ASN Belajar Seri 29 | 2025 - ASN Bersatu: Indonesia Maju (Kolaborasi ASN di Hari Persahabatan Dunia)
XXMroOeKsYE • 2025-07-31
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
Selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap menyongsor Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia. Satukan
tekad pantang menyerah
jadi ASN getar berkualitas.
yang belajar wujudkan
iman
selaku dunia
tukang tekad pancang menyerah
jadi AS berkuan Kita
sedar
[Musik]
karena aku belajar
[Musik]
kami mencoba Jadi yang terbaik melayani
bangsa dengan sepenuh hati. Marilah kami
junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri. Memerasi
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Hong
kami dari sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
berganding tangan satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tujukan kompetensi dalam harmoni
bangsa loyal tanpa batasannya
adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan air yang lebih beragung
bekerja penuh hati tulus membantu sesama
dibangun kami melayak
dengan kami melayani
dengan mana kami melayani
B
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
seluruh Indonesia yang tengah
menyaksikan acara webinar ASN Belajar
seri 29. Persembahan Korpu SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Senang sekali saya
Lukman Ali dapat menyambah kembali sobat
ASN tentunya dalam webinar ASN Belajar
ini persembahan spesial untuk
memperingati hari Persahabatan
Internasional yang sudah jatuh di
tanggal 30 Juli 2025 lalu. Saya pernah
mendengar pepatah Afrika yang pernah
mengatakan terkait jika ingin berjalan
cepat maka berjalanlah sendiri. Tapi
jika ingin berjalan jauh maka
berjalanlah bersama-sama. Seringkiali
kita dengar kata kolaborasi, tapi
ternyata untuk mewujudkannya bukanlah
perkara yang mudah ya. Kadang kala masih
ada sal mentality dalam ee diri kita,
mindset-mindset yang perlu dirubah.
Padahal dengan adanya kolaborasi kita
bisa sharing resources. Kemudian kita
juga bisa berbagi risiko yang tentunya
bisa membantu kita untuk mencapai tujuan
yang ingin kita capai di organisasi atau
entitas kita. Nah, kali ini kita akan
berbagi banyak sekali insight seputar
kolaborasi. Bagaimana cara menumbuhkan
empati, budaya kerja kolaboratif dan
inklusif? Tentunya selengkapnya dalam
webinar ASN belajar seri 2925.
ASN Bersatu Indonesia Maju. Kolaborasi
ASN di Hari Persahabatan Dunia.
[Musik]
Baik, Sobat ASN, untuk membuka webinar
ASN Belajar seri 29 tahun 2025 kali ini
mari kita dengarkan bersama opening
speech yang akan disampaikan secara
langsung oleh Kepala BPSDM Provinsi Jawa
Timur, Bapak Dr. Ramlianto, SPMP.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita semuanya. Sobat ASN
di seluruh tanah air, selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University, Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini, Kamis tanggal 31 Juli 2025,
ASN Belajar telah memasuki seri yang
ke-29.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami
selalu berkomitmen sekaligus terus
berikhtiar untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-29 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka turut serta
memberi makna bagi Hari Persahabatan
Internasional atau International
Friendship Day yang dirayakan setiap
tanggal 30 Juli setiap tahunnya.
Hari Persahabatan Internasional
ditetapkan oleh Majelis Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun
2011 dengan tujuan mempromosikan
perdamaian, solidaritas, dan saling
pengertian di antara orang-orang dan
bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN belajar seri ke-29 tahun 2025 ini
mengambil topik ASN bersatu Indonesia
maju. Kolaborasi ASN di hari
persahabatan dunia.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam ASN belajar bahwa topik menarik
ini akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sopat ASN di seluruh tanah air hari
persahabatan dunia didasari oleh
pemahaman bahwa persahabatan antar
individu, negara, dan budaya dapat
berkontribusi pada terciptanya
perdamaian dan membangun jembatan antar
komunitas.
Dengan tantangan global seperti konflik,
kemiskinan, perlindungan hak asasi
manusia, memperkuat ikatan persahabatan
dianggap sebagai cara yang efektif.
untuk mempromosikan stabilitas sosial
dan menciptakan dunia yang lebih
harmonis.
Momen Hari Persahabatan Internasional
lahir dari kesadaran bahwa persahabatan
bukan hanya soal kedekatan personal,
tapi juga kekuatan sosial yang
menyatukan bangsa-bangsa melewati sekat
budaya, politik, dan perbedaan
kepentingan.
Filosofi persahabatan mengajarkan kita
tentang trust, respect, dan
reciprocosity. Saling percaya, saling
menghormati, dan saling menguatkan.
Inilah nilai yang juga menjadi jiwa dari
birokrasi kolaboratif. Karena pada
akhirnya kita tidak hanya bekerja
berdampingan, tapi harus tumbuh bersama,
saling menopang, dan berjuang dalam satu
cita.
Saat SN, saat ini kita hidup di era yang
luar biasa. Sebuah zaman ketika
batas-batas geografis bukan lagi
penghalang kerja sama dan identitas
kelembagaan bukan alasan untuk bekerja
sendiri-sendiri.
Kita menghadapi tantangan global,
disrupsi digital, krisis iklim,
ketegangan geopolitik yang tidak bisa
diselesaikan oleh satu tangan, satu
lembaga atau satu sektor saja.
Di tengah kompleksitas ini, ASN hadir
sebagai simpul-simpul
perekat bangsa, sebagai jembatan antar
daerah, antar generasi, antar ideologi
yang berbeda. Karena sejatinya ASN bukan
sekedar abdi negara, tapi penjaga
peradaban.
Melalui ruang belajar lintas batas ini,
kita hendak menyatukan semangat, bukan
hanya pikiran. Meneguhkan kembali bahwa
kita semua dari barat hingga timur, dari
pusat ke daerah adalah satu dalam cita
karya Indonesia.
Kita tahu bahwa kolaborasi bukan pilihan
tapi keharusan. Birokrasi modern
dibangun bukan dari silo, tapi dari
sinergi. Kita tidak boleh lagi bekerja
sendiri-sendiri dalam kubu sektoral.
Karena setiap kebijakan yang baik adalah
hasil dari perjumpaan, percakapan, dan
kerja sama. Hari persahabatan ini. Mari
kita maknai bahwa menjadi ASN tak hanya
soal profesionalitas, tapi juga soal
relasi kemanusiaan.
Kita adalah jaringan kepercayaan bangsa
yang saling terhubung, saling belajar,
dan saling menjaga. Karena sebagaimana
sahabat sejati, kita hadir bukan hanya
saat dibutuhkan, tapi selalu ada untuk
Indonesia.
Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu
bagaimana kita sebagai ASN Indonesia
selalu hadir sebagai perekat persatuan
dan kesatuan bangsa? Nah, untuk membahas
cerdas dan tuntas topik ini, kami telah
mengundang para narasumber luar biasa
yang sudah barang tentu sangat kompeten
di bidangnya. Kami menyampaikan terima
kasih dan apresiasi kepada para
narasumber hebat yang telah berkenan
hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat ASN di
seluruh tanah air. Pertama kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada yang terhormat Ibu Tantri
Relatami, Mikom. Beliau adalah tenaga
profesional pada Lembaga Ketahanan
Nasional Republik Indonesia. Kedua, kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada Bapak Dr. Andi Matulesi, M.Si.,
psikolog. Beliau adalah seorang psikolog
senior yang saat ini menjabat sebagai
ketua Himpunan Psikologi Indonesia.
Ketiga, kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu
Hani WSLGK, SSI, M. Beliau adalah
akademisi dari Fakultas Psikologi
Universitas Surabaya. Nah, Sobat ASN,
mari kita simak dengan seksama webinar
ASN belajar seri ke-29 tahun 2025.
Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi
kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas
opening speech yang telah disampaikan.
Sobat ASN sebelum kita masuk ke acara
intip pada pagi hari ini, terlebih
dahulu saya ingin mengingatkan bahwa
presensi sudah bisa Sobat ASN akses
melalui laman semesta Bangkom. Sobat ASN
juga bisa akses linknya melalui running
teks yang tersedia di bawah saya ya. Dan
kita akan masuk ke materi yang pertama
ini terkait dengan ASN sebagai perekat
persatuan dan kesatuan bangsa. Di mana
materi kali ini akan disampaikan secara
langsung oleh Ibu Tantri Relatami Mom,
Tenaga Profesional Lemhanas Republik
Indonesia.
[Musik]
dan telah bergabung bersama dengan kami
di sini Bu Tantri. Selamat pagi, Bu
Tantri.
Mohon maaf Ibu suaranya masih belum
terdengar.
Selamat pagi, Mas Lukman.
Pagi, Bu. Kabar baik? Jelas ya?
Sudah jelas. Sudah jelas. Oke. Kabar
baik, Bu Tantri?
Baik, alhamdulillah masuk ini semangat
sekali. Semangat semangat.
Luar biasa. Semangat semangat semangat
ya. Tadi ada pepatah Afrika yang
mengatakan kalau misalnya mau berjalan
cepat maka berjalan sendiri. Tapi kalau
mau berjalan jauh maka berjalan
bersama-sama. Sama-sama.
Ya, kali ini saya mau mendengarkan, kami
semua mau mendengarkan materi spesial
dari Bu Tantri terkait dengan ASN
sebagai perekat persatuan dan kesatuan
bangsa. Mohon izin Ibu untuk durasi
materinya kurang lebih selama 30 menit.
Nanti kita akan langsung masuk ke sesi
tanya jawab. Silakan Bu Tantri.
Baik, terima kasih Mas ee Lukman. saya
nanti minta tolong diingatkan tadi saya
minta untuk ee dibantu untuk ee
tayangkan untuk slide saya ng ee
asalamualaikum warahmatullahi ee
wabarakatuh. Selamat pagi Bapak dan Ibu
ee yang ada semua di ee ruangan Zoom ini
dan juga ee ee terutama kepada Pak
Ramlianto. Saya senang sekali dengan
opening speech-nya tadi. Luar biasa
sekali kita sudah dapat ee eh
framing-nya gitu. bahwa ee bagaimana
sebenarnya ee ketika kita berbicara
mengenai ee ee bangsa saat ini bahwa
kalau kita ee melihat ee peran ASN dalam
persatuan dan kesatuan itu adalah tugas
saya untuk kita sharing sih sebenarnya.
Jadi kalau kita mencoba ee melihat apa
yang terjadi ee sekarang ini Bapak Ibu
bahwa ada satu pertanyaan yang sering ee
sering kita tanyakan bahwa apakah
nasionalisme itu masih ada apa enggak
gitu. Jadi ketika kita mencoba melihat,
kita bisa next ya ee untuk eh slide-nya
ee jadi e next lagi. Jadi kita bisa
melihat bahwa ee bicara mengenai
nasionalisme ada yang akan mengatakan
bahwa Bu masih ada Bu sudah enggak ada
gitu. Apakah nasionalisme itu bisa
hilang gitu. Nah, kenapa ee ee kenapa
kita harus ee apa namanya? Ee
akhir-akhir ini sangat sering sekali
untuk kita ee mencoba untuk bertemu.
Kemudian kita akan mencoba untuk banyak
diskusi mengenai ee wawasan kebangsaan,
mengenai wawasan nusantara, mengenai
persatuan-kesatuan dan mengenai berbagai
hal. Apa penyebabnya? Begitu. Nah,
pertanyaan saya tadi itu bahwa ee ee
rupa-rupanya ketika dikatakan bahwa
nasionalisme bisa hilang apa enggak gitu
ee katanya sih sebagian besar mengatakan
bisa hilang gitu. Nah, kita coba melihat
apa sih sebenarnya penyebabnya. Nah, ee
zaman dulu nih zaman dulu nih zamannya
saya nih gitu mungkin ee kita masih
masih banyak ee dengar cerita gitu. kita
masih banyak punya ee punya punya punya
banyak cerita mengenai ee apa namanya ee
bagaimana ee nuansa kebangsaan,
bagaimana perjuangan dari nenek-nenek
kita, nenek-nenek saya, oma, opa, orang
tua kita gitu. Bagaimana kita melewati
kebahagiaan-kebahagiaan. Jadi ada
melankolis-melankolis yang kita ee
rasakan, gitu. Apa yang terjadi dengan
ee ketika kita bicara mengenai generasi
milenial begitu ee ee apa namanya?
Nuansa-nuansa itu masih berasa enggak?
Karena ketika mereka lahir gitu, ketika
lahir itu kan sudah langsung dapat
langsung dapat internet nih ceritanya.
Jadi ee kita akan ee ee mencoba melihat
bahwa ketika kita bicara mengenai ee
nasionalisme, bicara mengenai persatuan
itu di dalamnya itu ada apa? ada nilai
ya, bahwa kita mencoba untuk bicara ee
nilai-nilai bangsa yang mana ee itu yang
kita coba untuk ee rekatkan kembali
ketika bicara Indonesia Emas 2045. Tadi
sudah disinggung oleh Mas Lukman bahwa
berjalan cepat itu kalau sendiri, tapi
kalau mau berjalan jauh itu bersama.
Rasa-rasanya kelihatannya sih guy gitu
ya. Kelihatannya guyub. Namun ee
ternyata faktanya gitu, faktanya bahwa
ee ee kenapa setiap les kita ambil
contoh misalnya ee setiap ada ee apa ee
ee pemilu menjelang pemilu gitu ada
kontestasi begitu. Kenapa kita selalu
dengan mudah sekali untuk
diporak-porandakan begitu ya? kita akan
dibenturkan satu sama lain. Begitu
banyak diksi-diksi yang ada di ee tengah
masyarakat kita yang akan ee ee bicara
misalnya mayoritas, minoritas, begitu
dan akhirnya kita tiba-tiba menjadi
terpecah. Tadi ee Pak Ramlianto sudah
memberikan insight bahwa ee
ee apa namanya? Kita masuk dalam
disruption eh teknologi. Next, ya. Bisa
next, Mas. Ee jadi ee kita bisa melihat
bahwa tapi rupa ee bagaimana ee ee
ketika ada kontestasi ee politik
misalnya, kenapa kita dengan mudah
sekali ee apa namanya tercerai-berai
gitu, dengan mudah sekali di mana
perannya ASN gitu. Padahal yang
terbanyak ini ada di Indonesia ini
adalah ASN ya. ASN kan harus netral gitu
ya. Eh, itu adalah saya kira itu adalah
satu tantangan besar sekali ketika ada
komitmen bahwa ee kita harus netral
begitu. Sementara di luar keluarga kita
semuanya harus ada dukungan ke A,
dukungan ke B. Bagaimana sebenarnya
komitmen, bagaimana integritas itu bisa
dibangun. Namun kalau kata orang Jawa
ya, apapun yang terjadi sama bangsa ini
gitu, kita itu given diberikan gitu oleh
Tuhan Yang Maha Esa, orang-orang yang
luar biasa gitu ya. dinamika mana yang
kita enggak bisa mengatakan bahwa
untungnya gitu ya. Jadi kalau di di Jawa
itu suka bilang bahwa aduh untungnya
kita masih bisa melewati. Coba
dibayangkan ketika ee kita mengalami
krisis moneter dulu ketika semua orang
sudah tidak bisa lagi bisnis menjadi ee
ee sulit begitu dan tetapi kita semua
bisa melewati hal-hal itu dengan ee
dengan alhamdulillah berjalan dengan
baik. kemarin kita masuk ke kita
mendapat cobaan lagi ee ee COVID begitu
ya. Dan kita semua begitu paniknya
kemudian kita akhirnya mencoba untuk
beradaptasi dengan teknologi yang ada.
Kita mencoba masuk di ruang Zoom. Enggak
nyaman ketika ruang sosial kita hilang
gitu. Namun ee namun ketika kita mencoba
ee melihat next ee ee ee kita coba untuk
melihat bahwa ee apa namanya ee ee
ternyata daya adaptasinya ada gitu ya.
Dan akhirnya kita mencoba eh let's say
pada saat itu kita mungkin bisa coba
untuk jujur bahwa pada saat eh mulai
Zoom itu entah kita masuk pada 2.0 apa
pada masuk pada area ee era 3.0. Apakah
kita sudah paperless benar-benar atau
ketika kita masih ee apa namanya ee ee
dalam ruang kerja itu kita masih butuh
enggak ngerti nih kalau harus baca di
handphone nih gitu. Harus harus tetap
harus diprintin dan sebagainya. ee agak
tertatih-tatih. Kita baru mencoba untuk
beradaptasi.
Kita baru mencoba untuk beradaptasi
dengan apa namanya dengan ee Zoom ruang
3.0. Tiba-tiba kita harus sudah masuk di
4.0. Bayangkan bahwa bagaimana tuntutan
gitu, tuntutan teknologi gitu. Kalau
saya coba mau balikkan juga sebenarnya
ada banyak sekali teori karena saya dari
komunikasi ada teori-teori media yang
mengatakan bahwa ee ee teknologi itu
akan mengatur manusia gitu. Tetapi bisa
juga sebaliknya bahwa manusia itu akan
ee apa namanya ee mengatur teknologi
gitu. Jadi ee ee mana nih yang mana yang
paling ee dominan sebenarnya gitu. Tapi
sebagian akan bilang bahwa manusia Bu
yang mengatur karena kita yang
menciptakan. Namun kita bisa melihat
bahwa efek teknologi yang ada itulah
yang terjadi saat ini. Bagaimana kita
semua menjadi tertatih-tatih untuk
menghadapi ee ee kemudian kita akan
semua masuk dalam ruang literasi
digital. Kemudian kita masuk dalam
komunikasi-komunikasi
yang mana kita mengatakan bahwa no ini
harus ada persatuan dan kesatuan
kembali. No, kita harus belajar mengenai
ee apa namanya? Nilai-nilai lagi gitu.
Karena ada hal-hal yang ee rupanya
begitu bagaimana informasi yang masuk e
pada kita ini itu enggak bisa sama
sekali kita luberannya ya. Luberan ya.
saya sudah bilang luberan ee informasi
itu kita sudah enggak bisa lagi untuk
memilah-milahnya gitu. Siapa yang
diharapkan? Ee tentu ketika kita bicara
ee apa namanya di ruang publik gitu,
mana nih yang paling punya peran. Tentu
sangat diharapkan sekali bahwa ee
peran-peran dari ee apa namanya?
peran-peran dari ee ASN sendiri.
Bagaimana ASN bisa bisa berperan untuk
melihat gitu ya tantangan-tantangan
ketika kita bicara globalisasi.
Bagaimana kita bisa melihat ee ada
perbedaan sukunya, agamanya, ee
perbedaan ee budayanya gitu ya. Em di
ruang publik gitu. Di ruang publik ada
memang ada pecahan ya. Jadi ee ada
pecahan bahwa ada sebagian masyarakat
yang memang melihat bahwa ee apa ee
masyarakat itu harusnya ada hierarkinya
gitu, ada stratifikasi gitu ya, ada
diferensiasinya. Stratifikasi itu ketika
ada ruang di masyarakat yang mereka
melihat bahwa memusah
gitu, harus ada perting, harus ada bos,
harus ada anak buah, harus ada orang
yang kaya, orang yang miskin gitu ya.
Namun sebagian masyarakat lagi itu
mereka mengatakan bahwa ee no kita sama
di mata Tuhan gitu. Kita harus
mendapatkan hak yang sama dan sebagainya
gitu. Nah, pecahan dari apa yang terjadi
di ruang sosial kita inilah yang ketika
ada pemicunya, ada pemicunya ya
kontestasi politik, kemudian ada ee ee
satu aja yang akan menyinggung persoalan
ee ras misalnya, maka ini akan menjadi
ee konflik yang ee cukup besar gitu.
Bagaimana distorsi ee terjadi akibat
teknologi budaya kita gitu. saya enggak
tahu ee apa ee ee bagaimana kita mencoba
melihat ee Korea style-nya itu begitu
masuk dan kita akhirnya ee ada asimilasi
budaya yang kita enggak bisa cegah
begitu. Ee enaknya kita mau apain gitu.
Apakah kita harus ee ee tentu daya
adaptasi dibutuhkan, daya survive
dibutuhkan gitu. bagaimana ee ee apa
namanya ee harmonisasi di tengah
masyarakat itu ee apa namanya ee menjadi
hal yang ee tantangan sih bagi kita
sebenarnya. Saya ee punya cerita ketika
saya di kampus nih, saya bicara sama ee
mahasiswa saya, saya tanyakan bahwa
bagaimana kita bisa berkomunikasi gitu,
bagaimana ee supaya kita nyambung nih
berkomunikasinya. Mahasiswa bilang,
"Siapa yang harus beradaptasi? Dan
mereka bilang tiba-tiba bahwa oke Bu,
yang harus beradaptasi harus Ibu. Dan
mohon maaf saya akhirnya saya bilang,
"Loh, kalau misalnya harus saya, apakah
itu berarti saya harus ee berkomunikasi
dengan dialek kalian?" Begitu. Mohon
maaf. Ee kita bisa melihat anak-anak
kita sekarang bahasa gaulnya tuh kebun
binatang bisa keluar semua gitu kan.
Terus saya harus ikut-ikut seperti itu
juga gitu ya kan namanya adaptasi Bu
gitu. Jadi bisa dibayangkan bahwa ada
rentang gitu ya, ada rentang sejarah
yang jauh sekali, ada nilai-nilai yang
ee akhirnya ee hilang begitu ya. Ee ee
ee namun demikian gitu. Namun demikian,
ada hal yang saya juga mencoba melihat
di ruang sosial bahwa sebenarnya sih
kalau bicara persatuan-kesatuan
ee ee apa namanya ee ada yang bisa
mengikat kita mungkin gitu e ketika kita
bicara soal budaya, ketika ada kasus
bahwa kebaya kita mau coba diakuin gitu
oleh tetangga kita, maka kita akan ber
semuanya gitu. Semua dari kita ini ee
apa namanya? Ee ee punya rasa tiba-tiba
bangkit tuh rasa nasionalismenya bahwa
no kebaya itu adalah punya kita dan kita
mencoba untuk mempertahankannya. Namun
kalau kita bicara di Lemhanas ada
konteks ee konteks yang kita sebut
dengan kewaspadaan nasional, ada yang
kita sebut dengan ketahanan nasional,
gitu. Nah, kalau kita bicara kewaspadaan
itu kan tentu tindakannya adalah
bagaimana kita mencoba untuk mencegah.
Nah, barangkali di sisi itulah yang kita
mungkin harus ee punya tantangan
sendiri, gitu. Jadi, jangan setelah
kejadian. Kalau setelah kejadian, maka
kita akan masuk dalam konteks ee ee apa
ee ketahanan konteks ketahanan nasional.
karena ee kita harus melihat itu PR-nya
lebih besar lagi. Begitu di LEMAS kita
mengenal Astagra itu ada delapan aspek
gitu ya yang kita harus ee coba untuk
selesaikan. Jadi tantangannya menjadi ee
besar sekali. mungkin sudah bukan bentuk
tantangan lagi, tapi sudah bentuknya
ancaman, hambatan, masuk ke gangguan
lagi. Jadi, ee bagaimana kita mencoba
untuk masuknya di Patnas aja deh, di
waspada kewaspadaan aja deh. Bagaimana
kita mencoba melihat aspek mana dari ee
negara kita ini yang lemah gitu. Di kami
ada lapur tanas namanya laboratorium
pengukuran ketahanan nasional. ee hasil
terakhirnya
bahwa dari semua aspek ketika kita
bicara ideologi, kita bicara ekonomi
misalnya kita bicara ee ee politik,
pertahanan keamanan, geografi, demografi
gitu ya, sesuatu yang given buat kita
gitu.
Ternyata yang paling lemah adalah dari
mana? Dari budaya. Jadi, bagaimana ee
hampir di semua provinsi gitu ee ee
aspek sosial budaya kita lemah. Jadi,
itu yang membuat bahwa enggak heran
kalau sekarang ini ee kita ini melihat
nih tantangannya ini semua yang ada di
slide ini
adalah ee semuanya akan terkait sama
masalah sosial budaya. Jadi, bagaimana
ee ee akhirnya itu berimbas. kita harus
mengulang lagi bicara mengenai e kita
harus kembali lagi ke konsensus dasar
gitu ya. Kita harus bicara lagi mengenai
kebinekaan,
kita harus bicara lagi mengenai
persatuan karena sosbot kita memang
lemah di semua provinsi. Nah, bagaimana
ee hal-hal ini harus dipahami oleh kita
yang berada di ruang sosial gitu ya. ada
ASN yang luar biasa sekali itu sebagai
ee perpanjangan tangan dari ee ee
negara, sebagai perpanjangan tangan dari
pemerintah, perannya akan ee cukup besar
sekali begitu. dan kita ee ee ee mencoba
untuk melihat ee membuat satu strategi.
Tetapi kan harus firm dulu nih kitanya
gitu, harus tahu dulu nih dari mana
sebenarnya ancaman-ancamannya,
tantangannya seperti apa, kenapa ee
akhirnya ee begitu sulit untuk berbicara
dengan ee orang-orang di sekitar kita
gitu. Karena kita bisa mencoba melihat
juga ada cukup banyak data bagaimana
akses infrastruktur juga menjadi sulit,
bagaimana disparitas pendidikannya gitu.
Kalau di ASN kan enak gitu ya, bahwa
ee apa namanya ee ee level gitu ya,
level pendidikannya tinggi begitu.
Tetapi ketika kita masuk ke ruang
masyarakat
ketemulah itu satu-satu masalahnya.
ketemulah di mana kita mulai melihat
bahwa ee ee ee kenapa harus ada ee
perebutan wilayah, kenapa harus ada
kenapa ee ee kita masih harus bicara
bahwa masih ada ancaman suku, agama dan
budaya. Bukankah Tuhan menciptakan kita
itu ee ee masuk ke negara yang kita
sebut dengan Nusantara dulu dengan ee
heterogen gitu, dengan sesuatu yang ee
berbeda-beda. Kemudian dengan
manusia-manusia yang luar biasa. Namun
ee kenapa makin makin ke sini makin ee
makin makin sulit ketika kita bicara
bahwa ee ee ee kenapa kita enggak bisa
menjadi Indonesia begitu. Nilai-nilai
mana yang akhirnya menjadi hilang. Jadi
kalau ditanyakan bahwa Indonesia Emas
2045 gitu apa yang harus kita siapkan?
Saya baca beberapa jurnal bahwa rupanya
tantangan di Indonesia Emas 2045 itu
justru pada soft skill. Soft skill itu
bagaimana kita membangun karakter lagi.
Jadi ini kita balik nih ke ee balik ke
awal lagi karena kita menganggap bahwa
kalau hard skill yang harus dibangun
anak-anak kita itu bisa dapat di ruang
belajar gitu. Namun ketika kita bicara
soft skill maka itu adalah nilai yang
kita bangun. bagaimana semua
pribadi-pribadi kita ini punya value
untuk ee memahami gitu memahami
nilai-nilai kita sebagai anak bangsa.
Jadi ee ee bagaimana ketika ada
polarisasi sosial dan politik enggak
bisa lepas gitu karena ada ee teori
ekonomi ee politik itu juga mengatakan
bahwa bangsa itu hanya bisa besar ee dia
akan bergantung pada ee ekonomi dan
politiknya. Nah, sekarang ketika kita
bicara geopolitik dan geostrateginya,
kita bisa lihat bagaimana kemarin kita
dapat ee tarif 19 ee% namun sekarang
lagi tren gitu. Ketika kita bicara bahwa
oh data kita itu sekarang diberikan dan
ee sebagainya, bagaimana diskusi-diskusi
di ruang publik, bagaimana
kepanikan-kepanikan yang sedang terjadi,
begitu. Namun kita mencoba melihat bahwa
dalam konteks negara begitu, tidak ada
satuun negara saat ini yang tidak sedang
fokus pada negaranya sendiri gitu. Jadi
ee ee kita memang ee ee beruntung sekali
karena ketika bicara ee teori ruang
hidup ee teori ruang hidup itu dia
mengatakan bahwa ee dalam satu negara
itu kan harus ada wilayah, harus ada
masyarakat, harus ada pemerintah, harus
ada ee ada pengakuan dari negara lain.
Namun ee ee ruang hidupnya kan ee ee
beda-beda nih prinsipnya. Indonesia kita
kita memahami bahwa ee kita punya
kedaulatan gitu. kita enggak kepengin
diganggu. Karena kenapa? Wilayah kita
besar sekali gitu. Wilayah kita cukup
luas. Jadi makhluk itu ketika ee dia
harus berkembang gitu, maka dia kan
harus punya wilayah yang lebih luas. Itu
kenapa ee ee kita bicara di masa lalu
ada program-program ee apa transmigrasi
apa dan wilayah kita sangat banyak
bahkan dikasih-kasih kali ke orang gitu
ya. Jadi ke negara lain gitu. Namun itu
kan berbeda sama negara lain. Ruang
hidup wilayah mereka kecil. Sementara
mereka adalah makhluk yang bertumbuh
seperti kita semua. Dan mereka harus
tetap ee apa namanya? ee ee
mempertahankan negaranya. Dalam konteks
itulah kenapa akhirnya ada ekspansi,
kenapa ada perang untuk ngambil wilayah
orang. karena mereka kehilangan itu
ruang hidup itu juga mengatakan bahwa ee
ee apa ee mereka harus tetap bertumbuh
untuk mempertahankan wilayah mereka.
Jadi ee hal-hal ini yang menyebabkan
bahwa konflik itu. Jadi untungnya di
tempat kita, let's say misalnya kemarin
juga ada dinamika bangsa ketika kita
melihat bahwa ada ee permasalahan
perbatasan misalnya Aceh dan ee Sumatera
begitu dan cukup banyak sekali ee
problem-problem di perbatasan bagaimana
daerah 3T itu infrastrukturnya kemudian
bagaimana perbatasan wilayah dengan ee
negara tetangga itu itu menjadi hal yang
jadi ee PR gitu. Namun ee demikian ee
kita mencoba untuk ee ee ee melihat ini
ee ee dengan satu hal gitu bahwa
keutuhan Indonesia itu harus ada secara
individu. Ee ee ee kita kita harus punya
value-nya dulu. Karena kalau bicara
mengenai ketahanan nasional, maka yang
terkecil itu apa? Kita akan bicara
ketahanan keluarga. Lebih kecilnya lagi
kita akan bicara ketahanan diri. Jadi,
bagaimana konsep-konsep ee itu tertanam
gitu, nasionalismenya
tertanam, value-nya tertanam, bahwa ee
kemudian kita punya pendidikan yang baik
sehingga bisa melihat segala sesuatu
tidak dengan ee parsial gitu. Next.
Ee bisa dibantu. Next. Nah,
ee oke. Nah, jadi kita bisa ee bisa bisa
ee bisa melihat coba saya lihat. Jadi
kita bisa melihat bahwa ini tadi bahwa
dalam organisasi gitu, dalam organisasi
kan selalu ada budaya ketika kita masuk
ke ruang-ruang kita sendiri nih. Kita
bicara mengenai ruang ASN sekarang ini
gitu bahwa ee bagaimana nilai-nilai
kebangsaan itu juga mulai hilang nih.
Makanya sangat diperlukan sekali
pemahaman daripada pimpinan dari
organisasi itu untuk ee ee ee mereka
membuat satu sistem yang baik gitu
sehingga ee apa namanya ee orang-orang
di bawahnya itu bisa memahami visi dan
misinya. penting sekali ee dalam konteks
negara nih kita bisa melihat bahwa asta
cita kita kita benar-benar di-sharekan
kita benar-benar tersosialisasikan gitu
ee asta cita itu supaya apa? Supaya kita
semua memahami mau ke mana kita berjalan
ya. Jadi setiap setiap kementerian
lembaga itu akan tahu bahwa oh tugas
saya adalah menyelesaikan Asta Cita ke
satu dan du tugas saya 3 dan 4. Dalam
konteks yang lebih kecil di tempat kita
bekerja ee pimpinan juga harus ee
memahami itu bahwa ee visi misi itu
harus diketahui hingga ee level-level
yang terkecil gitu. Kalau enggak, maka
ee akan banyak sekali ee ee hal-hal yang
ee terjadi benturan ya, terjadi benturan
bahwa ee stafnya enggak paham mengenai
apa-apa yang harus dilakukan terus kita
mau ke mana. Let's say sampai orang yang
terkecil begitu ya. Jadi bagaimana kita
melihat ee permasalahan mungkin bukan
pada kita yang berada di ee masalahnya
beda-beda ya. Kalau kita bicara di
daerah 3T atau kita yang berada di ibu
kota seperti ini tantangannya tentu ee
sangat berbeda di mungkin di daerah
perbatasan tantangannya adalah
infrastruktur gitu. Namun ketika kita
bicara penerapan nilai-nilai
kebangsaannya ya ee ee tentu akan ada
pelatihan seperti ee yang sekarang kita
lakukan ini. Next
ya. Ee nah bagaimana apa yang kita harus
lak ketika nilai-nilai kebangsaan dalam
ee dalam ruang kerja begitu ya. Ee ada
integritas, ada etika kerja. Ada hal
yang penting sekali yang harus ee
dipahami bahwa ee ketika kita bicara
etika kerja adalah sesuatu yang kita
sepakati ya. Jadi kalau kita bicara
overall ee etika itu maka etika kita
sebagai bangsa Indonesia the very simple
misalnya ketemu sama orang harus senyum,
kita harus salaman, dan sebagainya.
hal-hal yang ee ee bagi kita itu jadi
budaya karena itu dilakukan diberikan
contoh oleh orang tua kita. Namun dalam
konteks di kantor misalnya ee etika itu
harus dipahami satu ee sama lain ya
karena ee kita enggak mungkin bisa ee
menjadi ee menjadi produktif bisa tahu
gitu kalau etikanya enggak pas. Ada loh
kantor yang ee ketika kita mau bicara
sama pimpinan kita kan biasanya
berjenjang gitu. Namun komunikasi yang
terjadi searah atau menjadi ee ee hanya
searah aja begitu atau dua arah. Rasanya
sih sudah enggak enggak apa ya enggak
enggak enggak zaman lagi ketika kita
bicara komunikasinya searah itu sama
dengan dalam konteks ee negara kita
sudah enggak bisa lagi ee ee ee melihat
ee informasi itu hanya searah karena
kenapa? Ruang medsosnya besar sekali
gitu. kita bisa berkomunikasi langsung
dengan tidak satu ke satu atau ee dua ke
satu begitu, tetapi sangat multi gitu,
sangat multi sekali. Di mana akhirnya
bias-bias informasi itu bisa ee ee bisa
menyebabkan
ee perpecahan gitu ya, bisa menyebabkan
perpecahan yang ee saya kira itu juga
bukan hal yang mudah ketika itu terjadi
di ee ruang kerja kita. Next.
Nah, bagaimana kita mencoba melihat tadi
budaya organisasi, siapa-siapa yang akan
membuat ee keputusan bagaimana ee ee
pola-pola rekruitmen. Saya tahu persis
bahwa untuk menjadi ASN itu adalah hal
yang sulit sekali untuk bisa tersaring.
Tapi ee kita happy ya, kita happy sama
proses-proses mekanisme yang ee
berjalan. Karena kenapa? Kita memang
harus cari orang terbaik. Jadi harus
cari orang terbaik karena kenapa? Karena
begitu banyak hal yang akan dilakukan
ketika kita sudah menjadi ee kita
menjadi ee bagian dari negara ini yang
akhirnya juga punya tugas yang besar
sekali gitu. Maka perlu untuk mencari
orang yang baik ee pendidikannya yang
baik, kemudian orang yang punya nilai,
orang yang memahami wawasan kebangsaan
dengan baik. Jadi ee ee tidak sulit
untuk melihat segala sesuatu itu secara
integral, secara holistik, kemudian
menyelesaikan permasalahan secara
komprehensif.
Sering ya kita ee ketemu nih di ruang
sosial bahwa ee atau di organisasi kita
misalnya di luar ee organisasi tempat
kita main gitu. Kalau orang
menyelesaikan permasalahan karena dia
hanya melihatnya parsial, satu masalah
selesai, satu masalah muncul gitu ya.
Jadi ee enggak secara komprehensif untuk
mampu menyelesaikan. Oleh sebab itu,
bagaimana ASN ini menjadi bagi saya ini
menjadi hal yang ee punya peran besar
sekali karena orang-orang terpilih gitu
ya. Enggak ee orang-orang terpilih yang
ee ee apa namanya ee kita ee sudah mampu
untuk ee bisa ee ee melihat segala
sesuatu begitu di ruang sosial kita
dengan baik. Bagaimana tadi dikatakan
bahwa ee kolaborasi kita suka bilang
bahwa oh ada pentaelix dan sebagainya
sekarang sudah masuk Dexa Helix gitu.
Bagaimana ee ee apa ee kolaborasi sudah
harus dilakukan. Mas Sukman tadi
mengulang-ulang cerita bahwa lu kalau
jalan sendiri nanti jalannya cuma cepat
loh gitu. Tapi kalau mau jalan jauh
harus sama-sama. Kita jalannya harus
jauh soalnya 2045
sebentar lagi gitu sebentar lagi gitu.
Namun ee sudah siapkah kita sudah
siapkah kita ke masuk ke Indonesia emas?
Apa yang sudah kita lakukan gitu?
Seberapa kita mampu untuk
mengimplementasikan Indonesia emas itu
yang seperti apa?
Beberapa ee kita sedang ee apa namanya?
Menghadapi tantangan bonus demografi
juga. Nah, apa yang harus kita lakukan
semuanya? Sesiap apa kita? Bagaimana
dengan ee SDM-nya kita? Bagaimana dengan
kita sebagai individu? semampu apa kita
untuk tetap bisa survive eh pada ee
Indonesia e di Indonesia 2045 lagi.
Konon kabarnya akan mulainya di ee di
tahun 2030, 5 tahun lagi kita sudah akan
memasuki
ee ee apa namanya ee hal yang ee ee ee
di mana ee semua yang kita sebut
sekarang generasi Z, milenial gitu itu
akan ee ee masuk untuk ee menggantikan
ee seperti ee generasi yang kolonial
nih. Kalau kolonial seperti saya nih itu
sudah sudah mulai tergantikan seberapa
siapnya gitu. Saya meyakini bahwa ASN
yang masuk-masuk sekarang kan lagi
muda-muda semua nih tantangannya akan
menjadi e menjadi besar sekali karena
cukup banyak negara yang ee apa tidak
bisa memanfaatkan bonus demografinya dan
mereka jadi colaps. Tapi Korea Selatan
adalah contoh satu negara yang dia ee
bisa hidup dengan baik gitu ya, bisa
hidup dengan ee dia bisa mengembangkan
bonus demografi dengan sangat pandai
karena mereka masuk lewat mana? Lewat
budaya. dan kita lemah dalam budaya.
Itulah sebabnya bahwa demam Korea, demam
Kphop itu dengan mudah sekali masuk itu
bagaimana budaya ee bagaimana kehidupan
sosial kita ee benar-benar
terporak-porandakan
ee ee karena akibat ada media teknologi
itu yang saat ini ee ada di kita. Next,
bagaimana peran ee ASN dalam mewujudkan
persatuan menjadi agen perubahan yang
positif?
nya gitu loh. Tetapi berguna bagi orang
lain itu adalah satu tantangan kita.
Berguna bagi lingkungan kita itu adalah
tantangan kita. Bagaimana bisa membangun
hubungannya yang harmonis di lingkungan
kerja dan ee masyarakat gitu. Bagaimana
orang bisa ee mendukung ee ee apa ee
pembangunan nasional. kita memahami
semua konsep asta cita itu dengan baik
dan kita bisa masuk yang mana nih dari
delapan ini mana nih ee apa ee di
kementerian dan lembaga kita kan sudah
menentukan nih di mana kita bekerja. Oh,
saya harus membangunnya dari sisi
hilirisasi misalnya hilirisasi industri
hilirisasi harus dilakukan so UMKM harus
hidup. Nah, so kita perannya ada di
mana? Kita coba untuk ee mengambil
peran-peran itu. Next. Bagaimana membuat
pembangunan nasional yang merata?
infrastruktur menjadi satu tantangan ya,
bagaimana pembangunan antar daerah,
bagaimana ee program desa mandiri, dana
desanya sudah cukup besar sekali.
Bagaimana pengentasan kemiskinan masih
ada. Ketika bicara mengenai kemiskinan,
maka kita akan bicara juga mengenai
pendidikan. itu adalah hal yang ee ee
terkait ee satu sama lain. Ee sementara
ASN adalah ee apa namanya ee ee
orang-orang terpilih dengan pendidikan
yang ee ee sudah tinggi yang harus
diminta untuk menyelesaikan permasalahan
ini di daerah terpencil itu cukup ee ee
apa ya cukup berat ya, cukup untuk jadi
ee jadi tantangan ya. Apalagi
infrastruktur cukup banyak sekali
kasus-kasus ada guru honorernya yang
belum terbayar misalnya kemudian ada
infrastruktur sekolah yang belum belum
jadi. Ini akan menjadi tantangan sih
sebenarnya ee buat kita. Next.
Integritas. Integritas. Kita akan susah
untuk berbicara mengenai integritas
gitu. Jika kita memang enggak punya
sumpahnya. jika kita enggak punya hal
yang apa yang kita ee sepakati kita
masuk menjadi ASN, kita sudah tahu bahwa
ada hal panc ee yang yang apa namanya ee
yang harus ditaati oleh ee ee ASN.
bagaimana ee ee kita mencoba untuk
melihat ketika ada kontestasi pemilu
misalnya ada kontestasi politik,
keluarga kita teribas semua satu ke A,
satu ke B, media main ke A ke B dan
kemudian lingkungan kita. Kemudian kita
jadi enggak nyaman untuk diskusi ya
karena ee mesti ramai aja diskusinya
antar teman juga ramai sekali, Dok. ee
ee ee sementara di satu sisi bahwa ee
ada integritas yang harus dijaga oleh
ASN bahwa you no kita tetap harus
netral. Bahwa jika ada keributan antar
sesama kita sendiri, apa yang harus kita
lakukan? Bagaimana? Bagaimana kita
mencoba untuk mendiskusikan itu bahwa ee
kalau bukan kita siapa lagi? Itu hal
yang paling penting gitu ya. Jadi ee ee
ketika ada kasus-kasus ada ee ASN yang
mungkin terkena korupsi kemudian kolusi,
bagaimana sistemnya harus dibangun?
Kalau sistemnya enggak dibangun dengan
baik, maka kita akan susah bicara
mengenai keadilan. Bagaimana keadil,
bagaimana persatuan sama kesatuan bisa
didapatkan dengan baik jika keadilannya
belum. Makanya ee bagaimana integritas
itu menjadi hal yang paling utama ketika
kita mau bicara mengenai keadilan.
Karena ujung-ujungnya di persatuan dan
kesatuan kalau ada yang merasa bahwa
hidup ini enggak adil, ee pimpinan saya
tidak adil, kemudian dia hopeless,
kemudian dia enggak kepengin lagi untuk
ee kerja secara ee ee profesional,
kemudian malas-malasan kerja, imbasnya
ke mana-mana. Makanya ada yang bilang,
"Wah, kita sih enggak perlu kerja keras
gitu, enggak perlu ee ee kerja
capek-capek soalnya." Kenapa? Soalnya
yang enggak kerja juga tetap dapat
jabatan. Nah, that's problem. Ya, itu
akan menjadi satu hal, satu titik yang
akan besar dan akan ee menjadi masalah
di ruang ee kerja kita, gitu. Terust,
bagaimana kita mendapatkan public trust,
kepercayaan publik. eh eh penting sekali
untuk melakukan eh branding. Tadi saya
lihat di depan ada banyak eh branding
BPSDM. Luar biasa sekali. Kantor-kantor
kita juga lakukan itu supaya apa?
Makanya kita selalu bicara bagaimana
kita bisa punya e public trust kalau
kita enggak accountable. Bagaimana kalau
kita enggak punya keterbukaan kepada
publik, bagaimana bisa ee kita dapat
kepercayaan dari publik kalau kita
enggak libatkan publik untuk
berpartisipasi.
Jadi partisipasi publik menjadi penting.
Persoalannya di mana partisipasi publik
itu sekarang? Kenapa jadi kurang? Karena
banyak hal yang menempatkan publik itu
hanya sebagai pendengar atau publik itu
hanya sebagai penonton, bukan pengambil
keputusan. Padahal kita sudah sepakati
bahwa kita adalah negara demokrasi.
Orang boleh berbicara dari publik untuk
publik, begitu ya. Jadi ada juga memang
PR gitu ee bagaimana kita mencoba ee
untuk melibatkan publik ee lebih terbuka
ee ada partisipasi publik dalam ruang
kerja kita begitu. mungkin bisa dibuka
untuk diskusi publiknya atau mungkin
dibuka ee ruang-ruang publik sehingga ee
apa namanya benar-benar dapat public
trust sehingga ee kita bisa membuktikan
ee bagaimana integritas kita sebagai
abdi negara gitu. Bahwa ini hal yang
sudah kita lakukan ee ini hal yang belum
kita lakukan. Hal yang sulit untuk kita
lakukan yuk kita lakukan sama-sama
dengan ee publik. Yuk, Anda
berpartisipasi untuk lakukan. Yuk, Anda
cukup tertib di jalan saja itu sudah
sudah partisipasi mungkin bagi kita gitu
ya. Anda membuang sampah di tempat yang
baik itu mungkin ee ee sudah termasuk
bahwa Anda cukup punya ee partisipasi.
Tetapi kalau Anda ingin masuk dalam
ruang yang lebih dalam untuk pengambilan
keputusan juga saya rasa tidak ada
salahnya juga begitu. Karena ee
ujung-ujungnya kan semua pelayanan kita
kan untuk ee mereka juga gitu ya. Jadi
ee ini ada hal yang bisa kita ee ee
lihat. Next. Nah, bagaimana
digitalisasi? Ya, kita bisa melihat tadi
dari awal saya bicaranya digitalisasi
gitu. Bagaimana teknologi informasi itu
harus mempermudah pelayanan publiknya.
Namun ada sistem gitu ya. Ee kalau dulu
sistemnya sangat birokrasi ya, sangat
birokrasi sekali. Kemudian ee kita
menjadi lama banget satu satu paper di
di meja pimpinan satu, pimpinan dua
leveling-nya ee terlalu panjang begitu.
Namun ee ketika kita mencoba ini adalah
efek positifnya sebenarnya dari
digitalisasi. Tadi di awal saya
menceritakan bagaimana ee digitalisasi
itu juga bisa memporak-porandakan,
tetapi bagaimana digitalisasi itu
membangun sistem di kita sehingga lebih
aware kita bisa satu sama lain gitu ya.
Ee namun demikian kadang-kadang suka
masih ada yang lambat nih gitu. Ee itu
balik lagi ke SDM. Jadi ada habit yang
yang memang kita harus rubah di internal
ee ee ee sehingga ee apa namanya ee
keakuratan data itu bisa bisa lebih
cepat gitu. Kadang-kadang nih kalau kita
iseng nih kita coba lihat website
kadang-kadang masih ada nih informasi
yang sudah lama sekali masih ada masih
tayang. Kadang-kadang pejabatnya belum
ganti dan ee dan sebagainya. Jadi ee
penting sekali ee bahwa kita mencoba
melihat bagaimana teknologi ini bisa
membuat kita mendapatkan ee public trust
gitu. Nah, bicara mengenai persatuannya
ee tentu saja ee kita akan membuat
persatuan itu tidak hanya sebatas antar
ASN-nya aja, namun persatuan itu kita
bisa dapat dari publik juga gitu. Ketika
publ trustnya tinggi, maka secara
emosional, secara pride gitu, kita akan
serta-ma untuk bisa punya persatuan dan
kesatuan yang ee cukup kuat karena akan
lebar ya gitu. Jadi bukan hanya sebatas
ASN-nya saja, namun ada terustas publik
yang mendukung kita untuk melakukan
hal-hal baik gitu. bagaimana di ee
tuntutan tuntutan untuk ASN untuk ee ee
ee harus mempercepat ya integrasinya
sehingga ee publik itu ee percaya bahwa
kalau saya punya masalah akan lebih
cepat untuk ee diselesaikan. Nah, kita
mungkin bisa ee bisa next lagi.
Jadi, bahwa bagaimana ee
ee ASN e membangun identitas gitu. kita
melihat bahwa konsensus ee ada empat ee
empat konsensus dasar. Kita habis bicara
nih mengenai persatuan, nilai-nilai
Pancasilanya mulai hilang apa enggak
gitu. bagaimana kita mencoba untuk
sebenarnya bukan soal ee ee
Pancasilanya, tapi implementasinya yang
akan menjadi ee ee tantangan sekarang
ini. Jadi, bagaimana kita dituntut untuk
mencoba karena ee kelihatan bahwa
problemnya sekarang adalah di sosial
budaya, maka masing-masing dari
kementerian lembaga mencoba untuk ee apa
namanya ee punya kreativitas sendiri ee
yang akhirnya untuk meningkatkan
bagaimana rasa sosial dan budaya kita
itu menjadi tinggi. saya melihat bahwa
sudah ada sudah ada hari kebaya misalnya
atau misalnya di beberapa kantor di
setiap hari Senin misalnya akan pakai
kebaya. Bagaimana hal-hal kecil itu kita
mencoba untuk mencoba ee melakukan itu
sehingga ee kita masih punya hal yang
sama untuk mengingat bahwa kita masih
punya budaya loh gitu ya. Next
satu slide lagi ya Mas Lukman ya.
bagaimana ee kita mencoba menjaga
kebinekaan, agen toleransi dan
inklusivitas.
Itu tadi kita sebenarnya sudah bahas
dari awal bahwa toleransinya mesti
tinggi. Tapi toleransi itu enggak akan
bisa didapat ketika kita enggak tahu
kita mau ke mana. Akan banyak sekali
miskomunikasinya dalam ruang kerja kita
ketika kita tidak memahami porsi kita ee
masing-masing ya. Jadi ee banyak sekali
pelatihan-pelatihan ya ee yang sudah
dilakukan sebenarnya oleh PNS. Tinggal
kita mencoba untuk membuat
implementasinya ee masing-masing.
Bagaimanapun ASN karena banyak sekali
bagaimana bisa untuk ee kita menempatkan
diri kita menjadi bridging ya antar
kelompok masyarakat. Mohon diingat bahwa
di kelompok masyarakat ada perpecahan,
ada komunitas-komunitas yang banyak
sekali sekarang ini menjadi tantangan
buat kita. Nah, tuntutannya jadi bridik.
Tapi itu enggak bisa selesai ketika kita
sendiri ee enggak punya integritasnya.
Kita sendiri tidak belum memahami bahwa
konteksnya ini adalah ee begitu besarnya
peran ASN. Saya berdaya guna, saya punya
value sehingga saya bisa melakukan e
sesuatu untuk bangsa. Ada hal yang
penting sekali bahwa kita punya panca
prasetia corporate ini ini bukti
sebenarnya bahwa ada integritas yang
kita perlu implementasikan dalam setiap
dinamika kehidupan bangsa. Saya kira ee
itu yang saya bisa waktunya kayaknya
sudah lewat 2 menit ng Pak Lukman.
[Musik]
Ya, terima kasih untuk materinya Bu
Tantri. Sebelum kita masuk ke sesi tanya
jawab, barangkali dari Sobat ASN ada
yang ingin bertanya kepada Bu Tantri
bisa langsung aja mengaktifkan feature
rise hand atau menggunakan kolom chat
Zoom ataupun bagi sobat Esen yang tengah
bergabung melalui live YouTube kami di
BPSDMTIM TV bisa drop question Anda di
kolom komentar YouTube. Nah, sebelum
kita masuk ke sesi tanya jawab, saya mau
coba ringkas terlebih dahulu apa saja
sih inset yang tadi sudah kita dapatkan
dari pemaparan Bu Tantri. Yang pertama
kita harus aware dulu ya kalau Indonesia
itu adalah bangsa yang heterogen. Kita
terdiri dari ras, suku, bangsa,
budayanya beragam. Jadi itu harus
diterima dulu. Itu mindset yang pertama
ya. Jadi enggak akan ada yang namanya
similarity antara satu personal dengan
personal lain. Yang kedua, ya kita lagi
masuk ke era disrupsi teknologi di mana
batas-batas
ee dunia itu semakin kabur, semakin
tidak jelas. sehingga setiap orang itu
bebas untuk beropini masing-masing. Ya,
kita kenal tadi ada media sosial yang
membuat semua seseorang itu bisa berbagi
pandangan, berbagi opini. Pada akhirnya
kita juga harus hati-hati nih untuk
berkomentar gitu ya. Jangan sampai
komentar yang kita berikan itu
menyinggung pihak lain sehingga
persatuan dan kesatuan ini tidak bisa
kita wujudkan. seperti itu. Dan yang
terpenting adalah tadi tantangan di
Indonesia Emas 2045 ternyata bukan
terkait hard skill tapi soft skill.
Lebih kerucutnya lagi adalah karakternya
gitu ya. Tadi bagaimana peran ASN ini
bisa mendukung untuk membangun hubungan
yang harmonis ya di lingkungan kerja
maupun di lingkungan bermasyarakat dan
juga bagaimana cara kita bisa menjaga
integritas. Satu pertanyaan sebelum saya
lempar ke sobat ASN. Bu Tantri, kalau di
unit Ibu sendiri gitu ya, contoh praktik
nyata apa saja yang sudah Ibu lakukan
untuk membangun hubungan yang harmonis
dan menciptakan integritas di lingkungan
rekan kerja antar rekan kerja maupun
antar rekan kerja dengan pimpinan.
Bagaimana Bu Tantri?
Iya, Mas. Ee Mas Lukman. Jadi hal-hal
yang sebenarnya hal-halnya sebenarnya ee
sederhana ya dan itu sebenarnya ee
dilakukan sih sebenarnya sama semua
kantor gitu ya. Jadi kalau di lingkungan
kerja itu kan satu, kita memahami dulu
yang tadi saya ceritakan tugasnya kita
apa, visinya ke mana, kemudian harus
dilakukan apa. Ee tentu ee ee bagai ee
ee bagaimana orang mencoba untuk day by
day gitu ya. Day by day itu untuk ee ee
bagaimana kita mencoba untuk ee
melibatkan publik. Misalnya kita akan ee
ee ee buat misalnya let's say kita bisa
bikin event-nya. kita mau bikin event,
apakah itu event-nya on air, apakah
eventnya itu off air, kemudian bagaimana
kalau di Lemana sendiri, bagaimana ee ee
kita membuat ee ada kelas-kelas ya, ada
kelas-kelas, ada kelas-kelas kecil, ada
kelas-kelas kecil yang
ee hanya 1 minggu gitu,
1 minggu. ee kemudian kita akan bicara
mengenai diskusi kebangsaan itu
melibatkan ee ee masyarakat ya dari satu
kelas itu misalnya 100 orang dan itu
yang ee kita lakukan untuk ee bisa ee ee
memahami gitu memahami bersama-sama kita
lakukan. Nah, dari situ tuh bisa tumbuh
jadi banyak tuh.
Heeh. dari dari kelas yang 100 orang
bisa dibayangkan. Kemudian kita akan
berkembang lagi, masyarakatnya makin
banyak, makin banyak. Kemudian kita jadi
sampailah kita pada BPSDN ini.
Siap.
Awalnya kan dari situ semuanya
ya. Terima kasih Bu Tantri. Berarti
memang dari awalnya adalah membuka ruang
diskusinya dulu ya untuk tahu sebenarnya
inputan apa aja yang ada di masyarakat
baru kita bisa realisasikan solusi yang
tepat untuk mereka. Baik terima kasih Bu
Tantri untuk jawabannya. kita ada satu
penanya yang sudah masuk bersama dengan
kami. Saya langsung saja undang. Selamat
pagi, Ibu. Silakan bisa langsung aja
open mic dikenalkan nama unit kerja dan
langsung saja disampaikan pertanyaannya.
Silakan.
Baik, terima kasih Mas kesempatannya.
Suara saya masuk ya?
Sudah masuk, Ibu. Silakan.
Oh, iya. Oke, mohon izin ee Bu Tantri
terima kasih pemaparannya. sungguh
mencerahkan dan sangat menarik sekali ya
topik bahasan kita pada hari ini. Ee ada
tiga poin Bu sebenarnya yang cukup
menarik buat saya dari materi yang sudah
Ibu sampaikan. Yang pertama adalah Oh,
mohon maaf sebelumnya saya belum
memperkenalkan diri. Nama saya Eki Bu.
Saya dari UPT
Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan.
Nah, ee yang pertama Bu mohon izin
terkait pepatah. Jika ingin berjalan
cepat maka kita bisa jalan sendiri. Tapi
jika kita ingin berjalan lama alangkah
baiknya jika kita jalan bersama-sama.
Nah, Bu ee jika nih yang terjadi satu
case yang kita ajak jalan ini enggak
gerak-gerak, kita harus tunggu sampai
kapan ya, Bu, untuk orang itu bergerak
dan berjalan bersama kita? Karena bisa
jadi ternyata yang kita ajak itu belum
siap atau belum sefrekuensi dengan kita.
Kemudian jika worst case lagi kita
terpaksa untuk jalan dulu sendiri ee
mungkin sebagai pemantik atau contoh ee
tapi ternyata enggak ada yang ngikutin
kita. Berarti kan kita zong ya nanti
takutnya apakah kita harus berhenti.
Kemudian ee poin yang kedua ada yang
menarik saya terkait
ee orang yang hopeless ya anggota tim
yang misalnya itu hopeless dan sudah
sulit ditolong gitu Bu misalnya jika
kita biarkan mungkin itu bisa menghambat
tim yang lain yang sudah solid. Tapi
kalau misalnya kita turutin takutnya
ngelunjak tapi kalau mau kita tinggalin
kasihan. Nah, jadi kita harus bagaimana
Bu untuk menyikapi case ini. Kemudian
yang ketiga itu juga menarik Bu terkait
ee menyambut Indonesia 2045
ee terkait generasi muda itu kan kita
harus ee kembangkan soft skill-soft
skill dan isu ini bukan isu yang terbit
1 2 tahun belakangan, tapi juga sudah
lama dari saya sekolah juga sudah ada.
Nah, kalau memang hard skill itu sudah
diajarkan dalam rana pendidikan atau
sekolah, kemudian soft skill ini kan
apakah juga menjadi tanggung jawab
pendidik atau ee berangkat dari keluarga
atau bagaimana ya, Bu? Karena kalau
misalnya hard skill itu kan mungkin ada
kurikulumnya, tapi kalau misalnya soft
skill itu kan aspeknya cukup banyak.
Tapi siapa yang paling bertanggung
jawab? Oke, terima kasih Bu Tantri.
Bu Eki, Bu Tantri sebelum dijawab saya
coba ringkas ya tadi pertanyaannya apa
saja. Yang pertama adalah kalau misalnya
yang kita ajak jalan bareng-bareng itu
enggak mau gerak ya kita harus ngapain,
Bu? Yang kedua, kalau misalnya kita
sudah memilih 
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:05:15 UTC
Categories
Manage