Transcript
DLuzVlAs6IE • ASN Belajar Seri 33 | 2025 - Budaya Kerja ASN: Belajar - Berkarya - Mengabdi
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0256_DLuzVlAs6IE.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam
webinar ASN belajar yang dipersembahkan
oleh Corporate University SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Sebelum memulai webinar, ada beberapa
hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar
acara dapat berjalan dengan lancar.
Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan
format. Nama strip asal instansi sobat
ASN.
Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi
kamera tidak membelakangi cahaya ya,
agar wajah Sobat ASN dapat terlihat
lebih jelas.
Tiga, gunakan virtual background yang
sudah disediakan.
Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link
pendaftaran, virtual background dapat
diunduh pada link yang dikirimkan
melalui pesan WhatsApp. Empat.
Apabila Sobat ASN ingin mengajukan
pertanyaan atau berpartisipasi
interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan
reaction angkat tangan atau rise hand
pada Zoom meeting.
Lima.
Bagi Sobat ASN yang mengikuti webinar
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV
dapat menuliskan pertanyaan melalui
kolom live chat.
Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis
untuk mencatat hal-hal penting ya.
Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain
untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini
dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN
tentang materi yang disampaikan oleh
narasumber.
Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat
pada webinar ini, Sobat ASN wajib
mengisi link presensi yang akan kami
bagikan pada saat acara webinar
berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi
lembar penilaian dan kuesioner juga agar
e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Tetap semangat dan selamat mengikuti
webinar ASN Belajar.
[Musik]
Zaman yang terus bergerak.
Sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
[Musik]
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
mengkelas dunia
tekad pantang
jadi ASN
berkuat cita
[Musik]
sama
[Musik]
Yeah.
[Musik]
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Barlah kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan
yang hadir di sini untuk mengabdi
laksanakan tugas ke bangga negeri.
Berentas
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Ho ho.
di sini sukses dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tujukan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi.
Bergandeng tangan. Satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih beragama.
mengenas penuh hati tulus membantu
sesama dengan kami melayani.
dengan kami melayani
bangsa
[Musik]
H
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam
webinar ASN belajar yang dipersembahkan
oleh Corporate University SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Sebelum memulai webinar, ada beberapa
hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar
acara dapat berjalan dengan lancar.
Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan
format. Nama strip asal instansi Sobat
ASN.
Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi
kamera tidak membelakangi cahaya ya,
agar wajah Sobat ASN dapat terlihat
lebih jelas.
Tiga, gunakan virtual background yang
sudah disediakan.
Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link
pendaftaran, virtual background dapat
diunduh pada link yang dikirimkan
melalui pesan WhatsApp.
[Musik]
Empat, apabila Sobat ASN ingin
mengajukan pertanyaan atau
berpartisipasi interaktif, Sobat ASN
dapat menggunakan reaction angkat tangan
atau raise hand pada Zoom meeting.
Lima.
Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV
dapat menuliskan pertanyaan melalui
kolom live chat.
Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis
untuk mencatat hal-hal penting, ya.
Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain
untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini
dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN
tentang materi yang disampaikan oleh
narasumber.
Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat
pada webinar ini, Sobat ASN wajib
mengisi link presensi yang akan kami
bagikan pada saat acara webinar
berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi
lembar penilaian dan kuesioner juga agar
e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Tetap semangat dan selamat mengikuti
webinar ASN Belajar.
[Musik]
Huray! Ada yang baru lagi nih di BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Ruang bermain anak.
Tempat yang satu ini adalah solusi bagi
para orang tua yang masih memiliki anak
kecil. Kita sebagai orang tua pasti
khawatir ya. Apalagi kalau ditinggal
kerja nih. Wah, kira-kira anak saya aman
enggak ya di rumah? Kira-kira anak saya
bermain atau belajar dengan baik enggak
ya di rumah? Sobat ASN kalau dikirim
diklat di BPSDM Provinsi Jawa Timur
sekarang udah enggak perlu khawatir
lagi. Karena di BPSDM Provinsi Jawa
Timur ruang bermain anaknya lengkap
banget fasilitasnya. Mulai ada tempat
bermain,
tempat tidur untuk mereka bisa
istirahat,
kemudian buku-buku edukatif,
dan ada ruang nursery juga untuk Ibu
menyusui. Kamar mandinya pun lengkap dan
bersih. Dan yang enggak ketinggalan
penting, Sobat ASN bisa langsung pantau
lewat CCTV. Keren banget, kan? Jadi,
Mommy and Daddy sekarang gak perlu
khawatir lagi, ya.
Mommy and daddy don't worry we are
happy.
[Musik]
zaman yang terus tergerak
Sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
[Musik]
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar
pemerintahan berkelas dunia
tukang tekad pantang menyerah jadi ASN
berkualit
[Musik]
Kami mencoba menjadi yang terbaik,
melayani bangsa Dengan sepenuh hati
marahlah kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan
hadir di sini untuk mengabdi
laksanakan tugas ke bangga negeri.
Berentasut
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Kami dari sini
dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya.
Selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak.
bekerja sepenuh hati, tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa.
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan. Satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih beragam.
Mengjas sepenuh hati, tulus membantu
sesama dengan bang kami melayani
dengan bangi.
[Musik]
Dengan mengat kami melayani
Mas
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
He.
[Musik]
He.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia,
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar
pemerintahan
berkelas dunia
tekad pantang menyerah
jadi ASN
berkuit
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya.
Salam kebajikan dan salam sehat untuk
kita semua. Selamat datang kami ucapkan
kepada sobat ASN di mana pun Anda berada
baik yang telah tergabung dalam Zoom
meeting maupun channel YouTube BPSDM
Jatim TV. Senang sekali kembali saya Fan
Patriia yang akan menjadi moderator pada
ASN Belajar seri ke-33
tahun 2025 tahun ini dan merupakan
persembahan dari Corpu SDIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Sobat ASN, di
tengah tuntutan zaman yang serba cepat,
masih banyak ASN yang terjebak dalam
rutinitas kerja yang tanpa semangat
kerja dan juga belajar menghasilkan
karya yang belum juga berdampak nyata
atau bahkan merasa pengabdian hanya
sebatas kewajiban saja. Padahal tanpa
budaya kerja yang kokoh, birokrasi ini
sulit bergerak maju dan kepercayaan
publik pun terancam luntur. Oleh
karenanya, dibutuhkan tiga pilar utama,
yaitu belajar, berkarya, dan mengabdi
untuk menjawab tantangan-tantangan
tersebut. Ketiganya adalah satu kesatuan
yang membentuk etos dan jati diri ASN.
Belajar tanpa berkarya hanya akan
berhenti pada teori saja. Berkarya tanpa
belajar akan kehilangan arah. Mengabdi
tanpa keduanya akan kehilangan makna.
Maka saat ASN menjadikan belajar sebagai
budaya, karya sebagai bukti, dan
pengabdian sebagai tujuan, lahirlah
insan aparatur yang profesional,
berintegritas, dan berdedikasi.
Dari ruang kerja hingga ruang publik,
budaya kerja ini menjadi cahaya yang
menerangi pelayanan, menumbuhkan
kepercayaan, dan menggerakkan Indonesia
menuju kemajuan.
[Musik]
Sobat, untuk membuka webinar ASN Belajar
ke-33 tahun 2025, marilah kita dengarkan
terlebih dahulu opening speech yang akan
disampaikan oleh Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto, S.PM. PMP
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN
di seluruh tanah air, selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University, Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini Kamis tanggal 28 Agustus tahun
2025, ASN belajar telah memasuki seri
yang ke-33.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami, kami
selalu berkomitmen sekaligus berikhtiar
untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-33 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka melakukan
intropeksi kolektif tentang seperti apa
budaya kerja ASN selama ini dan
merancang ikhtiar strategis ke depan
untuk meningkatkan kualitas budaya kerja
tersebut.
Kita sadar sepenuhnya bahwa di tengah
dinamika zaman yang ditandai oleh
disrupsi teknologi, perubahan sosial,
serta tuntutan akuntabilitas publik yang
semakin tinggi. Peran ASN sebagai
penggerak birokrasi menjadi sangat
krusial. ASN bukan hanya pelaksana
kebijakan, tapi juga penjaga integritas,
penjamin pelayanan publik, sekaligus
motor inovasi pembangunan.
Dalam situasi ini maka budaya kerja ASN
akan menjadi ruh birokrasi. Tanpa budaya
kerja yang sehat, profesional, dan
berorientasi pelayanan, birokrasi akan
kehilangan jati dirinya.
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN Belajar seri ke-33 tahun 2025 ini
mengangkat topik budaya kerja ASN,
belajar, berkarya, dan mengabdi.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam ASN belajar bahwa topik ini nanti
akan dibahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya. Sabat ASN di seluruh tanah
air berbicara tentang budaya kerja ASN.
Sejatinya kita sedang berbicara tentang
jantung dari sebuah bangsa. ASN bukan
hanya aparat administratif, tapi juga
penjaga harapan rakyat dan penggerak
roda pembangunan.
Budaya kerja ASN adalah DNA yang
membentuk bagaimana kita belajar dengan
tekun, berkarya dengan tuntas, dan
mengabdi tanpa batas.
Dalam era disrupsi saat ini, ASN tidak
cukup hanya menguasai aturan dan
prosedur. ASN dituntut untuk memiliki
etika pelayanan, semangat inovasi, dan
integritas yang kokoh. Tema kita hari
ini, belajar berkarya mengabdi adalah
mantra transformasi ASN. Belajar karena
dunia berubah lebih cepat dari yang kita
bayangkan. ASN harus menjadi pembelajar
sepanjang hayat.
Berkarya karena pengetahuan tanpa karya
hanyalah wacana. ASN ditantang untuk
menghasilkan inovasi, solusi, dan
kebijakan yang nyata menyentuh kehidupan
masyarakat.
Mengabdi karena pada akhirnya tujuan
tertinggi ASN adalah menghadirkan
kesejahteraan dan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Mengabdi
adalah bahasa cinta seorang ASN kepada
tanah airnya.
Sahabat ASN, kita sedang menapaki jalan
panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Saat itu republik ini akan genap berusia
100 tahun dan ASN hari inilah yang akan
menjadi arsitek peradaban menuju abad
emas tersebut.
Untuk sampai ke sana, kita membutuhkan
ASN yang kompeten sekaligus berkarakter.
ASN yang melek digital namun sekaligus
menjunjung tinggi moral. ASN yang mampu
berpikir global, namun sekaligus
bertindak lokal.
Budaya kerja ASN haruslah menjadi budaya
inovasi, kolaborasi, dan integritas.
Hanya dengan itulah kita bisa memastikan
bahwa setiap tetes keringat ASN menjadi
cahaya bagi kemajuan bangsa.
Sesungguhnya budaya kerja adalah denyut
nadi yang menghidupkan sebuah
organisasi. Ia bukan sekedar aturan
tertulis, melainkan kumpulan nilai
kepercayaan, kebiasaan, dan perilaku
yang tumbuh dihidupi bersama.
Dari situlah lahir cara kita bekerja,
cara kita berinteraksi, dan cara kita
menyelesaikan tugas kita sehari-hari.
Budaya kerja ibarat cermin jiwa
organisasi yang membentuk lingkungan,
mempengaruhi mentalitas, dan menentukan
suasana kerja. Ketika budaya kerja sehat
dan kuat, maka setiap individu akan
bekerja dengan semangat, setiap tim
bergerak dengan harmoni, dan setiap
kebijakan lahir dengan makna.
Para ahli manajemen menyebut bahwa
budaya kerja sebagai the invisible hand,
tangan yang tak kasat mata yang
mengarahkan perilaku, memberi identitas
sekaligus menjadi perekat kolektif dalam
sebuah institusi.
Budaya kerja adalah roh yang menyalakan
api dedikasi, menjadikan pekerjaan bukan
sekedar kewajiban, melainkan ibadah dan
pengabdian.
Maka membangun budaya kerja yang unggul
berarti menyalakan ober peradaban
birokrasi.
Ia bukan hanya tentang what we do,
melainkan how we do it with values, with
respect, and with purpose.
Saat ASN di seluruh tanah air, ASN
adalah mata air peradaban. Setiap
pelayanan yang tulus adalah tetes embun
yang menyejukkan rakyat. Setiap karsa
yang nyata adalah sungai yang
mengalirkan harapan dan setiap
pengabdian adalah samudera luas tempat
bangsa ini berlabuh. Mari kita jadikan
budaya kerja ASN sebagai energi kolektif
untuk membangun birokrasi yang lebih
profesional, adaptif, dan berintegritas.
Karena pada akhirnya ASN yang
berbudayalah adalah ASN yang belajar
tanpa henti, berkarya tanpa pamri, dan
mengabdi tanpa batas.
Sahabat ASN di seluruh tanah air. Lalu
bagaimana kita sebagai ASN Indonesia
membangun dan mengembangkan budaya kerja
yang berakar pada nilai luhur bangsa,
berorientasi pada pelayanan publik, dan
bertumbuh seiring denyut nadi perubahan
zaman. Nah, untuk membahas cerdasan
tuntas topik ini, kami telah mengundang
para narasumber hebat yang luar biasa
yang sudah barang tentu sangat kompeten
di bidangnya.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada para narasumber hebat
yang telah berkenan hadir dan akan
berbagi berbagai informasi strategis
kepada Sobat TN di seluruh tanah air.
Pertama kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada yang terhormat
Bapak Prof. Dr. Ilham Sentosa, SSTP,
MPA, PhD. Beliau adalah guru besar
sekaligus senior konsultan di University
of Kuala Lumpur, Malaysia. Kedua, kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada yang terhormat Ibu Dr. Bawinda S.
Lestari, SH, MC. Beliau seorang
akademisi, pakar psikologi organisasi.
Dan ketiga, kami menyampaikan terima
kasih dan apresiasi kepada yang
terhormat Ibu Husna Marzuko, S, M.M.
Beliau adalah seorang trainer,
konsultan, coach, dan motivator. Nah,
Sobat ASN, mari kita simak dengan
seksama webinar ASN belajar seri ke-33
tahun 2025. Semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih atas opening
speech yang telah disampaikan oleh Bapak
Dr. Ramlianto, S.MP. Nah, sebelum kita
berlanjut pada sesi utama pada ASN
Belajar seri ke-33 tahun 2025, kali ini
kami informasikan bahwa saat ini Sobat
ASN sudah dapat melakukan presensi pada
laman semesta Bangkom. Sekali lagi sudah
bisa melakukan presensi dalam laman
semesta Bangkom. Di awal tadi telah kami
tampilkan bagaimana caranya dan link
presensi dapat Sobat ASN lihat pada
running yang ada di bawah. Nah, itu
adalah update running di mana Sobat SN
dapat melihat bagaimana caranya untuk
dapat melakukan presensi. kolom chat
Zoom dan juga pin chat YouTube BPSDM
Jatim TV juga telah kami sediakan
bagaimana caranya melakukan presensi dan
dikarenakan karena traffic presensi yang
sangat tinggi saat ini. Bagi sobat ASN
yang masih belum bisa mengakses presensi
dapat mencoba kembali secara berkala
selama mengikuti ASN belajar seri ke-33
tahun 2025 kali ini.
[Musik]
Baik, tema kita kali ini adalah ASN di
mana harus belajar, berkarya, dan
mengabdi. tiga poin penting dan telah
kita hadirkan narasumber secara virtual
yang telah jauh-jauh hadir untuk dapat
menjumpai secara online kepada seluruh
sobat ASN di mana pun berada. Saya ingin
menyapa terlebih dahulu kepada
narasumber yang pertama yaitu Profesor
and Senior Consultant University of
Kuala Lumpur, Malaysia Prof. Dr. Ilham
Sentosa, SSTP, MPA, PhD. Halo, selamat
pagi, Prof.
Selamat pagi. Suara saya terdengar
baik. Sudah terdengar dengan jelas. Apa
kabarnya, Prof, hari ini?
Kabar baik, alhamdulillah.
Luar biasa. Boleh tahu saat ini berada
di mana, Prof?
Posisi pagi ini di Kuala Lumpur.
Wow. Kuala Lumpur. Bagaimana cuacanya
hari ini, Prof?
Cerah. Cuaca sangat cerah pagi hari ini.
Luar biasa. Terima kasih atas waktunya
menyempatkan diri untuk dapat berbagi
ilmu dengan Sobat A di Indonesia. Dan
waktu kami persilakan.
Baik, terima kasih. Ee
bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Ee selamat
pagi. Ee salam sejahtera untuk ee kita
semua. Ee terlebih dahulu saya sampaikan
ucapan terima kasih kepada BPSDM Jawa
Timur. Ee pagi hari ini e kita sama-sama
belajar nih ya. Kita sama-sama belajar
ee sama-sama berkarya dan juga ee kita
bungkus semuanya dalam kerangka
pengabdian ya. Dalam kerangka
pengabdian. Ee begitu saya dapat
topiknya ini belajar berkarya mengabdi.
Wah, ini tiga tiga item yang ee
betul-betul
ee menjadi apa ya menjadi se ee
suatu kesatuan ya, satu kesatuan yang
betul-betul ee diperlukan pada saat
sekarang. Bagaimana cara kita untuk ee
menjawab tantangan ke depan ya seperti
tadi yang telah disampaikan oleh Pak
Kaban. Eh sebelumnya izinkan saya
menyampaikan ucapan terima kasih kepada
Pak eh Ralianto ya, Pak Dr. Rianto
sebagai Kepala Badan BPSD Jawa Timur
yang telah memberikan kesempatan kepada
saya untuk ee pada pagi hari ini kita
sama-sama belajar ya, sama-sama berkarya
dan juga sama-sama mengabdi nih. Nah,
oke. Baik eh teman-teman SN se
seusantara
pada kesempatan pagi hari ini saya ee
izinkan saya memperkenalkan diri Ilham
Sentosa. Pada saat ini saya profesor di
University Kuala Lumpur Business School.
Emm kita ketahu bersama bahwa eh ketika
kita bicara tentang ee budaya kerja ya,
budaya kerja tadi telah disampaikan oleh
Pak Kaban bahwa ee tema kita pada pagi
hari ini adalah berbicara tentang budaya
ya. budaya. Dan saya mencoba melihat
bahwa ketika kita berbicara tentang
budaya, tentu ee
keinginan dari kita bersama ya adalah
bagaimana supaya semua kita champion.
Nah, ini tadi. Jadi saya coba mengangkat
bahwa ee ketika kita berbicara tentang
budaya kerja, ketika kita tentang
berbicara tentang berkarya dan juga
mengabdi, tentu
ee ada kerangka dasar yang yang
saya yakin semua ee ASN pada saat ini ee
ingin untuk e champion dan pertanyaannya
adalah sustainability bagaimana untuk
bertahan. Nah, ini yang yang se ee pada
pagi hari ini saya akan menawarkan
beberapa beberapa ee bukan hanya konsep
sebetulnya, beberapa ee tips ataupun
teknik yang sudah kita yang sudah kita
ujikan ya, sudah kita ujikan di beberapa
tempat ya, di beberapa tempat, beberapa
instansi yang se nanti akan saya coba
paparkan satu persatu em
untuk menjawab e berbagai tantangan
bahwa ee dengan segala ee bentuk ee
peraturan ya ee regulasi dan kemudian
keadaan di sekeliling kita ee dan juga
sumber daya yang kita miliki di
sekeliling kita tentu ee ketika kita
bicara tentang ASN sebagai employee dan
juga ada keyword tentang Sability
champion ini yang saya coba ramu untuk
pada saat sekarang bahwa eh belajar
bekerja mengabdi tiga ini apabila kita
jadikan sebagai satu kesatuan ini akan
menjadi ee ee strategi yang menarik ya,
strategi yang efektif untuk kita menjadi
ini tadi yang saya sampaikan di awal
tadi yaitu menjadi eh employee yang
sustainability champion. Nah, ketika
kita bicara tentang sustainabil champion
eh bagaimana kita untuk sustain,
bagaimana untuk kita bertahan. Nah, ini
yang yang pada pagi hari ini ya menjadi
sepuk konsep utama, pemikiran utama yang
akan saya ajukan ya saya tawarkan ke
teman-teman SN semua bahwa ee kita
ketahui bersama bahwa ee ASN dengan se
ee lingkungan yang sudah mulai berubah
ya dari jam 09.00 ke jam 09.00 pagi
ataupun 8.00 pagi ke 5 petang sekarang
sudah merubah konsepnya yang ee kita
ketahui bersama bahwa ada Gek ekonomi,
kemudian ada multitasking ya, kemudian
ada remote walking. Hal-hal seperti ini
yang yang merupakan peluang ya peluang
bagi untuk bagaimana menjadi
sustainability champion itu tadi. Ini
bahasanya keren nih sustainability
champion. Nanti mereka akan bertanya
nih, Prof. Ini bahasanya nih
sangat-sangat luar biasa. tetapi apa
yang harus kita lakukan dan bagaimana
kita melihat ini menjadi ee apa ya
menjadi ee kesempatan peluang untuk kita
melihat bahwa ee
ASN ternyata mampu dan lebih dari cukup
untuk kita melakukan hal tersebut. Nah,
teman-teman semua saya catatkan tentang
satu konsep yang kita namakan sebagai
social bus learning. di social busnis
learning ini budaya kerja
saya yakin sebetulnya sudah ada di e di
lingkungan kita, di keseharian kita.
Nah, hanya saja eh social busnis
learning ini menjadi ee tren ya, menjadi
tren yang harus ee kita pahami bersama
apa itu social busis learning dan eh
bagaimana ke depannya kita meng eh
eksekusi social busnis learning ini
sebagai eh platform ya, sebagai platform
yang bisa kita ee sepakati bersama bahwa
dengan social bu learning ini kita bisa
belajar ya, bisa berkarya dan mengabdi.
Nah, itu tadi em ketika saya dapat
ketiga topik ya, ketiga item ini itu
saya berpikir bahwa ini kita pakai resep
yang mana satu nih, mana yang paling
enak, mana yang paling ee mendekati
praktis ya. Karena ee sebagai akademisi
tentu e tugas kami adalah melihat ee
tips-tips ataupun teknik-teknik mana
saja yang sudah kita uji cobakan. Dan
kemudian se kita melihat bahwa situasi
di birokrasi Indonesia, birokrasi di
daerah ya, bahwa ini loh yang yang se
mendekati ini yang se antara teori
dengan praktisnya itu tidak terlalu jauh
gitu gap-nya dan kemudian ee mengerucut
kepada satu konsep ternyata social
busnis learning ini bisa menjadi budaya
kerja ya yang itu tadi ketika ee ASN ya
ketika ASN memahami social busnis
learning ini em tentu itu bisa lebih
optimal lagi ya dalam kerangka itu tadi
belajar, bekerja, dan juga mengabdi.
Baik,
ketika kita bicara tentang social bus
social busnis learning ya, social
business learning di kita singkat aja ya
SBL ya, social business learning. Nah,
dalam social bus learning ini yang
menjadi kerangka pemikiran utama yaitu
adalah sustainable development. Nah, ini
teman-teman yang sudah bermain dengan
SDG tentu e lagi pada senyum-senyum nih
Prof. bercerita tentang SDG. Betul. Saya
lagi bercerita tentang SDG. Saya lagi
bercerita tentang bagaimana
mengimplementasikan SDG dalam keseharian
ASN dan kerangka itu tadi kerangka
belajar, bekerja, dan juga ee mengabdi.
Kenapa saya pakai eh social business
learning? Pertama adalah peran kita ya.
Perabator
ya. Peran kita sebagai kolaborator. Nah,
ini yang menjadi eh unic selling point.
Inilah yang menjadi ee
ee potensi potensi awal bahwa ternyata
kita di dalam birokrasi kita mempunyai
ee power ya ataupun mempunyai eh
responsibility bagaimana untuk kita
melakukan kolaborasi ya. Bagaimana kita
me apa namanya? bagaimana kita me ee
lihat ya, bagaimana kita melihat bahwa
item-item yang ada di sekeliling kita
ya, sekeliling kita itu merupakan
sebagai potensi dan itu menunggu
sentuhan ya sentuhan dari eh ASN,
sentuhan dari kita. Nah, eh social
busnis learning berbicara tentang
collaborations for sustainability.
Bagaimana kita melihat se pootensi yang
ada di sekeliling kita. bagaimana kita
melihat se ee item-item yang ada dari
perspektif internal dengan eksternal ya.
internal eksternal untuk kita ee
ini langsung kita langsung kita
mengerucut ke beberapa ini ya beberapa
keyword yang ya keword yang akan saya ee
sampaikan satu persatu tadi kan tentang
social busnis learning dan kemudian kita
sebagai kolaborator ya kita sebagai
kolaborator dan kemudian berikutnya
adalah desaining
bisnis ekosistem
Nah, bisnis ekosistem ini tentu tidak
hanya berbicara tentang sektor private,
tetapi di sektor publik ya, ekosistem
yang ee ekosistem yang merupakan tugas
utama kita untuk ini, Teman-teman. Kalau
ngelihat di slide-nya itu kan dari
sebelah kiri sebelah kanan bagaimana
ekosistem yang sebelumnya tidak ada
menjadi ada ekosistem yang ee bergerak
ya bergerak ee sebelumnya mungkin lambat
ya sebelumnya lambat dan kemudian kita
sebagai ASN melakukan percepatan dengan
ekosistem tersebut. Nah, sebetulnya ini
yang yang menjadi ee daya tarik inilah
yang menjadi tantangan bagaimana kita
dalam budaya kerja kita ya melihat bahwa
ini loh yang harus kita lakukan. Karena
selama ini ketika kita melakukan
pekerjaan tentu ee kita berdasarkan se
apa namanya? Berdasarkan sejob
descriptions yang kita punya. Tetapi ee
sedikit yang ingin saya tambahkan di
sini bahwa dengan social busnis learning
ya, bagaimana kita membuat desain dari
ekosistem tersebut. Bagaimana ketika
kita melakukan transformasi ya yang kita
ee ramu dengan creativity dan
innovation. Ada sebuah kreativitas di
situ ada sebuah innovation-nya.
Sebetulnya para teman-teman ASN kita
semua nih ee bisa kita katakan pada jago
semua gitu loh. Nah, saya sering sering
se apa namanya? Sering seapat ee apa
namanya assignment-assignments ya.
Sering dapat beberapa ee tugas-tugas
yang mengatakan bahwa Prof kan e kita
ingin buat project ini, kita ingin
melakukan investasi di area di area ini,
kita ingin se melakukan se apa namanya?
eh installation, kita mau install sebuah
ee misalnya ee project di kawasan ini.
Nah, itu hal yang saya lakukan pertama
kali adalah saya terus selalu langsung
melakukan kontak ke teman-teman di
daerah dan kemudian ketika ketika di
awal diskusi aja mereka sudah langsung
bilang, "Wah, jangan khawatir Prof.
Ilham kita tahu bagaimana melakukannya.
Ini harus ke sini, ini ke sini, ke sini,
ke sini, ke sini." Dan ternyata
teman-teman di lapangan itu lebih dari
mampu, lebih dari cukup. Saya yakin
teman-teman pada setuju dengan apa yang
saya sampaikan barusan bahwa memang
ternyata di lapangan kita mengetahui,
kita lebih tahu apa yang terjadi
sesungguhnya di lapangan dan ee termasuk
tantangannya seperti apa, peluangan
peluangnya seperti apa. Tentu kita lebih
mengetahui yang kondisi di lapangan.
Nah, apa yang harus kita lakukan
berikutnya dalam rangka meramu itu tadi
nih, meramu ee potensi-potensi tersebut
menjadi budaya kerja. Nah, membuat
sebuah ekosistem ya, membuat ekosistem
yang berkelanjutan dan bagaimana supaya
ee ide-ide tersebut tidak hanya putus di
ataupun ee kerangka berpikir tersebut
tidak putus hanya sebatas konsep saja.
Nah, ini yang yang
ingin saya ee apa ingin saya tambahkan
dari social busnis itu tadi. Emm dalam
budaya belajar ya. Dalam budaya belajar
tentu kita ketahui bersama bahwa ada ada
teknik-teknik, ada konsep, ada ada
teori, ada praktik yang harus kita yang
harus kita bersama bahwa dengan ada
ide-ide tersebut ee bagaimana kita ya
melihat bahwa ee membuat sebuah
ekosistem tersebut tidak hanya
berdasarkan ide saja, tetapi bagaimana
ee item-item ataupun puzzle yang ada di
sekeliling kita itu bisa kita dekatkan
ya. kita dekatkan dan kemudian menjadi
sebuah ee ini ya menjadi sebuah ee gunat
ataupun timeline project. Nah, dalam
social busnis learning ya, dalam social
busnis learning kita ee kita lihat bahwa
ee designing ekosistem ya, desaining
ekosistem ini menjadi ee tugas kita yang
paling utama. Nah, dalam kerangka budaya
belajar bekerja ataupun mengabdi ketika
itu tadi, desain ekosistem inilah yang
se saya tawarkan kepada teman-teman yang
pada pagi hari ini mengikuti ee Zoom ya
ee
yang ee kita sebetulnya sudah punya
potensi itu gitu loh. Sudah punya
potensi itu. Hanya saja ya, hanya saja
ee ketika kita melakukan eksekusi. Nah,
eksekusi sering kita terhambat ya.
sering kita terhambat dengan se ee
kadang-kadang se bagaimana menghadapi
seregulasi ataupun sebagaimana kita
membawa partisipasi masyarakat ya
masyarakat ke dalam se ekosistem ataupun
ke dalam projek yang kita tawarkan itu
tadi. Nah,
ketika kita mendesain sebuah ekosistem
tentu diperlukan ee pilihaian. Nah,
inilah yang se menjadi sekunci utama
dalam social business learning.
bagaimana kita melakukan riset di awal
ya, melakukan riset ini kalau saya
lihatin secara konsepnya tentu
teman-teman yang sudah mengetahui proses
riset ya ini wajib ya dan harus kita
lakukan bagaimana kita ee membuat
schedule terstruktur ya. Jadi di awal
itu ketika diproses perencanaan ya kita
enggak usah pakai konsepsi yang yang
ribet, kita enggak usah pakai tapi
teman-teman harus memahami bahwa di awal
tentu proses riset tetap harus kita
jalankan ya. ketika kita mendesain
sebuah ekosistem, bagaimana digital
skills ya, digital skills sekarang ini
wajib ya, sekarang ini wajib ya harus
kita ee masukkan ke dalam ke dalam
elemen dari desain ekosistem tersebut
ya. sistem tersebut. Ini ada beberapa ee
beberapa teknik ya, beberapa teknik
ketika kita mendesain ekosistem itu tadi
ya, pend ekosistem tentu dengan adanya
riset itu kemampuan riset dan kemudian
kemampuan se digital ya kemampuan
digital. Nah, ini kan sebetulnya
merupakan proses pembelajaran gitu loh.
Proses pembelajaran bagaimana kita
melihat ee ee item-item yang ada di
ekosistem. Jadi ekosistem itu kayak
puzzle nih. Sekarang kita mendekatkan
dan bagaimana kita membuat membuat
siklus dari ekosistem tersebut. Nah,
tantangannya di situ gitu loh. Jadi
ketika kita memahami proses risetnya
kita memahami proses ee digitalisasinya
ya digitalisasi. Nah, ini kan ee ee apa
namanya kerangka-kerangka berpikir ya.
Kerangka berpikir yang di ini lagi
sedang hits pada saat sekarang itu
bagaimana menjadi se keseharian mereka.
Nah, tadi kita kembali lagi ke tentang
social bus learning dengan adanya ee ee
ekosistem ya, dengan adanya ekosistem
dengan adanya desaining ekosistem yang
sudah ee terlihat depan mata kita. Nah,
ee saya ee
menawarkan lagi nih ya, saya menawarkan
lagi ee kerangka berpikir yang kita
namakan sebagai desain thinking ya,
menjadi sistem thinking. Nah, ini yang
se menarik ya menarik nanti teman-teman
silakan segogle ya silakan Google
ataupun silakan melakukan ee eksplorasi.
eh design thinking itu adalah ketika
kita berpikir dan kemudian bagaimana
berpikir tersebut kita translate kan
menjadi sistem thinking. Nah, ketika
dalam ekosistem tersebut mendesain
ekosistem ini sudah merupakan sistem
thinking-nya gitu ya. Sistem
thinking-nya ini kalau saya buka nih
kira-kira seperti ini nih. Wah gila nih
profilnya pagi-pagi sudah ngelihatin ini
anak panahnya ke sini, anak panah ke
sini, anak panah ke sini. Tetapi memang
seperti inilah gitu loh seperti ininya.
Ini kan sama-sama menarik apabila kita
belajar ya kita belajar bahwa ternyata
dengan ee desain thinking atau system
thinking ini ya ee ekosistem itu memang
seperti ini polanya gitu loh ya. Seperti
ini polanya. Ee wah ini ee tentu ee
banyak melibatkan melibatkan e
komponen-komponen ya baik yang ada di
masyarakat ataupun di organisasi. Tapi
memang seperti inilah yang kita tawarkan
ya. Seperti ini yang kita tawarkan.
bagaimana
dengan apaanya dengan kompleksitas ya
dengan kompleksitas yang ada di depan
mata kita. Nah, inilah sebetulnya yang
menjadi ee tantangan menarik bagi kita
ya bagi ASN untuk ee memasukkan setiap
komponen. Jadi ibaratnya kalau ee ketika
kita membuat desain ekosistem tersebut
ini kita pakai istilah Pak Gada nih
gitu. apa mau gua ada nih. Nah, ini yang
yang setiap kali saya diskusi dengan
teman-teman ASN, dengan teman-teman yang
ee akan melakukan projek, saya bilang,
"Kita desain ekosistem dulu, yuk." Saya
bilang gitu loh. Kenapa? Dengan desain
ekosistem ini akan sangat menarik nanti
ketika kita membuat perencanaan. Jadi,
sebelum perencanaan ketika didesain
ekosistem, kita sudah sama-sama belajar.
Yuk, kita buka apa namanya papan tulis
gede ya. Terus kemudian kita sama-sama
masukin ekosistemnya apa saja. Inilah
sebetulnya yang yang se apa ee bisa ee
menarik ya menarik ee bagi kita semua
bahwa ketika kita jadi setiap ee
variabel-variabel yang ada di dalam
dalam ekosistem tersebut ini kita
masukin ke dalam sistem thinking, kita
masukkan ke dalam ke dalam ee kerangka
berpikir. ini ini baru agak berpikir
belum kita eksekusikan apa setiap ee
variabel-variabel yang ada di dalam
dalam sistem thinking ini ee nanti akan
berhubungan dengan pembiayaan,
berhubungan dengan e resources ya,
bahkan berhubungan dengan kemampuan dari
kemampuan dari masyarakat akan
berhubungan dengan jadi semuanya masuk
menjadi ee variabel dalam ekosistem.
Nah, nih pagi-pagi nih Profilang udah
udah ngelihatin banyak ee
variabel-variabel yang banyak. Tapi
inilah sebetulnya ee budaya ya budaya
yang se ee rahasianya itu ada di tangan
kita ini. Kita sebagai ASN kita yang
melakukan desain dari ee ee
variabel-variabel yang kita dekatkan,
variabel-variabel yang kita hubungkan
satu dengan lain ya. Variabel-variabel
yang nantinya ketika ketika nanti kita
ee apa namanya? ketika kita simulasikan
ya kita simulasikan ee
project ataupun projek ataupun ide
tersebut bisa berjalan meskipun ee pelan
ya menjadi cepat menjadi cepat dan
itulah yang
se kita
apa namanya kita ramu dalam tadi awal
tadi ya dalam sebuah konsep yang kita
namakan sebagai social business learning
kita melihat bahwa untuk sustain ya
untuk sustain tentu ada
komponen-komponen apa saja yang berada
di sekeliling kita baik dari segi
internal ataupun ataupun eksternal apa
sajakah menjadi tantangan. Jadi semuanya
masuk nih, semua masuk yang kemudian
nanti kita modelkan ya, kita jadikan
sebagai sebuah ee apa ya, sebuah ee
rantai pasok ya, sebuah ee siklus yang
nantinya ketika ekosistem tersebut ee
kita ramu, kita desain, dan kita
jalankan tentu ee si ya kitalah yang
sebagai ini kita sebagai kolaboratornya
ya kita yang mengetahui bahwa bagaimana
sebuah sebuah ekosistem tersebut bisa
berjalan. Bagaimana kita bisa memastikan
bahwa ketika kita berjalan, kita
berjalan ada tantangan-tantangan apa
saja. Nah, ini yang yang sebetulnya ini
enggak enggak enggak enggak baru gitu.
Sebenarnya ini tidak baru tetapi ee saya
melihat bahwa ketika tantangan itu tadi
belajar ya belajar bekerja mengabdi, ini
tiga-tiganya ee ee harus kita jadikan
sebagai keseharian. Tentu harus ada
teknik. Nah, ini ya ini yang yang e saya
tawarkan pada kesempatan pagi hari ini
bahwa ketika kita eh preparation seb
bagaimana kita untuk melakukan eksekusi.
Nah, dari social busnis learning ya.
Kemudian kita berbicara tentang
sustainable development bagaimana supaya
sustain dari apa yang akan kita
kerjakan. Tentu kita memerlukan ee ee
tips ya, tipsnya adalah membuat desain
dari ekosistem. Nah, bagaimana cara
mendesain ekosistem? tentu ee ada
proses-proses pembelajaran yang salah
satunya tadi saya tawarkan melalui
desain thinking dan system thinking.
Kelihatannya pagi-pagi ini sudah dapat
ini ya, sudah dapat e sudah dapat ee ee
variabel kemudian ini pergi ke sini, ini
pergi ke sini pergi ke sini gitu kan.
Kemudian anak panahnya ke sini ini
berhubungan dengan ini. Tapi memang
seperti inilah yang ee merupakan tugas
ataupun tanggung jawab kita sebagai ASN.
Ee bilang nanti, "Prof kalau enggak jadi
bagaimana? Kalau gagal ee jangan
khawatir memang desain thinking
assistent thinking memang sudah didesain
bagaimana untuk kita melihat ee peluang
peluang yang ada depan mata kita.
bagaimana kita untuk ee melakukan ya
kita melakukan se proses perubahan itu
tadi ya become nothing, become something
bagaimana kita bergerak merupakan kan
orang sering bilang bahwa oh nanti
enggak jadi ini pasti gagal kemudian
nanti jangan jangan saya bilang kita
coba dulu, kita bikin dulu, kita
modelkan dulu, kita buatkan sistem
thinking-nya seperti apa ya. Kemudian ee
nanti ini kalau kita ee lebih panjang
lagi kita akan diskusi tentu ada ee
insyaallah ada workshop-workshop
berikutnya bagaimana kita melakukan e
permodelan tersebut, bagaimana kita
membuat desain dari ekosistem tersebut
yang berbasiskan kepada data. Nah, pada
saat sekarang tentu dalam proses belajar
ini tadi kita ee tetap memerlukan data
bagaimana data tersebut bisa menjadi ee
kerangka utama kita ketika bergerak
memastikan bahwa ekosistem tersebut bisa
berjalan. bukan hanya sekedar konsep,
bukan hanya sekedar tatanan se ee apa?
tatangan se e ide saja gitu loh. Nah,
inilah yang se pada kesempatan pagi hari
ini saya tawarkan kepada teman-teman
semua dan tentunya ee ketika kita
membuat desain ekosistem tersebut dengan
membuat dengan menggunakan sistem
thinking itu tadi ya tentu tetap kita
berprinsip utama bahwa pemberdayaan
masyarakat pemberdayaan masyarakat lokal
dan kemudian bagaimana kita ee
melakukan ee pembinaan komunitas. Nah,
ini yang yang kita masukkan ke dalam
puzzle-puzzle di sistem thinking itu
tadi. Nah, Teman-teman semua ee ketika
kita berbicara tentang belajar ya dan
mengabdi, emm saya melihat bahwa dengan
social busnis learning ini menjadi salah
satu ya menjadi salah satu ee teknik ya
teknik yang se insyaallah ya ee
teman-teman coba gitu mencoba
teman-teman melihat bahwa ee Prof. ya
kan dari mana harus memulainya. Saya
bilang yang paling sederhana adalah ee
apa yang terpikir, apa ide yang akan
kita sampaikan baik berkaitan dengan
ide, baik berkaitan dengan pekerjaan
kita ataupun berkaitan dengan
tugast-tugas ataupun berkaitan dengan
hobi ataupun patiens, berkaitan dengan
apa yang kita inginkan gitu kan. Jadi ee
sering kali ee saya diskusi dengan
teman-teman di daerah bilang, "Teng
mulai dari mana dulu?" Saya bilang, "Yuk
kita bikin modelnya dulu. kita buat
sistem thinking-nya dulu.
Komponen-komponen apa saja yang bisa
kita masukkan di sini. Jadi seb eh kita
mulai dari diskusi ya, diskusi bahwa
kita sebagai kolaborator ya, kita
sebagai kolaborator kita masukkan sebuah
kita masukkan semuanya dalam kerangka ee
desaining ekosistem tersebut. Nah,
tentunya ee hal konsep ini tidak
menarik, tidak akan menarik kalau kita
tidak tidak praktik nih, gitu kan. Nah,
jadi teman-teman silakan mencoba ya,
silakan mencoba ee kerangka belajar itu
tadi ketika belajar ya, tentu variabel
variabel tersebut harus kita lihat
variabel-variabel yang ada dalam dalam
ketika kita membuat membuat desain
thinking ini menjadi sebuah sistem
thinking, tentu proses pembelajaran ini
tidak akan berhenti. Itu proses
terus-menerus yang kita itu tadi ee saya
yakin insyaallah ini akan menjadi budaya
kerja kita gitu kan. Nah, kemudian
ketika kita berkarya, saya yakin bahwa
ini merupakan karya, ini sudah merupakan
masterpace gitu loh. Ketika kita membawa
membawa komponen masyarakat kita membawa
komponen komunitas masuk ke dalam ke
dalam desain thinking kita ya. Ke dalam
desain thinking kita ini yang e saya
namakan berkarya gitu kan. Dan mengabdi
tentunya ee kita bungkus belajar dengan
berkarya tersebut dalam kerangka ee
pengabdian kita ya ee dalam kesadaran
kita sebagai ASN. Nah, Teman-teman semua
ya, kesimpulan kesimpulan
ee pada pagi hari ini ya, pada pagi hari
ini ketika kita bicara tentang budaya
kerja mm saya fokus kepada tiga ee tiga
hal. Yang pertama adalah dengan social
business learning ya. dengan social
busnis learning ini merupakan ee
ee metode ya, metode bagaimana
teman-teman melihat bahwa kita sebagai
SN, kita sebagai kolaborator kita berada
dalam posisi yang sangat-sangat ee tepat
untuk melihat ee semua potensi yang ada
di depan mata kita, melihat semua
kemungkinan-kemungkinan dan
tantangan-tantangan termasuk
permasalahan yang ada di depan mata kita
untuk kita kalau kolaborasi untuk kita
sinergikan menjadi sebuah ekosistem. Itu
yang pertama, social business learning.
Nah, yang kedua adalah tentu bagaimana
cara kita mengeksekusi social busnis
lear itu tadi dengan membuat ekosistem
ya. Membuat ekosistem yang kedua. Yang
ketiga, bagaimana kita untuk membuat
ekosistem? Membuat ekosistem tentu
diperlukan digital skills, tentu
diperlukan eh teknik riset. Nah, tetapi
yang paling penting adalah kita mulai
dari bagaimana kita membuat riset
ekosistem. dengan menggunakan sistem
thinking ya. Sistem thinking ini
kerangka berpikir ya. Langkah berpikir.
Jadi ketika proses pembelajarannya apa
sih, Prof? belajarnya ya belajarnya ini
gitu loh. Kita membuat model ya model
tersebut dengan memasukkan semua
variabel yang ada di dalam ee keseharian
kita. ee dan ini ee sudah saya ujikan
ya, sudah saya ujikan di beberapa
instansi di beberapa negara ya dan
termasuk di Indonesia beberapa kabupaten
kota sudah kita ujikan dan ternyata
teman-teman yang bermain dengan
permodalan seperti ini mereka bilang,
"Wow, Prof. Ini ee menarik karena apa?
Ee kita akan terus belajar ya, kita akan
terus ee berkarya dan yang paling
penting adalah ketika permodalan
tersebut bisa kita sinergikan dengan
komponen-komponen yang ada di sekeliling
kita. ini yang kita namakan sebagai
pengertian. Kesimpulan kita pada pagi
hari ini tentu harus kita praktik ya.
Kita praktik em sedikit ya sedikit apa
yang saya sampaikan semoga bisa
bermanfaat, semoga bisa menjadi ee
pemicu untuk teman-teman pada pagi hari
ini. Ee
Prof. Ilham tawarkan konsep nih, Prof.
tawarkan teknik yang nanti dalam
perjalanannya kita harus melihat, kita
harus ee praktik, kita harus uji
cabakan. Softwaren-nya mudah kok. pada
saat sekarang ee kalau kita lihat di
YouTube aja itu banyak sekali ee
software-software yang berkaitan dengan
ataupun teknik-teknik berist thinking.
tetapi ee semangat dari belajar,
berkarya dan mengabdi ini yang bisa kita
bungkus dengan menggunakan sistem busnis
lear dengan social busnis learning
melihat bahwa sustainable development
itu bisa kita jalankan dengan memakai
peran kita sebagai ASN dengan membuat
ekosistem yang itu tadi kita desainkan
sebagai sebuah permodelan dan nanti dari
model tersebut tentu kita yang akan
melakukan eksekusi bagaimana model
tersebut bisa kita jalankan bagaimana
ekosistem yang kita desain tersebut bisa
ee bermanfaat dan bisa menjadi se apa
continuity ya menjadi se ee implementasi
untuk ee itu tadi kerangka mengabdi
bagaimana kita memberdayakan masyarakat,
bagaimana kita melibatkan
komunitas-komunitas, bagaimana kita
mendekatkan puzzle-puzzle yang ada di
sekeliling kita menjadi sebuah ekosistem
yang ee betul-betul ee merupakan ee
hasil ee apa namanya? hasil karya kita
sebagai ASN. Demikian ya ee nanti kita
akan ee lanjutkan dalam forum diskusi.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Saya
kembalikan kepada Pak Moderator.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih banyak 30
menit yang sangat berarti dan insightful
sekali. Saya turut menyimak juga banyak
sekali kerangka pemikiran yang akhirnya
mengubah mindset saya dan juga ingin
merubah beberapa hal begitu ya untuk
lebih bisa berkarya dan juga mengabdi
pada masyarakat. Sudah ada penanya Prof.
yang rest hand berarti kita akan
berinteraksi langsung begitu ya. Saya
ingin menyapa Bapak Kasiadi. Selamat
pagi Pak Kasiadi.
Halo, selamat pagi. Kami masih hubungkan
Pak Kasih Adi bersama dengan kita secara
online.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Apakah suara saya terdengar, Bu?
Iya, betul sudah terdengar dengan jelas,
Pak Kasih. Bis.
Selamat pagi, Prof. Dr. Ilham dari
Malaysia. Iya,
selamat pagi.
Alhamdulillah materinya luar biasa. Dari
ESN belajar berkarya Mengabdi. Tadi
profesor menyampaikan tiga hal SBL,
sistem dan system thinking. Lah, apakah
dari tiga-tiganya ini adalah prasyarat 1
2 3 artinya SBL dulu ekosistem atau kita
balik? Karena begini, Prof. Kalau kita
belajar berkarya itu otomatis niatnya
dulu. Kalau mengabdinya artinya itu
betul-betul tulus sebagai ASN, saya
pikir bisa timbul adanya ee kita
berkarya dan belajar. Tapi kalau kita
tidak tulus, otomatis kita tidak bisa
menyiptakan ekosistem yang bagus. Terima
kasih, Prof. Ya. Asalamualaikum
warahmatullah.
Baik.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Menarik nih, Pak. Ini
berbicara tentang tulus. Nah, ini
tentang tulus. Nah,
mulai dari mana, Pak? Mulai dari mana?
Jawabannya adalah tiga-tiganya paralel,
Pak. Tiga-tiganya paralel dari SBL-nya,
ekosistemnya, dengan sistem
thinking-nya. Jadi, eh sering sering
saya diskusi dengan teman-teman di
bilang, "Prof, nih kita mau mau kita
pada kita punya ide nih." Nah, kita
yakin masyarakat pasti akan terbantu dan
kemudian sebagaimana kita ee pokoknya
banyak yang ee manfaat yang bisa kita
buat dari ide tersebut. Terus saya
bilang, "Yuk, kita bikin modelnya dulu,
kita bikin sistem thinking-nya dulu."
Karena itu tadi dari sistem thinking itu
tadilah bagaimana kita melihat ekosistem
apa yang bisa kita desain tersebut.
Tentu ee memfasilitasi kepentingan ya.
Memfasilitasi kepentingan, memfasilitasi
semuanya 100% ee
kita kita enggak mau enggak mau berjanji
bulan bintang nih Pak ya. Enggak mau
berjanji yang pelangi, yang cerah gitu.
Tetapi ee apa yang bisa kita tawarkan di
sini dengan social busnis learning dalam
ekosistem tersebut? Kita mencoba
memasukkan kepentingan-kepentingan itu
tadi, Pak. kita mencoba untuk melihat
bahwa ada tantangan, ada
kelemahan-kelemahan, ada
kekurangan-kekurangan yang nanti ketika
kita hubungkan melalui sistem thinking
itu tadi inilah yang ee menjadi ee apa
ya menjadi ee ee sebuah pengalaman yang
menarik gitu kan. Kenapa saya
mengerjukan st thinking? Karena ini
sudah saya ujiikan di beberapa
kabupaten, saya sudah uji cobakan ke
beberapa instansi-instansi bukan hanya
di Indonesia, di beberapa negara dan
kemudian saya bilang, "Yuk, kita bikin
modelnya dulu, kita bikin sistem
thinking-nya dulu." Nah, sebetulnya
bericat tentang tulus itu akan terpaksa
mereka harus tulus, Pak. Karena itu tadi
begitu sudah jadi modelnya saya bilang
gitu ya. Ayo kita kerjakan. Saya bilang
gitu. Ini menjadi semangat bersama bahwa
ketika sudah menjadi model ya menjadi
model kita menjadi sebuah ekosistem
apalagi ekosistem tersebut kita
berjalan. Eh, saya selalu makai pakai
prinsip jalan aja dulu. Jalan aja dulu
maksudnya adalah ekosistem tersebut
masih kecil gitu kan. Enggak belum tentu
ee melibatkan yang gede. Saya bilang
kita coba dulu dari ekosistem yang kecil
nanti lama-lama kan akan menjadi besar,
besar dan besar. Nah, betul yang Bapak
sampaikan tadi ketika tulis itu ee modal
awalnya. Nah, tapi saya ngegasnya, Pak.
Saya maksuk
kita buat model dulu dari model baru
kita nanti kita gas. Nah, tulisnya
insyaallah akan berbarangan dengan ee
bagaimana ekosistem tersebut berjalan.
Demikian, Bapak.
Baik, demikian untuk jawabannya. Pak
Kasih Hadi. Mungkin ada yang mau
ditanggapi.
Cukup. Terima kasih banyak. Makasih
hadir telah bergabung secara online. Dan
kami akan beralih kepada penanya
berikutnya yang juga telah tergabung
secara online yaitu ada Ibu Nita Fitrih.
Betul ya Ibu Nita Fitriah. kami akan
hubungkan.
Iya, betul.
Baik, selamat pagi, Bu Fitri.
Pagi.
Pagi. Bagaimana kabarnya hari ini,
Bapak, Ibu?
Alhamdulillah sehat.
Baik, Ibu. Boleh suaranya agak di
volumenya dinaikkan sedikit karena
suaranya terdengar agak kecil dari kami
di sini.
Iya, sudah, Mbak.
Ah, sudah. Baik, disilakan untuk
pertanyaannya Bu Fitri.
Ini materi yang saya tunggu-tunggu ini.
Baik. Karena semua lini kementerian,
semua
unsur masyarakat sudah dibicarakan
ekosistem.
Apalagi di awal tahun, di awal
pemerintahan semua mengawalinya dengan
jarakkan ekosistem.
Yang jadi pertanyaan saya Prof. Ilham
mempelajari desain tadi, desain
ekosistem tadi itu harusnya dibutuhkan
ee apa?
environment yang tidak terlalu gitu.
Jadi yang lentur gitu. Yang jadi
pertanyaannya bagaimana membuat
environment itu mendukung untuk
penciptaan ekosistem yang lebih baik
gitu kan. Mayoritas kebanyakan kalau
instansi pemerintah itu masih ada
feudalisme, masih ada seniorisme atau
bagaimana. Itu aja, Prof. Makasih.
Baik, Bu Fitri. Terima kasih
pertanyaannya. Wow, luar biasa. Ini
mewakili pertanyaan sobat ASN di mana
pun berada sepertinya. Silakan, Prof.
untuk jawabannya.
Baik. Em pagi tadi sebelum ini sebelum
diskusi apa kita ini ee ee ada ada
seorang rekan dia bilang gini, "Prof itu
sama kayak ee ini kita bicara tentang
feodal nih ya. Ini kita kita buka-bukaan
aja nih, Bu. Tidak ada dusta di antara
kita." Dia bilang ini karena kayak
karena kayak ikan. Dia bilang gitu. ikan
kalau dari atas dari kepala ikannya
bermasalah, ke belakang ke
bawah-bawahnya juga bermasalah. Nah, ini
ini teman yang yang diskusi tadi pagi
pasti dia senyum-senyum nih gitu kan dia
senyum-senyum. Ee
emm
setuju Bu gitu loh. Setuju dengan apa
yang Ibu sampaikan tadi bahwa ee ketika
kita bicara tentang feederalisme ee ini
yang menjadi tantangan ya. Ini menjadi
tantangan bagi ee ketika kita mendesain
sebuah ekosistem. Nah, eh kenapa saya
tawarkan sistem thinking, Bu? Ya, kenapa
saya tawarkan sistem thinking? Dengan
ada sistem thinking tersebut, dengan
adanya sistem detemik yang yang kita
modelkan, ee ini pengalaman pengalaman
saya ketika membuat desain tersebut ee
yang fedal-fedalnya masuk sekalian, Bu.
Jadi, jadi kadang-kadang ee kita kan itu
ya kita sering ee ASN ini kan bukan
hanya kanan ya, tapi atas bawah nih.
Jadi lengkap 360 derajat tantangannya.
Jadi kiri kanan atas bawah muka belakang
depan samping kiri kanan. Tapi inilah
yang menarik bagaimana variabel-variabel
tersebut masuk Bu P gitu loh. Masuk ke
dalam eh desain thinking tersebut ya, ke
dalam sistem thinking yang nanti ketika
kita modelkan ya ada data nih. Data
adalah misalnya Prof. kita terbentur
dengan permasalahan regulasi yang dalam
tanda petik feodal itu tadi gitu kan.
Saya bilang udah masukin aja dulu. Saya
bilang gitu loh. Ee Prof kita terbentur
dengan jadi terbenturan benturannya
banyak nih. Saya bilang masukin aja
dulu. Saya bilang gitu. Masukin dulu.
Nanti ee kelebihan dari sistem thinking
ini adalah nanti kita bisa melakukan
alternatif-alternatif ataupun ee
beberapa ee jalan keluar gitu ya, jalan
keluar dengan dising itu. Oh, ternyata
ada alternatif lain yang bisa kita
jadikan sebagai pertimbangan
ee pertimbangan bahwa ee tidak selamanya
yang ketika feodal ini menjadi hambatan.
Nah, ini menarik Bu. Ternyata ee dengan
feal tersebut ee ini kan kita jujur nih
ASN ini kan sebetulnya adalah ee
teman-teman komunitas yang paling
kreatif Bu bilang, "Wah, Prof kita kita
enggak bisa nih di sini nih." Nah, saya
bilang, "Jangan khawatir, kita bikin
dulu yuk sistem thinking-nya
bareng-bareng." Dan bagaimana kita
melihat bahwa ee dari permodalan
tersebut ada jalan keluar yang
kadang-kadang kita enggak enggak enggak
apa kita tidak prediksi, tetapi keluar
dengan sendirinya, Bu. ketika
dihubungkan ke sini, dihubungkan ke
sini, hubungkan ke sini, dia bilang,
"Wah, ini profil ee cocologi nih. Apa
cucok cucok logi." Saya bilang, "Git,
cocok." Enggak. Saya bilang, "Tapi ini
berdasarkan data." Saya bilang, "Tentu
ada data primer, ada data primer, data
sekunder yang ee masuk ke dalam
ekosistem tersebut." Nah, kira-kira
seperti itu Bu, gitu loh. Jadi ee
teman-teman di lapangan sering bilang,
"Prof, kat nanti terbentur pimpinan
terbentur ini." Saya bilang, "Enggak
apa-apa masuk dulu." Saya bilang gitu
loh. Ada hal-hal lain yang yang nanti
saya bilang, "Saya yakin bahkan nanti
pimpinannya bakal ngikut nih dalam
ekosistem ini." Saya seperti itu.
Kira-kira seperti itu, Ibu ya. Oke,
masuk aja dulu variabel-variabelnya ya.
Termasuk itu tadi dalam lingkungan
ataupun environment feodal yang dalam
tanda petik ee merupakan ee ya mau tidak
mau suka tidak suka harus kita hadapi
gitu kan. Tetapi inilah yang menarik ya
dalam membuat kita sebagai desainer dari
ekosistem tersebut. Demikian. Baik,
terima kasih banyak Prof untuk
jawabannya dan semoga ini juga menjawab
pertanyaan dari Ibu Fitria. Begitu ya.
Mungkin ada yang mau ditanggapi atau ada
yang mau ditambahkan Ibu Fitri
tidak
dicukupkan. Terima kasih banyak Bu Fitri
dan harus kita cukupkan sesi diskusi
kita pada momen pertama kali ini. Prof.
Ilham terima kasih banyak untuk waktu
dan juga sudah menjawab
pertanyaan-pertanyaan perwakilan dari
Sobat ASN di mana pun berada. Tadi belum
saya tanyakan Ibu Fitri ini dari mana
ya? dan juga Pak Kasih hadir dari mana.
Namun terima kasih banyak atas
kontribusi dan partisipasinya dalam sesi
tanya jawab kita dan harus kami akhiri
pada sesi pertama kali ini. Prof. Terima
kasih banyak telah bergabung secara
online. Semoga dapat menjalankan
kegiatan hari ini dengan lancar. Amin.
Baik, Sobat ASN jangan ke mana-mana
karena kita masih ada dua narasumber
yang akan berbagi insight luar biasa
terkait dengan tema kita kali ini,
belajar, berkarya, dan mengabdi tentunya
dalam webinar ASN belajar seri ke-33
tahun 2025.
[Musik]
Terima kasih, Sobat ASN masih bersama
dengan kami dalam ASN Belajar seri ke-33
tahun 2025. Kali ini persembahan dari
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Tema kali ini
sangat amat harus kita simak karena ini
berkaitan dengan apa yang kita lakukan
sehari-hari dalam pelayanan ke
masyarakat. Dan selanjutnya kita akan
belajar banyak lagi dari sisi psikis
mungkin ya atau psikologi karena yang
akan hadir narasumber berikut ini adalah
seorang dosen psikologi dan direktur
Imkom. Saya akan menyapa Ibu Dr. Bawinda
Sri Lestari, S.H., M.Psi.
[Musik]
Baik, kalau misalnya kita berbicara
mengenai belajar, berkarya, dan mengabdi
ini tentu saja berhubungan dengan psikis
dari setiap ASN itu sendiri. Bagaimana
kita m-build diri kita begitu ya. Untuk
itu kita hadirkan narasumber yang
kompeten dalam membahas masalah ini.
Kita langsung menyapa. Halo dr. Bainda.
Halo, selamat pagi.
Selamat pagi. Senang sekali saya bisa
bertemu dengan salah satu dosen. Boleh
saya tahu mengajar di mana nih, Bu? Mbak
Winda
kalau ngajar untuk psikologi
di UNTAK Surabaya.
Saya alumni Ubaya, Ibu.
Ee iya kalau untuk yang magisternya di
Ubaya.
Oh, wow. Luar biasa. Saya senang sekali
bisa berjumpa secara online dalam
kesempatan kali ini. Saya tidak sabar
sekali untuk dapat menyimak apa yang
akan disampaikan. Sangat insightful
sekali. Disilakan waktunya.
Baik, terima kasih.
Saya
untuk materinya.
Oke, terima kasih untuk waktu yang
diberikan kepada saya. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang dan salam sejahtera untuk
kita semua dan terima kasih untuk Pak
Kaban dan juga tim yang sudah memberi
kesempatan kepada saya untuk berbagi
kali ini dari kajian secara
psikologinya. Tema kita kali ini adalah
budaya kerja ASN, belajar, berkarya, dan
mengabdi. Kira-kira ada apa sih dengan
tiga tiga kata ini yang penuh makna?
Tapi sebelumnya saya ini pengin tanya
dulu ya ke teman-teman.
Satu kata yang menggambarkan perasaan
Bapak Ibu pagi ini. Kira-kira apakah
semangat, penasaran atau bututuh kopi
tambahan? Cuman ini saya belum karena
saya ini ya. Kira-kira apa nih satu kata
yang menggambarkan perasaan Bapak Ibu
pagi ini? Karena secara psikologi ketika
kita akan ee bekerja, jadi bagaimana
kita bekerja, berkarya dan mengabdi ini
tentunya enggak luput dari yang namanya
semangat. Satu kata, apakah semangat,
penasaran, atau butuh kopi tambahan?
Saya bisa dibantu ini kira-kira apa ini
butuhnya? Silakan di chat room ya. Nanti
bisa disampaikan teman-teman. Jadi dari
satu kata ini setiap orang itu
berbeda-beda. Ada yang mengatakan
semangat, ada yang mengatakan penasaran
dengan hari ini, ada juga yang butuh
kopi untuk menambah semangatnya. Tapi
hari ini saya enggak membahas tentang
bagaimana pagi ini ketika Bapak Ibu
ngomong tentang kopi. Saya akan ngomong
tentang bagaimana kita bicara tentang
bekerja, berkarya, dan mengabdi. Saya
akan melihat terlebih dahulu dari BKN
tahun 2023 bahwasanya ASN di Indonesia
itu mencapai kurang lebih 4,1 juta orang
dan 70% di antaranya ini berperan
langsung dalam pelayanan publik dan
survei dari Kemenpan RB tahun 2022. 50%
itu ASN merasa pekerjaannya itu bermakna
secara pribadi. Artinya di sini masih
ada ruang untuk membangun budaya kerja
yang lebih kuat. Kalau memang 50% 54%
ASN merasa pekerjaannya bermakna secara
pribadi. Padahal di sini maknanya ketika
ASN itu mempunyai tanggung jawab
bagaimana nanti melakukan pelayanan
kepada publik, melakukan ibaratnya
dedikasinya kepada publik. Karena kita
ada tiga poinnya tadi. Bagaimana ketika
kita dengan tema kita belajar, berkarya,
dan mengabdi. Jadi, ASN di sini perlu
belajar untuk terus dia berkarya dan
juga mengabdi kepada masyarakat. Dan ini
kaitannya dengan ini, masih ada ruang
untuk membangun budaya kerja yang lebih
kuat. Dan bagaimana cara membangunnya?
Ada beberapa,
ada beberapa hal yang harus dilakukan
oleh ASN. ASN hebat itu bukan hanya yang
pintar, tapi yang mau belajar, berkarya,
dan mengabdi dengan hati. Jadi, kalau
memang sesuatu yang dilakukan itu enggak
dengan hati, mau belajar pun dia juga
enggak mau. Berkarya pun akan
malas-malasan dan bagaimana ketika akan
mengabdinya. Maka dari itu ketika
kemarin saya mendapatkan materi ini dari
ee Ibu Amel tentunya saya oh belajar
berkarya dan dan mengabdi. Selama ini
yang ada di benak saya benak kita itu
bahwasanya ASN itu adalah mengabdi.
Terus kapan belajarnya? Kapan
berkaryanya dan ternyata tiga rangkaian
ini enggak bisa dipisahkan. Ini adalah
tiga pilar ASN yang mana belajar,
berkarya, dan mengabdi ini adalah saling
menguatkan untuk profesionalisme dan
integritas. Ketika belajar
hasilnya bisa membuat dia lebih
produktif dalam berkarya dan ketika dia
berkarya akan lebih fokus dalam
mengabdi. Ini ada tiga pilar untuk ASN
itu dan enggak bisa ini satu-satu
belajar saja juga enggak bisa, berkarya
saja juga enggak bisa. Tapi ketika dia
berkarya ada saatnya. Makanya di BPSDM
Provinsi Jawa Timur ini kan ada
pelatihan-pelatihan yang dilakukan. Apa
sih kebutuhan pelatihan-pelatihan yang
ee dibutuhkan oleh ASN
baik hard skill ataupun soft skill?
Karena semua ini nantinya untuk
mengabdi. Ini adalah keterkaitan. Nanti
kita akan membahas secara psikologinya.
Ada teori-teorinya yang mengatakan
bahwasanya belajar berkarya dan mengabdi
itu ada teori-teori yang mendukung.
Bahwasannya ini dari grow mindset orang
dengan mindset berkembang itu lebih siap
belajar dan beradaptasi. Maka dari itu
ketika seseorang ini ya saya mengatakan
ASN ASN ini sobat ASN se-Indonesia
ketika pikiran kita mau maju mau
berkembang, maka kita lebih siap untuk
belajar dan beradaptasi termasuk yang
hadir pada kesempatan pagi ini. Jadi
kalau teman-teman mengatakan bahwasanya
oke hari ini saya siap untuk belajar,
hari ini saya mau untuk belajar, mohon
maaf ya kalau memang ini ada kemauan
dari dalam dirinya itu berarti dia akan
lebih siap. Tetapi kalau hanya dipaksa
oleh pimpinan, coba kamu belajar coba
itu enggak akan enggak akan bisa. Karena
apa? Sesuatu yang terpaksa itu hasilnya
enggak bisa maksimal. Maka dari itu yang
pertama adalah mindset terlebih dahulu
yang harus dibenahi dari pikiran kita.
Akhirnya kita ada kemauan. Ketika
kemauan itu muncul, didukung oleh tim,
didukung oleh ee di sini didukung oleh
instansi, maka hasilnya akan maksimal.
Bahkan di sini dari MENC tahun 2020
mengatakan
organisasi dengan budaya belajar dan
inovasi memiliki kinerja 30% lebih
tinggi dibanding yang tidak.
Jadi ternyata maka ketika kemarin saya
sempat datang di BPSDM Provinsi itu di
pojok-pojok itu ada ruang baja.
Sebenarnya belajar itu bisa di manaun,
kapanpun, dan dari siapapun, dengan
siapapun. Lah di sana saya melihat ada
perpustakaan yang nota Bene memberikan
kesempatan dan ruangannya itu kosi
banget loh. Itu kayak ruangan yang
nyaman gitu. Cuman saya enggak tampilkan
di sini ya, saya lupa ini ya. Ah, itu
bagus banget. Ini sesuatu yang dilakukan
di sana. Nah, budaya belajar ini enggak
bisa kalau hanya satu orang dan ini
harus diikuti oleh semuanya. Maka dari
sisi tadi ketika Prof. PLH mengatakan
ini desain thinking-nya seperti apa.
Tadi saya mengikuti dari proses
berpikirnya seperti apa. Ini ee ada
keterkaitannya. Ketika organisasi itu
sudah menumbuhkan budaya untuk setiap
timnya itu mau belajar, maka
inovasi-inovasi itu akan bisa
dikembangkan. Dan belajar itu enggak
harus di ruang kelas. Belajar itu bisa
di manapun. Yang penting itu bagaimana
outputnya. Apalagi kalau di sini kita
kan ASN. ASN itu kan dalam hal ini kan
memang ee maksimalnya adalah melayani
gitu loh. Jadi ketika melayani bagaimana
kita belajar dari yang lain gitu. Nah,
hal lain di sini contohnya
ASN GAPTEK mau belajar aplikasi digital
akhirnya jadi pionir layanan online.
Yang di sini kata-katanya yang saya
kasih ini adalah mau belajar.
Ya, kalau orang sudah tidak mau dipaksa
seperti apapun itu enggak akan mau.
Tetapi kalau dia ada kemauan dari
dirinya, ada kemauan untuk berkembang,
itu akan lebih enak. Ini kalau kait saya
kaitkan dengan teori motivasi.
Motivasi itu pembuka jalan, tetapi
konsistensi itu yang menentukan sukses
tidaknya seseorang. Tetapi ketika
seseorang tidak memiliki motivasi,
bagaimana dia akan bisa melakukan
sesuatu. Maka dari itu, ASN GAPTEK pun
kalau dia mau belajar pasti dia akan
bisa. Yang penting dari dalam dirinya
dulu mau ada kemauan untuk belajar.
Terus hal apaagi di sini ya? Kalau kita
ngomong kita kan ada tiga pilar di sini
dalam psikologi kerja. Manusia itu butuh
tiga hal untuk terus termotivasi.
Jadi, bagaimana kita terus termotivasi?
Yang pertama kita harus kompetensi,
menguasai tugas dan terus berkembang.
Aku bisa dan percaya diri. Ya,
kadang-kadang di sini pentingnya
bagaimana menempatkan orang sesuai
dengan keahliannya.
Tetapi meskipun saat ini belum ahli,
kalau dia mau belajar ya bisa suatu
saat. Yang penting ada kemauan untuk
belajar. Dan ketika dia sudah menguasai
tugasnya di sini bagus.
Karena sebagai ASN juga punya ke apa ya
keharusan nanti itu bagaimana dia
berbagi ke temannya. Regenerasi itu juga
penting. Aku bisa, aku percaya. Sesuatu
yang dia miliki saat ini dia bisa
berbagi kepada orang lain dan itu ada
kemanfaatannya. mengabdi itu loh. Jadi
belajar, berkarya dan mengabdi. Ini
kata-kata ini yang bagus sekali kalau
kita selalu seperti afirmasi. Afirmasi
diri.
Saya mau belajar, saya mau berkarya, dan
saya sepenuh hati mengabdikan diriku
untuk nusa dan bangsa. Jadi ini, tetapi
harus ada keinginan dulu, harus ada
motivasi dulu dan kita lihat
kompetensinya, bagaimana kompetensi
dirinya. Terus hal lain di sini adalah
koneksi,
hubungan positif, dan dukungan tim. Ini
saya masih membahas dari eh
teori yang nota Bne ini adalah teori
selfermination theory, Desi and Rin.
Jadi ada tiga ini teorinya yang setelah
kompetensi ini adalah koneksi, hubungan
positif dan dukungan tim. Kalau
hubungannya sudah enggak positif di
dalam suasana kerja itu juga enggak
enak. Maka dari itu seringkiali kan kita
ada namanya teamw. Bagaimana kita
komunikasinya juga harus bagus, dukungan
tim. Yang namanya pimpinan enggak akan
bisa melakukan sesuatu tanpa ada
dukungan tim. Lah di sini pada
prinsipnya setiap manusia itu pengin
dihormati, dihargai. Dan ketika dia bisa
diterima dan dihargai, ini termasuk
salah satu bagaimana dirinya itu merasa
memiliki sesuatu. Koneksi ini penting,
hubungan positif ini penting, dan
dukungan tim ini penting. Sebagus apapun
seseorang, sepintar apapun seseorang,
kalau hubungannya tidak positif dengan
rekan-rekannya, itu juga enggak bagus.
Maka dari itu, komunikasi itu penting,
dukungan tim itu sangat penting. Apalagi
kalau seseorang itu merasa di
lingkungannya, dia merasa diterima,
pendapatnya dihargai, ya dia akan lebih
termotivasi.
Di sini ada makna. Apa sih makna
pekerjaan?
Pekerjaan itu buat arti dan mempunyai
arti dan tujuan besar. Pekerjaanku
bermanfaat. Teman-teman bekerja sebagai
ASN tentunya ini kan bukan hanya untuk
pribadi, tapi bagaimana ada kemanfaatan
untuk bangsa dan negara. Kata-kata
mengabdi ini loh. Jadi sebenarnya
pekerjaan teman-teman ini artinya sangat
luar biasa dan tujuannya sangat mulia.
Ketika teman-teman melakukan dengan
sepenuh hati, teman-teman melakukan
dengan maksimal karena pekerjaan
teman-teman ini sangat bermanfaat.
Sobat ASN ini kan dari berbagai lini ya,
dari kesehatan, ada yang dari guru
semuanya lah ya yang kaitannya dengan
ASN ini kan banyak. Jadi sebenarnya
teman-teman pekerjaan teman-teman itu
semuanya punya arti baik untuk diri
sendiri dan juga arti buat masyarakat.
Maka dari itu ini penting. Terus kalau
teman-teman mau belajar
ini bikin kita kepenten. Kalau
teman-teman berkarya bikin kita diakui.
Kalau teman-teman mengabdi ini bikin
kita merasa hidup kita berarti. Jadi
orang yang mau belajar maka dia akan
memiliki tambahan kompetensi. Orang yang
mau berkarya dia akan diakui dengan
karya-karyanya.
Dan orang yang mengabdi dengan tulus,
dia akan merasa hidupnya berarti. Kalau
kita bicara bagaimana sih cara kita itu
bisa berarti buat orang lain,
mengabdi dengan tulus ini sesuatu. Pasti
teman-teman pernah merasakan ketika
melakukan pekerjaan bisa membantu orang
lain gitu ya. Itu ada hal-hal positif
yang teman-teman dapatkan. Kadang-kadang
kita tidak bisa menilai dengan uang,
tapi ketika pekerjaan teman-teman
membantu orang lain, karena kalau kita
lihat 70% itu kan kaitannya dengan
pelayanan publik lah. Ketika mengabdi
melayani ini hidup itu serasa berarti
memang bekerja mencari duit ya, tetapi
di sini ketika teman-teman melakukan
sesuatu lah bagaimana bisa mengabdi
dengan maksimal apakah ilmunya sudah
dapat? Ya, ini dibutuhkan belajar.
Ketika ilmunya sudah dapat, langsung
praktikkan dalam karya. Karya akhirnya
inilah bentuk pengabdiannya. Jadi itu
yang saling keterkaitan. Nah,
saya mengatakan di sini bahwasanya saya
akan membahas tadi secara psikologinya
ada teori ini ada teori lagi saikap di
dalam psikologi Lutan 2007. Jadi, setiap
manusia itu harus menjadi pahlawan bagi
dirinya sendiri.
Jadi, setiap manusia harus menjadi
pahlawan bagi dirinya sendiri. Ketika
teman-teman yang namanya di kantor ASN
enggak ada yang namanya enggak ada
masalah. Jadi di mana pun kita berada
pasti dengan pekerjaan-pekerjaan itu dan
enggak ada orang yang sempurna itu
enggak ada gitu loh. Tetapi ketika dia
mau belajar ini tentunya apa sih yang
dia harapkan?
Jadi kenapa saya mengatakan setiap
manusia harus menjadi pahlawan bagi diri
dirinya sendiri? Saya sir dengan hero.
Dia punya harapan enggak dengan
pekerjaan sekarang? Yakin enggak ada
jalan meski ada rintangan? Terus
keyakinan dirinya mampu menyelesaikan
tugas. Jadi kalau teman-teman dapat
tugas dari pimpinan atau dapat ini,
ketika teman-teman merasakan tidak yakin
ya pasti yang yang muncul nanti ya
enggak enggak akan tercapai gitu. Pasti
ya enggak bisa karena enggak yakin dari
dirinya saja enggak yakin bagaimana
orang bisa melihat terus ketangguhan.
Kan enggak mungkin ketika kita belajar
berkarya dan mengabdi itu enggak ada
masalah kan enggak mungkin ya. Setiap
masalah pasti ada solusinya. Bangkit
dari kegagalan. Tapi kita mau mencoba
lagi, mau belajar lagi dan optimis.
Pasti kita bisa pandang masa depan
dengan positif. Sekarang hero. Bagaimana
dengan hero? Ketika kita ngomong hero,
contohnya
ASN tetap melayani dengan inovasi
digital saat pandemi.
Lah ini kalau enggak belajar kan enggak
mungkin. Kalau kita enggak yakin kita
bisa melakukannya kan juga enggak
mungkin. Bahkan data ini ya, survei
LDBank Kompas 2022, 62% masyarakat puas
dengan inovasi layanan publik digital.
62% loh ya. Berarti masih ada berapa?
38%.
Ini yang bisa dikembangkan oleh
teman-teman. Kalau mau ngomong tentang
keyakinan diri ini penelitian Lutan dan
eh Yusif bahwa karyawan dengan efikasi
diri tinggi 40% lebih produktif. lah
bagaimana teman-teman bisa berkarya
kalau keyakinan diri teman-teman enggak
yakin dengan apa yang dilakukan. Maka
dari ini penting gitu loh lah.
Resiliensi
kan pernah teman-teman ketika ada
program gitu ya, program kerja ditolak
ya langsung kalau orang yang
resiliensinya rendah ketika ditolak dia
langsung
down langsung enggak ada motivasi lagi.
Tetapi ketika seseorang yang mampu
memiliki resiliensi ketika program
kerjanya ditolak tadi ee Prof. Ilham
mengatakan ee desain thinking tadi
modelnya wuh ribet banget itu
benar-benar akademisi ya
modelnya tuh tadi itu lah ketika mau
misalnya model sudah memiliki misalnya
sudah memiliki saya punya program begini
Pak Bu ketika ditolak itu langsung down
lah berarti ketika ditolak kita harus
introspeksi kira-kira apa yang kurang
perbaiki dan itulah yang akan membuat
kita menjadi sukses.
Ada lagi dari Word Economy Forum,
ketangguhan dan kemampuan adaptasi masuk
tiga besar skill ASN masa depan.
Kalau sekarang yang kita hadapi kan
generasi-generasi Genzet ya,
generasi-generasi milenial ya, apapun
adanya ya kita harus mampu beradaptasi.
Seperti sekarang ini kita meeting juga
bukan meeting yang kayak dulu kan ketemu
langsung kan begitu.
Sekarang kita meetingnya bisa melalui
Zoom ya. Mau tidak mau kita harus
belajar tentang ini lah. Ketangguhan
yang namanya perbedaan itu pasti ada.
Perubahan atau perbedaan gap itu pasti
menimbulkan sesuatu yang tidak enak.
Tapi bagaimana kita harus mampu,
harus mampu beradaptasi
karena ini penting. Enggak bisa kalau
kita hanya yo aku aku itu enggak bisa.
Jadi berikutnya optimis. Ini berdasarkan
penelitian selectm. Karyawan dengan
optimis tinggi itu lebih tahan stres dan
31% lebih produktif. Jadi intinya kalau
ini saya kembangkan dari teorinya Lutan,
jadi setiap ASN itu harus memiliki
harapan, efikasi diri, ketangguhan, dan
optimisme. Maka dari itu, kita harus
menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri.
Kita harus memiliki harapan, yakin ada
jalan meski ada rintangan dan percaya
bahwasanya teman-teman itu mampu
menyelesaikan tugas. Dan ketika ada
masalah enggak ada kita bekerja di mana
pun enggak ada masalah dan yakin atau
optimis semuanya itu bisa diatasi. Ini
harus dimiliki ketika teman-teman sedang
belajar, belajar pun ada tantangannya.
Enggak. Yang namanya belajar kan butuh
proses. Ketika teman-teman butuh proses,
ada kendala-kendala, ya lari lagi ke
hero ini.
Ketika sudah belajar, selesai, ketika
berkarya, Teman-teman berkarya ternyata
ada rintangan. Kembali lagi ke hero.
Yakin rintangan ini bisa diatasi.
Sa mengabdi. Apakah teman-teman ketika
mengabdi enggak ada masalah di lapangan?
Pasti ada. kembali lagi ke hero. Ini
adalah modalnya. Karena setiap manusia
sebenarnya setiap manusia harus memiliki
yang namanya modal psikologis. Ini
adalah modal psikologis yang saya
terapkan bagaimana ketika teman-teman
atau sobat ASN ini bisa belajar,
berkarya, dan mengabdi. Ketika mengabdi
di masyarakat itu pasti
ada hambatan.
apa yang kita lakukan belum tentu itu
semuanya diterima itu belum tentu ketika
kita mengabdi. Maka dari itu,
Teman-teman, jadi ini bisa jadi
modal untuk Teman-teman di Syap Hero
ini. Nah, apa hubungannya dengan budaya
kerja?
Seseorang yang memiliki harapan ini bisa
mendorong belajar. Kalau orang sudah
tidak punya harapan ini enggak akan mau
dia belajar. Tetapi dia punya harapan
bagaimana nanti ketika misalnya ya oh
untuk kenaikan karir oh biar ini lebih
bagus akhirnya belajar
kalau dia memiliki keyakinan diri ini
yang akan mendorong berkarya yakin
dengan apa yang dimiliki yakin dengan
kompetensi dirinya maka dari itu
karyanya akan muncul
dan seseorang yang memiliki resiliensi
dan optimisme ini yang menguatkan dalam
mengadi. Kenapa resiliensi dan optimisme
ini penting? Karena di saat kita
menjalankan peran kita sebagai ASN,
enggak ada yang namanya masalah, enggak
ada. Semuanya semuanya ada. Jadi enggak
ada masalah. Semuanya itu ada masalah.
Jadi bagaimana kita resiliensi itu gini
loh, berdamai dengan diri sendiri.
Optimis bahwasanya semuanya itu bisa.
Kalau teman-teman sudah enggak optimis,
sobat ASN sudah enggak optimis, itu
enggak akan bisa.
Maka dari itu hubungannya dengan budaya
kerja ini ada. Kalau punya harapan
berarti ya kita bisa mendorong kerja
kita. Keyakinan diri mendorong dalam
karya kita. Resiliensi
menguatkan dalam mengabdi karena pasti
rintangan, halangan itu pasti ada dan
optimis bahwasanya semuanya bisa
diatasi.
Oke, dari perspektif psikologi,
Teman-teman. Ini
kalau kita ngomong belajar,
jadi ini ada teorinya grow mindset. Ini
orang yang selalu mau berkembang.
Kalau orang itu mau berkembang, maka
jalan menuju kesuksesan ini akan lebih
mudah.
Misalnya ASN yang terus ikut diklat
membaca, berdiskusi, update regulasi
baru, dia akan lebih berada di depan
daripada orang yang hanya mengikuti
arus.
Cuma tantangannya di sini ya, rasa
malas, takut gagal, dan zonnya nyaman.
Ini tantangannya, tetapi ada solusinya
nih. Saya tulis semua di sini. Ubah
mindset gagal menjadi belajar. gunakan
refleksi diri tiap minggu apa yang
kupelajari ini kalau untuk belajar.
Jadi perspektif psikologinya ini saya
menggunakan eh grow mindset teorinya
Carol D. Jadi orang yang selalu mau
berkembang. Kalau orang sudah enggak mau
berkembang itu didorong seperti apapun
enggak akan mau. Jadi kalau saya
mengatakan motivasi itu kan ada dua,
motivasi internal, motivasi eksternal.
Meskipun orang itu mendorong seseorang
untuk belajar, kalau dirinya tidak mau
belajar ya enggak akan bisa.
Tetapi kalau dirinya sudah mau belajar
terus mendapatkan dorongan dari
eksternal ya itu akan bagus. Jadi
intinya seseorang kalau mau belajar
semuanya akan bisa. Terus di sini selain
belajar berkarya.
Kalau kita ngomong berkarya ini
perspektifnya psikologi itu self
efficacy. Ini keyakinan mampu memberi
hasil nyata. Jadi kalau sudah kita
ngomong aku enggak mampu, aku enggak
bisa, enggak bisa. Misalnya ini saya
kaitkan dengan ASN yang mengubah ide
menjadi inovasi pelayanan publik.
Contohnya aplikasi aduan online,
perbaikan SOP. Kalau teman-teman sudah
enggak yakin,
ya itu enggak akan bisa. Kalau enggak
yakin bahwasanya inovasi ini bermanfaat
juga enggak akan bisa. Cuma ini
tantangannya.
Takut idenya ditolak. budaya kerja yang
kaku karena di ASN ini. Tapi ya yang
penting berani ini ada plan A, plan B,
plan C dan solusinya gunakan desain
thinking lah. Saya itu padahal enggak
enggak janjian loh tadi dengan Prof.
Ilham itu saya juga baru ketemu ini
tadi. Iya kan? Gunakan desain thinking
mulai dari masalah nyata yang ada di
masyarakat. Cari idenya, uji dan
perbaiki. Ini
jadi kalau ketika kita berkarya, gunakan
desain thinking kita.
Tapi kita harus tahu masalahnya. Masalah
nyata di masyarakat itu apa. Ini yang
perlu terjun di masyarakat.
Baru dari situ kita ada muncul ide.
Ketika ide, uji terlebih dahulu. Kalau
memang ternyata belum diterima perbaiki.
Jadi ketika mendapatkan penolakan jangan
langsung down. Karena ini ini saatnya
kita belajar nih saatnya. Terus kalau
mengabdi
sebetara
psikologi meaningful work itu kerja
bukan sekedar gaji tapi nilai hidup.
Jadi nilai hidup teman-teman tadi ketika
teman-teman ada predikat misalnya saya
Winda ASN di Indonesia gitu ada nilai
diri yang kita dapatkan. Jadi bukan
sekedar gaji, tapi ada nilai diri yang
kita dapatkan.
Terus ketika ASN melayani warga desa
terpencil dengan tulus meski fasilitas
terbatas.
Ini adalah meaningful work. Jadi ini
adalah contohnya. Cuma ketika kita
berada di pelosok itu kadang-kadang burn
out. Kalau psikologinya lelah. Jadi ini
bahasa ini lelah. merasa tidak dihargai.
Kadang-kadang saya tuh sudah bekerja
begini, tapi saya enggak dihargai. Oke,
ada solusinya kok. Self care, jaga
emosi, reframe, makna tugas. Saya
melayani bangsa. Jadi, semua itu ketika
ada masalah kembalikan kepada tadi
bagaimana secara psikologinya,
resiliensinya seperti apa, optimisnya
optimismenya seperti apa?
Dan sobat ASN data dari Ombusmen 2023
bahwasanya pelayanan empatik naikkan
kepercayaan publik 35%.
Empat itu seperti apa sih? Memposisikan
diri seandainya ada pada posisi mereka.
Teman-teman sebagai ASN ini mempunyai
nilai lebih. Tetapi ketika teman-teman
bertugas di daerah gitu ya, ya mungkin
warganya apa belum ini ya tidak merasa
belum menghargai keberadaan kita.
Orang yang benar-benar tulus mengabdi ya
itu akan terus saja bekerja.
Dan di sini ketika kita tulus melakukan
pekerjaan kita mengabdi dengan tulus itu
akan menaikkan kepercayaan publik
sebesar 35%.
nih.
Terus apa sih hubungannya dengan budaya
kerja gitu
ya? Kalau kita ngomong hubungannya kalau
harapan itu mendorong belajar. Ada
keyakinan selalu ada cara baru.
Kalau kita sudah enggak yakin bagaimana
kita mendapatkan cara? Kan kita pernah
gini ya the power of kepepet kan begitu.
Kalau kita yakin bisa pasti kita bisa.
Jadi harapan itu mendorong untuk belajar
dan ketika kita merasa bisa ya pasti
akan ada cara-cara kalau kita sudah jadi
ini dari pikiran kita kok desain
thinking kita ini desain thinking kita
dan keyakinan diri mendorong berkarya
percaya diri melahirkan inovasi
bagaimana kita bisa melahirkan inovasi
kalau kita sendiri enggak percaya diri
dengan diri kita
tetap semangat melayani meski banyak
tantangan enggak ada yang namanya orang
bekerja enggak ada tantangan. Maka dari
itu dibutuhkan resiliensi dan optimisme
menguatkan dalam mengabdi kepada nusa
dan bangsa. Oke.
Hal lain nih ya, Sobat ASN. Cara
menumbuhkan budaya kerja di tempat
kerja.
Pertama kita mulai dari diri sendiri.
Contoh kecilnya senyum, mau belajar hal
baru. Ini contoh kecil kok ya.
Ini meskipun contoh kecil kalau kita
tidak memulainya enggak bisa. Mungkin
ini saya kok sulit senyum ya? Ya belajar
senyum.
Saya kok enggak bisa ya? Ya belajar apa
yang kita tidak bisa. Saya pun juga
masih belajar sampai sekarang. Ketika
belajar punya ilmu baru kita tularkan ke
orang lain karya kita ini.
Terus yang kedua bikin ritual tim.
Misalnya 1 jam per bulan sharing ilmu
baru. Jadi ilmu yang didapatkan hari ini
tadi dari Prof. Ilham terus ini nanti
ada lagi itu teman-teman sharing terus
nanti sharing
disaring terus untuk sharing untuk
diskusi. Ini sesuatu yang bagus.
Berikutnya reframing masalah. Ubah cara
pandang dari masalah ketantangan,
dari masalah kepeluang.
Ya, ini semua ini dari pikiran kita dan
beri apresiasi ke rekan kerja yang punya
ide atau layanan bagus. Ini masuk di
psikologi positif.
Misalnya, wah bagus ya karyamu. Luar
biasa kok. Memang luar biasa. Wow keren
gitu. Jadi hal-hal sepele ini yang akan
menumbuhkan budaya kerja. Jadi mulailah
dengan hal-hal sepele, bukan hal yang
gede. Enggak.
Hal-hal sepele inilah yang nanti akan
menumbuhkan budaya kerja. Dan ketika
teamwork-nya sudah bagus, budaya
kerjanya sudah bagus, ini output-nya
juga akan bagus dan akan menjadi habit.
Jadi intinya enggak bisa kalau kita
tidak memulai dari diri sendiri.
Menyuruh orang lain tapi kita enggak
melakukan itu juga sama juga bohong.
Maka dari itu mulailah dari diri kita
sendiri. ketika sudah belajar, berkarya,
mengabdi, memberikan contoh, itu yang
akan di dilihat oleh orang lain. Nah,
Sobat ASN,
jika salah satu hilang maka tidak
seimbang.
Belajar tanpa karya itu hanya teori.
Berkarya tanpa belajar akan stagnan.
Mengabdi tanpa keduanya tanpa arah. Maka
dari itu keduanya harus
berkesinembungan.
Itu adalah yang bisa saya sampaikan
untuk kesempatan
pagi hari ini. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Kembali ke moderator.
Baik. Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih banyak Ibu
Bawinda. Luar biasa sekali. Saya sangat
menyimak terutama yang terakhir begitu
ya. Ini sangat ngenal sekali dan bisa
diaplikasikan. Nah, ternyata sudah ada
banyak sekali yang ingin berdiskusi dan
juga berinteraksi langsung. Untuk itu
saya langsung menghubungkan dengan Bapak
Firman Supriadi untuk bisa langsung open
cam dan juga open mic. Pak Firman.
Baik. Selamat pagi, Pak Firman.
Ah, batuk dulu.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Pak Firman, boleh saya tahu
dari mana Bapak?
dari
Kecamatan Uluan, Kabupaten Jember.
Oh, baik. Dari Jember, terima kasih.
Silakan pertanyaannya, Bapak.
Ee dari paparan Ibu
Bawenda tadi, Bawenda ya,
Bawinda
itu sangat menarik, Bu.
Dan itu sebetulnya sudah belajar,
berkarya, mengabdi itu sudah saya
laksanakan.
Nah, masalahnya gini. ee rekan-rekan ASN
itu rata-rata kan tergantung pada pucuk
pimpinan. Bagaimana karakter seorang
pucuk pimpinan membangun ee mentalitas
berkarya, mentalitas belajar, dan
mentalitas mengabdi. Nah, ketika ee
mentalitas-mentalitas itu tidak nampak
di pucuk pimpinan, bagaimana kita bisa
ee melahirkan apa inovasi-inovasi,
karya-karya dalam ee bekerja. Mohon
pencerahannya.
Baik, silakan untuk dapat dijawab Ibu
Bawinda.
Baik, terima kasih untuk pertanyaannya.
Tadi dari Pak siapa namanya, Mbak?
Dari Jember tadi dengan Pak siapa?
Firman Kecamatan Wulan, Kabupaten
Jember, Bu.
Oke. Dari Jember ya. Terima kasih. Nah,
kalau kita berkaitan ini kan kaitannya
dengan pimpinan ya, Pak ya. Nah,
bagaimana ini banyak program bagus tapi
gagal karena mindset belum ini yang
pertama ini, Pak, kalau memang ini
kaitannya dengan pimpinan ini ada
komunikasi yang bagus kan gitu ya.
Makanya kan perlu Pak komunikasi efektif
itu penting kan begitu. Nah, bagaimana
kan kita tidak bisa mengendalikan orang
lain. Jadi intinya yang bisa kita
kendalikan itu adalah diri kita sendiri.
Kalau ternyata Bapak mengatakan saya itu
sudah teman-teman tuh sudah belajar
berkarya mengabdi dengan bagus tapi
mentalitas kita yang kita benahi adalah
mental kita dulu, Pak.
Kalaupun pimpinan belum mengapresiasi
karya kita,
tunjukkan dengan bukti.
I
ini enggak masalah. Tunjukkan bukti
terus. Ketika sudah bukti itu
terus-terusan pasti nanti suatu saat
diakui kok Pak.
Itu aja. Yang penting, Pak.
resiliensinya penting
resiliensinya tadi kan tadi sudah punya
karya bagus tapi belum diterima pastikan
down burn out lelah maka dari itu
kembali ke resiliensi sudah punya karya
dan kalau ngomong pimpinan berarti
ngomong ini tentang leadership seorang
leader itu kan bagaimana dia memotivasi
menginspirasi ini lah ya ini memang
harus Pak leader harus bisa memotivasi
menginspirasi ketika kita ada
ee kalau memang timnya saya mengatakan
timnya memiliki hal-hal yang notab ini
ini adalah inovasi-inovasi baru ketika
presentasi
ya kan setiap orang tuh beda-beda ya Pak
ya setiap pimpinan tuh kan beda-beda
karakternya jadi bukan kita yang harus
apa me
kita yang harus bukan kita yang harus
ini intinya jangan baper g aja jangan
baperya
jangan baper tapi terus tunjukkan dengan
bukti kalau saya mengatakan begitu aja,
Pak. Karena dengan psikologi, ya, Pak
ya. Jangan sampai kena mental. Nanti
kalau sudah mentalnya kena, enggak akan
bisa berkarya lagi.
Itu
itu ya, Pak, yang dari Jember. Tetap
semangat ya, Pak
ya.
Baik, terima kasih banyak Pak Firman
sudah bergabung Bu. Terima kasih
jawabannya. Dan kita akan beralih kepada
SN berikutnya ini dari UPT PSDM Jawa
Timur. Ibu Tri. Selamat pagi, Ibu Tri.
Kami hubungkan.
Selamat pagi.
Ah, baik.
Terima kasih Bu Fani sudah diberi
kesempatan.
Sama-sama, Ibu. Silakan untuk
pertanyaannya.
Ya, saya menyapai Bu Bawinda dulu.
Barangkali Bu Wawinda masih ingat,
pernah juga ke DBPD SDM.
Oh, iya. Selamat pagi atau siang ya? Jam
sudah siang ya.
Asalamualaikum semuanya. Matur nuwuhun
untuk kesempatan yang diberikan.
Ee sebetulnya pertanyaannya ada
kaitannya dengan apa yang disampaikan
ditanyakan oleh Pak Firman tadi ya, Bu.
Ya, memang ee seperti yang disampaikan
Bu Bawinda tadi memang kita tidak bisa
mengubah orang lain. Kita mulai dari
diri kita.
Karena begini, Bu. Seandainya kita ini
punya semangat nih, Pak, anu, Bu, untuk
belajar, untuk memacu diri. Karena
memang ee seperti Pak Ramli katakan,
kita harus belajar sepanjang hayat ya.
Jadi, tidak ada batasan. Jadi, tapi ada
teman-teman kita ini, Bu, rekan-rekan
yang wah seolah-olah kita dianggap cari
muka atau butuh validasi gitu. Nah,
apakah ada tips dari Ibu Bawinda?
Bagaimana? Karena kalau kita tidak
mengatasi hal itu, memang kita dari diri
kita memang kita sudah ee memaksa diri
kita, memacu diri kita ya, Bu. Tapi ada
lingkungan yang kondisinya masih seperti
itu. Ee bukan di tempat kami sih, Bu.
Bukan di tempat kami aman. Tapi ada kan
beberapa yang masih lakukan seperti itu.
Seolah-olah temannya itu pengin maju
tapi dikatakan, "Wah, itu butuh
validasi." Gini. Nah, ee apakah ada trik
supaya kita tidak kena mental jadi burn
out atau nge-drain gitu istilahnya?
Bisa dibagikan Bu tips dan triknya
supaya kita ASN itu tetap semangat
belajar memacu diri apapun kondisi kita
supaya kita meningkatkan kompetensi kita
sehingga mengabdi kita ini lebih
maksimal. Demikian pertanyaan saya Ibu
Bawinda. Terima kasih.
Terima kasih, Bu Tri. Silakan untuk
jawabannya. Bu ba
baik terima kasih tetap semangat kan
gitu ya. Bagaimana sih
ya caranya biar tidak dituduh cari muka
padahal kita sudah punya muka ya ngapain
kita harus cari muka kan gitu ya kan
setiap orang sudah punya muka gitu ya.
Ya. Pertama kita hadapi sebaiknya itu
dengan elegan tanpa mematikan semangat
ya sekaligus menjaga hubungan baik. Jadi
kita hadapi dengan elegan tanpa
mematikan semangat tapi menjaga hubungan
dengan baik. ini kayaknya aduh bisa
enggak ya gitu ya gampang-gampang susah
gitu ya gimana kayak kita makan apa
kalau saya mengatakan rujak kecut
dimakan pedas-pedas gimana gitu rasanya
tenang ibu yang pertama tetap tenang
jangan baha jangan balas dengan emos
jadi jangan langsung defensif maka dari
itu ketika ada masalah itu tolong
teman-teman ketika emosi e oh ya ini
jangan langsung ditanggapi itu berarti
secara emosi lah tuduhan seperti itu
sering lahir dari rasa tidak nyaman atau
iri atau salah paham.
Nah, caranya tarik nafas dan ingat niat
ibu itu kan belajar dan berkembang bukan
untuk menyenangkan
teman atau atasan semata. Jadi niatnya
kan belajar dan berkembang. Orang mau
ngomong ya biarkan dia ngomong. Bisa
jadi tadi, Bu, karena dari dia enggak
nyaman kalau ada temannya pintar atau
iri atau salah paham. Yang kedua ini
kita bisa ini evaluasi.
Pastikan bahwa semangat kita itu tidak
disertai sikap merendahkan orang lain.
Fokus pada tugas dan hasil. Kenapa? Ini
bukan pencitraan. Kalau kita tulus itu
lama-lama orang akan melihat kok
kebenarannya.
Dan kita harus konsistensi
dan tunjukkan dengan prestasi.
Ibu kalau ada seperti itu jangan berubah
ya. Jangan berubah hanya karena komentar
negatif. Di dunia ini enggak ada kok
orang yang 100% dalam arti mendukung
kegiatan kita. Pasti ada orang yang
tidak mendukung. Enggak mungkin gitu loh
ya. Ada merah, ada putih, ada kuning.
Terus belajar dan berkontribusi
dan tolong tunjukkan Bu semangatnya itu
bermanfaat untuk tim bukan hanya untuk
diri sendiri.
Jadi ketika nanti sudah belajar sharing,
tapi hati-hati kadang-kadang ketika kita
berbagi itu cara kita menyampaikannya
itu kadang-kadang jangan sampai kita
menggurui kan gitu. Yang paling penting
tadi yang saya katakan juga tadi dengan
yang di Jember tadi komunikasi.
Komunikasi bukan yang efektif sekarang.
Komunikasi yang hangat. Gimana sih
komunikasi hangat itu? Sapa dan libatkan
mereka?
Ini loh ya. Jangan menjaga jarak malah.
Jadi jangan menjaga jarak dengan orang
yang kurang enak dengan kita. Ibarat
orang tinju kalau terlalu dekat itu kan
enggak bisa ninju malah kita rangkul
gitu ya. Memang ini gampang-gampang
susah gitu loh. Apalagi perempuan.
Perempuan itu biasanya kebawa perasaan
gitu. Kalau laki-laki kan logika.
Kalau ada kesempatan baru dijelaskan Bu.
Jadi aku belajar dan kerja keras itu
bukan untuk cari muka, tapi sem supaya
kita semua itu terbantu. Tapi timing-nya
yang tepat ya. Jangan sampai pada saat
dia lapar itu malah bahaya. Jangan
sampai itu bahaya. Ngomongnya juga apa?
Empat mata ya. Jangan sampai banyak
orang rasa dipermalukan nantinya gitu.
Terus yang berikutnya ee ini jangan
terjebak dalam upaya membuktikan diri ke
semua orang. Ini biasanya seseorang
ketika ada masalah membuktikan ya ini
harus aduh enggak perlu.
Ada kalanya yang terbaik adalah tetap
bekerja dan apa? Membiarkan hasil yang
berbicara.
Jadi kalau kita sibuk kita apa kayak
konferensi pres itu malah nanti malah
runyam gitu loh.
Sama ini Bu. Jadikan tuduhan sebagai
pemacu mental tangguh. Dalam perjalanan
sukses selalu ada kritik. Jadikan itu
latihan mental untuk tidak mudah goyah.
Resiliensi itu yang penting. Jadi gitu
ya Bu. Terima kasih.
Siap.
Semangat ya.
Njih. Makasih. Baik. Terima kasih
responnya Ibu Bawinda. Terima kasih Bu.
Terima kasih gabung bersama dengan kami
dan pertanyaan yang sangat relatable
sekali dengan ASN pada momen kali ini
dan harus kami cukupkan sesi tanya jawab
ini dengan dua penanya yang berinteraksi
secara langsung. Mohon maaf kepada sobat
ASN yang pertanyaannya tertulis di kolom
chat maupun di kolom komentar BPSDM
Jatim TV yang belum sempat kami tanyakan
kepada narasumber kita Ibu Bawinda
karena memang waktu terbatas. Ibu
Bowinda terima kasih banyak. Satu yang
saya highlight dari apa yang telah
disampaikan adalah menghadapi segala
situasi dan kondisi
terus
berp dengan Ibu jika in tetap bergabung
dengan kami dalam AS
boleh sekali Bu terima
atas waktunya setelah kesibukan Kamis
ini dan Sobat
yang ketiga
nanti di
yang namun kita lihat
baik terima kasih kasih
[Musik]
M
[Musik]
Fusna
ya.
Oh, baik. Sudah muncul. Ibu
mohon izin suaranya Mbak Fani agak
putus-putus. Apakah hanya di saya saja
atau di semua audiens terdengar
demikian?
Jadi saya kurang bisa menangkap
suaranya, Mbak Fani.
Baik, kami akan coba untuk perbaiki,
Ibu.
I
sudah terdengar dengan jelas.
Oke. Baik, sekarang aman
kemerduan suaranya Mbak F yang cantik.
Ah, terima kasih
dengar dengan jelas.
Apa kabar, Bu Kusna siang hari ini?
Baik, alhamdulillah luar biasa dan
selalu semangat Mbak Fani.
Alhamdulillah saya juga sudah siap untuk
belajar bersama Ibu Fusna. Untuk itu
waktu kami silakan.
Oke. Baik, terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah pagi hari ini sampai siang
hari ini kita sama-sama belajar di ASN
Belajar. Jadi, belajar itu adalah
kewajiban kita semuanya. Maka di dalam
Islam dikatakan bahwa belajar itu wajib.
Tholabul ilmi faridatun gitu ya. Jadi
pada hari ini insyaallah kalau kita
belajar dengan sungguh-sungguh diniatkan
untuk beribadah, maka bukan hanya ilmu
saja yang kita dapatkan, tetapi kita
juga mendapatkan pahala yang insyaallah
nanti kalau meningkatkan kualitas diri
kita, maka kita akan bisa memberikan
kebaikan untuk lebih banyak orang.
Setuju ya?
Oke. Baik. ee setelah tadi Bu Bawinda
dengan paparannya yang sangat luar biasa
gitu ya dan tadi saya pun juga menyerap
ilmu banyak sekali dari Bu Bawinda. Oke,
hari ini alhamdulillah semuanya saya
lihat nampak sehat dan nampak
bersemangat ya. Saya apresiasi luar
biasa BPSDM Jatim yang mengundang ASN
seluruh Indonesia. yang hadir hari ini
adalah para pembelajar sejati. Luar
biasa. Untuk apresiasi boleh ya saya
memberikan pantun. Ditunggu cakepnya
gitu. Baik. Ee pergi ke sawah menanam
padi, hasil panen membuat cerah.
Pembelajar sejati tekun setiap hari. Tak
kena lelah, tak pernah menyerah.
Masyaallah. Oke, saya adalah pembicara
yang ketiga. Tadi Prof. Ilham sudah
memberikan paparannya. Kemudian Bu
Bawinda yang sangat luar biasa. Hari ini
saya akan hadirkan
tentang ASN belajar yang belajar tiada
henti, berkarya penuh inovasi, mengabdi
dengan hati. Ya. Jadi, ASN itu adalah ee
ada tiga pilar ya. Belajar, berkarya,
dan mengabdi. Belajarnya tiada. Oh,
maafkan saya saya salah share ya.
Maafkan. Tunggu sebentar.
Oke, bismillah. Saya akan share ini.
Sudah nampak, tinggal slide show-nya.
Belajar tiada henti, berkarya penuh
inovasi dan mengabdi dengan hati. Mohon
izin memperkenalkan diri terlebih
dahulu. Itu nama saya adalah Fuzna
Marzuqoh. Fuz dari Faza yafuzu Fauzan.
Insyaallah saya mendapatkan
keberuntungan dari nama itu. Karena yang
namanya nama itu kan doa harus membawa
keberkahan bagi yang memanggil maupun
yang dipanggil. Dan fuz ini kan sifatnya
kontinuous ya. Jadi keberuntungannya tuh
sifatnya terusmenerus. Sehingga apabila
orang memanggil saya, yang memanggil
juga mendapatkan keberkahan sebagai doa
keberuntungan terus-menerus. Nah, itu
nahnu. Jadi jamak jumlahnya banyak.
Marzuqoh adalah orang yang mendapatkan
rezeki. Dan rezeki itu pastinya bukan
hanya berupa uang, tetapi kesehatan,
persaudaraan,
ilmu pengetahuan, semangat hidup itu
juga rezeki. Jadi insyaallah kita
semuanya beruntung dan selalu senantiasa
bersyukur karena mendapatkan rezeki.
Nah, saya akan awali dengan fakta-fakta
Bapak Ibu ya. Fakta yang pertama
mengatakan bahwa survei Kemanpan RB
bahwa keluhan masyarakat terkait
pelayanan publik adalah soal sikap dan
respon ASN. Tadi Bu Bawinda juga
menyinggung banyak hal tentang bagaimana
sikap dan ternyata keluhan ini lebih
banyak memang di sikap. Bukan hanya soal
prosedur, lebih besar di sikap. Kemudian
fakta yang kedua, Transparensiy
Internasional menyatakan bahwa skor
Indonesia 37
dalam Corruption Perception Index tahun
2024. Jadi, ini adalah peringkat ke-99
dari 180 negara. So, PR kita masih cukup
banyak, masih harus butuh effort, butuh
usaha benar-benar untuk membenai ini.
Kemudian yang ketiga, UTSEN RI masih ada
20% lembaga pelayanan publik yang tidak
optimal. Maka insyaallah untuk ini akan
kita selesaikan dengan yang namanya
belajar,
berkarya, dan juga mengabdi. Kenapa?
Karena kita itu berhadapan dengan dunia
yang sekarang ini masuk di era yang kita
sebut sebagai era bani.
Kalau beberapa waktu yang lalu ya
sebelum COVID itu ada era fuka
volatil. Jadi semua serba dinamis, serba
cepat. Kadang kita itu enggak langkah
kita belum mencapai itu sudah berubah
lagi. Jadi ada volatility, ada sangat
dinamis, serba cepat. Kalau ini orang
Jawa Timur barangkali ya yang ada di
Jawa Timur atau Jawa Tengah itu tahu
yang katanya esok dele sore tempe gitu
ya. Jadi paginya kedelai sorenya sudah
jadi tempe. Dan itu untuk menggambarkan
orang yang ngomongnya pelin-pelan enggak
bisa dipercaya. Tapi dunia sekarang
sudah sangat cepat. Bukan hanya esok
dele sore tempe, tapi bahkan mungkin
esok delay. Kemudian 2 jam kemudian
sudah jadi tempe. Jam .00 delay jam
09.00 sudah jadi tempe karena mungkin
fermentasinya dipercepat dengan
teknologi.
Jadi perubahannya memang sudah sangat
cepat. Kalau ada loh kemarin barusan A
kok sekarang sudah A+ ya memang
begitulah keadaan dunia ya dan semuanya
ada ketidakpastian uncertainty
tidak pasti sangat cepat bahkan sangat
kompleks dan seba mengambang ambigu itu
era ketika sebelum COVID itu fuka itu
sudah bikin dunia ini geger gitu ya nah
setelah itu ada COVID yang memaksa kita
mau tidak mau harus berubah. Karena
kalau kita tidak menyesuaikan dengan new
normal, maka kita enggak bisa hidup
lagi. Bayangkan pada masa COVID,
akhirnya kita bisa belajar kan dengan
Zoom seperti ini yang kemudian Zoom
menjadi umum. Kita dari mana pun berada,
dari seluruh penjuru Indonesia kita bisa
sama-sama belajar. Saya bisa ngobrol
dengan Mbak Fan ya karena ada Zoom kita
bisa berkenalan. saya bisa tahu apa yang
dipaparkan oleh Bu Bawinda itu karena
saya ikuti lewat Zoom. Itu kemajuan yang
kemudian kita dapatkan berkah antara
lain dari COVID, dari kejadian COVID.
Ada pembelajaran jarak jauh, ada banyak
hal yang kemudian ada normal baru,
normal baru setelah COVID. Baru aja
selesai COVID ada perang Rusia Ukraina
yang memang kemudian wow mengubah banyak
hal. Nah, sekarang setelah itu selesai
masuk kita di era bani.
Sekarang ini kita masuk di era bani. Itu
juga mengubah banyak hal. Maka tadi Bu
Bawinda menyampaikan bahwa sekarang ini
komunikasi bukan effective communication
lagi, tapi komunikasi yang hangat ya.
Sudah engaging communication. Jadi bukan
hanya sekedar efektif tetapi hangat,
intim. Itu yang mesti akan membuat ee
komunikasi menjadi efektif. itu masuk di
era bani. Karena apa? Karena B-nya itu
brittle,
rapuh. Sekarang bukan hanya hati yang
rapuh, tetapi banyak
perusahaan-perusahaan besar kelihatan
kayaknya kuat tapi ternyata rapuh.
Ada kecemasan, ada anxious.
Orang itu merasa cemas. Dan saya yakin
walaupun saya tidak bertanya, tetapi
saya pastikan semua yang hadir di sini
saat ini ya sekarang ini kalau ditanya
siapa yang seumur hidupnya belum pernah
merasa cemas, silakan tunjuk jari atau
ketik iya. Enggak ada yang ngetik.
Karena apa? Karena semua orang tuh
merasakan anxious, semua merasakan
kecemasan. Di mana kehidupan kita sudah
gak linear lagi. Sudah tidak x = y.
sudah tidak satu langkah sama dengan 1
m, berarti 2 langkah 2 m. Berarti 1700
langkah adalah 1700 m. Sudah tidak
begitu lagi. Sudah tidak berpola,
ya. Sudah inkomprehensibel,
enggak bisa dibanding-bandingkan lagi.
Itu kehidupan yang kita alami sekarang.
Maka nanti kita akan masuk kenapa ASN
itu masih perlu belajar, kemudian
berkarya, dan mengabdi sepenuh hati.
Karena di lingkungan sosial bani itu,
B-nya Brittle itu memang sudah ada
rapuhnya ikatan sosial. Sekarang ini mau
tidak mau diakui atau tidak, mari kita
introspeksi. Ada banyak ikatan sosial
yang rapuh,
konflik horizontal, mudah meledak. Hanya
karena isu kecil di medsos, maka medsos
itu pun hati-hati. Sekarang hampir semua
orang bisa edit video dengan sangat
mudah,
kelihatan halus
dan di situ kata-kata seseorang
dipotong, disambung, Indonesia geger.
Kita sudah melihatkan beberapa waktu
yang lalu ya, karena potongan-potongan
video yang disambung-sambung kemudian
menjadi kepercayaan baru, digencarkan
ada exposure kemudian orang-orang
mengatakan itu sebagai sebuah kebenaran
baru. Padahal enggak. Konflik horizontal
mudah meledak hanya karena isu kecil di
medsos. Kasus-kasus intoleransi ada di
mana-mana karena kita tidak berpikir
secara lebih terbuka.
rapuh. Kehidupan sosial kita rapuh mau
tidak mau. Jadi bukan saya ngejet
mari kita sama-sama introspeksi bahwa oh
ternyata demikian. Jadi apa yang harus
kita lakukan? Begitu. Bagaimana kondisi
sosial di era kecemasan, stress, burn
out over thinking, terutama pada
generasi muda. Sekarang ini kan yang
masuk dunia kerja itu sudah gen eh
milenial ya, Gen Y dan juga Gen Z itu
sudah mulai yang lulusan SMK itu sudah
mulai bekerja. Karena Genzi itu kan ee
dikatakan 1996
sampai 1000 eh sampai 2010 itu
orang-orang Geni. Nah, orang-orang tahun
'96 ini sudah mulai banyak kerja ya. Dan
mereka generasi muda kita yang bisa
diandalkan
yang nanti kalau generasi muda ini lolos
maka yah runtuh.
Jadi kita memang harus waspada, banyak
stres, banyak burnout. Bahkan sekarang
pun ketika ada leader
sekarang trainingnya itu bukan
eksponential leader lagi, tetapi adalah
mindful leader. Mindful leader itu yang
seperti apa? Mindful ANS. ANS yang eh
ASN ASN ASN yang mindful
yang hadir secara utuh, yang sadar
secara penuh
supaya bisa mengatasi dirinya sendiri.
Karena stress, burn out, overthinking
itu bisa dikatakan sebagai konsumsi
sehari-hari.
Pola hidup, gaya kerja, tren sosial
berubah dengan cepat dan tidak bisa
diprediksi.
Itu salah satu ciri dari bani di
kehidupan sosial.
Nonlinearnya
tren berubah begitu cepat. Sudah tidak
bisa kayak dipolakan. itu sudah enggak
bisa. Kemudian inkomprehensibel,
banjir informasi tanpa kita tahu ini
informasi hoa
atau informasi yang benar. Masyarakat
bahkan kemudian bingung membedakan
kebenaran.
Bahkan dikatakan begini, sebuah
kesalahan bisa menjadi kebenaran baru
kalau itu memang diekspos.
sebuah kesalahan, sebuah ketidakadilan
itu bisa menjadi keadilan,
bisa menjadi kebenaran ketika dikatakan
terus-menerus. Bahkan ketika misalnya
nih, saya makan gula dan mengatakan
bahwa h gula sekarang kok ada rasa
pahitnya? Ya manis sih, tapi ada
pahitnya. Coba kamu itu empat orang
mengatakan, "Heh, ada pahitnya."
Orang yang berikutnya, yang kelima akan
mengatakan, "Iya ya, kenapa gula
sekarang ada pahitnya?
karena dikendalikan oleh pikirannya.
Sekarang informasi itu kita harus bijak.
Yang diekspos terus-menerus tuh di
sosial media itu bisa menjadi kebenaran
baru.
Se powerful ketika orang mengatakan gula
ada pahit-pahitnya.
Itu bisa saja terjadi bani di kehidupan
sosial ya Bapak Ibu. Kemudian bagaimana
di kehidupan ekonomi dan bisnis? Karena
change itu bisa digolongkan dalam empat
besar ya. change itu ada sosial, ekonomi
dan bisnis. Ada politik legal, politik
dan hukum, dan juga nanti ada
information technologi. Nah, bagaimana
di ekonomi dan bisnis
rantai pasok global rapuh?
Apalagi kemarin banyak negara-negara
yang mengandalkan gandum dari Rusia
gitu. Rusia perang dengan Ukraina. Hmm.
Terjadi kenaikan harga. Jadi bahkan
sampai kemudian mi instan naik harga itu
karena memang gandumnya jadi naik harga
terguncang oleh krisis, oleh perang,
oleh perubahan iklim. Itu yang membuat
kerapuhan di ekonomi dan bisnis itu di
rantai pasuk global. Kecemasannya,
ketidakpastian kerja, PHK massal, muncul
gig ekonomi yang fleksibel sih, WFA,
work from anywhere. Enggak panjang sih,
hanya berapa tahun aja, tapi itu
kemudian menimbulkan ketidakpastian.
Jadi orang merasa, "Oh, kerjaku
sementara harus nyari lagi. Harus nyari
lagi." Moga-moga ee saya masih bisa
disimak dengan bagus karena baru saja
ada informasi ee internetnya sedikit
gangguan. Semoga oke. Sekarang
nonlinear, bisnis kecil bisa mendadak
jadi raksasa. Tapi ada bisnis besar yang
bisa tiba-tiba tumbang. Ada tuh pabrik
sepatu yang dulu ketika masih kecil itu
andalan karena awet. Bahkan sampai kita
ee naik kelas sepatu sudah enggak muat
lagi itu sepatunya masih bagus. Tapi
pabrik itu sekarang sudah enggak ada
lagi.
Bisnis yang besar seakan-akan itu akan
bertahan selamanya. Eh tiba-tiba bisa
tumbang. Ini yang nonlinear. bisnis
kecil set langsung naik. Bahkan saya
mempunyai tetangga ya sekarang bangun
rumah tiga tingkat yang sangat bagus.
Suami istri muda, anaknya masih satu.
Ternyata dia bisnis apa? Bisnis pakaian
anak ya yang lucu-lucu itu. Tapi dia
bisnisnya lewat online dan ternyata
omsetnya luar biasa. Bisnis kecil di
rumah dia enggak punya gudang karena dia
hanya sebagai perantara saja.
inkomprehensible
ekonomi digital dan kripto menghadirkan
sistem baru yang saya aja enggak paham
tuh bicara soal kripto dengar
berkali-kali eh enggak paham juga karena
bagi sebagian orang itu sulit dipahami
inkomprehensibel kemudian di politik dan
hukum Bapak Ibu legitimasi pemerintah
bisa cepat goyah karena krisis
kepercayaan publik kita mendengar berita
ya cukup heboh mendomin inasi
pemberitaan di televisi,
di radio, di media sosial, di koran
online tentang seorang kepala daerah
yang salah ucap kemudian dalam tanda
kutip ya diruja.
Karena keputusan itu mestinya
dikomunikasikan bukan hanya efektif
ngefek orang tahu tetapi harus dengan
kehangatan seperti tadi yang disampaikan
oleh Bu Bawinda itu. Nah, ini hati-hati
kita semuanya harus saling menjaga.
Ansius meningkatnya polarisasi politik
yang memicu ketegangan sosial.
Kita memihak salah satu paslon tiba-tiba
bisa kemudian bertengkar dengan
tetangganya yang beda calon.
Terpolarisasi terpolarisasi. Kalau
engkau tidak sama denganku berarti
engkau salah. Kalau engkau tidak sama
denganku berarti engkau musuh.
Banyak tuh yang terjadi sampai seperti
itu. Nonlinear
kebijakan bisa berubah drastis karena
tekanan publik atau peristiwa global.
Kemudian inkomprehensibel
regulasi sulit mengimbangi kecepatan
inovasi. AI itu sangat cepat ya.
Kebetulan saya juga di dunia radio lebih
dari 37 tahun saya mengelola radio. Nah,
sekarang ini saya tidak sulit mencari
talent untuk mengucapkan ya mengucapkan
narasi ya. Jadi misalnya kita ee ingin
mencari talent yang bisa ngomong dengan
berwibawa, mengucapkan,
belajar, berkarya, dan mengabdi.
Misalnya seperti itu. Oh, kita harus
nyari orang. Kalau zaman dulu ee
suaranya harus yang lebih gagah lagi.
ASN Indonesia, belajar, berkarya, dan
mengabdi. Itu sekarang kita cari AI
gampang, banyak pilihannya mau yang tipe
seperti apa.
Bahkan AI ya, dengan prom tertentu kita
sudah bisa jadi film.
Nah, kadang-kadang regulasi itu
ee masih terengah-engah ketika akan
mengimbangi kecepatan inovasi, hukum AI
dan sebagainya. Ee ini kita harus
mengikuti perkembangan
yang eksponen ya, terutama ini di
teknologi informasi.
Brittel-nya ada sistem digital yang
sangat rentan serangan cyber sekali kena
bisa lumpuh semuanya ya. Kemudian
bagaimana dengan anxus-nya?
Bagaimana dengan kecemasan di era
teknologi informasi ini? Mohon izin saya
ada kesulitan. Suara saya moga-moga
cukup aman.
Saya akan ulangi lagi share-nya karena
ternyata ini tidak bergerak ya.
Semoga bisa diikuti. Saya akan share
lagi ya Bapak Ibu. Kita sampai kepada
change yang information. teknologi.
Bagaimana kita itu menyikapi perubahan
dalam information technology ya terkait
dengan bani brattle kemudian anus. Mohon
izin ee saya minta info apakah tadi
bergerak slide saya? Saya khawatir slide
saya tidak bergerak.
Baik, bergerak Ibu.
Oh, baiklah. Alhamdulillah ya. Jadi tadi
bergerak ya.
Iya.
Saya khawatir slide-nya hanya bergerak
di tempat saya saja. Oh berarti saya
sudah start terlalu banyak ya tadi
enter-enternya ya. Baik. Anksus ya.
Kecemasan
di teknologi informasi
kita merasa cemas akan privacy. Karena
semua orang seperti bisa diteropong.
Bahkan kemarin secara ee apa ya guyon
gitu ya, netizen itu sudah kayak rokib
atit gitu. Apa-apa tahu begitu ketemu
nama kita tuh sudah bisa tahu dia
sekolah di mana, lulusan tahun berapa
ya, kemudian pendapatannya berapa, itu
bahkan bisa dikuliti. Nah, ini ada
kecemasan di teknologi informasi yang
kemudian cepat sekali ada digital
burnout. tadi burn out-nya tuh bukan
hanya mental tapi ada digital burn out.
Kita burn out karena perkembangan
digital, perkembangan teknologi melesat,
tidak linear. Ya, ada metavers, quantum
computing yang muncul tidak terduga dan
inkomprehensibelnya
teknologi itu makin sulit dipahami.
Apalagi orang-orang yang awam itu kayak
enggak paham dengan teknologi dan itu
dampaknya luas sekali.
So, Bapak, Ibu semuanya dari yang
terjadi ya yang terjadi di era bani itu
brill kerapuhan kemudian A-nya anus.
Oke.
Baik. Karena terkendala dengan teknis,
maka kami akan tunggu sampai dengan
sinyal dari Ibu Fusna ini kembali.
Sambil menunggu mungkin kami ingin
informasikan bahwa sobat ASN untuk terus
mencoba presensi di semesta Bangkok agar
tidak terlambat karena ini merupakan
narasumber yang ketiga atau yang
terakhir dan siapkan diri sobat ASN juga
untuk siap berbincang langsung dan
berinteraksi dengan narasumber kita pada
saat sesi tanya jawab nanti.
Kami masih menunggu sinyal yang masih
terkendala dari tempatnya Ibu Fusna.
Kita masih menunggu dan saya juga masih
menunggu kelanjutan dari informasi yang
disampaikan melalui materi yang tentu
saja luar biasa tadi terakhir sampai
dengan penjelasan anxiety ya atau
kecemasan.
Sambil kita menunggu Ibu. Sambil kita
menunggu Ibu Fusna kembali bersama
dengan kita, kita akan memberikan
informasi mengenai
cara untuk melakukan presensi melalui
semesta Bangkok.
[Musik]
Ya.
Iya, boleh.
Baik, kita akan tersambung kembali
dengan Ibu Fusna melalui online. Ibu
Fusna, apakah sudah dapat mendengar
suara saya?
Iya, ternyata tadi terlempar ya ketika
saya asik menyampaikan gitu ya. Mohon
maaf.
Terputus, Ibu.
Oke.
Namun sudah dapat dilanjutkan kembali.
Disilakan.
Oke. Baik. Baik. kayaknya tadi saya
sudah menyampaikan tentang start with
yourself ya.
I berarti
oke. Jadi kita mulai dari diri kita
sendiri menghadapi tantangan dari zaman
sekarang ini ya kita mulai dari diri
kita sendiri.
Apakah suara saya mantul?
Ya, terdengar dengan jelas Ibu. Berikut
dengan ee PPT-nya juga sudah terlihat.
Oh. Oh, bukan mantul-mantul bukan ya?
Oh, tidak ada echoing sudah lancar.
Oke. Oke. Baik, baik. Jadi, kita mulai
dari diri kita sendiri, Bapak, Ibu.
Karena orang yang paling penting, yang
paling berpengaruh di dalam kehidupan
kita adalah kita sendiri. Nah, mari kita
kenali diri kita. Kita berada di level
mana? Apakah kita berada di level yang
bingung?
Saya ini siapa? Ya, sebenarnya siapa
sih? kita di level yang bingung tidak
tahu siapa diri kita. Nah, ini harus
dibenahi. Dengan cara apa? Dengan cara
belajar. Kita belajar sehingga kita
mengetahui siapa diri kita sehingga naik
level. Naik level pada aku tahu
potensiku itu di personality.
Bukan hanya sekedar aku tahu siapa
diriku, tetapi aku tahu potensiku.
J orang yang tahu potensinya, dia akan
bisa mengembangkan dengan mudah. Orang
yang tahu potensinya itu apa, dia akan
lebih fokus pada apa yang bisa
membuatnya lebih bermanfaat bagi semua
orang. Aku tahu potensiku, personality
kita. Dan ee misalnya orang tahu bahwa
saya ini adalah orang tipe auditori yang
kalau belajar saya lebih senang dengan
mendengar.
Atau ketika saya orang visual yang saya
tertarik tertarik dengan warna-warna
yang saya bisa belajar dengan
mengandalkan penyerapannya dengan mata
atau saya orang kinestetik itu
personality atau bisa aja orang melihat
personality dengan misalnya Florence itu
membagi ada plekmatis yang damai,
sanguinis yang ceria, koleris yang kuat
atau melankolis yang sempurna. Atau
mungkin kita akan belajar tentang
potensi genetik dari mesin kecerdasan.
Misalnya orang sensing yang kedekatannya
dengan harta, yang ulet, yang mau
melakukan sesuatu terus-menerus tanpa
merasa bosan atau orang thinking yang
kedekatannya dengan tahta, orangnya
logis, orangnya penuh prinsip,
kalau mempunyai sesuatu dia harus
lakukan. Kemudian ada orang yang eh
intuiting
yang kedekatannya dengan kata, orangnya
cerdas, ide kreatif ya. Atau orang
feeling yang kedekatannya dengan cinta,
penuh rasa atau orang insting yang
kedekatannya dengan bahagia. Anda
potensinya di mana? Atau saya suka
menulis, saya suka menari, saya suka
berbagi, saya suka mendesain. Anda tahu
potensi Anda apa? Kemudian di level
berikutnya itu eh level mentality.
Aku yang diakui ahli. Pengakuan ahli itu
bukan dari kita. Pengakuan ahli itu dari
orang lain. Orang lain yang melihat
bahwa Anda memang ekspert di bidang itu.
Anda diakuinya bukan dengan dari diri
sendiri, tetapi dari pengakuan orang
lain. Nah, untuk orang menjadi eksert,
untuk menjadi ahli itu kan ada 10,000
hours rule ya yang banyak dipercaya
orang-orang itu adalah aturan 10.000
jam. Kalau Anda melakukan terus-menerus
dengan deliberate practice, bukan hanya
pengulangan-pengulangan tanpa
peningkatan ya, artinya bukan pengalaman
5 tahun itu adalah pengalaman setahun
yang diulang lima kali, pengalamannya
tetap setahun hanya diulang lima kali.
Bukan itu. Tetapi ketika pengalaman 5
tahun maka Anda memang sudah naik
seperti orang yang ahlinya sebagai ahli
yang sudah 5 tahun. Ya, jadi deliberate
practice Anda semakin melakukan banyak
hal semakin ahli, semakin pakar. Jadi
ada sampai kepada level mentality.
Kemudian sampailah kita kepada level
morality.
Level morality itu sudah bukan aku siapa
diriku, aku yang tahu potensiku. Aku
yang diakui ahli. Bukan itu. Tetapi
sekarang sudah bukan saya lagi, bukan
aku lagi, bukan saya lagi, tetapi sudah
menjadi kita.
Orang yang sudah menjadi kita itu
sikapnya berbeda dengan orang yang masih
aku. Karena orang yang sudah kita itu
dia tidak egois lagi. Orangnya itu sudah
kolaboratif. Dia bisa bekerja sama. Dia
mempunyai tanggung jawab sosial. Dia
bisa mengakui orang lain, dia bisa
mendengar orang lain, dia bisa
menghargai orang lain. Dan orang yang
sudah menjadi kita itu saling
menguatkan.
ASN yang tidak berpikir tentang saya,
tapi berpikir tentang kita itu bisa
saling menguatkan. Bukan mencari aman
sendiri, bukan aku maju sendiri, bukan
saya berprestasi sendiri, tapi kita
saling menguatkan. Karena saya sudah
menjadi kita.
Dan sikap dari orang yang sudah pada
tahap kita, tahap morality ini adalah
orang yang rendah hati. Rata-rata orang
sudah sampai pada level itu orangnya
rendah hati. Karena keberhasilan itu
bukan hanya ini hasil kerja saya loh,
tapi ini adalah hasil kerja kita.
orang yang sudah menjadi kita bisa
menghargai dan bisa sama-sama melihat
masa depan itu di level kita. Nah,
berikutnya levelnya sudah bukan saya,
sudah bukan kita, tetapi siapa? Sudah
menjadi dia.
Itu sudah di level spirituality.
Jadi kita melakukan sesuatu bukan
sekedar karena saya, kebutuhan saya,
tapi juga bukan karena kita saja sudah
naik level menjadi karena Dia.
Aku berbuat seperti ini karena Dia. Dia
yang di atas sana yang mengatur hidup
kita. Dia yang membawa hidup kita. Dia
itu sampai kepada level spirituality.
Jadi, mari kita ASN belajar sama-sama
mulai dari pribadi, start from yourself.
Bukan sekedar aku tahu potensiku ya,
saya mengetahui potensi saya. Saya yang
diakui sebagai yang ahli, tetapi juga
saya dan Anda bersama-sama yang kemudian
naik kepada level spirituality.
Kita sudah karena Dia, ya. Nah, di situ
kita bisa mencapai dengan cara belajar.
Kemudian dari hasil belajar itu kita
berkarya.
Karya jadi bukan bekerja. Jadi kalau
bekerja itu ada tenaga, waktu, pikiran
untuk mendapatkan hasil atau mendapatkan
gaji. Itu bekerja. Tetapi kalau berkarya
itu waktu, tenaga, pikiran, ide kreatif
masuk di situ, ketulusan masuk di situ.
Dan kemudian hasilnya bukan sekedar
uang, tetapi kepuasan dan kebermanfaatan
yang bisa dirasakan oleh semua orang.
Dan semua itu dirangkum dalam bentuk
pengabdian yang dilakukan dengan hati.
Semua orang bisa melakukan tidak pandang
bulu siapapun itu. Karena berasal dari
hakikat manusia. Manusia ini dilahirkan
di dunia. Riwayat yang sudah kita tahu
sama-sama.
Kita itu manusia, jenis manusia. Nabi
Adam itu ketika diciptakan itu sudah
bikin geger langit.
Sampai kemudian malaikat protes kan.
Malaikat sempat mengatakan ya bukan
protes ya karena malaikat itu mengabdi
ya. Malaikat sampai bertanya, "Ya Allah,
apakah Engkau akan menciptakan makhluk
yang akan membuat kerusakan di bumi?"
Itu sampai ada kata-kata seperti itu kan
berarti kan ada kegeran, ya. Bahkan
kemudian
ketika diminta untuk semuanya sujud ya
ini kan ini kan sesuatu yang istimewa
nih. Kita diciptakan dengan
sebaik-baiknya bentuk asani takwim
diminta untuk bersujud. Iblis
mengatakan, "Eh, siapa ini anak baru?
barusan diciptakan dari tanah. Saya yang
dari api. Sudah bertahun-tahun, beribu
tahun saya beribadah. Kenapa disuruh
tunduk patuh?
Itu kehebohan yang terjadi ketika
manusia pertama diciptakan. Menurut
riwayat demikian.
Karena apa? Karena manusia itu secara
hakikat itu sangat istimewa.
Manusia itu khalifah fil ard. Manusia
itu khalifah di bumi yang untuk menjadi
khalifah itu kemudian manusia dibekali
dengan dua modal dasar yang sangat luar
biasa, Bapak, Ibu. Ada dua modal dasar.
Yang pertama adalah logika.
Akal. Manusia dilahirkan dengan akal.
Dengan logika. dan kemudian dengan hati
atau nurani atau budi. Jadi ada akal
budi, ada logika, ada nurani. Ini adalah
dua modal dasar yang diberikan kepada
manusia dan tidak diberikan kepada
hewan.
Hewan enggak bisa logika. Mungkin hewan
punya nurani, tapi dia enggak bisa
logika, enggak bisa merancang.
Hewan enggak bisa bikin AI, ya. Manusia
ini sangat istimewa sekali. Dan kemudian
logika ini harus kita asah, Bapak, Ibu.
Dengan belajar itu kita mengasah logika.
Logika kita, otak kita kalau tidak
pernah digunakan, tidak pernah diasah,
itu akan tumpul.
Jadi logika itu harus terus diasah
dengan belajar supaya logika kita itu
tajam, supaya tidak mudah dibohongi,
supaya tidak mudah termakan hoa, supaya
ketika ada masalah kita bisa
menyelesaikannya dengan logika kita.
Nuraninya di apa? Nuraninya itu dihuh.
Maka untuk Bapak Ibu yang seumuran
dengan saya yang kalau bekerja sudah
hampir pensiun gitu ya, itu dulu SD saya
itu tulisannya itu asah asih asuh.
Mungkin ada di sini yang ee pernah
melihat gitu ya. Asah asih asuh
tulisannya. Nah itu yang diasah
logikanya. Yang dias dan diasuh itu hati
nuraninya.
Sehingga dari asah-asih asuh itu
kemudian memunculkan skill dan knowledge
serta attitude.
Logika yang diasah akan memunculkan
keterampilan dan pengetahuan.
nurani yang dias dan diasuh akan
memunculkan perilaku,
skill, knowledge, attitude. Ini juga
mendukung kompetensi yang tadi sudah
disinggung oleh Bu Bawinda. Kompetensi
kita itu dari skill, knowledge, dan
attitude kita. Dari logika yang diasah,
nurani yang diasih dan diasuh.
Dengan modal ini hakikat manusia Allah
berikan logika dan nurani. Dengan itu
ASN belajar berkarya mengabdi. Ya. Jadi
ASN pun juga butuh berprestasi maka
dibutuhkan motivasi ya. ASN penuh
motivasi ada kebutuhan untuk
berprestasi. Ada need for achievement.
Ada kebutuhan untuk menjalin hubungan,
ada need for affiliation, dan juga ada
kebutuhan berpuasa. Need for power. ASN
dengan belajar, berkarya, dan mengabdi
nantinya itu bisa mempunyai dorongan
kuat dari dalam diri untuk mencapai
hasil yang terbaik bahkan melampaui
standar dan dia tidak mudah merasa puas.
ya akan merancang standarnya. Ada
patokan dalam menilai keberhasilan dan
itu berasal dari diri sendiri. Bisa
target target pribadi ya atau bisa juga
dari keinginan dari luar mungkin dari
target atasan, dari eksternal, target
organisasi, harapan orang lain, norma
profesional.
Itu yang bisa kita lakukan. Ini bisa
menjadi motivasi kita. Dan kita juga
berusaha dengan tekun, gigih, pantang
menyerah untuk mencapai keberhasilan
kita. Kita membutuhkan kebutuhan untuk
mencapai sesuatu. Kemudian kebutuhan
untuk menjalin hubungan. Ada friendship,
ada good relationship,
ada hubungan pertemanan yang saling
mendukung. ASN hendaknya demikian ya,
terhubung secara emosional sehingga
tercipta ikatan sosial yang kuat dan
positif.
hubungan yang harmonis, saling
menghargai, terbuka, komunikasi yang
baik, komunikasi yang hangat, kerja sama
antar anggota dengan rekan kerja di
dalam organisasi. Ya, itu adalah
kebutuhan kita untuk menjalin hubungan.
Kemudian ada kebutuhan untuk berkuasa.
Jadi, bisa mengkontrol orang lain itu
mendominasi ya. mengkontrol orang lain,
melakukan sesuatu supaya kita ini ketika
melakukan sesuatu dengan kekuatan diri
kita itu kita bisa
me apa namanya mewujudkan
kekuatan kita, keinginan kita untuk
mendominasi.
Jadi itulah yang kemudian bisa menjadi
motivasi bagi seorang ASN yang kemudian
di dalam kehidupan nyata itu bisa
control others ya, decide thing di dalam
kehidupan kita. Nah, Bapak, Ibu
semuanya, kita sudah belajar tentang
bagaimana era bani, bagaimana kita itu
mempunyai achievement yang tinggi
tentang afiliasi yang tinggi, power yang
full. Karena semua itu mempengaruhi
attitude, Bapak, Ibu. mempengaruhi
attitude. Karena orang yang mempunyai
achievement tinggi, daya jangkau tinggi,
keinginan untuk mencapai sesuatu, maka
dia itu akan rajin, dia akan tekun,
pantang menyerah.
Orang yang mempunyai keinginan hubungan
yang tinggi, dia akan hangat, dia suka
bekerja sama, mudah bergaul. Ya.
Kemudian orang yang ee keinginan
berkuasanya tinggi, dia akan dominan,
dia akan tegas.
Bagaimana menghadapi era bani, Bapak,
Ibu? Bagaimana ASN dengan keinginan
berprestasi itu kemudian menghadapi era
bani? Nah, ketika kita menghadapi era
bani itu kita hadapi dengan bani juga.
Tapi bani yang kali ini yang pertama
tadi sudah disinggung dijelaskan dengan
ee detail ya dengan gamblang oleh Bu
Bawinda tentang build resilience,
membangun ketangguhan. Karena ASN memang
harus siap krisis dan mental ya
mempunyai mental yang kuat. Tadi Bu
Bawinda e saya baru ketemu dengan Prof.
Ilham sekarang tapi kenapa materinya
sama gitu. Ternyata kita memang ee
mungkin satu hati, satu rasa ya sehingga
hampir mirip-mirip nih. Yang pertama
build resilience, bangun ketangguhan.
Kemudian yang kedua adalah adopt with
agility. Jadi kita agile, beradaptasi,
lincah. Kalau orang Jawa mungkin bisa
dengan mengatakan kieng gitu ya.
ASN harus cepat belajar tentang
teknologi. Karena sekarang bagaimanapun
sudah ada sistem digital yang memang
harus kita ee ikuti ya walaupun kita
bukan native digital, bukan digital
native tapi kita belajar. Demikian pun
dengan saya yang usianya sudah lebih
dari 56 tahun ya insyaallah bismillah
itu pelan-pelan ikut mengikuti zaman
supaya tidak terlindas oleh zaman.
Kemudian tumbuhkan inovasi, nurture
innovation.
Teman-teman ASN harus punya budaya
continuous improvement, selalu melakukan
improvement secara terus-menerus.
Dan hadapi juga dengan inspire with
integrity, mengabdi dengan integritas
kita.
Jujur, disiplin, melayani sepenuh hati.
Insyaallah kalau kita mengharap
menghadapi era bani dengan bani build
relations adapt with agility kemudian
nur innovation inspire with integrity
insyaallah kita akan bisa mengatasi bani
ini. Belajar menyiapkan diri menghadapi
hal-hal di dalam kehidupan yang kadang
rapuh. Jadi kalau kita menghadapi
Brittle itu dengan belajar, menyiapkan
diri menghadapi rapuhnya zaman. Kemudian
berkarya, melahirkan situasi di tengah
kecemasan dan ketidakpastian yang
sekarang ini kita rasakan. Mengabdi,
memberikan makna, memberikan kepastian
kepada masyarakat di tengah dunia ini
yang serba membingungkan.
Nah, kalau kita sudah melakukannya dari
mulai pribadi yang kemudian satu
kelompok lebih lebar lagi, lebih luas
lagi, insyaallah kita bisa melakukannya
sepenuh hati, memberikan yang terbaik,
ASN yang terus belajar,
berkarya,
mengabdi sepenuh hati. Insyaallah.
Demikian, Mbak Fani.
Baik,
saya sampaikan materinya
kasih.
Terima kasih banyak dengan sepenuh hati.
Wow. Ini juga yang harus saya lakukan
dalam melakukan apapun yang bisa begitu
ya untuk e dalam pengabdian masyarakat.
Terima kasih banyak Ibu Fusna dan kita
langsung saja untuk berinteraksi dan
berdiskusi dan sudah hadir secara
online. Begitu kami akan sambungkan
dengan Bapak Iskandar dari Trenggalek.
Selamat siang Pak Iskandar.
Selamat siang.
Baik.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Baik, Pak Iskandar disilakan untuk
pertanyaannya dan interaksinya.
Terima kasih ee MC. Ee yang ingin saya
tanyakan adalah di sini kan kita kan
membangun potensi diri sendiri nggih Bu
ee Fazalna
bahwa semua itu
kembali ke dalam diri sendiri. Nah, di
satu sisi ee lingkungan di sekitar kita
di baik di rumah mungkin maupun di
tempat kerja atau di tempat kita
berinteraksi selama ini tidak mendukung
untuk pengembangan potensi diri kita
tadi yang berjenjang ya dari
personality, mentality yang Ibu
sampaikan. Nah, ini gimana, Bu
kiat-kiatnya
untuk menghadapi tantangan itu sehingga
kita bisa survive, menapaki
jenjang-jenjang yang Ibu sampaikan tadi
sehingga budaya kerja ee di mana
belajar, berkarya dan mengabdi ini
menjadi satu sinergitas ee untuk
mencapai tujuan yang luar biasa.
Terutama juga kan itu kan kembali kepada
diri kita dan lingkungan sekitar baik di
tempat kerja maupun di rumah. Mungkin
itu pertanyaan saya. Terima kasih Bu
Hosna.
Lihatkan strateginya.
Heeh. Terima kasih Bu Fusna. Silakan
untuk dijawab.
Oke. Baik. Terima kasih Pak Iskandar.
Masyaallah luar biasa. Senang sekali
berkenalan dengan Bapak yang dari
Trenggalek. Ya. Baik. Eh, saya mau
cerita sedikit Bapak
ketika saya sebagai pribadi satu
kemudian alhamdulillah hari ini sudah
hadir banyak orang dan masing-masing ini
satu Pak Iskandar, satu Mbak, satu Prof.
Ilham satu Bubawinda. Satu lagi, satu
lagi yang banyak ini kemudian melakukan
pembenahan secara pribadi. Insyaallah
ketika terkumpul nanti itu akan menjadi
sebuah komunitas yang sama-sama
memperbaiki diri. Dan ini makanya di apa
namanya yang diadakan hari ini ya yang
ke-33 ini sungguh luar biasa.
Cerita saya adalah begini Pak Iskandar.
Ada seorang yang namanya David Hawkins.
David Hawkins ini sudah melakukan
penelitian lebih dari 20 tahun terhadap
ribuan orang. Sampai kemudian dia
mempunyai kesimpulan tentang map of
consciousness,
peta kesadaran
atau bisa disebut juga sebagai level of
consciousness, level kesadaran.
Nah, itu ada dimulai dari kesadaran yang
dia punya ukuran.
Misalnya 20 itu adalah merasa terhina
itu 20. Naik lagi putus asa itu 50. Naik
lagi ada kecewa, rasa bersalah, rakus
sampai ternyata sombong. Sombong itu
175.
Nah, kita bisa hidup dengan normal kalau
kita itu di level 200, Pak.
Di level 200 itu kita bisa normal, yaitu
kita bisa berani menerima keadaan dan
kemudian pindah zona.
Level di bawah 200 ini sifatnya merusak.
Orang tidak bisa menolong dirinya
sendiri. Apabila dia putus asa,
bagaimana dia akan menolong orang lain?
Karena dia tidak bisa menolong dirinya
sendiri. Ketika dia merasa bersalah, dia
enggak bisa menolong diri sendiri. Rasa
itu menyiksa.
Bagaimana dia akan mengabdi kalau dia
tidak bisa menolong dirinya sendiri?
Nah, ajaibnya setelah kita membuka ruang
ikhlas, mau menerima, kita akan naik
level. Sehingga kalau yang di bawah itu
adalah level bawah, sifatnya merusak,
naik level sifatnya membangun.
di situ. Kemudian ada yang namanya welas
asih, ada yang namanya semangat, optimis
sampai kepada level enlightening others,
memberikan pencerahan kepada orang lain.
Nah, apa hubungannya dengan pertanyaan
Bapak ini? Ada yang namanya level bawah,
ada yang namanya level atas. Level di
bawah ini kalau kita lakukan akan
sama-sama menggetarkan level bawah.
Vibrasi ada di bawah.
mengeluh, protes, malas, sedih, gagal,
dendam, cemburu, itu level bawah. Level
atas bahagia, tenang, damai,
semangat, optimis. Level atas ini
dipisahkan oleh tembok yang tidak bisa
dihancurkan kecuali dengan kuncinya.
Kalau mau ke atas naiknya dengan ikhlas.
Kalau mau ke bawah dengan nafsu.
Orang yang dia sudah terkenal,
kaya,
pintar, tergoda nafsunya, mengambil yang
bukan haknya, ketangkap KPK, dipakai
rompi orange, masuk ke bawah sedih,
nangis, orang sudah tidak mengingatnya
lagi, tidak dihiraukan. Itu sudah masuk
ke bawah dengan apa? Dengan nafsu.
Naiknya dengan apa? dengan ikhlas.
Nah, level bawah hanya akan menggetarkan
bawah. Level atas hanya akan
menggetarkan atas. Tidak ada orang putus
asa penuh semangat. Beda level. Semangat
ada di atas, putus asa ada di bawah.
Tidak ada orang cemburu, hatinya tenang,
beda level. Orang cemburu di bawah,
tenang itu di atas. Tidak ada orang
dendam penuh cinta kasih. Beda level.
Nah, dari kita, kita pun demikian. Kalau
kita selalu memvibrasikan hal-hal yang
negatif,
ini seperti algoritma sosmet. Begitu
kita sering buka topik-topik tentang
humor, kita akan dibombardir dengan
humor. Humor. Humor. Humor. Ke mana-mana
buka sosmet ketemu humor. Ketika kita
buka sosmet-nya tentang ilmu
pengetahuan, nanti akan muncul
pengetahuan, pengetahuan, pengetahuan.
Demikian juga dengan diri kita.
Atas izin Tuhan, Pak Iskandar, apabila
kita sudah setting hati kita pada level
atas, bahagia, semangat, optimis,
tenang, welas asih, juara, kaya, sehat,
semuanya di atas, itu yang akan tergetar
itu di atas. Jadi, mau tidak mau kita
itu akan ketemu dengan yang satu
frekuensi.
Jadi yang mengubah itu adalah diri kita
diperbaiki dulu, orang lain atas izin
Tuhan nanti akan frekuensi. Jadi kalau
model itu sekufu gitu ya, Pak Iskandar.
Kalau ada orang yang mengatakan bahwa
suami istri itu sekufu, kalau tidak
sekufu, istri harus mencoba menaikkan
diri sehingga satu level dengan suami
gitu ya. Atau mungkin kalau suami
kemudian yang lebih baik akan menyamakan
dengan istri ya akan bubar-bubar semua
gitu. Demikian juga kalau kita pengin
baik, yang perlu kita perbaiki diri kita
sendiri dulu. Diri kita yang belajar,
diri kita yang berkarya, diri kita yang
mengabdi. Karena dikatakan juga dalam eh
penelitian David Hawkins itu mungkin
nanti bisa digoogling itu ada
kemungkinan probability antara level of
consciousness dengan kekayaan,
kebahagiaan, dan kriminalitas.
Orang yang merasa terhina
levelnya 20,
dia pasti tidak bahagia. Dia mungkin
tidak akan mendapatkan pekerjaan dan dia
itu bisa saja melakukan kejahatan lebih
besar persentasenya.
Ada orang yang menurut informasi
terakhir dikatakan bahwa dia itu merasa
terhina.
Konon tapi belum selesai kasusnya karena
kreditnya tidak diacar
gitu ya. Karena tertampar harga dirinya
konon tapi saya belum tahu karena hukum
belum ee memberikan kepastian ee
kepastian hukum dari kasus ini. Kemudian
dia melakukan apa? karena dia terhina 20
ini levelnya sangat di bawah dia
melakukan pembunuhan itu bisa saja
terjadi. Atau ada seorang mahasiswa S2
sedang mengambil anestesi karena dibully
oleh kakak kelas, oleh senior. Dia
merasa terhina dan akhirnya memutuskan
untuk mengakhiri hidupnya. Ternyata ada
di dalam level of consciousness ini oleh
David Hawkins ini diterangkan bahwa
ternyata ada kemungkinan orang yang di
level bawah akan miskin, nganggur, dekat
dengan kriminalitas. Orang yang di bawah
akan bahagia, berkelimpahan,
jauh dari kriminalitas. Jadi kalau saya
hubungkan dengan pertanyaannya Pak
Iskandar tadi, bagaimana kalau
lingkungan saya lingkungan yang seperti
ini? Ubah diri kita.
Niatkan, mohon bimbingan sama Tuhan.
Semoga kita bisa enlightening others.
Semoga sikap saya ini membawa dampak dan
nanti atas izinnya kita akan ditemukan
dengan hal-hal yang positif. Kira-kira
demikian, Pak Iskandar. Moga-moga
menjawab walaupun agak agak belok dulu
ya.
Agak belok dulu. Oke.
Baik. Terima kasih banyak Bu Fusna dan
Pak Iskandar. Mungkin ada yang mau
ditanggapi
dicukupkan?
Oh, baik. Mic-nya mungkin bisa akan kami
aktifkan kembali.
Iya. Baik, terima kasih Buna
ee pencerahannya. Ee memang intinya
memang kembali lagi kepada diri kita
bagaimana kita bisa ee membawa perubahan
di lingkungan sekitar kita dengan diri
kita dulu ee mencapai level yang lebih
tinggi itu tadi. Begitu ya Bu.
sehingga orang di sekitar kita akan
ee berdampak ee frekuensi yang artinya
aura positif kita yang sudah di level
tinggi itu perlahan atau pasti akan
memberikan dampak gitu ya Bu ee terhadap
lingkungan di sekitar kita untuk
terjadinya perubahan yang
sesuai yang kita harapkan bersama.
Mungkin itu ya Bu ya.
Yes. Yes. Insyaallah demikian.
Terima kasih, Bu. Buasih
ya. Terima kasih banyak. Terasih,
I terima kasih,
Pak.
Iya.
Baik, kami akan beralih kepada penanya
selanjutnya yaitu ada Bapak Ivan dari
DLH Banyuwangi. Kami akan sambungkan.
Selamat siang, Pak Ivan.
Selamat siang, Mbak.
Baik, Bapak. Boleh di ee naikkan lagi
volume suaranya.
Ee
suaranya terdengar sangat kecil di sini.
Oke, sudah, Mbak. Ah, sudah. Baik,
terima kasih. Sudah sangat jelas.
Silakan, Pak Ivan untuk pertanyaannya.
Makasih. Selamat pagi, Buusna.
Selamat pagi, Pak Ivan.
Ee izin Bu Husna. Eh, bagaimana kita
mengidentifikasi
personality dalam ekosistem yang
sebelumnya kita jalankan di era FUKA.
Kemudian tadi Bu Fusna menjelaskan di
era Bani ee pertanyaan saya yang pertama
ee apa titik kritisnya dan apa yang
membedakan ee karena ee kita pernah
melakukan perubahan ee di era vokal ee
era Covid maupun era pasca COVID ee dan
justru di era itu ketika organisasi atau
SKPD lain sedang apa ya me ee mengalami
kemunduran tapi justru prestasi
dan capaian kami banyak capai, Bu. Nah,
ee namun di tahun 2025 ini kami
cenderung flat, Bu. Nah, mohon mungkin
ee saran masukannya.
Yang kedua, mungkin mohon arahan dari Bu
Fusna terkait ee bagaimana sih ee kita
bisa memitigasi sehingga ee tagline ASN
naik kelas ini bisa kita laksanakan, Bu.
Karena jujur saja saat ini hanya sebatas
tageline jadi ee kita ramai banyak ee di
TikTok dan lain sebagainya. Namun ee
secara implementasi yang disampaikan
oleh para narsum sebelumnya itu ee
kurang kurang mendalami Bu. Jadi hanya
hanya framing-nya aja yang yang
dibesarkan. Mungkin itu aja Bu. Makasih.
Baik, terima kasih banyak Pak Ivan.
Baik,
silakan Bu Fusna.
Oke, Pak Ivan. Terima kasih. Masyaallah,
Pak Ivan. ini saya lihat di
organisasinya ini pegang kendali banget
nih kayaknya termasuk sosok yang ingin
membuat perubahan positif. Keren dari
pilihan bahasanya, dari sikap
penyampaiannya saya melihat ada
optimisme yang kuat. Jadi memang ada era
fuka dan era bani gitu ya. Contohnya nih
misalnya leader. Leader itu pada era
FUka diperlukan adalah orang-orang yang
eksponen yang ketika dia mencetak
prestasi itu memang pakai cara-cara yang
diatur supaya bisa mencetak prestasi
lebih tinggi, lompatan-lompatan dan
sebagainya. Tapi ketika sampai pada era
bani, maka yang dibutuhkan oleh leader
adalah mindful leader.
Jadi perbedaannya
ketika ada pelatihan, kami adakan
pelatihan itu kami lakukan dengan yang
namanya purifying heart, penjernihan
hati. Dan ternyata
kenyataannya para leader yang kelihatan
tough, yang kelihatan kuat dengan masa
depan, dengan perencanaan itu ketika
mempunikan hati banyak yang tumbang.
Tumbang di sini ada yang kemudian sampai
jatuh dari kursi kemudian menangis gitu
ya. Karena apa? Ternyata banyak
orang-orang yang kemarin mempersiapkan
diri secara prestasi di era fuka, dia
merasa kuat, merasa hebat, merasa
tangguh. seperti tidak apa-apa ternyata
menutupi luka.
Dan yang namanya luka itu tidak bisa
sembuh dengan ditutupi.
Luka tidak bisa hilang dengan merasa
tidak terjadi apa-apa. Maka sikap yang
terkait apabila pada era
FUA kemarin dinamis ya, volatility
kita itu serba dinamis, serba berubah
dengan cepat.
itu kayak bisa diukur ketahanan kita itu
dengan kalau kita bisa survive.
Tetapi pada era bani itu sekarang sudah
menjadi ketahanan mental. Maka tadi Bu
Bawinda berkali-kali Bubawinda
mengatakan tentang resiliensi,
kegigihan,
menekankan kepada bagaimana hati yang
rapuh, kecemasan itu kita di pemurnian
hati. Maka isu-isu kesehatan mental kan
sekarang di era bani ini banyak banget
ya. Isu-isu kesehatan mental istilah
kemudian healing, istilah kemudian
menghargai diri sendiri itu kan mulai
tumbuh di era ini. Nah,
ternyata sebenarnya yang akan kita awali
dulu ketika kita akan mencapai
target-target
itu adalah diri kita.
Kalau kemarin di era
pencapaian-pencapaian
prestasi, target, langkah-langkah teknis
bersaing. Tapi kalau kemudian di era
bani itu kita mulai menyadari bahwa kita
itu seakan-akan membawa beban di pundak.
Bahkan bisa dikatakan bahwa bukan hanya
membawa beban, kita itu membawa truk
sampah. Lebih dari beban kita itu bawa
truk sampah. Nah, truk sampah inilah
yang kemudian memberatkan langkah kita.
Kita enggak bisa maju.
Nah, bagaimana supaya kita bisa maju
pada dunia yang penuh kecemasan, pada
dunia yang rapuh, pada dunia yang
nonlinear, enggak berpola lagi, enggak
bisa dibanding-bandingkan.
Buang truk sampahnya.
Truk sampahnya dibuang, sampahnya itu
dikeluarkan sampai kemudian kita bisa
melangkah dengan lebih ringan. Jadi
kalau kemarin lebih ke
pencapaian-pencapaian,
sekarang lebih kepada bagaimana
kedamaian hati kita.
Eh, ada engaging communication,
komunikasi yang not just effective ya,
bukan effective communication. Kita
mulai dari
purifying the heart. Ada pelajaran
tentang mindful leadership. Kita awali
dengan purifying the heart.
Kemudian dikatakan begini, "Aduh,
leadership yang seperti ini yang kemarin
belum pernah saya terima."
Ternyata kalau sudah memurnikan hati
yang kita lakukan dengan belajar itu
belajar apa? Belajar mendengarkan.
Jadi namanya powerful listening.
Jadi sekarang ini belajarnya bukan
bagaimana mencapai target langkahnya
begini, berapa persentase yang akan kita
naik. Itu diawali dengan apa?
mendengarkan.
Kemudian kita juga memberikan pertanyaan
yang berdaya. Jadi ketika kita
berkomunikasi kita itu mendengarkan
dengan sungguh-sungguh memberikan
pertanyaan yang berdaya
dari mendengar dan berkata seorang
leader, seorang rekan kerja, insyaallah
kita bisa sama-sama belajar dan bisa
menaikkan kebutuhan sekarang orang kan
begitu. Kebutuhan orang sekarang itu
lebih kepada saya pengin seorang leader,
seorang manajer, seorang atasan yang mau
mendengarku.
Orang yang pertanyaannya bisa
membangkitkan keinginan untuk maju.
bukan lagi pada era kejar-kejaran
mencapai target mengalahkan, tetapi era
pada berkolaborasi,
empati, membangun ketangguhan secara
psikologis.
Insyaallah demikian. Coba kita awali
dengan dari diri kita,
hati yang bersih insyaallah nanti kita
akan ketemu. Kalau saya pakai istilah
itu sebenarnya ada namanya MPC. Ini
kalau orang Banyuwangi insyaallah tahu
mboh piye carane?
Mboh piye carane? Itu carane Tuhan,
Bapak. Jadi caranya Tuhan ini yang
kemudian nanti akan menggiring kita,
menunjukkan langkah kita.
Ada memang sesuatu yang ketika di logika
seperti tidak masuk akal, tapi masuk
iman, masuk kepercayaan.
Tidak bisa dilogika, tidak masuk akal
tapi masuk dalam kepercayaan. Dan ketika
dilakukan ternyata membawa dampak yang
positif. Dan ini selaras Bapak. Selain
tadi saya katakan dari David Hawkins
tentang level of consciousness, ada lagi
namanya Robert Cooper.
Robert Cooper itu yang mengatakan bahwa
perasaan
perasaan yang kita benahi sekarang ini
mempengaruhi pemikiran kita. Orang yang
perasaannya galau, pikirannya kacau.
Orang yang perasaannya
bersih, pikirannya jernih. Orang yang
perasaannya damai, pikirannya itu bisa
lancar.
Perasaan mempengaruhi pikiran. Pikiran
mempengaruhi tindakan.
Karena tindakan kita akar dari tindakan
itu di pemikiran. tindakan kalau
dibiasakan terus-menerus akan menjadi
kebiasaan. Kebiasaan mempengaruhi
karakter dan karakter itulah yang
menentukan nasib kita. Ternyata Bapak
dari semuanya bagaimana caranya?
Ternyata benahi perasaan. Hargai orang
lain penuh dengan empati.
Mendengar berkata yang powerful
mendengar yang dengan sungguh-sungguh.
itu Robert Cooper membuat formula
pembentukan nasib. Perasaan mempengaruhi
pikiran, pikiran mempengaruhi tindakan.
Tindakan yang dilakukan terus-menerus
akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan
membentuk karakter dan karakter itulah
yang akan menjadi nasib Anda. Dan di
dalam Islam Allah berfirman di dalam
hadis qudsi, "Ana idoni abdi." Aku
sesuai persangkaan hambaku. Allah. Allah
sesuai dengan persangkaan hambanya. Maka
selain pembenahan secara teknis yang
kita pelajari secara umum, mari kita
melakukan pembenahan secara nurani. Maka
tadi saya singgung bahwa modal dasar
kita adalah logika dan nurani.
Insyaallah dengan mengubah itu, Bapak,
dari yang kejar-kejaran target, langkah,
teknis, hitung-hitungan di atas kerja,
kertas berapa persentase, kita benahi
diri kita. Ternyata itu powerful loh.
Mali mari kita ee buktikan dengan
melakukan pada diri kita sendiri dulu.
Demikian Bapak, mohon izin moga-moga
bisa memberikan jawaban.
Baik, terima kasih banyak Ibu Fusna dan
mungkin Pak Ivan ada yang mau ditanggapi
terkait dengan jawaban yang telah
diberikan.
Baik, terima kasih banyak Pak Ivan. Ini
sangat lengkap dan jelas sekali begitu
ya.
Oke, Pak Ian terima kasih banyak telah
bergabung bersama kami secara online dan
juga berinteraksi dengan Ibu Fusna
karena memang waktu yang harus kami
cukupkan untuk sesi tanya jawab kali
ini. Ibu Fusna terima kasih banyak atas
waktu yang telah diberikan
karena siang hari ini memang ee waktu
yang harus kami berikan juga terbatas.
Begitu. Sebelumnya kami ingin sekali
mendengarkan closing statement yang
ingin diberikan oleh Ibu Fusna. Silakan,
Ibu.
Baik, terima kasih. ASN
belajar, berkarya, dan mengabdi mulailah
dari hati. Maka perlu kita pemurnian
hati dan luruskan niat. Semoga kita bisa
membawa perubahan yang lebih positif
untuk Indonesia. Terima kasih, Mbak
Fani.
Baik, terima kasih banyak Ibu Fusna
Marzuko, SH. Mm. atas waktu yang telah
diberikan dan insightful sekali materi
yang telah diberikan. Semoga kita dapat
bertemu lagi dalam kesempatan
berikutnya.
Baik, Sobat ASN, tidak terasa kita sudah
sampai di pengujung acara siang hari
ini. Namun kami ingin sekali
mengingatkan bahwa presensi untuk dapat
dicek melalui semesta Bangkom. Dan saya
haturkan terima kasih banyak atas waktu
dari seluruh sobat ASN yang telah
tergabung secara Zoom meeting maupun
BPSDM Jatim TV dan juga seluruh pihak
yang sudah mendukung webinar ASN belajar
seri ke-33 tahun 2025. Hari ini ada
Profesor and Senior Consultant
University of Kuala Lumpur, Malaysia,
Prof. Dr. Ilham Sentosa, SSTP, MP, PhD
yang menjadi narasumber kita yang
pertama tadi. Kemudian juga telah
tergabung dan memberikan insight-nya
melalui materi yang telah diberikan
dosen psikologi dan direktur IMKOM yaitu
Ibu Dr. Bawinda Sri Lestari, S.H., M.Psi
dan juga yang barusan saja memberikan
closing statement insightful juga dan
sangat powerful kepada kita. yaitu
seorang trainer, consultant, coach, and
motivator Ibu Fusna Marzuko, SH., M.M.
Sobat ASN, sekali lagi kami ingatkan
untuk dapat mengunduh e-sertifikat
melalui semesta Bangkom dan caranya
dapat dilihat melalui running teks yang
ada di bawah. ASN belajar seri ke-33
tahun 2025. Persembahan oleh Corpu SDGIS
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Akhir kata,
saya Fan Patriia pamit undur diri.
Sampai jumpa pada ASN belajar seri
berikutnya. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
[Tepuk tangan]
Sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak
bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
[Musik]
menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap penyongok Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia. Satukan tekad pantang
menyerah.
Jadi ASN tetar berkualitas.
ASN belajar wujudkan
pemerintahan berkelas dunia. Satukan
tekad pantang menyerah
jadi ASN cetar berkualitas.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]