Transcript
XXMroOeKsYE • ASN Belajar Seri 29 | 2025 - ASN Bersatu: Indonesia Maju (Kolaborasi ASN di Hari Persahabatan Dunia)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0250_XXMroOeKsYE.txt
Kind: captions
Language: id
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
Selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap menyongsor Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia. Satukan
tekad pantang menyerah
jadi ASN getar berkualitas.
yang belajar wujudkan
iman
selaku dunia
tukang tekad pancang menyerah
jadi AS berkuan Kita
sedar
[Musik]
karena aku belajar
[Musik]
kami mencoba Jadi yang terbaik melayani
bangsa dengan sepenuh hati. Marilah kami
junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri. Memerasi
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Hong
kami dari sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
berganding tangan satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tujukan kompetensi dalam harmoni
bangsa loyal tanpa batasannya
adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan air yang lebih beragung
bekerja penuh hati tulus membantu sesama
dibangun kami melayak
dengan kami melayani
dengan mana kami melayani
B
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
seluruh Indonesia yang tengah
menyaksikan acara webinar ASN Belajar
seri 29. Persembahan Korpu SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Senang sekali saya
Lukman Ali dapat menyambah kembali sobat
ASN tentunya dalam webinar ASN Belajar
ini persembahan spesial untuk
memperingati hari Persahabatan
Internasional yang sudah jatuh di
tanggal 30 Juli 2025 lalu. Saya pernah
mendengar pepatah Afrika yang pernah
mengatakan terkait jika ingin berjalan
cepat maka berjalanlah sendiri. Tapi
jika ingin berjalan jauh maka
berjalanlah bersama-sama. Seringkiali
kita dengar kata kolaborasi, tapi
ternyata untuk mewujudkannya bukanlah
perkara yang mudah ya. Kadang kala masih
ada sal mentality dalam ee diri kita,
mindset-mindset yang perlu dirubah.
Padahal dengan adanya kolaborasi kita
bisa sharing resources. Kemudian kita
juga bisa berbagi risiko yang tentunya
bisa membantu kita untuk mencapai tujuan
yang ingin kita capai di organisasi atau
entitas kita. Nah, kali ini kita akan
berbagi banyak sekali insight seputar
kolaborasi. Bagaimana cara menumbuhkan
empati, budaya kerja kolaboratif dan
inklusif? Tentunya selengkapnya dalam
webinar ASN belajar seri 2925.
ASN Bersatu Indonesia Maju. Kolaborasi
ASN di Hari Persahabatan Dunia.
[Musik]
Baik, Sobat ASN, untuk membuka webinar
ASN Belajar seri 29 tahun 2025 kali ini
mari kita dengarkan bersama opening
speech yang akan disampaikan secara
langsung oleh Kepala BPSDM Provinsi Jawa
Timur, Bapak Dr. Ramlianto, SPMP.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita semuanya. Sobat ASN
di seluruh tanah air, selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University, Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini, Kamis tanggal 31 Juli 2025,
ASN Belajar telah memasuki seri yang
ke-29.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami
selalu berkomitmen sekaligus terus
berikhtiar untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-29 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka turut serta
memberi makna bagi Hari Persahabatan
Internasional atau International
Friendship Day yang dirayakan setiap
tanggal 30 Juli setiap tahunnya.
Hari Persahabatan Internasional
ditetapkan oleh Majelis Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun
2011 dengan tujuan mempromosikan
perdamaian, solidaritas, dan saling
pengertian di antara orang-orang dan
bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN belajar seri ke-29 tahun 2025 ini
mengambil topik ASN bersatu Indonesia
maju. Kolaborasi ASN di hari
persahabatan dunia.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam ASN belajar bahwa topik menarik
ini akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sopat ASN di seluruh tanah air hari
persahabatan dunia didasari oleh
pemahaman bahwa persahabatan antar
individu, negara, dan budaya dapat
berkontribusi pada terciptanya
perdamaian dan membangun jembatan antar
komunitas.
Dengan tantangan global seperti konflik,
kemiskinan, perlindungan hak asasi
manusia, memperkuat ikatan persahabatan
dianggap sebagai cara yang efektif.
untuk mempromosikan stabilitas sosial
dan menciptakan dunia yang lebih
harmonis.
Momen Hari Persahabatan Internasional
lahir dari kesadaran bahwa persahabatan
bukan hanya soal kedekatan personal,
tapi juga kekuatan sosial yang
menyatukan bangsa-bangsa melewati sekat
budaya, politik, dan perbedaan
kepentingan.
Filosofi persahabatan mengajarkan kita
tentang trust, respect, dan
reciprocosity. Saling percaya, saling
menghormati, dan saling menguatkan.
Inilah nilai yang juga menjadi jiwa dari
birokrasi kolaboratif. Karena pada
akhirnya kita tidak hanya bekerja
berdampingan, tapi harus tumbuh bersama,
saling menopang, dan berjuang dalam satu
cita.
Saat SN, saat ini kita hidup di era yang
luar biasa. Sebuah zaman ketika
batas-batas geografis bukan lagi
penghalang kerja sama dan identitas
kelembagaan bukan alasan untuk bekerja
sendiri-sendiri.
Kita menghadapi tantangan global,
disrupsi digital, krisis iklim,
ketegangan geopolitik yang tidak bisa
diselesaikan oleh satu tangan, satu
lembaga atau satu sektor saja.
Di tengah kompleksitas ini, ASN hadir
sebagai simpul-simpul
perekat bangsa, sebagai jembatan antar
daerah, antar generasi, antar ideologi
yang berbeda. Karena sejatinya ASN bukan
sekedar abdi negara, tapi penjaga
peradaban.
Melalui ruang belajar lintas batas ini,
kita hendak menyatukan semangat, bukan
hanya pikiran. Meneguhkan kembali bahwa
kita semua dari barat hingga timur, dari
pusat ke daerah adalah satu dalam cita
karya Indonesia.
Kita tahu bahwa kolaborasi bukan pilihan
tapi keharusan. Birokrasi modern
dibangun bukan dari silo, tapi dari
sinergi. Kita tidak boleh lagi bekerja
sendiri-sendiri dalam kubu sektoral.
Karena setiap kebijakan yang baik adalah
hasil dari perjumpaan, percakapan, dan
kerja sama. Hari persahabatan ini. Mari
kita maknai bahwa menjadi ASN tak hanya
soal profesionalitas, tapi juga soal
relasi kemanusiaan.
Kita adalah jaringan kepercayaan bangsa
yang saling terhubung, saling belajar,
dan saling menjaga. Karena sebagaimana
sahabat sejati, kita hadir bukan hanya
saat dibutuhkan, tapi selalu ada untuk
Indonesia.
Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu
bagaimana kita sebagai ASN Indonesia
selalu hadir sebagai perekat persatuan
dan kesatuan bangsa? Nah, untuk membahas
cerdas dan tuntas topik ini, kami telah
mengundang para narasumber luar biasa
yang sudah barang tentu sangat kompeten
di bidangnya. Kami menyampaikan terima
kasih dan apresiasi kepada para
narasumber hebat yang telah berkenan
hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat ASN di
seluruh tanah air. Pertama kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada yang terhormat Ibu Tantri
Relatami, Mikom. Beliau adalah tenaga
profesional pada Lembaga Ketahanan
Nasional Republik Indonesia. Kedua, kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada Bapak Dr. Andi Matulesi, M.Si.,
psikolog. Beliau adalah seorang psikolog
senior yang saat ini menjabat sebagai
ketua Himpunan Psikologi Indonesia.
Ketiga, kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu
Hani WSLGK, SSI, M. Beliau adalah
akademisi dari Fakultas Psikologi
Universitas Surabaya. Nah, Sobat ASN,
mari kita simak dengan seksama webinar
ASN belajar seri ke-29 tahun 2025.
Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi
kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas
opening speech yang telah disampaikan.
Sobat ASN sebelum kita masuk ke acara
intip pada pagi hari ini, terlebih
dahulu saya ingin mengingatkan bahwa
presensi sudah bisa Sobat ASN akses
melalui laman semesta Bangkom. Sobat ASN
juga bisa akses linknya melalui running
teks yang tersedia di bawah saya ya. Dan
kita akan masuk ke materi yang pertama
ini terkait dengan ASN sebagai perekat
persatuan dan kesatuan bangsa. Di mana
materi kali ini akan disampaikan secara
langsung oleh Ibu Tantri Relatami Mom,
Tenaga Profesional Lemhanas Republik
Indonesia.
[Musik]
dan telah bergabung bersama dengan kami
di sini Bu Tantri. Selamat pagi, Bu
Tantri.
Mohon maaf Ibu suaranya masih belum
terdengar.
Selamat pagi, Mas Lukman.
Pagi, Bu. Kabar baik? Jelas ya?
Sudah jelas. Sudah jelas. Oke. Kabar
baik, Bu Tantri?
Baik, alhamdulillah masuk ini semangat
sekali. Semangat semangat.
Luar biasa. Semangat semangat semangat
ya. Tadi ada pepatah Afrika yang
mengatakan kalau misalnya mau berjalan
cepat maka berjalan sendiri. Tapi kalau
mau berjalan jauh maka berjalan
bersama-sama. Sama-sama.
Ya, kali ini saya mau mendengarkan, kami
semua mau mendengarkan materi spesial
dari Bu Tantri terkait dengan ASN
sebagai perekat persatuan dan kesatuan
bangsa. Mohon izin Ibu untuk durasi
materinya kurang lebih selama 30 menit.
Nanti kita akan langsung masuk ke sesi
tanya jawab. Silakan Bu Tantri.
Baik, terima kasih Mas ee Lukman. saya
nanti minta tolong diingatkan tadi saya
minta untuk ee dibantu untuk ee
tayangkan untuk slide saya ng ee
asalamualaikum warahmatullahi ee
wabarakatuh. Selamat pagi Bapak dan Ibu
ee yang ada semua di ee ruangan Zoom ini
dan juga ee ee terutama kepada Pak
Ramlianto. Saya senang sekali dengan
opening speech-nya tadi. Luar biasa
sekali kita sudah dapat ee eh
framing-nya gitu. bahwa ee bagaimana
sebenarnya ee ketika kita berbicara
mengenai ee ee bangsa saat ini bahwa
kalau kita ee melihat ee peran ASN dalam
persatuan dan kesatuan itu adalah tugas
saya untuk kita sharing sih sebenarnya.
Jadi kalau kita mencoba ee melihat apa
yang terjadi ee sekarang ini Bapak Ibu
bahwa ada satu pertanyaan yang sering ee
sering kita tanyakan bahwa apakah
nasionalisme itu masih ada apa enggak
gitu. Jadi ketika kita mencoba melihat,
kita bisa next ya ee untuk eh slide-nya
ee jadi e next lagi. Jadi kita bisa
melihat bahwa ee bicara mengenai
nasionalisme ada yang akan mengatakan
bahwa Bu masih ada Bu sudah enggak ada
gitu. Apakah nasionalisme itu bisa
hilang gitu. Nah, kenapa ee ee kenapa
kita harus ee apa namanya? Ee
akhir-akhir ini sangat sering sekali
untuk kita ee mencoba untuk bertemu.
Kemudian kita akan mencoba untuk banyak
diskusi mengenai ee wawasan kebangsaan,
mengenai wawasan nusantara, mengenai
persatuan-kesatuan dan mengenai berbagai
hal. Apa penyebabnya? Begitu. Nah,
pertanyaan saya tadi itu bahwa ee ee
rupa-rupanya ketika dikatakan bahwa
nasionalisme bisa hilang apa enggak gitu
ee katanya sih sebagian besar mengatakan
bisa hilang gitu. Nah, kita coba melihat
apa sih sebenarnya penyebabnya. Nah, ee
zaman dulu nih zaman dulu nih zamannya
saya nih gitu mungkin ee kita masih
masih banyak ee dengar cerita gitu. kita
masih banyak punya ee punya punya punya
banyak cerita mengenai ee apa namanya ee
bagaimana ee nuansa kebangsaan,
bagaimana perjuangan dari nenek-nenek
kita, nenek-nenek saya, oma, opa, orang
tua kita gitu. Bagaimana kita melewati
kebahagiaan-kebahagiaan. Jadi ada
melankolis-melankolis yang kita ee
rasakan, gitu. Apa yang terjadi dengan
ee ketika kita bicara mengenai generasi
milenial begitu ee ee apa namanya?
Nuansa-nuansa itu masih berasa enggak?
Karena ketika mereka lahir gitu, ketika
lahir itu kan sudah langsung dapat
langsung dapat internet nih ceritanya.
Jadi ee kita akan ee ee mencoba melihat
bahwa ketika kita bicara mengenai ee
nasionalisme, bicara mengenai persatuan
itu di dalamnya itu ada apa? ada nilai
ya, bahwa kita mencoba untuk bicara ee
nilai-nilai bangsa yang mana ee itu yang
kita coba untuk ee rekatkan kembali
ketika bicara Indonesia Emas 2045. Tadi
sudah disinggung oleh Mas Lukman bahwa
berjalan cepat itu kalau sendiri, tapi
kalau mau berjalan jauh itu bersama.
Rasa-rasanya kelihatannya sih guy gitu
ya. Kelihatannya guyub. Namun ee
ternyata faktanya gitu, faktanya bahwa
ee ee kenapa setiap les kita ambil
contoh misalnya ee setiap ada ee apa ee
ee pemilu menjelang pemilu gitu ada
kontestasi begitu. Kenapa kita selalu
dengan mudah sekali untuk
diporak-porandakan begitu ya? kita akan
dibenturkan satu sama lain. Begitu
banyak diksi-diksi yang ada di ee tengah
masyarakat kita yang akan ee ee bicara
misalnya mayoritas, minoritas, begitu
dan akhirnya kita tiba-tiba menjadi
terpecah. Tadi ee Pak Ramlianto sudah
memberikan insight bahwa ee
ee apa namanya? Kita masuk dalam
disruption eh teknologi. Next, ya. Bisa
next, Mas. Ee jadi ee kita bisa melihat
bahwa tapi rupa ee bagaimana ee ee
ketika ada kontestasi ee politik
misalnya, kenapa kita dengan mudah
sekali ee apa namanya tercerai-berai
gitu, dengan mudah sekali di mana
perannya ASN gitu. Padahal yang
terbanyak ini ada di Indonesia ini
adalah ASN ya. ASN kan harus netral gitu
ya. Eh, itu adalah saya kira itu adalah
satu tantangan besar sekali ketika ada
komitmen bahwa ee kita harus netral
begitu. Sementara di luar keluarga kita
semuanya harus ada dukungan ke A,
dukungan ke B. Bagaimana sebenarnya
komitmen, bagaimana integritas itu bisa
dibangun. Namun kalau kata orang Jawa
ya, apapun yang terjadi sama bangsa ini
gitu, kita itu given diberikan gitu oleh
Tuhan Yang Maha Esa, orang-orang yang
luar biasa gitu ya. dinamika mana yang
kita enggak bisa mengatakan bahwa
untungnya gitu ya. Jadi kalau di di Jawa
itu suka bilang bahwa aduh untungnya
kita masih bisa melewati. Coba
dibayangkan ketika ee kita mengalami
krisis moneter dulu ketika semua orang
sudah tidak bisa lagi bisnis menjadi ee
ee sulit begitu dan tetapi kita semua
bisa melewati hal-hal itu dengan ee
dengan alhamdulillah berjalan dengan
baik. kemarin kita masuk ke kita
mendapat cobaan lagi ee ee COVID begitu
ya. Dan kita semua begitu paniknya
kemudian kita akhirnya mencoba untuk
beradaptasi dengan teknologi yang ada.
Kita mencoba masuk di ruang Zoom. Enggak
nyaman ketika ruang sosial kita hilang
gitu. Namun ee namun ketika kita mencoba
ee melihat next ee ee ee kita coba untuk
melihat bahwa ee apa namanya ee ee
ternyata daya adaptasinya ada gitu ya.
Dan akhirnya kita mencoba eh let's say
pada saat itu kita mungkin bisa coba
untuk jujur bahwa pada saat eh mulai
Zoom itu entah kita masuk pada 2.0 apa
pada masuk pada area ee era 3.0. Apakah
kita sudah paperless benar-benar atau
ketika kita masih ee apa namanya ee ee
dalam ruang kerja itu kita masih butuh
enggak ngerti nih kalau harus baca di
handphone nih gitu. Harus harus tetap
harus diprintin dan sebagainya. ee agak
tertatih-tatih. Kita baru mencoba untuk
beradaptasi.
Kita baru mencoba untuk beradaptasi
dengan apa namanya dengan ee Zoom ruang
3.0. Tiba-tiba kita harus sudah masuk di
4.0. Bayangkan bahwa bagaimana tuntutan
gitu, tuntutan teknologi gitu. Kalau
saya coba mau balikkan juga sebenarnya
ada banyak sekali teori karena saya dari
komunikasi ada teori-teori media yang
mengatakan bahwa ee ee teknologi itu
akan mengatur manusia gitu. Tetapi bisa
juga sebaliknya bahwa manusia itu akan
ee apa namanya ee mengatur teknologi
gitu. Jadi ee ee mana nih yang mana yang
paling ee dominan sebenarnya gitu. Tapi
sebagian akan bilang bahwa manusia Bu
yang mengatur karena kita yang
menciptakan. Namun kita bisa melihat
bahwa efek teknologi yang ada itulah
yang terjadi saat ini. Bagaimana kita
semua menjadi tertatih-tatih untuk
menghadapi ee ee kemudian kita akan
semua masuk dalam ruang literasi
digital. Kemudian kita masuk dalam
komunikasi-komunikasi
yang mana kita mengatakan bahwa no ini
harus ada persatuan dan kesatuan
kembali. No, kita harus belajar mengenai
ee apa namanya? Nilai-nilai lagi gitu.
Karena ada hal-hal yang ee rupanya
begitu bagaimana informasi yang masuk e
pada kita ini itu enggak bisa sama
sekali kita luberannya ya. Luberan ya.
saya sudah bilang luberan ee informasi
itu kita sudah enggak bisa lagi untuk
memilah-milahnya gitu. Siapa yang
diharapkan? Ee tentu ketika kita bicara
ee apa namanya di ruang publik gitu,
mana nih yang paling punya peran. Tentu
sangat diharapkan sekali bahwa ee
peran-peran dari ee apa namanya?
peran-peran dari ee ASN sendiri.
Bagaimana ASN bisa bisa berperan untuk
melihat gitu ya tantangan-tantangan
ketika kita bicara globalisasi.
Bagaimana kita bisa melihat ee ada
perbedaan sukunya, agamanya, ee
perbedaan ee budayanya gitu ya. Em di
ruang publik gitu. Di ruang publik ada
memang ada pecahan ya. Jadi ee ada
pecahan bahwa ada sebagian masyarakat
yang memang melihat bahwa ee apa ee
masyarakat itu harusnya ada hierarkinya
gitu, ada stratifikasi gitu ya, ada
diferensiasinya. Stratifikasi itu ketika
ada ruang di masyarakat yang mereka
melihat bahwa memusah
gitu, harus ada perting, harus ada bos,
harus ada anak buah, harus ada orang
yang kaya, orang yang miskin gitu ya.
Namun sebagian masyarakat lagi itu
mereka mengatakan bahwa ee no kita sama
di mata Tuhan gitu. Kita harus
mendapatkan hak yang sama dan sebagainya
gitu. Nah, pecahan dari apa yang terjadi
di ruang sosial kita inilah yang ketika
ada pemicunya, ada pemicunya ya
kontestasi politik, kemudian ada ee ee
satu aja yang akan menyinggung persoalan
ee ras misalnya, maka ini akan menjadi
ee konflik yang ee cukup besar gitu.
Bagaimana distorsi ee terjadi akibat
teknologi budaya kita gitu. saya enggak
tahu ee apa ee ee bagaimana kita mencoba
melihat ee Korea style-nya itu begitu
masuk dan kita akhirnya ee ada asimilasi
budaya yang kita enggak bisa cegah
begitu. Ee enaknya kita mau apain gitu.
Apakah kita harus ee ee tentu daya
adaptasi dibutuhkan, daya survive
dibutuhkan gitu. bagaimana ee ee apa
namanya ee harmonisasi di tengah
masyarakat itu ee apa namanya ee menjadi
hal yang ee tantangan sih bagi kita
sebenarnya. Saya ee punya cerita ketika
saya di kampus nih, saya bicara sama ee
mahasiswa saya, saya tanyakan bahwa
bagaimana kita bisa berkomunikasi gitu,
bagaimana ee supaya kita nyambung nih
berkomunikasinya. Mahasiswa bilang,
"Siapa yang harus beradaptasi? Dan
mereka bilang tiba-tiba bahwa oke Bu,
yang harus beradaptasi harus Ibu. Dan
mohon maaf saya akhirnya saya bilang,
"Loh, kalau misalnya harus saya, apakah
itu berarti saya harus ee berkomunikasi
dengan dialek kalian?" Begitu. Mohon
maaf. Ee kita bisa melihat anak-anak
kita sekarang bahasa gaulnya tuh kebun
binatang bisa keluar semua gitu kan.
Terus saya harus ikut-ikut seperti itu
juga gitu ya kan namanya adaptasi Bu
gitu. Jadi bisa dibayangkan bahwa ada
rentang gitu ya, ada rentang sejarah
yang jauh sekali, ada nilai-nilai yang
ee akhirnya ee hilang begitu ya. Ee ee
ee namun demikian gitu. Namun demikian,
ada hal yang saya juga mencoba melihat
di ruang sosial bahwa sebenarnya sih
kalau bicara persatuan-kesatuan
ee ee apa namanya ee ada yang bisa
mengikat kita mungkin gitu e ketika kita
bicara soal budaya, ketika ada kasus
bahwa kebaya kita mau coba diakuin gitu
oleh tetangga kita, maka kita akan ber
semuanya gitu. Semua dari kita ini ee
apa namanya? Ee ee punya rasa tiba-tiba
bangkit tuh rasa nasionalismenya bahwa
no kebaya itu adalah punya kita dan kita
mencoba untuk mempertahankannya. Namun
kalau kita bicara di Lemhanas ada
konteks ee konteks yang kita sebut
dengan kewaspadaan nasional, ada yang
kita sebut dengan ketahanan nasional,
gitu. Nah, kalau kita bicara kewaspadaan
itu kan tentu tindakannya adalah
bagaimana kita mencoba untuk mencegah.
Nah, barangkali di sisi itulah yang kita
mungkin harus ee punya tantangan
sendiri, gitu. Jadi, jangan setelah
kejadian. Kalau setelah kejadian, maka
kita akan masuk dalam konteks ee ee apa
ee ketahanan konteks ketahanan nasional.
karena ee kita harus melihat itu PR-nya
lebih besar lagi. Begitu di LEMAS kita
mengenal Astagra itu ada delapan aspek
gitu ya yang kita harus ee coba untuk
selesaikan. Jadi tantangannya menjadi ee
besar sekali. mungkin sudah bukan bentuk
tantangan lagi, tapi sudah bentuknya
ancaman, hambatan, masuk ke gangguan
lagi. Jadi, ee bagaimana kita mencoba
untuk masuknya di Patnas aja deh, di
waspada kewaspadaan aja deh. Bagaimana
kita mencoba melihat aspek mana dari ee
negara kita ini yang lemah gitu. Di kami
ada lapur tanas namanya laboratorium
pengukuran ketahanan nasional. ee hasil
terakhirnya
bahwa dari semua aspek ketika kita
bicara ideologi, kita bicara ekonomi
misalnya kita bicara ee ee politik,
pertahanan keamanan, geografi, demografi
gitu ya, sesuatu yang given buat kita
gitu.
Ternyata yang paling lemah adalah dari
mana? Dari budaya. Jadi, bagaimana ee
hampir di semua provinsi gitu ee ee
aspek sosial budaya kita lemah. Jadi,
itu yang membuat bahwa enggak heran
kalau sekarang ini ee kita ini melihat
nih tantangannya ini semua yang ada di
slide ini
adalah ee semuanya akan terkait sama
masalah sosial budaya. Jadi, bagaimana
ee ee akhirnya itu berimbas. kita harus
mengulang lagi bicara mengenai e kita
harus kembali lagi ke konsensus dasar
gitu ya. Kita harus bicara lagi mengenai
kebinekaan,
kita harus bicara lagi mengenai
persatuan karena sosbot kita memang
lemah di semua provinsi. Nah, bagaimana
ee hal-hal ini harus dipahami oleh kita
yang berada di ruang sosial gitu ya. ada
ASN yang luar biasa sekali itu sebagai
ee perpanjangan tangan dari ee ee
negara, sebagai perpanjangan tangan dari
pemerintah, perannya akan ee cukup besar
sekali begitu. dan kita ee ee ee mencoba
untuk melihat ee membuat satu strategi.
Tetapi kan harus firm dulu nih kitanya
gitu, harus tahu dulu nih dari mana
sebenarnya ancaman-ancamannya,
tantangannya seperti apa, kenapa ee
akhirnya ee begitu sulit untuk berbicara
dengan ee orang-orang di sekitar kita
gitu. Karena kita bisa mencoba melihat
juga ada cukup banyak data bagaimana
akses infrastruktur juga menjadi sulit,
bagaimana disparitas pendidikannya gitu.
Kalau di ASN kan enak gitu ya, bahwa
ee apa namanya ee ee level gitu ya,
level pendidikannya tinggi begitu.
Tetapi ketika kita masuk ke ruang
masyarakat
ketemulah itu satu-satu masalahnya.
ketemulah di mana kita mulai melihat
bahwa ee ee ee kenapa harus ada ee
perebutan wilayah, kenapa harus ada
kenapa ee ee kita masih harus bicara
bahwa masih ada ancaman suku, agama dan
budaya. Bukankah Tuhan menciptakan kita
itu ee ee masuk ke negara yang kita
sebut dengan Nusantara dulu dengan ee
heterogen gitu, dengan sesuatu yang ee
berbeda-beda. Kemudian dengan
manusia-manusia yang luar biasa. Namun
ee kenapa makin makin ke sini makin ee
makin makin sulit ketika kita bicara
bahwa ee ee ee kenapa kita enggak bisa
menjadi Indonesia begitu. Nilai-nilai
mana yang akhirnya menjadi hilang. Jadi
kalau ditanyakan bahwa Indonesia Emas
2045 gitu apa yang harus kita siapkan?
Saya baca beberapa jurnal bahwa rupanya
tantangan di Indonesia Emas 2045 itu
justru pada soft skill. Soft skill itu
bagaimana kita membangun karakter lagi.
Jadi ini kita balik nih ke ee balik ke
awal lagi karena kita menganggap bahwa
kalau hard skill yang harus dibangun
anak-anak kita itu bisa dapat di ruang
belajar gitu. Namun ketika kita bicara
soft skill maka itu adalah nilai yang
kita bangun. bagaimana semua
pribadi-pribadi kita ini punya value
untuk ee memahami gitu memahami
nilai-nilai kita sebagai anak bangsa.
Jadi ee ee bagaimana ketika ada
polarisasi sosial dan politik enggak
bisa lepas gitu karena ada ee teori
ekonomi ee politik itu juga mengatakan
bahwa bangsa itu hanya bisa besar ee dia
akan bergantung pada ee ekonomi dan
politiknya. Nah, sekarang ketika kita
bicara geopolitik dan geostrateginya,
kita bisa lihat bagaimana kemarin kita
dapat ee tarif 19 ee% namun sekarang
lagi tren gitu. Ketika kita bicara bahwa
oh data kita itu sekarang diberikan dan
ee sebagainya, bagaimana diskusi-diskusi
di ruang publik, bagaimana
kepanikan-kepanikan yang sedang terjadi,
begitu. Namun kita mencoba melihat bahwa
dalam konteks negara begitu, tidak ada
satuun negara saat ini yang tidak sedang
fokus pada negaranya sendiri gitu. Jadi
ee ee kita memang ee ee beruntung sekali
karena ketika bicara ee teori ruang
hidup ee teori ruang hidup itu dia
mengatakan bahwa ee dalam satu negara
itu kan harus ada wilayah, harus ada
masyarakat, harus ada pemerintah, harus
ada ee ada pengakuan dari negara lain.
Namun ee ee ruang hidupnya kan ee ee
beda-beda nih prinsipnya. Indonesia kita
kita memahami bahwa ee kita punya
kedaulatan gitu. kita enggak kepengin
diganggu. Karena kenapa? Wilayah kita
besar sekali gitu. Wilayah kita cukup
luas. Jadi makhluk itu ketika ee dia
harus berkembang gitu, maka dia kan
harus punya wilayah yang lebih luas. Itu
kenapa ee ee kita bicara di masa lalu
ada program-program ee apa transmigrasi
apa dan wilayah kita sangat banyak
bahkan dikasih-kasih kali ke orang gitu
ya. Jadi ke negara lain gitu. Namun itu
kan berbeda sama negara lain. Ruang
hidup wilayah mereka kecil. Sementara
mereka adalah makhluk yang bertumbuh
seperti kita semua. Dan mereka harus
tetap ee apa namanya? ee ee
mempertahankan negaranya. Dalam konteks
itulah kenapa akhirnya ada ekspansi,
kenapa ada perang untuk ngambil wilayah
orang. karena mereka kehilangan itu
ruang hidup itu juga mengatakan bahwa ee
ee apa ee mereka harus tetap bertumbuh
untuk mempertahankan wilayah mereka.
Jadi ee hal-hal ini yang menyebabkan
bahwa konflik itu. Jadi untungnya di
tempat kita, let's say misalnya kemarin
juga ada dinamika bangsa ketika kita
melihat bahwa ada ee permasalahan
perbatasan misalnya Aceh dan ee Sumatera
begitu dan cukup banyak sekali ee
problem-problem di perbatasan bagaimana
daerah 3T itu infrastrukturnya kemudian
bagaimana perbatasan wilayah dengan ee
negara tetangga itu itu menjadi hal yang
jadi ee PR gitu. Namun ee demikian ee
kita mencoba untuk ee ee ee melihat ini
ee ee dengan satu hal gitu bahwa
keutuhan Indonesia itu harus ada secara
individu. Ee ee ee kita kita harus punya
value-nya dulu. Karena kalau bicara
mengenai ketahanan nasional, maka yang
terkecil itu apa? Kita akan bicara
ketahanan keluarga. Lebih kecilnya lagi
kita akan bicara ketahanan diri. Jadi,
bagaimana konsep-konsep ee itu tertanam
gitu, nasionalismenya
tertanam, value-nya tertanam, bahwa ee
kemudian kita punya pendidikan yang baik
sehingga bisa melihat segala sesuatu
tidak dengan ee parsial gitu. Next.
Ee bisa dibantu. Next. Nah,
ee oke. Nah, jadi kita bisa ee bisa bisa
ee bisa melihat coba saya lihat. Jadi
kita bisa melihat bahwa ini tadi bahwa
dalam organisasi gitu, dalam organisasi
kan selalu ada budaya ketika kita masuk
ke ruang-ruang kita sendiri nih. Kita
bicara mengenai ruang ASN sekarang ini
gitu bahwa ee bagaimana nilai-nilai
kebangsaan itu juga mulai hilang nih.
Makanya sangat diperlukan sekali
pemahaman daripada pimpinan dari
organisasi itu untuk ee ee ee mereka
membuat satu sistem yang baik gitu
sehingga ee apa namanya ee orang-orang
di bawahnya itu bisa memahami visi dan
misinya. penting sekali ee dalam konteks
negara nih kita bisa melihat bahwa asta
cita kita kita benar-benar di-sharekan
kita benar-benar tersosialisasikan gitu
ee asta cita itu supaya apa? Supaya kita
semua memahami mau ke mana kita berjalan
ya. Jadi setiap setiap kementerian
lembaga itu akan tahu bahwa oh tugas
saya adalah menyelesaikan Asta Cita ke
satu dan du tugas saya 3 dan 4. Dalam
konteks yang lebih kecil di tempat kita
bekerja ee pimpinan juga harus ee
memahami itu bahwa ee visi misi itu
harus diketahui hingga ee level-level
yang terkecil gitu. Kalau enggak, maka
ee akan banyak sekali ee ee hal-hal yang
ee terjadi benturan ya, terjadi benturan
bahwa ee stafnya enggak paham mengenai
apa-apa yang harus dilakukan terus kita
mau ke mana. Let's say sampai orang yang
terkecil begitu ya. Jadi bagaimana kita
melihat ee permasalahan mungkin bukan
pada kita yang berada di ee masalahnya
beda-beda ya. Kalau kita bicara di
daerah 3T atau kita yang berada di ibu
kota seperti ini tantangannya tentu ee
sangat berbeda di mungkin di daerah
perbatasan tantangannya adalah
infrastruktur gitu. Namun ketika kita
bicara penerapan nilai-nilai
kebangsaannya ya ee ee tentu akan ada
pelatihan seperti ee yang sekarang kita
lakukan ini. Next
ya. Ee nah bagaimana apa yang kita harus
lak ketika nilai-nilai kebangsaan dalam
ee dalam ruang kerja begitu ya. Ee ada
integritas, ada etika kerja. Ada hal
yang penting sekali yang harus ee
dipahami bahwa ee ketika kita bicara
etika kerja adalah sesuatu yang kita
sepakati ya. Jadi kalau kita bicara
overall ee etika itu maka etika kita
sebagai bangsa Indonesia the very simple
misalnya ketemu sama orang harus senyum,
kita harus salaman, dan sebagainya.
hal-hal yang ee ee bagi kita itu jadi
budaya karena itu dilakukan diberikan
contoh oleh orang tua kita. Namun dalam
konteks di kantor misalnya ee etika itu
harus dipahami satu ee sama lain ya
karena ee kita enggak mungkin bisa ee
menjadi ee menjadi produktif bisa tahu
gitu kalau etikanya enggak pas. Ada loh
kantor yang ee ketika kita mau bicara
sama pimpinan kita kan biasanya
berjenjang gitu. Namun komunikasi yang
terjadi searah atau menjadi ee ee hanya
searah aja begitu atau dua arah. Rasanya
sih sudah enggak enggak apa ya enggak
enggak enggak zaman lagi ketika kita
bicara komunikasinya searah itu sama
dengan dalam konteks ee negara kita
sudah enggak bisa lagi ee ee ee melihat
ee informasi itu hanya searah karena
kenapa? Ruang medsosnya besar sekali
gitu. kita bisa berkomunikasi langsung
dengan tidak satu ke satu atau ee dua ke
satu begitu, tetapi sangat multi gitu,
sangat multi sekali. Di mana akhirnya
bias-bias informasi itu bisa ee ee bisa
menyebabkan
ee perpecahan gitu ya, bisa menyebabkan
perpecahan yang ee saya kira itu juga
bukan hal yang mudah ketika itu terjadi
di ee ruang kerja kita. Next.
Nah, bagaimana kita mencoba melihat tadi
budaya organisasi, siapa-siapa yang akan
membuat ee keputusan bagaimana ee ee
pola-pola rekruitmen. Saya tahu persis
bahwa untuk menjadi ASN itu adalah hal
yang sulit sekali untuk bisa tersaring.
Tapi ee kita happy ya, kita happy sama
proses-proses mekanisme yang ee
berjalan. Karena kenapa? Kita memang
harus cari orang terbaik. Jadi harus
cari orang terbaik karena kenapa? Karena
begitu banyak hal yang akan dilakukan
ketika kita sudah menjadi ee kita
menjadi ee bagian dari negara ini yang
akhirnya juga punya tugas yang besar
sekali gitu. Maka perlu untuk mencari
orang yang baik ee pendidikannya yang
baik, kemudian orang yang punya nilai,
orang yang memahami wawasan kebangsaan
dengan baik. Jadi ee ee tidak sulit
untuk melihat segala sesuatu itu secara
integral, secara holistik, kemudian
menyelesaikan permasalahan secara
komprehensif.
Sering ya kita ee ketemu nih di ruang
sosial bahwa ee atau di organisasi kita
misalnya di luar ee organisasi tempat
kita main gitu. Kalau orang
menyelesaikan permasalahan karena dia
hanya melihatnya parsial, satu masalah
selesai, satu masalah muncul gitu ya.
Jadi ee enggak secara komprehensif untuk
mampu menyelesaikan. Oleh sebab itu,
bagaimana ASN ini menjadi bagi saya ini
menjadi hal yang ee punya peran besar
sekali karena orang-orang terpilih gitu
ya. Enggak ee orang-orang terpilih yang
ee ee apa namanya ee kita ee sudah mampu
untuk ee bisa ee ee melihat segala
sesuatu begitu di ruang sosial kita
dengan baik. Bagaimana tadi dikatakan
bahwa ee kolaborasi kita suka bilang
bahwa oh ada pentaelix dan sebagainya
sekarang sudah masuk Dexa Helix gitu.
Bagaimana ee ee apa ee kolaborasi sudah
harus dilakukan. Mas Sukman tadi
mengulang-ulang cerita bahwa lu kalau
jalan sendiri nanti jalannya cuma cepat
loh gitu. Tapi kalau mau jalan jauh
harus sama-sama. Kita jalannya harus
jauh soalnya 2045
sebentar lagi gitu sebentar lagi gitu.
Namun ee sudah siapkah kita sudah
siapkah kita ke masuk ke Indonesia emas?
Apa yang sudah kita lakukan gitu?
Seberapa kita mampu untuk
mengimplementasikan Indonesia emas itu
yang seperti apa?
Beberapa ee kita sedang ee apa namanya?
Menghadapi tantangan bonus demografi
juga. Nah, apa yang harus kita lakukan
semuanya? Sesiap apa kita? Bagaimana
dengan ee SDM-nya kita? Bagaimana dengan
kita sebagai individu? semampu apa kita
untuk tetap bisa survive eh pada ee
Indonesia e di Indonesia 2045 lagi.
Konon kabarnya akan mulainya di ee di
tahun 2030, 5 tahun lagi kita sudah akan
memasuki
ee ee apa namanya ee hal yang ee ee ee
di mana ee semua yang kita sebut
sekarang generasi Z, milenial gitu itu
akan ee ee masuk untuk ee menggantikan
ee seperti ee generasi yang kolonial
nih. Kalau kolonial seperti saya nih itu
sudah sudah mulai tergantikan seberapa
siapnya gitu. Saya meyakini bahwa ASN
yang masuk-masuk sekarang kan lagi
muda-muda semua nih tantangannya akan
menjadi e menjadi besar sekali karena
cukup banyak negara yang ee apa tidak
bisa memanfaatkan bonus demografinya dan
mereka jadi colaps. Tapi Korea Selatan
adalah contoh satu negara yang dia ee
bisa hidup dengan baik gitu ya, bisa
hidup dengan ee dia bisa mengembangkan
bonus demografi dengan sangat pandai
karena mereka masuk lewat mana? Lewat
budaya. dan kita lemah dalam budaya.
Itulah sebabnya bahwa demam Korea, demam
Kphop itu dengan mudah sekali masuk itu
bagaimana budaya ee bagaimana kehidupan
sosial kita ee benar-benar
terporak-porandakan
ee ee karena akibat ada media teknologi
itu yang saat ini ee ada di kita. Next,
bagaimana peran ee ASN dalam mewujudkan
persatuan menjadi agen perubahan yang
positif?
nya gitu loh. Tetapi berguna bagi orang
lain itu adalah satu tantangan kita.
Berguna bagi lingkungan kita itu adalah
tantangan kita. Bagaimana bisa membangun
hubungannya yang harmonis di lingkungan
kerja dan ee masyarakat gitu. Bagaimana
orang bisa ee mendukung ee ee apa ee
pembangunan nasional. kita memahami
semua konsep asta cita itu dengan baik
dan kita bisa masuk yang mana nih dari
delapan ini mana nih ee apa ee di
kementerian dan lembaga kita kan sudah
menentukan nih di mana kita bekerja. Oh,
saya harus membangunnya dari sisi
hilirisasi misalnya hilirisasi industri
hilirisasi harus dilakukan so UMKM harus
hidup. Nah, so kita perannya ada di
mana? Kita coba untuk ee mengambil
peran-peran itu. Next. Bagaimana membuat
pembangunan nasional yang merata?
infrastruktur menjadi satu tantangan ya,
bagaimana pembangunan antar daerah,
bagaimana ee program desa mandiri, dana
desanya sudah cukup besar sekali.
Bagaimana pengentasan kemiskinan masih
ada. Ketika bicara mengenai kemiskinan,
maka kita akan bicara juga mengenai
pendidikan. itu adalah hal yang ee ee
terkait ee satu sama lain. Ee sementara
ASN adalah ee apa namanya ee ee
orang-orang terpilih dengan pendidikan
yang ee ee sudah tinggi yang harus
diminta untuk menyelesaikan permasalahan
ini di daerah terpencil itu cukup ee ee
apa ya cukup berat ya, cukup untuk jadi
ee jadi tantangan ya. Apalagi
infrastruktur cukup banyak sekali
kasus-kasus ada guru honorernya yang
belum terbayar misalnya kemudian ada
infrastruktur sekolah yang belum belum
jadi. Ini akan menjadi tantangan sih
sebenarnya ee buat kita. Next.
Integritas. Integritas. Kita akan susah
untuk berbicara mengenai integritas
gitu. Jika kita memang enggak punya
sumpahnya. jika kita enggak punya hal
yang apa yang kita ee sepakati kita
masuk menjadi ASN, kita sudah tahu bahwa
ada hal panc ee yang yang apa namanya ee
yang harus ditaati oleh ee ee ASN.
bagaimana ee ee kita mencoba untuk
melihat ketika ada kontestasi pemilu
misalnya ada kontestasi politik,
keluarga kita teribas semua satu ke A,
satu ke B, media main ke A ke B dan
kemudian lingkungan kita. Kemudian kita
jadi enggak nyaman untuk diskusi ya
karena ee mesti ramai aja diskusinya
antar teman juga ramai sekali, Dok. ee
ee ee sementara di satu sisi bahwa ee
ada integritas yang harus dijaga oleh
ASN bahwa you no kita tetap harus
netral. Bahwa jika ada keributan antar
sesama kita sendiri, apa yang harus kita
lakukan? Bagaimana? Bagaimana kita
mencoba untuk mendiskusikan itu bahwa ee
kalau bukan kita siapa lagi? Itu hal
yang paling penting gitu ya. Jadi ee ee
ketika ada kasus-kasus ada ee ASN yang
mungkin terkena korupsi kemudian kolusi,
bagaimana sistemnya harus dibangun?
Kalau sistemnya enggak dibangun dengan
baik, maka kita akan susah bicara
mengenai keadilan. Bagaimana keadil,
bagaimana persatuan sama kesatuan bisa
didapatkan dengan baik jika keadilannya
belum. Makanya ee bagaimana integritas
itu menjadi hal yang paling utama ketika
kita mau bicara mengenai keadilan.
Karena ujung-ujungnya di persatuan dan
kesatuan kalau ada yang merasa bahwa
hidup ini enggak adil, ee pimpinan saya
tidak adil, kemudian dia hopeless,
kemudian dia enggak kepengin lagi untuk
ee kerja secara ee ee profesional,
kemudian malas-malasan kerja, imbasnya
ke mana-mana. Makanya ada yang bilang,
"Wah, kita sih enggak perlu kerja keras
gitu, enggak perlu ee ee kerja
capek-capek soalnya." Kenapa? Soalnya
yang enggak kerja juga tetap dapat
jabatan. Nah, that's problem. Ya, itu
akan menjadi satu hal, satu titik yang
akan besar dan akan ee menjadi masalah
di ruang ee kerja kita, gitu. Terust,
bagaimana kita mendapatkan public trust,
kepercayaan publik. eh eh penting sekali
untuk melakukan eh branding. Tadi saya
lihat di depan ada banyak eh branding
BPSDM. Luar biasa sekali. Kantor-kantor
kita juga lakukan itu supaya apa?
Makanya kita selalu bicara bagaimana
kita bisa punya e public trust kalau
kita enggak accountable. Bagaimana kalau
kita enggak punya keterbukaan kepada
publik, bagaimana bisa ee kita dapat
kepercayaan dari publik kalau kita
enggak libatkan publik untuk
berpartisipasi.
Jadi partisipasi publik menjadi penting.
Persoalannya di mana partisipasi publik
itu sekarang? Kenapa jadi kurang? Karena
banyak hal yang menempatkan publik itu
hanya sebagai pendengar atau publik itu
hanya sebagai penonton, bukan pengambil
keputusan. Padahal kita sudah sepakati
bahwa kita adalah negara demokrasi.
Orang boleh berbicara dari publik untuk
publik, begitu ya. Jadi ada juga memang
PR gitu ee bagaimana kita mencoba ee
untuk melibatkan publik ee lebih terbuka
ee ada partisipasi publik dalam ruang
kerja kita begitu. mungkin bisa dibuka
untuk diskusi publiknya atau mungkin
dibuka ee ruang-ruang publik sehingga ee
apa namanya benar-benar dapat public
trust sehingga ee kita bisa membuktikan
ee bagaimana integritas kita sebagai
abdi negara gitu. Bahwa ini hal yang
sudah kita lakukan ee ini hal yang belum
kita lakukan. Hal yang sulit untuk kita
lakukan yuk kita lakukan sama-sama
dengan ee publik. Yuk, Anda
berpartisipasi untuk lakukan. Yuk, Anda
cukup tertib di jalan saja itu sudah
sudah partisipasi mungkin bagi kita gitu
ya. Anda membuang sampah di tempat yang
baik itu mungkin ee ee sudah termasuk
bahwa Anda cukup punya ee partisipasi.
Tetapi kalau Anda ingin masuk dalam
ruang yang lebih dalam untuk pengambilan
keputusan juga saya rasa tidak ada
salahnya juga begitu. Karena ee
ujung-ujungnya kan semua pelayanan kita
kan untuk ee mereka juga gitu ya. Jadi
ee ini ada hal yang bisa kita ee ee
lihat. Next. Nah, bagaimana
digitalisasi? Ya, kita bisa melihat tadi
dari awal saya bicaranya digitalisasi
gitu. Bagaimana teknologi informasi itu
harus mempermudah pelayanan publiknya.
Namun ada sistem gitu ya. Ee kalau dulu
sistemnya sangat birokrasi ya, sangat
birokrasi sekali. Kemudian ee kita
menjadi lama banget satu satu paper di
di meja pimpinan satu, pimpinan dua
leveling-nya ee terlalu panjang begitu.
Namun ee ketika kita mencoba ini adalah
efek positifnya sebenarnya dari
digitalisasi. Tadi di awal saya
menceritakan bagaimana ee digitalisasi
itu juga bisa memporak-porandakan,
tetapi bagaimana digitalisasi itu
membangun sistem di kita sehingga lebih
aware kita bisa satu sama lain gitu ya.
Ee namun demikian kadang-kadang suka
masih ada yang lambat nih gitu. Ee itu
balik lagi ke SDM. Jadi ada habit yang
yang memang kita harus rubah di internal
ee ee ee sehingga ee apa namanya ee
keakuratan data itu bisa bisa lebih
cepat gitu. Kadang-kadang nih kalau kita
iseng nih kita coba lihat website
kadang-kadang masih ada nih informasi
yang sudah lama sekali masih ada masih
tayang. Kadang-kadang pejabatnya belum
ganti dan ee dan sebagainya. Jadi ee
penting sekali ee bahwa kita mencoba
melihat bagaimana teknologi ini bisa
membuat kita mendapatkan ee public trust
gitu. Nah, bicara mengenai persatuannya
ee tentu saja ee kita akan membuat
persatuan itu tidak hanya sebatas antar
ASN-nya aja, namun persatuan itu kita
bisa dapat dari publik juga gitu. Ketika
publ trustnya tinggi, maka secara
emosional, secara pride gitu, kita akan
serta-ma untuk bisa punya persatuan dan
kesatuan yang ee cukup kuat karena akan
lebar ya gitu. Jadi bukan hanya sebatas
ASN-nya saja, namun ada terustas publik
yang mendukung kita untuk melakukan
hal-hal baik gitu. bagaimana di ee
tuntutan tuntutan untuk ASN untuk ee ee
ee harus mempercepat ya integrasinya
sehingga ee publik itu ee percaya bahwa
kalau saya punya masalah akan lebih
cepat untuk ee diselesaikan. Nah, kita
mungkin bisa ee bisa next lagi.
Jadi, bahwa bagaimana ee
ee ASN e membangun identitas gitu. kita
melihat bahwa konsensus ee ada empat ee
empat konsensus dasar. Kita habis bicara
nih mengenai persatuan, nilai-nilai
Pancasilanya mulai hilang apa enggak
gitu. bagaimana kita mencoba untuk
sebenarnya bukan soal ee ee
Pancasilanya, tapi implementasinya yang
akan menjadi ee ee tantangan sekarang
ini. Jadi, bagaimana kita dituntut untuk
mencoba karena ee kelihatan bahwa
problemnya sekarang adalah di sosial
budaya, maka masing-masing dari
kementerian lembaga mencoba untuk ee apa
namanya ee punya kreativitas sendiri ee
yang akhirnya untuk meningkatkan
bagaimana rasa sosial dan budaya kita
itu menjadi tinggi. saya melihat bahwa
sudah ada sudah ada hari kebaya misalnya
atau misalnya di beberapa kantor di
setiap hari Senin misalnya akan pakai
kebaya. Bagaimana hal-hal kecil itu kita
mencoba untuk mencoba ee melakukan itu
sehingga ee kita masih punya hal yang
sama untuk mengingat bahwa kita masih
punya budaya loh gitu ya. Next
satu slide lagi ya Mas Lukman ya.
bagaimana ee kita mencoba menjaga
kebinekaan, agen toleransi dan
inklusivitas.
Itu tadi kita sebenarnya sudah bahas
dari awal bahwa toleransinya mesti
tinggi. Tapi toleransi itu enggak akan
bisa didapat ketika kita enggak tahu
kita mau ke mana. Akan banyak sekali
miskomunikasinya dalam ruang kerja kita
ketika kita tidak memahami porsi kita ee
masing-masing ya. Jadi ee banyak sekali
pelatihan-pelatihan ya ee yang sudah
dilakukan sebenarnya oleh PNS. Tinggal
kita mencoba untuk membuat
implementasinya ee masing-masing.
Bagaimanapun ASN karena banyak sekali
bagaimana bisa untuk ee kita menempatkan
diri kita menjadi bridging ya antar
kelompok masyarakat. Mohon diingat bahwa
di kelompok masyarakat ada perpecahan,
ada komunitas-komunitas yang banyak
sekali sekarang ini menjadi tantangan
buat kita. Nah, tuntutannya jadi bridik.
Tapi itu enggak bisa selesai ketika kita
sendiri ee enggak punya integritasnya.
Kita sendiri tidak belum memahami bahwa
konteksnya ini adalah ee begitu besarnya
peran ASN. Saya berdaya guna, saya punya
value sehingga saya bisa melakukan e
sesuatu untuk bangsa. Ada hal yang
penting sekali bahwa kita punya panca
prasetia corporate ini ini bukti
sebenarnya bahwa ada integritas yang
kita perlu implementasikan dalam setiap
dinamika kehidupan bangsa. Saya kira ee
itu yang saya bisa waktunya kayaknya
sudah lewat 2 menit ng Pak Lukman.
[Musik]
Ya, terima kasih untuk materinya Bu
Tantri. Sebelum kita masuk ke sesi tanya
jawab, barangkali dari Sobat ASN ada
yang ingin bertanya kepada Bu Tantri
bisa langsung aja mengaktifkan feature
rise hand atau menggunakan kolom chat
Zoom ataupun bagi sobat Esen yang tengah
bergabung melalui live YouTube kami di
BPSDMTIM TV bisa drop question Anda di
kolom komentar YouTube. Nah, sebelum
kita masuk ke sesi tanya jawab, saya mau
coba ringkas terlebih dahulu apa saja
sih inset yang tadi sudah kita dapatkan
dari pemaparan Bu Tantri. Yang pertama
kita harus aware dulu ya kalau Indonesia
itu adalah bangsa yang heterogen. Kita
terdiri dari ras, suku, bangsa,
budayanya beragam. Jadi itu harus
diterima dulu. Itu mindset yang pertama
ya. Jadi enggak akan ada yang namanya
similarity antara satu personal dengan
personal lain. Yang kedua, ya kita lagi
masuk ke era disrupsi teknologi di mana
batas-batas
ee dunia itu semakin kabur, semakin
tidak jelas. sehingga setiap orang itu
bebas untuk beropini masing-masing. Ya,
kita kenal tadi ada media sosial yang
membuat semua seseorang itu bisa berbagi
pandangan, berbagi opini. Pada akhirnya
kita juga harus hati-hati nih untuk
berkomentar gitu ya. Jangan sampai
komentar yang kita berikan itu
menyinggung pihak lain sehingga
persatuan dan kesatuan ini tidak bisa
kita wujudkan. seperti itu. Dan yang
terpenting adalah tadi tantangan di
Indonesia Emas 2045 ternyata bukan
terkait hard skill tapi soft skill.
Lebih kerucutnya lagi adalah karakternya
gitu ya. Tadi bagaimana peran ASN ini
bisa mendukung untuk membangun hubungan
yang harmonis ya di lingkungan kerja
maupun di lingkungan bermasyarakat dan
juga bagaimana cara kita bisa menjaga
integritas. Satu pertanyaan sebelum saya
lempar ke sobat ASN. Bu Tantri, kalau di
unit Ibu sendiri gitu ya, contoh praktik
nyata apa saja yang sudah Ibu lakukan
untuk membangun hubungan yang harmonis
dan menciptakan integritas di lingkungan
rekan kerja antar rekan kerja maupun
antar rekan kerja dengan pimpinan.
Bagaimana Bu Tantri?
Iya, Mas. Ee Mas Lukman. Jadi hal-hal
yang sebenarnya hal-halnya sebenarnya ee
sederhana ya dan itu sebenarnya ee
dilakukan sih sebenarnya sama semua
kantor gitu ya. Jadi kalau di lingkungan
kerja itu kan satu, kita memahami dulu
yang tadi saya ceritakan tugasnya kita
apa, visinya ke mana, kemudian harus
dilakukan apa. Ee tentu ee ee bagai ee
ee bagaimana orang mencoba untuk day by
day gitu ya. Day by day itu untuk ee ee
bagaimana kita mencoba untuk ee
melibatkan publik. Misalnya kita akan ee
ee ee buat misalnya let's say kita bisa
bikin event-nya. kita mau bikin event,
apakah itu event-nya on air, apakah
eventnya itu off air, kemudian bagaimana
kalau di Lemana sendiri, bagaimana ee ee
kita membuat ee ada kelas-kelas ya, ada
kelas-kelas, ada kelas-kelas kecil, ada
kelas-kelas kecil yang
ee hanya 1 minggu gitu,
1 minggu. ee kemudian kita akan bicara
mengenai diskusi kebangsaan itu
melibatkan ee ee masyarakat ya dari satu
kelas itu misalnya 100 orang dan itu
yang ee kita lakukan untuk ee bisa ee ee
memahami gitu memahami bersama-sama kita
lakukan. Nah, dari situ tuh bisa tumbuh
jadi banyak tuh.
Heeh. dari dari kelas yang 100 orang
bisa dibayangkan. Kemudian kita akan
berkembang lagi, masyarakatnya makin
banyak, makin banyak. Kemudian kita jadi
sampailah kita pada BPSDN ini.
Siap.
Awalnya kan dari situ semuanya
ya. Terima kasih Bu Tantri. Berarti
memang dari awalnya adalah membuka ruang
diskusinya dulu ya untuk tahu sebenarnya
inputan apa aja yang ada di masyarakat
baru kita bisa realisasikan solusi yang
tepat untuk mereka. Baik terima kasih Bu
Tantri untuk jawabannya. kita ada satu
penanya yang sudah masuk bersama dengan
kami. Saya langsung saja undang. Selamat
pagi, Ibu. Silakan bisa langsung aja
open mic dikenalkan nama unit kerja dan
langsung saja disampaikan pertanyaannya.
Silakan.
Baik, terima kasih Mas kesempatannya.
Suara saya masuk ya?
Sudah masuk, Ibu. Silakan.
Oh, iya. Oke, mohon izin ee Bu Tantri
terima kasih pemaparannya. sungguh
mencerahkan dan sangat menarik sekali ya
topik bahasan kita pada hari ini. Ee ada
tiga poin Bu sebenarnya yang cukup
menarik buat saya dari materi yang sudah
Ibu sampaikan. Yang pertama adalah Oh,
mohon maaf sebelumnya saya belum
memperkenalkan diri. Nama saya Eki Bu.
Saya dari UPT
Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan.
Nah, ee yang pertama Bu mohon izin
terkait pepatah. Jika ingin berjalan
cepat maka kita bisa jalan sendiri. Tapi
jika kita ingin berjalan lama alangkah
baiknya jika kita jalan bersama-sama.
Nah, Bu ee jika nih yang terjadi satu
case yang kita ajak jalan ini enggak
gerak-gerak, kita harus tunggu sampai
kapan ya, Bu, untuk orang itu bergerak
dan berjalan bersama kita? Karena bisa
jadi ternyata yang kita ajak itu belum
siap atau belum sefrekuensi dengan kita.
Kemudian jika worst case lagi kita
terpaksa untuk jalan dulu sendiri ee
mungkin sebagai pemantik atau contoh ee
tapi ternyata enggak ada yang ngikutin
kita. Berarti kan kita zong ya nanti
takutnya apakah kita harus berhenti.
Kemudian ee poin yang kedua ada yang
menarik saya terkait
ee orang yang hopeless ya anggota tim
yang misalnya itu hopeless dan sudah
sulit ditolong gitu Bu misalnya jika
kita biarkan mungkin itu bisa menghambat
tim yang lain yang sudah solid. Tapi
kalau misalnya kita turutin takutnya
ngelunjak tapi kalau mau kita tinggalin
kasihan. Nah, jadi kita harus bagaimana
Bu untuk menyikapi case ini. Kemudian
yang ketiga itu juga menarik Bu terkait
ee menyambut Indonesia 2045
ee terkait generasi muda itu kan kita
harus ee kembangkan soft skill-soft
skill dan isu ini bukan isu yang terbit
1 2 tahun belakangan, tapi juga sudah
lama dari saya sekolah juga sudah ada.
Nah, kalau memang hard skill itu sudah
diajarkan dalam rana pendidikan atau
sekolah, kemudian soft skill ini kan
apakah juga menjadi tanggung jawab
pendidik atau ee berangkat dari keluarga
atau bagaimana ya, Bu? Karena kalau
misalnya hard skill itu kan mungkin ada
kurikulumnya, tapi kalau misalnya soft
skill itu kan aspeknya cukup banyak.
Tapi siapa yang paling bertanggung
jawab? Oke, terima kasih Bu Tantri.
Bu Eki, Bu Tantri sebelum dijawab saya
coba ringkas ya tadi pertanyaannya apa
saja. Yang pertama adalah kalau misalnya
yang kita ajak jalan bareng-bareng itu
enggak mau gerak ya kita harus ngapain,
Bu? Yang kedua, kalau misalnya kita
sudah memilih untuk jalan sendiri tapi
ternyata enggak ada yang ngikutin, itu
gimana? Kemudian selanjutnya kalau
misalnya ada tim yang enggak bisa
perform itu apa yang harus kita lakukan
gitu ya. Dan yang terakhir adalah
terkait dengan soft skill seperti itu.
Soft skill itu merupakan tanggung
jawabnya siapa gitu ya. Silakan Bu
Tantri.
Baik, terima kasih Mbak Eki.
Ini ini pertanyaan kas anu nih kas
milenial nih. Ee ee apa namanya? Jadi
ada ee di di
kayak saya dari komunikasi. di
komunikasi kita mengenal ya kalau tadi
kan pertanyaannya kalau dia ada orang
yang enggak mau disuruh enggak mau
bergerak kemudian ada orang yang kita
mau kita mau jalan dulu ee gimana nanti
kemudian ada tim yang hopeless asep
personal gitu ya asep personal kita
mengenal yang namanya konsep diri ya
konsep diri jadi kita akan bisa melihat
tapi konsep diri ini ee sangat sangat
sangat sangat e berkaitan sekali dengan
ee di mana lingkungan dia dibesarkan,
bagaimana mereka melihat jadi ee selalu
ada ee background dari setiap orang
gitu, Mbak Iki. Jadi, bagaimana mereka
di mana dia dibesarkan? Bagaimana
kehidupan keluarganya, apakah dia
dibesarkan dari keluarga yang harmonis
atau tidak. Maka di ruang sosial kita
akan sering ketemu manusia-manusia yang
seperti ini, Mbak Iki. Karena dia akan
selalu bilang bahwa saya enggak sanggup,
saya enggak cantik, saya enggak bisa
bikin apa-apa, saya miskin, saya tidak
berdaya guna, dan semua hal-hal negatif
itu konsep diri pada orang gitu ya. Pada
orang memang itu akan ee larinya pada
psikologi ee ee sangat sangat psikis
sekali. Namun ketika dia masuk dalam
ruang sosial enggak ada hal yang kita
bisa bikin bahwa kalau dia enggak mau
bergerak maka kita yang bergerak gitu
ya. Maka kita akan terus bergerak karena
kita tidak akan bisa ee ee apa namanya?
kita ini tidak mau untuk ee stay gitu.
Bukan ini Mbak Iki karena kita punya
termasuk orang-orang yang optimis gitu
ya. Orang-orang yang optimis. Nah,
sementara orang-orang yang pesimis ini
yang dibutuhkan apa? Dia akan butuh
contoh dan dia akan kepengin lihat
hasilnya seperti apa. Baru ngikut tuh
sebagai leader gitu. Sebagai leader kita
ee kalau misalnya mereka enggak e mereka
enggak mau jalan gitu nanti takutnya
song nanti ah tiba-tiba enggak ada yang
mau ngikutin nanti gua enggak ada yang
bantuin gitu. Rasanya tidak bahwa
sebagai leader Anda harus tetap
melangkah.
Enggak ada hal untuk kita enggak
berjalan. Enggak ada hal yang untuk kita
yang kita sudah punya konsep diri yang
baik sebagai personal gitu ya.
Personality-nya udah bagus nih gitu
kita. Kemudian kita akan
dengan orang yang konsep dirinya rendah
gitu. Ee yang ada adalah mereka
sebenarnya butuh bantuan untuk ditarik.
Jika Anda seorang pemimpin, maka memang
tugasnya adalah menarik. Menarik mereka
untuk melihat bahwa jika Anda mau ikut
sama saya, maka kita akan sukses. Namun
itu semua enggak bisa berjalan kalau
kita enggak punya integritas. Itu tadi
yang kita bilang. Jadi kalau orang
lakukan personal branding ini enggak
bisa dapat branding kalau Anda enggak
lakukan itu secara terus-menerus
sehingga orang bisa percaya. Ngapain
ngikutin orang yang enggak bisa
dipercaya?
Tadinya kita kita bagian dari mereka
nih, terus tiba-tiba kita pengin berubah
terus kita narik, enggak mungkin bisa
karena mereka akan melihat bahwa Anda
adalah bagian dari saya, jadi butuh
waktu gitu. Makanya kenapa ee setiap
orang harus melakukan hal-hal positif
yang baik setiap hari supaya orang dia
dapat rustnya. Ketika dapat rasnya, dia
berjalan, dia enggak mungkin jalan
sendiri. Mungkin itu ee ee bisa menjawab
yang pertanyaan tadi saya rangkum ya,
yang jalan dulu, hopel plus. Saya
mencatat juga nih konsep diri gitu. itu
ee sangat personal sekali ya, personal
sangat personal sekali ee konsepnya.
Tapi jika kita bicara Indonesia Emas
2045, soft skill-nya yang mana yang
harus mau ee ee ee dibangun dari mana
gitu. Bagaimana kita mencoba bahwa
lingkungan terkecil keluarga akan punya
peran. Jadi ini terkait sama pertanyaan
Mbak Eki nomor satu tadi. Bagaimana dia
bisa bangun soft skill-nya? Kalau
lingkungan keluarganya aja enggak
mendukung, lingkungan sosialnya juga
tidak, maka dia akan susah untuk ee ee
let's say dia akan punya cara
berpikirnya, mindsetnya ya,
pendidikannya dari mana itu ee ee sangat
di sangat berpengaruh dari mana dia
dibesarkan, siapa keluarganya, bagaimana
background-nya, apa-apa yang sudah ee ee
apa namanya ee terframingkan dalam
pikirannya. Jadi, soft skill itu ee kita
ingin membangun itu semua, tetapi ee
negara menyiapkan kan negara punya
tanggung jawab juga untuk menyiapkan apa
ya pendidikannya harus bagus dulu ya,
infrastrukturnya harus dimainkan
ya literasi digitalnya harus dapat
supaya ee hard skill itu kan di awal
supaya soft skill itu bisa dapat gitu.
bagaimana bagaimana ee ee ee nilai-nilai
itu nilai-nilai
nilai-nilai kebangsaan ya. Jadi ketika
kita bicara mengenai ee kabur aja dulu
gitu gitu kan. Itu kan nilai itu kan
nilai ee ee bagaimana kita melihat ee
negara kita ini sehingga kok bisa kita
harus bilang kabur aja dulu sebegitu
kecewanya kah? Itu kan nilai. itu yang
kita sedang bangun bahwa yuk kita
sepakati kita berada di Indonesia ee
sudah terlalu banyak kesulitan yang kita
lewati dan kita tetap berdiri tegak dan
kita masih masih apa namanya masih
melihat bendera merah putih dan ee kita
harus membangun itu. Jadi perasaan itu
terus terus ada. Semoga bisa menjawab
Mbak Eki.
Terima kasih Bu Eki untuk pertanyaannya.
Kita akan masuk ke penanya selanjutnya.
Saya akan persilakan untuk penanya
selanjutnya bisa open mic juga. Jangan
lupa untuk disampaikan nama asal unit
kerjanya dan disampaikan pertanyaannya.
Jadi memang penting sekali ya tadi kita
harus mengenal konsep diri terlebih
dahulu. Tiap personal itu berasal dari
latar belakang kehidupan yang
berbeda-beda. Kalau memang orangnya
memang enggak mau diajak jalan, ya udah
gitu ya. Tapi ada tadi konsep ee
bagaimana kita bisa memperkuat influence
kita melalui personal branding.
Value-value yang baik itu harus kita
tonjolkan secara konsisten. Nanti
lama-kelamaan influence baik itu akan
mempengaruhi orang tersebut. Seperti
itu. Oke, kali ini sudah ada penanya
satu lagi yang sudah bergabung dengan
kami.
Kita akan ee sapa beliau terlebih
dahulu. Selamat pagi, Ibu.
Pagi, Kakak.
Siap, Ibu. Silakan disampaikan nama asal
unit kerja dan langsung saja disampaikan
pertanyaannya.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Mohon izin Ibu Tantri. Tepangaken saya
Nenik Mardi dari Lapesda kelas B Dinas
Kesehatan Kabupaten Bojonegoro. Ibu
Bojonegoro. Oke.
Inih ee Ibu dari materi yang Ibu
paparkan sangat-sangat menggugah kami
dan terinspirasi. Salah satunya itu
sudah berusaha kami terapkan, Ibu, di
organisasi kami, di
ee tempat kerja kami. Namun, saya belum
bisa melakukan monitoring evaluasi
karena saya tidak tahu nih, Bu, yang
saya lakukan ini sudah benar atau belum.
cara mengevaluasinya bagaimana? Yaitu
untuk penerapan nilai kebangsaan Ibu
dalam praktik manajemen di sebuah
organisasi
seorang pimpinan itu atau ee leader
mempunyai peranan yang sangat penting
dalam rangka menciptakan lingkungan
kerja yang harmonis, produktif, dan
beretika. Nah, ini Bu saya yang pengin
terinci itu trik-triknya atau kiat-kiat
apa ya Bu yang harus saya tata saya
lakukan untuk berkelanjutan sehingga
kami itu bisa melakukan kegiatan ini.
Kemudian saya monitoring, evaluasi,
kemudian saya lakukan tindakan perbaikan
yang ee perlu dilakukan, kemudian bisa
berkelanjutan gitu, Ibu. Sehingga kami
bisa betul-betul mendapatkan atau
menciptakan lingkungan kerja yang tadi,
Bu, harmonis, produktif, beretika.
Nah, untuk saat ini dengan all staff
yang dilatar belakangi budaya pendidikan
karakter yang beda-beda. Namun kami itu
harus bisa merangkum semuanya agar
bersinergi gitu, Ibu. Terima kasih Ibu
atas waktunya. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Bu Tantri, berarti ada dua
pertanyaan ya, Bu ya. Tadi yang pertama
adalah cara mengevaluasi. Mungkin kalau
misalnya kita bicara masalah konsep
service kan evaluasinya customer
satisfaction gitu ya. Tapi kalau tadi
tiga komponen itu harmonis, etika,
produktif, itu indikator evaluasinya
apa? Dan yang terakhir bagaimana cara
kita bisa membuat budaya ini terus
sustain? Silakan Bu Tantri.
Iya. Eh, Mas, maaf tadi dengan Ibu siapa
ya? Saya tadi belum catat.
Ibu
Ibu Neni.
Oh, Ibu Neni.
I silakan Bu Tante.
Baik. Baik. Terima kasih, Ibu Neni. Eh,
Mas Lukman. Jadi, eh ketika kita bicara
mengenai customer satisfaction,
bagaimana kepuasan ee apa kepuasan
pelanggan sebenarnya itu customer
satisfaction gitu ya. ini ee namun eh
perkembangannya sekarang ini menjawab
juga pertanyaan dari Ibu Ibu Neni bahwa
ketika dulu hanya hanya kepuasan
pelanggan kita bicara satisfaction,
namun sekarang kita sudah bicaranya
sudah customer owner, sudah ownership
gitu ya bicaranya sudah intimation. Jadi
sudah di atasnya lebih dalam lagi, lebih
indep lagi bahwa ee semua staf, semua
dari kita ketika kita bekerja di satu
perusahaan atau di mana pun kita berada,
maka ee yang harus dibangun itu adalah
bukan ee bukan bukan bukan bukan
kenyamanannya lagi, tetapi bagaimana
membuat semua staf kita itu merasa bahwa
kita adalah pemiliknya
gitu. Kita yang punya ini perusahaan
gitu. Nah, itu kan tadi yang Ibu NI
tanyakan bagaimana bisa bisa melakukan
itu semua sehingga ee semua orang merasa
dan ikut ee ikut ee mengambil peran
sehingga tujuan tercapai gitu ya. Jadi,
bagaimana untuk melakukan ee ee
monitoringnya, bagaimana melakukan
semuanya. Satu hal memang yang paling
penting adalah good will. Good pimpinan
menjadi penting sekali gitu. Goodwill
pimpinan kan ee persoalan kan ada
karakter pimpinan yang berbeda-beda nih,
gitu ya. Tetapi bagaimana goodwill
pimpinan itu akan mempengaruhi ee ee ee
ee apa namanya ee dinamika yang ada
dalam perusahaan begitu ya. Jadi kalau
kadang-kadang kalau pimpinannya enggak
mood terus marah sama semua orang
tiba-tiba tiba-tiba satu kantor jadi
jadi bettek semua tuh pada hilang semua
nih janganjangan bosnya lagi marah nih
bosnya lagi marah nih gitu ya. Jadi ee
bagaimana ee ee ee ee kesepakatan itu
dilakukan jika kita bicara mengenai
etika
ee ee saya menyebutnya bukan etika eh
Ibu Neni, saya menyebutnya itu etiket
gitu. Jadi etiket itu adalah ee ee
mengapa saya sebut etika? Etika itu
adalah semua yang berlaku secara umum
ya. Bahwa kita harus punya sopan santun
sama pimpinan, bagaimana relasi kita
sama lingkungan dan sebagainya. Namun
dalam satu perusahaan kita, dalam suatu
bidang kita ee atau departemennya kita
ketika kita punya aturan main sendiri
itu kita sebut dengan etiket yang kita
sepakati. Kita sepakati. Jadi, Bos kalau
anu mungkin bisa dikomunikasikan, "Bos,
nanti setiap ee ee kita enggak boleh
setiap Senin kita harus ee ee ee apa
namanya? Punya yel-yel misalnya seperti
itu. Itu etiket. Jadi ee kemudian cara
berkomunikasi oke bahwa ee ee di ruah ee
di di departemen kita enggak boleh
panggil ibu ya, harusnya manggil kakak
ya gitu. Itu etiket. Kemudian enggak
boleh jadi aturan-aturan yang kita buat
yang hanya berlaku ee apa namanya di
ruangan kita nih di di lingkungan kecil,
ccle kecil kita itu akan menumbuhkan
satu semangat kesatuan yang baik gitu
ya, emosional yang sama gitu. Karena
tapi begitu kita keluar nih, kita harus
bersosialisasi dengan departemen lain
atau dengan kantor lain, tentu kita akan
berlaku etika yang berlaku secara ee
umum begitu ya. Namun membangun
membangun ee ee keselarasan itu bisa
dibangun dengan etiket-etik yang kita
sepakati. Namun ee ee memang sekarang
ini ee komunikasi ee ee ee mungkin saya
mau bilang bahwa saya juga enggak mau
nyalahin teknologi juga gitu ya, Bu.
Tapi kita bisa melihat bahwa komunikasi
ee kita jadi punya emosional yang sangat
berkurang satu sama lain karena semuanya
bisa dilaporkan via WA yang rentan sama
Misscom ya, rentan sama miskomunikasi
banget gitu. Indonesia ini kan kita
punya banyak diksi yang bisa bisa salah.
Nah, etiket-etik itulah, Bu, kita
mengaturnya bahwa oke ada hal yang
mungkin kita bisa lakukan evaluasi bahwa
kenapa kita jadi ee enggak bisa ee ee
berkomunikasi satu sama lain karena kita
memang enggak punya tempatnya. Kita
memang enggak pernah menyempatkan diri
untuk berbicara. Ee pimpinan itu tadi,
tapi harus ada goodwill pimpinannya dulu
untuk terbuka gitu. terbuka kemudian
memandang bahwa ini adalah satu tim di
mana komunikasi itu harus berjalan
timbal balik, di mana harus ada
kesetaraan, di mana harus ada
keterbukaan, gitu. Nah, ee ini perlu
sekali untuk dipahami oleh pengambil
kebijakannya gitu. Nah, untuk melakukan
monitoring evaluasinya akan menjadi
lebih mudah. Let say kita bikin lebih
simpel. kita enggak perlu pakai Google
Form aja gitu, tetapi bahwa ee setiap
bulan monly gitu kita bisa melihat bahwa
oke per 2 bulan kita akan mencoba
melihat ya you enggak nyamannya seperti
apa ee ee kemudian ee bosnya bisa
pimpinannya bisa membuka diri untuk
melihat gitu ya. Ini kan monitoring
evaluasinya internal ya internal ya.
Tapi kalau kita bicara mengenai
eksternal kan tentu banyak hal ya kita
bisa bikin survei dan sebagainya gitu.
Namun kalau kalau monitoringnya internal
itu akan terlihat daripada ee apa
namanya? penghasilan ya. Kalau misalnya
ini ini
misalnya ada PNBP misalnya yang harus di
di ini ee harus kita kejar sebagai
target, maka semua orang akan lebih
bersemangat effortnya masing-masing
gitu. Semua orang akan tahu bahwa saya
berdaya guna, saya punya nilai, saya
punya peran, tapi kan itu penting sekali
dari pimpinan. Begitu ee Ibu Neni yang
bisa saya jawab.
Terima kasih Bu Tantri untuk jawabannya
Bu Neni semoga menjawab ya. Terima kasih
Bu Neni. Salam sehat selalu Bu ya Bu
Tantri. Sepertinya masih banyak lagi
pertanyaan yang menganggur nih di kolom
chat YouTube dan juga kolom chat Zoom.
Tapi waktu sesi kita terbatas. Sebelum
ditutup barangkali dari Bu Tantri ada
closing statement yang ingin disampaikan
kepada seluruh sobat ASN. Silakan Bu
Tatri.
Iya. Baik. Ee untuk kawan-kawan ASN
semuanya ee apa namanya? Ee kita harus
memahami bahwa ee peran kita itu besar
sekali untuk negara ini. Jangan berhenti
kemudian jangan ee jangan pernah mau
jalan sendiri supaya kita lompatannya
lebih jauh. Karena paling mudah adalah
kita bergandengan tangan sesutama
ASN-nya. Kemudian kita lebih punya
banyak komunikasi dan kolaborasi dengan
pihak lain, maka enggak ada hal yangak
enggak bisa kita capai, enggak ada
target yang enggak mungkin kita enggak
dapetin. Pasti akan ada semuanya ketika
ee kita mampu untuk melihat ee ee bahwa
ee kita punya nilai ee ee kita punya
peran ee dalam ee apa namanya dalam ee
ee perjalanan ee bangsa Indonesia ini.
Jadi, Indonesia Emas pas pasti kita akan
bisa ee dapatkan di 2045. Itu aja.
Terima kasih. Sukses untuk semuanya
kawan-kawan semua di seluruh Indonesia.
Terima kasih Bu Tantri sudah berkenan
untuk memberikan materi di webinar seri
29 kali ini. Salam sehat selalu untuk Bu
Tantri. Kita ketemu lagi di event-event
selanjutnya. Thank you Bu Tantri.
Izin pamit. Iya.
Monggo, Ibu.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Baik Sobat SN sebelum kita
lanjut ke materi sesi du ya terlebih
dahulu kami juga ingin mengingatkan bagi
Sobat Esen jangan lupa untuk mengisi
presensi via semesta Bangkom dan kita
akan kembali ke materi selanjutnya
setelah jedap pandiwara berikut ini.
Yes.
[Musik]
Ya, Anda kembali lagi menyaksi ikan
webinar ASN belajar seri 29 ASN Bersatu
Indonesia Maju. Kali ini kita akan masuk
ke materi yang kedua terkait dengan
membangun budaya kerja kolaboratif dan
inklusif perspektif psikologi SN. Materi
kali ini akan disampaikan secara
langsung oleh Ibu Hani Wayuni Sugiharto,
LGK, S.PSI. M. Beliau selaku dosen
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.
[Musik]
Ya, saya akan sapa beliau terlebih
dahulu. Selamat siang, Bu Hani.
Selamat siang, Mas Lukman.
Kabar baik, Bu Hani.
Puji Tuhan, sehat. Baik,
alhamdulillah. Bu Hani tadi sempat
disampaikan sedikit sneak peck dari Bu
Tantri, ya. Tadi sempat dibahas terkait
dengan etiket ya. Sebetulnya kan ketika
etiket ini dibentuk lewat
peraturan-peraturan internal misalnya
sesimpel memanggil atasan atau rekan
kerja dengan kata-kata Kak ketimbang Pak
atau Bu, itu kan sebenarnya salah satu
cara untuk kita bisa membentuk
lingkungan kerja yang inklusif gitu ya.
Nah, kali ini kita mau mendengarkan
perspektif lain dari psikologi gitu ya.
Sebenarnya bagaimana sih cara kita bisa
membangun budaya kerja kolaboratif dan
inklusif seperti itu. Ee untuk Bu Hani
sendiri nanti materinya kurang lebih
disampaikan selama 30 menit. Nanti kita
akan langsung masuk ke sesi tanya jawab.
Silakan Bu Hani.
Terima kasih Mas Lukman. Baik ee saya
menyapa dulu kepada rekan-rekan
semuanya. Selamat pagi Bapak, Ibu, dan
rekan-rekan semua. Salam kenal dan salam
dari Jogja. Saat ini saya sedang
mengikuti studi lanjut di Universitas
Gadjah Mada. Sehingga saya sebagai arek
Suraboyo, warga asli Surabaya, asli dari
Jawa Timur merasa bangga hari ini bisa
terlibat di dalam kelas ASN belajar
yang ee membuat sebuah pengalaman baru
bagi saya plus sebuah pembelajaran baru
untuk mengerti dan mengenal tentang
pemerintahan yang ada di negara kita.
Jadi materi hari ini diberikan judul
membangun budaya kerja kolaboratif dan
inklusif melihat dari perspektif
psikologi untuk ASN. Ee ini materi yang
bagi saya materi yang luar biasa karena
ini adalah era di mana teknologi seperti
tadi kata Bu Tantri ya, teknologi itu
sudah masuk begitu banyak dan luasnya
dan mungkin saja sudah mempengaruhi
banyak lika-liku di dalam kehidupan kita
untuk bekerja. Boleh next slide.
Kalau kita boleh jujur, kenapa sih kita
harus belajar dan mengerti tentang
materi ini? Setiap kita ASN pasti
dipaksa untuk belajar dan mengerti. Jika
kita boleh kembali ke masa yang lalu di
tahun 2021 yang lalu tanggal 27 Juli,
Presiden Joko Widodo ini memberikan
sebuah core value kepada para ASN yang
berjudul dengan istilah berakhlak begitu
ya. Ini juga berlaku untuk para
teman-teman ee BUMN untuk mereka punya
core value yang sama bicara tentang
berakhlak
yaitu berorientasi pelayanan
accountable, kompeten, harmonis, loyal,
adaptif, dan kolaboratif. Sampai di part
ini bicaranya masih sampai di tahap
kolaboratif, belum mencapai kepada taraf
inklusif. Mengapa begitu? Terus kenapa
kita harus sekarang belajar dan
bertambah dengan konsep inklusif?
Ternyata tantangan yang ada di luar,
tuntutan yang ada di kondisi hari ini,
contoh sosial media yang berkali-kali
disampaikan begitu ya. Faktor-faktor
teknologi ini cukup banyak berdampak di
dalam kehidupan kita sebagai individu.
Untuk para pekerja baik itu swasta
maupun pemerintahan semuanya berpengaruh
dan terpengaruh.
Lalu apa yang diharapkan sehingga kita
harus menggabungkan perspektif
kolaboratif dan juga inklusif bisa
bergabung menjadi satu tentunya supaya
efektivitas pekerjaan kita dan sebagai
part dari ASN aparatur sipil negara mau
enggak mau kualitas pelayanan kita
kepada masyarakat menjadi sorotan. Next
slide.
Kalau kita cek sekali lagi begitu ya,
perubahan apa sih yang paling banyak
berperan? Kalau kita melihat kondisi
yang ada saat ini, mungkin di masa yang
dahulu paradigma sebagai sebuah
pemerintahan itu adalah sangat
hierarkis.
Atasan yang punya kuasa, bawahan hanya
menurut gitu ya. Artinya saya yang punya
wewenang, yang bawah tidak berhak untuk
bersuara. Tetapi hari ini tidak seperti
itu. Mindset, keterbukaan,
keinginan untuk mendengar suara orang
lain itu menjadi sangat penting. Tidak
berarti hierarkis itu hilang, bukan.
Tetapi kita menjadi sangat berani
terbuka. Tidak selalu bahwa masalah yang
ada di bawah hanya diketahui atasannya
langsung. Sang pimpinan nomor satu di
kepala di biro itu atau di divisi itu
atau di departemen itu tidak berhak
tahu. Enggak.
semua berhak tahu apa yang terjadi di
dalam organisasinya.
Bahkan kalau kita bicara tentang
berbasis dengan hasil ini kemarin
mungkin kalau nanti Pak Adik ee Matulesi
bisa sharingkan kami dari psikologi
sedang berbicara tentang eviden base.
Jadi kita tidak cuman melihat secara
result, tetapi temuan yang ada di
lapangan itu menjadi hal yang paling
penting. Kenapa? penentuan kita membuat
sebuah keputusan,
penentuan kita membuat sebuah regulasi
itu datangnya dari apa? Dari evidence,
dari temuan-temuan yang ada di lapangan.
Kita tidak bisa hanya serta-merta
melihat hasil, oh baik, tetapi apakah
itu memang hasil yang baik, tidak penuh
dengan manipulasi di dalamnya. Kita
perlu tahu bagaimana proses hasil itu
terbentuk supaya membuat apa? Supaya
kita bisa memperbaiki setiap proses yang
ada di dalamnya.
Tidak cuman terkait dengan paradigma,
tetapi tuntutan reformasi yang ada hari
ini membuat birokrasi-birokrasi yang
kompleks seperti dahulu harus dirubah.
Mau enggak mau kita harus meningkatkan
layanan kita baik kepada masyarakat
maupun kepada rekan kita sendiri.
Seperti dikatakan Bu Tantri begitu ya,
bahwa teknologi memaksa kita berubah
tidak hanya selalu menggunakan paper
base, tetapi kita juga sudah mulai masuk
ke era teknologi. Semuanya berbasis
teknologi. Maka e-goverment itu menjadi
kekuatan kita.
Kalau kita berlihat kepada ee
negara-negara lain, teknologi itu juga
berperan besar dan sangat membantu.
Begitu seperti di awal tahun ee bulan
ini saya berperjalanan ke beberapa
negara saya melihat ternyata sama gitu
ya, negara-negara lain tuh juga udah
sangat maju. Kalau mungkin dulu yang
mungkin lebih merasa kita lebih maju tuh
di Singapura. Sekarang kita cek seperti
di negara model Filipina aja. Sekarang
kita mau keluar dari negaranya sudah
harus memasukkan data-data iisa kita ke
dalam internet. Artinya kita enggak
perlu lagi datang untuk cuma masukin
password, tetapi kita akan diminta untuk
mengisi sebuah aplikasi supaya prosesnya
dimudahkan.
Itulah tuntutan era reformasi birokrasi
yang ada hari ini. Tidak hanya itu,
program ASN belajar merupakan salah satu
bentuk tuntutan yang membuat kita
mengapa harus berubah dan masuk kepada
budaya kolaborasi dan inklusi.
Karena kesadaran akan pentingnya
perkembangan yang ada di era hari ini
menuntut kita mau dan siap untuk
belajar. Berapun usia kita tidak
menghalangi kita untuk belajar lebih
dalam lagi mengenai apa? Mengenai negara
kita sendiri. Mengenai apa? Mengenai
perubahan zaman yang ada. Dan selain
belajar kita mau untuk memahami dan
berubah. Dan yang terakhir kalau seperti
yang tadi Ibu Tantri sampaikan, saya
belajar banyak juga dengan Lem Hanas
begitu ya. Ternyata negara kita tuh
sudah berkembang enggak karu-karuan.
Tetapi yang nyampai di masyarakat
mungkin tidak seperti itu. Kenapa?
Faktor berita sana sini yang simpang
siur membuat kehidupan kita di
masyarakat menjadi keos. Nah, maka
dengan adanya kemampuan kita untuk mau
belajar dan berkembang lagi, kebijakan
dan regulasi yang dibuat pun akan
menjadi semakin baik. Mereka tidak hanya
berfokus kepada keinginan negara, tetapi
mereka juga melihat bagaimana masyarakat
itu memandang negara ini. Negara tidak
bisa berdiri sendiri tanpa adanya
masyarakat. Begitu pula masyarakat tidak
bisa menjadi baik jika tanpa adanya
negara yang membawa sebuah regulasi.
Hal-hal inilah yang membuat kita sebagai
masyarakat, sebagai ASN dipaksa untuk
mau saling berelaborasi satu dengan yang
lain. Lalu bagaimana kami sebagai ASN
harus bekerja? tentunya budaya kerja
kolaboratif dan inklusiflah yang ingin
dikembangkan dan ditanamkan di dalam
kehidupan sehari-hari. Next slide.
Jika kita boleh belajar begitu ya secara
teoritis lah gitu. Karena saya seorang
akademisi, maka mau enggak mau
belajarnya ada fokus dari teoritisnya
juga. Kalau kita pengin tahu sebenarnya
yang dimaksud dengan kolaboratif, budaya
kerja kolaboratif yang seperti apa
begitu. Apalagi kami sebagai ASN,
orang-orang pemerintahan yang seperti
apa. Ternyata lingkungan kerja yang
penuh dengan kerja sama itu adalah hal
yang penting. Tetapi yang lebih penting
adalah kata-kata di sini mencapai tujuan
bersama.
Kita mungkin sudah menyampaikan visi
misi organisasi sejak awal kita
melibatkan para pekerja di dalamnya.
Tetapi apakah kita sudah menjelaskan
dengan baik goals utama yang ingin kita
raih itu yang mana? Karena seringkiali
visi misi hanya ditempel besar di
dinding, hanya ada di setiap ruangan,
ada di setiap buku-buku pedoman. Tetapi
kita tidak memahami goals kita bekerja
buat apa sih? Kenapa sih saya harus
melakukan A sampai Z ini? Kenapa sih
aturan ini dibuat?
sehingga
goals yang dipengin dicapai itu
kadang-kadang bisa melenceng ke sana
sini gitu. Kenapa? Kerja samamanya tidak
bisa saling berkait dengan baik, tidak
menjadi sangat efektif dan efisien.
Kenapa? Karena kemungkinan besar para
pemimpin atau diri kita sendiri hanya
cukup melihat tulisan besar visi dan
misi tanpa memaknai dan mengerti isinya.
Nah, itulah yang menjadi penting di
dalam sebuah organisasi. Setiap kita
punya kegiatan, setiap kita mungkin
mengawali dengan rapat, ingatkan kembali
goals kita melakukan kegiatan ini itu
untuk apa? Timeline kita melakukan
kegiatan ini itu kapan? Sehingga ketika
kita mau membuat sebuah kegiatan itu
jelas arahannya. Apa yang mau dicapai
pun bisa tercapai dengan baik. Lalu,
bagaimana kita membuat organisasi kita
bisa menjadi kolaboratif?
Seperti yang selalu disampaikan,
komunikasi kunci utamanya. Tidak ada
lagi rasa yang oh saya pimpinan, saya
lebih punya kuasa nih, saya lebih tahu
segalanya. Anda sebagai bawahan tidak
berhak tahu. Gak semua yang ada di dalam
lini di organisasi itu berhak tahu.
Mereka memang punya porsinya
masing-masing sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya. Tetapi apa yang
sedang dikerjakan oleh organisasi wajib
diketahui setiap lini di dalam insan
organisasi tersebut supaya apa? Supaya
mereka saling mengerti. Oh ternyata
tugas dan tanggung jawab saya memang
seperti ini. Tetapi itu belum bisa
mencapai goals. Apa yang harus saya
lakukan? Setiap orang menjadi tergelitik
ingin memberikan diri lebih banyak,
memberikan diri ingin lebih berkembang
dan juga berkontribusi ke dalam
organisasinya. Inilah yang ingin kita
capai di dalam proses budaya organisasi
kolaboratif. Tidak hanya sampai di situ,
kita membiasakan diri untuk membuka diri
kepada lintas fungsi atau lintas divisi
bahkan lintas departemen.
Seperti yang kita tahu hari ini, seperti
tadi kata Bu Tantri juga, kita bisa
berkembang mencapai Indonesia generasi
emas di tahun 2045 bukan karena
kemampuan hard skill kita, tetapi soft
skill kita. Bagaimana kita bisa
mengembangkan soft skill jika kita puas,
hanya puas dengan apa yang kita miliki
hari ini tanpa mau belajar lebih lanjut
hal-hal yang baru. Maka ketika kita
banyak berdiskusi atau mungkin mau
membentuk sebuah tim khusus yang lintas
divisi, lintas departemen, itu memaksa
kita belajar sesuatu hal yang baru dan
itu akan membuka wawasan kita. Oh,
ternyata keilmuan kita itu kalau
digabungkan dengan keilmuan yang ini,
itu bisa akan berakibat ini loh. Eh,
ternyata goals kita bisa semakin
tercapai. Itulah yang membuat organisasi
kita semakin berkembang. Masyarakat bisa
merasakan, "Oh, ternyata departemen ini
itu berkontribusinya sampai segini loh."
Kemudahan yang mereka berikan itu karena
kemampuan mereka melakukan ABCD. Mungkin
masyarakat selama ini hanya melihat apa
sih yang dikerjakan oleh departemen,
tapi mereka belum melihat apa yang
terjadi di baik layar. Ketika kita mampu
menunjukkan kualitas yang baik, mereka
akan memikirkan juga, oh, ternyata
organisasi ini mampu loh bergan
berkoordinasi dengan organisasi yang
lain. Dan tidak hanya itu, saya pikir ee
BPSDM cukup ee berkontribusi besar
begitu ya untuk Provinsi Jawa Timur ini
dengan memberikan pelatihan-pelatihan
sejenis ASN belajar. Kita mungkin tidak
punya waktu secara khusus untuk membuka
buku, untuk mendengarkan Zoom. atau
untuk mengikuti kelas-kelas di podcast.
Tetapi dengan adanya ASN belajar, kita
setengah dipaksa untuk terus belajar
sesuatu yang baru. Kita dipaksa terus
untuk mau mengembangkan diri. Tidak
hanya secara keilmuan, tetapi
keterampilan kita secara interpersonal.
Kemampuan kita berkoordinasi dengan
orang lain itu juga harus semakin
diasah. Kenapa? Kerja sama yang baik
tidak bisa terbentuk jika kita tidak
membangun interpersonal yang baik juga.
Next slide.
Kalau kita sudah bicara tentang
kolaboratif, sekarang saatnya kita lari
menuju kepada budaya kerja inklusif.
Seperti yang tadi selalu disampaikan,
komunikasi menjadi utama. Tapi bagaimana
cara berkomunikasi yang efektif itu?
Kita mampu menerima semua masukan yang
ada. kita mampu dan mau untuk mendengar
perspektif banyak orang. Tidak harus
selalu dikatakan perspektif mereka
kurang tepat atau mungkin ee informasi
yang mereka sampaikan belum yang
terbaik. Kita sedang tidak membuat
sebuah judge mental terhadap segala hal
yang disampaikan, tetapi kita menghargai
setiap informasi yang orang-orang itu
ingin sampaikan kepada kita. Artinya
kita membuat sebuah kesetaraan ke dalam
setiap organisasi kita. setiap anggota
kita berhak untuk menyampaikan apa yang
ingin mereka sampaikan dan mereka
diizinkan untuk terlibat dan
berkontribusi lebih banyak. Hal-hal
inilah yang mungkin di masa dahulu, di
masa era-era yang dulu itu tidak muncul.
Dan seperti yang sudah kita ketahui
semua, era sekarang ini era yang cukup
ee cukup berat saya katakan. Kenapa
boomers belum semuanya habis? generasi
X, generasi Y, begitu ya. Dan sekarang
sudah masuk generasi Z. Dan ee saya baca
gitu ya, saya cari info kemarin ternyata
total seluruh ee ASN baik yang secara
ASN murni ataupun yang bisa dikatakan
sebagai pekerja kontrak atau sebagainya
itu bertotal 86.000
yang ada di Provinsi Jawa Timur dan
kurang lebih 16.000 di dalamnya adalah
generasi C. Artinya kita ini sedang masa
transisi semuanya. Boomers ke X ke Y
mungkin tidak sesulit ketika harus
bertemu dengan Z yang punya banyak ee
pemikiran di mana mereka semua yang
berpikir dengan sangat cepat karena
lahir di era teknologi. Ngeklik
handphone. Bahkan seperti kalau Bapak
Ibu lihat di era alfa ya, anak bayi
belum umur 1 tahun aja sudah bisa itu
notul-nutul handfone begitu. Saya punya
keponakan waktu itu lahir di masa
pandemi tahun 2020. umur 1 tahun kalau
mau minum susu harus nonton YouTube di
lagu yang dia suka. Dia bisa itu
ngeklik-ngeklik sendiri. Bayi loh ya,
Bapak, Ibu. Saya tuh sampai amazin
merubah cara berpikir kita. Ketika
suara-suara itu tidak diizinkan terbuka,
suara-suara itu tidak diizinkan untuk
terinformasikan kepada orang lain,
seringkiali itu yang membuat banyak di
antara teman-teman kita salam satu
organisasi itu merasa enggan terlibat.
Kita sudah diajak untuk berlari bersama,
kenapa mereka kok seperti terseret-seret
begitu ya? yaitu kemungkinan besar
mereka tidak diberikan ruang untuk bisa
menyampaikan informasi yang mereka ingin
sampaikan. Mereka tidak diberikan ruang
untuk bisa mencurahkan keluh kesahnya.
Kami sebagai psikologi industri dan
organisasi selalu belajar bagaimana sih
orang-orang ini diberi kesempatan begitu
ya. Kalau sebuah organisasi swasta,
banyak di antaranya kalau Bapak, Ibu
suka nonton drama-drama Korea, terutama
yang ee nuansanya adalah perusahaan atau
kantor,
di ruangan khusus atau mungkin di sebuah
lobi atau mungkin di ruangan mereka bisa
saling bertemu satu dengan lain, ada
sebuah papan besar, board besar kita
katakan sebagai communication board di
mana mereka bisa menempel berbagai macam
sticky notes untuk menuliskan perasaan
mereka kekes kesalahan mereka, keluh
kesah mereka, enggak diberi nama deh,
dikasih nama departemen sama tanggal
mereka mengalami itu misalkan. Itu sudah
menjadi ruang bagi mereka bebas
berekspresi dan jangan juga ya meskipun
ada CCTV terus langsung dicekin siapa
nih orang yang punya. Nah, orang semakin
ketakutan papan itu akan selalu kosong
gitu ya. Harapannya adalah papan itu
terisi. Setiap orang bisa menyampaikan
keluh kesannya dengan nyaman tanpa rasa
takut. Seandainya pun tidak perlu papan
ada ruangan setiap minggu, setiap awal
bulan atau akhir bulan setiap orang
boleh diajak berdiskusi dan menceritakan
apapun. Misalkan istilahnya itu biasanya
kafe morning gitu ya atau apalah
istilah-istilah yang bisa dilakukan.
Mereka bisa saling bercengkrama satu
dengan lain mencampaikan, "Pak, saya
merasa dengan regulasi ini kurang pas
nih, Pak. Bagaimana kok kita diisi
kesempatan A sampai Z misalkan atau ada
ruang nih bagaimana mereka, "Pak, saya
boleh ngasih usul atau tidak?"
Seandainya kita melakukan kegiatan A
sampai B dengan cara seperti ini. Kalau
seandainya pimpinan berkata, "Mau enggak
kamu menjadi tim yang terlibat di
dalamnya membuat kegiatan itu?" Wah,
tentu mereka sangat senang untuk
dilibatkan karena mereka merasa
dihargai. Artinya penghargaan itu tidak
hanya dalam bentuk hadiah secara fisik
atau mungkin ee atau bentuk dengan
ucapan, tetapi ketika mereka diterima
informasinya, ketika mereka merasa
informasinya itu berarti, itu sebuah
penghargaan yang berharga bagi setiap
orang di dalamnya.
Terutama ketika mereka diberi kesempatan
untuk akses begitu ya, Pak, Bu. saya
boleh enggak ya belajar ini itu meskipun
saya bukan bidangnya di situ, saya bukan
tupoksi utamanya adalah itu. Kesempatan
untuk itu aja itu sangat luar biasa.
Saat ini saya sedang melakukan
penelitian terkait dengan eh Gensi dan
hari-hari ini itu semua berkata Gensi
ingin dihargai. Gensi ingin mempunyai
wellbeing, mulai kesehatan mental.
Mereka ingin bisa selalu mendapatkan
pengetahuan yang baru, haus akan ilmu
yang baru.
Lalu bagaimana sebagai ee aparatur sipil
negara itu bekerja dengan para gensi
yang seperti ini gitu. Tuntutan mereka
terkesan tinggi sekali. Tetapi kalau
kita boleh jujur, mungkin itu bukan lagi
sebuah tuntutan. Tetapi itu menjadi
sebuah kerinduan setiap orang untuk
belajar dan mengembangkan diri lebih
baik. Boleh next slide.
Kalau kita cek di dalam strateginya,
budaya kerja kolaboratif dan inklusif
ini yang harus seperti apa? Komunikasi
dua arah. Kemudian juga setiap orang
diberi kesempatan untuk mungkin mereka
mau nih datang sendiri kepada
pimpinannya untuk menyampaikan, "Pak,
saya punya insight seperti ini, ini,
ini, ini." Ya, diizinkan gitu. Ee ketika
kami sekolah S3 ini, kami belajar banyak
juga ee bagaimana sih sebagai seorang
pemimpin itu mau menimba ilmu kepada
yang lebih muda. Seringkiali orang
berkata, "Saya kan lebih dahulu lahir.
Saya kan lebih tahu segalanya dibanding
kamu." Ternyata enggak seperti itu.
Belajar seperti gelas yang selalu siap
untuk diisi dan selalu gelas yang siap
untuk dialiri dialiri air yang baru.
Memang terlihat air itu tumpah-tumpah.
begitu ya. Tetapi sesuatu yang tumpah
itu dimaksudkan dengan keilmuan kita.
kita curahkan kepada orang lain. Ketika
air itu terus terisi, ilmu yang terus
kita berikan itu saling kita tukarkan
dengan yang lain, itu tidak membuat
menjadi berjamur. Tetapi gelas yang kita
selalu biarkan kosong dengan setengah
air terisi itu kita diamkan sekian lama,
itu akan menjadi berjamur. Begitulah
kita ketika komunikasi itu tidak pernah
terjalin, kita akan menjadi sangat
berjarmur. ilmu yang kita miliki itu
mungkin ya mengendap itu-itu aja, tidak
berkembang
dan bisa dikatakan obsolit sesuatu yang
sudah basi. Tetapi ketika kita
mengizinkan untuk terus diisi dari mana?
dari komunikasi itu dari generasi yang
baru, dari tim yang ada, baik itu
dikatakan sebagai anggota mungkin
bawahan, no matters.
Bagaimana organisasi ini berkembang itu
bukan milik dari cuman pemimpin.
Pemimpin memang role model, tetapi
anggota tim semua adalah satu bagian
utama yang bisa dikembangkan dan bisa
saling berkembang untuk membuat
organisasi kita menjadi lebih baik.
Kemudian kita mulai siap untuk membentuk
tim kerja lintas fungsi dan siap untuk
mau ditempatkan dan ditugaskan meskipun
itu keluar dari zona nyaman kita. Saya
tahu keluar dari zona nyaman itu bukan
sesuatu hal yang mudah. Belajar terus,
belajar terus harus saling mengerti sana
sini itu bukan sebuah hal yang mudah.
Tetapi yuk mari kita mau belajar
dan penyediaan pelatihan pengembangan,
kemudian kemampuan untuk interpersonal
kita ditingkatkan itu adalah hal-hal
yang menjadi kekuatan dalam diri kita.
Hal-hal yang tidak mungkin bisa dicuri
oleh orang lain, tetapi membuat diri
kita semakin bertumbuh dan berkembang.
Dan yang terakhir, kita memberikan
kesempatan yang setara bagi setiap orang
untuk mereka berkontribusi, untuk mereka
memiliki pendapat.
Ketika saya belajar kemarin di awal
bulan ke Australia, belajar tentang
positif psychology, saya melihat banyak
hal yang sedang berkembang. Saya belajar
satu cerita dari pemerintahan yang ada
di Dubai, di kantor kepolisian Dumbai.
mereka membuat sebuah departemen khusus
yang disebut dengan departemen
wellbeing. Dan di setiap ee lini mereka,
di setiap departemen mereka, di setiap
bidang mereka, mereka selalu memiliki
sebuah departemen khusus yang disebut
dengan nama wellbeing. Kenapa ini
dibentuk? Ya, semua orang tahu bekerja
itu melelahkan, bekerja itu membuat
stres yang tinggi gitu ya. Kalau istilah
kita itu exhausted, burn out. Lalu
bagaimana gitu supaya setiap orang tuh
tetap enjoy bekerja di tempat
pekerjaannya. Mereka enggak sampai
mengalami depresi, mereka enggak sampai
mengalami tekanan mental. Maka adanya eh
departemen wellbeing itu membuat mereka
belajar. ada ruang bagi ee para pekerja
untuk duduk bersama dengan psikolog
untuk mereka berdiskusi. Secara rutin
mereka mengisi survei-survei kesehatan
mental. Secara rutin pula mereka bisa
diberikan pelatihan-pelatihan untuk
mereka merilekskan diri. Kenapa? Saya
tahu betul pekerjaan yang ada di negara
kita itu Mbak 1000 jari begitu ya.
Rasanya itu kalau bisa kita seperti
gurita, Bapak, Ibu. Semua dikerjakan.
Saya sebagai dosen pun merasakan hal
yang sama. Administratif iya, pekerjaan
secara fisik juga iya, dan lain
sebagainya. Dipaksa terus belajar juga
gitu kan. Jadi gimana nih gitu tapi itu
tidak menutup kemungkinan bagi kita
untuk terus berkembang dan menjadi yang
lebih baik. Maka kesehatan mental yang
ada di setiap lini itu juga menjadi
harus perhatian bagi setiap orang. Next
slide, Mas.
Nah,
kalau kita cek dari perspektif psikologi
yang seperti apa gitu, ternyata budaya
kerja kolaboratif dan inklusif itu tidak
hanya cukup untuk dilakukan, tetapi juga
memberikan semangat dorongan yang baru
kepada setiap anggota organisasi untuk
berkembang. Mereka diberi kesempatan
untuk ee mengeluarkan insight-insight
barunya. Mereka diberi kesempatan untuk
melakukan sesuatu hal dengan cara mereka
sendiri. Kalau kita dalam psikologi
diistilahkan dengan job design dan job
crafting. Jadi artinya mereka punya itu
tugas tupoki tertentu, tetapi mereka
tidak harus seperti yang dijuklah gitu
ya atau yang seperti sudah dilakukan
harus terstandar. Kalau emang ada
standar ya harus tetap dilakukan. Tetapi
mereka diberi kesempatan boleh
mengeksplore dirinya untuk menyelesaikan
tugas-tugas itu jauh lebih baik dengan
caranya, tetap dengan integritas
tentunya dan beretika.
Kemudian kepuasan kerja bisa meningkat
dan ini yang paling penting. Hasil dari
pekerjaan kita, performa setiap orang
juga menjadi baik. Kenapa? kemampuan
mereka untuk menyelesaikan masalahnya
itu diberi apresiasi sehingga ya mereka
akan terus tanpa perlu kita beri hadiah.
Kalau kamu berhasil mengerjakan ini
nanti kamu dapat ini, enggak perlu itu.
Tetapi penghargaan itu sudah membuat
mereka memperformakan dirinya jauh lebih
baik. Selain itu, anggota organisasi
merasa dihargai, dipercaya, dan juga
mempunyai kesempatan untuk mau terlibat
lebih banyak. Berapa banyak sih anggota
kita yang mungkin ongah-unggahan ketika
disuruh mengerjakan sesuatu atau
berkata, "Iya, tetapi tidak terkerjakan
dengan baik." Atau bilang, "Iya, siap,
tapi waktunya lepat sekali." Kenapa?
Mari kita saling memeriksa diri kita
masing-masing. Sudahkah kita menghargai
tim kita dengan baik? Sudahkah kita
memperlakukan tim kita seperti yang kita
inginkan? Jika kita ada di posisi
mereka, maukah kita diperlakukan seperti
itu? Jika enggak, yuk mari sama-sama
kita bekerja secara kolaboratif dan
inklusif supaya orang mau berkomitmen.
Mereka berkata, "Iya, tentu kerjakan
dengan iya." Mereka berkata, "Lakukan
dengan baik, maka jadi hasil yang baik
supaya hasil kerja mereka bisa menjadi
yang teroptimalkan dan mereka bisa
mendapatkan hasil yang lebih baik untuk
jabatan yang lebih baik di kemudian
hari. Maka mau enggak mau kita dipaksa
untuk saling mengerti empati." Ini nanti
materi yang mungkin akan dikembangkan
oleh Pak Andi dan juga memiliki rasa
memiliki belongingness terhadap
organisasi. meskipun kita tidak menutup
kemungkinan bisa saja berpindah-pindah
begitu ya. Hari ini ada di departemen
ini mungkin tahun depan atau mungkin 2
tahun lagi berpindah departemen itu
posibel banget tapi bukan berarti kita
tidak berasa memiliki akan ee organisasi
yang kita miliki hari ini. Membangun
kohesivitas, membangun kreativitas
adalah menjadi result dari apa yang kita
sudah kerjakan di depan.
Maka
marilah kita berkontribusi supaya
menghasilkan kualitas yang optimal di
dalam organisasi. Next slide, Mas.
Maka saya mencoba membuat sebuah slogan
simpel begitu ya. Bagaimana sih budaya
organisasi yang ee kolaboratif dan
inklusif di dalam PR eh Jatim ini bisa
berkembang? Tadi berkata, jika kita
berjalan sendiri kita akan em bisa
berjalan apa hasil yang maksimal tapi
kita bisa berjalan sama-sama hasil yang
maksimal. Maka kita katakan satu hati
satu langkah. Untuk apa? Membangun Jatim
yang aman, tertib, dan damai. Di mana
pun kita berada, di mana pun lokasi kita
bekerja, kita mau untuk saling bersatu
hati. Mungkin itu dari saya, Mas Lukman.
Terima kasih.
[Musik]
Terima kasih Bu Hani untuk materinya.
ini luar biasa banget ya. Saya enggak
tahu kenapa setiap saya ketemu sama
pembicara dari psikologi gaya bahasa
mereka itu selalu pelan, santai,
menyejukkan gitu. Dan itu tercermin dari
tadi waktu Bu Hani menyampaikan materi.
Sangat menarik banget, Bu. Dan tadi
kalau mungkin kita bisa wrap up terlebih
dahulu ya, ketika ingin membentuk budaya
kerja yang kolaboratif dan inklusif
sebenarnya kunci utamanya adalah
melakukan komunikasi terbuka. Nah, ini
sebelum saya lempar nih ke sobat ASN
untuk bertanya, saya mau tanya terlebih
dahulu. Bu, kan kita ini dalam suatu
lingkungan kerja punya banyak sekali
orang dengan kepribadian yang
berbeda-beda. Ya, kita mungkin bisa
kerucutkan itu ke dalam bentuk dis
dominant, influence, dan lain sebagainya
gitu. Bisa jadi nih ketika dalam suatu
budaya itu kita mau membentuk komunikasi
terbuka, tapi ternyata pimpinan kita itu
adalah orang yang dominance ya. Gaya
bicaranya dia itu sangat direct,
menyentak-nyentak. Kalau misalnya ada
masalah kok rasanya kita selalu kena
marah gitu ya, padahal kita sudah
mencoba untuk terbuka gitu ya. Nah,
hal-hal seperti itu dealing with
different personalities gitu kalau
menurut pandangan Bu Hanif utamanya
untuk menghadapi karakter-karakter yang
seperti itu gimana tuh Bu?
Baik, ini menarik sekali ya Mas apalagi
yang punya karakter seperti itu ada
pimpinan gitu ya Mas ya. Jadi selalu
kita kesannya selalu salah.
Heeh. Nah, memang ee supaya kita bisa
mampu berkoordinasi dengan baik, memang
ada mau enggak mau kita harus mengalah.
Apa berarti anak buah selalu kalah? Ya
enggak juga. Bukan berarti pimpinan
selalu benar. Pimpinan juga harus mau
belajar untuk berubah. Tetapi untuk saat
tertentu anak buah ya mau enggak mau
mengalah. Menyampaikan secara
perlahan-lahan. Kalau mereka gayanya
direktif, ya kita jangan sama-sama
direktif. Artinya batu dilawan dengan
batu, berantem begitu ya. Jadi ya mau
enggak mau sedikit demi sedikit
disampaikan.
Kita mencoba membuat gebrakan misalkan
hal ini enggak bisa ya kita coba nih
gimana kalau kita mengerjakan hal ini
dengan insight baru kita. Apakah ada
hasil yang positif? Kalau memang ada
kita sampaikan Pak saya sudah mencoba
hal ini. Mohon maaf ada perubahan nih
Pak tidak sesuai dengan standar seperti
ini, seperti ini. Tetapi hasilnya lebih
maksimal. Ya, kembalikan kepada
pimpinan. Jika pimpinan memang merasa
itu adalah kualitas yang lebih baik
seperti yang sebelumnya, saya rasa
mereka juga ee bisa menerima gitu ya.
Karena kalau saya melihat dominan itu
lebih suka result gitu ya. Dikit-dikit
itu resultnya yang dilihat. Oke.
Jadi kalau kalau gak ada result kita
sudah ngasih insight duluan biasanya
mental dulu nih apa sih gitu
ngerubah-ngerubah sistem gayanya seperti
itu. Tapi kalau kita sudah mencoba,
"Pak, ini nanti dampaknya ini ini
misalkan atau sudah melakukan survei
awal atau apapun disampaikan ya bukan
berarti pimpinan selalu mau benar ya,
pimpinan juga harus mau dirubah karena
era hari ini kalau kita selalu seperti
itu pimpinan punya juga banyak kelemahan
dengan cara dominan yang terus-menerus
mereka tidak bisa mengisi. Kalau set
saya sampaikan gelasnya itu selalu ya
itu terus enggak ada sesuatu yang baru
gitu kan karena ya kaku dengan cara
berpikirnya sendiri. Mungkin itu karnas
lus.
Oke, thank you Bu ee Hani. Berarti
kuncinya adalah pertama mengalah dulu
ya. Mengalah dulu. Terus ketika kita
datang ke pimpinan kita itu harus
membawa fakta atau insight yang bisa
membuat
ee menarik ya untuk beliau gitu ya,
untuk dipertimbangkan lebih lanjut gitu.
Nah, itu tadi kalau misalnya dari
karakter dominans ya, Bu ya. Kita hadapi
pimpinan atau kita mau menyampaikan eh
pendapat kita terhadap orang dominan.
Caranya seperti itu. Tapi kalau misalnya
untuk tiga karakter yang lain, Bu, let's
say pertama adalah influence, kemudian
steadiness, eh conscience toiousness,
itu gimana tuh, Bu, cara menghadapinya
supaya mereka bisa mau menerima pendapat
kita? Ada enggak sih tips and trik
menurut Bu Hani?
Ya memang kalau kita cek kita enggak
selalu harus bisa melihat dari IisC
begitu ya. He,
semua orang juga belum tentu mengerti
itu seperti apa. Tetapi yang kita pahami
betul, kita tahulah kita sedang
berbicara dengan siapa. Maka tadi saya
sampaikan selalu kemampuan interpersonal
kita harus dikembangkan. Kita mampu
menempatkan diri saya ada di posisi
siapa. Ee yang sedang kita hadapi itu
yang seperti apa sih? Orang yang sangat
menjunjung tinggi strata misal ya
berarti kita harus menurunkan diri kita.
orang yang bisa sangat terbuka egaliter
ya berarti kita bisa menyampaikan yang
selalu kita terlalu tekankan bagaimana
kita membawa diri kita dan selalu dalam
posisi yang sopan.
Iya.
Tentu kalau misalkan mereka adalah
pimpinan nometers ya pimpinan kadang
jauh lebih muda loh usianya dari kita.
Tetap mereka tuh selalu minta merasa
dihargai karena status mereka sebagai
kata-kata tadi pimpinan begitu. Nah,
hal-hal inilah yang ee mungkin selalu
kita harus pelajari terus-menerus. tidak
ada sekolahnya secara khusus, tetapi mau
enggak mau kita ee belajar. Begitu
kurang lebih mungkin Mas Ali.
Siap. Terima kasih Bu Hani. Ini ada
pertanyaan masuk dari kolom chat Zoom
kami atas nama Bu Susilawati dari
Cianjur ya. Ee pertanyaannya adalah
dalam konteks kolaborasi ASN, bagaimana
penerapan nilai kebangsaan dapat menjadi
landasan dalam pengambilan keputusan dan
pengelolaan tim agar tercipta sinergi
yang berkelanjutan? Kalau menurut Bu
Hani, bagaimana Bu?
Ya memang
berkolaborasi antar itu apalagi beda
divisi misalkan gitu ya. Apalagi kita
tadi berkata secara inklusi, mau enggak
mau kita akan berkoordinasi dengan
lintas divisi. Maka mau enggak mau kita
harus sampaikan dulu goals di depan yang
ingin dicapai baru kita bisa membuat
visi yang baru. Artinya
kita tahu nih arah tujuan kita untuk
mencapai sebuah kegiatan itu apa. Kadang
kala kita secara ee divisi punya ego
sektoral. Saya merasa yang lebih kuat,
saya merasa yang lebih hebat, gitu. Nah,
ini kita harus turunkan, kita harus
berada di sisi equal dulu supaya kita
mampu begitu ya untuk apa? Melihat
kekuatan kita di mana, kekuatan ee tim
yang lain ada di mana supaya kita bisa
saling mengelaborasikan dan bekerja
secara ee elaboratif.
Dan ini kegiatan harus berkelanjutan
pastinya. sehingga kita membuat sebuah
visi itu bukan cuman dalam satu sekali
ya, satu masa cuman ya memang benar visi
setiap tahun harus dievaluasi
tetapi bukan berarti ya pokoknya
sekarang yang dikejar ini gitu enggak
ada kata pokoknya sih ya. I.
Jadi kalau di era sekarang itu upayakan
tidak ada kata-kata yang model kaku
seperti dulu, tetapi kita mau membuka
diri.
Ya, perkembangan dan perubahan itu
seperti tadi kita lihat adanya COVID.
Siapa yang pernah menduga bahkan cukup
lama 2 tahun kita harus dipaksa bekerja
dengan efektif di dalam rumah
karena kondisi gitu. Itu sesuatu yang
tidak bisa kita pungkiri dan tidak bisa
kita pikirkan. Artinya visi atau goals
yang mau kita capai itu bukan cuman hari
ini, tetapi kita pikirkan bagaimana jika
ada perubahan ini. Artinya kita harus
punya plan itu enggak cuma satu, tetapi
A sampai Z. Yang paling gampang A sampai
C deh. Tetapi itu bisa possible untuk
dilakukan.
Mungkin itu Bu Sisilawati semoga
menjawab.
Sepakat. Sepakat dengan Bu Hani. Jadi
yang pertama memang harus tahu dulu
goals-nya apa. Nanti kita petakan tuh
apa yang menjadi kelebihan dan kekuatan
dari organisasi kita.
yang bisa melengkapi itu kemudian harus
juga ya terhadap perubahan itu yang
paling penting gitu ya. Oke, ini ada
penanya masuk kembali saya izin undang
untuk penanya berikutnya. Selamat siang
Bapak.
Halo, Pak. Pak Devin Nugraha.
Punten Bapak mic-nya masih termute.
Bapak bisa dibantu untuk unmute terlebih
dahulu.
Oke, ini masih belum tersambung.
Barangkali kalau berkenan headsetnya
mungkin bisa dilepas saja, Pak. Jadi
pakai audio dari device-nya langsung aja
enggak apa-apa.
Kita enggak.
Oke, ini sudah masuk.
Ini sudah masuk. Ya,
silakan Pak disampaikan nama dan asal
unitnya kemudian pertanyaannya.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Saya mau dan saya Devin dari bagian
keuangan Setda Kasih ini mau bertanya
tentang apa? Etos Kerja ya. Budaya etos
kerja di Kota Kasih ini kan ee kita apa
penilaian dari pelayanan publik kan
sangat terbaik se Jawa Barat
ya. Nah, nanti kita melihat dari
evaluasi dari pegawai PNS-nya P3K ini
kayaknya AT budayanya masih kurang gitu
dari kolaboratifnya dengannya masih
kurang. Nah, cara menilai dari
pegawainya sendiri ini seperti apa?
Terima kasih.
Makasih Pak Devin. Silakan Bu Hani.
Baik, terima kasih banyak Pak Devin. Ee
selamat begitu ya sudah mendapatkan
penghargaan sebagai kualitas yang
terbaik se Jawa Barat. Begitu ya, Pak.
Ee bagaimana sih menilai
bagaimana menilai etos kerja gitu. Jadi
kalau kita melihat dari etos kerja tentu
kita akan melihat kembali kepada KPI.
Jadi ke performance index Bapak. Jadi
indikator-indikatornya kita cek dari di
sana ya, Pak. Apa saja yang sudah
dimiliki, kemudian apakah sudah
tercapai. Jika memang belum dan selalu
hal-hal itu belum, maka yang kita harus
cek kembali adalah QPI-nya.
Apakah memang QPI itu sudah tepat? Kalau
misalnya kita bikin KPI terlalu tinggi
yang membuat karyawan tidak akan pernah
bisa mencapai, ya berarti QPI-nya ada
yang tepat.
Tapi terlalu mudah dicapai itu juga
harus diwaspadai. artinya terlalu
rendah. Nah, QPI itu harus diperiksa
secara terus-menerus, Pak. Apalagi
dengan kondisi tuntutan yang baru hari
ini. Jadi, kan kita tahu ya ada
perubahan-perubahan, Pak. Mungkin di
dalam organisasi juga melakukan
perubahan. Maka QPI-nya kita cek
terus-menerus
apakah QPI itu sudah sejalan. Dan
seperti yang tadi saya sampaikan, kita
cek apakah itu terlalu mudah dilakukan
atau terlalu sulit. Jadi, harus ada di
titik balancing gitu kurang lebih, Pak.
Mungkin ada mungkin yang ditambahkan,
Pak Devin.
[Musik]
Iya. Ini juga mau tanya lagi boleh
enggak?
Silakan satu pertanyaan terakhir Pak
Devin.
Oh iya. Ini kan kita mulai dari bagian
tenan keuangan ini kan dicerakan masih
kurang dari inklusifnya masih kurang
inklusif masih kurang.
cara mengatasinya biar pegawai itu bisa
inklusif baik dan juga apa
kolaboratifnya lebih baik seperti
apaasih.
Baik, terima kasih Pak Devin ya. Seperti
yang tadi saya sampaikan nggih Pak,
mungkin dicek lagi apakah komunikasi di
dalam organisasi ini sudah terbuka ya,
Pak. Artinya memang ngomong tentang
bidang keuangan itu kompleks dan lelah
ya, Pak. Ngelihatin uang-uang,
angka-angka terus-menerus kadang itu
bosan. Nah, itu mungkin kita juga bisa
mencari tahu strateginya. Apakah
misalkan kegiatan olahraga itu sudah
rutin dilakukan oleh setiap karyawan,
lalu bentuk olahraga yang seperti apa?
Kalau modelnya cuman kesehatan jasmani
biasa yang kurang menantang, mungkin
bagi mereka juga kurang menarik misalkan
hal-hal itu. Lalu kita perhatikan juga
kegiatan yang banyak menggunakan ee
layar secara ini itu melelahkan. Apalagi
ngomongin tentang keuangan ya, Pak.
mungkin mohon maaf mata bisa sewer atau
lelah gitu ngelihat angka terus eh bisa
salah misalkan. Nah, itu juga harus kita
cek. Ee aturan aturan kesehatan misalkan
terlalu banyak duduk melihat layar ee
ini membuat kita menjadi tidak fokus,
tidak konsentrasi ya. Maka kita bikinlah
kegiatan apa-apa misalkan berdiri atau
mungkin harus olahraga apa sedikit 5
menit, 10 menit harus dipaksa jalan dan
sebagainya. hal-hal sesimpel itu bisa
membuat mereka untuk bisa kembali mau
menjadi kolaboratif. Ketika kita tidak
memperhatikan hal-hal itu seperti tadi
saya sampaikan di wellbeing ya mereka
akan merasa kesehatan mental saya tidak
dihargain begitu sehingga ya mereka
merasa ya sudahlah saya kerja apa adanya
semampu saya begitu. Tapi kalau kita
menghargai dan melihat hal-hal
remeh-temeh seperti itu, saya yakin
orang-orang akan mau untuk bekerja dan
berkolaborasi lebih baik lagi. Inklusi
seperti tadi ya, Pak. Kita cek lagi apa
sih kelebihan dan kekurangan kita supaya
kita bisa mampu juga berkolaborasi
dengan orang-orang yang lain. Mungkin
itu dari saya. Terima kasih, Pak Devin
pertanyaannya. Semoga menjawab. Thank
you, Pak Devin. Salam sehat selalu. Bu
Hani. Punten sekali kita waktunya sangat
terbatas sehingga untuk sesi kali ini
kita harus akhiri. Tapi menarik banget
ya tadi ee terkait QPI ya. Jangan sampai
QPI-nya terlalu tinggi nanti lama-lama
karyawannya malah demotivasi kayak gitu.
Iya, betul.
Oke, Bu Ani sebelum ditutup sesi kali
ini barangkali dari Ibu ada yang ingin
disampaikan closing statement-nya.
Silakan Bu Ani.
Baik, terima kasih Mas Lukman. Ee Bapak,
Ibu, rekan-rekan semua di mana pun
berada, baik ada di Provinsi Jawa Timur
maupun yang bukan, saya yakin dan
percaya kita semua sudah berusaha dan
bekerja semaksimal mungkin. Tapi
yakinkan untuk kita mau juga merubah
diri menjadi lebih baik untuk bisa
bekerja lebih kolaboratif dan inklusif.
Kemampuan kita berkomunikasi bukan hal
yang susah karena kita dilahirkan untuk
mampu berkomunikasi, tetapi
kembangkanlah komunikasi secara
interpersonal lebih baik lagi. Semangat
untuk menjalani hari-hari ini dan
teruslah berkarya. Terima kasih, Mas
Bu Hani. Thank you sekali sudah berkenan
untuk bergabung di webinar kali ini.
Semoga apa yang disampaikan menjadi
berkah untuk Ibu dan juga bagi sobat ASN
semua. Salam sehat selalu untuk Bu Hani.
Kita ketemu lagi di event-event
selanjutnya, Bu.
Baik, Sobat ASN, kita masih punya satu
sesi terakhir, jadi jangan ke mana-mana.
Tetap di webinar ASN belajar seri 29.
Kita akan kembali setelah jeda pandiwara
berikut ini.
[Musik]
Yeah.
[Musik]
Ya, Anda kembali lagi menyaksikan
webinar ASN belajar seri 29. Masih
bersama dengan saya Lukman Ali. Di sesi
terakhir kali ini kita akan mendengarkan
materi terkait dengan menumbuhkan empati
dan toleransi dalam birokrasi. Kunci
mewujudkan sinergi ASN yang akan
disampaikan secara langsung oleh Bapak
Dr. Andik Matulesi, M.Psi, Psikolog.
Beliau ini sebagai dosen Fakultas
Psikologi Universitas 17 Agustus 1945
Surabaya.
[Musik]
Selamat siang, Pak Andik.
Selamat siang.
Kabar baik, Pak Andik.
Salam sehat selalu.
Salam sehat selalu juga, Pak Andik. Tadi
sudah disampaikan oleh Bu Hani terkait
dengan cara untuk menciptakan budaya
kerja yang kolaboratif dan inklusif, ya.
Salah satunya sebenarnya adalah kita ini
harus punya empati terhadap sesama rekan
kerja seperti itu. Nah, kali ini saya
mau dengar ee paparan menarik dari Pak
Adik, bagaimana sih kita bisa
menumbuhkan empati dan toleransi dalam
lingkungan kerja. Kurang lebih waktu
materi selama 30 menit, Bapak. Nanti
kita langsung sambung ke sesi tanya
jawab. Silakan, Pak Andik.
Terima kasih banyak. Nah, ee
Bapak, Ibu sekalian ee
ee mohon nanti ee bisa
memberikan tanggapan terhadap dua hal
isu penting terkait dengan ASN ya. Satu
terkait dengan empati. Yang kedua
terkait dengan persoalan penting lain
yaitu toleransi.
dua hal itu menjadi hal yang penting
dalam konteks kesimpulan nanti menjadi
sebuah.
Jadi yang pertama terkait dengan empati.
Jadi empati itu bagi ASN
ee merupakan kemampuan untuk memahami
dan merasakan perasaan orang lain,
terutama sekali masyarakat yang
dilayaninya.
Bahkan Daniel Colman menetapkan bahwa
empati itu adalah eh apa? Bentuk paling
tinggi dari sebuah kecerdasan emosional
itu adalah yang disebut sebagai empati.
Empati tentunya akan memberikan
pelayanan publik yang lebih baik,
membangun trust pada masyarakat dan
tentunya menciptakan hubungan kerja yang
lebih harmonis. empati tidak hanya
dengan masyarakat tetapi juga dengan
reagiran kerja yang dari satu unit
maupun dari berbagai unit yang berbeda.
Adanya empati akan meningkatkan kualitas
layanan publik, akan membangun public
trust gitu ya, eh membangun kepercayaan
kepada masyarakat ya terhadap ASN.
kemudian mencegah konflik-konflik,
mencegah adanya keluhan, juga
meningkatkan efisiensi kerja dan
menciptakan lingkungan kerja yang lebih
baik. Dan tentunya ujungnya adalah
meningkatkan
image atau citra positif ee ASN itu
sendiri. Yang kedua nanti akan dibahas
tentang masalah toleransi.
Toleransi itu ee pada saat kita
menghargai
keberagaman maka tentunya kita harus
memulai dari internal dulu. Bagaimana
berperan sebagai perekat dan pemersatu
bangsa maka tentunya ASN harus mampu
menjaga
stabilitas, menjaga hubungan yang lebih
baik di dalam ee internal organisasi itu
sendiri.
Karena dengan toleransi maka akan bisa
orang akan beradaptasi terhadap
perbedaan. Karena mau tidak mau kita
kita tidak bisa tidak bahwa
diversifikasi itu ada di real di dalam
negara kita gitu ya. Sehingga kalau
kalau kita punya toleransi maka akan
bisa mencegah konflik. Bahkan kalau di
masyarakat kita bisa mencegah
ekstremisme, bisa membangun public trust
juga.
ya. Kemudian bisa beradaptasi karena
bisa saja ASN tidak hanya di satu
tempat, suatu saat dia akan ditaruh di
tempat yang sangat berbeda gitu ya. Oleh
karena itu tentunya pada saat dia paham
akan perbedaan maka dia juga akan lebih
mudah untuk me me apa ya ber ee
memunculkan prestasi di tempat kerja.
Next.
Ada ee tiga hal penting yang menjadi
tantangan birokrasi
saat ini. J challenge yang pasti akan
muncul. Yang pertama adalah fragmentasi
birokrasi.
Fragmentasi birokrasi itu sebuah kondisi
di mana organisasi atau sistem birokrasi
itu terpecah menjadi unit-unit kecil
yang masing-masing memiliki tugas dan
wewenang tersendiri, wewenang khusus.
Tapi persoalannya kondisi ini seringki
menyebabkan kurangnya koordinasi antar
unit. Bisa saja terjadi duplikasi tugas
gitu dan juga akan menimbulkan hambatan
dalam implementasi.
Sebagai contoh misalnya dinas yang ee ee
isu terkait dengan pendidikan ya. Isu
terkait dengan pendidikan itu kan bisa
itu di tingkat dasar, tingkat menengah
dan sampai dengan perguruan tinggi gitu.
Kalau kita bicara kurikulum seharusnya
kurikulum itu tidak bisa terpisah-pisah.
Jadi mulai dari dasar, menengah,
perguruan tinggi itu adalah sebuah jalan
atau roadmap yang yang terus-menerus
atau kontinuum gitu. seringki
ee kita itu terjadi fragmentasi ini
urusan saya gitu sehingga kemudian saya
hanya bicara tentang ini sehingga tidak
berukir tentang bagaimana holistik,
bagaimana sesuatu yang komprehensif ya.
sehingga misalnya pembentukan
dinas-dinas di pemerintah daerah
misalnya yang baru misalnya seringki
tugasnya berkaitan tapi dalam konteks
penyelesaian bisa sendiri-sendiri gitu.
Apa yang terjadi? Karena kurangnya
koordinasi. Karena merasa saya punya
otonomi sehingga tidak perlu koordinasi
gitu ya. Sehingga kemudian menyebabkan
apa? masalah pengambilan keputusan,
terhentinya projek, implementasi
kebijakan menjadi tidak tidak optimal
dan tentunya tidak ada penyediaan
layanan publik yang berpadu gitu.
Terkait dengan itu juga dalam
fragmentasi muncul juga yang disebut
sebagai duplikasi tugas gitu. Seringki
terjadi duplikasi tugas, tugas yang sama
dikerjakan oleh unit yang berbeda, tapi
sebenarnya itu tugasnya sama gitu. Apa
yang terjadi? pemborosan sumber daya
pasti ya. Ini ini banyak terjadi di di
pemerintah pusat maupun di pemerintah
daerah. Kemudian hambatan implementasi
kebijakan
karena tidak adanya koordinasi orang
lebih menekankan pada otonomi daripada
koordinasi
maka kemudian implementasi kebijakan
bisa saja terhambat gitu ya. harusnya
kebijakan itu memerlukan keterlibatan
beberapa unit. Namun karena tidak ada
koordinasi, karena merasa punya otonomi,
maka implementasi menjadi tidak efektif.
Ini yang menurut saya penting untuk
terkait dengan fragmentasi. Apa dampak
dari fragmentasi? Tentunya menjadi
inefisiensi,
penggunaan sumber daya yang tidak
optimal karena tumbang tindih kewenangan
dan ada redansi regulasi. regulasi juga
akan jadi banyak gitu. Padahal
sebenarnya dengan satu regulasi semuanya
harusnya bisa diselesaikan. Kemudian
kurang efektif kebijakan menjadi kurang
sinergis, sulit diterapkan di lapangan
karena kurangya koordinasi. Apa
ujungnya? Perlambatan pembangunan.
hambatan dalam mencapai tujuan karena
kesulitan di dalam menerapkan program
dan kebijakan karena orang merasa ini
wewanku tidak usah berkoordinasi dengan
yang lain. Selain itu dampak dari
fragmentasi apa? Ketidakpastian hukum,
ketidakjelasan kewenangan antar instansi
ya. Jadi ini kewenangan saya, ini tidak,
STK-nya bagaimana dan sebagainya.
Yang kedua ya terkait dengan ee adanya
egoal ya ego egosektoral ya ekosektoral
dan budaya birokrasi yang kaku gitu ya.
Ee dalam organisasi ditandai dengan apa?
Prosedur yang rumit, hierarki yang
ketat, gitu. Kurangnya fleksibilitas
dalam pengambilan keputusan. Harus ini
yang ngambil keputusan. Tidak boleh
semua orang mengambil keputusan
sebagainya. apa yang apa yang menyebab
apa yang kemudian dampaknya dampaknya
adalah lambangnya pelayanan publik ada
hambatan dalam inovasi terjadi
inefisiensi di dalam operasional ya jadi
ee pelayanan publik menjadi tidak
responsif gitu karena prosedur yang
bergelit karena hierarki yang kaku
menghambat birokrasi untuk merespon
kebutuhan masyarakat dengan cepat dan
efektif. contoh misalnya antara ee
terkait dengan misalnya ee pekerja
migran. Pekerja migran itu ada banyak
ee apa namanya? Banyak kementerian yang
terkait gitu. Selain Kementerian Pekerja
Migan,
Kementerian Tenaga Kerja, ada juga
Kementerian Kesehatan ya, Kementerian
Luar Negeri dan sebagainya.
Kemudian terjadi hambatan inovasi ya.
Kalau budayanya kaku ee menekankan pada
aturan, menekankan pada hierarki, maka
akan memunculkan menghambat hambatan
ide-ide baru dalam ee inovasi dan
pelayanan publik. Begitu juga akan
terjadi ketidakmampuan beradaptasi.
Birokrasi yang kaku sulit menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan.
Padahal kalau kita bicara tentang fukal
ya, begitu cepatnya perubahan sekarang
ini, maka tidak ada satuun yang tidak b
tidak ee tidak semuanya tidak bisa
diprediksikan.
Ya. Ya. Jadi misalnya misalnya contoh
kebijakan Amerika itu kan sangat
berdampak, apakah itu pernah
terpikirkan? Kan tidak tergantung P
presidennya lagi presiden berubah bisa
berubah lagi gitu. Jadi perubahannya
begitu cepat. Dulu orang e dalam konteks
dalam konteks psikologi ya dulu ada
assessment tidak ada yang namanya
assessment online. Tapi pada saat ada
pandemi Covid-19 terjadi assessment
online, konseling online ya. Bahkan ada
eh dokter online gitu ya konsultasi
online mau tidak mau itu sesuatu yang
tidak bisa diprediksikan gitu ya.
perubahan yang cepat itu maka
membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.
Yang ketiga terjadi ketimpangan
komunikasi antar generasi.
Ada generation cap. Jadi ada perbedaan
perbedaan cara pandang, perbedaan nilai,
perbedaan gaya komunikasi antara
generasi di dalam satu kelompok. Ya, itu
yang seringki akan menimbulkan
kesalahpahan dan konflik gitu. Apa yang
menyebabkan perbedaan? Contoh misalnya
generasi Z tumbuh dalam era digital
dengan semua teknologi
ya. ee
ee informasi terakhir terkait dengan
penggunaan ee internet, penggunaan HP
itu pengguna HP dari di Indonesia itu
180 juta lebih dan sebagian besar
menggunakan HP lebih dari satu itu dan
penggunanya rata-rata adalah usia 26 ke
atas. Tapi yang menarik adalah 14 ke
bawah juga banyak menggunakan.
Artinya apa? Dengan adanya ASN yang
begitu ee banyak jenis generasinya gitu,
maka itu juga akan bisa menimbulkan
ketimpangan-ketimpangan,
konflik-konflik dalam
konteks perbedaan komunikasi gitu ya.
Generasi yang lebih senior mungkin lebih
menyukai komunikasi, tatap muka, rapat
langsung, ee interaksi langsung. Tapi
generasi muda bisa saja dia lebih nyaman
dengan pesan teks, dia nyaman dengan
media sosial, dia nyaman dengan Zoom
gitu.
Belum lagi perbedaan pengalaman hidup
ya, pengalaman hidup, latar belakang
yang berbeda, kemudian ee kemampuan
tingkat adopsi teknologi yang berbeda ya
yang generasi muda lebih cepat ya
menyesuaikan dengan teknologi. Sementara
generasi yang senior tidak dan
sebagainya. Belum lagi dalam konteks
pekerjaan, generasi muda relatif tidak
begitu komitmen, tidak begitu setia
terhadap pekerjaan. Dia pada saat
pekerjaannya itu tidak nyaman, dia akan
pergi dari situ. Ya, beda dengan yang
dulu. Kalau yang dulu ya kita fokus
bekerja gitu. Kalau sekarang
tantangannya tidak ada, kemudian dia
tidak mendapatkan sesuatu yang positif
maka dia akan pergi. Kan banyak itu
kasus yang sudah diterima ASN tapi dia
ditempatkan di di luar Jawa kemudian dia
tidak mau gitu. Nah, ini ini menurut
saya memang atas kerja perbedaan ini
yang menurut saya menjadi tantangan
birokrasi saat ini sehingga pada saat
terjadi ketimpangan itu, Gap itu maka
bisa menimbulkan konflik, kesalahpahaman
gitu. Next.
Oleh karena itu penting membangun yang
namanya empati.
Empati itu adalah kemampuan untuk
memahami dan perasa dan merasakan
perasaan orang lain. Melihat sesuatu
tidak hanya dari sudut pandang kita,
tetapi dari sudut pandang mereka juga
dan juga sekaligus menghargai perbedaan.
Konsep ini dimunculkan oleh Golman ya
dalam konteks ada banyak ahli tetapi
salah satunya dari eh Goldman mengatakan
bahwa
empati itu bagian penting dari
kecerdasan emosional
yang mempengaruhi bagaimana kita
berinteraksi dengan orang lain dan
bagaimana kita membangun hubungan yang
lebih baik dengan orang lain. Ada tiga
jenis empati ya. Ada empati kognitif
gitu. Kemampuan untuk memahami
perspektif orang lain, kemampuan untuk
mengambil sudut pandang orang lain.
Empati emosional adalah kemampuan untuk
merasakan apa yang dirasakan secara
emosional, menyelaraskan emosi kita
dengan emosi orang lain, gitu ya.
Kemudian yang ketiga adalah ee empati
yang terkait dengan kompasionate ya.
Orang sering mengatakan sebagai empati
welas asih gitu mendorong kita untuk
tidak hanya memahami dan merasakan
perasaan orang lain, tetapi juga untuk
bertindak dan membantu mereka.
Jadi empati tidak hanya sekedar
merasakan saja ya, tetapi harus ada
unsur di mana kita bertindak dan
membantu mereka gitu lah. Ini ini
menjadi hal yang penting. Kenapa? Bahwa
ee sekali lagi Golman menekankan bahwa
empati itu bukan hanya memahami perasaan
orang lain saja gitu ya, tetapi juga
tentang bagaimana kita merespon,
bagaimana kita menggunakan pemahaman
orang lain tersebut untuk membangun
hubungan yang lebih baik.
Jadi empati itu adalah keterampilan yang
dapat dikembangkan sebenarnya, dapat
diasah ya bukan sifat bawaan empati itu.
Jadi bisa dilatih, bisa ditingkatkan
gitu. Ah ee ada tiga hal yang penting
terkait dengan kenapa empati penting.
Pertama adalah pelayanan publik.
Pelayanan publik yang berbasis
masyarakat adalah sistem pelayanan yang
berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan
harapan masyarakat. Artinya apa? Dalam
merancang dan melaksanakan pelayanan,
pemerintah ASN harus memahami, harus
memahami apa keinginan dari publik,
harus merespon secara aktif kebutuhan
spesifik dari masyarakat yang dilayani.
Bukan hanya berpegang teguh pada
prosedur baku, bukan hanya berpegang
teguh pada aturan semata, tetapi harus
berbasis pada kebutuhan dan kepuasan
masyarakat. Dengan berfokus pada
keputuhan masyarakat, pasti pelayanan
publik dapat memberikan solusi yang
tepat ya, tepat sasaran, meningkatkan
kepuasan, bisa meningkatkan public
trust, bisa mendorong pembangunan
berkelanjutan. Karena apa? Tidak bisa
ASN itu bekerja sendiri. Harus ada unsur
partisipasi masyarakat. Pelayan publik
itu juga sebenarnya akan meningkatkan
partisipasi masyarakat. Orang merasa
akan menjadi bagian dari negara ini,
menjadi bagian dari pemerintah. Kalau
ide-idenya, pemikirannya
yang diinginkan itu tercapai di
pemerintah gitu. Pada saat itu tidak
selaras, maka juga akan menimbulkan
persoalan-persoalan di kemudian hari.
Yang kedua terkait dengan persoalan
membangun kepercayaan, ya membangun
kepercayaan lintas level dan lintas
unit.
Dalam konteks itu maka
ASN harus memerlukan komunikasi yang
efektif,
harus transparan, harus konsisten, harus
kolaboratif gitu. Harus melibatkan
pemahaman perspektif satu sama lain. Ini
yang saya jadi empati tadi. Orang harus
memahami orang lain. Pada saat saya ini
seperti ini, maka orang lain harus paham
ter apa yang saya inginkan. Dengan
dengan seperti itu maka akan memberikan
support dan akan menciptakan lingkungan
kerja yang lebih lebih positif gitu ya.
Jadi oleh karena itu perlu yang namanya
komunikasi terbuka dan transparan
termasuk bagaimana kita membicarakan
hal-hal penting bagi memberikan uran
balik yang sebaga
yang ketiga adalah memfasilitasi kerja
yang kolaboratif
ya kolaboratif dan inklusif tadi sudah
disinggung oleh pembicara sebelumnya.
ee
kolaboratif dan inklusif itu adalah
sebuah pendekatan dalam bekerja yang
menekankan pada kerja sama antar
individu, unit kerja, instansi dan
memastikan bahwa semua orang termasuk
kelompok yang mendapatkan layanan itu
mendapatkan kesempatan sama dalam
berpart
ya dalam konteks kolaboratif adalah ya
ee PSN harus mampu bekerja sama dengan
berbagai pihak baik di internal maupun
ke eksternal
ya. Apa apa tujuannya ya untuk mencapai
common goal untuk tujuan bersama. Oleh
karena itu dalam konteks kolaboratif ya
harus ada komunikasi gitu dan harus ada
saling menghargai, saling memahami gitu.
Kemudian dalam konteks inklusi tadi
sudah dijelaskanah
bahwa kita tidak boleh kemudian
memandang atau memberikan ee respon yang
berbeda
pada saat terjadi variasi latar belakang
yang beda gitu ya. Karena menurut saya
negara kita itu kan negara yang sangat
eh diers diversation sangat tinggi ya
keberagamannya sangat tinggi. Tidaknya
tidak hanya konteks suku, tapi juga
agama. ras, gender ya. Apalagi sekarang
ada isu terbaru adalah terkait dengan
disabilitas gitu. Harus punya kesempatan
yang sama gitu. Jadi ee ini menurut saya
menjadi hal yang penting agar kemudian
dalam konteks internal ASN harus mampu
berbagi informasi. Informasi tidak di
diklik gitu ya, tidak disembunyikan,
tidak dirahasiakan. Oh, di-share gitu di
dalam penyelatan tugas. Kalau saya punya
cara-cara tertentu yang inovatif, ya
harus saya share. Karena bangunannya itu
bukan bukan individual goal, tetapi
common goal. Dalam konteks eksternal
tentunya ASN harus mampu bekerja sama ee
dengan instansi lain.
Eh,
oke,
dalam konteks in eksternal maka ASN
harus mampu kerja sama dengan instansi
lain, harus m bekerja sama dengan pihak
swasta, masyarakat itu karena
penyelesaian karena seharusnya
penyelesaian itu tidak hanya di satu dua
dua unit atau internal saja, tetapi juga
eksternal. Next.
Yang kedua adalah terkait dengan
toleransi. Toleransi apa? Toleransi itu
toleransi itu adalah sikap menghargai,
menghormati,
menerima perbedaan
di antara individu maupun kelompok. Ya,
jadi toleransi itu mencakup sikap yang
tidak diskriminatif,
tidak memaksakan kehendak, mau bekerja
sama.
Dengan mempraktikkan sikap toleransi,
maka ASN dapat menciptakan lingkungan
kerja yang lebih baik, harmonis, penuh
kedamaian.
Ya, jadi ee apa contoh contohnya dalam
konteks itu ya? Misalnya eh sistem
meritokrasi gitu ya. Jadi dasarnya
objektivitas gitu. Dasarnya kalau
menempatkan orang ya harus objektivitas,
transparan gitu. Jadi harus ada
evaluasi, harus ada monev, harus ada
dalam konteks lain harus ada netralitas
lah. Untungnya apa? Toleransi. Tentunya
dengan toleransi maka akan ada
penghargaan terhadap ee ee
variasi-variasi gitu ya. Kemudian juga
tentunya akan memberikan mencegah
diskriminasi dalam pengambilan
keputusan. Karena seringki pengambilan
keputusan tentang sesuatu itu akan jadi
persoalan karena kita itu menetapkan
sesuatu tidak objektif. Pengangkatan
jabatan tidak berdasarkan pada
kompetensi, kualifikasi dan kinerja,
tetapi lebih pada faktor subjektivitas,
tuduhan pribadi tertentu, gitu. Dan
kemudian ee akan mendorong inklusivitas
dalam kebijakan publik.
pada saat pemerintah dianggap adil
kemudian transparan, maka tentunya akan
memberikan ee apa ya memberikan dampak
yang positif ya. Apalagi kalau misalnya
saya gini ini tren ini yang isu-isu yang
sekarang dibangun juga adalah terkait
dengan bagaimana peningkatan
keterwakilan perempuan ya. Jadi perlunya
peningkatan keterlalagan perempuan dalam
jabatan struktural dan fungsional gitu
ya. Atau juga menyediakan fasilitas yang
mendukung perempuan misalnya tempat bul
ya dan sebagainya gitu. Kemudian bisa
juga karena ee pengarus utama gender ya.
Jadi harus menghilangkan persenjangan
sosial dan disinasi dan mewujudkan
kesetaraan gendong ya. Kemudian ee
inklusivitas tentunya pada saat ee apa
inklusivitas itu terjadi maka ee
memastikan apa yang harus dilakukan
memastikan bahwa semua orang tanpa
memandang latar belakang suku, agama,
gender, disabilitas, status sosial
ekonomi memiliki kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi
dan berkontribusi.
Jadi ini mencakup akses yang secara
terhadap pelayanan publik, kesempatan
pengembangan diri dan juga lingkungan
kerja yang selalu mendukung pada
siapapun.
Next.
Ee ini data ya. Data menunjukkan bahwa
ternyata ee multi budaya. Jadi latar
belakang dari ASN itu multi budaya,
multi generasi gitu ya. Dan kalau kita
bicara terkait dengan provinsi tentunya
kulturnya juga beda, agamanya beda,
latar belakang sosial ekonomi juga beda.
Sebagai next.
Ah, ini ini ee yang saya tekankan bahwa
kenapa orang perlu empati, kenapa orang
perlu toleransi? Karena ada energi
ya. Karena eh kalau kalau Stepen Cofe
mengatakan bahwa ada ada tujuh kan se
habit itu di antara tujuh itu ada tiga
hal. Satu adalah empati, satu toleransi
dan kemudian ada yang disebut sebagai
sinedi gitu ya. Pada saat kemudian ASN
mampu membangun empati, pada saat ASN
mampu membangun toleransi yang baik,
maka apa yang terjadi? seperti sinergi.
Kalau sinergi itu kan gabungan dari
berbagai energi dari ASN ya, dari
berbagai unit. Sehingga apa yang
terjadi? Kalau sinergi itu maka pasti
akan terjadi yang namanya kolaborasi.
Dalam konteks internal ada kolaborasi,
dalam konteks eksternal apa yang
terjadi? Trust, ada public trust.
Kuncinya kan sebenarnya public trust itu
ya.
Jadi pada saat ee apa kita dipercaya
oleh orang lain, apapun yang dilakukan
kita itu maka akan dipercaya. Tapi pada
saat terjadi pabrikas, apapunlah
kebaikan apapun yang dilakukan pasti
juga tidak akan memberikan dampika.
Next.
Apa e lesson learn ya? Lesson learn dari
berbagai tempat. Salah satunya kalau
dalam konteks ee empati ya. empati in
leadership itu dilakukan di Singapura
ya. Jadi Singapura itu ada program
pelatihan kepemimpinan
ya yang mencontohkan mengarahkan seorang
untuk melakukan pendekatan empati dan
pendekatan manusiawi
ya. Jadi pelatihan-pelatihan itu salah
satunya adalah bagaimana cara
keterampilan berkomunikasi, bagaimana
mendengarkan secara aktif, bagaimana
program monitoring untuk menghubungkan
individu dari berbagai latarbakan untuk
membangun hubungan dan pemahaman
bersama. Program pelatihan-pelatihan
berbasis empati ini ternyata efektif
untuk meningkatkan
public trust ya. Jadi ini menurut saya
menjadi hal yang penting ya. Jadi ee apa
ada banyak studi kasus yang dilakukan
terutama oleh eh ada center of diversity
and inclusion itu yang kemudian eh
memberikan catatan bahwa kepemimpinan
yang berempati tidak selalu berarti
menjadi lemah. Seringkiali kan gitu.
Kalau kita memahami orang lain, memahami
masyarakat seakan-akan tidak seakan-akan
lemah dan tidak tegas gitu. Jadi
pemimpin efektif di di Singapura yang
itu ee selama mendapatkan pelatihan itu
mampu menggabungkan empati dengan
pengambilan keputusan yang tepat dan
tindakan yang tegas ketika diuk
diperlukan. Jadi tidak selalu ee bahwa
empati itu menunjukkan kita lemah gitu.
Kemudian yang kedua adalah yang
dilakukan oleh eh di Kanada ya terkait
dengan diversity inclusion chter eh di
ASN ya di Kanada yang dilakukan oleh eh
apa pusat ee pusat untuk ee ee kajian
terkait dengan inklusi dan dan
diversity. Apa yang dilakukan di sana?
Dilakukan yang di pelatihan keberagaman.
itu kan di Kanada itu kan kebergamanya
tinggi ya ee tidak seperti di Indonesia
aja tapi dia lebih luas lagi karena di
situ ada dibangun dari e orang-orang
Indian, orang-orang Amerika, orang-orang
Asia ya, orang-orang dari berbagai
negara itu sehingga ee mereka membangun
yang namanya pelatihan keberagaman. Apa
tujuannya? Meningkatkan kesadaran
tentang keberagaman.
meluruskan, meminimalkan stereotype,
meminimalkan prasangka karena itu akan
mempengaruhi konflik-konflik di
lingkungan kerja dan mempengaruhi ee
interaksi sosial gitu. Ya, ini yang
dilakukan ee kelompok-kelompok karyawan
ee misalnya ee pelatihan-pelatihan yang
terkait dengan bagaimana membangun
membangun kesadaran akan keberagaman,
membangun praktik-praktik inklusif yang
mempertimbangkan
ee apa namanya keberagaman mungkin
sehingga muncul dalam bentuk
kebijakan-kebijakan.
Jadi ee ee bahkan karena di sana juga
ada undang-undang di Kanada memberikan
dasar hukum tentang bagaimana upaya
keberagaman dan inklusi itu di berbagai
sektor termasuk sektor pekerjaan,
pendidikan, penyediaan layanan publik
dan sebagainya. Next.
Apa yang harus kita lakukan untuk
menumbuhkan empati? Salah satunya adalah
pelatihan EQ ya. eh pelatihan emotional
intelligence dan mindfulness ya, yaitu
program pengembangan diri yang fokusnya
pada apa? Meningkatkan pemahaman dan
pengelolaan emosi
dan kesadaran penuh dalam konteks ee
pengelolaan tersebut gitu. Pelatihan ini
akan membantu individu untuk mengenali
dan mengelola emosi mereka, memahami
emosi orang lain sehingga dapat
meningkatkan hubungan personal dan
kesejahteraan mental. Dalam konteks
mindfulness
sebagai bagian dari dari pelatihan IQ
membantu individu untuk fokus pada saat
ini misalnya tidak boleh menghakimi. Ya,
seringki kita kan melihat orang ini
terus kemudian ee oh orang ini pasti
gini gitu ya. Sering kita itu melakukan
judgement sebelum berinteraksi
bisa mengurangi stres karena berpikir
positif kemudian meningkatkan kemampuan
untuk merespon situasi dengan lebih
tenang dan efektif.
Eh manfaat pelatihan eh emotional
intelligence mindfulness ini tentunya
akan meningkatkan kesadaran diri. kita
mampu mengelola emosi, kita meningkatkan
empati, keterampilan sosial, bagaimana
untuk berinteraksi, bahkan juga
pengambilan keputusan yang lebih baik.
Karena keputusannya tidak hanya pada
konteks emosi, tapi juga untuk ee
keputusan-kebasional.
Kemudian cross eh functional
eh cross functional team project. Projek
lintas tim lintas fungsi ini melibatkan
tim terdiri dari berbagai anggota. Perlu
dilakukan sebuah kerja sama
menyelesaikan projek dengan berbagai
departemen, dengan berbagai area
fungsional dalam satu organisasi yang
bekerja sama untuk apa? untuk mencapai
tujuan bersama.
Pendekatan ini memang memanfaatkan
keragaman keahlian dari berbagai ahli
meningkatkan untuk menyelesaikan
masalah, melakukan inovasi, dan
keberhasilan projek secara keseluruhan.
Aspek kuncinya ya harus ada keahlian
yang beragam, harus ada pendekatan
kolaboratif, tapi juga ada yang namanya
common goal. Dan di situ juga ada unsur
komunikasi dengan lebih baik dan
sebagainya. Yang ketiga adalah coaching
dan mentoring. Coaching dan mentoring
ini ee merujuk pada program pengembangan
sumber daya manusia ya. Di mana individu
dari berbagai unit kerja dan rentang
usia itu kan harus saling berbagi
pengetahuan, pengalaman, dan
keterampilan. Tujuannya apa? Untuk
meningkatkan kinerja, mengembangkan
potensi diri dan memperelat hubungan
antar unit atau antar generasi gitu.
Coaching dan mentoring adalah dua
pendekatan yang berbeda untuk
pengembangan diri kan ya. Kalau coaching
berfokus pada peningkatan keterampilan
spesifik dan pencapaian tujuan jangka
pendek. Sementara monitoring lebih
menekankan pada pengembangan karir
jangka panjang dan hubungan personal
melalui bimbingan dan ee berbagi
pengalaman.
Next.
apa dampak positif birokrasi yang penuh
empati ya. Jadi ee tentunya harapannya
kalau ee kita pendidikan empati maka
tentunya inovasi layanan publik menjadi
meningkat ya karena ada empati di antar
generasi di internal dan juga ke
masyarakat. masyarakat menjadi puas,
budaya kerja juga menjadi efisien dan
meminimalkan konflik gitu. Jadi kalau
kita lihat organisasi dengan skor empati
tinggi ternyata kinersianya 27% lebih
baik dibandingkan organisasi yang tanpa
menggunakan empati. Next.
yang ee tentunya empati dan toleransi
bukan
sekedar sikap pribadi gitu ya, tapi
strategi nasional
pada birokrasi yang sinergis, impulif,
dan berdaya saing global. Kita jangan
berpikir ee dalam konteks lokal dan
nasional saja.
Suatu saat dalam konteks itu ee
apa? persaingan kompetisi global akan
menjadi bagian yang penting gitu. Oleh
karena itu ee hal yang mudah misalnya
adalah bagaimana kita mulai dengan mampu
untuk mendengarkan orang lain, kemudian
memahami orang lain, dan tentunya
setelah mendengarkan dan memahami maka
kita akan bisa memberikan servis yang
sangat baik pada orang lain. Terima
kasih banyak. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Ya, terima kasih sekali Pak Andik untuk
materinya. Sangat insightful banget
apalagi yang part terkait dengan
strategi untuk menumbuhkan empati dan
toleransi ya. Tadi bisa dengan pelatihan
emotional intelligence dan juga
mindfulness, cross functional team
project dan juga coaching dan mentoring
lintas unit dan fungsi. Sedikit
pertanyaan sebelum saya serahkan ke
sobat ASN. Bagi yang ingin bertanya ya,
Pak Andi. Kalau misalnya nih ada orang
datang dengan masalah, rekan kerja kita
datang dengan masalah untuk meminta
solusi di kita, sedangkan kondisi kita
load kerjaan lagi tinggi, kemudian
pikiran lagi sumpek gitu ya, pada
akhirnya kan kadangkali kita enggak bisa
ee merespon ee permintaan tolong
tersebut dengan empati gitu. Nah, kalau
menurut Pak Andik ya, apa yang harus
kita lakukan pertama kali jika
menghadapi situasi seperti itu? Kan tadi
kuncinya adalah mainfulness, berarti kan
kita belum bisa main fullness waktu itu.
Silakan, Pak Andik.
Iya. Jadi memang ee ada satu pelatihan
yang eh selain emotional
eh intelligence, dan mindfulness itu
adalah psychological first aid.
Psychological first itu adalah bagaimana
kita mampu melihat masalah kemudian
mengurai masalah dan tahu apa cara untuk
menyelesaikan masalah itu. Biasanya
psychological itu dilakukan sendiri dulu
ya ada self care gitu ya. Dengan kita
belajar itu maka kita tahu oh kalau saya
ada masalah ini saya harus bagaimana sih
gitu. Apakah saya harus selesaikan
sendiri? Apakah saya harus ketemu orang
lain ataukah saya harus ketemu
profesional?
Itu itu psychological first. Di sisi
lain psych orang yang kemampuan
psychological first atau bantuan
psikologis awal ini juga bisa
menyelesaikan atau mendengarkan problem
dari orang lain. Jadi kita bisa terlatih
untuk melakukan itu gitu. Jadi ee ini
ini sesuatu yang sebenarnya seharusnya
di di apa ya dilakukan di tingkat ASN
gitu. Karena salah satu bagian dari
penting ya kalau saya lihat di
Kementerian BUMN itu adalah kesehatan
mental. Salah satu bagian kesehatan
mental adalah self care. Selfcare,
kita mampu menyelesaikan persoalan
sendiri, maka kita bisa membantu orang
lain, gitu ya. Jadi ee artinya pada saat
kondisi seperti apa orang orang itu ee
pada saat orang minta bantuan saya harus
bagaimana sih saya minimal paling tidak
harus kemampuan untuk mendengarkan
mendengarkan masalah gitu. Karena pada
saat orang bisa mengeluarkan
unek-uneknya, maka sebenar itu 50%
kesembuhan dari seseorang itu. Itu
sih berarti memang ee kalaupun kita
tidak bisa menyelesaikan masalahnya,
setidaknyalah active listening dulu gitu
ya. Kita coba pahami dulu ya walaupun
enggak e solusinya mungkin enggak bisa
kita berikan secara langsung. Thank you,
Pak Adik untuk jawabannya. Ini sudah ada
Sobat ASN yang bergabung bersama dengan
kami untuk bertanya. Selamat siang,
Bapak.
Siang, Pak Joko.
Siap, Pak Joko. Silakan dikenalkan
terlebih dahulu asal unitnya. Kemudian
langsung saja disampaikan pertanyaannya
kepada Pak Andik. Silakan, Pak Joko.
Baik. Eh, saya Joko Kosmarianto dari UPT
Balela Terkeja Singosari Malang.
ee menarik apa yang sampaikan narasumber
tadi Pak Andi tadi. Namun demikian, ada
yang ingin saya tanyakan Pak
sesungguhnya Indonesia ini jika
dibanding dengan Singapura, Indonesia
tidak kalah, Pak. Kita punya Pancasila
yang dengan Pancasila itu sudah
termaktub di ituu empati dan ee tadi
disbutkan dengan empati dan toleransi.
itu pasti. Jika kita laksanakan benar
Pancasila itu dalam tatanan ee baik
berbangsa, bernegara, maka saya yakin
Indonesia tidak akan kalah dengan
Singapura.
Karena dalam Pancasila itu nilai luhur
bangsa termaktub di situ. Hanya
masalahnya adalah
sejauh ini implementasi Pancasila dalam
bernegara ini kok semakin ke sini
semakin berkurang, Pak. Ya, saya
merasakan itu semakin berkurang.
Kebetulan saya ini berdinas sudah mau
pensiun nih, Pak. 4 bulan lagi pensiun
dengan masa 60 tahun. Masa kerja 3 tahun
hampir 40 tahun. Saya merasakan semakin
ke sini semakin ke sini kok semakin
menurun ini implementer Pancasila ini
sehingga menimbulkan apa itu ee tadi
disebut dengan transparan menjadi tidak
transparan.
Contoh nyata yang sekarang ini bergure
di fenomena itu adalah misalnya adalah
ada suatu yang diduga palsu. Itu kan
enggak sulit toh kalau kita terapkan
Pancasila itu mudah sekali tinggal
tunjukkan saja selesai urusan diuji
selesai enggak ribet kayak sekarang ini
gitu loh. Nah sekarang kita sebagai ASN
sejauh ini sering kali sampaikan Pak
berkaitan dengan Pancasila itu sebagai
landasan negara kita.
Apakah Bapak sependapat jika dengan
Pancasila itu diterapkan secara
konsekuen dalam bangsa bernegara dalam
pelayanan ASN ini? Maka dua kata tadi
toleransi dan ee apa namanya? Empati itu
pasti akan terwujud, Pak.
Yang berikutnya, kenapa sih ee selama
ini kita tidak menggunakan pemimpin
terbesar sepanjang masa, yaitu Nabi
Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang
menjadi dalam 100 tokoh tampilkan nomor
satu itu sebagai acuan. Seringki kita
menggunakan acuan yang lain gitu loh.
Bicara toleransi dan ee empati beliau
sudah sangat mencontohkan sekali. sampai
dengan sekarang belum ada yang berani
menggeser posisi beliau sebagai tokoh
nomor satu dalam 100 tokoh dunia yang
berpengaruh itu. Ini pertanyaan kenapa
demikian, Pak? Ee apakah Bapak
sependapat dengan pertanyaan pertama?
Monggo dikomentari, Pak.
Iya, saya setuju ya. Artinya gini,
Pancasila itu kan sebenarnya
real nilai-nilai yang sebenarnya
dimiliki.
Ya, jadi pada saat muncul nilai-nilai
Pancasila itu sebenarnya kalau kita
lihat nilai-nilai itu adalah nilai yang
sebenarnya kita miliki dan nilai aslinya
itu adalah itu
persoalannya memang dalam konteks
implementasi.
implementasi itu pasti terhalang oleh
persoalan-persoalan yang namanya
politik.
Ini ini jadi persoalan memang politik
itu yang seringkiali
netralitas politik itu harusnya dibangun
oleh ASN gitu. Yang terjadi adalah bahwa
netralitas itu menjadi tidak ada gitu.
Jadi ee jiwanya sudah pancasilais gitu,
tetapi implementasinya belum untuk
implementasinya belum. Jadi saya setuju,
Pak. Saya setuju tetap memang harus dari
nilai-nilai Pancasila itu. Kalau tadi
dari lemanas saya tidak tahu sih tadi
gimana, tapi yang jelas ee nilai-nilai
Pancasila itu nilai yang luhur loh kalau
saya lihat ya. Dan itu real dari apa
yang kita lakukan ke situ. Saya tidak
mengatakan bahwa Singapura itu lebih
baik gitu ya. Tapi kalau kita lihat
teman-teman kita misalnya orang-orang
yang orang-orang Indonesia yang ke
Singapura kalau dia antri antri gitu
tapi pada saat dia berada di sini itu
tidak lagi antri gitu tidak mau lagi
antri. Jadi saya tidak tahu ini budaya
ya, budayanya yang menurut saya menjadi
ee harus dikembalikan pada budaya mulai
dari awal, culture, etika itu yang
sebenarnya menjadi bagian penting.
Salah satu ujian-ujian penting adalah
dalam pendidikan. Pendidikan itu etika
harus menjadi hal yang penting. Saya
yakin Bapak waktu itu pada saat e dulu
dulu sekolah kan ditangkan dulu yang
namanya budi pekerti ya. budi pekerti
gitu ya. Jadi menurut saya sekali lagi
memang ee Pancasila tidak tidak
kemudian jelek gitu, tetapi
implementasinya yang kemudian seringki
terhalang oleh kepentingan-kepentingan
politik dalam konteks Nabi ya. Ya pasti
ee saya juga muslim. Jadi saya yakin
implementasi atau figur nabi itu menjadi
bagian penting. Bahkan sempat ditulis
kan oleh seorang ahli bahwa orang leader
nomor satu itu adalah Nabi Muhammad
gitu. Itu kan di itu bahkan berdasarkan
pada kajian ya. Dan kalau dalam konteks
dalam konteks keagamaan saya pasti e
sosok itulah yang harusnya bisa menjadi
contoh gitu. Nah, tetapi persoalannya
kan persoalannya kan ee itu sangat ideal
gitu ya. Sementara kita dihadapkan pada
kondisi-kondisi yang real yang seringki
itu membuat kita kesulitan apakah
mengikuti yang ideal atau mengikuti yang
pragmatis gitu ya. Jadi kan ada dua
pilihan kan, kita pragmatis atau ideal.
Seringki idealisme itu akan membuat kita
menjadi ee tidak mendapatkan apa-apa
gitu. Tapi pada saat kita menjadi
pragmatis, kita bisa mendapatkan banyak
hal tapi menjadi tidak tidak ideal.
Jadi saya setuju, Pak ee dua pandangan
Bapak bahwa Pancasila itu penting, bahwa
apa dalam konteks keagamaan itu penting,
tapi sekali lagi implementasi itu
menjadi problem bersama kita.
Mungkin begini, Pak Bapak.
Ee di dalam praktik ketenagaraan kita,
Pak, ya terkait dengan Pancasila tadi
saya singgung kenapa saya menggunakan
Pancasila karena itu sudah konsensus
bangsa yang mesti kita pegang dan kita
laksanakan. Namun sejauh selama saya
berdinas sampaian sekarang ini, Pak,
setiap kali upacara itu selalu saja
pembacaan Pancasila, Pak. Tidak pernah
namanya pengucapan pasal tanpa teks
sehingga seolah-olah kita ini ya gak
hafal hafal enggak apalagi paham gitu
kan. Kalau enggak paham bagaimana
menerapkannya? Nah, saya mengusulkan ini
bagaimana ke depan dalam tata upacara
itu bukan pembacaan Pak, tapi pengucapan
Pancasila sebagaimana telah dilakukan
dalam TNI itu kan pengucapan Sapta Marga
termasuk Korpri Pak Sapta Korpi itu
tidak pernah diucapkan selalu dibacakan
dan diikuti, diturukan. Kapan kita mau
maju? Dalam dua hal itu saja kita masih
kedodoran di situ, Pak. Harapan saya ke
depan itu bukan lagi pembacaan apalagi
teksnya di bawa ajudan begitu. Enggak
begitu. Tetapi seorang pemimpin sudah
harus bisa mengucapkan dengan benar dan
yang peserta upacara juga harus bisa
ngucap dengan benar. Tidak usah
menggunakan teks gitu, Pak. Termasuk
pancarta Korpi karena kalau itu
dibacakan terus ya gak haal-hafal. Haal
enggak enggak ngerti bagaimana
melaksanakannya. Ini himbauan aja kepada
semuanya ini supaya kita menjadi lebih
baiklah. Mari kita bangsa Indonesia itu
tidak di bawah bangsa yang lain. Kita
bangsa unggul di dunia ini. Kita punya
cara panjang berkata toleransi empati.
Kita sudah jagonya sebetulnya hanya saja
semakin kesekian ke belakang ini kok itu
semakin menurun begitu. Mari kita
bangkit kembali bangsa Indonesia Jaya
Lestari selamanya. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Siap Pak
Joko. Terima kasih. Semoga ini juga bisa
menjadi input positif bagi para pembuat
kebijakan ke depan ya dan bagaimana
Sobat ASN ini bisa menginternalisasi
nilai-nilai luhur Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari. Pak Andi sekali
lagi terima kasih untuk waktunya sudah
berkenan sharing di webinar ASN belajar
seri 29 kali ini. Sebelum diakhiri, Pak
Andik boleh dong closing statement-nya
Bapak. Silakan Pak.
Iya. Ee menurut saya
perubahan menjadi sesuatu yang tidak
terelakkan gitu ya.
dunia semakin berubah secara global
maupun secara nasional. Mau tidak mau
maka kita harus melakukan perubahan.
Salah satu bagian penting dalam
melakukan perubahan adalah membangun
empati dan toleransi.
dengan empati dan toleransi, maka secara
internal kita bisa membangun kolaborasi
yang lebih baik dengan teman, dengan
sejawat
di dalam konteks eksternal tentunya akan
bisa memberikan pelayanan terbaik pada
masyarakat luas sehingga kemudian ee
akan terjadi produktivitas yang yang
begitu tinggi dan juga akan menimbulkan
hal yang paling penting oleh ASN. adalah
bagaimana membangun kepercayaan publik
kepada ASN. Terima kasih banyak.
Terima kasih sekali, Pak And. Salam
sehat selalu, Bapak. Semoga kita bisa
bertemu kembali di lain-lain eventnya.
Semoga barokah juga, Pak Andi. Thank
you, Pak.
Amin. Amin. Makasih banyak. Mohon izin.
Baik, Sobat ASN. Tidak terasa kita sudah
berada di pengujung acara webinar ASN
belajar seri 29 ASN Bersatu Indonesia
Maju. Kolaborasi ASN di hari
Persahabatan Dunia. Sekali lagi terima
kasih kepada tiga narasumber kita yang
sudah memberikan materi yang sangat luar
biasa. Semoga Sobat ASN bisa mengambil
insight-insight menarik dan
menerapkannya dalam lingkungan kerja di
masing-masing daerah. Sobat SN sekalian.
Dan akhir kata, saya Lokman Ali beserta
tim BPSDM Jawa Timur yang bertugas pamit
undur diri. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Sampai bertemu di webinar
ASN belajar seri berikutnya. Bye bye.
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap menyongsong Indonesia emas.
ASN belajar wujudkan
pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas.
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia
tukang tekad pantang menyerah
jadi AS berkualit Kita
[Musik]
belajar
[Musik]
Yeah.
[Musik]