ASN Belajar Seri 37 | 2025 - Membangun Ekosistem Belajar ASN
44ffsWokIjw • 2025-09-25
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] [Tepuk tangan] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas. belajar juga menerima kelas dunia tekat pandang menyerah jadi AS berkualitas [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] He. [Musik] Has muda semangat membara di era digital terus berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cembalak Jawa Timur terus melaju bersama BPST Jim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat ASN unggul tiada yang tertinggal no one left behind melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemerlang Jawa Timur terus melaju bersama BPSDM Jatim Kita terus melesat untuk Indonesia emas. Prestasi her aset unggur tiada yang tertinggal. No one left behind. Kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemerlang. Jawa Timur terus melaju bersama BPSDM Jatim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat bersama kampus satelit PPSM Jatim no one left behind ASN umbul dan berkualitas melesa tinggi Indonesia jaya Yeah. [Musik] Bam membangun asa menuju cipta yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti menitipi zaman dengan semangat pembaharuan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. PPS TM Jing Pusat unggulan. Tempat lahirnya insan berkualitas. Mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jalan demiang. PSDM Jawa Timur Center of Exens masa depan Donilang [Musik] bersama membangun asa menuju cita yang mulia Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti meniti zaman dengan semangat pembaharuan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSM Jatim Pusat unggulan. tempat lahirnya insan berkualitas mencatat Sm berkompetensi tangguh cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jangan demiang PPSDN Jawa Timur Center ofans masa depan gemilang [Musik] Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Merha kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Memerasi melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Hong kami dari sini suka dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tujukan kompetensi dalam harmoni bangsa loyal tanpa batasannya adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan air yang lebih beragam mengerdas penuh hati tulus membantu sesama dibangun kami melayak Dengan bang kami melayani dengan kami melayani bangsa [Musik] Tuhan [Musik] [Tepuk tangan] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas [Musik] belajar wujudkan perintah selaku dunia bukan tekad pantang menyerah jadi berkualit [Musik] bersama membangun asa menuju cinta yang mulia Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti menitipi zaman dengan semangat pembaruan, ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. PPS Jing Pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tangguh cerdasin inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jalan kamiang berpesankan Jawa Timur Center of Sans masa depan [Musik] bersama membangun asa menuju cita yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti meniti zaman dengan semangat pembaruan, ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSM Jatim pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas. Mencat STM berkompetensi. Tangguh cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan dan jangan gemilang. BPSDN Jawa Timur Center of Sans masa depan Gemilang L [Musik] Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Marilah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Hong kami dari sini suka dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Layani bangsa loyal tanpa batasannya telah berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa [Musik] Kami dari sini tugas dengan hati. Tujuhkan kompetensi dalam harmoni. Layani bangsa loyal tanpa batasannya. Kalau ada dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan AS lebih beragung bekerja penuh hati tulus membantu tetap bila mengangani dengan kami melayani dengan mengang kami melayani M bes [Musik] Has muda semangat membara di era digital terus berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cempalak Jawa Timur terus melaju bersama BPST yang cim Kita terus melesat untuk Indonesia emas. Prestasi hebat ASN unggul. Tiada yang tertinggal. No one left behind. Kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemerlang. Jawa Timur terus melat [Musik] kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi her aset unggur tiada yang tertinggal no one left behind kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi. Inovasi cemalah. Jawa Timur terus melaju. Bersama BPSDM Jatim kita terus melesat. Untuk Indonesia emas prestasi hebat bersama kampus satelit PP PSM Jatim. No one left behind. I um unggul dan berkualitas. Melasa tinggi Indonesia jaya [Musik] Halo, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di seluruh Indonesia. Senang sekali saya Lukman Ali dapat menyapa kembali sobat ASN tentunya dalam acara webinar ASN Belajar seri 37 membangun ekosistem belajar ASN dari individu pembelajar ke organisasi unggul. Sekali lagi kami ucapkan selamat datang untuk sobat ASN yang tengah menyaksikan acara webinar kali ini, baik melalui platform Zoom Meeting ataupun yang tengah menyaksikan melalui live YouTube BPSDM Jatim TV. Semoga bisa mendapatkan insight yang banyak sekali yang bisa diimplementasikan di unit kerja masing-masing. Dan kami juga ingin menginformasikan untuk Sobat ASN jangan lupa untuk isi presensi via Semesta Bankom guna mendapatkan e-sertificate dari BPSDM Jawa Timur. Sobat ASN, saya pernah mendengarkan sebuah coach yang mengatakan kalau ada sebuah bunga yang tidak bisa mekar, maka yang harus dibenahi pertama kali itu adalah lingkungannya, ekosistemnya, bukan bunganya. Dan kalau kita bicara terkait dengan ASN yang unggul, maka untuk menciptakannya itu diperlukan pembentukan ekosistem belajar yang baik. Kemarin saya sempat baca-baca berbagai artikel, salah satunya dari Harvard Business Review mengatakan bahwasanya untuk menciptakan ekosistem belajar yang baik ternyata memiliki kendala dan tantangan yang sangat beragam. Coba kita lihat dari sisi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau kalau dalam bahasa korporat biasanya kita sebut sebagai learning and development center ya. Ternyata untuk membuat program desain pembelajaran yang bersifat inklusif dan juga adaptif itu tidak semudah itu. Sebagai contoh sederhananya kadang kalaik-topik pembelajarannya kurang relevan dengan kebutuhan skill masa kini. Atau kalau kita lihat kendala dan tantangan dari sisi pembelajar individual karyawannya. Kadang kala kita menemui permasalahan mulai dari sisi kemauan ataupun kemampuan untuk belajar. Ada yang memang tidak ingin belajar, ada yang mau belajar tapi bingung harus mulai dari mana, bagaimana cara memulainya. Bahkan fakta mengejutkan dari Deloid kemarin saya baca adalah rata-rata pekerja global itu hanya memiliki kurang dari 1% waktu kerja mereka itu digunakan untuk belajar. Dan ini tantangan harus benar-benar kita hadapi bersama-sama. Tentunya membutuhkan banyak sekali integrasi antar berbagai stakeholder untuk mencapai ekosistem belajar yang baik. Tentunya kali ini kita akan kupas secara tuntas selengkapnya hanya di webinar ASN Belajar seri 37 tahun 2025. [Musik] Baik, Sobat ASN, untuk memulai webinar ASN belajar seri 37 tahun 2025 sejenak mari kita dengarkan bersama opening speech yang kali ini akan disampaikan oleh Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN Belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini, Kamis tanggal 25 September 2025, ASN belajar telah memasuki seri yang ke-37. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bagian dari terima kasih kami, kami selalu berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-37 tahun 2025 ini kembali menyajikan salah satu topik dalam rangka terus mengumandangkan semangat belajar kita sebagai aparatur sipil negara. Sebuah semangat yang sudah semestinya kita rawat, kita jaga, dan kita terus kobarkan sebagai jalan menuju pengabdian sejati kepada bangsa dan negara. Semangat belajar inilah yang akan menuntun kita dari sekedar pelaksana tugas menjadi pencipta perubahan dari birokrat yang hanya menjalankan rutinitas menjadi abdi negara yang menyalakan harapan rakyat. Karena tema ini sangat tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN Belajar seri ke-37 tahun 2025 ini mengangkat topik membangun ekosistem belajar ASN dari individu pembelajar ke organisasi unggul. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam SN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Sobat TSN di seluruh tanah air, kita pasti sadar sepenuhnya bahwa belajar adalah denyut nadi peradaban. Tanpa belajar bangsa akan tertinggal. Dengan belajar bangsa akan menjulang. Birokrasi pun demikian. Ia hanya akan hidup relevan dan dipercaya ketika para penggeraknya yaitu kita ASN menjadikan belajar sebagai nafas sepanjang hayat. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 telah menegaskan bahwa ASN memiliki kewajiban untuk terus mengembangkan kompetensinya secara berkelanjutan. Ini bukan sekedar regulasi, melainkan amanat zaman. Bahwa di tengah arus derasnya disrupsi, digitalisasi, dan persaingan global, hanya ASN yang terus belajar yang akan mampu berdiri tegak melayani negeri. Undang-undang ini hadir untuk menuntun ASN agar tidak terjebak dalam rutinitas belaka, tetapi bergerak menjadi pelaku perubahan. Regulasi ini bukan sekedar kewajiban administratif, melainkan panggilan untuk menyalakan api pengetahuan, memupuk budaya belajar, dan meneguhkan jati diri ASN sebagai garda terdepan pelayanan publik yang unggul dan bermartabat. Oleh karena itu, menumbuh kembangkan budaya belajar bagi ASN bukan sekedar program tambahan, melainkan denyut utama kehidupan birokrasi modern. Budaya belajar adalah roh yang menghidupkan organisasi, menyatukan individu pembelajar dalam satu ekosistem pengetahuan yang berkelanjutan. Melalui budaya belajar, ASN tidak hanya meningkatkan kompetensi, tapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap perubahan, kecerdasan dalam mengambil keputusan, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan global. Budaya belajar menjadikan setiap SN bukan sekedar pelaksana tugas, melainkan inovator, kolaborator, sekaligus pelita yang menerangi jalan bangsa menuju masa depan. Budaya belajar adalah budaya positif yang harus menjadi semangat kolektif aparatur sipil negara. yang bukan sekedar aktivitas menambah pengetahuan, melainkan sebuah sikap hidup yang menumbuhkan keterbukaan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus beradaptasi. Soat ASN dalam budaya belajar, setiap ASN menemukan dirinya sebagai bagian dari ekosistem yang saling menguatkan. di mana ilmu bukan hanya milik individu, tetapi menjadi energi bersama untuk melahirkan birokrasi yang cerdas, inovatif, dan terpercaya. Dari budaya belajar inilah akan tumbuh pelayanan publik yang lebih prima, kinerja organisasi yang lebih unggul, dan pembangunan yang lebih berdampak untuk rakyat. Oleh karena itulah mengapa membangun ekosistem belajar bagi ASN menjadi kebutuhan yang mendesak dan tak bisa kita tunda lagi. Ekosistem belajar adalah fondasi bagi lahirnya birokrat yang adaptif, inovatif, dan terpercaya. Di dalamnya setiap ASN tidak hanya mengasah kompetensi individu, tapi juga menumbuhkan semangat atau budaya kolaborasi dan semangat berbagi pengetahuan. Inilah ruang belajar yang akan menjadi denut kehidupan organisasi. Tempat setiap aparatur menyalakan semangat pengabdian dan kelas birokrasi meneguhkan dirinya sebagai motor penggerak kemajuan bangsa. Nah, Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita membangun ekosistem belajar yang benar-benar hidup bukan sekedar slogan. ekosistem belajar yang menghadirkan ruang kolaborasi, mempertemukan pengalaman dengan pengetahuan dan menjadikan setiap ASN bukan hanya penerima ilmu, tapi juga penyumbang gagasan. Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., MS, Psikolog. Beliau adalah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sulawesi Selatan. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Dr. Uswatun Hasana, S.Pd., M.Pd. Beliau adalah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Tengah. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kami kepada Ibu Dranda Nina Dewi, MAP. Beliau adalah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Kalimantan Timur. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-37 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ramblianto, SPMP selaku Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur atas opening speech yang telah disampaikan. Sekali lagi kami ingin menginformasikan dan juga mengingatkan bagi sobat ASN yang sudah bergabung menyaksikan acara webinar ASN Belajar seri 37 tahun 2025. Jangan lupa untuk isi presensi via Semesta Bangkom dan dikarenakan saat ini traffic presensi sedang tinggi maka dapat dipantau secara berkala ya alamat semesta Bangkomnya. Baik Sobat ASN kali ini kita akan masuk ke materi kita yang pertama. Materi pertama akan dideliver oleh Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., MPSI, Psikolog selaku Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan. Ya. Dan telah bergabung bersama dengan kami semua di sini Prof. Jufri selaku Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan. Saya ingin ucapkan selamat datang dan selamat siang terlebih dahulu. Selamat siang, Prof. Jufri. Terima kasih. Selamat siang, Mas. Kabar baik, Prof. Giih. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktunya di sela-sela kesibukan untuk berbagi insight bersama dengan Sobat ASN di seluruh Indonesia. Kali ini kita akan dengarkan bersama paparan dari Prof. Jufri terkait bagaimana cara kita bisa membangun ekosistem belajar untuk para ESN ini sehingga organisasi kita bisa unggul dan adaptif ke depannya. Kami persilakan Prof. Jufri nanti kita akan lanjut di sesi tanya jawab juga. Silakan Prof. Baik. Baik. Terima kasih banyak. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi menjalan siang. Salam sejahtera untuk kita semuanya. Ee pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada sahabat saya seperjuangan, Bapak Dr. Ramlianto, S.P., MP., Kepala Badan Pengembangan Sumber dan Manusia Provinsi Jawa Timur. yang telah berkenan memberikan undangan kehormatan kepada saya untuk ikut bergabung ee berbagi bersama-sama dengan Sobat ASN Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dari tim narasumber pertama kami masih mengalami kendala. Ee juga kepada Ibu Dr. Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd. sebagai Kepala BPSDM Jawa Tengah. Iya. senang sekali bisa bertemu bergabung di sini dan yang saya hormati membanggakan semua tentu bagi saya seluruh sahabat-sahabat Sobat ASN yang telah ee menginvestasikan waktunya yang sangat baik hari ini untuk kita bersama-sama berada di ruang pembelajaran yang sangat aktif, produktif khususnya bagi teman-teman BPSDM Jawa Tengemur yang kalau tidak salah ini sudah ee webinar ASN Belajar seri ke-37. Ya, masyaallah ini luar biasa sekali dan ini bentuk komitmen dari BPSDM Jawa Timur untuk kita terus mengajak para ASN kita bisa berada dalam satu ruang pembelajaran yang terus-menerus akan aktif mengasah, melatih, mengembangkan kompetensi yang kita miliki. I. Nah, hari ini menurut saya ini juga ee satu bentuk kolaborasi yang sangat baik, praktik baik yang dibuat oleh Bapak Kepala BPSDM Jawa Timur ee sabat saya Pak Ramli. Masyaallah, terima kasih banyak. I menghadirkan tiga kepala BPSDM dari provinsi yang berbeda. Dan ini sekaligus menggambarkan bahwa peristiwa ini adalah merupakan wujud nyata dari bentuk kolaborasi yang kita kembangkan hari ini dan tentu akan kita dorong terus berkembang di masa yang akan datang. Ya. Nah, saya kira kita semua sepakat bahwa salah satu dari pilar ee ekosistem pembelajaran itu adalah berkaitan dengan kolaborasi ya. Tiga yang lainnya itu adalah yang pertama ada integrasi, kemudian ada digitalisasi, berikutnya ada inovasi, dan yang terakhir adalah kolaborasi. Hari ini kita membingkai pola kolaborasi dan bukan tidak mungkin setelah kejadian hari ini kami dengan ee BPSDM Jawa Tengah yang sebelumnya juga kami pernah berkunjung ke Jawa Tengah untuk ee belajar berbagai hal dalam hal pengembangan kompetensi dan juga bisa berkolaborasi dengan ee Ibu Nina dari Kalimantan Timur. Baik, Ibu Bapak yang saya hormati, izinkan saya untuk ee share ee materi yang akan saya sampaikan. yang berada di Oleh karena itu, hari ini kita akan bahas jika ASN memiliki internal MC dan ya sudah terlihat Mas. Iya. Baik. Nah, kepada saya diminta untuk ee berbagi terkait dengan ee budaya belajar kolektif sebagai pondasi ASN Pelajarahkan. Oh, saya ingin mengawali dari sini. Beranilah melakukan dengan cara yang berbeda karena perbedaan akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Kalau kita bawa dalam dunia belajar kita di ASN ya mungkin sebagian dari ASN kita berpikir bahwa belajar itu sudah selesai. Ketika dulu belajar di perguruan tinggi ngambil S1, ngambil S2 atau berkesempatan ngambil S3 belajarnya sudah selesai. Padahal ternyata tuntutan kegiatan belajar seperti yang disampaikan dalam opening speak Pak Pak Kaban tadi itu sangat luar biasa bahwa belajar ini ternyata bukan lagi sebuah pilihan. Belajar ini bukan lagi sesuatu yang sifatnya ee alternatif bagi kita. Tapi belajar ini adalah suatu kebutuhan yang harus kita terus ee upayakan. dan ASN yang ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda dalam pekerjaannya, berbeda tanda kutip dalam pengertian kinerjanya bisa makin lebih baik dibanding ASN yang lain. Dia makin lebih produktif dibanding dengan ASN yang lain. Dia harus berani untuk bisa memilih satu cara dan salah satu cara itu mungkin berbeda dengan cara yang kebanyakan dilakukan oleh ASN yang lain. Kalau AS yang lain mungkin di luar waktu kerja lebih banyak memanfaatkan mohon maaf untuk beristirahat atau mungkin melakukan kegiatan-kegiatan lain. Tapi ASN yang ingin semakin lebih produktif, semakin lebih baik dalam kerjanya memilih untuk melakukan kegiatan yang berbeda. mungkin berbeda dalam satu hari dia menetapkan bukan hanya belajar di kantor tapi menambah waktu-waktu yang tersedia dengan belajar untuk mengkaji, memahami, menganalisis dan mendapatkan informasi lain yang mungkin akan sangat bermanfaat bagi tugas dan karirnya ke depan. Baik. Nah, Ibu Bapak yang saya hormati, mengapa kita harus belajar? Iya. Nah, saya ingin belajar ee mengajak kawan-kawan semua kita ee pada salah satu hasil riset mungkin survei yang ee mungkin juga teman-teman mohon maaf mungkin sudah pernah dibaca sebelumnya ya ee terkait dengan bagaimana ASN kita ee adaptabilitasnya. dan bagaimana kesiapan digital dari ee ASN kita. Nah, ini dari data yang kami ambil dari salah satu survei yang dilakukan dari ACT Consulting ya. Dari data ini terlihat bahwa adaptabilitas ASN kita secara nasional itu hanya sekitar 38,90% dan ini termasuk kategori yang tergolong rendah. Hanya 20% ASN kita yang menguasai teknologi digital. Sementara 38,20% di antaranya itu yang berusia di atas 50 tahun, ya. Nah, padahal korelasi antara eh digital skill dan kinerja ASN itu sangat kuat, ya. Kalau dari analisisnya itu terlihat itu 0, ee 0,7 ya. Nah, fakta ini menunjukkan bahwa kapasitas ASN kita itu belum siap tanda kutip untuk menjawab tantangan transformasi birokrasi. Nah, karena itu kita berharap ingin mendorong budaya kerja kolektif karena dengan hadirnya budaya kerja kolektif itu bisa menjadi sebuah solusi konkret untuk memperkuat budaya belajar ASN di tempat kerja. Ya, bisa membangun kemampuan adaptif dan kemampuan digital secara kontekstual serta mempercepat reformasi birokrasi berdampak secara nyata. Nah, kalau kita lihat dari data ini tantangan adaptabilitas ASN kita yang saya sampaikan tadi, persentase ASN kita dalam adaptabilitas itu hanya ditunjukkan 38,90% yang ini menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi digital yang nyata di satuuhan pembangunan yang makin kompleks. Nah, Bapak, Ibu sekalian, tanpa budaya belajar yang SN kita akan sulit untuk beradaptasi dan masyarakat akan menerima pelayanan publik yang tentu juga kurang optimal. Nah, karena itu ee solusi yang kita harapkan itu adalah bagaimana teman-teman ee para ASN, sobat ASN kita menjadikan belajar ini betul-betul sebagai sebuah kebutuhan. belajar ini sangat penting kalau kita lihat dari arahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 khususnya di pasal 49 ayat 1 tadi juga dipertegas kembali oleh Pak Kaban bahwa setiap ASN kita itu dituntut untuk bisa menjadi ee pembelajar dan beradaptasi ya bukan lagi boleh lagi kita memilih bahwa itu hanya hak 20 JP per tahun tetapi dalam yang undang-undang yang baru ini yang sekarang ini masih kita gunakan itu memang tuntutannya sudah menjadi sebuah kewajiban ya wajib untuk kita terus belajar dan beradaptasi ya belajar ini juga penting karena belajar akan mendorong mempercepat proses transformasi birokrasi yaitu untuk mewujudkan ee world class birokrasi tahun 2045 melalui peningkatan kompetensi dan inovasi. Ya, ini mohon maaf saya kutipkan salah satu dari ee tokoh yang kita sangat kenal ya, Mahatma Gandhi. Beliau eh menyebutkan seperti ini kalimatnya. Life ask if you were to die tomorrow if you were to live forever. Hiduplah seakan engkau akan mati besok. Belajarlah seakan engkau akan hidup selamanya. Ya, ini kalimat yang tentu sangat dalam sekali maknanya buat kita semua untuk ee yang bisa memberikan dorongan untuk kita terus belajar. Nah, Sobat ASN yang saya banggakan, nah ASN sebagai individu pembelajar tentu harus selalu berupaya untuk mendorong agar rasa ingin tahunya itu tidak berhenti. Selalu ada dorongan untuk ee mencari pengetahuan-pengetahuan baru dan memahami dunia sekitar. ASN Pembelajar juga berupaya untuk bisa mendorong kemampuan adaptabilitas pada dirinya, yaitu kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan tuntutan pekerjaan. Dan ASN sebagai individu pajar juga dituntut untuk bisa membangun ketang untuk bangkit kembali dari kesulitan dan terus berkembang. Kenapa begitu? karena tantangan yang kita hadapi ke depan tentu akan semakin ee semakin variatif, semakin kompleks ya. Kita dihadapkan pada disrupsi digital, regulasi yang baru yang terus-menerus diperbaharui oleh kementerian, oleh lembaga, dan seterusnya. Kemudian ada tuntutan pelayanan publik yang dinamis. Masyarakat kita semakin membutuhkan pelayanan yang cepat, yang akurat. Dan untuk itu semua ASN kita tentu harus bisa memahami itu sebagai sebuah tantangan agar kita terus belajar dan mendorong peningkatan kompetensi di bidan kita masing-masing. Ibu, Bapak yang saya hormati, dari nah dari individu bagaimana kita dorong dari individu kita bertransformasi ke budaya belajar kolektif ya. Nah, individu pembelajar tentu kita akui sebagai pondasi utama bagi organisasi yang adaptif dan inovatif. Dan kita mendorong agar setiap insan dalam organisasi mau meleburkan dirinya menjadi sosok pembelajar kolektif, yaitu ee memiliki sinergi untuk selalu sharing knowledge, berbagi pengetahuan, terus ee belajar melalui teknik misalnya dengan pendekatan mentoring dan juga aktif untuk melakukan kolaborasi antar individu. Sebab dari kita, untuk kita, dan oleh kita itu dimungkinkan untuk pembelajaran kita bisa terus berubah, berkembang, dan ber apa ee melaju tanpa henti. Ya, seorang ahli di dalam bidang psikologi kognitif mungkin juga Bapak, Ibu mengenal akrab nama ini yang bagi yang eh sering mempelajari teori-teori dan pandangan psikologi kognitif ya, salah satu aliran dalam psikologi yang memberikan ee penilaian yang sangat positif pada manusia. bahwa manusia itu memiliki kemampuan berpikir yang sangat luar biasa. Karel Roger menyebut bahwa the only person who is educated is the one who has learned how to learn and change. Satu-satunya orang terdidik adalah mereka yang telah belajar bagaimana belajar dan berubah. Ya, bagaimana belajar dan berubah. Hari ini kita belajar tentu harus memahami ee strategi, metode-metode yang lebih ee bisa mengantar kita untuk belajar semakin lebih aktif dan memahami cara-cara untuk menjadi pribadi yang terus berubah, tidak alergi dengan perubahan dan bisa mengelola perubahan itu dengan menghasilkan hal-hal yang juga semakin lebih produktif. Nah, Bapak, Ibu yang saya hormati, budaya belajar kolektif sebagai pondasi ASN pembelajar tentu ini bisa kita dorong dengan ee pertama ee bagaimana kita dalam organisasi itu memiliki tentu ada visi bersama ya, ada tujuan yang jelas dan disepakati bersama oleh seluruh anggota. Kemudian ada kecerdasan kolektif yaitu memanfaatkan beragam perspektif untuk solusi yang lebih baik. Kita boleh belajar tentu tidak hanya dengan ee dengan orang tertentu, tapi saat ini dengan digitalisasi sangat memungkinkan bagi kita untuk dapat belajar tanpa henti, tanpa batas, ruangan, dan waktu. Dengan memanfaatkan fasilitas digital yang ada. bahkan kita bisa terus mengasa kecerdasan kolektif kita dengan ee komunitas-komunitas yang kita bangun bersama untuk mendalami atau mempelajari hal-hal tertentu dalam pekerjaan kita atau mungkin dalam hal-hal lain yang kita butuhkan untuk pengembangan diri. Nah, kemudian ada kepercayaan dan keterlibatan, yaitu lingkungan yang mendukung eksperimen dan berbagi tanpa takut gagal. Nah, Bapak Ibu mendorong organisasi eh pembelajar atau organizational learning untuk birokrasi yang adaptif dan berkembang harus didukung oleh berbagai hal. Antara lain di dalamnya ada ee organisasi yang terus mendorong karyawannya untuk mau terus belajar ya. Kemudian harus ada knowledge management, bagaimana mengelola pengetahuan dengan baik dan tentu harus didukung dengan eh digital learning. Nah, Bapak Ibu, apa manfaat yang kita peroleh dengan kita ee mengembangkan budaya belajar kolektif utamanya di OPD kita masing-masing? Tentu banyak sekali manfaat yang kita akan peroleh antara lain di sini ada dengan kita terus belajar akan terjadi peningkatan kualitas pelayanan publik karena ASN kita akan semakin sensitif, akan semakin tanggap melihat, merasakan apa yang menjadi tuntutan bagi pelayanan publik kita. Nah, dengan kita belajar secara kolektif, ada budaya belajar yang selalu kita tumbuhkan, tentu kita akan secara aktif untuk melihat, memahami apa yang menjadi tuntutan pelayanan publik dari masyarakat kita. Tidak menunggu kita dikomplain terlebih dahulu baru kita memberikan yang terbaik. Ya, akan jauh lebih baik sebelum kita dikomplain, sebelum kita di diprotes, sebelum ada aksi dan sebagainya, sebelum kita dilayangkan dan seterusnya berbagai aduan ke media sosial. lebih baik kita bertekad untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik dari internal sehingga ya yang terjadi masyarakat kita justru akan memberikan dukungan, memberikan ee penilaian dan memberikan ee pujian terhadap organisasi kita. Kenapa? Karena tidak perlu mereka memberikan ee tidak perlu komplain, tidak perlu protes, tapi terlebih dahulu mereka sudah merasakan layanan-layanan publik yang menjadi tuntutan mereka. Nah, manfaat budaya belajar kolektif yang kedua, kita bisa meningkatkan efisiensi operasional. Ya, ini tentu kita rasakan ada pergeseran hari ini ee di seluruh BPSDM seluruh Indonesia menurut saya kecuali mungkin mohon maaf Jawa Timur masih ee masih lumayan besar ini penganggaran yang dapat dikelola tapi khususnya di kami di Sulawesi Selatan ini juga terjadi efisiensi yang sangat yang sangat berarti sehingga mau tidak mau kami tentu harus berpikir bagaimana menemukan cara-cara atau strategi untuk bisa membelajarkan para ASN kita tidak selalu ee harus dengan pola klasikal dan kecenderungannya hari ini menurut saya itu terjadi pergeseran dari pembelajaran yang dulunya lebih banyak didominasi dengan pembelajaran yang sifatnya klasikal. Sekarang sudah lebih banyak mengedepankan model-model pembelajaran atau pembelajaran ASN yang sudah menggunakan pola-pola digital seperti yang kita lakukan hari ini. Kita tidak perlu berada di satu ruang yang sama, tapi kita bisa mendapatkan belajar dari kawan-kawan kita. Saya juga hari ini tentu akan belajar dari Bapak, Ibu semua, dari teman-teman para kepala BPSDM kami sama-sama untuk terus belajar. Ee manfaat lain adalah ee kita bisa terus mendorong terjadinya inovasi yang berkelanjutan ya. Sebab tuntutan inovasi tentu tidak ada henti. Perubahan-perubahan yang terus terjadi itu akan berdampak langsung ataupun tidak langsung terhadap ee organisasi kita. Untuk itu agar kita tidak punah, agar kita tidak ketinggalan, kita tentu didorong untuk terus membangun semangat inovasi dan inovasi terus harus berkelanjutan. Manfaat lain adalah peningkatan kepuasan ASN. Kalau ASN kita belajar terus-menerus, mereka memahami pekerjaannya dengan sangat baik, mereka bisa mendeteksi, mengidentifikasi kelemahan, mengidentifikasi permasalahan yang akan terjadi. Tentu itu akan membuat ASN kita bisa bekerja dengan baik pada bidang tugas. Kalau dia bisa bekerja dengan baik, maka akan membuat ASN tersebut, ASN kita bisa merasakan kepuasan di dalam pekerjaannya. ya, puas terhadap atasannya, puas terhadap teman sejawat, ada kepuasan terhadap gaji yang mereka terima, ada kepuasan terhadap sistem promosi, dan ada kepuasan terhadap ee bagaimana jaminan ee hari tua dari para ASN kita. Nah, kemudian manfaat lain adalah ee ASN kita akan mampu beradaptasi secara cepat dengan perubahan. Dan yang terakhir tentu akan dapat ee kita dapatkan ee terjadi pencapaian world class birokrasi. Ini yang menjadi tuntutan dari ee Kementerian Menpan RB bagaimana mendorong birokrasi kita untuk bisa menjadi birokrasi yang berkelas dunia. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati. Ini ada kutipan inspiratif untuk terus mendorong kita belajar dari ee Benyamin Franklin. Ya, kita kenal bahwa investasi dalam pengetahuan ee memberikan bunga terbaik. Ya, setiap kita pasti ingin dan senang melihat bunga. Dan bunga terbaik menurut ee Benjamin Franklin adalah berinvestasi dalam pengetahuan. Ya, silakan dimanfaatkan. kita sudah punya pendekatannya baik itu pendekatan 10% lewat formal learning, 20% lewat social learning dan juga 70% melalui eh experiential learning. Dan satu lagi dari Nelson Mandela, ya, education is the most powerful which you can use to change the world. Bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Ya. Baik, Ibu Bapak yang saya muliakan. Sebagai penutup dan refleksi untuk kita semua, mari kita terus mendorong semangat belajar baik secara pribadi maupun berkelompok, berkolektif. Ee mulai dari diri sendiri, terus kita bergerak untuk membangun ee ke apa bersama untuk membangun dan kita ee jalankan atau kita upayakan terbentuknya budaya belajar yang kolektif. ASN pembelajar adalah kebutuhan dan bukan pilihan. belajar ee budaya belajar kolektif adalah bagian dari upaya yang dilakukan untuk melakukan percepatan transformasi birokrasi. Nah, ee Ibu Bapak yang saya hormati, itu sebagai pengantar bahan kita berdiskusi. Saya tutup dengan eh quote kita untuk hari ini. Happy better good, good is not enough. Kalau bisa menjadi yang terbaik, maka menjadi baik saja tidak cukup. Saya yakin, Sobat ASN, kita punya potensi yang sangat hebat. Kita punya potensi yang luar biasa dalam pekerjaan, dalam hal apapun. Mungkin itu baru sebagian kecil dari potensi hebat yang kita miliki, yang kita sudah curahkan untuk pekerjaan kita. Kalau kita menyadari bahwa potensi terbaik itu masih luar biasa pada diri kita, jangan kita berhenti untuk terus mengasa kompetensi itu. Karena kita bisa menjadi yang terbaik. Ya, sekali lagi kalau bisa menjadi yang terbaik, menjadi baik saja tidak cukup. Bapak, Ibu yang saya hormati, demikian sebagai pengantar yang dapat saya sampaikan. Semoga berkenan. Terima kasih, saya mohon maaf. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi kepada Prof. Jufri selaku Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan atas materi yang telah diberikan. Sekedar menyimpulkan sedikit dari apa yang tadi sudah disampaikan oleh Prof. Jufri bahwasanya ternyata fakta mengejutkan angka adaptabilitas ASN secara nasional ini masih tergolong rendah. Bagaimana cara kita bisa keluar dari angka tersebut adalah dengan belajar. Harus dimulai dari individu. Utamanya tadi ada tiga dimensi sifat yang tadi disebutkan oleh Prof. Jufri. ASN harus punya curiosity, ASN harus punya adaptabilitas yang tinggi dan juga resilience yang tinggi. Harapannya ketika masing-masing individu ini sudah memiliki kualitas yang baik, budaya belajar kolektifnya ini terbentuk dan nanti multiplayer effect-nya adalah pencapaian world class birokrasi di tahun 2045. Kali ini kita akan masuk ke sesi tanya jawab bersama dengan para sobat ASN yang tengah bergabung. Mohon izin kami menginformasikan untuk penanya nanti kita juga akan sediakan hadiah berupa powerbank. Langsung saja saya mau undang untuk penanya kita yang pertama kali ini. Kami persilakan untuk bisa menggunakan feature rise hand ataupun memberikan pertanyaan melalui live chat YouTube bagi Anda yang tengah menyaksikan acara ini melalui YouTube BPSDM Jatim TV. Prof. Jufri sebelum saya persilakan kepada Sobat ASN yang ingin bertanya, saya mau tanya terlebih dahulu Prof. Jufri tadi. Prof. Jufri mengatakan bahwasanya ASN itu harus punya curiosity, adaptability, dan juga resilience. Kalau menurut pandangannya Prof. Jufre, di Indonesia sendiri dari tiga sifat itu, Prof. yang paling lemah itu di bidang apa? Di bagian apa kita itu? ASN kita, Prof. Jadi, iya betul, Mas. Ee ah ini ini mohon maaf mungkin saya agak agak gegaba ya kalau saya harus bisa memilih salah satu di antara ketiganya karena saya tidak punya belum memiliki risetnya untuk yang ketiga ini ya. Tetapi saya kembali ke yang pertama tadi yang saya sampaikan di awal Mas bahwa ee riset itu saya yakin juga di Jawa Timur ini bagian dari riset ini ya karena ini riset yang dilakukan oleh ACT Consulting Heeh. Ee kerja sama apa? ESQ ee ESQ waktu itu dengan e Kempan RB dan yang saya tampilkan tadi itu secara nasional 38,90% 99% dan ee khusus kami misalnya di Sulawesi Selatan itu juga masih tergolong rendah, Mas. Ee saya mohon maaf saya tidak menemukan datanya untuk yang Jawa Timur karena waktu data ini diserahkan ke kami memang hanya untuk data Sulawesi Selatan. Mungkin datanya dengan Pak Kabat juga itu ada tapi mohon maaf saya tidak sampaikan. Nah, kalau dari data itu kita melihat bahwa memang dari ketiganya ee adaptabilitas ini tergolong rendah dan saya kira itu sangat berkaitan dengan dua di atasnya, Mas. Kalau adaptabilitas rendah itu menunjukkan bahwa sebenarnya rasa ingin tahunya juga masih perlu digugah gitu loh. Kalau rasa ingin tahunya tinggi ya misalnya rasa ingin tahu untuk selalu melihat apa sih yang masih kurang dari pekerjaan saya ini atau bidang tugas saya ini sudah maksimal gak saya punya kompetensi untuk bisa mengerjakannya. Heeh. Tapi sobat ASN yang hebat pasti dia akan selalu bertanya kepada dirinya, "Ya, kalau tugas saya seperti ini, kompetensi apa yang saya butuhkan untuk bisa melaksanakan tugas ini dengan baik?" Terus dia kemudian mengevaluasi dirinya sendiri. Oh, ternyata saya itu saya masih kurang di sini. Ininya alhamdulillah sudah baik. Yang ininya masih perlu dikembangkan lagi. Ini yang kemudian akan mempengaruhi bagaimana dia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ya. Ya. Katakanlah misalnya ya untuk mendukung pekerjanya dia butuh tambahan ee skill yang seperti ini. He ternyata itu dia belum miliki. Nah, dengan dia menyadari bahwa dia belum miliki itu ternyata berdampak mempengaruhi rasa ingin tahunya. Wah, ini saya harus saya harus tahu ini. Saya harus cari ke mana saya belajarnya. saya harus bertanya kepada siapa ini, saya harus belajar di lembaga mana ini untuk cari itu. Jadi ada dorongan untuk memenuhi itu. Jadi curiosity-nya rasa ingin tahunya muncul. Nah, kemudian yang kedua yang tadi itu resilience ya. Dia harus memiliki ketangguhan karena belajar ini kan juga mohon maaf ya ada tantangannya juga minimal kita bersedia untuk menginfest waktu. Bahkan mungkin dalam belajar itu butuh investasi biaya ya. ya dan sebagainya. Ee mungkin harus korban perasaan juga, Mas. Kadang-kadang kita belajar mungkin ah waktunya kita istirahat tapi masih ada tuntutan untuk harus belajar. Ya, kita harus tanda kutip korban perasaan. Kadang-kadang kita sudah belajar masih apa yang kita lakukan juga tidak dihargai gitu loh. Makanya salah satu yang mungkin perlu diperhatikan di sini agar ekosistem pembelajaran itu bisa terbangun ya kita juga harus memikirkan apa yang dilakukan oleh para ASN pembelajar harus di harus ada kompensasi tanda kutip untuk hal yang bisa juga dirasakan sebagai sebuah kebermaknaan kebermanfaatan bagi mereka yang sedang belajar. Di dalam teori pendidikan itu disebut dengan law of effect. hukum belajar akibat ya. Apa maksudnya itu hukum belajar akibat? Mereka akan semakin termotivasi untuk belajar kalau mereka merasakan apa akibat atau apa manfaat yang akan diperoleh setelah dia belajar. Ya, katakanlah misalnya ASN yang aktif mengikuti webinar dapat presertifikat berapa nilai JP-nya. Nanti di akhir periode mungkin satu kali dalam 6 bulan, satu kali dalam 1 tahun akan ada ee apa akan ada rekapitulasi nilai ya. Dan itu mungkin menjadi laporan bagi Ibu Gubernur, menjadi laporan bagi Pak Gubernur untuk melihat ini potret dari ASN-nya yang punya kesungguhan untuk belajar sehingga ada reward ya. ada perlakuan yang diberikan untuk membuat ASN tersebut merasa bahwa apa yang saya pelajari itu bermakna, berarti, bermanfaat bagi saya ya. Nah, kalau tidak itu bisa mempengaruhi resiliensinya bisa berkurang, daya tahannya bisa turun ya. Oke, saya rasa gitu, Mas. Terima kasih. Thank you, Prof. Jufri. Berarti memang antar tiga sifat ini tidak bisa terpisah satu sama lain karena ini merupakan sebab akibat ya. Dan tadi untuk bisa mendorong apa namanya ASN yang mau untuk belajar salah satunya adalah harus perhatikan drivers-nya pakai skema e reward dan juga benefit seperti yang tadi Prof. Jufri bilang seperti itu. Iya. Reward and punishment juga ya. Sebaliknya juga ada punishment gitu ya. Baik Prof. Jufri ini ada Sobat SN yang tengah bergabung. Prof. Jufri untuk bertanya kami izin undang terlebih dahulu. Untuk sobatn-nya kami silakan Bapak bisa langsung saja open audionya kemudian diperkenalkan nama asal institusinya dan juga asal daerahnya. Silakan, Pak. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Salam sehat, Prof. Silakan, Pak. Ee izin memperkenalkan diri, nama saya Muhammad Toha dari Pusat Pelatihan Pegawai ASN Kementerian Desa Pembangunan dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Ee menarik, Prof. dari apa yang Prof. sampaikan tadi memang ee apa namanya ee belajar seharusnya memang jadi kebutuhan bagi semua ASN. Cuma memang kita harus ee yang kita ketahui juga bahwa ee budaya belajar ini bagi ASN ee seperti budaya baru, Prof. Jadi hal yang kadang-kadang kita di ASN ini sudah merasa ya saya kan sudah jadi ASN, sudah berada di zona nyaman. Sementara kita tahu untuk merubah budaya itu harus ada keinginan kuat terutama dari keinginan pribadi sendiri untuk apa terus berkembang. Tetapi di samping itu kan duk seperti yang Prof bilang tadi, dukungan ee pimpinan, dukungan organisasi juga diperlukan untuk ee menumbuhkan budaya itu. Kira-kira ee yang ingin kami sampai kami tanyakan kepada Prof. ee sebagai pribadi, apa yang harus kita bangun agar kita bisa menumbuhkan semangat belajar dan bisa mengajak teman-teman? Seperti yang Prof bilang tadi, belajar itu memang harus kolektif. Kalau ramai-ramai kayaknya enak gitu, tapi kalau sendiri kayaknya kesepian gitu. Kemudian yang kedua itu dari sisi pribadi. Kemudian yang kedua ee dari segi pimpinan dan organisasi. Kira-kira apa yang bisa dilakukan, apa yang harus seharusnya dilakukan oleh pimpinan dan organisasi untuk bisa terus menumbuhkan semangat belajar ASN di lingkungan kerjanya masing-masing. Mungkin itu, Prof. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Toha atas pertanyaannya. Mohon izin menginformasikan Pak Toha. Nanti bisa kirimkan juga nama dan data diri beserta nomor handphone yang bisa dihubungi ke tim admin kami untuk klaim hadiah. Silakan Prof. Jufri kami persilakan untuk menjawab pertanyaan dari Pak Toha. Oke. Baik Mas. Terima kasih banyak. Yang saya hormati salam kenal untuk Pak Muhammad Toha ya dari Kementerian ee Kementerian Desa dan apa Pak? Apa itu? Kementerian Pembangunan Daerah tertinggal apa tadi ya? Oh pembangunan desa tertinggal. Iya. Iya iya. Baik, baik. Terima kasih banyak, Pak. Saya pertama senang apresiasi yang Bapak sampaikan. Yang kedua, saya sepakat dengan apa yang Pak Toha sampaikan bahwa memang ee untuk membangun self awareness yang kuat pada setiap individu untuk belajar itu pasti berproses ya. kita melihat sendiri misalnya kalau kita masih belajar waktu kita melihat masa-masa di saat kita dulu sekolah ya baik itu di jenjang pendidikan dasar pendidikan menengah sampai kita perguruan tinggi kita amati dari kawan-kawan dekat kita sendiri juga itu sangat variatif dari ee kemauan dan cara mereka untuk belajar meningkatkan kompetensinya. ada yang kemauan belajarnya sangat tinggi ya, ada yang ee sedan-sedan saja tapi ada juga yang ee biasa saja dan bahkan ya istilahnya menggugurkan kewajiban gitu Pak ya. Ya, meskipun demikian ini tentu tidak menjadi jaminan bahwa kesuksesan itu selalu ditentukan oleh prestasi akademik. Ya, kita tentu sudah sangat sering membaca pandangan yang dikemukakan oleh Daniel Goldman terkait dengan kecerdasan emosional. ya, bahwa ternyata porsi kecerdasan emosional yang dapat mendorong seseorang bisa sukses di dunia kerja itu justru dinilai diberi porsi lebih besar sampai 80% ya dan akademik hanya sekitar 20% saja ya. Tapi itu juga motivasi buat kita. Nah, ee apa yang harus di apa yang harus dibangun secara pribadi untuk? Nah, tentu menurut saya ee kebiasaan belajar yang harus kita ciptakan hari ini ya tentu bukan lagi semata-mata belajar karena ingin dinilai lulus dari suatu proses proses pembelajaran tentu sudah lagi tatarannya tidak di situ. Nah, di di pikiran saya dan seperti ini yang saya kira sekarang ini sedang di sedang didorong dikembangkan oleh LAN melalui kegiatan pembelajaran ASN dengan membentuk ekosistem pembelajaran adalah ee seharusnya setiap ASN, setiap pribadi memetakkan apa yang menjadi ee tanggung jawab dalam bidang pekerjaannya. Ya, bahasa kita dulu mungkin ada uraian tugas atau job des gitu, Pak ya. Jobesk description. Nah, dari situ tentu kita akan buat e turunannya kompetensi apa yang dibutuhkan untuk bisa menyelesaikan tugas atau pekerjaan ini dengan baik. Lalu, pertanyaan berikutnya, untuk bisa mendorong atau ee membuat kompetensi itu bisa tercapai itu kita akan melakukan dengan cara apa gitu, Pak? Ya, jadi ee tergantung dengan posisi kita. Misalnya ini kalau yang bersangkutan mendapat amanah sebagai posisi dalam hal jabatan manajerial. Nah, tentu ada persyaratan-persyaratan yang harus mereka penuhi baik itu persyaratan yang berkaitan dengan kemampuan manajerialnya, kemampuan teknis, kemampuan sosiokultural dan sebagainya. Nah, lalu kemudian di situ dia bisa petakan untuk saya bisa mendapatkan kompetensi itu, saya harus membangun kompetensi saya itu dengan cara belajar seperti apa. Oh, ini ternyata saya harus ikut pelatihan yang dilakukan oleh BPSDM atau oleh LAN dan seterusnya. Jadi harus dipetakan begitu. misalnya dia merasakan bahwa untuk jabatan atau tugas yang dilakukan itu butuh skill tentang public speaking contohnya. Nah, tentu dia harus membangun kesadaran pada dirinya secara mandiri untuk bisa membuat diri saya itu punya kemampuan atau ee keterampilan dalam bidang eh public speaking. Ya, tentu saya harus belajar. Kalau di kantor saya tidak tersedia anggaran untuk ikut ikut untuk ikut ee kursus misalnya atau ee ikut pelatihan, ya saya yang harus membuat perencanaan untuk diri saya. Kalau saya tidak bisa ikut langsung dalam bentuk ee kegiatan yang sifatnya offline, ya saya bisa masuk di LMS-nya LAN misalnya belajar di situ tentang public speaking atau mungkin yang paling sederhana kita bisa belajar sendiri menggunakan ee fasilitas yang ada di YouTube atau mungkin di ee media-media yang lainnya. Jadi kesadaran seperti itu tentu kita tidak perlu harus menunggu arahan dari pimpinan, tidak perlu harus ee mendapat surat tugas untuk mengikuti pelatihan. Bagi saya ini adalah sebuah tanggung jawab pribadi yang harus kita dorong. Kenapa? Karena kebutuhan untuk menjadi seorang karyawan yang memiliki skill sebagai public speaker. Kalau pekerjaan kita sebagai ee yang membutuhkan public speaker misalnya, itu kebutuhan saya. Maka saya tidak perlu menunggu perintah, saya tidak perlu menunggu diberikan tugas, tapi saya akan berusaha untuk bisa meng-upgrade kemampuan ee apa? publish speaking saya dengan cara yang boleh saya pilih. Kira-kira gitu, Pak. Jadi harus ada self awareness, kesadaran dari diri masing-masing untuk bisa memenuhi tuntutan kompetensi yang diperlukan untuk jabatan atau untuk tugas yang menjadi tanggung jawab kita. Itu yang pertama. Nah, terus yang kedua ee saya setuju bahwa memang untuk bisa membuat sebuah organisasi yang di dalamnya memiliki kegemaran, kesenangan untuk mau belajar ya yang disebut oleh Peter Sengge itu sebagai e learning organization, organisasi pembelajar ya, itu memang sangat dibutuhkan ee sosok ya kehadiran sosok pemimpin di dalam organisasi ya. Kalau pemimpinnya sendiri sudah menunjukkan komitmen yang besar, komitmen yang kuat untuk bisa membawa organisasi itu sebagai organisasi pembelajar, maka pasti orang-orang yang ada di dalamnya, komunitas yang ada di dalamnya juga pasti akan ikut, Pak. Tapi kalau misalnya ee karyawannya didorong tetapi pimpinannya mohon maaf tidak menunjukkan ee apa effort yang sangat nyata untuk dilihat oleh para stafnya bahwa dia juga belajar itu pasti akan berdampak kurang baik. Staf-stafnya ini pasti belajar itu hanya karena terpaksa, mungkin karena ada atasan di situ sehingga dia mau menunjukkan bahwa dia hadir dalam proses belajar ya. Nah, tentu bukan ini yang kita harapkan. Bukan ini yang kita harapkan. Nah, tapi peranan sebagai seorang pemimpin dan bahkan dukungan organisasi ya misalnya dengan ee organisasi kita di kantor itu tentu misalnya menyiapkan ee layanan internet yang memadai supaya ee karyawan itu bisa akses internet untuk belajar dengan ee berbagai pilihan kapanpun di mana pun itu bisa terjadi. Jadi organisasi punya tanggung jawab untuk mengalokasikan anggaran ya untuk bisa membuat organisasi itu memang menjadi ruang tempat yang memungkinkan seluruh ASN untuk bisa belajar dengan baik. Dia bisa memilih cara dan bisa memilih metode dan bisa memilih pendekatan yang akan digunakan dalam belajar. Jadi intinya sepakat Pak Toha insyaallah pimpinan sangat berperan untuk mendorong organisasi pembelajaran itu bisa terbentuk dan organisasi punya tanggung jawab untuk tanda kutip menyiapkan berbagai fasilitas pendukung yang dibutuhkan bagi tumbuhnya ya dan ee tingginya semangat belajar yang dimiliki oleh para staf. Dan akhirnya lama-kelamaan akan semakin terbentuk satu ekosistem belajar yang kuat. bahkan bukan hanya di dalam organisasinya, tapi juga sudah bisa menciptakan pola pembelajaran yang kolaboratif dengan ee bermitra baik itu lembaga-lembaga di luar kantor, lembaga pemerintah, nonpemerintah dan sebagainya. Saya kira seperti itu. Demikian, Pak Toha. Semoga berkenan. Terima kasih. Saya kembalikan ke Mas Pak Toha. Terima kasih. Salam hormat saya buat Pak ee siapa? Ada stafnya Bapak, bosnya Bapak di situ yang sama-sama belajar kami kemarin di Pak Hasrul, Pak. Oh
Resume
Categories