ASN Belajar Seri 37 | 2025 - Membangun Ekosistem Belajar ASN
44ffsWokIjw • 2025-09-25
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
[Tepuk tangan]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak
bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap Indonesia emas.
ASN belajar wujudkan
pemerintahan
berkelas dunia.
Satukan tekad pantang menyerah
jadi ASN getar berkualitas.
belajar juga menerima
kelas dunia
tekat pandang menyerah
jadi AS berkualitas
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
He.
[Musik]
Has muda semangat membara
di era digital terus berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cembalak Jawa Timur terus melaju
bersama BPST
Jim kita terus melesat
untuk Indonesia emas prestasi hebat ASN
unggul
tiada yang tertinggal no one left behind
melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemerlang Jawa Timur terus
melaju bersama BPSDM
Jatim
Kita terus melesat untuk Indonesia emas.
Prestasi her aset unggur tiada yang
tertinggal.
No one left behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur terus
melaju bersama BPSDM
Jatim kita terus melesat untuk Indonesia
emas prestasi hebat bersama kampus
satelit PPSM
Jatim no one left behind ASN umbul dan
berkualitas
melesa tinggi
Indonesia jaya Yeah.
[Musik]
Bam membangun asa
menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti menitipi zaman
dengan semangat pembaharuan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS TM Jing Pusat unggulan.
Tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam
visi yang terang menjawab tantangan
jalan demiang.
PSDM Jawa Timur Center of Exens masa
depan Donilang
[Musik]
bersama membangun asa
menuju cita yang mulia
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti meniti zaman
dengan semangat pembaharuan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM Jatim Pusat unggulan.
tempat lahirnya insan berkualitas
mencatat Sm berkompetensi
tangguh cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang menjawab
tantangan jangan demiang
PPSDN Jawa Timur Center ofans masa depan
gemilang
[Musik]
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Merha kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri. Memerasi
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Hong
kami dari sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tujukan kompetensi dalam harmoni
bangsa loyal tanpa batasannya
adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan air yang lebih beragam
mengerdas penuh hati tulus membantu
sesama dibangun kami melayak
Dengan bang kami melayani
dengan kami melayani
bangsa
[Musik]
Tuhan
[Musik]
[Tepuk tangan]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas
[Musik]
belajar wujudkan
perintah
selaku dunia
bukan tekad pantang menyerah
jadi
berkualit
[Musik]
bersama membangun asa
menuju cinta yang mulia
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti menitipi zaman
dengan semangat pembaruan,
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jing Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdasin
inovasi bersatu dalam visi yang terang
menjawab tantangan jalan kamiang
berpesankan Jawa Timur Center of Sans
masa depan
[Musik]
bersama membangun asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti meniti zaman
dengan semangat pembaruan,
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencat STM berkompetensi.
Tangguh cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang menjawab
tantangan dan jangan gemilang.
BPSDN Jawa Timur Center of Sans masa
depan Gemilang L
[Musik]
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Marilah kami junjung teguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Hong
kami dari sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Layani bangsa loyal tanpa batasannya
telah
berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tugas dengan hati.
Tujuhkan kompetensi dalam harmoni.
Layani bangsa loyal tanpa batasannya.
Kalau ada dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan AS lebih beragung
bekerja penuh hati tulus membantu tetap
bila mengangani
dengan kami melayani
dengan mengang kami melayani M
bes
[Musik]
Has muda semangat membara
di era digital terus berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cempalak Jawa Timur terus melaju
bersama BPST yang cim Kita terus melesat
untuk Indonesia emas. Prestasi hebat ASN
unggul.
Tiada yang tertinggal. No one left
behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur terus
melat
[Musik]
kita terus melesat untuk Indonesia emas
prestasi her aset unggur tiada yang
tertinggal
no one left behind kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi.
Inovasi cemalah. Jawa Timur terus
melaju. Bersama BPSDM
Jatim kita terus melesat. Untuk
Indonesia emas prestasi hebat bersama
kampus satelit PP PSM Jatim. No one left
behind. I um unggul dan berkualitas.
Melasa tinggi
Indonesia jaya
[Musik]
Halo, asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
seluruh Indonesia. Senang sekali saya
Lukman Ali dapat menyapa kembali sobat
ASN tentunya dalam acara webinar ASN
Belajar seri 37 membangun ekosistem
belajar ASN dari individu pembelajar ke
organisasi unggul. Sekali lagi kami
ucapkan selamat datang untuk sobat ASN
yang tengah menyaksikan acara webinar
kali ini, baik melalui platform Zoom
Meeting ataupun yang tengah menyaksikan
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV.
Semoga bisa mendapatkan insight yang
banyak sekali yang bisa
diimplementasikan di unit kerja
masing-masing. Dan kami juga ingin
menginformasikan untuk Sobat ASN jangan
lupa untuk isi presensi via Semesta
Bankom guna mendapatkan e-sertificate
dari BPSDM Jawa Timur. Sobat ASN, saya
pernah mendengarkan sebuah coach yang
mengatakan kalau ada sebuah bunga yang
tidak bisa mekar, maka yang harus
dibenahi pertama kali itu adalah
lingkungannya, ekosistemnya, bukan
bunganya. Dan kalau kita bicara terkait
dengan ASN yang unggul, maka untuk
menciptakannya itu diperlukan
pembentukan ekosistem belajar yang baik.
Kemarin saya sempat baca-baca berbagai
artikel, salah satunya dari Harvard
Business Review mengatakan bahwasanya
untuk menciptakan ekosistem belajar yang
baik ternyata memiliki kendala dan
tantangan yang sangat beragam. Coba kita
lihat dari sisi Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia atau kalau dalam
bahasa korporat biasanya kita sebut
sebagai learning and development center
ya. Ternyata untuk membuat program
desain pembelajaran yang bersifat
inklusif dan juga adaptif itu tidak
semudah itu. Sebagai contoh sederhananya
kadang kalaik-topik pembelajarannya
kurang relevan dengan kebutuhan skill
masa kini. Atau kalau kita lihat kendala
dan tantangan dari sisi pembelajar
individual karyawannya. Kadang kala kita
menemui permasalahan mulai dari sisi
kemauan ataupun kemampuan untuk belajar.
Ada yang memang tidak ingin belajar, ada
yang mau belajar tapi bingung harus
mulai dari mana, bagaimana cara
memulainya. Bahkan fakta mengejutkan
dari Deloid kemarin saya baca adalah
rata-rata pekerja global itu hanya
memiliki kurang dari 1% waktu kerja
mereka itu digunakan untuk belajar. Dan
ini tantangan harus benar-benar kita
hadapi bersama-sama. Tentunya
membutuhkan banyak sekali integrasi
antar berbagai stakeholder untuk
mencapai ekosistem belajar yang baik.
Tentunya kali ini kita akan kupas secara
tuntas selengkapnya hanya di webinar ASN
Belajar seri 37 tahun 2025.
[Musik]
Baik, Sobat ASN, untuk memulai webinar
ASN belajar seri 37 tahun 2025 sejenak
mari kita dengarkan bersama opening
speech yang kali ini akan disampaikan
oleh Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala
BPSDM Provinsi Jawa Timur.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN
di seluruh tanah air, selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini, Kamis tanggal 25 September
2025, ASN belajar telah memasuki seri
yang ke-37.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bagian dari terima kasih kami,
kami selalu berkomitmen sekaligus terus
berikhtiar untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-37 tahun 2025 ini kembali menyajikan
salah satu topik dalam rangka terus
mengumandangkan semangat belajar kita
sebagai aparatur sipil negara. Sebuah
semangat yang sudah semestinya kita
rawat, kita jaga, dan kita terus
kobarkan sebagai jalan menuju pengabdian
sejati kepada bangsa dan negara.
Semangat belajar inilah yang akan
menuntun kita dari sekedar pelaksana
tugas menjadi pencipta perubahan dari
birokrat yang hanya menjalankan
rutinitas menjadi abdi negara yang
menyalakan harapan rakyat.
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN Belajar seri ke-37 tahun 2025 ini
mengangkat topik membangun ekosistem
belajar ASN dari individu pembelajar ke
organisasi unggul.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam SN belajar bahwa topik menarik ini
akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten dan
berpengalaman di bidangnya.
Sobat TSN di seluruh tanah air, kita
pasti sadar sepenuhnya bahwa belajar
adalah denyut nadi peradaban.
Tanpa belajar bangsa akan tertinggal.
Dengan belajar bangsa akan menjulang.
Birokrasi pun demikian. Ia hanya akan
hidup relevan dan dipercaya ketika para
penggeraknya yaitu kita ASN menjadikan
belajar sebagai nafas sepanjang hayat.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 telah
menegaskan bahwa ASN memiliki kewajiban
untuk terus mengembangkan kompetensinya
secara berkelanjutan.
Ini bukan sekedar regulasi, melainkan
amanat zaman. Bahwa di tengah arus
derasnya disrupsi, digitalisasi, dan
persaingan global, hanya ASN yang terus
belajar yang akan mampu berdiri tegak
melayani negeri. Undang-undang ini hadir
untuk menuntun ASN agar tidak terjebak
dalam rutinitas belaka, tetapi bergerak
menjadi pelaku perubahan.
Regulasi ini bukan sekedar kewajiban
administratif, melainkan panggilan untuk
menyalakan api pengetahuan, memupuk
budaya belajar, dan meneguhkan jati diri
ASN sebagai garda terdepan pelayanan
publik yang unggul dan bermartabat.
Oleh karena itu, menumbuh kembangkan
budaya belajar bagi ASN bukan sekedar
program tambahan, melainkan denyut utama
kehidupan birokrasi modern.
Budaya belajar adalah roh yang
menghidupkan organisasi, menyatukan
individu pembelajar dalam satu ekosistem
pengetahuan yang berkelanjutan.
Melalui budaya belajar, ASN tidak hanya
meningkatkan kompetensi, tapi juga
menumbuhkan kepekaan terhadap perubahan,
kecerdasan dalam mengambil keputusan,
dan ketangguhan dalam menghadapi
tantangan global.
Budaya belajar menjadikan setiap SN
bukan sekedar pelaksana tugas, melainkan
inovator, kolaborator, sekaligus pelita
yang menerangi jalan bangsa menuju masa
depan. Budaya belajar adalah budaya
positif yang harus menjadi semangat
kolektif aparatur sipil negara.
yang bukan sekedar aktivitas menambah
pengetahuan, melainkan sebuah sikap
hidup yang menumbuhkan keterbukaan,
kerendahan hati, dan keberanian untuk
terus beradaptasi.
Soat ASN dalam budaya belajar, setiap
ASN menemukan dirinya sebagai bagian
dari ekosistem yang saling menguatkan.
di mana ilmu bukan hanya milik individu,
tetapi menjadi energi bersama untuk
melahirkan birokrasi yang cerdas,
inovatif, dan terpercaya.
Dari budaya belajar inilah akan tumbuh
pelayanan publik yang lebih prima,
kinerja organisasi yang lebih unggul,
dan pembangunan yang lebih berdampak
untuk rakyat.
Oleh karena itulah mengapa membangun
ekosistem belajar bagi ASN menjadi
kebutuhan yang mendesak dan tak bisa
kita tunda lagi. Ekosistem belajar
adalah fondasi bagi lahirnya birokrat
yang adaptif, inovatif, dan terpercaya.
Di dalamnya setiap ASN tidak hanya
mengasah kompetensi individu, tapi juga
menumbuhkan semangat atau budaya
kolaborasi dan semangat berbagi
pengetahuan.
Inilah ruang belajar yang akan menjadi
denut kehidupan organisasi. Tempat
setiap aparatur menyalakan semangat
pengabdian dan kelas birokrasi
meneguhkan dirinya sebagai motor
penggerak kemajuan bangsa.
Nah, Sobat ASN di seluruh tanah air.
Lalu bagaimana kita membangun ekosistem
belajar yang benar-benar hidup bukan
sekedar slogan. ekosistem belajar yang
menghadirkan ruang kolaborasi,
mempertemukan pengalaman dengan
pengetahuan dan menjadikan setiap ASN
bukan hanya penerima ilmu, tapi juga
penyumbang gagasan.
Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas
topik ini, kami telah mengundang para
narasumber luar biasa yang sudah barang
tentu sangat kompeten di bidangnya.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada para narasumber hebat
yang telah berkenan hadir dan akan
berbagi berbagai informasi strategis
kepada Sobat ASN di seluruh tanah air.
Pertama kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada Bapak Prof. Dr.
Muhammad Jufri, M.Si., MS, Psikolog.
Beliau adalah Kepala Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Sulawesi
Selatan.
Kedua, kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada Ibu Dr. Uswatun
Hasana, S.Pd., M.Pd. Beliau adalah
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Provinsi Jawa Tengah. Dan
ketiga, kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kami kepada Ibu Dranda
Nina Dewi, MAP. Beliau adalah Kepala
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Kalimantan Timur. Nah, Sobat
ASN, mari kita simak dengan seksama
webinar ASN belajar seri ke-37 tahun
2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih
kepada Bapak Dr. Ramblianto, SPMP selaku
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas
opening speech yang telah disampaikan.
Sekali lagi kami ingin menginformasikan
dan juga mengingatkan bagi sobat ASN
yang sudah bergabung menyaksikan acara
webinar ASN Belajar seri 37 tahun 2025.
Jangan lupa untuk isi presensi via
Semesta Bangkom dan dikarenakan saat ini
traffic presensi sedang tinggi maka
dapat dipantau secara berkala ya alamat
semesta Bangkomnya. Baik Sobat ASN kali
ini kita akan masuk ke materi kita yang
pertama. Materi pertama akan dideliver
oleh Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si.,
MPSI, Psikolog selaku Kepala BPSDM
Provinsi Sulawesi Selatan.
Ya. Dan telah bergabung bersama dengan
kami semua di sini Prof. Jufri selaku
Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan.
Saya ingin ucapkan selamat datang dan
selamat siang terlebih dahulu. Selamat
siang, Prof. Jufri.
Terima kasih. Selamat siang, Mas.
Kabar baik, Prof.
Giih. Terima kasih karena sudah
menyempatkan waktunya di sela-sela
kesibukan untuk berbagi insight bersama
dengan Sobat ASN di seluruh Indonesia.
Kali ini kita akan dengarkan bersama
paparan dari Prof. Jufri terkait
bagaimana cara kita bisa membangun
ekosistem belajar untuk para ESN ini
sehingga organisasi kita bisa unggul dan
adaptif ke depannya. Kami persilakan
Prof. Jufri nanti kita akan lanjut di
sesi tanya jawab juga. Silakan Prof.
Baik. Baik. Terima kasih banyak.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi menjalan siang. Salam
sejahtera untuk kita semuanya.
Ee pertama-tama saya ingin menyampaikan
terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada sahabat saya
seperjuangan, Bapak Dr. Ramlianto, S.P.,
MP., Kepala Badan Pengembangan Sumber
dan Manusia Provinsi Jawa Timur. yang
telah berkenan memberikan undangan
kehormatan kepada saya untuk ikut
bergabung ee berbagi bersama-sama dengan
Sobat ASN
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dari
tim narasumber pertama kami masih
mengalami kendala.
Ee juga kepada Ibu Dr. Uswatun Hasanah,
S.Pd., M.Pd. sebagai Kepala BPSDM Jawa
Tengah. Iya. senang sekali bisa bertemu
bergabung di sini dan yang saya hormati
membanggakan semua tentu bagi saya
seluruh sahabat-sahabat Sobat ASN yang
telah ee menginvestasikan waktunya yang
sangat baik hari ini untuk kita
bersama-sama berada di ruang
pembelajaran yang sangat aktif,
produktif khususnya bagi teman-teman
BPSDM Jawa Tengemur yang kalau tidak
salah ini sudah ee webinar
ASN Belajar seri ke-37.
Ya, masyaallah ini luar biasa sekali dan
ini bentuk komitmen dari BPSDM Jawa
Timur untuk kita terus mengajak para ASN
kita bisa berada dalam satu ruang
pembelajaran yang terus-menerus akan
aktif mengasah, melatih, mengembangkan
kompetensi yang kita miliki.
I. Nah, hari ini menurut saya ini juga
ee satu bentuk kolaborasi yang sangat
baik, praktik baik yang dibuat oleh
Bapak Kepala BPSDM Jawa Timur ee sabat
saya Pak Ramli. Masyaallah, terima kasih
banyak. I menghadirkan
tiga kepala BPSDM dari provinsi yang
berbeda. Dan ini sekaligus menggambarkan
bahwa peristiwa ini adalah merupakan
wujud nyata dari bentuk kolaborasi
yang kita kembangkan hari ini dan tentu
akan kita dorong terus berkembang di
masa yang akan datang. Ya. Nah, saya
kira kita semua sepakat bahwa salah satu
dari pilar ee ekosistem pembelajaran itu
adalah berkaitan dengan kolaborasi ya.
Tiga yang lainnya itu adalah yang
pertama ada integrasi, kemudian ada
digitalisasi,
berikutnya ada inovasi, dan yang
terakhir adalah kolaborasi. Hari ini
kita membingkai pola kolaborasi dan
bukan tidak mungkin setelah kejadian
hari ini kami dengan ee BPSDM Jawa
Tengah yang sebelumnya juga kami pernah
berkunjung ke Jawa Tengah untuk ee
belajar berbagai hal dalam hal
pengembangan kompetensi dan juga bisa
berkolaborasi dengan ee Ibu Nina dari
Kalimantan Timur. Baik, Ibu Bapak yang
saya hormati, izinkan saya untuk ee
share ee materi yang akan saya
sampaikan.
yang berada di
Oleh karena itu, hari ini kita akan
bahas jika ASN memiliki internal MC dan
ya sudah terlihat Mas.
Iya. Baik.
Nah, kepada saya diminta untuk ee
berbagi terkait dengan ee budaya belajar
kolektif sebagai pondasi ASN
Pelajarahkan.
Oh, saya ingin mengawali dari sini.
Beranilah melakukan dengan cara yang
berbeda karena perbedaan akan
menghasilkan sesuatu yang berbeda. Kalau
kita bawa dalam dunia belajar kita di
ASN ya mungkin sebagian dari ASN kita
berpikir bahwa belajar itu sudah
selesai. Ketika dulu belajar di
perguruan tinggi ngambil S1, ngambil S2
atau berkesempatan ngambil S3 belajarnya
sudah selesai. Padahal ternyata tuntutan
kegiatan belajar seperti yang
disampaikan dalam opening speak Pak Pak
Kaban tadi itu sangat luar biasa bahwa
belajar ini ternyata bukan lagi sebuah
pilihan. Belajar ini bukan lagi sesuatu
yang sifatnya ee alternatif bagi kita.
Tapi belajar ini adalah suatu kebutuhan
yang harus kita terus ee upayakan.
dan ASN yang ingin mendapatkan sesuatu
yang berbeda dalam pekerjaannya, berbeda
tanda kutip dalam pengertian kinerjanya
bisa makin lebih baik dibanding ASN yang
lain. Dia makin lebih produktif
dibanding dengan ASN yang lain. Dia
harus berani untuk bisa memilih satu
cara dan salah satu cara itu mungkin
berbeda dengan cara yang kebanyakan
dilakukan oleh ASN yang lain. Kalau AS
yang lain mungkin di luar waktu kerja
lebih banyak memanfaatkan mohon maaf
untuk beristirahat atau mungkin
melakukan kegiatan-kegiatan lain. Tapi
ASN yang ingin semakin lebih produktif,
semakin lebih baik dalam kerjanya
memilih untuk melakukan kegiatan yang
berbeda. mungkin berbeda dalam satu hari
dia menetapkan bukan hanya belajar di
kantor tapi menambah waktu-waktu yang
tersedia dengan belajar untuk mengkaji,
memahami, menganalisis dan mendapatkan
informasi lain yang mungkin akan sangat
bermanfaat bagi tugas dan karirnya ke
depan. Baik. Nah, Ibu Bapak yang saya
hormati,
mengapa kita harus belajar?
Iya. Nah, saya ingin belajar ee mengajak
kawan-kawan semua kita ee pada salah
satu hasil riset mungkin survei yang ee
mungkin juga teman-teman mohon maaf
mungkin sudah pernah dibaca sebelumnya
ya ee terkait dengan bagaimana ASN kita
ee adaptabilitasnya.
dan bagaimana kesiapan digital dari ee
ASN kita. Nah, ini dari data yang kami
ambil dari salah satu survei yang
dilakukan dari ACT Consulting ya. Dari
data ini terlihat bahwa adaptabilitas
ASN kita secara nasional itu hanya
sekitar 38,90%
dan ini termasuk kategori yang tergolong
rendah. Hanya 20% ASN kita yang
menguasai teknologi digital. Sementara
38,20%
di antaranya itu yang berusia di atas 50
tahun, ya. Nah, padahal
korelasi antara eh digital skill dan
kinerja ASN itu sangat kuat, ya. Kalau
dari analisisnya itu terlihat itu 0, ee
0,7 ya. Nah, fakta ini menunjukkan bahwa
kapasitas ASN kita itu belum siap tanda
kutip untuk menjawab tantangan
transformasi birokrasi.
Nah, karena itu kita berharap ingin
mendorong budaya kerja kolektif karena
dengan hadirnya budaya kerja kolektif
itu bisa menjadi sebuah solusi konkret
untuk memperkuat budaya belajar ASN di
tempat kerja. Ya, bisa membangun
kemampuan adaptif dan kemampuan digital
secara kontekstual serta mempercepat
reformasi birokrasi berdampak secara
nyata.
Nah, kalau kita lihat dari data ini
tantangan adaptabilitas ASN kita yang
saya sampaikan tadi, persentase ASN kita
dalam adaptabilitas itu hanya
ditunjukkan 38,90%
yang ini menunjukkan adanya kesenjangan
kompetensi digital yang nyata
di satuuhan
pembangunan yang makin kompleks. Nah,
Bapak, Ibu sekalian, tanpa budaya
belajar yang
SN kita akan sulit untuk beradaptasi dan
masyarakat akan menerima pelayanan
publik yang tentu juga kurang optimal.
Nah, karena itu ee solusi yang kita
harapkan itu adalah bagaimana
teman-teman ee para ASN, sobat ASN kita
menjadikan belajar ini betul-betul
sebagai sebuah kebutuhan. belajar ini
sangat penting kalau kita lihat dari
arahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023
khususnya di pasal 49 ayat 1 tadi juga
dipertegas kembali oleh Pak Kaban bahwa
setiap ASN kita itu dituntut untuk bisa
menjadi ee pembelajar dan beradaptasi ya
bukan lagi boleh lagi kita memilih bahwa
itu hanya hak 20 JP per tahun tetapi
dalam yang undang-undang yang baru ini
yang sekarang ini masih kita gunakan itu
memang tuntutannya sudah menjadi sebuah
kewajiban ya wajib untuk kita terus
belajar dan beradaptasi ya belajar ini
juga penting karena belajar akan
mendorong mempercepat proses
transformasi birokrasi yaitu untuk
mewujudkan ee world class birokrasi
tahun 2045 melalui peningkatan
kompetensi dan inovasi. Ya, ini mohon
maaf saya kutipkan salah satu dari ee
tokoh yang kita sangat kenal ya, Mahatma
Gandhi. Beliau eh menyebutkan seperti
ini kalimatnya. Life ask if you were to
die tomorrow
if you were to live forever. Hiduplah
seakan engkau akan mati besok.
Belajarlah seakan engkau akan hidup
selamanya. Ya, ini kalimat yang tentu
sangat dalam sekali maknanya buat kita
semua untuk ee yang bisa memberikan
dorongan untuk kita terus belajar. Nah,
Sobat ASN yang saya banggakan, nah ASN
sebagai individu pembelajar tentu harus
selalu berupaya untuk mendorong agar
rasa ingin tahunya itu tidak berhenti.
Selalu ada dorongan untuk ee mencari
pengetahuan-pengetahuan baru dan
memahami dunia sekitar.
ASN Pembelajar juga berupaya untuk bisa
mendorong kemampuan adaptabilitas pada
dirinya, yaitu kemampuan untuk dapat
menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan dan tuntutan pekerjaan. Dan
ASN sebagai individu pajar juga dituntut
untuk bisa membangun ketang
untuk bangkit kembali dari kesulitan dan
terus berkembang. Kenapa begitu? karena
tantangan yang kita hadapi ke depan
tentu akan semakin ee semakin variatif,
semakin kompleks ya. Kita dihadapkan
pada disrupsi digital, regulasi yang
baru yang terus-menerus diperbaharui
oleh kementerian, oleh lembaga, dan
seterusnya. Kemudian ada tuntutan
pelayanan publik yang dinamis.
Masyarakat kita semakin membutuhkan
pelayanan yang cepat, yang akurat. Dan
untuk itu semua ASN kita tentu harus
bisa memahami itu sebagai sebuah
tantangan agar kita terus belajar dan
mendorong peningkatan kompetensi di
bidan kita masing-masing. Ibu, Bapak
yang saya hormati, dari nah dari
individu bagaimana kita dorong dari
individu kita bertransformasi ke budaya
belajar kolektif ya. Nah, individu
pembelajar tentu kita akui sebagai
pondasi utama bagi organisasi yang
adaptif dan inovatif.
Dan kita mendorong agar setiap insan
dalam organisasi mau meleburkan dirinya
menjadi sosok pembelajar kolektif, yaitu
ee memiliki sinergi untuk selalu sharing
knowledge, berbagi pengetahuan,
terus ee belajar melalui teknik misalnya
dengan pendekatan mentoring dan juga
aktif untuk melakukan kolaborasi antar
individu. Sebab dari kita, untuk kita,
dan oleh kita itu dimungkinkan untuk
pembelajaran kita bisa terus berubah,
berkembang, dan ber apa ee melaju tanpa
henti. Ya, seorang ahli di dalam bidang
psikologi kognitif mungkin juga Bapak,
Ibu mengenal akrab nama ini yang bagi
yang eh sering mempelajari teori-teori
dan pandangan psikologi kognitif ya,
salah satu aliran dalam psikologi yang
memberikan ee penilaian yang sangat
positif pada manusia. bahwa manusia itu
memiliki kemampuan berpikir yang sangat
luar biasa. Karel Roger menyebut bahwa
the only person who is educated is the
one who has learned how to learn and
change. Satu-satunya orang terdidik
adalah mereka yang telah belajar
bagaimana belajar dan berubah. Ya,
bagaimana belajar dan berubah. Hari ini
kita belajar tentu harus memahami ee
strategi, metode-metode yang lebih ee
bisa mengantar kita untuk belajar
semakin lebih aktif dan memahami
cara-cara untuk menjadi pribadi yang
terus berubah, tidak alergi dengan
perubahan dan bisa mengelola perubahan
itu dengan menghasilkan hal-hal yang
juga semakin lebih produktif. Nah,
Bapak, Ibu yang saya hormati, budaya
belajar kolektif sebagai pondasi ASN
pembelajar tentu ini bisa kita dorong
dengan ee pertama
ee bagaimana kita dalam organisasi itu
memiliki tentu ada visi bersama ya, ada
tujuan yang jelas dan disepakati bersama
oleh seluruh anggota. Kemudian ada
kecerdasan kolektif yaitu memanfaatkan
beragam perspektif untuk solusi yang
lebih baik. Kita boleh belajar tentu
tidak hanya dengan ee dengan orang
tertentu, tapi saat ini dengan
digitalisasi sangat memungkinkan bagi
kita untuk dapat belajar tanpa henti,
tanpa batas, ruangan, dan waktu. Dengan
memanfaatkan fasilitas digital yang ada.
bahkan kita bisa terus mengasa
kecerdasan kolektif kita dengan ee
komunitas-komunitas yang kita bangun
bersama untuk mendalami atau mempelajari
hal-hal tertentu dalam pekerjaan kita
atau mungkin dalam hal-hal lain yang
kita butuhkan untuk pengembangan diri.
Nah, kemudian ada kepercayaan dan
keterlibatan,
yaitu lingkungan yang mendukung
eksperimen dan berbagi tanpa takut
gagal. Nah, Bapak Ibu mendorong
organisasi
eh pembelajar atau organizational
learning untuk birokrasi yang adaptif
dan berkembang harus didukung oleh
berbagai hal. Antara lain di dalamnya
ada ee organisasi yang terus mendorong
karyawannya untuk mau terus belajar ya.
Kemudian harus ada knowledge management,
bagaimana mengelola pengetahuan dengan
baik dan tentu harus didukung dengan eh
digital learning.
Nah, Bapak Ibu, apa manfaat yang kita
peroleh dengan kita ee mengembangkan
budaya belajar kolektif utamanya di OPD
kita masing-masing? Tentu banyak sekali
manfaat yang kita akan peroleh antara
lain di sini ada dengan kita terus
belajar akan terjadi peningkatan
kualitas pelayanan publik karena ASN
kita akan semakin sensitif, akan semakin
tanggap
melihat, merasakan apa yang menjadi
tuntutan bagi pelayanan publik kita.
Nah, dengan kita belajar secara
kolektif, ada budaya belajar yang selalu
kita tumbuhkan, tentu kita akan secara
aktif untuk melihat, memahami apa yang
menjadi tuntutan pelayanan publik dari
masyarakat kita. Tidak menunggu kita
dikomplain terlebih dahulu baru kita
memberikan yang terbaik. Ya, akan jauh
lebih baik sebelum kita dikomplain,
sebelum kita di diprotes, sebelum ada
aksi dan sebagainya, sebelum kita
dilayangkan dan seterusnya berbagai
aduan ke media sosial. lebih baik kita
bertekad untuk mendorong peningkatan
kualitas pelayanan publik dari internal
sehingga ya yang terjadi masyarakat kita
justru akan memberikan dukungan,
memberikan ee penilaian dan memberikan
ee pujian terhadap organisasi kita.
Kenapa? Karena tidak perlu mereka
memberikan ee tidak perlu komplain,
tidak perlu protes, tapi terlebih dahulu
mereka sudah merasakan layanan-layanan
publik yang menjadi tuntutan mereka.
Nah, manfaat budaya belajar kolektif
yang kedua, kita bisa meningkatkan
efisiensi operasional. Ya, ini tentu
kita rasakan ada pergeseran hari ini ee
di seluruh BPSDM seluruh Indonesia
menurut saya kecuali mungkin mohon maaf
Jawa Timur masih ee masih lumayan besar
ini penganggaran yang dapat dikelola
tapi khususnya di kami di Sulawesi
Selatan ini juga terjadi efisiensi yang
sangat yang sangat berarti sehingga mau
tidak mau kami tentu harus berpikir
bagaimana menemukan cara-cara atau
strategi untuk bisa membelajarkan para
ASN kita tidak selalu ee harus dengan
pola klasikal dan kecenderungannya hari
ini menurut saya itu terjadi pergeseran
dari pembelajaran yang dulunya lebih
banyak didominasi dengan pembelajaran
yang sifatnya klasikal. Sekarang sudah
lebih banyak mengedepankan model-model
pembelajaran atau pembelajaran ASN yang
sudah menggunakan pola-pola digital
seperti yang kita lakukan hari ini. Kita
tidak perlu berada di satu ruang yang
sama, tapi kita bisa mendapatkan belajar
dari kawan-kawan kita. Saya juga hari
ini tentu akan belajar dari Bapak, Ibu
semua, dari teman-teman para kepala
BPSDM kami sama-sama untuk terus
belajar. Ee manfaat lain adalah ee kita
bisa terus mendorong terjadinya inovasi
yang berkelanjutan
ya. Sebab tuntutan inovasi tentu tidak
ada henti. Perubahan-perubahan yang
terus terjadi itu akan berdampak
langsung ataupun tidak langsung terhadap
ee organisasi kita. Untuk itu agar kita
tidak punah, agar kita tidak
ketinggalan, kita tentu didorong untuk
terus membangun semangat inovasi dan
inovasi terus harus berkelanjutan.
Manfaat lain adalah peningkatan kepuasan
ASN. Kalau ASN kita belajar
terus-menerus, mereka memahami
pekerjaannya dengan sangat baik, mereka
bisa mendeteksi, mengidentifikasi
kelemahan, mengidentifikasi permasalahan
yang akan terjadi. Tentu itu akan
membuat ASN kita bisa bekerja dengan
baik pada bidang tugas. Kalau dia bisa
bekerja dengan baik, maka akan membuat
ASN tersebut, ASN kita bisa merasakan
kepuasan di dalam pekerjaannya. ya, puas
terhadap atasannya, puas terhadap teman
sejawat, ada kepuasan terhadap gaji yang
mereka terima, ada kepuasan terhadap
sistem promosi, dan ada kepuasan
terhadap ee bagaimana jaminan ee hari
tua dari para ASN kita. Nah, kemudian
manfaat lain adalah ee ASN kita akan
mampu beradaptasi secara cepat dengan
perubahan.
Dan yang terakhir tentu akan dapat ee
kita dapatkan ee terjadi pencapaian
world class birokrasi. Ini yang menjadi
tuntutan dari ee Kementerian Menpan RB
bagaimana mendorong birokrasi kita untuk
bisa menjadi birokrasi yang berkelas
dunia. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati.
Ini ada kutipan inspiratif untuk terus
mendorong kita belajar dari ee Benyamin
Franklin. Ya, kita kenal bahwa investasi
dalam pengetahuan ee memberikan bunga
terbaik. Ya, setiap kita pasti ingin dan
senang melihat bunga. Dan bunga terbaik
menurut ee Benjamin Franklin adalah
berinvestasi dalam pengetahuan. Ya,
silakan dimanfaatkan. kita sudah punya
pendekatannya baik itu pendekatan 10%
lewat formal learning, 20% lewat social
learning dan juga 70% melalui eh
experiential learning. Dan satu lagi
dari Nelson Mandela, ya, education is
the most powerful
which you can use to change the world.
Bahwa pendidikan adalah senjata paling
ampuh yang dapat digunakan untuk
mengubah dunia.
Ya. Baik, Ibu Bapak yang saya muliakan.
Sebagai penutup dan refleksi untuk kita
semua, mari kita terus mendorong
semangat belajar baik secara pribadi
maupun berkelompok, berkolektif. Ee
mulai dari diri sendiri, terus kita
bergerak untuk membangun ee ke apa
bersama untuk membangun dan kita ee
jalankan atau kita upayakan terbentuknya
budaya belajar yang kolektif. ASN
pembelajar adalah kebutuhan dan bukan
pilihan.
belajar ee budaya belajar kolektif
adalah bagian dari upaya yang dilakukan
untuk melakukan percepatan transformasi
birokrasi.
Nah, ee Ibu Bapak yang saya hormati, itu
sebagai pengantar bahan kita berdiskusi.
Saya tutup dengan eh quote kita untuk
hari ini. Happy better good, good is not
enough. Kalau bisa menjadi yang terbaik,
maka menjadi baik saja tidak cukup. Saya
yakin, Sobat ASN, kita punya potensi
yang sangat hebat. Kita punya potensi
yang luar biasa dalam pekerjaan, dalam
hal apapun. Mungkin itu baru sebagian
kecil dari potensi hebat yang kita
miliki, yang kita sudah curahkan untuk
pekerjaan kita. Kalau kita menyadari
bahwa potensi terbaik itu masih luar
biasa pada diri kita, jangan kita
berhenti untuk terus mengasa kompetensi
itu. Karena kita bisa menjadi yang
terbaik. Ya, sekali lagi kalau bisa
menjadi yang terbaik, menjadi baik saja
tidak cukup. Bapak, Ibu yang saya
hormati, demikian sebagai pengantar yang
dapat saya sampaikan. Semoga berkenan.
Terima kasih, saya mohon maaf.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi
kepada Prof. Jufri selaku Kepala BPSDM
Provinsi Sulawesi Selatan atas materi
yang telah diberikan. Sekedar
menyimpulkan sedikit dari apa yang tadi
sudah disampaikan oleh Prof. Jufri
bahwasanya ternyata fakta mengejutkan
angka adaptabilitas ASN secara nasional
ini masih tergolong rendah. Bagaimana
cara kita bisa keluar dari angka
tersebut adalah dengan belajar. Harus
dimulai dari individu. Utamanya tadi ada
tiga dimensi sifat yang tadi disebutkan
oleh Prof. Jufri. ASN harus punya
curiosity, ASN harus punya adaptabilitas
yang tinggi dan juga resilience yang
tinggi. Harapannya ketika masing-masing
individu ini sudah memiliki kualitas
yang baik, budaya belajar kolektifnya
ini terbentuk dan nanti multiplayer
effect-nya adalah pencapaian world class
birokrasi di tahun 2045.
Kali ini kita akan masuk ke sesi tanya
jawab bersama dengan para sobat ASN yang
tengah bergabung. Mohon izin kami
menginformasikan untuk penanya nanti
kita juga akan sediakan hadiah berupa
powerbank. Langsung saja saya mau undang
untuk penanya kita yang pertama kali
ini. Kami persilakan untuk bisa
menggunakan feature rise hand ataupun
memberikan pertanyaan melalui live chat
YouTube bagi Anda yang tengah
menyaksikan acara ini melalui YouTube
BPSDM Jatim TV. Prof. Jufri sebelum saya
persilakan kepada Sobat ASN yang ingin
bertanya, saya mau tanya terlebih dahulu
Prof. Jufri tadi. Prof. Jufri mengatakan
bahwasanya ASN itu harus punya
curiosity, adaptability, dan juga
resilience. Kalau menurut pandangannya
Prof. Jufre, di Indonesia sendiri dari
tiga sifat itu, Prof. yang paling lemah
itu di bidang apa? Di bagian apa kita
itu? ASN kita, Prof.
Jadi, iya betul, Mas. Ee ah ini ini
mohon maaf mungkin saya agak agak gegaba
ya kalau saya harus bisa memilih salah
satu di antara ketiganya karena saya
tidak punya belum memiliki risetnya
untuk yang ketiga ini ya.
Tetapi saya kembali ke yang pertama tadi
yang saya sampaikan di awal Mas bahwa ee
riset itu saya yakin juga di Jawa Timur
ini bagian dari riset ini ya karena ini
riset yang dilakukan oleh ACT Consulting
Heeh.
Ee kerja sama apa? ESQ ee ESQ waktu itu
dengan e Kempan RB dan yang saya
tampilkan tadi itu secara nasional
38,90%
99% dan ee khusus kami misalnya di
Sulawesi Selatan itu juga masih
tergolong rendah, Mas. Ee saya mohon
maaf saya tidak menemukan datanya untuk
yang Jawa Timur karena waktu data ini
diserahkan ke kami memang hanya untuk
data Sulawesi Selatan. Mungkin datanya
dengan Pak Kabat juga itu ada tapi mohon
maaf saya tidak sampaikan. Nah, kalau
dari data itu kita melihat bahwa memang
dari ketiganya ee adaptabilitas ini
tergolong rendah dan saya kira itu
sangat berkaitan dengan dua di atasnya,
Mas. Kalau adaptabilitas rendah itu
menunjukkan bahwa sebenarnya rasa ingin
tahunya juga masih perlu digugah gitu
loh. Kalau rasa ingin tahunya tinggi ya
misalnya rasa ingin tahu untuk selalu
melihat apa sih yang masih kurang dari
pekerjaan saya ini atau bidang tugas
saya ini sudah maksimal gak saya punya
kompetensi untuk bisa mengerjakannya.
Heeh. Tapi sobat ASN yang hebat pasti
dia akan selalu bertanya kepada dirinya,
"Ya,
kalau tugas saya seperti ini, kompetensi
apa yang saya butuhkan untuk bisa
melaksanakan tugas ini dengan baik?"
Terus dia kemudian mengevaluasi dirinya
sendiri. Oh, ternyata saya itu saya
masih kurang di sini. Ininya
alhamdulillah sudah baik. Yang ininya
masih perlu dikembangkan lagi. Ini yang
kemudian akan mempengaruhi bagaimana dia
memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ya.
Ya. Katakanlah misalnya ya untuk
mendukung pekerjanya dia butuh tambahan
ee skill yang seperti ini. He
ternyata itu dia belum miliki. Nah,
dengan dia menyadari bahwa dia belum
miliki itu ternyata berdampak
mempengaruhi rasa ingin tahunya. Wah,
ini saya harus saya harus tahu ini. Saya
harus cari ke mana saya belajarnya. saya
harus bertanya kepada siapa ini, saya
harus belajar di lembaga mana ini untuk
cari itu. Jadi ada dorongan untuk
memenuhi itu. Jadi curiosity-nya rasa
ingin tahunya muncul. Nah, kemudian yang
kedua yang tadi itu resilience ya. Dia
harus memiliki ketangguhan karena
belajar ini kan juga mohon maaf ya ada
tantangannya juga minimal kita bersedia
untuk menginfest waktu. Bahkan mungkin
dalam belajar itu butuh investasi biaya
ya. ya dan sebagainya. Ee mungkin harus
korban perasaan juga, Mas. Kadang-kadang
kita belajar mungkin ah waktunya kita
istirahat tapi masih ada tuntutan untuk
harus belajar.
Ya, kita harus tanda kutip korban
perasaan. Kadang-kadang kita sudah
belajar
masih apa yang kita lakukan juga tidak
dihargai gitu loh. Makanya salah satu
yang mungkin perlu diperhatikan di sini
agar ekosistem pembelajaran itu bisa
terbangun ya kita juga harus memikirkan
apa yang dilakukan oleh para ASN
pembelajar harus di harus ada kompensasi
tanda kutip untuk hal yang bisa juga
dirasakan sebagai sebuah kebermaknaan
kebermanfaatan bagi mereka yang sedang
belajar.
Di dalam teori pendidikan itu disebut
dengan law of effect. hukum belajar
akibat ya. Apa maksudnya itu hukum
belajar akibat? Mereka akan semakin
termotivasi untuk belajar kalau mereka
merasakan apa akibat atau apa manfaat
yang akan diperoleh setelah dia belajar.
Ya, katakanlah misalnya ASN yang aktif
mengikuti webinar dapat presertifikat
berapa nilai JP-nya. Nanti di akhir
periode mungkin satu kali dalam 6 bulan,
satu kali dalam 1 tahun akan ada ee apa
akan ada rekapitulasi nilai
ya.
Dan itu mungkin menjadi laporan bagi Ibu
Gubernur, menjadi laporan bagi Pak
Gubernur untuk melihat ini potret dari
ASN-nya yang punya kesungguhan untuk
belajar
sehingga ada reward ya. ada perlakuan
yang diberikan untuk membuat ASN
tersebut merasa bahwa apa yang saya
pelajari itu bermakna, berarti,
bermanfaat bagi saya ya. Nah, kalau
tidak itu bisa mempengaruhi
resiliensinya bisa berkurang, daya
tahannya bisa turun ya. Oke, saya rasa
gitu, Mas. Terima kasih.
Thank you, Prof. Jufri. Berarti memang
antar tiga sifat ini tidak bisa terpisah
satu sama lain karena ini merupakan
sebab akibat ya. Dan tadi untuk bisa
mendorong apa namanya ASN yang mau untuk
belajar salah satunya adalah harus
perhatikan drivers-nya pakai skema e
reward dan juga benefit seperti yang
tadi Prof. Jufri bilang seperti itu.
Iya. Reward and punishment juga ya.
Sebaliknya juga ada punishment gitu ya.
Baik Prof. Jufri ini ada Sobat SN yang
tengah bergabung. Prof. Jufri untuk
bertanya kami izin undang terlebih
dahulu. Untuk sobatn-nya kami silakan
Bapak bisa langsung saja open audionya
kemudian diperkenalkan nama asal
institusinya dan juga asal daerahnya.
Silakan, Pak.
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Salam sehat, Prof.
Silakan, Pak.
Ee izin memperkenalkan diri, nama saya
Muhammad Toha dari Pusat Pelatihan
Pegawai ASN Kementerian Desa Pembangunan
dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Ee
menarik, Prof. dari apa yang Prof.
sampaikan tadi memang ee apa namanya ee
belajar seharusnya memang jadi kebutuhan
bagi semua ASN. Cuma memang kita harus
ee yang kita ketahui juga bahwa ee
budaya belajar ini bagi ASN ee seperti
budaya baru, Prof. Jadi hal yang
kadang-kadang kita di ASN ini
sudah merasa ya saya kan sudah jadi ASN,
sudah berada di zona nyaman. Sementara
kita tahu
untuk merubah budaya itu harus ada
keinginan kuat terutama dari keinginan
pribadi sendiri untuk apa terus
berkembang. Tetapi di samping itu kan
duk seperti yang Prof bilang tadi,
dukungan ee pimpinan, dukungan
organisasi juga diperlukan untuk ee
menumbuhkan budaya itu. Kira-kira ee
yang ingin kami sampai kami tanyakan
kepada Prof.
ee sebagai pribadi, apa yang harus kita
bangun agar kita bisa menumbuhkan
semangat belajar dan bisa mengajak
teman-teman? Seperti yang Prof bilang
tadi, belajar itu memang harus kolektif.
Kalau ramai-ramai kayaknya enak gitu,
tapi kalau sendiri kayaknya kesepian
gitu. Kemudian yang kedua itu dari sisi
pribadi. Kemudian yang kedua ee dari
segi pimpinan dan organisasi. Kira-kira
apa yang bisa dilakukan, apa yang harus
seharusnya dilakukan oleh pimpinan dan
organisasi untuk bisa terus menumbuhkan
semangat belajar ASN di lingkungan
kerjanya masing-masing. Mungkin itu,
Prof. Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi
wabarakatuhalam
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
Pak Toha atas pertanyaannya. Mohon izin
menginformasikan Pak Toha. Nanti bisa
kirimkan juga nama dan data diri beserta
nomor handphone yang bisa dihubungi ke
tim admin kami untuk klaim hadiah.
Silakan Prof. Jufri kami persilakan
untuk menjawab pertanyaan dari Pak Toha.
Oke. Baik Mas. Terima kasih banyak. Yang
saya hormati salam kenal untuk Pak
Muhammad Toha ya dari Kementerian ee
Kementerian Desa dan apa Pak? Apa itu?
Kementerian
Pembangunan Daerah tertinggal
apa tadi ya? Oh pembangunan desa
tertinggal. Iya.
Iya
iya. Baik, baik. Terima kasih banyak,
Pak. Saya pertama senang apresiasi yang
Bapak sampaikan. Yang kedua, saya
sepakat dengan apa yang Pak Toha
sampaikan bahwa memang ee untuk
membangun self awareness yang kuat pada
setiap individu untuk belajar itu pasti
berproses ya. kita melihat sendiri
misalnya kalau kita masih belajar waktu
kita melihat masa-masa di saat kita dulu
sekolah ya baik itu di jenjang
pendidikan dasar pendidikan menengah
sampai kita perguruan tinggi kita amati
dari kawan-kawan dekat kita sendiri juga
itu sangat variatif dari ee kemauan dan
cara mereka untuk belajar meningkatkan
kompetensinya. ada yang kemauan
belajarnya sangat tinggi ya, ada yang ee
sedan-sedan saja tapi ada juga yang ee
biasa saja dan bahkan ya istilahnya
menggugurkan kewajiban gitu Pak ya. Ya,
meskipun demikian ini tentu tidak
menjadi jaminan bahwa kesuksesan itu
selalu ditentukan oleh prestasi
akademik. Ya, kita tentu sudah sangat
sering membaca pandangan yang
dikemukakan oleh Daniel Goldman terkait
dengan kecerdasan emosional. ya, bahwa
ternyata porsi kecerdasan emosional yang
dapat mendorong seseorang bisa sukses di
dunia kerja itu justru dinilai diberi
porsi lebih besar sampai 80% ya dan
akademik hanya sekitar 20% saja ya. Tapi
itu juga motivasi buat kita. Nah, ee apa
yang harus di apa yang harus dibangun
secara pribadi untuk? Nah, tentu menurut
saya ee kebiasaan belajar yang harus
kita ciptakan hari ini ya tentu bukan
lagi semata-mata belajar karena ingin
dinilai lulus dari suatu proses proses
pembelajaran tentu sudah lagi tatarannya
tidak di situ. Nah, di di pikiran saya
dan seperti ini yang saya kira sekarang
ini sedang di sedang didorong
dikembangkan oleh LAN melalui kegiatan
pembelajaran ASN dengan membentuk
ekosistem pembelajaran adalah ee
seharusnya setiap ASN, setiap pribadi
memetakkan apa yang menjadi ee tanggung
jawab dalam bidang pekerjaannya. Ya,
bahasa kita dulu mungkin ada uraian
tugas atau job des gitu, Pak ya. Jobesk
description. Nah, dari situ tentu kita
akan buat e turunannya kompetensi apa
yang dibutuhkan untuk bisa menyelesaikan
tugas atau pekerjaan ini dengan baik.
Lalu, pertanyaan berikutnya, untuk bisa
mendorong atau ee membuat kompetensi itu
bisa tercapai itu kita akan melakukan
dengan cara apa gitu, Pak? Ya, jadi ee
tergantung dengan posisi kita. Misalnya
ini kalau yang bersangkutan
mendapat amanah sebagai posisi dalam hal
jabatan manajerial. Nah, tentu ada
persyaratan-persyaratan yang harus
mereka penuhi baik itu persyaratan yang
berkaitan dengan kemampuan
manajerialnya, kemampuan teknis,
kemampuan sosiokultural dan sebagainya.
Nah, lalu kemudian di situ dia bisa
petakan untuk saya bisa mendapatkan
kompetensi itu, saya harus membangun
kompetensi saya itu dengan cara belajar
seperti apa. Oh, ini ternyata saya harus
ikut pelatihan yang dilakukan oleh BPSDM
atau oleh LAN dan seterusnya. Jadi harus
dipetakan begitu. misalnya dia merasakan
bahwa untuk jabatan atau tugas yang
dilakukan itu butuh skill tentang public
speaking contohnya.
Nah, tentu dia harus membangun kesadaran
pada dirinya secara mandiri untuk bisa
membuat diri saya itu punya kemampuan
atau ee keterampilan dalam bidang eh
public speaking. Ya, tentu saya harus
belajar. Kalau di kantor saya tidak
tersedia anggaran untuk ikut ikut untuk
ikut ee kursus misalnya atau ee ikut
pelatihan, ya saya yang harus membuat
perencanaan untuk diri saya. Kalau saya
tidak bisa ikut langsung dalam bentuk ee
kegiatan yang sifatnya offline, ya saya
bisa masuk di LMS-nya LAN misalnya
belajar di situ tentang public speaking
atau mungkin yang paling sederhana kita
bisa belajar sendiri menggunakan ee
fasilitas yang ada di YouTube atau
mungkin di ee media-media yang lainnya.
Jadi kesadaran seperti itu tentu kita
tidak perlu harus menunggu arahan dari
pimpinan, tidak perlu harus ee mendapat
surat tugas untuk mengikuti pelatihan.
Bagi saya ini adalah sebuah tanggung
jawab pribadi yang harus kita dorong.
Kenapa? Karena kebutuhan untuk menjadi
seorang karyawan yang memiliki skill
sebagai public speaker. Kalau pekerjaan
kita sebagai ee yang membutuhkan public
speaker misalnya, itu kebutuhan saya.
Maka saya tidak perlu menunggu perintah,
saya tidak perlu menunggu diberikan
tugas, tapi saya akan berusaha untuk
bisa
meng-upgrade kemampuan ee apa? publish
speaking saya dengan cara yang boleh
saya pilih. Kira-kira gitu, Pak. Jadi
harus ada self awareness, kesadaran dari
diri masing-masing untuk bisa memenuhi
tuntutan kompetensi yang diperlukan
untuk jabatan atau untuk tugas yang
menjadi tanggung jawab kita. Itu yang
pertama. Nah, terus yang kedua ee saya
setuju bahwa memang untuk bisa membuat
sebuah organisasi yang di dalamnya
memiliki kegemaran, kesenangan untuk mau
belajar ya yang disebut oleh Peter
Sengge itu sebagai e learning
organization, organisasi pembelajar ya,
itu memang sangat dibutuhkan ee sosok ya
kehadiran sosok pemimpin di dalam
organisasi ya. Kalau pemimpinnya sendiri
sudah menunjukkan komitmen yang besar,
komitmen yang kuat untuk bisa membawa
organisasi itu sebagai organisasi
pembelajar, maka pasti orang-orang yang
ada di dalamnya, komunitas yang ada di
dalamnya juga pasti akan ikut, Pak. Tapi
kalau misalnya ee karyawannya didorong
tetapi pimpinannya mohon maaf tidak
menunjukkan ee apa effort yang sangat
nyata untuk dilihat oleh para stafnya
bahwa dia juga belajar itu pasti akan
berdampak kurang baik. Staf-stafnya ini
pasti belajar itu hanya karena terpaksa,
mungkin karena ada atasan di situ
sehingga dia mau menunjukkan bahwa dia
hadir dalam proses belajar ya. Nah,
tentu bukan ini yang kita harapkan.
Bukan ini yang kita harapkan. Nah, tapi
peranan sebagai seorang pemimpin dan
bahkan dukungan organisasi ya misalnya
dengan ee organisasi kita di kantor itu
tentu misalnya menyiapkan ee layanan
internet yang memadai supaya ee karyawan
itu bisa akses internet untuk belajar
dengan ee berbagai pilihan kapanpun di
mana pun itu bisa terjadi. Jadi
organisasi punya tanggung jawab untuk
mengalokasikan anggaran ya untuk bisa
membuat organisasi itu memang menjadi
ruang tempat yang memungkinkan seluruh
ASN untuk bisa belajar dengan baik. Dia
bisa memilih cara dan bisa memilih
metode dan bisa memilih pendekatan yang
akan digunakan dalam belajar. Jadi
intinya sepakat Pak Toha insyaallah
pimpinan sangat berperan untuk mendorong
organisasi pembelajaran itu bisa
terbentuk dan organisasi punya tanggung
jawab untuk tanda kutip menyiapkan
berbagai fasilitas pendukung yang
dibutuhkan bagi tumbuhnya ya dan ee
tingginya semangat belajar yang dimiliki
oleh para staf. Dan akhirnya
lama-kelamaan akan semakin terbentuk
satu ekosistem belajar yang kuat. bahkan
bukan hanya di dalam organisasinya, tapi
juga sudah bisa menciptakan pola
pembelajaran yang kolaboratif dengan ee
bermitra baik itu lembaga-lembaga di
luar kantor, lembaga pemerintah,
nonpemerintah dan sebagainya. Saya kira
seperti itu. Demikian, Pak Toha. Semoga
berkenan. Terima kasih. Saya kembalikan
ke Mas Pak Toha. Terima kasih. Salam
hormat saya buat Pak
ee siapa? Ada stafnya Bapak, bosnya
Bapak di situ yang sama-sama belajar
kami kemarin di Pak Hasrul, Pak.
Oh
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:05:10 UTC
Categories
Manage