ASN Belajar Seri 18 | 2025 - Buku : Gerbang Ilmu-Jendela Kalbu
Uyb4zcRgZJc • 2025-05-15
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Hasen bua semangat
membara di era digital terus berkarya
berkolaborasi inisiatif
tinggi inovasi cemelak Jawa Timur terus
melaju bersama
PPSN Jatim kita terus melesat untuk
Indonesia emas prestasi hebat
[Musik]
ASNU tiada yang tertinggal no one left
behind kita terus
melangkah
berkolaborasi inisiatif
tinggi inovasi cemerlang Jawa Timur
terus terus
meltsp Jim kita terus melesat untuk
Indonesia emas prestasi hebat aset
unggur tiada yang
tertinggal no one left behind kita terus
melangkah
berkolaborasi inisiatif
tinggi inovasi Masih cemel Jawa Timur
terus
melaju. Bersama
BSDM Jatim kita terus melesar untuk
Indonesia emas prestasi hebat bersama
kampus satelit PP PSM Jatim no one left
behind. ASN unggul dan
berkualitas Melasa
tinggi Indonesia jaya
[Musik]
Yeah.
Bergerak, sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita
melangkah. Hadapi segala
tantangan. Tingkatkan setiap
kompetensi untuk pelayanan
berdampak. Bersama
ASN
belajar. Ciptakan SDM unggul
berprestasi.
selalu inisiatif dan
kolaboratif untuk inovasi yang
berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak
mulia siap menyongsong Indonesia emas.
[Musik]
ASM belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia satukan
tekad pantang
menyerah jadi ASN getar
berkualitas belajar
wujudkan
pemerintahan kelas
dunia tekad pantang
menyerah jadi
berkuit
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Om swastiastu. Namo
buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu.
Rahayu. Rahayu. Selamat pagi kepada yang
terhormat Kepala BPSDM Jawa Timur Bapak
Dr. Ramlianto,
S.P.Mp. Yang kami hormati para
narasumber, Kepala Pusat Analis
Perpustakaan dan Pengembangan Budaya
Baca, Bapak Nuradi Saputra, Esos, M.Si.,
Si. Ketua Program Studi Magister Sains
Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Erlangga. Prof. Dr. Rahma Sugiharti,
Dranda,
M.Si. Editor Buku Pusat Perbukuan
Kemendikdas, Bapak Wijanarko Adi
Nugroho, S.Si., M.M. serta Bapak, Ibu,
Sobat ASN di mana pun berada yang telah
bergabung dalam Zoom meeting maupun akun
YouTube BPSDM Jawa Timur TV dari seluruh
Indonesia. Kerja kelompok di rumah Caca.
Mengerjakan tugas dari Pak Iwan.
Jadi orang gemar membaca agar menambah
wawasan. Ye,
selamat pagi dan selamat bergabung
secara online dalam acara webinar seri
ke-18 tahun 2025 ASN Belajar dengan tema
buku gerbang ilmu jendela kalbu yang
dipersembahkan oleh BPSDM Jawa Timur.
Alhamdulillah puji syukur kehadirat
Tuhan yang maha esa karena atas
berkatnya kita semua pada hari ini
diberikan kesehatan sehingga dapat
berjumpa secara online pada hari Rabu 15
Mei 2025 bertempat di kantor BPSDM Jawa
Timur yang ada di Jalan Balongsaritama
Gadel Tandes Surabaya.
Dan yang pasti saya senang sekali pada
pagi hari ini Bapak Ibu, saya Yuri
Sabrina yang akan berkesempatan ya
menjadi moderator sekaligus saya akan
menemani Bapak Ibu dalam acara ASN
belajar pada pagi hari ini. Yang pasti
pada pagi hari ini ASN belajar akan
membahas tentang pentingnya membaca buku
sebagai bentuk pemahaman ilmu
pengetahuan dan spiritualitas.
Namun ternyata buku tidak hanya bisa
menambah dan memperdalam wawasan. Dari
buku kita juga akan bisa membentuk
karakter dan juga pandangan hidup agar
kita bisa hidup lebih bijaksana. Dan
mengingat bahwa 2 hari lagi kita akan
memperingati hari buku nasional yaitu
tepatnya pada tanggal 17 Mei 2025. Maka
ASN belajar kali ini juga diharapkan
dapat memberikan wawasan serta inspirasi
baru bagi peserta ASN belajar dalam
dunia pengetahuan dengan pendekatan yang
lebih mendalam dan reflektif sekaligus
mampu menjadi individu yang tidak hanya
cerdas secara intelektual tetapi juga
kaya secara spiritual. Selengkapnya akan
dibahas dalam webinar ASN Belajar 18
2025.
[Musik]
Bapak, Ibu mengingatkan untuk tidak lupa
mengisi absensi di Semesta Bangkom ya.
Jadi bisa langsung ke semesta Bangkom di
0821664461 ataupun juga di link webinar
yang sudah diberikan. Dan sebelumnya
Bapak Ibu saya ingin mempersilakan
terlebih dahulu untuk keynote speech
kita pada pagi hari ini yaitu Kepala
BPSDN Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto,
SP. MP. Kami silakan.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN
di seluruh tanah air, selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University, Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa
Timur. Hari ini, Kamis tanggal 15 Mei
2025, ASN Belajar telah memasuki seri
ke-18.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami, kami
selalu berkomitmen sekaligus terus
berikhtiar untuk menyajikan topik
pengembangan kompetensi yang menarik
bahkan kekinian dan tentu berdampak
secara nyata terhadap pengembangan
kompetensi dan kinerja aparatur sipil
negara di Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-18 tahun 2025 ini menyikan salah satu
topik dalam rangka turut serta
menyemarakkan pemikiran dalam momen Hari
Buku Nasional yang diperingati setiap
tanggal 17 Mei. Di mana pada tahun 2002
hari buku nasional pertama kali
dicetuskan oleh Prof. Abdul Malik Fajar,
Menteri Pendidikan Nasional saat itu
tanggal 17 Mei dipilih sebagai hari
istimewa karena bertepatan dengan momen
berdirinya Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia pada tahun
1980. Pemilihan tanggal ini menunjukkan
eratnya kaitan antara hari buku nasional
dengan upaya untuk mencerdaskan bangsa
melalui budaya membaca.
Karena itu, Sobat SN, SN belajar seri
ke-18 tahun 2025 ini mengangkat topik
buku gerbang ilmu jendela
kalbu. Nah, sudah menjadi tradisi
akademik dalam ASN belajar bahwa topik
menarik ini akan kita bahas secara
intensif dari beragam perspektif bersama
para narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sabat ASN di seluruh tanah air telah
terbukti secara historis bahwa buku
adalah saksi perjalanan akal budi
manusia dari zaman kegelapan menuju
pencerahan, dari ketidaktahuan menuju
kebijaksanaan yang melintasi batas
generasi dan peradaban.
telah terbukti secara historis bahwa
buku merupakan instrumen utama dalam
mentransmisikan pengetahuan, membangun
peradaban, dan menumbuh kembangkan
kesadaran kolektif umat manusia dari
zaman ke zaman. Dan juga telah terbukti
secara historis bahwa buku memainkan
peran sentral dalam menjaga integritas
ilmu pengetahuan. Bahkan ketika arus
informasi digital datang sili berganti,
buku tetap menjadi
mercing pencari kebenaran. Membaca buku
tentu bukan sekedar kegiatan mengisi
waktu senggang. Ia adalah proses
transendental jembatan antara
ketidaktahuan menuju pencerahan.
Lewat membaca, ilmu berpindah dari
generasi ke generasi, dari pikiran ke
pikiran, menembus sekat geografis dan
zaman. Dari buku-buku kuno yang ditulis
tangan hingga karya kontemporer yang
dicetak massal, semuanya menyimpan
warisan intelektual yang tak
ternilai. Di era teknologi informasi
yang serba cepat ini, kita memang
disuguhkan lautan data dan informasi
melalui layar. Namun tidak semua yang
tampil di gawai adalah kebenaran,
validitas dan kedalaman seringki menjadi
korban dari kecepatan. Di sinilah buku
tampil bukan sebagai lawan, melainkan
sebagai penyeimbang tempat informasi
diuji, dianalisis, dan disusun secara
sistematis dengan akurasi yang bisa
dipertanggungjawabkan.
Buku hadir tidak hanya sebagai sumber
ilmu, tetapi juga sebagai jendela kalbu.
Ia menyapa jiwa yang gelisah, memberi
arah pada mereka yang kehilangan
bijakan, dan menghidupkan
imajinasi pada mereka yang haus akan
makna. Buku-buku sastra, filsafat,
sejarah hingga sains bukan hanya
membentuk intelektualitas kita, tetapi
juga membangun empati, etika, dan
kepekaan
nurani. Oleh karena itu, dalam semangat
hari buku nasional ini, marilah kita
hidupkan kembali budaya literasi bukan
hanya dengan membaca, tapi juga menulis,
berdiskusi, dan membumikan
gagasan-gagasan kita lewat buku. Karena
bangsa yang besar adalah bangsa yang
membaca dan bangsa yang membaca adalah
bangsa yang mampu menulis masa depannya
sendiri dengan penuh kesadaran dan
kemuliaan. Buku mungkin tak bersuara,
namun nadanya menggema jauh di kedalaman
pikiran dan perasaan. Maka jangan
biarkan buku-buku kita terdiam di
rak-rak berdebu. Bukalah satu, bacalah
sejenak, dan biarkan ia menuntunmu
menembus batas ketidaktahuan menuju
cakrawala ilmu dan akhirnya ke jendela
kalbu. Sahabat ASN di seluruh tanah air,
lalu bagaimana ikhtiar kita agar buku
terus menjadi bagian tak terpisahkan
dari tumbuh kembang kita sebagai sumber
daya utama pembangunan bangsa. Nah,
untuk membahas cerdas dan tuntas topik
ini, kami telah mengundang dengan hormat
para narasumber luar biasa yang sudah
barang tentu sangat kompeten di
bidangnya. Kami menyampaikan terima
kasih dan apresiasi kepada para
narasumber hebat yang telah berkenan
hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat ASN di
seluruh tanah
air. Pertama kami menyampaikan terima
kasih kepada yang terhormat Bapak Nuradi
Saputra, Sos, M.Si. SI. Beliau adalah
Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan
Pengembangan Budaya Baca pada
Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia. Kedua, kami menyampaikan
terima kasih kepada yang terhormat Bapak
Wijanarko Adinugroho, S.Si., M.M. Beliau
adalah editor buku pada Pusat Perbukuan
Kementerian Pendidikan Dasar Menengah
Republik Indonesia. Dan ketiga, kami
menyampaikan terima kasih kepada Ibu
Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda,
M.Si. Beliau adalah Ketua Program Studi
Magister Sains Informasi dan
Perpustakaan Universitas Airlangga
Surabaya. Nah, Sobat ASN, mari kita
simak dengan seksama webinar ASN belajar
seri ke-18 tahun 2025. Semoga
bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Sobat ASN, baru saja kita saksikan
bersama, kita simak bersama kenote
speech yang sudah diberikan oleh Bapak
Dr. Ramlianto, Spaku Kepala BPSDM Jawa
Timur. tentunya dari kenote speech yang
diberikan oleh beliau ini bisa menjadi
acuan ya untuk mencapai tujuan dari
terselenggaranya webinar seri ke-18
tahun 2025 ini. Dan yang pasti harapan
kita bersama adalah acara ini dapat
berjalan dengan lancar hingga selesai
nanti. Amin. Amin ya rabbal alamin.
Baik, sebelum saya menyapa para
narasumber ya dan mempersilakan
narasumber pertama untuk memberikan
pemaparan materinya, saya akan
menyampaikan terlebih dahulu kepada
sobat ASN mengenai tata cara tanya jawab
serta interaksi yang bisa dilakukan
selama berjalannya acara. Yang pertama,
sesi tanya jawab atau diskusi nanti akan
dilakukan di akhir setiap pemaparan
narasumber. Kedua, penanya harap
menyebutkan identitas diri berupa nama
dan juga instansinya dari mana. Lalu
yang ketiga, sekali lagi kami
mengingatkan untuk jangan lupa link
absensi peserta yang sudah diberikan
bisa diisi di aplikasi semesta Bangkok.
Dan rasanya tidak perlu lama-lama lagi,
langsung saja kita akan memulai sesi
pertama webinar ASN Belajar seri 18
tahun 2025 hari ini dan sudah bergabung
bersama dengan kita secara online
narasumber kita pada hari ini. Yang
pertama adalah Kepala Pusat Analis
Perpustakaan dan Pengembangan Budaya
Baca Bapak Nurhadi Saputra, Esos, M.Si.
Kami silakan.
[Musik]
Bapak Nur hadir.
Selamat pagi.
Sehat, Pak? Alhamdulillah sehat.
Alhamdulillah. Bapak sudah siap pagi
hari ini untuk memberikan ee materi di
insyaallah sesi pertama ini. Siap ya,
Pak?
Ya. Baik, Sobat ASN sepertinya juga
sudah tidak sabar untuk menyimak materi
dari Pak Nurhah Saputra. Kalau begitu
langsung saja Pak Nur Hadihadi. Waktu
dan tempat kami persilakan.
Baik, terima kasih ee Mbak moderator.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, salam
sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto,
S.PMP. Ee serta Bapak, Ibu peserta
webinar ASN Belajar seri 18 dengan tema
buku gerbang Ilmu Jendela Kalbu.
Baik ee Bapak, Ibu, dan teman-teman dari
ASN seluruh
Indonesia. Tanggal 17 seperti yang
disampaikan oleh Bapak Kepala BPSDM
bahwa 17 Mei nanti adalah hari buku
nasional yang juga merupakan ee
peringatan hari jadinya Perpustakaan
Nasional.
ini adalah menjadi sebuah momentum ee
bagi perpustakaan nasional bagaimana
meningkatkan literasi di penjuru ee
negeri
ini. Baik, mungkin saya slide-nya saya
Oh, oke. Ee langsung
saja
next. Ee kita akan melihat bagaimana
kondisi literasi karena buku ini tidak
bisa menjauh dari literasi. Kondisi
literasi di Indonesia. Lanjut aja, Mas.
Mengapa literasi penting? Literasi
adalah pondasi semua proses belajar.
Tanpa literasi dasar, siswa akan
kesulitan memahami konten pelajaran. Ini
menurut pendapat Lee tahun
2024, literasi adalah kemampuan
berbanding lurus dengan keterampilan
berpikir kritis. Jadi, semakin literasi
siswa semakin baik kemampuan berpikir
logis dan analitis mereka.
Kemudian literasi juga penting dalam
peningkatan ee yang berdampak langsung
pada pencapaian akademik. Studi
menunjukkan korelasi positif atas antara
skor literasi dan prestasi akademik ee
lintas bidang. Kemudian juga literasi
memperkuat kesiapan menghadapi
kompleksitas zaman. Dalam era digital,
literasi membantu siswa memilah
informasi dan mengambil keputusan
berbasis bukti. Dan urgensi literasi
sejalan dengan pencapaian SDGIS keempat,
yaitu pendidikan yang berkualitas
mendukung capaian target 4.1 dan 4.6
tentang standar minimum kemampuan
literasi membaca dan liberasi
sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian
PPN BAPENAS
2024. Lanjut.
Ini adalah kondisi ee literasi khususnya
untuk siswa-siswi ee di
Indonesia pada studi PISA Program of
International Assessment Student
Assessment tahun 2022. Indikator
literasi membaca siswa yang ee usia 15
tahun itu mengalami penurunan dari skor
371 menjadi 359 di tahun 2022 dan ini
jauh di bawah rata-rata ee negara-negara
yang tergabung dalam OECD.
Kemudian juga pada rapor pendidikan
2024, indikator kemampuan ee literasi
murid bisa dilihat di paparan ini bahwa
memang hampir sebagian besar berada
dalam kategori
sedang dan ada satu yaitu di kategori
SMA kesetaraan mengalami ee kemampuan
literasinya
kurang.
Lanjut. Nah, ini adalah data dari BPS.
Berdasarkan data BPS tahun 2024,
rata-rata lama sekolah penduduk
Indonesia usia 15 tahun ke atas hanya
mencapai 9 ee 9,22 9 ee 22 tahun atau
sekitar setara jenjang
SMP dengan porsinya 10,20% yang
menyelesaikan pendidikan di perguruan
tinggi.
30,85% yang memiliki ijazah SMA atau
sederajat.
22,79% memiliki ijazah SMP,
24,72% memiliki hanya memiliki ijazah
SD. Dan kemudian juga banyak dari
lulusan pendidikan menengah yang tidak
memiliki keterampilan yang dibutuhkan
dunia kerja dan akhirnya menerima
pekerjaan bergaji rendah. ini
berdasarkan perhitungan Bank Dunia e
dari ee
Sakernas dan ee lebih dari 55% siswa
tidak mencapai kompetensi minimum dalam
literasi dan
matematika. Dan karena mereka berada
dalam sistem pendidikan vokasi dan
pendidikan tinggi, kurikulum yang
diajarkan cenderung tidak selaras dengan
kebutuhan pasar saat ini atau yang
dipersyaratkan elang industri. Inilah
jika kita melihat ee bagaimana
kondisi ee ee generasi muda bangsa ee
kita ini yang kemudian merasa kesulitan
untuk ee mereka bisa mendapatkan
pekerjaan. Lanjut saja.
Nah, ini adalah dampak literasi untuk
sosial ekonomi. Kita tahu bahwa ee
ketika literasi ini sangat minim, maka
banyak sekali dampak ee dampak yang
tidak baik yang akan kita
hadapi. Kompetensi dan upah yang rendah,
kemudian biaya tinggi untuk perbaikan
karakter, biaya tinggi untuk peningkatan
kesehatan, dan biaya tinggi untuk
mengatasi kriminalitas. Hal inilah yang
lazim terjadi ketika sebuah negara
mengalami ee literasi yang rendah. Dan
ketika kita mencapai nanti target kita
adalah kita bisa mencapai literasi yang
tinggi, maka kita berharap penurunan
angka kemiskinan dan pengurangan
kesenjangan ekonomi semakin kuat,
terbuka pilihan pekerjaan dan lebih
produktif, kemudian lebih banyak
terlibat dalam kegiatan komunitas dan
peningkatan kesejahteraan
individual. Lanjut.
Dalam perspektif ee kemiskinan dan
kesejahteraan, literasi ini mempunyai
peran penting. Karena kita lihat dalam
grafik gambar ini
bahwa kesejahteraan ee itu akan di
diperoleh oleh seseorang ketika mereka
menerima keadilan informasi. Ini dalam
perspektif perpustakaan nasional. Karena
kami melihat kemiskinan dan
kesejahteraan yang terjadi ini bukan
karena ketidakmampuan seseorang untuk ee
melakukan eksplorasi terhadap kemampuan
dirinya, tetapi lebih sering terjadi
mereka tidak mendapatkan informasi yang
cukup untuk apa yang bisa mereka
lakukan. Jadi kita kami melihat bahwa
ketika ee
seseorang kemudian bisa mendapat
keadilan informasi, kemudian juga
mendapat literasi yang cukup, maka kita
percaya bahwa orang tersebut mampu
mengembangkan ee kapasitas dirinya,
mampu ee berusaha untuk memperbaiki
kualitas hidupnya. Jadi menurut
kami literasi sangat erat bagaimana
meningkatkan kesejahteraan ee setiap
orang, keadaan materi seseorang dan
kemampuan akses informasi melalui
teknologi informasi komunikasi. Kemudian
ee ketidak tersediaan informasi yang
berkualitas dan kurangnya ases yang
dibutuhkan, ketidakmampuan orang dalam
mendapatkan informasi yang berguna
akibat pendidikan, pengalaman, dan
kontekstual. Inilah yang kemudian
menjadi penyebab kesejahteraan ini tidak
bisa ee terjadi di masyarakat kita.
Lanjut.
Literasi tidak sama dengan
informasi. Informasi adalah sekumpulan
data atau fakta yang telah diolah dan
disajikan sehingga memiliki makna,
nilai, dan pesan yang dapat dipahami
oleh penerima. Informasi dapat berupa
keterangan, pernyataan, gagasan atau
tanda-tanda yang mengandung nilai. makna
dan pesan baik dalam bentuk, data,
fakta, maupun penjelasan. Pesan yang
mempunyai arti bagi penerimanya dan
mempunyai nilai nyata yang dapat
digunakan untuk mengambil keputusan ee
saat itu atau masa yang akan
datang. Setiap individu memiliki
kebutuhan informasi yang berbeda-beda.
Tidak semua individu sama informasi yang
dibutuhkannya. Setiap informasi yang ada
digunakan untuk memecahkan masalah,
menambah wawasan, dan kebutuhan lainnya.
Fenomena ini dapat dianggap sebagai
pentingnya informasi bagi kehidupan ee
setiap
individu. Dalam kata lain, informasi
sebagai komoditas utama dalam kehidupan
sehari-hari. Kebutuhan informasi
merupakan tindakan individu dalam
memenuhi kekurangan pengetahuan tentang
informasi yang dibutuhkan.
Kekurangan pengetahuan tersebut
diselesaikan dengan mengakses informasi
kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan
kepuasan dan manfaat karena rasa ingin
tahunya telah
dipenuhi.
Lanjut. Ini kebutuhan informasi.
Kebutuhan informasi adalah kondisi yang
dirasakan oleh individu bahwa
pengetahuan yang dimilikinya tidak
memadai untuk menangani situasi dalam
konteks sosial, psikologis, dan
profesional.
Jadi ketika kita sebagai manusia
membutuhkan informasi ada ada tiga
faktor. Pertama adalah kebutuhan
fisiologis yaitu bagaimana kita
membutuhkan informasi untuk kebutuhan
primer yang bertujuan untuk memenuhi
fungsi-fungsi yang ada pada diri
individu. Misalnya kebutuhan sandang,
pangan, dan papan. Kemudian juga
kebutuhan kognitif, kebutuhan untuk
memenuhi pikiran melalui pembelajaran,
memperoleh ilmu dari pendidikan formal
ataupun nonformal. Ini seperti yang hari
ini kita lakukan. Bagaimana ee kegiatan
ini mampu menambah
ee informasi kepada kita menjadi sebuah
pengetahuan yang melalui ee pelatihan
webinar ini. Kemudian ada kebutuhan
afektif, pemenuhan kebutuhan individu
yang berkaitan dengan emosional.
misalnya informasi yang dibutuhkan untuk
memuaskan kesenangan
pribadi.
Lanjut. Untuk memperoleh informasi maka
kita harus
membaca. Situasi membaca dibagi menjadi
empat menurut OECD. Situasi personal ya
karena kita membaca untuk kesenangan dan
untuk pengembangan diri.
Kemudian situasi
edukasional membaca dilakukan untuk
belajar atau mencari informasi penunjang
pembelajaran dan kemudian situasi publik
membaca untuk memahami isu-isu sosial
atau berkontribusi dalam kehidupan
masyarakat dan situasi
okoposional membaca menjadi bagian dari
pelaksanaan tugas atau pekerjaan
tertentu.
Lanjut. Informasi dalam media.
Ya, seperti yang kita pahami bahwa
setiap dalam sejarah kehidupan manusia
bahwa setiap manusia mencoba
menyampaikan
pesan kepada manusia
lain. Ketika zaman sebelum adanya
ee pesan yang bisa di
dibawa, pesan-pesan itu disampaikan
melalui pahatan-pahatan di dalam setiap
gua yang ee purba.
Dan inilah sejarah pertama kali
bagaimana pesan itu di catat atau
dipahat atau di
di ditempatkan di sebuah media yang bisa
dibawa ke
mana-mana. Tahap pertama ketika buku
berkembang, kita akan melihat ada yang
namanya ee tablet tanah liat ee bangsa
Sumerian yang ada pada tahun 3500
sebelum Masehi. di
Mesopotamia. Jadi, tablet lilin bangsa
Sumeria ini adalah sebuah pondasi awal
cikal bakal pertama bagaimana pesan yang
dituliskan di dalam sebuah ee tablet
tanah liat yang merekam sejarah dan ee
hukum dan kemudian juga tata cara hidup
ee dari bangsa Sumeria. Bangsa Sumeria
diyakini sebagai bangsa pertama yang
menggunakan aksara paku atau simbol logo
fonetik, alfabet konsonan, dan suku kata
yang diukir ke dalam tablet tanah liat
yang dibiarkan mengering atau dibakar
dalam tungku untuk membuatnya bertahan
selama
mudir. Baik, tablet ee tanah liat bangsa
Sumeria ini
kemudian berganti. Next.
Selanjut
beralih ee kemudian menggunakan metode
gulungan
papirus. Papirus paling awal yang masih
ada yang berisi kata-kata tertulis di
sekitar 2.400 sebelum Masehi. ee berasal
dari Mesir. Mesir menggunakan bahan ini
selama ratusan tahun sebelum Yunani dan
Romawi akhirnya mengadopsi teknik ini.
Gulungan-gulungan ini digulung dan
sering dimasukkan ke dalam tabung kayu
untuk melindunginya. Dan buku-buku ini
diproduksi dengan merekatkan sejumlah
gulungan hingga panjang 10 m atau dalam
beberapa kasus bahkan lebih panjang ee
seperti sejarah ee raja Mesir Ramses 3
yang panjangnya sampai dengan 40 m.
Lanjut. Kemudian ee tadi setelah adanya
papirus maka dikenal namanya
perkamen. Perkamen itu ee ada sekitar
500 sampai dengan 200 sebelum masehi.
Perkamen adalah bahan tipis yang terbuat
dari kulit anak sapi, kulit domba, atau
bahkan kulit kambing. Perkamen muncul
akibat kelangkaan terhadap papirus.
Harga papirus naik karena tidak
seimbangnya antara kebutuhan papirus
dengan ketersediaan lahan pertanian.
Jadi kalau ee sebelumnya itu adalah
pohon ee papirus itu digunakan dari ee
sejenis padi-padian yang tumbuh kemudian
diolah menjadi sebuah ee media untuk
menuliskan pesan. Lanjut.
Setelah perkamen, maka teknik
penulisan dikenal namanya dengan tablet
lilin yang ditemukan 200 ee sebelum
tahun 200 sebelum Masehi. Dikembangkan
oleh orang Romawi dan Yunani. Tablet ini
pada dasarnya adalah balok kayu dengan
dilapisi lilin yang memungkinkannya
ditulis dengan menggunakan stylus dan
kemudian dihapus untuk digunakan
kembali. Tablet lilin ini seringki
disatukan dengan salah satu ujungnya ee
dengan tali seperti cincin untuk
membentuk e kodek yang yang bahasa Latin
aslinya tuh berarti kayu tapi kemudian
dikenal sebagai kumpulan halaman yang
dijilid. Jadi inilah sejarah ee pertama
kali media tulisan yang kemudian
dijilid. Walaupun sebenarnya dengan kata
kodek itu aslinya adalah
kayu. Kodek menjadi sangat populer di
seluruh Eropa menggantikan gulungan yang
sebelumnya. Ee ketika zaman Papirus
kemudian zaman perkamen itu semua
menggunakan gulungan, maka di ketika
dimulainya adanya e era tablet lilin ini
beralih menjadi ee
penjilitan.
Lanjut kertas. Ee kemudian era kertas.
Jadi setelah ee itu kita akan memasuki
fase era kertas yaitu tahun 105 Masehi.
Cirun seorang Kasim istana menemukan
pembuatan kertas untuk menulis dan
menggunakan kombinasi buah murbei, kulit
kayu, rami, kain tua, dan bahkan
menggunakan jari ikan untuk membuat
bubur kertas.
868 Masehi. Buku pertama dicetak di atas
kertas di Cina menggunakan balok kayu
yang memiliki karakter yang diukir dalam
relif terbalik. Tinta kemudian
ditempatkan di atas balok kayu untuk
membuat cetakan di atas kertas.
Lanjut. Ini adalah ee kitab Gutenberg.
Kitab Gutenberg dianggap sebagai sebuah
revolusi bagaimana buku ini diciptakan.
tahun 1455 buku besar pertama yang
dicetak menggunakan mesin cetak
Gutenberg dan menandai dimulainya
revolusi Gutenberg. Mungkin selama ini
kita tahu bahwa
eh penerbitan buku pertama adalah
penerbitan yang dilakukan oleh eh
Gutenberg dan inilah sebenarnya
Gutenberg hanya menerbitkan Alkitab eh
42 baris adalah versi terjemahan kitab
suci dalam bahasa Latin yang dikerjakan
oleh Yohannes Gutenberg. ada sekitar 180
salinan aktivitas Gutenberg yang
diproduksi dengan 135 di antaranya
dibuat pada kertas dan 45 pada velum
atau ee kulit
hewan. Lanjut.
Kemudian ee di tahun
ketika komputer sudah
ee mulai mer ee mulai ada, maka pertama
kali buku yang ee dituang dalam apa yang
terekam dalam compact disk itu
adalah The New Groller Electronic
Encyclopedia yang diterbitkan kan oleh
penerbit ee terbesar di Amerika Serikat.
Dan sejak itu ee buku ini ee menjadi
buku yang paling banyak dicari ee karena
merupakan buku pertama yang diterbitkan
secara digital dalam bentuk compact dis.
Tapi pada kelanjutannya komplek di sini
tidak tidak lagi menjadi sebuah ee buku
yang bisa dibaca, tetapi menjadi sebuah
buku audio. Buku audio. Buku audio
adalah buku yang ee di yang didengarkan
oleh
ee oleh kita ketika kita ketika kita
akan membaca buku, kita tidak lagi
membaca tapi mendengarkan audiobook yang
ada di dalam compact
dising.
Lanjut. Kemudian di tahun eh
190 sebenarnya ebook e sudah diproduksi
e dalam proyek Genberg. yaitu upaya
mendigitalkan dan mengarsifkan karya
budaya ee yang kategorinya adalah public
domain. Namun baru pergantian abad 21
format ini tersedia secara umum dan
diterima sebagai format penerbitan.
Novel karya Stephen King berjudul Riding
The Ballet tahun 2000 menjadi buku
elektronik yang pertama dipasarkan
secara massal. Dalam waktu 24 jam
pertama rilis terjual lebih dari 400.000
ribu eksemplar yang merusak server
penerbit dan menyebabkan penggemar harus
menunggu berjam-jam sebelum mereka dapat
mengunduh
salinannya. Lanjut.
Nah, ini kemudian
media penyampaian pesan atau tulisan ini
kemudian beralih ee dengan adanya Kindle
yang yang dirilis oleh
Amazon ee merupakan sebuah perangkat
pembaca ebook pertama yang dirilis pada
tanggal 19 November
2007. Kindle terjual habis dalam waktu
5,5 jam dan tetap kehabisan stok hingga
akhir April 2008.
Hindle generasi pertama ini memiliki
layar 6 inch dengan tampilan skala
abu-abu 4 tingkat dan menyimpan 250
MB yang cukup untuk menyimpan 200 judul
tanpa ilustrasi dan memiliki slot ee
kartu memori SD card. Lanjut.
Ya, ini ee buku mempunyai peran penting
dalam penyebaran ilmu pengetahuan karena
menjadi media transformasi dan penyebar
luasan informasi yang dapat menembus
batas geografis. Buku juga melestarikan
pengetahuan dan budaya, menjadi sumber
referensi dan mendukung perkembangan
intelektual serta emosional. Inilah yang
kemudian
ee menjadikan
perpustakaan sebagai sebuah institusi
yang melestarikan ilmu pengetahuan di
mana buku-buku disimpan kemudian dirawat
ee kemudian diolah dan kemudian
dialiidiakan sehingga bisa di gunakan
oleh generasi yang akan datang.
perpustakaan untuk saat ini dari sisi
pemerintahan khususnya dalam
Undang-Undang ee 23 tahun 2014, urusan
perpustakaan merupakan urusan wajib non
pelayanan dasar yaitu urusan yang wajib
dilaksanakan oleh setiap pemerintah
daerah baik di level provinsi dan
kabupaten kota ini menjadi sebuah
ee sebuah kewajiban bagi pemerintah
daerah untuk menyelenggarakan
perpustakaan
menyelenggarakan perpustakaan, merawat
semua khanah budaya bangsa sehingga
bangsa kita tetap
terjaga baik itu ilmu pengetahuan dan
kebudayaannya dan bisa di ee turunkan
kepada anak cucu kita. Baik, mungkin itu
saja menutup ee paparan saya. Saya
membaca
quote. Ada kejahatan yang lebih kejam
daripada membakar buku. Salah satunya
adalah tidak membacanya menurut Josep
Brki. Mungkin itu saja eh mungkin eh
dilanjutkan dengan tanya jawab. Terima
kasih. Wabillahi taufik walhidayah.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
Menarik sekali Pak Nuradi Saputra
pemaparan materinya saya jadi banyak
belajar ternyata sejarahnya terbuat
terbuatnya buku itu begitu ya sampai
akhirnya di zaman modern ini sudah mulai
banyak yang ee digital ya Pak ya gitu.
Nah, untuk sobat ASN yang sudah menyimak
pemaparan materi pertama dari Bapak
Nurhari Saputra, silakan ee bisa rais
hand ataupun kalau memungkinkan tidak
memungkinkan untuk on cam ya bisa chat
saja di kolom chat nanti akan saya bantu
bacakan. Apakah sudah ada pertanyaan
dari sobat ASN yang hadir pada pagi hari
ini? Kita coba cek.
Oke, sekali lagi untuk sobat ASN yang
ingin bertanya kepada narasumber pertama
kita pada pagi hari ini. Oke, baik.
Sudah ada ternyata sepertinya. Selamat
pagi Bapak
Joko. Iya, belum di-unmute seetulnya.
Mohon waktu, Bapak.
Oke, sudah ada satu penanya pada pagi
hari ini, Bapak
Joko Kusma Renoto
NH dari Singosari Malang. Baik, terima
kasih.
Silakan Bapak. Terima kasih. Selamat
pagi. Semangat pagi semuanya.
Terima kasih pada materi yang telah
disampaikan oleh Pakeri tadi. Saya
mengikuti paparan dari ee Bapak tadi.
Namun izin saya ingin bertanya, kenapa
proses ee yang disebut dengan
suhuf-suhuf di zaman Nabi Ibrahim itu
jauh sebelum Masehi. Kemudian zaman ee
abad
ke600-an di zaman pembukuan Al-Qur'an
itu sampai ada mushaf Utsmani itu kan
juga merupakan
pencaratan. Ee tadi sayaat Bapak belum
mencantum itu, Pak.
Padahal itu fakta sejarah yang sampai
sekarang masih bisa kita lihat
otentikasinya
di zaman itu sudah ada dilakukan proses
itu. Itu yang pertama. Mengapa itu
disampaikan? Yang kedua berkaitan dengan
buku yang ada ini. Kebetulan saya dulu
pernah jadi ee petugas ya perpustakaan
gitu, Pak. Ya, lama sudah perpustakaan.
Memang ee minat baca masyarakat umumnya
agensi di saat ini sangat kurang di
dalam membaca buku tetapi mereka sangat
tinggi di dalam membaca medsos seperti
WhatsApp dan lain sebagainya.
itu bagaimana menyikapi
perubahan minat baca
Genzi di mana menurunnya membaca buku
tapi meningkatnya membaca mereka di
berbagai medsos yang ada. Apakah memang
ini satu proses perbaikan atau
kemunduran? Ya, Pak. Demikian, Pak.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah. Saya
langsung jawab ee moderator.
Silakan Bapak. Silakan Bapak. Langsung
dijawab saja dulu.
Baik, Pak I. Baik, Pak Joko. Tadi
mungkin Pak Joko sampaikan ee ketika
zuhub-zuhuf ini tidak masuk ke dalam ee
paparan saya. Memang, Pak, apa yang saya
paparkan ini hanya ee momentum ketika
setiap memang
ee data yang dihasilkan oleh peneliti
yang sebelumnya. Jadi memang tadi ee
kalau ee diperkirakan Pak ketika zaman
Nabi Ibrahim
itu mungkin media yang dipakai adalah ee
media
papirus. Tapi ini juga ee belum kami
belum bisa memastikan itu, Pak. Tetapi
memang kalau mengingat dengan ee kurun
waktunya, maka di zaman Nabi Ibrahim itu
kemungkinan besar media yang dipakai
adalah papirus.
Dan mohon maaf mungkin ee sampai saat
ini belum ada pembuktian akademis
terkait dengan ee zuhub-zuhub tersebut
gitu, Pak. Jadi memang tadi ketika kita
bicara ada tablet tanah liat, kemudian
ada papirus, kemudian ada lanjut lagi
Perkamen, kemudian berlanjut-berlanjut
lagi itu adalah
ee media-media yang pertama kali ee
digunakan atau ditemukan ya
berdasarkan yang kemudian juga tadi yang
Bapak sampaikan bagaimana ketika
sekarang
tren ee ee yang beralih dari yang
tadinya membaca secara
baik baik. Eh, untuk pertanyaan dari Pak
Joko mungkin kita bisa hold dulu ya
karena ada kendala teknis dari tempat
Bapak Nur Hadi Saputra mungkin.
Oke. Baik, sudah sepertinya. Baik, Bapak
Nurhah Hadi bisa. Iya, mohon maaf saya.
Halo.
Iya, Pak. Iya, mohon maaf saya terlempar
tadi kayaknya sinyalnya kurang bagus.
Siap, Bapak. Silakan dilanjutkan. Baik.
E tadi melanjutkan ee ee Pak Joko
sekarang ini memang peralihan trennya
dari membaca konvensional kemudian ke
arah digital. Ini hampir sebagian besar
Genzi yang mungkin kita temui bahwa
mereka lebih nyaman terhadap perangkat
digital untuk membaca informasi, membaca
ee pesan-pesan yang disampaikan. Pada
prinsipnya kalau dari kami ee itu tidak
masalah, Pak. Karena memang ee perbedaan
generasi ini juga membuat
ada perbedaan metode ee dan setiap orang
saya yakin juga akan berbeda
kenyamanannya. Apakah itu membaca secara
ee cetak yaitu buku atau membaca ee
secara
digital. Tapi intinya silakan ee Bapak,
Ibu, dan siapapun itu ketika membaca dan
itu memang bisa menambah pengetahuan
kepada Bapak, Ibu. Untuk perpustakaan
sendiri, kami juga sudah menyediakan
layanan yang ee berbentuk digital dan
tetap mempertahankan layanan yang
konvensional. Jadi silakan saja mana ee
yang lebih nyamannya. Tapi perlu
dipahami juga ketika kita membaca
digital ini yang sering kami temukan
bahwa ee hasil survei yang kami lakukan
ternyata ada titik jenuh. ada titik
jenuh baik itu kelelahan secara fisik
misalnya mata dan segala macam ketika
membaca ee secara digital. Inilah yang
seringki ee ketika membaca digital itu
ee kita tidak memahami secara penuh
pesan atau informasi yang disampaikan.
Beda dengan buku. Tapi kembali lagi
yaitu kembali terhadap ee ee orang
tersebut lebih nyamannya ee menggunakan
media apa
ee silakan tapi yang penting teruslah
membaca dan teruslah menambah informasi
dan pengetahuan untuk menambah kemampuan
kompetensi diri sendiri. Mungkin itu Pak
Joko,
Pak. tadi ee Bapak Musinggung di dalam
proses penulisan literasi Al-Qur'an dari
yang awalnya dari kulit
tulang-tulang disatukan dalam satu
mushaf di zaman Khalifah Utsman bin
Affan itu tadi adalah satu karya
fenomenal yang luar biasa yang
utentifikasinya sampai dengan sekarang
ini masih terjaga, Pak. Jadi kalau yang
lain, teori-teori yang lain mungkin bisa
berubah, tetapi yang ditulis di kitab
Al-Qur'an itu hingga akhir zaman tidak
akan berubah. Itu mohon kiranya nanti
bisa disampaikan sebagai satu proses
yang luar biasa peralian dari ee
kulit-kulit unta, tulang-tulang, mungkin
pohon dan sebagainya ke dalam satu ee
satu mushaf gitu. Itu aja. Terima kasih.
Iya. Baik, Pak. Karena memang itu, Pak.
Jadi musaf itu ketika menuliskan di
kulit ee pada kenyataannya kulit itu
sudah digunakan sebagai media tulis jauh
sebelum Al-Qur'an ada. Walaupun pada
kita ketika kita melihat ee fase
penulisannya atau ee ini yang tidak apa
namanya penulisan Al-Qur'an itu
merupakan sebuah ee sejarah besar
bagaimana kemudian peralihan-peralihan
ini sampai kemudian ke media yang modern
ini tidak ada perubahan secara isi.
Tetapi secara penggunaan material atau
media penulisan ini ee perkamen dan
kemudian ee apa namanya ee papirus itu
sudah digunakan sebelum adanya
Al-Qur'an, Pak. Iya. Karena tadi saya
lihat ada Papirus menggunakan ee tanah
liat, Pak. Ya. Tapi ada juga menggunakan
batu, Pak. Batuis batu tadi. Iya, betul.
Oke, Pak. Terima kasih. Terima kasih
informasinya. Semangat pagi. Baik, Pak.
Terima kasih Bapak Joko. Luar biasa
insight-nya. Terima kasih. Baik, untuk
penanya selanjutnya apakah sudah ada?
Kita akan buka untuk dua penanya pada
sesi pertama pagi hari ini. Silakan
apakah ada yang sudah rais hand atau
mungkin mengetikkan chat di kolom chat
nanti ee akan saya bantu untuk bacakan.
Oke, penanya kedua di materi pertama
yang sudah disampaikan oleh Bapak Nurhah
Saputra, Sos, M.Si. selaku Kepala Pusat
Analisis Perpustakaan dan Pengembangan
Budaya Baca. Baik. Oke, terima kasih.
Sepertinya tidak ada lagi yang rais
hand. Pak Nurhadi Saputra terima kasih
banyak sudah berkenan untuk memaparkan
materi yang pertama pada pagi hari ini,
Bapak. Apakah habis ini Bapak akan ada
kegiatan selanjutnya?
Iya. Iya. Mis ini kebetulan kami sedang
mempersiapkan ee beberapa rangkaian
acara agenda acara menyambut hari buku
dan kemudian hari juga HUD ee
Perpustakaan Nasional. Insyaallah
tanggal 7, 16 Mei besok ini merupakan
hari puncak. Jadi karena tanggal 17
Meiya itu hari Minggu, hari Sabtu ya,
hari Sabtu. Jadi kita majukan besok
untuk ee beberapa agenda kegiatan
walaupun tetap tanggal 17-nya tetap ada
acara di ee gedung utama kami di Medan
Merdeka Selatan. Baik. Oh, Pak, ternyata
masih ada satu pertanyaan. Masih bisa,
Pak, ya, untuk dijawab, ya, ya. Oke.
Baik, silakan untuk penanya selanjutnya.
Selamat pagi
Bapak Fathur Rahman dari
Jember ya, Pak ya. Ya, silakan Bapak
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatumsalam warahmatullah.
Makasih Pak
Nur ee paparannya keadi ini. Saya
Fadhurahman dari Pustakawan dari Dinas
Perpustakaan Jember.
Oh, baikur, Pak.
Baik, Bapak.
Enggih. Saya sebetulnya sangat miris
mungkin dengan
kondisi apa minat baca masyarakat ya.
Tapi kalau kita ambil pelajarannya, saya
mengambil dari akar masalahnya, Pak.
Baik. Contohnya kalau dipus menjadi
contoh Bapak dan Ibu guru. Selama ini
mungkin ee Bapak dan Ibu guru bukan
menjadi penikmat setia dari sebuah buku
dari jendela ilmu itu. mungkin juga di
ee perpustakaan khusus di kantor, di
instansi ya kan itu minimal ada rak buku
ataupun perpustakaan mini di setiap atau
perpustakaan khusus di setiap lembaga
dan ee itu tidak diberikan contoh oleh
para pengambil kebijakan, para pejabat
di sana tidak membiasakan diri. Saya
katakan pembiasaan, Pak. Nah, mungkinkah
ada strategi ataupun pemantik ee inovasi
bagaimana Perpustakaan Nasional
memancing inovasi yang lebih radikal,
Pak? Supaya para para yang harusnya
menjadi teladan itu apa
namanya? Membiasakan. Jadi pola
pembiasaan itu menurut kami lebih
penting daripada apa namanya motivasi.
Sekadar motivasi. Jadi pembiasaan itu
saya belajar dari dulu turunnya perintah
iqra, perintah membaca. Baginda Nabi
pada waktu turunnya Iqra itu adalah
langsung diperintah, Pak. Jadi mungkin
selama
ini harus ada pola pembiasaan selama ini
untuk para pengambil kebijakan dan yang
harusnya menjadi teladan itu menj apa
membiasakan diri akhirnya dicontoh oleh
anak didiknya, oleh karyawan di bawahnya
ataupun oleh peserta didik yang menjadi
ee ee binaannya. Mungkin Perpusnas ada
apa pemantik inovasi. bagaimana strategi
supaya inovasi pembiasaan ini muncul.
Matur nuwun. Terima kasih. Cukup itu
saja, Pak. Iya. Baik, Pak Faturrahman.
Mungkin ee sedikit menanggapi memang,
Pak kami di Perpustakaan Nasional juga
ada batasan-batasan di mana kami
bisa memunculkan atau meregulasi atau
yang bisa diadaptasi langsung kepada
misalnya pemerintah daerah. Kalau tadi
Bapak sampaikan bagaimana guru bisa
mencontohkan kepada siswa-siswinya, ya
kami tidak bisa ee sifatnya instruksi,
tapi kami akan menggandeng ee dengan
Kemendik ee Kemendikbud. Jadi beberapa
program kegiatan dalam peningkatan
literasi yang ee di sekolah sudah kita
lakukan dengan apa bersama dengan
Kemendikbud. termasuk juga bagaimana
memenuhi kebutuhan buku ee bagi siswa ee
sekolah dan kemudian ee anak-anak yang
ada di luar yang di jadi antara
Perpustakaan Nasional dengan Kemendikbud
tahun 2024 kemarin sudah menyalurkan
sekitar 10 juta buku. Kalau untuk
Perpustakaan Nasional sendiri ada 10
juta buku yang kita berikan kepada
perpustakaan desa di seluruh Indonesia.
setiap desa itu akan mendapatkan 1000
buku dan ini memang ee kita lakukan
bagaimana mendekatkan buku kepada
masyarakat. Nah, ini juga kita berikan
pelatihan kepada ee pengelola
perpustakaan desanya, bagaimana mereka
bisa mengajak anak-anak di sekitarnya
untuk kemudian berkunjung dan
memanfaatkan buku yang kita berikan.
sama dengan ee kami di Kemendikbud juga
melakukan seperti itu, tetapi ee mereka
memberikan atau menyalurkan bantuan buku
ini kepada sekolah. Nah, ini memang kami
inginnya apa yang sudah kami lakukan di
pusat ee kemudian ini ditindaklanjuti
oleh teman-teman di daerah. Bagaimana
mungkin Bapak Pak Faturahman dari Dinas
Perpustakaan ini juga mengawal bahwa ada
berapa banyak desa di Jember yang
kemudian menerima bantuan tersebut dan
bagaimana pemanfaatannya, bagaimana
kemudian mengadvokasi pengelola
perpustakaannya untuk ee bisa
memaksimalkan pemanfaatan dari koleksi
ini, Pak. Jujur, Pak ee kami di pusat
memang tangan kami tidak terlalu luas
sehingga kami tidak bisa kemudian
memantau sampai di unit-unit
terkecilnya. Kebijakan yang kami lakukan
adalah kebijakan yang bisa ber elaborasi
dengan pemerintah baik itu di level
provinsi dan kabupaten kota. Dan kami
berharap sangat berharap sekali dengan
ee teman-teman di Dinas Perpustakaan
bagaimana juga ini menjalankan peran dan
kewenangannya. Karena kita tahu bahwa
salah satu penilaian indikator kinerja
kunci pemerintah daerah, keberhasilan ee
urusan perpustakaan itu punya poin dua,
bagaimana peningkatan literasi
masyarakat, indeks peningkatan
pembangunan literasi masyarakat, dan
kemudian tingkat kegemaran membaca
masyarakat. Silakan ee dari teman-teman
di Dinas Perpustakaan menterjemahkan ini
sehingga kinerja pemerintahnya
pemerintah daerahnya menjadi baik.
Ketika indeks literasi, indeks
pembangunan literasinya tinggi, kemudian
tingkat kegemaran membacanya tinggi,
otomatis juga penilaian terhadap kinerja
pemerintah daerahnya juga tinggi. Kami
berharap besar Pak Faturrahman dan
kemudian ee rekan-rekan di Dinas
Perpustakaan di daerah ini ikut andil.
Jadi ee melakukan ee pengembangan dan
pembinaan perpustakaan
dan pengembangan ee kegemaran membaca di
ee wilayah Bapak Ibu sekalian. Mungkin
itu Pak Faturrahman.
Baik, terima kasih Pak Fak Pak
Fthurahman ya Pak ya Bapak terima
kasih. Oke. Baik, sudah ada dua penanya
tadi dan sudah dijawab semua oleh Bapak
Nurhadi Saputra. Bapak sekali lagi kami
ucapkan terima kasih karena sudah
berkenan untuk mengisi materi ya menjadi
pemateri pertama pada pagi hari ini di
ASN Belajar seri 18 tahun 2025 ini. Dan
ee kami doakan semoga besok sampai lusa
acaranya bisa berjalan lancar ya, Pak
ya, untuk hari buku nasionalnya. Amin.
Amin. Terima kasih. Baik. Baik. Terima
kasih sekali lagi Bapak Nurhari Saputra.
Sampai bertemu lagi. Sehat selalu Bapak.
Sehat. Sama-sama. Sehat-sehat selalu
Bapak Ibu semua.
Baik, itu tadi dia pemateri pertama kita
pada pagi hari ini ya, Kepala Pusat
Analis Perpustakaan dan Pengembangan
Budaya Baca yaitu Bapak Nurhadi Saputra,
Esos, M.Si. Dan
selanjutnya ee tanpa berlama-lama lagi
kita akan masuk ke segmen kedua. Di
pemateri kedua pada pagi hari ini akan
ada Ketua Program Studi Magister Sains
Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Airlangga yaitu dengan Prof. untuk
Ramah. Tapi sebelumnya kita akan
menyaksikan terlebih dahulu untuk video
yang satu ini.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
He.
[Musik]
Baik, Sobat ASN yang berada di seluruh
Indonesia yang sekarang sudah bergabung
di online bersama kita di Zoom Meeting
maupun di YouTube channel. Eh, untuk
pemateri kedua pada hari ini akan ada
Prof. Dr. Rahma Sugihartati, Dranda,
M.Si. Yaitu selaku Ketua Program Studi
Magister Sains Informasi dan
Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Erlangga.
[Musik]
Selamat pagi, Bu Rahma,
ya. Selamat pagi, Mbak. Luar biasa
sekali pagi hari ini saya bisa bertemu
dengan Bu Rahma, ya, Bu.
Baik, sama-sama. Baik. E kalau saya baca
kurikulum VT-nya, Bu Rahma ini beberapa
kali mengambil ee apa ini Bu namanya?
Akademik ya. Mengambil akademik di
beberapa jurusan ya. Ada S3 Pengembangan
SDM sekolah pasca Sarjana UNER itu
sampai sekarang ya Bu ya masih dijalani.
Betul. Sampai sekarang dua kali S
kesempatan mengajar. Iya. Siap. dan juga
Ibu ini menulis beberapa buku. Betul ya,
Bu ya?
Iya. Luar biasa sekali. Baik, pada pagi
hari ini materi yang akan dibawakan Bu
Rahma yaitu buku membaca dan ASN.
Iya. Baik, betul. Baik, Ibu Rahma
langsung saja kami silakan untuk
pemaparan materi kedua pada pagi hari
ini. I. Baik, terima kasih. Ee yang saya
hormati Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur
Bapak Dr. Ramlianto,
S.MP. Ee yang saya hormati pula para
narasumber Kepala Pusat Analisis
Perpustakaan dan Pengembangan Budaya
Baca Perpusnas Republik Indonesia, Bapak
Nuradi Saputra, Esos, M.Si. si demikian
juga yang saya hormati ee editor buku
pusat Perbukuan
Kemendikdasmen Republik Indonesia Bapak
eh
Wijanaro, SSI, M.M. serta ee Bapak Ibu
ASN yang telah hadir melalui Zoom pada
hari ini. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi, salam
sejahtera ee untuk kita semua. Eh,
Bapak, Ibu, seperti yang telah
disampaikan oleh Gote Speaker yaitu
Kepala BBSDM Jawa Timur Bapak Dr. Ramli.
Ee di era digital seperti saat ini buku
dan aktivitas ee membaca mengalami
perubahan dan transformasi yang luar
biasa. Buku cetak bisa diubah menjadi
e-book dan aktivitas membaca ee tidak
lagi
sebatas membaca buku cetak ya, tetapi
kita bisa membaca ebook ya, bahkan
membaca secara online melalui
platform-platform digital ya, yang
disediakan di internet ya.
Perubahan-perubahan inilah yang
berdampak pada sifat membaca dan bahkan
fungsi buku cetak itu sendiri. membaca
sudah tidak lagi sebagai aktivitas yang
penuh makna mendalam pemahaman tidak
secara ee mendalam pula seperti yang
kita lakukan saat membaca buku cetak
tentunya. Tetapi membaca saat ini lebih
pada aktivitas yang ee disediakan oleh
media yang terus-menerus berganti
medianya. Jadi membaca bukan aktivitas
yang dilakukan dengan fokus penuh gitu
ya. membaca bukan aktivitas yang ee
dibutuhkan waktu lama, tetapi bisa
dilakukan dalam waktu yang relatif cepat
ya sekilas dan dengan pemahaman yang
sepotong-potong. Bahkan kita mungkin
jika membaca ebook atau membaca online
dari
platform digital melalui internet, saya
yakin pasti kita membaca secara
scanning. Demikian juga para siswa ya,
mahasiswa itu jika membaca digital sudah
tidak lagi secara mendalam ya membaca
sekilas-sekilas ya sepotong-potong
sehingga pemahamannya tidak utuh. Nah,
inilah yang saat ini menjadi persoalan
di negara maju seperti yang Bapak Ibu
baca di berbagai media ya. seperti yang
dilakukan oleh pemerintah Swedia di
antaranya itu ee Swedia memutuskan untuk
mengubah sistem pendidikannya dengan
kembali menggunakan buku cetak. Kenapa?
Karena alasannya penggunaan media
digital ya dengan melalui gawai yang
dilakukan oleh anak-anak atau siswa
justru dapat mengganggu fokus pada
pelajaran ya. Nah, ini yang ee juga
ditiru oleh negara-negara lain seperti
Jerman ya ee Finlandia dan beberapa
negara maju lainnya. Ini sudah mengubah
mulai mengubah ee pendidikan ee yang
berbasis digital di mana anak-anak itu
ee bisa menggunakan gawai komputer untuk
mencari informasi ya demi tugas mereka.
tetapi ee pemerintah ee seperti Swedia,
Jerman itu sudah mulai tidak lagi
percaya gitu ya pada
ee media digital karena dipandang ee
penggunaan perangkat digital ini ee bisa
mengubah atau meminimalisir pemahaman
siswa pada apa yang dibacanya.
Ya, dulu seperti Swedia itu optimis
bahwa penggunaan perangkat digital bisa
mengubah ya
ee apa pendidikan karena media digital
mudah diakses dan mempersiapkan para
siswa menuju tuntutan digital pada abad
21.
Namun ee ee apa yang dilakukan sejak
tahun 2009 ya akhirnya ee negara ini
memutuskan untuk mengganti ya ee apa
buku-buku ebook ya dan perangkat digital
dan diganti dengan ee ebook cetak dan
bisa dipahami ee Swedia sekarang ini
ee mempersiap siapkan sekitar
1,7 triliun ya untuk ee membeli
buku-buku cetak yang
siap dikoleksi oleh perpustakaan dan
siap untuk dibaca siswa.
Nah, kenapa ee negara-negara tersebut
beralih ke buku cetak ya? Karena salah
satunya adalah eh temuan PISA Program
for International Student Assessment itu
mengungkap bahwa ada korelasi erat
antara penurunan pengetahuan siswa
Swedia dan beberapa negara tersebut yang
saya sebutkan dan penggunaan ponsel.
Jadi sepertinya penggunaan ponsel ya,
gadget itu malah untuk membaca, mencari
informasi malah justru menurunkan
pengetahuan para siswa. Nah, kalau
dikaitkan dengan literasi tentunya ee
sudah barang tentu karena ee penurunan
pengetahuan terjadi
maka literasi mereka juga akan menurun.
Nah, ee perubahan-perubahan inilah yang
menunjukkan pada kita bahwa buku cetak
masih menjadi andalan untuk membangun
masyarakat berpengetahuan. Ya, kenapa
ya? Karena dengan buku cetak, orang bisa
membaca secara mendalam ya, buku bisa
dibawa ke mana-mana dan tentunya ee
sudah pasti kita akan membaca mulai dari
awal sampai akhir dan sudah barang tentu
pemahaman kita akan lebih mendalam jika
dibandingkan kalau kita membaca buku
digital yang siap kita cari
bagian-bagian yang kita butuhkan dan
bagian itulah yang hanya kita ee dalami.
Itu sebabnya kenapa ee pemerintah di
negara-negara maju saat ini ee mulai
memutuskan untuk mengubah sistem
pendidikannya dan kembali menggunakan ee
buku cetak. Ee next.
Nah, kemudian ee
masalahnya kita semua ini sebetulnya
sepakat tentang manfaat buku dan
membaca. Namun mengapa masih banyak
klaim-klaim minat baca dan kegemaran
membaca buku masyarakat di Indonesia
masih rendah. ya ee kita bisa
menyaksikan atau membaca mengikuti
banyak ee media bahwa Indonesia itu di
urutan kesekian dari bawah gitu ya dalam
hal ee literasi gitu. Bahkan juga diakui
minat baca dan kegemaran membaca
masyarakat Indonesia masih kalah jauh
daripada negara tetangga kita gitu ya.
Nah, penyebabnya apa Bapak Ibu?
sebetulnya banyak. Namun ada tiga hal
penyebab.
Ee mohon dibantu untuk ee selanjutnya
ee screen selanjutnya ya. Penyebabnya
ada tiga. Yang pertama tentu saja
seperti yang saya katakan tadi bahwa
perkembangan teknologi digital yang
sangat luar biasa saat ini itu telah ee
memupus minat dan kegemaran membaca kita
ya. Terutama ketika kita semua ya tidak
terkecuali orang dewasa ya. Anak-anak,
orang dewasa tentu senang bermain game
bahkan bermedia sosial. Ya, ini yang
membuat perhatian kita atau minat kita
membaca buku ini mulai terkikis. ya
mungkin ee membaca buku dipandang ee
bukan kegiatan yang menyenangkan
dibanding kita bermain games atau
bermedia sosial gitu ya, melakukan
interaksi ee di di banyak WA grup
misalnya begitu. Nah, itu yang pertama
yang menjadi penyebab. Yang kedua ee
yang menjadi penyebab adalah minat dan
kegemaran membaca buku itu cenderung di
Indonesia dibangun secara instan. Jadi,
Bapak, Ibu, kita semua bisa menyaksikan
ya ee sebenarnya pemerintah itu sudah ee
mulai atau bahkan sudah sejak
lama ee
mensosialisasikan dan mengharapkan
implementasi peningkatan literasi di
seluruh bidang terutama di banyak
sekolah ya. Tetapi saya pikir ee itu
merupakan upaya-upaya yang cenderung
instan dilakukan. Kenapa? Karena ketika
mereka ee diminta untuk membaca di
banyak sekolah sebetulnya itu dilakukan,
mohon maaf menurut saya instan ya.
bahkan ee dengan sebuah ee perintah gitu
ya, dengan ada tugas tanpa dilandasi
dengan fondasi ketika mereka masih
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:05:14 UTC
Categories
Manage