ASN Belajar Seri 29 | 2025 - ASN Bersatu: Indonesia Maju (Kolaborasi ASN di Hari Persahabatan Dunia)
XXMroOeKsYE • 2025-07-31
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. Selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap menyongsor Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas. yang belajar wujudkan iman selaku dunia tukang tekad pancang menyerah jadi AS berkuan Kita sedar [Musik] karena aku belajar [Musik] kami mencoba Jadi yang terbaik melayani bangsa dengan sepenuh hati. Marilah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Memerasi melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Hong kami dari sini suka dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi berganding tangan satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tujukan kompetensi dalam harmoni bangsa loyal tanpa batasannya adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan air yang lebih beragung bekerja penuh hati tulus membantu sesama dibangun kami melayak dengan kami melayani dengan mana kami melayani B [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di seluruh Indonesia yang tengah menyaksikan acara webinar ASN Belajar seri 29. Persembahan Korpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Senang sekali saya Lukman Ali dapat menyambah kembali sobat ASN tentunya dalam webinar ASN Belajar ini persembahan spesial untuk memperingati hari Persahabatan Internasional yang sudah jatuh di tanggal 30 Juli 2025 lalu. Saya pernah mendengar pepatah Afrika yang pernah mengatakan terkait jika ingin berjalan cepat maka berjalanlah sendiri. Tapi jika ingin berjalan jauh maka berjalanlah bersama-sama. Seringkiali kita dengar kata kolaborasi, tapi ternyata untuk mewujudkannya bukanlah perkara yang mudah ya. Kadang kala masih ada sal mentality dalam ee diri kita, mindset-mindset yang perlu dirubah. Padahal dengan adanya kolaborasi kita bisa sharing resources. Kemudian kita juga bisa berbagi risiko yang tentunya bisa membantu kita untuk mencapai tujuan yang ingin kita capai di organisasi atau entitas kita. Nah, kali ini kita akan berbagi banyak sekali insight seputar kolaborasi. Bagaimana cara menumbuhkan empati, budaya kerja kolaboratif dan inklusif? Tentunya selengkapnya dalam webinar ASN belajar seri 2925. ASN Bersatu Indonesia Maju. Kolaborasi ASN di Hari Persahabatan Dunia. [Musik] Baik, Sobat ASN, untuk membuka webinar ASN Belajar seri 29 tahun 2025 kali ini mari kita dengarkan bersama opening speech yang akan disampaikan secara langsung oleh Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita semuanya. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN Belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini, Kamis tanggal 31 Juli 2025, ASN Belajar telah memasuki seri yang ke-29. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami selalu berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-29 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka turut serta memberi makna bagi Hari Persahabatan Internasional atau International Friendship Day yang dirayakan setiap tanggal 30 Juli setiap tahunnya. Hari Persahabatan Internasional ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2011 dengan tujuan mempromosikan perdamaian, solidaritas, dan saling pengertian di antara orang-orang dan bangsa-bangsa di seluruh dunia. Karena tema ini sangat tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN belajar seri ke-29 tahun 2025 ini mengambil topik ASN bersatu Indonesia maju. Kolaborasi ASN di hari persahabatan dunia. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sopat ASN di seluruh tanah air hari persahabatan dunia didasari oleh pemahaman bahwa persahabatan antar individu, negara, dan budaya dapat berkontribusi pada terciptanya perdamaian dan membangun jembatan antar komunitas. Dengan tantangan global seperti konflik, kemiskinan, perlindungan hak asasi manusia, memperkuat ikatan persahabatan dianggap sebagai cara yang efektif. untuk mempromosikan stabilitas sosial dan menciptakan dunia yang lebih harmonis. Momen Hari Persahabatan Internasional lahir dari kesadaran bahwa persahabatan bukan hanya soal kedekatan personal, tapi juga kekuatan sosial yang menyatukan bangsa-bangsa melewati sekat budaya, politik, dan perbedaan kepentingan. Filosofi persahabatan mengajarkan kita tentang trust, respect, dan reciprocosity. Saling percaya, saling menghormati, dan saling menguatkan. Inilah nilai yang juga menjadi jiwa dari birokrasi kolaboratif. Karena pada akhirnya kita tidak hanya bekerja berdampingan, tapi harus tumbuh bersama, saling menopang, dan berjuang dalam satu cita. Saat SN, saat ini kita hidup di era yang luar biasa. Sebuah zaman ketika batas-batas geografis bukan lagi penghalang kerja sama dan identitas kelembagaan bukan alasan untuk bekerja sendiri-sendiri. Kita menghadapi tantangan global, disrupsi digital, krisis iklim, ketegangan geopolitik yang tidak bisa diselesaikan oleh satu tangan, satu lembaga atau satu sektor saja. Di tengah kompleksitas ini, ASN hadir sebagai simpul-simpul perekat bangsa, sebagai jembatan antar daerah, antar generasi, antar ideologi yang berbeda. Karena sejatinya ASN bukan sekedar abdi negara, tapi penjaga peradaban. Melalui ruang belajar lintas batas ini, kita hendak menyatukan semangat, bukan hanya pikiran. Meneguhkan kembali bahwa kita semua dari barat hingga timur, dari pusat ke daerah adalah satu dalam cita karya Indonesia. Kita tahu bahwa kolaborasi bukan pilihan tapi keharusan. Birokrasi modern dibangun bukan dari silo, tapi dari sinergi. Kita tidak boleh lagi bekerja sendiri-sendiri dalam kubu sektoral. Karena setiap kebijakan yang baik adalah hasil dari perjumpaan, percakapan, dan kerja sama. Hari persahabatan ini. Mari kita maknai bahwa menjadi ASN tak hanya soal profesionalitas, tapi juga soal relasi kemanusiaan. Kita adalah jaringan kepercayaan bangsa yang saling terhubung, saling belajar, dan saling menjaga. Karena sebagaimana sahabat sejati, kita hadir bukan hanya saat dibutuhkan, tapi selalu ada untuk Indonesia. Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita sebagai ASN Indonesia selalu hadir sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa? Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu Tantri Relatami, Mikom. Beliau adalah tenaga profesional pada Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Dr. Andi Matulesi, M.Si., psikolog. Beliau adalah seorang psikolog senior yang saat ini menjabat sebagai ketua Himpunan Psikologi Indonesia. Ketiga, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu Hani WSLGK, SSI, M. Beliau adalah akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-29 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas opening speech yang telah disampaikan. Sobat ASN sebelum kita masuk ke acara intip pada pagi hari ini, terlebih dahulu saya ingin mengingatkan bahwa presensi sudah bisa Sobat ASN akses melalui laman semesta Bangkom. Sobat ASN juga bisa akses linknya melalui running teks yang tersedia di bawah saya ya. Dan kita akan masuk ke materi yang pertama ini terkait dengan ASN sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Di mana materi kali ini akan disampaikan secara langsung oleh Ibu Tantri Relatami Mom, Tenaga Profesional Lemhanas Republik Indonesia. [Musik] dan telah bergabung bersama dengan kami di sini Bu Tantri. Selamat pagi, Bu Tantri. Mohon maaf Ibu suaranya masih belum terdengar. Selamat pagi, Mas Lukman. Pagi, Bu. Kabar baik? Jelas ya? Sudah jelas. Sudah jelas. Oke. Kabar baik, Bu Tantri? Baik, alhamdulillah masuk ini semangat sekali. Semangat semangat. Luar biasa. Semangat semangat semangat ya. Tadi ada pepatah Afrika yang mengatakan kalau misalnya mau berjalan cepat maka berjalan sendiri. Tapi kalau mau berjalan jauh maka berjalan bersama-sama. Sama-sama. Ya, kali ini saya mau mendengarkan, kami semua mau mendengarkan materi spesial dari Bu Tantri terkait dengan ASN sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Mohon izin Ibu untuk durasi materinya kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Silakan Bu Tantri. Baik, terima kasih Mas ee Lukman. saya nanti minta tolong diingatkan tadi saya minta untuk ee dibantu untuk ee tayangkan untuk slide saya ng ee asalamualaikum warahmatullahi ee wabarakatuh. Selamat pagi Bapak dan Ibu ee yang ada semua di ee ruangan Zoom ini dan juga ee ee terutama kepada Pak Ramlianto. Saya senang sekali dengan opening speech-nya tadi. Luar biasa sekali kita sudah dapat ee eh framing-nya gitu. bahwa ee bagaimana sebenarnya ee ketika kita berbicara mengenai ee ee bangsa saat ini bahwa kalau kita ee melihat ee peran ASN dalam persatuan dan kesatuan itu adalah tugas saya untuk kita sharing sih sebenarnya. Jadi kalau kita mencoba ee melihat apa yang terjadi ee sekarang ini Bapak Ibu bahwa ada satu pertanyaan yang sering ee sering kita tanyakan bahwa apakah nasionalisme itu masih ada apa enggak gitu. Jadi ketika kita mencoba melihat, kita bisa next ya ee untuk eh slide-nya ee jadi e next lagi. Jadi kita bisa melihat bahwa ee bicara mengenai nasionalisme ada yang akan mengatakan bahwa Bu masih ada Bu sudah enggak ada gitu. Apakah nasionalisme itu bisa hilang gitu. Nah, kenapa ee ee kenapa kita harus ee apa namanya? Ee akhir-akhir ini sangat sering sekali untuk kita ee mencoba untuk bertemu. Kemudian kita akan mencoba untuk banyak diskusi mengenai ee wawasan kebangsaan, mengenai wawasan nusantara, mengenai persatuan-kesatuan dan mengenai berbagai hal. Apa penyebabnya? Begitu. Nah, pertanyaan saya tadi itu bahwa ee ee rupa-rupanya ketika dikatakan bahwa nasionalisme bisa hilang apa enggak gitu ee katanya sih sebagian besar mengatakan bisa hilang gitu. Nah, kita coba melihat apa sih sebenarnya penyebabnya. Nah, ee zaman dulu nih zaman dulu nih zamannya saya nih gitu mungkin ee kita masih masih banyak ee dengar cerita gitu. kita masih banyak punya ee punya punya punya banyak cerita mengenai ee apa namanya ee bagaimana ee nuansa kebangsaan, bagaimana perjuangan dari nenek-nenek kita, nenek-nenek saya, oma, opa, orang tua kita gitu. Bagaimana kita melewati kebahagiaan-kebahagiaan. Jadi ada melankolis-melankolis yang kita ee rasakan, gitu. Apa yang terjadi dengan ee ketika kita bicara mengenai generasi milenial begitu ee ee apa namanya? Nuansa-nuansa itu masih berasa enggak? Karena ketika mereka lahir gitu, ketika lahir itu kan sudah langsung dapat langsung dapat internet nih ceritanya. Jadi ee kita akan ee ee mencoba melihat bahwa ketika kita bicara mengenai ee nasionalisme, bicara mengenai persatuan itu di dalamnya itu ada apa? ada nilai ya, bahwa kita mencoba untuk bicara ee nilai-nilai bangsa yang mana ee itu yang kita coba untuk ee rekatkan kembali ketika bicara Indonesia Emas 2045. Tadi sudah disinggung oleh Mas Lukman bahwa berjalan cepat itu kalau sendiri, tapi kalau mau berjalan jauh itu bersama. Rasa-rasanya kelihatannya sih guy gitu ya. Kelihatannya guyub. Namun ee ternyata faktanya gitu, faktanya bahwa ee ee kenapa setiap les kita ambil contoh misalnya ee setiap ada ee apa ee ee pemilu menjelang pemilu gitu ada kontestasi begitu. Kenapa kita selalu dengan mudah sekali untuk diporak-porandakan begitu ya? kita akan dibenturkan satu sama lain. Begitu banyak diksi-diksi yang ada di ee tengah masyarakat kita yang akan ee ee bicara misalnya mayoritas, minoritas, begitu dan akhirnya kita tiba-tiba menjadi terpecah. Tadi ee Pak Ramlianto sudah memberikan insight bahwa ee ee apa namanya? Kita masuk dalam disruption eh teknologi. Next, ya. Bisa next, Mas. Ee jadi ee kita bisa melihat bahwa tapi rupa ee bagaimana ee ee ketika ada kontestasi ee politik misalnya, kenapa kita dengan mudah sekali ee apa namanya tercerai-berai gitu, dengan mudah sekali di mana perannya ASN gitu. Padahal yang terbanyak ini ada di Indonesia ini adalah ASN ya. ASN kan harus netral gitu ya. Eh, itu adalah saya kira itu adalah satu tantangan besar sekali ketika ada komitmen bahwa ee kita harus netral begitu. Sementara di luar keluarga kita semuanya harus ada dukungan ke A, dukungan ke B. Bagaimana sebenarnya komitmen, bagaimana integritas itu bisa dibangun. Namun kalau kata orang Jawa ya, apapun yang terjadi sama bangsa ini gitu, kita itu given diberikan gitu oleh Tuhan Yang Maha Esa, orang-orang yang luar biasa gitu ya. dinamika mana yang kita enggak bisa mengatakan bahwa untungnya gitu ya. Jadi kalau di di Jawa itu suka bilang bahwa aduh untungnya kita masih bisa melewati. Coba dibayangkan ketika ee kita mengalami krisis moneter dulu ketika semua orang sudah tidak bisa lagi bisnis menjadi ee ee sulit begitu dan tetapi kita semua bisa melewati hal-hal itu dengan ee dengan alhamdulillah berjalan dengan baik. kemarin kita masuk ke kita mendapat cobaan lagi ee ee COVID begitu ya. Dan kita semua begitu paniknya kemudian kita akhirnya mencoba untuk beradaptasi dengan teknologi yang ada. Kita mencoba masuk di ruang Zoom. Enggak nyaman ketika ruang sosial kita hilang gitu. Namun ee namun ketika kita mencoba ee melihat next ee ee ee kita coba untuk melihat bahwa ee apa namanya ee ee ternyata daya adaptasinya ada gitu ya. Dan akhirnya kita mencoba eh let's say pada saat itu kita mungkin bisa coba untuk jujur bahwa pada saat eh mulai Zoom itu entah kita masuk pada 2.0 apa pada masuk pada area ee era 3.0. Apakah kita sudah paperless benar-benar atau ketika kita masih ee apa namanya ee ee dalam ruang kerja itu kita masih butuh enggak ngerti nih kalau harus baca di handphone nih gitu. Harus harus tetap harus diprintin dan sebagainya. ee agak tertatih-tatih. Kita baru mencoba untuk beradaptasi. Kita baru mencoba untuk beradaptasi dengan apa namanya dengan ee Zoom ruang 3.0. Tiba-tiba kita harus sudah masuk di 4.0. Bayangkan bahwa bagaimana tuntutan gitu, tuntutan teknologi gitu. Kalau saya coba mau balikkan juga sebenarnya ada banyak sekali teori karena saya dari komunikasi ada teori-teori media yang mengatakan bahwa ee ee teknologi itu akan mengatur manusia gitu. Tetapi bisa juga sebaliknya bahwa manusia itu akan ee apa namanya ee mengatur teknologi gitu. Jadi ee ee mana nih yang mana yang paling ee dominan sebenarnya gitu. Tapi sebagian akan bilang bahwa manusia Bu yang mengatur karena kita yang menciptakan. Namun kita bisa melihat bahwa efek teknologi yang ada itulah yang terjadi saat ini. Bagaimana kita semua menjadi tertatih-tatih untuk menghadapi ee ee kemudian kita akan semua masuk dalam ruang literasi digital. Kemudian kita masuk dalam komunikasi-komunikasi yang mana kita mengatakan bahwa no ini harus ada persatuan dan kesatuan kembali. No, kita harus belajar mengenai ee apa namanya? Nilai-nilai lagi gitu. Karena ada hal-hal yang ee rupanya begitu bagaimana informasi yang masuk e pada kita ini itu enggak bisa sama sekali kita luberannya ya. Luberan ya. saya sudah bilang luberan ee informasi itu kita sudah enggak bisa lagi untuk memilah-milahnya gitu. Siapa yang diharapkan? Ee tentu ketika kita bicara ee apa namanya di ruang publik gitu, mana nih yang paling punya peran. Tentu sangat diharapkan sekali bahwa ee peran-peran dari ee apa namanya? peran-peran dari ee ASN sendiri. Bagaimana ASN bisa bisa berperan untuk melihat gitu ya tantangan-tantangan ketika kita bicara globalisasi. Bagaimana kita bisa melihat ee ada perbedaan sukunya, agamanya, ee perbedaan ee budayanya gitu ya. Em di ruang publik gitu. Di ruang publik ada memang ada pecahan ya. Jadi ee ada pecahan bahwa ada sebagian masyarakat yang memang melihat bahwa ee apa ee masyarakat itu harusnya ada hierarkinya gitu, ada stratifikasi gitu ya, ada diferensiasinya. Stratifikasi itu ketika ada ruang di masyarakat yang mereka melihat bahwa memusah gitu, harus ada perting, harus ada bos, harus ada anak buah, harus ada orang yang kaya, orang yang miskin gitu ya. Namun sebagian masyarakat lagi itu mereka mengatakan bahwa ee no kita sama di mata Tuhan gitu. Kita harus mendapatkan hak yang sama dan sebagainya gitu. Nah, pecahan dari apa yang terjadi di ruang sosial kita inilah yang ketika ada pemicunya, ada pemicunya ya kontestasi politik, kemudian ada ee ee satu aja yang akan menyinggung persoalan ee ras misalnya, maka ini akan menjadi ee konflik yang ee cukup besar gitu. Bagaimana distorsi ee terjadi akibat teknologi budaya kita gitu. saya enggak tahu ee apa ee ee bagaimana kita mencoba melihat ee Korea style-nya itu begitu masuk dan kita akhirnya ee ada asimilasi budaya yang kita enggak bisa cegah begitu. Ee enaknya kita mau apain gitu. Apakah kita harus ee ee tentu daya adaptasi dibutuhkan, daya survive dibutuhkan gitu. bagaimana ee ee apa namanya ee harmonisasi di tengah masyarakat itu ee apa namanya ee menjadi hal yang ee tantangan sih bagi kita sebenarnya. Saya ee punya cerita ketika saya di kampus nih, saya bicara sama ee mahasiswa saya, saya tanyakan bahwa bagaimana kita bisa berkomunikasi gitu, bagaimana ee supaya kita nyambung nih berkomunikasinya. Mahasiswa bilang, "Siapa yang harus beradaptasi? Dan mereka bilang tiba-tiba bahwa oke Bu, yang harus beradaptasi harus Ibu. Dan mohon maaf saya akhirnya saya bilang, "Loh, kalau misalnya harus saya, apakah itu berarti saya harus ee berkomunikasi dengan dialek kalian?" Begitu. Mohon maaf. Ee kita bisa melihat anak-anak kita sekarang bahasa gaulnya tuh kebun binatang bisa keluar semua gitu kan. Terus saya harus ikut-ikut seperti itu juga gitu ya kan namanya adaptasi Bu gitu. Jadi bisa dibayangkan bahwa ada rentang gitu ya, ada rentang sejarah yang jauh sekali, ada nilai-nilai yang ee akhirnya ee hilang begitu ya. Ee ee ee namun demikian gitu. Namun demikian, ada hal yang saya juga mencoba melihat di ruang sosial bahwa sebenarnya sih kalau bicara persatuan-kesatuan ee ee apa namanya ee ada yang bisa mengikat kita mungkin gitu e ketika kita bicara soal budaya, ketika ada kasus bahwa kebaya kita mau coba diakuin gitu oleh tetangga kita, maka kita akan ber semuanya gitu. Semua dari kita ini ee apa namanya? Ee ee punya rasa tiba-tiba bangkit tuh rasa nasionalismenya bahwa no kebaya itu adalah punya kita dan kita mencoba untuk mempertahankannya. Namun kalau kita bicara di Lemhanas ada konteks ee konteks yang kita sebut dengan kewaspadaan nasional, ada yang kita sebut dengan ketahanan nasional, gitu. Nah, kalau kita bicara kewaspadaan itu kan tentu tindakannya adalah bagaimana kita mencoba untuk mencegah. Nah, barangkali di sisi itulah yang kita mungkin harus ee punya tantangan sendiri, gitu. Jadi, jangan setelah kejadian. Kalau setelah kejadian, maka kita akan masuk dalam konteks ee ee apa ee ketahanan konteks ketahanan nasional. karena ee kita harus melihat itu PR-nya lebih besar lagi. Begitu di LEMAS kita mengenal Astagra itu ada delapan aspek gitu ya yang kita harus ee coba untuk selesaikan. Jadi tantangannya menjadi ee besar sekali. mungkin sudah bukan bentuk tantangan lagi, tapi sudah bentuknya ancaman, hambatan, masuk ke gangguan lagi. Jadi, ee bagaimana kita mencoba untuk masuknya di Patnas aja deh, di waspada kewaspadaan aja deh. Bagaimana kita mencoba melihat aspek mana dari ee negara kita ini yang lemah gitu. Di kami ada lapur tanas namanya laboratorium pengukuran ketahanan nasional. ee hasil terakhirnya bahwa dari semua aspek ketika kita bicara ideologi, kita bicara ekonomi misalnya kita bicara ee ee politik, pertahanan keamanan, geografi, demografi gitu ya, sesuatu yang given buat kita gitu. Ternyata yang paling lemah adalah dari mana? Dari budaya. Jadi, bagaimana ee hampir di semua provinsi gitu ee ee aspek sosial budaya kita lemah. Jadi, itu yang membuat bahwa enggak heran kalau sekarang ini ee kita ini melihat nih tantangannya ini semua yang ada di slide ini adalah ee semuanya akan terkait sama masalah sosial budaya. Jadi, bagaimana ee ee akhirnya itu berimbas. kita harus mengulang lagi bicara mengenai e kita harus kembali lagi ke konsensus dasar gitu ya. Kita harus bicara lagi mengenai kebinekaan, kita harus bicara lagi mengenai persatuan karena sosbot kita memang lemah di semua provinsi. Nah, bagaimana ee hal-hal ini harus dipahami oleh kita yang berada di ruang sosial gitu ya. ada ASN yang luar biasa sekali itu sebagai ee perpanjangan tangan dari ee ee negara, sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah, perannya akan ee cukup besar sekali begitu. dan kita ee ee ee mencoba untuk melihat ee membuat satu strategi. Tetapi kan harus firm dulu nih kitanya gitu, harus tahu dulu nih dari mana sebenarnya ancaman-ancamannya, tantangannya seperti apa, kenapa ee akhirnya ee begitu sulit untuk berbicara dengan ee orang-orang di sekitar kita gitu. Karena kita bisa mencoba melihat juga ada cukup banyak data bagaimana akses infrastruktur juga menjadi sulit, bagaimana disparitas pendidikannya gitu. Kalau di ASN kan enak gitu ya, bahwa ee apa namanya ee ee level gitu ya, level pendidikannya tinggi begitu. Tetapi ketika kita masuk ke ruang masyarakat ketemulah itu satu-satu masalahnya. ketemulah di mana kita mulai melihat bahwa ee ee ee kenapa harus ada ee perebutan wilayah, kenapa harus ada kenapa ee ee kita masih harus bicara bahwa masih ada ancaman suku, agama dan budaya. Bukankah Tuhan menciptakan kita itu ee ee masuk ke negara yang kita sebut dengan Nusantara dulu dengan ee heterogen gitu, dengan sesuatu yang ee berbeda-beda. Kemudian dengan manusia-manusia yang luar biasa. Namun ee kenapa makin makin ke sini makin ee makin makin sulit ketika kita bicara bahwa ee ee ee kenapa kita enggak bisa menjadi Indonesia begitu. Nilai-nilai mana yang akhirnya menjadi hilang. Jadi kalau ditanyakan bahwa Indonesia Emas 2045 gitu apa yang harus kita siapkan? Saya baca beberapa jurnal bahwa rupanya tantangan di Indonesia Emas 2045 itu justru pada soft skill. Soft skill itu bagaimana kita membangun karakter lagi. Jadi ini kita balik nih ke ee balik ke awal lagi karena kita menganggap bahwa kalau hard skill yang harus dibangun anak-anak kita itu bisa dapat di ruang belajar gitu. Namun ketika kita bicara soft skill maka itu adalah nilai yang kita bangun. bagaimana semua pribadi-pribadi kita ini punya value untuk ee memahami gitu memahami nilai-nilai kita sebagai anak bangsa. Jadi ee ee bagaimana ketika ada polarisasi sosial dan politik enggak bisa lepas gitu karena ada ee teori ekonomi ee politik itu juga mengatakan bahwa bangsa itu hanya bisa besar ee dia akan bergantung pada ee ekonomi dan politiknya. Nah, sekarang ketika kita bicara geopolitik dan geostrateginya, kita bisa lihat bagaimana kemarin kita dapat ee tarif 19 ee% namun sekarang lagi tren gitu. Ketika kita bicara bahwa oh data kita itu sekarang diberikan dan ee sebagainya, bagaimana diskusi-diskusi di ruang publik, bagaimana kepanikan-kepanikan yang sedang terjadi, begitu. Namun kita mencoba melihat bahwa dalam konteks negara begitu, tidak ada satuun negara saat ini yang tidak sedang fokus pada negaranya sendiri gitu. Jadi ee ee kita memang ee ee beruntung sekali karena ketika bicara ee teori ruang hidup ee teori ruang hidup itu dia mengatakan bahwa ee dalam satu negara itu kan harus ada wilayah, harus ada masyarakat, harus ada pemerintah, harus ada ee ada pengakuan dari negara lain. Namun ee ee ruang hidupnya kan ee ee beda-beda nih prinsipnya. Indonesia kita kita memahami bahwa ee kita punya kedaulatan gitu. kita enggak kepengin diganggu. Karena kenapa? Wilayah kita besar sekali gitu. Wilayah kita cukup luas. Jadi makhluk itu ketika ee dia harus berkembang gitu, maka dia kan harus punya wilayah yang lebih luas. Itu kenapa ee ee kita bicara di masa lalu ada program-program ee apa transmigrasi apa dan wilayah kita sangat banyak bahkan dikasih-kasih kali ke orang gitu ya. Jadi ke negara lain gitu. Namun itu kan berbeda sama negara lain. Ruang hidup wilayah mereka kecil. Sementara mereka adalah makhluk yang bertumbuh seperti kita semua. Dan mereka harus tetap ee apa namanya? ee ee mempertahankan negaranya. Dalam konteks itulah kenapa akhirnya ada ekspansi, kenapa ada perang untuk ngambil wilayah orang. karena mereka kehilangan itu ruang hidup itu juga mengatakan bahwa ee ee apa ee mereka harus tetap bertumbuh untuk mempertahankan wilayah mereka. Jadi ee hal-hal ini yang menyebabkan bahwa konflik itu. Jadi untungnya di tempat kita, let's say misalnya kemarin juga ada dinamika bangsa ketika kita melihat bahwa ada ee permasalahan perbatasan misalnya Aceh dan ee Sumatera begitu dan cukup banyak sekali ee problem-problem di perbatasan bagaimana daerah 3T itu infrastrukturnya kemudian bagaimana perbatasan wilayah dengan ee negara tetangga itu itu menjadi hal yang jadi ee PR gitu. Namun ee demikian ee kita mencoba untuk ee ee ee melihat ini ee ee dengan satu hal gitu bahwa keutuhan Indonesia itu harus ada secara individu. Ee ee ee kita kita harus punya value-nya dulu. Karena kalau bicara mengenai ketahanan nasional, maka yang terkecil itu apa? Kita akan bicara ketahanan keluarga. Lebih kecilnya lagi kita akan bicara ketahanan diri. Jadi, bagaimana konsep-konsep ee itu tertanam gitu, nasionalismenya tertanam, value-nya tertanam, bahwa ee kemudian kita punya pendidikan yang baik sehingga bisa melihat segala sesuatu tidak dengan ee parsial gitu. Next. Ee bisa dibantu. Next. Nah, ee oke. Nah, jadi kita bisa ee bisa bisa ee bisa melihat coba saya lihat. Jadi kita bisa melihat bahwa ini tadi bahwa dalam organisasi gitu, dalam organisasi kan selalu ada budaya ketika kita masuk ke ruang-ruang kita sendiri nih. Kita bicara mengenai ruang ASN sekarang ini gitu bahwa ee bagaimana nilai-nilai kebangsaan itu juga mulai hilang nih. Makanya sangat diperlukan sekali pemahaman daripada pimpinan dari organisasi itu untuk ee ee ee mereka membuat satu sistem yang baik gitu sehingga ee apa namanya ee orang-orang di bawahnya itu bisa memahami visi dan misinya. penting sekali ee dalam konteks negara nih kita bisa melihat bahwa asta cita kita kita benar-benar di-sharekan kita benar-benar tersosialisasikan gitu ee asta cita itu supaya apa? Supaya kita semua memahami mau ke mana kita berjalan ya. Jadi setiap setiap kementerian lembaga itu akan tahu bahwa oh tugas saya adalah menyelesaikan Asta Cita ke satu dan du tugas saya 3 dan 4. Dalam konteks yang lebih kecil di tempat kita bekerja ee pimpinan juga harus ee memahami itu bahwa ee visi misi itu harus diketahui hingga ee level-level yang terkecil gitu. Kalau enggak, maka ee akan banyak sekali ee ee hal-hal yang ee terjadi benturan ya, terjadi benturan bahwa ee stafnya enggak paham mengenai apa-apa yang harus dilakukan terus kita mau ke mana. Let's say sampai orang yang terkecil begitu ya. Jadi bagaimana kita melihat ee permasalahan mungkin bukan pada kita yang berada di ee masalahnya beda-beda ya. Kalau kita bicara di daerah 3T atau kita yang berada di ibu kota seperti ini tantangannya tentu ee sangat berbeda di mungkin di daerah perbatasan tantangannya adalah infrastruktur gitu. Namun ketika kita bicara penerapan nilai-nilai kebangsaannya ya ee ee tentu akan ada pelatihan seperti ee yang sekarang kita lakukan ini. Next ya. Ee nah bagaimana apa yang kita harus lak ketika nilai-nilai kebangsaan dalam ee dalam ruang kerja begitu ya. Ee ada integritas, ada etika kerja. Ada hal yang penting sekali yang harus ee dipahami bahwa ee ketika kita bicara etika kerja adalah sesuatu yang kita sepakati ya. Jadi kalau kita bicara overall ee etika itu maka etika kita sebagai bangsa Indonesia the very simple misalnya ketemu sama orang harus senyum, kita harus salaman, dan sebagainya. hal-hal yang ee ee bagi kita itu jadi budaya karena itu dilakukan diberikan contoh oleh orang tua kita. Namun dalam konteks di kantor misalnya ee etika itu harus dipahami satu ee sama lain ya karena ee kita enggak mungkin bisa ee menjadi ee menjadi produktif bisa tahu gitu kalau etikanya enggak pas. Ada loh kantor yang ee ketika kita mau bicara sama pimpinan kita kan biasanya berjenjang gitu. Namun komunikasi yang terjadi searah atau menjadi ee ee hanya searah aja begitu atau dua arah. Rasanya sih sudah enggak enggak apa ya enggak enggak enggak zaman lagi ketika kita bicara komunikasinya searah itu sama dengan dalam konteks ee negara kita sudah enggak bisa lagi ee ee ee melihat ee informasi itu hanya searah karena kenapa? Ruang medsosnya besar sekali gitu. kita bisa berkomunikasi langsung dengan tidak satu ke satu atau ee dua ke satu begitu, tetapi sangat multi gitu, sangat multi sekali. Di mana akhirnya bias-bias informasi itu bisa ee ee bisa menyebabkan ee perpecahan gitu ya, bisa menyebabkan perpecahan yang ee saya kira itu juga bukan hal yang mudah ketika itu terjadi di ee ruang kerja kita. Next. Nah, bagaimana kita mencoba melihat tadi budaya organisasi, siapa-siapa yang akan membuat ee keputusan bagaimana ee ee pola-pola rekruitmen. Saya tahu persis bahwa untuk menjadi ASN itu adalah hal yang sulit sekali untuk bisa tersaring. Tapi ee kita happy ya, kita happy sama proses-proses mekanisme yang ee berjalan. Karena kenapa? Kita memang harus cari orang terbaik. Jadi harus cari orang terbaik karena kenapa? Karena begitu banyak hal yang akan dilakukan ketika kita sudah menjadi ee kita menjadi ee bagian dari negara ini yang akhirnya juga punya tugas yang besar sekali gitu. Maka perlu untuk mencari orang yang baik ee pendidikannya yang baik, kemudian orang yang punya nilai, orang yang memahami wawasan kebangsaan dengan baik. Jadi ee ee tidak sulit untuk melihat segala sesuatu itu secara integral, secara holistik, kemudian menyelesaikan permasalahan secara komprehensif. Sering ya kita ee ketemu nih di ruang sosial bahwa ee atau di organisasi kita misalnya di luar ee organisasi tempat kita main gitu. Kalau orang menyelesaikan permasalahan karena dia hanya melihatnya parsial, satu masalah selesai, satu masalah muncul gitu ya. Jadi ee enggak secara komprehensif untuk mampu menyelesaikan. Oleh sebab itu, bagaimana ASN ini menjadi bagi saya ini menjadi hal yang ee punya peran besar sekali karena orang-orang terpilih gitu ya. Enggak ee orang-orang terpilih yang ee ee apa namanya ee kita ee sudah mampu untuk ee bisa ee ee melihat segala sesuatu begitu di ruang sosial kita dengan baik. Bagaimana tadi dikatakan bahwa ee kolaborasi kita suka bilang bahwa oh ada pentaelix dan sebagainya sekarang sudah masuk Dexa Helix gitu. Bagaimana ee ee apa ee kolaborasi sudah harus dilakukan. Mas Sukman tadi mengulang-ulang cerita bahwa lu kalau jalan sendiri nanti jalannya cuma cepat loh gitu. Tapi kalau mau jalan jauh harus sama-sama. Kita jalannya harus jauh soalnya 2045 sebentar lagi gitu sebentar lagi gitu. Namun ee sudah siapkah kita sudah siapkah kita ke masuk ke Indonesia emas? Apa yang sudah kita lakukan gitu? Seberapa kita mampu untuk mengimplementasikan Indonesia emas itu yang seperti apa? Beberapa ee kita sedang ee apa namanya? Menghadapi tantangan bonus demografi juga. Nah, apa yang harus kita lakukan semuanya? Sesiap apa kita? Bagaimana dengan ee SDM-nya kita? Bagaimana dengan kita sebagai individu? semampu apa kita untuk tetap bisa survive eh pada ee Indonesia e di Indonesia 2045 lagi. Konon kabarnya akan mulainya di ee di tahun 2030, 5 tahun lagi kita sudah akan memasuki ee ee apa namanya ee hal yang ee ee ee di mana ee semua yang kita sebut sekarang generasi Z, milenial gitu itu akan ee ee masuk untuk ee menggantikan ee seperti ee generasi yang kolonial nih. Kalau kolonial seperti saya nih itu sudah sudah mulai tergantikan seberapa siapnya gitu. Saya meyakini bahwa ASN yang masuk-masuk sekarang kan lagi muda-muda semua nih tantangannya akan menjadi e menjadi besar sekali karena cukup banyak negara yang ee apa tidak bisa memanfaatkan bonus demografinya dan mereka jadi colaps. Tapi Korea Selatan adalah contoh satu negara yang dia ee bisa hidup dengan baik gitu ya, bisa hidup dengan ee dia bisa mengembangkan bonus demografi dengan sangat pandai karena mereka masuk lewat mana? Lewat budaya. dan kita lemah dalam budaya. Itulah sebabnya bahwa demam Korea, demam Kphop itu dengan mudah sekali masuk itu bagaimana budaya ee bagaimana kehidupan sosial kita ee benar-benar terporak-porandakan ee ee karena akibat ada media teknologi itu yang saat ini ee ada di kita. Next, bagaimana peran ee ASN dalam mewujudkan persatuan menjadi agen perubahan yang positif? nya gitu loh. Tetapi berguna bagi orang lain itu adalah satu tantangan kita. Berguna bagi lingkungan kita itu adalah tantangan kita. Bagaimana bisa membangun hubungannya yang harmonis di lingkungan kerja dan ee masyarakat gitu. Bagaimana orang bisa ee mendukung ee ee apa ee pembangunan nasional. kita memahami semua konsep asta cita itu dengan baik dan kita bisa masuk yang mana nih dari delapan ini mana nih ee apa ee di kementerian dan lembaga kita kan sudah menentukan nih di mana kita bekerja. Oh, saya harus membangunnya dari sisi hilirisasi misalnya hilirisasi industri hilirisasi harus dilakukan so UMKM harus hidup. Nah, so kita perannya ada di mana? Kita coba untuk ee mengambil peran-peran itu. Next. Bagaimana membuat pembangunan nasional yang merata? infrastruktur menjadi satu tantangan ya, bagaimana pembangunan antar daerah, bagaimana ee program desa mandiri, dana desanya sudah cukup besar sekali. Bagaimana pengentasan kemiskinan masih ada. Ketika bicara mengenai kemiskinan, maka kita akan bicara juga mengenai pendidikan. itu adalah hal yang ee ee terkait ee satu sama lain. Ee sementara ASN adalah ee apa namanya ee ee orang-orang terpilih dengan pendidikan yang ee ee sudah tinggi yang harus diminta untuk menyelesaikan permasalahan ini di daerah terpencil itu cukup ee ee apa ya cukup berat ya, cukup untuk jadi ee jadi tantangan ya. Apalagi infrastruktur cukup banyak sekali kasus-kasus ada guru honorernya yang belum terbayar misalnya kemudian ada infrastruktur sekolah yang belum belum jadi. Ini akan menjadi tantangan sih sebenarnya ee buat kita. Next. Integritas. Integritas. Kita akan susah untuk berbicara mengenai integritas gitu. Jika kita memang enggak punya sumpahnya. jika kita enggak punya hal yang apa yang kita ee sepakati kita masuk menjadi ASN, kita sudah tahu bahwa ada hal panc ee yang yang apa namanya ee yang harus ditaati oleh ee ee ASN. bagaimana ee ee kita mencoba untuk melihat ketika ada kontestasi pemilu misalnya ada kontestasi politik, keluarga kita teribas semua satu ke A, satu ke B, media main ke A ke B dan kemudian lingkungan kita. Kemudian kita jadi enggak nyaman untuk diskusi ya karena ee mesti ramai aja diskusinya antar teman juga ramai sekali, Dok. ee ee ee sementara di satu sisi bahwa ee ada integritas yang harus dijaga oleh ASN bahwa you no kita tetap harus netral. Bahwa jika ada keributan antar sesama kita sendiri, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana? Bagaimana kita mencoba untuk mendiskusikan itu bahwa ee kalau bukan kita siapa lagi? Itu hal yang paling penting gitu ya. Jadi ee ee ketika ada kasus-kasus ada ee ASN yang mungkin terkena korupsi kemudian kolusi, bagaimana sistemnya harus dibangun? Kalau sistemnya enggak dibangun dengan baik, maka kita akan susah bicara mengenai keadilan. Bagaimana keadil, bagaimana persatuan sama kesatuan bisa didapatkan dengan baik jika keadilannya belum. Makanya ee bagaimana integritas itu menjadi hal yang paling utama ketika kita mau bicara mengenai keadilan. Karena ujung-ujungnya di persatuan dan kesatuan kalau ada yang merasa bahwa hidup ini enggak adil, ee pimpinan saya tidak adil, kemudian dia hopeless, kemudian dia enggak kepengin lagi untuk ee kerja secara ee ee profesional, kemudian malas-malasan kerja, imbasnya ke mana-mana. Makanya ada yang bilang, "Wah, kita sih enggak perlu kerja keras gitu, enggak perlu ee ee kerja capek-capek soalnya." Kenapa? Soalnya yang enggak kerja juga tetap dapat jabatan. Nah, that's problem. Ya, itu akan menjadi satu hal, satu titik yang akan besar dan akan ee menjadi masalah di ruang ee kerja kita, gitu. Terust, bagaimana kita mendapatkan public trust, kepercayaan publik. eh eh penting sekali untuk melakukan eh branding. Tadi saya lihat di depan ada banyak eh branding BPSDM. Luar biasa sekali. Kantor-kantor kita juga lakukan itu supaya apa? Makanya kita selalu bicara bagaimana kita bisa punya e public trust kalau kita enggak accountable. Bagaimana kalau kita enggak punya keterbukaan kepada publik, bagaimana bisa ee kita dapat kepercayaan dari publik kalau kita enggak libatkan publik untuk berpartisipasi. Jadi partisipasi publik menjadi penting. Persoalannya di mana partisipasi publik itu sekarang? Kenapa jadi kurang? Karena banyak hal yang menempatkan publik itu hanya sebagai pendengar atau publik itu hanya sebagai penonton, bukan pengambil keputusan. Padahal kita sudah sepakati bahwa kita adalah negara demokrasi. Orang boleh berbicara dari publik untuk publik, begitu ya. Jadi ada juga memang PR gitu ee bagaimana kita mencoba ee untuk melibatkan publik ee lebih terbuka ee ada partisipasi publik dalam ruang kerja kita begitu. mungkin bisa dibuka untuk diskusi publiknya atau mungkin dibuka ee ruang-ruang publik sehingga ee apa namanya benar-benar dapat public trust sehingga ee kita bisa membuktikan ee bagaimana integritas kita sebagai abdi negara gitu. Bahwa ini hal yang sudah kita lakukan ee ini hal yang belum kita lakukan. Hal yang sulit untuk kita lakukan yuk kita lakukan sama-sama dengan ee publik. Yuk, Anda berpartisipasi untuk lakukan. Yuk, Anda cukup tertib di jalan saja itu sudah sudah partisipasi mungkin bagi kita gitu ya. Anda membuang sampah di tempat yang baik itu mungkin ee ee sudah termasuk bahwa Anda cukup punya ee partisipasi. Tetapi kalau Anda ingin masuk dalam ruang yang lebih dalam untuk pengambilan keputusan juga saya rasa tidak ada salahnya juga begitu. Karena ee ujung-ujungnya kan semua pelayanan kita kan untuk ee mereka juga gitu ya. Jadi ee ini ada hal yang bisa kita ee ee lihat. Next. Nah, bagaimana digitalisasi? Ya, kita bisa melihat tadi dari awal saya bicaranya digitalisasi gitu. Bagaimana teknologi informasi itu harus mempermudah pelayanan publiknya. Namun ada sistem gitu ya. Ee kalau dulu sistemnya sangat birokrasi ya, sangat birokrasi sekali. Kemudian ee kita menjadi lama banget satu satu paper di di meja pimpinan satu, pimpinan dua leveling-nya ee terlalu panjang begitu. Namun ee ketika kita mencoba ini adalah efek positifnya sebenarnya dari digitalisasi. Tadi di awal saya menceritakan bagaimana ee digitalisasi itu juga bisa memporak-porandakan, tetapi bagaimana digitalisasi itu membangun sistem di kita sehingga lebih aware kita bisa satu sama lain gitu ya. Ee namun demikian kadang-kadang suka masih ada yang lambat nih gitu. Ee itu balik lagi ke SDM. Jadi ada habit yang yang memang kita harus rubah di internal ee ee ee sehingga ee apa namanya ee keakuratan data itu bisa bisa lebih cepat gitu. Kadang-kadang nih kalau kita iseng nih kita coba lihat website kadang-kadang masih ada nih informasi yang sudah lama sekali masih ada masih tayang. Kadang-kadang pejabatnya belum ganti dan ee dan sebagainya. Jadi ee penting sekali ee bahwa kita mencoba melihat bagaimana teknologi ini bisa membuat kita mendapatkan ee public trust gitu. Nah, bicara mengenai persatuannya ee tentu saja ee kita akan membuat persatuan itu tidak hanya sebatas antar ASN-nya aja, namun persatuan itu kita bisa dapat dari publik juga gitu. Ketika publ trustnya tinggi, maka secara emosional, secara pride gitu, kita akan serta-ma untuk bisa punya persatuan dan kesatuan yang ee cukup kuat karena akan lebar ya gitu. Jadi bukan hanya sebatas ASN-nya saja, namun ada terustas publik yang mendukung kita untuk melakukan hal-hal baik gitu. bagaimana di ee tuntutan tuntutan untuk ASN untuk ee ee ee harus mempercepat ya integrasinya sehingga ee publik itu ee percaya bahwa kalau saya punya masalah akan lebih cepat untuk ee diselesaikan. Nah, kita mungkin bisa ee bisa next lagi. Jadi, bahwa bagaimana ee ee ASN e membangun identitas gitu. kita melihat bahwa konsensus ee ada empat ee empat konsensus dasar. Kita habis bicara nih mengenai persatuan, nilai-nilai Pancasilanya mulai hilang apa enggak gitu. bagaimana kita mencoba untuk sebenarnya bukan soal ee ee Pancasilanya, tapi implementasinya yang akan menjadi ee ee tantangan sekarang ini. Jadi, bagaimana kita dituntut untuk mencoba karena ee kelihatan bahwa problemnya sekarang adalah di sosial budaya, maka masing-masing dari kementerian lembaga mencoba untuk ee apa namanya ee punya kreativitas sendiri ee yang akhirnya untuk meningkatkan bagaimana rasa sosial dan budaya kita itu menjadi tinggi. saya melihat bahwa sudah ada sudah ada hari kebaya misalnya atau misalnya di beberapa kantor di setiap hari Senin misalnya akan pakai kebaya. Bagaimana hal-hal kecil itu kita mencoba untuk mencoba ee melakukan itu sehingga ee kita masih punya hal yang sama untuk mengingat bahwa kita masih punya budaya loh gitu ya. Next satu slide lagi ya Mas Lukman ya. bagaimana ee kita mencoba menjaga kebinekaan, agen toleransi dan inklusivitas. Itu tadi kita sebenarnya sudah bahas dari awal bahwa toleransinya mesti tinggi. Tapi toleransi itu enggak akan bisa didapat ketika kita enggak tahu kita mau ke mana. Akan banyak sekali miskomunikasinya dalam ruang kerja kita ketika kita tidak memahami porsi kita ee masing-masing ya. Jadi ee banyak sekali pelatihan-pelatihan ya ee yang sudah dilakukan sebenarnya oleh PNS. Tinggal kita mencoba untuk membuat implementasinya ee masing-masing. Bagaimanapun ASN karena banyak sekali bagaimana bisa untuk ee kita menempatkan diri kita menjadi bridging ya antar kelompok masyarakat. Mohon diingat bahwa di kelompok masyarakat ada perpecahan, ada komunitas-komunitas yang banyak sekali sekarang ini menjadi tantangan buat kita. Nah, tuntutannya jadi bridik. Tapi itu enggak bisa selesai ketika kita sendiri ee enggak punya integritasnya. Kita sendiri tidak belum memahami bahwa konteksnya ini adalah ee begitu besarnya peran ASN. Saya berdaya guna, saya punya value sehingga saya bisa melakukan e sesuatu untuk bangsa. Ada hal yang penting sekali bahwa kita punya panca prasetia corporate ini ini bukti sebenarnya bahwa ada integritas yang kita perlu implementasikan dalam setiap dinamika kehidupan bangsa. Saya kira ee itu yang saya bisa waktunya kayaknya sudah lewat 2 menit ng Pak Lukman. [Musik] Ya, terima kasih untuk materinya Bu Tantri. Sebelum kita masuk ke sesi tanya jawab, barangkali dari Sobat ASN ada yang ingin bertanya kepada Bu Tantri bisa langsung aja mengaktifkan feature rise hand atau menggunakan kolom chat Zoom ataupun bagi sobat Esen yang tengah bergabung melalui live YouTube kami di BPSDMTIM TV bisa drop question Anda di kolom komentar YouTube. Nah, sebelum kita masuk ke sesi tanya jawab, saya mau coba ringkas terlebih dahulu apa saja sih inset yang tadi sudah kita dapatkan dari pemaparan Bu Tantri. Yang pertama kita harus aware dulu ya kalau Indonesia itu adalah bangsa yang heterogen. Kita terdiri dari ras, suku, bangsa, budayanya beragam. Jadi itu harus diterima dulu. Itu mindset yang pertama ya. Jadi enggak akan ada yang namanya similarity antara satu personal dengan personal lain. Yang kedua, ya kita lagi masuk ke era disrupsi teknologi di mana batas-batas ee dunia itu semakin kabur, semakin tidak jelas. sehingga setiap orang itu bebas untuk beropini masing-masing. Ya, kita kenal tadi ada media sosial yang membuat semua seseorang itu bisa berbagi pandangan, berbagi opini. Pada akhirnya kita juga harus hati-hati nih untuk berkomentar gitu ya. Jangan sampai komentar yang kita berikan itu menyinggung pihak lain sehingga persatuan dan kesatuan ini tidak bisa kita wujudkan. seperti itu. Dan yang terpenting adalah tadi tantangan di Indonesia Emas 2045 ternyata bukan terkait hard skill tapi soft skill. Lebih kerucutnya lagi adalah karakternya gitu ya. Tadi bagaimana peran ASN ini bisa mendukung untuk membangun hubungan yang harmonis ya di lingkungan kerja maupun di lingkungan bermasyarakat dan juga bagaimana cara kita bisa menjaga integritas. Satu pertanyaan sebelum saya lempar ke sobat ASN. Bu Tantri, kalau di unit Ibu sendiri gitu ya, contoh praktik nyata apa saja yang sudah Ibu lakukan untuk membangun hubungan yang harmonis dan menciptakan integritas di lingkungan rekan kerja antar rekan kerja maupun antar rekan kerja dengan pimpinan. Bagaimana Bu Tantri? Iya, Mas. Ee Mas Lukman. Jadi hal-hal yang sebenarnya hal-halnya sebenarnya ee sederhana ya dan itu sebenarnya ee dilakukan sih sebenarnya sama semua kantor gitu ya. Jadi kalau di lingkungan kerja itu kan satu, kita memahami dulu yang tadi saya ceritakan tugasnya kita apa, visinya ke mana, kemudian harus dilakukan apa. Ee tentu ee ee bagai ee ee bagaimana orang mencoba untuk day by day gitu ya. Day by day itu untuk ee ee bagaimana kita mencoba untuk ee melibatkan publik. Misalnya kita akan ee ee ee buat misalnya let's say kita bisa bikin event-nya. kita mau bikin event, apakah itu event-nya on air, apakah eventnya itu off air, kemudian bagaimana kalau di Lemana sendiri, bagaimana ee ee kita membuat ee ada kelas-kelas ya, ada kelas-kelas, ada kelas-kelas kecil, ada kelas-kelas kecil yang ee hanya 1 minggu gitu, 1 minggu. ee kemudian kita akan bicara mengenai diskusi kebangsaan itu melibatkan ee ee masyarakat ya dari satu kelas itu misalnya 100 orang dan itu yang ee kita lakukan untuk ee bisa ee ee memahami gitu memahami bersama-sama kita lakukan. Nah, dari situ tuh bisa tumbuh jadi banyak tuh. Heeh. dari dari kelas yang 100 orang bisa dibayangkan. Kemudian kita akan berkembang lagi, masyarakatnya makin banyak, makin banyak. Kemudian kita jadi sampailah kita pada BPSDN ini. Siap. Awalnya kan dari situ semuanya ya. Terima kasih Bu Tantri. Berarti memang dari awalnya adalah membuka ruang diskusinya dulu ya untuk tahu sebenarnya inputan apa aja yang ada di masyarakat baru kita bisa realisasikan solusi yang tepat untuk mereka. Baik terima kasih Bu Tantri untuk jawabannya. kita ada satu penanya yang sudah masuk bersama dengan kami. Saya langsung saja undang. Selamat pagi, Ibu. Silakan bisa langsung aja open mic dikenalkan nama unit kerja dan langsung saja disampaikan pertanyaannya. Silakan. Baik, terima kasih Mas kesempatannya. Suara saya masuk ya? Sudah masuk, Ibu. Silakan. Oh, iya. Oke, mohon izin ee Bu Tantri terima kasih pemaparannya. sungguh mencerahkan dan sangat menarik sekali ya topik bahasan kita pada hari ini. Ee ada tiga poin Bu sebenarnya yang cukup menarik buat saya dari materi yang sudah Ibu sampaikan. Yang pertama adalah Oh, mohon maaf sebelumnya saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Eki Bu. Saya dari UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan. Nah, ee yang pertama Bu mohon izin terkait pepatah. Jika ingin berjalan cepat maka kita bisa jalan sendiri. Tapi jika kita ingin berjalan lama alangkah baiknya jika kita jalan bersama-sama. Nah, Bu ee jika nih yang terjadi satu case yang kita ajak jalan ini enggak gerak-gerak, kita harus tunggu sampai kapan ya, Bu, untuk orang itu bergerak dan berjalan bersama kita? Karena bisa jadi ternyata yang kita ajak itu belum siap atau belum sefrekuensi dengan kita. Kemudian jika worst case lagi kita terpaksa untuk jalan dulu sendiri ee mungkin sebagai pemantik atau contoh ee tapi ternyata enggak ada yang ngikutin kita. Berarti kan kita zong ya nanti takutnya apakah kita harus berhenti. Kemudian ee poin yang kedua ada yang menarik saya terkait ee orang yang hopeless ya anggota tim yang misalnya itu hopeless dan sudah sulit ditolong gitu Bu misalnya jika kita biarkan mungkin itu bisa menghambat tim yang lain yang sudah solid. Tapi kalau misalnya kita turutin takutnya ngelunjak tapi kalau mau kita tinggalin kasihan. Nah, jadi kita harus bagaimana Bu untuk menyikapi case ini. Kemudian yang ketiga itu juga menarik Bu terkait ee menyambut Indonesia 2045 ee terkait generasi muda itu kan kita harus ee kembangkan soft skill-soft skill dan isu ini bukan isu yang terbit 1 2 tahun belakangan, tapi juga sudah lama dari saya sekolah juga sudah ada. Nah, kalau memang hard skill itu sudah diajarkan dalam rana pendidikan atau sekolah, kemudian soft skill ini kan apakah juga menjadi tanggung jawab pendidik atau ee berangkat dari keluarga atau bagaimana ya, Bu? Karena kalau misalnya hard skill itu kan mungkin ada kurikulumnya, tapi kalau misalnya soft skill itu kan aspeknya cukup banyak. Tapi siapa yang paling bertanggung jawab? Oke, terima kasih Bu Tantri. Bu Eki, Bu Tantri sebelum dijawab saya coba ringkas ya tadi pertanyaannya apa saja. Yang pertama adalah kalau misalnya yang kita ajak jalan bareng-bareng itu enggak mau gerak ya kita harus ngapain, Bu? Yang kedua, kalau misalnya kita sudah memilih
Resume
Categories