Transcript
oqtgYNOg9BM • ASN Belajar Seri 23 - Narasi Di Ujung Jari: Media Sosial dan Masa Depan Negeri
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0238_oqtgYNOg9BM.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Jadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia [Musik] tekat pancang jadi ASN berkuar kita sama [Musik] halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format. Nama, strip asal instansi Sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Empat, apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau rise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting, ya. Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN Belajar. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] kami mencoba menj Jadi yang terbaik melayani bangsa dengan sepenuh hati barah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. untuk melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. H kami dari sindias dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi. Bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragung. Mengas penuh hati tulus membantu sesama dengan kami melayani dengan mana kami melayani bangsa [Musik] H [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format nama strip asal instansi Sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Empat, apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau rise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting, ya. Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN Belajar. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Huray, ada yang baru lagi nih di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Ruang bermain anak. Tempat yang satu ini adalah solusi bagi para orang tua yang masih memiliki anak kecil. Kita sebagai orang tua pasti khawatir ya. Apalagi kalau ditinggal kerja nih. Wah, kira-kira anak saya aman enggak ya di rumah? Kira-kira anak saya bermain atau belajar dengan baik enggak ya di rumah? Sobat ASN kalau dikirim diklat di BPSDM Provinsi Jawa Timur sekarang udah enggak perlu khawatir lagi. Karena di BPSDM Provinsi Jawa Timur ruang bermain anaknya lengkap banget fasilitasnya. Mulai ada tempat bermain, tempat tidur untuk mereka bisa istirahat, kemudian buku-buku edukatif, dan ada ruang nursery juga untuk Ibu menyusui. Kamar mandinya pun lengkap dan bersih. Dan yang enggak ketinggalan penting, Sobat ASN bisa langsung pantau lewat CCTV. Keren banget, kan? Jadi, Mommy and Daddy sekarang enggak perlu khawatir lagi, ya. Mommy and daddy don't worry we are happy. [Musik] Dalam satu SKBT saja. misalkan ee ke depan itu sendiri sebenarnya sudah kitaasi e setelah kita masuk seperti ini walaupun kita ya yang lain t kelola pemerintah yang adil di mana di sini sasaran kita pemerintahan yang berbasis elektronik ya Pak Iya ee permisi, Pak ee yang berdiri dari Bu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Perkenalkan saya Ahmad Nur, peserta pelatihan perencanaan dan penganggaran angkatan 2 tahun 2024 BPSDM Provinsi Jawa Timur. Saya dari Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Sumenep. Alhamdulillah selama mengikuti pelatihan perencanaan ini banyak ilmu dan pengetahuan baru yang kami dapat terutama dari pegawai yang memang bukan kompetensi sebagai perencana tapi ditugaskan untuk melakukan perencanaan. Ini sesuatu hal yang luar biasa. Kami mendapatkan ee ilmu dan pemahaman yang sangat bermanfaat. Sekali lagi terima kasih saya sampaikan kepada BPSDM. BPSDM Provinsi Jawa Timur keren dan maju. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Fina Nuraihi peserta pelatihan perencanaan dan penganggaran angkatan 2 Provinsi Jawa Timur tahun 2024. Saya berasal dari Bapeda, Kabupaten Bojonegoro. Selama menjalani pelatihan ini, saya merasa mendapat banyak sekali ilmu-ilmu baru dan pengetahuan yang dapat saya gunakan untuk menyusun dokumen perencanaan yang ada di kabupaten agar dapat mewujudkan Indonesia emas tahun 2045. Terima kasih untuk BPSDM Jawa Timur dan Bapak Ibu Widya Iswara yang telah men-sharing ilmu-ilmu dan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kami perencana. Semoga pendidikan dan pelatihan ini akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. BPSDM juara, BPSDM maju, BPSDM keren. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat ee Ibu kelas yang terhormat juga pendamping kelas Bapak. Yang terhormat ee Ibu dari perwakilan bidang pembahan kompetensi. Maaf, Bapak dan yang terhormat ee rekan-rekan semuanya dari kabupaten kota di seluruh Provinsi Jawa Timur dan dari perwakilan ee perangkat daerah di Jawa Timur. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. kita semua. Shalom, Om Swastiastu, namo budaya, salam kebajikan yang saya hormati setiap perlu paham padahal dulu beliau juga ee staf di waktu saya menugas sebagai kepala bidang. Ee yang saya hormati para ee teman-teman penyelenggara, panitia dan wabil khusus para peserta tingkat perencanaan dan penganggaran pola kondisi antar pemerintah provinsi Jawa Timur. [Musik] Pelatihan perencanaan dan penganggaran angkatan du ye ye. Yeah. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Kami mencoba menjadi yang terbaik, melayani bangsa dengan sepenuh hati. Barah kami junjung, teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. Hadir di sini untuk mengabdi lencanakan tugas ke bangga negeri berentas situt melani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. H sem di sini sukses dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Layani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi berganding tangganding sanggup tujuan untuk menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragam. Mengas penuh hati tulus membantu sesama dengan bang kami melayani dengan bang kami melayani bangsa [Musik] H [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Bapak namanya mulai 2015 persisnya Januari 2015 saya pindah ke ee Provinsi Jawa Timur ya. Jadi sampai sekarang is ee banyak pernak-perniknya terutama di perencanaan dan penganggaran Bapak Ibu. Oke. Karena dia berpikiran, ya sudah enggak mungkin lagi mau ke mana gitu kan. fungsional ya seperti yang Anda lihat selama ini kan guru atau di bidang kesehatan atau ya selesai dan ee apa serious ee kemewahan wibawa yang Anda bayangkan sebagai pejabat itu sudah serim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan saya dari Bapeda Kabupaten Bojonegoro. Kami adalah salah satu perwakilan dari peserta diklat perencanaan dan penganggaran angkatan pertama tahun 2024 di BPSDM Provinsi Jawa Timur. E kesan kami selama mengikuti ee pelatihan ini yang pertama bahwa diklat perencanaan penganggaran ini sangat berarti bagi kami para perencana utamanya yang berangkat bukan dari perencana murni namun dari hasil penyetaraan. Di mana ilmu kami tentang perencanaan dan penganggaran dalam arti praktis sangat terbatas. Melalui diklat yang difasilitasi oleh BPSDM Jawa Timur ini, kami merasa terbantu dan mendapatkan pengetahuan serta keterampilan yang memang dibutuhkan dalam kompetensi sebagai perencanaan. dalam hal penyelenggaraan diklat. Kami memberikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada BPSDM yang telah melayani kami dengan sangat baik, sangat profesional, dan tentunya ke depan kami berharap perbaikan-perbaikan ini akan terus dilakukan sehingga membawa manfaat bagi seluruh aparatur di Provinsi Jawa Timur. Terus bergerak, terus juara BPSDM Jawa Timur. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Nonika Feni Privianti, peserta Diklat Perencana dan Penganggaran Provinsi Jawa Timur tahun 2024. Terima kasih atas kolaborasi BPSD Pendungan Bappenas dalam meningkatkan kompetensi kami dalam sebagai perencana untuk mendukung pembangunan kabupaten kota dengan fasilitas dan narasumber yang berkualitas menjadikan kami ASN yang berkompeten dan profesional. Semoga ke depan segala yang kita terima dalam pelatihan ini menjadikan kami ASN yang meningkatkan pembangunan daerah menjadi pembangunan yang maju dan menjadikan Indonesia emas. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. BPSDM luar biasa. Latang perencanaan dan penganggaran angkatan 1 kontribusi provinsi Jawa Timur tahun 2024. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat Kepala ee BK BPSDM Provinsi Jawa Timur. Yang terhormat Ibu seluruh panitia dan teman-teman peserta pelatihan pencanaan dan penganggaran pertama dan ketiga indikator kinerja itu kan aneh banget indikator kinerja itu secara resmi saya nyatakan diakhiri. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] berencana terus bermati Indonesia mau BPSDM Jaka terima kasih Amin. [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Jadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia tekad menyerah jadi ASN berkuwa servisama [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum. warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di mana pun Anda berada. Baik yang sudah bergabung di Zoom meeting maupun live YouTube-nya BPSDM Jatim TV. Senang sekali saya Aisa Dewi dapat kembali menyapa sobat ASN semua dalam webinar ASN belajar seri 23 tahun 2025 persembahan Korpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sobat ASN di era digital ini informasi tidak lagi menunggu untuk dicetak dan disebarkan. Ia mengalir cepat menembus batas ruang dan waktu melalui layar kecil di genggaman kita. Dari ujung jari narasi dibentuk mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita bersikap, bahkan menentukan arah masa depan. Namun sejauh mana narasi digital yang kita bangun berkontribusi pada kemajuan negeri, apakah media sosial telah menjadi sarana pencerdasan publik atau justru terjebak dalam pusaran disinformasi dan polarisasi? Bersama webinar ASN Belajar seri 23 tahun 2025, kita akan mengkaji media sosial bukan hanya sebagai teknologi komunikasi, tetapi sebagai medan kontestasi makna dan kekuasaan. Karena di balik setiap unggahan tersimpan nilai, di balik setiap narasi tersembunyi agenda, dan di ujung setiap jari tersimpan potensi untuk membentuk masa depan bangsa. [Musik] Sobat ASN, untuk membuka webinar ASN belajar seri 23 tahun 2025 ini, marilah kita dengarkan opening speech yang akan disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, S.P., MP. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN Belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini Kamis tanggal 19 Juni 2025, ASN Belajar telah memasuki seri yang ke-23. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih dan apresiasi kami. Kami terus berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat SN, hari ini ASN Belajar seri ke-23 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka turut serta memberikan kontribusi pemikiran dalam hari media sosial nasional yang diperingati pada tanggal 10 Juni yang lalu. Sebagaimana kita ketahui bersama, setiap tahun pada tanggal 10 Juni sejak tahun 2015 yang lalu, Indonesia merayakan hari media sosial. Perayaan ini merupakan momen yang penting untuk mengakui peran besar yang dimainkan oleh platform media sosial dalam membentuk kehidupan kita sehari-hari. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. mempengaruhi cara kita berkomunikasi, berbagi informasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Sementara itu, Hari Media Sosial juga diperingati secara internasional. Mengutip Days of the Year, Hari Media Sosial Sedunia diperingati tiap 30 Juni dan sudah diperingati sejak tahun 2010. Karena hal ini sangat menarik untuk kita elaborasi lebih luas dan lebih dalam, maka ASN Belajar seri ke-23 tahun 2025 ini mengangkat topik narasi di ujung jari, media sosial dan masa depan negeri. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam SN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sahabat ASN di seluruh tanah air, di era digital ini suara tidak lagi memerlukan panggung spektakuler untuk didengar. Cukup satu unggahan, satu cuitan, satu video pendek dan dunia pun akan bereaksi. Data dari Hoodside tahun 2024 menyebutkan bahwa telah ada 170 juta penduduk Indonesia sebagai pengguna aktif media sosial setara dengan lebih 60% populasi. Rata-rata mereka menghabiskan lebih dari 3 jam sehari menjelajahi dunia maya. Ini bukti bahwa saat ini kita benar-benar hidup dalam masyarakat yang saling terhubung setiap saat walaupun dalam jarak jutaan hasta. Media sosial sejatinya adalah cermin. Di sanalah nilai, harapan, bahkan kegelisahan bangsa dipantulkan. Namun cermin itu bisa saja buram bahkan retak jika yang kita pantulkan adalah kabar palsu, ujaran kebencian, polarisasi, dan sensasi tanpa makna. Kita menyaksikan sendiri bagaimana satu narasi bisa menyulut konflik, menggoyahkan kepercayaan dan persatuan, dan sebaliknya menggerakkan solidaritas dan menguatkan kesatuan. Maka tidak berlebihan jika ada yang mengatakan siapa yang menguasai narasi, dialah yang menentukan arah sejarah. Sahabat ASN di seluruh tanah air, dalam konteks inilah kita, aparatur sipil negara memegang peran amat signifikan. Kita sadar di era ini ASN bukan lagi sekedar pelaksana kebijakan, tetapi telah menjelma menjadi wajah negara di ruang publik, tentu termasuk di ruang digital. Namun kita menyadari sepenuhnya bahwa akan adanya realitas yang menunjukkan bahwa ASN belum sepenuhnya memahami secara menyeluruh etika bermedia sosial sehingga rentan terjebak dalam penyebaran narasi yang menyebabkan disinformasi atau justru unggahan yang mencederai netralitas kita sebagai ASN. Sobat ASN, maka sudah semestinya ASN harus menjadi penjaga narasi. bukan penyebar sensasi. ASN harus cakap namun juga bijak. Memahami bahwa setiap unggahannya bukan sekedar opini pribadi tapi membawa konsekuensi untuk negeri. Ia harus menjadi pemengaruh etis menebarkan nilai-nilai kebangsaan, empati, kolaborasi, dan literasi. Bukankah keadaban digital dimulai dari mereka yang paling sadar akan tanggung jawabnya? Kita harus mampu membangun kesadaran kolektif bahwa narasi bukan hanya soal diksi, tapi juga sebuah aksi. Bahwa jari-jari kita bukan sekedar alat mengetik, tapi tongkat penunjuk arah menuju masa depan ke mana arah bangsa ini akan berjalan. Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita sebagai ASN bisa menjadi penjaga narasi untuk negeri yang kita cintai agar tidak cedera oleh disinformasi dan polarisasi. Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang dengan hormat para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Bapak Dadi Krismantono. Beliau adalah co-founder eventory dan seorang praktisi komunikasi. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Bapak Dr. Sukodo, M.Si. SI. Beliau adalah pakar komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya sekaligus Ketua Umum Perhumas Surabaya Raya. Dan yang ketiga kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Ahyari Hananto, S. MB. Beliau adalah pendiri sekaligus direktur Good News from Indonesia GNFI Group. Nah, Sobat SN di seluruh tanah air, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-23 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Bapak Dr. Lamlianto, SPMP atas opening speech yang sudah disampaikan. Dan memang sobat ASN di hari ini kita akan mendengarkan tiga materi dari tiga narasumber yang luar biasa. Namun sebelum kita berlanjut ke sesi pemaparan narasumber, Sobat ASN sudah dapat melakukan presensi pada halaman semesta Bangkok. Jadi, link presensi dapat Sobat ASN lihat pada running teks atau yang di Zoom meeting bisa lihat di kolom chat atau yang bergabung lewat YouTube channel BPSDM Jatim TV bisa melihat di pin chat-nya. Nah, tapi dikarenakan saat ini traffic presensi sir tinggi, bagi sobat ASN yang masih belum bisa mengakses presensi dapat mencoba kembali secara berkala. [Musik] Baik, Shabat ASN, materi pertama yang akan kita simak bersama-sama di hari ini, Kamis, 19 Juni 2025 akan disampaikan langsung oleh pendiri dan direktur Good News from Indonesia Group. Tidak lain tidak bukan adalah Bapak Akyari Hananto, S., MBA. [Musik] Asalamualaikum. Selamat pagi, Bapak. Waalaikumsalam. Selamat pagi, Bapak. Selamat pagi. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabarnya Paki hari ini? Alhamdulillah. Baik. Ee semoga yang para peserta dan Mbak Anisa tadi yang terhormat Pak Ramli juga baik juga. Iya. Waduh, ini mohon maaf Bapak suaranya agak sedikit terputus. Ee coba kita cek dulu teman-teman koneksinya sudah oke ya. Oke. Baik. Bagaimana Bapak Ari koneksinya sudah? Oke, sebentar. Apakah suara saya putus-putus, Bapak? Ee suara saya sekarang gimana, Mbak? Kalau Pak Ari kami menerimanya di sini e agak terputus-putus, Pak. Sebentar saya pakai headphone. Oke. Baik. Sudah jelas ya berarti ya. Oke, aman, Pak kalau gitu, Pak. Baik untuk SAT TSN sesaat lagi kita akan bersama-sama mendengarkan materi yang akan disampaikan oleh Bapak Akyari Hananto, pendiri dan juga direktur Good News from Indonesia Group. Namun sebelumnya saya ingin bertanya-tanya sedikit Bapak untuk eh kesibukan akhir-akhir ini sibuk apa nih, Pak? Ee ya ee suara saya gimana, Pak? Sudah terdengar jelas, Bapak. Alhamdulillah. Baik, baik. Eh saya ya beberapa hari ini juga ee sibuk mengajarkan sesuatu yang baru di dunia teknologi yaitu AI. He. Kita mengajarkan bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab eh etis gitu ya ke beberapa berbagai kampus di Indonesia, berbagai lembaga pemerintah juga perusahaan-perusahaan. Oke, pas sekali ya di hari ini menyempatkan waktunya dengan schedule yang begitu padat untuk bisa menyapa Sobat ASN ini yang bergabung dari seluruh Indonesia loh, Pak Ari. Masyaallah terima kasih dan selamat datang. Saya kebetulan di Surabaya jadi enggak jauh rumah saya dari kantornya WBSDM tapi ee ini Zoom jadi lebih bagus. Oke. Baik kalau begitu tanpa perlu berlama-lama lagi mari kita simak bersama materi pertama yang akan disampaikan oleh Bapak Ari. Silakan Bapak kasih. Ee slide saya enggak ditampil ya. Oke, slide-nya apakah sudah tampil? Oke. Belum diful screen Bapak. Oke. Baik. Bagaimana sekarang? Sudah sudah oke. Oke, sudah apaapak materinya sudah bisa kami lihat bersama-sama. Baik, terima kasih ee kawan-kawan semuanya. Ee asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya, terima kasih. Ya, ini waktu saya enggak panjang, tapi semoga insyaallah bisa ee meng-cover beberapa hal yang ee sangat penting kita sampaikan karena hari ini betul-betul penting banget ya. Ee kita semua bisa bersosial media, kita semua bisa posting, kita semua bisa bikin konten yang bagus tapi bagaimana kita juga punya tanggung jawab sebagai terutama sebagai SN dan kita sebagai warga Indonesia anak bangsa untuk membawa narasi positif ya, terutama untuk masa depan Indonesia. Baik, lanjutkan. Nah, eh slide pertama ini sebenarnya cukup penting ya. Jadi kalau kita ee buka media hari ini entah itu TV, portal berita, maupun media sosial yang kita pakai, yang kita follow, maupun yang kita pegang gitu kan. Apa yang paling sering kita temuin? Dalam beberapa bulan terakhir ini kami mengadakan ee observasi di berbagai sosial media dan ee yang kami temukan adalah ee konten-konten yang mohon maaf ya ee ya penuh dengan konflik ee krisis, bencana. ee kegagalan-kegagalan, kemudian komplain-komplain, kritik-kritik dan segala macamnya. Nah, inilah yang saya sebut sebagai dominasi negativisme. Nah, ini sebenarnya bukan ee penting kita pahami bahwa eh ini bukan media yang jahat, bukan contonent kreator yang jahat atau publik kita yang pesimis, tapi dominasi itu muncul karena ada tiga mesin besar menurut saya yang ee saling memperkuat ya. Yang pertama ada di dalam diri kita sendiri. Ya. Jadi ee yang kedua ini jadi eh pertama adalah arsitektur komunis. Kalau dalam bahasa jurnalisme itu namanya eh apa namanya? Eh bias evolutioner. E evolution bias gitu. Jadi otak manusia sejak lama itu memang seolah ya seolah dirancang untuk ee cepat mendeteksi alarm bahaya. Jadi misalnya kita tahu atau kita akan lebih cepat bereaksi ketika melihat berita-berita misalnya kecelakaan beruntun di tol misalnya gitu daripada misalnya lalu lintas di Surabaya lancar dan tertib. Jadi ee ee ee akan kita akan akan selalu menyakikan bahwa kecelakaan beruntun di tol akan jauh lebih ramai, lebih viral dibandingkan dengan lalu lintas yang tertib, yang ramai, yang pengguna jalannya ee ee ee ee tertib, pengguna jalannya ee sesuai aturan dan segala macamnya. Kenapa? Karena yang yang ya karena yang bahaya yang alarm-alarm bahaya, berita-berita tentang bahaya itu langsung membikin otak kita menyala. Nah, dalam dunia psikologi kita mewarisi sistem alam darurat darah ee ee dari zaman dulu gitu ya. Dulu dipakai untuk mendeteksi buruan dulu ya. Ya. Atau melindungi ee ee apa namanya? mendetek ee melindungi ee e kinnya gitu. sekarang untuk dipakai mendeteksi ee notifikasi-notifikasi eh breakging news. Nah, yang kedua adalah ee ini sebenarnya jurnalisme standar lama yang sayangnya masih dipakai dan masih terjadi di sekitar kita. Jadi, ee di ruang redaksi ada ya kita selalu mengenal ada giom legendaris gitu. Bad news is good news. Nah, ini sebenarnya bukan mitos. ini beneran terjadi dan ini kita saksikan, kami observasi dan ini adalah seolah men dalam tanda petik ajaran resmi dalam dunia media gitu. Saya enggak bilang jurnalisme tapi j media ya. Berita soal misalnya skandal korupsi, perpecahan politik atau misalnya konflik sosial akan lebih cepat naik ke halaman utama, akan lebih cepat naik dalam ee apa namanya lini masa kita. ee misalnya ada dua berita penting yang datang bersamaan datang ke ee apa di posting bersamaan gitu kan. Misalnya ada sebuah desa yang berhasil mencapai misalnya swasembada sayuran atau swas sembada beras. Nah, melawan misalnya pejabat yang marah-marah saat kunjungan gitu. Kira-kira mana yang akan menjadi eh konten yang lebih viral ya you know the answer. Eh, dan ini terjadi dan ini sebenarnya memang apa namanya eh standar jurnalisme lama dalam tandar ya. Tapi ee dan hal ini terjadi ter sekitar kita dan masih akan terjadi dalam waktu yang lama lagi. Nah, yang ketiga adalah memang ee apa namanya dari sisi ekonomi klik dan algoritma. Jadi di dunia digital atensi adalah mata uang. Jadi perhatian audiens itu adalah mata uang dalam dunia digital. Semakin dramatis, semakin ee misalnya semakin gelap begitu ya, semakin viral ya. Misalnya begini, ee tahun 2024 ekonomi Indonesia itu bertumbuh 5% misalnya, itu akan kalah bersaing beritanya atau kontennya dibandingkan dengan ancaman krisis energi misalnya ee harga naik gaji stakn misalnya begitu, maka yang akan lebih viral adalah yang kedua gitu. Dan dan bahkan riset bilang bahwa satu kata negatif tambahan itu bisa menaikkan eh views, menaikkan impresi di media sosial itu sampai 12%. satu kata negatif itu bisa menaikkan ee impresi, menaikkan reach eh konten sebesar 20%. Ini bukan saya bilang, tapi eh riset yang saya yang saya cari ya. misalnya bayangkan membayangkan misalnya menambahkan kata gawat, menambahkan kata krisis, menambahkan kata ancaman misalnya itu performa konten itu akan naik dan ya itu jadi ujungnya adalah viralitas dan ujungnya adalah ekonomi. Dan pertanyaan sekarang adalah apakah kita akan membiarkan hal ini terjadi terus? Kita teruskan. Nah, ee dan ee hal ini sebenarnya bukan hanya perasaan kita kok seolah-olah ee konten-konten di media sosial saya banyak negatifnya ya atau banyak yang mohon maaf ya berita-berita yang atau konten-konten yang kurang berguna ya atau seperti apa gitu. Dan dan ini sebenarnya bukan bukan perasaan kita saja. Jadi sudah dibuktikan dalam studi yang dilakukan oleh eh New York Post tahun 2019 atau 2020 ya. itu adalah bahwa di banyak negara antara 90 sampai 95% berita atau konten itu cenderung negatif. Ya, kalau sudah seperti ini maka bisa dibilang hampir semua yang masuk dalam beranda kita, dalam lini masa kita ee dari Instagram, TikTok, maupun TV misalnya, maupun berita-berita online misalnya, itu didumasi oleh berita-berita yang negatif. Bukan berarti berita positif enggak ada, tapi berita negatif itu lebih viral, lebih mendapatkan perhatian. Dan ini bukan sama sekali bukan angka yang ini angka yang menurut saya tadi disampaikan oleh Pak Ramli mengerikan ya. Artinya kalau kita baca 10 berita dalam sehari, 10 konten dalam sehari, sembilan di antaranya akan membuat dunia kita seolah jelek semuanya sekitar kita jelek, negara kita jelek, lingkungan kita jelek, dan segala macamnya. Tentu saja realitasnya tidak seperti itu, gitu. Dan ini yang berbahaya. Ketika narasi negatif menjadi dominan, maka lambat laun ya ia akan mulai membentuk persepsi kita akan dunia yang yang isinya negatif semuanya ya. Kita akan jadi lebih mudah sinis, skeptis, takut dan lebih pesimis, lebih sulit percaya pada siapapun. Ya, kita biasa merasa seolah-olah semua orang itu dalam tanda pentik ya, semua orang itu enggak baik. Semua orang itu perlu dicurigai dalam tentu dan dan semua sistem rusak, semua pemimpin salah arah gitu. seolah-olah seperti itu. Dan ini bayangkan tadi disampaikan oleh Pak Ramli di permukaan, bayangkan dampaknya dari bagi generasi muda, generasi yang tumbuh dalam lingkungan informasi seperti itu, yang tidak lagi nonton TV, yang tidak lagi baca surat kabar, tapi tapi ter terekspos 100% terhadap berita-berita maupun konten-konen di sosial media. Nah, ini fakta mengejutkan laginya ini dari berbagai macam penelitian. Yang pertama adalah ini, Kawan-kawan. Jadi ee dan tadi sudah bicara tentang angka-angka yang membingungkan gitu, menakutkan gitu. Dan dan sekarang kita lihat fakta-fakta yang tidak kalah mengejutkannya menurut saya. Jadi ee ini saya pikir kawan-kawan dan kawan rekan-rekan ASN bisa dibaca sendiri ya. Tapi intinya adalah bahwa ee yang terakhir ini yang menurut saya cukup perlu kita perhatikan bahwa 66% website atau akun sosial media itu impresinya stagnan atau bahkan turun. Enggak naik-naik jika posting berita positif. Mungkin mungkin bisa jadi. Bisa jadi. Inilah mengapa akun-akun pemerintah, akun-akun dinas-dinas pemerintah itu enggak seviral misalnya lamitura atau akun-akun gosip atau akun-akun yang biasa menyampaikan hal yang sensasional gitu. Dan ini menjadi hal yang perlu ya kita pahami, perlu kita ee apa namanya? Kita ee serusi bersama. Nah, ini ini bukan hal yang menakut-nakutin begitu ya. Tapi menurut saya di Indonesia itu hal yang menurut saya lebih rumit. Satu ya. Jadi kalau kita ngomong tentang ee dominasi berita global ya itu sudah jadi tren dan itu tadi disampaikan oleh berbagai macam ee apa namanya eh penelitian dan ini adalah penelitian juga oleh RER Institute and University of Oxford 4 tahun yang lalu dan saya pikir belum banyak berubah era sekarang karena belum ada penelitian baru menurut saya ya yang saya jadi kalau kita ngomong tentang Indonesia maka kita akan melihat gambaran yang menurut saya menurut benak saya itu lebih kompleks. dan dan sebenarnya itu lebih sebenarnya bisa juga menjadi peluang bagi kita juga di Indonesia. Informasi ini bukan soal berita, tapi juga soal kepemilikan ee media. Jadi kekuasaan juga dan relasi antar kelompok. Jadi banyak media besar di Indonesia itu dimiliki oleh figur-figur yang yang sayangnya terlibat juga dalam politik, dalam bisnis besar dan mereka inilah yang kemudian membentuk opini-opini publik dengan kekuasaan dan daya jangka media ya. Ee mereka juga punya dana besar tak terbatas dalam tap peti untuk menguatkan amplifikasi ee ee berita-berita yang mereka sampaikan melalui melalui ee apa namanya? melalui ads, melalui boosting dan segala macamnya ya. Nah, ee ini bisa menjadi tantangan ya ee ee tapi sekaligus juga kesempatan untuk agar kita lebih bijak memilih dan memahami berita. Misalnya ada berita, "Oh, dari oh dari media itu kayaknya harus dicek ulang dah misalnya." Jadi ini membuat kita justru lebih aware menurut saya ya. Sayangnya kita juga punya kondisi seperti itu. Nah, kita tahu dari data menurut R Institute University of Oxford penelitian. Jadi tingkat kepercayaan publik terhadap media mainstream itu rendah, Kawan-kawan. Jadi hanya sekitar 39%. Jadi ee ee ee ini menurut saya ya mohon maaf ini hal yang tidak menguntungkan bagi Indonesia. Karena media besar yang menjadi rujukan kita itu dalam tanda petik itu justru tidak menjadi ee entitas yang dipercaya oleh publik Indonesia. Ini bukan saya yang bilang ya, tapi ee panel. Nah, yang menarik ini penting karena hal itu terjadi di saat yang sama. Media online dan media sosial media sosial terutama menjadi sumber berita yang paling dominan digunakan oleh 88% responden, 88% audiens. Dan ini terutama memang generasi muda. Dan di sinilah, kawan-kawan tantangan utama kita. Kenapa para pembuat berita, para pembuat konten di media sosial bukan mereka yang ahli bikin berita. Mereka bukan ahli membentuk opini mudik. Mungkin mereka juga punya literasi yang tidak begitu tinggi ya. Ee jutaan orang membaca, melihat, menonton, membagikan berita dan semua berikan berikutan. Tetapi di sinilah tantangan besarnya sosial media ya hari ini saat ini bukan hanya ruang berbagi informasi tapi ini juga menjadi medan pertempuran narasi. Inilah mengapa ee apa namanya em em ee topik atau tema hari ini sangat penting dan saya benar-benar harus ikut gitu. Karena medan pertempuran sebenarnya dalam landskap informasi di Indonesia itah di media sosial. ya. Dan dan dan inilah ruang viral yang penuh dengan banyak hal ya. Penuh dengan hoa dengan head speech, dengan sumpah serapah tempat konten politik dicampur dengan konten hiburan. Ee di sinilah ee ruang di mana konten-konten bisa memberas emosi kita dan kadang konten-konten penuh drama. Ya, ya, ya. yang yang yang lebih cepat naiknya, lebih banyak dikonsumsi dibanding konten-konten berbasis data gitu. Dan dan di sinilah ee ee apa namanya algoritma itu bermain ya kawan-kawan. Kita nanti akan sampai ke sana. Nah, dampaknya ini dampak dalam banyak hal. Dampak psikologis terutama itu banyak sekali. Ini juga berdasarkan penelitian. Pertama ada beban psikologis ya. Dan kawan-kawan ini mungkin terlihat ah enggaklah kayaknya tapi benar-benar ini terjadi dan ee kalau saya bisa bilang ada satu negara yang yang sempat dalam tap pentik menjadi korban ya ee beban psikologis berita-berita negatif. Tetangga kita Filipina ya dulu menjadi negara yang maju tahun 0-an sekarang ya mohon maaf seperti itu kita lebih maju gitu. Nah, ee ternyata kawan-kawan konsumsi berita negatif itu mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan mental yang merugikan. Ya, ini penelitian nanti bisa diolah lebih lanjut nanti ee kawan-kawan bisaik ya di di Google ee kontribut berita negatif itu hubungannya langsung. Jadi ee studi demi studi ini menunjukkan hal yang sama. konsumsi berita negatif apalagi dalam jumlah besar dan berulang-ulang ulang ulang gitu itu ee berkaitan langsung dengan penurunan kesehatan mental dan ini merugikan sekali. Kemudian paparan berita yang buruk bisa meningkatkan gejala kecemasan, depresi, stres, overthanking, dan sedih gitu ya. Kalau kita melihat tiap hari melihat ee ee konten-konten di SOSM ya, ada perang di sana, ada perang di sini ya, itu tuh ee eh eh apa namanya ee ee ee membuat kita menjadi terbebani, depress gitu. Dan yang mengejutkan salah satu tuji bahkan menebutkan bahwa gejara ini bisa muncul hanya setelah 14 menit menonton atau mengkonsumsi ya konten-konten negatif. Bayangkan ya, kita scrolling timeline. Tadi Pak eh Ramli sampaikan, setiap hari itu kita mengonsumsi konten-kosial media selama 3 jam ya. Baik itu bangun tidur, pas makan siang, pas siang, sore hari, dan menjelang tidur. Ya, isinya kebanyakan negatif. Tadi dibilang ada 90% negatif. Ee apakah kita kemudian berharap tidur dengan nyenyak, dengan happy, bangunnya dengan nyaman dan semangat dan optimis? Rasanya agak sulit. otak kita enggak bisa bekerja seperti itu. Sehebat itu. Dan dan ini yang menjadi salah satu eh eh apa namanya? Konsent yang yang terus-menerus saya sampaikan dalam forum-forum itu. Nah, yang kedua adalah dampaknya scholing ya. Jadi ee jadi apa namanya? Setelah kita tahu bahwa berita negatif bisa memberikan kesehatan apa nam dampak pada kesehatan. Salah satu kebiasaan digital yang umum dari ini doom scrolling. Sorry ini salah salah tulis ya. Harusnya doom scrolling ya. Ee kenapa hal ini menjadi bahaya ya? Karena kita itu seolah lagi sekolah ya. Tapi yang kalau kita e buka sosm ya seolah kita sedang sekolah ya. Harusnya sekolah kan belajar hal yang berguna bermawa. Tapi yang kita ajarin yang diajarin ke kita setiap hari adalah kecemasan, ketakutan, rasa panik dan kadang-kadang ee prank dan segala macam. Fenomena seperti seperti ini fenomen. Jadi kita baca satu konten yang kita bikin cemas misalnya ekonomi melemah, ada perang, ada ancaman krisis, bencana di mana-mana tabrakan beruntun kemudian banjir, bencana dan seg muncul was-was. Terus kita cari B lain lagi mencari kepastian, tapi yang muncul adalah berita yang lebih buruk. Ini salah satu salah satu dampak negatif dari adanya algoritma dan akhirnya kita terjebak dalam satu ee ee ee ya namanya lingkaran setan begitu ya. Jadi cemas cari berita makin cemas cari lagi e kepastian kecemasannya makin dalam. ini yang disebut di sebagai doom scrolling atau headline anxiety atau keresahan keresahan konten. Nah, yang ketiga ini dampaknya adalah ini yang sudah dibahas ber ee apa namanya? berjirit-jirit oleh para ahli psikologis yaitu adalah learn helplessness atau sebenarnya eh sebenarnya ketidakberiayaan yang dipelajari itu adalah ee versi Google Tranger. Tapi sebenarnya ee menurut saya salah satu terjemahan paling pas adalah rasa menyerah yang diam-diam tumbuh dalam ee diri kita. rasa skeptis, rasa pesimis yang diam-diam tumbuh dalam mindset kita. Ini adalah keadaan di mana kita terlalu sering mendengar bahwa dunia sekitar kita ini kacau, bahwa sistemnya rusak, keadilan sulit ditegakkan. Ya, terlalu sering apa ya melihat masalah ditampilkan tanpa ada ruang-ruang publik untuk berbagi solusi, tanpa ruang untuk berbagi-bagi harapan. Dan dari situ, dari situ ya muncullah satu ee satu headline begitu ya dalam otak kita, dalam hati kita, dalam benak kita yang lahir satu keyakinan yang diam-diam tanpa kita sadari, ah mau diapain juga tetap aja gini sudahlah gitu. Kira-kira seperti itu. Dan dan dan kita mulai mengecilkan kemungkinan perubahan perbaikan ya. kita mulai menganggap kepeduluan sebagai sesuatu yang yang enggak wajar ya. Kita mulai percaya bahwa satu suara, satu arti, satu ide, perbaikan, perubahan kemudian menuju lebih baik itu tidak. Akhirnya semuanya kita akan menjadi ee kita akan menjadi memandang semua hal menjadi dari sisi yang pesimis, yang skeptis ya. Dan dan dan lalu secara perlahan kita berhenti peduli, kita berhenti mengikuti isu, kita ee bukan karena tidak peduli tapi karena merasa enggak sanggup ya memberikan ee kontribusi ya. Kita kemudian lambat-lambat menghindari berita. Jadi berita yang muncul dalam kita adalah rilis-rilis saja yang lucu-lucu yang lain-lain enggaklah ini ini mau ngapain aja enggak akan berubah dan lelah. Saya enggak punya daya untuk mengubah apapun dan yang paling menyedihkan adalah semakin banyak orang yang merasakan sama jutaan orang terpapal hari ini setiap hari mungkin puluhan juta. Tadi Pak Rami sampaikan 170 juta orang pengguna sosial media di Indonesia. Bayangkan ada berapa juta yang merasakan hal yang sama. Learn business. Waktu kurang dari 15 menit. Baik. Nah, ini ee dampak algoritmanya. Jadi ee mengapa hal ini terjadi? Sebenarnya ada beberapa hal, tapi salah satu yang dalam tanda petik perlu kita salahkan itu adalah algoritma di sosial media. Jadi, jadi ee sekarang kita kalau kita bilang algoritma ini adalah ee apa namanya? Feelingin ya atau atau tokoh tokoh jahatnya gitu ya. Ee dalam hal ini gitu. Algoritma itu sederhana. Ee apa namanya ee platform-platform sosurm itu memberikan tugas algoritma cuma satu saja. tugasnya di algoritma itu cuma diperintah satu hal oleh platform tersebut. Tunjukkan lebih banyak hal yang membuat user atau pengguna sosmet lebih lama atau berlama-lama pakai sosmet, berlama-lama scrolling, berlama-lama ee apa namanya di layar. Dan ternyata yang bikin orang bertahan lama bukan bukan dalam ya ini tadi kita sampaikan di depan ya bukan berita baik tapi ya tadi itu konflik drama hal negatif dan lain-lain ya jadi jadi ee algoritma itu terus belajar dan percayalah dia jagoan itu kalau belajar tahu bahwa kalau seseorang melihat video tentang orang yang bersedekah kita mungkin akan tersenyum alhamdulillah terus scroll lagi ya, orang lagi bayar zakat begitu ya atau orang lagi membantu orang itu dia alhamdulillah scroll, senyum, happy, tapi dia enggak share. Ini ini dipelajari oleh algoritma, dipelajari oleh platform-platform mungkin. Tapi kalau kita melihat orang yang debat keras soal politik yang lagi apa namanya misalnya sedang mengkritik ee pemerintah, mengkritik ee pemerintah daerah, mengkritik misalnya kepala PPSDM gitu misalnya. Kita bukan hanya nonton, kita baca komen-komennya tuh biasanya kalau kita sudah banyak komennya, kita share ke grup WA, kita share ke story, kita share ke kawan-kawan kita dan lain-lain banyak dramanya, semakin banyak ee krisisnya dalam kegawatannya, semakin ee berpotensi konten itu kita share ke orang lain. Jadi dan algoritma akan menganggap, "Ah, ini dia nih, si fulan ini senang yang kayak gini nih. Nah, saya kasih lebih banyak." Nah, dan dan dan ini yang kemudian dipelajari oleh algoritma. Jadi, amplifikasi konflik, amplifikasi drama, amplifikasi pesimisme, amplifikasi krisis, amplifikasi ee ee apa namanya? skeptis, skeptisme dan lain potong tanpa perbedaan pendapat atau kredit akan dipotoritaskan karena memanjang perdebatan. Nah, ini kawan-kawan penting ya. Salah satu eh alat atau tools paling jagoan membuat satu konten itu viral adalah komen. Semakin banyak komen, semakin viralah konten itu. Maka ketika kita melihat konten-konten ada orang berdebat di TV kemudian di-capture terus kemudian di-share di sosm maka perbedaan atau atau argumentasi itu berlanjut ke kolom komen dan ini disenangin oleh ee sosmet. Dan itulah kenapa kawan-kawan sebenarnya ee saya membawa satu ee ee apa namanya? misi kita mendirikan Good News from Indonesia ini ke tahun 2015 kita dirikan. Jadi ee intinya adalah ya ini terakhir ya menumbuhkan optimisnya dan percaya diri bangsa. Jadi orang Indonesia kalau sudah pesimis itu kalau orang pesimis ini secara serogis orang pesimis itu biasanya pikirannya jangka pendek. Orang optimis itu pikirannya jang jang panjang. Oh Indonesia tahun 100 2045 ngapain ya gitu. Tapi kalau orang pesimis kiranyaah besok atau minggu depan atau bulan depan atau tahun ini atau pemilu depan sekitar itu saja. Dan kemudian percaya diri Indonesia. Jadi kalau kita ke luar negeri misalnya itu bawa paspor Indonesia, kita berdiri tegak ya ee apa namanya e up gitu, bukan bukan merasa minder duluan. Nah, ini yang coba kita tumbuhkan hal-hal positif, prestasi kemudian ee ee apa namanya ee eh kebaikan kebak Indonesia kita tampilkan ya. Dan kami percaya seperti juga hal-hal negatif, optimisme itu juga menular ya. Selain itu kita juga melawan kelelahan informasi negatif ya. Percayalah banyak orang Indonesia sudah begitu lelah ee dengan informasi yang beredar di manapun. Kita sering mendapat DM, sering mendapat WA, terima kasih sudah menyabarkan hal-hal yang baikan Indonesia menjadi penghibur Lara begitu ya. Dan selain itu ya ini juga tadi saya bilang bahwa sebenarnya berita positif itu bukan enggak ada tapi kalah kalah viral dengan berita-berita yang ee kurang positif. Dan ini kami menyediakan platform agar cerita-cerita positif, cerita-cerita optimis, cerita-cerita baik tentang orang Indonesia, tentang Indonesia, tentang sejarah Indonesia, tentang seni Indonesia itu ee kepermukaan. Dan ee kita kalau kita ngomong tadi algoritma, maka beberapa hal yang kami lakukan ini secara singkat aja. Tentu saja nanti kalau misalnya ada ada apa eh event lebih lama lagi kita bisa inikan lebih r jadi bagaimana kami mengemas good news seperti hot news ya jadi kalau misalnya lambeturah itu mengelola gosip dengan begitu bagusnya dan viral kami memulai khusus dengan cara kami dan ternyata banyak hal yang bisa kami jangkau gitu kita juga main di mikr trrend jadi konten-konten kecil misalnya ada orang yang apa namanya ee memberikan ee sedekah ke ibu-ibu ee di pinggir jalan kemudian ee terjadi interaksi dan segala itu itu kita kita tampilkan itu mikr trren dan itu momen-momen dan ini yang disukai oleh orang-orang Indonesia. Jadi, human stories dan segala macam dan lain-lain ya. Yang terakhir ini yang kawan-kawan konsistensi. Konsistensi ya dalam bahasa Jermannya ini istikamah. Jadi bagaimana kami setiap hari, setiap hari ya kami membikin konten total dari tulisan video eh news sampai dan segala macam itu sekitar 80 sampai 90 konten per hari ya. Ini konsistensi dan total kami semua platform itu ada 6, juta 6,5 juta followers dengan 450 sampai 500 juta impresi per bulan. Dan ini kawan-kawan bisa melakukan hal yang sama. Kenapa? Kami memakai platform yang sama persis dengan yang kawan-kawan pakai. kami pakai Instagram, kami pakai TikTok, kami pakai YouTube dan segala macamnya. Kawan-kawan juga pakai itu. Kawan kami juga pakai CapCut, kami juga pakai ee Kanva dan kawan-kawan juga bisa pakai itu. Nah, kita mari ee melakukan hal yang lebih dan bagaimana. Jadi, jadi ini yang kemudian kami lakukan jadi eh branding dan public price. Jadi, ee apa namanya? kami terus melakukan branding bahwa yang namanya Indonesia itu tidak menulis soal negatif tapi banyak positif dan kita akan angkat kemudian konten-konten yang relevan, kolaborasi, kemudian interaksi dan partisipatif. Kita mengundang kawan-kawan semua para followers untuk mengirim berita, mengirim konten, mengirim video ee berkomentar dan lain-lain. Dan ini eh multi platformatform yang kami sampaikan tadi ada Good News from Indonesia, ada Good St apa namanya? ee berbasis data. Kemudian C Asia ini berbahasa Inggris dan kita sudah mampu menjangkau per bulan itu sekitar 150 sampai 170 juta orang Asia Tenggara. Hal baik tentang ee Indonesia. Baik, mari kita berkolaborasi dari saya. Itu saja semoga waktunya enggak melebar. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Ari atas materi yang sudah disampaikan. Mohon berkenan Bapak untuk tetap bergabung bersama kami karena sesaat lagi akan kami buka sesi tanya jawab. Enggak apa-apa Bapak ya? Silakan. Silakan. Oke. Baik. Jadi untuk sobat ASN yang ingin bertanya silakan untuk menggunakan fature raise hand untuk Anda yang bergabung melalui Zoom meeting dan yang bergabung di YouTube channel BPSDM Jatim TV silakan tuliskan pertanyaannya melalui live chat. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Oke, baik. Sekarang kita memasuki sesi tanya jawab ya bersama dengan Bapak Akyari Hananto. Silakan untuk yang ingin bertanya kita cek dulu siapa yang sudah menggunakan fitur raise hand ataupun yang sudah menuliskan pertanyaannya. Baik, ini sudah ada Bapak Dadang dari Diskominfo Tuban ya. Ini tadi pertanyaannya dituliskan lewat ee live chat-nya Zoom. Oke. Baik. Ini Pak Dadang akan kita tayangkan langsung atau saya bacakan aja nih pertanyaannya. Ada Pak Dadangak. Ada Pak Dadang enggak kira-kira ini? Selamat pagi, Pak Dadang. Apakah Pak Dadang masih bergabung di sini? Oke. Baik. Selamat pagi, Pak Dadang. Halo. Pagi. Pagi. Sehat, Bapak? Alhamdulillah. Alhamdulillah. Baik, silakan Pak Dadang untuk langsung mengajukan pertanyaannya ke Pak Ari. Oke. Ee selamat pagi, Mas Akyar. Iya. Kita dulu pernah ketemu di Tuban dan sekarang pernah ketemu di Tuban saya masih ingat jumpa di sini. Siap. Jadi kalau dulu kita ngomong sebagai admin atau apa gitu ya, sekarang mungkin kalau sekarang di sebagai ASN Mas ee sebag seperti yang dikatakan Pak Ramlianto tadi bagaimana kita bis ASN itu bisa menjadi penjaga narasi bukan hanya ee membuat sensasi padahal mungkin kita sendiri ini kan punya pemikiran sendiri, kita punya ee unek-unek apalagi yang mungkin mungkin ee ee dengan kebijakan yang berhubungan dengan kita. Nisalkan apalah biasanya kita kalau sudah ada gaji 13 apa itu sudah di ee sudah digodok luar biasa sudah di medsos kan luar biasa biasanya itu sebaiknya sebagai ASN sendiri itu sebenarnya kita itu sebatas mana kita bisa bersuara di media sosial gitu kan menurut Mas Ah bagaimana caranya untuk kita senar gimana gitu Mas cukup mungkin seperti itu dulu oke terima kasih pertanyaannya Pak Dada Dan untuk Bapak Ari bisa langsung dijawab saja Bapak ya. Ya. Ya. Apa namanya ini pertanyaan yang ee sangat kontekstual ya dan dan dan sebenarnya sensitif dan ee saya semoga bisa menjawab secara bijak, realistis gitu ya, tapi tetap menjaga memberi arah. Tapi intinya saya bukan ASN mungkin Pak Ramli yang jauh lebih jagoja. Tapi izinkan saya sebagai orang non ASN, saya sebagai ee partner dari ASN ee bisa menjawab itu ya, Pak Dadang ya. Baik, ini pertanyaan yang relevan ya, karena ASN ini punya posisi unik. Di satu sisi Pak Dadang dan kawan-kawan ASN yang lain adalah warga negara yang juga punya UPI nih, punya keresaan, punya undang tadi disampaikan punya hak untuk bersuara tapi di sisi lain ya ASN juga adalah perwakilan atau representasi langsung dari negara dan ini tentu saja membawa tanggung jawab tersendiri. Maka jawabannya bukan hitam putih menurut saya, tapi ASN itu boleh bersuara tapi dengan cara yang bagaimana bersuara tetap harus menjaga atau atau mempertimbangkan marwah dari profesinya sebagai representasi negara. Jadi artinya gini, boleh mengkritik ya asal berbasis data dan tidak menyarang pribadi itu menurut saya masih bisa diterima. Kemudian boleh berbagi keresahan tapi tidak menyeberarkan pesimisme massal. Misalnya, "Wah, Indonesia tahun ini enggak tumbuh ekonominya." Itu kan enggak berbasis data dan wah resah saya jagai orang yang optimis saja resah kayak gitu misalnya gitu misalnya ya. Kemudian ee boleh mengekspresikan pendapat dengan catatan tidak menurut saya tidak menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi ee tempat Bapak Dadang mengabdi di Kominfo ee Tuban misalnya gitu. Dan ini yang paling penting. ASN ini kan sebenarnya punya peran besar dalam menjaga kualitas narasi, menjaga narasi yang positif. Ya. Ya. Bukan dengan menggunakan bukan dengan mengenadakan kritik, tapi dengan menjadi teladan dalam menyampaikan kebenaran ee dengan cara-cara yang tadi sudah sampaikan di atas. Saya pikir juga misalnya ASN bilang misalnya, "Oh, Indonesia saat ini ee apa namanya? Tumbuh terbesar di Asia Tenggara itu juga salah." meskipun maksudnya positif tapi enggak ber data data dan itu salah dan itu menurut saya ee ee justru tidak menjadi teladan bagi audiens Indonesia. Jadi ee ketika SN mengangkat cerita baik tentang inisiatif daerah, program-program yang disampaikan di dilakukan oleh pemerintah daerah atau inovasi-inovasi dan tempat kerjanya itu sudah menjadi bagian dari narasi positif yang sangat dibutuhkan publik. tadi saya bilang ada kelelahan publik terhadap berita-berita negatif dan ESN bisa menjadi menjadi apa namanya bisa menjadi ee ee ee ee ee ee air dingin yang yang mendinginkan e panasnya ee berita-berita yang ee negatif tadi. Nah, sebagai penutup saya bilang ASN ini sebenarnya bukan robot. Saya saya setuju dengan Pak Danang ASN bukan robot tapi juga bukan e influencer partisan ya. Ya, jadi ASN adalah jembatan kepercayaan antara masyarakat seperti saya dengan negara. Dan ini tadi saya bilang bukan robot ini boleh menyampaikan ekspresi dan segala macamnya. Dan di era ini narasi yang dibangun ASN bisa ikut menentukan arah kepercayaan itu. Monggo dimanfaatkan. Begitu Pak Dadang. Oke. Bagaimana Pak Dadang? Sudah cukup atau ada tanggapan lagi? Pak Dadang. Wah, terputus sepertinya. Cukup. Oh, cukup cukup cukup. Baik, terima kasih banyak Pak Dadang. Oke, sama-sama. Terima kasih, Pak Dadang. Ini dari Diskominfo Tuban juga Tuban. Iya. Oke. Baik. Yang berikutnya ada juga yang sudah raise hand nih dan juga menuliskan ee pertanyaannya di live chat Zoom meeting. Apakah sudah bergabung juga Bapak Andrianus dari Ombutsman RI? Iya, selamat pagi Pak. Selam pagi. Selamat pagi Bu. Iya. Silakan. Wah, ini saya dengkul saya copot ini, Pak. Ditanya orang Om Busman ini. Silakan, Pak Andrianus. Langsung saja pertanyaannya. Oke. Baik, mohon izin, Pak. ini saya ada ee banyak pertanyaan gitu ya. Ee yang pertama itu ee mengapa masyarakat Indonesia itu sangat mudah percaya dengan berita-berita hox gitu ya, terutama mereka yang usianya tuh rata-rata sudah di atas 50 tahun. Sebagai contoh kayak misalnya orang tua saya atau mertua saya gitu begitu ada berita atau nonton di ee apa medsos gitu ituang ini beneran ya beritanya ya? Terus aku cek ini kayaknya enggak deh ini bohong deh. Coba dicek lagi itu. Itu yang pertama. Nah, terus yang kedua ee bagaimana caranya kita bisa memilah gitu mana berita yang hoak, mana yang bukan gitu. Karena selama ini berita hoa dan berita yang real, beritanya tuh kadang suka ee apa namanya? Campur aduk gitu ya. Sehingga masyarakat kita tuh agak susah gitu untuk membedakannya. Itu yang kedua. Terus yang ketiga ee tadi saya sangat tertarik dengan paparan dari Pak ee Akri ya terkait dengan masalah ee berita negatif. Iya. saya sangat ee apa ya sepakat gitu ya dengan tadi sampaikan bahwa terutama untuk yang generasi ee milenial gitu mereka cenderung lebih memilih untuk membaca berita-berita yang ee bersifat konten negatif atau gosip ataupun fiktif gitu kan dibandingkan dengan membaca berita ataupun artikel yang bersifat positif atau misalnya karya ilmiah ataupun ee terkait bacaan ilmiah gitu. Nah, itu mengapa seperti itu gitu. ee bukankah kalau misalnya kita mau baca e berita negati itu dalam peng yang tadi Bapak sudah jelaskan gitu dan itu kan nantinya akan berpengaruh kepada kesehatan mental gitu pada akhirnya. Itu yang ketiga. Terus yang keempat ee ini agak di luar dari konteks gitu ya mengapa generasi milenial dan generasi alpa gitu ya sekarang itu mereka lebih ee piawai gitu ya dalam menggunakan IT dan AI teknologi AI dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Demikian Pak mohon maaf kalau pertanyaan cukup banyak. Terima kasih, Pak. Oke, terima kasih Pak Adrianus. Ini total ada empat pertanyaan ya. Baik, akan dijawab satu persatu oleh Bapak Ari. Silakan, Pak Ari. Iya. Eh, terima kasih, Pak Adrianus. Ini Pak Adrian di Jakarta kah atau di mana? Iya, saya di Jakarta. Betul, Pak. Di Jakarta. Baik, baik, baik, baik. Jadi ee ini ada beberapa hal tadi saya bilang ee ee apa namanya? Ada beberapa ada empat pertanyaan, tapi mungkin ada beberapa pertanyaan bisa digabung jawabannya. Jadi saya ulang ya, mengapa masyarakat terutama di usia 60 plus begitu ya, itu mudah percaya berita-berita yang ya tidak akurat ya, berita tentang framing, head speech, mungkin kadang-kadang hoa dan lain-lain dan dan mengapa Genzet cenderung konsumsi berita negatif dan bukan konten ilmiah. Kira-kira begitu dan sebenarnya begini Pak ini pendapat saya ya, kita hidup di era di mana informasi itu bukan hanya datang. Jadi kita hidup di era di mana informasi itu enggak dicari dan mereka bukan hanya datang sendiri tapi mereka datang kayak tsunami, Pak. Menyerbu belum selesai serbuhan pertama sudah muncul lagi serbuan-serbuhan berikutnya. Banyak sekali dan ketika informasi datang begitu cepat, begitu banyaknya yang paling emosional biasanya yang paling mudah diingat, yang paling ada dramanya itu yang paling diingat. untuk generasi yang lebih senior katakanlah tadi sampaikan ee di usia di atas 60 tahun ke atas mereka tumbuh di era ketika ya orang-orang tua kita l tumbuh di mana ketika informasi itu sakral dulu saya hidup di Sleman Pak Adrian Sleman itu dan sejak sampai saya SMA itu saya hanya bisa menonton TVRI enggak bisa nonton TV lain cuman TVRI saja dan dan bagi kami dunia dalam berita itu sakral. Berita jam 7. Itu sakral. Liputan khusus itu sakral. Itu adalah satu-satunya sumber informasi yang yang terpercaya, yang benar ya. Dan nah jadi orang-orang tua tu orang tua kita itu tumbuh di era itu. Nah, kalau sudah masuk koran dan TV biasanya lebih bisa dipercaya bagi mereka gitu. Tapi diaj semua orang bisa menjadi media dan insting kritis ini kadang belum secepat inkrisi kita terbangun bukan tidak secepat dengan ee banyak informasi yang yang yang datang ke dan ini membuat biasanya mereka lebih rentan menerima informasi yang belum terverifikasi apalagi kalau itu tadi saya sampaikan menyentuh emosi ada dramanya ee misalnya soal mohon maaf soal agama soal budaya soal nostalgia masa lalu gitu ya soal order baru soal drama itu yang mereka akan segera memproses ini akan segera diingat itu tuh itu bukan salah mereka ya itu ya sudah ee ekosistem ee mereka menerima berita sementara Genzet dan milenial Genz itu eh lahir tahun 95 ke atas apa ya ya saya termasuk milenal berarti nahj dan milenal merek justru sudah kebal kebal iklan skeptis dan dan dan mereka sebenarnya punya awareness yang lebih Pak soal disinformasi ya ee bedakan antara disinformasi dengan misin informasi ya kawan-kawan ya sebagian saya yakin sudah paham ya informasi itu ya apa namanya konten yang sengaja dibikin untuk membuat orang salah ya tapi kalau informasi itu ya ada taiponya ada kadang-kadang salah kutip dan segala macam itu miss mis informasi nah tapi tantangannya tantangan dari Genjet dan dan G Milenal berbeda dengan yang eh kawan-kawan kita yang senior tadi. mereka tercenderung cenderung tertarik pada konten-konten yang lebih emosional dan sensasional. Dan karena itulah algoritma algoritma sosm itu mendorong konten-konten seperti itu ke mereka. Bagi mereka konten ilmiah itu ya mereka paham itu penting, tapi terlalu panjang, terlalu rumit, Pak. Enggak ada musik TikTok-nya gitu. Mereka mikir yang seperti itu. Enggak ada musiknya, enggak bisa di enggak bisa di-share. Masok kayak gini share ke kawanku. Nah, misalnya kayak gitu. Nah, ini ini ini juga juga apa namanya juga hal yang yang perlu kita pahami. Tapi bukan berarti mereka enggak mau belajar menurut saya ya. Mereka butuh cara penyampaian yang relevan, yang engaging ya. Eh, mohon maaf Genjet dan Milenial itu enggak baca, enggak baca buku Harry Potter, Pak. Tapi mereka nonton filmnya. Artinya mereka kalau baca malas. Kalau nonton filmnya uh bisa ramai-ramai, bisa dikutip dan segala macamnya. Dan dan ini kalau kita bicara soal memilah ya, kemudian memilah berita palsu, berita nyata, berita realil. Kita harus sadar di zaman sekarang berita palsu itu ee seringki dibuat dengan lebih niat daripada berita asli. Kalau saya bilang, "Oh, saya sedang ikut Zoom BPSDM Jatim, itu berita asli." Ya, saya posting aja itu enggak ada niat apapun. Tapi kalau berita palsu itu diorkestra di di apa namanya? di dicrafting secara lebih visualnya mau engaging kemudian narasinya copywriting-nya kemudian dibeng nah itu biasanya ee apa namanya biasanya itu yang karena mereka berita palsu itu hoa ya terutama hoa ya berita disinformasi berita yang sengaja untuk menciptakan misleading itu diciptakan secara serius mereka punya niat untuk bikin itu ya niat bikin visualnya niat kontennya niat temanya niat copywritingnya nikmat hooksnya dan segala macam dan nah dikemas rapi pakai grafis narasinya bagus ya dan makanya hal ini ee ini kembali kepada hal yang kita pahami bersama bagaimana kalau kita memilah itu. Pertama sudah lihat sumbernya kedua baca sampai akhir ya ee ya kebanyakan kalau terutama milenial genjet itu bacanya cuma judul saja atau baca bagian-bagian awal saja. Kemudian tahan jempol sebentar ya. Semakin banyak kita share, semakin banyak kita komen, bahkan kita komen misalnya ngelihat konten terus kita, "Ah, kontennya hoa nih." Eh, itu sudah bikin kontennya sama viral, Pak. Coba kita ditahan sebentar kayak gitu-gitu. Nah, nah eh terakhir tentang ya tadi bagaimana AI ini mungkin sedikit out of the box tapi saya senang jawabnya, Pak. Kenapa eh Genjet dan Millenials itu terutama Genjet, Pak, itu lebih piawai menggunakan teknologi, menggunakan E? Nah, karena mereka memang lahir di di di daerah itu, Pak. Kalau kita lahir dulu zaman kita mengenal internet, kita masih ada mengenal suara modern dienter sekarang loadingnya tahun depan misalnya gitu. Jadi, e Genjet enggak lahir di era itu. Genjet lahir di langsung di era eh internet, di era sosial media, di era marketplace. Jadi bagi mereka EI saya pernah nanya bagi mereka EAI itu bukan bukan teknologi canggih. EAI itu bagi mereka adalah sebuah keharusan zaman. EAI itu bagaimana teman ngobrol membantu nyari ide. Kawan-kawan kalau kita ee ee apa namanya? Ee satu mobil dengan kawan-kawan gadget tuh mereka ngobrol dengan dengan CGBT Pak. Ngobrol gitu ya. Dan dan dan sama seperti tadi saya umur 60 tahun ya mau lihat mesin ketik itu hal yang biasa. Tapi kemampuan memakai teknologi itu belum tentu dibaring dengan kemampuan memilah. Tadi saya sampaikan memilah mana yang benar dan mana yang salah. Jadi di sinilah ee semua generasi punya PR. Jadi yang tadi 60 ke atas sampai yang Gen Z, milenial, Gen X dan segala macam. Literasi itu bukan hanya soal tahu cara ngeklik atau mana yang harus diklik, tapi tahu kapan harus berhenti dan bertanya apakah ini benar dan segala macam. Jadi, jadi ee yang tua punya punya pengalaman ya, yang muda punya kecepatan, tapi di zaman informasi ini kita semua punya tanggung jawab yang sama menjadi warga digital yang tidak hanya cepat dan berengalaman, tapi juga bijak. Kira-kira begitu nggih, Pak Adrianus. Nggih. Mohon maaf kalau kepanjangan. Matur nuwun. Apakah sudah cukup? Oke, sepertinya sudah cukup ya, Pak Adrianus ya. Baik, terima kasih Pak Ari sudah menjawab beberapa pertanyaan dari sobat ASN yang sudah bergabung di sini. Jadi memang kalau kita lihat di sosial media yang negatif-negatif ini justru lebih banyak ya. Kemudian juga tadi sempat Pak Ari bilang kalau mengkritik sebagai seorang ASN apabila menggunakan sosial media juga tetap harus berbahasa yang santun, yang membangun. Namun ee yang agak miss di sini Pak Ari, kritik ini kan membangun. Apabila kritik ini kita sampaikan dengan santun, ada kalanya kritik yang kita sampaikan ini tidak terdengar, Bapak. Justru ee para pengguna sosial media ini menghalalkan segala cara bagaimana mereka apa yang mereka sampaikan ini bisa viral supaya didengarkan. Nah, ini bagaimana caranya kita bisa memberikan suatu informasi dengan bahasa yang baik, namun diterima dan ee di apa ya bisa ditanggapi begitu. Bagaimana Pak Ari? Ini pertanyaan dari Mbak Anisa atau dari pesertanya? Jadi saya tadi ee melihat pertanyaan dari Pak Adrianus, kemudian pertanyaan dari ee Pak Dadang begitu ya kan. Lagi-lagi kalau yang negatif-negatif kan lebih cepat gitu kan. I ya ya. Ini ini betul kok Bu. Jadi em ee apa jadi ee begini ada satu narasi besar yang menurut saya ee perlu kita luluskan bareng-bareng saya sebagai masyarakat. Jadi kalau oh kritik itu harus membangun gitu. Saya pikir juga salah gitu. kritik itu ya kritik, solusi itu ya solusi. Kalau mau nyari solusi itu nanti kita nyewa konsultan dan segala macamnya itu itu kita sepakat dulu situ kritik-kritik ee solusi-solusi dan kita kan sekarang pertanya adalah bagaimana kritik kita harus didengar entah itu pakai cara apa tapi didengar gitu. Nah, ini dilema nyata di era digital menurut saya. Jadi banyak orang merasa kalau saya ngomongnya cara-cara baik, cara sopan, enggak ada yang peduli dong. Tapi kalau saya marah-marah langsung viral. Kira-kira begitu. dan dan ee tentu saja saya tidak tidak dalam posisi untuk men-judge itu karena memang sistem algoritma kita saat ini memang lebih cepat ee apa namanya menaikkan yang yang konten-konten ataupun kritik-kritik yang ada unsur dramanya di situ. Unsur drama kan ya marah, benci, rindu, kangen, lucu dan segala macam itu ada drama di situ. Nah, dan daripada yang disampaikan dengan cara santun, dengan cara bijak. Tapi pertanyaannya secara viral apa hasilnya? Nah, apakah itu kritik itu menggerakkan perubahan perubahan atau membuat orang jadi defensif atau tutup telinga gitu kira-kira gitu. Nah, jadi menurut saya ee eh masuknya ke objektif key resultnya. Jadi di end result-nya itu apa? Apakah yang dikritik itu jadi jadi marah gantian, jadi tutup telinga ee atau jadi defensif? Nah, di titik ini kita perlu bedakan kritik itu bukan sebenar saya menurut saya bukan hanya soal nada suara ya, tapi soal niat dan arah. Niat dan arah. Jadi kritik bisa tajam, bisa keras, bisa sambil marah ya asal tidak mengarah pada ya itu tadi penyengaran pribadi, pembunuhan karakter, menyebar kebencian, dan lain-lain. Kita di sinilah sebenarnya ini penting banget. Terima kasih sudah bertanya. Jadi di sinilah kita belajar seni seni menyampaikan ketidakpuasan dengan akurasi, dengan drama sedikit tapi tidak dengan emosi. Karena kritik yang menurut saya kritik yang penuh dengan marah-marah kadang justru kehilangan fokus. Yang dikritik bukan solusinya tapi sosoknya jadi orangnya gitu dan nah ini sudah salah ini sudah sudah arahnya sudah salah gitu dan dan akhirnya substansinya hilang. Yang viral hanya ributnya bukan esensinya gitu. dan dan mungkin tangan-tangannya adalah tadi kembali ya, bagaimana agar kritik kita viral bukan itu. Jadi, tapi bagaimana agar k kita didengar tanpa kehilangan niat baiknya. Ya, itulah narasi ee itulah kenapa narasi positif juga menurut saya perlu ruang ya. Eh ee narasi put kan bukan selalu harus kita harus selalu setuju ya, tapi bagaimana agar kritik kita bisa lahir dari kebiaran kebihan kita dari dari hal-hal yang baik dari dari bukan dari emosi ya. Jadi ee ee ee inilah seni di situ dan saya pikir kawan-kawan punya punya solusi untuk ini punya bagaimana seni menyampaikan kritik Pak Suko nanti lebih jago atau Pak Pak Dadi bagaimana menyampan kritik ee yang didengar yang viral tanpa harus viral ributnya, viral marahnya tapi viral esensinya. Begitu Mbak Nisa. Keren. Kalau saya boleh jujur, suara kaling paling keras itu bukan suara yang paling benar ya, tapi suara yang konsisten, yang terus-menerus yang bernuansa, ada nuansya dan berdasar berdasar data, berdasar akurasi dan itulah yang menurut saya pelan-pelan bisa membuat perubahan nyata. Oke. Baik, terima kasih Pak Ari, Pak Antrius juga terima kasih Bapak sudah menyampaikan un-unnya di sini. Terima kasih juga Bapak Dadang sudah sempat menyampaikan pertanyaannya secara langsung di sini. Dan untuk sobat HSN yang ee belum s bertanya jangan khawatir karena masih ada dua narasumber lagi ya. Sama seperti yang disampaikan oleh Pak Ari tadi ada ee Pak Suko barangkali nanti yang seninya ilmu berkomunikasi supaya kita didengarkan bagaimana. Benar ya Pak Ari ya. Oke kalau begitu terima kasih banyak Bapak Kari Hananto S. MBA atas ilmu yang sudah disampaikan di sini. Semoga bermanfaat untuk seluruh sobat ASN yang sudah bergabung di ASN belajar seri 23 tahun 2025. Semoga berkah Bapak dan kami persilakan untuk melanjutkan ke schedule berikutnya. Terima kasih, Pak Ari. Terima kasih Mbak Nisa kawan-kawan Pak Suko, Pak Dadi, Pak Ramli. E saya pamit duluan mau ke Jogja habis ini. Terima kasih. Asalamualaikum. Terima kasih. Baik, sahabat ASN jangan ke mana-mana karena sesaat lagi kita akan memasuki sesi bersama dengan narasumber kita yang kedua. [Musik] Baik, masih di ASN Belajar seri 23 tahun 2025. Dan pada segmen kali ini kita akan bersama-sama menyimak materi apa sih yang akan disampaikan oleh narasumber kita yang kedua. Beliau adalah pakar komunikasi dan juga seorang dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Air Langga. Beliau juga seorang ketua umum Perhumas Surabaya Raya. Mari kita sambut bersama Bapak Dr. Suko Widodog, Drandes, M.Si. si [Musik] Asalamualaikum selamat siang, Pak Suko. Selamat siang. Asalamualaikum, Mbak Dewi dan semua peserta apa e ASN Jawa Timur. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bapak Suko, bagaimana kabarnya Bapak hari ini? Oh, kabar baik. Yang tidak baik tidak usah dikabarkan, Mbak. Oke. Baik, Pak Suko untuk kali ini yang sudah bergabung di ASN Belajar seri 23 tahun 2025 ini dari seluruh Indonesia dan lebih dari 3.000 sobat ASN yang bergabung di sini. Boleh disapa terlebih dahulu Suko. Selamat pagi siang ee semua peserta ee Pak SN ke-23 ya enggak salah sehat semua? tetap optimis dan ee ada kata yang penting, jangan pernah menyuruh sabar orang yang sedang marah. Oke. Baik. Tapi untungnya di sini, Sobat ASN sabar semua ya untuk menanti materi yang akan disampaikan oleh Bapak Suko. Kalau begitu tidak perlu berlama-lama lagi, langsung saja kita simak. Ini dia materi kita yang kedua dari Bapak Dr. Suko Widodo, Dres, M.Si. Silakan, Bapak. Oke, saya coba apa ya? Coba ee menyampaikan ini ya. Oke, oke, oke. Saya akan ini, Mbak akan mencoba. Sudah terlihat ya, Mbak Dewi ya. Sudah terlihat Bapak. Eh, Mas Akyar tadi bagus ya. Dia adalah guru saya dalam mempelajari dunia baru, dunia yang lebih muda. Sebagai orang yang lahir di saya ini termasuk generasi anu, Mbak Dewi ee generasi baby bomer. Jadi saya the last emperor perang dunia kedua lah kelahiran tahun '4 itu. tentu apa ee tidak cukup mudah bagi saya untuk belajar apa ee dalam ee dunia baru sampai titik di mana ketika ee Covid dulu ee dan ditumpangi dengan perkembangan teknologi muncullah ee muncullah ee kehidupan yang namanya sosialita hibrid atau juga menyebut juga hibrid living. Jadi hidup bersama dan hidup bersama pada puncaknya hari ini kita ketakutan manusia atas yang diciptakan sendiri. Jadi saya mulai dengan kira-kira ada orang yang penting ya John Makarti ini tahun '6 pertama kali yang ee membuat apa yang disebut dengan AI artificial intelligence tahun '6 dan pada tahun itu perdebatan luar biasa ee para para ahli-ahli dia sangat ahli sekali sudah almarhum. Tetapi Bapak Suko, mohon maaf Bapak ini materinya belum diful screen kan? Aw, belum full screen. Jadi supaya bisa terlihat terbaca tulisannya nanti. Hm. Oke. Iya, sebentar. Oke. Harap bersabar ya, Sobat ESN. Kita full screen-kan dulu materinya bisa terlihat sudah tampak belum ya? Masih. Apakah sudah? Oh, yang slide show Bapak. Jadi lebih full screen lagi untuk materinya. Baik. Oke, sampun nggih. Oke, terima kasih. Monggo dilanjutkan, Bapak, ya. ee ini ee mungkin saudaranya Paul Makarti ee jadi temannya John Lenon, tapi John Makarti ini adalah seorang ahli apa ee dia fisikawan yang kemudian menemukan berbagai dan dia adalah orang yang pertama kali menyebut ee apa yang disebut dengan kecerdasan buatan atau artis visual intelligence dan yang saat terakhir kemudian menakutkan bagi Elon Mas dan sejumlah orang menjadi takut terutama bagi apa ee saya yang belajar AR komunikasi itu kan apa yang disebut dengan era postruk itu kan ada valasi terhadap ee apa fakta ya. Jadi itulah berkembang dan masyarakat mengalami kekacauan yang luar biasa. Nah, sebelum saya memaparkan detail, ada orang yang menentang sebetulnya namanya Stepen Hawking. Dia dari muda sudah fisiknya pakai kursi roda. Dia mempelajari tapi dia mengatakan bahwa ee perkembangan kejadian buatan sepenuhnya bisa berarti akhir dari umat manusia. ee berbeda dengan ee Paul e John Makarti yang mengatakan bahwa eh ini ee ketakutan orang itu pada AI karena sering menonton fiksi kalimatnya kira-kira begitu atau sering menonton film dan sebagainya. Nah, perdebatan ilmiah yang tingkat tinggi ini ee menjadi menarik sehingga ee John Makarti mengatakan bahwa ee ini saentif ya, ini pengetahuan dan pengetahuan itu tidak berbatas. Maka satu-satunya jalan adalah manusia. Jadi bagaimana ini alat alat untuk membuat cerdas tapi jangan sampai manusia kemudian dikendalikan oleh alat itu menjadi sebaliknya. Itulah kenapa ee dalam kehidupan baru kita terlibat dalam apa ya interaksi yang luar biasa. Saya kira sekitar Anda ini juga peralatan ya mulai dari sound system, ada laptop, ada ponsel dan sebagainya dan itu membuat kehidupan baru yang saya kira ee berubah. Nah, ini saya kira teman-teman bahwa hari ini kita hidup dalam kita nyebutnya ekosistem ganda tangan ee pikiran aktif dalam dunia nyata. Tetapi kadang-kadang di jalan ee saya jalan kaki dan kemudian pikiran saya ee di sana, jari saya bergerak dan sebagainya sehingga kadang-kadang ditabrak orang karena saya gak fokus. Ini yang disebut kehidupan baru dan penyelarasan. Saya mengajar ee 35 tahun dan mungkin ketika Anda belum lahir ya ee tahun 92 93 saya ngajar, saya bisa ngajar dalam orasi seperti di Yunani kuno seperti filosuf itu dan semua mendengarkan dan mencatat dengan polpennya. Tetapi hari ini saya tidak bisa melakukan itu. Bukan karena saya tidak ee bukan saya gak bisa mikir, tapi saya seperti seolah tidak punya kesanggupan, tidak kompatibel dengan perkembangan generasi yang disebut masa akhir tadi, generasi ee alpha Z dan sebagainya itu karena dalam aturan ee SKS maka ini harus kita sesuaikan, kampus pun harus menyesuaikan. Saya ngajar 2 jam pada tahun itu bisa bahkan bisa lebih dari itu. Tapi hari ini saya mengajar jangan bilang siapa-siapa ya Pak Dewi. Ngajar tuh baru 15 menit mahasiswa tuh menundukkan kepala semua. Mungkin dia wiridan sambil mendoakan ya Tuhan semoga Pak Suko segera keluar dari ruangan. Jadi ee pola komunikasi saya yang one way communication satu arah dan mereka tugasnya mendengar itu akan beda. Ee pendengar yang menikmati pesan tidak lagi cukup hanya dengan mendengar karena kekuatan mendengar itu pendek sekali. Dia butuh reaction. Karena itu ee ya saya pun mencoba sekarang merubah. Nah, ini bukan teman-teman perubah kalau ada bupatimu, walikotamu, kepala deni pidatonya terlalu panjang diingatkan, "Pak, jangan panjang-panjang, Pak. Sudah baca gak apa-apa. Saya belajar dengan anak-anak muda karena mereka menjadi bondaris ya. Ketika saya masuk di kelas itu seorang, Pak." Jadi gini ya, saya datang ke anak berkerumun saya datang ee ada apa? Oh, maaf, Pak. Kami diskusi, Bapak. Kalau mau jalan, jalan terus saja. Bagi orang tua kaget kata-kata itu, tapi bagi anak muda gak apa-apa. Dia dengan jujur mengatakan, "Ini sircle saya, Pak. Ini diskusi Bapak silakan jangan ganggu kami." Jadi ee di dalam dunia media yang global ini teral semua orang sama. Inilah yang jadi problem nanti soal etika. Itulah kenapa ketakutan Stepen eh Hawkins itu sebetulnya masuk akal meskipun si John Markarte sudah memberikan demarkasi bahwa tergantung Anda ini pengetahuan tapi etik. Etik saya lagi ketiga kali ya etik menjadi kunci bagi kehidupan manusia. Nah, dengan perubahan itu coba di sisi paling kiri kita lihat ee apa ya ini yang 10 perubahan yang benar-benar itu bahwa kehidupan sudah berpindah ke platform ee atau bergabung ya ee kehidupan bisnis pindah ke platform baru, muncul metode usaha baru dan sebagainya. Ini pernah saya ajarkan. Nah, realitas apa yang terjadi? Lagu kanak-kanak ndak bisa lagi bangun tidur keturus mandi gak ono sekarang itu bangun tidur kupegang ponsel pastilah. Jadi saya kira ini yang butuh penyesuaian. Tidak ada. Saya enggak enggak yakin kalau Anda wah kalau saya tidur tuh langsung bangun melipat kamar kecuali di sekolah-sekolah barak militernya KDM itu gak boleh itu. Tapi di di apa di apa di rumah-rumah kita selalu ponselah tidur mau tidur dan sebagainya orang menjadi terasing karena alat ini. Realitas baru muncul ulang tahun diucapkan lewat ini dulu enggak pernah dulu pesta datang ketemu mereka punya aktivisme bersama dan sebagainya mereka jadi yang jalan pikirannya tapi fisiknya tidak. Nah, perubahan program dulu ee para ibu-ibu mungkin ya ee Ibu mohon maaf para ibu-ibu itu kan paling getol kalau bahwa dompetnya tebal itu menunjukkan apa ya tingkat jabatan eselon ee apa ya eselon 4 tuh agak kecil eselon 3 tebal kalau eselon 2 itu lebih tebal lagi. Kalau strnya eslon 2 dompetnya di bawah stafnya. Nah, tetapi sekarang enggak ada lagi. Coba buka dulu kan di dompet itu ada KTP, kartu KB, kartu apa? Madrasah, macam-macam. Sekarang enggak ada lagi karena semua sudah di sini dan bahkan di tubuh kita sudah tercancap semacam. Nah, tanda tangan juga online, check in hotel tidak harus mendaftar dari jauh cukup dan sebagainya. kendaraan datang sendiri Gojek dan sebagain kita ngalami semacam itu. Jadi makanya nanti kapan-kapan saya pengin Pak Ramli, Prof. Ramli ee nanti kapan-kapan kita undang bosnya Gojek untuk cerita atau Grab untuk cerita bagaimana ee apa sistem apa informasi yang bisa menjalankan roda bisnis termasuk bagaimana ee kita membuat rumusan. E saya kira Bu Yuyun di BKD atau Mas e Hasyim sudah membangun sistem semacam itu. Tetapi sekali lagi mari kita ingat kata-kata dari Jorma bahwa oranglah yang menentukan. Nah ini dunia telah berputar. Saya kadang-kadang gini ya di kampus itu guyonan itu ciri khas orang itu kan gibah. Mohon maaf ya, Bapak-bapak, Ibu gibah itu. Jadi, metsos sekarang menjadi ruang gibah yang terindah. Kalau dulu kan di Mijo ya, jadi penjual melijo itu sepi karena cuma di WA atau di anu datang kirimi ee apa tauge satu Lombok sak bungkus, uangnya langsung ditransfer selesai. Jadi kehidupan indah gibah itu sekarang tidak lagi dalam ruang licut. Jadi dari fisik itu bisa juga kita menjadi tidak sehat ee karena teknologi itu. Nah, perkaranya sekali lagi ee kemudian bagaimana soal yang kita sebut dengan etika, moral dan rasa. Karena ketika saya protes gak bisa digantikan. Orang Jepang itu sekarang kawin sama robot. Saya berapa nonton pengin datang ke Jepang pengin mencium robot tuh rasanya beda atau enggak? Kita kayaknya harus anu, Pak, semua peserta itu sekali-kali kita ajak ke Jepang atau ke Korea nanti apa Mbak Dewi diundi aja 10 besar bisa ikut ke Korea, Korea Utara biar dibedil sama Kim Jong. Nah, ini yang kemudian menjadi tergantung bagi kita yang kita sebut nomofobia. Istilah itu juga sudah lama. Jadi ketakutan akan kehilangan akses ponsel. Jadi hampir semua kalau guyonannya kan lebih baik kehilangan uang daripada apa ya lepas telepon karena takut istilnya itu guyon-guyon umum. Tapi saya ingin mengatakan bahwa betapa kita tergantung ya. Jadi orang takut jauh dari ee perangkat semacam itu. Nah karena apa? Karena Noob itu membuat orang sebenarnya tergantung dari ee digital, dari ponsel, dari elektronik. Berbagai contoh misalnya kalau anak Anda datang ke desa enggak ada akses Wii wis ngamuk enggak karuan dan ee rumah sakit menur nampung itu sebetulnya kalau Anda mau neliti bagaimana akibat-akibat itu. Tapi saya optimis misalnya beberapa mahasiswa saya yang sekarang usi 30 sampai 40 itu dia benar ketat ketat melarang anaknya. Bahkan nonton TV aja gak boleh diatur di Nah, keketatan-ketatan ini yang kemudian harus kita rumuskan. Kenapa dirumuskan? Karena bayangkan Australia frustasi, Finlandia, Perancis dan semuanya sudah menghentikan anak sekolah tidak boleh pakai perangkat digital kecuali dengan regulasi tertentu ya. Maka ya tadi di Cina misalnya kalau datang ketahuan ya sudah di sana ada namanya kolam pembuangan ponsel ya datang gak terus mereka ketat sekali langsung dibuang. Bayangkan kalau pegawai masuk kantor teleponnya disimpan kalau enggak suruh buang iso geger malahan iso carok. Makanya ini yang saya kira harus ada gerakan dari masyarakat dan saya kira ASN ini harusnya memang menjadi agen of change terhadap lingkungannya. Di mana dimulai enggak mungkin sendirian. Kalau sendirian dianggap aneh ngadapi pimpinan ke mana aja kamu saya telepon gak bisa gak dibalas loh. Padahal baterainya habis misalnya. Jadi ini yang saya kira related antara kehidupan offline dan online bersama bersatu dan nanti puncaknya di di AI yang sekarang berkembang. Jadi pengaruhnya pasti pada yang terakhir dampak hubungan sosial. Sosial itu beberapa skripsi tesis yang saya bimbing eh berkaitan ee tentang eh eh long distance relation, kemudian toxic relation, macam-macam banyak-banyak. Belum lagi kejahatan. Nah, orang sangat tergantung karena rata-rata menurut data eh hotsite suite digital tahun 2004 itu ee orang rata-rata menghabiskan 2,5 jam di dalam 24 jam. Tapi praktiknya di Indonesia itu lebih dari itu. Bahkan ya lebih 5 jam juga kadang-kadang wis pokoke ngeloni ponsel sak ngilere, sak turune, sak ngoroke itu total hidupnya tergantung dari tu. Dia lupa bahwa ponsel itu juga mengandung ee gelombang-gelombang yang saya kira tidak bagus. Tapi saya senang Pak Ramli terima kasih kita bisa berbagi di sini. Maka sebetulnya kapan-kapan apa BBSDM yang yang ruangnya banyak itu ngundanglah datang untuk apa ya biar biar saya tidak pidato tapi saya akan banyak mendengar ya kalau saya kira ee kita hampir sama pengetahuan di Pacitan Banyuwangi Surabaya relatif ee sama. Nah, e se banyak sebenarnya kebaikan karena kan gak mungkin kayak ini kan kontroversi perdebatan antara Stepen of King dan apa e dan John Makarte itu pertama pasti e memperluas jaringan jaringan wis mesti golek follower IG-mu piro follower piro itu jadi etalase baru etalase baru setiap hari Anda buat status statusnya juga aneh-aneh itu dimarahi pimpinan langsung dunia gelap sekali. Awas serigala datang macam-macam. Kalau ketahuan bisa lucu-lucu. Saya belum pernah neliti tapi mahasiswa saya teliti itu sama dengan itu ya. Saya statusnya itu kalau saya bilang mahasiswa datang skripsi terus bimbingan sudah tujuh kali saya bilang, "Wah, ini judulnya diganti." Waduh mereka sudah statusnya itu zaman seorang dosen berkumis cilok lah. Jadi semua orang sekarang ee speak up di situ. Kalau misalnya apa ya? Kalau misal tapi kemudahannya bagus ya ee ke apa ya? dia bisa transparan keuangan. Kalau ee perizinan pakai teknologi ini apa ya pasti ee meminimalisir pungri dan sebagainya. Tetapi masyarakat kita itu agak beda menangani apa? Menangani ee ee menangani apa namanya? menangani ee teknologi ini ee bedalah beda. Bahkan ee TikTok yang awalnya hanya gambar saja sekarang bisa nyari duit. Instagram juga gitu sampai kemudian ngamen. Ya, ini kan lucu orang Indonesia. Jadi Anda gak usah takut terhadap presing karena seperti kata apa ya ee kita ini penganutnya si John Makarti bukan Hawkins yang apa ya ketakutan terus ya. K kan bilang tergantung anda aja alat orang Indonesia itu tahu TikTok tahu iki dia bisa barang ngamen lewat TikTok tuh sampai TikTok tuh bikin apa ya ee ee bikin fitur baru kirim anda dananya di masuk dia dapat duit dari kita jadi orang yang buat jadi anda gak usah ragu terhadap kecerdasan orang bisa top lah orang Jepang aja kaget kalau lihat ke Indonesia kok bisa Honda Ulung saya itu kecepatannya sampai 120 enggak ngerti nek de mesine tak ganti ee mesin ee apa ya impresa. Jadi menghadapi itu kita enggak usah kaget tapi waspada harus. Nah ini beberapa kejahatan saya kira begitu banyak sekali ya terutama pelecean dan perundungan daring itu ya. Kalau mahasiswa saya yang paling apa ya paling ini dan perkembangan-perkembangan luar biasa. Jadi, tetapi semuanya ini merubah. Saya awalnya kaget diskusi dengan Kepala BKKBN Bu Erna itu dan saya ajak mahasiswa dan ketika Bu Erna menanyakan apakah Anda apa pernah mohon maaf ya pernah pergi dengan pacarmu mereka ketawa semua karena mereka sudah melakukan melebihi dari orang dewasa. Ini problemnya ya. Kenyataannya begitu. Bagaimana kita melihat bahwa kondom di depan ee Indomat Alfamat di depan asir ditontonkan. Jangan itu mereka beriman. Tapi apa? Bahkan kalau kita mengedarkan, kalau makanya ini polisi juga harus harus bergerak ee dengan terlalu banyak upacara. Misalnya dalam konteks apa ya kejahatan si saya kasihan polisi juga ya banyak kasus yang harus dihadapi dan ini kita butuh semua dari rumahlah pendidikan dari keluarga anda obat menggugurkan kandungan jadi anak muda membeli sebotol begini harganya ee sekitar ee R juta, dia hanya butuh berapa dijual eceran. Ini adalah salah satu dampak akibat teknologi semacam. Tapi yo ada yang positif. Jadi kadang-kadang kita terlalu khawatir orang-orang di desa itu malah kalau Bapak lihat dia cuman bisa jualan ya. Jualan jualan apa ya? Jualan kadang-kadang ee dia pintar sekarang dia foto ee garu luku kuno, lesung dan sebagainya. Lesung yang numpuk itu dibeli juga dengan harga mahal. Jadi mereka juga enggak bodoh. Jadi ee ee IG yang rencananya hanya gambar aja bisa buat jualan. Begitu pun juga TikTok. Jadi e orang-orang yang kemudian memperalat. Jadi orang saya itu pintar memperalat yang mereka ciptakan. Jadi perdebatan. Tapi sekarang bagaimana di l ASN tuh kita coba beradaptasi ya salinglah tarik-menarik. Lalu gimana soal etika? Ini yang saya kira butuh Anda nanti untuk speak up e apa yang dilakukan. Begitu banjirasi datang, saya selalu tanya, "Gimana menghadapi banjirasi? Gimana kalau ditipu?" Ya, kalau tidak Anda jawab, ya selesai toh lah. Terus kalau malam-malam ya malam dimatikan toh kan ada screen dan sebagainya dilakukan itu. Beberapa saat lalu saya ee bukan ketipu, dicoba ditipu oleh orang yang mengaku soal dari ee Dispinduk Japil. levelnya bukan telepon lagi tetap bukan WhatsApp lagi tapi dia gunakan AET untungnya saya tuh sik sadar g dia hari Minggu, hari Minggu ee dia padahal saya kenal kepala dis Penduk Capilnya itu Pak kami dari Dis Penduk Capil ingin ver data silakan Bapak kirim materai seharga Rp10.000 Ibu nanti besok Bapak tinggal tanda tangan di kantor Disbrduk Capil untuk apa ya ee digitalisasi. Terus saya sadar hari Minggu dan orangnya seragam Korpri. Oh, ini. Nah, untung saya tahu soal itu lah. Coba bagi yang enggak tahu. Akhirnya Pak Edi saya telepon kasus itu, Pak Suko barusan ada orang Banyuwangi mengaku itu dan kehilangan sekitar R50 juta. Jadi ketika dia ngerimat, maka seketika itu diambil. Saya enggak tahu sistemnya, tapi peluangnya seperti itu. Nah, kehidupan hibrida ee kehidupan baru semacam ini intinya bahwa ada pola interaksi dan relasi s yang terbentuk secara harmoni idealnya praktiknya ya kayak kehidupan nyata. Cuman ada cip baru yang bagian anak-anak muda, anak-anak kecil ya yang dia lahir ceprot sudah itu seperti kata Mas A nanti enggak masalah tapi masalah bagi saya, bagi kakak saya dikirimi duit itu ya bilang ngirim duit kok mungk transfer belum bisa jadi duit harus unggul harus ada terlihat semacam yang dulu digambarkan misalnya ketika lebaran anak kecil dapat angpau ee itu berupa uang sekarang sudah lewat semacam itu kan dulu guyonan sekarang terjadi sama tadi pagi eh tadi malam saya nonton pidatonya Markenbor tentang anak muda khususnya harus berani membuat kebebasan berpikir untuk bertindak tapi lapak etika lapak itu yang saya kira sudah dibangun oleh ee komunitas cair memang tapi gimana menjaganya misalnya nya ini ee di kampus saya. Apakah mahasiswa dibolehkan ee apa ya? Dulu ada kampus yang melarang ee mengirim WA di luar jam kerja. sekarang enggak bisa lagi. Bayangkan mahasiswa segitu dia butuh konsultasi waktu itu saya di luar negeri dia dia sudah jam kerja saya sedang tidur. Jadi that's reality life yang mau tidak mau suka tidak suka kita bercampur dalam persoalnya bagaimana kita bisa berenang ee dengan pelampung agar kita selamat dalam arus banjir informasi itu. ee memahami kehidupan hibrida ini kita bisa merancang intervensi komunikasi yang efektif apa yang bisa menyelesaikan itu. Jadi pasti peraturan-peraturan lama cara bekerja gak apa-apa bisa disusun SOP di kantor Anda. Misal kantor Anda. Jadi kecepatan dan sebagainya. Awalnya saya tanya orang ee pada pegawai muda itu, "Mas, Pak ini ada?" "Oh, ada, Pak. Lihat aja dicari." dia sambil ee jari itu kerja dia gak gak memperhatikan saya. Problem bagi saya dalam pengetahuan saya ee pelayan itu harus menghormati ee orang-orang yang dilihat harus tatap muka bertemu mata dan ekspresi ada. Nah, ini yang jadi catatan. Catatan itu tentu ini ee bagi etis. Itulah kenapa ee baik di Korea, di beberapa negara pun merubah sistem penggunaan digital internet dengan cukup bagus. Ketika mereka menghadapi menghadapi klien yang tatap muka, maka dia harus lihat itu semacam itu dan dia letakkan semacam itu. Jadi bisa memutus itu. Tapi ini harus diatur sementara atasan minta ini selesai ngetik sementara ada orang datang. Nah, ini yang saya kira harus dirumuskan di kantor Anda gitu. Gak bisa ada orang datang kita ngeladeni bos kita minta semacam ini. Nah, ini saya kira harus bertemu when eh openness meet eh eh connection. Jadi ketika keterbukaan bertemu keterhubungan ini bisa kacur. Maka saya selalu menyarankan ee apa ya dalam kehidupan hibrida ini apa ya ee apa ya yang tua harus apa ya harus ee menyesuaikan apa harus belajar. Yang muda juga harus ke ke ada ke ke apa kebijakan. Itulah saya menonton film. Kalau Anda selalu saya contohkan The Interns Headway eh Waker itu film yang bagus ya untuk menontonkan apa ya cara kita berperaku. Kita butuh cara-cara baru ndak bisa lagi tentu kan mangan enggak mangan asal kumpul ya enggak mangan teman gitu loh. Tapi apa lah kita kita belum punya pola komunikasi yang yang menjadi standar sama-sama baru usulan-usulan tidak cukup bagi akademisi untuk mengumpulkan puing-puing itu mesti harus kerja bareng dan itulah AI akan membantu kita sebetulnya AI adalah ruang publik yang sebetulnya dia menjadi kesadaran umum keterbuka dan keterubungan. Jadi jangan takut dengan AI, tapi bagaimana kita memperalat dia seperti tetangga saya yang tukang mijo dia tawarkan ada tauge tawarkan kan dia manfaatkan itu. Jadi bukan untuk cuman moderat kan enggak mungkin jualan sekarang orang pada di rumah ibu-ibu ndak keluar asik di rumah dia juara cuma di itu. Tapi ya bukan terus dia ambil sambil kerja ambil selfie dikirim dagangannya kan enggak kan dagangan yang dikirim bukan wajahnya tukang licu saya enggak nyindir loh tapi pekerjaannya jadi tugas Anda itu memanggungkan pekerjaan bukan memanggungkan diri ini kan cara-cara ee komunikasi saya ingin menutup ee kira-kira dengan kalimat yang puisi koneksi sunyi. Jadi kita sekarang terikat pada sinyal yang berdenyut. Jiwa kita menanti koneksi di puncak bukit notifikasi. Sementara dunia sibuk mengetuk layar hingga tawa nyata tenggelam dalam kemahim emosi. Ono wong guyu ning kantor iku isine cekik ono dengan apa ee dengan gema emosi yang sebetulnya itu tidak bisa dinikmati kehidupan real seperti masa silam. Harus apa ya? Harus kita carikan solusinya. Hampir semua kalau tanpa Wii itu rabuh kayak burung yang sayapnya patah. Garuda gagah di luar remuk di dalam se opo-opo. Jadi ee kita harus mempertanyakan ke kehadiran medsos dalam kehidupan kita, TikTok macam-macam. Yang penting bagi saya gak apa-apa TikTok asal produktif. Produktif tukang ngamen tadi loh dia nyanyi terus dia karena TikTok pun juga ngikuti. Wah Indonesia karena itu hampir semua produk apa gadget itu yang pertama kali diicobakan ning Indonesia pasti itu karena orangor terkenal bisa menyiasati itu bisa memperalat bukan diperalat. Karena kita sadar bahwa gadget itu alat. Itu yang jadi ee ingat bahwa ketika jemari menari di atas layar, jangan biarkan orang lain di pojok pintu itu menunggu Anda. Letakkan dan sambut bahwa digital kadang memang buat distraksi, tidak fokus, terus ee memisahkan kita dan tidak apa-apa. kita terlalu banyak janji ngopi tapi tidak pernah bisa menyedunya dengan baik. Terima kasih. Ee saya berharap pada diskusi di antara kita. Kita sama-sama berlayar menuju titik di mana kadang-kadang kita tidak tahu tujuannya. Tetapi cara berlayar kita harus disiapkan pelampung dan tentu saja tidak mengganggu orang lain, tapi justru menghidupkan perkembangan yang begitu cepat ini. tentu apa harus diikuti suka atau tidak suka. Tetapi jangan kemudian kita datang belajar IT metsos harus ada lapak dasar logika, etika dan nanti estetika harus menjadi lapak. Karena itulah ee gerakan ee meletakkan gadet di SD, SMP dan mungkin SMA saya orang yang paling setuju karena sekali manusia tetap manusia. Peringatan Stephen Hawking adalah bagian yang terpenting eh walaupun dia hidup eh selama hidupnya hidup di atas kursi roda dan semua mesin. Tapi bagi Stepen Homkin tertawa renyah yang terdengar dengan sahabatnya itu lebih berarti dari tertawa sendirian hanya lewat ponsel. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Suuko atas ilmu yang sudah dibagikan bersama dengan kami semua. Mohon berkenan Pak Suko untuk tetap di sini berada bersama kami karena di sesi berikutnya adalah sesi tanya jawab bersama dengan Sobat ASN. Berkenan Bapak ya? Oke. Oh, dengan senang hati. Terima kasih Bapak. Dan untuk Sobat saya lagi belajar ini loh, Mbak Dewi. Lagi belajar sama orang yang menggerak. Kalau dengan senang hati caranya gimana, Pak? Coba CPI CPI CPI dengan senang. Nah, dengan senang hati bagaimana, Mbak? Dengan senang hati. Oke, coba-coba sekali lagi saya juga ingin menukkan dengan senang senang hati hati. Oke, begitu Bapak ya. Saya belajar karena ee agar kita menjadi lebih dan tidak diskriminat. Jadi apa beberapa terakhir kan saya mengajak beberapa anak di Fabel untuk belajar itu dan kita kadang-kadang orang normal kadang-kadang apa ya terlalu egois untuk melihat sekitar kita. He makasih bagi penuturnya Ren. Oke luar biasa. Baik, untuk satsn yang ingin ee bergabung bersama sesi tanya jawab bersama Bapak Suko, silakan untuk yang bergabung lewat Zoom meeting bisa menggunakan fitur raise hand atau yang bergabung melalui YouTube channel BPSDM Jatim TV bisa menuliskan pertanyaannya melalui kolom live chat. Dan sebelum kita memasuki sesi tanya jawab, kita simak video berikut ini. Hari-hari ini kita menghadapi apa yang disebut dengan infodemic, banjir informasi yang sesungguhnya tidak semuanya benar, bahkan banyak ketidaksopanan dalam ruang digital itu. hox melaju ee lebih cepat dari klarifikasi ketidaksopanan seolah menjadi kebiasaan dan otak kita terus terpapar tanpa henti sehingga kehilangan ruang untuk berpikir jernih. Ini bukan persoalan teknologi, tetapi soal ketahanan mental dan etika digital. Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan keadaan ini? Karena ini melanda hampir semua orang bahkan anak-anak. Menurut saya, kita harus belajar untuk merubah perilaku digital kita menghadapi infodemik itu. Ketika Anda mendapatkan informasi, tahan sebentar sebelum bagikan. Tanyakan kepada kiri kanan Anda, apakah ini benar? Apakah ini perlu? Dan apakah ini pantas? Di tengah arus informasi yang deras dan mungkin keruh ee ketika situasi ee infodemik ini, maka kejernihan berpikir adalah satu-satunya pelampung yang menyelamatkan kita dalam dunia digital. Salam. [Musik] Oke, mari saja kita menyaksikan bersama-sama video dari Bapak Suko ya, di mana begitu banyak memang informasi yang bisa kita dapatkan lewat sosial media. Tapi sekali lagi sebelum kita menyebarkan atau mem-forward informasi tersebut, ada baiknya bahwa kita mengecek apakah video tersebut benar ataukah info tersebut perlu untuk ee di-share ataukah pantas atau tidak. Jadi apabila tidak memenuhi tiga-tiganya sebaiknya tidak perlu di-share Bapak ya. Iya. Oke. Baik. Tapi yang perlu banget nih ya di sesi tanya jawab ini adalah fature rais hand untuk sobat ASN yang bergabung melalui Zoom meeting ataukah menuliskan pertanyaannya di kolom live chat untuk bergabung di YouTube channel BPSDM Jatim TV. Oke, kita cek terlebih dahulu. Baik, ini sudah ada yang bergabung di Zoom meeting. Selamat siang, Bapak Kasiadi. Selamat siang. Apakah suara saya terdengar, Ibu? Terdengar dengan jelas Bapak Kasadi. Silakan langsung pertanyaannya Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bapak Suko, Dr. Suko yang kami hormati. Alhamdulillah materinya luar biasa artinya adaptasi ekosistem ganda tangan dan pikiran di nyata dan dijaring layar interaksi digital. Yang saya tanyakan gini, Pak. Satu, bagian menyeimbangkan tantangan dan peluang utama dalam menjaga kesehatan fisik di tangan interaksi melalui jejaring digital Bapak sehingga seimbang antara mental dan digital. Makasih, Bapak. Asalamualaikum warahmatullah. Oke, silakan untuk Bapak Suko bisa langsung jawab. Makasih, Mas. Ee sebetulnya etika pertama etika itu adalah kebenaran umum kelasiman. Maksud sih ning masjid terus ee ono sing khotbah terus kene apa ya waan itu sepenting apa gitu loh. Apa dipanggil apa? Kadang-kadang saya pernah tuh tentara tapi jangan bilang tentara ya. di masjid itu saya, "Pak, kok pegang ponsel aja?" Guyonan, "Pak, kalau panggilan Tuhan azan katanya itu ditunda bisa, Pak, dikotok. Ini panggilan komandan saya bisa dipukul ya. Just joke aja." Nah, ini soal-soal yang saya kira penting. Ee menurut saya ee dalam regulasi atau pendidikan itu ada banyak macam ya. Ee bagi saya ee tidak mudah. Saya mencoba mensosialisasikan dulu pada anak saya. Ketika makan televisi dimatikan, terus makan gak boleh dibawa ke kamar di situ dan ponsel diletakkan. Susah, Pak. Ini susah, Pak. Kadang-kadang diomongi ping pitu kadang-kadang dilawan sembilan kata. Jadi saya itu pusing. Ini yang saya kira ee konflik itu loh. Tetapi panjenengan kalau pada putranya itu ya mulai di situ lagi. Dulu zaman kita kecil kan dituturi dengan sanepan Pak. Sanepan itu apa ya? Dongeng kancil atau apa? Terus leiting dongeng. Nah, kesimpulan dari dongeng ini kamu jadi anak harus sopan yo, Le. Gak bisa, Pak. Sekarang itu orang tuh pikirannya cetek, cekak, gak bisa sedalam itu. Sama dengan misalnya kemampuan anak membaca sekarang itu membaca itu ya ngambilnya CJBT terus ngambil ini tok. Tapi ketika ujian skripsi enggak kecuali dia pakai prom lupa. Jadi ini yang saya kira. Padahal pengetahuan itu yang penting bukan seberapa kamu e banyak pelajari, tapi seap banyak kamu berinteraksi dan latihan bertanya, mendengar jawaban semacam itu. Orang lupa bahwa telinga, mata, dan ee kita itu akan lebih impuls tumbuh kalau kalau kita alamiah cerdas itu. Nah, sekarang di Belanda misalnya itu tidak ada lagi alat karena Bu gurunya diminta untuk nulis di papan. Anak-anak juga gitu. Dia pakai kertas. Kertas. Nah, makanya tadi gambar pertama saya back to pen. Jadi mereka kembali di tempat. Saya tanya kenapa ee pakai polpen? Karena ketika menggerakkan huruf A dia misalnya dia nulis ee sekolah huruf S O ketika merangkai itu dia punya imajinasi gambaran sekolah dan itu lebih dalam daripada kita bayar tek sekolah layar taj kedalaman ee mohon maaf generasi Z ini printer tapi enggak enggak dalam Pak tidak dalam ini. Jadi dia sepenggal-penggal itu problem yang saya pun juga selalu belajar anak muda kon ketok pintar setelah saya kejar enggak kita tahu sedikit tapi dalam tapi mereka itu banyak tapi yo hanya surve ya cetek itu loh. Nah e kebiasaan apa yang dilakukan ya ini tugas kita seperti yang disampaikan John Makarti dan peringatan Step H King terjadi pada Bapak yang saya jeli ya pertanyaan itu. Enggak mudah Pak. Serius Pak. Saya pernah punya kawan tuh datang ke rumah saya terus ketemu saya terus dia langsung saya tak keluar dulu sahabat akrab terus enggak balik dia cerita kenapa aku ning omahmu adoh-adoh pengin ketemu awakmu, pengin rokokan, pengin omong-omongan, pengin ndelok mipatmu dan sebagainya. Tapi hari itu kecewa suko aku itu Pak saya wis pokok nek enek wong itu orang datek lian padahal mining orang itu pada situ kita l se kadang-kadang sering memaksa orang untuk melike kita tolong ya di-like ya ini lucu gitu loh wong wadoh gak ngerti ya saya sumbar jadi banyak apa ya ruang palsu di dalam ini yang kita sebut hati-hati itu kan banyak anak buaya dipeksokon tuku jempol dipekso juara ngene. Woh keren palsu semua. Nah kehidupan yang real itu. Nah ini yang saya bilang roso rasio itu pengetahuan yang harus kita cari. Makasih ngaten, Pak. Kira-kira. Terima kasih, Bapak Kasiadi. Apakah ada tanggapan, Bapak? Sudah cukup. Baik, terima kasih Pak Kasiadi. Oke, masih ada satu penanya lagi. Enggak apa-apa, Bapak ya? Oke, enggak apa-apa. Oke. Baik. Yang sudah bergabung bersama kami dari Zoom meeting sudah ada Bapak Suhayono. Selamat siang, Pak Suharono. Selamat siang. Selamat siang, Bapak Suharono. Dari instansi mana Bapak? Saya dari Sulagum, PKAP Sulagum. Oke, dari Tulungagung. Silakan Bapak pertanyaannya. Ya, menarik sekali untuk materi kali ini. Ee luar biasa karena upudit ya dengan permasalahan yang kita hadapi saat ini di mana dunia net sudah benar-benar menguasai kehidupan kita. Ya, Pak. Yang menjadi pertanyaan ee saya mungkin saat ini adalah selaku ASN kita itu kadang-kadang kan memiliki kemampuan yang tidak sama dengan tempat bekerja gitu ya. Jadi katakanlah misalkan saya sendiri ee basicnya itu ekonomi, ekonomi e manajemen. Kebetulan tempat kerja saya di bidang tranip enggak nyambung, tetapi saya tetap punya konsisten yang tinggi dengan permasalahan ekonomi. Sehingga di medsos saya membuat ee tulisan-tulisan, membuat ee baik yang berupa edukasi maupun sedikit-sedikit hanya sedikit ee kritik membangun gitu ya. Apakah ini menjadi masalah atau gak gitu ya. Karena kalau saya harus sesuai dengan enggak nyambung gitu malah enggak bisa ngomong gitu. Yang kedua kadang-kadang ee proses komunikasi dalam birokrasi kan enggak gampang ya. Sehingga kita harus melalui ee prosedur-prosedur tertentu sehingga kadang-kadang kita enggak bisa menyampaikan banyak hal yang justru bisa diketahui oleh masyarakat. Padahal kita selaku aparat itu sebenarnya punya data gitu ya. ini. Kemudian yang ketiga ini ee saya menyeroti ada beberapa juga sih lembaga atau instansi pemerintah yang sudah memiliki influencer di mana itu mereka memberikan edukasi dan informasi yang penting bagi masyarakat ya menjadi sebuah informasi yang mudah dipahami karena ya up to date gitu ya ee bikin eh hook atau clickbait yang menarik sehingga ee orang cenderung oh ternyata seperti ini. Nah ini nih apakah nanti semua instansi bisa seperti itu? tanpa mengurangi ee apa namanya validitas ee informasi maupun apa ya semacam ee karisma gitu ya, semacam kredibilitas informasi karena kita sebagai instansi pemerintah. Demikian terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, silakan Pak Suko bisa langsung dijawab pertanyaan dari Pak Suyono. Masarono, saya itu kalau pagi ee biasanya pas menuju ke sana itu mesti mampir nggone buparti itu ya partti sarapan di perbatasan menuju Trenggalek kiri jalan itu sayur asem. Iya iya i Pakarno menarik ini. Eh saya kira Pakno matang betul ya dalam konteksi. Betul, Pak. Tapi rumusnya pertama gini, Pak. Siji nek nganggo influencer itu kan sering yang dilakukan tuh kan berbesar ya pemerintah kadang-kadang. ini kritik saya betul diviralke kata-kata yang saya saya lagi melawan itu misalnya itu jadi apa ya tapi saya pun terakhir juga iki iki ruange nanti jadi misalnya tapi aku nek ngomong KDM kita politik lian aja L tapi perdebatan kita bagaimana kita punya anggaran semacam itu di situ itu kalau saya mengembalikan pada fungsi ee fungsi ee ASN sendiri misalnya Ya, ASN berkewajiban melakukan sendiri. Ora usah tuku, ora usah gaya influencer. Anda aja. Kalau pun toh kita gunakan, dia tadi Anda sebut kredibilitas itu kredibilitas. Soalnya sekarang itu, Pak, misalnya saya belajar dari COVID dulu, sumber-sumber informasi dari non pemerintah itu justru dipercaya. Pemerintah malah enggak. Ini kan ee apa ya ee kepercayaan politik kan. ee linear dengan kepercayaan informasi. Nah, kualitas informasi itu ditentukan dari satu aktual, kecepatan, dua akurat, signifikan. Tiga hal itu rumusnya itu ee signifikan termasuk bahasamu cocok apa ora kanggo wong deso. Makanya semua apa ya, semua ee lembaga pemerintah seharusnya memiliki kemampuan audit komunikasi. Misalnya saya di Dinas Pertanian, saya harus punya data terhadap para petani, data tentang pengetahuan petani, kesulitannya apa, pupuk dan sebagainya. Itulah kenapa riset menjadi awal dari kebijakan. Jadi bribda itu lembaga yang menurut saya penting. Pak Harono tuh daripada di tribum ya di di peneliti aja neliti tentang kehidupan terus dirumuskan rumusannya dik Pak Bupati. Pak Bupati kan pembantunya rakyat bukan penguasa. salah kadang kita berpikir Pak Bupati rakyatmu koy ngene kondisine dan sebagainya butuhnya ini yang dibutuhkan rakyat itu pupuk turun bukan piala yang kita pamerk juara lakib dan sebagainya ya mohon maaf ya ini kebanyakan semacam itu. Kalau kita tidak bergerak ke situ pikiran kita ke situ, kita akan ditinggal oleh penduk apa masyarakat kita dan masyarakat akan kecewa terhadap itu. Saya senang Pak Harono. Sayaangkap Bapak mesti harus ada cara baru, cara baru ee di dalam berpemerintahan, berkomunikasi dan melakukan itu. Dan itu dimulai Pak Prabowo semalam saya ditelepon Kompas, Pak Prabowo itu mengajak wartawan apa agar wartawan tidak hanya menerima rilayis saja, dia saksikan. Kan bagus pola semacam. Jadi kejujuran, ketransparan itu menjadi kunci dari cara-cara itu. Ee saya tadi tidak menangkap, tapi kira-kira menurut saya memang harus ada perubahan di dalam komunikasi maupun penyusunan kebijak kebijakan. Ee hampir semua dinas menurut saya harus melakukan ping ke daerah. Cara n ping seperti apa? Semua juga sudah S1 pasti ada caranya. Terus dijawab dengan jujur, "Loh, kalau ada data rakyat enggak bisa makan banyak, kita senang asal datanya jujur. Berarti programku sing wingi ngomong ketahanan pangan salah." Ya, saya harus interferensi semacam itu. Kita hari ini butuh keakuratan, kejujuran, dan kemudian melakukan teknologi harus kita buat yang produktif semacam itu. Bukan untuk pameran like-nya. Saya banyak desa wisata itu kalau overload jugai. Tapi mungkin ya ee dinas-dinas itu memproduksi cara-cara yang sederhana. Gwe lele, gawe opo mending enggak apao ngundang orang yang e bayar mahal ee dia menjadi trend center. Ee tapi cara bikin lele, cara menggoreng itu dan sebagainya. Saya kan sekarang jadi suka terong. Gara-gara saya belajar dari YouTube tuh terong itu ternyata dinikmati jadi e crispy enak gitu loh. Jadi ada banyak yang kita dapatkan dari medsos tapi ada lebih banyak sampah di medsos. Jadi saya berharap kita semua nek setahu ya jangan terlalu banyak buat sampah juga di audit Pak yang kita apa ya petsos yang kita terbitkan itu dicek rakyat ngerungokne apa ora. Nek nek nek wis ngerungokne ngerti apa ora. sehingga kita tahu efektif enggak yang kita sampaikan. Kita butuh pikiran tentang seperti itu, Pak Harono. Ng pokoknya wis berubah semua, Pak. Saya pun jadi anak kecil sinau. Opo ya bolane saya ini dulu putih kayak Pak Haro karena sering di warung kopi jadi hitam. Karena sering ngungokne itu loh di warung kopi itu saya cek malah pintar ya, Pak. Anak-anak itu. Jadi dia itu go itu dodolan makelaran ya ono sing ngapusi-adek. Tapi menurut saya orang-orang di kelas bawah itu sing SMA, ST, MSD itu lebih cerdas menyikapi ketakutan Stef Hafkin dengan malah dia jualan, dia macam-macam. Ngaten ngapunten nek kurang cocok tapi kira-kira kita mesti harus ada mental kita turut untuk masuk di ruang itu. Oke, bagaimana Bang Suarono? Apa sudah cukup atau ada tanggapan lagi? Terima kasih ya. Sekali dengan jawabannya. Memang ee kita Indonesia itu memang perlu berubah ya. Bukan hanya Indonesia sih, karena memang zamannya kita memang harus ada perubahan ya. Kita kita tahu posisi kita seperti apa. Bahkan kalau perlu ya ketika kita ngomong sebagai apa dan posisi kita itu boleh dibedakan gitu. Jadi netizen jangan menyoroti siapa yang ngomong di di medsos dihubungkan dengan pribadinya dia. Kadang-kadang perlu seperti itu. Mungkin seperti itu sedikit masukan. Terima kasih. Terima kasih banyak Bapak Suyono. Baik, terima kasih untuk yang sudah bergabung Sobat TSN di sesi tanya jawab bersama dengan Bapak Suko di sini. Terima kasih sekali lagi Bapak Suko sudah menjawab seluruh pertanyaan dari Sobat ASN yang bertanya pada sesi ini. Terima kasih juga sudah sharing ilmunya bersama dengan kami semua. Semoga sobat ASN yang bergabung di sesi ini lebih bijak lagi dalam bersosial media. Ingat kata Pak Suko ya. Berarti Anisa saya pamit. Saya pesan kepada semuanya ee sebelum Anda apa mengirim itu rumusnya adalah ketahuilah apa yang Anda sampaikan. Oke. Bukan menyampaikan semua yang Anda ketahui karena yang Anda ketahui belum tentu bermanfaat bagi orang lain. Terima kasih. Mohon maaf. Terima kasih sekali lagi Bapak Dr. Suko Widodo, Dres. M.Si. Sampai berjumpa lain waktu Bapak. Sehat selalu. Terima kasih. Asalamualaikum. Oke, katanya dengan senang ha. Tadi gimana? Dengan senang hati. Ih, tuh kan komunikasi ini bisa dengan beragam cara ya. Salah satunya dengan lewat sosial media. Tapi kita juga harus bijak-bijak dalam bersosial media. Baik, Sahabat ASN, masih ada satu narasumber lagi yang akan sharing informasinya berteman dengan kita semua di sini. Jadi jangan beranjak ke mana-mana, tetap di ASN Belajar seri 23 tahun 2025. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Terima kasih sobat ASN masih setia bersama dengan kami di ASN belajar seri 23 tahun 2025. Kita sudah menyimak dua materi dari dua narasumber yang luar biasa. Dan materi yang satu ini yang sesaat lagi akan kita simak bersama-sama juga tidak kalah pentingnya karena narasumber kita yang ketiga ini selain seorang praktisi komunikasi beliau adalah co-founder inventory. Kita sambut bersama Bapak Dadi Krismatono. Selamat. [Musik] Selamat siang, Pak Dadi. Selamat siang ee Bapak dan Ibu dari Jawa Timur. Mudah-mudahan masih kerasan ya mendengarkan. Staminanya kuat juga nih. Oh, pasti dong pasti kerasan Pak Dad. Tapi ini yang bergabung di ASN belajar 23 tidak hanya sobat ASN yang dari Jawa Timur melainkan dari seluruh Indonesia. Bapak. Oh wow. Terima kasih sekali saya diundang untuk berbagi sedikit yang saya tahu di forum ini. Oke. Baik. Dan saya juga ee suatu kebanggaan bagi saya. Saya sudah bergabung menjadi salah satu influencer dan MC yang sepertinya saya sudah terdaftar di sana Bapak ya dari tahun 2020 Bapak ya. Terima kasih, mudah-mudahan tambah lancar. Amin. Oke, untuk sobat ASN ya seperti biasa kita akan menyimak materi dari Bapak Dadi Krismatono ini kurang lebih 30 menit. Kemudian nanti akan ada sesi tanya jawab tersendiri. Jadi apabila sobat SN ingin bertanya silakan tuliskan dulu pertanyaannya. Nanti setelah Bapak Dadi menyampaikan ee materi yang sudah selesai kita akan buka sesi tanya jawab tersendiri. Kalau begitu tidak perlu berlama-lama lagi, langsung saja kita simak bersama materi dari Bapak Dedi Krisma Tono. Silakan Bapak. Oke. Ee sekali lagi selamat pagi menjelang siang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Sekali lagi terima kasih atas undangannya. Saya mencoba ee mengambil dua poin saja dari TOR ya supaya kontribusi saya ke forum ini lebih konkret gitu. karena begitu banyak hal yang ee bisa dibahas di dalam membicarakan media sosial, jagat digital, internet, dan lain-lain. Tapi saya mau ambil dua, yaitu AI. Eh, aslinya artificial intelligence, tapi beberapa media seperti Kompas tuh apa bikin istilah biar Indonesia namanya akal imitasi, ya boleh-boleh aja. Dan ee komunikasi berempati. nanti kita ee sama-sama belajar bagaimana ee dua aspek ini selain ee berbagai tren yang sekarang ee berlangsung di dalam ee jagat komunikasi sosial media ini ee penting ee kita pelajari ya. Next. Sebenarnya ada empat nih. Saya baru biasa kalau orang bikin slide terus enggak puas lagi dilihat lagi dilihat lagi gitu ya. ketika saya mencoba memetakan tren komunikasi yang perlu ee dan relevan bagi Bapak Ibu ASN di seluruh Indonesia ini ee kira-kira ada empat yang sebenarnya perlu di ee pahami ya. Pertama AI eh artificial intelligence yang eh semakin masuk ke dalam kehidupan kita. Tetapi sebagai institusi pemerintah tentu teman-teman ASN punya tanggung jawab lebih di dalam ee pemanfaatan artificial intelligence. bagaimana pemanfaatannya secara bertanggung jawab, etika ee kemudian juga ee bagaimana memanage risiko yang juga di ee hadirkan oleh artificial intelligence ini. Yang kedua adalah komunikasi empati. ee sejak pandemi Covid-19 pada puncaknya ya tahun 2020-2021 kajian-kajian tentang komunikasi empati itu sangat besar karena masyarakat ee sekarang sejak saat itu hingga sekarang dalam kondisi yang ee menghadapi ketidakpastian, menghadapi ketakutan, menghadapi ee banyak tantangan sehingga ee baik perusahaan apalagi pemerintah tentu perlu mengembangkan empati di dalam berkomunikasi. Contoh paling gampang waktu itu yang dibahasnya. Bahkan ada satu artikel di Harvard Business Review tahun 2020 tuh 2021 tuh bercerita tentang empati. Bagaimana misalnya saya pabrik obat, saya untung besar di tengah-tengah COVID gitu. Bagaimana saya mengumumkan itu bahwa eh saya pabrik obat nih untung besar loh orang. Tentu kalau kita salah mengkomunikasikannya ee tentu akan menimbulkan respon yang sangat negatif bagi kita gitu ya. ee atau misalnya yang sering sering jadi contoh komunikasi yang kurang empati tuh ketika harga cabai mahal terus ada pejawat bilang tanam aja cabe di rumah gitu. itu kan salah satu ee contoh gitu ee bagaimana kurangnya empati di dalam komunikasi di tengah kondisi masyarakat yang ee sedang di dalam ketidak pastian belakangan ini juga dengan ee kondisi global konflik yang ee kita lihat sehari-hari tentu juga mempengaruhi mood masyarakat. Karena itu ASN sebagai garis depan dari pemerintah dan lembaga pemerintah secara keseluruhan tentu perlu sangat perlu mengembangkan suatu model komunikasi empati. Nanti bagaimana kita ee caranya kita pelajari sedikit ya ringkas. Kemudian dari komunikasi massal ke komunitas kecil ya saya yakin tidak ada Bapak Ibu peserta diskusi siang ini yang tidak tergabung dalam suatu grup WA. WA komplek, WA RTW, WA alumni sekolah, alumni SMA, SMP, SD, TK. Dan biasanya kita juga menggunakan komunitas-komunitas kecil itu untuk memverifikasi, menguji informasi yang ee kita dapat dari komunikasi massal. Karena itu ee nantinya lembaga pemerintah tidak bisa lagi membuat satu apa namanya? satu pesan, satu komunikasi yang kita pikir, ah ini akan cocok untuk semua gitu. Harus ada proses-proses bagaimana pesan kita itu tailor made terhadap segmen audiens tertentu. Yang keempat tuh Gen tapi pembahasan tentang bagaimana berkomunikasi dengan Genzi juga sudah banyak ya. Karena itu saya ee apa fokus akan fokus pada dua poin ee di awal ya, bagaimana AI ee berpengaruh di dalam komunikasi kita dan yang kedua bagaimana komunikasi empati sangat ee semakin dibutuhkan oleh masyarakat dan bagaimana pemerintah perlu semakin mampu mengembangkan komunikasi empati dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Lanjut. Nah, eh artificial intelligence itu ada peluangnya. Yang pertama tentu otomatisasi dan penyederhanaan pesan ya. Misalnya melalui chatbot ya. chatbot itu ee kalau Bapak Ibu pernah komplain karena kiriman makanannya ee enggak lengkap atau ada yang rusak lewat pengiriman ee makanan online ya, ojek online yang mengirimkan makanan, maka ee yang pertama kali Anda temui adalah mesin ya, chatbo dan ee chatboot itu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan komplain Anda melalui pola-pola yang sudah diinventarisir sebelumnya. Maka dari itu akan banyak pekerjaan-pekerjaan yang berulang dan berpola yang apa akan dilayani oleh AI ee seperti ee customer service ya. Customer service yang tadinya kita bertemu dengan orang lewat telepon, sekarang kita chatting. Seolah-olah kita chatting di balik sana orang, ternyata itu adalah mesin yang sebenarnya tidak memahami sepenuhnya ee pesan kita, tetapi mereka mengembangkan pemahaman dari pola-pola, dari keyword-keyword, dari pattern. Kemudian dia bisa menjawab, ya. Kemudian personalisasi dan segmentasi audiens, ya. Karena saya bilang tadi bahwa eh sekarang enggak bisa lagi eh message one for all, semua harus eh apa namanya? ee di sesuaikan dengan ee kepada siapa kita berbicara dan tentu itu membutuhkan ee proses produksi materi komunikasi dengan waktu yang cepat gitu dan AI dengan video editing, video generating, eh image generation itu sebenarnya bisa eh digunakan untuk mempercepat proses. Hingga satu pesan misalnya pesan mengenai ee bahaya musim hujan sekarang enggak tahu sekarang musim hujan atau ee di Surabaya nih ee kepada ibu-ibu, kepada anak-anak, kepada ee dunia usaha misalnya itu bisa dalam dari satu materi yang sama bisa kita sesuaikan dengan bantuan AI melalui generatif AI, melalui ee platform-platform AI untuk membuat video dan lain-lain yang juga penting eh AI bisa kita manfaatkan sebagai social listening ya untuk deteksi dinny Hoa dan krisis ya. Misalnya sekarang ee lagi beredar kalau di Jakarta di teman-teman saya tuh yang dapat ngakunya dari Disuk Capil gitu ya. dari distruk Capil suruh ini itu ini itu nanti ee teleponnya terbajak dan nah pemerintah tentu perlu me apa ya menginstall suatu model social listening di ee media sosial sehingga bisa mengetahui apa nih yang sedang terjadi gitu. Bukan sekedar ee ramai perkawinan anaknya Ahmad Dani ya artis asal Surabaya gitu. Tapi apa nih yang sekarang menjadi mood masyarakat? Nah, eh kemampuan AI itu bisa dimanfaatkan untuk menginstall satu social listening sehingga pemerintah bisa mengantisipasi ada apa nih, ada bensin langka, ada harga cabai mahal dan lain-lain sehingga bisa ee meresponnya dengan lebih cepat. Ini adalah sejumlah dari banyak peluang manfaat yang bisa kita ambil dari artificial intelligence. Next. ee tetapi ada juga risikonya ya karena ee melalui AI juga disinformasi itu terlihat meyakinkan. Jadi misalnya dengan adanya deep fake ee bahkan ee apa namanya ee video sudah bisa dipalsukan gitu ya. Orang dulu paling bisa ngedit ee foto ya, foto diedit sehingga meyakinkan. Tetapi sekarang video, suara, bahkan body language sehingga disinformasi akan semakin terlihat meyakinkan. Saya tidak membayangkan nanti Pemilu 2029 itu ramainya kayak apa ya di media sosial gitu ya. Karena game kompetisi di pemilu kan semakin kreatif gitu. dulu masih perang tagar, perang trending topik dan lain-lain. Sekarang mungkin dengan adanya AI, generatif AI tentu akan sangat seru. Nah, ee tentu di sisi pemerintah perlu punya mitigasi risiko ketika disinformasi informasi yang ee mengatasnamakan e pemerintah itu bisa merugikan masyarakat. Kemudian kedua, automation yang berlebihan ya, sehingga kehilangan empati. Kalau kita komplain ee misalnya ke airlines sudah banyak juga ee yang menggunakan chatbot. Jadi kita ee akan diarahkan pertama kali untuk chatting dengan mesin dan kadang-kadang kita lagi sebal karena udah ada masalah. Orang komplain kan karena ada masalah ya. Tapi harus berhadapan dengan mesin yang ee tidak punya empati ya. Tidak, tidak. Karena dia juga bukan manusia tidak bisa menempatkan dirinya memahami perasaan kita gitu ya. Kemudian yang ketiga ee ada risiko misinasi itu dari internal sendiri karena AI sebenarnya hanya mesin pengolah ya, dia tidak berpikir. Ee ketika ada diskusi ee sebuah mesin AI bisa meniru lukisan Vanwin Van yang sangat perfect gitu ya. Kesimpulannya adalah yang dia bisa lakukan adalah meniru tetapi mendapatkan inspirasi ee untuk menggambarkan langit-langit penuh bintang seperti yang dilakukan oleh Vincent Van Guah. Ya, tidak bisa. Ketika misalnya nanti Pempr-pempr sudah mulai ee memanfaatkan AI untuk diseminasi informasi, tentu perlu ada protokol tertentu sehingga jangan sampai ketika ada misinasi itu malah datangnya dari internal gitu ya. Misalnya pidatonya Bu Gubernur, Bu Kovifah dibuat pakai chat GPT karena salah prom akhirnya pidatonya salah. Kemudian pidato itu sudah keburu didengar publik dan ee dimuat di media dan seterusnya gitu. Nanti kita ee apa namanya ee belajar bagaimana kemudian memitigasi risiko-risiko ini. Karena selain selalu ada dua sisi ya, kemajuan teknologi tadi juga Pak Suko sudah menjelaskan pada level hubungan ee apa interaksi antar individu ya di dalam masyarakat ee bagaimana ee kemajuan teknologi ini ee mengubah perilaku masyarakat. Nah, khususnya ee saya mau bawa ini dalam konteks institusi pemerintah. Bagaimana kemudian ee institusi pemerintah merespon ya hadirnya AI ini baik dari sisi manfaat maupun risikonya. Next. Nah, yang kedua adalah komunikasi empati karena ee ini semakin sering semakin dibutuhkan oleh masyarakat di tengah banyaknya ketidakpastian kondisi ekonomi. Dan salah satu pemicu kajian-kajian tentang komunikasi empati adalah pandemi Covid gitu ya. di mana semua orang pada waktu itu kan mengalami masalah yang sama, ketakutan, bagaimana menghadapi hari esok, ee kemudian bagaimana ee institusi-institusi seperti pemerintah pemerintah daerah itu perlu punya empati menghadapi masyarakat yang sekarang dalam kondisi itu gitu. Kita melihat perang Iran, Israel ini ee setiap hari gitu ya. dan kita bisa lihat gambaran yang sangat yang dulu mungkin cuma kita lihat di film action gitu ya, tetapi itu ada di depan ee wajah kita gitu. Dan sangat penting untuk tidak hanya ee menjelaskan apa yang dilakukan pemerintah, tapi mengapa itu penting bagi ee masyarakat kita. Contohnya begini, tapi catatannya humas PEMPR Jatim nih. Karena yang ngundang Jatim boleh ya di promo sedikit ya. Humas PEMP Prof Jatim udah udah lebih maju nih dalam mengkomunikasikan ini. Yang paling sering itu kalau ada konten media sosial caption-nya pejabat ini ini melakukan rapat membahas ABC gitu ya. Ee Plh Deputy Assistant Kasubdit Bidang P2 CCDKM. Enggak jelas gitu ya. Ee kemudian saya sebagai anggota masyarakat bilang, "Ya, iyalah kan itu tugas kamu." Oke. Ee sori ada ee buat apa gitu. Tetapi sangat penting sekarang kita menyusun narasinya adalah misalnya kestabilan harga bahan pokok sangat penting agar masyarakat bisa hidup dengan tenang. Karena itu Dinas Perdagangan Pempr Jatim melakukan koordinasi itu tentu walaupun kelihatannya subtil ya, kelihatannya sederhana tetapi itu perubahan struktur narasi itu akan membuat orang oh iya ini yang dia kerjakan tuh penting buat saya daripada dikasih tahu bahwa Bapak pejabat ini melakukan rapat dan akan masih banyak contoh-contoh lain yang ee tetapi intinya adalah kita menempatkan diri mengerti, mendengar apa yang dirasakan oleh masyarakat, terutama di tengah kondisi ketidakpastian yang ada sekarang ini. Juga jangan pakai bahasa yang teknokratis ee apa namanya? Ee misalnya ee apa namanya? bagaimana ee misalnya tadi yang paling sering bahasa birokrat tuh singkatan gitu ya. Terus berdasarkan SK itu kan bahasa-bahasa birokratis. Sementara ee yang diperlukan oleh masyarakat adalah apa maknanya ee bagi ee masyarakat gitu. Next. Nah, ee prinsip-prinsip komunikasi empati ee pertama itu pemerintah gitu ya atau kita sebagai lawan bicara ee tunjukkan bahwa kita mendengar mendengar dulu baru ngomong gitu. Kemudian pakai bahasa manusia, jangan pakai bahasa birokrasi. Misalnya berdasarkan keputusan gubernur nomor sekian-sekian P2CK garing X garanti aja. Hal-hal yang sifatnya ee fakta keras seperti itu nanti aja. Tetapi apa maknanya bahwa misalnya ee perjuangan keluarga untuk memperoleh pendidikan yang layak untuk anak adalah harapan kita semua. Ya, misalnya begitu ya. sehingga kita menempatkan diri sebagai orang yang mendengar keluh kesah dari masyarakat. Kemudian kalaupun ada kekurangan ya misalnya oh antrian di RSUD nih parah gitu ya akui saja di dalam konten media sosial misalnya merespon komplain dari masyarakat kita bisa bilang bahwa ee terima kasih atas perhatian Anda memang ee pola antrian di RSUD perlu banyak perbaikan dan seterusnya gitu ya. Kemudian juga ee ini yang sering ya ee konten-konten eh pemerintahan itu sering banyak menampilkan wajah pejabat sudah waktunya. Sekarang dibanyakin wajah warga, wajah kalau tentang ee kesehatan ya, wajah nakes, wajah dokter gitu ya. Ee atau kalau yang sering buat joke misalnya kita habis menang sepak bola ada spanduk ucapan selamat, wajah pejabatnya lebih gede dari wajah pemain sepak bolanya ya. Nah, kemudian selalu ada ee call to action untuk mengajak masyarakat berpartisipasi sehingga pemerintah ee diposisikan sebagai pihak yang mendengar kami, mendengar Anda, kami memahami Anda dan ini yang akan kami lakukan dan ini akan sangat ee penting di tengah ee kondisi masyarakat yang sekarang. Next. Nah, ini ee strukturnya ya kalau kalau memang mau didetailkan gitu ya dalam konten-konten media sosial ee instansi pemerintah ke depannya tentu perlu banyak ee model-model empati, opening yang lebih empatik, kemudian pesan bahwa kami mendengarkan, kami responsif, tindakan konkret dan penutup yang positif dan menguatkan. Jadi tidak lagi ee konten itu foto. Kemudian ceritanya Kasubdit bidang P2C M melakukan rapat dengan untuk membahas keputusan bupati nomor 236/2 Romawi garokrasi ya. Sementara di media sosial kita perlu berbicara dengan bahasa manusia. Karena itu fakta-fakta keras itu kita kita apa namanya? kita taruhlah nanti aja kalau perlu gitu ya sebagai proof point. Tetapi hal-hal yang membangun empati yang membuat masyarakat merasa didengarkan itu yang perlu dikedepankan ya. Misalnya opening yang lebih empatik, tentang situasi yang berat ee kemudian kita mendengarkan gitu kami sudah melakukan ini, kita sudah ini, karena itu, kita akan pemerintah akan melakukan ini, kemudian tindakannya apa? tindakan konkretnya apa dan positif closing dan call to action gitu. Ayo tetap dukung, ayo sampaikan masukan ke RSUD dan seterusnya. ee model seperti ini ee sedang ee digulirkan ya di dalam ee banyak ee praktis ee komunikasi terutama pasca pandemi gitu. Karena kondisi apalagi sekarang misalnya di tengah kondisi ee konflik geopolitik yang ee membuat orang semakin takut dan cemas dan mengalami ketidakpastian. Next. Nah, bagaimana ke depannya tadi ee apa namanya? Jadi kita belajar dua hal secara singkat ya. Pertama artificial intelligence dengan segala ee peluang dan tantangannya. Yang kedua adalah komunikasi empati. Dua hal ini sekiranya didalami oleh Bapak Ibu ASN di seluruh lini di seluruh Indonesia tentu akan insyaallah membawa perbaikan di dalam model komunikasi Bapak Ibu ke masyarakat. Bagaimana ke depannya? Next. pertama menyikapi AI itu tentu sebagai institusi Bapak Ibu perlu membangun protokolnya. Misalnya boleh enggak pidato Bu Gubernur pakai chat GPT sampai mana atau misalnya sampai mana ee materi komunikasi yang keluar dari instansi pemerintah Bapak Ibu itu ee menggunakan AI gitu ya. ee di perusahaan-perusahaan media sekarang sudah ada tuh protokol sejauh mana ee wartawan boleh menulis artikel menggunakan AI bagaimana cara melakukan recheck dan verifikasinya gitu ya. Ee begitu juga kayak tadi misalnya boleh enggak eh ASN ngeritik di medsos? Nah, yang diperlukan adalah protokol atau social media code of conduct-nya ASN di situ bisa diatur kalaupun mau mengritik bagaimana, kalau misalnya enggak bagaimana karena ee kita belajar juga case waktu politik panas Pilkada DKI 2017 misalnya ada ee sikap-sikap yang berlebihan, ternyata itu pegawai BUMN akhirnya BUMN-nya ke bawah-bawah gitu ya misalnya itu ya ee iya atau tidak yang penting ada di dalam suatu code of conduct, di dalam suatu guidance, apakah misalnya ASN sampai mana boleh mengeluarkan ekspresi di media sosial. Kemudian di dalam produk-produk komunikasinya untuk membedakan AI dan juga itu adalah ee ada brandingnya misalnya ada watermark, ada ee ee apa namanya? Ada tautan. Jika membutuhkan informasi lebih lanjut, klik ke sini masuk ke website resminya PEMPR atau instansi untuk membedakan dan memitigasi resiko adanya pemalsuan-pemalsuan informasi yang juga menggunakan AI. AI kayak pisau bermata dua ya, bisa dipakai buat ee menyampaikan informasi yang baik, bisa juga untuk menipu, melakukan scam dan lain-lain. Yang ketiga yang tidak kalah penting adalah edukasi publik untuk ee membedakan informasi yang resmi dan palsu gitu ya. Scam lewat ee handphone sekarang udah ee enggak karu-karuan gitu ya. ada yang menyuruh klik ini, ada yang menyuruh buka website itu. Dan ee tentu Bapak Ibu ASN terutama yang di Dinas Komdigi dan lain-lain tentu perlu memasukkan program edukasi publik untuk kewaspadaan informasi terutama di era AI seperti ini. Next. Nah, bagaimana dengan komunikasi berempati yang itu penting untuk meningkatkan kepercayaan dan legitimasi gitu di tengah kondisi sekarang gitu ya. Ee saya enggak ngomong politik nasional gitu, tetapi kita melihat bahwa kondisi dunia yang sedang ee bergolak ini dan kita masyarakat melihatnya setiap hari. Ee dulu zaman saya kecil perang Iran, Irak itu nontonnya cuma jam 09.00 malam Dunia Dalam Berita TVRI. Kalau yang seangkatan nama saya pasti tahu. Nonton berita perang tuh cuma jam 09.00 malam di TVRI gitu. Tapi sekarang dengan media sosial kita melihat rudal, ledakan, penganiayaan terus setiap hari di layar ya. Kemudian dengan model komunikasi empati itu kita bisa membuka ruang dialog dua arah. Jadi nanti di dalam editorial plan Bapak Ibu media sosial bagaimana nih nada empati ini dibikin standar seperti yang saya ceritakan di tadi struktur narasi itu sehingga akan terasa bahwa pemerintah ini, oh ya saya tuh didengar ya sama pemerintah ya. Oh pemerintah tuh mengerti saya kata masyarakat. dan kebijakan itu terasa dekat. Oh ya, kebijakan ini memang berpihak kepada saya. Kadang-kadang kebijakannya baik, tapi ketika tidak di sosialisasikan dengan baik ee respon masyarakat juga ee berbeda dari yang kita harapkan ya. Kemudian juga ee komunikasi empati ini bisa mencegah resistensi terhadap kebijakan. Jadi baru mau diumumkan udah ada resistensi ee ya dalam berbagai hal gitu. Next. Saya kira itu ya ee dua hal saja yang ingin saya kontribusikan di dalam ee forum yang sangat terhormat ini. Ee kita perlu menyikapi AI secara bijaksana apalagi Bapak, Ibu adalah ASN yang ee mewakili instansi pemerintah. Bukan hanya meregulasi AI tetapi juga bagaimana memanfaatkan AI karena ee toh AI memang ada manfaat. Yang kedua ee tren ee pengembangan komunikasi empati yang memang sekarang juga lagi sering jadi kajian di ee menjadi best practice juga di dunia lah gitu. Kira-kira demikian yang bisa saya sampaikan. Bisa kita lanjutkan dengan diskusi. Mudah-mudahan waktunya enggak molor ya. Terima kasih. Terima kasih Bapak D. Krismatono. Insyaallah masih cukup Bapak waktunya untuk sesi tanya jawab plus diskusi. Jadi silakan untuk sobat ASN yang ingin bertanya kepada Pak Dadi untuk yang bergabung lewat Zoom meeting, Sobat ASN cukup menggunakan fituriz Hand ataupun yang bergabung melalui YouTube channel BBSD Menjatin TV bisa tuliskan pertanyaannya melalui kolom live chat. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Baik, kita memasuki sesi tanya jawab yang ketiga ini bersama dengan Bapak Dadi. Ini di sesi kali ini Bapak, kita akan mengambil dua penanya saja. Berkenan Bapak ya. Oke, baik. Silakan silakan kita cek siapa yang sudah rais hand atau menuliskan pertanyaannya. Oke, yang sudah bergabung bersama dengan kami semua di sini ada Bapak Mei Mardianto. Selamat siang. Baik, selamat siang. Selamat siang, Bapak. Selamat siang. Bapak dari instansi mana, Pak? Saya dari Kabupaten Malang, Pak. Oke. Dari Malang ya. Silakan langsung pertanyaannya, Pak Mi. Ee baik. Bismillahirrahim. Selamat siang, Bapak. Selamat siang. Ee saya ingin siang bertanya ee bagaimanakah cara kita untuk mengendalkan AI dan bagaimanakah apa namanya cara kita untuk tetap menjaga komunikasi secara empati? Waktu yang sangat panjang. Bagaimana menurut Jenengan cara-caranya? Oke, sudah cukup jelas pertanyaannya ya, Pak Dadi ya. Oke. Baik, silakan bisa langsung dijawab. Baik. Ee problem di AI itu kan sebenarnya informasi itu jadi punya siapa? Misalnya kalau saya menulis sebuah makalah ya atau saya menulis sebuah laporan ee ya itu punya saya gitu. Tetapi ketika saya hanya memberi perintah ya atau yang dalam AI itu disebut prom. Saya cuma nge-prom. tolong buatkan saya pidato Ibu Gubernur mengenai pentingnya gizi dan kesehatan ibu. Nah, itu punya siapa? Punya saya atau punya AI? Ya, karena manusia ee ee apa namanya? kita akhirnya cuma perintah-perintah mesin untuk berpikir dan bekerja seperti yang kita mau. Karena itu ee saya ambil contoh di perusahaan media yang saya tahu di ujungnya tetap diperlukan verifikasi manusia. Jadi ee AI digunakan sebagai teman bekerja tetapi tanggung jawab utama ee terhadap hasil sebuah pekerjaan itu tetap pada ee pekerja gitu. apa tetap pada manusia gitu ya. Jadi misalnya ee Bapak di Kabupaten Malang nanti bisa bikin e satu guidance bagi ee teman-teman ASN di sana bahwa AI itu hanya boleh sebagai teman brainstorming gitu ya. Misalnya kita memanfaatkan chat GPT atau Google Game ini untuk brainstorming aja kita perintah-perintah pakai prom tetapi akhirnya enggak bisa Bapak misalnya ada kesalahan terus bilang, "Oh, itu kata chat GPT." Nah, itu tentu perlu dituangkan ke dalam suatu pedoman kerja, Pak. Pedoman kerja misalnya di unit Bapak misalnya Pemprup Malang ada pedoman kerja pemanfaatan artificial intelligence gitu. Yang paling penting di dalamnya mencakup tentang siapa bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan AI gitu. Jadi kalau enggak bisa kalau misalnya pidatonya Pak Bupati Malang salah bilang, "Oh, itu kata chat GPT." Oh, enggak bisa. Gitu kan. Masa Pak Bupatinya suruh marah ke chat GPT. Karena itu ee di dalam konteks manajemen organisasinya perlu punya ee pedoman kerja yang jelas terutama tentang siapa yang bertanggung jawab. Kalau terhadap ee hasil eksternal yang masuk ya. Karena kalau kalau di lembaga akademis kan yang paling ditakuti adalah plagiator ya, plagiasi ee penjiplakan ya. Tentu sudah ada software-software ee yang digunakan untuk menyaring gitu ya. Misalnya oh ini pekerjaan ini ee 90% dari AI itu saya enggak tahu bagaimana prosesnya, tetapi sudah ada software-software yang ee bisa menilai gitu bahwa satu pekerjaan ini 90% dari X karena itu enggak boleh. Jadi jauh lebih penting pada pedoman kerjanya seperti apa. Pedoman kerja ee di instansi Bapak di dalam menyikapi AI seperti apa? Bolehnya sampai mana? Misalnya Google Gemini itu terakhir saya coba saya bisa bikin presentasi full PowerPoint dengan menggunakan Google Gemini. Cuma perintah-perintah aja tetapi siapa yang bertanggung jawab terhadap akurasi ketepatan? dari informasi yang ada di situ kan kita enggak bisa marahin Google Gemini ya atau misalnya kita ditegur bos gitu ya terus bilang oh itu kata Google Gemini. Nah di situ pentingnya suatu protokol di dalam organisasi di dalam menyikapi AI ini. Nah bagaimana dengan komunikasi empati? Pertama ee bisa di lagi-lagi kita bisa masukkan standar narasi misalnya konten media sosial tempat Bapak. konten media sosial kita harus ada nuansa empatinya. Misalnya ee selalu menggunakan opening yang empati, tidak menempatkan pejabat A melakukan B di awal pesan. Yang paling sering tuh di awal pesan caption media sosial atau ee press rilis. ee Kepala Dinas P2M gitu ya, K3 apa melakukan ini tentu orang bilang ya. Tapi misalnya kita bikin satu pedoman, setiap pesan kita selalu mengedepankan apa yang penting buat buat audiens sebelum kita menyampaikan ee apa si yang kita kerjakan gitu. Dinas Peternakan Kabupaten Malang melakukan penyuluhan ee anti flu burung gitu ya. Tetapi apa mengapa itu penting? kesehatan dan kestabilan pasokan ternak untuk pemenuhan protein masyarakat sangat penting. Karena itu kesehatan ternak ayam harus penting. Baru terakhir kita laksanakan itu sehingga masyarakat menangkap, "Oh, ini tuh yang dilakukan pemerintah memang penting buat saya." Bukan ee ya itu emang pekerjaan kamu gitu. Itu perubahan struktur narasi itu ee dalam memang tidak bisa instan ya. Apalagi misalnya masyarakat dan juga pemerintah, instansi-instansi pemerintah ya bukan di Kabupaten Malang bukan itu punya kebiasaan-kebiasaan di dalam berkomunikasi yang membuat masyarakat punya persepsi tertentu gitu. Kira-kira gitu Pak Mei Mardianto dari Kabupaten Malang. Monggo kalau masih ada yang ditanyakan. Sudah jelas. Baik. Baik. Terima kasih banyak Pak Mei. Baik. Masih ada satu penanya lagi yang akan bergabung bersama dengan kita di sini. Baik, yang akan bergabung di sini ada Bapak Yosef. Selamat siang, Pak Yosef. Selamat siang. Selamat siang, Bapak Yosef. Dari instansi mana, Bapak? Saya dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dari DLH Ngawi ya? Kabupaten ya. Oh, Ngawi. Ngawi, I Ngawi. Ngawi. Saya pernah tuh ke Ngawi, ada sahabat saya di Ngawi itu. Oh, iya, Bapak. Oke, nanti bisa mampir, Pak. Bisa ketemuan ya. Monggo, Binara. Monggo Bapak Yosef, silakan pertanyaannya. Baik, terima kasih atas waktu yang diberikan Pak Dadi. Eh, menarik, Pak. Jadi komunikasi empati ini saya melihat kalau saat ini sudah contoh yang nasional itu sudah dilakukan pemerintah dengan membuka kembali peran BUL ini salah satu komunikasi yang bagus. Jadi pemerintah enggak hanya ngomong. Kalau komunikasi kan biasanya ngomong ya. Jadi tidak hanya ngomong tapi juga melakukan aksi nyata. ini ee sangat terasa di Kabupaten Ngawi sebagai lumbung pangan nasional. Di mana produktivitas kami tertinggi, Pak, di Indonesia di Jawa Timur. Jadi ee pemerintah pusat melakukan komunikasi dengan kami rakyat petani ini sangat efektif dengan membuka kembali BULK. Nah, juga beberapa komunikasi yang mungkin sudah dilakukan ketika kita biasanya ketika masyarakat kota terutama itu kekurangan apa namanya daging komunikasinya kan pemerintah pusat kemudian ekspor daging kemudian yang di bawah petani peternak ini jadi kelimpungan ini. Wah ternak enggak enggak naik harganya. ini di masa lalu komunikasinya seperti itu, tapi saat ini kami melihatnya positif. Nah, tetapi juga ada komunikasi yang kadang mentok karena SDM mungkin ya yang kita aja. Jadi gini ee contohnya cabe, Pak. Tadi Bapak menyampaikan contohnya cabai ketika mahal makanya tanam cabai gitu kan. Jadi bahasa komunikasi ini mungkin kurang berempati. Tetapi saya ingin menanyakan lebih jauh kemudian bagaimana komunikasinya ketika yang kita ajak audien ini rakyat umum ini juga mentok-mentok saja. Misal seperti ini, cabe itu kan setiap tahun pasti akan naik ketika sekitar bulan ee Februari sampai Maret, April lah mendekati ya apa hari raya biasanya. Dan memang di bulan-bulan Januari itu akan banyak penyakit yang menyerang di cabe. Sehingga di musim penghujan itu kan akan selalu seperti itu siklusnya sehingga di bulan-bulan 2 sampai 4 ini akan mahal. Kemudian ketika rakyat sudah tahu seperti itu, makanya tanam cabai kan juga kurang berempati. Tapi gimana ketika ee kita sudah tahu di tanggal-tanggal, bulan-bulan itu pasti akan mahal. Kemudian rakyatnya hanya mengeluh saja ini cara komunikasinya bagaimana, Pak untuk menghadapi yang seperti itu. Bahkan juga saya juga melihat gini, Pak, untuk beras rata-rata petani saat ini di kabupaten saya juga di Ngawi juga seperti itu. Petani ini kurang berdaulat. Dalam artian gini, ketika musim panen mereka itu sudah dapat uang Bapak, bahkan sebelum panen karena sudah dijual. Setelah panen ada yang non sewu, beli beras itu kiloan, jadi petani ini yang punya lahan ee apalagi yang buruh, yang petani saja yang punya lahan. Mereka membeli beras. Ini kan ee ironis. Kalau menurut saya ini ironis bahwa seharusnya mereka sudah berdaulat. Tidak semua hasil panennya dijual, tetapi juga harus menyisihkan untuk kebutuhan sendiri. Sebagaimana dulu nenek moyang kita punya glodok, punya lumbung padi khusus untuk keluarga itu. Nah, ini bagaimana cara komunikasi terhadap situasi yang kadang sudah menjamur, sudah ee seperti inilah. Itu mohon petunjuknya Bapak. Terima kasih. Baik. Baik. Terima kasih. pertama memang ee tidak semua problem ee selesai dengan komunikasi ya. Ada hal-hal yang membutuhkan kebijakan yang lebih menyeluruh dalam konteks ee diskusi kita mengenai komunikasi empati adalah bagaimana menunjukkan bahwa pemerintah itu mau mendengar dan ee responsif terhadap aspirasi masyarakat. Karena itu bias kebetulan saya pernah apa ya ee membantu di Kementerian Perdagangan ee soal cabe tuh tiap tahun memang bikin pusing, Pak. Spesifik lagi cabe rawit merah. Jadi saya juga baru tahu ketika di situ bahwa cabe tuh lain gitu. Cabe rawit merah tuh khusus gitu dan selalu ada fluktuasi harga. Karena itu ee instansi pemerintah dengan mengetahui adanya tren seperti itu perlu membuat rencana komunikasi. Jadi misalnya pra misalnya Bapak sudah tahu bulan Januari Februari akan naik. Nah sebelum bulan Januari Februari itu apa yang kita sampaikan gitu ya? Bahwa misalnya tidak bisa menyelesaikan semua masalah tidak apa-apa, tetapi pemerintah harus tampak siap bahwa oke ee Bapak Ibu petani ee sebentar lagi kita akan memasuki bulan du di bulan 2 kondisi cabai biasanya mengini gini gini. kita pemerintah punya ini. Karena itu komunikasi tidak bisa semata-mata reaktif terhadap apa yang sedang terjadi. Apalagi misalnya Bapak sudah hafal ada siklus-siklus tertentu untuk komoditas-komitas tertentu, maka sebaiknya Bapak punya plan dari pra masalah itu terjadi. Ketika masalah terjadi sampai misalnya pasca lebaran ee permintaan cabe sudah melandai, Bapak mau ngomong apa? Pada setiap tahapan itu Bapak siapin model komunikasinya seperti apa. Misalnya sebelum sebelum itu Bapak mengingatkan gitu ya, sebelum ee musim penyakit cabe Bapak punya komunikasi apa di tengah-tengah ee penyakit sampai puncak permintaan pesannya dari pemerintah Ngawi apa pasca itu apa? Itu dalam suatu rencana, Pak. Tentu tidak hanya komunikasi ya, tentu perlu ada kebijakannya. Apakah misalnya pemerintah menyiapkan obat ya atau pestisida atau pupuk dan lain-lain. Tetapi dalam perspektif komunikasinya yang saya ingin sampaikan adalah ada plan, Pak. Apalagi ketika Bapak sudah hafal pola-pola dari komunitas-komunitas tertentu perilakunya. Pra panen misalnya pemerintah harus ngomong ini, setelah panen harus ngomong apa, pasca panen harus ngomong apa gitu. Begitu juga misalnya beras. Kemudian juga ee di dalam planning itu disesuaikan dengan ee audiens-nya, Pak. Kalau Bapak bicara dengan buruh tani tentu enggak bisa dendaki-ndaki ya, Pak ya. Yang penting kita bicara yang apa yang menjadi aspirasi dia. Misalnya kepastian harga, serap gitu ya. Dengan diserap itu ee upah Bapak sebagai buruh tani akan stabil dan seterusnya. Tapi ketika bicara dengan pemilik sawah, pemilik penggilingan padi, tentu bicaranya udah lebih lebih apa ya, lebih komplit gitu, lebih komprehensif. Jadi kalau dari sisi komunikasinya jauh lebih penting adalah Bapak punya rencana setahun ke depan nih atau satu semester ke depan nih mumpung mumpung nih kita di akhir semester 1 di semester 2 ini Bapak lihat pola-pola apa nih di komoditas-komoditas apa dan kita mesti ngomong apa nih misalnya bagaimana dengan hortikultura yang lain jagung kalau Ngawi setahu saya ya padi ya Pak ya ee padi apa yang perlu perlu di ee apa namanya dibicarakan di awal, apa yang harus dibicarakan di tengah-tengah, kepada siapa. Jadi kayak ada matriks gitu, Pak. Awal, tengah, akhir, dan ee apa namanya? Ee audiens-nya siapa. Sehingga tentu komunikasi itu harus menjadi bagian kebijakan. Jadi, kebijakannya apa? Oh, ada subsidi pupuk, ada subsidi obat, ada apa gitu ya, ada tambahan apa. Karena komunikasi hanyalah ee faktor pelengkap dari satu perangkat kebijakan. Tapi sekali lagi jauh lebih penting Bapak punya plan. Bapak mau ngomong apa nih satu semester ke depan dengan memperhatikan pola-pola perilaku misalnya kalau dalam konteks ini tanaman tertentu gitu sih, Pak. Iya. I. Baik. Bagaimana Pak Yosef? Menarik. Jadi terima kasih Pak. Jadi ini menegukan saya memang kalau Pak Adi tadi bukan bidang saya Bapak ya. Saya karena saya di lingkungan hidup dan yang kebijakan tadi kalau di bidang saya sudah kami lakukan tetapi saya dapat pencerahan ini. Jadi nanti tinggal nambah komunikasinya. Jadi kalau di bidang pekerjaan saya setiap hari ini kami juga menangani ee pruning pemangkasan pohon. Jadi di rata-rata ketika musim sebelum musim pemancara, musim penghujan itu kan pasti angin kencang kalau di daerah Ngawi. Nah, kami biasa melakukan perawatan tanaman tepi jalan itu dengan pemangkasan. Tetapi memang selama ini tidak kami komunikasikan. Mungkin nanti pencerahan ini bagi kami untuk bisa mengkomunikasikan kegiatan-kegiatan harian. Betul. Iya, betul. Jadi yang penting ee kan pemerintah perlu menyampaikan kami hadir, kami bekerja gitu ya tentu secara proporsional sehingga akan ada dukungan dari masyarakat. Oh saya memahami ee mengapa pruning dilakukan pada bulan-bulan tertentu misalnya gitu sih, Pak. Kita bisa mulai dari hal-hal yang kelihatan sederhana tetapi jika dilakukan secara konsisten pasti akan membuahkan hasil. Oke. Baik. Bagaimana Pak Y? Sudah cukup terimasi. Cukup baik. Terima kasih banyak Pak Yosef. Terima kasih. Baik. Komunikasi ini ee sepertinya suatu hal yang simpel sepertinya ya. Jadi tapi dari hal yang kecil ini bisa jadi informasi yang kita sampaikan bisa diterima atau tidak? Atau justru dengan suatu komunikasi yang dibangun, suatu narasi yang kita buat ini bisa membuat e rakyat ini percaya, masyarakat percaya. kembali membangun kepercayaan lagi bersama dengan pemerintah. Begitu ya. Oke, Pak Dadi Krismatono, apakah ada closing statement yang ingin disampaikan Bapak? Oh, ya. Jadi ee mau tidak mau masyarakat itu sekarang punya ekspektasi yang besar kepada pemerintah ya. dia di tengah banyak situasi ketidakpastian tempat mereka berlindung adalah pemerintah. Karena itu sangat penting bagi instansi pemerintah dan juga frontline dari komunikasi pemerintah seperti humas dan ASN di masing-masing bidang untuk menunjukkan ee kehadiran dan ee empati terhadap masyarakat itu. Jadi perlu ada penyesuaian pola berkomunikasi di tengah ekspektasi yang besar masyarakat kepada pemerintah. Saya kira itu yang bisa jadi closing statement dari saya. Baik, terima kasih banyak Bapak eh Dadi Krismatono atas semua ilmu yang sudah dibagikan bersama dengan Sobat ASN semua di sini. Semoga bisa segera kita aplikasikan ya dalam pekerjaan baik ee mulai nanti sepertinya ya. Ini masih break makan siang. Oke, setelah jadi break langsung kita praktikkan bersama-sama. Terima kasih sekali lagi Pak Dadi. Terima kasih. Kami persilakan untuk melanjutkan ke schedule berikutnya ya. Terima kasih mohon pamit ya. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik sa tidak terasa kita sudah sampai di penghujung acara. Saya ucapkan terima kasih sekali lagi untuk seluruh pihak yang telah mendukung webinar ASN belajar seri 23 tahun 2025. Pendiri dan direktur GNFI Group Bapak Akiari Hanato, S. M.Bi. MBA, Pakar Komunikasi, Dosen FISIP UNER, dan Ketua Umum Perhumas Surabaya Raya, Bapak Dr. Suk Widodo, Drandes, M.Si. Terima kasih untuk Co-Founder Inventory dan Praktisi Komunikasi Bapak Dadi Krismatono. Terima kasih juga untuk seluruh sobat ASN yang sudah bergabung baik dari Zoom meeting maupun YouTube channel BPSDM Jatim TV. Dan sebelum kita mengakhiri sesi, kami ingatkan kembali untuk cek secara berkala semesta Bangk untuk mengunduh e-sertifikatnya. ASN belajar seri 23 tahun 2025 ini dipersembahkan oleh Korpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sobat ASN, bijaklah menggunakan jemari dalam bersosial media. Utarakan kritik dengan baik. Sampaikan informasi sehingga mudah dimengerti tanpa perlu membuat sensasi. Tetap semangat dan sampai jumpa di seri berikutnya. Wasalamualaikum. warahmatullahi wabarakatuh. [Tepuk tangan] A belajar 23 tahun 2025 sukses zaman yang terus bergerak sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan. Berdempat bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Jadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Belajar 23 tahun 2025 sukses zaman yang terus bergerak sambut dengan penuh semangat saatnya kita melangkah. hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdempat bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. [Musik] menjadi ASN berakhlak mulia. Siap penyongok Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah. Jadi ASN getar berkualitas. belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah [Musik]