Transcript
oqtgYNOg9BM • ASN Belajar Seri 23 - Narasi Di Ujung Jari: Media Sosial dan Masa Depan Negeri
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0238_oqtgYNOg9BM.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Jadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia
[Musik]
tekat pancang
jadi ASN
berkuar kita
sama
[Musik]
halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam
webinar ASN belajar yang dipersembahkan
oleh Corporate University SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Sebelum memulai webinar, ada beberapa
hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar
acara dapat berjalan dengan lancar.
Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan
format. Nama, strip asal instansi Sobat
ASN.
Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi
kamera tidak membelakangi cahaya ya,
agar wajah Sobat ASN dapat terlihat
lebih jelas.
Tiga, gunakan virtual background yang
sudah disediakan.
Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link
pendaftaran, virtual background dapat
diunduh pada link yang dikirimkan
melalui pesan WhatsApp.
Empat, apabila Sobat ASN ingin
mengajukan pertanyaan atau
berpartisipasi interaktif, Sobat ASN
dapat menggunakan reaction angkat tangan
atau rise hand pada Zoom meeting.
Lima.
Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV
dapat menuliskan pertanyaan melalui
kolom live chat.
Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis
untuk mencatat hal-hal penting, ya.
Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain
untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini
dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN
tentang materi yang disampaikan oleh
narasumber.
Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat
pada webinar ini, Sobat ASN wajib
mengisi link presensi yang akan kami
bagikan pada saat acara webinar
berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi
lembar penilaian dan kuesioner juga agar
e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Tetap semangat dan selamat mengikuti
webinar ASN Belajar.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
kami mencoba menj Jadi yang terbaik
melayani bangsa dengan sepenuh hati
barah kami junjung teguhkan diri dan
jadikan pedoman serta kekuatan
hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri.
untuk melayani bangsa dengan
akuntabilitas tinggi.
H
kami dari sindias
dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi.
Bergandeng tangan. Satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih beragung.
Mengas penuh hati tulus membantu sesama
dengan kami melayani
dengan mana kami melayani
bangsa
[Musik]
H
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam
webinar ASN belajar yang dipersembahkan
oleh Corporate University SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Sebelum memulai webinar, ada beberapa
hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar
acara dapat berjalan dengan lancar.
Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan
format nama strip asal instansi Sobat
ASN.
Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi
kamera tidak membelakangi cahaya ya,
agar wajah Sobat ASN dapat terlihat
lebih jelas.
Tiga, gunakan virtual background yang
sudah disediakan.
Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link
pendaftaran, virtual background dapat
diunduh pada link yang dikirimkan
melalui pesan WhatsApp.
Empat, apabila Sobat ASN ingin
mengajukan pertanyaan atau
berpartisipasi interaktif, Sobat ASN
dapat menggunakan reaction angkat tangan
atau rise hand pada Zoom meeting.
Lima.
Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV
dapat menuliskan pertanyaan melalui
kolom live chat.
Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis
untuk mencatat hal-hal penting, ya.
Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain
untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini
dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN
tentang materi yang disampaikan oleh
narasumber.
Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat
pada webinar ini, Sobat ASN wajib
mengisi link presensi yang akan kami
bagikan pada saat acara webinar
berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi
lembar penilaian dan kuesioner juga agar
e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Tetap semangat dan selamat mengikuti
webinar ASN Belajar.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Huray, ada yang baru lagi nih di BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Ruang bermain anak.
Tempat yang satu ini adalah solusi bagi
para orang tua yang masih memiliki anak
kecil. Kita sebagai orang tua pasti
khawatir ya. Apalagi kalau ditinggal
kerja nih. Wah, kira-kira anak saya aman
enggak ya di rumah? Kira-kira anak saya
bermain atau belajar dengan baik enggak
ya di rumah? Sobat ASN kalau dikirim
diklat di BPSDM Provinsi Jawa Timur
sekarang udah enggak perlu khawatir
lagi. Karena di BPSDM Provinsi Jawa
Timur ruang bermain anaknya lengkap
banget fasilitasnya. Mulai ada tempat
bermain,
tempat tidur untuk mereka bisa
istirahat,
kemudian buku-buku edukatif,
dan ada ruang nursery juga untuk Ibu
menyusui. Kamar mandinya pun lengkap dan
bersih. Dan yang enggak ketinggalan
penting, Sobat ASN bisa langsung pantau
lewat CCTV. Keren banget, kan? Jadi,
Mommy and Daddy sekarang enggak perlu
khawatir lagi, ya.
Mommy and daddy don't worry we are
happy.
[Musik]
Dalam satu SKBT saja. misalkan
ee
ke depan itu sendiri sebenarnya sudah
kitaasi e setelah kita masuk seperti ini
walaupun kita ya
yang lain t kelola pemerintah yang adil
di mana di sini sasaran kita
pemerintahan yang berbasis elektronik
ya Pak Iya ee permisi, Pak ee yang
berdiri dari Bu. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah. Perkenalkan saya Ahmad
Nur, peserta pelatihan perencanaan dan
penganggaran angkatan 2 tahun 2024
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Saya dari
Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Sumenep.
Alhamdulillah selama mengikuti pelatihan
perencanaan ini banyak ilmu dan
pengetahuan baru yang kami dapat
terutama
dari
pegawai yang memang bukan kompetensi
sebagai perencana tapi ditugaskan untuk
melakukan perencanaan. Ini sesuatu hal
yang luar biasa. Kami mendapatkan ee
ilmu dan pemahaman yang sangat
bermanfaat. Sekali lagi terima kasih
saya sampaikan kepada BPSDM.
BPSDM Provinsi Jawa Timur keren dan
maju. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya Fina Nuraihi peserta
pelatihan perencanaan dan penganggaran
angkatan 2 Provinsi Jawa Timur tahun
2024. Saya berasal dari Bapeda,
Kabupaten Bojonegoro. Selama menjalani
pelatihan ini, saya merasa mendapat
banyak sekali ilmu-ilmu baru dan
pengetahuan yang dapat saya gunakan
untuk
menyusun dokumen perencanaan yang ada di
kabupaten
agar dapat mewujudkan Indonesia emas
tahun 2045.
Terima kasih untuk BPSDM Jawa Timur dan
Bapak Ibu Widya Iswara yang telah
men-sharing ilmu-ilmu dan pengetahuan
yang sangat bermanfaat bagi kami
perencana. Semoga pendidikan dan
pelatihan ini akan terus berlanjut pada
tahun-tahun berikutnya. BPSDM juara,
BPSDM maju, BPSDM keren. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Yang
terhormat ee Ibu kelas yang terhormat
juga pendamping kelas Bapak. Yang
terhormat ee Ibu dari perwakilan bidang
pembahan kompetensi. Maaf,
Bapak dan yang terhormat ee rekan-rekan
semuanya dari kabupaten kota di seluruh
Provinsi Jawa Timur dan dari perwakilan
ee perangkat daerah di Jawa Timur.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. kita semua.
Shalom, Om Swastiastu, namo budaya,
salam kebajikan
yang saya hormati setiap
perlu paham padahal dulu beliau juga
ee staf di waktu saya menugas sebagai
kepala bidang.
Ee yang saya hormati
para
ee teman-teman
penyelenggara, panitia
dan wabil khusus para peserta tingkat
perencanaan dan penganggaran pola
kondisi antar pemerintah provinsi Jawa
Timur.
[Musik]
Pelatihan perencanaan dan penganggaran
angkatan du
ye ye. Yeah.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Kami mencoba menjadi yang terbaik,
melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Barah kami junjung, teguhkan diri dan
jadikan pedoman serta kekuatan.
Hadir di sini untuk mengabdi lencanakan
tugas ke bangga negeri berentas situt
melani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
H
sem di sini sukses dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Layani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
berganding tangganding sanggup tujuan
untuk menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan.
Satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih
beragam. Mengas penuh hati tulus
membantu sesama dengan bang kami
melayani
dengan bang kami melayani
bangsa
[Musik]
H
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Bapak
namanya mulai 2015 persisnya Januari
2015 saya pindah ke ee Provinsi Jawa
Timur ya. Jadi sampai sekarang is
ee banyak pernak-perniknya terutama di
perencanaan dan penganggaran Bapak Ibu.
Oke. Karena dia berpikiran, ya sudah
enggak mungkin lagi mau ke mana gitu
kan. fungsional ya seperti yang Anda
lihat selama ini kan guru
atau di bidang kesehatan atau ya selesai
dan ee
apa serious ee kemewahan
wibawa
yang Anda bayangkan sebagai pejabat itu
sudah serim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan saya dari
Bapeda Kabupaten Bojonegoro.
Kami adalah salah satu perwakilan dari
peserta diklat perencanaan dan
penganggaran angkatan pertama tahun 2024
di BPSDM Provinsi Jawa Timur.
E kesan kami selama mengikuti ee
pelatihan ini yang pertama bahwa diklat
perencanaan penganggaran ini sangat
berarti bagi kami para perencana
utamanya yang berangkat bukan dari
perencana murni namun dari hasil
penyetaraan. Di mana ilmu kami tentang
perencanaan dan penganggaran dalam arti
praktis sangat terbatas. Melalui diklat
yang difasilitasi oleh BPSDM Jawa Timur
ini, kami merasa terbantu dan
mendapatkan pengetahuan serta
keterampilan yang memang dibutuhkan
dalam kompetensi sebagai perencanaan.
dalam hal penyelenggaraan diklat. Kami
memberikan apresiasi dan rasa terima
kasih kepada BPSDM yang telah melayani
kami dengan sangat baik, sangat
profesional, dan tentunya ke depan kami
berharap perbaikan-perbaikan ini akan
terus dilakukan sehingga membawa manfaat
bagi seluruh aparatur di Provinsi Jawa
Timur. Terus bergerak, terus juara BPSDM
Jawa Timur.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya Nonika Feni Privianti,
peserta Diklat Perencana dan
Penganggaran
Provinsi Jawa Timur tahun 2024. Terima
kasih atas kolaborasi BPSD Pendungan
Bappenas dalam meningkatkan kompetensi
kami dalam sebagai perencana untuk
mendukung pembangunan kabupaten kota
dengan fasilitas dan narasumber yang
berkualitas menjadikan kami ASN yang
berkompeten dan profesional. Semoga ke
depan
segala yang kita terima dalam pelatihan
ini menjadikan kami ASN yang
meningkatkan pembangunan daerah menjadi
pembangunan yang maju dan menjadikan
Indonesia emas. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. BPSDM luar biasa.
Latang perencanaan dan penganggaran
angkatan 1 kontribusi provinsi Jawa
Timur tahun 2024.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Yang
terhormat Kepala ee BK BPSDM Provinsi
Jawa Timur. Yang terhormat Ibu
seluruh panitia dan teman-teman peserta
pelatihan pencanaan dan penganggaran
pertama dan ketiga
indikator kinerja
itu kan aneh banget indikator kinerja
itu
secara resmi saya nyatakan diakhiri.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
berencana terus bermati
Indonesia mau BPSDM Jaka
terima kasih Amin.
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Jadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia
tekad
menyerah
jadi ASN
berkuwa
servisama
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum. warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
mana pun Anda berada. Baik yang sudah
bergabung di Zoom meeting maupun live
YouTube-nya BPSDM Jatim TV. Senang
sekali saya Aisa Dewi dapat kembali
menyapa sobat ASN semua dalam webinar
ASN belajar seri 23 tahun 2025
persembahan Korpu SDGIS BPSDM Provinsi
Jawa Timur. Sobat ASN di era digital ini
informasi tidak lagi menunggu untuk
dicetak dan disebarkan. Ia mengalir
cepat menembus batas ruang dan waktu
melalui layar kecil di genggaman kita.
Dari ujung jari narasi dibentuk
mempengaruhi cara kita berpikir, cara
kita bersikap, bahkan menentukan arah
masa depan. Namun sejauh mana narasi
digital yang kita bangun berkontribusi
pada kemajuan negeri, apakah media
sosial telah menjadi sarana pencerdasan
publik atau justru terjebak dalam
pusaran disinformasi dan polarisasi?
Bersama webinar ASN Belajar seri 23
tahun 2025, kita akan mengkaji media
sosial bukan hanya sebagai teknologi
komunikasi, tetapi sebagai medan
kontestasi makna dan kekuasaan. Karena
di balik setiap unggahan tersimpan
nilai, di balik setiap narasi
tersembunyi agenda, dan di ujung setiap
jari tersimpan potensi untuk membentuk
masa depan bangsa.
[Musik]
Sobat ASN, untuk membuka webinar ASN
belajar seri 23 tahun 2025 ini, marilah
kita dengarkan opening speech yang akan
disampaikan oleh Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto, S.P., MP.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian.
Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat
bertemu kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University, Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini Kamis tanggal 19 Juni 2025, ASN
Belajar telah memasuki seri yang ke-23.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih dan
apresiasi kami. Kami terus berkomitmen
sekaligus terus berikhtiar untuk
menyajikan topik-topik pengembangan
kompetensi yang menarik, kekinian, dan
tentu berdampak secara nyata terhadap
peningkatan kompetensi dan kinerja
aparatur sipil negara di Indonesia.
Sobat SN, hari ini ASN Belajar seri
ke-23 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka turut serta
memberikan kontribusi pemikiran dalam
hari media sosial nasional yang
diperingati pada tanggal 10 Juni yang
lalu. Sebagaimana kita ketahui bersama,
setiap tahun pada tanggal 10 Juni sejak
tahun 2015 yang lalu, Indonesia
merayakan hari media sosial. Perayaan
ini merupakan momen yang penting untuk
mengakui peran besar yang dimainkan oleh
platform media sosial dalam membentuk
kehidupan kita sehari-hari.
Dalam beberapa tahun terakhir, media
sosial telah menjadi bagian tak
terpisahkan dari kehidupan masyarakat
Indonesia. mempengaruhi cara kita
berkomunikasi, berbagi informasi, dan
berinteraksi dengan orang lain.
Sementara itu, Hari Media Sosial juga
diperingati secara internasional.
Mengutip Days of the Year, Hari Media
Sosial Sedunia diperingati tiap 30 Juni
dan sudah diperingati sejak tahun 2010.
Karena hal ini sangat menarik untuk kita
elaborasi lebih luas dan lebih dalam,
maka ASN Belajar seri ke-23 tahun 2025
ini mengangkat topik narasi di ujung
jari, media sosial dan masa depan
negeri. Nah, sudah menjadi tradisi
akademik dalam SN belajar bahwa topik
menarik ini akan kita bahas secara
intensif dari beragam perspektif bersama
para narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sahabat ASN di seluruh tanah air, di era
digital ini suara tidak lagi memerlukan
panggung spektakuler untuk didengar.
Cukup satu unggahan, satu cuitan, satu
video pendek dan dunia pun akan
bereaksi.
Data dari Hoodside tahun 2024
menyebutkan bahwa telah ada 170 juta
penduduk Indonesia sebagai pengguna
aktif media sosial setara dengan lebih
60% populasi. Rata-rata mereka
menghabiskan lebih dari 3 jam sehari
menjelajahi dunia maya. Ini bukti bahwa
saat ini kita benar-benar hidup dalam
masyarakat yang saling terhubung setiap
saat walaupun dalam jarak jutaan hasta.
Media sosial sejatinya adalah cermin. Di
sanalah nilai, harapan, bahkan
kegelisahan bangsa dipantulkan.
Namun cermin itu bisa saja buram bahkan
retak jika yang kita pantulkan adalah
kabar palsu, ujaran kebencian,
polarisasi, dan sensasi tanpa makna.
Kita menyaksikan sendiri bagaimana satu
narasi bisa menyulut konflik,
menggoyahkan kepercayaan dan persatuan,
dan sebaliknya menggerakkan solidaritas
dan menguatkan kesatuan.
Maka tidak berlebihan jika ada yang
mengatakan siapa yang menguasai narasi,
dialah yang menentukan arah sejarah.
Sahabat ASN di seluruh tanah air, dalam
konteks inilah kita, aparatur sipil
negara memegang peran amat signifikan.
Kita sadar di era ini ASN bukan lagi
sekedar pelaksana kebijakan, tetapi
telah menjelma menjadi wajah negara di
ruang publik, tentu termasuk di ruang
digital.
Namun kita menyadari sepenuhnya bahwa
akan adanya realitas yang menunjukkan
bahwa ASN belum sepenuhnya memahami
secara menyeluruh etika bermedia sosial
sehingga rentan terjebak dalam
penyebaran narasi yang menyebabkan
disinformasi atau justru unggahan yang
mencederai netralitas kita sebagai ASN.
Sobat ASN, maka sudah semestinya ASN
harus menjadi penjaga narasi. bukan
penyebar sensasi. ASN harus cakap namun
juga bijak. Memahami bahwa setiap
unggahannya bukan sekedar opini pribadi
tapi membawa konsekuensi untuk negeri.
Ia harus menjadi
pemengaruh etis menebarkan nilai-nilai
kebangsaan, empati, kolaborasi, dan
literasi. Bukankah keadaban digital
dimulai dari mereka yang paling sadar
akan tanggung jawabnya? Kita harus mampu
membangun kesadaran kolektif bahwa
narasi bukan hanya soal diksi, tapi juga
sebuah aksi. Bahwa jari-jari kita bukan
sekedar alat mengetik, tapi tongkat
penunjuk arah menuju masa depan ke mana
arah bangsa ini akan berjalan.
Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu
bagaimana kita sebagai ASN bisa menjadi
penjaga narasi untuk negeri yang kita
cintai agar tidak cedera oleh
disinformasi dan polarisasi. Nah, untuk
membahas cerdas dan tuntas topik ini,
kami telah mengundang dengan hormat para
narasumber luar biasa yang sudah barang
tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada para narasumber hebat yang
berkenan hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat ASN di
seluruh tanah air. Pertama, kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada yang terhormat Bapak Dadi
Krismantono. Beliau adalah co-founder
eventory dan seorang praktisi
komunikasi. Kedua, kami menyampaikan
terima kasih dan apresiasi kepada yang
terhormat Bapak Dr. Sukodo, M.Si. SI.
Beliau adalah pakar komunikasi dari
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Airlangga Surabaya sekaligus
Ketua Umum Perhumas Surabaya Raya. Dan
yang ketiga kami menyampaikan terima
kasih kepada yang terhormat Bapak Ahyari
Hananto, S. MB. Beliau adalah pendiri
sekaligus direktur Good News from
Indonesia GNFI Group. Nah, Sobat SN di
seluruh tanah air, mari kita simak
dengan seksama webinar ASN belajar seri
ke-23 tahun 2025. Semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih Bapak Dr.
Lamlianto, SPMP atas opening speech yang
sudah disampaikan.
Dan memang sobat ASN di hari ini kita
akan mendengarkan tiga materi dari tiga
narasumber yang luar biasa. Namun
sebelum kita berlanjut ke sesi pemaparan
narasumber, Sobat ASN sudah dapat
melakukan presensi pada halaman semesta
Bangkok. Jadi, link presensi dapat Sobat
ASN lihat pada running teks atau yang di
Zoom meeting bisa lihat di kolom chat
atau yang bergabung lewat YouTube
channel BPSDM Jatim TV bisa melihat di
pin chat-nya. Nah, tapi dikarenakan saat
ini traffic presensi sir tinggi, bagi
sobat ASN yang masih belum bisa
mengakses presensi dapat mencoba kembali
secara berkala.
[Musik]
Baik, Shabat ASN, materi pertama yang
akan kita simak bersama-sama di hari
ini, Kamis, 19 Juni 2025 akan
disampaikan langsung oleh pendiri dan
direktur Good News from Indonesia Group.
Tidak lain tidak bukan adalah Bapak
Akyari Hananto, S., MBA.
[Musik]
Asalamualaikum. Selamat pagi, Bapak.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi, Bapak.
Selamat pagi. Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Bagaimana kabarnya Paki
hari ini?
Alhamdulillah. Baik. Ee semoga yang para
peserta dan Mbak Anisa tadi yang
terhormat Pak Ramli juga baik juga.
Iya. Waduh, ini mohon maaf Bapak
suaranya agak sedikit terputus. Ee coba
kita cek dulu teman-teman koneksinya
sudah oke ya.
Oke. Baik. Bagaimana Bapak Ari
koneksinya sudah? Oke, sebentar. Apakah
suara saya putus-putus, Bapak?
Ee suara saya
sekarang gimana, Mbak?
Kalau Pak Ari kami menerimanya di sini e
agak terputus-putus, Pak.
Sebentar saya pakai headphone. Oke.
Baik.
Sudah jelas ya berarti ya.
Oke, aman, Pak kalau gitu, Pak.
Baik
untuk SAT TSN sesaat lagi kita akan
bersama-sama mendengarkan materi yang
akan disampaikan oleh Bapak Akyari
Hananto, pendiri dan juga direktur Good
News from Indonesia Group. Namun
sebelumnya saya ingin bertanya-tanya
sedikit Bapak untuk eh kesibukan
akhir-akhir ini sibuk apa nih, Pak?
Ee ya ee suara saya gimana, Pak? Sudah
terdengar jelas, Bapak. Alhamdulillah.
Baik, baik. Eh saya
ya beberapa hari ini juga ee sibuk
mengajarkan sesuatu yang baru di dunia
teknologi yaitu AI. He. Kita mengajarkan
bagaimana menggunakan AI secara
bertanggung jawab eh etis gitu ya ke
beberapa berbagai kampus di Indonesia,
berbagai lembaga pemerintah juga
perusahaan-perusahaan.
Oke, pas sekali ya di hari ini
menyempatkan waktunya dengan schedule
yang begitu padat untuk bisa menyapa
Sobat ASN ini yang bergabung dari
seluruh Indonesia loh, Pak Ari.
Masyaallah terima kasih dan selamat
datang. Saya kebetulan di Surabaya jadi
enggak jauh rumah saya dari kantornya
WBSDM tapi ee ini Zoom jadi lebih bagus.
Oke. Baik kalau begitu tanpa perlu
berlama-lama lagi mari kita simak
bersama materi pertama yang akan
disampaikan oleh Bapak Ari. Silakan
Bapak
kasih.
Ee slide saya
enggak ditampil ya. Oke, slide-nya
apakah sudah tampil?
Oke. Belum diful screen Bapak.
Oke.
Baik. Bagaimana sekarang?
Sudah
sudah oke.
Oke, sudah apaapak materinya sudah bisa
kami lihat bersama-sama.
Baik, terima kasih ee kawan-kawan
semuanya.
Ee asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Ya, terima
kasih. Ya, ini waktu saya enggak
panjang, tapi semoga insyaallah bisa ee
meng-cover beberapa hal yang ee sangat
penting kita sampaikan karena hari ini
betul-betul penting banget ya. Ee kita
semua bisa bersosial media, kita semua
bisa posting, kita semua bisa bikin
konten yang bagus tapi bagaimana kita
juga punya tanggung jawab sebagai
terutama sebagai SN dan kita sebagai
warga Indonesia anak bangsa untuk
membawa narasi positif ya, terutama
untuk masa depan Indonesia. Baik,
lanjutkan. Nah, eh slide pertama ini
sebenarnya cukup penting ya. Jadi kalau
kita ee buka media hari ini entah itu
TV, portal berita, maupun media sosial
yang kita pakai, yang kita follow,
maupun yang kita pegang gitu kan. Apa
yang paling sering kita temuin? Dalam
beberapa bulan terakhir ini kami
mengadakan ee observasi di berbagai
sosial media dan ee yang kami temukan
adalah ee konten-konten yang mohon maaf
ya ee ya penuh dengan konflik ee krisis,
bencana.
ee kegagalan-kegagalan, kemudian
komplain-komplain, kritik-kritik dan
segala macamnya. Nah, inilah yang saya
sebut sebagai dominasi negativisme. Nah,
ini sebenarnya bukan ee penting kita
pahami bahwa eh ini bukan media yang
jahat, bukan contonent kreator yang
jahat atau publik kita yang pesimis,
tapi dominasi itu muncul karena ada tiga
mesin besar menurut saya yang ee saling
memperkuat ya. Yang pertama ada di dalam
diri kita sendiri.
Ya. Jadi ee yang kedua ini jadi eh
pertama adalah arsitektur komunis. Kalau
dalam bahasa jurnalisme itu namanya eh
apa namanya? Eh bias evolutioner. E
evolution bias gitu. Jadi otak manusia
sejak lama itu memang seolah ya seolah
dirancang untuk ee cepat mendeteksi
alarm bahaya. Jadi misalnya kita tahu
atau kita akan lebih cepat bereaksi
ketika melihat berita-berita misalnya
kecelakaan beruntun di tol misalnya gitu
daripada misalnya lalu lintas di
Surabaya lancar dan tertib. Jadi ee ee
ee akan kita akan akan selalu menyakikan
bahwa kecelakaan beruntun di tol akan
jauh lebih ramai, lebih viral
dibandingkan dengan lalu lintas yang
tertib, yang ramai, yang pengguna
jalannya ee ee ee ee tertib, pengguna
jalannya ee sesuai aturan dan segala
macamnya. Kenapa? Karena yang yang ya
karena yang bahaya yang alarm-alarm
bahaya, berita-berita tentang bahaya itu
langsung membikin otak kita menyala.
Nah, dalam dunia psikologi kita mewarisi
sistem alam darurat darah ee ee dari
zaman dulu gitu ya. Dulu dipakai untuk
mendeteksi buruan dulu ya. Ya. Atau
melindungi ee ee apa namanya? mendetek
ee melindungi ee e kinnya gitu. sekarang
untuk dipakai mendeteksi ee
notifikasi-notifikasi eh breakging news.
Nah, yang kedua adalah ee ini sebenarnya
jurnalisme standar lama yang sayangnya
masih dipakai dan masih terjadi di
sekitar kita. Jadi, ee di ruang redaksi
ada ya kita selalu mengenal ada giom
legendaris gitu. Bad news is good news.
Nah, ini sebenarnya bukan mitos. ini
beneran terjadi dan ini kita saksikan,
kami observasi dan ini adalah seolah men
dalam tanda petik ajaran resmi dalam
dunia media gitu. Saya enggak bilang
jurnalisme tapi j media ya. Berita soal
misalnya skandal korupsi, perpecahan
politik atau misalnya konflik sosial
akan lebih cepat naik ke halaman utama,
akan lebih cepat naik dalam ee apa
namanya lini masa kita. ee
misalnya ada dua berita penting yang
datang bersamaan datang ke ee apa di
posting bersamaan gitu kan. Misalnya ada
sebuah desa yang berhasil mencapai
misalnya swasembada
sayuran atau swas sembada beras. Nah,
melawan misalnya pejabat yang
marah-marah saat kunjungan gitu.
Kira-kira mana yang akan menjadi eh
konten yang lebih viral ya you know the
answer. Eh, dan ini terjadi dan ini
sebenarnya memang apa namanya eh standar
jurnalisme lama dalam tandar ya. Tapi ee
dan hal ini terjadi ter sekitar kita dan
masih akan terjadi dalam waktu yang lama
lagi. Nah, yang ketiga adalah memang ee
apa namanya dari sisi ekonomi klik dan
algoritma. Jadi di dunia digital
atensi
adalah mata uang. Jadi perhatian audiens
itu adalah mata uang dalam dunia
digital. Semakin dramatis, semakin ee
misalnya semakin gelap begitu ya,
semakin viral ya.
Misalnya begini, ee tahun 2024 ekonomi
Indonesia itu bertumbuh 5% misalnya, itu
akan kalah bersaing beritanya atau
kontennya dibandingkan dengan ancaman
krisis energi misalnya ee harga naik
gaji stakn misalnya begitu, maka yang
akan lebih viral adalah yang kedua gitu.
Dan dan bahkan riset bilang bahwa satu
kata negatif tambahan itu bisa menaikkan
eh views, menaikkan impresi di media
sosial itu sampai 12%. satu kata negatif
itu bisa menaikkan ee impresi, menaikkan
reach eh konten sebesar 20%. Ini bukan
saya bilang, tapi eh riset yang saya
yang saya cari ya. misalnya bayangkan
membayangkan misalnya menambahkan kata
gawat, menambahkan kata krisis,
menambahkan kata ancaman misalnya itu
performa konten itu akan naik dan ya itu
jadi ujungnya adalah viralitas dan
ujungnya adalah ekonomi. Dan pertanyaan
sekarang adalah apakah kita akan
membiarkan hal ini terjadi terus? Kita
teruskan.
Nah, ee dan ee hal ini sebenarnya bukan
hanya perasaan kita kok seolah-olah ee
konten-konten di media sosial saya
banyak negatifnya ya atau banyak yang
mohon maaf ya berita-berita yang atau
konten-konten yang kurang berguna ya
atau seperti apa gitu. Dan dan ini
sebenarnya bukan bukan perasaan kita
saja. Jadi sudah dibuktikan dalam studi
yang dilakukan oleh eh
New York Post tahun 2019 atau 2020 ya.
itu adalah bahwa di banyak negara antara
90 sampai 95% berita
atau konten itu cenderung negatif. Ya,
kalau sudah seperti ini maka bisa
dibilang hampir semua yang masuk dalam
beranda kita, dalam lini masa kita ee
dari Instagram, TikTok, maupun TV
misalnya, maupun berita-berita online
misalnya, itu didumasi oleh
berita-berita yang negatif. Bukan
berarti berita positif enggak ada, tapi
berita negatif itu lebih viral, lebih
mendapatkan perhatian. Dan ini bukan
sama sekali bukan angka yang ini angka
yang menurut saya tadi disampaikan oleh
Pak Ramli mengerikan ya. Artinya kalau
kita baca 10 berita dalam sehari, 10
konten dalam sehari, sembilan di
antaranya akan membuat dunia kita seolah
jelek semuanya sekitar kita jelek,
negara kita jelek, lingkungan kita
jelek, dan segala macamnya. Tentu saja
realitasnya tidak seperti itu, gitu. Dan
ini yang berbahaya. Ketika narasi
negatif menjadi dominan,
maka lambat laun ya ia akan mulai
membentuk persepsi kita akan dunia yang
yang isinya negatif semuanya ya. Kita
akan jadi lebih mudah sinis, skeptis,
takut
dan lebih pesimis, lebih sulit percaya
pada siapapun. Ya, kita biasa merasa
seolah-olah semua orang itu dalam tanda
pentik ya, semua orang itu enggak baik.
Semua orang itu perlu dicurigai dalam
tentu dan dan semua sistem rusak, semua
pemimpin salah arah gitu. seolah-olah
seperti itu. Dan ini bayangkan tadi
disampaikan oleh Pak Ramli di permukaan,
bayangkan dampaknya dari bagi generasi
muda, generasi yang tumbuh dalam
lingkungan informasi seperti itu, yang
tidak lagi nonton TV, yang tidak lagi
baca surat kabar, tapi tapi ter
terekspos 100% terhadap berita-berita
maupun konten-konen di sosial media.
Nah,
ini fakta
mengejutkan laginya ini dari berbagai
macam penelitian. Yang pertama adalah
ini, Kawan-kawan. Jadi ee dan tadi sudah
bicara tentang angka-angka yang
membingungkan gitu, menakutkan gitu. Dan
dan sekarang kita lihat fakta-fakta yang
tidak kalah mengejutkannya menurut saya.
Jadi ee
ini saya pikir kawan-kawan dan kawan
rekan-rekan ASN bisa dibaca sendiri ya.
Tapi intinya adalah bahwa ee yang
terakhir ini yang menurut saya cukup
perlu kita perhatikan bahwa 66%
website atau akun sosial media itu
impresinya stagnan atau bahkan turun.
Enggak naik-naik jika posting berita
positif. Mungkin mungkin bisa jadi. Bisa
jadi. Inilah mengapa akun-akun
pemerintah, akun-akun dinas-dinas
pemerintah itu enggak seviral misalnya
lamitura atau akun-akun gosip atau
akun-akun yang biasa menyampaikan hal
yang sensasional gitu. Dan ini menjadi
hal yang perlu ya kita pahami, perlu
kita ee apa namanya? Kita ee serusi
bersama.
Nah,
ini
ini bukan hal yang menakut-nakutin
begitu ya. Tapi menurut saya di
Indonesia itu hal yang menurut saya
lebih rumit. Satu
ya. Jadi kalau kita ngomong tentang ee
dominasi berita global ya itu sudah jadi
tren dan itu tadi disampaikan oleh
berbagai macam ee apa namanya eh
penelitian dan ini adalah penelitian
juga oleh RER Institute and University
of Oxford 4 tahun yang lalu dan saya
pikir belum banyak berubah era sekarang
karena belum ada penelitian baru menurut
saya ya yang saya jadi kalau kita
ngomong tentang Indonesia maka kita akan
melihat gambaran yang menurut saya
menurut benak saya itu lebih kompleks.
dan dan
sebenarnya itu lebih sebenarnya bisa
juga menjadi peluang bagi kita juga di
Indonesia.
Informasi ini bukan soal berita, tapi
juga soal kepemilikan ee media. Jadi
kekuasaan juga dan relasi antar
kelompok. Jadi banyak media besar di
Indonesia itu dimiliki oleh figur-figur
yang yang sayangnya terlibat juga dalam
politik, dalam bisnis besar dan mereka
inilah yang kemudian membentuk
opini-opini publik dengan kekuasaan dan
daya jangka media ya. Ee mereka juga
punya dana besar tak terbatas dalam tap
peti untuk menguatkan amplifikasi ee ee
berita-berita yang mereka
sampaikan melalui melalui ee apa
namanya? melalui ads, melalui boosting
dan segala macamnya ya. Nah, ee ini bisa
menjadi tantangan ya ee ee tapi
sekaligus juga kesempatan untuk agar
kita lebih bijak memilih dan memahami
berita. Misalnya ada berita, "Oh, dari
oh dari media itu kayaknya harus dicek
ulang dah misalnya." Jadi ini membuat
kita justru lebih aware menurut saya ya.
Sayangnya kita juga punya kondisi
seperti itu. Nah, kita tahu dari data
menurut R Institute University of Oxford
penelitian. Jadi tingkat kepercayaan
publik terhadap media mainstream itu
rendah, Kawan-kawan. Jadi hanya sekitar
39%.
Jadi ee ee ee ini menurut saya ya mohon
maaf ini hal yang tidak menguntungkan
bagi Indonesia. Karena media besar yang
menjadi rujukan kita itu dalam tanda
petik itu justru tidak menjadi
ee entitas yang dipercaya oleh publik
Indonesia. Ini bukan saya yang bilang
ya, tapi ee panel. Nah, yang menarik ini
penting
karena hal itu terjadi di saat yang
sama. Media online dan media sosial
media sosial terutama menjadi sumber
berita yang paling dominan digunakan
oleh 88%
responden, 88% audiens. Dan ini terutama
memang generasi muda. Dan di sinilah,
kawan-kawan tantangan utama kita. Kenapa
para pembuat berita, para pembuat konten
di media sosial bukan mereka yang ahli
bikin berita. Mereka bukan ahli
membentuk opini mudik. Mungkin mereka
juga punya literasi yang tidak begitu
tinggi ya. Ee jutaan orang membaca,
melihat, menonton, membagikan berita dan
semua berikan berikutan. Tetapi di
sinilah tantangan besarnya sosial media
ya hari ini saat ini bukan hanya ruang
berbagi informasi tapi ini juga menjadi
medan pertempuran narasi. Inilah mengapa
ee apa namanya
em em
ee
topik atau tema hari ini sangat penting
dan saya benar-benar harus ikut gitu.
Karena medan pertempuran sebenarnya
dalam landskap informasi di Indonesia
itah di media sosial. ya. Dan dan dan
inilah ruang viral yang penuh dengan
banyak hal ya. Penuh dengan hoa dengan
head speech, dengan sumpah serapah
tempat konten politik dicampur dengan
konten hiburan. Ee di sinilah ee ruang
di mana konten-konten bisa memberas
emosi kita dan kadang konten-konten
penuh drama. Ya, ya, ya. yang yang yang
lebih cepat naiknya, lebih banyak
dikonsumsi dibanding konten-konten
berbasis data gitu. Dan dan di sinilah
ee ee apa namanya algoritma itu bermain
ya kawan-kawan. Kita nanti akan sampai
ke sana. Nah, dampaknya ini dampak dalam
banyak hal. Dampak psikologis terutama
itu banyak sekali. Ini juga berdasarkan
penelitian. Pertama ada beban psikologis
ya. Dan kawan-kawan ini mungkin terlihat
ah enggaklah kayaknya tapi benar-benar
ini terjadi dan ee kalau saya bisa
bilang ada satu negara yang yang
sempat dalam tap pentik menjadi korban
ya ee beban psikologis berita-berita
negatif. Tetangga kita Filipina ya dulu
menjadi negara yang maju tahun 0-an
sekarang ya mohon maaf seperti itu kita
lebih maju gitu. Nah, ee ternyata
kawan-kawan konsumsi berita negatif itu
mempunyai hubungan langsung dengan
kesehatan mental yang merugikan. Ya, ini
penelitian nanti bisa diolah lebih
lanjut nanti ee kawan-kawan bisaik ya di
di Google ee kontribut berita negatif
itu hubungannya langsung. Jadi ee studi
demi studi ini menunjukkan hal yang
sama. konsumsi berita negatif apalagi
dalam jumlah besar dan berulang-ulang
ulang ulang gitu itu ee berkaitan
langsung dengan penurunan kesehatan
mental dan ini merugikan sekali.
Kemudian paparan berita yang buruk bisa
meningkatkan gejala kecemasan, depresi,
stres, overthanking, dan sedih gitu ya.
Kalau kita melihat tiap hari melihat ee
ee konten-konten di SOSM ya, ada perang
di sana, ada perang di sini ya, itu tuh
ee eh eh apa namanya
ee ee ee membuat kita menjadi terbebani,
depress gitu. Dan yang mengejutkan salah
satu tuji bahkan menebutkan bahwa gejara
ini bisa muncul hanya setelah 14 menit
menonton atau mengkonsumsi ya
konten-konten negatif. Bayangkan ya,
kita scrolling timeline. Tadi Pak eh
Ramli sampaikan, setiap hari itu kita
mengonsumsi konten-kosial media selama 3
jam ya. Baik itu bangun tidur, pas makan
siang, pas siang, sore hari, dan
menjelang tidur. Ya, isinya kebanyakan
negatif. Tadi dibilang ada 90% negatif.
Ee apakah kita kemudian berharap tidur
dengan nyenyak, dengan happy, bangunnya
dengan nyaman dan semangat dan optimis?
Rasanya agak sulit. otak kita enggak
bisa bekerja seperti itu. Sehebat itu.
Dan dan ini yang menjadi salah satu eh
eh apa namanya? Konsent yang yang
terus-menerus saya sampaikan dalam
forum-forum itu. Nah, yang kedua adalah
dampaknya
scholing ya. Jadi ee jadi apa namanya?
Setelah kita tahu bahwa berita negatif
bisa memberikan kesehatan apa nam dampak
pada kesehatan. Salah satu kebiasaan
digital yang umum dari ini doom
scrolling. Sorry ini salah salah tulis
ya. Harusnya doom scrolling ya. Ee
kenapa hal ini menjadi bahaya ya? Karena
kita itu seolah lagi sekolah ya. Tapi
yang kalau kita e buka sosm ya seolah
kita sedang sekolah ya. Harusnya sekolah
kan belajar hal yang berguna bermawa.
Tapi yang kita ajarin yang diajarin ke
kita setiap hari adalah kecemasan,
ketakutan, rasa panik dan kadang-kadang
ee prank dan segala macam. Fenomena
seperti seperti ini fenomen. Jadi kita
baca satu konten yang kita bikin cemas
misalnya ekonomi melemah, ada perang,
ada ancaman krisis, bencana di mana-mana
tabrakan beruntun kemudian banjir,
bencana dan seg muncul was-was. Terus
kita cari B lain lagi mencari kepastian,
tapi yang muncul adalah berita yang
lebih buruk. Ini salah satu salah satu
dampak negatif dari adanya algoritma dan
akhirnya kita terjebak dalam satu ee ee
ee ya namanya lingkaran setan begitu ya.
Jadi cemas cari berita makin cemas cari
lagi e kepastian kecemasannya makin
dalam. ini yang disebut di sebagai doom
scrolling atau headline anxiety atau
keresahan keresahan konten. Nah, yang
ketiga ini dampaknya adalah ini yang
sudah dibahas ber ee apa namanya?
berjirit-jirit
oleh para ahli psikologis yaitu adalah
learn helplessness atau sebenarnya eh
sebenarnya ketidakberiayaan yang
dipelajari itu adalah ee versi Google
Tranger. Tapi sebenarnya ee menurut saya
salah satu terjemahan paling pas adalah
rasa menyerah yang diam-diam tumbuh
dalam ee diri kita. rasa skeptis, rasa
pesimis yang diam-diam tumbuh dalam
mindset kita. Ini adalah keadaan di mana
kita terlalu sering mendengar bahwa
dunia sekitar kita ini kacau, bahwa
sistemnya rusak, keadilan sulit
ditegakkan. Ya, terlalu sering apa ya
melihat masalah ditampilkan tanpa ada
ruang-ruang publik untuk berbagi solusi,
tanpa ruang untuk berbagi-bagi harapan.
Dan dari situ, dari situ ya muncullah
satu ee satu headline begitu ya dalam
otak kita, dalam hati kita, dalam benak
kita yang lahir satu keyakinan yang
diam-diam tanpa kita sadari, ah mau
diapain juga tetap aja gini sudahlah
gitu. Kira-kira seperti itu. Dan dan dan
kita mulai mengecilkan kemungkinan
perubahan perbaikan ya. kita mulai
menganggap
kepeduluan sebagai sesuatu yang yang
enggak wajar ya. Kita mulai percaya
bahwa satu suara, satu arti, satu ide,
perbaikan, perubahan kemudian menuju
lebih baik itu tidak. Akhirnya semuanya
kita akan menjadi ee kita akan menjadi
memandang semua hal menjadi dari sisi
yang pesimis, yang skeptis ya. Dan dan
dan lalu secara perlahan kita berhenti
peduli, kita berhenti mengikuti isu,
kita ee bukan karena tidak peduli tapi
karena merasa enggak sanggup ya
memberikan
ee kontribusi
ya. Kita kemudian lambat-lambat
menghindari berita. Jadi berita yang
muncul dalam kita adalah rilis-rilis
saja yang lucu-lucu yang lain-lain
enggaklah ini ini mau ngapain aja enggak
akan berubah dan lelah.
Saya enggak punya daya untuk mengubah
apapun dan yang paling menyedihkan
adalah semakin banyak orang yang
merasakan sama jutaan orang terpapal
hari ini setiap hari mungkin puluhan
juta. Tadi Pak Rami sampaikan 170 juta
orang pengguna sosial media di
Indonesia. Bayangkan ada berapa juta
yang merasakan hal yang sama.
Learn business.
Waktu kurang dari 15 menit. Baik. Nah,
ini ee dampak algoritmanya. Jadi ee
mengapa hal ini terjadi? Sebenarnya ada
beberapa hal, tapi salah satu yang dalam
tanda petik perlu kita salahkan itu
adalah algoritma di sosial media. Jadi,
jadi ee sekarang kita
kalau kita bilang algoritma ini adalah
ee apa namanya? Feelingin ya atau atau
tokoh tokoh jahatnya gitu ya. Ee dalam
hal ini gitu. Algoritma itu sederhana.
Ee apa namanya ee platform-platform
sosurm itu
memberikan tugas algoritma cuma satu
saja. tugasnya di algoritma itu cuma
diperintah satu hal oleh platform
tersebut. Tunjukkan lebih banyak hal
yang membuat user atau pengguna sosmet
lebih lama atau berlama-lama pakai
sosmet, berlama-lama scrolling,
berlama-lama
ee apa namanya di layar.
Dan ternyata yang bikin orang bertahan
lama bukan bukan dalam ya ini tadi kita
sampaikan di depan ya bukan berita baik
tapi ya tadi itu konflik drama hal
negatif dan lain-lain ya jadi jadi ee
algoritma itu terus belajar dan
percayalah
dia jagoan itu kalau belajar tahu bahwa
kalau seseorang melihat video tentang
orang yang bersedekah kita mungkin akan
tersenyum alhamdulillah terus scroll
lagi ya, orang lagi bayar zakat begitu
ya atau orang lagi membantu orang itu
dia alhamdulillah scroll, senyum, happy,
tapi dia enggak share. Ini ini
dipelajari oleh algoritma, dipelajari
oleh platform-platform mungkin. Tapi
kalau kita melihat orang yang debat
keras soal politik yang lagi apa namanya
misalnya sedang
mengkritik ee pemerintah, mengkritik ee
pemerintah daerah, mengkritik misalnya
kepala PPSDM gitu misalnya.
Kita bukan hanya nonton, kita baca
komen-komennya tuh biasanya kalau kita
sudah banyak komennya, kita share ke
grup WA, kita share ke story, kita share
ke kawan-kawan kita dan lain-lain banyak
dramanya, semakin banyak ee krisisnya
dalam kegawatannya, semakin ee
berpotensi konten itu kita share ke
orang lain.
Jadi dan algoritma akan menganggap, "Ah,
ini dia nih, si fulan ini senang yang
kayak gini nih. Nah, saya kasih lebih
banyak." Nah, dan dan dan ini yang
kemudian dipelajari oleh algoritma.
Jadi, amplifikasi konflik, amplifikasi
drama, amplifikasi pesimisme,
amplifikasi krisis, amplifikasi ee ee
apa namanya? skeptis, skeptisme dan lain
potong tanpa perbedaan pendapat atau
kredit akan dipotoritaskan karena
memanjang perdebatan. Nah, ini
kawan-kawan penting ya. Salah satu eh
alat atau tools paling jagoan membuat
satu konten itu viral adalah komen.
Semakin banyak komen, semakin viralah
konten itu. Maka ketika kita melihat
konten-konten ada orang berdebat di TV
kemudian di-capture terus kemudian
di-share di sosm maka perbedaan atau
atau argumentasi itu berlanjut ke kolom
komen dan ini disenangin oleh
ee sosmet.
Dan itulah kenapa kawan-kawan sebenarnya
ee saya membawa satu ee ee apa namanya?
misi kita mendirikan Good News from
Indonesia ini ke tahun 2015 kita
dirikan. Jadi ee intinya adalah ya ini
terakhir ya menumbuhkan optimisnya dan
percaya diri bangsa. Jadi orang
Indonesia kalau sudah pesimis itu kalau
orang pesimis ini secara serogis orang
pesimis itu biasanya pikirannya jangka
pendek. Orang optimis itu pikirannya
jang jang panjang. Oh Indonesia tahun
100 2045 ngapain ya gitu. Tapi kalau
orang pesimis kiranyaah besok atau
minggu depan atau bulan depan atau tahun
ini atau pemilu depan sekitar itu saja.
Dan kemudian percaya diri Indonesia.
Jadi kalau kita ke luar negeri misalnya
itu bawa paspor Indonesia, kita berdiri
tegak ya ee apa namanya e up gitu, bukan
bukan merasa minder duluan. Nah, ini
yang coba kita tumbuhkan hal-hal
positif, prestasi kemudian ee ee apa
namanya ee eh kebaikan kebak Indonesia
kita tampilkan ya. Dan kami percaya
seperti juga hal-hal negatif, optimisme
itu juga menular ya. Selain itu kita
juga melawan kelelahan informasi negatif
ya. Percayalah banyak orang Indonesia
sudah begitu lelah ee dengan informasi
yang beredar di manapun. Kita sering
mendapat DM, sering mendapat WA, terima
kasih sudah menyabarkan hal-hal yang
baikan Indonesia menjadi penghibur Lara
begitu ya. Dan selain itu ya ini juga
tadi saya bilang bahwa sebenarnya berita
positif itu bukan enggak ada tapi kalah
kalah viral dengan berita-berita yang ee
kurang positif. Dan ini kami menyediakan
platform agar cerita-cerita positif,
cerita-cerita optimis, cerita-cerita
baik tentang orang Indonesia, tentang
Indonesia, tentang sejarah Indonesia,
tentang seni Indonesia itu ee
kepermukaan.
Dan ee kita kalau kita ngomong tadi
algoritma, maka beberapa hal yang kami
lakukan ini secara singkat aja. Tentu
saja nanti kalau misalnya ada ada apa eh
event lebih lama lagi kita bisa inikan
lebih r jadi bagaimana kami mengemas
good news seperti hot news ya jadi kalau
misalnya lambeturah itu mengelola gosip
dengan begitu bagusnya dan viral kami
memulai khusus dengan cara kami dan
ternyata banyak hal yang bisa kami
jangkau gitu kita juga main di mikr
trrend jadi konten-konten kecil misalnya
ada orang yang
apa namanya ee memberikan ee sedekah ke
ibu-ibu ee di pinggir jalan kemudian ee
terjadi interaksi dan segala itu itu
kita kita tampilkan itu mikr trren dan
itu momen-momen dan ini yang disukai
oleh orang-orang Indonesia. Jadi, human
stories dan segala macam
dan lain-lain ya. Yang terakhir ini yang
kawan-kawan konsistensi. Konsistensi ya
dalam bahasa Jermannya ini istikamah.
Jadi bagaimana kami setiap hari, setiap
hari ya kami membikin konten total dari
tulisan video eh news sampai dan segala
macam itu sekitar 80 sampai 90 konten
per hari ya. Ini konsistensi
dan total kami semua platform itu ada 6,
juta 6,5 juta followers dengan 450
sampai 500 juta impresi per bulan. Dan
ini kawan-kawan bisa melakukan hal yang
sama. Kenapa? Kami memakai platform yang
sama persis dengan yang kawan-kawan
pakai. kami pakai Instagram, kami pakai
TikTok, kami pakai YouTube dan segala
macamnya. Kawan-kawan juga pakai itu.
Kawan kami juga pakai CapCut, kami juga
pakai ee Kanva dan kawan-kawan juga bisa
pakai itu. Nah, kita mari ee melakukan
hal yang lebih dan bagaimana. Jadi, jadi
ini yang kemudian kami lakukan jadi eh
branding dan public price. Jadi, ee apa
namanya? kami terus melakukan branding
bahwa yang namanya Indonesia itu tidak
menulis soal negatif tapi banyak positif
dan kita akan angkat kemudian
konten-konten yang relevan, kolaborasi,
kemudian interaksi dan partisipatif.
Kita mengundang kawan-kawan semua para
followers untuk mengirim berita,
mengirim konten, mengirim video ee
berkomentar dan lain-lain.
Dan ini eh multi platformatform yang
kami sampaikan tadi ada Good News from
Indonesia, ada Good St apa namanya? ee
berbasis data. Kemudian C Asia ini
berbahasa Inggris dan kita sudah mampu
menjangkau per bulan itu sekitar 150
sampai 170 juta orang Asia Tenggara. Hal
baik tentang ee Indonesia. Baik, mari
kita berkolaborasi dari saya. Itu saja
semoga waktunya enggak melebar.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
Pak Ari atas materi yang sudah
disampaikan. Mohon berkenan Bapak untuk
tetap bergabung bersama kami karena
sesaat lagi akan kami buka sesi tanya
jawab. Enggak apa-apa Bapak ya? Silakan.
Silakan. Oke. Baik. Jadi untuk sobat ASN
yang ingin bertanya silakan untuk
menggunakan fature raise hand untuk Anda
yang bergabung melalui Zoom meeting dan
yang bergabung di YouTube channel BPSDM
Jatim TV silakan tuliskan pertanyaannya
melalui live chat.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Oke, baik. Sekarang kita memasuki sesi
tanya jawab ya bersama dengan Bapak
Akyari Hananto. Silakan untuk yang ingin
bertanya kita cek dulu siapa yang sudah
menggunakan fitur raise hand ataupun
yang sudah menuliskan pertanyaannya.
Baik, ini sudah ada Bapak Dadang dari
Diskominfo Tuban ya. Ini tadi
pertanyaannya dituliskan lewat ee live
chat-nya Zoom. Oke. Baik. Ini Pak Dadang
akan kita tayangkan langsung atau saya
bacakan aja nih pertanyaannya. Ada Pak
Dadangak. Ada Pak Dadang enggak
kira-kira ini? Selamat pagi, Pak Dadang.
Apakah Pak Dadang masih bergabung di
sini?
Oke. Baik. Selamat pagi, Pak Dadang.
Halo. Pagi. Pagi. Sehat, Bapak?
Alhamdulillah.
Alhamdulillah. Baik, silakan Pak Dadang
untuk langsung mengajukan pertanyaannya
ke Pak Ari.
Oke.
Ee selamat pagi, Mas Akyar.
Iya. Kita dulu pernah ketemu di Tuban
dan sekarang pernah ketemu di Tuban saya
masih ingat jumpa di sini.
Siap. Jadi kalau dulu kita ngomong
sebagai admin atau apa gitu ya, sekarang
mungkin kalau sekarang di sebagai ASN
Mas ee sebag seperti yang dikatakan Pak
Ramlianto tadi bagaimana kita bis ASN
itu bisa menjadi penjaga narasi bukan
hanya ee membuat sensasi padahal mungkin
kita sendiri ini kan punya pemikiran
sendiri, kita punya ee unek-unek apalagi
yang mungkin mungkin ee ee dengan
kebijakan yang berhubungan dengan kita.
Nisalkan apalah biasanya kita kalau
sudah ada gaji 13 apa itu sudah di
ee sudah digodok luar biasa sudah di
medsos kan luar biasa biasanya
itu sebaiknya sebagai ASN sendiri itu
sebenarnya kita itu sebatas mana kita
bisa bersuara di media sosial gitu kan
menurut Mas Ah bagaimana caranya untuk
kita senar gimana gitu Mas cukup mungkin
seperti itu dulu oke terima kasih
pertanyaannya Pak Dada Dan untuk Bapak
Ari bisa langsung dijawab saja Bapak
ya. Ya. Ya. Apa namanya ini pertanyaan
yang ee sangat kontekstual ya dan dan
dan sebenarnya sensitif dan ee saya
semoga bisa menjawab secara bijak,
realistis gitu ya, tapi tetap menjaga
memberi arah. Tapi intinya saya bukan
ASN mungkin Pak Ramli yang jauh lebih
jagoja. Tapi izinkan saya sebagai orang
non ASN, saya sebagai ee partner dari
ASN ee bisa menjawab itu ya, Pak Dadang
ya. Baik, ini pertanyaan yang relevan
ya, karena ASN ini punya posisi unik. Di
satu sisi Pak Dadang dan kawan-kawan ASN
yang lain adalah warga negara yang juga
punya UPI nih, punya keresaan, punya
undang tadi disampaikan punya hak untuk
bersuara tapi di sisi lain ya ASN juga
adalah perwakilan atau representasi
langsung dari negara dan ini tentu saja
membawa tanggung jawab tersendiri. Maka
jawabannya
bukan hitam putih menurut saya, tapi ASN
itu boleh bersuara tapi dengan cara yang
bagaimana bersuara tetap harus menjaga
atau atau mempertimbangkan marwah dari
profesinya sebagai representasi negara.
Jadi artinya gini, boleh mengkritik ya
asal berbasis data dan tidak menyarang
pribadi itu menurut saya masih bisa
diterima. Kemudian boleh berbagi
keresahan tapi tidak menyeberarkan
pesimisme massal. Misalnya, "Wah,
Indonesia tahun ini enggak tumbuh
ekonominya." Itu kan enggak berbasis
data dan wah resah saya jagai orang yang
optimis saja resah kayak gitu misalnya
gitu misalnya ya. Kemudian ee boleh
mengekspresikan pendapat dengan catatan
tidak menurut saya tidak menurunkan
kepercayaan publik terhadap institusi ee
tempat Bapak Dadang mengabdi di Kominfo
ee Tuban misalnya gitu. Dan ini yang
paling penting. ASN ini kan sebenarnya
punya peran besar dalam menjaga kualitas
narasi, menjaga narasi yang positif. Ya.
Ya. Bukan dengan menggunakan bukan
dengan mengenadakan kritik, tapi dengan
menjadi teladan dalam menyampaikan
kebenaran ee dengan cara-cara yang tadi
sudah sampaikan di atas. Saya pikir juga
misalnya ASN bilang misalnya, "Oh,
Indonesia saat ini ee apa namanya?
Tumbuh terbesar di Asia Tenggara itu
juga salah."
meskipun maksudnya positif tapi enggak
ber data data dan itu salah dan itu
menurut saya ee ee justru tidak menjadi
teladan bagi audiens
Indonesia. Jadi ee ketika SN mengangkat
cerita baik tentang inisiatif daerah,
program-program yang disampaikan di
dilakukan oleh pemerintah daerah atau
inovasi-inovasi dan tempat kerjanya itu
sudah menjadi bagian dari narasi positif
yang sangat dibutuhkan publik. tadi saya
bilang ada kelelahan publik terhadap
berita-berita negatif dan ESN bisa
menjadi menjadi apa namanya bisa menjadi
ee ee ee ee ee ee air dingin yang yang
mendinginkan e panasnya ee berita-berita
yang ee negatif tadi. Nah, sebagai
penutup saya bilang ASN ini sebenarnya
bukan robot. Saya saya setuju dengan Pak
Danang ASN bukan robot tapi juga bukan e
influencer partisan ya. Ya, jadi ASN
adalah jembatan kepercayaan
antara masyarakat seperti saya dengan
negara. Dan ini tadi saya bilang bukan
robot ini boleh menyampaikan ekspresi
dan segala macamnya. Dan di era ini
narasi yang dibangun ASN bisa ikut
menentukan arah kepercayaan itu. Monggo
dimanfaatkan. Begitu Pak Dadang. Oke.
Bagaimana Pak Dadang? Sudah cukup atau
ada tanggapan lagi?
Pak Dadang.
Wah, terputus sepertinya. Cukup. Oh,
cukup cukup cukup. Baik, terima kasih
banyak Pak Dadang.
Oke, sama-sama. Terima kasih, Pak
Dadang. Ini dari Diskominfo Tuban juga
Tuban. Iya.
Oke. Baik. Yang berikutnya ada juga yang
sudah raise hand nih dan juga menuliskan
ee pertanyaannya di live chat Zoom
meeting. Apakah sudah bergabung juga
Bapak Andrianus dari Ombutsman RI? Iya,
selamat pagi Pak. Selam pagi. Selamat
pagi Bu. Iya.
Silakan. Wah, ini saya dengkul saya
copot ini, Pak. Ditanya orang Om Busman
ini.
Silakan, Pak Andrianus. Langsung saja
pertanyaannya. Oke. Baik, mohon izin,
Pak. ini saya ada ee banyak pertanyaan
gitu ya. Ee yang pertama itu ee mengapa
masyarakat Indonesia itu sangat mudah
percaya dengan berita-berita hox gitu
ya, terutama mereka yang usianya tuh
rata-rata sudah di atas 50 tahun.
Sebagai contoh kayak misalnya orang tua
saya atau mertua saya gitu begitu ada
berita atau nonton di ee apa medsos gitu
ituang ini beneran ya beritanya ya?
Terus aku cek ini kayaknya enggak deh
ini bohong deh. Coba dicek lagi itu. Itu
yang pertama. Nah, terus yang kedua ee
bagaimana caranya kita bisa memilah gitu
mana berita yang hoak, mana yang bukan
gitu. Karena selama ini berita hoa dan
berita yang real, beritanya tuh kadang
suka ee apa namanya? Campur aduk gitu
ya. Sehingga masyarakat kita tuh agak
susah gitu untuk membedakannya.
Itu yang kedua. Terus yang ketiga ee
tadi saya sangat tertarik dengan paparan
dari Pak ee Akri ya terkait dengan
masalah ee berita negatif. Iya. saya
sangat ee apa ya sepakat gitu ya dengan
tadi sampaikan bahwa terutama untuk yang
generasi
ee milenial gitu mereka cenderung lebih
memilih untuk membaca berita-berita yang
ee bersifat konten negatif atau gosip
ataupun fiktif gitu kan dibandingkan
dengan membaca berita ataupun artikel
yang bersifat positif atau misalnya
karya ilmiah ataupun ee terkait bacaan
ilmiah gitu. Nah, itu mengapa seperti
itu gitu. ee bukankah kalau misalnya
kita mau baca e berita negati itu dalam
peng yang tadi Bapak sudah jelaskan gitu
dan itu kan nantinya akan berpengaruh
kepada kesehatan mental gitu pada
akhirnya. Itu yang ketiga. Terus yang
keempat ee ini agak di luar dari konteks
gitu ya mengapa generasi milenial dan
generasi alpa gitu ya sekarang itu
mereka lebih ee piawai gitu ya dalam
menggunakan IT dan AI teknologi AI
dibandingkan dengan generasi-generasi
sebelumnya. Demikian Pak mohon maaf
kalau pertanyaan cukup banyak. Terima
kasih, Pak. Oke, terima kasih Pak
Adrianus. Ini total ada empat pertanyaan
ya. Baik, akan dijawab satu persatu oleh
Bapak Ari. Silakan, Pak Ari. Iya. Eh,
terima kasih, Pak Adrianus. Ini Pak
Adrian di Jakarta kah atau di mana? Iya,
saya di Jakarta. Betul, Pak. Di Jakarta.
Baik, baik, baik, baik. Jadi ee ini ada
beberapa hal tadi saya bilang ee ee apa
namanya? Ada beberapa ada empat
pertanyaan, tapi mungkin ada beberapa
pertanyaan bisa digabung jawabannya.
Jadi saya ulang ya, mengapa masyarakat
terutama di usia 60 plus begitu ya, itu
mudah percaya berita-berita yang ya
tidak akurat ya, berita tentang framing,
head speech, mungkin kadang-kadang hoa
dan lain-lain dan dan mengapa Genzet
cenderung konsumsi berita negatif dan
bukan konten ilmiah. Kira-kira begitu
dan sebenarnya begini Pak ini pendapat
saya ya, kita hidup di era di mana
informasi itu bukan hanya datang. Jadi
kita hidup di era di mana informasi itu
enggak dicari dan mereka bukan hanya
datang sendiri tapi mereka datang kayak
tsunami, Pak. Menyerbu
belum selesai serbuhan pertama sudah
muncul lagi serbuan-serbuhan berikutnya.
Banyak sekali dan ketika informasi
datang begitu cepat, begitu banyaknya
yang paling emosional
biasanya yang paling mudah diingat, yang
paling ada dramanya itu yang paling
diingat. untuk generasi yang lebih
senior katakanlah tadi sampaikan ee di
usia di atas 60 tahun ke atas mereka
tumbuh di era ketika ya orang-orang tua
kita l tumbuh di mana ketika informasi
itu sakral dulu saya hidup di Sleman Pak
Adrian Sleman itu dan sejak sampai saya
SMA itu saya hanya bisa menonton TVRI
enggak bisa nonton
TV lain cuman TVRI saja dan dan bagi
kami dunia dalam berita itu sakral.
Berita jam 7. Itu sakral. Liputan khusus
itu sakral. Itu adalah satu-satunya
sumber informasi yang yang terpercaya,
yang benar ya. Dan nah jadi orang-orang
tua tu orang tua kita itu tumbuh di era
itu. Nah, kalau sudah masuk koran dan TV
biasanya lebih bisa dipercaya bagi
mereka gitu. Tapi diaj semua orang bisa
menjadi media dan insting kritis ini
kadang belum secepat inkrisi kita
terbangun bukan tidak secepat dengan ee
banyak informasi yang yang yang datang
ke dan ini membuat biasanya mereka lebih
rentan menerima informasi yang belum
terverifikasi apalagi kalau itu tadi
saya sampaikan menyentuh emosi ada
dramanya ee misalnya soal mohon maaf
soal agama soal budaya soal nostalgia
masa lalu gitu ya soal order baru soal
drama itu yang mereka akan segera
memproses ini akan segera diingat itu
tuh itu bukan salah mereka ya itu ya
sudah ee ekosistem ee mereka menerima
berita sementara Genzet dan milenial
Genz itu eh lahir tahun
95 ke atas apa ya ya saya termasuk
milenal berarti nahj
dan milenal merek justru sudah kebal
kebal iklan skeptis dan dan dan mereka
sebenarnya punya awareness yang lebih
Pak soal
disinformasi ya ee bedakan antara
disinformasi dengan misin informasi ya
kawan-kawan ya sebagian saya yakin sudah
paham ya informasi itu ya apa namanya
konten yang sengaja dibikin untuk
membuat orang salah ya tapi kalau
informasi itu ya ada taiponya ada
kadang-kadang salah kutip dan segala
macam itu miss mis informasi nah tapi
tantangannya tantangan dari Genjet dan
dan G Milenal berbeda dengan yang eh
kawan-kawan kita yang senior tadi.
mereka tercenderung cenderung tertarik
pada konten-konten yang lebih emosional
dan sensasional. Dan karena itulah
algoritma algoritma sosm itu mendorong
konten-konten seperti itu ke mereka.
Bagi mereka konten ilmiah itu ya mereka
paham itu penting, tapi terlalu panjang,
terlalu rumit, Pak. Enggak ada musik
TikTok-nya gitu. Mereka mikir yang
seperti itu. Enggak ada musiknya, enggak
bisa di enggak bisa di-share. Masok
kayak gini share ke kawanku. Nah,
misalnya kayak gitu. Nah, ini ini ini
juga juga apa namanya juga hal yang yang
perlu kita pahami. Tapi bukan berarti
mereka enggak mau belajar menurut saya
ya. Mereka butuh cara penyampaian yang
relevan, yang engaging ya. Eh, mohon
maaf Genjet dan Milenial itu enggak
baca, enggak baca buku Harry Potter,
Pak. Tapi mereka nonton filmnya. Artinya
mereka kalau baca malas. Kalau nonton
filmnya uh bisa ramai-ramai, bisa
dikutip dan segala macamnya. Dan dan ini
kalau kita bicara soal memilah ya,
kemudian memilah berita palsu, berita
nyata, berita realil. Kita harus sadar
di zaman sekarang berita palsu itu
ee seringki dibuat dengan lebih niat
daripada berita asli. Kalau saya bilang,
"Oh, saya sedang ikut Zoom BPSDM Jatim,
itu berita asli." Ya, saya posting aja
itu enggak ada niat apapun. Tapi kalau
berita palsu itu diorkestra di di apa
namanya? di dicrafting secara lebih
visualnya mau engaging kemudian
narasinya copywriting-nya kemudian
dibeng nah itu biasanya ee apa namanya
biasanya itu yang karena mereka berita
palsu itu hoa ya terutama hoa ya berita
disinformasi berita yang sengaja untuk
menciptakan misleading itu diciptakan
secara serius mereka punya niat untuk
bikin itu ya niat bikin visualnya niat
kontennya niat temanya niat
copywritingnya nikmat hooksnya dan
segala macam dan nah dikemas rapi pakai
grafis narasinya bagus ya dan makanya
hal ini ee ini kembali kepada hal yang
kita pahami bersama bagaimana kalau kita
memilah itu. Pertama sudah lihat
sumbernya kedua baca sampai akhir ya ee
ya kebanyakan kalau terutama milenial
genjet itu bacanya cuma judul saja atau
baca bagian-bagian awal saja. Kemudian
tahan jempol sebentar ya. Semakin banyak
kita share, semakin banyak kita komen,
bahkan kita komen misalnya ngelihat
konten terus kita, "Ah, kontennya hoa
nih." Eh, itu sudah bikin kontennya sama
viral, Pak. Coba kita ditahan sebentar
kayak gitu-gitu. Nah, nah eh terakhir
tentang ya tadi bagaimana AI ini mungkin
sedikit out of the box tapi saya senang
jawabnya, Pak. Kenapa eh Genjet dan
Millenials itu terutama Genjet, Pak, itu
lebih piawai menggunakan teknologi,
menggunakan E? Nah, karena mereka memang
lahir di di di daerah itu, Pak. Kalau
kita lahir dulu zaman kita mengenal
internet, kita masih ada mengenal suara
modern
dienter sekarang loadingnya tahun depan
misalnya gitu. Jadi, e Genjet enggak
lahir di era itu. Genjet lahir di
langsung di era eh internet, di era
sosial media, di era marketplace. Jadi
bagi mereka EI saya pernah nanya bagi
mereka EAI itu bukan bukan teknologi
canggih.
EAI itu bagi mereka adalah sebuah
keharusan zaman. EAI itu bagaimana teman
ngobrol membantu nyari ide. Kawan-kawan
kalau kita ee ee apa namanya? Ee satu
mobil dengan kawan-kawan gadget tuh
mereka ngobrol dengan dengan CGBT Pak.
Ngobrol gitu ya. Dan dan dan sama
seperti tadi saya umur 60 tahun ya mau
lihat mesin ketik itu hal yang biasa.
Tapi kemampuan memakai teknologi itu
belum tentu dibaring dengan kemampuan
memilah. Tadi saya sampaikan memilah
mana yang benar dan mana yang salah.
Jadi di sinilah ee semua generasi punya
PR. Jadi yang tadi 60 ke atas sampai
yang Gen Z, milenial, Gen X dan segala
macam. Literasi itu bukan hanya soal
tahu cara ngeklik atau mana yang harus
diklik, tapi tahu kapan harus berhenti
dan bertanya apakah ini benar dan segala
macam. Jadi, jadi ee yang tua punya
punya pengalaman ya, yang muda punya
kecepatan, tapi di zaman informasi ini
kita semua punya tanggung jawab yang
sama menjadi warga digital yang tidak
hanya cepat dan berengalaman, tapi juga
bijak. Kira-kira begitu nggih, Pak
Adrianus. Nggih. Mohon maaf kalau
kepanjangan. Matur nuwun.
Apakah sudah cukup?
Oke, sepertinya sudah cukup ya, Pak
Adrianus ya. Baik, terima kasih Pak Ari
sudah menjawab beberapa pertanyaan dari
sobat ASN yang sudah bergabung di sini.
Jadi memang kalau kita lihat di sosial
media yang negatif-negatif ini justru
lebih banyak ya. Kemudian juga tadi
sempat Pak Ari bilang kalau mengkritik
sebagai seorang ASN apabila menggunakan
sosial media juga tetap harus berbahasa
yang santun, yang membangun. Namun ee
yang agak miss di sini Pak Ari, kritik
ini kan membangun. Apabila kritik ini
kita sampaikan dengan santun, ada
kalanya kritik yang kita sampaikan ini
tidak terdengar, Bapak. Justru ee
para pengguna sosial media ini
menghalalkan segala cara bagaimana
mereka apa yang mereka sampaikan ini
bisa viral supaya didengarkan. Nah, ini
bagaimana caranya kita bisa memberikan
suatu informasi dengan bahasa yang baik,
namun diterima dan ee
di apa ya bisa ditanggapi begitu.
Bagaimana Pak Ari? Ini pertanyaan dari
Mbak Anisa atau dari pesertanya? Jadi
saya tadi ee melihat pertanyaan dari Pak
Adrianus, kemudian pertanyaan dari ee
Pak Dadang begitu ya kan. Lagi-lagi
kalau yang negatif-negatif kan lebih
cepat gitu kan.
I ya ya. Ini ini betul kok Bu. Jadi em
ee apa jadi ee begini ada satu narasi
besar yang menurut saya ee perlu kita
luluskan bareng-bareng saya sebagai
masyarakat. Jadi kalau oh kritik itu
harus membangun gitu. Saya pikir juga
salah gitu. kritik itu ya kritik, solusi
itu ya solusi. Kalau mau nyari solusi
itu nanti kita nyewa konsultan dan
segala macamnya itu itu kita sepakat
dulu situ kritik-kritik ee solusi-solusi
dan kita kan sekarang pertanya adalah
bagaimana kritik kita harus didengar
entah itu pakai cara apa tapi didengar
gitu. Nah, ini dilema nyata di era
digital menurut saya. Jadi banyak orang
merasa kalau saya ngomongnya cara-cara
baik, cara sopan, enggak ada yang peduli
dong. Tapi kalau saya marah-marah
langsung viral. Kira-kira begitu. dan
dan ee tentu saja saya tidak tidak dalam
posisi untuk men-judge itu karena memang
sistem algoritma kita saat ini memang
lebih cepat ee apa namanya menaikkan
yang yang konten-konten ataupun
kritik-kritik yang ada unsur dramanya di
situ. Unsur drama kan ya marah, benci,
rindu, kangen, lucu dan segala macam itu
ada drama di situ. Nah, dan daripada
yang disampaikan dengan cara santun,
dengan cara bijak. Tapi pertanyaannya
secara viral apa hasilnya? Nah, apakah
itu kritik itu menggerakkan perubahan
perubahan atau membuat orang jadi
defensif atau tutup telinga gitu
kira-kira gitu. Nah, jadi menurut saya
ee eh masuknya ke objektif key
resultnya. Jadi di end result-nya itu
apa? Apakah yang dikritik itu jadi jadi
marah gantian, jadi tutup telinga ee
atau jadi defensif? Nah, di titik ini
kita perlu bedakan kritik itu bukan
sebenar saya menurut saya bukan hanya
soal nada suara ya, tapi soal niat dan
arah. Niat dan arah. Jadi kritik bisa
tajam,
bisa keras, bisa sambil marah ya asal
tidak mengarah pada ya itu tadi
penyengaran pribadi, pembunuhan
karakter, menyebar kebencian, dan
lain-lain. Kita di sinilah sebenarnya
ini penting banget. Terima kasih sudah
bertanya. Jadi di sinilah kita belajar
seni seni menyampaikan ketidakpuasan
dengan akurasi, dengan drama sedikit
tapi tidak dengan emosi. Karena kritik
yang menurut saya kritik yang penuh
dengan marah-marah kadang justru
kehilangan fokus. Yang dikritik bukan
solusinya tapi sosoknya jadi orangnya
gitu dan nah ini sudah salah ini sudah
sudah arahnya sudah salah gitu dan dan
akhirnya substansinya hilang. Yang viral
hanya ributnya bukan esensinya gitu. dan
dan mungkin tangan-tangannya adalah tadi
kembali ya, bagaimana agar kritik kita
viral bukan itu. Jadi, tapi bagaimana
agar k kita didengar tanpa kehilangan
niat baiknya. Ya, itulah narasi ee
itulah kenapa narasi positif juga
menurut saya perlu ruang ya. Eh ee
narasi put kan bukan selalu harus kita
harus selalu setuju ya, tapi bagaimana
agar kritik kita bisa lahir dari
kebiaran kebihan kita dari dari hal-hal
yang baik dari dari bukan dari emosi ya.
Jadi ee ee ee inilah seni di situ dan
saya pikir kawan-kawan punya punya
solusi untuk ini punya bagaimana seni
menyampaikan kritik Pak Suko nanti lebih
jago atau Pak Pak Dadi bagaimana
menyampan kritik ee yang didengar yang
viral tanpa harus viral ributnya, viral
marahnya tapi viral esensinya. Begitu
Mbak Nisa. Keren. Kalau saya boleh
jujur, suara kaling paling keras itu
bukan suara yang paling benar ya, tapi
suara yang konsisten, yang terus-menerus
yang bernuansa, ada nuansya dan berdasar
berdasar data, berdasar akurasi dan
itulah yang menurut saya pelan-pelan
bisa membuat perubahan nyata. Oke. Baik,
terima kasih Pak Ari, Pak Antrius juga
terima kasih Bapak sudah menyampaikan
un-unnya di sini. Terima kasih juga
Bapak Dadang sudah sempat menyampaikan
pertanyaannya secara langsung di sini.
Dan untuk sobat HSN yang ee belum s
bertanya jangan khawatir karena masih
ada dua narasumber lagi ya. Sama seperti
yang disampaikan oleh Pak Ari tadi ada
ee Pak Suko barangkali nanti yang
seninya ilmu berkomunikasi supaya kita
didengarkan bagaimana. Benar ya Pak Ari
ya.
Oke kalau begitu terima kasih banyak
Bapak Kari Hananto S. MBA atas ilmu yang
sudah disampaikan di sini. Semoga
bermanfaat untuk seluruh sobat ASN yang
sudah bergabung di ASN belajar seri 23
tahun 2025. Semoga berkah Bapak dan kami
persilakan untuk melanjutkan ke schedule
berikutnya. Terima kasih, Pak Ari.
Terima kasih Mbak Nisa kawan-kawan Pak
Suko, Pak Dadi, Pak Ramli. E saya pamit
duluan mau ke Jogja habis ini. Terima
kasih. Asalamualaikum. Terima kasih.
Baik, sahabat ASN jangan ke mana-mana
karena sesaat lagi kita akan memasuki
sesi bersama dengan narasumber kita yang
kedua.
[Musik]
Baik, masih di ASN Belajar seri 23 tahun
2025. Dan pada segmen kali ini kita akan
bersama-sama menyimak materi apa sih
yang akan disampaikan oleh narasumber
kita yang kedua. Beliau adalah pakar
komunikasi dan juga seorang dosen
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Air Langga. Beliau juga
seorang ketua umum Perhumas Surabaya
Raya. Mari kita sambut bersama Bapak Dr.
Suko Widodog, Drandes, M.Si. si
[Musik]
Asalamualaikum selamat siang, Pak Suko.
Selamat siang. Asalamualaikum, Mbak Dewi
dan semua peserta apa e ASN Jawa Timur.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Bapak Suko, bagaimana
kabarnya Bapak hari ini?
Oh, kabar baik. Yang tidak baik tidak
usah dikabarkan, Mbak.
Oke. Baik, Pak Suko untuk kali ini yang
sudah bergabung di ASN Belajar seri 23
tahun 2025 ini dari seluruh Indonesia
dan lebih dari 3.000 sobat ASN yang
bergabung di sini. Boleh disapa terlebih
dahulu Suko.
Selamat pagi siang ee semua peserta ee
Pak SN ke-23 ya enggak salah sehat
semua? tetap optimis dan
ee ada kata yang penting, jangan pernah
menyuruh sabar orang yang sedang marah.
Oke. Baik. Tapi untungnya di sini, Sobat
ASN sabar semua ya untuk menanti materi
yang akan disampaikan oleh Bapak Suko.
Kalau begitu tidak perlu berlama-lama
lagi, langsung saja kita simak. Ini dia
materi kita yang kedua dari Bapak Dr.
Suko Widodo, Dres, M.Si. Silakan, Bapak.
Oke, saya coba apa ya? Coba ee
menyampaikan ini ya. Oke, oke,
oke. Saya akan ini, Mbak akan mencoba.
Sudah terlihat ya, Mbak Dewi ya. Sudah
terlihat Bapak.
Eh, Mas Akyar tadi bagus ya. Dia adalah
guru saya dalam mempelajari dunia baru,
dunia yang lebih muda. Sebagai orang
yang lahir di saya ini termasuk generasi
anu, Mbak Dewi ee generasi
baby bomer. Jadi saya the last emperor
perang dunia kedua lah kelahiran tahun
'4 itu. tentu apa ee tidak cukup mudah
bagi saya untuk belajar apa ee dalam ee
dunia baru sampai titik di mana ketika
ee Covid dulu ee dan ditumpangi dengan
perkembangan teknologi muncullah ee
muncullah ee kehidupan yang namanya
sosialita hibrid atau juga menyebut juga
hibrid living. Jadi hidup bersama dan
hidup bersama pada puncaknya hari ini
kita ketakutan manusia atas yang
diciptakan sendiri. Jadi saya mulai
dengan kira-kira ada orang yang penting
ya John Makarti ini tahun '6 pertama
kali yang ee membuat apa yang disebut
dengan AI artificial intelligence tahun
'6 dan pada tahun itu perdebatan luar
biasa ee para para ahli-ahli dia sangat
ahli sekali sudah almarhum. Tetapi
Bapak Suko, mohon maaf Bapak ini
materinya belum diful screen kan? Aw,
belum full screen. Jadi supaya bisa
terlihat terbaca tulisannya nanti.
Hm.
Oke. Iya, sebentar. Oke. Harap bersabar
ya, Sobat ESN. Kita full screen-kan dulu
materinya
bisa terlihat sudah tampak belum ya?
Masih. Apakah sudah? Oh, yang slide show
Bapak. Jadi lebih full screen lagi untuk
materinya.
Baik.
Oke, sampun nggih. Oke, terima kasih.
Monggo dilanjutkan, Bapak,
ya. ee ini ee mungkin saudaranya Paul
Makarti ee jadi temannya John Lenon,
tapi John Makarti ini adalah seorang
ahli apa ee dia fisikawan yang kemudian
menemukan berbagai dan dia adalah orang
yang pertama kali menyebut ee apa yang
disebut dengan kecerdasan buatan atau
artis visual intelligence dan yang saat
terakhir kemudian menakutkan bagi Elon
Mas dan sejumlah orang menjadi takut
terutama bagi apa ee saya yang belajar
AR komunikasi itu kan apa yang disebut
dengan era postruk itu kan ada valasi
terhadap ee apa fakta ya. Jadi itulah
berkembang dan masyarakat mengalami
kekacauan yang luar biasa. Nah, sebelum
saya memaparkan detail, ada orang yang
menentang sebetulnya namanya Stepen
Hawking. Dia dari muda sudah fisiknya
pakai kursi roda. Dia mempelajari tapi
dia mengatakan bahwa ee perkembangan
kejadian buatan sepenuhnya bisa berarti
akhir dari umat manusia.
ee berbeda dengan ee Paul e John Makarti
yang mengatakan bahwa eh ini ee
ketakutan orang itu pada AI karena
sering menonton fiksi kalimatnya
kira-kira begitu atau sering menonton
film dan sebagainya. Nah, perdebatan
ilmiah yang tingkat tinggi ini ee
menjadi menarik sehingga ee John Makarti
mengatakan bahwa ee ini saentif ya, ini
pengetahuan dan pengetahuan itu tidak
berbatas. Maka satu-satunya jalan adalah
manusia. Jadi bagaimana ini alat alat
untuk membuat cerdas tapi jangan sampai
manusia kemudian dikendalikan oleh alat
itu menjadi sebaliknya. Itulah kenapa ee
dalam kehidupan baru kita terlibat dalam
apa ya interaksi yang luar biasa. Saya
kira sekitar Anda ini juga peralatan ya
mulai dari sound system, ada laptop, ada
ponsel dan sebagainya dan itu membuat
kehidupan baru yang saya kira ee
berubah. Nah, ini saya kira teman-teman
bahwa hari ini kita hidup dalam kita
nyebutnya ekosistem ganda tangan ee
pikiran aktif dalam dunia nyata. Tetapi
kadang-kadang di jalan ee saya jalan
kaki dan kemudian pikiran saya ee di
sana, jari saya bergerak dan sebagainya
sehingga kadang-kadang ditabrak orang
karena saya gak fokus.
Ini yang disebut kehidupan baru dan
penyelarasan.
Saya mengajar ee 35 tahun dan mungkin
ketika Anda belum lahir ya ee tahun 92
93 saya ngajar, saya bisa ngajar dalam
orasi seperti di Yunani kuno seperti
filosuf itu dan semua mendengarkan dan
mencatat dengan polpennya.
Tetapi hari ini saya tidak bisa
melakukan itu. Bukan karena saya tidak
ee bukan saya gak bisa mikir, tapi saya
seperti seolah tidak punya kesanggupan,
tidak kompatibel dengan perkembangan
generasi yang disebut masa akhir tadi,
generasi ee alpha Z dan sebagainya itu
karena dalam aturan ee SKS maka ini
harus kita sesuaikan, kampus pun harus
menyesuaikan. Saya ngajar 2 jam pada
tahun itu bisa bahkan bisa lebih dari
itu. Tapi hari ini saya mengajar
jangan bilang siapa-siapa ya Pak Dewi.
Ngajar tuh baru 15 menit mahasiswa tuh
menundukkan kepala semua. Mungkin dia
wiridan sambil mendoakan ya Tuhan semoga
Pak Suko segera keluar dari ruangan.
Jadi ee pola komunikasi saya yang one
way communication satu arah dan mereka
tugasnya mendengar itu akan beda.
Ee pendengar yang menikmati pesan tidak
lagi cukup hanya dengan mendengar karena
kekuatan mendengar itu pendek sekali.
Dia butuh reaction. Karena itu ee ya
saya pun mencoba sekarang merubah. Nah,
ini bukan teman-teman perubah kalau ada
bupatimu, walikotamu, kepala deni
pidatonya terlalu panjang diingatkan,
"Pak, jangan panjang-panjang, Pak. Sudah
baca gak apa-apa. Saya belajar dengan
anak-anak muda karena mereka menjadi
bondaris ya. Ketika saya masuk di kelas
itu seorang, Pak." Jadi gini ya, saya
datang ke anak berkerumun saya datang ee
ada apa? Oh, maaf, Pak. Kami diskusi,
Bapak. Kalau mau jalan, jalan terus
saja. Bagi orang tua kaget kata-kata
itu, tapi bagi anak muda gak apa-apa.
Dia dengan jujur mengatakan, "Ini sircle
saya, Pak. Ini diskusi Bapak silakan
jangan ganggu kami." Jadi ee di dalam
dunia media yang global ini teral semua
orang sama. Inilah yang jadi problem
nanti soal etika. Itulah kenapa
ketakutan Stepen eh Hawkins itu
sebetulnya masuk akal meskipun si John
Markarte sudah memberikan demarkasi
bahwa tergantung Anda ini pengetahuan
tapi etik. Etik saya lagi ketiga kali ya
etik menjadi kunci bagi kehidupan
manusia.
Nah, dengan perubahan itu coba di sisi
paling kiri kita lihat ee apa ya ini
yang 10 perubahan yang benar-benar itu
bahwa kehidupan sudah berpindah ke
platform ee atau bergabung ya ee
kehidupan bisnis pindah ke platform
baru,
muncul metode usaha baru dan sebagainya.
Ini pernah saya ajarkan. Nah, realitas
apa yang terjadi?
Lagu kanak-kanak ndak bisa lagi bangun
tidur keturus mandi gak ono sekarang itu
bangun tidur
kupegang ponsel pastilah.
Jadi saya kira ini yang butuh
penyesuaian. Tidak ada. Saya enggak
enggak yakin kalau Anda wah kalau saya
tidur tuh langsung bangun melipat kamar
kecuali di sekolah-sekolah barak
militernya KDM itu gak boleh itu. Tapi
di di apa di apa di rumah-rumah kita
selalu ponselah tidur mau tidur dan
sebagainya orang menjadi terasing karena
alat ini.
Realitas baru muncul ulang tahun
diucapkan lewat ini dulu enggak pernah
dulu pesta datang ketemu mereka punya
aktivisme bersama dan sebagainya mereka
jadi yang jalan pikirannya tapi fisiknya
tidak. Nah, perubahan program
dulu ee para ibu-ibu mungkin ya ee Ibu
mohon maaf para ibu-ibu itu kan paling
getol kalau bahwa dompetnya tebal itu
menunjukkan apa ya tingkat jabatan
eselon ee apa ya eselon 4 tuh agak kecil
eselon 3 tebal kalau eselon 2 itu lebih
tebal lagi.
Kalau strnya eslon 2 dompetnya di bawah
stafnya. Nah, tetapi
sekarang enggak ada lagi. Coba buka dulu
kan di dompet itu ada KTP, kartu KB,
kartu apa? Madrasah, macam-macam.
Sekarang enggak ada lagi karena semua
sudah di sini dan bahkan di tubuh kita
sudah tercancap semacam. Nah, tanda
tangan juga online, check in hotel tidak
harus mendaftar dari jauh cukup dan
sebagainya. kendaraan datang sendiri
Gojek dan sebagain kita ngalami semacam
itu. Jadi makanya nanti kapan-kapan saya
pengin Pak Ramli, Prof. Ramli ee nanti
kapan-kapan kita undang bosnya Gojek
untuk cerita atau Grab untuk cerita
bagaimana ee apa sistem apa informasi
yang bisa menjalankan roda bisnis
termasuk bagaimana ee kita membuat
rumusan. E saya kira Bu Yuyun di BKD
atau Mas e Hasyim sudah membangun sistem
semacam itu. Tetapi sekali lagi mari
kita ingat kata-kata dari Jorma bahwa
oranglah yang menentukan. Nah ini dunia
telah berputar.
Saya kadang-kadang gini ya di kampus itu
guyonan itu ciri khas orang itu kan
gibah. Mohon maaf ya, Bapak-bapak, Ibu
gibah itu. Jadi, metsos sekarang menjadi
ruang gibah yang terindah. Kalau dulu
kan di Mijo ya, jadi penjual melijo itu
sepi karena cuma di WA atau di anu
datang kirimi ee apa tauge satu Lombok
sak bungkus, uangnya langsung ditransfer
selesai. Jadi kehidupan indah gibah itu
sekarang tidak lagi dalam ruang licut.
Jadi dari fisik itu bisa juga kita
menjadi tidak sehat ee karena teknologi
itu. Nah, perkaranya sekali lagi ee
kemudian bagaimana soal yang kita sebut
dengan etika, moral dan rasa. Karena
ketika saya protes gak bisa digantikan.
Orang Jepang itu sekarang kawin sama
robot. Saya berapa nonton pengin datang
ke Jepang pengin mencium robot tuh
rasanya beda atau enggak? Kita kayaknya
harus anu, Pak, semua peserta itu
sekali-kali kita ajak ke Jepang atau ke
Korea
nanti apa Mbak Dewi diundi aja 10 besar
bisa ikut ke Korea, Korea Utara
biar dibedil sama Kim Jong. Nah, ini
yang kemudian menjadi tergantung bagi
kita yang kita sebut nomofobia. Istilah
itu juga sudah lama. Jadi ketakutan akan
kehilangan akses ponsel.
Jadi hampir semua kalau guyonannya kan
lebih baik kehilangan uang daripada apa
ya lepas telepon karena takut istilnya
itu guyon-guyon umum. Tapi saya ingin
mengatakan bahwa betapa kita tergantung
ya. Jadi orang takut jauh dari ee
perangkat semacam itu. Nah karena apa?
Karena Noob itu membuat orang sebenarnya
tergantung dari ee digital, dari ponsel,
dari elektronik.
Berbagai contoh misalnya kalau anak Anda
datang ke desa enggak ada akses Wii wis
ngamuk enggak karuan dan ee rumah sakit
menur nampung itu sebetulnya kalau Anda
mau neliti bagaimana akibat-akibat itu.
Tapi saya optimis misalnya beberapa
mahasiswa saya yang sekarang usi 30
sampai 40 itu dia benar ketat ketat
melarang anaknya. Bahkan nonton TV aja
gak boleh diatur di Nah,
keketatan-ketatan ini yang kemudian
harus kita rumuskan.
Kenapa dirumuskan? Karena bayangkan
Australia frustasi, Finlandia, Perancis
dan semuanya sudah menghentikan anak
sekolah tidak boleh pakai perangkat
digital kecuali dengan regulasi tertentu
ya. Maka ya tadi di Cina misalnya kalau
datang ketahuan ya sudah di sana ada
namanya kolam pembuangan ponsel ya
datang gak terus mereka ketat sekali
langsung dibuang.
Bayangkan kalau pegawai masuk kantor
teleponnya disimpan kalau enggak suruh
buang iso geger malahan iso carok.
Makanya ini yang saya kira harus ada
gerakan dari masyarakat dan saya kira
ASN ini harusnya memang menjadi agen of
change terhadap lingkungannya. Di mana
dimulai enggak mungkin sendirian.
Kalau sendirian dianggap aneh
ngadapi pimpinan ke mana aja kamu saya
telepon gak bisa gak dibalas loh.
Padahal baterainya habis misalnya. Jadi
ini yang saya kira related antara
kehidupan offline dan online bersama
bersatu dan nanti puncaknya di di AI
yang sekarang berkembang.
Jadi pengaruhnya pasti pada yang
terakhir dampak hubungan sosial.
Sosial itu beberapa skripsi tesis yang
saya bimbing eh berkaitan ee tentang eh
eh long distance relation, kemudian
toxic relation, macam-macam
banyak-banyak. Belum lagi kejahatan.
Nah, orang sangat tergantung karena
rata-rata menurut data eh hotsite suite
digital tahun 2004 itu ee orang
rata-rata menghabiskan 2,5 jam di dalam
24 jam. Tapi praktiknya di Indonesia itu
lebih dari itu. Bahkan ya lebih 5 jam
juga kadang-kadang wis pokoke ngeloni
ponsel sak ngilere, sak turune, sak
ngoroke itu total hidupnya tergantung
dari tu. Dia lupa bahwa ponsel itu juga
mengandung ee gelombang-gelombang yang
saya kira tidak bagus. Tapi saya senang
Pak Ramli terima kasih kita bisa berbagi
di sini. Maka sebetulnya kapan-kapan apa
BBSDM yang yang ruangnya banyak itu
ngundanglah datang untuk apa ya biar
biar saya tidak pidato tapi saya akan
banyak mendengar ya kalau saya kira ee
kita hampir sama pengetahuan di Pacitan
Banyuwangi Surabaya relatif ee sama.
Nah, e se banyak sebenarnya kebaikan
karena kan gak mungkin kayak ini kan
kontroversi perdebatan antara Stepen of
King dan apa e dan John Makarte itu
pertama pasti e memperluas jaringan
jaringan wis mesti golek follower IG-mu
piro follower piro itu jadi etalase baru
etalase baru setiap hari Anda buat
status statusnya juga aneh-aneh itu
dimarahi pimpinan langsung
dunia gelap sekali. Awas serigala datang
macam-macam. Kalau ketahuan bisa
lucu-lucu. Saya belum pernah neliti tapi
mahasiswa saya teliti itu sama dengan
itu ya. Saya statusnya itu kalau saya
bilang mahasiswa datang skripsi terus
bimbingan sudah tujuh kali saya bilang,
"Wah, ini judulnya diganti." Waduh
mereka sudah statusnya itu zaman seorang
dosen berkumis
cilok lah. Jadi semua orang sekarang ee
speak up di situ. Kalau misalnya apa ya?
Kalau misal tapi kemudahannya bagus ya
ee ke apa ya? dia bisa transparan
keuangan. Kalau ee perizinan pakai
teknologi ini apa ya pasti ee
meminimalisir pungri dan sebagainya.
Tetapi masyarakat kita itu agak beda
menangani apa? Menangani ee ee menangani
apa namanya? menangani ee teknologi ini
ee bedalah beda. Bahkan ee TikTok yang
awalnya hanya gambar saja sekarang bisa
nyari duit.
Instagram juga gitu sampai kemudian
ngamen. Ya, ini kan lucu orang
Indonesia. Jadi Anda gak usah takut
terhadap presing karena seperti kata apa
ya ee kita ini penganutnya si John
Makarti bukan Hawkins yang apa ya
ketakutan terus ya. K kan bilang
tergantung anda aja alat orang Indonesia
itu tahu TikTok tahu iki dia bisa barang
ngamen lewat TikTok tuh sampai TikTok
tuh bikin apa ya ee ee bikin fitur baru
kirim anda dananya di masuk dia dapat
duit dari kita jadi orang yang buat jadi
anda gak usah ragu terhadap kecerdasan
orang bisa top lah orang Jepang aja
kaget kalau lihat ke Indonesia kok bisa
Honda Ulung saya itu kecepatannya sampai
120 enggak ngerti nek de mesine tak
ganti ee mesin ee apa ya impresa. Jadi
menghadapi itu kita enggak usah kaget
tapi waspada harus. Nah ini beberapa
kejahatan saya kira begitu banyak sekali
ya terutama pelecean dan perundungan
daring itu ya. Kalau mahasiswa saya yang
paling apa ya paling ini dan
perkembangan-perkembangan luar biasa.
Jadi, tetapi semuanya ini merubah.
Saya awalnya kaget diskusi dengan Kepala
BKKBN Bu Erna itu dan saya ajak
mahasiswa dan ketika Bu Erna menanyakan
apakah Anda apa pernah mohon maaf ya
pernah pergi dengan pacarmu mereka
ketawa semua karena mereka sudah
melakukan melebihi dari orang dewasa.
Ini problemnya
ya. Kenyataannya begitu. Bagaimana kita
melihat bahwa kondom di depan ee Indomat
Alfamat di depan asir ditontonkan.
Jangan itu mereka beriman. Tapi apa?
Bahkan kalau kita mengedarkan, kalau
makanya ini polisi juga harus harus
bergerak ee dengan terlalu banyak
upacara. Misalnya dalam konteks apa ya
kejahatan si saya kasihan polisi juga ya
banyak kasus yang harus dihadapi dan ini
kita butuh semua dari rumahlah
pendidikan dari keluarga anda
obat
menggugurkan kandungan jadi anak muda
membeli sebotol begini harganya ee
sekitar ee R juta, dia hanya butuh
berapa dijual eceran.
Ini adalah salah satu dampak akibat
teknologi semacam.
Tapi yo ada yang positif. Jadi
kadang-kadang kita terlalu khawatir
orang-orang di desa itu malah kalau
Bapak lihat dia cuman bisa jualan ya.
Jualan jualan apa ya? Jualan
kadang-kadang ee dia pintar sekarang dia
foto ee garu luku kuno, lesung dan
sebagainya. Lesung yang numpuk itu
dibeli juga dengan harga mahal. Jadi
mereka juga enggak bodoh. Jadi ee ee IG
yang rencananya hanya gambar aja bisa
buat jualan. Begitu pun juga TikTok.
Jadi e orang-orang yang kemudian
memperalat. Jadi orang saya itu pintar
memperalat yang mereka ciptakan. Jadi
perdebatan. Tapi sekarang bagaimana di l
ASN tuh kita coba beradaptasi ya
salinglah tarik-menarik. Lalu gimana
soal etika? Ini yang saya kira butuh
Anda nanti untuk speak up e apa yang
dilakukan. Begitu banjirasi datang, saya
selalu tanya, "Gimana menghadapi
banjirasi?
Gimana kalau ditipu?" Ya, kalau tidak
Anda jawab, ya selesai toh lah. Terus
kalau malam-malam ya malam dimatikan toh
kan ada screen dan sebagainya dilakukan
itu.
Beberapa saat lalu saya ee bukan ketipu,
dicoba ditipu oleh orang yang mengaku
soal dari ee Dispinduk Japil. levelnya
bukan telepon lagi tetap bukan WhatsApp
lagi tapi dia gunakan AET
untungnya saya tuh sik sadar g dia hari
Minggu, hari Minggu ee dia padahal saya
kenal kepala dis Penduk Capilnya itu Pak
kami dari Dis Penduk Capil ingin ver
data silakan Bapak kirim materai seharga
Rp10.000 Ibu nanti besok Bapak tinggal
tanda tangan di kantor Disbrduk Capil
untuk apa ya ee digitalisasi. Terus saya
sadar hari Minggu
dan orangnya seragam Korpri. Oh, ini.
Nah, untung saya tahu soal itu lah. Coba
bagi yang enggak tahu. Akhirnya Pak Edi
saya telepon kasus itu, Pak Suko barusan
ada orang Banyuwangi mengaku itu dan
kehilangan sekitar R50 juta. Jadi ketika
dia ngerimat, maka seketika itu diambil.
Saya enggak tahu sistemnya, tapi
peluangnya seperti itu. Nah, kehidupan
hibrida ee kehidupan baru semacam ini
intinya bahwa ada pola interaksi dan
relasi s yang terbentuk secara harmoni
idealnya praktiknya ya kayak kehidupan
nyata. Cuman ada cip baru yang bagian
anak-anak muda, anak-anak kecil ya yang
dia lahir ceprot sudah itu seperti kata
Mas A nanti enggak masalah tapi masalah
bagi saya, bagi kakak saya
dikirimi duit itu ya bilang ngirim duit
kok mungk
transfer belum bisa jadi duit harus
unggul harus ada terlihat semacam
yang dulu digambarkan misalnya ketika
lebaran anak kecil dapat angpau
ee itu berupa uang sekarang sudah lewat
semacam itu kan dulu guyonan sekarang
terjadi sama tadi pagi eh tadi malam
saya nonton pidatonya Markenbor tentang
anak muda khususnya harus berani membuat
kebebasan berpikir untuk bertindak tapi
lapak etika lapak itu yang saya kira
sudah dibangun oleh ee komunitas cair
memang tapi gimana menjaganya misalnya
nya ini ee di kampus saya. Apakah
mahasiswa dibolehkan ee apa ya? Dulu ada
kampus yang melarang
ee mengirim WA di luar jam kerja.
sekarang enggak bisa lagi. Bayangkan
mahasiswa segitu dia butuh konsultasi
waktu itu saya di luar negeri dia dia
sudah jam kerja saya sedang tidur. Jadi
that's reality life yang mau tidak mau
suka tidak suka kita bercampur dalam
persoalnya bagaimana kita bisa berenang
ee dengan pelampung agar kita selamat
dalam arus banjir informasi itu. ee
memahami kehidupan hibrida ini kita bisa
merancang intervensi komunikasi yang
efektif apa yang bisa menyelesaikan itu.
Jadi pasti peraturan-peraturan lama cara
bekerja gak apa-apa bisa disusun SOP di
kantor Anda. Misal
kantor Anda. Jadi kecepatan dan
sebagainya. Awalnya saya tanya orang ee
pada pegawai muda itu, "Mas, Pak ini
ada?" "Oh, ada, Pak. Lihat aja dicari."
dia sambil ee jari itu kerja dia gak gak
memperhatikan saya. Problem bagi saya
dalam pengetahuan saya ee pelayan itu
harus menghormati ee orang-orang yang
dilihat harus tatap muka bertemu mata
dan ekspresi ada.
Nah, ini yang jadi catatan. Catatan itu
tentu ini ee bagi etis. Itulah kenapa ee
baik di Korea, di beberapa negara pun
merubah sistem penggunaan digital
internet dengan cukup bagus. Ketika
mereka menghadapi menghadapi klien yang
tatap muka, maka dia harus lihat itu
semacam itu dan dia letakkan semacam
itu. Jadi bisa memutus itu. Tapi ini
harus diatur sementara atasan minta ini
selesai ngetik sementara ada orang
datang. Nah, ini yang saya kira harus
dirumuskan di kantor Anda gitu. Gak bisa
ada orang datang kita ngeladeni bos kita
minta semacam ini. Nah, ini saya kira
harus bertemu when eh openness meet eh
eh connection. Jadi ketika keterbukaan
bertemu keterhubungan ini bisa kacur.
Maka saya selalu menyarankan ee apa ya
dalam kehidupan hibrida ini apa ya ee
apa ya yang tua harus apa ya harus ee
menyesuaikan apa harus belajar. Yang
muda juga harus ke ke ada ke ke apa
kebijakan.
Itulah saya menonton film. Kalau Anda
selalu saya contohkan The Interns
Headway eh Waker itu film yang bagus ya
untuk menontonkan apa ya cara kita
berperaku. Kita butuh cara-cara baru
ndak bisa lagi tentu kan mangan enggak
mangan asal kumpul ya enggak mangan
teman gitu loh. Tapi apa lah kita kita
belum punya pola komunikasi yang yang
menjadi standar sama-sama baru
usulan-usulan tidak cukup bagi akademisi
untuk mengumpulkan puing-puing itu mesti
harus kerja bareng dan itulah AI akan
membantu kita sebetulnya AI adalah ruang
publik yang sebetulnya dia menjadi
kesadaran umum keterbuka dan
keterubungan. Jadi jangan takut dengan
AI, tapi bagaimana kita memperalat dia
seperti tetangga saya yang tukang mijo
dia tawarkan ada tauge tawarkan kan dia
manfaatkan itu. Jadi bukan untuk cuman
moderat kan enggak mungkin jualan
sekarang orang pada di rumah ibu-ibu
ndak keluar asik di rumah dia juara cuma
di itu. Tapi ya bukan terus dia ambil
sambil kerja ambil selfie dikirim
dagangannya kan enggak kan dagangan yang
dikirim bukan wajahnya tukang licu saya
enggak nyindir loh tapi pekerjaannya
jadi tugas Anda itu memanggungkan
pekerjaan bukan memanggungkan diri ini
kan cara-cara ee komunikasi
saya ingin menutup ee kira-kira dengan
kalimat yang
puisi koneksi sunyi. Jadi kita sekarang
terikat pada sinyal yang berdenyut.
Jiwa kita menanti koneksi di puncak
bukit notifikasi. Sementara dunia sibuk
mengetuk layar hingga tawa nyata
tenggelam dalam kemahim emosi. Ono wong
guyu ning kantor iku isine cekik ono
dengan apa ee dengan gema emosi yang
sebetulnya itu tidak bisa dinikmati
kehidupan real seperti masa silam. Harus
apa ya? Harus kita carikan solusinya.
Hampir semua kalau tanpa Wii itu rabuh
kayak burung yang sayapnya patah.
Garuda gagah di luar remuk di dalam se
opo-opo. Jadi ee kita harus
mempertanyakan
ke kehadiran medsos dalam kehidupan
kita, TikTok macam-macam. Yang penting
bagi saya gak apa-apa TikTok asal
produktif.
Produktif tukang ngamen tadi loh dia
nyanyi terus dia karena TikTok pun juga
ngikuti. Wah Indonesia karena itu hampir
semua produk
apa gadget itu yang pertama kali
diicobakan ning Indonesia pasti itu
karena orangor terkenal bisa menyiasati
itu bisa memperalat bukan diperalat.
Karena kita sadar bahwa gadget itu alat.
Itu yang jadi ee
ingat bahwa ketika jemari menari di atas
layar, jangan biarkan orang lain di
pojok pintu itu menunggu Anda. Letakkan
dan sambut bahwa digital kadang memang
buat distraksi, tidak fokus, terus ee
memisahkan kita dan tidak apa-apa. kita
terlalu banyak janji ngopi tapi tidak
pernah bisa menyedunya dengan baik.
Terima kasih. Ee saya berharap pada
diskusi di antara kita. Kita sama-sama
berlayar menuju titik di mana
kadang-kadang kita tidak tahu tujuannya.
Tetapi cara berlayar kita harus
disiapkan pelampung dan tentu saja tidak
mengganggu orang lain, tapi justru
menghidupkan perkembangan yang begitu
cepat ini. tentu apa harus diikuti suka
atau tidak suka. Tetapi jangan kemudian
kita datang belajar IT metsos harus ada
lapak dasar logika, etika dan nanti
estetika harus menjadi lapak. Karena
itulah ee gerakan ee meletakkan gadet di
SD, SMP dan mungkin SMA saya orang yang
paling setuju karena sekali manusia
tetap manusia. Peringatan Stephen
Hawking adalah bagian yang terpenting eh
walaupun dia hidup eh selama hidupnya
hidup di atas kursi roda dan semua
mesin. Tapi bagi Stepen Homkin tertawa
renyah yang terdengar dengan sahabatnya
itu lebih berarti dari tertawa sendirian
hanya lewat ponsel. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
Pak Suuko atas ilmu yang sudah dibagikan
bersama dengan kami semua. Mohon
berkenan Pak Suko untuk tetap di sini
berada bersama kami karena di sesi
berikutnya adalah sesi tanya jawab
bersama dengan Sobat ASN. Berkenan Bapak
ya?
Oke. Oh, dengan senang hati. Terima
kasih Bapak. Dan untuk Sobat saya lagi
belajar ini loh, Mbak Dewi. Lagi belajar
sama orang yang menggerak. Kalau dengan
senang hati caranya gimana, Pak?
Coba CPI CPI CPI dengan senang. Nah,
dengan senang hati bagaimana, Mbak?
Dengan senang hati. Oke, coba-coba
sekali lagi saya juga ingin menukkan
dengan senang senang hati hati. Oke,
begitu Bapak ya. Saya belajar karena ee
agar kita menjadi lebih dan tidak
diskriminat. Jadi apa beberapa terakhir
kan saya mengajak beberapa anak di Fabel
untuk belajar itu dan kita kadang-kadang
orang normal kadang-kadang apa ya
terlalu egois untuk melihat sekitar
kita. He makasih bagi penuturnya Ren.
Oke luar biasa. Baik, untuk satsn yang
ingin ee bergabung bersama sesi tanya
jawab bersama Bapak Suko, silakan untuk
yang bergabung lewat Zoom meeting bisa
menggunakan fitur raise hand atau yang
bergabung melalui YouTube channel BPSDM
Jatim TV bisa menuliskan pertanyaannya
melalui kolom live chat. Dan sebelum
kita memasuki sesi tanya jawab, kita
simak video berikut ini. Hari-hari ini
kita menghadapi apa yang disebut dengan
infodemic,
banjir informasi yang sesungguhnya tidak
semuanya benar, bahkan banyak
ketidaksopanan dalam ruang digital itu.
hox melaju ee lebih cepat dari
klarifikasi
ketidaksopanan seolah menjadi kebiasaan
dan otak kita terus terpapar tanpa henti
sehingga kehilangan ruang untuk berpikir
jernih. Ini bukan persoalan teknologi,
tetapi soal ketahanan mental dan etika
digital.
Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan
keadaan ini? Karena ini melanda hampir
semua orang bahkan anak-anak. Menurut
saya, kita harus belajar untuk merubah
perilaku digital kita menghadapi
infodemik itu. Ketika Anda mendapatkan
informasi, tahan sebentar sebelum
bagikan.
Tanyakan kepada kiri kanan Anda, apakah
ini benar? Apakah ini perlu? Dan apakah
ini pantas?
Di tengah arus informasi yang deras dan
mungkin keruh ee ketika situasi ee
infodemik ini, maka kejernihan berpikir
adalah satu-satunya pelampung yang
menyelamatkan kita dalam dunia digital.
Salam.
[Musik]
Oke, mari saja kita menyaksikan
bersama-sama video dari Bapak Suko ya,
di mana begitu banyak memang informasi
yang bisa kita dapatkan lewat sosial
media. Tapi sekali lagi sebelum kita
menyebarkan atau mem-forward informasi
tersebut, ada baiknya bahwa kita
mengecek apakah video tersebut benar
ataukah info tersebut perlu untuk ee
di-share ataukah pantas atau tidak. Jadi
apabila tidak memenuhi tiga-tiganya
sebaiknya tidak perlu di-share Bapak ya.
Iya. Oke. Baik. Tapi yang perlu banget
nih ya di sesi tanya jawab ini adalah
fature rais hand untuk sobat ASN yang
bergabung melalui Zoom meeting ataukah
menuliskan pertanyaannya di kolom live
chat untuk bergabung di YouTube channel
BPSDM Jatim TV. Oke, kita cek terlebih
dahulu. Baik, ini sudah ada yang
bergabung di Zoom meeting. Selamat
siang, Bapak Kasiadi.
Selamat siang. Apakah suara saya
terdengar, Ibu? Terdengar dengan jelas
Bapak Kasadi. Silakan langsung
pertanyaannya Bapak. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Bapak Suko, Dr. Suko yang
kami hormati. Alhamdulillah materinya
luar biasa artinya adaptasi ekosistem
ganda tangan dan pikiran di nyata dan
dijaring layar interaksi digital. Yang
saya tanyakan gini, Pak. Satu, bagian
menyeimbangkan tantangan dan peluang
utama dalam menjaga kesehatan fisik di
tangan interaksi melalui jejaring
digital Bapak sehingga seimbang antara
mental dan digital. Makasih, Bapak.
Asalamualaikum warahmatullah.
Oke, silakan untuk Bapak Suko
bisa langsung jawab. Makasih, Mas.
Ee sebetulnya etika pertama etika itu
adalah kebenaran umum kelasiman. Maksud
sih ning masjid terus ee ono sing
khotbah terus kene apa ya waan itu
sepenting apa gitu loh. Apa dipanggil
apa? Kadang-kadang saya pernah tuh
tentara tapi jangan bilang tentara ya.
di masjid itu saya, "Pak, kok pegang
ponsel aja?" Guyonan, "Pak, kalau
panggilan Tuhan azan katanya itu ditunda
bisa, Pak, dikotok. Ini panggilan
komandan saya bisa dipukul ya. Just joke
aja." Nah, ini soal-soal yang saya kira
penting. Ee menurut saya ee dalam
regulasi atau pendidikan itu ada banyak
macam ya. Ee bagi saya ee tidak mudah.
Saya mencoba mensosialisasikan dulu pada
anak saya. Ketika makan televisi
dimatikan, terus makan gak boleh dibawa
ke kamar di situ dan ponsel diletakkan.
Susah, Pak. Ini susah, Pak.
Kadang-kadang diomongi ping pitu
kadang-kadang dilawan sembilan kata.
Jadi saya itu pusing. Ini yang saya kira
ee konflik itu loh. Tetapi panjenengan
kalau pada putranya itu ya mulai di situ
lagi. Dulu zaman kita kecil kan dituturi
dengan sanepan Pak. Sanepan itu apa ya?
Dongeng kancil atau apa? Terus leiting
dongeng. Nah, kesimpulan dari dongeng
ini kamu jadi anak harus sopan yo, Le.
Gak bisa, Pak. Sekarang itu orang tuh
pikirannya cetek, cekak, gak bisa
sedalam itu. Sama dengan misalnya
kemampuan anak membaca sekarang itu
membaca itu ya ngambilnya CJBT terus
ngambil ini tok. Tapi ketika ujian
skripsi
enggak kecuali dia pakai prom lupa. Jadi
ini yang saya kira. Padahal pengetahuan
itu yang penting bukan seberapa kamu e
banyak pelajari, tapi seap banyak kamu
berinteraksi dan latihan bertanya,
mendengar jawaban semacam itu. Orang
lupa bahwa telinga, mata, dan ee kita
itu akan lebih impuls tumbuh kalau kalau
kita alamiah cerdas itu. Nah, sekarang
di Belanda misalnya itu tidak ada lagi
alat karena Bu gurunya diminta untuk
nulis di papan. Anak-anak juga gitu. Dia
pakai kertas.
Kertas. Nah, makanya tadi gambar pertama
saya back to pen. Jadi mereka kembali di
tempat. Saya tanya kenapa ee pakai
polpen? Karena ketika menggerakkan huruf
A dia misalnya dia nulis ee sekolah
huruf S O ketika merangkai itu dia punya
imajinasi gambaran sekolah dan itu lebih
dalam daripada kita bayar tek sekolah
layar taj kedalaman ee mohon maaf
generasi Z ini printer tapi enggak
enggak dalam Pak tidak dalam ini. Jadi
dia sepenggal-penggal itu problem yang
saya pun juga selalu belajar anak muda
kon ketok pintar setelah saya kejar
enggak kita tahu sedikit tapi dalam tapi
mereka itu banyak tapi yo hanya surve ya
cetek itu loh. Nah e kebiasaan apa yang
dilakukan ya ini tugas kita seperti yang
disampaikan John Makarti dan peringatan
Step H King terjadi pada Bapak yang saya
jeli ya pertanyaan itu. Enggak mudah
Pak. Serius Pak. Saya pernah punya kawan
tuh datang ke rumah saya terus ketemu
saya terus dia langsung saya tak keluar
dulu sahabat akrab terus enggak balik
dia cerita kenapa aku ning omahmu
adoh-adoh pengin ketemu awakmu, pengin
rokokan, pengin omong-omongan, pengin
ndelok mipatmu dan sebagainya. Tapi hari
itu kecewa suko aku itu Pak saya wis
pokok nek enek wong itu orang datek lian
padahal mining orang itu pada situ kita
l se kadang-kadang sering memaksa orang
untuk melike kita tolong ya di-like ya
ini lucu gitu loh wong wadoh gak ngerti
ya saya sumbar jadi banyak apa ya ruang
palsu di dalam ini yang kita sebut
hati-hati itu
kan banyak anak buaya dipeksokon tuku
jempol
dipekso juara ngene. Woh keren palsu
semua. Nah kehidupan yang real itu. Nah
ini yang saya bilang roso rasio itu
pengetahuan yang harus kita cari.
Makasih ngaten, Pak. Kira-kira.
Terima kasih, Bapak Kasiadi. Apakah ada
tanggapan, Bapak?
Sudah cukup. Baik, terima kasih Pak
Kasiadi.
Oke, masih ada satu penanya lagi. Enggak
apa-apa, Bapak ya?
Oke, enggak apa-apa. Oke. Baik. Yang
sudah bergabung bersama kami dari Zoom
meeting sudah ada Bapak Suhayono.
Selamat siang, Pak Suharono.
Selamat siang. Selamat siang, Bapak
Suharono. Dari instansi mana Bapak?
Saya dari Sulagum, PKAP Sulagum. Oke,
dari Tulungagung. Silakan Bapak
pertanyaannya.
Ya, menarik sekali untuk materi kali
ini. Ee luar biasa karena upudit ya
dengan permasalahan yang kita hadapi
saat ini di mana dunia net sudah
benar-benar menguasai
kehidupan kita. Ya, Pak.
Yang menjadi pertanyaan ee saya mungkin
saat ini adalah
selaku ASN kita itu kadang-kadang kan
memiliki kemampuan yang tidak sama
dengan tempat bekerja gitu ya. Jadi
katakanlah misalkan saya sendiri ee
basicnya itu ekonomi, ekonomi e
manajemen. Kebetulan tempat kerja saya
di bidang tranip enggak nyambung, tetapi
saya tetap punya konsisten yang tinggi
dengan permasalahan ekonomi. Sehingga di
medsos saya membuat ee tulisan-tulisan,
membuat ee baik yang berupa edukasi
maupun sedikit-sedikit hanya sedikit ee
kritik membangun gitu ya.
Apakah ini menjadi masalah atau gak gitu
ya. Karena kalau saya harus sesuai
dengan enggak nyambung gitu malah enggak
bisa ngomong gitu. Yang kedua
kadang-kadang ee proses komunikasi dalam
birokrasi kan enggak gampang ya.
Sehingga kita harus melalui ee
prosedur-prosedur tertentu sehingga
kadang-kadang kita enggak bisa
menyampaikan banyak hal yang justru bisa
diketahui oleh masyarakat. Padahal kita
selaku aparat itu sebenarnya punya data
gitu ya. ini. Kemudian yang ketiga ini
ee saya menyeroti ada beberapa juga sih
lembaga atau instansi pemerintah yang
sudah memiliki influencer di mana itu
mereka memberikan edukasi dan informasi
yang penting bagi masyarakat ya menjadi
sebuah informasi yang mudah dipahami
karena ya up to date gitu ya ee bikin eh
hook atau clickbait yang menarik
sehingga ee orang cenderung oh ternyata
seperti ini. Nah ini nih apakah nanti
semua instansi bisa seperti itu? tanpa
mengurangi ee apa namanya validitas ee
informasi maupun apa ya semacam
ee karisma gitu ya, semacam kredibilitas
informasi karena kita sebagai instansi
pemerintah. Demikian terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Baik,
silakan Pak Suko bisa langsung dijawab
pertanyaan dari Pak Suyono.
Masarono, saya itu kalau pagi ee
biasanya pas menuju ke sana itu mesti
mampir nggone buparti itu ya
partti sarapan di perbatasan menuju
Trenggalek kiri jalan itu
sayur asem.
Iya iya i Pakarno menarik ini. Eh saya
kira Pakno matang betul ya dalam
konteksi. Betul, Pak. Tapi rumusnya
pertama gini, Pak. Siji nek nganggo
influencer itu kan sering yang dilakukan
tuh kan berbesar ya pemerintah
kadang-kadang. ini kritik saya betul
diviralke kata-kata yang saya saya lagi
melawan itu misalnya itu jadi apa ya
tapi saya pun terakhir juga iki iki
ruange nanti jadi misalnya tapi aku nek
ngomong KDM kita politik lian aja L tapi
perdebatan kita bagaimana kita punya
anggaran semacam itu di situ itu kalau
saya mengembalikan pada fungsi ee fungsi
ee ASN sendiri misalnya Ya, ASN
berkewajiban melakukan sendiri. Ora usah
tuku, ora usah gaya influencer. Anda
aja. Kalau pun toh kita gunakan, dia
tadi Anda sebut kredibilitas itu
kredibilitas. Soalnya sekarang itu, Pak,
misalnya saya belajar dari COVID dulu,
sumber-sumber informasi dari
non pemerintah itu justru dipercaya.
Pemerintah malah enggak. Ini kan ee apa
ya ee kepercayaan politik kan. ee linear
dengan kepercayaan informasi. Nah,
kualitas informasi itu ditentukan dari
satu aktual, kecepatan, dua akurat,
signifikan. Tiga hal itu rumusnya itu ee
signifikan termasuk bahasamu cocok apa
ora kanggo wong deso. Makanya semua apa
ya, semua ee lembaga pemerintah
seharusnya memiliki kemampuan audit
komunikasi. Misalnya saya di Dinas
Pertanian, saya harus punya data
terhadap para petani,
data tentang pengetahuan petani,
kesulitannya apa, pupuk dan sebagainya.
Itulah kenapa riset menjadi awal dari
kebijakan.
Jadi bribda itu lembaga yang menurut
saya penting. Pak Harono tuh daripada di
tribum ya di di peneliti aja neliti
tentang kehidupan terus dirumuskan
rumusannya dik Pak Bupati. Pak Bupati
kan pembantunya rakyat bukan penguasa.
salah kadang kita berpikir Pak Bupati
rakyatmu koy ngene kondisine dan
sebagainya butuhnya ini yang dibutuhkan
rakyat itu pupuk turun bukan piala yang
kita pamerk juara lakib dan sebagainya
ya mohon maaf ya ini kebanyakan semacam
itu. Kalau kita tidak bergerak ke situ
pikiran kita ke situ, kita akan
ditinggal oleh penduk apa masyarakat
kita dan masyarakat akan kecewa terhadap
itu. Saya senang Pak Harono. Sayaangkap
Bapak mesti harus ada cara baru, cara
baru ee di dalam berpemerintahan,
berkomunikasi dan melakukan itu. Dan itu
dimulai Pak Prabowo semalam saya
ditelepon Kompas, Pak Prabowo itu
mengajak wartawan apa agar wartawan
tidak hanya menerima rilayis saja, dia
saksikan. Kan bagus pola semacam. Jadi
kejujuran, ketransparan itu menjadi
kunci dari cara-cara itu. Ee saya tadi
tidak menangkap, tapi kira-kira menurut
saya memang harus ada perubahan di dalam
komunikasi maupun penyusunan kebijak
kebijakan. Ee hampir semua dinas menurut
saya harus melakukan ping ke daerah.
Cara n ping seperti apa? Semua juga
sudah S1 pasti ada caranya. Terus
dijawab dengan jujur, "Loh, kalau ada
data rakyat enggak bisa makan banyak,
kita senang asal datanya jujur. Berarti
programku sing wingi ngomong ketahanan
pangan salah." Ya, saya harus
interferensi semacam itu. Kita hari ini
butuh keakuratan, kejujuran, dan
kemudian melakukan teknologi harus kita
buat yang produktif semacam itu. Bukan
untuk pameran like-nya. Saya banyak desa
wisata itu kalau overload jugai. Tapi
mungkin ya ee dinas-dinas itu
memproduksi cara-cara yang sederhana.
Gwe lele, gawe opo mending enggak apao
ngundang orang yang e bayar mahal ee dia
menjadi trend center. Ee tapi cara bikin
lele, cara menggoreng itu dan
sebagainya. Saya kan sekarang jadi suka
terong. Gara-gara saya belajar dari
YouTube tuh terong itu ternyata
dinikmati jadi e crispy enak gitu loh.
Jadi ada banyak yang kita dapatkan dari
medsos tapi ada lebih banyak sampah di
medsos. Jadi saya berharap kita semua
nek setahu ya jangan terlalu banyak buat
sampah juga di audit Pak yang kita apa
ya petsos yang kita terbitkan itu dicek
rakyat ngerungokne apa ora. Nek nek nek
wis ngerungokne ngerti apa ora. sehingga
kita tahu efektif enggak yang kita
sampaikan.
Kita butuh pikiran tentang seperti itu,
Pak Harono. Ng pokoknya wis berubah
semua, Pak. Saya pun jadi anak kecil
sinau. Opo ya bolane saya ini dulu putih
kayak Pak Haro karena sering di warung
kopi jadi hitam. Karena sering ngungokne
itu loh di warung kopi itu saya cek
malah pintar ya, Pak. Anak-anak itu.
Jadi dia itu go itu dodolan makelaran ya
ono sing ngapusi-adek. Tapi menurut saya
orang-orang di kelas bawah itu sing SMA,
ST, MSD itu lebih cerdas menyikapi
ketakutan Stef Hafkin dengan malah dia
jualan, dia macam-macam. Ngaten
ngapunten nek kurang cocok tapi
kira-kira kita mesti harus ada mental
kita turut untuk masuk di ruang itu.
Oke, bagaimana Bang Suarono? Apa sudah
cukup atau ada tanggapan lagi?
Terima kasih ya. Sekali dengan
jawabannya. Memang ee kita Indonesia itu
memang perlu berubah ya. Bukan hanya
Indonesia sih, karena memang zamannya
kita memang harus ada perubahan ya. Kita
kita tahu posisi kita seperti apa.
Bahkan kalau perlu ya ketika kita
ngomong sebagai apa dan posisi kita itu
boleh dibedakan gitu. Jadi netizen
jangan menyoroti siapa yang ngomong di
di medsos dihubungkan dengan pribadinya
dia. Kadang-kadang perlu seperti itu.
Mungkin seperti itu sedikit masukan.
Terima kasih. Terima kasih banyak Bapak
Suyono.
Baik, terima kasih untuk yang sudah
bergabung Sobat TSN di sesi tanya jawab
bersama dengan Bapak Suko di sini.
Terima kasih sekali lagi Bapak Suko
sudah menjawab seluruh pertanyaan dari
Sobat ASN yang bertanya pada sesi ini.
Terima kasih juga sudah sharing ilmunya
bersama dengan kami semua. Semoga sobat
ASN yang bergabung di sesi ini lebih
bijak lagi dalam bersosial media. Ingat
kata Pak Suko ya. Berarti Anisa saya
pamit. Saya pesan kepada semuanya ee
sebelum Anda apa mengirim itu rumusnya
adalah ketahuilah
apa yang Anda sampaikan.
Oke. Bukan menyampaikan semua yang Anda
ketahui karena yang Anda ketahui belum
tentu bermanfaat bagi orang lain. Terima
kasih. Mohon maaf. Terima kasih sekali
lagi Bapak Dr. Suko Widodo, Dres. M.Si.
Sampai berjumpa lain waktu Bapak. Sehat
selalu.
Terima kasih. Asalamualaikum.
Oke, katanya dengan senang ha. Tadi
gimana? Dengan senang hati. Ih, tuh kan
komunikasi ini bisa dengan beragam cara
ya. Salah satunya dengan lewat sosial
media. Tapi kita juga harus bijak-bijak
dalam bersosial media. Baik, Sahabat
ASN, masih ada satu narasumber lagi yang
akan sharing informasinya berteman
dengan kita semua di sini. Jadi jangan
beranjak ke mana-mana, tetap di ASN
Belajar seri 23 tahun 2025.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Terima kasih sobat ASN masih setia
bersama dengan kami di ASN belajar seri
23 tahun 2025. Kita sudah menyimak dua
materi dari dua narasumber yang luar
biasa. Dan materi yang satu ini yang
sesaat lagi akan kita simak bersama-sama
juga tidak kalah pentingnya karena
narasumber kita yang ketiga ini selain
seorang praktisi komunikasi beliau
adalah co-founder inventory. Kita sambut
bersama Bapak Dadi Krismatono.
Selamat.
[Musik]
Selamat siang, Pak Dadi.
Selamat siang ee Bapak dan Ibu dari Jawa
Timur. Mudah-mudahan masih kerasan ya
mendengarkan. Staminanya kuat juga nih.
Oh, pasti dong pasti kerasan Pak Dad.
Tapi ini yang bergabung di ASN belajar
23 tidak hanya sobat ASN yang dari Jawa
Timur melainkan dari seluruh Indonesia.
Bapak. Oh wow. Terima kasih sekali saya
diundang untuk berbagi sedikit yang saya
tahu di forum ini. Oke. Baik. Dan saya
juga ee suatu kebanggaan bagi saya. Saya
sudah bergabung menjadi salah satu
influencer dan MC yang sepertinya saya
sudah terdaftar di sana Bapak ya dari
tahun 2020 Bapak ya. Terima kasih,
mudah-mudahan tambah lancar. Amin. Oke,
untuk sobat ASN ya seperti biasa kita
akan menyimak materi dari Bapak Dadi
Krismatono ini kurang lebih 30 menit.
Kemudian nanti akan ada sesi tanya jawab
tersendiri. Jadi apabila sobat SN ingin
bertanya silakan tuliskan dulu
pertanyaannya. Nanti setelah Bapak Dadi
menyampaikan ee materi yang sudah
selesai kita akan buka sesi tanya jawab
tersendiri. Kalau begitu tidak perlu
berlama-lama lagi, langsung saja kita
simak bersama materi dari Bapak Dedi
Krisma Tono. Silakan Bapak.
Oke. Ee sekali lagi selamat pagi
menjelang siang. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita
semua. Sekali lagi terima kasih atas
undangannya. Saya mencoba ee mengambil
dua poin saja dari TOR ya supaya
kontribusi saya ke forum ini lebih
konkret gitu. karena begitu banyak hal
yang ee bisa dibahas di dalam
membicarakan media sosial, jagat
digital, internet, dan lain-lain. Tapi
saya mau ambil dua, yaitu AI. Eh,
aslinya artificial intelligence, tapi
beberapa media seperti Kompas tuh apa
bikin istilah biar Indonesia namanya
akal imitasi, ya boleh-boleh aja. Dan ee
komunikasi berempati. nanti kita ee
sama-sama belajar bagaimana
ee dua aspek ini selain ee berbagai tren
yang sekarang ee berlangsung di dalam ee
jagat komunikasi sosial media ini ee
penting ee kita pelajari ya. Next.
Sebenarnya ada empat nih. Saya baru
biasa kalau orang bikin slide terus
enggak puas lagi dilihat lagi dilihat
lagi gitu ya. ketika saya mencoba
memetakan tren komunikasi yang perlu ee
dan relevan bagi Bapak Ibu ASN di
seluruh Indonesia ini ee kira-kira ada
empat yang sebenarnya perlu di ee pahami
ya. Pertama AI eh artificial
intelligence yang eh semakin masuk ke
dalam kehidupan kita. Tetapi sebagai
institusi pemerintah tentu teman-teman
ASN punya tanggung jawab lebih di dalam
ee pemanfaatan artificial intelligence.
bagaimana pemanfaatannya secara
bertanggung jawab, etika ee kemudian
juga ee bagaimana
memanage risiko yang juga di ee hadirkan
oleh artificial intelligence ini. Yang
kedua adalah komunikasi empati. ee sejak
pandemi Covid-19 pada puncaknya ya tahun
2020-2021
kajian-kajian tentang komunikasi empati
itu sangat besar karena masyarakat ee
sekarang sejak saat itu hingga sekarang
dalam kondisi yang ee menghadapi
ketidakpastian, menghadapi ketakutan,
menghadapi ee banyak tantangan sehingga
ee baik perusahaan apalagi pemerintah
tentu perlu mengembangkan empati di
dalam berkomunikasi. Contoh paling
gampang waktu itu yang dibahasnya.
Bahkan ada satu artikel di Harvard
Business Review tahun 2020 tuh 2021 tuh
bercerita tentang empati. Bagaimana
misalnya saya pabrik obat, saya untung
besar di tengah-tengah COVID gitu.
Bagaimana saya mengumumkan itu bahwa eh
saya pabrik obat nih untung besar loh
orang. Tentu kalau kita salah
mengkomunikasikannya
ee tentu akan menimbulkan respon yang
sangat negatif bagi kita gitu ya. ee
atau misalnya yang sering sering jadi
contoh komunikasi yang kurang empati tuh
ketika harga cabai mahal terus ada
pejawat bilang tanam aja cabe di rumah
gitu. itu kan salah satu ee contoh gitu
ee bagaimana kurangnya empati di dalam
komunikasi di tengah kondisi masyarakat
yang ee sedang di dalam ketidak pastian
belakangan ini juga dengan ee kondisi
global konflik yang ee kita lihat
sehari-hari tentu juga mempengaruhi mood
masyarakat. Karena itu ASN sebagai garis
depan dari pemerintah dan lembaga
pemerintah secara keseluruhan tentu
perlu sangat perlu mengembangkan suatu
model komunikasi empati. Nanti bagaimana
kita ee caranya kita pelajari sedikit ya
ringkas. Kemudian dari komunikasi massal
ke komunitas kecil ya saya yakin tidak
ada Bapak Ibu peserta diskusi siang ini
yang tidak tergabung dalam suatu grup
WA.
WA komplek, WA RTW, WA alumni sekolah,
alumni SMA, SMP, SD, TK.
Dan biasanya kita juga menggunakan
komunitas-komunitas kecil itu untuk
memverifikasi, menguji informasi yang ee
kita dapat dari komunikasi massal.
Karena itu ee nantinya lembaga
pemerintah tidak bisa lagi membuat satu
apa namanya? satu
pesan, satu komunikasi yang kita pikir,
ah ini akan cocok untuk semua gitu.
Harus ada proses-proses
bagaimana pesan kita itu tailor made
terhadap segmen audiens tertentu. Yang
keempat tuh Gen tapi pembahasan tentang
bagaimana berkomunikasi dengan Genzi
juga sudah banyak ya. Karena itu saya ee
apa fokus akan fokus pada dua poin ee di
awal ya, bagaimana AI ee berpengaruh di
dalam komunikasi kita dan yang kedua
bagaimana komunikasi empati sangat ee
semakin dibutuhkan oleh masyarakat dan
bagaimana pemerintah perlu semakin mampu
mengembangkan komunikasi empati dalam
berkomunikasi dengan masyarakat. Lanjut.
Nah, eh artificial intelligence itu ada
peluangnya. Yang pertama tentu
otomatisasi dan penyederhanaan pesan ya.
Misalnya melalui chatbot ya. chatbot itu
ee kalau Bapak Ibu pernah komplain
karena kiriman makanannya ee enggak
lengkap atau ada yang rusak lewat
pengiriman ee makanan online ya, ojek
online yang mengirimkan makanan, maka ee
yang pertama kali Anda temui adalah
mesin ya, chatbo dan ee chatboot itu
akan menjawab pertanyaan-pertanyaan
komplain Anda melalui pola-pola yang
sudah diinventarisir sebelumnya. Maka
dari itu akan banyak pekerjaan-pekerjaan
yang berulang dan berpola yang apa akan
dilayani oleh AI ee
seperti ee customer service ya. Customer
service yang tadinya kita bertemu dengan
orang lewat telepon, sekarang kita
chatting. Seolah-olah kita chatting di
balik sana orang, ternyata itu adalah
mesin yang sebenarnya tidak memahami
sepenuhnya ee pesan kita, tetapi mereka
mengembangkan pemahaman dari pola-pola,
dari keyword-keyword, dari pattern.
Kemudian dia bisa menjawab, ya. Kemudian
personalisasi dan segmentasi audiens,
ya. Karena saya bilang tadi bahwa eh
sekarang enggak bisa lagi eh message one
for all, semua harus eh apa namanya? ee
di sesuaikan dengan ee kepada siapa kita
berbicara dan tentu itu membutuhkan ee
proses produksi materi komunikasi dengan
waktu yang cepat gitu dan AI dengan
video editing, video generating, eh
image generation itu sebenarnya bisa eh
digunakan untuk mempercepat proses.
Hingga satu pesan misalnya pesan
mengenai ee bahaya musim hujan sekarang
enggak tahu sekarang musim hujan atau ee
di Surabaya nih ee kepada ibu-ibu,
kepada anak-anak, kepada ee dunia usaha
misalnya itu bisa dalam dari satu materi
yang sama bisa kita sesuaikan dengan
bantuan AI melalui generatif AI, melalui
ee platform-platform AI untuk membuat
video dan lain-lain yang juga penting eh
AI bisa kita manfaatkan sebagai social
listening ya untuk deteksi dinny Hoa dan
krisis ya. Misalnya sekarang ee lagi
beredar kalau di Jakarta di teman-teman
saya tuh yang dapat ngakunya dari Disuk
Capil gitu ya. dari distruk Capil suruh
ini itu ini itu nanti ee teleponnya
terbajak dan nah pemerintah tentu perlu
me
apa ya menginstall suatu model social
listening di ee media sosial sehingga
bisa mengetahui apa nih yang sedang
terjadi gitu. Bukan sekedar ee ramai
perkawinan anaknya Ahmad Dani ya artis
asal Surabaya gitu. Tapi apa nih yang
sekarang menjadi mood masyarakat? Nah,
eh kemampuan AI itu bisa dimanfaatkan
untuk menginstall satu social listening
sehingga pemerintah bisa mengantisipasi
ada apa nih, ada bensin langka, ada
harga cabai mahal dan lain-lain sehingga
bisa ee meresponnya dengan lebih cepat.
Ini adalah sejumlah dari banyak peluang
manfaat yang bisa kita ambil dari
artificial intelligence. Next.
ee tetapi ada juga risikonya ya karena
ee melalui AI juga disinformasi itu
terlihat meyakinkan. Jadi misalnya
dengan adanya deep fake ee
bahkan ee apa namanya ee video sudah
bisa dipalsukan gitu ya. Orang dulu
paling bisa ngedit ee foto ya, foto
diedit sehingga meyakinkan. Tetapi
sekarang video, suara, bahkan body
language sehingga disinformasi akan
semakin terlihat meyakinkan. Saya tidak
membayangkan nanti Pemilu 2029 itu
ramainya kayak apa ya di media sosial
gitu ya. Karena game kompetisi di pemilu
kan semakin kreatif gitu. dulu masih
perang tagar, perang trending topik dan
lain-lain. Sekarang mungkin dengan
adanya AI, generatif AI tentu akan
sangat seru. Nah, ee tentu di sisi
pemerintah perlu punya mitigasi risiko
ketika disinformasi informasi yang ee
mengatasnamakan e pemerintah itu bisa
merugikan masyarakat. Kemudian kedua,
automation yang berlebihan ya, sehingga
kehilangan empati. Kalau kita komplain
ee misalnya ke airlines sudah banyak
juga ee yang menggunakan chatbot. Jadi
kita ee akan diarahkan pertama kali
untuk chatting dengan mesin dan
kadang-kadang kita lagi sebal karena
udah ada masalah. Orang komplain kan
karena ada masalah ya. Tapi harus
berhadapan dengan mesin yang ee tidak
punya empati ya. Tidak, tidak. Karena
dia juga bukan manusia tidak bisa
menempatkan dirinya memahami perasaan
kita gitu ya. Kemudian yang ketiga ee
ada risiko misinasi itu dari internal
sendiri karena AI sebenarnya hanya mesin
pengolah ya, dia tidak berpikir. Ee
ketika ada diskusi ee sebuah mesin AI
bisa meniru lukisan Vanwin Van yang
sangat perfect gitu ya. Kesimpulannya
adalah yang dia bisa lakukan adalah
meniru tetapi mendapatkan inspirasi ee
untuk menggambarkan langit-langit penuh
bintang seperti yang dilakukan oleh
Vincent Van Guah. Ya, tidak bisa. Ketika
misalnya nanti Pempr-pempr sudah mulai
ee memanfaatkan AI untuk diseminasi
informasi, tentu perlu ada protokol
tertentu sehingga jangan sampai ketika
ada misinasi itu malah datangnya dari
internal gitu ya. Misalnya pidatonya Bu
Gubernur, Bu Kovifah dibuat pakai chat
GPT karena salah prom akhirnya pidatonya
salah. Kemudian pidato itu sudah keburu
didengar publik dan ee dimuat di media
dan seterusnya gitu. Nanti kita ee apa
namanya ee belajar bagaimana kemudian
memitigasi risiko-risiko ini. Karena
selain selalu ada dua sisi ya, kemajuan
teknologi tadi juga Pak Suko sudah
menjelaskan pada level hubungan ee apa
interaksi antar individu ya di dalam
masyarakat ee
bagaimana ee kemajuan teknologi ini ee
mengubah perilaku masyarakat. Nah,
khususnya ee saya mau bawa ini dalam
konteks institusi pemerintah. Bagaimana
kemudian ee institusi pemerintah
merespon ya hadirnya AI ini baik dari
sisi manfaat maupun risikonya. Next.
Nah, yang kedua adalah komunikasi empati
karena ee ini semakin sering semakin
dibutuhkan oleh masyarakat di tengah
banyaknya ketidakpastian kondisi
ekonomi. Dan salah satu pemicu
kajian-kajian tentang komunikasi empati
adalah pandemi Covid gitu ya. di mana
semua orang pada waktu itu kan mengalami
masalah yang sama, ketakutan, bagaimana
menghadapi hari esok, ee kemudian
bagaimana ee institusi-institusi seperti
pemerintah pemerintah daerah itu perlu
punya empati menghadapi masyarakat yang
sekarang dalam kondisi itu gitu. Kita
melihat perang Iran, Israel ini ee
setiap hari gitu ya. dan kita bisa lihat
gambaran yang sangat yang dulu mungkin
cuma kita lihat di film action gitu ya,
tetapi itu ada di depan ee wajah kita
gitu. Dan sangat penting untuk tidak
hanya ee menjelaskan apa yang dilakukan
pemerintah, tapi mengapa itu penting
bagi ee masyarakat kita.
Contohnya begini, tapi catatannya humas
PEMPR Jatim nih. Karena yang ngundang
Jatim boleh ya di promo sedikit ya.
Humas PEMP Prof Jatim udah udah lebih
maju nih dalam mengkomunikasikan ini.
Yang paling sering itu kalau ada konten
media sosial caption-nya
pejabat ini ini melakukan rapat membahas
ABC gitu ya. Ee Plh Deputy Assistant
Kasubdit Bidang P2 CCDKM.
Enggak jelas gitu ya.
Ee kemudian saya sebagai anggota
masyarakat bilang, "Ya, iyalah kan itu
tugas kamu."
Oke. Ee sori ada ee buat apa gitu.
Tetapi sangat penting sekarang kita
menyusun narasinya adalah misalnya
kestabilan harga bahan pokok
sangat penting agar masyarakat bisa
hidup dengan tenang. Karena itu Dinas
Perdagangan Pempr Jatim melakukan
koordinasi itu tentu walaupun
kelihatannya subtil ya, kelihatannya
sederhana tetapi itu perubahan struktur
narasi itu akan membuat orang oh iya ini
yang dia kerjakan tuh penting buat saya
daripada dikasih tahu bahwa Bapak
pejabat ini melakukan rapat dan akan
masih banyak contoh-contoh lain yang ee
tetapi intinya adalah kita menempatkan
diri mengerti, mendengar apa yang
dirasakan oleh masyarakat, terutama di
tengah kondisi ketidakpastian yang ada
sekarang ini. Juga jangan pakai bahasa
yang teknokratis
ee apa namanya?
Ee misalnya ee
apa namanya? bagaimana ee misalnya tadi
yang paling sering bahasa birokrat tuh
singkatan gitu ya. Terus berdasarkan SK
itu kan bahasa-bahasa birokratis.
Sementara ee
yang diperlukan oleh masyarakat adalah
apa maknanya
ee bagi ee masyarakat gitu.
Next.
Nah, ee prinsip-prinsip komunikasi
empati ee pertama itu pemerintah gitu ya
atau kita sebagai lawan bicara ee
tunjukkan bahwa kita mendengar mendengar
dulu baru ngomong gitu. Kemudian pakai
bahasa manusia, jangan pakai bahasa
birokrasi. Misalnya berdasarkan
keputusan gubernur nomor sekian-sekian
P2CK
garing X garanti
aja. Hal-hal yang sifatnya ee fakta
keras seperti itu nanti aja. Tetapi apa
maknanya bahwa misalnya ee perjuangan
keluarga untuk memperoleh pendidikan
yang layak untuk anak adalah harapan
kita semua. Ya, misalnya begitu ya.
sehingga kita menempatkan diri sebagai
orang yang mendengar keluh kesah dari
masyarakat. Kemudian kalaupun ada
kekurangan ya misalnya oh antrian di
RSUD nih parah gitu ya akui saja di
dalam konten media sosial misalnya
merespon komplain dari masyarakat kita
bisa bilang bahwa ee terima kasih atas
perhatian Anda memang ee pola antrian di
RSUD perlu banyak perbaikan dan
seterusnya gitu ya. Kemudian juga ee ini
yang sering ya ee konten-konten eh
pemerintahan itu sering banyak
menampilkan wajah pejabat sudah
waktunya. Sekarang dibanyakin wajah
warga, wajah kalau tentang ee kesehatan
ya, wajah nakes, wajah dokter gitu ya.
Ee atau kalau yang sering buat joke
misalnya kita habis menang sepak bola
ada spanduk ucapan selamat, wajah
pejabatnya lebih gede dari wajah pemain
sepak bolanya ya. Nah, kemudian selalu
ada ee call to action untuk mengajak
masyarakat berpartisipasi sehingga
pemerintah ee diposisikan sebagai pihak
yang mendengar kami, mendengar Anda,
kami memahami Anda dan ini yang akan
kami lakukan dan ini akan sangat ee
penting di tengah ee kondisi masyarakat
yang sekarang. Next.
Nah, ini ee strukturnya ya kalau kalau
memang mau didetailkan gitu ya dalam
konten-konten media sosial ee
instansi pemerintah ke depannya tentu
perlu banyak ee model-model empati,
opening yang lebih empatik, kemudian
pesan bahwa kami mendengarkan, kami
responsif, tindakan konkret dan penutup
yang positif dan menguatkan. Jadi tidak
lagi ee konten itu foto. Kemudian
ceritanya Kasubdit bidang P2C
M melakukan rapat dengan untuk membahas
keputusan bupati nomor 236/2
Romawi garokrasi
ya. Sementara di media sosial kita perlu
berbicara dengan bahasa manusia. Karena
itu fakta-fakta keras itu kita kita apa
namanya? kita taruhlah nanti aja kalau
perlu gitu ya sebagai proof point.
Tetapi hal-hal yang membangun empati
yang membuat masyarakat merasa
didengarkan itu yang perlu dikedepankan
ya. Misalnya opening yang lebih empatik,
tentang situasi yang berat ee kemudian
kita mendengarkan gitu kami sudah
melakukan ini, kita sudah ini, karena
itu, kita akan pemerintah akan melakukan
ini, kemudian tindakannya apa? tindakan
konkretnya apa dan positif closing dan
call to action gitu. Ayo tetap dukung,
ayo sampaikan masukan ke RSUD dan
seterusnya. ee model seperti ini ee
sedang ee digulirkan ya di dalam ee
banyak ee praktis ee komunikasi terutama
pasca pandemi gitu. Karena kondisi
apalagi sekarang misalnya di tengah
kondisi ee konflik geopolitik yang ee
membuat orang semakin takut dan cemas
dan mengalami ketidakpastian. Next.
Nah, bagaimana ke depannya tadi ee apa
namanya? Jadi kita belajar dua hal
secara singkat ya. Pertama artificial
intelligence dengan segala ee peluang
dan tantangannya. Yang kedua adalah
komunikasi empati. Dua hal ini sekiranya
didalami oleh Bapak Ibu ASN di seluruh
lini di seluruh Indonesia tentu akan
insyaallah membawa perbaikan di dalam
model komunikasi Bapak Ibu ke
masyarakat. Bagaimana ke depannya? Next.
pertama menyikapi AI itu tentu sebagai
institusi Bapak Ibu perlu membangun
protokolnya. Misalnya boleh enggak
pidato Bu Gubernur pakai chat GPT
sampai mana atau misalnya sampai mana ee
materi komunikasi yang keluar dari
instansi pemerintah Bapak Ibu itu ee
menggunakan AI gitu ya.
ee di perusahaan-perusahaan media
sekarang sudah ada tuh protokol sejauh
mana ee wartawan boleh menulis artikel
menggunakan AI bagaimana cara melakukan
recheck dan verifikasinya gitu ya. Ee
begitu juga kayak tadi misalnya boleh
enggak eh ASN ngeritik di medsos? Nah,
yang diperlukan adalah protokol atau
social media code of conduct-nya ASN di
situ bisa diatur kalaupun mau mengritik
bagaimana, kalau misalnya enggak
bagaimana karena ee kita belajar juga
case waktu politik panas Pilkada DKI
2017 misalnya ada ee sikap-sikap yang
berlebihan, ternyata itu pegawai BUMN
akhirnya BUMN-nya ke bawah-bawah gitu ya
misalnya itu ya ee iya atau tidak yang
penting ada di dalam suatu code of
conduct, di dalam suatu guidance, apakah
misalnya ASN sampai mana boleh
mengeluarkan ekspresi
di media sosial. Kemudian di dalam
produk-produk komunikasinya untuk
membedakan AI dan juga itu adalah ee ada
brandingnya misalnya ada watermark, ada
ee ee apa namanya? Ada tautan. Jika
membutuhkan informasi lebih lanjut, klik
ke sini masuk ke website resminya PEMPR
atau instansi untuk membedakan dan
memitigasi resiko adanya
pemalsuan-pemalsuan informasi yang juga
menggunakan AI. AI kayak pisau bermata
dua ya, bisa dipakai buat ee
menyampaikan informasi yang baik, bisa
juga untuk menipu, melakukan scam dan
lain-lain. Yang ketiga yang tidak kalah
penting adalah edukasi publik untuk ee
membedakan informasi yang resmi dan
palsu gitu ya. Scam lewat ee handphone
sekarang udah ee enggak karu-karuan gitu
ya. ada yang menyuruh klik ini, ada yang
menyuruh buka website itu. Dan ee tentu
Bapak Ibu ASN terutama yang di Dinas
Komdigi dan lain-lain tentu perlu
memasukkan program edukasi publik untuk
kewaspadaan
informasi terutama di era AI seperti
ini. Next.
Nah, bagaimana dengan komunikasi
berempati yang itu penting untuk
meningkatkan kepercayaan dan legitimasi
gitu di tengah kondisi sekarang gitu ya.
Ee saya enggak ngomong politik nasional
gitu, tetapi kita melihat bahwa kondisi
dunia yang sedang ee bergolak ini dan
kita masyarakat melihatnya setiap hari.
Ee dulu zaman saya kecil perang Iran,
Irak itu nontonnya cuma jam 09.00 malam
Dunia Dalam Berita TVRI.
Kalau yang seangkatan nama saya pasti
tahu.
Nonton berita perang tuh cuma jam 09.00
malam di TVRI gitu. Tapi sekarang dengan
media sosial kita melihat rudal,
ledakan, penganiayaan terus setiap hari
di layar ya.
Kemudian dengan model komunikasi empati
itu kita bisa membuka ruang dialog dua
arah. Jadi nanti di dalam editorial plan
Bapak Ibu media sosial bagaimana nih
nada empati ini dibikin standar seperti
yang saya ceritakan di tadi struktur
narasi itu sehingga akan terasa bahwa
pemerintah ini, oh ya saya tuh didengar
ya sama pemerintah ya. Oh pemerintah tuh
mengerti saya kata masyarakat.
dan kebijakan itu terasa dekat. Oh ya,
kebijakan ini memang berpihak kepada
saya. Kadang-kadang kebijakannya baik,
tapi ketika tidak di sosialisasikan
dengan baik ee respon masyarakat juga ee
berbeda dari yang kita harapkan ya.
Kemudian juga ee komunikasi empati ini
bisa mencegah resistensi terhadap
kebijakan. Jadi baru mau diumumkan udah
ada resistensi
ee ya dalam berbagai hal gitu.
Next.
Saya kira itu ya ee dua hal saja yang
ingin saya kontribusikan di dalam ee
forum yang sangat terhormat ini. Ee kita
perlu menyikapi AI secara bijaksana
apalagi Bapak, Ibu adalah ASN yang ee
mewakili instansi pemerintah. Bukan
hanya meregulasi AI tetapi juga
bagaimana memanfaatkan AI karena ee toh
AI memang ada manfaat. Yang kedua ee
tren ee pengembangan komunikasi empati
yang memang sekarang juga lagi sering
jadi kajian di ee menjadi best practice
juga di dunia lah gitu.
Kira-kira demikian yang bisa saya
sampaikan. Bisa kita lanjutkan dengan
diskusi. Mudah-mudahan waktunya enggak
molor ya. Terima kasih. Terima kasih
Bapak D. Krismatono. Insyaallah masih
cukup Bapak waktunya untuk sesi tanya
jawab plus diskusi. Jadi silakan untuk
sobat ASN yang ingin bertanya kepada Pak
Dadi untuk yang bergabung lewat Zoom
meeting, Sobat ASN cukup menggunakan
fituriz Hand ataupun yang bergabung
melalui YouTube channel BBSD Menjatin TV
bisa tuliskan pertanyaannya melalui
kolom live chat.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Baik, kita memasuki sesi tanya jawab
yang ketiga ini bersama dengan Bapak
Dadi. Ini di sesi kali ini Bapak, kita
akan mengambil dua penanya saja.
Berkenan Bapak ya.
Oke, baik. Silakan silakan kita cek
siapa yang sudah rais hand atau
menuliskan pertanyaannya. Oke, yang
sudah bergabung bersama dengan kami
semua di sini ada Bapak Mei Mardianto.
Selamat siang.
Baik, selamat siang. Selamat siang,
Bapak. Selamat siang. Bapak dari
instansi mana, Pak? Saya dari Kabupaten
Malang, Pak. Oke. Dari Malang ya.
Silakan langsung pertanyaannya, Pak Mi.
Ee baik. Bismillahirrahim.
Selamat siang, Bapak. Selamat siang. Ee
saya ingin siang bertanya
ee bagaimanakah cara kita untuk
mengendalkan AI dan bagaimanakah apa
namanya cara kita untuk tetap menjaga
komunikasi secara empati?
Waktu yang sangat panjang. Bagaimana
menurut Jenengan cara-caranya? Oke,
sudah cukup jelas pertanyaannya ya, Pak
Dadi ya.
Oke. Baik, silakan bisa langsung
dijawab.
Baik. Ee problem di AI itu kan
sebenarnya informasi itu jadi punya
siapa? Misalnya kalau saya menulis
sebuah makalah ya atau saya menulis
sebuah laporan ee ya itu punya saya
gitu. Tetapi ketika saya hanya
memberi perintah ya atau yang dalam AI
itu disebut prom. Saya cuma nge-prom.
tolong buatkan saya pidato Ibu Gubernur
mengenai pentingnya gizi dan kesehatan
ibu. Nah, itu punya siapa? Punya saya
atau punya AI? Ya, karena manusia ee ee
apa namanya? kita akhirnya cuma
perintah-perintah mesin untuk berpikir
dan bekerja seperti yang kita mau.
Karena itu ee saya ambil contoh di
perusahaan media yang saya tahu di
ujungnya tetap diperlukan verifikasi
manusia.
Jadi ee AI digunakan sebagai teman
bekerja tetapi tanggung jawab utama ee
terhadap hasil sebuah pekerjaan itu
tetap pada ee pekerja gitu. apa tetap
pada manusia gitu ya. Jadi misalnya ee
Bapak di Kabupaten Malang nanti bisa
bikin e satu guidance bagi ee
teman-teman ASN di sana bahwa AI itu
hanya boleh sebagai teman brainstorming
gitu ya. Misalnya kita memanfaatkan chat
GPT atau Google Game ini untuk
brainstorming aja kita perintah-perintah
pakai prom tetapi akhirnya enggak bisa
Bapak misalnya ada kesalahan terus
bilang, "Oh, itu kata chat GPT."
Nah, itu tentu perlu dituangkan ke dalam
suatu pedoman kerja, Pak. Pedoman kerja
misalnya di unit Bapak misalnya Pemprup
Malang ada pedoman kerja pemanfaatan
artificial intelligence
gitu. Yang paling penting di dalamnya
mencakup tentang siapa bertanggung jawab
terhadap hasil pekerjaan AI
gitu. Jadi kalau enggak bisa kalau
misalnya pidatonya Pak Bupati Malang
salah bilang, "Oh, itu kata chat GPT."
Oh, enggak bisa. Gitu kan. Masa Pak
Bupatinya suruh marah ke chat GPT.
Karena itu ee di dalam konteks manajemen
organisasinya perlu punya ee pedoman
kerja yang jelas terutama tentang siapa
yang bertanggung jawab. Kalau terhadap
ee hasil eksternal yang masuk ya. Karena
kalau kalau di lembaga akademis kan yang
paling ditakuti adalah plagiator ya,
plagiasi ee penjiplakan ya. Tentu sudah
ada software-software ee yang digunakan
untuk menyaring gitu ya. Misalnya oh ini
pekerjaan ini ee 90% dari AI itu saya
enggak tahu bagaimana prosesnya, tetapi
sudah ada software-software yang ee bisa
menilai gitu bahwa satu pekerjaan ini
90% dari X karena itu enggak boleh. Jadi
jauh lebih penting pada pedoman kerjanya
seperti apa. Pedoman kerja ee di
instansi Bapak di dalam menyikapi AI
seperti apa? Bolehnya sampai mana?
Misalnya Google Gemini itu terakhir saya
coba saya bisa bikin presentasi
full PowerPoint dengan menggunakan
Google Gemini. Cuma perintah-perintah
aja tetapi siapa yang bertanggung jawab
terhadap akurasi ketepatan?
dari informasi yang ada di situ kan kita
enggak bisa marahin Google Gemini ya
atau misalnya kita ditegur bos gitu ya
terus bilang oh itu kata Google Gemini.
Nah di situ pentingnya suatu protokol di
dalam organisasi di dalam menyikapi AI
ini. Nah bagaimana dengan komunikasi
empati? Pertama ee bisa di lagi-lagi
kita bisa masukkan standar narasi
misalnya konten media sosial tempat
Bapak.
konten media sosial kita harus ada
nuansa empatinya. Misalnya ee selalu
menggunakan opening yang empati, tidak
menempatkan pejabat A melakukan B di
awal pesan. Yang paling sering tuh di
awal pesan caption media sosial atau ee
press rilis. ee
Kepala Dinas P2M gitu ya, K3 apa
melakukan ini tentu orang bilang ya.
Tapi misalnya kita bikin satu pedoman,
setiap pesan kita selalu mengedepankan
apa yang penting buat buat audiens
sebelum kita menyampaikan
ee apa si yang kita kerjakan gitu. Dinas
Peternakan Kabupaten Malang melakukan
penyuluhan
ee anti flu burung gitu ya. Tetapi apa
mengapa itu penting? kesehatan dan
kestabilan pasokan ternak untuk
pemenuhan protein masyarakat sangat
penting. Karena itu kesehatan ternak
ayam harus penting. Baru terakhir kita
laksanakan itu sehingga masyarakat
menangkap, "Oh, ini tuh yang dilakukan
pemerintah memang penting buat saya."
Bukan ee ya itu emang pekerjaan kamu
gitu. Itu perubahan struktur narasi itu
ee dalam memang tidak bisa instan ya.
Apalagi misalnya masyarakat dan juga
pemerintah, instansi-instansi pemerintah
ya bukan di Kabupaten Malang bukan itu
punya kebiasaan-kebiasaan di dalam
berkomunikasi yang membuat masyarakat
punya persepsi tertentu
gitu. Kira-kira gitu Pak Mei Mardianto
dari Kabupaten Malang. Monggo kalau
masih ada yang ditanyakan. Sudah jelas.
Baik. Baik. Terima kasih banyak Pak Mei.
Baik. Masih ada satu penanya lagi yang
akan bergabung bersama dengan kita di
sini.
Baik, yang akan bergabung di sini ada
Bapak Yosef.
Selamat siang, Pak Yosef.
Selamat siang. Selamat siang, Bapak
Yosef. Dari instansi mana, Bapak? Saya
dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten
Dari DLH Ngawi ya? Kabupaten ya. Oh,
Ngawi. Ngawi, I Ngawi. Ngawi. Saya
pernah tuh ke Ngawi, ada sahabat saya di
Ngawi itu. Oh, iya, Bapak.
Oke, nanti bisa mampir, Pak. Bisa
ketemuan ya. Monggo, Binara.
Monggo Bapak Yosef, silakan
pertanyaannya.
Baik, terima kasih atas waktu yang
diberikan Pak Dadi. Eh, menarik, Pak.
Jadi komunikasi empati ini saya melihat
kalau saat ini sudah contoh yang
nasional itu sudah dilakukan pemerintah
dengan membuka kembali peran BUL ini
salah satu komunikasi yang bagus. Jadi
pemerintah enggak hanya ngomong. Kalau
komunikasi kan biasanya ngomong ya. Jadi
tidak hanya ngomong tapi juga melakukan
aksi nyata. ini ee sangat terasa di
Kabupaten Ngawi sebagai lumbung pangan
nasional. Di mana produktivitas kami
tertinggi, Pak, di Indonesia di Jawa
Timur. Jadi ee pemerintah pusat
melakukan komunikasi dengan kami rakyat
petani ini sangat efektif dengan membuka
kembali BULK. Nah, juga beberapa
komunikasi yang mungkin
sudah dilakukan ketika kita biasanya
ketika masyarakat kota terutama itu
kekurangan
apa namanya daging komunikasinya kan
pemerintah pusat kemudian ekspor daging
kemudian yang di bawah petani peternak
ini jadi kelimpungan ini. Wah ternak
enggak enggak naik harganya. ini di masa
lalu komunikasinya seperti itu, tapi
saat ini kami melihatnya positif. Nah,
tetapi juga ada komunikasi yang kadang
mentok karena SDM mungkin ya yang kita
aja. Jadi gini ee
contohnya cabe, Pak. Tadi Bapak
menyampaikan contohnya cabai ketika
mahal makanya tanam cabai gitu kan. Jadi
bahasa komunikasi ini mungkin kurang
berempati. Tetapi saya ingin menanyakan
lebih jauh kemudian bagaimana
komunikasinya ketika yang kita ajak
audien ini rakyat umum ini juga
mentok-mentok saja. Misal seperti ini,
cabe itu kan setiap tahun pasti akan
naik ketika sekitar bulan ee Februari
sampai Maret, April lah mendekati ya apa
hari raya biasanya. Dan memang di
bulan-bulan Januari itu akan banyak
penyakit yang menyerang di cabe.
Sehingga di musim penghujan itu kan akan
selalu seperti itu siklusnya sehingga di
bulan-bulan 2 sampai 4 ini akan mahal.
Kemudian ketika rakyat sudah tahu
seperti itu, makanya tanam cabai kan
juga kurang berempati. Tapi gimana
ketika ee kita sudah tahu di
tanggal-tanggal, bulan-bulan itu pasti
akan mahal. Kemudian rakyatnya hanya
mengeluh saja ini cara komunikasinya
bagaimana, Pak untuk menghadapi yang
seperti itu. Bahkan juga saya juga
melihat gini, Pak, untuk beras rata-rata
petani saat ini di kabupaten saya juga
di Ngawi juga seperti itu. Petani ini
kurang berdaulat. Dalam artian gini,
ketika musim panen mereka itu sudah
dapat uang Bapak, bahkan sebelum panen
karena sudah dijual. Setelah panen ada
yang non sewu, beli beras itu kiloan,
jadi petani ini yang punya lahan ee
apalagi yang buruh, yang petani saja
yang punya lahan. Mereka membeli beras.
Ini kan ee ironis. Kalau menurut saya
ini ironis bahwa seharusnya mereka sudah
berdaulat. Tidak semua hasil panennya
dijual, tetapi juga harus menyisihkan
untuk kebutuhan sendiri. Sebagaimana
dulu nenek moyang kita punya glodok,
punya lumbung padi khusus untuk keluarga
itu. Nah, ini bagaimana cara komunikasi
terhadap situasi yang kadang sudah
menjamur, sudah ee seperti inilah. Itu
mohon petunjuknya Bapak. Terima kasih.
Baik.
Baik. Terima kasih. pertama memang ee
tidak semua problem ee selesai dengan
komunikasi ya. Ada hal-hal yang
membutuhkan kebijakan yang lebih
menyeluruh
dalam konteks ee diskusi kita mengenai
komunikasi empati adalah bagaimana
menunjukkan bahwa pemerintah itu mau
mendengar dan ee responsif terhadap
aspirasi masyarakat. Karena itu bias
kebetulan saya pernah apa ya ee membantu
di Kementerian Perdagangan ee soal cabe
tuh tiap tahun memang bikin pusing, Pak.
Spesifik lagi cabe rawit merah. Jadi
saya juga baru tahu ketika di situ bahwa
cabe tuh lain gitu. Cabe rawit merah tuh
khusus gitu dan selalu ada fluktuasi
harga. Karena itu ee instansi pemerintah
dengan mengetahui adanya tren seperti
itu perlu membuat rencana komunikasi.
Jadi misalnya pra misalnya Bapak sudah
tahu bulan Januari Februari akan naik.
Nah sebelum bulan Januari Februari itu
apa yang kita sampaikan
gitu ya? Bahwa misalnya tidak bisa
menyelesaikan semua masalah tidak
apa-apa, tetapi pemerintah harus tampak
siap bahwa oke ee Bapak Ibu petani ee
sebentar lagi kita akan memasuki bulan
du di bulan 2 kondisi cabai biasanya
mengini gini gini. kita pemerintah punya
ini. Karena itu komunikasi tidak bisa
semata-mata reaktif terhadap apa yang
sedang terjadi. Apalagi misalnya Bapak
sudah hafal ada siklus-siklus tertentu
untuk komoditas-komitas tertentu, maka
sebaiknya Bapak punya plan dari pra
masalah itu terjadi. Ketika masalah
terjadi sampai misalnya pasca lebaran ee
permintaan cabe sudah melandai, Bapak
mau ngomong apa? Pada setiap tahapan itu
Bapak siapin model komunikasinya seperti
apa. Misalnya sebelum sebelum itu Bapak
mengingatkan gitu ya, sebelum ee musim
penyakit cabe Bapak punya komunikasi apa
di tengah-tengah ee penyakit sampai
puncak permintaan pesannya dari
pemerintah Ngawi apa pasca itu apa? Itu
dalam suatu rencana, Pak. Tentu tidak
hanya komunikasi ya, tentu perlu ada
kebijakannya. Apakah misalnya pemerintah
menyiapkan obat ya atau pestisida atau
pupuk dan lain-lain. Tetapi dalam
perspektif komunikasinya yang saya ingin
sampaikan adalah ada plan, Pak. Apalagi
ketika Bapak sudah hafal pola-pola dari
komunitas-komunitas tertentu
perilakunya.
Pra panen misalnya pemerintah harus
ngomong ini, setelah panen harus ngomong
apa, pasca panen harus ngomong apa gitu.
Begitu juga misalnya beras. Kemudian
juga ee di dalam planning itu
disesuaikan dengan ee audiens-nya, Pak.
Kalau Bapak bicara dengan buruh tani
tentu enggak bisa dendaki-ndaki ya, Pak
ya. Yang penting kita bicara yang apa
yang menjadi aspirasi dia. Misalnya
kepastian harga, serap gitu ya. Dengan
diserap itu ee upah Bapak sebagai buruh
tani akan stabil dan seterusnya. Tapi
ketika bicara dengan pemilik sawah,
pemilik penggilingan padi, tentu
bicaranya udah lebih lebih
apa ya, lebih komplit gitu, lebih
komprehensif. Jadi kalau dari sisi
komunikasinya jauh lebih penting adalah
Bapak punya rencana setahun ke depan nih
atau satu semester ke depan nih mumpung
mumpung nih kita di akhir semester 1 di
semester 2 ini Bapak lihat pola-pola apa
nih di komoditas-komoditas apa dan kita
mesti ngomong apa nih misalnya bagaimana
dengan hortikultura yang lain jagung
kalau Ngawi setahu saya ya padi ya Pak
ya ee padi apa yang perlu perlu di
ee apa namanya dibicarakan di awal, apa
yang harus dibicarakan di tengah-tengah,
kepada siapa. Jadi kayak ada matriks
gitu, Pak. Awal, tengah, akhir, dan ee
apa namanya? Ee audiens-nya siapa.
Sehingga tentu komunikasi itu harus
menjadi bagian kebijakan. Jadi,
kebijakannya apa? Oh, ada subsidi pupuk,
ada subsidi obat, ada apa gitu ya, ada
tambahan apa. Karena komunikasi hanyalah
ee faktor pelengkap dari satu perangkat
kebijakan. Tapi sekali lagi jauh lebih
penting Bapak punya plan. Bapak mau
ngomong apa nih satu semester ke depan
dengan memperhatikan pola-pola perilaku
misalnya kalau dalam konteks ini tanaman
tertentu gitu sih, Pak. Iya. I. Baik.
Bagaimana Pak Yosef? Menarik. Jadi
terima kasih Pak. Jadi ini menegukan
saya memang kalau Pak Adi tadi bukan
bidang saya Bapak ya. Saya karena saya
di lingkungan hidup dan
yang kebijakan tadi kalau di bidang saya
sudah kami lakukan tetapi saya dapat
pencerahan ini. Jadi nanti tinggal
nambah komunikasinya. Jadi kalau di
bidang pekerjaan saya setiap hari ini
kami juga menangani ee pruning
pemangkasan pohon. Jadi di rata-rata
ketika musim sebelum musim pemancara,
musim penghujan itu kan pasti angin
kencang kalau di daerah Ngawi. Nah, kami
biasa melakukan perawatan tanaman tepi
jalan itu dengan pemangkasan. Tetapi
memang selama ini tidak kami
komunikasikan. Mungkin nanti pencerahan
ini bagi kami untuk bisa
mengkomunikasikan kegiatan-kegiatan
harian. Betul. Iya, betul. Jadi yang
penting ee kan pemerintah perlu
menyampaikan kami hadir, kami bekerja
gitu ya tentu secara proporsional
sehingga akan ada dukungan dari
masyarakat. Oh saya memahami ee mengapa
pruning dilakukan pada bulan-bulan
tertentu misalnya gitu sih, Pak. Kita
bisa mulai dari hal-hal yang kelihatan
sederhana tetapi jika dilakukan secara
konsisten pasti akan membuahkan hasil.
Oke. Baik. Bagaimana Pak Y? Sudah cukup
terimasi. Cukup baik. Terima kasih
banyak Pak Yosef. Terima kasih. Baik.
Komunikasi ini ee sepertinya suatu hal
yang simpel sepertinya ya. Jadi tapi
dari hal yang kecil ini bisa jadi
informasi yang kita sampaikan bisa
diterima atau tidak? Atau justru dengan
suatu komunikasi yang dibangun, suatu
narasi yang kita buat ini bisa membuat e
rakyat ini percaya, masyarakat percaya.
kembali membangun kepercayaan lagi
bersama dengan pemerintah. Begitu ya.
Oke, Pak Dadi Krismatono, apakah ada
closing statement yang ingin disampaikan
Bapak? Oh, ya. Jadi ee
mau tidak mau masyarakat itu sekarang
punya ekspektasi yang besar kepada
pemerintah ya. dia di tengah banyak
situasi ketidakpastian tempat mereka
berlindung adalah pemerintah. Karena itu
sangat penting bagi instansi pemerintah
dan juga frontline dari komunikasi
pemerintah seperti humas dan ASN di
masing-masing bidang untuk menunjukkan
ee kehadiran
dan ee empati terhadap masyarakat itu.
Jadi perlu ada penyesuaian pola
berkomunikasi di tengah ekspektasi yang
besar masyarakat kepada pemerintah. Saya
kira itu yang
bisa jadi closing statement dari saya.
Baik, terima kasih banyak Bapak eh Dadi
Krismatono atas semua ilmu yang sudah
dibagikan bersama dengan Sobat ASN semua
di sini. Semoga bisa segera kita
aplikasikan ya dalam pekerjaan baik ee
mulai nanti sepertinya ya. Ini masih
break makan siang. Oke, setelah jadi
break langsung kita praktikkan
bersama-sama. Terima kasih sekali lagi
Pak Dadi. Terima kasih. Kami persilakan
untuk melanjutkan ke schedule berikutnya
ya. Terima kasih mohon pamit ya.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Baik sa tidak terasa kita sudah sampai
di penghujung acara. Saya ucapkan terima
kasih sekali lagi untuk seluruh pihak
yang telah mendukung webinar ASN belajar
seri 23 tahun 2025. Pendiri dan direktur
GNFI Group Bapak Akiari Hanato, S. M.Bi.
MBA, Pakar Komunikasi, Dosen FISIP UNER,
dan Ketua Umum Perhumas Surabaya Raya,
Bapak Dr. Suk Widodo, Drandes, M.Si.
Terima kasih untuk Co-Founder Inventory
dan Praktisi Komunikasi Bapak Dadi
Krismatono. Terima kasih juga untuk
seluruh sobat ASN yang sudah bergabung
baik dari Zoom meeting maupun YouTube
channel BPSDM Jatim TV. Dan sebelum kita
mengakhiri sesi, kami ingatkan kembali
untuk cek secara berkala semesta Bangk
untuk mengunduh e-sertifikatnya. ASN
belajar seri 23 tahun 2025 ini
dipersembahkan oleh Korpu SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Sobat ASN, bijaklah
menggunakan jemari dalam bersosial
media. Utarakan kritik dengan baik.
Sampaikan informasi sehingga mudah
dimengerti tanpa perlu membuat sensasi.
Tetap semangat dan sampai jumpa di seri
berikutnya. Wasalamualaikum.
warahmatullahi wabarakatuh.
[Tepuk tangan]
A belajar 23 tahun 2025 sukses zaman
yang terus bergerak
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan. Berdempat
bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Jadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia satukan
tekad pantang menyerah
jadi
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Belajar 23 tahun 2025 sukses zaman yang
terus bergerak
sambut dengan penuh semangat
saatnya kita melangkah.
hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdempat
bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
[Musik]
menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap penyongok Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia. Satukan tekad pantang
menyerah.
Jadi ASN getar berkualitas.
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
[Musik]