Transcript
XXMroOeKsYE • ASN Belajar Seri 29 | 2025 - ASN Bersatu: Indonesia Maju (Kolaborasi ASN di Hari Persahabatan Dunia)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0250_XXMroOeKsYE.txt
Kind: captions Language: id Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. Selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap menyongsor Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas. yang belajar wujudkan iman selaku dunia tukang tekad pancang menyerah jadi AS berkuan Kita sedar [Musik] karena aku belajar [Musik] kami mencoba Jadi yang terbaik melayani bangsa dengan sepenuh hati. Marilah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Memerasi melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Hong kami dari sini suka dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi berganding tangan satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tujukan kompetensi dalam harmoni bangsa loyal tanpa batasannya adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan air yang lebih beragung bekerja penuh hati tulus membantu sesama dibangun kami melayak dengan kami melayani dengan mana kami melayani B [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di seluruh Indonesia yang tengah menyaksikan acara webinar ASN Belajar seri 29. Persembahan Korpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Senang sekali saya Lukman Ali dapat menyambah kembali sobat ASN tentunya dalam webinar ASN Belajar ini persembahan spesial untuk memperingati hari Persahabatan Internasional yang sudah jatuh di tanggal 30 Juli 2025 lalu. Saya pernah mendengar pepatah Afrika yang pernah mengatakan terkait jika ingin berjalan cepat maka berjalanlah sendiri. Tapi jika ingin berjalan jauh maka berjalanlah bersama-sama. Seringkiali kita dengar kata kolaborasi, tapi ternyata untuk mewujudkannya bukanlah perkara yang mudah ya. Kadang kala masih ada sal mentality dalam ee diri kita, mindset-mindset yang perlu dirubah. Padahal dengan adanya kolaborasi kita bisa sharing resources. Kemudian kita juga bisa berbagi risiko yang tentunya bisa membantu kita untuk mencapai tujuan yang ingin kita capai di organisasi atau entitas kita. Nah, kali ini kita akan berbagi banyak sekali insight seputar kolaborasi. Bagaimana cara menumbuhkan empati, budaya kerja kolaboratif dan inklusif? Tentunya selengkapnya dalam webinar ASN belajar seri 2925. ASN Bersatu Indonesia Maju. Kolaborasi ASN di Hari Persahabatan Dunia. [Musik] Baik, Sobat ASN, untuk membuka webinar ASN Belajar seri 29 tahun 2025 kali ini mari kita dengarkan bersama opening speech yang akan disampaikan secara langsung oleh Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita semuanya. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN Belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini, Kamis tanggal 31 Juli 2025, ASN Belajar telah memasuki seri yang ke-29. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami selalu berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-29 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka turut serta memberi makna bagi Hari Persahabatan Internasional atau International Friendship Day yang dirayakan setiap tanggal 30 Juli setiap tahunnya. Hari Persahabatan Internasional ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2011 dengan tujuan mempromosikan perdamaian, solidaritas, dan saling pengertian di antara orang-orang dan bangsa-bangsa di seluruh dunia. Karena tema ini sangat tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN belajar seri ke-29 tahun 2025 ini mengambil topik ASN bersatu Indonesia maju. Kolaborasi ASN di hari persahabatan dunia. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sopat ASN di seluruh tanah air hari persahabatan dunia didasari oleh pemahaman bahwa persahabatan antar individu, negara, dan budaya dapat berkontribusi pada terciptanya perdamaian dan membangun jembatan antar komunitas. Dengan tantangan global seperti konflik, kemiskinan, perlindungan hak asasi manusia, memperkuat ikatan persahabatan dianggap sebagai cara yang efektif. untuk mempromosikan stabilitas sosial dan menciptakan dunia yang lebih harmonis. Momen Hari Persahabatan Internasional lahir dari kesadaran bahwa persahabatan bukan hanya soal kedekatan personal, tapi juga kekuatan sosial yang menyatukan bangsa-bangsa melewati sekat budaya, politik, dan perbedaan kepentingan. Filosofi persahabatan mengajarkan kita tentang trust, respect, dan reciprocosity. Saling percaya, saling menghormati, dan saling menguatkan. Inilah nilai yang juga menjadi jiwa dari birokrasi kolaboratif. Karena pada akhirnya kita tidak hanya bekerja berdampingan, tapi harus tumbuh bersama, saling menopang, dan berjuang dalam satu cita. Saat SN, saat ini kita hidup di era yang luar biasa. Sebuah zaman ketika batas-batas geografis bukan lagi penghalang kerja sama dan identitas kelembagaan bukan alasan untuk bekerja sendiri-sendiri. Kita menghadapi tantangan global, disrupsi digital, krisis iklim, ketegangan geopolitik yang tidak bisa diselesaikan oleh satu tangan, satu lembaga atau satu sektor saja. Di tengah kompleksitas ini, ASN hadir sebagai simpul-simpul perekat bangsa, sebagai jembatan antar daerah, antar generasi, antar ideologi yang berbeda. Karena sejatinya ASN bukan sekedar abdi negara, tapi penjaga peradaban. Melalui ruang belajar lintas batas ini, kita hendak menyatukan semangat, bukan hanya pikiran. Meneguhkan kembali bahwa kita semua dari barat hingga timur, dari pusat ke daerah adalah satu dalam cita karya Indonesia. Kita tahu bahwa kolaborasi bukan pilihan tapi keharusan. Birokrasi modern dibangun bukan dari silo, tapi dari sinergi. Kita tidak boleh lagi bekerja sendiri-sendiri dalam kubu sektoral. Karena setiap kebijakan yang baik adalah hasil dari perjumpaan, percakapan, dan kerja sama. Hari persahabatan ini. Mari kita maknai bahwa menjadi ASN tak hanya soal profesionalitas, tapi juga soal relasi kemanusiaan. Kita adalah jaringan kepercayaan bangsa yang saling terhubung, saling belajar, dan saling menjaga. Karena sebagaimana sahabat sejati, kita hadir bukan hanya saat dibutuhkan, tapi selalu ada untuk Indonesia. Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita sebagai ASN Indonesia selalu hadir sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa? Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu Tantri Relatami, Mikom. Beliau adalah tenaga profesional pada Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Dr. Andi Matulesi, M.Si., psikolog. Beliau adalah seorang psikolog senior yang saat ini menjabat sebagai ketua Himpunan Psikologi Indonesia. Ketiga, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu Hani WSLGK, SSI, M. Beliau adalah akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-29 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas opening speech yang telah disampaikan. Sobat ASN sebelum kita masuk ke acara intip pada pagi hari ini, terlebih dahulu saya ingin mengingatkan bahwa presensi sudah bisa Sobat ASN akses melalui laman semesta Bangkom. Sobat ASN juga bisa akses linknya melalui running teks yang tersedia di bawah saya ya. Dan kita akan masuk ke materi yang pertama ini terkait dengan ASN sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Di mana materi kali ini akan disampaikan secara langsung oleh Ibu Tantri Relatami Mom, Tenaga Profesional Lemhanas Republik Indonesia. [Musik] dan telah bergabung bersama dengan kami di sini Bu Tantri. Selamat pagi, Bu Tantri. Mohon maaf Ibu suaranya masih belum terdengar. Selamat pagi, Mas Lukman. Pagi, Bu. Kabar baik? Jelas ya? Sudah jelas. Sudah jelas. Oke. Kabar baik, Bu Tantri? Baik, alhamdulillah masuk ini semangat sekali. Semangat semangat. Luar biasa. Semangat semangat semangat ya. Tadi ada pepatah Afrika yang mengatakan kalau misalnya mau berjalan cepat maka berjalan sendiri. Tapi kalau mau berjalan jauh maka berjalan bersama-sama. Sama-sama. Ya, kali ini saya mau mendengarkan, kami semua mau mendengarkan materi spesial dari Bu Tantri terkait dengan ASN sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Mohon izin Ibu untuk durasi materinya kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Silakan Bu Tantri. Baik, terima kasih Mas ee Lukman. saya nanti minta tolong diingatkan tadi saya minta untuk ee dibantu untuk ee tayangkan untuk slide saya ng ee asalamualaikum warahmatullahi ee wabarakatuh. Selamat pagi Bapak dan Ibu ee yang ada semua di ee ruangan Zoom ini dan juga ee ee terutama kepada Pak Ramlianto. Saya senang sekali dengan opening speech-nya tadi. Luar biasa sekali kita sudah dapat ee eh framing-nya gitu. bahwa ee bagaimana sebenarnya ee ketika kita berbicara mengenai ee ee bangsa saat ini bahwa kalau kita ee melihat ee peran ASN dalam persatuan dan kesatuan itu adalah tugas saya untuk kita sharing sih sebenarnya. Jadi kalau kita mencoba ee melihat apa yang terjadi ee sekarang ini Bapak Ibu bahwa ada satu pertanyaan yang sering ee sering kita tanyakan bahwa apakah nasionalisme itu masih ada apa enggak gitu. Jadi ketika kita mencoba melihat, kita bisa next ya ee untuk eh slide-nya ee jadi e next lagi. Jadi kita bisa melihat bahwa ee bicara mengenai nasionalisme ada yang akan mengatakan bahwa Bu masih ada Bu sudah enggak ada gitu. Apakah nasionalisme itu bisa hilang gitu. Nah, kenapa ee ee kenapa kita harus ee apa namanya? Ee akhir-akhir ini sangat sering sekali untuk kita ee mencoba untuk bertemu. Kemudian kita akan mencoba untuk banyak diskusi mengenai ee wawasan kebangsaan, mengenai wawasan nusantara, mengenai persatuan-kesatuan dan mengenai berbagai hal. Apa penyebabnya? Begitu. Nah, pertanyaan saya tadi itu bahwa ee ee rupa-rupanya ketika dikatakan bahwa nasionalisme bisa hilang apa enggak gitu ee katanya sih sebagian besar mengatakan bisa hilang gitu. Nah, kita coba melihat apa sih sebenarnya penyebabnya. Nah, ee zaman dulu nih zaman dulu nih zamannya saya nih gitu mungkin ee kita masih masih banyak ee dengar cerita gitu. kita masih banyak punya ee punya punya punya banyak cerita mengenai ee apa namanya ee bagaimana ee nuansa kebangsaan, bagaimana perjuangan dari nenek-nenek kita, nenek-nenek saya, oma, opa, orang tua kita gitu. Bagaimana kita melewati kebahagiaan-kebahagiaan. Jadi ada melankolis-melankolis yang kita ee rasakan, gitu. Apa yang terjadi dengan ee ketika kita bicara mengenai generasi milenial begitu ee ee apa namanya? Nuansa-nuansa itu masih berasa enggak? Karena ketika mereka lahir gitu, ketika lahir itu kan sudah langsung dapat langsung dapat internet nih ceritanya. Jadi ee kita akan ee ee mencoba melihat bahwa ketika kita bicara mengenai ee nasionalisme, bicara mengenai persatuan itu di dalamnya itu ada apa? ada nilai ya, bahwa kita mencoba untuk bicara ee nilai-nilai bangsa yang mana ee itu yang kita coba untuk ee rekatkan kembali ketika bicara Indonesia Emas 2045. Tadi sudah disinggung oleh Mas Lukman bahwa berjalan cepat itu kalau sendiri, tapi kalau mau berjalan jauh itu bersama. Rasa-rasanya kelihatannya sih guy gitu ya. Kelihatannya guyub. Namun ee ternyata faktanya gitu, faktanya bahwa ee ee kenapa setiap les kita ambil contoh misalnya ee setiap ada ee apa ee ee pemilu menjelang pemilu gitu ada kontestasi begitu. Kenapa kita selalu dengan mudah sekali untuk diporak-porandakan begitu ya? kita akan dibenturkan satu sama lain. Begitu banyak diksi-diksi yang ada di ee tengah masyarakat kita yang akan ee ee bicara misalnya mayoritas, minoritas, begitu dan akhirnya kita tiba-tiba menjadi terpecah. Tadi ee Pak Ramlianto sudah memberikan insight bahwa ee ee apa namanya? Kita masuk dalam disruption eh teknologi. Next, ya. Bisa next, Mas. Ee jadi ee kita bisa melihat bahwa tapi rupa ee bagaimana ee ee ketika ada kontestasi ee politik misalnya, kenapa kita dengan mudah sekali ee apa namanya tercerai-berai gitu, dengan mudah sekali di mana perannya ASN gitu. Padahal yang terbanyak ini ada di Indonesia ini adalah ASN ya. ASN kan harus netral gitu ya. Eh, itu adalah saya kira itu adalah satu tantangan besar sekali ketika ada komitmen bahwa ee kita harus netral begitu. Sementara di luar keluarga kita semuanya harus ada dukungan ke A, dukungan ke B. Bagaimana sebenarnya komitmen, bagaimana integritas itu bisa dibangun. Namun kalau kata orang Jawa ya, apapun yang terjadi sama bangsa ini gitu, kita itu given diberikan gitu oleh Tuhan Yang Maha Esa, orang-orang yang luar biasa gitu ya. dinamika mana yang kita enggak bisa mengatakan bahwa untungnya gitu ya. Jadi kalau di di Jawa itu suka bilang bahwa aduh untungnya kita masih bisa melewati. Coba dibayangkan ketika ee kita mengalami krisis moneter dulu ketika semua orang sudah tidak bisa lagi bisnis menjadi ee ee sulit begitu dan tetapi kita semua bisa melewati hal-hal itu dengan ee dengan alhamdulillah berjalan dengan baik. kemarin kita masuk ke kita mendapat cobaan lagi ee ee COVID begitu ya. Dan kita semua begitu paniknya kemudian kita akhirnya mencoba untuk beradaptasi dengan teknologi yang ada. Kita mencoba masuk di ruang Zoom. Enggak nyaman ketika ruang sosial kita hilang gitu. Namun ee namun ketika kita mencoba ee melihat next ee ee ee kita coba untuk melihat bahwa ee apa namanya ee ee ternyata daya adaptasinya ada gitu ya. Dan akhirnya kita mencoba eh let's say pada saat itu kita mungkin bisa coba untuk jujur bahwa pada saat eh mulai Zoom itu entah kita masuk pada 2.0 apa pada masuk pada area ee era 3.0. Apakah kita sudah paperless benar-benar atau ketika kita masih ee apa namanya ee ee dalam ruang kerja itu kita masih butuh enggak ngerti nih kalau harus baca di handphone nih gitu. Harus harus tetap harus diprintin dan sebagainya. ee agak tertatih-tatih. Kita baru mencoba untuk beradaptasi. Kita baru mencoba untuk beradaptasi dengan apa namanya dengan ee Zoom ruang 3.0. Tiba-tiba kita harus sudah masuk di 4.0. Bayangkan bahwa bagaimana tuntutan gitu, tuntutan teknologi gitu. Kalau saya coba mau balikkan juga sebenarnya ada banyak sekali teori karena saya dari komunikasi ada teori-teori media yang mengatakan bahwa ee ee teknologi itu akan mengatur manusia gitu. Tetapi bisa juga sebaliknya bahwa manusia itu akan ee apa namanya ee mengatur teknologi gitu. Jadi ee ee mana nih yang mana yang paling ee dominan sebenarnya gitu. Tapi sebagian akan bilang bahwa manusia Bu yang mengatur karena kita yang menciptakan. Namun kita bisa melihat bahwa efek teknologi yang ada itulah yang terjadi saat ini. Bagaimana kita semua menjadi tertatih-tatih untuk menghadapi ee ee kemudian kita akan semua masuk dalam ruang literasi digital. Kemudian kita masuk dalam komunikasi-komunikasi yang mana kita mengatakan bahwa no ini harus ada persatuan dan kesatuan kembali. No, kita harus belajar mengenai ee apa namanya? Nilai-nilai lagi gitu. Karena ada hal-hal yang ee rupanya begitu bagaimana informasi yang masuk e pada kita ini itu enggak bisa sama sekali kita luberannya ya. Luberan ya. saya sudah bilang luberan ee informasi itu kita sudah enggak bisa lagi untuk memilah-milahnya gitu. Siapa yang diharapkan? Ee tentu ketika kita bicara ee apa namanya di ruang publik gitu, mana nih yang paling punya peran. Tentu sangat diharapkan sekali bahwa ee peran-peran dari ee apa namanya? peran-peran dari ee ASN sendiri. Bagaimana ASN bisa bisa berperan untuk melihat gitu ya tantangan-tantangan ketika kita bicara globalisasi. Bagaimana kita bisa melihat ee ada perbedaan sukunya, agamanya, ee perbedaan ee budayanya gitu ya. Em di ruang publik gitu. Di ruang publik ada memang ada pecahan ya. Jadi ee ada pecahan bahwa ada sebagian masyarakat yang memang melihat bahwa ee apa ee masyarakat itu harusnya ada hierarkinya gitu, ada stratifikasi gitu ya, ada diferensiasinya. Stratifikasi itu ketika ada ruang di masyarakat yang mereka melihat bahwa memusah gitu, harus ada perting, harus ada bos, harus ada anak buah, harus ada orang yang kaya, orang yang miskin gitu ya. Namun sebagian masyarakat lagi itu mereka mengatakan bahwa ee no kita sama di mata Tuhan gitu. Kita harus mendapatkan hak yang sama dan sebagainya gitu. Nah, pecahan dari apa yang terjadi di ruang sosial kita inilah yang ketika ada pemicunya, ada pemicunya ya kontestasi politik, kemudian ada ee ee satu aja yang akan menyinggung persoalan ee ras misalnya, maka ini akan menjadi ee konflik yang ee cukup besar gitu. Bagaimana distorsi ee terjadi akibat teknologi budaya kita gitu. saya enggak tahu ee apa ee ee bagaimana kita mencoba melihat ee Korea style-nya itu begitu masuk dan kita akhirnya ee ada asimilasi budaya yang kita enggak bisa cegah begitu. Ee enaknya kita mau apain gitu. Apakah kita harus ee ee tentu daya adaptasi dibutuhkan, daya survive dibutuhkan gitu. bagaimana ee ee apa namanya ee harmonisasi di tengah masyarakat itu ee apa namanya ee menjadi hal yang ee tantangan sih bagi kita sebenarnya. Saya ee punya cerita ketika saya di kampus nih, saya bicara sama ee mahasiswa saya, saya tanyakan bahwa bagaimana kita bisa berkomunikasi gitu, bagaimana ee supaya kita nyambung nih berkomunikasinya. Mahasiswa bilang, "Siapa yang harus beradaptasi? Dan mereka bilang tiba-tiba bahwa oke Bu, yang harus beradaptasi harus Ibu. Dan mohon maaf saya akhirnya saya bilang, "Loh, kalau misalnya harus saya, apakah itu berarti saya harus ee berkomunikasi dengan dialek kalian?" Begitu. Mohon maaf. Ee kita bisa melihat anak-anak kita sekarang bahasa gaulnya tuh kebun binatang bisa keluar semua gitu kan. Terus saya harus ikut-ikut seperti itu juga gitu ya kan namanya adaptasi Bu gitu. Jadi bisa dibayangkan bahwa ada rentang gitu ya, ada rentang sejarah yang jauh sekali, ada nilai-nilai yang ee akhirnya ee hilang begitu ya. Ee ee ee namun demikian gitu. Namun demikian, ada hal yang saya juga mencoba melihat di ruang sosial bahwa sebenarnya sih kalau bicara persatuan-kesatuan ee ee apa namanya ee ada yang bisa mengikat kita mungkin gitu e ketika kita bicara soal budaya, ketika ada kasus bahwa kebaya kita mau coba diakuin gitu oleh tetangga kita, maka kita akan ber semuanya gitu. Semua dari kita ini ee apa namanya? Ee ee punya rasa tiba-tiba bangkit tuh rasa nasionalismenya bahwa no kebaya itu adalah punya kita dan kita mencoba untuk mempertahankannya. Namun kalau kita bicara di Lemhanas ada konteks ee konteks yang kita sebut dengan kewaspadaan nasional, ada yang kita sebut dengan ketahanan nasional, gitu. Nah, kalau kita bicara kewaspadaan itu kan tentu tindakannya adalah bagaimana kita mencoba untuk mencegah. Nah, barangkali di sisi itulah yang kita mungkin harus ee punya tantangan sendiri, gitu. Jadi, jangan setelah kejadian. Kalau setelah kejadian, maka kita akan masuk dalam konteks ee ee apa ee ketahanan konteks ketahanan nasional. karena ee kita harus melihat itu PR-nya lebih besar lagi. Begitu di LEMAS kita mengenal Astagra itu ada delapan aspek gitu ya yang kita harus ee coba untuk selesaikan. Jadi tantangannya menjadi ee besar sekali. mungkin sudah bukan bentuk tantangan lagi, tapi sudah bentuknya ancaman, hambatan, masuk ke gangguan lagi. Jadi, ee bagaimana kita mencoba untuk masuknya di Patnas aja deh, di waspada kewaspadaan aja deh. Bagaimana kita mencoba melihat aspek mana dari ee negara kita ini yang lemah gitu. Di kami ada lapur tanas namanya laboratorium pengukuran ketahanan nasional. ee hasil terakhirnya bahwa dari semua aspek ketika kita bicara ideologi, kita bicara ekonomi misalnya kita bicara ee ee politik, pertahanan keamanan, geografi, demografi gitu ya, sesuatu yang given buat kita gitu. Ternyata yang paling lemah adalah dari mana? Dari budaya. Jadi, bagaimana ee hampir di semua provinsi gitu ee ee aspek sosial budaya kita lemah. Jadi, itu yang membuat bahwa enggak heran kalau sekarang ini ee kita ini melihat nih tantangannya ini semua yang ada di slide ini adalah ee semuanya akan terkait sama masalah sosial budaya. Jadi, bagaimana ee ee akhirnya itu berimbas. kita harus mengulang lagi bicara mengenai e kita harus kembali lagi ke konsensus dasar gitu ya. Kita harus bicara lagi mengenai kebinekaan, kita harus bicara lagi mengenai persatuan karena sosbot kita memang lemah di semua provinsi. Nah, bagaimana ee hal-hal ini harus dipahami oleh kita yang berada di ruang sosial gitu ya. ada ASN yang luar biasa sekali itu sebagai ee perpanjangan tangan dari ee ee negara, sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah, perannya akan ee cukup besar sekali begitu. dan kita ee ee ee mencoba untuk melihat ee membuat satu strategi. Tetapi kan harus firm dulu nih kitanya gitu, harus tahu dulu nih dari mana sebenarnya ancaman-ancamannya, tantangannya seperti apa, kenapa ee akhirnya ee begitu sulit untuk berbicara dengan ee orang-orang di sekitar kita gitu. Karena kita bisa mencoba melihat juga ada cukup banyak data bagaimana akses infrastruktur juga menjadi sulit, bagaimana disparitas pendidikannya gitu. Kalau di ASN kan enak gitu ya, bahwa ee apa namanya ee ee level gitu ya, level pendidikannya tinggi begitu. Tetapi ketika kita masuk ke ruang masyarakat ketemulah itu satu-satu masalahnya. ketemulah di mana kita mulai melihat bahwa ee ee ee kenapa harus ada ee perebutan wilayah, kenapa harus ada kenapa ee ee kita masih harus bicara bahwa masih ada ancaman suku, agama dan budaya. Bukankah Tuhan menciptakan kita itu ee ee masuk ke negara yang kita sebut dengan Nusantara dulu dengan ee heterogen gitu, dengan sesuatu yang ee berbeda-beda. Kemudian dengan manusia-manusia yang luar biasa. Namun ee kenapa makin makin ke sini makin ee makin makin sulit ketika kita bicara bahwa ee ee ee kenapa kita enggak bisa menjadi Indonesia begitu. Nilai-nilai mana yang akhirnya menjadi hilang. Jadi kalau ditanyakan bahwa Indonesia Emas 2045 gitu apa yang harus kita siapkan? Saya baca beberapa jurnal bahwa rupanya tantangan di Indonesia Emas 2045 itu justru pada soft skill. Soft skill itu bagaimana kita membangun karakter lagi. Jadi ini kita balik nih ke ee balik ke awal lagi karena kita menganggap bahwa kalau hard skill yang harus dibangun anak-anak kita itu bisa dapat di ruang belajar gitu. Namun ketika kita bicara soft skill maka itu adalah nilai yang kita bangun. bagaimana semua pribadi-pribadi kita ini punya value untuk ee memahami gitu memahami nilai-nilai kita sebagai anak bangsa. Jadi ee ee bagaimana ketika ada polarisasi sosial dan politik enggak bisa lepas gitu karena ada ee teori ekonomi ee politik itu juga mengatakan bahwa bangsa itu hanya bisa besar ee dia akan bergantung pada ee ekonomi dan politiknya. Nah, sekarang ketika kita bicara geopolitik dan geostrateginya, kita bisa lihat bagaimana kemarin kita dapat ee tarif 19 ee% namun sekarang lagi tren gitu. Ketika kita bicara bahwa oh data kita itu sekarang diberikan dan ee sebagainya, bagaimana diskusi-diskusi di ruang publik, bagaimana kepanikan-kepanikan yang sedang terjadi, begitu. Namun kita mencoba melihat bahwa dalam konteks negara begitu, tidak ada satuun negara saat ini yang tidak sedang fokus pada negaranya sendiri gitu. Jadi ee ee kita memang ee ee beruntung sekali karena ketika bicara ee teori ruang hidup ee teori ruang hidup itu dia mengatakan bahwa ee dalam satu negara itu kan harus ada wilayah, harus ada masyarakat, harus ada pemerintah, harus ada ee ada pengakuan dari negara lain. Namun ee ee ruang hidupnya kan ee ee beda-beda nih prinsipnya. Indonesia kita kita memahami bahwa ee kita punya kedaulatan gitu. kita enggak kepengin diganggu. Karena kenapa? Wilayah kita besar sekali gitu. Wilayah kita cukup luas. Jadi makhluk itu ketika ee dia harus berkembang gitu, maka dia kan harus punya wilayah yang lebih luas. Itu kenapa ee ee kita bicara di masa lalu ada program-program ee apa transmigrasi apa dan wilayah kita sangat banyak bahkan dikasih-kasih kali ke orang gitu ya. Jadi ke negara lain gitu. Namun itu kan berbeda sama negara lain. Ruang hidup wilayah mereka kecil. Sementara mereka adalah makhluk yang bertumbuh seperti kita semua. Dan mereka harus tetap ee apa namanya? ee ee mempertahankan negaranya. Dalam konteks itulah kenapa akhirnya ada ekspansi, kenapa ada perang untuk ngambil wilayah orang. karena mereka kehilangan itu ruang hidup itu juga mengatakan bahwa ee ee apa ee mereka harus tetap bertumbuh untuk mempertahankan wilayah mereka. Jadi ee hal-hal ini yang menyebabkan bahwa konflik itu. Jadi untungnya di tempat kita, let's say misalnya kemarin juga ada dinamika bangsa ketika kita melihat bahwa ada ee permasalahan perbatasan misalnya Aceh dan ee Sumatera begitu dan cukup banyak sekali ee problem-problem di perbatasan bagaimana daerah 3T itu infrastrukturnya kemudian bagaimana perbatasan wilayah dengan ee negara tetangga itu itu menjadi hal yang jadi ee PR gitu. Namun ee demikian ee kita mencoba untuk ee ee ee melihat ini ee ee dengan satu hal gitu bahwa keutuhan Indonesia itu harus ada secara individu. Ee ee ee kita kita harus punya value-nya dulu. Karena kalau bicara mengenai ketahanan nasional, maka yang terkecil itu apa? Kita akan bicara ketahanan keluarga. Lebih kecilnya lagi kita akan bicara ketahanan diri. Jadi, bagaimana konsep-konsep ee itu tertanam gitu, nasionalismenya tertanam, value-nya tertanam, bahwa ee kemudian kita punya pendidikan yang baik sehingga bisa melihat segala sesuatu tidak dengan ee parsial gitu. Next. Ee bisa dibantu. Next. Nah, ee oke. Nah, jadi kita bisa ee bisa bisa ee bisa melihat coba saya lihat. Jadi kita bisa melihat bahwa ini tadi bahwa dalam organisasi gitu, dalam organisasi kan selalu ada budaya ketika kita masuk ke ruang-ruang kita sendiri nih. Kita bicara mengenai ruang ASN sekarang ini gitu bahwa ee bagaimana nilai-nilai kebangsaan itu juga mulai hilang nih. Makanya sangat diperlukan sekali pemahaman daripada pimpinan dari organisasi itu untuk ee ee ee mereka membuat satu sistem yang baik gitu sehingga ee apa namanya ee orang-orang di bawahnya itu bisa memahami visi dan misinya. penting sekali ee dalam konteks negara nih kita bisa melihat bahwa asta cita kita kita benar-benar di-sharekan kita benar-benar tersosialisasikan gitu ee asta cita itu supaya apa? Supaya kita semua memahami mau ke mana kita berjalan ya. Jadi setiap setiap kementerian lembaga itu akan tahu bahwa oh tugas saya adalah menyelesaikan Asta Cita ke satu dan du tugas saya 3 dan 4. Dalam konteks yang lebih kecil di tempat kita bekerja ee pimpinan juga harus ee memahami itu bahwa ee visi misi itu harus diketahui hingga ee level-level yang terkecil gitu. Kalau enggak, maka ee akan banyak sekali ee ee hal-hal yang ee terjadi benturan ya, terjadi benturan bahwa ee stafnya enggak paham mengenai apa-apa yang harus dilakukan terus kita mau ke mana. Let's say sampai orang yang terkecil begitu ya. Jadi bagaimana kita melihat ee permasalahan mungkin bukan pada kita yang berada di ee masalahnya beda-beda ya. Kalau kita bicara di daerah 3T atau kita yang berada di ibu kota seperti ini tantangannya tentu ee sangat berbeda di mungkin di daerah perbatasan tantangannya adalah infrastruktur gitu. Namun ketika kita bicara penerapan nilai-nilai kebangsaannya ya ee ee tentu akan ada pelatihan seperti ee yang sekarang kita lakukan ini. Next ya. Ee nah bagaimana apa yang kita harus lak ketika nilai-nilai kebangsaan dalam ee dalam ruang kerja begitu ya. Ee ada integritas, ada etika kerja. Ada hal yang penting sekali yang harus ee dipahami bahwa ee ketika kita bicara etika kerja adalah sesuatu yang kita sepakati ya. Jadi kalau kita bicara overall ee etika itu maka etika kita sebagai bangsa Indonesia the very simple misalnya ketemu sama orang harus senyum, kita harus salaman, dan sebagainya. hal-hal yang ee ee bagi kita itu jadi budaya karena itu dilakukan diberikan contoh oleh orang tua kita. Namun dalam konteks di kantor misalnya ee etika itu harus dipahami satu ee sama lain ya karena ee kita enggak mungkin bisa ee menjadi ee menjadi produktif bisa tahu gitu kalau etikanya enggak pas. Ada loh kantor yang ee ketika kita mau bicara sama pimpinan kita kan biasanya berjenjang gitu. Namun komunikasi yang terjadi searah atau menjadi ee ee hanya searah aja begitu atau dua arah. Rasanya sih sudah enggak enggak apa ya enggak enggak enggak zaman lagi ketika kita bicara komunikasinya searah itu sama dengan dalam konteks ee negara kita sudah enggak bisa lagi ee ee ee melihat ee informasi itu hanya searah karena kenapa? Ruang medsosnya besar sekali gitu. kita bisa berkomunikasi langsung dengan tidak satu ke satu atau ee dua ke satu begitu, tetapi sangat multi gitu, sangat multi sekali. Di mana akhirnya bias-bias informasi itu bisa ee ee bisa menyebabkan ee perpecahan gitu ya, bisa menyebabkan perpecahan yang ee saya kira itu juga bukan hal yang mudah ketika itu terjadi di ee ruang kerja kita. Next. Nah, bagaimana kita mencoba melihat tadi budaya organisasi, siapa-siapa yang akan membuat ee keputusan bagaimana ee ee pola-pola rekruitmen. Saya tahu persis bahwa untuk menjadi ASN itu adalah hal yang sulit sekali untuk bisa tersaring. Tapi ee kita happy ya, kita happy sama proses-proses mekanisme yang ee berjalan. Karena kenapa? Kita memang harus cari orang terbaik. Jadi harus cari orang terbaik karena kenapa? Karena begitu banyak hal yang akan dilakukan ketika kita sudah menjadi ee kita menjadi ee bagian dari negara ini yang akhirnya juga punya tugas yang besar sekali gitu. Maka perlu untuk mencari orang yang baik ee pendidikannya yang baik, kemudian orang yang punya nilai, orang yang memahami wawasan kebangsaan dengan baik. Jadi ee ee tidak sulit untuk melihat segala sesuatu itu secara integral, secara holistik, kemudian menyelesaikan permasalahan secara komprehensif. Sering ya kita ee ketemu nih di ruang sosial bahwa ee atau di organisasi kita misalnya di luar ee organisasi tempat kita main gitu. Kalau orang menyelesaikan permasalahan karena dia hanya melihatnya parsial, satu masalah selesai, satu masalah muncul gitu ya. Jadi ee enggak secara komprehensif untuk mampu menyelesaikan. Oleh sebab itu, bagaimana ASN ini menjadi bagi saya ini menjadi hal yang ee punya peran besar sekali karena orang-orang terpilih gitu ya. Enggak ee orang-orang terpilih yang ee ee apa namanya ee kita ee sudah mampu untuk ee bisa ee ee melihat segala sesuatu begitu di ruang sosial kita dengan baik. Bagaimana tadi dikatakan bahwa ee kolaborasi kita suka bilang bahwa oh ada pentaelix dan sebagainya sekarang sudah masuk Dexa Helix gitu. Bagaimana ee ee apa ee kolaborasi sudah harus dilakukan. Mas Sukman tadi mengulang-ulang cerita bahwa lu kalau jalan sendiri nanti jalannya cuma cepat loh gitu. Tapi kalau mau jalan jauh harus sama-sama. Kita jalannya harus jauh soalnya 2045 sebentar lagi gitu sebentar lagi gitu. Namun ee sudah siapkah kita sudah siapkah kita ke masuk ke Indonesia emas? Apa yang sudah kita lakukan gitu? Seberapa kita mampu untuk mengimplementasikan Indonesia emas itu yang seperti apa? Beberapa ee kita sedang ee apa namanya? Menghadapi tantangan bonus demografi juga. Nah, apa yang harus kita lakukan semuanya? Sesiap apa kita? Bagaimana dengan ee SDM-nya kita? Bagaimana dengan kita sebagai individu? semampu apa kita untuk tetap bisa survive eh pada ee Indonesia e di Indonesia 2045 lagi. Konon kabarnya akan mulainya di ee di tahun 2030, 5 tahun lagi kita sudah akan memasuki ee ee apa namanya ee hal yang ee ee ee di mana ee semua yang kita sebut sekarang generasi Z, milenial gitu itu akan ee ee masuk untuk ee menggantikan ee seperti ee generasi yang kolonial nih. Kalau kolonial seperti saya nih itu sudah sudah mulai tergantikan seberapa siapnya gitu. Saya meyakini bahwa ASN yang masuk-masuk sekarang kan lagi muda-muda semua nih tantangannya akan menjadi e menjadi besar sekali karena cukup banyak negara yang ee apa tidak bisa memanfaatkan bonus demografinya dan mereka jadi colaps. Tapi Korea Selatan adalah contoh satu negara yang dia ee bisa hidup dengan baik gitu ya, bisa hidup dengan ee dia bisa mengembangkan bonus demografi dengan sangat pandai karena mereka masuk lewat mana? Lewat budaya. dan kita lemah dalam budaya. Itulah sebabnya bahwa demam Korea, demam Kphop itu dengan mudah sekali masuk itu bagaimana budaya ee bagaimana kehidupan sosial kita ee benar-benar terporak-porandakan ee ee karena akibat ada media teknologi itu yang saat ini ee ada di kita. Next, bagaimana peran ee ASN dalam mewujudkan persatuan menjadi agen perubahan yang positif? nya gitu loh. Tetapi berguna bagi orang lain itu adalah satu tantangan kita. Berguna bagi lingkungan kita itu adalah tantangan kita. Bagaimana bisa membangun hubungannya yang harmonis di lingkungan kerja dan ee masyarakat gitu. Bagaimana orang bisa ee mendukung ee ee apa ee pembangunan nasional. kita memahami semua konsep asta cita itu dengan baik dan kita bisa masuk yang mana nih dari delapan ini mana nih ee apa ee di kementerian dan lembaga kita kan sudah menentukan nih di mana kita bekerja. Oh, saya harus membangunnya dari sisi hilirisasi misalnya hilirisasi industri hilirisasi harus dilakukan so UMKM harus hidup. Nah, so kita perannya ada di mana? Kita coba untuk ee mengambil peran-peran itu. Next. Bagaimana membuat pembangunan nasional yang merata? infrastruktur menjadi satu tantangan ya, bagaimana pembangunan antar daerah, bagaimana ee program desa mandiri, dana desanya sudah cukup besar sekali. Bagaimana pengentasan kemiskinan masih ada. Ketika bicara mengenai kemiskinan, maka kita akan bicara juga mengenai pendidikan. itu adalah hal yang ee ee terkait ee satu sama lain. Ee sementara ASN adalah ee apa namanya ee ee orang-orang terpilih dengan pendidikan yang ee ee sudah tinggi yang harus diminta untuk menyelesaikan permasalahan ini di daerah terpencil itu cukup ee ee apa ya cukup berat ya, cukup untuk jadi ee jadi tantangan ya. Apalagi infrastruktur cukup banyak sekali kasus-kasus ada guru honorernya yang belum terbayar misalnya kemudian ada infrastruktur sekolah yang belum belum jadi. Ini akan menjadi tantangan sih sebenarnya ee buat kita. Next. Integritas. Integritas. Kita akan susah untuk berbicara mengenai integritas gitu. Jika kita memang enggak punya sumpahnya. jika kita enggak punya hal yang apa yang kita ee sepakati kita masuk menjadi ASN, kita sudah tahu bahwa ada hal panc ee yang yang apa namanya ee yang harus ditaati oleh ee ee ASN. bagaimana ee ee kita mencoba untuk melihat ketika ada kontestasi pemilu misalnya ada kontestasi politik, keluarga kita teribas semua satu ke A, satu ke B, media main ke A ke B dan kemudian lingkungan kita. Kemudian kita jadi enggak nyaman untuk diskusi ya karena ee mesti ramai aja diskusinya antar teman juga ramai sekali, Dok. ee ee ee sementara di satu sisi bahwa ee ada integritas yang harus dijaga oleh ASN bahwa you no kita tetap harus netral. Bahwa jika ada keributan antar sesama kita sendiri, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana? Bagaimana kita mencoba untuk mendiskusikan itu bahwa ee kalau bukan kita siapa lagi? Itu hal yang paling penting gitu ya. Jadi ee ee ketika ada kasus-kasus ada ee ASN yang mungkin terkena korupsi kemudian kolusi, bagaimana sistemnya harus dibangun? Kalau sistemnya enggak dibangun dengan baik, maka kita akan susah bicara mengenai keadilan. Bagaimana keadil, bagaimana persatuan sama kesatuan bisa didapatkan dengan baik jika keadilannya belum. Makanya ee bagaimana integritas itu menjadi hal yang paling utama ketika kita mau bicara mengenai keadilan. Karena ujung-ujungnya di persatuan dan kesatuan kalau ada yang merasa bahwa hidup ini enggak adil, ee pimpinan saya tidak adil, kemudian dia hopeless, kemudian dia enggak kepengin lagi untuk ee kerja secara ee ee profesional, kemudian malas-malasan kerja, imbasnya ke mana-mana. Makanya ada yang bilang, "Wah, kita sih enggak perlu kerja keras gitu, enggak perlu ee ee kerja capek-capek soalnya." Kenapa? Soalnya yang enggak kerja juga tetap dapat jabatan. Nah, that's problem. Ya, itu akan menjadi satu hal, satu titik yang akan besar dan akan ee menjadi masalah di ruang ee kerja kita, gitu. Terust, bagaimana kita mendapatkan public trust, kepercayaan publik. eh eh penting sekali untuk melakukan eh branding. Tadi saya lihat di depan ada banyak eh branding BPSDM. Luar biasa sekali. Kantor-kantor kita juga lakukan itu supaya apa? Makanya kita selalu bicara bagaimana kita bisa punya e public trust kalau kita enggak accountable. Bagaimana kalau kita enggak punya keterbukaan kepada publik, bagaimana bisa ee kita dapat kepercayaan dari publik kalau kita enggak libatkan publik untuk berpartisipasi. Jadi partisipasi publik menjadi penting. Persoalannya di mana partisipasi publik itu sekarang? Kenapa jadi kurang? Karena banyak hal yang menempatkan publik itu hanya sebagai pendengar atau publik itu hanya sebagai penonton, bukan pengambil keputusan. Padahal kita sudah sepakati bahwa kita adalah negara demokrasi. Orang boleh berbicara dari publik untuk publik, begitu ya. Jadi ada juga memang PR gitu ee bagaimana kita mencoba ee untuk melibatkan publik ee lebih terbuka ee ada partisipasi publik dalam ruang kerja kita begitu. mungkin bisa dibuka untuk diskusi publiknya atau mungkin dibuka ee ruang-ruang publik sehingga ee apa namanya benar-benar dapat public trust sehingga ee kita bisa membuktikan ee bagaimana integritas kita sebagai abdi negara gitu. Bahwa ini hal yang sudah kita lakukan ee ini hal yang belum kita lakukan. Hal yang sulit untuk kita lakukan yuk kita lakukan sama-sama dengan ee publik. Yuk, Anda berpartisipasi untuk lakukan. Yuk, Anda cukup tertib di jalan saja itu sudah sudah partisipasi mungkin bagi kita gitu ya. Anda membuang sampah di tempat yang baik itu mungkin ee ee sudah termasuk bahwa Anda cukup punya ee partisipasi. Tetapi kalau Anda ingin masuk dalam ruang yang lebih dalam untuk pengambilan keputusan juga saya rasa tidak ada salahnya juga begitu. Karena ee ujung-ujungnya kan semua pelayanan kita kan untuk ee mereka juga gitu ya. Jadi ee ini ada hal yang bisa kita ee ee lihat. Next. Nah, bagaimana digitalisasi? Ya, kita bisa melihat tadi dari awal saya bicaranya digitalisasi gitu. Bagaimana teknologi informasi itu harus mempermudah pelayanan publiknya. Namun ada sistem gitu ya. Ee kalau dulu sistemnya sangat birokrasi ya, sangat birokrasi sekali. Kemudian ee kita menjadi lama banget satu satu paper di di meja pimpinan satu, pimpinan dua leveling-nya ee terlalu panjang begitu. Namun ee ketika kita mencoba ini adalah efek positifnya sebenarnya dari digitalisasi. Tadi di awal saya menceritakan bagaimana ee digitalisasi itu juga bisa memporak-porandakan, tetapi bagaimana digitalisasi itu membangun sistem di kita sehingga lebih aware kita bisa satu sama lain gitu ya. Ee namun demikian kadang-kadang suka masih ada yang lambat nih gitu. Ee itu balik lagi ke SDM. Jadi ada habit yang yang memang kita harus rubah di internal ee ee ee sehingga ee apa namanya ee keakuratan data itu bisa bisa lebih cepat gitu. Kadang-kadang nih kalau kita iseng nih kita coba lihat website kadang-kadang masih ada nih informasi yang sudah lama sekali masih ada masih tayang. Kadang-kadang pejabatnya belum ganti dan ee dan sebagainya. Jadi ee penting sekali ee bahwa kita mencoba melihat bagaimana teknologi ini bisa membuat kita mendapatkan ee public trust gitu. Nah, bicara mengenai persatuannya ee tentu saja ee kita akan membuat persatuan itu tidak hanya sebatas antar ASN-nya aja, namun persatuan itu kita bisa dapat dari publik juga gitu. Ketika publ trustnya tinggi, maka secara emosional, secara pride gitu, kita akan serta-ma untuk bisa punya persatuan dan kesatuan yang ee cukup kuat karena akan lebar ya gitu. Jadi bukan hanya sebatas ASN-nya saja, namun ada terustas publik yang mendukung kita untuk melakukan hal-hal baik gitu. bagaimana di ee tuntutan tuntutan untuk ASN untuk ee ee ee harus mempercepat ya integrasinya sehingga ee publik itu ee percaya bahwa kalau saya punya masalah akan lebih cepat untuk ee diselesaikan. Nah, kita mungkin bisa ee bisa next lagi. Jadi, bahwa bagaimana ee ee ASN e membangun identitas gitu. kita melihat bahwa konsensus ee ada empat ee empat konsensus dasar. Kita habis bicara nih mengenai persatuan, nilai-nilai Pancasilanya mulai hilang apa enggak gitu. bagaimana kita mencoba untuk sebenarnya bukan soal ee ee Pancasilanya, tapi implementasinya yang akan menjadi ee ee tantangan sekarang ini. Jadi, bagaimana kita dituntut untuk mencoba karena ee kelihatan bahwa problemnya sekarang adalah di sosial budaya, maka masing-masing dari kementerian lembaga mencoba untuk ee apa namanya ee punya kreativitas sendiri ee yang akhirnya untuk meningkatkan bagaimana rasa sosial dan budaya kita itu menjadi tinggi. saya melihat bahwa sudah ada sudah ada hari kebaya misalnya atau misalnya di beberapa kantor di setiap hari Senin misalnya akan pakai kebaya. Bagaimana hal-hal kecil itu kita mencoba untuk mencoba ee melakukan itu sehingga ee kita masih punya hal yang sama untuk mengingat bahwa kita masih punya budaya loh gitu ya. Next satu slide lagi ya Mas Lukman ya. bagaimana ee kita mencoba menjaga kebinekaan, agen toleransi dan inklusivitas. Itu tadi kita sebenarnya sudah bahas dari awal bahwa toleransinya mesti tinggi. Tapi toleransi itu enggak akan bisa didapat ketika kita enggak tahu kita mau ke mana. Akan banyak sekali miskomunikasinya dalam ruang kerja kita ketika kita tidak memahami porsi kita ee masing-masing ya. Jadi ee banyak sekali pelatihan-pelatihan ya ee yang sudah dilakukan sebenarnya oleh PNS. Tinggal kita mencoba untuk membuat implementasinya ee masing-masing. Bagaimanapun ASN karena banyak sekali bagaimana bisa untuk ee kita menempatkan diri kita menjadi bridging ya antar kelompok masyarakat. Mohon diingat bahwa di kelompok masyarakat ada perpecahan, ada komunitas-komunitas yang banyak sekali sekarang ini menjadi tantangan buat kita. Nah, tuntutannya jadi bridik. Tapi itu enggak bisa selesai ketika kita sendiri ee enggak punya integritasnya. Kita sendiri tidak belum memahami bahwa konteksnya ini adalah ee begitu besarnya peran ASN. Saya berdaya guna, saya punya value sehingga saya bisa melakukan e sesuatu untuk bangsa. Ada hal yang penting sekali bahwa kita punya panca prasetia corporate ini ini bukti sebenarnya bahwa ada integritas yang kita perlu implementasikan dalam setiap dinamika kehidupan bangsa. Saya kira ee itu yang saya bisa waktunya kayaknya sudah lewat 2 menit ng Pak Lukman. [Musik] Ya, terima kasih untuk materinya Bu Tantri. Sebelum kita masuk ke sesi tanya jawab, barangkali dari Sobat ASN ada yang ingin bertanya kepada Bu Tantri bisa langsung aja mengaktifkan feature rise hand atau menggunakan kolom chat Zoom ataupun bagi sobat Esen yang tengah bergabung melalui live YouTube kami di BPSDMTIM TV bisa drop question Anda di kolom komentar YouTube. Nah, sebelum kita masuk ke sesi tanya jawab, saya mau coba ringkas terlebih dahulu apa saja sih inset yang tadi sudah kita dapatkan dari pemaparan Bu Tantri. Yang pertama kita harus aware dulu ya kalau Indonesia itu adalah bangsa yang heterogen. Kita terdiri dari ras, suku, bangsa, budayanya beragam. Jadi itu harus diterima dulu. Itu mindset yang pertama ya. Jadi enggak akan ada yang namanya similarity antara satu personal dengan personal lain. Yang kedua, ya kita lagi masuk ke era disrupsi teknologi di mana batas-batas ee dunia itu semakin kabur, semakin tidak jelas. sehingga setiap orang itu bebas untuk beropini masing-masing. Ya, kita kenal tadi ada media sosial yang membuat semua seseorang itu bisa berbagi pandangan, berbagi opini. Pada akhirnya kita juga harus hati-hati nih untuk berkomentar gitu ya. Jangan sampai komentar yang kita berikan itu menyinggung pihak lain sehingga persatuan dan kesatuan ini tidak bisa kita wujudkan. seperti itu. Dan yang terpenting adalah tadi tantangan di Indonesia Emas 2045 ternyata bukan terkait hard skill tapi soft skill. Lebih kerucutnya lagi adalah karakternya gitu ya. Tadi bagaimana peran ASN ini bisa mendukung untuk membangun hubungan yang harmonis ya di lingkungan kerja maupun di lingkungan bermasyarakat dan juga bagaimana cara kita bisa menjaga integritas. Satu pertanyaan sebelum saya lempar ke sobat ASN. Bu Tantri, kalau di unit Ibu sendiri gitu ya, contoh praktik nyata apa saja yang sudah Ibu lakukan untuk membangun hubungan yang harmonis dan menciptakan integritas di lingkungan rekan kerja antar rekan kerja maupun antar rekan kerja dengan pimpinan. Bagaimana Bu Tantri? Iya, Mas. Ee Mas Lukman. Jadi hal-hal yang sebenarnya hal-halnya sebenarnya ee sederhana ya dan itu sebenarnya ee dilakukan sih sebenarnya sama semua kantor gitu ya. Jadi kalau di lingkungan kerja itu kan satu, kita memahami dulu yang tadi saya ceritakan tugasnya kita apa, visinya ke mana, kemudian harus dilakukan apa. Ee tentu ee ee bagai ee ee bagaimana orang mencoba untuk day by day gitu ya. Day by day itu untuk ee ee bagaimana kita mencoba untuk ee melibatkan publik. Misalnya kita akan ee ee ee buat misalnya let's say kita bisa bikin event-nya. kita mau bikin event, apakah itu event-nya on air, apakah eventnya itu off air, kemudian bagaimana kalau di Lemana sendiri, bagaimana ee ee kita membuat ee ada kelas-kelas ya, ada kelas-kelas, ada kelas-kelas kecil, ada kelas-kelas kecil yang ee hanya 1 minggu gitu, 1 minggu. ee kemudian kita akan bicara mengenai diskusi kebangsaan itu melibatkan ee ee masyarakat ya dari satu kelas itu misalnya 100 orang dan itu yang ee kita lakukan untuk ee bisa ee ee memahami gitu memahami bersama-sama kita lakukan. Nah, dari situ tuh bisa tumbuh jadi banyak tuh. Heeh. dari dari kelas yang 100 orang bisa dibayangkan. Kemudian kita akan berkembang lagi, masyarakatnya makin banyak, makin banyak. Kemudian kita jadi sampailah kita pada BPSDN ini. Siap. Awalnya kan dari situ semuanya ya. Terima kasih Bu Tantri. Berarti memang dari awalnya adalah membuka ruang diskusinya dulu ya untuk tahu sebenarnya inputan apa aja yang ada di masyarakat baru kita bisa realisasikan solusi yang tepat untuk mereka. Baik terima kasih Bu Tantri untuk jawabannya. kita ada satu penanya yang sudah masuk bersama dengan kami. Saya langsung saja undang. Selamat pagi, Ibu. Silakan bisa langsung aja open mic dikenalkan nama unit kerja dan langsung saja disampaikan pertanyaannya. Silakan. Baik, terima kasih Mas kesempatannya. Suara saya masuk ya? Sudah masuk, Ibu. Silakan. Oh, iya. Oke, mohon izin ee Bu Tantri terima kasih pemaparannya. sungguh mencerahkan dan sangat menarik sekali ya topik bahasan kita pada hari ini. Ee ada tiga poin Bu sebenarnya yang cukup menarik buat saya dari materi yang sudah Ibu sampaikan. Yang pertama adalah Oh, mohon maaf sebelumnya saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Eki Bu. Saya dari UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan. Nah, ee yang pertama Bu mohon izin terkait pepatah. Jika ingin berjalan cepat maka kita bisa jalan sendiri. Tapi jika kita ingin berjalan lama alangkah baiknya jika kita jalan bersama-sama. Nah, Bu ee jika nih yang terjadi satu case yang kita ajak jalan ini enggak gerak-gerak, kita harus tunggu sampai kapan ya, Bu, untuk orang itu bergerak dan berjalan bersama kita? Karena bisa jadi ternyata yang kita ajak itu belum siap atau belum sefrekuensi dengan kita. Kemudian jika worst case lagi kita terpaksa untuk jalan dulu sendiri ee mungkin sebagai pemantik atau contoh ee tapi ternyata enggak ada yang ngikutin kita. Berarti kan kita zong ya nanti takutnya apakah kita harus berhenti. Kemudian ee poin yang kedua ada yang menarik saya terkait ee orang yang hopeless ya anggota tim yang misalnya itu hopeless dan sudah sulit ditolong gitu Bu misalnya jika kita biarkan mungkin itu bisa menghambat tim yang lain yang sudah solid. Tapi kalau misalnya kita turutin takutnya ngelunjak tapi kalau mau kita tinggalin kasihan. Nah, jadi kita harus bagaimana Bu untuk menyikapi case ini. Kemudian yang ketiga itu juga menarik Bu terkait ee menyambut Indonesia 2045 ee terkait generasi muda itu kan kita harus ee kembangkan soft skill-soft skill dan isu ini bukan isu yang terbit 1 2 tahun belakangan, tapi juga sudah lama dari saya sekolah juga sudah ada. Nah, kalau memang hard skill itu sudah diajarkan dalam rana pendidikan atau sekolah, kemudian soft skill ini kan apakah juga menjadi tanggung jawab pendidik atau ee berangkat dari keluarga atau bagaimana ya, Bu? Karena kalau misalnya hard skill itu kan mungkin ada kurikulumnya, tapi kalau misalnya soft skill itu kan aspeknya cukup banyak. Tapi siapa yang paling bertanggung jawab? Oke, terima kasih Bu Tantri. Bu Eki, Bu Tantri sebelum dijawab saya coba ringkas ya tadi pertanyaannya apa saja. Yang pertama adalah kalau misalnya yang kita ajak jalan bareng-bareng itu enggak mau gerak ya kita harus ngapain, Bu? Yang kedua, kalau misalnya kita sudah memilih untuk jalan sendiri tapi ternyata enggak ada yang ngikutin, itu gimana? Kemudian selanjutnya kalau misalnya ada tim yang enggak bisa perform itu apa yang harus kita lakukan gitu ya. Dan yang terakhir adalah terkait dengan soft skill seperti itu. Soft skill itu merupakan tanggung jawabnya siapa gitu ya. Silakan Bu Tantri. Baik, terima kasih Mbak Eki. Ini ini pertanyaan kas anu nih kas milenial nih. Ee ee apa namanya? Jadi ada ee di di kayak saya dari komunikasi. di komunikasi kita mengenal ya kalau tadi kan pertanyaannya kalau dia ada orang yang enggak mau disuruh enggak mau bergerak kemudian ada orang yang kita mau kita mau jalan dulu ee gimana nanti kemudian ada tim yang hopeless asep personal gitu ya asep personal kita mengenal yang namanya konsep diri ya konsep diri jadi kita akan bisa melihat tapi konsep diri ini ee sangat sangat sangat sangat e berkaitan sekali dengan ee di mana lingkungan dia dibesarkan, bagaimana mereka melihat jadi ee selalu ada ee background dari setiap orang gitu, Mbak Iki. Jadi, bagaimana mereka di mana dia dibesarkan? Bagaimana kehidupan keluarganya, apakah dia dibesarkan dari keluarga yang harmonis atau tidak. Maka di ruang sosial kita akan sering ketemu manusia-manusia yang seperti ini, Mbak Iki. Karena dia akan selalu bilang bahwa saya enggak sanggup, saya enggak cantik, saya enggak bisa bikin apa-apa, saya miskin, saya tidak berdaya guna, dan semua hal-hal negatif itu konsep diri pada orang gitu ya. Pada orang memang itu akan ee larinya pada psikologi ee ee sangat sangat psikis sekali. Namun ketika dia masuk dalam ruang sosial enggak ada hal yang kita bisa bikin bahwa kalau dia enggak mau bergerak maka kita yang bergerak gitu ya. Maka kita akan terus bergerak karena kita tidak akan bisa ee ee apa namanya? kita ini tidak mau untuk ee stay gitu. Bukan ini Mbak Iki karena kita punya termasuk orang-orang yang optimis gitu ya. Orang-orang yang optimis. Nah, sementara orang-orang yang pesimis ini yang dibutuhkan apa? Dia akan butuh contoh dan dia akan kepengin lihat hasilnya seperti apa. Baru ngikut tuh sebagai leader gitu. Sebagai leader kita ee kalau misalnya mereka enggak e mereka enggak mau jalan gitu nanti takutnya song nanti ah tiba-tiba enggak ada yang mau ngikutin nanti gua enggak ada yang bantuin gitu. Rasanya tidak bahwa sebagai leader Anda harus tetap melangkah. Enggak ada hal untuk kita enggak berjalan. Enggak ada hal yang untuk kita yang kita sudah punya konsep diri yang baik sebagai personal gitu ya. Personality-nya udah bagus nih gitu kita. Kemudian kita akan dengan orang yang konsep dirinya rendah gitu. Ee yang ada adalah mereka sebenarnya butuh bantuan untuk ditarik. Jika Anda seorang pemimpin, maka memang tugasnya adalah menarik. Menarik mereka untuk melihat bahwa jika Anda mau ikut sama saya, maka kita akan sukses. Namun itu semua enggak bisa berjalan kalau kita enggak punya integritas. Itu tadi yang kita bilang. Jadi kalau orang lakukan personal branding ini enggak bisa dapat branding kalau Anda enggak lakukan itu secara terus-menerus sehingga orang bisa percaya. Ngapain ngikutin orang yang enggak bisa dipercaya? Tadinya kita kita bagian dari mereka nih, terus tiba-tiba kita pengin berubah terus kita narik, enggak mungkin bisa karena mereka akan melihat bahwa Anda adalah bagian dari saya, jadi butuh waktu gitu. Makanya kenapa ee setiap orang harus melakukan hal-hal positif yang baik setiap hari supaya orang dia dapat rustnya. Ketika dapat rasnya, dia berjalan, dia enggak mungkin jalan sendiri. Mungkin itu ee ee bisa menjawab yang pertanyaan tadi saya rangkum ya, yang jalan dulu, hopel plus. Saya mencatat juga nih konsep diri gitu. itu ee sangat personal sekali ya, personal sangat personal sekali ee konsepnya. Tapi jika kita bicara Indonesia Emas 2045, soft skill-nya yang mana yang harus mau ee ee ee dibangun dari mana gitu. Bagaimana kita mencoba bahwa lingkungan terkecil keluarga akan punya peran. Jadi ini terkait sama pertanyaan Mbak Eki nomor satu tadi. Bagaimana dia bisa bangun soft skill-nya? Kalau lingkungan keluarganya aja enggak mendukung, lingkungan sosialnya juga tidak, maka dia akan susah untuk ee ee let's say dia akan punya cara berpikirnya, mindsetnya ya, pendidikannya dari mana itu ee ee sangat di sangat berpengaruh dari mana dia dibesarkan, siapa keluarganya, bagaimana background-nya, apa-apa yang sudah ee ee apa namanya ee terframingkan dalam pikirannya. Jadi, soft skill itu ee kita ingin membangun itu semua, tetapi ee negara menyiapkan kan negara punya tanggung jawab juga untuk menyiapkan apa ya pendidikannya harus bagus dulu ya, infrastrukturnya harus dimainkan ya literasi digitalnya harus dapat supaya ee hard skill itu kan di awal supaya soft skill itu bisa dapat gitu. bagaimana bagaimana ee ee ee nilai-nilai itu nilai-nilai nilai-nilai kebangsaan ya. Jadi ketika kita bicara mengenai ee kabur aja dulu gitu gitu kan. Itu kan nilai itu kan nilai ee ee bagaimana kita melihat ee negara kita ini sehingga kok bisa kita harus bilang kabur aja dulu sebegitu kecewanya kah? Itu kan nilai. itu yang kita sedang bangun bahwa yuk kita sepakati kita berada di Indonesia ee sudah terlalu banyak kesulitan yang kita lewati dan kita tetap berdiri tegak dan kita masih masih apa namanya masih melihat bendera merah putih dan ee kita harus membangun itu. Jadi perasaan itu terus terus ada. Semoga bisa menjawab Mbak Eki. Terima kasih Bu Eki untuk pertanyaannya. Kita akan masuk ke penanya selanjutnya. Saya akan persilakan untuk penanya selanjutnya bisa open mic juga. Jangan lupa untuk disampaikan nama asal unit kerjanya dan disampaikan pertanyaannya. Jadi memang penting sekali ya tadi kita harus mengenal konsep diri terlebih dahulu. Tiap personal itu berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Kalau memang orangnya memang enggak mau diajak jalan, ya udah gitu ya. Tapi ada tadi konsep ee bagaimana kita bisa memperkuat influence kita melalui personal branding. Value-value yang baik itu harus kita tonjolkan secara konsisten. Nanti lama-kelamaan influence baik itu akan mempengaruhi orang tersebut. Seperti itu. Oke, kali ini sudah ada penanya satu lagi yang sudah bergabung dengan kami. Kita akan ee sapa beliau terlebih dahulu. Selamat pagi, Ibu. Pagi, Kakak. Siap, Ibu. Silakan disampaikan nama asal unit kerja dan langsung saja disampaikan pertanyaannya. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Mohon izin Ibu Tantri. Tepangaken saya Nenik Mardi dari Lapesda kelas B Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro. Ibu Bojonegoro. Oke. Inih ee Ibu dari materi yang Ibu paparkan sangat-sangat menggugah kami dan terinspirasi. Salah satunya itu sudah berusaha kami terapkan, Ibu, di organisasi kami, di ee tempat kerja kami. Namun, saya belum bisa melakukan monitoring evaluasi karena saya tidak tahu nih, Bu, yang saya lakukan ini sudah benar atau belum. cara mengevaluasinya bagaimana? Yaitu untuk penerapan nilai kebangsaan Ibu dalam praktik manajemen di sebuah organisasi seorang pimpinan itu atau ee leader mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, produktif, dan beretika. Nah, ini Bu saya yang pengin terinci itu trik-triknya atau kiat-kiat apa ya Bu yang harus saya tata saya lakukan untuk berkelanjutan sehingga kami itu bisa melakukan kegiatan ini. Kemudian saya monitoring, evaluasi, kemudian saya lakukan tindakan perbaikan yang ee perlu dilakukan, kemudian bisa berkelanjutan gitu, Ibu. Sehingga kami bisa betul-betul mendapatkan atau menciptakan lingkungan kerja yang tadi, Bu, harmonis, produktif, beretika. Nah, untuk saat ini dengan all staff yang dilatar belakangi budaya pendidikan karakter yang beda-beda. Namun kami itu harus bisa merangkum semuanya agar bersinergi gitu, Ibu. Terima kasih Ibu atas waktunya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bu Tantri, berarti ada dua pertanyaan ya, Bu ya. Tadi yang pertama adalah cara mengevaluasi. Mungkin kalau misalnya kita bicara masalah konsep service kan evaluasinya customer satisfaction gitu ya. Tapi kalau tadi tiga komponen itu harmonis, etika, produktif, itu indikator evaluasinya apa? Dan yang terakhir bagaimana cara kita bisa membuat budaya ini terus sustain? Silakan Bu Tantri. Iya. Eh, Mas, maaf tadi dengan Ibu siapa ya? Saya tadi belum catat. Ibu Ibu Neni. Oh, Ibu Neni. I silakan Bu Tante. Baik. Baik. Terima kasih, Ibu Neni. Eh, Mas Lukman. Jadi, eh ketika kita bicara mengenai customer satisfaction, bagaimana kepuasan ee apa kepuasan pelanggan sebenarnya itu customer satisfaction gitu ya. ini ee namun eh perkembangannya sekarang ini menjawab juga pertanyaan dari Ibu Ibu Neni bahwa ketika dulu hanya hanya kepuasan pelanggan kita bicara satisfaction, namun sekarang kita sudah bicaranya sudah customer owner, sudah ownership gitu ya bicaranya sudah intimation. Jadi sudah di atasnya lebih dalam lagi, lebih indep lagi bahwa ee semua staf, semua dari kita ketika kita bekerja di satu perusahaan atau di mana pun kita berada, maka ee yang harus dibangun itu adalah bukan ee bukan bukan bukan bukan kenyamanannya lagi, tetapi bagaimana membuat semua staf kita itu merasa bahwa kita adalah pemiliknya gitu. Kita yang punya ini perusahaan gitu. Nah, itu kan tadi yang Ibu NI tanyakan bagaimana bisa bisa melakukan itu semua sehingga ee semua orang merasa dan ikut ee ikut ee mengambil peran sehingga tujuan tercapai gitu ya. Jadi, bagaimana untuk melakukan ee ee monitoringnya, bagaimana melakukan semuanya. Satu hal memang yang paling penting adalah good will. Good pimpinan menjadi penting sekali gitu. Goodwill pimpinan kan ee persoalan kan ada karakter pimpinan yang berbeda-beda nih, gitu ya. Tetapi bagaimana goodwill pimpinan itu akan mempengaruhi ee ee ee ee apa namanya ee dinamika yang ada dalam perusahaan begitu ya. Jadi kalau kadang-kadang kalau pimpinannya enggak mood terus marah sama semua orang tiba-tiba tiba-tiba satu kantor jadi jadi bettek semua tuh pada hilang semua nih janganjangan bosnya lagi marah nih bosnya lagi marah nih gitu ya. Jadi ee bagaimana ee ee ee ee kesepakatan itu dilakukan jika kita bicara mengenai etika ee ee saya menyebutnya bukan etika eh Ibu Neni, saya menyebutnya itu etiket gitu. Jadi etiket itu adalah ee ee mengapa saya sebut etika? Etika itu adalah semua yang berlaku secara umum ya. Bahwa kita harus punya sopan santun sama pimpinan, bagaimana relasi kita sama lingkungan dan sebagainya. Namun dalam satu perusahaan kita, dalam suatu bidang kita ee atau departemennya kita ketika kita punya aturan main sendiri itu kita sebut dengan etiket yang kita sepakati. Kita sepakati. Jadi, Bos kalau anu mungkin bisa dikomunikasikan, "Bos, nanti setiap ee ee kita enggak boleh setiap Senin kita harus ee ee ee apa namanya? Punya yel-yel misalnya seperti itu. Itu etiket. Jadi ee kemudian cara berkomunikasi oke bahwa ee ee di ruah ee di di departemen kita enggak boleh panggil ibu ya, harusnya manggil kakak ya gitu. Itu etiket. Kemudian enggak boleh jadi aturan-aturan yang kita buat yang hanya berlaku ee apa namanya di ruangan kita nih di di lingkungan kecil, ccle kecil kita itu akan menumbuhkan satu semangat kesatuan yang baik gitu ya, emosional yang sama gitu. Karena tapi begitu kita keluar nih, kita harus bersosialisasi dengan departemen lain atau dengan kantor lain, tentu kita akan berlaku etika yang berlaku secara ee umum begitu ya. Namun membangun membangun ee ee keselarasan itu bisa dibangun dengan etiket-etik yang kita sepakati. Namun ee ee memang sekarang ini ee komunikasi ee ee ee mungkin saya mau bilang bahwa saya juga enggak mau nyalahin teknologi juga gitu ya, Bu. Tapi kita bisa melihat bahwa komunikasi ee kita jadi punya emosional yang sangat berkurang satu sama lain karena semuanya bisa dilaporkan via WA yang rentan sama Misscom ya, rentan sama miskomunikasi banget gitu. Indonesia ini kan kita punya banyak diksi yang bisa bisa salah. Nah, etiket-etik itulah, Bu, kita mengaturnya bahwa oke ada hal yang mungkin kita bisa lakukan evaluasi bahwa kenapa kita jadi ee enggak bisa ee ee berkomunikasi satu sama lain karena kita memang enggak punya tempatnya. Kita memang enggak pernah menyempatkan diri untuk berbicara. Ee pimpinan itu tadi, tapi harus ada goodwill pimpinannya dulu untuk terbuka gitu. terbuka kemudian memandang bahwa ini adalah satu tim di mana komunikasi itu harus berjalan timbal balik, di mana harus ada kesetaraan, di mana harus ada keterbukaan, gitu. Nah, ee ini perlu sekali untuk dipahami oleh pengambil kebijakannya gitu. Nah, untuk melakukan monitoring evaluasinya akan menjadi lebih mudah. Let say kita bikin lebih simpel. kita enggak perlu pakai Google Form aja gitu, tetapi bahwa ee setiap bulan monly gitu kita bisa melihat bahwa oke per 2 bulan kita akan mencoba melihat ya you enggak nyamannya seperti apa ee ee kemudian ee bosnya bisa pimpinannya bisa membuka diri untuk melihat gitu ya. Ini kan monitoring evaluasinya internal ya internal ya. Tapi kalau kita bicara mengenai eksternal kan tentu banyak hal ya kita bisa bikin survei dan sebagainya gitu. Namun kalau kalau monitoringnya internal itu akan terlihat daripada ee apa namanya? penghasilan ya. Kalau misalnya ini ini misalnya ada PNBP misalnya yang harus di di ini ee harus kita kejar sebagai target, maka semua orang akan lebih bersemangat effortnya masing-masing gitu. Semua orang akan tahu bahwa saya berdaya guna, saya punya nilai, saya punya peran, tapi kan itu penting sekali dari pimpinan. Begitu ee Ibu Neni yang bisa saya jawab. Terima kasih Bu Tantri untuk jawabannya Bu Neni semoga menjawab ya. Terima kasih Bu Neni. Salam sehat selalu Bu ya Bu Tantri. Sepertinya masih banyak lagi pertanyaan yang menganggur nih di kolom chat YouTube dan juga kolom chat Zoom. Tapi waktu sesi kita terbatas. Sebelum ditutup barangkali dari Bu Tantri ada closing statement yang ingin disampaikan kepada seluruh sobat ASN. Silakan Bu Tatri. Iya. Baik. Ee untuk kawan-kawan ASN semuanya ee apa namanya? Ee kita harus memahami bahwa ee peran kita itu besar sekali untuk negara ini. Jangan berhenti kemudian jangan ee jangan pernah mau jalan sendiri supaya kita lompatannya lebih jauh. Karena paling mudah adalah kita bergandengan tangan sesutama ASN-nya. Kemudian kita lebih punya banyak komunikasi dan kolaborasi dengan pihak lain, maka enggak ada hal yangak enggak bisa kita capai, enggak ada target yang enggak mungkin kita enggak dapetin. Pasti akan ada semuanya ketika ee kita mampu untuk melihat ee ee bahwa ee kita punya nilai ee ee kita punya peran ee dalam ee apa namanya dalam ee ee perjalanan ee bangsa Indonesia ini. Jadi, Indonesia Emas pas pasti kita akan bisa ee dapatkan di 2045. Itu aja. Terima kasih. Sukses untuk semuanya kawan-kawan semua di seluruh Indonesia. Terima kasih Bu Tantri sudah berkenan untuk memberikan materi di webinar seri 29 kali ini. Salam sehat selalu untuk Bu Tantri. Kita ketemu lagi di event-event selanjutnya. Thank you Bu Tantri. Izin pamit. Iya. Monggo, Ibu. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik Sobat SN sebelum kita lanjut ke materi sesi du ya terlebih dahulu kami juga ingin mengingatkan bagi Sobat Esen jangan lupa untuk mengisi presensi via semesta Bangkom dan kita akan kembali ke materi selanjutnya setelah jedap pandiwara berikut ini. Yes. [Musik] Ya, Anda kembali lagi menyaksi ikan webinar ASN belajar seri 29 ASN Bersatu Indonesia Maju. Kali ini kita akan masuk ke materi yang kedua terkait dengan membangun budaya kerja kolaboratif dan inklusif perspektif psikologi SN. Materi kali ini akan disampaikan secara langsung oleh Ibu Hani Wayuni Sugiharto, LGK, S.PSI. M. Beliau selaku dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. [Musik] Ya, saya akan sapa beliau terlebih dahulu. Selamat siang, Bu Hani. Selamat siang, Mas Lukman. Kabar baik, Bu Hani. Puji Tuhan, sehat. Baik, alhamdulillah. Bu Hani tadi sempat disampaikan sedikit sneak peck dari Bu Tantri, ya. Tadi sempat dibahas terkait dengan etiket ya. Sebetulnya kan ketika etiket ini dibentuk lewat peraturan-peraturan internal misalnya sesimpel memanggil atasan atau rekan kerja dengan kata-kata Kak ketimbang Pak atau Bu, itu kan sebenarnya salah satu cara untuk kita bisa membentuk lingkungan kerja yang inklusif gitu ya. Nah, kali ini kita mau mendengarkan perspektif lain dari psikologi gitu ya. Sebenarnya bagaimana sih cara kita bisa membangun budaya kerja kolaboratif dan inklusif seperti itu. Ee untuk Bu Hani sendiri nanti materinya kurang lebih disampaikan selama 30 menit. Nanti kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Silakan Bu Hani. Terima kasih Mas Lukman. Baik ee saya menyapa dulu kepada rekan-rekan semuanya. Selamat pagi Bapak, Ibu, dan rekan-rekan semua. Salam kenal dan salam dari Jogja. Saat ini saya sedang mengikuti studi lanjut di Universitas Gadjah Mada. Sehingga saya sebagai arek Suraboyo, warga asli Surabaya, asli dari Jawa Timur merasa bangga hari ini bisa terlibat di dalam kelas ASN belajar yang ee membuat sebuah pengalaman baru bagi saya plus sebuah pembelajaran baru untuk mengerti dan mengenal tentang pemerintahan yang ada di negara kita. Jadi materi hari ini diberikan judul membangun budaya kerja kolaboratif dan inklusif melihat dari perspektif psikologi untuk ASN. Ee ini materi yang bagi saya materi yang luar biasa karena ini adalah era di mana teknologi seperti tadi kata Bu Tantri ya, teknologi itu sudah masuk begitu banyak dan luasnya dan mungkin saja sudah mempengaruhi banyak lika-liku di dalam kehidupan kita untuk bekerja. Boleh next slide. Kalau kita boleh jujur, kenapa sih kita harus belajar dan mengerti tentang materi ini? Setiap kita ASN pasti dipaksa untuk belajar dan mengerti. Jika kita boleh kembali ke masa yang lalu di tahun 2021 yang lalu tanggal 27 Juli, Presiden Joko Widodo ini memberikan sebuah core value kepada para ASN yang berjudul dengan istilah berakhlak begitu ya. Ini juga berlaku untuk para teman-teman ee BUMN untuk mereka punya core value yang sama bicara tentang berakhlak yaitu berorientasi pelayanan accountable, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif. Sampai di part ini bicaranya masih sampai di tahap kolaboratif, belum mencapai kepada taraf inklusif. Mengapa begitu? Terus kenapa kita harus sekarang belajar dan bertambah dengan konsep inklusif? Ternyata tantangan yang ada di luar, tuntutan yang ada di kondisi hari ini, contoh sosial media yang berkali-kali disampaikan begitu ya. Faktor-faktor teknologi ini cukup banyak berdampak di dalam kehidupan kita sebagai individu. Untuk para pekerja baik itu swasta maupun pemerintahan semuanya berpengaruh dan terpengaruh. Lalu apa yang diharapkan sehingga kita harus menggabungkan perspektif kolaboratif dan juga inklusif bisa bergabung menjadi satu tentunya supaya efektivitas pekerjaan kita dan sebagai part dari ASN aparatur sipil negara mau enggak mau kualitas pelayanan kita kepada masyarakat menjadi sorotan. Next slide. Kalau kita cek sekali lagi begitu ya, perubahan apa sih yang paling banyak berperan? Kalau kita melihat kondisi yang ada saat ini, mungkin di masa yang dahulu paradigma sebagai sebuah pemerintahan itu adalah sangat hierarkis. Atasan yang punya kuasa, bawahan hanya menurut gitu ya. Artinya saya yang punya wewenang, yang bawah tidak berhak untuk bersuara. Tetapi hari ini tidak seperti itu. Mindset, keterbukaan, keinginan untuk mendengar suara orang lain itu menjadi sangat penting. Tidak berarti hierarkis itu hilang, bukan. Tetapi kita menjadi sangat berani terbuka. Tidak selalu bahwa masalah yang ada di bawah hanya diketahui atasannya langsung. Sang pimpinan nomor satu di kepala di biro itu atau di divisi itu atau di departemen itu tidak berhak tahu. Enggak. semua berhak tahu apa yang terjadi di dalam organisasinya. Bahkan kalau kita bicara tentang berbasis dengan hasil ini kemarin mungkin kalau nanti Pak Adik ee Matulesi bisa sharingkan kami dari psikologi sedang berbicara tentang eviden base. Jadi kita tidak cuman melihat secara result, tetapi temuan yang ada di lapangan itu menjadi hal yang paling penting. Kenapa? penentuan kita membuat sebuah keputusan, penentuan kita membuat sebuah regulasi itu datangnya dari apa? Dari evidence, dari temuan-temuan yang ada di lapangan. Kita tidak bisa hanya serta-merta melihat hasil, oh baik, tetapi apakah itu memang hasil yang baik, tidak penuh dengan manipulasi di dalamnya. Kita perlu tahu bagaimana proses hasil itu terbentuk supaya membuat apa? Supaya kita bisa memperbaiki setiap proses yang ada di dalamnya. Tidak cuman terkait dengan paradigma, tetapi tuntutan reformasi yang ada hari ini membuat birokrasi-birokrasi yang kompleks seperti dahulu harus dirubah. Mau enggak mau kita harus meningkatkan layanan kita baik kepada masyarakat maupun kepada rekan kita sendiri. Seperti dikatakan Bu Tantri begitu ya, bahwa teknologi memaksa kita berubah tidak hanya selalu menggunakan paper base, tetapi kita juga sudah mulai masuk ke era teknologi. Semuanya berbasis teknologi. Maka e-goverment itu menjadi kekuatan kita. Kalau kita berlihat kepada ee negara-negara lain, teknologi itu juga berperan besar dan sangat membantu. Begitu seperti di awal tahun ee bulan ini saya berperjalanan ke beberapa negara saya melihat ternyata sama gitu ya, negara-negara lain tuh juga udah sangat maju. Kalau mungkin dulu yang mungkin lebih merasa kita lebih maju tuh di Singapura. Sekarang kita cek seperti di negara model Filipina aja. Sekarang kita mau keluar dari negaranya sudah harus memasukkan data-data iisa kita ke dalam internet. Artinya kita enggak perlu lagi datang untuk cuma masukin password, tetapi kita akan diminta untuk mengisi sebuah aplikasi supaya prosesnya dimudahkan. Itulah tuntutan era reformasi birokrasi yang ada hari ini. Tidak hanya itu, program ASN belajar merupakan salah satu bentuk tuntutan yang membuat kita mengapa harus berubah dan masuk kepada budaya kolaborasi dan inklusi. Karena kesadaran akan pentingnya perkembangan yang ada di era hari ini menuntut kita mau dan siap untuk belajar. Berapun usia kita tidak menghalangi kita untuk belajar lebih dalam lagi mengenai apa? Mengenai negara kita sendiri. Mengenai apa? Mengenai perubahan zaman yang ada. Dan selain belajar kita mau untuk memahami dan berubah. Dan yang terakhir kalau seperti yang tadi Ibu Tantri sampaikan, saya belajar banyak juga dengan Lem Hanas begitu ya. Ternyata negara kita tuh sudah berkembang enggak karu-karuan. Tetapi yang nyampai di masyarakat mungkin tidak seperti itu. Kenapa? Faktor berita sana sini yang simpang siur membuat kehidupan kita di masyarakat menjadi keos. Nah, maka dengan adanya kemampuan kita untuk mau belajar dan berkembang lagi, kebijakan dan regulasi yang dibuat pun akan menjadi semakin baik. Mereka tidak hanya berfokus kepada keinginan negara, tetapi mereka juga melihat bagaimana masyarakat itu memandang negara ini. Negara tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya masyarakat. Begitu pula masyarakat tidak bisa menjadi baik jika tanpa adanya negara yang membawa sebuah regulasi. Hal-hal inilah yang membuat kita sebagai masyarakat, sebagai ASN dipaksa untuk mau saling berelaborasi satu dengan yang lain. Lalu bagaimana kami sebagai ASN harus bekerja? tentunya budaya kerja kolaboratif dan inklusiflah yang ingin dikembangkan dan ditanamkan di dalam kehidupan sehari-hari. Next slide. Jika kita boleh belajar begitu ya secara teoritis lah gitu. Karena saya seorang akademisi, maka mau enggak mau belajarnya ada fokus dari teoritisnya juga. Kalau kita pengin tahu sebenarnya yang dimaksud dengan kolaboratif, budaya kerja kolaboratif yang seperti apa begitu. Apalagi kami sebagai ASN, orang-orang pemerintahan yang seperti apa. Ternyata lingkungan kerja yang penuh dengan kerja sama itu adalah hal yang penting. Tetapi yang lebih penting adalah kata-kata di sini mencapai tujuan bersama. Kita mungkin sudah menyampaikan visi misi organisasi sejak awal kita melibatkan para pekerja di dalamnya. Tetapi apakah kita sudah menjelaskan dengan baik goals utama yang ingin kita raih itu yang mana? Karena seringkiali visi misi hanya ditempel besar di dinding, hanya ada di setiap ruangan, ada di setiap buku-buku pedoman. Tetapi kita tidak memahami goals kita bekerja buat apa sih? Kenapa sih saya harus melakukan A sampai Z ini? Kenapa sih aturan ini dibuat? sehingga goals yang dipengin dicapai itu kadang-kadang bisa melenceng ke sana sini gitu. Kenapa? Kerja samamanya tidak bisa saling berkait dengan baik, tidak menjadi sangat efektif dan efisien. Kenapa? Karena kemungkinan besar para pemimpin atau diri kita sendiri hanya cukup melihat tulisan besar visi dan misi tanpa memaknai dan mengerti isinya. Nah, itulah yang menjadi penting di dalam sebuah organisasi. Setiap kita punya kegiatan, setiap kita mungkin mengawali dengan rapat, ingatkan kembali goals kita melakukan kegiatan ini itu untuk apa? Timeline kita melakukan kegiatan ini itu kapan? Sehingga ketika kita mau membuat sebuah kegiatan itu jelas arahannya. Apa yang mau dicapai pun bisa tercapai dengan baik. Lalu, bagaimana kita membuat organisasi kita bisa menjadi kolaboratif? Seperti yang selalu disampaikan, komunikasi kunci utamanya. Tidak ada lagi rasa yang oh saya pimpinan, saya lebih punya kuasa nih, saya lebih tahu segalanya. Anda sebagai bawahan tidak berhak tahu. Gak semua yang ada di dalam lini di organisasi itu berhak tahu. Mereka memang punya porsinya masing-masing sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Tetapi apa yang sedang dikerjakan oleh organisasi wajib diketahui setiap lini di dalam insan organisasi tersebut supaya apa? Supaya mereka saling mengerti. Oh ternyata tugas dan tanggung jawab saya memang seperti ini. Tetapi itu belum bisa mencapai goals. Apa yang harus saya lakukan? Setiap orang menjadi tergelitik ingin memberikan diri lebih banyak, memberikan diri ingin lebih berkembang dan juga berkontribusi ke dalam organisasinya. Inilah yang ingin kita capai di dalam proses budaya organisasi kolaboratif. Tidak hanya sampai di situ, kita membiasakan diri untuk membuka diri kepada lintas fungsi atau lintas divisi bahkan lintas departemen. Seperti yang kita tahu hari ini, seperti tadi kata Bu Tantri juga, kita bisa berkembang mencapai Indonesia generasi emas di tahun 2045 bukan karena kemampuan hard skill kita, tetapi soft skill kita. Bagaimana kita bisa mengembangkan soft skill jika kita puas, hanya puas dengan apa yang kita miliki hari ini tanpa mau belajar lebih lanjut hal-hal yang baru. Maka ketika kita banyak berdiskusi atau mungkin mau membentuk sebuah tim khusus yang lintas divisi, lintas departemen, itu memaksa kita belajar sesuatu hal yang baru dan itu akan membuka wawasan kita. Oh, ternyata keilmuan kita itu kalau digabungkan dengan keilmuan yang ini, itu bisa akan berakibat ini loh. Eh, ternyata goals kita bisa semakin tercapai. Itulah yang membuat organisasi kita semakin berkembang. Masyarakat bisa merasakan, "Oh, ternyata departemen ini itu berkontribusinya sampai segini loh." Kemudahan yang mereka berikan itu karena kemampuan mereka melakukan ABCD. Mungkin masyarakat selama ini hanya melihat apa sih yang dikerjakan oleh departemen, tapi mereka belum melihat apa yang terjadi di baik layar. Ketika kita mampu menunjukkan kualitas yang baik, mereka akan memikirkan juga, oh, ternyata organisasi ini mampu loh bergan berkoordinasi dengan organisasi yang lain. Dan tidak hanya itu, saya pikir ee BPSDM cukup ee berkontribusi besar begitu ya untuk Provinsi Jawa Timur ini dengan memberikan pelatihan-pelatihan sejenis ASN belajar. Kita mungkin tidak punya waktu secara khusus untuk membuka buku, untuk mendengarkan Zoom. atau untuk mengikuti kelas-kelas di podcast. Tetapi dengan adanya ASN belajar, kita setengah dipaksa untuk terus belajar sesuatu yang baru. Kita dipaksa terus untuk mau mengembangkan diri. Tidak hanya secara keilmuan, tetapi keterampilan kita secara interpersonal. Kemampuan kita berkoordinasi dengan orang lain itu juga harus semakin diasah. Kenapa? Kerja sama yang baik tidak bisa terbentuk jika kita tidak membangun interpersonal yang baik juga. Next slide. Kalau kita sudah bicara tentang kolaboratif, sekarang saatnya kita lari menuju kepada budaya kerja inklusif. Seperti yang tadi selalu disampaikan, komunikasi menjadi utama. Tapi bagaimana cara berkomunikasi yang efektif itu? Kita mampu menerima semua masukan yang ada. kita mampu dan mau untuk mendengar perspektif banyak orang. Tidak harus selalu dikatakan perspektif mereka kurang tepat atau mungkin ee informasi yang mereka sampaikan belum yang terbaik. Kita sedang tidak membuat sebuah judge mental terhadap segala hal yang disampaikan, tetapi kita menghargai setiap informasi yang orang-orang itu ingin sampaikan kepada kita. Artinya kita membuat sebuah kesetaraan ke dalam setiap organisasi kita. setiap anggota kita berhak untuk menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan dan mereka diizinkan untuk terlibat dan berkontribusi lebih banyak. Hal-hal inilah yang mungkin di masa dahulu, di masa era-era yang dulu itu tidak muncul. Dan seperti yang sudah kita ketahui semua, era sekarang ini era yang cukup ee cukup berat saya katakan. Kenapa boomers belum semuanya habis? generasi X, generasi Y, begitu ya. Dan sekarang sudah masuk generasi Z. Dan ee saya baca gitu ya, saya cari info kemarin ternyata total seluruh ee ASN baik yang secara ASN murni ataupun yang bisa dikatakan sebagai pekerja kontrak atau sebagainya itu bertotal 86.000 yang ada di Provinsi Jawa Timur dan kurang lebih 16.000 di dalamnya adalah generasi C. Artinya kita ini sedang masa transisi semuanya. Boomers ke X ke Y mungkin tidak sesulit ketika harus bertemu dengan Z yang punya banyak ee pemikiran di mana mereka semua yang berpikir dengan sangat cepat karena lahir di era teknologi. Ngeklik handphone. Bahkan seperti kalau Bapak Ibu lihat di era alfa ya, anak bayi belum umur 1 tahun aja sudah bisa itu notul-nutul handfone begitu. Saya punya keponakan waktu itu lahir di masa pandemi tahun 2020. umur 1 tahun kalau mau minum susu harus nonton YouTube di lagu yang dia suka. Dia bisa itu ngeklik-ngeklik sendiri. Bayi loh ya, Bapak, Ibu. Saya tuh sampai amazin merubah cara berpikir kita. Ketika suara-suara itu tidak diizinkan terbuka, suara-suara itu tidak diizinkan untuk terinformasikan kepada orang lain, seringkiali itu yang membuat banyak di antara teman-teman kita salam satu organisasi itu merasa enggan terlibat. Kita sudah diajak untuk berlari bersama, kenapa mereka kok seperti terseret-seret begitu ya? yaitu kemungkinan besar mereka tidak diberikan ruang untuk bisa menyampaikan informasi yang mereka ingin sampaikan. Mereka tidak diberikan ruang untuk bisa mencurahkan keluh kesahnya. Kami sebagai psikologi industri dan organisasi selalu belajar bagaimana sih orang-orang ini diberi kesempatan begitu ya. Kalau sebuah organisasi swasta, banyak di antaranya kalau Bapak, Ibu suka nonton drama-drama Korea, terutama yang ee nuansanya adalah perusahaan atau kantor, di ruangan khusus atau mungkin di sebuah lobi atau mungkin di ruangan mereka bisa saling bertemu satu dengan lain, ada sebuah papan besar, board besar kita katakan sebagai communication board di mana mereka bisa menempel berbagai macam sticky notes untuk menuliskan perasaan mereka kekes kesalahan mereka, keluh kesah mereka, enggak diberi nama deh, dikasih nama departemen sama tanggal mereka mengalami itu misalkan. Itu sudah menjadi ruang bagi mereka bebas berekspresi dan jangan juga ya meskipun ada CCTV terus langsung dicekin siapa nih orang yang punya. Nah, orang semakin ketakutan papan itu akan selalu kosong gitu ya. Harapannya adalah papan itu terisi. Setiap orang bisa menyampaikan keluh kesannya dengan nyaman tanpa rasa takut. Seandainya pun tidak perlu papan ada ruangan setiap minggu, setiap awal bulan atau akhir bulan setiap orang boleh diajak berdiskusi dan menceritakan apapun. Misalkan istilahnya itu biasanya kafe morning gitu ya atau apalah istilah-istilah yang bisa dilakukan. Mereka bisa saling bercengkrama satu dengan lain mencampaikan, "Pak, saya merasa dengan regulasi ini kurang pas nih, Pak. Bagaimana kok kita diisi kesempatan A sampai Z misalkan atau ada ruang nih bagaimana mereka, "Pak, saya boleh ngasih usul atau tidak?" Seandainya kita melakukan kegiatan A sampai B dengan cara seperti ini. Kalau seandainya pimpinan berkata, "Mau enggak kamu menjadi tim yang terlibat di dalamnya membuat kegiatan itu?" Wah, tentu mereka sangat senang untuk dilibatkan karena mereka merasa dihargai. Artinya penghargaan itu tidak hanya dalam bentuk hadiah secara fisik atau mungkin ee atau bentuk dengan ucapan, tetapi ketika mereka diterima informasinya, ketika mereka merasa informasinya itu berarti, itu sebuah penghargaan yang berharga bagi setiap orang di dalamnya. Terutama ketika mereka diberi kesempatan untuk akses begitu ya, Pak, Bu. saya boleh enggak ya belajar ini itu meskipun saya bukan bidangnya di situ, saya bukan tupoksi utamanya adalah itu. Kesempatan untuk itu aja itu sangat luar biasa. Saat ini saya sedang melakukan penelitian terkait dengan eh Gensi dan hari-hari ini itu semua berkata Gensi ingin dihargai. Gensi ingin mempunyai wellbeing, mulai kesehatan mental. Mereka ingin bisa selalu mendapatkan pengetahuan yang baru, haus akan ilmu yang baru. Lalu bagaimana sebagai ee aparatur sipil negara itu bekerja dengan para gensi yang seperti ini gitu. Tuntutan mereka terkesan tinggi sekali. Tetapi kalau kita boleh jujur, mungkin itu bukan lagi sebuah tuntutan. Tetapi itu menjadi sebuah kerinduan setiap orang untuk belajar dan mengembangkan diri lebih baik. Boleh next slide. Kalau kita cek di dalam strateginya, budaya kerja kolaboratif dan inklusif ini yang harus seperti apa? Komunikasi dua arah. Kemudian juga setiap orang diberi kesempatan untuk mungkin mereka mau nih datang sendiri kepada pimpinannya untuk menyampaikan, "Pak, saya punya insight seperti ini, ini, ini, ini." Ya, diizinkan gitu. Ee ketika kami sekolah S3 ini, kami belajar banyak juga ee bagaimana sih sebagai seorang pemimpin itu mau menimba ilmu kepada yang lebih muda. Seringkiali orang berkata, "Saya kan lebih dahulu lahir. Saya kan lebih tahu segalanya dibanding kamu." Ternyata enggak seperti itu. Belajar seperti gelas yang selalu siap untuk diisi dan selalu gelas yang siap untuk dialiri dialiri air yang baru. Memang terlihat air itu tumpah-tumpah. begitu ya. Tetapi sesuatu yang tumpah itu dimaksudkan dengan keilmuan kita. kita curahkan kepada orang lain. Ketika air itu terus terisi, ilmu yang terus kita berikan itu saling kita tukarkan dengan yang lain, itu tidak membuat menjadi berjamur. Tetapi gelas yang kita selalu biarkan kosong dengan setengah air terisi itu kita diamkan sekian lama, itu akan menjadi berjamur. Begitulah kita ketika komunikasi itu tidak pernah terjalin, kita akan menjadi sangat berjarmur. ilmu yang kita miliki itu mungkin ya mengendap itu-itu aja, tidak berkembang dan bisa dikatakan obsolit sesuatu yang sudah basi. Tetapi ketika kita mengizinkan untuk terus diisi dari mana? dari komunikasi itu dari generasi yang baru, dari tim yang ada, baik itu dikatakan sebagai anggota mungkin bawahan, no matters. Bagaimana organisasi ini berkembang itu bukan milik dari cuman pemimpin. Pemimpin memang role model, tetapi anggota tim semua adalah satu bagian utama yang bisa dikembangkan dan bisa saling berkembang untuk membuat organisasi kita menjadi lebih baik. Kemudian kita mulai siap untuk membentuk tim kerja lintas fungsi dan siap untuk mau ditempatkan dan ditugaskan meskipun itu keluar dari zona nyaman kita. Saya tahu keluar dari zona nyaman itu bukan sesuatu hal yang mudah. Belajar terus, belajar terus harus saling mengerti sana sini itu bukan sebuah hal yang mudah. Tetapi yuk mari kita mau belajar dan penyediaan pelatihan pengembangan, kemudian kemampuan untuk interpersonal kita ditingkatkan itu adalah hal-hal yang menjadi kekuatan dalam diri kita. Hal-hal yang tidak mungkin bisa dicuri oleh orang lain, tetapi membuat diri kita semakin bertumbuh dan berkembang. Dan yang terakhir, kita memberikan kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk mereka berkontribusi, untuk mereka memiliki pendapat. Ketika saya belajar kemarin di awal bulan ke Australia, belajar tentang positif psychology, saya melihat banyak hal yang sedang berkembang. Saya belajar satu cerita dari pemerintahan yang ada di Dubai, di kantor kepolisian Dumbai. mereka membuat sebuah departemen khusus yang disebut dengan departemen wellbeing. Dan di setiap ee lini mereka, di setiap departemen mereka, di setiap bidang mereka, mereka selalu memiliki sebuah departemen khusus yang disebut dengan nama wellbeing. Kenapa ini dibentuk? Ya, semua orang tahu bekerja itu melelahkan, bekerja itu membuat stres yang tinggi gitu ya. Kalau istilah kita itu exhausted, burn out. Lalu bagaimana gitu supaya setiap orang tuh tetap enjoy bekerja di tempat pekerjaannya. Mereka enggak sampai mengalami depresi, mereka enggak sampai mengalami tekanan mental. Maka adanya eh departemen wellbeing itu membuat mereka belajar. ada ruang bagi ee para pekerja untuk duduk bersama dengan psikolog untuk mereka berdiskusi. Secara rutin mereka mengisi survei-survei kesehatan mental. Secara rutin pula mereka bisa diberikan pelatihan-pelatihan untuk mereka merilekskan diri. Kenapa? Saya tahu betul pekerjaan yang ada di negara kita itu Mbak 1000 jari begitu ya. Rasanya itu kalau bisa kita seperti gurita, Bapak, Ibu. Semua dikerjakan. Saya sebagai dosen pun merasakan hal yang sama. Administratif iya, pekerjaan secara fisik juga iya, dan lain sebagainya. Dipaksa terus belajar juga gitu kan. Jadi gimana nih gitu tapi itu tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk terus berkembang dan menjadi yang lebih baik. Maka kesehatan mental yang ada di setiap lini itu juga menjadi harus perhatian bagi setiap orang. Next slide, Mas. Nah, kalau kita cek dari perspektif psikologi yang seperti apa gitu, ternyata budaya kerja kolaboratif dan inklusif itu tidak hanya cukup untuk dilakukan, tetapi juga memberikan semangat dorongan yang baru kepada setiap anggota organisasi untuk berkembang. Mereka diberi kesempatan untuk ee mengeluarkan insight-insight barunya. Mereka diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu hal dengan cara mereka sendiri. Kalau kita dalam psikologi diistilahkan dengan job design dan job crafting. Jadi artinya mereka punya itu tugas tupoki tertentu, tetapi mereka tidak harus seperti yang dijuklah gitu ya atau yang seperti sudah dilakukan harus terstandar. Kalau emang ada standar ya harus tetap dilakukan. Tetapi mereka diberi kesempatan boleh mengeksplore dirinya untuk menyelesaikan tugas-tugas itu jauh lebih baik dengan caranya, tetap dengan integritas tentunya dan beretika. Kemudian kepuasan kerja bisa meningkat dan ini yang paling penting. Hasil dari pekerjaan kita, performa setiap orang juga menjadi baik. Kenapa? kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalahnya itu diberi apresiasi sehingga ya mereka akan terus tanpa perlu kita beri hadiah. Kalau kamu berhasil mengerjakan ini nanti kamu dapat ini, enggak perlu itu. Tetapi penghargaan itu sudah membuat mereka memperformakan dirinya jauh lebih baik. Selain itu, anggota organisasi merasa dihargai, dipercaya, dan juga mempunyai kesempatan untuk mau terlibat lebih banyak. Berapa banyak sih anggota kita yang mungkin ongah-unggahan ketika disuruh mengerjakan sesuatu atau berkata, "Iya, tetapi tidak terkerjakan dengan baik." Atau bilang, "Iya, siap, tapi waktunya lepat sekali." Kenapa? Mari kita saling memeriksa diri kita masing-masing. Sudahkah kita menghargai tim kita dengan baik? Sudahkah kita memperlakukan tim kita seperti yang kita inginkan? Jika kita ada di posisi mereka, maukah kita diperlakukan seperti itu? Jika enggak, yuk mari sama-sama kita bekerja secara kolaboratif dan inklusif supaya orang mau berkomitmen. Mereka berkata, "Iya, tentu kerjakan dengan iya." Mereka berkata, "Lakukan dengan baik, maka jadi hasil yang baik supaya hasil kerja mereka bisa menjadi yang teroptimalkan dan mereka bisa mendapatkan hasil yang lebih baik untuk jabatan yang lebih baik di kemudian hari. Maka mau enggak mau kita dipaksa untuk saling mengerti empati." Ini nanti materi yang mungkin akan dikembangkan oleh Pak Andi dan juga memiliki rasa memiliki belongingness terhadap organisasi. meskipun kita tidak menutup kemungkinan bisa saja berpindah-pindah begitu ya. Hari ini ada di departemen ini mungkin tahun depan atau mungkin 2 tahun lagi berpindah departemen itu posibel banget tapi bukan berarti kita tidak berasa memiliki akan ee organisasi yang kita miliki hari ini. Membangun kohesivitas, membangun kreativitas adalah menjadi result dari apa yang kita sudah kerjakan di depan. Maka marilah kita berkontribusi supaya menghasilkan kualitas yang optimal di dalam organisasi. Next slide, Mas. Maka saya mencoba membuat sebuah slogan simpel begitu ya. Bagaimana sih budaya organisasi yang ee kolaboratif dan inklusif di dalam PR eh Jatim ini bisa berkembang? Tadi berkata, jika kita berjalan sendiri kita akan em bisa berjalan apa hasil yang maksimal tapi kita bisa berjalan sama-sama hasil yang maksimal. Maka kita katakan satu hati satu langkah. Untuk apa? Membangun Jatim yang aman, tertib, dan damai. Di mana pun kita berada, di mana pun lokasi kita bekerja, kita mau untuk saling bersatu hati. Mungkin itu dari saya, Mas Lukman. Terima kasih. [Musik] Terima kasih Bu Hani untuk materinya. ini luar biasa banget ya. Saya enggak tahu kenapa setiap saya ketemu sama pembicara dari psikologi gaya bahasa mereka itu selalu pelan, santai, menyejukkan gitu. Dan itu tercermin dari tadi waktu Bu Hani menyampaikan materi. Sangat menarik banget, Bu. Dan tadi kalau mungkin kita bisa wrap up terlebih dahulu ya, ketika ingin membentuk budaya kerja yang kolaboratif dan inklusif sebenarnya kunci utamanya adalah melakukan komunikasi terbuka. Nah, ini sebelum saya lempar nih ke sobat ASN untuk bertanya, saya mau tanya terlebih dahulu. Bu, kan kita ini dalam suatu lingkungan kerja punya banyak sekali orang dengan kepribadian yang berbeda-beda. Ya, kita mungkin bisa kerucutkan itu ke dalam bentuk dis dominant, influence, dan lain sebagainya gitu. Bisa jadi nih ketika dalam suatu budaya itu kita mau membentuk komunikasi terbuka, tapi ternyata pimpinan kita itu adalah orang yang dominance ya. Gaya bicaranya dia itu sangat direct, menyentak-nyentak. Kalau misalnya ada masalah kok rasanya kita selalu kena marah gitu ya, padahal kita sudah mencoba untuk terbuka gitu ya. Nah, hal-hal seperti itu dealing with different personalities gitu kalau menurut pandangan Bu Hanif utamanya untuk menghadapi karakter-karakter yang seperti itu gimana tuh Bu? Baik, ini menarik sekali ya Mas apalagi yang punya karakter seperti itu ada pimpinan gitu ya Mas ya. Jadi selalu kita kesannya selalu salah. Heeh. Nah, memang ee supaya kita bisa mampu berkoordinasi dengan baik, memang ada mau enggak mau kita harus mengalah. Apa berarti anak buah selalu kalah? Ya enggak juga. Bukan berarti pimpinan selalu benar. Pimpinan juga harus mau belajar untuk berubah. Tetapi untuk saat tertentu anak buah ya mau enggak mau mengalah. Menyampaikan secara perlahan-lahan. Kalau mereka gayanya direktif, ya kita jangan sama-sama direktif. Artinya batu dilawan dengan batu, berantem begitu ya. Jadi ya mau enggak mau sedikit demi sedikit disampaikan. Kita mencoba membuat gebrakan misalkan hal ini enggak bisa ya kita coba nih gimana kalau kita mengerjakan hal ini dengan insight baru kita. Apakah ada hasil yang positif? Kalau memang ada kita sampaikan Pak saya sudah mencoba hal ini. Mohon maaf ada perubahan nih Pak tidak sesuai dengan standar seperti ini, seperti ini. Tetapi hasilnya lebih maksimal. Ya, kembalikan kepada pimpinan. Jika pimpinan memang merasa itu adalah kualitas yang lebih baik seperti yang sebelumnya, saya rasa mereka juga ee bisa menerima gitu ya. Karena kalau saya melihat dominan itu lebih suka result gitu ya. Dikit-dikit itu resultnya yang dilihat. Oke. Jadi kalau kalau gak ada result kita sudah ngasih insight duluan biasanya mental dulu nih apa sih gitu ngerubah-ngerubah sistem gayanya seperti itu. Tapi kalau kita sudah mencoba, "Pak, ini nanti dampaknya ini ini misalkan atau sudah melakukan survei awal atau apapun disampaikan ya bukan berarti pimpinan selalu mau benar ya, pimpinan juga harus mau dirubah karena era hari ini kalau kita selalu seperti itu pimpinan punya juga banyak kelemahan dengan cara dominan yang terus-menerus mereka tidak bisa mengisi. Kalau set saya sampaikan gelasnya itu selalu ya itu terus enggak ada sesuatu yang baru gitu kan karena ya kaku dengan cara berpikirnya sendiri. Mungkin itu karnas lus. Oke, thank you Bu ee Hani. Berarti kuncinya adalah pertama mengalah dulu ya. Mengalah dulu. Terus ketika kita datang ke pimpinan kita itu harus membawa fakta atau insight yang bisa membuat ee menarik ya untuk beliau gitu ya, untuk dipertimbangkan lebih lanjut gitu. Nah, itu tadi kalau misalnya dari karakter dominans ya, Bu ya. Kita hadapi pimpinan atau kita mau menyampaikan eh pendapat kita terhadap orang dominan. Caranya seperti itu. Tapi kalau misalnya untuk tiga karakter yang lain, Bu, let's say pertama adalah influence, kemudian steadiness, eh conscience toiousness, itu gimana tuh, Bu, cara menghadapinya supaya mereka bisa mau menerima pendapat kita? Ada enggak sih tips and trik menurut Bu Hani? Ya memang kalau kita cek kita enggak selalu harus bisa melihat dari IisC begitu ya. He, semua orang juga belum tentu mengerti itu seperti apa. Tetapi yang kita pahami betul, kita tahulah kita sedang berbicara dengan siapa. Maka tadi saya sampaikan selalu kemampuan interpersonal kita harus dikembangkan. Kita mampu menempatkan diri saya ada di posisi siapa. Ee yang sedang kita hadapi itu yang seperti apa sih? Orang yang sangat menjunjung tinggi strata misal ya berarti kita harus menurunkan diri kita. orang yang bisa sangat terbuka egaliter ya berarti kita bisa menyampaikan yang selalu kita terlalu tekankan bagaimana kita membawa diri kita dan selalu dalam posisi yang sopan. Iya. Tentu kalau misalkan mereka adalah pimpinan nometers ya pimpinan kadang jauh lebih muda loh usianya dari kita. Tetap mereka tuh selalu minta merasa dihargai karena status mereka sebagai kata-kata tadi pimpinan begitu. Nah, hal-hal inilah yang ee mungkin selalu kita harus pelajari terus-menerus. tidak ada sekolahnya secara khusus, tetapi mau enggak mau kita ee belajar. Begitu kurang lebih mungkin Mas Ali. Siap. Terima kasih Bu Hani. Ini ada pertanyaan masuk dari kolom chat Zoom kami atas nama Bu Susilawati dari Cianjur ya. Ee pertanyaannya adalah dalam konteks kolaborasi ASN, bagaimana penerapan nilai kebangsaan dapat menjadi landasan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan tim agar tercipta sinergi yang berkelanjutan? Kalau menurut Bu Hani, bagaimana Bu? Ya memang berkolaborasi antar itu apalagi beda divisi misalkan gitu ya. Apalagi kita tadi berkata secara inklusi, mau enggak mau kita akan berkoordinasi dengan lintas divisi. Maka mau enggak mau kita harus sampaikan dulu goals di depan yang ingin dicapai baru kita bisa membuat visi yang baru. Artinya kita tahu nih arah tujuan kita untuk mencapai sebuah kegiatan itu apa. Kadang kala kita secara ee divisi punya ego sektoral. Saya merasa yang lebih kuat, saya merasa yang lebih hebat, gitu. Nah, ini kita harus turunkan, kita harus berada di sisi equal dulu supaya kita mampu begitu ya untuk apa? Melihat kekuatan kita di mana, kekuatan ee tim yang lain ada di mana supaya kita bisa saling mengelaborasikan dan bekerja secara ee elaboratif. Dan ini kegiatan harus berkelanjutan pastinya. sehingga kita membuat sebuah visi itu bukan cuman dalam satu sekali ya, satu masa cuman ya memang benar visi setiap tahun harus dievaluasi tetapi bukan berarti ya pokoknya sekarang yang dikejar ini gitu enggak ada kata pokoknya sih ya. I. Jadi kalau di era sekarang itu upayakan tidak ada kata-kata yang model kaku seperti dulu, tetapi kita mau membuka diri. Ya, perkembangan dan perubahan itu seperti tadi kita lihat adanya COVID. Siapa yang pernah menduga bahkan cukup lama 2 tahun kita harus dipaksa bekerja dengan efektif di dalam rumah karena kondisi gitu. Itu sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri dan tidak bisa kita pikirkan. Artinya visi atau goals yang mau kita capai itu bukan cuman hari ini, tetapi kita pikirkan bagaimana jika ada perubahan ini. Artinya kita harus punya plan itu enggak cuma satu, tetapi A sampai Z. Yang paling gampang A sampai C deh. Tetapi itu bisa possible untuk dilakukan. Mungkin itu Bu Sisilawati semoga menjawab. Sepakat. Sepakat dengan Bu Hani. Jadi yang pertama memang harus tahu dulu goals-nya apa. Nanti kita petakan tuh apa yang menjadi kelebihan dan kekuatan dari organisasi kita. yang bisa melengkapi itu kemudian harus juga ya terhadap perubahan itu yang paling penting gitu ya. Oke, ini ada penanya masuk kembali saya izin undang untuk penanya berikutnya. Selamat siang Bapak. Halo, Pak. Pak Devin Nugraha. Punten Bapak mic-nya masih termute. Bapak bisa dibantu untuk unmute terlebih dahulu. Oke, ini masih belum tersambung. Barangkali kalau berkenan headsetnya mungkin bisa dilepas saja, Pak. Jadi pakai audio dari device-nya langsung aja enggak apa-apa. Kita enggak. Oke, ini sudah masuk. Ini sudah masuk. Ya, silakan Pak disampaikan nama dan asal unitnya kemudian pertanyaannya. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Saya mau dan saya Devin dari bagian keuangan Setda Kasih ini mau bertanya tentang apa? Etos Kerja ya. Budaya etos kerja di Kota Kasih ini kan ee kita apa penilaian dari pelayanan publik kan sangat terbaik se Jawa Barat ya. Nah, nanti kita melihat dari evaluasi dari pegawai PNS-nya P3K ini kayaknya AT budayanya masih kurang gitu dari kolaboratifnya dengannya masih kurang. Nah, cara menilai dari pegawainya sendiri ini seperti apa? Terima kasih. Makasih Pak Devin. Silakan Bu Hani. Baik, terima kasih banyak Pak Devin. Ee selamat begitu ya sudah mendapatkan penghargaan sebagai kualitas yang terbaik se Jawa Barat. Begitu ya, Pak. Ee bagaimana sih menilai bagaimana menilai etos kerja gitu. Jadi kalau kita melihat dari etos kerja tentu kita akan melihat kembali kepada KPI. Jadi ke performance index Bapak. Jadi indikator-indikatornya kita cek dari di sana ya, Pak. Apa saja yang sudah dimiliki, kemudian apakah sudah tercapai. Jika memang belum dan selalu hal-hal itu belum, maka yang kita harus cek kembali adalah QPI-nya. Apakah memang QPI itu sudah tepat? Kalau misalnya kita bikin KPI terlalu tinggi yang membuat karyawan tidak akan pernah bisa mencapai, ya berarti QPI-nya ada yang tepat. Tapi terlalu mudah dicapai itu juga harus diwaspadai. artinya terlalu rendah. Nah, QPI itu harus diperiksa secara terus-menerus, Pak. Apalagi dengan kondisi tuntutan yang baru hari ini. Jadi, kan kita tahu ya ada perubahan-perubahan, Pak. Mungkin di dalam organisasi juga melakukan perubahan. Maka QPI-nya kita cek terus-menerus apakah QPI itu sudah sejalan. Dan seperti yang tadi saya sampaikan, kita cek apakah itu terlalu mudah dilakukan atau terlalu sulit. Jadi, harus ada di titik balancing gitu kurang lebih, Pak. Mungkin ada mungkin yang ditambahkan, Pak Devin. [Musik] Iya. Ini juga mau tanya lagi boleh enggak? Silakan satu pertanyaan terakhir Pak Devin. Oh iya. Ini kan kita mulai dari bagian tenan keuangan ini kan dicerakan masih kurang dari inklusifnya masih kurang inklusif masih kurang. cara mengatasinya biar pegawai itu bisa inklusif baik dan juga apa kolaboratifnya lebih baik seperti apaasih. Baik, terima kasih Pak Devin ya. Seperti yang tadi saya sampaikan nggih Pak, mungkin dicek lagi apakah komunikasi di dalam organisasi ini sudah terbuka ya, Pak. Artinya memang ngomong tentang bidang keuangan itu kompleks dan lelah ya, Pak. Ngelihatin uang-uang, angka-angka terus-menerus kadang itu bosan. Nah, itu mungkin kita juga bisa mencari tahu strateginya. Apakah misalkan kegiatan olahraga itu sudah rutin dilakukan oleh setiap karyawan, lalu bentuk olahraga yang seperti apa? Kalau modelnya cuman kesehatan jasmani biasa yang kurang menantang, mungkin bagi mereka juga kurang menarik misalkan hal-hal itu. Lalu kita perhatikan juga kegiatan yang banyak menggunakan ee layar secara ini itu melelahkan. Apalagi ngomongin tentang keuangan ya, Pak. mungkin mohon maaf mata bisa sewer atau lelah gitu ngelihat angka terus eh bisa salah misalkan. Nah, itu juga harus kita cek. Ee aturan aturan kesehatan misalkan terlalu banyak duduk melihat layar ee ini membuat kita menjadi tidak fokus, tidak konsentrasi ya. Maka kita bikinlah kegiatan apa-apa misalkan berdiri atau mungkin harus olahraga apa sedikit 5 menit, 10 menit harus dipaksa jalan dan sebagainya. hal-hal sesimpel itu bisa membuat mereka untuk bisa kembali mau menjadi kolaboratif. Ketika kita tidak memperhatikan hal-hal itu seperti tadi saya sampaikan di wellbeing ya mereka akan merasa kesehatan mental saya tidak dihargain begitu sehingga ya mereka merasa ya sudahlah saya kerja apa adanya semampu saya begitu. Tapi kalau kita menghargai dan melihat hal-hal remeh-temeh seperti itu, saya yakin orang-orang akan mau untuk bekerja dan berkolaborasi lebih baik lagi. Inklusi seperti tadi ya, Pak. Kita cek lagi apa sih kelebihan dan kekurangan kita supaya kita bisa mampu juga berkolaborasi dengan orang-orang yang lain. Mungkin itu dari saya. Terima kasih, Pak Devin pertanyaannya. Semoga menjawab. Thank you, Pak Devin. Salam sehat selalu. Bu Hani. Punten sekali kita waktunya sangat terbatas sehingga untuk sesi kali ini kita harus akhiri. Tapi menarik banget ya tadi ee terkait QPI ya. Jangan sampai QPI-nya terlalu tinggi nanti lama-lama karyawannya malah demotivasi kayak gitu. Iya, betul. Oke, Bu Ani sebelum ditutup sesi kali ini barangkali dari Ibu ada yang ingin disampaikan closing statement-nya. Silakan Bu Ani. Baik, terima kasih Mas Lukman. Ee Bapak, Ibu, rekan-rekan semua di mana pun berada, baik ada di Provinsi Jawa Timur maupun yang bukan, saya yakin dan percaya kita semua sudah berusaha dan bekerja semaksimal mungkin. Tapi yakinkan untuk kita mau juga merubah diri menjadi lebih baik untuk bisa bekerja lebih kolaboratif dan inklusif. Kemampuan kita berkomunikasi bukan hal yang susah karena kita dilahirkan untuk mampu berkomunikasi, tetapi kembangkanlah komunikasi secara interpersonal lebih baik lagi. Semangat untuk menjalani hari-hari ini dan teruslah berkarya. Terima kasih, Mas Bu Hani. Thank you sekali sudah berkenan untuk bergabung di webinar kali ini. Semoga apa yang disampaikan menjadi berkah untuk Ibu dan juga bagi sobat ASN semua. Salam sehat selalu untuk Bu Hani. Kita ketemu lagi di event-event selanjutnya, Bu. Baik, Sobat ASN, kita masih punya satu sesi terakhir, jadi jangan ke mana-mana. Tetap di webinar ASN belajar seri 29. Kita akan kembali setelah jeda pandiwara berikut ini. [Musik] Yeah. [Musik] Ya, Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN belajar seri 29. Masih bersama dengan saya Lukman Ali. Di sesi terakhir kali ini kita akan mendengarkan materi terkait dengan menumbuhkan empati dan toleransi dalam birokrasi. Kunci mewujudkan sinergi ASN yang akan disampaikan secara langsung oleh Bapak Dr. Andik Matulesi, M.Psi, Psikolog. Beliau ini sebagai dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. [Musik] Selamat siang, Pak Andik. Selamat siang. Kabar baik, Pak Andik. Salam sehat selalu. Salam sehat selalu juga, Pak Andik. Tadi sudah disampaikan oleh Bu Hani terkait dengan cara untuk menciptakan budaya kerja yang kolaboratif dan inklusif, ya. Salah satunya sebenarnya adalah kita ini harus punya empati terhadap sesama rekan kerja seperti itu. Nah, kali ini saya mau dengar ee paparan menarik dari Pak Adik, bagaimana sih kita bisa menumbuhkan empati dan toleransi dalam lingkungan kerja. Kurang lebih waktu materi selama 30 menit, Bapak. Nanti kita langsung sambung ke sesi tanya jawab. Silakan, Pak Andik. Terima kasih banyak. Nah, ee Bapak, Ibu sekalian ee ee mohon nanti ee bisa memberikan tanggapan terhadap dua hal isu penting terkait dengan ASN ya. Satu terkait dengan empati. Yang kedua terkait dengan persoalan penting lain yaitu toleransi. dua hal itu menjadi hal yang penting dalam konteks kesimpulan nanti menjadi sebuah. Jadi yang pertama terkait dengan empati. Jadi empati itu bagi ASN ee merupakan kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, terutama sekali masyarakat yang dilayaninya. Bahkan Daniel Colman menetapkan bahwa empati itu adalah eh apa? Bentuk paling tinggi dari sebuah kecerdasan emosional itu adalah yang disebut sebagai empati. Empati tentunya akan memberikan pelayanan publik yang lebih baik, membangun trust pada masyarakat dan tentunya menciptakan hubungan kerja yang lebih harmonis. empati tidak hanya dengan masyarakat tetapi juga dengan reagiran kerja yang dari satu unit maupun dari berbagai unit yang berbeda. Adanya empati akan meningkatkan kualitas layanan publik, akan membangun public trust gitu ya, eh membangun kepercayaan kepada masyarakat ya terhadap ASN. kemudian mencegah konflik-konflik, mencegah adanya keluhan, juga meningkatkan efisiensi kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik. Dan tentunya ujungnya adalah meningkatkan image atau citra positif ee ASN itu sendiri. Yang kedua nanti akan dibahas tentang masalah toleransi. Toleransi itu ee pada saat kita menghargai keberagaman maka tentunya kita harus memulai dari internal dulu. Bagaimana berperan sebagai perekat dan pemersatu bangsa maka tentunya ASN harus mampu menjaga stabilitas, menjaga hubungan yang lebih baik di dalam ee internal organisasi itu sendiri. Karena dengan toleransi maka akan bisa orang akan beradaptasi terhadap perbedaan. Karena mau tidak mau kita kita tidak bisa tidak bahwa diversifikasi itu ada di real di dalam negara kita gitu ya. Sehingga kalau kalau kita punya toleransi maka akan bisa mencegah konflik. Bahkan kalau di masyarakat kita bisa mencegah ekstremisme, bisa membangun public trust juga. ya. Kemudian bisa beradaptasi karena bisa saja ASN tidak hanya di satu tempat, suatu saat dia akan ditaruh di tempat yang sangat berbeda gitu ya. Oleh karena itu tentunya pada saat dia paham akan perbedaan maka dia juga akan lebih mudah untuk me me apa ya ber ee memunculkan prestasi di tempat kerja. Next. Ada ee tiga hal penting yang menjadi tantangan birokrasi saat ini. J challenge yang pasti akan muncul. Yang pertama adalah fragmentasi birokrasi. Fragmentasi birokrasi itu sebuah kondisi di mana organisasi atau sistem birokrasi itu terpecah menjadi unit-unit kecil yang masing-masing memiliki tugas dan wewenang tersendiri, wewenang khusus. Tapi persoalannya kondisi ini seringki menyebabkan kurangnya koordinasi antar unit. Bisa saja terjadi duplikasi tugas gitu dan juga akan menimbulkan hambatan dalam implementasi. Sebagai contoh misalnya dinas yang ee ee isu terkait dengan pendidikan ya. Isu terkait dengan pendidikan itu kan bisa itu di tingkat dasar, tingkat menengah dan sampai dengan perguruan tinggi gitu. Kalau kita bicara kurikulum seharusnya kurikulum itu tidak bisa terpisah-pisah. Jadi mulai dari dasar, menengah, perguruan tinggi itu adalah sebuah jalan atau roadmap yang yang terus-menerus atau kontinuum gitu. seringki ee kita itu terjadi fragmentasi ini urusan saya gitu sehingga kemudian saya hanya bicara tentang ini sehingga tidak berukir tentang bagaimana holistik, bagaimana sesuatu yang komprehensif ya. sehingga misalnya pembentukan dinas-dinas di pemerintah daerah misalnya yang baru misalnya seringki tugasnya berkaitan tapi dalam konteks penyelesaian bisa sendiri-sendiri gitu. Apa yang terjadi? Karena kurangnya koordinasi. Karena merasa saya punya otonomi sehingga tidak perlu koordinasi gitu ya. Sehingga kemudian menyebabkan apa? masalah pengambilan keputusan, terhentinya projek, implementasi kebijakan menjadi tidak tidak optimal dan tentunya tidak ada penyediaan layanan publik yang berpadu gitu. Terkait dengan itu juga dalam fragmentasi muncul juga yang disebut sebagai duplikasi tugas gitu. Seringki terjadi duplikasi tugas, tugas yang sama dikerjakan oleh unit yang berbeda, tapi sebenarnya itu tugasnya sama gitu. Apa yang terjadi? pemborosan sumber daya pasti ya. Ini ini banyak terjadi di di pemerintah pusat maupun di pemerintah daerah. Kemudian hambatan implementasi kebijakan karena tidak adanya koordinasi orang lebih menekankan pada otonomi daripada koordinasi maka kemudian implementasi kebijakan bisa saja terhambat gitu ya. harusnya kebijakan itu memerlukan keterlibatan beberapa unit. Namun karena tidak ada koordinasi, karena merasa punya otonomi, maka implementasi menjadi tidak efektif. Ini yang menurut saya penting untuk terkait dengan fragmentasi. Apa dampak dari fragmentasi? Tentunya menjadi inefisiensi, penggunaan sumber daya yang tidak optimal karena tumbang tindih kewenangan dan ada redansi regulasi. regulasi juga akan jadi banyak gitu. Padahal sebenarnya dengan satu regulasi semuanya harusnya bisa diselesaikan. Kemudian kurang efektif kebijakan menjadi kurang sinergis, sulit diterapkan di lapangan karena kurangya koordinasi. Apa ujungnya? Perlambatan pembangunan. hambatan dalam mencapai tujuan karena kesulitan di dalam menerapkan program dan kebijakan karena orang merasa ini wewanku tidak usah berkoordinasi dengan yang lain. Selain itu dampak dari fragmentasi apa? Ketidakpastian hukum, ketidakjelasan kewenangan antar instansi ya. Jadi ini kewenangan saya, ini tidak, STK-nya bagaimana dan sebagainya. Yang kedua ya terkait dengan ee adanya egoal ya ego egosektoral ya ekosektoral dan budaya birokrasi yang kaku gitu ya. Ee dalam organisasi ditandai dengan apa? Prosedur yang rumit, hierarki yang ketat, gitu. Kurangnya fleksibilitas dalam pengambilan keputusan. Harus ini yang ngambil keputusan. Tidak boleh semua orang mengambil keputusan sebagainya. apa yang apa yang menyebab apa yang kemudian dampaknya dampaknya adalah lambangnya pelayanan publik ada hambatan dalam inovasi terjadi inefisiensi di dalam operasional ya jadi ee pelayanan publik menjadi tidak responsif gitu karena prosedur yang bergelit karena hierarki yang kaku menghambat birokrasi untuk merespon kebutuhan masyarakat dengan cepat dan efektif. contoh misalnya antara ee terkait dengan misalnya ee pekerja migran. Pekerja migran itu ada banyak ee apa namanya? Banyak kementerian yang terkait gitu. Selain Kementerian Pekerja Migan, Kementerian Tenaga Kerja, ada juga Kementerian Kesehatan ya, Kementerian Luar Negeri dan sebagainya. Kemudian terjadi hambatan inovasi ya. Kalau budayanya kaku ee menekankan pada aturan, menekankan pada hierarki, maka akan memunculkan menghambat hambatan ide-ide baru dalam ee inovasi dan pelayanan publik. Begitu juga akan terjadi ketidakmampuan beradaptasi. Birokrasi yang kaku sulit menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Padahal kalau kita bicara tentang fukal ya, begitu cepatnya perubahan sekarang ini, maka tidak ada satuun yang tidak b tidak ee tidak semuanya tidak bisa diprediksikan. Ya. Ya. Jadi misalnya misalnya contoh kebijakan Amerika itu kan sangat berdampak, apakah itu pernah terpikirkan? Kan tidak tergantung P presidennya lagi presiden berubah bisa berubah lagi gitu. Jadi perubahannya begitu cepat. Dulu orang e dalam konteks dalam konteks psikologi ya dulu ada assessment tidak ada yang namanya assessment online. Tapi pada saat ada pandemi Covid-19 terjadi assessment online, konseling online ya. Bahkan ada eh dokter online gitu ya konsultasi online mau tidak mau itu sesuatu yang tidak bisa diprediksikan gitu ya. perubahan yang cepat itu maka membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Yang ketiga terjadi ketimpangan komunikasi antar generasi. Ada generation cap. Jadi ada perbedaan perbedaan cara pandang, perbedaan nilai, perbedaan gaya komunikasi antara generasi di dalam satu kelompok. Ya, itu yang seringki akan menimbulkan kesalahpahan dan konflik gitu. Apa yang menyebabkan perbedaan? Contoh misalnya generasi Z tumbuh dalam era digital dengan semua teknologi ya. ee ee informasi terakhir terkait dengan penggunaan ee internet, penggunaan HP itu pengguna HP dari di Indonesia itu 180 juta lebih dan sebagian besar menggunakan HP lebih dari satu itu dan penggunanya rata-rata adalah usia 26 ke atas. Tapi yang menarik adalah 14 ke bawah juga banyak menggunakan. Artinya apa? Dengan adanya ASN yang begitu ee banyak jenis generasinya gitu, maka itu juga akan bisa menimbulkan ketimpangan-ketimpangan, konflik-konflik dalam konteks perbedaan komunikasi gitu ya. Generasi yang lebih senior mungkin lebih menyukai komunikasi, tatap muka, rapat langsung, ee interaksi langsung. Tapi generasi muda bisa saja dia lebih nyaman dengan pesan teks, dia nyaman dengan media sosial, dia nyaman dengan Zoom gitu. Belum lagi perbedaan pengalaman hidup ya, pengalaman hidup, latar belakang yang berbeda, kemudian ee kemampuan tingkat adopsi teknologi yang berbeda ya yang generasi muda lebih cepat ya menyesuaikan dengan teknologi. Sementara generasi yang senior tidak dan sebagainya. Belum lagi dalam konteks pekerjaan, generasi muda relatif tidak begitu komitmen, tidak begitu setia terhadap pekerjaan. Dia pada saat pekerjaannya itu tidak nyaman, dia akan pergi dari situ. Ya, beda dengan yang dulu. Kalau yang dulu ya kita fokus bekerja gitu. Kalau sekarang tantangannya tidak ada, kemudian dia tidak mendapatkan sesuatu yang positif maka dia akan pergi. Kan banyak itu kasus yang sudah diterima ASN tapi dia ditempatkan di di luar Jawa kemudian dia tidak mau gitu. Nah, ini ini menurut saya memang atas kerja perbedaan ini yang menurut saya menjadi tantangan birokrasi saat ini sehingga pada saat terjadi ketimpangan itu, Gap itu maka bisa menimbulkan konflik, kesalahpahaman gitu. Next. Oleh karena itu penting membangun yang namanya empati. Empati itu adalah kemampuan untuk memahami dan perasa dan merasakan perasaan orang lain. Melihat sesuatu tidak hanya dari sudut pandang kita, tetapi dari sudut pandang mereka juga dan juga sekaligus menghargai perbedaan. Konsep ini dimunculkan oleh Golman ya dalam konteks ada banyak ahli tetapi salah satunya dari eh Goldman mengatakan bahwa empati itu bagian penting dari kecerdasan emosional yang mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana kita membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Ada tiga jenis empati ya. Ada empati kognitif gitu. Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain, kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain. Empati emosional adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan secara emosional, menyelaraskan emosi kita dengan emosi orang lain, gitu ya. Kemudian yang ketiga adalah ee empati yang terkait dengan kompasionate ya. Orang sering mengatakan sebagai empati welas asih gitu mendorong kita untuk tidak hanya memahami dan merasakan perasaan orang lain, tetapi juga untuk bertindak dan membantu mereka. Jadi empati tidak hanya sekedar merasakan saja ya, tetapi harus ada unsur di mana kita bertindak dan membantu mereka gitu lah. Ini ini menjadi hal yang penting. Kenapa? Bahwa ee sekali lagi Golman menekankan bahwa empati itu bukan hanya memahami perasaan orang lain saja gitu ya, tetapi juga tentang bagaimana kita merespon, bagaimana kita menggunakan pemahaman orang lain tersebut untuk membangun hubungan yang lebih baik. Jadi empati itu adalah keterampilan yang dapat dikembangkan sebenarnya, dapat diasah ya bukan sifat bawaan empati itu. Jadi bisa dilatih, bisa ditingkatkan gitu. Ah ee ada tiga hal yang penting terkait dengan kenapa empati penting. Pertama adalah pelayanan publik. Pelayanan publik yang berbasis masyarakat adalah sistem pelayanan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan harapan masyarakat. Artinya apa? Dalam merancang dan melaksanakan pelayanan, pemerintah ASN harus memahami, harus memahami apa keinginan dari publik, harus merespon secara aktif kebutuhan spesifik dari masyarakat yang dilayani. Bukan hanya berpegang teguh pada prosedur baku, bukan hanya berpegang teguh pada aturan semata, tetapi harus berbasis pada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. Dengan berfokus pada keputuhan masyarakat, pasti pelayanan publik dapat memberikan solusi yang tepat ya, tepat sasaran, meningkatkan kepuasan, bisa meningkatkan public trust, bisa mendorong pembangunan berkelanjutan. Karena apa? Tidak bisa ASN itu bekerja sendiri. Harus ada unsur partisipasi masyarakat. Pelayan publik itu juga sebenarnya akan meningkatkan partisipasi masyarakat. Orang merasa akan menjadi bagian dari negara ini, menjadi bagian dari pemerintah. Kalau ide-idenya, pemikirannya yang diinginkan itu tercapai di pemerintah gitu. Pada saat itu tidak selaras, maka juga akan menimbulkan persoalan-persoalan di kemudian hari. Yang kedua terkait dengan persoalan membangun kepercayaan, ya membangun kepercayaan lintas level dan lintas unit. Dalam konteks itu maka ASN harus memerlukan komunikasi yang efektif, harus transparan, harus konsisten, harus kolaboratif gitu. Harus melibatkan pemahaman perspektif satu sama lain. Ini yang saya jadi empati tadi. Orang harus memahami orang lain. Pada saat saya ini seperti ini, maka orang lain harus paham ter apa yang saya inginkan. Dengan dengan seperti itu maka akan memberikan support dan akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih lebih positif gitu ya. Jadi oleh karena itu perlu yang namanya komunikasi terbuka dan transparan termasuk bagaimana kita membicarakan hal-hal penting bagi memberikan uran balik yang sebaga yang ketiga adalah memfasilitasi kerja yang kolaboratif ya kolaboratif dan inklusif tadi sudah disinggung oleh pembicara sebelumnya. ee kolaboratif dan inklusif itu adalah sebuah pendekatan dalam bekerja yang menekankan pada kerja sama antar individu, unit kerja, instansi dan memastikan bahwa semua orang termasuk kelompok yang mendapatkan layanan itu mendapatkan kesempatan sama dalam berpart ya dalam konteks kolaboratif adalah ya ee PSN harus mampu bekerja sama dengan berbagai pihak baik di internal maupun ke eksternal ya. Apa apa tujuannya ya untuk mencapai common goal untuk tujuan bersama. Oleh karena itu dalam konteks kolaboratif ya harus ada komunikasi gitu dan harus ada saling menghargai, saling memahami gitu. Kemudian dalam konteks inklusi tadi sudah dijelaskanah bahwa kita tidak boleh kemudian memandang atau memberikan ee respon yang berbeda pada saat terjadi variasi latar belakang yang beda gitu ya. Karena menurut saya negara kita itu kan negara yang sangat eh diers diversation sangat tinggi ya keberagamannya sangat tinggi. Tidaknya tidak hanya konteks suku, tapi juga agama. ras, gender ya. Apalagi sekarang ada isu terbaru adalah terkait dengan disabilitas gitu. Harus punya kesempatan yang sama gitu. Jadi ee ini menurut saya menjadi hal yang penting agar kemudian dalam konteks internal ASN harus mampu berbagi informasi. Informasi tidak di diklik gitu ya, tidak disembunyikan, tidak dirahasiakan. Oh, di-share gitu di dalam penyelatan tugas. Kalau saya punya cara-cara tertentu yang inovatif, ya harus saya share. Karena bangunannya itu bukan bukan individual goal, tetapi common goal. Dalam konteks eksternal tentunya ASN harus mampu bekerja sama ee dengan instansi lain. Eh, oke, dalam konteks in eksternal maka ASN harus mampu kerja sama dengan instansi lain, harus m bekerja sama dengan pihak swasta, masyarakat itu karena penyelesaian karena seharusnya penyelesaian itu tidak hanya di satu dua dua unit atau internal saja, tetapi juga eksternal. Next. Yang kedua adalah terkait dengan toleransi. Toleransi apa? Toleransi itu toleransi itu adalah sikap menghargai, menghormati, menerima perbedaan di antara individu maupun kelompok. Ya, jadi toleransi itu mencakup sikap yang tidak diskriminatif, tidak memaksakan kehendak, mau bekerja sama. Dengan mempraktikkan sikap toleransi, maka ASN dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik, harmonis, penuh kedamaian. Ya, jadi ee apa contoh contohnya dalam konteks itu ya? Misalnya eh sistem meritokrasi gitu ya. Jadi dasarnya objektivitas gitu. Dasarnya kalau menempatkan orang ya harus objektivitas, transparan gitu. Jadi harus ada evaluasi, harus ada monev, harus ada dalam konteks lain harus ada netralitas lah. Untungnya apa? Toleransi. Tentunya dengan toleransi maka akan ada penghargaan terhadap ee ee variasi-variasi gitu ya. Kemudian juga tentunya akan memberikan mencegah diskriminasi dalam pengambilan keputusan. Karena seringki pengambilan keputusan tentang sesuatu itu akan jadi persoalan karena kita itu menetapkan sesuatu tidak objektif. Pengangkatan jabatan tidak berdasarkan pada kompetensi, kualifikasi dan kinerja, tetapi lebih pada faktor subjektivitas, tuduhan pribadi tertentu, gitu. Dan kemudian ee akan mendorong inklusivitas dalam kebijakan publik. pada saat pemerintah dianggap adil kemudian transparan, maka tentunya akan memberikan ee apa ya memberikan dampak yang positif ya. Apalagi kalau misalnya saya gini ini tren ini yang isu-isu yang sekarang dibangun juga adalah terkait dengan bagaimana peningkatan keterwakilan perempuan ya. Jadi perlunya peningkatan keterlalagan perempuan dalam jabatan struktural dan fungsional gitu ya. Atau juga menyediakan fasilitas yang mendukung perempuan misalnya tempat bul ya dan sebagainya gitu. Kemudian bisa juga karena ee pengarus utama gender ya. Jadi harus menghilangkan persenjangan sosial dan disinasi dan mewujudkan kesetaraan gendong ya. Kemudian ee inklusivitas tentunya pada saat ee apa inklusivitas itu terjadi maka ee memastikan apa yang harus dilakukan memastikan bahwa semua orang tanpa memandang latar belakang suku, agama, gender, disabilitas, status sosial ekonomi memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan berkontribusi. Jadi ini mencakup akses yang secara terhadap pelayanan publik, kesempatan pengembangan diri dan juga lingkungan kerja yang selalu mendukung pada siapapun. Next. Ee ini data ya. Data menunjukkan bahwa ternyata ee multi budaya. Jadi latar belakang dari ASN itu multi budaya, multi generasi gitu ya. Dan kalau kita bicara terkait dengan provinsi tentunya kulturnya juga beda, agamanya beda, latar belakang sosial ekonomi juga beda. Sebagai next. Ah, ini ini ee yang saya tekankan bahwa kenapa orang perlu empati, kenapa orang perlu toleransi? Karena ada energi ya. Karena eh kalau kalau Stepen Cofe mengatakan bahwa ada ada tujuh kan se habit itu di antara tujuh itu ada tiga hal. Satu adalah empati, satu toleransi dan kemudian ada yang disebut sebagai sinedi gitu ya. Pada saat kemudian ASN mampu membangun empati, pada saat ASN mampu membangun toleransi yang baik, maka apa yang terjadi? seperti sinergi. Kalau sinergi itu kan gabungan dari berbagai energi dari ASN ya, dari berbagai unit. Sehingga apa yang terjadi? Kalau sinergi itu maka pasti akan terjadi yang namanya kolaborasi. Dalam konteks internal ada kolaborasi, dalam konteks eksternal apa yang terjadi? Trust, ada public trust. Kuncinya kan sebenarnya public trust itu ya. Jadi pada saat ee apa kita dipercaya oleh orang lain, apapun yang dilakukan kita itu maka akan dipercaya. Tapi pada saat terjadi pabrikas, apapunlah kebaikan apapun yang dilakukan pasti juga tidak akan memberikan dampika. Next. Apa e lesson learn ya? Lesson learn dari berbagai tempat. Salah satunya kalau dalam konteks ee empati ya. empati in leadership itu dilakukan di Singapura ya. Jadi Singapura itu ada program pelatihan kepemimpinan ya yang mencontohkan mengarahkan seorang untuk melakukan pendekatan empati dan pendekatan manusiawi ya. Jadi pelatihan-pelatihan itu salah satunya adalah bagaimana cara keterampilan berkomunikasi, bagaimana mendengarkan secara aktif, bagaimana program monitoring untuk menghubungkan individu dari berbagai latarbakan untuk membangun hubungan dan pemahaman bersama. Program pelatihan-pelatihan berbasis empati ini ternyata efektif untuk meningkatkan public trust ya. Jadi ini menurut saya menjadi hal yang penting ya. Jadi ee apa ada banyak studi kasus yang dilakukan terutama oleh eh ada center of diversity and inclusion itu yang kemudian eh memberikan catatan bahwa kepemimpinan yang berempati tidak selalu berarti menjadi lemah. Seringkiali kan gitu. Kalau kita memahami orang lain, memahami masyarakat seakan-akan tidak seakan-akan lemah dan tidak tegas gitu. Jadi pemimpin efektif di di Singapura yang itu ee selama mendapatkan pelatihan itu mampu menggabungkan empati dengan pengambilan keputusan yang tepat dan tindakan yang tegas ketika diuk diperlukan. Jadi tidak selalu ee bahwa empati itu menunjukkan kita lemah gitu. Kemudian yang kedua adalah yang dilakukan oleh eh di Kanada ya terkait dengan diversity inclusion chter eh di ASN ya di Kanada yang dilakukan oleh eh apa pusat ee pusat untuk ee ee kajian terkait dengan inklusi dan dan diversity. Apa yang dilakukan di sana? Dilakukan yang di pelatihan keberagaman. itu kan di Kanada itu kan kebergamanya tinggi ya ee tidak seperti di Indonesia aja tapi dia lebih luas lagi karena di situ ada dibangun dari e orang-orang Indian, orang-orang Amerika, orang-orang Asia ya, orang-orang dari berbagai negara itu sehingga ee mereka membangun yang namanya pelatihan keberagaman. Apa tujuannya? Meningkatkan kesadaran tentang keberagaman. meluruskan, meminimalkan stereotype, meminimalkan prasangka karena itu akan mempengaruhi konflik-konflik di lingkungan kerja dan mempengaruhi ee interaksi sosial gitu. Ya, ini yang dilakukan ee kelompok-kelompok karyawan ee misalnya ee pelatihan-pelatihan yang terkait dengan bagaimana membangun membangun kesadaran akan keberagaman, membangun praktik-praktik inklusif yang mempertimbangkan ee apa namanya keberagaman mungkin sehingga muncul dalam bentuk kebijakan-kebijakan. Jadi ee ee bahkan karena di sana juga ada undang-undang di Kanada memberikan dasar hukum tentang bagaimana upaya keberagaman dan inklusi itu di berbagai sektor termasuk sektor pekerjaan, pendidikan, penyediaan layanan publik dan sebagainya. Next. Apa yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan empati? Salah satunya adalah pelatihan EQ ya. eh pelatihan emotional intelligence dan mindfulness ya, yaitu program pengembangan diri yang fokusnya pada apa? Meningkatkan pemahaman dan pengelolaan emosi dan kesadaran penuh dalam konteks ee pengelolaan tersebut gitu. Pelatihan ini akan membantu individu untuk mengenali dan mengelola emosi mereka, memahami emosi orang lain sehingga dapat meningkatkan hubungan personal dan kesejahteraan mental. Dalam konteks mindfulness sebagai bagian dari dari pelatihan IQ membantu individu untuk fokus pada saat ini misalnya tidak boleh menghakimi. Ya, seringki kita kan melihat orang ini terus kemudian ee oh orang ini pasti gini gitu ya. Sering kita itu melakukan judgement sebelum berinteraksi bisa mengurangi stres karena berpikir positif kemudian meningkatkan kemampuan untuk merespon situasi dengan lebih tenang dan efektif. Eh manfaat pelatihan eh emotional intelligence mindfulness ini tentunya akan meningkatkan kesadaran diri. kita mampu mengelola emosi, kita meningkatkan empati, keterampilan sosial, bagaimana untuk berinteraksi, bahkan juga pengambilan keputusan yang lebih baik. Karena keputusannya tidak hanya pada konteks emosi, tapi juga untuk ee keputusan-kebasional. Kemudian cross eh functional eh cross functional team project. Projek lintas tim lintas fungsi ini melibatkan tim terdiri dari berbagai anggota. Perlu dilakukan sebuah kerja sama menyelesaikan projek dengan berbagai departemen, dengan berbagai area fungsional dalam satu organisasi yang bekerja sama untuk apa? untuk mencapai tujuan bersama. Pendekatan ini memang memanfaatkan keragaman keahlian dari berbagai ahli meningkatkan untuk menyelesaikan masalah, melakukan inovasi, dan keberhasilan projek secara keseluruhan. Aspek kuncinya ya harus ada keahlian yang beragam, harus ada pendekatan kolaboratif, tapi juga ada yang namanya common goal. Dan di situ juga ada unsur komunikasi dengan lebih baik dan sebagainya. Yang ketiga adalah coaching dan mentoring. Coaching dan mentoring ini ee merujuk pada program pengembangan sumber daya manusia ya. Di mana individu dari berbagai unit kerja dan rentang usia itu kan harus saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan. Tujuannya apa? Untuk meningkatkan kinerja, mengembangkan potensi diri dan memperelat hubungan antar unit atau antar generasi gitu. Coaching dan mentoring adalah dua pendekatan yang berbeda untuk pengembangan diri kan ya. Kalau coaching berfokus pada peningkatan keterampilan spesifik dan pencapaian tujuan jangka pendek. Sementara monitoring lebih menekankan pada pengembangan karir jangka panjang dan hubungan personal melalui bimbingan dan ee berbagi pengalaman. Next. apa dampak positif birokrasi yang penuh empati ya. Jadi ee tentunya harapannya kalau ee kita pendidikan empati maka tentunya inovasi layanan publik menjadi meningkat ya karena ada empati di antar generasi di internal dan juga ke masyarakat. masyarakat menjadi puas, budaya kerja juga menjadi efisien dan meminimalkan konflik gitu. Jadi kalau kita lihat organisasi dengan skor empati tinggi ternyata kinersianya 27% lebih baik dibandingkan organisasi yang tanpa menggunakan empati. Next. yang ee tentunya empati dan toleransi bukan sekedar sikap pribadi gitu ya, tapi strategi nasional pada birokrasi yang sinergis, impulif, dan berdaya saing global. Kita jangan berpikir ee dalam konteks lokal dan nasional saja. Suatu saat dalam konteks itu ee apa? persaingan kompetisi global akan menjadi bagian yang penting gitu. Oleh karena itu ee hal yang mudah misalnya adalah bagaimana kita mulai dengan mampu untuk mendengarkan orang lain, kemudian memahami orang lain, dan tentunya setelah mendengarkan dan memahami maka kita akan bisa memberikan servis yang sangat baik pada orang lain. Terima kasih banyak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Ya, terima kasih sekali Pak Andik untuk materinya. Sangat insightful banget apalagi yang part terkait dengan strategi untuk menumbuhkan empati dan toleransi ya. Tadi bisa dengan pelatihan emotional intelligence dan juga mindfulness, cross functional team project dan juga coaching dan mentoring lintas unit dan fungsi. Sedikit pertanyaan sebelum saya serahkan ke sobat ASN. Bagi yang ingin bertanya ya, Pak Andi. Kalau misalnya nih ada orang datang dengan masalah, rekan kerja kita datang dengan masalah untuk meminta solusi di kita, sedangkan kondisi kita load kerjaan lagi tinggi, kemudian pikiran lagi sumpek gitu ya, pada akhirnya kan kadangkali kita enggak bisa ee merespon ee permintaan tolong tersebut dengan empati gitu. Nah, kalau menurut Pak Andik ya, apa yang harus kita lakukan pertama kali jika menghadapi situasi seperti itu? Kan tadi kuncinya adalah mainfulness, berarti kan kita belum bisa main fullness waktu itu. Silakan, Pak Andik. Iya. Jadi memang ee ada satu pelatihan yang eh selain emotional eh intelligence, dan mindfulness itu adalah psychological first aid. Psychological first itu adalah bagaimana kita mampu melihat masalah kemudian mengurai masalah dan tahu apa cara untuk menyelesaikan masalah itu. Biasanya psychological itu dilakukan sendiri dulu ya ada self care gitu ya. Dengan kita belajar itu maka kita tahu oh kalau saya ada masalah ini saya harus bagaimana sih gitu. Apakah saya harus selesaikan sendiri? Apakah saya harus ketemu orang lain ataukah saya harus ketemu profesional? Itu itu psychological first. Di sisi lain psych orang yang kemampuan psychological first atau bantuan psikologis awal ini juga bisa menyelesaikan atau mendengarkan problem dari orang lain. Jadi kita bisa terlatih untuk melakukan itu gitu. Jadi ee ini ini sesuatu yang sebenarnya seharusnya di di apa ya dilakukan di tingkat ASN gitu. Karena salah satu bagian dari penting ya kalau saya lihat di Kementerian BUMN itu adalah kesehatan mental. Salah satu bagian kesehatan mental adalah self care. Selfcare, kita mampu menyelesaikan persoalan sendiri, maka kita bisa membantu orang lain, gitu ya. Jadi ee artinya pada saat kondisi seperti apa orang orang itu ee pada saat orang minta bantuan saya harus bagaimana sih saya minimal paling tidak harus kemampuan untuk mendengarkan mendengarkan masalah gitu. Karena pada saat orang bisa mengeluarkan unek-uneknya, maka sebenar itu 50% kesembuhan dari seseorang itu. Itu sih berarti memang ee kalaupun kita tidak bisa menyelesaikan masalahnya, setidaknyalah active listening dulu gitu ya. Kita coba pahami dulu ya walaupun enggak e solusinya mungkin enggak bisa kita berikan secara langsung. Thank you, Pak Adik untuk jawabannya. Ini sudah ada Sobat ASN yang bergabung bersama dengan kami untuk bertanya. Selamat siang, Bapak. Siang, Pak Joko. Siap, Pak Joko. Silakan dikenalkan terlebih dahulu asal unitnya. Kemudian langsung saja disampaikan pertanyaannya kepada Pak Andik. Silakan, Pak Joko. Baik. Eh, saya Joko Kosmarianto dari UPT Balela Terkeja Singosari Malang. ee menarik apa yang sampaikan narasumber tadi Pak Andi tadi. Namun demikian, ada yang ingin saya tanyakan Pak sesungguhnya Indonesia ini jika dibanding dengan Singapura, Indonesia tidak kalah, Pak. Kita punya Pancasila yang dengan Pancasila itu sudah termaktub di ituu empati dan ee tadi disbutkan dengan empati dan toleransi. itu pasti. Jika kita laksanakan benar Pancasila itu dalam tatanan ee baik berbangsa, bernegara, maka saya yakin Indonesia tidak akan kalah dengan Singapura. Karena dalam Pancasila itu nilai luhur bangsa termaktub di situ. Hanya masalahnya adalah sejauh ini implementasi Pancasila dalam bernegara ini kok semakin ke sini semakin berkurang, Pak. Ya, saya merasakan itu semakin berkurang. Kebetulan saya ini berdinas sudah mau pensiun nih, Pak. 4 bulan lagi pensiun dengan masa 60 tahun. Masa kerja 3 tahun hampir 40 tahun. Saya merasakan semakin ke sini semakin ke sini kok semakin menurun ini implementer Pancasila ini sehingga menimbulkan apa itu ee tadi disebut dengan transparan menjadi tidak transparan. Contoh nyata yang sekarang ini bergure di fenomena itu adalah misalnya adalah ada suatu yang diduga palsu. Itu kan enggak sulit toh kalau kita terapkan Pancasila itu mudah sekali tinggal tunjukkan saja selesai urusan diuji selesai enggak ribet kayak sekarang ini gitu loh. Nah sekarang kita sebagai ASN sejauh ini sering kali sampaikan Pak berkaitan dengan Pancasila itu sebagai landasan negara kita. Apakah Bapak sependapat jika dengan Pancasila itu diterapkan secara konsekuen dalam bangsa bernegara dalam pelayanan ASN ini? Maka dua kata tadi toleransi dan ee apa namanya? Empati itu pasti akan terwujud, Pak. Yang berikutnya, kenapa sih ee selama ini kita tidak menggunakan pemimpin terbesar sepanjang masa, yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang menjadi dalam 100 tokoh tampilkan nomor satu itu sebagai acuan. Seringki kita menggunakan acuan yang lain gitu loh. Bicara toleransi dan ee empati beliau sudah sangat mencontohkan sekali. sampai dengan sekarang belum ada yang berani menggeser posisi beliau sebagai tokoh nomor satu dalam 100 tokoh dunia yang berpengaruh itu. Ini pertanyaan kenapa demikian, Pak? Ee apakah Bapak sependapat dengan pertanyaan pertama? Monggo dikomentari, Pak. Iya, saya setuju ya. Artinya gini, Pancasila itu kan sebenarnya real nilai-nilai yang sebenarnya dimiliki. Ya, jadi pada saat muncul nilai-nilai Pancasila itu sebenarnya kalau kita lihat nilai-nilai itu adalah nilai yang sebenarnya kita miliki dan nilai aslinya itu adalah itu persoalannya memang dalam konteks implementasi. implementasi itu pasti terhalang oleh persoalan-persoalan yang namanya politik. Ini ini jadi persoalan memang politik itu yang seringkiali netralitas politik itu harusnya dibangun oleh ASN gitu. Yang terjadi adalah bahwa netralitas itu menjadi tidak ada gitu. Jadi ee jiwanya sudah pancasilais gitu, tetapi implementasinya belum untuk implementasinya belum. Jadi saya setuju, Pak. Saya setuju tetap memang harus dari nilai-nilai Pancasila itu. Kalau tadi dari lemanas saya tidak tahu sih tadi gimana, tapi yang jelas ee nilai-nilai Pancasila itu nilai yang luhur loh kalau saya lihat ya. Dan itu real dari apa yang kita lakukan ke situ. Saya tidak mengatakan bahwa Singapura itu lebih baik gitu ya. Tapi kalau kita lihat teman-teman kita misalnya orang-orang yang orang-orang Indonesia yang ke Singapura kalau dia antri antri gitu tapi pada saat dia berada di sini itu tidak lagi antri gitu tidak mau lagi antri. Jadi saya tidak tahu ini budaya ya, budayanya yang menurut saya menjadi ee harus dikembalikan pada budaya mulai dari awal, culture, etika itu yang sebenarnya menjadi bagian penting. Salah satu ujian-ujian penting adalah dalam pendidikan. Pendidikan itu etika harus menjadi hal yang penting. Saya yakin Bapak waktu itu pada saat e dulu dulu sekolah kan ditangkan dulu yang namanya budi pekerti ya. budi pekerti gitu ya. Jadi menurut saya sekali lagi memang ee Pancasila tidak tidak kemudian jelek gitu, tetapi implementasinya yang kemudian seringki terhalang oleh kepentingan-kepentingan politik dalam konteks Nabi ya. Ya pasti ee saya juga muslim. Jadi saya yakin implementasi atau figur nabi itu menjadi bagian penting. Bahkan sempat ditulis kan oleh seorang ahli bahwa orang leader nomor satu itu adalah Nabi Muhammad gitu. Itu kan di itu bahkan berdasarkan pada kajian ya. Dan kalau dalam konteks dalam konteks keagamaan saya pasti e sosok itulah yang harusnya bisa menjadi contoh gitu. Nah, tetapi persoalannya kan persoalannya kan ee itu sangat ideal gitu ya. Sementara kita dihadapkan pada kondisi-kondisi yang real yang seringki itu membuat kita kesulitan apakah mengikuti yang ideal atau mengikuti yang pragmatis gitu ya. Jadi kan ada dua pilihan kan, kita pragmatis atau ideal. Seringki idealisme itu akan membuat kita menjadi ee tidak mendapatkan apa-apa gitu. Tapi pada saat kita menjadi pragmatis, kita bisa mendapatkan banyak hal tapi menjadi tidak tidak ideal. Jadi saya setuju, Pak ee dua pandangan Bapak bahwa Pancasila itu penting, bahwa apa dalam konteks keagamaan itu penting, tapi sekali lagi implementasi itu menjadi problem bersama kita. Mungkin begini, Pak Bapak. Ee di dalam praktik ketenagaraan kita, Pak, ya terkait dengan Pancasila tadi saya singgung kenapa saya menggunakan Pancasila karena itu sudah konsensus bangsa yang mesti kita pegang dan kita laksanakan. Namun sejauh selama saya berdinas sampaian sekarang ini, Pak, setiap kali upacara itu selalu saja pembacaan Pancasila, Pak. Tidak pernah namanya pengucapan pasal tanpa teks sehingga seolah-olah kita ini ya gak hafal hafal enggak apalagi paham gitu kan. Kalau enggak paham bagaimana menerapkannya? Nah, saya mengusulkan ini bagaimana ke depan dalam tata upacara itu bukan pembacaan Pak, tapi pengucapan Pancasila sebagaimana telah dilakukan dalam TNI itu kan pengucapan Sapta Marga termasuk Korpri Pak Sapta Korpi itu tidak pernah diucapkan selalu dibacakan dan diikuti, diturukan. Kapan kita mau maju? Dalam dua hal itu saja kita masih kedodoran di situ, Pak. Harapan saya ke depan itu bukan lagi pembacaan apalagi teksnya di bawa ajudan begitu. Enggak begitu. Tetapi seorang pemimpin sudah harus bisa mengucapkan dengan benar dan yang peserta upacara juga harus bisa ngucap dengan benar. Tidak usah menggunakan teks gitu, Pak. Termasuk pancarta Korpi karena kalau itu dibacakan terus ya gak haal-hafal. Haal enggak enggak ngerti bagaimana melaksanakannya. Ini himbauan aja kepada semuanya ini supaya kita menjadi lebih baiklah. Mari kita bangsa Indonesia itu tidak di bawah bangsa yang lain. Kita bangsa unggul di dunia ini. Kita punya cara panjang berkata toleransi empati. Kita sudah jagonya sebetulnya hanya saja semakin kesekian ke belakang ini kok itu semakin menurun begitu. Mari kita bangkit kembali bangsa Indonesia Jaya Lestari selamanya. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Siap Pak Joko. Terima kasih. Semoga ini juga bisa menjadi input positif bagi para pembuat kebijakan ke depan ya dan bagaimana Sobat ASN ini bisa menginternalisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pak Andi sekali lagi terima kasih untuk waktunya sudah berkenan sharing di webinar ASN belajar seri 29 kali ini. Sebelum diakhiri, Pak Andik boleh dong closing statement-nya Bapak. Silakan Pak. Iya. Ee menurut saya perubahan menjadi sesuatu yang tidak terelakkan gitu ya. dunia semakin berubah secara global maupun secara nasional. Mau tidak mau maka kita harus melakukan perubahan. Salah satu bagian penting dalam melakukan perubahan adalah membangun empati dan toleransi. dengan empati dan toleransi, maka secara internal kita bisa membangun kolaborasi yang lebih baik dengan teman, dengan sejawat di dalam konteks eksternal tentunya akan bisa memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat luas sehingga kemudian ee akan terjadi produktivitas yang yang begitu tinggi dan juga akan menimbulkan hal yang paling penting oleh ASN. adalah bagaimana membangun kepercayaan publik kepada ASN. Terima kasih banyak. Terima kasih sekali, Pak And. Salam sehat selalu, Bapak. Semoga kita bisa bertemu kembali di lain-lain eventnya. Semoga barokah juga, Pak Andi. Thank you, Pak. Amin. Amin. Makasih banyak. Mohon izin. Baik, Sobat ASN. Tidak terasa kita sudah berada di pengujung acara webinar ASN belajar seri 29 ASN Bersatu Indonesia Maju. Kolaborasi ASN di hari Persahabatan Dunia. Sekali lagi terima kasih kepada tiga narasumber kita yang sudah memberikan materi yang sangat luar biasa. Semoga Sobat ASN bisa mengambil insight-insight menarik dan menerapkannya dalam lingkungan kerja di masing-masing daerah. Sobat SN sekalian. Dan akhir kata, saya Lokman Ali beserta tim BPSDM Jawa Timur yang bertugas pamit undur diri. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sampai bertemu di webinar ASN belajar seri berikutnya. Bye bye. [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas. belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia tukang tekad pantang menyerah jadi AS berkualit Kita [Musik] belajar [Musik] Yeah. [Musik]