ASN Belajar Seri 18 | 2025 - Buku : Gerbang Ilmu-Jendela Kalbu
Uyb4zcRgZJc • 2025-05-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Hasen bua semangat membara di era digital terus berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemelak Jawa Timur terus melaju bersama PPSN Jatim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat [Musik] ASNU tiada yang tertinggal no one left behind kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemerlang Jawa Timur terus terus meltsp Jim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat aset unggur tiada yang tertinggal no one left behind kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi Masih cemel Jawa Timur terus melaju. Bersama BSDM Jatim kita terus melesar untuk Indonesia emas prestasi hebat bersama kampus satelit PP PSM Jatim no one left behind. ASN unggul dan berkualitas Melasa tinggi Indonesia jaya [Musik] Yeah. Bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. [Musik] ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia tekad pantang menyerah jadi berkuit [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu. Rahayu. Rahayu. Selamat pagi kepada yang terhormat Kepala BPSDM Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, S.P.Mp. Yang kami hormati para narasumber, Kepala Pusat Analis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca, Bapak Nuradi Saputra, Esos, M.Si., Si. Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Erlangga. Prof. Dr. Rahma Sugiharti, Dranda, M.Si. Editor Buku Pusat Perbukuan Kemendikdas, Bapak Wijanarko Adi Nugroho, S.Si., M.M. serta Bapak, Ibu, Sobat ASN di mana pun berada yang telah bergabung dalam Zoom meeting maupun akun YouTube BPSDM Jawa Timur TV dari seluruh Indonesia. Kerja kelompok di rumah Caca. Mengerjakan tugas dari Pak Iwan. Jadi orang gemar membaca agar menambah wawasan. Ye, selamat pagi dan selamat bergabung secara online dalam acara webinar seri ke-18 tahun 2025 ASN Belajar dengan tema buku gerbang ilmu jendela kalbu yang dipersembahkan oleh BPSDM Jawa Timur. Alhamdulillah puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa karena atas berkatnya kita semua pada hari ini diberikan kesehatan sehingga dapat berjumpa secara online pada hari Rabu 15 Mei 2025 bertempat di kantor BPSDM Jawa Timur yang ada di Jalan Balongsaritama Gadel Tandes Surabaya. Dan yang pasti saya senang sekali pada pagi hari ini Bapak Ibu, saya Yuri Sabrina yang akan berkesempatan ya menjadi moderator sekaligus saya akan menemani Bapak Ibu dalam acara ASN belajar pada pagi hari ini. Yang pasti pada pagi hari ini ASN belajar akan membahas tentang pentingnya membaca buku sebagai bentuk pemahaman ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Namun ternyata buku tidak hanya bisa menambah dan memperdalam wawasan. Dari buku kita juga akan bisa membentuk karakter dan juga pandangan hidup agar kita bisa hidup lebih bijaksana. Dan mengingat bahwa 2 hari lagi kita akan memperingati hari buku nasional yaitu tepatnya pada tanggal 17 Mei 2025. Maka ASN belajar kali ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan serta inspirasi baru bagi peserta ASN belajar dalam dunia pengetahuan dengan pendekatan yang lebih mendalam dan reflektif sekaligus mampu menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kaya secara spiritual. Selengkapnya akan dibahas dalam webinar ASN Belajar 18 2025. [Musik] Bapak, Ibu mengingatkan untuk tidak lupa mengisi absensi di Semesta Bangkom ya. Jadi bisa langsung ke semesta Bangkom di 0821664461 ataupun juga di link webinar yang sudah diberikan. Dan sebelumnya Bapak Ibu saya ingin mempersilakan terlebih dahulu untuk keynote speech kita pada pagi hari ini yaitu Kepala BPSDN Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, SP. MP. Kami silakan. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini, Kamis tanggal 15 Mei 2025, ASN Belajar telah memasuki seri ke-18. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami, kami selalu berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik pengembangan kompetensi yang menarik bahkan kekinian dan tentu berdampak secara nyata terhadap pengembangan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-18 tahun 2025 ini menyikan salah satu topik dalam rangka turut serta menyemarakkan pemikiran dalam momen Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei. Di mana pada tahun 2002 hari buku nasional pertama kali dicetuskan oleh Prof. Abdul Malik Fajar, Menteri Pendidikan Nasional saat itu tanggal 17 Mei dipilih sebagai hari istimewa karena bertepatan dengan momen berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980. Pemilihan tanggal ini menunjukkan eratnya kaitan antara hari buku nasional dengan upaya untuk mencerdaskan bangsa melalui budaya membaca. Karena itu, Sobat SN, SN belajar seri ke-18 tahun 2025 ini mengangkat topik buku gerbang ilmu jendela kalbu. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sabat ASN di seluruh tanah air telah terbukti secara historis bahwa buku adalah saksi perjalanan akal budi manusia dari zaman kegelapan menuju pencerahan, dari ketidaktahuan menuju kebijaksanaan yang melintasi batas generasi dan peradaban. telah terbukti secara historis bahwa buku merupakan instrumen utama dalam mentransmisikan pengetahuan, membangun peradaban, dan menumbuh kembangkan kesadaran kolektif umat manusia dari zaman ke zaman. Dan juga telah terbukti secara historis bahwa buku memainkan peran sentral dalam menjaga integritas ilmu pengetahuan. Bahkan ketika arus informasi digital datang sili berganti, buku tetap menjadi mercing pencari kebenaran. Membaca buku tentu bukan sekedar kegiatan mengisi waktu senggang. Ia adalah proses transendental jembatan antara ketidaktahuan menuju pencerahan. Lewat membaca, ilmu berpindah dari generasi ke generasi, dari pikiran ke pikiran, menembus sekat geografis dan zaman. Dari buku-buku kuno yang ditulis tangan hingga karya kontemporer yang dicetak massal, semuanya menyimpan warisan intelektual yang tak ternilai. Di era teknologi informasi yang serba cepat ini, kita memang disuguhkan lautan data dan informasi melalui layar. Namun tidak semua yang tampil di gawai adalah kebenaran, validitas dan kedalaman seringki menjadi korban dari kecepatan. Di sinilah buku tampil bukan sebagai lawan, melainkan sebagai penyeimbang tempat informasi diuji, dianalisis, dan disusun secara sistematis dengan akurasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Buku hadir tidak hanya sebagai sumber ilmu, tetapi juga sebagai jendela kalbu. Ia menyapa jiwa yang gelisah, memberi arah pada mereka yang kehilangan bijakan, dan menghidupkan imajinasi pada mereka yang haus akan makna. Buku-buku sastra, filsafat, sejarah hingga sains bukan hanya membentuk intelektualitas kita, tetapi juga membangun empati, etika, dan kepekaan nurani. Oleh karena itu, dalam semangat hari buku nasional ini, marilah kita hidupkan kembali budaya literasi bukan hanya dengan membaca, tapi juga menulis, berdiskusi, dan membumikan gagasan-gagasan kita lewat buku. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca dan bangsa yang membaca adalah bangsa yang mampu menulis masa depannya sendiri dengan penuh kesadaran dan kemuliaan. Buku mungkin tak bersuara, namun nadanya menggema jauh di kedalaman pikiran dan perasaan. Maka jangan biarkan buku-buku kita terdiam di rak-rak berdebu. Bukalah satu, bacalah sejenak, dan biarkan ia menuntunmu menembus batas ketidaktahuan menuju cakrawala ilmu dan akhirnya ke jendela kalbu. Sahabat ASN di seluruh tanah air, lalu bagaimana ikhtiar kita agar buku terus menjadi bagian tak terpisahkan dari tumbuh kembang kita sebagai sumber daya utama pembangunan bangsa. Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang dengan hormat para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Nuradi Saputra, Sos, M.Si. SI. Beliau adalah Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kedua, kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Wijanarko Adinugroho, S.Si., M.M. Beliau adalah editor buku pada Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar Menengah Republik Indonesia. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda, M.Si. Beliau adalah Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-18 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Sobat ASN, baru saja kita saksikan bersama, kita simak bersama kenote speech yang sudah diberikan oleh Bapak Dr. Ramlianto, Spaku Kepala BPSDM Jawa Timur. tentunya dari kenote speech yang diberikan oleh beliau ini bisa menjadi acuan ya untuk mencapai tujuan dari terselenggaranya webinar seri ke-18 tahun 2025 ini. Dan yang pasti harapan kita bersama adalah acara ini dapat berjalan dengan lancar hingga selesai nanti. Amin. Amin ya rabbal alamin. Baik, sebelum saya menyapa para narasumber ya dan mempersilakan narasumber pertama untuk memberikan pemaparan materinya, saya akan menyampaikan terlebih dahulu kepada sobat ASN mengenai tata cara tanya jawab serta interaksi yang bisa dilakukan selama berjalannya acara. Yang pertama, sesi tanya jawab atau diskusi nanti akan dilakukan di akhir setiap pemaparan narasumber. Kedua, penanya harap menyebutkan identitas diri berupa nama dan juga instansinya dari mana. Lalu yang ketiga, sekali lagi kami mengingatkan untuk jangan lupa link absensi peserta yang sudah diberikan bisa diisi di aplikasi semesta Bangkok. Dan rasanya tidak perlu lama-lama lagi, langsung saja kita akan memulai sesi pertama webinar ASN Belajar seri 18 tahun 2025 hari ini dan sudah bergabung bersama dengan kita secara online narasumber kita pada hari ini. Yang pertama adalah Kepala Pusat Analis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Bapak Nurhadi Saputra, Esos, M.Si. Kami silakan. [Musik] Bapak Nur hadir. Selamat pagi. Sehat, Pak? Alhamdulillah sehat. Alhamdulillah. Bapak sudah siap pagi hari ini untuk memberikan ee materi di insyaallah sesi pertama ini. Siap ya, Pak? Ya. Baik, Sobat ASN sepertinya juga sudah tidak sabar untuk menyimak materi dari Pak Nurhah Saputra. Kalau begitu langsung saja Pak Nur Hadihadi. Waktu dan tempat kami persilakan. Baik, terima kasih ee Mbak moderator. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Yang saya hormati Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, S.PMP. Ee serta Bapak, Ibu peserta webinar ASN Belajar seri 18 dengan tema buku gerbang Ilmu Jendela Kalbu. Baik ee Bapak, Ibu, dan teman-teman dari ASN seluruh Indonesia. Tanggal 17 seperti yang disampaikan oleh Bapak Kepala BPSDM bahwa 17 Mei nanti adalah hari buku nasional yang juga merupakan ee peringatan hari jadinya Perpustakaan Nasional. ini adalah menjadi sebuah momentum ee bagi perpustakaan nasional bagaimana meningkatkan literasi di penjuru ee negeri ini. Baik, mungkin saya slide-nya saya Oh, oke. Ee langsung saja next. Ee kita akan melihat bagaimana kondisi literasi karena buku ini tidak bisa menjauh dari literasi. Kondisi literasi di Indonesia. Lanjut aja, Mas. Mengapa literasi penting? Literasi adalah pondasi semua proses belajar. Tanpa literasi dasar, siswa akan kesulitan memahami konten pelajaran. Ini menurut pendapat Lee tahun 2024, literasi adalah kemampuan berbanding lurus dengan keterampilan berpikir kritis. Jadi, semakin literasi siswa semakin baik kemampuan berpikir logis dan analitis mereka. Kemudian literasi juga penting dalam peningkatan ee yang berdampak langsung pada pencapaian akademik. Studi menunjukkan korelasi positif atas antara skor literasi dan prestasi akademik ee lintas bidang. Kemudian juga literasi memperkuat kesiapan menghadapi kompleksitas zaman. Dalam era digital, literasi membantu siswa memilah informasi dan mengambil keputusan berbasis bukti. Dan urgensi literasi sejalan dengan pencapaian SDGIS keempat, yaitu pendidikan yang berkualitas mendukung capaian target 4.1 dan 4.6 tentang standar minimum kemampuan literasi membaca dan liberasi sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian PPN BAPENAS 2024. Lanjut. Ini adalah kondisi ee literasi khususnya untuk siswa-siswi ee di Indonesia pada studi PISA Program of International Assessment Student Assessment tahun 2022. Indikator literasi membaca siswa yang ee usia 15 tahun itu mengalami penurunan dari skor 371 menjadi 359 di tahun 2022 dan ini jauh di bawah rata-rata ee negara-negara yang tergabung dalam OECD. Kemudian juga pada rapor pendidikan 2024, indikator kemampuan ee literasi murid bisa dilihat di paparan ini bahwa memang hampir sebagian besar berada dalam kategori sedang dan ada satu yaitu di kategori SMA kesetaraan mengalami ee kemampuan literasinya kurang. Lanjut. Nah, ini adalah data dari BPS. Berdasarkan data BPS tahun 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas hanya mencapai 9 ee 9,22 9 ee 22 tahun atau sekitar setara jenjang SMP dengan porsinya 10,20% yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. 30,85% yang memiliki ijazah SMA atau sederajat. 22,79% memiliki ijazah SMP, 24,72% memiliki hanya memiliki ijazah SD. Dan kemudian juga banyak dari lulusan pendidikan menengah yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan akhirnya menerima pekerjaan bergaji rendah. ini berdasarkan perhitungan Bank Dunia e dari ee Sakernas dan ee lebih dari 55% siswa tidak mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan matematika. Dan karena mereka berada dalam sistem pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi, kurikulum yang diajarkan cenderung tidak selaras dengan kebutuhan pasar saat ini atau yang dipersyaratkan elang industri. Inilah jika kita melihat ee bagaimana kondisi ee ee generasi muda bangsa ee kita ini yang kemudian merasa kesulitan untuk ee mereka bisa mendapatkan pekerjaan. Lanjut saja. Nah, ini adalah dampak literasi untuk sosial ekonomi. Kita tahu bahwa ee ketika literasi ini sangat minim, maka banyak sekali dampak ee dampak yang tidak baik yang akan kita hadapi. Kompetensi dan upah yang rendah, kemudian biaya tinggi untuk perbaikan karakter, biaya tinggi untuk peningkatan kesehatan, dan biaya tinggi untuk mengatasi kriminalitas. Hal inilah yang lazim terjadi ketika sebuah negara mengalami ee literasi yang rendah. Dan ketika kita mencapai nanti target kita adalah kita bisa mencapai literasi yang tinggi, maka kita berharap penurunan angka kemiskinan dan pengurangan kesenjangan ekonomi semakin kuat, terbuka pilihan pekerjaan dan lebih produktif, kemudian lebih banyak terlibat dalam kegiatan komunitas dan peningkatan kesejahteraan individual. Lanjut. Dalam perspektif ee kemiskinan dan kesejahteraan, literasi ini mempunyai peran penting. Karena kita lihat dalam grafik gambar ini bahwa kesejahteraan ee itu akan di diperoleh oleh seseorang ketika mereka menerima keadilan informasi. Ini dalam perspektif perpustakaan nasional. Karena kami melihat kemiskinan dan kesejahteraan yang terjadi ini bukan karena ketidakmampuan seseorang untuk ee melakukan eksplorasi terhadap kemampuan dirinya, tetapi lebih sering terjadi mereka tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk apa yang bisa mereka lakukan. Jadi kita kami melihat bahwa ketika ee seseorang kemudian bisa mendapat keadilan informasi, kemudian juga mendapat literasi yang cukup, maka kita percaya bahwa orang tersebut mampu mengembangkan ee kapasitas dirinya, mampu ee berusaha untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Jadi menurut kami literasi sangat erat bagaimana meningkatkan kesejahteraan ee setiap orang, keadaan materi seseorang dan kemampuan akses informasi melalui teknologi informasi komunikasi. Kemudian ee ketidak tersediaan informasi yang berkualitas dan kurangnya ases yang dibutuhkan, ketidakmampuan orang dalam mendapatkan informasi yang berguna akibat pendidikan, pengalaman, dan kontekstual. Inilah yang kemudian menjadi penyebab kesejahteraan ini tidak bisa ee terjadi di masyarakat kita. Lanjut. Literasi tidak sama dengan informasi. Informasi adalah sekumpulan data atau fakta yang telah diolah dan disajikan sehingga memiliki makna, nilai, dan pesan yang dapat dipahami oleh penerima. Informasi dapat berupa keterangan, pernyataan, gagasan atau tanda-tanda yang mengandung nilai. makna dan pesan baik dalam bentuk, data, fakta, maupun penjelasan. Pesan yang mempunyai arti bagi penerimanya dan mempunyai nilai nyata yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan ee saat itu atau masa yang akan datang. Setiap individu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Tidak semua individu sama informasi yang dibutuhkannya. Setiap informasi yang ada digunakan untuk memecahkan masalah, menambah wawasan, dan kebutuhan lainnya. Fenomena ini dapat dianggap sebagai pentingnya informasi bagi kehidupan ee setiap individu. Dalam kata lain, informasi sebagai komoditas utama dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan informasi merupakan tindakan individu dalam memenuhi kekurangan pengetahuan tentang informasi yang dibutuhkan. Kekurangan pengetahuan tersebut diselesaikan dengan mengakses informasi kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan kepuasan dan manfaat karena rasa ingin tahunya telah dipenuhi. Lanjut. Ini kebutuhan informasi. Kebutuhan informasi adalah kondisi yang dirasakan oleh individu bahwa pengetahuan yang dimilikinya tidak memadai untuk menangani situasi dalam konteks sosial, psikologis, dan profesional. Jadi ketika kita sebagai manusia membutuhkan informasi ada ada tiga faktor. Pertama adalah kebutuhan fisiologis yaitu bagaimana kita membutuhkan informasi untuk kebutuhan primer yang bertujuan untuk memenuhi fungsi-fungsi yang ada pada diri individu. Misalnya kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Kemudian juga kebutuhan kognitif, kebutuhan untuk memenuhi pikiran melalui pembelajaran, memperoleh ilmu dari pendidikan formal ataupun nonformal. Ini seperti yang hari ini kita lakukan. Bagaimana ee kegiatan ini mampu menambah ee informasi kepada kita menjadi sebuah pengetahuan yang melalui ee pelatihan webinar ini. Kemudian ada kebutuhan afektif, pemenuhan kebutuhan individu yang berkaitan dengan emosional. misalnya informasi yang dibutuhkan untuk memuaskan kesenangan pribadi. Lanjut. Untuk memperoleh informasi maka kita harus membaca. Situasi membaca dibagi menjadi empat menurut OECD. Situasi personal ya karena kita membaca untuk kesenangan dan untuk pengembangan diri. Kemudian situasi edukasional membaca dilakukan untuk belajar atau mencari informasi penunjang pembelajaran dan kemudian situasi publik membaca untuk memahami isu-isu sosial atau berkontribusi dalam kehidupan masyarakat dan situasi okoposional membaca menjadi bagian dari pelaksanaan tugas atau pekerjaan tertentu. Lanjut. Informasi dalam media. Ya, seperti yang kita pahami bahwa setiap dalam sejarah kehidupan manusia bahwa setiap manusia mencoba menyampaikan pesan kepada manusia lain. Ketika zaman sebelum adanya ee pesan yang bisa di dibawa, pesan-pesan itu disampaikan melalui pahatan-pahatan di dalam setiap gua yang ee purba. Dan inilah sejarah pertama kali bagaimana pesan itu di catat atau dipahat atau di di ditempatkan di sebuah media yang bisa dibawa ke mana-mana. Tahap pertama ketika buku berkembang, kita akan melihat ada yang namanya ee tablet tanah liat ee bangsa Sumerian yang ada pada tahun 3500 sebelum Masehi. di Mesopotamia. Jadi, tablet lilin bangsa Sumeria ini adalah sebuah pondasi awal cikal bakal pertama bagaimana pesan yang dituliskan di dalam sebuah ee tablet tanah liat yang merekam sejarah dan ee hukum dan kemudian juga tata cara hidup ee dari bangsa Sumeria. Bangsa Sumeria diyakini sebagai bangsa pertama yang menggunakan aksara paku atau simbol logo fonetik, alfabet konsonan, dan suku kata yang diukir ke dalam tablet tanah liat yang dibiarkan mengering atau dibakar dalam tungku untuk membuatnya bertahan selama mudir. Baik, tablet ee tanah liat bangsa Sumeria ini kemudian berganti. Next. Selanjut beralih ee kemudian menggunakan metode gulungan papirus. Papirus paling awal yang masih ada yang berisi kata-kata tertulis di sekitar 2.400 sebelum Masehi. ee berasal dari Mesir. Mesir menggunakan bahan ini selama ratusan tahun sebelum Yunani dan Romawi akhirnya mengadopsi teknik ini. Gulungan-gulungan ini digulung dan sering dimasukkan ke dalam tabung kayu untuk melindunginya. Dan buku-buku ini diproduksi dengan merekatkan sejumlah gulungan hingga panjang 10 m atau dalam beberapa kasus bahkan lebih panjang ee seperti sejarah ee raja Mesir Ramses 3 yang panjangnya sampai dengan 40 m. Lanjut. Kemudian ee tadi setelah adanya papirus maka dikenal namanya perkamen. Perkamen itu ee ada sekitar 500 sampai dengan 200 sebelum masehi. Perkamen adalah bahan tipis yang terbuat dari kulit anak sapi, kulit domba, atau bahkan kulit kambing. Perkamen muncul akibat kelangkaan terhadap papirus. Harga papirus naik karena tidak seimbangnya antara kebutuhan papirus dengan ketersediaan lahan pertanian. Jadi kalau ee sebelumnya itu adalah pohon ee papirus itu digunakan dari ee sejenis padi-padian yang tumbuh kemudian diolah menjadi sebuah ee media untuk menuliskan pesan. Lanjut. Setelah perkamen, maka teknik penulisan dikenal namanya dengan tablet lilin yang ditemukan 200 ee sebelum tahun 200 sebelum Masehi. Dikembangkan oleh orang Romawi dan Yunani. Tablet ini pada dasarnya adalah balok kayu dengan dilapisi lilin yang memungkinkannya ditulis dengan menggunakan stylus dan kemudian dihapus untuk digunakan kembali. Tablet lilin ini seringki disatukan dengan salah satu ujungnya ee dengan tali seperti cincin untuk membentuk e kodek yang yang bahasa Latin aslinya tuh berarti kayu tapi kemudian dikenal sebagai kumpulan halaman yang dijilid. Jadi inilah sejarah ee pertama kali media tulisan yang kemudian dijilid. Walaupun sebenarnya dengan kata kodek itu aslinya adalah kayu. Kodek menjadi sangat populer di seluruh Eropa menggantikan gulungan yang sebelumnya. Ee ketika zaman Papirus kemudian zaman perkamen itu semua menggunakan gulungan, maka di ketika dimulainya adanya e era tablet lilin ini beralih menjadi ee penjilitan. Lanjut kertas. Ee kemudian era kertas. Jadi setelah ee itu kita akan memasuki fase era kertas yaitu tahun 105 Masehi. Cirun seorang Kasim istana menemukan pembuatan kertas untuk menulis dan menggunakan kombinasi buah murbei, kulit kayu, rami, kain tua, dan bahkan menggunakan jari ikan untuk membuat bubur kertas. 868 Masehi. Buku pertama dicetak di atas kertas di Cina menggunakan balok kayu yang memiliki karakter yang diukir dalam relif terbalik. Tinta kemudian ditempatkan di atas balok kayu untuk membuat cetakan di atas kertas. Lanjut. Ini adalah ee kitab Gutenberg. Kitab Gutenberg dianggap sebagai sebuah revolusi bagaimana buku ini diciptakan. tahun 1455 buku besar pertama yang dicetak menggunakan mesin cetak Gutenberg dan menandai dimulainya revolusi Gutenberg. Mungkin selama ini kita tahu bahwa eh penerbitan buku pertama adalah penerbitan yang dilakukan oleh eh Gutenberg dan inilah sebenarnya Gutenberg hanya menerbitkan Alkitab eh 42 baris adalah versi terjemahan kitab suci dalam bahasa Latin yang dikerjakan oleh Yohannes Gutenberg. ada sekitar 180 salinan aktivitas Gutenberg yang diproduksi dengan 135 di antaranya dibuat pada kertas dan 45 pada velum atau ee kulit hewan. Lanjut. Kemudian ee di tahun ketika komputer sudah ee mulai mer ee mulai ada, maka pertama kali buku yang ee dituang dalam apa yang terekam dalam compact disk itu adalah The New Groller Electronic Encyclopedia yang diterbitkan kan oleh penerbit ee terbesar di Amerika Serikat. Dan sejak itu ee buku ini ee menjadi buku yang paling banyak dicari ee karena merupakan buku pertama yang diterbitkan secara digital dalam bentuk compact dis. Tapi pada kelanjutannya komplek di sini tidak tidak lagi menjadi sebuah ee buku yang bisa dibaca, tetapi menjadi sebuah buku audio. Buku audio. Buku audio adalah buku yang ee di yang didengarkan oleh ee oleh kita ketika kita ketika kita akan membaca buku, kita tidak lagi membaca tapi mendengarkan audiobook yang ada di dalam compact dising. Lanjut. Kemudian di tahun eh 190 sebenarnya ebook e sudah diproduksi e dalam proyek Genberg. yaitu upaya mendigitalkan dan mengarsifkan karya budaya ee yang kategorinya adalah public domain. Namun baru pergantian abad 21 format ini tersedia secara umum dan diterima sebagai format penerbitan. Novel karya Stephen King berjudul Riding The Ballet tahun 2000 menjadi buku elektronik yang pertama dipasarkan secara massal. Dalam waktu 24 jam pertama rilis terjual lebih dari 400.000 ribu eksemplar yang merusak server penerbit dan menyebabkan penggemar harus menunggu berjam-jam sebelum mereka dapat mengunduh salinannya. Lanjut. Nah, ini kemudian media penyampaian pesan atau tulisan ini kemudian beralih ee dengan adanya Kindle yang yang dirilis oleh Amazon ee merupakan sebuah perangkat pembaca ebook pertama yang dirilis pada tanggal 19 November 2007. Kindle terjual habis dalam waktu 5,5 jam dan tetap kehabisan stok hingga akhir April 2008. Hindle generasi pertama ini memiliki layar 6 inch dengan tampilan skala abu-abu 4 tingkat dan menyimpan 250 MB yang cukup untuk menyimpan 200 judul tanpa ilustrasi dan memiliki slot ee kartu memori SD card. Lanjut. Ya, ini ee buku mempunyai peran penting dalam penyebaran ilmu pengetahuan karena menjadi media transformasi dan penyebar luasan informasi yang dapat menembus batas geografis. Buku juga melestarikan pengetahuan dan budaya, menjadi sumber referensi dan mendukung perkembangan intelektual serta emosional. Inilah yang kemudian ee menjadikan perpustakaan sebagai sebuah institusi yang melestarikan ilmu pengetahuan di mana buku-buku disimpan kemudian dirawat ee kemudian diolah dan kemudian dialiidiakan sehingga bisa di gunakan oleh generasi yang akan datang. perpustakaan untuk saat ini dari sisi pemerintahan khususnya dalam Undang-Undang ee 23 tahun 2014, urusan perpustakaan merupakan urusan wajib non pelayanan dasar yaitu urusan yang wajib dilaksanakan oleh setiap pemerintah daerah baik di level provinsi dan kabupaten kota ini menjadi sebuah ee sebuah kewajiban bagi pemerintah daerah untuk menyelenggarakan perpustakaan menyelenggarakan perpustakaan, merawat semua khanah budaya bangsa sehingga bangsa kita tetap terjaga baik itu ilmu pengetahuan dan kebudayaannya dan bisa di ee turunkan kepada anak cucu kita. Baik, mungkin itu saja menutup ee paparan saya. Saya membaca quote. Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya menurut Josep Brki. Mungkin itu saja eh mungkin eh dilanjutkan dengan tanya jawab. Terima kasih. Wabillahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Menarik sekali Pak Nuradi Saputra pemaparan materinya saya jadi banyak belajar ternyata sejarahnya terbuat terbuatnya buku itu begitu ya sampai akhirnya di zaman modern ini sudah mulai banyak yang ee digital ya Pak ya gitu. Nah, untuk sobat ASN yang sudah menyimak pemaparan materi pertama dari Bapak Nurhari Saputra, silakan ee bisa rais hand ataupun kalau memungkinkan tidak memungkinkan untuk on cam ya bisa chat saja di kolom chat nanti akan saya bantu bacakan. Apakah sudah ada pertanyaan dari sobat ASN yang hadir pada pagi hari ini? Kita coba cek. Oke, sekali lagi untuk sobat ASN yang ingin bertanya kepada narasumber pertama kita pada pagi hari ini. Oke, baik. Sudah ada ternyata sepertinya. Selamat pagi Bapak Joko. Iya, belum di-unmute seetulnya. Mohon waktu, Bapak. Oke, sudah ada satu penanya pada pagi hari ini, Bapak Joko Kusma Renoto NH dari Singosari Malang. Baik, terima kasih. Silakan Bapak. Terima kasih. Selamat pagi. Semangat pagi semuanya. Terima kasih pada materi yang telah disampaikan oleh Pakeri tadi. Saya mengikuti paparan dari ee Bapak tadi. Namun izin saya ingin bertanya, kenapa proses ee yang disebut dengan suhuf-suhuf di zaman Nabi Ibrahim itu jauh sebelum Masehi. Kemudian zaman ee abad ke600-an di zaman pembukuan Al-Qur'an itu sampai ada mushaf Utsmani itu kan juga merupakan pencaratan. Ee tadi sayaat Bapak belum mencantum itu, Pak. Padahal itu fakta sejarah yang sampai sekarang masih bisa kita lihat otentikasinya di zaman itu sudah ada dilakukan proses itu. Itu yang pertama. Mengapa itu disampaikan? Yang kedua berkaitan dengan buku yang ada ini. Kebetulan saya dulu pernah jadi ee petugas ya perpustakaan gitu, Pak. Ya, lama sudah perpustakaan. Memang ee minat baca masyarakat umumnya agensi di saat ini sangat kurang di dalam membaca buku tetapi mereka sangat tinggi di dalam membaca medsos seperti WhatsApp dan lain sebagainya. itu bagaimana menyikapi perubahan minat baca Genzi di mana menurunnya membaca buku tapi meningkatnya membaca mereka di berbagai medsos yang ada. Apakah memang ini satu proses perbaikan atau kemunduran? Ya, Pak. Demikian, Pak. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Saya langsung jawab ee moderator. Silakan Bapak. Silakan Bapak. Langsung dijawab saja dulu. Baik, Pak I. Baik, Pak Joko. Tadi mungkin Pak Joko sampaikan ee ketika zuhub-zuhuf ini tidak masuk ke dalam ee paparan saya. Memang, Pak, apa yang saya paparkan ini hanya ee momentum ketika setiap memang ee data yang dihasilkan oleh peneliti yang sebelumnya. Jadi memang tadi ee kalau ee diperkirakan Pak ketika zaman Nabi Ibrahim itu mungkin media yang dipakai adalah ee media papirus. Tapi ini juga ee belum kami belum bisa memastikan itu, Pak. Tetapi memang kalau mengingat dengan ee kurun waktunya, maka di zaman Nabi Ibrahim itu kemungkinan besar media yang dipakai adalah papirus. Dan mohon maaf mungkin ee sampai saat ini belum ada pembuktian akademis terkait dengan ee zuhub-zuhub tersebut gitu, Pak. Jadi memang tadi ketika kita bicara ada tablet tanah liat, kemudian ada papirus, kemudian ada lanjut lagi Perkamen, kemudian berlanjut-berlanjut lagi itu adalah ee media-media yang pertama kali ee digunakan atau ditemukan ya berdasarkan yang kemudian juga tadi yang Bapak sampaikan bagaimana ketika sekarang tren ee ee yang beralih dari yang tadinya membaca secara baik baik. Eh, untuk pertanyaan dari Pak Joko mungkin kita bisa hold dulu ya karena ada kendala teknis dari tempat Bapak Nur Hadi Saputra mungkin. Oke. Baik, sudah sepertinya. Baik, Bapak Nurhah Hadi bisa. Iya, mohon maaf saya. Halo. Iya, Pak. Iya, mohon maaf saya terlempar tadi kayaknya sinyalnya kurang bagus. Siap, Bapak. Silakan dilanjutkan. Baik. E tadi melanjutkan ee ee Pak Joko sekarang ini memang peralihan trennya dari membaca konvensional kemudian ke arah digital. Ini hampir sebagian besar Genzi yang mungkin kita temui bahwa mereka lebih nyaman terhadap perangkat digital untuk membaca informasi, membaca ee pesan-pesan yang disampaikan. Pada prinsipnya kalau dari kami ee itu tidak masalah, Pak. Karena memang ee perbedaan generasi ini juga membuat ada perbedaan metode ee dan setiap orang saya yakin juga akan berbeda kenyamanannya. Apakah itu membaca secara ee cetak yaitu buku atau membaca ee secara digital. Tapi intinya silakan ee Bapak, Ibu, dan siapapun itu ketika membaca dan itu memang bisa menambah pengetahuan kepada Bapak, Ibu. Untuk perpustakaan sendiri, kami juga sudah menyediakan layanan yang ee berbentuk digital dan tetap mempertahankan layanan yang konvensional. Jadi silakan saja mana ee yang lebih nyamannya. Tapi perlu dipahami juga ketika kita membaca digital ini yang sering kami temukan bahwa ee hasil survei yang kami lakukan ternyata ada titik jenuh. ada titik jenuh baik itu kelelahan secara fisik misalnya mata dan segala macam ketika membaca ee secara digital. Inilah yang seringki ee ketika membaca digital itu ee kita tidak memahami secara penuh pesan atau informasi yang disampaikan. Beda dengan buku. Tapi kembali lagi yaitu kembali terhadap ee ee orang tersebut lebih nyamannya ee menggunakan media apa ee silakan tapi yang penting teruslah membaca dan teruslah menambah informasi dan pengetahuan untuk menambah kemampuan kompetensi diri sendiri. Mungkin itu Pak Joko, Pak. tadi ee Bapak Musinggung di dalam proses penulisan literasi Al-Qur'an dari yang awalnya dari kulit tulang-tulang disatukan dalam satu mushaf di zaman Khalifah Utsman bin Affan itu tadi adalah satu karya fenomenal yang luar biasa yang utentifikasinya sampai dengan sekarang ini masih terjaga, Pak. Jadi kalau yang lain, teori-teori yang lain mungkin bisa berubah, tetapi yang ditulis di kitab Al-Qur'an itu hingga akhir zaman tidak akan berubah. Itu mohon kiranya nanti bisa disampaikan sebagai satu proses yang luar biasa peralian dari ee kulit-kulit unta, tulang-tulang, mungkin pohon dan sebagainya ke dalam satu ee satu mushaf gitu. Itu aja. Terima kasih. Iya. Baik, Pak. Karena memang itu, Pak. Jadi musaf itu ketika menuliskan di kulit ee pada kenyataannya kulit itu sudah digunakan sebagai media tulis jauh sebelum Al-Qur'an ada. Walaupun pada kita ketika kita melihat ee fase penulisannya atau ee ini yang tidak apa namanya penulisan Al-Qur'an itu merupakan sebuah ee sejarah besar bagaimana kemudian peralihan-peralihan ini sampai kemudian ke media yang modern ini tidak ada perubahan secara isi. Tetapi secara penggunaan material atau media penulisan ini ee perkamen dan kemudian ee apa namanya ee papirus itu sudah digunakan sebelum adanya Al-Qur'an, Pak. Iya. Karena tadi saya lihat ada Papirus menggunakan ee tanah liat, Pak. Ya. Tapi ada juga menggunakan batu, Pak. Batuis batu tadi. Iya, betul. Oke, Pak. Terima kasih. Terima kasih informasinya. Semangat pagi. Baik, Pak. Terima kasih Bapak Joko. Luar biasa insight-nya. Terima kasih. Baik, untuk penanya selanjutnya apakah sudah ada? Kita akan buka untuk dua penanya pada sesi pertama pagi hari ini. Silakan apakah ada yang sudah rais hand atau mungkin mengetikkan chat di kolom chat nanti ee akan saya bantu untuk bacakan. Oke, penanya kedua di materi pertama yang sudah disampaikan oleh Bapak Nurhah Saputra, Sos, M.Si. selaku Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca. Baik. Oke, terima kasih. Sepertinya tidak ada lagi yang rais hand. Pak Nurhadi Saputra terima kasih banyak sudah berkenan untuk memaparkan materi yang pertama pada pagi hari ini, Bapak. Apakah habis ini Bapak akan ada kegiatan selanjutnya? Iya. Iya. Mis ini kebetulan kami sedang mempersiapkan ee beberapa rangkaian acara agenda acara menyambut hari buku dan kemudian hari juga HUD ee Perpustakaan Nasional. Insyaallah tanggal 7, 16 Mei besok ini merupakan hari puncak. Jadi karena tanggal 17 Meiya itu hari Minggu, hari Sabtu ya, hari Sabtu. Jadi kita majukan besok untuk ee beberapa agenda kegiatan walaupun tetap tanggal 17-nya tetap ada acara di ee gedung utama kami di Medan Merdeka Selatan. Baik. Oh, Pak, ternyata masih ada satu pertanyaan. Masih bisa, Pak, ya, untuk dijawab, ya, ya. Oke. Baik, silakan untuk penanya selanjutnya. Selamat pagi Bapak Fathur Rahman dari Jember ya, Pak ya. Ya, silakan Bapak warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatumsalam warahmatullah. Makasih Pak Nur ee paparannya keadi ini. Saya Fadhurahman dari Pustakawan dari Dinas Perpustakaan Jember. Oh, baikur, Pak. Baik, Bapak. Enggih. Saya sebetulnya sangat miris mungkin dengan kondisi apa minat baca masyarakat ya. Tapi kalau kita ambil pelajarannya, saya mengambil dari akar masalahnya, Pak. Baik. Contohnya kalau dipus menjadi contoh Bapak dan Ibu guru. Selama ini mungkin ee Bapak dan Ibu guru bukan menjadi penikmat setia dari sebuah buku dari jendela ilmu itu. mungkin juga di ee perpustakaan khusus di kantor, di instansi ya kan itu minimal ada rak buku ataupun perpustakaan mini di setiap atau perpustakaan khusus di setiap lembaga dan ee itu tidak diberikan contoh oleh para pengambil kebijakan, para pejabat di sana tidak membiasakan diri. Saya katakan pembiasaan, Pak. Nah, mungkinkah ada strategi ataupun pemantik ee inovasi bagaimana Perpustakaan Nasional memancing inovasi yang lebih radikal, Pak? Supaya para para yang harusnya menjadi teladan itu apa namanya? Membiasakan. Jadi pola pembiasaan itu menurut kami lebih penting daripada apa namanya motivasi. Sekadar motivasi. Jadi pembiasaan itu saya belajar dari dulu turunnya perintah iqra, perintah membaca. Baginda Nabi pada waktu turunnya Iqra itu adalah langsung diperintah, Pak. Jadi mungkin selama ini harus ada pola pembiasaan selama ini untuk para pengambil kebijakan dan yang harusnya menjadi teladan itu menj apa membiasakan diri akhirnya dicontoh oleh anak didiknya, oleh karyawan di bawahnya ataupun oleh peserta didik yang menjadi ee ee binaannya. Mungkin Perpusnas ada apa pemantik inovasi. bagaimana strategi supaya inovasi pembiasaan ini muncul. Matur nuwun. Terima kasih. Cukup itu saja, Pak. Iya. Baik, Pak Faturrahman. Mungkin ee sedikit menanggapi memang, Pak kami di Perpustakaan Nasional juga ada batasan-batasan di mana kami bisa memunculkan atau meregulasi atau yang bisa diadaptasi langsung kepada misalnya pemerintah daerah. Kalau tadi Bapak sampaikan bagaimana guru bisa mencontohkan kepada siswa-siswinya, ya kami tidak bisa ee sifatnya instruksi, tapi kami akan menggandeng ee dengan Kemendik ee Kemendikbud. Jadi beberapa program kegiatan dalam peningkatan literasi yang ee di sekolah sudah kita lakukan dengan apa bersama dengan Kemendikbud. termasuk juga bagaimana memenuhi kebutuhan buku ee bagi siswa ee sekolah dan kemudian ee anak-anak yang ada di luar yang di jadi antara Perpustakaan Nasional dengan Kemendikbud tahun 2024 kemarin sudah menyalurkan sekitar 10 juta buku. Kalau untuk Perpustakaan Nasional sendiri ada 10 juta buku yang kita berikan kepada perpustakaan desa di seluruh Indonesia. setiap desa itu akan mendapatkan 1000 buku dan ini memang ee kita lakukan bagaimana mendekatkan buku kepada masyarakat. Nah, ini juga kita berikan pelatihan kepada ee pengelola perpustakaan desanya, bagaimana mereka bisa mengajak anak-anak di sekitarnya untuk kemudian berkunjung dan memanfaatkan buku yang kita berikan. sama dengan ee kami di Kemendikbud juga melakukan seperti itu, tetapi ee mereka memberikan atau menyalurkan bantuan buku ini kepada sekolah. Nah, ini memang kami inginnya apa yang sudah kami lakukan di pusat ee kemudian ini ditindaklanjuti oleh teman-teman di daerah. Bagaimana mungkin Bapak Pak Faturahman dari Dinas Perpustakaan ini juga mengawal bahwa ada berapa banyak desa di Jember yang kemudian menerima bantuan tersebut dan bagaimana pemanfaatannya, bagaimana kemudian mengadvokasi pengelola perpustakaannya untuk ee bisa memaksimalkan pemanfaatan dari koleksi ini, Pak. Jujur, Pak ee kami di pusat memang tangan kami tidak terlalu luas sehingga kami tidak bisa kemudian memantau sampai di unit-unit terkecilnya. Kebijakan yang kami lakukan adalah kebijakan yang bisa ber elaborasi dengan pemerintah baik itu di level provinsi dan kabupaten kota. Dan kami berharap sangat berharap sekali dengan ee teman-teman di Dinas Perpustakaan bagaimana juga ini menjalankan peran dan kewenangannya. Karena kita tahu bahwa salah satu penilaian indikator kinerja kunci pemerintah daerah, keberhasilan ee urusan perpustakaan itu punya poin dua, bagaimana peningkatan literasi masyarakat, indeks peningkatan pembangunan literasi masyarakat, dan kemudian tingkat kegemaran membaca masyarakat. Silakan ee dari teman-teman di Dinas Perpustakaan menterjemahkan ini sehingga kinerja pemerintahnya pemerintah daerahnya menjadi baik. Ketika indeks literasi, indeks pembangunan literasinya tinggi, kemudian tingkat kegemaran membacanya tinggi, otomatis juga penilaian terhadap kinerja pemerintah daerahnya juga tinggi. Kami berharap besar Pak Faturrahman dan kemudian ee rekan-rekan di Dinas Perpustakaan di daerah ini ikut andil. Jadi ee melakukan ee pengembangan dan pembinaan perpustakaan dan pengembangan ee kegemaran membaca di ee wilayah Bapak Ibu sekalian. Mungkin itu Pak Faturrahman. Baik, terima kasih Pak Fak Pak Fthurahman ya Pak ya Bapak terima kasih. Oke. Baik, sudah ada dua penanya tadi dan sudah dijawab semua oleh Bapak Nurhadi Saputra. Bapak sekali lagi kami ucapkan terima kasih karena sudah berkenan untuk mengisi materi ya menjadi pemateri pertama pada pagi hari ini di ASN Belajar seri 18 tahun 2025 ini. Dan ee kami doakan semoga besok sampai lusa acaranya bisa berjalan lancar ya, Pak ya, untuk hari buku nasionalnya. Amin. Amin. Terima kasih. Baik. Baik. Terima kasih sekali lagi Bapak Nurhari Saputra. Sampai bertemu lagi. Sehat selalu Bapak. Sehat. Sama-sama. Sehat-sehat selalu Bapak Ibu semua. Baik, itu tadi dia pemateri pertama kita pada pagi hari ini ya, Kepala Pusat Analis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca yaitu Bapak Nurhadi Saputra, Esos, M.Si. Dan selanjutnya ee tanpa berlama-lama lagi kita akan masuk ke segmen kedua. Di pemateri kedua pada pagi hari ini akan ada Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yaitu dengan Prof. untuk Ramah. Tapi sebelumnya kita akan menyaksikan terlebih dahulu untuk video yang satu ini. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] He. [Musik] Baik, Sobat ASN yang berada di seluruh Indonesia yang sekarang sudah bergabung di online bersama kita di Zoom Meeting maupun di YouTube channel. Eh, untuk pemateri kedua pada hari ini akan ada Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda, M.Si. Yaitu selaku Ketua Program Studi Magister Sains Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Erlangga. [Musik] Selamat pagi, Bu Rahma, ya. Selamat pagi, Mbak. Luar biasa sekali pagi hari ini saya bisa bertemu dengan Bu Rahma, ya, Bu. Baik, sama-sama. Baik. E kalau saya baca kurikulum VT-nya, Bu Rahma ini beberapa kali mengambil ee apa ini Bu namanya? Akademik ya. Mengambil akademik di beberapa jurusan ya. Ada S3 Pengembangan SDM sekolah pasca Sarjana UNER itu sampai sekarang ya Bu ya masih dijalani. Betul. Sampai sekarang dua kali S kesempatan mengajar. Iya. Siap. dan juga Ibu ini menulis beberapa buku. Betul ya, Bu ya? Iya. Luar biasa sekali. Baik, pada pagi hari ini materi yang akan dibawakan Bu Rahma yaitu buku membaca dan ASN. Iya. Baik, betul. Baik, Ibu Rahma langsung saja kami silakan untuk pemaparan materi kedua pada pagi hari ini. I. Baik, terima kasih. Ee yang saya hormati Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, S.MP. Ee yang saya hormati pula para narasumber Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas Republik Indonesia, Bapak Nuradi Saputra, Esos, M.Si. si demikian juga yang saya hormati ee editor buku pusat Perbukuan Kemendikdasmen Republik Indonesia Bapak eh Wijanaro, SSI, M.M. serta ee Bapak Ibu ASN yang telah hadir melalui Zoom pada hari ini. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera ee untuk kita semua. Eh, Bapak, Ibu, seperti yang telah disampaikan oleh Gote Speaker yaitu Kepala BBSDM Jawa Timur Bapak Dr. Ramli. Ee di era digital seperti saat ini buku dan aktivitas ee membaca mengalami perubahan dan transformasi yang luar biasa. Buku cetak bisa diubah menjadi e-book dan aktivitas membaca ee tidak lagi sebatas membaca buku cetak ya, tetapi kita bisa membaca ebook ya, bahkan membaca secara online melalui platform-platform digital ya, yang disediakan di internet ya. Perubahan-perubahan inilah yang berdampak pada sifat membaca dan bahkan fungsi buku cetak itu sendiri. membaca sudah tidak lagi sebagai aktivitas yang penuh makna mendalam pemahaman tidak secara ee mendalam pula seperti yang kita lakukan saat membaca buku cetak tentunya. Tetapi membaca saat ini lebih pada aktivitas yang ee disediakan oleh media yang terus-menerus berganti medianya. Jadi membaca bukan aktivitas yang dilakukan dengan fokus penuh gitu ya. membaca bukan aktivitas yang ee dibutuhkan waktu lama, tetapi bisa dilakukan dalam waktu yang relatif cepat ya sekilas dan dengan pemahaman yang sepotong-potong. Bahkan kita mungkin jika membaca ebook atau membaca online dari platform digital melalui internet, saya yakin pasti kita membaca secara scanning. Demikian juga para siswa ya, mahasiswa itu jika membaca digital sudah tidak lagi secara mendalam ya membaca sekilas-sekilas ya sepotong-potong sehingga pemahamannya tidak utuh. Nah, inilah yang saat ini menjadi persoalan di negara maju seperti yang Bapak Ibu baca di berbagai media ya. seperti yang dilakukan oleh pemerintah Swedia di antaranya itu ee Swedia memutuskan untuk mengubah sistem pendidikannya dengan kembali menggunakan buku cetak. Kenapa? Karena alasannya penggunaan media digital ya dengan melalui gawai yang dilakukan oleh anak-anak atau siswa justru dapat mengganggu fokus pada pelajaran ya. Nah, ini yang ee juga ditiru oleh negara-negara lain seperti Jerman ya ee Finlandia dan beberapa negara maju lainnya. Ini sudah mengubah mulai mengubah ee pendidikan ee yang berbasis digital di mana anak-anak itu ee bisa menggunakan gawai komputer untuk mencari informasi ya demi tugas mereka. tetapi ee pemerintah ee seperti Swedia, Jerman itu sudah mulai tidak lagi percaya gitu ya pada ee media digital karena dipandang ee penggunaan perangkat digital ini ee bisa mengubah atau meminimalisir pemahaman siswa pada apa yang dibacanya. Ya, dulu seperti Swedia itu optimis bahwa penggunaan perangkat digital bisa mengubah ya ee apa pendidikan karena media digital mudah diakses dan mempersiapkan para siswa menuju tuntutan digital pada abad 21. Namun ee ee apa yang dilakukan sejak tahun 2009 ya akhirnya ee negara ini memutuskan untuk mengganti ya ee apa buku-buku ebook ya dan perangkat digital dan diganti dengan ee ebook cetak dan bisa dipahami ee Swedia sekarang ini ee mempersiap siapkan sekitar 1,7 triliun ya untuk ee membeli buku-buku cetak yang siap dikoleksi oleh perpustakaan dan siap untuk dibaca siswa. Nah, kenapa ee negara-negara tersebut beralih ke buku cetak ya? Karena salah satunya adalah eh temuan PISA Program for International Student Assessment itu mengungkap bahwa ada korelasi erat antara penurunan pengetahuan siswa Swedia dan beberapa negara tersebut yang saya sebutkan dan penggunaan ponsel. Jadi sepertinya penggunaan ponsel ya, gadget itu malah untuk membaca, mencari informasi malah justru menurunkan pengetahuan para siswa. Nah, kalau dikaitkan dengan literasi tentunya ee sudah barang tentu karena ee penurunan pengetahuan terjadi maka literasi mereka juga akan menurun. Nah, ee perubahan-perubahan inilah yang menunjukkan pada kita bahwa buku cetak masih menjadi andalan untuk membangun masyarakat berpengetahuan. Ya, kenapa ya? Karena dengan buku cetak, orang bisa membaca secara mendalam ya, buku bisa dibawa ke mana-mana dan tentunya ee sudah pasti kita akan membaca mulai dari awal sampai akhir dan sudah barang tentu pemahaman kita akan lebih mendalam jika dibandingkan kalau kita membaca buku digital yang siap kita cari bagian-bagian yang kita butuhkan dan bagian itulah yang hanya kita ee dalami. Itu sebabnya kenapa ee pemerintah di negara-negara maju saat ini ee mulai memutuskan untuk mengubah sistem pendidikannya dan kembali menggunakan ee buku cetak. Ee next. Nah, kemudian ee masalahnya kita semua ini sebetulnya sepakat tentang manfaat buku dan membaca. Namun mengapa masih banyak klaim-klaim minat baca dan kegemaran membaca buku masyarakat di Indonesia masih rendah. ya ee kita bisa menyaksikan atau membaca mengikuti banyak ee media bahwa Indonesia itu di urutan kesekian dari bawah gitu ya dalam hal ee literasi gitu. Bahkan juga diakui minat baca dan kegemaran membaca masyarakat Indonesia masih kalah jauh daripada negara tetangga kita gitu ya. Nah, penyebabnya apa Bapak Ibu? sebetulnya banyak. Namun ada tiga hal penyebab. Ee mohon dibantu untuk ee selanjutnya ee screen selanjutnya ya. Penyebabnya ada tiga. Yang pertama tentu saja seperti yang saya katakan tadi bahwa perkembangan teknologi digital yang sangat luar biasa saat ini itu telah ee memupus minat dan kegemaran membaca kita ya. Terutama ketika kita semua ya tidak terkecuali orang dewasa ya. Anak-anak, orang dewasa tentu senang bermain game bahkan bermedia sosial. Ya, ini yang membuat perhatian kita atau minat kita membaca buku ini mulai terkikis. ya mungkin ee membaca buku dipandang ee bukan kegiatan yang menyenangkan dibanding kita bermain games atau bermedia sosial gitu ya, melakukan interaksi ee di di banyak WA grup misalnya begitu. Nah, itu yang pertama yang menjadi penyebab. Yang kedua ee yang menjadi penyebab adalah minat dan kegemaran membaca buku itu cenderung di Indonesia dibangun secara instan. Jadi, Bapak, Ibu, kita semua bisa menyaksikan ya ee sebenarnya pemerintah itu sudah ee mulai atau bahkan sudah sejak lama ee mensosialisasikan dan mengharapkan implementasi peningkatan literasi di seluruh bidang terutama di banyak sekolah ya. Tetapi saya pikir ee itu merupakan upaya-upaya yang cenderung instan dilakukan. Kenapa? Karena ketika mereka ee diminta untuk membaca di banyak sekolah sebetulnya itu dilakukan, mohon maaf menurut saya instan ya. bahkan ee dengan sebuah ee perintah gitu ya, dengan ada tugas tanpa dilandasi dengan fondasi ketika mereka masih
Resume
Categories