Transcript
URJ8KmcufPQ • Community Of Interest (CoI) Kebencanaan Provinsi Jawa Timur Tahun 2025
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0257_URJ8KmcufPQ.txt
Kind: captions
Language: id
Hadirin dimohon berdiri.
mengawali acara menyanyikan lagu
kebangsaan Indonesia Raya.
[Musik]
Hadirin
[Tepuk tangan]
[Musik]
disilakan duduk kembali.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi
kita semua. Pertama-tama izinkan
terlebih dahulu kami menyapa yang
terhormat Kepala BPSDM Provinsi Jawa
Timur yang dalam hal ini diwakili oleh
Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi
Fungsional dan Sosial Kultural BPSDM
Provinsi Jawa Timur, Ibu Amalia
Pramudiansari, SST.P., M.M. Yang kami
hormati Kepala Pelaksana BPBD Provinsi
Jawa Timur yang pada kesempatan ini
diwakili oleh Kepala Bidang Kedaruratan
Bencana dan Logistik BPPD Provinsi Jawa
Timur Bapak Satrio Nurseno, SSTP. MIP.
Yang kami hormati Ketua Lembaga
Sertifikasi Profesi Proteksi Kebakaran,
Bapak Unggul Wahyu Dono, serta seluruh
hadirin yang berbahagia.
Bapak, Ibu hadirin. Tentu kita sadari
bersama bahwa potensi bencana dapat
terjadi kapan saja dan di mana saja,
termasuk di lingkungan kerja kita
sehari-hari. Oleh karena itu, pemahaman
serta kesiapsiagaan dalam menghadapi
bencana menjadi hal mutlak dimiliki oleh
setiap individu, terutama kita sebagai
ASN dalam melaksanakan tugas di mana pun
kita berada. Dengan adanya kesiapan
tersebut, bukan hanya keselamatan yang
akan terjaga, tetapi juga akan menunjang
tercapainya kinerja organisasi yang
optimal. Hadirin, maka senang sekali
kita pada hari ini Senin, 1 September
tahun 2025 dapat berjumpa secara hybrid
langsung dari IKI Coworking Space BPSDM
Provinsi Jawa Timur dalam acara forum
konsultasi pengembangan kompetensi
community of interest kebencanaan
Provinsi Jawa Timur dengan tema
kesiapsiagaan menghadapi bencana di
tempat kerja. Boleh kita berikan tepuk
tangan untuk menambah semangat kita pada
pagi hari ini. Hadirin yang berbahagia,
sebagai wujud rasa syukur marilah
sejenak kita tundukkan kepala seraya
berdoa kepada Allah subhanahu wa taala.
Doakan dipimpin secara Islam oleh
Saudara Muhammad Jufri, S. Kami silakan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
Bapak, Ibu, mohon izin kami berdoa
secara Islam. Bagi yang beragama lain,
mohon untuk menyesuaikan.
Bismillahirrahmanirrahim.
Allahumma sholli wasallim ala sayyidina
Muhammad. Alhamdulillahiabbil alamin.
Allahumma inna nasaluka salamatan fiddin
waatan fil jasadiatan
ilmiatan
rizqatan
qblal maut warahmatanal maut wafiratan
baal maut. Allahumma hawin alaiil
maut
minal
hisab. Allahumma la tus qulubana ba'
iddaitana wahblana madadunka rahmatan
innaka antal wah
rbanaamna anfusana waillam
tagfirlanahamna
minal khasirin allahumfirlana
waliwalida warhamhuma kamabayana sigoro
wasallallahu alaihi wasallallahu ala
sayyidina muhammad subhanakabikailati
amma yasifun
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Hadirin, selanjutnya marilah kita simak
bersama sambutan Kepala BPSDM Provinsi
Jawa Timur yang pada kesempatan ini akan
disampaikan oleh Kepala Bidang
Pengembangan Kompetensi Fungsional dan
Sosial Kultural BPSDM Provinsi Jawa
Timur yang sekaligus berkenan membuka
secara resmi kegiatan pada hari ini.
Yang kami hormati Ibu Amalia
Pramudiansari, SSTP, M.M. Kami silakan.
[Musik]
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi
kita semua. Om swastiastu. Namo
buddhaya. Salam kebajikan rahayu dan
salam sehat Bapak Ibu sekalian.
Alhamdulillahiabbil alamin. Hari ini
bisa hadir bersama nggih kita Bapak, Ibu
dan hadir di tengah-tengah kita tentunya
narasumber yang sangat luar biasa hari
ini. Yang pertama Kalaksa BPBD Provinsi
Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala
Bidang Kedaruratan dan Logistik Bapak
Satrio Nurseno, SSTP, MIP. Terima kasih.
Di tengah suasana yang ee apa ya,
lumayan crowded ini ya, Pak Satrio bisa
hadir. Kemudian narasumber yang kedua
jauh dari Jakarta, Bapak Ibu hadir ketua
lembaga sertifikasi profesi proteksi
kebakaran Bapak Unggul Wahyu Dono, SP.
Selamat datang di BBSDM Jawa Timur dan
di Surabaya. tentunya
hadir pula hari ini moderator
Pak Sugito SSTP, MIP. Terima kasih, Pak.
Beliau Widya Widya Iswara ahli madya di
BPSM Provinsi Jawa Timur. Dan juga hadir
hari ini Kepala UPT Sertifikasi ASN Bu
Susi. Terima kasih Bu. Pak Anung analis
Bank Komadia, Pak Praktik analis Bank
Komadia, WI Utama ada Pak Aman, kemudian
Bu Isma juga WI dan juga Pak Sugeng,
teman-teman analis Bangkom serta seluruh
peserta yang hadir hari ini baik dari
perangkat daerah provinsi maupun
kabupaten kota Jawa Timur dan juga sobat
ASN yang hadir di kanal YouTube BPSDM
Jatim TV. Bapak, Ibu yang kami hormati.
tentunya tiada ungkapan yang lebih indah
nggih kecuali rasa syukur kita ke
hadirat Allah Subhanahu wa taala Tuhan
yang maha esa karena atas rahmat dan
hidayah-Nya kita diberikan nikmat sehat
Bapak Ibu kemudian keselamatan juga
kesempatan Bapak Ibu di tengah kesibukan
yang sangat luar biasa dan situasi yang
perlu sangat kita ini ya hadapi bersama
saat ini bisa hadir bersama di IKI
Coworking Space BPSDM Jatim. tentunya
Bapak Ibu ini tidak biasa kalau biasanya
di ruang sasana ya di atas ini ngih
kalau Bapak Ibu pelatihan juga ada di
gedung hari ini kita buat vibes yang
berbeda gitu kalau Genzi milenial
mungkin bahasanya juga ngobrol santai
gitu atau ngariung gitu ya pernah ee
dengar bahasa ngariung. Terima kasih
kehadirannya. Tentunya salam hormat
Bapak, Ibu dari Bapak Kepala BBSDM
Provinsi Jawa Timur. Ini inisiasi beliau
Bapak, Ibu dan sangat-sangat beliau
nantikan setelah ada acara COP atau
community of practice tentunya Bapak Ibu
pernah mengikuti sebagian. Nah, hari ini
COI apa COI gitu ya. Jadi di BPSDM
Provinsi Jawa Timur tentunya tidak hanya
memberikan pelatihan secara klasikal
atau daring dan lain sebagainya, kita
sekarang di Korpu ini membangun
komunitas Bapak Ibu. Jadi nantinya ada
persentase yang harus diberikan ke OPD
juga masing-masing OPD harus juga
melaksanakan pengembangan kompetensi
tidak hanya di BPSDM Provinsi sebagai
lembaga pengembangan SDM. Dan hari ini
setelah community of practice tentunya
practice itu background-nya JFJF ya yang
kami angkat misalkan analis kebijakan JF
perencana Prahum kemudian DAMKAR satu
lagi SDMA hari ini semua bisa ikut
karena ini bedanya adalah yang interest
atau tertarik pada satu hal gitu. ASN
tidak melulutusinya Bapak Ibu, namun
juga boleh interest di terkait aware
kebencanaan, kemudian public speaking.
Mungkin Bapak Ibu di sini ada yang suka
public speaking. Nah, nanti suatu saat
kita juga akan e buat seperti itu atau
terkait AI, kemudian terkait hal-hal
yang hubungannya dengan IT gitu. kita
juga akan membuat seperti itu. Jadi
tidak melulu tusi berdasarkan praktis
atau COP gitu. Dan hari ini tentunya Pak
Kaban juga akan bergabung dengan kita
sekalian Bapak Ibu karena masih ada
acara penting yang tidak bisa ditinggal
di gedung dewan. Jadi beliau akan ee
bergabung atau memberikan motivasi
arahan juga di akhir acara insyaallah
bersama Bapak Ibu sekalian di
tengah-tengah kita semua. Bapak, Ibu
hadirin yang kami hormati. tentunya
acara ini kami ee mempunyai maksud gitu
ya terkait hal ini. Selain membentuk
komunitas terkait interes juga
kesiapsiagaan bencana di tempat kerja
ini bukan pilihan Bapak Ibu tentunya ya,
melainkan sebuah keharusan yang
diimplikasikan
sangat jelas. misalkan keselamatan SDM
nantinya melindungi aset terbesar dari
kita yaitu sumber daya manusianya. SDM
pasti utama ya Bapak Ibu. Dan ee kami
boleh menyampaikan juga acara hari ini
jauh-jauh hari sudah terplanning Bapak
Ibu. Jadi ee kalau ada hal yang sekarang
kita tidak inginkan bersama ya tentunya
kami ee sesuai hari ini mungkin Bapak
Ibu harus aware gitu terhadap
keselamatan kerja. di tempat kerja Bapak
Ibu sekalian. Dan kita berharap tentunya
kondisi saat ini kita berdoa bersama di
setiap sujud kita segera membaik ya
Bapak, Ibu. Dan tidak lupa kami di BPSDM
Provinsi Jawa Timur juga oh yang
menyampaikan duka yang mendalam kepada
ASN kemudian Ojol dan semua yang sudah
berpulang ya nantinya mudah-mudahan
diterima amal ibadahnya oleh Allah
subhanahu wa taala dan diampuni segala
khilafnya. Kemudian Bapak Ibu tentunya
keberlangsungan pelayanan itu juga
penting dengan kesiapsiagaan bencana
memastikan bahwa fungsi-fungsi vital
pemerintahan dan layanan publik dapat
segera pulih dan berjalan kembali pasca
bencana. Itu penting. Jadi ee tidak
terus meratapi gitu ya, Bapak Ibu. kita
harus ee bangkit kembali kalau ada
hal-hal yang tidak kita inginkan di
tempat kerja kita. Kemudian perlindungan
aset dan dokumen penting. Nah, itu
tentunya aset ee kita selain SDM dan
juga keberlangsungan pelayanan kita
harus aware terhadap aset dan dokumen
penting kita baik di OPD kemudian ada
yang dari rumah sakit ya Bapak Ibu itu
semua aset-aset dokumen penting harus
diamankan. kemudian infrastruktur arsip
negara kursial dan juga pengambilan
kebijakan operasional pemerintahan. Dan
Bapak Ibu Sobat ASN yang tergabung di
YouTube BBSDM Jatim TV tentunya pada
kesempatan kali ini berbicara mengenai
kesiapsiagaan bencana di tempat kerja
tidak terlepas dari bagaimana seorang
ASN kita semua ya harus juga memahami
untuk dapat menerapkan keselamatan dan
kesehatan kerja di tempat kerja.
sebagai upaya preventif dari diri
sendiri sehingga terhindar dari penyakit
akibat kerja atau Pak. Kemudian untuk
mencapai produktivitas optimal dalam
bekerja serta mencapai kinerja yang
optimal. Oleh karena itu, penting kita
semua hadir Community of Interest Jatim
ini ASN Jawa Timur untuk dapat memahami
implementasi dari keselamatan dan
kesehatan kerja atau KTG. kemudian
perkantoran sehingga ASN mendapatkan
insight penting mengedepankan
keselamatan dan kesehatan kerja dalam
setiap kegiatan administratif di
perkantoran pemerintahan dan juga
pelayanan di masyarakat. Kemudian
sebagai ASN kita juga memiliki tanggung
jawab ya Bapak Ibu terkait ee ganda hal
ganda yaitu melindungi diri kita sendiri
tentunya dan juga kolega baik ee di
tempat kerja maupun pengguna layanan
kita di tempat layanan sekaligus menjadi
garda terdepan dalam memastikan negara
tetap hadir melayani masyarakat bahkan
dalam situasi darurat sekalipun. Bapak,
Ibu tentunya COI ini nantinya akan
ditindaklanjuti
awalnya adalah grup WhatsApp gitu ya.
Nanti bisa
mengundang teman-teman Bapak Ibu yang
aware juga. Ini belum semua OPD memang
Bapak Ibu ya. Kami membagikan link siapa
yang ingin ikut. Minimal OPD memang
satu. Alhamdulillah ada beberapa OPD
yang banyak yang ikut. Terima kasih bagi
OPD yang belum aware nanti tetap Bapak
Ibu bisa sharing knowledge gitu ya
terkait grup WhatsApp nanti yang akan
dipandegani teman-teman WI dan juga ASN
di BPSDM Jatim dari kita untuk kita
Bapak Ibu. Jadi acaranya nanti boleh
ngariung lagi, boleh ada bahas lain
sebagainya melalui Zoom gitu ya, terkait
bagaimana keselamatan kerja, menangani
bencana dan lain sebagainya. Tentunya
nanti akan di-share di akhir acara dan
Bapak Ibu monggo nanti saran, kritik
masukan untuk membangun komunitas ini
supaya bermanfaat. Kami sangat welcome
gitu. Baik dan akhir kata Bapak, Ibu
tentunya nanti selamat mengikuti nggih
acara ini sampai akhir. Kemudian kami
juga ee berterima kasih kepada Bapak Ibu
hadir hari ini dan juga dengan memohon
rida dan petunjuk dari Allah Subhanahu
wa taala atas seizin Bapak Ibu sekalian
dan mewakili Pak Kepala BPSDM Provinsi
Jawa Timur dengan mengucap
bismillahirrahmanirrahim
pada hari ini, Senin 1 September 2025
Forum Community of Interest atau COI
Kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun
2025 secara resmi saya nyatakan dibuka
dan dimulai.
[Tepuk tangan]
Baik, selamat mengikuti Bapak Ibu hadir
narasumber yang sangat luar biasa.
Monggo enjoy saja. Kalau sambil makan
snack juga boleh. Kopi teh di samping
kanan kiri juga oke ya Bapak Ibu. Nanti
kalau kantornya akan dibuat gini yang
belum ada boleh juga dibuat. Nanti harus
aktif tidak boleh seperti rapat. Jadi
harus banyak yang bertanya supaya beliau
dari Jakarta hadir di sini ada
insight-nya gitu. Bapak Ibu salam sehat
tentunya kalau ke Surabaya jangan lupa
beli es selasih.
Mana cakepnya? Mohon maaf dan terima
kasih Bapak Ibu. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Hadirin yang berbahagia, demikian telah
kita ikuti bersama seremonial pembukaan
forum konsultasi pengembangan kompetensi
community of Interest Kebencanaan
Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Sobat
ASN, tak lupa kami mengingatkan pula
bagi seluruh Sobat ASN yang hadir pada
hari ini baik secara daring maupun
luring nanti akan dapat melakukan scan
QR pada akhir acara yang akan
ditampilkan oleh panitia dan Sobat ASN
dapat mengakses pengunduhan materi,
daftar hadir, penerbitan e-sertifikat,
dan yang tak kalah penting kami akan
mengundang seluruh sobat ASN yang hadir
pada hari ini untuk bergabung dalam
WhatsApp grup community of interest
kebencanaan tahun 2025. tentunya di
akhir acara.
Untuk itu kita akan selanjutnya
mengikuti penyampaian materi oleh dua
narasumber. Jangan ke mana-mana, kita
akan kembali sesaat lagi.
[Musik]
Together building hope noble.
[Musik]
East jaut
[Musik]
bekasulsm
[Musik]
java center of excellence a place where
people are born producing competent
resilient intelligent innovative united
enak
[Musik]
Baik, Sobat TSN di mana pun Anda berada.
Seperti janji kami tadi, mari kita ikuti
bersama penyampaian materi terkait
kesiapsiagaan menghadapi bencana di
tempat kerja yang akan dipandu oleh
moderator kita pagi hari ini, Widya
Iswara, ahli madia BPSDM Provinsi Jawa
Timur, Bapak Dr. Sukito Prasetyo, SSTP.
Mm. Kami persilakan.
Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum. warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Yang terhormat Bapak Kepala Badan BPSDM
Provinsi Jawa Timur
yang dalam hal ini diwakili oleh Ibu
Kabit.
Yang kami hormati
duara dua narasumber yang sangat-sangat
luar biasa yang mulai minggu kemarin
kita nantikan kehadirannya.
Yang kami hormati
Bapak, Ibu
hadirin peserta COI
dan mohon izin Bu Kabit kami laporkan
di WA kami ternyata yang hadir melalui
daring. Selain teman-teman dari Provinsi
Jawa Timur, kabupaten, maupun kota kami
juga nerima laporan ini teman dari
Sumatera Selatan.
dari Mataram,
dari Jawa Barat. Jadi luar biasa
kegiatan ini. Semoga ini menjadi awal
untuk kita semua bisa interest terhadap
kebencanaan baik di lingkungan kerja
maupun juga di lingkungan sekitar kita.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji
syukur alhamdulillah kehadirat Allah
Subhanahu wa taala karena dengan
rahmatnya kita dapat berkumpul dalam
forum yang luar biasa ini.
Forum bukan sekedar sharing ilmu, tapi
juga sharing kepedulian.
Karena bicara
tentang bencana di tempat kerja
bukan sekedar teori tapi soal nyawa.
dan keselamatan kita semua.
Kalau orang bilang ASN itu harus siap
kerja kapan saja, mungkin sudah biasa
kita dengar.
Tapi kalau kita siap siaga kapan saja,
itu yang harus kita awali dari sekarang.
Tadi Ibu Kabit sudah mancing kami dengan
pantun, Bu.
Mohon maaf ini moderatornya agak
emosional, Bu. Jadi tadi dipancing
sekali ya kami harus jawab dua kali
bahkan mungkin lebih.
Berjalan-jalan ke Gunung Semeru.
Jangan lupa membawa bekal dan peta.
Siaga bencana bukan perkara baru.
Karena nyawa kita taruannya.
Terima kasih tepuk tangannya. Saya baru
tidur jam .00 pagi untuk membuat
pantun-pantun ini.
Bunga melati haru mewangi,
tumbuh indah di tengah taman.
Kalau kita siaga dan peduli,
tempat kerja pasti lebih aman.
Mungkin panitia mohon maaf kalau
sekarang saya masih membaca. Semoga
kesempatan yang lain saya sudah membaca
lagi. Oke,
Bapak, Ibu sekalian yang kami hormati.
Tema kita hari ini adalah kesiapsiagaan
menghadapi bencana di tempat kerja.
Hal ini sangat relevan dengan kondisi
kebencanaan di negara yang kita cintai
ini.
Kurang lebih 3.000 kejadian setiap tahun
yang dilaporkan oleh BNPB.
Ya, kebetulan 5 tahun yang lalu saya
mungkin sama berbaju oren untuk Pak
Satrio ya.
Nah, kebetulan baju orenya juga hasil
kiriman dari narasumber ini ya.
Jadi 3.000 kejadian
mulai dari banjir, gempa, kebakaran
hingga bencana non alam seperti pandemi
yang baru aja kita lewati bersama.
Di sisi lain, tempat kerja sering
menjadi titik rawan mulai dari potensi
kebakaran karena instansi listrik, bahan
kimia berbahaya hingga musibah gempa
yang terjadi kapan saja.
Dari dasar inilah maka BPSDM
menghadirkan dua narasumber yang luar
biasa.
Yang pertama nanti akan menyampaikan
bagaimana BBD
menyiapkan strategi dan mitigasinya.
Dan yang kedua yang kami tunggu semuanya
ini adalah bagaimana
beliau selaku pakar K3 sekaligus ketua
LSP proteksi kebakaran
memberi kita insight tentang proteksi
kebakaran di lingkungan kerja. Untuk itu
sebelum kami panggil kami bacakan
CV-nya.
Cuma mohon maaf tadi kami nerima CV-nya
itu tebal sekali dua-duanya, Pak.
Sehingga saya buat repikan yang ringkas
karena kalau kami cukup membacakan saja
materinya gak dapat-dapat nanti, Bapak.
Jadi mohon izin yang pertama adalah
Bapak Satrio Nurseno, SSTP, MIP.
Lahir di Magetan, tanggalnya tidak sah
kami sebut, Pak.
Tahun 1986.
Karena nanti untuk tanggal sama bulan
kita buat untuk kuisnya. Nanti
pendidikan beliau lulus IPDN di tahun
2009 dan S2-nya dari
Surabaya dari UNER tahun 2015.
untuk pelatihan karena beliaunya di BWBD
dimulai dari DMB tahun 2014
terus mengikuti tadi saya baca kalau
tidak salah 16 pelatihan yang beliau
ikuti dan saya baca yang terakhir adalah
TOT kebencanaan
serta sertifikasi audit internal
2024.
Pengalaman kerja diawali dari Sekpri
Bapak Sekda Jatim tahun 2029. Betul ya,
Pak Sadrio ya. Dan yang terakhir bukan
yang terakhir yang sekarang hari ini
beliau Kepala Bidang Kedaruratan
Logistik BBD Jawa Timur. Jadi bagi
teman-teman yang sekarang rawuh berbaju
oren, monggo beliaunya karena menangani
logistik, Pak. Kalau mungkin logistiknya
di BBD Kabupaten silakan setelah acara
langsung menghubungi beliaunya.
Yang kedua,
Bapak Unggul Wahyudono
lahir di Purbalingga. Saya ini harus
hati-hati, Pak. Khawatir keliru.
Probolinggo ya. Karena saya di
Probolinggo, Bapak. Purbalingga
tanggal perlu disebutkan, Bapak. Ah, 6
Agustus 1972.
Ah, jadi selamat ulang tahun Bapak.
Alhamdulillah
hari ini kita rayakan ulang tahun Bapak
ke-18
di BPSDM Jawa Timur.
Karena beliaunya pakar tentang K3
kebakaran ini
lebih dari dua lembar CV-nya tadi untuk
mengikuti pelatihan-pelatihan saya
bacakan awal sama akhir aja nggih Bapak.
Jadi yang pertama adalah pelatihan dasar
penanggulangan kebakaran tahun 2000.
Setelah itu mengikuti
mohon maaf kalau salah saya sebut nggih
NF PE
kode 101 sampai dengan 30 di Singapura
Bapak. Kapan-kapan kami mau diajak
Bapak.
Setelah itu Uniform Building Bailo Law
di Selangor, Malaysia dan asesor
kompetensi BNSP tahun 2015.
Organisasi yang beliau ikuti ini yang
besar-besar dan nampaknya masih asing
buat kami ini, Pak. Nanti mungkin bisa
dijelaskan sedikit nggih di IFP PA,
BEA
sama IPMA.
Jadi ada tiga asosiasi ini mungkin nanti
jadi kuisnya Pak ya biar saya yang
menang karena saya yang tahu catatannya
ada di saya. Nggih. Jadi untuk itu mari
kita panggil dua narasumber yang luar
biasa yang akan hadir di tengah-tengah
kita semuanya.
Alhamdulillah
beliaunya mungkin tahu berdua kalau
tangan saya keringetan nggih. Jadi bukan
menjadi lap nggih Bapak karena ya untung
ini gak gemetar Pak. Jadi gak gemetar
tapi keringatan. Alhamdulillah. Jadi ee
Bapak Ibu sekalian yang saya hormati,
hadirin sekalian. baik yang hadir di
BPSDN maupun juga yang ada di kabupaten,
kota, daring maupun juga yang ada di
luar Provinsi Jawa Timur, dari OKU
Timur, dari Mataram, dari Sukabumi yang
sudah berkenan untuk mengikuti kegiatan
ini.
Ee pada sesi ini akan disampaikan dua
narasumber.
E mungkin nanti penyampaiannya 30 sampai
45 menit saja, Pak.
Oh, lama. Oh, alhamdulillah. Tapi pikir
itu kecepatan karena diskusinya kita
bisa sampai sore maupun malam, Bapak ya.
Karena ini adalah forum diskusi, forum
santai. Tadi sudah disampaikan oleh Bu
Kabit di kanan kiri ada pisang ngopi,
ada minuman, namun yang lain tapi
disiapkan curisnya.
Nggih, Bapak, Ibu sekalian eh tiba
saatnya untuk menyampaikan materi dari
narasumber yang luar biasa. Yang pertama
dari BBD Provinsi Jawa Timur. Waktu kami
persilakan.
Baik, terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi, salam sejahtera buat kita
semua. Om swastiastu. Namo buddhaya.
Salam kebajikan rahayu. Izin senior. Ini
baru pertama kali nih, Pak. Dan
alhamdulillah setelah sekian lama kami
apa di berbaju oren, beliau meninggalkan
baju orennya, Pak. Sekarang, Pak. E tapi
okelah keren. Dan saya ucapkan terima
kasih kepada Bapak Kepala BPSDM Jatim ee
sudah berkenan mengundang kami ini di
community of interest khususnya
kebencanaan dan seru, keren untuk ee
ruangannya. Ini perlu dicoba. Nanti
mungkin Bu Kabit bisa minta kontak
person-nya nanti ya. Ya,
nanti kita coba untuk kita apa akomodir
ya di ee untuk di BBD Jatim pas ini,
Mas. Jadi ada pembangunan di sana, ada
Mas Unggul juga ini. Wah, ini harus jadi
apa hal-hal yang perlu kita sempurnakan
ini di BBD Jatim. Eh, Bapak Ibu semua
izin perkenalkan saya nama Satrio. Tadi
sudah dijelaskan sama moderator. Saya
Satrio Nurso. Sekarang menjabat sebagai
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik
BBD Provinsi Jawa Timur. Alhamdulillah
di BBD Jatim sudah 12 tahun Mas Unggul.
Jadi ee kami benar-benar ini ee tidak
mempunyai konsep tapi lebih ke praktisi.
Kalau kami lebih ke praktisi. Jadi kita
bicara berdasarkan pengalaman. Kami
bicara berdasarkan pengalaman dan ee
benar tadi yang disampaikan Mas
Moderator ee teman-teman BBD Jatim eh
BBD Sejatim atau yang ee mungkin
menonton ini kalau mencari minta
logistik pastinya di kami ya. Apalagi
kemarin sudah banyak laporan beberapa
instansi atau kantor BBD di Jawa Timur
sudah banyak yang rusak, Mas. Karena
kemarin ada bencana sosial katanya gitu
ya. Jadi banyak yang rusak logistik,
banyak yang habis aset-aset habis.
Kemungkinan besar sebentar lagi surat
banyak yang masuk ini.
Nah, ee kita mulai saja. Kami mulai
saja. Kami gak lama-lama, Mas, untuk ee
paparannya. Tapi sekedar kita bicara dan
belajar bersama ya. Kita belajar bersama
karena memang BBD Jatim pun juga belum
sempurna om tipnal untuk kesiapsagaan
kita terhadap bencana di lingkungan
kerja. Namun paling tidak ee di OPD kami
karena teman-teman kami ee personil kami
semuanya terlibat secara langsung di
kebencanaan. paling tidak kami sudah
memiliki ee
apa ya istilahnya sudah maju satu
langkah dari kawan-kawan yang lain yang
mungkin di luar OPD ee BBPD ya. Baik,
kita mulai. Ee Bapak Ibu sekalian,
Jawa Timur ini mungkin ee Bapak Ibu
sekalian sudah sering membaca khususnya
kawan-kawan kami dari kabupaten kota ya.
kita ee banyak sekali ancaman di Jawa
Timur untuk ancaman bencana khususnya
bencana alam maupun non alam ya. ada 14
ancaman yang ada di kita ini menjadi
sudah menjadi ee masuk di dalam kajian
risiko bencana dan ini sering terjadi ya
kalau kita bicara
banjir semua wilayah di Jawa Timur pasti
juga pernah mengalami walaupun ada yang
bilang itu gak banjir itu genangan tapi
secara secara apa ee
perfiksi
pembacaan kita sudah masuk dalam kata
banjir ya. Jadi ada banjir, banjir
bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem,
kekeringan, kebakaran hutan dan lahan,
gelombang ekstrem dan abrasi gempa bumi,
gegalan teknologi, pandemi Covid,
epidemi wabah penyakit, letusan gunung
api, tsunami, dan likuifaksi. Ini ini
menjadi ee perhatian kita semua Bapak,
Ibu semua ya, teman-teman semua
khususnya di Provinsi Jawa Timur ataupun
di kabupaten kota harus tahu, harus
mengerti, harus paham ancaman apa di
sekitar kita. Ada enggak ee kira-kira
dari 14 ancaman itu yang ee menunggu di
sekitar kita?
Jadi kalau sekarang ini kami mesti
dilatih untuk selalu melihat pada saat
di kondisi ee ke mana pun pergi, Mas.
Jadi ketika kita mau pergi ke mana pun,
kita harus melihat ada ancaman enggak di
situ. Tadi saya masuk sini juga walaupun
saya sudah sering ke BPSDM juga sering
melihat dan apa ee menganalisislah
istilahnya ini ada ancamannya gak nih.
Ini ada pintu keluarnya ke mana ya ini
kalau terjadi kejadian gitu. Ini sudah
menjadi kebiasaan. Jadi ee seperti ini.
Oh, ini banyak kaca nih. Kalau ada gempa
pasti ee rawan untuk teman-teman atau
kawan-kawan yang dekat dengan kaca. Nah,
kecuali kacanya memang tebal banget dan
tahan gempa gitu ya. Oke, next.
Nah, per 31 Agustus kemarin
kejadian bencana
terjadi di seluruh Jawa Timur dan
rata-rata 113-nya adalah banjir. Ini
belum kejadian bencana yang saat ini
sedang melanda di beberapa wilayah yaitu
kekeringan dan kebakaran hutan. ini
kalau di yang kami sampaikan di paparan
ini hanya hidrometeorologi dan kebakaran
hutan. Untuk kekeringan belum masuk ini
kalau kekeringan ini sudah ada tujuh
kabupaten yang saat ini ee mengalami
kekeringan dan upaya kami juga ee
melaksanakan droping air besi dan
penyaluran sarana sarana prasarana untuk
membantu masyarakat kita yang terdampak
untuk pelayanan kita. Oke, next.
Bapak Ibu sekalian.
Kenapa
kesiapsiagaan ini menjadi penting?
Karena ini menjadi salah satu eh 17 dari
SDGs kita ya, Climate change ya. Climate
change ini yang menjadi eh fokus kita
saat ini. Kita masuk di dalamnya kami di
kebencanaan menjadi salah satu ee yang
memiliki peran ya yang memiliki peran
untuk bisa
mencegah terjadinya atau dampak dari
climate change.
Ini makanya kita perlu untuk melakukan
pengurangan resiko bencana. Salah
satunya adalah melalui kesiapsiagaan di
manapun khususnya di lingkungan kerja.
Karena kontribusi untuk memperkuat
ketangguhan sangat sangat perlu dicapai
untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Oke, next.
Baik, Bapak Ibu sekalian, kesiapsagaan
di tempat kerja
merupakan suatu rangkaian yang
perencanaan, pelatihan dan segala macam.
Ini yang menjadi ee substansi kita untuk
kita kembangkan ya. ee dari kalau kita
bicara di kebencanaan ada prabencana,
ada keadaan darurat dan pasca bencana.
Ini Mas moderator sangat ahli ini ya.
Nah, kalau di kesiapsagaan ini juga
rangkaian itu menjadi ee suatu hal yang
perlu kita laksanakan ya. Karena apapun
yang kita laksanakan di lingkungan kerja
itu tidak tidak lepas dari mitigasi,
tidak lepas dari kita pengkajian
risikonya di tahapan perannya. Kemudian
bagaimana kita nanti di respon time-nya
atau di ee personilnya, sumber dayanya
baik ee personil maupun sarana
prasarana. Kemudian bagaimana
pemulihannya?
Kalau kita bicara kesiapsagaan di
lingkungan kerja, kalau di BBD Jatim
fokus utama atau tujuan utama dari kami
adalah keselamatan personil. Itu menjadi
suatu hal yang harus
kami prioritaskan. Wajib Ain nomor satu
keselamatan personil. Kemudian yang
kedua adalah pelayanan. Nah, ini
pelayanan pelayanan untuk ee masyarakat.
Kalau di kebencanaan tentunya pelayanan
yang berurusan dengan kebencanaan itu
menjadi ee dua hal yang harus tetap
berdiri ketika tetap beroperasi ketika
terjadi keadaan darat atau emergency.
Kemudian yang ketiga, aset. Perlindungan
aset ini pun juga menjadi satu hal yang
harus kita ee kuatkan bagaimana
aset-aset ini bisa aman untuk bisa
mengurangi risiko atau mengurangi dampak
kerugian-kerugian yang lebih besar.
khususnya karena aset ini kan tercatat
kemudian juga menjadi bukan milik kita
ya milik negara. Bagaimana kita ee ee
berusaha untuk bisa mengurangi dampak
yang signifikan akibat kejadian-kejadian
darurat ataupun bencana di lingkungan
kerja. Kemudian yang ee yang terakhir
adalah terkait dengan
pemulihan.
bagaimana pelayanan ini lebih bisa
berjalan efektif dengan kondisi yang
emergency. Bagaimana kita bisa berusaha
untuk tetap berjalan operasi baik dari
instansi di instansi internalnya
bagaimana keselamatan kerjanya dan dan
ee berbagai hal. Oke, next.
Nah, ini tujuan kesepagan yang tadi saya
sampaikan.
Jiwa ASN menjadi pokok utama. Kemudian
keselamatan apa kelancaran pelayanan
pemerintahan saat bencana, kerugian aset
yang yang terakhir adalah budaya sadar
bencana dan keselamatan kerja.
Rata-rata
ee para pegawai, para karyawan tahu
terkait kebencanaan, tapi tidak
serta-merta mereka sadar terkait budaya
kebencanaan. budaya bencana ya, budaya
sadar bencana ini harus menjadi urusan
kita bersama. Tidak hanya BBD Jatim saja
atau BBD kabupaten kota. Teman-teman
semua di OPD harus ee berupaya, harus
sama-sama
bekerja sama ya kok harus dengan terkait
dengan kebencanaan ini harus sadar semua
bahwa bencana ini tidak
tidak kita tidak tahu kapan, di mana dan
untuk apa ya untuk siapa siapa yang akan
terlibat, siapa yang akan terkena
dampaknya.
Kadang banyak orang yang berpikir, "Oh,
tadi kami di tempat transit bicara
dengan Mas Unggul juga tadi bilang, "Oh,
di di Los Angeles ya, Mas ya? Di Los
Angeles katanya, "Oh, di sini banyak nih
apa plinnya untuk ee struktur bangunan
dan kotanya bagus, tidak akan pernah
terjadi bencana gitu. Tidak akan pasti
akan mampu menghadapi bencana." Tapi
setelah beliau pulang dari le 3 hari,
kebakaran yang kemarin melanda di LE
habis semua. Nah, itu sekali lagi
bencana ini tidak serta-merta kita tidak
tahu kapan, kita tidak tahu kepada siapa
dampaknya. Tapi paling tidak untuk
keselamatan diri dan keluarga kita harus
tahu dan kita harus harus paham itu.
Nah, ini menjadi kewajiban kita bersama
agar kita sadar terhadap ee budaya sadar
bencana. Next.
Baik Bapak Ibu sekalian ee ini
urgensinya ya mungkin urgensi kesiap ee
kesiapsiagaan di tempat kerja yang
pertama adalah melindungi keselamatan
dan nyawa karyawan. Seperti yang tadi
saya sampaikan, nyawa ini tidak ada
gantinya.
Kalau aset bisa diganti mumpung mungkin
asetnya mumpung sudah lama ya sekalian
aja gak apa-apa n beli baru gitu ya.
Tapi kalau nyawa gak ada yang ganti.
Jadi prioritas utama kami adalah nyawa.
Jadi setiap kita bekerja, setiap kita
ada tugas selalu e safety first untuk
teman-teman kami personil harus menjadi
yang utama. Kemudian menjaga
kelangsungan operasional instansi.
Bagaimanapun emergensinya, bagaimanapun
daruratnya, bagaimanapun dampak yang
signifikan, kami BBD Jatim harus bisa
apa tidak berupaya untuk membantu juga.
Jadi tidak hanya ketika kami terdampak
misalnya kayak tahun apa bulan kemarin
pada saat banjir ya
kami kantor BBD Jati melingkungkan
banjir Pak hampir se
mata eh selutut ya ya selutut
walaupun di lingkungan kami banjir kami
tetap beroperasi untuk membantu
kawan-kawan kami yang di kabupaten kota
yang lain ini
bagaimana apa membagi ee waktu, membagi
kerja, membagi bagi personilnya yang ee
kami sangat keteteran pada saat itu.
Tapun alhamdulillah support dari warga
sekitar ya, komunik komunikasi baik kita
dengan warga sekitar di RTRW-nya juga
men-support. Jadi sehingga ee
kegiatan-kegiatan itu bisa terbantu.
Kemudian
yang ketiga, mengurangi risiko kerugian
aset dan properti. Nah, ini juga di kita
lakukan untuk logistik peralatan kami
yang ada di BBD Jatim Juta. Bagaimana
kita menata menata suatu logistik dan
peralatan ini bisa aman. Kita sudah tahu
di ancaman-ancaman di area kami ada
banjir dan ada gempa. Paling tidak
banjir ini yang seringki mengancam di
tempat kami. Jadi kami harus berupaya
untuk logistik-logistik yang tidak tahan
dengan air itu kita upayakan untuk
berada di atas atau di rak yang paling
atas hingga itu mengurangi dampak yang
terjadi ketika ada terjadi banjir. Itu
salah satu ee salah satu upaya kita.
Kemudian yang kemarin-kemarin kita
kerusuhan, Bang Mas Jin ini tadi memang
diarahkan pakai baju oren ya seperti ee
dari Jember ini. Cuman sesuai edaran
Kepala BKD bahwa kita diminta untuk baju
bebas rapi untuk ASN Prof Jatim di
area-area yang ee merah maupun kuning.
Itu juga salah satu mitigasi kita. Salah
satu mitigasi kita bagaimana kita bisa
menyelamatkan
tempat di lingkungan personil di
lingkungan kerja kita menyamar. Tapi
walaupun ini juga tadi sedia baju urin
juga, Mas. Tapi secara secara umumnya
kita ikut untuk mematuhi dari ee proses
mitigasi dari Kepala Kepegawaian kita
untuk kita lebih bebas ya untuk pakaian
hari ini untuk 2 hari eh 4 hari kalau
enggak salah 4 hari ke depan ee sambil
sambil menunggu suasana kondusif ya.
Kemudian banyak juga hari ini yang
telepon saya dari tadi pagi ee
koordinasi dari kabupaten kota
penetapan-penetapan bencana konflik ini,
Mas. Bencana sosial ini. Jadi saya belum
bisa bicara tadi. Mungkin nanti setelah
kegiatan ini kita bisa komunikasi lebih
inten dengan kawan-kawan. Kemudian yang
ke urgensi kesiapsiagaan di tempat kerja
yang kelima adalah memenuhi regulasi dan
standar kesehatan dan keselamatan kerja.
ini ada di aturan ya. Kita wajib
sebenarnya untuk keselamatan kerja di
semua
instansi maupun di semua perusahaan itu
menjadi kewajiban pimpinan perusahaan
ataupun pimpinan instansi kepada seluruh
personilnya kepada seluruh karyawan itu
wajib. Kemudian yang keenam meningkatkan
kepercayaan dan moral karyawan. Jadi
kalau kita yakin ya, kita yakin dan
percaya, "Wih, gedung ini aman, tempat
ini sudah safety semua, sudah dukungan
ini, kita bekerja lebih
enak ya, lebih tenang." Ini juga
mendorong juga terkait dengan
pembangunan, mendorong juga terkait
dengan potensi-potensi ee
karyawan-karyawan kita untuk bisa lebih
berinovasi dalam bekerja.
Kemudian yang
tujuh adalah tanggung jawab soal
instansi meminimalkan panik dan
kesalahan saat terjadi bencana. Jadi
urgensi ini menjadi ee kesiapsagaan ini
akan memberikan kita budaya bagaimana
kita bisa, "Oh, kalau ada kejadian
bencana jangan panik nih, gitu.
Kebiasaan-kebiasaan seperti itu harus
kita tumbuhkan." Kalau kita bicara
gempa, izin Mas, yang membunuh gempa itu
apanya, Mas?
Kalau Mas boleh tahu nih, gempa ini gak
membunuh loh. Gempa ini gak membunuh,
Mas.
Kira-kira apa yang membunuh?
Yang membunuh bangunannya, Mas. Ya. Jadi
kalau kita bicara gempa ini bukan
gempanya yang membunuh, tapi bangunan di
sekitar yang kita ini yang membunuh.
Jadi, bagaimana kita harus safety dari
bangunan-bangunan di sekitar itu juga ee
menjadi salah satu pemahaman kita
bersama. Next.
Nah, ini adalah dasar-dasar kesiapsagaan
bencana di tempat kerja. Nanti mungkin
dari Om Unggul bisa lebih menjelaskan
lagi ya, karena juga saya juga peserta
nanti juga menunggu arahan dari beliau
ini. Jadi ada ee dasar dari nasionalnya,
ada internasional. Kita ada
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
K3, kemudian ada Undang-Undang 24 Tahun
2007 tentang penanggulangan bencana. Ada
undang-undang 25 tahun 2009 tentang
pelayanan publik di mana kesiapsiagaan
bencana di instansi pemerintah harus
memperhatikan aspek pelayanan publik
yang terus berjalan meskipun dalam
kondisi daruratnya. Ini menjadi
prioritas. Kemudian ada Permenaker nomor
per4 tahun '87 tentang panitia pembina
K3 dan kemudian ada Perka BNPB nomor 7
tahun 2013 tentang pedum penanggulhan
bencana.
tentang untuk pengurangan resiko bencana
yang harus diterapkan di lingkungan
kerja. Kemudian ada yang terakhir untuk
nasional ada NSI nomor 8349
2017 tentang standar nasional Indonesia
tentang cara penyusunan rencana tanggap
darurat bencana di tempat kerja. Ada
juga internasional ini saya ambil cuman
dua ini mungkin nanti Om Unggul bisa
nambahi ya. Ada ISO 45001
2018 tentang manajemen sistem K3 juga.
Kemudian ada ISO 223019
tentang ee kelangsungan bisnis dan
pemulian pasca bencana untuk
meminimalkan gangguan operasional gitu.
Oke, next.
Ini jenis ancaman di tempat kerja
bencana alam tadi. Kalau di Jawa Timur
ada 14 ancaman tadi yang saya sampaikan.
ee Bapak Ibu tolong lebih
inten ya, lebih sadar untuk
ancaman-ancaman tersebut.
Semoga nanti nanti bisa mendorong kita
untuk bisa lebih aman di diri sendiri
dan keluarga. Ada bencana alam, kemudian
ada bencana non alam. Nah, keseringannya
ini bencana non alam kalau di lingkungan
tempat kerja kita yang khususnya di
daerah perkotaan ya. ada kebakaran
gedung, kecelakaan kerja, kebocoran gas,
gangguan listrik, sistem IT, dan ledakan
bahan kimia. Ya, ini ee tugas-tugas baru
di BBD juga terkait dengan ee
bencana non alam, limbah atau ledakan
bahan kimia. Ini yang juga Undang-Undang
Baru ini juga ee sedikit ee menekan kita
untuk ikut di dalamnya. Walaupun secara
ininya teman-teman KLHK yang menjadi
koordinator langsung dari bencana non
alam bahan kimia. Kemudian bencana
sosial, kerusuhan, sabotase, ancaman
keamanan.
Nah, ini bencana sosial yang sudah yang
sedang terjadi hari beberapa hari ini.
Ee namun kita kami belum bisa menyebut
bencana ya karena belum ada penetapan
status ee Mas Moderator dan penetapan
status pun itu juga membutuhkan
pertimbangan-pertimbangan.
Tapi paling tidak kalau kita bicara
kerusuhan ini menjadi
sesuatu yang benar-benar ada di tempat
kita. Dan ee kita tahu bersama beberapa
wilayah kota kemarin juga mengalami
kerusakan parah ee sarana sarana
prasarana dan ini juga menjadi tanggung
jawab kita bersama untuk bisa
menangani ini secepat mungkin gitu ya.
kesiap-siapan di lingkungan kerja.
Teman-teman kami juga safety untuk dalam
kerusuhan ini juga menjadi ee prioritas
juga menjadi ee ancaman juga kepada
kawan-kawan kita yang bekerja langsung
di ee lapangan gitu.
Malam tanggal malam minggu kemarin malam
minggu yang benar-benar
merah Mas Der ya. banyak api yang
bertebaran di mana-mana itu. J
kawan-kawan kita juga tidak sempat
mendekat walaupun ee dibutuhkan segera
mungkin untuk pemadaman-pemadaman di
kemarin yang di gedung Negara Gerati
akhirnya ee untuk keselamatan juga tim
kita
menarik diri untuk bisa ya kita mau
tidak mau kita korbankan untuk aset kita
karena yang menjadi prioritas utama
adalah keselamatan gitu. Oke, next.
Kemudian bagaimana strategi kita ee para
ASN khususnya dalam meningkatkan
kesiapsiagaan di tempat kerja. Ada lima
yang kami
kembangkan ya atau kami
sampaikan kepada rekan-rekan semua. Yang
pertama adalah perencanaan.
Ini ini
menjadi desain dari lingkungan kerja
Bapak Ibu semua, dari kita semua
khususnya identifikasi risiko dan peta
evakuasi lingkungan. Bu Kabit di sini
ada petanya kira-kira ruangannya kita
mau lari ke mana ini? Nanti peta
evakuasinya belum ada,
petunjuknya sudah ada. Ee
titik kumpul ada petanya kita sudah
lihat ini enggak tanda keluarnya gak.
Di mana dari Miss Miss Rari Trenggelek
sudah lihat tanda keluarnya kira-kira?
Belum. Belum. Iya. Kalau kalau orang apa
menun kalau pegawai sini mungkin sudah
tahu ya udah sudah menjadi kebiasaan
tapi kalau kawan-kawan kita tamu-tamu
belum tahu secara realil berarti ini
perlu banyak sekali tanda-tanda untuk ee
evakuasinya. Nah ini tanda no
smokingannya ada, Mas. sini karena saya
gak beli smoking ini. Tapi yang paling
paling pasti yang paling penting malah
tanda evakuasinya malah gak ada. Jadi
nanti kita coba untuk ee bisa lebih
apalagi Bu Kabit ini ada ee purna eh
purna ada ahlinya BBD ya dari Kota
Probolinggo. Jadi harus bisa ini
gedungnya harus bisa lebih bagus nih
dari BBD Jatim gitu. Oke. Kemudian yang
kedua adalah penunjukan ee
erd ya e atau
emergency respon tim atau tim tangkap
daruratnya, Firewarden-nya, TRC
internalnya. Apakah ada K3 di BPSDM-nya?
Ada yang bertugas atau belum, bagaimana
K3 di sini berjalan APnya sudah terisi
belum nih? Gitu ya.
sudah dicek tiap berapa bulan sekali
gitu. Ini juga perlu untuk kita
laksanakan di perencanaannya. Kemudian
menyusun rencana kontingjensi kantor.
Rencana kontinjensi ini adalah desain
plan-nya bagaimana kita harus evakuasi
pada saat kejadian darurat. lewat mana,
harus ke mana, evakuasinya di mana, ee
penanganannya seperti apa,
pengungsiannya di mana, safety-nya di
mana. Ini juga harus harus menjadi ee
poin teman-teman dari semua OPD untuk
bisa membuat kontensi yang lebih bagus.
Kemudian SOP evakuasi dan pertolongan
pertama. Ada SOP-nya gak di sini?
Evakuasi kira-kira belum. Kalau belum
nanti harus buat. Tidak hanya untuk
meningkatkan teman-teman di OPD lain,
BPSDM juga harus menjadi salah satu
tempat yang aman ketika kita
melaksanakan pelatihan
baik di semua subjek atau ee semua tema
kita harus tamu-tamu di sini penting
soal semua soalnya, Mas. Jadi ada dari
kabupaten kota, ada dari luar provinsi
ya, ada mungkin dari mahasiswa
internasional ya. Jadi, bagaimana kita
harus bisa menyediakan atau menyampaikan
bangunan yang benar-benar aman untuk
para tamu yang ada di BPSDM. Kemudian
yang kedua adalah peningkatan kapasitas,
sosialisasi rutin, safety briefing. Ini
tadi juga gak ada safety briefing-nya
ya, Mbak ya?
Oh, tapi ditayangkan.
Oh, belum ditayangkan.
Ini kebiasaan rutin budaya kerjanya juga
harus kita walaupun mungkin cuman 1
menit harusnya ditayangkan. Nah, gitu.
Oh, iya.
Oke. Kalau gak dikoreksi saya yang nanti
dikoreksi. Oke. Kemudian pelatihan
simulasi evakuasi.
Ah, sudah ada pelatihannya belum nih?
Ini mungkin dari biasanya dari
sekretariat ada simulasi. Sudah pernah
lakukan simulasi di sini
berapa tahun sekali?
5 tahun sekali. Nah, minimal standarnya
adalah 6 bulan sekali kita melaksanakan
simulasi, kita membuat SOP, ya. Kemudian
yang terakhir, pelatihan P3 AP dan
sistem proteksi kebekatan. Ada kotak P3K
gak di sini? Di mana, Pak?
Di ruangan. Oke. Ada AP enggak, Pak?
Di mana ada isinya?
Ya,
keren. Oke. Mana? Mana? Oh, iya. Jangan,
jangan disembunyikan, Mas. Nah.
Iya, iya, iya. Oke, oke, oke.
Pelatihan-pelatihan ini juga ee perlu
ya, ini juga menjadi salah satu apa
namanya? peluang juga dari kawan-kawan
BPSDM untuk di kami ya. Karena secara
wajibnya pelatihan untuk ASN itu ada di
BPSDM. kami tidak bisa melaksanakan
sendiri pelatihan-pelatihan di OPD
masing-masing dan terkadang informasi
pelatihan di BPSDM itu hanya tertentu
saja. ini ya. Janganlah Bu. Kami BBD
Jatim juga jarang sekali dilatih nih
sama Bu Kabit ini. Jadi perlu
pelatihan-pelatihan yang apalagi dengan
Mas Unggul ini perlu difasilitasilah
kami itu yang ee bisa di ee apa
fasilitasi untuk bisa diberikan
pelatihan-pelatihan khususnya untuk
profesi-profesi yang bisa me-backup dan
membantu kawan-kawan. Ya, tadi ada ini
Mas, ada Mas Penta ada kabar baik kita
nanti akan di-support sama Om Unggul
nanti. Oke. Tadi sudah bicara di
belakang tadi. Alhamdulillah. Untuk
kabupaten kota yang lain di Jawa Timur,
BPD nanti kita juga akan sinergi dengan
ee Om Unggul sebagai ketua ya, ketua K3
dan mungkin dengan teman-teman lain TRC
dari Dinkes ada Mas Didi tadi yang
sangat mana Mas Didik nanti.
Nah.
untuk bisa kita support nanti kita kita
berbarengan tim lapangan untuk bisa
meningkatkan kapasitas-kapasitas kita di
ini. Tapi sekali lagi Bapak Ibu sekalian
sebenarnya banyak sekali
karyawan-karyawati di kita itu yang
peduli dan sadar Mas terkait dengan K3.
Tapi terkadang, mohon maaf ini pimpinan
kita yang kurang sadar, pimpinan kita
yang kurang support. Nah, ini mungkin
saran tugasnya Pak Kepala BPSDM juga
untuk melantih pimpinan-pimpinan itu
biar sadar gitu. Baik support dari
sarana parasarana, baik dari
pelatihannya, baik dari anggarannya,
kebijakan juga paling tidak kebijakanlah
ya. Ini saya senang sekali Pak Kaban ini
support dengan kebencanaan ini. Apalagi
kemarin juga bagaimana banyak yang
diceritakan, banyak yang ditanya sampai
kita gak bisa jawab. Mas itu. Kemudian
yang ketiga, sarana prasarana. Sekali
lagi peta jalur evakuasi di setiap
lantai harusnya ada. Ini kesiapsagaan
kita, upaya kesiapsagaan kita. Ini yang
ada cuman di jalur evakuasi dari tangga.
Yaah, itu doang yang saya lihat ya.
Kemudian
tersedia apar dan hidran. Aparnya ada
hidrannya ada, Mbak Bu Kabit. Ada hidran
di luar.
Ada airnya
masal ada.
Oke, ada tim khusus. Oke, kemudian ada
kota P3K dan perlengkapan darurat area
kumpul. Saya yakin kalau area kumpul
pasti ada assemble poinnya. Kemudian
yang keempat adalah sistem peringatan
dini. Alarm kebakaran gempa. Ada
alarm kebakaran ada. PBSDM enggak ada
masih perlu diadakan.
Ada. Oh, deteksinya ini ya fringle-nya
ya. Oke. Yang yang nekan siapa? atau
otomatis? Ini
otomatis.
Otomatis. Oke. Alhamdulillah. Kemudian
sistem komunikasi daruratnya. Kalau
komunikasi darurat di luar HP ada
HT.
Oh, di jaringan. Nah, kalau kebakaran
mati gimana, Mas?
Hati. Oke. Sip sip. Masuk. Pokoknya
nanti ini beliau harus jadi pembina ini
di sini. Kemudian informasi cepat ke
BBD, Damkard, dan instansi lainnya. Nah,
ee ini nomor teleponnya harus ready nih,
Mas, kepada BWBD atau DAMKAR di sekitar.
Damkar terdekat ini di mana ini? Di sini
ya, Surabaya ee Subaya Barat ya, Tandis
ada. Kemudian yang strategi kita yang
terakhir yang kelima adalah melanjutkan
layanan publik atau responnya
melanjutkan layanan publik dengan sistem
kerja darurat bila perlu. Caranya apa?
Bisa work from home ya, bisa backup
servernya. Kalau kita terkendala di atau
ada bencana yang terkait untuk IT, ada
hacker-hacker, nah ini backup-backup ini
juga itu juga suatu bencana itu, Mas.
Juga kesiap-siagaan kita nih di tempat
kerja ya. Kalau semua data-data kita
rusak, hancur, wah bahaya juga. Kemudian
backup server dan lain-lain. Yang kedua
adalah melakukan evaluasi setelah
kejadian untuk memperbaiki SOP. Jadi,
SOP awal kita tentunya itu menjadi ee
modal ya, menjadi poin yang pertama.
Tapi ketika terjadi kebencanaan beberapa
bulan yang lalu atau tahun kalau enggak
salah di sini juga kena angin puting
beliung, Bang. BBSDM, Bang. Nah, itu
juga melapornya ke kami, berkulesnya
juga ke BBD Jatim. Alhamdulillah sudah
ditangani nggih, Bu Susi. Alhamdulillah.
Ya, jadi ee backup ini juga menjadi
suatu hal yang ee harus komunikasi yang
bagus dengan seluruh stakeholder. Oke,
next.
Nah, ini budaya kesiapsikan dilingkungan
SN yang empat poin ini yang
seharusnya menjadi budaya kita. Ini
cukup untuk kita mendorong bagaimana
kita bisa safety di lingkungan kerja.
Yang pertama simulasi evakuasi. dua kali
setahun.
Tolong ini ee semua OPD, teman-teman
kabupaten kota, BBD kabupaten kota harus
menjadi contoh ya untuk bisa
melaksanakan atau budaya kerja yang
evakuasi minimal dua kali dalam setahun.
Ini kami harapkan bisa dilaksanakan dan
mendorong OPD-UPD yang lain untuk
melaksanakan ini semua. Kemudian yang
kedua adalah mengintegrasikan materi
kebencanaan dalam pelatihan ASN. Jadi
tidak hanya BPSDM saja yang memberikan
materi-materi safety briefing ini juga
salah satu materi. Jadi kita ee saya
mohon untuk kawan-kawan OPD juga bisa
melaksanakan safety breathing briefing
sebelum ada kegiatan-kegiatan yang
melibatkan banyak orang di sana. Atau
paling tidak buat brosur lah. Buat
brosur di setiap lantai kayak di
hotel-hotel itu loh, Mas ya. itu kan ada
biasanya ada brosur-brosur untuk
keselamatan dan segala dan ee kita
berada di titik mana, arah barat ke
mana, arah timur ke mana, gitu. Yang
ketiga, membentuk satgas kesiapsiagaan
ASSN ya eh apa emergency respon tim-nya
dibentuk kemudian mendorong ASN menjadi
teladan dalam kesiapsiagaan di
masyarakat.
Jadi ketika masyarakat tanya terkait
dengan ee kebencanaan atau di lingkungan
kerja jangan serta oh enggak tahu Bu
bagaimana ini. Nah ini kami harap ini
bisa menjadi ee pembelajaran buat kita
semua sehingga para ASN di khususnya di
Jawa Timur itu juga menjadi agen
kebencanaan. Agen perubahan kebencanaan.
Bagaimana mereka bisa men-support
mendorong masyarakat itu juga sadar
bencana.
Kadang ini kami di BPT Jatim ini sudah
sudah
putus harapan kadang ya kita sudah
banyak melaksanakan sosialisasi kepada
gen milenial ya 70 atau 80 ke belakang
tapi susahnya bukan main untuk bisa
menerima ee apa namanya
kegiatan sadar bencana. Jadi mulai dari
itu pengalaman itu kadang kita
men-supportnya kepada gen-gen awal,
gen-gen baru, gen-gen Z, gen-gen AC dan
sebagainya. Jadi fokusnya malah kepada
anak-anak. Bagaimana kita investasi ke
dalam investasi ke mereka untuk bisa
nantinya mereka akan menjadi salah satu
agen-agen kebencanaan.
Karena kalau yang yang tua-tua ini sudah
susah sekali dikatakan ya, diajarkan di
ini kita lebih fokusnya ke ee anak-anak
untuk bisa lebih menjadi agen-agen yang
ee nanti bisa memungkinkan kita
mendorong di kebencanaan. Oke, next.
Nah, ini beberapa implementasi
kesiapsikan di tempat kerja. Epeta
evakuasi dan jalur keluar ditempel di
setiap lantai, alarm kebakaran, smoke
detektor diuji rutin tiap bulan. Latihan
evakuasi kebakaran DMRT memakai rompi
khusus atau sudah dilatih tentang
pertolongan pertama dan pemadaman.
Kemudian ceklis tanggap darurat harus
tersedia setiap ruangan. Ini beberapa
implementasi yang mungkin nanti bisa di
apa ee diakomodir oleh Bapak Ibu semua.
Next.
Nah, ini penutup. Kami sudah penutup.
Bencana bisa terjadi kapan saja dan
diaran saja di tempat kerja. Kebencanaan
adalah tanggung jawab bersama tidak
hanya tanggung jawab BBD, tidak hanya
tanggung jawab DAMKAR. Karena di
undang-undang disebutkan lima
pentahik ya, lima pentaik yang terlibat
di dalam kebencanaan. Ada pemerintah,
ada masyarakat, ada dunia usaha, dunia
ee dunia usaha, ada media, dan yang
terakhir adalah akadem akademisi. Jadi
semua ini terlibat di dalam kebencanaan.
Kemudian yang ketiga, ASN diharapkan
menjadi penggerak ketangguhan
masyarakat.
Bencana ini harus tangguh kita. Kita
menyiapkan ee orang-orang atau
personil-personil yang tangguh terhadap
bencana. Paling tidak kompetensi dasar
semuanya bisa ee diterima atau menerima
semua kompetensi dasar terkait
kebencanaan. Dan yang terakhir dengan
persiapan yang baik dampak bencana pasti
dapat diminimalkan ya. sarpras.
Kemudian pelatihan-pelatihan
harus bertahap kita berupaya untuk
mengoptimalkan, men-support semua agar
dampak-dampak resiko-resiko yang nanti
terjadi kebencanaan bisa lebih ee kecil
atau berkurang.
Saya rasa itu Bapak Ibu sekalian. Salam
tangguh. Selamat di tempat kerja,
selamat untuk keluarga. Siap sikap
selamat. Kurang lebihnya kami mohon
maaf. Mohon maaf. Billahi taufik
walhidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Luar biasa. Tepuk tangan
untuk Bapak Satrio Nurseno. Bapak, Ibu
sekalian yang saya hormati, mohon
ditahan dulu untuk respon pertanyaannya.
Karena jangankan panjenengan, saya aja
nyatat ada tujuh pertanyaan ini. Jadi
nanti kalau Bapak Ibu tanya biar kami
yang borong, Pak. Ya.
Ya, selamat datang di forum ini kepada
saudara-saudara kami para
kepala pelaksana BBD Kabupaten Kota yang
bisa rawuh hadir secara pribadi di BPSDM
juga teman-teman Kalak maupun juga
teman-teman BBD yang belum bisa hadir
walaupun sudah mengisi link tapi karena
kondisi saat ini sehingga teman-teman
harus stay di
kabupaten. dan kotanya
dan mengikuti kegiatan ini melalui
daring. Bapak, Ibu sekalian yang saya
hormati. Selanjutnya biar nyambung, tapi
sebelum nyambung Pak, ini tadi saya
lihat materinya luar biasa dari Bapak
Satrio karena nanti tugas kami ini juga
selaku penyambung lidah informasi izin
saya kopas ya materinya ya. Izin saya
kopas. Barangkali nanti juga kita bisa
diskusi lagi gimana mengembangkan dan
satu bocoran Pak Satrio terkait dengan
pelatihan Damkar insyaallah
ya walaupun kami bukan pengambil
kebijakan tetapi bocoran sudah dapat
bahwa di BBPBSDM nanti akan diadakan
pelatihan khususnya pemadam kebakaran
juga pelatihan-pelatihan terkait dengan
kebencanaan ngih
ee untuk pemateri yang kedua Bapak
Unggul Wahyudono
yang tentunya materinya akan luar biasa
lagi dan izin nanti juga akan kami copy
paste, Pak. Kami akan teruskan.
Ee waktu dan tempat kami aturkan.
Baik, terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Mohon izin, Pak Satrio dan Pak Sukito
dan terima kasih kepada Ibu Kabit yang
sudah ee memberikan kesempatan kepada
saya untuk tampil di forum ini yang
sangat terhormat dan saya agak surprise
karena banyak sekali senior-senior dari
Widya Iswara yang hadir.
Saya hanya trainer, Pak, bukan pengajar,
Pak. Jadi saya juga ingin sharing di
sini bagaimana kami dari masyarakat ee
pengelola gedung menangani aspek ee
penanggulangan kebencanaan.
Seperti yang tadi disampaikan oleh Ibu
Kabit bahwa K3 itu bukan pilihan ya, Bu
ya. Jadi harus mau enggak mau dan itu
tidak hanya berlaku di tempat kerja saja
Pak, tapi juga di rumah. Karena apa?
punya kita kerjakan di rumah nanti akan
berdampak ke tempat kerja. Dan tadi
sudah banyak disinggung oleh Pak Satrio
tentang aspek disaster, Pak. Nah,
disaster ini ee kami kategorikan dua
bahwa ini adalah natural yang tidak bisa
dicegah. Mau tidak mau kita hidup di
lingkungan ring of fire, Pak. Jadi
negara kita sangat kaya raya, cantik,
gemah rifah loh cinawi. Tapi di dalamnya
juga punya gunung berapi yang sangat
banyak dan itu potensi tersendiri
terkait dengan alam. Nah, karena tadi
sudah diulas oleh Pak Satrio banyak
sekali tentang natural disaster, saya
akan mencoba kepada bencana yang
disebabkan oleh kita sendiri.
Kenapa ini menjadi penting? Karena
beberapa kasus hukum yang terjadi
beberapa tahun lalu bahwa faktor
keteledoran kemudian faktor
ketidakpedulian
itu sama saja mengarah kepada niat
jahat, Pak. Jadi bagaimanapun juga kita
sebagai penyedia fasilitas
apapun ceritanya bahwa bangunan atau
fasil pemerintah itu adalah public
domain. Jadi bukan hanya masalah
karyawan pemerintah yang harus diberikan
sebuah perhatian, tapi kepada siapapun
yang hadir kepada fasilitas pemerintah
itu harus diberikan perhatian terkait
dengan keselamatan. Next.
Tadi sudah disampaikan oleh Pak Gito
bahwa saya masih ee bekerja di sebuah
perusahaan yang juga mengelola bangunan
aset budaya. Nah, ini sebenarnya saya
kepengin ke Jawa Timur tadinya kalau
boleh diizinkan jam .00 siang saya ingin
ke gedung Grahai, Pak.
Boleh.
Tapi sudah enggak ada kayaknya ya, Pak.
Nah, saya pengin foto. Belum sempat,
Pak.
Masih ada
itu. Saya senang banget kalau
gedung-gedung heritage bisa dijaga.
bangsa yang besar itu adalah bangsa yang
mengetahui tentang sejarahnya nih. Nah,
ini
ini ternyata kita tidak tahu kenapa
sampai itu menjadi sasaran. Saya tadi
disampaikan oleh Bapak saya ke
Singapura, ke Malaysia itu lihat
ruko-ruko tua saja dipelihara, Pak. Ruko
tua. Bapak silakan ke Bugis, ke China
atau semua ruko-ruko tua dan bahkan
dijadikan hotel dan yang penggunanya
orang-orang kita juga, Pak. Lah kita di
sini malah dimusnahkan.
Oke, next.
Next saja. Ini saya akan cepat bahwa
sebenarnya yang menjadi konteks kami
dalam implementasi K3 ini ee cukup rumit
karena begitu banyaknya undang-undang
dan peraturan.
Kami dari masyarakat ee pengelola gedung
saja kadang-kadang
sangat dipusingkan dengan
implementasinya.
Contoh dari undang-undang saja kami
harus memahami Undang-Undang 28 tahun
2002, undang-undang 170, undang-undang 2
tahun 2017 tentang jasa konstruksi dan
sebagaimana. Tadi sudah disebutkan oleh
Pak Satrio lah. Justru kesulitan kami
adalah bagaimana mengintegrasikan
seluruh peraturan ini. Karena apa? ada
sebuah undang-undang yang lahir tahun
ee nomor 28 tentang bangunan gedung itu
sanksinya luar biasa kepada si
penanggung jawab gedung. Nah, saya tidak
tahu bagaimana di sisi pemerintah karena
kami menyatakan diri adalah public
domain di Undang-Undang 28 itu jika
terjadi sebuah kecelakaan kerja yang
menimpa kepada penghuni atau pengelola
ataupun kepada pengunjung
itu sanksinya sudah bicara di situ bukan
lagi rupiah tapi persen dari nilai
bangunan dan nilainya sampai dengan 5%.
lah kalau nilai bangunan kami yang kami
kelola misalnya 50 lantai, bisa
dibayangkan bagaimana reaksi si korban
kepada kami. Itulah tekanan-tekanan
moral yang paling berat yang kami terima
sebagai badan pengelola. Karena kami
harus memastikan seluruh aspek
operasional gedung ini menjaga sisi
keselamatan.
Bagaimana tidak akan tidak memusikan
kami eskalator yang memeriksa siapa?
Kemudian kalau ada insiden eskalator
sampai orang apa terjepit atau sesuatu,
kami panggil BPBD suruh datang. Padahal
beliau enggak pernah meriksa.
Kemudian siapa yang memberikan izin
operasional ini tumpang tindi semuanya.
Itu yang bikin kami mencoba membuat
sebuah forum komunikasi di Jakarta agar
ini terintegrasi.
Jangan semua ditimpakan kepada kami yang
satu persatu dinas itu beda-beda. Apa
kebakaran meriksa sistem proteksi,
Disnaker meriksa sistem transportasi,
Citata atau B atau apa PU meriksa
gedungnya dan sebagainya. Ini bagaimana
semuanya punya inspektur kami harus
melayani satu persatu. Nah, ini yang
mencoba apakah mungkin di Jatim meskipun
kita dalam wilayah yang sama paling
tidak disimplify bahwa orang-orang yang
terlibat itu mengetahui satu sama lain
perannya. Ini yang kami hadapi secara
real di lapangan. Next.
Nah, ini dari Undang-Undang 45-nya sudah
diminta bahwa kami harus
memberikan
penghidupan sebagai sebagai negara harus
memberikan penghidupan yang lain pada
masyarakatnya. Nah, di Undang-Undang 13
tentang keterg muncul 170 pun sudah.
Tapi dari sini semua tadi disampaikan
kepedulian tentang masalah K3 tapi
sekali lagi tidak menekankan kepada
fasilitas publik yang harus disediakan.
Siapa itu yang mengontrol? Siapa itu
memastikan bahwa fasilitas tersebut aman
bagi publik?
Ini pertanyaan besar sekali, Pak. Next.
Nah, norma silakan dibaca bahwa kenapa
kita pakai kata-kata norma? Karena saya
sudah kami dari masyarakat sudah jarang
sekali menggunakan kata-kata peraturan.
Kami lebih ee lebih mengedemankan
kata-kata norma, standar, pedoman, dan
kriteria.
Standarnya seperti apa? Tadi dibilang
APAR paling gampang tadi saya akan ambil
spot-spot aja biar langsung nyambung.
Kenapa APAR saya masukkan kemari? Coba
diperiksa sekarang ini APAR sudah ada
SNI-nya, Pak. SNI wajib bagi siapa? bagi
produsen dan supplier. Apakah di dalam
APAR itu ambil saja deh kemari, apakah
sudah ada rating daya padamnya? Kalau
belum, pertanyaannya haruskah ini
dibiarkan atau mau dimulai kapan Jatim
untuk mulai menginisiasi bahwa semua
supplier-suplier ini mematuhi standar
yang berlaku. Kenapa
beda-beda, Pak? sama-sama katanya kelas
ABC, tapi ratingnya bisa berbeda.
Meskipun
bahan pemadam sama, tipe pemadam sama,
rating daya padamnya berbeda. Kenapa?
Bahan kimianya berbeda, Pak. Jangan
tergoda karena murah.
Ini yang sering menjadi komparasi di
tingkat pembelian atau pengadaan itu
menjadi daya tarik tersendiri. Ini lebih
murah daripada yang itu. Karena apa?
speknya berbeda.
Ini yang perlu diketengahkan.
Kenapa sangat diperlukan pemahaman itu?
Karena rating daya padam itulah yang
menentukan pada saat kita aplikasi
sesuai apa tidak. Tadi disebutkan sama
Pak Satrio bahwa gedung operasional
pemerintah ini mengalami kemajuan. Ada
AI segala macam bahkan di dimungkinkan
untuk paperless ya.
dengan paperless ini sesuatu yang sangat
bagus dicapai tapi ada nilai negatifnya
yang kita tidak tidak bisa tinggalkan
dengan paperless artinya kita bergantung
dengan komputer. Dengan komputer kita
bergantung dengan sistem patok-pasokan
sumber daya. Nah, daripada kita
berisiko, kita belilah apa yang namanya
UPS baterai.
Ingat dengan pemasangan kayak saya
sendiri mengelola gedung sedemikian
besarnya.
Hampir semua lantai ada server. Hampir
semua meja itu ada baterai. Begitu
baterai naik ada potensi
terhadap apa? Gangguan harmonik kepada
listrik. Gangguan harmonik kepada
listrik harus ada filter harmonik di
sisi panel. Begitu dibutuhkan filter
harmonik tidak terpasang, tidak
termaintain dengan baik, dampaknya apa
kepada instalasi itu bisa berisiko
kepada gedung secara keseluruhan. Nah,
perkembangan-perkembangan teknologi
seperti ini sebaiknya juga di-share.
Karena apa? Sekali lagi saya bilang tadi
kalau bicara natural disaster,
peluang kita adalah memitigasi. Jangan
sampai dampaknya besar.
Tapi kalau dari sisi yang non disaster
adalah mencegah bagaimana itu tidak
terjadi
meskipun 0,01%
tapi kalau kejadian
dampaknya sangat besar. Ada empat
kriteria tujuan utama yang harus kita.
Satu mengenai life safety
itu sudah enggak bisa ditawar. Kedua,
property protection atau proteksi
terhadap properti. ketiga, kelangsungan
usaha atau kelangsungan kegiatan.
Keempat, kadang-kadang lingkungan di
dikesampingkan paling terakhir. Nah,
kita jujur dalam hati
bagaimana penerapan prioritas ini.
Apakah benar nih life safety nomor satu
ataukah propertinya?
Kalau benar memang life safety nomor
satu tadi pertanyaan Pak Satrio saya
teruskan. Kenapa tidak dipenuhi dulu
aspek keselamatan seperti signatage,
seperti penyediaan fasilitas untuk
contoh paling gampang karena ini mungkin
gedungnya kecil enggak begitu masalah ya
karena gedung-gedung besar si pengelola
pun harus tahu Bapak dan Ibu sekalian
mohon maaf nih berapa jumlah ibu-ibu
yang dalam kondisi hamil pada waktu itu.
Bukan berarti kita tanya ibu lagi hamil
ya kan enggak mungkin.
Tapi paling enggak kita tahu kenapa in
case of ada apa-apa
ini orang-orang ini mau dibawa ke mana?
Taruh ke atas 10 lantai aja. Kalau
terjadi kebakaran
orang yang hamil ini suruh ngapain, Pak?
Kira-kira
itu urusan damkar. Suruh gendong kalau
satu, kalau dua 10 lantai. Berapa
petugasnya Pak Satrio bisa mampu
menggendong orang itu dari lantai 10 ke
lantai dasar?
Nah, ini seperti apa treatmentnya? Itu
bisa muncul dalam kebijakan bahwa orang
hamil, orang dalam kondisi disability
atau diable dilarikan ke mana,
diandbykan di mana? Karena enggak
mungkin pokoknya lari tangga darurat.
Kita enggak mau tahu, enggak bisa, Pak.
Nah, ini yang gedung ini harus
benar-benar bijaksana
dan memberikan fasilitas yang memadai
bagi orang-orang yang dalam kondisi
terbatas. Next.
Norma ini adalah dipakai di seluruh
instrumen baik untuk karyawan,
pengelola, penguning, pengusuk maupun
masyarakat yang hadir kepada bangunan
atau area yang disebut public domain.
Bukannya bangunan, bukannya gedung
pemerintah ya. Fasilitas-fasilitas umum
seperti taman, masjid dan sebagainya itu
perlu
diperhatikan. Berikutnya next.
Nah,
sasaran dalam membangun ini adalah
menjamin keselamatan seluruh yang
berkepentingan atau yang hadir ke dalam
gedung itu terselamatkan.
Menjamin penggunaan peralatan yang aman
dioperasikan dan menjamin proses
kegiatan berjalan sesuai dengan
fungsinya. ini kadang-kadang kita enggak
tahu ruang tunggu misalnya
apakah kapasitas itu diperhatikan
apakah fasilitasnya itu dimungkinkan
kenapa kalau dari sisi regulasi gedung
itu punya kapasitas misalnya ini mau
dipakai ruang sebagai assembly hall atau
assembly point ini kan sekarang meskipun
lobi gampang karena ini landai dasar
digunakan apa aja bisa tapi andai kata
ini ada di lantai 3 apakah dimungkinkan
kita berkumpul di area ini dengan
fasilitas yang adanya seperti ini. Nah,
ini silakan dikaji ulang dengan
regulasi-regulasi yang ada. Menarik
tampilan ee meeting kali ini, Pak, dalam
ruang lobi yang seru, enggak usah
formal-formal banget. Saya juga ini tadi
Bapak Koni keringetan, saya juga
keringetan nih. Ngadapin Widya Iswara,
Pak.
Next,
next saja ini di saya cepat. Nah,
pentingnya penerapan ini kita melihat
ada dari sisi alasan yang sangat
konservatif masih zaman dulu ada juga
yang masih moderat. Nah, di sisi moderat
ini saya akan melari lari kepada poin
yang ee kedua baris kedua yaitu
mengurangi kerugian Pak.
Bagaimana
yang tadi saya bilang 99% bisa kita
cegah, tapi yang kalau 0,01-nya lolos,
siapa yang bisa ngomong? Kebetulan di
sini enggak ada lif ya, Pak ya? Enggak
ada.
Kalau ada lift bagaimana cara
maintenance-nya? Siapa yang bertanggung
jawab? PJK3, Pak, bisa meriksa? Betul.
PJK3 yang meriksa dan memberikan surat
keterangan di bawah lisensi dari
Kementerian atau Dinas Tenaga Kerja.
Tapi kalau ada apa-apa, apakah PJK3
bertanggung jawab? Tidak.
Siapa yang nangani? Ya, Pak Satrio lah.
Panggil aja, Pak Satrio. Nih orang
ngejebak gimana caranya? Bapak yang
mikir kan repot meriksa enggak tapi
begitu masalah suruh ke sini. Pak Kito
pastiang Pak Pak Sugit pasti manggilnya
beliau kan.
Oh siap.
Bukan manggil ini PJK3 yang meriksa
siapa kemarin kan? Enggak.
Terus yang kedua persyaratan karena kita
menjadi kota negara yang sudah mendunia
nih. Siapa yang enggak tahu Surabaya?
Semua orang juga kepengin investasi di
sini kan. Jawa Timur dengan skala
industri yang luar biasa. Kenapa tidak
dikembangkan? Itu menjadi sebuah area
global. Terus kalau sudah dikembangkan
ini tentunya kita ingin bahwa semua
tempat kerja itu adalah produktif, tidak
ada gangguan.
terutama yang main-main disaster tadi.
Kalau natural saya kembalikan mitigasi
aja karena itu ee dari alam. Tapi bukan
berarti kita pasrah bongkokan, Pak.
Pokoknya apa ya terima ajaalah nasib.
Bukan begitu. Next.
Nah, saat ini yang menjadi implementasi
K3 itu catatannya adalah rendah dan
pemeriksaannya juga tidak sesuai dengan
apa yang diminta oleh regulasi. Kemudian
pengawasannya juga, Pak seperti apa sih?
Dan objek pengawasan K3 itu
sangat-sangat kompleks.
Dari mulai pagar saja sudah termasuk.
Nanti ada di belakang banyak
contoh-contoh bagaimana proyek-proyek di
pinggir jalan itu apakah memenuhi aspek.
Minimal kita menghargai keberadaan
manusia yang melewati area itu. Tandanya
jelas, rambunya penerangannya jelas,
pemagarannya rapi. Kadang-kadang jalan
lubang boro-boro dikasih pagar, Pak.
Cukup kasih tebangan pohon pisang, taruh
situ.
Dalam tanda kutip kan kata-katanya emang
mata lu enggak ngelihat gitu kan. kasar
sekali seperti itu. Ap. Tapi ini sering
terjadi
bahwa kondisi pelayanan atau fasilitas
publik ini tidak manusiawi.
Next.
Nah, ini KTIK harus ada karena apa? Kita
hanya akan fokus bagaimana mencegah.
Kalau sudah kejadian ya paling
diminimalisir dampaknya. Tapi siapa yang
mau menjadi korban
atas penyimpangan dari implementasi
sebuah aturan keselamatan kesehatan
kerja? Pasti tidak ada yang mau. Kenapa
tidak ada mau menjadi korban? Kalau
menjadi korban artinya akan terganggu
aktivitasnya. Next.
Ee nah ini saya tadi sampaikan
bahwa Undang-Undang 170 ini merupakan
usaha peningkatan keselamatan dan
kesehatan kerja lebih utama. Jadi
prevention more better than cure. Jadi
mencegah lebih baik daripada mengobati.
Tapi kadang-kadang orang
menjadikan ini sebagai hal biasa.
Yang salah sementara menjadi
semaun.
Ya, ini karena sudah biasa salah ya
sudahlah sama-sama ngerti kok.
Iya.
Next.
ini silakan dibaca aja mengenai regulasi
K3 karena itu mencegah dan sebagainya
ada dalam ee aturan. Next aja, Mbak.
Nah, apa yang menjadikan rugi kalau kita
enggak ikut? Next.
Ini
celakanya ini tidak dirasakan meskipun
dilanggar K3-nya. Nyaman-nyaman aja kok,
Bapak, kok Bapak ribut.
risiko insyaallah itu
sudah menjadi takdir
kan meskipun kerjanya enggak optimal ya
adanya begini jadi ini dianulir sendiri
oleh kita-kita sendiri juga bisa enggak
bahwa ketidaknyamanan ini karena K3 bisa
dikurangi
risiko kalau bisa ditekan seminimal
mungkin
risiko tempat kerja itu banyak. Mohon
maaf nih tempat kerja. Kalau saya di
gedung pemerintah, saya sering melihat
yang namanya kalau beda sama gedung
swasta ya, nanti ada gambarnya itu.
Kalau di gedung pemerintah itu
kolong-kolong banyak kertas.
Kalau di gedung swasta, Pak, cadangan
sepatu sama catokan banyak di situ, Pak.
Sama apa namanya? Catok kan ya.
Itu kalau pagi itu sudah kayak bau
setrikaan. Saya masuk kantor srak sret
srat sret gitu. Kalau saya sih enggak
mungkin dicatok ya.
Aman, Pak.
Aman.
[Tertawa]
Next.
Next saja.
Next saja. Ini peraturan semua. Tujuan
masih sudah saya sebutkan tadi. Next
saja. Nah, faktor bahaya nih. Saya
sebenarnya banyak sekali nih penyakit
akibat kerja dan penyakit akibat
hubungan kerja. halnya sepele-spele
semua. Enggak saya bawa yang berat-berat
ke industrial. Next.
Nah,
di sini saya ingin menyampaikan bahwa
kedua penyakitnya adalah sama sebenarnya
penyakit yang timbul di tempat kerja
itu. Kenapa? Karena kita membiasakan hal
yang salah dari hal sepele. Pemilihan
tempat duduk, pemilihan tempat kerja,
dan pemilihan cara bekerja.
Tempat duduk pun ada caranya, Pak.
Sekarang ini kan banyak keluhan-keluhan
terkait dengan apa yang di sini PNB itu
ee saraf kejepit. Nah, ngomongnya
begitulah paling gampang encok.
Kenapa?
Kebanyakan duduk
atau kebanyakan ngerumpi, Pak?
Ada dua nih
rumpinya, Pak.
Terus tambah ngopi enggak
berhenti-berhenti.
Istirahat jalan-jalan kalau mau cari
sebat. Sebat apa di sini, ya? Sebatang.
Sebatang.
Ya, saya enggak ngomong sebat. Artinya
sudah sama-sama tahu ya.
Siap.
Nah, ini yang akibatnya merugikan
sendiri. Aturan kita kerja pemerintah
sudah menyusun bahwa Bapak kalau saya
malah 55, Pak. Bapak kan 58 ya pensiun
yang strukna diharapkan pada saat
pensiun itu sehat, Pak. Menikmati hari
tua. Ini giliran pensiun giliran
sakitnya doang nih.
Eh, kita tinggal diomilin sama istri aja
di rumah, Pak, kalau sudah pensiun.
Kalau kita enggak jaga begini,
aturan kan kita jaga agar pada saat
nanti kita pensiun masih sehat.
Karena tadi saya bilang ini sementara
menjadi
tahun sudah kebiasaan enak entar gimana
kumaha engke kalau tadi kalau Ibu tadi
bilang dari mana ngariung tadi kan ini
kumaha engke kan Bu ya gimana entar ya.
Next.
Nah, ini yang penyakit yang timbul
akibat hubungan kerja banyak,
terutamanya kasus pandemi kemarin.
Kemudian ada juga yang nonpandemi
seperti itu, tapi menimbulkan
menimbulkan ketidaknyamanan tempat
kerja. Bicara keras, suka marah-marah,
itu juga menimbulkan ee efek psikologis
tersendiri di tempat kerja.
Kita sebagai bawahan ngelihat atasannya
jutek mul kan juga enek juga lama-lama,
Pak.
Bukan tempat Bapak saja, tempat saya
juga sama. Datang pagi-pagi sudah muka
sudah ditekuk. Kita mau nanya mau ngadep
gimana. Nah, tapi itu secara psikologis
menimbulkan
ketidaknyamanan tempat bekerja. Next.
Next aja nanti. Nah, ini fenomena ini
yang kadang-kadang kita tidak sadar.
Orang kecelakaan di tempat kita, sudah
bawa aja ke mana? Puskesmas atau panggil
Pak Satrio lah tangani biayanya kan
kecil paling cuma ditangani sebentar
jahit atau apa tapi yang tidak langsung
bahkan kadang-kadang mengganggu
investasi ini tidak terbaca Pak dan ini
banyak sekali
dan ini tidak pernah diconsider sebagai
sesuatu yang penting. Akhirnya apa? Kita
hanya bicara permukaannya aja.
Kapal Titanic tenggelam bukan karena 1
juta, Pak, tapi karena 30 juta di
bawahnya.
Bukan karena yang dihantem atasnya, tapi
karena yang dihantem bagian bawah.
Ini di sektor ee pengelolaan gedung
fasilitas publik sama enggak kelihatan.
Contoh
taman kota pakai puffing, puffingnya
nongol begini.
Biarin aja lah. Masa enggak lihat sih
puffing begitu? Masa enggak punya mata?
hal sepe. Tapi kalau orang sudah
kesandung
kena,
saya pernah mengalami, Pak. Bukan
kesalahan saya. Karena muda-mudi masuk
ee tempat ee shopping center itu dia
bawa gelas ee kopi yang ada gambar
rambut terurai itu bercanda-canda
tumpah.
Masa kita bilang, "Anda pengunjung
numpahin tolong dipel." Kan enggak
mungkin. Nah, kita yang ngepel. Kita
ngepel ada waktunya, Pak. 2 jam sekali
kita pel. Habis dipel ditumpahin nanti
balik lagi kan mungkin 1 seteng jam baru
balik orang kepeleset. Yang disalahkan
siapa?
Kita enggak bisa ngomong itu tadi tuh
pengunjungnya tuh ini ada videonya
enggak bisa. Tetap badan pengelola
bertanggung jawab.
Beruntunglah Bapak dan Ibu semua yang
ada di gedung pemerintah enggak pernah
mengalami mungkin kami mengalami
motor diparkir,
bensinnya tumpah
ada penyalaan.
Siapa yang kena? Kita. Termasuk sekarang
ini ada mobil listrik, Pak.
Sampai hari ini belum ada regulasi atau
standar teknis yang bisa menjelaskan
bagaimana menangani mobil itu kalau ada
apa-apa. ini sudah mulai bergerak. Coba
lihat aja ke parking area sudah berapa
banyak mobil listrik?
Nanti silakan tanya Pak Satrio,
bagaimana cara menanganinya kalau ada
apa-apa.
Buang.
Nah, itu buangnya gampang.
Kalau di parkiran yang luas. Kalau
parkirannya di structure struktur parkir
lantai 3, lantai 4, bagaimana
mengangkatnya?
Udah tenang aja pokoknya urusannya Pak
Satrio.
Nah, nanti kalau begitu, saya pernah
begitu, Pak. Bapak diskriminasi ini kan
harga program nasional
nanti.
Iya, betul.
Akhirnya kami juga kerepotan. Apakah
mendiskriminasikan pokoknya mobil
listrik parkirnya di sono enggak boleh
di sini? Enggak mungkin, Pak.
Dasarnya apa? Regulasinya belum ada.
Selalu bertentangan begitu di lapangan.
Next.
Nah, ini faktor-faktor fisiknya ada
psikologi, fisik, kimia, dan sebagainya.
Itu bisa dibaca nanti di sini yang
muncul seperti apa. Next.
Nah, cara mendeteksinya apa?
Nah, apakah ada kegiatan
pemeriksaan kesehatan nih? Seperti apa
pemeriksaan kesehatan dilakukan? Bukan
hanya masalah diperiksa tensi atau
diperiksa kolesterol gula darah, bukan.
Tapi bagaimana memaintain itu setelah
diperiksa?
Udah, Pak, hari Jumat kita senam gitu.
Apakah cukup dengan itu? Makkara
sekarang di Jakarta pun digalakkan. ASN
setiap hari Rabu gunakan fasilitas
transportasi umum. biar jalan.
Karena apa? Mungkin kurang jalan.
Salah satunya untuk mengurangi polusi
dan juga untuk menambah kegiatan fisik
di pagi hari.
Termasuk sekarang ini mulai bergeser
bagaimana lingkungan kerja itu dimonitor
juga.
Hindari lingkungan kerja yang
bertumbuk-tumuk barang secara kumu.
Dokumen-dokumen yang sudah
bertahun-tahun. bagaimana cara
demolisnya atau cara arsip-arisnya
seperti apa. Kan kadang-kadang di sisi
pemerintah, pelayan pemerintah ini
dokumen itu banyak sekali, Pak.
Bagaimana penyimpanannya
kayak saya misalnya sekarang ini sudah
mending laporan RKL, RPL itu dalam
bentuk soft copy sudah bisa. setahun
yang lalu masih hard copy lah. Kalau
jumlah perusahaan ada sekian puluh ribu,
berapa pohon yang mesti ditebang untuk
nyediain kertas itu
dan berapa biaya yang terbuang percuma
untuk laporan seperti itu? Sekarang
mulai masuk ke sisi elektronik
laporannya. Tapi kembali lagi bukannya
solusi semata elektronik selesai.
Elektronik membawa dampak baru bagaimana
sistem server, sistem komputer itu
disediakan.
Sekali lagi perubahan pasti ada
konsekuensi. Next.
Nah, ini bisa seperti contoh. Bapak bisa
lihat bagaimana area-area kerja yang
seharusnya dan bagaimana area kerja yang
sekarang ini ada. Kami foto dari
beberapa kantor di layanan publik juga
ada. Bahkan kadang-kadang di gedung
pemerintah itu koridor dijadikan gudang
yang tadinya sementara menjadi sementau.
Kalau gudangnya kurang pakailah tangga
darurat gitu, Pak.
Banyak.
Bahkan tangga darurat digunakan tempat
untuk
Nah, itu bukan saya, Pak.
Pelaku, Pak.
Silakan. Next.
Nah, ini aspek ergonomis, Pak. Sekali
lagi ini kebiasaan-kebiasaan ini banyak
terjadi.
Charger itu sudah hal wajib bagi semua
orang. Jadi beli extension yang isinya
banyak taruh di masing-masing meja.
Kalau perlu beli yang paling murah.
Padahal kalau murah itu kabelnya SNI apa
tidak kita enggak tahu. Produk dari
mana, siapa yang mensertifikasi kita
tidak tahu sumbernya apa. Itulah yang
terjadi awalnya. Next.
Ini listnya aja nanti bisa dibaca. Next.
Tips silakan. Ini masalah kerja ya.
bagaimana kita sangat tergantung dengan
komputer bagaimana kita kerja tiap hari
dengan barang ini. Tapi kita tidak
memikirkan bagaimana nyamannya bekerja
dengan sebuah ee komputer. Next.
Nah, ini yang mengenai dengan penyakit
akibat kerja. Masing-masing punya peran
baik tenaga kerja maupun penanggung
jawab kerja. Tenaga kerja memberikan
keteranganlah
bahwa nyaman enggak sih tempat kerja
seperti diukur cahayanya cukup atau
tidak, suhu ruangannya cukup atau tidak
bahkan untuk mobilitas ruangan itu cukup
atau tidak itu paling tidak kalau ada
kejadian terkait ini segera laporkan
karena apa? Untuk tindak lanjut ini ada
ketentuan dalam Permenaker Trans. Next.
Ini alasan-alasan saja kenapa orang
enggak mau melaporkan ya. Karena apa?
Ini
dari sisi perusahaan mungkin enggak mau
ganti, tapi dari sisi pelaku atau korban
kadang-kadang enggak mau muncul karena
apa? Takut dicap.
Next.
Nah, akibat daripada ini banyak. Kita
geser next. ini
targetnya enggak tercapai, layanan
terganggu, produktivitas tidak ada,
bahkan keluarga sampai terlantar.
Banyak akibat-akibat yang disebabkan
oleh kecelakaan kerja. Berikutnya,
norma di area publik. Saya akan langsung
masuk area publik. Next. Nah, latar
belakang dari kenapa ini menjadi penting
dan 170 sudah mengamanahkan tapi kita
belum belum mengimplementasi. Karena
apa?
kurang diperhatikan Bapak dan Ibu
sekalian.
Itu tadi penting-penting enggak penting.
Penting kalau sudah kejadian, enggak
penting kalau enggak kejadian.
Kasus-kasus tentang K3 di area publik
sangat banyak. Orang nabrak pembatas
jalan, orang nabrak penghalang atau
hording project itu banyak. Terus
kesadaran pun sangat lemah. Dari siapa?
Dari semua orang. Karena apa? Belum
kejadian. konteksnya itu kalau sadar
sudah kejadian dan artinya K3 tidak
masuk ke prioritas dia. Udah biarin aja
kalau kejadian baru kita mikir. Next.
Nah, ini fasum dan fasos. Jangan salah.
Fasos umum itu jalan jembatan segala
macam. Tapi fasos ini, Pak, tempat
ibadah,
layanan-layanan publik dan sebagainya,
sekolah bahkan itu tidak diperhatikan.
Ini konsern loh. Karena apa? Di tempat
itu kalau terjadi kecelakaannya cuma
satu, oke cuma kecelakaan. Tapi kalau
banyak yang kena apa itu bukan bencana
namanya
karena berimbas ke mana-mana. Next.
Nah,
kecelakaan kerja bukan semata-mata
menimpa kepada pekerja, tapi juga
menimpa kepada masyarakat. Karena apa?
Tempat itu tempat kerja. dia menggunakan
fasilitas kantor termasuk penyeberangan
itu seperti apa sebenarnya
pengaturannya? Apakah secara andalin
penempatan ee marka penyeberangan atau
sebra cross itu sudah sesuai dan apakah
bisa benar-benar aman bagi si pengguna
itu? Tolong dikaji. Di sini ada Dinas
Perhubungan, Pak, yang bisa mengkaji
itu. Next.
Ee next aja.
Nah, ini undang-undangnya sudah ada
semua. Kami kena semua nih.
28 mengikat kami, 170 mengikat semuanya
ada sanksi bahkan sudah dalam bentuk
uang dan pidana sanksinya.
Next.
Nah, ini berbagai contoh ya,
tempat-tempat publik seperti apa
sehingga merugikan kepentingan
masyarakat secara umum. Projekprojek
siapa yang rugi siapa? Next.
Nah, ini kerumunan yang lalu kita ada
tragedi sangat besar di Kanjuruhan
seperti itu. Korbanya sangat banyak.
Berikutnya
kemudian fasilitas publik, lift,
eskalator
seperti apa pengamanannya, safety
device-nya berfungsi apa tidak, siapa
yang mengetes? Dan kalau ada insiden,
siapa yang akan membantu? Apakah badan
pengelolaan itu siap atau tidak? Banyak
pertanyaan seperti ini. Berikutnya
ini
fasilitas yang ada di tempat publik
apakah memenuhi kriteria
dia aman kepada pengguna jalan? Next.
Banyak sekali contohnya dan kejadiannya
sudah terjadi di tempat kita. Next.
Seperti ini contohnya.
Lif. Apakah paham?
penggunaannya, paham dalam
penanganannya. Ini banyak sekali
kasus-kasus seperti ini dan saya
menghindari gambar-gambar yang sifatnya
vendle ya, karena banyak sekali
korban-korban yang gambarnya tidak bisa
kami tawiyangkan di sini. Next.
Contohnya ini. Nah, ini lagi rebutan
jalan.
Ini siapa yang suka naik trotoar? banyak
nih
karena bawah macet mungkin Surabaya
enggak mengalami tapi Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang ini hal biasa.
Jadi di sini pengguna jalan apa? Pejalan
kaki agar tahu diri minggir kalau ada
motor mau naik trotoar.
Jadi kita yang disuruh minggir harus
tahu diri karena you jalan jalan kan
bisa loncat, motor kan enggak bisa
loncat katanya dia. Jadi terpaksa
gunakan trotoan.
Silakan. Next.
Berikutnya
masih banyak contohnya.
Nah, ini kondisi-kondisi seperti ini
berikutnya.
Nah, ini ee slide terakhir dari saya
bahwa kenapa aspek K3 menjadi masalah?
Karena kita tidak tahu tentang aspek
pentingnya, kekurangan pengetahuan dari
peraturan dan stand diterapkan,
perhatian minimal dan terakhir adalah
kalau ada aturan minimal tetapi terapin
itu katanya sudah cukup. Padahal aturan
itu minimum. Yang kedua, bahwa kejadian
kecelakaan K3 itu bisa ditutup dengan
asuransi. Jadi, semua bisa dibayar. Ini
yang salah. Dan terakhir apa?
Kita tergantung pokoknya kalau ada
apa-apa cukup lapor Pak Satrio.
Demikian dari saya, terima kasih. Mohon
maaf jika ada yang kurang dari kami.
Tidak lebih karena kami juga masih
belajar. Terima kasih. Billahi taufik
walhidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Sangat luar biasa sekali
ee dua pemateri baik Pak Satrio maupun
juga Pak Unggul.
tentunya pasti akan banyak respon,
pertanyaan, maupun juga sharing.
Untuk itu kepada Bapak Ibu yang hadir di
BBSDM ini kami persilakan kalau mungkin
ada pertanyaan ngih dari tengah dari
sisi sebelah kanan kiri ada mungkin tiga
pertanyaan dulu nggih. Sementara tiga
pertanyaan dulu. Kami tengah, habis itu
ke kanan dan yang ke kiri. Salah satu
yang kiri nanti ngih
bisa disebutkan nama dham instansi mana?
Bismillahirrahman.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Izin Bapak. Ee nama saya Azwar Hamid
dari RSUD Dr. Saiful Anwar Malang.
Ada dua pertanyaan yang ingin kami
sampaikan. Jadi yang pertama ini mungkin
ke Pak Unggul terkait dengan K3. Jadi
Bapak izin ee
apa yang Bapak sampaikan di awal tadi
nggih bahwa K3 itu multidisipliner.
dan mungkin juga pada akhirnya ada ego
sektoral.
Nah, apa yang tadi disampaikan Pak
Satrio, Pak Unggul ini kami menangkapnya
bahwa ee ada beberapa kewajiban dari
institusi pemerintah melalui apakah itu
Undang-Undang 170 atau bahkan mungkin ee
regulasi K3 perkantoran
di mana
ee bagi kami yang di rumah sakit mungkin
ketambahan
dengan Permenkes terkait dengan K3,
Bapak.
Nah, ini ada perbedaan mungkin sama-sama
pelayanan publik, tapi di ee lembaga
lain mungkin di di dinas ataupun di
badan itu ee sepertinya kami belum
melihat ada keberlanjutan dari
safety saat pembangunan. Jadi saat
pembangunan itu mungkin kita harus ada
SLF, ada IMB dan lain sebagainya. Nah,
tata laksana K3-nya kami belum melihat
ee sampai pada kewajiban seperti di
perusahaan, Pak Unggul. Jadi, mungkin
ada tebang pilih, mohon maaf itu istilah
kami, antara perusahaan dengan lembaga
pemerintah yang sebetulnya ini sama-sama
tempat kerja.
Kalau ee di swasta mau enggak mau P2 K3
atau K3 perusahaan itu ada. Namun ketika
kita bergeser ke pemerintahan di
lingkungan kita, lingkungan kita ee di
dinas maupun badan ini tidak menjumpai
lagi keberadaan K3 itu. Apakah itu P2
K3? Tadi Pak Satro sampaikan BPSDM kok
detektor aja. gak ada sprinkle, gak ada
ee
apa namanya perangkat keselamatan yang
lain. Tadi Ibu sampaikan titik kumpul
ada. Kemudian ee fire drill dan lain
sebagainya itu mungkin baru terupdate ee
ketika ada sesi seperti ini. Itu itu
persepsi saya sih. Nah, beda dengan kami
di rumah sakit Bapak. Jadi kami ini
rumah sakit yang ada akreditasi. Mungkin
ee amanat regulasi itu begitu jatuh
kepada teknisnya langsung akreditasi.
Mau enggak mau harus dilaksanakan.
Begitu. Jadi detail sekali di dalam ee
bab salah satu dari 16 bab di akreditasi
itu manajemen fasilitas dan keselamatan
itu mengatur tentang ee kebencanaan
salah satunya itu. Nah, kembali ke
dinas. Dinas ini sepertinya tidak ada
yang mengikat dan mewajibkan. Apakah ee
harus SMK 3 ala Kemenaker atau ee
Kemendagri punya sendiri atau seperti
apa gak paham begitu, Pak. Itu
pertanyaan pertama. Perihal K3 yang
sepertinya terputus antara pemerintah
dengan swasta. Kalau swasta luar biasa.
Kita sudah enggak meragukan lagi ee K3
di industrial, K3 di ee IdM atau
pertambangan dan lain sebagainya.
Yang pertama. Yang kedua ee Pak Satrio
penutup tadi Pak Unggul sampaikan bahwa
asuransi itu juga ee m-back up begitu
ya. Tapi kami kemarin ini percakapan
kami sebagai insan perumah sakitan.
Begitu di Malang itu keos depan Polres
depan persis RSSA itu banyak sekali yang
dievakuasi masuk RSSA sebagai pasien.
Nah, pastinya kami yang dasar kami ini
mayoritas pasien itu pasti BBJS, Pak.
Penjamin, butuh penjamin dan butuh
kejelasan. Nah, dalam kondisi seperti
ini sebetulnya berapa lama sih penentuan
status kebencanaan itu? Dan pastinya
kami pun ketar-ketir ini kami yang kami
melangkah ee nanti rugi begitu ya, mohon
maaf. Kemudian kalau tidak melangkah ini
kemanusiaan.
swasta mungkin lebih cenderung tidak
seperti itu. Ya sudahlah biar diurusin
pemerintah aja, rumah sakit swasta, ya.
Nah, bagaimana sudut pandang asuransi
dalam ee apakah ini prabencana atau masa
penanganan atau pascanya? Termasuk tidak
hanya SDM, asuransi Grahadi yang habis
itu, asuransi beberapa pos-pos polisi
yang dibakar dan banyak sekali gedung
DPRD, gedung pemerintahan. Apakah ini
bagian dari kebencanaan itu masuk juga
unsur asuransi? Padahal kadang kata
asuransi itu harus dieksklusi dari
syarat wajibnya asuransi. Demikian
kurang lebihnya. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Kita simpan pertanyaannya dulu untuk
jawabannya. Lanjut yang dari sesi
sebelah kanan. Monggo.
Nanti disebutkan dari mana nama dari ee
OPD dan pertanyaan untuk siapa, Pak.
Nggih.
Selamat siang ee semuanya peserta.
Selamat siang Bapak-bapak narasumber.
Saya Agus Erno dari Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi. ee untuk
K3 ee kita di kantor itu pernah ada
kunjungan dari ee Disnaker Bapak dan
sudah ada pendataan ee tapi setelah itu
follow up-nya enggak ada. Artinya follow
up-nya hanya didata, tapi nanti artinya
ada temuan-temuan kan pastinya enggak
mungkin kita lolos temuan kita tahu
sendiri. Itu rahasia umum ya. bahwa OPD
itu enggak ada yang sesuai dengan K3.
Jadi, ternyata saya tunggu enggak ada
respon sama sekali. Itu yang pertama,
Bapak. Ee kalau bisa mungkin bisa
dilanjutkan lagi ya untuk inspeksi
K3-nya. Terus untuk Pak Nurseno ya ee
kita sebenarnya saya saya kan orang
sekretariat saya sering usul ke baik itu
ke ee apa eselon 3-nya atau mungkin ke
eselon 4 ee ternyata kita mentoknya di
situ Bapak. Contohnya kayak jadi
alangkah baiknya itu dari OPD apa BPPD
ya itu ada semacam kayak inspeksi berapa
bulan sekali gitu loh ya
inspeksi. Jadi, jadi paling tidak itu
ada keharusan untuk pelatihan ee mohon
maaf sekarang ini kan apa tenaga
keamanan itu kan dari ee pihak ketiga ya
socing. Nah, itu coba mungkin mereka
juga ada sudah ada sertifikatnya tapi
kenyataannya kan kita enggak tahu
kinerjanya sebelum ada kejadian. Iya
kan? Jadi pelatihan untuk kebakaran atau
penanggulangan bencana itu sama sekali
belum ada lagi gitu loh. Jadi alangkah
baiknya mungkin secara rutin Nah
untuk ee ini saya pertanyaan yang kedua
lagi
ee bisakah kita itu dapat anggaran untuk
kita tahu ya kantor pemerintah rata-rata
itu enggak ada yang namanya fire alarm,
enggak ada splink hidran ya. Apakah kita
bisa enggak usul itu kira-kira? Atau
kita bisa minta hibah usulan ke mana? Ke
PU ya. Bisa enggak kira-kira Bapak
kalau ke BBPD? Enggak mungkin deh
kayaknya. Nih. Enggak mungkin. Enggak
mungkin.
Jadi ya apa ya bukan cyber building lagi
gitu loh gitu loh ee kebetulan saya
punya pengalaman di di gedung swasta dan
kebetulan saya punya pengalaman juga di
proyek skala ee gedung bertingkat yang
di atas 30 lantai. Jadi semua makanya
saya kenapa enggak saya aplikasikan ke
gedung pemerintah juga gitu loh. Terima
kasih Bapak.
Terima kasih Pak Agus dari Dinas Budaya
dan Parisat Provinsi. Lanjut ke sisi
sebelah kiri. Monggo. Tadi yang angkat
tangan sepertinya ee mana? Oh,
ya. Oke.
Tes. Oke. Ee terima kasih atas
kesempatannya.
Saya kebetulan ada dua pertanyaan
Bapak-bapak. Masing-masing satu.
Ee yang pertama kepada Pak Satrio. Eh,
kenalan ya. Nggih.
Iya.
Nama saya Dian dari Rumah Sakit Haji
Surabaya.
Oke, pertanyaan yang pertama kepada Pak
Satrio. Nah, ee di rumah sakit,
kebetulan saya Rumah Sakit haji, ee kita
ada dokumen namanya Hostep, Hospital
Disaster Plan. Nah, di situ ada ee
keputusan yang bisa diambil oleh
kombanan bencana untuk memutuskan ee ini
perlu evakuasi massal atau tidak. Nah,
kriteria apa yang bisa diambil oleh ee
misal direktur kami yang ada incharge di
sana ee atau mungkin ada dari BPBD ada
instruksi khusus kepada kepala UPD ke
OPD-UPD sekitar untuk ini perlu evakuasi
massal atau tidak gitu ya.
Karena mengingat evakuasi massal ini
effortnya besar, resikonya juga besar.
Ee di mana kami juga ada pengunjung
pasien yang rasionya enggak sesuai
dengan jumlah petugas. Kemudian
pertanyaan kepada Pak Unggul.
Ee
saya bisa minta tips enggak, Pak? Ya,
kebetulan saya tadi ngelihat ee
profilnya Jenengan itu merupakan HSE di
Grand Indonesia ya, Pak ya, hotel. Nah,
itu saya boleh minta tips gimana caranya
crowd managemen karena sama-sama kita
fasilitas publik yang terbuka,
pengunjung itu bisa dari kalangan mana
saja. Nah, itu crowd manajemennya
seperti apa. Kita bisa belajar untuk
implementasi di rumah sakit gitu. Terima
kasih.
Nggih Bapak Ibu sekalian dari tiga
pertanyaan alhamdulillah tidak dijujukan
ke saya
karena lihat bobotnya luar biasa. Sekali
lagi tepuk tangan ya. Bersyukur sekali
pada hari ini saya ditunjuk aja sebagai
moderator nggih. Dan tentunya memang
inilah Bapak jadi interestnya
terhadap kebencanaan dan K3 ini
teman-teman. baik dari OPD Jawa Timur
maupun juga kabupaten kota luar biasa.
Untuk itu ada tiga pertanyaan tadi. Ada
yang ke Pak Unggul, ada yang ke Pak
Satrio. Monggo. Alhamdulillah saya gak
ada ya, Pak. Nggih. Nggih, monggo.
Mungkin Pak Satrio dulu. Lanjut ke Pak
Unggul.
Baik, makasih Mas Moderator. Ee saya
akan mencoba memberikan saran ya terkait
dengan pertanyaan dari Mas Aswar Hamid
dari RSUD Saiful Anwar Malang terkait
asuransi ya.
Di dalam penanggulhan bencana memang
tidak ada asuransi khusus ya Mas ya.
Kita kami kemanusiaan semua. Tapi untuk
korban dan dampak itu sebenarnya ada
anggaran tersendiri. namanya. Kalau di
pemerintah daerah adalah belanja tidak
terduga, BTT, kalau di pusat ada namanya
DSP,
dana siap pakai. Nah, itu. Nah,
bagaimana ee seperti yang tadi
disampaikan, oh ternyata banyak dampak,
banyak korban yang ee perlu perawatan
ya. Kemudian banyak sarana prasarana
yang rusak. Nah, habis ini saya rapat
dengan beliau-beliau ini. Habis ini saya
rapat dengan Nun Sewu tadi sudah
ditelepon sama pimpinan untuk segera
merapat ke Bapeda untuk menangani yang
kejadian kemarin. Jadi gini, Mas
Aswaramid, bahwa untuk perawatan
ee korban
pertama bisa itu bisa dibiayai oleh BTT.
Nah, ini nanti kita masukkan di
dalamnya. Nanti dari CF Arwar ee mungkin
bisa membuat laporan ke Dinas Kesehatan.
Tadi malam dr. Fitria juga sudah WA kami
untuk ee terkait dengan BTT. Sarana
paraarana juga begitu. Hari ini akan
kita ee tindak lanjuti. Jadi, semua yang
berdampak. Tadi kan saya bilang di dalam
BTT ini dasarnya ada Permendagri 77,
kemudian ada Pergup nomornya lupa saya
Pergup 19 tahun 2024 sama SE dari
Kemendraag yang baru. Jadi bisa bisa
kita laksanakan. Bagaimana metodenya?
Metodenya ada dua. Ada yang pergeseran
ke ee DPA atau program reguler rutin.
Ada yang langsung. ada langsung itu
berarti ada anggaran tersendiri masuk ke
rekening giro tersendiri untuk kita
laksanakan. Nah, di situ ee
aturan-aturannya nanti kita apa ada
semua di situ. Jadi intinya kalau
terdampak dengan bencana bisa. Syarat
utamanya adalah ada status tanggap
darurat kalau itu memang diperlukan.
Tapi kalau ada beberapa kabupaten kota
ini yang tidak memiliki itu, mungkin di
Kabupaten Malang apakah mengeluarkan
tanggap darat? Coba nanti tanya ke
BBBD-nya atau bakis bank POL. Karena
kalau kita bicara sosial, bencana sosial
itu ranahnya di Bakis Bank POL, bukan di
BPD. BBPD hanya supporting atau
pendukung saja. Itu yang pertama. Eh
kemudian saya akan mencoba menjawab
untuk ee Pak Agus Erno disebut parf ya.
Ee jenengan kan sudah lama di swasta,
Pak. Berarti salah pindah ke birokrasi
ini, Pak.
Iya. ee kalau kita bicara kelengkapan
sarana keselamatan di gedung ke
pemerintahan ya saya rasa memang seluruh
sebagian besar semuanya itu tidak layak
untuk kita ee apa untuk sistem
keamanannya. tidaknya jenengan saya aja
juga, Pak. Di BBD pun juga ini. Makanya
kita harus bertahap bertahap untuk
merehabilitasi atau memenuhi paling
tidak indikator-indikator untuk
keselamatan kerja di kita. Kayak kami di
BBD Jatim mencoba untuk mengaktifkan
kembali hidran. Mungkin disbutpar ini
bangunannya kan tahun lama, Pak, ya.
Nah, saya itu bangunan tahun 2012, Pak.
Enggak ono hidrane, Pak. Hidran itu
mati, sprinkel mati, semuanya tidak
layak untuk keselamatan kerja. Padahal
BBD, Pak Mas Unggul, Pak Unggul. Jadi
saya sendiri kadang menjadi narasumber
juga malu sendiri juga. Tapi tidak
apa-apa. Kita berupaya untuk ee bertahap
untuk memperbaiki itu anggarannya dari
mana? Ya itu tadi tadi saya bilang salah
satu ee indikator sadar bencana yang
sukses itu adalah kepalanya harus sadar.
Nah, ini kepala instansinya harus sadar
terkait dengan keselamatan kerja. Siapa
yang bisa bilang ini Pak Kaban nih harus
bilang ini ke beliau-beliaunya ini ya?
Karena kami sama seperti Pak Agus tetap
gak bisa apa-apa. Anggarannya dari mana,
Pak? Anggaran tetap bisanya kalau kita
perbaikan gedung ya tetap masuknya di
rutin harusnya di situ bertahap mungkin
satu gedung ada perubahan set-nya untuk
yang ee kebakarannya. Kemudian dan apa
namanya alat aparnya dan segala macam
harus disiapkan bertahap gitu. Kalau
masalah simulasi oke kami bisa Pak yang
penting ada surat aja dari Disbut PAR.
Kita akan buat konsepnya untuk apa
namanya SOP evakuasinya dan segala macam
nanti kita coba untuk simulasi di sana.
Mungkin seperti itu, Pak Agusno ya.
Kemudian Mbak eh Dian dari RS Haji
kriteria evakuasi massal yang bisa jadi
kalau panjenengan sudah punya host deep
ya sudah hos pistol disaster plan ini
ada ini ada apa yang para ahli ini Mas
Didik ini dari Dinkes ini ahlinya ini
host dip ini. Jadi tanyanya nanti ke
beliau setelah dari saya. Kalau jenengan
ada host di dep berarti ketua host di
dep-nya pada saat ee K3 ketika terjadi
bencana harus punya ee
pertimbangan-pertimbangan. Bukan BBPD
yang mengevakuasi ketika terjadi
bencana. Kalau jenengan ada terjadi
gempa misalnya 3 menit telepon BBD sik
kudu evakuasi wis kadung ambruk kabeh
gedungnya. Jadi, siapa yang menjadi ee
pengambil keputusan ketua K3-nya pada
hari itu? Siapa? Pertimbangannya apa?
Saran saran secara lisan dari saya
ketika jenengan ee khususnya gempa ya
atau kebakaran. Ketika jenengan ee ada
merasakan gempa minimal minimal 1 menit
gempa tidak ada hentinya lebih baik
evakuasi.
Karena apa? Saya yakin jenengan atau
ketuanya K3 jenengan tidak yakin dengan
gedung yang jenengan bangun. Saya yakin
apalagi saya RSUS haji saya sudah sering
menginap di sana. Sering sakit saya
dulu, Mas J. Saya sering sakit di sana
dan ee aksesnya juga sangat terbatas di
sana. Tempat assemble point-nya juga
terbatas. Jadi ketika kita bicara
kriteria evakuasi ya sebaik mungkin
ketika
ketuanya K3 harus benar-benar paham
terkait dengan e apa namanya ke
kekuatan gedungnya. Nah, kemudian karena
di sana juga banyak apa ee barang-barang
yang mudah sekali
ee terdampak pecah maupun goyah itu
banyak sekali di RSU Haji. Jadi ee
mungkin nanti bisa berlatih bersama-sama
dengan kami ya, dengan Mas Didik juga
yang host deep master ini host deep
masternya dari Prof. Jatim ini Mas Didik
ya. Jadi ya bisa kita nanti saling apa e
bertukar dan berdiskusi. Banyak beberapa
rumah sakit juga sering kok dengan kami
ee yang paling dekat itu Rumah Sakit
Waru yang sebelah saya, Mas ya. Di situ
juga sering kita melaksanakan simulasi
bareng ya. Jadi Mbak Dian yang ee untuk
evakuasi kriterianya ya seperti itu.
Jadi ketua K3-nya harus benar-benar
paham ya. Ya, contoh-contohnya tadi yang
kalau ee gempa 1 menit gitu ya sudah
mending keluar saja. Bagaimana caranya?
Harusnya sudah ada. Kalau host dip-nya
sudah jalan, host di dep-nya sudah ada
sistem yang bagus harusnya bisa. Seberap
pun ee
apa ya pasien ataupun personil di situ
harusnya sudah ada step by step-nya.
Sistemnya harusnya sudah jelas harusnya.
Makanya perlu ada evaluasi. Belum pernah
ini haji janjian dengan BBD dan Dinkes
kayaknya belum pernah simulasi ya Mas
Didik ya. Oke. Iya mungkin itu ee
beberapa hal yang perlu disampaikan.
Kurang lebihnya kami mohon maaf. Terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Baik ee saya akan langsung menjawab tadi
yang dari ini sebagian kayak rumah sakit
ya. Memang ini ada kendala, Pak. Di kita
ini ada dua okupensi atau dua hunian
gedung yang sering menjadi sorotan,
namun sangat lemah dalam implementasi,
terutama dari sisi proteksi kebakaran
mungkin keselamatan jiwa, yaitu pertama
adalah rumah sakit, yang kedua detention
and correctional facility atau
pemasyarakatan.
Nah, lapas. Nah, kenapa? Karena ini
menghendaki sebuah penanganan yang
berbeda. Tadi dibilang kalau ada gempa
segera evakuasi. Orang tidak dievakuasi
aja bisa game apalagi dievakuasi kan.
Coba bisa dibayangkan ruang ICU seperti
apa, bagaimana mengevakuasi.
Kemudian sebaliknya terjadi di deten
correctional facility
orang itu lagi enggak boleh keluar malah
disuruh evakuasi ya senang.
ini kan sesuatu yang berbeda. Nah,
di sini ada sebuah ketentuan ya
peraturannya agak menyulitkan kita dalam
implementasi ya setelah saya melakukan
beberapa studi keluar di mana mereka itu
menerapkan peraturan atau standar yang
sifatnya adalah performance based Pak.
Lah Indonesia saat ini masih menggunakan
preskriptif peraturannya harus, harus
dan harus. Nah,
kesulitannya adalah pada saat
implementasi.
Kenapa gedung seperti ini tidak ada
sprinkler?
Ternyata ketentuan kita menyatakan itu.
Tidak melihat dari race based
identification-nya, tapi dari aturannya.
Bahwa gedung cuma dua lantai tidak
diwajibkan. Bahkan tiga lantai pun
tidak. Contohnya apa? Ruko. Tidak ada
ruko yang pasang sprinkler. Kalau pasang
silakan, tapi enggak ada yang
mewajibkan.
Bedanya dengan performance base yang ada
di negara-negara sebelah nih, itu dia
tidak lagi melihat luasan, dilihat
adalah resikonya.
Kalau resikonya ada, pasang.
Tapi juga dia bisa menjadi lebih hemat.
Kenapa? Bangunan dua lantai seperti ini
tidak perlu ketahanan api 2 jam. Kenapa?
Orang 1 jam aja orang sudah bisa keluar,
silakan bangunannya terbakar, orangnya
aman di luar. Tapi di sini tidak bisa,
Pak. Karena persyaratannya adalah 2 jam.
Bahkan rumah sakit tadi saya bilang 3
jam, Pak. Kenapa? Dia mempersyaratkan
defend on place, bertahan.
Jangan ada penyebaran asap maupun panas
di ruang-ruang khusus untuk perawanan
intensif.
Apakah fasilitas itu terbangun?
Dindingnya bagus. Di atasnya kabelnya
pada bolong, Pak. Nembus dinding.
Akibatnya apa? Kebakaran menyebar. Bapak
silakan buka di YouTube kasus kebakaran
rumah sakit yang ada di Jakarta dan
Tangerang Bekasi. Bagaimana ngenesnya
ngelihat bayi dalam inkubator
diseret-seret ke ruang ke ruang parkir,
Pak. Bagaimana pasien ICU ditarik-tarik
ke ruang lobi karena asapnya nyebar ke
mana-mana. ini kan sudah di luar standar
substandar sekali gedung ini. Nah,
pertanyaannya kenapa diberi izin?
Sebenarnya yang memberikan izin juga
tidak salah karena apa? Ada
aturan-aturan yang tidak dia ee tidak
bisa diimplementasi.
Ya, contohnya tadi itu
harusnya 3 jam. Tapi kenapa?
Karena enggak ada lembaga yang menguji
bahwa dinding itu tahan 3 jam, bahwa
area tersebut smoke proof, tidak bisa
tersebar asep. Ini yang sangat ee
menyulitkan bagi kami dalam implementasi
terutama ya e dua bangunan ini. Pertama,
rumah sakit pasti marak sekali, Pak.
Apalagi sekarang rumah sakit vertikal
karena kelangkaan lahan. Lah bagaimana
orang-orang di atas ruang ICU ada di
lantai 6 kenapa di lantai dasar atau
lantai satu? ruang operasi di lantai 4
misalnya. Kenapa enggak di lantai dasar?
Ini jadi karena apa? Ruangannya tidak
mencukupi. Bahkan gensetnya itu ada di
lantai 10, Pak.
Bapak bisa bayangkan kalau listrik mati,
orangnya operatornya ada di basement
lari ke lantai 10 buat nyalain genset.
Ada enggak ada? Bapak cek aja di YouTube
itu ada beritanya.
Gagal backup.
Itu yang pertama. Kemudian yang kedua
terkait dengan
penerapan SMK 3 mau enggak mau wajib,
Pak. Jadi bukan jangan dibisamakan
antara penerapan SMK3 dengan sertifikasi
SMK3, Pak. Itu berbeda. Jadi sertifikasi
Bapak menunjuk lembaga sertifikasi. Tapi
kalau implementasi semuanya pasti wajib.
Tidakah, tidak susah dan itu gampang
karena apa? Sudah ada kriterianya.
Kemudian
follow up inspeksi, Pak. Jadi yang tadi
Bapak tanyakan bagaimana sih di dari
sisi proyek itu sudah tidak ada ee
kegiat ee rekomendasi dan pada saat
kunjungan pun setelah itu tidak ada
follow up. Nah, sebenarnya Pak untuk
seluruh penanggung jawab operasional
gedung itu diharapkan memiliki
kompetensi yang standar untuk
keselamatan. Jadi ada atau tidak ada
kata-katanya jangan tergantung dengan
pemerintah meskipun bapak gedung
pemerintah. Jadi kalau enggak diperiksa
biarin aja toh enggak ada yang ngasih
tahu. Tidak Pak. Karena apa? Kita
sebagai penanggung jawab kalau dalam
bahasa kami adalah landlord itu memiliki
kewajiban untuk memastikan fasility kita
sesuai atau tidak. Minimum aja misalnya
tidak ada sprinkler memang tidak ada.
Karena gedung ini pun mau diajukan
anggaran kayak apa enggak akan keluar
itu sprinkler.
Karena apa? Enggak ada kewajibannya.
Nanti dasarnya kan dalam kerangka acuan
diajuin. Kenapa gedung BPSDM perlu
pasang sprinkler? Karena permintaan dari
forum ini gitu. Enggak bisa
temuan. Tapi begitu di-follow up
dasarnya apa? Masang sprinkler
ini yang susah.
Undang-undangnya benturan P.
Benturan.
Nah, terakhir mengenai ee masalah
evakuasi tadi. Sekali lagi saya
sampaikan bahwa evakuasi adalah
executive decision, penanggung jawabnya
gedung. Jadi, jangan tanya, "Pak Satrio,
ini saya harus evakuasi atau tidak?"
Bapak juga akan ngomong, "Lah menurut
Ibu gimana?
Orang saya enggak di situ." Jadi gini,
memang resiko, Bu, paling berat
mengelola rumah sakit. yang datang ke
situ juga sudah dalam kondisi tidak
baik-baik saja.
Bagaimana caranya? Ikuti regulasi yang
ada. Pastikan area-area yang khusus
untuk menangani secara intensif itu bisa
bertahan dalam jangka waktu tertentu,
yaitu 3 jam minimal. Minimal. Karena
apa? Kondisinya tidak mungkin untuk
dievakuasi.
Bapak silakan cek ke YouTube aja. itu
ada dua loka kejadian kebakaran yang
pasiennya semua berserakan di area
parkir.
Itu tampilan Indonesia seperti itu
menangani rumah sakit apakah itu wajar
atau tidak. Nah, silakan nanti di
Surabaya Pak Satrio pastikan apakah
rumah sakit-rumah sakit yang ada bisa
menjamin untuk pasien dalam kondisi
intensif bertahan dalam kurun waktu
tertentu.
Itu dari saya, Pak. Pak Sugito. Terima
kasih.
Izin nambah, Mas.
Ini praktik baik ya. Ada dua dua praktik
baik yang kemarin ee gempa beberapa
kapan ya tahun kemarin apa tahun ini ya?
Saya lupa. Tahun ee itu ada dua yang
menjadi praktik baik rumah sakit. Yang
pertama, Rumah Sakit UNER itu lumayan
bagus dalam kita tindak lanjut bagaimana
evakuasi dari gedung ke keluar,
bagaimana komunikasi dengan OPD,
membangun ee tenda-tenda darurat untuk
pasien-pasiennya.
Kemudian ada juga yang satu itu mungkin
agak sedikit ee
rumah sakit provinsi juga, cuman saya
gak usah sebutkan ya, ada di sekitaran
Surabaya Selatan pokoknya bukan rumah
sakit haji. Tenang
ada. Jadi mereka telepon kami pada saat
itu ee 2023 kalau enggak salah pas gempa
yang ada di
ah Bawean.
Jadi mereka mengevakuasi keluar semua
pasien-pasien pasien-pasiennya keluar
semua dievakuasi ee untuk penanggung
ucapnya Pak Unggul. Kemudian tanya
setelah selesai gempa itu tanya, "Mas,
ini gimana caranya membalikkan semua ke
gedung?" gitu. Saya ketawa loh kenapa
emangnya ini sudah saya evakuasi semua
nih dari gedung lantai atas bawah itu
dievakuasi keluar semua. Terus
gimana, Pak? Aman semua. Aman, Pak. Loh,
terus ini dimasukkan ke gedung lagi atau
tidak? Ini ini berarti Mas Mas Didi ini
perlu host diip-nya bagaimana? Apa
standarnya kita evakuasi? Oke, sudah
standar kita kembali ke gedung apa ini
sudah aman belum untuk masuk ke gedung?
Nah, ini juga harus-harus menjadi
kriteria ya. Jadi kemarin saya tanyakan
pondasinya aman gak? Strukturnya retak
gak? Strukturnya roboh gak? Tidak.
Dengan ee indikator sederhana itu saya
rasa aman untuk bisa masuk lagi. Tapi
kalau Bapak penanggung jawab tidak ee
apa tidak yakin ya tidak yakin tolong
telepon dinas terkait. Dinas terkait itu
yang mana ya? PU Pak Cipta Karya yang ee
bisa menilai
ee keamanan gedung,
kelayakan gedung. Nah, itu itu mungkin e
sedikit praktik baik. Kalau mungkin ini
belum terjadi bencana, Mbak Dian atau
Pak Agus, Mas Aswar ya bisa dipanggil
PUPU untuk menilai kelayakan
gedung-gedung kita. Kira-kira nilainya
berapa satu dari 10? Terima kasih.
Oke, terima kasih. Luar biasa Pak Unggul
dan Pak Satrio.
Ee
ini ternyata respon
sangat positif tidak hanya di ruangan
ini, tapi ini juga ada yang dari YouTube
sama juga dari Zoom.
Jadi mohon izin sebelum nanti kami
berikan kesempatan pada Bapak Ibu yang
rawuh secara
ee di ruangan ini. Ini kami bacakan,
Pak. Pertanyaannya yang pertama
ee ini melalui YouTube, Pak. Jadi yang
menanyakan
Bapak Andi Prasetyo ini satu marga
dengan saya ini.
Mohon izin bertanya, apa yang harus kita
kenali sebagai langkah antisipasi ketika
kita bekerja di suatu gedung?
Langkah prioritas apa yang harus kita
lakukan ketika terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan?
Mungkin ini pertanyaan untuk kedua
narasumber kita.
Dan yang kedua ini dari BKD Jawa Timur
kalau tidak salah saya ini kenal ini Ibu
Hana
ya. Mohon izin bertanya kepada Bapak
Satrio
dari Buhana BKD Jawa Timur.
Apakah apabila sekretariat kantor sudah
melakukan upaya pencegahan
sosialisasi bahaya-bahaya yang mungkin
terjadi di kantor, namun oknum pegawai
lalai dan tidak melakukan aktivitas ber
aktivitas berbahaya seperti merokok di
ruang kerja. Waduh, deg. Ini saya merasa
ini
taruh barang di area tangga darurat dan
atau kegiatan lain yang menyebabkan
kebakaran
atau menghambat jalur evakuasi
secara aturan. Pegawai dimaksud dapat
kena sanksi
atau tetap kesalahan pada pejabat
penanggung jawab gedung sekretariat.
Terima kasih.
Jadi ya ini Pak, jadi ini pertanyaan
tapi juga nyinggung kami Pak maksudnya
nyinggung saya Pak. Kalau kami ee nanti
gak pas nggih. Nggih. Jadi tadi dua
pertanyaan itu jadi baik dari yang
menyaksikan via YouTube maupun juga
Zoom. Monggo dijawab Pak Unggul dan Pak
Satrio. Tapi pertanyaan yang kedua
kayaknya khusus untuk Pak Satrio.
Baik.
Cek. Baik. Terima kasih. Yang pertama
pertanyaan dari Pak Andi Prasyo. Apa
yang harus dikenali ketika terjadi hal
yang tidak diinginkan?
Ya, yang pertama kita harus mitigasi
risiko. Sebenarnya risikonya apa di
situ. Kalau dari sisi bencana ada
bencana apa? Nah, kemudian dari sisi
bencana sosialnya atau non alamnya tadi
seperti yang kami sampaikan Pak Unggul
dan saya di paparan bahwa kita harus
menilai di situ ada apa saja yang
menjadi ancaman.
Paling tidak ketika kita bekerja samalah
kita kita mau berkendara kita harus
harus bawa helm, harus bawa SIM, harus
bawa jaket, bawa pakai sepatu misalnya.
Jadi ee hal itulah yang harus kita
siapkan ketika kita berada di lingkungan
kerja. Oke, kita tidak ada helm di sana
karena kerja di ruangan ya. Safety-nya
apa? Jika ada ancaman kebakaran aparnya
sudah benar-benar ada, sudah ada isinya,
sudah bisa menggunakannya gitu ya. Nah,
mungkin itu menjadi persiapan-persiapan
kita ya. Kemudian yang kedua dari Mbak
Hana terkait dengan ee oknum tadi ya.
ini kayaknya kenanya ke saya juga ini
pasnya. Iya. Jadi saya rasa sanksi ini
ee
gimana ya kalau kita bisa
kalau terjadi kejadian yang tidak kita
inginkan ada bencana ataupun ada
kejadian yang tidak baik di dalam
lingkungan kerja tentunya kita harus ee
memeriksa dan mengaudit mengevaluasi ya
di mana salahnya, di mana kurangnya.
Oke. Jika memang ini dari dari apa ee
pendapat saya pribadi misalnya di
sistemnya sudah bagus nih, sistemnya
sudah bagus. Kalau sistem sudah bagus
saya rasa tidak akan ada ee oknum ya
yang tidak sengaja ya yang sengaja
maksudnya yang sengaja untuk membuat
kejadian yang ee berdampak bencana bagi
lingkungan kerja. Nah, kalau tidak
disengaja itu mungkin terjadi. Tapi
kalau disengaja jika sistemnya sudah
bagus saya rasa tidak.
Ya, merokok di tempat kerja ada larangan
gak? Ada sanksi gak di situ? Yaitu
menjadi aturan internal di dalam
instansi tersebut.
Apakah kepala instansinya menjadi ee
kekeh bahwasanya kamu merokok, saya
sanksi surat peringatan satu misalnya.
Gak mungkin. Apalagi beliau dari BKD
malah mereka beliau yang akan nyangsi
saya di BBPD karena pembina
kepegawaiannya di beliau kan di BKD kan.
Kalau di kami di WBD ada area-area
merokok, ada area-area yang khusus untuk
merokok. Tapi sebenarnya ya enggak
semuanya merokok. Karena kami di
lapangan ya kami akui kami di lapangan
semuanya ee sebagian besar memang
perokok. Tapi mitigasi kami bagaimana
rokok itu ketika itu tidak mengganggu
masyarakat, tidak mengganggu orang-orang
di sekitar dan dampaknya juga tidak
mengganggu ketika ee itu mati gitu. Jadi
ada ada istilahnya arahan tidak tertulis
ketika kita merokok ya harus sampai
mati. Ee kalau belum mati ya harus mati
karena penyebabnya juga menjadi
kebakaran gitu. Cara membuangnya juga
harus tidak serta-merta di tempat lain.
Mungkin itu mungkin yang bisa saya jawab
Pak Moderator. Terima kasih.
Pertama terkait dengan aturan merokok,
Pak. Alhamdulillah di Jatim mungkin
belum ada ya seketat itu. Di Jakarta ada
pergup 88, Pak. Ini kami sangat-sangat
kerepotan karena apa? Jangankan di
tempat kerja, Pak, di karpak area parkir
kalau kena ada yang lapor ke sistem
online-nya DKI, kami langsung digeruduk,
Pak.
Tiga dinas yang datang. ada Satpol PP,
ada UMKM,
bahkan ada dari ee dinas apa tuh
namanya? Pare
itu mendatangi. Kenapa sampai kita
membiarkan?
Itu bukan di tempat ee tertutup loh, di
area parkir.
Enggak boleh. Karena apa? batasannya 10
m dari eh 20 m dari pintu lobi.
Jadi sebenarnya ini juga penghasil
devisa juga apa? Penghasil apa? Cukai
pajak ya. Tapi diperlakukan kayak biadab
banget di luar nih.
Disuruh dijemur di sana suruh ngerokok
apa ya enak. Tapi itu aturannya begitu.
Hampir semua hotel itu sudah non smoking
area. Restoran tidak ada.
Bahkan kantin yang di dalam gedung pun
sudah enggak boleh. Suruh keluar
semuanya. Ini yang terjadi di sana.
Terus kemudian kalau kita tadi yang
ditanyakan mengenai kalau kita kerja
tempat tertentu, bagaimana reaksi kita.
Nah, itu nanti seperti yang tadi Pak
Satrio bilang, ada identifikasi dari
personal kita, konsern kita adalah life
safety dulu deh. Kita enggak bisa bicara
property protection atau continuity of
operation karena kita pendatang, kita
pekerja di situ. Paling tidak aspek life
safety-nya kita paham dulu. Tadi yang
disampaikan ada akses menuju pintu
daruratnya seperti apa. Ada misalnya
kalau break glass kita tahu di mana
bunyinya, ada lampu darurat.
Jangan-jangan gedungnya terang karena
lampunya nyala. Pada saat emergency
power blackout
gelap total. Ini beruntung gedung
pemerintah mungkin enggak sampai malam,
Pak.
Jam .00 sudah selesai aktivitas masih
ada bantuan cahaya matahari. Kalau
gedung-gedung yang lain, Pak, yang 24
jam apagi rumah sakit itu emergency
power itu luar biasa fungsinya.
Itulah perlu dikenali, Pak. Jadi, mau
tidak mau harus melakukan identifikasi.
Demikian dari saya.
Terima kasih Bapak Ibu sekalian. Jadi
tadi sesi pertama tiga pertanyaan, sesi
kedua dua pertanyaan. Tentunya yang sesi
ketiga satu pertanyaan aja, Pak. Jadi
mohon ditahan saya pikir ini masih
banyak pertanyaan. Memang sengaja kami
tutup pertanyaannya supaya ada pertemuan
seperti ini lagi. Jadi nanti kita bisa
diskusi lagi di kesempatan lain.
Karena tangan keringatan jadi sensornya
gak jalan Pak. Bentar.
Ee ada pertanyaan yang terakhir dari
Ibu Fitri kalau tidak salah beliaunya
kepala Rumah Sakit Menur.
Betul nggih. Ya, izin bertanya,
bagaimana evakuasi bencana khususnya
gempa yang pernah terjadi di Surabaya
beberapa waktu yang lalu,
tepatnya di Rumah Sakit
J ji J ji J jiwa berarti ya Menur
mengalami kesulitan ketika akan
mengevakuasi pasien dengan gangguan
mentalah.
Nah, kalau di RSU tinggal RSU yang lain
ini tinggal memindahkan tempat tidurnya.
Ya, kalau di RSJ fisik tidak masalah
tapi pasien belum tentu bisa diarahkan
dan jumlah pasien lebih banyak daripada
petugas.
Ini sepertinya khusus untuk Pak Satrio
ini kayaknya, Pak. Nggih. Supaya nanti
ada pelatihan khusus untuk Pak Satrio
ya. Nggih. Atau barangkali juga nanti
untuk Pak Unggul bisa menambahkan
singkat nggih. Jadi untuk pertanyaan
yang terakhir ini nggih.
Gimana Mas Idi evakuas-nya gimana ini
ya?
Jadi kalau ee
mohon izin mohon izin nanti kalau boleh
nyampaikan Bapak ini penting banget.
Siap.
Oh iya. Ini Bu Iizin Bu Direktur. Eh
mohon maaf ini karena pengalaman betul
kami bingung. Kalau kami keluarkan kami
kayak anu lomba maraton pasiennya akan
lari lah kita gimana mau anu jaganya.
Itu betul yang terjadi kemarin.
SOP-nya belum ada. Ini Mas Didik yang
tanggung jawab ini.
Nah, ini ada di depan saya beliau ini,
Bu.
Iya iya iya.
Untuk bagaimana evakuasi pasien gangguan
jiwa kayak lomba maraton kami akhirnya
kan tetap ditaruh di dalam. Tapi kami
juga takut gedung kami sudah gedung tua
lah. Ini kalau ambrol kami juga salah
ini. Itu betul-betul saya nunggoni dan
deg-degan banget itu.
Nah, mohon izin ini jadi perhatian teman
BPBD semua temanlah semua tim. Bagaimana
untuk rumah sakit dengan masalah jiwa
ini kan
pasien saya 400 loh Pak sekarang Pak.
Lah kalau ada sesuatu dengan 400 orang
itu di semua, Bu.
[Tertawa]
Lah nyun izin. Ayo monggo. Ini PR kita.
Makanya saya senang saya langsung
ngikuti sendiri loh ini.
Saya betul-betul menyempatkan untuk
ngikuti. Matur nuwun Pak.
Injih. Matur nuwun Ibu ya. Jadi
luar biasa.
Jadi memang dalam evakuasi itu ada
penanganan secara normal dan ada
penanganan khusus Mas. Jadi memang kalau
hal-hal seperti itu kayak disabilitas,
kemudian pasien-pasien yang ee masih
dalam proses operasi atau yang nonsu
yang tadi yang gangguan jiwa memang
harus ada evakuasi khusus lah. Evakuasi
khusus itu bagaimana? Ya harus kita buat
di dalam host dip-nya, harus kita buat
di dalam SOP-nya. Tidak, tidak setamerta
BBD harus bagaimana go apa bawa orang
RSL rumah sakit ee orang yang pasien
jiwa. Tidak semata-mata saya bisa
memberikan masukan seperti itu. Kami
harus tahu kondisinya seperti apa,
bagaimana perkembangan pasien-pasien di
sana juga ee dokter yang di sana yang
tahu baru kita bisa ee memberikan
solusi, berikan memberikan SOP,
membentuk SOP yang pas dan cocok untuk
ee para pasien. Paling tidak yang bisa
kita berikan masukan adalah
alur proses evakuasi dari ee lokasi
pasien ke tempat aman. Kalau bagaimana
bawa orang-orangnya biar manut? Nah, ini
yang tahu psikisnya adalah para dokter
gitu kan. Kalau kami dari BBD mungkin
secara secara ininya adalah sarprasnya
bagaimana mengonsep alur keluar
evakuasinya. Kalau khusus J-nya Mas
Didik aja nanti Bu kita diundang Mas
Didik ya Mas Didik nggih. Mungkin itu Bu
Dokter nanti lain ee apa ee mungkin
beberapa waktu bisa kita diskusi lebih
ee lanjut terkait dengan host dip ini.
Karena saya yakin nu sewu mohon maaf
rumah sakit provinsi di Jawa Timur masih
kurang terkait dengan kepedulian terkait
dengan host di depidi
ini perlu dukungan besar untuk bisa
mensukseskan host dipep di Jawa Timur.
Saya rasa itu Pak. Makasih.
Cukup cukup. Oh.
Mungkin ini Bu terkait dengan ee
fasilitas untuk ee khusus seperti ini
kayak correctionional facility juga agar
dipertimbangkan mungkin karena ini saya
enggak tahu eh side plan-nya Ibu seperti
apa. Tapi paling tidak yang tadi
disampaikan Bu Pak Satrio,
ada lokasi yang disebut eh area of
refuge, Bu. Jadi area untuk berlindung
sementara sebelum ee diputuskan untuk
permanen evakuasi. Artinya apa? Ada
lapangan atau tempat tertentu yang
diisolasi mereka untuk berkumpul di
situ. Tidak ada pilihan lain karena
jumlahnya cukup banyak. Demikian juga
kayak misalnya area-area untuk apa e
pemasyarakatan itu pasti sebelahnya ada
lokasi tertentu yang bisa digunakan
untuk switching.
Demikian juga hotel-hotel yang
berbintang di eh saat ini diminta adalah
pada saat terjadi disaster seperti ini,
bisnis continuity-nya adalah misalnya
nih kalau sebuah hotel dipakai menginap
e VVP Pak, kepala negara terjadi sesuatu
tidak serta-merta dibiarkan aja evakuasi
kepala negara suruh lari ke pinggir
jalan kan enggak mungkin. Bagaimana
ditransfer ke hotel sebelahnya atau
hotel lain agar ini evakuasi berjalan.
Artinya refuge floor-nya atau refuge-nya
ini di mana? Nah, untuk fasilitas
seperti itu ditentukan di sekitar rumah
sakit tentunya di pagari ya agar tidak
tidak ke mana-mana. Namun area itu aman
tidak ada ke potensi debris material
yang jatuh menimpa si e penghuni
tersebut. Demikian Bu dari saya dari
area. Konteksnya adalah penyediaan area
of refug.
Demikian terima kasih.
Terima kasih. Beri tepuk tangan kepada
kedua pemateri.
Sebelum kami tutup untuk sesi ini, Pak.
Izinkan tadi di awal dua pantun, jadi
juga kami tutup
dua pantun aja ya. Kontraknya dua
pantun. Tadi sudah
naik perahu di tengah lautan.
Jangan lupa bawa dayung cadangan.
Siaga bencana kita mantapkan
demi selamat di tempat kerja dan
lingkungan.
Pantun yang pembuka tadi ada kata-kata
bunga, sekarang juga tetap bunga, Pak.
Tetap biar satu rel. Nah, bunga-bungaan.
Bunga mawar indah warnanya.
tumbuh segar di tepi halaman.
Terima kasih untuk kebersamaan kita.
Semoga ilmu hari ini membawa
keselamatan.
Terima kasih.
Mohon maaf kata
orang Probolinggo
kecepot golana merah
pun bada salah lopot nyon seporah.
Demikian juga kami yang dari tadi jam
kurang lebih jam 10.00 membawa diskusi
dengan dua narasumber yang luar biasa
ini tentunya pasti banyak salah maupun
juga khilap. Mohon dimaafkan dan kami
akhiri asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Baik, terima kasih untuk
kedua narasumber yang luar biasa dan
Bapak moderator kami persilakan untuk
kembali ke tempat.
Sobat ASN, seperti janji kami di awal
acara, kami akan menampilkan QR yang
dapat diakses untuk seluruh Sobat ASN
untuk pengunduhan materi pada hari ini,
pengisian daftar hadir, serta penerbitan
e certificat yang nantinya dapat diunduh
juga pada QR yang akan ditayangkan oleh
kami.
serta kami undang pula Bapak Ibu yang
tadi mungkin masih belum menyampaikan
pertanyaan masih tersimpan. Untuk itu
kami undang bisa bergabung di WhatsApp
grup community of Interest Kebencanaan
tahun 2025. Nanti akan ada QR-nya juga
bisa dican, disimpan, dan nanti langsung
bergabung saja berdiskusi lebih dalam,
lebih banyak lagi untuk mencari solusi
atau tips trik untuk menangani
kebencanaan dalam pelaksanaan tugas
sehari-hari di tempat kerja.
Ya, ini telah tampil QR
yang akan atau dapat diakses oleh
seluruh SOBAT ASN mulai pengunduhan
materi, pengisian daftar hadir, serta
penerbitan e-sertifikat. Dan tidak lupa
di sisi sebelah kiri atau di sisi
sebelah kanan Bapak Ibu nanti akan ada
WhatsApp grup community of interest
kebencanaan tahun 2025 bisa diakses dan
langsung bergabung dalam WhatsApp grup
tersebut melanjutkan diskusi yang
tertunda. Karena kalau hari ini kita
habiskan seluruh pertanyaannya mungkin
kita akan pulang lebih larut gitu ya.
karena tidak disangka. Wah, bahkan
direktur dari Rumah Sakit Jiwa turut
hadir. Sugeng rawuh, Ibu. Terima kasih
telah hadir berdiskusi bersama kami dan
menambah suasana pada siang hari ini
semakin meriah. Begitu. Silakan Bapak,
Ibu boleh mengakses
QR yang terdapat
materi, kemudian pengisian daftar hadir,
dan nantinya e-sertifikat boleh dicek
secara berkala. Nanti akan ada di link
tri tersebut boleh dicek apakah sudah
terbit ataukah belum. Nanti dicek saja
secara berkala.
Baik, jangan salah sampai scann-nya
jangan salah. Yang ada warna hijaunya
adalah join WhatsApp Group Community of
Interest Kebencanaan Provinsi Jawa Timur
tahun 2025. Sedangkan yang sebelahnya
lagi yang tidak ada hijaunya itu link
tri yang akan memuat materi daftar hadir
serta e-sertifikat.
Sekali lagi, link 3 yang ada hijaunya
adalah ee QR yang ada hijaunya itu akan
menghubungkan rekan-rekan untuk
bergabung dalam WhatsApp grup community
of interest kebencanaan
Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Dan QR
yang tidak ada warna hijaunya adalah
Link yang akan memuat materi pengisian
daftar hadir serta e-sertifikat Sobat
ASN seluruhnya.
Kami haturkan selamat datang Kepala
BPSDM Provinsi Jawa Timur di IKI
Coworking Space BPSDM Provinsi Jawa
Timur. Terima kasih Bapak telah
menyempatkan hadir di kesempatan siang
hari ini di tengah kesibukan Bapak.
Terima kasih rawuhnya Bapak.
Hadirin, selanjutnya sebagai bentuk
komitmen kita bersama dalam penanganan
bencana di Provinsi Jawa Timur, maka
akan kita saksikan bersama prosesi
penandatanganan deklarasi dan berita
acara pembentukan community of interest
kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun
2025.
Selanjutnya kepada perwakilan peserta
yang telah ditunjuk disilakan mengambil
tempat.
Selanjutnya berkenan dengan hormat Bapak
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur menuju
meja penandatanganan.
Prosesi penandatanganan diawali oleh
perwakilan peserta putri.
Dilanjutkan perwakilan peserta putra
dan selanjutnya berkenan Dengan hormat
Bapak Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur
menandatangani deklarasi dan berita
acara pembentukan community of interest
kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun
2025.
Selanjutnya berkenan untuk berfoto
bersama para perwakilan peserta berkenan
untuk memegang dokumen bersama Kepala
BPSDM Provinsi Jawa Timur dan akan
diambil gambar akan kami pandu 3 2 1.
Sekali lagi 3 2 1. Baik terima kasih.
Disilakan untuk mengambil dokumennya.
Mohon izin Bapak Kepala BBSDM berkenan
untuk tinggal di tempat dan perwakilan
peserta disilakan kembali ke tempat.
Selanjutnya akan kita ikuti dan simak
bersama sambutan Kepala BPSDM Provinsi
Jawa Timur yang sekaligus berkenan
menutup sejai resmi kegiatan pada siang
hari ini. Yang terhormat Bapak Dr.
Ramlianto, SPMP. Kami silakan.
Aduh,
ada bunganya kayak kayak mau sambutan
pernikahan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita
sekalian. Yang terhormat dan kami
muliakan para narasumber, Pak Unggul,
Mas Satrio, Sekretaris
BPPD, Bu
Kabit.
Ojo Kabit ae timbang sekretaris
angel. Agus Ping Pindu,
Bu Amalia selaku penyelenggara dan para
widya iswara, para analis pengembangan
kompetensi dan tentu yang saya banggakan
para peserta eh community of Interest.
Mungkin ada yang nanya-nanya ini apa
nanti saya jelaskan singkat. Pertama
tentu saya bersyukur pada Allah pagi ini
kita bisa menyelenggarakan kegiatan ini
di tengah pertanyaan-pertanyaan
dari Ibu Amaliah khususnya ini
kegiatannya dilanjutkan apa enggak?
Awalnya Selasa. Selasa mau ada demo
katanya
demo yang ee kami semua suka.
Ya, itu demo yang kami sukai karena itu
demo yang akan menghentikan sebuah
program yang kami enggak sukai.
Ya enggak apa-apa demo biar ramai, biar
foto saya juga terpampang dipegangi,
demonstran sehingga maju tanggal 1.
Tanggal 1 ternyata ada edaran eh work
from anywhere. Apakah dilanjut atau
enggak? Setelah tadi malam saya ee
dengan Pak Sekda, dengan Pak Pangdam,
dengan semua unsur berada di Grahadi
sampai menjelang pagi. Alhamdulillah
kondusif. Mudah-mudahan terus kondusif
Jawa Timur
setelah puncaknya
terbakarnya sisi barat Grahadi
mudah-mudahan ee terus kondusif
ee akhirnya bisa dilaksanakan. Tentu
saya sangat bersyukur atas semua ini.
Yang kedua, saya atas nama PEMPR BPSDM
menyampaikan terima kasih pada
narasumber,
pada teman-teman yang juga sudah
merancang kegiatan ini, Bu Amalia dan
tim, para widiswara, para analis
pembahan kompetensi yang juga turut
merancang dan tentu ee terima kasih saya
untuk semua peserta.
COI ini bukan barang baru di dunia
pengembangan kompetensi SDM.
Tapi di pengembangan kompetensi ASN
mungkin baru pertama di Indonesia.
Kok enggak ada yang tepuk tangan?
[Tepuk tangan]
Ono sing sik raming. Io ta
loh. Io io.
Saya kan sudah 26 tahun di sini.
Jadi sudah tahulah kayak apa
perkembangan. Tapi di swasta sudah
biasa.
Di dunia pengembangan kompetensi SDM di
swasta sudah biasa, udah
apa ya macam-macam mereka bentuknya.
Saya mau buat lagi nih, Pak. Aman, Pak.
Kita nanti ada namanya Brownb seminar.
Brownback seminar itu lahir di Amerika
tahun 0-an.
Mahasiswa pekerja
jam makan siang beli makanan di kantin.
Mereka kan makannya hamburger hot dog
gitu ya. Kalau kita mungkin pecel atau
apa dibungkus kertas coklat toh lah.
Karena mereka enggak ada waktu
pengembangan kompetensinya
ya pada saat makan siang itu pada saat
istirahat itu sambil bawa makanan yang
dibungkus kertas coklat makanya disebut
brown bag seminar. Nah, di Kemenk itu
sudah jadi tradisi akademik. Di
sela-sela kesibukan ee mereka
nyelenggarakan namanya brownb seminar,
tapi penyelenggaraannya terus di hotel
makanannya prasmanan.
Jadi wis enggak cocok pisan.
Yang cocok itu ya BPPD itu brown seminar
beneran.
Iya.
ambil makanan dibungkus kertas coklat di
dapur umum lalu duduk di bawah tenda
atau pohon ngomongin langkah langkah
seranggutnya. Itu namanya brownback
seminar yang sebenarnya.
Lah itu bagian dari community of
interest. Jadi itu itu anu loh itu bisa
dikasih sertifikat loh Mas. Mbak COI itu
atau Brownb seminar bisa dikasih karena
itu pengembangan kompetensi yang diakui
di Corporate University.
Diakui
ee apa cabangnya Kemen KU itu apa ya
namanya?
Kanwil-kanwil itu ya. Kanwil DJDJK apa
itu sering mengadakan brownb seminar
tapi udah elit udah enggak pakai brownb
pakainya ya prasmanan. ya. Tapi nama
Brownb ini memang sudah tidak nama
leksikal, sudah nama filosofis sehingga
kemudian bentuknya bisa macam-macam.
Tapi saya masih ingin mewujudkan
brownback seminar ini dari COI kita.
Makanya hari ini kita mulai
pembelajarnya tidak di aula di kelas
gitu, tapi di ee IKI ke working space.
Masih ingat Iki ya?
Ini ceramahnya Bu Gubernur di HUT Jatim
ke-79
eh 78. Karena 79 itu Pak PJ GUP 80.
Sebentar lagi ee Bu Gup lagi. Nanti kita
tunggu setiap beliau ceramah apa saya
selalu mengabadikan. Ketika beliau
ngomong apa punya filosofi cetar saya
abadikan di biro organisasi jadi cetar
coring space. Ketika beliau punya jargon
Iki, kami abadikan jadi Iki ke working
space. Nanti jargonnya itu Jatim tumbuh
eh jatim tangguh terus bertumbuh
insyaallah. Ya itu usulan kita. Enggak
tahu Ibu setuju apa enggak. Jatim
tangguh
terus bertumbuh karena akan bersamaan
dengan Desa Siaga Bencana. apa
launching-nya nanti dih
pengurangan di Mojokerto. Nah, itu
makanya nanti tema 2000
ulang tahun 80 insyaallah Jatim tangguh
terus bertumbuh. Makanya kami
cepat-cepat mengadakan COI kebencanaan
ini. Kira-kira gitu. Jadi ini luar
biasa. Sekali lagi terima kasih
antusiasme peserta apa itu COI? Secara
singkat saya sampaikan begini.
Sebenarnya ketika tahun lalu kita
menyelenggarakan Dila Disaster
Leadership Academy, rancangannya Mas
Randi, Mbak Isma, dan teman-teman itu
bentuk dari
mengejawantah kebijakan Ibu Gubernur
bahwa bencana itu bukan hanya urusan
BPD, bukan hanya urusan Dinsos, tapi
urusan kita semua, terutama bencana yang
ada di sekitar kantor kita. Makanya
kemudian kita nyelenggarakan
ee dila atau disaster leadership academy
itu hanya untuk membangun
caring, kepedulian tentang bencana. Oh,
sekarang kepala OPD sudah bisa ngecek
apa eh APARnya udah 1 tahun nih waktunya
diganti gitu kan. sudah ngerti dia
sekarang di mana titik kumpul kalau ada
bencana sudah ngerti dia kenapa dia
sudah dibangun caring-nya kepeduliannya
lewat dila nah kita waktu itu tindak
lanjuti dengan lomba dan alhamdulillah
beberapa OPD dapat apresiasi dari Bu
Gubernur langsung sebagai ee
lembaga atau perangkat daerah yang punya
kesiapan bencana yang baik di
instansinya masing-masing. Nah, supaya
ini tidak terputus, Bapak, Ibu, maka
kami menyelenggarakan community of
interest. Community of interest adalah
kumpulan orang-orang yang mungkin tidak
satu profesi, mungkin tidak satu dinas,
mungkin juga berasal dari tidak dalam
satu pemprop mungkin ya, bisa saja
pemprop-pemprop yang lain atau kabupaten
kota lain, tapi punya interest yang sama
terhadap satu topik.
Kami mulai dari bencana. Nanti mungkin
akan ada topik-topik lain. Kenapa
bencana? Karena topik tentang bencana
itu tidak pernah lekang oleh waktu.
Selalu ada diskusi dan walaupun kita
tidak berharap bencana macam-macam itu
ada aja yang puting beliung, yang
kekeringan, yang kebakaran dan
seterusnya. Nah, sehingga karena topik
bencana ini topik perenial, topik yang
dalam tanda petik abadi, maka kemudian
ini kita jadikan topik pertama community
of interest kita. Ini
sudah kami laporkan ke lembaga negara
dan sangat apresiasi.
Justru mereka nanya ke kita kayak apa
konsepnya, kayak apa praktiknya. Nah,
nanti mereka akan niru kita gitu ya.
Selalu begitu. Alhamdulillah Jawa Timur
selalu menjadi ee benchmark. Menjadi
benchmark. Ya, itu ide teman-teman dan
itu kerja teman-teman semua. Tentu
kepedulian para peserta. Nah, itu
community of interest. Kita sudah punya
sebelumnya namanya namanya community of
practice. Kalau community of practice
ini mereka yang satu pekerjaan, satu
profesi. Kemarin ada community of
practice kehumasan, community of
practice yang terkait dengan analis
kebijakan.
Damkar dan seterusnya. Kita sudah punya
community of practice-nya. Kenapa?
Profesinya sama. Ah, ini kan macam-macam
nih. Ada yang mungkin orang dinas yang
enggak ada kaitannya dengan bencana. Ada
rumah sakit yang memang itu menjadi
salah satu standar dari ee akreditasi
rumah sakit tentang ee kesiapsiagaan
bencana. Nah, itu berkumpul dalam
diskusi namanya community of interest.
Bentuknya apa? Ya, diskusi-diskusi
ringan. ada brownb seminar, ada webinar,
ada WhatsApp grup gitu ya. Nanti akan
dibentuk WhatsApp grup. Tolong
diskusinya tentang kebencanaan ya.
Enggak usah nge-share
apa namanya himbauan
untuk WFA, enggak usah nge-share tahajud
call, enggak usah nge-share rumah Saroni
di
Ya, tadi pagi Sarini klarifikasi mohon
tidak dijarah saya Sarini bukan Saroni.
Jadi dalang fokus ke situ. Jika di dalam
grup WhatsApp itu muncul loh ini ada hal
baru tentang kebencanaan dan butuh
fasilitasi kami selaku apa namanya
operator dari CO, kami fasilitasi kayak
gini lagi. Kalau sama-sama enggak sempat
ya sudah daring aja kan daring sekarang
jadi satu habit ya. Jadi sudah enggak
ada masalah. Kalau emang mau pengin
punya waktu lebih daring ya daring, Pak.
kayaknya ada hal baru nih soal
kebencanaan. Gimana menghadapi ee
kekeringan dan sebagainya khusus itu
misalnya ingin mengkaji mengenai Elnino,
Lanina atau apalah saya enggak banyak
tahu istilah itu. Ya, langsung kita
carikan, kita diskusikan dengan pihak
BPPD selaku leading sektor kebencanaan
di Jawa Timur. Siapa narasumber yang
pas? Nah, yang enggak bisa diakomodasi
di CO kebencanaan ini adalah ee bencana
rumah tangga.
Tidak masuk dalam topik diskusi
itu ke sana ke BKD.
Nah, jadi itu COI ini adalah sebuah
apa? Model mutakhir dalam pengembangan
kompetensi di dunia SDM. Karena memang
ee CO ini banyak sekarang mereka ber dan
punya produk loh. COI COE yang dibentuk
oleh komunitas tertentu itu punya
produk. Saya punya punya kelompok CUI
filsafat
ya kayak golongannya siapa tuh? Rocky
Grong itu loh ya. Bikin buku ya bikin
apa macam-macam. Nanti pada saatnya
mungkin teman-teman COI Kebencanaan
punya IG ya, Mbak.
Ada struktur organisasinya tapi nanti
aja yang penting komitmennya sudah kita
tandatangani. Nanti ada struktur
organisasinya COI maupun COP itu ada ada
struktur nonformal ya, bukan terus
dibentuk kayak lembaga gitu bukan. Nanti
malah jadi dinas sendiri
ya kayak ya anulah apa namanya kayak
semacam organisasi nonformal mereka.
siapa yang buat topik-topik, siapa yang
buat kajian, gitu-gitu aja. Nah, kami
juga akan suplly grup ini, grup ini
dengan kebijakan-kebijakan terbaru
tentang kebencanaan.
Mungkin juga ada podcast-podcast terbaru
tentang kebencanaan, mungkin juga
literatur-literatur tentang kebencanaan
kami suplai. Nah, sehingga teman-teman
bisa nanti ee bisa apa namanya? Terus
bertumbuh pengetahuannya, terus
berkembang kemampuannya.
Inilah COI yang kami dedikasikan untuk
ASN di Jawa Timur bahkan di Indonesia.
COI, COP dan sejenisnya adalah bentuk
dari kebijakan nasional di mana
pengembangan kompetensi ASN harus eh
bukan harus wajib dilakukan secara
terus-menerus.
Lah kalau terus-menerus
harus ke BPSDM terus. Pertama jelas
enggak ada anggarannya. Nah, kedua jelas
Bapak Ibu yang enggak sempat toh mosok
bendino rene dasian klambian putih gitu
kan ya. Nah, mending kan belajar dengan
teman seines.
Kalau COP belajar teman seprofesi. Ini
amanat Undang-Undang. Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2023 pasal 49 ayat 1
mengatakan bahwa seluruh pegawai ASN
wajib melakukan pengembangan kompetensi
secara terus-menerus agar tetap relevan
dengan bidang tugasnya. Di ayat 2
disebutkan pengembangan kompetensi
dimaksud dilakukan secara terintegrasi.
Salah satu bentuk dari pengembangan
kompetensi terintegrasi adalah corporate
university yang sudah di tentu tetapkan
dengan Pergup 59 202121. Salah satu
bentuk corporate university adalah CO.
Kira-kira gitu ng dipahami nggih? Jadi
setelah ini kalau mau bentuk COI sendiri
ya boleh dengan senang hati.
Pak, saya punya grup khusus mengenai
teman-teman yang konsen kepada
artificial intelligence. Ya, monggo
kalau butuh fasilitasi kami, kami
fasilitasi.
sehingga ada ahli bedah, ada ahli
keuangan, ada widyaiswara,
ada yang ngurusi hama penyakit tanaman,
ada yang ngurusi bencana tapi sama-sama
konsern ingin belajar tentang artificial
intelligence. Ya sudah bersekongkol aja,
bersekutu namanya ya. bersekutu aja
dalam bentuk community of internet. Saya
punya kelompok filsafat, saya punya
karena saya konsern pada saya. Nah,
sehingga teman-teman semua kemudian
ee terus tumbuh kembang ya sehingga kita
terus relevan kalau istilahnya
undang-undang. Kalau istilahnya Pak
Renat Kasali stay relevan. Matur nuwun
semuanya mudah-mudahan bermanfaat.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullah.
Dengan senantiasa mengharap rida Allah
subhanahu wa taala, kegiatan community
of interest kebencanaan Provinsi Jawa
Timur pada hari ini saya nyatakan
diakhiri.
Nuwun
hadirin, dengan demikian telah kita
ikuti seluruh rangkaian acara Community
of Interest kebencanaan Provinsi Jawa
Timur tahun 2025 pada kesempatan hari
ini. Sebelum kita akhiri seluruh
rangkaian acara pada siang hari ini,
terlebih dahulu kita akan foto bersama.
Untuk itu kami undang Kepala BPSDM serta
narasumber dan moderator beserta Kabit
Fungsional untuk mengambil
tempat yang telah disediakan oleh
teman-teman protokol.
Dan kami mengundang juga untuk yang
hadir secara daring di Zoom meeting
untuk bisa mengaktifkan kamera. Dibuka
kameranya dan akan kami dokumentasikan
bersama-sama
dengan Kepala BPSDM dan rekan-rekan yang
hadir atau sobat ASN yang hadir di BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Kami undang yang hadir di BPSDM untuk
perwakilan peserta boleh bergabung.
Bagus.
Tapi yang masih muda
jangan lupa untuk peserta yang hadir
secara daring di Zoom meeting juga
kamera boleh diaktifkan karena akan kita
lakukan dokumentasi bersama-sama.
Baik, izin akan kami pandu.
3 2
satu. Sekali lagi. 3 2 1. Gaya bebas.
Izin tangan kanan
tangguh. Enggih.
Kami pandu 3 2 s. Sekali lagi 3 2 1.
Baik, terima kasih Bapak Kepala BPSDM
beserta segenap narasumber dan moderator
yang telah
mendampingi kita selama setengah hari
ini dengan mengikuti diskusi yang luar
biasa.
Kami mengingatkan untuk peserta jangan
lupa untuk bergabung di WhatsApp grup
community of interest kebencanaan tahun
2025 serta dapat mengunduh materi yang
telah disediakan.
Akhir kata, atas nama panitia kami
mengucapkan terima kasih dan kami pamit
undur diri. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Baik, bagi Bapak Ibu yang ingin
melaksanakan ibadah salat dapat menuju
ke arah barat sisi kiri. Jadi kalau
tertulis employe of the man, Bapak Ibu
bisa langsung belok ke kiri ada musala
dan ada tempat wudunya. Kami berkarya
untuk Jawa Timur yang berjaya.
Langkah pasti menimpan
dengan semangat pembaharuan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas berinovasi
bersatu dalam visi yang terang menjawab
tantangan jangan demiang
PPSDM Jawa Timur Center of Exans masa
depan gemilang hilang
bersama membangun asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti mengiti zaman
dengan semangat pembaruan
ilmu, dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSDM Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencet STM berkompetensi.
Tangguh cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang telah menjawab
tantangan dan jangan demi
PPSDM Jawa Timur Center of Exans masa
depan gemilang ang
[Musik]