Transcript
DLuzVlAs6IE • ASN Belajar Seri 33 | 2025 - Budaya Kerja ASN: Belajar - Berkarya - Mengabdi
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0256_DLuzVlAs6IE.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format. Nama strip asal instansi sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Empat. Apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau rise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi Sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting ya. Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN Belajar. [Musik] Zaman yang terus bergerak. Sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. [Musik] Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan mengkelas dunia tekad pantang jadi ASN berkuat cita [Musik] sama [Musik] Yeah. [Musik] Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Barlah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan yang hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Berentas melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Ho ho. di sini sukses dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tujukan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi. Bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragama. mengenas penuh hati tulus membantu sesama dengan kami melayani. dengan kami melayani bangsa [Musik] H [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format. Nama strip asal instansi Sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. [Musik] Empat, apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau raise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting, ya. Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN Belajar. [Musik] Huray! Ada yang baru lagi nih di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Ruang bermain anak. Tempat yang satu ini adalah solusi bagi para orang tua yang masih memiliki anak kecil. Kita sebagai orang tua pasti khawatir ya. Apalagi kalau ditinggal kerja nih. Wah, kira-kira anak saya aman enggak ya di rumah? Kira-kira anak saya bermain atau belajar dengan baik enggak ya di rumah? Sobat ASN kalau dikirim diklat di BPSDM Provinsi Jawa Timur sekarang udah enggak perlu khawatir lagi. Karena di BPSDM Provinsi Jawa Timur ruang bermain anaknya lengkap banget fasilitasnya. Mulai ada tempat bermain, tempat tidur untuk mereka bisa istirahat, kemudian buku-buku edukatif, dan ada ruang nursery juga untuk Ibu menyusui. Kamar mandinya pun lengkap dan bersih. Dan yang enggak ketinggalan penting, Sobat ASN bisa langsung pantau lewat CCTV. Keren banget, kan? Jadi, Mommy and Daddy sekarang gak perlu khawatir lagi, ya. Mommy and daddy don't worry we are happy. [Musik] zaman yang terus tergerak Sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. [Musik] Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar pemerintahan berkelas dunia tukang tekad pantang menyerah jadi ASN berkualit [Musik] Kami mencoba menjadi yang terbaik, melayani bangsa Dengan sepenuh hati marahlah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Berentasut melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Kami dari sini dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Melayani bangsa loyal tanpa batasannya. Selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak. bekerja sepenuh hati, tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa. [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragam. Mengjas sepenuh hati, tulus membantu sesama dengan bang kami melayani dengan bangi. [Musik] Dengan mengat kami melayani Mas [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] He. [Musik] He. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia, siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar pemerintahan berkelas dunia tekad pantang menyerah jadi ASN berkuit [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan dan salam sehat untuk kita semua. Selamat datang kami ucapkan kepada sobat ASN di mana pun Anda berada baik yang telah tergabung dalam Zoom meeting maupun channel YouTube BPSDM Jatim TV. Senang sekali kembali saya Fan Patriia yang akan menjadi moderator pada ASN Belajar seri ke-33 tahun 2025 tahun ini dan merupakan persembahan dari Corpu SDIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sobat ASN, di tengah tuntutan zaman yang serba cepat, masih banyak ASN yang terjebak dalam rutinitas kerja yang tanpa semangat kerja dan juga belajar menghasilkan karya yang belum juga berdampak nyata atau bahkan merasa pengabdian hanya sebatas kewajiban saja. Padahal tanpa budaya kerja yang kokoh, birokrasi ini sulit bergerak maju dan kepercayaan publik pun terancam luntur. Oleh karenanya, dibutuhkan tiga pilar utama, yaitu belajar, berkarya, dan mengabdi untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut. Ketiganya adalah satu kesatuan yang membentuk etos dan jati diri ASN. Belajar tanpa berkarya hanya akan berhenti pada teori saja. Berkarya tanpa belajar akan kehilangan arah. Mengabdi tanpa keduanya akan kehilangan makna. Maka saat ASN menjadikan belajar sebagai budaya, karya sebagai bukti, dan pengabdian sebagai tujuan, lahirlah insan aparatur yang profesional, berintegritas, dan berdedikasi. Dari ruang kerja hingga ruang publik, budaya kerja ini menjadi cahaya yang menerangi pelayanan, menumbuhkan kepercayaan, dan menggerakkan Indonesia menuju kemajuan. [Musik] Sobat, untuk membuka webinar ASN Belajar ke-33 tahun 2025, marilah kita dengarkan terlebih dahulu opening speech yang akan disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, S.PM. PMP [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini Kamis tanggal 28 Agustus tahun 2025, ASN belajar telah memasuki seri yang ke-33. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami, kami selalu berkomitmen sekaligus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-33 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka melakukan intropeksi kolektif tentang seperti apa budaya kerja ASN selama ini dan merancang ikhtiar strategis ke depan untuk meningkatkan kualitas budaya kerja tersebut. Kita sadar sepenuhnya bahwa di tengah dinamika zaman yang ditandai oleh disrupsi teknologi, perubahan sosial, serta tuntutan akuntabilitas publik yang semakin tinggi. Peran ASN sebagai penggerak birokrasi menjadi sangat krusial. ASN bukan hanya pelaksana kebijakan, tapi juga penjaga integritas, penjamin pelayanan publik, sekaligus motor inovasi pembangunan. Dalam situasi ini maka budaya kerja ASN akan menjadi ruh birokrasi. Tanpa budaya kerja yang sehat, profesional, dan berorientasi pelayanan, birokrasi akan kehilangan jati dirinya. Karena tema ini sangat tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN Belajar seri ke-33 tahun 2025 ini mengangkat topik budaya kerja ASN, belajar, berkarya, dan mengabdi. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik ini nanti akan dibahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sabat ASN di seluruh tanah air berbicara tentang budaya kerja ASN. Sejatinya kita sedang berbicara tentang jantung dari sebuah bangsa. ASN bukan hanya aparat administratif, tapi juga penjaga harapan rakyat dan penggerak roda pembangunan. Budaya kerja ASN adalah DNA yang membentuk bagaimana kita belajar dengan tekun, berkarya dengan tuntas, dan mengabdi tanpa batas. Dalam era disrupsi saat ini, ASN tidak cukup hanya menguasai aturan dan prosedur. ASN dituntut untuk memiliki etika pelayanan, semangat inovasi, dan integritas yang kokoh. Tema kita hari ini, belajar berkarya mengabdi adalah mantra transformasi ASN. Belajar karena dunia berubah lebih cepat dari yang kita bayangkan. ASN harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Berkarya karena pengetahuan tanpa karya hanyalah wacana. ASN ditantang untuk menghasilkan inovasi, solusi, dan kebijakan yang nyata menyentuh kehidupan masyarakat. Mengabdi karena pada akhirnya tujuan tertinggi ASN adalah menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengabdi adalah bahasa cinta seorang ASN kepada tanah airnya. Sahabat ASN, kita sedang menapaki jalan panjang menuju Indonesia Emas 2045. Saat itu republik ini akan genap berusia 100 tahun dan ASN hari inilah yang akan menjadi arsitek peradaban menuju abad emas tersebut. Untuk sampai ke sana, kita membutuhkan ASN yang kompeten sekaligus berkarakter. ASN yang melek digital namun sekaligus menjunjung tinggi moral. ASN yang mampu berpikir global, namun sekaligus bertindak lokal. Budaya kerja ASN haruslah menjadi budaya inovasi, kolaborasi, dan integritas. Hanya dengan itulah kita bisa memastikan bahwa setiap tetes keringat ASN menjadi cahaya bagi kemajuan bangsa. Sesungguhnya budaya kerja adalah denyut nadi yang menghidupkan sebuah organisasi. Ia bukan sekedar aturan tertulis, melainkan kumpulan nilai kepercayaan, kebiasaan, dan perilaku yang tumbuh dihidupi bersama. Dari situlah lahir cara kita bekerja, cara kita berinteraksi, dan cara kita menyelesaikan tugas kita sehari-hari. Budaya kerja ibarat cermin jiwa organisasi yang membentuk lingkungan, mempengaruhi mentalitas, dan menentukan suasana kerja. Ketika budaya kerja sehat dan kuat, maka setiap individu akan bekerja dengan semangat, setiap tim bergerak dengan harmoni, dan setiap kebijakan lahir dengan makna. Para ahli manajemen menyebut bahwa budaya kerja sebagai the invisible hand, tangan yang tak kasat mata yang mengarahkan perilaku, memberi identitas sekaligus menjadi perekat kolektif dalam sebuah institusi. Budaya kerja adalah roh yang menyalakan api dedikasi, menjadikan pekerjaan bukan sekedar kewajiban, melainkan ibadah dan pengabdian. Maka membangun budaya kerja yang unggul berarti menyalakan ober peradaban birokrasi. Ia bukan hanya tentang what we do, melainkan how we do it with values, with respect, and with purpose. Saat ASN di seluruh tanah air, ASN adalah mata air peradaban. Setiap pelayanan yang tulus adalah tetes embun yang menyejukkan rakyat. Setiap karsa yang nyata adalah sungai yang mengalirkan harapan dan setiap pengabdian adalah samudera luas tempat bangsa ini berlabuh. Mari kita jadikan budaya kerja ASN sebagai energi kolektif untuk membangun birokrasi yang lebih profesional, adaptif, dan berintegritas. Karena pada akhirnya ASN yang berbudayalah adalah ASN yang belajar tanpa henti, berkarya tanpa pamri, dan mengabdi tanpa batas. Sahabat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita sebagai ASN Indonesia membangun dan mengembangkan budaya kerja yang berakar pada nilai luhur bangsa, berorientasi pada pelayanan publik, dan bertumbuh seiring denyut nadi perubahan zaman. Nah, untuk membahas cerdasan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber hebat yang luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat TN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. Ilham Sentosa, SSTP, MPA, PhD. Beliau adalah guru besar sekaligus senior konsultan di University of Kuala Lumpur, Malaysia. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu Dr. Bawinda S. Lestari, SH, MC. Beliau seorang akademisi, pakar psikologi organisasi. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada yang terhormat Ibu Husna Marzuko, S, M.M. Beliau adalah seorang trainer, konsultan, coach, dan motivator. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-33 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas opening speech yang telah disampaikan oleh Bapak Dr. Ramlianto, S.MP. Nah, sebelum kita berlanjut pada sesi utama pada ASN Belajar seri ke-33 tahun 2025, kali ini kami informasikan bahwa saat ini Sobat ASN sudah dapat melakukan presensi pada laman semesta Bangkom. Sekali lagi sudah bisa melakukan presensi dalam laman semesta Bangkom. Di awal tadi telah kami tampilkan bagaimana caranya dan link presensi dapat Sobat ASN lihat pada running yang ada di bawah. Nah, itu adalah update running di mana Sobat SN dapat melihat bagaimana caranya untuk dapat melakukan presensi. kolom chat Zoom dan juga pin chat YouTube BPSDM Jatim TV juga telah kami sediakan bagaimana caranya melakukan presensi dan dikarenakan karena traffic presensi yang sangat tinggi saat ini. Bagi sobat ASN yang masih belum bisa mengakses presensi dapat mencoba kembali secara berkala selama mengikuti ASN belajar seri ke-33 tahun 2025 kali ini. [Musik] Baik, tema kita kali ini adalah ASN di mana harus belajar, berkarya, dan mengabdi. tiga poin penting dan telah kita hadirkan narasumber secara virtual yang telah jauh-jauh hadir untuk dapat menjumpai secara online kepada seluruh sobat ASN di mana pun berada. Saya ingin menyapa terlebih dahulu kepada narasumber yang pertama yaitu Profesor and Senior Consultant University of Kuala Lumpur, Malaysia Prof. Dr. Ilham Sentosa, SSTP, MPA, PhD. Halo, selamat pagi, Prof. Selamat pagi. Suara saya terdengar baik. Sudah terdengar dengan jelas. Apa kabarnya, Prof, hari ini? Kabar baik, alhamdulillah. Luar biasa. Boleh tahu saat ini berada di mana, Prof? Posisi pagi ini di Kuala Lumpur. Wow. Kuala Lumpur. Bagaimana cuacanya hari ini, Prof? Cerah. Cuaca sangat cerah pagi hari ini. Luar biasa. Terima kasih atas waktunya menyempatkan diri untuk dapat berbagi ilmu dengan Sobat A di Indonesia. Dan waktu kami persilakan. Baik, terima kasih. Ee bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee selamat pagi. Ee salam sejahtera untuk ee kita semua. Ee terlebih dahulu saya sampaikan ucapan terima kasih kepada BPSDM Jawa Timur. Ee pagi hari ini e kita sama-sama belajar nih ya. Kita sama-sama belajar ee sama-sama berkarya dan juga ee kita bungkus semuanya dalam kerangka pengabdian ya. Dalam kerangka pengabdian. Ee begitu saya dapat topiknya ini belajar berkarya mengabdi. Wah, ini tiga tiga item yang ee betul-betul ee menjadi apa ya menjadi se ee suatu kesatuan ya, satu kesatuan yang betul-betul ee diperlukan pada saat sekarang. Bagaimana cara kita untuk ee menjawab tantangan ke depan ya seperti tadi yang telah disampaikan oleh Pak Kaban. Eh sebelumnya izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pak eh Ralianto ya, Pak Dr. Rianto sebagai Kepala Badan BPSD Jawa Timur yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk ee pada pagi hari ini kita sama-sama belajar ya, sama-sama berkarya dan juga sama-sama mengabdi nih. Nah, oke. Baik eh teman-teman SN se seusantara pada kesempatan pagi hari ini saya ee izinkan saya memperkenalkan diri Ilham Sentosa. Pada saat ini saya profesor di University Kuala Lumpur Business School. Emm kita ketahu bersama bahwa eh ketika kita bicara tentang ee budaya kerja ya, budaya kerja tadi telah disampaikan oleh Pak Kaban bahwa ee tema kita pada pagi hari ini adalah berbicara tentang budaya ya. budaya. Dan saya mencoba melihat bahwa ketika kita berbicara tentang budaya, tentu ee keinginan dari kita bersama ya adalah bagaimana supaya semua kita champion. Nah, ini tadi. Jadi saya coba mengangkat bahwa ee ketika kita berbicara tentang budaya kerja, ketika kita tentang berbicara tentang berkarya dan juga mengabdi, tentu ee ada kerangka dasar yang yang saya yakin semua ee ASN pada saat ini ee ingin untuk e champion dan pertanyaannya adalah sustainability bagaimana untuk bertahan. Nah, ini yang yang se ee pada pagi hari ini saya akan menawarkan beberapa beberapa ee bukan hanya konsep sebetulnya, beberapa ee tips ataupun teknik yang sudah kita yang sudah kita ujikan ya, sudah kita ujikan di beberapa tempat ya, di beberapa tempat, beberapa instansi yang se nanti akan saya coba paparkan satu persatu em untuk menjawab e berbagai tantangan bahwa ee dengan segala ee bentuk ee peraturan ya ee regulasi dan kemudian keadaan di sekeliling kita ee dan juga sumber daya yang kita miliki di sekeliling kita tentu ee ketika kita bicara tentang ASN sebagai employee dan juga ada keyword tentang Sability champion ini yang saya coba ramu untuk pada saat sekarang bahwa eh belajar bekerja mengabdi tiga ini apabila kita jadikan sebagai satu kesatuan ini akan menjadi ee ee strategi yang menarik ya, strategi yang efektif untuk kita menjadi ini tadi yang saya sampaikan di awal tadi yaitu menjadi eh employee yang sustainability champion. Nah, ketika kita bicara tentang sustainabil champion eh bagaimana kita untuk sustain, bagaimana untuk kita bertahan. Nah, ini yang yang pada pagi hari ini ya menjadi sepuk konsep utama, pemikiran utama yang akan saya ajukan ya saya tawarkan ke teman-teman SN semua bahwa ee kita ketahui bersama bahwa ee ASN dengan se ee lingkungan yang sudah mulai berubah ya dari jam 09.00 ke jam 09.00 pagi ataupun 8.00 pagi ke 5 petang sekarang sudah merubah konsepnya yang ee kita ketahui bersama bahwa ada Gek ekonomi, kemudian ada multitasking ya, kemudian ada remote walking. Hal-hal seperti ini yang yang merupakan peluang ya peluang bagi untuk bagaimana menjadi sustainability champion itu tadi. Ini bahasanya keren nih sustainability champion. Nanti mereka akan bertanya nih, Prof. Ini bahasanya nih sangat-sangat luar biasa. tetapi apa yang harus kita lakukan dan bagaimana kita melihat ini menjadi ee apa ya menjadi ee kesempatan peluang untuk kita melihat bahwa ee ASN ternyata mampu dan lebih dari cukup untuk kita melakukan hal tersebut. Nah, teman-teman semua saya catatkan tentang satu konsep yang kita namakan sebagai social bus learning. di social busnis learning ini budaya kerja saya yakin sebetulnya sudah ada di e di lingkungan kita, di keseharian kita. Nah, hanya saja eh social busnis learning ini menjadi ee tren ya, menjadi tren yang harus ee kita pahami bersama apa itu social busis learning dan eh bagaimana ke depannya kita meng eh eksekusi social busnis learning ini sebagai eh platform ya, sebagai platform yang bisa kita ee sepakati bersama bahwa dengan social bu learning ini kita bisa belajar ya, bisa berkarya dan mengabdi. Nah, itu tadi em ketika saya dapat ketiga topik ya, ketiga item ini itu saya berpikir bahwa ini kita pakai resep yang mana satu nih, mana yang paling enak, mana yang paling ee mendekati praktis ya. Karena ee sebagai akademisi tentu e tugas kami adalah melihat ee tips-tips ataupun teknik-teknik mana saja yang sudah kita uji cobakan. Dan kemudian se kita melihat bahwa situasi di birokrasi Indonesia, birokrasi di daerah ya, bahwa ini loh yang yang se mendekati ini yang se antara teori dengan praktisnya itu tidak terlalu jauh gitu gap-nya dan kemudian ee mengerucut kepada satu konsep ternyata social busnis learning ini bisa menjadi budaya kerja ya yang itu tadi ketika ee ASN ya ketika ASN memahami social busnis learning ini em tentu itu bisa lebih optimal lagi ya dalam kerangka itu tadi belajar, bekerja, dan juga mengabdi. Baik, ketika kita bicara tentang social bus social busnis learning ya, social business learning di kita singkat aja ya SBL ya, social business learning. Nah, dalam social bus learning ini yang menjadi kerangka pemikiran utama yaitu adalah sustainable development. Nah, ini teman-teman yang sudah bermain dengan SDG tentu e lagi pada senyum-senyum nih Prof. bercerita tentang SDG. Betul. Saya lagi bercerita tentang SDG. Saya lagi bercerita tentang bagaimana mengimplementasikan SDG dalam keseharian ASN dan kerangka itu tadi kerangka belajar, bekerja, dan juga ee mengabdi. Kenapa saya pakai eh social business learning? Pertama adalah peran kita ya. Perabator ya. Peran kita sebagai kolaborator. Nah, ini yang menjadi eh unic selling point. Inilah yang menjadi ee ee potensi potensi awal bahwa ternyata kita di dalam birokrasi kita mempunyai ee power ya ataupun mempunyai eh responsibility bagaimana untuk kita melakukan kolaborasi ya. Bagaimana kita me apa namanya? bagaimana kita me ee lihat ya, bagaimana kita melihat bahwa item-item yang ada di sekeliling kita ya, sekeliling kita itu merupakan sebagai potensi dan itu menunggu sentuhan ya sentuhan dari eh ASN, sentuhan dari kita. Nah, eh social busnis learning berbicara tentang collaborations for sustainability. Bagaimana kita melihat se pootensi yang ada di sekeliling kita. bagaimana kita melihat se ee item-item yang ada dari perspektif internal dengan eksternal ya. internal eksternal untuk kita ee ini langsung kita langsung kita mengerucut ke beberapa ini ya beberapa keyword yang ya keword yang akan saya ee sampaikan satu persatu tadi kan tentang social busnis learning dan kemudian kita sebagai kolaborator ya kita sebagai kolaborator dan kemudian berikutnya adalah desaining bisnis ekosistem Nah, bisnis ekosistem ini tentu tidak hanya berbicara tentang sektor private, tetapi di sektor publik ya, ekosistem yang ee ekosistem yang merupakan tugas utama kita untuk ini, Teman-teman. Kalau ngelihat di slide-nya itu kan dari sebelah kiri sebelah kanan bagaimana ekosistem yang sebelumnya tidak ada menjadi ada ekosistem yang ee bergerak ya bergerak ee sebelumnya mungkin lambat ya sebelumnya lambat dan kemudian kita sebagai ASN melakukan percepatan dengan ekosistem tersebut. Nah, sebetulnya ini yang yang menjadi ee daya tarik inilah yang menjadi tantangan bagaimana kita dalam budaya kerja kita ya melihat bahwa ini loh yang harus kita lakukan. Karena selama ini ketika kita melakukan pekerjaan tentu ee kita berdasarkan se apa namanya? Berdasarkan sejob descriptions yang kita punya. Tetapi ee sedikit yang ingin saya tambahkan di sini bahwa dengan social busnis learning ya, bagaimana kita membuat desain dari ekosistem tersebut. Bagaimana ketika kita melakukan transformasi ya yang kita ee ramu dengan creativity dan innovation. Ada sebuah kreativitas di situ ada sebuah innovation-nya. Sebetulnya para teman-teman ASN kita semua nih ee bisa kita katakan pada jago semua gitu loh. Nah, saya sering sering se apa namanya? Sering seapat ee apa namanya assignment-assignments ya. Sering dapat beberapa ee tugas-tugas yang mengatakan bahwa Prof kan e kita ingin buat project ini, kita ingin melakukan investasi di area di area ini, kita ingin se melakukan se apa namanya? eh installation, kita mau install sebuah ee misalnya ee project di kawasan ini. Nah, itu hal yang saya lakukan pertama kali adalah saya terus selalu langsung melakukan kontak ke teman-teman di daerah dan kemudian ketika ketika di awal diskusi aja mereka sudah langsung bilang, "Wah, jangan khawatir Prof. Ilham kita tahu bagaimana melakukannya. Ini harus ke sini, ini ke sini, ke sini, ke sini, ke sini." Dan ternyata teman-teman di lapangan itu lebih dari mampu, lebih dari cukup. Saya yakin teman-teman pada setuju dengan apa yang saya sampaikan barusan bahwa memang ternyata di lapangan kita mengetahui, kita lebih tahu apa yang terjadi sesungguhnya di lapangan dan ee termasuk tantangannya seperti apa, peluangan peluangnya seperti apa. Tentu kita lebih mengetahui yang kondisi di lapangan. Nah, apa yang harus kita lakukan berikutnya dalam rangka meramu itu tadi nih, meramu ee potensi-potensi tersebut menjadi budaya kerja. Nah, membuat sebuah ekosistem ya, membuat ekosistem yang berkelanjutan dan bagaimana supaya ee ide-ide tersebut tidak hanya putus di ataupun ee kerangka berpikir tersebut tidak putus hanya sebatas konsep saja. Nah, ini yang yang ingin saya ee apa ingin saya tambahkan dari social busnis itu tadi. Emm dalam budaya belajar ya. Dalam budaya belajar tentu kita ketahui bersama bahwa ada ada teknik-teknik, ada konsep, ada ada teori, ada praktik yang harus kita yang harus kita bersama bahwa dengan ada ide-ide tersebut ee bagaimana kita ya melihat bahwa ee membuat sebuah ekosistem tersebut tidak hanya berdasarkan ide saja, tetapi bagaimana ee item-item ataupun puzzle yang ada di sekeliling kita itu bisa kita dekatkan ya. kita dekatkan dan kemudian menjadi sebuah ee ini ya menjadi sebuah ee gunat ataupun timeline project. Nah, dalam social busnis learning ya, dalam social busnis learning kita ee kita lihat bahwa ee designing ekosistem ya, desaining ekosistem ini menjadi ee tugas kita yang paling utama. Nah, dalam kerangka budaya belajar bekerja ataupun mengabdi ketika itu tadi, desain ekosistem inilah yang se saya tawarkan kepada teman-teman yang pada pagi hari ini mengikuti ee Zoom ya ee yang ee kita sebetulnya sudah punya potensi itu gitu loh. Sudah punya potensi itu. Hanya saja ya, hanya saja ee ketika kita melakukan eksekusi. Nah, eksekusi sering kita terhambat ya. sering kita terhambat dengan se ee kadang-kadang se bagaimana menghadapi seregulasi ataupun sebagaimana kita membawa partisipasi masyarakat ya masyarakat ke dalam se ekosistem ataupun ke dalam projek yang kita tawarkan itu tadi. Nah, ketika kita mendesain sebuah ekosistem tentu diperlukan ee pilihaian. Nah, inilah yang se menjadi sekunci utama dalam social business learning. bagaimana kita melakukan riset di awal ya, melakukan riset ini kalau saya lihatin secara konsepnya tentu teman-teman yang sudah mengetahui proses riset ya ini wajib ya dan harus kita lakukan bagaimana kita ee membuat schedule terstruktur ya. Jadi di awal itu ketika diproses perencanaan ya kita enggak usah pakai konsepsi yang yang ribet, kita enggak usah pakai tapi teman-teman harus memahami bahwa di awal tentu proses riset tetap harus kita jalankan ya. ketika kita mendesain sebuah ekosistem, bagaimana digital skills ya, digital skills sekarang ini wajib ya, sekarang ini wajib ya harus kita ee masukkan ke dalam ke dalam elemen dari desain ekosistem tersebut ya. sistem tersebut. Ini ada beberapa ee beberapa teknik ya, beberapa teknik ketika kita mendesain ekosistem itu tadi ya, pend ekosistem tentu dengan adanya riset itu kemampuan riset dan kemudian kemampuan se digital ya kemampuan digital. Nah, ini kan sebetulnya merupakan proses pembelajaran gitu loh. Proses pembelajaran bagaimana kita melihat ee ee item-item yang ada di ekosistem. Jadi ekosistem itu kayak puzzle nih. Sekarang kita mendekatkan dan bagaimana kita membuat membuat siklus dari ekosistem tersebut. Nah, tantangannya di situ gitu loh. Jadi ketika kita memahami proses risetnya kita memahami proses ee digitalisasinya ya digitalisasi. Nah, ini kan ee ee apa namanya kerangka-kerangka berpikir ya. Kerangka berpikir yang di ini lagi sedang hits pada saat sekarang itu bagaimana menjadi se keseharian mereka. Nah, tadi kita kembali lagi ke tentang social bus learning dengan adanya ee ee ekosistem ya, dengan adanya ekosistem dengan adanya desaining ekosistem yang sudah ee terlihat depan mata kita. Nah, ee saya ee menawarkan lagi nih ya, saya menawarkan lagi ee kerangka berpikir yang kita namakan sebagai desain thinking ya, menjadi sistem thinking. Nah, ini yang se menarik ya menarik nanti teman-teman silakan segogle ya silakan Google ataupun silakan melakukan ee eksplorasi. eh design thinking itu adalah ketika kita berpikir dan kemudian bagaimana berpikir tersebut kita translate kan menjadi sistem thinking. Nah, ketika dalam ekosistem tersebut mendesain ekosistem ini sudah merupakan sistem thinking-nya gitu ya. Sistem thinking-nya ini kalau saya buka nih kira-kira seperti ini nih. Wah gila nih profilnya pagi-pagi sudah ngelihatin ini anak panahnya ke sini, anak panah ke sini, anak panah ke sini. Tetapi memang seperti inilah gitu loh seperti ininya. Ini kan sama-sama menarik apabila kita belajar ya kita belajar bahwa ternyata dengan ee desain thinking atau system thinking ini ya ee ekosistem itu memang seperti ini polanya gitu loh ya. Seperti ini polanya. Ee wah ini ee tentu ee banyak melibatkan melibatkan e komponen-komponen ya baik yang ada di masyarakat ataupun di organisasi. Tapi memang seperti inilah yang kita tawarkan ya. Seperti ini yang kita tawarkan. bagaimana dengan apaanya dengan kompleksitas ya dengan kompleksitas yang ada di depan mata kita. Nah, inilah sebetulnya yang menjadi ee tantangan menarik bagi kita ya bagi ASN untuk ee memasukkan setiap komponen. Jadi ibaratnya kalau ee ketika kita membuat desain ekosistem tersebut ini kita pakai istilah Pak Gada nih gitu. apa mau gua ada nih. Nah, ini yang yang setiap kali saya diskusi dengan teman-teman ASN, dengan teman-teman yang ee akan melakukan projek, saya bilang, "Kita desain ekosistem dulu, yuk." Saya bilang gitu loh. Kenapa? Dengan desain ekosistem ini akan sangat menarik nanti ketika kita membuat perencanaan. Jadi, sebelum perencanaan ketika didesain ekosistem, kita sudah sama-sama belajar. Yuk, kita buka apa namanya papan tulis gede ya. Terus kemudian kita sama-sama masukin ekosistemnya apa saja. Inilah sebetulnya yang yang se apa ee bisa ee menarik ya menarik ee bagi kita semua bahwa ketika kita jadi setiap ee variabel-variabel yang ada di dalam dalam ekosistem tersebut ini kita masukin ke dalam sistem thinking, kita masukkan ke dalam ke dalam ee kerangka berpikir. ini ini baru agak berpikir belum kita eksekusikan apa setiap ee variabel-variabel yang ada di dalam dalam sistem thinking ini ee nanti akan berhubungan dengan pembiayaan, berhubungan dengan e resources ya, bahkan berhubungan dengan kemampuan dari kemampuan dari masyarakat akan berhubungan dengan jadi semuanya masuk menjadi ee variabel dalam ekosistem. Nah, nih pagi-pagi nih Profilang udah udah ngelihatin banyak ee variabel-variabel yang banyak. Tapi inilah sebetulnya ee budaya ya budaya yang se ee rahasianya itu ada di tangan kita ini. Kita sebagai ASN kita yang melakukan desain dari ee ee variabel-variabel yang kita dekatkan, variabel-variabel yang kita hubungkan satu dengan lain ya. Variabel-variabel yang nantinya ketika ketika nanti kita ee apa namanya? ketika kita simulasikan ya kita simulasikan ee project ataupun projek ataupun ide tersebut bisa berjalan meskipun ee pelan ya menjadi cepat menjadi cepat dan itulah yang se kita apa namanya kita ramu dalam tadi awal tadi ya dalam sebuah konsep yang kita namakan sebagai social business learning kita melihat bahwa untuk sustain ya untuk sustain tentu ada komponen-komponen apa saja yang berada di sekeliling kita baik dari segi internal ataupun ataupun eksternal apa sajakah menjadi tantangan. Jadi semuanya masuk nih, semua masuk yang kemudian nanti kita modelkan ya, kita jadikan sebagai sebuah ee apa ya, sebuah ee rantai pasok ya, sebuah ee siklus yang nantinya ketika ekosistem tersebut ee kita ramu, kita desain, dan kita jalankan tentu ee si ya kitalah yang sebagai ini kita sebagai kolaboratornya ya kita yang mengetahui bahwa bagaimana sebuah sebuah ekosistem tersebut bisa berjalan. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa ketika kita berjalan, kita berjalan ada tantangan-tantangan apa saja. Nah, ini yang yang sebetulnya ini enggak enggak enggak enggak baru gitu. Sebenarnya ini tidak baru tetapi ee saya melihat bahwa ketika tantangan itu tadi belajar ya belajar bekerja mengabdi, ini tiga-tiganya ee ee harus kita jadikan sebagai keseharian. Tentu harus ada teknik. Nah, ini ya ini yang yang e saya tawarkan pada kesempatan pagi hari ini bahwa ketika kita eh preparation seb bagaimana kita untuk melakukan eksekusi. Nah, dari social busnis learning ya. Kemudian kita berbicara tentang sustainable development bagaimana supaya sustain dari apa yang akan kita kerjakan. Tentu kita memerlukan ee ee tips ya, tipsnya adalah membuat desain dari ekosistem. Nah, bagaimana cara mendesain ekosistem? tentu ee ada proses-proses pembelajaran yang salah satunya tadi saya tawarkan melalui desain thinking dan system thinking. Kelihatannya pagi-pagi ini sudah dapat ini ya, sudah dapat e sudah dapat ee ee variabel kemudian ini pergi ke sini, ini pergi ke sini pergi ke sini gitu kan. Kemudian anak panahnya ke sini ini berhubungan dengan ini. Tapi memang seperti inilah yang ee merupakan tugas ataupun tanggung jawab kita sebagai ASN. Ee bilang nanti, "Prof kalau enggak jadi bagaimana? Kalau gagal ee jangan khawatir memang desain thinking assistent thinking memang sudah didesain bagaimana untuk kita melihat ee peluang peluang yang ada depan mata kita. bagaimana kita untuk ee melakukan ya kita melakukan se proses perubahan itu tadi ya become nothing, become something bagaimana kita bergerak merupakan kan orang sering bilang bahwa oh nanti enggak jadi ini pasti gagal kemudian nanti jangan jangan saya bilang kita coba dulu, kita bikin dulu, kita modelkan dulu, kita buatkan sistem thinking-nya seperti apa ya. Kemudian ee nanti ini kalau kita ee lebih panjang lagi kita akan diskusi tentu ada ee insyaallah ada workshop-workshop berikutnya bagaimana kita melakukan e permodelan tersebut, bagaimana kita membuat desain dari ekosistem tersebut yang berbasiskan kepada data. Nah, pada saat sekarang tentu dalam proses belajar ini tadi kita ee tetap memerlukan data bagaimana data tersebut bisa menjadi ee kerangka utama kita ketika bergerak memastikan bahwa ekosistem tersebut bisa berjalan. bukan hanya sekedar konsep, bukan hanya sekedar tatanan se ee apa? tatangan se e ide saja gitu loh. Nah, inilah yang se pada kesempatan pagi hari ini saya tawarkan kepada teman-teman semua dan tentunya ee ketika kita membuat desain ekosistem tersebut dengan membuat dengan menggunakan sistem thinking itu tadi ya tentu tetap kita berprinsip utama bahwa pemberdayaan masyarakat pemberdayaan masyarakat lokal dan kemudian bagaimana kita ee melakukan ee pembinaan komunitas. Nah, ini yang yang kita masukkan ke dalam puzzle-puzzle di sistem thinking itu tadi. Nah, Teman-teman semua ee ketika kita berbicara tentang belajar ya dan mengabdi, emm saya melihat bahwa dengan social busnis learning ini menjadi salah satu ya menjadi salah satu ee teknik ya teknik yang se insyaallah ya ee teman-teman coba gitu mencoba teman-teman melihat bahwa ee Prof. ya kan dari mana harus memulainya. Saya bilang yang paling sederhana adalah ee apa yang terpikir, apa ide yang akan kita sampaikan baik berkaitan dengan ide, baik berkaitan dengan pekerjaan kita ataupun berkaitan dengan tugast-tugas ataupun berkaitan dengan hobi ataupun patiens, berkaitan dengan apa yang kita inginkan gitu kan. Jadi ee sering kali ee saya diskusi dengan teman-teman di daerah bilang, "Teng mulai dari mana dulu?" Saya bilang, "Yuk kita bikin modelnya dulu. kita buat sistem thinking-nya dulu. Komponen-komponen apa saja yang bisa kita masukkan di sini. Jadi seb eh kita mulai dari diskusi ya, diskusi bahwa kita sebagai kolaborator ya, kita sebagai kolaborator kita masukkan sebuah kita masukkan semuanya dalam kerangka ee desaining ekosistem tersebut. Nah, tentunya ee hal konsep ini tidak menarik, tidak akan menarik kalau kita tidak tidak praktik nih, gitu kan. Nah, jadi teman-teman silakan mencoba ya, silakan mencoba ee kerangka belajar itu tadi ketika belajar ya, tentu variabel variabel tersebut harus kita lihat variabel-variabel yang ada dalam dalam ketika kita membuat membuat desain thinking ini menjadi sebuah sistem thinking, tentu proses pembelajaran ini tidak akan berhenti. Itu proses terus-menerus yang kita itu tadi ee saya yakin insyaallah ini akan menjadi budaya kerja kita gitu kan. Nah, kemudian ketika kita berkarya, saya yakin bahwa ini merupakan karya, ini sudah merupakan masterpace gitu loh. Ketika kita membawa membawa komponen masyarakat kita membawa komponen komunitas masuk ke dalam ke dalam desain thinking kita ya. Ke dalam desain thinking kita ini yang e saya namakan berkarya gitu kan. Dan mengabdi tentunya ee kita bungkus belajar dengan berkarya tersebut dalam kerangka ee pengabdian kita ya ee dalam kesadaran kita sebagai ASN. Nah, Teman-teman semua ya, kesimpulan kesimpulan ee pada pagi hari ini ya, pada pagi hari ini ketika kita bicara tentang budaya kerja mm saya fokus kepada tiga ee tiga hal. Yang pertama adalah dengan social business learning ya. dengan social busnis learning ini merupakan ee ee metode ya, metode bagaimana teman-teman melihat bahwa kita sebagai SN, kita sebagai kolaborator kita berada dalam posisi yang sangat-sangat ee tepat untuk melihat ee semua potensi yang ada di depan mata kita, melihat semua kemungkinan-kemungkinan dan tantangan-tantangan termasuk permasalahan yang ada di depan mata kita untuk kita kalau kolaborasi untuk kita sinergikan menjadi sebuah ekosistem. Itu yang pertama, social business learning. Nah, yang kedua adalah tentu bagaimana cara kita mengeksekusi social busnis lear itu tadi dengan membuat ekosistem ya. Membuat ekosistem yang kedua. Yang ketiga, bagaimana kita untuk membuat ekosistem? Membuat ekosistem tentu diperlukan digital skills, tentu diperlukan eh teknik riset. Nah, tetapi yang paling penting adalah kita mulai dari bagaimana kita membuat riset ekosistem. dengan menggunakan sistem thinking ya. Sistem thinking ini kerangka berpikir ya. Langkah berpikir. Jadi ketika proses pembelajarannya apa sih, Prof? belajarnya ya belajarnya ini gitu loh. Kita membuat model ya model tersebut dengan memasukkan semua variabel yang ada di dalam ee keseharian kita. ee dan ini ee sudah saya ujikan ya, sudah saya ujikan di beberapa instansi di beberapa negara ya dan termasuk di Indonesia beberapa kabupaten kota sudah kita ujikan dan ternyata teman-teman yang bermain dengan permodalan seperti ini mereka bilang, "Wow, Prof. Ini ee menarik karena apa? Ee kita akan terus belajar ya, kita akan terus ee berkarya dan yang paling penting adalah ketika permodalan tersebut bisa kita sinergikan dengan komponen-komponen yang ada di sekeliling kita. ini yang kita namakan sebagai pengertian. Kesimpulan kita pada pagi hari ini tentu harus kita praktik ya. Kita praktik em sedikit ya sedikit apa yang saya sampaikan semoga bisa bermanfaat, semoga bisa menjadi ee pemicu untuk teman-teman pada pagi hari ini. Ee Prof. Ilham tawarkan konsep nih, Prof. tawarkan teknik yang nanti dalam perjalanannya kita harus melihat, kita harus ee praktik, kita harus uji cabakan. Softwaren-nya mudah kok. pada saat sekarang ee kalau kita lihat di YouTube aja itu banyak sekali ee software-software yang berkaitan dengan ataupun teknik-teknik berist thinking. tetapi ee semangat dari belajar, berkarya dan mengabdi ini yang bisa kita bungkus dengan menggunakan sistem busnis lear dengan social busnis learning melihat bahwa sustainable development itu bisa kita jalankan dengan memakai peran kita sebagai ASN dengan membuat ekosistem yang itu tadi kita desainkan sebagai sebuah permodelan dan nanti dari model tersebut tentu kita yang akan melakukan eksekusi bagaimana model tersebut bisa kita jalankan bagaimana ekosistem yang kita desain tersebut bisa ee bermanfaat dan bisa menjadi se apa continuity ya menjadi se ee implementasi untuk ee itu tadi kerangka mengabdi bagaimana kita memberdayakan masyarakat, bagaimana kita melibatkan komunitas-komunitas, bagaimana kita mendekatkan puzzle-puzzle yang ada di sekeliling kita menjadi sebuah ekosistem yang ee betul-betul ee merupakan ee hasil ee apa namanya? hasil karya kita sebagai ASN. Demikian ya ee nanti kita akan ee lanjutkan dalam forum diskusi. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya kembalikan kepada Pak Moderator. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak 30 menit yang sangat berarti dan insightful sekali. Saya turut menyimak juga banyak sekali kerangka pemikiran yang akhirnya mengubah mindset saya dan juga ingin merubah beberapa hal begitu ya untuk lebih bisa berkarya dan juga mengabdi pada masyarakat. Sudah ada penanya Prof. yang rest hand berarti kita akan berinteraksi langsung begitu ya. Saya ingin menyapa Bapak Kasiadi. Selamat pagi Pak Kasiadi. Halo, selamat pagi. Kami masih hubungkan Pak Kasih Adi bersama dengan kita secara online. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Apakah suara saya terdengar, Bu? Iya, betul sudah terdengar dengan jelas, Pak Kasih. Bis. Selamat pagi, Prof. Dr. Ilham dari Malaysia. Iya, selamat pagi. Alhamdulillah materinya luar biasa. Dari ESN belajar berkarya Mengabdi. Tadi profesor menyampaikan tiga hal SBL, sistem dan system thinking. Lah, apakah dari tiga-tiganya ini adalah prasyarat 1 2 3 artinya SBL dulu ekosistem atau kita balik? Karena begini, Prof. Kalau kita belajar berkarya itu otomatis niatnya dulu. Kalau mengabdinya artinya itu betul-betul tulus sebagai ASN, saya pikir bisa timbul adanya ee kita berkarya dan belajar. Tapi kalau kita tidak tulus, otomatis kita tidak bisa menyiptakan ekosistem yang bagus. Terima kasih, Prof. Ya. Asalamualaikum warahmatullah. Baik. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Menarik nih, Pak. Ini berbicara tentang tulus. Nah, ini tentang tulus. Nah, mulai dari mana, Pak? Mulai dari mana? Jawabannya adalah tiga-tiganya paralel, Pak. Tiga-tiganya paralel dari SBL-nya, ekosistemnya, dengan sistem thinking-nya. Jadi, eh sering sering saya diskusi dengan teman-teman di bilang, "Prof, nih kita mau mau kita pada kita punya ide nih." Nah, kita yakin masyarakat pasti akan terbantu dan kemudian sebagaimana kita ee pokoknya banyak yang ee manfaat yang bisa kita buat dari ide tersebut. Terus saya bilang, "Yuk, kita bikin modelnya dulu, kita bikin sistem thinking-nya dulu." Karena itu tadi dari sistem thinking itu tadilah bagaimana kita melihat ekosistem apa yang bisa kita desain tersebut. Tentu ee memfasilitasi kepentingan ya. Memfasilitasi kepentingan, memfasilitasi semuanya 100% ee kita kita enggak mau enggak mau berjanji bulan bintang nih Pak ya. Enggak mau berjanji yang pelangi, yang cerah gitu. Tetapi ee apa yang bisa kita tawarkan di sini dengan social busnis learning dalam ekosistem tersebut? Kita mencoba memasukkan kepentingan-kepentingan itu tadi, Pak. kita mencoba untuk melihat bahwa ada tantangan, ada kelemahan-kelemahan, ada kekurangan-kekurangan yang nanti ketika kita hubungkan melalui sistem thinking itu tadi inilah yang ee menjadi ee apa ya menjadi ee ee sebuah pengalaman yang menarik gitu kan. Kenapa saya mengerjukan st thinking? Karena ini sudah saya ujiikan di beberapa kabupaten, saya sudah uji cobakan ke beberapa instansi-instansi bukan hanya di Indonesia, di beberapa negara dan kemudian saya bilang, "Yuk, kita bikin modelnya dulu, kita bikin sistem thinking-nya dulu." Nah, sebetulnya bericat tentang tulus itu akan terpaksa mereka harus tulus, Pak. Karena itu tadi begitu sudah jadi modelnya saya bilang gitu ya. Ayo kita kerjakan. Saya bilang gitu. Ini menjadi semangat bersama bahwa ketika sudah menjadi model ya menjadi model kita menjadi sebuah ekosistem apalagi ekosistem tersebut kita berjalan. Eh, saya selalu makai pakai prinsip jalan aja dulu. Jalan aja dulu maksudnya adalah ekosistem tersebut masih kecil gitu kan. Enggak belum tentu ee melibatkan yang gede. Saya bilang kita coba dulu dari ekosistem yang kecil nanti lama-lama kan akan menjadi besar, besar dan besar. Nah, betul yang Bapak sampaikan tadi ketika tulis itu ee modal awalnya. Nah, tapi saya ngegasnya, Pak. Saya maksuk kita buat model dulu dari model baru kita nanti kita gas. Nah, tulisnya insyaallah akan berbarangan dengan ee bagaimana ekosistem tersebut berjalan. Demikian, Bapak. Baik, demikian untuk jawabannya. Pak Kasih Hadi. Mungkin ada yang mau ditanggapi. Cukup. Terima kasih banyak. Makasih hadir telah bergabung secara online. Dan kami akan beralih kepada penanya berikutnya yang juga telah tergabung secara online yaitu ada Ibu Nita Fitrih. Betul ya Ibu Nita Fitriah. kami akan hubungkan. Iya, betul. Baik, selamat pagi, Bu Fitri. Pagi. Pagi. Bagaimana kabarnya hari ini, Bapak, Ibu? Alhamdulillah sehat. Baik, Ibu. Boleh suaranya agak di volumenya dinaikkan sedikit karena suaranya terdengar agak kecil dari kami di sini. Iya, sudah, Mbak. Ah, sudah. Baik, disilakan untuk pertanyaannya Bu Fitri. Ini materi yang saya tunggu-tunggu ini. Baik. Karena semua lini kementerian, semua unsur masyarakat sudah dibicarakan ekosistem. Apalagi di awal tahun, di awal pemerintahan semua mengawalinya dengan jarakkan ekosistem. Yang jadi pertanyaan saya Prof. Ilham mempelajari desain tadi, desain ekosistem tadi itu harusnya dibutuhkan ee apa? environment yang tidak terlalu gitu. Jadi yang lentur gitu. Yang jadi pertanyaannya bagaimana membuat environment itu mendukung untuk penciptaan ekosistem yang lebih baik gitu kan. Mayoritas kebanyakan kalau instansi pemerintah itu masih ada feudalisme, masih ada seniorisme atau bagaimana. Itu aja, Prof. Makasih. Baik, Bu Fitri. Terima kasih pertanyaannya. Wow, luar biasa. Ini mewakili pertanyaan sobat ASN di mana pun berada sepertinya. Silakan, Prof. untuk jawabannya. Baik. Em pagi tadi sebelum ini sebelum diskusi apa kita ini ee ee ada ada seorang rekan dia bilang gini, "Prof itu sama kayak ee ini kita bicara tentang feodal nih ya. Ini kita kita buka-bukaan aja nih, Bu. Tidak ada dusta di antara kita." Dia bilang ini karena kayak karena kayak ikan. Dia bilang gitu. ikan kalau dari atas dari kepala ikannya bermasalah, ke belakang ke bawah-bawahnya juga bermasalah. Nah, ini ini teman yang yang diskusi tadi pagi pasti dia senyum-senyum nih gitu kan dia senyum-senyum. Ee emm setuju Bu gitu loh. Setuju dengan apa yang Ibu sampaikan tadi bahwa ee ketika kita bicara tentang feederalisme ee ini yang menjadi tantangan ya. Ini menjadi tantangan bagi ee ketika kita mendesain sebuah ekosistem. Nah, eh kenapa saya tawarkan sistem thinking, Bu? Ya, kenapa saya tawarkan sistem thinking? Dengan ada sistem thinking tersebut, dengan adanya sistem detemik yang yang kita modelkan, ee ini pengalaman pengalaman saya ketika membuat desain tersebut ee yang fedal-fedalnya masuk sekalian, Bu. Jadi, jadi kadang-kadang ee kita kan itu ya kita sering ee ASN ini kan bukan hanya kanan ya, tapi atas bawah nih. Jadi lengkap 360 derajat tantangannya. Jadi kiri kanan atas bawah muka belakang depan samping kiri kanan. Tapi inilah yang menarik bagaimana variabel-variabel tersebut masuk Bu P gitu loh. Masuk ke dalam eh desain thinking tersebut ya, ke dalam sistem thinking yang nanti ketika kita modelkan ya ada data nih. Data adalah misalnya Prof. kita terbentur dengan permasalahan regulasi yang dalam tanda petik feodal itu tadi gitu kan. Saya bilang udah masukin aja dulu. Saya bilang gitu loh. Ee Prof kita terbentur dengan jadi terbenturan benturannya banyak nih. Saya bilang masukin aja dulu. Saya bilang gitu. Masukin dulu. Nanti ee kelebihan dari sistem thinking ini adalah nanti kita bisa melakukan alternatif-alternatif ataupun ee beberapa ee jalan keluar gitu ya, jalan keluar dengan dising itu. Oh, ternyata ada alternatif lain yang bisa kita jadikan sebagai pertimbangan ee pertimbangan bahwa ee tidak selamanya yang ketika feodal ini menjadi hambatan. Nah, ini menarik Bu. Ternyata ee dengan feal tersebut ee ini kan kita jujur nih ASN ini kan sebetulnya adalah ee teman-teman komunitas yang paling kreatif Bu bilang, "Wah, Prof kita kita enggak bisa nih di sini nih." Nah, saya bilang, "Jangan khawatir, kita bikin dulu yuk sistem thinking-nya bareng-bareng." Dan bagaimana kita melihat bahwa ee dari permodalan tersebut ada jalan keluar yang kadang-kadang kita enggak enggak enggak apa kita tidak prediksi, tetapi keluar dengan sendirinya, Bu. ketika dihubungkan ke sini, dihubungkan ke sini, hubungkan ke sini, dia bilang, "Wah, ini profil ee cocologi nih. Apa cucok cucok logi." Saya bilang, "Git, cocok." Enggak. Saya bilang, "Tapi ini berdasarkan data." Saya bilang, "Tentu ada data primer, ada data primer, data sekunder yang ee masuk ke dalam ekosistem tersebut." Nah, kira-kira seperti itu Bu, gitu loh. Jadi ee teman-teman di lapangan sering bilang, "Prof, kat nanti terbentur pimpinan terbentur ini." Saya bilang, "Enggak apa-apa masuk dulu." Saya bilang gitu loh. Ada hal-hal lain yang yang nanti saya bilang, "Saya yakin bahkan nanti pimpinannya bakal ngikut nih dalam ekosistem ini." Saya seperti itu. Kira-kira seperti itu, Ibu ya. Oke, masuk aja dulu variabel-variabelnya ya. Termasuk itu tadi dalam lingkungan ataupun environment feodal yang dalam tanda petik ee merupakan ee ya mau tidak mau suka tidak suka harus kita hadapi gitu kan. Tetapi inilah yang menarik ya dalam membuat kita sebagai desainer dari ekosistem tersebut. Demikian. Baik, terima kasih banyak Prof untuk jawabannya dan semoga ini juga menjawab pertanyaan dari Ibu Fitria. Begitu ya. Mungkin ada yang mau ditanggapi atau ada yang mau ditambahkan Ibu Fitri tidak dicukupkan. Terima kasih banyak Bu Fitri dan harus kita cukupkan sesi diskusi kita pada momen pertama kali ini. Prof. Ilham terima kasih banyak untuk waktu dan juga sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan perwakilan dari Sobat ASN di mana pun berada. Tadi belum saya tanyakan Ibu Fitri ini dari mana ya? dan juga Pak Kasih hadir dari mana. Namun terima kasih banyak atas kontribusi dan partisipasinya dalam sesi tanya jawab kita dan harus kami akhiri pada sesi pertama kali ini. Prof. Terima kasih banyak telah bergabung secara online. Semoga dapat menjalankan kegiatan hari ini dengan lancar. Amin. Baik, Sobat ASN jangan ke mana-mana karena kita masih ada dua narasumber yang akan berbagi insight luar biasa terkait dengan tema kita kali ini, belajar, berkarya, dan mengabdi tentunya dalam webinar ASN belajar seri ke-33 tahun 2025. [Musik] Terima kasih, Sobat ASN masih bersama dengan kami dalam ASN Belajar seri ke-33 tahun 2025. Kali ini persembahan dari BPSDM Provinsi Jawa Timur. Tema kali ini sangat amat harus kita simak karena ini berkaitan dengan apa yang kita lakukan sehari-hari dalam pelayanan ke masyarakat. Dan selanjutnya kita akan belajar banyak lagi dari sisi psikis mungkin ya atau psikologi karena yang akan hadir narasumber berikut ini adalah seorang dosen psikologi dan direktur Imkom. Saya akan menyapa Ibu Dr. Bawinda Sri Lestari, S.H., M.Psi. [Musik] Baik, kalau misalnya kita berbicara mengenai belajar, berkarya, dan mengabdi ini tentu saja berhubungan dengan psikis dari setiap ASN itu sendiri. Bagaimana kita m-build diri kita begitu ya. Untuk itu kita hadirkan narasumber yang kompeten dalam membahas masalah ini. Kita langsung menyapa. Halo dr. Bainda. Halo, selamat pagi. Selamat pagi. Senang sekali saya bisa bertemu dengan salah satu dosen. Boleh saya tahu mengajar di mana nih, Bu? Mbak Winda kalau ngajar untuk psikologi di UNTAK Surabaya. Saya alumni Ubaya, Ibu. Ee iya kalau untuk yang magisternya di Ubaya. Oh, wow. Luar biasa. Saya senang sekali bisa berjumpa secara online dalam kesempatan kali ini. Saya tidak sabar sekali untuk dapat menyimak apa yang akan disampaikan. Sangat insightful sekali. Disilakan waktunya. Baik, terima kasih. Saya untuk materinya. Oke, terima kasih untuk waktu yang diberikan kepada saya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua dan terima kasih untuk Pak Kaban dan juga tim yang sudah memberi kesempatan kepada saya untuk berbagi kali ini dari kajian secara psikologinya. Tema kita kali ini adalah budaya kerja ASN, belajar, berkarya, dan mengabdi. Kira-kira ada apa sih dengan tiga tiga kata ini yang penuh makna? Tapi sebelumnya saya ini pengin tanya dulu ya ke teman-teman. Satu kata yang menggambarkan perasaan Bapak Ibu pagi ini. Kira-kira apakah semangat, penasaran atau bututuh kopi tambahan? Cuman ini saya belum karena saya ini ya. Kira-kira apa nih satu kata yang menggambarkan perasaan Bapak Ibu pagi ini? Karena secara psikologi ketika kita akan ee bekerja, jadi bagaimana kita bekerja, berkarya dan mengabdi ini tentunya enggak luput dari yang namanya semangat. Satu kata, apakah semangat, penasaran, atau butuh kopi tambahan? Saya bisa dibantu ini kira-kira apa ini butuhnya? Silakan di chat room ya. Nanti bisa disampaikan teman-teman. Jadi dari satu kata ini setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang mengatakan semangat, ada yang mengatakan penasaran dengan hari ini, ada juga yang butuh kopi untuk menambah semangatnya. Tapi hari ini saya enggak membahas tentang bagaimana pagi ini ketika Bapak Ibu ngomong tentang kopi. Saya akan ngomong tentang bagaimana kita bicara tentang bekerja, berkarya, dan mengabdi. Saya akan melihat terlebih dahulu dari BKN tahun 2023 bahwasanya ASN di Indonesia itu mencapai kurang lebih 4,1 juta orang dan 70% di antaranya ini berperan langsung dalam pelayanan publik dan survei dari Kemenpan RB tahun 2022. 50% itu ASN merasa pekerjaannya itu bermakna secara pribadi. Artinya di sini masih ada ruang untuk membangun budaya kerja yang lebih kuat. Kalau memang 50% 54% ASN merasa pekerjaannya bermakna secara pribadi. Padahal di sini maknanya ketika ASN itu mempunyai tanggung jawab bagaimana nanti melakukan pelayanan kepada publik, melakukan ibaratnya dedikasinya kepada publik. Karena kita ada tiga poinnya tadi. Bagaimana ketika kita dengan tema kita belajar, berkarya, dan mengabdi. Jadi, ASN di sini perlu belajar untuk terus dia berkarya dan juga mengabdi kepada masyarakat. Dan ini kaitannya dengan ini, masih ada ruang untuk membangun budaya kerja yang lebih kuat. Dan bagaimana cara membangunnya? Ada beberapa, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh ASN. ASN hebat itu bukan hanya yang pintar, tapi yang mau belajar, berkarya, dan mengabdi dengan hati. Jadi, kalau memang sesuatu yang dilakukan itu enggak dengan hati, mau belajar pun dia juga enggak mau. Berkarya pun akan malas-malasan dan bagaimana ketika akan mengabdinya. Maka dari itu ketika kemarin saya mendapatkan materi ini dari ee Ibu Amel tentunya saya oh belajar berkarya dan dan mengabdi. Selama ini yang ada di benak saya benak kita itu bahwasanya ASN itu adalah mengabdi. Terus kapan belajarnya? Kapan berkaryanya dan ternyata tiga rangkaian ini enggak bisa dipisahkan. Ini adalah tiga pilar ASN yang mana belajar, berkarya, dan mengabdi ini adalah saling menguatkan untuk profesionalisme dan integritas. Ketika belajar hasilnya bisa membuat dia lebih produktif dalam berkarya dan ketika dia berkarya akan lebih fokus dalam mengabdi. Ini ada tiga pilar untuk ASN itu dan enggak bisa ini satu-satu belajar saja juga enggak bisa, berkarya saja juga enggak bisa. Tapi ketika dia berkarya ada saatnya. Makanya di BPSDM Provinsi Jawa Timur ini kan ada pelatihan-pelatihan yang dilakukan. Apa sih kebutuhan pelatihan-pelatihan yang ee dibutuhkan oleh ASN baik hard skill ataupun soft skill? Karena semua ini nantinya untuk mengabdi. Ini adalah keterkaitan. Nanti kita akan membahas secara psikologinya. Ada teori-teorinya yang mengatakan bahwasanya belajar berkarya dan mengabdi itu ada teori-teori yang mendukung. Bahwasannya ini dari grow mindset orang dengan mindset berkembang itu lebih siap belajar dan beradaptasi. Maka dari itu ketika seseorang ini ya saya mengatakan ASN ASN ini sobat ASN se-Indonesia ketika pikiran kita mau maju mau berkembang, maka kita lebih siap untuk belajar dan beradaptasi termasuk yang hadir pada kesempatan pagi ini. Jadi kalau teman-teman mengatakan bahwasanya oke hari ini saya siap untuk belajar, hari ini saya mau untuk belajar, mohon maaf ya kalau memang ini ada kemauan dari dalam dirinya itu berarti dia akan lebih siap. Tetapi kalau hanya dipaksa oleh pimpinan, coba kamu belajar coba itu enggak akan enggak akan bisa. Karena apa? Sesuatu yang terpaksa itu hasilnya enggak bisa maksimal. Maka dari itu yang pertama adalah mindset terlebih dahulu yang harus dibenahi dari pikiran kita. Akhirnya kita ada kemauan. Ketika kemauan itu muncul, didukung oleh tim, didukung oleh ee di sini didukung oleh instansi, maka hasilnya akan maksimal. Bahkan di sini dari MENC tahun 2020 mengatakan organisasi dengan budaya belajar dan inovasi memiliki kinerja 30% lebih tinggi dibanding yang tidak. Jadi ternyata maka ketika kemarin saya sempat datang di BPSDM Provinsi itu di pojok-pojok itu ada ruang baja. Sebenarnya belajar itu bisa di manaun, kapanpun, dan dari siapapun, dengan siapapun. Lah di sana saya melihat ada perpustakaan yang nota Bene memberikan kesempatan dan ruangannya itu kosi banget loh. Itu kayak ruangan yang nyaman gitu. Cuman saya enggak tampilkan di sini ya, saya lupa ini ya. Ah, itu bagus banget. Ini sesuatu yang dilakukan di sana. Nah, budaya belajar ini enggak bisa kalau hanya satu orang dan ini harus diikuti oleh semuanya. Maka dari sisi tadi ketika Prof. PLH mengatakan ini desain thinking-nya seperti apa. Tadi saya mengikuti dari proses berpikirnya seperti apa. Ini ee ada keterkaitannya. Ketika organisasi itu sudah menumbuhkan budaya untuk setiap timnya itu mau belajar, maka inovasi-inovasi itu akan bisa dikembangkan. Dan belajar itu enggak harus di ruang kelas. Belajar itu bisa di manapun. Yang penting itu bagaimana outputnya. Apalagi kalau di sini kita kan ASN. ASN itu kan dalam hal ini kan memang ee maksimalnya adalah melayani gitu loh. Jadi ketika melayani bagaimana kita belajar dari yang lain gitu. Nah, hal lain di sini contohnya ASN GAPTEK mau belajar aplikasi digital akhirnya jadi pionir layanan online. Yang di sini kata-katanya yang saya kasih ini adalah mau belajar. Ya, kalau orang sudah tidak mau dipaksa seperti apapun itu enggak akan mau. Tetapi kalau dia ada kemauan dari dirinya, ada kemauan untuk berkembang, itu akan lebih enak. Ini kalau kait saya kaitkan dengan teori motivasi. Motivasi itu pembuka jalan, tetapi konsistensi itu yang menentukan sukses tidaknya seseorang. Tetapi ketika seseorang tidak memiliki motivasi, bagaimana dia akan bisa melakukan sesuatu. Maka dari itu, ASN GAPTEK pun kalau dia mau belajar pasti dia akan bisa. Yang penting dari dalam dirinya dulu mau ada kemauan untuk belajar. Terus hal apaagi di sini ya? Kalau kita ngomong kita kan ada tiga pilar di sini dalam psikologi kerja. Manusia itu butuh tiga hal untuk terus termotivasi. Jadi, bagaimana kita terus termotivasi? Yang pertama kita harus kompetensi, menguasai tugas dan terus berkembang. Aku bisa dan percaya diri. Ya, kadang-kadang di sini pentingnya bagaimana menempatkan orang sesuai dengan keahliannya. Tetapi meskipun saat ini belum ahli, kalau dia mau belajar ya bisa suatu saat. Yang penting ada kemauan untuk belajar. Dan ketika dia sudah menguasai tugasnya di sini bagus. Karena sebagai ASN juga punya ke apa ya keharusan nanti itu bagaimana dia berbagi ke temannya. Regenerasi itu juga penting. Aku bisa, aku percaya. Sesuatu yang dia miliki saat ini dia bisa berbagi kepada orang lain dan itu ada kemanfaatannya. mengabdi itu loh. Jadi belajar, berkarya dan mengabdi. Ini kata-kata ini yang bagus sekali kalau kita selalu seperti afirmasi. Afirmasi diri. Saya mau belajar, saya mau berkarya, dan saya sepenuh hati mengabdikan diriku untuk nusa dan bangsa. Jadi ini, tetapi harus ada keinginan dulu, harus ada motivasi dulu dan kita lihat kompetensinya, bagaimana kompetensi dirinya. Terus hal lain di sini adalah koneksi, hubungan positif, dan dukungan tim. Ini saya masih membahas dari eh teori yang nota Bne ini adalah teori selfermination theory, Desi and Rin. Jadi ada tiga ini teorinya yang setelah kompetensi ini adalah koneksi, hubungan positif dan dukungan tim. Kalau hubungannya sudah enggak positif di dalam suasana kerja itu juga enggak enak. Maka dari itu seringkiali kan kita ada namanya teamw. Bagaimana kita komunikasinya juga harus bagus, dukungan tim. Yang namanya pimpinan enggak akan bisa melakukan sesuatu tanpa ada dukungan tim. Lah di sini pada prinsipnya setiap manusia itu pengin dihormati, dihargai. Dan ketika dia bisa diterima dan dihargai, ini termasuk salah satu bagaimana dirinya itu merasa memiliki sesuatu. Koneksi ini penting, hubungan positif ini penting, dan dukungan tim ini penting. Sebagus apapun seseorang, sepintar apapun seseorang, kalau hubungannya tidak positif dengan rekan-rekannya, itu juga enggak bagus. Maka dari itu, komunikasi itu penting, dukungan tim itu sangat penting. Apalagi kalau seseorang itu merasa di lingkungannya, dia merasa diterima, pendapatnya dihargai, ya dia akan lebih termotivasi. Di sini ada makna. Apa sih makna pekerjaan? Pekerjaan itu buat arti dan mempunyai arti dan tujuan besar. Pekerjaanku bermanfaat. Teman-teman bekerja sebagai ASN tentunya ini kan bukan hanya untuk pribadi, tapi bagaimana ada kemanfaatan untuk bangsa dan negara. Kata-kata mengabdi ini loh. Jadi sebenarnya pekerjaan teman-teman ini artinya sangat luar biasa dan tujuannya sangat mulia. Ketika teman-teman melakukan dengan sepenuh hati, teman-teman melakukan dengan maksimal karena pekerjaan teman-teman ini sangat bermanfaat. Sobat ASN ini kan dari berbagai lini ya, dari kesehatan, ada yang dari guru semuanya lah ya yang kaitannya dengan ASN ini kan banyak. Jadi sebenarnya teman-teman pekerjaan teman-teman itu semuanya punya arti baik untuk diri sendiri dan juga arti buat masyarakat. Maka dari itu ini penting. Terus kalau teman-teman mau belajar ini bikin kita kepenten. Kalau teman-teman berkarya bikin kita diakui. Kalau teman-teman mengabdi ini bikin kita merasa hidup kita berarti. Jadi orang yang mau belajar maka dia akan memiliki tambahan kompetensi. Orang yang mau berkarya dia akan diakui dengan karya-karyanya. Dan orang yang mengabdi dengan tulus, dia akan merasa hidupnya berarti. Kalau kita bicara bagaimana sih cara kita itu bisa berarti buat orang lain, mengabdi dengan tulus ini sesuatu. Pasti teman-teman pernah merasakan ketika melakukan pekerjaan bisa membantu orang lain gitu ya. Itu ada hal-hal positif yang teman-teman dapatkan. Kadang-kadang kita tidak bisa menilai dengan uang, tapi ketika pekerjaan teman-teman membantu orang lain, karena kalau kita lihat 70% itu kan kaitannya dengan pelayanan publik lah. Ketika mengabdi melayani ini hidup itu serasa berarti memang bekerja mencari duit ya, tetapi di sini ketika teman-teman melakukan sesuatu lah bagaimana bisa mengabdi dengan maksimal apakah ilmunya sudah dapat? Ya, ini dibutuhkan belajar. Ketika ilmunya sudah dapat, langsung praktikkan dalam karya. Karya akhirnya inilah bentuk pengabdiannya. Jadi itu yang saling keterkaitan. Nah, saya mengatakan di sini bahwasanya saya akan membahas tadi secara psikologinya ada teori ini ada teori lagi saikap di dalam psikologi Lutan 2007. Jadi, setiap manusia itu harus menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Jadi, setiap manusia harus menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Ketika teman-teman yang namanya di kantor ASN enggak ada yang namanya enggak ada masalah. Jadi di mana pun kita berada pasti dengan pekerjaan-pekerjaan itu dan enggak ada orang yang sempurna itu enggak ada gitu loh. Tetapi ketika dia mau belajar ini tentunya apa sih yang dia harapkan? Jadi kenapa saya mengatakan setiap manusia harus menjadi pahlawan bagi diri dirinya sendiri? Saya sir dengan hero. Dia punya harapan enggak dengan pekerjaan sekarang? Yakin enggak ada jalan meski ada rintangan? Terus keyakinan dirinya mampu menyelesaikan tugas. Jadi kalau teman-teman dapat tugas dari pimpinan atau dapat ini, ketika teman-teman merasakan tidak yakin ya pasti yang yang muncul nanti ya enggak enggak akan tercapai gitu. Pasti ya enggak bisa karena enggak yakin dari dirinya saja enggak yakin bagaimana orang bisa melihat terus ketangguhan. Kan enggak mungkin ketika kita belajar berkarya dan mengabdi itu enggak ada masalah kan enggak mungkin ya. Setiap masalah pasti ada solusinya. Bangkit dari kegagalan. Tapi kita mau mencoba lagi, mau belajar lagi dan optimis. Pasti kita bisa pandang masa depan dengan positif. Sekarang hero. Bagaimana dengan hero? Ketika kita ngomong hero, contohnya ASN tetap melayani dengan inovasi digital saat pandemi. Lah ini kalau enggak belajar kan enggak mungkin. Kalau kita enggak yakin kita bisa melakukannya kan juga enggak mungkin. Bahkan data ini ya, survei LDBank Kompas 2022, 62% masyarakat puas dengan inovasi layanan publik digital. 62% loh ya. Berarti masih ada berapa? 38%. Ini yang bisa dikembangkan oleh teman-teman. Kalau mau ngomong tentang keyakinan diri ini penelitian Lutan dan eh Yusif bahwa karyawan dengan efikasi diri tinggi 40% lebih produktif. lah bagaimana teman-teman bisa berkarya kalau keyakinan diri teman-teman enggak yakin dengan apa yang dilakukan. Maka dari ini penting gitu loh lah. Resiliensi kan pernah teman-teman ketika ada program gitu ya, program kerja ditolak ya langsung kalau orang yang resiliensinya rendah ketika ditolak dia langsung down langsung enggak ada motivasi lagi. Tetapi ketika seseorang yang mampu memiliki resiliensi ketika program kerjanya ditolak tadi ee Prof. Ilham mengatakan ee desain thinking tadi modelnya wuh ribet banget itu benar-benar akademisi ya modelnya tuh tadi itu lah ketika mau misalnya model sudah memiliki misalnya sudah memiliki saya punya program begini Pak Bu ketika ditolak itu langsung down lah berarti ketika ditolak kita harus introspeksi kira-kira apa yang kurang perbaiki dan itulah yang akan membuat kita menjadi sukses. Ada lagi dari Word Economy Forum, ketangguhan dan kemampuan adaptasi masuk tiga besar skill ASN masa depan. Kalau sekarang yang kita hadapi kan generasi-generasi Genzet ya, generasi-generasi milenial ya, apapun adanya ya kita harus mampu beradaptasi. Seperti sekarang ini kita meeting juga bukan meeting yang kayak dulu kan ketemu langsung kan begitu. Sekarang kita meetingnya bisa melalui Zoom ya. Mau tidak mau kita harus belajar tentang ini lah. Ketangguhan yang namanya perbedaan itu pasti ada. Perubahan atau perbedaan gap itu pasti menimbulkan sesuatu yang tidak enak. Tapi bagaimana kita harus mampu, harus mampu beradaptasi karena ini penting. Enggak bisa kalau kita hanya yo aku aku itu enggak bisa. Jadi berikutnya optimis. Ini berdasarkan penelitian selectm. Karyawan dengan optimis tinggi itu lebih tahan stres dan 31% lebih produktif. Jadi intinya kalau ini saya kembangkan dari teorinya Lutan, jadi setiap ASN itu harus memiliki harapan, efikasi diri, ketangguhan, dan optimisme. Maka dari itu, kita harus menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri. Kita harus memiliki harapan, yakin ada jalan meski ada rintangan dan percaya bahwasanya teman-teman itu mampu menyelesaikan tugas. Dan ketika ada masalah enggak ada kita bekerja di mana pun enggak ada masalah dan yakin atau optimis semuanya itu bisa diatasi. Ini harus dimiliki ketika teman-teman sedang belajar, belajar pun ada tantangannya. Enggak. Yang namanya belajar kan butuh proses. Ketika teman-teman butuh proses, ada kendala-kendala, ya lari lagi ke hero ini. Ketika sudah belajar, selesai, ketika berkarya, Teman-teman berkarya ternyata ada rintangan. Kembali lagi ke hero. Yakin rintangan ini bisa diatasi. Sa mengabdi. Apakah teman-teman ketika mengabdi enggak ada masalah di lapangan? Pasti ada. kembali lagi ke hero. Ini adalah modalnya. Karena setiap manusia sebenarnya setiap manusia harus memiliki yang namanya modal psikologis. Ini adalah modal psikologis yang saya terapkan bagaimana ketika teman-teman atau sobat ASN ini bisa belajar, berkarya, dan mengabdi. Ketika mengabdi di masyarakat itu pasti ada hambatan. apa yang kita lakukan belum tentu itu semuanya diterima itu belum tentu ketika kita mengabdi. Maka dari itu, Teman-teman, jadi ini bisa jadi modal untuk Teman-teman di Syap Hero ini. Nah, apa hubungannya dengan budaya kerja? Seseorang yang memiliki harapan ini bisa mendorong belajar. Kalau orang sudah tidak punya harapan ini enggak akan mau dia belajar. Tetapi dia punya harapan bagaimana nanti ketika misalnya ya oh untuk kenaikan karir oh biar ini lebih bagus akhirnya belajar kalau dia memiliki keyakinan diri ini yang akan mendorong berkarya yakin dengan apa yang dimiliki yakin dengan kompetensi dirinya maka dari itu karyanya akan muncul dan seseorang yang memiliki resiliensi dan optimisme ini yang menguatkan dalam mengadi. Kenapa resiliensi dan optimisme ini penting? Karena di saat kita menjalankan peran kita sebagai ASN, enggak ada yang namanya masalah, enggak ada. Semuanya semuanya ada. Jadi enggak ada masalah. Semuanya itu ada masalah. Jadi bagaimana kita resiliensi itu gini loh, berdamai dengan diri sendiri. Optimis bahwasanya semuanya itu bisa. Kalau teman-teman sudah enggak optimis, sobat ASN sudah enggak optimis, itu enggak akan bisa. Maka dari itu hubungannya dengan budaya kerja ini ada. Kalau punya harapan berarti ya kita bisa mendorong kerja kita. Keyakinan diri mendorong dalam karya kita. Resiliensi menguatkan dalam mengabdi karena pasti rintangan, halangan itu pasti ada dan optimis bahwasanya semuanya bisa diatasi. Oke, dari perspektif psikologi, Teman-teman. Ini kalau kita ngomong belajar, jadi ini ada teorinya grow mindset. Ini orang yang selalu mau berkembang. Kalau orang itu mau berkembang, maka jalan menuju kesuksesan ini akan lebih mudah. Misalnya ASN yang terus ikut diklat membaca, berdiskusi, update regulasi baru, dia akan lebih berada di depan daripada orang yang hanya mengikuti arus. Cuma tantangannya di sini ya, rasa malas, takut gagal, dan zonnya nyaman. Ini tantangannya, tetapi ada solusinya nih. Saya tulis semua di sini. Ubah mindset gagal menjadi belajar. gunakan refleksi diri tiap minggu apa yang kupelajari ini kalau untuk belajar. Jadi perspektif psikologinya ini saya menggunakan eh grow mindset teorinya Carol D. Jadi orang yang selalu mau berkembang. Kalau orang sudah enggak mau berkembang itu didorong seperti apapun enggak akan mau. Jadi kalau saya mengatakan motivasi itu kan ada dua, motivasi internal, motivasi eksternal. Meskipun orang itu mendorong seseorang untuk belajar, kalau dirinya tidak mau belajar ya enggak akan bisa. Tetapi kalau dirinya sudah mau belajar terus mendapatkan dorongan dari eksternal ya itu akan bagus. Jadi intinya seseorang kalau mau belajar semuanya akan bisa. Terus di sini selain belajar berkarya. Kalau kita ngomong berkarya ini perspektifnya psikologi itu self efficacy. Ini keyakinan mampu memberi hasil nyata. Jadi kalau sudah kita ngomong aku enggak mampu, aku enggak bisa, enggak bisa. Misalnya ini saya kaitkan dengan ASN yang mengubah ide menjadi inovasi pelayanan publik. Contohnya aplikasi aduan online, perbaikan SOP. Kalau teman-teman sudah enggak yakin, ya itu enggak akan bisa. Kalau enggak yakin bahwasanya inovasi ini bermanfaat juga enggak akan bisa. Cuma ini tantangannya. Takut idenya ditolak. budaya kerja yang kaku karena di ASN ini. Tapi ya yang penting berani ini ada plan A, plan B, plan C dan solusinya gunakan desain thinking lah. Saya itu padahal enggak enggak janjian loh tadi dengan Prof. Ilham itu saya juga baru ketemu ini tadi. Iya kan? Gunakan desain thinking mulai dari masalah nyata yang ada di masyarakat. Cari idenya, uji dan perbaiki. Ini jadi kalau ketika kita berkarya, gunakan desain thinking kita. Tapi kita harus tahu masalahnya. Masalah nyata di masyarakat itu apa. Ini yang perlu terjun di masyarakat. Baru dari situ kita ada muncul ide. Ketika ide, uji terlebih dahulu. Kalau memang ternyata belum diterima perbaiki. Jadi ketika mendapatkan penolakan jangan langsung down. Karena ini ini saatnya kita belajar nih saatnya. Terus kalau mengabdi sebetara psikologi meaningful work itu kerja bukan sekedar gaji tapi nilai hidup. Jadi nilai hidup teman-teman tadi ketika teman-teman ada predikat misalnya saya Winda ASN di Indonesia gitu ada nilai diri yang kita dapatkan. Jadi bukan sekedar gaji, tapi ada nilai diri yang kita dapatkan. Terus ketika ASN melayani warga desa terpencil dengan tulus meski fasilitas terbatas. Ini adalah meaningful work. Jadi ini adalah contohnya. Cuma ketika kita berada di pelosok itu kadang-kadang burn out. Kalau psikologinya lelah. Jadi ini bahasa ini lelah. merasa tidak dihargai. Kadang-kadang saya tuh sudah bekerja begini, tapi saya enggak dihargai. Oke, ada solusinya kok. Self care, jaga emosi, reframe, makna tugas. Saya melayani bangsa. Jadi, semua itu ketika ada masalah kembalikan kepada tadi bagaimana secara psikologinya, resiliensinya seperti apa, optimisnya optimismenya seperti apa? Dan sobat ASN data dari Ombusmen 2023 bahwasanya pelayanan empatik naikkan kepercayaan publik 35%. Empat itu seperti apa sih? Memposisikan diri seandainya ada pada posisi mereka. Teman-teman sebagai ASN ini mempunyai nilai lebih. Tetapi ketika teman-teman bertugas di daerah gitu ya, ya mungkin warganya apa belum ini ya tidak merasa belum menghargai keberadaan kita. Orang yang benar-benar tulus mengabdi ya itu akan terus saja bekerja. Dan di sini ketika kita tulus melakukan pekerjaan kita mengabdi dengan tulus itu akan menaikkan kepercayaan publik sebesar 35%. nih. Terus apa sih hubungannya dengan budaya kerja gitu ya? Kalau kita ngomong hubungannya kalau harapan itu mendorong belajar. Ada keyakinan selalu ada cara baru. Kalau kita sudah enggak yakin bagaimana kita mendapatkan cara? Kan kita pernah gini ya the power of kepepet kan begitu. Kalau kita yakin bisa pasti kita bisa. Jadi harapan itu mendorong untuk belajar dan ketika kita merasa bisa ya pasti akan ada cara-cara kalau kita sudah jadi ini dari pikiran kita kok desain thinking kita ini desain thinking kita dan keyakinan diri mendorong berkarya percaya diri melahirkan inovasi bagaimana kita bisa melahirkan inovasi kalau kita sendiri enggak percaya diri dengan diri kita tetap semangat melayani meski banyak tantangan enggak ada yang namanya orang bekerja enggak ada tantangan. Maka dari itu dibutuhkan resiliensi dan optimisme menguatkan dalam mengabdi kepada nusa dan bangsa. Oke. Hal lain nih ya, Sobat ASN. Cara menumbuhkan budaya kerja di tempat kerja. Pertama kita mulai dari diri sendiri. Contoh kecilnya senyum, mau belajar hal baru. Ini contoh kecil kok ya. Ini meskipun contoh kecil kalau kita tidak memulainya enggak bisa. Mungkin ini saya kok sulit senyum ya? Ya belajar senyum. Saya kok enggak bisa ya? Ya belajar apa yang kita tidak bisa. Saya pun juga masih belajar sampai sekarang. Ketika belajar punya ilmu baru kita tularkan ke orang lain karya kita ini. Terus yang kedua bikin ritual tim. Misalnya 1 jam per bulan sharing ilmu baru. Jadi ilmu yang didapatkan hari ini tadi dari Prof. Ilham terus ini nanti ada lagi itu teman-teman sharing terus nanti sharing disaring terus untuk sharing untuk diskusi. Ini sesuatu yang bagus. Berikutnya reframing masalah. Ubah cara pandang dari masalah ketantangan, dari masalah kepeluang. Ya, ini semua ini dari pikiran kita dan beri apresiasi ke rekan kerja yang punya ide atau layanan bagus. Ini masuk di psikologi positif. Misalnya, wah bagus ya karyamu. Luar biasa kok. Memang luar biasa. Wow keren gitu. Jadi hal-hal sepele ini yang akan menumbuhkan budaya kerja. Jadi mulailah dengan hal-hal sepele, bukan hal yang gede. Enggak. Hal-hal sepele inilah yang nanti akan menumbuhkan budaya kerja. Dan ketika teamwork-nya sudah bagus, budaya kerjanya sudah bagus, ini output-nya juga akan bagus dan akan menjadi habit. Jadi intinya enggak bisa kalau kita tidak memulai dari diri sendiri. Menyuruh orang lain tapi kita enggak melakukan itu juga sama juga bohong. Maka dari itu mulailah dari diri kita sendiri. ketika sudah belajar, berkarya, mengabdi, memberikan contoh, itu yang akan di dilihat oleh orang lain. Nah, Sobat ASN, jika salah satu hilang maka tidak seimbang. Belajar tanpa karya itu hanya teori. Berkarya tanpa belajar akan stagnan. Mengabdi tanpa keduanya tanpa arah. Maka dari itu keduanya harus berkesinembungan. Itu adalah yang bisa saya sampaikan untuk kesempatan pagi hari ini. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kembali ke moderator. Baik. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak Ibu Bawinda. Luar biasa sekali. Saya sangat menyimak terutama yang terakhir begitu ya. Ini sangat ngenal sekali dan bisa diaplikasikan. Nah, ternyata sudah ada banyak sekali yang ingin berdiskusi dan juga berinteraksi langsung. Untuk itu saya langsung menghubungkan dengan Bapak Firman Supriadi untuk bisa langsung open cam dan juga open mic. Pak Firman. Baik. Selamat pagi, Pak Firman. Ah, batuk dulu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Pak Firman, boleh saya tahu dari mana Bapak? dari Kecamatan Uluan, Kabupaten Jember. Oh, baik. Dari Jember, terima kasih. Silakan pertanyaannya, Bapak. Ee dari paparan Ibu Bawenda tadi, Bawenda ya, Bawinda itu sangat menarik, Bu. Dan itu sebetulnya sudah belajar, berkarya, mengabdi itu sudah saya laksanakan. Nah, masalahnya gini. ee rekan-rekan ASN itu rata-rata kan tergantung pada pucuk pimpinan. Bagaimana karakter seorang pucuk pimpinan membangun ee mentalitas berkarya, mentalitas belajar, dan mentalitas mengabdi. Nah, ketika ee mentalitas-mentalitas itu tidak nampak di pucuk pimpinan, bagaimana kita bisa ee melahirkan apa inovasi-inovasi, karya-karya dalam ee bekerja. Mohon pencerahannya. Baik, silakan untuk dapat dijawab Ibu Bawinda. Baik, terima kasih untuk pertanyaannya. Tadi dari Pak siapa namanya, Mbak? Dari Jember tadi dengan Pak siapa? Firman Kecamatan Wulan, Kabupaten Jember, Bu. Oke. Dari Jember ya. Terima kasih. Nah, kalau kita berkaitan ini kan kaitannya dengan pimpinan ya, Pak ya. Nah, bagaimana ini banyak program bagus tapi gagal karena mindset belum ini yang pertama ini, Pak, kalau memang ini kaitannya dengan pimpinan ini ada komunikasi yang bagus kan gitu ya. Makanya kan perlu Pak komunikasi efektif itu penting kan begitu. Nah, bagaimana kan kita tidak bisa mengendalikan orang lain. Jadi intinya yang bisa kita kendalikan itu adalah diri kita sendiri. Kalau ternyata Bapak mengatakan saya itu sudah teman-teman tuh sudah belajar berkarya mengabdi dengan bagus tapi mentalitas kita yang kita benahi adalah mental kita dulu, Pak. Kalaupun pimpinan belum mengapresiasi karya kita, tunjukkan dengan bukti. I ini enggak masalah. Tunjukkan bukti terus. Ketika sudah bukti itu terus-terusan pasti nanti suatu saat diakui kok Pak. Itu aja. Yang penting, Pak. resiliensinya penting resiliensinya tadi kan tadi sudah punya karya bagus tapi belum diterima pastikan down burn out lelah maka dari itu kembali ke resiliensi sudah punya karya dan kalau ngomong pimpinan berarti ngomong ini tentang leadership seorang leader itu kan bagaimana dia memotivasi menginspirasi ini lah ya ini memang harus Pak leader harus bisa memotivasi menginspirasi ketika kita ada ee kalau memang timnya saya mengatakan timnya memiliki hal-hal yang notab ini ini adalah inovasi-inovasi baru ketika presentasi ya kan setiap orang tuh beda-beda ya Pak ya setiap pimpinan tuh kan beda-beda karakternya jadi bukan kita yang harus apa me kita yang harus bukan kita yang harus ini intinya jangan baper g aja jangan baperya jangan baper tapi terus tunjukkan dengan bukti kalau saya mengatakan begitu aja, Pak. Karena dengan psikologi, ya, Pak ya. Jangan sampai kena mental. Nanti kalau sudah mentalnya kena, enggak akan bisa berkarya lagi. Itu itu ya, Pak, yang dari Jember. Tetap semangat ya, Pak ya. Baik, terima kasih banyak Pak Firman sudah bergabung Bu. Terima kasih jawabannya. Dan kita akan beralih kepada SN berikutnya ini dari UPT PSDM Jawa Timur. Ibu Tri. Selamat pagi, Ibu Tri. Kami hubungkan. Selamat pagi. Ah, baik. Terima kasih Bu Fani sudah diberi kesempatan. Sama-sama, Ibu. Silakan untuk pertanyaannya. Ya, saya menyapai Bu Bawinda dulu. Barangkali Bu Wawinda masih ingat, pernah juga ke DBPD SDM. Oh, iya. Selamat pagi atau siang ya? Jam sudah siang ya. Asalamualaikum semuanya. Matur nuwuhun untuk kesempatan yang diberikan. Ee sebetulnya pertanyaannya ada kaitannya dengan apa yang disampaikan ditanyakan oleh Pak Firman tadi ya, Bu. Ya, memang ee seperti yang disampaikan Bu Bawinda tadi memang kita tidak bisa mengubah orang lain. Kita mulai dari diri kita. Karena begini, Bu. Seandainya kita ini punya semangat nih, Pak, anu, Bu, untuk belajar, untuk memacu diri. Karena memang ee seperti Pak Ramli katakan, kita harus belajar sepanjang hayat ya. Jadi, tidak ada batasan. Jadi, tapi ada teman-teman kita ini, Bu, rekan-rekan yang wah seolah-olah kita dianggap cari muka atau butuh validasi gitu. Nah, apakah ada tips dari Ibu Bawinda? Bagaimana? Karena kalau kita tidak mengatasi hal itu, memang kita dari diri kita memang kita sudah ee memaksa diri kita, memacu diri kita ya, Bu. Tapi ada lingkungan yang kondisinya masih seperti itu. Ee bukan di tempat kami sih, Bu. Bukan di tempat kami aman. Tapi ada kan beberapa yang masih lakukan seperti itu. Seolah-olah temannya itu pengin maju tapi dikatakan, "Wah, itu butuh validasi." Gini. Nah, ee apakah ada trik supaya kita tidak kena mental jadi burn out atau nge-drain gitu istilahnya? Bisa dibagikan Bu tips dan triknya supaya kita ASN itu tetap semangat belajar memacu diri apapun kondisi kita supaya kita meningkatkan kompetensi kita sehingga mengabdi kita ini lebih maksimal. Demikian pertanyaan saya Ibu Bawinda. Terima kasih. Terima kasih, Bu Tri. Silakan untuk jawabannya. Bu ba baik terima kasih tetap semangat kan gitu ya. Bagaimana sih ya caranya biar tidak dituduh cari muka padahal kita sudah punya muka ya ngapain kita harus cari muka kan gitu ya kan setiap orang sudah punya muka gitu ya. Ya. Pertama kita hadapi sebaiknya itu dengan elegan tanpa mematikan semangat ya sekaligus menjaga hubungan baik. Jadi kita hadapi dengan elegan tanpa mematikan semangat tapi menjaga hubungan dengan baik. ini kayaknya aduh bisa enggak ya gitu ya gampang-gampang susah gitu ya gimana kayak kita makan apa kalau saya mengatakan rujak kecut dimakan pedas-pedas gimana gitu rasanya tenang ibu yang pertama tetap tenang jangan baha jangan balas dengan emos jadi jangan langsung defensif maka dari itu ketika ada masalah itu tolong teman-teman ketika emosi e oh ya ini jangan langsung ditanggapi itu berarti secara emosi lah tuduhan seperti itu sering lahir dari rasa tidak nyaman atau iri atau salah paham. Nah, caranya tarik nafas dan ingat niat ibu itu kan belajar dan berkembang bukan untuk menyenangkan teman atau atasan semata. Jadi niatnya kan belajar dan berkembang. Orang mau ngomong ya biarkan dia ngomong. Bisa jadi tadi, Bu, karena dari dia enggak nyaman kalau ada temannya pintar atau iri atau salah paham. Yang kedua ini kita bisa ini evaluasi. Pastikan bahwa semangat kita itu tidak disertai sikap merendahkan orang lain. Fokus pada tugas dan hasil. Kenapa? Ini bukan pencitraan. Kalau kita tulus itu lama-lama orang akan melihat kok kebenarannya. Dan kita harus konsistensi dan tunjukkan dengan prestasi. Ibu kalau ada seperti itu jangan berubah ya. Jangan berubah hanya karena komentar negatif. Di dunia ini enggak ada kok orang yang 100% dalam arti mendukung kegiatan kita. Pasti ada orang yang tidak mendukung. Enggak mungkin gitu loh ya. Ada merah, ada putih, ada kuning. Terus belajar dan berkontribusi dan tolong tunjukkan Bu semangatnya itu bermanfaat untuk tim bukan hanya untuk diri sendiri. Jadi ketika nanti sudah belajar sharing, tapi hati-hati kadang-kadang ketika kita berbagi itu cara kita menyampaikannya itu kadang-kadang jangan sampai kita menggurui kan gitu. Yang paling penting tadi yang saya katakan juga tadi dengan yang di Jember tadi komunikasi. Komunikasi bukan yang efektif sekarang. Komunikasi yang hangat. Gimana sih komunikasi hangat itu? Sapa dan libatkan mereka? Ini loh ya. Jangan menjaga jarak malah. Jadi jangan menjaga jarak dengan orang yang kurang enak dengan kita. Ibarat orang tinju kalau terlalu dekat itu kan enggak bisa ninju malah kita rangkul gitu ya. Memang ini gampang-gampang susah gitu loh. Apalagi perempuan. Perempuan itu biasanya kebawa perasaan gitu. Kalau laki-laki kan logika. Kalau ada kesempatan baru dijelaskan Bu. Jadi aku belajar dan kerja keras itu bukan untuk cari muka, tapi sem supaya kita semua itu terbantu. Tapi timing-nya yang tepat ya. Jangan sampai pada saat dia lapar itu malah bahaya. Jangan sampai itu bahaya. Ngomongnya juga apa? Empat mata ya. Jangan sampai banyak orang rasa dipermalukan nantinya gitu. Terus yang berikutnya ee ini jangan terjebak dalam upaya membuktikan diri ke semua orang. Ini biasanya seseorang ketika ada masalah membuktikan ya ini harus aduh enggak perlu. Ada kalanya yang terbaik adalah tetap bekerja dan apa? Membiarkan hasil yang berbicara. Jadi kalau kita sibuk kita apa kayak konferensi pres itu malah nanti malah runyam gitu loh. Sama ini Bu. Jadikan tuduhan sebagai pemacu mental tangguh. Dalam perjalanan sukses selalu ada kritik. Jadikan itu latihan mental untuk tidak mudah goyah. Resiliensi itu yang penting. Jadi gitu ya Bu. Terima kasih. Siap. Semangat ya. Njih. Makasih. Baik. Terima kasih responnya Ibu Bawinda. Terima kasih Bu. Terima kasih gabung bersama dengan kami dan pertanyaan yang sangat relatable sekali dengan ASN pada momen kali ini dan harus kami cukupkan sesi tanya jawab ini dengan dua penanya yang berinteraksi secara langsung. Mohon maaf kepada sobat ASN yang pertanyaannya tertulis di kolom chat maupun di kolom komentar BPSDM Jatim TV yang belum sempat kami tanyakan kepada narasumber kita Ibu Bawinda karena memang waktu terbatas. Ibu Bowinda terima kasih banyak. Satu yang saya highlight dari apa yang telah disampaikan adalah menghadapi segala situasi dan kondisi terus berp dengan Ibu jika in tetap bergabung dengan kami dalam AS boleh sekali Bu terima atas waktunya setelah kesibukan Kamis ini dan Sobat yang ketiga nanti di yang namun kita lihat baik terima kasih kasih [Musik] M [Musik] Fusna ya. Oh, baik. Sudah muncul. Ibu mohon izin suaranya Mbak Fani agak putus-putus. Apakah hanya di saya saja atau di semua audiens terdengar demikian? Jadi saya kurang bisa menangkap suaranya, Mbak Fani. Baik, kami akan coba untuk perbaiki, Ibu. I sudah terdengar dengan jelas. Oke. Baik, sekarang aman kemerduan suaranya Mbak F yang cantik. Ah, terima kasih dengar dengan jelas. Apa kabar, Bu Kusna siang hari ini? Baik, alhamdulillah luar biasa dan selalu semangat Mbak Fani. Alhamdulillah saya juga sudah siap untuk belajar bersama Ibu Fusna. Untuk itu waktu kami silakan. Oke. Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah pagi hari ini sampai siang hari ini kita sama-sama belajar di ASN Belajar. Jadi, belajar itu adalah kewajiban kita semuanya. Maka di dalam Islam dikatakan bahwa belajar itu wajib. Tholabul ilmi faridatun gitu ya. Jadi pada hari ini insyaallah kalau kita belajar dengan sungguh-sungguh diniatkan untuk beribadah, maka bukan hanya ilmu saja yang kita dapatkan, tetapi kita juga mendapatkan pahala yang insyaallah nanti kalau meningkatkan kualitas diri kita, maka kita akan bisa memberikan kebaikan untuk lebih banyak orang. Setuju ya? Oke. Baik. ee setelah tadi Bu Bawinda dengan paparannya yang sangat luar biasa gitu ya dan tadi saya pun juga menyerap ilmu banyak sekali dari Bu Bawinda. Oke, hari ini alhamdulillah semuanya saya lihat nampak sehat dan nampak bersemangat ya. Saya apresiasi luar biasa BPSDM Jatim yang mengundang ASN seluruh Indonesia. yang hadir hari ini adalah para pembelajar sejati. Luar biasa. Untuk apresiasi boleh ya saya memberikan pantun. Ditunggu cakepnya gitu. Baik. Ee pergi ke sawah menanam padi, hasil panen membuat cerah. Pembelajar sejati tekun setiap hari. Tak kena lelah, tak pernah menyerah. Masyaallah. Oke, saya adalah pembicara yang ketiga. Tadi Prof. Ilham sudah memberikan paparannya. Kemudian Bu Bawinda yang sangat luar biasa. Hari ini saya akan hadirkan tentang ASN belajar yang belajar tiada henti, berkarya penuh inovasi, mengabdi dengan hati. Ya. Jadi, ASN itu adalah ee ada tiga pilar ya. Belajar, berkarya, dan mengabdi. Belajarnya tiada. Oh, maafkan saya saya salah share ya. Maafkan. Tunggu sebentar. Oke, bismillah. Saya akan share ini. Sudah nampak, tinggal slide show-nya. Belajar tiada henti, berkarya penuh inovasi dan mengabdi dengan hati. Mohon izin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Itu nama saya adalah Fuzna Marzuqoh. Fuz dari Faza yafuzu Fauzan. Insyaallah saya mendapatkan keberuntungan dari nama itu. Karena yang namanya nama itu kan doa harus membawa keberkahan bagi yang memanggil maupun yang dipanggil. Dan fuz ini kan sifatnya kontinuous ya. Jadi keberuntungannya tuh sifatnya terusmenerus. Sehingga apabila orang memanggil saya, yang memanggil juga mendapatkan keberkahan sebagai doa keberuntungan terus-menerus. Nah, itu nahnu. Jadi jamak jumlahnya banyak. Marzuqoh adalah orang yang mendapatkan rezeki. Dan rezeki itu pastinya bukan hanya berupa uang, tetapi kesehatan, persaudaraan, ilmu pengetahuan, semangat hidup itu juga rezeki. Jadi insyaallah kita semuanya beruntung dan selalu senantiasa bersyukur karena mendapatkan rezeki. Nah, saya akan awali dengan fakta-fakta Bapak Ibu ya. Fakta yang pertama mengatakan bahwa survei Kemanpan RB bahwa keluhan masyarakat terkait pelayanan publik adalah soal sikap dan respon ASN. Tadi Bu Bawinda juga menyinggung banyak hal tentang bagaimana sikap dan ternyata keluhan ini lebih banyak memang di sikap. Bukan hanya soal prosedur, lebih besar di sikap. Kemudian fakta yang kedua, Transparensiy Internasional menyatakan bahwa skor Indonesia 37 dalam Corruption Perception Index tahun 2024. Jadi, ini adalah peringkat ke-99 dari 180 negara. So, PR kita masih cukup banyak, masih harus butuh effort, butuh usaha benar-benar untuk membenai ini. Kemudian yang ketiga, UTSEN RI masih ada 20% lembaga pelayanan publik yang tidak optimal. Maka insyaallah untuk ini akan kita selesaikan dengan yang namanya belajar, berkarya, dan juga mengabdi. Kenapa? Karena kita itu berhadapan dengan dunia yang sekarang ini masuk di era yang kita sebut sebagai era bani. Kalau beberapa waktu yang lalu ya sebelum COVID itu ada era fuka volatil. Jadi semua serba dinamis, serba cepat. Kadang kita itu enggak langkah kita belum mencapai itu sudah berubah lagi. Jadi ada volatility, ada sangat dinamis, serba cepat. Kalau ini orang Jawa Timur barangkali ya yang ada di Jawa Timur atau Jawa Tengah itu tahu yang katanya esok dele sore tempe gitu ya. Jadi paginya kedelai sorenya sudah jadi tempe. Dan itu untuk menggambarkan orang yang ngomongnya pelin-pelan enggak bisa dipercaya. Tapi dunia sekarang sudah sangat cepat. Bukan hanya esok dele sore tempe, tapi bahkan mungkin esok delay. Kemudian 2 jam kemudian sudah jadi tempe. Jam .00 delay jam 09.00 sudah jadi tempe karena mungkin fermentasinya dipercepat dengan teknologi. Jadi perubahannya memang sudah sangat cepat. Kalau ada loh kemarin barusan A kok sekarang sudah A+ ya memang begitulah keadaan dunia ya dan semuanya ada ketidakpastian uncertainty tidak pasti sangat cepat bahkan sangat kompleks dan seba mengambang ambigu itu era ketika sebelum COVID itu fuka itu sudah bikin dunia ini geger gitu ya nah setelah itu ada COVID yang memaksa kita mau tidak mau harus berubah. Karena kalau kita tidak menyesuaikan dengan new normal, maka kita enggak bisa hidup lagi. Bayangkan pada masa COVID, akhirnya kita bisa belajar kan dengan Zoom seperti ini yang kemudian Zoom menjadi umum. Kita dari mana pun berada, dari seluruh penjuru Indonesia kita bisa sama-sama belajar. Saya bisa ngobrol dengan Mbak Fan ya karena ada Zoom kita bisa berkenalan. saya bisa tahu apa yang dipaparkan oleh Bu Bawinda itu karena saya ikuti lewat Zoom. Itu kemajuan yang kemudian kita dapatkan berkah antara lain dari COVID, dari kejadian COVID. Ada pembelajaran jarak jauh, ada banyak hal yang kemudian ada normal baru, normal baru setelah COVID. Baru aja selesai COVID ada perang Rusia Ukraina yang memang kemudian wow mengubah banyak hal. Nah, sekarang setelah itu selesai masuk kita di era bani. Sekarang ini kita masuk di era bani. Itu juga mengubah banyak hal. Maka tadi Bu Bawinda menyampaikan bahwa sekarang ini komunikasi bukan effective communication lagi, tapi komunikasi yang hangat ya. Sudah engaging communication. Jadi bukan hanya sekedar efektif tetapi hangat, intim. Itu yang mesti akan membuat ee komunikasi menjadi efektif. itu masuk di era bani. Karena apa? Karena B-nya itu brittle, rapuh. Sekarang bukan hanya hati yang rapuh, tetapi banyak perusahaan-perusahaan besar kelihatan kayaknya kuat tapi ternyata rapuh. Ada kecemasan, ada anxious. Orang itu merasa cemas. Dan saya yakin walaupun saya tidak bertanya, tetapi saya pastikan semua yang hadir di sini saat ini ya sekarang ini kalau ditanya siapa yang seumur hidupnya belum pernah merasa cemas, silakan tunjuk jari atau ketik iya. Enggak ada yang ngetik. Karena apa? Karena semua orang tuh merasakan anxious, semua merasakan kecemasan. Di mana kehidupan kita sudah gak linear lagi. Sudah tidak x = y. sudah tidak satu langkah sama dengan 1 m, berarti 2 langkah 2 m. Berarti 1700 langkah adalah 1700 m. Sudah tidak begitu lagi. Sudah tidak berpola, ya. Sudah inkomprehensibel, enggak bisa dibanding-bandingkan lagi. Itu kehidupan yang kita alami sekarang. Maka nanti kita akan masuk kenapa ASN itu masih perlu belajar, kemudian berkarya, dan mengabdi sepenuh hati. Karena di lingkungan sosial bani itu, B-nya Brittle itu memang sudah ada rapuhnya ikatan sosial. Sekarang ini mau tidak mau diakui atau tidak, mari kita introspeksi. Ada banyak ikatan sosial yang rapuh, konflik horizontal, mudah meledak. Hanya karena isu kecil di medsos, maka medsos itu pun hati-hati. Sekarang hampir semua orang bisa edit video dengan sangat mudah, kelihatan halus dan di situ kata-kata seseorang dipotong, disambung, Indonesia geger. Kita sudah melihatkan beberapa waktu yang lalu ya, karena potongan-potongan video yang disambung-sambung kemudian menjadi kepercayaan baru, digencarkan ada exposure kemudian orang-orang mengatakan itu sebagai sebuah kebenaran baru. Padahal enggak. Konflik horizontal mudah meledak hanya karena isu kecil di medsos. Kasus-kasus intoleransi ada di mana-mana karena kita tidak berpikir secara lebih terbuka. rapuh. Kehidupan sosial kita rapuh mau tidak mau. Jadi bukan saya ngejet mari kita sama-sama introspeksi bahwa oh ternyata demikian. Jadi apa yang harus kita lakukan? Begitu. Bagaimana kondisi sosial di era kecemasan, stress, burn out over thinking, terutama pada generasi muda. Sekarang ini kan yang masuk dunia kerja itu sudah gen eh milenial ya, Gen Y dan juga Gen Z itu sudah mulai yang lulusan SMK itu sudah mulai bekerja. Karena Genzi itu kan ee dikatakan 1996 sampai 1000 eh sampai 2010 itu orang-orang Geni. Nah, orang-orang tahun '96 ini sudah mulai banyak kerja ya. Dan mereka generasi muda kita yang bisa diandalkan yang nanti kalau generasi muda ini lolos maka yah runtuh. Jadi kita memang harus waspada, banyak stres, banyak burnout. Bahkan sekarang pun ketika ada leader sekarang trainingnya itu bukan eksponential leader lagi, tetapi adalah mindful leader. Mindful leader itu yang seperti apa? Mindful ANS. ANS yang eh ASN ASN ASN yang mindful yang hadir secara utuh, yang sadar secara penuh supaya bisa mengatasi dirinya sendiri. Karena stress, burn out, overthinking itu bisa dikatakan sebagai konsumsi sehari-hari. Pola hidup, gaya kerja, tren sosial berubah dengan cepat dan tidak bisa diprediksi. Itu salah satu ciri dari bani di kehidupan sosial. Nonlinearnya tren berubah begitu cepat. Sudah tidak bisa kayak dipolakan. itu sudah enggak bisa. Kemudian inkomprehensibel, banjir informasi tanpa kita tahu ini informasi hoa atau informasi yang benar. Masyarakat bahkan kemudian bingung membedakan kebenaran. Bahkan dikatakan begini, sebuah kesalahan bisa menjadi kebenaran baru kalau itu memang diekspos. sebuah kesalahan, sebuah ketidakadilan itu bisa menjadi keadilan, bisa menjadi kebenaran ketika dikatakan terus-menerus. Bahkan ketika misalnya nih, saya makan gula dan mengatakan bahwa h gula sekarang kok ada rasa pahitnya? Ya manis sih, tapi ada pahitnya. Coba kamu itu empat orang mengatakan, "Heh, ada pahitnya." Orang yang berikutnya, yang kelima akan mengatakan, "Iya ya, kenapa gula sekarang ada pahitnya? karena dikendalikan oleh pikirannya. Sekarang informasi itu kita harus bijak. Yang diekspos terus-menerus tuh di sosial media itu bisa menjadi kebenaran baru. Se powerful ketika orang mengatakan gula ada pahit-pahitnya. Itu bisa saja terjadi bani di kehidupan sosial ya Bapak Ibu. Kemudian bagaimana di kehidupan ekonomi dan bisnis? Karena change itu bisa digolongkan dalam empat besar ya. change itu ada sosial, ekonomi dan bisnis. Ada politik legal, politik dan hukum, dan juga nanti ada information technologi. Nah, bagaimana di ekonomi dan bisnis rantai pasok global rapuh? Apalagi kemarin banyak negara-negara yang mengandalkan gandum dari Rusia gitu. Rusia perang dengan Ukraina. Hmm. Terjadi kenaikan harga. Jadi bahkan sampai kemudian mi instan naik harga itu karena memang gandumnya jadi naik harga terguncang oleh krisis, oleh perang, oleh perubahan iklim. Itu yang membuat kerapuhan di ekonomi dan bisnis itu di rantai pasuk global. Kecemasannya, ketidakpastian kerja, PHK massal, muncul gig ekonomi yang fleksibel sih, WFA, work from anywhere. Enggak panjang sih, hanya berapa tahun aja, tapi itu kemudian menimbulkan ketidakpastian. Jadi orang merasa, "Oh, kerjaku sementara harus nyari lagi. Harus nyari lagi." Moga-moga ee saya masih bisa disimak dengan bagus karena baru saja ada informasi ee internetnya sedikit gangguan. Semoga oke. Sekarang nonlinear, bisnis kecil bisa mendadak jadi raksasa. Tapi ada bisnis besar yang bisa tiba-tiba tumbang. Ada tuh pabrik sepatu yang dulu ketika masih kecil itu andalan karena awet. Bahkan sampai kita ee naik kelas sepatu sudah enggak muat lagi itu sepatunya masih bagus. Tapi pabrik itu sekarang sudah enggak ada lagi. Bisnis yang besar seakan-akan itu akan bertahan selamanya. Eh tiba-tiba bisa tumbang. Ini yang nonlinear. bisnis kecil set langsung naik. Bahkan saya mempunyai tetangga ya sekarang bangun rumah tiga tingkat yang sangat bagus. Suami istri muda, anaknya masih satu. Ternyata dia bisnis apa? Bisnis pakaian anak ya yang lucu-lucu itu. Tapi dia bisnisnya lewat online dan ternyata omsetnya luar biasa. Bisnis kecil di rumah dia enggak punya gudang karena dia hanya sebagai perantara saja. inkomprehensible ekonomi digital dan kripto menghadirkan sistem baru yang saya aja enggak paham tuh bicara soal kripto dengar berkali-kali eh enggak paham juga karena bagi sebagian orang itu sulit dipahami inkomprehensibel kemudian di politik dan hukum Bapak Ibu legitimasi pemerintah bisa cepat goyah karena krisis kepercayaan publik kita mendengar berita ya cukup heboh mendomin inasi pemberitaan di televisi, di radio, di media sosial, di koran online tentang seorang kepala daerah yang salah ucap kemudian dalam tanda kutip ya diruja. Karena keputusan itu mestinya dikomunikasikan bukan hanya efektif ngefek orang tahu tetapi harus dengan kehangatan seperti tadi yang disampaikan oleh Bu Bawinda itu. Nah, ini hati-hati kita semuanya harus saling menjaga. Ansius meningkatnya polarisasi politik yang memicu ketegangan sosial. Kita memihak salah satu paslon tiba-tiba bisa kemudian bertengkar dengan tetangganya yang beda calon. Terpolarisasi terpolarisasi. Kalau engkau tidak sama denganku berarti engkau salah. Kalau engkau tidak sama denganku berarti engkau musuh. Banyak tuh yang terjadi sampai seperti itu. Nonlinear kebijakan bisa berubah drastis karena tekanan publik atau peristiwa global. Kemudian inkomprehensibel regulasi sulit mengimbangi kecepatan inovasi. AI itu sangat cepat ya. Kebetulan saya juga di dunia radio lebih dari 37 tahun saya mengelola radio. Nah, sekarang ini saya tidak sulit mencari talent untuk mengucapkan ya mengucapkan narasi ya. Jadi misalnya kita ee ingin mencari talent yang bisa ngomong dengan berwibawa, mengucapkan, belajar, berkarya, dan mengabdi. Misalnya seperti itu. Oh, kita harus nyari orang. Kalau zaman dulu ee suaranya harus yang lebih gagah lagi. ASN Indonesia, belajar, berkarya, dan mengabdi. Itu sekarang kita cari AI gampang, banyak pilihannya mau yang tipe seperti apa. Bahkan AI ya, dengan prom tertentu kita sudah bisa jadi film. Nah, kadang-kadang regulasi itu ee masih terengah-engah ketika akan mengimbangi kecepatan inovasi, hukum AI dan sebagainya. Ee ini kita harus mengikuti perkembangan yang eksponen ya, terutama ini di teknologi informasi. Brittel-nya ada sistem digital yang sangat rentan serangan cyber sekali kena bisa lumpuh semuanya ya. Kemudian bagaimana dengan anxus-nya? Bagaimana dengan kecemasan di era teknologi informasi ini? Mohon izin saya ada kesulitan. Suara saya moga-moga cukup aman. Saya akan ulangi lagi share-nya karena ternyata ini tidak bergerak ya. Semoga bisa diikuti. Saya akan share lagi ya Bapak Ibu. Kita sampai kepada change yang information. teknologi. Bagaimana kita itu menyikapi perubahan dalam information technology ya terkait dengan bani brattle kemudian anus. Mohon izin ee saya minta info apakah tadi bergerak slide saya? Saya khawatir slide saya tidak bergerak. Baik, bergerak Ibu. Oh, baiklah. Alhamdulillah ya. Jadi tadi bergerak ya. Iya. Saya khawatir slide-nya hanya bergerak di tempat saya saja. Oh berarti saya sudah start terlalu banyak ya tadi enter-enternya ya. Baik. Anksus ya. Kecemasan di teknologi informasi kita merasa cemas akan privacy. Karena semua orang seperti bisa diteropong. Bahkan kemarin secara ee apa ya guyon gitu ya, netizen itu sudah kayak rokib atit gitu. Apa-apa tahu begitu ketemu nama kita tuh sudah bisa tahu dia sekolah di mana, lulusan tahun berapa ya, kemudian pendapatannya berapa, itu bahkan bisa dikuliti. Nah, ini ada kecemasan di teknologi informasi yang kemudian cepat sekali ada digital burnout. tadi burn out-nya tuh bukan hanya mental tapi ada digital burn out. Kita burn out karena perkembangan digital, perkembangan teknologi melesat, tidak linear. Ya, ada metavers, quantum computing yang muncul tidak terduga dan inkomprehensibelnya teknologi itu makin sulit dipahami. Apalagi orang-orang yang awam itu kayak enggak paham dengan teknologi dan itu dampaknya luas sekali. So, Bapak, Ibu semuanya dari yang terjadi ya yang terjadi di era bani itu brill kerapuhan kemudian A-nya anus. Oke. Baik. Karena terkendala dengan teknis, maka kami akan tunggu sampai dengan sinyal dari Ibu Fusna ini kembali. Sambil menunggu mungkin kami ingin informasikan bahwa sobat ASN untuk terus mencoba presensi di semesta Bangkok agar tidak terlambat karena ini merupakan narasumber yang ketiga atau yang terakhir dan siapkan diri sobat ASN juga untuk siap berbincang langsung dan berinteraksi dengan narasumber kita pada saat sesi tanya jawab nanti. Kami masih menunggu sinyal yang masih terkendala dari tempatnya Ibu Fusna. Kita masih menunggu dan saya juga masih menunggu kelanjutan dari informasi yang disampaikan melalui materi yang tentu saja luar biasa tadi terakhir sampai dengan penjelasan anxiety ya atau kecemasan. Sambil kita menunggu Ibu. Sambil kita menunggu Ibu Fusna kembali bersama dengan kita, kita akan memberikan informasi mengenai cara untuk melakukan presensi melalui semesta Bangkok. [Musik] Ya. Iya, boleh. Baik, kita akan tersambung kembali dengan Ibu Fusna melalui online. Ibu Fusna, apakah sudah dapat mendengar suara saya? Iya, ternyata tadi terlempar ya ketika saya asik menyampaikan gitu ya. Mohon maaf. Terputus, Ibu. Oke. Namun sudah dapat dilanjutkan kembali. Disilakan. Oke. Baik. Baik. kayaknya tadi saya sudah menyampaikan tentang start with yourself ya. I berarti oke. Jadi kita mulai dari diri kita sendiri menghadapi tantangan dari zaman sekarang ini ya kita mulai dari diri kita sendiri. Apakah suara saya mantul? Ya, terdengar dengan jelas Ibu. Berikut dengan ee PPT-nya juga sudah terlihat. Oh. Oh, bukan mantul-mantul bukan ya? Oh, tidak ada echoing sudah lancar. Oke. Oke. Baik, baik. Jadi, kita mulai dari diri kita sendiri, Bapak, Ibu. Karena orang yang paling penting, yang paling berpengaruh di dalam kehidupan kita adalah kita sendiri. Nah, mari kita kenali diri kita. Kita berada di level mana? Apakah kita berada di level yang bingung? Saya ini siapa? Ya, sebenarnya siapa sih? kita di level yang bingung tidak tahu siapa diri kita. Nah, ini harus dibenahi. Dengan cara apa? Dengan cara belajar. Kita belajar sehingga kita mengetahui siapa diri kita sehingga naik level. Naik level pada aku tahu potensiku itu di personality. Bukan hanya sekedar aku tahu siapa diriku, tetapi aku tahu potensiku. J orang yang tahu potensinya, dia akan bisa mengembangkan dengan mudah. Orang yang tahu potensinya itu apa, dia akan lebih fokus pada apa yang bisa membuatnya lebih bermanfaat bagi semua orang. Aku tahu potensiku, personality kita. Dan ee misalnya orang tahu bahwa saya ini adalah orang tipe auditori yang kalau belajar saya lebih senang dengan mendengar. Atau ketika saya orang visual yang saya tertarik tertarik dengan warna-warna yang saya bisa belajar dengan mengandalkan penyerapannya dengan mata atau saya orang kinestetik itu personality atau bisa aja orang melihat personality dengan misalnya Florence itu membagi ada plekmatis yang damai, sanguinis yang ceria, koleris yang kuat atau melankolis yang sempurna. Atau mungkin kita akan belajar tentang potensi genetik dari mesin kecerdasan. Misalnya orang sensing yang kedekatannya dengan harta, yang ulet, yang mau melakukan sesuatu terus-menerus tanpa merasa bosan atau orang thinking yang kedekatannya dengan tahta, orangnya logis, orangnya penuh prinsip, kalau mempunyai sesuatu dia harus lakukan. Kemudian ada orang yang eh intuiting yang kedekatannya dengan kata, orangnya cerdas, ide kreatif ya. Atau orang feeling yang kedekatannya dengan cinta, penuh rasa atau orang insting yang kedekatannya dengan bahagia. Anda potensinya di mana? Atau saya suka menulis, saya suka menari, saya suka berbagi, saya suka mendesain. Anda tahu potensi Anda apa? Kemudian di level berikutnya itu eh level mentality. Aku yang diakui ahli. Pengakuan ahli itu bukan dari kita. Pengakuan ahli itu dari orang lain. Orang lain yang melihat bahwa Anda memang ekspert di bidang itu. Anda diakuinya bukan dengan dari diri sendiri, tetapi dari pengakuan orang lain. Nah, untuk orang menjadi eksert, untuk menjadi ahli itu kan ada 10,000 hours rule ya yang banyak dipercaya orang-orang itu adalah aturan 10.000 jam. Kalau Anda melakukan terus-menerus dengan deliberate practice, bukan hanya pengulangan-pengulangan tanpa peningkatan ya, artinya bukan pengalaman 5 tahun itu adalah pengalaman setahun yang diulang lima kali, pengalamannya tetap setahun hanya diulang lima kali. Bukan itu. Tetapi ketika pengalaman 5 tahun maka Anda memang sudah naik seperti orang yang ahlinya sebagai ahli yang sudah 5 tahun. Ya, jadi deliberate practice Anda semakin melakukan banyak hal semakin ahli, semakin pakar. Jadi ada sampai kepada level mentality. Kemudian sampailah kita kepada level morality. Level morality itu sudah bukan aku siapa diriku, aku yang tahu potensiku. Aku yang diakui ahli. Bukan itu. Tetapi sekarang sudah bukan saya lagi, bukan aku lagi, bukan saya lagi, tetapi sudah menjadi kita. Orang yang sudah menjadi kita itu sikapnya berbeda dengan orang yang masih aku. Karena orang yang sudah kita itu dia tidak egois lagi. Orangnya itu sudah kolaboratif. Dia bisa bekerja sama. Dia mempunyai tanggung jawab sosial. Dia bisa mengakui orang lain, dia bisa mendengar orang lain, dia bisa menghargai orang lain. Dan orang yang sudah menjadi kita itu saling menguatkan. ASN yang tidak berpikir tentang saya, tapi berpikir tentang kita itu bisa saling menguatkan. Bukan mencari aman sendiri, bukan aku maju sendiri, bukan saya berprestasi sendiri, tapi kita saling menguatkan. Karena saya sudah menjadi kita. Dan sikap dari orang yang sudah pada tahap kita, tahap morality ini adalah orang yang rendah hati. Rata-rata orang sudah sampai pada level itu orangnya rendah hati. Karena keberhasilan itu bukan hanya ini hasil kerja saya loh, tapi ini adalah hasil kerja kita. orang yang sudah menjadi kita bisa menghargai dan bisa sama-sama melihat masa depan itu di level kita. Nah, berikutnya levelnya sudah bukan saya, sudah bukan kita, tetapi siapa? Sudah menjadi dia. Itu sudah di level spirituality. Jadi kita melakukan sesuatu bukan sekedar karena saya, kebutuhan saya, tapi juga bukan karena kita saja sudah naik level menjadi karena Dia. Aku berbuat seperti ini karena Dia. Dia yang di atas sana yang mengatur hidup kita. Dia yang membawa hidup kita. Dia itu sampai kepada level spirituality. Jadi, mari kita ASN belajar sama-sama mulai dari pribadi, start from yourself. Bukan sekedar aku tahu potensiku ya, saya mengetahui potensi saya. Saya yang diakui sebagai yang ahli, tetapi juga saya dan Anda bersama-sama yang kemudian naik kepada level spirituality. Kita sudah karena Dia, ya. Nah, di situ kita bisa mencapai dengan cara belajar. Kemudian dari hasil belajar itu kita berkarya. Karya jadi bukan bekerja. Jadi kalau bekerja itu ada tenaga, waktu, pikiran untuk mendapatkan hasil atau mendapatkan gaji. Itu bekerja. Tetapi kalau berkarya itu waktu, tenaga, pikiran, ide kreatif masuk di situ, ketulusan masuk di situ. Dan kemudian hasilnya bukan sekedar uang, tetapi kepuasan dan kebermanfaatan yang bisa dirasakan oleh semua orang. Dan semua itu dirangkum dalam bentuk pengabdian yang dilakukan dengan hati. Semua orang bisa melakukan tidak pandang bulu siapapun itu. Karena berasal dari hakikat manusia. Manusia ini dilahirkan di dunia. Riwayat yang sudah kita tahu sama-sama. Kita itu manusia, jenis manusia. Nabi Adam itu ketika diciptakan itu sudah bikin geger langit. Sampai kemudian malaikat protes kan. Malaikat sempat mengatakan ya bukan protes ya karena malaikat itu mengabdi ya. Malaikat sampai bertanya, "Ya Allah, apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan di bumi?" Itu sampai ada kata-kata seperti itu kan berarti kan ada kegeran, ya. Bahkan kemudian ketika diminta untuk semuanya sujud ya ini kan ini kan sesuatu yang istimewa nih. Kita diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk asani takwim diminta untuk bersujud. Iblis mengatakan, "Eh, siapa ini anak baru? barusan diciptakan dari tanah. Saya yang dari api. Sudah bertahun-tahun, beribu tahun saya beribadah. Kenapa disuruh tunduk patuh? Itu kehebohan yang terjadi ketika manusia pertama diciptakan. Menurut riwayat demikian. Karena apa? Karena manusia itu secara hakikat itu sangat istimewa. Manusia itu khalifah fil ard. Manusia itu khalifah di bumi yang untuk menjadi khalifah itu kemudian manusia dibekali dengan dua modal dasar yang sangat luar biasa, Bapak, Ibu. Ada dua modal dasar. Yang pertama adalah logika. Akal. Manusia dilahirkan dengan akal. Dengan logika. dan kemudian dengan hati atau nurani atau budi. Jadi ada akal budi, ada logika, ada nurani. Ini adalah dua modal dasar yang diberikan kepada manusia dan tidak diberikan kepada hewan. Hewan enggak bisa logika. Mungkin hewan punya nurani, tapi dia enggak bisa logika, enggak bisa merancang. Hewan enggak bisa bikin AI, ya. Manusia ini sangat istimewa sekali. Dan kemudian logika ini harus kita asah, Bapak, Ibu. Dengan belajar itu kita mengasah logika. Logika kita, otak kita kalau tidak pernah digunakan, tidak pernah diasah, itu akan tumpul. Jadi logika itu harus terus diasah dengan belajar supaya logika kita itu tajam, supaya tidak mudah dibohongi, supaya tidak mudah termakan hoa, supaya ketika ada masalah kita bisa menyelesaikannya dengan logika kita. Nuraninya di apa? Nuraninya itu dihuh. Maka untuk Bapak Ibu yang seumuran dengan saya yang kalau bekerja sudah hampir pensiun gitu ya, itu dulu SD saya itu tulisannya itu asah asih asuh. Mungkin ada di sini yang ee pernah melihat gitu ya. Asah asih asuh tulisannya. Nah itu yang diasah logikanya. Yang dias dan diasuh itu hati nuraninya. Sehingga dari asah-asih asuh itu kemudian memunculkan skill dan knowledge serta attitude. Logika yang diasah akan memunculkan keterampilan dan pengetahuan. nurani yang dias dan diasuh akan memunculkan perilaku, skill, knowledge, attitude. Ini juga mendukung kompetensi yang tadi sudah disinggung oleh Bu Bawinda. Kompetensi kita itu dari skill, knowledge, dan attitude kita. Dari logika yang diasah, nurani yang diasih dan diasuh. Dengan modal ini hakikat manusia Allah berikan logika dan nurani. Dengan itu ASN belajar berkarya mengabdi. Ya. Jadi ASN pun juga butuh berprestasi maka dibutuhkan motivasi ya. ASN penuh motivasi ada kebutuhan untuk berprestasi. Ada need for achievement. Ada kebutuhan untuk menjalin hubungan, ada need for affiliation, dan juga ada kebutuhan berpuasa. Need for power. ASN dengan belajar, berkarya, dan mengabdi nantinya itu bisa mempunyai dorongan kuat dari dalam diri untuk mencapai hasil yang terbaik bahkan melampaui standar dan dia tidak mudah merasa puas. ya akan merancang standarnya. Ada patokan dalam menilai keberhasilan dan itu berasal dari diri sendiri. Bisa target target pribadi ya atau bisa juga dari keinginan dari luar mungkin dari target atasan, dari eksternal, target organisasi, harapan orang lain, norma profesional. Itu yang bisa kita lakukan. Ini bisa menjadi motivasi kita. Dan kita juga berusaha dengan tekun, gigih, pantang menyerah untuk mencapai keberhasilan kita. Kita membutuhkan kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Kemudian kebutuhan untuk menjalin hubungan. Ada friendship, ada good relationship, ada hubungan pertemanan yang saling mendukung. ASN hendaknya demikian ya, terhubung secara emosional sehingga tercipta ikatan sosial yang kuat dan positif. hubungan yang harmonis, saling menghargai, terbuka, komunikasi yang baik, komunikasi yang hangat, kerja sama antar anggota dengan rekan kerja di dalam organisasi. Ya, itu adalah kebutuhan kita untuk menjalin hubungan. Kemudian ada kebutuhan untuk berkuasa. Jadi, bisa mengkontrol orang lain itu mendominasi ya. mengkontrol orang lain, melakukan sesuatu supaya kita ini ketika melakukan sesuatu dengan kekuatan diri kita itu kita bisa me apa namanya mewujudkan kekuatan kita, keinginan kita untuk mendominasi. Jadi itulah yang kemudian bisa menjadi motivasi bagi seorang ASN yang kemudian di dalam kehidupan nyata itu bisa control others ya, decide thing di dalam kehidupan kita. Nah, Bapak, Ibu semuanya, kita sudah belajar tentang bagaimana era bani, bagaimana kita itu mempunyai achievement yang tinggi tentang afiliasi yang tinggi, power yang full. Karena semua itu mempengaruhi attitude, Bapak, Ibu. mempengaruhi attitude. Karena orang yang mempunyai achievement tinggi, daya jangkau tinggi, keinginan untuk mencapai sesuatu, maka dia itu akan rajin, dia akan tekun, pantang menyerah. Orang yang mempunyai keinginan hubungan yang tinggi, dia akan hangat, dia suka bekerja sama, mudah bergaul. Ya. Kemudian orang yang ee keinginan berkuasanya tinggi, dia akan dominan, dia akan tegas. Bagaimana menghadapi era bani, Bapak, Ibu? Bagaimana ASN dengan keinginan berprestasi itu kemudian menghadapi era bani? Nah, ketika kita menghadapi era bani itu kita hadapi dengan bani juga. Tapi bani yang kali ini yang pertama tadi sudah disinggung dijelaskan dengan ee detail ya dengan gamblang oleh Bu Bawinda tentang build resilience, membangun ketangguhan. Karena ASN memang harus siap krisis dan mental ya mempunyai mental yang kuat. Tadi Bu Bawinda e saya baru ketemu dengan Prof. Ilham sekarang tapi kenapa materinya sama gitu. Ternyata kita memang ee mungkin satu hati, satu rasa ya sehingga hampir mirip-mirip nih. Yang pertama build resilience, bangun ketangguhan. Kemudian yang kedua adalah adopt with agility. Jadi kita agile, beradaptasi, lincah. Kalau orang Jawa mungkin bisa dengan mengatakan kieng gitu ya. ASN harus cepat belajar tentang teknologi. Karena sekarang bagaimanapun sudah ada sistem digital yang memang harus kita ee ikuti ya walaupun kita bukan native digital, bukan digital native tapi kita belajar. Demikian pun dengan saya yang usianya sudah lebih dari 56 tahun ya insyaallah bismillah itu pelan-pelan ikut mengikuti zaman supaya tidak terlindas oleh zaman. Kemudian tumbuhkan inovasi, nurture innovation. Teman-teman ASN harus punya budaya continuous improvement, selalu melakukan improvement secara terus-menerus. Dan hadapi juga dengan inspire with integrity, mengabdi dengan integritas kita. Jujur, disiplin, melayani sepenuh hati. Insyaallah kalau kita mengharap menghadapi era bani dengan bani build relations adapt with agility kemudian nur innovation inspire with integrity insyaallah kita akan bisa mengatasi bani ini. Belajar menyiapkan diri menghadapi hal-hal di dalam kehidupan yang kadang rapuh. Jadi kalau kita menghadapi Brittle itu dengan belajar, menyiapkan diri menghadapi rapuhnya zaman. Kemudian berkarya, melahirkan situasi di tengah kecemasan dan ketidakpastian yang sekarang ini kita rasakan. Mengabdi, memberikan makna, memberikan kepastian kepada masyarakat di tengah dunia ini yang serba membingungkan. Nah, kalau kita sudah melakukannya dari mulai pribadi yang kemudian satu kelompok lebih lebar lagi, lebih luas lagi, insyaallah kita bisa melakukannya sepenuh hati, memberikan yang terbaik, ASN yang terus belajar, berkarya, mengabdi sepenuh hati. Insyaallah. Demikian, Mbak Fani. Baik, saya sampaikan materinya kasih. Terima kasih banyak dengan sepenuh hati. Wow. Ini juga yang harus saya lakukan dalam melakukan apapun yang bisa begitu ya untuk e dalam pengabdian masyarakat. Terima kasih banyak Ibu Fusna dan kita langsung saja untuk berinteraksi dan berdiskusi dan sudah hadir secara online. Begitu kami akan sambungkan dengan Bapak Iskandar dari Trenggalek. Selamat siang Pak Iskandar. Selamat siang. Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Pak Iskandar disilakan untuk pertanyaannya dan interaksinya. Terima kasih ee MC. Ee yang ingin saya tanyakan adalah di sini kan kita kan membangun potensi diri sendiri nggih Bu ee Fazalna bahwa semua itu kembali ke dalam diri sendiri. Nah, di satu sisi ee lingkungan di sekitar kita di baik di rumah mungkin maupun di tempat kerja atau di tempat kita berinteraksi selama ini tidak mendukung untuk pengembangan potensi diri kita tadi yang berjenjang ya dari personality, mentality yang Ibu sampaikan. Nah, ini gimana, Bu kiat-kiatnya untuk menghadapi tantangan itu sehingga kita bisa survive, menapaki jenjang-jenjang yang Ibu sampaikan tadi sehingga budaya kerja ee di mana belajar, berkarya dan mengabdi ini menjadi satu sinergitas ee untuk mencapai tujuan yang luar biasa. Terutama juga kan itu kan kembali kepada diri kita dan lingkungan sekitar baik di tempat kerja maupun di rumah. Mungkin itu pertanyaan saya. Terima kasih Bu Hosna. Lihatkan strateginya. Heeh. Terima kasih Bu Fusna. Silakan untuk dijawab. Oke. Baik. Terima kasih Pak Iskandar. Masyaallah luar biasa. Senang sekali berkenalan dengan Bapak yang dari Trenggalek. Ya. Baik. Eh, saya mau cerita sedikit Bapak ketika saya sebagai pribadi satu kemudian alhamdulillah hari ini sudah hadir banyak orang dan masing-masing ini satu Pak Iskandar, satu Mbak, satu Prof. Ilham satu Bubawinda. Satu lagi, satu lagi yang banyak ini kemudian melakukan pembenahan secara pribadi. Insyaallah ketika terkumpul nanti itu akan menjadi sebuah komunitas yang sama-sama memperbaiki diri. Dan ini makanya di apa namanya yang diadakan hari ini ya yang ke-33 ini sungguh luar biasa. Cerita saya adalah begini Pak Iskandar. Ada seorang yang namanya David Hawkins. David Hawkins ini sudah melakukan penelitian lebih dari 20 tahun terhadap ribuan orang. Sampai kemudian dia mempunyai kesimpulan tentang map of consciousness, peta kesadaran atau bisa disebut juga sebagai level of consciousness, level kesadaran. Nah, itu ada dimulai dari kesadaran yang dia punya ukuran. Misalnya 20 itu adalah merasa terhina itu 20. Naik lagi putus asa itu 50. Naik lagi ada kecewa, rasa bersalah, rakus sampai ternyata sombong. Sombong itu 175. Nah, kita bisa hidup dengan normal kalau kita itu di level 200, Pak. Di level 200 itu kita bisa normal, yaitu kita bisa berani menerima keadaan dan kemudian pindah zona. Level di bawah 200 ini sifatnya merusak. Orang tidak bisa menolong dirinya sendiri. Apabila dia putus asa, bagaimana dia akan menolong orang lain? Karena dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Ketika dia merasa bersalah, dia enggak bisa menolong diri sendiri. Rasa itu menyiksa. Bagaimana dia akan mengabdi kalau dia tidak bisa menolong dirinya sendiri? Nah, ajaibnya setelah kita membuka ruang ikhlas, mau menerima, kita akan naik level. Sehingga kalau yang di bawah itu adalah level bawah, sifatnya merusak, naik level sifatnya membangun. di situ. Kemudian ada yang namanya welas asih, ada yang namanya semangat, optimis sampai kepada level enlightening others, memberikan pencerahan kepada orang lain. Nah, apa hubungannya dengan pertanyaan Bapak ini? Ada yang namanya level bawah, ada yang namanya level atas. Level di bawah ini kalau kita lakukan akan sama-sama menggetarkan level bawah. Vibrasi ada di bawah. mengeluh, protes, malas, sedih, gagal, dendam, cemburu, itu level bawah. Level atas bahagia, tenang, damai, semangat, optimis. Level atas ini dipisahkan oleh tembok yang tidak bisa dihancurkan kecuali dengan kuncinya. Kalau mau ke atas naiknya dengan ikhlas. Kalau mau ke bawah dengan nafsu. Orang yang dia sudah terkenal, kaya, pintar, tergoda nafsunya, mengambil yang bukan haknya, ketangkap KPK, dipakai rompi orange, masuk ke bawah sedih, nangis, orang sudah tidak mengingatnya lagi, tidak dihiraukan. Itu sudah masuk ke bawah dengan apa? Dengan nafsu. Naiknya dengan apa? dengan ikhlas. Nah, level bawah hanya akan menggetarkan bawah. Level atas hanya akan menggetarkan atas. Tidak ada orang putus asa penuh semangat. Beda level. Semangat ada di atas, putus asa ada di bawah. Tidak ada orang cemburu, hatinya tenang, beda level. Orang cemburu di bawah, tenang itu di atas. Tidak ada orang dendam penuh cinta kasih. Beda level. Nah, dari kita, kita pun demikian. Kalau kita selalu memvibrasikan hal-hal yang negatif, ini seperti algoritma sosmet. Begitu kita sering buka topik-topik tentang humor, kita akan dibombardir dengan humor. Humor. Humor. Humor. Ke mana-mana buka sosmet ketemu humor. Ketika kita buka sosmet-nya tentang ilmu pengetahuan, nanti akan muncul pengetahuan, pengetahuan, pengetahuan. Demikian juga dengan diri kita. Atas izin Tuhan, Pak Iskandar, apabila kita sudah setting hati kita pada level atas, bahagia, semangat, optimis, tenang, welas asih, juara, kaya, sehat, semuanya di atas, itu yang akan tergetar itu di atas. Jadi, mau tidak mau kita itu akan ketemu dengan yang satu frekuensi. Jadi yang mengubah itu adalah diri kita diperbaiki dulu, orang lain atas izin Tuhan nanti akan frekuensi. Jadi kalau model itu sekufu gitu ya, Pak Iskandar. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa suami istri itu sekufu, kalau tidak sekufu, istri harus mencoba menaikkan diri sehingga satu level dengan suami gitu ya. Atau mungkin kalau suami kemudian yang lebih baik akan menyamakan dengan istri ya akan bubar-bubar semua gitu. Demikian juga kalau kita pengin baik, yang perlu kita perbaiki diri kita sendiri dulu. Diri kita yang belajar, diri kita yang berkarya, diri kita yang mengabdi. Karena dikatakan juga dalam eh penelitian David Hawkins itu mungkin nanti bisa digoogling itu ada kemungkinan probability antara level of consciousness dengan kekayaan, kebahagiaan, dan kriminalitas. Orang yang merasa terhina levelnya 20, dia pasti tidak bahagia. Dia mungkin tidak akan mendapatkan pekerjaan dan dia itu bisa saja melakukan kejahatan lebih besar persentasenya. Ada orang yang menurut informasi terakhir dikatakan bahwa dia itu merasa terhina. Konon tapi belum selesai kasusnya karena kreditnya tidak diacar gitu ya. Karena tertampar harga dirinya konon tapi saya belum tahu karena hukum belum ee memberikan kepastian ee kepastian hukum dari kasus ini. Kemudian dia melakukan apa? karena dia terhina 20 ini levelnya sangat di bawah dia melakukan pembunuhan itu bisa saja terjadi. Atau ada seorang mahasiswa S2 sedang mengambil anestesi karena dibully oleh kakak kelas, oleh senior. Dia merasa terhina dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ternyata ada di dalam level of consciousness ini oleh David Hawkins ini diterangkan bahwa ternyata ada kemungkinan orang yang di level bawah akan miskin, nganggur, dekat dengan kriminalitas. Orang yang di bawah akan bahagia, berkelimpahan, jauh dari kriminalitas. Jadi kalau saya hubungkan dengan pertanyaannya Pak Iskandar tadi, bagaimana kalau lingkungan saya lingkungan yang seperti ini? Ubah diri kita. Niatkan, mohon bimbingan sama Tuhan. Semoga kita bisa enlightening others. Semoga sikap saya ini membawa dampak dan nanti atas izinnya kita akan ditemukan dengan hal-hal yang positif. Kira-kira demikian, Pak Iskandar. Moga-moga menjawab walaupun agak agak belok dulu ya. Agak belok dulu. Oke. Baik. Terima kasih banyak Bu Fusna dan Pak Iskandar. Mungkin ada yang mau ditanggapi dicukupkan? Oh, baik. Mic-nya mungkin bisa akan kami aktifkan kembali. Iya. Baik, terima kasih Buna ee pencerahannya. Ee memang intinya memang kembali lagi kepada diri kita bagaimana kita bisa ee membawa perubahan di lingkungan sekitar kita dengan diri kita dulu ee mencapai level yang lebih tinggi itu tadi. Begitu ya Bu. sehingga orang di sekitar kita akan ee berdampak ee frekuensi yang artinya aura positif kita yang sudah di level tinggi itu perlahan atau pasti akan memberikan dampak gitu ya Bu ee terhadap lingkungan di sekitar kita untuk terjadinya perubahan yang sesuai yang kita harapkan bersama. Mungkin itu ya Bu ya. Yes. Yes. Insyaallah demikian. Terima kasih, Bu. Buasih ya. Terima kasih banyak. Terasih, I terima kasih, Pak. Iya. Baik, kami akan beralih kepada penanya selanjutnya yaitu ada Bapak Ivan dari DLH Banyuwangi. Kami akan sambungkan. Selamat siang, Pak Ivan. Selamat siang, Mbak. Baik, Bapak. Boleh di ee naikkan lagi volume suaranya. Ee suaranya terdengar sangat kecil di sini. Oke, sudah, Mbak. Ah, sudah. Baik, terima kasih. Sudah sangat jelas. Silakan, Pak Ivan untuk pertanyaannya. Makasih. Selamat pagi, Buusna. Selamat pagi, Pak Ivan. Ee izin Bu Husna. Eh, bagaimana kita mengidentifikasi personality dalam ekosistem yang sebelumnya kita jalankan di era FUKA. Kemudian tadi Bu Fusna menjelaskan di era Bani ee pertanyaan saya yang pertama ee apa titik kritisnya dan apa yang membedakan ee karena ee kita pernah melakukan perubahan ee di era vokal ee era Covid maupun era pasca COVID ee dan justru di era itu ketika organisasi atau SKPD lain sedang apa ya me ee mengalami kemunduran tapi justru prestasi dan capaian kami banyak capai, Bu. Nah, ee namun di tahun 2025 ini kami cenderung flat, Bu. Nah, mohon mungkin ee saran masukannya. Yang kedua, mungkin mohon arahan dari Bu Fusna terkait ee bagaimana sih ee kita bisa memitigasi sehingga ee tagline ASN naik kelas ini bisa kita laksanakan, Bu. Karena jujur saja saat ini hanya sebatas tageline jadi ee kita ramai banyak ee di TikTok dan lain sebagainya. Namun ee secara implementasi yang disampaikan oleh para narsum sebelumnya itu ee kurang kurang mendalami Bu. Jadi hanya hanya framing-nya aja yang yang dibesarkan. Mungkin itu aja Bu. Makasih. Baik, terima kasih banyak Pak Ivan. Baik, silakan Bu Fusna. Oke, Pak Ivan. Terima kasih. Masyaallah, Pak Ivan. ini saya lihat di organisasinya ini pegang kendali banget nih kayaknya termasuk sosok yang ingin membuat perubahan positif. Keren dari pilihan bahasanya, dari sikap penyampaiannya saya melihat ada optimisme yang kuat. Jadi memang ada era fuka dan era bani gitu ya. Contohnya nih misalnya leader. Leader itu pada era FUka diperlukan adalah orang-orang yang eksponen yang ketika dia mencetak prestasi itu memang pakai cara-cara yang diatur supaya bisa mencetak prestasi lebih tinggi, lompatan-lompatan dan sebagainya. Tapi ketika sampai pada era bani, maka yang dibutuhkan oleh leader adalah mindful leader. Jadi perbedaannya ketika ada pelatihan, kami adakan pelatihan itu kami lakukan dengan yang namanya purifying heart, penjernihan hati. Dan ternyata kenyataannya para leader yang kelihatan tough, yang kelihatan kuat dengan masa depan, dengan perencanaan itu ketika mempunikan hati banyak yang tumbang. Tumbang di sini ada yang kemudian sampai jatuh dari kursi kemudian menangis gitu ya. Karena apa? Ternyata banyak orang-orang yang kemarin mempersiapkan diri secara prestasi di era fuka, dia merasa kuat, merasa hebat, merasa tangguh. seperti tidak apa-apa ternyata menutupi luka. Dan yang namanya luka itu tidak bisa sembuh dengan ditutupi. Luka tidak bisa hilang dengan merasa tidak terjadi apa-apa. Maka sikap yang terkait apabila pada era FUA kemarin dinamis ya, volatility kita itu serba dinamis, serba berubah dengan cepat. itu kayak bisa diukur ketahanan kita itu dengan kalau kita bisa survive. Tetapi pada era bani itu sekarang sudah menjadi ketahanan mental. Maka tadi Bu Bawinda berkali-kali Bubawinda mengatakan tentang resiliensi, kegigihan, menekankan kepada bagaimana hati yang rapuh, kecemasan itu kita di pemurnian hati. Maka isu-isu kesehatan mental kan sekarang di era bani ini banyak banget ya. Isu-isu kesehatan mental istilah kemudian healing, istilah kemudian menghargai diri sendiri itu kan mulai tumbuh di era ini. Nah, ternyata sebenarnya yang akan kita awali dulu ketika kita akan mencapai target-target itu adalah diri kita. Kalau kemarin di era pencapaian-pencapaian prestasi, target, langkah-langkah teknis bersaing. Tapi kalau kemudian di era bani itu kita mulai menyadari bahwa kita itu seakan-akan membawa beban di pundak. Bahkan bisa dikatakan bahwa bukan hanya membawa beban, kita itu membawa truk sampah. Lebih dari beban kita itu bawa truk sampah. Nah, truk sampah inilah yang kemudian memberatkan langkah kita. Kita enggak bisa maju. Nah, bagaimana supaya kita bisa maju pada dunia yang penuh kecemasan, pada dunia yang rapuh, pada dunia yang nonlinear, enggak berpola lagi, enggak bisa dibanding-bandingkan. Buang truk sampahnya. Truk sampahnya dibuang, sampahnya itu dikeluarkan sampai kemudian kita bisa melangkah dengan lebih ringan. Jadi kalau kemarin lebih ke pencapaian-pencapaian, sekarang lebih kepada bagaimana kedamaian hati kita. Eh, ada engaging communication, komunikasi yang not just effective ya, bukan effective communication. Kita mulai dari purifying the heart. Ada pelajaran tentang mindful leadership. Kita awali dengan purifying the heart. Kemudian dikatakan begini, "Aduh, leadership yang seperti ini yang kemarin belum pernah saya terima." Ternyata kalau sudah memurnikan hati yang kita lakukan dengan belajar itu belajar apa? Belajar mendengarkan. Jadi namanya powerful listening. Jadi sekarang ini belajarnya bukan bagaimana mencapai target langkahnya begini, berapa persentase yang akan kita naik. Itu diawali dengan apa? mendengarkan. Kemudian kita juga memberikan pertanyaan yang berdaya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh memberikan pertanyaan yang berdaya dari mendengar dan berkata seorang leader, seorang rekan kerja, insyaallah kita bisa sama-sama belajar dan bisa menaikkan kebutuhan sekarang orang kan begitu. Kebutuhan orang sekarang itu lebih kepada saya pengin seorang leader, seorang manajer, seorang atasan yang mau mendengarku. Orang yang pertanyaannya bisa membangkitkan keinginan untuk maju. bukan lagi pada era kejar-kejaran mencapai target mengalahkan, tetapi era pada berkolaborasi, empati, membangun ketangguhan secara psikologis. Insyaallah demikian. Coba kita awali dengan dari diri kita, hati yang bersih insyaallah nanti kita akan ketemu. Kalau saya pakai istilah itu sebenarnya ada namanya MPC. Ini kalau orang Banyuwangi insyaallah tahu mboh piye carane? Mboh piye carane? Itu carane Tuhan, Bapak. Jadi caranya Tuhan ini yang kemudian nanti akan menggiring kita, menunjukkan langkah kita. Ada memang sesuatu yang ketika di logika seperti tidak masuk akal, tapi masuk iman, masuk kepercayaan. Tidak bisa dilogika, tidak masuk akal tapi masuk dalam kepercayaan. Dan ketika dilakukan ternyata membawa dampak yang positif. Dan ini selaras Bapak. Selain tadi saya katakan dari David Hawkins tentang level of consciousness, ada lagi namanya Robert Cooper. Robert Cooper itu yang mengatakan bahwa perasaan perasaan yang kita benahi sekarang ini mempengaruhi pemikiran kita. Orang yang perasaannya galau, pikirannya kacau. Orang yang perasaannya bersih, pikirannya jernih. Orang yang perasaannya damai, pikirannya itu bisa lancar. Perasaan mempengaruhi pikiran. Pikiran mempengaruhi tindakan. Karena tindakan kita akar dari tindakan itu di pemikiran. tindakan kalau dibiasakan terus-menerus akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan mempengaruhi karakter dan karakter itulah yang menentukan nasib kita. Ternyata Bapak dari semuanya bagaimana caranya? Ternyata benahi perasaan. Hargai orang lain penuh dengan empati. Mendengar berkata yang powerful mendengar yang dengan sungguh-sungguh. itu Robert Cooper membuat formula pembentukan nasib. Perasaan mempengaruhi pikiran, pikiran mempengaruhi tindakan. Tindakan yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter dan karakter itulah yang akan menjadi nasib Anda. Dan di dalam Islam Allah berfirman di dalam hadis qudsi, "Ana idoni abdi." Aku sesuai persangkaan hambaku. Allah. Allah sesuai dengan persangkaan hambanya. Maka selain pembenahan secara teknis yang kita pelajari secara umum, mari kita melakukan pembenahan secara nurani. Maka tadi saya singgung bahwa modal dasar kita adalah logika dan nurani. Insyaallah dengan mengubah itu, Bapak, dari yang kejar-kejaran target, langkah, teknis, hitung-hitungan di atas kerja, kertas berapa persentase, kita benahi diri kita. Ternyata itu powerful loh. Mali mari kita ee buktikan dengan melakukan pada diri kita sendiri dulu. Demikian Bapak, mohon izin moga-moga bisa memberikan jawaban. Baik, terima kasih banyak Ibu Fusna dan mungkin Pak Ivan ada yang mau ditanggapi terkait dengan jawaban yang telah diberikan. Baik, terima kasih banyak Pak Ivan. Ini sangat lengkap dan jelas sekali begitu ya. Oke, Pak Ian terima kasih banyak telah bergabung bersama kami secara online dan juga berinteraksi dengan Ibu Fusna karena memang waktu yang harus kami cukupkan untuk sesi tanya jawab kali ini. Ibu Fusna terima kasih banyak atas waktu yang telah diberikan karena siang hari ini memang ee waktu yang harus kami berikan juga terbatas. Begitu. Sebelumnya kami ingin sekali mendengarkan closing statement yang ingin diberikan oleh Ibu Fusna. Silakan, Ibu. Baik, terima kasih. ASN belajar, berkarya, dan mengabdi mulailah dari hati. Maka perlu kita pemurnian hati dan luruskan niat. Semoga kita bisa membawa perubahan yang lebih positif untuk Indonesia. Terima kasih, Mbak Fani. Baik, terima kasih banyak Ibu Fusna Marzuko, SH. Mm. atas waktu yang telah diberikan dan insightful sekali materi yang telah diberikan. Semoga kita dapat bertemu lagi dalam kesempatan berikutnya. Baik, Sobat ASN, tidak terasa kita sudah sampai di pengujung acara siang hari ini. Namun kami ingin sekali mengingatkan bahwa presensi untuk dapat dicek melalui semesta Bangkom. Dan saya haturkan terima kasih banyak atas waktu dari seluruh sobat ASN yang telah tergabung secara Zoom meeting maupun BPSDM Jatim TV dan juga seluruh pihak yang sudah mendukung webinar ASN belajar seri ke-33 tahun 2025. Hari ini ada Profesor and Senior Consultant University of Kuala Lumpur, Malaysia, Prof. Dr. Ilham Sentosa, SSTP, MP, PhD yang menjadi narasumber kita yang pertama tadi. Kemudian juga telah tergabung dan memberikan insight-nya melalui materi yang telah diberikan dosen psikologi dan direktur IMKOM yaitu Ibu Dr. Bawinda Sri Lestari, S.H., M.Psi dan juga yang barusan saja memberikan closing statement insightful juga dan sangat powerful kepada kita. yaitu seorang trainer, consultant, coach, and motivator Ibu Fusna Marzuko, SH., M.M. Sobat ASN, sekali lagi kami ingatkan untuk dapat mengunduh e-sertifikat melalui semesta Bangkom dan caranya dapat dilihat melalui running teks yang ada di bawah. ASN belajar seri ke-33 tahun 2025. Persembahan oleh Corpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Akhir kata, saya Fan Patriia pamit undur diri. Sampai jumpa pada ASN belajar seri berikutnya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] [Tepuk tangan] Sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. [Musik] menjadi ASN berakhlak mulia. Siap penyongok Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah. Jadi ASN tetar berkualitas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]