, jenis lainnya
seperti itu. Ini bisa digunakan Bapak,
Ibu untuk ee mungkin mengajari anak ee
putra-putrinya untuk gemar membaca gitu
ya ee dan sebagainya, Bu. Kemudian lagi
bentuknya Bapak Ibu sekalian di CB ini
tidak hanya buku yang sifatnya PDF gitu
ya yang bisa dicetak situ tapi di sana
juga ada buku yang bentuknya buku ee
audio gitu ya. Mungkin ini untuk ee
teman-teman kita atau anak-anak kita
yang mengalami kebutuhan g berkebutuhan
khusus sehingga memerlukan buku untuk
yang sifatnya e audio. Lalu kemudian
lagi ada buku interaktif di mana
buku-buku yang telah disusun oleh
Kemendikdas Desment kemudian dijadikan
interaktif. Di dalamnya ada simulasi, di
dalamnya ada ee apa?
ada animasi itu ya, ada gambar dan
sebagainya yang itu membantu anak-anak
kita untuk memahami konteks materi bahan
bacaannya. Oke,
berikutnya. Nah, ini alasan ya Bapak,
Ibu sekalian kenapa harus ee membaca
melalui CB ee tentunya adalah kemudahan
akan membaca gundo. Jadi, Bapak Ibu
sekalian cukup membuat akun. Saya yakin
saat ini kan hampir semua dari kita
sudah punya akun email ya, Bapak, Ibu
sekalian. cukup membuat akun dan nanti
kemudian bisa mengakses seluruh buku
yang ada di ee CB seperti itu. Lalu
kemudian keberagaman jenisnya juga
sangat banyak sekali tadi ada novel, ada
puisi dan sebagainya. Format bukunya
juga banyak. PDF audio interaktif bisa
diunduh secara gratis, bisa digunakan
secara free. Kemudian eh buku-bukunya
adalah buku-buku terkini. Rata-rata
sebagian besar adalah terbitan tahun
2020 ke atas. Bapak, Ibu sekalian.
Kemudian ada kelengkapan informasi buku.
Ee buku-buku tersebut disusun dengan
bentuk tanggung jawab yang jelas, Bapak,
Ibu sekalian. Ee di dalamnya ada
informasi siapa saja yang terlibat.
Bapak, Ibu bisa mengecek ee di dalamnya
penulisnya siapa, editornya siapa,
kemudian ilustratornya siapa,
desainernya siapa. sehingga ada
keyakinan, ada jaminan bahwa buku-buku
tersebut memang ee disusun dengan ee
mengacu pada standar mutu buku yang ada.
Seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. Dan
beberapa buku ee memang ee disusun
bekerja sama dengan penulis-penulis yang
sudah profesional, Bapak, Ibu.
Penulis-penulis yang memang sudah punya
karya yang bukunya mungkin sering kita
lihat di toko-toko buku ya, Bapak, Ibu
sekalian. Seperti itu. Oke, berikutnya.
Kemudian ini bagi Bapak Ibu yang ingin
menjadi
kontributor dan memiliki akun di CBI
Bapak Ibu sekalian ee Bapak Ibu bisa
mendapat informasi terbaru terkait
dengan kebijakan perbukuan, event dan
sebagainya. Kemudian ada layanan
perbukuan juga ee seperti misalnya ee
di ini sudah lewat ya sebenarnya. Jadi
ee kemarin itu kami membuka seleksi
untuk penulis buku untuk pendidikan
khusus misalnya gitu ya. Siapa saja
boleh ASN non ASN gitu ya. Kebanyakan
kebetulan kemarin yang banyak ee
diterima adalah para guru Bapak Ibu
sekalian. Dan biasanya nanti di bulan
September Oktober kami membuka program
kurasi di mana ee para penulis pemula
diperkenankan untuk apply e naskahnya.
untuk nantinya kemudian yang terpilih
akan diberikan bimbingan mentoring gitu
ya oleh para penulis-penulis profesional
sehingga kemudian naskahnya bisa ee
diterbitkan gitu ya, baik itu
diterbitkan melalui Kemendik Dasment
atau bahkan diterbitkan oleh
penerbit-penerbit eh major dalam
industri penerbitan gitu ya. Biasanya
ada program-program seperti itu di pusat
perbukuan dan
informasi-informasinya biasanya
disampaikan melalui platform CB ini
Bapak Ibu sekalian. Oke,
berikutnya ee akhir kata Bapak Ibu
sekalian ee terima kasih sekali lagi
atas kesempatan yang diberikan ee buat
kami. Ee meningkatkan kualitas literasi
tentu tidak akan bisa berjalan dengan
baik kalau tidak meningkatkan mutu
bukunya gitu ya. Dan ee mutu buku
menjadi salah satu kunci dan peningkatan
kompetensi pembaca, peningkatan
kompetensi pelaku perbukuan. itu juga
menjadi salah satu peran penting dalam
meningkatkan kualitas literasi. Terima
kasih. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya kembalikan ke pembawa
[Musik]
acara. Baik, terima kasih Pak Wijanarko
untuk sesi ketiga kita pada siang hari
ini ya. Wah, menarik sekali. Ternyata
sekarang sudah ada satu platform yang
memudahkan kami dan juga ee tidak hanya
sobat ASN tapi juga seluruh ya seluruh
masyarakat Indonesia untuk bisa membaca
buku lewat CB itu tadi ya Pak Wijanarko
ya. Betul. Betul. Wah menarik waktu saya
ee dengar Bapak bilang ini enggak cuman
buku-buku yang hanya tulisan-tulisan aja
tapi juga ada komik-komik ya. Ada Marvel
segala macam gitu ya Pak ya. tuh seru
tuh. Jadi menjawab pertanyaan ee yang di
segmen-segmen sebelumnya juga gitu, Pak.
Nah, untuk pertanyaan yang kali ini kita
akan open satu pertanyaan saja dari
Sobat ASN yang
sudah hadir. Halo, selamat siang Bapak
Dani dari Ngawi ya, Pak. Betul. Selamat
siang. Terima kasih Mbak atas waktunya.
Silakan langsung saja, Pak Dani. Baik,
saya Dani dari DLH Kabupaten Ngawi.
Terima kasih, Pak Wijanko ya. Jadi
sangat menarik
tadi ee yang disampaikan terkait
buku-buku ini. Ee sebetulnya ada satu
sebetulnya yang ingin saya tanyakan ini
terkait buku yang ee buku-buku apa ya
aliran kanan atau aliran kiri yang
notabini oleh pemerintah di bredel gitu.
Jadi tidak diizinkan untuk beredar.
Bahkan kemarin sempat viral di media
sosial ada seorang penulis buku
jurnalis yang dia ee membuat buku
undercover gitu.
Kemudian ee yang dia dapatkan itu
dipenjara gitu. saya melihat, wah ini
kok seperti ini. Padahal kita ada
lembaga yang mengkaji tentang buku ini
sendiri. Apakah yang menjadi pertanyaan
menurut panjenengan bagaimana
pendapatnya terkait hal-hal yang seperti
itu? Yang pertama. Nah, lalu yang kedua,
apakah bukunya itu sendiri, produk
bukunya itu apakah tidak perlu dinilai
dulu oleh lembaga yang
berwenang ee sehingga ini layak edar
atau tidak itu ee apa ya pemerintah
hadir di sini untuk memberikan ee
keterangan kepada masyarakat bahwasanya
buku ini undercover ini tidak layak eder
karena seperti ini ee data-datanya ini
fiksi atau non fiksi seperti itu.
sehingga masyarakat yang mengetahui hal
ini itu clear gitu. Ee
kemudian tadi saya sempat tertarik CB
kemari, wah ternyata juga menarik ini.
Jadi ketika tadi yang pemateri yang
kedua tadi disampaikan
bahwasanya ee digital mulai ditinggalkan
oleh negara maju yang sekarang beralih
menjadi buku-buku cetak lagi. Tetapi ini
adalah ee saya melihat bahwa ini
terobosan bahwasanya ee literasi ini
bisa
me membuka banyak gerbang, membuka
banyak ee pengetahuan bagi kita. Jadi ee
sedikit terkait literasi saya di DLH
salah satunya menangani terkait ee
apa pemotongan pohon.
Ee ini banyak orang minta, "Pak, ini
mohon dipotong karena membahayakan."
Membahayakan karena di aturannya ada
tertulis memungkinkan untuk dipotong
apabila membahayakan gitu. Nah, di poin
membahayakan ini saya seringki
menyampaikan bahwasanya membahayakan ini
persepsi. Jadi, ini menjadi berbahaya
atau tidak itu tergantung literasi kita.
Jadi kami kalau di dinas teknis kan oh
ini membahayakan karena lapuk keropos
seperti itu. Jadi masyarakat melihat ini
miring membaakan minta potong gitu aja.
Jadi saya menarik ini literasi. Jadi
terima kasih atas masukan-masukan dan
pencerahannya tadi. Terima kasih.
Boleh langsung dijawab. Baik, silakan
langsung saja Pak Wijanarko dijawab
pertanyaan dari Pak Dani. Oke, terima
kasih Pak Dani pertanyaannya luar biasa
sekali ya. Eh, pertama terkait dengan
buku kiri ya Bu atau pengawasan buku.
Sebenarnya itu masuk dalam kategori
pengawasan ee perbukuan ya Pak Dani. Ya,
sebenarnya ee tadi sudah kami sampaikan
bahwa setiap buku
itu ketika dia dianggap akan memberikan
dampak atau manfaat gitu ya, maka dia
harus masuk dalam kategori buku baik.
dan buku baik sendiri memiliki standar
mutunya tadi ya sekalian. Nah, terkait
dengan buku-buku ini gitu ya secara umum
ee pertama adalah harus dilihat apakah
buku tersebut melanggar standar mutu
buku atau tidak ya. Pemerintah
sebenarnya sudah punya gitu ya punya
regulasi terkait standar mutu bukunya.
hanya yang saat ini sedang dikaji dan
sedang disusun sebenarnya adalah siapa
yang akan melaksanakan ee pengukuran
atau pengkajian apakah sebuah buku itu
tadi memenuhi standar mutu atau tidak.
Nah, untuk buku pendidikan Pak Dani itu
sudah dilakukan oleh Kemendik Dasma
melalui pusat perbukuan gitu ya. Hanya
untuk untuk buku umum ini yang memang
sedang dalam proses penyusunan
lembaganya Bapak Ibu sekalian. Jadi ee
ada sebuah lembaga yang berfungsi entah
namanya apa nanti melakukan pengawasan
buku yang akan mempertimbangkan apakah
sebuah buku itu ketika dia sudah
diadarkan gitu ya ee memang memenuhi
kelayakan atau tidak gitu ya. Jadi ee
sifatnya sih sebenarnya pembinaan ya
kalau di perbukuan ya karena kita ingin
meningkatkan kualitas literasi. Jadi ee
sifatnya adalah pembinaan gitu ya ee
bagi penulisnya, bagi penerbitnya, bagi
pihak-pihak yang terlibat gitu ya untuk
memahami standar mutu bukunya itu. Jadi
sifatnya bukan dinilai dulu kemudian
baru diedarkan gitu ya, tapi ee
diedarkan tapi kemudian harapannya
adalah para pihak yang terlibat ini
sudah memahami mutu bukunya. Itu yang
pertama. Ee yang kedua adalah kalau
untuk sekolah sendiri sudah dilakukan
proses penilaian buku namanya tadi saya
sudah sampaikan. Jadi buku-buku yang mau
masuk ke sekolah. Nah, kalau ini bedanya
adalah kalau sekolah itu kan sifatnya
ee masuk kategori ee penggunaan
anggarannya adalah anggaran pemerintah
ya. Sehingga biasanya itu disaring dulu
baru kemudian ee boleh diedarkan. Nah,
ini namanya penilaian buku. ini juga
sudah dilakukan dan rutin dilakukan dan
boleh diikuti oleh siapa saja
sebenarnya. Jadi sebenarnya simpelnya
sih sebenarnya kalau ingin tahu apakah
bukunya memenuhi standar mutu buku ee ya
tinggal daftarkan saja ke penilaian.
Nanti biasanya di kami di pusat
perbukuan akan memberikan masukan gitu
ya. Jadi karena sifatnya tadi pembinaan
tidak serta-merta kemudian buku yang
dalam tanda kutip tadi entah kiri kanan
atau tidak memenuhi standar langsung
dibedel tidak seperti itu. Ee diberikan
pemahaman, diberikan ee penjelasan
bagian mana yang perlu dikoreksi, bagian
mana yang perlu diperbaiki gitu ya.
Harapannya adalah para pelaku perbukuan
yang terlibat di dalam proses penyusunan
buku tersebut bisa memahami dan bisa
memperbaiki kemudian bisa menerbitkan
kembali gitu ya. Jadi kami juga tidak
ingin apa ya memberangus atau membatasi
gitu ya kebebasan berekspresi gitu ya.
Jadi yang kami lakukan adalah memberikan
saran dan rekomendasi seperti itu. Yang
ketiga adalah tadi terkait ee literasi
ya. Emm tadi kan ee kami sudah sampaikan
bahwa salah satu manfaat buku itu adalah
untuk melatih eh critical thinking dan
eh kreatif gitu ya. Jadi, ada banyak
buku yang ee satu buku gitu, satu buku
menurut saya adalah itu bisa dilihat
dari berbagai macam aspek gitu ya.
Mungkin kita bisa lihat ada beberapa
novel yang ee mungkin secara isi kayak
istilahnya mungkin vulgar gitu ya.
seolah-olah ada pornografi,
seolah-olerasan, dan tapi justru
novel-novel tersebut ee mendapatkan ee
apa penilaian yang cukup baik sebagai
karya sastra misalnya seperti itu. Nah,
kita bisa melihat itu dari banyak
perspektif dan itu bisa menjadi ruang
diskusi dan ya itu salah satu fungsi
dari buku gitu ya untuk berpikir kritis
gitu ya bisa menjadi ruang diskusi dan
ee harapannya adalah ee buku-buku tadi
memang harusnya ditempatkan sesuai
porsinya, sesuai manfaatnya. Ada
buku-buku yang memang cocok ditaruh di
sekolah. ada buku-buku yang mungkin
cocoknya hanya di ada di ruang-ruang
diskusi di ee apa di kampus atau di
universitas gitu ya. Ada buku-buku yang
mungkin cocoknya diskusikan di
ruang-ruang kelas gitu ya. ada buku-buku
yang memang sesuainya ya hanya untuk
dibaca saja sebagai rekreasi misalnya
seperti itu. Nah, itu harapan kami ee
masyarakat, penerbit ee penulis bisa ee
memahami ee porsi bukunya masing-masing
sehingga bisa menempatkan bukunya sesuai
dengan tempatnya masing-masing. Mungkin
seperti itu. Ee Pak Dani. Terima
kasihah.
Mana sudah terpuaskan dengan jawaban
dari Pak Wijanarko?
sudah ee sedikit memberi masukan mungkin
nanti untuk koleksi buku-bukunya yang di
CB itu mungkin lebih ee rnya lebih luas
lagi. Karena kalau saya melihat mungkin
bagi ASN teman-teman yang sedang
mengikuti
ini biar lebih menariklah isinya. Terima
kasih. Iya. I terima kasih Pak Dani
sudah kami usahakan. Terima kasih Pak
Dani. Sehat selalu.
Terima kasih.
Baik, Pak Wijanarko itu tadi sudah ee
selesai ya untuk sesi tanya jawab.
Terima kasih banyak sudah mau meluangkan
waktu sekaligus melengkapi mulai dari
sesi pemateri pertama sampai kedua ya.
Tadi dilengkapi oleh Pak Wijan Narko dan
sehat selalu Pak sampai bertemu lagi di
lain kesempatan ya. Iya. Terima kasih.
Terima kasih. Selamat siang Pak
Wijanarko.
Baik.
Sobat ASN, sebelum mengakhiri sesi kali
ini, saya ingatkan kembali untuk tidak
lupa mengecek secara berkala di semesta
Bangkom untuk mengunduh e-sertifikat.
Dan demikian seluruh rangkaian acara
webinar ASN belajar seri 18 tahun 2025.
Terima kasih saya ucapkan untuk
antusiasme seluruh sobat ASN yang sudah
menyaksikan lewat Zoom meeting ataupun
lewat live YouTube BPSDM Jawa Timur TV,
Jatim TV. Dan persembahan terakhir dari
saya, pantun penutup untuk seri 18 2025
kali ini ya. Boleh dibantu bilang mantap
ya.
Ikan hiu taringnya tajam. Mantap.
Ikan koi berenangnya di kolam. Mantap.
Terima kasih Bapak, Ibu, Sobat ASN
Belajar. Semoga webinar seri kali ini
bisa terus membuat Sobat ASN makin
bersinar. Saya Yuri Sabrina pamit.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
[Musik]
Zaman yang terus bergerak.
Sambut dengan penuh
semangat. Saatnya kita
melangkah. Hadapi segala
tantangan. Tingkatkan setiap
kompetensi untuk pelayanan
berdampak. Bersama
ASN
belajar. Ciptakan SDM unggul
berprestasi.
selalu inisiatif dan
kolaboratif untuk inovasi yang
berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak
mulia siap menyongsong Indonesia emas.
[Musik]
ASM belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia satukan
tekad pantang
menyerah jadi ASNAR
berkualitas belajar
wujudkan
pemerintahan kelas
dunia bukan tekad pantang
menyerah jadi
berkualit Kita
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]