Transcript
YCjj_v5LZeY • ASN Belajar Seri 35 | 2025 - Literasi Untuk Transformasi: Dari Pengetahuan Membangun Peradaban
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0260_YCjj_v5LZeY.txt
Kind: captions Language: id [Musik] [Tepuk tangan] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia tekad tanggungera jadi ASN berkualitan servis [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Pada hari ini, Senin, 9 Desember 2024, kita semua dapat berkumpul bersama dalam penyelenggaraan kegiatan sharing session sobat sertifikasi kompetensi investasi ASN berkualitas dalam keadaan sehat. Bapak, salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas ASN adalah pengobaan kompetensi melalui sertifikasi kompetensi. Sertifikasi kompetensi bukan sekedar selar penghanal tetapi merupakan bentuk investasi nyata. Memastikan ASN memiliki standar keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Sertifikasi kompetensi investasi ASN kualitas hanya resmi dibuka dan dimulai. [Musik] A [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee perkenalkan nama saya Trisul Adi Saputro dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Naset ee Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Magetan. Ee alhamdulillah ee hari ini kami melakukan tes uji kompetensi pengelola keuangan daerah. Ee saya selaku bendara pengeluaran alhamdulillah dengan uji kompetensi ini bisa menguji kompetensi kita apakah kita layak untuk menjadi bendara pengeluaran. ee pesan-pesan untuk teman-teman yang lain ee bisa memaksimalkan apa pengetahuannya untuk meningkatkan kompetensinya selaku pengelola keuangan daerah. Kemudian untuk saran untuk BPSDM Provinsi Jawa Timur ee selama kami di sini alhamdulillah pelayanan cukup baik dan memuaskan sehingga kami bisa nyaman dan bisa mengikuti ujian dengan nyaman juga. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo, asalamualaikum. Nama saya Dias Karismadani. Saya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto. Eh, hadir di sini untuk mengikuti sertifikasi kompetensi keuangan daerah. Kemarin hadir panitianya dari BPSDM benar-benar luar biasa. Penyambutan mulai dari depan sampai ke registrasi itu panitianya ramah sekali. Terus begitu masuk ke kamar ee semua fasilitasnya juga sudah memadai mulai dari makan, kamar tidur, kamar mandi, semuanya bersih. Untuk jalannya tes juga sudah terschedule dengan rapi, dengan tertib sehingga kami bisa mengikuti dengan nyaman dengan bisa fokus dan bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Harapan kita ke depan adalah mungkin BPSDM bisa lebih sering mengadakan kegiatan atau untuk webinarnya lebih berfokus kepada masalah keuangan daerah, terutama yang untuk daerah-daerah yang kan masalahnya berbeda-beda setiap daerah. Jadi bisa lebih sering untuk mengadakan yang bertema tentang keuangan. Terima kasih. Wasalamualaikum. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Saya Dian Astuti Purwandani dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magetan hari ini ikut mengikuti diklat ee sertifikasi Komputasi Pengolaan Keuangan di BPKPSDM ee Provinsi. Terima kasih panitia. luar biasa ee pelaksanaan diket lancar dan kami ee selama mengikuti diket di sini ee sangat nyaman sekali dan harapannya untuk PKPSDM Provinsi ee memberi kuota tambahan biar teman-teman kami yang berada di kabupaten kota sekitar seluruh provinsi bisa mengikuti dikat yang sama sehingga kami dalam rangka melaksanakan pengolan keuangan di kabupaten kota ee dapat menyajikan laporan yang akuntabel transparasi. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Budi Fajarudin asal dari Kabupaten Nganjuk ee Kecamatan Patian Rowo. Ee kami mengucapkan terima kasih atas ee fasilitasnya di mana kegiatan ini bisa berjalan dengan baik dan bisa menambah ilmu semua rekan-rekan sehingga apa yang kita lakukan dan harapan ke depan ee dari sisi kami, dari sisi saya, pengetahuan-pengetahuan, pembelajaran-pembelajaran yang saya dapat di sini bisa diterapkan di OPD bisa untuk perbaikan-perbaikan di OPD dan ee harapan terkait dengan penyelenggaraan kompetensi di BBSDM Jawa Timur ditingkatkan lagi utamanya terkait jaringan waktu wawancara ini ada sedikit kendala sempat putus Pak jaringannya. Demikian terima kasih. Perkenalkan nama saya Dewi Ratani Utami. Saya bendahara dari Dinas KB Kabupaten Magetan. Kesan-kesan saya saat mengikuti diklat di BKPSDM Jawa Timur ini ee saya menikmati sekali fasilitasnya juga di sini. Asesornya ee panitia-panitianya juga sangat cepat dalam memenuhi kebutuhan kita saat melakukan diklat. Dan untuk tempat ee asramanya saya juga merasa nyaman karena sudah terfasilitasi dari kamar mandi terus apa ada AC-nya. Jadi kita nyaman saat di kamar untuk melakukan kegiatan belajar belajarnya di malam hari atau untuk menyiapkan ujian-ujiannya, uji kompetensinya. untuk pesannya. Kemudiannya lebih baik lagi dan fasilitas-fasilitasnya lebih baik lagi serta peserta itu lebih nyaman lagi untuk tinggal di sini. Terima kasih. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Untuk menjawab tantangan tersebut perlu upaya peningkatan daya SN serta kerja sama dan kemitraan komunis. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pengembangan kompetensi bagi ASN sesuai dengan tuntutan tugas jabatan dengan memaksimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi serta terintegrasi secara ee nasional. Kami berharap alumni sertifikasi kompetensi mampu menggali informasi semaksimal mungkin keluar dari sertifikasi yang telah Bapak Ibu lakukan. ee sehingga Bapak Ibu yang telah menyatakan kompetan itu memiliki ruang gerak dan waktu untuk bisa meningkatkan yang lebih sehingga Bapak Ibu akan dipersiapkan kembali pada yang lain pada uji kompetensi yang lain tentu dengan jenjang yang berbeda. Mudah-mudahan itu Bapak ngih ee bisa masuk ke hukum yang lain dengan kompetensi yang bergerak. [Musik] He. [Musik] Terima kasih atas kehadiran Bapak-bapak. kami ee sebenarnya Pak Ibuas sebagai izin kami ingin mengundang seluruh alumni insyaallah nanti bertahan karena keterbatasan kami sehingga Bapaklah yang beruntung untuk diundang oleh Buara untuk segera mengikuti proses taser stud kali ini. Ee tujuan taser stadi kali ini adalah ee untuk menggali informasi, Pak. menggali informasi baik kompetensi-kompetensi teknis atau kompetensi-kompetensi tertentu yang Bapak Ibu miliki untuk dituangkan ke dalam uji kemarin maupun proses secara teknis. [Musik] Nama saya Andi Bagus Rahmat. Ee saya peserta Diklat. Terima kasih. Kesan saya bagus pelayanan semoga kualitasnya semakin meningkat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya nama cilani, pegawai RSUD Muhammad Nur Pamekasan. Kami sangat bangga dengan adanya kompetensi ini karena untuk pembelajaran bagi kami masalah umur tidak ada halangan yang penting kita mau belajar. Dan saya sangat berterima kasih kepada BPSDM dengan adanya hal ini pengetahuan-pengetahuan itu akan selalu bertambah untuk kita semua khususnya khusus untuk pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk saat ini dan untuk masa depan. Mungkin itu dari kami kurang lebihnya mohon maaf. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Yeah. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. menjadi ASN berakhlak mulia, siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujud pemerintahan kelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN berkuat cita [Musik] sama [Musik] yang terus bergerak sambut dengan penuh Semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia, siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujud pemerintahan kelas dunia tukang tekad pantang menyerah jadi ASN berkuat kita [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah. Jadi ASN cetar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia. Tunjukkan tekad pantang menyerah jadi ASN cepat berkewajiban [Musik] bersama [Musik] wabarakatuh. Selamat pagi sobat AS di mana pun Anda berada baik yang sudah bergabung di Zoom meeting ataupun yang tengah menyaksikan acara ini melalui live YouTube BPSDM Jatim TV. Senang sekali saya Luk kembali menyapa sobat ASN tentunya dalam acara webinar ASN belajar seri 35 tahun 2020 provinsi global dan tidak menjalankan tugas administratif saja tapi lebih dari itu juga sebagai motor dan [Musik] Ah. [Musik] zaman yang terus bergerak sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia satukan tekad pancang menyerah jadi ASN berkuwa sama [Musik] Term [Musik] Cek cek. [Musik] e Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan selamat pagi kembali bagi sobat SN di mana pun Anda berada. Baik yang tengah menyaksikan acara ini melalui Zoom meeting ataupun yang tengah bergabung melalui live YouTube BPSDM Jatim TV. Senang sekali saya Lukman Ali kembali menyapa Anda tentunya dalam acara webinar ASN Belajar seri 35 tahun 2025 Persembahan Korpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Kami mengucapkan mohon maaf apabila ada kendala teknis yang sempat terjadi. Semoga acara ke depan tetap dapat berjalan dengan baik dan juga optimal. Sobat ASN di mana pun Anda berada di tengah arus perubahan global dan transformasi digital, ASN dituntut untuk tidak hanya menjalankan tugas administratif saja, tetapi juga dituntut untuk menjadi motor penggerak perubahan dan literasi yang mencakup kemampuan memahami, menganalisis, dan juga memanfaatkan informasi secara kritis menjadi fondasi penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang tepat dan pelayanan publik yang berkualitas. Sayangnya, tingkat literasi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk di kalangan ASN. Padahal peran kita sebagai ASN sangat strategis dalam membangun peradaban melalui kebijakan dan juga pelayanan. Dan bersama webinar ASN belajar kali ini, mari terus belajar dan mengembangkan kapasitas literasi demi mewujudkan pemerintahan yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing. [Musik] Baik, Sobat ASN, untuk membuka webinar ASN Belajar seri 35 tahun 2025, kali ini kita akan mendengarkan opening speech yang akan disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air. Selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN belajar sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini Kamis tanggal 11 September 2025 ASN belajar telah memasuki seri yang ke-35. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami, kami selalu berkomitmen sekaligus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-35 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka turut serta memberikan sumbangsi pemikiran dalam rangka hari literasi internasional yang jatuh pada tanggal 8 September kemarin. Sebuah momentum yang tak sekedar peringatan melainkan pengingat bahwa aksara adalah pintu gerbang peradaban. Dari aksara lahir kata, dari kata lahir pengetahuan dan dari pengetahuan lahirlah peradaban. Karena tema ini sangat tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN Belajar seri ke-35 tahun 2025 ini mengangkat topik literasi untuk transformasi dari pengetahuan membangun peradaban. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sahabat ASN di seluruh tanah air, kita sadar bahwa literasi adalah cahaya yang menuntun peradaban dari aksara pertama yang digoreskan di daun lontar hingga algoritma yang kini menata dunia digital. Literasi selalu menjadi jembatan antara pengetahuan dan perubahan sosial. Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang hanya kaya sumber daya, melainkan bangsa yang kaya pengetahuan, terampil mengelola informasi, dan bijak mentransformasikannya menjadi kebijakan dan tindakan. Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar lahir dari literasi. Peradaban Mesir kuno mengabadikan jejaknya lewat hieroglave yang terukir di dinding batu. Yunani menorehkan filsafat dan sains dalam manuskrip yang abadi. Romawi membangun sistem hukum yang tertulis rapi menjadi fondasi hukum modern hingga hari ini. Semua itu menunjukkan bahwa aksara bukan sekedar simbol, melainkan kekuatan yang menggerakkan sejarah. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu bertahan dan bertransformasi. Jepang menjadikan literasi dan riset menjadi kunci kebangkitan pasca perang. Korea Selatan menggerakkan revolusi pengetahuan untuk melesatkan menjadi kekuatan ekonomi baru. Finlandia menempatkan literasi sebagai inti pendidikan hingga melahirkan sistem pembelajaran terbaik di dunia. Sbat di seluruh tanah air bagi Indonesia, literasi adalah warisan luhur sekaligus tugas besar dari prasasti Yupa di Kutai, relief di Borobudur hingga naskah kuno yang tersebar di berbagai daerah. Nenek moyang kita telah menorehkan pesan literasi adalah nyawa kebudayaan. Tantangan kita hari ini adalah menafsirkan ulang literasi agar tidak hanya bermakna membaca dan menulis, tapi juga berpikir kritis, kreatif, dan mampu mengubah pengetahuan menjadi peradaban baru yang lebih maju. Pada akhirnya kita belajar bahwa setiap sejarah besar selalu dimulai dari terasi. Aksara yang sederhana mampu menyalakan obor peradaban, mengubah pengetahuan menjadi kekuatan, dan menggerakkan bangsa menuju kejayaan. Literasi adalah akar yang menumbuhkan pohon ilmu, batang yang menyanggang budaya, dan buah yang menjahterakan masyarakat. Tanpa literasi, peradaban akan rapuh. Dengan literasi, bangsa akan tumbuh, tegak, dan melampaui zamannya. Sahabat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita sebagai ASN Indonesia menjadikan literasi bukan sekedar keterampilan administratif, melainkan energi transformasi yang menuntun bangsa menuju Indonesia emas 2045. Nah, untuk membahas redasan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber hebat yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat HSN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Dr. Adin Bondar Esos, M.Si. Beliau adalah Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Republik Indonesia. Kedua, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. Prao, MED. Beliau adalah Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Joko Sarono, M.Pd. Beliau adalah guru besar Fakultas Sastra sekaligus kepala perpustakaan Universitas Negeri Malang. Nah, sobat ASN di seluruh tanah air, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-35 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. atau SPMP atas speech yang telah disampaikan. Dan sebelum kita berlanjut pada sesi berikutnya, kami ingin informasikan bahwa saat ini Sobat AS sudah dapat melakukan presensi via laman semesta dan juga link presensi ini dapat Sobat ASN lihat pada running tags, kemudian kolom chat Zoom dan juga pin chat YouTube BPSDM Jatim TV. Dan dikarenakan saat ini traffic presensi sedang tinggi. Jadi bagi Sobat TSN yang masih belum bisa mengakses laman presensi kami dapat mencoba kembali secara berkala sampai dengan pukul 12.00 siang. [Musik] Kali ini kita akan bersama yang kali ini akan disampaikan secara langsung oleh Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Bapak Nuradi Saputra, Sos, M.Si. [Musik] telah bergabung bersama kami di sini Bapak Nurhadi Saputra. Saya akan sapa beliau terlebih dahulu. Selamat pagi, Pak Nurhadi. Selamat pagi, Mas. Kabar baik, Bapak. Alhamdulillah baik. Alhamdulillah baik ya, Pak. Ya. Baik, Pak. Untuk mempersingkat waktu saja saya persilakan untuk Bapak silakan menyampaikan materinya kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita akan langsung masuk ke sesi Q& Pak Nuri. Baik. Baik. Terima Lukman. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, shalom, om swastiastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan dan salam literasi. Yang saya hormati Bapak Kepala DPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak Ramlianto, Bapak Ibu narasumber yang juga ikut hadir dalam ee acara webinar ASN belajar ini. Ada Bapak Prof. Dr. Joko Sarono, apa kabar, Pak? Kemudian ada Bapak Dr. Prao dan Bapak Ibu peserta ASN Belajar seri 35 tahun 2025. Ee sebelumnya saya mohon maaf jika saya menggantikan Bapak Deputi. Tadi disampaikan oleh Pak Ramlianto bahwa yang akan hadir adalah Bapak Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan yaitu Bapak Dr. Adin Bondar. Tapi mohon maaf beliau tiba-tiba ada tugas mendadak untuk ee acara MOU dengan Bapak Menteri Kumham. Jadi beliau mendisposisi tugas ini untuk memberikan materi kepada Bapak Ibu ee mengenai literasi dalam acara ASN Belajar seri 35 tahun 2025. Baik ee Bapak Ibu sekalian, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa taala, Tuhan yang maha esa karena atas karunia dan kasih sayangnya kita dapat bertemu secara daring. Bapak, Ibu tadi banyak sekali yang disampaikan oleh Bapak Kepala BPSDM Pak Ramlianto bahwa memang tanggal 8 September kemarin adalah peringatan Hari Literasi Sedunia yang sejak tahun ee diperingati oleh seluruh negara. ini sebagai pengingat bahwa literasi adalah hak asasi manusia, fondasi pembangunan berkelanjutan dan pintu gerbang menuju keadilan sosial serta masyarakat yang damai dan inklusif. Literasi secara umum didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, memahami, dan menggunakan bahasa secara efektif. Saya izin share screen ya, Mas Lukman ya. Oke. Apakah terlihat? Sudah, Pak. Silakan, Pak. Siap. Eh, belum full screen, ya? sebentar. Baik. Ee literasi ee juga mencakup keterampilan berpikir kritis, menyaring informasi, serta berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Saat ini literasi tidak hanya terbatas pada aspek dan bahasa dan aksara, tetapi berkembang mengikuti zaman di mana saat ini kita mengenal ada literasi digital, literasi finansial, literasi budaya yang semakin berkembang dalam masyarakat modern. Sejarah literasi di dunia merupakan perjalanan panjang yang merefleksikan perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa. Literasi yang awalnya hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. pada dasarnya telah menjadi satu pondasi utama kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan. Maaf, maaf. Cek cek Pak Nurhadi. Untuk tampilannya masih belum tertampil share screen Bapak mungkin bisa di slide show untuk PowerPoint-nya. Apakah apakah sekarang sudah terlihat untuk dibantu untuk full screen Bapak? Diklik SL. Oke. Oke. Sebentar, sebentar. Siap. Sudah aman Pak Nurhadi. Kami persilakan kembali untuk melanjutkan materinya. Oke. Iya. Baik. Terlihat ya Pak. hilang lagi. Mohon untuk ditunggu sejenak, Pak. Oke. Oke. Sekarang terlihat baik, masih belum tertampil, Pak Nurhadi. Oh, maaf, maaf, maaf, maaf. Saya ulangi share screen, ya. Kami persilakan, Pak. ini terlihat Pak. Terlihat sudah full screen juga. Baik, ini tertampil halaman pertama covernya Pak Nurhad. Oke, siap. Baik. Iya. Baik. ee ketika bicara literasi, bagaimana literasi berperan dalam membangun peradaban. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Ramlianto bahwa awal kali ee literasi ini hadir dalam peradaban manusia adalah pada bangsa Sumeria yaitu sekitar kurang lebih 3.200 sebelum Masehi. Bangsa Sumaria di Mesopotamia mengembangkan sistem tulisan paku di atas lempung tanah liat. Tulisan ini digunakan untuk mencatat perdagangan, hukum, dan administrasi pemerintahan. Inilah cikal bakal dasar bagi pengembangan hukum tertulis dan birokrasi modern. Literasi di Mesopotamia ini melahirkan konsep kota dan negara sebagai pusat peradaban. Setelah fase bangsa Sumeria, kemudian peradaban manusia diisi oleh peradaban bangsa misteri kuno itu kurang lebih sekitar 3.100 sebelum Masehi dengan tulisan hieroglifnya yang digunakan dalam arsitektur piramida, catatan medis hingga kitab keagamaan. Catatan Heroglif ini banyak merekam pengetahuan tentang matematika, kedokteran, dan astronomi yang berkembang pesat di peradaban Mesir yang menjadi landasan ilmu pengetahuan di dunia Barat melalui penerjemahan teks Mesir ke bahasa Yunani dan Arab di masa berikutnya. Fase selanjutnya literasi mengambil peradaban pada era Yunani kuno yang kurang lebih sekitar 800 sebelum Masehi sampai dengan 200 ee ee sebelum Masehi. Yunani kuno yang dikenal sebagai pusat filsafat seni dan demokrasi dengan tokoh-tokoh yang kita kenal seperti Plato, Aristoteles, Sokrates menulis karya filsafat dan politik yang mempengaruhi Eropa hingga era modern. Literasi filsafat Yunani melahirkan demokrasi Atena dan tradisi berpikir kritis yang menjadi dasar ilmu pengetahuan Barat. Fase peradaban selanjutnya literasi pun mengambil peran pada ee dunia Islam sekitar kurang lebih 750 sampai dengan Masehi. di mana dalam era keemasan ee Islam di bawah dinasti Abbasiyah Baitul Hikmah di Baghdad menjadi pusat penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Naskah-naskah Yunani dan Persia diterjemahkan ke bahasa Arab. Kemudian muncul ilmuwan seperti Alkhawarismi, ilmuwan matematika. Kemudian ada Ibnu Sina, kedokteran dan Alfarabi ee ilmuwan cendikiawan filsafat. Pengetahuan dari dunia Islam ini diterjemahkan ke bahasa Latin yang memicu renisance Eropa. Fase selanjutnya peradaban ee literasi ee ee pada zaman Tiongkok kuno kurang lebih sekitar 105 Masehi. Di mana ditemukan kertas dan teknik pencatatan awal di Tiongkok yang mendorong penyebarluasan literasi. Ajaran Confusius dan teks-teks klasik Tiongkok mempengaruhi budaya, etika, dan sistem pendidikan di Asia Timur. Tiongkok menjadi pusat peradaban dengan birokrasi pemerintahan yang berbasis ujian. Nah, inilah pertama kali asesmen untuk pegawai kerajaan dilakukan yaitu pada era Tiongkok di mana ee sudah ada pegawai-pegawai yang akan ee dipekerjakan di dalam kerajaan. ini harus lolos tes kemampuan untuk bisa membaca. Kemudian ee fase peradaban ee manusia selanjutnya pada zaman Eropa modern yang ee kurang lebih sekitar tahun 1450 sampai dengan 1700 Masehi. Setelah ditemukannya mesin cetak di Jerman yang membuat buku lebih murah dan terjangkau. Inilah mendorong reformasi Protestan, renaisans hingga munculnya pencerahan yang melahirkan ilmu pengetahuan modern. Literasi memicu lahirnya universitas modern, sains eksperimental, dan revolusi industri. Dan ini adalah ee fase literasi pada saat ini, yaitu fase era digital. Perkembangan komputer, internet, dan kecerdasan buatan atau AI melahirkan era literasi digital dan data. Literasi memungkinkan masyarakat menyalin data, memanfaatkan teknologi, dan berpartisipasi dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Melahirkan masyarakat informasi global di mana pengetahuan menjadi sumber daya utama pembangunan dan inovasi. Bagaimana kondisi literasi Indonesia? Tadi Pak Ramlianto menyampaikan bahwa ketika melihat bagaimana sejarah literasi di Indonesia, mungkin sejarah literasi awal itu ada dalam prasasti Yupa sekitar ee ya ribuan tahun yang lalu. Tetapi memang secara konteks isi dari prestasi Yupa itu tidak ee tidak menjadi sebuah pegangan dari sebuah peradaban yang ada. Kondisi melek ee aksara dewasa di Indonesia pada tahun 2024 menurut ee data UNESCO secara capaian nasional angka melek huruf atau AMH usia 15 tahun ke atas mencapai 96,7%. Ini capaian yang yang luar biasa sebenarnya dengan apa yang digalakkan oleh pemerintah sejak ee kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Ketika dulu permasalahan kita adalah ee buta huruf, tetapi 2024 ini dengan angka melek huruf yang tinggi 96,47, kita bisa ee bisa berbangga bahwa memang duta huruf sudah tertangani. Walaupun mungkin literasi di hal lain kita masih sangat tertinggal. berkaitan dengan ee literasi ee masih terdapat kesenjangan di ee secara ee gender di mana laki-laki 97,7% sudah menunjukkan ee kualitas ee kemampuan dalam membaca ee membaca. Kemudian ee perempuan ini 9 ee masih 95,7. Walaupun disparitasnya kecil, namun signifikan mengingat jumlah perempuan ini jauh lebih banyak dibanding jumlah laki-laki. Dan kemudian juga berkaitan dengan ee kesenjangan wilayah di mana ee wilayah-wilayah urban kemampuan literasinya 98,1. Sementara di wilayah ee pedalaman rural itu sekitar 94,7% yang mencerminkan tantangan distribusi akses pendidikan yang belum merata. Kemudian juga di kelompok rentan, kelompok usia lanjut, dan masyarakat pedesaan memiliki risiko lebih tinggi untuk tidak mel aksara. Berkaitan dengan literasi juga ini adalah catatan mengenai literasi siswa Indonesia pada tahun 2024. memang ada kenaikan secara ee nasional. Di tahun literasi kita mencapai 59, ee 5%. Kemudian di tahun 2023 ee bertumbuh 68% dan 2024 ee 70%. ini sebuah harapan yang baik ee ke depannya bahwa literasi siswa-siswi kita ee sudah ee menuju ke arah perbaikan dan secara perjenjang pendidikan ee literasi siswa Indonesia di tingkat SD 71,8%, [Musik] kemudian di SMP 70,3% dan SMA 64,8% serta SMK 66% ya yang sebagian besar kategorinya adalah baik baik atau sedang. Dan kemudian juga berkaitan dengan ee numerasi. Jadi selain literasi juga ada numerasi ee ada penguatan fondasi lubrik bagi siswa-siswi di Indonesia. Tren positifnya adalah peningkatan capaian mencerminkan efektivitas intervensi kebijakan literasi secara nasional. Namun dari ee dari beapa angka positif ini ada tujuan perbaikan, tapi ada beberapa hal catatan kita berkaitan dengan kualitas literasi kita. secara studi PISA program international student Assessment ee yang dilakukan oleh CDNLAU menunjukkan bahwa siswa-siswi Indonesia ini masih jauh di bawah rata-rata internasional. Sekalipun di dalam rapor pendidikan kita ee kualitas literasi murid masih dalam kategori baik dan sedang. Data BPS tahun 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas itu hanya mencapai 9,22 tahun atau setara jenjang SMP. Jadi 10 ee 10% yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, 30,85% yang hanya memiliki jasa SMA atau sederajat. 22,79% memiliki jasa SLTP. dan 24,72% memiliki ijazah SD. Serta banyak sekali lulusan pendidikan menengah yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan akhirnya menerima pekerjaan bergaji rendah. Ini berdasarkan perhitungan Bank Dunia pada ee Sakernas dan lebih dari 55% siswa tidak mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan matematika. Karena dalam kurikulum pendidikan yang diajarkan cenderung tidak selaras dengan kebutuhan pasar saat ini berdasarkan data World Bank. Tingkatan literasi. bagaimana kita ee memetakan bahwa kemampuan literasi kita ini sudah cukup baik ee atau memang kita masih dalam ee skala ee mengenal atau ee sampai sebatas memahami. Jadi kalau kita melihat ada tujuh tahapan di mana ee literasi itu ee bisa dinilai. Pertama, tahapan pertama adalah bagaimana mengingat, menghafal atau mengingat kembali informasi dasar. Kemudian di tahapan kedua, bagaimana memahami, menjelaskan ide atau konsep dengan kata-kata sendiri. Kemudian di tahapan ketiga, menerapkan menggunakan informasi dalam situasi baru. Kemudian di tahapan selanjutnya, di tahapan empat, memecah informasi ke dalam bagian-bagian dan memahami hubungan antar antar bagian. Tahapan 1 sampai dengan 4 ini adalah keterampilan berpikir pada aras rendah. Dan ketika sudah kemudian Bapak Ibu sudah mampu kemudian melakukan ee ee mensintesiskan merangkaikan informasi tentang sebuah persoalan yang diperoleh dari berbagai sumber untuk disusun menjadi satu kesatuan yang utuh. Kemudian di tahap 6 menilai membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar. Kemudian di tahapan ketujuh adalah mencipta. Poin 5 sampai dengan 7 ini adalah kemampuan berpikir pada aras tinggi. Nah, di manakah kemampuan literasi kita saat ini? Silakan Bapak Ibu bisa mempetakan apakah setiap informasi sudah sampai sejauh mana itu bisa mempengaruhi Bapak Ibu. Dampak literasi untuk sosial ekonomi. Jika kita melihat dalam grafik ini bagaimana ee dampak literasi rentah yang akan dihadapi, kompetensi dan upah yang rendah, biaya tinggi untuk perbaikan karakter, biaya tinggi untuk peningkatan kesehatan, kemudian biaya tinggi yang untuk mengatasi kriminalitas. Dan apabila kita memang bisa mencapai ee literasi yang lebih baik, maka kita pastikan akan dapat menurunkan angka kemiskinan dan pengurangan kesenjangan, membuat ekonomi semakin kuat, terbuka pilihan pekerjaan, dan lebih produktif, lebih banyak terlibat dalam kegiatan komunitas dan ada peningkatan kesejahteraan secara individual. Manfaat literasi untuk transformasi individu yang pertama adalah literasi membuka wawasan dan memperkaya pengetahuan. Literasi melatih kemampuan berpikir dan kritis dan analitis. Literasi mendorong kreativitas dan inovasi literasi memperkuat keterampilan komunikasi. Dan literasi membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat. Transformasi individu melalui literasi akan menciptakan manusia yang cerdas, kritis, kreatif, beretika, dan berdaya saing tinggi. Inilah modal utama yang membangun masyarakat inklusif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global di era digital dan pengetahuan. Dan literasi untuk transformasi sosial. Literasi merupakan kunci atau sarana untuk membangun kesadaran kritis masyarakat. Literasi mendorong partisipasi sosial dan demokrasi. Literasi berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Literasi memperkuat kohesi sosial dan toleransi. Dan dan literasi akan melahirkan komunitas pembelajar di akar rumpuk. Literasi untuk transformasi sosial tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga membangun masyarakat yang inklusif, partisipatif, inovatif, dan berkeadilan sosial. Transformasi ini akan memperkuat ketahanan sosial sekaligus mendorong kemajuan bangsa secara berkelanjutan. Kemudian juga peran literasi untuk transformasi bangsa. Literasi ini menjadi katalisator membangun sumber daya manusia. Literasi mendukung transparansi dan tata kelola pemerintahan yang baik. Literasi ee mempunyai peran dalam penguatan ekonomi bangsa. dan literasi menjadi sarana pelestarian budaya dan identitas bangsa. Transformasi bangsa melalui literasi membutuhkan strategi komprehensif yang melibatkan semua pemangku kepentingan baik pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas literasi, mediator sektor swasta, dan masyarakat luas. Program literasi harus dirancang tidak hanya untuk meningkatkan minat baca, tetapi juga memperkuat kecakapan hidup, pemanfaatan teknologi informasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan. Ini beberapa fakta mengenai manfaat literasi. angka kemiskinan yang menurun. Di mana faktanya jika anak di seluruh dunia belajar membaca maka 171 juta orang akan keluar dari kemiskinan. Ini setara dengan populasi di Spanyol, Italia, dan United Kingdom. Kemudian juga faktanya angka kematian akan rendah. Jepang dengan tingkat literasi 99% memiliki tingkat kematian bayi paling rendah yaitu 2 dari 1000 kelahiran. Dan selama 4 dekade terakhir angka kematian balita berkurang seiring meningkatnya ee literasi pada perempuan. Manfaat literasi juga akan membuat ekonomi lebih kuat. di mana hasil riset memperlihatkan bahwa penambahan 1 tahun sekolah akan meningkatkan penghasilan pribadi hingga 10% dan tidak ada negara yang mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkelanjutan tanpa minimal 40% masyarakatnya dapat membaca dan menulis. Literasi juga akan membangun partisipasi masyarakat yang tinggi. Orang literat lebih banyak terlibat secara sosial dan memiliki potensi lebih besar untuk dipilih sebagai pemimpin. Peningkatan literasi orang dewasa berkorelasi dengan peningkatan di serikat buruh, aksi komunitas dan kehidupan ee politik nasional. Dan kemudian juga literasi dipastikan akan meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan diri. Di UK, 78% masyarakat literat merasa puas dengan hidupnya. 50% ibu berpendidikan lebih memungkinkan untuk memberikan imunisasi kepada anaknya daripada yang tidak berpendidikan. Dan orang dewasa dengan kemampuan membaca, memahami konteks, dan memanfaatkan informasi kesehatan lebih bahagia. Nah, apa yang kami harapkan dari ee peran ASN dalam literasi? Yang pertama, seorang ASN harus menjadi role model memberikan pelajaran. ASN harus menunjukkan perilaku literat dalam keseharian. Contoh, ASN yang aktif belajar, diskusi, mengikuti pelatihan atau berbagi ilmu pada rekan kerja yang akan menginspirasi budaya literasi di lingkungan kerja. Kemudian juga ASN diharapkan bisa menjadi penggerak menginisiasi kegiatan literasi. ASN tidak hanya menjadi peserta tetapi juga penggerak program literasi baik di kantor maupun di lingkungan masyarakat. Menginisiasi kelompok belajar atau berbagai ee berbagi ilmu dengan masyarakat sekitar. Dan kemudian juga peran ASN juga berharap menjadi agen perubahan yang meningkatkan pelayanan publik berbasis pengetahuan. ASN yang literat menggunakan data, riset, dan informasi untuk membuat kebijakan atau layanan publik lebih ee tepat sasaran. Contohnya adalah penggunaan data untuk menyusun langkah layanan berbasis e-goverment atau inovasi pelayanan publik yang lebih transparan dan inklusif. Nah, ini apa yang sudah dilakukan Perpustakaan Nasional sebagai sebuah lembaga yang memang konsen terhadap pengembangan literasi. Pada tahun 2024 dan 2025 ini ada lima program prioritas Perpustakaan nasional dalam penguatan ee budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat. Yang pertama adalah Tebis atau transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kemudian kami juga memiliki ee program bantuan buku bermutu dan kemudian ada KKN atau kuliah kerja nyata tematik ee literasi, kemudian ada program relawan literasi dan ee penguatan pemberdayaan perpustakaan. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial atau TPIS ini mendorong perpustakaan menjadi sarana reproduksi pengetahuan dalam aksi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. di dalam program ee TPBIS ini, kami menginisiasi memunculkan fungsi dan peran terhadap perpustakaan ee desa khususnya karena memang perpustakaan desa adalah perpustakaan yang paling dekat dengan masyarakat. Menjadikan perpustakaan desa menjadi ruang belajar, ruang ee berinovasi bagi masyarakat sekitarnya. sudah sangat banyak ee praktik baik yang ee berhasil dilakukan melalui program ini dan kita berharap program ini ke depan terus berlanjut sehingga akan meningkatkan ee kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Kemudian juga ada program bantuan buku bermutu. Sejak tahun 2024 ee Perpustakaan Nasional sudah memberikan bantuan. Total ada 20.000 perpustakaan baik di tingkat desa atau kelurahan serta taman bacaan masyarakat. Masing-masing mendapat 1000 buku buku ee yang disertai dengan pembinaan kepada ee penerimanya. Kemudian ee ada KKN tematik Literasi ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi ee menghadirkan program KKN tematik Literasi. Saat ini sudah sekitar ee 15 perguruan tinggi yang bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional menjalankan program KKN ee tematik literasi ini. Mahasiswa kemudian hadir pada tingkat desa, kemudian mengedukasi masyarakat di sana untuk menguatkan literasi. Kemudian juga tahun ini juga sudah dijalankan program relawan literasi masyarakat yang merupakan ee bentuk komitmen dalam meningkatkan budaya baca dan meningkatkan kecakapan literasi. Kami mengaktivasi relawan-relawan yang ada di sekitar masyarakat untuk mendorong adanya penguatan literasi di masyarakat. Dan yang terakhir adalah penguatan pemberdayaan perpustakaan. Kegiatan penguatan pemberdayaan perpustakaan baik sekolah, desa, dan perguruan tinggi hadir untuk membangun jejaring, melatih kapasitas, serta merancang aksi kolaborasi yang berdampak langsung. Kegiatan ini melibatkan tenaga perpustakaan di setiap daerah dengan agenda pembinaan, diskusi hingga pembentukan kelompok kolaborasi. Dengan cara ini, pemberdayaan bukan hanya konsep, tapi menjadi gerakan bersama. Terakhir mungkin mengutip dari ee duta baca yang ee kita di Bu Najwa Zihad ini duta baca kita hingga tahun 2020 ee 3. Membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta. Itulah mengapa buku disebut jendela dunia yang merangsang pikiran agar terus terbuka. Baik, ee mungkin itu yang bisa saya sampaikan, Mas Lukman. Terima kasih. Kurang lebihnya mohon maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih untuk Bapak Nurhadi Saputra, Sos, M.Si. Atas pemaparan materinya yang sangat menarik sekali. Dan sobat SN, setelah ini kita akan lanjut masuk ke sesi tanya jawab. Jadi untuk sobat SN yang ingin bergabung di Zoom apabila ingin bertanya bisa menggunakan feature rise hand ataupun yang tengah menyaksikan acara ini melalui live YouTube BPSDM Jatim TV bisa langsung tuliskan saja pertanyaan melalui live chat. Ini menarik sekali ya Pak Nurhadi ya. Terkait dengan materi yang Bapak sampaikan. Kita bisa lihat sebenarnya perkembangan literasi. Definisi literasi itu kalau dulu itu cuman sekedar membaca, menghitung dan lain sebagainya. Tapi di era digital sekarang ini sudah berpindah definisinya. Nah, literasi ini sudah diredefinisikan sebagai bagaimana cara kita bisa memiliki pengetahuan itu untuk kemudian kita bisa berpikir kritis dan menentukan dalam pengambilan sikap. Tapi Pak pertanyaannya Pak Nurhadi, yang menjadi masalah ini kan sebenarnya kalau kita lihat akses pendidikan ini sudah semakin banyak gitu ya. Tapi yang menjadi akar masalah itu adalah bagaimana cara kita bisa menimbulkan curiosity atau rasa ingin tahu di seluruh lapisan masyarakat kita agar terus menjadi lifelong learner. Karena kan sebagian besar paradigma masyarakat saat ini itu melihat bahwasanya belajar itu hanya dilakukan di sekolah saja, tapi di luar sekolah mereka rasa kayaknya tidak perlu belajar gitu deh ee yang berkembang di paradigma masyarakat saat ini. Kalau menurut Pak Nurhadi bagaimana melihat fenomena ini dan solusi quick wins yang bisa kita lakukan, Pak? Iya. Baik. Ee Masukman kalau kita melihat memang apa ya ee kultur kita ya ketika misalnya seseorang ini merasa ee pembelajaran di sekolah sudah selesai dan kemudian mereka melanjutkan di fase kehidupan yang lain menganggap ee belajar itu tidak penting. Ini memang ee ee ee apa ya kultur yang memang terbentuk di masyarakat, di sebagian besar masyarakat. pemerintah sebenarnya ee terus menciptakan ruang-ruang belajar bagi masyarakat ya. Kehadiran perpustakaan pun ini menjadi sebuah ruang bagi masyarakat untuk terus belajar. Nah, cuman memang kita melihat ada faktor-faktor lain nih yang mungkin menjadi pertimbangan masyarakat juga kenapa kemudian mereka merasa sudah cukup untuk belajar dan berhenti untuk belajar. Ini ya yang menjadi musuh kita bersama mungkin ya. tidak hanya ee ee kita yang memang ee bekerja di bidang literasi, tapi mungkin semua pihak ini harus turun andil. bahwa namanya belajar ini tidak akan pernah selesai karena ilmu pengetahuan ini selalu berkembang, teknologi selalu berkembang dan ketika kita merasa kita sudah cukup maka kita tidak akan pernah bisa meraih apa yang ada di depan potensi dan peluang itu. Nah, ini ini yang menjadi trigger kami bagaimana kemudian ee memberikan pemerataan terhadap akses informasi, akses pengetahuan kepada seluruh masyarakat. beberapa program yang sudah dijalankan Perpustakaan Nasional tadi salah satunya itu men-trigger masyarakat untuk terus belajar karena banyak hal yang mungkin ee belum dipahami. Karena menurut ee riset kami, kemiskinan, ketidaksejahteraan masyarakat ini bukan ee bukan hanya sebatas mereka tidak punya peluang, tetapi kesempatan mereka untuk memperoleh informasi ada apa dan apa yang bisa mereka ee raih itu yang tidak terinfokan. potensi diri mereka terkadang tidak bisa berkembang karena ya minimnya ee minimnya pengetahuan, minimnya informasi yang mereka dapat. Nah, inilah kami hadir bagaimana ee memotivasi mereka dengan menyediakan berbagai kebutuhan dalam penguatan literasi dan kapasitas mereka sehingga kita berharap mereka kemudian bisa berinovasi untuk hidupnya dan akhirnya ee bisa meningkatkan kesejahteraannya. Jadi buat masyarakat ya jangan berhenti belajar. Kita harus terus belajar karena ee ilmu pengetahuan itu terus berkembang. Karena literasi bukan hanya sekedar ee bisa baca dan bisa tulis. Sekarang sudah di era digital. Kemampuan literasi juga kita juga harus terus diasah. Kemampuan kita memilahmilih informasi. Kemudian mana menentukan informasi yang memang ee kita butuhkan untuk ee untuk ee kehidupan kita, baik itu untuk menunjang profesi kita, untuk ee menunjang ee ee kapasitas kita. Nah, ini yang diperlukan. Mungkin itu, Mas Luan. Perbedaan loyal. Baik, kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Sudah bergabung bersama dengan kami Bapak Irwan Kholid. kami persilakan untuk menyampaikan langsung pertanyaannya. Silakan, Pak Irwan Khalid. Ada kami terus baik, makasih. Ee menarik hari ini ee pembahasan kita terkait dengan ee literasi untuk transformasi dari pengetahuan membangun peradaban. Ee menarik ee kenapa menarik? Karena memang mau tidak mau, suka tidak suka, literasi ini adalah sebuah bagian yang dapat merubah sebuah sebuah ee apa ya? warga negara di sebuah negara. Oleh karenanya literasi di era sekarang sudah sudah merupakan keharusan. Nah, yang menjadi perhatian saya adalah terkadang pemerintah masih menggunakan paradigma lama di dalam bagaimana mliterasi literasikan ee ke masyarakat. Contohnya misalnya pemerintah masih dengan menggunakan konsep-konsep ee yang ee menurut anak-anak sekarang, generasi ee Z sekarang ini yang agak sulit di di disesuaikan. Contohnya seperti ini. Ee sekarang zet-Zet ataupun perangkat digital adalah sebuah sebuah perangkat yang merupakan kebutuhan dari sebuah dari ee masyarakat. Nah, kalau kita diarahkan untuk membaca sebuah buku ya kita kan ini kan lebih pada membaca sebuah buku. Sementara di perangkatnya itu ada sebuah alat yang bisa dapat apa ya menerima informasi dari sebuah buku. Bahkan di alatnya itu pun dapat meresume sebuah buku. Jadi sebuah buku itu kita dengan menggunakan perangkat yang ada di perangkat ee HP-nya atau gadgetnya itu dia bisa meresume sebuah buku. Akan tetapi pemerintah mengharuskan bahwa ee bagaimana masyarakat untuk terus program literasi literasi literasi ini dengan menggunakan budaya baca, program budaya baca. Nah, apakah pemerintah ya pemerintah sudah mempunyai konsep program dengan perkembangan era digital sekarang merubah paradigma di dalam ee melaksanakan ataupun menjalankan program-program ee literasi digital kepada masyarakat. Itu yang pertama. Yang kedua, ee izin Pak ee kami menyarankan jangan ee pemerintah yang terlalu dominan ke depan, ya. Jangan pemerintah coba dicarikan bagaimana literasi ini tumbuh dari masyarakat. Jadi ee regulasinya dari pemerintah tapi operator di tingkat bawah itu masyarakat. Nah, dengan adanya ee menyerahkan ee pelimpahan kewenangan kepada kelompok-kelompok masyarakat untuk bagaimana literasi ini bisa ee bisa jalan di tingkat masyarakat, saya pikir bahwa pemerintah sudah harus ikhlas untuk menyerahkan ee kewenangan kewenangannya yang ada ke tingkat level masyarakat agar supaya langsung bersentuhan dengan masyarakat. Karena kita tahu bahwa di setiap komunitas atau kelompok masyarakat tuh berbeda-beda kebutuhan-kebutuhan literasi yang mereka ee butuhkan. Oleh karenanya saya menyarankan ee keduanya adalah bagaimana ada program PERPUS PERPUS Pusat untuk ee ee programnya langsung ke masyarakat. Nah, jadi nanti di nanti adalah pola-pola gimanalah dari oleh ee ee perpustakaan untuk ee memilih ataupun mengorganisir kelompok masyarakat dalam rangka untuk ee melaksanakan program literasi di tingkat masyarakat. Mungkin itu. Terima kasih. Selamat, Pak. Kami salut dan kami akan terus men-support ee program-program BPSDM Jawa Timur terutama narasumber-narasumber yang berkualitas. Izin saya Irwan Khalid dari Gorontalo, Sulawesi Utara atau Provinsi Gorontalo. Kami kembalikan ke host. Oh, jauh sekali, Pak. Dari Gorontalo, Pak. Iya, Pak. Makasih, Pak Irwan. Silakan, Pak Nurhadi. Langsung saja dijawab, Pak. Baik, terima kasih. Ee terima kasih, Pak Irwan Khalid. Nih, saya baru tahu nih, ternyata ee webinar ASN belajar ini yang ikut tidak hanya dari Jawa Timur ya. Saya pikir tadi hanya sebatas ee ASN di lingkungan Jawa Timur saja. ternyata dari Gorontalo nih, Pak Irwan nih. Baik, Pak Irwan. Memang kalau kita melihat ee tren sekarang ketika kemudian perangkat digital ee akses digital ini menjadi hampir apa ya ee sebuah kebutuhan ya bagi kacamata kami di pemerintah dan khususnya di Perpustakaan nasional ini bukan sebuah pertentangan. Kami pun ada ee apa namanya ee perkembangan teknologi ini pun kami adaptasi gitu. Jadi ee penguatan literasi ini tidak hanya sebatas kepada akses buku-buku tercetak, tetapi juga kami juga memberikan layanan terhadap akses-aksas digital. Cuman memang ee penguatan literasi melalui teknologi ee digital ini masih pro kontra ya. banyak sekali ee ahli juga menyatakan ada keterbatasan indra kita ketika kita mengakses koleksi secara digital. Dan ee beberapa ahli pun mengatakan bahwa ketika kita membaca buku konvensional atau buku cetak itu itu jauh lebih nyaman dan informasi yang di ada di dalam ee buku itu biasanya lebih ee melekat lebih lama di dalam ee otak kita. Nah, kemudian tadi Pak Irwan juga menyatakan bagaimana program literasi ini juga di di digerakkan oleh masyarakat. Ini juga dilakukan, Pak. Sebenarnya banyak sekali komunitas-komunitas atau pegiat-pegiat literasi yang memang ee bersinergi dengan kami. Yang perlu dipastikan bahwa kita punya tujuan yang sama. Kita punya tujuan yang sama bagaimana kita menguatkan atau meningkatkan literasi masyarakat. Memang ee kalau kita melihat yang dulu-dulu ini ee penguatan literasi ini berjalan sporadis. Komunitas punya konsep sendiri, punya tujuan sendiri, pemerintah punya tujuan sendiri. Nah, ini semenjak ee 5 tahun ke belakang itu kita sudah bersinergi bersama. Jadi kita juga memfasilitasi komunitas yang memang mereka berada di tengah-tengah masyarakat memotret apa yang menjadi kebutuhan masyarakatnya dan kita ee kita suplly dengan kebutuhan ee informasi yang dibutuhkan. Jadi tadi yang disampaikan program ee transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini juga kami mengedepankan fungsi-fungsi di perpustakaan desa, perpustakaan yang paling dekat dengan masyarakat ya. kemudian bagaimana ee memetakan kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan kami ee kami intervensi dengan ee pemenuhan terhadap ee ee koleksi-koleksi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Sama juga kemudian ada relawan literasi masyarakat. kami mengaktivasi ee komunitas-komunitas ee perorangan, penggiat literasi untuk mereka hadir ee di tengah-tengah masyarakat memberikan ee berbagai program dan kegiatan ee agar masyarakat peduli dan kemudian kita bisa menumbuhkan literasi gitu, Pak. Terjawab, Pak Irwan. Semoga sudah bisa terjawab semua pertanyaannya. Terima kasih sekali lagi Pak Irwan untuk pertanyaannya Pak Nur Hadi Saputra. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih untuk paparannya di sesi pertama kali ini. Mohon maaf karena keterbatasan waktu kami harus mengakhiri untuk sesi pertama kali ini. Salam sehat selalu untuk Pak Nuradi Saputra. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Thank you so much Pak Nuradi. Amin. Terima kasih, Mas Lukman. Baik, Sobat SN, jangan ke mana-mana karena sesaat lagi kita masih akan ada dua narasumber yang tentunya tidak kalah menarik dibandingkan dengan narasumber yang pertama tetap di webinar ASN belajar seri 35 tahun 2025. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia tukan tekad pantang menyerah jadi ASN berkualitas sama aku [Musik] Ya, Sobat ASN, Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN belajar seri 35 tahun 2025. Kali ini kita akan beranjak ke materi berikutnya. Materi berikutnya akan disampaikan secara langsung oleh Kepala Balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Prao, M. [Musik] Selamat siang, Pak Pratono. Selamat siang, Mas. Kabar baik, Pak Prao. Alhamdulillah sehat. Baik, Pak Prao. Kami persilakan untuk menyampaikan materinya kurang lebih selama 30 menit, Pak Pratono. Nanti kita akan masuk ke sesi Q&A seperti di sesi pertama Pak Praono. Kami langsung saja persilakan. Monggo, Pak. Baik. Saya mau cek dulu slide-nya sudah terlihat. Sudah terlihat di sini. Oke, masih belum terlihat. Sudah aman. Oke, sudah aman, Pak Prtono. Baik, baik. Saya 30 menit ya paparan ya. Betul, Pak. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera buat kita semuanya. Bapak, Ibu yang saya hormati. senang sekali saya bisa berbagi ee informasi ee terutama ini terkait dengan program prioritas dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang saya coba rangkai dengan ee peran apa yang dilakukan oleh Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan ya salah satunya di Provinsi Jawa Timur dalam kaitan dengan ee kebijakan untuk membangun literasi untuk transformasi dari pengetahuan bangun peradaban. Dan saya menyiapkan slide ini sudah saya kirimkan kepada panitia, nanti bisa di-share saja dan ee saya lebih mengutapakan nanti untuk kita bisa banyak berdiskusi, berdialog, dan tentu yang terpenting adalah berbagi praktik baiknya. Insyaallah ee saya tidak akan banyak untuk melakukan paparan, tapi ee pengin lebih ee banyak kita nanti untuk berdiskusinya. Baik, Bapak Ibu sekalian. Yang pertama saya ingin memulai dari tantangan pendidikan kita ini sekedar untuk mengingatkan bahwa anak-anak yang kita didik hari ini itu 20 40 tahun yang akan datang mereka akan mengisi pembangunan nasional kita. Apalagi ee Indonesia ee kalau diridai oleh Allah Subhanahu wa taala, kita akan mencapai Indonesia emas di 2045. di era itu di mana ee kecerdasan artifisial industri 4.0, keamanan cyber, transisi energi dan sebagainya itu akan ee betul-betul menjadi ee isu ee global yang yang anak kita kalau tidak kita bekali dengan baik ee mereka ee tidak akan bisa ber ee peranan lebih banyak di kehidupannya nanti. Dan untuk itulah ee kita ingin ee memastikan betul agar ee 30% penduduk Indonesia yang berada pada usia PAUD hingga pendidikan menengah ini betul-betul menjadi aset kita. Ini jadi pendidikan itu investasi ee utama untuk menghasilkan generasi Indonesia yang berkualitas dan itulah sebabnya dari sejak jenjang PAUD itu harus betul-betul kita ee tangani dengan sebaik-baiknya. Nah, mengapa ini kemudian menjadi sangat penting? Karena faktanya memang hari ini kita masih menghidup mengalami ya kendala yang sangat ee luar biasa beratnya. Ini masih ada 75% ya anak-anak kita itu yang memiliki kemampuan baca di bawah standar gitu. Jadi bukan ini bukan yang di atas standar ya, tapi ini angkanya besar tapi yang di bawah standar. Lalu di bidang kemampuan ee berpikir ee strategisnya ya di bidang ee aplikasi matematika itu kita juga memiliki ee masalah yang lebih besar lagi yaitu sekitar 82%. Dan ini betul-betul ee harus kita kita sadari dan kita ee anggap penting gitu agar semua potensi yang kita miliki ini bisa kita ee fokuskan, kita arahkan ke kedua area ini ya, itu literasi dan numerasi. Yang salah satunya ini menjadi topik penting ee di dalam webinar ini yang terkait dengan kemampuan literasi. Lalu apa yang di dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan karena BBPMP itu adalah unit pelaksana teknis di bawah naungan Direktorat Jenderal Paudik Dasmen, ee saya menyampaikan ee program prioritas yang terkait dengan Dijen Paudigdas Desasmen agar ee saya bisa menyampaikan ee kira-kira BPMP itu peranannya seperti apa gitu. Nah, prinsipnya ada tiga hal yang menjadi fokus dari pelaksanaan program prioritas ini. Yang pertama inklusif. Artinya tidak ada anak yang dikecualikan ya. Ya, mereka yang berkemampuan tinggi, yang biasa-biasa saja atau bahkan yang berkebutuhan khusus ee mereka ee harus bisa diupayakan untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas. Lalu yang kedua di tengah ee keberagaman yang sangat tinggi dari alam sekitar kita, kemudian juga karakteristik dari anak-anak kita, maka ee layanan pendidikan ini ee diharapkan betul-betul bisa mengembangkan secara optimal potensi setiap peserta didik ya. Jadi ee kalau dulu kita mengenal pembelajaran yang berfokus pada murid, nah ini maka proses adaptasi dari ee kegiatan belajar mengajar ini juga harus tetap kita kembangkan. Maka ee kalau kita ikuti ee beberapa media yang banyak menyampaikan pesan dari Pak Menteri yaitu dengan ee kegiatan pembelajaran mendalam. Nah, ini esensinya adalah bagaimana anak-anak ini bisa mendapatkan ee pembelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya dan mengembangkan potensinya dan juga memperhatikan aspek kebermanfaatannya sehingga kemudian bisa memaju pada ee motivasi dan semangat anak-anak kita untuk belajar. Lalu yang ketiga ee prinsip partisipatif. partisipatif di dalam kelas termasuk juga partisipatif dalam menjalankan program prioritas nasional. Sehingga saya terima kasih dengan kegiatan-kegiatan semacam ini di mana ee semua stakeholder berkolaborasi dan bekerja sama untuk ee membangun ee pendidikan nasional kita. Nah, ee pilar kebijakan ini lalu dituangkan untuk menjalankan delapan program prioritas nasional ya. Dan ini ee merupakan pengejawan wantahan dari asta cita ee Bapak Presiden kita yaitu untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan. Nah, di Dien ee PAM ini delapan programitas nasional itu ee di antaranya adalah revitalisasi sekolah. Ini yang memfokuskan pada ee perbaikan kondisi sarana prasarana. Kemudian digitalisasi pembelajaran ini ee dalam rangka untuk membuat pembelajaran lebih menarik, kemudian lebih ee lebih update dan juga membantu para guru untuk mendapatkan materi-materi bahan ajar dan juga berbagi praktik baik dengan lebih mudah. Dan ini yang masuk dalam ee program prioritas digitalisasi pembelajaran. Lalu ada makan bergizi gratis, SPMB, wajar 13 tahun dan penuntasan ATS ini menjadi konsern. Betul karena memang sekarang ini masih ee di bulan Mei kemarin itu ada 4,2 juta anak usia sekolah kita yang belum ee mendapatkan pendidikan. Ini menjadi fokus dari Pak Menteri. Lalu juga ee pentingnya pendidikan PAUD ya dengan program 1 tahun pra SD. Lalu ada penguatan karakter, pembelajaran dan penilaian. Dan yang terakhir ini menjadi core bisnis kami yaitu untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan. Nah, literasi irisannya yang kuat di mana? Yaitu di digitalisasi pembelajaran dan di program prioritas pembelajaran dan penilaian. Jadi ee tema kita ini memang ee bagian dari ee program prioritas nasional ya. Jadi insyaallah ee dukungannya akan sangat ee sangat kuat ini untuk di ee tata kelola pendidikan nasional kita. Nah, lalu ee bagaimana ee literasi ini ee bisa kita bawa untuk membangun ee sebuah peradaban. Nah, Bapak, Ibu yang saya hormati ee saya saya ingin ee sekali lagi mengingatkan bahwa ee terkait dengan keterampilan berpikir ini kita masih ee ee perlu harus berjuang keras karena memang sampai hari ini ee anak-anak kita belum terbiasa dengan ee pendekatan higher order thinking skill ya. Jadi kalau ada ee soal-soal yang ee yang membutuhkan analisis ee untuk berpikir ilmiah itu masih masih sangat ee lemah. Dan kalau kembali kita lihat dari ee caban di Scorpisa, maka ya 99% anak-anak kita itu ee level berpikirnya itu berada di tingkat ee rendah. Tapi ini jangan dianggap ini ee apa sebagai sebuah sebuah pelarian gitu ya. Tetapi saya ingin memberikan sebuah kesadaran bahwa memang untuk memasuki ee di era dunia baru ee era digital itu kita memang ee berada pada kondisi yang harus ee melakukan kerja keras gitu ya. melakukan ee upaya yang bersungguh-sungguh dan itu Bapak Ibu bisa lihat di bahan paparan yang kami sajikan ini bagaimana anak-anak kita di kemampuan membacanya aja itu 74,5% itu level 1 gitu ya. Kemudian level 2-nya juga masih cukup tinggi hampir 20% gitu. Jadi hanya hanya 0,8% itu yang berada di level ee 4 ee sampai 6 gitu. Kemudian ee di matematika itu 81,7% ee kemampuannya berada di level 1 dan kemudian hanya 0,4% yang di level 4 sampai ee 6. hanya sedikit lebih tinggi di sains ya ada 0,9 gitu. Tapi sekali lagi yang level 1 kalau kita jumlahkan dengan level 2 juga masih ee sangat ee besar persentasenya. N ini menandakan bahwa ee ee kemampuan membaca ee matematika dan sains dari anak-anak kita itu ee perlu kita ee terus kuatkan. Nah, saya sepakat dengan ee pemateri sebelumnya bahwa yang memang ee memberikan ee cara berpikir kita bahwa ee dunia literasi di Indonesia ini memang ee perlu ee kita garap secara bersama-sama ya, Bapak, Ibu. Nah, tadi juga sudah banyak disampaikan ee literasi ini sekarang tidak hanya sekedar ee membaca, menulis, berhitung, tapi sudah merambah ke bidang-bidang yang lain ya, literasi digital, data, sains, finansial, ee budaya dan kewarganegaraan gitu. Dan kita sepakat juga bahwa ee literasi ini memang ee sebagai kunci dari sebuah transformasi di mana secara individu kita kita perlu ee menjadikan diri kita dan anak didik kita memiliki kapasitas berpikir kritis dan kreatif. masyarakatnya menjadi masyarakat yang inklusif dan kolaboratif sehingga kemudian kita bisa tumbuh menjadi bangsa dengan SDM yang unggul dan siap untuk ee berperan di era ee globalisasi ini. dan kemudian bagaimana ee kita mulai dari ee pengetahuan yang harapannya dengan mengetahui itu maka ee mampu untuk berinovasi ya, membangun ide-ide baik dan dari inovasi-inovasi yang kita lakukan ini maka ee terjadilah transformasi sosial gitu sampai akhirnya ee bisa kita ee wujudkan menjadi sebuah peradaban. Kalau ee mengambil dari teori perubahan dalam kehidupan manusia, maka ee kita bisa memahami bahwa perubahan itu kita mulai dari ee pribadi kita masing-masing ya, menjadi pribadi yang mengetahui, pribadi yang berubah gitu ya. sehingga kemudian dari pribadi-pribadi itulah terbentuk ee sebuah masyarakat gitu, sebuah ee lingkungan ee sosial yang literate gitu. Nah, kalau masyarakatnya itu sudah menjadi masyarakat yang literate, maka ee bangsa itu akan menjadi bangsa yang maju, bangsa yang berperadaban. Bapak, Ibu yang saya hormati. Ee peran literasi dalam peradaban bahwa secara historis memang kita kita pahami dan ee kita ikuti dari penjelasan yang tadi sudah disampaikan bahwa memang ini bisa menjadi cikal bakal dari ee lahirnya sebuah peradaban gitu ya. dari mulai mengenal huruf di tembok, di dinding, kemudian sampai mengenal angka dan sebagainya. Nah, sehingga harapan ke depannya ini secara ee ee secara kebangsaan itu akan betul-betul literasi itu bisa menjadi sebuah gerakan untuk menjadikan Indonesia emas di 2045. Nah, saya ingin ingin menyampaikan lalu strategi apa yang bisa kita lakukan ya, Bapak, Ibu sekalian. Maka kalau kita ee lihat dari peran kita masing-masing ee membangun literasi ini tidak tidak cukup hanya menjadi ee tanggung jawab dari sekolah gitu ya, tapi ee sekaligus juga melibatkan masyarakat dan pemerintah. Saya sepakat dengan ee yang disampaikan oleh penanya tadi bahwa jangan jangan menjadikan bahwa seolah-olah ee literasi itu menjadi urusannya pemerintah gitu. Tapi mari semua kita ee ee bergotong-royong. Karena kalau perubahan itu hanya kita bebankan kepada ee sekolah misalkan, berapa banyak sih anak-anak itu menghabiskan waktunya di sekolah gitu. ya banyak waktu yang dimiliki di rumah. Kemudian anak juga berinteraksi dengan teman-temannya di kebun main, di lapangan ee di taman dan sebagainya sehingga kemudian ee keluarga itu bisa membudayakan ya menjadikan habit agar menjadi keluarga yang berbudaya untuk membaca dari sejak dini ya, terutama membaca ee cerita, membaca baca narasi, membaca tulis, biasa berdiskusi dan sebagainya. Lalu ee layanan pendidikan yang kita berikan juga ee kurikulumnya itu ee tidak hanya mengejar target penuntasan materi, tetapi memang betul-betul ee bisa dilakukan proses pembelajaran yang mendalam dan itu ee berbasis dengan literasi. di masyarakat kita biasakan anak-anak ee tidak hanya bermain fisik gitu ya, berolahraga fisik, tapi juga disertai dengan ee adanya taman bacaan, kemudian ee komunitas literasi atau desa literasi dan tentu ee pemerintah sebagai ee pengambil kebijakan ya juga menelurkan kebijakan-kebijakan yang mendukung literasi dan memberikan kemudahan dalam akses digital. Nah, hanya memang ee sampai hari ini ee literasi itu masih memiliki tantangan yang berat, tapi sebenarnya tantangan ini bisa menjadi peluang untuk ee berinovasi dan berkreasi gitu ya. Jadi tidak tidak menjadikannya sebuah hambatan yang akan ee melemahkan ee semangat untuk ee melakukan ee sebuah ee ee pembaruan gitu. Nah, apa tantangan ee literasi yang masih kita hadapi sekarang ini? Yang pertama adalah rendahnya budaya baca ya. Anak-anak kita masih ee lebih mengandalkan untuk menonton ya film ee ee cerita video pendek gitu. Tapi kalau sudah membaca itu ee ee susah sekali gitu. Bahkan bisa membaca tapi tidak menangkap ee maknanya atau bisa membaca tapi tidak bisa tahan lama gitu. Dominasi media sosial tanpa filter kritis. ya kita sudah rasakan betul kejadian akhir-akhir ini ya dalam ee sepekan dua pekan terakhir itu ee bagaimana ketika kecerdasan ee bersosial media ini tidak dimiliki oleh masyarakat maka ee banyak kerusakan-kerusakan yang terjadi yang timbul akibat informasi yang tidak benar. Kemudian lalu ee Indonesia juga ada Jawa, luar Jawa, ada kota, ada desa, ada ee kepulauan, ada daerah-daerah pedalaman yang tentu ee ini berdampak ee pada kesenjangan akses ee informasi terutama kalau basisnya itu adalah basis internet. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati. dengan literasi ini maka ee kita sekali lagi ingin membangun sebuah peradaban. Lalu di mana ee peran dari BBPMP Provinsi Jawa Timur sesuai dengan namanya, kami ini melaksanakan ee fungsi penjaminan mutu pendidikan. Ini adalah dua slide kami yang terakhir yang nah dalam rangka untuk melakukan sistem penjaminan mutu ini maka memang ee kita ee memiliki modal yaitu rapot pendidikan. rapot pendidikan ini adalah hasil analisis yang datanya diambil ee melalui ee assesment nasional dan di sekolah itu sudah ee bisa membaca ee setiap satuan pendidikan itu bagaimana rapot ee satuan pendidikannya. Nah, termasuk juga di level pemerintah daerah ya, baik kabupaten, provinsi itu juga ada rapot ee pendidikan. Nah, rapot pendidikan itu menjadi satu ee informasi yang bisa menggambarkan kondisi satuan pendidikan untuk di tiga area besar. Yang pertama adalah terkait dengan literasi, kemudian yang kedua numerasi, lalu yang ketiga terkait dengan ee karakter. Nah, kami di dalam proses untuk melakukan penjaminan mutu ini maka setiap satuan pendidikan itu didampingi ya melalui kegiatan sosialisasi bimbingan teknis untuk bisa melakukan ee pemetaan ee mutu pendidikan ya masing-masing satuan pendidikan. Nah, dari pemetaan ee mutu satuan pendidikan itu maka ee setiap satuan pendidikan akan mengidentifikasi apa yang menjadi ee akar masalah dari mutu pendidikan di ee sekolahnya. Lalu dibuatlah sebuah perencanaan untuk melakukan problem solving terhadap ee akar masalah itu yang sumber pembiayaannya diambilkan dari pengelolaan dana BOSP baik yang reguler maupun yang kinerja dan itu dituangkan dalam RAK. Nah, lalu kami di BPMP melakukan fasilitasi dan supervisi. Nah, mengingat bahwa ee jumlah satuan pendidikan kita cukup besar, maka di dalam project charter yang kami ee buat di BBPBMP ini untuk pemetaan mutu pendidikan target kami adalah di jadi 100% satuan pendidikan yang jumlahnya sekitar 67.000 sekian itu itu ee sudah bisa kita petakan. Kami kembangkan sebuah sistem atau aplikasi yang membantu kepada ee sekolah untuk bisa ee dengan mudah memahami peta mutu di satuan pendidikannya. Nah, hanya kemudian untuk melakukan penjaminan mutu, kami menggunakan pendekatan dengan membuat sebuah model ya yang setiap jenjang itu dibuatkanlah ee ditetapkan satuan-satuan pendidikan yang ee kemudian menjadi model untuk melakukan penjaminan ee mutu pendidikan. Bapak, Ibu yang saya hormati ee penjaminan mutu itu kita ee kita ee lakukan dengan basis apa ya sesuai dengan pedoman yang diterbitkan bahwa ee kita melihat mutu satuan pendidikan kita itu dengan melihat ketercapaian pada delapan standar nasional pendidikan gitu. Nah, sehingga ee siklus yang kita buat maka pemerintah daerah itu melaksanakan program dan kegiatan ee peningkatan mutu yang mengacu pada SPM. Lalu nanti di satuan pendidikan itu melaksanakan ee penjaminan mutu internal yang siklusnya tadi mulai dari pemetaan mutu, perencanaan ee sampai kemudian ee fasilitasi dan supervisi. Lalu ee proses ee penjaminan dilakukan di step satuan pendidikan dan nanti diharapkan di akhir 1 tahun melaksanakan penjaminan mutu itu maka ee kita ingin ee standar pelayanan minimal di setiap ee daerah itu mengalami peningkatan. ee 1 tahun kami ee mendampingi di Jawa Timur ini. Alhamdulillah kemarin dalam satu ee di tahun 2024 ee seluruh ee pemda di Jawa Timur ini ee mengalami ee peningkaan peningkatan status ee dari ee SPM di bidang pendidikannya dan itu ee merupakan capaian yang sangat luar biasa. Dan sekarang ini ee kita akan lebih banyak memfokuskan pada ee ee tiga isu penting tadi yaitu terkait dengan literasi, numerasi, dan karakter. Mas Rukman saya kira itu ya dalam ee 25 menit dari waktu yang saya gunakan untuk melakukan paparan dan ee kami persilakan pada Bapak Ibu para ee peserta untuk memberikan respon atau mungkin mengklarifikasi, mengkonfirmasi. Terima kasih. Terima kasih Pak Proftono atas materi yang telah diberikan. Sangat menarik sekali. Tadi kita sudah tergambar ya sebenarnya current condition kita kalau melihat data dari PISA 2022, kemampuan untuk berpikir tingkat tinggi para peserta didik di Indonesia ini masih cenderung rendah. Setidaknya ini bisa menjadi awareness untuk seluruh stakeholder yang ada di Indonesia untuk kita sama-sama yuk kita sinergikan dan integrasikan supaya kualitas pendidikan Indonesia ini semakin baik utamanya untuk menyongsong Indonesia emas di tahun 2045. seperti itu. Dan selanjutnya kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Bagi sobat ASN yang ingin bertanya silakan dapat menggunakan feature rise hand ataupun yang tengah bergabung melalui live YouTube BPSDM Jatim TV. Anda juga bisa menuliskan pertanyaan melalui live chat. Kita akan kembali setelah jeda pandwara berikut ini. [Tepuk tangan] [Musik] Yeah. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Anda kembali menyaksikan webinar ASN belajar seri 35 tahun 2025. Kali ini kita akan masuk ke bagian Q&A session dan telah bergabung bersama dengan kami semua di sini Bapak Kasiadi dari SMA Negeri 1 Ngoro Jawa Timur. Saya akan sapa beliau terlebih dahulu. Selamat siang, Pak Kadi. Mohon maaf Bapak masih termute suaranya. Mungkin bisa di-unmute terlebih dahulu audionya, Pak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. I sudah terdengar Pak Kasadi. Silakan disampaikan pertanyaannya Pak. Alhamdulillah Bapak Dr. Preno, MED. Saya Kasih dari SMA Negeri 1 Ngoro Mojokerto, Bapak. Iya. Alhamdulillah tadi Bapak Prao tadi menyampaikan beberapa bahwasanya literasi sebagai kunci transformasi dan saya tadi ee ada strategi empat strategi dalam peningkatan literasi. Bapak yang saya tanyakan Bapak dalam konteks peradaban di era digital ini apa saja? strategi yang ee relevan khususnya ASN sebagai pendidik karena saya sebagai pendidik untuk ee memberikan satu ee pendekatan pada anak didik kami adanya tantangan peluang yang dihadapi di era digital ini dalam mengaplikasikan literasi untuk memajukan Indonesia dalam generasi ee emas nanti. Terima kasih Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Nah, ini ee luar biasa nih, Pak Kadi ini ng terima kasih, Pak. Ee jadi gini ya, Bapak Ibu. Kita itu rasa-rasanya tidak mungkin kalau mau mau ngawasi anak kita itu 24 jam ya gitu. Itu tidak mungkin jelas gitu. Karena ee pertama kemampuan kita sendiri dalam era digital ini bisa jadi ee tidak lebih pintar daripada anak didik kita tuh apalagi yang jenjang SMP, SMA gitu kan. Kita seringki ee justru ini gimana ya cara dapat akses informasi ini caranya bagaimana itu malah kita nanya ke anak-anak kita. Nah, saya yang perlu sebenarnya dimiliki oleh anak-anak ini adalah ee kesadaran bahwa dia harus memiliki tanggung jawab dengan pilihan dan ee kegiatan yang mereka lakukan gitu. Sehingga anak-anak kita itu ee tahu bahwa kalau dia bersosial media tidak benar, maka akan ada risiko di sana. Yang kedua, kita perlu memberikan kepada anak-anak bagaimana rambu-rambu informasi yang memang betul-betul bisa memberikan manfaat gitu. Sehingga anak itu punya punya ee filter gitu loh. Oh, ini ini oke, oh ini tidak gitu. Kalau ini saya ambil ini dampaknya akan Nah, kalau informasi baik yang saya ambil dampaknya akan begini. Kalau informasi yang tidak baik dia akan begini gitu. Nah, lalu yang juga menjadi penting Pak Kadi dan juga Bapak Ibu semuanya bahwa memang anak-anak kita ini sekarang berada di era di mana informasi itu ada di sekitar hidupnya itu 24 jam dari segala arah dan sebagainya. sehingga memang anak-anak ini harus tahu dan sadar betul mana informasi yang bermanfaat bagi dirinya, mana yang tidak. Lalu ketika dia mendapatkan informasi maka dia bisa mengkonfirmasi. Kalau bahasa agamanya tabayun lah gitu. Jangan, jangan begitu ada langsung share, begitu ada langsung di di ditelan mentah-mentah dan apalagi sekarang ada AI ya. Saya ngomong begini itu nanti kalau di kemas dengan AI lagi gerakan bibirnya mungkin saya tapi kata-kata yang keluar itu sudah bisa lain lagi gitu. Dan kemarin itu betul-betul terjadi ya sehingga kemudian menjadikan sebuah kerusakan yang besar. Jadi menurut saya Pak Kasadi satu kata yang yang menurut saya akan bisa mewakili penjelasan yang yang saya berikan itu adalah value nilai. Nah, bagaimana anak-anak menyadari betul ee akan nilai yang sehingga kemudian ee timbul etika, timbul kesadaran diri dan sebagainya gitu Paki. Terima kasih. Mudah-mudahan menjawab. Terima kasih, Pak Prao atas jawabannya. Semoga menjawab dengan baik ya, Pak Kasadi. Thank you juga, Pak, sudah memberikan pertanyaannya, Pak Pratono. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih karena sudah berkenan untuk menghadiri webinar SM Belajar seri 35. Mohon maaf karena keterbatasan waktu kami harus mengakhiri sesi dua hari ini. Salam sehat selalu untuk Pak Pratono. Masih masuk. Sukses selalu untuk teman-teman semuanya. Siap, Pak. Salam sehat selalu. Baik, bagi sahabat ASN semua yang masih belum sempat bertanya kepada narasumber kita, jangan khawatir karena kita masih ada satu sesi narasumber lagi. Jangan ke mana-mana, tetap di webinar ASN belajar seri 35 tahun 2025. [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN berkualitas bersama [Musik] Pada hari ini, Senin, 9 Desember 2024, kita semua dapat berkumpul bersama dalam penyelenggaraan kegiatan sharing session sobat sertifikasi kompetensi investasi ASN berkualitas dalam keadaan sehat wala salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas ASN adalah pengoban kompetensi melalui sertifikasi kompetensi sertifikasi kompetensi bukan sekedar serangan formal tetapi melupakan untuk investasi nyata memastikan ASN memiliki standar keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan sertifikasi kompetensi investasi ASN berkualitas hanya resmi dibuka dan dimulai [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. Selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah. Jadi ASN cetar berkualitas belajar wujud pemerintahan berkelas dunia tukan tekad pantang menyerah jadi ASN cepat berkualitas [Musik] Masih bersama webinar ASN Blerser seri 35 tahun 2025. Sobat ASN, kali ini kita akan mendengarkan materi terakhir yang kali ini akan disampaikan oleh dosen Fakultas Sastra dan Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Joko Saryono, M.Pd. [Musik] telah bergabung bersama dengan kami semua di sini Prof. Joko. Selamat siang, Prof. Joko. Selamat siang. Kabar baik, Prof? Baik, Mas Ali. Baik, Prof. Tadi kita sudah mendengarkan paparan dari narasumber pertama dan narasumber kedua kita. Dan ada satu fakta yang mengejutkan bahwasanya kalau dari data PISA 2022, kemampuan berpikir tingkat tinggi para peserta didik di Indonesia ini masih cenderung rendah. Sedangkan di tahun 2045 kita punya visi untuk meraih Indonesia emas. Kali ini kita mau mendengarkan paparan dari Prof. Joko dari sisi akademisi bagaimana melihat fenomena-fenomena seperti ini dan apa saja sih yang bisa kita lakukan untuk menghadapi tantangan utamanya dalam peningkatan budaya literasi di kalangan masyarakat Indonesia. Untuk materi kurang lebih akan disampaikan selama 30 menit. Nanti kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Kami persilakan Prof. Joko. Baik, terima kasih Mas Ali, Bapak, Ibu, teman-teman semuanya, para pegiat literasi. Ee selamat siang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee terima kasih atas partisipasi Bapak, Ibu, Saudara-saudara semuanya. ee dalam kegiatan ini tentu pertama-tama saya menyampaikan ee salam literasi. Ee semoga kita semakin literat, kita semakin cerdas membaca, cendekia bernalar. Ee tadi dua pembicara sudah menyampaikan berbagai fakta, berbagai data dan harapan. fakta dan mungkin tidak mengenakkan ya, tidak mengenakkan, tidak memberikan harapan itu. Tetapi marilah itu kita sikapi sebagai satu fakta untuk bertindak, untuk berbuat lebih baik lagi, menggerakkan, meningkatkan ee mendalami literasi. Nah, saya ingin menyampaikan ee hal yang mungkin bisa melengkapi apa yang sudah disampaikan Pak Nuradi dan Pak Prabtono tadi. ee saya akan melihat dari sisi kebudayaan, literasi sebagai kebudayaan dan saya nanti mungkin lebih cenderung memberikan apresiasi-apresiasi atas berbagai gerakan, kegiatan, tindakan-tindakan yang bisa digolongkan dalam literasi dalam arti mencemerlangkan pikiran-pikiran kita, nalar kita guna membangun peradaban, guna membangun kebudayaan yang lebih baik. Izinkan saya berbagi ee layar. Iya. Nah, saya ingin memberikan pendalaman pendaran atas apa yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Pratolo, Pak Nurati dengan ee berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia ee elemen-elemen masyarakat Indonesia berkenaan dengan ee kondisi literasi kita. ee kita sudah mendapatkan gambaran ee tentang harapan-harapan kita dengan literasi kita, tapi juga mendapatkan kenyataan-kenyataan yang kurang mengenakkan tentang literasi. Berbagai ee data tadi sudah ditunjukkan. Saya ingin memberikan konteks dan pendalaman pada ee sisi kebudayaan dan beradabannya. Saya berpendapat berdasarkan berbagai pembacaan saya, literasi itu merupakan episentrum, merupakan pusat, merupakan inti, merupakan titik picu kemajuan kebudayaan dan peradaban kita. bukan berarti beradaban yang kebudayaan yang tidak bertumpu pada literasi kemudian tidak maju, tidak berkembang, tetapi ada perbedaan-perbedaan kondisi-kondisi yang harus kita ee sadari bersama gitu. Jadi ee tulisan ini tidak berarti menafikan masyarakat-masyarakat yang masih ee dominan kelisannya. Nah, Bapak, Ibu ee Saudara-saudara sekalian, marilah kita tengok ee kondisi kita dulu ya. kita sekarang rasanya pada zaman ini kita menghadapi berbagai cerita, berbagai berita, berbagai istilah kita dapatkan yang kira-kira ini ada revolusi kognitif. Revolusi kognitif itu luar biasa. Kajian-kajian, temuan-temuan ee tentang revolusi kognitif sudah banyak sudah banyak ditulis orang. dan kita ee sekarang pada kondisi seperti sekarang ini. Tetapi ee kita juga harus sadar salah satu revolusi kognitif itu disebabkan oleh disrupsi teknologi. Tidak hanya teknologi digital tapi juga teknologi yang lain. Teknologi kognitif, teknologi pangan, ee bioteknologi itu juga mendisrupsi kondisi kita, keadaan kita yang mendorong kita harus melakukan revolusi kognitif. tadi sebagian sudah disampaikan oleh Pak Praomo dan Pak Nurati. Nah, saya kira saya tidak perlu berpanjang kalam tentang hal ini. Ee tetapi kita juga menyaksikan ya dari revolusi kognitif kita tidak mendapatkan tidak hanya mendapatkan suatu kebenaran-kebenaran baru, capaian-capaian baru, narasi-narasi baru, cerita-cerita tentang kebenaran baru, tapi kita juga ter jerumus atau kita masuk ke dalam era pasca kebenaran. sebuah era ketika kebenaran mendapatkan definisi baru, ketika kesalahan, ketika kelancungan bicara, ketika disinformasi, misinformasi itu tiba-tiba ee bisa direkayasa, bisa dikelola, bisa dijadikan senjata, bisa dijadikan ee bahkan onar, pemicu onar. Nah, kita memasuki juga era pasca kebenaran. Di dalam era pasca kebenaran itulah antara yang benar dan yang salah bercampur menjadi satu. Bahkan yang salah menyamar sebagai yang benar. Yang benar tiba-tiba di ee bungkus dengan yang salah. Kita bisa terbalik-balik gitu. Di situlah saya kira kita menghadapi satu transformasi yang maha dahsyat. Tidak hanya dahsyat tapi maha dahsyat. Luar biasa terjadi pembalikan-pembalikan dan pembalikan-pembalikan itulah yang kita rasakan. Salah satunya adalah ee definisi kebenaran. Kebenaran tidak dilihat secara esensial, tapi kebenaran dilihat sebagai persepsi. Tidak dilihat sebagai logika, tetapi dilihat sebagai retorika. Mana yang bersuara lantang tentang ini yang benar, maka kadang itulah yang merebut banyak simpati. Padahal belum tentu secara ee logika itulah yang benar. Tapi begitulah kita menghadapi suatu era pasca kebenaran. Saya ingin me ngutip salah seorang pemikir. Mohon maaf kalau Bapak Ibu punya pikiran lain atau kegemaran pemikir lain, tapi saya ee setuju, sepakat dengan kata-kata Yal Noah Harari, seorang pemikir yang luar biasa menurut saya, salah seorang saja bukan satu-satunya yang memperhatikan soal literasi ee kognisi dan perubahan peradaban itu. Nah, kita sedang menghadapi katanya revolusi yang pernah belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, tadi yang saya sebut transformasi masa maha dahsyat tadi adalah revolusi yang memang belum pernah terjadi pada zaman-zaman sebelumnya. E, Harari menyebutnya itu revolusi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Semua cerita lama runtuh. Cerita-cerita ee yang telah dibangun oleh nenek moyang kita beratus tahun bahkan beribu tahun tiba-tiba tumbang. Tetapi tidak ada cerita baru yang muncul menggantikannya. Kita tidak mendapatkan jaminan. Yang pasti itu sebuah kisah, sebuah epos perjalanan manusia yang membuat kita berjalan mantap menuju masa depan yang lebih pasti. Jadi, cerita lama telah runtuh, cerita baru yang menggantikan belum tersedia. ini yang kita hadapi. Nah, kita di sinilah harus menyiapkan teman-teman yang masih muda, anak-anak kita, adik-adik kita, dan ee sahabat-sahabat kita yang mungkin masih harus itu. Nah, di situlah saya kira kita berhadapan dengan suatu keadaan yang ibaratnya masih banyak yang rumpang, yang kosong. Karena itu Harari menyatakan kita harus melakukan suatu transformasi yang radikal di dalam ketidakpastian yang radikal itu. Nah, kondisi kita kalau kita rasakan mungkin begitu. Nah, apa yang disampaikan tentang ee nilai piza, survei-survei tentang literasi itu saya kira sebuah kisah yang memang sulit untuk dipastikan bagaimana yang sebenarnya. Nah, di situlah saya kira kita tiba-tiba terperangkap masuk di dalam sebuah ee apa yang orang-orang sebut era pasca kebenaran zaman post era itu. Nah, kita sebagai homo sapien itu akhirnya juga dianggap sebagai spesies paca kebenaran itu. Itu saya kira yang menggantikan baru kita dari zaman batu terus melintasi zaman otak dan zaman otak sekarang sudah terlampaui. Bukan berarti otak tidak penting, tapi otak menjadi tidak cukup. Intelektualitas menjadi tidak cukup. Nah, itu yang harus kita sadari sekarang ini banjir informasi itu luar biasa banyak, rata-rata tidak relevan. kejelasan itu menjadi sebuah mimpi, sebuah kekuatan yang kita cari-cari. Nah, ini saya kira yang mendorong kita terus melakukan perubahan yang dahsyat, maha dahsyat yang dalam bahasa lebih ilmiah barangkali itulah yang disebut transformasi yang diinginkan yang dijadikan ee topik ee diskusi kita pada kali ini dari ee otak, intelektualitas kemudian kepada ee transformasi yang besar. Nah, apakah pertanyaannya apakah literasi bisa mendorong sebagai umpan, sebagai daya dorong atau sebagai senjata atau sebenarnya sebagai ee pendorong saja? Nah, Ibu Bapak sekalian, saya ingin kembali ee flashback dulu ya. Jadi, kita sebenarnya sedang ingin apa ya menurut kita sekarang? Kita ingin apa? Nah, ini saya kira akan membuat bagaimana kita harus berbuat mendorong transformasi itu. Nah, pertanyaan-pertanyaan ini saya kira penting. Apa yang kita miliki? Kita selalu mengeluh dan selalu maskul. Kita tidak memiliki literasi. Yang lain-lain tentu kita tidak perlu kita bicarakan. Tapi dalam konteks ini kita teramat maskul tidak memiliki literasi. kita selalu mengeluh ee literasi kita lambat. Mungkin memang ada kenyataan begitu, tetapi mungkin itu juga ee tidak komprehensif. Oleh karena itu, kita bolehlah membangun kisah yang lebih indah. Begitu. Nah, kisah yang lebih indah itu bisa kita tonjolkan mungkin secara garis besar, secara makro dengan survei-survei statistik ee kuantitatif itu wajah kita tidak terlalu baik, wajah literasi kita. Tetapi kita boleh dong membuat cerita-cerita kecil yang membahagiakan. Nah, saya kira cerita-cerita kecil yang membahagiakan ini cukup banyak. Di Indonesia telah tumbuh forum taman bacaan masyarakat Indonesia jumlahnya sekitar 7.000 se-Indonesia. Ee kemudian kita juga mendapatkan gerakan gerakan ee dari organisasi atau komunitas literasi. jumlahnya sangat banyak, aktif sekali ee membina masyarakat, anak-anak muda, bahkan anak-anak kita. Kita juga mendapatkan kenyataan bahwa daerah-daerah, pemerintah-pemerintah daerah selain pemerintah pusat juga semakin memperhatikan literasi ini, semakin terdorong untuk ee menggerakkan ya ikut serta atau cawe-cawe di dalam ee menghidupkan, menyemarakkan, menguatkan literasi ini. Jadi selain ada cerita-cerita maskul tentang piza, tentang skor ee literasi kita, skor baca tulis kita, tapi kita punya kisah-kisah kecil yang membahagiakan, yang menggambarkan anak-anak muda yang gigih luar biasa, ibu-ibu, bapak-bapak, orang-orang yang sangat gigih menyebarkan literasi itu. Nah, saya kira kita ee tidak memiliki bara yang besar tentang literasi, tetapi kita punya lilin-lilin literasi yang tersebar ke berbagai ee wilayah Indonesia ini. Saya kira itu yang kita miliki dan itu bisa menjadi modal untuk menggerakkan atau melakukan transformasi apa yang kita inginkan itu. Saya kira kita sedang berada di situ. Nah, dengan begitu kita bisa lebih merasa PD begitu berhadapan dengan zaman yang kita sebut era destrupsi. Karena transformasi Maha Dahsyat itu ee menghasilkan era destrupsi. Tapi marilah kita juga melihat tidak hanya tadi kita juga semakin melihat kantor-kantor kemudian lembaga-lembaga itu rasanya semakin empatik, semakin berempati, semakin ee konektif dengan apa yang disebut literasi. Ini saya kira satu contoh bagaimana berbagai bidang kehidupan kita sekarang ee sudah mengoneksikan diri dengan literasi. Saya kira itu sebuah us ee sebuah kecenderungan, sebuah kenyataan atau fenomena yang ee patut kita syukuri. Kita sudah konektif, connect, klik begitu ee di dalam meyakini bahwa literasilah obat panasea untuk menghadapi berbagai perubahan, berbagai transformasi maha maha dahsyat itu. Nah, jadi kita juga melihat ini mendadak disrupsi, mendadak juga literasi, mendadak transformasi besar, kita juga mendadak punya daya literasi yang tinggi. Nah, ini saya kira sudah menjadi demam dan itulah yang kemudian memerangkap atau memberi konteks pada kebudayaan atau beradaban kita. Saya membedakan kebudayaan dan peradaban. kebudayaan adalah olah budi, olah nalar, olah diri kita. Tetapi peradaban ada sentuhan moral, sentuhan ee etik, sentuhan akhlak, dan seterusnya. Jadi kalau kebudayaan itu mungkin ee orang bisa melihat negatif, tetapi beradapan selalu ada unsur konstruktif, bahkan dasarnya konstruktif. Orang menyebut karena korupsi meraja lela menyebut budaya korupsi itu kebudayaan. Tetapi itu bukan peradaban. Peradaban selalu ee optimis, positif, konstruktif membangun kehidupan kita bersama-sama. Karena itu saya tempatkan Bapak, Ibu, teman-teman sekalian, kita itu sebenarnya tidak sederhana. Hidup di alam yang tidak sederhana, tidak seperti negara-negara lain yang mungkin lebih kecil, lebih ee seragam. Saya kira dalam konteks literasi kebudayaan kita itu bisa terbagi menjadi empat. Nah, saya mencoba membedakannya menjadi kuadran ini. Kita itu memiliki masyarakat dengan kebudayaan yang masih lisan primer. Betul-betul lisan. Tidak mengenal tulisan. Tidak mengenal tulisan juga tidak memiliki tradisi baca tulis. Nah, banyak saya kira masih ada di Sulawesi, di Maluku, di Papua, bahkan di Jawa di tempat-tempat tertentu itu juga masih lebih lisan primer. Ketika situasi sosial, situasi ekonomi, situasi keamanan tidak menguntungkan, saya melihat kelisanan primer ini malah lebih dipilih, lebih ee diminati dianggap sebagai ee penyelamat dari ee ketidaknyamanan itu. Satu contoh, ada suatu etnik di Sulawesi di daerah tengah itu yang memilih kembali kekelisanan. Mereka menolak literasi karena menjadi literat itu tidak menguntungkan ceritanya. Masyarakat itu setelah bisa baca tulis kemudian kepala sukunya disuruh tanda tangan, ternyata hutan adatnya hilang. Tiba-tiba sudah menjadi ee hutan ee kebun kelapa sawit. Jadi ini kemudian mereka berpendapat dengan ungkapan yang metaforis bahwa ee baca tulis itu pena itu adalah setan bermata runcing. Jadi kita juga berhadapan dengan ee perasaan-perasaan, pengalaman-pengalaman yang tidak enak oleh masyarakat itu. Itu juga menjadi ee resistan, menjadi lawan dari literasi. buktinya ya saya tidak perlu menyebut etniknya, kelompoknya, tapi dia kemudian membuat perumpamaan bahwa literasi baca tulis itu adalah setan bermata runcing. Ee monggo silakan kalau mau mencari bukunya itu saya kira di internet ada. Nah, ini lisan primer, kondisi lisan primer kita masih banyak. Kita sekarang berhadapan dengan manuskrip zaman manuskrip atau naskah. Saya kira badan ee banyak pihak badan bahasa, BRIN, Perposnas sedang mengurusi ini. Bahkan Perpustakaan Nasional sangat getol mengurusi zaman naskah atau manuskrip ini. Selain tentu kita harus juga menyebut BR ya, bahkan badan bahasa juga ya. Paling tidak tiga pihak itulah ee yang merupakan institusi yang bergairah menghidupkan, menjaga, merawat ee peradaban atau kebudayaan kedua ini. Itu tentu saja dengan menyebut ee masyarakat pernaskhan atau masyarakat yang lain, kelompok masyarakat profesional yang lain. Nah, lalu kita di zaman literasi, tapi kita ini sekarang literasi kita belum mantap. Terbukti dari tadi ee uraian dari Pak Pratomo, uraian dari Pak Nurati tadi ee menggambarkan literasi kita yang masih bergoyang-goyang, belum mantap, kita sudah dihantam lagi ee dunia digital. Dunia digital itu adalah ee dunia kelisan ee post literasi, post literacing, pasca literasi. Dunia pasca literasi ini membutuhkan dasar literasi yang kuat barulah kita bisa hidup mantap di dunia digital. Nah, ini juga problem bagi kita. Ini masalah yang ee berat juga karena apa? literasi kita tidak mantap sehingga peradaban atau kebudayaan digital kita juga tidak mantap. Sebagai contoh, kebiasaan membaca di dunia literasi ini belum mantap. Ketika kita dihantam dengan dunia digital, dengan buku-buku digital, maka kita ee sempoyongan. Buku-buku digital kita juga tidak laku. Buku-buku digital kita juga belum banyak pembaca. Mari kita membandingkan sejenak merantau melangleng ke tempat yang lebih jauh. Di Prancis itu dunia literasi dan digital bisa berjalan seiring. Buku-buku yang dicetak tulis itu disebar luaskan diinformasikan melalui dunia digital itu tiba-tiba bukunya menjadi lebih ee berkembang. tetapi dunia digitalnya juga berkembang berkat literasinya mantap. Begitulah sebenarnya kita melihat literasi sebagai episentrum, sebagai pilinan untuk bagaimana menguatkan kelisan ini menjadi lebih mutakir, tetapi juga untuk memantapkan dunia digital sekaligus mengaktualkan kembali ee kebudayaan manuskrip atau naskah ini. Nah, jadi ee tugas kita itu banyaklah. Jadi kalau transformasi yang harus kita transformasikan itu sangat besar. Nah, Ibu Bapak sekalian, kita juga ee melihat kalau geo apa ya, geografis atau geospasial ee kita itu bisa dibagi juga dengan ini. saya menggolongkan juga dengan kuadran juga ee dalam era disrupsi dan sebagainya itu kita memiliki wilayah-wilayah yang sama sekali ee belum tersapu ya belum tersapu dunia digital masih alami, masih primer tapi ada juga yang tipis-tipis. Kemudian ada yang tersapu sebagian, tapi ada yang tersapu penuh sudah hidup di dunia digital. kota-kota seperti Surabaya, Jakarta ee itu atau ibu kota provinsi lain itu bisa begitu. Nah, tetapi kita menghadapi apa yang disebut kesenjangan ketimpangan digital. Ketimpangan digital, kesenjangan digital ini juga menimbulkan ketimpangan dan kesenjangan literasi, terutama literasi digital. Nah, di inilah saya kira problematik yang kita hadapi sehingga apa yang tadi ee skor literasi kita sekian-sekian itu sumbernya, sebabnya, faktornya ee tidak sederhana. Kita tidak bisa hanya serta-merta ee menyalahkan otaknya kurang anak-anak kita kurang bersungguh-sungguh gitu. Nah, itulah ee Bapak, Ibu sekalian yang harus kita ee waspadai. pertama. Jadi dari situ kita melihat bahwa literasi itu merupakan alas dari maha rupa, rupa kebudayaan yang sangat beragam, peradaban yang sangat beragam, masyarakat yang juga amat beragam di Indonesia itu. Ya, mari kita ee lihat sebentar apa resep, apa ee konsep, apa obat berbagai zaman ee ketika menghadapi keadaan seperti yang tadi saya sampaikan. Nah, jadi saya ingin membagi saja mengajak Ibu, Bapak, Saudara-saudara sekalian itu ke masa lalu, masa kini dan kita nanti bisa mencari obat atau panas untuk masa depan dengan literasi itu. Tapi kita tetap berfokus pada literasi sebagai intisari dari kemajuan kebudayaan dan peradaban. tadi sudah disebutkan oleh ee kedua narasumber bagaimana ee kebudayaan dan peradaban di berbagai tempat itu menjadi maju berkat literasi. Nah, kita lihat saja ini saya ingin melewati ini titi konteks yang sedang ada ee saya lewatkan tadi. Ini hanya contoh-contoh untuk meyakinkan yang tadi saya sampaikan. Nah, kita intinya berhadapan dengan dunia seperti ini ya. Nah, di sinilah kita harus ee bagaimana memperkuat kebudayaan, mentransformasikan kebudayaan agar cocok dengan berbagai zaman, berbagai kenyataan atau gejala yang ee saya sebut ini. Ini nama-nama yang telah di kemukakan orang, ahli atau buku yang saya identifikasi. Ternyata ternyata banyak nama. Banyak nama ini mungkin mirip, mungkin sangat mirip mungkin ya sedikit sekali kemiripannya. Nah, Bapak Ibu sekalian di tengah-tengah zaman itulah saya kira kita perlu menarik intisarinya. Saya melihatnya intisarinya sebenarnya tidak ee tidak banyak. Kita menghadapi zaman rentan. kita menghadapi ini kita yakin bahwa literasi bisa menghela ee kebudayaan dan peradaban untuk menjadi obat dari ketimpangan, kegalauan, kemudian kebergoyangan kita. Nah, Ibu, Bapak, itulah saya kira yang kemudian saya ingin lewatkan saja. Ini saya lewatkan saja. Ini tantangan-tantangan Bapak, Ibu. Dari tadi saya ingin menambahkan saja, sekarang literasi itu banyak dikaitkan dengan ee kebahagiaan, indeks ee kebahagiaan. Nah, apakah literasi Indonesia ini membawa kebahagiaan atau membawa ee kegalauan? Ya, ini saya kira pertanyaan yang nanti bisa eksperimen telah mencoba mempraktikkan berbagai jenis literasi demi mentransformasikan, membangun lebih kuat kebudayaan kita. Nah, di antaranya saya kira ini sekarang ini sudah berkembang apa yang disebut multiliterasi. Jadi literasi itu tidak seperti dulu yang hanya diartikan sebagai berpikir kritis dengan membaca dan menulis. Tentu ee berbicara dan menyimak juga menjadi bagian di dalamnya. Literasi sekarang sudah begitu luar biasa. Forum Ekonomi Dunia itu sudah ee apa ya mendeskripsikan itu sampai enam literasi yang kemudian diserap di Indonesia oleh gerakan literasi nasional itu menjadi enam literasi dasar. Saya kira itu satu pilihan tetapi bukan satu-satunya. Ada multiliterasi, ada literasi lokal. Nah, literasi lokal itu berarti membangun literasi di berbagai tempat kita. Pertanyaan penting, bagaimana kita bisa membangun literasi lokal ketika bahasa-bahasa lokal kita itu tidak memiliki aksara. Aksara di Indonesia bisa dikatakan sangat sedikit dibandingkan dengan bahasa lokal yang ada. Nah, inilah saya kira tantangan penting bagi para penghikmat bahasa, bagi institusi yang mengurusi bahasa di negeri ini. Bagaimana menyelamatkan bahasa-bahasa lokal itu ee dengan memberi aksara. Berilah aksara pada bahasa-bahasa lokal itu sehingga bahasa-bahasa lokal itu bisa menjadi batu landasan menjadi umpak bagi berkembangnya literasi lokal. Nah, ada juga yang disebut transliterasi. Jadi, literasi bukan sekedar itu, tapi literasi seperti tadi ada ee Perpusnas pernah mengembangkan literasi kesejahteraan, Perpusnas pernah ee mengembangkan literasi inklusi sosial, itu juga bagian-bagian dari transliterasi. apa yang dikembangkan oleh ee Perpusnas itu bisa dikategorikan literasi baru. Tetapi kita juga harus ingat dulu ada pemberantasan buta aksara. Ee pemberantasan buta aksara itu menggunakan literasi baru karena ee para peserta itu diberi modal untuk berdagang, kemudian menghitung, membaca dan seterusnya. Literasi praktis itulah yang disebut literasi baru. New literacy berorientasi pada bagaimana ee kebiasaan membaca, menulis, kemudian mendengarkan itu bersatu dengan profesi, bersatu dengan kegiatan-kegiatan ri yang ada di rumah, di masyarakat atau di dalam pemerintahan. Nah, saya kira masih banyak teori, konsep atau model literasi yang digunakan untuk memperkuat literasi sehingga bisa menjadi ee daya dorong atau di dalam konteks ini transformasi. Dengan begitulah kita bisa membuat suatu perubahan kebudayaan dalam arti transformasi kebudayaan. Begitulah Bapak, Ibu, akhirnya kita berhadapan sekarang itu sebenarnya kita sudah mendapatkan suatu konsensus, suatu kesepakatan, suatu keyakinan yang itu tidak mudah. Tapi kita tiba-tiba sepakat semuanya. itu saya sebut tiba-tiba semua literasi tidak ada yang tidak mengakui literasi sebagai batu umpak sebagai fondasi dasar dari beradaban kebudayaan yang akan kita tuju itu. Ini contoh-contoh saja. Semua bidang kehidupan yang bisa kita sebut kebudayaan ini selalu menempatkan literasi sebagai sumbu, sebagai episentrum, sebagai umpak. Tadi ini ada literasi kesehatan, literasi keuangan, literasi keagamaan, literasi pendidikan, ee literasi lingkungan, literasi keilmuan, dan lain-lain juga. Saya sebut lain-lain karena saya pernah mengidentifikasi di Indonesia ini ee kira-kira ada 38 istilah literasi. Literasi A, literasi B, literasi C itu sampai ee 38. Nah, inilah ee zaman yang sedang kita hadapi. Revolusi digital informasi, kita memerlukan literasi apa? Masyarakat harus literasi. masyarakat seluruhnya. Tidak hanya di Jawa, tidak hanya di Jawa Timur, tidak hanya di Indonesia Barat, tetapi juga di Indonesia bagian timur dan seterusnya. Inilah tantangan kita. Inilah tuntutan masyarakat literasi. Dengan penguasaan literasi itu sebagai prasyarat, sebagai kondisiosinkuanon kita akan bisa melakukan ee transformasi sosial. kita bisa melakukan transformasi kebudayaan kebudayaan tertentu, kebudayaan sehat, kebudayaan ee sadar uang, kebudayaan ilmiah dan seterusnya. Ibu Bapak sekalian me ngunci dari apa yang saya katakan tadi. Jadi kita sekarang berada pada zaman literasi sebagai kunci utama. Tidak ada tadi seperti yang saya sampaikan bidang-bidang kebudayaan mulai kesehatan sampai keagamaan yang tidak mempercayai, meyakini bahwa literasi yang utama. Saya kira ini modal dasar penting yang sudah kita miliki. Jadi, kita sudah mendapatkan ee fondasi bangunan bangsa literat yang baik. Karena semua orang, semua pihak telah percaya bahwa literasilah bangunan kebudayaan kita. Nah, kita tinggal bergerak mentransformasikannya. Dengan cara itu, kita percaya. Seperti juga banyak ahli, banyak pihak di negara lain percaya bahwa dengan literasi itu maka kita bisa membangun kehidupan masyarakat menjadi lebih baik lagi. Tidak hanya ekonomis tetapi juga sosial. Solidaritas sosial, soliditas sosial itu juga berarti membangun kebudayaan masyarakat yang lebih baik. Nah, begitu banyak ee keyakinan yang muncul. Tapi ee saya ingin mengunci seperti yang dikatakan oleh PBB, dikatakan oleh UNESCO ee sekarang telah berkembang bahwa literasi harus diabdikan bagi kehidupan. Kalau literasi diabdikan bagi kehidupan, maka artinya digunakan untuk membangun kebudayaan, membangun peradaban. Dan itu harus semua. literasi bagi semua, bukan literasi bagi kelompok orang tertentu. Itulah saya kira tantangan bagaimana menyediakan ee bacaan-bacaan, kegiatan-kegiatan, sumber daya-sumber daya katakanlah bagi kalangan tidak mampu. Kalau itu kelas sosial, ekonomi, kalau itu ee sosial, bagaimana menyediakan sumber-sumber tadi bagi saudara-saudara kita yang di pinggiran, di kepulauan kemudian di perkebunan-perkebunan yang tidak terjangkau supaya literasi bagi semua itu terwujud, Ibu, Bapak sekalian. Kemudian kita berkembang. Literasi itulah sandaran umpak batu fondasi bagi kehidupan kita. Selama literasi tidak kita urusi, maka kehidupan kita tidak tertransformasi. Ini bagi semua. Saya kira ee UNESCO sudah mencanangkan itu tahun 2006. Jadi 20 tahun yang lalu, hampir 20 tahun yang lalu itu sudah dicanangkan literacy for life, literasi bagi kehidupan. Bukan sekedar bagi kebudayaan, bagi kehidupan kita. Kebudayaan dan kehidupan jauh lebih luas kehidupan. Untuk itulah kita harus berdaya supaya saya kira ini juga sudah lama ya tahun 2005 sudah dicanangkan literasi, prakarsa-prakarsa, program-program, kebijakan-kebijakan, tindakan-tindakan literasi itu harus memberdayakan masyarakat. Ibu Bapak sekalian, saya kira ini banyak. Saya tidak menyampaikan satu persatu, tetapi saya ingin mengunci semuanya. Jadi, betapa pentingnya penguasaan literasi melihat ee posisi, peranan, fungsi literasi yang saya sampaikan tadi. Dengan penguasaan literasi, maka kehidupan kita menjadi lebih baik secara pribadi dan sosial. ini tidak berarti serta-merta akan kaya raya, serta-merta serta-merta kehidupan ekonominya akan baik. Tapi ada contoh yang dikemukakan beberapa ahli itu memang ee kehidupan ekonomi itu bisa terdorong oleh adanya literasi yang baik. Nah, itulah saya kira literasi bagi semua itu penting di Indonesia untuk ditegakkan, diwujudkan. pemenuhan literasi bagi semua itu menjadi tugas pemerintah, tetapi sekaligus didorong oleh di dukung oleh masyarakat luas. Tadi sudah ada ee usulan dari dua pembicara sebelumnya bagaimana agar masyarakat itu berdaya. Jadi tidak hanya pemerintah yang bekerja sendirian. Saya melihat ini modal kedua kita yaitu masyarakat kita, komponen-komponen masyarakat kita sudah berbagi, bekerja sama, berbagi bersama-sama untuk menegakkan, membangun, memenuhi ee pelayanan literasi bagi semua itu. Saya kira pemerintah ee sudah apresiatif, sudah konstruktif. Yang penting ini perlu didorong lebih lanjut. Saya sebut sudah konstruktif, sudah kreatif karena begitu banyak sumber daya finansial yang dikelola pemerintah itu dikucurkan bagi para pengelola literasi, komunitas-komunitas literasi, komunitas baca ee dan ee sejenisnya lah. Ada klub-klub kecil lebih kecil bahkan ada forum-forum taman bacaan masyarakat. itu sudah ee dirangkul di dalam ee program bagaimana pemenuhan literasi bagi semua ini. Sebagai contoh misalnya ee ee Perpustakaan Nasional sudah merangkul ee berbagai elemen forum taman bacaan masyarakat dan juga ee apa ya pustaka-pustaka yang ada ya kuda pustaka dan sebagainya itu. Selain itu juga ee Badan Bahasa juga sudah memberikan ya bantuan-bantuan ya BANPEM bantuan ee pemerintah di kucurkan kepada kelompok-kelompok literasi dan untuk berkreasi sesuai dengan ee kemampuan konteks yang digdal ee minda utama itu juga memberikan kucuran ee ee pendanaan literasi. Jadi saya kira sudah ada uluran tangan dari pemerintah untuk bersama-sama dengan komponen masyarakat dalam rangka memenuhi literasi bagi semua ini. Saya kira ini juga modal yang penting, yang baik, yang konstruktif, yang menggembirakan bagi kita bahwa suatu ketika literasi kita akan terus bergerak bergerak naik, tidak stagnan, tidak merosot. Ibu, Bapak sekalian, saya kira kita harus lebih ee kencang lagi, lebih kuat lagi ee memenuhi ee literasi bagi masyarakat ini. Saya kira kita sudah berada di garis yang benar karena berbagai ee program dari UNESCO sudah kita penuhi, kita ee jalankan begitu ya, Ibu, Bapak sekalian. ini menegaskan saja. Jadi dari situ kita melihat bahwa literasi sekarang itu bukan melek aksara. Literasi bukan melek huruf, bukan sekedar bebas dari buta huruf, tetapi juga pemahaman sesuatu. Sesuatu itu adalah pengetahuan. Jadi kemelekan pengetahuan itulah substansi literasi ee yang tadi saya sampaikan. Karena itu ee tema pertemuan kita pada ee kali ini cocoklah dari pengetahuan ee menuju ee kebudayaan. Dengan kemelekan terhadap pengetahuan itulah maka kebudayaan akan terbangun. berbagai bangsa di dunia, berbagai zaman itu telah menunjukkan bagaimana kemelaian pengetahuan itu memang menimbulkan menghasilkan kebudayaan yang berbeda. tadi sudah disampaikan ee karena Sumeria memiliki tradisi literasi pada abad-abad ke-6 sebelum Masehi itu sudah bisa ditulis satu buku penting, buku cerita tapi berbentuk puisi Gilgames yang bercerita tentang peradaban, konflik, kekuasaan, dan persoalan etik yang ada di dalamnya. Saya kira tidak hanya itu, berkat kemelekan pengetahuan inilah maka Mahabarata bisa ditulis pada abad ke6 Masehi bahkan sebelumnya. Berkat ee itu pulalah saya kira ee Jawa ini abad keempat Masehi kemudian mengenal asara Honocoroko itu abad keempat Masehi. Begitu seterusnya saya kira kemelaian ee pengetahuan itu berkat literasi dan akhirnya berimbas pada munculnya kebudayaan-kebudayaan yang besar. Tidak mungkin Yunani kemudian diwarisi Romawi, diwarisi Barat itu berkembang pesat ilmu pengetahuannya, peradabannya atau kebudayaannya tanpa literasi. Kita tahu bahwa abad keempat sebelum Masehi rasanya Yunani sudah punya perpustakaan yang sangat besar. Bahkan di kota Efesus itu ada perpustakaan ee tiga atau empat lantai pada zaman itu. Dan mereka mewariskan buku-buku yang tidak lekang masa. Peradaban terus bisa saya kira di setiap gugus kebudayaan itu ada pada masa lalu. Di bagian tengah ada Sumeria, ada Persia, kemudian ke timur ada India, ada Cina dan seterusnya. Saya kira kita memiliki warisan ee literasi yang sangat kaya yang telah memberikan bukti bahwa kebudayaannya akan tinggi jika dibangun di atas ee kemelekan pengetahuan atau literasi itu. Jadi, literasi adalah suatu kuasa, suatu daya untuk bertindak kritis, kreatif yang ditopang membaca dan menulis. Kemudian angka dan rupa. Saya kira sekarang literasi digital itu juga angka dan rupa. Ibu Bapak sekalian ee kalau kita sudah berada di situ, maka setidak-tidaknya kita ini harus literat. Warga yang literat bagi saya adalah ee warga bangsa atau masyarakat, anggota masyarakat yang memiliki kemahiran berliterasi. Kemahiran berliterasi itu bagi saya yang pokok ini bisa mencari informasi secara cendekia, cerdas, dan cermat. situasi yang genting seperti sekarang misalnya teman-teman mahasiswa harus mencari informasi secara cendekia cerdas supaya tidak terpiuh, tidak terkecoh oleh misalnya permainan-permainan ee misinformasi, disinformasi, kemudian juga ee pemiuhan ee jenis logika yang makin banyak di media sosial sekarang. Selain itu juga menampung informasi dengan cendekia. Informasi yang tidak penting ya tidak. Yang tidak relevan ya tidak. Nah, kita cenderung masih sampai sekarang itu menampung segala hal sehingga kemampuan diri kita tidak mencukupi untuk menampungnya. Kita juga harus mencerna dan menerima informasi secara cendekia. juga memilih dan mengolah informasi, tapi juga bisa memanfaatkan dan menggunakan. Saya kira ini juga terkait dengan kebudayaan, terutama kebudayaan sosial. Misalnya ee apakah kita akan menyebarkan satu berita yang membuat masyarakat kalangkabut padahal berita itu belum benar. Nah, ini saya kira kemampuan kemahiran memanfaatkan menggunakan informasi. Bapak, Ibu sekalian, kalau kita ingin memperkuat literasi, maka mau tidak mau berpikir kritis, kreatif ini harus kita kembangkan. Membaca dan menulis itu hanyalah ekspresi, hanyalah aktualisasi, hanyalah ruang untuk mewujudkan apa yang telah kita pikirkan secara kritis dan kreatif. Jadi literasi tidak hanya membaca dan menulis seperti tadi sudah disampaikan, tapi yang penting adalah berpikir tradisi berpikir kebudayaan berpikir kritis kreatif inilah saya kira yang menjadi dasar bagi ee banyak hal tadi yang di ee sampaikan seperti keluhan ee kemampuan berpikir ee tingkat tinggi kita rendah. ee masih sangat rendah, kemampuan berpikir tingkat dasar saja belum merata dan seterusnya. Saya kira dasarnya adalah kemampuan berpikir kritis kreatif ini. Nanti yang lain-lain saya kira akan berkembang. Itulah saya kira ee apa yang harus kita lakukan dalam ilmu pengetahuan. Syaratnya menurut saya ya kita membiasakan diri dan menulis. Membaca dan menulis. Membaca saja tanpa menulis itu juga pincang. Menulis saja tidak mungkin bagus tanpa membaca. Saya kira ini seperti membaca dan menulis itu seperti sepasang kekasih. Seperti dalam wayang itu adalah ee Sukrasono dan Arjuno. Itu jadi ada dua seiring. Nah, dengan begitulah maka berpikir kritis kreatif itu bisa kita wujudkan. kita tidak cukup hanya menulis. Sekarang sangat banyak program menulis di kalangan guru misalnya bahkan bahkan di kalangan e masyarakat. Program menulis A menulis B, lomba menulis A menulis B itu begitu banyak. Tapi yang kurang menurut saya adalah program-program membaca. Saya kira tanpa membaca, menulis ada akan bincang. Menulis akan tidak bermakna tanpa membaca dengan baik. Nah, tiga hal ini saya kira yang harus kita pikirkan bersama. Apa itu membaca kritis? Kita harus berani membiasakan, yaitu menanggapi. Menanggapi dulu. Kita ini bangsa yang masih enggan menanggapi secara logis, secara kritis, secara kreatif sesuatu baik yang kita sepakat, kita dukung, maupun yang tidak dukung. Ee yang tidak kita dukung baik yang akan bermanfaat bagi banyak orang maupun yang ee secara prospektif itu bermanfaat. Kita masih enggan menanggapi lalu menilai. Apalagi menilai kita masih sangat langkap. tradisi menilai, kebudayaan menilai, kebiasaan menilai itu rasanya ee masih sangat ee rentan di negeri kita. Nah, kalau dua ini belum, maka kita belum biasa memutuskan mana yang lebih baik, mana yang lebih ee baik lagi, mana yang buruk. Tidak. Kita ee menjadi bangsa yang serba menerima. Dari situlah saya kira ketika kita bisa melakukan tiga hal ini, kita bisa menciptakan sesuatu. Menciptakan sesuatu tidak berarti tidak dari kekosongan. Selalu ada dasarnya. Renation reformasi di Eropa itu karena menciptakan dengan bahan-bahan yang sudah ada jauh sebelumnya. Tapi mereka membaca dengan tekun, membaca dengan sungguh-sungguh, kemudian mencari ee kontekstualisasi, kemudian mencari kecocokan dan menambah mengurang mana yang penting dan tidak penting. Inilah saya kira yang harus kita bangun bersama-sama. Kalau itu dilakukan, maka kita akan menghadapi satu dinamika. ee dari literasi kita membaca menulis, maka kita akan bisa mewujudkan masyarakat membaca dan menulis. Ketika masyarakat membaca dan menulis sudah tumbuh dengan baik, barulah masyarakat berliterasi kita dapatkan, kita lihat. Di dalam masyarakat berliterasilah kita akan bisa melihat indeks-indeks literasi, ukuran-ukuran literasi itu membahagiakan. Selama kita tidak membangun dasar-dasar itu, maka setiap tahun kita akan mendengarkan dalam tanda petik ee dendang-dendang yang tidak merdu. Dendang sumbang tentang indeks literasi kita, indeks baca tulis kita menurut UNESCO, menurut ee yang lain akak begini-begini itu saja. karena kita tidak ee mengobati dari dasarnya, Bapak, Ibu sekalian. Kalau di ee lakukan maka kita begini dan supaya bagus itu kita budayakan sebagai tradisi. Nah, jadi marilah kita membudayakan, menjadikan, membaca, menulis, dan berpikir kritis, kreatif itu sebagai tradisi, sebagai kebiasaan, sebagai budaya dengan cara apa? Ya, ya kita wariskan kebiasaan turun-menurun. Kita anggap membaca menulis itu tindakan sosial budaya. Bukan sekedar mengeja, menyuarakan saja. Membaca, menulis sebagai laku spiritual. Sebagai laku spiritual. Saya kira ajaran agama banyak memberikan dasar ee laku spiritual membaca menulis, tapi juga laku sosial budaya. Nah, pendidikan harusnya juga menjadikan membaca menulis sebagai ee kaki utama dari proses pembelajaran itu. Bapak, Ibu sekalian, jika itu dilakukan maka sebaiknya kita tidak hanya bertumpu pada tulisan, kita juga bertumpu pada visual. Mengapa? Karena literasi baca tulis sekarang itu juga berhadapan dengan bahan-bahan digital, bahan-bahan yang isinya gerak dan gambar. Itulah sebabnya kita sekaligus saja tidak perlu satu-satu. Itu nanti akan menghabiskan banyak waktu. Nah, Bapak, Ibu sekalian, kalau kita ingin memperdalam tradisi membaca dan menulis, maka kita harus ya memperkuat kesukaan dan kesenangan membaca menulis, kegemaran kecintaan pada tulisan-tulisan. Kemudian ya serba sedikit membiasakan membaca menulis. entah membaca menulis untuk pribadi, entah membaca menulis untuk disebar luaskan kepada pihak-pihak yang lain. Ini saya kira ee proses membangun ee kebudayaan yang bersandarkan literasi tadi. Nah, Bapak Ibu sekalian, saya ingin mengakhiri paparan saya ini. ee mari kita jadikan ee kita bentuk kebiasaan membaca, menulis, mencintai bacaan, mencintai buku, mengoleksi buku, menghadiahi ulang tahun dengan buku, lulus dengan hadiah buku itu sebagai budaya literasi. budaya literasi inilah saya kira pengungkit dari ee ilmu pengetahuan ke transformasi yang disampaikan tadi. Nah, saya ingin mengakhiri ini dengan e kata-kata Ali bin Abi Thalib. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Kita masih sangat langka menulis. Padahal di dalam tulisan itulah terikat ilmu-ilmu apa saja kita yang saya rasanya yang kurang. Bayangkan berapa ribu buku yang telah kita hasilkan yang betul-betul buku setiap tahun mungkin sangat sedikit. Meskipun yang dapat ISBN itu banyak, tetapi yang dapat ISBN belum tentu merupakan ikatan ilmu. Meskipun sudah dituliskan. Tapi yang benar-benar saya tidak menyampaikan ini nanti terlalu banyak tapi saya ingin menutup paparan saya ini dengan ee pikiran yuah hari-haari lagi. Ia mengatakan bahwa dalam sejarah umat manusia yang tentu saja sangat memesona ee itu memakarkan bahwa literasi itu tidak dipakai oleh para pemuka, tidak oleh para ahli, bukan oleh para doktor, profesor, orang-orang hebat, pendiri agama, penakluk dunia, tapi oleh orang-orang biasa. Hari-hari menyebutkan pertama kali literasi dan akuntansi dipakai oleh petani petani yang bernama Kusim dan Kasun non di Sumeria sana. Dalam sejarah tulisan itu kira-kira ee 5.000 6.000 rib tahun yang lalu. Jadi, Bapak, Ibu ee literasi dan akuntansi itu lahir bersama-sama sebagai bayi kembar dari orang bernama Kusim atau Kasim. Ini saya kira itulah ee modal penting bagi kita agar kita berpandangan bahwa kitalah pemilik yang sah dari literasi masyarakat itu. Literasi tidak dilahirkan oleh orang-orang hebat, orang-orang berpendik berpendidikan tinggi, pemikir besar, ee pemuka agama, penakluk dunia, kaisat dan sebagainya, bukan. Tetapi oleh orang biasa. Dalam hal ini ee contohnya adalah Kasim Kusim. yang menemukan ee literasi di Sumeria yang kemudian dijadikan titik tolak lahirnya literasi atau aksara itu. Nah, dua orang itu kalau kita membaca buku ini, buku sapiennya itu diceritakan ee bukan menyampaikan kearifan, keindahan, keagungan yang melangit itu. Tetapi literasi digunakan oleh Kasim Pusim ini untuk mencatat hasil panen dan utangputang. Artinya digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan keseharian. Itulah saya kira literasi yang kita bangun tadi ada disebut inklusi sosial dan peningkatan kesejahteraan. Dengan kata lain supaya cocok dengan tema kita ini, literasi itu sebenarnya untuk membangun kebudayaan sehari-hari. Everyday culture itu. Eah. Nah, itulah yang kemudian kita memiliki tugas bagaimana terus berfokus pada literasi. Semakin hari kita menyaksikan ee semakin baiklah posisi literasi. Pada masa sekarang, saat ini kita sudah mendapatkan suatu landasan yang bagus. Literasi sudah kita anggap, sudah dianggap oleh PBB sebagai salah satu hak asasi manusia. Maka pertanyaan pentingnya, bagaimana pemenuhan hak asasi literasi itu? Inilah saya kira yang harus kita kerjakan bersama-sama. Dengan literasi kita akan menikmati kebebasan. Dengan literasi kita akan menikmati kebudayaan yang bisa menopang kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Saya kira demikian paparan saya. Terima kasih. Saya kembalikan kepada moderator. Baik, terima kasih kami ucapkan kepada Prof. Joko atas paparannya. Sobat ASN, setelah ini kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Jadi jangan ke mana-mana, tetap di webinar ASN belajar seri 35 tahun 2025. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASM Belajar seri 35. kali ini sudah bergabung bersama dengan kami semua di sini satu penanya yakni Bu Nenek Mardias Tuti. Kami langsung saja persilakan kepada Bu Neni untuk menyampaikan pertanyaannya kepada narasumber ketiga kita. Silakan Bu Neni. Ngih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak terima kasih Kakak Lukman Ali akhirnya kesampaian juga ee boleh menyampaikan pertanyaan. Takutnya nanti di sesi keempat Basam saya karena ee materi ini sangat luar biasa. Namun kami untuk mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun pelayan masyarakat itu yang perlu kami terapkan. Ee salam sehat dan asalamualaikum Bapak. Eh perkenalkan saya Nenek Mardiastuti, Pak Joko. Saya dari Dinas Kesehatan Bojonegoro. Giih. Ee Bapak tadi saya menyimpulkan dari hasil materi Bapak bahwasanya literasi itu harus melek pengetahuan sebagai sentrum sehingga dapatlah kemajuan kebudayaan dan peradaban. Kemudian literasi itu bagi kehidupan juga bagi semua. Nah, Bapak eh di era disruption ini harusnya kami mau dan mampu untuk beradaptasi, berinovasi secara berkelanjutan, mempunyai perubahan pola pikir atau mindset yang relevan dan bersaing di era digital abad 21 ini. Yang ingin kami tanyakan Bapak, untuk kami bisa mengimplementasikan kiat-kiat apa atau peranan kami sebagai unsur pelayan masyarakat tentunya dalam pelayanan publik nggih. Yang kedua sebagai keluarga ee ini untuk menyiapkan anak-anak dan keluarga Bapak ee agar terwujud literasi ini secara berkelanjutan sehingga kehidupan kami itu bisa lebih baik baik secara pribadi maupun sosial. Kiat-kiat apa intinya yang harus kami terapkan di kehidupan sehari-hari. Terima kasih Bapak atas arahannya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Bu Niki. Kami persilakan Prof. Joko untuk menjawab pertanyaan dari Bu Neni. Nah, ini susah ini kalau dimintai saran saya itu. Tapi begini, saya kira literasi kesehatan itu muncul jauh lebih awal. Sumpah Hipokrates itu menggambarkan suatu penanda literasi yang baik. Sumpah Hipokrates, sumpah kesehatan, pelayanan kesehatan itu sudah lahir pada zaman Yunani pada abad-abad sebelum Masehi. Artinya literasi kesehatan itu sudah ee sangat lama. Sebelum membaca dan menulis dan berpikir tadi, apa sih yang penting dari literasi itu? Yaitu kesadaran. Jadi, seorang pemikir sayang, saya lupa namanya itu berkata, berpendapat bahwa pertama-tama literasi adalah kesadaran. Salah seorang pemikir pendidikan Paulo Freir itu menyebut pendidikan apapun di manapun itu ujungnya adalah membentuk kesadaran, menyadari. Nah, jadi saya ingin menambahkan elemen kesadaran. Nah, sekarang kita melihat tadi jauh pada abad sebelum masehi orang sudah menyadari makna kesehatan. Nah, saya kira kalau dalam konteks ee literasi kesehatan ujungnya di sana saya kira baik dalam keluarga maupun ee dalam pelayanan publik itu kesadaran akan kesehatan itu sudah ee bisa diketahui. Nah, karena kesadaran akan kesehatan maka kiat-kiatnya ya sebenarnya tidak jauh dari lingkungan yang ada. misalnya apa ya seorang ibu begitu ya ee itu menyadari saja sudah berliterasi apalagi kemudian membaca bahwa katakanlah begitu jenis sayur tertentu makanan tertentu itu nanti akan rawan, bisa menimbulkan diabet. Sekarang misalnya dari membaca kita tahu bahwa diabet itu bukan soal genetik tapi soal memetik. Diabet itu bukan soal gen keturunan, tetapi kebiasaan budaya. Lah kalau setiap hari sebagai seorang ibu itu masaknya sayur-mayur, makanan yang memang ee membuat diabet tumbuh ya. Ya, karena faktor itu. Nah, ini disadari sehingga bisa katakanlah variasi makanan, menghindari makanan. Nah, kalau bisa tidak hanya semua itu mungkin kiat kiat yang umum kalau di rumah bisa juga yang lebih apa ya yang lebih canggih dalam arti perlu modal. Kalau kesadaran tadi kan tidak perlu modal Bu, Bapak Ibu yang lain kan kita cukup menyadari oh iya kita pilih ini, ini, ini. Itu tidak perlu modal. Tapi yang perlu modal itu kan disediakan bacaan, disediakan ee apa ya waktu bersama-sama untuk ngobrol. Ngobrol itu penting pada zaman sekarang ini, pada zaman literasi. ee seorang ahli komunikasi dan literasi Sherry Tarkel itu mengatakan ee banyak-banyaklah bercerita pada zaman sekarang itu dalam bukunya eh recliming Conversation saya baca recliming conversation itu intinya banyak-banyaklah ngobrol bareng. Saya pernah berpikir, jadi kebiasaan ibu-ibu petan sambil ngerumpi itu ya bagus loh. Jadi ini kan berarti kebudayaan. Oh iya kebiasaan lingkungan keluarga itu ngobrol bersama bisa digerakkan kalau tidak menulis langsung. Di saya pernah ke mana? Sabang itu ada kebiasaan begini. Anak-anak yang bisa menulis menulis, yang tidak bisa menulis mendengarkan yang pandai bercerita bercerita. Yang kemudian diserap menulis ya itulah. Jadi tidak lebih leluasa, lebih longgar kiat-kiatnya. Kalau di rumah ya saya kira yang dalam tanda petik tanpa biaya. Nah, bisa juga kalau sudah mantap ya ini yang penting kan membangun kesadaran dulu kemudian bisa berpikir. Kalau membangun kesadaran dan pikiran kan tidak selalu harus modal, tidak perlu beli buku, tidak perlu ee kan hanya ketemu saja. Itulah saya kira yang pertama. Setelah itu bisa beranjak yang lain-lain. Ini contoh saja tidak semuanya ya. di pelayan publik, di tempat-tempat ee kesehatan. Saya kira juga bisa begitu. Kalau Ibu melayani misalnya ada katakanlah ada pasien begitu kan bisa dibuatkan resep itu ee bacalah yang benar obatnya. Coba dibaca sebenarnya itu sudah menjadi guru literasi. Coba ini obat apa ini dibaca benar bagaimana. Jadi mengulang mengingatkan itu juga sudah sebenarnya satu proses literasi. Apalagi itu kalau di Puskesmas, pusat kegiatan tertentu itu sediakan bacaan, sediakan majalah, sediakan petunjuk-petunjuk saja loh. Petunjuk menggunakan obat, petunjuk membeli obat, ee obat apa itu saya kira ee bisa juga apalagi kalau ada insentif-insentif. lebih lanjut setiap pasien yang yang bisa membaca dan mempraktikkan apa yang disarankan dokter atau apoteker atau siapa petugas kesehatan itu dapat insentif buku bacaan misalnya. Tapi buku bacaan yang relevan karena Ibu bergerak di pelayanan publik kesehatan ya buku tentang kesehatan tapi ya jangan yang membuat puyang yang praktis-praktis saja. Nah, ini kan saya kira menciptakan suatu ekosistem kebiasaan ee menyadari sesuatu dan berpikir tentang sesuatu dalam hal ini kesehatan. Saya kira itu sudah kontribusi bagi kebudayaan karena kebudayaan tidak harus kita artikan yang gede-gede. Ada yang disebut everyday eh culture itu kebiasaan sehari-hari itu kebudayaan. Ini saya kira yang membuat apa ya bangsa-bangsa itu berkembang paling tidak di berbagai tempat saya perhatikan begitu kira-kira garis besar saya cukup begitu mohon maaf tidak terperinci Bu ya supaya waktunya cukup untuk yang lain. Terima kasih Bu nanti kita bisa intinya berarti intinya itu. Terima kasih. Terima kasih Prof. Joko untuk jawabannya. Silakan. Terima kasih Bu Nani. Tadi mau bicara Bu Nani mau apa menar intinya kita lebih ke memberikan edukasi nggih Bapak nggih. Membangun kesadaran masyarakat itu merubah pola atau pola pikir masyarakat mention masyarakat tentang promotif preventifnya titik berdagang. Kebetulan di tempat kami memang itu tekniknya Bu. Kalau di dalam tradisi itu dua saja Bu istilah canggihnya itu Dutil. Jadi mendidik dan menghibur. Jadi jangan terus mengedukasi terus, Bu. Oh iya. Si menghiburnya juga penting. Menghibur itu juga penting. Siap. Jadi tidak harus dalam arti mendidik serius, mengedukasi serius, tetapi juga stres. Enggih. Ya, biar stres lah. Itu menghibur selalu di dalam berbagai kebudayaan itu mendidik dan menghibur itu satu tarikan nafas. Satu. Iya. Kira-kira begitu. Terima kasih, Prof. Ih untuk jawabannya. Terima kasih juga Bu Ni. Salam sehat selalu untuk Bu Ni. Mohon maaf sekali Prof. Joko karena keterbatasan waktu kita harus mengakhiri sesi terakhir di siang hari ini. Sekali lagi terima kasih Prof. Joko atas paparannya. Semoga ini bisa dapat dimanfaatkan seluruh inset yang sudah didapat dari Prof. Joko. Salat sehat selalu. Kita bertemu lagi di event-event selanjutnya. Prof. Joko. Terima kasih Mas Ali. Baik sobat ASN. Tidak terasa kita sudah berada di penghujung acara webinar ASN Belajar seri 35 tahun 2025. Sekali lagi kami haturkan terima kasih untuk seluruh pihak yang terlibat dalam mendukung acara webinar ASN seri belajar kali ini. Dan sebelum mengakhiri sesi, kami ingin mengingatkan kembali bagi sobat ASN yang masih belum dapat melakukan absensi ataupun yang sudah melakukan absensi jangan lupa untuk cek secara berkala lamat semesta Bangkom untuk mendapatkan e-sertifikate dari BPSDM Provinsi Jawa Timur. Dan ASN belajar seri 35 tahun 2025 kali ini dipersembahkan oleh Corpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Kita bertemu kembali di webinar SN seri berikutnya. Sampai jumpa dan wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Zaman yang terus bergerak sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdempat bersama ASN belajar. ciptakan SDM unggul berprestasi [Musik] selalu ASN 135 [Tepuk tangan] menjadi ASN berakhlak mulia siap menyossong Indonesia [Musik] H