Transcript
YCjj_v5LZeY • ASN Belajar Seri 35 | 2025 - Literasi Untuk Transformasi: Dari Pengetahuan Membangun Peradaban
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0260_YCjj_v5LZeY.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
[Tepuk tangan]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan
menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia
tekad tanggungera
jadi ASN
berkualitan
servis
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Pada hari ini, Senin, 9 Desember 2024,
kita semua dapat berkumpul bersama dalam
penyelenggaraan kegiatan sharing session
sobat sertifikasi kompetensi investasi
ASN berkualitas dalam keadaan sehat.
Bapak,
salah satu langkah strategis dalam
meningkatkan kualitas ASN adalah
pengobaan kompetensi melalui sertifikasi
kompetensi. Sertifikasi kompetensi bukan
sekedar selar penghanal tetapi merupakan
bentuk investasi nyata. Memastikan ASN
memiliki standar keahlian yang sesuai
dengan kebutuhan pekerjaan. Sertifikasi
kompetensi
investasi ASN kualitas hanya resmi
dibuka dan dimulai.
[Musik]
A
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Ee perkenalkan nama saya
Trisul Adi Saputro dari Badan
Pengelolaan Keuangan dan Naset ee
Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan
Daerah Kabupaten Magetan. Ee
alhamdulillah ee hari ini kami melakukan
tes uji kompetensi pengelola keuangan
daerah. Ee saya selaku bendara
pengeluaran alhamdulillah dengan uji
kompetensi ini bisa menguji kompetensi
kita apakah kita layak untuk menjadi
bendara pengeluaran. ee pesan-pesan
untuk teman-teman yang lain ee bisa
memaksimalkan apa pengetahuannya untuk
meningkatkan kompetensinya selaku
pengelola keuangan daerah. Kemudian
untuk saran untuk BPSDM Provinsi Jawa
Timur ee
selama kami di sini alhamdulillah
pelayanan cukup baik dan memuaskan
sehingga kami bisa nyaman dan bisa
mengikuti ujian dengan nyaman juga.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Halo,
asalamualaikum. Nama saya Dias
Karismadani. Saya dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Mojokerto. Eh, hadir di sini
untuk mengikuti sertifikasi kompetensi
keuangan daerah. Kemarin hadir
panitianya dari BPSDM benar-benar luar
biasa. Penyambutan mulai dari depan
sampai ke registrasi itu panitianya
ramah sekali. Terus begitu masuk ke
kamar ee semua fasilitasnya juga sudah
memadai mulai dari makan, kamar tidur,
kamar mandi, semuanya bersih. Untuk
jalannya tes juga sudah terschedule
dengan rapi, dengan tertib sehingga kami
bisa mengikuti dengan nyaman dengan bisa
fokus dan bisa mendapatkan hasil yang
terbaik. Harapan kita ke depan adalah
mungkin BPSDM bisa lebih sering
mengadakan kegiatan atau untuk
webinarnya lebih berfokus kepada masalah
keuangan daerah, terutama yang untuk
daerah-daerah yang kan masalahnya
berbeda-beda setiap daerah. Jadi bisa
lebih sering untuk mengadakan yang
bertema tentang keuangan. Terima kasih.
Wasalamualaikum.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Saya
Dian Astuti Purwandani dari Dinas
Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga
Kabupaten Magetan hari ini ikut
mengikuti diklat ee sertifikasi
Komputasi Pengolaan Keuangan di BPKPSDM
ee Provinsi. Terima kasih panitia. luar
biasa ee pelaksanaan diket lancar dan
kami ee selama mengikuti diket di sini
ee sangat nyaman sekali dan harapannya
untuk PKPSDM Provinsi ee memberi kuota
tambahan biar teman-teman kami yang
berada di kabupaten kota sekitar seluruh
provinsi bisa mengikuti dikat yang sama
sehingga kami dalam rangka melaksanakan
pengolan keuangan di kabupaten kota ee
dapat menyajikan laporan yang akuntabel
transparasi. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Perkenalkan nama saya Budi Fajarudin
asal dari Kabupaten Nganjuk ee Kecamatan
Patian Rowo. Ee kami mengucapkan terima
kasih
atas ee fasilitasnya di mana kegiatan
ini bisa berjalan dengan baik dan bisa
menambah ilmu semua rekan-rekan sehingga
apa yang kita lakukan
dan harapan ke depan ee dari sisi kami,
dari sisi saya, pengetahuan-pengetahuan,
pembelajaran-pembelajaran yang saya
dapat di sini bisa diterapkan di OPD
bisa untuk perbaikan-perbaikan di OPD
dan ee harapan
terkait dengan penyelenggaraan
kompetensi di BBSDM Jawa Timur
ditingkatkan lagi utamanya terkait
jaringan waktu wawancara ini ada sedikit
kendala sempat putus Pak jaringannya.
Demikian
terima kasih. Perkenalkan nama saya Dewi
Ratani Utami. Saya bendahara dari Dinas
KB Kabupaten Magetan. Kesan-kesan saya
saat mengikuti diklat di BKPSDM
Jawa Timur ini ee saya menikmati sekali
fasilitasnya juga di sini. Asesornya ee
panitia-panitianya juga sangat cepat
dalam
memenuhi kebutuhan kita saat melakukan
diklat. Dan untuk tempat ee asramanya
saya juga merasa nyaman karena sudah
terfasilitasi dari kamar mandi terus apa
ada AC-nya. Jadi kita nyaman saat di
kamar untuk melakukan kegiatan belajar
belajarnya di malam hari atau untuk
menyiapkan ujian-ujiannya, uji
kompetensinya. untuk pesannya.
Kemudiannya
lebih baik lagi dan
fasilitas-fasilitasnya
lebih baik lagi serta peserta itu lebih
nyaman lagi untuk tinggal di sini.
Terima kasih.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Untuk menjawab tantangan tersebut perlu
upaya peningkatan daya SN serta kerja
sama dan kemitraan komunis. Salah satu
upaya yang dilakukan adalah dengan
pengembangan kompetensi bagi ASN sesuai
dengan tuntutan tugas jabatan dengan
memaksimalkan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi serta
terintegrasi secara ee nasional.
Kami berharap alumni sertifikasi
kompetensi mampu menggali informasi
semaksimal mungkin keluar dari
sertifikasi yang telah Bapak Ibu
lakukan.
ee sehingga Bapak Ibu yang telah
menyatakan kompetan itu memiliki ruang
gerak dan waktu untuk bisa meningkatkan
yang lebih
sehingga Bapak Ibu akan dipersiapkan
kembali pada yang lain pada uji
kompetensi yang lain tentu dengan
jenjang yang berbeda. Mudah-mudahan itu
Bapak ngih ee bisa masuk ke hukum yang
lain dengan kompetensi yang bergerak.
[Musik]
He.
[Musik]
Terima kasih atas kehadiran Bapak-bapak.
kami ee sebenarnya Pak Ibuas sebagai
izin kami ingin mengundang seluruh
alumni insyaallah nanti bertahan karena
keterbatasan kami sehingga Bapaklah yang
beruntung untuk diundang oleh Buara
untuk segera mengikuti proses taser stud
kali ini. Ee tujuan taser stadi kali ini
adalah ee untuk menggali informasi, Pak.
menggali informasi baik
kompetensi-kompetensi teknis atau
kompetensi-kompetensi
tertentu yang Bapak Ibu miliki untuk
dituangkan ke dalam uji kemarin maupun
proses secara teknis.
[Musik]
Nama saya Andi Bagus Rahmat. Ee saya
peserta Diklat. Terima kasih. Kesan saya
bagus pelayanan
semoga kualitasnya semakin meningkat.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya nama cilani,
pegawai RSUD Muhammad Nur Pamekasan.
Kami sangat bangga dengan adanya
kompetensi ini karena untuk pembelajaran
bagi kami masalah umur tidak ada
halangan yang penting kita mau belajar.
Dan saya sangat berterima kasih kepada
BPSDM dengan adanya hal ini
pengetahuan-pengetahuan itu akan selalu
bertambah untuk kita semua khususnya
khusus untuk pemerintah Provinsi Jawa
Timur untuk saat ini dan untuk masa
depan. Mungkin itu dari kami kurang
lebihnya mohon maaf. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Yeah.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak
bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
menjadi ASN berakhlak mulia,
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujud
pemerintahan
kelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN
berkuat cita
[Musik]
sama
[Musik]
yang terus bergerak
sambut dengan penuh Semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia,
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujud
pemerintahan
kelas dunia
tukang tekad pantang menyerah
jadi ASN
berkuat kita
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan
pemerintahan
berkelas dunia. Satukan tekad pantang
menyerah.
Jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia.
Tunjukkan tekad pantang menyerah
jadi ASN cepat berkewajiban
[Musik]
bersama
[Musik]
wabarakatuh. Selamat pagi sobat AS di
mana pun Anda berada baik yang sudah
bergabung di Zoom meeting ataupun yang
tengah menyaksikan acara ini melalui
live YouTube BPSDM Jatim TV. Senang
sekali saya Luk kembali menyapa sobat
ASN tentunya dalam acara webinar ASN
belajar seri 35 tahun 2020
provinsi
global dan
tidak menjalankan tugas administratif
saja tapi lebih dari itu juga sebagai
motor
dan
[Musik]
Ah.
[Musik]
zaman yang terus bergerak
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia satukan tekad pancang
menyerah
jadi ASN
berkuwa
sama
[Musik]
Term
[Musik]
Cek cek.
[Musik]
e
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan selamat pagi
kembali bagi sobat SN di mana pun Anda
berada. Baik yang tengah menyaksikan
acara ini melalui Zoom meeting ataupun
yang tengah bergabung melalui live
YouTube BPSDM Jatim TV. Senang sekali
saya Lukman Ali kembali menyapa Anda
tentunya dalam acara webinar ASN Belajar
seri 35 tahun 2025 Persembahan Korpu
SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Kami
mengucapkan mohon maaf apabila ada
kendala teknis yang sempat terjadi.
Semoga acara ke depan tetap dapat
berjalan dengan baik dan juga optimal.
Sobat ASN di mana pun Anda berada di
tengah arus perubahan global dan
transformasi digital, ASN dituntut untuk
tidak hanya menjalankan tugas
administratif saja, tetapi juga dituntut
untuk menjadi motor penggerak perubahan
dan literasi yang mencakup kemampuan
memahami, menganalisis, dan juga
memanfaatkan informasi secara kritis
menjadi fondasi penting dalam mendukung
pengambilan keputusan yang tepat dan
pelayanan publik yang berkualitas.
Sayangnya, tingkat literasi di Indonesia
masih menghadapi berbagai tantangan,
termasuk di kalangan ASN. Padahal peran
kita sebagai ASN sangat strategis dalam
membangun peradaban melalui kebijakan
dan juga pelayanan. Dan bersama webinar
ASN belajar kali ini, mari terus belajar
dan mengembangkan kapasitas literasi
demi mewujudkan pemerintahan yang
adaptif, inovatif, dan berdaya saing.
[Musik]
Baik, Sobat ASN, untuk membuka webinar
ASN Belajar seri 35 tahun 2025, kali ini
kita akan mendengarkan opening speech
yang akan disampaikan oleh Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto, SPMP.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN
di seluruh tanah air. Selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN belajar
sebuah wahana pengembangan kompetensi
ASN persembahan Jatim Corporate
University Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari
ini Kamis tanggal 11 September 2025 ASN
belajar telah memasuki seri yang ke-35.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami, kami
selalu berkomitmen sekaligus berikhtiar
untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-35 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka turut serta
memberikan sumbangsi pemikiran dalam
rangka hari literasi internasional yang
jatuh pada tanggal 8 September kemarin.
Sebuah momentum yang tak sekedar
peringatan melainkan pengingat bahwa
aksara adalah pintu gerbang peradaban.
Dari aksara lahir kata, dari kata lahir
pengetahuan dan dari pengetahuan
lahirlah peradaban.
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN Belajar seri ke-35 tahun 2025 ini
mengangkat topik literasi untuk
transformasi dari pengetahuan membangun
peradaban.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam ASN belajar bahwa topik menarik
ini akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sahabat ASN di seluruh tanah air, kita
sadar bahwa literasi adalah cahaya yang
menuntun peradaban dari aksara pertama
yang digoreskan di daun lontar hingga
algoritma yang kini menata dunia
digital. Literasi selalu menjadi
jembatan antara pengetahuan dan
perubahan sosial. Bangsa yang maju
bukanlah bangsa yang hanya kaya sumber
daya, melainkan bangsa yang kaya
pengetahuan, terampil mengelola
informasi, dan bijak
mentransformasikannya
menjadi kebijakan dan tindakan.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban
besar lahir dari literasi. Peradaban
Mesir kuno mengabadikan jejaknya lewat
hieroglave yang terukir di dinding batu.
Yunani menorehkan filsafat dan sains
dalam manuskrip yang abadi. Romawi
membangun sistem hukum yang tertulis
rapi menjadi fondasi hukum modern hingga
hari ini. Semua itu menunjukkan bahwa
aksara bukan sekedar simbol, melainkan
kekuatan yang menggerakkan sejarah.
Bangsa yang literat adalah bangsa yang
mampu bertahan dan bertransformasi.
Jepang menjadikan literasi dan riset
menjadi kunci kebangkitan pasca perang.
Korea Selatan menggerakkan revolusi
pengetahuan untuk melesatkan menjadi
kekuatan ekonomi baru. Finlandia
menempatkan literasi sebagai inti
pendidikan hingga melahirkan sistem
pembelajaran terbaik di dunia. Sbat di
seluruh tanah air bagi Indonesia,
literasi adalah warisan luhur sekaligus
tugas besar dari prasasti Yupa di Kutai,
relief di Borobudur hingga naskah kuno
yang tersebar di berbagai daerah. Nenek
moyang kita telah menorehkan pesan
literasi adalah nyawa kebudayaan.
Tantangan kita hari ini adalah
menafsirkan ulang literasi agar tidak
hanya bermakna membaca dan menulis, tapi
juga berpikir kritis, kreatif, dan mampu
mengubah pengetahuan menjadi peradaban
baru yang lebih maju.
Pada akhirnya kita belajar bahwa setiap
sejarah besar selalu dimulai dari
terasi.
Aksara yang sederhana mampu menyalakan
obor peradaban, mengubah pengetahuan
menjadi kekuatan, dan menggerakkan
bangsa menuju kejayaan.
Literasi adalah akar yang menumbuhkan
pohon ilmu, batang yang menyanggang
budaya, dan buah yang menjahterakan
masyarakat. Tanpa literasi, peradaban
akan rapuh. Dengan literasi, bangsa akan
tumbuh, tegak, dan melampaui zamannya.
Sahabat ASN di seluruh tanah air. Lalu
bagaimana kita sebagai ASN Indonesia
menjadikan literasi bukan sekedar
keterampilan administratif, melainkan
energi transformasi yang menuntun bangsa
menuju Indonesia emas 2045.
Nah, untuk membahas redasan tuntas topik
ini, kami telah mengundang para
narasumber hebat yang sudah barang tentu
sangat kompeten di bidangnya. Kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada para narasumber yang telah
berkenan hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat HSN di
seluruh tanah air. Pertama kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada Bapak Dr. Adin Bondar Esos, M.Si.
Beliau adalah Deputi Bidang Pengembangan
Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas
Republik Indonesia. Kedua, kami
menyampaikan terima kasih kepada Bapak
Dr. Prao, MED. Beliau adalah Kepala
Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan
Provinsi Jawa Timur. Dan ketiga, kami
menyampaikan terima kasih kepada Bapak
Prof. Dr. Joko Sarono, M.Pd. Beliau
adalah guru besar Fakultas Sastra
sekaligus kepala perpustakaan
Universitas Negeri Malang. Nah, sobat
ASN di seluruh tanah air, mari kita
simak dengan seksama webinar ASN belajar
seri ke-35 tahun 2025. Semoga
bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih
kepada Bapak Dr. atau SPMP atas speech
yang telah disampaikan. Dan sebelum kita
berlanjut pada sesi berikutnya, kami
ingin informasikan bahwa saat ini Sobat
AS sudah dapat melakukan presensi via
laman semesta dan juga link presensi ini
dapat Sobat ASN lihat pada running tags,
kemudian kolom chat Zoom dan juga pin
chat YouTube BPSDM Jatim TV. Dan
dikarenakan saat ini traffic presensi
sedang tinggi. Jadi bagi Sobat TSN yang
masih belum bisa mengakses laman
presensi kami dapat mencoba kembali
secara berkala sampai dengan pukul 12.00
siang.
[Musik]
Kali ini kita akan bersama yang kali ini
akan disampaikan secara langsung oleh
Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan
Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia, Bapak
Nuradi Saputra, Sos, M.Si.
[Musik]
telah bergabung bersama kami di sini
Bapak Nurhadi Saputra. Saya akan sapa
beliau terlebih dahulu. Selamat pagi,
Pak Nurhadi.
Selamat pagi, Mas.
Kabar baik, Bapak.
Alhamdulillah baik.
Alhamdulillah baik ya, Pak. Ya. Baik,
Pak. Untuk mempersingkat waktu saja saya
persilakan untuk Bapak silakan
menyampaikan materinya kurang lebih
selama 30 menit. Nanti kita akan
langsung masuk ke sesi Q& Pak Nuri.
Baik. Baik. Terima Lukman.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat pagi, shalom, om swastiastu,
Namo Buddhaya, salam kebajikan dan salam
literasi.
Yang saya hormati Bapak Kepala DPSDM
Provinsi Jawa Timur, Bapak Ramlianto,
Bapak Ibu narasumber yang juga ikut
hadir dalam ee acara webinar ASN belajar
ini. Ada Bapak Prof. Dr. Joko Sarono,
apa kabar, Pak? Kemudian ada Bapak Dr.
Prao dan Bapak Ibu peserta ASN Belajar
seri 35 tahun 2025.
Ee sebelumnya saya
mohon maaf jika saya menggantikan Bapak
Deputi. Tadi disampaikan oleh Pak
Ramlianto bahwa yang akan hadir adalah
Bapak Deputi Bidang Pengembangan Sumber
Daya Perpustakaan yaitu Bapak Dr. Adin
Bondar. Tapi mohon maaf beliau tiba-tiba
ada tugas mendadak untuk ee acara MOU
dengan Bapak Menteri Kumham. Jadi beliau
mendisposisi tugas ini untuk memberikan
materi kepada Bapak Ibu ee
mengenai literasi dalam acara ASN
Belajar seri 35 tahun 2025. Baik ee
Bapak Ibu sekalian, puji syukur kita
panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa
taala, Tuhan yang maha esa karena atas
karunia dan kasih sayangnya kita dapat
bertemu secara daring. Bapak, Ibu tadi
banyak sekali yang disampaikan oleh
Bapak Kepala BPSDM Pak Ramlianto bahwa
memang tanggal 8 September kemarin
adalah peringatan Hari Literasi Sedunia
yang sejak tahun
ee diperingati oleh seluruh negara.
ini sebagai pengingat bahwa literasi
adalah hak asasi manusia, fondasi
pembangunan berkelanjutan dan pintu
gerbang menuju keadilan sosial serta
masyarakat yang damai dan inklusif.
Literasi secara umum didefinisikan
sebagai kemampuan seseorang untuk
membaca, menulis, memahami, dan
menggunakan bahasa secara efektif. Saya
izin share screen ya, Mas Lukman ya.
Oke. Apakah terlihat?
Sudah, Pak. Silakan, Pak.
Siap.
Eh, belum full screen, ya?
sebentar.
Baik. Ee
literasi ee juga mencakup keterampilan
berpikir kritis, menyaring informasi,
serta berkomunikasi secara lisan dan
tertulis. Saat ini literasi tidak hanya
terbatas pada aspek dan bahasa dan
aksara, tetapi berkembang mengikuti
zaman di mana saat ini kita mengenal ada
literasi digital, literasi finansial,
literasi budaya yang semakin berkembang
dalam masyarakat modern.
Sejarah literasi di dunia merupakan
perjalanan panjang yang merefleksikan
perkembangan peradaban manusia dari masa
ke masa. Literasi yang awalnya hanya
dipahami sebagai kemampuan membaca dan
menulis. pada dasarnya telah menjadi
satu pondasi utama kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi dan kebudayaan.
Maaf, maaf.
Cek cek
Pak Nurhadi. Untuk tampilannya masih
belum tertampil share screen Bapak
mungkin bisa di slide show untuk
PowerPoint-nya. Apakah apakah sekarang
sudah terlihat
untuk dibantu untuk full screen Bapak?
Diklik SL.
Oke. Oke. Sebentar, sebentar.
Siap. Sudah aman Pak Nurhadi. Kami
persilakan kembali untuk melanjutkan
materinya.
Oke. Iya. Baik.
Terlihat ya Pak.
hilang lagi.
Mohon untuk ditunggu sejenak, Pak.
Oke. Oke.
Sekarang terlihat
baik, masih belum tertampil, Pak
Nurhadi.
Oh, maaf, maaf, maaf, maaf.
Saya ulangi share screen, ya.
Kami persilakan, Pak.
ini terlihat Pak.
Terlihat sudah full screen juga. Baik,
ini tertampil halaman pertama covernya
Pak Nurhad.
Oke, siap. Baik.
Iya.
Baik. ee ketika bicara literasi,
bagaimana literasi berperan dalam
membangun peradaban.
Tadi sudah disampaikan oleh Pak
Ramlianto bahwa awal kali ee literasi
ini hadir dalam peradaban manusia adalah
pada bangsa Sumeria yaitu sekitar kurang
lebih 3.200 sebelum Masehi.
Bangsa Sumaria di Mesopotamia
mengembangkan sistem tulisan paku di
atas lempung tanah liat.
Tulisan ini digunakan untuk mencatat
perdagangan, hukum, dan administrasi
pemerintahan.
Inilah cikal bakal dasar bagi
pengembangan hukum tertulis dan
birokrasi modern. Literasi di
Mesopotamia ini melahirkan konsep kota
dan negara sebagai pusat peradaban.
Setelah fase bangsa Sumeria, kemudian
peradaban manusia diisi oleh peradaban
bangsa misteri kuno itu kurang lebih
sekitar 3.100 sebelum Masehi dengan
tulisan hieroglifnya
yang digunakan dalam arsitektur
piramida, catatan medis hingga kitab
keagamaan.
Catatan Heroglif ini banyak merekam
pengetahuan tentang matematika,
kedokteran, dan astronomi yang
berkembang pesat di peradaban Mesir yang
menjadi landasan ilmu pengetahuan di
dunia Barat melalui penerjemahan teks
Mesir ke bahasa Yunani dan Arab di masa
berikutnya.
Fase selanjutnya literasi mengambil
peradaban pada era Yunani kuno yang
kurang lebih sekitar 800 sebelum Masehi
sampai dengan 200 ee ee sebelum Masehi.
Yunani kuno yang dikenal sebagai pusat
filsafat seni dan demokrasi dengan
tokoh-tokoh yang kita kenal seperti
Plato, Aristoteles, Sokrates menulis
karya filsafat dan politik yang
mempengaruhi Eropa hingga era modern.
Literasi filsafat Yunani melahirkan
demokrasi Atena dan tradisi berpikir
kritis yang menjadi dasar ilmu
pengetahuan Barat.
Fase peradaban selanjutnya literasi pun
mengambil peran pada ee dunia Islam
sekitar kurang lebih 750 sampai dengan
Masehi. di mana dalam era keemasan ee
Islam di bawah dinasti Abbasiyah Baitul
Hikmah di Baghdad menjadi pusat
penerjemahan dan pengembangan ilmu
pengetahuan.
Naskah-naskah Yunani dan Persia
diterjemahkan ke bahasa Arab. Kemudian
muncul ilmuwan seperti Alkhawarismi,
ilmuwan matematika. Kemudian ada Ibnu
Sina, kedokteran dan Alfarabi ee ilmuwan
cendikiawan filsafat. Pengetahuan dari
dunia Islam ini diterjemahkan ke bahasa
Latin yang memicu renisance Eropa.
Fase selanjutnya peradaban ee literasi
ee ee pada zaman Tiongkok kuno kurang
lebih sekitar 105 Masehi. Di mana
ditemukan kertas dan teknik pencatatan
awal di Tiongkok yang mendorong
penyebarluasan literasi.
Ajaran Confusius dan teks-teks klasik
Tiongkok mempengaruhi budaya, etika, dan
sistem pendidikan di Asia Timur.
Tiongkok menjadi pusat peradaban dengan
birokrasi pemerintahan yang berbasis
ujian. Nah, inilah pertama kali asesmen
untuk pegawai kerajaan dilakukan yaitu
pada era Tiongkok di mana ee
sudah ada pegawai-pegawai yang akan ee
dipekerjakan di dalam kerajaan. ini
harus lolos tes kemampuan untuk bisa
membaca.
Kemudian ee fase peradaban ee manusia
selanjutnya pada zaman Eropa modern yang
ee kurang lebih sekitar tahun 1450
sampai dengan 1700 Masehi. Setelah
ditemukannya mesin cetak di Jerman yang
membuat buku lebih murah dan terjangkau.
Inilah mendorong reformasi Protestan,
renaisans hingga munculnya pencerahan
yang melahirkan ilmu pengetahuan modern.
Literasi memicu lahirnya universitas
modern, sains eksperimental, dan
revolusi industri.
Dan ini adalah ee fase literasi pada
saat ini, yaitu fase era digital.
Perkembangan komputer, internet, dan
kecerdasan buatan atau AI melahirkan era
literasi digital dan data.
Literasi memungkinkan masyarakat
menyalin data, memanfaatkan teknologi,
dan berpartisipasi dalam ekonomi
berbasis pengetahuan. Melahirkan
masyarakat informasi global di mana
pengetahuan menjadi sumber daya utama
pembangunan dan inovasi.
Bagaimana kondisi literasi Indonesia?
Tadi Pak Ramlianto menyampaikan bahwa
ketika melihat bagaimana sejarah
literasi di Indonesia, mungkin sejarah
literasi awal itu ada dalam prasasti
Yupa
sekitar ee ya ribuan tahun yang lalu.
Tetapi memang secara konteks isi dari
prestasi Yupa itu tidak ee tidak menjadi
sebuah pegangan dari sebuah peradaban
yang ada.
Kondisi melek ee aksara dewasa di
Indonesia pada tahun 2024 menurut ee
data UNESCO secara capaian nasional
angka melek huruf atau AMH usia 15 tahun
ke atas mencapai 96,7%.
Ini capaian yang yang luar biasa
sebenarnya dengan apa yang digalakkan
oleh pemerintah sejak ee kemerdekaan
Indonesia tahun 1945.
Ketika dulu
permasalahan kita adalah ee buta huruf,
tetapi 2024 ini dengan angka melek huruf
yang tinggi 96,47, kita bisa ee
bisa berbangga bahwa memang duta huruf
sudah tertangani. Walaupun mungkin
literasi di hal lain kita masih sangat
tertinggal.
berkaitan dengan ee literasi ee masih
terdapat kesenjangan di ee secara ee
gender di mana laki-laki 97,7%
sudah menunjukkan ee kualitas ee
kemampuan dalam membaca ee membaca.
Kemudian ee perempuan ini 9 ee masih
95,7.
Walaupun disparitasnya kecil, namun
signifikan mengingat jumlah perempuan
ini jauh lebih banyak dibanding jumlah
laki-laki.
Dan kemudian juga berkaitan dengan ee
kesenjangan wilayah di mana ee
wilayah-wilayah urban
kemampuan literasinya 98,1.
Sementara di wilayah ee pedalaman rural
itu sekitar 94,7%
yang mencerminkan tantangan distribusi
akses pendidikan yang belum merata.
Kemudian juga di kelompok rentan,
kelompok usia lanjut, dan masyarakat
pedesaan memiliki risiko lebih tinggi
untuk tidak mel aksara.
Berkaitan dengan literasi juga ini
adalah catatan mengenai literasi siswa
Indonesia pada tahun 2024. memang ada
kenaikan secara ee nasional. Di tahun
literasi kita mencapai 59,
ee 5%. Kemudian di tahun 2023
ee bertumbuh 68% dan 2024 ee 70%. ini
sebuah harapan yang baik ee ke depannya
bahwa literasi siswa-siswi kita ee sudah
ee menuju ke arah perbaikan dan secara
perjenjang pendidikan
ee literasi siswa Indonesia di tingkat
SD 71,8%,
[Musik]
kemudian di SMP 70,3% dan SMA 64,8%
serta SMK 66%
ya yang sebagian besar kategorinya
adalah baik baik atau sedang. Dan
kemudian juga berkaitan dengan ee
numerasi. Jadi selain literasi juga ada
numerasi ee ada penguatan fondasi lubrik
bagi siswa-siswi di Indonesia.
Tren positifnya adalah peningkatan
capaian mencerminkan efektivitas
intervensi kebijakan literasi secara
nasional.
Namun dari ee dari beapa angka positif
ini ada tujuan perbaikan, tapi ada
beberapa hal catatan kita berkaitan
dengan kualitas literasi kita.
secara studi PISA program international
student Assessment ee yang dilakukan
oleh CDNLAU
menunjukkan bahwa siswa-siswi Indonesia
ini masih jauh di bawah rata-rata
internasional.
Sekalipun di dalam rapor pendidikan kita
ee kualitas literasi murid masih dalam
kategori baik dan sedang.
Data BPS tahun 2024, rata-rata lama
sekolah penduduk Indonesia usia 15 tahun
ke atas
itu hanya mencapai 9,22 tahun atau
setara jenjang SMP.
Jadi 10 ee 10% yang menyelesaikan
pendidikan di perguruan tinggi, 30,85%
yang hanya memiliki jasa SMA atau
sederajat. 22,79%
memiliki jasa SLTP.
dan 24,72%
memiliki ijazah SD.
Serta banyak sekali lulusan pendidikan
menengah yang tidak memiliki
keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja
dan akhirnya menerima pekerjaan bergaji
rendah. Ini berdasarkan perhitungan Bank
Dunia pada ee Sakernas
dan lebih dari 55% siswa tidak mencapai
kompetensi minimum dalam literasi dan
matematika. Karena dalam kurikulum
pendidikan yang diajarkan cenderung
tidak selaras dengan kebutuhan pasar
saat ini berdasarkan data World Bank.
Tingkatan literasi.
bagaimana kita ee memetakan bahwa
kemampuan literasi kita ini sudah cukup
baik ee atau memang kita masih dalam ee
skala ee mengenal atau ee sampai sebatas
memahami. Jadi kalau kita melihat ada
tujuh tahapan di mana ee literasi itu
ee bisa dinilai.
Pertama, tahapan pertama adalah
bagaimana mengingat, menghafal atau
mengingat kembali informasi dasar.
Kemudian di tahapan kedua, bagaimana
memahami, menjelaskan ide atau konsep
dengan kata-kata sendiri. Kemudian di
tahapan ketiga, menerapkan menggunakan
informasi dalam situasi baru.
Kemudian di tahapan selanjutnya, di
tahapan empat, memecah informasi ke
dalam bagian-bagian dan memahami
hubungan antar antar bagian.
Tahapan 1 sampai dengan 4 ini adalah
keterampilan berpikir pada aras rendah.
Dan ketika sudah kemudian Bapak Ibu
sudah mampu kemudian melakukan ee ee
mensintesiskan merangkaikan informasi
tentang sebuah persoalan yang diperoleh
dari berbagai sumber untuk disusun
menjadi satu kesatuan yang utuh.
Kemudian di tahap 6 menilai membuat
penilaian berdasarkan kriteria dan
standar. Kemudian di tahapan ketujuh
adalah mencipta.
Poin 5 sampai dengan 7 ini adalah
kemampuan berpikir pada aras tinggi.
Nah, di manakah kemampuan literasi kita
saat ini? Silakan Bapak Ibu bisa
mempetakan apakah setiap informasi
sudah sampai sejauh mana itu bisa
mempengaruhi Bapak Ibu.
Dampak literasi untuk sosial ekonomi.
Jika kita melihat dalam grafik ini
bagaimana
ee dampak literasi rentah yang akan
dihadapi, kompetensi dan upah yang
rendah, biaya tinggi untuk perbaikan
karakter, biaya tinggi untuk peningkatan
kesehatan, kemudian biaya tinggi yang
untuk mengatasi kriminalitas.
Dan apabila kita memang bisa mencapai ee
literasi yang lebih baik, maka kita
pastikan akan dapat menurunkan angka
kemiskinan dan pengurangan kesenjangan,
membuat ekonomi semakin kuat, terbuka
pilihan pekerjaan, dan lebih produktif,
lebih banyak terlibat dalam kegiatan
komunitas dan ada peningkatan
kesejahteraan secara individual.
Manfaat literasi untuk transformasi
individu yang pertama adalah literasi
membuka wawasan dan memperkaya
pengetahuan.
Literasi melatih kemampuan berpikir dan
kritis dan analitis. Literasi mendorong
kreativitas dan inovasi literasi
memperkuat keterampilan komunikasi.
Dan literasi membentuk karakter
pembelajar sepanjang hayat.
Transformasi individu melalui literasi
akan menciptakan manusia yang cerdas,
kritis, kreatif, beretika, dan berdaya
saing tinggi. Inilah modal utama yang
membangun masyarakat inklusif, inovatif,
dan siap menghadapi tantangan global di
era digital dan pengetahuan.
Dan literasi untuk transformasi sosial.
Literasi merupakan kunci atau sarana
untuk membangun kesadaran kritis
masyarakat.
Literasi mendorong partisipasi sosial
dan demokrasi.
Literasi berperan dalam pemberdayaan
ekonomi masyarakat. Literasi memperkuat
kohesi sosial dan toleransi. Dan dan
literasi akan melahirkan komunitas
pembelajar di akar rumpuk. Literasi
untuk transformasi sosial tidak hanya
meningkatkan kapasitas individu, tetapi
juga membangun masyarakat yang inklusif,
partisipatif, inovatif, dan berkeadilan
sosial.
Transformasi ini akan memperkuat
ketahanan sosial sekaligus mendorong
kemajuan bangsa secara berkelanjutan.
Kemudian juga peran literasi untuk
transformasi bangsa. Literasi ini
menjadi katalisator membangun sumber
daya manusia. Literasi mendukung
transparansi dan tata kelola
pemerintahan yang baik. Literasi ee
mempunyai peran dalam penguatan ekonomi
bangsa. dan literasi menjadi sarana
pelestarian budaya dan identitas bangsa.
Transformasi bangsa melalui literasi
membutuhkan strategi komprehensif yang
melibatkan semua pemangku kepentingan
baik pemerintah, lembaga pendidikan,
komunitas literasi, mediator sektor
swasta, dan masyarakat luas. Program
literasi harus dirancang tidak hanya
untuk meningkatkan minat baca, tetapi
juga memperkuat kecakapan hidup,
pemanfaatan teknologi informasi dan
pemberdayaan masyarakat berbasis
pengetahuan.
Ini beberapa fakta mengenai manfaat
literasi.
angka kemiskinan yang menurun. Di mana
faktanya jika anak di seluruh dunia
belajar membaca maka 171 juta orang akan
keluar dari kemiskinan. Ini setara
dengan populasi di Spanyol, Italia, dan
United Kingdom.
Kemudian juga faktanya angka kematian
akan rendah. Jepang dengan tingkat
literasi 99%
memiliki tingkat kematian bayi paling
rendah yaitu 2 dari 1000 kelahiran. Dan
selama 4 dekade terakhir angka kematian
balita berkurang seiring meningkatnya ee
literasi pada perempuan.
Manfaat literasi juga akan membuat
ekonomi lebih kuat.
di mana hasil riset memperlihatkan bahwa
penambahan 1 tahun sekolah akan
meningkatkan penghasilan pribadi hingga
10% dan tidak ada negara yang mencapai
pertumbuhan ekonomi yang cepat dan
berkelanjutan tanpa minimal 40%
masyarakatnya dapat membaca dan menulis.
Literasi juga akan membangun partisipasi
masyarakat yang tinggi. Orang literat
lebih banyak terlibat secara sosial dan
memiliki potensi lebih besar untuk
dipilih sebagai pemimpin.
Peningkatan literasi orang dewasa
berkorelasi dengan peningkatan di
serikat buruh, aksi komunitas dan
kehidupan ee politik nasional. Dan
kemudian juga literasi dipastikan akan
meningkatkan kesejahteraan dan
kebahagiaan diri.
Di UK, 78% masyarakat literat merasa
puas dengan hidupnya.
50% ibu berpendidikan lebih memungkinkan
untuk memberikan imunisasi kepada
anaknya daripada yang tidak
berpendidikan. Dan orang dewasa dengan
kemampuan membaca, memahami konteks, dan
memanfaatkan informasi kesehatan lebih
bahagia.
Nah, apa yang kami harapkan dari ee
peran ASN dalam literasi? Yang pertama,
seorang ASN harus menjadi role model
memberikan pelajaran.
ASN harus menunjukkan perilaku literat
dalam keseharian.
Contoh, ASN yang aktif belajar, diskusi,
mengikuti pelatihan atau berbagi ilmu
pada rekan kerja yang akan menginspirasi
budaya literasi di lingkungan kerja.
Kemudian juga
ASN diharapkan bisa menjadi penggerak
menginisiasi kegiatan literasi. ASN
tidak hanya menjadi peserta tetapi juga
penggerak program literasi baik di
kantor maupun di lingkungan masyarakat.
Menginisiasi kelompok belajar atau
berbagai ee berbagi ilmu dengan
masyarakat sekitar.
Dan kemudian juga peran ASN juga
berharap menjadi agen perubahan
yang meningkatkan pelayanan publik
berbasis pengetahuan.
ASN yang literat menggunakan data,
riset, dan informasi untuk membuat
kebijakan atau layanan publik lebih ee
tepat sasaran. Contohnya adalah
penggunaan data untuk menyusun langkah
layanan berbasis e-goverment atau
inovasi pelayanan publik yang lebih
transparan dan inklusif.
Nah, ini apa yang sudah dilakukan
Perpustakaan Nasional sebagai sebuah
lembaga yang memang konsen terhadap
pengembangan literasi.
Pada tahun 2024 dan 2025 ini
ada lima program prioritas Perpustakaan
nasional dalam penguatan ee budaya baca
dan kecakapan literasi masyarakat. Yang
pertama adalah Tebis atau transformasi
perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Kemudian kami juga memiliki ee program
bantuan buku bermutu
dan kemudian ada KKN atau kuliah kerja
nyata tematik ee literasi, kemudian ada
program relawan literasi dan ee
penguatan pemberdayaan perpustakaan.
Transformasi perpustakaan berbasis
inklusi sosial atau TPIS ini mendorong
perpustakaan menjadi sarana reproduksi
pengetahuan dalam aksi nyata untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
di dalam program ee TPBIS ini, kami
menginisiasi memunculkan fungsi dan
peran terhadap perpustakaan ee desa
khususnya karena memang perpustakaan
desa adalah perpustakaan yang paling
dekat dengan masyarakat. Menjadikan
perpustakaan desa menjadi ruang belajar,
ruang ee berinovasi bagi masyarakat
sekitarnya.
sudah sangat banyak ee praktik baik yang
ee berhasil dilakukan melalui program
ini dan kita berharap program ini ke
depan terus berlanjut sehingga akan
meningkatkan ee kesejahteraan masyarakat
yang lebih baik.
Kemudian juga ada program bantuan buku
bermutu.
Sejak tahun 2024 ee Perpustakaan
Nasional sudah
memberikan bantuan. Total ada 20.000
perpustakaan baik di tingkat desa atau
kelurahan serta taman bacaan masyarakat.
Masing-masing mendapat 1000 buku buku ee
yang disertai dengan pembinaan kepada ee
penerimanya.
Kemudian ee ada KKN tematik Literasi ini
bekerja sama dengan Kementerian
Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi
ee menghadirkan program KKN tematik
Literasi. Saat ini sudah sekitar ee 15
perguruan tinggi yang bekerja sama
dengan Perpustakaan Nasional menjalankan
program KKN ee tematik literasi ini.
Mahasiswa kemudian hadir pada tingkat
desa, kemudian mengedukasi masyarakat di
sana untuk menguatkan literasi.
Kemudian juga tahun ini juga sudah
dijalankan program relawan literasi
masyarakat yang merupakan ee bentuk
komitmen dalam meningkatkan budaya baca
dan meningkatkan kecakapan literasi.
Kami mengaktivasi relawan-relawan yang
ada di sekitar masyarakat untuk
mendorong adanya penguatan literasi di
masyarakat.
Dan yang terakhir adalah penguatan
pemberdayaan perpustakaan. Kegiatan
penguatan pemberdayaan perpustakaan baik
sekolah, desa, dan perguruan tinggi
hadir untuk membangun jejaring, melatih
kapasitas, serta merancang aksi
kolaborasi yang berdampak langsung.
Kegiatan ini melibatkan tenaga
perpustakaan
di setiap daerah dengan agenda
pembinaan, diskusi hingga pembentukan
kelompok kolaborasi.
Dengan cara ini, pemberdayaan bukan
hanya konsep, tapi menjadi gerakan
bersama.
Terakhir mungkin mengutip dari ee duta
baca yang
ee kita di Bu Najwa Zihad ini duta baca
kita hingga tahun 2020 ee 3.
Membaca ialah upaya merengkuh makna,
ikhtiar untuk memahami alam semesta.
Itulah mengapa buku disebut jendela
dunia yang merangsang pikiran agar terus
terbuka.
Baik, ee mungkin itu yang bisa saya
sampaikan, Mas Lukman. Terima kasih.
Kurang lebihnya mohon maaf.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih
untuk Bapak Nurhadi Saputra, Sos, M.Si.
Atas pemaparan materinya yang sangat
menarik sekali. Dan sobat SN, setelah
ini kita akan lanjut masuk ke sesi tanya
jawab. Jadi untuk sobat SN yang ingin
bergabung di Zoom apabila ingin bertanya
bisa menggunakan feature rise hand
ataupun yang tengah menyaksikan acara
ini melalui live YouTube BPSDM Jatim TV
bisa langsung tuliskan saja pertanyaan
melalui live chat. Ini menarik sekali ya
Pak Nurhadi ya. Terkait dengan materi
yang Bapak sampaikan. Kita bisa lihat
sebenarnya perkembangan literasi.
Definisi literasi itu kalau dulu itu
cuman sekedar membaca, menghitung dan
lain sebagainya. Tapi di era digital
sekarang ini sudah berpindah
definisinya. Nah, literasi ini sudah
diredefinisikan sebagai bagaimana cara
kita bisa memiliki pengetahuan itu untuk
kemudian kita bisa berpikir kritis dan
menentukan dalam pengambilan sikap. Tapi
Pak pertanyaannya Pak Nurhadi, yang
menjadi masalah ini kan sebenarnya kalau
kita lihat akses pendidikan ini sudah
semakin banyak gitu ya. Tapi yang
menjadi akar masalah itu adalah
bagaimana cara kita bisa menimbulkan
curiosity atau rasa ingin tahu di
seluruh lapisan masyarakat kita agar
terus menjadi lifelong learner. Karena
kan sebagian besar paradigma masyarakat
saat ini itu melihat bahwasanya belajar
itu hanya dilakukan di sekolah saja,
tapi di luar sekolah mereka rasa
kayaknya tidak perlu belajar gitu deh ee
yang berkembang di paradigma masyarakat
saat ini. Kalau menurut Pak Nurhadi
bagaimana melihat fenomena ini dan
solusi quick wins yang bisa kita
lakukan, Pak?
Iya. Baik. Ee Masukman kalau kita
melihat memang apa ya ee kultur kita ya
ketika misalnya seseorang ini merasa ee
pembelajaran di sekolah sudah selesai
dan kemudian mereka melanjutkan di fase
kehidupan yang lain menganggap ee
belajar itu tidak penting. Ini memang ee
ee ee apa ya kultur yang memang
terbentuk di masyarakat, di sebagian
besar masyarakat.
pemerintah sebenarnya ee terus
menciptakan ruang-ruang belajar bagi
masyarakat ya. Kehadiran perpustakaan
pun ini menjadi sebuah ruang bagi
masyarakat untuk terus belajar. Nah,
cuman memang kita melihat ada
faktor-faktor lain nih yang mungkin
menjadi pertimbangan masyarakat juga
kenapa kemudian mereka merasa sudah
cukup untuk belajar dan berhenti untuk
belajar. Ini ya yang menjadi musuh kita
bersama mungkin ya. tidak hanya ee ee
kita yang memang ee bekerja di bidang
literasi, tapi mungkin semua pihak ini
harus turun andil. bahwa namanya belajar
ini tidak akan pernah selesai karena
ilmu pengetahuan ini selalu berkembang,
teknologi selalu berkembang dan ketika
kita merasa kita sudah cukup maka kita
tidak akan pernah bisa meraih apa yang
ada di depan potensi dan peluang itu.
Nah, ini ini yang menjadi trigger kami
bagaimana kemudian ee memberikan
pemerataan terhadap akses informasi,
akses pengetahuan kepada seluruh
masyarakat. beberapa program yang sudah
dijalankan Perpustakaan Nasional tadi
salah satunya itu men-trigger masyarakat
untuk terus belajar karena banyak hal
yang mungkin ee belum dipahami. Karena
menurut ee riset kami, kemiskinan,
ketidaksejahteraan
masyarakat ini bukan ee bukan hanya
sebatas mereka tidak punya peluang,
tetapi kesempatan mereka untuk
memperoleh informasi ada apa dan apa
yang bisa mereka ee raih itu yang tidak
terinfokan. potensi diri mereka
terkadang tidak bisa berkembang karena
ya minimnya ee minimnya pengetahuan,
minimnya informasi yang mereka dapat.
Nah, inilah kami hadir bagaimana ee
memotivasi mereka dengan menyediakan
berbagai kebutuhan dalam penguatan
literasi dan kapasitas mereka sehingga
kita berharap mereka kemudian bisa
berinovasi untuk hidupnya dan akhirnya
ee bisa meningkatkan kesejahteraannya.
Jadi buat masyarakat ya jangan berhenti
belajar. Kita harus terus belajar karena
ee ilmu pengetahuan itu terus
berkembang. Karena literasi bukan hanya
sekedar ee bisa baca dan bisa tulis.
Sekarang sudah di era digital. Kemampuan
literasi juga kita juga harus terus
diasah. Kemampuan kita memilahmilih
informasi. Kemudian mana menentukan
informasi yang memang ee kita butuhkan
untuk ee untuk ee kehidupan kita, baik
itu untuk menunjang profesi kita, untuk
ee
menunjang ee ee kapasitas kita. Nah, ini
yang diperlukan. Mungkin itu, Mas Luan.
Perbedaan
loyal.
Baik, kita akan masuk ke sesi tanya
jawab. Sudah bergabung bersama dengan
kami Bapak Irwan Kholid. kami persilakan
untuk menyampaikan langsung
pertanyaannya. Silakan, Pak Irwan
Khalid. Ada
kami terus
baik, makasih. Ee menarik hari ini ee
pembahasan kita terkait dengan ee
literasi untuk transformasi dari
pengetahuan membangun peradaban. Ee
menarik ee kenapa menarik? Karena memang
mau tidak mau, suka tidak suka, literasi
ini adalah sebuah bagian yang dapat
merubah sebuah sebuah ee apa ya? warga
negara di sebuah negara. Oleh karenanya
literasi di era sekarang sudah sudah
merupakan keharusan. Nah, yang menjadi
perhatian saya adalah terkadang
pemerintah
masih menggunakan paradigma lama di
dalam bagaimana mliterasi literasikan ee
ke masyarakat. Contohnya misalnya
pemerintah masih dengan menggunakan
konsep-konsep ee yang ee menurut
anak-anak sekarang, generasi ee Z
sekarang ini yang agak sulit di di
disesuaikan. Contohnya seperti ini. Ee
sekarang zet-Zet ataupun perangkat
digital adalah sebuah sebuah perangkat
yang merupakan kebutuhan dari sebuah
dari ee masyarakat. Nah, kalau kita
diarahkan untuk membaca sebuah buku ya
kita kan ini kan lebih pada membaca
sebuah buku. Sementara di perangkatnya
itu ada sebuah alat yang bisa dapat apa
ya menerima informasi dari sebuah buku.
Bahkan di alatnya itu pun dapat meresume
sebuah buku. Jadi sebuah buku itu kita
dengan menggunakan perangkat yang ada di
perangkat ee HP-nya atau gadgetnya itu
dia bisa meresume sebuah buku. Akan
tetapi pemerintah
mengharuskan bahwa ee bagaimana
masyarakat untuk terus program literasi
literasi literasi ini dengan menggunakan
budaya baca, program budaya baca. Nah,
apakah pemerintah ya pemerintah sudah
mempunyai konsep program dengan
perkembangan era digital sekarang
merubah paradigma di dalam ee
melaksanakan ataupun menjalankan
program-program ee literasi digital
kepada masyarakat. Itu yang pertama.
Yang kedua,
ee izin Pak ee kami menyarankan jangan
ee pemerintah yang terlalu dominan ke
depan, ya. Jangan pemerintah coba
dicarikan bagaimana literasi ini tumbuh
dari masyarakat.
Jadi ee regulasinya dari pemerintah tapi
operator di tingkat bawah itu
masyarakat. Nah, dengan adanya ee
menyerahkan ee pelimpahan kewenangan
kepada kelompok-kelompok masyarakat
untuk bagaimana literasi ini bisa ee
bisa jalan di tingkat masyarakat, saya
pikir bahwa pemerintah sudah harus
ikhlas untuk menyerahkan ee kewenangan
kewenangannya yang ada ke tingkat level
masyarakat agar supaya langsung
bersentuhan dengan masyarakat. Karena
kita tahu bahwa di setiap komunitas atau
kelompok masyarakat tuh berbeda-beda
kebutuhan-kebutuhan literasi yang mereka
ee butuhkan. Oleh karenanya saya
menyarankan ee keduanya adalah bagaimana
ada program PERPUS PERPUS Pusat untuk ee
ee programnya langsung ke masyarakat.
Nah, jadi nanti di nanti adalah
pola-pola gimanalah dari oleh ee ee
perpustakaan untuk ee memilih ataupun
mengorganisir kelompok masyarakat dalam
rangka untuk ee melaksanakan program
literasi di tingkat masyarakat. Mungkin
itu. Terima kasih. Selamat, Pak. Kami
salut dan kami akan terus men-support ee
program-program BPSDM Jawa Timur
terutama narasumber-narasumber yang
berkualitas. Izin saya Irwan Khalid dari
Gorontalo, Sulawesi Utara atau Provinsi
Gorontalo. Kami kembalikan ke host.
Oh, jauh sekali, Pak. Dari Gorontalo,
Pak.
Iya, Pak.
Makasih, Pak Irwan. Silakan, Pak
Nurhadi. Langsung saja dijawab, Pak.
Baik, terima kasih. Ee terima kasih, Pak
Irwan Khalid. Nih, saya baru tahu nih,
ternyata ee webinar ASN belajar ini yang
ikut tidak hanya dari Jawa Timur ya.
Saya pikir tadi hanya sebatas ee ASN di
lingkungan Jawa Timur saja. ternyata
dari Gorontalo nih, Pak Irwan nih. Baik,
Pak Irwan. Memang kalau kita melihat ee
tren sekarang ketika kemudian perangkat
digital ee akses digital ini menjadi
hampir apa ya ee sebuah kebutuhan ya
bagi kacamata kami di pemerintah dan
khususnya di Perpustakaan nasional ini
bukan sebuah pertentangan.
Kami pun ada ee apa namanya ee
perkembangan teknologi ini pun kami
adaptasi gitu. Jadi ee penguatan
literasi ini tidak hanya sebatas kepada
akses buku-buku tercetak, tetapi juga
kami juga memberikan layanan terhadap
akses-aksas digital. Cuman memang ee
penguatan literasi melalui teknologi ee
digital ini masih pro kontra ya. banyak
sekali ee ahli juga menyatakan ada
keterbatasan indra kita ketika kita
mengakses koleksi secara digital. Dan ee
beberapa ahli pun mengatakan bahwa
ketika kita membaca buku konvensional
atau buku cetak itu itu jauh lebih
nyaman dan informasi yang di ada di
dalam ee buku itu biasanya lebih ee
melekat lebih lama di dalam ee otak
kita.
Nah, kemudian tadi Pak Irwan juga
menyatakan bagaimana program literasi
ini juga di di digerakkan oleh
masyarakat. Ini juga dilakukan, Pak.
Sebenarnya banyak sekali
komunitas-komunitas atau pegiat-pegiat
literasi yang memang ee bersinergi
dengan kami. Yang perlu dipastikan bahwa
kita punya tujuan yang sama. Kita punya
tujuan yang sama bagaimana kita
menguatkan atau meningkatkan literasi
masyarakat. Memang ee kalau kita melihat
yang dulu-dulu ini ee penguatan literasi
ini berjalan sporadis. Komunitas punya
konsep sendiri, punya tujuan sendiri,
pemerintah punya tujuan sendiri. Nah,
ini semenjak ee 5 tahun ke belakang itu
kita sudah bersinergi bersama. Jadi kita
juga memfasilitasi komunitas yang memang
mereka berada di tengah-tengah
masyarakat
memotret apa yang menjadi kebutuhan
masyarakatnya dan kita ee kita suplly
dengan kebutuhan ee informasi yang
dibutuhkan. Jadi tadi yang disampaikan
program ee transformasi perpustakaan
berbasis inklusi sosial ini juga kami
mengedepankan fungsi-fungsi di
perpustakaan desa, perpustakaan yang
paling dekat dengan masyarakat ya.
kemudian bagaimana ee memetakan
kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan
kami ee kami intervensi dengan ee
pemenuhan terhadap ee ee koleksi-koleksi
yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.
Sama juga kemudian ada relawan literasi
masyarakat. kami mengaktivasi ee
komunitas-komunitas ee perorangan,
penggiat literasi untuk mereka hadir ee
di tengah-tengah masyarakat memberikan
ee berbagai program dan kegiatan ee agar
masyarakat peduli dan kemudian kita bisa
menumbuhkan literasi gitu, Pak.
Terjawab, Pak Irwan. Semoga sudah bisa
terjawab semua pertanyaannya. Terima
kasih sekali lagi Pak Irwan untuk
pertanyaannya Pak Nur Hadi Saputra.
Sekali lagi kami ucapkan terima kasih
untuk paparannya di sesi pertama kali
ini. Mohon maaf karena keterbatasan
waktu kami harus mengakhiri untuk sesi
pertama kali ini. Salam sehat selalu
untuk Pak Nuradi Saputra. Semoga kita
bisa bertemu lagi di lain kesempatan.
Thank you so much Pak Nuradi.
Amin. Terima kasih, Mas Lukman.
Baik, Sobat SN, jangan ke mana-mana
karena sesaat lagi kita masih akan ada
dua narasumber yang tentunya tidak kalah
menarik dibandingkan dengan narasumber
yang pertama tetap di webinar ASN
belajar seri 35 tahun 2025.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia
tukan tekad pantang menyerah
jadi ASN
berkualitas
sama aku
[Musik]
Ya, Sobat ASN, Anda kembali lagi
menyaksikan webinar ASN belajar seri 35
tahun 2025. Kali ini kita akan beranjak
ke materi berikutnya. Materi berikutnya
akan disampaikan secara langsung oleh
Kepala Balai Besar Penjamin Mutu
Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Bapak
Dr. Prao, M.
[Musik]
Selamat siang, Pak Pratono.
Selamat siang, Mas. Kabar baik, Pak
Prao.
Alhamdulillah sehat.
Baik, Pak Prao. Kami persilakan
untuk menyampaikan materinya kurang
lebih selama 30 menit, Pak Pratono.
Nanti kita akan masuk ke sesi Q&A
seperti di sesi pertama Pak Praono. Kami
langsung saja persilakan. Monggo, Pak.
Baik. Saya mau cek dulu slide-nya sudah
terlihat.
Sudah terlihat di sini. Oke, masih belum
terlihat. Sudah aman. Oke, sudah aman,
Pak Prtono.
Baik, baik. Saya 30 menit ya paparan ya.
Betul, Pak.
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat siang, salam
sejahtera buat kita semuanya. Bapak, Ibu
yang saya hormati. senang sekali saya
bisa berbagi
ee informasi ee terutama ini terkait
dengan program prioritas dari
Kementerian Pendidikan Dasar dan
Menengah yang saya coba rangkai dengan
ee peran apa yang dilakukan oleh Balai
Besar Penjaminan Mutu Pendidikan ya
salah satunya di Provinsi Jawa Timur
dalam kaitan dengan ee kebijakan untuk
membangun literasi untuk transformasi
dari pengetahuan bangun peradaban.
Dan saya menyiapkan slide ini sudah saya
kirimkan kepada panitia, nanti bisa
di-share saja dan ee saya lebih
mengutapakan nanti untuk kita bisa
banyak berdiskusi, berdialog,
dan tentu yang terpenting adalah berbagi
praktik baiknya. Insyaallah ee saya
tidak akan banyak untuk melakukan
paparan, tapi ee pengin lebih ee banyak
kita nanti untuk berdiskusinya.
Baik, Bapak Ibu sekalian. Yang pertama
saya ingin memulai dari tantangan
pendidikan kita ini sekedar untuk
mengingatkan bahwa anak-anak yang kita
didik hari ini itu 20 40 tahun yang akan
datang mereka akan mengisi pembangunan
nasional kita. Apalagi ee Indonesia ee
kalau diridai oleh Allah Subhanahu wa
taala, kita akan mencapai Indonesia emas
di 2045.
di era itu di mana ee kecerdasan
artifisial industri 4.0, keamanan cyber,
transisi energi dan sebagainya itu akan
ee betul-betul menjadi ee isu ee global
yang yang anak kita kalau tidak kita
bekali dengan baik ee mereka ee tidak
akan bisa ber ee peranan lebih banyak di
kehidupannya nanti. Dan untuk itulah ee
kita ingin ee memastikan betul agar ee
30% penduduk Indonesia yang berada pada
usia PAUD hingga pendidikan menengah ini
betul-betul menjadi aset kita. Ini jadi
pendidikan itu investasi ee utama untuk
menghasilkan generasi Indonesia yang
berkualitas dan itulah sebabnya dari
sejak jenjang PAUD itu harus betul-betul
kita ee tangani dengan sebaik-baiknya.
Nah, mengapa ini kemudian menjadi sangat
penting? Karena faktanya memang hari ini
kita masih menghidup
mengalami ya kendala yang sangat ee luar
biasa beratnya. Ini masih ada 75% ya
anak-anak kita itu yang memiliki
kemampuan baca di bawah standar gitu.
Jadi bukan ini bukan yang di atas
standar ya, tapi ini angkanya besar tapi
yang di bawah standar. Lalu di bidang
kemampuan ee berpikir ee strategisnya ya
di bidang ee aplikasi matematika itu
kita juga memiliki ee masalah yang lebih
besar lagi yaitu sekitar 82%.
Dan ini betul-betul ee harus kita kita
sadari dan kita ee anggap penting gitu
agar semua potensi yang kita miliki ini
bisa kita ee fokuskan, kita arahkan ke
kedua area ini ya, itu literasi dan
numerasi. Yang salah satunya ini menjadi
topik penting ee di dalam webinar ini
yang terkait dengan kemampuan literasi.
Lalu apa yang di dilakukan oleh
Kementerian Pendidikan Dasar dan
Menengah dan karena BBPMP itu adalah
unit pelaksana teknis di bawah naungan
Direktorat Jenderal Paudik Dasmen, ee
saya menyampaikan
ee program prioritas yang terkait dengan
Dijen Paudigdas Desasmen agar ee saya
bisa menyampaikan ee kira-kira BPMP itu
peranannya seperti apa gitu.
Nah, prinsipnya ada tiga hal yang
menjadi fokus dari pelaksanaan program
prioritas ini. Yang pertama inklusif.
Artinya tidak ada anak yang
dikecualikan ya. Ya, mereka yang
berkemampuan tinggi, yang biasa-biasa
saja atau bahkan yang berkebutuhan
khusus ee mereka ee harus bisa
diupayakan untuk mendapatkan layanan
pendidikan yang berkualitas. Lalu yang
kedua
di tengah ee keberagaman yang sangat
tinggi dari alam sekitar kita, kemudian
juga karakteristik dari anak-anak kita,
maka ee layanan pendidikan ini ee
diharapkan betul-betul bisa
mengembangkan
secara optimal
potensi setiap peserta didik ya. Jadi ee
kalau dulu kita mengenal pembelajaran
yang berfokus pada murid, nah ini maka
proses adaptasi dari ee kegiatan belajar
mengajar ini juga harus tetap kita
kembangkan. Maka ee kalau kita ikuti ee
beberapa media yang banyak menyampaikan
pesan dari Pak Menteri yaitu dengan ee
kegiatan pembelajaran mendalam. Nah, ini
esensinya adalah bagaimana anak-anak ini
bisa mendapatkan ee pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristiknya
dan mengembangkan potensinya dan juga
memperhatikan aspek kebermanfaatannya
sehingga kemudian
bisa memaju pada ee motivasi dan
semangat anak-anak kita untuk belajar.
Lalu yang ketiga ee prinsip
partisipatif. partisipatif di dalam
kelas termasuk juga partisipatif dalam
menjalankan program prioritas nasional.
Sehingga saya terima kasih dengan
kegiatan-kegiatan semacam ini di mana ee
semua stakeholder berkolaborasi dan
bekerja sama untuk ee membangun ee
pendidikan nasional kita. Nah, ee pilar
kebijakan ini lalu dituangkan untuk
menjalankan delapan program prioritas
nasional
ya. Dan ini ee
merupakan pengejawan wantahan dari asta
cita ee Bapak Presiden kita yaitu untuk
memperkuat pembangunan sumber daya
manusia, sains, teknologi, dan
pendidikan. Nah, di Dien ee PAM ini
delapan programitas nasional itu ee di
antaranya adalah revitalisasi sekolah.
Ini yang memfokuskan pada ee perbaikan
kondisi sarana prasarana. Kemudian
digitalisasi pembelajaran ini ee dalam
rangka untuk
membuat pembelajaran lebih menarik,
kemudian lebih ee lebih update dan juga
membantu para guru untuk mendapatkan
materi-materi bahan ajar dan juga
berbagi praktik baik dengan lebih mudah.
Dan ini yang masuk dalam ee program
prioritas digitalisasi pembelajaran.
Lalu ada makan bergizi gratis, SPMB,
wajar 13 tahun dan penuntasan ATS ini
menjadi konsern. Betul karena memang
sekarang ini masih ee di bulan Mei
kemarin itu ada 4,2 juta anak usia
sekolah kita yang belum ee mendapatkan
pendidikan. Ini menjadi fokus dari Pak
Menteri. Lalu juga ee pentingnya
pendidikan PAUD ya dengan program 1
tahun pra SD. Lalu ada penguatan
karakter, pembelajaran dan penilaian.
Dan yang terakhir ini menjadi core
bisnis kami yaitu untuk melakukan
penjaminan mutu pendidikan.
Nah, literasi irisannya yang kuat di
mana? Yaitu di digitalisasi pembelajaran
dan di program prioritas pembelajaran
dan penilaian. Jadi ee tema kita ini
memang ee bagian dari ee program
prioritas nasional ya. Jadi insyaallah
ee dukungannya akan sangat ee sangat
kuat ini untuk di ee tata kelola
pendidikan nasional kita. Nah, lalu ee
bagaimana ee literasi
ini ee bisa kita bawa untuk membangun ee
sebuah peradaban. Nah, Bapak, Ibu yang
saya hormati ee saya saya ingin ee
sekali lagi mengingatkan bahwa ee
terkait dengan keterampilan berpikir ini
kita masih ee ee perlu harus berjuang
keras karena memang sampai hari ini ee
anak-anak kita belum terbiasa dengan ee
pendekatan higher order thinking skill
ya. Jadi kalau ada ee soal-soal yang ee
yang membutuhkan
analisis ee untuk berpikir ilmiah itu
masih masih sangat ee lemah. Dan kalau
kembali kita lihat dari ee caban di
Scorpisa, maka ya 99%
anak-anak kita itu ee level berpikirnya
itu berada di tingkat ee rendah. Tapi
ini jangan dianggap ini ee apa sebagai
sebuah sebuah pelarian gitu ya. Tetapi
saya ingin memberikan sebuah kesadaran
bahwa memang untuk memasuki
ee di era dunia baru ee era digital itu
kita memang ee berada pada kondisi yang
harus ee melakukan kerja keras gitu ya.
melakukan ee upaya yang
bersungguh-sungguh
dan itu Bapak Ibu bisa lihat di bahan
paparan yang kami sajikan ini bagaimana
anak-anak kita
di kemampuan membacanya aja itu 74,5%
itu level 1 gitu ya. Kemudian level
2-nya juga masih cukup tinggi hampir 20%
gitu. Jadi hanya hanya 0,8%
itu yang berada di level ee 4 ee sampai
6 gitu. Kemudian ee di matematika itu
81,7%
ee kemampuannya berada di level 1 dan
kemudian hanya 0,4% yang di level 4
sampai ee 6. hanya sedikit lebih tinggi
di sains ya
ada 0,9 gitu. Tapi sekali lagi yang
level 1 kalau kita jumlahkan dengan
level 2 juga masih ee sangat ee besar
persentasenya. N ini menandakan bahwa ee
ee kemampuan membaca ee matematika dan
sains dari anak-anak kita itu ee perlu
kita ee terus kuatkan. Nah, saya sepakat
dengan ee pemateri sebelumnya bahwa yang
memang ee memberikan ee cara berpikir
kita bahwa ee dunia literasi di
Indonesia ini memang ee perlu ee kita
garap secara bersama-sama ya, Bapak,
Ibu.
Nah, tadi juga sudah banyak disampaikan
ee literasi ini sekarang tidak hanya
sekedar ee membaca, menulis, berhitung,
tapi sudah merambah ke bidang-bidang
yang lain ya, literasi digital, data,
sains, finansial, ee budaya dan
kewarganegaraan gitu. Dan kita sepakat
juga bahwa ee literasi ini memang ee
sebagai kunci dari sebuah transformasi
di mana secara individu kita kita perlu
ee
menjadikan diri kita dan anak didik kita
memiliki kapasitas berpikir kritis dan
kreatif. masyarakatnya menjadi
masyarakat yang inklusif dan kolaboratif
sehingga kemudian kita bisa tumbuh
menjadi bangsa dengan SDM yang unggul
dan siap untuk ee berperan di era ee
globalisasi ini. dan kemudian bagaimana
ee kita mulai dari ee pengetahuan
yang harapannya dengan mengetahui itu
maka ee mampu untuk berinovasi ya,
membangun ide-ide baik dan dari
inovasi-inovasi yang kita lakukan ini
maka ee terjadilah transformasi sosial
gitu sampai akhirnya ee bisa kita ee
wujudkan menjadi sebuah peradaban. Kalau
ee mengambil dari teori perubahan dalam
kehidupan manusia, maka ee kita bisa
memahami bahwa perubahan itu kita mulai
dari ee pribadi kita masing-masing ya,
menjadi pribadi yang mengetahui, pribadi
yang berubah gitu ya. sehingga kemudian
dari pribadi-pribadi itulah terbentuk ee
sebuah masyarakat gitu, sebuah ee
lingkungan ee sosial yang literate gitu.
Nah, kalau masyarakatnya itu sudah
menjadi masyarakat yang literate, maka
ee bangsa itu akan menjadi bangsa yang
maju, bangsa yang berperadaban.
Bapak, Ibu yang saya hormati. Ee peran
literasi dalam peradaban
bahwa secara historis memang kita kita
pahami dan ee kita ikuti dari penjelasan
yang tadi sudah disampaikan bahwa memang
ini bisa menjadi cikal bakal dari ee
lahirnya sebuah peradaban gitu ya. dari
mulai mengenal huruf di
tembok, di dinding, kemudian sampai
mengenal angka dan sebagainya. Nah,
sehingga harapan ke depannya ini secara
ee ee secara kebangsaan itu akan
betul-betul literasi itu bisa menjadi
sebuah gerakan untuk menjadikan
Indonesia emas di 2045.
Nah, saya ingin ingin menyampaikan lalu
strategi apa yang bisa kita lakukan ya,
Bapak, Ibu sekalian. Maka kalau kita ee
lihat dari peran kita masing-masing ee
membangun literasi ini tidak tidak cukup
hanya menjadi ee tanggung jawab dari
sekolah gitu ya, tapi ee sekaligus juga
melibatkan masyarakat dan pemerintah.
Saya sepakat dengan ee yang disampaikan
oleh penanya tadi bahwa jangan jangan
menjadikan bahwa seolah-olah ee literasi
itu menjadi urusannya pemerintah gitu.
Tapi mari semua kita ee ee
bergotong-royong.
Karena kalau perubahan itu hanya kita
bebankan kepada ee sekolah misalkan,
berapa banyak sih anak-anak itu
menghabiskan waktunya di sekolah gitu.
ya banyak waktu yang dimiliki di rumah.
Kemudian anak juga berinteraksi dengan
teman-temannya di kebun main, di
lapangan ee di taman dan sebagainya
sehingga kemudian ee keluarga itu bisa
membudayakan ya menjadikan habit agar
menjadi keluarga yang berbudaya untuk
membaca dari sejak dini ya, terutama
membaca ee cerita, membaca baca narasi,
membaca tulis, biasa berdiskusi dan
sebagainya. Lalu ee layanan pendidikan
yang kita berikan juga ee kurikulumnya
itu ee tidak hanya mengejar target
penuntasan materi, tetapi memang
betul-betul ee bisa dilakukan proses
pembelajaran yang mendalam dan itu ee
berbasis dengan literasi. di masyarakat
kita biasakan anak-anak ee tidak hanya
bermain fisik gitu ya, berolahraga
fisik, tapi juga disertai dengan ee
adanya taman bacaan, kemudian ee
komunitas literasi atau desa literasi
dan tentu ee pemerintah sebagai ee
pengambil kebijakan ya juga menelurkan
kebijakan-kebijakan yang mendukung
literasi dan memberikan kemudahan dalam
akses digital.
Nah, hanya memang ee sampai hari ini ee
literasi itu masih memiliki tantangan
yang berat, tapi sebenarnya tantangan
ini bisa menjadi peluang untuk ee
berinovasi dan berkreasi gitu ya. Jadi
tidak tidak menjadikannya sebuah
hambatan yang akan ee melemahkan ee
semangat untuk ee melakukan ee sebuah ee
ee pembaruan gitu. Nah, apa tantangan ee
literasi yang masih kita hadapi sekarang
ini? Yang pertama adalah rendahnya
budaya baca ya. Anak-anak kita masih ee
lebih mengandalkan untuk menonton ya
film ee ee cerita video pendek gitu.
Tapi kalau sudah membaca itu ee ee susah
sekali gitu. Bahkan bisa membaca tapi
tidak menangkap ee maknanya atau bisa
membaca tapi tidak bisa tahan lama gitu.
Dominasi media sosial tanpa filter
kritis. ya kita sudah rasakan betul
kejadian akhir-akhir ini ya dalam ee
sepekan dua pekan terakhir itu ee
bagaimana ketika kecerdasan ee bersosial
media ini tidak dimiliki oleh masyarakat
maka ee banyak kerusakan-kerusakan yang
terjadi yang timbul akibat informasi
yang tidak benar. Kemudian lalu ee
Indonesia juga ada Jawa, luar Jawa, ada
kota, ada desa, ada ee kepulauan, ada
daerah-daerah pedalaman yang
tentu ee ini berdampak ee pada
kesenjangan akses ee informasi terutama
kalau basisnya itu adalah basis
internet. Nah, Bapak Ibu yang saya
hormati. dengan literasi ini maka ee
kita sekali lagi ingin membangun sebuah
peradaban. Lalu di mana ee peran dari
BBPMP Provinsi Jawa Timur sesuai dengan
namanya, kami ini melaksanakan ee fungsi
penjaminan mutu pendidikan. Ini adalah
dua slide kami yang terakhir yang nah
dalam rangka untuk melakukan sistem
penjaminan mutu ini maka memang ee kita
ee
memiliki modal yaitu rapot pendidikan.
rapot pendidikan ini adalah hasil
analisis yang datanya diambil ee melalui
ee assesment nasional dan di sekolah itu
sudah ee bisa membaca
ee setiap satuan pendidikan itu
bagaimana rapot ee satuan pendidikannya.
Nah, termasuk juga di level pemerintah
daerah ya, baik kabupaten, provinsi itu
juga ada rapot ee pendidikan.
Nah, rapot pendidikan itu menjadi satu
ee informasi yang bisa menggambarkan
kondisi
satuan pendidikan untuk di tiga area
besar. Yang pertama adalah terkait
dengan literasi, kemudian yang kedua
numerasi, lalu yang ketiga terkait
dengan ee karakter. Nah, kami di dalam
proses untuk melakukan penjaminan mutu
ini maka setiap satuan pendidikan itu
didampingi ya melalui kegiatan
sosialisasi bimbingan teknis untuk bisa
melakukan ee pemetaan ee mutu pendidikan
ya masing-masing satuan pendidikan.
Nah, dari pemetaan ee mutu satuan
pendidikan itu maka ee setiap satuan
pendidikan
akan mengidentifikasi
apa yang menjadi ee akar masalah dari
mutu pendidikan di ee sekolahnya. Lalu
dibuatlah sebuah perencanaan untuk
melakukan problem solving terhadap ee
akar masalah itu yang sumber
pembiayaannya
diambilkan dari pengelolaan dana BOSP
baik yang reguler maupun yang kinerja
dan itu dituangkan dalam RAK. Nah, lalu
kami di BPMP melakukan fasilitasi dan
supervisi. Nah, mengingat bahwa ee
jumlah satuan pendidikan kita cukup
besar, maka di dalam project charter
yang kami ee buat di BBPBMP ini
untuk pemetaan mutu pendidikan target
kami adalah di jadi 100% satuan
pendidikan yang jumlahnya sekitar 67.000
sekian itu itu ee sudah bisa kita
petakan. Kami kembangkan sebuah sistem
atau aplikasi yang membantu kepada ee
sekolah untuk bisa ee dengan mudah
memahami peta mutu di satuan
pendidikannya. Nah, hanya kemudian untuk
melakukan penjaminan mutu, kami
menggunakan pendekatan dengan membuat
sebuah model ya yang setiap jenjang itu
dibuatkanlah
ee ditetapkan satuan-satuan pendidikan
yang ee kemudian menjadi model untuk
melakukan penjaminan ee mutu pendidikan.
Bapak, Ibu yang saya hormati ee
penjaminan mutu itu kita ee kita ee
lakukan dengan basis apa ya sesuai
dengan pedoman yang diterbitkan bahwa ee
kita melihat mutu satuan pendidikan kita
itu dengan melihat ketercapaian
pada delapan standar nasional pendidikan
gitu.
Nah, sehingga ee siklus yang kita buat
maka pemerintah daerah itu melaksanakan
program dan kegiatan ee peningkatan mutu
yang mengacu pada SPM. Lalu nanti di
satuan pendidikan itu melaksanakan ee
penjaminan mutu internal
yang siklusnya tadi mulai dari pemetaan
mutu, perencanaan ee sampai kemudian ee
fasilitasi dan supervisi. Lalu ee proses
ee penjaminan dilakukan di step satuan
pendidikan dan nanti diharapkan di akhir
1 tahun melaksanakan penjaminan mutu itu
maka ee kita ingin ee standar pelayanan
minimal di setiap ee daerah itu
mengalami peningkatan. ee 1 tahun kami
ee mendampingi di Jawa Timur ini.
Alhamdulillah kemarin dalam satu ee di
tahun 2024 ee seluruh ee pemda di Jawa
Timur ini ee mengalami ee peningkaan
peningkatan status ee dari ee SPM di
bidang pendidikannya dan itu ee
merupakan capaian yang sangat luar
biasa. Dan sekarang ini ee kita akan
lebih banyak memfokuskan pada ee ee tiga
isu penting tadi yaitu terkait dengan
literasi, numerasi, dan karakter. Mas
Rukman saya kira itu ya dalam ee 25
menit dari waktu yang saya gunakan untuk
melakukan paparan dan ee kami persilakan
pada Bapak Ibu para ee peserta untuk
memberikan respon atau mungkin
mengklarifikasi, mengkonfirmasi. Terima
kasih. Terima kasih Pak Proftono atas
materi yang telah diberikan. Sangat
menarik sekali. Tadi kita sudah
tergambar ya sebenarnya current
condition kita kalau melihat data dari
PISA 2022, kemampuan untuk berpikir
tingkat tinggi para peserta didik di
Indonesia ini masih cenderung rendah.
Setidaknya ini bisa menjadi awareness
untuk seluruh stakeholder yang ada di
Indonesia untuk kita sama-sama yuk kita
sinergikan dan integrasikan supaya
kualitas pendidikan Indonesia ini
semakin baik utamanya untuk menyongsong
Indonesia emas di tahun 2045. seperti
itu. Dan selanjutnya kita akan masuk ke
sesi tanya jawab. Bagi sobat ASN yang
ingin bertanya silakan dapat menggunakan
feature rise hand ataupun yang tengah
bergabung melalui live YouTube BPSDM
Jatim TV. Anda juga bisa menuliskan
pertanyaan melalui live chat. Kita akan
kembali setelah jeda pandwara berikut
ini.
[Tepuk tangan]
[Musik]
Yeah.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
Anda kembali menyaksikan webinar ASN
belajar seri 35 tahun 2025. Kali ini
kita akan masuk ke bagian Q&A session
dan telah bergabung bersama dengan kami
semua di sini Bapak Kasiadi dari SMA
Negeri 1 Ngoro Jawa Timur. Saya akan
sapa beliau terlebih dahulu. Selamat
siang, Pak Kadi.
Mohon maaf Bapak masih termute suaranya.
Mungkin bisa di-unmute terlebih dahulu
audionya, Pak.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. I sudah terdengar Pak
Kasadi. Silakan disampaikan
pertanyaannya Pak.
Alhamdulillah Bapak Dr. Preno, MED. Saya
Kasih dari SMA Negeri 1 Ngoro Mojokerto,
Bapak. Iya.
Alhamdulillah tadi Bapak Prao tadi
menyampaikan beberapa bahwasanya
literasi sebagai kunci transformasi dan
saya tadi ee ada strategi empat strategi
dalam peningkatan literasi. Bapak yang
saya tanyakan Bapak dalam konteks
peradaban di era digital ini apa saja?
strategi yang ee relevan khususnya ASN
sebagai pendidik karena saya sebagai
pendidik untuk ee memberikan satu ee
pendekatan pada anak didik kami adanya
tantangan peluang yang dihadapi di era
digital ini dalam mengaplikasikan
literasi untuk memajukan Indonesia dalam
generasi ee emas nanti. Terima kasih
Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Nah, ini
ee luar biasa nih, Pak Kadi ini ng
terima kasih, Pak. Ee jadi gini ya,
Bapak Ibu. Kita itu rasa-rasanya tidak
mungkin kalau mau mau ngawasi anak kita
itu 24 jam ya gitu. Itu tidak mungkin
jelas gitu. Karena ee pertama kemampuan
kita sendiri dalam era digital ini bisa
jadi ee tidak lebih pintar daripada anak
didik kita tuh apalagi yang jenjang SMP,
SMA gitu kan. Kita seringki ee justru
ini gimana ya cara dapat akses informasi
ini caranya bagaimana itu malah kita
nanya ke anak-anak kita. Nah, saya yang
perlu sebenarnya dimiliki oleh anak-anak
ini adalah ee kesadaran bahwa dia harus
memiliki tanggung jawab dengan pilihan
dan ee kegiatan yang mereka lakukan
gitu. Sehingga anak-anak kita itu ee
tahu bahwa kalau dia bersosial media
tidak benar, maka akan ada risiko di
sana.
Yang kedua, kita perlu memberikan kepada
anak-anak bagaimana rambu-rambu
informasi
yang memang betul-betul bisa memberikan
manfaat gitu. Sehingga
anak itu punya punya ee filter gitu loh.
Oh, ini ini oke, oh ini tidak gitu.
Kalau ini saya ambil ini dampaknya akan
Nah, kalau informasi baik yang saya
ambil dampaknya akan begini. Kalau
informasi yang tidak baik dia akan
begini gitu. Nah, lalu yang juga menjadi
penting Pak Kadi dan juga Bapak Ibu
semuanya
bahwa memang anak-anak kita ini sekarang
berada di era di mana informasi itu ada
di sekitar hidupnya itu 24 jam dari
segala arah dan sebagainya. sehingga
memang anak-anak ini harus tahu dan
sadar betul mana informasi yang
bermanfaat bagi dirinya, mana yang
tidak. Lalu ketika dia mendapatkan
informasi maka dia bisa mengkonfirmasi.
Kalau bahasa agamanya tabayun lah gitu.
Jangan, jangan begitu ada langsung
share, begitu ada langsung di di ditelan
mentah-mentah dan apalagi sekarang ada
AI ya. Saya ngomong begini itu nanti
kalau di kemas dengan AI lagi gerakan
bibirnya mungkin saya tapi kata-kata
yang keluar itu sudah bisa lain lagi
gitu. Dan kemarin itu betul-betul
terjadi ya sehingga kemudian menjadikan
sebuah kerusakan yang besar. Jadi
menurut saya Pak Kasadi satu kata yang
yang menurut saya akan bisa mewakili
penjelasan yang yang saya berikan itu
adalah value nilai. Nah, bagaimana
anak-anak menyadari betul ee akan nilai
yang sehingga kemudian ee timbul etika,
timbul kesadaran diri dan sebagainya
gitu Paki. Terima kasih. Mudah-mudahan
menjawab.
Terima kasih, Pak Prao atas jawabannya.
Semoga menjawab dengan baik ya, Pak
Kasadi. Thank you juga, Pak, sudah
memberikan pertanyaannya, Pak Pratono.
Sekali lagi kami ucapkan terima kasih
karena sudah berkenan untuk menghadiri
webinar SM Belajar seri 35. Mohon maaf
karena keterbatasan waktu kami harus
mengakhiri sesi dua hari ini. Salam
sehat selalu untuk Pak Pratono.
Masih masuk. Sukses selalu untuk
teman-teman semuanya.
Siap, Pak. Salam sehat selalu. Baik,
bagi sahabat ASN semua yang masih belum
sempat bertanya kepada narasumber kita,
jangan khawatir karena kita masih ada
satu sesi narasumber lagi. Jangan ke
mana-mana, tetap di webinar ASN belajar
seri 35 tahun 2025.
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN
berkualitas
bersama
[Musik]
Pada hari ini, Senin, 9 Desember 2024,
kita semua dapat berkumpul bersama dalam
penyelenggaraan kegiatan sharing session
sobat sertifikasi kompetensi investasi
ASN berkualitas dalam keadaan sehat wala
salah satu langkah strategis dalam
meningkatkan kualitas ASN adalah
pengoban kompetensi melalui sertifikasi
kompetensi sertifikasi kompetensi bukan
sekedar serangan formal tetapi melupakan
untuk investasi nyata memastikan ASN
memiliki standar keahlian yang sesuai
dengan kebutuhan pekerjaan sertifikasi
kompetensi
investasi ASN berkualitas hanya resmi
dibuka dan dimulai
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
Selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah.
Jadi ASN cetar berkualitas
belajar wujud
pemerintahan
berkelas dunia
tukan tekad pantang menyerah
jadi ASN cepat berkualitas
[Musik]
Masih bersama webinar ASN Blerser seri
35 tahun 2025. Sobat ASN, kali ini kita
akan mendengarkan materi terakhir yang
kali ini akan disampaikan oleh dosen
Fakultas Sastra dan Kepala Perpustakaan
Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Joko
Saryono, M.Pd.
[Musik]
telah bergabung bersama dengan kami
semua di sini Prof. Joko. Selamat siang,
Prof. Joko.
Selamat siang.
Kabar baik, Prof?
Baik, Mas Ali.
Baik, Prof. Tadi kita sudah mendengarkan
paparan dari narasumber pertama dan
narasumber kedua kita. Dan ada satu
fakta yang mengejutkan bahwasanya kalau
dari data PISA 2022, kemampuan berpikir
tingkat tinggi para peserta didik di
Indonesia ini masih cenderung rendah.
Sedangkan di tahun 2045 kita punya visi
untuk meraih Indonesia emas. Kali ini
kita mau mendengarkan paparan dari Prof.
Joko dari sisi akademisi bagaimana
melihat fenomena-fenomena seperti ini
dan apa saja sih yang bisa kita lakukan
untuk menghadapi tantangan utamanya
dalam peningkatan budaya literasi di
kalangan masyarakat Indonesia. Untuk
materi kurang lebih akan disampaikan
selama 30 menit. Nanti kita akan
langsung masuk ke sesi tanya jawab. Kami
persilakan Prof. Joko.
Baik, terima kasih Mas Ali, Bapak, Ibu,
teman-teman semuanya, para pegiat
literasi. Ee selamat siang.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Ee terima kasih atas partisipasi Bapak,
Ibu, Saudara-saudara semuanya. ee dalam
kegiatan ini tentu pertama-tama saya
menyampaikan ee salam literasi. Ee
semoga
kita semakin literat, kita semakin
cerdas membaca, cendekia bernalar.
Ee tadi dua pembicara sudah menyampaikan
berbagai fakta, berbagai data dan
harapan. fakta dan
mungkin tidak mengenakkan ya, tidak
mengenakkan, tidak memberikan
harapan itu. Tetapi marilah itu kita
sikapi sebagai satu fakta untuk
bertindak, untuk berbuat lebih baik
lagi, menggerakkan, meningkatkan ee
mendalami literasi. Nah, saya ingin
menyampaikan
ee hal yang mungkin bisa melengkapi apa
yang sudah disampaikan Pak Nuradi dan
Pak Prabtono tadi. ee saya akan melihat
dari sisi kebudayaan, literasi sebagai
kebudayaan dan saya nanti mungkin lebih
cenderung memberikan apresiasi-apresiasi
atas berbagai gerakan, kegiatan,
tindakan-tindakan yang bisa digolongkan
dalam literasi dalam arti
mencemerlangkan
pikiran-pikiran kita, nalar kita guna
membangun peradaban, guna membangun
kebudayaan yang lebih baik. Izinkan saya
berbagi
ee layar.
Iya.
Nah,
saya ingin memberikan pendalaman
pendaran atas apa yang tadi sudah
disampaikan oleh Pak Pratolo, Pak Nurati
dengan ee berbagai upaya yang telah
dilakukan oleh pemerintah Indonesia ee
elemen-elemen masyarakat Indonesia
berkenaan dengan ee kondisi literasi
kita. ee kita sudah mendapatkan gambaran
ee tentang harapan-harapan kita dengan
literasi kita, tapi juga mendapatkan
kenyataan-kenyataan yang kurang
mengenakkan tentang literasi. Berbagai
ee data tadi sudah ditunjukkan. Saya
ingin memberikan konteks dan pendalaman
pada ee sisi kebudayaan dan
beradabannya.
Saya berpendapat berdasarkan berbagai
pembacaan saya, literasi itu merupakan
episentrum, merupakan pusat, merupakan
inti, merupakan titik picu kemajuan
kebudayaan dan peradaban kita. bukan
berarti beradaban yang kebudayaan yang
tidak bertumpu pada literasi kemudian
tidak maju, tidak berkembang, tetapi ada
perbedaan-perbedaan kondisi-kondisi yang
harus kita ee sadari bersama gitu. Jadi
ee tulisan ini tidak berarti menafikan
masyarakat-masyarakat
yang masih ee
dominan kelisannya.
Nah, Bapak, Ibu ee Saudara-saudara
sekalian, marilah kita
tengok ee kondisi kita dulu ya.
kita sekarang rasanya pada zaman ini
kita menghadapi berbagai cerita,
berbagai berita, berbagai istilah kita
dapatkan yang kira-kira ini
ada revolusi kognitif.
Revolusi kognitif itu luar biasa.
Kajian-kajian, temuan-temuan ee tentang
revolusi kognitif sudah banyak sudah
banyak ditulis orang. dan kita ee
sekarang pada kondisi seperti sekarang
ini. Tetapi ee kita juga harus sadar
salah satu revolusi kognitif itu
disebabkan oleh disrupsi teknologi.
Tidak hanya teknologi digital tapi juga
teknologi yang lain. Teknologi kognitif,
teknologi pangan, ee bioteknologi itu
juga mendisrupsi kondisi kita, keadaan
kita yang mendorong kita harus melakukan
revolusi kognitif. tadi sebagian sudah
disampaikan oleh Pak Praomo dan Pak
Nurati. Nah, saya kira saya tidak perlu
berpanjang kalam tentang hal ini. Ee
tetapi kita juga menyaksikan ya dari
revolusi kognitif kita tidak mendapatkan
tidak hanya mendapatkan suatu
kebenaran-kebenaran baru,
capaian-capaian baru, narasi-narasi
baru, cerita-cerita tentang kebenaran
baru, tapi kita juga ter jerumus atau
kita masuk ke dalam era pasca kebenaran.
sebuah era ketika kebenaran mendapatkan
definisi baru, ketika kesalahan, ketika
kelancungan bicara, ketika disinformasi,
misinformasi itu tiba-tiba ee bisa
direkayasa, bisa dikelola, bisa
dijadikan senjata, bisa dijadikan ee
bahkan onar, pemicu onar. Nah, kita
memasuki juga era pasca kebenaran. Di
dalam era pasca kebenaran itulah antara
yang benar dan yang salah bercampur
menjadi satu. Bahkan yang salah menyamar
sebagai yang benar. Yang benar tiba-tiba
di ee bungkus dengan yang salah. Kita
bisa terbalik-balik gitu. Di situlah
saya kira kita menghadapi satu
transformasi yang maha dahsyat. Tidak
hanya dahsyat tapi maha dahsyat. Luar
biasa terjadi pembalikan-pembalikan
dan pembalikan-pembalikan itulah yang
kita rasakan. Salah satunya adalah ee
definisi kebenaran. Kebenaran tidak
dilihat secara
esensial, tapi kebenaran dilihat sebagai
persepsi. Tidak dilihat sebagai logika,
tetapi dilihat sebagai retorika. Mana
yang bersuara lantang tentang ini yang
benar, maka kadang itulah yang merebut
banyak simpati. Padahal belum tentu
secara ee logika itulah yang benar. Tapi
begitulah kita menghadapi suatu era
pasca kebenaran. Saya ingin me
ngutip salah seorang pemikir. Mohon maaf
kalau Bapak Ibu punya pikiran lain atau
kegemaran pemikir lain, tapi saya ee
setuju, sepakat dengan kata-kata Yal
Noah Harari, seorang pemikir yang luar
biasa menurut saya, salah seorang saja
bukan satu-satunya yang memperhatikan
soal literasi ee kognisi dan perubahan
peradaban itu. Nah, kita sedang
menghadapi katanya revolusi yang pernah
belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi,
tadi yang saya sebut transformasi masa
maha dahsyat tadi adalah revolusi yang
memang belum pernah terjadi pada
zaman-zaman sebelumnya. E, Harari
menyebutnya itu revolusi yang belum
pernah terjadi sebelumnya. Semua cerita
lama runtuh. Cerita-cerita ee yang telah
dibangun oleh nenek moyang kita beratus
tahun bahkan beribu tahun tiba-tiba
tumbang. Tetapi tidak ada cerita baru
yang muncul menggantikannya. Kita tidak
mendapatkan jaminan. Yang pasti itu
sebuah kisah, sebuah epos perjalanan
manusia yang membuat kita berjalan
mantap menuju masa depan yang lebih
pasti. Jadi, cerita lama telah runtuh,
cerita baru yang menggantikan belum
tersedia. ini yang kita hadapi. Nah,
kita di sinilah harus menyiapkan
teman-teman yang masih muda, anak-anak
kita, adik-adik kita, dan ee
sahabat-sahabat kita yang mungkin masih
harus itu. Nah, di situlah saya kira
kita berhadapan
dengan suatu keadaan yang ibaratnya
masih banyak yang rumpang, yang kosong.
Karena itu Harari menyatakan kita harus
melakukan suatu transformasi yang
radikal
di dalam ketidakpastian yang radikal
itu. Nah, kondisi kita kalau kita
rasakan mungkin begitu. Nah, apa yang
disampaikan tentang ee nilai piza,
survei-survei tentang literasi itu saya
kira sebuah kisah yang memang sulit
untuk dipastikan bagaimana yang
sebenarnya. Nah, di situlah saya kira
kita tiba-tiba terperangkap masuk di
dalam sebuah ee apa yang orang-orang
sebut era pasca kebenaran zaman post
era itu. Nah, kita sebagai homo sapien
itu akhirnya juga dianggap sebagai
spesies paca kebenaran itu. Itu saya
kira yang menggantikan baru kita dari
zaman batu terus melintasi zaman otak
dan zaman otak sekarang sudah
terlampaui. Bukan berarti otak tidak
penting, tapi otak menjadi tidak cukup.
Intelektualitas menjadi tidak cukup.
Nah, itu yang harus kita sadari
sekarang ini banjir informasi itu luar
biasa banyak,
rata-rata tidak relevan.
kejelasan itu menjadi sebuah mimpi,
sebuah kekuatan yang kita cari-cari.
Nah, ini saya kira yang mendorong kita
terus melakukan perubahan yang dahsyat,
maha dahsyat yang dalam bahasa lebih
ilmiah barangkali itulah yang disebut
transformasi yang diinginkan yang
dijadikan ee topik ee
diskusi kita pada kali ini dari ee otak,
intelektualitas kemudian kepada ee
transformasi yang besar. Nah, apakah
pertanyaannya apakah literasi bisa
mendorong sebagai umpan, sebagai daya
dorong atau sebagai senjata atau
sebenarnya sebagai ee pendorong saja?
Nah, Ibu Bapak sekalian, saya
ingin kembali ee flashback dulu ya.
Jadi, kita sebenarnya sedang ingin apa
ya
menurut kita sekarang? Kita ingin apa?
Nah, ini saya kira akan membuat
bagaimana kita harus berbuat mendorong
transformasi itu. Nah,
pertanyaan-pertanyaan ini saya kira
penting.
Apa yang kita miliki? Kita selalu
mengeluh dan selalu maskul. Kita tidak
memiliki literasi.
Yang lain-lain tentu kita tidak perlu
kita bicarakan. Tapi dalam konteks ini
kita teramat maskul tidak memiliki
literasi. kita selalu mengeluh ee
literasi kita lambat. Mungkin memang ada
kenyataan begitu, tetapi mungkin itu
juga ee tidak komprehensif. Oleh karena
itu, kita bolehlah membangun kisah yang
lebih indah. Begitu. Nah, kisah yang
lebih indah itu bisa kita tonjolkan
mungkin secara garis besar, secara makro
dengan survei-survei statistik ee
kuantitatif itu wajah kita tidak terlalu
baik, wajah literasi kita. Tetapi kita
boleh dong membuat cerita-cerita kecil
yang membahagiakan. Nah, saya kira
cerita-cerita kecil yang membahagiakan
ini cukup banyak. Di Indonesia telah
tumbuh forum taman bacaan masyarakat
Indonesia jumlahnya sekitar 7.000
se-Indonesia. Ee kemudian kita juga
mendapatkan gerakan
gerakan ee dari organisasi atau
komunitas literasi. jumlahnya sangat
banyak, aktif sekali ee membina
masyarakat, anak-anak muda, bahkan
anak-anak kita. Kita juga mendapatkan
kenyataan bahwa
daerah-daerah,
pemerintah-pemerintah daerah selain
pemerintah pusat juga semakin
memperhatikan literasi ini, semakin
terdorong untuk ee menggerakkan ya ikut
serta atau cawe-cawe di dalam ee
menghidupkan, menyemarakkan, menguatkan
literasi ini. Jadi selain ada
cerita-cerita maskul tentang piza,
tentang skor ee literasi kita, skor baca
tulis kita, tapi kita punya kisah-kisah
kecil yang membahagiakan, yang
menggambarkan anak-anak muda yang gigih
luar biasa, ibu-ibu, bapak-bapak,
orang-orang yang sangat gigih
menyebarkan literasi itu. Nah, saya kira
kita ee tidak memiliki bara yang besar
tentang literasi, tetapi kita punya
lilin-lilin literasi yang tersebar ke
berbagai ee wilayah Indonesia ini. Saya
kira itu yang kita miliki dan itu bisa
menjadi modal untuk menggerakkan atau
melakukan transformasi apa yang kita
inginkan itu. Saya kira kita sedang
berada di situ. Nah, dengan begitu kita
bisa lebih merasa PD begitu berhadapan
dengan zaman yang kita sebut era
destrupsi. Karena transformasi Maha
Dahsyat itu ee menghasilkan era
destrupsi. Tapi marilah kita juga
melihat tidak hanya tadi kita juga
semakin melihat kantor-kantor
kemudian lembaga-lembaga
itu rasanya semakin empatik, semakin
berempati, semakin ee konektif dengan
apa yang disebut literasi. Ini saya kira
satu contoh bagaimana berbagai bidang
kehidupan kita sekarang ee sudah
mengoneksikan diri dengan literasi. Saya
kira itu sebuah us ee sebuah
kecenderungan, sebuah kenyataan atau
fenomena yang ee patut kita syukuri.
Kita sudah konektif, connect, klik
begitu ee di dalam meyakini bahwa
literasilah obat panasea untuk
menghadapi berbagai perubahan, berbagai
transformasi maha maha dahsyat itu. Nah,
jadi kita juga melihat ini mendadak
disrupsi, mendadak juga literasi,
mendadak transformasi besar, kita juga
mendadak punya daya literasi yang
tinggi. Nah, ini saya kira sudah menjadi
demam dan itulah yang kemudian
memerangkap atau memberi konteks pada
kebudayaan atau beradaban kita. Saya
membedakan kebudayaan dan peradaban.
kebudayaan adalah olah budi, olah nalar,
olah diri kita. Tetapi peradaban ada
sentuhan moral, sentuhan ee etik,
sentuhan akhlak, dan seterusnya. Jadi
kalau kebudayaan itu mungkin ee orang
bisa melihat negatif, tetapi beradapan
selalu ada unsur konstruktif, bahkan
dasarnya konstruktif.
Orang menyebut karena korupsi meraja
lela menyebut budaya korupsi itu
kebudayaan. Tetapi itu bukan peradaban.
Peradaban selalu ee optimis, positif,
konstruktif membangun kehidupan kita
bersama-sama.
Karena itu saya tempatkan Bapak, Ibu,
teman-teman sekalian, kita itu
sebenarnya tidak sederhana.
Hidup di alam yang tidak sederhana,
tidak seperti negara-negara lain yang
mungkin lebih kecil, lebih ee seragam.
Saya kira dalam konteks literasi
kebudayaan kita itu bisa terbagi menjadi
empat. Nah, saya mencoba membedakannya
menjadi kuadran ini. Kita itu memiliki
masyarakat dengan kebudayaan yang masih
lisan primer. Betul-betul lisan. Tidak
mengenal tulisan.
Tidak mengenal tulisan juga tidak
memiliki tradisi baca tulis.
Nah, banyak saya kira masih ada di
Sulawesi, di Maluku, di Papua, bahkan di
Jawa di tempat-tempat tertentu itu juga
masih lebih lisan primer. Ketika situasi
sosial, situasi ekonomi, situasi
keamanan tidak menguntungkan, saya
melihat
kelisanan primer ini malah lebih
dipilih,
lebih ee diminati dianggap sebagai ee
penyelamat dari ee ketidaknyamanan itu.
Satu contoh, ada suatu etnik di Sulawesi
di daerah tengah itu yang memilih
kembali kekelisanan. Mereka menolak
literasi karena menjadi literat itu
tidak menguntungkan ceritanya.
Masyarakat itu setelah bisa baca tulis
kemudian
kepala sukunya disuruh tanda tangan,
ternyata hutan adatnya hilang. Tiba-tiba
sudah menjadi ee hutan ee kebun kelapa
sawit. Jadi ini kemudian mereka
berpendapat
dengan ungkapan yang metaforis bahwa ee
baca tulis itu pena itu adalah setan
bermata runcing. Jadi kita juga
berhadapan dengan ee perasaan-perasaan,
pengalaman-pengalaman yang tidak enak
oleh masyarakat itu. Itu juga menjadi ee
resistan, menjadi lawan dari literasi.
buktinya ya saya tidak perlu menyebut
etniknya, kelompoknya, tapi dia kemudian
membuat perumpamaan bahwa literasi baca
tulis itu adalah setan bermata runcing.
Ee monggo silakan kalau mau mencari
bukunya itu saya kira di internet ada.
Nah, ini lisan primer, kondisi lisan
primer kita masih banyak. Kita sekarang
berhadapan dengan manuskrip zaman
manuskrip atau naskah. Saya kira badan
ee banyak pihak badan bahasa, BRIN,
Perposnas sedang mengurusi ini. Bahkan
Perpustakaan Nasional sangat getol
mengurusi zaman naskah atau manuskrip
ini. Selain tentu kita harus juga
menyebut BR ya, bahkan badan bahasa juga
ya. Paling tidak tiga pihak itulah ee
yang merupakan institusi yang bergairah
menghidupkan, menjaga, merawat ee
peradaban atau kebudayaan kedua ini.
Itu tentu saja dengan menyebut ee
masyarakat pernaskhan
atau masyarakat yang lain, kelompok
masyarakat profesional yang lain. Nah,
lalu kita di zaman literasi, tapi kita
ini sekarang literasi kita belum mantap.
Terbukti dari tadi ee uraian dari Pak
Pratomo, uraian dari Pak Nurati tadi ee
menggambarkan literasi kita yang masih
bergoyang-goyang, belum mantap, kita
sudah dihantam lagi ee dunia digital.
Dunia digital itu adalah ee dunia
kelisan ee post literasi, post
literacing, pasca literasi.
Dunia pasca literasi ini membutuhkan
dasar literasi yang kuat barulah kita
bisa hidup mantap di dunia digital.
Nah, ini juga problem bagi kita. Ini
masalah yang ee berat juga karena apa?
literasi kita tidak mantap sehingga
peradaban atau kebudayaan digital kita
juga tidak mantap. Sebagai contoh,
kebiasaan membaca di dunia literasi ini
belum mantap. Ketika kita dihantam
dengan dunia digital, dengan buku-buku
digital, maka kita ee sempoyongan.
Buku-buku digital kita juga tidak laku.
Buku-buku digital kita juga belum banyak
pembaca.
Mari kita membandingkan sejenak merantau
melangleng ke tempat yang lebih jauh. Di
Prancis itu dunia literasi dan digital
bisa berjalan seiring. Buku-buku yang
dicetak tulis itu disebar luaskan
diinformasikan melalui dunia digital itu
tiba-tiba bukunya menjadi lebih ee
berkembang. tetapi dunia digitalnya juga
berkembang berkat literasinya mantap.
Begitulah sebenarnya kita melihat
literasi sebagai episentrum, sebagai
pilinan untuk bagaimana menguatkan
kelisan ini menjadi lebih mutakir,
tetapi juga untuk memantapkan dunia
digital sekaligus mengaktualkan kembali
ee kebudayaan manuskrip atau naskah ini.
Nah, jadi ee
tugas kita itu banyaklah. Jadi kalau
transformasi yang harus kita
transformasikan itu sangat besar. Nah,
Ibu Bapak sekalian, kita juga ee melihat
kalau
geo apa ya, geografis atau geospasial
ee kita itu bisa dibagi juga dengan ini.
saya menggolongkan juga dengan kuadran
juga ee dalam era disrupsi dan
sebagainya itu kita memiliki
wilayah-wilayah yang sama sekali ee
belum tersapu ya belum tersapu dunia
digital masih alami, masih primer tapi
ada juga yang tipis-tipis.
Kemudian ada yang tersapu sebagian, tapi
ada yang tersapu penuh sudah hidup di
dunia digital. kota-kota seperti
Surabaya, Jakarta ee itu atau ibu kota
provinsi lain itu bisa begitu. Nah,
tetapi kita menghadapi apa yang disebut
kesenjangan ketimpangan digital.
Ketimpangan digital, kesenjangan digital
ini juga menimbulkan ketimpangan dan
kesenjangan literasi, terutama literasi
digital. Nah, di inilah saya kira
problematik yang kita hadapi sehingga
apa yang tadi ee skor literasi kita
sekian-sekian itu sumbernya, sebabnya,
faktornya ee tidak sederhana. Kita tidak
bisa hanya serta-merta
ee menyalahkan otaknya kurang anak-anak
kita kurang bersungguh-sungguh gitu.
Nah, itulah ee Bapak, Ibu sekalian yang
harus kita ee waspadai. pertama. Jadi
dari situ kita melihat bahwa literasi
itu merupakan alas dari maha rupa, rupa
kebudayaan yang sangat beragam,
peradaban yang sangat beragam,
masyarakat yang juga amat beragam di
Indonesia itu. Ya, mari kita ee
lihat sebentar apa resep, apa ee konsep,
apa obat berbagai zaman ee ketika
menghadapi keadaan seperti yang tadi
saya sampaikan. Nah, jadi saya ingin
membagi saja mengajak Ibu, Bapak,
Saudara-saudara sekalian itu ke masa
lalu, masa kini dan kita nanti bisa
mencari obat atau panas untuk masa depan
dengan literasi itu. Tapi kita tetap
berfokus pada literasi sebagai intisari
dari kemajuan kebudayaan dan peradaban.
tadi sudah disebutkan oleh ee kedua
narasumber bagaimana ee kebudayaan dan
peradaban di berbagai tempat itu menjadi
maju berkat literasi.
Nah, kita
lihat saja ini saya ingin melewati ini
titi konteks yang sedang ada ee saya
lewatkan tadi. Ini hanya contoh-contoh
untuk meyakinkan yang tadi saya
sampaikan. Nah, kita intinya berhadapan
dengan dunia seperti ini ya.
Nah, di sinilah kita harus ee bagaimana
memperkuat kebudayaan,
mentransformasikan kebudayaan agar cocok
dengan berbagai zaman, berbagai
kenyataan atau gejala yang ee saya sebut
ini. Ini nama-nama yang telah di
kemukakan orang, ahli atau buku yang
saya identifikasi. Ternyata ternyata
banyak nama. Banyak nama ini mungkin
mirip, mungkin sangat mirip mungkin ya
sedikit sekali kemiripannya.
Nah, Bapak Ibu sekalian di tengah-tengah
zaman itulah saya kira kita perlu
menarik intisarinya.
Saya melihatnya intisarinya sebenarnya
tidak ee tidak banyak. Kita menghadapi
zaman rentan. kita menghadapi ini kita
yakin bahwa literasi bisa menghela ee
kebudayaan dan peradaban untuk menjadi
obat dari ketimpangan, kegalauan,
kemudian kebergoyangan kita. Nah, Ibu,
Bapak, itulah saya kira yang kemudian
saya ingin
lewatkan saja.
Ini saya lewatkan saja. Ini
tantangan-tantangan Bapak, Ibu. Dari
tadi saya ingin menambahkan saja,
sekarang literasi itu banyak dikaitkan
dengan ee
kebahagiaan, indeks ee kebahagiaan. Nah,
apakah literasi Indonesia ini membawa
kebahagiaan atau membawa ee kegalauan?
Ya, ini saya kira pertanyaan yang nanti
bisa eksperimen telah mencoba
mempraktikkan berbagai jenis literasi
demi mentransformasikan,
membangun lebih kuat kebudayaan kita.
Nah, di antaranya saya kira ini sekarang
ini sudah berkembang apa yang disebut
multiliterasi.
Jadi literasi itu tidak seperti dulu
yang hanya diartikan sebagai berpikir
kritis
dengan membaca dan menulis. Tentu ee
berbicara dan menyimak juga menjadi
bagian di dalamnya.
Literasi sekarang sudah begitu luar
biasa.
Forum Ekonomi Dunia itu sudah ee
apa ya mendeskripsikan
itu sampai enam literasi yang kemudian
diserap di Indonesia oleh gerakan
literasi nasional itu menjadi enam
literasi dasar. Saya kira itu satu
pilihan tetapi bukan satu-satunya. Ada
multiliterasi, ada literasi lokal. Nah,
literasi lokal itu berarti membangun
literasi di berbagai tempat kita.
Pertanyaan penting, bagaimana kita bisa
membangun literasi lokal ketika
bahasa-bahasa lokal kita itu tidak
memiliki aksara.
Aksara di Indonesia bisa dikatakan
sangat sedikit dibandingkan dengan
bahasa lokal yang ada. Nah, inilah saya
kira tantangan penting bagi para
penghikmat bahasa, bagi institusi yang
mengurusi bahasa di negeri ini.
Bagaimana menyelamatkan bahasa-bahasa
lokal itu ee dengan memberi aksara.
Berilah aksara pada bahasa-bahasa lokal
itu sehingga bahasa-bahasa lokal itu
bisa menjadi batu landasan menjadi umpak
bagi berkembangnya literasi lokal.
Nah, ada juga yang disebut
transliterasi.
Jadi, literasi bukan sekedar itu, tapi
literasi seperti tadi ada ee Perpusnas
pernah mengembangkan literasi
kesejahteraan, Perpusnas pernah ee
mengembangkan literasi inklusi sosial,
itu juga bagian-bagian dari
transliterasi.
apa yang dikembangkan oleh ee Perpusnas
itu bisa dikategorikan literasi baru.
Tetapi kita juga harus ingat dulu ada
pemberantasan buta aksara. Ee
pemberantasan buta aksara itu
menggunakan literasi baru karena ee para
peserta itu
diberi modal untuk berdagang, kemudian
menghitung, membaca dan seterusnya.
Literasi praktis itulah yang disebut
literasi baru. New literacy berorientasi
pada bagaimana ee kebiasaan membaca,
menulis, kemudian mendengarkan itu
bersatu dengan profesi, bersatu dengan
kegiatan-kegiatan ri yang ada di rumah,
di masyarakat atau di dalam
pemerintahan. Nah, saya kira masih
banyak teori, konsep atau model literasi
yang digunakan untuk memperkuat literasi
sehingga bisa menjadi ee daya dorong
atau di dalam konteks ini transformasi.
Dengan begitulah kita bisa membuat suatu
perubahan kebudayaan dalam arti
transformasi kebudayaan. Begitulah
Bapak, Ibu, akhirnya kita berhadapan
sekarang itu sebenarnya kita sudah
mendapatkan suatu konsensus, suatu
kesepakatan, suatu keyakinan yang itu
tidak mudah. Tapi kita tiba-tiba sepakat
semuanya.
itu saya sebut tiba-tiba semua literasi
tidak ada yang tidak mengakui literasi
sebagai batu umpak sebagai fondasi dasar
dari beradaban kebudayaan yang akan kita
tuju itu. Ini contoh-contoh saja. Semua
bidang kehidupan yang bisa kita sebut
kebudayaan ini selalu menempatkan
literasi sebagai sumbu, sebagai
episentrum, sebagai umpak. Tadi ini ada
literasi kesehatan, literasi keuangan,
literasi keagamaan, literasi pendidikan,
ee literasi lingkungan, literasi
keilmuan, dan lain-lain juga.
Saya sebut lain-lain karena saya pernah
mengidentifikasi
di Indonesia ini ee kira-kira ada 38
istilah literasi.
Literasi A, literasi B, literasi C itu
sampai ee 38.
Nah, inilah ee zaman yang sedang kita
hadapi. Revolusi digital informasi, kita
memerlukan literasi apa? Masyarakat
harus literasi. masyarakat seluruhnya.
Tidak hanya di Jawa, tidak hanya di Jawa
Timur, tidak hanya di Indonesia Barat,
tetapi juga di Indonesia bagian timur
dan seterusnya. Inilah tantangan kita.
Inilah tuntutan masyarakat literasi.
Dengan penguasaan literasi itu sebagai
prasyarat, sebagai kondisiosinkuanon
kita akan bisa melakukan ee transformasi
sosial. kita bisa melakukan transformasi
kebudayaan kebudayaan tertentu,
kebudayaan sehat, kebudayaan ee sadar
uang, kebudayaan ilmiah dan seterusnya.
Ibu Bapak sekalian me
ngunci dari apa yang saya katakan tadi.
Jadi kita sekarang berada pada zaman
literasi sebagai kunci utama. Tidak ada
tadi seperti yang saya sampaikan
bidang-bidang kebudayaan mulai kesehatan
sampai keagamaan yang tidak mempercayai,
meyakini bahwa literasi yang utama. Saya
kira ini modal dasar penting yang sudah
kita miliki. Jadi, kita sudah
mendapatkan ee fondasi bangunan bangsa
literat yang baik. Karena semua orang,
semua pihak telah percaya bahwa
literasilah bangunan kebudayaan kita.
Nah, kita tinggal bergerak
mentransformasikannya.
Dengan cara itu, kita percaya. Seperti
juga banyak ahli, banyak pihak di negara
lain percaya bahwa dengan literasi itu
maka kita bisa membangun kehidupan
masyarakat menjadi lebih baik lagi.
Tidak hanya ekonomis tetapi juga sosial.
Solidaritas sosial, soliditas sosial itu
juga berarti membangun kebudayaan
masyarakat yang lebih baik. Nah, begitu
banyak ee keyakinan yang muncul. Tapi ee
saya ingin mengunci seperti yang
dikatakan oleh PBB, dikatakan oleh
UNESCO ee sekarang telah berkembang
bahwa literasi harus diabdikan bagi
kehidupan. Kalau literasi diabdikan bagi
kehidupan, maka artinya digunakan untuk
membangun kebudayaan, membangun
peradaban. Dan itu harus semua.
literasi bagi semua, bukan literasi bagi
kelompok orang tertentu. Itulah saya
kira tantangan bagaimana menyediakan ee
bacaan-bacaan,
kegiatan-kegiatan,
sumber daya-sumber daya katakanlah bagi
kalangan tidak mampu. Kalau itu kelas
sosial, ekonomi, kalau itu ee sosial,
bagaimana menyediakan sumber-sumber tadi
bagi saudara-saudara kita yang di
pinggiran, di kepulauan kemudian di
perkebunan-perkebunan yang tidak
terjangkau supaya literasi bagi semua
itu terwujud,
Ibu, Bapak sekalian. Kemudian kita
berkembang. Literasi itulah sandaran
umpak batu fondasi bagi kehidupan kita.
Selama literasi tidak kita urusi, maka
kehidupan kita tidak tertransformasi.
Ini bagi semua. Saya kira ee UNESCO
sudah mencanangkan itu tahun 2006. Jadi
20 tahun yang lalu, hampir 20 tahun yang
lalu itu sudah dicanangkan literacy for
life, literasi bagi kehidupan. Bukan
sekedar bagi kebudayaan, bagi kehidupan
kita. Kebudayaan dan kehidupan jauh
lebih luas kehidupan.
Untuk itulah kita harus berdaya supaya
saya kira ini juga sudah lama ya tahun
2005 sudah dicanangkan literasi,
prakarsa-prakarsa,
program-program, kebijakan-kebijakan,
tindakan-tindakan
literasi itu harus memberdayakan
masyarakat.
Ibu Bapak sekalian, saya kira ini
banyak. Saya tidak menyampaikan satu
persatu, tetapi saya ingin mengunci
semuanya. Jadi, betapa pentingnya
penguasaan literasi melihat ee posisi,
peranan, fungsi literasi yang saya
sampaikan tadi. Dengan penguasaan
literasi, maka kehidupan kita menjadi
lebih baik secara pribadi dan sosial.
ini tidak berarti serta-merta akan kaya
raya, serta-merta serta-merta kehidupan
ekonominya akan baik. Tapi ada contoh
yang dikemukakan beberapa ahli itu
memang ee kehidupan ekonomi itu bisa
terdorong oleh adanya literasi yang
baik. Nah, itulah saya kira literasi
bagi semua itu penting di Indonesia
untuk ditegakkan, diwujudkan. pemenuhan
literasi bagi semua itu menjadi tugas
pemerintah, tetapi sekaligus didorong
oleh di dukung oleh masyarakat luas.
Tadi sudah ada ee usulan dari dua
pembicara sebelumnya bagaimana
agar masyarakat itu berdaya.
Jadi tidak hanya pemerintah yang bekerja
sendirian. Saya melihat ini modal kedua
kita yaitu masyarakat kita,
komponen-komponen masyarakat kita sudah
berbagi, bekerja sama, berbagi
bersama-sama untuk menegakkan,
membangun, memenuhi ee pelayanan
literasi bagi semua itu. Saya kira
pemerintah ee sudah apresiatif,
sudah konstruktif. Yang penting ini
perlu didorong lebih lanjut. Saya sebut
sudah konstruktif, sudah kreatif karena
begitu banyak
sumber daya finansial yang dikelola
pemerintah itu dikucurkan bagi para
pengelola literasi, komunitas-komunitas
literasi, komunitas baca ee dan ee
sejenisnya lah. Ada klub-klub kecil
lebih kecil bahkan ada forum-forum taman
bacaan masyarakat. itu sudah ee
dirangkul di dalam ee program bagaimana
pemenuhan literasi bagi semua ini.
Sebagai contoh misalnya ee
ee Perpustakaan Nasional sudah merangkul
ee berbagai elemen
forum taman bacaan masyarakat dan juga
ee apa ya
pustaka-pustaka yang ada ya kuda pustaka
dan sebagainya itu. Selain itu juga ee
Badan Bahasa juga sudah memberikan
ya bantuan-bantuan ya BANPEM bantuan ee
pemerintah di kucurkan kepada
kelompok-kelompok literasi dan untuk
berkreasi sesuai dengan ee kemampuan
konteks yang digdal
ee minda utama itu juga memberikan
kucuran ee ee pendanaan literasi. Jadi
saya kira sudah ada uluran tangan dari
pemerintah untuk bersama-sama dengan
komponen masyarakat
dalam rangka memenuhi literasi bagi
semua ini. Saya kira ini juga modal yang
penting, yang baik, yang konstruktif,
yang menggembirakan bagi kita bahwa
suatu ketika literasi kita akan terus
bergerak bergerak naik, tidak stagnan,
tidak merosot. Ibu, Bapak sekalian, saya
kira kita harus lebih ee kencang lagi,
lebih kuat lagi ee memenuhi ee literasi
bagi masyarakat ini. Saya kira kita
sudah berada di garis yang benar karena
berbagai ee program dari UNESCO sudah
kita penuhi, kita ee jalankan begitu ya,
Ibu, Bapak sekalian. ini menegaskan
saja. Jadi dari situ kita melihat bahwa
literasi sekarang itu bukan melek
aksara. Literasi bukan melek huruf,
bukan sekedar bebas dari buta huruf,
tetapi juga pemahaman sesuatu. Sesuatu
itu adalah pengetahuan. Jadi kemelekan
pengetahuan itulah substansi literasi ee
yang tadi saya sampaikan. Karena itu ee
tema pertemuan kita pada ee kali ini
cocoklah dari pengetahuan ee menuju ee
kebudayaan. Dengan kemelekan terhadap
pengetahuan itulah maka kebudayaan akan
terbangun. berbagai bangsa di dunia,
berbagai zaman itu telah menunjukkan
bagaimana kemelaian pengetahuan itu
memang menimbulkan menghasilkan
kebudayaan yang berbeda. tadi sudah
disampaikan ee karena Sumeria memiliki
tradisi literasi
pada abad-abad ke-6 sebelum Masehi itu
sudah bisa ditulis
satu buku penting, buku cerita tapi
berbentuk puisi Gilgames yang bercerita
tentang peradaban, konflik, kekuasaan,
dan persoalan etik yang ada di dalamnya.
Saya kira tidak hanya itu, berkat
kemelekan pengetahuan inilah maka
Mahabarata bisa ditulis pada abad ke6
Masehi bahkan sebelumnya. Berkat ee itu
pulalah saya kira ee Jawa ini abad
keempat Masehi kemudian mengenal asara
Honocoroko itu abad keempat Masehi.
Begitu seterusnya saya kira kemelaian ee
pengetahuan itu berkat literasi dan
akhirnya berimbas pada munculnya
kebudayaan-kebudayaan yang besar. Tidak
mungkin Yunani kemudian diwarisi Romawi,
diwarisi Barat itu berkembang pesat ilmu
pengetahuannya, peradabannya atau
kebudayaannya tanpa literasi. Kita tahu
bahwa abad keempat sebelum Masehi
rasanya
Yunani sudah punya perpustakaan yang
sangat besar. Bahkan di kota Efesus itu
ada perpustakaan ee tiga atau empat
lantai pada zaman itu. Dan mereka
mewariskan buku-buku yang tidak lekang
masa. Peradaban terus bisa saya kira di
setiap gugus kebudayaan itu ada pada
masa lalu. Di bagian tengah ada Sumeria,
ada Persia, kemudian ke timur ada India,
ada Cina dan seterusnya. Saya kira kita
memiliki warisan ee literasi yang sangat
kaya yang telah memberikan bukti bahwa
kebudayaannya
akan tinggi jika dibangun di atas ee
kemelekan pengetahuan atau literasi itu.
Jadi, literasi adalah suatu kuasa, suatu
daya untuk bertindak kritis, kreatif
yang ditopang membaca dan menulis.
Kemudian angka dan rupa. Saya kira
sekarang literasi digital itu juga angka
dan rupa. Ibu Bapak sekalian ee kalau
kita sudah berada di situ, maka
setidak-tidaknya
kita ini harus literat.
Warga yang literat bagi saya adalah ee
warga bangsa atau masyarakat, anggota
masyarakat yang memiliki kemahiran
berliterasi.
Kemahiran berliterasi itu bagi saya yang
pokok ini bisa mencari informasi secara
cendekia, cerdas, dan cermat. situasi
yang genting seperti sekarang misalnya
teman-teman mahasiswa harus mencari
informasi secara cendekia cerdas supaya
tidak terpiuh, tidak terkecoh oleh
misalnya permainan-permainan
ee misinformasi,
disinformasi,
kemudian juga ee pemiuhan ee jenis
logika yang makin banyak di media sosial
sekarang.
Selain itu juga menampung informasi
dengan cendekia. Informasi yang tidak
penting ya tidak. Yang tidak relevan ya
tidak. Nah, kita cenderung masih sampai
sekarang itu menampung segala hal
sehingga kemampuan diri kita tidak
mencukupi untuk menampungnya. Kita juga
harus mencerna dan menerima informasi
secara cendekia. juga memilih dan
mengolah informasi, tapi juga bisa
memanfaatkan dan menggunakan. Saya kira
ini juga terkait dengan kebudayaan,
terutama kebudayaan sosial. Misalnya ee
apakah kita akan menyebarkan satu berita
yang membuat masyarakat kalangkabut
padahal berita itu belum benar. Nah, ini
saya kira kemampuan kemahiran
memanfaatkan menggunakan informasi.
Bapak, Ibu sekalian, kalau kita ingin
memperkuat literasi, maka mau tidak mau
berpikir kritis, kreatif ini harus kita
kembangkan. Membaca dan menulis itu
hanyalah ekspresi, hanyalah aktualisasi,
hanyalah ruang untuk
mewujudkan
apa yang telah kita pikirkan secara
kritis dan kreatif. Jadi literasi tidak
hanya membaca dan menulis seperti tadi
sudah disampaikan, tapi yang penting
adalah berpikir tradisi berpikir
kebudayaan berpikir kritis kreatif
inilah saya kira yang menjadi dasar bagi
ee banyak hal tadi yang di ee sampaikan
seperti keluhan ee kemampuan berpikir ee
tingkat tinggi kita rendah. ee masih
sangat rendah, kemampuan berpikir
tingkat dasar saja belum merata dan
seterusnya. Saya kira dasarnya adalah
kemampuan berpikir kritis kreatif ini.
Nanti yang lain-lain saya kira akan
berkembang. Itulah saya kira ee apa yang
harus kita lakukan dalam ilmu
pengetahuan. Syaratnya menurut saya ya
kita membiasakan diri dan menulis.
Membaca dan menulis. Membaca saja tanpa
menulis itu juga pincang. Menulis saja
tidak mungkin bagus tanpa membaca. Saya
kira ini seperti membaca dan menulis itu
seperti sepasang kekasih. Seperti dalam
wayang itu adalah ee Sukrasono dan
Arjuno. Itu jadi ada dua seiring. Nah,
dengan begitulah maka berpikir kritis
kreatif itu bisa kita wujudkan. kita
tidak cukup hanya menulis. Sekarang
sangat banyak program menulis di
kalangan guru misalnya bahkan bahkan di
kalangan e masyarakat. Program menulis A
menulis B, lomba menulis A menulis B itu
begitu banyak. Tapi yang kurang menurut
saya adalah program-program membaca.
Saya kira tanpa membaca, menulis ada
akan bincang. Menulis akan tidak
bermakna tanpa membaca dengan baik.
Nah, tiga hal ini saya kira yang harus
kita pikirkan bersama. Apa itu membaca
kritis? Kita harus berani membiasakan,
yaitu menanggapi.
Menanggapi dulu. Kita ini bangsa yang
masih enggan menanggapi secara logis,
secara kritis, secara kreatif sesuatu
baik yang kita sepakat, kita dukung,
maupun yang tidak dukung. Ee yang tidak
kita dukung baik yang akan bermanfaat
bagi banyak orang maupun yang ee secara
prospektif itu bermanfaat. Kita masih
enggan menanggapi lalu menilai. Apalagi
menilai kita masih sangat langkap.
tradisi menilai, kebudayaan menilai,
kebiasaan menilai itu rasanya ee masih
sangat ee rentan di negeri kita. Nah,
kalau dua ini belum, maka kita belum
biasa memutuskan mana yang lebih baik,
mana yang lebih ee baik lagi, mana yang
buruk. Tidak. Kita ee menjadi bangsa
yang serba menerima. Dari situlah saya
kira ketika kita bisa melakukan tiga hal
ini, kita bisa menciptakan sesuatu.
Menciptakan sesuatu tidak berarti tidak
dari kekosongan. Selalu ada dasarnya.
Renation reformasi di Eropa itu karena
menciptakan dengan bahan-bahan yang
sudah ada jauh sebelumnya. Tapi mereka
membaca dengan tekun, membaca dengan
sungguh-sungguh, kemudian mencari ee
kontekstualisasi,
kemudian mencari kecocokan dan menambah
mengurang mana yang penting dan tidak
penting. Inilah saya kira yang harus
kita bangun bersama-sama. Kalau itu
dilakukan, maka kita akan menghadapi
satu dinamika. ee dari literasi kita
membaca menulis, maka kita akan bisa
mewujudkan masyarakat membaca dan
menulis. Ketika masyarakat membaca dan
menulis sudah tumbuh dengan baik,
barulah masyarakat berliterasi kita
dapatkan, kita lihat. Di dalam
masyarakat berliterasilah kita akan bisa
melihat indeks-indeks literasi,
ukuran-ukuran
literasi itu membahagiakan. Selama kita
tidak membangun dasar-dasar itu, maka
setiap tahun kita akan mendengarkan
dalam tanda petik ee dendang-dendang
yang tidak merdu. Dendang sumbang
tentang indeks literasi kita, indeks
baca tulis kita menurut UNESCO, menurut
ee yang lain akak begini-begini itu
saja. karena kita tidak ee mengobati
dari dasarnya, Bapak, Ibu sekalian.
Kalau di ee lakukan maka kita begini dan
supaya bagus itu kita budayakan sebagai
tradisi. Nah, jadi marilah kita
membudayakan,
menjadikan, membaca, menulis, dan
berpikir kritis, kreatif itu sebagai
tradisi, sebagai kebiasaan, sebagai
budaya dengan cara apa?
Ya, ya kita wariskan kebiasaan
turun-menurun. Kita anggap membaca
menulis itu tindakan sosial budaya.
Bukan sekedar mengeja, menyuarakan saja.
Membaca, menulis sebagai laku spiritual.
Sebagai laku spiritual. Saya kira ajaran
agama banyak memberikan dasar ee
laku spiritual membaca menulis, tapi
juga laku sosial budaya. Nah, pendidikan
harusnya juga menjadikan membaca menulis
sebagai ee kaki utama dari proses
pembelajaran itu. Bapak, Ibu sekalian,
jika itu dilakukan maka sebaiknya
kita tidak hanya bertumpu pada tulisan,
kita juga bertumpu pada visual.
Mengapa? Karena literasi baca tulis
sekarang itu juga berhadapan dengan
bahan-bahan digital, bahan-bahan yang
isinya gerak dan gambar. Itulah sebabnya
kita sekaligus saja tidak perlu
satu-satu. Itu nanti akan menghabiskan
banyak waktu.
Nah, Bapak, Ibu sekalian, kalau kita
ingin memperdalam tradisi membaca dan
menulis, maka kita harus ya memperkuat
kesukaan dan kesenangan membaca menulis,
kegemaran kecintaan pada
tulisan-tulisan.
Kemudian ya serba sedikit membiasakan
membaca menulis. entah membaca menulis
untuk pribadi, entah membaca menulis
untuk disebar luaskan kepada pihak-pihak
yang lain. Ini saya kira ee proses
membangun ee kebudayaan yang
bersandarkan literasi tadi. Nah, Bapak
Ibu sekalian, saya ingin mengakhiri
paparan saya ini. ee mari kita jadikan
ee kita bentuk kebiasaan membaca,
menulis, mencintai bacaan, mencintai
buku, mengoleksi buku, menghadiahi ulang
tahun dengan buku, lulus dengan hadiah
buku itu sebagai budaya literasi. budaya
literasi inilah saya kira pengungkit
dari ee ilmu pengetahuan ke transformasi
yang disampaikan tadi. Nah, saya ingin
mengakhiri ini dengan e kata-kata Ali
bin Abi Thalib. Ikatlah ilmu dengan
menuliskannya. Kita masih sangat langka
menulis. Padahal di dalam tulisan itulah
terikat ilmu-ilmu apa saja kita yang
saya rasanya yang kurang. Bayangkan
berapa
ribu buku yang telah kita hasilkan yang
betul-betul buku setiap tahun mungkin
sangat sedikit. Meskipun yang dapat ISBN
itu banyak, tetapi yang dapat ISBN belum
tentu merupakan ikatan ilmu. Meskipun
sudah dituliskan. Tapi yang benar-benar
saya tidak menyampaikan ini nanti
terlalu banyak tapi saya ingin
menutup paparan saya ini dengan ee
pikiran
yuah hari-haari lagi. Ia mengatakan
bahwa
dalam sejarah umat manusia yang tentu
saja sangat memesona ee itu memakarkan
bahwa
literasi itu tidak dipakai oleh para
pemuka, tidak oleh para ahli, bukan oleh
para doktor, profesor, orang-orang
hebat, pendiri agama, penakluk dunia,
tapi oleh orang-orang biasa.
Hari-hari menyebutkan pertama kali
literasi dan akuntansi dipakai oleh
petani petani yang bernama Kusim dan
Kasun non di Sumeria sana. Dalam sejarah
tulisan itu kira-kira ee 5.000 6.000 rib
tahun yang lalu. Jadi, Bapak, Ibu ee
literasi dan akuntansi itu lahir
bersama-sama sebagai bayi kembar dari
orang bernama Kusim atau Kasim. Ini saya
kira itulah ee modal penting bagi kita
agar kita berpandangan bahwa kitalah
pemilik yang sah dari literasi
masyarakat itu. Literasi tidak
dilahirkan oleh orang-orang hebat,
orang-orang berpendik berpendidikan
tinggi, pemikir besar, ee pemuka agama,
penakluk dunia, kaisat dan sebagainya,
bukan. Tetapi oleh orang biasa. Dalam
hal ini ee contohnya adalah Kasim Kusim.
yang menemukan ee literasi di Sumeria
yang kemudian dijadikan titik tolak
lahirnya literasi atau aksara itu. Nah,
dua orang itu kalau kita membaca buku
ini, buku sapiennya itu diceritakan ee
bukan menyampaikan kearifan, keindahan,
keagungan yang melangit itu. Tetapi
literasi digunakan oleh Kasim Pusim ini
untuk mencatat hasil panen dan
utangputang. Artinya digunakan untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan
kehidupan keseharian. Itulah saya kira
literasi yang kita bangun tadi ada
disebut inklusi sosial dan peningkatan
kesejahteraan. Dengan kata lain supaya
cocok dengan tema kita ini, literasi itu
sebenarnya untuk membangun kebudayaan
sehari-hari. Everyday culture itu. Eah.
Nah, itulah yang kemudian kita memiliki
tugas bagaimana terus berfokus pada
literasi. Semakin hari kita menyaksikan
ee semakin baiklah posisi literasi. Pada
masa sekarang, saat ini kita sudah
mendapatkan suatu landasan yang bagus.
Literasi sudah kita anggap, sudah
dianggap oleh PBB sebagai salah satu hak
asasi manusia. Maka pertanyaan
pentingnya, bagaimana pemenuhan hak
asasi literasi itu? Inilah saya kira
yang harus kita kerjakan bersama-sama.
Dengan literasi kita akan menikmati
kebebasan. Dengan literasi kita akan
menikmati kebudayaan yang bisa menopang
kehidupan kita dengan sebaik-baiknya.
Saya kira demikian paparan saya. Terima
kasih. Saya kembalikan kepada moderator.
Baik, terima kasih kami ucapkan kepada
Prof. Joko atas paparannya. Sobat ASN,
setelah ini kita akan masuk ke sesi
tanya jawab. Jadi jangan ke mana-mana,
tetap di webinar ASN belajar seri 35
tahun 2025.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
Anda kembali lagi menyaksikan webinar
ASM Belajar seri 35. kali ini sudah
bergabung bersama dengan kami semua di
sini satu penanya yakni Bu Nenek Mardias
Tuti. Kami langsung saja persilakan
kepada Bu Neni untuk menyampaikan
pertanyaannya kepada narasumber ketiga
kita. Silakan Bu Neni.
Ngih. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Bapak
terima kasih Kakak Lukman Ali akhirnya
kesampaian juga ee boleh menyampaikan
pertanyaan. Takutnya nanti di sesi
keempat Basam saya karena ee materi ini
sangat luar biasa. Namun kami untuk
mengimplementasikan di kehidupan
sehari-hari baik sebagai individu maupun
pelayan masyarakat itu yang perlu kami
terapkan. Ee salam sehat dan
asalamualaikum Bapak. Eh perkenalkan
saya Nenek Mardiastuti, Pak Joko. Saya
dari Dinas Kesehatan
Bojonegoro.
Giih. Ee Bapak tadi saya menyimpulkan
dari hasil materi Bapak bahwasanya
literasi itu harus melek pengetahuan
sebagai sentrum sehingga
dapatlah kemajuan kebudayaan dan
peradaban. Kemudian literasi itu bagi
kehidupan juga bagi semua. Nah, Bapak eh
di era disruption ini harusnya kami mau
dan mampu untuk beradaptasi,
berinovasi secara berkelanjutan,
mempunyai perubahan pola pikir atau
mindset yang relevan dan bersaing di era
digital abad 21 ini. Yang ingin kami
tanyakan Bapak, untuk kami bisa
mengimplementasikan kiat-kiat apa atau
peranan kami sebagai unsur pelayan
masyarakat tentunya dalam pelayanan
publik nggih. Yang kedua sebagai
keluarga
ee ini untuk menyiapkan anak-anak dan
keluarga Bapak ee agar terwujud literasi
ini secara berkelanjutan sehingga
kehidupan kami itu bisa lebih baik baik
secara pribadi maupun sosial. Kiat-kiat
apa intinya yang harus kami terapkan di
kehidupan sehari-hari. Terima kasih
Bapak atas arahannya. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih Bu Niki. Kami
persilakan Prof. Joko untuk menjawab
pertanyaan dari Bu Neni.
Nah, ini susah ini kalau dimintai saran
saya itu. Tapi begini, saya kira
literasi kesehatan itu muncul jauh lebih
awal.
Sumpah Hipokrates itu menggambarkan
suatu penanda literasi yang baik. Sumpah
Hipokrates, sumpah kesehatan, pelayanan
kesehatan itu sudah lahir pada zaman
Yunani pada abad-abad sebelum Masehi.
Artinya literasi kesehatan itu sudah ee
sangat lama.
Sebelum membaca dan menulis dan berpikir
tadi, apa sih yang penting dari literasi
itu? Yaitu kesadaran.
Jadi, seorang pemikir sayang, saya lupa
namanya itu berkata, berpendapat bahwa
pertama-tama literasi adalah kesadaran.
Salah seorang pemikir pendidikan
Paulo Freir itu menyebut pendidikan
apapun di manapun itu ujungnya adalah
membentuk kesadaran, menyadari. Nah,
jadi saya ingin menambahkan elemen
kesadaran. Nah, sekarang kita melihat
tadi jauh pada abad sebelum masehi orang
sudah menyadari makna kesehatan. Nah,
saya kira kalau dalam konteks ee
literasi kesehatan ujungnya di sana saya
kira baik dalam keluarga maupun ee dalam
pelayanan publik itu kesadaran akan
kesehatan itu sudah ee bisa diketahui.
Nah, karena kesadaran akan kesehatan
maka kiat-kiatnya ya sebenarnya tidak
jauh dari lingkungan yang ada.
misalnya
apa ya seorang ibu begitu ya ee itu
menyadari saja sudah berliterasi apalagi
kemudian membaca bahwa
katakanlah begitu jenis sayur tertentu
makanan tertentu itu nanti akan rawan,
bisa menimbulkan diabet.
Sekarang misalnya dari membaca kita tahu
bahwa diabet itu bukan soal genetik tapi
soal memetik. Diabet itu bukan soal gen
keturunan, tetapi kebiasaan budaya.
Lah kalau setiap hari sebagai seorang
ibu itu masaknya sayur-mayur, makanan
yang memang ee membuat diabet tumbuh ya.
Ya, karena faktor itu. Nah, ini disadari
sehingga bisa katakanlah variasi
makanan, menghindari makanan. Nah, kalau
bisa tidak hanya semua itu mungkin kiat
kiat yang umum kalau di rumah bisa juga
yang lebih apa ya
yang lebih canggih dalam arti perlu
modal. Kalau kesadaran tadi kan tidak
perlu modal Bu, Bapak Ibu yang lain kan
kita cukup menyadari oh iya kita pilih
ini, ini, ini. Itu tidak perlu modal.
Tapi yang perlu modal itu kan disediakan
bacaan, disediakan ee apa ya waktu
bersama-sama untuk ngobrol. Ngobrol itu
penting pada zaman sekarang ini, pada
zaman literasi. ee seorang
ahli komunikasi dan literasi Sherry
Tarkel itu mengatakan ee
banyak-banyaklah bercerita pada zaman
sekarang itu
dalam bukunya eh recliming Conversation
saya baca recliming conversation itu
intinya banyak-banyaklah ngobrol bareng.
Saya pernah berpikir, jadi kebiasaan
ibu-ibu petan sambil ngerumpi itu ya
bagus loh.
Jadi ini kan berarti kebudayaan. Oh iya
kebiasaan lingkungan keluarga itu
ngobrol bersama bisa digerakkan kalau
tidak menulis langsung. Di saya pernah
ke mana? Sabang itu ada kebiasaan
begini.
Anak-anak yang bisa menulis menulis,
yang tidak bisa menulis mendengarkan
yang pandai bercerita bercerita. Yang
kemudian diserap menulis ya itulah. Jadi
tidak lebih leluasa, lebih longgar
kiat-kiatnya. Kalau di rumah ya saya
kira yang dalam tanda petik tanpa biaya.
Nah, bisa juga
kalau sudah mantap ya ini yang penting
kan membangun kesadaran dulu kemudian
bisa berpikir. Kalau membangun kesadaran
dan pikiran kan tidak selalu harus
modal, tidak perlu beli buku, tidak
perlu ee kan hanya ketemu saja. Itulah
saya kira yang pertama. Setelah itu bisa
beranjak yang lain-lain. Ini contoh saja
tidak semuanya ya. di pelayan publik, di
tempat-tempat ee kesehatan. Saya kira
juga bisa begitu.
Kalau Ibu melayani misalnya ada
katakanlah ada pasien begitu kan bisa
dibuatkan resep itu ee bacalah yang
benar obatnya. Coba dibaca sebenarnya
itu sudah menjadi guru literasi. Coba
ini obat apa ini dibaca benar bagaimana.
Jadi mengulang mengingatkan itu juga
sudah sebenarnya satu proses literasi.
Apalagi itu kalau di Puskesmas, pusat
kegiatan tertentu itu sediakan bacaan,
sediakan majalah, sediakan
petunjuk-petunjuk saja loh. Petunjuk
menggunakan obat, petunjuk membeli obat,
ee obat apa itu saya kira ee bisa juga
apalagi kalau ada insentif-insentif.
lebih lanjut setiap pasien yang yang
bisa membaca dan mempraktikkan apa yang
disarankan dokter atau apoteker atau
siapa petugas kesehatan itu dapat
insentif buku bacaan misalnya. Tapi buku
bacaan yang relevan karena Ibu bergerak
di pelayanan publik kesehatan ya buku
tentang kesehatan tapi ya jangan yang
membuat puyang yang praktis-praktis
saja. Nah, ini kan saya kira menciptakan
suatu ekosistem kebiasaan ee menyadari
sesuatu dan berpikir tentang sesuatu
dalam hal ini kesehatan. Saya kira itu
sudah kontribusi bagi kebudayaan karena
kebudayaan tidak harus kita artikan yang
gede-gede. Ada yang disebut everyday eh
culture itu
kebiasaan sehari-hari itu kebudayaan.
Ini saya kira yang membuat apa ya
bangsa-bangsa itu berkembang paling
tidak di berbagai tempat saya perhatikan
begitu kira-kira garis besar saya cukup
begitu mohon maaf tidak terperinci Bu ya
supaya waktunya cukup untuk yang lain.
Terima kasih Bu
nanti kita bisa intinya
berarti intinya itu.
Terima kasih. Terima kasih Prof. Joko
untuk jawabannya.
Silakan. Terima kasih Bu Nani.
Tadi mau bicara Bu Nani mau apa menar
intinya kita lebih ke memberikan edukasi
nggih Bapak nggih. Membangun kesadaran
masyarakat itu merubah pola atau pola
pikir masyarakat mention masyarakat
tentang promotif preventifnya titik
berdagang. Kebetulan di tempat kami
memang
itu tekniknya Bu.
Kalau di dalam tradisi itu dua saja Bu
istilah canggihnya itu Dutil. Jadi
mendidik dan menghibur. Jadi jangan
terus mengedukasi terus, Bu.
Oh iya. Si
menghiburnya juga penting.
Menghibur itu juga penting.
Siap.
Jadi tidak harus dalam arti mendidik
serius, mengedukasi serius, tetapi juga
stres. Enggih.
Ya, biar stres lah. Itu menghibur selalu
di dalam berbagai kebudayaan itu
mendidik dan menghibur itu satu tarikan
nafas.
Satu.
Iya. Kira-kira begitu.
Terima kasih, Prof.
Ih untuk jawabannya. Terima kasih juga
Bu Ni. Salam sehat selalu untuk Bu Ni.
Mohon maaf sekali Prof. Joko karena
keterbatasan waktu kita harus mengakhiri
sesi terakhir di siang hari ini. Sekali
lagi terima kasih Prof. Joko atas
paparannya. Semoga ini bisa dapat
dimanfaatkan seluruh inset yang sudah
didapat dari Prof. Joko. Salat sehat
selalu. Kita bertemu lagi di event-event
selanjutnya. Prof. Joko.
Terima kasih Mas Ali.
Baik sobat ASN. Tidak terasa kita sudah
berada di penghujung acara webinar ASN
Belajar seri 35 tahun 2025. Sekali lagi
kami haturkan terima kasih untuk seluruh
pihak yang terlibat dalam mendukung
acara webinar ASN seri belajar kali ini.
Dan sebelum mengakhiri sesi, kami ingin
mengingatkan kembali bagi sobat ASN yang
masih belum dapat melakukan absensi
ataupun yang sudah melakukan absensi
jangan lupa untuk cek secara berkala
lamat semesta Bangkom untuk mendapatkan
e-sertifikate dari BPSDM Provinsi Jawa
Timur. Dan ASN belajar seri 35 tahun
2025 kali ini dipersembahkan oleh Corpu
SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Kita
bertemu kembali di webinar SN seri
berikutnya. Sampai jumpa dan
wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
Zaman yang terus bergerak
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah
hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdempat
bersama ASN
belajar. ciptakan SDM unggul berprestasi
[Musik]
selalu
ASN 135
[Tepuk tangan]
menjadi ASN
berakhlak mulia
siap menyossong Indonesia
[Musik]
H