Transcript
URJ8KmcufPQ • Community Of Interest (CoI) Kebencanaan Provinsi Jawa Timur Tahun 2025
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0257_URJ8KmcufPQ.txt
Kind: captions Language: id Hadirin dimohon berdiri. mengawali acara menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. [Musik] Hadirin [Tepuk tangan] [Musik] disilakan duduk kembali. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Pertama-tama izinkan terlebih dahulu kami menyapa yang terhormat Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Fungsional dan Sosial Kultural BPSDM Provinsi Jawa Timur, Ibu Amalia Pramudiansari, SST.P., M.M. Yang kami hormati Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur yang pada kesempatan ini diwakili oleh Kepala Bidang Kedaruratan Bencana dan Logistik BPPD Provinsi Jawa Timur Bapak Satrio Nurseno, SSTP. MIP. Yang kami hormati Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Proteksi Kebakaran, Bapak Unggul Wahyu Dono, serta seluruh hadirin yang berbahagia. Bapak, Ibu hadirin. Tentu kita sadari bersama bahwa potensi bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di lingkungan kerja kita sehari-hari. Oleh karena itu, pemahaman serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana menjadi hal mutlak dimiliki oleh setiap individu, terutama kita sebagai ASN dalam melaksanakan tugas di mana pun kita berada. Dengan adanya kesiapan tersebut, bukan hanya keselamatan yang akan terjaga, tetapi juga akan menunjang tercapainya kinerja organisasi yang optimal. Hadirin, maka senang sekali kita pada hari ini Senin, 1 September tahun 2025 dapat berjumpa secara hybrid langsung dari IKI Coworking Space BPSDM Provinsi Jawa Timur dalam acara forum konsultasi pengembangan kompetensi community of interest kebencanaan Provinsi Jawa Timur dengan tema kesiapsiagaan menghadapi bencana di tempat kerja. Boleh kita berikan tepuk tangan untuk menambah semangat kita pada pagi hari ini. Hadirin yang berbahagia, sebagai wujud rasa syukur marilah sejenak kita tundukkan kepala seraya berdoa kepada Allah subhanahu wa taala. Doakan dipimpin secara Islam oleh Saudara Muhammad Jufri, S. Kami silakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Bapak, Ibu, mohon izin kami berdoa secara Islam. Bagi yang beragama lain, mohon untuk menyesuaikan. Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma sholli wasallim ala sayyidina Muhammad. Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma inna nasaluka salamatan fiddin waatan fil jasadiatan ilmiatan rizqatan qblal maut warahmatanal maut wafiratan baal maut. Allahumma hawin alaiil maut minal hisab. Allahumma la tus qulubana ba' iddaitana wahblana madadunka rahmatan innaka antal wah rbanaamna anfusana waillam tagfirlanahamna minal khasirin allahumfirlana waliwalida warhamhuma kamabayana sigoro wasallallahu alaihi wasallallahu ala sayyidina muhammad subhanakabikailati amma yasifun Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hadirin, selanjutnya marilah kita simak bersama sambutan Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur yang pada kesempatan ini akan disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Fungsional dan Sosial Kultural BPSDM Provinsi Jawa Timur yang sekaligus berkenan membuka secara resmi kegiatan pada hari ini. Yang kami hormati Ibu Amalia Pramudiansari, SSTP, M.M. Kami silakan. [Musik] Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan rahayu dan salam sehat Bapak Ibu sekalian. Alhamdulillahiabbil alamin. Hari ini bisa hadir bersama nggih kita Bapak, Ibu dan hadir di tengah-tengah kita tentunya narasumber yang sangat luar biasa hari ini. Yang pertama Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Bapak Satrio Nurseno, SSTP, MIP. Terima kasih. Di tengah suasana yang ee apa ya, lumayan crowded ini ya, Pak Satrio bisa hadir. Kemudian narasumber yang kedua jauh dari Jakarta, Bapak Ibu hadir ketua lembaga sertifikasi profesi proteksi kebakaran Bapak Unggul Wahyu Dono, SP. Selamat datang di BBSDM Jawa Timur dan di Surabaya. tentunya hadir pula hari ini moderator Pak Sugito SSTP, MIP. Terima kasih, Pak. Beliau Widya Widya Iswara ahli madya di BPSM Provinsi Jawa Timur. Dan juga hadir hari ini Kepala UPT Sertifikasi ASN Bu Susi. Terima kasih Bu. Pak Anung analis Bank Komadia, Pak Praktik analis Bank Komadia, WI Utama ada Pak Aman, kemudian Bu Isma juga WI dan juga Pak Sugeng, teman-teman analis Bangkom serta seluruh peserta yang hadir hari ini baik dari perangkat daerah provinsi maupun kabupaten kota Jawa Timur dan juga sobat ASN yang hadir di kanal YouTube BPSDM Jatim TV. Bapak, Ibu yang kami hormati. tentunya tiada ungkapan yang lebih indah nggih kecuali rasa syukur kita ke hadirat Allah Subhanahu wa taala Tuhan yang maha esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya kita diberikan nikmat sehat Bapak Ibu kemudian keselamatan juga kesempatan Bapak Ibu di tengah kesibukan yang sangat luar biasa dan situasi yang perlu sangat kita ini ya hadapi bersama saat ini bisa hadir bersama di IKI Coworking Space BPSDM Jatim. tentunya Bapak Ibu ini tidak biasa kalau biasanya di ruang sasana ya di atas ini ngih kalau Bapak Ibu pelatihan juga ada di gedung hari ini kita buat vibes yang berbeda gitu kalau Genzi milenial mungkin bahasanya juga ngobrol santai gitu atau ngariung gitu ya pernah ee dengar bahasa ngariung. Terima kasih kehadirannya. Tentunya salam hormat Bapak, Ibu dari Bapak Kepala BBSDM Provinsi Jawa Timur. Ini inisiasi beliau Bapak, Ibu dan sangat-sangat beliau nantikan setelah ada acara COP atau community of practice tentunya Bapak Ibu pernah mengikuti sebagian. Nah, hari ini COI apa COI gitu ya. Jadi di BPSDM Provinsi Jawa Timur tentunya tidak hanya memberikan pelatihan secara klasikal atau daring dan lain sebagainya, kita sekarang di Korpu ini membangun komunitas Bapak Ibu. Jadi nantinya ada persentase yang harus diberikan ke OPD juga masing-masing OPD harus juga melaksanakan pengembangan kompetensi tidak hanya di BPSDM Provinsi sebagai lembaga pengembangan SDM. Dan hari ini setelah community of practice tentunya practice itu background-nya JFJF ya yang kami angkat misalkan analis kebijakan JF perencana Prahum kemudian DAMKAR satu lagi SDMA hari ini semua bisa ikut karena ini bedanya adalah yang interest atau tertarik pada satu hal gitu. ASN tidak melulutusinya Bapak Ibu, namun juga boleh interest di terkait aware kebencanaan, kemudian public speaking. Mungkin Bapak Ibu di sini ada yang suka public speaking. Nah, nanti suatu saat kita juga akan e buat seperti itu atau terkait AI, kemudian terkait hal-hal yang hubungannya dengan IT gitu. kita juga akan membuat seperti itu. Jadi tidak melulu tusi berdasarkan praktis atau COP gitu. Dan hari ini tentunya Pak Kaban juga akan bergabung dengan kita sekalian Bapak Ibu karena masih ada acara penting yang tidak bisa ditinggal di gedung dewan. Jadi beliau akan ee bergabung atau memberikan motivasi arahan juga di akhir acara insyaallah bersama Bapak Ibu sekalian di tengah-tengah kita semua. Bapak, Ibu hadirin yang kami hormati. tentunya acara ini kami ee mempunyai maksud gitu ya terkait hal ini. Selain membentuk komunitas terkait interes juga kesiapsiagaan bencana di tempat kerja ini bukan pilihan Bapak Ibu tentunya ya, melainkan sebuah keharusan yang diimplikasikan sangat jelas. misalkan keselamatan SDM nantinya melindungi aset terbesar dari kita yaitu sumber daya manusianya. SDM pasti utama ya Bapak Ibu. Dan ee kami boleh menyampaikan juga acara hari ini jauh-jauh hari sudah terplanning Bapak Ibu. Jadi ee kalau ada hal yang sekarang kita tidak inginkan bersama ya tentunya kami ee sesuai hari ini mungkin Bapak Ibu harus aware gitu terhadap keselamatan kerja. di tempat kerja Bapak Ibu sekalian. Dan kita berharap tentunya kondisi saat ini kita berdoa bersama di setiap sujud kita segera membaik ya Bapak, Ibu. Dan tidak lupa kami di BPSDM Provinsi Jawa Timur juga oh yang menyampaikan duka yang mendalam kepada ASN kemudian Ojol dan semua yang sudah berpulang ya nantinya mudah-mudahan diterima amal ibadahnya oleh Allah subhanahu wa taala dan diampuni segala khilafnya. Kemudian Bapak Ibu tentunya keberlangsungan pelayanan itu juga penting dengan kesiapsiagaan bencana memastikan bahwa fungsi-fungsi vital pemerintahan dan layanan publik dapat segera pulih dan berjalan kembali pasca bencana. Itu penting. Jadi ee tidak terus meratapi gitu ya, Bapak Ibu. kita harus ee bangkit kembali kalau ada hal-hal yang tidak kita inginkan di tempat kerja kita. Kemudian perlindungan aset dan dokumen penting. Nah, itu tentunya aset ee kita selain SDM dan juga keberlangsungan pelayanan kita harus aware terhadap aset dan dokumen penting kita baik di OPD kemudian ada yang dari rumah sakit ya Bapak Ibu itu semua aset-aset dokumen penting harus diamankan. kemudian infrastruktur arsip negara kursial dan juga pengambilan kebijakan operasional pemerintahan. Dan Bapak Ibu Sobat ASN yang tergabung di YouTube BBSDM Jatim TV tentunya pada kesempatan kali ini berbicara mengenai kesiapsiagaan bencana di tempat kerja tidak terlepas dari bagaimana seorang ASN kita semua ya harus juga memahami untuk dapat menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja. sebagai upaya preventif dari diri sendiri sehingga terhindar dari penyakit akibat kerja atau Pak. Kemudian untuk mencapai produktivitas optimal dalam bekerja serta mencapai kinerja yang optimal. Oleh karena itu, penting kita semua hadir Community of Interest Jatim ini ASN Jawa Timur untuk dapat memahami implementasi dari keselamatan dan kesehatan kerja atau KTG. kemudian perkantoran sehingga ASN mendapatkan insight penting mengedepankan keselamatan dan kesehatan kerja dalam setiap kegiatan administratif di perkantoran pemerintahan dan juga pelayanan di masyarakat. Kemudian sebagai ASN kita juga memiliki tanggung jawab ya Bapak Ibu terkait ee ganda hal ganda yaitu melindungi diri kita sendiri tentunya dan juga kolega baik ee di tempat kerja maupun pengguna layanan kita di tempat layanan sekaligus menjadi garda terdepan dalam memastikan negara tetap hadir melayani masyarakat bahkan dalam situasi darurat sekalipun. Bapak, Ibu tentunya COI ini nantinya akan ditindaklanjuti awalnya adalah grup WhatsApp gitu ya. Nanti bisa mengundang teman-teman Bapak Ibu yang aware juga. Ini belum semua OPD memang Bapak Ibu ya. Kami membagikan link siapa yang ingin ikut. Minimal OPD memang satu. Alhamdulillah ada beberapa OPD yang banyak yang ikut. Terima kasih bagi OPD yang belum aware nanti tetap Bapak Ibu bisa sharing knowledge gitu ya terkait grup WhatsApp nanti yang akan dipandegani teman-teman WI dan juga ASN di BPSDM Jatim dari kita untuk kita Bapak Ibu. Jadi acaranya nanti boleh ngariung lagi, boleh ada bahas lain sebagainya melalui Zoom gitu ya, terkait bagaimana keselamatan kerja, menangani bencana dan lain sebagainya. Tentunya nanti akan di-share di akhir acara dan Bapak Ibu monggo nanti saran, kritik masukan untuk membangun komunitas ini supaya bermanfaat. Kami sangat welcome gitu. Baik dan akhir kata Bapak, Ibu tentunya nanti selamat mengikuti nggih acara ini sampai akhir. Kemudian kami juga ee berterima kasih kepada Bapak Ibu hadir hari ini dan juga dengan memohon rida dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa taala atas seizin Bapak Ibu sekalian dan mewakili Pak Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim pada hari ini, Senin 1 September 2025 Forum Community of Interest atau COI Kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun 2025 secara resmi saya nyatakan dibuka dan dimulai. [Tepuk tangan] Baik, selamat mengikuti Bapak Ibu hadir narasumber yang sangat luar biasa. Monggo enjoy saja. Kalau sambil makan snack juga boleh. Kopi teh di samping kanan kiri juga oke ya Bapak Ibu. Nanti kalau kantornya akan dibuat gini yang belum ada boleh juga dibuat. Nanti harus aktif tidak boleh seperti rapat. Jadi harus banyak yang bertanya supaya beliau dari Jakarta hadir di sini ada insight-nya gitu. Bapak Ibu salam sehat tentunya kalau ke Surabaya jangan lupa beli es selasih. Mana cakepnya? Mohon maaf dan terima kasih Bapak Ibu. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Hadirin yang berbahagia, demikian telah kita ikuti bersama seremonial pembukaan forum konsultasi pengembangan kompetensi community of Interest Kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Sobat ASN, tak lupa kami mengingatkan pula bagi seluruh Sobat ASN yang hadir pada hari ini baik secara daring maupun luring nanti akan dapat melakukan scan QR pada akhir acara yang akan ditampilkan oleh panitia dan Sobat ASN dapat mengakses pengunduhan materi, daftar hadir, penerbitan e-sertifikat, dan yang tak kalah penting kami akan mengundang seluruh sobat ASN yang hadir pada hari ini untuk bergabung dalam WhatsApp grup community of interest kebencanaan tahun 2025. tentunya di akhir acara. Untuk itu kita akan selanjutnya mengikuti penyampaian materi oleh dua narasumber. Jangan ke mana-mana, kita akan kembali sesaat lagi. [Musik] Together building hope noble. [Musik] East jaut [Musik] bekasulsm [Musik] java center of excellence a place where people are born producing competent resilient intelligent innovative united enak [Musik] Baik, Sobat TSN di mana pun Anda berada. Seperti janji kami tadi, mari kita ikuti bersama penyampaian materi terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana di tempat kerja yang akan dipandu oleh moderator kita pagi hari ini, Widya Iswara, ahli madia BPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Sukito Prasetyo, SSTP. Mm. Kami persilakan. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum. warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat Bapak Kepala Badan BPSDM Provinsi Jawa Timur yang dalam hal ini diwakili oleh Ibu Kabit. Yang kami hormati duara dua narasumber yang sangat-sangat luar biasa yang mulai minggu kemarin kita nantikan kehadirannya. Yang kami hormati Bapak, Ibu hadirin peserta COI dan mohon izin Bu Kabit kami laporkan di WA kami ternyata yang hadir melalui daring. Selain teman-teman dari Provinsi Jawa Timur, kabupaten, maupun kota kami juga nerima laporan ini teman dari Sumatera Selatan. dari Mataram, dari Jawa Barat. Jadi luar biasa kegiatan ini. Semoga ini menjadi awal untuk kita semua bisa interest terhadap kebencanaan baik di lingkungan kerja maupun juga di lingkungan sekitar kita. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wa taala karena dengan rahmatnya kita dapat berkumpul dalam forum yang luar biasa ini. Forum bukan sekedar sharing ilmu, tapi juga sharing kepedulian. Karena bicara tentang bencana di tempat kerja bukan sekedar teori tapi soal nyawa. dan keselamatan kita semua. Kalau orang bilang ASN itu harus siap kerja kapan saja, mungkin sudah biasa kita dengar. Tapi kalau kita siap siaga kapan saja, itu yang harus kita awali dari sekarang. Tadi Ibu Kabit sudah mancing kami dengan pantun, Bu. Mohon maaf ini moderatornya agak emosional, Bu. Jadi tadi dipancing sekali ya kami harus jawab dua kali bahkan mungkin lebih. Berjalan-jalan ke Gunung Semeru. Jangan lupa membawa bekal dan peta. Siaga bencana bukan perkara baru. Karena nyawa kita taruannya. Terima kasih tepuk tangannya. Saya baru tidur jam .00 pagi untuk membuat pantun-pantun ini. Bunga melati haru mewangi, tumbuh indah di tengah taman. Kalau kita siaga dan peduli, tempat kerja pasti lebih aman. Mungkin panitia mohon maaf kalau sekarang saya masih membaca. Semoga kesempatan yang lain saya sudah membaca lagi. Oke, Bapak, Ibu sekalian yang kami hormati. Tema kita hari ini adalah kesiapsiagaan menghadapi bencana di tempat kerja. Hal ini sangat relevan dengan kondisi kebencanaan di negara yang kita cintai ini. Kurang lebih 3.000 kejadian setiap tahun yang dilaporkan oleh BNPB. Ya, kebetulan 5 tahun yang lalu saya mungkin sama berbaju oren untuk Pak Satrio ya. Nah, kebetulan baju orenya juga hasil kiriman dari narasumber ini ya. Jadi 3.000 kejadian mulai dari banjir, gempa, kebakaran hingga bencana non alam seperti pandemi yang baru aja kita lewati bersama. Di sisi lain, tempat kerja sering menjadi titik rawan mulai dari potensi kebakaran karena instansi listrik, bahan kimia berbahaya hingga musibah gempa yang terjadi kapan saja. Dari dasar inilah maka BPSDM menghadirkan dua narasumber yang luar biasa. Yang pertama nanti akan menyampaikan bagaimana BBD menyiapkan strategi dan mitigasinya. Dan yang kedua yang kami tunggu semuanya ini adalah bagaimana beliau selaku pakar K3 sekaligus ketua LSP proteksi kebakaran memberi kita insight tentang proteksi kebakaran di lingkungan kerja. Untuk itu sebelum kami panggil kami bacakan CV-nya. Cuma mohon maaf tadi kami nerima CV-nya itu tebal sekali dua-duanya, Pak. Sehingga saya buat repikan yang ringkas karena kalau kami cukup membacakan saja materinya gak dapat-dapat nanti, Bapak. Jadi mohon izin yang pertama adalah Bapak Satrio Nurseno, SSTP, MIP. Lahir di Magetan, tanggalnya tidak sah kami sebut, Pak. Tahun 1986. Karena nanti untuk tanggal sama bulan kita buat untuk kuisnya. Nanti pendidikan beliau lulus IPDN di tahun 2009 dan S2-nya dari Surabaya dari UNER tahun 2015. untuk pelatihan karena beliaunya di BWBD dimulai dari DMB tahun 2014 terus mengikuti tadi saya baca kalau tidak salah 16 pelatihan yang beliau ikuti dan saya baca yang terakhir adalah TOT kebencanaan serta sertifikasi audit internal 2024. Pengalaman kerja diawali dari Sekpri Bapak Sekda Jatim tahun 2029. Betul ya, Pak Sadrio ya. Dan yang terakhir bukan yang terakhir yang sekarang hari ini beliau Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BBD Jawa Timur. Jadi bagi teman-teman yang sekarang rawuh berbaju oren, monggo beliaunya karena menangani logistik, Pak. Kalau mungkin logistiknya di BBD Kabupaten silakan setelah acara langsung menghubungi beliaunya. Yang kedua, Bapak Unggul Wahyudono lahir di Purbalingga. Saya ini harus hati-hati, Pak. Khawatir keliru. Probolinggo ya. Karena saya di Probolinggo, Bapak. Purbalingga tanggal perlu disebutkan, Bapak. Ah, 6 Agustus 1972. Ah, jadi selamat ulang tahun Bapak. Alhamdulillah hari ini kita rayakan ulang tahun Bapak ke-18 di BPSDM Jawa Timur. Karena beliaunya pakar tentang K3 kebakaran ini lebih dari dua lembar CV-nya tadi untuk mengikuti pelatihan-pelatihan saya bacakan awal sama akhir aja nggih Bapak. Jadi yang pertama adalah pelatihan dasar penanggulangan kebakaran tahun 2000. Setelah itu mengikuti mohon maaf kalau salah saya sebut nggih NF PE kode 101 sampai dengan 30 di Singapura Bapak. Kapan-kapan kami mau diajak Bapak. Setelah itu Uniform Building Bailo Law di Selangor, Malaysia dan asesor kompetensi BNSP tahun 2015. Organisasi yang beliau ikuti ini yang besar-besar dan nampaknya masih asing buat kami ini, Pak. Nanti mungkin bisa dijelaskan sedikit nggih di IFP PA, BEA sama IPMA. Jadi ada tiga asosiasi ini mungkin nanti jadi kuisnya Pak ya biar saya yang menang karena saya yang tahu catatannya ada di saya. Nggih. Jadi untuk itu mari kita panggil dua narasumber yang luar biasa yang akan hadir di tengah-tengah kita semuanya. Alhamdulillah beliaunya mungkin tahu berdua kalau tangan saya keringetan nggih. Jadi bukan menjadi lap nggih Bapak karena ya untung ini gak gemetar Pak. Jadi gak gemetar tapi keringatan. Alhamdulillah. Jadi ee Bapak Ibu sekalian yang saya hormati, hadirin sekalian. baik yang hadir di BPSDN maupun juga yang ada di kabupaten, kota, daring maupun juga yang ada di luar Provinsi Jawa Timur, dari OKU Timur, dari Mataram, dari Sukabumi yang sudah berkenan untuk mengikuti kegiatan ini. Ee pada sesi ini akan disampaikan dua narasumber. E mungkin nanti penyampaiannya 30 sampai 45 menit saja, Pak. Oh, lama. Oh, alhamdulillah. Tapi pikir itu kecepatan karena diskusinya kita bisa sampai sore maupun malam, Bapak ya. Karena ini adalah forum diskusi, forum santai. Tadi sudah disampaikan oleh Bu Kabit di kanan kiri ada pisang ngopi, ada minuman, namun yang lain tapi disiapkan curisnya. Nggih, Bapak, Ibu sekalian eh tiba saatnya untuk menyampaikan materi dari narasumber yang luar biasa. Yang pertama dari BBD Provinsi Jawa Timur. Waktu kami persilakan. Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi, salam sejahtera buat kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Izin senior. Ini baru pertama kali nih, Pak. Dan alhamdulillah setelah sekian lama kami apa di berbaju oren, beliau meninggalkan baju orennya, Pak. Sekarang, Pak. E tapi okelah keren. Dan saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala BPSDM Jatim ee sudah berkenan mengundang kami ini di community of interest khususnya kebencanaan dan seru, keren untuk ee ruangannya. Ini perlu dicoba. Nanti mungkin Bu Kabit bisa minta kontak person-nya nanti ya. Ya, nanti kita coba untuk kita apa akomodir ya di ee untuk di BBD Jatim pas ini, Mas. Jadi ada pembangunan di sana, ada Mas Unggul juga ini. Wah, ini harus jadi apa hal-hal yang perlu kita sempurnakan ini di BBD Jatim. Eh, Bapak Ibu semua izin perkenalkan saya nama Satrio. Tadi sudah dijelaskan sama moderator. Saya Satrio Nurso. Sekarang menjabat sebagai Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BBD Provinsi Jawa Timur. Alhamdulillah di BBD Jatim sudah 12 tahun Mas Unggul. Jadi ee kami benar-benar ini ee tidak mempunyai konsep tapi lebih ke praktisi. Kalau kami lebih ke praktisi. Jadi kita bicara berdasarkan pengalaman. Kami bicara berdasarkan pengalaman dan ee benar tadi yang disampaikan Mas Moderator ee teman-teman BBD Jatim eh BBD Sejatim atau yang ee mungkin menonton ini kalau mencari minta logistik pastinya di kami ya. Apalagi kemarin sudah banyak laporan beberapa instansi atau kantor BBD di Jawa Timur sudah banyak yang rusak, Mas. Karena kemarin ada bencana sosial katanya gitu ya. Jadi banyak yang rusak logistik, banyak yang habis aset-aset habis. Kemungkinan besar sebentar lagi surat banyak yang masuk ini. Nah, ee kita mulai saja. Kami mulai saja. Kami gak lama-lama, Mas, untuk ee paparannya. Tapi sekedar kita bicara dan belajar bersama ya. Kita belajar bersama karena memang BBD Jatim pun juga belum sempurna om tipnal untuk kesiapsagaan kita terhadap bencana di lingkungan kerja. Namun paling tidak ee di OPD kami karena teman-teman kami ee personil kami semuanya terlibat secara langsung di kebencanaan. paling tidak kami sudah memiliki ee apa ya istilahnya sudah maju satu langkah dari kawan-kawan yang lain yang mungkin di luar OPD ee BBPD ya. Baik, kita mulai. Ee Bapak Ibu sekalian, Jawa Timur ini mungkin ee Bapak Ibu sekalian sudah sering membaca khususnya kawan-kawan kami dari kabupaten kota ya. kita ee banyak sekali ancaman di Jawa Timur untuk ancaman bencana khususnya bencana alam maupun non alam ya. ada 14 ancaman yang ada di kita ini menjadi sudah menjadi ee masuk di dalam kajian risiko bencana dan ini sering terjadi ya kalau kita bicara banjir semua wilayah di Jawa Timur pasti juga pernah mengalami walaupun ada yang bilang itu gak banjir itu genangan tapi secara secara apa ee perfiksi pembacaan kita sudah masuk dalam kata banjir ya. Jadi ada banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gelombang ekstrem dan abrasi gempa bumi, gegalan teknologi, pandemi Covid, epidemi wabah penyakit, letusan gunung api, tsunami, dan likuifaksi. Ini ini menjadi ee perhatian kita semua Bapak, Ibu semua ya, teman-teman semua khususnya di Provinsi Jawa Timur ataupun di kabupaten kota harus tahu, harus mengerti, harus paham ancaman apa di sekitar kita. Ada enggak ee kira-kira dari 14 ancaman itu yang ee menunggu di sekitar kita? Jadi kalau sekarang ini kami mesti dilatih untuk selalu melihat pada saat di kondisi ee ke mana pun pergi, Mas. Jadi ketika kita mau pergi ke mana pun, kita harus melihat ada ancaman enggak di situ. Tadi saya masuk sini juga walaupun saya sudah sering ke BPSDM juga sering melihat dan apa ee menganalisislah istilahnya ini ada ancamannya gak nih. Ini ada pintu keluarnya ke mana ya ini kalau terjadi kejadian gitu. Ini sudah menjadi kebiasaan. Jadi ee seperti ini. Oh, ini banyak kaca nih. Kalau ada gempa pasti ee rawan untuk teman-teman atau kawan-kawan yang dekat dengan kaca. Nah, kecuali kacanya memang tebal banget dan tahan gempa gitu ya. Oke, next. Nah, per 31 Agustus kemarin kejadian bencana terjadi di seluruh Jawa Timur dan rata-rata 113-nya adalah banjir. Ini belum kejadian bencana yang saat ini sedang melanda di beberapa wilayah yaitu kekeringan dan kebakaran hutan. ini kalau di yang kami sampaikan di paparan ini hanya hidrometeorologi dan kebakaran hutan. Untuk kekeringan belum masuk ini kalau kekeringan ini sudah ada tujuh kabupaten yang saat ini ee mengalami kekeringan dan upaya kami juga ee melaksanakan droping air besi dan penyaluran sarana sarana prasarana untuk membantu masyarakat kita yang terdampak untuk pelayanan kita. Oke, next. Bapak Ibu sekalian. Kenapa kesiapsiagaan ini menjadi penting? Karena ini menjadi salah satu eh 17 dari SDGs kita ya, Climate change ya. Climate change ini yang menjadi eh fokus kita saat ini. Kita masuk di dalamnya kami di kebencanaan menjadi salah satu ee yang memiliki peran ya yang memiliki peran untuk bisa mencegah terjadinya atau dampak dari climate change. Ini makanya kita perlu untuk melakukan pengurangan resiko bencana. Salah satunya adalah melalui kesiapsiagaan di manapun khususnya di lingkungan kerja. Karena kontribusi untuk memperkuat ketangguhan sangat sangat perlu dicapai untuk pembangunan yang berkelanjutan. Oke, next. Baik, Bapak Ibu sekalian, kesiapsagaan di tempat kerja merupakan suatu rangkaian yang perencanaan, pelatihan dan segala macam. Ini yang menjadi ee substansi kita untuk kita kembangkan ya. ee dari kalau kita bicara di kebencanaan ada prabencana, ada keadaan darurat dan pasca bencana. Ini Mas moderator sangat ahli ini ya. Nah, kalau di kesiapsagaan ini juga rangkaian itu menjadi ee suatu hal yang perlu kita laksanakan ya. Karena apapun yang kita laksanakan di lingkungan kerja itu tidak tidak lepas dari mitigasi, tidak lepas dari kita pengkajian risikonya di tahapan perannya. Kemudian bagaimana kita nanti di respon time-nya atau di ee personilnya, sumber dayanya baik ee personil maupun sarana prasarana. Kemudian bagaimana pemulihannya? Kalau kita bicara kesiapsagaan di lingkungan kerja, kalau di BBD Jatim fokus utama atau tujuan utama dari kami adalah keselamatan personil. Itu menjadi suatu hal yang harus kami prioritaskan. Wajib Ain nomor satu keselamatan personil. Kemudian yang kedua adalah pelayanan. Nah, ini pelayanan pelayanan untuk ee masyarakat. Kalau di kebencanaan tentunya pelayanan yang berurusan dengan kebencanaan itu menjadi ee dua hal yang harus tetap berdiri ketika tetap beroperasi ketika terjadi keadaan darat atau emergency. Kemudian yang ketiga, aset. Perlindungan aset ini pun juga menjadi satu hal yang harus kita ee kuatkan bagaimana aset-aset ini bisa aman untuk bisa mengurangi risiko atau mengurangi dampak kerugian-kerugian yang lebih besar. khususnya karena aset ini kan tercatat kemudian juga menjadi bukan milik kita ya milik negara. Bagaimana kita ee ee berusaha untuk bisa mengurangi dampak yang signifikan akibat kejadian-kejadian darurat ataupun bencana di lingkungan kerja. Kemudian yang ee yang terakhir adalah terkait dengan pemulihan. bagaimana pelayanan ini lebih bisa berjalan efektif dengan kondisi yang emergency. Bagaimana kita bisa berusaha untuk tetap berjalan operasi baik dari instansi di instansi internalnya bagaimana keselamatan kerjanya dan dan ee berbagai hal. Oke, next. Nah, ini tujuan kesepagan yang tadi saya sampaikan. Jiwa ASN menjadi pokok utama. Kemudian keselamatan apa kelancaran pelayanan pemerintahan saat bencana, kerugian aset yang yang terakhir adalah budaya sadar bencana dan keselamatan kerja. Rata-rata ee para pegawai, para karyawan tahu terkait kebencanaan, tapi tidak serta-merta mereka sadar terkait budaya kebencanaan. budaya bencana ya, budaya sadar bencana ini harus menjadi urusan kita bersama. Tidak hanya BBD Jatim saja atau BBD kabupaten kota. Teman-teman semua di OPD harus ee berupaya, harus sama-sama bekerja sama ya kok harus dengan terkait dengan kebencanaan ini harus sadar semua bahwa bencana ini tidak tidak kita tidak tahu kapan, di mana dan untuk apa ya untuk siapa siapa yang akan terlibat, siapa yang akan terkena dampaknya. Kadang banyak orang yang berpikir, "Oh, tadi kami di tempat transit bicara dengan Mas Unggul juga tadi bilang, "Oh, di di Los Angeles ya, Mas ya? Di Los Angeles katanya, "Oh, di sini banyak nih apa plinnya untuk ee struktur bangunan dan kotanya bagus, tidak akan pernah terjadi bencana gitu. Tidak akan pasti akan mampu menghadapi bencana." Tapi setelah beliau pulang dari le 3 hari, kebakaran yang kemarin melanda di LE habis semua. Nah, itu sekali lagi bencana ini tidak serta-merta kita tidak tahu kapan, kita tidak tahu kepada siapa dampaknya. Tapi paling tidak untuk keselamatan diri dan keluarga kita harus tahu dan kita harus harus paham itu. Nah, ini menjadi kewajiban kita bersama agar kita sadar terhadap ee budaya sadar bencana. Next. Baik Bapak Ibu sekalian ee ini urgensinya ya mungkin urgensi kesiap ee kesiapsiagaan di tempat kerja yang pertama adalah melindungi keselamatan dan nyawa karyawan. Seperti yang tadi saya sampaikan, nyawa ini tidak ada gantinya. Kalau aset bisa diganti mumpung mungkin asetnya mumpung sudah lama ya sekalian aja gak apa-apa n beli baru gitu ya. Tapi kalau nyawa gak ada yang ganti. Jadi prioritas utama kami adalah nyawa. Jadi setiap kita bekerja, setiap kita ada tugas selalu e safety first untuk teman-teman kami personil harus menjadi yang utama. Kemudian menjaga kelangsungan operasional instansi. Bagaimanapun emergensinya, bagaimanapun daruratnya, bagaimanapun dampak yang signifikan, kami BBD Jatim harus bisa apa tidak berupaya untuk membantu juga. Jadi tidak hanya ketika kami terdampak misalnya kayak tahun apa bulan kemarin pada saat banjir ya kami kantor BBD Jati melingkungkan banjir Pak hampir se mata eh selutut ya ya selutut walaupun di lingkungan kami banjir kami tetap beroperasi untuk membantu kawan-kawan kami yang di kabupaten kota yang lain ini bagaimana apa membagi ee waktu, membagi kerja, membagi bagi personilnya yang ee kami sangat keteteran pada saat itu. Tapun alhamdulillah support dari warga sekitar ya, komunik komunikasi baik kita dengan warga sekitar di RTRW-nya juga men-support. Jadi sehingga ee kegiatan-kegiatan itu bisa terbantu. Kemudian yang ketiga, mengurangi risiko kerugian aset dan properti. Nah, ini juga di kita lakukan untuk logistik peralatan kami yang ada di BBD Jatim Juta. Bagaimana kita menata menata suatu logistik dan peralatan ini bisa aman. Kita sudah tahu di ancaman-ancaman di area kami ada banjir dan ada gempa. Paling tidak banjir ini yang seringki mengancam di tempat kami. Jadi kami harus berupaya untuk logistik-logistik yang tidak tahan dengan air itu kita upayakan untuk berada di atas atau di rak yang paling atas hingga itu mengurangi dampak yang terjadi ketika ada terjadi banjir. Itu salah satu ee salah satu upaya kita. Kemudian yang kemarin-kemarin kita kerusuhan, Bang Mas Jin ini tadi memang diarahkan pakai baju oren ya seperti ee dari Jember ini. Cuman sesuai edaran Kepala BKD bahwa kita diminta untuk baju bebas rapi untuk ASN Prof Jatim di area-area yang ee merah maupun kuning. Itu juga salah satu mitigasi kita. Salah satu mitigasi kita bagaimana kita bisa menyelamatkan tempat di lingkungan personil di lingkungan kerja kita menyamar. Tapi walaupun ini juga tadi sedia baju urin juga, Mas. Tapi secara secara umumnya kita ikut untuk mematuhi dari ee proses mitigasi dari Kepala Kepegawaian kita untuk kita lebih bebas ya untuk pakaian hari ini untuk 2 hari eh 4 hari kalau enggak salah 4 hari ke depan ee sambil sambil menunggu suasana kondusif ya. Kemudian banyak juga hari ini yang telepon saya dari tadi pagi ee koordinasi dari kabupaten kota penetapan-penetapan bencana konflik ini, Mas. Bencana sosial ini. Jadi saya belum bisa bicara tadi. Mungkin nanti setelah kegiatan ini kita bisa komunikasi lebih inten dengan kawan-kawan. Kemudian yang ke urgensi kesiapsiagaan di tempat kerja yang kelima adalah memenuhi regulasi dan standar kesehatan dan keselamatan kerja. ini ada di aturan ya. Kita wajib sebenarnya untuk keselamatan kerja di semua instansi maupun di semua perusahaan itu menjadi kewajiban pimpinan perusahaan ataupun pimpinan instansi kepada seluruh personilnya kepada seluruh karyawan itu wajib. Kemudian yang keenam meningkatkan kepercayaan dan moral karyawan. Jadi kalau kita yakin ya, kita yakin dan percaya, "Wih, gedung ini aman, tempat ini sudah safety semua, sudah dukungan ini, kita bekerja lebih enak ya, lebih tenang." Ini juga mendorong juga terkait dengan pembangunan, mendorong juga terkait dengan potensi-potensi ee karyawan-karyawan kita untuk bisa lebih berinovasi dalam bekerja. Kemudian yang tujuh adalah tanggung jawab soal instansi meminimalkan panik dan kesalahan saat terjadi bencana. Jadi urgensi ini menjadi ee kesiapsagaan ini akan memberikan kita budaya bagaimana kita bisa, "Oh, kalau ada kejadian bencana jangan panik nih, gitu. Kebiasaan-kebiasaan seperti itu harus kita tumbuhkan." Kalau kita bicara gempa, izin Mas, yang membunuh gempa itu apanya, Mas? Kalau Mas boleh tahu nih, gempa ini gak membunuh loh. Gempa ini gak membunuh, Mas. Kira-kira apa yang membunuh? Yang membunuh bangunannya, Mas. Ya. Jadi kalau kita bicara gempa ini bukan gempanya yang membunuh, tapi bangunan di sekitar yang kita ini yang membunuh. Jadi, bagaimana kita harus safety dari bangunan-bangunan di sekitar itu juga ee menjadi salah satu pemahaman kita bersama. Next. Nah, ini adalah dasar-dasar kesiapsagaan bencana di tempat kerja. Nanti mungkin dari Om Unggul bisa lebih menjelaskan lagi ya, karena juga saya juga peserta nanti juga menunggu arahan dari beliau ini. Jadi ada ee dasar dari nasionalnya, ada internasional. Kita ada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang K3, kemudian ada Undang-Undang 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Ada undang-undang 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik di mana kesiapsiagaan bencana di instansi pemerintah harus memperhatikan aspek pelayanan publik yang terus berjalan meskipun dalam kondisi daruratnya. Ini menjadi prioritas. Kemudian ada Permenaker nomor per4 tahun '87 tentang panitia pembina K3 dan kemudian ada Perka BNPB nomor 7 tahun 2013 tentang pedum penanggulhan bencana. tentang untuk pengurangan resiko bencana yang harus diterapkan di lingkungan kerja. Kemudian ada yang terakhir untuk nasional ada NSI nomor 8349 2017 tentang standar nasional Indonesia tentang cara penyusunan rencana tanggap darurat bencana di tempat kerja. Ada juga internasional ini saya ambil cuman dua ini mungkin nanti Om Unggul bisa nambahi ya. Ada ISO 45001 2018 tentang manajemen sistem K3 juga. Kemudian ada ISO 223019 tentang ee kelangsungan bisnis dan pemulian pasca bencana untuk meminimalkan gangguan operasional gitu. Oke, next. Ini jenis ancaman di tempat kerja bencana alam tadi. Kalau di Jawa Timur ada 14 ancaman tadi yang saya sampaikan. ee Bapak Ibu tolong lebih inten ya, lebih sadar untuk ancaman-ancaman tersebut. Semoga nanti nanti bisa mendorong kita untuk bisa lebih aman di diri sendiri dan keluarga. Ada bencana alam, kemudian ada bencana non alam. Nah, keseringannya ini bencana non alam kalau di lingkungan tempat kerja kita yang khususnya di daerah perkotaan ya. ada kebakaran gedung, kecelakaan kerja, kebocoran gas, gangguan listrik, sistem IT, dan ledakan bahan kimia. Ya, ini ee tugas-tugas baru di BBD juga terkait dengan ee bencana non alam, limbah atau ledakan bahan kimia. Ini yang juga Undang-Undang Baru ini juga ee sedikit ee menekan kita untuk ikut di dalamnya. Walaupun secara ininya teman-teman KLHK yang menjadi koordinator langsung dari bencana non alam bahan kimia. Kemudian bencana sosial, kerusuhan, sabotase, ancaman keamanan. Nah, ini bencana sosial yang sudah yang sedang terjadi hari beberapa hari ini. Ee namun kita kami belum bisa menyebut bencana ya karena belum ada penetapan status ee Mas Moderator dan penetapan status pun itu juga membutuhkan pertimbangan-pertimbangan. Tapi paling tidak kalau kita bicara kerusuhan ini menjadi sesuatu yang benar-benar ada di tempat kita. Dan ee kita tahu bersama beberapa wilayah kota kemarin juga mengalami kerusakan parah ee sarana sarana prasarana dan ini juga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk bisa menangani ini secepat mungkin gitu ya. kesiap-siapan di lingkungan kerja. Teman-teman kami juga safety untuk dalam kerusuhan ini juga menjadi ee prioritas juga menjadi ee ancaman juga kepada kawan-kawan kita yang bekerja langsung di ee lapangan gitu. Malam tanggal malam minggu kemarin malam minggu yang benar-benar merah Mas Der ya. banyak api yang bertebaran di mana-mana itu. J kawan-kawan kita juga tidak sempat mendekat walaupun ee dibutuhkan segera mungkin untuk pemadaman-pemadaman di kemarin yang di gedung Negara Gerati akhirnya ee untuk keselamatan juga tim kita menarik diri untuk bisa ya kita mau tidak mau kita korbankan untuk aset kita karena yang menjadi prioritas utama adalah keselamatan gitu. Oke, next. Kemudian bagaimana strategi kita ee para ASN khususnya dalam meningkatkan kesiapsiagaan di tempat kerja. Ada lima yang kami kembangkan ya atau kami sampaikan kepada rekan-rekan semua. Yang pertama adalah perencanaan. Ini ini menjadi desain dari lingkungan kerja Bapak Ibu semua, dari kita semua khususnya identifikasi risiko dan peta evakuasi lingkungan. Bu Kabit di sini ada petanya kira-kira ruangannya kita mau lari ke mana ini? Nanti peta evakuasinya belum ada, petunjuknya sudah ada. Ee titik kumpul ada petanya kita sudah lihat ini enggak tanda keluarnya gak. Di mana dari Miss Miss Rari Trenggelek sudah lihat tanda keluarnya kira-kira? Belum. Belum. Iya. Kalau kalau orang apa menun kalau pegawai sini mungkin sudah tahu ya udah sudah menjadi kebiasaan tapi kalau kawan-kawan kita tamu-tamu belum tahu secara realil berarti ini perlu banyak sekali tanda-tanda untuk ee evakuasinya. Nah ini tanda no smokingannya ada, Mas. sini karena saya gak beli smoking ini. Tapi yang paling paling pasti yang paling penting malah tanda evakuasinya malah gak ada. Jadi nanti kita coba untuk ee bisa lebih apalagi Bu Kabit ini ada ee purna eh purna ada ahlinya BBD ya dari Kota Probolinggo. Jadi harus bisa ini gedungnya harus bisa lebih bagus nih dari BBD Jatim gitu. Oke. Kemudian yang kedua adalah penunjukan ee erd ya e atau emergency respon tim atau tim tangkap daruratnya, Firewarden-nya, TRC internalnya. Apakah ada K3 di BPSDM-nya? Ada yang bertugas atau belum, bagaimana K3 di sini berjalan APnya sudah terisi belum nih? Gitu ya. sudah dicek tiap berapa bulan sekali gitu. Ini juga perlu untuk kita laksanakan di perencanaannya. Kemudian menyusun rencana kontingjensi kantor. Rencana kontinjensi ini adalah desain plan-nya bagaimana kita harus evakuasi pada saat kejadian darurat. lewat mana, harus ke mana, evakuasinya di mana, ee penanganannya seperti apa, pengungsiannya di mana, safety-nya di mana. Ini juga harus harus menjadi ee poin teman-teman dari semua OPD untuk bisa membuat kontensi yang lebih bagus. Kemudian SOP evakuasi dan pertolongan pertama. Ada SOP-nya gak di sini? Evakuasi kira-kira belum. Kalau belum nanti harus buat. Tidak hanya untuk meningkatkan teman-teman di OPD lain, BPSDM juga harus menjadi salah satu tempat yang aman ketika kita melaksanakan pelatihan baik di semua subjek atau ee semua tema kita harus tamu-tamu di sini penting soal semua soalnya, Mas. Jadi ada dari kabupaten kota, ada dari luar provinsi ya, ada mungkin dari mahasiswa internasional ya. Jadi, bagaimana kita harus bisa menyediakan atau menyampaikan bangunan yang benar-benar aman untuk para tamu yang ada di BPSDM. Kemudian yang kedua adalah peningkatan kapasitas, sosialisasi rutin, safety briefing. Ini tadi juga gak ada safety briefing-nya ya, Mbak ya? Oh, tapi ditayangkan. Oh, belum ditayangkan. Ini kebiasaan rutin budaya kerjanya juga harus kita walaupun mungkin cuman 1 menit harusnya ditayangkan. Nah, gitu. Oh, iya. Oke. Kalau gak dikoreksi saya yang nanti dikoreksi. Oke. Kemudian pelatihan simulasi evakuasi. Ah, sudah ada pelatihannya belum nih? Ini mungkin dari biasanya dari sekretariat ada simulasi. Sudah pernah lakukan simulasi di sini berapa tahun sekali? 5 tahun sekali. Nah, minimal standarnya adalah 6 bulan sekali kita melaksanakan simulasi, kita membuat SOP, ya. Kemudian yang terakhir, pelatihan P3 AP dan sistem proteksi kebekatan. Ada kotak P3K gak di sini? Di mana, Pak? Di ruangan. Oke. Ada AP enggak, Pak? Di mana ada isinya? Ya, keren. Oke. Mana? Mana? Oh, iya. Jangan, jangan disembunyikan, Mas. Nah. Iya, iya, iya. Oke, oke, oke. Pelatihan-pelatihan ini juga ee perlu ya, ini juga menjadi salah satu apa namanya? peluang juga dari kawan-kawan BPSDM untuk di kami ya. Karena secara wajibnya pelatihan untuk ASN itu ada di BPSDM. kami tidak bisa melaksanakan sendiri pelatihan-pelatihan di OPD masing-masing dan terkadang informasi pelatihan di BPSDM itu hanya tertentu saja. ini ya. Janganlah Bu. Kami BBD Jatim juga jarang sekali dilatih nih sama Bu Kabit ini. Jadi perlu pelatihan-pelatihan yang apalagi dengan Mas Unggul ini perlu difasilitasilah kami itu yang ee bisa di ee apa fasilitasi untuk bisa diberikan pelatihan-pelatihan khususnya untuk profesi-profesi yang bisa me-backup dan membantu kawan-kawan. Ya, tadi ada ini Mas, ada Mas Penta ada kabar baik kita nanti akan di-support sama Om Unggul nanti. Oke. Tadi sudah bicara di belakang tadi. Alhamdulillah. Untuk kabupaten kota yang lain di Jawa Timur, BPD nanti kita juga akan sinergi dengan ee Om Unggul sebagai ketua ya, ketua K3 dan mungkin dengan teman-teman lain TRC dari Dinkes ada Mas Didi tadi yang sangat mana Mas Didik nanti. Nah. untuk bisa kita support nanti kita kita berbarengan tim lapangan untuk bisa meningkatkan kapasitas-kapasitas kita di ini. Tapi sekali lagi Bapak Ibu sekalian sebenarnya banyak sekali karyawan-karyawati di kita itu yang peduli dan sadar Mas terkait dengan K3. Tapi terkadang, mohon maaf ini pimpinan kita yang kurang sadar, pimpinan kita yang kurang support. Nah, ini mungkin saran tugasnya Pak Kepala BPSDM juga untuk melantih pimpinan-pimpinan itu biar sadar gitu. Baik support dari sarana parasarana, baik dari pelatihannya, baik dari anggarannya, kebijakan juga paling tidak kebijakanlah ya. Ini saya senang sekali Pak Kaban ini support dengan kebencanaan ini. Apalagi kemarin juga bagaimana banyak yang diceritakan, banyak yang ditanya sampai kita gak bisa jawab. Mas itu. Kemudian yang ketiga, sarana prasarana. Sekali lagi peta jalur evakuasi di setiap lantai harusnya ada. Ini kesiapsagaan kita, upaya kesiapsagaan kita. Ini yang ada cuman di jalur evakuasi dari tangga. Yaah, itu doang yang saya lihat ya. Kemudian tersedia apar dan hidran. Aparnya ada hidrannya ada, Mbak Bu Kabit. Ada hidran di luar. Ada airnya masal ada. Oke, ada tim khusus. Oke, kemudian ada kota P3K dan perlengkapan darurat area kumpul. Saya yakin kalau area kumpul pasti ada assemble poinnya. Kemudian yang keempat adalah sistem peringatan dini. Alarm kebakaran gempa. Ada alarm kebakaran ada. PBSDM enggak ada masih perlu diadakan. Ada. Oh, deteksinya ini ya fringle-nya ya. Oke. Yang yang nekan siapa? atau otomatis? Ini otomatis. Otomatis. Oke. Alhamdulillah. Kemudian sistem komunikasi daruratnya. Kalau komunikasi darurat di luar HP ada HT. Oh, di jaringan. Nah, kalau kebakaran mati gimana, Mas? Hati. Oke. Sip sip. Masuk. Pokoknya nanti ini beliau harus jadi pembina ini di sini. Kemudian informasi cepat ke BBD, Damkard, dan instansi lainnya. Nah, ee ini nomor teleponnya harus ready nih, Mas, kepada BWBD atau DAMKAR di sekitar. Damkar terdekat ini di mana ini? Di sini ya, Surabaya ee Subaya Barat ya, Tandis ada. Kemudian yang strategi kita yang terakhir yang kelima adalah melanjutkan layanan publik atau responnya melanjutkan layanan publik dengan sistem kerja darurat bila perlu. Caranya apa? Bisa work from home ya, bisa backup servernya. Kalau kita terkendala di atau ada bencana yang terkait untuk IT, ada hacker-hacker, nah ini backup-backup ini juga itu juga suatu bencana itu, Mas. Juga kesiap-siagaan kita nih di tempat kerja ya. Kalau semua data-data kita rusak, hancur, wah bahaya juga. Kemudian backup server dan lain-lain. Yang kedua adalah melakukan evaluasi setelah kejadian untuk memperbaiki SOP. Jadi, SOP awal kita tentunya itu menjadi ee modal ya, menjadi poin yang pertama. Tapi ketika terjadi kebencanaan beberapa bulan yang lalu atau tahun kalau enggak salah di sini juga kena angin puting beliung, Bang. BBSDM, Bang. Nah, itu juga melapornya ke kami, berkulesnya juga ke BBD Jatim. Alhamdulillah sudah ditangani nggih, Bu Susi. Alhamdulillah. Ya, jadi ee backup ini juga menjadi suatu hal yang ee harus komunikasi yang bagus dengan seluruh stakeholder. Oke, next. Nah, ini budaya kesiapsikan dilingkungan SN yang empat poin ini yang seharusnya menjadi budaya kita. Ini cukup untuk kita mendorong bagaimana kita bisa safety di lingkungan kerja. Yang pertama simulasi evakuasi. dua kali setahun. Tolong ini ee semua OPD, teman-teman kabupaten kota, BBD kabupaten kota harus menjadi contoh ya untuk bisa melaksanakan atau budaya kerja yang evakuasi minimal dua kali dalam setahun. Ini kami harapkan bisa dilaksanakan dan mendorong OPD-UPD yang lain untuk melaksanakan ini semua. Kemudian yang kedua adalah mengintegrasikan materi kebencanaan dalam pelatihan ASN. Jadi tidak hanya BPSDM saja yang memberikan materi-materi safety briefing ini juga salah satu materi. Jadi kita ee saya mohon untuk kawan-kawan OPD juga bisa melaksanakan safety breathing briefing sebelum ada kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang di sana. Atau paling tidak buat brosur lah. Buat brosur di setiap lantai kayak di hotel-hotel itu loh, Mas ya. itu kan ada biasanya ada brosur-brosur untuk keselamatan dan segala dan ee kita berada di titik mana, arah barat ke mana, arah timur ke mana, gitu. Yang ketiga, membentuk satgas kesiapsiagaan ASSN ya eh apa emergency respon tim-nya dibentuk kemudian mendorong ASN menjadi teladan dalam kesiapsiagaan di masyarakat. Jadi ketika masyarakat tanya terkait dengan ee kebencanaan atau di lingkungan kerja jangan serta oh enggak tahu Bu bagaimana ini. Nah ini kami harap ini bisa menjadi ee pembelajaran buat kita semua sehingga para ASN di khususnya di Jawa Timur itu juga menjadi agen kebencanaan. Agen perubahan kebencanaan. Bagaimana mereka bisa men-support mendorong masyarakat itu juga sadar bencana. Kadang ini kami di BPT Jatim ini sudah sudah putus harapan kadang ya kita sudah banyak melaksanakan sosialisasi kepada gen milenial ya 70 atau 80 ke belakang tapi susahnya bukan main untuk bisa menerima ee apa namanya kegiatan sadar bencana. Jadi mulai dari itu pengalaman itu kadang kita men-supportnya kepada gen-gen awal, gen-gen baru, gen-gen Z, gen-gen AC dan sebagainya. Jadi fokusnya malah kepada anak-anak. Bagaimana kita investasi ke dalam investasi ke mereka untuk bisa nantinya mereka akan menjadi salah satu agen-agen kebencanaan. Karena kalau yang yang tua-tua ini sudah susah sekali dikatakan ya, diajarkan di ini kita lebih fokusnya ke ee anak-anak untuk bisa lebih menjadi agen-agen yang ee nanti bisa memungkinkan kita mendorong di kebencanaan. Oke, next. Nah, ini beberapa implementasi kesiapsikan di tempat kerja. Epeta evakuasi dan jalur keluar ditempel di setiap lantai, alarm kebakaran, smoke detektor diuji rutin tiap bulan. Latihan evakuasi kebakaran DMRT memakai rompi khusus atau sudah dilatih tentang pertolongan pertama dan pemadaman. Kemudian ceklis tanggap darurat harus tersedia setiap ruangan. Ini beberapa implementasi yang mungkin nanti bisa di apa ee diakomodir oleh Bapak Ibu semua. Next. Nah, ini penutup. Kami sudah penutup. Bencana bisa terjadi kapan saja dan diaran saja di tempat kerja. Kebencanaan adalah tanggung jawab bersama tidak hanya tanggung jawab BBD, tidak hanya tanggung jawab DAMKAR. Karena di undang-undang disebutkan lima pentahik ya, lima pentaik yang terlibat di dalam kebencanaan. Ada pemerintah, ada masyarakat, ada dunia usaha, dunia ee dunia usaha, ada media, dan yang terakhir adalah akadem akademisi. Jadi semua ini terlibat di dalam kebencanaan. Kemudian yang ketiga, ASN diharapkan menjadi penggerak ketangguhan masyarakat. Bencana ini harus tangguh kita. Kita menyiapkan ee orang-orang atau personil-personil yang tangguh terhadap bencana. Paling tidak kompetensi dasar semuanya bisa ee diterima atau menerima semua kompetensi dasar terkait kebencanaan. Dan yang terakhir dengan persiapan yang baik dampak bencana pasti dapat diminimalkan ya. sarpras. Kemudian pelatihan-pelatihan harus bertahap kita berupaya untuk mengoptimalkan, men-support semua agar dampak-dampak resiko-resiko yang nanti terjadi kebencanaan bisa lebih ee kecil atau berkurang. Saya rasa itu Bapak Ibu sekalian. Salam tangguh. Selamat di tempat kerja, selamat untuk keluarga. Siap sikap selamat. Kurang lebihnya kami mohon maaf. Mohon maaf. Billahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Luar biasa. Tepuk tangan untuk Bapak Satrio Nurseno. Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati, mohon ditahan dulu untuk respon pertanyaannya. Karena jangankan panjenengan, saya aja nyatat ada tujuh pertanyaan ini. Jadi nanti kalau Bapak Ibu tanya biar kami yang borong, Pak. Ya. Ya, selamat datang di forum ini kepada saudara-saudara kami para kepala pelaksana BBD Kabupaten Kota yang bisa rawuh hadir secara pribadi di BPSDM juga teman-teman Kalak maupun juga teman-teman BBD yang belum bisa hadir walaupun sudah mengisi link tapi karena kondisi saat ini sehingga teman-teman harus stay di kabupaten. dan kotanya dan mengikuti kegiatan ini melalui daring. Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati. Selanjutnya biar nyambung, tapi sebelum nyambung Pak, ini tadi saya lihat materinya luar biasa dari Bapak Satrio karena nanti tugas kami ini juga selaku penyambung lidah informasi izin saya kopas ya materinya ya. Izin saya kopas. Barangkali nanti juga kita bisa diskusi lagi gimana mengembangkan dan satu bocoran Pak Satrio terkait dengan pelatihan Damkar insyaallah ya walaupun kami bukan pengambil kebijakan tetapi bocoran sudah dapat bahwa di BBPBSDM nanti akan diadakan pelatihan khususnya pemadam kebakaran juga pelatihan-pelatihan terkait dengan kebencanaan ngih ee untuk pemateri yang kedua Bapak Unggul Wahyudono yang tentunya materinya akan luar biasa lagi dan izin nanti juga akan kami copy paste, Pak. Kami akan teruskan. Ee waktu dan tempat kami aturkan. Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Mohon izin, Pak Satrio dan Pak Sukito dan terima kasih kepada Ibu Kabit yang sudah ee memberikan kesempatan kepada saya untuk tampil di forum ini yang sangat terhormat dan saya agak surprise karena banyak sekali senior-senior dari Widya Iswara yang hadir. Saya hanya trainer, Pak, bukan pengajar, Pak. Jadi saya juga ingin sharing di sini bagaimana kami dari masyarakat ee pengelola gedung menangani aspek ee penanggulangan kebencanaan. Seperti yang tadi disampaikan oleh Ibu Kabit bahwa K3 itu bukan pilihan ya, Bu ya. Jadi harus mau enggak mau dan itu tidak hanya berlaku di tempat kerja saja Pak, tapi juga di rumah. Karena apa? punya kita kerjakan di rumah nanti akan berdampak ke tempat kerja. Dan tadi sudah banyak disinggung oleh Pak Satrio tentang aspek disaster, Pak. Nah, disaster ini ee kami kategorikan dua bahwa ini adalah natural yang tidak bisa dicegah. Mau tidak mau kita hidup di lingkungan ring of fire, Pak. Jadi negara kita sangat kaya raya, cantik, gemah rifah loh cinawi. Tapi di dalamnya juga punya gunung berapi yang sangat banyak dan itu potensi tersendiri terkait dengan alam. Nah, karena tadi sudah diulas oleh Pak Satrio banyak sekali tentang natural disaster, saya akan mencoba kepada bencana yang disebabkan oleh kita sendiri. Kenapa ini menjadi penting? Karena beberapa kasus hukum yang terjadi beberapa tahun lalu bahwa faktor keteledoran kemudian faktor ketidakpedulian itu sama saja mengarah kepada niat jahat, Pak. Jadi bagaimanapun juga kita sebagai penyedia fasilitas apapun ceritanya bahwa bangunan atau fasil pemerintah itu adalah public domain. Jadi bukan hanya masalah karyawan pemerintah yang harus diberikan sebuah perhatian, tapi kepada siapapun yang hadir kepada fasilitas pemerintah itu harus diberikan perhatian terkait dengan keselamatan. Next. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Gito bahwa saya masih ee bekerja di sebuah perusahaan yang juga mengelola bangunan aset budaya. Nah, ini sebenarnya saya kepengin ke Jawa Timur tadinya kalau boleh diizinkan jam .00 siang saya ingin ke gedung Grahai, Pak. Boleh. Tapi sudah enggak ada kayaknya ya, Pak. Nah, saya pengin foto. Belum sempat, Pak. Masih ada itu. Saya senang banget kalau gedung-gedung heritage bisa dijaga. bangsa yang besar itu adalah bangsa yang mengetahui tentang sejarahnya nih. Nah, ini ini ternyata kita tidak tahu kenapa sampai itu menjadi sasaran. Saya tadi disampaikan oleh Bapak saya ke Singapura, ke Malaysia itu lihat ruko-ruko tua saja dipelihara, Pak. Ruko tua. Bapak silakan ke Bugis, ke China atau semua ruko-ruko tua dan bahkan dijadikan hotel dan yang penggunanya orang-orang kita juga, Pak. Lah kita di sini malah dimusnahkan. Oke, next. Next saja. Ini saya akan cepat bahwa sebenarnya yang menjadi konteks kami dalam implementasi K3 ini ee cukup rumit karena begitu banyaknya undang-undang dan peraturan. Kami dari masyarakat ee pengelola gedung saja kadang-kadang sangat dipusingkan dengan implementasinya. Contoh dari undang-undang saja kami harus memahami Undang-Undang 28 tahun 2002, undang-undang 170, undang-undang 2 tahun 2017 tentang jasa konstruksi dan sebagaimana. Tadi sudah disebutkan oleh Pak Satrio lah. Justru kesulitan kami adalah bagaimana mengintegrasikan seluruh peraturan ini. Karena apa? ada sebuah undang-undang yang lahir tahun ee nomor 28 tentang bangunan gedung itu sanksinya luar biasa kepada si penanggung jawab gedung. Nah, saya tidak tahu bagaimana di sisi pemerintah karena kami menyatakan diri adalah public domain di Undang-Undang 28 itu jika terjadi sebuah kecelakaan kerja yang menimpa kepada penghuni atau pengelola ataupun kepada pengunjung itu sanksinya sudah bicara di situ bukan lagi rupiah tapi persen dari nilai bangunan dan nilainya sampai dengan 5%. lah kalau nilai bangunan kami yang kami kelola misalnya 50 lantai, bisa dibayangkan bagaimana reaksi si korban kepada kami. Itulah tekanan-tekanan moral yang paling berat yang kami terima sebagai badan pengelola. Karena kami harus memastikan seluruh aspek operasional gedung ini menjaga sisi keselamatan. Bagaimana tidak akan tidak memusikan kami eskalator yang memeriksa siapa? Kemudian kalau ada insiden eskalator sampai orang apa terjepit atau sesuatu, kami panggil BPBD suruh datang. Padahal beliau enggak pernah meriksa. Kemudian siapa yang memberikan izin operasional ini tumpang tindi semuanya. Itu yang bikin kami mencoba membuat sebuah forum komunikasi di Jakarta agar ini terintegrasi. Jangan semua ditimpakan kepada kami yang satu persatu dinas itu beda-beda. Apa kebakaran meriksa sistem proteksi, Disnaker meriksa sistem transportasi, Citata atau B atau apa PU meriksa gedungnya dan sebagainya. Ini bagaimana semuanya punya inspektur kami harus melayani satu persatu. Nah, ini yang mencoba apakah mungkin di Jatim meskipun kita dalam wilayah yang sama paling tidak disimplify bahwa orang-orang yang terlibat itu mengetahui satu sama lain perannya. Ini yang kami hadapi secara real di lapangan. Next. Nah, ini dari Undang-Undang 45-nya sudah diminta bahwa kami harus memberikan penghidupan sebagai sebagai negara harus memberikan penghidupan yang lain pada masyarakatnya. Nah, di Undang-Undang 13 tentang keterg muncul 170 pun sudah. Tapi dari sini semua tadi disampaikan kepedulian tentang masalah K3 tapi sekali lagi tidak menekankan kepada fasilitas publik yang harus disediakan. Siapa itu yang mengontrol? Siapa itu memastikan bahwa fasilitas tersebut aman bagi publik? Ini pertanyaan besar sekali, Pak. Next. Nah, norma silakan dibaca bahwa kenapa kita pakai kata-kata norma? Karena saya sudah kami dari masyarakat sudah jarang sekali menggunakan kata-kata peraturan. Kami lebih ee lebih mengedemankan kata-kata norma, standar, pedoman, dan kriteria. Standarnya seperti apa? Tadi dibilang APAR paling gampang tadi saya akan ambil spot-spot aja biar langsung nyambung. Kenapa APAR saya masukkan kemari? Coba diperiksa sekarang ini APAR sudah ada SNI-nya, Pak. SNI wajib bagi siapa? bagi produsen dan supplier. Apakah di dalam APAR itu ambil saja deh kemari, apakah sudah ada rating daya padamnya? Kalau belum, pertanyaannya haruskah ini dibiarkan atau mau dimulai kapan Jatim untuk mulai menginisiasi bahwa semua supplier-suplier ini mematuhi standar yang berlaku. Kenapa beda-beda, Pak? sama-sama katanya kelas ABC, tapi ratingnya bisa berbeda. Meskipun bahan pemadam sama, tipe pemadam sama, rating daya padamnya berbeda. Kenapa? Bahan kimianya berbeda, Pak. Jangan tergoda karena murah. Ini yang sering menjadi komparasi di tingkat pembelian atau pengadaan itu menjadi daya tarik tersendiri. Ini lebih murah daripada yang itu. Karena apa? speknya berbeda. Ini yang perlu diketengahkan. Kenapa sangat diperlukan pemahaman itu? Karena rating daya padam itulah yang menentukan pada saat kita aplikasi sesuai apa tidak. Tadi disebutkan sama Pak Satrio bahwa gedung operasional pemerintah ini mengalami kemajuan. Ada AI segala macam bahkan di dimungkinkan untuk paperless ya. dengan paperless ini sesuatu yang sangat bagus dicapai tapi ada nilai negatifnya yang kita tidak tidak bisa tinggalkan dengan paperless artinya kita bergantung dengan komputer. Dengan komputer kita bergantung dengan sistem patok-pasokan sumber daya. Nah, daripada kita berisiko, kita belilah apa yang namanya UPS baterai. Ingat dengan pemasangan kayak saya sendiri mengelola gedung sedemikian besarnya. Hampir semua lantai ada server. Hampir semua meja itu ada baterai. Begitu baterai naik ada potensi terhadap apa? Gangguan harmonik kepada listrik. Gangguan harmonik kepada listrik harus ada filter harmonik di sisi panel. Begitu dibutuhkan filter harmonik tidak terpasang, tidak termaintain dengan baik, dampaknya apa kepada instalasi itu bisa berisiko kepada gedung secara keseluruhan. Nah, perkembangan-perkembangan teknologi seperti ini sebaiknya juga di-share. Karena apa? Sekali lagi saya bilang tadi kalau bicara natural disaster, peluang kita adalah memitigasi. Jangan sampai dampaknya besar. Tapi kalau dari sisi yang non disaster adalah mencegah bagaimana itu tidak terjadi meskipun 0,01% tapi kalau kejadian dampaknya sangat besar. Ada empat kriteria tujuan utama yang harus kita. Satu mengenai life safety itu sudah enggak bisa ditawar. Kedua, property protection atau proteksi terhadap properti. ketiga, kelangsungan usaha atau kelangsungan kegiatan. Keempat, kadang-kadang lingkungan di dikesampingkan paling terakhir. Nah, kita jujur dalam hati bagaimana penerapan prioritas ini. Apakah benar nih life safety nomor satu ataukah propertinya? Kalau benar memang life safety nomor satu tadi pertanyaan Pak Satrio saya teruskan. Kenapa tidak dipenuhi dulu aspek keselamatan seperti signatage, seperti penyediaan fasilitas untuk contoh paling gampang karena ini mungkin gedungnya kecil enggak begitu masalah ya karena gedung-gedung besar si pengelola pun harus tahu Bapak dan Ibu sekalian mohon maaf nih berapa jumlah ibu-ibu yang dalam kondisi hamil pada waktu itu. Bukan berarti kita tanya ibu lagi hamil ya kan enggak mungkin. Tapi paling enggak kita tahu kenapa in case of ada apa-apa ini orang-orang ini mau dibawa ke mana? Taruh ke atas 10 lantai aja. Kalau terjadi kebakaran orang yang hamil ini suruh ngapain, Pak? Kira-kira itu urusan damkar. Suruh gendong kalau satu, kalau dua 10 lantai. Berapa petugasnya Pak Satrio bisa mampu menggendong orang itu dari lantai 10 ke lantai dasar? Nah, ini seperti apa treatmentnya? Itu bisa muncul dalam kebijakan bahwa orang hamil, orang dalam kondisi disability atau diable dilarikan ke mana, diandbykan di mana? Karena enggak mungkin pokoknya lari tangga darurat. Kita enggak mau tahu, enggak bisa, Pak. Nah, ini yang gedung ini harus benar-benar bijaksana dan memberikan fasilitas yang memadai bagi orang-orang yang dalam kondisi terbatas. Next. Norma ini adalah dipakai di seluruh instrumen baik untuk karyawan, pengelola, penguning, pengusuk maupun masyarakat yang hadir kepada bangunan atau area yang disebut public domain. Bukannya bangunan, bukannya gedung pemerintah ya. Fasilitas-fasilitas umum seperti taman, masjid dan sebagainya itu perlu diperhatikan. Berikutnya next. Nah, sasaran dalam membangun ini adalah menjamin keselamatan seluruh yang berkepentingan atau yang hadir ke dalam gedung itu terselamatkan. Menjamin penggunaan peralatan yang aman dioperasikan dan menjamin proses kegiatan berjalan sesuai dengan fungsinya. ini kadang-kadang kita enggak tahu ruang tunggu misalnya apakah kapasitas itu diperhatikan apakah fasilitasnya itu dimungkinkan kenapa kalau dari sisi regulasi gedung itu punya kapasitas misalnya ini mau dipakai ruang sebagai assembly hall atau assembly point ini kan sekarang meskipun lobi gampang karena ini landai dasar digunakan apa aja bisa tapi andai kata ini ada di lantai 3 apakah dimungkinkan kita berkumpul di area ini dengan fasilitas yang adanya seperti ini. Nah, ini silakan dikaji ulang dengan regulasi-regulasi yang ada. Menarik tampilan ee meeting kali ini, Pak, dalam ruang lobi yang seru, enggak usah formal-formal banget. Saya juga ini tadi Bapak Koni keringetan, saya juga keringetan nih. Ngadapin Widya Iswara, Pak. Next, next saja ini di saya cepat. Nah, pentingnya penerapan ini kita melihat ada dari sisi alasan yang sangat konservatif masih zaman dulu ada juga yang masih moderat. Nah, di sisi moderat ini saya akan melari lari kepada poin yang ee kedua baris kedua yaitu mengurangi kerugian Pak. Bagaimana yang tadi saya bilang 99% bisa kita cegah, tapi yang kalau 0,01-nya lolos, siapa yang bisa ngomong? Kebetulan di sini enggak ada lif ya, Pak ya? Enggak ada. Kalau ada lift bagaimana cara maintenance-nya? Siapa yang bertanggung jawab? PJK3, Pak, bisa meriksa? Betul. PJK3 yang meriksa dan memberikan surat keterangan di bawah lisensi dari Kementerian atau Dinas Tenaga Kerja. Tapi kalau ada apa-apa, apakah PJK3 bertanggung jawab? Tidak. Siapa yang nangani? Ya, Pak Satrio lah. Panggil aja, Pak Satrio. Nih orang ngejebak gimana caranya? Bapak yang mikir kan repot meriksa enggak tapi begitu masalah suruh ke sini. Pak Kito pastiang Pak Pak Sugit pasti manggilnya beliau kan. Oh siap. Bukan manggil ini PJK3 yang meriksa siapa kemarin kan? Enggak. Terus yang kedua persyaratan karena kita menjadi kota negara yang sudah mendunia nih. Siapa yang enggak tahu Surabaya? Semua orang juga kepengin investasi di sini kan. Jawa Timur dengan skala industri yang luar biasa. Kenapa tidak dikembangkan? Itu menjadi sebuah area global. Terus kalau sudah dikembangkan ini tentunya kita ingin bahwa semua tempat kerja itu adalah produktif, tidak ada gangguan. terutama yang main-main disaster tadi. Kalau natural saya kembalikan mitigasi aja karena itu ee dari alam. Tapi bukan berarti kita pasrah bongkokan, Pak. Pokoknya apa ya terima ajaalah nasib. Bukan begitu. Next. Nah, saat ini yang menjadi implementasi K3 itu catatannya adalah rendah dan pemeriksaannya juga tidak sesuai dengan apa yang diminta oleh regulasi. Kemudian pengawasannya juga, Pak seperti apa sih? Dan objek pengawasan K3 itu sangat-sangat kompleks. Dari mulai pagar saja sudah termasuk. Nanti ada di belakang banyak contoh-contoh bagaimana proyek-proyek di pinggir jalan itu apakah memenuhi aspek. Minimal kita menghargai keberadaan manusia yang melewati area itu. Tandanya jelas, rambunya penerangannya jelas, pemagarannya rapi. Kadang-kadang jalan lubang boro-boro dikasih pagar, Pak. Cukup kasih tebangan pohon pisang, taruh situ. Dalam tanda kutip kan kata-katanya emang mata lu enggak ngelihat gitu kan. kasar sekali seperti itu. Ap. Tapi ini sering terjadi bahwa kondisi pelayanan atau fasilitas publik ini tidak manusiawi. Next. Nah, ini KTIK harus ada karena apa? Kita hanya akan fokus bagaimana mencegah. Kalau sudah kejadian ya paling diminimalisir dampaknya. Tapi siapa yang mau menjadi korban atas penyimpangan dari implementasi sebuah aturan keselamatan kesehatan kerja? Pasti tidak ada yang mau. Kenapa tidak ada mau menjadi korban? Kalau menjadi korban artinya akan terganggu aktivitasnya. Next. Ee nah ini saya tadi sampaikan bahwa Undang-Undang 170 ini merupakan usaha peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja lebih utama. Jadi prevention more better than cure. Jadi mencegah lebih baik daripada mengobati. Tapi kadang-kadang orang menjadikan ini sebagai hal biasa. Yang salah sementara menjadi semaun. Ya, ini karena sudah biasa salah ya sudahlah sama-sama ngerti kok. Iya. Next. ini silakan dibaca aja mengenai regulasi K3 karena itu mencegah dan sebagainya ada dalam ee aturan. Next aja, Mbak. Nah, apa yang menjadikan rugi kalau kita enggak ikut? Next. Ini celakanya ini tidak dirasakan meskipun dilanggar K3-nya. Nyaman-nyaman aja kok, Bapak, kok Bapak ribut. risiko insyaallah itu sudah menjadi takdir kan meskipun kerjanya enggak optimal ya adanya begini jadi ini dianulir sendiri oleh kita-kita sendiri juga bisa enggak bahwa ketidaknyamanan ini karena K3 bisa dikurangi risiko kalau bisa ditekan seminimal mungkin risiko tempat kerja itu banyak. Mohon maaf nih tempat kerja. Kalau saya di gedung pemerintah, saya sering melihat yang namanya kalau beda sama gedung swasta ya, nanti ada gambarnya itu. Kalau di gedung pemerintah itu kolong-kolong banyak kertas. Kalau di gedung swasta, Pak, cadangan sepatu sama catokan banyak di situ, Pak. Sama apa namanya? Catok kan ya. Itu kalau pagi itu sudah kayak bau setrikaan. Saya masuk kantor srak sret srat sret gitu. Kalau saya sih enggak mungkin dicatok ya. Aman, Pak. Aman. [Tertawa] Next. Next saja. Next saja. Ini peraturan semua. Tujuan masih sudah saya sebutkan tadi. Next saja. Nah, faktor bahaya nih. Saya sebenarnya banyak sekali nih penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan kerja. halnya sepele-spele semua. Enggak saya bawa yang berat-berat ke industrial. Next. Nah, di sini saya ingin menyampaikan bahwa kedua penyakitnya adalah sama sebenarnya penyakit yang timbul di tempat kerja itu. Kenapa? Karena kita membiasakan hal yang salah dari hal sepele. Pemilihan tempat duduk, pemilihan tempat kerja, dan pemilihan cara bekerja. Tempat duduk pun ada caranya, Pak. Sekarang ini kan banyak keluhan-keluhan terkait dengan apa yang di sini PNB itu ee saraf kejepit. Nah, ngomongnya begitulah paling gampang encok. Kenapa? Kebanyakan duduk atau kebanyakan ngerumpi, Pak? Ada dua nih rumpinya, Pak. Terus tambah ngopi enggak berhenti-berhenti. Istirahat jalan-jalan kalau mau cari sebat. Sebat apa di sini, ya? Sebatang. Sebatang. Ya, saya enggak ngomong sebat. Artinya sudah sama-sama tahu ya. Siap. Nah, ini yang akibatnya merugikan sendiri. Aturan kita kerja pemerintah sudah menyusun bahwa Bapak kalau saya malah 55, Pak. Bapak kan 58 ya pensiun yang strukna diharapkan pada saat pensiun itu sehat, Pak. Menikmati hari tua. Ini giliran pensiun giliran sakitnya doang nih. Eh, kita tinggal diomilin sama istri aja di rumah, Pak, kalau sudah pensiun. Kalau kita enggak jaga begini, aturan kan kita jaga agar pada saat nanti kita pensiun masih sehat. Karena tadi saya bilang ini sementara menjadi tahun sudah kebiasaan enak entar gimana kumaha engke kalau tadi kalau Ibu tadi bilang dari mana ngariung tadi kan ini kumaha engke kan Bu ya gimana entar ya. Next. Nah, ini yang penyakit yang timbul akibat hubungan kerja banyak, terutamanya kasus pandemi kemarin. Kemudian ada juga yang nonpandemi seperti itu, tapi menimbulkan menimbulkan ketidaknyamanan tempat kerja. Bicara keras, suka marah-marah, itu juga menimbulkan ee efek psikologis tersendiri di tempat kerja. Kita sebagai bawahan ngelihat atasannya jutek mul kan juga enek juga lama-lama, Pak. Bukan tempat Bapak saja, tempat saya juga sama. Datang pagi-pagi sudah muka sudah ditekuk. Kita mau nanya mau ngadep gimana. Nah, tapi itu secara psikologis menimbulkan ketidaknyamanan tempat bekerja. Next. Next aja nanti. Nah, ini fenomena ini yang kadang-kadang kita tidak sadar. Orang kecelakaan di tempat kita, sudah bawa aja ke mana? Puskesmas atau panggil Pak Satrio lah tangani biayanya kan kecil paling cuma ditangani sebentar jahit atau apa tapi yang tidak langsung bahkan kadang-kadang mengganggu investasi ini tidak terbaca Pak dan ini banyak sekali dan ini tidak pernah diconsider sebagai sesuatu yang penting. Akhirnya apa? Kita hanya bicara permukaannya aja. Kapal Titanic tenggelam bukan karena 1 juta, Pak, tapi karena 30 juta di bawahnya. Bukan karena yang dihantem atasnya, tapi karena yang dihantem bagian bawah. Ini di sektor ee pengelolaan gedung fasilitas publik sama enggak kelihatan. Contoh taman kota pakai puffing, puffingnya nongol begini. Biarin aja lah. Masa enggak lihat sih puffing begitu? Masa enggak punya mata? hal sepe. Tapi kalau orang sudah kesandung kena, saya pernah mengalami, Pak. Bukan kesalahan saya. Karena muda-mudi masuk ee tempat ee shopping center itu dia bawa gelas ee kopi yang ada gambar rambut terurai itu bercanda-canda tumpah. Masa kita bilang, "Anda pengunjung numpahin tolong dipel." Kan enggak mungkin. Nah, kita yang ngepel. Kita ngepel ada waktunya, Pak. 2 jam sekali kita pel. Habis dipel ditumpahin nanti balik lagi kan mungkin 1 seteng jam baru balik orang kepeleset. Yang disalahkan siapa? Kita enggak bisa ngomong itu tadi tuh pengunjungnya tuh ini ada videonya enggak bisa. Tetap badan pengelola bertanggung jawab. Beruntunglah Bapak dan Ibu semua yang ada di gedung pemerintah enggak pernah mengalami mungkin kami mengalami motor diparkir, bensinnya tumpah ada penyalaan. Siapa yang kena? Kita. Termasuk sekarang ini ada mobil listrik, Pak. Sampai hari ini belum ada regulasi atau standar teknis yang bisa menjelaskan bagaimana menangani mobil itu kalau ada apa-apa. ini sudah mulai bergerak. Coba lihat aja ke parking area sudah berapa banyak mobil listrik? Nanti silakan tanya Pak Satrio, bagaimana cara menanganinya kalau ada apa-apa. Buang. Nah, itu buangnya gampang. Kalau di parkiran yang luas. Kalau parkirannya di structure struktur parkir lantai 3, lantai 4, bagaimana mengangkatnya? Udah tenang aja pokoknya urusannya Pak Satrio. Nah, nanti kalau begitu, saya pernah begitu, Pak. Bapak diskriminasi ini kan harga program nasional nanti. Iya, betul. Akhirnya kami juga kerepotan. Apakah mendiskriminasikan pokoknya mobil listrik parkirnya di sono enggak boleh di sini? Enggak mungkin, Pak. Dasarnya apa? Regulasinya belum ada. Selalu bertentangan begitu di lapangan. Next. Nah, ini faktor-faktor fisiknya ada psikologi, fisik, kimia, dan sebagainya. Itu bisa dibaca nanti di sini yang muncul seperti apa. Next. Nah, cara mendeteksinya apa? Nah, apakah ada kegiatan pemeriksaan kesehatan nih? Seperti apa pemeriksaan kesehatan dilakukan? Bukan hanya masalah diperiksa tensi atau diperiksa kolesterol gula darah, bukan. Tapi bagaimana memaintain itu setelah diperiksa? Udah, Pak, hari Jumat kita senam gitu. Apakah cukup dengan itu? Makkara sekarang di Jakarta pun digalakkan. ASN setiap hari Rabu gunakan fasilitas transportasi umum. biar jalan. Karena apa? Mungkin kurang jalan. Salah satunya untuk mengurangi polusi dan juga untuk menambah kegiatan fisik di pagi hari. Termasuk sekarang ini mulai bergeser bagaimana lingkungan kerja itu dimonitor juga. Hindari lingkungan kerja yang bertumbuk-tumuk barang secara kumu. Dokumen-dokumen yang sudah bertahun-tahun. bagaimana cara demolisnya atau cara arsip-arisnya seperti apa. Kan kadang-kadang di sisi pemerintah, pelayan pemerintah ini dokumen itu banyak sekali, Pak. Bagaimana penyimpanannya kayak saya misalnya sekarang ini sudah mending laporan RKL, RPL itu dalam bentuk soft copy sudah bisa. setahun yang lalu masih hard copy lah. Kalau jumlah perusahaan ada sekian puluh ribu, berapa pohon yang mesti ditebang untuk nyediain kertas itu dan berapa biaya yang terbuang percuma untuk laporan seperti itu? Sekarang mulai masuk ke sisi elektronik laporannya. Tapi kembali lagi bukannya solusi semata elektronik selesai. Elektronik membawa dampak baru bagaimana sistem server, sistem komputer itu disediakan. Sekali lagi perubahan pasti ada konsekuensi. Next. Nah, ini bisa seperti contoh. Bapak bisa lihat bagaimana area-area kerja yang seharusnya dan bagaimana area kerja yang sekarang ini ada. Kami foto dari beberapa kantor di layanan publik juga ada. Bahkan kadang-kadang di gedung pemerintah itu koridor dijadikan gudang yang tadinya sementara menjadi sementau. Kalau gudangnya kurang pakailah tangga darurat gitu, Pak. Banyak. Bahkan tangga darurat digunakan tempat untuk Nah, itu bukan saya, Pak. Pelaku, Pak. Silakan. Next. Nah, ini aspek ergonomis, Pak. Sekali lagi ini kebiasaan-kebiasaan ini banyak terjadi. Charger itu sudah hal wajib bagi semua orang. Jadi beli extension yang isinya banyak taruh di masing-masing meja. Kalau perlu beli yang paling murah. Padahal kalau murah itu kabelnya SNI apa tidak kita enggak tahu. Produk dari mana, siapa yang mensertifikasi kita tidak tahu sumbernya apa. Itulah yang terjadi awalnya. Next. Ini listnya aja nanti bisa dibaca. Next. Tips silakan. Ini masalah kerja ya. bagaimana kita sangat tergantung dengan komputer bagaimana kita kerja tiap hari dengan barang ini. Tapi kita tidak memikirkan bagaimana nyamannya bekerja dengan sebuah ee komputer. Next. Nah, ini yang mengenai dengan penyakit akibat kerja. Masing-masing punya peran baik tenaga kerja maupun penanggung jawab kerja. Tenaga kerja memberikan keteranganlah bahwa nyaman enggak sih tempat kerja seperti diukur cahayanya cukup atau tidak, suhu ruangannya cukup atau tidak bahkan untuk mobilitas ruangan itu cukup atau tidak itu paling tidak kalau ada kejadian terkait ini segera laporkan karena apa? Untuk tindak lanjut ini ada ketentuan dalam Permenaker Trans. Next. Ini alasan-alasan saja kenapa orang enggak mau melaporkan ya. Karena apa? Ini dari sisi perusahaan mungkin enggak mau ganti, tapi dari sisi pelaku atau korban kadang-kadang enggak mau muncul karena apa? Takut dicap. Next. Nah, akibat daripada ini banyak. Kita geser next. ini targetnya enggak tercapai, layanan terganggu, produktivitas tidak ada, bahkan keluarga sampai terlantar. Banyak akibat-akibat yang disebabkan oleh kecelakaan kerja. Berikutnya, norma di area publik. Saya akan langsung masuk area publik. Next. Nah, latar belakang dari kenapa ini menjadi penting dan 170 sudah mengamanahkan tapi kita belum belum mengimplementasi. Karena apa? kurang diperhatikan Bapak dan Ibu sekalian. Itu tadi penting-penting enggak penting. Penting kalau sudah kejadian, enggak penting kalau enggak kejadian. Kasus-kasus tentang K3 di area publik sangat banyak. Orang nabrak pembatas jalan, orang nabrak penghalang atau hording project itu banyak. Terus kesadaran pun sangat lemah. Dari siapa? Dari semua orang. Karena apa? Belum kejadian. konteksnya itu kalau sadar sudah kejadian dan artinya K3 tidak masuk ke prioritas dia. Udah biarin aja kalau kejadian baru kita mikir. Next. Nah, ini fasum dan fasos. Jangan salah. Fasos umum itu jalan jembatan segala macam. Tapi fasos ini, Pak, tempat ibadah, layanan-layanan publik dan sebagainya, sekolah bahkan itu tidak diperhatikan. Ini konsern loh. Karena apa? Di tempat itu kalau terjadi kecelakaannya cuma satu, oke cuma kecelakaan. Tapi kalau banyak yang kena apa itu bukan bencana namanya karena berimbas ke mana-mana. Next. Nah, kecelakaan kerja bukan semata-mata menimpa kepada pekerja, tapi juga menimpa kepada masyarakat. Karena apa? Tempat itu tempat kerja. dia menggunakan fasilitas kantor termasuk penyeberangan itu seperti apa sebenarnya pengaturannya? Apakah secara andalin penempatan ee marka penyeberangan atau sebra cross itu sudah sesuai dan apakah bisa benar-benar aman bagi si pengguna itu? Tolong dikaji. Di sini ada Dinas Perhubungan, Pak, yang bisa mengkaji itu. Next. Ee next aja. Nah, ini undang-undangnya sudah ada semua. Kami kena semua nih. 28 mengikat kami, 170 mengikat semuanya ada sanksi bahkan sudah dalam bentuk uang dan pidana sanksinya. Next. Nah, ini berbagai contoh ya, tempat-tempat publik seperti apa sehingga merugikan kepentingan masyarakat secara umum. Projekprojek siapa yang rugi siapa? Next. Nah, ini kerumunan yang lalu kita ada tragedi sangat besar di Kanjuruhan seperti itu. Korbanya sangat banyak. Berikutnya kemudian fasilitas publik, lift, eskalator seperti apa pengamanannya, safety device-nya berfungsi apa tidak, siapa yang mengetes? Dan kalau ada insiden, siapa yang akan membantu? Apakah badan pengelolaan itu siap atau tidak? Banyak pertanyaan seperti ini. Berikutnya ini fasilitas yang ada di tempat publik apakah memenuhi kriteria dia aman kepada pengguna jalan? Next. Banyak sekali contohnya dan kejadiannya sudah terjadi di tempat kita. Next. Seperti ini contohnya. Lif. Apakah paham? penggunaannya, paham dalam penanganannya. Ini banyak sekali kasus-kasus seperti ini dan saya menghindari gambar-gambar yang sifatnya vendle ya, karena banyak sekali korban-korban yang gambarnya tidak bisa kami tawiyangkan di sini. Next. Contohnya ini. Nah, ini lagi rebutan jalan. Ini siapa yang suka naik trotoar? banyak nih karena bawah macet mungkin Surabaya enggak mengalami tapi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang ini hal biasa. Jadi di sini pengguna jalan apa? Pejalan kaki agar tahu diri minggir kalau ada motor mau naik trotoar. Jadi kita yang disuruh minggir harus tahu diri karena you jalan jalan kan bisa loncat, motor kan enggak bisa loncat katanya dia. Jadi terpaksa gunakan trotoan. Silakan. Next. Berikutnya masih banyak contohnya. Nah, ini kondisi-kondisi seperti ini berikutnya. Nah, ini ee slide terakhir dari saya bahwa kenapa aspek K3 menjadi masalah? Karena kita tidak tahu tentang aspek pentingnya, kekurangan pengetahuan dari peraturan dan stand diterapkan, perhatian minimal dan terakhir adalah kalau ada aturan minimal tetapi terapin itu katanya sudah cukup. Padahal aturan itu minimum. Yang kedua, bahwa kejadian kecelakaan K3 itu bisa ditutup dengan asuransi. Jadi, semua bisa dibayar. Ini yang salah. Dan terakhir apa? Kita tergantung pokoknya kalau ada apa-apa cukup lapor Pak Satrio. Demikian dari saya, terima kasih. Mohon maaf jika ada yang kurang dari kami. Tidak lebih karena kami juga masih belajar. Terima kasih. Billahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Sangat luar biasa sekali ee dua pemateri baik Pak Satrio maupun juga Pak Unggul. tentunya pasti akan banyak respon, pertanyaan, maupun juga sharing. Untuk itu kepada Bapak Ibu yang hadir di BBSDM ini kami persilakan kalau mungkin ada pertanyaan ngih dari tengah dari sisi sebelah kanan kiri ada mungkin tiga pertanyaan dulu nggih. Sementara tiga pertanyaan dulu. Kami tengah, habis itu ke kanan dan yang ke kiri. Salah satu yang kiri nanti ngih bisa disebutkan nama dham instansi mana? Bismillahirrahman. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Izin Bapak. Ee nama saya Azwar Hamid dari RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Ada dua pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Jadi yang pertama ini mungkin ke Pak Unggul terkait dengan K3. Jadi Bapak izin ee apa yang Bapak sampaikan di awal tadi nggih bahwa K3 itu multidisipliner. dan mungkin juga pada akhirnya ada ego sektoral. Nah, apa yang tadi disampaikan Pak Satrio, Pak Unggul ini kami menangkapnya bahwa ee ada beberapa kewajiban dari institusi pemerintah melalui apakah itu Undang-Undang 170 atau bahkan mungkin ee regulasi K3 perkantoran di mana ee bagi kami yang di rumah sakit mungkin ketambahan dengan Permenkes terkait dengan K3, Bapak. Nah, ini ada perbedaan mungkin sama-sama pelayanan publik, tapi di ee lembaga lain mungkin di di dinas ataupun di badan itu ee sepertinya kami belum melihat ada keberlanjutan dari safety saat pembangunan. Jadi saat pembangunan itu mungkin kita harus ada SLF, ada IMB dan lain sebagainya. Nah, tata laksana K3-nya kami belum melihat ee sampai pada kewajiban seperti di perusahaan, Pak Unggul. Jadi, mungkin ada tebang pilih, mohon maaf itu istilah kami, antara perusahaan dengan lembaga pemerintah yang sebetulnya ini sama-sama tempat kerja. Kalau ee di swasta mau enggak mau P2 K3 atau K3 perusahaan itu ada. Namun ketika kita bergeser ke pemerintahan di lingkungan kita, lingkungan kita ee di dinas maupun badan ini tidak menjumpai lagi keberadaan K3 itu. Apakah itu P2 K3? Tadi Pak Satro sampaikan BPSDM kok detektor aja. gak ada sprinkle, gak ada ee apa namanya perangkat keselamatan yang lain. Tadi Ibu sampaikan titik kumpul ada. Kemudian ee fire drill dan lain sebagainya itu mungkin baru terupdate ee ketika ada sesi seperti ini. Itu itu persepsi saya sih. Nah, beda dengan kami di rumah sakit Bapak. Jadi kami ini rumah sakit yang ada akreditasi. Mungkin ee amanat regulasi itu begitu jatuh kepada teknisnya langsung akreditasi. Mau enggak mau harus dilaksanakan. Begitu. Jadi detail sekali di dalam ee bab salah satu dari 16 bab di akreditasi itu manajemen fasilitas dan keselamatan itu mengatur tentang ee kebencanaan salah satunya itu. Nah, kembali ke dinas. Dinas ini sepertinya tidak ada yang mengikat dan mewajibkan. Apakah ee harus SMK 3 ala Kemenaker atau ee Kemendagri punya sendiri atau seperti apa gak paham begitu, Pak. Itu pertanyaan pertama. Perihal K3 yang sepertinya terputus antara pemerintah dengan swasta. Kalau swasta luar biasa. Kita sudah enggak meragukan lagi ee K3 di industrial, K3 di ee IdM atau pertambangan dan lain sebagainya. Yang pertama. Yang kedua ee Pak Satrio penutup tadi Pak Unggul sampaikan bahwa asuransi itu juga ee m-back up begitu ya. Tapi kami kemarin ini percakapan kami sebagai insan perumah sakitan. Begitu di Malang itu keos depan Polres depan persis RSSA itu banyak sekali yang dievakuasi masuk RSSA sebagai pasien. Nah, pastinya kami yang dasar kami ini mayoritas pasien itu pasti BBJS, Pak. Penjamin, butuh penjamin dan butuh kejelasan. Nah, dalam kondisi seperti ini sebetulnya berapa lama sih penentuan status kebencanaan itu? Dan pastinya kami pun ketar-ketir ini kami yang kami melangkah ee nanti rugi begitu ya, mohon maaf. Kemudian kalau tidak melangkah ini kemanusiaan. swasta mungkin lebih cenderung tidak seperti itu. Ya sudahlah biar diurusin pemerintah aja, rumah sakit swasta, ya. Nah, bagaimana sudut pandang asuransi dalam ee apakah ini prabencana atau masa penanganan atau pascanya? Termasuk tidak hanya SDM, asuransi Grahadi yang habis itu, asuransi beberapa pos-pos polisi yang dibakar dan banyak sekali gedung DPRD, gedung pemerintahan. Apakah ini bagian dari kebencanaan itu masuk juga unsur asuransi? Padahal kadang kata asuransi itu harus dieksklusi dari syarat wajibnya asuransi. Demikian kurang lebihnya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kita simpan pertanyaannya dulu untuk jawabannya. Lanjut yang dari sesi sebelah kanan. Monggo. Nanti disebutkan dari mana nama dari ee OPD dan pertanyaan untuk siapa, Pak. Nggih. Selamat siang ee semuanya peserta. Selamat siang Bapak-bapak narasumber. Saya Agus Erno dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi. ee untuk K3 ee kita di kantor itu pernah ada kunjungan dari ee Disnaker Bapak dan sudah ada pendataan ee tapi setelah itu follow up-nya enggak ada. Artinya follow up-nya hanya didata, tapi nanti artinya ada temuan-temuan kan pastinya enggak mungkin kita lolos temuan kita tahu sendiri. Itu rahasia umum ya. bahwa OPD itu enggak ada yang sesuai dengan K3. Jadi, ternyata saya tunggu enggak ada respon sama sekali. Itu yang pertama, Bapak. Ee kalau bisa mungkin bisa dilanjutkan lagi ya untuk inspeksi K3-nya. Terus untuk Pak Nurseno ya ee kita sebenarnya saya saya kan orang sekretariat saya sering usul ke baik itu ke ee apa eselon 3-nya atau mungkin ke eselon 4 ee ternyata kita mentoknya di situ Bapak. Contohnya kayak jadi alangkah baiknya itu dari OPD apa BPPD ya itu ada semacam kayak inspeksi berapa bulan sekali gitu loh ya inspeksi. Jadi, jadi paling tidak itu ada keharusan untuk pelatihan ee mohon maaf sekarang ini kan apa tenaga keamanan itu kan dari ee pihak ketiga ya socing. Nah, itu coba mungkin mereka juga ada sudah ada sertifikatnya tapi kenyataannya kan kita enggak tahu kinerjanya sebelum ada kejadian. Iya kan? Jadi pelatihan untuk kebakaran atau penanggulangan bencana itu sama sekali belum ada lagi gitu loh. Jadi alangkah baiknya mungkin secara rutin Nah untuk ee ini saya pertanyaan yang kedua lagi ee bisakah kita itu dapat anggaran untuk kita tahu ya kantor pemerintah rata-rata itu enggak ada yang namanya fire alarm, enggak ada splink hidran ya. Apakah kita bisa enggak usul itu kira-kira? Atau kita bisa minta hibah usulan ke mana? Ke PU ya. Bisa enggak kira-kira Bapak kalau ke BBPD? Enggak mungkin deh kayaknya. Nih. Enggak mungkin. Enggak mungkin. Jadi ya apa ya bukan cyber building lagi gitu loh gitu loh ee kebetulan saya punya pengalaman di di gedung swasta dan kebetulan saya punya pengalaman juga di proyek skala ee gedung bertingkat yang di atas 30 lantai. Jadi semua makanya saya kenapa enggak saya aplikasikan ke gedung pemerintah juga gitu loh. Terima kasih Bapak. Terima kasih Pak Agus dari Dinas Budaya dan Parisat Provinsi. Lanjut ke sisi sebelah kiri. Monggo. Tadi yang angkat tangan sepertinya ee mana? Oh, ya. Oke. Tes. Oke. Ee terima kasih atas kesempatannya. Saya kebetulan ada dua pertanyaan Bapak-bapak. Masing-masing satu. Ee yang pertama kepada Pak Satrio. Eh, kenalan ya. Nggih. Iya. Nama saya Dian dari Rumah Sakit Haji Surabaya. Oke, pertanyaan yang pertama kepada Pak Satrio. Nah, ee di rumah sakit, kebetulan saya Rumah Sakit haji, ee kita ada dokumen namanya Hostep, Hospital Disaster Plan. Nah, di situ ada ee keputusan yang bisa diambil oleh kombanan bencana untuk memutuskan ee ini perlu evakuasi massal atau tidak. Nah, kriteria apa yang bisa diambil oleh ee misal direktur kami yang ada incharge di sana ee atau mungkin ada dari BPBD ada instruksi khusus kepada kepala UPD ke OPD-UPD sekitar untuk ini perlu evakuasi massal atau tidak gitu ya. Karena mengingat evakuasi massal ini effortnya besar, resikonya juga besar. Ee di mana kami juga ada pengunjung pasien yang rasionya enggak sesuai dengan jumlah petugas. Kemudian pertanyaan kepada Pak Unggul. Ee saya bisa minta tips enggak, Pak? Ya, kebetulan saya tadi ngelihat ee profilnya Jenengan itu merupakan HSE di Grand Indonesia ya, Pak ya, hotel. Nah, itu saya boleh minta tips gimana caranya crowd managemen karena sama-sama kita fasilitas publik yang terbuka, pengunjung itu bisa dari kalangan mana saja. Nah, itu crowd manajemennya seperti apa. Kita bisa belajar untuk implementasi di rumah sakit gitu. Terima kasih. Nggih Bapak Ibu sekalian dari tiga pertanyaan alhamdulillah tidak dijujukan ke saya karena lihat bobotnya luar biasa. Sekali lagi tepuk tangan ya. Bersyukur sekali pada hari ini saya ditunjuk aja sebagai moderator nggih. Dan tentunya memang inilah Bapak jadi interestnya terhadap kebencanaan dan K3 ini teman-teman. baik dari OPD Jawa Timur maupun juga kabupaten kota luar biasa. Untuk itu ada tiga pertanyaan tadi. Ada yang ke Pak Unggul, ada yang ke Pak Satrio. Monggo. Alhamdulillah saya gak ada ya, Pak. Nggih. Nggih, monggo. Mungkin Pak Satrio dulu. Lanjut ke Pak Unggul. Baik, makasih Mas Moderator. Ee saya akan mencoba memberikan saran ya terkait dengan pertanyaan dari Mas Aswar Hamid dari RSUD Saiful Anwar Malang terkait asuransi ya. Di dalam penanggulhan bencana memang tidak ada asuransi khusus ya Mas ya. Kita kami kemanusiaan semua. Tapi untuk korban dan dampak itu sebenarnya ada anggaran tersendiri. namanya. Kalau di pemerintah daerah adalah belanja tidak terduga, BTT, kalau di pusat ada namanya DSP, dana siap pakai. Nah, itu. Nah, bagaimana ee seperti yang tadi disampaikan, oh ternyata banyak dampak, banyak korban yang ee perlu perawatan ya. Kemudian banyak sarana prasarana yang rusak. Nah, habis ini saya rapat dengan beliau-beliau ini. Habis ini saya rapat dengan Nun Sewu tadi sudah ditelepon sama pimpinan untuk segera merapat ke Bapeda untuk menangani yang kejadian kemarin. Jadi gini, Mas Aswaramid, bahwa untuk perawatan ee korban pertama bisa itu bisa dibiayai oleh BTT. Nah, ini nanti kita masukkan di dalamnya. Nanti dari CF Arwar ee mungkin bisa membuat laporan ke Dinas Kesehatan. Tadi malam dr. Fitria juga sudah WA kami untuk ee terkait dengan BTT. Sarana paraarana juga begitu. Hari ini akan kita ee tindak lanjuti. Jadi, semua yang berdampak. Tadi kan saya bilang di dalam BTT ini dasarnya ada Permendagri 77, kemudian ada Pergup nomornya lupa saya Pergup 19 tahun 2024 sama SE dari Kemendraag yang baru. Jadi bisa bisa kita laksanakan. Bagaimana metodenya? Metodenya ada dua. Ada yang pergeseran ke ee DPA atau program reguler rutin. Ada yang langsung. ada langsung itu berarti ada anggaran tersendiri masuk ke rekening giro tersendiri untuk kita laksanakan. Nah, di situ ee aturan-aturannya nanti kita apa ada semua di situ. Jadi intinya kalau terdampak dengan bencana bisa. Syarat utamanya adalah ada status tanggap darurat kalau itu memang diperlukan. Tapi kalau ada beberapa kabupaten kota ini yang tidak memiliki itu, mungkin di Kabupaten Malang apakah mengeluarkan tanggap darat? Coba nanti tanya ke BBBD-nya atau bakis bank POL. Karena kalau kita bicara sosial, bencana sosial itu ranahnya di Bakis Bank POL, bukan di BPD. BBPD hanya supporting atau pendukung saja. Itu yang pertama. Eh kemudian saya akan mencoba menjawab untuk ee Pak Agus Erno disebut parf ya. Ee jenengan kan sudah lama di swasta, Pak. Berarti salah pindah ke birokrasi ini, Pak. Iya. ee kalau kita bicara kelengkapan sarana keselamatan di gedung ke pemerintahan ya saya rasa memang seluruh sebagian besar semuanya itu tidak layak untuk kita ee apa untuk sistem keamanannya. tidaknya jenengan saya aja juga, Pak. Di BBD pun juga ini. Makanya kita harus bertahap bertahap untuk merehabilitasi atau memenuhi paling tidak indikator-indikator untuk keselamatan kerja di kita. Kayak kami di BBD Jatim mencoba untuk mengaktifkan kembali hidran. Mungkin disbutpar ini bangunannya kan tahun lama, Pak, ya. Nah, saya itu bangunan tahun 2012, Pak. Enggak ono hidrane, Pak. Hidran itu mati, sprinkel mati, semuanya tidak layak untuk keselamatan kerja. Padahal BBD, Pak Mas Unggul, Pak Unggul. Jadi saya sendiri kadang menjadi narasumber juga malu sendiri juga. Tapi tidak apa-apa. Kita berupaya untuk ee bertahap untuk memperbaiki itu anggarannya dari mana? Ya itu tadi tadi saya bilang salah satu ee indikator sadar bencana yang sukses itu adalah kepalanya harus sadar. Nah, ini kepala instansinya harus sadar terkait dengan keselamatan kerja. Siapa yang bisa bilang ini Pak Kaban nih harus bilang ini ke beliau-beliaunya ini ya? Karena kami sama seperti Pak Agus tetap gak bisa apa-apa. Anggarannya dari mana, Pak? Anggaran tetap bisanya kalau kita perbaikan gedung ya tetap masuknya di rutin harusnya di situ bertahap mungkin satu gedung ada perubahan set-nya untuk yang ee kebakarannya. Kemudian dan apa namanya alat aparnya dan segala macam harus disiapkan bertahap gitu. Kalau masalah simulasi oke kami bisa Pak yang penting ada surat aja dari Disbut PAR. Kita akan buat konsepnya untuk apa namanya SOP evakuasinya dan segala macam nanti kita coba untuk simulasi di sana. Mungkin seperti itu, Pak Agusno ya. Kemudian Mbak eh Dian dari RS Haji kriteria evakuasi massal yang bisa jadi kalau panjenengan sudah punya host deep ya sudah hos pistol disaster plan ini ada ini ada apa yang para ahli ini Mas Didik ini dari Dinkes ini ahlinya ini host dip ini. Jadi tanyanya nanti ke beliau setelah dari saya. Kalau jenengan ada host di dep berarti ketua host di dep-nya pada saat ee K3 ketika terjadi bencana harus punya ee pertimbangan-pertimbangan. Bukan BBPD yang mengevakuasi ketika terjadi bencana. Kalau jenengan ada terjadi gempa misalnya 3 menit telepon BBD sik kudu evakuasi wis kadung ambruk kabeh gedungnya. Jadi, siapa yang menjadi ee pengambil keputusan ketua K3-nya pada hari itu? Siapa? Pertimbangannya apa? Saran saran secara lisan dari saya ketika jenengan ee khususnya gempa ya atau kebakaran. Ketika jenengan ee ada merasakan gempa minimal minimal 1 menit gempa tidak ada hentinya lebih baik evakuasi. Karena apa? Saya yakin jenengan atau ketuanya K3 jenengan tidak yakin dengan gedung yang jenengan bangun. Saya yakin apalagi saya RSUS haji saya sudah sering menginap di sana. Sering sakit saya dulu, Mas J. Saya sering sakit di sana dan ee aksesnya juga sangat terbatas di sana. Tempat assemble point-nya juga terbatas. Jadi ketika kita bicara kriteria evakuasi ya sebaik mungkin ketika ketuanya K3 harus benar-benar paham terkait dengan e apa namanya ke kekuatan gedungnya. Nah, kemudian karena di sana juga banyak apa ee barang-barang yang mudah sekali ee terdampak pecah maupun goyah itu banyak sekali di RSU Haji. Jadi ee mungkin nanti bisa berlatih bersama-sama dengan kami ya, dengan Mas Didik juga yang host deep master ini host deep masternya dari Prof. Jatim ini Mas Didik ya. Jadi ya bisa kita nanti saling apa e bertukar dan berdiskusi. Banyak beberapa rumah sakit juga sering kok dengan kami ee yang paling dekat itu Rumah Sakit Waru yang sebelah saya, Mas ya. Di situ juga sering kita melaksanakan simulasi bareng ya. Jadi Mbak Dian yang ee untuk evakuasi kriterianya ya seperti itu. Jadi ketua K3-nya harus benar-benar paham ya. Ya, contoh-contohnya tadi yang kalau ee gempa 1 menit gitu ya sudah mending keluar saja. Bagaimana caranya? Harusnya sudah ada. Kalau host dip-nya sudah jalan, host di dep-nya sudah ada sistem yang bagus harusnya bisa. Seberap pun ee apa ya pasien ataupun personil di situ harusnya sudah ada step by step-nya. Sistemnya harusnya sudah jelas harusnya. Makanya perlu ada evaluasi. Belum pernah ini haji janjian dengan BBD dan Dinkes kayaknya belum pernah simulasi ya Mas Didik ya. Oke. Iya mungkin itu ee beberapa hal yang perlu disampaikan. Kurang lebihnya kami mohon maaf. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Baik ee saya akan langsung menjawab tadi yang dari ini sebagian kayak rumah sakit ya. Memang ini ada kendala, Pak. Di kita ini ada dua okupensi atau dua hunian gedung yang sering menjadi sorotan, namun sangat lemah dalam implementasi, terutama dari sisi proteksi kebakaran mungkin keselamatan jiwa, yaitu pertama adalah rumah sakit, yang kedua detention and correctional facility atau pemasyarakatan. Nah, lapas. Nah, kenapa? Karena ini menghendaki sebuah penanganan yang berbeda. Tadi dibilang kalau ada gempa segera evakuasi. Orang tidak dievakuasi aja bisa game apalagi dievakuasi kan. Coba bisa dibayangkan ruang ICU seperti apa, bagaimana mengevakuasi. Kemudian sebaliknya terjadi di deten correctional facility orang itu lagi enggak boleh keluar malah disuruh evakuasi ya senang. ini kan sesuatu yang berbeda. Nah, di sini ada sebuah ketentuan ya peraturannya agak menyulitkan kita dalam implementasi ya setelah saya melakukan beberapa studi keluar di mana mereka itu menerapkan peraturan atau standar yang sifatnya adalah performance based Pak. Lah Indonesia saat ini masih menggunakan preskriptif peraturannya harus, harus dan harus. Nah, kesulitannya adalah pada saat implementasi. Kenapa gedung seperti ini tidak ada sprinkler? Ternyata ketentuan kita menyatakan itu. Tidak melihat dari race based identification-nya, tapi dari aturannya. Bahwa gedung cuma dua lantai tidak diwajibkan. Bahkan tiga lantai pun tidak. Contohnya apa? Ruko. Tidak ada ruko yang pasang sprinkler. Kalau pasang silakan, tapi enggak ada yang mewajibkan. Bedanya dengan performance base yang ada di negara-negara sebelah nih, itu dia tidak lagi melihat luasan, dilihat adalah resikonya. Kalau resikonya ada, pasang. Tapi juga dia bisa menjadi lebih hemat. Kenapa? Bangunan dua lantai seperti ini tidak perlu ketahanan api 2 jam. Kenapa? Orang 1 jam aja orang sudah bisa keluar, silakan bangunannya terbakar, orangnya aman di luar. Tapi di sini tidak bisa, Pak. Karena persyaratannya adalah 2 jam. Bahkan rumah sakit tadi saya bilang 3 jam, Pak. Kenapa? Dia mempersyaratkan defend on place, bertahan. Jangan ada penyebaran asap maupun panas di ruang-ruang khusus untuk perawanan intensif. Apakah fasilitas itu terbangun? Dindingnya bagus. Di atasnya kabelnya pada bolong, Pak. Nembus dinding. Akibatnya apa? Kebakaran menyebar. Bapak silakan buka di YouTube kasus kebakaran rumah sakit yang ada di Jakarta dan Tangerang Bekasi. Bagaimana ngenesnya ngelihat bayi dalam inkubator diseret-seret ke ruang ke ruang parkir, Pak. Bagaimana pasien ICU ditarik-tarik ke ruang lobi karena asapnya nyebar ke mana-mana. ini kan sudah di luar standar substandar sekali gedung ini. Nah, pertanyaannya kenapa diberi izin? Sebenarnya yang memberikan izin juga tidak salah karena apa? Ada aturan-aturan yang tidak dia ee tidak bisa diimplementasi. Ya, contohnya tadi itu harusnya 3 jam. Tapi kenapa? Karena enggak ada lembaga yang menguji bahwa dinding itu tahan 3 jam, bahwa area tersebut smoke proof, tidak bisa tersebar asep. Ini yang sangat ee menyulitkan bagi kami dalam implementasi terutama ya e dua bangunan ini. Pertama, rumah sakit pasti marak sekali, Pak. Apalagi sekarang rumah sakit vertikal karena kelangkaan lahan. Lah bagaimana orang-orang di atas ruang ICU ada di lantai 6 kenapa di lantai dasar atau lantai satu? ruang operasi di lantai 4 misalnya. Kenapa enggak di lantai dasar? Ini jadi karena apa? Ruangannya tidak mencukupi. Bahkan gensetnya itu ada di lantai 10, Pak. Bapak bisa bayangkan kalau listrik mati, orangnya operatornya ada di basement lari ke lantai 10 buat nyalain genset. Ada enggak ada? Bapak cek aja di YouTube itu ada beritanya. Gagal backup. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua terkait dengan penerapan SMK 3 mau enggak mau wajib, Pak. Jadi bukan jangan dibisamakan antara penerapan SMK3 dengan sertifikasi SMK3, Pak. Itu berbeda. Jadi sertifikasi Bapak menunjuk lembaga sertifikasi. Tapi kalau implementasi semuanya pasti wajib. Tidakah, tidak susah dan itu gampang karena apa? Sudah ada kriterianya. Kemudian follow up inspeksi, Pak. Jadi yang tadi Bapak tanyakan bagaimana sih di dari sisi proyek itu sudah tidak ada ee kegiat ee rekomendasi dan pada saat kunjungan pun setelah itu tidak ada follow up. Nah, sebenarnya Pak untuk seluruh penanggung jawab operasional gedung itu diharapkan memiliki kompetensi yang standar untuk keselamatan. Jadi ada atau tidak ada kata-katanya jangan tergantung dengan pemerintah meskipun bapak gedung pemerintah. Jadi kalau enggak diperiksa biarin aja toh enggak ada yang ngasih tahu. Tidak Pak. Karena apa? Kita sebagai penanggung jawab kalau dalam bahasa kami adalah landlord itu memiliki kewajiban untuk memastikan fasility kita sesuai atau tidak. Minimum aja misalnya tidak ada sprinkler memang tidak ada. Karena gedung ini pun mau diajukan anggaran kayak apa enggak akan keluar itu sprinkler. Karena apa? Enggak ada kewajibannya. Nanti dasarnya kan dalam kerangka acuan diajuin. Kenapa gedung BPSDM perlu pasang sprinkler? Karena permintaan dari forum ini gitu. Enggak bisa temuan. Tapi begitu di-follow up dasarnya apa? Masang sprinkler ini yang susah. Undang-undangnya benturan P. Benturan. Nah, terakhir mengenai ee masalah evakuasi tadi. Sekali lagi saya sampaikan bahwa evakuasi adalah executive decision, penanggung jawabnya gedung. Jadi, jangan tanya, "Pak Satrio, ini saya harus evakuasi atau tidak?" Bapak juga akan ngomong, "Lah menurut Ibu gimana? Orang saya enggak di situ." Jadi gini, memang resiko, Bu, paling berat mengelola rumah sakit. yang datang ke situ juga sudah dalam kondisi tidak baik-baik saja. Bagaimana caranya? Ikuti regulasi yang ada. Pastikan area-area yang khusus untuk menangani secara intensif itu bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, yaitu 3 jam minimal. Minimal. Karena apa? Kondisinya tidak mungkin untuk dievakuasi. Bapak silakan cek ke YouTube aja. itu ada dua loka kejadian kebakaran yang pasiennya semua berserakan di area parkir. Itu tampilan Indonesia seperti itu menangani rumah sakit apakah itu wajar atau tidak. Nah, silakan nanti di Surabaya Pak Satrio pastikan apakah rumah sakit-rumah sakit yang ada bisa menjamin untuk pasien dalam kondisi intensif bertahan dalam kurun waktu tertentu. Itu dari saya, Pak. Pak Sugito. Terima kasih. Izin nambah, Mas. Ini praktik baik ya. Ada dua dua praktik baik yang kemarin ee gempa beberapa kapan ya tahun kemarin apa tahun ini ya? Saya lupa. Tahun ee itu ada dua yang menjadi praktik baik rumah sakit. Yang pertama, Rumah Sakit UNER itu lumayan bagus dalam kita tindak lanjut bagaimana evakuasi dari gedung ke keluar, bagaimana komunikasi dengan OPD, membangun ee tenda-tenda darurat untuk pasien-pasiennya. Kemudian ada juga yang satu itu mungkin agak sedikit ee rumah sakit provinsi juga, cuman saya gak usah sebutkan ya, ada di sekitaran Surabaya Selatan pokoknya bukan rumah sakit haji. Tenang ada. Jadi mereka telepon kami pada saat itu ee 2023 kalau enggak salah pas gempa yang ada di ah Bawean. Jadi mereka mengevakuasi keluar semua pasien-pasien pasien-pasiennya keluar semua dievakuasi ee untuk penanggung ucapnya Pak Unggul. Kemudian tanya setelah selesai gempa itu tanya, "Mas, ini gimana caranya membalikkan semua ke gedung?" gitu. Saya ketawa loh kenapa emangnya ini sudah saya evakuasi semua nih dari gedung lantai atas bawah itu dievakuasi keluar semua. Terus gimana, Pak? Aman semua. Aman, Pak. Loh, terus ini dimasukkan ke gedung lagi atau tidak? Ini ini berarti Mas Mas Didi ini perlu host diip-nya bagaimana? Apa standarnya kita evakuasi? Oke, sudah standar kita kembali ke gedung apa ini sudah aman belum untuk masuk ke gedung? Nah, ini juga harus-harus menjadi kriteria ya. Jadi kemarin saya tanyakan pondasinya aman gak? Strukturnya retak gak? Strukturnya roboh gak? Tidak. Dengan ee indikator sederhana itu saya rasa aman untuk bisa masuk lagi. Tapi kalau Bapak penanggung jawab tidak ee apa tidak yakin ya tidak yakin tolong telepon dinas terkait. Dinas terkait itu yang mana ya? PU Pak Cipta Karya yang ee bisa menilai ee keamanan gedung, kelayakan gedung. Nah, itu itu mungkin e sedikit praktik baik. Kalau mungkin ini belum terjadi bencana, Mbak Dian atau Pak Agus, Mas Aswar ya bisa dipanggil PUPU untuk menilai kelayakan gedung-gedung kita. Kira-kira nilainya berapa satu dari 10? Terima kasih. Oke, terima kasih. Luar biasa Pak Unggul dan Pak Satrio. Ee ini ternyata respon sangat positif tidak hanya di ruangan ini, tapi ini juga ada yang dari YouTube sama juga dari Zoom. Jadi mohon izin sebelum nanti kami berikan kesempatan pada Bapak Ibu yang rawuh secara ee di ruangan ini. Ini kami bacakan, Pak. Pertanyaannya yang pertama ee ini melalui YouTube, Pak. Jadi yang menanyakan Bapak Andi Prasetyo ini satu marga dengan saya ini. Mohon izin bertanya, apa yang harus kita kenali sebagai langkah antisipasi ketika kita bekerja di suatu gedung? Langkah prioritas apa yang harus kita lakukan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Mungkin ini pertanyaan untuk kedua narasumber kita. Dan yang kedua ini dari BKD Jawa Timur kalau tidak salah saya ini kenal ini Ibu Hana ya. Mohon izin bertanya kepada Bapak Satrio dari Buhana BKD Jawa Timur. Apakah apabila sekretariat kantor sudah melakukan upaya pencegahan sosialisasi bahaya-bahaya yang mungkin terjadi di kantor, namun oknum pegawai lalai dan tidak melakukan aktivitas ber aktivitas berbahaya seperti merokok di ruang kerja. Waduh, deg. Ini saya merasa ini taruh barang di area tangga darurat dan atau kegiatan lain yang menyebabkan kebakaran atau menghambat jalur evakuasi secara aturan. Pegawai dimaksud dapat kena sanksi atau tetap kesalahan pada pejabat penanggung jawab gedung sekretariat. Terima kasih. Jadi ya ini Pak, jadi ini pertanyaan tapi juga nyinggung kami Pak maksudnya nyinggung saya Pak. Kalau kami ee nanti gak pas nggih. Nggih. Jadi tadi dua pertanyaan itu jadi baik dari yang menyaksikan via YouTube maupun juga Zoom. Monggo dijawab Pak Unggul dan Pak Satrio. Tapi pertanyaan yang kedua kayaknya khusus untuk Pak Satrio. Baik. Cek. Baik. Terima kasih. Yang pertama pertanyaan dari Pak Andi Prasyo. Apa yang harus dikenali ketika terjadi hal yang tidak diinginkan? Ya, yang pertama kita harus mitigasi risiko. Sebenarnya risikonya apa di situ. Kalau dari sisi bencana ada bencana apa? Nah, kemudian dari sisi bencana sosialnya atau non alamnya tadi seperti yang kami sampaikan Pak Unggul dan saya di paparan bahwa kita harus menilai di situ ada apa saja yang menjadi ancaman. Paling tidak ketika kita bekerja samalah kita kita mau berkendara kita harus harus bawa helm, harus bawa SIM, harus bawa jaket, bawa pakai sepatu misalnya. Jadi ee hal itulah yang harus kita siapkan ketika kita berada di lingkungan kerja. Oke, kita tidak ada helm di sana karena kerja di ruangan ya. Safety-nya apa? Jika ada ancaman kebakaran aparnya sudah benar-benar ada, sudah ada isinya, sudah bisa menggunakannya gitu ya. Nah, mungkin itu menjadi persiapan-persiapan kita ya. Kemudian yang kedua dari Mbak Hana terkait dengan ee oknum tadi ya. ini kayaknya kenanya ke saya juga ini pasnya. Iya. Jadi saya rasa sanksi ini ee gimana ya kalau kita bisa kalau terjadi kejadian yang tidak kita inginkan ada bencana ataupun ada kejadian yang tidak baik di dalam lingkungan kerja tentunya kita harus ee memeriksa dan mengaudit mengevaluasi ya di mana salahnya, di mana kurangnya. Oke. Jika memang ini dari dari apa ee pendapat saya pribadi misalnya di sistemnya sudah bagus nih, sistemnya sudah bagus. Kalau sistem sudah bagus saya rasa tidak akan ada ee oknum ya yang tidak sengaja ya yang sengaja maksudnya yang sengaja untuk membuat kejadian yang ee berdampak bencana bagi lingkungan kerja. Nah, kalau tidak disengaja itu mungkin terjadi. Tapi kalau disengaja jika sistemnya sudah bagus saya rasa tidak. Ya, merokok di tempat kerja ada larangan gak? Ada sanksi gak di situ? Yaitu menjadi aturan internal di dalam instansi tersebut. Apakah kepala instansinya menjadi ee kekeh bahwasanya kamu merokok, saya sanksi surat peringatan satu misalnya. Gak mungkin. Apalagi beliau dari BKD malah mereka beliau yang akan nyangsi saya di BBPD karena pembina kepegawaiannya di beliau kan di BKD kan. Kalau di kami di WBD ada area-area merokok, ada area-area yang khusus untuk merokok. Tapi sebenarnya ya enggak semuanya merokok. Karena kami di lapangan ya kami akui kami di lapangan semuanya ee sebagian besar memang perokok. Tapi mitigasi kami bagaimana rokok itu ketika itu tidak mengganggu masyarakat, tidak mengganggu orang-orang di sekitar dan dampaknya juga tidak mengganggu ketika ee itu mati gitu. Jadi ada ada istilahnya arahan tidak tertulis ketika kita merokok ya harus sampai mati. Ee kalau belum mati ya harus mati karena penyebabnya juga menjadi kebakaran gitu. Cara membuangnya juga harus tidak serta-merta di tempat lain. Mungkin itu mungkin yang bisa saya jawab Pak Moderator. Terima kasih. Pertama terkait dengan aturan merokok, Pak. Alhamdulillah di Jatim mungkin belum ada ya seketat itu. Di Jakarta ada pergup 88, Pak. Ini kami sangat-sangat kerepotan karena apa? Jangankan di tempat kerja, Pak, di karpak area parkir kalau kena ada yang lapor ke sistem online-nya DKI, kami langsung digeruduk, Pak. Tiga dinas yang datang. ada Satpol PP, ada UMKM, bahkan ada dari ee dinas apa tuh namanya? Pare itu mendatangi. Kenapa sampai kita membiarkan? Itu bukan di tempat ee tertutup loh, di area parkir. Enggak boleh. Karena apa? batasannya 10 m dari eh 20 m dari pintu lobi. Jadi sebenarnya ini juga penghasil devisa juga apa? Penghasil apa? Cukai pajak ya. Tapi diperlakukan kayak biadab banget di luar nih. Disuruh dijemur di sana suruh ngerokok apa ya enak. Tapi itu aturannya begitu. Hampir semua hotel itu sudah non smoking area. Restoran tidak ada. Bahkan kantin yang di dalam gedung pun sudah enggak boleh. Suruh keluar semuanya. Ini yang terjadi di sana. Terus kemudian kalau kita tadi yang ditanyakan mengenai kalau kita kerja tempat tertentu, bagaimana reaksi kita. Nah, itu nanti seperti yang tadi Pak Satrio bilang, ada identifikasi dari personal kita, konsern kita adalah life safety dulu deh. Kita enggak bisa bicara property protection atau continuity of operation karena kita pendatang, kita pekerja di situ. Paling tidak aspek life safety-nya kita paham dulu. Tadi yang disampaikan ada akses menuju pintu daruratnya seperti apa. Ada misalnya kalau break glass kita tahu di mana bunyinya, ada lampu darurat. Jangan-jangan gedungnya terang karena lampunya nyala. Pada saat emergency power blackout gelap total. Ini beruntung gedung pemerintah mungkin enggak sampai malam, Pak. Jam .00 sudah selesai aktivitas masih ada bantuan cahaya matahari. Kalau gedung-gedung yang lain, Pak, yang 24 jam apagi rumah sakit itu emergency power itu luar biasa fungsinya. Itulah perlu dikenali, Pak. Jadi, mau tidak mau harus melakukan identifikasi. Demikian dari saya. Terima kasih Bapak Ibu sekalian. Jadi tadi sesi pertama tiga pertanyaan, sesi kedua dua pertanyaan. Tentunya yang sesi ketiga satu pertanyaan aja, Pak. Jadi mohon ditahan saya pikir ini masih banyak pertanyaan. Memang sengaja kami tutup pertanyaannya supaya ada pertemuan seperti ini lagi. Jadi nanti kita bisa diskusi lagi di kesempatan lain. Karena tangan keringatan jadi sensornya gak jalan Pak. Bentar. Ee ada pertanyaan yang terakhir dari Ibu Fitri kalau tidak salah beliaunya kepala Rumah Sakit Menur. Betul nggih. Ya, izin bertanya, bagaimana evakuasi bencana khususnya gempa yang pernah terjadi di Surabaya beberapa waktu yang lalu, tepatnya di Rumah Sakit J ji J ji J jiwa berarti ya Menur mengalami kesulitan ketika akan mengevakuasi pasien dengan gangguan mentalah. Nah, kalau di RSU tinggal RSU yang lain ini tinggal memindahkan tempat tidurnya. Ya, kalau di RSJ fisik tidak masalah tapi pasien belum tentu bisa diarahkan dan jumlah pasien lebih banyak daripada petugas. Ini sepertinya khusus untuk Pak Satrio ini kayaknya, Pak. Nggih. Supaya nanti ada pelatihan khusus untuk Pak Satrio ya. Nggih. Atau barangkali juga nanti untuk Pak Unggul bisa menambahkan singkat nggih. Jadi untuk pertanyaan yang terakhir ini nggih. Gimana Mas Idi evakuas-nya gimana ini ya? Jadi kalau ee mohon izin mohon izin nanti kalau boleh nyampaikan Bapak ini penting banget. Siap. Oh iya. Ini Bu Iizin Bu Direktur. Eh mohon maaf ini karena pengalaman betul kami bingung. Kalau kami keluarkan kami kayak anu lomba maraton pasiennya akan lari lah kita gimana mau anu jaganya. Itu betul yang terjadi kemarin. SOP-nya belum ada. Ini Mas Didik yang tanggung jawab ini. Nah, ini ada di depan saya beliau ini, Bu. Iya iya iya. Untuk bagaimana evakuasi pasien gangguan jiwa kayak lomba maraton kami akhirnya kan tetap ditaruh di dalam. Tapi kami juga takut gedung kami sudah gedung tua lah. Ini kalau ambrol kami juga salah ini. Itu betul-betul saya nunggoni dan deg-degan banget itu. Nah, mohon izin ini jadi perhatian teman BPBD semua temanlah semua tim. Bagaimana untuk rumah sakit dengan masalah jiwa ini kan pasien saya 400 loh Pak sekarang Pak. Lah kalau ada sesuatu dengan 400 orang itu di semua, Bu. [Tertawa] Lah nyun izin. Ayo monggo. Ini PR kita. Makanya saya senang saya langsung ngikuti sendiri loh ini. Saya betul-betul menyempatkan untuk ngikuti. Matur nuwun Pak. Injih. Matur nuwun Ibu ya. Jadi luar biasa. Jadi memang dalam evakuasi itu ada penanganan secara normal dan ada penanganan khusus Mas. Jadi memang kalau hal-hal seperti itu kayak disabilitas, kemudian pasien-pasien yang ee masih dalam proses operasi atau yang nonsu yang tadi yang gangguan jiwa memang harus ada evakuasi khusus lah. Evakuasi khusus itu bagaimana? Ya harus kita buat di dalam host dip-nya, harus kita buat di dalam SOP-nya. Tidak, tidak setamerta BBD harus bagaimana go apa bawa orang RSL rumah sakit ee orang yang pasien jiwa. Tidak semata-mata saya bisa memberikan masukan seperti itu. Kami harus tahu kondisinya seperti apa, bagaimana perkembangan pasien-pasien di sana juga ee dokter yang di sana yang tahu baru kita bisa ee memberikan solusi, berikan memberikan SOP, membentuk SOP yang pas dan cocok untuk ee para pasien. Paling tidak yang bisa kita berikan masukan adalah alur proses evakuasi dari ee lokasi pasien ke tempat aman. Kalau bagaimana bawa orang-orangnya biar manut? Nah, ini yang tahu psikisnya adalah para dokter gitu kan. Kalau kami dari BBD mungkin secara secara ininya adalah sarprasnya bagaimana mengonsep alur keluar evakuasinya. Kalau khusus J-nya Mas Didik aja nanti Bu kita diundang Mas Didik ya Mas Didik nggih. Mungkin itu Bu Dokter nanti lain ee apa ee mungkin beberapa waktu bisa kita diskusi lebih ee lanjut terkait dengan host dip ini. Karena saya yakin nu sewu mohon maaf rumah sakit provinsi di Jawa Timur masih kurang terkait dengan kepedulian terkait dengan host di depidi ini perlu dukungan besar untuk bisa mensukseskan host dipep di Jawa Timur. Saya rasa itu Pak. Makasih. Cukup cukup. Oh. Mungkin ini Bu terkait dengan ee fasilitas untuk ee khusus seperti ini kayak correctionional facility juga agar dipertimbangkan mungkin karena ini saya enggak tahu eh side plan-nya Ibu seperti apa. Tapi paling tidak yang tadi disampaikan Bu Pak Satrio, ada lokasi yang disebut eh area of refuge, Bu. Jadi area untuk berlindung sementara sebelum ee diputuskan untuk permanen evakuasi. Artinya apa? Ada lapangan atau tempat tertentu yang diisolasi mereka untuk berkumpul di situ. Tidak ada pilihan lain karena jumlahnya cukup banyak. Demikian juga kayak misalnya area-area untuk apa e pemasyarakatan itu pasti sebelahnya ada lokasi tertentu yang bisa digunakan untuk switching. Demikian juga hotel-hotel yang berbintang di eh saat ini diminta adalah pada saat terjadi disaster seperti ini, bisnis continuity-nya adalah misalnya nih kalau sebuah hotel dipakai menginap e VVP Pak, kepala negara terjadi sesuatu tidak serta-merta dibiarkan aja evakuasi kepala negara suruh lari ke pinggir jalan kan enggak mungkin. Bagaimana ditransfer ke hotel sebelahnya atau hotel lain agar ini evakuasi berjalan. Artinya refuge floor-nya atau refuge-nya ini di mana? Nah, untuk fasilitas seperti itu ditentukan di sekitar rumah sakit tentunya di pagari ya agar tidak tidak ke mana-mana. Namun area itu aman tidak ada ke potensi debris material yang jatuh menimpa si e penghuni tersebut. Demikian Bu dari saya dari area. Konteksnya adalah penyediaan area of refug. Demikian terima kasih. Terima kasih. Beri tepuk tangan kepada kedua pemateri. Sebelum kami tutup untuk sesi ini, Pak. Izinkan tadi di awal dua pantun, jadi juga kami tutup dua pantun aja ya. Kontraknya dua pantun. Tadi sudah naik perahu di tengah lautan. Jangan lupa bawa dayung cadangan. Siaga bencana kita mantapkan demi selamat di tempat kerja dan lingkungan. Pantun yang pembuka tadi ada kata-kata bunga, sekarang juga tetap bunga, Pak. Tetap biar satu rel. Nah, bunga-bungaan. Bunga mawar indah warnanya. tumbuh segar di tepi halaman. Terima kasih untuk kebersamaan kita. Semoga ilmu hari ini membawa keselamatan. Terima kasih. Mohon maaf kata orang Probolinggo kecepot golana merah pun bada salah lopot nyon seporah. Demikian juga kami yang dari tadi jam kurang lebih jam 10.00 membawa diskusi dengan dua narasumber yang luar biasa ini tentunya pasti banyak salah maupun juga khilap. Mohon dimaafkan dan kami akhiri asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, terima kasih untuk kedua narasumber yang luar biasa dan Bapak moderator kami persilakan untuk kembali ke tempat. Sobat ASN, seperti janji kami di awal acara, kami akan menampilkan QR yang dapat diakses untuk seluruh Sobat ASN untuk pengunduhan materi pada hari ini, pengisian daftar hadir, serta penerbitan e certificat yang nantinya dapat diunduh juga pada QR yang akan ditayangkan oleh kami. serta kami undang pula Bapak Ibu yang tadi mungkin masih belum menyampaikan pertanyaan masih tersimpan. Untuk itu kami undang bisa bergabung di WhatsApp grup community of Interest Kebencanaan tahun 2025. Nanti akan ada QR-nya juga bisa dican, disimpan, dan nanti langsung bergabung saja berdiskusi lebih dalam, lebih banyak lagi untuk mencari solusi atau tips trik untuk menangani kebencanaan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di tempat kerja. Ya, ini telah tampil QR yang akan atau dapat diakses oleh seluruh SOBAT ASN mulai pengunduhan materi, pengisian daftar hadir, serta penerbitan e-sertifikat. Dan tidak lupa di sisi sebelah kiri atau di sisi sebelah kanan Bapak Ibu nanti akan ada WhatsApp grup community of interest kebencanaan tahun 2025 bisa diakses dan langsung bergabung dalam WhatsApp grup tersebut melanjutkan diskusi yang tertunda. Karena kalau hari ini kita habiskan seluruh pertanyaannya mungkin kita akan pulang lebih larut gitu ya. karena tidak disangka. Wah, bahkan direktur dari Rumah Sakit Jiwa turut hadir. Sugeng rawuh, Ibu. Terima kasih telah hadir berdiskusi bersama kami dan menambah suasana pada siang hari ini semakin meriah. Begitu. Silakan Bapak, Ibu boleh mengakses QR yang terdapat materi, kemudian pengisian daftar hadir, dan nantinya e-sertifikat boleh dicek secara berkala. Nanti akan ada di link tri tersebut boleh dicek apakah sudah terbit ataukah belum. Nanti dicek saja secara berkala. Baik, jangan salah sampai scann-nya jangan salah. Yang ada warna hijaunya adalah join WhatsApp Group Community of Interest Kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Sedangkan yang sebelahnya lagi yang tidak ada hijaunya itu link tri yang akan memuat materi daftar hadir serta e-sertifikat. Sekali lagi, link 3 yang ada hijaunya adalah ee QR yang ada hijaunya itu akan menghubungkan rekan-rekan untuk bergabung dalam WhatsApp grup community of interest kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Dan QR yang tidak ada warna hijaunya adalah Link yang akan memuat materi pengisian daftar hadir serta e-sertifikat Sobat ASN seluruhnya. Kami haturkan selamat datang Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur di IKI Coworking Space BPSDM Provinsi Jawa Timur. Terima kasih Bapak telah menyempatkan hadir di kesempatan siang hari ini di tengah kesibukan Bapak. Terima kasih rawuhnya Bapak. Hadirin, selanjutnya sebagai bentuk komitmen kita bersama dalam penanganan bencana di Provinsi Jawa Timur, maka akan kita saksikan bersama prosesi penandatanganan deklarasi dan berita acara pembentukan community of interest kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Selanjutnya kepada perwakilan peserta yang telah ditunjuk disilakan mengambil tempat. Selanjutnya berkenan dengan hormat Bapak Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur menuju meja penandatanganan. Prosesi penandatanganan diawali oleh perwakilan peserta putri. Dilanjutkan perwakilan peserta putra dan selanjutnya berkenan Dengan hormat Bapak Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur menandatangani deklarasi dan berita acara pembentukan community of interest kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Selanjutnya berkenan untuk berfoto bersama para perwakilan peserta berkenan untuk memegang dokumen bersama Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur dan akan diambil gambar akan kami pandu 3 2 1. Sekali lagi 3 2 1. Baik terima kasih. Disilakan untuk mengambil dokumennya. Mohon izin Bapak Kepala BBSDM berkenan untuk tinggal di tempat dan perwakilan peserta disilakan kembali ke tempat. Selanjutnya akan kita ikuti dan simak bersama sambutan Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur yang sekaligus berkenan menutup sejai resmi kegiatan pada siang hari ini. Yang terhormat Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. Kami silakan. Aduh, ada bunganya kayak kayak mau sambutan pernikahan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita sekalian. Yang terhormat dan kami muliakan para narasumber, Pak Unggul, Mas Satrio, Sekretaris BPPD, Bu Kabit. Ojo Kabit ae timbang sekretaris angel. Agus Ping Pindu, Bu Amalia selaku penyelenggara dan para widya iswara, para analis pengembangan kompetensi dan tentu yang saya banggakan para peserta eh community of Interest. Mungkin ada yang nanya-nanya ini apa nanti saya jelaskan singkat. Pertama tentu saya bersyukur pada Allah pagi ini kita bisa menyelenggarakan kegiatan ini di tengah pertanyaan-pertanyaan dari Ibu Amaliah khususnya ini kegiatannya dilanjutkan apa enggak? Awalnya Selasa. Selasa mau ada demo katanya demo yang ee kami semua suka. Ya, itu demo yang kami sukai karena itu demo yang akan menghentikan sebuah program yang kami enggak sukai. Ya enggak apa-apa demo biar ramai, biar foto saya juga terpampang dipegangi, demonstran sehingga maju tanggal 1. Tanggal 1 ternyata ada edaran eh work from anywhere. Apakah dilanjut atau enggak? Setelah tadi malam saya ee dengan Pak Sekda, dengan Pak Pangdam, dengan semua unsur berada di Grahadi sampai menjelang pagi. Alhamdulillah kondusif. Mudah-mudahan terus kondusif Jawa Timur setelah puncaknya terbakarnya sisi barat Grahadi mudah-mudahan ee terus kondusif ee akhirnya bisa dilaksanakan. Tentu saya sangat bersyukur atas semua ini. Yang kedua, saya atas nama PEMPR BPSDM menyampaikan terima kasih pada narasumber, pada teman-teman yang juga sudah merancang kegiatan ini, Bu Amalia dan tim, para widiswara, para analis pembahan kompetensi yang juga turut merancang dan tentu ee terima kasih saya untuk semua peserta. COI ini bukan barang baru di dunia pengembangan kompetensi SDM. Tapi di pengembangan kompetensi ASN mungkin baru pertama di Indonesia. Kok enggak ada yang tepuk tangan? [Tepuk tangan] Ono sing sik raming. Io ta loh. Io io. Saya kan sudah 26 tahun di sini. Jadi sudah tahulah kayak apa perkembangan. Tapi di swasta sudah biasa. Di dunia pengembangan kompetensi SDM di swasta sudah biasa, udah apa ya macam-macam mereka bentuknya. Saya mau buat lagi nih, Pak. Aman, Pak. Kita nanti ada namanya Brownb seminar. Brownback seminar itu lahir di Amerika tahun 0-an. Mahasiswa pekerja jam makan siang beli makanan di kantin. Mereka kan makannya hamburger hot dog gitu ya. Kalau kita mungkin pecel atau apa dibungkus kertas coklat toh lah. Karena mereka enggak ada waktu pengembangan kompetensinya ya pada saat makan siang itu pada saat istirahat itu sambil bawa makanan yang dibungkus kertas coklat makanya disebut brown bag seminar. Nah, di Kemenk itu sudah jadi tradisi akademik. Di sela-sela kesibukan ee mereka nyelenggarakan namanya brownb seminar, tapi penyelenggaraannya terus di hotel makanannya prasmanan. Jadi wis enggak cocok pisan. Yang cocok itu ya BPPD itu brown seminar beneran. Iya. ambil makanan dibungkus kertas coklat di dapur umum lalu duduk di bawah tenda atau pohon ngomongin langkah langkah seranggutnya. Itu namanya brownback seminar yang sebenarnya. Lah itu bagian dari community of interest. Jadi itu itu anu loh itu bisa dikasih sertifikat loh Mas. Mbak COI itu atau Brownb seminar bisa dikasih karena itu pengembangan kompetensi yang diakui di Corporate University. Diakui ee apa cabangnya Kemen KU itu apa ya namanya? Kanwil-kanwil itu ya. Kanwil DJDJK apa itu sering mengadakan brownb seminar tapi udah elit udah enggak pakai brownb pakainya ya prasmanan. ya. Tapi nama Brownb ini memang sudah tidak nama leksikal, sudah nama filosofis sehingga kemudian bentuknya bisa macam-macam. Tapi saya masih ingin mewujudkan brownback seminar ini dari COI kita. Makanya hari ini kita mulai pembelajarnya tidak di aula di kelas gitu, tapi di ee IKI ke working space. Masih ingat Iki ya? Ini ceramahnya Bu Gubernur di HUT Jatim ke-79 eh 78. Karena 79 itu Pak PJ GUP 80. Sebentar lagi ee Bu Gup lagi. Nanti kita tunggu setiap beliau ceramah apa saya selalu mengabadikan. Ketika beliau ngomong apa punya filosofi cetar saya abadikan di biro organisasi jadi cetar coring space. Ketika beliau punya jargon Iki, kami abadikan jadi Iki ke working space. Nanti jargonnya itu Jatim tumbuh eh jatim tangguh terus bertumbuh insyaallah. Ya itu usulan kita. Enggak tahu Ibu setuju apa enggak. Jatim tangguh terus bertumbuh karena akan bersamaan dengan Desa Siaga Bencana. apa launching-nya nanti dih pengurangan di Mojokerto. Nah, itu makanya nanti tema 2000 ulang tahun 80 insyaallah Jatim tangguh terus bertumbuh. Makanya kami cepat-cepat mengadakan COI kebencanaan ini. Kira-kira gitu. Jadi ini luar biasa. Sekali lagi terima kasih antusiasme peserta apa itu COI? Secara singkat saya sampaikan begini. Sebenarnya ketika tahun lalu kita menyelenggarakan Dila Disaster Leadership Academy, rancangannya Mas Randi, Mbak Isma, dan teman-teman itu bentuk dari mengejawantah kebijakan Ibu Gubernur bahwa bencana itu bukan hanya urusan BPD, bukan hanya urusan Dinsos, tapi urusan kita semua, terutama bencana yang ada di sekitar kantor kita. Makanya kemudian kita nyelenggarakan ee dila atau disaster leadership academy itu hanya untuk membangun caring, kepedulian tentang bencana. Oh, sekarang kepala OPD sudah bisa ngecek apa eh APARnya udah 1 tahun nih waktunya diganti gitu kan. sudah ngerti dia sekarang di mana titik kumpul kalau ada bencana sudah ngerti dia kenapa dia sudah dibangun caring-nya kepeduliannya lewat dila nah kita waktu itu tindak lanjuti dengan lomba dan alhamdulillah beberapa OPD dapat apresiasi dari Bu Gubernur langsung sebagai ee lembaga atau perangkat daerah yang punya kesiapan bencana yang baik di instansinya masing-masing. Nah, supaya ini tidak terputus, Bapak, Ibu, maka kami menyelenggarakan community of interest. Community of interest adalah kumpulan orang-orang yang mungkin tidak satu profesi, mungkin tidak satu dinas, mungkin juga berasal dari tidak dalam satu pemprop mungkin ya, bisa saja pemprop-pemprop yang lain atau kabupaten kota lain, tapi punya interest yang sama terhadap satu topik. Kami mulai dari bencana. Nanti mungkin akan ada topik-topik lain. Kenapa bencana? Karena topik tentang bencana itu tidak pernah lekang oleh waktu. Selalu ada diskusi dan walaupun kita tidak berharap bencana macam-macam itu ada aja yang puting beliung, yang kekeringan, yang kebakaran dan seterusnya. Nah, sehingga karena topik bencana ini topik perenial, topik yang dalam tanda petik abadi, maka kemudian ini kita jadikan topik pertama community of interest kita. Ini sudah kami laporkan ke lembaga negara dan sangat apresiasi. Justru mereka nanya ke kita kayak apa konsepnya, kayak apa praktiknya. Nah, nanti mereka akan niru kita gitu ya. Selalu begitu. Alhamdulillah Jawa Timur selalu menjadi ee benchmark. Menjadi benchmark. Ya, itu ide teman-teman dan itu kerja teman-teman semua. Tentu kepedulian para peserta. Nah, itu community of interest. Kita sudah punya sebelumnya namanya namanya community of practice. Kalau community of practice ini mereka yang satu pekerjaan, satu profesi. Kemarin ada community of practice kehumasan, community of practice yang terkait dengan analis kebijakan. Damkar dan seterusnya. Kita sudah punya community of practice-nya. Kenapa? Profesinya sama. Ah, ini kan macam-macam nih. Ada yang mungkin orang dinas yang enggak ada kaitannya dengan bencana. Ada rumah sakit yang memang itu menjadi salah satu standar dari ee akreditasi rumah sakit tentang ee kesiapsiagaan bencana. Nah, itu berkumpul dalam diskusi namanya community of interest. Bentuknya apa? Ya, diskusi-diskusi ringan. ada brownb seminar, ada webinar, ada WhatsApp grup gitu ya. Nanti akan dibentuk WhatsApp grup. Tolong diskusinya tentang kebencanaan ya. Enggak usah nge-share apa namanya himbauan untuk WFA, enggak usah nge-share tahajud call, enggak usah nge-share rumah Saroni di Ya, tadi pagi Sarini klarifikasi mohon tidak dijarah saya Sarini bukan Saroni. Jadi dalang fokus ke situ. Jika di dalam grup WhatsApp itu muncul loh ini ada hal baru tentang kebencanaan dan butuh fasilitasi kami selaku apa namanya operator dari CO, kami fasilitasi kayak gini lagi. Kalau sama-sama enggak sempat ya sudah daring aja kan daring sekarang jadi satu habit ya. Jadi sudah enggak ada masalah. Kalau emang mau pengin punya waktu lebih daring ya daring, Pak. kayaknya ada hal baru nih soal kebencanaan. Gimana menghadapi ee kekeringan dan sebagainya khusus itu misalnya ingin mengkaji mengenai Elnino, Lanina atau apalah saya enggak banyak tahu istilah itu. Ya, langsung kita carikan, kita diskusikan dengan pihak BPPD selaku leading sektor kebencanaan di Jawa Timur. Siapa narasumber yang pas? Nah, yang enggak bisa diakomodasi di CO kebencanaan ini adalah ee bencana rumah tangga. Tidak masuk dalam topik diskusi itu ke sana ke BKD. Nah, jadi itu COI ini adalah sebuah apa? Model mutakhir dalam pengembangan kompetensi di dunia SDM. Karena memang ee CO ini banyak sekarang mereka ber dan punya produk loh. COI COE yang dibentuk oleh komunitas tertentu itu punya produk. Saya punya punya kelompok CUI filsafat ya kayak golongannya siapa tuh? Rocky Grong itu loh ya. Bikin buku ya bikin apa macam-macam. Nanti pada saatnya mungkin teman-teman COI Kebencanaan punya IG ya, Mbak. Ada struktur organisasinya tapi nanti aja yang penting komitmennya sudah kita tandatangani. Nanti ada struktur organisasinya COI maupun COP itu ada ada struktur nonformal ya, bukan terus dibentuk kayak lembaga gitu bukan. Nanti malah jadi dinas sendiri ya kayak ya anulah apa namanya kayak semacam organisasi nonformal mereka. siapa yang buat topik-topik, siapa yang buat kajian, gitu-gitu aja. Nah, kami juga akan suplly grup ini, grup ini dengan kebijakan-kebijakan terbaru tentang kebencanaan. Mungkin juga ada podcast-podcast terbaru tentang kebencanaan, mungkin juga literatur-literatur tentang kebencanaan kami suplai. Nah, sehingga teman-teman bisa nanti ee bisa apa namanya? Terus bertumbuh pengetahuannya, terus berkembang kemampuannya. Inilah COI yang kami dedikasikan untuk ASN di Jawa Timur bahkan di Indonesia. COI, COP dan sejenisnya adalah bentuk dari kebijakan nasional di mana pengembangan kompetensi ASN harus eh bukan harus wajib dilakukan secara terus-menerus. Lah kalau terus-menerus harus ke BPSDM terus. Pertama jelas enggak ada anggarannya. Nah, kedua jelas Bapak Ibu yang enggak sempat toh mosok bendino rene dasian klambian putih gitu kan ya. Nah, mending kan belajar dengan teman seines. Kalau COP belajar teman seprofesi. Ini amanat Undang-Undang. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 pasal 49 ayat 1 mengatakan bahwa seluruh pegawai ASN wajib melakukan pengembangan kompetensi secara terus-menerus agar tetap relevan dengan bidang tugasnya. Di ayat 2 disebutkan pengembangan kompetensi dimaksud dilakukan secara terintegrasi. Salah satu bentuk dari pengembangan kompetensi terintegrasi adalah corporate university yang sudah di tentu tetapkan dengan Pergup 59 202121. Salah satu bentuk corporate university adalah CO. Kira-kira gitu ng dipahami nggih? Jadi setelah ini kalau mau bentuk COI sendiri ya boleh dengan senang hati. Pak, saya punya grup khusus mengenai teman-teman yang konsen kepada artificial intelligence. Ya, monggo kalau butuh fasilitasi kami, kami fasilitasi. sehingga ada ahli bedah, ada ahli keuangan, ada widyaiswara, ada yang ngurusi hama penyakit tanaman, ada yang ngurusi bencana tapi sama-sama konsern ingin belajar tentang artificial intelligence. Ya sudah bersekongkol aja, bersekutu namanya ya. bersekutu aja dalam bentuk community of internet. Saya punya kelompok filsafat, saya punya karena saya konsern pada saya. Nah, sehingga teman-teman semua kemudian ee terus tumbuh kembang ya sehingga kita terus relevan kalau istilahnya undang-undang. Kalau istilahnya Pak Renat Kasali stay relevan. Matur nuwun semuanya mudah-mudahan bermanfaat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Dengan senantiasa mengharap rida Allah subhanahu wa taala, kegiatan community of interest kebencanaan Provinsi Jawa Timur pada hari ini saya nyatakan diakhiri. Nuwun hadirin, dengan demikian telah kita ikuti seluruh rangkaian acara Community of Interest kebencanaan Provinsi Jawa Timur tahun 2025 pada kesempatan hari ini. Sebelum kita akhiri seluruh rangkaian acara pada siang hari ini, terlebih dahulu kita akan foto bersama. Untuk itu kami undang Kepala BPSDM serta narasumber dan moderator beserta Kabit Fungsional untuk mengambil tempat yang telah disediakan oleh teman-teman protokol. Dan kami mengundang juga untuk yang hadir secara daring di Zoom meeting untuk bisa mengaktifkan kamera. Dibuka kameranya dan akan kami dokumentasikan bersama-sama dengan Kepala BPSDM dan rekan-rekan yang hadir atau sobat ASN yang hadir di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Kami undang yang hadir di BPSDM untuk perwakilan peserta boleh bergabung. Bagus. Tapi yang masih muda jangan lupa untuk peserta yang hadir secara daring di Zoom meeting juga kamera boleh diaktifkan karena akan kita lakukan dokumentasi bersama-sama. Baik, izin akan kami pandu. 3 2 satu. Sekali lagi. 3 2 1. Gaya bebas. Izin tangan kanan tangguh. Enggih. Kami pandu 3 2 s. Sekali lagi 3 2 1. Baik, terima kasih Bapak Kepala BPSDM beserta segenap narasumber dan moderator yang telah mendampingi kita selama setengah hari ini dengan mengikuti diskusi yang luar biasa. Kami mengingatkan untuk peserta jangan lupa untuk bergabung di WhatsApp grup community of interest kebencanaan tahun 2025 serta dapat mengunduh materi yang telah disediakan. Akhir kata, atas nama panitia kami mengucapkan terima kasih dan kami pamit undur diri. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baik, bagi Bapak Ibu yang ingin melaksanakan ibadah salat dapat menuju ke arah barat sisi kiri. Jadi kalau tertulis employe of the man, Bapak Ibu bisa langsung belok ke kiri ada musala dan ada tempat wudunya. Kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti menimpan dengan semangat pembaharuan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. PPS Jatim pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas berinovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jangan demiang PPSDM Jawa Timur Center of Exans masa depan gemilang hilang bersama membangun asa menuju cita yang mulia. Kami hadir kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti mengiti zaman dengan semangat pembaruan ilmu, dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSDM Jatim pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas. Mencet STM berkompetensi. Tangguh cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang telah menjawab tantangan dan jangan demi PPSDM Jawa Timur Center of Exans masa depan gemilang ang [Musik]